P. 1
Panduan Penulisan Butir Soal

Panduan Penulisan Butir Soal

|Views: 551|Likes:
Published by Ranu Stath

More info:

Published by: Ranu Stath on Mar 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2014

pdf

text

original

Penulisan Butir Soal

I. PENDAHULUAN
Latar Belakang Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa salah satu tugas Direktorat Pembinaan SMA - Subdirektorat Pembelajaran adalah melakukan penyiapan bahan kebijakan, standar, kriteria, dan pedoman serta pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum. Lebih lanjut dijelaskan dalam Permendiknas Nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran – Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas antara lain melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum. Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan membawa implikasi terhadap sistem dan penyelenggaraan pendidikan termasuk pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Kebijakan pemerintah tersebut mengamanatkan kepada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah untuk mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Pada kenyataannya dalam melaksanakan KTSP termasuk sistem penilaiannya, banyak pendidik yang masih mengalami kesulitan untuk menyusun tes dan mengembangkan butir soal yang valid dan reliabel. Oleh karena itu, Direktorat Pembinaan SMA membuat berbagai panduan pelaksanaan KTSP yang salah satu di antaranya adalah panduan penyusunan butir soal. Tujuan Tujuan penyusunan panduan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru khususnya dalam penulisan butir soal. Setelah mempelajari panduan ini diharapkan para guru dapat menyusun kisi-kisi dengan benar dan mengemabngkan butir soal yang valid dan reliabel. Ruang Lingkup Ruang lingkup yang dibahas dalam panduan ini meliputi penilaian berbasis kompetensi, teknik, alat penilaian dan prosedur pengembangan tes, penyusunan kisi-kisi, dan penyusunan butir soal.

1

II. PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI
A. Pengertian Penilaian berbasis kompetensi merupakan teknik evaluasi yang harus dilakukan guru dalam pembelajaran di sekolah. Teknik dan pelaksanaannya diatur di dalam: Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar di dalam Standar Isi menjadi fokus perhatian utama dalam penilaian. B. Bentuk dan Proses Penilaian Untuk mengetahui tingkat pencapaian kompetensi, guru dapat melakukan penilaian melalui tes dan non tes. Tes meliputi tes lisan, tertulis (bentuk uraian, pilihan ganda, jawaban singkat, isian, menjodohkan, benar-salah), dan tes perbuatan yang meliputi: kinerja (performance), penugasan (projek) dan hasil karya (produk). Penilaian non-tes contohnya seperti penilaian sikap, minat, motivasi, penilaian diri, portfolio, life skill. Tes perbuatan dan penilaian non tes dilakukan melalui pengamatan (observasi). Langkah-langkah pengembangan tes meliputi (1) menentukan tujuan penilaian, (2) menentukan kompetensi yang diujikan (3) menentukan materi penting pendukung kompetensi (urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian), (4) menentukan jenis tes yang tepat (tertulis, lisan, perbuatan), (5) menyusun kisi-kisi, butir soal, dan pedoman penskoran, (6) melakukan telaah butir soal. Penilaian non tes dilakukan melalui pengamatan dengan langkah-langkah (1) menentukan tujuan penilaian, (2) menentukan kompetensi yang diujikan, (3) menentukan aspek yang diukur, (4) menyusun tabel pengamatan dan pedoman penskorannya, (5) melakukan penelaahan. C. Kriteria Bahan Ulangan/Ujian Bahan ulangan/ujian yang akan digunakan hendaknya menenuhi dua kriteria dasar berikut ini. 1. adanya kesesuaian materi yang diujikan dan target kompetensi yang harus dicapai melalui materi yang diajarkan. Hal ini dapat memberikan informasi

Penulisan Butir Soal

tentang siapa atau peserta didik mana yang telah mencapai tingkatan pengetahuan tertentu yang disyaratkan sesuai dengan target kompetensi dalam silabus/kurikulum dan dapat memberikan informasi mengenai apa dan seberapa banyak materi yang telah dipelajari peserta didik. Berdasarkan ilmu pengukuran pendidikan, ujian yang bahannya tidak sesuai dengan target kompetensi yang harus dicapai bukan saja kurang memberikan informasi tentang hasil belajar seorang peserta didik, melainkan juga tidak menghasilkan umpan balik bagi penyempurnaan proses belajar-mengajar. 2. bahan ulangan/ujian hendaknya menghasilkan informasi atau data yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan standar sekolah, standar wilayah, atau standar nasional melalui penilaian hasil proses belajarmengajar. D. Soal yang Bermutu Bahan ujian atau soal yang bermutu dapat membantu pendidik meningkatkan pembelajaran dan memberikan informasi dengan tepat tentang peserta didik mana yang belum atau sudah mencapai kompetensi. Salah satu ciri soal yang bermutu adalah bahwa soal itu dapat membedakan setiap kemampuan peserta didik. Semakin tinggi kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran, semakin tinggi pula peluang menjawab benar soal atau mencapai kompetensi yang ditetapkan. Makin rendah kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran, makin kecil pula peluang menjawab benar soal untuk mengukur pencapaian kompetensi yang ditetapkan. Syarat soal yang bermutu adalah bahwa soal harus sahih (valid), dan handal. Sahih maksudnya bahwa setiap alat ukur hanya mengukur satu dimensi/aspek saja. Mistar hanya mengukur panjang, timbangan hanya mengukur berat, bahan ujian atau soal PKn hanya mengukur materi pembelajaran PKn bukan mengukur keterampilan/kemampuan materi yang lain. Handal maksudnya bahwa setiap alat ukur harus dapat memberikan hasil pengukuran yang tepat, cermat, dan ajeg. Untuk dapat menghasilkan soal yang sahih dan handal, penulis soal harus merumuskan kisi-kisi dan menulis soal berdasarkan kaidah penulisan soal yang baik (kaidah penulisan soal bentuk objektif/pilihan ganda, uraian, atau praktik). Linn dan Gronlund (1995: 47) menyatakan bahwa tes yang baik harus memenuhi tiga karakteristik, yaitu: validitas, reliabilitas, dan usabilitas. Validitas artinya ketepatan interpretasi hasil prosedur pengukuran, reliabilitas artinya konsistensi hasil pengukuran, dan usabilitas artinya praktis prosedurnya. Di samping itu, Cohen dkk. (1992: 28) juga menyatakan bahwa tes yang baik adalah tes yang valid artinya mengukur apa yang hendak diukur. Nitko (1996 : 36) menyatakan bahwa validitas berhubungan dengan interpretasi atau makna dan penggunaan hasil pengukuran peserta didik. Messick (1993: 13) menjelaskan bahwa validitas tes merupakan suatu integrasi

3

1985: 73). yaitu diberikan dua tes paralel pada kelompok yang sama dengan interval waktu. Linn dan Gronlund (1995 : 50) menyatakan hahwa valilitas terdiri dari: (1) konten. yaitu ketepatan materi yang diukur dalam tes. Pernyataan ini didukung oleh Cohen dkk. maka tesnya adalah akurat. Reliabilitas yang berhubungan dengan peserta didik dipengaruhi oleh faktor: (1) heterogenitas kelompok. tujuannya adalah pengukuran konsistensi internal. Linn dan Gronlund menyatakan bahwa metode estimasi dapat dilakukan dengan mempergunakan: (1) metode test-retest. Messick (1993: 16) menyatakan bahwa validitas secara tradisional terdiri dari: (1) validitas isi. Sedangkan menurut Oosterhof (190 : 23) yang mengutip berdasarkan "Standards for Educational and Psychological Testing. (2) test-criterion relationship. yaitu ketepatan hasil pengukuran dengan dua alat ukur lainnya yang dilakukan secara serentak. (5) metode Kuder-Richardson dan koefisien Alfa. (4) validitas serentak (concurrent). (2) validitas criterion-related. dan (4) variabilitas skor. yaitu ketepatan penggunaan hasil pengukuran. Adapun validitas dalam model Rasch adalah sesuai atau fit dengan model (Hambleton dan Swaminathan. (3) valitidas prediktif. Di samping validitas. (3) metode test-retest dengan equivalen form. (2) metode equivalent form.pertimbangan evaluatif derajat keterangan empiris yang mendasarkan pemikiran teoritis yang mendukung ketepatan dan kesimpulan berdasarkan pada skor tes. (Ebel dan Frisbie (1991 : 76). dan gereralizable terhadap kesempatan testing dan instrumen tes yang sama. informasi tentang reliabilitas tes sangat diperlukan. Sedangkan faktor yang mempengaruhi reliabilitas yang berhubungan dengan administrasi adalah batas waktu dan kesempatan menyontek (Ebel dan Frisbie. yaitu ketepatan konstruksi teoretis yang mendasari disusunnya tes. (3) homogenitas karakteristik butir. yaitu diberikan tes sekali kemudian skor total tes dihitung . tujuannya adalah pengukuran stabilitas. (4) metode split-half. Nitko (1999 : 62) dan Popham (1995 : 21) menyatakan bahwa reliabilitas berhubungan dengan konsistensi hasil pengukuran. dan (3) motivasi peserta didik. reproducible. tujuannya adalah pengukuran menjadi ekuivalen. yaitu diberikan tes sekali. Faktor yang mempengaruhi reliabilitas yang berhubungan dengan tes adalah: (1) banyak butir. (2) homogenitas materi tes. dan (4) consequences. (3) konstruk. yaitu diberikan tes yang sama dua kali pada kelompok yang sama dengan interval waktu. (2) pengalaman peserta didik mengikuti tes. dan (3) construction. (5) validitas konstruk. yaitu bahwa reliabilitas merupakan persamaan dependabilitas atau konsistensi (Cohen dkk : 192 : 132) karena tes yang memiliki konsistensi/reliabilitas tinggi. tujuannya adalah pengukuran stabilitas dan ekuivalensi. serta Popham (1995 : 43) bahwa tipe validitas adalah validitas: (1) content. kemudian skor pada butir yang ganjil dan genap dkorelasikan dengan menggunakan rumus Spearman-Brown. 1985" yang didukung oleh Ebel dan Frisbie (1991 : 102-109). yaitu membandingkan tes dengan satu atau lebih variabel atau kriteria. (2) criterion. 1991: 88-93). yaitu diberikan dua tes paralel pada kelompok yang sama dan waktu yang sama. yaitu ketepatan hasil pengukuran dengan alat lain yang dilakukan kemudian.

yaitu diberikan satu set jawaban peserta didik untuk diskor/judgement oleh 2 atau lebih rater. yaitu konsistensi hasil di antara kesempatan testing yang berbeda. Kegunaan analisis butir soal di antaranya adalah: (1) dapat membantu para pengguna tes dalam evaluasi atas tes yang diterbitkan. Menurut Hambleton dan Swaminathan (1985: 236). Reliabilitas skor tes dalam teori respon butir adalah penggunaan fungsi informasi tes. Untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes perlu dilakukan analisis butir soal. pengukuran fungsi informasi tes lebih akurat bila dibandingkan dengan penggunaan reliabilitas karena: (1) bentuknya tergantung hanya pada butir-butir dalam tes. (2) sangat relevan bagi penyusunan tes informal dan lokal seperti kuis. (3) mendukung penulisan butir soal yang efektif. (2) mempunyai estimasi kesalahan pengukuran pada setiap level abilitas.Penulisan Butir Soal dengan rumus Kuder-Richardson. (6) metode inter-rater. yaitu konsistensi hasil di antara dua atau lebih tes yang berbeda. reliabilitas terdiri dari 3 jenis yaitu: (1) stabilitas. (2) format bergantian (alternate form). yaitu konsistensi melalui suatu pengukuran fungsi butir instrumen. 1997: 172). III. tujuannya adalah pengukuran konsistensi rating. Pernyataan ini didukung oleh Gustafson (1981 : 41). TEKNIK PENILAIAN DAN PROSEDUR PENGEMBANGAN TES 5 . (5) meningkatkan validitas soal dan reliabilitas (Anastasi dan Urbina. tujuannya adalah pengukuran konsistensi internal. (3) internal konsistensi. yaitu bahwa konsep reliabilitas dalam model Rasch memerankan bagian subordinate sebab model pengukuran ini diorientasikan pada estimasi kemampuan individu. Menurut Popham (1995: 22). ulangan yang disiapkan guru untuk peserta didik di kelas. (4) secara materi dapat memperbaiki tes di kelas.

perbuatan). b. yang bentuknya dibuat sedemikian rupa agar pendidik dapat menuliskan angka-angka yang diperolehnya pada tempat yang sudah disediakan. Penggunaan berbagai teknik dan alat itu harus disesuaikan dengan tujuan penilaian. sikap. Kelebihannya adalah: (1) dapat menilai kemampuan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki peserta didik. serta kepribadiannya karena dilakukan secara berhadapan langsung. Tes perbuatan Tes perbuatan yakni tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau unjuk kerja. (2) waktu pelaksanaan yang diperlukan relatif cukup lama. Teknik Penilaian Ada beberapa teknik dan alat penilaian yang dapat digunakan pendidik sebagai sarana untuk memperoleh informasi tentang keadaan belajar peserta didik. misalnya bentuk pilihan panda. (2) bagi peserta didik yang kemampuan berpikirnya relatif lambat sehingga sering mengalami kesukaran dalam memahami pernyataan soal. Tes ini memiliki kelebihan dan kelemahan. misalnya: (1) tes (tertulis. Untuk tes perbuatan yang sifatnya individual. (3) hasil tes dapat langsung diketahui peserta didik. waktu yang tersedia. Jenis tes tertulis secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: 1) tes objektif. Untuk menilai tes perbuatan pada umumnya diperlukan sebuah format pengamatan. Teknik penilaian adalah metode atau cara penilaian yang dapat digunakan guru untuk rnendapatkan informasi. Bentuk formatnya dapat disesuaikan menurut keperluan. 2) tes uraian. jawaban singkat atau isian. (2) observasi atau pengamatan. Teknik penilaian yang memungkinkan dan dapat dengan mudah digunakan oleh guru. Teknik penilaian melalui tes a. melaksanakan tugas. (3) wawancara. dan banyaknya/jumlah materi pembelajaran yang sudah disampaikan. c. sampai dengan hasil yang dicapainya. Tes tertulis Tes tertulis adalah tes yang soal-soalnya harus dijawab peserta didik dengan memberikan jawaban tertulis. sebaiknya menggunakan format pengamatan .A. Penilaian tes perbuatan dilakukan sejak peserta didik melakukan persiapan. Kelemahannya adalah (1) subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes. dan bentuk menjodohkan. sifat tugas yang dilakukan peserta didik. yang terbagi atas tes uraian objektif (penskorannya dapat dilakukan secara objektif) dan tes uraian non-objektif (penskorannya sulit dilakukan secara objektif). lisan. tes bentuk ini dapat menolong sebab peserta didik dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan yang dimaksud. 1. benar salah. Tes lisan Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik.

2. Dalam kegiatan observasi perlu disiapkan format pengamatan. Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen Teknik Penilaian • Tes tertulis Bentuk Instrumen • Tes pilihan: pilihan ganda. menjodohkan dll. • Tes isian: isian singkat dan uraian • Daftar pertanyaan • Tes identifikasi • Tes simulasi • Tes uji petik kinerja • Pekerjaan rumah • Projek • Lembar penilaian portofolio • Buku cacatan jurnal • Kuesioner/lembar penilaian diri • Lembar penilaian antarteman • Tes lisan • Tes praktik (tes kinerja) • Penugasan individual atau kelompok • Penilaian portofolio • Jurnal • Penilaian diri • Penilaian antarteman B. Format pengamatan dapat berisi: (1) perilaku-perilaku atau kemampuan yang akan dinilai. Teknik wawancara ini dapat pula digunakan sebagai alat untuk menelusuri kesukaran yang dialami peserta didik tanpa ada maksud untuk menilai. Teknik penilaian melalui wawancara Teknik wawancara pada satu segi mempunyai kesamaan arti dengan tes lisan yang telah diuraikan di atas. (2) batas waktu pengamatan. Teknik wawancara ini diperlukan pendidik untuk tujuan mengungkapkan atau menanyakan lebih lanjut halhal yang kurang jelas informasinya. Prosedur Pengembangan Tes Sebelum menentukan teknik dan alat penilaian. Untuk tes perbuatan yang dilaksanakan secara kelompok digunakan format tertentu yang sudah disesuaikan untuk keperluan pengamatan kelompok. Setiap teknik penilaian harus dibuatkan instrumen penilaian yang sesuai. Tabel berikut menyajikan teknik penilaian dan bentuk instrumen. 3. benar-salah. penulis soal perlu menetapkan 7 .Penulisan Butir Soal individual. Observasi dapat ditujukan kepada peserta didik secara perorangan atau kelompok. Teknik penilaian melalui observasi atau pengamatan Observasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan pendidik untuk mendapatkan informasi tentang peserta didik dengan cara mengamati tingkah laku dan kemampuannya selama kegiatan observasi berlangsung. Tabel 1.

Menentukan tujuan penilaian. 0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d4 6430100000000000100063500000000010000001803000000000000180300 00010000006c00000000000000000000001a0000003700000000000000000 000004b3a00002010000020454d4600000100180300001200000002000000 000000000000000000000000b0090000b40d0000d20000002901000000000 00000000000000000003534030033880400160000000c000000180000000a 0000001000000000000000000000000900000010000000e3060000e801000 0250000000c0000000e000080250000000c0000000e000080120000000c00 000001000000520000007001000001000000d2ffffff0000000000000000000 00000900100000000000004400022430061006c0069006200720069000000 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 0000000000000000000000000000000000000001e00c4321e001000000028 361e00a8331e005251ee6328361e0020331e001000000090341e000c361e0 02451ee6328361e0020331e00200000004964fb6420331e0028361e002000 0000ffffffff6c3ddb01d064fb64ffffffffffff0180ffff0180afff0180ffffffff002 e00000008000000080000503d370001000000000000002c01000025000000 372e90010000020f0502020204030204ff0200e1ffac0040090000000000000 09f01000000000000430061006c00690062007200000000002008b50370a0 ee63d6359aa54c3ddb01304f2a0154331e009c38f3641f0000000100000090 331e0090331e00e878f1641f000000b8331e006c3ddb01647600080000000 0250000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c00 000001000000180000000c000000000000025400000054000000000000000 00000001a0000003700000001000000df7b074139760741000000002c0000 00010000004c000000040000000000000000000000e3060000e8010000500 0000020001a001b00000046000000280000001c0000004744494302000000 ffffffffffffffffe3060000e90100000000000046000000140000000800000047 44494303000000250000000c0000000e000080250000000c0000000e00008 00e0000001400000000000000100000001400000004000000030108000500 00000b0200000000050000000c027500a701040000002e0118001c000000f b020400020000000000bc02000000000102022253797374656d003f00003f3 f3f3f3f3f3f3f3f3f0800000001003f3f3f3f3f00040000002d01000004000000 2d01000004000000020101001c000000fb02f5ff0000000000009001000000 000440002243616c696272690000000000000000000000000000000000000 0000000000000040000002d010100040000002d010100040000002d010100 050000000902000000020d000000320a0b0000000100040000000000a7017 50020000600040000002d010000040000002d010000030000000000 Langkah-langkah penting yang dapat dilakukan sebagai berikut. Adapun proses penentuannya secara lengkap dapat dilihat pada bagan berikut ini. atau seleksi. diagnostik. Misalnya untuk tujuan tes prestasi belajar. Tujuan penilaian sangat penting karena setiap tujuan memiliki penekanan yang berbeda-beda. 1.terlebih dahulu tujuan penilaian dan kompetensi dasar yang hendak diukur. Contoh untuk tujuan prestasi .

Materi yang telah ditentukan harus dapat diukur sesuai dengan alat ukur yang akan digunakan yaitu tes atau non-tes. misalnya satu atau dua jam. tugas individu/kelompok. Keterpakaian. 4. Untuk penggunaan tes diperlukan penentuan materi penting sebagai pendukung kompetensi dasar. yaitu materi yang diperlukan untuk mempelajari atau memahami. ulangan kenaikan kelas. hasil karya (product). Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis tes dengan menanyakan apakah materi tersebut tepat diujikan secara tertulis/lisan. maka langkah berikutnya adalah menentukan materi yang akan diujikan. 3. Menentukan jenis alat ukurnya. sehingga dalam waktu yang sangat terbatas. Bila jawabannya tepat. Penentuan Materi Penting Langkah awal yang harus dilakukan dalam menyiapkan bahan ulangan/ujian adalah menentukan kompetensi dan materi yang akan diujikan. 2. relevansi (bermanfaat terhadap mata pelajaran lain). ujian praktik. Urgensi. Penentuan materi penting dilakukan dengan memperhatikan kriteria: 1. Standar kompetensi merupakan acuan/target utama yang harus dipenuhi atau yang harus diukur melalui setiap kompetensi dasar yang ada atau melalui gabungan kompetensi dasar. yaitu tes atau non-tes atau mempergunakan keduanya.Penulisan Butir Soal belajar. yaitu materi lanjutan yang merupakan pendalaman dari satu atau lebih materi yang sudah dipelajari sebelumnya. lingkup materi/kompetensi yang ditanyakan/diukur disesuaikan seperti untuk kuis/menanyakan materi yang lalu. dan keterpakaian dalam kehidupan sehari-hari tinggi (UKRK). Oleh karena itu. Syaratnya adalah materi yang diujikan harus mempertimbangkan urgensi (wajib dikuasai peserta didik). maka materi yang bersangkutan tepat diujikan dengan bentuk soal apa. pertanyaan lisan di kelas. 3. C. Setelah menentukan kompetensi yang akan diukur. maka jenis tes yang tepat adalah tes perbuatan: kinerja (performance). setiap guru harus menentukan materi mana yang sangat penting dan penunjang. Dalam menulis soal. laporan kerja praktik/laporan praktikum. yaitu rnateri yang memiliki nilai terapan tinggi dalam 9 . mata pelajaran lain. 2. penulis soal harus memperhatikan kaidah penulisan soal. materi yang diujikan hanya menanyakan materi-materi yang sangat penting saja. ulangan semester. yaitu materi secara teoritis mutlak harus dikuasai oleh peserta didik. atau lainnya. kontinuitas (merupakan materi lanjutan). Relevansi. ulangan harian. pilihan ganda atau uraian. Menyusun kisi-kisi tes dan menulis butir soal beserta pedoman penskorannya. Memperhatikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD). penugasan (project). 4. Bila jawabannya tidak tepat. Kontinuitas. Penentuan materi yang akan diujikan sangat penting karena di dalam satu tes tidak mungkin semua materi yang telah diajarkan dapat diujikan dalam waktu yang terbatas.

.kehidupan sehari-hari.

J. R. 1. mengklasifikasikan. (4) mekanisme. menyusun.Penulisan Butir Soal III. Gronlund dan R. di antaranya seperti Benjamin S. seperti: menetapkan kriteria. (2) strategi kognitif: menghasilkan suatu pemecahan. menata/mengurutkan. mengupas atau mengurai. (7) keterampilan memadu (integreting skills). 6. J. hubungan dan pola.W. (3) informasi verbal: menyatakan sesuatu secara oral. Jenis perilaku yang dikembangkan Quellmalz adalah: (1) ingatan. Domain psikomotor yang dikembangkan Norman E. (5) sikap: kemampuan untuk memilih sesuatu. seperti: mendefinisikan. (2) menjawab. menerapkan. David Krathwohl. klasifikasi. Mazano dkk. (5) respon yang kompleks. de Maclay adalah: (1) persepsi. Gronlund dan R. (6) organisasi. Keterampilan berpikir yang dikembangkan Linn dan Gronlund adalah 11 . kesalahan. menilai. menentukan. membenarkan pembuktian. mendefinisikan. 2. (6) Evaluasi di antaranya seperti: menafsirkan. menyajikan. (5) Sintesis antaranya seperti: menghubungkan. demonstrasi. (4) keterampilan mengorganisasi. (7) karakterisasi dari nilai. memutuskan. (8) keterampilan menilai. merumuskan pertanyaan. Ranah kognitif yang dikembangkan Benjamin S. Jenis Perilaku yang Dapat Diukur Dalam menentukan perilaku yang akan diukur. Gagne adalah: (1) kemampuan intelektual: diskriminasi. identifikasi/konsep yang nyata. seperti: membandingkan. seperti: meringkas. adalah: (1) keterampilan memusat (focusing skills). (2) kesiapan. seperti: menyimpulkan. memberi contoh. (3) perbandingan. seperti: merekam. 4. penulis soal dapat mengambil atau memperhatikan jenis perilaku yang telah dikembangkan oleh para ahli pendidikan. (4) keterampilan motorist melaksanakan/menjalankan sesuatu. (5) evaluasi. de Maclay. mengembangkan. mengorganisasikan. Mazano dkk. (3) menilai. merumuskan tujuan. mengkategorikan. Gagne. PENYUSUNAN KISI-KISI DAN BUTIR SOAL A. mengingat. mengelompokkan. (2) Pemahaman di antaranya seperti: membedakan.W. Bloom adalah: (1) Ingatan di antaranya seperti: menyebutkan. menganalisis. seperti: mengamati. (3) respon terpimpin. (6) keterampilan menghasilkan keterampilan baru. (2) analisis. (2) keterampilan mengumpulkan informasi. generalisasi/menghasilkan sesuatu. menyusun kembali. Bloom. Jenis perilaku yang dikembangkan R. mengambil kesimpulan. (5) keterampilan menganalisis. (4) penyimpulan. seperti mengenali: sifat dari komponen. (4) Analisis di antaranya seperti: membandingkan. (3) Penerapan di antaranya seperti: menggunakan. Norman E. memperkirakan. Quellmalz. 7. (3) keterampilan mengingat. Jenis perilaku yang dikembangkan Robert M. mengubah. mengingat kembali. Linn dan Gronlund. memprediksi. 3. ide pokok. Domain afektif yang dikembangkan David Krathwohl adalah: (1) menerima. Robert M. menunjukkan.

Apa persamaan dan perbedaan antara ... Analisis .....Tuliskan satu rencana untuk pembuktian .. Membandingkan ..Tulislah sebuah pernyataan yang dapat menjelaskan peristiwa berikut ...Ringkaslah dengan tepat isi … e..seperti berikut.Jelaskan mengapa kamu setuju/tidak setuju dengan pernyataan tentang ..Apa akibat … c.....Apakah kelebihan dan kelemahan . h. mengapa? .. a.Manakah pilihan berikut yang kamu pilih. ... Menyimpulkan ... ..... d. Setiap kompetensi di dalam kurikulum memiliki tingkat keluasan dan kedalaman kemampuan yang berbeda. dengan menggunakan pedoman.. tentang apa yang akan terjadi bila ...Apa reaksi A terhadap … g. .. . B.. Semakin tinggi . maka kegiatan berikutnya adalah menentukan secara tepat perilaku yang akan diukur.. l. f. Penentuan Perilaku yang Akan Diukur Setelah kegiatan penentuan materi yang akan ditanyakan selesai dikerjakan.... Perilaku yang akan diukur. b.Bandingkan dua cara berikut tentang .Berdasarkan kriteria . Meringkas . . . Mengelompokkan . pada Kurikulum Berbasis Kompetensi tergantung pada tuntutan kompetensi.Berdasarkan . Sintesis . .....Tuliskan sebuah laporan .....Susunlah beberapa kesimpulan yang berasal dari data .Tuliskan .. Hubungan sebab-akibat .Daftar dan beri alasan singkat tentang ciri utama ... Berpendapat (inferring) . .... Memberi alasan (justifying) . tuliskanlah evaluasi tentang.. baik standar kompetensi maupun kompetensi dasarnya..Selesaikan hal berikut dengan menggunakan kaidah ..Tuliskan pernyataan penting yang termasuk . apa yang akan terjadi bila ...Lengkapilah cerita . .Apakah hal berikut memiliki ... Evaluasi ..Kelompokkan hal berikut berdasarkan .Apa penyebab utama .. Menciptakan .Tuliskan beberapa cara sesuai dengan ide Anda tentang . ... j.Manakah penulisan yang salah pada paragraf . k. dan. i... Menerapkan ..

......2 . .. guru dapat mendaftar terlebih dahulu semua perilaku yang dapat diukur................Penulisan Butir Soal kemampuan/perilaku yang diukur sesuai dengan target kompetensi....... Contoh penyebaran butir soal untuk penilaian akhir semester ganjil No Kompetensi Dasar 1... .. .........3 .... : 1.... ………………… 2....... perhatikan contoh penilaian akhir semester berikut ini... dipilih satu perilaku yang tepat diujikan kepada peserta didik..3 . 2. 1. 2.2 ...... FORMAT KISI-KISI PENULISAN SOAL Jenis sekolah Mata pelajaran Kurikulum Alokasi waktu : : : : ……………………… ……………………… ……………………… ……………………… Jumlah soal Bentuk soal/tes Penyusun : ……………………… : ......2 ...... Bila ingin mengukur perilaku yang lebih tinggi..... . yaitu perilaku yang sesuai dengan kemampuan peserta didik di kelas...1 ....1 ... .... Dari susunan perilaku itu. Kisi-kisi dapat berbentuk format atau matriks seperti contoh berikut ini........ C........... maka semakin sulit soal dan semakin sulit pula menyusunnya.. Penentuan dan Penyebaran Soal Sebelum menyusun kisi-kisi dan butir soal perlu ditentukan jumlah soal setiap kompetensi dasar dan penyebaran soalnya.... 3....... perilaku yang akan diukur dapat dilihat pada "perilaku yang terdapat pada rumusan kompetensi dasar atau pada standar kompetensi"......... 3... .. ………………… 13 ..... Jumlah soal tes tulis PG 6 3 4 5 8 6 -8 40 Uraian -1 -1 1 -2 -5 Jumlah soal Praktik --1 --1 --2 1 2 3 4 5 6 7 8 D...... 1...... Dalam Standar Isi.. 3..... ..... berdasarkan rumusan kompetensinya (baik standar kompetensi maupun kompetensi dasar).. Penyusunan Kisi-kisi Kisi-kisi (test blue-print atau table of specification) merupakan deskripsi kompetensi dan materi yang akan diujikan....... Untuk lebih jelasnya. mulai dari perilaku yang sangat sederhana/mudah sampai dengan perilaku yang paling sulit/tinggi........ Jumlah soal Materi .......1 ............. Tujuan penyusunan kisi-kisi adalah untuk menentukan ruang lingkup dan sebagai petunjuk dalam menulis soal.......

3. 2. misalnya berupa sebuah kalimat. kecuali pada kolom 6. Perumusan Indikator Soal Indikator dalam kisi-kisi merupakan pedoman dalam merumuskan soal yang dikehendaki. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Kls/ smt Materi pokok Indikator soal Nomor soal Keterangan: Isi pada kolom 2. 2.N o. Indikator: Diperdengarkan sebuah pernyataan pendek dengan topik "belajar mandiri". indikator pembelajaran. Model yang kedua ini digunakan untuk soal yang tidak disertai dengan dasar pertanyaan (stimulus). guru harus memperhatikan materi yang akan diujikan. atau lainnya. peserta didik dapat menentukan dengan . denah. (1) Contoh model pertama untuk soal menyimak pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. grafik. menggunakan satu kata kerja operasional untuk soal objektif. dapat dibuatkan soal atau pengecohnya (untuk soal pilihan ganda). dan satu atau lebih kata kerja operasional untuk soal uraian/tes perbuatan. menggunakan kata kerja operasional (perilaku khusus) yang tepat. gambar. Untuk merumuskan indikator dengan tepat. Kegiatan perumusan indikator soal merupakan bagian dari kegiatan penyusunan kisi-kisi. 3. 3. Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuatkan soalnya. dan 5 adalah harus sesuai dengan pernyataan yang ada di dalam silabus/kurikulum. 4. Kisi-kisi yang baik harus memenuhi persyaratan berikut ini. Penulis kisi-kisi tidak diperkenankan mengarang sendiri. Kisi-kisi harus dapat mewakili isi silabus/kurikulum atau materi yang telah diajarkan secara tepat dan proporsional. sedangkan model yang kedua adalah menempatkan peserta didik dan perilaku yang harus ditampilkan di awal kalimat. kasus. dan standar kompetensi. C = condition (kondisi yang diberikan). Penulisan indikator yang lengkap mencakup A = audience (peserta didik) . Model pertama adalah menempatkan kondisinya di awal kalimat. 1. E. Model pertama ini digunakan untuk soal yang disertai dengan dasar pernyataan (stimulus). B = behaviour (perilaku yang harus ditampilkan). dan D = degree (tingkatan yang diharapkan). paragraf. Indikator yang baik dirumuskan secara singkat dan jelas. Komponen-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami. kompetensi dasar. Ada dua model penulisan indikator. Syarat indikator yang baik: 1.

tetapi dia datang pukul 8.00 c. (5) menyusun kisi-kisinya.. Hari masuk Kelas terlambat siang hari ini. dan (12) perbaikan soal berdasarkan hasil analisis. sangat tergantung pada perilaku/kompetensi yang akan diukur.b. Soal : (Soal dibacakan atau diperdengarkan hanya satu kali. Rp125. Penggunaan bentuk soal yang tepat dalam tes tertulis. (9) menyusun pedoman penskorannya (10) uji coba butir soal. Hari masuk kelas tepat waktu pagi ini. Soalnya adalah: "Hari harus masuk kelas pukul 7. Langkah-langkah Penyusunan Butir Soal Agar soal yang disiapkan oleh setiap guru menghasilkan bahan ulangan/ujian yang sahih dan handal. b. (2) menentukan kompetensi yang akan diujikan. Soal : Penulisan nilai uang yang benar adalah . yaitu: (1) menentukan tujuan tes. Rp 125. Penyusunan Butir Soal Tes Tertulis Penulisan butir soal tes tertulis merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam penyiapan bahan ulangan/ujian. RP 125. maka harus dilakukan langkah-langkah berikut. G. dan bentuk penilaiannya (tes tertulis: bentuk pilihan ganda..") Lembar tes hanya berisi pilihan seperti berikut: a.Penulisan Butir Soal tepat pernyataan yang sama artinya. (8) merakit soal menjadi perangkat tes.00. materi... Setiap butir soal yang ditulis harus berdasarkan rumusan indikator soal yang sudah disusun dalam kisi-kisi dan berdasarkan kaidah penulisan soal bentuk obyektif dan kaidah penulisan soal uraian. Rp125 d. (7) memvalidasi butir soal atau menelaah secara kualitatif. dan tes praktik). Hari masuk Kelas terlambat satu jam hari ini Kunci: d (2) Contoh model kedua Indikator: Peserta didik dapat menentukan dengan tepat penulisan tanda baca pada nilai uang. Kunci: b F. d. (11) analisis butir soal secara kuantitatif dari data empirik hasil uji coba. kemudian peserta didik memilih dengan tepat satu pernyataan yang sama artinya. a. uraian. Hari masuk kelas terlambat dua jam pagi ini c. (3) menentukan materi yang diujikan.00 pagi hari. (6) menulis butir soal. (4) menetapkan penyebaran butir soal berdasarkan kompetensi. Ada kompetensi yang lebih tepat diukur/ditanyakan dengan menggunakan tes tertulis dengan bentuk soal 15 .

uraian. maka skala yang disusun disesuaikan dengan tingkatan kemampuan peserta didik yang akan diuji. Berdasarkan metode penskorannya. sedangkan untuk soal uraian di antaranya adalah sulit menyusun pedoman penskorannya. H. Penulisan Soal Bentuk Uraian Menulis soal bentuk uraian diperlukan ketepatan dan kelengkapan dalam merumuskannya. yaitu menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan secara tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. yaitu uraian objektif dan uraian non-objektif. Keunggulan soal bentuk pilihan ganda di antaranya adalah dapat mengukur kemampuan/perilaku secara objektif. Bentuk tes tertulis pilihan ganda maupun uraian memiliki kelebihan dan kelemahan satu sama lain. ada pula kompetensi yang lebih tepat diukur dengan menggunakan tes tertulis dengan bentuk soal objektif. Kelemahan soal bentuk pilihan ganda di antaranya adalah sulit menyusun pengecohnya. Untuk tingkat SMA. maka dalam menentukan perilaku yang diukur dibuatkan skala. Adapun kelengkapan yang dimaksud adalah kelengkapan perilaku yang diukur yang digunakan untuk menetapkan aspek yang dinilai dalam pedoman penskorannya. bentuk uraian diklasifikasikan menjadi 2. sehingga penskorannya sukar untuk dilakukan secara objektif. sedangkan untuk soal uraian di antaranya adalah dapat mengukur kemampuan mengorganisasikan gagasan dan menyatakan jawabannya menurut kata-kata atau kalimat sendiri. sehingga penskorannya dapat dilakukan secara objektif. misalnya dapat disusun skala seperti berikut. Ketepatan yang dimaksud adalah bahwa materi yang ditanyakan tepat diujikan dengan bentuk uraian. 0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d46430 1000000000001000635000000000100000018030000000000001803000001000 0006c00000000000000000000001a0000003700000000000000000000004b3a0 0002010000020454d46000001001803000012000000020000000000000000000 00000000000b0090000b40d0000d200000029010000000000000000000000000 0003534030033880400160000000c000000180000000a0000001000000000000 000000000000900000010000000e3060000e8010000250000000c0000000e000 080250000000c0000000e000080120000000c000000010000005200000070010 . Contoh misalnya perilaku yang diukur adalah "kesesuaian isi dengan tuntutan pertanyaan". Penulis soal harus dapat merumuskan setepat-tepatnya pedoman penskorannya karena kelemahan bentuk soal uraian terletak pada tingkat subyektivitas penskorannya. Bentuk uraian objektif adalah suatu soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep tertentu. Bentuk uraian non-objektif adalah suatu soal yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep menurut pendapat masingmasing peserta didik.0). Hal yang paling sulit dalam penulisan soal bentuk uraian adalah menyusun pedoman penskorannya. Artinya perilaku yang diukur dapat diskor secara dikotomus (benar salah atau 1 . Untuk mengurangi tingkat kesubjektifan dalam pemberian skor ini.

Penulisan Butir Soal

00001000000d2ffffff00000000000000000000000090010000000000000440002 2430061006c00690062007200690000000000000000000000000000000000000 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 000001e00c4321e001000000028361e00a8331e005251ee6328361e0020331e0 01000000090341e000c361e002451ee6328361e0020331e00200000004964fb6 420331e0028361e0020000000ffffffff6c3ddb01d064fb64ffffffffffff0180ffff01 80afff0180ffffffff002e00000008000000080000503d370001000000000000002c 01000025000000372e90010000020f0502020204030204ff0200e1ffac00400900 0000000000009f01000000000000430061006c00690062007200000000002008b 50370a0ee63d6359aa54c3ddb01304f2a0154331e009c38f3641f000000010000 0090331e0090331e00e878f1641f000000b8331e006c3ddb01647600080000000 0250000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c00000 001000000180000000c000000000000025400000054000000000000000000000 01a0000003700000001000000df7b074139760741000000002c00000001000000 4c000000040000000000000000000000e3060000e80100005000000020001a00 1b00000046000000280000001c0000004744494302000000ffffffffffffffffe3060 000e901000000000000460000001400000008000000474449430300000025000 0000c0000000e000080250000000c0000000e0000800e0000001400000000000 00010000000140000000400000003010800050000000b0200000000050000000 c027500a701040000002e0118001c000000fb020400020000000000bc02000000 000102022253797374656d003f00003f3f3f3f3f3f3f3f3f3f0800000001003f3f3f 3f3f00040000002d010000040000002d01000004000000020101001c000000fb0 2f5ff0000000000009001000000000440002243616c6962726900000000000000 000000000000000000000000000000000000040000002d010100040000002d01 0100040000002d010100050000000902000000020d000000320a0b0000000100 040000000000a701750020000600040000002d010000040000002d0100000300 00000000 Kesesuaiann isi dengan tuntutan pertanyaan 0 - 3 Skor - Sesuai 3 - Cukup/sedang 2 - Tidak sesuai 1 - Kosong 0 Atau skala seperti berikut: 0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d46430 1000000000001000635000000000100000018030000000000001803000001000 0006c00000000000000000000001a0000003700000000000000000000004b3a0 0002010000020454d46000001001803000012000000020000000000000000000 00000000000b0090000b40d0000d200000029010000000000000000000000000 0003534030033880400160000000c000000180000000a0000001000000000000 000000000000900000010000000e3060000e8010000250000000c0000000e000 080250000000c0000000e000080120000000c000000010000005200000070010 00001000000d2ffffff00000000000000000000000090010000000000000440002 2430061006c00690062007200690000000000000000000000000000000000000 0000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 000001e00c4321e001000000028361e00a8331e005251ee6328361e0020331e0 01000000090341e000c361e002451ee6328361e0020331e00200000004964fb6

17

Kesesuaian isi dengan tuntutan pertanyaan 0 - 5 Skor Skor - Sangat Sesuai 5 - Sesuai 4 - Cukup/sedang 3 - Tidak sesuai 2 - Sangat tidak sesuai 1 - Kosong 0 Agar soal yang disusun bermutu baik, maka penulis soal harus memperhatikan kaidah penulisannya. Untuk memudahkan pengelolaan, perbaikan, dan pengembangan soal, maka soal ditulis di dalam format kartu soal Setiap satu soal dan pedoman penskorannya ditulis di dalam satu format. Contoh format soal bentuk uraian dan format penskorannya adalah seperti berikut ini.

Penulisan Butir Soal

KARTU SOAL
Jenis Sekolah Mata Pelajaran Bahan Kls/Smt Bentuk Soal Aspek yang diukur KOMPETENSI DASAR : ……………………............ : ……………………........... : ……………………............ : ……………………............ : ……………………............ BUKU SUMBER: Penyusun : 1. …………………… 2. …………………… 3. …………………… Tahun Ajaran : ……………………….

RUMUSAN BUTIR SOAL MATERI NO SOAL: INDIKATOR SOAL

N O

DIGUNAKAN UNTUK

TANGG AL

JUMLAH SISWA

KETERANGAN SOAL T D PROPORSI PEMILIH K P ASPEK A B C D E

KET. OM T

FORMAT PEDOMAN PENSKORAN NO SOAL KUNCI/KRITERIA JAWABAN SKOR

Bentuk soalnya terdiri dari: (1) dasar pertanyaan/stimulus bila ada/diperlukan, (2) pertanyaan, dan (3) pedoman penskoran. Kaidah penulisan soal uraian seperti berikut. 1. Materi a. Soal harus sesuai dengan indikator. b. Setiap pertanyaan harus diberikan batasan jawaban yang diharapkan. c. Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan tujuan peugukuran. d. Materi yang ditanyakan harus sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau

19

c. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (baku). b. Setiap satu soal ditulis di dalam satu format. . Menggunakan kata tanya/perintah yang menuntut jawaban terurai. Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal. Hal yang paling sulit dilakukan dalam menulis soal bentuk pilihan ganda adalah menuliskan pengecohnya. b. d. 3. serta panjang-pendeknya relatif sama dengan kunci jawaban. langkah pertama adalah menuliskan pokok soalnya. Tidak mengandung kata/ungkapan yang menyinggung perasaan peserta didik. Tidak menimbulkan penafsiran ganda. d. Rumusan kalimat soal harus komunikatif. atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas. grafik. Oleh karena itu. gambar. c. langkah kedua menuliskan kunci jawabannya. langkah ketiga menuliskan pengecohnya. Bahasa a. Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda Menulis soal bentuk pilihan ganda sangat diperlukan keterampilan dan ketelitian. terbaca. peta. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu. dan berfungsi. Setiap soal harus ada pedoman penskorannya. e. untuk memudahkan dalam penulisan soal bentuk pilihan ganda. Untuk memudahkan pengelolaan. Adapun formatnya seperti berikut ini. Konstruksi a. maka soal ditulis di dalam format kartu soal. 2. Tabel. Pengecoh yang baik adalah pengecoh yang tingkat kerumitan atau tingkat kesederhanaan. maka dalam penulisannya perlu mengikuti langkah-langkah berikut. dan perkembangan soal. perbaikan.tingkat kelas. H.

………………………………. ………………………………. 2. ………………………………. (3) pilihan jawaban yang terdiri atas: kunci jawaban dan pengecoh. 3. Peserta didik yang mengerjakan soal hanya memilih satu jawaban yang benar dari pilihan jawaban yang disediakan. (2) pokok soal (stem). BUKU SUMBER RUMUSAN BUTIR SOAL MATERI NO SOAL: KUNCI : INDIKATOR SOAL N O DIGUNAKAN UNTUK TANGG AL JUMLAH SISWA KETERANGAN SOAL T D PROPORSI PEMILIH K P A B C D E O MT KET. ……………………………….Penulisan Butir Soal KARTU SOAL Jenis Sekolah : Mata Pelajaran : Bahan Kls/Smt : Bentuk Soal : Tahun Ajaran : Aspek yang diukur : KOMPETENSI DASAR ………………………………. Soal bentuk pilihan ganda merupakan soal yang telah disediakan pilihan jawabannya. 21 . Penyusun : 1. Soalnya mencakup: (1) dasar pertanyaan/stimulus (bila ada). ……………………………….

Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar. Konstruksi . Soal harus sesuai dengan indikator. satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban. 2.Perhatikan contoh berikut! 0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d46430100 00000000010006350000000001000000180300000000000018030000010000006c00 000000000000000000001a0000003700000000000000000000004b3a00002010000 020454d4600000100180300001200000002000000000000000000000000000000b0 090000b40d0000d2000000290100000000000000000000000000003534030033880 400160000000c000000180000000a000000100000000000000000000000090000001 0000000e3060000e8010000250000000c0000000e000080250000000c0000000e00 0080120000000c00000001000000520000007001000001000000d2ffffff000000000 000000000000000900100000000000004400022430061006c0069006200720069000 00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 000000000000000000000000000000000001e00c4321e001000000028361e00a833 1e005251ee6328361e0020331e001000000090341e000c361e002451ee6328361e0 020331e00200000004964fb6420331e0028361e0020000000ffffffff6c3ddb01d064f b64ffffffffffff0180ffff0180afff0180ffffffff002e00000008000000080000503d3700 01000000000000002c01000025000000372e90010000020f0502020204030204ff02 00e1ffac004009000000000000009f01000000000000430061006c00690062007200 000000002008b50370a0ee63d6359aa54c3ddb01304f2a0154331e009c38f3641f00 00000100000090331e0090331e00e878f1641f000000b8331e006c3ddb0164760008 00000000250000000c00000001000000250000000c00000001000000250000000c00 000001000000180000000c0000000000000254000000540000000000000000000000 1a0000003700000001000000df7b074139760741000000002c000000010000004c00 0000040000000000000000000000e3060000e80100005000000020001a001b00000 046000000280000001c0000004744494302000000ffffffffffffffffe3060000e901000 0000000004600000014000000080000004744494303000000250000000c0000000e0 00080250000000c0000000e0000800e0000001400000000000000100000001400000 00400000003010800050000000b0200000000050000000c027500a701040000002e 0118001c000000fb020400020000000000bc02000000000102022253797374656d00 3f00003f3f3f3f3f3f3f3f3f3f0800000001003f3f3f3f3f00040000002d010000040000 002d01000004000000020101001c000000fb02f5ff000000000000900100000000044 0002243616c696272690000000000000000000000000000000000000000000000000 0040000002d010100040000002d010100040000002d010100050000000902000000 020d000000320a0b0000000100040000000000a701750020000600040000002d010 000040000002d010000030000000000 Kaidah penulisan soal pilihan ganda adalah seperti berikut ini. 1. Artinya. Pengecoh harus bertungsi c. b. Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi. Materi a.

Artinya dengan adanya pilihan jawaban seperti ini. 23 . Artinya. Apabila soal bisa dijawab tanpa melihat gambar. tabel atau sejenisnya yang terdapat pada soal. pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif. terbaca. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan. e. Artinya. atau tabel itu tidak berfungsi. d. Artinya. Artinya. penggunaan negatif ganda diperbolehkan bila aspek yang akan diukur justru pengertian tentang negatif ganda itu sendiri. kelompok kata. wacana. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis. tabel. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. i. Kaidah ini diperlukan karena adanya kecenderungan peserta didik memilih jawaban yang paling panjang karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban. maka rumusan atau pernyataan itu dihilangkan saja. semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. h. Setiap butir soal hanya mengandung satu persoalan/gagasan b. Demikian juga pilihan jawaban yang menunjukkan waktu harus disusun secara kronologis. g. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. apa saja yang menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah" atau "Semua pilihan jawaban di atas benar". berarti gambar.Penulisan Butir Soal a. grafik. dapat dimengerti oleh peserta didik. c. maka secara materi pilihan jawaban berkurang satu karena pernyataan itu bukan merupakan materi yang ditanyakan dan pernyataan itu menjadi tidak homogen. Penyusunan secara unit dimaksudkan untuk memudahkan peserta didik melihat pilihan jawaban. dan semua pilihan jawaban harus berfungsi. atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar. Artinya pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun dari nilai angka paling kecil berurutan sampai nilai angka yang paling besar. dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. pada pokok soal jangan sampai terdapat kata. kemampuan/ materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas. grafik. penulisannya harus setara. f. Untuk keterampilan bahasa. grafik. Gambar. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis. diagram. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. dan sebaliknya. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Artinya. Hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan penafsiran peserta didik terhadap arti pernyataan yang dimaksud.

Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti: sebaiknya. (3) anak kalimat. c. Bahasa/budaya a. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kaidah bahasa Indonesia dalam penulisan soal di antaranya meliputi: a) pemakaian kalimat: (1) unsur subyek. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan peserta didik yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat menjawab benar soal berikutnya. sehingga pernyataannya mudah dimengerti warga belajar/peserta didik. . Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. dan c) pemakaian ejaan: (1) penulisan huruf. umumnya. (2) penggunaan tanda baca. Bahasa yang digunakan harus komunikatif. b.j. kadang-kadang. (2) penulisan kata. (2) unsur predikat. k. Letakkan kata/frase pada pokok soal. 3. b) pemakaian kata: (1) pilihan kata. Pilihan jawaban jangan yang mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.

(2) tahap proses/produksi: prosedur kerja. Kaidah Penulisan Butir Soal Tes Perbuatan Dalam menulis butir soal untuk tes perbuatan. Aspek yang dinilai di antaranya meliputi: (1) tahap persiapan: pemilihan dan cara penggunaan alat. Penilaian hasil karya merupakan penilaian keterampilan peserta didik dalam membuat suatu produk benda tertentu seperti hasil karya seni. Soal harus sesuai dengan indikator (menuntut tes perbuatan: kinerja. dan (3) tahap akhir/hasil: kualitas serta estetika hasil karya. (2) relevansi. Dalam menulis butir soal. b. Penilaian penugasan merupakan penilaian tugas (meliputi: pengumpulan. pengorganisasian. guru dapat mengecek dengan pertanyaan berikut. Tepatkah kompetensi (yang akan diujikan) diukur dengan tes tertulis? Jika jawabannya tepat. Pengertian Tes perbuatan atau tes praktik merupakan suatu tes yang penilaiannya didasarkan pada perbuatan/praktik peserta didik. gambar. kompetensi yang bersangkutan tidak tepat diujikan dengan tes perbuatan/praktik. 1. bukan menilai yang lainnya. (2) modifikasi. Pertanyaan dan jawaban yang diharapkan harus sesuai. penugasan (project). dll. dan penyajian data) yang harus diselesaikan peserta didik (individu/kelompok) dalam waktu tertentu. hasil karya. pengevaluasian. Aspek yang dinilai di antaranya meliputi kemampuan (1) pengelolaan. penulis soal harus mengetahui konsep dasar penilaian perbuatan/praktik. Sebelum menulis butir soal untuk tes perbuatan. patung. atau (3) difusi.Penulisan Butir Soal IV. Maksudnya pernyataan dalam soal harus disusun dengan pernyataan yang betul-betul menilai perbuatan/praktik. Materi a. guru dapat memberikan penilaian pada pembuatan produk rancang bangun/perekayasaan teknologi tepat guna misalnya melalui: (1) adopsi. Di samping itu. Penilaian kinerja merupakan penilaian yang meminta peserta didik untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan ke dalam konteks yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. dan hasil karya (product). atau penugasan). B. perhatikan terlebih dahulu kompetensi dari materi yang akan ditanyakan. dan (3) keaslian. Kaidah penulisan soal tes perbuatan adalah seperti berikut. misal lukisan. PENULISAN BUTIR SOAL UNTUK TES PERBUATAN A. 25 . Dalam menilai perbuatan/kegiatan/praktik peserta didik dapat digunakan beberapa jenis penilaian perbuatan di antaranya adalah penilaian kinerja (performance).

pengevaluasian. Tidak menggunakan kata/ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian. C. Dalam menulis butir soal. c. Adapun aspek yang dinilai di antaranya meliputi kemampuan (1) pengelolaan. Penulisan Soal Penilaian Penugasan (Project) Penilaian penugasan merupakan penilaian tugas (meliputi: pengumpulan. Aspek yang dinilai di antaranya meliputi: (1) tahap persiapan: pemilihan dan cara penggunaan alat. (2) relevansi. atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca 3. atau (3) difusi. E. d. (2) modifikasi. c.c. Disusun pedoman penskorannya. guru dapat memberikan penilaian pada pembuatan produk rancang bangun/perekayasaan teknologi tepat guna misalnya melalui: (1) adopsi. gambar. . relevansi. 2. Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Rumusan kalimat soal komunikatif b. dan (3) keaslian. Menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban perbuatan/praktik. Rumusan soal tidak mengandung kata/ungkapan yang dapat menyinggung perasaan peserta didik. dll. d. D. Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis sekolah atau tingkat kelas. Di samping itu. Tabel. Penulisan Soal Penilaian Hasil Karya (Product) Penilaian hasil karya merupakan penilaian keterampilan peserta didik dalam membuat suatu produk benda tertentu seperti hasil karya seni. dan penyajian data) yang harus diselesaikan peserta didik (individu/kelompok) dalam waktu tertentu. d. gambar. Penulisan Soal Penilaian Kinerja (Performance Assessment) Penilaian kinerja merupakan penilaian yang meminta peserta didik untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan ke dalam konteks yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. b. (2) tahap proses/produksi: prosedur kerja. misal lukisan. patung. Materi sesuai dengan kompetensi (urgensi. peta. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu. keterpakaian sehari-hari tinggi). pengorganisasian. kontinuitas. e. Konstruksi a. dan (3) tahap akhir/hasil: kualitas serta estetika hasil karya. grafik. perhatikan terlebih dahulu kompetensi dari materi yang akan ditanyakan. Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal. Bahasa/Budaya a.

dan sesudah mengajar.Penulisan Butir Soal VI. validasi butir. uji coba butir. Pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan antara lain lembar pengamatan. toleransi. kemudian (2) memberi obat yang tepat agar peserta didik cepat sembuh dari penyakitnya. life skill) dan instrumen tes sikap. saat mengajar. PENULISAN BUTIR SOAL UNTUK INSTRUMEN NON-TES A. portofolio. misalnya: ketaatan pada ajaran agama. Jadi portofolio merupakan ”kartu sehat” individu peserta didik. (Kamus Besar Bahasa Indonesia. tanggung jawab. sopan santun. Pengamatan Pengamatan merupakan suatu alat penilaian yang pengisiannya dilakukan oleh guru atas dasar pengamatan terhadap perilaku peserta didik yang sesuai dengan kompetensi yang hendak diukur. telaah. dsb. gotong royong. dsb. 1990 : 932) B. Namun. Portofolio merupakan deskripsi peta perkembangan kemampuan individu peserta didik. validitas isi diperoleh melalui kurikulum dan buku pelajaran. Pada prinsipnya. Perilaku minimal yang dapat dinilai dengan pengamatan untuk perilaku/budi pekerti peserta didik. menuliskan butir soal berdasarkan kisi--kisinya. tetapi untuk nontes validitas isi/konstruknya diperoleh melalui "teori". kasih sayang. Pelaksanaan pengamatan sikap dapat dilakukan guru pada sebelum mengajar. C. yaitu menyusun kisi-kisi tes. minat. dan jujur. Pengertian Instrumen non-tes adalah instrumen selain tes prestasi belajar. tugas guru adalah (1) menentukan penyakitnya apa. Teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau kejadian. sebelum menyusun kisi-kisi tes terdapat perbedaan dalam menentukan validitas isi/konstruknya. kesetiakawanan. perbaikan butir berdasarkan hasil uji coba. dalam proses awalnya. disiplin. penilaian portofolio dan penilaian kecakapan hidup. hormat-menghormati. Dalam tes prestasi belajar. Bila ada peserta didik yang ”sakit”. Alat penilaian yang dapat digunakan antara lain adalah: lembar pengamatan/observasi (seperti catatan harian. Penyusunan Kisi-kisi Instrumen Non-tes 27 . prosedur penulisan butir soal untuk instrumen non-tes adalah sama dengan prosedur penulisan tes pada tes prestasi belajar.

dan nomor butir soal.Dalam kisi-kisi non-tes biasanya formatnya berisi dimensi. N O DIMENSI INDIKATOR JUMLAH SOAL PER INDIKATOR NOMOR SOAL JUMLAH SOAL = Untuk mengisi kolom dimensi dan indikator. langkah selanjutnya adalah menentukan dimensi (tema-objek/hal-hal pokok yang menjadi pusat tinjauan teori). perhatikan alur urutannya seperti pada bagan berikut. Oleh karena itu. indikator (uraian/rincian dimensi yang akan diukur). jumlah butir soal per indikator. dan penulisan butir soal berdasarkan indikatornya. atau mencari informasi lain yang berhubungan dengan variabel atau tujuan tes yang dikehendaki. hasil penelitian. penulis soal harus mengetahui terlebih dahulu validitas konstruknya yang disusun/dirumuskan melalui teori. Formatnya seperti berikut ini. 0100090000032a0200000200a20100000000a201000026060f003a03574d46430100 00000000010006350000000001000000180300000000000018030000010000006c00 000000000000000000001a0000003700000000000000000000004b3a00002010000 020454d4600000100180300001200000002000000000000000000000000000000b0 090000b40d0000d2000000290100000000000000000000000000003534030033880 400160000000c000000180000000a000000100000000000000000000000090000001 0000000e3060000e8010000250000000c0000000e000080250000000c0000000e00 0080120000000c00000001000000520000007001000001000000d2ffffff000000000 000000000000000900100000000000004400022430061006c0069006200720069000 00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 000000000000000000000000000000000001e00c4321e001000000028361e00a833 1e005251ee6328361e0020331e001000000090341e000c361e002451ee6328361e0 020331e00200000004964fb6420331e0028361e0020000000ffffffff6c3ddb01d064f b64ffffffffffff0180ffff0180afff0180ffffffff002e00000008000000080000503d3700 01000000000000002c01000025000000372e90010000020f0502020204030204ff02 . Definisi tentang teori yang dirumuskan inilah yang dinamakan konstruk. maka langkah selanjutnya adalah menyimpulkan teori itu dan merumuskan mendefinisikan (yaitu definisi konsep dan definisi operasional) dengan kata-kata sendiri berdasarkan pendapat para ahli yang diperoleh dari beberapa buku yang telah dibaca. Cara termudah untuk mendapatkan teori adalah membaca beberapa buku. Setelah teori diperoleh dari berbagai buku. indikator. peserta didik atau responden yang hendak mengerjakan tes ini (instrumen non-tes) tidak perlu mempersiapkan/belajar materi yang hendak diteskan terlebih dahulu seperti pada tes prestasi belajar. Untuk lebih memudahkan dalam menyusun kisi-kisi tes. Berdasarkan konstruk yang telah dirumuskan itu.

Rumusan konstruk darimana? Dari teori. b. Kaidah Penulisan Soal Dalam penulisan soal pada instrumen non-tes. c. afeksi atau konasinya dan pernyataan positif atau negatifnya).Penulisan Butir Soal Berdasarkan bagan di atas. Materi a. Pernyataan dirumuskan dengan singkat (tidak melebihi 20 kata) dan jelas. Rumusan dimensi darimana? Dari konstruk. Indikator dari mana? Dari dimensi. Misalnya soal nomor 1 sampai dengan soal terakhir berasal darimana? Dari indikator. e. Jadi kesimpulannya instrumen tes yang telah disusun merupakan alat ukur yang (sudah tepat atau belum tepat) mewakili teori. Pernyataan harus sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi. D. 29 . Aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap: aspek kognisi. 2. penulis butir soal harus memperhatikan ketentuan/kaidah penulisannya. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak relevan objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang diperlukan saja. d. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda. 1. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang faktual atau dapat diinterpretasikan sebagai fakta. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masa lalu. Konstruksi a. Kaidahnya adalah seperti berikut ini. penulis soal dapat dengan mudah mengecek apakah instrumen tesnya atau butir-butir soal sudah sesuai dengan indikatornya atau belum. b.

Kalimatnya bebas dari pernyataan yang dapat diinterpretasikan lebih dari satu cara. Gunakanlah seperlunya. Bahasa/Budaya a. i. sekedar. Soal harus menggunakan bahasa Indonesia baku. kadang-kadang. tidak pernah. g. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mungkin disetujui atau dikosongkan oleh hampir semua responden. tidak satupun. h. j. b. semata-mata. . Setiap pernyataan hanya berisi satu gagasan secara lengkap. Bahasa soal harus komunikatif dan sesuai dengan jenjang pendidikan peserta didik atau responden. Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu. Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak pasti seperti semua.f. selalu. Jangan banyak mempergunakan kata hanya. c. 3.

Penulisan Butir Soal E. (2) Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak ke arah atau melawan suatu faktor lingkungan (Emory Bogardus). tanggapan positif/negatif terhadap suatu objek psikologis (Thurstone). Kebersamaan dan gotong royong Rasa 3. para ahli menyimpulkan bahwa sikap memiliki 3 komponen penting. N O 1. tes minat belajar. Rela berkorban untuk kepentingan umum a. 31 . para guru dapat menyusunnya sendiri yang proses penyusunannya adalah sama dengan contoh yang ada di sini. Dapat bekerja kelompok b. Contoh yang akan disajikan adalah penulisan kisi-kisi dan butir soal untuk tes skala sikap. (3) Sikap adalah kesiapsiagaan mental atau saraf (Goldon Allport). (5) Sikap merupakan tanggapan tersembunyi yang ditimbulkan oleh suatu nilai (Ralp Linton. DIMENSI INDIKATOR NOMOR SOAL YANG MENGUKUR KOGNISI + 1 2 AFEKSI + 3 4 KONASI + 5 6 Toleransi a. Berdasarkan beberapa definisi di atas. Tes Skala Sikap Berbagai definisi tentang sikap yang telah dikemukakan oleh para ahli. Mau memberi dan 7 8 9 10 11 12 2. Contoh Penulisan Kisi-kisi Non-Tes dan Butir soal Dalam bagian ini disajikan beberapa contoh penulisan kisi-kisi tes dan penulisan butir soal yang sangat sederhana. Tujuan utamanya adalah agar contoh-contoh ini mudah dipahami oleh para guru di sekolah. adalah seperti berikut ini. dan kejujuran. ahli antropologi kebudayaan). (2) afeksi yang mencakup perasaan seseorang. (4) Sikap adalah konsistensi dalam tanggapan terhadap objek-objek sosial (Donald Cambell). kebersamaan dan gotong-royong. Untuk contoh instrumen non-tes lainnya. tes motivasi berprestasi. 1. Tidak mudah tersinggung a. yaitu komponen: (1) kognisi yang berhubungan dengan kepercayaan. di antaranya adalah Mueller (1986: 3) yang menyampaikan 5 definisi dari 5 ahli. suka atau tidak suka. Mau menerima pendapat orang lain atau tidak memaksakan kehendak pribadi b. penilaian tentang. rasa kesetiakawanan. dan tes kreativitas. dan (3) konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku atau yang akan dilakukan. (1) Sikap adalah afeksi untuk atau melawan. Oleh karena itu. ide. Adapun definisi operasional sikap belajar adalah kecenderungan bertindak dalam perubahan tingkah laku melalui latihan dan pengalaman dari keadaan tidak tahu menjadi tahu yang dapat diukur melalui: toleransi. dan konsep. ketiga komponen ini dimasukkan di dalam format kisi-kisi "sikap belajar peserta didik" seperti contoh berikut.

DIMENSI Kesukaan Ketertarikan INDIKATOR Gairah Inisiatif Responsif NOMOR SOAL 8. 2. minat juga merupakan kemampuan untuk memberikan stimulus yang mendorong seseorang untuk memperhatikan aktivitas yang dilakukan berdasarkan pengalaman yang sebenarnya (Crow and Crow . Untuk mewujudkan cita-cita harus memaksakan kehendak 3. Mau menerima pendapat orang lain merupakan ciri bertoleransi. Tes Minat belajar Minat adalah kesadaran yang timbul bahwa objek tertentu sangat disenangi dan melahirkan perhatian yang tinggi bagi individu terhadap objek tersebut (Crites. 2. TS = tidak setuju. 2. Berikut contoh kisi-kisi dan soal minat belajar sastra Indonesia. 1. 17 10. STS = sangat tidak setuju. saya akan selalu mendengarkan usul-usul kedua orang tuaku. ketertarikan. dst meminta maaf Contoh soalnya sebagai berikut : N PERNYATAAN O. Kalau saya boleh memilih. saya utamakan mereka yang pandai saja 5. 20 . Bekerja sama dengan orang yang berbeda 7. Peserta didik yang menaruh minat pada suatu mata pelajaran. 15. Memilih teman di sekolah. 13 16. perhatiannya akan tinggi dan minatnya berfungsi sebagai pendorong kuat untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar pada pelajaran tersebut. S = setuju. perhatian dan keterlibatan. Oleh karena itu. Berdasarkan kedua penegertian tersebut. Suku lebih baik dihindarkan. 1. NO. …… SS S TS ST S Keterangan : SS = sangat setuju. 1984 :248).kesetiakawanan 4. 1969 : 29). definisi operasional minat belajar adalah pilihan kesenangan dalam melakukan kegiatan dan dapat membangkitkan gairah seseorang untuk memenuhi kesediaannya yang dapat diukur melalui kesukacitaan. Di samping itu. minat merupakan kemampuan seseorang untuk memberikan perhatian terhadap suatu objek yang disertai dengan rasa senang dan dilakukan penuh kesadaran. 6. Saya suka menerima pendapat orang lain 4.

…. Perhatikan contoh tes minat lainnya berikut ini. CONTOH TES MINAT PESERTA DIDIK TERHADAP MATA PELAJARAN NO. 7. 9. 33. Saya berusaha menyerahkan tugas tepat waktu. Perhatian Keterlibatan Kesegeraan Konsentrasi Ketelitian Kemauan Keuletan Kerja Keras 2. 14 Keterangan : Nomor yang bergaris bawah adalah untuk pernyataan positif Contoh soalnya seperti berikut : NO. 7. Saya suka membaca buku sastra. Saya bertanya kepada guru bila ada yang tidak jelas Saya mengerjakan soal-soal latihan di rumah. 19 3. 6. PERNYATAAN …. 5.32 Berminat 33 .40 Sangat berminat 25. TP = tidak pernah. Saya berusaha memiliki buku pelajaran ini. Keterangan : Dari 4 kategori: skor terendah 10. 10 4. 6. skor tertinggi 40. 20. PERNYATAAN Saya Senang mengikuti pelajaran ini. Saya asyik dengan pikiran sendiri ketika guru menerangkan sastra di kelas. KK = kadang-kadang. 1. JR = jarang. Saya berusaha memahami pelajaran ini. Saya rugi bila tidak mengikuti pelajaran ini. 8. 16. 4.Penulisan Butir Soal 3. SR = sering. Saya mendiskusikan materi pelajaran dengan teman sekelas. Saya berusaha mencari bahan pelajaran di perpustakaan SL SR JR TP Keterangan : SL = selalu. TP = tidak pernah. J = jarang. Saya segera mengerjakan PR sastra sebelum datang pekerjaan yang lain. 4. 10. 18 12. 5 1. Saya merasa pelajaran ini bermanfaat. 1. 3. S = sering. SS S K K J T P Keterangan : SS = sangat sering. 2. 9 7. 2.

8.17. Tes Motivasi Berprestasi Definisi Konsep Motivasi berprestasi adalah motivasi yang mendorong peserta didik untuk berbuat lebih baik dari apa yang pernah dibuat atau diraih sebelumnya maupun yang dibuat atau diraih orang lain.18 22. Kadang-kadang d.3 4.34.28 10. umpan balik.16 Tidak berminat 3.21 25. a. Saya mengabaikan tugas-tugas sebelum ada yang mengatur . (2) menyelesaikan tugas dengan baik.20. Saya berusaha untuk memperbaiki kinerja saya pada masa lalu.30. Berusaha unggul 2. (5) menerima tanggung jawab pribadi untuk sukses.17. dan resiko tingkat menengah Jumlah Pernyataan NOMOR PERNYATAAN POSITIF NEGATIF 1. (3) rasional dalam meraih keberhasilan. umpan balik. CONTOH KISI-KISI PENYUSUNAN INSTRUMEN VARIABEL MOTIVASI BERPRESTASI INDIKATOR 1. Tidak pernah 4. Kadang-kadang d. Tidak pernah 9.11. Selalu b.23. Rasional dalam meraih keberhasilan 4. (4) menyukai tantangan. Jarang e.38. Menyelesaikan tugas dengan baik 3.24 29.32 JUMLAH 6 6 6 6 8 33.24 Kurang berminat 10. Saya bekerja keras agar prestasi saya lebih baik baripada temanteman. Definisi Operasional Motivasi berprestasi adalah motivasi yang mendorong seseorang untuk berbuat lebih baik dari apa yang pernah dibuat atau diraih sebelumnya maupun yang dibuat atau diraih orang lain yang dapat diukur melalui: (1) berusaha untuk unggul dalam kelompoknya. Tidak pernah 12. Menyukai tantangan 5.35. dan resiko tingkat menengah. Saya menghindari upaya mengungguli prestasi teman-teman. Sering c. Menyukai situasi pekerjaan dengan tanggung jawab pribadi.6 7.2.27. a.36 20 37.15 19. Sering c.31.39. a. Kadang-kadang d.12 16.9 13.5.40 20 40 8 CONTOH BUTIR SOAL: 1. Sering c. Menerima tanggung jawab pribadi untuk sukses 6. Selalu b. Jarang e.14. (6) menyukai situasi pekerjaan dengan tanggung jawab pribadi.26. Jarang e. Selalu b.

NO.2. kreativitas juga merupakan kemampuan berpikir divergen yang mencerminkan kelancaran.10 1.6.7.3. keaslian (originality).7.9. dan hasilnya dapat berguna untuk keperluan tertentu. Disamping itu. 1989 : 118).10 1. Adapun contoh butir soal seperti berikut. 1976 : 17).2. keaslian. dan elaborasi (elaboration) (Torrance. keluwesan. 1 = tidak lancar. berpikir devergen.6.10 a 5 1 b 4 2 c 3 3 d 2 4 e 1 5 2.5. Ciri-ciri kreativitas berkaitan dengan imaginasi. 1974 : 8). 2 = kurang luwes.3. skor : 4 = sangat lancar. Adapun definisi operasionalnya adalah kemampuan berpikir divergen yang memiliki sifat (dapat diukur melalui) kelancaran. Tes Kreativitas Kreativitas merupakan proses berpikir yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan secara benar dan bermanfaat (Devito.8.8. kisi-kisinya dapat disusun seperti contoh berikut ini.8. Desain tes kreativitas terdiri dari dua subtes yaitu dalam bentuk gambar dan verbal yang masing-masing bentuk memiliki ciri kelancaran (fluency). 2 = kurang lancar. 3 = cukup luwes. 3 = cukup lancar.6.10 1.9.5. Untuk indikator “keluwesan”.10 1. elaborasi.6.4.7. Sering c.8.8. demikian pula seterusnya.2.8. Gambar Penskoran untuk setiap indikator di atas mempergunakan skala 0-4.5. Jarang e.9.2. 35 . 0 = tidak menjawab.2. 1.10 1. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli.3.4.3.8.3.7.9. Kadang-kadang d.4. keluwesan dan orisinal dalam proses berpikir (Good Brophy. TES VERBAL INDIKATOR Kelancaran Keluwesan Keaslian Keelaborasian Kelancaran Keluwesan Keaslian Keelaborasian NOMOR SOAL 1.9.7.4.3. orisinalitas.7. skor: 4 = sangat luwes.3.2.5.5.7.9. hal-hal yang menyangkut perubahan dan eksplorasi (Coben. 1 = tidak luwes. Tidak pernah SKOR JAWABAN Skor Jawaban Pernyataan Positif Pernyataan Negatif 3.10 1.5.Penulisan Butir Soal a.6.4. definisi konsepsual kreativitas adalah kemampuan berpikir divergen.9. intuisi. 0 = tidak menjawab.5.10 1.5.6.7.6. 1990 : 619).3.4.8. penemuan hal-hal yang bersifat baru. Selalu b.9. Dari hasil pendefinisian konstruk ini.2.2.6.4. Misalnya untuk indikator “kelancaran”. keluwesan (flexibility).4.

C. Berikut contoh kisi-kisi dan soal tes stres belajar. Pertanyaan: selesaikan rancangan gambar berikut dan berikan judul sesuai dengan selera Anda! (waktu 3 menit).a. dan tekanan darah terganggu. Disajikan sebuah sketsa gambar yang belum selesai. kemudian berikan judulnya!. kendala. kendala. takut. tidak senang. Tuliskan berbagai cara tikus masuk ke dalam rumah! (waktu 3 menit). jantung berdebar. 4. Pertanyaan : selesaikan sketsa gambar berikut menurut kesukaan anda dan setelah selesai berikut judulnya! (waktu 3 menit). rasa sakit. dan lepas kendali. Disajikan 6 buah titik A. dan (3) tanggapan perseptual seperti anggapan dan keyakinan. D. Pertanyaan: pilih salah satu gambar yang anda sukai dan jelaskan mengapa anda menyukainya! (waktu 3 menit). B.Pertanyaan: Buatlah gambar dari 6 titik ini. Contoh Tes Verbal Misalnya diberikan tiga gambar ikan dalam akuarium yang masingmasing dibedakan jumlah ikan dan makanannya. b. perasaan terganggu. dan F dengan posisi yang telah ditetapkan. Contoh Tes Gambar Disajikan sebuah gambar yang belum selesai. Tes Stres Belajar (menghadapi ujian) Definisi konsep stres belajar adalah suatu kondisi kekuatan dan tanggapan sebagai interaksi dalam diri seseorang akibat dikonfrontasikan dengan suatu peluang. . atau tuntutan belajar yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkan dan hasilnya dipersepsikan sebagai suatu yang tidak pasti atau penting. Definisi operasional stres belajar adalah suatu kondisi kekuatan dan tanggapan sebagai interaksi dalam diri seseorang akibat dikonfrontasikan dengan suatu peluang. Disajikan gambar sebuah segitiga dan tiga lingkaran yang letaknya mengelilingi segitiga. khawatir. Pertanyaan: Tafsirkan makna gambar berikut! (waktu 5 menit). (2) tanggapan fisik seperti rasa lelah. Buatlah kalimat sebanyak-banyaknya dengan kata “pintar“! (waktu 3 menit). E. atau tuntutan belajar yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkan dan hasilnya dipersepsikan sebagai suatu yang tidak pasti atau penting yang dapat diukur melalui: (1) tanggapan psikologis seperti perasaan cemas.

23. 20. 6. Jantung berdebar c. Tidak senang e. 50. Tanggapan dan keyakinan NOMOR SOAL 1.18.30 31. PERNYATAAN Saya cemas terhadap kemampuan saya di sekolah. 6. Tanggapan Persepsual (terhadap pencapaian) Keterangan: nomor soal ganjil adalah pernyataan positif. 44. KK = kadang-kadang.22.2 3.12.33.. Tanggapan Fisik (akibat tuntutan) 3. Saya kehilangan nafsu makan setiap menghadapi tuntutan tugas. Khawatir c.48. Tekanan darah terganggu a.43.7. Ada cara sederhana untuk menskor hasil jawaban peserta didik dari instrumen non-tes.16.11.4.8.47.34. 35.27.13.Penulisan Butir Soal NO.20. S = sering. 38.25. Saya takut ranking saya turun.26.15.32.9 10. Perasaan cemas b.5 6. Jantung saya berdebar-debar ketika sedang menyelesaikan tugas …. Nama peserta didik : Susiana 37 . tes skala sikap di atas telah dikerjakan oleh salah satu peserta didik.40.45. Contoh soal stres belajar. 17. Lepas Kendali a. Teknik Penskoran Salah satu kegiatan dari penulisan butir soal yaitu teknik penskoran. 41.46. 1.29.50 2. nomor soal genap adalah pernyataan negatif. NO.19.49. Takut d. SS S K K J T P Keterangan : SS = sangat sering. Sebagai contoh.37.28. Rasa sakit d. TP = tidak pernah.21. J = jarang.24. 1.42. 36.14. Rasa lelah b. Perasaan terganggu f.39. DIMENSI Tanggapan Psikologis terhadap kendala dan tuntutan) INDIKATOR a.36.

Skor rata-rata: perilaku minimal adalah (12 + 6):2 = 9. Sebagai contoh penskorannya adalah seperti berikut ini. 3. Bekerja sama dengan orang yang berbeda suku lebih baik dihindarkan. Maksimal 3 x 1 = 3 (3 berasal dari 3 butir soal yang negatif. 5. Jadi skor Susiana di atas adalah seperti berikut ini. Perilaku maksimal adalah (15 + 3) : 2 = 9. PERNYATAAN Mau menerima pendapat orang lain merupakan ciri bertoleransi. soal nomor 1-6 hanya mewakili indikator “mau menerima pendapat orang lain” dari dimensi “toleransi” untuk topik “sikap belajar peserta didik di sekolah”. Perilaku positif 5+4+1 = 10. Maksimal 3 x 5 = 15. S= 3. 4. Dia perlu pembinaan dan peningkatan khususnya mengenai perilaku ini. Untuk mewujudkan cita-cita harus memaksakan kehendak Saya suka menerima pendapat orang lain Memilih teman di sekolah. . 3 adalah skor S. TS= 3. 2. Skor Susiana 10. Skor yang harus diperoleh dalam perilaku positif minimal 3 x 4 = 12. Jadi sikap Susiana tentang “toleransi” khususnya mau menerima pendapat orang lain” dalam topik “sikap belajar peserta didik di sekolah” masih kurang. Perilaku positif terdapat pada soal nomor 1. 5. 4. 4. 6 dengan pemberian skor: SS= 1. 7. 2 adalah skor S. Perilaku negatif terdapat pada soal nomor 2. 5 dengan pemberian skor: SS= 4. 6. 1. Skor yang harus diperoleh dalam perilaku negatif minimal 3 x 2 = 6. sedangkan ukuran perilaku positif minimal 12 dan maksimalnya adalah 15. perilaku negatif 4+2+3 = 9. saya akan selalu mendengarkan usul-usul kedua orang tuaku. S= 2. Skor akhir Susiana adalah (10+9):2 = 9. TS= 2. saya utamakan mereka yang pandai saja Kalau saya boleh memilih. 3. 2.NO. 1 adalah skor SS). 1. STS= 1. STS= 4 3.5 atau 10. 6. …… SS X S T S S T S X X X X X Penjelasan: Dalam kisi-kisi tes. 4 adalah skor SS). (3 berasal dari 3 butir soal yang positif. Artinya bahwa Susiana mempunyai sikap positif yang tidak begitu tinggi tentang “mau menerima pendapat orang lain”.

Penulisan Butir Soal 39 .

penulis soal biasanya merasa agak kesulitan dalam mengkreasinya. . maka setiap butir soal selalu diberikan dasar pertanyaan (stimulus) yang berbentuk sumber/bahan bacaan seperti: teks bacaan. penggalan novel/cerita/dongeng. Mengukur Kemampuan Berpikir kritis Ada 11 kemampuan berpikir kritis yang dapat dijadikan dasar dalam menulis butir soal yang menuntut penalaran tinggi. rumus. daftar kata/symbol. contoh. peta. 5. Caranya adalah seperti berikut ini. Pengertian Dalam menulis butir soal. Agar butir soal yang ditulis dapat menuntut penalaran tinggi. 3 dan 4 diuraikan secara rinci di bawah ini. foto. Bagaimana peserta didik bisa maju bila pola berpikirnya hanya ingatan? Oleh karena itu. menyintesiskan. Perilaku ingatan juga diperlukan. puisi.VII. penerapan. Materi yang akan ditanyakan diukur dengan perilaku: pemahaman. B. Dasar Pertanyaan (Stimulus). tabel. Bloom pada bab di depan. Di samping mudah penulisan soalnya. teks drama. namun kedudukannya adalah sebagai langkah awal sebelum peserta didik dapat memahami. film. Mengukur kemampuan berpikir kritis. analisis. Disamping sulit menentukan perilaku yang diukur atau merumuskan masalah yang dijadikan dasar pertanyaan. Setiap pertanyaan diberikan dasar pertanyaan (stimulus). 1. Untuk menuliskan butir soal yang menuntut penalaran tinggi. Mengukur keterampilan pemecahan masalah. dan mengevaluasi materi yang diperoleh dari guru. paragrap. atau suara yang direkam. PENYUSUNAN BUTIR SOAL YANG MENUNTUT PENALARAN TINGGI A. Penjelasan nomor 2. ada beberapa cara yang dapat dijadikan pedoman oleh para penulis soal untuk menulis butir soal yang menuntut penalaran tinggi. menganalisis. kasus. 3. menerapkan. penulis soal memiliki kecenderungan untuk menulis butir-butir soal yang menuntut perilaku “ingatan”. materi yang hendak ditanyakan juga mudah diperoleh dari buku pelajaran. juga uraian materi yang akan ditanyakan (yang menuntut penalaran tinggi) tidak selalu tersedia di dalam buku pelajaran. sintesis. grafik. 4. C. gambar. Uraian tentang perilaku ini dapat dilihat pada perilaku kognitif yang dikembangkan oleh Benjamin S. atau evaluasi (bukan hanya ingatan). 2.

Mempertimbangkan yang dapat dipercaya Contoh indikator soal: Disajikan sebuah teks argumentasi. dan memberikan alasannya. 3. 7. 4. 8. (3) memberikan alasan tidak mendukung argumen yang disajikan. peserta didik dapat membandingkan kesimpulan yang sesuai dengan pernyataan yang disajikan atau kesimpulan yang harus diikuti. peserta didik dapat: (1) menyimpulkan argumentasi secara cepat. iklan.Penulisan Butir Soal Menfokuskan pada pertanyaan Contoh indikator soal: Disajikan sebuah masalah/problem. kebenaran argumen atau kesimpulan. Menganalisis argumen Contoh indikator soal: Disajikan deskripsi sebuah situasi atau satu/dua argumentasi. Membandingkan kesimpulan Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan yang diasumsikan kepada peserta didik adalah benar dan pilihannya terdiri dari: (1) satu kesimpulan yang benar dan logis. Mempertimbangkan kemampuan induksi Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan. serta memberikan alasannya. 5. atau eksperimen dan interpretasinya. informasi/data. peserta didik dapat mempercayai atau tidak terhadap laporan itu dan memberikan alasannya. Menilai 41 . peserta didik menentukan bagian yang dapat dipertimbangan untuk dapat dipercaya (atau tidak dapat dipercaya). atau laporan observer/reporter. aturan. 6. peserta didik dapat menentukan sebuah kesimpulan yang tepat dan memberikan alasannya. kartun. peserta didik dapat menentukan masalah utama. peserta didik dapat menentukan kesimpulan yang ada itu benar atau tidak. laporan observasi. (2) memberikan alasan yang mendukung argumen yang disajikan. Menentukan kesimpulan Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan yang diasumsikan kepada peserta didik adalah benar dan satu kemungkinan kesimpulan. (2) dua atau lebih kesimpulan yang benar dan logis. atau eksperimen dan hasilnya. dan beberapa kemungkinan kesimpulan. kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas. Mempertimbangkan laporan observasi Contoh indikator soalnya: Disajikan deskripsi konteks.

peserta didik dapat mendeskripsikan pernyataan yang dihilangkan. Memahami kata dalam konteks Contoh indikator soal: Disajikan beberapa masalah yang konteks kata atau kelompok katanya digarisbawahi. dan kemungkinan penyelesaian masalahnya. peserta didik dapat mendefinisikan konsep yang dinyatakan. Mendeskripsikan Contoh indikator soal: Disajikan sebuah teks persuasif. percakapan. Merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan yang berisi sebuah masalah.Contoh indikatornya: Disajikan deskripsi sebuah situasi. peserta didik dapat menentukan: (1) solusi yang positif dan negatif. peserta didik dapat menjelaskan makna yang berhubungan dengan masalah itu dengan kata-katanya sendiri. (2) solusi mana yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang disajikan. 3. Mendefinisikan Konsep Contoh indikator soal: Disajikan pernyataan situasi dan argumentasi/naskah. 9. peserta didik dapat mengidentifikasi masalah yang nyata atau masalah apa yang harus dipecahkan. Mendefinisikan asumsi Contoh indikator soal Disajikan sebuah argumentasi. Mengidentifikasi masalah Contoh indikator soal: Disajikan deskripsi suatu situasi/masalah. Mengukur Keterampilan Pemecahan Masalah Ada 17 keterampilan pemecahan masalah yang dapat dijadikan dasar dalam menulis butir soal yang menuntut penalaran tinggi. iklan. peserta didik dapat menentukan sebuah pilihan yang tepat sesuai dengan asumsi. peserta didik dapat merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan. pernyataan masalah. 11. 1. dan dapat memberikan alasannya. segmen dari video klip. beberapa pilihan yang implisit di dalam asumsi. 2. 10. D. .

kemudian menunjukkan solusinya ke dalam gambar. 11. Memberi alasan strategi yang digunakan Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan masalah dengan dua atau lebih strategi untuk menyelesikan masalah. Memecahkan masalah berdasarkan data dan masalah Contoh indikator soal: 43 . peserta didik dapat menggambarkan sebuah diagram atau gambar yang menunjukkan situasi masalah. peserta didik dapat memberikan solusinya berdasarkan pertimbangan asumsi untuk saat ini dan yang akan datang. peserta didik dapat memberikan alasan satu masalah yang dipilih sendiri. Mengidentifikasi asumsi Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan masalah. atau grafik. peserta didik dapat memilih satu strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah itu dan memberikan alasannya. peserta didik dapat memilih satu solusi yang paling tepat dan memberikan alasannya. peserta didik dapat mengidentifikasi semua informasi yang tidak relevan. Mendeskripsikan masalah Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan masalah. Memberi alasan masalah yang sulit Contoh indikator soal: Disajikan sebuah masalah yang sukar dipecahkan atau informasi pentingnya dihilangkan. 7. peserta didik dapat menjelaskan mengapa masalah ini sulit dipecahkan atau melengkapi informasi pentingnya dihilangkan. Mengidentifikasi masalah yang tidak sesuai Contoh indikator masalah: Disajikan beberapa informasi yang relevan dan tidak relevan terhadap masalah. Memilih masalah sendiri Contoh indikator soal: Disajikan beberapa masalah. 9. diagram. 12. dan menjelaskan cara penyelesaiannya.Penulisan Butir Soal 4. 6. 5. 10. Memberi alasan solusi Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan masalah dengan dua atau lebih kemungkinan solusinya. 8. Mendeskripsikan berbagai strategi Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan masalah. peserta didik dapat memecahkan masalah ke dalam dua cara atau lebih.

(2) memberikan alasannya. (4) memberi alasan mengapa strategi itu paling tepat dibandingkan dengan strategi lainnya. Menggunakan analogi Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan masalah dan strategi penyelesaiannya. Menyelesaikan secara terencana Contoh indikator soal: Disajikan sebuah situasi masalah yang kompleks. peserta didik dapat: (1) mendeskripsikan masalah lain (analog dengan masalah ini) yang dapat diselesaikan dengan menggunakan strategi itu. Membuat strategi lain Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan masalah dan satu strategi untuk menyelesaikan masalahnya. 15. 16. 13. proses. . (2) mengevaluasinya. dan outcomenya. peserta didik dapat menyelesaikan masalah secara terencana mulai dari input. peserta didik dapat menyelesaikan masalah itu dengan menggunakan strategi lain. Mengevaluasi strategi sistematika Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan masalah. 17. peserta didik dapat: (1) menjelaskan dengan menerapkan strategi itu. output. Mengevaluasi kualitas solusi Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan masalah dan beberapa strategi untuk menyelesaikan masalah. peserta didik dapat mengevaluasi strategi pemecahannya berdasarkan prosedur yang disajikan. peserta didik dapat memecahkan masalah dan menjelaskan prosedur yang digunakan untuk menyelesaikan masalah.Disajikan sebuah cerita. (3) menentukan strategi mana yang tepat. 14. kartun. beberapa strategi pemecahan masalah dan prosedur. grafik atau tabel dan sebuah pernyataan masalah.

Tujuannya adalah agar antar tes memiliki keterkaitan yang sama. Artinya. Membuat lembar kunci jawaban dan petunjuk penilaiannya. 45 . Memberi nomor urut soal didasarkan nomor urut soal dalam kisi-kisi. akan menghasilkan skor atau angka yang sama. B. Pengertian Merakit soal adalah menyusun soal yang siap pakai menjadi satu perangkat/paket tes atau beberapa paket tes paralel.Penulisan Butir Soal VIII. Soal inti ini diperlukan apabila soal yang dirakit terdiri dari beberapa tes paralel. kemudian soal-soal itu ditempatkan dalam urutan yang sama. PERAKITAN BUTIR SOAL A. Pemeriksaan terhadap jawaban peserta didik dan pemberian angka merupakan langkah untuk mendapatkan informasi kuantitatif dari masing-masing peserta didik. guru harus memperhatikan langkah-langkah perakitan soal. atau jika orang yang sama mengulangi proses penskoran akan dihasilkan skor yang sama. Berikut langkahlangkah perakitan soal. Menentukan/menghitung penyebaran kunci jawaban (untuk bentuk pilihan ganda). Menentukan soal inti (anchor items) sebanyak 10 % dari jumlah soal dalam satu paket. penskoran soal harus diusahakan agar dapat dilakukan secara objektif. Langkah-langkah Perakitan Soal Para pendidik dapat merakit soal menjadi suatu paket tes yang tepat. Mengecek setiap soal dalam satu paket tes apakah soal-soalnya sudah bebas dari kaidah “Setiap soal tidak boleh memberi petunjuk jawaban terhadap soal yang lain”. Penempatan soal inti dalam paket tes diletakkan secara acak. Mengelompokkan soal-soal yang mengukur kompetensi dan materi yang sama. dengan menggunakan rumus berikut. Dasar acuan dalam merakit soal adalah tujuan tes dan kisi-kisinya. Jumlah soal =  Jumlah pilihan jawaban Penyebaran kunci jawaban + 3 8. Untuk memudahkan pelaksanaannya. Pada prinsipnya. Membuat petunjuk umum dan khusus untuk mengerjakan soal. apabila para pendidik memperhatikan langkah-langkah perakitan soal. Dalam bab ini juga diuraikan penskoran jawaban soal. Membuat format lembar jawaban. apabila penskoran dilakukan oleh dua orang atau lebih yang sama tingkat kompetensinya.

Kelvin (titik awal 2370 titik didih 3730).9. Apabila UN atau US sudah mempergunakan konversi model respon butir. semua nilai peserta didik harus mengacu pada model konversi ini. Untuk mempermudah perhitungan/penentuan nilai akhir. sedangkan orang yang menggunakan Fahrenheit dan Kelvin selalu diuntungkan karena titik awalnya 32 dan 237. Bobot suatu soal yang sudah ditetapkan pada satu perangkat tes dapat berubah bila soal tersebut dirakit ke dalam perangkat tes yang lain. Nilai keduanya dapat digabung setelah keduanya ditentukan bobotnya. misal bentuk pilihan ganda dan uraian atau tes tertulis dan tes praktik. namun masing-masing memiliki skala sendiri-sendiri. Untuk menentukan skor jadinya adalah skor perolehan peserta didik yang bersangkutan dibagi skor maksimum kali bobot. konversi dapat disusun melalui konversi biasa dan konversi yang terkalibrasi dengan model respon butir. Perakit soal harus dapat mengalokasikan besarnya bobot untuk setiap soal dari bobot yang telah ditetapkan. Reamur (titik awal 00 titik didih 800). tidak membandingkan dengan konversi lain/biasa. Demikian pula dengan konversi nilai dalam ulangan atau ujian. Terutama bila dalam satu tes terdiri dari dua bentuk soal. .01). Penentuan besar kecilnya bobot soal didasarkan atas tingkat kedalaman dan keluasan materi yang ditanyakan atau kompleksitas jawaban yang dituntut oleh suatu soal. Skor dari soal bentuk pilihan ganda tidak dapat langsung digabung dengan skor uraian. kita ingat proses penyamaan skala atau konversi alat ukur suhu yang didasarkan pada konversi rumus yang sudah standar. misal skala pengukuran: Celcius (titik awal 00 titik didih 1000). jumlah bobot keseluruhan pada satu perangkat tes uraian ditetapkan 100. Misalnya. Menentukan besarnya bobot setiap soal (untuk soal bentuk uraian) Bobot soal adalah besarnya angka yang ditetapkan untuk suatu butir soal dalam perbandingan (ratio) dengan butir soal lainnya dalam satu perangkat tes. Masing-masing skala pengukuran ini bukan untuk dibandingkan atau sebagai penentu kelulusan atau sebagai pengatrol nilai. Fahrenheit (titik awal 320 titik didih 2120 ). 10. Dalam ilmu pengukuran. Keberadaan skala ini tidak bisa dikatakan bahwa orang yang menggunakan skala pengukuran Celcius dan Reamur akan selalu dirugikan karena keduanya memiliki nilai 0 sampai dengan 4 (bila acuan kriterianya 4. Guru atau panitia ujian mau menggunakan konversi yang mana. untuk soal bentuk pilihan ganda (45 soal dengan skor maksimum 45) bobotnya 60 % dan bentuk uraian (5 soal dengan skor maksimum 20) bobotnya 40 %. Menyusun tabel konversi skor Tabel konversi sangat membantu para pendidik pada saat menilai lembar jawaban peserta didik. Hal ini karena tingkat keluasan dan kedalaman materi yang ditanyakan atau penekannya dalam kedua bentuk itu tidak sama. Tabel konversi ini merupakan tabel konversi sederhana atau klasik. Untuk memudahkan penggunaan tabel konversi.

yaitu untuk memperoleh nilai murni peserta didik. Dengan rumus inilah konversi terkalibrasi dapat disusun. dan sukar. masing-masing tes masih berada pada skala yang sama dan bisa dibandingkan.Penulisan Butir Soal Konversi biasa (model pengukuran secara klasik) penggunaannya biasa digunakan guru di sekolah. Kemudian nilai abilitas (misal -3. Untuk memahami model terkalibrasi ini diperlukan pengertian berikut. Artinya bahwa butir-butir soal tidak disusun berdasarkan tingkat kesukarannya dan kemampuan peserta didik sehingga model konversi ini belum bisa menentukan nilai murni peserta didik yang sebenarnya. Setiap jumlah jawaban yang benar soal. tes yang diberikan kepada peserta didik 47 . yang penting benar 40 soal) peserta didik yang bersangkutan akan memperoleh nilai 8 (untuk konversi skor maksimum 10). misal 1 sampai dengan 50. Jadi dalam konversi yang terkalibrasi skalanya didasarkan dua hal penting. sehingga untuk membuat tabel konversi mempergunakan rumus Y=50+5X. atau 0-4. nomor 3 benar atau sebaliknya dan seterusnya. Kelemahan kedua adalah bahwa tingkat kesukaran butir soal tidak ditempatkan/dikalibrasi pada skala yang sama. Konversi seperti ini memiliki dua kelemahan. Misal untuk dapat ditransformasi ke dalam skala 0-100 diperlukan rata-rata 50 dan standar deviasi 5. yaitu tingkat kesukaran dan tingkat kemampuan peserta didik. 0-100. Artinya peserta didik manapun yang menjawab benar 40 dari 50 butir soal dalam satu tes (terserah nomor butir soal berapa yang benar. sukar) sesuai dengan kemampuan peserta didik yang bersangkutan. Bila tes sudah disamakan skalanya. Soal ditempatkan pada tingkat kesukaran dan kemampuan peserta didik yang telah disamakan skalanya. nomor 2 salah. masing-masing butir memiliki tingkat kemampuan (untuk teori klasik tidak ada). Apabila sekolah mempergunakan konversi biasa seperti ini justru akan merugikan peserta didik yang memiliki kemampuan lebih tinggi.00 sampai dengan +3. kemampuan 3) yang dapat menjawab benar semua soal dalam tes pada skala yang bersangkutan atau tingkat kesukaran butir (mudah.2 (untuk konversi skor maksimum 4). E = 2.00) ditransformasi ke dalam skala 0-10. sedang. apakah nomor 1 benar. sedang. 80 (untuk konversi skor maksimum 100) 0. siapapun yang mengambil tes pada paket yang mudah. Tingkat kemampuan ini diperoleh dari rumus model Rasch P= (e (Φ-δ)) : (1 + e (Φ-δ): P adalah peluang menjawab benar satu butir soal. Bila menghendaki skor maksimum 10 digunakan rumus (skor perolehan: skor maksimum) x 10 dan bila menggunakan skor maksimum 100 digunakan nilai konversi dengan rumus (skor perolehan: skor maksimum) x 100 atau bila menggunakan skor maksimum 4 digunakan nilai konversi dengan rumus (skor perolehan : skor maksimum) x 4. Oleh karena itu. Konversi yang terkalibrasi adalah konversi nilai yang disusun berdasarkan kemampuan peserta didik dari tingkat kesukaran butir soal yang terkalibrasi dengan model Rasch (Item Response Theory). Y=nilai peserta didik dan X adalah nilai abilitas. kemampuan 2. Φ = tingkat kemampuan peserta didik. dan δ = tingat kesukaran butir soal. pertama adalah bahwa setiap butir soal dihitung memiliki tingkat kesukaran yang sama.7183. Seharusnya hanya peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi (misal pada skala kemampuan 1.

uraian. (5) Standar kesalahan pengukuran hanya berlaku untuk seluruh peserta didik. (3) Daya pembeda. (2) tingkat kesukaran soal didefinisikan sebagai proporsi peserta didik dalam kelompok yang menjawab benar soal. (2) penggunaan metode dan teknik untuk desain dan analisis tes dengan memperbandingkan kemampuan peserta didik pada pembagian kelompok di atas. Model ini telah digunakan di berbagai kalangan seperti untuk sertifikasi ujian kedokteran di USA. equating tes English di Provinsi Guandong Cina. Mudah/sulitnya butir soal tergantung pada kemampuan peserta didik yang dites dan keberadaan tes yang diberikan. Model ini banyak digunakan orang sebagai pendekatan analitik standard untuk kalibrasi instrumen karena modelnya sederhana. Model Rasch merupakan salahsatu model dalam teori respon butir yang menitikberatkan pada parameter tingkat kesukaran butir soal. atau perbuatan. Disamping itu. Namun sebaliknya bila kemampuan peserta didik dalam memahami materi yang diajarkan guru itu rendah (belum tercapai target kompetensinya). (1) Tingkat kemampuan dalam teori klasik adalah “true score”.sudah selayaknya harus sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. (3) konsep reliabilitas tes didefinisikan dari istilah tes paralel. program penilaian di Australia. Apakah tesnya berbentuk tes lisan. tengah. (3) model ini menekankan pada tingkat butir soal bukan tes. Apabila kemampuan peserta didik dalam memahami materi yang diajarkan guru itu tinggi (sudah tercapai target kompetensinya). reliabilitas. (4) tidak ada dasar teori untuk menentukan bagaimana peserta didik memperoleh tes yang sesuai dengan kemampuan peserta didik.). peluang menjawab benar soal pasti rendah. isian. Konversi nilai berdasarkan Model Rasch memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan konversi nilai berdasarkan model pengukuran secara klasik. peluang menjawab benar soal pasti tinggi. tertulis (soalnya berbentuk pilihan ganda. (4) model ini . sejumlah program penilaian sekolah di USA. hemat. Keterbatasan model pengukuran secara klasik adalah seperti berikut. Meningkatnya validitas skor tes diperoleh dari tingkat kesukaran tes dihubungkan dengan tingkat kemampuan setiap peserta didik. dan equating skor tes (tidak suksesnya pada item bias dan equating skor tes karena sulit menentukan kemampuan yang sebenarnya di antara kelompok). tes klasik telah gagal memberi kesimpulan yang tepat terhadap beberapa masalah testing seperti: desain tes (statistik butir klasik tidak memberitahu penyusun tes tentang lokasi maksimum daya pembeda butir pada skala skor tes). dan validitas soal/tes didefinisikan berdasarkan grup peserta didik. studi matematik dan science internasional ketiga. Jika tes sulit artinya tingkat kemampuan peserta didik rendah. (2) skor peserta didik dideskripsikan bukan tes dependen. atau efektif dan efisien. elegant. identifikasi item bias. dll. dan beberapa tes diagnostic. Artinya bahwa konversi nilai berdasarkan teori tes klasik memiliki kelemahan. yaitu (1) tingkat kesukaran dan daya pembeda tergantung pada sampel. Kelebihan model Rasch atau teori respon butir secara umum adalah bahwa: (1) model ini tidak berdasarkan grup dependen. bawah. National School English Literacy Survey di Australia. Jika tes mudah artinya tingkat kemampuan peserta didik tinggi.

(2) skor responden dapat dibandingkan pada dua atau lebih bentuk tes yang sama. (5) model ini merupakan suatu model yang memberikan suatu pengukuran ketepatan untuk setiap skor tingkat kemampuan.Penulisan Butir Soal tidak memerlukan paralel tes untuk menentukan reliabilitas tes. kelebihan teori respon butir adalah: (1) responden dapat diskor pada skala yang sama. Tujuan utama teori respon butir adalah memberikan invariant pada statistik soal dan estimasi kemampuan. (4) tes dapat disusun sesuai keahlian berdasarkan tingkat kemampuan yang akan dites. Oleh karena itu. (3) semua bentuk soal memperoleh perlakuan melalui cara yang sama. 49 .

Hal ini perlu dilakukan guna menjaga konsistensi dan objektivitas pemberian skor. Berikan skor sesuai dengan tingkat kelengkapan dan kesempurnaan jawaban peserta didik. sedangkan pemberian skor untuk bentuk soal uraian sangat ditentukan oleh bobot masing-masing soalnya. Bacalah jawaban peserta didik kemudian bandingkan dengan jawaban ideal seperti yang ada pada pedoman penskoran. seperti mata pelajaran bahasa. . DAN PENYETARAAN TES A. maka jawabannya diberi skor 1. 4. Periksalah seluruh lembar jawaban peserta didik pada nomor yang sama. kecuali kalau memang kedua aspek itu yang akan diukur. Setelah selesai memeriksa lembar jawaban peserta didik. 5. sangat diperlukan kesabaran dan ketelitian yang handal. Hindari faktor-faktor yang tidak sesuai/relevan dalam pemberian skor seperti bagus tidaknya tulisan dan bersih tidak kertas jawaban. Jumlah skor benar itulah yang merupakan skor perolehan (skor mentah) dari soal bentuk pilihan ganda yang diperoleh warga belajar/peserta didik yang bersangkutan. bila tidak sesuai diberi skor 0.IX. 2. Pemberian skor untuk bentuk soal pilihan ganda sangat mudah dan telah dijelaskan diatas. Lembar jawaban peserta didik dicocokkan pada lembar kunci jawaban yang sudah disiapkan. Untuk melakukan pemeriksaan soal-soal bentuk uraian termasuk tes perbuatan. maka baru dihitung berapa jumlah soal yang benar dan berapa jumlah soal yang tidak benar. Bila jawaban peserta didik sesuai dengan kunci jawaban. Untuk memudahkan pelaksanaannya. hitunglah jumlah skor perolehan peserta didik pada setiap nomor butir soal. 3. 1. Kemudian lakukan perhitungan nilai dengan menggunakan rumus seperti berikut ini. langkah berikutnya adalah memberikan skor pada lembar jawaban itu. Gunakanlah pedoman penskoran yang telah disiapkan sebagai acuan dalam memeriksa jawaban peserta didik. Setelah selesai menskor seluruh soal. pelaksanaannya sangat mudah. Bila setiap butir soal sudah selesai diskor. Prosedur Pemeriksaan Lembar Jawaban Dalam melakukan pemeriksaan lembar jawaban peserta didik sangat ditentukan pada bentuk soalnya. ada beberapa kaidah atau prosedur pemeriksaannya. PERHITUNGAN NILAI AKHIR. PROSEDUR PEMERIKSAAN LEMBAR JAWABAN. Untuk pemeriksaan bentuk pilihan ganda. baru dilanjutkan ke pemeriksaan nomor berikutnya.

maka setiap butir soal uraian dibuatkan perhitungan skornya yang dihitung dari skor maksimumnya. Skor soal nomor 2 ( Skor maksimum 5.5.50 Untuk memudahkan dalam pelaksanaan penskoran.00 (5:5) x 10 = 10. 2:8x20=5.00 (7:10) x 30 = 21. Contohnya seperti berikut ini.5 15 Skor Perolehan 7 8 Nilai 17. Skor soal nomor 1 ( contoh: 1:8 x 20 = 2. bobot soal 30) Skor Perolehan 1 2 3 4 Nilai 3 6 9 12 Skor Perolehan 6 7 8 9 Nilai 18 21 24 27 Skor Perolehan 10 Nilai 30 51 . Skor Soal No 3 (skor maximum 10. bobot soal 10 ) Skor Perolehan 1 2 3 Nilai 2 4 6 Skor Perolehan 4 5 Nilai 8 10 c.20=bobot soal nomor 1) Skor Perolehan 1 2 3 Nilai 2.00 (9:10) x 30 = 27. Penjelasan : 8=skor maksimum soal nomor 1. a.5 5 7.Penulisan Butir Soal Skor perolehan peserta didik Nilai Setiap Soal =  X bobot Skor maksimum butir soal ybs Contoh Soal Uraian 1 2 3 4 5 Bobot Soal 20 10 30 10 30 Skor Maksimum 8 5 10 5 10 Skor perolehan Raufan 7 4 9 5 7 Perhitungannya (7:8) x 20 = 17.5 20 b.5 Skor Perolehan 4 5 6 Nilai 10 12.50 (4:5) x 10 = 8. dst.00 Nilai soal uraian Raufan adalah = 83.

bobot soal 10) Skor Perolehan 1 2 3 Nilai 2 4 6 Skor Perolehan 4 5 Nilai 8 10 e. Contoh seperti berikut ini No peserta didik 1 2 N 7.44 . sikap) dalam perhitungan nilai akhir hendaknya berdiri sendiri. Berikut ini diberikan contoh perhitungan nilai akhir untuk tes tertulis. Tes Tertulis Bentuk Soal PG Isian Jumlah Soal 35 10 Bobot 70 % Nomor Soal 1-35 1-10 Jumlah= Skor Maksimum 35 10 45 Skor Fauria 30 8 38 Perhitungan 38:45x10=8. Contoh Perhitungan Nilai Akhir 1. bobot soal 30 ) Skor Perolehan 1 2 3 4 Nilai 3 6 9 12 Skor Perolehan 6 7 8 9 Nilai 18 21 24 27 Skor Perolehan 10 Nilai 30 Berdasarkan perhitungan skor yang telah dibuat.d. penilaian ke lima butir soal di atas dapat doskor secara mudah pada setiap peserta didik. 5 SP 4 N 8 SP 9 3 N 27 SP 5 4 N 10 SP 7 5 N 21 SP 7 Nama Nomor Soal Nilai (Jumlah N) 83. Skor soal no. N = Nilai B.50 1 2 3 4 5 Raufan dst Keterangan : SP = Skor Perolehan. Skor soal no. 5 ( Skor Maksimum 10. 4 (Skor Maksimum 5. jangan digabung karena setiap jenis tes memiliki karakteristik sendiri-sendiri. perbuatan. Perhitungan Nilai Akhir Setiap jenis tes (tertulis.

Fauria dapat menjawab 20 perintah dengan benar.86 ) = 5.86 Nilai Fauria untuk PG.91 + 2.Penulisan Butir Soal Uraian 5 30 % 1 2 3 4 5 Jumlah= 3 4 9 6 6 28 3 2 8 4 5 22 22:28x10=7.70 53 . Nilai Tes Praktik Misal pada tes praktik dengan skor maksimum 23.36 = 8. Skor yang diperoleh Fauria adalah 20 .44 ) + ( 30 % x 7.27 2. Isian dan Uraian = ( 70 % x 8. Nilai tes praktiknya = 20 : 23 x 10= 8.

B. melainkan bank yang butir-butir soal terkalibrasi (Wright and Bell. Tujuan Pengembangan Bank Soal Secara implisit. 1984: 315). sehingga soalnya terjamin (Hambleton and Swaminathan. C. semester. Apakah bank soal dapat berisi butir-butir soal yang sesuai dengan tujuan yang terkandung di dalamnya atau tidak. tingkat kesulitan butir soal. yaitu : (1) Kemudahan pada penyimpanan dan pencarian kembali. 1984: 331) dan disusun secara sistematis agar memudahkan penggunaan kembali dan manfaat soalnya.X. perangkat lunak yang digunakan memiliki tiga kelebihan. 1985: 255-256). Dalam mengolah butir-butir soal dalam bank soal diperlukan perangkat lunak yang tepat. standar kompetensi dan kompetensi dasar. (5) Uji coba tes. tingkat kemampuan peserta didik. PENGEMBANGAN BANK SOAL A. . tipe sekolah. (7) Analisis butir soal secara klasik dan IRT. format soal. karena bank soal sangat berguna bagi guru. tujuan pembelajaran. Prosedur Pengembangan Bank Soal Butir-butir soal yang akan disimpan di dalam bank soal harus diproses melalui prosedur pengembangan bank soal. tujuan pengembangan bank soal juga diperlukan untuk penilaian mutu bank soal itu sendiri. (4) Perakitan tes. tingkat kesukaran butir soal. perilaku yang diukur/taxonomi. dan peserta didik (Wright and Bell. Hal ini sangat diperlukan untuk memiliki suatu tujuan yang jelas sebagai panduan dan pengembangan bank soal. statistik. dan jenjang pendidikan. psychometrik. jurusan. Pengertian Bank soal bukan hanya bank pertanyaan. tujuan utama bank soal adalah untuk merakit/mengonstruksi tes dan pengadaan kesesuaian ujian baik untuk tujuan penilaian ulangan harian maupun untuk tujuan penilaian pada ulangan akhir semester. kurikulum. atau perpustakaan soal (Millman and Arter. gudang soal. tahun. (2) Penulisan butir soal. 1984: 333-335). (6) Memasukkan data. (8) Menyeleksi butir untuk bank soal yang terkalibrasi. pool soal. (2) Kesanggupan untuk memunculkan kembali grafik butir-butir secara tepat. Prosedur pengembangan butir soal yang digunakan di dalam pengembangan bank soal adalah : (1) Penyusunan kisi-kisi. Secara singkat. kumpulan soal. (3) Revisi/validasi butir. Oleh karena itu. Untuk itu butir-butir soal di dalam bank soal harus tersedia untuk setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar pada setiap mata pelajaran. Setiap butir soal dimasukkan berdasarkan : tingkat sekolah.

maka model seperti ini sangat tepat. 1984: 336) 55 . Para guru dapat memilih tes itu untuk penilaian kelas. model tes seperti ini dapat diharapkan memiliki mutu yang lebih baik. Hal ini tidak hanya dapat menghemat waktu bagi guru.Penulisan Butir Soal (3) Kelengkapan susunan data butir soal. atau ulangan akhir semester. ulangan bersama setiap selesai mengerjakan kompetensi minimal pada beberapa standar kompetensi/kompetensi dasar. seperti ulangan harian. Proses pengembangan bank soal dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini. Gagasan lain yang perlu dipertimbangkan pada setiap sekolah adalah adanya konsep bank tes. Karena kurikulum di Indonesia adalah standar. Gunanya adalah untuk menyusun beberapa paket paralel tes kecil berdasarkan unit-unit pembelajaran. Gambar 1 : Pengembangan Bank Soal (Wright and Bell. ulangan tengah semester.

Isaac I. Bejar. (1990). Creativity: Flaw and The Psychology of Discovery and Invention. New York: McGraw Hill Book Company Crocker. (1984). Czikszentmihaly. Devito. Illinois: Scott. Atkinson. second edition. Handbook of Modern Item Response Theory. Lewis R. & Algina. Vocational Psychology. Swerdlik. Computational Handbook of Statistics. (1978). van der Linden and Ronald K. John O. (1984). (1976). Theory. Allice. (1996). Boston: Allyn and Bacon. Crites. James L. New York: Harper Collins Publisher.(Eight Edition). Canada: Educational Research Institute of British Columbia. (Editor). (1987). Anne and Urbina. Introduction to Classical and Modern Test. (1992). California: Mayfield Publishing Company. Hambleton. Susana. Mihaly.DAFTAR PUSTAKA Aiken. and Smith. J. Lynne. Educattional Psychology. Psicoholological Testing. Louis. Bruning. Educational Research in Classrooms and Schools: A Manual of Materials and Methods. (1969). Hemisphere Publishing Corporation. Foresman and Company. L. Ronald Jay. Psychological Testing and Assessment: An Introduction to Test and Measurement. John W. (Second . Crow. Assessment Systems Corporation. Cohen. New York: Springer-Verlag. and Kintz. User's Manual for the MicroCat Testing System. Creative Wellstrings for Science Teaching. Personality Motivation and Achievement. Ronald K. Rinehart and Winston. Hambleton (Editor). and Crow. Psychological Testing and Assessment. Cohen. Inc. (1983). B. New Jersey: Prentice-Hall. Anastasi. (Seventh Edition). (1994). USA. A Response Model for Multiple-Choice Items dalam Wim J. Mark E. Applications of Item Response Theory. L. Lester D. Sashington. (1997). New York: American Book Company. David and Steinberg. Affred. London: Harper & Row Publishers. (1997). New York: Holt. Introduction to Item Response Theory and TheirAssumptions. (1986). Douglas K. Third Edition. Inc.

R. Jere E. Thomas M. New York: Longman. Series on Higher Education Oryx Press. Swaminathan. Dag. Ronald K. J. and Aplications. Australia: Australian Council Ibr Pdtrcallonal Research. (1990) Educational Psychology. Publisher. Fundamentals of Item Response Theory. Publishers. and Stanley. John. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates. and Brophy. Trial Testing and Item Analysis (Module (A). (I986). Test Validity. Inc. and Black. Hambleton. Julian C. Analysis. Joreskog. Adelaide: National Centre of Vocational Education Research Ltd. R. Instrument Development in the Affective Domain Boston: Kluwer-Nijhoff Publishing. Inc. (1985). Glass. Statistical Methods in Education and Psychology. Ronald K (1993). Izard. Gonczi. (1992). Thomas L. (1991). (1998). E. DT (1988). Hair. H. Anderson. Newbury Park: Sage Publications. UNESCO.. and Rogers. Multivariate Data. Robert K. Hambleton. David A. Inc. Harry H. diterjemahkan Simatupang L. Prentice-I-lall International. . New Jersey: Prentice Hall. Harman. Tatham. Principles. (1970). R.. Essentials of Education Measurement. Asas-asas Penelitian Behavioral (Edisi Ketiga). Nijhoff Publishing. Boston: Kluwer. Chicago: Scientific Software Internasional.. USA. W. PW & Thaycr. Holland. Educational Measurement. . (1995). Principles and Selected Applications of Item Response Theory. PRELIS2: User’s Reference Guide.K. and Frisbie. Kerlinger. In Linn. Developing a Competent Workforce. (1991). Good.Penulisan Butir Soal Edition). F. Ebel. Yogyakarta: Gadjah Mada University 57 . Karl and Sorboni. (1994). and Swaminathan. L. C. Phoenix: American Council on Education. Haladyna. New Jersey: Prentice Hall. Robert L. Robert L. (1970). Third Edition. Chicago: The University of Chicago Press. Gene V. Item Response Theory. Andrew (Editor). New Jersey. R. (1996). (Editor). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates. Modern Factor Analysis (Third Edition Revised). H. Hariharan. Developing and Validating Multiple-choice Test Items. Hambleton. Fred N (1993). Gable.J.

(1993). Inc. 315. Release 6. Jason and Greene. Jennifer. New Delhi: Tata McGrawHill Publishing Company Limited. McDonald. Linn.Graw Hill. Liora Pedhazur. International Institute for Educational Planning: Handbook of Curriculum Evaluation. (1978). Jason and Arter. 4. Elazar J. Ohio: Prentice-Hall. Jum C. Nunally. and Analysis: An Integrated Approach. Columbia University Nitko. Issues in Item Banking. Third Edition. New Jersey: Larvrence Erbaum Associates. Arieh (Editor). Teacher College. Messick. Marija J. (1986). Measurement and Assessment in Teaching. (1999). Sally-Wendkos. Daniel J.0. Ohio Merril Publishing Company. USA: Educational Testing Service. Norman E. Inc. Winter 1984. In Journal of Educational Measurement. Publishers. Psychometric Theory. Paris: UNESCO. New York Mc. Alberth C (1990). Robert L. (1995). Educational Measurement.The Spesification and Development of Tests of Achiievement and Ability in Robert L. p. Pedhazur. (1993). Publishers. Psychology. New Jersey: Lowrence Erlbaum Associates. Volume 21. Classroom Applications Measurement. Measurement. Ohio: Merrill an imprint of Prentice Hall Englewood Cliffs. Roderich P. ed. (1985). (1993). Norusis. New York. Second Edition. Test Theory: A Unified Treatment. Educational Measurement. Third Edition. Millman. Diana E. Samuel. and Olds. F. Anthony J. “Validity”. (1996). (Seventh Edition). Robert L. SPSS for Windows Base System user's Guide. Lewy. Series on Higher Education Oryx Press.M. (1952). A Division of Macmillan. Millman. New York: American Council on Education and Macmillan Publishing Company. (1977). Oosterhof. Second Edition. Lin (Editor). (1991). and Gronlund. Measuring Social Attitudes: A Handbook for Researchers and Practitioners. and Schmekin. No. Mueller. Judith A. Linn. . of Educational Paplia. A Theory of Test Scores. Educational Assessment of Students. Design. Phoenix: American Council on Education.Press. Lord. Chicago: Marketing Departernent SPSS Inc.

(1981). Educational Evaluation and Decision Making. Jakarta Pusat Pengembangan dan Pengembangan Bahasa (1990). Motivation Theory and Research.Penulisan Butir Soal Petersen. New Delhi: Prentice Hall Stufflebean. Review of Educational Research.L. 59 .SMA/MA. Statistical Reasoning for The Behavioral Sciences.W. Measurement and Evaluation in Pschology and Education. Richard J. In Educational Measurement ( Third Edition ). IRT Tes Equating: Relevant issues and a Review of Recent Research . Classroom Assesment: What Teachers Need to Know. Boston: Allyn and Bacon Pusat Kurikulum. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Pengujian. (1988).E. Kaidah Bahasa Indonesia dalam Penulisan Soal. Jakarta. Ohio: Merrill. California: Wadsworth. Peacock Publishersm Inc. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Penilaian Berbasis Kelas.Jakarta Raths. Illinois F. Norming. Educational Psychology. Balitbang Depdiknas (2002). Shavelson. 56(4). Seriess on Higher Education Oryx Press Petri. Merill Publishing. (1997).R. Kamus Besar Bahasa Indonesia. dan SMK. Herbert L. Boston: Allyn and Bacon. Charles E (1988). Bahan Penataran Pengujian Pendidikan.D( 1993). Robert M. Michael J. Co Safari. Balitbang Dikbud ( 1993/1994).This'en.E et all(1996).495-529 Skinner. Scaling. _______________________________ (2003). G and Lissitz. Safari.James. Belmont. Kolen. Penilaian Tingkat Kelas : Pedoman Bagi Guru SD/MI. Jakarta: PT Kartanegara. Inc. (2000). Daniel L et al (1971). Kartanegara. W. Thorndike.SMP/MTs.(1986). Sixth Edition. Pengujian dan Penilaian Bahasa dan Sastra Indonesia. Editor Robert L Linn Phoenix: American Council on Education. (Second Edition). Value and Teaching: Working with Value in Classroom Columbus: Charles E. Nancy S. Jakarta: PT. (1995). Jakarta. Balai Pustaka. Skaggs. and Equating. (1995). an imprint of Prentice Hall. Popham. Inc. and Hoover H.

Torrance. Benjamin D.N. 4. No.C: American Council on Education. . Bensenville. In Journal of Educational Measurement. Susan R. and Stone. Scholastic Testing Service. Wright.D. Paul (1974). Stephen L.331 Wright. Tokyo: Mc-Graw-Hill International Book Company. (1992). Benjamin D. Chicago : MESA Press. Item Banks : What. Grace W . Yelon. and Stone. Wright. Washington D. Psychology in The Classroom. Volume 21. Winter 1984. Wright. A User's Guide to BIGSTEPS: Rasch Model Computer Program. (1971). Mark H (1979).2. S. How. (1977).Tinkelman. Planning the Objective Test. John M. and Bell. A Teacher’s World. Inc. p. Chicago: MESA Press. Why. Version 2. Benjamin D. Torrance Test of Creativity Thinking. and Linacre. and Weinstein. Best Test Design. B. Educational Measurement (Second Ed).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->