P. 1
SASTRA

SASTRA

|Views: 217|Likes:
Published by Wilson Slanker's

More info:

Published by: Wilson Slanker's on Mar 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/13/2015

pdf

text

original

4 BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Menurut Wellek dan Warren dalam Melani Budianto, (1995:109) sastra adalah instutusi sosial yang memakai medium bahasa yang “menyajikan kehidupan” sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia. Menurut Teeuw dalam Nyoman Kutha Ratna, (2005:4), sastra berasal dari akar kata sas (sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi secara leksikal berarti kumpulan alat untuk mengajar atau buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Karya sastra berdasarkan sifatnya dibagi menjadi dua macam sifat yaitu, karya sastra yang bersifat imajinasi (fiksi) dan karya sastra yang bersifat non imajinasi (non fiksi). Menurut Aminudin (2000:66), sastra fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Dengan demikian karya sastra lahir ditengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang yang merupakan refleksi kehidupan manusia terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Sebagai sebuah karya yang imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusian, hidup dan kehidupan. Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan seksama, Nurgiyantoro (1995:3). Karya fiksi
Universitas Sumatera Utara

5 lebih lajut masih dapat dibedakan dalam berbagai macam bentuk, baik itu roman, novel, maupun cerita pendek. Salah satu bentuk karya fiksi adalah novel. Menurut H. B. Jassin dalam Suroto, (1989:19) novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan kejadian secara luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh-tokoh cerita), luar biasa karena dari kejadian ini terlahir suatu konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib mereka. Ada dua unsur pokok yang membangun sebuah karya sastra, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur dalam sastra yang ikut serta membangun karya sastra tersebut. Unsur-unsur tersebut adalah tema, plot, latar, penokohan, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa dan lainlain. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar tubuh karya sastra itu sendiri yang ikut mempengaruhi penciptaan karya sastra. Unsur-unsur tersebut meliputi latar belakang kehidupan pengarang, keyakinan dan pandangan hidup pengarang, adat istiadat yang berlaku saat itu, situasi politik, persoalan sejarah, ekonomi, pengetahuan agama dan lain-lain yang dapat mempengaruhi pengarang dalam penulisan karyanya. Novel sebagai salah satu karya sastra fiksi memiliki kedua unsur tersebut. Salah satu unsur instrinsik yang akan ditelaah adalah tokoh cerita. Peristiwa dalam karya sastra fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Aminudin (2000:79), tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Novel hanya menceritakan salah satu kehidupan sang tokoh yang benar-benar istimewa yang

Hubungan Botchan dengan ibu. Tidaklah mengherankan kalau karya-karya Soseki sampai sekarangpun tetap menarik dan tetap popular bagi orang Jepang. Botchan yang seorang guru baru memberontak terhadap “sistem” yang selama ini berlaku di sekolah desa tersebut karena ketidakadilannya dan tidak . Soseki tidak diragukan lagi sebagai salah seorang pengarang Jepang yang terbesar. Natsume Soseki merupakan seorang tokoh terbesar dalam kesusastraaan modern Jepang yang lahir di Tokyo pada tahun 1867. Awalnya “Botchan” tidak tau akan hal itu dan ia berkunjung dan makan di toko ramen dan dango. Di sinilah cerita seperti benar-benar dimulai di mana sosok seorang Botchan yang jujur. penulis akan membahas sebuah novel yang berjudul “Botchan” karya Natsume Soseki. Semenjak kakinya menginjak daerah baru tersebut. Botchan yang sebelumnya tinggal di Tokyo sering terkejut dengan kebiasaan dan peraturan yang berlaku di sekolah tempat Botchan mengajar seperti seorang guru dilarang berkunjung dan makan di restoran ramen dan dango. ia terlibat dalam berbagai konflik dengan rekannya sesama guru dan murid-muridnya yang nakal menyangkut tatakrama. Menceritakan kehidupan seorang pemuda Tokyo bernama “Botchan” yang mempunyai sifat jujur. seperti Botchan dan Aku Seekor kucing. adil. Karya Soseki adalah buah tangan pengarang Jepang yang paling banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing. yang pergi ke desa terpencil untuk menjadi seorang guru. Cerita yang diturturkan secara humoris ini sangat populer di kalangan tua dan muda di Jepang. Tentunya dalam novel tersebut terdapat beberapa peristiwa kehidupan sang tokoh sehingga ia mengalami perubahan jalan hidup. dan barangkali merupakan novel klasik yang paling banyak dibaca di Jepang Modern. namun isinya sangat relevan dengan zaman modern saat ini karena sarat dengan nilai-nilai moral. status sosial dan peraturan yang berlaku di sekolah tersebut. kemunafikan. Di awal cerita. blak-blakan. Karena sifat yang dimilikinya Universitas Sumatera Utara 7 tersebutlah banyak masalah dan konflik yang dialami Botchan dengan orang di sekitarnya. adil dan tidak suka kepura-puraan dan blak-blakan dipertemukan dengan dunia nyata di mana banyak sekali ketidakadilan. Botchan menerima tawaran menjadi guru matematika di sekolah menengah pedesaan di Shikoku. Lulus dari Sekolah Ilmu Alam Tokyo. Novel ini merupakan novel satir dan tema utama dari novel ini adalah moralitas. Hanya Kiyo sang pelayan tua yang sangat menyayangi Botchan. Pada penelitian ini. ia selalu bisa melihat sisi positif dan kejujuran dari seorang Botchan. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris saja. ayah dan kakaknya tidak pernah baik hingga ayah dan ibunya pun meninggal dunia.Universitas Sumatera Utara 6 mengakibatkan terjadinya perubahan nasib. Salah satu novel yang telah dihasilkan oleh Natsume Soseki adalah novel yang berjudul “Botchan”. dan kepura-puraan berada. Keesokan harinya ia diejek dan ditertawakan murid-muridnya. sedangkan orang-orang asing pun berlomba-lomba menerjemahkanya ke dalam bahasanya masing-masing. Walaupun novel ini tergolong klasik. novel ini menceritakan kehidupan Botchan kecil yang tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya karena dianggap sebagai anak yang nakal. idealis. beberapa diantaranya. yang dibuat tahun 1906. bertanggung jawab dan teguh pendiriannya.

dapat bersikap tegas terhadap kenakalan siswa. adil dan blak-blakan. Karena Sifat Botchan yang selalu terus terang dan pemberani sering kali membuat ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. yang dinilai Botchan munafik. Dari uraian di atas terlihat konflik sosial yang dialami sang tokoh utama Botchan dalam lingkungan pekerjaanya. Dan menurutnya kepala sekolah tidak dapat bersikap tegas. Buku ini memiliki daya tarik yang besar bagi masyarakat Jepang. jujur dan terkadang bersikap sinis terhadap orang lain. akhirnya ia dan Hotta meninggalkan desa tersebut setelah sebelumnya memergoki kepala guru dan rekannya yang penjilat seorang guru seni yang diberi julukan si Badut oleh Botchan berkunjung ke Kagoya (rumah bordil). Novel ini juga bercerita tentang perseteruan/konflik terselubung antara Botchan dan Kepala Guru yang di beri julukan si Kemeja Merah oleh Botchan. Padahal sebelumnya si kepala guru berkata pergi ke tempattempat hiburan merusak disiplin sebagai seorang guru. dan mungkin bertanya-tanya mengapa buku ini begitu menarik bagi pembaca Jepang. ini yang membuatnya dicintai pembaca modern Jepang sampai sekarang. Sebagian dari daya tarik buku ini dapat ditemui pada sifat ksatria yang diembuskan Botchan dari suatu kemelut ke kemelut lain. licik dan pura-pura baik. Botchan dianggap remeh dan tidak sopan oleh orang-orang disekitarnya karena memiliki sifat jujur. masyarakat dan para muridnya.2 Perumusan Masalah Novel Botchan merupakan novel Natsume Soseki yang sangat terkenal. Dalam perjalananya sebagai seorang guru inilah Botchan banyak merasakan keadaankeadaan yang tidak sesuai dengan hatinya terutama setelah berinteraksi dengan sesama guru. Bagi pembaca di dunia Barat alur cerita novel ini mungkin terasa tipis. dan akhirnya guru tersebut dipindah tugaskan. Menceritakan tentang kehidupan dan konflik sosial yang dialami tokoh utamanya yang dipanggil “Botchan” yang berasal dari Tokyo pergi ke Shikoku untuk mengajar Matematika di Sebuah sekolah desa. Tetapi Botchan kemudian sadar bahwa ia sedang di adu domba dan segera berbaikan dengan Hotta. Botchan tumbuh menjadi sosok yang idealis. Ia memanfaatkan jabatannya untuk merebut tunangan orang lain seorang guru yang lebih rendah jabatannya. Seperti ketika terjadi insiden ia Universitas Sumatera Utara 8 dikerjai murid-muridnya yang nakal yang memasukkan belalang ke dalam futonnya ketika ia tugas malam di sekolah. Sifat Botchan yang jujur. Ternyata tidak mudah menjadi seorang guru baru di desa terpencil. Berdasarkan uraian di atas dan setelah membaca novel tersebut. Tentu saja Botchan marah besar dan menimbulkan keributan di sekolah karena muridnya tidak mau jujur mengakui kesalahan. karena bahkan saat inipun orang Jepang terkungkung ketatnya tatakrama sosial. Botchan tidak tunduk pada seseorang atau suatu norma. Karena tak betah lagi tinggal lebih lama di desa terpencil ini. sok intelek dan merasa superior. adil dan . Kemeja Merah juga mengadu domba Botchan dengan seorang guru Matematika senior yang bernama Hotta yang mengakibatkan pertengkaran diantara Botchan dan guru tersebut. 1. Kemudian Hotta dan Botchan melayangkan tinju kepada kepala guru dan Universitas Sumatera Utara 9 rekannya tersebut. maka penulis tertarik menulis skripsi yang berjudul “Analisis Konflik Sosial Tokoh Utama “Botchan” dalam Novel Botchan karya Natsume Soseki”.

logis dan terarah. blak-blakan. Kejujuran serta kepolosan dan sifatnya yang blak-blakan bertolak belakang dengan sebagian besar orang yang dijumpainya. hingga perkelahian. Tokoh Botchan merupakan seorang pemuda Tokyo yang pergi ke sebuah sekolah desa untuk mengajar Matematika. Ketidaksesuain hati terhadap kondisi yang dihadapinya sehari-hari inilah yang menjadi pembangunan alur cerita dan konflik dalam novel Botchan. khususnya di lingkungan pekerjaanya di sebuah sekolah desa. Hal ini dimaksudkan agar masalah penelitian tidak terlalun luas. setting .3 Ruang Lingkup Pembahasan Dari permasalahan-permasalahan yang ada maka penulis menganggap perlu adanya pembatasan ruang lingkup dalam pembahasan. Dan semenjak kakinya menginjak daerah baru tersebut. Kejujuran dan sifatnya yang blak-blakan sering bertolak belakang dengan sebagian besar orang yang dijumpainya. guru-guru dan para murid. adil. kemunafikan orang-orang yang bermuka dua dan penjilat berada. sehingga penulisan dapat lebih terarah dan terfokus. masyarakat dan para muridnya. Botchan menerima tawaran menjadi guru matematika di sekolah menengah pedesaan di Shikoku. Dia mendapat masalah dengan adanya penipuan. Dalam analisis ini. Universitas Sumatera Utara 10 Dalam novel ini diceritakan bahwa setelah lulus dari Sekolah Ilmu Alam Tokyo. penulis hanya akan membatasi ruang lingkup pembahasan yang difokuskan pada masalah konflik sosial yang dihadapi tokoh utama “Botchan” dalam novel Botchan. Di sinilah konflik seperti benar-benar di mulai di mana sosok seorang Botchan yang jujur. idealis. maka masalah penelitian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: Universitas Sumatera Utara 11 1. Botchan banyak merasakan keadaan-keadaan yang tidak sesuai dengan hatinya terutama setelah berinteraksi dengan sesama guru. Kejujuran dan keteguhan hati Botchan serta pesan moral yang ingin di sampaikan penulis dalam cerita inilah yang membuat novel ini menarik. dan terkadang bersifat sinis terhadap orang lain yang menimbulkan banyak masalah dan konflik dengan orang di sekitarnya. pencemaran nama baik. Untuk memudahkan arah sasaran yang ingin dikaji. semua hal yang menyebabkan dirinya semakin lama semakin muak dengan kemunafikan serta kepura-puraan yang terjadi di sekelilingnya Dalam perjalanannya sebagai seorang guru. maka penulis sebelum bab pembahasan menjelaskan lagi tentang defenisi novel. Agar dalam pembahasan novel ini lebih akurat. Botchan betul-betul menampilkan karakter dirinya sendiri. Bagaimanakah kondisi sosial dalam novel Botchan karya Natsume Soseki? 2. Bagaimanakah konflik sosial yang dialami oleh tokoh utama “Botchan” dalam novel Botchan karya Natsume Soseki? 1. status sosial dan peraturan yang berlaku di sekolah tersebut. Ia mempunyai sifat jujur. Botchan terlibat dalam berbagai konflik dengan rekannya sesama guru dan murid-muridnya yang nakal menyangkut tatakrama.blak-blakan banyak menimbulkan konflik dengan orang-orang disekitar lingkungan tempat Botchan mengajar di sekolah menengah Matsuyama. Mulai dari kepala sekolah. adil dan tidak suka kepura-puraan dipertemukan dengan dunia nyata dimana banyak sekali ketidakadilan.

Perbedaan antar individu. Interaksi sosial menurut Soekanto (2003:61) merupakan hubunganhubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan. Perbedaan kepentingan itu dapat menimbulkan konflik diantara mereka.Perbedaan kebudayaan. (http://sosiologi-sosiologixavega. Tidak semua masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma yang sama. karena menurut teman anda itu sangat mundukung.wikipedia. persaingan (competition). .4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 1) Tinjauan Pustaka Menurut Aminudin (2000:66). dan identitas seseorang. emosi. konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya ( http://id. . Sehingga terjadi konflik.novel Botchan.Perbedaan kepentingan. Sedangkan menurut Gillin dan Gillin konflik konflik adalah bagian dari sebuah proses sosial yang terjadi karena Universitas Sumatera Utara 13 adanya perbedaan-perbedaan fisik. riwayat hidup Natsume Soseki. Soerjono Soekanto mengemukakan 4 faktor penyebab terjadinya konflik yaitu : . tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Dengan demikian karya sastra lahir ditengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang yang merupakan refleksi kehidupan manusia terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. dan pengertian dan teori tentang konflik sosial. dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict).org/wiki/Konflik).blogspot. Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial. oleh karena tanpa interaksi sosial.com/2010/10/konflik-dan-integrasisosial. setiap kelompok maupun individu memiliki kepentingan yang berbeda pula. merupakan perbedaan yang menyangkut perasaan. termasuk perubahan-perubahan sosial. Kemudian timbul amarah dalam diri anda. Secara sosiologis. Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation). perubahan yang terlalu cepat yang terjadi pada suatu masyarakat dapat mengganggu keseimbangan sistem nilai dan norma yang . kepribadian seseorang dibentuk oleh keluarga dan masyarakat. html). Sebagai contoh anda ingin suasana belajar tenang tetapi teman anda ingin belajar sambil bernyanyi. atau ide yang berkaitan dengan harga diri. Universitas Sumatera Utara 12 1. sastra fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan. (2000:21) Sosiologi adalah ilmu yang memepelajari struktur sosial dan proses-proses sosial. latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. . antara kelompok-kelompok manusia. Menurut Selo Soemarjan dan Soemardi dalam Soekanto. Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Apa yang dianggap baik oleh satu masyarakat belum tentu baik oleh masyarakat lainnya. pendirian. kebanggan. kebudayaan dan perilaku.Perubahan sosial.

Menurut Swingewood dalam Tarihoran. Pendekatan semiotika adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sistem tanda. sosiologi sastra merupakan disiplin yang tanpa bentuk. khususnya lingkungan pekerjaan dalam novel ini melalui dialog atau komunikasi antar tokoh. Dengan menggunakan pendekatan semiotika dalam menganalisis penulis dapat mengetahui konflik sosial yang dialami tokoh “Botchan” melaui interaksiinteraksi tokoh utama dengan tokoh-tokoh lain dalam lingkungan masyarakatnya. Ada dua elemen yang membangun alur adalah konflik dan klimaks. Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan seksama. Stanton (2007:13). c. Namun. yaitu: a. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatanya terhadap kehidupan. Universitas Sumatera Utara 15 Dalam menganalisis suatu karya sastra diperlukan suatu pendekatan yang menjadi acuan bagi penulis dalaam menganalisis karya sastra tersebut. hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya sekaligus memasukan hiburan dan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia. Setiap konflik utama selalu bersifat fundamental. akibatnya konflik dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu dengan masyarakat. tidak terdefenisikan dengan baik. Untuk melihat gambaran kehidupan sosial seseorang individu secara . dan dijelaskan makna sosiologisnya. (2009:8). yang memandang fenomena sosial dan budaya sebagai sistem tanda.berlaku. (2009:92). penulis menggunakan pendekatan sosiologis dan pendekatan semiotika di dalam menganalisis karya sastra ini. sosiologi sastra dapat meneliti sekurang-kurangnya melalui tiga perspektif. fiksi dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajiner. (2008:77). Perspektif Teks Sastra Artinya peneliti menganalisis sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Persfektif Reseptif Yaitu peneliti menganalisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra. 2) Kerangka Teori Menurut Altenbernd dan lewis dalam Nurgiyantoro (1995:3). Teks biasanya dipotong-potong diklasifikasikan. Konflik dalam sebuah karya fiksi sangatlah penting dalam pembentukan alur cerita. Persefektif Biografis Yaitu peneliti menganalisis pengarang. yang masing-masingnya hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan dengan hubungan sastra dan masyarakatnya. terdiri dari sejumlah Universitas Sumatera Utara 14 studi-studi empiris dan berbagai percobaan pada teori yang lebih general. namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia. dan adanya kontak sosial. Hal ini sesuai dengan pengertian semiotik sebagai ilmu tanda. kenaifan dengan pengalaman atau individualistis dan kemauan beradaptasi. membenturkan “sifat-sifat” dan “kekuatan-kekuatan” tertentu seperti kejujuran dengan kemunafikan. b. Preminger dalam Wiyatmi. Oleh karena itu. Menurut Wolf dalam Endraswara. Persfektif ini akan berhubungan dengan life story seorang pengarang dan latar belakang sosialnya.

termasuk perubahan-perubahan sosial. Tokoh dan penokohan merupakan merupakan unsur yang penting dalam karya naratif. kebudayaan dan perilaku. amanat. 1. yaitu makluk yang selalu terlibat dalam perbedaan. konflik berarti pertentangan atau percekcokan. manusia adalah makluk konfliktis (homo conflictus). Menurut Soemarjan dan Soemardi dalam Soekanto. khususnya prosa antara lain tema.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1) Tujuan Penelitian Sesuai dengan masalah sebagaimana telah dikemukakan di atas. dalam arti tokohtokoh itu memiliki ”kehidupan” atau “berciri hidup”. Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Melihat sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat. Menurut Susan Novri (2009:4). (2000:21) sosiologi adalah ilmu yang memepelajari struktur sosial dan prosesproses sosial. Menurut Sayuti dalam Wiyatmi. pertentangan.com/2010/10/konflik-dan-integrasisosial. Untuk mendeskripsikan kondisi sosial novel ”Botchan” karya Natsume Soseki. (2009:30) tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi yang merupakan ciptaan pengarang. plot. Pertentangan sendiri bisa muncul ke dalam bentuk pertentangan ide maupun fisik antara dua belah fihak yang bersebrangan. khususnya dalam novel “Botchan” karya Natsume Soseki. Untuk mendeskripsikan konflik sosial yang dihadapi tokoh utama Botchan melalui interaksi sosial tokoh utama Botchan dengan tokohtokoh lain di dalam novel Botchan. penokohan. Bagi peneliti dan masyarakat umum diharapkan dapat menambah informasi dan pengetahuan mengenai sosiologis sastra dalam karya fiksi. 2. atau memiliki derajat Universitas Sumatera Utara 17 lifelikeness (kesepertihidupan). maka tujuan penelitian adalah: 1. meskipun dapat juga merupakan gambaran dari orang-orang yang hidup di alam nyata. oleh karena itu dalam sebuah fiksi tokoh hendaknya dihadirkan secara alamiah. html . alur.khusus dan masyarakat pada umumnya di dalam sebuah karya sastra adalah dengan menggunakan disiplin ilmu yaitu sosiologi sastra. 2) Manfaat penelitan Manfaat penelitian ini adalah: 1. dan sebagainya. setting. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto konflik adalah suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan /atau kekerasan dalam (http://sosiologi-sosiologixavega. moral atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Unsur-unsur penunjang terciptanya sebuah karya sastra. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. Dengan menggunakan teori sosiologis penulis dapat menganalisis bagaimanakah konflik sosial yang dialami tokoh utama terhadap Universitas Sumatera Utara 16 tokoh lain dalam novel ini. konflik adalah bagian dari sebuah proses sosial yang terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan fisik. dan persaingan baik sukarela dan terpaksa. Tokoh cerita menempati sebagai posisi yang strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan. . emosi.blogspot. Menurut Gillin and Gillin.

Universitas Sumatera Utara . tentulah dibutuhkan sebuah metode sebagai penunjang untuk mencapai tujuan. Dalam mengumpulkan data-data penelitian. 3. atau kelompok tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian sastra ini adalash metode deskriftif. mengumpulkan data dari berbagai website yang berhubungan dengan materi penelitian ini. Universitas Sumatera Utara 18 1. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa jurusan Sastra Jepang sebagai referensi analisis karya sastra. penulis juga memanfaatkan teknologi internet. keadaan. Metode deskriftif digunakan karena penelitian ini terbatas untuk mengungkapkan pada suatu masalah sebagaimana adanya sehinnga sekedar mengungkapkan fakta. dan buku-buku panduan analisis sosiologis dalam karya sastra serta tambahan literatur tambahan lainnya.2. Menambah wawasan tentang Natsume Soseki sebagai salah seorang penulis terbesar dalam sejarah kesusastraan Jepang. penulis menggunakan metode studi kepustakaan (Library Research) dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan karya sastra. Koentjaraningrat (1976:30) mengatakan bahwa penelitian yang bersifat deskriptif yaitu memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. kritik sastra. Selain memanfaatkan literatur yang berupa buku.6 Metode Penelitian Dalam melakukan sebuah Penelitian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->