P. 1
Metode Pelaksanaan Gedung 2Lantai

Metode Pelaksanaan Gedung 2Lantai

|Views: 12,503|Likes:
Published by Yans Sitanggang

More info:

Published by: Yans Sitanggang on Mar 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2015

pdf

text

original

Sections

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 1

METODE PELAKSANAAN

Pekerjaan Pembangunan Gedung Ruang Kuliah,
Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

A. PENDAHULUAN

Proyek Pembangunan Gedung Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium Univeristas Muhammadiyah
Aceh, Banda Aceh ini merupakan Pekerjaan yang dibiayai dari sumber pendanaan : Bantuan "New Zewland Aid" melalui
MFAT (Ministry of Foreign Affairs and Trade).
Jangka Waktu penyelesaian pekerjaan tersebut direncanakan berlangsung selama 270 (dua ratus tujuh puluh )
hari kalender atau setara 9 (sembilan) bulan.

B. LINGKUP PEKERJAAN

Secara umum Komplek Bangunan ini merupakan bangunan baru di lokasi Universitas Muhammadiyah Aceh,
Banda Aceh yang bentuk dan fungsinya telah ditata ulang, nantinya akan meliputi pekerjaan : Pembangunan Gudang
Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laborarorium
.

C. URAIAN SINGKAT PEKERJAAN

NO.

URAIAN PEKERJAAN

VOLUME

SATUAN

SEKSI 1. UMUM

SU.1

Penyiapan gambar kerja, Pembuatan Metode kerja dan Laporan pekerjaan

1,00

L.S.

SU.2

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

1,00

L.S.

SU.3

Pengadaan Fasilitas di Kantor Lapangan

1,00

L.S.

SU.4

Penyiapan, Pemeliharaan dan Pengetesan bahan di laboratorium

1,00

L.S.

SU.5

Survey & Sewa alt ukur, Pengukuran & Pemasangan Bowplank

1,00

L.S.

SU.6

Biaya Personil Kontraktor

1,00

L.S.

SU.7

Mobilisasi dan Demobilisasi

1,00

L.S.

SU.8

Pagar Sementara & Akses jalan angkutan sementara

1,00

L.S.

SU.9

Penyiapan Pembangkit Listrik untuk pelaksanaan

1,00

L.S.

SU.10 Telekomunikasi

1,00

L.S.

SU.11 Fasilitas air bersih proyek

1,00

L.S.

SU.12 Dokumentasi

1,00

L.S.

SU.13 Bangunan Sementara

1,00

L.S.

SU.14 Pemeliharaan lokasi pekerjaan & lingkungan

9,00 Bulan

SU.15 Pengadaan Papan Nama Proyek

1,00

L.S.

SU.16 Biaya Jaminan Pelaksanaan dan Uang Muka

1,00

L.S.

SEKSI 2 - PEKERJAAN TANAH

-

-

TN.1

Pembersihan lokasi pekerjaan

3.639,00

m2

TN.2

Galian lokasi pekerjaan

1.820,00

m3

TN.3

Urugan tanah

5.538,00

m3

TN.4

Urugan Pasir

462,00

m3

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 2

TN.5

Galian pondasi

1.580,00

m3

TN.6

Pekerjaan Dewatering

1,00

Ls

TN.7

Pekerjaan Penyemprotan Anti Rayap

9.639,00

Ltr

TN.8

Pasangan Batu Kali Penahan Tanah Urug

342,00

m3

SEKSI 3 - STRUKTUR

-

-

ST.1

Pengadaan dan Pemancangan Tiang Pancang Mini ukuran 20 cm x 20 cm,
termasuk pemotongan kepala tiang

6.156,00

m'

ST.2

Percobaan Pembebanan Dinamis Tiang Pancang (PDA Test)

8,00

Bh

ST.3

Pekerjaan lantai kerja

109,00

m3

ST.4

Pembesian

254.065,00

kg

ST.5

Pengecoran beton K.225 untuk Kolom

250,00

m3

ST.6

Pengecoran beton K 225 untuk Balok dan Pelat Beton (roof fl)

331,00

m3

ST.7

Pengecoran beton K 225 untuk Balok dan Pelat Beton (2nd fl)

291,00

m3

ST.8

Pengecoran beton K 225 untuk Lantai dasar/slab (1st fl)

286,00

m3

ST.9

Pengecoran beton K 225 untuk Kepala Tiang Pondasi

127,00

m3

ST.10 Penyediaan sealant untuk sambungan

480,00

m'

SEKSI 4 - ARSITEKTUR

-

-

AR.1

Pasangan dinding bata

4.668,00

m2

AR.2

Pekerjaan plasteran

10.756,00

m2

AR.3

Pekerjaan Rangka Atap Baja ringan

1.239,00

m2

AR.4

Pekerjaan Genteng metal termasuk Nok Genteng

1.239,00

m2

AR.5

Pekerjaan lisplank atap beton

74,00

m3

AR.6

Pekerjaan lisplank atap kayu

368,00

m'

PINTU DAN JENDELA RUANG KULIAH

-

-

AR.8

Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun pintu type P1

1,00

Bh

AR.9

Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun pintu type P2

20,00

Bh

AR.10 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun pintu type P3

20,00

Bh

AR.11 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun pintu type P4

4,00

Bh

AR.12 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun jendela type J1

68,00

Bh

AR.13 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun jendela type J2

4,00

Bh

AR.14 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun jendela type J3

4,00

Bh

AR.15 Penyediaan dan pemasangan ventilasi type V1

44,00

Bh

AR.16 Penyediaan dan pemasangan ventilasi type V2

16,00

Bh

AR.17 Penyediaan dan pemasangan ventilasi type V3

8,00

Bh

AR.18 Penyediaan dan pemasangan kunci dan pegangan pintu type P1

1,00

set

AR.19 Penyediaan dan pemasangan Folding Gate

84,00

m2

AR.20 Penyediaan dan pemasangan Sunscreen

68,00

Bh

PINTU DAN JENDELA LABORATORIUM DAN PERPUSTAKAAN

-

-

AR.21 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun pintu type P1

4,00

Bh

AR.22 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun pintu type P2

16,00

Bh

AR.23 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun pintu type P3

12,00

Bh

AR.24 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun jendela type J1

8,00

Bh

AR.25 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun jendela type J1

26,00

Bh

AR.26 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun jendela type J3

8,00

Bh

AR.27 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun jendela type J4

16,00

Bh

AR.28 Penyediaan dan pemasangan kusen dan daun jendela type J5

2,00

Bh

AR.29 Penyediaan dan pemasangan ventilasi type V1

23,00

Bh

AR.30 Penyediaan dan pemasangan kunci dan pegangan pintu type P1

4,00

Bh

AR.31 Penyediaan dan pemasangan engsel Pintu

4,00

set

AR.32 Penyediaan dan pemasangan engsel Jendela

60,00

set

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 3

AR.33 Penyediaan dan pemasangan Door Closer

16,00

set

AR.34 Penyediaan dan pemasangan kait angin, kunci slot Jendela

60,00

set

AR.35 Penyediaan Pemasangan Plafond

3.600,00

m2

AR.36 Penyediaan dan pemasangan keramik lantai (40x40cm)

3.344,00

m2

AR.37 Penyediaan dan pemasangan keramik lantai (20x20cm)

552,00

m2

AR.38 Penyediaan dan pemasangan Kramik Lantai (60x60cm)

99,00

m2

AR.39 Penyediaan dan pemasangan keramik dinding (20x20cm)

518,00

m2

AR.40 Penyediaan dan pemasangan keramik dinding (20x25cm)

130,00

m2

AR.41 Pekerjaan pengecatan dinding dalam ruangan

5.887,00

m2

AR.42 Pekerjaan pengecatan luar ruangan

6.962,00

m2

AR.43 Pekerjaan pengecatan plafond

3.427,00

m2

AR.44 Pekerjaan Waterproofing

1.938,00

m2

AR.45 Pekerjaan tiang dan railing tangga Stailess Ø4"

169,00

m'

AR.46 Pekerjaan tiang dan railing tangga Stailess Ø3"

468,00

m'

AR.47 Pekerjaan tiang dan railing tangga Stailess Ø2"

672,00

m'

AR.48 Pekerjaan tiang dan railing tangga kayu

22,00

m'

AR.49 Pekerjaan Tangga Putar dari 2nd Fl ke Roof

2,00

set

AR.50 Penyediaan dan pemasangan Batu Alam Andesit

306,00

m2

AR.51 Penyediaan dan Pemasangan step nosing tangga

264,00

m'

AR.52 Penyediaan dan pemasangan Logo Univ. Muhammadiyah

2,00

set

AR.53 Penyediaan dan pemasangan Relief Aceh

99,00

m1

AR.54 Pekerjaan Melamik Kusen Kayu

1.446,00

m2

AR.55 Penyediaan dan pemasangan ventilasi Rrooster Kayu (type. V2)

64,00

bh

0

KELISTRIKAN

-

-

LRK.1 Penyediaan dan pemasangan stop kontak

57,00

bh

LRK.2 Penyediaan dan pemasangan Single Saklar

50,00

bh

LRK.3 Penyediaan dan pemasangan Double Saklar

12,00

bh

LRK.4 Penyediaan dan pemasangan fitting lampu

390,00

bh

LRK.5 Penyediaan dan pemasangan lampu TL 2 x 36 Watt

390,00

bh

LRK.6 Penyediaan dan pemasangan lampu Baret 20 Watt

28,00

bh

LRK.7 Penyediaan dan pemasangan lampu spot down light

48,00

bh

LRK.8 Penyediaan dan pemasangan Sambungan Daya dari PLN

1,00

Ls

LRK.9 Penyediaan dan Pemasangan MCB

63,00

bh

LRK.10 Penyediaan dan Pemasangan Panel Listrik

2,00

bh

LRK.11 Penyediaan dan pemasangan Penangkal petir lengkap

20,00

ttk

LRK.12 Pengadaan Unit AC

32,00

bh

LRK.13 Pengadaan Unit Exchaus Fan

16,00

bh

MEKANIKAL

-

-

ABB. 1 Penyediaan dan Pemasangan Pipa PVC 1"

220,00

m'

ABB. 2 Penyediaan dan Pemasangan Pipa PVC 3/4"

128,00

m'

ABB. 3 Penyediaan dan Pemasangan Pipa PVC 1/2"

108,00

m'

ABB. 4 Penyediaan dan pemasangan Kran Air

66,00

bh

ABB. 5 Penyediaan dan pemasangan Water Jet

32,00

bh

ABB. 6 Penyediaan dan pemasangan Kloset Duduk lengkap

22,00

bh

ABB. 7 Penyediaan dan pemasangan Kloset Jongkok

13,00

bh

ABB. 8 Penyediaan dan pemasangan partisi toilet

12,00

m2

ABB. 9 Penyediaan dan pemasangan Urinoir

6,00

bh

ABB. 10 Penyediaan dan pemasangan Wastafel

12,00

bh

ABB. 11 Penyediaan dan pemasangan Kaca rias

9,00

m2

ABB. 12 Penyediaan dan pemasangan Tempat sabun cuci tangan (Soap Holder)

24,00

bh

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 4

ABB. 13 Penyediaan dan pemasangan tempat tissue lap tangan (Tissue holder)

5,00

bh

ABB. 14 Penyediaan dan pemasangan Pengering Tangan (Hand Dryer)

5,00

bh

ABB. 15 Penyediaan dan pemasangan tempat tissue gulung untuk KM/WC

36,00

bh

ABB. 16 Penyediaan dan pemasangan Floor drain

54,00

bh

ABB. 17 Penyediaan dan pemasangan keramik lantai KM/WC

280,00

m2

ABB. 18 Penyediaan dan pemasangan keramik dinding KM/WC

410,00

m2

ABB .19 Penyediaan dan pemasangan Roof Drain Lengkap

58,00

titik

SEKSI 6 - DRAINASE

-

-

DR. 1

Galian tanah untuk selokan

484,00

m3

DR. 2

Saluran beton bentuk U 30

64,00

m'

DR. 3

Saluran beton bentuk U 40

256,00

m'

DR. 4

Penutup saluran penangkap, beton 1:2:3 lengkap

31,00

set

DR. 5

Penutup saluran bentuk grill, lengkap

64,00

m'

DR. 6

Trasram, adukan 1 : 2

46,00

m'

DR. 7

Pekerjaan Lantai kerja

33,00

m3

DR. 8

Pekerjaan Septic Tank

6,00

unit

D. TAHAP PELAKSANAAN
SEKSI 1 : UMUM

SU. 1. Penyiapan gambar kerja, Pembuatan Metode kerja dan Laporan pekerjaan

Perusahaan kami akan menyiapkan dan menyampaikan hal-hal berikut :
gambar-gambar, dokumen-dokumen dan informasi yang diperlukan jika hal tersebut tercantum dalam Dokumen
Kontrak kepada MK untuk dimintakan persetujuannya :

1. Gambar konstruksi dan gambar kerja
2. Metode pelaksanaan konstruksi
3. Data-data produk material

Bilamana dokumen-dokumen tersebut diatas disyahkan oleh MK, maka akan merupakan bagian daripada
Spesifikasi Teknis dari Kontrak. Seluruh jenis pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan elevasi, dimensi dan detail
yang ditampakkan pada Gambar Konstruksi yang sudah disyahkan. Apabila diperlukan oleh MK untuk
melaksanakan suatu item pekerjaan tertentu, maka kami juga akan menyampaikan uraian-uraian material yang
diperlukan, peralatan yang dibutuhkan, denah konstruksi, standard dan tata laksana kerja yang berhubungan
dengan gambar-gambar konstruksi tersebut untuk disyahkan oleh MK.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 5

2. KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

2.A. UMUM

Bagian ini mencakup ketentuan-ketentuan penanganan keselamatan dan kesehatan kerja
(K3) konstruksi kepada setiap orang yang berada di tempat kerja yang berhubungan
dengan :
1. pemindahan bahan baku, penggunaan peralatan kerja konstruksi, proses produksi
dan lingkungan sekitar tempat kerja.
2. Penanganan K3 mencakup
penyediaan

sarana
pencegah kecelakaan kerja
dan perlindungan Kesehatan
kerja konstruksi maupun
penyediaan personil yang
kompeten dan organisasi
pengendalian K3 Konstruksi
sesuai dengan tingkat resiko
yang ditetapkan oleh
Pengguna Jasa.
3. Pihak Kami akan mengikuti
ketentuan-ketentuan
pengelolaan K3 yang
tertuang dalam Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum
No. 09/PRT/M/2009 tentang
Pedoman Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (SMK3) Konstruksi
Bidang Pekerjaan Umum,
UNDANG-UNDANG
KESELAMATAN

KERJA
Lembaran Negara No. 1
Tahun 1970 (Tambahan
Lembaran Negara No. 1918)
dan peraturan terkait lainnya.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 6

2.B. SISTEM MANAJEMEN K3 KONSTRUKSI

1. Pihak Kami akan membuat, menerapkan
dan memelihara prosedur untuk identifikasi
bahaya,

Penilaian

risiko

dan
pengendaliannya secara berkesinam-
bungan sesuai dengan Rencana K3
Kontrak (RK3K) yang telah disetujui oleh
MK.Pihak Kami akan melibatkan Ahli K3
Konstruksi pada paket pekerjaan dengan
risiko K3 tinggi atau sekurangkurangnya
Petugas K3 Konstruksi pada paket
pekerjaan dengan risiko K3 sedang dan
kecil. Ahli K3 Konstruksi atau Petugas K3
bertugas

untuk

merencanakan,
melaksanakan dan mengevaluasi Sistem
Manajemen K3 Konstruksi. Tingkat risiko
K3 ditetapkan oleh Pengguna Jasa.
2. Pihak Kami akan membentuk Panitia
Pembina K3 (P2K3) bila: jumlah pekerja
paling sedikit 100 orang,
3. Pihak Kami akan melaksanakan Audit Internal K3 Konstruksi.
4. Pihak Kami akan melakukan tinjauan ulang terhadap RK3K (pada bagian yang memang perlu dilakukan kaji ulang)
setiap bulan secara berkesinambungan selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi berlangsung.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 7

2.C. KANTOR LAPANGAN K3 DAN FASILITASNYA

FASILITAS PENCUCIAN

Pihak Kami akan menyediakan fasilitas pencucian yang memadai dan sesuai dengan pekerjaan yang
dilakukan untuk seluruh pekerja konstruksi. Fasilitas pencucian termasuk penyediaan air panas dan zat pembersih untuk
kondisi berikut ini:

a. Jika pekerja beresiko terpapar kontaminasi kulit yang diakibatkan oleh zat beracun, zat yang menyebabkan
infeksi dan iritasi atau zat sensitif lainnya;
b. Jika pekerja menangani bahan yang sulit dicuci dari kulit jika menggunakan air dingin;
c. Jika pekerja harus membersihkan seluruh badannya;
d. Jika pekerja terpapar pada kondisi panas atau dingin yang berlebih, atau bekerja pada kondisi basah yang
tidak biasa sehingga menyebabkan para pekerja harus membersihkan seluruh badannya, maka Pihak Kami
akan menyediakan pancuran air (shower) dengan jumlah yang memadai dengan jumlah yang memadai.
e. Untuk kondisi normal, Pihak Kami akan menyediakan pancuran air untuk mandi dengan jumlah sekurang-
kurangnya satu untuk setiap 15 orang.

TOILET FASILITAS SANITASI

a. Pihak Kami akan menyediakan toilet yang memadai baik toilet khusus pria maupun toilet khusus wanita yang
diperkerjakan di dalam atau di sekitar tempat kerja.
b. Jika jumlah pekerja lebih dari 15 orang tenaga kerja, maka:
i. Kami menyediakan 1 urinal peturasan untuk jumlah pekerja 15 orang, ditambah apabila jumlah pekerja
lebih dari 15 orang sampai dengan tambahan 30 orang maka kami akan tambah satu urinal peturasan
untuk setiap 30 orang tambahan;
ii. Satu kloset untuk jumlah pekerja kurang dari 15 orang, apabila jumlah pekerja lebih dari 15 orang sampai
dengan tambahan 30 orang maka kami menambah satu kloset ditambah beberapa kloset untuk setiap 30
orang tambahan.
c. Toilet pria dan wanita akan dipisahkan dengan dinding tertutup penuh. Toilet mudah diakses, mempunyai
penerangan dan ventilasi yang cukup, dan terlindung dari cuaca. Toilet dibuat dan ditempatkan sedemikian
rupa sehinga dapat menjaga privasi orang yang menggunakannya dan terbuat dari bahan yang mudah
dibersihkan.

AIR MINUM

Kami akan menyediakan pasokan air minum yang memadai bagi seluruh pekerja dengan persyaratan:
a. Mudah diakses oleh seluruh pekerja dan diberi label yang jelas sebagai air minum;
b. Kontainer untuk air minum harus memenuhi standar kesehatan yang berlaku;

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 8

c. Jika disimpan dalam kontainer, kami pastikan kontrainer bersih dan terlindungi dari kontaminasi dan panas;
dikosongkan dan diisi air minum setiap hari dari sumber yang memenuhi standar kesehatan.

FASILITAS PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN(P3K)

a. Peralatan P3K kami sediakan dalam seluruh kendaraan konstruksi dan di tempat kerja.
b. Di tempat kerja kami tempatkan pekerja yang sudah terlatih dan/atau bertanggung jawab dalam Pertolongan
Pertama Pada Kecelakaan.

AKOMODASI UNTUK MAKAN DAN BAJU

a. Akomodasi yang memadai bagi pekerja, tempat untuk makan, istirahat, dan perlindungan dari cuaca.
b. Akomodasi mempunyai lantai yang bersih, dilengkapi meja dan kursi, serta furnitur lainnya untuk menjamin
tersedianya tempat istirahat makan dan perlindungan dari cuaca.
c. Penyediaan tempat sampah, dikosongkan dan dibersihkan secara periodik.
d. Penyediaan tempat ganti baju untuk pekerja dan tempat penyimpanan baju pakaian yang tidak digunakan
selama bekerja.

PENERANGAN

a. Penyediaan penerangan harus di seluruh tempat kerja, termasuk di ruangan, jalan, jalan penghubung, tangga
dan gang. Semua penerangan dapat dinyalakan ketika setiap orang melewati atau menggunakannya.
b. Penerangan tambahan harus disediakan untuk pekerjaan detil, proses berbahaya, atau jika menggunakan

mesin.
c. Penerangan darurat yang memadai.

PEMELIHARAAN FASILITAS

Pihak Kami akan menjamin terlaksananya pemeliharaan fasilitas-fasilitas yang disediakan dalam kondisi bersih dan
higienis, serta dapat diakses secara nyaman oleh pekerja.

VENTILASI

a. Seluruh tempat kerja mempunyai aliran udara yang bersih.
b. Pada kondisi tempat kerja yang sangat berdebu misalnya tempat pemotongan beton, penggunaan bahan kimia
berbahaya seperti perekat, dan pada kondisi lainnya, Pihak Kami akan menyediakan alat pelindung nafas
seperti respirator dan pelindung mata.

2.D. KETENTUAN BEKERJA PADA TEMPAT TINGGI PEKERJA YANG BERPENGALAMAN

Bekerja di tempat kerja yang tinggi dilakukan oleh pekerja yang
mempunyai pengetahuan, pengalaman dan mempunyai sumberdaya
yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan selamat.

Pelindung

Keselamatan kerja untuk bekerja pada tempat tinggi dapat
menggunakan satu atau beberapa pelindung sebagai berikut: terali
pengaman lokasi kerja, jaring pengaman, sistem penangkap jatuh.

Pengamanan di sekeliling pelataran kerja atau tempat
kerja

a. Membuat terali pengaman lokasi kerja sepanjang tepi lantai kerja
atau tempat kerja yang terbuka.
b. Menggunakan Jaring Pengaman, Jika pelataran kerja atau tempat
kerja berada di atas jalan umum dan untuk mencegah jika ada

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 9

bahaya material atau barang lain jatuh pada pengguna jalan, dan pengamanan daerah di bawah pelataran kerja
atau tempat kerja bebas dari akses orang.

Terali pengaman lokasi kerja

Terali pengaman memenuhi syarat, Jika terali pengaman lokasi kerja digunakan di sekeliling bangunan, atau bukaan di
atap, lantai, atau lubang lift :
- 900 – 1100 mm dari pelataran kerja;
- Mempunyai batang tengah (mid-rail);
- Mempunyai papan bawah (toeboard) jika terdapat resiko jatuhnya alat kerja atau material dari atap/tempat kerja.

Jaring pengaman

c. Pekerja yang memasang jaring pengaman harus dilindungi dari bahaya jatuh. Digunakan kendaraan khusus
(mobile work platform) saat memasang jaring pengaman. Akan tetapi jika peralatan mekanik tersebut tidak
tersedia maka pekerja yang memasang jaring harus dilindungi dengan tali pengaman (safety harness) atau
menggunakan perancah (scaffolding).
d. Jaring pengaman dipasang sedekat mungkin pada sisi dalam area kerja.
e. Jaring pengaman dipasang dengan jarak bersih yang cukup dari permukaan lantai/tanah sehingga jika seorang
pekerja jatuh pada jaring tidak akan terjadi kontak dengan permukaan lantai/tanah.

Sistem pengaman jatuh individu (individual fall arrest system)

a. Sistem pengaman jatuh individu (individual fall arrest system) termasuk sistem rel inersia (inertia reel system),
safety harness dan tali statik. Pekerja yang diharuskan menggunakan alat ini akan dilatih terlebih dahulu.
b. Jenis sabuk pinggang tidak akan digunakan untuk pekerjaan atap.
c. Pekerja yang menggunakan safety harness tidak akan diperbolehkan bekerja sendiri. Pekerja yang jatuh dan
tergantung pada safety harness harus diselamatkan selama-lamanya 20 menit sejak terjatuh.
d. Perhatian penuh diberikan pada titik angker untuk tali statik, jalur rel inersia, dan/atau jaring pengaman.

Tangga

Jika tangga akan digunakan, maka Pihak Kami akan:
a. Memilih jenis tangga yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan;
b. Menyediakan pelatihan penggunaan tangga;
c. Mengikat bagian atas dan bawah tangga untuk mencegah kecelakaan akibat bergesernya tangga;
d. Tempatkan tangga sedekat mungkin dengan pekerjaan;
e. Tangga digunakan untuk naik ke lantai kerja di atas, kami pastikan tangga tersebut berada sekurang-
kurangnya 1m di atas lantai kerja;

Perancah (scaffolding)

a. Perancah dengan tinggi lebih dari 5 m dari permukaan dibangun
oleh orang yang mempunyai kompetensi sebagai scaffolder.
Seluruh perancah diinspeksi oleh orang yang berkompeten pada
saat: sebelum digunakan, sekurang-kurangnya seminggu sekali
saat digunakan, setelah cuaca buruk atau gangguan lain yang
dapat mempengaruhi stabilitasnya, jika perancah tidak pernah
digunakan dalam jangka waktu lama.
b. Hasil inspeksi harus dicatat, termasuk kerusakan yang diperbaiki
saat inspeksi. Catatan tersebut ditandatangani oleh orang yang
melakukan inspeksi.
c. Orang yang melakukan inspeksi memastikan bahwa:
Tersedia akses yang cukup pada lantai kerja perancah.
Semua komponen tiang diletakkan di atas pondasi yang kuat
dan dilengkapi dengan plat dasar. Jika perlu, gunakan alas
kayu atau cara lainnya untuk mencegah tiang bergeser
dan/atau tenggelam.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 10

Perancah telah terhubung
dengan bangunan/struktur
dengan kuat sehingga
dapat mencegah runtuhnya
perancah dan menjaga
agar ikatannya cukup kuat.
- Jika beberapa pengikat
telah dipindahkan sejak
perancah didirikan, maka
ikatan tambahan atau cara
lainnya untuk mengganti
harus dilakukan.
Perancah telah diperkaku
(bracing) dengan cukup
untuk menjaminstabilitas.
Tiang, batang, pengaku
(bracing), atau strut belum
diindahkan.

Papan lantai kerja telah dipasang dengan benar, papan bersih dari cacat dan telah tersusun dengan baik.
Seluruh papan harus diikat dengan benar agar tidak terjadi pergeseran.
Tersedia pagar pengaman dan toeboard di setiap sisi dimana suatu orang dapat jatuh.
Perancah didesain dan dibangun untuk menahan beban material, kami pastikan bebannya disebarkan
secara merata.
Tersedia penghalang atau peringatan untuk mencegah orang menggunakan perancah yang tidak lengkap.

2.E. ELEKTRIKAL
Pasokan listrik

Alat elektrik portabel yang dapat digunakan di situasi lembab hanyalah alat yang memenuhi syarat:
a. Mempunyai pasokan yang terisolasi dari earth dengan voltase antar konduktor tidak lebih dari 230 volt.
b. Mempunyai sirkuit earth yang termonitor dimana pasokan listrik pada alat akan secara otomatis terputus
jika terjadi kerusakan pada earth.
c. Alat mempunyai insulasi ganda.
d. Mempunyai sumber listrik yang dihubungkan dengan earth sedemikian rupa sehingga voltase ke earth
tidak akan melebihi 55 volt AC; atau
e. Mempunyai alat pengukur arus sisa (residual).

Supply Switchboard Sementara Perhatian Utama Dan Harus:

a. Jika ditempatkan di luar ruangan, harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak akan terganggu oleh

cuaca.

b. Dilengkapi dengan pintu dan kunci. Pintu harus dirancang dan dan ditempel sedemikian rupa sehingga
tidak akan merusak kabel lentur yang tersambung dengan panel dan harus dapat melindungi switch dari
kerusakan mekanis. Pintu harus diberi tanda: HARAP SELALU DITUTUP.
c. Mempunyai slot yang terinsulasi di bagian bawah.
d. Ditempelkan pada dinding permanen atau struktur yang didesain khsus untuk ini.

Inspeksi peralatan

Seluruh alat dan perlengkapan kelistrikan harus diinspeksi sebelum digunakan untuk pertama kali dan setelahnya
sekurang-kurangnya tiap tiga bulan. Seluruh alat dan perlengkapan kelistrikan harus mempunyai tanda identifikasi yang
menginformasikan tanggal terakhir inspeksi dan tanggal inspeksi selanjutnya.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 11

Jarak bersih dari saluran listrik

Alat crane, excavator, rig pengebor, atau plant mekanik lainnya, struktur atau perancah tidak boleh berada kurang dari 4
m di bawah saluran listrik udara tanpa ijin tertulis dari pemilik saluran listrik.

2.F MATERIAL DAN KIMIA BERBAHAYA

Alat pelindung diri

Pihak Kami bertanggung jawab untuk menyediakan alat pelindung diri bagi pekerjanya dengan ketentuan:

a. Seluruh pekerja dan personil lainnya yang terlibat harus dilatih cara penggunaan alat pelindung diri dan harus
memahami alasan penggunaannya.
b. Jika dipandang tidak praktis untuk melindungi bagian atas dan jika ada resiko terluka dari objek jatuh, maka
Penyedia Jasa menyediakan helm pelindung dan seluruh personil yang terlibat di lapangan harus
menggunakannya.
c. Perlindungan mata harus digunakan jika terdapat kemungkinan kerusakan mata akibat pekerjaan las, atau dari
serpihan material seperti potongan gergaji kayu, atau potongan beton.
d. Sepatu yang digunakan harus mampu melindungi kaki pekerja. Gunakan sepatu dengan ujung besi di bagian

jari kaki.
e. Pelindung kebisingan harus digunakan jika tingkat kebisingan tinggi
f. Sarung tangan akan diperlukan pada beberapa pekerjaan.
g. Perlindungan pernafasan harus disediakan untuk pekerja yang terekspos pada bahaya seperti asbes, asap dan

debu kimia.

Bahaya Pada Kulit

a. Setiap pekerja harus melapor jika mendapatkan masalah kulit, terutama di tangan akibat penggunaan bahan

berbahaya.

b. Tangan dan mata pekerja harus dilindungi terhadap kontak dengan semen. Usahakan kontak dengan semen
seminimum mungkin. Penggunaan krim pelindung dapat mengurangi resiko kerusakan kulit.
c. Sedapat mungin, pakaian pelindung harus digunakan selama pekerjaan. Pakaian ini termasuk baju lengan
panjang, sarung tangan dan sepatu pelindung.
d. Pihak Kami Jasa harus menyediakan fasilitas untuk mencuci badan dan mengganti pakaian.
e. Alat pelindung pernapasan harus digunakan selama proses pemeraman beton dimana debu mulai terbentuk.

Penggunaan bahan kimia

a. Pihak Kami akan mempunyai prosedur yang mengatur tata cara menangani bahan kimia atau zat berbahaya
dengan sehat, tata cara penyimpanan, tata cara pembuangan limbah.
b. Seluruh bahan kimia harus disimpan di kontainer asalnya dalam suatu tempat yang aman dan berventilasi baik.
c. Seluruh pekerja harus dilatih jika menangani bahan kimia atau zat berbahaya termasuk tindakan darurat yang
perlu dilakukan jika terjadi masalah.

Asbestos

a. Seluruh pekerja yang terlibat harus menggunakan pakaian overall sekali pakai atau overall yang dapat dicuci

ulang.
b. Perlengkapan pernafasan harus selalu digunakan.
c. Gunakan jaring dengan lembar yang tidak lulus udara. Lakukan uji udara sebelum menggunakan daerah kerja.

Pemotongan dan pengelasan dengan gas bertekanan tinggi

Pihak Kami akan memperhatikan potensi bahaya sebagai berikut:
- Kebakaran akibat kebocoran bahan bakar (propana, asetilen), biasanya dari kerusakan pada selang atau pada
sambungan selang.
- Ledakan tabung akibat kebocoran oksigen dari selang atau alat pijar pemotong.
- Menghisap asap berbahaya dari pengoperasian las.
- Kebakaran dari material yang mudah terbakar di sekeliling tempat las.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 12

Penanganan tabung

a. Tabung tidak boleh digelindingkan di permukaan tanah atau ditangani dengan kasar. Jika memungkinkan,
gunakan troli dengan mengikat tabung dengan rantai.
b. Tabung tidak boleh ditempatkan berdiri bebas sendiri untuk mencegah jatuhnya tabung.
c. Tabung harus diberi waktu beberapa saat ketika diposisikan berdiri sebelum digunakan

Penyimpanan

a. Seluruh selang dan aksesoris pemotong harus dibuka ketika pekerjaan selesai dan disimpan jauh dari tabung.
b. Tabung harus disimpan dalam posisi jauh dari bahan mudah terbakar dan sumber api.

Peralatan

a. Hanya selang yang memenuhi standar yang dapat digunakan. Selang harus diperiksa setiap hari untuk
a. memeriksa tanda kerusakan.
b. Selang yang digunakan harus sependek mungkin. Jika selang harus disambung akibat adanya bagian yang
rusak, gunakan hose coupler dan hoseclamps.
c. Jika terjadi kebocoran dan tidak bisa dihentikan, tabung harus dipindahkan ke tempat aman dan dalam
d. udara terbuka dan segera kontak suppliernya.

Peralatan pemadam kebakaran dan alat pelindung

a. Bahan mudah terbakar harus dipindahkan dari daerah kerja dan alat pemadam yang memadai harus
disediakan oleh Penyedia Jasa.
b. Pekerja harus menggunakan pelindung mata dan pakaian pelindung untuk melindungi dari api.

2.G PENGAMANAN

1. Pihak Kami akan bertanggung jawab untuk pelaksanaan pengamanan pelaksanaan konstruksi dan harus
menyediakan anggota Satuan Pengamanan (SatPam) yang cukup jumlahnya untuk memenuhi syarat-syarat
ini. Tugas dari Satpam Penyedia
adalah menjaga ketertiban dan
keamanan di lokasi proyek, melakukan
pengawalan, mengatur lalu lintas
dilokasi proyek, mencatat dan
memeriksa kendaraan setiap tamu
yang keluar-masuk, dan hal-hal lain
yang dianggap perlu untuk
perlindungan pelaksanaan konstruksi
didalam lokasi proyek termasuk
perlindungan

dan

penjagaan
peralatan, material Penyedia, MK dan
orang-orang yang bekerja serta
berhubungan dengan proyek ini
secara terus menerus pada jam kerja
maupun bukan jam kerja siang dan malam selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi ini sampai selesainya
seluruh pekerjaan dan telah diserahterimakan atau Penyedia secara keseluruhan telah didemobilisasi dari
lapangan yang dianggap terakhir dari kedua hal tersebut

2. Pihak Kami akan meyakinkan bahwa seluruh karyawan penyedia, perwakilan penyedia atau Subpenyedia
memakai kartu tanda pengenal yang disediakan oleh penyedia. Kartu harus memperlihatkan identitas
penyedia, subpenyedia, Nomor induk karyawan dan harus selalu dipakai dilokasi proyek.
3. Pihak Kami akan meyakinkan bahwa seluruh kendaraan yang digunakan oleh Penyedia dan subpenyedia
termasuk peralatan penyedia harus diberi label nama dari penyedia atau subpenyedia.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 13

2.H PENYIAPAN PERALATAN STANDARD YANG HARUS DISIAPKAN UNTUK K3.

Sesuai dengan standard keselamatan kerja, kami menyediakan perlengkapan K3 seperti diuraikan berikut ini:
1. Helm safety dengan minimum jumlah

: 150 buah

2. Sepatu safety berjumlah minimum

: 150 buah

3. Safety harness berjumlah minimum

: 24 buah

4. Sarung tangan berjumlah minimum

: 2700 buah

5. Rompi safety berjumlah minimum

: 150 buah

6. Ear plug berjumlah minimum

: 900 buah

7. Masker berjumlah minimum

: 2700 buah

8. Kacamata safety berjumlah minimum

: 150 buah

9. Baricade berjumlah minimum

: 20 roll

10. Tali pengaman dengan panjang minimum

: 233 m’

11. Jaring Pengaman dengan luas minimum

: 1000 m2

12. Penyiapan papan peringatan dan petunjuk K3

: Lump sum (1)

13. Tempat sampah organic dan non organic berjumlah minimum

: 20 buah

14. Tangga scaffolding berjumlah minimum

: 2

15. Lampu Trobolight berjumlah minimum

: 1 set

16. APAR (Alat Pemadam Api Ringan) minimum

: 10 set

17. Jas hujan berjumlah minimum

: 50 setel

18. Kotak P3K berjumlah minimum

: 6 set

Dan lain-lain yang berhubungan dengan K3.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 14

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 15

3. PENYIAPAN STANDARD FASILITAS DIKANTOR LAPANGAN

1. SU.3A UMUM

Pihak Kami akan menyediakan fasilitas untuk aktifitas yang dilaksanakan di kantor lapangan seperti : meja, kursi, white
board, meja gambar, meja rapat bersama, filing cabinet, rak buku, dll yang merupakan standard penunjang untuk kinerja
selama pelaksanaan konstruksi.

2. SU.3.B. PERSYARATAN

Kami menyediakan fasilitas standard ini ke MK
Jumlah fasilitas standard minimum yang harus disediakan antara lain :

Untuk Pihak Kontraktor dan untuk rapat:

- Meja ½ biro

: 8 buah

- Kursi lipat

: 16 buah

- Rak buku

: 2 buah

- Filing cabinet

: 2 buah

- Meja rapat

: 1 set

- White board

: 1 buah

Untuk MK :

- Meja ½ biro

: 4 buah

- Kursi lipat

: 4 buah

- Rak Buku

: 1 buah

- Filing cabinet

: 1 buah

- White board

: 1 buah

4. PENYIAPAN, PEMELIHARAAN DAN PENGETESAN BAHAN BAHAN
DILAPANGAN DAN DILABORATORIUM

4.A. UMUM

1. Seluruh material dan tata laksana kerja harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan standard SNI (Standard
Nasional Indonesia) dan standard lain yang umum berlaku, misal : ACI (American Concrete Institute), American
Society of Testing and Materials (ASTM), AWS (American Welding Society), JIS (Japan International Standard).

2. Apabila bahan-bahan dan tata laksana kerja dipersyaratkan pada Dokumen Kontrak ini mengikuti peraturan dan
Standard yang tercantum maka menjadi tanggung jawab Pihak Kami akan untuk menyiapkan bahan-bahan dan tata
laksana kerja yang sesuai dengan Standard yang sudah ditentukan dalam Kontrak.
3. Juga menjadi tanggung jawab Pihak Kami akan apabila dipersyaratkan dalam Dokumen Kontrak ataupun
permintaan tertulis dari MK untuk menyampaikan seluruh bukti-bukti yang dipersyaratkan bahwa bahan-bahan
ataupun tata laksana kerja sesuai dengan atau melebihi persyaratan dari standard yang tercantum. Bukti tersebut
harus dalam bentuk formulir dan diajukan secara tertulis kepada MK dan diperlukan juga salinan laporan sertifikasi
pengetesan.

4.B. STANDARISASI

Pihak Kami akan selalu menyediakan di kantor lapangannya paling tidak satu (1) salinan untuk setiap Standard dan
Peraturan yang mengacu kepada Dokumen Kontrak, disyahkan sesuai dengan Kontrak dan hal penting lainnya untuk
pelaksanaan pekerjaan dan selalu sedia sebagai referensi oleh MK bila diperlukan..

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 16

4.C. INSPEKSI, PENGUJIAN DAN PENGETESAN

BAHAN-BAHAN DAN PERALATAN

1. Bahan-bahan dan peralatan yang akan digunakan harus diperiksa, diuji dan di tes sebagaimana yang
tercantum dalam kontrak. Untuk mempersingkat waktu pemeriksaan, pengujian dan pengetesan maka Pihak
Kami akan mengajukan kepada MK dua salinan seluruh pemesanan bahan termasuk gambar-gambar dan
informasi lainnya yang mencakup bahan dan alat yang akan digunakan atau mengajukan bukti lainnya melalui
surat, email atau facsimile. Pemeriksaan, pengujian dan pengetesan bahanbahan dan alat tersebut tidak serta
merta membebaskan tanggung jawab kontraktor untuk menyediakan material dan alat yang memenuhi
persyaratan sesuai kontrak.

2. Seluruh pengujian dan pengetesan harus dilaksanakan oleh Pihak Kami akan dan disaksikan oleh MK, sesuai
dengan standardisasi dan persyaratan. Pengujian dan pengetesan dilaksanakan dilapangan dimana
diperlukan. Pengujian dan pengetesan yang dilaksanakan di luar lokasi pekerjaan dilakukan dilaboratorium
yang disetujui oleh MK.

3. MK mempunyai hak untuk menolak setiap bahan atau alat yang tidak sesuai dengan persyaratan yang ada di
kontrak. Pihak Kami akan tidak berhak untuk memperoleh tambahan pembayaran atau perpanjangan waktu
untuk penyelesaian pekerjaan berkenaan dengan penolakan bahan atau alat yang tidak sesuai dengan
persyaratan yang ada dikontrak atau karena tertundanya waktu karena pelaksanaan ulang pengujian dan
pengetesan.

4. Pihak Kami akan menyiapkan bahan-bahan yang akan di test dan bersedia membantu dan bekerjasama guna
memberikan izin pelaksanaan pengetesan ditempat kerja dilapangan termasuk juga menghentikan pekerjaan
untuk keperluan pengetesan.

5. Pihak Kami akan menyerahkan satu (1) asli dan satu (1) salinan untuk setiap hasil laporan pengetesan dan
catatancatatan lainnya untuk pekerjaan Sipil, arsitektur dan M&E dengan format yan g disetujui oleh MK dalam
waktu 7 hari setelah selesainya pengetesan

4.D. PENGETESAN DI LABORATORIUM DAN LAPANGAN

1. Pihak Kami akan melaksanakan pengetesan lapangan untuk seluruh pekerjaan Sipil, Arsitektur dan M&E
sesuai dengan yang disyaratkan dalam kontrak .
2. Untuk pengetesan-pengetesan tersebut Pihak Kami akan boleh menyiapkan alat-alat laboratorium sendiri
ataupun dari laboratorium dan alat pihak ketiga yang sudah disetujui oleh MK.
3. Pihak Kami akan mengajukan kepada MK bukti bahwa alat alat pengetesan yang digunakan sudah dikalibrasi
dengan benar sebelum dilakukannya pengetesan baik itu dilaboratorium sendiri atau laboratorium pihak ketiga
yang sudah disetujui MK. Selama pelaksanaan konstruksi Pihak Kami akan tetap harus mempertahankan alat
instrument tersebut terkalibrasi dari badan sertifikasi resmi. Informasi kalibrasi tersebut harus dimasukkan oleh
Pihak Kami akan dalam Sistem QA&QC Pihak Kami akan.
4. Pihak Kami akan menyiapkan skedul pengetesan lapangan dan laboratorium dengan mempertimbangkan dan
mengkorelasikan juga Skedul Pelaksanaan dan Kemajuan pekerjaan dan mengajukannya kepada MK untuk
dikaji.

5. Dalam pengetesan Pihak Kami akan mengikuti prosedur QA&QC yang sudah disetujui guna meyakinkan
bahwa bahan-bahan dan alat sudah sesuai dengan persyaratanpersyaratan MK dan hal-hal lain yang
tercantum dalam Kontrak.
6. MK berhak menyaksikan pengetesan yang dilakukan oleh Pihak Kami akan guna keperluan pengendalian mutu
pekerjaan dan sebagai bagian dari audit system QA&QC Pihak Kami akan. Alat pengetesan laboratorium atau
lapangan harus setiap saat disiapkan dan dapat diakses oleh MK. Setiap kesaksian pengetesan dari MK bukan
berarti Pihak Kami akan lepas dari kewajiban yang tercantum dalam Kontrak.
7. Pihak Kami akan menunjukkan lokasi-lokasi pengetesan termasuk juga pengetesan yang diarahkan oleh MK
dan memasukkan hal tersebut dalam laporan pengetesan.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 17

8. Satu asli dan satu salinan dari masing-masing laporan pengetesan dan catatan-catatan lainnya sesuai dengan
yang ada dalam Dokumen Kontrak sesuai format yang disetujui oleh MK akan diajukan ke MK sesegera
mungkin dalam waktu maksimum 3 hari.

4.E. JAMINAN MUTU PEKERJAAN

1. Faham dengan Standard-standard dan Peraturan. Dalam pengadaan bahan-bahan yang ada di item pekerjaan
adalah tanggung jawab Pihak Kami akan untuk memverifikasi persyaratan-persyaratan secara rinci dalam
standard dan peraturan guna meyakini bahwa bahan-bahan yang disiapkan sudah memenuhi atau melampaui
standard dan peraturan yang berlaku.
2. Penolakan atas item pekerjaan yang tidak sesuai standard
3. MK mempunyai hak untuk menolak item pekerjaan yang tidak memenuhi persyaratan minimum yang ada.

5. SURVEY DAN PENGUKURAN

5.A TITIK KONTROL SURVEY

1. Penggunaan titik control survey untuk elevasi dan sudut dilapangan untuk memulai pekerjaan nantinya akan
ditentukan oleh MK. Pembuatan BM dan referensi nantinya akan dilakukan oleh Pihak Kami akan setelah
disetujui oleh MK 2. Setiap titik control survey yang rusak akibat dari Pihak Kami akan atau Subpenyedia harus
diganti oleh Pihak Kami akan dengan biaya sendiri. Titik kontrol yang diperbaiki akan diperiksa oleh MK atas
biaya Pihak Kami akan.
2. Pihak Kami akan boleh membuat titik kontrol sementara, akan tetapi masing-masing titik ditempatkan dilokasi
yang mantap dan aman dari gangguan pelaksanaan pekerjaan Pihak Kami akan atau Subpenyedia. Setiap titik
bantu harus secara akurat berhubungan dengan titik control survey yang permanen.
3. Masing-masing titik control survey termasuk yang sementara harus secara rutin diperiksa oleh Pihak Kami akan
selama pelaksanaan konstruksi guna meyakinkan bahwa titik-titik tersebut tidak rusak atau bergeser.

5.B. SURVEY LAPANGAN

1. Pihak Kami akan secara bersamaan atau segera setelah memulai setting out melakukan pengukuran dan
menyiapkan profil potongan melintang dan memanjang dari kondisi lapangan yang ada (0%)sesuai dengan
instruksi dari MK untuk persiapan Gambar-gambar Konstruksi ataupun untuk setting out struktur.
2. Hasil pengukuran akan diajukan ke MK untuk kaji ulang dan persetujuan..

5.C. PEMATOKAN (STAKING OUT) PEKERJAAN KONSTRUKSI

1. Pihak Kami akan bertanggung jawab untuk menentukan patok untuk pengukuran dan harus menyiapkan
tenaga surveyor
1. yang berpengalaman dan cakap dalam pekerjaan tersebut yang disetujui oleh MK.
2. Pihak Kami akan dalam penawarannya harus memasukkan semua bahan-bahan, buruh dan alat survey
termasuk juga patok-patok, template dan lain-lain yang dibutuhkan penyedia dalam melaksanakan setting out
setiap pekerjaan yang dilaksanakan. Pihak Kami akan menggunakan alat survey yang mempunyai keakuratan
yang baik guna menetapkan titik survey yang benar dan untuk kontrol atas hasil pengukuran nantinya.
3. Apabila pada saat pengukuran selama masa konstruksi terdapat kesalahan atas posisi bangunan, elevasi,
dimensi dll, maka Pihak Kami akan atas instruksi MK harus memperbaiki kesalahan tersebut atas biaya
penyedia sendiri sampai MK menerima hasil pengukuran dimaksud

5.D. DATA SURVEY DAN PERHITUNGAN

Pihak Kami akan menyerahkan seluruh data survey, informasi, perhitungan, hasil-hasil dan catatan-catatan lain kepada
MK segera setelah dokumen dimaksud siap diserahkan.

5.E. SURVEY UNTUK PENGUKURAN VOLUME PEKERJAAN

1. Apabila Pembayaran Bulanan berdasarkan persentase pekerjaan aktual terhadap total kuantitas pekerjaan,
maka penyedia harus mengukur volume/kuantitas pekerjaan dimaksud yang dilaksanakan pada bulan

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 18

bersangkutan dengan teknik pengukuran alat survey kecuali jika pengukuran volume pekerjaan bisa langsung
dilakukan berdasarkan gambar-gambar yang sudah disetujui.
2. Pengukuran volume pekerjaan dengan alat survey hanya bisa dilakukan dengan disaksikan oleh MK. Pihak
Kami akan memberitahukan MK dalam waktu 24 jam sebelum pelaksanaan pengukuran tersebut.

6. MOBILISASI DAN BIAYA TIDAK LANGSUNG PERSONIL
(INDIRECT COST)

6.A UMUM

Mobilisasi dimaksudkan disini adalah transportasi dari tempat asal ke lokasi pekerjaan untuk peralatan penyedia, personil
inti dan staff lainnya berdasarkan jadwal. Apabila mobilisasi alat dan personil yang ada dalam daftar yang dibuat
penyedia sudah lengkap dan dapat beroperasi, maka penyedia harus mengajukan dokumentasi yang diperlukan ke MK
untuk persetujuan dan sertifikasi pembayaran.

Jadwal dan pemberitahuan transportasi alat

Bersamaan dengan pengajuan skedul pelaksanaan dan rencana kerja penyedia harus menyerahkan ke MK rencana
mobilisasi alat ke lokasi pekerjaan. Pihak Kami akan terus memberitahukan MK untuk kedatangan alat, dan bahan-bahan
penyedia dilapangan.

1. Biaya tidak langsung personil .
Pihak Kami akan memasukkan semua biaya tidak langsung personil Pihak Kami akan, seperti : mobilisasi, gaji, biaya
cuti, Jamsostek, THR dan bonus personil.

2. Pihak Kami akan menyiapkan jumlah personil minimum seperti berikut :
a. 1 orang Construction Manager
b. 1 orang Site Engineer (untuk penyiapan gambar konstruksi, gambar kerja, QA&QC, dll)
c. 1 Orang Safety Officer dan 1 orang safety man
d. 1 orang sekretaris/administrasi
e. 3 Orang supervisor (Untuk pekerjaan sipil dan gedung)
f. 1 Orang drafter
g. 2 orang surveyor
h. 6 orang security
i. 2 orang warehouse keeper (pengelola gudang)
j. 1 orang Office boy
k. Jamsostek pekerja sesuai peraturan pemerintah untuk seluruh staf inti dan pekerja/buruh dilapangan.
l. Biaya pengamanan eksternal (Social cost) minimum perbulan 0.09 % dari total nilai pengajuan kontrak.

3. Pihak Kami akan terus memberitahukan MK untuk kedatangan personil.

6.B. RAPAT PRA KONSTRUKSI (PRE CONSTRUCTION MEETING)

Dalam waktu 3 atau 7 hari setelah Penandatanganan Kontrak, Pihak Kami akan harus mengikuti Rapat Pra Pelaksanaan
(Pre Construction Meeting) yang dihadiri UnMuha/PCC, Manajemen Konstruksi, dan Pihak Kami akan untuk membahas
semua hal baik yang teknis maupun yang non teknis dalam proyek ini.

7. DEMOBILISASI
7.A. UMUM

Demobilisasi mencakup pemulangan peralatan penyedia dan personil inti serta staff lainnya dari lokasi pekerjaan .
Apabila demobilisasi alat dan personil yang ada dalam daftar yang dibuat penyedia sudah dipulangkan dari lokasi

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 19

pekerjaan, maka penyedia harus mengajukan dokumentasi yang diperlukan ke MK untuk persetujuan dan sertifikasi
pembayaran.

8. PAGAR SEMENTARA DAN AKSES JALAN ANGKUTAN SEMENTARA

8.A. PAGAR SEMENTARA

a. Pihak Kami akan membangun pagar sementara disekeliling areal proyek guna mencegah gangguan aktivitas

konstruksi terhadap kegiatan perkuliahan. Taksiran panjang keliling pagar yang dibangun sekitar 387 m’ dengan
tinggi pagar ± 2 m’. Pagar terbuat dari seng gelombang dengan tiang dolken dan gelagar kayu dan dicat. Pondasi
tiang terbuat dari beton dan berjarak sekitar 2m’ antar tiang. Pintu depan harus dibuat gerbang yang mudah dibuka
– tutup.

b. Menjadi tanggung jawab kami untuk melaksanakan pemeliharaan pagar sementara selama pelaksanaan konstruksi.
Pagar sementara harus diperbaiki apabila terjadi kerusakan

8.B. JALAN AKSES SEMENTARA

a. Pihak Kami akan membangun jalan akses sementara ke lokasi pekerjaan termasuk drainase yang diperlukan. Untuk
50 m’ pertama dari tepi jalan masuk kedalam area kampus, jalan yang ada hanya cukup untuk beberapa kali
lintasan truk kapasitas 8 m3 sehingga diperlukan penimbunan kembali lapis pondasi baru setelah beberapa kali
dilalui sedangkan sisa sekitar 95 m’ berikutnya penyedia harus menyiapkan selain lapis pondasi juga timbunan.
b. Pihak Kami akan mendesain dan membangun jalan akses sementara dengan lebar aman yang cukup yang
diperuntukkan nantinya dilalui oleh kendaraan angkut kapasitas 8 – 10 m3. Seluruh permukaan jalan akses harus
dilapisi dengan lapis pondasi aggregate (minimum kelas C) dengan ketebalan yang cukup. Desain jalan akses
sementara tersebut diajukan ke MK untuk persetujuannya.

8.C. PEMELIHARAAN JALAN AKSES

Menjadi tanggung jawab penyedia untuk melaksanakan pemeliharaan jalan dimaksud selama pelaksanaan konstruksi.

Dalam memelihara jalan akses ini penyedia harus melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Menambal lobang jalan dengan material yang sesuai seperti disebutkan dalam klausul 8 A. (2) diatas jika terjadi
kerusakan. Permukaan jalan akan tetap dijaga baik dan dilakukan perataan permukaan setelah selesai ditambal
b. Memelihara struktur sementara jalan akses
c. Menjaga agar jangan ada jatuhan batu besar, pohon, ranting, timbunan yang berlebihan diatas jalan akses
sementara. Jika terdapat jatuhan material tersebut akan segera dibersihkan.
d. Menjaga agar drainase samping jalan akses sementara tidak terganggu.

SEKSI 2 - PEKERJAAN TANAH

1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan tanah ini akan meliputi antara lain :
Pekerjaan galian
Pekerjaan penahan tanah
Pemompaan air tanah
Pekerjaan drainase sementara
Pekerjaan urukan
Pekerjaan pemadatan tanah
Pembuangan material galian

2. PEKERJAAN PERSIAPAN

(a) Pihak Kami menyediakan tenaga kerja, bahan perlengkapan, alat dan sarana pengangkutan serta peralatan
lain yang diperlukan untuk pekerjaan tanah.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 20

(b) Pihak Kami terlebih dahulu mempelajari Laporan Penyelidikan Tanah (Geotechnical Investigation Report) yang
telah dilaksanakan di lokasi proyek, sebelum memulai pekerjaan tanah. Ringkasan Boring Log telah
dilampirkan pada Dokumen lelang, sedangkan Laporan lengkapnya bisa diminta pada UnMuha melalui
Manajemen Konstruksi dengan permohonan tertulis.
(c) Semua penggalian dan cara pengukuran sesuai ketentuan spesifikasi teknik dan disetujui oleh Manajemen
Konstruksi atau wakilnya (Pengawas Lapangan).
(d) Karena sifat tanah yang berbeda, ada kemungkinan terjadi perubahan perancangan pada pelaksanaan
pekerjaan tanah. Perubahan tersebut dilakukan Pihak Kami dengan persetujuan Manajemen Konstruksi.

3. KEADAAN TANAH

Pihak Kami berkewajiban untuk memeriksa keadaan lapangan sebelum mengajukan penawaran, untuk mendapatkan
gambaran yang lebih jelas mengenai keadaan tanah yang akan digali dan diurug, menaksir galian yang akan
dikeluarkan dan tanah urug yang akan dibutuhkan, serta apakah tanah hasil galian akan kiranya memenuhi syarat
untuk dipakai kembali sebagai tanah urug. Perkiraan ini semata-mata menjadi resiko dari penyedia dan tidak akan
diadakan pertimbangan-pertimbangan dan penyesuaian.

