BAB II

DASAR TEORI

2.1. Landasan Teori
Hasil campuran premium ditambah dengan octane booster hasilnya lebih baik
dari pertamax plus, baik dari segi harga maupun octane value. Octane booster
pada prinsipnya menaikkan nilai oktan, sehingga derajat pengapian bisa
ditingkatkan, meminimalkan knocking, menjadikan pembakaran sempurna, dan
tenaga otomatis akan bertambah. Kita bisa membeli bensin yang bersubsidi,
premium dengan oktan 88 kemudian ditambahkan aditif octane booster maka
angka oktan akan naik menjadi 92-94. Pada saat ini pemerintah mulai ancang-
ancang untuk mempertimbangkan, me-regulate produk octane booster dengan
harapan bisa melindungi BBM bersubsidi agar tepat sasaran karena kebanyakan
octane booster yang dipasarkan saat ini bisa mendongkrak nilai oktan bbm
bersubsidi. Walaupun demikian pemerintah masih harus banyak berhittung
terutama terkait dengan perlunya dukungan infratruktur termasuk alat uji dan
pertimbangan banyak pihak yang terlibat seperti asosiasi dan stake holder lain.
(http://forum.d0ki.com/viewtopic.php)
Beberapa pabrikan pembuat aditif mengembangkan senyawa khusus untuk
meningkatkan oktan bahan bakar yang disebut dengan octane booster. Produk ini
dapat meningkatkan kadar oktan antara 3-5 poin. Meski begitu, pemilik
kendaraan harus teliti dalam memilih produk octane booster ini. Harga produk
octane booster dipasaran berada pada kisaran Rp.30.000,00-Rp.100.000,00. Cara
pemakaian produk ini jika mengacu pada rekomendasi pembuatnya adalah satu
botol dicampur dengan 40-60 liter bensin, semakin pekat campuran pengaruhnya
tentu akan lebih baik terhadap peningkatan kadar oktan
(http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/31/otokir/jama2.htl)
Penambahan aditif petrol Quasar P2 pada premium dapat meningkatkan
pembakaran bahan bakar dikarenakan zat aditif bekerja dengan menggunakan
metode pengionan petrol dan ikatan hydrogen yang menjadikan atom menjadi
kecil. Hal tersebut berfungsi untuk meratakan molekul bensin dan menjadi
seimbang sehingga terjadi pengurangan emisi gas buang yang berupa Karbon
monoksida (CO) dan Hidrokarbon (HC), serta dapat meningkatkan daya sebesar
20 %, penghematan bahan bakar sebesar 15 %.
(http:// Surya. Bpn @ telkom. Net)
Joko Supriyanto (Mahasiswa UMY, 2006) telah melakukan penelitian dengan
mengunakan zat aditif merek STP Diesel Fuel Treatment & Injector Cleaner pada
mesin diesel 4 langkah merek Dongfeng tipe R174A. Hasil penelitian
menunjukkan penambahan zat aditif pada solar dapat berpengaruh terhadap unjuk
kerja mesin yaitu torsi naik 19,99 %, daya naik 30,09 %, tekanan efektif rata-rata
naik 20,03 %, konsumsi bahan bakar spesifik turun 30,59 %, dan efisiensi thermis
naik sebesar 45,6 %.

2.1.1. Prinsip Dasar Motor Bensin
Secara umum pengertian motor bakar diartikan sebagai pesawat yang dapat
mengubah suatu bentuk energi thermal menjadi bentuk energi mekanik. Motor
bakar dapat pula diartikan sebagai pesawat dan energi kerja mekaniknya
diperoleh dari pembakaran bahan bakar dalam pesawat itu sendiri. Oleh karena
itu, motor bakar yang pembakarannya terjadi di dalam pesawat itu sendiri disebut
pesawat tenaga dengan pembakaran dalam (Internal Combustion Engine).
Pada mulanya perkembangan motor bakar torak dengan motor bakar bensin
ditemukan oleh Nichollus Otto pada tahun 1876. Karena bentuknya kecil dan
tenaganya besar juga mudah dihidupkan dan sangat praktis, maka memberikan
kemungkinan untuk dapat mempergunakan motor tersebut diberbagai lapangan
kerja dengan aneka macam ragamnya.
Motor bakar torak menggunakan silinder tunggal atau beberapa silinder. Salah
satu fungsi torak disini adalah sebagai pendukung terjadinya pembakaran pada
motor bakar. Tenaga panas yang dihasilkan dari pembakaran diteruskan torak ke
batang torak, kemudian diteruskan ke poros engkol yang mana poros engkol
nantinya akan diubah menjadi gesekan putar.
Motor bakar terbagi menjadi 2 (dua) jenis utama, yaitu motor diesel dan
motor bensin. Perbedaan umum terletak pada sistem penyalaan. Penyalaan pada
motor bensin dinyalakan oleh loncatan bunga api listrik yang dipercikan oleh busi
atau juga sering disebut juga spark ignition engine. Sedangkan pada motor diesel
penyalaan terjadi karena kompresi yang tinggi di dalam silinder kemudian bahan
bakar disemprotkan oleh nozzle atau juga sering disebut juga Compression
Ignition Engine.

2.1.2. Klasifikasi Motor Bakar
Motor bakar dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) macam. Adapun
pengklasifikasian motor bakar adalah sebagai berikut:
a. Berdasar Sistem Pembakarannya
a). Mesin bakar dalam
Pada mesin pembakaran dalam fluida kerja yang dihasilkan pada
mesin itu sendiri, sehingga gas hasil pembakaran yang terjadi
sekaligus berfungsi sebagai fluida.
Contoh : mesin pembakaran dalam yaitu motor bakar torak
misalnya motor 2 tak dan motor 4 tak.
b). Mesin bakar luar
Pada mesin pembakaran luar fluida kerja yang dihasilkan
terdapat di luar mesin tersebut. Energi thermal dan gas hasil
pembakaran dipindahkan ke dalam mesin melalui beberapa
dinding pemisah.
Hal-hal yang dimiliki pada mesin pembakaran luar yaitu :
a. Dapat memakai semua bentuk bahan bakar.
b. Dapat memakai bahan bakar bermutu rendah.
c. Cocok untuk melayani beban-beban besar dalam satu
poros.
d. Lebih cocok dipakai untuk daya tinggi.
Contoh : mesin pembakaran luar yaitu pesawat tenaga uap,
pelaksanaan pembakaran bahan bakar dilakukan
diluar mesin.

b. Berdasar Sistem Penyalaan
a). Motor bensin
Motor bensin dapat juga disebut sebagai motor otto. Motor
tersebut dilengkapi dengan busi dan karburator. Busi
menghasilkan loncatan bunga api listrik yang membakar
campuran bahan bakar dan udara karena motor ini cenderung
disebut spark ignition engine. Pembakaran bahan bakar dengan
udara ini menghasilkan daya. Di dalam siklus otto (siklus ideal)
pembakaran tersebut dimisalkan sebagai pemasukan panas pada
volume konstanta.

b). Motor diesel
Motor diesel adalah motor bakar torak yang berbeda dengan
motor bensin. Proses penyalaannya bukan menggunakan
loncatan bunga api listrik. Pada waktu torak hampir mencapai
titik TMA bahan bakar disemprotkan ke dalam ruang bakar.
Terjadilah pembakaran pada ruang bakar pada saat udara udara
dalam silinder sudah bertemperatur tinggi. Persyaratan ini dapat
terpenuhi apabila perbandingan kompresi yang digunakan cukup
tinggi, yaitu berkisar 12-25. (Wiranto Arismunandar, 1988: 89)

2.2. Siklus Termodinamika
Konversi energi yang terjadi pada motor bakar torak berdasarkan pada siklus
termodinamika. Proses sebenarnya amat komplek, sehingga analisa dilakukan
pada kondisi ideal dengan fluida kerja udara.
Idealisasi proses tersebut sebagai berikut :
a. Fluida kerja dari awal proses hingga akhir proses.
b. Panas jenis dianggap konstan meskipun terjadi perubahan temperatur pada
udara.
c. Proses kompresi dan ekspansi berlangsung secara adiabatik, tidak terjadi
perpindahan panas antara gas dan dinding silinder.
d. Sifat-sifat kimia fluida kerja tidak berubah selama siklus berlangsung.
e. Motor 2 (dua) langkah mempunyai siklus termodinamika yang sama dengan
motor 4 (empat) langkah.

Gambar 2. 1. Diagram P-V dan T-S siklus otto
(Cengel & Boles, 1994 : 451)


2.3. Siklus Otto (Siklus udara volume konstan)
Pada siklus otto atau siklus volume konstan proses pembakaran terjadi pada
volume konstan, sedangkan siklus otto tersebut ada yang berlangsung dengan 4
(empat) langkah atau 2 (dua) langkah. Untuk mesin 4 (empat) langkah siklus kerja
terjadi dengan 4 (empat) langkah piston atau 2 (dua) poros engkol. Adapun
langkah dalam siklus otto yaitu gerakan piston dari titik puncak (TMA=titik mati
atas) ke posisi bawah (TMB=titik mati bawah) dalam silinder.



Gambar 2. 2. Diagram P-V dan T-S siklus otto
(Cengel & Boles, 1994 : 458)


Proses siklus otto sebagai berikut :
Proses 1-2 : proses kompresi isentropic (adiabatic reversible) dimana piston
bergerak menuju (TMA=titik mati atas) mengkompresikan udara
sampai volume clearance sehingga tekanan dan temperatur udara
naik.
Proses 2-3 : pemasukan kalor konstan, piston sesaat pada (TMA=titik mati atas)
bersamaan kalor suplai dari sekelilingnya serta tekanan dan
temperatur meningkat hingga nilai maksimum dalam siklus.
Proses 3-4 : proses isentropik udara panas dengan tekanan tinggi mendorong
piston turun menuju (TMB=titik mati bawah), energi dilepaskan
disekeliling berupa internal energi.
Proses 4-1 : proses pelepasan kalor pada volume konstan piston sesaat pada
(TMB=titik mati bawah) dengan mentransfer kalor ke sekeliling
dan kembali mlangkah pada titik awal.
2.4. Prinsip Kerja Motor Bakar Torak
Berdasarkan prinsipnya, terdapat 2 (dua) prinsip pada motor bakar torak,
yaitu: 4 (empat) langkah dan 2 (dua) langkah. Adapun prinsip kerja motor bakar
4 (empat) langkah dan 2 (dua) langkah adalah sebagai berikut:
a. Prinsip Kerja Motor Bakar 4 (empat) Langkah
Pengertian yang dimaksud dengan motor bakar 4 (empat) langkah
adalah bila 1 (satu) kali proses pembakaran terjadi pada setiap 4
(empat) langkah gerakan piston atau 2 (dua) kali putaran poros engkol.
Dengan anggapan bahwa katup masuk dan katup buang terbuka tepat
pada waktu piston berada pada TMA dan TMB, maka siklus motor 4
(empat) langkah dapat diterangkan sebagai berikut :

a). Langkah Hisap
Piston bergerak dari TMA ke TMB. Pada ruangan di atas piston
terjadi pembesaran volume yang menyebabkan tekanan menjadi
kurang. Tekanan kurang tersebut mengakibatkan terjadinya
hisapan terhadap campuran udara bahan bakar dari karburator.
Keadaan katup masuk terbuka dan katup buang tertutup.
b). Langkah Kompresi
Piston bergerak dari TMB ke TMA mengadakan kompresi
terhadap campuran udara bahan bakar yang baru masuk pada
langkah pengisian. Tekanan dan temperatur menjadi naik
sedemikian rupa sehingga campuran bahan bakar udara berada
dalam keadaan yang mudah sekali untuk terbakar. Sebelum
langkah kompresi berakhir maka busi mengadakan pembakaran
kedua katup tertutup.
c). Langkah Usaha
Akibat adanya pembakaran maka pada ruang bakar terjadi panas
dan pemuaian yang tiba-tiba. Pemuaian tersebut mendorong
piston untuk bergerak dari TMA ke TMB. Kedua katup masih
dalam keadaan tertutup rapat sehingga seluruh tenaga panas
mendorong piston untuk bergerak.
d). Langkah Buang
Pada langkah buang ini katup masuk tertutup sedangkan katup
buang terbuka. Piston bergerak dari TMB menuju TMA
mendesak gas sisi pembakaran keluar melalui katup buang dan
saluran buang (exhaust manifold) menuju atmosfer.


Gambar 2. 3. Prinsip kerja motor 4 (empat) langkah
(Wiranto Arismunandar, 2002 : 8)


b. Motor Bensin 2 (dua) Langkah
Pada motor bensin 2 (dua) langkah, setiap siklus terdiri dari 2
(dua) langkah piston atau 1 (satu) kali putaran poros engkol. Proses
yang terjadi pada motor 4 (empat) langkah, juga terjadi 1 (satu)
langkah penuh. Langkah-langkah tersebut adalah:
a). Langkah Naik
Piston bergerak dari TMB ke TMA. Beberapa saat sebelum
piston sampai di TMB, gas bekas hasil pembakaran sudah mulai
dikeluarkan dan campuran udara bahan bakar barupun sudah
mulai dimasukkan. Langkah ini merupakan langkah kompresi.
Pada waktu piston hampir mencapai TMA busi mengadakan
pembakaran.
b). Langkah Turun
Dengan adanya pembakaran pada akhir langkah naik maka
menyebabkan terjadi nya panas dan pemuaian yang tiba-tiba.
Piston bergerak dari TMA ke TMB. Sebelum piston mencapai
TMB maka lubang buang sedah terbuka. Lubang masukpun
kemudian terbuka pula, gas baru masuk dan sekaligus mendorong
gas bekas keluar.

Suatu hal yang sangat penting pada motor 2 (dua) langkah ialah
adanya lubang-lubang masuk dan buang sebagai pengganti katup.
Piston yang bergerak dari TMB ke TMA dan sebaliknya menutup dan
membuka lubang-lubang tersebut. Jadi motor 2 (dua) langkah
umumnya tidak mempunyai katup masuk dan katup buang.
Kelemahan yang paling menonjol pada motor 2 (dua) langkah
yaitu sangat singkatnya waktu yang tersedia untuk pemasukkan dan
pembuangan gas bekas. Akibatnya bahan bakar baru ada yang
tercampur dengan gas bekas atau sudah terbuang keluar bersama gas
bekas sebelum sempat terbakar. Tapi kelemahan ini telah diusahakan
memperkecilnya dengan membuat bermacam sistem pembilasan. Pada
motor bensin 2 (dua) langkah, karena pemasukan dan pengeluaran gas
baru dan gas bekas tidak diatur oleh klep maka terdapat beberapa
kelemahan, yaitu :

a). Dengan adanya lubang transfer dari lubang buang maka
kompresi tidak dimulai dari TMB. Kerugian ini tidak sama
pada masing-masing motor, berkisar antara 20-45%. Berarti
lubang buang baru tertutup pada waktu piston sudah bergerak
ada kalanya 80
0
putaran sesudah TMB.
b). Terlalu sedikit waktu untuk pemasukan gas baru dan
pembuangan gas bekas sehingga besar kemungkinan
sebagian gas bekas, tidak sempat keluar dan sebaliknya ada
juga gas baru yang sudah keluar sebelum terbakar.


Gambar 2. 4. Prinsip kerja motor 2 (dua) langkah
(Arends BPM; H Berenschot, 1980)

2.5. Proses Pembakaran
Secara umum pembakaran didefinisikan sebagai reaksi kimia atau reaksi
persenyawaan bahan bakar oksigen (O
2
) sebagai oksidan dengan temperaturnya
lebih besar dari titik nyala. Mekanisme pembakarannya sangat dipengaruhi oleh
keadaan dari keseluruhan proses pembakaran dimana atom-atom dari komponen
yang dapat bereaksi dengan oksigen yang dapat membentuk produk yang berupa
gas. (Sharma, S.P, 1978, hal. 65).
Untuk memperoleh daya maksimum dari suatu operasi hendaknya komposisi
gas pembakaran dari silinder (komposisi gas hasil pembakaran) dibuat seideal
mungkin, sehingga tekanan gas hasil pembakaran bisa maksimal menekan torak
dan mengurangi terjadinya detonasi. Komposisi bahan bakar dan udara dalam
silinder akan menentukan kualitas pembakaran dan akan berpengaruh terhadap
performance mesin dan emisi gas buang.
Sebagaimana telah kita ketahui sebagai bahan bakar motor bensin terutama
yang mengandung unsur-unsur karbon dan hidrogen yang dikenal dengan 3 (tiga)
teori mengenai pembakaran hidrogen tersebut.
a. Hidrokarbon terbakar bersama-sama dengan oksigen sebelum karbon
bergabung dengan oksigen.
b. Karbon terbakar lebih dahulu daripada hidrogen.
c. Senyawa hidrokarbon terlebih dahulu bergabung dengan oksigen dan
membentuk senyawa (hidrolisasi) yang kemudian dipecah secara terbakar.
Dalam sebuah mesin terjadi beberapa tingkatan pembakaran yang
digambarkan dalam sebuah grafik dengan hubungan antara tekanan dan
perjalanan engkol. Berikut adalah gambar dari grafik tingkatan pembakaran :



Gambar 2.5. Tingkat pembakaran dalam sebuah mesin
(Maleev.V.L, 1995 : 160)

Proses atau tingkatan pembakaran dalam sebuah mesin terbagi menjadi empat
tingkat atau periode yang terpisah. Periode-periode tersebut adalah :
1.Keterlambatan pembakaran (Delay Periode)
Periode pertama dimulai dari titik 1 yaitu mulai disemprotkannya
bahan bakar sampai masuk kedalam silinder, dan berakhir pada titik 2.
perjalanan ini sesuai dengan perjalanan engkal sudut a. Selama periode ini
berlangsung tidak terdapat kenaikan tekanan melebihi kompresi udara yang
dihasilkan oleh torak. Dan bahan bakar masuk terus menerus melalui nosel.
2. Pembakaran cepat
Pada titik 2 terdapat sejumlah bahan bakar dalam ruang bakar, yang
dipecah halus dan sebagian menguap kemudian siap untuk dilakukan
pembakaran. Ketika bahan bakar dinyalakan yaitu pada titik 2, akan menyala
dengan cepat yang mengakibatkan kenaikan tekanan mendadak sampai pada
titik 3 tercapai. Periode ini sesuai dengan perjalanan sudut engkol b. yang
membentuk tingkat kedua.
3. Pembakaran Terkendali
Setelah titik 3, bahan bakar yang belum terbakar dan bahan bakar yang
masih tetap disemprotkan (diinjeksikan) terbakar pada kecepatan yang
tergantung pada kecepatan penginjeksian serta jumlah distribusi oksigen yang
masih ada dalam udara pengisian. Periode inilah yang disebut dengan periode
terkendali atau disebut juga pembakaran sedikit demi sedikit yang akan
berakhir pada titik 4 dengan berhentinya injeksi. Selama tingkat ini tekanan
dapat naik, konstan ataupun turun. Periode ini sesuai dengan pejalanan engkol
sudut c, dimana sudut c tergantung pada beban yang dibawa beban mesin,
semakain besar bebannya semakin besar c.
4. Pembakaran pasca (after burning)
Bahan bakar sisa dalam silinder ketika penginjeksian berhenti dan
akhirnya terbakar. Pada pembakaran pasca tidak terlihat pada diagram,
dikarenakan pemunduran torak mengakibatkan turunnya tekanan meskipun
panas panas ditimbulkan oleh pembakaran bagian akhir bahan bakar.
Dalam pembakaran hidrokarbon yang biasa tidak akan terjadi gejala apabila
memungkinkan untuk proses hidrolisasi. Hal ini hanya akan terjadi bila
pencampuran pendahuluan antara bahan bakar dengan udara mempunyai waktu
yang cukup sehingga memungkinkan masuknya oksigen ke dalam molekul
hidrokarbon.
Bila oksigen dan hidrokarbon tidak bercampur dengan baik maka terjadi
proses cracking dimana pada nyala akan timbul asap. Pembakaran semacam ini
disebut pembakaran tidak sempurna. Ada 2 (dua) kemungkinan yang terjadi pada
pembakaran mesin berbensin, yaitu:
a. Pembakaran normal (sempurna), dimana bahan bakar dapat terbakar
seluruhnya pada saat dan keadaan yang dikehendaki. Mekanisme
pembakaran normal dalam motor bensin dimulai pada saat terjadinya
loncatan api busi. Selanjutnya api membakar gas yang berada
disekelilingnya dan menjalar ke seluruh bagian sampai semua partikel gas
terbakar habis.
b. Pembakaran tidak sempurna (tidak normal), dimana sebagian bahan bakar
tidak ikut terbakar atau tidak terbakar bersama-sama pada saat dan keadaan
yang dikehendaki. Pada pembakaran tidak sempurna terjadi 2 (dua)
peristiwa, yaitu knocking (ketukan) dan pre-ignition.



2.6. Detonasi Pada Motor Bensin
Dalam keadaan tertentu maka pembakaran dalam silinder motor dapat terjadi
kenaikan yang sangat cepat dan kuat sehingga diluar terdengar suara ”knocking”.
Kejadian inilah yang biasa disebut denga detonasi akibat gelombang detonasi
yang ada dalam silinder, hingga didalamnya naik lebih cepat hingga 40 kg/cm tiap
0,001 detik.
Detonasi ini dapat terjadi pada semua jenis motor bakar. Sifatnya sangat
merugikan, karena:
a. Mengurangi rendemen motor, sebab lebih banyak panas yang diserahkan
pada dinding silinder dari pada yang diubah menjadi usaha.
b. Mengakibatkan retak pada torak, batang dan komponen yang lain.
c. Mengakibatkan pembakaran yang terlampau pagi.
Pada motor bensin terdapat 2 (dua) macam detonasi :
a. Detonasi karena campuran bahan bakar sudah menyala sebelum busi
mengeluarkan bunga api. Hal ini disebabkan karena kotoran-kotoran yang
tertimbun dan menyala terus menerus. Jadi untuk menghilangkan detonasi,
motor bensin perlu dibersihkan secara rutin, perbaikan pada sisitem
pendingin.
b. Detonasi yang timbul karena kecepatan pembakaran bahan bakar disekitar
busi, termampat olehnya sehingga terbakar dengan sendirinya meskipun
pembakaran didahului oleh nyala api busi, tetapi untuk pembakaran yang
sempurna dibutuhkan gerakan nyala api yang teratur dimulai dari busi.
2.7. Bahan Bakar
Bahan bakar (fuel) adalah segala sesuatu yang dapat di bakar misalnya kertas,
kain, batu bara, minyak tanah, bensin dsb. Untuk melalukan pembakaran
diperlukan 3 (tiga) unsur, yaitu:
a. Bahan bakar
b. Udara
c. Suhu untuk memulai pembakaran
Panas atau kalor yang timbul karena pembakaran bahan bakar tersebut disebut
hasil pembakaran atau nilai kalor (heating value).
Ada 3 (tiga) jenis bahan bakar, yaitu:
a. Bahan bakar padat
b. Bahan bakar cair
c. Bahan bakar gas
Kriteria utama yang harus dipenuhi bahan bakar yang akan digunakan dalam
motor bakar adalah sebagai berikut:
a. Proses pembakaran bahan bakar dalam silinder harus secepat mungkin dan
panas yang dihasilkan harus tinggi.
b. Bahan bakar yang digunakan harus tidak meninggalkan endapan atau deposit
setelah pembakaran karena akan menyebabkan kerusakan pada dinding
silinder.
c. Gas sisa pembakaran harus tidak berbahaya pada saat dilepas ke atmosfer.

2.8. Bahan Bakar Bensin (Premium)
Premium berasal dari bensin yang merupakan salah satu fraksi dari
penyulingan minyak bumi yang diberi zat tambahan atau aditif, yaitu Tetra Ethyl
Lead (TEL). Premuim mempunyai rumus empiris Ethyl Benzena (C
8
H
18
).
Premium adalah bahan bakar jenis disilat berwarna kuning akibat adanya zat
berwarna tambahan. Penggunaan premium pada umumnya adalah untuk bahan
bakar kendaraan bermotor bermesin bensin, seperti mobil, sepeda motor, dll.
Bahan bakar ini juga sering disebut motor gasoline atau petrol dengan angka
oktan adalah 88, dan mempunyai titik didih 30
0
C-200
0
C. Adapun rumus kimia
untuk pembakaran pada bensin premium adalah sebagai berikut:
2 C
8
H
18
+ 25 O
2
→ 16 CO
2
+ 18 H
2
O
Pembakaran di atas diasumsikan semua bensin terbakar dengan sempurna.
Komposisi bahan bakar bensin, yaitu:
a. Bensin (gasoline) C
8
H
18

b. Berat jenis bensin 0,65-0,75
c. Pada suhu 40
0
bensin menguap 30-65%
d. Pada suhu 100
0
bensin menguap 80-90%
(Sumber: Encyclopedia Of Chemical Technologi, Third Edition, 1981: 399)




2.9. Angka Oktan
Angka Oktan adalah suatu bilangan yang menunjukkan sifat anti ketukan
(denotasi). Dengan kata lain, makin tinggi angka oktan maka semakin berkurang
kemungkinan untuk terjadinya denotasi (knocking). Dengan berkurangnya
intensitas untuk berdenotasi, maka campuran bahan bakar dan udara yang
dikompresikan oleh torak menjadi lebih baik sehingga tenaga motor akan lebih
besar dan pemakaian bahan bakar menjadi lebih hemat.
Cara menentukan angka oktan bahan bakar ialah dengan mengadakan suatu
perbandingan bahan bakar tertentu dengan bahan bakar standar. Yaitu dengan
menggunakan mesin CFR (Coordination Fuel Research). Mesin CFR merupakan
sebuah mesin silinder tunggal dengan perbandingan kompresi yang dapat diukur
dari sekitar 4:1 sampai dengan 14:1. Terdapat dua metode dasar yang umum
digunakan yaitu research method mengunakan mesin motor CFR F-1, yang
hasilnya disebut dengan Research Octane Number (RON) dan motor method yang
menggunakan mesin motor CFR F-2 dimana hasilnya disebut dengan Motor
Octane Number (MON). Research method menghasilkan gejala ketukan lebih
rendah dibandingkan motor research.
Besar angka oktan bahan bakar tergantung pada presentase iso-oktana (C
7
H
18
)
dan normal heptana (C
7
H
16
) yang terkandung didalamnya. Sebagai pembanding,
bahan bakar yang sangat mudah berdenotasi adalah normal heptana (C
7
H
16
)
sedang yang sukar berdenotasi adalah iso-oktana (C
7
H
18
).
Bensin yang cenderung kearah sifat normal heptana disebut bensin dengan
nilai oktan rendah (angka oktan rendah) karena mudah berdenotasi, sebaliknya
bahan bakar yang lebih cenderung kearah sifat iso-oktana dikatakan bensin
dengan nilai oktan tinggi atau lebih sukar berdenotasi. Misalnya suatu bensin
mempunyai angka oktan 90 akan lebih sukar berdenotasi daripada bensin
beroktan 70. Jadi kecenderungan bensin untuk berdenotasi dinilai dari angka
oktannya. Iso-oktana murni diberi indeks 100, sedangkan normal heptana murni
diberi indeks 0. Dengan demikian jika suatu bensin memiliki angka oktan 90
berarti bensin tersebut cenderung berdenotasi sama dengan campuran yang terdiri
atas 90% volume iso-oktana dan 10% volume normal heptana. Nilai oktan yang
harus dimiliki oleh bahan bakar ditampilkan dalam tabel 2.1. berikut :
Tabel 2.1. Nilai Oktan Gasolin Indonesia


No

Jenis

Angka Oktan
Minimum
1 Premium 88 88 RON
2 Pertamax 94 RON
3 Pertamax Plus 95 RON
4 Bensol 98 RON









2.10. Aditif Octane Booster
Aditif octane booster merupakan suatu komponen dari senyawa yang
digunakan untuk meningkatkan angka oktan dari bahan bakar sekaligus sebagai
komponen anti-ketuk. Komponen yang digunakan untuk anti-ketuk saat ini adalah
Tetra Ethyl Led (TEL), Pb(C
2
H
5
)
4.
Berdasarkan hasil riset senyawa TEL ini
pertama-tama, terurai pada temperature sekitar 100
0
C dengan bantuan panas dari
ruang bakar melalui reaksi sebagai berikut :
Pb (C
2
H
5
)
4
÷ Pb (C
2
H
5
)
3
+ C
2
H
5
Pb (C
2
H
5
)
3
+ Pb (C
2
H
5
)
4
÷ Pb
2
(C
2
H
5
)
4
+ C
2
H
5
Pb
2
(C
2
H
5
)
6
÷ Pb (C
2
H
5
)
4
+ Pb (C
2
H
5
)
2
Pb (C
2
H
5
)
2
÷ Pb + C
2
H
10
Reaksi radikal etil dengan TEL dapat menghasilkan alkana, alkena, hidrogen,
dan juga radikal Pb-trietil. Yang bertindak sebagai bahan anti-ketuk adalah Pb-
oksida, dimana Pb-oksida ini berada dalam bentuk radikal-radikal yang tersebar
dalam ruang bakar dan sebagian akan melekat pada dinding silinder membentuk
endapan, dan sebagian lagi akan melekat ke atmosfer bersama-sama dengan gas
sisa pembakaran. Pb-oksida yang dibebaskan ke atmosfer inilah yang sangat
berbahaya bagi lingkungan. Sehingga perlu dicarikan bahan pengganti TEL
sebagai aditif octane booster.
(Sumber : http: //puslit petra ac.id./journalist/mechanical)

Berikut adalah bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan zat aditif :
Tabel 2.2. Zat tambahan bahan bakar premium
Zat tambahan Tipe / bahan dasar Fungsi
Pencegah oksidasi



Pencegah karat



Metal deactivators



Deterjen




Deposite control aditif




Penambahan campuran




Komponen
anti-knocking


Amines dan pnenols



Carboxylic acids dan
Carboxylates


Chelating agents



Amines and
amine carboxilates



Polybutene amines
Polyether amines



Ethanol, Methanol, tertiary
Butyl alcohol, methyl
tertiary ether
Lead alkykl,

Organo manganese
Compounds
Meminimalkan penumpukan
kotoran dalam filter dan
Injektor

Mencegah karat pada pipa
Saluran bahan bakar


Mencegah pembentukan
lendir (gum)


Mencegah pembentukan
kerak dan membersihkan
kerak yang terdapat pada
karburator

Membersihkan kerak yang
terjadi karena pengaruh
temperatur tinggi yang
terdapat pada injektor

Menaikkan angka oktan,
alternatif bahan bakar lain,
dan penghemat bahan bakar


Meningkatkan angka oktan





2.11. Prestone Octane Booster
Prestone Octane Booster direkomendasikan oleh Prestone Products
comparation made in U.S.A. yang berisi 473 ml zat aditif, cara penggunaanya
yaitu dapat dicampur dengan bahan bakar sebanyak 16 galon atau sekitar 60 liter
gasoline. Berdasarkan rekomendasi pabrik, dengan penggunaan zat aditif merek
Prestone Octane Booster dapat berfungsi untuk membersihkan mesin dan
memberikan tenaga, menghemat BBM, juga dapat mengurangi kadar emisi gas
buang. Berikut adalah komposisi yang terkandung dalam Prestone Octane
Booster yaitu :
- Pretoleum distillates (destilasi minyak tanah) : berfungsi untuk
mencegah terjadinya korosi, menghilangkan kerak, dan mencegah
pembekuan kristal wax.
- Trimethyl benzene : berfungsi untuk meningkatkan angka oktan dan
menghemat bahan bakar.
- Methyl Cyclop antadienyl manganese tricarbonyl : berfungsi untuk
menaikkan angka oktan.
- Proprietary additivies adalah bahan dasar lain yang terkandung dalam
aditif seperti yang telah terlampir pada table 2.2.diatas.










Gambar 2. 6. Prestone Octane Booster



2.12. Parameter Prestasi Mesin.
Performance atau prestasi mesin bisa diketahui dengan membaca dan
menganalisis parameter yang ditulis dalam sebuah laporan atau media lain, yang
berfungsi untuk mengetahui daya, torsi, konsumsi bahan bakar spesifik, tekanan
efektif rata-rata, dan efisiensi dari mesin tersebut. Parameter itulah yang menjadi
pedoman praktis prestasi sebuah mesin.
Parameter prestasi mesin dapat dilihat dari berbagai hal diantara yang terdapat
dalam diagram sebagai berikut :

Gambar 2. 5. Diagram Alir Prestasi Mesin
Parameter Prestasi Mesin
Torsi

Daya

Laju Konsumsi
Bahan Bakar
Konsumsi Bahan Bakar Spesifik
Efisiensi Bahan Bakar
Secara umum daya berbanding lurus dengan luas piston sedang torsi
berbanding lurus dengan volume langkah. Parameter tersebut relatif penting
digunakan pada mesin yang berkemampuan kerja dengan variasi kecepatan
operasi dan tingkat pembebanan. Daya maksimum didefinisikan sebagai
kemampuan maksimum yang bisa dihasilkan oleh suatu mesin. Adapun torsi
poros pada kecepatan tertentu mengindikasikan kemampuan untuk memperoleh
aliran udara (dan juga bahan bakar) yang tinggi kedalam mesin pada kecepatan
tersebut. Sementara suatu mesin dioperasikan pada waktu yang cukup lama, maka
konsumsi bahan bakar serta efisiensi mesinnya menjadi suatu hal yang dirasa
sangat penting. (Heywood, 1988 : 823)

2.13. Untuk Kerja Motor Bakar
Pada motor bakar torak, Daya yang berguna adalah daya poros dan daya poros
itulah yang mengerakkan beban. Daya poros itu sendiri dibangkitkan oleh daya
indikator yang merupakan daya gas pembakaran yang menggerakkan torak.
Daya yang berputar ditimbulkan oleh bahan bakar yang dibakar dalam silinder
yang selanjutnya torak akan mengerakkan semua mekanisme pada motor bakar.
Unjuk kerja motor bakar tergantung dari daya yang dapat ditimbulkan.
Unjuk kerja pembakaran ini biasanya dinyatakan dalam daya kuda (PS) atau
kW per satuan isi langkah.
Isi langkah V
i
= penampang silinder x langkah (m
3
)
Efisiensi volumetric η
v
= jumlah udara dihisap dalam satu siklus :
Jumlah udara yang diisikan dalam silinder V
i
pada kondisi atmosfer.

Jumlah udara = 1,293 x
) ( 273
273
0
C t +
x
normal tekanan
tekanan
x V
i
(kg)
Dari perumusan diatas dapat dilihat jika suhu lebih rendah, maka tekanan
udara yang masuk lebih besar dan jumlah udara yang akan dihisap juga lebih
besar. Sehingga akan dihasilkan daya yang lebih besar karena sejumlah bahan
bakar akan dapat terbakar dengan baik. (Soenarta & Furuhama, 1995)

2.14. Besaran Ukuran Dalam Motor Bakar.
a. Volume Silinder
Volume silinder antara TMA dan TMB disebut volume langkah torak
(V
1
). Sedangkan volume silinder antara TMA dan kepala silinder (tutup
silinder) disebut volume sisa (V
s
). Volume total (V
t
) ialah isi ruang antara
torak ketika ia berada di TMB sampai tutup silinder.

V
t
= V
1
+ V
s
...............................................(1)

Volume langkah mempunyai satuan yang tergantung pada satuan
silinder (D) dan panjang langkah torak (L) biasanya mempunyai satuan
centimeter cubic (cc) atau cubic inch (cu.in).



V
1
= luas lingkaran x panjang langkah

V
1
= π. r
2
. L


V
1
= π. ﴾ D
2
1
﴿
2
. L

Dengan demikian besaran dan ukuran motor bakar menurut volume
silinder tergantung dari banyaknya silinder yang digunakan dan besarnya
volume silinder (Kiyaku & Murdhana, 1998).

b. Perbandingan Kompresi
Hasil bagi volume total dengan volume sisa disebut sebagai
perbandingan kompresi.
C =
s
1 1
V
V
1+ =
+
S
V
V V
s
……………………………….(2)
Dimana :
V
1
= volume langkah torak
V
s
= volume sisa

Jadi suatu motor mempunyai volume total 56 cu.in dan volume sisa 7
cu.in, maka perbandingan kompresinya adalah :
C =
7
56
= 8
Hal diatas menunjukkan bahwa selama langkah kompresi, muatan
yang ada diatas torak dimampatkan 8 kali lipat dari volume terakhirnya.
Semakin tinggi perbandingan kompresi, maka semakin tinggi tekanannya dan
temperatur akhir kompresi. (Kiyaku & Murdhana).
Perbandingan kompresi tidak dapat dinaikkan tanpa batas, karena motor
pembakaran yang menggunakan busi akan timbul suara menggelitik jika
perbandingan kompresinya terlalu tinggi (Soenarta & Furuhana, 1995).

2.15. Torsi dan Daya Poros
Pada motor bakar daya yang berguna adalah daya poros seperti telah
dijelaskan diatas. Daya poros ditimbulkan oleh bahan bakar yang dibakar dalam
silinder dan selanjutnya menggerakkan semua mekanisme.
Unjuk kerja motor bakar pertama-tama tergantung dari daya yang ditimbulkan
(Soenarta & Furuhama, 1995)

Gambar 2.6. Pengetesan Prestasi Mesin
(Sumber : Nakoela S dan Shoici F, 1995)
Pada gambar (2.6.) diatas menunjukkan peralatan yang dipergunakan untuk
mengukur nilai yang berhubungan dengan keluaran motor pembakaran yang
seimbang dengan hambatan atau beban pada kecepatan putaran konstan (n). Jika n
berubah, maka motor pembakaran menghasilkan daya untuk mempercepat atau
memperlambat bagian yang berputar. Motor pembakaran ini dihubungkan dengan
dynamometer dengan maksud mendapatkan keluaran dari motor pembakaran
dengan cara menghubungkan poros motor dengan poros dynamometer. Rotornya
diikatkan pada poros yang akan mengaduk air yang ada didalamnya. Hambatan
ini akan menimbulkan torsi (T), sehingga nilai daya (P) dapat ditentukan sebagai
berikut :
) (
60000
. . 2
kW
T n
P
t
= ……………....................................(3)

Dimana :
P = Daya (kW)
n = putaran mesin (rpm)
T = torsi (Nm)

Torak yang didorong oleh gas membuat usaha. Baik tekanan maupun suhunya
akan turun waktu gas berekspansi. Energi panas diubah menjadi usaha mekanis.
Konsumsi energi panas ditunjukkan langsung oleh turunnya suhu. Kalau toraknya
tidak mendapatkan hambatan dan tidak menghasilkan usaha gas tidak akan
berubah meskipun tekanannya turun.


2.16. Tekanan Efektif Rata-rata
Besar nilai P
1
merupakan tekanan efektif rata-rata indikator (indicator mean
effective pressure : IMEP).
Nilai P
1
, dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

s
i
V
W
P =
1
……………………………….................(4)

Dengan menggunakan nilai P
i
dapat memudahkan perhitungan besar usaha
indikator W
i
pada tekanan konstan selam torak pada langkah ekspansi. Pada
mesin 4 langkah besar nilai P
i
terjadi setiap 2 putaran, sehingga besar nilai N
i

indikator dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
Dengan satuan Si ( m
3
, kPa dan rpm)

Ni =V
1
.P
1
.
n
/
2
(kW)…………………......................(5)

Dimana :
V
1
= volume langkah (m
3
)
P
i
= tekanan efektif rata-rata indicator (kPa)
n = putaran mesin (rpm)

Pada mesin 2 langkah besar nilai P
i
dihasilkan pada tiap putaran, maka secara
teoritis nilai N
i
akan menjadi dua kali lebih besar jika dibandingkan pada
persamaan 4, tetapi pada umumnya besar nilai P
i
pada mesin 2 langkah lebih kecil
dibandingkan dengan 4 langkah. Nilai N
i
disebut sebagai keluaran indikator yang
menyatakan keluaran, disebabkan oleh adanya tekanan pada torak.
Daya yang dapat dimanfaatkan untuk memutar mesin disebut sebagai keluaran
efektif (brake mean out put) nilai Ne dapat dirumuskan sebagai berikut :

Ne = V
1
. N. BMEP. 2 (kW)……………………(6)

Besar keluaran efektif dapat diukur dengan menggunakan sebuah
Dinamometer. Nilai BMEP adalah merupakan tekanan efektif rata-rata (brake
mean effective pressure). Besar nilai Ne yang ditentukan oleh produk dari volume
langkah V
1
, kecepatan putaran n dan BMEP yang berhubungan dengan tekanan
gas rata-rata merupakan keluaran suatu pembakaran yang bermanfaat. BMEP
adalah besar nilai yang menunjukkan daya mesin tiap satuan volume silinder pada
putaran tertentu dan tidak tergantung dari ukuran motor bakar (Soenarta
&Furuhama, 1995)
Besar nilai BMEP dapat dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut :

n V
Z P
BMEP
d
.
. . 60
= ……………………................(7)

Dimana :
P = daya (kW)
N = putaran mesin (rpm)
V
d
= volume langkah total silinder (m
3
)
Z = sistem siklus (4 langkah =2, 2 langkah =1)






2.17. Menentukan Efisiensi Energi
1. Efisiensi Thermis
Perbandingan antara energi yang dihasilkan dan energi yang dimasukkan
pada proses pembakaran bahan bakar disebut efisiensi thermis rem (brake
thermal efficiency) dan ditentukan sebagai berikut :
(%) 100
.
860
× =
h SFC
bt
q ……………...............................(8)
Dimana :
H = nilai kalor untuk bahan bakar premium = 11.245,14 kcal/kg.
Sumber??
SFC = konsumsi bahan bakar spesifik


Nilai kalor mempunyai hubungan dengan berat jenis. Pada umumnya
semakin tinggi berat jenis maka semakin rendah nilai kalornya. (Kiyaku &
Murdhana, 1998).

2. Besar Penggunaan Bahan Bakar
Besar pemakaian bahan bakar spesifik (SFC) ditentukan dalam kg/kWh
dan lebih umum digunakan dari pada
bt
q . Besar nilai SFC adalah kebalikan
dari pada
bt
q . Penggunaan bahan bakar dalam gram per jam Ne dapat
ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :
| | kWh kg
P
m
SFC
f
/ = …………………............................(9)
Dimana :
SFC = konsunsi bahan bakar spesifik (kg/kWh)
P = daya mesin (kW)
Sedang nilai m
f
dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut :

bb f
t
b
m µ · · =
1000
3600
……………………………….........(10)

Dimana :
b = volume buret (cc)
t = waktu (detik)
ρ
bb
= berat jenis bahan bakar (kg/l)
m
f
= adalah penggunaan bahan bakar per jam pada kondisi
tertentu (kg/h)
(Soenarta & Furuhama,1995).









kendaraan harus teliti dalam memilih produk octane booster ini. Harga produk octane booster dipasaran berada pada kisaran Rp.30.000,00-Rp.100.000,00. Cara pemakaian produk ini jika mengacu pada rekomendasi pembuatnya adalah satu botol dicampur dengan 40-60 liter bensin, semakin pekat campuran pengaruhnya tentu akan lebih baik terhadap peningkatan kadar oktan (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/31/otokir/jama2.htl) Penambahan aditif petrol Quasar P2 pada premium dapat meningkatkan pembakaran bahan bakar dikarenakan zat aditif bekerja dengan menggunakan metode pengionan petrol dan ikatan hydrogen yang menjadikan atom menjadi kecil. Hal tersebut berfungsi untuk meratakan molekul bensin dan menjadi seimbang sehingga terjadi pengurangan emisi gas buang yang berupa Karbon monoksida (CO) dan Hidrokarbon (HC), serta dapat meningkatkan daya sebesar 20 %, penghematan bahan bakar sebesar 15 %. (http:// Surya. Bpn @ telkom. Net) Joko Supriyanto (Mahasiswa UMY, 2006) telah melakukan penelitian dengan mengunakan zat aditif merek STP Diesel Fuel Treatment & Injector Cleaner pada mesin diesel 4 langkah merek Dongfeng tipe R174A. Hasil penelitian menunjukkan penambahan zat aditif pada solar dapat berpengaruh terhadap unjuk kerja mesin yaitu torsi naik 19,99 %, daya naik 30,09 %, tekanan efektif rata-rata naik 20,03 %, konsumsi bahan bakar spesifik turun 30,59 %, dan efisiensi thermis naik sebesar 45,6 %.

2.1.1. Prinsip Dasar Motor Bensin Secara umum pengertian motor bakar diartikan sebagai pesawat yang dapat mengubah suatu bentuk energi thermal menjadi bentuk energi mekanik. Motor bakar dapat pula diartikan sebagai pesawat dan energi kerja mekaniknya diperoleh dari pembakaran bahan bakar dalam pesawat itu sendiri. Oleh karena itu, motor bakar yang pembakarannya terjadi di dalam pesawat itu sendiri disebut pesawat tenaga dengan pembakaran dalam (Internal Combustion Engine). Pada mulanya perkembangan motor bakar torak dengan motor bakar bensin ditemukan oleh Nichollus Otto pada tahun 1876. Karena bentuknya kecil dan tenaganya besar juga mudah dihidupkan dan sangat praktis, maka memberikan kemungkinan untuk dapat mempergunakan motor tersebut diberbagai lapangan kerja dengan aneka macam ragamnya. Motor bakar torak menggunakan silinder tunggal atau beberapa silinder. Salah satu fungsi torak disini adalah sebagai pendukung terjadinya pembakaran pada motor bakar. Tenaga panas yang dihasilkan dari pembakaran diteruskan torak ke batang torak, kemudian diteruskan ke poros engkol yang mana poros engkol nantinya akan diubah menjadi gesekan putar. Motor bakar terbagi menjadi 2 (dua) jenis utama, yaitu motor diesel dan motor bensin. Perbedaan umum terletak pada sistem penyalaan. Penyalaan pada motor bensin dinyalakan oleh loncatan bunga api listrik yang dipercikan oleh busi atau juga sering disebut juga spark ignition engine. Sedangkan pada motor diesel penyalaan terjadi karena kompresi yang tinggi di dalam silinder kemudian bahan

Dapat memakai semua bentuk bahan bakar. b. sehingga gas hasil pembakaran yang terjadi sekaligus berfungsi sebagai fluida. .2.1. Mesin bakar luar Pada mesin pembakaran luar fluida kerja yang dihasilkan terdapat di luar mesin tersebut. Hal-hal yang dimiliki pada mesin pembakaran luar yaitu : a. 2. Berdasar Sistem Pembakarannya a). Dapat memakai bahan bakar bermutu rendah. Contoh : mesin pembakaran dalam yaitu motor bakar torak misalnya motor 2 tak dan motor 4 tak.bakar disemprotkan oleh nozzle atau juga sering disebut juga Compression Ignition Engine. Klasifikasi Motor Bakar Motor bakar dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) macam. Adapun pengklasifikasian motor bakar adalah sebagai berikut: a. b). Energi thermal dan gas hasil pembakaran dipindahkan ke dalam mesin melalui beberapa dinding pemisah. Mesin bakar dalam Pada mesin pembakaran dalam fluida kerja yang dihasilkan pada mesin itu sendiri.

. b). d. pelaksanaan pembakaran bahan bakar dilakukan diluar mesin. b. Pada waktu torak hampir mencapai titik TMA bahan bakar disemprotkan ke dalam ruang bakar. Motor tersebut dilengkapi dengan busi dan karburator. Cocok untuk melayani beban-beban besar dalam satu poros. Di dalam siklus otto (siklus ideal) pembakaran tersebut dimisalkan sebagai pemasukan panas pada volume konstanta. Lebih cocok dipakai untuk daya tinggi. Busi menghasilkan loncatan bunga api listrik yang membakar campuran bahan bakar dan udara karena motor ini cenderung disebut spark ignition engine. Pembakaran bahan bakar dengan udara ini menghasilkan daya. Motor bensin Motor bensin dapat juga disebut sebagai motor otto. Berdasar Sistem Penyalaan a). Proses penyalaannya bukan menggunakan loncatan bunga api listrik.c. Contoh : mesin pembakaran luar yaitu pesawat tenaga uap. Motor diesel Motor diesel adalah motor bakar torak yang berbeda dengan motor bensin.

yaitu berkisar 12-25. 1988: 89) 2. .2. Siklus Termodinamika Konversi energi yang terjadi pada motor bakar torak berdasarkan pada siklus termodinamika. Persyaratan ini dapat terpenuhi apabila perbandingan kompresi yang digunakan cukup tinggi. Sifat-sifat kimia fluida kerja tidak berubah selama siklus berlangsung. Panas jenis dianggap konstan meskipun terjadi perubahan temperatur pada udara. Fluida kerja dari awal proses hingga akhir proses.Terjadilah pembakaran pada ruang bakar pada saat udara udara dalam silinder sudah bertemperatur tinggi. Idealisasi proses tersebut sebagai berikut : a. c. e. b. Motor 2 (dua) langkah mempunyai siklus termodinamika yang sama dengan motor 4 (empat) langkah. (Wiranto Arismunandar. Proses sebenarnya amat komplek. tidak terjadi perpindahan panas antara gas dan dinding silinder. sehingga analisa dilakukan pada kondisi ideal dengan fluida kerja udara. Proses kompresi dan ekspansi berlangsung secara adiabatik. d.

1994 : 451) 2. . Adapun langkah dalam siklus otto yaitu gerakan piston dari titik puncak (TMA=titik mati atas) ke posisi bawah (TMB=titik mati bawah) dalam silinder. 1.3. Diagram P-V dan T-S siklus otto (Cengel & Boles. Untuk mesin 4 (empat) langkah siklus kerja terjadi dengan 4 (empat) langkah piston atau 2 (dua) poros engkol. Siklus Otto (Siklus udara volume konstan) Pada siklus otto atau siklus volume konstan proses pembakaran terjadi pada volume konstan. sedangkan siklus otto tersebut ada yang berlangsung dengan 4 (empat) langkah atau 2 (dua) langkah.Gambar 2.

2. Diagram P-V dan T-S siklus otto (Cengel & Boles. 1994 : 458) Proses siklus otto sebagai berikut : Proses 1-2 : proses kompresi isentropic (adiabatic reversible) dimana piston bergerak menuju (TMA=titik mati atas) mengkompresikan udara sampai volume clearance sehingga tekanan dan temperatur udara naik. . Proses 4-1 : proses pelepasan kalor pada volume konstan piston sesaat pada (TMB=titik mati bawah) dengan mentransfer kalor ke sekeliling dan kembali mlangkah pada titik awal. Proses 3-4 : proses isentropik udara panas dengan tekanan tinggi mendorong piston turun menuju (TMB=titik mati bawah).Gambar 2. Proses 2-3 : pemasukan kalor konstan. piston sesaat pada (TMA=titik mati atas) bersamaan kalor suplai dari sekelilingnya serta tekanan dan temperatur meningkat hingga nilai maksimum dalam siklus. energi dilepaskan disekeliling berupa internal energi.

Tekanan kurang tersebut mengakibatkan terjadinya hisapan terhadap campuran udara bahan bakar dari karburator. Prinsip Kerja Motor Bakar 4 (empat) Langkah Pengertian yang dimaksud dengan motor bakar 4 (empat) langkah adalah bila 1 (satu) kali proses pembakaran terjadi pada setiap 4 (empat) langkah gerakan piston atau 2 (dua) kali putaran poros engkol. Langkah Hisap Piston bergerak dari TMA ke TMB. Langkah Kompresi Piston bergerak dari TMB ke TMA mengadakan kompresi terhadap campuran udara bahan bakar yang baru masuk pada langkah pengisian. Prinsip Kerja Motor Bakar Torak Berdasarkan prinsipnya. b).2. terdapat 2 (dua) prinsip pada motor bakar torak.4. maka siklus motor 4 (empat) langkah dapat diterangkan sebagai berikut : a). Keadaan katup masuk terbuka dan katup buang tertutup. Pada ruangan di atas piston terjadi pembesaran volume yang menyebabkan tekanan menjadi kurang. yaitu: 4 (empat) langkah dan 2 (dua) langkah. Tekanan dan temperatur menjadi naik . Adapun prinsip kerja motor bakar 4 (empat) langkah dan 2 (dua) langkah adalah sebagai berikut: a. Dengan anggapan bahwa katup masuk dan katup buang terbuka tepat pada waktu piston berada pada TMA dan TMB.

Piston bergerak dari TMB menuju TMA mendesak gas sisi pembakaran keluar melalui katup buang dan saluran buang (exhaust manifold) menuju atmosfer. Langkah Buang Pada langkah buang ini katup masuk tertutup sedangkan katup buang terbuka. . Kedua katup masih dalam keadaan tertutup rapat sehingga seluruh tenaga panas mendorong piston untuk bergerak. Langkah Usaha Akibat adanya pembakaran maka pada ruang bakar terjadi panas dan pemuaian yang tiba-tiba. d). Pemuaian tersebut mendorong piston untuk bergerak dari TMA ke TMB. Sebelum langkah kompresi berakhir maka busi mengadakan pembakaran kedua katup tertutup. c).sedemikian rupa sehingga campuran bahan bakar udara berada dalam keadaan yang mudah sekali untuk terbakar.

Gambar 2. Langkah-langkah tersebut adalah: a). Langkah ini merupakan langkah kompresi. Motor Bensin 2 (dua) Langkah Pada motor bensin 2 (dua) langkah. Langkah Naik Piston bergerak dari TMB ke TMA. Beberapa saat sebelum piston sampai di TMB. gas bekas hasil pembakaran sudah mulai dikeluarkan dan campuran udara bahan bakar barupun sudah mulai dimasukkan. Prinsip kerja motor 4 (empat) langkah (Wiranto Arismunandar. . Proses yang terjadi pada motor 4 (empat) langkah. juga terjadi 1 (satu) langkah penuh. setiap siklus terdiri dari 2 (dua) langkah piston atau 1 (satu) kali putaran poros engkol. 3. Pada waktu piston hampir mencapai TMA busi mengadakan pembakaran. 2002 : 8) b.

b). gas baru masuk dan sekaligus mendorong gas bekas keluar. Kelemahan yang paling menonjol pada motor 2 (dua) langkah yaitu sangat singkatnya waktu yang tersedia untuk pemasukkan dan pembuangan gas bekas. Piston bergerak dari TMA ke TMB. Akibatnya bahan bakar baru ada yang tercampur dengan gas bekas atau sudah terbuang keluar bersama gas bekas sebelum sempat terbakar. Pada motor bensin 2 (dua) langkah. karena pemasukan dan pengeluaran gas baru dan gas bekas tidak diatur oleh klep maka terdapat beberapa kelemahan. Lubang masukpun kemudian terbuka pula. yaitu : . Piston yang bergerak dari TMB ke TMA dan sebaliknya menutup dan membuka lubang-lubang tersebut. Langkah Turun Dengan adanya pembakaran pada akhir langkah naik maka menyebabkan terjadi nya panas dan pemuaian yang tiba-tiba. Suatu hal yang sangat penting pada motor 2 (dua) langkah ialah adanya lubang-lubang masuk dan buang sebagai pengganti katup. Tapi kelemahan ini telah diusahakan memperkecilnya dengan membuat bermacam sistem pembilasan. Jadi motor 2 (dua) langkah umumnya tidak mempunyai katup masuk dan katup buang. Sebelum piston mencapai TMB maka lubang buang sedah terbuka.

Dengan adanya lubang transfer dari lubang buang maka kompresi tidak dimulai dari TMB. berkisar antara 20-45%. b).a). Gambar 2. 4. Terlalu sedikit waktu untuk pemasukan gas baru dan pembuangan gas bekas sehingga besar kemungkinan sebagian gas bekas. Kerugian ini tidak sama pada masing-masing motor. tidak sempat keluar dan sebaliknya ada juga gas baru yang sudah keluar sebelum terbakar. Berarti lubang buang baru tertutup pada waktu piston sudah bergerak ada kalanya 800 putaran sesudah TMB. Prinsip kerja motor 2 (dua) langkah .

5.P. Sebagaimana telah kita ketahui sebagai bahan bakar motor bensin terutama yang mengandung unsur-unsur karbon dan hidrogen yang dikenal dengan 3 (tiga) teori mengenai pembakaran hidrogen tersebut. Hidrokarbon terbakar bersama-sama dengan oksigen sebelum karbon bergabung dengan oksigen. sehingga tekanan gas hasil pembakaran bisa maksimal menekan torak dan mengurangi terjadinya detonasi. S. 1980) 2.(Arends BPM. Karbon terbakar lebih dahulu daripada hidrogen. hal. (Sharma. . Mekanisme pembakarannya sangat dipengaruhi oleh keadaan dari keseluruhan proses pembakaran dimana atom-atom dari komponen yang dapat bereaksi dengan oksigen yang dapat membentuk produk yang berupa gas. 65). Proses Pembakaran Secara umum pembakaran didefinisikan sebagai reaksi kimia atau reaksi persenyawaan bahan bakar oksigen (O2) sebagai oksidan dengan temperaturnya lebih besar dari titik nyala. a. 1978. Untuk memperoleh daya maksimum dari suatu operasi hendaknya komposisi gas pembakaran dari silinder (komposisi gas hasil pembakaran) dibuat seideal mungkin. b. H Berenschot. Komposisi bahan bakar dan udara dalam silinder akan menentukan kualitas pembakaran dan akan berpengaruh terhadap performance mesin dan emisi gas buang.

Dalam sebuah mesin terjadi beberapa tingkatan pembakaran yang digambarkan dalam sebuah grafik dengan hubungan antara tekanan dan perjalanan engkol.V. dan berakhir pada titik 2.5. Periode-periode tersebut adalah : 1. Senyawa hidrokarbon terlebih dahulu bergabung dengan oksigen dan membentuk senyawa (hidrolisasi) yang kemudian dipecah secara terbakar.c.Keterlambatan pembakaran (Delay Periode) Periode pertama dimulai dari titik 1 yaitu mulai disemprotkannya bahan bakar sampai masuk kedalam silinder.L. Berikut adalah gambar dari grafik tingkatan pembakaran : Gambar 2. Selama periode ini . 1995 : 160) Proses atau tingkatan pembakaran dalam sebuah mesin terbagi menjadi empat tingkat atau periode yang terpisah. perjalanan ini sesuai dengan perjalanan engkal sudut a. Tingkat pembakaran dalam sebuah mesin (Maleev.

yang membentuk tingkat kedua. dimana sudut c tergantung pada beban yang dibawa beban mesin. Pembakaran Terkendali Setelah titik 3. semakain besar bebannya semakin besar c. Periode ini sesuai dengan pejalanan engkol sudut c. akan menyala dengan cepat yang mengakibatkan kenaikan tekanan mendadak sampai pada titik 3 tercapai. bahan bakar yang belum terbakar dan bahan bakar yang masih tetap disemprotkan (diinjeksikan) terbakar pada kecepatan yang tergantung pada kecepatan penginjeksian serta jumlah distribusi oksigen yang masih ada dalam udara pengisian. 4. Periode ini sesuai dengan perjalanan sudut engkol b. Pembakaran pasca (after burning) Bahan bakar sisa dalam silinder ketika penginjeksian berhenti dan akhirnya terbakar. yang dipecah halus dan sebagian menguap kemudian siap untuk dilakukan pembakaran. . 3. Periode inilah yang disebut dengan periode terkendali atau disebut juga pembakaran sedikit demi sedikit yang akan berakhir pada titik 4 dengan berhentinya injeksi.berlangsung tidak terdapat kenaikan tekanan melebihi kompresi udara yang dihasilkan oleh torak. konstan ataupun turun. Selama tingkat ini tekanan dapat naik. Pembakaran cepat Pada titik 2 terdapat sejumlah bahan bakar dalam ruang bakar. Pada pembakaran pasca tidak terlihat pada diagram. Dan bahan bakar masuk terus menerus melalui nosel. 2. Ketika bahan bakar dinyalakan yaitu pada titik 2.

Hal ini hanya akan terjadi bila pencampuran pendahuluan antara bahan bakar dengan udara mempunyai waktu yang cukup sehingga memungkinkan masuknya oksigen ke dalam molekul hidrokarbon. Dalam pembakaran hidrokarbon yang biasa tidak akan terjadi gejala apabila memungkinkan untuk proses hidrolisasi. Pada pembakaran tidak sempurna terjadi 2 (dua) peristiwa. yaitu: a. Pembakaran normal (sempurna).dikarenakan pemunduran torak mengakibatkan turunnya tekanan meskipun panas panas ditimbulkan oleh pembakaran bagian akhir bahan bakar. Bila oksigen dan hidrokarbon tidak bercampur dengan baik maka terjadi proses cracking dimana pada nyala akan timbul asap. Mekanisme pembakaran normal dalam motor bensin dimulai pada saat terjadinya loncatan api busi. Ada 2 (dua) kemungkinan yang terjadi pada pembakaran mesin berbensin. . Pembakaran semacam ini disebut pembakaran tidak sempurna. dimana bahan bakar dapat terbakar seluruhnya pada saat dan keadaan yang dikehendaki. Selanjutnya api membakar gas yang berada disekelilingnya dan menjalar ke seluruh bagian sampai semua partikel gas terbakar habis. dimana sebagian bahan bakar tidak ikut terbakar atau tidak terbakar bersama-sama pada saat dan keadaan yang dikehendaki. Pembakaran tidak sempurna (tidak normal). yaitu knocking (ketukan) dan pre-ignition. b.

001 detik. c. Kejadian inilah yang biasa disebut denga detonasi akibat gelombang detonasi yang ada dalam silinder. hingga didalamnya naik lebih cepat hingga 40 kg/cm tiap 0. Jadi untuk menghilangkan detonasi. Mengakibatkan pembakaran yang terlampau pagi. karena: a. perbaikan pada sisitem pendingin. Mengakibatkan retak pada torak. Detonasi yang timbul karena kecepatan pembakaran bahan bakar disekitar busi. Mengurangi rendemen motor. Detonasi karena campuran bahan bakar sudah menyala sebelum busi mengeluarkan bunga api. b. Detonasi Pada Motor Bensin Dalam keadaan tertentu maka pembakaran dalam silinder motor dapat terjadi kenaikan yang sangat cepat dan kuat sehingga diluar terdengar suara ”knocking”. sebab lebih banyak panas yang diserahkan pada dinding silinder dari pada yang diubah menjadi usaha. Hal ini disebabkan karena kotoran-kotoran yang tertimbun dan menyala terus menerus.6. b.2. motor bensin perlu dibersihkan secara rutin. termampat olehnya sehingga terbakar dengan sendirinya meskipun . batang dan komponen yang lain. Detonasi ini dapat terjadi pada semua jenis motor bakar. Sifatnya sangat merugikan. Pada motor bensin terdapat 2 (dua) macam detonasi : a.

Udara c. Suhu untuk memulai pembakaran Panas atau kalor yang timbul karena pembakaran bahan bakar tersebut disebut hasil pembakaran atau nilai kalor (heating value). Bahan bakar gas Kriteria utama yang harus dipenuhi bahan bakar yang akan digunakan dalam motor bakar adalah sebagai berikut: a. Bahan bakar yang digunakan harus tidak meninggalkan endapan atau deposit setelah pembakaran karena akan menyebabkan kerusakan pada dinding silinder. b. minyak tanah.pembakaran didahului oleh nyala api busi. tetapi untuk pembakaran yang sempurna dibutuhkan gerakan nyala api yang teratur dimulai dari busi. Untuk melalukan pembakaran diperlukan 3 (tiga) unsur. kain. batu bara. bensin dsb. Ada 3 (tiga) jenis bahan bakar. yaitu: a.7. yaitu: a. Bahan Bakar Bahan bakar (fuel) adalah segala sesuatu yang dapat di bakar misalnya kertas. Bahan bakar b. Bahan bakar cair c. . Proses pembakaran bahan bakar dalam silinder harus secepat mungkin dan panas yang dihasilkan harus tinggi. 2. Bahan bakar padat b.

65-0.c. 1981: 399) . Third Edition. seperti mobil. Pada suhu 400 bensin menguap 30-65% d. Penggunaan premium pada umumnya adalah untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin bensin. Premium adalah bahan bakar jenis disilat berwarna kuning akibat adanya zat berwarna tambahan. 2. sepeda motor. Gas sisa pembakaran harus tidak berbahaya pada saat dilepas ke atmosfer. Adapun rumus kimia untuk pembakaran pada bensin premium adalah sebagai berikut: 2 C8H18 + 25 O2 → 16 CO2 + 18 H2O Pembakaran di atas diasumsikan semua bensin terbakar dengan sempurna.8. Bahan Bakar Bensin (Premium) Premium berasal dari bensin yang merupakan salah satu fraksi dari penyulingan minyak bumi yang diberi zat tambahan atau aditif. dll. Komposisi bahan bakar bensin. dan mempunyai titik didih 300C-2000C. yaitu Tetra Ethyl Lead (TEL). yaitu: a.75 c. Pada suhu 1000 bensin menguap 80-90% (Sumber: Encyclopedia Of Chemical Technologi. Berat jenis bensin 0. Premuim mempunyai rumus empiris Ethyl Benzena (C8H18). Bahan bakar ini juga sering disebut motor gasoline atau petrol dengan angka oktan adalah 88. Bensin (gasoline) C8H18 b.

Mesin CFR merupakan sebuah mesin silinder tunggal dengan perbandingan kompresi yang dapat diukur dari sekitar 4:1 sampai dengan 14:1. Besar angka oktan bahan bakar tergantung pada presentase iso-oktana (C7H18) dan normal heptana (C7H16) yang terkandung didalamnya. Research method menghasilkan gejala ketukan lebih rendah dibandingkan motor research. Dengan kata lain.9. Yaitu dengan menggunakan mesin CFR (Coordination Fuel Research). Dengan berkurangnya intensitas untuk berdenotasi. yang hasilnya disebut dengan Research Octane Number (RON) dan motor method yang menggunakan mesin motor CFR F-2 dimana hasilnya disebut dengan Motor Octane Number (MON). maka campuran bahan bakar dan udara yang dikompresikan oleh torak menjadi lebih baik sehingga tenaga motor akan lebih besar dan pemakaian bahan bakar menjadi lebih hemat. Sebagai pembanding.2. makin tinggi angka oktan maka semakin berkurang kemungkinan untuk terjadinya denotasi (knocking). Cara menentukan angka oktan bahan bakar ialah dengan mengadakan suatu perbandingan bahan bakar tertentu dengan bahan bakar standar. Angka Oktan Angka Oktan adalah suatu bilangan yang menunjukkan sifat anti ketukan (denotasi). . Terdapat dua metode dasar yang umum digunakan yaitu research method mengunakan mesin motor CFR F-1.

1. Bensin yang cenderung kearah sifat normal heptana disebut bensin dengan nilai oktan rendah (angka oktan rendah) karena mudah berdenotasi. sedangkan normal heptana murni diberi indeks 0. Jadi kecenderungan bensin untuk berdenotasi dinilai dari angka oktannya. sebaliknya bahan bakar yang lebih cenderung kearah sifat iso-oktana dikatakan bensin dengan nilai oktan tinggi atau lebih sukar berdenotasi. Dengan demikian jika suatu bensin memiliki angka oktan 90 berarti bensin tersebut cenderung berdenotasi sama dengan campuran yang terdiri atas 90% volume iso-oktana dan 10% volume normal heptana. Iso-oktana murni diberi indeks 100. Nilai Oktan Gasolin Indonesia No 1 2 3 4 Jenis Premium 88 Pertamax Pertamax Plus Bensol Angka Oktan Minimum 88 RON 94 RON 95 RON 98 RON .bahan bakar yang sangat mudah berdenotasi adalah normal heptana (C7H16) sedang yang sukar berdenotasi adalah iso-oktana (C7H18). berikut : Tabel 2. Misalnya suatu bensin mempunyai angka oktan 90 akan lebih sukar berdenotasi daripada bensin beroktan 70.1. Nilai oktan yang harus dimiliki oleh bahan bakar ditampilkan dalam tabel 2.

terurai pada temperature sekitar 1000C dengan bantuan panas dari ruang bakar melalui reaksi sebagai berikut : Pb (C2H5)4  Pb (C2H5)3 + C2H5 Pb (C2H5)3 + Pb (C2H5)4  Pb2 (C2H5)4 + C2H5 Pb2 (C2H5)6  Pb (C2H5)4 + Pb (C2H5)2 Pb (C2H5)2  Pb + C2H10 Reaksi radikal etil dengan TEL dapat menghasilkan alkana. Komponen yang digunakan untuk anti-ketuk saat ini adalah Tetra Ethyl Led (TEL). alkena. dan juga radikal Pb-trietil. hidrogen. dan sebagian lagi akan melekat ke atmosfer bersama-sama dengan gas sisa pembakaran.10. Aditif Octane Booster Aditif octane booster merupakan suatu komponen dari senyawa yang digunakan untuk meningkatkan angka oktan dari bahan bakar sekaligus sebagai komponen anti-ketuk. Sehingga perlu dicarikan bahan pengganti TEL sebagai aditif octane booster. Berdasarkan hasil riset senyawa TEL ini pertama-tama. Pb-oksida yang dibebaskan ke atmosfer inilah yang sangat berbahaya bagi lingkungan. . Pb(C2H5)4. dimana Pb-oksida ini berada dalam bentuk radikal-radikal yang tersebar dalam ruang bakar dan sebagian akan melekat pada dinding silinder membentuk endapan. Yang bertindak sebagai bahan anti-ketuk adalah Pboksida.2.

Organo manganese Compounds Meningkatkan angka oktan Komponen anti-knocking . tertiary Menaikkan angka oktan.2. methyl alternatif bahan bakar lain./journalist/mechanical) Berikut adalah bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan zat aditif : Tabel 2.id.(Sumber : http: //puslit petra ac. Butyl alcohol. Zat tambahan bahan bakar premium Zat tambahan Pencegah oksidasi Tipe / bahan dasar Amines dan pnenols Fungsi Meminimalkan penumpukan kotoran dalam filter dan Injektor Mencegah karat pada pipa Saluran bahan bakar Pencegah karat Carboxylic acids dan Carboxylates Metal deactivators Chelating agents Mencegah pembentukan lendir (gum) Deterjen Amines and amine carboxilates Mencegah pembentukan kerak dan membersihkan kerak yang terdapat pada karburator Membersihkan kerak yang terjadi karena pengaruh temperatur tinggi yang terdapat pada injektor Deposite control aditif Polybutene amines Polyether amines Penambahan campuran Ethanol. tertiary ether dan penghemat bahan bakar Lead alkykl. Methanol.

2. yang berisi 473 ml zat aditif. Trimethyl benzene : berfungsi untuk meningkatkan angka oktan dan menghemat bahan bakar. cara penggunaanya yaitu dapat dicampur dengan bahan bakar sebanyak 16 galon atau sekitar 60 liter gasoline. dan mencegah pembekuan kristal wax. Prestone Octane Booster Prestone Octane Booster direkomendasikan oleh Prestone Products comparation made in U.A.2. juga dapat mengurangi kadar emisi gas buang.diatas. menghilangkan kerak. Berikut adalah komposisi yang terkandung dalam Booster yaitu : Pretoleum distillates (destilasi minyak tanah) : berfungsi untuk mencegah terjadinya korosi. dengan penggunaan zat aditif merek Prestone Octane Booster dapat berfungsi untuk membersihkan mesin dan memberikan tenaga. Methyl Cyclop antadienyl manganese tricarbonyl : berfungsi untuk menaikkan angka oktan.11. Prestone Octane . menghemat BBM. Proprietary additivies adalah bahan dasar lain yang terkandung dalam aditif seperti yang telah terlampir pada table 2. Berdasarkan rekomendasi pabrik.S.

Prestone Octane Booster . 6.Gambar 2.

konsumsi bahan bakar spesifik. Performance atau prestasi mesin bisa diketahui dengan membaca dan menganalisis parameter yang ditulis dalam sebuah laporan atau media lain. dan efisiensi dari mesin tersebut. Parameter itulah yang menjadi pedoman praktis prestasi sebuah mesin.2. Parameter prestasi mesin dapat dilihat dari berbagai hal diantara yang terdapat dalam diagram sebagai berikut : Parameter Prestasi Mesin Torsi Daya Laju Konsumsi Bahan Bakar Konsumsi Bahan Bakar Spesifik Efisiensi Bahan Bakar Gambar 2. Parameter Prestasi Mesin. yang berfungsi untuk mengetahui daya. torsi. 5. tekanan efektif rata-rata. Diagram Alir Prestasi Mesin .12.

Sementara suatu mesin dioperasikan pada waktu yang cukup lama. Daya poros itu sendiri dibangkitkan oleh daya indikator yang merupakan daya gas pembakaran yang menggerakkan torak.13. Daya yang berguna adalah daya poros dan daya poros itulah yang mengerakkan beban. Unjuk kerja pembakaran ini biasanya dinyatakan dalam daya kuda (PS) atau kW per satuan isi langkah.Secara umum daya berbanding lurus dengan luas piston sedang torsi berbanding lurus dengan volume langkah. Untuk Kerja Motor Bakar Pada motor bakar torak. Adapun torsi poros pada kecepatan tertentu mengindikasikan kemampuan untuk memperoleh aliran udara (dan juga bahan bakar) yang tinggi kedalam mesin pada kecepatan tersebut. 1988 : 823) 2. Unjuk kerja motor bakar tergantung dari daya yang dapat ditimbulkan. Daya maksimum didefinisikan sebagai kemampuan maksimum yang bisa dihasilkan oleh suatu mesin. Isi langkah Vi = penampang silinder x langkah (m3) Efisiensi volumetric ηv = jumlah udara dihisap dalam satu siklus : . (Heywood. Daya yang berputar ditimbulkan oleh bahan bakar yang dibakar dalam silinder yang selanjutnya torak akan mengerakkan semua mekanisme pada motor bakar. maka konsumsi bahan bakar serta efisiensi mesinnya menjadi suatu hal yang dirasa sangat penting. Parameter tersebut relatif penting digunakan pada mesin yang berkemampuan kerja dengan variasi kecepatan operasi dan tingkat pembebanan.

.....(1) Volume langkah mempunyai satuan yang tergantung pada satuan silinder (D) dan panjang langkah torak (L) biasanya mempunyai satuan centimeter cubic (cc) atau cubic inch (cu....... Volume total (Vt) ialah isi ruang antara torak ketika ia berada di TMB sampai tutup silinder..14........ Sedangkan volume silinder antara TMA dan kepala silinder (tutup silinder) disebut volume sisa (Vs)..... Besaran Ukuran Dalam Motor Bakar...... maka tekanan udara yang masuk lebih besar dan jumlah udara yang akan dihisap juga lebih besar..in).. 1995) 2. Jumlah udara = 1.293 x 273 tekanan x x Vi (kg) 0 273  t ( C ) tekanan normal Dari perumusan diatas dapat dilihat jika suhu lebih rendah.Jumlah udara yang diisikan dalam silinder Vi pada kondisi atmosfer.. .... Vt = V1 + Vs... Sehingga akan dihasilkan daya yang lebih besar karena sejumlah bahan bakar akan dapat terbakar dengan baik.. a. Volume Silinder Volume silinder antara TMA dan TMB disebut volume langkah torak (V1)... (Soenarta & Furuhama........

1998). Perbandingan Kompresi Hasil bagi volume total dengan volume sisa disebut sebagai perbandingan kompresi. C= V1  Vs V  1 1 ………………………………. b. r2.V1 = luas lingkaran x panjang langkah V1 = π.in dan volume sisa 7 cu.in. L 2 Dengan demikian besaran dan ukuran motor bakar menurut volume silinder tergantung dari banyaknya silinder yang digunakan dan besarnya volume silinder (Kiyaku & Murdhana. . maka perbandingan kompresinya adalah : C= 56 =8 7 Hal diatas menunjukkan bahwa selama langkah kompresi. ﴾ 1 D ﴿ 2. muatan yang ada diatas torak dimampatkan 8 kali lipat dari volume terakhirnya.(2) VS Vs Dimana : V1 = volume langkah torak Vs = volume sisa Jadi suatu motor mempunyai volume total 56 cu. L V1 = π.

Torsi dan Daya Poros Pada motor bakar daya yang berguna adalah daya poros seperti telah dijelaskan diatas. Perbandingan kompresi tidak dapat dinaikkan tanpa batas. karena motor pembakaran yang menggunakan busi akan timbul suara menggelitik jika perbandingan kompresinya terlalu tinggi (Soenarta & Furuhana. (Kiyaku & Murdhana). Daya poros ditimbulkan oleh bahan bakar yang dibakar dalam silinder dan selanjutnya menggerakkan semua mekanisme. Pengetesan Prestasi Mesin (Sumber : Nakoela S dan Shoici F. 1995). 1995) Gambar 2.6.Semakin tinggi perbandingan kompresi. maka semakin tinggi tekanannya dan temperatur akhir kompresi.15. 2. 1995) . Unjuk kerja motor bakar pertama-tama tergantung dari daya yang ditimbulkan (Soenarta & Furuhama.

Pada gambar (2. Jika n berubah...... Rotornya diikatkan pada poros yang akan mengaduk air yang ada didalamnya.n. sehingga nilai daya (P) dapat ditentukan sebagai berikut : P 2 . maka motor pembakaran menghasilkan daya untuk mempercepat atau memperlambat bagian yang berputar.......... Motor pembakaran ini dihubungkan dengan dynamometer dengan maksud mendapatkan keluaran dari motor pembakaran dengan cara menghubungkan poros motor dengan poros dynamometer.....) diatas menunjukkan peralatan yang dipergunakan untuk mengukur nilai yang berhubungan dengan keluaran motor pembakaran yang seimbang dengan hambatan atau beban pada kecepatan putaran konstan (n)...T (kW ) …………….(3) 60000 Dimana : P = Daya (kW) n = putaran mesin (rpm) T = torsi (Nm) Torak yang didorong oleh gas membuat usaha..... .. Hambatan ini akan menimbulkan torsi (T).. Konsumsi energi panas ditunjukkan langsung oleh turunnya suhu..6. Energi panas diubah menjadi usaha mekanis... Baik tekanan maupun suhunya akan turun waktu gas berekspansi...... Kalau toraknya tidak mendapatkan hambatan dan tidak menghasilkan usaha gas tidak akan berubah meskipun tekanannya turun..

.....2. maka secara teoritis nilai Ni akan menjadi dua kali lebih besar jika dibandingkan pada persamaan 4... Pada mesin 4 langkah besar nilai Pi terjadi setiap 2 putaran.. disebabkan oleh adanya tekanan pada torak.. Nilai Ni disebut sebagai keluaran indikator yang menyatakan keluaran... Tekanan Efektif Rata-rata Besar nilai P1 merupakan tekanan efektif rata-rata indikator (indicator mean effective pressure : IMEP). .. dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : P1  Wi ………………………………........ kPa dan rpm) Ni =V1..... sehingga besar nilai Ni indikator dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : Dengan satuan Si ( m3..... tetapi pada umumnya besar nilai Pi pada mesin 2 langkah lebih kecil dibandingkan dengan 4 langkah.n/2 (kW)…………………...16.(5) Dimana : V1= volume langkah (m3) Pi = tekanan efektif rata-rata indicator (kPa) n = putaran mesin (rpm) Pada mesin 2 langkah besar nilai Pi dihasilkan pada tiap putaran. Nilai P1..(4) Vs Dengan menggunakan nilai Pi dapat memudahkan perhitungan besar usaha indikator Wi pada tekanan konstan selam torak pada langkah ekspansi...P1......

... Nilai BMEP adalah merupakan tekanan efektif rata-rata (brake mean effective pressure).. Besar nilai Ne yang ditentukan oleh produk dari volume langkah V1. 2 (kW)……………………(6) Besar keluaran efektif dapat diukur dengan menggunakan sebuah Dinamometer...... N...Daya yang dapat dimanfaatkan untuk memutar mesin disebut sebagai keluaran efektif (brake mean out put) nilai Ne dapat dirumuskan sebagai berikut : Ne = V1. kecepatan putaran n dan BMEP yang berhubungan dengan tekanan gas rata-rata merupakan keluaran suatu pembakaran yang bermanfaat. 2 langkah =1) ..P.n Dimana : P = daya (kW) N = putaran mesin (rpm) Vd= volume langkah total silinder (m3) Z = sistem siklus (4 langkah =2. 1995) Besar nilai BMEP dapat dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut : BMEP  60 ...Z …………………….. BMEP adalah besar nilai yang menunjukkan daya mesin tiap satuan volume silinder pada putaran tertentu dan tidak tergantung dari ukuran motor bakar (Soenarta &Furuhama.(7) Vd . BMEP.

........(9) Dimana : SFC = konsunsi bahan bakar spesifik (kg/kWh) ... Besar Penggunaan Bahan Bakar Besar pemakaian bahan bakar spesifik (SFC) ditentukan dalam kg/kWh dan lebih umum digunakan dari pada  bt ... Besar nilai SFC adalah kebalikan dari pada  bt ... Pada umumnya semakin tinggi berat jenis maka semakin rendah nilai kalornya...2.....245... 1998)... Efisiensi Thermis Perbandingan antara energi yang dihasilkan dan energi yang dimasukkan pada proses pembakaran bahan bakar disebut efisiensi thermis rem (brake thermal efficiency) dan ditentukan sebagai berikut :  bt  860  100 (%) …………….. (Kiyaku & Murdhana.... Penggunaan bahan bakar dalam gram per jam Ne dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut : SFC  mf P kg / kWh …………………............(8) SFC.. Sumber?? SFC = konsumsi bahan bakar spesifik Nilai kalor mempunyai hubungan dengan berat jenis... 2.......14 kcal/kg...h Dimana : H = nilai kalor untuk bahan bakar premium = 11... Menentukan Efisiensi Energi 1......17.

....(10) t 1000 Dimana : b = t = ρbb = mf = volume buret (cc) waktu (detik) berat jenis bahan bakar (kg/l) adalah penggunaan bahan bakar per jam pada kondisi tertentu (kg/h) (Soenarta & Furuhama...1995).P = daya mesin (kW) Sedang nilai mf dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut : mf  b 3600    bb ………………………………... .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful