Pengembangan Pembelajaran Berpendekatan Tematik Berorientasi Pemecahan Masalah Matematika Terbuka untuk Mengembangkan Kompetensi Berpikir Divergen, Kritis

dan Kreatif
I Gusti Putu Sudiarta 1

Abstrak: Kompetensi berpikir divergen, kritis, dan kreatif di kalangan peserta didik adalah sangat penting dalam era persaingan global, karena tingkat kompleksitas permasalahan dalam segala aspek kehidupan modern semakin tinggi. Pendekatan tematik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk secara mendalam mengkaji topik-topik matematika yang dikemas secara menarik dan kontekstual, sedangkan pemecahan masalah matematika terbuka memberikan kesempatan luas untuk melakukan investigasi masalah matematika secara mendalam, sehingga siswa dapat mengkonstruksi segala kemungkinan pemecahannya secara divergen, kritis dan kreatif. Artikel ini bertujuan (1) mengkaji hakikat pendekatan tematik dalam pembelajaran matematika dan kesesuaiannya dengan tuntutan KBK, (2) mengakaji pendekatan pembelajaran matematika berorientasi pada pemecahan masalah matematika terbuka, (3) mendeskripsikan pengertian kompetensi berpikir divergen, kritis, dan kreatif, beserta indikator-indikatornya, dan (4) memberikan contoh model pemecahan masalah matematika terbuka untuk mengembangkan kompetensi berpikir divergen, kritis, dan kreatif dalam pembelajaran matematika. Kata kunci: pendekatan tematik, pemecahan masalah matematika terbuka, kompetensi matematis tingkat tinggi, berpikir divergen, kriti, dan kreatif

I. Pendahuluan Mengembangkan kompetensi berpikir kritis, kreatif dan produktif di kalangan peserta didik merupakan hal yang sangat penting dalam era persaingan global, karena tingkat kompleksitas permasalahan dalam segala aspek kehidupan modern ini semakin tinggi. Kemampuan berpikir kritis, kreatif dan produktif tergolong kompetensi tingkat tinggi (high order competecies) dan dapat dipandang sebagai kelanjutan dari kompetensi dasar (biasa disebut dengan basic skills dalam pembelajaran matematika). Basic skills dalam
1

I Gusti Putu Sudiarta adalah dosen Jurusan Pendidikan Matematika pada FPMIPA, UNDIKSHA Singaraja, email: gussudiarta@yahoo.de

1

pembelajaran matematika biasanya dibentuk melalui aktivitas yang bersifat konvergen. Aktivitas ini umumnya cenderung berupa latihan-latihan matematika yang bersifat algoritmik, mekanistik dan rutin. Namun kompetensi berpikir kritis, kreatif dan produktif bersifat divergen dan menuntut aktivitas investigasi masalah matematika dari berbagai perspektif. Dalam hal ini pemecaham masalah matematika tidak semata-mata bertujuan untuk mencari sebuah jawaban yang benar, tetapi bertujuan bagaimana mengkonstruksi segala kemungkinan pemecahannya yang reasonable dan viabel. Dalam kenyataannya pembelajaran matematika di Indonesia, bahkan di banyak negara masih didominasi oleh aktivitas latihan-latihan untuk pencapaian mathematical basics skills semata. Hal ini berakibat pada rendahnya prestasi dan minat belajar matematika siswa. Tak sulit menemukan data statistik tentang rendahnya prestasi belajar matematika siswa. Walaupun hal ini tidak sepenuhnya salah, dalam era persaingan bebas ini pembelajaran matematika yang bertumpu pada pencapaian basic skills tidaklah memadai. Dengan demikian pembelajaran matematika, kini dan di masa datang tidaklah boleh berhenti hanya pada pencapaian basic skills, tetapi sebaliknya harus dirancang untuk mencapai kompetensi matematis tingkat tinggi (high order competencies). Perspektif baru ini merupakan tantangan yang harus dijadikan pegangan dalam pembelajaran matematika, dimana model pembelajaran harus mampu memberikan ruang seluas-luasnya bagi peserta didik dalam membangun pengetahuan, dan pengalaman mulai dari basic skills sampai higher order skill. Perspektif baru ini juga menuntut adanya reorientasi dalam aktivitas pemecahan masalah matematika. Tujuan pemecahan masalah matematika tidak lagi hanya terfokus pada penemuan sebuah jawaban yang benar (to find a correct solution), tetapi bagaimana mengkonstruksi segala kemungkinan pemecahan yang reasonable, beserta segala kemungkinan prosedur dan argumentasinya, kenapa jawaban atau pemecahan tersebut masuk akal (how to construct and to defend various reasonable solutions

2

Kritis. kemampuan berpikir kritis.and its respective procedures). Kemampuan matematis seperti ini sangat relevan. Berhubungan dengan hal tersebut. tematik kontekstual dan terbuka. dan produktif. kreatif dan produktif. (3) Mengembangkan 3 . kreatif dan produktif sangat penting dalam menganalisa. sedangkan pemecahan masalah matematika terbuka akan memberikan peserta didik kesempatan untuk melakukan investigasi masalah matematika secara mendalam. (2) Pendekatan pembelajaran Matematika berorientasi pemecahan masalah Matematika terbuka. mengingat masalah dunia nyata umumnya tidak sederhana dan konvergen. terutama tentang: (1) Hakikat pendekatan tematik dalam pembelajaran Matematika dan kesesuaiannya dengan tuntutan KBK. dan produktif dalam pembelajaran matematika ini menghadapi berbagai kendala. antara lain. kajian ini bertujuan untuk membahas secara singkat. bahkan tak terduga. kritis. dan Kreatif. sehingga dapat mengkonstruksi segala kemungkinan pemecahannya secara kritis. Model pembelajaran berpendekatan tematik berorientasi pemecahan masalah matematika terbuka yang dikaji dalam tulisan ini adalah untuk mengembangkan kemampuan tingkat tinggi. serta kurangnya contoh-contoh praktis yang siap diaplikasikan. Kemampuan berpikir kritis. beberapa hal terkait dengan usaha Pengembangan Pembelajaran Berpendekatan Tematik Berorientasi Pemecahan Masalah Matematika terbuka untuk Mengembangkan Kompetensi Berpikir Divergen. masih kaburnya hakikat dan konsep terkait dengan pembelajaran tematik. masalah matematika terbuka. divergen. kreatif. kreatif. mensintesa dan mengevaluasi segala argumen untuk mampu membuat keputusan yang rasional dan bertanggungjawab. tetapi sering kompleks dan divergen. Namun demikian. Pendekatan tematik akan memberi kesempatan kepada siswa untuk secara mendalam mengkaji topik-topik matematika yang dikemas secara menarik dan kontekstual. permasalahan terkait dengan usaha mengembangkan kemampuan berpikir divergen. Peserta didik hendaknya diarahkan untuk mencapai kompetensi tingkat tinggi ini melalui aktivitas-aktivitas pembelajaran yang bervariasi.

Kajian Literatur dan Pembahasan Berikut ini diuraikan dan dibahas teori-teori serta temuan-temuan penelitian yang mendukung gagasan yang mendasari kajian ini. Namun demikian. pendekatan ini semakin mendapat penekanan seiring dengan diterapkannya kurikulum berbasis kompetensi (KBK) di Indonesia. baik perkembangan kognitif. afektif maupun psikomotorik. Dalam dokumen KBK dituliskan bahwa “Pembelajaran tematik merupakan suatu Model pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan 4 . dan (4) Contoh pengembangan kompetensi berpikir divergen. KBK yang sering diklaim mengadopsi philosopi konstruktivisme menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered) yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka secara mandiri sesuai dengan pengalaman. Disamping itu. maka pembelajaran hendaknya dirancang dan dilaksankan secara kontekstual. Salah satu cara untuk itu adalah dengan mengemas pokok-pokok bahasan.kemampuan berpikir divergen. sehingga dekat dengan kehidupan siswa. kritis dan kreatif . Hal inilah yang dikenal dengan pendekatan tematik dalam pembelajaran. kemampuan dan tingkat perkembangan individual siswa. kritis dan kreatif dalam pembelajaran Matematika. Dalam rangka mengakomodasi (perbedaan) karakteristik individual peserta didik. Hakikat pendekatan tematik dalam pembelajaran Matematika dan kesesuaiannya dengan tuntutan KBK Pendekatan tematik dalam pembelajaran sebenarnya bukanlah suatu yang baru. beserta kompetensi-kompetensi yang berkaitan dalam suatu tema yang menarik yang dekat dengan kehidupan siswa. antara lain dengan menggunakan sumber dan lingkungan belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik sehari-hari. II. 1. dengan adanya tuntutan perubahan paradigma pembelajaran. terutama akibat semakin dominannya pengaruh pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran. Bahan atau pokok-pokok bahasan pun hendaknya dikemas sedemikian rupa.

dekat dan mempertimbangan kebutuhan dan kehidupan siswa sehari-hari.pengalaman yang bermakna kepada siswa. Secara umum. prosedur algoritma yang pada umumnya bersifat deduktif. aspek kurikulum. dan aspek belajar mengajar“ (Depdiknas. pembelajaran tematik hanya diajarkan pada siswa sekolah dasar kelas rendah (kelas I dan II). 2005b). Gerakan “Reaslistic Mathematics Education” ini semakin memberikan benang merah untuk melakukan reorientasi pembelajaram Matematika (Sudiarta. yaitu memiliki content yang memuat bangunan konsep-konsep abstrak. lebih kontekstual dan lebih berorientasi pada pemecahan masalah dalam rangka membangun kompetensi berpikir divergen.baik langsung maupun tak langsung. SMP dan bahkan SMA. bahkan termasuk di Indonseia melalui PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia). Pembelajaran 5 . Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu. sistem-sistem aksioma. dan emosional (Depdiknas. 2002). karena pada umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik). Hal ini mengingat karakteristik khas Matematika itu sendiri. Salah satu gerakan ke arah ini yang paling terkenal misalnya adalah “Reaslistic Mathematics Education”. yang pada awalnya dikembangkan di Belanda oleh Freudenthal mulai tahun 1973 dalam bukunya "Mathematics as an Educational Task” (Freudenthal. untuk pembelajaran matematika pendekatan tematik bukan hanya cocok untuk kelas I dan II Sekolah Dasar. Reorientasi ini menuntut penyajian matematika lebih ramah. tetapi cocok untuk semua SD. sosial. 1991) dan hingga kini telah diadopsi dibanyak negara. kretatif dan kritis serta produktif. Namun demikian. 2002). Menyadari kharakteristik khas Matematika itu maka ahli-ahli pendidikan Matematika (mathematics education) telah sejak lama mencari pendekatan/metode pembelajaran yang dapat menyajikan content Matematika yang lebih ramah untuk peserta didik. seperti di Amerika dalam bentuk Mathematic in Context. perkembangan fisiknya tidak pernah bisa dipisahkan dengan perkembangan mental.

(d) interdisciplinary learning. sedangkan tema memungkinkan peserta didik untuk mengintegrasikan (interconnected) fakta. and (e) assessment based on constructivist principles and not on rote learning”. Salah satu pendekatan pembelajaran yang cocok untuk tujuan ini adalah pendekatan pembelajaran tematik dipadukan dengan pendekatan dengan pemecahan masalah Matematika terbuka. 33) mengambarkan bahwa pembelajaran Matematika dengan pendekatan tematik dapat dicirikan dengan “(a) conceptual mathematization from the concrete to the abstract. Handal (2000) menyebutkan bahwa pembelajaran Matematika dengan pendekatan tematik memberikan ruang luas untuk membangun pengalaman dan pengetahuan Matematika. Lebih lanjut Freeman dan Sokoloff (1995) menyatakan unit-unit bahasan dalam pembelajaran Matematika terdiri atas 3 elemen yaitu (a) facts and information. pelatihan ketrampilan dan skill rutin saja. Freeman dan Sokoloff (1996) menyatakan bahwa tema dalam pembelajaran Matematika hendaknya memuat koleksi dari pengalaman belajar yang dapat membantu siswa dalam memahami dan memecahkan masalah dengan lebih mendalam. (c) interactive learning. p. 6 . and concepts.Matematika tidak boleh berhenti pada penyimpanan fakta-fakta. Fakta dan informasi matematika berorientasi pada informasi dasar yang sempit dan disktrit. (b) topics and (c) themes. informasi dan topik-topik dalam ruang pengalaman manusia yang lebih luas. (b) free production mainly in the form of projects and investigations. Schroeder & Lester (1989. sedangkan topik menyediakan konteks untuk fakta dan informasi tersebut. terutama yang berkaitan dengan kehidupan siswa sehari-hari (real world problem). Sedangkan Perfetti dan Goldman (1975) menyatakan bahwa “Themes are the organisers of the mathematical curriculum. skills and strategies are taught around a central theme that is intended to give meaning and direction to the learning process”.

Pendekatan ini berkembang pesat sampai di Amerika dan Eropa yang selanjutnnya dikenal secara umum dengan istilah Open-Ended Problem Solving. Di sini pendekatan tematik dalam pembelajaran Matematika telah digunakan sejak tahun 1983. dengan dikembangkannya pendekatan pemecahan masalah berbentuk terbuka (open ended) di Jepang. bandingkan dengan Foong. (f) Handcrafts. Namun pendekatan ini mendapat perhatian luas lagi mulai tahun 80-an sampai sekarang. (b) Sporting Costs. 1983:19) terdiri dari (a) Mathematics of our Environment. 2000). and (e) Mathematics in the Community. 1997. Pendekatan ini didasarkan atas penelitian Shimada. seiring 7 . adalah "an instructional strategy that creates interest and stimulates creative mathematical activity in the classroom through students’ collaborative work. Di Eropa. (e) Mathematics involving Sports. Setiap tema dapat dibagi menjadi sub-sub tema yang relevan. 2. Lessons using open-ended problem solving emphasize the process of problem solving activities rather than focusing on the result" (Shimada &Becker. bukan saja untuk kelas dasar. Tema-tema standar yang dikembangkan misalnya untuk kelas 9 dan 10 menurut The General Syllabus (Secondary Schools Board NSW. Misalnya tema Mathematics involving Sports dapat dibagi menjadi sub-sub tema seperti: (a) Sporting Venues. and (g) Tourism and Hospitality. Australia. terutama di negara-negara seperti Belanda pendekatan pembelajaran ini mendapat perhatian luas. dan (c) Performance in Sport . khususnya negara bagian New South Wales adalah salah satu negara yang sukses menerapkan pendekatan ini. tapi bahkan untuk kelas SMP (secondary school).Pembelajaran Matematika dengan pendekatan tematik berkembang pesat di negaranegara maju. Pendekatan pembelajaran Matematika beorientasi pemecahan masalah matematika terbuka Pendekatan berdasarkan masalah dalam pembelajaran matematika sebenarnya bukan hal yang baru. (b) Mathematics involving Food. (d) Building Design. (c) Mathematics in the Workplace. tetapi Polya sudah mengembangkannya sejak tahun 40-an.

tunggal dan dapat diprediksi secara mudah. yang tentu saja dapat salah (fallible). dengan menyajikan fenomena alam “seterbuka mungkin” pada siswa. Secara konseptual masalah terbuka dalam pembelajaran Matematika adalah masalah atau soal-soal Matematika yang dirumuskan sedimikian rupa. tak selalu teramalkan dengan mudah. Sebaliknya real life adalah kompleks. terutama karena disamping mengembangkan kemampuan memecahkan masalah (problem solving). 2003a. dan memungkinkan adanya banyak penafsiran dan sirkuler. sehingga memiliki beberapa atau bahkan banyak solusi yang benar. 2003b. dan terdapat banyak cara untuk mencapai solusi itu. dengan struktur dan pola yang sering tak jelas. (Sudiarta. berarti memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar melalui aktivitas-aktivitas real life. kreatif dan produktif. 1997).dengan terjadinya tuntutan pergeseran paradigma dalam pendidikan Matematika di sana. Pengetahuan manusia tentang alam hanyalah hipotesa-hipotesa konstruksi hasil pengamatan yang terbatas. Bentuk penyajian fenomena real dengan "terbuka" ini dapat dilakukan melalui pembelajaran yang berorientasi pada masalah / soal / tugas terbuka. Paradigma baru memaknai “real life” dengan mengadopsi landasan Konstruktivisme Radikal Modern (berdasarkan Biologi Kognitivisme dan Neurophisiologi) oleh Maturana dan Varela (1984) bahwa fenomena-fenomena alam itu tidak dapat direduksi secara penuh menjadi klausaklausa deterministik. 2003c). multidimensi. Mengadopsi pandangan ini dalam pembelajaran Matematika. Diklaim bahwa pembelajaran Matematika merupakan human activity” baik mental atau phisik berdasarkan “real life”. pendekatan ini juga menekankan pada pencapaian kompetensi matematis tingkat tinggi yaitu berpikir kritis. Pembelajaran berdasarkan masalah terutama masalah Matematika terbuka sangat sesuai dengan tuntutan KBK. Pendekatan ini memberikan kesempatan pada siwa untuk "experience in finding something new in the process" (Schoenfeld. dengan struktur dan pola yang unik. 8 . yang dapat dilakukan oleh semua orang.

Lebih lanjut. dan kritis untuk memecahkan masalah yang diberikan secara kreatif melalui pengkajian multiperspektif. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Berpikir divergen diklaim cenderung merupakan preferensi bagi bidang seni dan kemanusian. Kemampuan ini sangat cocok diukur dengan tipe tes standar. Seseorang disebut memiliki preferensi berpikir konvergen jika memikiki kemampuan dalam mengumpulkan material. terutama dengan kemampuan berpikir divergen. Berpikir divergen paling tidak menekankan (a) adanya proses interpretasi dan evaluasi terhadap berbagai ide-ide. Sedangkan berpikir divergen lebih tertuju pada pengembangan kemampuan dalam menghasilkan elaborasi kreativitas dari ide-ide yang dihasilkan dari stimulus. Untuk mengukur kemampuan ini cocok digunakan tes open-ended. opsi-opsi atau alternatif-alternatif untuk suatu permasalahan atau tantangan. tes-tes yang mengunakan objek-objek.3. skill untuk digunakan dalam memecahkan masalah sedemikian rupa dapat dihasilkan jawaban yang benar. maupun tes dalam ujian-ujian nasional. informasi. disimpulkan bahwa sesungguhnya ada dua bentuk kompetensi berpikir yaitu (a) berpikir divergen dan (b) berpikir konvergen. tetapi tidak tentang kemampuan berpikir tingkat tinggi yang berkaitan dengan kreativitas siswa. dan reliabilitas. Hasil-hasil tes tersebut barangkali dapat mengungkap tentang kemampuan siswa dalam “menghasilkan sebuah jawaban yang benar”. seperti tes-tes intelegensi. dan Teknologi. Matematika. dan kreatif Banyak hasil penelitian (misalnya Sternberg & Lubart. 1991) menemukan bahwa pengukuran kemampuan siswa berdasarkan tes standar konvensional tidak mampu mengukur kemampuan peserta didik secara utuh dan menyeluruh. Alasannya karena bidang ini membutuhkan konsistensi. (b) proses motivasi untuk memikirkan berbagai kemungkinan ide 9 . Kemampuan berpikir ini sangat cocok pada pelajaran Ilmu Alam. ide-ide. Namun Isaksen. Dorval & Treffinger (dalam Parnes 1992) mendefinisikan berpikir divergen sebagai kemampuan untuk mengkonstruksi atau menghasilkan berbagai respon yang mungkin.

Ahli-ahli kognitif. di antaranya sebagai: 10 . definisi operasional berpikir divergen dalam artikel ini akan dibatasi sebagai suatu kompetensi matematis yaitu kemampuan untuk menkonstruksi segala kemungkinan jawaban.yang masuk akal. Untuk itu. yang disusun sedemikian rupa sehingga masalah tersebut memiliki lebih dari satu jawaban yang benar. dan (c) pencarian terhadap kemungkinan-kemungkinan yang tak biasanya (non rutin) dalam mengkonstruksi ide-ide unik. psikologi. Hal ini disebabkan karena sampai akhir dekade terakhir ini pembelajaran Matematika masih didominasi oleh pandangan bahwa pemecahan masalah Matematika hanya berhubungan dengan pencarian jawaban tunggal (unik) yang benar. Dorval & Treffinger tersebut di atas. dan dengan lebih dari satu prosedur dan argumentasi pula. Inilah awal berkembangnya perspektif baru pembelajaran Matematika. Namun sejak tahun 1970-an Shimada mengembangkan pendekatan open-ended dalam pembelajaran Matematika yang berorientasi pada pengembangan masalah Matematika terbuka. Definisi divergent thinking menurut Isaksen. nampaknya lebih relevan dengan tema pengembangan kemampuan berpikir divergen. sehingga jawabannya pun harus pasti dan tunggal. dengan prosedur deduktif yang jelas. dimana kompetensi matematis tingkat tinggi termasuk kemampun berpikir divergen dan kritis dijadikan fokus pembelajaran Matematika. Definisi berpikir kritis telah mengalami perubahan selama beberapa dekade terakhir ini. dan filsafat telah mencoba memberikan beberapa definisi tentang cara berpikir kritis. beserta prosedur dan alasannya terhadap masalah Matematika yang akan dipecahkan. kritis dan kreatif dalam konteks pembelajaran matematika. sebab masalah Matematika harus dirumuskan dengan informasi matematis yang lengkap. Sejak bertahun-tahun kompetensi seperti ini kurang mendapat perhatian dalam pembelajaran Matematika.

et al. 1996. 1992: 84). dan atau mengevaluasi informasi yang didapat dari observasi.. (6) Proses intelektual aktif yang disiplin dalam mengkonseptualisasi. Namun yang paling relevan dalam kajian ini 11 . pengalaman. 1992: 175) (4) Suatu proses sadar yang digunakan untuk menginterpretasi atau mempertimbangkan informasi dan pengalaman yang menggiring pada suatu perilaku (Confrey. mengorganisasi ide-ide. Sebuah argumen memberikan suatu pernyataan yang tegas tentang suatu hal atau hubungan antara dua atau lebih hal dan bukti-bukti untuk mendukung suatu pernyataan. D'Ambrosio.. refleksi. D. Orangorang yang memilliki daya pikir kritis mengakui bahwa tidak hanya ada satu cara yang benar untuk memahami dan mengevaluasi argument (Freire.(1) Kemampuan untuk menganalisa fakta.. dan memecahkan masalah (Parnes. menguraikan. logika.. 1991:5). (5) Proses pemahaman dan pengevaluasian argumentasi yang aktif dan sistematis. Firestien. P. P. atau komunikasi (Fuson. A. 1991: 24). (7) Cara berpikir logis yang memfokuskan pada apa yang harus dipercayai atau dilakukan (Hiebert. menganalisis. dalam Parnes.1990 dalam Sternberg &Lubart. mengaplikasikan. M. T. & Carpenter. membuat suatu kesimpulan. & Briars. K.1997 dalam Parnes.1991 dalam Sternberg &Lubart. banyak penulis berusaha untuk mendefinisikan pengertian berpikir kreatif. U.. mempertahankan pendapat. & Do Carmo Mendonco.E. & Miller. J.1998: 21). mempertimbangkan argument. Seperti halnya dengan kemampuan kritis. 1989 dalam Upitis. Philip & Higginson.. membuat perbandingan.. 1992: 11) (2) Salah satu logika yang mencerminkan kepercayaan seseorang dan keteguhan hati seseorang (Vehar. 1997:64) (3) Cara berpikir kritis meliputi pemikiran analitis dengan tujuan untuk mengevaluasi apa yang telah dibaca (Beaton.

(2) Kreativitas atau berpikir kreatif.E 2003 (dalam Parwati 2005) yang memberikan ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif sbb: (1) Kelancaran (Fluency) yaitu kemampuan untuk membangkitkan sebuah ide sehingga terjadi peningkatan solusi atau hasil karya. (5) Kompleksitas (Complexity) yaitu kemampuan memasukkan suatu konsep. (4) Orisinalitas (Originality) yaitu kemampuan menciptakan ide-ide. hasil karya yang berbeda atau betul-betul baru. menciptakan barang-barang baru melalui percobaan yang dapat menghasilkan produk sederhana. ruwet. sesuai dengan yang dituliskan Munandar (1987:45-47 dalam Parwati 2005) adalah sbb: (1) Kreativitas merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya dalam perwujudan dirinya. (6) Kebaranian mengambil resiko (Risk-taking) yaitu kemampuan bertekad dalam mencoba sesuatu yang penuh resiko. ide. atau ide yang bervariasi terhadap masalah. 2004 (dalam Parwati 2005 ) berdasarkan penyesuaian dan modifikasi karya Willian. Lebih lanjut Isaken. F. meneliti. menghayal. mendalami. atau hasil karya yang sulit. Beberapa alasannya diungkapkan oleh beberapa penulis. Dorval & Treffinger (dalam Parnes 1992) mendefinisikan berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk mengkonstruksi atau mengahasilkan berbagai 12 . (2) Fleksibelitas (Flexibility) yaitu kemampuan untuk memproduksi atau menghasilkan suatu produk. (7) Imajinasi (Imagination) yaitu kemampuan untuk berimajinasi. sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah dan (3) Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat. tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu. berlapis-lapis atau berlipat ganda ditinjau dari berbagai segi. (3) Elaborasi (Elaboration) yaitu kemampuan untuk mengembangkan atau menumbuhkan suatu ide aatau hasil karya. Mengembangkan kemampuan berpikir kreatif sangat penting dalam pembelajaran Matematika.adalah yang didefinisikan oleh Wilson. persepsi. dan (8) Rasa ingin tahu (Curiosity) yaitu kemampuan mencari. dan keinginan mengetahui tentang sesuatu lebih jauh.

permisalan. Merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang memberi arah pemecahan untuk mengkonstruksi berbagai kemungkinan jawabannya. beserta indikatornya. Melakukan refleksi dan interpretasi kembali terhadap hasil dan proses pemecahan masalah yang telah dilakukan. Mendeduksi secara logis. kritis dan kreatif. Dalam hal ini. kritis dan kreatif maka perspektif baru perlu dikembangkan secara menyeluruh. Menyusun berbagai konsep pemecahan/jawaban. kritis dan kreatif. 4. pengembangan perangkatnya. ide-ide. design model pembelajarannya. dan kreatif dalam pembelajaran Matematika Setelah dibahas secara memadai pengertian serta definisi berpikir divergen. kritis. dan persepsi untuk memperluas/ mempersempit spektrum ide masalah. dilengkapi dengan contoh masalah Matematika terbuka. opsi-opsi atau alternativ-alternativ untuk suatu permasalahan atau tantangan. memberikan asumsi logis membuat proposisi. membuat tabel. Contoh pengembangan kompetensi berpikir divergen. kembali harus ditegaskan bahwa untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berpikir divergen. Tabel 1: Kemampuan berpikir divergen. dan menemukan kemungkinan ide dan perspektif penyelesaian alternatif. melakukan investigasi /pengumpulan data. dalam artikel ini hanya dipaparkan contoh pengembangan kemampuan berpikir divergen. dari tahapan perencanaan kurikulum. Kritis dan Kreatif Investigasi konteks dan spektrum masalah Merumuskan masalah Matematika Mengembangkan berbagai konsep pemecahan dan argumentasi yang reasonable Melakukan deduksi dan induksi Indikator 1 2 3 Menghasilkan berbagai pengandaian. dan grafik. hipotesis.respon yang mungkin. untuk melihat sekali lagi lebih dalam. membuat generalisasi data. dan kreatif serta indikatornya No Kompetensi Berpikir Divergen. kritis dan kreatif. melakukan interprestasi terhadap pernyataan. menunjukkan perbedaan dan persamaannya. 4 5 Melakukan evaluasi 13 . Melalui proses pemecahan masalah Matematika terbuka ini diharapkan peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir divergen. Namun. katagori. merumuskan argumen-argumen yang masuk akal. sampai asesmen dan evaluasi hasil belajarnya. selanjutnya secara lebih konkrit mengembangkannya dalam pembelajaran Matematika. kritis.

dan rencana pengembangannya melalui pendekatan tematik berorientasi pemecahan masalah Matematika terbuka (Tabel 2. jawaban tunggal Prosedur tunggal Penjelasan Contoh 1: Pada soal 1 ini. jawaban siswa yang diharapkan adalah sebagai berikut: (a) Diketahui: berat badan sapi = 12 x berat badan kambing (b) Berat badan kambing = 30 kg 14 . berapakah berat badan Sapi tersebut ? Keterangan tanpa tema tertutup. Jika berat badan seekor Kambing 30 kg. siswa cukup memiliki keterampilan dalam mengalikan bilangan. sehingga siswa gampang menjawabannya (immediate solution). (c). (d). dalam rangka mengembangkan kompetensi siswa berpikir divergen. Dengan unsur-unsur yang diketahui secara eksplisit di atas. masalah Matematikanya telah disajikan secara explisit. Berat seekor kambing juga diberikan secara explisit yaitu 30 kg. Ditanya: Berat Sapi Dari analisis di atas. (b). Operasi Matematikanya sudah diberikan secara explisit. contoh 2). kritis. tampak bahwa untuk memecahkan masalah tersebut. Hubungan antara berat sapi dan berat kambing juga diberikan secara explisit yaitu 12 x. perkalian dan pembagian bilangan Cacah Masalah Matematika Contoh 1 Seekor Sapi beratnya 12 kali berat badan Kambing. contoh 1). 3 SD pengurangan. yaitu perkalian (perhatikan: seekor sapi beratnya 12 kali berat badan seekor kambing). Tidak ada prosedur lain. prescribe dan predetermined. kreatif dan produktif.Berikut ini disajikan gambaran ringkas mengenai masalah Matematika tipe tertutup yang pada umumnya ditemukan dengan mudah pada buku-buku sekolah (lihat Tabel 2. Tabel 2: Pemecahan Masalah Matematika Tertutup:Mengembangkan Basic Skills Kelas Kompetensi dasar/Basic Skills Mulai Terampil dalam melakukan Kelas operasi hitung penjumlahan. sebab: (a). dan tak ada jawaban lain.

Inilah yang disebut soal terutup (well structured problem) yang sering dijumpai dalam buku-buku pelajaran sekolah. dengan Sub Tema misalnya. kritis. Agar masalah tersebut itu menjadi menarik dan dapat dikaitkan dengan segala kemungkinan pengalaman siswa. untuk melakukan investigasi terhadap berbagai konteks yang reasonable dan realistis. sepertiyang disajikan pada Tabel 3 berikut: 15 . kritis. Selanjutnya semuanya sudah dinyatakan secara jelas dalam rumusan soal. Matematika dan Pedagang. prosedurnya pun tunggal. ini berarti.(c) Pertanyaan: berat badan sapi = ?(pertanyaan ini sangat konvergen. sehingga kurang menuntut kemampuan berpikir divergen. Seperti terlihat dalam contoh 1. untuk dapat memecahkannya siswa cukup memiliki sedikit ketrampilan tentang perkalian bilangan. Dalam pemecahannya siswa hanya memerlukan penggunaan ketrampilan dasar matematika (mathematical basic skill). Untuk mencapai tujuan tersebut masalah pada contoh 1 tersebut hendaknya dimodifikasi dari tipe tertutup menjadi tipe terbuka. dan kreatif.yaitu komptetensi berpikir divergen. dari segala persepektif. sehingga menuntut siswa untuk berpikir divergen. tidak ada kemungkinan jawaban lain). kreatif dan produktif (creative & producktive thinking) dan pemecahan masalah (problem solving). karena langsung mengarah secara explisit kepada apa-apa yang diketahui yaitu (a) dan (b)) (d) Penyelesaian: berat sapi = 12 x 30 kg =360 kg (cukup dengan melakukan substitusi pada (a). jawaban soal tunggal. siswa sebaiknya “ditantang” dengan masalah yang dirumuskan sedemikian rupa. Untuk mengembangkan kompetensi berpikir tingkat tinggi. sehingga siswa dapat dengan mudah menebaknya. maka hendaknya masalah itu dikemas dalam sebuah tema yang menarik. Dalam hal ini misalnya diambil Tema “Matematika dan Fauna” atau yang lainya.

berbagai kemungkinan jawaban yang masuk akal. misalnya dengan melakukan pengandaian-pengandaian yang realistik dan masuk akal. kritis dan kreatif untuk membuat pengandaian. dan dapat dipertahankan baik nilai logis-matematisnya maupun nilai realitaskontekstualnya. kreatif dan produktif) Mulai Menginvestigasi konteks Kelas masalah matemaka. berkaitan dengan masalah operasi hitung penjumlahan. serta menyusun argumentasi yang sahih. pengurangan. anak harus mengambil keputusan.Tabel 3: Pemecahan Masalah Matematika Terbuka: Mengembangkan Kemampuan Tingkat Tingi (Berpikir Divergen. jika diandaikan bahwa berat badan kambing itu semuanya sama yaitu masing-masing 30 kg. Anak harus membuat investigasi dalam menentukan pengandaian yang masuk akal. Kritis dan Kreatif ) Kelas Kompetensi Tingkat Tinggi (Berpikir kritis. asumsi dan keputusan matematis yang reasonable. berapa ekor kambing yang kamu perlukan agar jumlah semua berat badannya sama dengan berat badan sapi itu ? Keterangan Disajikan secara tematik Terbuka. maka soal bisa dipecahkan sebagai berikut. 16 . maka dalam penyelesaian masalahnya diperlukan kemampuan berpikir divergen. sebab tidak semua informasi diberikan secara eksplisit. Mengingat berat badan masing-masing kambing tidak diketahui. 3 SD berbagai prosedur pemecahan masalah. Artinya. Prosedur dan jawaban tak tunggal Prosedur dan argumentasi jawaban tak tunggal Memerlukan investigasi permasalahan secara divergen Memerlukan pemikiran kritis Memerlukan kreativitas Penjelasan Contoh 2: Pada soal ini masalah dirumuskan sedemikian rupa sehingga menuntut siswa untuk melakukan investigasi konteks. Misalnya. perkalian dan pembagian bilangan Cacah Tema : Matematika dan Fauna Subtema: Matematika dan Pedagang Contoh 2 Seekor sapi beratnya 360 Kg.

dengan mengandaikan bahwa kambing=kambing tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan berat badannya. Tabel 6: Alternatif Jawaban dan Prosedur Ketiga (Kompetensi Tingkat Tinggi: Berpikir Divergen. dan sebagainya. dan kelompok III sekitar 40 kg. dan semakin mudah dan sederhana pemecahannya. membuat model matematika. Tetapi siswa bisa berpikir lebih divergen. Pengandaian-pengandaian yang lebih kreatif misalnya. maka mereka dapat membuat pengandaian-pengandaian lain yang lebih kreatif dan produktif. tetapi bagaimana anak: (a) melakukan investigasi lebih dalam 17 . atau mungkin juga mengandaikan bahwa semua kambing beratnya berbeda. atau dalam bahasa matematika formal 30 x + 40 y = 360 . Dengan demikian. Kritis. Tentu saja pengandaiannya ini hanya masuk akal secara matematis (mathematically make sense and reasonable). kritis dan kreatif. atau x = 12. yaitu 30 x + 35 y + 40 z = 360 Dalam hal ini jelas terlihat bahwa bukan penyeselesaiannya yang menjadi tujuan. dapat langsung menggunakan algoritma pembagian yaitu: 360 : 30 = 12. kreatif dan produktif siswa dapat dilihat dari kemampuan mereka membuat pengandaian (asumsi dan rumusan awal masalah). yaitu pengandaian-pengandaian yang lebih realistis. apakah realistis mengandaikan semua kambing beratnya masing-masing sama? Dengan demikian siswa dapat berpikir lebih kreatif dengan membuat pengandaian yang lebih divergen. Misalnya kelompok I memiliki berat badan sekitar 30 kg. untuk memilih selesaian-selesaian yang masuk akal. tetapi penyelesaiannya tentu lebih sulit pula. yaitu mengandaikan bahwa semua kambing beratnya sama yaitu 30 kg.y. Dengan demikian x. Salah satu kreativitas misalnya dengan membuat pengandaian yang lebih dekat dengan kenyataan misalnya. dan beberapa kambing lainnya beratnya masing-masing 40 kg. dan y =0. namun perlu sekali lagi kemampuan kritis. Misalnya sekian ekor kambing beratnya masing-masing 30 kg. Kritis dan Kreatif) Setelah siswa mengkritisi bahwa kurang realistis mengandaikan bahwa semua kambing beratnya sama (30 kg). atau yang menjadi kriteria penilaian. kemampuan berpikir kritis. tetapi nilai realitasnya masih perlu diuji dengan bertanya (kritis). Misalnya dengan mengkritis pengandaian yang baru saja dibuatnya. Pengandaian ini akan menghasilkan model matematika yang dapat dituliskan menjadi kalimat matematika terbuka: 30 < + 40 Δ = 360 . atau x = 8 dan y = 3. dan Kreatif Siswa yang sudah cukup paham dan terampil dengan konsep pembagian. dengan x dan y bilangan bulat positif.Tabel 4: Alternatif Jawaban dan Prosedur Pertama: Basic Skills Siswa dapat memisalkan berat ekor kambing sama dengan 30 kg dan melakukan coba-coba dengan penjumlahan berulang sebagai berikut: 30 + 30 + 30 + …+ 30 = 360 (diperlukan 12 ekor kambing) Tabel 5: Alternatif Jawaban dan Prosedur Kedua: Kompetensi Tingkat Tinggi: Berpikir Divergen. sebab y mempresentasikan banyaknya kambing yang beratnya masing-masing 40 kg. dan memilih prosedur dan menyelesaikannya menjadi berbagai pemecahan yang masuk akal. Pengandaian ini tentu saja menghasilkan model metematika yang lebih realistis. Dengan demikian jawaban yang masuk akal adalah x = 4 dan y = 6. Selesaiannya tentu lebih dari satu (sebuah persamaan dengan dua variabel memiliki tak berhingga banyaknya selesaian). dan y yang masuk akal adalah yang berupa bilangan bulat non negatif. Di sini tampak bahwa semakin naif (sederhana) pengandaian yang dibuat.z. Selesainya dapat ditentukan dengan menyelesaikan persamaan 30 < + 35 Θ + 40 Δ = 360 atau dalam bentuk persamaan matematika dengan 3 variabel x. sementara sekian ekor lainnya beratnya masing-masing 35 kg. kelompok ii sekitar 35. demikian pula sebaliknya. beberapa kambing beratnya masing-masing 30 kg. jadi diperlukan 12 ekor kambing dengan berat badan masing-masing 30 kg. semakin sederhana model matematika yang dihasilkan.

(a) Tidak ada konsep. kreatif. dalam hal ini data tentang berat badan kambing. beserta argumentasinya. berdasarkan kemampuan. berupa pengandaian yang masuk akal terhadap berat badan kambing tadi. siswa harus mengambil keputusan sendiri tentang konsep dan prosedur yang ingin dilakukan. dan (g) mempresentasikan. Secara umum untuk soal Matematika terbuka seperti contoh 2 di atas dapat diberikan catatan sebagai berikut. kemudian. (b) membuat berbagai pengandaian (asumsi dan rumusan awal masalah) secara divergen.terhadap masalah Matematika yang akan dipecahkan. pengetahuan dan pengalaman mereka. 18 . dan memilih prosedur dan strategi pemecahannya. (c) membuat model Matematika. dan kreativitas. perkalian. dilanjutkan dengan. kemudian. (e) merumuskan berbagai pemecahan dan jawaban yang masuk akal. kritis. dan mengkomunikasikan seluruh rangkaian pemecahan masalah dalam bentuk tulis maupun verbal. dan produktif. (d) memecahkan model Matematika tersebut sesuai dengan prosedur dan strategi yang dipilih untuk menghasilkan berbagai pemecahan dan jawaban yang masuk akal. tergantung dari kecenderungan intelektual individual siswa. (f) mengkaji ulang seluruh rangkaian pemecahan dari (a) sampai (e). baik untuk mempertahankan seluruh ide. atau pun persaman terbuka dengan 2 atau 3 variabel berupa bilangan bulat non negatif. Ini memerlukan kemampuan siswa untuk berfikir kreatif dan produktif dalam mengambil keputusan yang beralasan (reasonable decision) atau membuat estimasi yang kuat (reasonable estimation). operasi atau prosedur Matematika yang diberikan secara explisit. Konsep Matematika yang mungkin digunakan pada contoh ini misalnya: pembagian. penjumlahan berulang. mencermati dan menebak sendiri selesaian yang akan didapatkan. maupun untuk mendapatkan perbaikan dan pengayaan. (b) Ada data yang harus dilengkapi sendiri oleh siswa.

kreatif dan produktif siwa. dalam rangka peningkatan pemahaman siswa secara mendalam terhadap konsep-konsep Matematika. kritis. prinsip dan ide-ide Matematika yang berhubungan dengan tugas Matematika (conceptual understanding).Dari uraian dan analisa contoh masalah terbuka pada contoh 2 tadi.2003b). karena tingkat kompleksitas permasalahan dalam segala aspek kehidupan modern semakin tinggi. tetapi hendaknya dirancang untuk pencapaian kempetensi matematis tingkattinggi (high order thinking) yang antara lain meliputi kompetensi berpikir divergen. (b) memilih dan menyelenggarakan proses dan stretegi pemecahan masalah (processes and strategies). Sudiarta. yang umumnya berupa latihan-latihan Matematika yang bersifat algoritmik. dapat dilihat betapa pentingnya penerapan pendekatan pembelajaran berorientasi masalah terbuka untuk meningkatkan kompetensi berfikir kritis. untuk melatih dan mengembangkan semua komponen-komponen kompetensi ranah pemahaman yang meliputi: (a) mengerti konsep. dan kreatif. yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa itu sendiri. dan (d) mengidentifikasi serta melihat kembali alasan-alasan mengapa selesaian dan prosedur menuju selesaian itu adalah benar (interpret reasonableness) (bandingkan Schoenfeld. mekanistik dan rutin. Kompetensi ini sangat penting dalam era persaingan global ini. Kesimpulan dan Saran Dari hasil kajian dan pembahasan disimpukan bahwa pembelajaran Matematika hendaknya tidak berhenti pada pencapaian mathematical basic skills. membuka ruang selebar-lebarnya. III. maka 19 . Jika Basic skills dalam pembelajaran Matematika biasanya dibentuk melalui aktivitas yang bersifat konvergen. (c) menjelaskan dan mengkomunikasikan mengapa strategi itu berfungsi (reasoning and communication). 1994. Alasannya adalah karena penerapan pembelajaran berdasar masalah terbuka seperti yang ditunjukkan secara jelas dalam contoh 2 tadi.1997.

dan kreatif. baik untuk mempertahankan seluruh ide. kreatif. dan produktif. Dalam proses pemecahan masalah matematika terbuka perlu ditekankan bahwa bukan selesaiannya yang menjadi tujuan. sedangkan pemecahan masalah Matematika terbuka akan memberikan siswa kesempatan untuk melakukan investigasi maslah Matematika secara mendalam. bagaimana contoh masalah Matematika yang disajikan secara tematik. (c) membuat model matematika. tetapi bagaimana peserta didik sebagai problem solver melakukan aktivitas-akivitas secara divergen. kreatif.kompetensi berpikir kritis. kritis. maupun untuk mendapatkan perbaikan dan pengayaan Dalam kajian ini secara teoritis berhasil dirumuskan. kritis. dilanjutkan dengan. (e) merumuskan berbagai pemecahan dan jawaban yang masuk akan. (f) mengkaji ulang seluruh rangkaian pemecahan masalah dari (a) sampai (e). kemudian. kontekstual dan terbuka diharapkan dapat membangun kompetensi matematis tingkat tinggi siswa yang meliputi kompetensi berpikir 20 . kontekstual dan terbuka. (b) membuat berbagai pengandaian (asumsi dan rumusan awal masalah) secara divergen. kritis. dan mengkomunikasikan seluruh rangkaian pemecahan masalah dalam bentuk tulis maupun verbal. terutama masalah yang disajikan secara tematik. (d) memecahkan model matetika tersebut sesuai dengan prosedur dan strategi yang dipilih untuk menghasilkan berbagai pemecahan dan jawaban yang masuk akal. seperti berbagai model pemecahan masalah. beserta argumentasinya. sehingga dapat mengkonstruksi segala kemungkinan pemecahannya secara divergen. Pendekatan tematik akan memberi kesempatan kepada siswa untuk secara mendalam mengkaji topik-topik Matematika yang dikemas secara menarik dan kontekstual. (g) mempresentasikan. kemudian. dan produktif. dan kreativitas. kreatif dan produktif dapat dikembangkan melalui aktivitasaktivitas yang bersifat divergen. atau yang menjadi kriteria penilaian. dan memilih prosedur dan strategi pemecahannya. terutama dalam: (a) melakukan investigasi lebih dalam terhadap masalah metematika yang akan dipecahkan.

inovasi pembelajaran Matematika dalam rangka mengembangkan kompetensi matematis tingkat tinggi merupakan tantangan bagi seluruh kalangan praktisi dan peneliti pendidikan matematika. misalnya bagaimana indikator-indikator yang benar-benar applicable dari kompetensi matematis tingkat tinggi tersebut. dan kreatif. sehingga dapat bersaing di dunia internasional.divergen. Secara umum. bagaimana mengembangkan kompetensi matematis tingkat tinggi siswa. atau juga bagaimana model pembelajaran dan perangkat pendukung pembelajaran yang dapat membangun kompetensi tersebut dikalangan peserta didik. Namun kiranya masih banyak yang perlu dikaji dan diteliti berkaitan dengan hal ini. 21 . perlu kiranya disarankan untuk dibuktikan di lapangan. misalnya melalui penelitian-penelitian lebih lanjut. kritis. kajian dan contoh ini masih terlalu teoritis. bagaimana mengukur dan menilainya. Apakah kemampuan berpikir divergen. Namun demikian. Pertanyaan-pertanyaan di akhir kajian ini dimaksudkan sebagai saran kepada para praktisi dan peneliti pendidikan matematika untuk memberikan kontribusi melalui pemikiran dan penelitian. kritis dan kreatif siswa benar-benar dapat dibangun melalui model pemecahan masalah seperti contoh 2.

1992. Freeman. 2000. 22 . Dordrecht: Kluwer A. 1975. H. Kurikulum Berbasis Kompetensi KEBIJAKSANAAN UMUM Pendidikan Dasar dan Menengah Jakarta. A.). NY: NCTM. 25(3). 1996. H. New York: Macmillan. P. Research Group of Australasia Inc (pp.3(14).Journal of Psycholinguistic Research. 265-272). Hiebert. & Goldman.A. Education Policy Analysis Archives. & Carpenter. & Becker. PMRI dan KBK dalam Era Otonomi Pendidikan. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. 48-49. Toward a theory of theory of thematic curricula: Constructing new learning environments for teachers & learners. H. P. J. B.ACUAN PUSTAKA Depdiknas. Teaching in themes: is that easy? Reflections. Children learn to make a better world: Exploring themes. Parnes. C. 1997. 257-271. metacogniton. 55-80. 1991. Der Baum der Erkenntnis: Die bilogischen Wurzeln menschlichen Erkennens. & Sokoloff. Y. Maturana. Discourse functions of thematization and topicalization. 1994. Sydney: MERGA. Freudenthal. 2004. Schoenfeld. Schoenfeld. C.. Handal. Foong.. IKIP Negeri Singaraja:Oktober 2005. NY: Creative Education Foundation Press. pp. S. T. 2000. What do we know about curriculum?... 2005. Shimada. Grouws(Ed. 1-19. & Sokoloff.J. 17-22. pp. R.F. 4(3). S. 1995. pp. Source book for creative problem solving. Freeman. Buffalo. A.J 1984. Perfetti. and sense making in Mathematics. Revisiting mathematics education.M & Varela. In: D. Soedjadi. J. H. In: the Journal of Mathematical Behaviour 13. 2002. 73. Muenchen: Scherz Verlag. S. 1997. Handbook of research on mathematics teaching and learning (pp 334-367).A. C.P. Parwati. pp.Childhood Education. 1998. Educational Research 25(4).R.J. Learning to think mathematically: Problem solving.P. 12-21.. Problem Solving as a Basis for Reform of Curriculum and Instruction: The Case of Mathematics. The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Implementasi Model Pembelajaran Berdasarkan-Masalah dalam Rangka Mengefektifkan Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Singapore: NIE. & Sutarto Hadi. p. Using Short Open Ended Mathematics Question to Promote Thinking and Understanding.

P. T. Trafton (Ed. Paradigma Baru Pembelajaran Matematika: Refleksi Terhadap Tuntutan Kurikulum Berbasis Kompetensi. 1991.). J. P. Sudiarta. R. Philip. Impulse der Schule des Konstruktivismus Fuer Neuere Konzepte des Lehrens und Lernens: Am Beispiel Mathematikunterricht. Sudiarta. Reston:NCTM. F. 1996. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja. 1-31. Sudiarta. Developing understanding in mathematics via problem solving. Jerman. Edisi Mei 2005.R. R. & Lester. Edisi Juli 2005.E. 2003b.L. P. & Lubart. Pembangunan Konsep Matematika Melalui "Open-Ended Problem": Studi Kasus Pada Sekolah Dasar Elisabeth Osnabrueck Jerman. 2005b. IKIP Negeri Singaraja: Edisi Oktober 2003. Upitis. Sudiarta. Utrecht University 23 . Higgigson W.Schroeder. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja. 2003a. 2005a.. 31-56). 34. P. Assessment and Realistics Mathematics Education. P. 2005c. T. New directions for elementary school mathematics (pp. Pengembangan Kompetensi Berpikir Divergen dan Kritis Melalui Pemecahan Masalah Matematika Open-Ended. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja. 1989. Dissertation: Uni Osnabrueck. Sudiarta. An investment theory of creativity and its development. I. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Berorientasi Pemecahan Masalah Kontekstual Open-Ended.K. Sternberg. Utrech: CD-B Press/Freudenthal Institut. In P. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. Edisi Oktober 2005. Human Development.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.