4. LEVEL LAPANGAN

Level lapangan dan titik-titik atau kontur dianggap berlaku pada BM (bench mark) utama. Bilamana Pihak Kami tidak
yakin dengan ketepatan dari peil pengukuran BM utama maka Pihak Kami menyatakan hal ini secara tertulis kepada
Manajemen Konstruksi sebelum penggalian, pengukuran dan pemadatan dimulai.Klaim ketidaktepatan peil
pengukuran tidak akan dipertimbangkan.

5. GALIAN

5.1. Uraian Umum

1. Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan galian pondasi seperti yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar
atau sesuai dengan petunjuk Manajemen Konstruksi, termasuk di dalamnya adalah pekerjaan galian untuk
septictank, reservoir, pit, saluran-saluran dan pekerjaan-pekerjaan lain sesuai gambar.
2. Galian tanah untuk septictank, reservoir, saluranair, pondasi dan galian-galian lainnya sesuai dengan peil-peil
yang tercantum di dalam gambar.
3. Semua bekas-bekas pondasi bangunan lama, batu, jaringan jalan / aspal, akar dan pohon-pohon yang terdapat
di bagian pondasi yang akan dilaksanakan dibongkar dan dibuang. Bekas-bekas pipa saluran yang tidak
terpakai disumbat. Biaya untuk pekerjaan ini sudah diperhitungkan dalam biaya penawaran.
4. Galian tanah untuk pondasi, khususnya pile cap, dilaksanakan sesuai dengan yang ditentukan dalam gambar
rencana. Dalamnya semua galian sesuai dengan gambar dan mendapat persetujuan dari Manajemen
Konstruksi sebelumnya. Dasar galian bebas dari lumpur, humus dan air, dalam keadaan bersih dan padat,
sampai dapat diberi lapisan pasir urug sesuai gambar.
5. Pihak Kami melaporkan hasil pekerjaan penggalian tanah yang telah selesai, dan menurut pendapatnya sudah
dapat digunakan untuk pemasangan pondasi, khususnya pile cap, kepada Manajemen Konstruksi untuk
dimintakan persetujuannya. Semua pekerjaan yang dilaksanakan tanpa persetujuan Manajemen Konstruksi,
dapat mengakibatkan dibongkarnya kembali pekerjaan tersebut. Pekerjaan pembongkaran dan pemasangan
kembali pondasi atau pile cap adalah menjadi tanggung jawab Pihak Kami.
6. Penggalian dilakukan pada bagian-bagian yang lebih tinggi dari elevasi tanah yang direncanakan untuk
ketinggian dasar struktur dan dasar pondasi, dan bila ada juga untuk parit pipa serta saluran drainase. Hasil-
hasil galian diangkut ke tempat-tempat dimana diperlukan pengurugan, bila memang memenuhi syarat sebagai
tanah urug, atau ke tempat lain yang disetujui Manajemen Konstruksi. Dalam hal ini Pihak Kami hendaknya
menyediakan satu tempat yang disetujui Manajemen Konstruksi untuk menampung tanah hasil galian, yang
setelah mencapai jumlah tertentu, segera disingkirkan ke tempat lain yang ditunjuk oleh Manajemen
Konstruksi.

7. Galian tanah baru bisa dimulai setelah pemasangan patok atau bouwplank disetujui Manajemen Konstruksi.
8. Penggalian sesuai dengan garis dan elevasi yang telah tertera pada gambar rencana.
9. Kemiringan sisi galian membentuk sudut kemiringan yang aman dengan memperhatikan stabilitas kemiringan
lereng untuk jenis tanah di lokasi kerja. Untuk penentuan sudut kemiringannya, disamping perlu mempelajari
Laporan Penyelidikan Tanah terdahulu, juga perlu meninjau karakteristik visual lapisan tanah yang dijumpai di
lokasi kerja.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 21

10. Pihak Kami menjaga pengaruh-pengaruh luar kepada lubang galian seperti air tanah, hujan, air permukaan,
kelongsoran, lumpur yang masuk, maupun juga benda-benda lain yang tidak diinginkan. Biaya untuk pekerjaan
ini sudah diperhitungkan dalam biaya penawaran.
11. Jika ada kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat hal-hal tersebut di atas, maka penyedia bertanggung jawab
penuh atas segala kerusakan tersebut dan memperbaikinya kembali sesuai dengan instruksi Manajemen
Konstruksi.

12. Untuk galian-galian yang memotong saluran-saluran di bawah tanah, baik itu berupa kabel listrik,
telekomunikasi, saluran air dan sebagainya, maka Pihak Kami bertanggung jawab penuh agar tidak terjadi
gangguan/kerusakan pada saluran-saluran tersebut, untuk kemudian segera melapor kepada Manajemen
Konstruksi, dan bila diperlukan, memindahkannya ke tempat yang disetujui Manajemen Konstruksi.
13. Penyimpanan/pembuangan tanah galian tidak boleh mengganggu kedudukan patok-patok/bouwplank, atau
bagian-bagian yang tidak diperbolehkan terganggu kedudukannya.

5.1.2 Kedalaman galian

Kedalaman galian dilaksanakan sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar rencana. Namun demikian,
bila diperlukan, atau bila diperintahkan oleh Manajemen Konstruksi, lubang galian digali lebih dalam sampai
kedalaman yang diperlukan/ ditentukan, dan sampai didapat dasar galian yang bersih. Setelah galian selesai,
permukaan tanah diratakan, dibasahi seperlunya dan dipadatkan dengan baik.

5.1.3 Penggalian tanah untuk pondasi dan pile cap

1. Penggalian dilakukan sesuai dengan kebutuhan lebar lantai kerja pondasi atau pile cap, dimana lereng
tanah disebelah kiri-kanan galian dimiringkan keluar arah pondasi atau pile cap, dengan sudut kemiringan
yang aman dan stabil sehingga tidak menimbulkan keruntuhan.
2. Untuk pekerjaan penggalian tanah yang cukup luas dan dalam, serta bila lokasinya memungkinkan, maka
dipertimbangkan penggunaan alat berat dengan kapasitas yang sesuai.
3. Kecuali dinyatakan lain dalam gambar rencana, dasar dari galian datar (waterpass). Jika pada dasar
galian terdapat akar-akar kayu, kotoran-kotoran dan bagian-bagian tanah yang berongga (tidak padat),
maka bagian itu dikeluarkan seluruhnya, dan lubang yang terjadi diisi dengan pasir.
4. Setiap kelebihan galian di bawah permukaan yang telah ditentukan diurug kembali sampai permukaan
semula (yang direncanakan) dengan pasir , untuk mencegah turunnya struktur atas yang akan dikerjakan.
Pekerjaan pengurugan kembali tersebut dilaksanakan dengan biaya Pihak Kami.
5. Penggalian lapisan 15 cm terakhir dari dasar pondasi dilakukan dengan tangan, tidak diperbolehkan
menggunakan alat-alat berat, agar bisa didapatkan dasar galian yang rata dan bersih.
6. Air yang tergenang di lapangan atau galian yang ditimbulkan oleh mata air, hujan, kebocoran pipa-pipa,
atau sebab-sebab lainnya selama pelaksanaan pekerjaan, dikeringkan dan dipompa keluar atas biaya
Pihak Kami, dimana hal ini sudah diperhitungkan dan termasuk dalam harga satuan pekerjaan.
7. Jika tanah galian longsor secara terus menerus, maka Pihak Kami membuat turap penahan tanah atau
sheet pile atas biaya Pihak Kami. Hal ini juga sudah diperhitungkan dan termasuk dalam harga satuan
galian di dalam penawaran.

5.1.4 Penggalian batuan dan batuan besar

Batu-batu besar yang dijumpai pada waktu pengisian dikeluarkan atas biaya Pihak Kami. Hal ini sudah
diperhitungkan dan termasuk dalam harga satuan galian.

6. PENGAWASAN PENGGALIAN

Semua galian diperiksa terlebih dulu oleh Manajemen Konstruksi sebelum lapisan lantai kerja, pembesian, dan
elemen-elemen lain dipasang. Bila dipadatkan keadaan kurang memuaskan atau ternyata peil galian yang
tercantum dalam galian belum mencapai kedalaman yang disyaratkan, maka Pihak Kami mendapat ijin Manajemen
Konstruksi sebelum galian selanjutnya dilaksanakan.

7. PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN PADA GALIAN

Semua penyimpangan-penyimpangan penggalian akan diukur dari waktu ke waktu, dicatat, dan untuk selanjutnya
disahkan oleh Manajemen Konstruksi. Pihak Kami tidak boleh menutup kembali galian tersebut sebelum
pengukuran disetujui.

8. LANTAI KERJA

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 22

Apabila konstruksi beton bertulang akan langsung terletak di atas tanah, maka dibawahnya dibuat lantai kerja

yang rata.

Sebelum lantai kerja ini dibuat, maka semua lapisan tanah di bawahnya akan dipadatkan dan diratakan dengan
baik, serta kemudian dilapisi dengan lapisan pasir setebal yang disyaratkan dalam gambar. Lapisan pasir ini
juga selanjutnya dipadatkan sesuai dengan prosedur pemadatan, sampai didapatkan permukaan yang padat
dan rata, hal mana diperiksa dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
Untuk memadatkan tanah digunakan alat pemadat tanah yang disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
Lantai kerja dibuat dari beton mutu K-125 menurut N1-2, atau setara dengan fc’ – 10 Mpa menurut SKSNI-T15-
1991, kecuali bila disebutkan lain dalam spesifikasi ini.
Tebal dan peil lantai kerja sesuai dengan gambar. Jika tidak dinyatakan secara khusus dalam gambar, maka
tebal lantai kerja diambil setebal 10 cm.

9. PENGURUGAN TANAH

Material yang digunakan untuk sub-grade memenuhi standar spesifikasi AASHTO-M.57-64 dan diperiksa
terlebih dahulu di laboratorium tanah yang disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
Material yang dipakai untuk timbunan atau sub-grade memenuhi syarat pemadatan tanah untuk mencapai 95%
dari berat jenis kering maksimum (maximum dry density) menurut AASHTO-T.99.
Bila tanah galian ternyata tidak baik atau kurang dari jumlah yang dibutuhkan, maka penyedia mendatangkan
tanah urug yang baik dan cukup jumlahnya serta mendapatkan persetujuan dari Manajemen Konstruksi.
Pengurugan tanah dibentuk sesuai dengan peil ketinggian, kemiringan dan ukuran-ukuran yang tercantum
dalam gambar rencana atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Manajemen Konstruksi.
Untuk mendapatkan hasil pemadatan yang baik, tanah urug ditempatkan dalam lapisan-lapisan setebal
maksimum 20 cm dan dipadatkan sebaik baiknya dengan penambahan air secukupnya sehingga didapat
pemadatan yang optimum. Bila permukaan tanah akhir akan dibuat miring, maka kemiringan tanah diselesaikan
secara rata atau bertangga sebagaimana diminta oleh Manajemen Konstruksi.
Alat berat tidak boleh digunakan di tempat-tempat yang oleh Manajemen Konstruksi. dianggap berbahaya atau
dengan jarak yang kurang dari 45 cm terhadap saluran, batas-batas atau pekerjaan lain yang mungkin bisa
menjadi rusak
oleh karenanya.
Pengurugan kembali dari pondasi atau pile cap dilaksanakan dengan memadatkan tanah urug dalam lapisan-
lapisan setebal maksimum 20 cm. Pengurugan ini tidak boleh dilaksanakan sebelum diperiksa dan disetujui oleh
Manajemen Konstruksi.

10. URUGAN PASIR

Urugan pasir dilakukan di bawah semua pondasi, pile cap, atau lantai yang berhubungan langsung dengan
tanah, dengan ketebalan sesuai gambar, termasuk lantai rabat beton.
Urugan pasir disiram air kemudian ditumbuk hingga padat.
Bahan urugan pasir bersih, dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.

11. TEMPAT PEMBUANGAN MATERIAL

Tempat pembuangan material hasil galian, sampah atau bongkaran menjadi tanggung jawab Pihak Kami.
Pihak Kami menjaga tempat pembuangan material agar tidak merusak lingkungan.
Timbunan tanah bekas galian dibuat dan diatur sedemikian rupa sehingga aman dari terjadinya longsoran.

12. PEMOMPAAN AIR TANAH (DEWATERING)

Penggalian tanah dikerjakan dalam keadaan kering. Bila karena adanya hujan, air permukaan lingkungan, air tanah
atau mata air sehingga lokasi pekerjaan atau galian menjadi tergenang, maka Pihak Kami bertanggung jawab untuk
merencanakan sistem pemompaan air tanah yang sudah dimasukkan dalam biaya penawaran lelang. Pemompaan
dapat dikerjakan dengan memompa secara langsung, atau cara-cara lain yang disetujui Manajemen Konstruksi.

BAB 2. PEKERJAAN PONDASI

1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan pondasi ini akan meliputi semua pengadaan tenaga kerja dan bahan-bahan material untuk pelaksanaan
pekerjaan tersebut, termasuk pengadaan dan pelaksanaan tiang pancang, pembuangan pile cap, serta pondasi

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 23

dangkal/telapak bila diminta dalam gambar, dan semua pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan
pondasi, sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar.

2. JENIS PONDASI

Sesuai dengan kondisi tanah di lokasi pekerjaan, tiang pancang mini akan dipakai sebagai elemen pondasi utama
bangunan ruang kelas. Untuk itu telah dipilih penggunaan tiang beton pracetak mini, seperti ditunjukkan dalam gambar.
Untuk pondasi penunjang, bila ditunjukkan dalam gambar, akan digunakan pondasi dangkal/telapak beton untuk
mendukung beban-beban yang ringan.

3. PEKERJAAN TIANG PANCANG

(a) Uraian umum

1. Lingkup pekerjaan

Lingkup pekerjaan yang akan kami kerjakan adalah :
Menyediakan semua bahan-bahan, tenaga kerja, perlengkapan kerja dan peralatan, serta melaksanakan semua
pekerjaan sehubungan dengan pengadaan tiang pancang beton pracetak mini, dan pelaksanaan pemancangan.
Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi ini tidak akan diterima oleh Manajemen Konstruksi, dan
dengan demikian diulang dengan biaya sepenuhnya dari Pihak Kami.

2. Pelaksanaan pekerjaan tiang pancang mini beton pracetak memerlukan ketepatan, ketelitian dan pengetahuan
pelaksanaan yang cukup tinggi. Karenanya, Pihak Kami mampu menyediakan peralatan yang baik, lengkap dan
pekerja-pekerja/pengawas-pengawas ahli yang terampil dan berpengalaman.

3. Sebelum pemesanan tiang pancang dilakukan, Pihak Kami memberi tahu Manajemen Konstruksi minimal satu
minggu sebelumnya, untuk mendapatkan persetujuannya.

(b) Mutu bahan

Untuk pondasi utama bangunan ruang kelas, dipakai tiang pancang mini beton pracetak berpenampang bujur
sangkar dengan sisi luar 200 mm kelas A seperti produksi Wijaya Karya atau setara yang disetujui oleh Manajemen
Konstruksi. Di bawah ini adalah spesifikasi tiang pancang :
Sisi : 200 mm x 200 mm

Mutu beton : minimal dengan kuat tekan silinder fc’ = 40 MPa, artinya mempunyai kuat tekan hancur karakteristik

sebesar 40 MPa pada benda uji silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm, saat umur beton 28 hari. Kuat
tekan tersebut di atas adalah lebih kurang setara dengan mutu beton K-500 pada NI-2, yaitu kuat tekan hancur
karakteristik sebesar 500 kg/cm2 pada benda uji kubus dengan sisi 150 mm, saat umur beton 28 hari.

Kuat tekan karakteristik adalah kuat tekan beton yang sudah memperhitungkan adanya deviasi secara statistik pada
sejumlah benda uji beton, baik itu silinder maupun kubus.
Spesifikasi teknis : Sesuai dengan ACI 543R-74 atau JIS A. 5335.

(c) Pelaksanaan pemancangan

1. Driving cap

Selama pekerjaan pemancangan, kepala tiang dilindungi dengan bantalan pancang (driving cap).

2. Hammer

Pemancangan memakai alat pancang “winch operated drop hammer” atau setara. Untuk pemancangan tiang
mini 200 mm x 200 mm dipakai hammer berkapasitas paling tidak 1,8 ton, yang mendapatkan persetujuan
dari Manajemen Konstruksi.

3. Pengikat

Selama pekerjaan pemancangan, tiang pancang diikat sedemikian rupa sehingga tiang tidak dapat bergerak
pada arah horizontal.

4. Penetrasi

a. Tiang pancang dipancang sampai kedalaman tanah keras, dengan terus memantau secara teliti besarnya
penetrasi pemancangan sampai mencapai nilai penetrasi akhir (final sets) untuk tiap pukulan seperti yang

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 24

diminta oleh Manajemen Konstruksi. Untuk keperluan pekerjaan ini, maka pemancangan boleh dihentikan
bila dicapai penetrasi pada 10 pukulan terakhir sebesar nilai penetrasi akhir yang diperoleh dari formula
dinamik seperti Hiley atau ENR. Nilai penetrasi akhir hasil perhitungan formula yang akan digunakan untuk
pemancangan tersebut perlu mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Perencana Struktur dan
Manajemen Konstruksi.
b. Untuk tiap tiang yang dipancang, maka grafik kalendering dibuat oleh Pihak Kami, terutama untuk 10
pukulan terakhir, dan selanjutnya segera diserahkan kepada Manajemen Konstruksi untuk dievaluasi
kinerja dan daya dukungnya.

5. Tiang pancang tambahan

Sesuatu tiang pancang yang rusak pada saat pemancingan atau pengangkatan/pengangkutan, yang
mengakibatkan keutuhan/integritas struktur tiang tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi, diganti atau dicabut
atau dipakai tiang pancang tambahan dengan persetujuan Manajemen Konstruksi tanpa biaya tambahan
kepada Pihak Kami.

6. Tiang-tiang pancang tidak boleh menyimpang lebih dari 1,25% kemiringan, dan bergeser lebih dari yang
dibatasi oleh daftar berikut ini :
Toleransi sendiri Toleransi satu tiang terhadap tiang didekatnya 75 mm 100 mm Paling lambat 5 hari setelah
pemancangan selesai, Pihak Kami mengirimkan data kemiringan dan letak akhir tiang pancang terhadap as
struktural yang seperti ditunjukan dalam gambar.

7. Penyambungan

a. Apabila diperlukan, penyambungan dilaksanakan sesuai petunjuk dari pembuat tiang (manufacturing).
b. Masing-masing pasangan (antara yang disambung dan penyambungnya) diberi tanda.
c. Sambungan dilakukan dengan las mengikuti AWS Code, dan dikerjakan oleh ahli las bersertifikat.
d. Sambungan diberi cat anti karat/epoxy yang sudah disetujui oleh Manajemen Konstruksi sebelumnya.

8. Data-data karakteristik dari alat pancang yang akan dipakai berikut proposal prosedur pemancangan termasuk
prosedur kalendering dan percobaan pembebanan lengkap (untuk mengantisipasi jika terdapat kasus) dengan
cara interprestasi hasilnya, diberikan kepada Manajemen Konstruksi minimal dua minggu sebelum memulai
pemancangan. Pemancangan hanya dapat dimulai setelah mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi.
Data-data pemancangan dari semua tiang pancang diberikan paling lambat hari berikutnya sesudah hari
pemacangan tiang yang bersangkutan dan data ini disahkan oleh Manajemen Konstruksi.

9. Bila tiang pancang dicabut, karena kesalahan dalam pemancangan, dan bila tidak dipancang kembali, maka
lubang yang ditimbulkan diisi dengan batu-batu koral atau pasir. Pencabutan dilakukan dengan peralatan
yang cukup efisien dengan kapasitas yang memadai. Pencabutan dilakukan sedemikian rupa sehingga
kerusakan yang terjadi pada pole head maupun tanah sekitarnya diusahakan seminimal mungkin.

10. Bagian atas dari semua tiang-tiang yang menonjol (karena tidak dapat dipukul masuk lagi ke dalam tanah)
dimana elevasi tinggi puncak tiang (setelah pemancangan) berada di atas dari yang diminta oleh gambar
rencana, dipotong pada level ketinggian 100 mm di atas level ketinggian sisi bawah pile cap. Pemotongan
tiang pancang boleh dilakukan setelah tiang tersebut stabil, dan tidak menunjukkan lagi indikasi pergerakan
(delayed upward).

(d) Panjang tiang dan daya dukung

1. Daya dukung (yang diijinkan) tiang pancang mini beton pracetak 200 mm x 200 mm yang dipakai sebagai
pondasi utama bangunan ruang kelas, direncanakan sebesar 52,66 ton. Untuk mencapai daya dukung
tersebut, maka pemancangan dilakukan dengan jenis hammer yang sesuai (seperti disebutkan dalam
spesifikasi ini) sampai mencapai nilai penetrasi yang disepakati pada 10 pukulan terakhir.

2. Diperkirakan kedalaman tiang adalah ± 12 M’ dari titik 0 struktur. Namun bila melihat pada data penyelidikan
tanah yang tersedia, dimana terlihat kondisi tanah yang agak heterogen, maka Pihak Kami dianjurkan untuk
secara teliti mengevaluasi panjang tiang yang dibutuhkan pada masing-masing lokasi bangunan. Panjang yang
tercantum adalah perkiraan. Apabila dianggap perlu, Pihak Kami dapat melakukan driving test atas biaya
sendiri untuk mengetahui panjang tiang secara lebih pasti. Bila sampai terjadi panjang tiang yang dipancang
melebihi apa yang sudah diperkirakan, maka dalam hal apapun Pemberi Tugas/Manajemen Konstruksi tidak
akan menanggapi tuntutan (claim) baik penyesuaian harga maupun waktu pelaksanaan pekerjaan dalam

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 25

Kontrak yang sudah ditetapkan bagi pekerjaan tiang pancang, sebagai akibat kelebihan panjang tiang tersebut
di atas.

(e) Percobaan pembebanan tiang pancang

1. Percobaan pembebanan tiang pancang hanya dilakukan jika terjadi keraguan terhadap daya dukung tiang
pancang berdasarkan kondisi seluruh tiang pancang setelah pemancangan; dan nilai kalendering dari seluruh
tiang pancang.

2. Percobaan beban vertical tekan secara statik akan dilaksanakan setelah dilakukan pemancangan tiang sesuai
lokasi dalam gambar. Posisi tiang percobaan akan ditentukan kemudian oleh Manajemen Konstruksi/Konsultan
Perencana Struktur berdasarkan hasil pemancangan. Besarnya beban uji akan diambil sampai dengan sebesar
150% beban rencana (Design Load) untuk percobaan yang dilakukan pada tiang yang dipakai (working plane),
dan 200% beban rencana untuk percobaan yang dilakukan pada tiang yang tidak dipakai (tiang percobaan atau
test pile).

3. Bila tidak diinstruksikan lain oleh Manajemen Konstruksi, maka percobaan pembebanan mengikuti prosedur
ASTM-D.1143. Sebelum percobaan pembebanan dilaksanakan, Pihak Kami menyerahkan usulan teknik
secara rinci yang meliputi prosedur percobaan pembebanan, letak dan dimensi balok penahan beban, cara
pemasangan alat pengukur penurunan dan sebagainya, untuk memperoleh persetujuan Manajemen
Konstruksi. Dalam hal percobaan akan menggunakan sistem angkur pada tiang pancang sebagai penahan
beban, maka working pile tidak boleh dipergunakan sebagai anchor pile. Usulan ini sudah diserahkan minimal
dua minggu sebelum uji pembebanan dilaksanakan.

4. Dalam hal digunakan sistem tiang angkur, maka jumlah tiang angkur harus mencukupi untuk mencegah
terjadinya pergerakan yang berlebihan pada tiang angkur. Semua peralatan pengukuran dilindungi dari panas
matahari. Jarak antara penyangga alat pengukur penurunan dengan tiang angkur ataupun tiang percobaan
diambil minimum sebesar 2.50 meter.

5. Jumlah percobaan beban statik yang akan dilakukan adalah 2 buah (1 buah untuk pembebanan pada working
pile, dan 1 buah pada test pile, atau bila dijumpai kesulitan pengadaan tiang angkur disekitar working pile,
maka atas persetujuan Manajemen Konstruksi , 2 buah keseluruhannya bisa dilakukan pada test piles, yang
lokasinya akan ditentukan kemudian berdasarkan hasil pemancangan tiang.

6. Disamping dilakukan percobaan pembebanan statik konvensional, maka untuk alternatif pengujian jika disetujui
Konsultan Perencana Struktur dan Manajemen Konstruksi, dapat dilakukan 8 (delapan) buah uji pembebanan
dinamik pada 8 buah tiang yang dipilih, dengan cara PDA (Pile Driving Analysis) atau SST (Seismic Shock
Test). Cara mana yang dipakai mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi. Untuk itu usulan pengujian
beserta semua prosedur lengkapnya, baik dengan cara PDA maupun SST, sudah disampaikan kepada
Manajemen Konstruksi minimal dua minggu sebelum uji pembebanan akan dilaksanakan. Lokasi pengujian
akan ditentukan kemudian berdasarkan hasil pemancangan tiang.

7. Dalam hal percobaan beban tidak memenuhi kriteria keamanan yang ditentukan untuk daya dukung tiang,
Pihak Kami berkewajiban untuk mengulangi percobaan beban pada tiang yang dicurigai yang lain atas biaya
sendiri. Disamping itu, Pihak Kami berkewajiban menambah tiang pada kelompok tiang dimana terjadi
kegagalan kriteria keamanan pada percobaan beban.

8. Pihak Kami diwajibkan mencatat semua kejadian pada saat dilakukan percobaan pembebanan.

9. Sehubungan percobaan beban hanya dilaksanakan pada beberapa tiang, Pihak Kami tetap bertanggung
jawab dan menjamin semua tiang memenuhi syarat toleransi daya dukung yang ditentukan. Dapat dipenuhinya
beberapa tiang tidak melepaskan Pihak Kami dari tanggung jawab atas keseluruhan pekerjaan pondasi.

(f) Prosedur dan peralatan uji beban statik

1. Acuan prosedur

Yang dimaksud dengan prosedur disini ialah prosedur pengujian beban statik tiang tunggal vertikal untuk
menentukan hubungan antara beban vertikal dengan penurunan tiang (diukur dari kepala tiang). Prosedur
pengujian dan peralatan yang digunakan untuk percobaan pembebanan mengikuti prosedur ASTM-D.1143
dengan cara pembebanan “Standard Loading Procedure”. Percobaan pembebanan tiang pancang hanya

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 26

dilakukan jika terjadi keraguan terhadap daya dukung tiang pancang berdasarkan kondisi seluruh tiang
pancang setelah pemancangan; dan nilai kalendering dari seluruh tiang pancang.

2. Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan untuk percobaan ini adalah :
a. Hydraulic Jack.
b. Balok penahan beban dan sistem penyangga alat pengukur penurunan.
c. Dial gauge yang sudah dikalibrasi dan dibuktikan dengan sertifikat, dengan tingkat ketelitian pengukuran
0,01 mm (atau 1/100 mm).
d. Alat waterpass untuk mengontrol kemungkinan tercabutnya tiang angkur.
e. Peralatan lain yang diperlukan.

3. Alat pembebanan

Cara yang digunakan untuk melimpahkan beban vertikal pada tiang dilakukan sebagai berikut :
Beban dilimpahkan pada tiang dengan jalan mengoperasikan hydraulic jack yang ditahan oleh baja profil,
dimana balok baja tersebut dihubungkan pada sistem tiang angkur untuk menahan gaya tarik sebagai kontra
reaksi. Bila ternyata sulit dipakai sistem angkur karena kapasitas tarik tiang angkur tidak memenuhi syarat,
maka dapat diberikan kontra beban berupa blokblok beton di atas balok baja, yang mempunyai berat total
yang secara aman bisa menahan beban percobaan. Cara maupun yang dipakai, mendapatkan persetujuan
terlebih dahulu dari Manajemen Konstruksi.

4. Dial gauge

Dial gauge dipasang pada tiang percobaan melalui sistem penyangga bebas. Sistem ini disebut penyangga
bebas karena diletakkan sedemikian rupa sehingga pada saat berlangsungnya uji pembebanan, pembacaan
dial gauge bebas dari pengaruh (tidak boleh dipengaruhi) penurunan tiang percobaan maupun gerakan tiang
angkur. Dial gauge mempunyai ketelitian pembacaan 0,01 mm.

5. Prosedur pembebanan

Prosedur pembebanan mengikuti “Standar Loading Procedure” dari ASTMD. 1143.

Beban percobaan diambil sampai satu setengah kali beban rencana untuk working pile, dan minimum sampai
dua kali beban rencana pada unused pile atau tiang pe-rcobaan. Dengan demikian, beban percobaan diambil
sampai :
- 1,5 x 17,8 ton = 27 ton (dibulatkan) untuk working pile, dan
- 2,0 x 17,8 ton = 36 ton (minimum) untuk unused pile.

6. Laporan

Laporan dari percobaan pembebanan mencantumkan informasi-informasi berikut :
a. Kondisi dari tanah pada lokasi percobaan pembebanan.
b. Data-data alat pancang, misalnya berat hammer, energy blow, dan lain-lain.
c. Data-data tiang dan driving record termasuk besarnya final driving sets dalam 10 pukulan terakhir.
d. Pembacaan dari penurunan tiang dengan interval waktu tertentu setiap penambahan dan pengurangan

beban.

e. Grafik yang menggambarkan hasil percobaan pembebanan dalam siklus lengkap, dalam bentuk kurva
waktu-beban-penurunan kepala tiang.
f. Catatan mengenai hal-hal yang tidak umum yang terjadi selama proses percobaan pembebanan.

7. Hal-hal lain

a. Penggunaan jack ditempatkan pada tempat yang terlindungi dari sinar matahari, hal ini untuk menghindari
oli dari jack tersebut memuai yang dapat mengakibatkan tidak konstannya beban.
b. Jika terjadi lendutan dari balok penahan yang cukup besar, maka bila hal ini bisa mempengaruhi posisi
penyangga alat pembaca penurunan, pembacaan penurunan tiang diadakan koreksi.
c. Kalibrasi jack serta manometer yang dipakai baru (sesudah dikalibrasi tidak boleh pernah dipakai di

proyek lain).

(g) Perhitungan volume pekerjaan

Bila disepakati dalam Kontrak bahwa prestasi pekerjaan tiang pancang akan didasarkan pada volume riil yang
terlaksana di lapangan (bukan berdasarkan lumpsum), maka volume pekerjaan tiang pancang yang dibayarkan,

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 27

akan dihitung berdasarkan panjang tiang pancang terpasang, yang diperhitungkan dari level ketinggian tiang
sesudah dipotong

4. PEKERJAAN POER ( PILE CAP )

a. Uraian umum

1. Pekerjaan pile cap dilaksanakan setelah selesainya pekerjaan pemancangan, dengan tujuan untuk membuat
tiang-tiang bekerja sebagai satu kesatuan dalam menahan bebas dari struktur atas, baik itu vertikal, lateral
maupun gulingan.
2. Pekerjaan pile cap dilaksanakan sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar rencana.
3. Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi ini tidak akan diterima oleh Manajemen Konstruksi, dan
dengan demikian diulang dengan biaya sepenuhnya dari Pihak Kami.

b. Pekerjaan galian

1. Untuk melaksanakan pile cap dengan ukuran dan level ketinggian yang sesuai dengan permintaan gambar
rencana, perlu dilakukan penggalian sampai minimal selebar ukuran lantai kerja dan sedalam level dasar
lapisan pasir yang diisyaratkan. Dalamnya galian diperiksa dan mendapatkan persetujuan dari Manajemen
Konstruksi.

2. Karena keadaan tiang pancang yang cukup rapat, maka bila penggalian sulit dilaksanakan dengan
menggunakan alat-alat berat, penggalian dilakukan dengan tenaga orang.
3. Dasar galian bebas dari lumpur, humus dan air, dalam keadaan bersih dan cukup padat. Karenanya dalam
pekerjaan penggalian tanah termasuk juga pembuangan segala benda yang ditemukan dalam bentuk apapun
yang dapat mengganggu pelaksanakan pekerjaan pile cap.
4. Tanah hasil galian diangkut ke tempat-tempat dimana diperlukan pengurukan, bila memang memenuhi syarat
sebagai tanah uruk, atau ke tempat lain yang disetujui Manajemen Konstruksi. Dalam hal ini Pihak Kami
hendaknya menyediakan satu tempat yang disetujui Manajemen Konstruksi untuk menampung tanah hasil
galian, dimana setelah mencapai jumlah tertentu, segera disingkirkan ke tempat lain yang ditunjuk oleh
Manajemen Konstruksi.
5. Pada sisi tepi batas galian, kemiringan galian membentuk sudut kemiringan yang aman dengan
memperhatikan stabilitas kemiringan lereng untuk jenis tanah di lokasi kerja. Untuk penentuan sudut
kemiringannya, disamping perlu mempelajari Laporan Penyelidikan Tanah terdahulu, juga perlu meninjau
karakteristik visual lapisan permukaan tanah yang dijumpai di lokasi kerja. Namun dalam kondisi apapun,
stabilitas dan permukaan galian selama pekerjaan berlangsung merupakan tanggung jawab dari Pihak Kami,
yang memperbaiki semua kelongsoran-kelongsoran bila terjadi. Untuk itu bila dirasa perlu Pihak Kami
membuat penyangga-penyangga penahan selama pekerjaan galian.
6. Pihak Kami menjaga pengaruh-pengaruh luar kepada lubang galian seperti air tanah, air permukaan,
kelongsoran, lumpur yang masuk, maupun juga benda-benda lain yang tidak diinginkan. Biaya untuk pekerjaan
ini sudah diperhitungkan dalam biaya penawaran. Jika ada kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat hal-hal
tersebut di atas, maka Pihak Kami bertanggung jawab penuh atas segala kerusakan tersebut dan
memperbaikinya kembali sesuai dengan intruksi Manajemen Konstruksi.
7. Bila karena adanya hujan, atau karena tingginya air permukaan lingkungan atau air tanah, atau karena adanya
mata air sehingga lokasi pekerjaan atau galian menjadi tergenang, maka Pihak Kami bertanggung jawab untuk
merencanakan sistem pemompaan air tanah yagn sudah dimasukkan dalam biaya penawaran lelang.

c. Pekerjaan persiapan pembetonan

1. Bagian atas dari semua tiang-tiang yang menonjol (karena tidak dapat dipukul masuk lagi ke dalam tanah)
dimana elevasi tinggi puncak tiang (setelah pemancangan) berada di atas dari yang diminta oleh gambar
rencana, dipotong pada level ketinggian 100 mm di atas level ketinggian sisi bawah pile cap. Pemotongan
tiang hanya boleh dilakukan setelah tiang tesebut stabil, dan tidak menunjukkan lagi indikasi pergerakan
(delayed upward displacement).
2. Untuk persiapan pembetonan pile cap, maka dasar galian perlu terlebih dahulu dilapisi dengan lapisan pasir
setebal yang disyaratkan dalam gambar rencana, dan yang kemudian dipadatkan sesuai prosedur pemadatan.
Hasil pelapisan dan pemadatan pasir tersebut diperiksa dan mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi.
3. Selanjutnya sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar, dibuat lantai kerja dengan ukuran dan tebal
seperti yang disyaratkan dalam gambar.
4. Lantai kerja dibuat dari beton dengan mutu fc’ = 10 MPa menurut SKSNI-T15-1991, atau lebih kurang setara
dengan K-125 menurut N1-2. Peil akhir lantai kerja diperiksa kembali terhadap level ketinggian yang
disyaratkan dalam gambar rencana.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 28

d. Pekerjaan beton bertulang

1. Beton bertulang untuk pile cap dilaksanakan dengan standar mutu bahan sebagai berikut :

Mutu beton : Minimal dengan kuat tekan silinder fc’ = 22,5 MPa artinya mempunyai kuat tekan hancur
karakteristik sebesar 22,5 MPa pada benda uji silinder dengan diameter150 mm dan tinggi
300 mm, saat umur beton 28 hari .Kuat tekan tersebut di atas adalah lebih kurang setera
dengan mutu beton K-275 pada NI-2, yaitu kuat tekan hancur karakteristik sebesar 275
kg/cm2 pada benda uji kubus dengan sisi 150 mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan
karakteristik adalah kuat tekan beton yang sudah memperhitungkan adanya deviasi secara
statistik pada sejumlah benda uji beton, baik itu silinder maupun kubus.

Tulangan baja : BJTP-30, artinya baja tulangan polos dengan batas elastis atau tegangan leleh sebesar
300 MPa, untuk tulangan kecil dengan diameter lebih kecil dari 13 mm BJTS-40, artinya
baja tulangan ulir (deformed) dengan batas elastis atau tegangan leleh sebesar 400 MPa.

2. Sebelum penyetelan dan pemasangan baja tulangan dimulai, Pihak Kami membuat rencana kerja pemotongan
dan pembengkokan baja tulangan (bar bending schedule), yang sebelumnya diserahkan kepada Manajemen
Konstruksi untuk mendapatkan persetujuan. Tulangan bebas dari kotoran-kotoran seperti lemak, karet lepas,
tanah, serta bahan-bahan atau kotoran yang bisa mengurangi daya rekatnya. Semua besi beton bebas dan
bersih dari karat sesuai dengan ukuran pabrik, bersih pula dari olie, gemuk, cat dan lain sebagainya, atau hal
lain yang dapat menyebabkan berkurangnya daya ikat besi beton terhadap beton. Apabila diinginkan atau
dipandang perlu, maka Manajemen Konstruksi akan memerintahkan untuk menyikat dengan sikat kawat untuk
membersihkan besi beton tersebut sebelum dipergunakan.
3. Pembengkokan baja tulangan dilakukan secara hati-hati dan teliti, sesuai dengan aturan dalam SKSNI.
Pembengkokan tersebut harus dilakukan oleh tenaga yang ahli, dengan menggunakan alat-alat sedemikian
rupa sehingga tidak menimbulkan cacat, patah dan retak-retak pada batang baja.
4. Acuan dibuat dari bahan yang disetujui oleh Manajemen Konstruksi , seperti kayu dan multiplex/triplex dengan
tebal minimum 5 mm, atau bahan lain yang diinstruksikan oleh Manajemen Konstruksi, serta memenuhi syarat-
syarat kekuatan dan daya tahan, serta mempunyai permukaan yang baik untuk pekerjaan finishing pada bagian
yang berada di atas permukaan tanah (bila ada). Pihak Kami memberikan contoh dari perhitungan kekuatan
bahan yang akan dipakai untuk acuan, untuk disetujui oleh Manajemen Konstruksi .
5. Acuan dipasang sesuai dengan ukuran-ukuran jadi yang ada di dalam gambar dan menjamin bahwa ukuran-
ukuran tersebut tidak akan berubah sebelum dan selama pengecoran. Acuan juga dipasang sedemikian rupa
sehingga tidak akan terjadi kebocoran atau hilangnya air selama pengecoran.
6. Pemasangan dan penyetelan tulangan baja dilakukan berdasarkan ukuran, bentuk dan peil yang sesuai
dengan gambar rencana, dan sudah diperhitungkan mengenai toleransi penurunannya. Pemasangan dilakukan
dengan menggunakan pengganjal jarak selimut beton (beton decking) untuk mendapatkan tebal selimut seperti
yang disyaratkan dalam gambar. Apabila hal tersebut tidak tercantum di dalam gambar atau dalam spesifikasi,
maka dapat digunakan ketentuan peraturan yang berlaku.
7. Adukan beton berupa “ready mixed concrete” dan memenuhi syaratsyarat SKSNI. Di lokasi batching plant
yang disiapkan sebelumnya, Pihak Kami mengadakan/membuat adukan beton menurut komposisi adukan dan
proporsi campuran yang baik, dan bertanggung jawab penuh atas kekuatan beton yang disyaratkan.
Penggunaan air sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan beton dengan kinerja yang baik. Sebelum
produksi beton, Pihak Kami diharuskan membuat adukan percobaan (trial mixes) untuk mendapatkan proporsi
campuran yang menghasilkan beton dengan mutu dan kinerja seperti yang disyaratkan, untuk disetujui oleh
Manajemen Konstruksi. Dalam hal ini adukan percobaan perlu dibuat dalam beberapa proporsi campuran yang
berbeda (utama dan pendamping) untuk mendapatkan campuran yang optimum. Proporsi campuran bahan
dasar beton ditentukan sedemikian agar beton yang dihasilkan memberkan kekuatan tekan dan tingkat
kelecakan (workability) serta konsistensi yang memungkinkan pengerjaan beton (penuangan, peralatan dan

pemadatan) secara “mudah” ke dalam acuan dan ke sekitar tulangan, tanpa menimbulkan kemungkinan

segregasi agregat dan terpisahnya air (bleeding) secara berlebihan.
8. Bila tempat pengadukan beton (batching plant) tidak berada di lokasi pekerjaan, maka adukan beton
secepatnya dibawa ke tempat pengecoran, untuk menghindarkan sudah terjadinya setting di awal atau
degradasi mutu beton akibat waktu transportasi yang lama. Dalam hal ini penggunaan alat transportasi
pengangkut adukan beton haruslah mendapat persetujuan Manajemen Konstruksi. Semua alat pengangkut
yang dipergunakan selalu dibersihkan dari sisasisa adukan beton yang mengeras.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 29

9. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat yang akan dicor terlebih dahulu dibersihkan dari segala kotoran
(potongan kayu, batu, tanah dan lainlain) dan dibasahi dengan air semen.
10. Sama sekali tidak diperkenankan mengadakan pengecoran beton sebelum besi yang terpasang telah diperiksa
dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
11. Pengecoran dilakukan secara berlapis dan kontinyu, atau dengan metode pengecoran yang diusulkan Pihak
Kami dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi, dengan memperhatikan cara atau urutan pengecoran karena
volume pengecoran yang cukup besar, agar tidak terjadi cold joint dan juga menghindari kemungkinan
degradasi atau kerusakan beton akibat panas hidrasi yang berlebihan. Untuk itu, sebelum pengecoran
dilaksanakan, Pihak Kami menyampaikan usulan prosedur pengecoran yang optimum kepada Manajemen
Konstruksi, dengan memperhatikan semua aspek terutama masalah panas hidrasi pada beton massa seperti
tersebut di atas, untuk mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi.
12. Dalam segala hal tidak dibenarkan untuk menuangkan adukan dengan menjatuhkan dari suatu ketinggian yang
terlampau tinggi sehingga bisa menimbulkan pengendapan agregat, yang dengan demikian akan menurunkan
mutu dan kinerja beton.
13. Bila pengecoran dihentikan untuk kemudian dilanjutkan dalam waktu lebih dari 24 jam, atau bila dipandang
perlu oleh Manajemen Konstruksi, maka permukaan beton lama yang akan disambung terlebih dahulu
dibersihkan dan bila perlu dikasarkan dengan menyikat, atau dengan cara lain bila betonnya sudah sangat
mengeras, ditambahkan lapisan tipis bonding additive sejenis epoxy resin atau setara, atau minimal disiram
dengan air semen dan selanjutnya baru dicor dengan beton baru. Tempat dimana pengecoran akan dihentikan
mendapat persetujuan Manajemen Konstruksi.

14. Agar supaya kualitas beton yang digunakan dapat dikontrol dengan baik sesuai spesifikasi dan standar yang
ada, maka selama proses pengecoran, perlu dilakukan uji slump dan pengambilan contoh benda uji, dengan
disaksikan oleh Manajemen Konstruksi. Prosedur uji slump, jumlah dan cara pengambilan contoh benda uji dan
contoh cetakannya sesuai dengan SKSNI dan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Manajemen
Konstruksi. Dalam segala hal jumlah benda uji yang diambil tidak kurang dari 30 (tiga puluh) buah untuk
pengecoran pile cap, yang harus diambil minimal 1 buah benda uji setiap 5 m3 pengecoran beton untuk volume
pengecoran yang kurang dari 300 m3, atau minimal 1 buah benda uji setiap 10 m3 pengecoran beton untuk
volume pengecoran yang lebih dari 300 m3, dalam bentuk silinder berdiameter 150 mm dan tinggi 300 mm.

15. Selama proses pengecoran berlangsung, beton dipadatkan dengan menggunakan vibrator, yang dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan maupun posisi tulangan. Pihak Kami menyediakan vibrator
dalam jumlah yang cukup untuk menjamin efisiensi pengecoran dan pemadatan tanah adanya penundaan.
Jenis vibrator dan ukurannya harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi.
Pemadatan beton secara berlebihan sehingga bisa menyebabkan pengendapan agregat, kebocoran acuan dan
lain sebagainya, harus dihindarkan.

16. Setelah selesai pengecoran, beton dilindungi dan dirawat (concrete curing) selama berlangsungnya proses
pengerasan, terutama terhadap panas matahari, cuaca atau aliran air dan juga pengeringan sebelum
waktunya. Bila tidak ditentukan lain oleh Manajemen Konstruksi, maka semua permukaan beton yang terbuka
dijaga tetap basah selama minimal 14 hari, dengan cara menyemprotkan air atau menggenai dengan air pada
permukaan beton tersebut, atau dengan cara lain yang diusulkan Pihak Kami. Metode curing terlebih dahulu
diusulkan dan mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi, sebelum proses pengerasan beton. Juga
untuk pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan perlindungan atas beton diperhatikan. Pihak
Kami bertanggung jawab atas retaknya beton karena kelalaian ini.

17. Untuk mengetahui kualitas mutu beton yang sudah dilaksanakan, maka contoh benda uji beton diperiksa
dengan uji tekan hancur pada umur 3 (tiga) hari, 7 (tujuh) hari dan 28 (dua puluh delapan) hari. Proporsi jumlah
uji tekan (pada umur beton yang berbeda) mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi. Hasil uji tekan
segera disampaikan kepada Manajemen Konstruksi untuk di evaluasi.

5. PEKERJAAN PONDASI BETON DANGKAL

(a) Uraian Umum

1. Bila ditunjukkan dalam gambar atau dalam hal dibutuhkan pondasi dangkal diluar pondasi tiang pancang, maka
untuk beban-beban yang ringan, bisa dipakai pondasi beton dangkal berupa pondasi telapak atau jalur.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 30

2. Walaupun pondasi tipe ini hanya akan dipakai sebagai pondasi sekunder, namun pelaksanaannya mengikuti
sebagaimana yang diminta dalam spesifikasi ini dan gambar yang terkait.
3. Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi ini tidak akan diterima oleh Manajemen Konstruksi, dan
dengan demikian diulang dengan biaya sepenuhnya dari Pihak Kami.

(b) Pekerjaan galian

1. Untuk pelaksanaan pondasi yang sesuai dengan gambar, perlu dilakukan penggalian sampai minimal selebar
ukuran lantai kerja dan sedalam level dasar lapisan yang disyaratkan. Dalam galian diperiksa dan
mendapatkan persetujuan dari Manajemen Konstruksi.
2. Dasar galian bebas dari lumpur, humus dan air, dalam keadaan bersih dan cukup padat.
3. Pihak Kami menjaga pengaruh-pengaruh luar kepada lubang galian, seperti air tanah, hujan, air permukaan,
kelongsoran, lumpur yang masuk, maupun juga benda-benda lain yang tidak diinginkan. Bila karena adanya
hujan, air permukaan lingkungan, air tanah atau mata air sehingga lokasi pekerjaan atau galian menjadi
tergenang, maka Pihak Kami bertanggung jawab untuk merencanakan sistem pemompaan air tanah yang
sudah harus dimasukkan dalam biaya penawaran lelang.

(c) Pekerjaan persiapan pembetonan

1. Untuk persiapan pembetonan pondasi, maka dasar galian perlu terlebih dahulu dilapisi dengan lapisan pasir
setebal yang disyaratkan dalam gambar rencana, dan yang kemudian dipadatkan sesuai prosedur pemadatan.
Hasil pelapisan dan pemadatan pasir tersebut diperiksa dan mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi.

2. Selanjutnya sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar, dibuat lantai kerja dengan ukuran dan tebal
seperti yang disyaratkan dalam gambar.

3. Lantai kerja dibuat dari beton mutu K-125 menurut NI-2, atau lebih kurang setara dengan fc’ = 10 MPa
menurut SKSNI-T15-1991. Peil akhir lantai kerja diperiksa kembali terhadap level ketinggian yang disyaratkan
dalam gambar rencana.

(d) Pekerjaan beton bertulang

1. Bahan beton untuk pondasi dangkal dilaksanakan dengan standar mutu bahan sebagai berikut :

Mutu beton :

Minimal dengan kuat tekan silinder fc’ = 20 MPa, artinya mempunyai kuat tekan hancur

karakteristik sebesar 20 MPa pada benda uji silinder dengan diamater 150 mm dan
tinggi 300 mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan tersebut diatas adalah lebih kurang
setara dengan mutu beton K-250, pada NI-2, yaitu kuat tekan hancur karakteristik
sebesar 250 kg/cm2 pada benda uji kubus dengan sisi 150 mm, saat umur beton 28
hari.

Tulangan baja : - BJTP-24, artinya baja tulangan polos dengan batas elastis atau tegangan leleh sebesar
240 MPa, untuk tulangan kecil dengan diameter lebih kecil dari 13 mm.
- BJTS-40, artinya baja tulangan ulir (deformed) dengan batas elastis atau tegangan
leleh sebesar 400 MPa, untuk tulangan besar dengan diameter lebih besar atau sama
dengan 13 mm.

Tulangan bebas dari kotoran-kotoran seperti lemak, karet lepas, tanah, serta bahan-bahan atau kotoran yang
bisa mengurangi daya rekatnya. Semua besi beton bebas dan bersih dari karat sesuai dengan ukuran pabrik,
bersih pula dari olie, gemuk, cat dan lain sebagainya, atau hal lain yang dapat menyebabkan berkurangnya
daya ikat besi beton terhadap beton. Apabila diinginkan atau dipandang perlu, maka Manajemen Konstruksi
akan memerintahkan untuk menyikat dengan sikat kawat untuk membersihkan besi beton tersebut sebelum
dipergunakan.

2. Sama sekali tidak diperkenankan mengadakan pengecoran beton sebelum besi yang terpasang telah diperiksa
dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi
3. Acuan dipasang sesuai dengan ukuran-ukuran jadi yang ada di dalam gambar dan menjamin bahwa ukuran-
ukuran tersebut tidak akan berubah sebelum dan selama pengecoran. Acuan juga dipasang sedemikian rupa
sehingga tidak akan terjadi kebocoran atau hilangnya air selama pengecoran.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 31

4. Pemasangan dan penyetelan tulangan baja dilakukan berdasarkan ukuran, bentuk dan peil yang sesuai
dengan gambar rencana.
5. Adukan beton berupa “ready mixed concrete” dan memenuhi syaratsyarat SKSNI. Pada batching plant, Pihak
Kami harus mengadakan/membuat adukan beton menurut komposisi adukan dan proporsi campuran yang
baik, dan bertanggung jawab penuh atas kekuatan beton yang diisyaratkan. Penggunaan air sedemikian rupa
sehingga dapat menghasilkan beton dengan kinerja yang baik.
6. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat yang akan dicor terlebih dahulu dibersihkan dari segala kotoran
(potongan kayu, batu, tanah dan lain-lain) dan dibasahi dengan air semen.
7. Pengecoran dilakukan secara berlapis dan kontinyu, atau dengan metode pengecoran yang diusulkan Pihak
Kami dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi. Dalam segala hal tidak dibenarkan untuk menuangkan adukan
dengan menjatuhkan dari suatu ketinggian yang terlampau tinggi sehingga bisa menimbulkan pengendapan
agregat, yang dengan demikian akan menurunkan mutu dan kinerja beton.
8. Agar supaya kualitas beton yang digunakan dapat dikontrol dengan baik sesuai spesifikasi dan standar yang
ada, maka selama proses pengecoran perlu dilakukan uji slump dan pengambilan contoh benda uji, dengan
disaksikan oleh Manajemen Konstruksi. Jumlah benda uji yang diambil akan ditentukan oleh Manajemen
Konstruksi, sesuai dengan volume pengecoran. Prosedur uji slump, pengambilan contoh benda uji dan contoh
cetakannya sesuai dengan SKSNI dan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Manajemen Konstruksi.
9. Selama proses pengecoran berlangsung, beton dipadatkan dengan menggunakan vibrator, yang dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan maupun posisi tulangan.
10. Setelah selesainya pengecoran, beton dilindungi dan dirawat (concrete curing) selama berlangsungnya proses
pengerasan, terutama terhadap panas matahari, angin, hujan atau aliran air dan juga pengeringan sebelum
waktunya.

6. PASANGAN BATU

(a) UMUM

1) Uraian

a) Pekerjaan meliputi pemasokan semua bahan, penyiapan pondasi dan seluruh pekerjaan yang diperlukan untuk
menyelesaikan pasangan batu sesuai dengan Spesifikasi ini dan memenuhi garis, ketinggian, potongan dan
dimensi seperti yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan secara tertulis oleh MK.

b) Penerbitan Detil Pelaksanaan
Detil pelaksanaan untuk pasangan batu yang tidak disertakan dalam Dokumen Kontrak pada saat pelelangan
akan diterbitkankan oleh MK sebelum memulai pelaksanaan.

(b) BAHAN

1) Batu

a) Batu bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan harus dari jenis yang diketahui awet. Bila perlu, batu
dibentuk untuk menghilangkan bagian yang tipis atau lemah.
b) Batu rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan saling mengunci bila dipasang bersama-sama.
c) Terkecuali diperintahkan lain oleh MK, batu memiliki ketebalan yang tidak kurang dari 15 cm, lebar tidak kurang
dari satu setengah kali tebalnya dan panjang yang tidak kurang dari satu setengah kali lebarnya.

2) Adukan

a. Adukan haruslah adukan semen dan pasir yang memenuhi syarat sesuai standard yang berlaku untuk semen
dan aggregate halus (mengacu pada : Bab 3. Seksi 3a dan 3b Pekerjaan Struktur Beton di spesifikasi ini)..
Campuran adukan berupa 1 bagian semen dan 3 bagian pasir.
b. Untuk permukaan bagian luar dari pasangan batu di areal Ruang Kuliah dan Laboratorium/Perpustakaan
permukaan pasangan batu diplester minimum tebal 2 – 3 cm dan diberi acian sehingga permukaan terlihat
mulus dan usahakan tidak mengalami keretakan permukaan.

3) Pengecatan

Permukaan pasangan yang sudah diplester agar di beri cat tembok.

(c) PELAKSANAAN PASANGAN BATU

1) Persiapan Pondasi

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 32

Pondasi untuk struktur pasangan batu disiapkan sesuai dengan syarat (lihat Seksi .5, Galian). Terkecuali
disyaratkan lain atau ditunjukkan pada Gambar, dasar pondasi untuk struktur dinding penahan tegak lurus, atau
bertangga yang juga tegak lurus terhadap muka dari dinding.

2) Pemasangan Batu

Landasan dari adukan baru paling sedikit 3 cm tebalnya dipasang pada pondasi yang disiapkan sesaat sebelum
penempatan masing-masing batu pada lapisan pertama. Batu besar pilihan digunakan untuk lapis dasar dan
pada sudut-sudut. Perhatian diberikan untuk menghindarkan pengelompokkan batu yang berukuran sama. Batu
dipasang dengan muka yang terpanjang mendatar dan muka yang tampak dipasang sejajar dengan muka
dinding dari batu yang terpasang. Batu ditangani sedemikian hingga tidak menggeser atau memindahkan batu
yang telah terpasang. Peralatan yang cocok disediakan untuk mema-sang batu yang lebih besar dari ukuran
yang dapat ditangani oleh dua orang. Menggelindingkan atau menggulingkan batu pada pekejaan yang baru
dipasang tidak diperkenankan.
3) Penempatan Adukan

Sebelum pemasangan, batu dibersihkan dan dibasahi sampai merata dan dalam waktu yang cukup sehingga
untuk memungkinkan penyerapan air mendekati titik jenuh. Landasan yang akan menerima setiap batu juga
harus dibasahi dan selanjutnya landasan dari adukan disebar pada sisi batu yang bersebelahan dengan batu
yang akan dipasang. Tebal dari landasan adukan pada rentang antara 2 cm sampai 5 cm dan merupakan
kebutuhan minimum untuk menjamin bahwa seluruh rongga antara batu yang dipasang terisi penuh. Banyaknya
adukan untuk landasan yang ditempatkan pada suatu waktu haruslah dibatasi sehingga batu hanya dipasang
pada adukan baru yang belum mengeras. Bilamana batu menjadi longgar atau lepas setelah adukan mencapai
pengerasan awal, maka batu tersebut dibongkar, dan adukannya dibersihkan dan batu tersebut dipasang lagi
dengan adukan yang baru.

4) Ketentuan Lubang Sulingan dan Delatasi
Dinding dari pasangan batu dilengkapi dengan lubang sulingan. Kecuali ditunjukkan lain pada Gambar atau
diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, lubang sulingan ditempatkan dengan jarak antara tidak lebih dari 2 m dari
sumbu satu ke sumbu lainnya dan berdiameter 50 mm. Pada struktur panjang yang menerus seperti dinding
penahan tanah, maka delatasi dibentuk untuk panjang struktur tidak lebih dari 20 m. Delatasi 30 mm lebarnya
dan diteruskan sampai seluruh tinggi dinding. Batu yang digunakan untuk pembentukan sambungan dipilih
sedemikian rupa sehingga membentuk sambungan tegak yang bersih dengan dimensi yang disyaratkan di atas.

5) Pekerjaan Akhir Pasangan Batu
a) Sambungan antar batu pada permukaan dikerjakan hampir rata dengan permukaan pekerjaan, tetapi
tidak sampai menutup batu, sebagaimana pekerjaan dilaksanakan.
b) Terkecuali disyaratkan lain, permukaan horisontal dari seluruh pasangan batu dikerjakan dengan
tambahan adukan tahan cuaca setebal 2 cm, dan dikerjakan sampai permukaan tersebut rata, mempunyai
lereng melintang yang dapat menjamin pengaliran air hujan, dan sudut yang dibulatkan. Lapisan tahan
cuaca tersebut dimasukkan ke dalam dimensi struktur yang disyaratkan.
c) Segera setelah batu ditempatkan, dan sewaktu adukan masih baru, seluruh permukaan batu dibersihkan
dari bekas adukan.
d) Permukaan yang telah selesai dirawat seperti yang disyaratkan untuk Pekerjaan Beton dalam Pasal
7.1.5.(4) dari Spesifikasi ini.
e) Bilamana pekerjaan pasangan batu yang dihasilkan cukup kuat, dan dalam waktu yang tidak lebih dini dari
14 hari setelah pekerjaan pasangan selesai dikerjakan, penimbunan kembali dilaksanakan seperti
disyaratkan, atau seperti diperintahkan oleh pihak Manajemen Konstruksi.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 33

SEKSI 3. PEKERJAAN STRUKTUR BETON

1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan beton ini akan meliputi semua pengadaan material dan tenaga kerja untuk produksi serta pelaksanaan
pekerjaan beton dan beton bertulang, termasuk uji kekuatan dan perawatannya, yang akan meliputi antara lain :
Material pembentukan beton
Pengadaan beton
Baja tulangan
Pekerjaan beton bertulang
Perawatan beton
Uji kelayakan dan kekuatan beton

2. PENGADAAN, MUTU DAN KINERJA BETON

(a) Semua pekerjaan beton yang termasuk dalam lingkup spesifikasi ini berupa “ready mixed concrete”, kecuali
bila ditetapkan lain secara khusus dalam spesifikasi. Semua pekerjaan beton memenuhi syarat-syarat
SKSNIT15- 1991.
(b) Pihak Kami mengadakan/membuat adukan beton menurut komposisi adukan dan proporsi campuran yang
baik, dan bertanggung jawab penuh atas kekuatan beton yang disyaratkan. Penggunaan air sedemikian rupa
sehingga dapat menghasilkan beton dengan kinerja yang baik.
(c) Sebelum produksi beton, Pada batching plant, Pihak Kami dikan membuat adukan percobaan (trial mixes)
untuk mendapatkan proporsi campuran yang menghasilkan beton dengan kinerja seperti yang diisyaratkan,
untuk disetujui oleh Manajemen Konstruksi. Dalam hal ini adukan percobaan perlu dibuat dalam beberapa
proporsi campuran yang berbeda (utama dan pendamping) untuk mendapatkan campuran yang optimum.
(d) Proporsi campuran bahan dasar beton ditentukan sedemikian agar beton yang dihasilkan memberikan
kekuatan tekan dan tingkat kelecakan (workability) serta konsistensi yang memungkinkan pengerjaan beton
(penuangan, perataan dan pemadatan) secara “mudah” ke dalam acuan dan ke sekitar tulangan, tanpa
menimbulkan kemungkinan segregasi agregat dan terpisahnya air (bleeding) secara berlebihan.
(e) Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat yang akan dicor terlebih dahulu dibersihkan dari segala kotoran
(potongan kayu, batu, tanah dan lain-lain) dan dibasahi dengan air semen.
(f) Mutu beton untuk masing-masing elemen struktur bangunan memenuhi pada umumnya kriteria dibawah ini,
kecuali bila ditentukan lain secara khusus dalam spesifikasi :

Mutu Beton

: Minimal dengan kuat tekan silinder fc’ = 22,5 MPa, artinya mempunyai kuat tekan
hancur karakteristik sebesar 22,5 MPa pada benda uji silinder dengan diameter 150
mm dan tinggi 300 mm, saat umur beton 28 hari. Kuat tekan tersebut di atas adalah
lebih kurang setara dengan mutu beton K-275 pada NI-2, yaitu kuat tekan hancur
karakteristik sebesar 275 kg/cm2 pada benda uji kubus dengan sisi 150 mm, saat
umur beton 28 hari. Kuat tekan karakteristik adalah kuat tekan beton yang sudah
memperhitungkan adanya deviasi secara statistik pada sejumlah benda uji beton,
baik itu silinder maupun kubus, sesuai dengan SKSNI-T15-1991, atau NI-2-1971
dalam hal benda uji kubus.

Tulangan baja

: BJTP-30, artinya baja tulangan polos dengan batas elastis atau tegangan leleh
sebesar 300 MPa, untuk tulangan kecil dengan diameter lebih kecil dari 13 mm
BJTS-40, artinya baja tulangan ulir (deformed) dengan batas elastis atau tegangan
leleh sebesar 400 MPa.

3. BAHAN-BAHAN
(a) Semen Portland

1. Semen yang dipakai adalah jenis Porland Cement normal tipe-I yang segara dengan tidak ada tanda-tanda
prahidrasi (proses pembatuan), dan yang memenuhi semua ketentuan dan kriteria standar SII 0013-81 dan
Standar Umum Bahan Bangunan Indonesia 1986, atau ASTM-C150.
2. Semen disimpan di dalam gudang yang kedap air, berventilasi baik, di atas lantai tumpuan setinggi + 30 cm,
dengan tumpukan kantong semen tidak melebihi sepuluh lapis.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 34

3. Penyimpanan selalu terpisah untuk setiap pengiriman serta dipakai sesuai urutan pengirimannya.

(b) Pasir (agregat halus)

1. Agregat halus atau pasir untuk beton, berupa pasir alam sebagai hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau
pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu, sesuai dengan ketentuan dan persyaratan dari SII
0052-80 “Mutu dan cara uji agregat beton”, atau ASTM-C33, dan yang disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
2. Agregat halus terdiri dari butir yang keras dan tajam. Butir-butir agregat bersifat kekal, artinya tidak menjadi
lapuk atau hancur oleh pengaruhpengaruh cuaca, seperti terik matahari atau hujan.
3. Agregat halus tidak mengandung lumpur lebih dari 5% (ditentukan terhadap berat kering). Yang diartikan
dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melaui ayakan 0.063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui
5% maka agregat dicuci dulu sebelum dipakai dalam pengadukan, dengan metode pencucian yang disetujui
oleh Manajemen Konstruksi.
4. Agregat halus terdiri dari butir-butir yang beraneka raqam besarnya dan mempunyai penyebaran gradasi
butiran yang baik sesuai dengan standar yang berlaku. Pasir laut tidak dipakai sebagai agregat halus untuk
semua mutu beton.

(c) Kerikil dan batu pecah (agregat kasar)

1. Agregat kasar untuk beton berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecah batu, sesuai dengan ketentuan
dan persyaratan dari SII 0052-8- “Mutu dan cara uji agregat beton”, atau ASTM-C33, dan disetujui oleh
Manajemen Konstruksi. Pada umumnya yang dimaksudkan dengan agregat kasar adalah agregat dengan
besar butir lebih dari 5 mm. Sesuai dengan syarat-syarat pengawasan mutu agregat untuk berbagai mutu
beton, maka agregat kasar memenuhi ketentuan-ketentuan di bawah ini.
2. Ukuran besar butir nominal maksimum agregat kasar tidak melebihi :
3/4 jarak bersih minimum antar batang tulangan atau berkas batang tulangan, atau
1/5 jarak terkecil antara bidang samping dari cetakan, atau
1/3 dari tebal plat.
3. Agregat kasar terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya dan mempunyai penyebaran gradasi
butiran yang baik sesuai dengan standar yang berlaku. Agregat kasar terdiri dari butir-butir yang keras dan
tidak berpori. Agregat kasar yang mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai apabila jumlah butir-butir
pipih tersebut tidak melampaui 20% berat agregat seluruhnya. Agregat kasar tidak mengandung lumpur lebih
dari 1% (ditentukan terhadap berat kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat
melalui ayakan 0.063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 1% maka agregat dicuci dulu sebelum digunakan
dalam adukan beton, dengan metode pencucian yang disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
4. Agregat kasar tidak mengandung zat-zat yang dapat merusak beton seperti zat-zat reaktif alkali.

(d) Gradasi butiran agregat halus dan kasar

susunan butiran agregat halus dan kasar untuk semua beton struktural diperiksa dengan melakukan analisa
ayakan, sesuai standar yang berlaku. Untuk itu ditetapkan susunan ayakan dengan lubang-lubang persegi, dengan
ukuran lubang dalam mm berturut-turut 31,5-16,0-8,0-4,0-2,0-1,0-0,5-0,25 (ayakan ISO).Kecuali untuk beton yang
dipakai pada lantai kerja.

(e) Air

1. Air untuk pembuatan dan perawatan beton adalah air YANG tidak mengandung minyak, asam, alkali, bahan-
bahan organik atau bahan-bahan lain yang bisa merusak beton dan/atau baja tulangan. Dalam hal ini
sebaiknya dipakai air yang lulus pengujian di laboratorium sebagai air tawar yang dapat diminum.
2. Apabila terdapat keraguan mengenai air dianjurkan untuk mengirimkan contoh air ke lembaga pemeriksaan
bahan-bahan yang diakui untuk diselidiki sampai seberapa jauh air itu mengandung zat-zat yang bisa merusak
beton dan/atau baja tulangan.
3. Apabila pemeriksaan contoh air seperti disebutkan diatas tidak dapat dilakukan, maka dalam hal adanya
keragu-raguan mengenai air, diadakan percobaan perbandingan antara tekanan kekuatan mortar (semen dan
pasir) dengan memakai air itu dan dengan memakai air minum. Air tersebut dianggap dapat dipakai, apabila
kekuatan tekan mortar dengan menggunakan air itu pada umur 7 dan 28 hari paling sedikit 90% dari kekuatan
tekan mortar dengan memakai air minum.
4. Jumlah air yang dipakai untuk membuat adukan beton diusahakan secermat-cermatnya dan setepat-tepatnya,
dengan sudah memperhitungkan semua koreksi yang perlu dilakukan akibat kadar air yang berbeda yang
dikandung agregat di lapangan.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 35

(f) Baja tulangan

1. Baja tulangan untuk beton struktural pada umumnya menggunakan baja tulangan ulir atau deform (BJTD)
dengan tegangan leleh 400 MPa, kecuali untuk tulangan kecil dengan diameter lebih kecil 13 mm atau untuk
tulangan spiral bisa digunakan baja tulangan polos (BJTP) dengan tegangan leleh 240 MPa.
2. Semua baja tulangan beton struktural yang dipakai dalam pekerjaan ini memenuhi salah satu dari syarat dan
ketentuan berikut :

(a) Mutu dan cara uji baja tulangan beton SII 0136-84.
(b) Specification for deformed and plain billet-steel bars for concrete reinforcement ASTM-A615.
(c) Specification for rail-steel deformed and plain bars for concrete reinforcement ASTM-A616.
Disamping itu terhadap baja tulangan dilakukan uji lengkung (bend test) dan hasil ujinya memenuhi
persyaratan uji lengkung untuk batang tulangan baja poros (axle-steel) ASTM-A617, mutu 400.
(d) Specification for axle-steel deformed and plain bars for concrete reinforcement ASTM-A617.
(e) Standar specification for low-alloy steel deformed bars for concrete reinforcement ASTM-A706.
Pemakaian baja tulangan dari jenis yang berlainan dari ketentuan diatas, mendapat persetujuan Manajemen
Konstruksi.

3. Baja tulangan deform/ulir yang mempunyai tegangan leleh melampaui 400 MPa boleh dipakai asalkan
tegangan lelehnya memberikan regangan awal leleh sebesar 0.35% dan baja tulangan tersebut memenuhi
salah satu syarat dan ketentuan dalam spesifikasi di atas serta mendapat persetujuan Manajemen Konstruksi.
4. Baja tulangan disuplai dari satu sumber (manufacture), akan dilakukan pengujian tarik baja tulangan pada
laboratorium yang disetujui Manajemen Konstruksi, berjumlah minimum 3 (tiga) batang untuk setiap jenis
percobaan, untuk besi yang diameternya diatas 13 mm dengan panjang + 100 cm untuk masing-masing.
Percobaan mutu baja tulangan juga akan dilakukan setiap saat bilamana dipandang perlu oleh Manajemen
Konstruksi. Semua biaya-biaya percobaan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pihak Kami.
Pengiriman contoh benda uji ke laboratorium dilakukan bersama-sama wakil Manajemen Konstruksi.
5. Pemasangan baja tulangan dilakukan sesuai dengan gambar dan mendapat persetujuan Manajemen
Konstruksi. Hubungan antara baja tulangan yang satu dengan lainnya menggunakan kawat beton, diikat
dengan teguh, tidak menggeser selama pengecoran dan pemadatan beton, serta bebas dari kotoran
berminyak, tanah dan lain sebagainya. Hanya bila ditunjukkan dalam gambar dengan suatu tanda khusus, baja
tulangan boleh dilas dengan seijin Manajemen Konstruksi. Dalam hal ini disertakan standar SII atau ASTM
mengenai baja tulangan, untuk keperluan laporan tentang sifat bahan guna memenuhi prosedur pengelasan

yang ditetapkan dalam “Structural welding code for reinforcing steel” (AWSD1.4) dari Amerian Welding Society.

6. Penggunaan jaringan baja tulangan yang sudah jadi seperti steel wire-mesh dan sejenisnya terlebih dahulu
mendapat persetujuan Manajemen Konstruksi. Bila disetujui oleh Manajemen Konstruksi, maka jaringan baja
tulangan tersebut memenuhi ketentuan dan syarat dalam SII 0784-83 “Jaringan kawat baja las untuk tulangan
beton” atau “Specification for welded steel wire fabricated for concrete reinforcement” ASTM-A185.

(g) Bahan campuran tambahan ( additives / admixtures )

Jika disetujui secara tertulis oleh Manajemen Konstruksi, maka bahan campuran tambahan atau
additives/admixtures boleh dipakai. Bahan tambahan merupakan cairan, atau bubuk yang bisa ditambahkan ke
dalam adukan beton selama proses pencampuran/pengadukan, untuk memperbaiki sifat fisik dan/atau kimiawi
adukan beton (fresh concrete) maupun beton yang sudah mengeras (hardened concrete). dimana tujuan
penggunaan bahan tambahan yang bisa dibenarkan dalam pekerjaan ini adalah bila memenuhi salah satu tujuan:
a. Perbaikan sifat adukan beton.
b. Meningkatkan mutu beton.
c. Meningkatkan workability tanpa menambahkan kadar air.
d. Mengurangi kadar air untuk meningkatkan mutu beton namun tidak mengurangi workability beton.
e. Memperlambat setting awal untuk mengantisipasi transportasi yang jauh.
f. Mengurangi slump loss (kecepatan penurunan nilai slump).
g. Meningkatkan pumpability (kemudahan pemompaan).
h. Mengurangi panas hidrasi yang timbul, terutama pada proses pengecoran beton massa.
i. Membuat ekspansi volume untuk keperluan grouting.
j. Meningkatkan ketahanan anti korosi pada beton, terutama pada lingkungan yang agresif seperti di bawah
tanah atau di dekat laut.
k. Membuat beton kedap air.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 36

4. UJI MUTU DAN KINERJA BETON

(a) Adukan percobaan ( trial mixes )

Pihak Kami sekurang-kurangnya dua minggu sebelum memulai pekerjaan beton membuat adukan percobaan (trial
mixes) dengan menggunakan contoh bahan-bahan beton (semen, agregat, air dan bahan tambahan) yang akan
digunakan nantinya, untuk menunjukkan bahwa campuran tersebut memenuhi kriteria untuk mencaai mutu kerja
kinerja beton yang diisyaratkan.

(b) Uji mutu dan kinerja beton

Agar supaya kualitas beton yang digunakan dapat dikontrol dengan baik sesuai spesifikasi dan standar yang ada,
Pihak Kami melakukan uji mutu dan kinerja beton, baik untuk campuran percobaan maupun secara kontinyu
selama proses pelaksanaan pekerjaan. Untuk keperluan tersebut, minimal ada dua teks yang dilakukan.
1. Uji tekan hancur.
2. Uji slump.

Prosedur pengujian bak uji tekan maupun uji slump dilakukan berdasarkan peraturan yang berlaku. Hasil dari
pengujian ini segera diserahkan kepada Manajemen Konstruksi untuk dievaluasi. Jumlah dan prosedur pembuatan
contoh benda uji sesuai dengan ketentuan dalam SKSNI-T15-1991, dengan benda uji berbentuk silinder
berdiameter 150 mm dan tinggi 300 mm, dimana mutu beton diperiksa pada umur 3 (tiga) hari, 7 (tujuh) hari dan 28
(dua puluh delapan) hari untuk setiap macam adukan yang diambil contohnya

(c) Standar mutu ( Standar of Acceptance )

Pihak Kami dikan membuat pengujian pendahuluan (trial test) atas benda uji silinder sejumlah minimum 30 buah
untuk setiap proporsi adukan yang dikehendaki, yang diuji pada umur beton 3 hari, 7 hari dan 28 hari. Trial test ini
sudah dilaksanakan segera setelah adanya Surat Perintah Kerja atau penunjukan Pihak Kami.

5. PELAKSANAAN

(a) Adukan Beton

1. Adukan beton berupa “ready mixed concrete” dan memenuhi syarat-syarat SKSNI. Pihak Kami
mengadakan/membuat adukan beton menurut komposisi adukan dan proporsi campuran yang baik, dan
bertanggung jawab penuh atas kekuatan beton yang ditentukan/disyaratkan dalam spesifikasi ini, sesuai
dengan jenis atau bagian pekerjaan yang dilaksanakan. Penggunaan air sedemikian rupa sehingga dapat
menghasilkan beton dengan kinerja yang baik.
2. Sebelum produksi beton, Pihak Kami akan membuat adukan percobaan (trial mixes) untuk mendapatkan
proporsi campuran yang menghasilkan beton dengan mutu dan kinerja seperti yang disyaratkan, untuk disetujui
oleh Manajemen Konstruksi. Dalam hal ini adukan percobaan perlu dibuat dalam beberapa proporsi campuran
yang berbeda (utama dan pendamping) untuk mendapatkan campuran yang optimum.
3. Proporsi campuran bahan dasar beton ditentukan sedemikian agar beton yang dihasilkan memberikan
kekuatan tekan dan tingkat kelecakan (workability) serta konsistensi yang memungkinkan pengerjaan beton
(penuangan, perataan dan pemadatan) secara “mudah” ke dalam acuan dan ke sekitar tulangan, tanpa
menimbulkan kemungkinan segregasi agregat dan terpisahnya air (bleeding) secara berlebihan.
4. Untuk struktur atas bangunan, karena pengecoran dilakukan hingga elevasi yang cukup tinggi, maka beton
yang dihasilkan juga mempunyai tingkat kemudahan pemompaan (pumpbality) yang baik sebagai flowing
concrete, agar supaya pada saat pengecoran, agregat kasarnya tidak mudah tertinggal dari pada semennya,
serta dapat mengisi dengan padat semua rongga di dalam acuannya. Dalam hal ini, bila diperlukan, dan
disetujui oleh Manajemen Konstruksi, admixture atau addtive boleh digunakan dengan jenis dan dosis yang
sesuai.

(b) Adukan beton yang dibuat setempat ( site mixing)

Adukan beton yang dibuat setempat untuk volume kecil, memenuhi syarat syarat - sebagai berikut :
1. Pelaksanan penakaran semen dan agregat dengan kotak-kotak takaran yang volumenya sama sesuai hasil
trial mixes dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 37

2. Banyaknya air untuk campuran beton sesuai dengan trial mixes, sedemikian rupa sehingga tercapai sifat
kemudahan kerja (workability) yang sesuai dengan penggunaannya.
3. Adukan beton dibuat dengan menggunakan mesin pengaduk beton (batch mixer), dimana tipe dan
kapasitasnya mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi .
4. Kecepatan pengadukan sesuai dengan rekomendasi dari pembuat mesin tersebut.
5. Jumlah adukan beton tidak melebihi kapasitas mesin pengaduk.
6. Lama pengadukan tidak kurang dari 5 menit sesudah semua bahan berada dalam mesin pengaduk.
7. Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit dibersihkan duludari sisa-sisa beton lama sebelum
dimulainya adukan beton yang baru.

(c) Lantai kerja

Lantai kerja pada umumnya dibuat dari beton dengan mutu fc’ = 10 MPa menurut SKSNI-T15-1991, atau lebih
kurang setara dengan K-125 menurut NI-2. Peil akhir lantai kerja diperiksa kembali terhadap level ketinggian yang
disyaratkan dalam gambar rencana. Khusus untuk lantai kerja pondasi dangkal/telapak, lantai kerja bisa dibuat dari
beton mutu B0 menurut NI-2, atau lebih kurang setara dengan fc’ = 8 MPa menurut SKSNI-T15-1991. Sebagai
pedoman umum, beton dengan mutu B0 (menurut NI-2) dapat dibuat dari campuran semen, pasir dan kerikil dengan
perbandingan 1 : 3 : 5. Namun demikian hal apapun, perbandingan jumlah pasir dan kerikil (atau batu pecah)
terhadap jumlah semen, tidak melampaui 8 : 1.

(d) Penggunaan beton

1. Beton secepat mungkin dicorkan setelah pengadukan, dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
pengendapan agregat maupun bergesernya posisi tulangan atau acuan. Pengecoran dilaksanakan secara
kontinyu dalam satu elemen struktur atau diantara siar pelaksanaan (construction joint) yang telah disetujui.
2. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum acuan/bekisting dan pemasangan baja tulangan
selesai diperiksa dan mendapat persetujuan Manajemen konstruksi. Sebelum pengecoran dimulai, maka
tempat yang akan dicor terlebih dahulu dibersihkan dari segala kotoran (potongan kayu, batu, tanah dan
lainlain) dan dibasahi dengan air semen.
5. Pengecoran dilakukan secara berlapis dan kontinyu, atau dengan metode pengecoran yang diusulkan Pihak
Kami dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi , dengan memperhatikan cara atau urutan pengecoran
terutama untuk volume pengecoran yang besar (beton massa), agar tidak terjadi cold joint dan juga
menghindari kemungkinan degradasi atau kerusakan beton akibat panas hindrasi yang ditimbulkan. Untuk itu,
sebelum pengecoran dilaksanakan, Pihak Kami menyampaikan usaha prosedur pengecoran yang optimum
kepada Manajemen Konstruksi, untuk mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi .
7. Selama proses pengecoran, perlu dilakukan uji slump dan pengambilan contoh benda uji, dengan disaksikan
persetujuan dari Manajemen Konstruksi. Prosedur uji slump, jumlah dan cara pengambilan contoh benda uji
dan contoh cetakannya sesuai dengan SKSNI, dan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Manajemen
Konstruksi. Namun dalam segala hal jumlah benda uji yang diambil tidak kurang dari 30 (tiga puluh) buah
untuk pengecoran dengan mutu beton yang sama, yang diambil minimal 1 buah benda uji setiap 5 m3
pengecoran beton untuk volume pengecoran yang kurang dari 300 m3, atau minimal 1 buah setiap 10 m3
pengecoran beton untuk volume pengecoran yang lebih dari 300 m3, dalam bentuk silinder berdiameter 150
mm dan tinggi 300 mm.

(e) Pemadatan beton

1. Selama pengecoran berlangsung, beton dipadatkan dengan memakai vibrator, yang dilakukan sedemikian
rupa sehingga tidak merusak acuan maupun posisi tulangan. Pihak Kami menyediakan vibrator dalam jumlah
yang cukup untuk menjamin efisiensi pekerjaan tanpa adanya penundaan. Pemadatan beton secara berlebihan
sehingga menyebabkan pengendapan agregat, kebocoran acuan dan lain sebagainya, dihindarkan.
2. Beton pada umumnya dicor secara berlapis. Lapisan-lapisan ini masing - masing dipadatkan, dan dijaga
sedemikian rupa supaya mempunyai ikatan yang baik satu sama lain.

(f) Siar pelaksanaan ( construction joint)

Posisi dan pengaturan adanya siar pelaksanaan mendapat persetujuan Manajemen Konstruksi. Namun secara
umum perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Siar vertikal dalam dinding supaya dihindari.
2. Siar dibuat sesedikit dan sekecil mungkin, serta atas persetujuan Manajemen Konstruksi. Sebelum
pengecoran beton baru, permukaan dari beton lama (di tempat siar penyambungan) supaya dibersihkan
dengan seksama dan dikasarkan. Kotorankotoran disingkirkan dengan cara menyemprotkan air ke permukaan

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 38

beton lama dan menyikatnya sampai bersih. Setelah permukaan siar tersebut bersih, ditambahkan lapisan tipis
bonding additive sejenis epoxy resin atau setara, atau minimal air semen, sesuai dengan instruksi dan
persetujuan Manajemen Konstruksi, merata ke seluruh permukaan, untuk memperkuat ikatan antara beton
lama dengan pengecoran selanjutnya.

(g) Perawatan beton (curing)

1. Beton dirawat (curing) dan dilindungi selama berlangsungnya proses pengerasan terhadap panas matahari,
angin, hujan atau aliran air dan pengeringan sebelum waktunya.
2. Semua permukaan beton yang terbuka dijaga tetap basah selama minimal 14 hari, dengan cara
menyemprotkan air atau menggenangkan air pada permukaan beton tersebut, atau dengan cara lain yang
diusulkan Pihak Kami. Metode curing lebih dahulu diusulkan dan mendapatkan persetujuan Manajemen
Konstruksi, sebelum proses pengerasan beton.
3. Untuk pengecoran beton pada waktu cuaca panas, curing dan perlindungan atas beton diperhatikan. Pihak
Kami bertanggung jawab atas retaknya beton karena kelalaian dalam melaksanakan pekerjaan curing ini.

(h) Pembengkokan dan penyetelan baja tulangan

1. Sebelum penyetelan dan pemasangan baja tulangan dimulai, Pihak Kami membuat rencana kerja pemotongan
dan pembengkokan baja tulangan (bar bending schedule), yang sebelumnya diserahkan kepada Manajemen
Konstruksi untuk mendapatkan persetujuan.
2. Tulangan bebas dari kotoran-kotoran seperti lemak, karet lepas, tanah, serta bahan-bahan atau kotoran yang
bisa mengurangi daya letaknya.
3. Pembengkokan baja tulangan dilakukan secara hati-hati dan teliti, sesuai dengan aturan dalam SKSNI.
Pembengkokan tersebut dilakukan oleh tenaga yang ahli, dengan menggunakan alat-alat sedemikian rupa
sehingga tidak menimbulkan cacat, patah dan retak-retak pada batang baja.
4. Pemasangan dan penyetalan tulangan berdasarkan peil-peil yang sesuai dengan gambar, dan sudah
diperhitungkan mengenai toleransi penurunannya. Pemasangan dilakukan dengan menggunakan pengganjal
jarak selimut beton (beton decking) untuk mendapatkan tebal selimut yang sesuai dengan gambar. Apabila hal
tersebut tidak tercantum di dalam gambar atau dalam spesifikasi, maka dapat dipakai ketentuan dalam
peraturan yang berlaku. Yang dimaksud dengan selimut beton adalah jarak minimum yang terdapat antara
permukaan dari setiap besi beton termasuk begel terhadap permukaan beton yang terkecil atau terdekat untuk
setiap bagian dari masing-masing pekerjaan beton. Adapun ketebalan selimut beton minimum yang disyaratkan
adalah :

KONDISI

Minimum
(mm)

A

Seluruh beton yang di cor
dan berhubungan langsung dengan tanah.

75

B

Balok pondasi, pelat pondasi, poer pondasi,
pondasi diatas lantai kerja.

50

C

Balok, kolom yang berhubungan atau
terkena langsung dengan cuaca.

50

D

Balok, kolom yang tidak berhubungan atau
tidak terkena langsung dengan cuaca.

40

E

Pelat, dinding beton yang berhubungan/
terkena langsung dengan cuaca.

40

F

Pelat, dinding beton yang tidak berhubungan
atau tidak terkena langsung

25

5. Tulangan dipasang sedemikian rupa sehingga sebelum dan selama pengecoran tidak akan berubah

tempatnya.

6. Ketebalan selimut beton dibuat dengan pengganjal yang umum dipakai dalam praktek, seperti terbuat dari
beton (dengan mutu paling sedikit sama dengan mutu beton yang akan dicor), dengan jumlah minimum 4 buah
setiap m2 cetakan atau lantai kerja, atau seperti yang diinstruksikan oleh Manajemen Konstruksi, dan tersebar
merata.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 39

7. Pada tulangan rangkap, tulangan atas ditunjang dari tulangan bawah oleh batang-batang penunjang, atau
ditunjang langsung dari tepi bawah cetakan atau lantai kerja oleh blok-blok beton yang tinggi.

(i) Acuan pengecoran beton

a. Perlu sangat diperhatikan perencanaan kinerja beton yang dicor, agar bisa menunjang kecepatan, keamanan
dan kualitas pelaksanaan sistem acuan ini, terutama yang berhubungan denga usaha keseragaman waktu
setting beton , terlebih lagi bila digunakan admixture semacam retarder, yang seringkali perlu diberikan untuk
meningkatkan kinerja beton pada saat pengecoran. Kondisi pengerasan beton yang tidak merata bisa
mengakibatkan retak-retak atau pecahnya beton pada saat pendongkarakan acuan ini.
b. Oleh sebab itu, minimal dua minggu sebelum pelaksanaan pengecoran, sudah menyerahkan kepada
Manajemen Konstruksi semua prosedur pelaksanaan pengecoran, lengkap dengan gambar kerjanya, untuk
mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi.
c. Acuan beton menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai bentuk ukuran dan batas-batas yang sesuai
dengan yang ditunjukkan oleh gambar maupun yang diinstruksikan oleh Manajemen Konstruksi. Bila
ditunjukkan dalam gambar, acuan dipasang sedemikian rupa sehingga membentuk lawan lendut seperti tertera
pada gambar.
d. Apabila acuan memikul beban-beban yang besar atau mempunyai bentang besar yang bebas, maka
membuat perhitungan dan gambar rencana yang khusus. Disamping kekuatan dan kekauannya, stabilitas dari
acuan juga diperhitungkan dengan baik.
e. Tiang-tiang acuan dari besi atau kayu dipasang di atas papan kayu yang kokoh dan dapat disetel dengan
mudah dan dengan ketepatan yang baik. Tiang-tiang tidak boleh mempunyai lebih dari satu sambungan yang
tidak disokong ke arah samping. Bambu tidak boleh digunakan sebagai tiang acuan.

(j) Pembongkaran acuan

1. Pembongkaran acuan dilaporkan dan mendapat persetujuan Manajemen Konstruksi, serta dilakukan sesuai
dengan peraturan yang berlaku. Sebelum pembongkaran, meyakini bahwa bagian-bagian konstruksi yang
akan dibongkar acuannya sudah dapat memikul berat sendiri dan beban- beban pelaksanaan.
2. Apabila setelah acuan dibongkar ternyata terdapat bagian-bagian beton yang keropos atau cacat lainnya, yang
akan mempengaruhi kekuatan konstruksi tersebut, maka penyedia segera memberitahukan kepada
Manajemen Konstruksi untuk meminta persetujuan Manajemen Konstruksi mengenai cara pengisian, perbaikan
atau penutupannya. Semua resiko yang terjadi sebagai akibat pekerjaan tersebut dan biaya-biaya pengisian,
perbaikan atau penutupan bagian tersebut menjadi tanggungan penyedia.
3. Bila beton yang keropos atau cacat tersebut diragukan mutunya, maka Manajemen Konstruksi berhak untuk
meminta melaksanakan uji coba non destruktif seperti Ultrasonic Pulse Velocity Test, atau kalau dianggap
perlu, mengadakan pengujian dengan melakukan core drilling pada bagian beton yang benda ujinya gagal
memenuhi syarat spesifikasi. Dalam hal ini, coring beton dilakukan oleh tenaga ahli yang berpengalaman agar
bisa didapat hasil coring yang baik, serta juga persiapan dan pemotongan benda uji (hasil coring) yang
memenuhi syarat, untuk bisa mendapatkan hasil uji mutu beton yang obyektif. Ketentuan penerimaan atau lolos
tidaknya hasil uji tekan dan uji lainnya yang dianggap perlu dari specimen coring mengikuti peraturan beton
Indonesia yang berlaku.
4. Acuan hanya boleh dibongkar apabila bagian konstruksi yang ditopangnya telah mencapai umur dan kekuatan
yang cukup untuk memikul berat sendiri dan beban-beban pelaksanaan yang akan bekerja padanya. Kekuatan
ini ditunjukkan dengan hasil pemeriksaan benda uji yang bersangkutan. Apabila untuk menentukan saat
pembongkaran tidak dibuat benda-benda uji seperti ditentukan di atas, maka acuan baru boleh dibongkar
setelah beton berumur minimal 2 minggu. Khusus untuk cetakan samping boleh dibongkar setelah beton
berumur minimal 5 hari, kecuali bila dapat dibuktikan sebaliknya atau bila diijinkan oleh Manajemen Konstruksi.

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 40

Flow Chart of Concrete Placement for Footing Foundation

T

Y

Periksa spesifikasi beton & rebar &
persyaratan

Mengatur Rebar dan Formulir
untuk Pondasi Pijakan

Periksa barang yang akan tertanam seperti
lengan, penjangkaran, dll

INSP

Menuangkan Beton

Periksa semua
peralatan dan alat

Mengatur jumlah yang
dibutuhkan dari beton

Pengawetan

Checking level as required

Memeriksa tingkat yang diperlukan

INSP

Tanah pengurukan dan Pemadatan

Tahap
Selanjutnya

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 41

Dinding dan Beton Kolom

T

T

Perkerasan pelat pada kelas / gelagar

Menandai Dinding dan Kolom

INSP

Rebar kolom / dinding

Barang itu akan tertanam seperti lengan, jangkar untuk
pintu palang balok / jendela, dll

INSP

Pembentukan Dinding kolom

Survei tegak lurus dalam dua arah
dan Penyesuaian

INSP

Tahap
Selanjutnya

Perkerasan dinding / kolom hingga soffit dari
gelagar

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 42

Menangguhkan Balok / Slab termasuk tembok pembatas

Beton dinding / kolom hingga soffit dari gelagar

Persiapan pentahapan dan perancah &
menyangga kerja

INSP

Pembentukan Balok / Slab

Rebar pengaturan &
memperbaiki

Barang yang akan tertanam seperti, pelat, pipa
saluran lengan, jangkar, M & E dan dll

INSP

Perkerasan dari Balok / Slab
termasuk kantilever & bawah

dinding

pengawetan

Langkah
selanjutnya

Rebar pembuatan

Pembuatan Betuk
Balok

Menandai Balok
/ AXIS tingkat
Slab

Menandai posisi kolom / dinding

Pembangunan Ruang Kuliah, Perpustakaan dan Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh

2012

PT. Flamboyant Huma Arta

Hal. 43

PEKERJAAN ARSITEKTUR

PEKERJAAN DINDING

1. PEKERJAAN PASANGAN DINDING BATA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->