BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep dan Teori Kesehatan Urban Perkotaan
Perawatan kesehatan masyarakat adalah suatu upaya pelayanan keperawatan yang

merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh perawat dengan mengikutsertakan tim kesehatan lain dan masyarakat untuk memperoleh tingkat kesehatan yang lebih tinggi dari individu, keluarga dan masyarakat (Depkes RI, 1996). Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa unsure-unsur perawatan kesehatan masyarakat adalah (1) bagian integral dari pelayanan kesehatan, khususnya keperawatan; (2) merupakan bidang khusus dari keperawatan; (3) gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat, dan ilmu sosial; (4) sasaran pelayanan adalah individu, kelompok, masyarakat yang sehat maupun yang sakit; (5) ruang lingkup kegiatan adalah promotif, prefentif, kuratif, rehabilitatif, resosialitatif; (6) bertujuan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Keperawatan kesehatan masyarakat memiliki tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dari keperawatan ini adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal agar dapat menjalankan fungsi kehidupan sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. Sedangkan tujuan khusus dari

keperawatan kesehatan masyarakat adalah meningkatkan berbagai kemampuan individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat dalam hal mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi, menetapkan masalah kesehatan/keperawatan dan prioritas masalah, merusmuskan berbagai alternatif pemecahan masalah kesehatan/keperawatan,

menanggulangi masalah kesehatan/keperawatan yang mereka hadapi, meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan secara mandiri ( self care ), serta tertanganinya kelompok-kelompok resiko tinggi yang rawan terhadap masalah kesehatan . Keperawatan kesehatan masyarakat cakupannya sangat luas, tidak hanya menangani suatu permasalahan yang membutuhkan adanya penyembuhan dari suatu penyakit tetapi juga adanya upaya pencegahan. Oleh karena itu di ruang lingkup keperawatan masyarakat mencakup peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan kesehatan (preventif),

pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif),pemulihan kesehatan (rehabilitatif), dan mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga dan kelompokkelompok masyarakat kelingkungan sosial dan masyarakat (resosialitatif).
1

2.1.1 Sejarah Perkembangan dan Karakteristik Kota (Urban) Masyarakat perkotaan tentunya memiliki perbedaan dengan masyarakat yang lain. Mereka memiliki ciri dan karakter tersendiri yang membuat mereka memerlukan ruang lingkup area tersendiri dalam bidang keperawatan. Sebelum membahas panjang tentang keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan akan dijelaskan terlebih dahulu tentang definisi kota dan masyarakat perkotaan. Menurut Prof. Drs. R. Bintarto kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik. Sebelum kota menjadi tempat pemukiman yang tetap, pada mulanya kota sebagai suatu tempat orang pulang balik untuk berjumpa secara teratur, terdapat semacam daya tarik pada penghuni luar kota untuk kegiatan rohaniah dan perdagangan serta kegiatan lain, penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhannya lewat pasar setempat dan ciri kota ada pasarnya. Dalam suatu kota diisi oleh suatu golongan spesialis non agraris dan yang berpendidikan dan merupakan sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai oleh strata sosial ekonomi yang heterogen serta corak matrialistis. Sedangkan masyarakat perkotaan adalah masyarakat yang tinggal di kota yaitu di wilayah yang memiliki kegiatan utama bukan pertanian dan biasanya mereka tinggal di kota bertujuan untuk memperbaiki hidup mereka. Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Oleh karena itu urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Gejala urbanisasi di sebuah kota dapat dilihat dari jumlah penduduk yang terus berubah (bertambah) dan terjadi perubahan pada tatanan masyarakat. Keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan ini termasuk dalam lingkup keperawatan komunitas. Karena masyarakat perkotaan merupakan komunitas yang tinggal di daerah perkotaan dengan semua keadaan dan kondisi yang ada di lingkungan kota. Keperawatan masyarakat perkotaan memiliki 8 karakteristik dan merupakan hal yang penting dalam melakukan praktik (Allender, 2001) yaitu: a. Merupakan lahan keperawatan b. Merupakan kombinasi antara keperawatan publik dan keperawatan klinik c. Berfokus pada populasi d. Menekankan terhadap pencegahan akan penyakit serta adanya promosi kesehatan dan kesejahteraan diri e. Mempromosikan tanggung jawab klien dan self care f. Menggunakan pengesahan/pengukuran dan analisa g. Menggunakan prinsip teori organisasi h. Melibatkan kolaborasi interprofesional
2

Perawat kesehatan masyarakat memiliki peran dalam mengelola perawatan kesehatan dalam daerah tersebut serta menjadi pendidik kesehatan dalam masyarakat tersebut.

2.1.2 Teori Betty Neuman
Neuman mengemukakan model sistem (sistem model) dalam pendidikan dan praktik keperawatan. Neuman menggunakan pendekatana manusia utuh dengan memasukkn konsep holistik, pendekatan sistem terbuka, dan kosep “stressor”. Model ini menganalisis lima variabel penunjang komunitas yang meliputi fisik, psikologi, sosio kultural, perkembangan, dan spiritual. Adapun tujuan dari model sistem neuman ini adalah untuk mempertahankan stabilitas klien dan keluarga dalam lingkungan yang dinamis. Dalam teorinya, Neuman memiliki asumsi dan definisi tersendiri untuk keperawatan ataupun klien. Berikut ini merupakan asumsi-asumsi Neuman (Neuman, 1995 dalam Meleis 2007): 1. Perawat-klien bersifat dinamis. Keduanya memiliki karakteristik yang unik dan universal dan saling bertukar energi yang konstan dengan lingkungannya. 2. Hubungan antara variabel klien – fisiologi, psikologi, sosiokultural, perkembangan, dan spiritual – mempengaruhi mekanisme protektif klien dan menunjukkan respon kilen. 3. Klien menunjukkan batasan yang normal terhadap respon dengan lingkuangannya yang menunjukkan kesehatan dan stabilitas. 4. Stresor menyerang garis pertahanan yang fleksibel, kemudian garis pertahanan yang normal. 5. Tindakan perawat berfokus pada pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Secara garis besar, konsep model sistem Neuman meliputi stressor, lima variabel (fisik, psikologi, sosio kultural, perkembangan, dan spiritual), garis pertahanan dan perlawanan, stuktur dasar sebagai sumber energi, dan tingkat pencegahan. Stressor adalah kekuatan lingkungan yang menghasilkan ketegangan dan berpotensial untuk menyebabkan sistem tidak stabil. Neuman mengklasifikasi stressor menjadi tiga bagian yaitu intrapersonal, interpersonal, dan ekstrapersonal.

3

Garis pertahanan menurut Neuman terdiri dari garis pertahanan normal dan garis pertahanan fleksibel. mengurangi reaksi dan meningkatkan faktor-faktor resisten sehingga melindungi struktur dasar melalui tindakan-tindakan yang tepat sesuai gejala. pendidikan kesehatan. dan perubahan gaya hidup. Selain itu ada berbagai stressor yang dapat menginvasi garis pertahanan normal jika garis pertahanan fleksibelnya tidak dapat melindungi secara adekuat. Pencegahan sekunder meliputi berbagai tindakan yang dimulai setelah ada gejala dari stressor. Garis pertahanan normal ini merupakan bagian dari garis pertahanan fleksibel. struktur genetik . Garis pertahanan normal ini terbentuk dari beberapa variabel dan perilaku seperti pola koping individu. maka sistem klien akan bereaksi dengan menampakan adanya gejala ketidakstabilan atau sakit dan akan mengurangi kemampuan sistem untuk mengatasi stressor tambahan. Artinya garis resisten ini melindungi struktur dasar dan akan teraktivasi jika ada invasi dari stressor lingkungan melalui garis normal pertahanan (normal line of defense). Strateginya mencakup immunisasi. Pencegahan primer terjadi sebelum sistem bereaksi terhadap stressor yang meliputi promosi kesehatan dan mempertahankan kesehatan. kekuatan dan kelemahan organ. Intervensi dilakukan jika resiko atau masalah sudah diidentifikasi tapi sebelum reaksi terjadi. Jika pencegahan sekunder tidak berhasil dan rekonstitusi tidak terjadi maka struktur dasar tidak dapat mendukung sistem dan intervensi-intervensinya sehingga bisa menyebabkan kematian. Sedangkan garis perlawanan menurut Neuman merupakan serangkaian lingkaran putus-putus yang mengelilingi struktur dasar. Tingkat pencegahan ini membantu memelihara keseimbangan yang terdiri dari pencegahan primer. Pencegahan tersier dilakukan setelah sistem ditangani dengan strategi-strategi pencegahan sekunder. Pencegahan primer mengutamakan pada penguatan flexible lines of defense ( garis pertahanan fleksibel) dengan cara mencegah stress dan mengurangi faktor-faktor resiko. Garis pertahanan normal merupakan lingkaran utuh yang mencerminkan suatu keadaan stabil untuk individu. sistem atau kondisi yang menyertai pengaturan karena adanya stressor yang disebut wellness normal dan digunakan sebagai dasar untuk menentukan adanya deviasi dari keadaan wellness untuk sistem klien. konsep dari model sistem Neuman adalah adanya tingkatan pencegahan. gaya hidup dan tahap perkembangan. Pencegahan tersier difokuskan pada perbaikan kembali ke arah 4 . Struktur dasar dari Neuman meliputi range temperatur normal. pola respon. olah raga. Tujuannya adalah untuk memperoleh kestabilan sistem secara optimal dan memelihara energi. sekunder dan tersier. Selanjutnya. struktr ego dan pengetahuan atau kebiasaan. Jika itu terjadi. Pencegahan sekunder mengutamakan pada penguatan internal lines of resistance (garis perlawanan resisten).

Model ini berfungsi untuk membangun dukungan. 2009). dan rekreasi.3 Community as a Partner Komunitas sebagai mitra bermanfaat untuk meningkatkan kesempatan bermitra dalam promosi kesehatan (Flynn. Derajat reaksi merupakan jumlah ketidakseimbangan akibat stressor yang mengganggu garis pertahanan komunitas. nilai. 2. pengawasan. keamanan dan transportasi. dan koalisi sebagai suatu mekanisme peningkatan peran serta aktif masyarakat dalam perencanaan. pendidikan. Fokus dalam model adalah lingkaran pengkajian masyarakat pada puncak model yang menekankan anggota masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan kesehatan dan pelaksanaan proses keperawatan. keyakinan. Roda Pengkajian Komunitas rekreasi lingkungan ekonomi Masyarakat pendidikan komunikasi pelayanan kesehatan & sosial keamanan& transportasi politik& pemerintahan 5 . pelaksanaan. 2000).stabilitas sistem klien secara optimal. Perbedaan antara model komunitas sebagai mitra dengan model komunitas sebagai klien oleh Neuman (1972) adalah model komunitas sebagai mitra menekankan filosofi pelayanan kesehatan primer yang menjadi landasannya (Anderson. Pencegahan tersier cenderung untuk kembali pada pencegahan primer. Pengkajian Inti dari pengkajian adalah individu yang membentuk komunitas (Anderson. komunikasi.1. ekonomi. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat resistansi terhadap stressor untuk mencegah reaksi timbul kembali sehingga dapat mempertahankan energi. 2000). 1998 dalam Stone et al. dan sejarah dari penduduk setempat. Stressor ini dapat bersifat internal maupun eksternal yang menimbulkan gangguan di dalam komunitas. Stressor menjadi tekanan rangsangan yang menghasilkan ketegangan yang potensial menyebabkan ketidakseimbangan di dalam system komunitas. kolaborasi. 2002). Faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat antara lain subsistem lingkungan. a. politik dan pemerintahan. Pengkajian menurut teori ini meliputi demografi. Stressor dan derajat reaksi menjadi bagian dari diagnose keperawatan. dan evaluasi implementasi upaya kesehatan masyarakat (Efendi & Makhfudli. pelayanan kesehatan dan sosial.

masing-masing parameter adalah proses kerja perawat dengan komunitas sebagai mitra. Garis pertahanan fleksibel digambarkan dengan garis putus-putus yang mengelilingi komunitas dan garis pertahanan normal. Tujuannya diperoleh dari stressor dan juga dari penguatan garis pertahanan (Anderson. Contohnya adalah program rujukan.Garis tebal yang mengelilingi komunitas menunjukkan garis pertahanan normal atau tingkat kesehatan komunitas yang dicapai setiap saat. dan tersier. Pencegahan sekunder dilakukan ketika stressor memasuki komunitas sehingga dilakukan pendukungan garis pertahanan dan resistensi untuk meminimalkan derajat reaksi terhadap stressor. b. Cara mengevaluasinya adalah dengan umpan balik. dan keterlibatan anggota komunitas dalam proses keperawatan dalam mencapai kesesuaian dengan komunitas. pola koping atau tingkat pendapatan kelas menengah. sekunder. Seluruh bentuk roda tersebut menjadi parameter pengkajian pekerja komunitas yang memandang komunitas sebagai mitra. Diagnosa Diagnosa keperawatan komunitas memberikan arahan dalam mencapai tujuan dan intervensi keperawata. d. c. 2000).Komunitas sebagai mitra mengetahui 6 . Pencegahannya terdiri dari pencegahan primer. Garis pertahanan normal meliputi angka imunitas yang tinggi. Pencegahan primer bertujuan menguatkan garis pertahanan sehingga stressor tidak dapat masuk dan menimbulkan reaksi atau melakukan perlawanan terhadap stressor. Intervensi Intervensi komunitas yang menganut komunitas sebagai mitra menganggap semua intervensi keperawatannya bersifat preventif (Anderson. Kemitraan ini membutuhkan kekuatan dan modal komunitas dan tidak hanya fokus pada kebutuhan dan kekurangan dari suatu komunitas. 2000). Sedangkan pencegahan tersier dilakukan ketika stressor memasuko garis pertahanan dan muncul derajat reaksi sehingga dilakukan pencegahan agar mencegah ketidakseimbangan tambahan dan meningkatkan keseimbangan. Parameter pengkajian sering kali digunakan untuk evaluasi. Contohnya adalah imunisasi pada anak prasekolah. moralitas bayi yang rendah. Evaluasi Hal-hal yang dievaluasi antara lain intervensi keperawatan komunitas. Kedelapan subsistem dibatasi dengan garis putus-putus untuk mengingatkan bahwa subsistem tersebut tidak terpisah tetapi saling mempengaruhi. Contohnya adalah penambahan tim spesialis di daerah bencana.

2002). menggunakan pendekatan teknologi kesehatan yang memadai. Karakteristik dari kebijakan kesehatan public dan kesehatan komunitas dan kota terdiri dari pelayanan kesehatan primer (Flynn dalam Anderson&McFarla. Warga dapat menciptakan kota yang lebih sehat dengan cara merespon gejal. dan peran serta. Perawata kesehatan komunitas memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja dengan komunitas sebagai mitra dalam memfasilitasi promosi kesehatan komunitas. ekologik. kompeten agar warga kota dapat memanfaatkannya. perawat meningkatkan jaringan di masyarakat. Peran perawat adalah merealisasikan perkembangan masa depan dari kebijakan kesehatan public dan kesehatan kota dan komunitas. dan responsive terhadap kebutuhan komunitas (Pender.nilai dari komunitas dan pelayanan kesehatan bekerja sama untuk membuat sistem pelayanan kesehatan yang ramah. 2000). Prinsip kebijakan promosi kesehatan mencakup kebijakan multisektoral. berbudaya. dan mendidik warga. melakukan kegiatan khusus seperti membuat consensus dari kesepakan seluruh warga. mudah diakses. bersiat menyeluruh dan berorientasi masa depan seta menjawab pertanyaan bagaimana agar komunitas dapat terstruktur untuk meningkatkan kesehatan. Kebijakan public sehat ditunjukkan untuk menciptakan komunitas yang sehat. 1996 dalam Stone et al. menyelesaikan kerusakan sistem dan perpecahan warga. serta komunitas sehat di masa depan. berhubungan denganpelayanan kesehatan. 2000). 7 . Perawat memberikan pelayanan kesehatan public untuk memberikan kesempatan masyarakat untuk hidup lebih positif dengan mempengaruhi kebijakan public dan kebijakan promosi kesehatan (Royal Collage of Nursing. menyelesaikan isu yang ada. memiliki kemampuan untuk memodifikasi diri untuk memenuhi setiap perubahan kebutuhan. dan melakukan tindakan khusus seperti membuat persetujuan dalam masyarakat. 2007). Kemudian perawat berkolaborasi dengan komunitas untuk mengembangkan kebijakan public dan mentargetkan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Masyarakat dapat melakukan tindakan untuk membuat kota lebih sehat dalam merespon gejala. Untuk meningkatkan keaktifan dari masyarakat dalam praktek kesehatan. kebijakan public sehat dan kota. tanggung jawab dalam meningkatkan pilihan promosi kesehatan. kota sehat adalah kota yang harus merespon setiap kebutuhan perkembangan. Konsep kebijakan public sehat didasarkan pada prinsip pelayanan kesehatan primer dalam mencapai tujuan sehat untuk semua dan kebijakan promosi kesehatan (WHO 1986 dalam Anderson&McFarla. 2000). berhadapan dengan masalah dasar. melibatkan berbagai bidang. Menurut Duhl (1986 dalam Anderson&McFarla.

rekreasi.2. atau kematian dalam populasi manusia. 1965 dalam Clemen-Stone dkk. Pada promosi kesehatan hal-hal yang dapat diinformasikan diantaranya.1. Dengan melihat masalah ini tentunya harus dilakukan langkah-langkah pencegahan sebelum munculnya suatu penyakit di masyarakat. Pada epidemiologi digunakan sampel grup yang lebih besar sehingga dapat menyimpulkan bagaimana pola distribusi kesehatan. dan kondisi tempat kerja.  Riwayat Alamiah Penyakit dan Tingkat Pencegahannya Riwayat alamiah penyakit didefinisikan sebagai sebuah perjalanan penyakit dari mulai onset sampai dengan resolusi (Clemen-Stone. Sedangkan pada perlindungan spesifik hal-hal yang diinformasikan 8 . ketersediaan yang adekuat pada penggunaan tempat tinggal. Pencegahan terhadap suatu penyakit salah satunya dapat dilakukan dengan mengadakan promosi kesehatan. agent. Riwayat Alamiah Penyakit dan Tingkat Pencegahannya serta Faktor-faktor Timbulnya suatu Penyakit Menurut Clemen-Stone dkk (2002) konsep kunci dari epidemiologi adalah suatu studi mengenai penyakit di populasi yang lebih signifikan daripada studi kasus penyakit individu.3 Epidemiologi a. Sedangkan menurut Effendi dan Makhfudli (2009). Pencegahan primer terdiri atas promosi kesehatan dan perlindungan spesifik. 2002). dan faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi dan distribusi penyakit. penyebab. penyakit. memberikan perhatian pada perkembangan personal. pengobatan yang dilakukan dengan segera. Prepatogenesis merupakan periode dimana penyakit tidak berkembang tetapi masih berinteraksi dengan host. dan environment yang jika interaksi diantaranya terjadi dapat menimbulkan stimulus penyakit dan meningkatkan potensial host terhadap penyakit atau dapat disimpulkan bahwa prepatogenesis adalah peroide dimana sebelum terjadinya suatu penyakit. 2002). Pencegahan ini dilakukan pada periode prepatogenesis. pengendalian. sekunder (diagnosa awal. Sedangkan patogenesis adalah periode dalam riwayat alamiah penyakit dimulai ketika penyakit tersebut memunculkan suatu stimuli dan terdapat perubahan jaringan pada manusia. definisi dari epidemiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang sifat. standar nutrisi yang baik sesuai dengan fase perkembangan hidup. kecacatan. dan frekuensi kondisi dari suatu populasi. Riwayat alamiah penyakit juga didefinisikan menjadi dua periode yang berbeda yaitu prepatogenesis dan patogenesis (Leavell & Clark. dan membatasi kecacatan) dan tersier (rehabilitasi). Menurut Clemen-Stone dkk (2002) secara tingkat pencegahan terdapat tiga tingkat aktivitas pencegahan yaitu primer (promosi kesahatan dan perlindungan spesifik). edukasi kesehatan.

perlindungan terhadap bahaya pekerjaan. Untuk membatasi terjadinya kecacatan hal-hal yang dapat disampaikan yaitu. kekebalan (seseorang yang memiliki kekebalan tubuh yang tidak baik jelas cenderung mudah berisiko terserang suatu penyakit). Host Host adalah keadaan seseorang yang menjadi risiko untuk terjangkitnya suatu penyakit. pendidikan masyarakat dan industri untuk memanfaatkan proses rehabilitasi.  Faktor-faktor Timbulnya Suatu Penyakit Untuk menganalisis riwayat alamiah penyakit diperlukan identifikasi terhadap tiga variable atau faktor-faktor yang menjadi pemicu timbulnya suatu penyakit yaitu host. penempatan yang selektif. keadaan fisiologi (Pada saat kehamilan dan setelah melahirkan. kebersihan individu. agent. Pencegahan sekunder terdiri atas diagnosa awal dan pengobatan segera. dan penghindaran terhadap alergen. Variable ini dikenal dengan triangle epidemiologi dimana satu sama lain saling berhubungan (Budiarto dan Anggraeni. a. 2002). ibu dapat berisiko terjangkitnya berbagai penyakit tertentu). penggunaan sanitasi lingkungan. perlindungan dari zat karsinogen. penggunaan imunisasi yang spesifik. jenis kelamin (beberapa penyakit tertentu terkadang cenderung ada pada jenis kelamin tertentu). Pencegahan tersier yaitu rehabilitasi. melakukan sebuah pekerjaan sepenuh mungkin. ketersediaan rumah sakit dan fasilitas komunitas untuk melatih kembali dan sebagai sarana edukasi untuk digunakan secara maksimal dari kapasitas yang tersedia. pengkonsumsian nutrisi yang spesifik. Pada pencegahan ini hal-hal yang dilakukan yaitu. dan environment. Pada diagnosa awal dan pengobatan dengan segera. ketersediaan fasilitas untuk membatasi terjadinya kecacatan dan untuk mencegah kematian. bersama dengan pencegahan tersier. pengobatan yang adekuat untuk pertahanan diri dari penyakit dan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dari gejala-gejala yang masih ada. terapi bekerja di rumah sakit. penyakit yang diderita sebelumnya dan sifat manusia/perilaku seseorang. serta membatasi terjadinya kecacatan. Faktor host yang dapat menjadi risiko terjadinya suatu penyakit diantaranya. Jadi faktor host ini adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh manusia atau merupakan faktor intrinsik. genetik (penyakit yang memang diturunkan). umur (seseorang dengan lanjut usia lebih berisiko untuk terjangkit penyakit). dan penggunaan koloni yang terlindungi. perlindungan dari kecelakaan. Pencegahan sekunder ini ada pada periode patogenesis. 9 . hal-hal yang dilakukan yaitu pengukuran penemuan kasus baik individual dan massa dan mengadakan survey skrining.diantaranya.

Triangle Epidemiologi Host Agent Environment 10 . Pekerjaan yang berinteraksi dengan bahan-bahan kimia ataupun radioaktif dapat menimbulkan penyakit. 1) Lingkungan fisik. Dapat bersifat biologis. Urbanisasi. fisik. yaitu lingkungan yang berada di sekitar kita baik flora. Environment/ lingkungan Environment merupakan faktor yang berada di luar dari host atau biasa disebut dengan faktor ekstrinsik. fauna. alkohol. Misalnya pengkonsumsian makanan yang mengandung kolesterol tinggi yang dapat mengakibatkan penyakit hipertensi.b. Masalah pada lingkungan ini juga tidak lepas dari ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Peningkatan ekonomi terkadang dapat menimbulkan gaya hidup yang justru tidak sehat. Terjadinya bencana alam mengakibatkan terjadinya perubahan ekologi dan terjadi ketidakteraturan di masyarakat yang nantinya memunculkan berbagai macam infeksi. Bencana alam. maupun manusia itu sendiri. kimia. Flora pada Negara yang berbeda dapat menimbulkan pola penyakit yang berbeda pula. Agent dapat berupa suatu unsur mati atau hidup. Agent Agent adalah sesuatu yang dapat memicu timbulnya suatu penyakit. 2) Lingkungan sosial ekonomi Pekerjaan. Misalnya virus. bakteri. mekanis. obat-obatan. sinar radioaktif. Perkembangan ekonomi. Misalnya pada Negara dengan iklim tropis dengan subtropis jelas akan berbeda permasalahan penyakitnya. jamur. adalah lingkungan berdasarkan letak geografisnya. rokok. Faktor ini adalah faktor yang menunjang terjadinya suatu penyakit selain host dan agent. psikososial. 3) Lingkungan biologis. karbonmonoksida. Perpindahan penduduk yang secara besar-besaran dan menimbulkan kepadatan penduduk menyebabkan lingkungan menjadi kumuh dan rentan terhadap timbulnya berbagai penyakit. dll c.

Langkah pencegahan dan penanganan yang tepat serta pengetahuan yang memadai sangat bermanfaat guna terhindarnya ataupun memustusnya rantai suatu penyakit. 11 . pada dasarnya memiliki proses atau langkah yang sama. tentukan dan tes hipotesis yang telah dibuat. environment merupakan faktorfaktor yang saling terkait dan saling berhubungan satu sama lain. Multiphasic screening yaitu skrining yang penggunaannya dilakukan beberapa tes skrining pada kesempatan atau waktu yang sama. baik yang bersifat menular atau tidak. Skrining dilakukan untuk membedakan antara orang yang tampaknya sehat atau orang yang mungkin memiliki penyakit dengan orang yang mungkin tidak memiliki penyakit. Penggunaan pendekatan epidemiologi yang kedua yaitu tes skrining. Skrining yaitu kegatan mengidentifikasi secara presumptif (dugaan) terhadap penyakit yang belum dikenali dengan melakukan tes. dan yang terakhir rencanakan manajemen wabah seperti pengendalian dan pencegahan. b. Misalnya tes kesehatan untuk mahasiswa atau pegawai baru. skrining. agent. ujian. Selain itu. Case finding (penemuan kasus) adalah tipe dari tes skrining dimana seorang klinikus menggunakan tes skrining untuk menemukan penyakit pada pasiennya yang melakukan tes kesehatan atau konsultasi terhadap gejala yang muncul (smptomatik) atau gejala yang belum muncul (asimptomatik). Mass screening merupakan tes skrining untuk seluruh populasi atau untuk kelompok yang dipilih secara selektif memiliki risiko tinggi. mengidentifikasi orang-orang yang mengalaminya dan berisiko serta bagaimana karakteristiknya. Penggunaan Pendekatan Epidemiologi dalam Keperawatan Komunitas Penggunaan pendekatan epidemiologi dalam keperawatan komunitas diantaranya yaitu investigasi wabah. Faktor-faktor pada host. case finding. Tujuan dari investigasi wabah itu sendiri yaitu untuk mengontrol dan mencegah penyebaran suatu penyakit. dan surveilans. Investigasi wabah. Langkahlangkah investigasi wabah diantaranya yaitu melakukan evaluasi awal dengan verifikasi diagnosis dan konfirmasi wabah yang sedang terjadi. skrining juga dilakukan untuk mengurangi morbiditas atau mortilitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan. atau prosedur lain yang dapat diterapkan dengan cepat dan tidak mahal untuk suatu populasi. Contohnya seperti prosedur XRay masal. Tes skrining memiliki tiga tipe yaitu mass screening.Terdapat hubungan yang jelas antara terjadinya suatu penyakit dengan faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. dan multiphasic screening.

Program skrining harus memenuhi beberapa kriteria. bukti menunjukkan bahwa prosedur tes ini mendeteksi penyakit pada tahap lebih awal sebelum datangnya gejala pengobatan yang umumnya lebih diterima yaitu yang lebih mudah atau lebih efektif daripada pengobatan yang tersedia saat munculnya gejala. yang terakhir adalah surveilans. penggunaan obat-obatan. Kriteria tes skrining salah satunya yaitu mendeteksi penyakit sebelum gejala datang. dan biaya. aman. Surveilans adalah kegiatan positif mengumpulkan dan menganalisis data serta menyebarluaskan informasi atas dasar hasil analisis tersebut kepada yang berkepentingan (Effendi & Makhfudli. Kriteria-kriteria tersebut antara lain: memiliki sensitifitas dan spesifitas tinggi. ketidaknyamanan. Namun. laporan penyakit. penyakit yang fokus untuk dilakukan skrining harus cukup dianggap serius dalam hal kejadian. pengobatan yang tersedia dapat diterima oleh pasien yang ditetapkan oleh studi tentang kepatuhan pengobatan prevalensi dari penyakit yang menjadi fokus sasaran harus tinggi pada sebuah populasi untuk dilakukan skrining. jika ditemukan hasil tes skrining yang abnormal harus dilanjutkan dengan melakukan tes diagnostik. dan dapat diterima pasien. serta keterangan mengenai penduduk dan lingkungan 12 . survei. Surveilans memiliki beberapa unsur diantaranya pencatatan kematian. Tujuannya yaitu memberikan pengobatan dan isolasi terhadap penyakit yang timbul pada suatu kasus yang dicurigai dengan segera. tes skrining tidak cukup akurat untuk menginisiasi dilakukannya treatment. sedangkan tes diagnostik merupakan tes yang dilakukan ketika gejala sudah datang. laporan wabah.Tes skrining memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan tes diagnostik. penyelidikan tentang distribusi dari vektor dan reservoir penyakit. serum. penyakit kasus. keterbatasan fisik. kematian. Umumnya tes skrining ini ditawarkan atau dilakukan pada populasi yang tampak sehat sebagai cara untuk menentukan apakah mereka memiliki penyakit sebelum adanya gejala yang muncul sehingga dapat menginisiasi untuk melakukan treatment dan akan bermanfaat dalam menentukan prognosis untuk pasien. sebagai follow up layanan diagnostik dan pengobatan harus tersedia disertai dengan pemberitahuan yang memadai dan layanan rujukan bagi orang-orang yang pada saat dilakukan skrining Selanjutnya. pemeriksaan laboratorium. penyelidikan wabah atau kejadian luar biasa. memenuhi standar yang dapat diterima: simpel. dan vaksin. 2009). biaya murah.

Sehingga diharapkan prognosis penyakit akan lebih baik. Mengetahui jangkauan atau cakupan dari pelayanan kesehatan Pada intinya. perawat disarankan untuk mempelajari penggunaan pendekatan epidemiologi ini dalam memberikan pelayanan kesehatan komunitas. Banyak kaum pria.Ciri khas yang terdapat pada surveilans yaitu : Pengumpulan data epidemiologi yang sitematis dan teratur secara terus menerus Pengolahan. dan interpretasi data yang telah didapat yang menghasilkan suatu informasi Penyebaran hasil informasi (perolehan data) kepada orang-orang atau lembaga yang berkepentingan Menggunakan informasi (data) tersebut dalam rangka memantau. Menilai dan memantau pelaksanaan program pemberantasan penyakit menular dan program-program kesehatan lainnya. Meramalkan terjadinya wabah d. dan merencanakan kembali program-program atau pelayanan kesehatan Beberapa kegunaan dari surveilans: a. Kebanyakan para urban bertujuan untuk mencari pekerjaan di kota besar dengan alasan sektor mata pencaharian di kampung halaman yang dirasa kurang. mempercepat kesembuhan. Maka dari itu. memperlambat proses penyakit. program gizi. Mereka menginginkan pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan yang lebih sehingga mereka dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Mengetahui & melengkapi gambaran epidemiologi dari suatu penyakit b. Peran perawat komunitas disini sangatlah penting demi peningkatan status kesehatan masyarakat. pada kenyataan yang terjadi di Indonesia sekarang ini. yaitu untuk mencegah dan mengontrol penyebaran penyakit pada suatu populasi tertentu.2 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas (Perkesmas) pada Mayarakat Urban (Poor and Homeless) Urbanisasi merupakan proses perpindahan penduduk dari wilayah pedesaan menuju ke wilayah perkotaan. sebagian besar penduduk kota di wilayah Indonesia merupakan warga miskin yang tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal. Namun. wanita. Menentukan penyakit mana yang diprioritaskan untuk diobati atau diberantas c. analisis. menilai. dan 13 . penggunaan pendekatan epidemiologi yang telah diuraikan sebelumnya memiliki tujuan yang sama. Fix sampe sini dulu 2. program kesehatan gigi. e. mengurangi kecacatan dan kematian. seperti program mengatasi kecelakaan. pemuda. dan lainnya.

pangan. dan tidak mampu menyelesaikan masalahnya yang pada akhirnya dapat menyebabkan depresi. Karena kemiskinan dapat berdampak terhadap kesehatan individu atau anggota keluarga. Kepemilikan aset (kursi tamu) tidak tersedia Berdasarkan ciri tersebut dapat dibedakan antara keluarga miskin dan tidak miskin. Selain itu. Menurut Biro Pusat Statistik ciri-ciri miskin adalah: a. Stresor yang datang terus menerus akan berdampak pada kesehatan fisik. pendidikan yang sangat rendah. Kemiskinan menurut Allender dan Spradley (2005) dalam Sahar (2008). Luas lantai hunian kurang dari 8 m2 per anggota rumah tangga b. apabila suatu rumah tangga memenuhi 3 dari 8 kriteria tersebut dapat dikatakan termasuk kategori rumah tangga atau keluarga miskin. tidak berdaya. Konsumsi lauk pauk dalam seminggu tidak bervariasi g. Jenis dinding terbuat dari papan/triplek . menurut Crimmins. miskin adalah sedikit atau tidak ada barang yang dimiliki atau tidak adekuatnya jangkauan terhadap sumber-sumber keluarga dan komunitas. 2010). Kemampuan membeli pakaian minimal 1 (satu) stel setahun untuk anggota rumah tangga tidak ada h. tidak ada jaringan kekuasaan. Fasilitas jamban atau WC tidak ada e. Kemiskinan dapat menyebabkan seseorang tidak mempunyai rumah (homeless). 2011). Angka kemiskinan di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 30. terlebih lagi masalah kesehatan yang timbul diantara mereka semakin meningkat (Allender. Orang yang hidup dalam kemiskinan sering merasa putus asa. peningkatan insiden penurunan kesehatan fisik dan kognitif serta peningkatan angka kematian. Rector & Warner 2010) kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan penyakit tertentu. Fasilitas air bersih tidak ada d.02 juta jiwa atau mencapai 12. dan pandangan terhadap kesehatan. Keluarga tersebut perlu difasilitasi atau diadvokasi dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka termasuk pelayanan kesehatan dan keperawatan secara optimal. Pada intinya kemiskinan dapat diartikan sebagai keadaan yang sangat kekurangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mencakup sandang. kesehatan jiwa. Banyak stresor terkait kemiskinan yang berdampak pada kesehatan. Jenis lantai hunian sebagian besar tanah atau lainnya c.bahkan anak-anak tidak memiliki tempat tinggal. & Seeman (2004 dalam Allender. dan papan. tidak ada aset yang tersimpan. Orang miskin dan kelompok rentan hidup dengan sumber daya yang tidak adekuat. 49% (BPS. status pekerjaan sangat rendah dan berisiko. 14 f. Haywars. Ciri-ciri keluarga miskin yaitu status sosial rendah di masyarakat ditandai dengan pendapatan yang sangat rendah.

dan harapan yang sesuai (Potter & Perry. sosialisasi. nutrisi. diperlakukan secara kejam atau perlakuan yang menyebabkan seseorang menjadi homeless. 2010). bencana alam. kecanduan. Menurut Florence Nightingale. Model-model pelayanan keperawatan komunitas meliputi beberapa model yang akan dijelaskan di bawah ini. kebersihan. Teori ini memiliki komponen fisik (ventilasi. Beberapa orang dengan gangguan mental kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. 2005). yang filosofinya berorientasi pada lingkungan. mereka memerlukan motivasi yang tinggi dan tentunya dengan adanya support service.2. gangguan mental. atau faktor tambahan seperti klisis finansial. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi homeless diantaranya adalah kemiskinan. sehat. cahaya. Lingkungan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat dimanipulasi menjadi tempat dimana klien berada pada kondisi yang terbaik agar alam dapat berperan dalam kesehatannya (Selanders.1 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Florence Nightingale’s (1859) Model pelayanan kesehatan dilihat dari model Florence Nightingale. mengatur dirinya sendiri. Gangguan mental. dan perawat. 1998. diharapkan perawat mampu memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal pada masyarakat miskin (poor) dan tidak memiliki tempat tinggal (homeless). harga diri rendah berhubungan dengan perlakuan yang tidak menyenangkan seperti disia-sia. Komponen berikutnya yaitu manusia. tujuan keperawatan untuk memfasilitasi proses penyembuhan tubuh dengan memanipulasi lingkungan klien mendapatkan ketenangan. pengangguran. Dengan pendekatan yang spesifik pada klien dan juga didukung dengan penggunaan model keperawatan yang sesuai. temperatur ruangan. kehangatan. Komponen-komponen dari filosofi Florence Nightingale meliputi lingkungan. berinteraksi interpersonal. dalam Alligood. cahaya. namun dia juga 15 . Florence Nightingale dalam teorinya lebih banyak menempatkan manusia sebagai seseorang yang menerima perawatan. dan pergi bekerja. obat-obatan. manusia. kenyamanan. Terdapat banyak model keperawatan komunitas yang diterapkan guna meningkatkan kesehatan maupun kesejahteraan dalam ruang lingkup komunitas atau masyarakat. Untuk dapat hidup dengan baik. Berbagai pendekatan dalam pelayanan keperawatan di suatu komunitas digunakan dalam pelayanan kesehatan pada keluarga miskin sebagai populasi rentan (vulnerable population). 2.Menurut Maurer & Smith (2005) homeless adalah orang yang tidak mempunyai tempat bermalam yang tetap atau orang yang mempunyai tempat bermalam yang sengaja disediakan untuk menginap atau sebuah tempat umum atau milik pribadi yang tidak diperuntukkan untuk menginap. dan aktivitas) dan psikologis (obrolan / celotehan tentang harapan dan saran dan menyediakan variasi). atau pilihan pribadi. nutrisi.

emosional. Rector. Sebagai contoh. dan kebersihan. kebersihan. Florence Nightingale menuliskan bahwa kesehatan bukan untuk menjadi baik. Florence Nightingale menyatakan bahwa kebersihan. 16 . sanitasi. Florence Nightingale mengobservasi bahwa penyakit-penyakit umum terjadi dalam lingkungan yang buruk dan kesehatan dapat ditingkatkan dengan menyediakan ventilasi yang adekuat. Dalam hal ini. mengimplementasikan rencana perawatan. (Allender. yaitu nursing proper (merawat klien yang sakit). tetapi untuk dapat menggunakan setiap kekuatan yang kita miliki dengan baik. klien yang rawat jalan yang diperbolehkan beristirahat di rumah akan terganggu istirahatnya dan akan berpengaruh pada proses penyembuhan penyakitnya. kembali mengevaluasi situasi. Inti dari teori Florence Nightingale yaitu kondisi lingkungan yang buruk. mendokumentasikan. oleh karena itu. Perawat mengkaji situasi klien. sosial. Florence Nightingale meyakini bahwa lingkungan sehat penting untuk penyembuhan sehingga dapat mencegah kematian. Dari pernyataan tersebut. suara bising dapat mengganggu istirahat. dan pelayanan kesehatan merupakan hal yang penting. membuat intervensi. mengidentifikasi kebutuhan. kenyamanan. air bersih.meyakini bahwa manusia adalah makhuk yang dinamis dan kompleks yang terdiri dari komponen fisik. Florence Nightingale meyakini bahwa ada 5 poin yang penting dalam mencapai rumah sehat. Florence Nightingale meyakini bahwa perawat adalah profesi spiritual yang membantu alam menyembuhkan klien. 2010). Teori lingkungan Florence Nightingale penting dalam keperawatan kesehatan komunitas karena teori ini berfokus pada perawatan preventif populasi. edukasi. cahaya. 2010). intelektual. dan cahaya. drainase (saluran pembuangan) yang efisien. kehangatan. dapat disimpulkan bahwa Florence Nightingale meyakini pencegahan dan promosi kesehatan disamping perawatan klien dari sakit menjadi sehat (Alligood. & Warner. dan sosialisasi penting untuk penyembuhan. Ada 3 jenis perawat menurut Florence Nightingale. Mengontrol pencemaran lingkungan dan melindungi lingkungan merupakan tujuan utama dalam semua setting. Komponen terakhir yaitu perawat. dan midwifery nursing. ketenangan. dan spiritual. general nursing (promosi kesehatan). 2011). yaitu: udara bersih. Beberapa orang meyakini bahwa disamping lingkungan yang baik. Florence Nightingale meyakini bahwa perawat harus melakukan observasi akurat dari klien dan harus berpikir kritis tentang perawatan klien serta melakukan tindakan yang tepat dan penting untuk membantu penyembuhan klien (McEwen & Wills. dan mengubah rencana untuk pelayanan kesehatan klien yang lebih baik hingga tujuan asuhan keperawatan tercapai (Alligood. 2010). air bersih. Komponen ketiga yaitu sehat. pelayanan sosial seperti transportasi. udara segar. tidak baik untuk kesehatan dan kondisi lingkungan yang baik dapat mengurangi penyakit.

dapat diaplikasikan ke dalam proses keperawatan sesuai komponen yang ada. perawat mengobservasi semua hal tentang klien. tempat tidur. kotoran. yang merupakan kemampuan seorang perawat untuk memahami tingkah lakunya guna membantu orang lain.  Fase eksplorasi: Perawat membantu klien dalam memberikan gambaran kondisi klien saat ini dengan cara mendorong klien untuk menggali dan mengungkapkan perasaan. cahaya. perawat mengkaji diet klien dan makanan yang disukai atau tidak. 2. meliputi: ventilasi dan kehangatan. kesehatan rumah. air bersih. kebersihan (pengolahan sampah). Peplau (1952) membuat model keperawatan interpersonal. serta makanan dan observasi penyakit. Terkait observasi penyakit. udara segar. perawat mengkaji udara bersih di lingkungan sekitar. Terkait obrolan dan saran. 2010). debu. atau lumut (Alligood. cahaya matahari dalam ruangan. kebersihan personal. emosi. Terkait tempat tidur. obrolan dan saran. perawat mengkaji kelembaban tempat tidur. serta sikapnya tanpa paksaan dan mempertahankan suasana 17 .2 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Hildegard E. dan berat tempat tidur. Ekspresi perasaan tanpa penolakan diri perawat memungkinkan pengalaman menderita sakit sebagai suatu kesempatan untuk mengorientasikan kembali perasaan dan menguatkan bagian yang positif dari kepribadian klien. perawat dapat mengkaji cahaya ruangan yang adekuat. mencatat hasil observasi (faktual atau opini). perawat mengkaji klien kering dan bersih setiap waktu (mengkaji kondisi kulit klien). keriput. observasi lingkungan dan membuat rencana keperawatan (Alligood. Terkait kebersihan personal. kebisingan. Terkait cahaya. perawat mengkaji level kebisingan pada ruangan dan area sekitar. Terkait kebersihan ruangan dan dinding. perawat dapat mengkaji suhu tubuh klien. Terdapat tahapan atau fase dalam model keperawatan komunitas menurut Peplau. dan untuk menerapkan prinsip hubungan manusia pada permasalahan yang timbul di semua level pengalaman (Alligood. dan bau tidak sedap. perawat mencegah pembicaraan tanpa alasan atau memberi saran tanpa fakta dengan berbicara menstimulasi pikiran klien. kebersihan ruangan dan dinding. mengindentifikasi kesulitan yang dirasakannya. Terkait ventilasi dan kehangatan. Terkait kebisingan. ventilasi yang adekuat.2. 2010). drainase.Teori Florence Nightingale yang berorientasi pada lingkungan. Terkait kesehatan rumah. 2010). dan pencahayaan. perawat dapat mengkaji kelembaban. Terkait makanan. yaitu:  Fase orientasi: Lebih difokuskan untuk membantu klien menyadari ketersediaan bantuan dan rasa percaya terhadap kemampuan perawat untuk berperan serta secara efektif dalam pemberian asuhan keperawatan kepada klien.  Fase identifikasi: Terjadi ketika perawat menfasilitasi ekspresi perasaan klien dan tetap mampu memberikan asuhan keperawatan yang diperlukan. suhu ruangan. pikiran. Peplau (1952) Hildegard E.

 Asumsi implisit: mempertegas profesi keperawatan memiliki tanggung jawab legal dalam penggunaan keperawatan secara efektif dan segala konsekuensinya kepada pasien Dalam kaitannya dengan perspektif paradigma keperawatan. Manusia Individu dipandang sebagai suatu organisme yang berjuang dengan caranya sendiri untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh kebutuhan.  Asumsi ekplisit memberi pandangan bahwa:  Perawat akan membuat pasien belajar ketika ia menerima penanganan perawatan  Menjalankan fungsi keperawatan dan pendidikan keperawatan dengan membantu perkembangan pasien ke arah kedewasaan  Keperawatan menggunakan prinsip-prinsip dan metode-metode yang membimbing proses ke resolusi dari masalah interpersonal. mempunyai persepsi yang dipelajari dan ide yang telah terbentuk dan penting untuk proses interpersonal. Memungkinkan suatu situasi dimana klien dapat merasakan nilai hubungan sesuai pandangan atau persepsinya terhadap situasi. Setiap individu merupakan makhluk yang unik. Pengetahuan diri dalam konteks 18 .terapeutik yang mendukung. Selain itu terdapat asumsi yang dibuat dalam model keperawatan Peplau. konstruktif dan produktif d. dan kebiasaan serta keyakinan merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menghadapi individu c. Kesehatan Suatu perkembangan kepribadian dan proses kemanusiaan yang berkesinambungan ke arah kehidupan yang kreatif. Resolusi ini memungkinkan penguatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi ke arah realisasi potensi. Asumsi utama atau asumsi dasar dalam pengembangan model konsep dan teori hubungan interpersonal oleh Peplau dibedakan menjadi asumsi eksplisit dan implisit. Keperawatan Suatu proses interpersonal yang bermakna. Proses interpersonal merupakan maturing force dan alat edukatif baik bagi perawat maupun klien. Peplau juga menguraikan secara terperinci berdasarkan 4 komponen dasar. Fase ini merupakan inti hubungan dalam proses interpersonal  Fase resolusi: Secara bertahap klien melepaskan diri dari perawat. b. yaitu: a. Lingkungan Merupakan kekuatan yang berada di luar organisme dimana budaya. adat istiadat.

Menurut Tomey dan Alligood (2006). kebutuhan berpakaian. kebutuhan spiritual. kebutuhan bekerja. Teori Henderson yang lebih berfokus pada empat belas kebutuhan dasar manusia dan praktik keperawatannya yang berusaha membentuk klien untuk melakukan empat belas kebutuhan dasar dapat diterapkan pada masyarakat urban. berkontribusi dalam pemulihan kesehatan atau untuk kondisi kematian yang damai dengan kekuatan. konstruktif dan produktif. Counselors/Konselor: meningkatkan pengalaman individu menuju keadaan sehat yaitu kehidupan yang kreatif. Resource Person/Narasumber: perawat memberikan jawaban yang spesifik terhadap pertanyaan tentang masalah yang yang ditanyakan. kebutuhan akan rasa aman dan nyaman. f. Kebutuhan dasar manusia menurut Henderson atau empat belas kebutuhan dasar manusia meliputi bernapas dengan normal. berkomunikasi dengan orang lain dan berekspresi. b. kebutuhan eliminasi. kebutuhan bermain dan rekreeasi serta kebutuhan belajar. kebutuhan istirahat dan tidur. e. gerak dan keseimbangan tubuh. kemauan. kebutuhan kebersihan diri. Teacher/Pendidik: mengembangkan hubungan yang demokratis sehingga merangsang individu untuk berperan serta aktif dalam mengarahkan asuhan. Dengan mengetahui kebutuhan dasar manusia. Consequences/Konsekuens: sistem diri dengan kepribadian yang berkembang. maka akan diketahui bagaimana cara keperawatan untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut. kebutuhan akan nutrisi. dan pengetahuan dalam waktu sesingkat mungkin. mempertahankan temperatur tubuh dan sirkulasi. Hal ini dikarenakan teori Henderson hanya menilik kebutuhan dasar apa yang belum terpenuhi dari suatu klien.interaksi interpersonal merupakan hal yang penting untuk memahami klien dalam mencapai resolusi masalah. perawat juga mempunyai 6 peran yang terdiri dari peran sebagai: a.2. tanpa mempertimbangkan kondisi klien dengan keterbatasan ekonomi dan tidak memberikan 19 . c. d. Stranger/Sebagai orang yang asing: perawat menghadapi klien seperti tamu yang dikenalkan pada suatu sistem baru. Surrogate/Wakil pengganti: membantu individu belajar tentang keunikan tiap manusia sehingga dapat mengatasi konflik interpersonal. hanya saja jika masyarakat tersebut mempunyai biaya untuk mendapatkan pelayanan keperawatan.3 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Virginia Henderson (1966) Dalam teori Henderson disebutkan bahwa fungsi unik dari perawat adalah membantu individu baik sakit maupun sehat. 2. Henderson menekankan pada kebutuhan dasar manusia sebagai fokus utama pada praktik keperawatan.

Pada teori sistem keperawatan. Energi memiliki pola gelombang dan organisasi c. pelayanan keperawatan komunitas memiliki tiga prinsip dasar dalam mendeskripsikan manusia sebagai “kesatuan” yaitu: a.2. Orem mengemukakan terdapat beberapa macam sistem keperawatan yang dapat digunakan. perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan agar masyarakat tersebut minimal dapat mempertahankan status kesehatannya. Sebelumnya para tenaga kesehatan memberikan pelayanan kesehatan dengan membagi-bagi berdasarkan area atau fungsinya. 2. Sedangkan teori self care deficit dimaksudkan bahwa perawatan diperlukan karena seseorang dengan keterbatasannya sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan perawatan diri sendiri. yaitu teori self care. Pada teori self care. Sehingga para perawat dapat memperhatikan seseorang sebagai satu kesatuan utuh saat merencanakan dan memberikan pelayanan kesehatan. teori ini tidak dapat menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan pada kondisi keterbatasan ekonomi.5 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Dorothea Orem (1971) Model teori menurut Orem adalah teori keperawatan self care deficit yang mempunyai tiga teori anakan. perawatan diri sendiri merupakan perilaku yang dipelajari dan secara disengaja dilakukan sebagai respon untuk memenuhi kebutuhan. kompensasi sebagian. dan suportif edukatif. Proses kehidupan berjalan searah dengan irama spiral b. Energi manusia dan lingkungan saling berhubungan dan saling menguntungkan. 2. Bagi masyarakat perkotaan yang mengalami kemiskinan dan tidak memiliki rumah. Maka. model Rogers ini sangat efektif untuk promosi kesehatan.4 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Martha Rogers (1970) Martha Rogers pada tahun 1961 mendeskripsikan teori tentang manusia sebagai satu kesatuan yang utuh. keseluruhan dari tindakan keperawatan merupakan sistem keperawtan.2.alternatif agar kebutuhan tersebut terpenuhi. Disini. Sejak awal teori tersebut sudah menjadi kontroversi dan bahan perdebatan di kalangan perawat dan petinggi keperawatan. Namun Rogers mendorong para tenaga kesehatan untuk melanjutkan interaksi mutual dengan manusia sebagai kesatuan sistem energi. Dalam pengaplikasiannya. yaitu meliputi pelayanan yang seluruhnya terkompensasi. saling melengkapi dan menyatu Jadi. teori self care deficit. 20 . sosok perawat dibutuhkan ketika terdapat perawatan diri yang kurang. dan teori sistem keperawatan. Sehinggga membutuhkan banyak tenaga profesional dan para pemberi pelayanan kesehatan tidak mengetahui secara keseluruhan tentang masalah kliennya.

tujuan biasanya tercapai. pertumbuhan. Dengan aplikasi teori Orem yaitu teori self care.2. sikap. transaksi. peran.klien dan keperawatan. Perawat dan pasien saling berkomunikasi. atau hanya dukungan atau edukasi. perawat juga dapat memberitahu cara memodifikasi lingkungan agar kesehatan anggota keluarga tersebut tetap terjaga sebagai upaya preventif terhadap masalah kesehatan. diharapkan masyarakat miskin dan atau tanpa tempat tinggal dapat menjadi mandiri dalam hal menjaga kesehatan sesuai dengan kondisi ekonomi mereka. Ketika menjelaskan individu. komunikasi. ide. maka klien yang melakukannya. koping. Theory of Goal Attainment terdiri dari konsep persepsi.Masyarakat urban yang lebih difokuskan pada masyarakat miskin dan tidak mempunyai rumah tetap membutuhkan pelayanan keperawatan. Ketika transaksi dilakukan. Berdasarkan teori Orem. Intervensi keperawatan ini dapat diberikan dengan dibantu sepenuhnya. komunikasi. maka intervensi keperawatan dibutuhkan. 1991) mengidentifikasi bahwa persepsi. Tidak hanya itu. model ini 21 . merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. stressor. Akan tetapi. yaitu harus menetapkan standar praktik untuk semua perawat-pasien saling berinteraksi. dapat membantu masyarakat miskin dan tidak mempunyai tempat tinggal dengan memandirikan keluarga tersebut. interaksi.6 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut King’s (1971) King (1981) menyatakan bahwa Theory of Goal Attainment adalah teori normatif. perawat . menetapkan tujuan dan mengambil tindakan untuk mencapai tujuan. waktu dan ruang pribadi. diri. Theory of Goal Attainment. sehingga memerlukan pelayanan yang berbeda. perawat hanya membantu pada perawatan diri yang tidak bisa dilakukan klien secara mandiri. Perawat dapat memberikan pelayanan berupa membantu keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut. persepsi untuk pertukaran. Yang dimaksud dengan dibantu sebagian disini adalah ketika klien dapat mengerjakan sesuatu hal. agar klien tidak terlalu terbebani biaya kesehatan. semua kembali pada arahan untuk memandirikan klien. jika klien dalam hal ini adalah masyarakat urban yang mempunyai keterbatasan ekonomi tidak mampu untuk terlibat perawatan diri secara efektif. Setiap individu membawa satu set yang berbeda dari nilai-nilai. King (1981. dan interaksi merupakan elemen penting dalam transaksi. dan stress pengembangan. Hanya dengan keadaannya yang terbatas dalam hal ekonomi. Perawat dan pasien membentuk sistem antar pribadi dimana saling mempengaruhi dan keduanya dipengaruhi oleh faktor situasional di lingkungan. 2. beberapa yang berkaitan dengan interaksi individu. dibantu sebagian. Dengan hal itu.

Menganalisa: situasi perawat dan pasien (perilaku fisiologis. dan nilai-nilai perawat dan klien mempengaruhi proses interaksi. verbal. Mensintesis: informasi untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan keperawatan untuk meningkatkan sumber daya pasien atau mengubah tekanan bio-psiko-sosio-kultural. tindakan perawat. rasional.J.menunjukkan bahwa (1) individu sosial. (2) tujuan.klien. dan waktu berorientasi pada perilaku mereka. dan (6) tujuan dari profesionalitas kesehatan dan tujuan dari penerima pelayanan kesehatan mungkin tidak kongruen. (1973) antara lain sebagai berikut:  Mengakui: perilaku mungkin dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu.      Amati & tindakan: perubahan keadaan pasien dan mengakui perubahan dalam keadaan perawat dengan mengidentifikasi pola perilaku: variabel fisiologis dan psikologis. pola diidentifikasi 22 . berorientasi tindakan.M. faktor dalam sistem. (5) individu memiliki hak untuk menerima atau menolak perawatan. maupun nonverbal dikomunikasikan atau diamati). & King. kesehatan. Menafsirkan: pola perilaku yang didasarkan pada pengetahuan tentang teori dan konsep perilaku manusia Memverifikasi: interpretasi dengan observasi lebih lanjut dan pengukuran dalam situasi perawat-pasien. perasaan. bertujuan. Perception Nurse Judgment Action Reaction Patient Action Judgment Perception Feedback Interaction Transaction Feedback Mengenai interaksi perawat . kebutuhan. King (1981) percaya bahwa (1) persepsi perawat dan klien mempengaruhi proses interaksi. dan pikiran harus disimpulkan untuk setiap individu sampai dikomunikasikan melalui perilaku verbal atau nonverbal. hidup. (3) individu memiliki hak untuk berpartisipasi dalam keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Metodologi dalam pembelajaran proses keperawatan (Daubenmire.. dan pelayanan masyarakat. Persepsi. M. I. makhluk bereaksi dan (2) adalah pengendali.

Menurut teori Neuman. Stresor ekstrapersonal adalah stresor diluar individu. Kekuatan garis pertahanan resisten dipengaruhi oleh derajat reaksi klien terhadap serangan stresor pada garis pertahanan. Harapan ayahnya akan kesembuhan anaknya ini merupakan stresor interpersonal. Buatan disini misalnya perpindahan tempat tinggal. sosiokultural dan spiritual klien. Sebagai contoh. dan resisten. ada satu keluarga miskin. dan ekstrapersonal atau intraclient. Sedangkan garis pertahanan restisten merupakan faktor internal yang melindungi perlawanan klien terhadap serangan dari stresor. Ayahnya berharap anaknya cepat sembuh. sedangkan pembayaran biaya perawatan merupakan stresor ekstrapersonal. Stresor juga dapat diklasifikasikan menjadi tiga. fisiologi. Rekonstitusi bisa memperluas garis pertahanan normal ke tingkat 23 . Konsep ini memaparkan mengenai keperawatan yang berhubungan dengan garis pertahanan diri dalam menurunkan stress. interpersonal. Stresor interpersonal merupakan stresor yang terjadi pada individu dan berpengaruh pada sistem. Rasa bersalah ayahnya merupakan stresor intrapersonal. Kekuatan garis pertahanan dan resisten dipengaruhi oleh perkembangan. garis pertahanan ada tiga yaitu garis pertahanan normal.perilaku. hubungan diidentifikasi dalam pengamatan. informasi yang dikumpulkan. Ayahnya merasa bersalah karena sebagai kepala keluarga dia tidak mampu membiayai anaknya untuk berobat. Setiap kali terjadi serangan pada struktur dasar maka sistem akan melakukan rekonstitusi.7 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Betty Neuman (1972) Model Neuman biasanya disebut model Health Care System. yaitu intrapersonal. Stresor intrapersonal yaitu stresor yang terdapat pada individu yang berhubungan dengan lingkungan internal. Garis pertahanan ini melindungi struktur dasar.2. Garis pertahanan normal merupakan rentang respon normal seseorang terhadap stress. Stresor dapat muncul dari lingkungan internal. Rekonstitusi merupakan stabilisasi sistem dan membawa sistem ke garis pertahanan normal.  Tampilan: proses keperawatan sebagai proses interpersonal yang berkelanjutan yang dinamis di mana perawat dan pasien masing-masing dipengaruhi oleh perilaku dari yang lain dan oleh faktor dalam sistem di mana mereka beroperasi 2. Ada anaknya yang sedang sakit dan tidak mampu untuk berobat. yaitu sesuatu yang ada pada klien yang harus dijaga agar klien tersebut tetap survive. Garis pertahanan fleksibel adalah suatu keadaan yang selalu berubah yang disebabkan oleh beberapa faktor dan bersifat fluktuatif. eksternal maupun buatan. dan pengetahuan. fleksibel. interclient dan ekstraclient. psikologis.

Ketika sistem klien tidak mampu mencegah serangan maka perlu adanya intervensi keperawatan. Ada tiga tingkatan intervensi keperawatan. Asumsi Orlando terhadap paradigma keperawatan hampir seluruhnya terkandung dalam teorinya.sebelumnya. tetapi terdapat empat area ditekuninya: 1. Hal itu merupakan tanggung jawab perawat 24 . Pencegahan ini untuk meminimalisir reaksi terhadap stresor. Fungsi profesional yaitu membantu mengenali dan menemukan kebutuhan klien yang bersifat segera. Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera. asumsi dari Orlando tidak spesifik. sehingga dapat mempertahankan energi. Sebelumnya diperlukan pengkajian stresor. Sedangkan pencegahan tersier difokuskan pada perbaikan kembali ke arah stabilitas sistem klien secara optimal. 2006). menstabilkan sistem pada tingkat yang lebih rendah. Sama dengan teori-teori keperawatan pendahulunya. menanyakan untuk validasi atau perbaikan (Tomey. mengidentifikasi permasalahan klien yang disampaikan kepada perawat. dan tersier.8 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Ida Jean Orlando (1972) Ida Jean Orlando (1972) mengemukakan tentang beberapa konsep utama. 2. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat resistansi terhadap stressor untuk mencegah reaksi timbul kembali atau regresi.2. Pencegahan primer meliputi tindakan sebelum serangan stresor terjadi dan hal ini untuk mencegah adanya serangan dengan meningkatkan kekuatan garis pertahanan atau mengurangi potensi untuk terpapar stresor. reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus dilakukan. Perawat Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi otonomi yang didefinisikan sebagai fungsi profesional keperawatan. Dengan adanya garis pertahanan yang kuat. mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk melakukan tindakan yang tepat. Orlando juga menggambarkan mengenai konsep disiplin dalam proses keperawatan sebagai interaksi total (total interactive) yang dilakukan tahap demi tahap. apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu. dan derajat serangan. diantaranya adalah konsep disiplin proses keperawatan (nursing process discipline) yang juga dikenal dengan sebutan proses disiplin atau proses keperawatan. dan mengembalikannya pada tingkat semula sebelum sakit. Apalagi masyarakat miskin dan homeless mengalami banyak stresor dalam waktu yang bersamaan. Pencegahan sekunder terjadi setelah serangan pada garis pertahanan. Model Neuman dapat digunakan pada masyarakat miskin dan homeless. faktor-faktor yang mempengaruhi. perilaku pasien. yaitu pencegahan primer. sekunder. Serta klien dapat mencapai tingkat kesehatan yang maksimal. maka akan melindungi struktur dasar klien.

serta apa yang mereka katakan dan kerjakan akan saling mempengaruhi. yaitu: a. 4.untuk mengetahui kebutuhan klien dan membantu memenuhinya. Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama. Sehat Orlando tidak mendefinisikan tentang sehat. Perawat harus mengetahui benar profesionalnya. Orlando menyebutnya sebagai “nursing process discipline”. Perasaan adekuat dan sejahtera dalam memenuhi kebutuhannya berkontribusi terhadap sehat. dan keduanya mempersepsikan. dan merasa adekuat dan sejahtera berkontribusi terhadap sehat. Mengenal perilaku klien (Patient’s presenting behavior) Mengenali perilaku klien dengan mengobservasi apa yang dikatakan klien maupun perilaku nonverbal yang ditujukan kepada klien. Lingkungan Orlando berasumsi bahwa lingkungan merupakan situasi keperawatan yang terjadi ketika perawat dan klien berinteraksi. kadang-kadang dalam situasi tertentu manusia dalam memenuhi kebutuhannya membutuhkan pertolongan. aktivitas perawat profesional yaitu tindakan yang dilakukan perawat secara bebas dan bertanggung jawab guna mencapai tujuan dalam membantu klien. perawat perlu mengobservasi perilaku pasien untuk mengetahui tanda-tanda distress. Manusia Manusia bertindak atau berperiaku secara verbal dan nonverbal. Pasien dapat mengalami distress terhadap lingkungan terapeutik dalam mencapai tujuannya. dan akan mengalami distress jika mereka tidak dapat melakukannya. 2. b. Fungsi keperawatan profesional (Professional nursing function) Tanggung jawab perawat yaitu membantu apapun yang klien butuhkan untuk memenuhi kebutuhannya. yaitu perilaku klien. merasakan. berpikir. dan tindakan perawatan yang dirancang untuk kebaikan klien. Itu merupakan alat yang dapat perawat gunakan untuk melaksanakan fungsinya dalam merawat pasien. Hal ini dijadikan dasar pernyataan bahwa perawat profesional harus berhubungan dengan seseorang yang tidak dapat menolong dirinya dalam memenuhi kebutuhannya. 25 . Ketika perawat menggunakan proes ini untuk mengkomunikasikan reaksinya dalam merawat pasien. reaksi perawat. tetapi berasumsi bahwa bebas dari ketidaknyamanan fisik dan mental. dan bertindak dalam situasi yang bersifat segera. Dalam teorinya tentang disiplin proses keperawatan mengandung elemen dasar. Alligood (2010) mengemukakan bahwa teori keperawatan Orlando menekankan adanya hubungan timbal balik antara klien dan perawat. 3.

c. Reaksi segera (Immediate reaction) Reaksi segera meliputi persepsi, ide, dan perasaan perawat dan klien. Reaksi segera adalah respon segera atau respon internal dari perawat dan persepsi individu klien. d. Disiplin proses keperawatan (Deliberative nursing process) Disiplin proses keperawatan diartikan sebagai interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat dan klien dalam hubungan tertentu, perilaku klien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan dalam hubungan yang harus dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk melakukan tindakan yang tepat. e. Peningkatan (Improvement): peningkatan berarti tumbuh lebih, klien menjadi lebih berguna dan produktif.

2.2.9 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Sr Callista Roy (1976) Model adaptasi Roy memandang klien sebagai suatu kesatuan adaptasi untuk menyesuaikan dengan lingkungannya. Ada tiga konsep yang menjadi dasar dalam teori Roy, yaitu manusia / klien, adaptasi, dan perawat. Manusia / klien dalam model adaptasi Roy dipandang secara holistik sebagai suatu sistem adaptasi yang berinteraksi dengan lingkungan. Klien disini tidak hanya individu, melainkan termasuk keluarga, kelompok, maupun komunitas. Tujuan interaksi klien dengan lingkungan adalah respon adaptif positif untuk berubah baik dalam lingkungan internal maupun eksternal sehingga meningkatkan integritas sistem. Kemampuan klien untuk beradaptasi tergantung dari pengalaman dan kemampuan mengatasi / menguasai suatu perubahan. Kemampuan mengatasi perubahan (tingkat adaptasi) dipengaruhi oleh tiga kategori stimulus. (1) Stimulus fokal merupakan stimulus internal dan langsung berhadapan dengan individu. (2) Stimulus kontekstual, yaitu stimulus lain pada situasi sama yang mempengaruhi respon klien terhadap stimulus fokal dan dapat diobservasi. (3) Stimulus Residual, stimulus tambahan yang relevan, tetapi sukar untuk diobservasi (mis. keyakinan, nilai, pengalaman yang lalu). Model Roy dapat langsung digunakan pada perawatan klien baik individu, keluarga, komunitas, maupun pada masyarakat miskin dan homeless. Misalnya pada masyarakat homeless. Remaja wanita homeless rentan terhadap seksual abuse. Pada suatu hari, dia mengetahui bahwa dirinya hamil. Stimulus fokal bagi individu pada kasus ini adalah keadaan kehamilannya itu. Untuk stimulus fokal bagi komunitas yaitu peningkatan jumlah kehamilan pada remaja. Untuk stimulus kontekstualnya yaitu respon remaja tersebut pada kehamilannya, misalnya perilaku dia menjaga kehamilan. Stimulus kontekstual bagi komunitas misalnya
26

sikap komunitas terkait aktivitas seksual. Stimulus residual bagi individunya yaitu umur dan tingkat maturitas remaja. Sedangkan stimulus residual bagi komunitasnya adalah tingkat edukasi. Peran perawat dalam teori Roy adalah membantu klien dalam beradaptasi dengan lingkungannya agar tetap survive. Hal ini dilakukan dengan cara menekan stimulus, meningkatkan tingkat adaptasi klien dan menggali sumber-sumber koping yang dimiliki klien.

2.2.10 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Madeleine Leininger (1978) Model keperawatan Leininger biasa dikenal dengan model keperawatan transkultural, mengingat Leininger menitikberatkan pada aspek kebudayaan yang terkait dengan status kesehatan klien. Keperawatan transkultural merupakan suatu area / wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktik keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Konsep utama yang disoroti dari model keperawatan ini adalah konsep caring dan perbedaan budaya (Leininger, 1980 dalam Leininger, 200). Diharapkan dengan

mempertimbangkan aspek kebudayaan dan memahaminya sebagai perbedaan, seorang perawat bisa menghilangkan stereotype. Mengindari asumsi seperti inilah yang diharapkan dapat membantu seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dari berbagai latar belakang budaya.

27

Tujuan keperawatan berbasis transkultural ini adalah memberikan perawatan yang konsisten dengan ilmu dan pengetahuan keperawatan dengan caring sebagai fokus sentral (Chinn dan Jacobs, 1995 dalam Tomey, 2006). Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (Sunrise Model) seperti yang terdapat pada gambar berikut. Dari model tersebut dapat diketahui bahwa terdapat berbagai macam faktor yang mempengaruhi keadaan suatu individu. Factor-faktor inilah yang perlu dikaji untuk dijadikan landasan berpikir untuk menentukan asuhan keperawatan apa yang tepat. Sedangkan untuk strategi keperawatan terkait intervensi menurut Leininger dibagi menjadi tiga, yaitu mempertahankan budaya, negosiasi budaya, dan restrukturisasi budaya.

2.2.11 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Jean Watson (1979) Watson mendefinisikan caring sebagai moral ideal yang berorientasi dan meliputi pada aspek-aspek diluar tindakan yang aktual sebagai hubungan transpersonal antara perawat dan klien yang mana tujuannya adalah meningkatkan kualitas-kualitas dalam kehidupan manusia. Caring science merupakan suatu orientasi human science dan kemanusiaan terhadap proses, fenomena, dan pengalaman human caring. Transpersonal Caring mengakui kesatuan dalam hidup dan hubungan-hubungan yang terdapat dalam lingkaran caring yang konsentrik – dari individu, pada orang lain, pada masyarakat, pada dunia, pada planet Bumi, pada alam semesta (Watson, 2004). Watson mengemukakan terdapat konsep-konsep atau asumsi utama dalam ilmu keperawatan, dimana konsep ini sebaiknya dijadikan landasan dalam perawatan klien yakni: a. Caring dapat diimplementasikan dan di terapkan secara interpersonal. b. Caring berisi carative factor yang menghasilkan kepuasan dari kebutuhan tertentu manusia. c. Caring yang Efektif dapat dijadikan sebagai promosi kesehatan dan pertumbuhan individu dan keluarga d. Respon caring bukan hanya pada momen tertentu sekarang tetapi juga masa depan. e. Lingkungan caring adalah sesuatu yang menawarkan perkembangan dari potensi yang ada, dan di saat yang sama membiarkan sesorang untuk memilih tindakan yang terbaik bagi dirinya saat itu. f. Caring lebih bersifat “Healthogenic” dari pada Curing. g. Praktik Caring lebih merupakan sentral dari keperawatan.

28

Memberikan perhatian terhadap praktik . Menelaah dan menghargai misteri spritual. untuk menempatkan carative factor-nya. b. j. Teori Carative Factor Original carative factors kemudian dikembangkan oleh Watson menjadi clinical caritas processes yang menawarkan pandangan yang lebih terbuka (Watson. raga dan pikiran. baik fisik maupun nonfisik. Terlibat dalam pengalaman belajar mengajar yang sebenarnya yang mengakui keutuhan diri orang lain dan berusaha untuk memahami sudut pandang orang lain. “soul care” bagi diri sendiri dan orang yang dirawat. dengan melibatkan jiwa dan keberadaan secara spiritual. keindahan. d. kenyamanan. lingkungan yang kompleks dari energi dan kesadaran.praktik spiritual dan transpersonal diri orang lain. c. i. dan dimensi eksistensial dari kehidupan dan kematian seseorang. dan mewujudkan dan mempertahankan sistem kepercayaan yang dalam dan dunia kehidupan subjektif dari dirinya dan orang dirawat. untuk terlibat dalam penerapan caring-healing yang artistik. g. Mengembangkan dan mempertahakan suatu hubungan caring yang sebenarnya. melebihi ego dirinya. dan kesatuan diri dalam seluruh aspek care. Hadir dengan sepenuhnya. yang berarti memberi 29 . yang berasal dari bahasa yunani “cherish”. h. Membantu terpenuhinya kebutuhan dasar. martabat. Menerapkan perilaku yang penuh kasih sayang dan kebaikan dan ketenangan dalam konteks kesadaran terhadap caring. yaitu: a. dengan kesadaran caring yang penuh. f. memberikan “human care essentials” yang memunculkan penyesuaian jiwa. dan kedamaian. e.  Clinical Caritas Process Watson memperkenalkan “clinical caritas process” (CCP). keholistikan. yang memiliki keholistikan. Menggunakan diri sendiri dan semua cara yang diketahui secara kreatif sebagai bagian dari proses caring. Menciptakan lingkungan healing pada seluruh tingkatan. 2004). Hadir untuk menampung dan mendukung ekspresi perasaan positif dan negatif sebagai suatu hubungan dengan semangat yang dalam dari diri sendiri dan orang yang dirawat. yang saling membantu dan saling percaya.

dan cinta. Model promosi kesehatan Pender ini berusaha untuk menjelaskan perilaku proaktif. Pender mendefinisikan promosi atau pelayanan kesehatan sebagai tindakan yang diarahkan berarti termasuk dalam tingkat kesejahteraan dan aktualisasi diri dalam individu atau keompok pada keluarga miskin dan masyarakat urban dalam menyelesaikan stressornya (Pender. hadir secara jiwa dan raga. dan mencoba melihat dan mengacu pada kerangka berpikir orang lain. seperti tinggi dan berat badan Pengaruh impersonal. 2. seperti usia dan ras     Karakteristik biologis. Jadi. misalnya kontrol persepsi. Terlibat dalam proses pengalaman belajar mengajar. yang dihadirkan sebagai kesatuan “menjadi dan berarti” (being and meaning).cinta dan perhatian khusus.12 Model Pelayanan Keperawatan Komunitas Menurut Nola Pender (1982) Nola Pender menggambarkan model keperawatan dengan pelayanan keperawatan intervensi langsung untuk promosi kesehatan. seperti harapan orang lain Faktor-faktor situasional. Lima jenis faktor modifikasi yang mempengaruhi persepsi masyarakat tentang mengejar perilaku promosi kesehatan antara lain: Faktor demografi. perawat diminta untuk berperilaku proaktif dengan memahami teori pembelajaran sosial pada masyarakat urban atau keluarga miskin.2. supportif dan mampu mengekspresikan perasaan negatif dan positif dari dasar-dasar nilai spiritual diri dalam hubungannya dengan pasien sebagai one-being-cared-for. manfaat meningkatkan kesehatan dan hambatan untuk terlibat dalam mempromosikan kesehatan perilaku. Karena promosi kesehatan merupakan penekanan utama dalam keperawatan kesehatan masyarakat atau komunitas. sepenuh hati dan cinta. seperti ketersediaan makanan sehat Faktor perilaku. status kesehatan. Murdaugh. seorang perawat kesehatan masyarakt perlu melakukan pengkajian atau wawancara terhadap masyarakat urban atau keluarga miskin atau perumahan penghasilan rendah dengan persepsi mereka tentang bagaimana meningkatkan kesehatan dan keselamatan. 2006). perawat dapat mempengaruhi motivasi warga dan kemampuan untuk mengubah keadaan mereka agar dapat 30 . clinical caritas process adalah suatu praktik perawatan pasien dengan sepenuh hati kesadaran. Promosi kesehatan merupakan prioritas dalam praktik keperawatan kesehatan masyarakat. Merawat pasien dengan penuh kesadaran. & Parsons. seperti stres menghadapi pola Dengan menggunakan model Pender. Jadi dalam model ini. Dengan mengetahui pendapat dan persepsi meraka.

psikologis. Selain itu model keperawatan menurut Florence Nightingale yang berorientasi pada lingkungan dan Leininger yang mengacu pada keperawatan transkultural. Model keperawatan yang sering digunakan adalah model keperawatan menurut Dorothea Orem (1971) yang mengemukakan tentang keperawatan mandiri atau Self Care Deficit Nursing Theory. Karakteristik individu dan perilaku spesifik kognisi dapat menyebabkan suatu komitmen untuk meningkatkan kegiatan kesehatan. Dalam model promosi kesehatan Pender. Misalnya. niat klien untuk diet dapat digerogoti oleh penyakit serius dari anggota keluarga dan kebutuhan untuk makan di restoran cepat saji dengan berangsur-angsurnya dengan pendekatan model dalam mengubah perilaku dan persepsi yang dibantu oleh perawat sehingga klien dapat kembali ke gaya hidup yang lebih normal. Model Pender berlaku untuk individu. Faktor-faktor yang sama juga dapat mempengaruhi upaya keluarga untuk mencari perawatan. perilaku dipengaruhi oleh karakteristik individu meliputi faktor biologis. keluarga dan kelompok atau komunitas. Faktor biologis bagi individu akan mencakup adanya masalah kesehatan lain dan mungkin ketidaknyamanan atau tanda kompilasi kehamilan. terdapat beberapa yang diterapkan sebagai pedoman bagi keperawatan komunitas perkotaan bagi masyarakat urban (poor & homeless). prevalensi kondisi serius lainnya mungkin mencegah perhatian yang memadai terhadap masalah kehamilan remaja. Fix sampe sini mak 31 . Komitmen untuk bertindak yang harus mengarah pada kinerja perilaku kesehatan dalam mempromosikan sebenarnya kecuali ada gangguan. Model Keperawatan yang dikemukakan oleh Betty Neuman (1972) yang lebih dikenal dengan istilah model Health Care System juga biasa digunakan. Bagi masyarakat. dan sosial budaya pribadi yang relevan dengan perilaku yang terlibat. Komitmen ini meliputi intervensi untuk bertindak dan rencana spesifik dari suatu tindakan. semua yang mungkin memotivasi remaja untuk mencari perawatan sebelum melahirkan.menyelesaikan masalah yang bisa dilakukan atau warga dapat menemukan koping untuk dirinya sendiri. Keempat model keperawatan tersebut dapat mengemukakan intervensi keperawatan yang sebaiknya dilakukan dalam komunitas masyarakat perkotaan khususnya kaum urban yang hidup miskin dan tidak memiliki tempat tinggal. Beberapa macam model keperawatan komunitas yang telah disebutkan.

2001). Tabel pengkajian dari dimensi populasi Variable Populasi Ukuran Kepadatan Komposisi Rata-rata Pertumbuhan Perbedaan budaya Kelas social Mobilitas Implikasi Kesehatan Komunitas Jumlah individu dan institusi kesehatan Peningkatan penduduk dapat meningkatkan stress. status perkawinan dalam komunitas? Jumlah populasi yang berubah selama 2 dekade terakhir? Diskriminasi kelompok yang ditunjukkan?apakah kelompok mempunyai keunikan dalam praktik /kebutuhan kesehatan? Apakah kelas yg berbeda menyarankan kebutuhan & pelayanan kesehatan? Bagaimana frekuensi anggota yg masuk & keluar dalam komunitas?? 3. Tabel pengkajian dari dimensi lokasi Variable Lokasi Batasan komunitas Lokasi pelayanan kesehatan Geografi Iklim Flora & Fauna Lingkungan yg dibuat manusia Implikasi Kesehatan Komunitas Batasan menentukan terjadinya sehat sakit. jenis kelamin. Tersedianya akses pelayanan kesehatan Kematian. atau kerusakan yang disebabkan karena bencana alam. populasi dan sistem social (Allender. Tersedianya tempat rekreasi Iklim yg ekstrim mempengaruhi kesehatan. Berikut ini akan dijelaskan mengenai pengkajian dalam berbagai dimensi komunitas. 1.2. Pertanyaan Pengkajian Apakah komunitas kota. Praktik kesehatan/ pengetahuan dipengaruhi o/ budaya.3.3 Asuhan Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan 2. ataupun tanah berdampak bagi manusia? 2. pinggiran kota atau pedesaan? Seberapa padat populasi? Komposisi umur. udara. Perbedaan kelas mempengaruhi pemanfaatan terhadap pelayanan kesehatan Mobilisasi mempengaruhi ketersediaan pelayanan. Lingkungan dapat mempengaruhi level kesehatan komunitas (polusi yang disebabkan oleh manusia) Pertanyaan Pengkajian Dimana lokasi komunitas?Apakah lokasi bagian dari komunitas yg luas?Apa saja komunitas kecil di dalamnya? Dimana lokasi institusi kesehatan?Apakah dekat dengan komunitas? Apakah geografis mendorong kesehatan?atau merupakan ancaman? aktifitas Berapa rata-rata temperature?Seberapa ekstrim?Apakah berdampak bagi kesehatan? Apakah tumbuhan dan hewan merupakan ancaman bagi kesehatan? Apa industri besar yang ada?Apakah air.1 Pengkajian Keperawatan Komunitas Pengkajian keperawatan komunitas merupakan suatu proses tindakan untuk mengenal komunitas. Tabel pengkajian dimensi Sistem Sosial Variabel Sistem Sosial Implikasi Kesehatan Komunitas Pertanyaan Pengkajian 32 . Tinggi rendahnya kepadatan berpengaruh kepada tersedianya pelayanan kesehatan Komposisi dari populasi menentukan tipe kebutuhan kesehatan Kecepatan pertumbuhan penduduk meningkatkan permintaan akan pelayanan kesehatan Kebutuhan akan kesehatan berubah sesuai dengan budaya. Tanaman beracun atau penyakit yang dibawa o/ hewan dapat mempengaruhi kesehatan komunitas. Terdapat tiga dimensi komunitas sebagai klien yaitu: lokasi. menentukan penyebaran penyakit.

pusat emergensi. keluarga. Sejarah-Apa yang Anda dapat dari pengamatan sementara diwilayah tersebut? Tanyakan sejarah wilayah tersebut kepada tokoh masyarakat 2. Jenis pelayanan perlindungan yang tersedia (contoh. Apakah masyarakat merasa aman? 5. Pelayanan kesehatan dan sosial-masalah akut dan kronik? Unit pelayanan kesehatan baik modern atau tradisional.bagaimana penduduk bepergian? Jenis transportasi umum dan individu yang digunakan? Apakah Anda melihat bus. Apakah penduduknya homogen? 3. Dalam pengkajian ini perawat dapat menemukan data-data yang berada di masyarakat diantaranya. Efendi & Makhfudli. jalur sepeda. taxi. Komunikasi antar organisasi di setiap sistem. 2001(hlm. 2009 (hlm. Apa saja fungsi dari setiap sistem utama? Apa saja subsistem utama? Seberapa baik organisasi melakukan fungsinya? Apakah terdapat konflik antar sistem? Apakah ada kesepakatan mengenai tujuan komunitas? Apakah ada sistem yang dominan dibandingkan yg lain? - Tipe Pengkajian Komunitas Jenis pengkajian kebutuhan masyarakat (Allender & Speadley. kesejahteraan Sistem politik Sistem rekreasi.apakah ada tanda dari aktivitas politik Data 33 . Adakah klinik. legal. Eigsti. kegiatan yang menunjang roda perekonomian. serta jumlah pengangguran 4. serta kesehatan jiwa komunitas 3. trotoar.364)) a. Pengkajian ini dapat digunakan jika perawat sedang bertugas di dalam keluarga. dan data umum yang da di masyarakat. tempat pelayanan sosial. industry yang ada. Catat perbedaan dan cirri-ciri tiap suku atau etnis. pelayanan kesehatan. komunikasi Setiap sistem harus memenuhi fungsi dari kesehatan komunitas.status ekonomi masyarakat. 4. Kejahatan yang sering terjadi. dan kondisi perumahan. rumah sakit. atau populasi. Windshield Survei Windshield survei mengumpulkan dan mengunakan data yang telah tersedia di masyarakat untuk mempelajari masalah masyarakat tersebut. Kelompok etnis-identifikasi berbagai suku atau etnis yang Anda jumpai. organisasi. grup. Nilai dan keyakinan-Apakah disana terdapat rumah ibadah? Apakah tempat itu terlihat homogen? Subsistem 1. pemadam kebakaran. sanitasi). Keamanan dan transportasi. McGuire. peta wilayah. 154)). Ekonomi. polisi. keadaan ekonomi. Kesepakatan mengenai sarana untuk mencapai tujuan komunitas. home care. 2. iklim. Inti komunitas Observasi 1. sosial dan pemerintah. jenis kelamin.2002 ( hlm 471). Pemerintah dan politik. atau fasilitas untuk orang dengan kekurangan fisik.Sistem kesehatan Sistem keluarga Sistem ekonomi Sistem pendidikan Sistem agama. tenaga kesehatan. Lingkungan fisik-keadaan lingkungan atau geografis. Demografi-tipe orang seperti apa yang Anda jumpai? Data usia. Kolaborasi antar sistem mengidentifikasi tujuan & mengatasi masalah kesehatan. Berikut komponen-komponen pengkajian dalam windshield survei (Stone. batas wilayah.

rekreasi. 7. pertemuan) partai apa yang mendominasi? Apa hak komunitas dalam pemerintahan? Komunikasi. Pengkajian dimulai dengan mereview semua data yang ada di komunitas. keadaan geografis. terdiri dari sepuluh variabel diantaranya sistem kesehatan. status sosial. kepadatan. pendidikan. Setiap anggota dalam tim mengkaji beberapa variabel di tiap dimensi. Perasaan/ masalah aktual atau potensial. politik.dimana tempat bermain anak? Fasilitas apa yang tersedia?siapa saja yang berperan serta Persepsi Penduduk-bagaimana pendapat tentang komunitasnya? Identifikasi kekuatan. Kesehatan komunitas dipengaruhi oleh keadaan lingkungan seperti pelayanan kesehatan. religious. 3. Pengkajian Subsistem Komunitas (Community Subsistem Assessment) Pada pengkajian subsistem komunitas. legal. 1. perawat komunitas berfokus pada satu dimensi kehidupan komunitas. dan tempat tinggal. perbedaan budaya. sosial sistem. Selanjutnya melakukan survei dengan menyusun data-data demografis terutama populasi (termasuk variabel-variabel populasi). Pengkajian Komprehensif (Comprehensive Assessment) Pengkajian komprehensif berusaha menemukan seluruh data kesehatan yang relevan. (contoh poster. pemahaman tentang variabel populasi akan mempermudah perawat komunitas dalam melakukan pengkajian.identifikasi jenis komunikas.6. Komunitas memiliki tiga dimensi yaitu lingkungan. Variabel populasi antaralain jumlah. Pengkajian berorientasi masalah digunakan jika dengan Windshield Survei tidak cukup untuk menegakkan diagnosa sedangkan jika menggunakan pengkajian komprehensif membutuhkan dana yang terlalu mahal. hewan. 4. Apakah di institusi pendidikan terdapat unit kesehatan siswa (UKS) Rekreasi. dan komunikasi. tumbuhan. kesejahteraan. Untuk mendapatkan data yang lebih detail dengan melakukan 34 . Pengkajian subsistem akan lebih baik jika dilakukan dalam tim. 5. Dimensi yang ketiga yaitu populasi. dan elektronik yang biasa dipakai Pendidikan-identifikasi fasilitas dan program kerja institusi pendidikan. iklim. media cetak. 2. komposisi populasi. Dimensi yang kedua /subsistem yaitu sosial sistem. Dengan cara ini akan didapatkan gambaran pengkajian yang komprehensif. 8. ekonomi. dan mobilitas. dan populasi. Persepsi Anda-pernyataan umum mengenai kesehatan komunitas. rata-rata pertumbuhan atau kematian. keluarga. Berorientasi Masalah (Problem-Oriented Assessment) Jenis pengkajian kebutuhan masyarakat yang kedua berfokus pada satu masalah yang akan di kaji lebih lanjut di komunitas. selanjutnya informasi yang telah didapat dapat di sharing bersama.

Pada pengkajian ini perawat berperan sebagai partner dalam intervensi keperawatan komunitas. Tahap perencanaan       Menentukan apa dan kenapa informasi tersebut Menentukan data yang tepat untuk dikumpulkan Memilih populasi yanga akan di survei Memilih metode /instrument survei yang akan digunakan (contoh. wawancara. ketertarikan. Survei Survei merupakan suatu metode pengkajian dengan beberapa pertanyaan dalam yang akan digunakan untuk menganalisa area atau group rangka mengumpulkan data tertentu. Tiga level pendataan penngkajian asset komunitas 1. 2001). 6. kuesioner. musyawarah a. dan bagaimana perubahan dapat terjadi ((within & Altschuld. survei. Metode survei dikembangkan dalam tiga tahap pengkajian(Allender & Speadley. Berikut metode pengkajian komunitas yang dapat digunakan antara lain. studi epidemiologi deskriptif. 1995) Allender & Speadley. sehingga pengkajian ini jarang digunakan. Pendataan keahlian. 1.1998) Allender & Speadley. Tahap pengumpulan data Identifikasi data kolektif 35 . 2001). Pendataan asosiasi dan organisasi kota lokal 3. teknik komunikasi yang efektif. Pengkajian ini banyak menghabiskan waktu dan biaya. 2001).interview secara langsung dengan masyarakat. atau panggilan telepon) Menentukan jumlah sampel 2. Pendataan institusi local Metode Pengkajian Komunitas Pengkajian komunitas dapat dilakukan dengan berbagai macam metode. dan kemampuan menginvestigasi dengan baik. dan pengalaman individu 2. Pengumpulan data dalam area komunitas dapat melatih sikap professional perawat dalam membuat keputusan. bagaimana keputusan itu dibuat. Pengkajian asset komunitas (community assets assessment) Pengkajian yang terakhir ini berfokus pada kekuatan dan kemampuan komunitas dari pada masalahnya sendiri ((Ammerman & Parks. Perbedaan metode yang digunakan bukan menjadi suatu masalah asalkan tujuan pengumpulan datanya dapat terpenuhi. talenta. Pengkajian komprehensif tidak hanya menjelaskan sistem dari komunitas tetapi juga bagaimana kekuatan atau kelebihan dapat tersebar.

Studi Epidemiologi Deskriptif Pengakajian studi epidemiologi merupakan pengkajian terhadap frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan pada sekelompok (Allender & Speadley. Sumber data yang diperoleh dari sumber utama lebih akurat dan komperhensive. Anggota yang ada dalam grup berasal dari variable demografik yang sama. dan tekstular. pemuka masyarakat. a. Musyawarah Musyawarah merupakan pertemuan seluruh warga desa untuk membahas dan merencanakan penanggulangan masalah kesehatan hasil survei (Efeny & Makhfudli.    Menolak dan menerima penngurus 3. dll. Sumber Data Komunitas Primer Diperoleh secara langsung. Sumber Negara 36 . Dengan mengunakan internet perawat dapat mengakses data internasional terkait dengan informasi imigran dan pengungsi local. c. b. 2001). Focus Group Di desain untuk memperoleh opini masyarakat. berasal dari seseorang yang mengetahui komunitas dengan baik dan mencatat apa yang meraka lakukan. b. Menentukan hubungan dan analisis data Menyajikan laopran dalam bentuk tabular. Sekunder. Merupakan grup kecil (5-15 orang). Dan dapat menentukan intervensi apa yang akan dilakukan kepada sekelompok masyarakat tersebut. c. grafika. Sumber Internasional Data internasional bersumber dari beberapa lembaga salah satunya the World Healthh Organization (WHO). Dengan adanya musyawarah masyarakat. Keuntungan metode ini adalah efisien dan murah. melalui wawancara. Sumber Nasional Data nasional bersumber dari lembaga pemerintahan yang melakukan survei kesehatan terkait dengan pelayanan kesehatan komunitas. Pengkajian dengan metode ini sangat baik dilakukan karena perawat dapat mengetahui kapan dan dimana penyebaran penyakit itu berada. 2009). dan petugas kesehatn dapat dipertemukan untuk membahas penyelesaian dari masalah yang didapat dari hasil survei. Tahap analisis dan penyajian data Sajikan data dalam bentuk tabel dan analisi. d.

graphic dan table untuk mendukung suatusintesa data. d. diaman data lain berhubungand negan dimensi sosial. Sumber Lokal Analisis data Untuk menjadikan keperawatan langsung yang bernilai. Data yang diberikan berupa data statistic kehidupan dan angka kematian. interpretasi. perawat kesehatan komunitas mungkin mencatat bahwa sebagian anak memiliki lebih banyak injuri daripada anak normal pada usia itu. Hubungan setiap langkah proses diagnostik Pengumpulan data Analisis data Pengembangan diagnostic hipotesis Evaluasi hipotesis Pernyataan diagnosis 37 . Kemudian hipotesis diuji dengan mengumpulkan data tambahan baik pendukung maupun penghambat diagnsotik. Gambar 1. Karena data dapat menghasilkan beberapa diagnostik hipotesa. Contohnya. Analisis ini meliputi klasifikasi. 1. Hipotesis diagnostik merupakan kemungkinana penjelasan dari kondisi klien dan dihasilkan pada dasar dari pola data dan tren. Interpretasi Ketikda data sudah diklasifikasi. dan validasi. beberapa data dapat merefleksikan dimensi biofisik. 2. Klasifikasi Data pertama kali harus di klasifikasi dan dipisahkan ke kelompok spesifik. Data ini mennyarankan hipotesis dari kekerasan pada anak untuk menjelaskan lengan patah saat ini. Validasi Aspek terakhir dari analisis data adalah kesimpulan validasi atau hipotesa diagnostik. Kesimpulan ini yang bisa disebut sebagai diagnostik hipotesa. Perawat mengevaluasi hipotesis apakah cocok dengan keadaan klien. pengkajian data harus diproses dan dialysis. Sebagai contoh data mungkin mengandung sejarah injuri yang bisa ditanyakan pda anak dengan pengalaman masalah ekonomi dan tidak adekuatnya dukungan emosi dan sosial. data kemudian harus di intepretasikan. 3. Proses validasi ini dapat disebut sebagai evaluasi hipotesa. Intepretasi juga mengandung sekelompok petunjuk ke pola yang dapat diketahui dan tren pada data dan membuat kesimpulan berdasarkan data. Data yang telah divalidasi oleh beberapa prosedur kemudian disimpan. Kemudian dapat dipaparkan berupa visualisasi berupa chart. Data-data yang diberikan lebih akurat. Contohnya. perawat kesehatan komunitas harus memprioritaskan hipotesis yang sesuai dengan isyarak diagnostik yang ada.Data ini bersumber dari departemen kesehatan pemerintah. Intepretasi data meliputi perbandingan spesifik data klien dengan norma yang diketahui dan standar atau syarat diagnostik.

4. jalanan. 4) sex bebas dan lainnya 2. High-risk nursing diagnose Mencerminkan adanya potensi untuk berkembangnya masalah kesehatan karena adanya faktor risiko yang teridentifikasi 3. Temperature. tanaman. Wellness nursing diagnose Mencerminkan keadaan klien yang dapat ditingkatkan ke tingkat yang lebih tinggi. Ialah fisik dan biologic. Actual Nursing diagnoses Menjelaskan masalah kesehatan yang ada dialami oleh klien 2. Syndrome Syndrom merupakan sekelompok terkait diagnosa actual dan risiko tinggi. kimia. Lingkunga biologik meliputi : agen. udara. Diagnosa actual dan risikomerupakan focus diagnose maslah keperawatan. Lingkungan Lingkungan dibagi 2 berdasatkan bentuknya. pematauan terhadap 38 . Contoh pelayanan yang ada ialah : Rumah Sakit.Tidak dikonfirmasi 2. dan lainnya 3. Kementrian kesehatan.mengindikasikan perlunya intervensi untuk secara aktif mempromosikan kesehatan.3. Fisik meliputi : ketersediaan air. 3) Merokok yang umum bagi masyrakat kota. Pelayanan kesehatan Tersedianya Pelayanan kesehatan merupakan hal yang menjadi suatu kewajiban untuk tersedianya di kota. perumahan. 2) makanan yang tinggi kolesterol dan rendah serat. harga obat. ini termasuk tanggapan positif klien di mana tidak ada perubahans diperlukan dan intervensi keperawatan yang terdiri dari penguatan dari keadaan saat ini. hewan dan manusia. Masalah kebiasaan Masalah kebiasaan yang sering muncul ialah seperti : 1) Kurangnya oleh raga. 1995): 1. Panduan untuk menyatakan diagnose keperawatan dibagi menjadi 4 tipe konsep (carpenito. Diagnosa mungkin lebih baik disebut sebagai helath-promotive nursing diagnoses.2 Diagnosis Keperawatan kesehatan komunitas Terdapat beberapa masalah yang sering muncul pada masyarakat pekotaan ialah : 1. gedung. tanah. Tipe lain dari diagnosis kesehatan diidentifikasi oleh perawat kesehatan masyarakat adalah positive nursing diagnoses.

Gambar 2. 39 . c) kurangnya tenaga kesehatan terlatih yang ditunjukan dengan: Angka mortalitas bayi sebesar 17. Skema kategorisasi diagnose keperawatan Nursing diagnosis Problem focused nursing diagnosis Wellness nursing diagnose Syndromes Actual nursing diagnose Positive diagnoses nursing Health-promotive nursing diagnoses High-risk diagnose Anderson dan Mc Farlane (1996) menggunakan teori Neuman dari komunitas dan menggunakan diagnosis keperawatan berdasarkan sistem penggabungan penarikan nursing kesimpulan. tapi diagnosis disarankan oleh data yang ada saat ini yang cukup untuk konfirmasi. Diagnosa keperawatan juga bisa disebut sebagai diagnosa kemungkinan. Jam kerja mulai pukul 08. b)pelayanan antepartum yang tidak dapat diakses.keadaan promotif dan diagnosa positif mungkin dianggap diagnosa kesehatan. Pada sistem ini mereka menggunakan logika berpikir atau penarikan kesimpulan untuk menggambarkan masalah.3 tiap 1000 kelahiran hidup. Data klinik yang menyatakan kurangnya tenaga. menjelaskan faktor etiologi. Tanda dan gejala dari diagnosis keperawatan kesehatan komunitas adalah pernyataan kesimpulan yang menjelaskan durasi atau besarnya masalah durasi atau besarnya masalah. Tidak ada bus yang melewati depan klinik.00-17:00. serta identifikasi tanda dan gejala yang menjadi karakteristik masalah. senin sampai jumat. Sebuah diagnosa yang mungkin bukan merupakan kategori diagnosis. Contoh diagnose keperawatan kesehatan komunitas: Tingginya angka mortalitas bayi berhubungan dengan a) ketidakmampuan sumber di departemen kesehatan setempat dalam memenuhi kebutuhan antepartum. yang tidak bisa diakses oleh komunitas yang bekerja.

Omaha system ini menggambarkan situasi yang ditemukan di klien komunitas. Masing-masing model tersebut membantu mempromosikan pelayanan kesehatan yang efektif .- Tidak ada perawat atau bidan yang berlisensi di komunitas Sedangkan Carl O. W. Helvie (1998) berfokus pada konsep energy atau memasukan teori energy di dalam diagnosis keperawatan kesehatan komunitas. menetapkan intervensi keperawatan dan hasilnya.3 Perencanaan Langkah-langkah dalam perencanaan yang perlu diperhatikan (Effendy. mendesign program program pendidikan. dan perilaku sehat dengan tanda dan gejalanya. F. fokus utama model ini adalah perawatan komunitas yang mempunyai tiga rencana yaitu klasifikasi masalah.3. 2009): a. koordinator pelayanan kesehatan. pengelola/manager. menjelaskan sasaran program. B. dan nilai skala masalah untuk hasil. b) kurangnya pengetahuan terhadap pencegahan. data yang mendukung 3000 masyarakat miskin tidak mendapatkan layanan kesehatan: 90% (2700 orang) dari populasi ini berobat ke unit gawat darurat untuk kasus yang bukan gawat darurat dan 90% populasi miskin tidak dapat mendiskusikan perilaku pencegahan yang bisa dilakukan.A. intervensi. tempat bertanya/fasilitator. & Spradley.. & Makhfudli. Proses keperawatan hamper sama dengan proses perencanaan kesehatan (The health planning process). Menggunakan Model Model digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik target populasi untuk intervensi. fisiologis. pengorganisir pelayanan kesehatan. psikososial. Peranan yang dapat dilakukan oleh perawat dalam menangani masalah kesehatan masyarakat perkotaan yaitu pelaksanan pelayanan keperawatan. pendidik. pembaharu. Salah satu dari diagnosis menurut Helvie ini adalah sebagai berikut: Defisit energy komunitas berhubungan dnegan ketidakmampuan dan ketidaksesuaian layanan kesehatan bagi masyarakat miskuin yang ditunjukan dengan a) kurangnya fasilitas layanan kesehatan. J. Menentukan prioritas 40 . b. pengamat kesehatan. (Allender. Model ini melibatkan 40 klien bermasalah yang diagi dalam 4 domain: lingkungan. . The Health Planning Process Hal ini banyak digunakan oleh pendidik kesehatan (health educator) ketika membuat . role model. 2001) Omaha System. fasilitator.

perawatan yang berkesinambungan . keluarga. Salah satu system yang biasa digunakan adalah hierarki komunitas.A. komunikasi . dapat dicapai. Menentukan kriteria hasil Penentuan kriteria hasil (outcomes) harus ditujukan untuk komunitas. Dokumentasi Rencana tindakan keperawatan ditulis dalam suatu bentuk yang bervariasi guna mempromosikan perawatan yang meliputi perawatan individu. merupakan area yang yang berhubungan dengan kesehatan klien yang dapat diidentifikasi untuk intervensi. klien (siapa saja yang ada/hadir dan jumlanhnya). & Spradley. saat dan setelah kegiatan dilakukan. Kebutuhan Maslow : Aktualisasi diri Kebutuhan Komunitas : Aktualisas komunitas Harga Diri Kasih sayang dan rasa memiliki Kebanggaan komunitas Pendidikan partisipasi Keamanan perlindungan aman Fisiologi Aktivitas yang mendukung kehidupan c. rencana mendefinisikan suatu aktivitas yang diperlukan untuk membatasi faktor-faktor pendukung terhadap suatu permasalahan. rasional.. Kriteria hasil harus spesifik. merupakan pernyataan yang 41 . hingga respon klien sebelum. Beberapa hal yang harus diperhatian dalam dokumentasi (Allender. Menentukan Rencana Tindakan Rencana tindakan adalah desain spesifik intervensi untuk membantu komunitas dalam mencapai kriteria hasil. Dokumentasi ini sebagai bukti legal keperawatan dan juga sangat penting ketika perawat mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan. (2) Aggregate needs. perawat dan tenaga kesehatan yang hadir. oleh sebab itu. Rencana tindakan dilaksanakan berdasarkan komponen penyebab dari diagnosis keperawatan.Melalui pengkajian. J. W. dan komunitas . (1) database (informasi subjektif dan objektif). perawat dapat mengidentifikasi respon komunitas yang aktual atau potensial yang memerlukan suatu tindakan. B. kegiatan apa saja yang telah dilakukan. e. Kriteria hasil harus menunjukkan “apa yang akan dilakukan komunitas serta kapan dan sejauh mana tindakan akan bisa dilakukan”. dapat diukur. Dokumentasikan hal-hal yang telah dilakukan mulai dari waktu. 2001). (3)objectives. dan ada batas waktu. dan evaluasi. d.

(5) Outcome measurement. rehabilitatif dan resosialitatif. Setiap kegiatan yang akan dilakukan harus memiliki dasar pemikiran yang kuat (rasional).: (4) planned actions merupakan aktivitas yang spesifik atau metode untuk pemenuhan sesuatu yang objektif atau hasil yang diharapkan.4 Implementasi Ruang lingkup praktik keperawatan masyarakat meliputi: upaya-upaya peningkatan kesehatan (promotif). Tujuan umum meliputi hal-hal general berkaitan dengan masalah keperawatan masyarakat perkotaan yang ingin dicapai perawat melalui asuhan keperawatan yang sedang dibuat. Penetapan rencana kegiatan yang akan dibuat mengacu pada diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan. aktual dan resiko. tujuan terdiri dari tujuan umum dan khusus. perawat akan menentukan masalahmasalah keperawatan (diagnosa keperawatan) yang terjadi dalam masyarakat perkotaan. pemulihan kesehatan (rehabilitatif) dan mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu. Tujuan ini harus lebih dispesifikasikan lagi kedalam tujuan khusus agar nantinya perawat dapat menentukan indikator/kriteria keberhasilan yang lebih spesifik juga. pencegahan (preventif). asuhan keperawatan untuk masyarakat perkotaan berfokus pada pencegahan penyakit pada sebuah populasi (preventif) dan kontrol lingkungan (promotif) (Nies.menggambarkan tingkah laku dimana perawat dan klien mengharap hal ini dapat terpenuhi/pernyataan spesifik tentang hasil yang diinginkan dalam tingkah laku yang dapat diukur. Diagnosa tersebut harus disusun berdasarkan masalah yang prioritas. 42 . - Menetapkan rencana kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan dan keperawatan. keluarga. menilai keefektivitasan pencapaian apakah hasil yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan dan keinginan atau tidak. kelompok dan masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakatnya (resosialisasi). pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif).3. . Pada tahap sebelumnya dalam proses keperawatan perawat akan melakukan serangkaian pengkajian (mulai dari pengumpulan data serta analisa data yang didapatkan) dan kemudian dari hasil analisa data. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah: - Menetapkan tujuan dan sasaran pelayanan. Sehingga dapat dikatakan dalam memberikan asuhan keperawatan masyarakat perkotaan (komunitas) kegiatan yang ditekankan adalah upaya preventif dan promotif tapi juga tidak mengabaikan upaya kuratif. 2001). Berbeda dengan asuhan keperawatan individu ataupun keluarga.

2005). Misalnya. Implementasi meliputi persiapan dan tindakan. 43 . b. c. bagaimana. 2005). kapan. salah satu tujuan dalam askep ialah masyarakat memahami cara pencegahan DBD.- Menetapkan kriteria keberhasilan dari rencana tindakan yang akan dilakukan. siapa. Setiap asuhan yang diberikan oleh perawat tentunya memiliki tujuan tertentu. Ugem Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas kemampuannya dan bertindak dengan sikap optimis bahwa asuhan keperawatan yang diberikan akan tercapai. Dalam melaksanakan implementasi yang menjadi fokus adalah : program kesehatan komunitas dengan strategi : komuniti organisasi dan partnership in community (model for nursing partnership) (Mubarak. Prinsip yang umum digunakan dalam pelaksanaan atau implementasi pada keperawatan komunitas adalah : a. Rasional Perawat kesehatan masyarakat dalam melakukan asuhan keperawatan harus menggunakan pengetahuan secara rasional demi tercapainya rencana program yang telah disusun (Mubarak. e. 2005). tenaga professional dan klien harus mempunyai ide yang jelas tentang apa. maka indikator keberhasilannya ialah masyarakat (perwakilan/sampel) mampu menyebutkan semua cara yang sebelumnya telah dijelaskan oleh perawat (3M plus). Inovative Perawat kesehatan masyarakat harus mempunyai wawasan luas dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi (IPTEK) dan berdasar pada iman dan taqwa (IMTAQ) (Mubarak. Dalam persiapannya. Untuk mengetahui apakah tujuan dari setiap kegiatan yang telah direncanakan tercapai atau tidak. maka perawat harus metapkan pula hal-hal yang menjadi tolak ukur (kriteria/indikator) keberhasilan. individu. - Menetapkan kegiatan alternatif jika kegiatan yang akan dilakukan memiliki potensi sulit dilakukan untuk masyarakat. 2005). d. kelompok dan masyarakat berdasarkan azas kemitraan (Mubarak. Mampu dan mandiri Perawat kesehatan masyarakat diharapkan mempunyai kemampuan dan kemandirian dalam melaksanakan asuhan keperawatan serta kompeten (Mubarak. keluarga. tim kesehatan lain. 2005). Integrated Perawat kesehatan masyarakat harus mampu bekerjasama dengan sesama profesi.

J.A. mendokumentasikan perkembangan fase implementasi dengan proses evaluasi yang merupakan pencapaian tindakan yang terus menerus dari tindakan perencanaan. Perawat menggunakan teori yang tepat b.. Kemudian perawat mencocokkan keduanyauntuk memenuhi tugas delegasi yang tepat. Menyediakan lingkungan untuk implementasi. intervensi yang dipilih diidentifikasi selama evaluasi pendekatan alternative untuk menyelesaikan masalah. c. d. J. & Spradley. 1999): a. W.. menginterpretasikan rencana kepada klien. tetapi point ini berfungsi untuk melihat kembali beberapa batasan (hambatan) yang mungkin timbul selama perencanaan. contohnya menyediakan kenyamanan dan kemanan klien selama implementasi. Mengidentifikasi kebutuhan pengetahuan dan kemampuan. serta sikap dan degan hati hati. B. Perawat membantu memfasilitasi lingkungan yang kondusif untuk melaksanakan rencana seperti ruangan yang tenang yang digunakan untuk sesi belajar (teaching). Mengakui rintangan dalam implementasi. Untuk meraih delegasi yang efektif. e. pemahamannya. Menunjukkan tanggungjawab dalam implementasi Tanggungjawab perencaan perawatan dipegang oleh perawat komunitas. ada beberapa tindakan yang perlu diambil dalam implementasi. personnel. b. pengetahuan tentang tindakan kontrasepsi dan perkembanagan remaja dibutuhkan untuk mengimplementasikan rencana untuk meningkatkan penggunaan kontrasepsi yang marak digunakan pada aktivitas seksual remaja. Sedangkan dalam tindakannya.dimana dan bagaimana rencana (asuhan keperawatan) akan dilaksanakan. termasuk waktu. c. d. Delegation. Rencana dimodifikasi dan kemudian dilaksanakan oleh professional atau klien. Interaksi ini dapat membina hubungan saling percaya antara perawat dan klien. Tugas dalam implementasi (Clark. Perawat dengan tim kesehatan lain menyiapkan klien untuk pelayanan dengan mengkaji pengetahuan klien. Idealnya. M. dan peralatan. perawat komunitas perlu mengidentifikasi dengan tepat apa yang dibutuhkan serta harus dilaksanakan dan mana yang menjadi prioritas untuk pencapaian hasil. 2001) : a. e. Perawat dan tim monitor. Contohnya . 44 . Modifikasi membutuhkan observasi yang konstan dan simpangan selama implementasi karena tindakan ini menentukan kesuksesan rencana. diantaranya (Allender.

Pada intinya tujuan dari tahap ini adalah sebagai bahan acuan utnuk tindak lanjut asuhan keperawatan yang akan dilakukan berikutnya. pelaksanaan (proses) dan hasil akhir (output).3. Evaluasi dilakukan atas respon komunitas terhadap program kesehatan dalam upaya mengukur kemajuan terhadap tujuan obyektif program. Melaksanakan aktivitas/tindakan yang direncanakan. Dari situlah perawat dapat menilai apakah kegiatan yg dilakukan optimal atau tidak jika nantinya diberikan kembali ke dalam masyarakat. Evaluasi yang dilakukan termasuk dari pendapat/respon peserta (klien) dan juga analisis dari perawat (Nies. program evaluasi yang kita jalankan didasarkan pada beberapa prinsip ((Lundy. Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. Data evaluasi merupakan hal penting untuk memperbaiki database dan diagnosis keperawatan komunitas yang dihasilkan dari analisis pengkajian data komunitas. Penilaian yang dilakukan berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara proses dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Menggunakan Pendekatan Multipel 45 . Memperkuat Program Tujuan perawatan adalah promosi kesehatan dan peningkatan kepercayaan diri komunitas. 2005).Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah masukan (input). atau tersier tergantung kebutuhan klien.f. sesuai dengan perencanaan yang telah disusun semula. b. 2. Evaluasi membantu pencapaiain ini dengan cara menyediakan proses yang sistematik dan berkelanjutan dalam mengakaji program dampaknya serta hasil akhir program tersebut. Sejalan dengan landasan teoretis dalam menjalin kemitraan dengan komunitas. Dari evaluasi yang dilakukan perawat akan menemukan kelebihan dan kekurangan dari kegiatan yang telah dilakukan. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian masyarakat dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan masyarakat komunitas dengan tujuan yang telah ditetapkan atau dirumuskan sebelumnya (Mubarak. Tindakan yang direncanakan dilaksanakan oleh seseorang yang diberi tanggungjawab. 2009) yaitu: a. 2001).5 Evaluasi Evaluasi merupakan komponen penting dalam proses keperawatan untuk menilai apakah askep yang telah dilaksanakan berhasil atau tidak. sekunder. Tindakan ini dapat terjadi pada level pencegahan primer.

Efisiensi biaya d. selain mengukur hasil akhir. Merancang Evaluasi untuk Memenuhi Isu Nyata Program berbasis dan berfokus-komunitas. dalam jangka waktu berapa? Perubahan ini dapat diamati seperti gambar dibawah ini: Gambar 2. perencanaan. Hal ini serupa dengan kontek profesional maupun nonprofesional. dan perilaku individu yang terlibat didalamnya. Tidak ada satu pendekatan yang lebih unggul. Komponen penting dalam fokus evaluasi (Lundy.1 Perubahan dampak kesehatan Keterangan: : peran masyarakat : peran perawat 46 . tetapi metode yang dipilih harus señalan anegan tujuan program. Memungkinkan Fleksibilitas Pendekatan evaluasi harus fleksibel dan bersifat prestiktif. f. Dampak : apakah status kesehatan meningkat/menurun. 2009) adalah: a. c. Efektifitas kerja e. yang berakar pada comunitas nyata dan berdasarkan pengkajian comunitas. harus meningkatkan ketrampilan. Perkembangan atau kemajuan proses c. Membangun Kapasitas Proses evaluasi.Selain pendekatan multidisiplin. akan sulit untuk mendokumentasikan munculnya perubahan yang sering kali meningkat secara tajam dan komplek. d. Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan pelaksanaan b. metode evaluasi mungkin banyak dan bermacammacam. jika tidak. Menciptakan proses partisipasi Apabila anggota komunitas merupakan bagian dari pengkajian. analisis. e. harus memiliki rancangan evalausi untuk mengukur kriteria mengenai pentingnya program tersebut bagi komunitas. merekapun harus menjadi mitra dalam evaluasi. dan implementasi. pengetahuan.

(Allender.Evaluasi ada 2 konsep dasar : hasil evaluasi dan proses evaluasi.. Contohnya. W. (Allender. & Spradley. Ketika tingkah laku (behavior) klien cocok dengan tingkah laku yang diinginkan. merawat anggota keluarga. J. perempuan penderita diabetes mempunyai masalah kegemukan. Mereka mengevaluasi goal mereka dengan menentukan/menilai apakah mereka mendapatkan kriteria tersebut atau tidak. perempuan tadi direncanakan untk mendapatkan sasarannya (goal). Evaluasi memerlukan maksud/tujuan. yaitu sasaran (the goal). Misalnya. Kesimpulan yang bisa diambil yaitu tujuan akhir perawatan komunitas adalah kemandirian keluarga yang terkait dengan lima tugas kesehatan. menciptakan lingkungan yang dapat mendukung upaya peningkatan kesehatan keluarga serta memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia. & Spradley.. Tujuan dari evaluasi dalam keperawatan adalah untuk menentukan apakah tindakan perencanaan sesuai dengan yang klien butuhkan. mengambil keputusan tindakan kesehatan. dengan mengidentifikasi criteria spesifik seperti pembatasan kalori per harinya dan program latihan. diagnosis yang salah. dan membandingkan data yang terkumpul dengan tujuan dan pencapaian tujuan. sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pemecahan masalah keperawatan melalui proses asuhan keperawatan komunitas. afektif. atau implementasi yang tidak efektif. Hasil evaluasi merupakan pengkajian dari intervensi keperawatan.A. yaitu: mengenal masalah kesehatan.A. 47 . perawat dapat menguji beberapa kemungkinan kegagalannya. rencana yang tidak realistis. dan perubahan fungsi tubuh serta gejalanya . Jika sasaran tidak tercapai. Maka perawat komunitas dapat membantunya dengan mnyertakan klien tersebut dalam program penurunan berat badan. dan kemampuan untuk menilai/menghakimi (judgment skills). sedangkan proses evaluasi merupakan pemeriksaan kualitas dari tindakan yang telah diambil dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil. diantaranya data yang tidak adekuat. 2001). standar yang spesifik dan kriteria yang digunakan untuk menilai/menghakimi. W. B. J. Contohnya . maka sasarn tercapai. 2001). Evaluasi memerlukan judgment skills dimana perawat dapat membandingkan hasil yang nyata dengan hasil yang diharapkan dan mencari ketidaksesuainnya. evaluasi digunakan untuk menentukan keefektifan program kelompok promosi kesehatan yang berhubungan dengan orangtua. Kriteria merupakan langkah yang diperlukan untuk mencapai pencapaian besar. B. psikomotor. Proses evaluasi terdiri atas dua tahap yaitu mengukur pencapaian tujuan klien baik kognitif.

tiap tahapan rentang umur memiliki kebutuhan kesehatan dan keamanan khusus. tingkat melek huruf lebih tinggi dan harapan hidup yang lebih lama. Kelompok populasi tertentu memerlukan pertimbangan khusus karena mereka memiliki masalah kesehatan atau kebutuhan tertentu dalam lingkungan perkotaan. Ketahanan hidup dan keberhasilan tumbuh kembang bayi bergantung pada nutrisi yang baik selama tahun pertama kehidupan.1 Kebutuhan Kesehatan Khusus pada Bayi. Anak Sekolah. Mereka yang hidup di kota cenderung memiliki akses yang lebih besar pada pelayanan sosial dan kesehatan. Sebenarnya urbanisasi yang terencana akan membawa dampak yang positif terhadap pembangunan ekonomi. Health inequities adalah hasil dari keadaan dimana orang tumbuh. 2010). Karakteristik demografi (usia.. dengan berat lahir biasanya dua kali lipat dalam 6 bulan pertama dan menjadi tiga kali lipat pada akhir tahun pertama. dan etnik. hidup. merupakan produk sosial (dan karena itu dapat dimodifikasi) (WHO dan UN-HABITAT. baik di tingkat individu maupun keseluruhan populasi. Terdapat kesenjangan yang lebar antara orang-orang dari status sosial ekonomi yang berbeda. sosial dan kesehatan. Lansia. sosial dan ekonomi. Dalam masyarakat perkotaan.4 Masalah Kesehatan yang Lazim Terjadi di Daerah Perkotaan terkait dengan Urban Health Disparity 2. dan sistem kesehatan yang dapat mereka akses. Remaja. 2008). Perbedaan status ekonomi diantara masyarakat perkotaan 48 . dan masalah lingkungan yang serius. yang dialami oleh populasi yang kurang beruntung secara sosial (CDC. sebagian besar urbanisasi terjadi secara cepat dan tidak terencana. Urbanisasi menjadi lebih cepat seiring dengan globalisasi industri dan teknologi ke seluruh dunia. berbagai bentuk pengucilan dan marjinalisasi. Sementara health inequities didefinisikan sebagai kesenjangan kesehatan yang sistematis. jenis kelamin dan status sosio ekonomi penduduk kota) mempengaruhi kesehatan. Balita. budaya. serta Agregat Pekerja di daerah Perkotaan Semakin banyaknya penduduk yang tinggal di perkotaan menunjukkan semakin cepatnya arus urbanisasi. Dewasa. 1) Bayi/ Infant Karakteristik pertumbuhan fisik bayi di tahun pertama kehidupan ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Kepadatan jumlah populasi di perkotaan yang tidak terkontrol akan memunculkan adanya kesenjangan. yang dibentuk oleh kekuatan politik. ras. kerja dan usia. ASI. Namun.4. Nutrisi atau pemilihan makanan untuk bayi dipengaruhi oleh faktor sosial-ekonomi. Urban health disparity didefinisikan sebagai perbedaan dalam mendapatkan kesempatan atau peluang untuk mencapai level kesehatan yang optimal.

Pemberian ASI oleh ibu sangat penting pada tahap ini karena dapat menjadi awal terbentuknya ikatan antara ibu dan anak. terutama berkaitan dengan imunisasi. Penyakit gastrointestinal dapat menyebabkan kekurangan gizi dan kematian. Pada tahapan perkembangan psikososial. Jika status gizi ibu terganggu. malnutrisi. < 2500 gram) atau bahkan sangat rendah (very low birth weight. Bayi yang berasal dari keluarga ekonomi lemah. < 1500 gram) (Hitchcock et all. maka kemampuannya untuk menghasilkan ASI dengan kandungan nutrisi yang tepat akan terganggu pula. Selain itu. 1999). terutama di kalangan bayi karena imunitasnya belum sempurna berkembang. 1999). dan kondisi kronis penyakit. Kasus malnutrisi juga banyak dialami oleh mereka yang status ekonominya rendah. kecacatan.all. down syndrome. Pada masyarakat perkotaan.. para ibu banyak yang bekerja sehingga ada kemungkinan mereka memutuskan untuk tidak menyusui bayinya.menyebabkan adanya perbedaan pula terhadap karakteristik kesehatan bayi.. Hal ini menyebabkan bayi yang menderita reaksi infeksi dan alergi. bayi berada pada tahapan basic trust vs mistrust (Hitchcock et. 1999). Hal ini disebabkan karena kurangnya nutrisi ibu selama kehamilan sehubungan dengan rendahnya pendapatan keluarga untuk menyediakan nutrisi yang cukup. dan lebih memillih pemberian susu formula. menyebabkan tingginya angka mortalitas dan morbiditas pada bayi di daerah perkotaan (Hitchcock et all. Contoh kondisi kelainan kongenital antara lain adalah hidrocephalus. sebagian besar lahir dengan berat lahir rendah (low birth weight. malformasi tulang dsb. Bayi yang diberi ASI memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik daripada bayi yang diberi susu formula karena dalam ASI terkandung immunoglobulin yang penting untuk melawan infeksi dan alergi. ASI yang diberikan kepada bayi kurang mengandung nutrien karena si ibu tidak mengkonsumsi makanan yang cukup nutrisinya untuk kebutuhan tumbuh kembang si bayi. Selain itu tingginya angka kematian bayi juga didukung sebagai akibat langsung dari kontaminasi air dan sanitasi yang buruk. intestinal atresia. kelainan kongenital. 49 . 1999). Pneumonia dan penyakit diare adalah penyebab utama kematian anak secara global. Kondisi-kondisi seperti bayi dengan berat lahir rendah. Padahal ASI merupakan sumber ideal nutrisi dan energi untuk bayi selama 4 sampai 6 bulan pertama (Hitchcock et all. bibir sumbing. polusi udara dan minimnya akses masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan. bayi yang kurang mendapat asupan nutrisi dapat mengalami kelainan kongenital yang berujung pada kecacatan ataupun penyakit kronis. dan menjadi masalah tertentu di daerah perkotaan karena kepadatan...

Sementara itu berdasarkan tahapan perkembangan psikoseksual. Masalah kesehatan yang dialami balita di masyarakat perkotaan hampir sama dengan kelompok bayi. Kondisi lain yang turut menyebabkan tingginya angka kematian bayi dan termasuk masalah kesehatan pada bayi adalah SIDS (Sudden Death Infant Syndrome). Hal ini karena pada masa ini. Keterampilan motorik yang belum matang tidak memungkinkan bayi untuk melarikan diri dari cidera. Bayi memiliki tingkat cidera tertinggi kedua dari semua kelompok anak-anak (Stanhope & Lancaster. 1999).. karena kurangnya pengetahuan dan akses 50 . 1999). mempermudah penyebaran penyakit menular (communicable disease). Balita mengalami penurunan nafsu makan dibandingkan pada masa bayi. asma dan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin seperti campak dan tuberkulosis. dan minimnya sarana kesehatan. Tahap perkembangan psikososial pada toddler adalah tahap autonomy vs shame/guilt (Hitchcock et all. Balita di daerah perkotaan rentan terhadap kematian akibat penyakit malaria. bayi berada pada tahap oral. toddler mulai mengembangkan otonomi dan kontrol diri. kurangnya sanitasi dan kontaminasi air. maka berdampak pada aspek keamanannya.. Tahap perkembangan kognitif toddler berada pada tahap preoperasional. Pada tahap ini. Lingkungan yang buruk seperti polusi udara. 2000) 2) Balita (Toddler dan Pra Sekolah) Pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik agak melambat saat memasuki masa balita.Perkembangan kognitif bayi berada pada tahap sensorimotorik (Hitchcock et all. 1999). luka bakar. Bayi seringkali juga mengalami cidera atau injuri. kepadatan populasi. DHF. Pada tahap ini anak merasa antusias untuk belajar hal yang baru dan berinisiatif. Cidera yang seringkali dialami bayi antara lain seperti tersedak. SIDS lebih sering terjadi pada bayi yang premature dan berat lahirnya rendah dan kemungkinan juga pada bayi dengan infeksi saluran napas atas. aspirasi. Kasus SIDS ditemukan lebih banyak terjadi pada bayi laki-laki dan yang berasal dari status ekonomi rendah (Stanhope & Lancaster.. seharusnya balita masih mendapatkan imunisasi. Sementara itu tahap perkembangan psikososial pada anak prasekolah adalah tahap initiative vs guilt (Hitchcock et all. Pada tahap tersebut bayi merasakan kesenangan melalui mulut atau berfokus pada aktivitas oral. Pada tahap tersebut bayi menggunakan indera dan keterampilan motorik untuk belajar tentang dunia. Namun. pneumonia. Oleh karena bayi berada pada kedua tahap perkembangan tersebut. 2000).

cidera jarang terjadi. Keracunan timbal menjadi isu lingkungan utama yang mempengaruhi anak-anak. gula dan garam yang tinggi pada makanan olahan. keracunan. Hal ini penting untuk mengembangkan keterampilan kognitif dan sosial Kepuasan anak usia sekolah dalam mencapai sukses untuk mengembangkan keterampilan baru. 1999). Plumbism ditemukan paling sering di antara balita dan anak prasekolah. tahap perkembangan kognitif anak usia sekolah adalah tahap concrete operation (Hitchcock et all. anak sedang mengembangkan harga diri dan menjadi aktif terlibat dalam beberapa kegiatan di rumah. Selain itu. Di daerah perkotaan sering dijumpai jajanan yang tidak sehat dan kurang bersih. rasa ingin tahu besar dan memiliki kemampuan logika yang relatif belum matang. Mereka mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain dan memikirkan tindakan. balita paling sering mengalami jatuh.. Pemilihan makanan pada usia ini dipengaruhi oleh teman. Pada usia sekolah. Kandungan lemak. Anak usia sekolah membutuhkan banyak kalori. Kasus keracunan yang seringkali dialami balita yaitu keracunan makanan dan keracunan timbal (plumbism). Tahap perkembangan psikososial anak usia sekolah adalah tahap industry vs inferiority (Hitchcock et all. 3) Anak Sekolah Anak usia sekolah tumbuh lebih lambat dari balita dan bayi. menyebabkan terjadinya obesitas pada anak usia sekolah. membawanya pada peningkatan rasa harga diri dan tingkat kompetensi. anak usia sekolah banyak mengkonsumsi gula. dan masyarakat. 1999). Disamping makanan utama. restoran dan gerai makanan cepat saji yang telah meningkat jumlahnya di sebagian besar kota. Sebab dan akibat cidera bervariasi dengan level 51 . Keracunan timbal terjadi karena kontaminasi lingkungan oleh limbah industri (Hitchcock et all. Oleh karena itu. Oleh karena itu pilihan jajanan atau makanan selingan yang dikonsumsi harus diperhatikan kebersihan dan nutrisinya. serta kecelakaan kendaraan bermotor. Pada tahap ini. sehingga menimbulkan penyakit yang disebabkan mikroorganisme patogen. Selain itu keterampilan motorik balita meningkat dan membuat pengawasan sulit. makan makanan siap saji dan makanan ringan yang dibeli dari pedagang kaki lima. pada usia ini anak suka jajan.. Sementara itu. Oleh karena itu seringkali anak usia sekolah mengalami masalah pada gigi.. 1999). Balita memiliki karakteristik aktif. mengantisipasi konsekuensi dan kemungkinan untuk memikirkan kembali tindakan.terhadap layanan kesehatan mengakibatkan peningkatan jumlah anak yang tidak divaksinasi. sekolah.

persepsi. Kasus kekerasan pada anak juga banyak terjadi pada usia sekolah. dan 52 . pertumbuhan tinggi badan secara keseluruhan mulai berjalan cepat. interaksi dengan teman dan tindakan yang tidak dapat diterima (Clark. Kulit menjadi lebih tebal dan lebih keras selama masa pubertas. punggung atas. Selama tahap ini perkembangan tinggi dimulai. 1999). dan alat kelamin. dan seks bebas. emosional. menyebabkan jerawat yang umum pada remaja. dan kulit skrotum menjadi lebih gelap dan rambut muncul pada dasarnya. Kekerasan pada anak dapat kategorikan sebagai kekerasan fisik. obat-obatan. Kekerasan yang terjadi pada anak menyebabkan tauma fisik dan mental pada anak. Pada laki-laki. infantilisme seksual. seperti olahraga secara rutin dan diet sehat untuk meningkatkan kesehatan. Pada perempuan. skrotum juga ikut membesar. Selama tahap kehidupan. karakteristik seksual meningkat. pembesaran payudara merupakan tanda pertama pubertas dimulai. remaja dan dewasa muda memiliki akses terhadap zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. dan hiperaktifitas. dada. tembakau. seperti penggunaan alkohol. bahu. Anak yang hiperaktif memiliki kesulitan dengan sekolah. kelenjar sebasea menjadi aktif. Umumnya. Rambut tipis sepanjang labia juga muncul. Sindrom Turner disebabkan oleh tidak adanya salah satu kromosom X pada wanita dengan 3 ciri-ciri: perawakan pendek. perkembangan seksual dimulai dengan pembesaran testis. 4) Remaja dan Dewasa Muda Remaja dan dewasa muda berumur antara 15 sampai 24 tahun. terutama pada wajah. 1999). Beberapa sindrom tidak dapat didiagnosis hingga usia remaja. serta perilaku baik. anak perempuan memasuki masa puber lebih awal dari anak laki-laki (umur 9 sampai 10 untuk anak perempuan dan 10 sampai 11 untuk anak laki-laki). motorik dan bahasa .. seksual atau kombinasi ketiganya (Hitchcock et all. Karena testis tumbuh. ADHD dikarakteristikan dengan perhatian yang kurang. Selama periode ini. Hal ini menunjukkan perbedaan kemampuan kognitif. perilaku impulsive. Masalah lain yang kemungkinan bisa terjadi pada anak usia sekolah adalah ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Pada saat ini. leher. Pengaruh androgen pada laki-laki dan perempuan. Kelenjar sebaceous dapat menjadi tersumbat dan meradang. dan tercapai kematangan reproduksi.umur dan perkembangan. Gangguan genetik sering ditemukan pada anak dengan perkembangan pubertas yang tertunda. disertai dengan timbunan lemak.

yaitu berat badan 20% lebih besar dari berat badan ideal untuk tinggi badan tertentu. 4) biaya. Gejala yang terjadi mungkin termasuk kelaparan dengan penurunan berat badan yang signifikan. walaupun juga terjadi pada lakilaki (Neinstain. aktivitas fisik kompulsif. Sindrom Klinefelter disebabkan oleh adanya satu atau lebih tambahan kromosom X pada laki-laki. 5) Dewasa Tingkat mortalitas untuk orang dewasa telah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. compotent simpatik. dan obat-obatan terlarang) biasanya terjadi pada remaja yang memiliki prestasi sekolah rendah. 1991). mereka sering enggan mencari perawatan kesehatan. kegagalan menjaga berat badan yang tepat. Beberapa hal yang dianggap sebagai pemicu dan dapat mempengaruhi kemungkinan terkena kanker adalah:  Tembakau: penyebab utama kanker di paru-paru.amenore. Obesitas dapat merugikan perkembangan remaja harga diri dan sosial. Selain itu terdapat juga prnyakit bulimia nervosa. diikuti oleh penyakit kardiovaskular. Meskipun remaja mampu mengidentifikasi masalah kesehatan diri sendiri. Obesitas juga sering terjadi. dan harga diri rendah. dan citra tubuh yang terdistorsi. alkohol. Infeksi virus gangguan imunitas. virus yang terkait dengan AIDS meningkat di kalangan remaja. 53 . Ini merupakan suatu ancaman tersendiri bagi remaja dan sangat tidak bagus untuk perkembangan anak. Faktor-faktor berikut mempengaruhi kesehatan remaja dalam pemanfaatan perawatan layanan. Salah satu penyakit yang di derita remaja dan dewasa muda adalah anoreksia nervosa. gizi buruk dapat menghambat pertumbuhan dan menunda pematangan seksual. 1) keparahan penyakit. 3) pembatasan rutinitas sehari-hari. tetapi kanker masih merupakan penyebab utama kematian secara keseluruhan. 2) durasi tanda dan gejala. 6) kesadaran akan kebutuhan untuk perawatan Diet yang seimbang penting untuk pertumbuhan yang optimal selama masa remaja. amenore. terutama remaja perempuan. yaitu pola makan diikuti dengan muntah paksa dan / atau penggunaan pencahar. Ancaman lain bagi remaja yaitu kekerasan. Peningkatan aktivitas seksual di kalangan remaja telah menyebabkan peningkatan STD. dan konsumsi alkohol. teman-teman yang merokok. Tiga faktor risiko lain yang saling terkait yang berkontribusi terhadap penyakit dan kematian pada kelompok usia adalah kurang olahraga. Penyalahgunaan zat (tembakau. 5) ketersediaan penyedia.

misalnya tenaga berkurang. perawatan kesehatan. vaginitis. golongan steroid. Alkohol: berisiko lebih besar terkena beberapa jenis kanker. seperti antihipertensi. kekurangan gizi karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang. Ada sejumlah pemeriksaan teratur. (c) Perubahan Aspek Psikososial 54 . Terlalu banyak terpapar sinar matahari (yang berisi sinar UV) dapat mengakibatkan kanker kulit. transportasi. dan fasilitas masyarakat dan layanan untuk orang tua. tetapi masalah kesehatan akibat perilaku tidak sehat (seperti merokok dan minum) dapat dikurangi jika dewasa bersedia untuk memodifikasi perilaku mereka. kolesterol. karsinogen. gangguan metabolisme. di lingkungan. gigi makin rontok. Paparan agen penyebab kanker. Hal ini dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik. baru selesai operasi: misalnya prostatektomi. dan kanker. perawatan pribadi. darah tinggi. seperti pemeriksaan untuk hipertensi. psikologik maupun sosial. termasuk di beberapa makanan. perumahan. misal diabetes mellitus. baik dari segi hidup lebih lama dan tetap fungsional. diabetes. gangguan jantung. tranquilizer. kulit keriput. dsb. yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Kematian untuk penyakit kardiovaskuler pada orang dewasa telah cukup berkurang. pemeriksaan kesehatan non invasif atau invasif minimal yang direkomendasikan untuk orang dewasa. dan penggunaan obatobat tertentu.   Paparan ultraviolet (UV). tulang makin rapuh. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut: (a) Penurunan Kondisi Fisik Setelah memasuki masa lansia umumnya terjadi perubahan patologis. 6) Lansia Status kesehatan lansia telah meningkat. Masyarakat perlu untuk menangani kebutuhan khusus untuk lansia seperti dari pendapatan. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. (b) Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti.

Bertentangan dengan perubahan kota yang amat pesat. perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas. agar tidak merasa terasing atau diasingkan. (d) Perubahan yang Berkaitan dengan Pekerjaan Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. selama yang bersangkutan masih sanggup. Fungsi kognitif meliputi proses belajar. yang berakibat lansia menjadi kurang cekatan. kedudukan. pengertian.Lansia umumnya mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut. pendengaran sangat berkurang. position dan harga diri. gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Pertumbuhan kota biasanya diikuti oleh industrialisasi. tindakan. jabatan. (e) Perubahan dalam Peran Sosial di Masyarakat Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran. penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. perilaku dan akses pelayanan kesehatan. koordinasi. persepsi. peran. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan. serta kependudukan. namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya. Sebagai akibat perkembangan kota yang sangat cepat dan dinamis akan 55 . penglihatan. munculnya kawasan industri akan menimbulkan derajat pencemaran dan berdampak buruk terhadap lingkungan kehidupan masyarakat perkotaan. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas. 7) Aggregat Pekerja Masalah kesehatan agregat pekerja di perkotaan umumnya berkaitan dengan faktor lingkungan. sistem pelayanan kesehatan kota di banyak negara berkembang termasuk Indonesia kurang dinamis dan pendekatannya masih relatif sama dengan pedesaan. karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan. kegiatan. Misalnya badannya menjadi bungkuk. pemahaman. Meskipun tujuan pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua. lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia.

Gangguan kesehatan atau penyakit yang didapatkan dari tempat kerja ini bukan hanya membahayakan diri pekerja itu sendiri. Faktor lain yang mempengaruhi status kesehatan agregat pekerja yaitu pelayanan kesehatan kerja. 2009). glikol. Contoh kapasitas kerja yang baik adalah ketika seorang pekerja mendapatkan gizi yang baik. gas atau uap. henep dan sisal (bissinosis). keton. memiliki status kesehatan dan kondisi fisik yang prima. berdebu. vlas. beban kerja. penyakit yang disebabkan oleh logam atau persenyawaannya yang beracun. perilaku kerja. terpapar zat kimia dan lain sebagainya dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada agregat pekerja. kanker. Beban kerja yang terlalu berat juga dapat memicu terjadinya stress pada agregat pekerja. antrakosilikosis. 1996). Hubungan antara pekerjaan dan pengaruhnya terhadap kesehatan dapat digambarkan melalui bagan berikut. kelainan pendengaran dan polusi udara. alveolitis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organik. kapasitas. penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh debu logam keras. Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. maka pekerja tersebut akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. tetapi dapat membahayakan keluarga dan orang terdekatnya. Lingkungan kerja yang panas. debu kapas. 56 . Hal lain yang berkontribusi mempengaruhi kesehatan pada agregat pekerja adalah lingkungan kerja. sehingga dapat menimbulkan gangguan mental dan fisik. asbestosis) dan silikotuberkolosis yang silikosisnya merupakan faktor utama penyebab cacat atau kematian. dan lingkungan kerja. radiasi. bising.berdampak pada perkembangan dan masalah kesehatan masyarakat yang khas perkotaan (Depkes RI). (Stanhope & Lancaster. Ada beberapa jenis penyakit yang sering ditemukan pada agregat pekerja menurut Keputusan Presiden RI Nomor 22/1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja yaitu: Pnemokoniosis yang disebabkan debu mineral pembentuk jaringan parut (silikosis. penyakit akibat alcohol. pencemaran bahan kimia (Ferry & Makhfudli. asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang.

kabut asap. Pekerja yang lebih muda lagi berisiko mangalami kecelakaan kerja berhubungan dengan keterbatasan keahlian dan kurang pelatihan kerja. Pekerja di usia lanjut akan rentan mengalami kecelakaan kerja yang diakibatkan oleh penurunan kapasitas muskuloskeletal dan fungsi sensorik (Mary Jo Clark. polutan gas (gas dan uap). serta bau yang mencemari udara (Kjellstrom. emisi dari pembangkit tenaga listrik dan 57 . 1999). 2006). fisik dan sosial Agregat pekerja yang masih berusia muda rentan mengalami penyakit menular seksual. Sedangkan bau dihasilkan dari pembakaran senyawa-senyawa organik yang mengganggu dan menimbulkan rasa tidak nyaman. dll. dkk. partikel asap knalpot. 1996) Environment: Seluruh faktor eksternal yang mempengaruhi interaksi host-agent . physical. kabut. hepatitis dan kehamilan. senyawa nitrogen. dan amonia. Polutan gas dapat berupa senyawa belerang. Air.Host Pekerja & Keluarga Pekerja Agent: Bahaya yang didapatkan dari tempat kerja (biological. dan Suara 1) Penyakit akibat Pencemaran Udara Pencemaran udara didefinisikan sebagai berbagai macam partikel yang mengontaminasi udara (debu. 2. pestisida. Pekerja dengan usia menengah berisiko mengalami serangan jantung dan kanker. asap. Lodh. chemical. McMichael. nitrogen dioksida.4. psychosocial) (Stanhope & Lancaster. dan asap rokok). batubara. Pertama.2 Penyakit akibat Pencemaran Udara. ergonomic. Partikel ini dapat berupa gas belerang dioksida. Terdapat tiga tipe utama pencemaran udara yang memiliki dampak buruk terhadap kesehatan manusia.

membangun rumah dengan ventilasi yang memadai. hidrogen sulfida. Terkait dengan penyakit yang ditimbulkan. penyakit pernapasan akut.pembakaran fosil yang menimbulkan sulfur oksida serta partikel kompleks yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia. Polusi udara tentunya berdampak pada kesehatan manusia karena menimbulkan berbagai penyakit yang mengancam kehidupan. sebaiknya dilakukan pencegahan. biasanya dihasilkan oleh peralatan rumah tangga seperti formaldehid. Salah satu faktor yang memperparah yaitu tren bangunan yang memiliki sedikit ventilasi udara. Polusi udara outdoor disebabkan oleh pembakaran minyak bumi dan batu bara. Beberapa karsinogen juga ditemukan di udara perkotaan. seperti arang. bahan kimia lainnya. oksida nitrogen. Penyakit yang timbul karena pencemaran udara indoor ini diantaranya iritasi mata sampai gangguan pernapasan. limbah industri. seperti ozon. polusi udara dibagi menjadi 2. 1995). yaitu polusi udara outdoor dan indoor. serta asap rokok. 1981). Ketiga. Polusi udara indoor terjadi karena polutan di dalam ruangan. tenggorokan. seperti polosiklik hidrokarbon yang juga menyebabkan kanker. 1999). penggunaan bensin bebas timbal dan meminimalkan penggunaan solar. seperti penggunaan kendaraan bermotor terutama di perkotaan serta faktor alam seperti angin dan letak geografis (Clark. Penyakit yang timbul biasanya asma. gangguan hidung. karbon dioksida. dan kanker paru-paru (Smith & Maurer. sehingga pertukaran udara di dalam ruangan dengan udara di luar menjadi sulit. photochemical oxidant. asbes. Cara untuk mengatasi pencemaran udara ini adalah dengan mengurangi emisi atau tingkat pencemaran yang ada. panas yang bercampur dengan hidrokarbon. dan berbagai macam kanker (Clark. macam-macam polutan individual. 58 . dan karbon monoksida di dalamnya. karbon monoksida. penyakit jantung. pembakaran kayu serta area pertanian. kerusakan sistem saraf pusat. Kedua. seperti menggunakan masker ketika di jalan raya. dan asbes (Jarvis. Sedangkan untuk masalah kesehatan yang sudah ada. Umumnya penyakit tersebut menyerang saluran pernapasan manusia. penyakit jantung kronik. Selain itu juga bisa dilakukan dengan menjaga lingkungan tetap asri agar mampu menetralisir pulosi yang ada. 1999). Bahan-bahan diatas umumnya dihasilkan oleh pabrik maupun kilang. Semua itu merupakan dampak dari pencemaran udara khusunya di perkotaan.Faktor-faktor yang memperparah pencemaran udara. dan proteksi diri lainnya seperti mengonsumsi makan bergizi maupun vitamin. Misalnya. juga pembangkit listrik.

Tetapi berbeda dengan realita yang ada. simpanan kimia di bawah tanah. Zat kimia tersebut mengganggu fungsi sistem endokrin. Walaupun industri menjadi sumber utama polusi. sehingga terjadi gangguan reproduksi. esofagitis. Gangguan endokrin dapat mengurangi kesuburan dan meningkatkan resiko bayi lahir mati. kulit. neuropatik peripheral. pestisida dan pupuk juga bisa mencemari persediaan air yang menyebabkan polusi kimia air. Terkait dengan masalah kesehatan. dan kanker prostat. dan gangguan hormon yang meyebabkan kanker payudara. dan memasak air dulu sebelum 59 . polio. Selain itu terjadi pula iritasi atau peradangan pada mata dan hidung. mikroba yang mengakibatkan penyakit gastrointestinal. gangguan system saraf pusat. 2002). Selain itu. iritasi kulit. Menanggulangi pencemaran air dapat dilakukan dengan menambahkan bahan kimia abate ke saluran air untuk meminimalkan kontaminasi. toksisitas hati) tembaga dan kromium arsenik dalam air minum. 1999).3 Penyakit akibat Pencemaran Air Ketersediaan air yang bersih dan aman sangat diperlukan demi terciptanya kesehatan. Efek pada perkembangan sistem saraf mencakup gangguan perkembangan mental. kanker kandung kemih dan kolorektal. anomali kongenital. yaitu hepatitis. polutan juga berasal dari pertambangan. merkuri. tembaga. Pestisida dan kontaminasi kimia lainnya yang masuk ke saluran air melalui pertanian dan limbah industri dapat bertahan di lingkungan. tidak tercemar. kejang. perkembangan dan perilaku. dan klorobenzena (WHO 2003). cacat lahir. psikomotor. Bahan kimia dalam air minum juga bersifat karsinogenik. Hal lain yang dapat dilakukan adalah pertanian secara organik dan manajemen hama terpadu. anemia. dan sistem gastrointestinal. kognitif. cara mengatasi penyakit akibat polusi air yaitu dengan mengonsumsi air yang bersih. gastritis. 1995). sirosis. air mengalami kontaminasi yang berbahaya untuk digunakan oleh masyarakat terutama masyarakat perkotaan. Ekskresi bahan kimia melalui ginjal yang toksik bagi ginjal berupa bahan kimia seperti kadmium. alopecia. dan penyakit jantung (Clark. Berbagai penyakit yang berasal dari polusi persediaan air. testis. septictank. dan penggunaan garam. Ada tiga sumber utama kontaminasi air. dan kelainan perilaku (WHO and International Programme on Chemical Safety. gagal ginjal. limbah air selokan. namun masalah kesehatan yang paling berbahaya berhubungan dengan paparan kronis (misalnya. kanker perut. dan bahan kimia pertanian (Smith & Maurer. yaitu industri.

penyakit antung iskemik. Sedangkan secara klinis seperti hipertensi. terutama pendengaran. Keadaan darurat dapat berubah menjadi bencana (disaster) yang mengakibatkan banyak korban atau kerusakan Pada tahun 1997. baik dengan menggunakan bahan penyerap suara atau dengan memindahkan klien dari sumber kebisingan. dan impotensi.3 Masalah Emergency dan Bencana 1) Masalah Emergency Keadaan darurat (emergency) adalah situasi/kondisi/kejadian yang tidak normal. Terdapat dua kategori untuk gangguan akibat pencemaran suara ini. Langkah yang dapat kita ambil untuk mengatasi pencemaran suara yaitu dengan mengisolasi kebisingan. ketidakmampuan bersosialisasi. Polutan untuk pencemaran suara yang berdampak buruk terhadap kesehatan diantaranya suara bus. Van Kempen. gunakan alat pelindung telinga untuk mengurangi kebisingan. Bukti menunjukkan bahwa paparan yang terlalu lama terhadap kebisingan berperan meningkatkan kecemasan dan stress emosional yang mungkin mengakibatkan mual. kendaraan off-road seperti pesawat terbang. motorboats. sakit kepala. 60 . penyakit mental. Masalah lain yang juga berhubungan dengan pencemaran suara meliputi stress. truk. Klien juga harus diberi tahu jika level suara tertentu dapat mengakibatkan kerusakan telinga. dan gangguan jiwa (Hollander. Jika hal tersebut tidak bisa dilakukan. disritmia jantung. kereta. 1999).diminum. sepeda motor.Tingkat keparahan dari paparan pencemaran suara berkaitan dengan frekuensi dan intensitas kebisingan serta lama paparan. dan yang bersuara keras lainnya (Clark. 2000). mengganggu kegiatan/organisasi/kumunitas. yaitu terjadi tiba-tiba. Hoogenven. Efek lainnya meliputi insomnia. penyakit kulit. Secara sosial misalnya kejengkelan. gangguan aktivitas sehari-hari. 2. Pendidikan kesehatan juga mungkin dilakukan agar masyarakat semakin sadar dan peduli akan kelestarian air. dan kinerja menurun. 4 Penyakit akibat Pencemaran Suara Level dari pencemaran suara di masyarakat kita mengalami peningkatan secara drastis dan berdampak besar terhadap gangguan pendengaran. yaitu secara sosial dan klinik. kecelakaan.4. Efek psikologikal juga terpengaruhi dengan pencemaran suara ini. dan perlu segera ditanggulangi. dan penggunaan obat-obatan. dan kondisi patologis seperti aterosklerosis dan penyakit jantung. truk sampah. gangguan tidur.

Mengevakuasikan korban cedera untuk mendapatkan pelayanan medis 7.Noji mengatakan bahwa kondisi emergency/darurat melibatkan tanggapan langsung terhadap efek dari bencana dan dapat dibagi menjadi dua fase. bendungan yang bocor merupakan beberapa bentuk dari technological hazard. Meminimalisir korban jika bencana tidak dapat dicegah 3. 2) Technological hazard. pertolongan hadir dari kelompok komunitas itu sendiri karena tidak adanya waktu untuk mendatangkan pertolongan dari luar komunitas. pemadaman listrik. gempa bumi. Menyediakan pertolongan pertama pada cedera 6. Tujuan utama dari manajemen emergency adalah mencegah ataupun mengurangi tingkat kematian dan kecacatan. Menolong korban 5. Pada fase isolasi. 3) Huru-hara. Sedangkan kondisi yang huru-hara seperti kerusuhan dan perang yang melibatkan banyak orang dan juga diselesaikan bersama. Mencegah berjatuhannya korban selanjutnya. Mencegah terjadinya bencana jika memungkinkan 2. Beberapa contoh dari natural hazard adalah banjir. terdapat delapan prinsip dasar yang seharusnya diikuti oleh semua pihak yang memiliki kepekaan untuk menolong korban bencana. Menyediakan pelayanan medis secara pasti 61 . Keadaan emergency dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk. Garb dan Eng pada tahun 1969 mengatakan. Peristiwa kebakaran. Adapun delapan prinsip tersebut adalah: 1. yang terjadi karena dampak dari bencana 4. Jika lokasi terjadinya kejadian darurat terisolasi dan sulit untuk diakses. yaitu 1) Natural hazard. maka fase isolasi itu akan menjadi lama. angin badai. Pusat operasi dan sistem medis ini dapat didirikan dekat dengan lokasi bencana. tanah longsor dan sebagainya yang melibatkan peran serta alam sekitar dalam menciptakan keadaan darurat tersebut. Sedangkan fase bantuan adalah fase ketika bantuan datang dari luar komunitas. Adapun hal-hal yang biasa dilakukan saat kondisi emergency adalah sebagai berikut:  Pusat Operasi Emergency dan Sistem Medis Emergency: diperlukan dalam keadaan bencana yang menjatuhkan banyak korban dan memerlukan penanganan langsung dari pihak pelayanan kesehatan. fase isolasi awal dan fase bantuan kemudian.  Dasar-dasar Manajemen saat Keadaan Emergency. kecelakaan lalu lintas.

Contohnya dalah kebakaran ringan. diantaranya dengan membedakan warna (American Red Cross. 1982). mungkin saja suatu saat kondisi pasien berubah dan dapat dikategorikan ulang sebagai prioritas pertama. Menentukan tindakan langsung 62 . dan meninggal atau sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Adalah pasien yang memiliki cedera minimal dan tidak disertai dengan komplikasi sistemik. terkilir. 2. 3. Hijau: prioritas ketiga. Terdapat empat kategori dalam pengklasifikasian korban. Pasien dengan gejala prioritas kedua harus dilakukan observasi lebih teliti. frkatur terbuka. 3. yaitu prioritas pertama. hipoksia. contohnya adalah fraktur. 2) Masalah kesehatan yang lalu dan yang sekarang sedang diderita pada komunitas secara umum. luka di dada. Perawat berhak memberikan pelayanan saat kondisi emergency muncul. prioritas kedua. Adalah pasien yang tidak lagi memiliki harapan untuk hidup ataupun hanya menyisakan sedikit harapan hidup. Contohnya adalah pasien yang cedera berat di kepala ataupun dada.8. namun belum shock ataupun hipoksia. Promosikan untuk dapat merekronstruksi kehidupan  Pengklasifikasian Korban: dapat dilakukan dengan berbagai cara. prioritas kedua. Adalah pasien yang memiliki cedera dengan efek sistemik dan komplikasi. Hitam: meninggal atau sudah tidak dapat diselamatkan. Pasien ini dapat menungggu beberapa jam untuk perawatan tanpa masalah. Contoh masalah dari kategori ini adalah shock. hemoragik. diantaranya: 1. Kuning: Penting. Merah: sangat penting. ataupun mendekati hipoksia. menjadi prioritas pertama. 3) Lingkungan fisik sekitar. Melakukan survey lapangan 2. 1. 4. Pengkajian hasil survey Lingkup yang seharusnya menjadi fokus pengkajian adalah 1) Masalah kesehatan individu. prioritas ketiga. pasien yang mendapatkan prioritas pertama adalah pasien dengan kebutuhan akan perawatan cedera. cedera kepala yang mengeluarkan banyak darah. luka robek ringan.

5. kebakaran. Hal ini harus menjadi perhatian perawat. maka perawat harus menempatkan klien pada prioritas penanganan yang tepat. Berkonsentrasi pada kondisi kesehatan utama setelah kondisi emergency Setelah keadaan darurat dilalui. sehingga perawat harus memperhatikan aspek psikologis pasien juga untuk melengkapi penyembuhan korban. kerusuhan demonstrasi) (Stanhope. topan. hal ini akan memperburuk kondisi kesehatan pasien. perawat dapat membantu memulai atau memperbarui rencana bencana menyediakan program pendidikan dan material mengenai bencana spesifik ke daerah tersebut. Pada dasarnya ada dua jenis bencana yaitu bencana yang alami dan buatan manusia. hujan es. pelatihan khusus. Pertama yang disebabkan oleh alam. seperti perang konvensional.Setelah mengkaji dan mendirikan diagnosa dari permasalahan yang perlu diatasi. dan pemulihan. kerusuhan sipil (misalnya. transportasi kecelakaan. Melaksanakan peran perawat di pusat pertolongan pertama emergeny. Kebutuhan psikologis saat emergency. dan keringanan yang disebabkan kebakaran hutan. 2) Masalah akibat Bencana Disaster/bencana adalah setiap kejadian baik perbuatan manusia maupun alami yang menyebabkan kerusakan dan kehancuran yang tidak dapat diatasi tanpa bantuan. wabah penyakit menular. Peran perawat saat bencana tergantung pada peran di institusi. Kedua akibat perbuatan manusia. dan mengatur latihan bencana (Stanhope. dalam situasi ini. bahan beracun. 2004). dan juga minat khusus. 4. polusi. penting untuk diingat bahwa semua masalah yang mengancam jiwa didahulukan. ledakan/bom. seperti angin topan. mulai muncul kebiasaan buruk berupa ketidakpedulian dengan kebersihan tubuh yang akan menimbulkan penyakit lain. perang nonkonvensional (misalnya. 6. banjir. pengalaman perawat dan kesiapsiagaan masyarakat. Peran perawat dalam tahap persiapan bencana yaitu seorang perawat memfasilitasi persiapan kerja dan tempat masyarakat. badai salju. kekeringan. Pengelolaan bencana termasuk tiga tahap bencana: persiapan. Dalam organisasi. tanah longsor. runtuhnya struktur. nuklir. gempa bumi. kimia). tornado. letusan gunung berapi. apakah bisa diatasi hanya di pusat kesehatan bencana atau harus dirujuk ke rumah sakit terdekat. respon. 2004). rencana langsung untuk triase harus 63 . sekali petugas penyelamat mulai tiba di TKP. Kondisi-kondisi bencana akan membuat psikologis korban terganggu.

beberapa kejadian lebih mudah diprediksi maka orang lain. Reaksi umum selama tahap ini gemetar. Dimensi ini mempengaruhi sifat dan kemungkinan perencanaan persiapan. 2004). gelisah. akan memahami masalah tetapi mungkin tampak tidak terpengaruh secara emosional. pengendalian. Berikut ini merupakan tahap respon emosi para korban bencana: (1) Denial: selama tahap I. Masalah yang terjadi ditolak atau belum sepenuhnya "terdaftar. dan badai). 64 . misalnya. tinggi. Hal ini terutama penting bagi korban untuk mengambil tindakan khusus untuk membantu mereka dan keluarga mereka." Korban mungkin tampak luar biasa tidak peduli. frekuensi. kesulitan berbicara. Pemulihan dimulai selama fase darurat dan berakhir dengan kembalinya ketertiban masyarakat normal dan berfungsi. 1995) Bencana memiliki jumlah ukuran yang mungkin berbeda baik itu prediktabilitas. (4) Pemulihan: tahap keempat merupakan pemulihan dari reaksi krisis. korban mungkin menyangkal besarnya masalah atau. berkeringat. dan ruang lingkup atau intensitas. banjir. sedih. marah dan pasif. Prioritas tertinggi selalu diberikan kepada korban yang memiliki cedera mengancam kehidupan dan yang memiliki probabilitas tinggi untuk bertahan hidup begitu stabil (Stanhope. Rasa kesejahteraan dipulihkan. (3) Penerimaan: selama tahap ketiga. Kemampuan untuk membuat keputusan dan melaksanakan kembali rencana. telah membuat lebih layak untuk secara akurat memprediksi kemungkinan beberapa jenis alam. tornado. korban mulai menerima masalah yang disebabkan oleh bencana dan membuat upaya terkonsentrasi untuk menyelesaikannya. lebih mungkin. sensitivitas. (1) Prediktabilitas. Rutinitas menjadi penting lagi. Korban mungkin ingin menceritakan kembali atau menghidupkan kembali pengalaman bencana berulang-ulang. Korban merasa bahwa mereka kembali normal. Untuk orang di daerah dampak fase ini dapat bertahan seumur hidup (misalnya korban bom atom Hiroshima). orang tersebut sadar akan masalah dan menganggapnya sebagai hal yang luar biasa dan tak tertahankan. Peran perawat dalam fase pemulihan beragam seperti dalam kesiapan dan fase respon dari bencana. Korban mengembangkan memori realistis dari pengalaman (Smith. (2) Respon emosional yang kuat: dalam tahap kedua. Triase adalah proses memisahkan korban dan mengalokasikan pengobatan berdasarkan potensi korban untuk bertahan hidup. serta tanggapan terhadap peristiwa aktual. Kemajuan dalam meteorologi. cuaca bencana yang terkait (misalnya. Dia merasa lebih penuh harapan dan percaya diri. menangis. mengencangkan otot-otot. waktu.dimulai.

