MODEL PEMBELAJARAN PENCAPAIAN KONSEP PADA POKOK BAHASAN FUNGSI

MODEL PEMBELAJARAN PENCAPAIAN KONSEP PADA POKOK BAHASAN FUNGSI

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat ilahirobbi yang maha dahsyat, berkat inayah-nyalah makalahnya “Model pembelajaran pencapaian konsep pada pokok Bahasa fungsi ini dapat terselesaikan. Sahalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Ambiya’ Wal Mursalain. Semoga kita semua termasuk kedalam golongan umatnya sehingga memperoleh bagian dari syafaatnya di hari pembalasan nanti Amien. Penulisan makalah ini merupakan tugas mata kuliah model-model pembelajaran Matematika pada FKIP jurusan Matematika di Universitas Madura Pamekasan, yang penyelesaiannya banyak memproleh dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karenan itu penulis sampaikan terima kasih kepada : 1. Allah SWT 2. Kedua orang tua 3. Dosen model-model pembagian Matematika Ibu Eva Yusnita, S.Pd. 4. Orang-orang yang mencintai dan menyayangi kami 5. Teman-teman kelompok III, dan 6. Teman-teman kelas. Mudah-mudahan segala bantuan dan kerjasamanya senantiasa dibalas oleh Allah SWT. Demikian semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi para pembaca dan segala tegur sapa yang membangun demi kesempurnaan makalah ini silahkan disampaikan dan penulis haturkan terima kasih atas kepedulian pembaca.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru sebagai salah satu komponen pendidikan dan merupakan suatu bidang profesi, mempunyai peranan yang sangat vital didalam proses belajar mengajar untuk membawa anak didiknya kepada kedewasaan dalam arti yang sangat luas. Bahkan boleh dikatakan bahwa keberhasilan suatu proses belajar mengajar ini 60% terletak ditangan guru.

Oleh karena itu proses belajar mengajar yang dibabaki oleh guru tidak akan pernah tenggelam atau digantikan oleh alat atau lainnya. sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan dan diperoleh saat ini dengan mudah dapat segera diwujudkan termasuk didalam dunia pendidikan produk teknologi telah menjadi guru kedua bagi anak. D. Unutk mengumpulkan. pendidikan yang hanya menggunakan metode-metode lama yang mana guru hanya menerangkan dan memberi tugas kepada siswa. Selain dari pada itu. Oleh karena itu perlu adanya model-model pembelajaran yang dijadikan pedoman untuk guru agar proses belajar mengajar lebih menarik yang nantinya mampu membentuk anak didiknya karena kedewasaan seperti yang diharapkan. Sebutkan contoh penggunaan fase model pencapaian konsep pada materi “fungsi” ? C. Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran model pencapaian konsep ? 2. yang membuat siswa bosan. B. Rumusan Masalah / Pertanyaan Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas maka secara garis besar masalah yang akan penulis angkat didalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. mengolah dan menganalisis tentang model pembelajaran pencapaian konsep. yang kemudian penulis jadikan judul dari makalah ini : yaitu : Pembelajaran model pencapaian konsep pada mata pelajaran fungsi. Sebutkan tujuan-tujuan penggunaan model pencapaian konsep ? 3. maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. Dizaman modern yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi telah merambah seluruh sektor kehidupan. Batasan Istilah Demi kelancaran pembahasan pada makalah ini dan agar topik lebih mengena pada hal utama yang akan dibahas. yang akhirnya tidak ada kemajuan didalam dunia pendidikan. akhirnya proses belajar-mengajar menjadi tidak menarik dan membosankan. Dan batasan istilah dari Model Pembelajaran Pencapaian Konsep pada pokok bahasan fungsi yaitu : . Produk iptek telah menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih praktis dan lebih mudah. 2. Bagaimana merencanakan pelajaran menggunakan model pencapaian konsep? 4. Tujuan Penulisan Sesuai dengan rumusan masalah yang telah penulis paparkan dimuka. Fase-fase apa saja yang digunakan dalam pembelajaran model pencapaian konsep ? 5. Untuk memakai penggunaan fase-fase dalam contoh. 3. maka penulis memberikan semacam batasan-batasan agar tidak melenceng dari yang dibahas. Untuk mengetahui dan mengenal fase-fase apa saja yang digunakan dalam model pencapaian konsep. 4. Berdasarkan uraian tersebut diata. Untuk mengetahui tujuan-tujuan penggunaan pembelajaran model pencapaian konsep. maka penulis berlatih untuk mengangkat masalah model pembelajaran pencapaian konsep pada mata pelajaran fungsi.

4. 2. dimulai dari contoh lalu membahas definisinya. Dengan cara mengajarkan objek Matematika yang termasuk konsep dan yang bukan konsep. dan Austin. Goodnow. 1990: 1972) yang berpijak pada karya Bruner. 6. Ada dua peran pokok guru dalam pembelajaran model pencapaian konsep yang perlu diperhatikan. Pencapaian yaitu suatu prose. Fungsi yaitu suatu hubungan / relasi yang memasangkan setiap anggota himpunan I tepat satu ke anggota himpunan II. Pengertian Model Pencapaian Konsep Pembelajaran model pencapaian konsep adalah suatu strategi mengajar bersifat induktif didefinisikan untuk membantu siswa dari semua usia dalam memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep yang dipelajari dari melatih menguji hipotesis. 3. acuan. Pendekatan deduktif. Menjelaskan dan mengilustrasikan bagaimana model pencapaian konsep itu seharusnya berlangsung. contoh. membimbing siswa dalam proses itu. dimulai dari contoh lalu membahas definisinya dan kembali ke contoh. 4. Ada empat cara mengajarkan konsep yaitu : 1. membantu siswa . Pokok bahasan yaitu hal utama yang akan dikupas atau dibahas. 2. kesimpulannya yaitu suatu pola / awan dari seperangkat peristiwa yang dirancang untuk mencapai suatu proses dari suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk mengklasifikasi suatu objek utama yang akan dikupas atau dibahas dalam suatu hubungan / relasi yang memasangkan setiap anggota himpunan I tepat satu ke anggota himpunan II. 3. proses pembelajaran yang dimulai dari definisi dan diikuti dengan contoh-contohnya dan dengan yang bukan contoh-contohnya. Pembelajaran yaitu seperangkat peristiwa yang dirancang untuk memprakarsai. 5. Model pencapaian konsep bermanfaat untuk memberikan pengalaman metode sains kepada para siswa dan secara khusus menguji hipotesis. Este. Jadi.1. Menciptakan suatu lingkungan sedemikian hingga siswa merasa bebas untuk berpikir dan menduga tanpa rasa takut dari kritikan atau ejekan. Model yaitu pola. dan Schwab. Pendekatan induktif. BAB II PEMBAHASAN A. atau dimulai dari definisi lalu membahas contohnya lalu kembali membahas definisinya. Kombinasi deduktif dan induktif. menggiatkan dan mendukung kegiatan belajar siswa. adalah : 1. Model tersebut pertama kali diciptakan oleh Joyce dan Weil (dalam Gunter. 2. Konsep yaitu suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk mengklasifikasi suatu objek dan menerangkan apakah objek tersebut merupakan contoh atau bukan dari ide abstrak.

Tujuan Isi Tujuan isi model konsep menurut Eggen dan Kauchak (1998) bahwa. Dalam membimbing aktifitas itu tiga cara penting yang dapat dilakukan oleh guru. Tujuan-tujuan Penggunaan Model Pencapaian Konsep Penerapan pembelajaran model konsep mengandung dua tujuan utama yaitu : 1. B. 2. lebig efektif untuk memperkaya suatu konsep dari pada belajar pemula (initial learning). Menetapkan materi Seperti halnya dengan model-model pembelajaran yang lain. Aspek penting dalam perencanaan pelajaran adalah guru harus mengetahui persis apa yang diinginkan dari siswanya. Dan juga akan efektif dalam membantu siswa memahami hubungan-hubungan antara konsep-konsep yang terkait erat dan digunakan dalam bentuk review. dan sebagainya. • Pertama guru mendorong siswa untuk menyatakan pemikiran mereka dalam bentuk hipotesis. tujuan pembelajaran harus ditekankan pada dua aspek tersebut. Bukan siswa yang benar-benar baru mempelajari konsep tersebut. bukan dalam bentuk observasi. Oleh karena itu. • Kedua guru menuntun jalan pikiran siswa ketika mereka menetapkan apakah suatu hipotesis diterima atau tidak. atau ditolak. • Ketiga guru meminta siswa untuk menjelaskan mengapa (Why) mereka menerima atau menolak suatu hipotesis. 2. Model pencapaian konsep didesain khusus untuk mengajarkan konsep secara eksklusif.menyatakan dan menganalisis hipotesis. ketika akan menerapkan model pencapaian konsep guru harus menetapkan materi-materi yang akan diajarkan. Siswa harus dilatih dalam menciptakan jenis-jenis kesimpulan. Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam menerapkan model pencapaian konsep berkaitan dengan tujuan isi tersebut. Siswa yang diajari suatu konsep dengan menggunakan model pencapaian konsep harus memiliki latar belakang pengetahuan tentang konsep tersebut. dimodifikasi. Tujuan pengembangan berpikir keritis siswa Model pencapaian konsep lebih memfokuskan pada pengembangan berpikir keritis siswa dalam bentuk menguji hipotesis. Dengan kata lain. Merencanakan Pelajaran Model Pencapaian Konsep Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang pelajaran menggunakan model pencapaian konsep adalah sebagai berikut : 1. Jadi berfokus semata-mata pada pembelajaran konsep. Dalam pembelajaran harus ditekankan pada analisis siswa terhadap hipotesis yang ada dan mengapa hipotesis itu diterima. serta latihan berpikir keritis terutama salam merumuskan dan menguji hipotesis. yaitu pengembangan konsep dan relasi-relasi antara konsep yang terkait erat. penggunaan model ini akan lebih efektif jika siswa sudah memiliki pengalaman tentang konsep yang akan dipelajari itu. dan mengartikulasi pemikiran-pemikiran mereka. C. seperti membuat contoh penyangkal atau non-contoh. yaitu : 1. .

Fase Pembelajaran Model Pencapaian Konsep Pembelajaran model pencapaian konsep terdiri dari empat fase. contoh yang dipih juga harus dapat memprluas pemikiran siswa tentang konsep yang diajari iru sebagai contoh. dan (4) fase penerapan. rumus. Tabel 4. diupayakan merubah karakteristikesensial menjadi karakteristik non esensial pada konsep yang akan diajarkan dan menyajikan semua halhal yang bukan merupakan karakteristik esensial konsep itu.1 berikut ini dan deskripsi pada setiap fase. Dalam mengurutkan conth. tidak memberi kesempatan kepada siswa dalam melakukan analisis dan akibatnya tidak menghasilkan pemahaman yang sangat dalam terhadap konsep yang dikaji. Dalam memilih contoh negatif. 3. Artinya contoh yang dipilih harus ada dalam lingkungan dimana siswa beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari ataupun yang ada dalam jangkauan pemikirannya. bahwa tujuan penggunaan model pencapaian konsep mencakup membantu siswa mengembangkan konsep dan relasirelasi antara konsep itu dan memberikan latihan kepada mereka tentang proses berpikir keritis terutama dalam peumusan dan pengujian hipotesis. Disamping itu. atau prinsip). Memilih contoh dan non-contoh Faktor yang paling penting dalam memilih contoh adalah mengidentifikasi contoh-contoh yang paling baik mengilustrasikan konsep tersebut. Pentingnya tujuan pembelajaran yang jelas Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Menunjukkan secara cepat atau lengsung makna dari konsep yang diajarkan. contoh-contoh itu harus diurutkan sedemikian sehingga para siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir keritis mereka. 4. Mengurutkan contoh Setelah memilih contoh dan non-contoh. 2. guru juga menyiapkan contoh-contoh negatif atau noncontoh. D. Harus diingat bahwa model ini akan lebih efektif bila siswa yang akan diaja itu memiliki beberapa pengalaman tentang konsep yang akan diajarkan. yaitu (1) fase penyajian contoh. guru dapat melakukan dengan menyajikan dua atau lebih contoh positifm kemudian diikuti dua atau lebih contoh negatif (non-contoh). Hal yang lain juga perlu diperhatikan dalam memilih contoh adalah tidak memilih contoh yang terisolasi dari konteks. Konsep yang akan dijarkan itu sebaiknya bukan baru sama sekali bagi siswa. Jika pengembangan berpikir keritis menjadi tujuan penting bagi guru. tugas akhir dalam merencanakan pelajaran adalah bagaimana mengurutkan contoh dan non-contoh itu. Selain memilih contoh positif.1 fase pada Model Pencapaian Konsep Fase Deskripsi Penyajian contoh Contoh positif dan negatif di sajikan dan hipotesis dihasilkan Analisis hipotesis Siswa didorong untuk menganalisis hipotesis dipandang dari sudut . (3) fase penutup. (2) fase analisis hipotesis. Keempat fase tersebut secara singkat diperlihatkan pada tabel 4.Materi dalam hal ini bentuknya adalah konsep (bukan generalisasi.

menghilangkan data yang tidak valid dengan menggantikannya dengan contoh-contoh baru. Sebagai contoh perhatikan berikut ini. Fase 3 : Fase penutup Ketika siswa telah mampu memisahkan hipotesis yang didukung oleh semua contoh dengan hipotesis yang tidak didukung oleh contoh. Dalam pengenalan ini. berarti pelajaran sudah siap untuk ditutup. dan penawaran hipotesis tambahan diulangi hingga satu hipotesis diterima. terutama kepada siswa yang masih kurang pengalaman. guru dapat menggunakan materi-materi yang sederhana pada kesempatan yang pertama. Pada sesi ini guru meminta siswa untuk mengidentifikasi karakteristik esensial dari konsep dan menyatakan konsep itu dalam bentuk suatu definisi. hipotesis-hipotesis tersebut membantu arah perhatian siswa kepada atribut-atribut kritis dan memfokuskan dialog kelas berikutnya pada karakteristik ini. Fase 2 : Analisis hipotesis Setelah penyajian satu contoh atau lebih guru meminta siswa untuk membuat hipotesis yang memungkinkan kategori-kategori (nama-nama konsep) yang diilustrasikandengan contoh positif. 2. guru tersebut kemudian memberikan gambar kepada siswa untuk selanjutnya meminta kepada siswa untuk menyusun hipotesis berkenaan dengan gambar tersebut. . Setelah siswa memahami prosedur yang berlaku pada model ini. guru dapat memasuki materi yang sesungguhnya untuk dibahas dengan menggunakan model pencapaian konsep. Fase 1: Penyajian contoh Sebelum memasuki fase 1 ini terlebih dahulu guru memberi pengantar tentang prosedur yang digunakan pada model pencapaian konsep ini. Pemakaian noncontoh dirancang untuk menyajiakan adanya kemungkinankemungkinan hipotesis secara terbuka. Definisi itu akan memperkuat pemahaman siswa bila memasukkan didalamnya suatu identifikasi konsep superordinat dan karakteristik-karakteristik konsep itu. Pemakaian noncontoh jelas berbeda dengan hanya menggunakan contoh. Misalkan seoarang guru akan mengajarkan konsep bujur sangkar. Proses siklik dalam fase 1 dan 2 dapat diringkas dalam langkah-langkah sebagai berikut : • Guru menyajikan contoh positif dan negatif • Siswa menguji contoh-contoh dan menghasilkan hipotesis • Guru menyajikan tambahan contoh positif atau contoh negatif • Siswa menganalisis hipotesis dan menghilangkan hal-hal yang tidak di dukung oleh data (contoh-contoh) • Siswa menawarkan hipotesis tambahan jika data yang ada mendukung • Proses menganalisis hipotesis. Setelah aktifitas pengenalan selesai pembelajaran diawali dengan penyajian contoh atau noncontoh yang bertujuan untuk menyediakan data bagi siswa untuk mengawali proses penciptaan hipotesis. 3.contoh-contoh baru Penutup Penutup terjadi apabila siswa menganalisis contoh-contoh untuk menghasilkan karakteristik-karakteristik esensial untuk membentuk suatu definisi Penerapan Contoh tambahan di berikan dan dianalisis dalam istilah definisi yang terbentuk 1.

kalau jumlah anggota himpunan A ada 5. Fase ke 4 ini penting bagi guru dan siswa. Buuu ……. saya tidak tahu.” . kenapa anda tidak memilih gambar no (2) dan no.” manakah diantara gambar-gambar tersebut yang merupakan fungsi ?” Mayoritas siswa : “Gambar No. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu mereka memperluas dan mengeneralisasi contoh-contoh baru. “ Huuuuuuuuuu ………………. pada gambar (1) dan (4) merupakan arti dari fungsi Bu”.4.. (4) ?” Siswa I : “Karena.” Siswa-siswa : (Bersorak). atau mereka diminta untuk mengidentifikasi contoh-contoh tambahan dari konsep yang telah disiapkan oleh guru. “Ya karena gambar no (2) dan no. Guru : Sudah ………… sudah. Karena mempertahankan pendapat. fase ini memberikan kesempatan berharga untuk mendapatkan umpan balik mengenai bagaimana dan apakah siswa telah memahami konsep yang telah diajarkan. Guru : (Tersenyum kecut). 1. Fase ketiga / Fase penutup Dialog diambil dari lanjutan fase kedua Guru : “Ayo. Guru : “ Mmm ………. (3) ?” Siswa I : (Diam sesaat). Dialog antara guru dan siswa Guru : “Jadi. Bagi siswa. (4). Cara lain utuk memperluas pemahaman konsep yang dikaji adalah dengan meminta siswa memberikan klasifikasi contoh-contoh tambahan dari contoh dan non-contoh dan atau menghasilkan tambahan contoh-contoh unik dari mereka. fase ini memberi kesempatan kepada mereka menguji cobakan pengetahuan baru mereka pada contoh-contoh yang sudah dikenal oleh siswa. maka jumlah anggota himpunan B ada 9 atau ada 3 itu tidak masalah. (1) dan no. lalu fungsi itu sendiri apa ?” Siswa I : “Fungsi itu hubungan antara himpunan A dan himpunan B” Siswa II : “Kalau fungsi seperti itu.. ayo sekarang kamu siswa II apa itu fungsi ?” Siswa II : (Tersenyum) “Maaf Bu. (1) dan No.. Bagi guru. !” (serempak) Guru : “Bagus kenapa kalian memilih gambar no. ada yang tahu apa itu fungsi ?” Siswa III : “Fungsi itu anggota himpunan A dipasangkan tepat satu ke anggota himpunan B” Guru : “Ya ……… ada lagi” Siswa IV : “Fungsi itu antara jumlah anggota himpunan A dan jumlah anggota himpunan B tidak masalah banyaknya. Siswa I patut diacungi jempol. (3) sama dengan contoh negatif” (Ragu sambil menggigit jari).” Guru : “Maksudnya ?” (mengetes) Siswa IV : “Iya Bu. Fase 4 : Aplikasi atau penerapan Pada fase aplikasi siswa diminta untuk menyediakan contoh-contoh lain dari konsep yang dikaji.

Fase penerapan / aplikasi Guru Siswa Memberikan beberapa gambar yang terdiri dari contoh positif dan juga contoh negatif kepada siswa disertai alasan. . BAB III PENUTUP A. Guru : “Jadi. fase 2 (analisis hipotesis). Guru : “Sudah ? Tidak ada yang berpendapat lagi ! Semua siswa : “Sudah Buuu …………!” Guru : “Baik. 3.. fungsi adalah suatu hubungan atau relasi yang memasangkan setiap anggota himpunan I tepat satu ke anggota himpunan II.Guru : “Boleh ………… satu lagi !” Suasana hening sesaat. Terdapat dua himpunan 2. dan mengurutkan contoh. Menerima tugas tersebut dan mengerjakanya dengan sungguh-sungguh dan tidak lupa dengan alasan sebagaimana yang diperintahkan oleh gurunya. Hal ini bertujuan untuk lebih memantapkan pengertian fungsi pada siswa. memilih contoh dan non contoh. kemudian dikumpulkan dua hari lagi (misalnya). Fungsi memiliki aturan main yaitu : 1. . fase 3 (penutup). tapi anggota himpunan II tidak masalah tidak mendapat pasangan atau bahkan lebi dari I. 2. Angota himpunan I wajib memasangkan diri ke anggota himpunan II. fase 4 (penerapan). Ingat. Selain itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pelajaran menggunakan model pencapaian konsep yaitu : Menetapkan materi.memilah-milah mana yang contoh positif dan mana yang contoh negatif. Memberi semacam perintah atau tugas dengan cara “carilah contoh-contoh negatif dari buku-buku penunjang lainnya. Dalam pembelajaran model pencapaian konsep terdapat 4 fase yang harus terpenuhi yaitu : fase 1 (penyajian contoh). . Kesimpulan Pembelajaran model pencapaian konsep suatu strategi mengajar bersifat induktif didesain untuk membantu siswa dari semua usia dalam mengekuti pemahman mereka terhadap konsep yang dipelajari dan melatih menguji hipotesis. setiap anggota himpunan I tepat satu ke anggota himpunan II. perhatikan dan simak ibu baikbaik. Setiap anggota himpunan I memasangkan tepat satu anggota himpunan ke II. “Fungsi adalah suatu hubungan atau relasi tahu relasikan ?” Semua siswa : “Ya Buuuuu………. Dalam penerapan pembelajaran model pencapaian konsep mengandung dua tujuan utama yaitu : Tujuan isi dan tujuan pengemabangan berpikir kritis siswa. prntingnya tujuan pembelajaran yang jelas.Mencari bahan-bahan yang berkaitan.

DAFTAR PUSTAKA Kuncoro dan Seno. “Strategi Pembelajaran Kontemporer Suatu Pendekatan Model”. dan juga perilaku siswa sebagai hasil belajar. Saran-saran Dengan adanya penyusunan makalah ini kami berharap semoga para pembaca (khusunya siswa) akan semakin menyadari akan peran sertanya dalam rangka peningkatan prestasi belajar siswa. Surabaya : CV. B. 2005. Palu Sulawesi Tengah : Tadulaku Universitas Press. . 2004. Putra Nogroha. “Matematika 2 Pemahaman dan Penerapan Konsep Matematika”.Untuk memahami lebih jelas tentang pembelajaran model pencapaian konsep diterapkan pada materi “fungsi”. Usman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful