P. 1
Permasalahan Hukum Pengadilan Agama

Permasalahan Hukum Pengadilan Agama

|Views: 575|Likes:
Published by Wahid Abdulrahman

More info:

Published by: Wahid Abdulrahman on Mar 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2012

pdf

text

original

NO 1 1

NAMA PENGADILAN AGAMA 2 PENGADILAN AGAMA JAMBI

3

PERMASALAHAN HUKUM PENGADILAN AGAMA SE-WILAYAH PENGADILAN TINGGI AGAMA JAMBI TAHUN 2011 PERMASALAHAN USUL PEMECAHAN HASIL RAKERDA MASALAH 4 5 1. Tehnis penyelesaian perkara ghaib + 1. Boleh disidangkan / diperiksa 1. Untuk persidangan insidentil para pihak tetap prodeo dan ghaib + bantuan PA lain (tabayun) prodeonya dahulu dengan sidang harus dipanggil, namun pemanggilan untuk yang ditanggung oleh DIPA Pengadilan insidentil. Setelah itu baru tergugat yang ghaib, berpedoman pada pasal Agama, apa boleh disidangkan perkara diumumkan sesuai pasal 27 PP 718 R.Bg / 390 HIR. prodeonya terlebih dahulu (sidang insidentil) Nomor 9 Tahun 1975, karena Untuk selanjutnya mengenai pokok perkara dengan jalan memanggil pihak Penggugat / pembebanan biaya perkara di bidang karena dibidang perkawinan proses Pemohon saja, setelah itu baru ditentukan perkawinan dibebankan kepada pemanggilan berpedoman pada pasal 27 PP persidangan berikutnya dengan diumumkan Penggugat atau pemohon (pasal 89 No. 9 tahun 1975. melalui mass media (RRI); ayat 1 UU Nomor 7 tahun 1989), tidak mutlak harus hadir Tergugat atau Termohon. 2. Dalam kaitannya perkara seperti diatas, apa perlu dibuatkan PHS untuk perkara insidentilnya diluar PHS untuk persidangan biasa; 2. Harus dibuat PHS untuk penentuan sidang insidentil, sekalipun Pemohon atau Penggugat saja yang dipanggil terlebih dahulu untuk sidang insidentil sebab perintah tersebut harus dituangkan dalam PHS, setelah dikabulkan prodeonya, baru ditentukan tanggal sidang berikutnya dengan perintah kepada Js/Jsp untuk memanggil Tergugat atau Termohon sesuai aturan yang berlaku (pasal 27 PP Nomor 9 tahun 1975) dan Penggugat atau Pemohon diperintahkan untuk hadir pada hari dan tanggal persidangan tersebut tanpa dipanggil lagi dengan surat panggilan ; 3. Tidak perlu diisbatkan nikahnya 3. Usulan sudah tepat (lihat pemecahan masalah

3. Dalam memeriksa perkara permohonan

Penetapan Ahli Waris bagi yang tidak memiliki Kutipan Akta Nikah, apa harus di itsbatkan terlebih dahulu dalam bentuk perkara permohonan. Bagaimana bila Pewaris yang telah lama meninggal dunia umpamanya dalam gugat waris yang pihak-pihaknya merupakan turunan ke 3, 4 dst (cucu, cicit, piut, dst) apakah cukup didalam pembuktian saja; 4. Bolehkah Pengadilan Agama memeriksa perkara permohonan Penunjukan Wali yang diajukan oleh istri yang suaminya telah meninggal dunia, sebab menurut UU Nomor 1 Tahun 1974 pasal 47 secara otomatis ia telah sah sebagai orang tua atau wali, mohon penjelasan. Karena dilapangan masih ada yang berpendapat tidak perlu dan bahkan ada yang disuruh cabut;

terlebih dahulu, cukup melalui pembuktian dipersidangan , baik dengan pembuktian surat atau keterangan saksi (hasil rakerda di Muaro Bungo) ;

dalam Rakernas tahun 2011 angka 17)

4. Secara umum (lex generalis) boleh 4. Bila ada permohonan harus diterima . (Lihat saja, walaupun pasal 47 UndangHasil Rakernas 2011 angka 100). undang Nomor 1 Tahun 1974 telah mengatur tentang perwalian isteri yang bersifat melekat, tetapi untuk kepastian hukum dan atau Undangundang menghendaki, perlu dikuatkan dengan penetapan Pengadilan, apalagi menyangkut pengurusan harta benda anak yatim supaya jangan sampai disalah gunakan oleh ahli waris; 5. Itsbat nikah voluntair hanya untuk kepentingan orang yang bersang 5. Lihat Buku II Edisi Revisi 2010 hal 147 s/d kutan seperti untuk pengurusan 150 TASPEN, Tabungan di Ban k dan lain-lain, dengan tidak melibatkan orang lain. Itsbat nikah contentious adalah itsbat nikah yang diajukan bersama (kumulasi) dengan gugatan / permohonan perceraian; Apabila ada kepentingan hukum atau dalam rangka untuk pembuktian suatu perkawinan yang telah pernah disebutkan, atau ada keraguan tentang perkawinan yang telah pernah dilakukan sedangkan yang

5. Mohon penjelasan secara detail tentang perkara itsbat nikah yang voluntair, contentious dan siapa pihak-pihak yang harus ditarik. Misalnya salah satu pihak telah meninggal dunia atau keduanya telah meninggal dunia, atau dapatkah kita mengisbatkan nikah orang yang telah meninggal dunia dan sampai dimana batasnya, apa boleh sampai ke cucu, cicit atau piut yang mengajukannya;

bersangkutan telah meninggal dunia, maka hal tersebut boleh-boleh saja;