(4) Waktu. Ada beberapa karakteristik waktu yang berkaitan dengan dampak bencana yaitu kecepatan terjadinya bencana. penduduk California beresiko untuk gempa bumi. Sebagai anggota tim potensial. Misalnya. penggunaan teknik untuk mengurangi risiko. (3) Pengendalian. Perencanaan untuk bencana melibatkan lima bidang utama yakni penggunaan teknologi untuk acara perkiraan. pendidikan publik tentang potensi bahaya. negara bagian. peringatan pra dan tindakan pengendalian yang dapat mengurangi dampak dari bencana. atau kurang intens. seperti ledakan atau rongsokan. waktu yang tersedia untuk memperingatkan penduduk. (5) Ruang lingkup dan intensitas. dan panjang sebenarnya waktu dari fase dampak. Bencana bisa sangat intens dan sangat merusak. 65 . perawat harus berperan aktif dalam mempersiapkan bencana dengan berpartisipasi dalam perencanaan masyarakat dan latihan bencana. tidak ada kesempatan untuk memperingatkan rakyat. Kerusakan yang paling umumnya disebabkan oleh kombinasi terburuk yang mungkin dari faktor waktu permulaan yang cepat. 1995). federal. dan penilaian yang sistematis dari pengaruh bencana untuk lebih mempersiapkan masa depan . Perawat juga dapat berfungsi sebagai educator dalam mempengaruhi pemahaman masyarakat tentang perlunya persiapan untuk bencana. juga kurang diprediksi. Tanggung jawab untuk mengatasi kelima bidang perencanaan bencana juga dimiliki oleh wilayah lokal. Bencana dapat terkonsentrasi pada daerah yang sangat kecil atau melibatkan wilayah geografis yang sangat besar biasanya mempengaruhi banyak orang. Man bencana dibuat.sementara yang lain. (2) Frekuensi. dan orang yang dekat sistem sungai besar adalah risiko lebih besar untuk banjir daripada orang yang tinggal di tempat lain. kematian. Meskipun bencana alam relatif jarang. Contohnya. dan lembaga sukarela. Los Angeles sedang dalam proses perkuatan sistem jalan bebas hambatan untuk memperkuat resistensi jalan raya untuk kerusakan gempa ketika gempa bumi 1994 mencapai daerah tersebut. Perawat dapat menjadi relawan atau mungkin diperlukan untuk mengambil bagian dalam persiapan bencana. Rencana bencana harus dipraktekkan. Kunci untuk manajemen bencana yang efektif adalah pra perencanaan bencana dan persiapan. dan kerusakan properti. menyebabkan banyak luka. seperti gempa bumi tidak diperkirakan. dengan kerusakan relatif sedikit dilakukan untuk properti atau individu (Smith. dan durasi yang panjang dari fase dampak. respon darurat yang terkoordinasi. mereka muncul lebih sering pada lokasi geografis tertentu.

Model dimensi ini dapat digunakan oleh perawat kesehatan komunitas dan yang terlibat dalam respon bencana. mencegah terjadinya bencana bila memungkinkan.dievaluasi. yaitu merah untuk yang paling mendesak sebagai tanda prioritas pertama. beberapa komunitas menggunakan kode warna (Palang Merah Amerika). cacat. menyelamatkan korban. dan hitam untuk korban yang sekarat atau meninggal dunia (Smith. Dimensi biofisik Biologi manusia juga merupakan faktor dalam memprediksi jenis efek sebagai akibat dari bencana. kuning untuk hal mendesak di prioritas kedua. hijauu untuk prioritas ketiga. mengevakuasi yang terluka ke fasilitas medis. mencegah korban lebih lanjut dari terjadi setelah dampak awal bencana. 1995). dan evaluasi pada rencana bencana. kehilangan salah satu bagian dari korban bencana. Kemudian ada model dimensi dan perawatan klien pada setting bencana. respon emergency. penyakit yang 66 . Pendidikan publik adalah strategi lain yang dapat digunakan untuk mengurangi dampak dari situasi berbahaya. memberikan perawatan medis. Kedua. Banyak buatan manusia bisa mencegah bencana dengan mengamati tindakan pencegahan keselamatan yang tepat. namun dampaknya dapat dikurangi. Beberapa bencana telah dicegah oleh penegakan kode bangunan yang baik atau dengan pengelolaan lahan air yang tepat. 1995). 1995). pencegahan dan mitigasi. meminimalkan jumlah korban jika bencana tidak dapat dicegah. implementasi. pengkajian dimensi kesehatan pada bencana. Pertama. penderitaan. Beberapa jenis bencana khususnya buatan manusia mungkin dapat dicegah sedangkan bencana lain tidak dapat dicegah. Tujuan primer dari manajemen bencana adalah mencegah atau meminimalkan kematian. Dalam kasus epidemi influenza. termasuk perawatan peralatan biasa. Tujuan ini dicapai berbeda sesuai dengan tipe dari bencana itu sendiri dan juga tipe penyelamat. dan diperbaharui secara berkala oleh seluruh peserta dalam persiapan bencana (Smith. Hal ini karena sistem ini yang terbaik dan paling mudah dipahami. Pertama. Memprioritaskan korban untuk pengobatan dapat dilakukan dengan banyak cara. memberikan pertolongan pertama pada luka. Ada beberapa prinsip manajemen bencana diantaranya. dan promosikan rekonstruksi kehidupan (Smith. Dimensi dari perspektif kesehatan yang bisa digunakan untuk mengkaji efek dari bencana yang terjadi: 1. perencanaan tanggap bencana untuk membimbing perkembangan.

sedangkan baru ke daerah. keakraban dengan gempa bumi dapat membatasi panik pada beberapa orang. Misalnya. menjadi penyebab kebakaranresidental dan kebakaran hutan dan sikat yang mengakibatkanhilangnya nyawa serta kerusakan properti yang luas (Clark. Dimensi sosial Faktor dimensi sosial juga dapat mempengaruhi cara orang untuk respon bencana dan bahkan dapat menimbulkan adanya ketegangan rasial bisa memicu pecahnya kekerasan di beberapa komunitas. minum. Dimensi Perilaku Faktor perilaku yang berhubungan dengan pola konsumsi dan bahkan kegiatan rekreasi juga dapat mempengaruhi terjadinyabencana anggotamasyarakat. 1999). sedangkan banjir hasil terutama di tenggelam. Perawat kesehatan masyarakat harus menilai sikap anggota masyarakat terhadap kesiapsiagaan bencana. 2. Perang adalah bencana lain yang timbul dari kondisi lingkungan sosial. dapat menyebabkan patah tulang atau bentuk lain dari trauma. diagnosa keperawatan. 1999). Berdasarkan pengkajian faktor biofisik. 4. Dimensi psikologikal Faktor psikologis yang berpengaruh saat bencana terjadi.berpotensi disertai oleh dehidrasi ketidakseimbangan elektrolit dapat diharapkan. perawat membuat diagnosa keperawatan sesuai dengan perawatan bencana. sosial dan perilaku/behavioral. Evaluasi berfokus pada kecukupan rencana untuk membatasi bencana dan memenuhi kebutuhan mereka yang terlibat di dalamnya (Clark. Contoh data pengaruh bencana pada biofisik: Longsor. evaluasi. dapat menyebabkan radang dingin dan efek lain dari paparan dingin. Dalam ledakan. yang belum pernah berpengalaman dan gempa bumi. Perencanaan. Kedua. 3. psikologis. Pola dan Merokok penggunaan obat dapat misalnya sering dan pengaruhnya konsumsi seperti terhadap kesehatan merokok. perawat mengidentifikasi faktor-faktor sosial yang mungkin berkontribusi terhadap bencana dan cara orang menanggapi mereka. dapat menyebabkan sesak napas. cedera dapat terdiri dari luka bakar dan trauma. berkontribusi terhadap bencana. Ketiga. Dalam menilai sebuah komunitas. Kegiatan yang berkaitan dengan perawatan bencana terjadi di beberapa daerah. Keempat. mungkin panik dan menanggapi mereka yang tidak tepat. 67 .

4 Masalah Khusus Kejiwaan pada Masyarakat Perkotaan 1) Gangguan Jiwa Berat Gangguan jiwa berat menyerang kemampuan berpikir dan perilaku manusia. 2000). Sebagian besar orang dengan gangguan mental berat hidup dalam kemiskinan karena mereka tidak mampu untuk mendapatkan atau mempertahankan standar hidup yang layak. dan fungsi sosial individu. kesedihan. afektif. dan pada lansia mudah untuk mengalami isolasi sosial. Misalnya pada bayi dan anak-anak. keyakinan. dan memiliki pendidikan rendah. dan tingkat sosial ekonomi. skizofrenia. Insiden tidak terduga atau bahkan kejadian yang sudah diantisipasi dapat mengurangi fungsi fisik. Faktor eksternal meliputi tekanan lingkungan sosial. kematian tak terduga maupun yang sudah diantisipasi dalam keluarga dapat mengakibatkan rasa kehilangan yang mungkin mengganggu pola aktivitas pertahanan anggota keluarga. 68 . Kesehatan mental individu dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. kecemasan. dan sindrom otak organik. kekerasan dalam rumah tangga. Bagaimanapun juga kehilangan bukan satu-satunya penyebab menurunnya kesehatan mental. kehilangan pengasuhan dan perhatian dapat memberikan defisit emosional jangka panjang. 2) Masalah kesehatan mental pada populasi berisiko tinggi Kesehatan jiwa merupakan proses dinamis yang memungkinkan perkembangan fisik. Penurunan napsu makan. kognitif. kognitif. menarik diri. cukup sulit untuk menjelaskan tingkat prevalansi penyakit kejiwaan. ras. Gangguan jiwa berat lebih sering terjadi pada wanita dengan penghasilan rendah. seperti nilai. Sebagai contoh.2. dan dapat terjadi pada semua usia. Gangguan jiwa berat meliputi gangguan suasana hati dan depresi. Gangguan jiwa berat bersifat persisten. kehilangan pekerjaan. dan bencana alam tak terduga (Marcia Stanhope dan Jeanette Lancaster. afektif.4. dan aset material dari komunitas. Faktor internal meliputi aspek biopsikososial atau karakteristik kepribadian dari individu. Karena keterbatasan data. Masalah kesehatan mental dapat dimanifestasikan dalam banyak jalan. trauma. Kematian anggota keluarga dapat memberikan efek pada usia yang berbeda dengan bermacam cara. Penyebab lain antara lain masalah kesehatan fisik. kesulitan mengambil keputusan dan gangguan pola tidur adalah hal yang umum terjadi saat kehilangan. dan fungsi sosial. sedangkan pada dewasa akan meningkatkan risiko stres berhubungan dengan perubahan peran.

mengurangi kelesuan Nikotin Meningkatkan gairah Kafein Meningkatkan gairah Halusinogen LSD* Meluaskan Mescaline* pikiran dan Psilocybin* mengakibatkan Phencyclidine perubahan(PCP)† perubahan Marijuana persepsi.3) Napza (Narkotika. alkohol. Kodein menyebabkan Heroin keaddaan santai Morphin dan lamunan yang menyenangkan Metadon Mengobati ketergantungan heroin Obat perangsang Amfetamin Meningkatkan Benzedrine gairah. Psikotropika. dan zat adiktif lainnya) Napza tergolong dalam zat psikoaktif yang bekerja mempengaruhi kerja sistem penghantar sinyal saraf sel-sel susunan saraf pusat yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi kognitif. Berikut ini merupakan beberapa obat-obatan psikoaktif yang sering disalahgunakan: Klasifikasi Obat-obatan penenang Obat-obatan Alkohol Penggunaan Kekebalan Ya Ketergantungan fisik Ya Ketergantungan psikis Ya Mengurangi ketegangan. dan Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya (jika tanpa obat mengakibatkan depresi fisik dan psikologis) Ya Sedikit Sedikit Ya Ya Ya ? Tidak Mungkin Tidak Tidak Tidak Tidak ? Tidak Ya Ya Hanya sebagian pemakai ? bagi kecil Hanya untuk pemakai berat 69 . serta dapat menyebabkan ketergantungan baik fisik maupun psikis. Dexedrine mengurangi Methedrine kelesuan Kokain Meningkatkan gairah. perilaku. melepaskan hambatanhambatan Obat bius/tidur Menyebabkan keadaan santai dan tidur Obat penenang Mengurangi rasa Miltown cemas dan Valium ketegangan Candu/Narkotik Opium dan Mengurangi rasa sebangsanya sakit. pikiran. persepsi.

2005). mengurangi stigma dan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Atkinson. 2000). Peran perawat sangatlah penting dalam meminimalisir masalah kesehatan mental dan ketergantungan terhadap obat-obatan yang terjadi di masyarakat saat ini. Peran perawat dalam masalah kesehatan mental yaitu pertama perawat harus mengakses dan menggunakan data epidemiologi untuk mengetahui dan melayani penyakit mental di populasi. psilocybin semuanya menunjukkan “cross-tolerance” misalnya pamakai LSD akan mengembangkan toleransi yang meningkat terhadap mescaline. mescaline. strategi pencegahan dan promosi kesehatan. Aspek lain dari peran perawat yaitu sebagai edukator. Membantu klien dan keluarga dengan akses yang tepat dan memberikan dukungan merupakan kagiatan perawat yang sangat penting (Judith Ann Allender. Selanjutnya. Perawat kesehatan komunitas memiliki posisi yang unik dalam menyediakan informasi dan pendidikan tentang efek dan efek samping penggunaaan obat-obatan dan dapat mengkaji tingkat penggunaan atau penyalahgunaan. peran perawat yaitu sebagai advokat. protokol perawatan. †PCP adalah obat-obatan sintetik yang digunakan sebagai obat bius bedah hingga reaksi seperti psikotik yang parah terlihat pada pasien.perasaan Tabel 1.1 Obat-obatan psikoaktif yang biasa disalahgunakan (Rita L. Sebagian besar orang tidak mengetahui dengan pasti peran perawat dalam ketergantungan obat. cara untuk membuat lebih mandiri dalam komunitas. Perawat melihat peningkatan akses klien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mental. dan meningkatkan pelayanan dalam komunitas kesehatan jiwa (Christoffel. Dalam dosis tinggi. 70 . dan masih banyak lagi. begitu juga pemakai psilocybin akan membutuhkan mescaline atau LSD lebih banyak ubtuk memperoleh dampak yang sama. 2005) *LSD. PCP dapat mengakibatkan keadaan koma yang panjang dan kadang-kadang menyebabkan kematian. Perawat komunitas kesehatan mental mengajarkan klien secara individu maupun kelompok tentang kondisi kesehatan mental mereka.

Badan Pusat Statistik. B. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins Alligood.L and Mandle C. Department of Health and Human Services. Health Promotion Throughout the Life Span. M. Nursing Theory: utilization and application 4th edition. R. Walton. (2006). Rector. Community Health Nursing: current practice and possible futures Eldeman. Departemen Kesehatan RI. N. Mc. Clemen-Stone. Comprehensive Community Health Nursing: Family. R. et al. (2008). Media. E.S. C. and citizen response. Canadian community health nursing: Standard of practice. 7th Ed. J. Guire. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. Community Health Nursing: promoting and protecting the public’s health. (2011). T. Clark. Spredley. (2008). Burkhart. L. Community as partner: Theory and practice in nursing.. Eko dan Anggraeni. (2010). Philadephia: Lippincott Arias. Anggregat & Community Practice.. Jakarta: EGC. A. L..bps. St. Missouri: Mosby. M. (2001). (2011). Budiarto. Investigasi dan pengendalian wabah di fasilitas pelayanan kesehatan. Community Health Nursing: concepts and practice. emergency warnings.php?news=861. J.go. 3rd ed. (1990). S. Jakarta: DepKes RI Department of Health. (2003). Clark. Stanford: Appleton and Lange CDC.Daftar Pustaka Allender. J. M. Atkinson. Boulder. M. (1991). 6th ed. (2000). (2002). Allender. F. (2002). Eigsti. Atlanta: U. Pengantar psikologi. diakses pada tanggal 21 Februari 2012 Best. CO: Westview. D. Pengantar Epidemiologi. www. (2010). J. Dewi. L. K. C . G. D. (1999). Anderson. Jakarta: Erlangga. Profil Kemiskinan di Indonesia. (1999). (2005). 3rd Ed. Pembangunan Kesehatan Masyarakat di Indonesia. Missouri: Mosby Elsevier Ann. & Warner. Philadelphia : Lippincott. D. K. Connecticut: Appleton & Lange. Nursing in the community: Dimensions of community health nursing. S.id/getfile. Ontario: Community Health Nurse Association of Canadia. Nursing in TheCommunity: dimensions of community health nursing. 3rd edition.. Community Health and Program Services (CHAPS): Health Disparities Among Racial/Ethnic Populations. Social Services and Public Safety. Louis: Mosby 71 . M.

A.Efendi. Community Health Nursing: Caring for The Public’s Health 2nd ed.. E.Wahit. M and Lancaster. (2011). Air and Water Pollution: Burden and Strategies for Control. L. http://id.30. Theoretical Nursing: development and progress. St Louis: Mosby. M. McMichael. (2002). Y. Leininger. Meleis. Lodh. Potter. Theoretical Basis for Nursing. Pengantar Keperawatan Komunitas. E... 5th. McEwen. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Nies. (2008).. (2006). R. Community health nursing: Caring in action. R. Kjellstrom. L. Tim CHN FIK UI Stanhope. Edisi 4. A.M. proses. E. Community and Public Health Nursing. Disease Control Priorities in Developing Countries (chapter 43). Keperawatan kesehatan komunitas: Teori dan praktik dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.. J. New York: Delmar Publishing Iqbal Mubarak. Wahit Iqbal dan Chayatin. (2009). Shrestha. (2009).html Freudenberg. M.com/perawatan/perawat/kesehatan-1092456. P. R.com/nursing_theory/unitary_human_beings. (2003). S. Hal 93 Hitchcock. Ranmuthugala. Jakarta: EGC Sahar. India : Jones And Bartlett Publishers. dkk. Alih bahasa: Asih. research and practice. (2005). dan praktik. Community/ public health nursing: promoting the healthy of population (4th Ed). 3rd Ed. A. Urban health and society. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins Mubarak. USA: Mc-Graw Hill Companies Lundy. McEwen. (1999). 72 . (2005). (2005).hicow.. Ferry. & Kotecki. theories. J. (1981). (2004). and Wills. Missouri: Sauders Elsevier. UK: Jones and Barlett Publisher. J. T. Nurul. Kusnanto. S. A.. Ilmu Keperawatan Komunitas 1. dan Thomas. Jakarta: EGC. Davis Company.G. J. Diunduh tanggal 16 Feb 2012. Afaf I. R. (2009).. Community health nursing: Keeping the public healthy.. Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep. M. M & McFarland. G. & Makhfudli. Junaiti.. (2007). An introduction to community health ed. Jakarta: Sagung Seto Jarvis.html. (2001). Mary A. M. P. (2005). N et all. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins McKenzie. & Perry. F. Pukul 10. Schubert. Karen Saucier. Halaman 812-825. Jakarta: Salemba Medika. Transcultural nursing: Concepts. http://currentnursing. Model Pelayanan Keperawatan Komunitas (Perkesmas) pada Keluaraga Miskin. Philadelphia: F.M. Pinger. T. & Kingsland. E..

C. Mc. S. London: Royal Collage of Nursing. Comprehensive community health nursing: Family. Philadelphia: F. Stanhope. Geneva: WHO and the International Programme on Chemical Safety. St. B. Royal Collage of Nursing. WHO and International Programme on Chemical Safety. S. L. 3rd Ed. (2007). Epidemiology in health care. Global Assessment of the State of Science of Endocrine Disruptors. (2010). Aggregate. F. (2002). Stone. WHO (World Health Organization). (2006).cyh. & Community Practice. E. J. (1995). (1990).. M. China: Lippincot Willians & Wilkins. diakses tanggal 20 Februari 2012. Ward.T.gov http://www. Jervis. M. Geneva: WHO. New York: Greenwood Press. S. A. St. & Maurer. Community and public health nursing. Geneva: WHO Press. Louis: Mosby.id. 6th Edition. M. Nurses as partner in delivering public health. Community health nursing: Theory and practice. (1999). Hidden Cities: Unmasking and Overcoming Health Inequities in Urban Settings.who. http://www.A.. S. Louis: Mosby. & Hisley. & Eigsti. (2009). Nursing Theorists and Their Work. B. M. Saunders Company. Document WHO/PCS/EDC/02. 73 . Guidelines for Drinking Water Quality. Alligood. McGuire.Tomey. G.com/Health-Conditions www. pukul 12 44 WIB. Theoretical Basis for Nursing. Handbook of emergency management: Programs and policies dealing with major hazards and disasters. L. (2000).com http://www. Edisi 3. WHO dan UN-HABITAT.nih.go. USA : Library of Congress Cataloging in-Publication Data. A. D. Davis Company. R. Missouri: Mosby Elsevier Smith.depkes.nlm. 3rd ed. 6th ed. M. Valanis. D. M. L. Maternal-child nursing care. 2002. http://www. Smith. 5th Ed.agingcare. Philadelphia: W.int/water_sanitation_health/dwq/guidelines3rd/en/. M. & Lancaster. (2011). Ewen and Wills. 2003.2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful