P. 1
MAKALAH TEORI AKUNTANSI

MAKALAH TEORI AKUNTANSI

|Views: 1,570|Likes:
Published by Listina Calistiqur

More info:

Published by: Listina Calistiqur on Mar 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/23/2013

pdf

text

original

TEORI AKUNTANSI

DISUSUN OLEH :      MARSELI S. LISTINA RESTI M. (200910315011) (200910315010) (200910315015) & & & & ; ALEXANDRA J. ROSMALIA (200910315031) (200910315018)

CHRISTINE E.P. (200910315004) REZKY ULINA YURIESKE C.A. (200910315016) (200910315023)

POLITIQUR R. (200910315014) ISRA M. (200910315024)

& FRITZ IMMANUEL (200910315007)

UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA
i

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya telah memberikan petunjuk, kesehatan, kesempatan dan kekuatan kepada penulis sehingga dapat menyajikan Makalah yang berjudul “Teori Akuntansi”. Di dalam tulisan ini, disajikan pokok-pokok bahasan yang disusun sebagai bahan penuntun atau pegangan mahasiswa dengan materi yang telah disesuaikan khususnya mata kuliah “Teori Akuntansi”. Harapan penyusun bahwa makalah ini dapat membantu para mahasiswa dan tim pengajar dalam kegiatan perkuliahan. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Novi Priyati, S.Pd, MM selaku dosen mata kuliah Teori Akuntansi atas bimbingan dan pengarahannya selama penyusunan makalah ini serta pihak-pihak yang yang telah membantu dan tidak dapat disebutkan satu per satu. Disadari bahwa dengan kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki penyusun, walaupun telah dikerahkan segala kemampuan untuk lebih teliti, tetapi masih dirasakan banyak kekurangtepatan, Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar tulisan ini bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Bekasi,

Januari 2012

Tim Penyusun

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………...……………….....…………................................ KATA PENGANTAR……………………........................................................... DAFTAR ISI……………………….…………………………..………….......... BAB I PENDAHULUAN ………………...…………………….................. A. Latar Belakang............................................................................ B. Tujuan.......................................................................................... BAB II SISTEM INFORMASI AKUNTANSI............................................... A. Pengertian Sistem Informasi Akuntansi...................................... B. Tujuan Sistem Informasi Akuntansi............................................ C. Sistem Informasi Akuntansi Pembelian...................................... D. Sistem Informasi Akuntansi Persediaan...................................... E. Analisis Perusahaan..................................................................... BAB III STRUKTUR TEORI AKUNTANSI.................................................. A. Hakikat Struktur Teori Akuntansi............................................... B. Tujuan Laporan Keuangan.......................................................... C. Postulat Akuntansi....................................................................... D. Konsep Teoritis Akuntansi.......................................................... E. Prinsip Dasar Akuntansi.............................................................. F. Standar Akuntansi....................................................................... BAB IV TEORI AKUNTANSI DAN PERUMUSANNYA............................ A. Teori Akuntansi........................................................................... B. Teori dan Pembuat Kebijakan Akuntansi.................................... C. Sifat Teori Akuntansi.................................................................. D. Periodisasi Teori Akuntansi........................................................ E. Metode Perumusan (Konstruksi)................................................. F. Pendekatan dalam Perumusan Teori........................................... G. Perumusan Teori Akuntansi di Indonesia................................... BAB V LAPORAN LABA RUGI...................................................................

i ii iii

1 2

3 4 4 6 8

17 20 22 23 24 31

32 36 39 40 42 44 50

iii

A. Pengertian Laporan Laba Rugi.................................................... B. Konsep Pengukuran Laba dan Bentuk-Bentuk Laporan Laba Rugi............................................................................................. C. Unsur-Unsur Laporan Laba Rugi................................................ D. Seksi-Seksi Perhitungan Laba Rugi............................................ E. Laba Komprehensif..................................................................... BAB VI LAPORAN ARUS KAS................................................................... A. Pengertian Laporan Arus Kas..................................................... B. Tujuan dan Kegunaan.................................................................. C. Bentuk dan Metode Laporan Arus Kas....................................... D. Penyajian Laporan Arus Kas....................................................... E. Penyusunan Laporan Arus Kas................................................... BAB V NERACA DAN PENCATATAN...................................................... A. Rekening (The Account).............................................................. B. Rekening Neraca (Rekening Riil)............................................... C. Rekening Rugi Laba (Rekening Nominal).................................. D. Pembukuan Berpasangan (Double Entry Bookkeeping)............. E. Daftar Rekening (Chart of Account)........................................... F. Pencatatan Transaksi ke Dalam Jurnal........................................ G. Neraca Percobaan (Trial Balance).............................................. H. Rincian Jurnal dan Buku Besar................................................... BAB VIII PENUTUP.......................................................................................... A. Kesimpulan.................................................................................. B. Saran............................................................................................ DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................

52

52 53 55 58

59 60 61 64 65

66 66 70 70 71 73 74 77

79 79 80

iv

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Akuntansi yang dipraktikkan dalam suatu wilayah negara merupakan suatu hasil rancangan dan pengembangan untuk mencapai suatu tujuan sosial tertentu. praktik akuntansi tersebut tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti faktor sosial, ekonomi, politis, dsb. dan hal itu menyebabkan praktik akuntansi dalam suatu wilayah negara tertentu bisa tidak sama dengan praktik akuntansi di negara lainnya. Untuk melaksanakan suatu praktik akuntansi yang baik, tidak cukup hanya mempelajari akuntansi secara praktik saja. Karena dibalik praktik akuntansi terdapat berbagai gagasan, asumsi dasar, konsep, penjelasan, dan sebagainya, yang semuanya terangkum dalam teori akuntansi. Teori akuntansi sendiri merupakan suatu pengetahuan yang menjelaskan mengapa praktik akuntansi berjalan seperti yang ada sekarang. Di dalam praktik akuntansi terdapat beragam permasalahan yang harus dipecahkan. Menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut tidak cukup hanya dengan mengandalkan pengalaman semata, namun untuk mencapai praktik akuntansi yang baik dan sehat, maka dalam menyelesaikan masalah juga diperlukan landasan teori yang sehat dan baik pula. Teori akuntansi merupakan bagian penting dari praktik akuntansi. pengetahuan terhadap teori akuntansi akan mengimbangi berbagai keterbatasan pengalaman dan kemampuan praktis dalam menyelesaikan masalah. Dengan teori akuntansi orang akan dapat melihat suatu permasalahan dengan perspektif yang lebih luas dan terinci, dan tanpa teori yang melandasinya, praktik akuntansi yang baik dan sehat bisa dipastikan tidak akan tercapai.

1

B.

TUJUAN 1. 2. 3. 4. 5. Memahami pengertian dari teori akuntansi Mengetahui pengklasifikasian dari teori akuntansi Memahami bagaimana aspek sasaran teori dari teori akuntansi Mengetahui fungsi dari teori akuntansi Mengetahui apa yang menjadi tujuan teori akuntansi

2

BAB II SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

A.

PENGERTIAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI Sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan. Elemen sistem : Tidak semua sistem memiliki kombinasi elemen yang sama, tapi suatu susunan dasar adalah: Input, Transformasi, Output, Mekanisme Kontrol, Tujuan. Jenis Sistem :   Sistem Lingkaran Terbuka  sistem yang tidak mempunyai elemen mekanisme kontrol, dan tujuan. Sistem Lingkaran Tertutup  sistem yang disertai oleh adanya elemen mekanisme kontrol dan tujuan. Sifat Sistem :     Sistem terbuka : Sistem yang dihubungkan dengan lingkungannya melalui arus sumberdaya. Sistem Tertutup : Sistem yang sama sekali tidak berhubungan dengan lingkungannya. Sistem Fisik : sistem yang terdiri dari sejumlah sumber daya fisik Sistem Konseptual : sistem yang menggunakan sumberdaya konseptual (data dan informasi) untuk mewakili suatu sistem fisik. Sistem Informasi Akuntansi dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang merubah data transaksi bisnis menjadi informasi yang merubah data transaksi bisnis menjadi informasi keuangan yang berguna bagi pemakainya. Sistem informasi akuntansi sangat diperlukan bagi pemakai akuntansi yaitu pihak luar (ekstern) organisasi perusahaan dan pihak dalam (intern) oraganisasi perusahaan. Kebutuhan para pemakai ekstern dapat dipenuhi dengan adanya publikasi laporan laba/rugi. Sedangkan para pemakai intern dapat 3

memenuhi kebutuhan informasi akuntansinya untuk mencapai nilai ekonomis (laba) perusahaan semaksimal mungkin. Dalam SIA ada 2 pemakai informasi akuntansi yaitu: 1. Pihak ekstern – Para langganan – Para leveransir (supplier) – Para pemegang saham (stockholder) – Para pegawai – Para pemberi pinjaman – Instansi Pemerintah

2. Pihak Intern SIA menyiapkan informasi bagi manajemen dengan melaksanakan operasi-operasi tertentu atas semua data sumber yang diterimanya dan juga mempengaruhi hubungan organisasi perusahaan dengan lingkungan sekitarnya.

B.

TUJUAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI 1. Untuk mendukung operasi-operasi sehari-hari (to Support the –day-to-day operations). 2. Mendukung pengambilan keputusan manajemen (to support decision making by internal decision makers). 3. Untuk memenuhi kewajiban yang berhubungan dengan pertanggung-jawaban (to fulfill obligations relating to stewardship

C.

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PEMBELIAN Sistem Informasi Akuntansi Pembelian adalah kegiatan pemilihan sumber, pemesanan dan perolehan barang dan jasa sebagai salah satu aktivitas utama operasi bisnis perusahaan. Sistem Informasi Akuntansi Pembelian (SIA Pembelian) merupakan sistem yang dibangun untuk mempermudah pelaksanaan pembelian dengan meng-otomatisasi-kan atau meng-komputerisasi keseluruhan 4

maupun beberapa bagian dari proses pembelian tersebut disertai dengan pengendalian atau kontrol atas sistem komputerisasi tersebut. Proses pembelian setiap jenis perusahaan hampir serupa karena meliputi beberapa atau seluruh kegiatan berikut ini : 1. Konsultasi dengan supplier yang diadakan sebelum pembelian berlangsung dengan cara menghubungi beberapa supplier untuk mendapatkan pemahaman mengenai ketersediaan kuantitas dan harga dari barang dan jasa. 2. Pembuatan dokumen permintaan pengadaan barang atau jasa dengan mendapatkan Persetujuan dari supervisor. Permintaan ini kemudian digunakan oleh departemen pembelian untuk memesan barang. 3. Mengadakan perjanjian dengan supplier untuk pembelian barang atau jasa dimasa yang akan datang. Perjanjian dengan supplier meliputi pesananpesanan pembelian (pesanan yang sebetulnya dikirim ke supplier) dan kontrak dengan supplier. 4. Penerimaan barang atau jasa dari supplier dimana perusahaan harus memastikan bahwa hanya batang yang dipesan berada dalam kondisi baiklah yang akan diterima 5. Pengakuan kewajiban atas barang dan jasa yang diterima dari supplier yang akan dicatat oleh departemen hutang pada saat tagihan diterima dari supplier. 6. Pemilihan invoice yang akan dibayar. 7. Penulisan, penandatanganan dan pengiriman cek kepada supplier. Dokumen yang terkait ke kepada siklus pembelian adalah: 1. Purchase Requisition (Permintaan Pembelian) 2. Purchase order (Pemesanan Pembelian) 3. Receiving order (Penerimaan Pesanan) 4. Supplier (Vendor) invoice 5. Disbursment voucher 6. Disbursment check 7. Debit memorandum 5

8. New supplier (vendor) form 9. Request for proposal (or quotation) Pengendalian internal pada siklus pembelian meliputi: 1. Pemisahan tugas. Individu-individu yangmengotorisasi, melaksanakan

pembelian, dan mencatat transaksi adalah individu yang berbeda untuk menghindari terjadinya kecurangan. 2. Menggunakan informasi dari kejadian lampau untuk mengontrol aktivitas pembelian 3. Mengamati dari dekat semua kegiatan pembelian 4. Dokumen-dokumen yang berurutan dan bernomor urut tercetak. 5. Mencatat semua pihak yang bertanggung jawab atas proses yang terjadi 6. Membatasi akses ke aset dan informasi perusahaan. 7. Merekonsilidasi semua catatan dengan bukti fisik dari aset yang ada.

D.

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PERSEDIAAN Persediaan adalah aktiva perusahaan yang meliputi barang jadi yang tersedia untuk dijual kembali, barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi dan bahan serta perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi. Persediaan yang terdapat dalam perusahaan dapat dibedakan menurut beberapa cara, dilihat dari fungsinya, dan dilihat dari jenis dan posisi barang dalam urutan pengerjaan produk. 1. Dilihat dari fungsinya a. Batch stock atau lot inventory b. Fluctuation stock c. Anticipation stock 2. Dilihat dari jenis dan posisi produk dalam urutan pengerjaan produk : a. Persediaan bahan baku (raw material stock)

6

b. Persediaan bagian produk atau parts yang dibeli (purchase parts/component stock) c. Persediaan bahan-bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan (supplier stock) d. Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (work in process/progress stock) e. Persediaan barang jadi (finished goods stock) Pada dasarnya terdapat lima catatan yang paling penting atau utama dalam sistem persediaan : 1. Permintaan untuk dibeli (purchase requisition) 2. Laporan penerimaan (receiving report) 3. Catatan persediaan (balances of stores record) 4. Daftar permintaan bahan (material requisition form) 5. Perkiraan pengawasan (control accounting) Sistem pencatatan persediaan yaitu: 1. Periodic System, yaitu pada setiap akhir periodedilakukan perhitungan secara fisik dalam menentukan jumlah persediaan akhir. 2. Perpetual System atau juga disebut Book Inventories, yaitu setiap mutasi dari persediaan sebagai akibat dari pembelian ataupun penjualan dicatat atau dilihat dalam kartu administrasi persediaannya. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menilai suatu persediaan, diantaranya dengan : a. first-in, first out (FIFO) b. rata-rata tertimbang (weighted average) c. last in, first-out (LIFO) Elemen yang harus ada untuk mendukung pengendalian internal yang baik atas persediaan adalah: 1. Pemilihan karyawan, pelatihan dan disiplin yang baik. 2. Pengendalian yang ketat atas barang yang datang melalui sistem barcode. 7

Pengendalian yang efektif atas semua barang yang keluar dari fasilitas. Pengendalian persediaan mencakup tindakan mempertahankan jumlah persediaan yang optimum, dimana jumlah persediaan sesuai dengan kebutuhan operasi

perusahaan. Jumlah persediaan yang terlalu banyak akan menambah biaya dan modal kerja membeku di persediaan, sedangkan jumlah persediaan yang terlalu sedikit akan menghambat kelancaran produksi maupun distribusi dan

mengakibatkan opportunity lost. Oleh karena tersebut terdapat sebuah metode untuk mempermudah pengendalian jumlah persediaan yang disebut Economic Order Quantity (EOQ).

E.

ANALISIS PERUSAHAAN 1. Sekilas tentang PT JawaComm’ PT. JawaComm‟ Indonesia adalah satu-satunya cabang waralaba pusat JawaComm‟ Corporation di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2003. PT. JawaComm‟ Indonesia bergerak di bidang jasa pengisian ulang tinta printer sekaligus menjual berbagai macam perlengkapan printer. Menurut perusahaan, permintaan dan penjualan dari tahun 2004 hingga tahun 2005 mengalami peningkatan sebesar 40 %. Pemilik perusahaan memutuskan untuk membuka outlet cabang di berbagai daerah Jakarta dan memberikan izin waralaba ke berbagai kota besar maupun kecil di Indonesia. Pada Maret 2005 perusahaan telah memiliki lebih dari.7 outlet dan 9 perusahaan yang membeli izin waralaba. PT JawaComm‟ Indonesia memiliki supplier dari berbagai negara dan berperan sebagai supplier bahan baku bagi setiap outlet dan waralaba-nya untuk menjaga kualitas produk. PT. JawaComm‟ Indonesia pada saat ini memiliki jumlah karyawan lebih dari 50 orang dan akan terus bertambah seiring dengan perkembangan perusahaan.

2. Bidang Usaha Perusahaan PT JawaComm‟ Indonesia telah menjalani 3 bidang usaha sebagai berikut: 8

1. Cartridges dan Toner Refill 2. Clonink (Infusion Technology) 3. Product Supply/Selling

3. Analisis Sistem Berjalan Rich Picture Rich Picture menggambarkan system berjalan yang ada saat ini.

Gambar 11. Rich Picture sistem pembelian dan persediaan PT. JawaComm‟ Indonesia

4. Sistem Yang Diusulkan Rich Picture berdasarkan prosedur yang diusulkan adalah:

9

Gambar 11a Rich Picture sistem pembelian dan persediaan yang diusulkan

5. Dokumen, Laporan dan Catatan Akuntansi yang diusulkan Dokumen-dokumen yang dibuat dalam sistem pembelian dan persediaan terkomputerisasi terdiri dari: 1. Surat Permintaan Pembelian (SPP) 2. Surat Permintaan Penawaran Harga (SPPH) 3. Purchase Order (PO) 4. Bukti Perubahan Pemesanan (BPP) 5. Bukti Barang Masuk (BBM) 6. Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB) 7. Bukti Barang Keluar (BBK) 8. Surat Retur Pembelian (SRP) 9. Bukti Pembayaran (BP) 10. Bukti Penyesuaian Perhitungan Fisik (BPPF)

10

Dokumen-dokumen pendukung dari luar dalam sistem pembelian dan persediaan terkomputerisasi terdiri dari: 1. Faktur Pemasok 2. Bukti Pengiriman Pemasok (Surat Jalan) 3. Bukti pengeluaran kas (Bukti Transfer, Cek dsb) Laporan-laporan yang diusulkan untuk dibuat berdasarkan kebutuhan informasi dari pihak yang bertanggung jawab terdiri dari: 1. Laporan Pembelian (LBM) 2. Laporan Pengeluaran Barang (LBK) 3. Laporan Retur Barang (LRP) 4. Laporan Hutang (LH) 5. Laporan Pembayaran (LP) 6. Laporan Persediaan (LB) 7. Laporan Prestasi Pemasok (LPP) Laporan Catatan akuntansi yang diusulkan untuk digunakan terdiri dari : 1. Jurnal Pembelian (JP) 2. Jurnal Pengeluaran Kas (JPK) 3. Jurnal Retur Pembelian (JRP)

6. Problem Domain Dengan class diagram bisa dijelaskan hubungan antara object/class yang terkait. Dan dari masingmasing class yang saling berasosiasi akan mempunyai event, behavior. Sehingga dapat dijelaskan proses apa yang ada dari masingmasing class yang ditunjukkan dalam gambar 12.

11

Gambar 12. Class Diagram

Gambar 13. Usecase Diagram 12

7. Application Domain Dalam application domain ini dijelaskan proses yang terkait dengan actor (user) dan sistemnya, yang merupakan interaksi antara actor dan system. Interaksi tersebut dapat digambarkan dengan usecase diagram. Dalam prosesnya akan dijelaskan rincian dari setiap usecase yang ada seperti yang ditunjukkan dalam gambar 13. Proses berikutnya adalah membuat sequence diagram yang menjelaskan urutan proses yang dilakukan oleh actor yang berinteraksi dengan system. Salah satu contohnya adalah seperti yang ditunjukkan dalam gambar 14.

Gambar 14. Sequence Diagram mendaftar karyawan

Proses design selanjutnya adalah membuat daftar function dan membuat navigation diagram seperti ditunjukkan dalam table 4 dan gambar 15. Dalam daftar fungsi dijelaskan deskripsi dari fungsi, jenis fungsinya (active, passive) dan jenisnya (Update, Read, Signal, Compute). Menentukan arsitektur design (component & Deployment), dan menghubungkan komponen yang ada seperti ditunjukkan dalam gambar 16 dan gambar 17. 13

Tabel 4 Function Specification Membuat LBK Operation Category _ Active X Passive Purpose Input data Conditions Update X Read X Compute signal buatLBK()

Menyajikan informasi pengeluaran barang No_BBK Klasifikasi per tanggal ataupun per No_BBK yang ditentukan oleh aktor akan memicu pengaksesan ke dalam class BBK yang mengakses class SPPB

Effect

Mengetahui kuantitas dan harga barang yang keluar dari persediaan di gudang

Algorithm

Input startDate Input endDate Show Crystal Report Viewer Control Open BBK Read BBM Between startDate And endDate and Group by Kd_BBK, Tgl_Keluar Set value Close BBK, SPPB Display Value Print Manually

Data Structures

No_BBK:String Tgl_Keluar:Date Kd_Barang:String Jenis_Barang:String Kuantitas_Keluar:int Satuan_Barang:String Harga_Perunit:Long 14

SubTotal_Keluar:Long Total_Keluar:Long Placement -

Involved Object BBK Triggering events -

Gambar 16 Component Diagram

15

Gambar 17 Deployment Diagram

Proses akhir adalah menentukan object yang akan diimplementasikan ke dalam bentuk database dari setiap object/class hasil analisis.

16

BAB III STRUKTUR TEORI AKUNTANSI

A.

HAKIKAT STRUKTUR TEORI AKUNTANSI Pendekatan dan metodologi apapun yang digunakan dalam penyusunan teori akuntansi, kerangka acuan yang dihasilkan didasarkan pada serangkaian elemen dan hubungan yang mengatur pengembangan teknik akuntansi. Struktur teori akuntansi terdiri dari beberapa elemen sebagai berikut : 1) Suatu pernyataan mengenai tujuan dari laporan keuangan. 2) Suatu pernyataan dari postulat dan konsep teoritis dari akuntansi yang terkait dengan asumsi-asumsi lingkungan dan hakikat unit akuntansi. Postulat dan konsep teoritis ini diturunkan dari pernyataan tujuan. 3) Suatu pernyataan mengenai prinsip-prinsip akuntansi dasar berdasarkan postulat maupun konsep teoritis. 4) Sekelompok teknik akuntansi yang diturunkan dari prinsip-prinsip akuntansi. Dalam pengembangan teori akuntansi selain pertimbangan kemampuan untuk menjelaskan atau meramalkan, juga harus dipertimbangkan kesanggupan teori tersebut untuk mengukur risiko, atau probabilitas prediksi untuk berfungsi sebagai pernyataan yang tepat atas kejadian di masa depan.

Teori akuntansi dapat dikelompokkan dalam tiga tingkat utama, yaitu: 17

1. 2. 3.

Teori Sintaksis Teori Interpretasional Teori perilaku (pragmatis)

1. Teori Sintaksis Teori ini berhubungan dengan struktur proses pengumpulan data dan pelaporan keuangan. Teori sintaksis mencoba menerapkan praktek akuntansi yang sedang berjalan dan meramalkan bagaimana para akuntan harus bereaksi terhadap situasi tertentu atau bagaimana mereka akan melaporkan kejadian-kejadian tertentu. Teori-teori yang berhubungan dengan struktur akuntansi antara lain teori praktek akuntansi tradisional (oleh Ijiri dan Sterling) yang disebut model Ijiri, model ini menerangkan praktek akuntansi tradisional yang ditekankan pada sistem biaya historis/ harga perolehan (historical cost system). Diperlukan untuk memperoleh pandangan yang lebih luas tentang praktek yang sedang berlangsung. Teori ini memungkinkan untuk dievaluasi secara lebih tepat, juga memungkinkan pengevaluasian terhadap praktek-praktek yang ada, yang tidak sesuai dengan teori tradisional. Teori yang berhubungan dengan struktur akuntansi dapat diuji untuk melihat konsistensi logis dalam teori itu, atau untuk melihat apakah teori-teori itu bener-bener dapat meramalkan apa yang dikerjakan akuntan. Pengujian lain menunjukkan bahwa meskipun teori tradisional tidak lengkap, namun sudah menunjukkan variabel-variabel yang relevan.

2. Teori Interpretasional (semantis) Teori ini berkonsentrasi pada hubungan antara gejala (obyek atau kejadian) dan istilah atau simbol yang menunjukkannya. Teori-teori yang berhubungan dengan interpretasi (semantik) diperlukan untuk memberikan pengertian dalil-dalil akuntansi yang bertujuan meyakinkan bahwa penafsiran konsep oleh para akuntan sama dengan penafsiran para pemakai laporan akuntansi. 18

Pada umumnya, konsep akuntansi tidak dapat diinterpretasikan dan tidak mempunyai arti selain sebagai hasil prosedur akuntansi tertentu. Misalnya, laba akuntansi merupakan konsep buatan yang mencerminkan kelebihan pendapatan atas beban sesudah menerapkan aturan tertentu untuk mengukur pendapatan dan beban. Teori interpretasi memberikan interpretasi yang berguna terhadap konsep buatan dan menilai prosedur akuntansi alternatif berdasarkan interpretasi. Namun, konsep-konsep umum sering tidak dapat diinterpretasikan dan diberi pengertian yang berbeda oleh para peneliti yang berbeda. Misalnya, nilai tidak memiliki interpretasi khusus. Current value (nilai saat ini/nilai berlaku) akan mempunyai pengertian yang sama, sebelum menginterpretasikan kita harus melihat subkonsepnya dahulu sehingga terdapat kesepakatan yang jelas mengenai interpretasinya. Konsep nilai sekarang dari jasa yang akan datang, arus kas yang didiskontokan (discounted cash flows), harga pasar berlaku (current market prices), dan nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value) semuanya merupakan subkonsep dari nilai berlaku (current value) dan masing-masing dapat diberi aturan interpretasi khusus. Contoh penerapan teori interpretif adalah sebagai berikut: pengukuran nilai persediaan pada saat ini, langkah pertama adalah menunjukkan sub konsep untuk menerapkan aturan interpretasi khusus. Jika harga beli berlaku yang dipilih maka current value dapat didefinisikan sebagai harga tukar untuk suatu barang di pasar pembelian pada tanggal neraca. Jika harga pasar tidak ada dapat dianggap harga pasar tidak layak pakai, maka alternatifnya adalah menilai prosedur akuntansi lain yang tersedia dalam kondisi interpretasi ini. Pembuktian teori ini dapat diperoleh dari riset yang dilakukan untuk menentukan apakah pemakai informasi akuntansi memahami makna yang dimaksudkan oleh pembuat informasi, apakah telah konsisten dengan teori yang ada.

3.

Teori Perilaku (pragmatik)

Teori ini menekankan pada pengaruh laporan serta ikhtisar akuntansi terhadap perilaku atau keputusan. Penekanan dalam perkembangan teori akuntansi 19

adalah penerimaan orientasi komunikasi dan pengambilan keputusan. Sasarannya pada relevansi informasi yang dikomunikasikan kepada para pengambil keputusan dan perilaku berbagai individu atau kelompok sebagai akibat penyajian informasi akuntansi serta pengaruh laporan dari pihak eksternal terhadap manajemen dan pengaruh umpan balik terhadap tindakan para akuntan dan auditor. Jadi, teori perilaku mengukur dan menilai pengaruh-pengaruh ekonomik, psikologis, dan sosiologis dari prosedur akuntansi alternatif dan media pelaporannya.

B.

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi :
   

Neraca Laporan laba rugi Laporan perubahan ekuitas Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa laporan arus kas atau laporan arus dana

Catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan

Akuntan Indonesia tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam mengambil keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dan kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan. 20

Laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen (bahasa Inggris: stewardship), atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin melihat apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi. Keputusan ini mencakup, misalnya, keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen. Menurut APB (The Accounting Principle Board) yang bernaung dibawah AICPA mengeluarkan pernyataan nomor 4 yang berjudul “Basic Concepts and Accounting Principle for Business Enterprise.” Tujuan laporan keuangan adalah: 1. Tujuan Khusus Menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan lainnya sesuai GAAP (General Accepted Accounting Principle). 2. Tujuan Umum a. b. c. d. e. 3. Informasi sumber-sumber ekonomi dan kewajiban perusahaan. Informasi sumber laba Menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba Informasi perubahan harta dan kewajiban Informasi relevan lain yang dibutuhkan

Tujuan Kualitatif a. b. c. d. e. f. g. Relevan Dapat dimengerti Dapat dicek kebenarannya Netral Tepat waktu Dapat diperbandingkan Lengkap Pemakai Laporan Keuangan

  

Investor Karyawan Pemberi Pinjaman 21

   

Pemasok dan Kreditor usaha lainnya Pelanggan Pemerintah Masyarakat Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai. Terdapat empat karakteristik kualitatif pokok yaitu :
   

Dapat Dipahami Relevan Keandalan Dapat diperbandingkan

C.

POSTULAT AKUNTANSI Postulat akuntansi adalah pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri atau disebut juga aksioma yang sudah berterima umum karena kesesuaiannya dengan (untuk menopang dan mewujudkan) tujuan laporan keuangan yang menggambarkan aspek/lingkungan ekonomi, politik, sosiologis dan hukum suatu lingkungan di mana akuntansi itu beroperasi 1. Postulat Entitas Postulat Entitas menyatakan bahwa setiap perusahaan merupakan unit akuntansi yang terpisah dan berbeda dari pemiliknya dan perusahaan lain. Postulat ini memungkinkan akuntan membedakan antara transaksi bisnis dan individu: akuntan melaporkan transaksi perusahaan, bukan transaksi pemilik perusahaan. 2. Postulat Kelangsungan Usaha (Going Concern) Postulat Kelangsungan Usaha menyatakan bahwa entitas akuntansi akan terus beroperasi untuk melaksanakan proyek, komitmen, dan aktivitas yang sedang berjalan. Postulat mengasumsikan bahwa perusahaan tidak diharapkan untuk dilikuidasi dalam masa mendatang yang dapat diketahui 22

dan sekarang atau bahwa entitas akan terus beroperasi untuk periode waktu yang tidak tertentu. 3. Postulat Unit Pengukur (Unit of Measure) Postulat unit pengukur menyatakan bahwa akuntansi adalah pengukuran dan proses mengkomunikasikan aktivitas perusahaan yang dapat diukur dalam satuan moneter. 4. Postulat Periode Akuntansi Postulat ini menyatakan bahwa laporan keungan yang

menggambarkan perubahan dalam kesejahteraan perusahaan seharusnya diungkapkan secara periodik.

D.

KONSEP TEORITIS AKUNTANSI Pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri atau disebut juga aksioma yang sudah diterima karena kesesuaiannya dengan tujuan laporan keuangan, yang menggambarkan sifat-sifat akuntansi yang berperan dalam ekonomi pasar yang ditandai oleh adanya pengakuan pada pemilikan pribadi (kapitalisme). Beberapa kemungkinan teori yang dipakai yaitu: 1. The Proprietory Theory Menurut konsep ini, entity adalah sebagai agen, perwakilan atau penugasan dari pengusaha atau pemilik. Tujuan utamanya adalah menentukan dan menganalisa kekayaan bersih perusahaan yang merupakan hak si pemilik. 2. The Entity Theory Teori ini menganggap entity sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari pihak yang menanamkan modal ke dalam perusahaan dan unit usaha itulah yang menjadi pusat perhatian yang harus dilayani bukan pemilik. Dengan demikian yang menjadi perhatiannya adalah income 3. The Fund Theory

23

Teori ini menganggap unit usaha merupakan sumber ekonomi (funds) dan kewajiban yang ditetapkan sebagai pembatasan-pembatasan terhadap penggunaan aset tersebut. Perhatian teori ini adalah asset. Penggunaan aset menjadi pusat perhatian. Teori ini berorientasi pada laporan sumber dan penggunaan dana. Teori ini umumnya sangat berguna untuk lembaga pemerintah dan lembaga non profit. 4. Enterprise Theory Pusat perhatiannya adalah keseluruhan pihak atau konsisten yang terlibat atau yang memiliki kepentingan baik langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan. Munculnya employee reporting, human resources accounting, value added reporting, enviromental accounting, socio-economic accounting merupakan fenomena yang sejalan dengan teori enterprise ini. 5. Commander Theory Teori ini menganggap bahwa yang harus diperhatikan adalah

mereka yang memiliki kekuasaan atau wewenang untuk melakukan kontrol ekonomi atas pengembangan yang efektif terhadap suatu lembaga.

Perhatiannya adalah pertanggung jawaban dalam mengelola kekayaan yang diamanahkan kepadanya 6. The Investor Theory Teori ini menganggap bahwa yang perlu diperhatikan adalah

investor/kreditur (specific equities) dan residual equities (pemegang saham)

E.

PRINSIP DASAR AKUNTANSI Prinsip dasar akuntansi adalah prinsip sifat-sifat yang mendasari akuntansi dan seluruh outputnya (laporan keuangan) yang menjadi dasar dalam pengembangan teknik atau prosedur akuntansi yang dipakai dalam menyusun laporan keuangan.

24

1.

The Cost Principle Sering disebut dengan historical cost, yaitu dasar penelaian yang tepat untuk mencatat perolehan barang. dengan kata lain, setiap perkiraan dinilai berdasarkan harga pertukarannya pada tanggal perolehan

2.

The Revenue Principle Laba bersih diakui dengan mengurangi pendapatan dengan beban, ditambahkan atau dikurangi dengan keuntungan atau kerugian perusahaan yang berasal dari penjualan, pertukaran, atau penggantian aktiva lainnya. Menjelaskan tiga hal, yaitu : a. Sifat dan komponen revenue Revenue dapat di interpretasikan sebagai 1. Aliran masuk asset bersih yang berasal dari penjualan barang atau jasa 2. 3. Aliran keluar barang atau jasa dari perusahaan kepada pelanggan Produk perusahaan yang dihasilkan pada penciptaan barang atau jasa oleh perusahaan selama periode waktu tertentu. Pandangan-pandangan mengenai komponen pendapatan :

Pandangan Luas (komprehensif)

Memasukkan semua penghasilan dari aktivitas bisnis dan investasi

Pandangan Sempit

Memasukkan hasil dari aktivitas penghasil pendapatan dan mengeluarkan laba investasi serta keuntungan dan kerugian dari penjualan aktiva tetap. Pandangan ini mengharuskan pemisahan yang jelas antara pendapatan dengan keuntungan dan kerugian. b. Pengukuran Revenue Potongan tunai dan berbagai pengurangan dalam harga tetap, seperti kerugian piutang tak tertagih, memerlukan penyesuaian untuk menghitung ekuivalen kas bersih yang sesungguhnya atau nilai diskontoan sekarang atas klaim uang dan secara konsekuen harus dikurangkan ketika harus menghitung revenue.

25

Untuk transaksi non-kas, nilai pertukaran sama dengan nilai pasar yang wajar barang/jasa yang diberikan atau diterima, mana yang lebih mudah dan jelas menghitungnya. Pendapatan diukur dalam hal ini adalah produk atau jasa yang dipertukarkan dalam transaksi “wajar”. Nilai ini mewakili ekuivalen kas bersih atau nilai sekarang terdiskonto atas uang yang diterima dalam pertukaran dengan produk atau jasa yang ditransfer oleh perusahaan pelanggannya c. Waktu Pengakuan Revenue .Pada umunya, diakui bahwa pendapatan dan laba diperoleh sepanjang seluruh tahapan dari seluruh siklus operasi (yaitu selam penerimaan pesanan, produksi, penjualan dan penagihan). Akuntan menggunakan prinsip realisasi untuk memilih “kejadian penting” untuk penentuan waktu pendapatan dan pengakuan laba. Dasar Pengakuan Pendapatan:  Dasar Akrual Pendapatan diakui secara umum diakui selama produksi dalam situasi berikut : a) Pendapatan sewa, bunga, dan kondisi yang diakui ketika diperoleh, dengan adanya perjanjian atau kontrak sebelumnya yang menspesifikasikan peningkatan perlahan-lahan dalam klaim terhadap pelanggan. b) Seorang individu atau sekelompok orang yang memberikan jasa profesional atau jasa serupa dapat menggunakan basis akrual dengan lebih baik untuk pengakuan pendapatan, dengan adanya fakta bahwa hakikat dari klaim terhadap pelanggan adalah suatu fingsi dari proposi jasa yang diberikan. c) Pendapatan atas kontrak jangka panjang diakui berdasarkan kemajuan konstruksi atau “persentase penyelesaian”. Persentase penyelesaian dihitung sebagai:

26

 Estimasi teknik dari pekerjaan yang dilakukan sampai tanggal tersebut dibandingkan dengan total pekerjaan yang akan diselesaikan dalam hal kontrak  Total biaya yang terjadi sampai tanggal tersebut

dibandingkan dengan total biaya yang diestimasikan untuk total proyek di dalam kontrak tersebut. d) e)  Pendapatan atas kontrak biaya plus pembiayaan tetap Perubahan aktiva akibat pertumbuhan menimbulkan pendapatan

Dasar Kejadian Penting a) Waktu penjualan b) Penyelesaian produk c) Penerimaan pembayaran setelah penjualan

Dasar Penjualan, Dasar ini dibenarkan karena : a) Harga dari produk tersebut diketahui dengan pasti b) Pertukaran telah difinalisasi dengan pengantaran barang, sehingga mengarah pada pengetahuan yang objektif atas biaya yang terjadi c) Dalam hal realisasi, penjualan merupakan kejadian penting

Dasar Penyelesaian Produksi Untuk pengakuan pendapatan dibenarkan ketika ada pasar yang stabil dan harga yang stabil untuk komoditas standar.

Dasar Pembayaran Untuk pengakuan pendapatan dibenarkan ketika penjualan akan dibuat dan ketika penilaian yang cukup akurat tidak dapat diberikan kepada produk yang akan ditransfer.

3.

Matching Principle (Prinsip Pengaitan) Prinsip ini menganggap bahwa beban sebaiknya diakui dalam periode yang sama dengan pendapatan terkait yaitu pendapatan diakui dalam suatu periode tertentu menurut prinsip pendapatan, dan beban terkait 27

kemudian diakui. Asosiasi ini paling bak dilakukan ketika hal tersebut mencerminkan hubungan sebab akibat antara biaya dan pendapatan. Asosiasi antara pendapatan dengan beban tergantung pada salah satu dari empat kriteria berikut ini : 1. Pengaitan langsung dari biaya yang habis masa berlakunya dengan suatu pendapatan (misalnya harga pokok penjualan dilaitkan dengan penjualan tersebut) 2. Pengaitan langsung dari biaya yang telah habis masa berlakunya pada periode tersebut (misalnya gaji pimpinan perusahaan untuk periode tersebut) 3. Alokasi biaya sepanjang periode yang memperoleh manfaat dari biaya tersebut (misalnya depresiasi) 4. Membebankan semua biaya lainnya dalam periode terjadinya, kecuali dapat ditunjukkan bahwa biaya-biaya tersebut memiliki manfaat masa depan (misalnya beban iklan) 4. Objectivity Principle (Prinsip Objektivitas) Akuntan menggunakan prinsip objektivitas untuk membenarkan pilihan prosedur pengukuran. Tetapi prinsip ini memiliki interpretasi berbeda; 1. Pengukuran objektif adalah ukuran yang bersifat „‟tidak memihak‟‟ dalam arti bebas dari bias pribadi si pengukur. 2. Pengukuran objektuf adalah pengukuran variabel yang didasarkan pada bukti-bukti. 3. Pengukuran objektif adalah „‟kesepakatan diantara sekelompok pengamat atau pengukur tertentu‟‟ 4. Ukuran dari penyebaran distribusi pengukuran dapat digunakan sebagi indicator dari tingkat objektivitas pengukuran tersebut. 5. Consistency Principle (Prinsip Konsistensi) Prinsip ini menganggap bahwa kejadian ekonomi yang serupa sebaliknya dicatat dan dilaporkan dengan cara konsisten dari periode ke periode. Konsisitensi adalah batasan pengguna untuk memfasilitasi keputusan pengguna dengan memastikan dapat diperbandingkannya laporan keuangan 28

dari suatu perusahaan sepanjang waktu, sehingga meningkatkan kegunaan laporan keuangan. Prinsip ini tidak menghalangi suatu perusahaan untuk mengubah prosedur akuntansinya ketika hal tersebut dibenarkan oleh situasi yang berubah, atau jika prosedur alternative lebih baik. Sesuai dengan APB opinion No.20 perubahan yang membenarkan perubahan adalah; 1. 2. 3. 6. Perubahan dalam prinsip-prinsip akuntansi Perubahan dalam estimasi akuntansi Perubahan dalam entitas pelaporan.

Disclosure Principle (Prinsip Pengungkapan Penuh) Seluruh informasi yang relevan seharusnya disajikan dalam laporan keuangan dengan mudah dipahami. Pengungkapan penuh mengharuskan laporan keuangan dirancang dan disusun untuk menggambarkan secara akurat kejadian-kejadian ekonomi yang telah memegaruhi perusahaan selama periode berjalan dan supaya mengandung informasi yang mencukupi guna membuatnya berguna dan tidak menyesatkan bagi investor. Skinner menarik perhatian pada bebrapa masalah yang sebaiknya menjadi subjek dari pengungkapan penuh; 1. Rincian dari kebijakan dan metode akuntansi, terutama ketika penilaian dibutuhan dalam penerapan metode akuntansi, ketika metode tersebut bersifat khusus bagi entitas pelaporan tersebut, atau ketiak metode akuntansi alternative digunakan. 2. Informasi tambahan untuk membantu dalam analisis investasi atau untuk mengindikasikan hak dari berbagai pihak yang memiliki klaim atas entitas pelaporan. 3. Perubahan dari tahun sebelumnya dalam kebijakan akuntansi atau meetode penerapannya dan dampak dari perubahan semacam itu. 4. Aktiva, keajiban, biaya, dan pendpatan, yang dihasilkan dari transaksi dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan pengendalian dengan direktur atau pjabat yang memiliki huungan istimewa dengan entitas tersbut. 29

5. 6.

Aktiva, kewaiban, dan komitmen kontijen. Transaksi keuangan atau nonoperasi lainnya yang terjadi setelah tanggal neraca yang memiliki dampak material terhadap possi keuangan entitas terebut.

7.

Conversatism Principle (Prinsip Konservatisme) Adalah suatu prinsip pengecualian atau modifikasi dalam hal bahwa prinsip tersebut bertindak sebagai batasan terhadap penyajian data akuntansi yang relevan dan andal. Menganggap ketika mimilih antara dua atau lebih teknik akuntansi yang berlaku umum, suatu preferensi ditunjukkan untuk opsi yang memiliki dampak paling tidak menguntungkan terhadap ekuitas pemegang saham. Prinsip ini mengharuskan akuntan memiliki sikap pesimistis secara umumketika memilih teknik akuntansi untuk pelaporan keuangan. Sterling menyebut konservatisme sebagai „‟prinsip penilaian akuntansi yang paling kuno dan mungkin paling bertahan‟‟. Konservatisme masih digunakan dalam beberapa situasi yang memerlukan penilaian akuntan, seperti memilih umur estimasi manfaat dan nilai sisa dari aktiva untuk akuntansi depresiasi dan konsekuensi aturan dari penerapan kosep.

8.

Materiality Principle (Prinsip Materialitas) Adalah suatu prinsip pengecualian atau modifikasi. Menganggap bahwa transaksi dan kejadian yang memiliki dampak ekonomi yang signifikan dapat ditangani secara cepat, tanpa mempedulikan apakah hal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau tidak. Secara umum otoritas akuntansi telah meninggalkan penerapan materialitas kepada penilaian akuntan, dan pada saat yang sama menekankan pentingnya hal tersebut. Prinsip materialitas kurang memiliki definisi operasional. Kebanyakan menekankan padaperanan akuntan dalam menginterpretasikan apa yang material dan apa yang tidak.

9.

Uniformity and Comparability Principle (Prinsip Keseragaman dan Komparabilitas) 30

Prinsip keseragaman mengacu pada penggunaan prosedur yang sama oleh perusahaan yang berbeda. Tujuan utama adalah mencapai komparabilitas laporan keuangan dengan mengurangi keragaman yang diciptakan oleh penggunaan prosedur akuntansi yang berbeda oleh perusahaan yang berbeda. Dukungan utama untuk keseragaman adalah klaim bahwa hal itu akan ; 1. Mengurangi keragaman penggunaan prosedur akuntansi dan

ketidakcukupan praktik akuntansi 2. Memungkinkan perbandingan yang berarti atas lapran keuangan dari perusahaan yang berbeda. 3. 4. Memperbaiki kepercayaan dalam laporan keuangan. Mengarah pada intervensi dan speraturan pemerintah mengenai praktik akuntansi.

F.

STANDAR AKUNTANSI Standar akuntansi adalah peraturan-peraturan khusus yang dijabarkan dari prinsip dasar akuntansi, yang mengatur tentang bagaimana standar perlakuan pencatatan dan pelaporan terhadap semua transaksi atau kejadian – kejadian tertentu yang dialami oleh suatu lembaga (entity) organisasi atau perusahaan. Standar Akuntansi Indonesia adalah PSAK, yang mengadopsi dari GAAP (General Accepted Accounting Principles) dan IFRS (International Financial Reporting Standard). Adapun ketetapan GAAP bersumber dari: 1. 2. Standar Interprestasi FASB, Opini APB, dan Buletin Riset Akuntansi AICPA Buletin Teknis FASB, Pedoman Audit dan Akuntansi Industri AICPA, dan Statement of Position AICPA 3. 4. Konsensus EITF FASB dan Buletin Praktik AICPA Interprestasi Akuntansi AICPA, Pedoman Implementasi FASB dan Praktikpraktik yang Dipakai Secara Luas dalam Industri

31

BAB IV TEORI AKUNTANSI DAN PERUMUSANNYA

A.

TEORI AKUNTANSI Pada awal dipraktekkannya akuntansi bahkan sampai beberapa tahun kemudian tidak ada teori akuntansi. Selama tidak adanya struktur teori akuntansi formal, maka yang terjadi adalah banyaknya alternative metode pencatatan yang berlaku dalam praktek sehingga menimbulkan kebingungan masyarakat. Vernon Kam (1986) mengemukakan fungsi dari adanya teori akuntansi sebagai berikut : 1. Menjadi pegangan bagi lembaga penyusun standar akuntansi menyusun standarnya. 2. Memberikan kerangka rujukan untuk menyelesaikan masalah akuntansi dalam hal tidak adanya standar resmi. 3. Menentukan batas dalam hal melakukan “judgement” dalam penyusunan laporan keuangan. 4. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca laporan terhadap informasi yang disajikan laporan keuangan. 5. Meningkatkan kualitas dapat diperbandingkan. Sedangkan hendriksen (1982) mengemukakan kegunaan teori akuntansi sebagai berikut : 1. Memberikan kerangka rujukan sebagai dasar untuk menilai prosedur dan praktek akuntansi 2. Memberikan pedoman terhadap praktek dan prosedur akuntansi yang baru. Teori adalah susunan konsep, definisi, dan dalam menyajikan pandangan yang sistematis, fenomena dengan menunjukkan hubungan antara variable yang satu dengan yang lain dengan maksud untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.Webster‟s Third New International Dictionary mendefinisikan teori sebagai suatu susunan yang saling berkaitan tentang hipotesa, konsep, dan prinsip pragmatis yang membentuk kerangka acuan untuk bidang yang dipertanyakan. McDonald memberikan tiga elemen teori : 32

1. 2. 3.

Membuat kode sebagai symbol fenomena. Mengkombinasikannya sesuai dengan peraturan. Menerjemahkannya ke dalam fenomena yang sebenarnya terjadi. Vernon Kam (1986) menganggap bahwa teori akuntansi adalah suatu

system yang komprehensif, dimana termasuk postulat dan teori yang berkaitan dengannya. Dia membagi unsur teori dalam beberapa elemen, yaitu postulat atau asumsi dasar, definisi, tujuan akuntansi, prinsip atau standar, dan prosedur atau metode-metode. Keneth S. Most (1982) mendefinisikan teori sebagai suatu pernyataan sistematik mengenai peraturan atau prinsip yang mendasari atau memandu suatu set fenomena. Teori bisa juga dianggap sebagai kerangka atau susunan ide, penjelasan fenomena dan prediksi prilaku yang akan datang. Teori akuntansi adalah cabang akuntansi yang terdiri dari pernyataan yang sistematik tentang prinsip dan metodologi yang membedakannya dengan praktek. Karena teori adalah penjelasan, tetapi tidak semua penjelasan itu teori. Teori adalah penjelasan yang sistematik dan scientific. Dia menambahkan bahwa teori memiliki tiga dimensi, yaitu : 1. Reductnionism yang berarti bahwa teori itu di mulai dari asumsi-asumsi dimana teori itu tidak langsung merujuk ke obyek yang diobservasi (yang dipersepsikan) dan bukan pula pernyataan yang dapat diuji kebenarannya. Tetapi dia merupakan bahan rujukan untuk mengamati fenomena dan sejenis alat yang lebih cepat dapat dirujuk ke fenomena yang diamati. 2. Instrumentalism yang berarti bahwa teori adalah sebuah instrument atau alat menghitung yang akan digunakan untuk menilai pernyataan tentang suatu observasi. Disini peranan teori adalah menjelaskan dan meramalkan. 3. Realism yang berarti bahwa teori adalah sekumpulan proposisi atau dalil yang merupakan pernyataan atau kebenaran atau ketidakbenaran tentang dunia nyata, fenomena, atau obyek. Eldon S. Hendriksen (1970) mengutip definisi Eric I. Kohler, sepakat menerima definisi teori sebagai suatu set proporsi termasuk aksioma, teorema bersama definisi dan peraturan, kesimpulan formaldan informal yang diarahkan 33

untuk menjelaskan suatu gabungan fakta atau kelompok kegiatan yang kongkret atau yang abstrak. Sedangkan menurut hendriksen sendiri teori adalah satu set susunan hipotesa, konsep dan prinsip pragmatis yang membentuk kerangka umum referensi untuk suatu bidang yang dipertanyakan. Sedangkan teori akuntansi didefinisikan sebagai alasan yang logis dalam bentuk suatu set prinsip yang luas yang (1) memberikan kerangka umum dari rujukan di mana prinsip akuntansi dapat di nilai, (2) pedoman pengembangan praktek dan prosedur yang baru. Teori akuntansi bisa juga menjelaskan pratek yang berlaku saat ini dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang praktek tersebut. Tujuan utama dari teori akuntansi adalah memberikan suatu set prinsip yang logis yang saling terkait yang membentuk kerangka umum sebagai rujukan untuk menilai dan mengembangkan praktek akuntansi yang baik. Godfrey dkk (1992) menyatakan bahwa teori dapat didefinisikan dalam berbagai cara misalnya, teori adalah system deduktif yaitu berupa pernyataan yang mengurangi generalisasi, yang lain menganggap bahwa teori adalah suatu susunan ide yang digunakan untuk menjelaskan sesuatu. Teori bisa juaga secara sederhana dijelaskan sebagai alasan logis yang mendasari suatu pernyataan keyakinan. Apakah teori diterima atau di tolak tergantung pada kemampuannya meramalkan realitas, kemampuannya menjelaskan pratek akuntansi, dan kemampuannya menjadi dasar pengembangan paraktek akuntansi tersebut. Dari beberapa definisi ini dapat di simpulkan bahwa akuntansi memiliki teori akuntansi. Beberapa pandangan tentang teori : Teori ini merupakan kristalisasi dari fenomena empiris yang terjadi yang digambarkan dalam bentuk dali-dalil yang disimpilkan dari fenomena dan disajikan dalam bentuk kalimat-kalimat pendek yang berlaku secara umum. Teori biasanya diambil dari berbagai riset demi riset sehingga sampai pada suatu kesimpulan yang dapat berlaku unruk semua, universal, logis, konsisten, dapat diramalkan, obyektif. Obyek penelitian adalah fenomena social dan ekonomi. Fenomena ini dikaji, diteliti dan lahirlah suatu kesimpilanatau tesa, dari riset dan kesimpulan lain ditemukan anti tesa dan lahirlah sintesa sehingga mengkristal menjadi teori 34

yang selanjutnya akan dikaji berulang kali. Sepanjang suatu teori dapat mempertahankan diri darikritikan dan verifikasi, maka dia tetap menjadi teori yang confirm dan masih berlaku. Memang poper memperkenalkan pandangan “Falsification View” menurut pandangan ini apapun yang dilakukan dalam dunia ilmiah tidak akan mampu memberikan pernyataan absolute karenaapa yang bisa dilakukan peneliti atau ilmuwan hanya percobaan demi prcobaan, trial and error, pengujian hipotesa. Suatu teori bisa benar pada waktu kurun tertentu dan belum tentu benar pada kurun waktu yang lain. Menurut Lee D. Parker hanya “allah knows the true”. Hanya tuhan yang mengetahui yang benar, peneliti hanya mampu mendekati kebenaran hakiki itu. Menurut Poper apa yang bisa dilakukan teori adalah menolak atau menunjukkan hipotesa atau teori yang salah. Kita hanya mampu membuktikan bahwa hipotesa, pernyataan atau teori ini salah. Ini berarti bahwa pencarian teori itu melalui proses demi proses (refinement). Suatu teori mungkinbenar untuk keadaan tertentu bukan pada keadaan lain. Sejalan dengan pendapat ini maka Imre Lakatos membagi dua unsur ilmu yaitu: 1. Negative heuristic yang merupakan Inti utama penelitian yang menjelaskan asumsi dasar dari suatu Ilmu. Unsure ini tidak bisa difalsifikasi, ia adalah bersifat dogmatic yang harus diterima kebenarannya. 2. Positive heuristic merupakan “bumper” atau “belt” yang melingkungi “hard core” tadi. Ini yang terkena falsifikasi dan ini yang menjadi obyek riset para ilmuwan. Kemudian muncul Kuhnian paradigm atau disebut juga ”disciplinary matrics”. Menurut Kuhn (1970) teori ilmiah dan perkembangan ilmu memiliki sifat revolusi artinya terjadi proses yang terus menerus untuk mengubah suatu teori yang tidak sesuai lagi (incompatible) dan menggantinyadengan teori yang lain. Menurut Kuhn siklus ilmu itu dapat digambarkan sebagai berikut : 1. 2. Pre-science, di sini tidak ada ide atau ilmu yang umum. Perkembangan berbagai pemikiran (school of thoght) 35

3. 4. 5.

Munculnya paradigm yang dominan. Muncul anomaly Timbul krisis ilmu Setelah krisis ilmu terjadi maka proses kembali ke awal, munculnya

berbagai perkembangan pemikiran (nomor 2). Kalau berbicara mengenai teori akuntansi maka yang dimaksudkan adalah kristalisasi fenomena yang dituangkan dalam bentuk kalimat-kalimat (preposition) yang disimpulkan dari fenomena interaksi bisnis etities dan pemakai laporan keuangan.Berdasarkan pernyataan ini maka semestinya teori itu harus melihat dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dan evolusi dari interaksi pemakai laporan keuangan dan situasi bisnis. Pemakai laporan keuangan menentukan tujuan laporan keuangan. Mereka inilah yang diminta pendapatnya untuk apa mereka mengganakan laporan keuangan. Dari pendapat ini para ahli merumuskan postulat, konsep, prinsip dasar, dan akhirnya dapat dijabarkan tehknik pencatatan akuntansi.

B.

TEORI DAN PEMBUAT KEBIJAKAN AKUNTANSI Teori akuntansi berkaitan erat dengan penyusunan kebijaksanaan akuntansi. Teori bersama faktor politik dan kondisi dan sistem ekonomi akan menentukan pembuatan kebijakan akuntansi. Dalam penyusunan kebijaksanaan akuntansi yang akan dijadikan sebagai dasar dalam praktek atau tehnik akuntansi di pengaruhi oleh berbagai faktor antara lain : 1. 2. 3. Teori Akuntansi Faktor politik Kondisi ekonomi Hal ini membuktikan bahwa kita harus mempelajari teori akuntansi untuk dapat merumuskan kebijaksanaan yang tepat.Lambat atau cepat,struktur akuntansi mestinya mengikuti evolusi perkembangan masyarakat.Perkembangan itu tentu akan mempengaruhi konsep, postulat akuntansi, prinsip dasar akuntansi, dan 36

akhirnya tehnik ( metode pencatatan) akuntansi. Biasanya postulat, konsep, dan prinsip dasar akuntansi lebih bersifat jangka panjang dibandingkan dengan penggunaan teknik atau prosedur pencatatannya.Jika kita lihat struktur ini maka wilayah teori akuntansi itu mencakup perumusan postulat,konsep,prinsip dasar,dan tehnik dasar akuntansi. Kenyataan ini telah digambarkan dalam APB statement Nomor 4 sebagai berikut : Prinsip akuntansi yang berlaku sekarang adalah merupakan hasil evolusi yang diperkirakan akan terus berlaku seterusnya.Perubahan bisa saja terjadi pada tingkat metode pancatatan (GAAP). GAAP ini berubah sebagai respon terhadap perubahan ekonomi dan kondisi sosial,teknologi dan ilmu pengetahuan baru,permintaan para pemakai laporan keuangan yang mengharapkan informasi yang lebih bermanfaat.Sifat dinamis akuntansi kauangan itu dalam merespon perubahan keadaan menambah kegunaan informasi yang di sajikan. Perubahan ini tentu tidak bisa dilaksanakan begitu saja.Perubahan harus dilakukan berdasarkan prinsip dalam kerangka teori akuntansi dan disiplinnya sendiri.disinilah hubungan antara teori akuntansi dengan prinsip akuntansi (GAAP) itu Teori ini harus debatable,refutable,arguable ,justifiable,terhadap kritik dan argumen baru yang di ungkapkan masyarakat.Proses ini di sebut dengan proses verivication theory, Teori yang tidak memiliki sifat itu maka rumusan prinsip yang dilahirkan akan rapuh. Teori akuntansi oleh karenanya harus lahir dari proses kontruksi teori dan sekaligus verifikasi teori .Jika suatu teori tidak dapat bertahan pada proses verifikasi maka teori harus diganti dengan teori yang lebih baik ukurannya pada akhirnya kembali pada respon yang diberikan masyarakat pada output akuntansi itu. Committe on Accounting theory and verifikation mengungkapkan pendapatnya dalam konteks ini sebagai berikut : ”Teori ilmiah memberikan kepastian pengharapan atau ramalan tertentu tentang fenomena, jika fenomena yang diperkirakan ini terjadi maka teori disebut ”confirm”sebaliknya jika fenomena tidak terjadi maka di sebut ”anomalies”yang berarti harus dicari teori 37

batu atau modifikasi terhadap teori lama. Tujuan penyusunan teori baru dan modifikasi teori lama adalah upaya mengubah anomalies menjadi confirm atau anggapan fenomena yang terjadi sesuai dengan kejadiannya.” Teori akuntansi akan dapat bermanfaat apabila rumusan teori itu dapat dijadikan sebagai alat untuk meramalkan apa yang akan diharapkan mungkin terjadi dimasa yang kan datang. Kalau demikian halnya maka mestinya setiap negara harus memiliki dan merumuskan teori akuntansinya sendiri yang disimpulkan dari kondisi dan fenomena ekonomi sosial yang dimilikinya.Bukan mengambil alih sepenuhnya dari susunan teori akuntansi negara lain. Hadibroto (Media Akuntansi 1988) menekankanpentingnya teori akuntansi. Menurut beliau ada sinyalemen yang berkembang yang menggangap bahwa seolah teori akuntansi tidak di butuhkan.Alasan yang mendasarri pemikiran ini adalah bahwa akuntansi bukanlah merupakan suatu disiplin ilmu yang dapat menjelaskan semua gejala-gejala akuntansi dalam prakteknya. Akuntansi bersifat teknis prosedural dia sama seperti mesin saja tidak memerlukan kreasi-kreasi atau inisiatif baru. Pandangan ini adalah keliru,apa yang terdapat dalam aliran Positive Accounting Theory yang di pakai oleh watts dan zimmerman misalnya menjelaskan bahwa teori bukan aturan untuk memilih antara prosedur akuntansi yang satu dengan yang lainnya. Misalnya memilih prosedur yang lebih mencerminkan proses ”matching”pendapatan dan beban. Akan tetapi lebih luas.Teori akuntansi dapat memberikan penjelasan mengenai praktek akuntansi, menjawab dan menjelaskan semua fenomena yang melatar belakangi penerapan suatu metode dalam praktek akuntansi. Misalnya, mengapa perusahan yang satu menggunakan metode depresiasi di percepat (Accelerated Depreciation)sedangkan perusahan lain menggunakan metode garis lurus. Teori dapat didefinisikan sebagai hasil pemikiran yang berdasarkan metode ilmiah atau logika. Teori terdiri dari dua bagian yaitu: 1. Asumsi-asumsi termasuk definisi variabel-variablenya dan logika yang menghubungkan antar variabel tersebut.Asumsi-asumsi, definisi logika

38

dipergunakan untuk mengatur, menganalisa, memahami, gejala empiris yang menjadi perhatian. 2. Himpunan hipotesa-hipotesa yang penting. Sedangkan hipotesa merupakan anggapan awal dari sebuah fenomena atau masalah yang akan

dianalisa.Tujuan teori akuntansi adalah menjelaskan dan meramalkan praktek akuntansi. Teori akuntansi dapat menjelaskan mengapa perusahaan lebih cenderung menggunakan metode LIFO daripada FIFO. Teori akuntansi akan dapat memprediksi atau menemukan gejala akuntansiyang belum diketahui. Misalnya teori akuntansi dapat memberikan hipotesa mengenai sifat – sifat perusahaan yang menggunakan metode LIFO dibandingkan dengan menggunakan FIFO. Untuk memperkuat argumen bahwa akuntansi merupakan disiplin ilmu yang didasari oleh metode ilmiah,maka akuntansipun mengalami perkembangan disiplin ilmunya. Watts dan Zimmernan menjelaskan perkembangan dari tiori akuntansi dari normatif ke teori akuntansi positif dan dewasa ini berkembang ke arah Teori Akuntansi interpretatif. Dimana masing-masing dalam menyusun teori tersebut terdapat berbagai pendekatan. Misalnya dalam teori akuntansi positif dilakukan pendekatan ekonomi dan perilaku (behavior)

C.

SIFAT TEORI AKUNTANSI Dari penjelasan maka teori akuntansi dapat kita rumuskan sebagai berikut: Teori akuntansi adalah suatu konsep definisi dalil yang menyajikan secara sistematis gambaran fenomena akuntansi yang menjelaskan hubungan antara variabel dengan variabel lainnya dalam struktur akuntansi dengan maksud dapat menjelaskan dan meramalkan fenomena yang mungkin muncul,Hendriksen menilai teori akuntansi sebagai satu susunan prinsip umum akan dapat : 1. Memberikan kerangka acuan yang umum dari mana praktek akuntansi dinilai.

39

2.

Teori

akuntansi

yang

dirumuskan

tidak

akan

mampu

mengikuti

perkembangan ekonomi ,sosial,teknologi dan ilmu pengetahuan yang demikian cepat. Oleh karena itu tepatlah kesimpulan ahmed belkaoui yang menyatakan bahwa tidak ada teori akuntansi yang lengkap apada setiap kurun waktu. Oleh karena itu teori akuntansi harus juga mencakup semua literatur akuntansi yang memberikan pendekatan yang berbeda-beda satu sama lain.Senada dengan kesimpulan ini American Accounting Association‟s Committe On Concepts and Standard For External Reports yang menyebutkan bahwa : 1. Tidak ada teori akuntansi keuangan yang lengkap yang mencakup dan memenuhi keinginan semua keadaan dan waktu dengan efektif oleh karenanya. 2. Di dalam literatur akuntansi keuangan yang ada bukan teori akuntansi tetapi kumpulan teori yang dapat dirumuskan mengatasi perbedaan-perbedaan persyaratan yang diinginkan para pemakai laporan keuangan. Untuk perumuan teori akuntansi memang tidak dapat hanya

mengandalkan teori akuntansi ansich,harus menggunakan literatur akuntansi dan disiplin ilmu lain yang relevan. Namun teori akuntansi merupaka instrumen yang sangat penting dalam menyusun dan memverifikasi prinsip akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan untuk disajikan pada para pemakainya.

D.

PERIODISASI TEORI AKUNTANSI Godfrey dkk (1992) membuat periodisasi teori akuntansi sebagai berikut:

1.

Pre-theory period (1492-1800)

Peragalo mengemukakan bahwa tidak ada teori akuntansi yang dirumuskan sejak Pacioli sampai pada awal abad ke-19. kalaupun ada saran-saran atau

40

pertanyaan-pertanyaan

belum

dapat

digolongkan sebagai

teori atau

pernyataan yang sistematis.

2.

General scientific period (1800-1955)

Dalam periode ini sudah ada pengimbangan teori yang penekanannya baru berupa penjelasan terhadap praktek akuntansi. Di sini sudah ada kerangka kerja untuk menjelaskan dan mengembangkan praktek akuntansi. Akuntansi dikembangkan berdasarkan metode empiris yang mengutamakan pengamatan atas kenyataan sehari-hari atau realitas bukan didasarkan pada logika. Laporan AAA ”A Tentative Statement of Accounting Principles Affecting Corporate Reports pada tahun 1938 serta laporan AICPA tentang A Statement of Accounting Principle (Sanders, Hatfield dan Moore) merupakan dua contoh perumusan teori akuntansi berdasarkan metode empiris atau disebut era general scientific ini.

3.

Normative period (1956-1970)

Dalam periode ini perumus teori akuntansi mencoba merumuskan “norma-norma” atau “praktek akuntansi yang baik”. Kalau dalam periode sebelumnya menekankan kepada ”APA” yang terjadi dalamperiode ini ”Bagaimana seharusnya” dilakukan, ”What should be”. Pada periode ini muncul kritik terhadap konsep ”historical cost” dan pendukung adanya ”conceptual framework”. Beberapa terbitan laporan pada era ini adalah: An Inquiry into the Nature of Accounting oleh Goldberg yang diterbitkan pada tahun 1965, AAA menerbitkan A Statement of Basic Accounting Theory.

4.

Specific Scientific Period (1970-sekarang)

Periode ini disebut juga “positive era”. Di sini teori akuntansi tidak cukup hanya dengan sifat normatif tetapi harus bisa diuji kebenarannya. Norma dinilai subyektif jadi harus diuji secara positif. Pendekatan normatif dikritik karena: (1) teori normatif tidak melibatkan pengujian hipotesa. 41

(2) teori normatif didasarkan pada pertimbangan subyektif. Karena teori normatif dianggap merupakan pendapat pribadi yang subyektif maka tidak bisa diterima begitu saja harus dapat diuji secara empiris agar memiliki dasar teori yang kuat. Pada periode ini data empiris sudah banyak tersedia kemudian teknik-teknik statistik dan teknik yang menggunakan disiplin lain untuk melakukan pengujian sudah demikian banyak sehingga memudahkan melakukan pengujian. Tujuan dari pendekatan teori akuntansi positif adalah untuk menerangkan dan meramalkan praktek akuntansi. Salah satu contoh dalam penggunaan teori positif ini adalah hipotesa ”bonus plan”. Hipotesa ini menunjukkan bahwa manajemen yang remunerasinya didasarkan pada bonus maka mereka akan berusaha memaksimasi pendapatannya melalui pendekatan akuntansi yang dapat menaikkan laba sehingga bonusnya tinggi. Dalam penyusunan laporan keuangan manajemen tentu akan memilih standar akuntansi yang dapat menaikkan laba atau bonus mereka. Teori ini akan dapat menjelaskan atau memprediksi prilaku manajemen dalam mana bonus plan diberlakukan. Watts dan Zimmerman pendukung konsep ini dalam bukunya Positive Accounting Theory menyatakan bahwa keuntungan pendekatan ini adalah bahwa regulator bisa meramalkan konsekuensi ekonomis dari berbagai kebijakan atau praktek akuntansi. Menurut Godfrey dkk pada akhir-akhir ini ada kecenderungan munculnya perbedaan antara Riset Academics dan Riset Profesional yang sebelumnya dinilai seragam. Riset Academics tetap dalam pendekatan positif yang umumnya menekankan pada peran dan pengaruh informasi akuntansi sedangkan Profesional agak condong pada pendekatan normatif yang umumnya menekankan upaya untuk menyeragamkan praktek akuntansi agar lebih bermanfaat bagi praktisi.

E.

METODE PERUMUSAN (KONSTRUKSI) Dalam literatur kita akan bingung menemukan berbagai penggolongan dan istilah yang beragam untuk menjelaskan metode perumusan ini serta serta sifat dan tata caranya. Kita akan mencoba merangkum berbagai pendapatan ini 42

sehingga

dapat

menggambarkan

metode

yang

terdapat

dalam

literatur.Merumuskan teori akuntansi mesti memiliki metode. Dari berbagai pendapat dan praktek, Belkaoui dan Godfrey mengemukakan dalam literatur dikenal beberapa metode:

1.

Metode Deskriftif (pragmatic) yaitu teori akuntansi mencoba menjawab pertanyaan ”APA”.

Dalam metode ini akuntansi dianggap sebagai seni yang tidak dapat dirumuskan dan karenanya metode perumusan teori akuntansi harus bersifat menjelaskan atau descriptive. Dia menjelaskan dan menganalisa praktek yang ada dan diterima sekarang. Di sini diamati perilaku akuntan dalam berhubungan dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Metode ini disebut juga deskriptive accounting atau deskriptive theory of accounting. Beberapa contoh prinsip akuntansi yang menggunakan metode ini adalah buku Paul Grady: Inventory of General Accepted Accounting Principle for Business En terprises, APB Statement No. 4, Skinners and Ijiri.

2.

Psychological pragmatic

Di sini diamati reaksi dari pemakai laporan keuangan terhadap output akuntansi itu (laporan keuangan) yangdisusun dari berbagi aturan, standar , prinsip atau pedoman. Jika ada reaksi maka dianggap bahwa ternyata akuntansi itu bermanfaat dan relevan. Namun diakui juga bisa saja terjadi reaksi yang tidak logis dari pengguna laporan keuangan sehingga bukan saja reaksi itu disebabkan laporan keuangan.

3.

Metode Normatif (1950-1960) yaitu teori akuntansi mencoba menjawab pertanyaan ”APA YANG SEMESTINYA”.

Di sini akuntansi dianggap sebagai norma peraturan yang harus diikuti tidak peduli apakah berlaku atau dipraktekkan sekarang atau tidak. Metode ini disebut juga normative accounting research atau normative theory of accounting. 43

Metode ini berguna dalam hal membahas isu “true income” dan “decision usefulness”. Metode ini diatur antara lain oleh: Moonitz, Sprouse and Moonitz, A Statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT) dari AAA, Edward and Bell, Chambers.

4.

Metode Positive (1970an)

Yaitu suatu metode yang diawali dari suatu teori atau model ilmiah yang sedang berlaku atau diterima umum. Berdasarkan teori ini maka dirumuskan problem penelitian untuk mengamati perilaku atau fenomena nyata yang tidak ada dalam teori. Kemudian dikembangkan teori untuk menjelaskan fenomena tadi dan dilakukan penelitian secara terstuktur dan peraturan yang standar dengan melakuklan perumusan masalah, penyusunan hipotesa, pengumpulan data dan pengujian statistik ilmiah. Sehingga diketahui apakah hipotesa yang dirumuskan diterima atau tidak. Para pendukung ini menyebut metode inilah yang digolongkan sebagai ”ilmiah” karena menggunakan peraturean yang terstruktur dan data empiris yang objektif dan model statistik matematik yang bersifat logik. Dalam penggolongan lain disebut metode kuantitatif (Quantitatif Research). Namun bukan berarti metode ini tidak mendapatkan kritik. Disamping metode kuantitatif ini dibuat juga penggolongan lain yaitu metode kualitatif (Qualitatif Research). Metode kualitatif tidak harus didasarkan pada model yang terstruktur dan analisa yang menggunakan matematik atau statistik. Disamping penggolongan berdasarkan kuantitatif dan kualitatif ada juga penggolongan Scientific Research dan Naturalistic Research. Scientific disamakan dengan positive atau quantitative sedangkan Naturalistic disamakan dengan metode kualitatif.

F.

PENDEKATAN DALAM PERUMUSAN TEORI Teori adalah rumusan yang direduksi dari kenyataan atau praktek. Menurut Godfrey dkk (1992) dalam mengaitkan antara teori (dunia abstrak) dan kenyataan (dunia pengalaman) dikenal 3 hubungan dalam struktur teoritis: 44

1.

Syntactis

Di sini teori itu dirumuskan dalam bentuk hubungan logis. Hubungan itu dirumuskan dalam bentuk aturan seperti aturan bahasa (grammar), aturan matematik dan sebagainya. Biasanya rumusan teori menggunakan sylogism yang memberikan hubungan logis. Sylogism tidak dimaksudkan menyatakan kebenaran tetapi hanya hubungan logis, seperti: Premis 1. 2. Seluruh perkiraan aktiva bersaldo debet Premis Biaya Sewa bersaldo debet,Kesimpulan: Biaya sewa adalah aktiva Rangkaian premis dan kesimpulan di atas itu merupakan bahasa teori dalam permainan logika. Tidak seluruhnya stuktur silogisme itu bisa menjamin kebenaran. Syntactis hanya menggambarkan dunia kenyataan dalam bentuk bahasa ilmiah atau teori.

2.

Semantic

Di sini teori menghubungkan konsep dasar dari suatu teori ke obyek nyata. Hubungan ini dituangkan dalam bentuk aturan yang sesuai atau definisi operasional. Semantic menyangkut hubungan kata, tanda atau simbol dari kenyataan. Sehingga teori ini lebih mudah dipahami, realistik dan berarti. Misalnya Kesamaan akuntansi Aktiva = Utang + Modal.

3.

Pragmatic

Tidak semua teori memiliki aspek pragmatis. Di sini hubungan pragmatis itu berkaitan dengan pengaruh kata-kata, simbol terhadap manusia. Akuntansi dianggap memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang. Teori akuntansi dianggap harus bermanfaat bagi pengambil keputusan sehingga informasi akuntansi juga harus sesuai dengan kebutuhan para pengambil keputusan ini.Teori harus mampu merumuskan kebenaran sehingga teori ini harus terus-menerus diuji dan diverifikasi.

45

Ada 3 kriteria atau pihak atau sumber yang memiliki wewenang menentukan kebenaran: 1. Dogmatic, suatu pernyataan atau teori dapat kita sebut benar jika pihak yang menyampaikannya memiliki wewenang untuk menyampaikan kebenaran itu dan ini tidak perlu diuji lagi. keyakinan kepada kebenaran ini hanya berdasarkan pada kepercayaan, keyakinan atau iman seseorang. Sumber dogma ini misalnya berasal dari keyakinan agama, kharisma seseorang, jabatan, indoktrinasi, dan lain sebagainya. Dalam akuntansi ada beberapa lembaga yang dikenal otoritasnya dalam menelorkan teori akuntansi misalnya AAA, FASB, IAI dan sebagainya. 2. Self evident, di sini kebenaran dibuktikan oleh pengetahuan umum, pengamatan, pengalaman. Misalnya disebutkan bahwa akuntansi

menggunakan harga pasar. Pernyataan ini rasanya tidak perlu lagi diuji kebenarannya karena sudah terbukti sendiri berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan pengamatan kita. 3. Scientific, di sini kebenaran itu dibuktikan oleh suatu metode ilmiah. Teori dirumuskan, diuji dan seterusnya berulang secara terus-menerus. Metode ilmiah ini sangat beragam dan akan kita bahas berikut ini.Perumusan Teori Akuntansi

Dalam literatur dikenal beberapa pendekatan dalam merumuskan teori akuntansi. Masing-masing penulis memberikan metode yang diikutinya. Dalam bab ini kita pakai saja penjelasan dari Belkaoui tentang pendekatan dalam perumusan teori akuntansi sebagai berikut:

I.

Pendekatan informal yang dibagi dalam:

1.

Pragmatis, Praktis, Non teoritis

Dalam metode ini perumusan teori akuntansi. Didasarkan pada keadaanpraktek di lapangan. Di sini yang menjadi pertimbangan adalah hal-hal 46

yang berguna untuk menyelesaikan persoalan secara praktis. Menurut pendekatan ini prinsip akuntansi yang dipakai adalah didasarkan pada kegunaannya bagi para pemakai laporan keuangan dan relevansinya dengan proses pengambilan keputusan.

2.

Otoriter

Dalam metode ini yang merumuskan teori akuntansi adalah organisasi profesi yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengatur praktek akuntansi. Biasanya organisasi profesipun tetap memperhatikan aspek praktis dan pragmatis. Oleh karena itu maka pendekatan otoriter ini digolongkan juga sebagai pragmatis.

II. Pendekatan Teoritis yang dibaginya dalam:

1.

Deduktif

Dalam metode ini perumusan teori dimulai dari perumusan dalil dasar akuntansi (postulat dan prinsif akuntansi) dan selanjutnya dari rumusan dasar ini diambil kesimpulan logistentang teori akuntansi mengenai hal yang dipersoalkan. Jadi perumusan dimulai dari dalil umum kepada dalil khusus. Pendekatan ini dilakukan dalam penyusunan struktur akuntansi di mana dirumuskan dahulu tujuan laporan keuangan, rumusan postulat, kemudian prinsip, dan akhirnya lebih khusus menyusun teknik akuntansi. Dalam hal ini teori diuji dari posisinya dalam menampung keinginan praktek. Jika pemakai dalam praktek diterima maka dianggap teori itu diterima atau verified, sebaliknya jika tidak diterima disebut falsified.Beberapa pendukung metode ini adalah: Paton, Canning, Sweeney, MacNeal, Alexander, Edward and Bell, Moonitz, dan Sprouse and Moonitz.

47

2.

Induktif

Dalam metode ini penyusunan teori akuntansi didasarkan pada beberapa observasi dan pengukuran khusus dan akhirnya dari berbagi sample dirumuskan fenomena yang seragam atau berulang (informasi akuntansi) dan diambil kesimpulan umum (postulat dan prinsip akuntansi). Tahap yang dilalui adalah: 1. 2. Mengumpulkan semua observasi. Analisis dan golongan observasi berdasarkan hubungan yang berulang-ulang dan sejenis, seragam, mirip. 3. Ditarik kesimpulan umum dan prinsip akuntansi yang menggambarkan hubungan yang berulang-ulang tadi. 4. Kesimpulan umum diuji kebenarannya. Tidak seperti pendekatan deduktif, dalam pendekatan induktif ini kebenaran dan kepalsuan dalil tidak tergantung pada dalil lainnya, tetapi harus melalui pengujian empiris. Dalam pendekatan induktif kebenaran suatu dalil tergantung pada pengamatan terhadap contoh yang cukup dari hubungan kasus yang berulang-ulang dan seragam. Para teoritisi yang menggunakan pendekatan ini adalah: Hatfield, Gilman, Littlelton, Paton and Littlelton, dan Ijiri

3.

Etik

Dalam pendekatan ini digunakan konsep kewajaran , keadilan, pemilikan, dan kebenaran. Patillo menyebutkan dalam metode ini standar dasarnya adalah etika, metodenya logis dan ”coherent” dan penerapannya di lapangan. Jadi sebenarnya dimensi yang diutamakan dalam perumusan teori itu diutamakan dari sudut etikanya, tanpa menyebut bahwa pendekatan lain tidak beretika. Pendekatan ini diperkenalkan oleh D.R. Scott. Menurut beliau kriteria yang harus digunakan dalam perumusan teori akuntansi adalah keadilan dengan memperlakukan pihak yang berkaitan secara adil. Disajikan kebenaran dalam arti laporan yang benar dan akurat tanpa mengundang salah tafsir, dan kewajaran dalam arti penyajiannya wajar, tidak bias, dan tidak sebagian-sebagian. Dalam buku lain dikenal dengan ”Pendekatan Peristiwa” (Event Approach) artinya dalam perumusan teori kita harus 48

memperhatikan semua pihak jangan hanya memperhatikan pihak-pihak tertentu saja. Pendekatan ini mirip pendekatan etik ini.

4.

Sosiologis

Dalam pendekatan ini yang menjadi perhatian utama dalam perumusan teori akuntansi adalah dampak sosial dari teknik akuntansi. Jadi yang menjadi perhatian bukan pemakai langsung akuntansi tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Pendekatan inilah sebagai embrio Socio Economic Accounting atau Social Responsibility Accounting. Pendekatan ini seolah merupakan perluasan dari konsep etik dimana yang menjadi focus perhatian adalah kesejahteraan seluruh masyarakat bukan saja pemilik. Menurut konsep ini prinsip akuntansi dinilai dari penerimaan dari seluruh pihak terhadap laporan keuangan, khususnya yang melaporkan tentang dampak perusahaan terhadap masyarakat. Akuntansi dalam model ini harus dapat memberikan pertimbangan dalam mengambil kesimpulan terhadap kesejahteraan masyarakat. Para penulis yang mengkaji isu ini adalah Belkaoui dan Beams dan Fertig, Ladd, Littlelton, dan Zimmerman.

5.

Ekonomi

Pendekatan ekonomi dalam perumusan teori akuntansi menekankan pada kontrol pada perilaku indikator makro ekonomi atau generar economic welfare yang menghasilkan perumusan teknik akuntansi. Sehingga dalam pemilihan teknik akuntansi didasarkan pada dampaknya pada ekomomi nasional. Misalnya teknik LIFO lebih menarik daripada FIFO pada masa inflasi. Dari pendekatan ini maka dapat disimpulkan bahwa: a. Teknik dan kebijaksanaan akuntansi harus dapat menggambarkan realitas ekonomi. b. Pilihan terhadap teknik akuntansi harus tergantung pada konsekuensi ekonomis.

49

6.

Eklektif

Jika dalam perumusan teori akuntansi digunakan tidak hanya satu pendekatan, tetapi berbagai kombinasi pendekatan maka disebut eklektif.Dari literatur lain kita mengenal pendekatan komunikatif (communication theory) dalam perumusan teori akuntansi. Pendekatan ini dikembangkan oleh Bedford dan Baldouni yang menganggap bahwa akuntansi adalah sebagai suatu sistem yang terpadu dalam proses komunikasi. Di sini dirumuskan informasi apa yang perlu dan disajikan oleh perusahaan kepada para pembaca agar mereka dapat menggunakannya dalam proses pengambilan keputusan. ASOBAT (A Statement of Basic Accounting Theory) termasuk menggunakan teori ini. Banyak lagi pendekatan lain yang perlu dikemukakan di sini antara lain: behavioral approach, yang menekankan pada aspek perilaku yang ditimbulkan oleh informasi akuntansi, pragmatic, nontheoretical approach (perumusannya tidak didasarkan pada dasr teori yang berlaku. Keadaan ini terjadi pada periode awal perkembangan akuntansi), theory of account approach yang melihat akuntansi dari aspek hubungan antara perkiraan yang dibangun dari dasar teori double entry.

G.

PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI DI INDONESIA Sampai saat ini Indonesia masih belum berupaya untuk merumuskan teori maupun standar akuntansinya sendiri. Kita masih tetap menggunakan teori atau standar akuntansi Amerika atau terakhir dari IASC (International Accounting Standard Committee) sebagai dasar pengembangan akuntansi di Tanah Air. Standar Akuntansi Keuangan maupun Pernyataan Standar Pemeriksaan masih mengadopsi atau menerjemahkan standar atau pedoman dari Amerika atau IASC dengan berbagai modifikasi minor. Upaya yang baru dilakukan oleh profesi akuntansi adalah perumusan prinsip akuntansi Indonesia namun belum menyentuh dasar teori akuntansinya. Dalam sebuah kuliahnya di gedung baja (1991), Belkaoui menganjurkan agar setiap negara memiliki teori akuntansi sendiri termasuk Indonesia. Menurut beliau teori akuntansi lahir dari kondisi, lingkungan, dan situasi ekonomi dan sosial yang 50

ada disuatu negara yang tentu akan berbeda dengan negara lainnya. Akibatnya kita tidak akan tepat jika menggunakan teori akuntansi yang dilahirkan dari negara lain dengan situasi dan kondisi yang berbeda dengan negara kita. Menurut penulis buku ini, tentu sangat ideal dan tidak akan mungkin dapat kita wujudkan dalam jangka pendek. Namun pada dasarnya kita harus membuat agenda menuju ke sana. Oleh karena itu para peneliti akuntansi, pemerintah, Fakultas Ekonomi serta Kantor Akuntan Publik sudah selayaknya memikirkan permasalahan ini dengan upaya yang intens untuk melakukan berbagai penelitian akuntansi. Sebelum hal itu terwujud maka sebaiknya profesi dan pemerintah sudah harus melakukan upaya-upaya dalam perumusan teori dan standar akuntansi Indonesia yang digali dari kondisi kita. Dan tentu saja teori akuntansi yang sudah ada khususnya dari negara lain seperti dari Amerika dapat kita jadikan sebagai dasar atau pedoman dalam merumuskan teori kita atau mengisi teori yang masih lowong.

51

BAB V LAPORAN LABA RUGI

A.

PENGERTIAN LAPORAN LABA RUGI Perhitungan rugi-laba (income statement) adalah laporan yang mengukur keberhasilan operasi perusahaan untuk suatu periode waktu tertentu. Para pengguna menggunakan laporan ini untuk menentukan profitabilitas, nilai investasi dan kelayakan kredit. Pada dasarnya informasi yang disajikan dalam laporan laba-rugi menggambarkan bagaimana kinerja suatu usaha dilaporkan kepada para pengguna laporan keuangan dan bagaimana kinerja yang dilaporkan dapat berubah setiap waktu sejalan dengan perubahan sifat operasi perusahaan.

B.

KONSEP PENGUKURAN LABA DAN BENTUK-BENTUK LAPORAN LABA-RUGI 1. Apa Itu Laba

Banyak orang bingung membedakan laba-rugi dengan arus kas. Apakah laba sama dengan jumlah kas yang dihasilkan dari kegiatan operasi bisnis? Jawabannya tentu tidak. Untuk berbagai alasan yang sebagaian besar berhubungan dengan akuntansi akrual, laba dan arus kas dari operasi bisnis jarang menunjukkan angka yang sama. Karena baik laba maupun arus kas sama-sama memberikan ukuran kinerja perusahaan, kalau begitu informasi mana yang lebih baik? FASB, dalam kerangka konseptualnya menyatakan bahwa “informasi tentang laba dan komponen yang diukur oleh akuntansi akrual biasanya memberikan indikasi yang lebih baik atas kinerja perusahaan dari pada informasi tentang penerimaan dan pengeluaran kas saat ini “walupun dalam hal-hal tertentu informasi tentang arus kas juga penting. Memahami laba, apa yang diukur oleh laba dan komponen-komponennya adalah penting untuk dapat

menginterpretasikan keadaan keuangan perusahaan. Berbagai cara mengukur laba menunjukkan konsep dasar bahwa “laba adalah hasil investasi” atau jumlah yang dapat diberikan kepada investor sebagai hasil investasi. 52

Salah satu definisi laba yang diterima lebih luas adalah jumlah yang dapat diberikan kepada investor (sebagai hasil investasi) dan kondisi perusahaan di akhir periode masih sama baiknya (well-off) dengan di awal periode. Tetapi apa yang dimaksud dengan well-off? dan bagaimana mengukurnya? Pengukuran umumnya didasarkan pada konsep yang sama atas pemeliharaan modal atau kepemilikan. Untuk bisa menjawab apa itu laba, FASB mempertimbangkan dua konsep yaitu : pemeliharaan modal keuangan dan pemeliharaan modal fisik.

2.

Bentuk Laporan Laba Rugi

Secara tradisional, laba dari kategori opersi berkelanjutan disajikan baik dalam bentuk langsung (single ste) maupun bertahap (multiple step). Dalam bentuk single step, semua pendapatan dan keunrungan yang termasuk unsure operasi ditempatkan bagian awal laporan laba-rugi, kemudian diikuti dengan seluruh beban dan kerugian yang termasuk kategori operasi. Selisih antara total pendapatan dan keuntungan dan total beban dan kerugian menghasilkan laba operasi. Apabila tidak terdapat pos tidak biasa (irregular) dan pos luar biasa (Extraordinary item) maka nilai ini sama dengan laba (rugi) bersih. • Bentuk single step dari laporan laba-rugi digunakan secara luas dalam pelaporan keuangan, meskipun dalam tahun-tahun terkhir betuk bertahap (multiple step) mulai semakin popular. Keuntungan utama dari format single step terletak pada kesederhanaan penyajian dan tidak adanya implikasi bahwa satu jenis pos pendapatan atau beban mempunyai prioritas atas yang lain. Dengan demikian menghilangkan masalah klsifikasi yang potensial. • Bentuk multiple step. Beberapa akuntan menyatakan bahwa ada hubungan lain yang penting dalam data pendapatan dan beban dan bahwa perhitungan laba-rugi menjadi lebih informative dan lebih berguna apabila menunjukkan klassifikasi.

C.

UNSUR-UNSUR LAPORAN LABA-RUGI Pendekatan transaksi merupakan prosedur alternatif dalam mengukur transaksi dasar yang berkaitan dengan laba yang terjadi selama suatu periode dan 53

mengikhtisarkannya dalam perhitungan rugi-laba. Metode ini sudah banyak dikenal dengan baik. Pendekatan ini memusatkan pada aktivitas-aktivitas yang telah terjdi selama suatu periode tertentu. Metode ini tidak hanya menyajikan perubahan bersih, tetapi juga mengungkapkan komponen-komponen perubahan tersebut. Laba dapat digolongkan menurut konsumen, jenis produk atau atau fungsi, operasi dan bukan operasi, berlanjut dan dihentikan, biasa serta luar biasa. Apa yang harus dimasukkan di dalam laba bersih telah menjadi kontroversi selama bertahun-tahun. Sebagai contoh, apakah keuntungan atau kerugian yang tidak biasa serta korekasi pendapatan dan beban tahun-tahun sebelumnya harus ditutup langsung ke laba ditahan dan karenanya tidak dilaporkan dalam perhitungan rugi-laba atau hal itu pertama disajikan dalam perhitungan laba-rugi dan kemudian diteruskan ke laba ditahan bersama dengan laba atau rugi bersih untuk periode bersangkutan? Pendekatan transaksi pada pengukuran laba mensyaratkan penggunaan perkiraan pendapatan, beban, kerugian dan keuntungan. Pendekatan ini lebih unggul daripada pendekatan pemeliharaan modal karena memberikan informasi mengenai unsur –unsur laba. Adapun unsur-unsur perhitungan laba-rugi yang harus ada menurut FASB adalah: • Pendapatan (Revenue). Merupakan arus masuk atau peningkatan lain atas harta dari suatu kesatuan atau penyelesaian kewajibannya selama satu periode dari penyerahan atau produksi barang, pemberian jasa, atau aktivitas lain yang merupakan operasi pokok atau utama yang berkelanjutan dari operasi tersebut. • Beban (Expenses). Merupakan arus keluar atau penggunaan lain atas harta atau terjadinya kewajiban selama suatu periode dari penyelesaian atau produksi barang, pemberian jasa, atau pelaksanaan aktivitas lain yang merupakan operasi pokok atau utama yang berkelanjutan dari kesatuan tersebut.

54

Keuntungan (gain). Kenaikan dalam ekuitas (harta bersih) dari transaksi sampingan atau sekali-sekali dari suatu kesatuan kecuali yang dihasilkan dari pendapatan atau investasi oleh pemilik.

Kerugian (loss). Penurunan dalam ekuitas (harta bersih) dari transaksi sampingan atau sekali-sekali dari suatu kesatuan kecuali yang diakibatkan dari beban atau pembagian kepada pemilik. Pendapatan dapat dilihat dari banyak bentuk, seperti penjualan, honorarium, bunga, deviden, dan sewa. Contoh beban seperti harga pokok penjualan, penyusutan, bunga, sewa, gaji dan upah, pajak dan lain-lain. Keuntungan dan kerugian banyak jenisnya yang berasal dari penjualan investasi,penjualan harta tetap, penyekesaian hutang, penghapusan harta karena usang atau bencana dan pencurian. Perbedaan antara pendapatan dan keuntungan dan perbedaan antara beban dan kerugian tergantung pada sebagian besar aktivitas husus dari perusahaan bersangkutan. Pada perusahaan tertentu suatu aktivitas dapat merupakan bagian dari operasi normalnya, sedang bagi perusaan lain aktivitas yang sama bukan merupakan aktivitas normal.

D.

SEKSI-SEKSI PERHITUNGAN LABA-RUGI 1. Seksi Operasi.

Suatu laporan atas pendapatan dan beban dari operasi utama perusahaan. a. Penjualan atau pendapatan (revenue). Pendapatan menunjukkan nilai penjualan total kepada pelanggan dalam suatu periode dikurangi retur dan potongan penjualan atau diskon penjualan. Anilai total ini tidak boleh mencakup pajak penjualan yang harus dipungut pemerintah. Tagihan tambahan pajak ini diakui sebagai kewajiban jangka pendek.Retur dan potongan harus dikurangkan dari penjualan bruto untuk mendapatkan nilai penjualan bersih. Apabila harga jual meningkat karena menutupi beban angkut kepada pelanggan dan pelanggan dibebani karenanya, maka beban angkut yang dibayar perusahaan ini harus dikurangkan dari nilai penjualan dalam mendapatkan nilai penjualan bersih. Apabila beban angkut tidak dibebankan kepada pembeli, beban ini diakui sebagai beban penjualan. 55

b.

Harga pokok penjualan (cost of good sold). Pada perusahaan dagang atau manufaktur, nilai ini merupakan penjualan persediaan awal, pembelian bersih atau harga pokok produksi, beban angkut, retur dan potongan pembelian yang kemudian dikurangi dengan persediaan akhir. Jadi harga pokok penjualan merupakan harga pokok dari barang yang dijual untuk menghasilkan penjualan.

c.

Laba kotor (gross profit). Pada sebagian besar perusahaan dagang dan manufaktur, hrga pokok penjualan merupakan beban yang paling signifikan. Karenanya perusahaan memberi perhatian khusus. Laba kotor adalah selisih antara pendapatan dari penjualan bersih dan harga pokok penjualan.

2.

Seksi Bukan Operasi

Merupakan suatu laporan mengenai pendapatan dan beban yang berasal dari aktivitas sekunder atau tambahan dari perusahaan tersebut. Selain itu, keuntungan dan kerugian khusus yang tidak sering atau tidak biasa, tetapi tidak keduanya, biasanya dilaporkan dalam seksi ini. a. Pendapatan dan keuntungan lain-lain (other revenues and gains) Bagian ini biasanya mencakup unsur yang berkaitan dengan aktivitas sampingan perusahaan, misalnya pendapatan dari aktivitas pendanaan seperti sewa, bunga, deviden serta keuntungan dari penjualan aktiva seperti peralatan dan investasi. Keuntungan yang dilaporkan pada laporan laba-rugi menunjukkan nilai bersih yaitu selisih antara nilai jualnya dengan beban. b. Beban dan kerugian lain-lain (other expenses and losses) Sama seperti bagian a, tapi akibat penurunan, bukan peningkatan. Misalnya beban atau kerugian akibat penjualan aktiva. Kerugian seperti halnya keuntungan, dilaporkan pada nilai bersih (sesudah dikurangi pajak) c. Laba operasi berkelanjutan sebelum pajak (income from continuing operations before income taxes) Mengurangkan pendapatan dan keuntungan lain-lain dengan beban serta kerugian lain-lain dari laba operasi yang menghasilkan laba operasi berkelanjutan sebelum pajak. 56

3.

Pajak penghasilan atas laba operasi berkelanjutan (income taxes on continuing operations)

Merupakan suatu seksi pendek yang melaporkan pajak pemerintah pusat dan daerah atas laba dari operasi yang berkelanjutan.

4.

Operasi yang dihentikan (discontinued operations)

Umumnya pos ini terjadi karena penghentian komponen yang dapat diidentifikasi secara terpisah dari bisnis baik melaui penjualan atau pelepasan Komponen yang dihentikan ini bisa saja merupakan lini utama bisnis, kelompok konsumen utama, anak perusahaan. Berbagai alasan yang biasanya menjadi alasan manajemen untuk menghentikan salah satu komponen bisnis yaitu : • • • • Komponen tersebut sudah tidak menguntungkan. Sudah tidak sesuai dengan rencana jangka panjang perusahaan. Manajemen membutuhkan dana untuk mengurangi hutang jangka panjang. Manajemen khawatir akan pengambil alihan oleh investor baru yang ingin mengendalikan perusahaan.

5.

Pos-pos luar biasa (extraordinary items)

Merupakan keuntungan atau kerugian yang tidak biasa dan tidak sering terjadi. Untuk bisa dikategorikan sebagai luar biasa, suatu unsur haruslah memiliki tingkat ketidak normalan yang tinggi dan jelas tidak terkait dengan atau hanya secara kebetulan terkait dengan aktivitas normal.

6.

Pengaruh kumulatif perubahan prinsip akuntansi (cumulative effects of changes accounting principles)

Merupakan unsur terakhir yang termasuk dalam kategori tidak biasa pada laporan laba-rugi. Berdasarkan jenis perubahan prinsip akuntansinya,

57

perubahan dapat diimplementasikan secara berlaku surut (retroactively) atau hanya mempengaruhi periode berjalan dan yang akan datang.

7.

Perubahan estimasi

Penyesuaian yang berasal dari penggunaan estimasi dalam akuntansin tidak diklasifikasikan sebagai penyesuaian periode sebelumnya, sehingga hanya akan digunakan dalam penentuan laba periode berjalan dan periode akan datang dan tidak dibebankan langsung ke laba ditahan.

E.

LABA KOMPREHENSIF Pada awal bab didefinisikan bahwa laba merupakan kenaikan kekayaan perusahaan selama satu periode. Kekayaan perusahaan ini dipengaruhi oleh berbagai hal yang tidak ada hubungannya dengan operasi normal perusahaan, misalnya akibat adanya perubahan nilai tukar. Unsur ini tidak termasuk dalam laba bersih karena dianggap memberikan sedikit informasi tentang kinerja ekonomi dari operasi normal perusahaan. Laporan laba komprehensif dimasukkan sebagai bagian dari laporan modal pemilik. Tiga penyesuaian yang umum dibuat untuk laba komprehensif adalah : • • • Penyesuaian transaksi mata uang asing. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi atas efek (surat berharga) yang tersedia untuk dijual (available for sale). Keuntungan dan kerugian yang ditangguhkan atas instrument derivative.

58

BAB VI LAPORAN ARUS KAS

A.

PENGERTIAN LAPORAN ARUS KAS Laporan arus kas (Inggris: cash flow statement atau statement of cash flows) adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan aliran masuk dan keluar uang (kas) perusahaan. Informasi ini penyajiannya diklasifikasikan menurut jenis kegiatan yang menyebabkan terjadinya arus kas masuk dan kas keluar tersebut. Kegiatanperusahaan umumnya terdiri dari tiga jenis yaitu, kegiatan operasional, kegiatan investasi serta kegiatan keuangan. Laporan Arus Kas merupakan penerimaan kas dan pembayaran kas (pengeluaran kas). Laporan arus kas melaporkan penerimaan kas dan pengeluaran kas yang digolongkan sesuai dengan kegiatan utama entitas : operasi,investasi, dan pembelanjaan. Laporan tersebut melaporkan arus masuk kas bersih atau keluar kas bersih dari setiap kegiatan dan untuk semua kegiatan usaha. Arus kas adalah kas aktual yang keluar masuk dari dan ke dalam suatu perusahaan (Weston dan righam, 1990 : 55). Arus kas masuk (cash inflows) merupakan penerimaan kas yang berasal dari kegiatan rutin perusahaan, misalnya penjualan tunai, penerimaan piutang maupun penerimaan kas yang bersifat tidak rutin misalnya penyertaan modal, penjualan saham, penjualan aktiva perusahaan. Arus kas keluar (cash out flows) adalah pengeluaran yang bersifat kontinyu, seperti pembayaran bunga, dividen dan pembayaran pajak. Arus kas berlangsung terus menerus selama perusahaan menjalankan kegiatannya. Agar kas ini mudah dibaca dan dipahami, maka informasi arus kas tersebut dibuat dalam bentuk laporan yang disebut Laporan Arus Kas (statement of cash flows), sehingga dapat memenuhi kebutuhan informasi para investor dan kreditur dalam menganalisa arus kas. Aktivitas yang membagi laporan arus kas adalah kegiatan operasi, kegiatan investasi, dan kegiatan pendanaan. Ketiga aktivitas ini memberikan 59

informasi yang memungkinkan para pengguna laporan untuk menilai pengaruh aktivitas tersebut terhadap keuangan perusahaan serta terhadap jumlah kas. Manfaat utama laporan arus kas adalah untuk menyediakan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan selama satu periode, serta untuk membantu investor, kreditur dan pihak lain yang berkepentingan dalam menganalisa kas (Kieso dan Wey Grandt, 1995 : 247).

B.

TUJUAN DAN KEGUNAAN Sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan kas dan setara kas, dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut. Laporan arus kas disusun dengan tujuan utama untuk memberikan informasi tentang aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dengan basis kas (cash basis) selama periode akuntansi tertentu. Menurut Financial Accounting Standard Board, informasi yang diberikan dalam suatu laporan kas, jika digunakan dengan pengungkapan yang berkaitan dan laporan keuangan lainnya, harus membantu investor, kreditor dan pihak lainnya untuk: 1. Menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas bersih masa depan. 2. Menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya,

kemampuan membayar dividen, dan kebutuhan untuk pendanaan eksternal. 3. Menilai alasan perbedaan antara laba bersih dibanding penerimaan serta pengeluaran kas yang berkaitan. 4. Menilai pengaruh transaksi investasi dan pendanaan baiuk kas maupun non kas terhadap posisi keuangan suatu perusahaan selama satu periode tertentu. Jadi informasi yang disajikan dalam laporan arus kas berguna bagi para pemakai laporan keuangan, baik bagi pihak manajemen, investor, kreditor maupun pihak-pihak yang berkepentingan lainnya, sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan untuk menggunakan arus kas dan setara kas dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut. 60

C.

BENTUK DAN METODE LAPORAN ARUS KAS 1. Metode Langsung

Terdapat dua bentuk penyajian laporan arus kas, yang pertama metode langsung dan yang kedua metode tidak langsung. Perbedaan antara kedua metode terletak pada penyajian arus kas berasal dari kegiatan operasi. Dengan metode langsung, arus kas dari kegiatan operasional dirinci menjadi arus kas masuk dan arus kas keluar. Arus kas masuk dan keluar dirinci lebih lanjut dalam beberapa jenis penerimaan atau pengeluaran kas. Sementara itu dengan metode tidak langsung, arus kas dari opersional ditentukan dengan cara mengoreksi laba bersih yang dilaporkan di laporan laba rugi dengan beberapa hal seperti biaya penyusutan, kenaikan harta lancar dan hutang lancar serta laba/rugi karena pelepasan investasi. Berikut ini diberikan contoh bentuk laporan arus kas dengan metode langsung dan metode tidak langsung.

PT. SURAYA MANDIRI, Tbk LAPORAN ARUS KAS UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009 (Dalam Rupiah)

Arus kas yang berasal dari kegiatan operasi : Kas yang diterima dari pelanggan Dikurangi : Kas untuk membeli persediaan Kas untuk membayar biaya operasi Kas untuk membayar biaya bunga Kas untuk membayar pajak 555.200,259.800,14.000,29.000,858.000,Aliran kas bersih dari kegiatan operasi 93.000,61 951.000,-

Aliran kas yang berasal dari kegiatan investasi : Kas masuk yang berasal dari penjualan investasi Kas keluar untuk membeli peralatan Aliran kas bersih untuk kegiatan investasi Aliran kas dari kegiatan keuangan : Kas yang diterima dari penjualan saham Dikurangi : Kas untuk membayar dividen Kas untuk membayar hutang obligasi 23.000,125.000,148.000,Aliran kas masuk neto dari kegiatan keuangan Kenaikan kas Saldo kas pada awal tahun Saldo kas pada akhir tahun 12.000,23.000,26.000,49.000,160.000,75.000,(157.000,-) (82.000,-)

Dari laporan terlihat bahwa arus kas yang berasal dari kegiatan operasional dirinci menjadi penerimaan dari berbagai sumber yang merupakan kegiatan operasional dan pengeluaran kas untuk berbagai kegiatan operasional. Arus kas dari kegiatan investasi dan keuangan juga dirinci menurut jenis-jenis kegiatan yang mengakibatkan timbulnya penerimaan dan pengeluara kas. Sementara jika kita lihat contoh di bawah ini arus kas dari kegiatan operasional tidak dirinci menurut sumber dan jenis penggunaannya, melainkan net income dikoreksi sehingga net income tersebut berubah menjadi net cashflows dari operasi.

2.

Metode Tidak Langsung

Dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan mengoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi dari masa lalu dan masa depan, dan unsure penghasilan atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan. 62

Jadi pada dasarnya metode tidak langsung ini merupakan rekonsiliasi laba bersih yang diperoleh perusahaan. Metode ini memberikan suatu rangkaian hubungan antara laporan arus kas dengan laporan laba rugi dan neraca. Dalam metode tidak langsung arus kas bersih diperoleh dari aktifitas operasi ditentukan dengan menyesuaikan laba atau rugi bersih dari pengaruh : a. Perubahan persediaan dan piutang usaha serta hutang usaha selama periode berjalan. b. Pos bukan kas seperti penyusutan, penyisihan, pajak ditangguhkan, keuntungan dan kerugian, valuta asing yang belum direalisasi, laba perusahaan asosiasi yang belum dibagikan dan hak minoritas dalam laba/rugi konsolidasi. c. Semua pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi dan pendanaan.

PT. SURYA MANDIRI, Tbk LAPORAN ARUS KAS UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009 (Dalam Rupiah)

Arus kas yang berasal dari kegiatan operasi : Laba bersih menurut laporan laba rugi Ditambah : Biaya depresiasi Penurunan persediaan kantor Kenaikan hutang jangka pendek Kenaikan hutang biaya 18.000,8.000,16.800,1.200,44.000,Dikurangi : Kenaikan biaya dibayar dimuka Kenaikan piutang usaha Penurunan hutang pajak Laba penjualan aktiva tetap 1.000,9.000,1.500,30.000,63 90.500,-

41.500,Aliran kas bersih dari kegiatan operasi Aliran kas yang berasal dari kegiatan investasi : Kas masuk yang berasal dari penjualan investasi Kas keluar untuk membeli peralatan Aliran kas keluar bersih untuk kegiatan investasi Aliran kas dari kegiatan keuangan : Kas yang diterima dari penjualan saham Dikurangi : Kas untuk membayar dividen Kas untuk membayar hutang obligasi 23.000,125.000,148.000,Aliran kas masuk neto dari kegiatan keuangan Kenaikan kas Saldo kas pada awal tahun Saldo kas pada akhir tahun 12.000,23.000,26.000,49.000,160.000,75.000,(157.000,-) (82.000,-) 93.000,-

D.

PENYAJIAN LAPORAN ARUS KAS 1. Klasifikasi Arus Kas

Laporan arus kas mengklasifikasikan penerimaan kas berdasarkan kegiatan operasi, investasi, dan pembiayaan. Karakteristik transaksi dan peristiwa lainnya dari setiap jenis kegiatan adalah : 1. Kegiatan operasi melibatkan pengaruh kas dari transaksi yang dilibatkan dalam penentuan laba bersih, seperti penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa, serta pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan untuk memperoleh persediaan serta membayar beban. 2. Kegiatan investasi umumnya melibatkan aktiva jangka panjang dan mencangkup (a) pemberian serta penagihan pinjaman, dan (b) perolehan serta pelepasan investasi dan aktiva produktif jangka panjang. 3. Kegiatan pembiayaan melibatkan pos-pos kewajiban dan ekuitas pemegang saham serta mencangkup (a) perolehan kas dari kreditor dan pembayaran 64

kembali pinjaman, serta (b) perolehan modal dari pemilik dan pemberian tingkat pengembalian atas, dan pengembalian dari investasinya.

E.

PENYUSUNAN LAPORAN ARUS KAS Menurut Smith dan Skousen (1992:191), penyusunan laporan arus kas terdiri dari sumber-sumber data diatas meliputi empat langkah pokok : 1. 2. 3. 4. Menentukan perubahan dalam kas. Menentukan arus kas bersih dari aktifitas operasi Menentukan arus kas dari aktifitas investasi dan pendanaan. Menyiapkan suatu laporan arus kas formal.

Format Arus Kas Kelompok arus kas dari kegiatan operasi selalu dicantumkan pertama kali, disusul oleh kegiatan investasi dan pembiayaan. Masing-masing arus masuk dan arus keluar dari kegiatan investasi serta pembiayaan dilaporkan secara terpisah, yaitu dilaporkan dalam jumlah kotor, bukan sebagai selisih akhir dari berbagai arus masuk dan arus keluar. Jadi, arus kas keluar dari pembelian properti dilaporkan terpisah dari arus kas masuk atas penjualan properti. Demikian juga, arus kas masuk dari penerbitan sekuritas hutang dilaporkan terpisah dari arus kas keluar atas pelunasannya. Kenaikan atau penurunan bersih kas selama suatu periode harus merekonsiliasi saldo awal dan akhir kas yang dilaporkan dalam neraca komparatif.

65

BAB VII NERACA DAN PENCATATAN

A.

REKENING (THE ACCOUNT) Rekening di dalam akuntansi merupakan alat untuk meringkas data transaksi yang ada didalam jurnal. Rekening merupakan catatn secara mendetail dari adanya perubahan-perubahan yang berhubungan dengan aktiva, kewajiban, atau modal pemilik dalam periode tertentu. Kumpulan dari rekening-rekening sering disebut dengan buku besar (ladger). Buku besar atau ledger dapat berupa buku, lembaran lepas atau catatan komputer. Didalam buku besar rekening-rekening dikelompokkan kedalam tiga grup yang didasarkan atas persamaan akuntansi :
AKTIVA = KEWAJIBAN + MODAL PEMILIK

B.

REKENING NERACA (REKENING RIIL) Rekening-rekening yang ada pada neraca disebut rekening riil, Rekeningrekening tersebut dikelompokkan atas.

1.

Aktiva

Aktiva merupakan sumber ekonomik yang dikuasai oleh perusahan dan digunakan dalam operasi perusahaan yang akan memberikan manfaat dimasa yang akan dating dan digunakan untuk mencapai tujuan perusahaan. Berikut ini contoh rekening yang ada pada perusahaan secara umum. a. Kas (Cash) Rekening kas memberikan gambaran mengenai pengaruh kas terhadap transaksi bisnis yang ada pada suatu perusahaan. Kas merupakan alat pertukaran (pembayaran) yang diakui oleh masyarakat umum, oleh 66

karena itu dijadikan dasar sebagai alat ukur semua kegiatan ekonomik suatu perusahaan (organisasi). Agar alat pembayarn atau pertukaran dapat disebut sebagi kas, harus memenuhi dua criteria pokok yaitu : 1. Harus dapat diterima oleh masyarakat sebagai alat pembayaran dan diterima oleh bank sebagai simpanan. 2. Dapat digunakan sebagai alat pembayaran untuk kegiatan perusahan sehari-hari. Oleh karena itu kas meliputi uang tunai (kertas atau logam), check, wesel check, simpanan dibank yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk alat pembayaran. b. Piutang Usaha (Account Receivable) Piutang adalah meliputi semua klaim (tuntutan) kepada pihak ketiga yang pada umumnya akan berakibat adanya penerimaan kas dimasa yang akan dating. Piutang usaha pada suatu perusahaan biasanya timbul sebagai akibat adanya : 1. 2. 3. 4. Penjualan dan atau penyerahan jasa, Pemberian pinjaman, Klaim atas ganti rugi dari pihak ketiga (pihak asuransi), Barang-barang yang disewakan kepada pihak lain. Piutang yang timbul akibat adanya transaksi penjualan atau penyerahan jasa secara kredit disebut piutang usaha (piutang dagang). c. Piutang Wesel (Notes Receivable) Piutang wesel (wesel tagih) adalah piutang usaha yang didukung dengan adanya janji tertulis berisikan kesedian debitur yang berutang untuk membayar sejumlah uang kepada kreditur pada tanggal tertentu pada masa yang akan datang. Kebaikan piutang wesel dibandingkan dengan piutang usaha adalah : 1. Dapat menekan berkurangnya modal kerja yang tertanam dalam piutang, karena apabila perusahan membutuhkan dana, piutang wesel (wesel

67

tagih)

dapat

segera

diuangkan

dengan

jalan

menjual

atau

mendiskontokan kepada pihak lain. 2. d. Mengurangi resiko adanya piutang yang tidak tertagih.

Perskot Biaya (Prepaid Expences) Perusahaan sering melakukan pembayarn biaya tertentu di muka. Biaya yang dibayar dimuka masuk kedalam kelompok aktiva, karena transaksi tersebut akan memberikan manfaat dimasa yang akan datang pada perusahan. Jenis transaksi yang termasuk biaya yang dibayar dimuka adalah perskot sewa, perskot asuransi dan pembelian bahan habis pakai kantor (office supplies).

e.

Tanah (Land) Rekening tanah dicatat sebagai aktiva yang dimiliki dan digunakan untuk operasi perusahaan.

f.

Peralatan, Furniture & Fixtures Biasanya perusahaan memiliki berbagai maca rekening aktiva untuk setiap jenis peralatan yang dimiliki, seperti misalnya peralatan kanto (office equipment) dan peralatn gudang (store equipment). Rekening furniture dan fixtures menunjukan kos dari aktiva tersebut.

2. Kewajiban (Liabilities) Pada umumnya perusahaan mempunyai rekening kewajiban yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan rekening aktiva. Hal ini disebabkan kewajiban perusahaan dapat diringkas ke dalam kelompok yang relatif sedikit. a. Utang Dagang (Account Payable) Rekening ini merupakan lawan dari rekening piutang dagang (account receivable). Utang dagang timbul karena adanya transaksi pembelian barang dagangan secara kredit. Pembelian secara kredit mengandung pengertian bahwa antara saat penerimaan barng dengan saat pembayarannya dilakukan pada waktu yang bebeda, yaitu pembayaran dilakukan beerapa 68

waktu kemuian setelah anggal terjadinya transaksi. Jenis rekening-rekening lain yang termasuk dalam kelompok rekening ini adalah Utang Pajak (taxes Payable), Utang Gaji (Wages Payable). b. Utang Wesel atau Wesel Bayar (Notes Payable) Rekening ini merpuakan lawan dari rekeing wesel tagih atau piutang wesel. Utang wesel merupakan utang yang didukung dengan adanya surat pengakuan utang atau surat pernyataan kesediaan untuk membayar yang ditandatangani oleh si debitur itu sendiri. Jumlah utang wesel yang terjadi dicatat ke dalam rekening utang wesel.

3.

Modal

Pada perusahaan perseorangan rekening modal berdiri atas rekening modal pemilik dan rekening prive, untuk perusahaan perseroan rekening modal terdiri atas modal saham dan rekening laba ditahan. Berikut ini adalah penjelasan untuk masing-masing rekening modal baik untuk perusahaan perseorangan maupun untuk persusahaan perseroan. a. Modal (Capital) Rekening ini menunjukkan adanya klaim dari pemilik atas aktiva perusahan. Dari persamaan akuntansi dapat dilihat bahwa modal merupakan selisih lebih antara total aktiva diatas total kewajiban. Saldo rekening modal sama dengan jumlah investasi pemilik ditambah laba bersih yang diperoleh selama periode tertentu dikurangi dengan kerugian bersih yang terjadi dan dikurangi dengan adanya penarikan uang oleh pemilik (prive). Jumlah modal pemlik dicatat ke dalam rekening modal pemilik. b. Prive (Witharawals) Jika pemilik menarik kembali kas atau aktiva lainnya dari perusahaan untuk kepentingan pribadinya akan berakibat turunnya aktiva dan modal perusahaan. Jumlah yang diambil kembali dari perusahaan tampak pada rekening tersendiri yaitu rekening prive. Jika penarikan kembali kas oleh 69

pemilik dicatat langsung kedalam rekening modal, jumlah kas yang ditarik kembali oleh pemilik akan digabungkan dengan investasi pemilk.

C.

REKENING RUGI-LABA (REKENING NOMINAL)

1.

Pendapatan (Revenues)

Pendapatan adalah kenaikan modal pemilik karena adanya penjualan barang atau penyerahan jasa kepada pelanggan atau klien. Pendapatan yang diperoleh perusahaan tidak hanya berasal dari penjualan saja, akan tetapi pendapatan dapat timbul karena adanya transaksi-transaksi lain. Sebagai contoh misalnya untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan (financial) atau perbankan, pendapatan yang diperoleh adalah pendapatan bunga; untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang persewaan, pendapatan yang diperoleh adalah pendapatan sewa. Rekening yang digunakan untuk mecatat jumlah pendapatan adalah rekening pendapatan.

2.

Biaya (Expences)

Biaya operasi adalah biaya yang terjadi dalam rangka memperoleh pendapatan. Biaya ini merupakan biaya yang diperlukan untuk menunjang kegiatan utama perusahaan. Rekening biaya merupakan lawan dari rekening pendapatan, oleh karena itu rekening tersebut akan mengurangi modal pemilik. Untuk mencatat biaya yang terjadi, perusahaan harus menyediakan rekening yang terpisah untuk menampung berbagai macam jenis biaya. Sebagai contoh, biaya gaji, biaya sewa, biaya transportasi, dan biaya-biaya lainnya.

D.

PEMBUKUAN BERPASANGAN (DOUBLE ENTRY BOOKKEEPING) Akuntansi didasarkan pada pembukuan berpasangan, ini berarti bahwa setiap transaksi yang terjadi pada perusahaan paling tidak akan mempengaruhi dua rekening. Berikut ini diberikan beberapa contoh : 70

1.

Transaksi penanaman uang (investasi) ke dalam perusahaan. Transaksi tersebut di dalam akuntansi transaksi akan menaikan rekening kas dan menaikan rekening modal.

2.

Transaksi pembelian bahan perlengkapan secara tunai. Transaksi tersebut berakibat turunnya rekening kas dan naiknya rekening sediaan bahan habis pakai kantor.

3.

Transaksi pembelian bahan perlengkapan secara kredit. Transaksi ini akan mengakibatkan naiknya rekening sedian bahan habis pakai kantor dan naiknya rekening utang dagang.

4.

Transaksi pelunasan utang dagang akan mengakibatkan berkurangnya rekening kas dan berkurangnya rekening utang dagang.

E.

DAFTAR REKENING (CHART OF ACCOUNT) Daftar rekening biasanya merupakan susunan rekening berdasarkan subklasifikasi dan kelompok sesuai dengan penyajiannya di dalam laporan keuangan. Biasanya laporan keuangan yang dipakai sebagai dasar pembentukan dan penyusunan rekening-rekening buku besar adalah neraca dan laporan rugilaba. Rekening-rekening dan rekening rugi-laba sering disebut juga rekening nominal. Umumnya jenis dan susunan informasi yang disajikan dalam neraca dan laporan rugi-laba untuk jenis usaha tertentu telah mengikuti jenis dan susunan standar yang lazim dan berlaku pada perusahaan tersebut. Dan untuk memudahkan dalam penyusunan laporan keuangan biasanya rekening-rekening tersebut diberikan nomor kode yang disebut kode rekening. Kode rekening merupakan suatu framework yang dapat menggunakan angka atau huruf atau kombinasi diantara keduanya untuk member tanda terhadap klasifikasi yang sebelumnya telah dibuat. Sebagai contoh misalnya, semua rekening baik rekening ceraca maupun rekening-rekening laporan rugi laba menggunakan kode tiga digit. Untuk rekening-rekening aktiva dimulai dengan angka 100 sampai 199, rekeningrekening kewajiban (liabilities) dimulai dari angka 200 sampai dengan 299, 71

rekening modal dimulai dari angka 300 sampai dengan 399, rekening pendapatan dimulai dari angka 400 sampai dengan 499 dan rekening-rekening biaya dimulai dari angka 500 sampai dengan 599. Berikut ini diberikan contoh rekeningrekening laopran keuangan berikut ini kode rekeningnya.

REKENING-REKENING NERACA Judul Rekening Aktiva Kas Piutang Dagang Perskot Asuransi Sediaan Bahan Habis Pakai Kantor Tanah Bangunan Akumulasi Penyusunan Bangunan Peralatan Kantor Akumulasi Penyusutan Peralatan Kantor Kewajiban Utang Dagang Utang Gaji Utang Komisi Utang Bunga Utang Wesel Modal Pemilik Modal Pemilik 300 200 210 215 216 220 100 104 110 111 150 160 161 170 171 Kode Rekening

REKENING-REKENING LAPORAN RUGI LABA Judul Rekening Pendapatan Pendapatan Penjualan 400 72 Kode Rekening

Pendapatan Jasa Pendapatan Komisi Pendapatan Bunga Biaya-biaya Biaya Gaji Biaya Iklan Biaya Bunga Biaya Asuransi Biaya Perlengkapan Kantor (office supplies) Biaya Penyusutan Bangunan Biaya Penyusutan Peralatan Kantor

401 402 403

500 510 520 530

540 545 550

F.

PENCATATAN TRANSAKSI KE DALAM JURNAL Di dalam sistem akuntansi manual, transaksi dianalisis dan dicatat pertama kali ke dalam suatu catatan yang dinamakan jurnal sebelum dimasukkan ke dalam rekening buku besar secar individual. Oleh karena itu, jurnal merupakan catatan pertama (original book entry) di dalam proses akuntansi. Meskipun transaksi-transaksi yang terjadi dapat langsung dimasukkan kedalam rekening buku besar, akan lebih tepat apabila transaks terlebih dahulu dicatat ke dalam jurnal, baru kemudian jumlah debit dan kreditnya ditransfer ke rekening buku besar yang sesuai. Jurnal menyediakan satu ruangan yang lengkap untuk mencatat semua transaksi yang terjadi secara kronologi (urut waktu terjadinya). Di dalam jurnal terdapat nama dan jumlah uang dari masing-masing rekening atau rekeningrekening yang didebitkan atau dikreditkan. Oleh karena itu dengan jurnal memungkinkan untuk mereview seluruh transaksi-transaksi penting perusahaan. Sejak suatu transaksi secara individual dicatat ke dalam satu atau lebih rekening buku besar. Jumlah jurnal dan dari setiap macam bentuk untuk perusahaan satu dan perusahaan lain tergantung dari sifat kegiatan perusahaan dan frekuensi serta jenis 73

transaksi. Di dalam bab ini diuraikan mengenai penggunaan jurnal umum ( general jurnal) atau sering disebut juga dengan jurnal dua kolom (two column journal), dikatakan demikian karena jurnal tersebut berisikan dua kolom untuk mencatat jumlah uang dari suatu transaksi. Bentuk standar jurnal umum dan langkah-langkah pencatatan transaksi kedalam jurnal sebagaiman yang diuraikan dibawah ini. 1. Identifikasi transaksi dari dokumen sumber, seperti misalnya dokumen slip setoran bank, faktur, surat order pembelian. 2. Memisahkan rekening-rekening yang dipengaruhi oleh transaksi yang terjadi dan mengolong-golongkan berdasarkan jenisnya (aktiva, kewajiban, atau modal pemilik). 3. Menentukan apakah transaksi yang terjadi menyebabkan kanaikan atau turunnya masing-masing rekening. 4. Dari peraturan pendebitan dan pengkreditan tentukan apakah transaksi yang terjadi harus dicatat di debit atau di kredit. 5. Mencatat transaksi berikut penjelasannya ke dalam jurnal, dengan urutan dicatat di sebelah debit terlebih dahulu baru kemudian dicatat di sebelah kredit.

G.

NERACA PERCOBAAN (TRIAL BALANCE) Salah satu aspek adanya sistem pembukaan berpasangan adalah bahwa untuk setiap transaksi jumlah debit dan jumlah kredit dalam rekening harus selalu sama. Neraca percobaan merupakan daftar seluruh saldo rekening yang dimiliki oleh perusahaan. Neraca percobaan membantu untuk menguji kebenaran saldosaldo rekening dengan melihat apakah total debit sama dengan total kredit dan juga mempermudah penyusunan laporan keuangan. Dan apabila total debit dan todal kredit di dalam neraca percoban tidak sama, sudah dapat dipastikan ada kesalahan di dalam pencatatan transaksi.

74

1.

Proses Penyusunan Neraca Percobaan

Untuk menguji kebenaran dan kesamaan total debit dan total kredit di dalam rekening buku besar, nerca percoban dapat disusun setiap saat. Langkahlangkah penyusunan neraca percobaan adalah sebagai berikut: 1. Tentukan jumlah saldo masing-masing kolom debit maupun kolom kredit di dalam rekening buku besar. 2. Tulislah hasil penjumlahan pad kolom yang sesuai dalam rekening yang bersangkutan. 3. Hitunglah saldo semua rekening buku besar dengan cara mencari selisih jumlah kolom debit dan jumlah kolom kredit. 4. Susunlah neraca percobaan dan masukkan semua nama rekening buku besar beserta dengan saldonya.

2.

Neraca Percobaan sebagai Alat Pengecekan

Perlu diketahui bahwa neraca percobaan tidak menjamin sepenuhnya kebenaran buku besar. Neraca percoban hanya dapat menunjukan bahwa total debit sama dengan total kredit. Apabila total debit tidak sama dengan total kredit, kemungkinan disebabkan oleh salah satu kesalahan berikut ini: 1. Kesalahan didalam menyusun neraca percobaan, seperti: a. b. Adanya kesalahan menjumlah pada salah satu kolom neraca percobaan. Adanya kesalahan mencatat saldo rekening buku besar ke dalam neraca percobaan. c. Saldo debit salah dicatat sebagai saldo kredit di neraca percobaan atau sebaliknya dan saldo rekening buku besar yang seharusnya dicatat akan tetapi tidak dicatat sama sekali. 2. Kesalahan dalam menentukan saldo rekening, misalnya: a. b. Adanya kesalahan dalam menghitung besarnya saldo rekening. Adanya kesalahan dalam memasukkan saldo rekening ke kolom yang salah pada neraca percobaan. 3. Kesalahan dalam mencatat transaksi di dalam buku besar, seperti: 75

a. b.

Adanya kesalahan mencatat jumlah ke dalam suatu rekening. Adanya kesalahan dalam pendebitan maupun pengkreditan transaksi tertentu di dalm rekening buku besar.

c.

Adanya suatu transaksi yang sama sekali tidk dicatat baik di debit maupun di kredit. Kesalahan-kesalahan lain dapat saja terjadi walaupun total debit dan total

kredit neraca percobaan tidak berbeda. Kesalahan tersebut dapat disebakan oleh salah satu peristiwa berikut ini: 1. 2. Transaksi yang terjadi sama sekali tidak dicatat. Adanya pencatatan jumlah yang salah, bak di debit maupun di kredit suatu transaksi. 3. 4. Mencatat transaksi yang sama lebih dari satu kali. Menggunakan rekening yang salah untuk mencatat suatu transaksi baik di debit maupun di kredit. Dari uraian diatas,diperluakan ketelitian dalam mencatat transaksi, mencatat ke dalam jurnal dan memposting ke dalam buku besar. Dan juga ketelitian di dalam menjumlahkan dan menghitung besarnya saldo rekening buku besar serta memindahkannya ke dalam neraca percobaan.

3.

Cara Menentukan Kesalahan

Untuk menentukan kesalahan di dalam rekening dapat dilakukan dengan berbagai cara: 1. 2. 3. Dengan prosedur audit, Secara kebetulan, Dengan melihat neraca percobaan. Apabila terjadi perbedaan antara total debit dengan total kredit pada neraca percobaan, perbedaan ini harus dicari terlebih dahulu sebelum mencari kesalahannya. Untuk menemukan kesalahan dapat dilakukan pemeriksanaan sebagai berikut: 76

1.

Periksa kebenaran neraca percobaan dengan menjumlahkan kembali setiap kolom.

2.

Membandingkan saldo pada neraca percobaan dengan saldo pad rekening buku besar, dan pastikan bahwa saldo tersebut sudah dicatat dengan benar dan tidak terlewatkan.

3. 4.

Hitung kembali setiap saldo rekening pada buku besar. Telusuri pencatatan dari buku besar ke pencatatan kedalam jurnal, kemudian setelah diperiksa berilah tanda sebagai bukti bahwa catatan tersebut sudah diperiksa. Apabila tidak dijumpai kesalahan, periksa kembali apakah ada catatan yang belum diberi tanda.

5.

Periksalah apakah jumlah debit dan jumlah kredit pada jurnal sudah benar.

H.

RINCIAN JURNAL DAN BUKU BESAR Kenyataannya di dalam praktik, pada jurnal dan buku besar disediakan satu kolom referensi sebagai bukti apakah data yang ad dalam jurnal sudah di posting ke rekening buku besar melalui catatan akuntansi.

1.

Jurnal.

Format jurnal pada gambar 2 – 7 bagian A sering digunakan oleh akuntan di dalam praktik. Bagian paling aas tengah digunakan, untuk menuliskan nama jurnal dan bagian atas sebelah kanan digunakan untuk menuliskan nama kolom sebagai berikut : 1. Tanggal, merupakan sesuatu yang sangat penting, karena tanggal

memeberikan informasi tentang kapan transaksi terjadi. Oleh karena itu tanggal setiap terjadinya transaksi cukup dicatat satu kali saja pada saat mencatat jurnal yang pertama kali atau pada saat pergantian tahun misalnya ada pergantian tahun, semula tahun 19X1 kemudian karena berlalunya waktu tahun tersebut harus berubah menjadi 19X2. Juga untuk penulisan bulan terjadinya transaksi cukup sekali saja, tidak perlu di ulang setiap kali terjadi transaksi. 77

2.

Nama rekening dan uraian, kolom kedua paling atas dari jurnal berisikan nama rekening yang harus dituliskan disertai dengan uraiannya.

3.

Posting reference, biasanya disingkat dengan Post. Ref. Kolom ini memudahkan seorang akuntan untuk memeriksa kebenaran posting dari jurnal ke buku besar.

4.

Kolom debit, kolom ini berisikan jumlah yang didebitkan akibat adanya suatu transaksi.

5.

Kolom kredit, menunjukan jumlah yang harus dikreditkan.

2.

Buku Besar.

Format buku besar pada gambar 2 – 7 bagian B dalam bentuk rekening T. setiap mempunyai halaman sendiri didalam buku besar. Sebagai contoh adalah rekening kas perusahan Globalindo. Rekening tersebut menggunakan bentuk dasar dari rekening T. Nama rekening Nampak pada bagian atas tengah dari rekening tersebut dan nomor (kode) rekening terdapat pada sudut kanan atas. Masing-masing rekening mempunyai nomor rekening tersendiri. Judul dari masing-masing kolom pada rekening buku besar dapat diidentifikasikan sebagi berikut: 1. 2. Tanggal. Kolom uraian atau keterangan. Kolom ini berisikan berbagai macm catatan khusus. 3. Kolom refrensi jurnal (jurnal reference). Digunakan untuk mengetahui sumber data jurnal yang diposting kedalam buku besar. 4. 5. Kolom debit digunakan untuk mencatat jumlah yang harus didebitkan. Kolom kredit digunakan untuk mencatat jumlah yang harus dikreditkan.

78

BAB III PENUTUP

E.

KESIMPULAN Dari pembahasan makalah ini, kita dapat mengambil suatu kesimpulan teori akuntansi merupakan penalaran logis dalam bentuk seperangkat prinsip luas yang memberikan kerangka dan acuan umum yang dapat digunakan untuk menilai praktek akuntansi. Teori akuntansi dapat dikelompokkan berdasarkan tingkatan yaitu teori sintaktis, interpretational, dan teori perilaku. Sedangkan menurut dasar pemikiran, dikelompokan menjadi deduktif dan induktif.

F.

SARAN Di dalam perguruan tinggi, hal yang dikaji berkaitan dengan akuntansi tidak cukup mencakup kajian akuntansi secara praktik namun juga secara teori, perguruan tinggi memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan akuntansi secara teori. Sebagai agen pengembangan dan perubahan, perguruan tinggi harus mampu untuk mengembangkan teori-teori yang telah ada agar akuntansi agar dapat berkembang menjadi lebih baik.

79

DAFTAR PUSTAKA

Belkaoui, Ahmed Riahi. (2001). Teori Akuntansi. Edisi Keempat. Jakarta: Salemba Empat. Hendriksen. (2000). Accounting Theory. 9th Edition. www.google.com

80

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->