6. Dalam hal perkara dicoret karena habis biaya dan Penggugat / Pemohon tidak menambah panjar, apakah cukup dengan Penetapan oleh Ketua Majelis saja, ataukah perlu dalam persidangan dan dibuat penetapan dan ditanda tangani oleh Majelis, bila di dalam sidang apa perlu pula ditetapkan hari sidang dan perlu dipanggil lagi para pihak dan dari mana biayanya;

6. Perkara yang telah habis biayanya harus diperintahkan 6. Usul pendapat sudah tepat (Penetapan oleh Majlis di persidangan untuk pencoretan perkara dari register perkara cukup menambah panjar biaya perkara dan oleh Ketua Majelis Hakim) diperintahkan Panitera untuk memberi tegoran supaya membayar tambahan biaya perkara dalam tenggang waktu 30 hari atau 1 bulan . Apabila waktu yang ditentukan telah lewat, Penggugat / Pemohon tidak membayar tambahan biaya panjar perkara, maka panitera membuat surat keterangan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan telah diberi tegoran dan tidak membayar tambahan panjar biaya perkara, setelah itu barulah Ketua Majelis membuat penetapan pencoretan ; 7. Perdamaian dalam tahap upaya hukum dibenarkan, 7. Pedomani Buku II Edisi Revisi 2010 hal. 83 apabila perkaranya bukan perkara perceraian, hasil pedamaian (kesepakatan) tersebut diteruskan kepada majlis atau Pengadilan yang menangani perkara tersebut. Maka Majlis Hakim yang menangani perkara tersebut memberikan putusan dengan amar :

7. Perdamaian dalam proses upaya hukum (verzet, banding, kasasi), apabila tercapai perdamaian pada tingkatan upaya hukum tersebut, bagaimana cara penyelesaiannya. Apa yang harus dilakukan oleh Ketua Pengadilan dan bagaimana dengan putusan yang telah dijatuhkan (dalam perkara perceraian)

1. Menyatakan pelawan/tergugat adalah Pelawan yang benar; 2. Membatalkan putusan verstek Nomor ……… tanggal ………. 3. Menghukum kedua belah pihak untuk mentaati perdamaian tersebut; 4. Membebankan biaya perkara kepada ……. Sejumlah Rp…….. Kalau perkara perceraian terjadi perdamaian dalam perkara verzet atas putusan verstek , maka majlis Hakim membatalkan putusan verstek dengan amar sebagai berikut : 1. Menyatakan pelawan/tergugat Pelawan yang benar; adalah

2. Membatalkan putusan verstek Nomor ……… tanggal ………. 3. Menyatakan gugatan Penggugat / terlawan tidak dapat diterima; 4. Membebankan biaya perkara kepada ……. Sejumlah Rp……..

(lihat petunjuk buku dua edisi revisi 2010 halaman 83) Demikian juga dalam perkara banding dan kasasi, menyesuaikan 8. Ikrar talak bukan eksekusi, oleh karenanya dengan amar di atas. pelaksanaan ikrar talak harus ditunda.

8. Apakah Pengadilan boleh menyidangkan ikrar talak yang perkaranya sedang dalam proses upaya hukum Peninjauan Kembali, mohon penjelasan ataukah ditunda dahulu hingga putusan PK;

8. Persidangan ikrar talak adalah suatu bentuk eksekusi dari permohonan cerai talak, pada prinsipnya upaya hukum Peninjauan Kembali tidak menghalangi eksekusi; USUL PEMECAHAN MASALAH 4 1. Dapat diterima karena Pemohon tidak menghilangkan hak / kepentingan ahli waris yang lain, tapi bila Pemohon meminta agar dirinya saja yang ditetapkan sebagai ahli waris maka permohonan tersebut tidak dapat diterima.

NO 1 2

NAMA PENGADILAN AGAMA

PERMASALAHAN 1. Salah seorang ahli waris mengajukan penetapan ahli waris guna balik nama sertifikat tanah atas nama pewaris. Ahli waris yang lain berada di tempat yang jauh dan sulit untuk datang. Dapatkah diterima permohonan salah satu ahli waris bertindak sebagai Pemohon dimana pada posita dan potitum dijelaskan dan dimintakan agar semua ahli waris ditetapkan sebagai ahli waris? 2. Pada jawaban permasalah hukum dalam lingkungan Peradilan Agama pada Rakernas 2011 ada tiga jawaban yang berbeda tentang perlunya diistbatkan Nikah

HASIL RAKERDA 5 1. Harus melibatkan seluruh ahli waris, solusinya dapat ditempuh dengan memberikan kuasa insidentil oleh ahli waris lainnya kepada Pemohon I.

2 3 PENGADILAN AGAMA MUARA BULIAN

2. Tidak perlu diistbatkan, cukup dijelaskan dan dibuktikan tentang adanya pernikahan tersebut.

2. Tidak wajib itsbat nikah, melainkan cukup dengan dibuktikan dalam persidangan.

pewaris yang tidak mempunyai Surat Nikah dalam perkara penetapan ahli waris/gugatan waris. Jawaban pada angka 11 kurang jelas, jawaban pada angka 18 tidak perlu istbat Nikah, cukup keterangan dan bukti saksisaksi mengenai pernikahan tersebut tapi pada jawaban angka 62 perlu diajukan istbat nikah tersendiri terlebih dulu sebelum ditetapkan ahli waris. Mana yang lebih tepat untuk dipedomani? 3. A menghibahkan sebidang kebun kepada salah seorang anak kandungnya ( B ). Setelah A dan B meninggal, kebun tsb dikuasai oleh C yaitu anak A yang lain ( saudara B). Anak dari B ( yaitu D ) sebagai ahli waris B hanya meinginkan tanah hibah itu saja dan tidak mengetahui dengan pasti luas maupun letak tanah (harta) A yang lain yang juga dikuasai oleh C. Mana yang lebih tepat gugatan D, gugatan waris atau hibah? 4. Pada amar putusan perkara prodeo, perlukah disebutkan nominal biaya perkara yang dibebankan kepada DIPA? 3. Dapat diajukan gugatan waris dengan menerangkan hal-hal yang berkaitan dengan semua harta warisan pewaris. Dapat juga diajukan gugatan hibah dengan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan hibah itu saja (tanpa merinci harta pewaris yang lain) 3. Gugat waris.

4. Tidak perlu, cukup denga amar berbunyi “ Membebaskan Penggugat dari membayar biaya perkara dan membebankannya kepada DIPA PA….” 5. Pasal tersebut sebagai dasar/acuan menentukan kewenangan relative bila ada esepsi dari Termohon, tapi bila Termohon tidak mengajukan esepsi berarti Termohon sudah rela diadili oleh pengadilan dalam wilayah hukum tempat

4. Pedomani buku II Edisi Revisi tahun 2010 halaman 62 Dan peraturan lainnya yang terkait.

5. Apakah pasal 66 ayat 2 UU No.7 tahun1989 tentang kewenangan relative perkara izin ikrar talak dipergunakan oleh hakim sebagai dasar/acuan apabila Termohon mengajukan eksepsi kewenangan relative atau mutlak sebagai acuan baik ada esepsi atau tidak dari Termohon

5. Pedomani ketentuan dalam pasal 159 R.Bg / 133 HIR. Tentang eksepsi.

kediaman bersama ditinggalkannya. NAMA PENGADILAN AGAMA 2 PENGADILAN AGAMA KUALA TUNGKAL

yang

NO 1 3

USUL PEMECAHAN HASIL RAKERDA MASALAH 3 4 1. Potokopi KTP hanya 1. PEMERIKSAAN ALAT Alternatif Pemecahan diperlukan jika ada eksepsi Tergugat BUKTI SURAT Dimaklumi, bahwa persyaratan yang menyatakan bahwa identitas a. Permasalah: mengenai isi gugatan dapat dijumpai (legal standing) para pihak, tidak dalam Pasal 8 Nomor 3 Reglement Op benar / tidak sesuai dengan senyatanya Memperhatikan beberapa putusan, masih terdapat de Burgerlijke Rechts Vordering (RV) (error inpersona). disparitas antara majelis Hakim dari beberapa jo. Pasal 67 UU Nom or 7 Tahun 1989 Pemberian tanda alat bukti surat pengadilan dalam menentukan bukti surat dalam proses sebagaimana telah diubah dengan UU disesuaikan dengan urutan alat bukti persidangan perkara perceraian. Ada yang memilih Nomor 50 Tahun 2009 Tentang yang diserahkan oleh para pihak. photocopy/Akta Nikah sebagai bukti (P-1) lalu Peradilan Agama, yaitu: kemudian Potokopy KTP/ket. Domisili sebagai bukti 1) Identitas para pihak; (P-2). Dan ada pula menentukan sebaliknya b. Pertanyaan: 2) Alasan-alasan gugatan (fundamentum petendi atau posita), Untuk keseragaman, setidaknya dalam alur pola meliputi: pikir dalam pemeriksaan alat bukti perkara perceraian, - Uraian kejadian atau mana yang lebih tepat dalam menentukan bukti P-1, peristiwa (fetelijkegronden); apakah potokopy/akta nikah atau potokopy - Uraian tentang dasar KTP/domisili? hukum (rechtgronden); 3) Tuntutan atau petitum (onderwerp van den eis met een duidelijke ed bepaalde conclusie). PERMASALAHAN Alur pola pikir dalam pemeriksaan teori pembuktian (surat), kebenaran identitas untuk menentukan legal standing bahwa pemohon/penggugat adalah benar sebagai person standin judicio,

adalah antara lain dibuktikan dengan kartu identitas pihak, KTP, antara lain. Dalam hal perceraian, keabsahan adanya peristiwa hukum (fetelijkegronden) telah terjadinya pernikahan kedua belah pihak yang harus dibuktikan dengan buku/Akta Nikah adalah bagian dari kronologi yang termuat dalam Posita (fundamentum petend). Dengan demikian, alur pola pemeriksaan untuk menentukan legal standing bahwa Penggugat / Pemohon, Tergugat / Termohon sebagai person standin judicio, antara lain adalah KTP sebagai bukti P-1, bukan Akta Nikah. 2. PENGGUNAAN STEMPEL PADA ALAT BUKTI a. Permasalahan: Pemeriksan alat bukti surat dalam persidangan, menjadi keharusan bagi Majelis Hakim untuk mencocokkan alat bukti potokopi surat dengan aslinya. Dalam hal alat bukti surat yang diajukan para pihak cukup banyak, sering kali banyak waktu yang tersita untuk menuliskan cocok dan tidaknya alat bukti surat tersebut dengan aslinya. Hal ini pula sering terabaikan oleh Majelis Hakim/PP. b. Pertanyaan: Dalam konteks asas persidangan, apakah dibenarkan menggunakan stempel dalam alat bukti c. Alternatif Jawaban Dapat digunakan, karena format stempel tersebut tidak mengurangi nilai pembuktian. Kerapihan dan efektifitas pemeriksaan dalam persidangan adalah hal lain yang perlu dipertimbangkan. Adanya pemikiran tentang penulisan: “Potokopi ini telah dicocokkan dan telah sesuai dengan aslinya” atau “Potokopi ini tidak dapat dicocokkan dengan aslinya”, 2. Kewajiban bagi hakim adalah menyesuaikan potokopi bukti surat dengan aslinya, mengenai pernyataan hal tersebut telah dilakukan oleh hakim yang penting adanya paraf hakim dan tanggal penyocokan. (boleh dengan menggunakan stample) seperti contoh yang ada.

surat, dengan format sebagai beriku:

ditulis tangan dengan tinta hitam, hanya pemikiran individu yang belum diketahui dasar aturan, urgensi dan filosofinya.

Potokopi ini telah dicocokkan dan telah sesuai dengan aslinya. Tanggal : Kode : Paraf :

Potokopi ini tidak dapat dicocokkan dengan aslinya. Tanggal Kode Paraf : : :

PENGANGKATAN ANAK/HADLONAH a. Permasalahan
3.

c. Alternatif Jawaban Pengangkatan anak (hadlonah) adalah kehendak orang tua angkat, bukan kehendak anak angkat. Sejak awal harus diniatkan dengan tulus ikhlas, orang tua angkat harus bersedia menerima dengan segala konsekuensi akibat hukumnya. Perubahan tingkah laku anak angkat yang tidak sesuai dengan kehendak orang tua angkat, bukanlah unsich kesalahan pada anak, bisa saja karena factor lingkungan, keluarga, masyarakat atau bahkan lingkungan pendidikan anak itu sendiri. Justeru tanggung jawab orang tua angkatlah yang harus membimbing dan mengarahkan anak angkat tersebut menjadi lebih baik. Kedurhakaan anak angkat terhadap orang tua angkat, tidaklah menggurkan hak-haknya sebagai anak angkat. Dengan demikian, penetapan anak angkat tidak dapat dibatalkan.

3. Hal tersebut sudah masuk dalam wilayah ijtihad hakim.

Pada awalnya pemohon A setuju untuk mengangkat B sebagai anak angkat, dan ditetapkan berdasarkan penetapan pengadilan. Namun waktu berjalan, B pun bertingkah laku tidak sesuai dengan kehendak A, dan akhirnya A pun tidak ingin mengakuinya lagi B sebagai anak angkat. Termasuk di dalamnya hak-hak yang melekat sebagai konsekuensi dari pengangkatan B sebagai anak angkat A. b. Pertanyaan 1) dibatalkan? Bisakah pengangkatan anak

2) Solusi apakah yang bisa ditempuh A untuk membatalkan B sebagai anak angkat yang telah ditetapkan berdasarkan penetapan Pengadilan Agama tersebut?

NO 1 4.

NAMA USUL PEMECAHAN PERMASALAHAN PENGADILAN AGAMA MASALAH 2 3 4 PENGADILAN 1. Apakah perintah mengumumkan adanya Dengan berpedoman Buku II hal 149, maka: AGAMA SENGETI permohonan itsbat nikah diberlakukan pada perkara 1. Pengumuman ditafsirkan untuk itsbat nikah dalam bentuk contentiosa atau permohonan itsbat nikah yang diberlakukan juga pada perkara itsbat nikah dalam contentiosa (kontensius) saja (Bimtek bentuk voluntair. Bagaimana teknisnya dalam Hotel Wiltop tanggal 1-3 Maret 2011) pemanggilan ? 2. PHS cukup dibuat satu kali yang Apakah dibuat PHS pertama dulu yang isinya hanya isinya memerintahkan kepada JSP untuk memerintahkan Jurusita Pengganti untuk mengumumkan permohonan itsbat nikah mengumumkan permohonan tersebut pada media tersebut di papan pengumuman sekaligus cetak atau elektronik atau sekurang-kurangnya pada menetapkan hari sidang. papan pengumuman dan tanpa menyebutkan tanggal sidang pemeriksaannya. Kemudian setelah 3 hari berakhir masa pengumuman, Ketua Majelis membuat kembali PHS yang isinya menetapkan hari persidangan dan perintah kepada JSP untuk memanggil pihak-pihak dalam permohonan tersebut. 2. Apakah PHS cukup dibuat satu kali yang isinya memerintahkan kepada JSP untuk mengumumkan permohonan itsbat nikah tersebut di papan pengumuman, sekaligus menetapkan hari sidang pemeriksaan dan memerintahkan untuk memanggil para pihak. Sebagai bahan pertimbangan bahwa dalam PHS yang dibuat satu kali tersebut, telah mempertimbangkan antara jarak pengumuman, tanggal panggilan, dan tanggal persidangan. 2. Dalam perkara prodeo ghoib terdapat perbedaan dalam pemeriksaannya yaitu:

HASIL RAKERDA 1. Usulan sudah tepat.

Apabila pemanggilan persidangan dilakukan lihat jawaban pada permasalahan yang untuk memeriksa insidentilnya, sebaiknya diajukan oleh PA Jambi. PHS dibuat untuk sidang insidentil terlebih

Harus diperiksa terlebih dahulu prodeonya dengan sidang insidentil. Baru memeriksa pokok perkara dengan mengacu peraturan pemanggilan Pasal 27 PP No. 9 Tahun 1975. NAMA PENGADILAN AGAMA 2 PENGADILAN AGAMA BANGKO

dahulu. Hal ini berdasarkan asas umum “setiap persidangan para pihak berperkara dipanggil terlebih dahulu” (Pasal 145 RBg)

NO 1 5

PERMASALAHAN 3 1. Dalam Buku II disebutkan bahwa

USUL PEMECAHAN MASALAH 4 1. tujuan Pembuktiannya tidak adanya penetapan harta

HASIL RAKERDA 4 1. Pedomani buku II edisi revisi hal 139 s/d 140

proses penyelesaian izin poligami harus disertai dengan penetapan harta bersama Pemohon dengan Termohon dengan setempat? 2. Alasan izin poligami yang diajukan ke Pengadilan sering tidak sesuai dengan alasanalasan yang termuat dalam peraturan perundangundangan dan lebih bersipat se 3. bjektif, seperti calon isteri II sudah hamil, Pemohon tertangkap basah dengan perempuan lain dan dihukum adat untuk menikahinya, sudah terlalu dekat dengan calon isteri II sehingga takut zina, dan lain-lain. Apakah alasan-alasan ini dapat dipertimbangkan oleh hakim sehingga atau dengan pada Rekonvensi dari Termohon. Apakah proses pembuktiannya sama pembuktian perkara-perkara kebendaan lainnya seperti adanya pemeriksaan

perlu sampai melaksanakan PS, karena bersama hanya untuk mengetahui dengan jelas batas harta bersama Pemohon – isteri I dengan harta bersama Pemohon – isteri I – Isteri II, sehingga tidak memerlukan eksekusi. 2. Izin poligaminya tetap dapat dikabulkan dengan alasan kemaslahatan

2. Pedomani ketentuan dalam Pasal 4 dan 5 UU No. 1 tahun 1974

hakim mengabulkan izin poligaminya?
3. Dalam pelaksanaan ikrar talak sering Pemohon

3. Tetap

dilaksanakan

ikrar

belum siap dengan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya seperti mutah dan nafkah iddah. Apakah Majelis Hakim tetap melaksanakan ikrar atau menunda ikrar talak sampai Pemohon dapat memenuhi kewajibannya tersebut?
4. Menurut Berita Acara relaas panggilan, Jurusita

talak, tetapi Akta Cerai ditahan sampai Pemohon memenuhi kewajibannya.

3. Pemenuhan kewajiban sesuai dengan amar putusan dapat dilaksanakan melalui eksekusi, sementara pelaksanaan ikrar talak dan penyerahan akta cerai tidak boleh dikaitkan dengan pemenuhan kewajiban tersebut. 4. Penggugat berhak untuk merubah gugatan termasuk identitas atau alamat Tergugat sesuai dengan senyatanya.

4. Majelis meng “NO” perkara tersebut. Atau melanjutkan proses perkara tersebut dengan proses ghaib.

tidak bertemu dengan Tergugat karena menurut aparat desa Tergugat tidak dikenal di alamat tersebut. Bagaimana kalau Penggugat dalam persidangan menyatakan mengubah gugatannya

pada alamat Tergugat dengan menyatakan Tergugat tidak diketahui alamatnya (ghaib) ? 5. Di wilayah lain banyak yang 5. Dapat dilaksanakan kalau ada bantuan dana dari Pemerintah Daerah asal tidak ada penyelundupan hukum. 5. Pedomani bukti II Edisi Revisi tahun 2010 halaman 147 s/d 150.

mengadakan itsbat nikah massal sehingga untuk itsbat nikah saja sampai 300-an. Apakah di wilayah PTA Jambi boleh dilakukan itsbat nikah massal dengan bekerja sama dengan Pemerinta daerah?

NO

NAMA PENGADILAN AGAMA

PERMASALAHAN

USUL PEMECAHAN MASALAH

HASIL RAKERDA

1 6

2 PENGADILAN AGAMA MUARA BUNGO

3 BIDANG YUSTISIAL DECENTE (Pemeriksaan Setempat)

4

Sebaiknya tenaga ukur diminta secara resmi • BPN, meskipun terjadi

Pengukuran objek sengketa (benda tetap) tidak harus dengan jru ukur resmi, yang terpenting adalah hasil pengukurannya yang akurat.

Untuk melaksanakan pengukuran objek perkara, kepada untuk menghadirkan tenaga ukur, namun hal itu ditolak oleh pihak Tergugat, dengan alasan bukan tenaga ukur resmi, sementara Penggugat tidak mampu menghadirkan tenaga ukur BPN KENDALA Dengan menghadirkan tenaga ukur resmi dari BPN, biaya sangat besar, tidak seimbang dengan nilai objek

Pengadilan membebankan kepada pihak Penggugat pembengkakan biaya perkara

perkara Dalam perkara Gugatan Hadlanah, Tergugat hanya hadir Putusan tetap dibacakan, namun sebelumnya, • pada saat putusan akan dibacakan, apakah putusan tetap dibacakan terlebih dahulu BAP nya. dibacakan pada saat itu atau ditangguhkan dulu dengan memberikan kesempatan kepada Tergugat menanggapi Gugatan tersebut. Apakah Putusan Sela dibuat terpisah dari BAP, atau Disatukan dengan BAP nya. disatukan dengan BAP. Apabila JSP lupa memanggil pihak P dan T, apakah Dibuat berdasarkan fakta. dalam BAP dibuat apa adanya atau ada cara lain.

Baca hasil Rakernas tahun 2011 tentang permasalahan hukum angka 95.

Sudah tepat. BAP mencatat semua proses persidangan sesuai dengan kenyataan yang terjadi / apa

Apakah surat keterangan ghaib dari Kelurahan atau Desa Tidak dipakai sebagai alat bukti. harus dijadikan sebagai alat bukti ? Apakah surat keterangan izin perceraian dari atasan bagi Dijadikan sebagai alat bukti.

adanya. Boleh dijadikan

alat

bukti,

namun

kekuatan pembuktiannya bebas. Ijin perceraian dari atasan bagi PNS

PNS dijadikan alat bukti ? bersifat administratif. Apakah pemberitahuan isi putusan ghaib (PBT ghaib) Dilaksanakan sesuai dengan ketentuan buku Pedomani Buku II Edisi Revisi tahun 2010 langsung diumumkan pada papan pengumuman PA II halaman 32. tanpa melalui pemerintah Kabupaten / Kota atau sebaliknya ? halaman 32.

NO 1 7

NAMA PENGADILAN AGAMA

PERMASALAHAN 3

USUL PEMECAHAN MASALAH 4

HASIL RAKERDA 5

2 PENGADILAN AGAMA BIDANG YUSTISIAL SAROLANGUN

Pada hal. 118 huruf c) dinyatakan bahwa menurut Sidang pertama adalah sidang pertama riil •

Usulan sudah tepat.

SEMA Nomor 9 Tahun 1964, pengertian hari sidang sehingga dalam kasus-kasus tersebut pertama (ten dage dienende) dapat juga diartikan pada diputus secara contradictoir bukan verstek; hari sidang kedua dan sebagainya (ten dage dat de zaak dient). Pertanyaan: Apa yang menjadi patron bahwa suatu persidangan adalah sidang pertama; apakah ketika membaca gugatan, atau lainnya? Misalnya, apabila pada sidang pertama riil tersebut Tergugat hadir, kemudian para pihak menempuh tahap mediasi, setelah itu Tergugat tidak hadir lagi sehingga Tergugat tidak hadir sejak surat gugatan dibacakan, atau pada sidang pertama riil tersebut Tergugat hadir namun Penggugat tidak hadir, lalu pada persidangan berikutnya Tergugat tidak hadir lagi sementara Penggugat hadir terus, apakah putusannya verstek atau contradictoir? Pada Pasal 7 ayat (3) huruf [a] Inpres Nomor 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia dinyatakan: “Itsbat nikah yang dapat diajukan ke Pengadilan Agama terbatas mengenai hal-hal yang berkenaan dengan: a) Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian, b) …”. Dalam Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor KMA/032/SK/IV/2006 Tentang Pemberlakuan Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan, Edisi Revisi 2010, h. 148 huruf (d) dinyatakan: “Itsbat nikah dalam rangka penyelesaian perceraian tidak dibuat secara utuh kesatuan dalam putusan perceraian”. Dalam Rumusan Hasil Diskusi Komisi II pada Rakernas Tahun 2010 di Balik Papan dinyatakan: “… 7) Untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan penetapan itsbat nikah sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 7 ayat (3) huruf [a] (Berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas Pedomani Buku II Edisi Revisi Tahun kami menangkap isyarat bahwa itsbat nikah 2010 halaman 147 s/d 150. untuk perceraian tidak berimplikasi hukum apa-apa (terhadap perwalian, kewarisan, dan lain-lain), selain dari memenuhi syarat formil perceraian mereka saja. Konsekuensi berikutnya, keabsahan pernikahan mereka tidak perlu diperiksa, sebab hal itu akan mengaburkan makna tujuan asalnya yang hanya berfungsi untuk memenuhi syarat formil perceraian mereka saja. Lalu apa urgensi perceraian tersebut di pengadilan (PA)? Menurut kami, gunanya adalah sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap salah satu pihak, terutama istri, atas kesewenang-wenangan pasangannya, terutama suami, yang mana mereka telah

KHI, agar penetapan nikah tersebut dibuat dalam satu kesatuan dengan putusan cerai gugat/cerai talak dan dalam pertimbangan hukumnya dipertegas dengan pernyataan bahwa itsbat nikah tersebut semata-mata hanya untuk proses perceraian”. Dengan memahami pasal tersebut, dilihat dari perspektif akibat hukumnya terdapat 2 (dua) pemahaman; a) Itsbat nikah tidak mempunyai akibat hukum pada selain memenuhi formil perceraian para pihak saja, seperti nasab anak (include wali nikah), harta bersama, harta warisan, dan akibat hukum lainnya. b) Itsbat nikah tersebut mempunyai akibat hukum pada selain memenuhi formil perceraian para pihak saja, seperti nasab anak (include wali nikah), harta bersama, harta warisan, dan akibat hukum lainnya. Pertanyaan: Apa makna terkandung dalam penekanan adanya kemestian menyatukan putusan itsbat nikah dan perceraian itu, dikorelasikan dengan hasil RAKERNAS tersebut; apakah maknanya bahwa itsbat nikah itu tidak berimplikasi hukum apa-apa (terhadap perwalian, kewarisan, dan lain-lain), selain dari memenuhi syarat formil perceraian mereka saja? Jika kegunaannya hanya untuk memenuhi syarat formil perceraian mereka saja, apakah perlu diperiksa keabsahan pernikahan mereka, karena kalau demikian tidak ada urgensinya?

terlanjur karena ketidaktahuan mereka melakukan pernikahan sesuai dengan ketentuan hukum Islam yang berlaku tersebut).

Dalam Keputusan Ketua Mahkamah Agung 1. Dilihat dari segi filosofi menentukan adanya perkara itsbat nikah berkategori Republik Indonesia Nomor KMA/032/SK/IV/2006 kontensius (mengeluarkannya dari jenis Tentang Pemberlakuan Buku II Pedoman Pelaksanaan aslinya, yaitu volunter) untuk menjaga Tugas dan Administrasi Pengadilan, Edisi Revisi 2010, hak-hak dari pihak-pihak yang hal. 149 angka (6) dinyatakan “Suami atau istri yang berkepentingan, di antaranya hak waris telah ditinggal mati oleh istri atau suaminya, dapat (tidak karena dengan dikabulkannya itsbat imperatif) mengajukan permohonan itsbat nikah secara

nikah tersebut akan mengurangi bagian kontensius dengan mendudukkan ahli waris lainnya ahli waris tertentu (hijab nuqshan) atau sebagai pihak Termohon, produknya berupa putusan dan bahkan merubah komposisi ahli waris atas putusan tersebut dapat diupayakan banding dan (ada yang mahjub), maka menurut kami kasasi”. Sementara dalam Pemecahan Permasalahan perkara itsbat nikah dalam kasus posisi Hukum di Lingkungan Peradilan Agama yang tersebut harus bersifat kontensius disampaikan dalam Rakernas 2011, h. 4 nomor 5 sebagaimana dikemukakan dalam dinyatakan bahwa dalam kasus di atas diajukan secara Pemecahan Permasalahan Hukum di kontensius (imperatif). Lingkungan Peradilan Agama yang Pertanyaan: disampaikan dalam Rakernas 2011 1. Apakah perkara pada kasus tersebut harus tersebut. bersifat kontensius atau boleh volunter? 2. Jika perkara tersebut berkategori 2. Menurut kami, anak dari sepasang suami istri yang akan diajukan permohonan kontensius, apakah anak dari sepasang suami istri yang itsbat nikahnya tidak perlu didudukkan akan diajukan permohonan itsbat nikahnya itu mesti sebagai pihak/salah satu pihak didudukkan sebagai pihak/salah satu pihak Termohon Termohon dalam perkara tersebut. dalam kapasitas sebagai ahli waris dalam perkara Penjelasan sesuai klasifikasinya sebagai berkategori kontensius tersebut atau tidak? berikut: a) Apabila yang mengajukan permohonan adalah seorang yang mendalilkan sebagai ibu dari anak tersebut (ayahnya yang meninggal dunia) maka anak dari sepasang suami istri yang akan diajukan permohonan itsbat nikahnya itu tidak didudukkan sebagai pihak/salah satu pihak Termohon. Alasannya: 1] Suatu perkara dikategorikan kontensius secara substansial disebabkan karena adanya sengketa/pertentangan kepentingan, sementara dalam kasus ini mustahil berbeda kepentingan seorang ibu dengan seorang yang didalilkan sebagai anak kandungnya, ini yang utama, dan 2] Anak dari sepasang suami istri yang diajukan permohonan itsbat nikahnya tersebut bukan, atau setidak-tidaknya

belum, menjadi ahli waris karena pernikahan orang tuanya baru akan diajukan pengesahannya sehingga secara hukum ia bukan ahli waris dari laki-laki yang didalilkan sebagai ayahnya tersebut [kecuali secara teori, jika telah ada penetapan PA yang menetapkan nasab anak tersebut kepada ayah biologisnya itu, dan dalam praktek sangat kecil kemungkinan terjadinya penetapan asal usul anak lebih dahulu diajukan dari itsbat nikah orang tuanya]. b) Apabila yang mengajukan permohonan adalah seorang yang mendalilkan sebagai ayah dari anak tersebut (ibunya yang meninggal dunia) maka anak dari sepasang suami istri yang akan diajukan permohonan itsbat nikahnya itu juga tidak didudukkan sebagai pihak/salah satu pihak Termohon. Alasannya, meskipun anak tersebut termasuk ahli waris dari ibunya karena menurut Pasal 100 KHI anak tersebut secara otomatis dinasabkan kepada ibu dan keluarga ibunya, namun karena sebab utama suatu perkara berkategori kontensius sebagaimana telah diuraikan di atas, yaitu adanya sengketa/pertentangan kepentingan, sementara dalam kasus ini mustahil berbeda kepentingan seorang ayah dengan seorang yang didalilkan sebagai anak kandungnya, maka anak dari sepasang suami istri yang akan diajukan permohonan itsbat nikahnya itu juga tidak didudukkan sebagai pihak/salah satu pihak Termohon dalam

perkara tersebut. 1. Dalam Buku Komentar Peraturan Ditinjau dari akibat hukum yang ditimbulkannya, Mahkamah Agung RI Nomor 01 Tahun “Putusan” dengan “Akta Perdamaian (acte van 2008 Tentang Pelaksanaan Mediasi di vergelijk)” memiliki perbedaan yang sangat signifikan, Pengadilan, h. 78, dikemukakan contoh dimana putusan memiliki konsekuensi dapat dilakukan bahwa bagian kepalanya dipakai istilah upaya hukum sedangkan akta perdamaian tidak dapat “Akta Perdamaian” dan di dalamnya dilakukan upaya hukum; sesaat setelah dijatuhkan dicantumkan kata “Putusan”. langsung inkrakh bewijs kracht dan langsung pula 2. Para pihak dianjurkan untuk mencabut melekat executorial kracht (1858 ayat [1] KUH Perdata; perkara rekonvensi dan mengajukan Pasal 154 ayat [2] dan [3] RBg). kesepakatan perdamaian tersebut pada Pertanyaan: perkara lain dengan menunggu putusan 1. Apa ciri spesifik yang membedakan konvensi inkrakh bewijs kracht jika format (isi) antara putusan dengan akta perdamaian, dikabulkan misalnya apakah akta perdamaian tersebut mesti bagian kepalanya menggunakan istilah “Akta Perdamaian” dan di dalamnya dicantumkan kata “Putusan”, atau lainnya? 2. Apabila pada gugatan rekonvensi diperoleh kesepakatan perdamaian dan di antara isi kesepakatan perdamaian tersebut agar kesepakatan itu dikukuhkan menjadi akta perdamaian, sementara gugatan konvensinya adalah perkara perceraian yang menurut Putusan MA Nomor 454 K/Pdt/1991 tidak boleh dikukuhkan menjadi akta perdamaian (karena cacat materil sehingga batal demi hukum dan akta tersebut bersifat non executable. Lihat: Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, h. 279). Bagaimana sebaiknya menyelesaikan masalah tersebut; a) apakah para pihak dianjurkan untuk mencabut perkara rekonvensi dan mengajukan kesepakatan perdamaian tersebut pada perkara lain dengan menunggu putusan konvensi inkrakh bewijs kracht jika dikabulkan, atau b) isi kesepakatan perdamaian yang menyatakan agar kesepakatan dikukuhkan menjadi akta perdamaian tersebut diarahkan agar tidak dicantumkan sehingga

eind vonnis-nya berupa putusan saja, bukan akta perdamaian? Sebab tidak mungkin mengukuhkan kesepakatan perdamaian pada perkara rekonvensi menjadi akta perdamaian yang langsung melekat inkrakh bewijs kracht karena perkara ini merupakan assesoir dimana mungkin saja perkara konvensi dilakukan upaya banding oleh salah satu pihak. Atau lainnya? Dalam Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor KMA/032/SK/IV/2006 Tentang Pemberlakuan Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan, Edisi Revisi 2010, hal. 161 huruf (a) dinyatakan “Nafkah anak merupakan kewajiban ayah, dalam hal ayah tidak mampu, ibu berkewajiban untuk memberi nafkah anak (Pasal 41 huruf [a] dan [b] Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974). Oleh karena nafkah anak merupakan kewajiban ayah dan ibu, maka nafkah lampau anak tidak dapat dituntut oleh istri sebagai hutang suami (tidak ada nafkah madhiyah untuk anak). Pertanyaan: Apakah ketentuan ”tidak ada nafkah madhiyah untuk anak” (yang menurut yurisprudensi disebabkan anak itu termasuk kategori haq al-intifa’) tersebut berlaku umum terhadap seluruh tuntutan nafkah madhiyah anak? Menurut kami, ketentuan tersebut tidak bisa digeneralisir terhadap seluruh kasus. Ketentuan tersebut setidaknya bertentangan dengan makna Pasal 104 ayat (1) KHI dimana di dalamnya disebutkan ”Semua biaya penyusuan anak dipertanggungjawabkan kepada ayahnya. Apabila ayahnya telah meninggal dunia, maka biaya penyusuan dibebankan kepada orang yang berkewajiban memberi nafkah kepada ayahnya atau walinya (bukan kepada ibunya/tidak ada tanggungjawab ibu). Begitu juga terasa tidak terterapkan ruh keadilan apabila untuk menafkahi anak tersebut menimbulkan hutang bagi ibu yang tidak mampu secara ekonomi itu, sementara di sisi lain ayahnya berekonomi mampu

NO

NAMA

PERMASALAHAN

USUL PEMECAHAN

HASIL RAKERDA

1 8

PENGADILAN AGAMA 2 PENGADILAN AGAMA MUARA TEBO

3 MASALAH HUKUM

MASALAH 4

5 Pedomano buku II edisi revisi tahun 2010

Suami Murtad mengajukan Permohonan izin cerai Talak ke Pengadilan Agama. a) Apakah dikabulkan? b) Bolehkah seorang non muslim menjatuhkan talak terhadap istri yang muslim? c) Apakah boleh hakim membuat amar putusan yang seharusnya memberi izin untuk mengikrar talak dengan amar putusan menyatakan pernikahan Pemohon perceraian? d) Apakah sebaiknya hakim menyarankan kepada Pemohon untuk merubah Petitum Permohonannya dari memberi izin untuk mengikrarkan talaknya atau amar putusan menyatakan pernikahan Pemohon dengan Termohon putus karena perceraian? dengan Termohon putus karena
d)

halaman 151 a) b) c) Boleh Tidak Boleh Tidak Boleh

permohonon

izin

tersebut

bisa

Ya,

sebaiknya

majelis hakim menyarankan kepada Pemohon untuk merubah Petitum Permohonannya dari memberi izin untuk mengikrarkan talaknya yang berbunyi menyatakan pernikahan Pemohon dengan Termohon putus karena perceraian

e) Apakah Hakim boleh menyarankan kepada Pemohon untuk mencabut permohonannya karena melanggar azas personalitas keislaman? Biaya Pemeriksaan setempat ( PS) dalam yurisprudensi Sebaiknya

e)

Tidak Boleh

dimasukkan

agar

lebih Rincian biaya perkara untuk decente

sangat kecil sedangkan menurut riilnya komponen biaya transparan PS tersebut cenderung besar : Transportasi, pengamanan, jawabkan saksi dll.( Konsumsi, uang lelah petugas) Apakah boleh biaya Konsumsi, uang lelah petugas tersebut tidak dimasukkan dalam rincian biaya perkara? Pemberitahuan amar Putusan gugur. diberitahukan kepada para pihak, sementara perskot biaya

dan

dapat

dipertanggung hanya

mencakup

biaya

transportasi

petugas dan saksi.

Tidak perlu karna belum masuk pada pokok

Apakah wajib penyampaian amar perkara putusan gugur perkara perkara sudah habis/ kurang? Perkara cerai talak, dalam proses persidangan Pemohon Tidak boleh karena termohon (isteri) bisa Sudah tepat tidak sungguh-sungguh untuk meneruskan perkaranya mengajukan perkara baru berbentuk gugat sedangkan Termohon hadir dan menginginkan cerai perceraian, apakah Majelis bisa mengoper alih perkara tersebut menjadi Cerai Gugat?

NO 1 9

NAMA PENGADILAN AGAMA

PERMASALAHAN

USUL PEMECAHAN MASALAH 4  Persidangan 1 x, karena Tergugat sudah Dipanggil melalui RRI sebanyak 2 x  Pemeriksaan prodeo, isbat dan cerai Diputus sekaligus  Biaya prodeo dibayar DIPA hanya PBT, Materai, Pendaftaran, Redaksi • Pembuktian pernikahan keterangan Saksi dari

HASIL RAKERDA 5

2 3 PENGADILAN AGAMA BIDANG YUSTISIAL MUARA SABAK Perkara prodeo komulasi dengan ghoib dan isbat untuk cerai - Biaya Panggilan Penggugat 1 x - Biaya Panggilan Terugat ke RRI 2 x

Buku nikah sebagi alat bukti dikuasai oleh T-KUA tidak mau mengeluarkan Duplikat kecuali melampirkan surat

keterangan kehilangan dari kepolisian

Penggugat dan Tergugat sama-sama mau bercerai, ada perbedaan penyebab pertengkarannya, saksi tidak dapat membuktikan adanya pertengkaran dengan sebab yang diajukan Penggugat

• Majelis memerintahkan Penggugat untuk meminta kepada KUA mengeluarkan keterangan telah terjadi pernikahan • Saksi diperiksa focus pada ada tidaknya pertengkaran dengan memperhatikan kondisi rumah tangganya sekarang • Pihak Penggugat dan Tergugat ditawarkan oleh Majelis, siapa yang bersedia mengangkat sumpah pemutus (Sitis Dessisoir) Pasal 183 Rbg dan KUHPerdata Pasal 1932 Rv.52.

Hal ini sudah masuk dalam wilayah ijtihad hakim

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->