P. 1
Fisika - Modul 1 - Vektor

Fisika - Modul 1 - Vektor

|Views: 12,457|Likes:
Fisika merupakan salah satu cabang ilmu yang tidak lepas dari perhitungan matematika.
Pada konsep perhitungannya, fisika tidak hanya menggunakan satuan biasa, tetapi juga menggunakan vektor dalam menyelesaikan kasus-kasusnya.
Fisika merupakan salah satu cabang ilmu yang tidak lepas dari perhitungan matematika.
Pada konsep perhitungannya, fisika tidak hanya menggunakan satuan biasa, tetapi juga menggunakan vektor dalam menyelesaikan kasus-kasusnya.

More info:

Published by: Akhmad Ghozali Amrulloh on Mar 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

FI SI KA – MODUL 1

VEKTOR












⇒ Nilai vektor A (yaitu : A ) diperoleh dari pengukuran
menggunakan alat ukur yang sesuai
Contoh : vektor gaya nilainya diukur dengan alat neraca pegas,
vektor kecepatan diukur dengan alat speedometer, vektor
pergeseran diukur dengan alat ukur penggaris
⇒ arah vektor A adalah sudut vektor A terhadap suatu kerangka
acuan tertentu
Contoh :








β
A
X
Y
X’
Y’
A
Titik arah
vektor A
Nilai / panjang / magnitude vektor A
dilambangkan dengan A
Titik tangkap
vektor A
Vektor A berdasarkan kerangka acuan X – Y arahnya dalam
arah sumbu Y atau dalam arah 90
o
terhadap sumbu X. Tetapi
vektor A berdasarkan kerangka acuan X’ – Y’ arahnya β
o

terhadap sumbu X’.
Kedua arah di atas tetap benar, tergantung acuan apa yang kita
gunakan. Didalam mengerjakan persoalan, kita perlu memilih
sistem kerangka acuan yang terbaik dalam mengerjakan persoalan
tersebut. Pemilihan kerangka acuan yang salah akan membuat
pengerjaan persoalan tersebut menjadi rumit.



OPERASI – OPERASI VEKTOR

(1) Operasi Pembalikan Arah Vektor











Sebuah vektor B akan bisa dibalikkan arahnya dengan cara mengalikannya
dengan angka ( – 1), sehingga diperoleh vektor ( – 1)B = ( – B)



Vektor B
Vektor ( – B )
(2) Operasi Penggabungan Dua Vektor atau Lebih
Dua buah vektor A dan B , atau bahkan lebih, seperti pada gambar di bawah ini,
dapat digabungkan untuk menghasilkan vektor G, D, W, dan K, dan seterusnya,
dengan cara membentuk jajaran genjang (harus dengan membentuk jajaran
genjang). Penggabungan tersebut dikenal dengan penjumlahan vektor. Tapi
dikenal juga istilah pengurangan vektor yang tak lain adalah penjumlahan vektor
juga. Dalam penjelasan di bawah ini akan dijelaskan apa yang disebut
penjumlahan vektor dan pengurangan vektor.

Contoh – 1





















A
B
A
B
G
θ
B
( – A)
D
α
G = A + B
D = ( – A) + B
α
( – B) A
( – A)
( – B)
K = ( – B) + A
K
W
θ
W = ( – A) + ( – B)

Dari gambar di atas terlihat bahwa ada dua jenis penggabungan vektor.
Penggabungan dua vektor dengan arah keduanya tidak berubah dan
penggabungan dua vektor dengan arah yang berubah. Pembaca harus sampai pada
kesimpulan bahwa keduanya adalah sama – sama penggabungan vektor yang
disebut penjumlahan vektor

Contoh – 2























A
B A
90
o

B
G
90
o

( – B)
A
T
T = A + ( – B)
G = A + B
B
Z
( – A)
90
o

Z = B + ( – A)
90
o

N
( – B)
( – A)
N = ( – A) + ( – B)

Contoh – 3















Contoh – 4













A
B
A
B
G
ϕ
A
( – B) W
W = A + ( – B)
G = A + B
A
B
A B
G
A
( – B)
R
R = A + ( – B)
G = A + B
Contoh – 5



















Penggabungan lebih dari dua vektor prosesnya lebih panjang dari penggabungan
dua vektor. Pada gambar di atas dipilih menggabungkan vektor – vektor A dan
B lebih dulu dan memperoleh vektor T. Kemudian menggabungkan vektor T
dengan C untuk memperoleh vektor G. Cara yang lain dapat ditempuh,
misalkan menggabungkan vektor – vektor A dan C lebih dahulu baru hasilnya
digabungkan dengan vektor B.





A
B
C
A
B
T T
C
G
θ
α
T = A + B G = T + C
Contoh – 6






























A B
C
D
( – B)
A
G
1

G
1

C
G
2

G
2

( – D)
G
G
1
= A + ( – B) G
2
= C + G
2
G = G
2
+ ( – D)
Formulasi Penggabungan Vektor















Kita pandang segitiga yang sisi – sisinya
adalah nilai vektor A, yaitu A, nilai
vektor B, yaitu B, nilai vektor G, yaitu
G. Kita gunakan “aturan cosinus” untuk
segitiga sembarang di samping, yaitu :
( ) θ 180 cos AB 2 B A G
o 2 2 2
− − + =
karena
( ) θ cos θ sin 180 sin θ cos 180 cos θ 180 cos
o o o
− = + = −
Maka
( ) θ cos AB 2 B A θ 180 cos AB 2 B A G
2 2 o 2 2 2
+ + = − − + =
atau
θ cos AB 2 B A G
2 2
+ + =


A
B
G
A
B
G
θ
θ
180
o
– θ
180
o
– θ
B
A
G











Kita pandang segitiga yang sisi – sisinya
adalah nilai vektor A, yaitu A, nilai
vektor (– B) , yaitu B, nilai vektor T,
yaitu T. Kita gunakan “aturan cosinus”
untuk segitiga sembarang di samping,
yaitu :
θ cos AB 2 B A T
2 2 2
− + =
Maka
θ cos AB 2 B A T
2 2
− + =


Kita akan coba gunakan dua formulasi ini untuk mengerjakan contoh – contoh di
atas.







A
( – B)
T
180
o
– θ
A
T
180
o
– θ
( – B)
θ
θ
B
A
T
Contoh – 1




















Jika A = 5 ; B = 10 ; θ = 120 ; maka :

( ) ( ) ( )( )
( ) 75 2 / 1 100 100 25 G
20 1 cos 10 5 2 10 5 θ cos AB 2 B A G
o 2 2 2 2
= − + + =
+ + = + + =


Dan

( ) ( ) ( )( )
( ) 175 2 / 1 100 100 25 D
20 1 cos 10 5 2 10 5 θ cos AB 2 B A D
o 2 2 2 2
= − − + =
− + = − + =



A
B
A
B
G
θ
B
( – A)
D
α
G = A + B
D = ( – A) + B
Contoh – 2
















Jika A = 5 ; B = 10 ; θ = 90 ; maka :

( ) ( ) ( )( )
( ) 125 0 100 100 25 G
90 cos 10 5 2 10 5 θ cos AB 2 B A G
o 2 2 2 2
= + + =
+ + = + + =

Dan

( ) ( ) ( )( )
( ) 125 0 100 100 25 T
90 cos 10 5 2 10 5 θ cos AB 2 B A T
o 2 2 2 2
= − + =
− + = − + =



Contoh – 3




A
B A
90
o

B
G
90
o

( – B)
A
T
T = A + ( – B)
G = A + B
A
B











Jika A = 5 ; B = 10 ; θ = 180 ; maka :

( ) ( ) ( )( )
( ) 5 25 1 100 100 25 G
180 cos 10 5 2 10 5 θ cos AB 2 B A G
o 2 2 2 2
= = − + + =
+ + = + + =

Dan

( ) ( ) ( )( )
( ) 15 225 1 100 100 25 R
180 cos 10 5 2 10 5 θ cos AB 2 B A R
o 2 2 2 2
= = − − + =
− + = − + =



Contoh – 4










A
B
G
A
( – B)
R
R = A + ( – B)
G = A + B
A
B
T T
C
G
θ
α
β
A
B
C
120
o













Jika A = 5 ; B = 10 ; C = 15 ; θ = 90 ; maka :

( ) ( ) ( )( )
( ) ( ) 5 5 25 5 125 0 100 100 25 T
90 cos 10 5 2 10 5 θ cos AB 2 B A T
o 2 2 2 2
= = = + + =
+ + = + + =

Kita harus mencari β. Karena α = β + 120
o
. Kita gunakan “aturan cosinus” :








θ cos TB 2 B T A
2 2 2
− + =
T = A + B G = T + C
B
A
T β

( ) ( ) ( )
( )( )
( ) bawah di gambar lihat
5
1
θ sin
5
2
θ cos
5 00 1
200
5 00 1
100 125 5 2
θ cos
10 5 5 2
10 5 5 5
θ cos
TB 2
B T A
θ cos
2
2
2 2 2 2
= ⇒
= ⇒


=

− −
= ⇒

− −
= ⇒

− −
=






( )
5 2
3 2
5
1
3
2
1
5
2
2
1
120 sin θ sin 120 cos θ cos
120 θ cos θ cos 120 θ θ
o o
o o
− −
=
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
− |
.
|

\
|
|
.
|

\
|
− =
− =
+ = ⇒ + =

( ) ( ) ( )( )
( )
3 75 200 G
3 75 150 225 125 3 2 75 225 125 G
5 2
3 2
15 5 5 2 15 5 5 θ cos TC 2 C T G
2
2
2 2
− =
− − + = − − + + =
(
¸
(

¸

− −
+ + = + + =


Dari pengerjaan contoh – 1 sampai contoh – 4 di atas, kita melihat adanya
beberapa kesulitan dan kelemahan, yaitu :
(1) formulasi ini hanya cocok untuk mencari nilai dari penggabungan
vektor. Tapi akan muncul kesulitan tambahan pada saat kita
mencari arah dari hasil penggabungan vektor. Sebagai contoh,
pada pengerjaan contoh – 2, kita melihat hasil nilai yang sama
pada nilai vektor G dan T , tanpa memberikan informasi
β
2
5
1
tambahan dari arah kedua vektor yang jelas berbeda. Dan pada
contoh – 4, kita menjumpai langkah tambahan mencari sudut β.
(2) Dari contoh – 4, kita menjumpai langkah yang sulit karena kita
menghitung penggabungan lebih dari dua vektor.
(3) Tidak efektif. Jika dari contoh – 4, yang kita inginkan adalah
vektor Z = – A + 2 B – 3C , maka kita harus mengulangi lagi
langkah – langkah yang akan menghabiskan waktu.

Dengan alasan ini, dikembangkan metode yang dikenal dengan nama ”metode
analitik” yang akan mengeliminir kesulitan – kesulitan di atas.

Metode Analitik untuk Menghitung Penggabungan Vektor



















A
α
β = 90
o

B
C
D
θ
Langkah – 1
Letakkan vektor – vektor yang akan digabungkan pada sumbu kordinat siku
Cartesian X – Y













Langkah – 2
Uraikan vektor – vektor yang belum berada pada salah satu sumbu. Dengan cara
memproyeksikan secara tegak lurus pada masing – masing sumbu. Dan kemudian
tuliskan vektor – vektor di atas dalam notasi vektor sesuai dengan sistem kordinat
yang digunakan










A
X
Y
B
C α
D
θ
Y
α
X
A
A
x
= A
x
(+i)
A
y
= A
y
(+j)
α
A
A
x

A
y

Komponen / uraian
vektor A dalam arah
sumbu Y
Komponen / uraian
vektor A dalam arah
sumbu X







Vektor A
y
adalah komponen vektor A dalam arah sumbu Y. A
y
adalah nilai /
panjang / magnitude vektor A
y
, yang diperoleh dengan memproyeksikan nilai
vektor A dalam arah sumbu Y , dengan cara trigonometri (lihat gambar segitiga
di atas). Vektor (+j) adalah vektor satuan dalam arah sumbu Y positif.
θ sin A A
A
A
θ sin
y
y
= ⇒ =

Vektor A
x
adalah komponen vektor A dalam arah sumbu X. A
x
adalah nilai /
panjang / magnitude vektor A
x
, yang diperoleh dengan memproyeksikan nilai
vektor A dalam arah sumbu X , dengan cara trigonometri (lihat gambar segitiga
di atas). Vektor (+i) adalah vektor satuan dalam arah sumbu X positif.
θ cos A A
A
A
θ cos
x
x
= ⇒ =

Maka vektor A dituliskan :
A = A
x
+ A
y
= A
x
i + A
y
j = A cos α i + A sin α j








θ
X
D
D
x
= D
x
(– i)
D
y
= D
y
(+j)
θ
D
D
x

D
y

Komponen / uraian
vektor D dalam arah
sumbu Y
Komponen / uraian
vektor D dalam arah
sumbu X








Vektor D
y
adalah komponen vektor D dalam arah sumbu Y. D
y
adalah nilai /
panjang / magnitude vektor D
y
, yang diperoleh dengan memproyeksikan nilai
vektor D dalam arah sumbu Y , dengan cara trigonometri (lihat gambar segitiga
di atas). Vektor (+j) adalah vektor satuan dalam arah sumbu Y positif.
θ sin D D
D
D
θ sin
y
y
= ⇒ =

Vektor D
x
adalah komponen vektor D dalam arah sumbu X. D
x
adalah nilai /
panjang / magnitude vektor D
x
, yang diperoleh dengan memproyeksikan nilai
vektor D dalam arah sumbu X , dengan cara trigonometri (lihat gambar segitiga
di atas). Vektor (–i) adalah vektor satuan dalam arah sumbu X negatif.
θ cos D D
D
D
θ cos
x
x
= ⇒ =

Maka vektor D dituliskan :
D = D
x
+ D
y
= D
x
(– i) + A
y
j = D cos θ (– i) + D sin θ j

Vektor B sudah dalam arah sumbu Y. Yaitu dalam arah negatif sumbu Y. Maka
vektor B dituliskan :
B = B (– j)
Dengan B adalah nilai vektor B .

Vektor C sudah dalam arah sumbu X. Yaitu dalam arah negatif sumbu X. Maka
vektor C dituliskan :
C = C (– i)
Dengan C adalah nilai vektor C .

Langkah – 3
Gabungkan vektor – vektor dengan cara dijumlahkan.
Maka jika G = A + B + C + D ,

A = A cos α i + A sin α j
B = + B (– j)
C = C (– i)
D = D cos θ (– i) + D sin θ j

G = (A cos α – C – D cos θ) i + (A sin α – B + D sin θ) j
G = G
x
i + G
y
j

Atau jika kita menginginkan menggabungkan :
R = – 2A + 3B – C + 4D

– 2 A = – 2A cos α i – 2A sin α j
3 B = + 3B (– j)
(– 1) C = – C (– i)
4 D = 4D cos θ (– i) + 4D sin θ j

R = (– 2A cos α + C – 4D cos θ) i
+ (– 2A sin α – 3B + 4D sin θ) j
R = R
x
i + R
y
j


Contoh – 6
+
+
Jika A = 10 ; tan α = ¾ ; B = 5 ; C = 20 ; D = 15 ; tan θ = 4/3 ; Maka jika :
(a) N = A + B + C + D ; Cari vektor N dan sudut antara vektor N
dengan sumbu X positif

Tuliskan vektor – vektor di atas menjadi :




















A = A cos α i + A sin α j = 10 (4/5) i + 10 (3/5) j
= 8 i + 6 j
B = + B (– j) = – 5 j
C = C (– i) = – 20 i
D = D cos θ (– i) + D sin θ j = –15 (3/5) i + 15 (4/5) j
= – 9 i + 12 j
+
A
y

A
x

A
α
4
5
α
3
tan α = ¾
D
y

D
x

D
θ
tan α = 4/3
4
3
5
θ

N = – 21 i + 13 j
N = N
x
(– i ) + N
y
j ; N
x
= 21 ; N
y
= 13 ;
( ) ( ) 7 , 24 13 21 N
2 2
= + = ⇒

















o
o o
o o
arc
24 , 148
76 , 31 180
180 76 , 31
21
13
tan
21
13
tan
=
− =
− = ⇒ = = ⇒ = φ ψ φ φ


(b) K = A + 2B – C + 2D ; Cari vektor K dan sudut antara vektor K
dengan sumbu X positif

Tuliskan vektor – vektor di atas menjadi :

A = A cos α i + A sin α j = 10 (4/5) i + 10 (3/5) j
Y
X
N
φ
ψ = 180
o
– φ
N
x
= 21 (– i)
N
y
= 13 (j)
= 8 i + 6 j
2B = + 2B (– j) = – 10 j
(–1) C = (–1) C (– i) = 20 i
2 D = 2D cos θ (– i) + 2D sin θ j = –30 (3/5) i + 30 (4/5) j
= – 18 i + 24 j

K = 10 i + 20 j
K = N
x
i + N
y
j ; N
x
= 10 ; N
y
= 20 ;
( ) ( ) 36 , 22 20 10 K
2 2
= + = ⇒








o
arc 44 , 63 2 tan
10
20
tan = = ⇒ = φ φ

(c) Diambil dari contoh – 4 di atas. Jika
G = A + B + C ;
A = 5 ; B = 10 ; C = 15 ; Cari vektor G dan sudut antara vektor G dengan
sumbu X positif








+
Y
X
K
φ
K
x
= 10 (i)
K
y
= 20 (j)
A
B
120
o

C
X
Y
30
o















A = – 5 i
B = – 10 j
C = C cos 30
o
i + C sin 30
o
j = 15 ( 3 /2) i + 15 (1/2) j
= 3
2
15
i +
2
15
j

G =
|
.
|

\
|
+ − 3
2
15
5 i +
|
.
|

\
|

2
5
j
G = G
x
i + G
y
(– j) ; G
x
=
|
.
|

\
|
+ − 3
2
15
5 ; G
y
=
|
.
|

\
|
2
5
;

3 75 200
4
25
4
675
3 75 25
2
5
3
2
15
5 G
2 2
− = + + − =
|
.
|

\
|
+
|
.
|

\
|
+ − = ⇒


Kita peroleh hasil yang sama dengan yang telah kita hitung pada contoh – 4 di
atas.
+
C
y

C
x

C = 15
30
o

3
2
30
o


1


Latihan Soal Mandiri – 1
Operasi Menggabungkan Dua Vektor atau Lebih

01. Gambarkan gabungan ( = penjumlahan) vektor – vektor di bawah ini :

(a) (b)








(c) (d)








(e)





V
W
W
V
α
W V
α
V
W
α
V
W
U
α

(f)














02. Dengan menggunakan kedua cara yang telah dijelaskan di atas,
(a) Dari soal 01.a di atas jika V = 7 dan W = 24 , carilah nilai dari V + W
(b) Dari soal 01.a di atas jika V = 8 dan W = 15 , carilah nilai dari V + W
(c) Dari soal 01.b di atas jika V = 7, W = 24 , dan α = 60° , carilah nilai dari
V + W
(d) Dari soal 01.b di atas jika V = 7, W = 24 , dan tan α = ¾ , carilah nilai
dari V + W
(e) Dari soal 01.c di atas jika V = 7, W = 24 , dan α = 120° , carilah nilai dari
V + W
(f) Dari soal 01.c di atas jika V = 7, W = 24 , dan tan α = – ¾ , carilah nilai
dari V + W
(g) Dari soal 01.d di atas jika V = 8, W = 15 , dan α = 60° , carilah nilai dari
V + W
(h) Dari soal 01.e di atas jika V = 7, W = 24 , U = 10 dan tan α = ¾ , carilah
nilai dari V + W + U
V
W
U
T
α
θ
(i) Dari soal 01.e di atas jika V = 7, W = 24 , U = 10 , T = 39 , tan α = ¾ ,
dan tan θ = 12/5 , carilah nilai dari V + W + U + T




You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->