Andragogi adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu struktur pengalaman belajar.

Istilah ini awalnya digunakan oleh Alexander Kapp, seorang pendidik dari Jerman, di tahun 1833, dan kemudian dikembangkan menjadi teori pendidikan orang dewasa oleh pendidik Amerika Serikat, Malcolm Knowles (24 April 1913 -- 27 November 1997). Andragogi d sni adalah dewasa d mna waktu selang antara dewasa tahap pertama menuju dewasa tahap ke3. Andragogi berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengarahkan orang dewasa dan berbeda dengan istilah yang lebih umum digunakan, yaitu pedagogi yang asal katanya berarti mengarahkan anak-anak. Teori Knowles tentang andragogi dapat diungkapkan dalam empat postulat sederhana:[1][2]
1. Orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi dari pembelajaran yang

mereka ikuti (berkaitan dengan konsep diri dan motivasi untuk belajar). 2. Pengalaman (termasuk pengalaman berbuat salah) menjadi dasar untuk aktivitas belajar (konsep pengalaman). 3. Orang dewasa paling berminat pada pokok bahasan belajar yang mempunyai relevansi langsung dengan pekerjaannya atau kehidupan pribadinya (Kesiapan untuk belajar). 4. Belajar bagi orang dewasa lebih berpusat pada permasalahan dibanding pada isinya (Orientasi belajar). Istilah andragogi telah digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara pendidikan yang diarahkan diri sendiri dengan pendidikan melalui pengajaran oleh orang lain.[3]
Judul: ANDRAGOGI (Sebuah Konsep Teoritik) Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION. Nama & E-mail (Penulis): SUPRIADI, M.Pd Saya Dosen di STAIN Bukittinggi Topik: Pembelajaran Orang Dewasa Tanggal: 21 Maret 2006 ANDRAGOGI (Sebuah Konsep Teoritik) A. Pengertian Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagau "Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar". Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian "Social-pedagogy" yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, "Social-pedagogy" lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan. B. Andragogi dan Pedagogi Malcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar selama ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku kanak-kanak dan binatang percobaan tertentu. Pada umumnya memang, apa yang kita ketahui kemudian tentang mengajar juga merupakan hasil kesimpulan dari pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajarmengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan

kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah "pedagogi" yang akarakarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai "suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak". Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai "ilmu dan seni mengajar". Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu : 1. Citra Diri Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak. Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan murid. Pada proses andragogi, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling membantu. Pada proses pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat mengarah. 2. Pengalaman Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat beraneka. Pada anakanak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali.Anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering. Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogi, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan sebagainya. Pada proses andragogi, caracara yang ditempuh lebih bersifat diskusi kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar. 3. Kesiapan Belajar Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah dalam hal pemilihan isi pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator. 4. Nirwana Waktu dan Arah Belajar Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk masa depan. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang sebagai suatu proses pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu. Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini. Untuk menemukan "dimana kita sekarang" dan "kemana kita akan pergi", itulah pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam pendekatan andragogi adalah berarti "memecahkan masalah hari ini", sedangkan pada pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak. C. Langkah-langkah Pelaksanaan Andragogi Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang menggunakan asas-asas pendekatan andragogi, selalu melibatkan tujuh proses sebagai berikut :

Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran dari pada digurui 4. rasa pengabdian dan idealisme untuk kerjanya 4. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa membantu pencapaian tujuan dalam belajar. Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman 2. Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain 5.1. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuannya. E. Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda 2. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar lebih baik 5. Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu 3. Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar 3. kebutuhan dan nilai-nilai 4. menunjukkan tahap pemahamannya 8. Menilai atau mengidentifikasikan minat. Karakteristik Warga Belajar Dewasa 1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari. Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat. Menciptakan iklim untuk belajar 2. Merumuskan tujuan belajar 5. mempunyai kecendrungan untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya 7. Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalon hubungan dekat dengan teman baru. Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah. Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi. Karakteristik Pengajar Orang Dewasa Seorang pengajar orang dewasa haruslah memenuhi persyaratan berikut : 1. Menjadi anggota dari kelompok yang diajar 2. Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan iktikad yang baik. Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya 5. adil dan masuk akal 10. Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama 9. Andragogi dapat disimpulkan sebagai : 1. Apa yang biasa dilakukan orang dewasa. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis 4. kekuatannya dan tahu bahwa di antara kekuatan . Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan 2. Merancang kegiatan belajar 6. D. dimana kira secara terus menerus dapat menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang selalu berubah. kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup 6. 3. kebutuhan dan pencapaian nilai-nilai. Menyadari kelemahannya. F. Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis 12. merasa bahwa dia tidak dapat menentukan kehidupannya sendiri. Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan 6. Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa 1. tingkat keterbukaannya. Oleh karena itu ia lebih suka melakukan sendiri sebanyak mungkin 11. melalui kegiatankegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu 3. 3. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari warga belajar 7. Melaksanakan kegiatan belajar 7. Orang dewasa yang miskin mempunyai tendensi.

Salah satu penyebab ketidakberhasilan pembelajaran pendidikan luar sekolah adalah metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan prosedur pelaksanaannya dan andragogi belum diterapkan secara maksimal dalam pelaksanaan pembelajaran. Prinsip tersebut dijadikan pegangan atau panduan dalam praktek membimbing kegiatan belajar orang dewasa. Orang dewasa dalam belajar jauh berbeda dengan anak-anak. Menyadari bahwa "perannya bukan mengajar. Menyamakan pendekatan pendidikan anak dengan pendekatan pendidikan orang dewasa dapat mengakibatkan kegiatan pendidikan tersebut menjadi suatu hal yang menyakitkan bagi orang dewasa. Tutor harus memperhatikan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. pembelajar-an orang dewasa (andragogi) lebih menekankan pada membimbing dan membantu orang dewasa untuk menemukan pengetahuan. output dan outcomenya. Membelajarkan anak (pedagogi) lebih banyak merupakan upaya mentransmisikan sejumlah pengalaman dan keterampilan dalam rangka mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupan di masa datang. Usia warga belajar pada kelompok belajar program PLS rata-rata di atas 17 tahun. lewat pengamatan 8. tetapi menciptakan iklim untuk belajar" 11. Asumsi-asumsi tersebut ialah: (1) orang dewasa mempunyai pengalaman yang berbeda dengan anak-anak. Ketepatan pendekatan yang digunakan dalam penyelenggaraan suatu kegiatan pembelajaran tentu akan mempengaruhi hasil belajar warga belajar. Apa yang di transmisikan didasarkan pada pertimbangan warga belajar sendiri. Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya 7. maka pendekatan andragogi akan semakin terasa pentingnya. Peka dan mengerti perasaan orang lain. penerapan prinsip andragogi dalam kegiatan pembelajarannya telah menjadi suatu kelayakan. (2) orang dewasa mempunyai konsep diri. Menurut Knowles (1979). Selalu optimis dan mempunyai iktikad baik terhadap orang 10. sehingga dengan sendirinya penerapan prinsip andragogi pada kegiatan pembelajarannya semestinya diterapkan. Olehnya itu. Bila dihubungkan dengan penyelenggaraan pendidikan yang terorganisir di kelompok belajar. Perlunya penerapan prinsip andragogi dalam pendekatan pembelajaran orang dewasa dikarenakan upaya membelajarkan orang dewasa berbeda dengan upaya membelajarkan anak. Kondisi yang menyakitkan tersebut tentu akan sulit untuk mengharapkan hasil belajar yang maksimal. Rendahnya hasil belajar sebagai indikator dari ketidakberhasilan pembelajaran. 6. Aplikasi Andragogi Dalam Pembelajaran Pendidikan Non Formal Kategori: Umum (7564 kali dibaca) Permasalahan yang paling sering muncul dalam pelaksanaan pendidikan luar sekolah adalah hasil belajar. Secara jelas Knowles (1979) menyatakan apabila peserta didik (baca: warga belajar) telah berumur 17 tahun. Sebab setiap kegiatan yang terorganisir sudah . dan (4) orang dewasa mempunyai kesiapan untuk belajar. perbedaan antara anak-anak dan orang dewasa dalam belajar didasarkan pada empat asumsi tentang orang dewasai. dimana peserta maupun tidak mampu menerima dengan baik bahan belajar yang diajarkan oleh tutor. proses penyelenggaraan belajar bagi orang dewasa harus didekati dengan cara yang berbeda pula. Sebaliknya. dan keterampilan merupakan indikasi kurang berhasilnya kegiatan pendidikan luar sekolah. Pendekatan yang layak adalah pendekatan andragogi. dan sikap dalam rangka memecahkan. (3) orang dewasa mempunyai orientasi belajar yang berbeda dengan anak-anak. apakah hal tersebut akan bermanfaat bagi warga belajar di masa datang. Pendekatan-pendekatan pembelajaran orang dewasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip belajarnya dapat dipandang sebagai ilmu dan seni (art and science) membantu atau menolong orang dewasa belajar. masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Perbedaan antara membelajarkan anak-anak dengan membelajarkan orang dewasa terlihat dari upaya pembelajaran orang dewasa. keterampilan. sikap. Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang 9. membelajarkan orang dewasa berpusat pada warga belajar itu sendiri (learned centered). Orang Dewasa Sebagai Warga Belajar Cara belajar orang dewasa jauh berbeda dengan cara belajar anak-anak. Ketidakmampuan peserta memahami dengan baik materi dalam bentuk pengetahuan. Seharusnya menggunakan pendekatan yang berbeda pula dalam membelajarkan anak. Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi negatif fan pisitif.yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu.

Faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar adalah tingkat kemampuan peserta. pengetahuan dan keterampilan. tutor hendaknya bersikap positif terhadap warga belajar. Tutor memasuki kelas dengan bekal sejumlah pengetahuan dan pengalaman. Penerapan andragogi dalam Metode Pembelajaran Penggunaan metode pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa berimplikasi pada penggunaan teknik pembelajaran yang dipandang cocok digunakan di dalam menumbuhkan perilaku warga belajar. (3) Bersikap respek: mempunyai pandangan positif terhadap peserta. dan tingkat kebaharuan dan aktualisasi bahan. kesesuaian materi dengan kebutuhan warga belajar. terbuka.tentu mempunyai atau didasarkan pada pedoman-pedoman tertentu. berada dan bersatu dengan peserta didik. Seorang tutor hendaknya mengetahui faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar untuk diajarkan. Penerapan Andragodi dalam Pengorganisasian Bahan Belajar Pengorganisasian bahan belajar sedemikian rupa. Pengorganisasian bahan belajar dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pembelajaran. Setiap bahan belajar yang ingin disampaikan. Kegiatan belajar pada pendidikan orang dewasa masih merupakan kegiatan belajar yang paling efisien dan paling dapat diterima serta merupakan alat yang dinamis dan fleksibel dalam membantu orang dewasa belajar. Penerapan Andragogi dalam performansi Tutor Tutor sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran orang dewasa. Ada beberapa hal yang dianggap penting dimiliki oleh para tutor dalam proses interaksi belajar yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya warga belajar. namun pengaruh itu timbul karena adanya keterlibatan mereka dalam kegiatan belajar. kegiatan belajar merupakan alat yang dinamis dan fleksibel dalam membantu orang dewasa. Umumnya tutor yang memiliki daya tarik akan lebih efektif dari pada tutor yang tidak menarik. Seorang tutor dengan pengetahuan dan pengalamannya itu tidaklah cukup untuk membuat peserta untuk berperilaku belajar dalam kelas melainkan sikap tutor sangatlah penting. memudahkan warga belajar dalam mempelajarinya. Sebaliknya. Pengetahuan dan pengalaman ini seharusnya melebihi dari yang dimiliki oleh peserta. mengkomunikasikan kehangatan. membuka diri. maka penggunaan metode belajar diperlukan berdasarkan prinsip-prinsip . harus dilihat dari ketertarikan warga belajar terhadap materi yang disampaikan. konsisten. membiarkan diri sendiri mengalami atau menyatu dalam pengalaman para peserta didik. merenungkan makna pengalaman itu sambil menekan penilaian diri sendiri. keterampilan dan atau nilai-nilai akan disampaikan oleh tutor kepada warga belajar. keterkaitannya dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta. Materi itu pun akan mempengaruhi pertimbangan tutor dalam memilih dan menetapkan teknik pembelajaran. Sikap seorang tutor mempunyai arti dan pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku warga belajar dalam kegiatan pembelajaran. Untuk mengusahakan adanya perubahan. dan (4) Membuka diri: menerima keterbukaan orang lain tanpa menilai dengan ukuran. konsep dan pengalaman diri sendiri. Materi harus dipilih atas pertimbangan sejauh mana peranannya dalam menciptakan situasi untuk penyesuaian perilaku warga belajar di dalam mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. pada gilirannya berpengaruh terhadap intensitas perilaku belajarnya. menghargai perasaan dan pengalaman mereka. secara aktif mengungkapkan diri kepada orang lain dan mau mengambil resiko jika melakukan kekeliruan. Seorang tutor bukan merupakan "pemaksa" untuk terjadinya pengaruh terhadap peserta. Oleh karena. dan kesamaan tingkat dan lingkup pengalaman antara tutor dan warga belajar Bahan belajar yang berisi pengetahuan. Sikap menyenangkan yang ditampilkan oleh tutor akan ditanggapi positif oleh peserta. Ketertarikan warga belajar dalam memilih dan mempelajari bahan belajar adalah merupakan manifestasi dari perilaku belajar warga belajar. Pedoman inilah yang menjadi prinsip-prinsip kerja agar kegiatan berjalan pada prosedur yang benar dan sesuai dengan tujuan. perhatian. yakni. sehingga mengakibatkan kegiatan belajar menjadi tidak menyenangkan. Bahan belajar itu pula yang akan dipelajari oleh warga dalam mencapai tujuan belajar. apa adanya. fasilitator yang menampilkan sikap tidak menyenangkan akan dinilai negatif oleh peserta. yaitu (1) bersikap manusiawi dan tidak bereaksi secara mekanis atau memahami masalah peserta didik hanya secara intelektual. Knowles mengklasifikasi teknik pembelajaran dalam mencapai tujuan belajar berdasarkan tipe kegiatan belajar. sikap. menerima orang lain dengan penghargaan penuh. (2) Bersikap kewajaran: jujur. pengertian. tingkat daya tarik bahan belajar. ikut merasakan apa arti manusia dan benda bagi mereka. merespon secara tulus ikhlas.

misalnya pendidikan dalam bentuk keterampilan. bukan merupakan transformasi atau penyerapan materi. Kematangan psikologi orang dewasa sebagai pribadi yang mampu mengarahkan diri sendiri ini mendorong timbulnya kebutuhan psikologi yang sangat dalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan orang lain sebagai pribadi yang . Kenyataan di lapangan. M. penataran dan sebagainya. (3) mendorong peserta untuk mengemukakan pengalaman sehari-harinya. dan strategi membelajarkan orang dewasa yang notabene tidak menduduki bangku sekolah. akan tetapi di lapangan. 1. (4) menumbuhkan kerja sama. pendidikan sekolah. Dalam hal ini. orang dewasa sebagai siswa dalam kegiatan belajar tidak dapat diperlakukan seperti anak-anak didik biasa yang sedang duduk di bangku sekolah tradisional. kursus-kursus. baik dalam bentuk kegiatan teori maupun praktek. Asmin. Kata kunci: Cara pembelajaran orang dewasa. Pembelajaran Andragogi KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) Oleh: Drs. misalnya pendidikan dalam bentuk keterampilan. penataran dan sebagainya. orang dewasa sebagai siswa dalam kegiatan belajar tidak dapat diperlakukan seperti anak-anak didik biasa yang sedang duduk di bangku sekolah tradisional.belajar orang dewasa. Dalam hal ini. dan (5) lebih bersifat pemberian pengalaman. PdStaf Pengajar Unimed Medan (Sedang mengikuti Program Doktor di PPS UNJ Jakarta) Abstrak. Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar. harus dipahami bahwa. orang dewasa yang tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri bergerak dari ketergantungan seperti yang terjadi pada masa kanak-kanak menuju ke arah kemandirian atau pengarahan diri sendiri. pengarahan diri sendiri. dan antara peserta dengan tutor. Pendahuluan Salah satu aspek penting dalam pendidikan saat ini yang perlu mendapat perhatian adalah mengenai konsep pendidikan untuk orang dewasa. baik antara sesama peserta. (2) menuntut dan mendorong peserta untuk aktif. Untuk membelajarkan orang dewasa melalui pendidikan orang dewasa dapat dilakukan dengan berbagai metoda dan strategi yang diperlukannya. tidak sedikit orang dewasa yang harus mendapat pendidikan baik melalui pendidikan melalui jalur sekolah maupun pendidikan luar sekolah. Ulasan di seputar pendidikan di sekolah sudah sangat sering didiskusikan dengan berbagai kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. harus dipahami bahwa. orang dewasa yang tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri bergerak dari ketergantungan seperti yang terjadi pada masa kanak-kanak menuju ke arah kemandirian atau pengarahan diri sendiri. bahwa tidak sedikit orang dewasa yang harus mendapat pendidikan baik pendidikan informal maupun nonformal. Membangun manusia pembangunan dapat terjadi kalau diberikan perhatian yang sungguhsungguh terhadap pendidikan orang dewasa. kemandirian. Masalah yang sering muncul adalah bagaimana kiat. sebab proses pembelajaran ini harus dikembangkan dengan cepat sesuai dengan lajunya pembangunan bangsa. Metode belajar orang dewasa adalah cara mengorganisir peserta agar mereka melakukan kegiatan belajar. Oleh sebab itu. Oleh sebab itu. kursus-kursus. pendidikan luar sekolah. harus (1) berpusat pada masalah. Tidak selamanya kita berbicara dan mengulas di seputar pendidikan murid sekolah yang relatif berusia muda.

Oleh karena itu. Maka secara harfiah pedagogi berarti seni dan pengetahuan mengajar anak. bagaimana ia dapat belajar paling baik dan sebagainya (Lunandi. dipaksa dan dimanipulasi oleh orang lain. 1987). andros = manusia. Salah satu masalah dalam pengertian andragogi adalah pandangannya yang mengemukakan bahwa tujuan pendidikan itu bersifat mentransmisikan pengetahuan. 1994). Pada banyak praktek. Andragogi sebagai ilmu yang memiliki dimensi yang luas dan mendalam akan teori belajar dan cara mengajar. sebab pendidikan sekarang ini tidak lagi dirumuskan hanya sekedar sebagai upaya untuk mentransmisikan pengetahuan. tujuan dari kajian/tulisan ini adalah untuk mengkaji berbagai aspek yang mungkin dilakukan dalam upaya membelajarkan orang dewasa (andragogi) sebagai salah satu alternatif pemecahan kependidikan. Karena itu. . Perlu dipahami apa pendorong bagi orang dewasa belajar. mengajar orang dewasa dilakukan sama saja dengan mengajar anak. bahwa pedagogi (lebih baik disebut sebagai androgogi. Berkembangnya pemahaman kondisi psikologi orang dewasa semacam itu tumbuh dalam teori yang dikenal dengan nama andragogi. Istilah lain yang kerap kali dipakai sebagai perbandingan adalah pedagogi yang ditarik dari kata paid artinya anak dan agogus artinya memimpin. Tetapi di lain pihak perubahan yang terjadi seperti inovasi dalam teknologi.mengarahkan dirinya sendiri. menurut (Kartini Kartono. mobilisasi penduduk. Kegiatan pendidikan baik melalui jalur sekolah ataupun luar sekolah memiliki daerah dan kegiatan yang beraneka ragam. Dengan menggunakan teori andragogi kegiatan atau usaha pembelajaran orang dewasa dalam kerangka pembangunan atau realisasi pencapaian cita-cita pendidikan seumur hidup dapat diperoleh dengan dukungan konsep teoritik atau penggunaan teknologi yang dapat dipertanggung jawabkan. Oleh sebab itu. Oleh sebab itu. dan agogus artinya memimpin. maka pendidikan bagi orang dewasa tidak dapat disamakan dengan pendidikan anak sekolah. maka pengetahuan yang diperoleh seseorang ketika ia berumur 21 tahun akan menjadi usang ketika ia berumur 40 tahun. yaitu ilmu menuntun/mendidik manusia. aner. Secara singkat teori ini memberikan dukungan dasar yang esensial bagi kegiatan pembelajaran orang dewasa. 1997). perubahan sistem ekonomi. Pengertian Andragogi Andragogi berasal dari bahasa Yunani aner artinya orang dewasa. 1. karena mengandung makna yang bertentangan. Dengan begitu apabila orang dewasa menghadapi situasi yang tidak memungkinkan dirinya menjadi dirinya sendiri maka dia akan merasa dirinya tertekan dan merasa tidak senang. Karena orang dewasa bukan anak kecil. Kajian Literatur/Teori 2. kegiatan pendidikan memerlukan pendekatan tersendiri. apa hambatan yang dialaminya. Pendidikan orang dewasa terutama pendidikan masyarakat bersifat non formal sebagian besar dari siswa atau pesertanya adalah orang dewasa. apa yang diharapkannya. agar ia mampu mandiri di tengah lingkungan sosialnya. Sementara itu. atau paling tidak pemuda atau remaja. yaitu membentuk kepribadian seutuhnya. 2. Dalam kondisi seperti ini. Apabila demikian halnya. bukan diarahkan. mendidik) adalah ilmu membentuk manusia. pendidikan atau usaha pembelajaran orang dewasa memerlukan pendekatan khusus dan harus memiliki pegangan yang kuat akan konsep teori yang didasarkan pada asumsi atau pemahaman orang dewasa sebagai siswa. Pemahaman terhadap perkembangan kondisi psikologi orang dewasa tentu saja mempunyai arti penting bagi para pendidik atau fasilitator dalam menghadapi orang dewasa sebagai siswa. pedagogi berarti seni atau pengetahuan mengajar anak maka apabila memakai istilah pedagogi untuk orang dewasa jelas kurang tepat. maka pendidikan sebagai suatu proses transmisi pengetahuan sudah tidak sesuai dengan kebutuhan modern (Arif. agoo= menuntun. tetapi dirumuskan sebagai suatu proses pendidikan sepanjang hayat (long life education). dan sejenisnya begitu cepat terjadi.

maka andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai seni dan pengetahuan mengajar orang dewasa. Dalam hal ini. Oleh karena itu. Dari rumusan tujuan pendidikan orang dewasa. Hampir semua yang diketahui mengenai belajar ditarik dari penelitian belajar yang terkait dengan anak. karena orang dewasa sebagai individu yang dapat mengarahkan diri sendiri. Rumusan tujuan umum dan tujuan khusus pendidikan orang dewasa dikemukakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam membantu negara-negara yang baru merdeka untuk memajukan bangsanya. Pendidikan orang dewasa dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan. baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah. Namun.Prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pendidikan orang dewasa. dan akan dijalankan di Indonesia. ditarik dari pengalaman mengajar anak-anak misalnya dalam kondisi wajib hadir dan semua teori mengenai transaksi guru dan siswa didasarkan pada suatu definisi pendidikan sebagai proses pemindahan kebudayaan. sedang. maka sangat nampak sekali bahwa tujuan yang ingin dicapai ditujukan kepada negara yang masih terbelakang dalam tingkat pendidikan masyarakat dan juga dalam tingkat kehidupannya. Begitu juga mengenai mengajar.16) 2. di tempat . 1. tujuan khusus pendidikan orang dewasa itu menjadi sebahagian dari tujuan pendidikan orang dewasa melalui kegiatan program Direktorat Pendidikan Masyarakat yang sudah. dalam memberikan definisi andragogi lebih cenderung diartikan sebagai seni dan pengetahuan membelajarkan orang dewasa. maka dalam andragogi yang lebih penting adalah kegiatan belajar dari siswa bukan kegiatan mengajar guru. Kebutuhan Belajar Orang Dewasa. baik formal maupun non-formal. Sebagai bahan perbandingan tujuan pendidikan orang dewasa pada beberapa negara dapat dikemukakan seperti terlihat dalam Tabel 1. Tabel 1 Perbandingan Tujuan Pendidikan Orang Dewasa di Beberapa Negara Sumber: Ahmuddipura (1986: hal. Namun. Kalau ditarik dari pengertian pedagogi. mengenai apapun bentuk isi. tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut. orang dewasa sebagai pribadi yang sudah matang mempunyai kebutuhan dalam hal menetapkan daerah belajar di sekitar problem hidupnya. 2.

Pertambahan pengetahuan saja tanpa kepercayaan diri yang kuat. Bagi orang dewasa pemenuhan kebutuhannya sangat mendasar. sehingga setelah kebutuhan itu terpenuhi ia dapat beralih ke arah usaha pemenuhan kebutuhan lain yang lebih masih diperlukannya sebagai penyempurnaan hidupnya. penulis mengacu pada teori Maslow tentang piramida kebutuhan sebagai berikut. ekonomi. yang membuat orang dewasa mampu mengembangkan kemampuan. Dengan demikian hal itu dapat berdampak positif terhadap keberhasilan pembelajaran orang dewasa yang tampak pada adanya perubahan perilaku ke arah pemenuhan pencapaian kemampuan/keterampilan yang memadai. baik pria maupun wanita. keterampilan. Perubahan perilaku dalam hal kerjasama dalam berbagai kegiatan. disebabkan produktivitas yang lebih meningkat. Pertama untuk mewujudkan pencapaian perkembangan setiap individu. Tambahan pula. Dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan yang fundamental. meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengembangankan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya. Gambar 1Piramida Kebutuhan menurut Teori Maslow . Perubahan perilaku bagi orang dewasa terjadi melalui adanya proses pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan dirinya sebagai individu. dan kedua untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dari setiap individu yang bersangkutan. bahwa pendidikan orang dewasa mencakup segala aspek pengalaman belajar yang diperlukan oleh orang dewasa. maupun kesejahteraan bagi orang lain. sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya masing-masing. dan berkesinambungan. Perubahan perilaku terjadi karena adanya perubahan (penambahan) pengetahuan atau keterampilan serta adanya perubahan sikap mental yang sangat jelas. seimbang. Dalam hal ini. tetapi harus dibekali juga dengan rasa percaya yang kuat dalam pribadinya. memperkaya khasanah pengetahuan. niscaya mampu melahirkan perubahan ke arah positif berupa adanya pembaharuan baik fisik maupun mental secara nyata. dan teknologi secara bebas.kursus. sangat memungkinkan adanya partisipasi dalam kehidupan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan diri sendiri. dan dalam hal ini. pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi. terlihat adanya tekanan rangkap bagi perwujudan yang ingin dikembangankan dalam aktivitas kegiatan di lapangan. setiap individu yang berhadapan dengan individu lain akan dapat belajar bersama dengan penuh keyakinan. dalam hal pendidikan orang dewasa tidak cukup hanya dengan memberi tambahan pengetahuan. menyeluruh dan berkesinambungan. yakni proses perubahan sikap yang tadinya tidak percaya diri menjadi perubahan kepercayaan diri secara penuh dengan menambah pengetahuan atau keterampilannya. Di sini. merupakan hasil dari adanya perubahan setelah adanya proses belajar.

sebab ketidakamanan hanya akan melahirkan kecemasan yang berkepanjangan. atau. bukan apa yang dilakukan pengajar atau pelatih atau penceramah dalam pertemuan itu. Dengan begitu orang dewasa tidak menginginkan orang memandangnya apalagi memperlakukan dirinya seperti anak-anak. Prinsip Pendidikan Orang Dewasa Pertumbuan orang dewasa dimulai pertengahan masa remaja (adolescence) sampai dewasa. orang dewasa bukan lagi menjadi obyek sosialisasi yang seolah-olah dibentuk dan dipengaruhi untuk menyesuaikan dirinya dengan keinginan memegang otoritas di atas dirinya sendiri.3. dan aktualisasi dirinya. dan semua orang mereaksi seperti dia mengalami dan . maka setiap individu belum membutuhkan atau merasakan apa yang dinamakan sebagai harga diri. hasil akhir yang dinilai adalah apa yang diperoleh orang dewasa dari suatu pertemuan pendidikan/pelatihan. Jika kesemuanya itu terpenuhi barulah individu itu merasakan mempunyai harga diri. di mana setiap individu tidak hanya memiliki kecenderungan tumbuh kearah menggerakkan diri sendiri tetapi secara aktual dia menginginkan orang lain memandang dirinya sebagai pribadi yang mandiri yang memiliki identitas diri. dan papan belum terpenuhi. maka akan dapat dengan mudah dan dapat ditentukan kondisi belajar yang harus diciptakan. Dia mengharapkan pengakuan orang lain akan otonomi dirinya. Tidak seperti anak-anak yang beberapa tingkatan masih menjadi objek pengawasan. kalau meminjam istilah Maslow (1966). sebelum ia mampu merasakan kebutuhan yang lebih tinggi sebagai penyempurnaan kebutuhan dasar tadi. akan tetapi tujuan kegiatan belajar atau pendidikan orang dewasa tentunya lebih mengarah kepada pencapaian pemantapan identitas dirinya sendiri untuk menjadi dirinya sendiri. bukan apa yang diajarkan pengajar. kecemasan. 2. yakni kebutuhan keamanaan. dan itu akan sangat berpengaruh dalam proses belajarnya. maka setiap individu butuh penghargaan terhadap hak azasi dirinya yang diakui oleh setiap individu di luar dirinya. belajar merupakan proses untuk mencapai aktualiasi diri (self-actualization). Artinya. Bukan proses pembentukan atau process of being shaped yaitu proses pengendalian dan manipulasi untuk sesuai dengan orang lain. Dalam pendekatan ini Roger mendasarkan pada beberapa hipotesa berikut ini. 1. Setiap individu hidup dalam dunia pengalaman yang selalu berubah dimana dirinya sendiri adalah sebagai pusat. memaksa. pengendalian orang lain yaitu pengawasan dan pengendalian orang dewasa yang berada di sekeliling. pangan. Dalam kaitan ini. tentunya pendidikan orang dewasa yang memiliki harga diri dan jati dirinya membutuhkan pengakuan. kalau meminjam istilah Rogers dalam Knowles (1979). atau. Dalam kegiatan pendidikan atau belajar. isi materi apa yang harus diberikan. dan manipulasi tingkah laku yang ditujukan terhadap dirinya. Kemudian kalau rasa aman telah terpenuhi. Dalam hal belajar atau pendidikan merupakan process of becoming a person. teknik serta metode apa yang cocok digunakan. Secara psikologis. maka setiap individu perlu rasa aman jauh dari rasa takut. kegiatan belajar bertujuan mengantarkan individu untuk menjadi pribadi atau menemuan jati dirinya. Bilamana kebutuhan paling dasar yakni kebutuhan fisik berupa sandang. dan kekhawatiran akan keselamatan dirinya. Setelah kebutuhan dasar itu terpenuhi.Setiap individu wajib terpenuhi kebutuhannya yang paling dasar (sandang dan pangan). Menurut Lunandi (1987) yang terpenting dalam pendidikan orang dewasa adalah: Apa yang dipelajari pelajar. strategi. terhadap dirinya. dan dijamin ketentramannya untuk menjaga identitas dirinya dengan penolakan dan ketidaksenangan akan setiap usaha orang lain untuk menekan. harga diri. Uraian di atas sesuai dengan konsepsi Rogers dalam Knowlws (1979) mengenai belajar lebih bersifat client centered. dengan mengetahui kebutuhan orang dewasa sebagai peserta kegiatan pendidikan/pelatihan. penghargaan.

Dengan begitu jelaslah kiranya bahwa pemuda (tidak hanya orang dewasa) memiliki kemampuan memikirkan dirinya sendiri. sehingga seolah-olah dirinya tidak berarti. 4.mengartikan pengalaman itu. dan lebih jauh mempengaruhi perkembangan teknologi membelajarkan orang dewasa. Seseorang belajar dengan penuh makna hanya apabila sesuatu yang dia pelajari bermanfaat dalam pengembangan struktur dirinya. Asumsi Pertama. Dan tentunya ia akan mempersoalkan kebiasaan belajar dengan mata pelajaran yang dipaksakan atas dirinya. Struktur dan organisasi diri kelihatan menjadi kaku dalam situasi terancam. 3. Keempat asumsi pokok itu adalah sebagai berikut. Oleh karena itu. 2. Hipotesa ini menekankan pentingnya program belajar yang relevan dengan kebutuhan siswa. Perbedaan persepsi setiap siswa diberikan perlindungan. Knowles (1970) mengembangkan konsep andragogi atas empat asumsi pokok yang berbeda dengan pedagogi. dan akan mengendorkan apabila bebas dari ancaman. Hipotesa diatas memperkuat perkembangan dan terbentuknya teori mengenai teori belajar orang dewasa. Ini berarti di samping perlunya memberikan iklim belajar yang aman bagi siswa juga perlu pengembangan otonomi individu dari setiap siswa. dapat memecahkan masalah-masalah verbal yang kompleks atau secara singkat sudah tercapai kematangan struktur kognitifnya. Selanjutnya. Dengan hipotesa semacam ini maka dalam kegiatan belajar. berfikir secara ilmiah. tidak hanya orang dewasa tetapi juga pemuda atau remaja juga memiliki kebutuhan semacam itu. di sini remaja (adolescence) tidak hanya dapat mengerti keadaan benda-benda di dekatnya tetapi juga kemungkinan keadaan benda-benda itu di duga. seseorang tumbuh dan matang konsep dirinya bergerak dari ketergantungan . Ini berarti pengalaman yang dianggap tidak sesuai dengan dirinya hanya dapat diasimilasikan apabila organisasi diri itu dikendorkan dan diperluas untuk memasukkan pengalaman itu. Dalam tingkatan perkembangan ini individu sudah dapat memecahkan segala persoalan secara logik. Namun. Ini berarti bahwa dia menekankan bahwa makna yang datang dari makna yang dimiliki. Secara singkat dapat dikatakan remaja adalah tingkatan kehidupan dimana proses semacam itu terjadi. Untuk itu. Sesuai teori Peaget (1959) mengenai perkembangan psikologi dari kurang lebih 12 tahun ke atas individu sudah dapat berfikir dalam bentuk dewasa yaitu dalam istilah dia sudah mencapai perkembangan pikir formal operation. dapat dikatakan sejak pertengaham masa remaja individu mengembangkan apa yang dikatakan "pengertian diri" (sense of identity). keterlibatan siswa secara aktif mempunyai kedudukan sangat penting dan mendalam. yaitu belajar yang bermanfaat bagi dirinya. dan menyadari bahwa terdapat keadaan yang bertentangan antara nilai-nilai yang dianut dan tingkah laku orang lain. Seperti telah disebutkan di atas bahwa dalam diri orang dewasa sebagai siswa yang sudah tumbuh kematangan konsep dirinya timbul kebutuhan psikologi yang mendalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan orang lain sebagai pribadi utuh yang mengarahkan dirinya sendiri. dianjurkan pentingnya pemberian iklim yang aman. Dalam masalah nilai-nilai remaja mulai mempertanyakan dan membanding-bandingkan. Dalam periode ini individu mulai mengembangkan pengertian akan diri (self) atau identitas (identitiy) yang dapat dikonsepsikan terpisah dari dunia luar di sekitarnya. dan saling bantu dengan kepercayaan dan tanggung jawab siswa. penerimaan. Nilai-nilai yang diharapkan selalu dibandingkan dengan nilai yang aktual. Dengan begitu. belajar adalah belajar sendiri dan yang tahu seberapa jauh dia telah menguasai sesuatu yang dipelajari adalah dirinya sendiri. dan ini berjalan terus sampai mencapai kematangan. Hipotesa ini menunjukkan realitas bahwa belajar kerap kali menimbulkan rasa tidak aman bagi siswa (siswa merasa tertekan). Berbeda dengan anak-anak.

Asumsi keempat. pimpinan suatu organisasi. 1992). pasti memainkan peranan besar dalam mempersiapkan anak dan orang dewasa untuk memperjuangkan eksistensinya di tengah masayarakat. dan lainnya lebih banyak dipakai. pengalaman lapangan. Dengan perkataan lain. tetapi lebih ditentukan oleh tuntutan-tuntutan tugas perkembangan untuk melakukan peranan sosialnya. kerja laboratori. secara implisit atau eksplisit. Asumsi kedua. Sedang orang dewasa berkecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan masalah kehidupan (problemcentered-orientation).rahan diri. sekolah dan pendidikan menjadi sarana ampuh untuk melakukan proses integrasi maupun disintegrasi sosial di tengah masyarakat (Kartini Kartono. kita berasumsi bahwa setiap individu menjadi matang. Kempat asumsi dasar itulah yang dipakai sebagai pembanding antara konsep pedagogi dan andragogi. seseorang akan berubah dari bersifat tergantung menuju ke arah memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri. dan apa hasil yang diharapkan setelah selesai Adalah suatu hal yang wajar apabila dalam suatu proses pendewasaan. Penjelasan perbedaan andragogi dan pedagogi seperti di atas dapat dilukiskan dalam penjelasan Perbandingan Asumsi dan Model Pedagogi dan Andragogi berikut. Dan para guru bertanggungjawab untuk menggalakkan dan memelihara kelangsungan perubahan tersebut. bagaimana cara mempelajarinya. Maka penggunaan teknik diskusi. simulasi. bahwa pendidikan itu secara langsung atau tidak langsung. Masyarakat mengharapkan para guru bertanggung jawab sepenuhnya untuk menentukan apa yang harus dipelajari. Karena kemandirian konsep dirinya inilah orang dewasa membutuhkan penghargaan orang lain sebagai manusia yang dapat mengarahkan diri sendiri. tetapi karena kebutuhan hidup dan untuk melaksanakan tugas peran sosialnya. Oleh karena itu. Kesiapan belajar mereka bukan semata-mata karena paksaan akademik. mungkin hanya . orang dewasa belajar sesuatu karena membutuhkan tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi peranannya apakah sebagai pekerja. namun setiap individu memiliki irama yang berbeda-beda dan juga dalam dimensi kehidupan yang berbeda-beda pula.total menuju ke arah pengarahan diri sendiri. orang tua. Karena itu. sedang pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. dan pada waktu yang sama memberikan dia dasar yang luas untuk belajar sesuatu yang baru. Asumsi ketiga. Pada umumnya orang dewasa secara psikologis lebih memerlukan penga. maka kesiapan untuk belajar kurang ditentukan oleh paksaan akademik dan perkembangan biologisnya. bahwa anak-anak sudah dikondisikan untuk memiliki orientasi belajar yang berpusat pada mata pelajaran (subject centered orientation) karena belajar bagi anak seolaholah merupakan keharusan yang dipaksakan dari luar. Fungsi Pengalaman peserta didik Di sini pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik tidak besar nilainya. Kosep tentang diri peserta didik Peserta didik digambarkan sebagai seseorang yang bersifat tergantung. dalam teknologi andragogi terjadi penurunan penggunaan teknik transmital seperti yang dipakai dalam pendidikan tradisional dan lebih-lebih mengembangkan teknik pengalaman (experimental-technique). Apabila dia menghadapi situasi dimana dia tidak memungkinkan dirinya menjadi self directing maka akan timbul reaksi tidak senang atau menolak. kapan. dan lain-lain. Selajan dengan itu. Atau secara singkat dapat dikatakan pada anakanak konsep dirinya masih tergantung. Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi masalah hidupnya. sebagaimana individu tumbuh matang akan mengumpulkan sejumlah besar pengalaman dimana hal ini menyebabkan dirinya menjadi sumber belajar yang kaya. walaupun dalam keadaan tertentu mereka bersifat tergantung.

Berdasarkan hal tersebut di atas. dan langkah-langkah penyajian harus sama bagi semua orang. Mereka ingin mampu menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya hari ini untuk mencapai kehidupan yang lebih baik atau lebih efektif untuk hari esok. Dengan demikian orientasi belajar terpusat kepada kegiatannya. Di sini ada anggapan bahwa dalam perkembangannya seseorang membuat semacam alat penampungan (reservoair) pengalaman yang kemudian akan merupakan sumber belajar yang sangat bermanfaat bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain. Sumber: Tamat (1985: hal. pengajar. Kesiapan belajar Seseorang harus siap mempelajari apapun yang dikatakan oleh masyarakat. tugas baca. Oleh karenanya. belajar harus disusun ke arah pengelompokan pengembangan kemampuan. Oleh karena itu. latihan simulasi. Fungsi pendidik di sini adalah menciptakan kondisi. misalnya dari kuno ke modern atau dari yang mudah ke sulit. instruktur. Seseorang akan siap mempelajari sesuatu apabila ia merasakan perlunya melakukan hal tersebut. dan penyajian melalui alat pandang dengar. bilamana pembimbing (pelatih. dan hal ini menimbulkan tekanan yang cukup besar bagi mereka karena adanya perasaan takut gagal. anak-anak yang sebaya diaggap siap untuk mempelajari hal yang sama pula. para penulis. Dengan demikian program belajar harus disusun sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka yang sebenarnya dan urutan-urutan penyajian harus disesuaikan dengan kesiapan peserta didik. menyiapkan alat serta prosedur untuk membantu mereka menemukan apa yang perlu mereka ketahui. produsen alat-alat peraga atau alat-alat audio visual dan pengalaman para ahli lainnya. pemecahan masalah. percobaan-percobaan di laboratorium. namun mengupayakan agar individu orang dewasa itu mampu menemukan alternatif-alternatif untuk mengembangkan . dan mereka memahami bahwa ilmu-ilmu tersebut baru akan bermanfaat di kemudian hari. oleh karena itu teknik penyampaian yang utama adalah eksperimen. karena dengan mempelajari sesuatu itu ia dapat memecahkan masalahnya atau dapat menyelesaikan tugasnya sehari-hari dengan baik. diskusi. Dengan demikian.berguna untuk titik awal. orientasi belajar ke arah mata pelajaran. teknik utama dalam pendidikan adalah teknik penyampaian yang berupa: ceramah. Peserta didik menyadari bahwa pendidikan merupakan suatu proses peningkatan pengembangan kemampuan diri untuk mengembangkan potensi yang maksimal dalam hidupnya. mengurangi banyak bicara. 20-22) 2. Lagi pula seseorang akan menangkap arti dengan lebih baik tentang apa yang dialami daripada apabila mereka memperoleh secara pasif. Artinya jadwal disusun berdasarkan keterselesaian nya mata-mata pelajaran yang telah ditetapkan. Orientasi belajar Peserta didik menyadari bahwa pendidikan adalah suatu proses penyampaian ilmu pengetahuan. cara menyusun pelajaran berdasarkan kemampuan-kemampuan apa atau penampilan yang bagaimana yang diharap kan ada pada peserta didik. Kondisi Pembelajaran Orang Dewasa Pembelajaran yang diberikan kepada orang dewasa dapat efektif (lebih cepat dan melekat pada ingatannya).4. penatar. oleh karena itu kegiatan belajar harus diorganisasikan dalam suatu kurikulum yang baku. dan sejenisnya) tidak terlalu mendominasi kelompok kelas. kurikulum harus disusun sesuai dengan unit-unit mata pelajaran dan mengikuti urutan-urutan logis ilmu tersebut . Sedangkan penglaman yang sangat besar manfaatnya adalah pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari gurunya. Dengan kata lain. dan praktek lapangan.

terutama apabila mereka dilibatkan memberi sumbangan pikiran dan gagasan yang membuat mereka merasa berharga dan memiliki harga diri di depan sesama temannya. orang dewasa akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadinya dihormati. Artinya. Namun demikian. diperlukan keterampilan dan kiat khusus yang dapat digunakan dalam pembelajaran tersebut. kemudian menilai dan menjawab pertanyaan yang diajukan mereka. perasaan. Dengan terciptanya suasana yang baik. namun kesalahan. maka terlepas dari benar atau salahnya. di mana renungan itu dapat mengevaluasi dirinya dari orang lain yang persepsinya bisa saja memiliki perbedaan. dan perasaan yang terkendali harus diakui sebagai hak pribadi yang khas sehingga keputusan yang diambil tidak harus selalu sama dengan pribadi orang lain. mereka boleh berbeda pendapat dan boleh berbuat salah tanpa dirinya terancam oleh sesuatu sanksi (dipermalukan. Orang dewasa mestinya memiliki perasaan bahwa dalam suasana/ situasi belajar yang bagaimanapun. hanya akan mematikan gairah belajar orang dewasa. Pada akhirnya. Bagi orang dewasa. Jalan terbaik hanyalah diciptakannya suasana keterbukaan dalam segala hal. atau dipermalukan. cemoohan. Tanpa kepercayaandiri tersebut. Oleh karena sifat belajar bagi orang dewasa adalah bersifat subjektif dan unik. sistem nilainya perlu dihargai. akan berdampak baik bagi kesehatan psikologis. Orang dewasa pada hakekatnya adalah makhluk yang kreatif bilamana seseorang mampu menggerakkan/menggali potensi yang ada dalam diri mereka.kepribadian mereka. teori. dan pada akhirnya mereka harus mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri. Di samping itu. Orang dewasa memiliki sistem nilai yang berbeda. pikiran. harus dihindari segala bentuk akibat yang membuat orang dewasa mendapat ejekan. hinaan. kepercayaan diri. daripada pembimbing melulu menjejalkan teori dan gagasannya sendiri kepada mereka. dan psikis mereka. maka suasana belajar yang kondusif tak akan pernah terwujud. Faktor tingkat kecerdasan. Di samping itu. Seorang pembimbing yang baik harus berupaya untuk banyak mendengarkan dan menerima gagasan seseorang. dapat berlaku dengan sikap baru dan mau mencoba pengetahuan baru yang mereka peroleh. mereka akan dapat mengemukakan isi hati dan isi pikirannya tanpa rasa takut dan cemas. . dan akan lebih senang kalau ia boleh sumbang saran pemikiran dan mengemukakan ide pikirannya. Oleh sebab itu. tidak dapat dinafikkan bahwa orang dewasa belajar secara khas dan unik. orang dewasa dapat dibelajarkan lebih aktif apabila mereka merasa ikut dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran. segala pendapat. atau di tempat pelatihan. Bagi orang dewasa ada kecenderungan ingin mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Dalam hal lainnya. dan pengalaman masa lampau masing-masing individu dapat memberi warna yang berbeda pada setiap keputusan yang diambil. pemecatan. berani tampil beda. orang dewasa ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok belajar itu. dan kekeliruan itu sendiri merupakan bagian yang wajar dari belajar. sebab akan sangat membosankan kalau saja suasana yang seakan hanya mengakui satu kebenaran tanpa adanya kritik yang memperlihatkan perbedaan tersebut. Sifat keterbukaan untuk mengungkapkan diri. walaupun mereka saling berbeda pendapat. Dengan demikian. Dalam upaya ini. Tidak menghargai (meremehkan dan menyampingkan) harga diri mereka. Kebersamaan dalam kelompok tidak selalu harus sama dalam pribadi. dll). Walaupun sesuatu yang baru mengandung resiko terjadinya kesalahan. pembelajaran orang dewasa perlu pula mendapatkan kepercayaan dari pembimbingnya. terciptanya suasana belajar yang kondusif merupakan suatu fasilitas yang mendorong mereka mau mencoba perilaku baru. mempunyai pendapat dan pendirian yang berbeda. diperlukan adanya evaluasi bersama oleh seluruh anggota kelompok dirasakannya berharga untuk bahan renungan. Keterbukaan seorang pembimbing sangat membantu bagi kemajuan orang dewasa dalam mengembangkan potensi pribadinya di dalam kelas. dan terbuka untuk mendengarkan gagasan. sehingga berbagai alternatif kebebasan mengemukakan ide/gagasan dapat diciptakan. gagasan. latar belakang pendidikan. latar belakang kebudayaan.

Namun. g. Dengan bertambahnya usia. Makin sukar pula membedakan bunyi konsonan seperti t. Pada usia dua puluh tahun seseorang dapat melihat jelas suatu benda pada jarak 10 cm dari matanya. 4. kemampuan berkonsentrasi. Pembedaan bunyi atau kemampuan untuk membedakan bunyi makin mengurang dengan bertambahnya usia. Menurut Lunandi (1987). Misalnya daya ingat.2. setiap individu orang dewasa. 3. 5. Proses pembelajaran orang dewasa berkewajiban memotivasi/mendorong untuk mencari pengetahuan yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh menguningnya kornea atau lensa mata. Setiap individu orang dewasa dapat belajar secara efektif bila setiap individu mampu menemukan makna pribadi bagi dirinya dan memandang makna yang baik itu berhubungan dengan keperluan pribadinya. 6. ada korelasi negatif antara pertambahan usia dengan kemampuan belajar orang dewasa. c. dan lain-lain semuanya memperlihatkan penurunannya sesuai pertambahan usianya pula. dan pada usia 70 tahun seterang 300 Watt baru cukup untuk dapat melihat dengan jelas. maka perlu diperhatikan hal-hal tersebut di bawah ini: 1. 2. makin besar pula jumlah penerangan yang diperlukan dalam suatu situasi belajar. Makin bertambah usia. Kemajuan yang seimbang dengan perkembangan zaman harus dicari melalui pendidikan. Kedua faktor ini perlu diperhatikan dalam pengadaan dan pengunaan bahan dan alat pendidikan. Untuk jelasnya perlu digunakan warna-warna cerah yang kontras utuk alat-alat peraga. Sampai 51 persen dari orang yang berusia 70 tahun ditemukan mengalami kurang pendengaran. kemampuan menalar. Pria cenderung lebih cepat mundur dalam hal ini daripada wanita. dan bunyi sampingan dan suara di latar belakangnya bagai menyatu dengan bicara orang. makin bertambah usianya. Dengan bertambahnya usia. Pengaruh Penurunan Faktor Fisik Orang Dewasa dalam Belajar Proses belajar manusia berlangsung hingga ahkir hayat (long life education).5. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang dewasa dalam situasi belajar mempunyai sikap tertentu. persepsi kontras warna cenderung ke arah merah daripada spektrum. yakni makin pendek. Kalau seseorang pada usia 20 tahun memerlukan 100 Watt cahaya. Menurut Verner dan Davidson dalam Lunandi (1987) ada enam faktor yang secara psikologis dapat menghambat keikutsertaan orang dewasa dalam suatu program pendidikan: 1. Pada umumnya seseorang mengalami kemunduran dalam kemampuannya membedakan nada secara tajam pada tiap dasawarsa dalam hidupnya. kemajuan pesat dan perkembangan berarti tidak diperoleh dengan menantikan pengalaman melintasi hidup saja. . Terciptanya proses belajar adalah suatu prose pengalaman yang ingin diwujudkan oleh setiap individu orang dewasa. b. bicara orang lain yang terlalu cepat makin sukar ditangkapnya. Artinya. maka pada usia 40 tahun diperlukan 145 Watt. dan d. Makin bertambah usia. Sekitar usia empat puluh tahun titik dekat penglihatan itu sudah menjauh sampai 23 cm. Dengan demikian. kekuatan fisik. akan semakin sukar baginya belajar (karena semua aspek kemampuan fisiknya semakin menurun). Hanya 11 persen dari orang berusia 20 tahun yang mengalami kurang pendengaran. Pendengaran atau kemampuan menerima suara mengurang dengan bertambahnya usia. sehingga cahaya yang masuk agak terasing. Akibatnya ialah kurang dapat dibedakannya warnawarna-warna lembut. titik dekat penglihatan atau titik terdekat yang dapat dilihat secara jelas mulai bergerak makin jauh. titik jauh penglihatan atau titik terjauh yang dapat dilihat secara jelas mulai berkurang. 2.

Selanjutnya mengembangkan suatu rencana untuk menyampaikan unit-unit isi ini dalam suatu bentuk urutan. diharapkan hal itu dapat memperbaiki dan menyempurnakan caranya sendiri dalam belajar. Menurut Edgar Dale dalam Arif (1994) bahwa dalam dunia pendidikan. kalau perubahan itu tidak mampu menghargai budaya bangsa yang luhur yang harus dipelihara. dan (g) mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosa kembali kebutuhankebutuhan belajar. sebagai upaya koreksi yang lebih efektif. Pemaksimalan hasil belajar dapat dicapai apabila setiap individu dapat memperluas jangkauan pola berpikirnya. umumnya pendidik menentukan secara jauh mengenai materi pengetahuan dan keterampilan yang akan disajikan. Belajar adalah suatu transformasi ilmu pengetahuan dan juga merupakan proses pengembangan intelektualitas seseorang. Artinya penerimaan ilmu tidak dapat dipaksakan sekaligus begitu saja. 6. sehingga pengalaman yang baik perlu digali dan ditumbuhkembangkan ke arah yang lebih bermanfaat. hal ini dikarenakan belajar hanya diorientasikan terhadap perubahan tingkah laku. Dalam kegiatan pendidikan. (f) melakukan pengalaman belajar ini dengan teknik-teknik dan materi yang memadai. film. pekerjaan laboratorium. misalnya ceramah. Dalam andragogi. Proses pembelajaran orang dewasa merupakan hal yang unik dan khusus serta bersifat individual. Dengan adanya pelung untuk mengamati kiat dan strategi individu lain dalam belajar. kemudian memilih alat yang paling efisien untuk menyampai unitunit dari materi tersebut. yang membutuhkan bahan dan sarana belajar. belajar dapat diartikan sebagai suatu proses evolusi. (c) diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar. Setiap individu orang dewasa memiliki kiat dan strategi sendiri untuk memperlajari dan menemukan pemecahan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran tersebut. Di satu sisi. (d) merumuskan tujuantujuan program yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar. sedang perubahan perilaku saja tidak cukup. pendidik atau fasilitator mempersiapkan secara jauh satu perangkat prosedur untuk melibatkan siswa dalam suatu proses yang melibatkan elemen-elemen sebagai berikut: (a) menciptakan iklim yang mendukung belajar. tetapi dapat dilakukan secara bertahap melalui suatu urutan proses tertentu. Mereka mengatur isi (materi) ke dalam unit-unit. mendengar kaset dan lain-lain. Kadangkala proses pembelajaran orang dewasa kurang kondusif. 4. (e) merencanakan pola pengalaman belajar. . bahan belajar yang dibuat sendiri oleh fasilitator. (b) menciptakan mekanisme untuk perencanaan bersama. dan alat pandang dengar. penggunaan bahan/sarana belajar seringkali menggunakan prinsip Kerucut Pengalaman seperti Gambar 2. membaca. Faktor pengalaman masa lampau sangat berpengaruh pada setiap tindakan yang akan dilakukan. 5.3. seperti buku teks. di samping metode berpikir tradisionil yang sukar diubah.

pembimbing secara kurang wajar menetapkan pemanfaatan metode hanya karena faktor pertimbangannya sendiri yakni menggunakan metode yang dianggapnya paling mudah. Untuk memberhasilkan pembelajaran semacam ini. Selajan dengan itu. menurut Lunandi (1987).6. dirinci menjadi seperti terlihat dalam Gambar 3. banyak metode yang diterapkan. Metode Pendidikan Orang Dewasa Dalam pembelajaran orang dewasa. Gambar 3 Kontinum Proses Belajar Sumber : Lunandi (1987 : hal 26) Penetapan pemilihan metode seharusnya guru mempertimbangkan aspek tujuan yang ingin . apapun metode yang diterapkan seharusnya mempertimbangkan faktor sarana dan prasarana yang tersedia untuk mencapai tujuan akhir pembelajaran.Gambar 2 Kerucut Pengalaman Edgar Dale Sumber : Arif (1994: hal 79) 2. yakni agar peserta dapat memiliki suatu pengalaman belajar yang bermutu. Merupakan suatu kekeliruan besar bilamana dalam hal ini. proses belajar tersebut. atau hanya disebabkan karena keinginannya dikagumi oleh peserta di kelas itu ataupun mungkin ada kecenderungannya hanya menguasai satu metode tertentu saja.

apa yang menjadi kebutuhannya. menjelaskan sasaran pelajaran. yakni penataan (atau penataan kembali) pengalaman belajar di ujung yang satu. Membantu pelajar untuk mengatasi ketidakmampuannya menggumuli bahan baru. mempraktekkan bahan baru.dicapai. yang dalam hal ini mengacu pada garis besar program pengajaran yang dibagi dalam dua jenis: 1. atau memper lihatkan tingkah laku baru Peran yang belajar lebih banyak mengungkapkan data mengenai pengalaman dan pendapat nya. memancing ungkapan pengalaman. wawancara. untuk mendorong masing-masing individu orang dewasa dapat meraih semaksimal mungkin ilmu pengetahuan yang diinginkannya. rasa kebutuhan pelajar untuk menemukan pendekatan baru dalam mengatasi masalah lama. 2. tetapi dapat dipecahkannya setelah menda pat bahan baru. misalnya belajar menggunakan program komputer yang dibutuhkan di tempat ia bekerja. mengutamakan makna penilaian pengalaman masa lampau untuk dapat mengatasi masalah serupa di kemudian hari Mengutamakan masalah yang kini tak dapat dipecahkan oleh pelajar. Rancangan proses untuk mendorong orang dewasa mampu menata dan mengisi pengalaman baru dengan mempedomani masa lampau yang pernah dialami. keterampilan baru. melalui tanya jawab. misalnya dengan latihan keterampilan. melihat penerapan bahan baru pada situasi nyata Sukses bergantung diri suasana bebas dari ancaman. . konsultasi. keterampilan yang diperlukannya. Untuk menguraikan lebih lanjut apa yang dimaksud di atas. dan perluasan pengalaman belajar di ujung yang lain. menganalisa pengalamannya. Penataan Pengalaman Mengajar Persiapan dan orientasi harus: Membuat pelajar enak mengungkapkan sukses dan kegagalannya di masa lalu. memberi makna pada pengalaman belajar. menggali alternatif dan manfaat Mengolah data dan konsep baru. secara singkat diperinci bagaimana hubungannya dengan kedua ujung pada kontinum proses belajar. seperti dapat dilihat dalam penjelasan tentang Penataan Pengalaman Belajar A s p e k berikut. memberi umpan balik. membantu membuat genera lisasi mengenal masalah pelajar. Suasana dan kecepatan belajar: merenungkan banyak tanpa tergesa-gesa dipengaruhi sangat oleh reaksi dan kemampuan pelajar menarik dan mengasikkan ditentukan sangat oleh sifat dan isi pelajaran Peran yang mengajar lebih banyak: menciptakan suasana. sehingga mampu memberi wawasan baru pada masing-masing individu untuk dapat memanfaatkan apa yang sudah diketahuinya. Proses pembelajaran yang dirancang untuk tujuan meningkatkan transfer pengetahuan baru. pengalaman baru. memberikan data dan konsep baru. dan lain-lain. latihan kepekaan.

penghargaan pelajar terhadap pengajar. Implikasi Terhadap Pembelajaran Orang Dewasa Usaha-usaha ke arah penerapan teori andragogi dalam kegiatan pendidikan orang dewasa telah dicobakan oleh beberapa ahli. 1987). Gambar 4 Piramida Belajar Orang Dewasa Sumber : Lunandi (1987 : hal 29) Dari gambar di atas tampak bahwa pada ceramah peserta hanya mendengarkan. Komposisi kemampuan tersebut dapat dilukiskan ke dalam piramida belajar (pyramida of learning) seperti terlihat dalam Gambar 4. akumulasi pengalaman. Sumber : Lunandi (1987: hal 27-28) Gambaran di atas menunjukkan adanya beberapa program pendidikan orang dewasa. (b) 1½ % melalui indera peraba. (c) 3½% melalui indera penciuman. Untuk metode diskusi bicara dan mendengarkan adalah seimbang. Kemampuan orang dewasa belajar dapat diperkirakan sebagai berikut: (a) 1% melalui indera perasa. dan makin efektif lagi kalau dapat juga mengerjakan. (d) 11% melalui indera pendengar. kesiapan belajar. Secara ideal struktur semacam ini seharusnya melibatkan semua pihak yang akan terkenai kegiatan pendidikan yang .Kejelasan penyajian baru. melihat dan berbicara. orang dewasa belajar lebih efektif apabila ia dapat mendengarkan dan berbicara. Lebih baik lagi kalau di samping itu ia dapat melihat pula. Dalam pendidikan dengan cara demonstrasi. Menciptakan suatu struktur untuk perencanaan bersama. dan (e) 83% melalui indera penglihat (Lunandi.7. relevansi bahan baru penilaian pelajar. 2. yang dalam pelaksanaan programnya membutuhkan kombinasi berbagai metode yang cocok sesuai situasi dan kondisi yang diperlukan sehingga dicapai hasil yang memuaskan. dan orientasi belajar. berbicara. melihat dan mengerjakan sekaligus. peserta sekaligus mendengar. Fungsi bicara hanya sedikit terjadi pada waktu tanya jawab. Sejalan dengan itu. Pada saat latihan praktis peserta dapat mendengar. berdasarkan empat asumsi dasar orang dewasa seperti telah dijelaskan di atas yaitu: konsep diri. sehingga dapat diperkirakan akan menjadi paling efektif. Asumsi dasar tersebut dijabarkan dalam proses perencanaan kegiatan pendidikan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1.

dan merencanakan serta melakukan apa saja yang perlu dilakukan untuk mewujudkan keputusan itu.1. mengerti . 3. Menciptakan iklim belajar yang mendukung untuk orang dewasa belajar. Dengan singkat menolong orang lain untuk berkembang dan matang. guru atau fasilitator. maka kegiatan belajar harus melibatkan individu atau client dalam proses pemikiran apa yang mereka inginkan. 3. Namun. dan mengevaluasi hasil belajar serta mengimplementasikannya secara bersama-sama. wakil-wakil lembaga dan masyarakat. keterlibatan orang dewasa dalam proses belajar jauh lebih besar. Diagnosa sendiri kebutuhan belajarnya. 3. Seperti halnya dalam diagnosa kebutuhan. Saran Pengembangan teknologi andragogi hanya dapat dilakukan apabila diyakini bahwa orang dewasa sebagai pribadi yang matang sudah dapat mengarahkan diri mereka sendiri. sebab sejak awal harus diadakan suatu diagnosa kebutuhan. keberhasilannya akan lebih benyak tergantung pada setiap pelaksanaan dan tentunya juga tergantung kondisi yang dihadapi. 6. yaitu termasuk para peserta kegiatan belajar atau siswa. bukan berbaris-berbaris ke belakang. Aplikasi yang diutarakan di atas sebenarnya lebih bersifat prinsip-prinsip atau rambu-rambu sebagai kendali tindakan membelajarkan orang dewasa. direncanakan. merumuskan tujuan. Ini merupakan aspek seni dari perencanaan program. dan hasilnya adalah kebutuhan bersama. Formulasi tujuan. Dalam andragogi. Agar secara operasional dapat dikerjakan maka perumusan tujuan itu hendaknya dikerjakan bersama-sama dalam deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut diatas. Diagnosa kebutuhan harus melibatkan semua pihak. Guru lebih bersifat membantu bukan menghakimi. Simpulan Pendidikan atau belajar adalah sebagai proses menjadi dirinya sendiri (process of becoming) bukan proses untuk dibentuk (process of beings haped) menurut kehendak orang lain. Simpulan dan Saran 3. Dapat dikatakan disini tugas pendidik pada umumnya adalah menolong orang belajar bagaimana memikirkan diri mereka sendiri. 4. misalnya mengatur kursi atau meja secara melingkar. Suatu iklim belajar orang dewasa dapat dikembangkan dengan pengaturan lingkungan phisik yang memberikan kenyamanan dan interaksi yang mudah. Jadi.2.2. 5. implikasi pengembangan teknologi atau pendekatan andragogi dapat dikaitkan terhadap penyusunan kurikulum atau cara mengajar terhadap mahasiswa. menentukan tindakan apa yang harus dilakukan. Mengembangkan model umum. karena keterikatan pada sistem lembaga yang biasanya berlangsung. mengatur urusan kehidupan mereka sendiri dan mempertimbangkan pandangan dan interest orang lain. Perencanaan evaluasi. dalam evaluasi harus sejalan dengan prinsip-prinsip orang dewasa. yaitu sebagai pribadi dan dapat mengarahkan diri sendiri. dimana harus disusun secara harmonis kegiatan belajar dengan membuat kelompokkelompok belajar baik kelompok besar maupun kelompok kecil. Maka evaluasi lebih bersifat evaluasi sendiri atau evaluasi bersama. Oleh karena itu. maka penyusunan program atau kurikulum dengan menggunakan andragogi akan banyak lebih dikembangkan dengan menggunakan pendekatan andragogi ini. Adalah sangat penting menciptakan iklim kerjasama yang menghargai antara guru dan siswa. mencari apa yang dapat dilakukan untuk memenuhi keinginan itu.

Tisnowati. Tinjauan Politik Mengenai Sistem Pendidikan Nsional: Beberapa Kritik Dan Sugesti. (1970).. New York : Basic Books. andragogy versuspedagogi". (1987). (1966). A. dapat mengambil keputusan untuk sesuatu yang menyangkut dirinya. J. Bandung: Remaja Rosda Karya. Piaget. Dengan kata lain andragogi tidak akan mungkin berkembang apabila meninggalkan ideal dasar orang dewasa sebagai pribadi yang mengarahkan diri sendiri. Pendidikan orang dewasa. Zainuddin. Tamat. H. Andragogi. Bagi pengambil kebijakan dalam hal pembelajaran orang dewasa diharapkan mampu memberikan pertimbangan holistik ke arah pengembangan keterampilan dan peningkatan sumber daya orang dewasa yang berkualitas. Semiawan..of being". Texas : Gulf Publishing Company Houston. "Toward a psycology Please do not use illegal software. (1997). & Setiawan. Maslow. Bandung: Mandar Maju. Basar. (1999). Pendidikan Orang Dewasa. Arif. Dari Pedagogik ke Andragogik. Jakarta: Pradnya Paramtra Knowles. Enuh. I. (1992 ). "The growth of logical thinking from childood fo adolescence. G. New Jersey : Van Nostrand. & Atmaja. ---------------------(1979). Putrawan..diri sendiri. TH. Jakarta: Gramedia. Jakarta: Pustaka Dian . "The adult learners : A neglected species". Suyatna. Conny. (1984). Kartini.. (1986). Kartono. R. Kartono. Tanpa ada keyakinan semacam itu kiranya tidak akan tumbuh pendekatan andragogi. (1959). Pengantar Ilmu Mendidik Teoritis: Apakah Pendidikan Masih Diperlukan?. "The modern practicsof adult education. Made. A. Jakarta: Karunika. Pustaka Acuan Ahmuddiputra. (1994). Kartini. New York : Association Press. Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu. Lunandi. Bandung: Angkasa. Malcolm S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful