P. 1
Makalah Complete RP 2

Makalah Complete RP 2

|Views: 254|Likes:
Published by Sumadiyasa

More info:

Published by: Sumadiyasa on Mar 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/31/2015

pdf

text

original

PENGEMBANGAN PRIBADI KONSELOR “BERPRILAKU ETIK” Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan Pribadi

Konselor Dosen Pengampu : Prof. Dr. Gede Sedanayasa, M.Pd.

Oleh Kelompok 7 Kelas B Ida Ayu Diah Padma Dewi I Made Sumadiyasa Ni Wayan Rumiani ( 1011011078 ) ( 1011011103 ) ( 1011011117 )

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA 2011

KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat beliaulah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Berdasarkan mata kuliah yang telah diberikan, kami memberi judul makalah ini Pengembangan Pribadi Konselor dengan membahas secara khusus “Berprilaku Etik”. Seorang konselor yang memberikan pelayanannya kepada masyarakat atau individu yang membutuhkan bantuannya untuk penyelesaian masalah yang dihadapinya harus melaui serangkaian pendidikan yang diperlukan untuk menunjang profesi yang digelutinya tersebut. Selama mengikuti pendidikan tersebut, seorang konselor perlu memahami tentang nilai-nilai. Pemahaman ini dimakudkan karena seorang konselor yang memegang suatu nilai akan mempengaruhi bagaimana konselor tersebut menerima konseli yang datang kepadanya. Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses penyusunan dan pembuatan makalah ini. Rasa terimakasih kami sampaikan kepada Bapak dosen pembimbing Prof. Dr. Gede Sedanayasa, M.Pd. yang telah bersedia menuntun dan membantu kami dalam pembuatan makalah ini serta narasumber dan pihak-pihak lainnya yang turut serta membantu demi terselesaikannya makalah ini sesuai dengan apa yang telah diharapkan sebelumnya. Kami sebagai manusia yang banyak memiliki kekurangan menyadari bahwa apa yang kami sampaikan dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dalam proses penyampaiannya maupun isi atau hal-hal yang terkandung di dalamnya. Maka dari itu kami selaku penulis dan penyusun makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang kami banggakan yang bersifat membangun sehingga dapat membantu kami untuk dapat lebih menyempurnakan lagi makalah yang kami buat ini. Kami sangat berharap apa yang kami sajikan dan apa yang kami sajikan dalam makalah ini dapat

ii

memberikan manfaat-manfaat yang sedianya dapat berguna pagi pembaca pada umumnya dan para calon konselor pada khususnya sehingga apa yang menjadi tujuan pendidikan di Indonesia serta tujuan Bangsa Indonesia dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan.

Singaraja, 11 September 2011

Kelompok 7,

iii

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.............................................................................. DAFTAR ISI............................................................................................ BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1.1. Latar Belakang Masalah.......................................................... 1.2. Rumusan Masalah................................................................... 1.3. Tujuan..................................................................................... 1.4. Manfaat................................................................................... BAB II PEMBAHASAN.......................................................................... 2.1. Konsep Nilai........................................................................... 2.2. Nilai Pribadi Konselor............................................................. BAB III PENUTUP.................................................................................. 3.1. Kesimpulan.............................................................................. DAFTAR PUSTAKA................................................................................ ii iv 1 1 2 2 2 3 3 13 29 29 30

iv

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah. Profesi sebagai seorang konselor adalah suatu profesi yang mulia karena orang yang bergelut dalam proesi ini adalah orang-orang yang memiliki tujuan untuk membantu sesamanya dalam menghadapi masalah tentang suatu hal. Pada era globalisasi ini banyak sekali terjadi berbagai macam tindakan pelanggaran terhadap aturan atau norma yang berlaku di masyarakat, hal ini karena disebabkan oleh penanaman atau pengintegrasian nilai dan norma tersebut jarang dilakukan terlebih lagi para individu yang seharusnya mematuhi aturan nilai dan norma tersebut jurstru tidak menghiraukan norma dan nilai serta aturan-aturan yang berlaku di masyarakat. Di sinilah tugas seorang konselor atau guru pembimbing untuk ikut berperan serta dalam menanamkan nilai dan norma tersebut kepada individu-individu yang seharusnya menaati dan mematuhi nilai dan norma serta berbagai aturan yang berlaku tersebut di masyarakat. Sebelum seorang konselor dapat melaksanakan tugasnya tersebut, sudah tentu ia harus memahami apa itu nilai yang berupa konsep nilai, kemudian ia juga harus memahami tentang nilai kehidupan dan terakhir ia mengetahui tentang nilai-nilai pribadi seorang konselor. Pemahaman akan nilai tersebut sangat penting karena seperti yang diketahui bersama perbedaan nilai atau pun suatu nilai yang dianut atau dipegang oleh seorang konselor akan dapat mempengaruhi respon yang diberikannya kepada konseli atau klien yang datang kepadanya begitu pula sebaliknya konseli yang memiliki perbedaan nilai yang dipegangnya dengan konselor yang didatanginya akan mempengaruhi persepsi yang dimilikinya terhadap konselor tersebut dan akan memberikan pengaruh terhadap kelanjutan proses konseling selanjutnya. Nilai ini juga sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan konseling multikultur atau konseling lintas budaya karena kemungkinan adanya perbedaan nilai yang dianut masing-masing pihak. Berdasarkan hal itulah makalah ini dibuat.

1

1.2.

Rumusan Masalah. Berdasarkan apa yang terdapat pada latar belakang masalah maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah : Apa sajakah yang termasuk ke dalam konsep nilai ? Bagaimanakah nilai pribadi seorang konselor ?

1.3.

Tujuan. Berdasarkan penjelasan yang terdapat pada latar belakang masalah dan rumusan masalah maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah : Untuk menjelaskan konsep-konsep nilai. Memberikan pemahaman kepada pembaca tentang nilai tersebut. Menjelaskan tentang nilai-nilai kepribadian konselor.

1.4.

Manfaat. Sesuai dengan apa yang terdapat di dalam latar belakang masalah, rumusan masalah dan tujuan, maka manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah : Dapat memberikan pemahaman kepada pembaca tentang konsep nilai. Pembaca mengetahui dan mengerti tentang nilai-nilai pribadi seorang konselor.

2

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Konsep Nilai. Kita sering menghargai sesuatu karena sesuatu tersebut berharga atau memiliki sutu makna atau nilai ( value ). Nilai sendiri memiliki arti yaitu sebagai sesuatu yang kita yakini atau kita percayai sebagai suatu yang berbeda dan lebih berharga dibandingkan dengan yang lain. Karena memiliki nilai, sesuatu tersebut sangat berharga dan kita rela berkorban untuk memperolehnya atau mempertahankannya.1 Nilai sendiri menentukan kualitas hidup seseorang dan menjadi suatu penentu arah kehidupan seseorang. Kehidupan seseorang akan terarah oleh nilai tersebut karena seseorang tersebut memandang nilai yang mengarahkan hidupnya sebagai sesuatu yang penting atau memiliki makna dalam hidupnya. Nilai dapat juga dikatakan sebagai ukuran ( pada diri seseorang ) tentang sesuatu ( sikap, kata, dll ) yang dapat ( dan selalu serta sering kali ) mempengaruhi prilakunya. Nilai selalu memiliki kaitan dengan norma atau petunjukpetunjuk untuk mengarahkan tingkah laku ke arah yang baik. Nilai telah diartikan oleh para ahli dengan berbagai pengertian, dimana pengertian satu berbeda dengan yang lainnya. Adanya perbedaan pengertian tentang nilai ini dapat dimaklumi oleh para ahli itu sendiri karena nilai tersebut sangat erat hubungannya dengan pengertian-pengertian dan aktivitas manusia yang komplek dan sulit ditentukan batasannya. Bahkan, karena sulitnya itu Kosttaf ( dalam Thoha, 1996 : 61 ), memandang bahwa nilai merupakan kualitas empiris yang tidak dapat didefinisikan, tetapi hanya dapat dialami dan dipahami secara langsung.2

1

Antonius Purbiatmadi & Marcus Supriyanto, Biji Sesawi Memindahkan Asrori Ardiansyah, 2011. Pengertian Nilai. Diambil pada 6 September 2011

Gunung, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2010 ), hal. 74.
2

dari http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/04/pengertian-nilai.html.

3

Berikut adalah pengertian tentang nilai yang dihasilkan oleh para ahli : Gazalba ( dalam Thoha, 1996 : 61 ) menjelaskan bahwa nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal, bukan benda kongkrit, bukan fakta, bukan hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak di kehendaki, disenangi dan tidak disenangi.2 Darajat, dkk., ( 1994 : 260 ), memberikan pengertian bahwa nilai adalah suatu perangkat keyakinan ataupun perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran, perasaan, maupun perilaku.2 Una ( dalam Thoha, 1996 : 60 ) menjelaskan bahwa nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berbeda dalam ruang lingkup sistem kepercayaan dalam mana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai suatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan.2 Dari penjelasan para ahli tersebut dapat dipahami bahwa nilai itu adalah sesuatu yang abstrak, ideal, dan menyangkut persoalan keyakinan terhadap yang dikehendaki, dan memberikan corak pada pola pikiran, perasaan, dan perilaku. Dengan demikian untuk melacak sebuah nilai harus melalui pemaknaan terhadap kenyataan lain berupa tindakan, tingkah laku, pola pikir dan sikap seseorang atau sekelompok orang.2 Dalam penjelasan selanjutnya terdapat suatu tipe atau kategori nilai yang jumlahnya ada 4 tipe atau kategori nilai. Dengan memahami masingmasing nilai maka kita akan semakin mudah dalam memprogram kemabali nilai-nilai kita dan akan semakin membantu dalam mengarahkan hidup kita sesuai dengan tujuan kita.

2

Asrori Ardiansyah, 2011. Pengertian Nilai. Diambil pada 6 September 2011

dari http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/04/pengertian-nilai.html.

4

Adaun tipe atau kategori nilai yang dimaksud adalah : Tipe atau kategori nilai yang pertama adalah nilai sebagai alat. Contoh yang paling mudah adalah nilai yang terdapat pada mata uang yang biasa digunakan sebagai alat untuk tukar barang, yang sering kita gunakan untuk memperoleh barang yang kita inginkan. Banyak orang bekerja hanya untuk mengumpulkan uang sebagai alat, namun setelah mereka memperolehnya cukup banyak mereka tidak merasa senang atau bahagia mengapa ? Yaitu karena mereka mengejar nilai alat. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya yang mereka butuhkan adalah suatu kondisi emosional tertentu. Ketidaktahuan akan hal tersebut membuat banyak orang yang kaya akan harta benda memiliki hidup yang hampa atau tak bermakna.1 Tipe atau kategori nilai yang kedua adalah nilai akhir, yaitu emosi yang ingin kita rasakan. Saat seseorang mengatakan memiliki uang merupakan nilai yang penting dan hal itu memang benar. Namun, apakah tujuan akhir dari memiliki uang ? Apakah kita hanya ingin memiliki tumpukan kertas dengan gambar dan nilai nominal di atasnya ? Jika kita bertanya lebih jauh apakah pentingnya memiliki uang ? Maka mereka menjawab keamanan atau kebebasan atau kekuasaan, inilah nilai akhirnya.1 Tipe atau kategori nilai yang ketiga adalah nilai yang dituju atau kondisi emosi yang kita inginkan. Seperti ada seseorang yang menyatakan “Saya bangga sekolah di sekolah terfavorit di daerah saya”.1 Tipe atau katergori nilai yang keempat adalah nilai yang tidak ingin kita alami atau yang ingin kita hindari dalam hidup. Contohnya adalah ketika ada orang yang menyatakan “Saya benci belajar di sekolah dengan guru yang galak dan tidak sabar atau saya tidak mau menjadi miskin”. Orang yang

5

dimotivasi oleh nilai ini biasanya justru mendapatkan apa yang tidak ingin mereka dapatkan. Orang tersebut biasanya masih memiliki luka batin yang diakibatkan oleh pristiwa emosional di masa lalu yang secara tidak disadari masih mempengaruhi motivasi hidupnya.1 Ciri-ciri nilai menurut Bambang Daroeso ( 1986 ) memiliki sifatsifat sebagai berikut : Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal yang dapat diamati hanyalah objek yang bernilai itu. Misalnya, orang yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah nilai, tetapi kita tidak bisa mengindra kejujuran itu. Yang dapat kita indra adalah bentuk kejujuran itu.3 Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita, dan suatu keharusan sehingga nilai nemiliki sifat ideal ( das sollen ). Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Misalnya, nilai keadilan. Semua orang berharap, mendapatkan dan berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan.3 Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia adalah pendukung nilai. Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya, nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan.3

1

Antonius Purbiatmadi & Marcus Supriyanto, Biji Sesawi Memindahkan Aa. Uzey, 2009, Pengertian Nilai, Diambil pada 6 September 2011 dari

Gunung, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2010 ), hal. 74.
3

http://uzey.blogspot.com/2009/09/pengertian-nilai.html.

6

Macam-macam nilai yang dalam filsafat nilai dibedakan menjadi tiga macam nilai yang meliputi : Nilai logika adalah nilai tentang benar dan salah. Nilai estetika adalah nilai tentang indah dan tidak indah. Nilai etika/moral adalah nilai tentang baik dan buruk.3

Berdasarkan klasifikasi di atas, kita dapat memberikan contoh dalam kehidupan. Jika seorang siswa dapat menjawab suatu pertanyaan, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan siswa itu buruk karena jawabanya salah. Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakan demikian. Contoh nilai estetika adalah apabila kita melihat suatu pemandangan, menonton sebuah pentas pertunjukan, atau merasakan makanan, nilai estetika bersifat subjektif pada diri yang bersangkutan. Seseorang akan merasa senang dengan melihat sebuah lukisan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak suka dengan lukisan itu. Kita tidak bisa memaksakan bahwa luikisan itu indah. Nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia. Moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari. Notonegoro dalam Kaelan ( 2000 ) menyebutkan adanya 3 macam nilai. Ketiga nilai itu adalah sebagai berikut : Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan Jasmani manusia atau kebutuhan ragawi manusia.3 Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas.3

3

Aa. Uzey, 2009, Pengertian Nilai, Diambil pada

6 September 2011 dari

http://uzey.blogspot.com/2009/09/pengertian-nilai.html.

7

-

Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian meliputi :  Nilai kebenaran yang bersumber pada akal ( rasio, budi, cipta ) manusia.  Nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsur perasaan ( emotion ) manusia.  Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak ( karsa, will ) manusia.3 Nilai kehidupan sendiri berarti segala sesuatu yang kita anggap

sebagai sesuatu yang berharga dibandingkan dengan yang lain yang kita peroleh dalam kehidupan atau hal-hal berharga yang ada dalam hidup kita, nilai kehidupan bagi setiap orang mungkin saja berbeda-beda karena bagi meraka apa yang dinilainya sebagai sesuatu yang berharga berbeda dengan orang lain anggap lebih berharga. Sejauh mana berharganya sesuatu tersebut bagi kita bergantung pada sejauh mana “harga” dari sesuatu tersebut bagi hidup kita. Pada dasarnya nilai-nilai hidup inilah yang menjadi acuan dalam menjalani hidup ini, dan karena nilai-nilai hidup tersebut juga menjadi pegangan hidup kita ( Guiding Principles ), atau sebagai kompas pribadi ( Personal Compass ).4 Bisa saja dua orang memiliki nilai yang sama, namun bisa pula keputusan yang diambil berbeda dan berseberangan. Perbedaan ini dapat disebabkan karena definisi atau makna dari nilai tersebut berbeda pada dua orang itu. Nilainilai bisa juga dijelaskan sebagai “Different things to different people”. Contohnya adalah seperti ada dua orang A dan B menempatkan kesehatan sebagai sesuatu yang penting dalam hidupnya namun keduanya memberikan arti yang berbeda pada kesehatan tersebut. A dapat memberi makna atau definisi bahwa kesehatan adalah sesuatu yang harus dijaga agar ia dapat bekerja dan dapat melakukan hal terbaik untuk hidupnya.
3

Aa. Uzey, 2009. Pengertian Nilai. Diambil pada 6 September 2011 dari Taufik Bahaudin, Brainware Leadership Mastery, ( Jakarta : PT. Elex Media

http://uzey.blogspot.com/2009/09/pengertian-nilai.html.
4

Komputindo, 2007 ), hal. 300.

8

Sedangkan B dapat memberikan definisi atau makna kesehatan adalah peluang untuk menikmati hidup di dunia ini. Kedua orang ini akan menjaga kesehatannya dan menerapkan pola hidup sehat, namun saat harus mengambil keputusan sejauh mana ia harus berkorban untuk menjaga kesehatannya tentu akan berbeda.4 Seseorang yang telah memiliki pegangan hidup disebut sebagai orang yang memiliki prinsip. Dia menjadi seseorang yang tahu kenapa ia melakukan apa yang ia lakukan atau pun tidak melakukannya karena keyakinan dalam menjalani hidupnya membuatnya merasa bahagia dan tidak hampa ( empty ). Ia tahu apa yang paling penting dalam hidupnya yang akan membuatnya memperoleh kebahagiaan dan ketenangan karena ia memiliki nilai-nilai yang jelas yang menjadi pegangan dalam hidupnya. Dalam menjadikan nilai-nilai menjadi pegangan hidup, kita harus mengerti tentang yang mana termasuk ke dalam Toward Values dan mana yang Away-from Values. Toward Values adalah dorongan emosi yang berupa kekuatan untuk mendorong kita untuk mencapai cita-cita atau sesuatu yang kita inginkan yang bersifat positif misalnya, kebebasan, keamanan, cita, dsb. yang menyenangkan yang ingin kita raih, Away-from Values adalah dorongan emosi negatif yaitu kekuatan yang membuat kita menghindar dari sesuatu yang tidak kita inginkan misalnya, penolakan, ketakutan, penghinaan kegagalan, dsb. Untuk itu kita harus jujur kepada diri kita sendiri khususnya untuk menentukan definisi atau makna dari nilai tersebut. Pemberian makna terhadap nilai itu begitu penting sehingga dapat dikatakan “Change your definition of your values, and you’ll make major changes in your life”.4 Nilai-nilai kehidupan inilah yang mampu membuatnya menentukan apa yang dianggap baik/benar dan apa yang dianggap buruk/salah yang membuatnya konsisten atau tegas dalam menentukan pilihan atau pun mengambil keputusan.

4

Taufik Bahaudin, Brainware Leadership Mastery, ( Jakarta : PT. Elex Media

Komputindo, 2007 ), hal. 300, 309.

9

Sumber dari nilai kehidupan ini adalah keyakinan individualnya ( individual global beliefs ). Nilai-nilai hidup dapat dikatakan operasionalisasi dari keyakinan individual dalam kehidupan seseorang. Disamping sebagai pegangan hidup atau kompas pribadi, nilai-nilai hidup juga merupakan suatu kekuatan pendorong ( driving force ) bagi seseorang untuk melakukan sesuatu atau tidak dalam hidupnya. Sejauh mana kekuatan pendorong dalam melakukan atau menghindarkan sesuatu merupakan cerminan sejauh mana pentinggnya nilai-nilai hidup yang terkait dengan hal tersebut.4 Nilai kehidupan sendiri adalah nilai dasar yang dimiliki oleh setiap orang yang dalam kenyataan bahwa kita hidup merupakan nilai dasar. Ketika seseorang atau individu hidup ia akan memperoleh suatu nilai “kasih sayang”, seorang anak tidak akan dapat hidup tanpa memperoleh kasih sayang dari orang tua ( orang lain ) yang merawatnya. Pada saat kasih sayang itu diterima oleh anak, kedua orang tuanya melaksanakan nilai “tanggung jawab” merawat bayi yang dianugrahkan Sang Pencipta kepada mereka, begitu seterusnya nilai-nilai itu saling bersinggungan di atas nilai kehidupan.5 Setalah memahami tentang nilai-nilai kehidupan, dapat disimpulkan bahwa terdapat dua nilai utama yaitu nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. Contohnya adalah ketika seorang pelajar akan mengahadapi ulangan atau ujian, ada pelajar yang belajar sejak jauh-jauh hari karena ia menyadari akan nilai intrinsik yaitu ketekunan dan kerajinan. Sedangkan ada siswa lain yang malas ingin mendapatkan nilai yang tinggi maka ia melakukan tindakan negatif seperti mencontek pekerjaan teman atau pun membuat contekan. Mungkin saja ia mendapatkan nilai ujian yang bagus, namun nilai ujian itu hanyalah nilai ujian ekstrinsik ( nilai luar ) saja, yaitu semata-mata angka yang tidak memiliki arti bagi karakter kepribadiannya karena sebenarnya ia tetaplah seorang siswa yang bodoh
4

Taufik Bahaudin, Brainware Leadership Mastery, ( Jakarta : PT. Elex Media Tim Budi Pekerti, Pendidikan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI,

Komputindo, 2007 ), hal. 301.
5

( Jakarta : PT. Grasindo, 2008 ), hal. 10.

10

dan malas, jadi memperoleh kemenangan atau kesuksesan dengan tindakan yang curang merupakan tindakan untuk mengejar nilai ekstrinsik yang jika dilakukan terus-menerus maka akan merusak karakter pribadi manusia.1 Penanaman nilai yang baik pada diri individu sendiri dapat dilakukan oleh individu itu sendiri dengan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk atau dibantu guru pembimbing, guru pembimbing di sini dapat berperan sebagai fasilitator dalam membantu individu menanamkan nilainilai positif dalam diri mereka dan mengolah nilai-nilai tersebut.6 Namun sebelum itu guru pembimbing harus memahami tentang nilai tersebut. Nilai-nilai kehidupan manusia biasanya dipengaruhi dipengaruhi oleh masukan-masukan dari luar dirinya sejak kecil, hal-hal tersebut antara lain : Agama atau ajaran-ajaran agama, biasanya bersifat mutlak, artinya tertanam dan berakarnya nilai-nilai dalam diri seseorang, yang kadang telah menjadi prinsip hidupnya, merupakan akibat dari pemahaman keagamaan yang kuat dan mendalam dan seringkali ia tidak bisa menjelaskan alasanalasan mempunyai prinsip ( yang mungkin orang lain menganggap sebagai suatu kekakuan ), namun karena imanya, ia tetap pada pendiriannya.7 Norma atau pun kebiasaan yang berlaku dalam komunitas. Norma-norma yang berlaku pada suatu komunitas biasanya bersifat warisan bersama artinya semua anggota komunitas menyetujui dan mempraktekkannya. Karena merupakan warisan bersama, maka hal itu terus-menerus diturunkan kepada generasi berikut dan dapat dipakai sebagai salah satu indentits bersama pada komunitas tersebut dengan demikian,
1

Antonius Purbiatmadi & Marcus Supriyanto, Biji Sesawi Memindahkan Paul Suparno, Saat Jubah Bikin Gerah, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, Jappy Pellokila, Nilai-Nilai Hidup dan Kehidupan. Diambil pada 6 September

Gunung, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2007 ), hal. 77.
6

2007 ), hal. 243.
7

2011 dari http://www.jappy.8m.net/blank_33.html.

11

sampai kapan atau dimana pun ia berada, maka selalu mempertahankan nilai-nilai tersebut.7 Pendidikan formal dan informal, disiplin, latihan, bimbingan orang tua maupun guru semuanya itu merupakan penanaman nilai-nilai yang dilakukan sejak dini oleh orang dewasa ke dalam diri seseorang atau anak-anaknya. Proses penanaman itu dilakukan secara sengaja maupun tidak, dengan tujuan tertanam nilai-nilai luhur, baik, dan benar yang menjadikan seseorang dapat diterima oleh sesamanya.7 Interaksi sosial yang membawa perubahan pikiran dan tujuan mengungkapkan kata serta melakukan tindakan.7 Pengalaman serta wawasan yang didapat karena adanya interaksi dengan orang lain serta keterbukaan menyerap hal-hal baru.7 Pada masing-masing orang terdapat nilai yang khas sesuai dengan masukan-masukan yang diterimanya. Dan bisa saja atau bahkan sering kali nilai-nilai hidup yang dipegang oleh individu berbeda dengan yang ada dan berlaku di masyarakat.7

7

Jappy Pellokila, Nilai-Nilai Hidup dan Kehidupan. Diambil pada 6 September

2011 dari http://www.jappy.8m.net/blank_33.html.

12

2.2.

Nilai Pribadi Konselor. Seorang konselor harus memiliki kualitas pribadi seorang konselor karena konselor sebagai pribadi harus mampu menampilkan jati dirinya secara utuh, tepat, dan berarti serta membangun hubungan antarpribadi ( interpersonal ) yang unik dan harmonis, dinamis dan kreatif sehingga menjadi motor penggerak keberhasilan layanan bimbingan dan konseling. Dalam hal ini, Corey ( 1986: 358-361 ), menyatakan “alat” yang paling penting untuk dipakai dalam pekerjaan seorang konselor adalah dirinya sendiri sebagai pribadi ( our self as a person ). Pada bagian dari tulisannya itu, ia tidak ragu-ragu mengatakan bahwa “... para konselor hendaknya mengalami sebagai konseli pada suatu saat, karena pengenalan terhadap diri sendiri bisa menaikkan tingkat kesadaran ( self awarness )” konselor.8 Brammer ( 1979 : 4 ) mendeskripsikan kualifikasi konselor sekolah sebagai pribadi memiliki sifat-sifat dan sumber kepribadian seperti memiliki perhatian pada orang lain, bertanggung jawab, empati, sensitivitas dan sebagainnya.8 Menurut Willis ( 2004 ), yang dimaksud kualitas konselor adalah semua kriteria keunggulan termasuk pribadi, pengetahuan, wawasan, keterampilan dan nilai-nilai yang dimilikinya yang akan memudahkannya dalam proses konseling sehingga mencapai tujuan dengan efektif.8 Salah satu kualitas konselor yang dimaksud di atas adalah kualitas pribadi konselor. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh Truax & Carkhuff, Waren, Virginia Satir ( Willis 2004: 79 ) membuktikan bahwa keefektifan konselor banyak ditentukan oleh kualitas pribadinya. Bahkan Rogers mengatakan bahwa kepribadian konselor lebih dari pada teknik konseling itu sendiri.8 Paterson ( Capuzzi & Gross, 1991 : 46 ) untuk menjelaskan suatu konstelasi karakteristik-karakteristik yang dimiliki konselor efektif, seperti sadar diri, penerimaan diri, menyadari lingkungan dan berinteraksi dengan lingkungan secara realistik. Dalam hidup, mereka bersikap terbuka
8

Ujang Khiyaru Soleh, 2011, Kualitas Pribadi Konselor, Diambil pada 13

September 2011 dari http://ujangkhiyarusoleh.blogspot.com/2011/03/kualitas-pribadikonselor.html.

13

terhadap berbagai pengalaman dan perasaan, spontanitas, dan memiliki rasa humor. Ketika berinteraksi dengan orang lain, mereka mampu terlibat setidak-tidaknya tetap dalam konteks. Bersikap empatik, terharu dan percaya pada dunia konseli, percaya kepada orang lain, otentik, dan merupakan orang-orang yang etik.8 Lebih lanjut diungkapkan bahwa hasil penelitian masing-masing ahli berdasarkan hal tersebut adalah sebagai berikut : Virginia Satir ( Willis, 2004 : 79 ) mengemukakan beberapa karakteristik konselor sehubungan dengan pribadinya yang membuat konseling berjalan efektif. Karakteristik-karakteristik tersebut adalah:  Resource person, artinya konselor adalah orang yang banyak mempunyai informasi dan senang memberikan dan menjelaskan informasinya. Konselor bukanlah pribadi yang maha kuasa yang tidak mau berbagi dengan orang lain  Model of communication, yaitu bagus dalam berkomunikasi, mampu menjadi pendengar yang baik dan komunikator yang terampil. Konselor bukan orang yang “sok pintar” dan mengejar pamor sendiri. Konselor mampu menghargai orang lain dan dapat bertindak sesuai dengan realitas yang ada baik pada diri maupun di lingkungannya.8 Jay Haley (Willis, 2004: 80) mengemukakan kualitas pribadi konselor sesuai dengan penelitiannya yaitu:  Fleksibilitas, yaitu mampu mengubah pandangan secara realistik dan bukan mengubah kenyataan.  Tidak memaksakan pendapat, mau mendengarkan dengan sabar terhadap pendapat orang lain.8

Ujang Khiyaru Soleh, 2011, Kualitas Pribadi Konselor, Diambil pada 13 September 2011 dari http://ujangkhiyarusoleh.blogspot.com/2011/03/kualitas-pribadikonselor.html.

8

14

-

Munson & Mills (Willis, 2004: 80) mengemukakan dua karakteristik penting yang menentukan kualitas pribadi konselor yaitu:  Seorang yang memiliki kebutuhan untuk menjadi pemelihara ( to be nurturant ).  Harus memiliki intuisi dan penetrasi psikologis yang baik ( intuitive and psychological parenting ), artinya dalam menghadapi konseli konselor mampu dengan cepat menangkap makna yang tersirat dari perilaku konseli yang tampak dan terselubung, misalnya makna suatu gerakan kepala, getaran suara, getaran bahu, cara duduk, dan sebagainya, dapat ditangkap maknamaknanya dengan cepat oleh konselor segingga mampu memberikan keterampilan teknik yang antisipatif dan bermakna dalam membantu perkembangan konseli. Dengan kata lain, konselor memahami bahasa verbal maupun non verbal konseli.8

-

Menne ( Willis, 2004 : 80 ) mengungkapkan karakteristik konselor yang didapat dari hasil penelitiannya yang menunjang kualitas pribadi konselor, yaitu :  Memahami dan melaksanakan etika professional.  Mempunyai rasa kesadaran diri mengenai kompetensi, nilai-nilai dan sikap.  Memiliki karakteristik diri yakni respect terhadap orang lain, kematangan pribadi, memiliki kemampuan intuitif, fleksibel dalam pandangan dan emosional stabil.  Kemampuan dan kesabaran untuk mendengarkan orang lain, dan kemampuan berkomunikasi.8

Ujang Khiyaru Soleh, 2011, Kualitas Pribadi Konselor, Diambil pada 13 September 2011 dari http://ujangkhiyarusoleh.blogspot.com/2011/03/kualitas-pribadikonselor.html.

8

15

Untuk dapat melaksanakan peranan profesional yang unik dan terciptanya layanan bimbingan dan konseling secara efektif, sebagaimana adanya tuntutan profesi, konselor harus memiliki kualitas pribadi. Keberhasilan konseling lebih tergantung pada kualitas pribadi konselor dibandingkan kecermatan teknik. Mengenai ini, Tyler ( 1969 ) menyatakan: “…success in counseling depend more upon personal qualities than upon correct use of specified techniques”. Shertzer & Stone ( Murad : 2005 ) menyatakan: "A key element in any counseling relationship is the person of the counselor". Pribadi konselor yang amat penting mendukung efektivitas perannya adalah pribadi yang altuistis ( rela berkorban ) untuk kepentingan konseli.8 Brammer juga mengakui adanya kesepakatan helper tentang pentingnya pribadi konselor sebagai alat yang mengefektifkan proses konseling, ia mengatakan: “A general dictum among people helpers says that if I want to become more affective I must begun with my self; own personalities thus the principal tools of the helping process…” ( Brammer, 1979 : 25 ).8 Pribadi berdasarkan sifat hubungan helping menurut Brammer di antaranya: (1) awareness of self and values, (2) awareness of cultural experience, (3) ability to analyze the helper’s own feeling, (4) ability so serve as model and influencer, (5) altruism, (6) strong sense of ethics, (7) responsibility. Pendapat Brammer tentang karakteristik konselor tersebut dapat di deskripsikan sebagai berikut : 1. Awareness of self and values, ( kesadaran akan diri dan nilai ). Konselor memerlukan kesadaran tentang posisi nilai mereka sendiri. Konselor harus mampu menjawab dengan jelas pertanyaan-pertanyaan, siapakah saya? Apakah yang penting bagi saya? Mengapa saya mau menjadi konselor?, kesadaran ini membantu konselor membentuk kejujuran terhadap dirinya sendiri dan terhadap konseli mereka dan juga membentuk

Ujang Khiyaru Soleh, 2011, Kualitas Pribadi Konselor, Diambil pada 13 September 2011 dari http://ujangkhiyarusoleh.blogspot.com/2011/03/kualitas-pribadikonselor.html.

8

16

konselor menghindari tindakan tidak etis terhadap konseli bagi kepentingan pemuasan kebutuhan diri pribadi konselor.8 2. Awareness of cultural experience ( kesadaran akan pengalaman budaya ). Suatu program latihan kesadaran diri yang tearah bagi konselor mencakup pengetahuan tentang populasi khusus konseli. Misal, jika seseorang telah menjalin hubungan dengan konseli dalam masyarakat suku lain dengan latar belakang yang sangat berbeda, konselor dituntut mengetahui lebih banyak lagi tentang perbedaan konselor dan konseli karena hal tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi hubungan helping yang efektif. Konselor professional hendaknya mempelajari ciri-ciri khas budaya dan kebiasaan tiap kelompok konseli mereka.8 3. Ability to analyze the helper’s own feeling ( kemampuan untuk menganalisi perasaan konselor sendiri ). Observasi terhadap konselor spesialis menunjukkan bahwa mereka perlu “berkepala dingin”, terlepas dari perasaan-perasaan pribadi mereka sendiri. Selain adanya persyaratan bagi konselor efektif, konselor juga harus mempunyai kesadaran dan mengontrol perasaannya sendiri guna menghindari proyeksi kebutuhan, harus pula diakui bahwa konselor mempunyai perasaan dari waktu ke waktu.8 4. Ability so serve as model and influencer ( kemampuan melayani sebagai teladan dan pemimpin atau “orang yang berpengaruh” ). Kemampuan ini penting terutama dengan kredibilitas konselor di mata konselinya. Konselor sebagai teladan atau model dalam kehidupan sehari-hari adalah sangat perlu. Konselor harus tampak beradab, matang dan efektif

Ujang Khiyaru Soleh, 2011, Kualitas Pribadi Konselor, Diambil pada 13 September 2011 dari http://ujangkhiyarusoleh.blogspot.com/2011/03/kualitas-pribadikonselor.html.

8

17

dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan konselor sebagai “pemimpin” atau sebagai teladan sangat diperlukan dalam proses konseling. 8 5. Altruism ( altuisme ). Pribadi altuis ditandai kesediaan untuk berkorban ( waktu, tenaga, dan mungkin materi ) untuk kepentingan, kebahagiaan atau kesenangan orang lain ( konseli ). Konselor merasakan kepuasan tersendiri manakala dapat berperan membantu orang lain dari pada diri sendiri.8 6. Strong sense of ethics ( penghayatan etik yang kuat ). Rasa etik konselor menunjukkan rasa aman konseli dengan ekspektasi masyarakat. Konselor profesional memiliki kode etik untuk dihayati dan dipakai dalam menumbuhkan kepercayaan pengguna jasa layanan konseling.8 7. Responsibility ( tanggung jawab ). Tanggung jawab konselor dalam hal ini khusus berkenaan dengan konteks bantuan khusus yang diberikan kepada konselinya. Salah satu tempat penerapan tanggung jawab konselor adalah dalam menangani kasus di luar bidang kemampuan atau kompetensi mereka. Konselor menyadari keterbatasan mereka, sehingga tidak merencanakan hasil atau tujuan yang tidak realistis. Konselor mengupayakan referal kepada spesialis ketika mereka menyadari keterbatasan diri. Begitu juga dalam menangani suatu kasus, mereka tidak membiarkan kasus-kasus “terlunta-lunta” tanpa penyelesaian.8 Kemudian Hobbs menyatakan bahwa: “idealnya sebagai seorang konselor adalah memiliki pribadi yang dapat mencerminkan perilakunya dalam mewujudkan kemampuan dalam hubungan membantu konseli tetapi juga mampu menyadari dunia lingkungannya, mau menyadari masalah sosial politiknya, dan dapat berdaya cipta secara luas dan tidak terbatas dalam pandangan profesionalnya”, Hanset, et.al. ( Benyamin, 1995: 27 ).8
Ujang Khiyaru Soleh, 2011, Kualitas Pribadi Konselor, Diambil pada 13 September 2011 dari http://ujangkhiyarusoleh.blogspot.com/2011/03/kualitas-pribadikonselor.html.
8

18

Allport ( Blocher, 1974 : 93 - 94 ) menggambarkan hakikat pribadi yang matang secara psikologis adalah sebagai berikut : 1. Memiliki kesadaran yang cukup luas tentang diri sendiri dan orang lain. Maksudnya adalah memilki kasih sayang, sadar akan kekuatan sendiri, namun juga mempunyai kesadaran untuk tunduk dan menghargai orang lain.8 2. Hangat dalam hubungan dengan individu lain. Individu yang matang dapat menciptakan dan memelihara keintiman dan kecintaan terhadap orang lain. Hubungan antar pribadinya ditandai oleh empati.8 3. Emosi stabil. Kematangan emosional timbul dari penerimaan dirinya, dengan kematangan emosional seseorang dapat memelihara pandangan yang realistik dan melakukan pengawasan terhadap tata alur “sinyal-sinyal” perasaan.8 4. Realistik dalam persepsi, keterampilan, dan pekerjaan. Tiap individu yang matang dapat berfungsi secara efisien dalam wilayah persepsi dan kognisi, dalam arti memiliki perilaku intelektual yang realistik dan akurat. Di samping itu dapat memfokuskan energinya pada pekerjaan yang cocok dengan perkembangannya.8 5. Realistik terhadap diri dan wawasan. Individu yang matang dapat mengerti dirinya.8 6. Mempunyai kesatuan pendekatan mengenai kehidupan. Tiap individu yang matang mampu menyusun beberapa kesatuan pendekatan menghadapi kehidupan, sehingga memberikan konsistensi dan arti bagi tingkah lakunya.8

Ujang Khiyaru Soleh, 2011, Kualitas Pribadi Konselor, Diambil pada 13 September 2011 dari http://ujangkhiyarusoleh.blogspot.com/2011/03/kualitas-pribadikonselor.html.

8

19

Konselor harus membuka “topengnya” dan menampilkan jati dirinya dengan segala keotentikannya. Konselor bertindak dan sekaligus sebagai model bagi konselinya. Konselor menampilkan dirinya apa adanya, terbuka dan bersifat fasilitatif. Arfin dan Eti Kartikawati ( 1994 / 1995 ) yang menyatakan bahwa seorang guru pembimbing atau konselor dipilih berdasarkan kualifikasi : Kepribadian. Syarat petugas bimbingan di sekolah diantaranya adalah sifat kepribadian konselor. Seorang konselor harus memiliki kepribadian yang baik. Kepribadian konselor sangat berperan dalam usaha membantu siswa untuk tumbuh. Banyak penelitian telah dilakukan oleh sejumlah ahli tentang ciri-ciri khusus yang dibutuhkan oleh seorang konselor. Polmantier (1966) telah mengadakan survei dan studi mengenai sifat-sifat kepribadian konselor menyatakan :  Konselor adalah pribadi yang intelegen, memiliki kemampuan berpikir, verbal dan kuantitatif, bernalar dan mampu memecahkan masalah secara logis.  Konselor menunjukkan minat kerja sama dengan orang lain, di samping seorang ilmuwan yang dapat memberikan pertimbangan dan menggunakan ilmu pengetahuan mengenai tingakah laku individual dan sosial.  Konselor kliennya menampilkan untuk kepribadian kebutuhan yang dapat menerima dirinya dan tidak akan menggunakan kepuasan pribadinya melebihi batas yang ditentukan oleh kode etik profesionalnya.  Konselor memiliki nilai-nilai yang diakui kebenarannya sebab nilai-nilai ini akan mempengaruhi perilakunya dalam situasi konseling dan tingkah lakunya secara umum.
20

 Konselor

cukup

luwes

untuk

memahami

dan

memperlakukan secara psikologis tanpa tekanantekanan sosial untuk memaksa klien menyesuaikan dirinya. Jones menyebutkan 7 sifat yang harus dimiliki oleh seorang konselor :  Tingkah laku yang etis.  Kemampuan intelektual.  Keluwesan ( Flexibility ).  Sikap penerimaan ( Acceptance ).  Pemahaman ( Understanding ).  Peka terhadap rahasia pribadi.  Komunikasi. Situasi konseling menuntut reaksi yang adekuat dari pihak konselor, yaitu konselor harus dapat bereaksi sesuai dengan perasaan dan pengalaman konseli. Bentuk reaksi ini sangat diperlukan oleh konseli karena dapat membantu konseli melihat perasaanya sendiri.9 Pendidikan. Seorang guru pembimbing atau konselor profesional selayaknya memiliki pendidikan profesi, yaitu jurusan

bimbingan konseling Strata Satu ( S1 ), S2 maupun S3. Atau sekurang-kurannya pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang bimbingan dan konseling. Seorang guru pembimbing atau konselor non-professional yakni alumni fakultas keguruan dapat diangkat menjadi seorang konselor profesional, tetapi harus mengikuti terlebih dahulu pendidikan tambahan ( pendididkan profesi ) dalam bidang bimbingan dan konseling.

9

Kelompok 1, 2010, Kepribadian Konselor, Diambil pada 13 September 2011

dari http://ict.unimed.ac.id/upbk/konseling.html?func=view&catid=9&id=3.

21

Syarat pendidikan berkenaan dengan keilmuan yang dimiliki oleh guru pembimbing atau konselor. Konselor tidak saja harus memiliki ilmu bimbingan dan konseling, tetapi juga harus memiliki pengetahuan psikologi, dan keterampilan komunikasi sosial.9 Pengalaman. Seorang konselor harus memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun mengajar, banyak membimbing berbagai kegiatan ekstrakulikuler dan banyak pengalaman dalam organisasi. Corak pengalaman yang dimiliki seorang konselor akan mampu membantunya dalam mendiagnosis dan mencari alternative solusi klien.9 Kemampuan. Seorang pembimbing harus memiliki kemampuan ( kompetensi ). M. D. Dahlan ( 1987 ) menyatakan bahwa konselor dituntut untuk memiliki berbagai keterampilan melaksanakan konseling. Guru pembimbing atau konselor harus mampu mengetahui dan memahami secara mendalam sifat-sifat seseorang, daya kekuatan pada diri seseorang, merasakan kekuatan jiwa apakah yang mendorong seseorang berbuat dan mendiagnosis berbagai persoalan siswa, selanjutnya mengembangkan potensi individu secara positif.9

9

Kelompok 1, 2010, Kepribadian Konselor, Diambil pada 13 September 2011

dari http://ict.unimed.ac.id/upbk/konseling.html?func=view&catid=9&id=3.

22

Selanjutnya Carlekhuff menyebutkan sembilan sifat kepribadian dalam diri konselor yang dapat dikatakan sebagai nilai kepribadian seorang konselor yang meliputi :

 Empati.
Empati adalah kemampuan sesorang untuk merasakan secara tepat apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain dan mengkomunikasikan persepsinya. Orang yang memiliki tingkat empati tinggi akan menampakkan sifat bantuannya yang nyata dan berarti dalam hubungannya dengan orang lain, sementara mereka yang rendah tingkat empatinya menunjukkan sifat yang secara nyata dan berarti merusak hubungan antar pribadi.9

 Respek.
Respek menunjukkan secara tak langsung bahwa konselor menghargai martabat dan nilai konseli sebagai manusia. Hal ini mengandung arti juga bahwa konselor menerima kenyataan, setiap konseli mempunyai hak untuk memilih sendiri, memiliki kebebasan, kemauan, dan mampu membuat keputusannya sendiri.9

 Keaslian ( Genuiness ).
Keaslian merupakan kemampuan konselor manyatakan dirinya secara bebas dan mendalam tanpa pura-pura dan tidak bermain peran. Konselor yang demikian selalu tampak keaslian pribadinya, sehingga tidak ada pertentangan antara apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan.9

 Kekonkretan ( Concreteness ).
Kekonkretan menyatakan ekspresi yang khusus mengenai parasaan dan pengalaman orang lain. Seorang konselor yang memilki kekonkretan tinggi selalu memelihara hubungan yang
9

Kelompok 1, 2010, Kepribadian Konselor, Diambil pada 13 September 2011

dari http://ict.unimed.ac.id/upbk/konseling.html?func=view&catid=9&id=3.

23

khusus dan selalu mencari jawaban mengenai apa, mengapa, kapan, dimana, dan bagaimana dari sesuatu yang ia hadapi. Gagasan pikiran dan pengalamannya diselidiki secara mendalam. Konselor yang memilki kekonkretan selalu memelihara keserasian dalam hubungan dengan orang lain dan mencegah konseli melarikan diri dari masalah yang dihadapinya.9

 Konfrontasi ( Confrontation ).
Konfrontasi terjadi jika terdapat kesenjangan antara apa yang dikatakan konseli dengan apa yang ia alami, atau antara yang ia katakan pada suatu saat dengan apa yang ia katakan sebelum itu. Variabel ini tidak dikontrol sepenuhnya oleh konselor, tetapi hal ini dapat dilaksanakan jika konselor merasakan cocok untuk dikonfrontasikan. Dalam situasi konseling umpanya terdapat banyak macam kemungkinan untuk dikonfrontasi.9

 Membuka Diri.
Membuka diri adalah penampilan perasaan, sikap, pendapat, dan pengalaman-pengalaman pribadi konselor untuk kebaikan konseli. Konselor mengungkapkan diri sendiri dan membagikan “dirinya” kepada konseli dengan mengungkapkan beberapa pengalaman yang berarti yang bersangkutan dengan masalah konseli.9

 Kesanggupan.
Kesanggupan dinyatakan ssebagai suatu kekuatan yang dinamis dan magnetis dari kualitas pribadi konselor. Konselor yang memiliki sifat potensi ini selalu menampakkan kekuatannya dalam penampilan pribadinya.

9

Kelompok 1, 2010, Kepribadian Konselor, Diambil pada 13 September 2011

dari http://ict.unimed.ac.id/upbk/konseling.html?func=view&catid=9&id=3.

24

Ia dengan jelas tampak menguasai dirinya dan ia mampu menyalurkan kompetensinya dan rasa aman kepada konseli.9

 Kesiapan.
Kesiapan berhubungan dengan perasaan diantara konseli dengan konselor pada waktu kini dan di sini. Tingkat kesiapan yang tinggi terdapat pada diskusi dan analisis yang terbuka mengenai hubungan antar pribadi yang terjadi antara konselor dengan konseli dalam situasi konseling. Hal ini sangat penting karena variabel ini menyediakan kesempatan untuk menggarap berbagai masalah kesukaran konseli dalam proses hubungan, sehingga konseli dapat mengambil manfaat atau keuntungan melalui pengalaman ini. Konseli dapat belajar mengatur kembali hubungan antar pribadinya dan menemukan dirinya bahwa situasi konseling memungkinkan ia menunjukkan dirinya sendiri, dan mengekspresikan perasaannya, baik yang positif maupun negatif kepada orang lain dengan cukup aman. Dalam hal ini konselor merasa terbuka dan dapat mendorong konseli untuk berani menghadapi dirinya dan menunjukkan dirinya secara bebas. Inilah yang menyebabkan konselor cepat merasa puas.9

 Aktualisasi Diri.
Dalam penelitian telah terbukti bahwa aktualisasi diri memiliki korelasi yang tinggi terhadap keberhasilan konseling. Aktualisasi diri dapat dipakai oleh konseli sebagai model terutama bagi konseli yang meminta bantuan kepadanya. Aktualisasi diri secara tak langsung menunjukkan bahwa orang dapat hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya secara langsaung karena ia mempunyai kekuatan dalam dirinya untuk mencapai tujuan hidupnya. Mereka dapat mengungkapkan
9

Kelompok 1, 2010, Kepribadian Konselor, Diambil pada 13 September 2011

dari http://ict.unimed.ac.id/upbk/konseling.html?func=view&catid=9&id=3.

25

dirinya secara bebas dan terbuka. Konselor yang mampu mengaktualisasikan dirinya memiliki kemampuan mengadakan hubungan sosial yang hangat, intim, dan secara umum mereka sangat efektif dalam hidupnya.9 Sementara diantaranya : Memiliki sifat penting pendidik pada umumya, yaitu ikhlas, adil, pengetahuan sosial, sehat jasmani dan rohani. Pengenalan terhadap pemuda dengan pengertian yang disertai oleh kasih sayang. Kestabilan emosi. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang dan menarik perhatiannya. Luas pengetahuan, bakat, dan pengenalan yang sehat dan penilaian yang tepat/kuat.9 Sementara Cose, seperti dikutip oleh Attia M. Hana, menyatakan ciri-ciri konselor yaitu adil, ikhlas, kepribadian, kelakuan baik, filsafat yang betul, pengenalan yang betul, sehat jasmani, emosi stabil, kemampuan membuat persahabatan, kemampuan menyertai orang lain, memahami orang lain dengan kasih sayang, memperhatikan orang lain, memahami perbedaan pendapat, lincah dan serasi, cerdas, pengetahuan sosial, luas pengetahuan, bakat, kepemimpinan, merasakan segi-segi kelemahan, sikap positif terhadap tugas, peka terhadap pelaksanaan misi, condong kepada pekerjaan jenis itu, mengerti suasana pengajaran, dan memahami keadaan sosial ekonomi.9 Bailey, seperti dikutip oleh Attia M. Hana, menyebutkan beberapa ciri yang harus dimiliki oleh pembimbing/konselor,

9

Kelompok 1, 2010, Kepribadian Konselor, Diambil pada 13 September 2011

dari http://ict.unimed.ac.id/upbk/konseling.html?func=view&catid=9&id=3.

26

Implikasi penggunaan perspektif kebajikan dalam konseling telah dieksplorasi lebih mendetail oleh Meara, et al. ( 1996 ). Perspektif kebajikan dalam kultural atau budaya mana pun diidentifikasikan mempresentasikan nilai dari sebuah komunitas atau kelompok. Kerangka etika praktik yang baik dari British Association for Counseling and Psychotherapy ( 2001 : 4 ) secara eksplisit bersumber dari perspektif kebajikan dengan mendefinisikan serangkaian kualitas personal yang harus dimiliki oleh semua praktisi termasuk konselor yaitu : Empati : kemampuan untuk mengkomunikasikan pemahaman terhadap pengalaman orang lain dari perspektif orang itu sendiri atau secara lebih singkatnya mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Ketulusan : komitmen pribadi untuk konsisten terhadap apa yang dinyatakan dan apa yang dilakukan. Integritas : kesederhanaan, kejujuran, dan koherensi pribadi. Fleksibilitas personal. Rasa hormat mereka sendiri. Kesederhanaan Kompetisi Keadilan Kebijakan : kemampuan untuk menilai dan memahami : keterampilan dan pengetahuan efektif yang : aplikasi kriteria yang tepat secara konsisten : memiliki kemampuan untuk menilai kekuatan dan kelemahan seseorang ( diri sendiri ). dibutuhkan untuk melakukan apa yang dipersyaratkan. untuk menginformasikan keputusan dan tindakan. sebagai dasar untuk bertindak.10
10

: kemampuan untuk menangani apa yang

menjadi perhatian klien tanpa harus mengacuhkan secara : menunjukan keyakinan diri yang sama

kepada orang lain dan pemahaman mereka terhadap diri

John McLeod, Pengantar Konseling : Teori dan Studi Kasus, ( Jakarta :

Kencana Prenada Media Group, 2008 ), hal. 246.

27

-

Keberanian

:

kapasitas

untuk

bertindak
10

tanpa

terpengaruh rasa takut, resiko, dan ketidakpastian.

Seorang konselor tidak dilahirkan dan juga bukan karena pendidikan dan latihan profesionalnya semata-mata. Menjadi konselor berkembang melalui proses yang panjang dimulai dengan mempelajari berbagai teori dan latihan serta berusaha belajar dari pengalaman praktik konselingnya ( Nelson & Jones, 1997 : 9 ).8 Praktik konseling mencakup nilai moral dan etika yang merupakan bagian dari nilai yang kuat. Karena itu, terdapat dua area luas di mana pertimbangan moral dan etika sangat relevan dengan konseling. Yang pertama berakar pada proses konseling yang sebenarnya. Klien mungkin membutuhkan pertolongan untuk memecahkan masalah moral yang terkandung di dalam krisis atau masalah moral yang mereka bawa ke dalam konseling. Para konselor juga harus sensitif awas terhadap posisi moralnya sendiri, dan interaksinya dengan sistem nilai klien. Daerah kedua adalah berprilaku terhadap klien dengan etis dan bertanggung jawab. Kepercayaan ( beliefe ), nilai ( value ), dan karakteristik pribadi konselor akan mempengaruhi terhadap pengembangan konseli di masa depan, karena dalam pelaksanaan konseling nilai-nilai yang dipegang oleh konselor akan mempengaruhi konseli bahkan mungkin nilai-nilai yang dipegang konseli.

8

Ujang Khiyaru Soleh, 2011, Kualitas Pribadi Konselor, Diambil pada 13

September 2011 dari http://ujangkhiyarusoleh.blogspot.com/2011/03/kualitas-pribadikonselor.html.
10

John McLeod, Pengantar Konseling : Teori dan Studi Kasus, ( Jakarta :

Kencana Prenada Media Group, 2008 ), hal. 246.

28

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan. Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada bagian latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat serta pembahasan, maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa seorang pribadi konselor haruslah seorang pribadi yang berkualitas yaitu memiliki nilai-nilai yang menjadi pegangan hidupnya yang menjadikannya seorang pribadi yang efektif sehingga dapat membuat suatu pelayanan konseling menjadi efektif. Sedangkan nilai pribadi konselor adalah semua kriteria keunggulan pribadi, pengetahuan, wawasan dan nilai-nilai yang dipegangnya yang dapat menjadikan proses konseling menjadi efektif. Namun, sebelum seseorang termasuk di dalamnya seorang praktisi khusunya konselor perlu memahami konsep-konsep suatu nilai itu sendiri baru kemudian ia dapat memilih hal-hal yang dapat ia jadikan nilainya sendiri dan membentuk pribadi seorang konselor.

29

DAFTAR PUSTAKA Ardiansyah, Asrori. 2011. Pengertian Nilai. Diambil pada 6 September 2011 dari http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/04/pengertian-nilai.html. Bahaudin, Taufik. 2008. Brainware Leadership Mastery. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. Kelompok 1. 2010. Kepribadian Konselor. Diambil pada 13 September 2011 dari http://ict.unimed.ac.id/upbk/konseling.html?func=view&catid=9&id=3. Khiyaru Soleh, Ujang. 2011. Kualitas Pribadi Konselor. Diambil pada kualitas-pribadi-konselor.html. McLeod, John. 2008. Pengantar Konseling : Teori dan Studi Kasus. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Pellokila, Jappy. Nilai-Nilai Hidup dan Kehidupan. Diambil pada 6 September 2011 dari http://www.jappy.8m.net/blank_33.html. Purbiatmadi, Antonius & Supriyanto, Marcus. 2010. Biji Sesawi Memindahkan Gunung. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Suparno, Paul. 2006. Saat Jubah Bikin Gerah. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Tim Budi Pekerti. 2007. Pendidikan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI. Jakarta : PT. Grasindo. Uzey, Aa. 2009. Pengertian Nilai. Diambil pada 6 September 2011 dari http://uzey.blogspot.com/2009/09/pengertian-nilai.html. 13 September 2011 dari http://ujangkhiyarusoleh.blogspot.com/2011/03/

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->