KARAKTERISTIK SISWA MEDIA DAN METODE PEMBELAJARAN DI SD

Karakteristik Anak SD Anak SD merupakan anak dengan katagori banyak mengalami perubahan yang sangat drastis baik mental maupun fisik. Usia anak SD yang berkisar antara 6 – 12 tahun menurut Seifert dan Haffung memiliki tiga jenis perkembangan :

1. Perkembangan Fisik

Hal tersebut mencakup pertumbuhan biologis misalnya pertumbuhan otak, otot dan tulang. Pada usia 10 tahun baik lai-laki maupun perempuan tinggi dan berat badannya bertambah kurang lebih 3,5 kg. Namun setelah usia remaja yaitu 12 -13 tahun anak perempuan berkembang lebig cepat dari pada laki-laki, Sumantri dkk (2005).

2. Perkembangan Kognitif Hal tersebut mencakup perubahan – perubahan dalam perkembangan pola fikir.Perkembangan kognitif seperti dijelaskan oleh Jean Piaget dapat dijelaskan berdasarkan tiga pendekatan perkembangan yaitu :

1. Tahapan Pra Oprasional 2. Tahapan Oprasional Konkrit 3. Tahapan Oprasional Formal

3. Perkembangan Psikososial

Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu. Seperti dijelaskan oleh Robert J. Havighurst mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial. Sejalan dengan R. J. Havighurst di atas, Syaodih (2007) menjelaskan tahapan perkembangan anak jika dipandang dari aspek psikis, moral dan sosial adalah : Ketiga jenis perkembangan tersebut berjalan tergantung dari perkembangan masing masing jenis seperti tersebut di atas yang berbeda. Hal tersebut tergantung dari variabel stimulan yang mendorong. Apabila

. Maka penguasaan ilmu matematika dasar maupun terapan adalah kunci dari suatu keinginan untuk mengejar ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran guru diharapkan menggunakan pendekatan. mencari penyebab masalah. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah maka perlu dikembangkan keterampilan menemukan masalah. Standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum KTSP disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. sistematis. metode dan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa. memperoleh. mengelola dan pemanfaatan informasi berdasarkan konsep berfikir logis ilmiah dalam rangka bertahan dalam kehidupan yang serba tidak pasti. masalah terbuka dengan pemecahan tidak tunggal dan berbagai masalah matematis dengan berbagai cara penyelesaian. analitis. kreatif dan mengembangkan pola kebiasaan bekerjasama dalam memecahkan masalah. Karakteristik Pembelajaran Matematika SD Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi moderen. matematika mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu yang berimplikasi pada daya eksplorasi fikiran manusia. Walaupun dalam tataran sekolah dasar pengembangan sikap logis ilmiah tersebut sangat perlu tetapi dalam tataran permasalahan yang sederhana dan kontekstual. Sehingga penguasaan matematika dasar sedapat mungkin telah dimulai semenjak dini. Dalam setiap kesempatan pembelajaran matematika menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (BNSP 2006) hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem) Dengan mengajukan permasalahan yang kontekstual maka secara bertahap siswa terbimbing untuk menguasai konsep matematika.rangsangan fisik yang sering diberikan maka faktor fisik anak yang berkembangan demikian juga halnya dengan faktor kognitif dan psikososial. kritis. Matematika mengedepankan pendekatan pemecahan masalah yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal. Di era globalisasi dewasa ini segala hal dalam bertahan hidup memerlukan kesiapan dalam berkompetisi baik dalam sekala lokal maupun internasional. mengembangkan teknik mencari solusi pemecahan masalah dan menemulkan solusi yang paling tepat dalam pemecahan masalah. Kompetensi tersebut diperlukan siswa dalam mengembangkan kemampuan mencari. Mata pelajaran matematika diberikan pada tingkat sekolah dasar selain untuk mendapatkan ilmu matematika itu sendiri demikian juga untuk mengembangkan daya berfikir siswa yang logis. Perkembangan pesat ilmu pengetahun dan teknologi dewasa ini sebagian besar berasal dari perkembangan ilmu terapan matematika.

serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat. Giometri dan pengukuran lebih fokus membelajarkan siswa tentang konsep ruang dan ukurannya dengan perhitungan dasar yang sederhana menggunakan media konkrit dan media manipulatif lainnya. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif berdasarkan fakta dalam aktifitas seseorang . jenius dan sejenisnya. perhatian dan minat dalam mempelajari matematika. akurat. Sehingga siswa tersebut diberikan perlakuan khusus sebagai siswa berbakat. Penggunaan media dari konkrit ke absatrak mempertimbangkan tingkatan kelas dan daya nalar siswa. Sedangkan Pengolahan data lebih banyak membahas tentang hakekat data. Demikian juga semakin tinggi daya nalar logis siswa maka semakin berani bagi guru menggunakan media yang semi abstrak sampai abstrak. diagram. Ruang lingkup mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan sekolah dasar meliputi aspek bilangan. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yang didasari oleh rasa ingin tahu. Memahami konsep matematika . 5. Semakin tinggi tingkatan siswa maka penggunaan media di arahkan ke semi abstrak (manipulatif) sampai tingkatan abstrak. cara mengolah dan membaca data berdaasrkan kaidah rasional dan ilmiah menggunakan data-data konkrit dan data manipulatif. menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika 3. tabel.Mata pelajaran matematika pendidikan sekolah dasar bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut : 1. dan atau media lain untuk memperjelas keadaan dan masalah. Hal tersebut sejalan dengan pandangan kaum konstruktifistik yang memandang bahwa pengetahuan adalah atas dasar bentukan kita sendiri seperti dikemukakan oleh Von Glaserfeld dalam Suparno (1997). Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol. menjelaskan keterkaitan antara konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma. effesien dan tepat dalam pemecahan masalah 2. secara luwes. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah merancang model matematika. melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi. Hal ini terjadi pada kasus jika ditemukan siswa yang memiliki keberbekatan yang tinggi di bidang matrmatika. giometri dan pengukuran serta pengolahan data. menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh 4. Von Glaserfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dan gambaran dari suatu kenyataan yang ada. Bilangan membahas tentang kaedah konsep simbolisasi lambang bilangan dan perhitungan dasar sederhana yang banyak melibatkan media konkrit dan media manipulatif lainnya.

al 2002) Pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik awalnya disebut dengan prakonsepsi yang dimiliki siswa. Menekankan agar siswa dapat bereksplorasi menggunakan seluruh panca indranya Penggunaan Media Alat Peraga . berkembang dan ada dalam diri seseorang yang dalam keadaan mencari tahu tentang sesuatu. Secara hakiki proses asimilasi dan akomodasi terjadi sebagai usaha peserta didik untuk menumbuhkembangkan pengetahuan yang ada dibenaknya (Heinich. konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan dalam membangun strukgur kognitifnya. Proses asimilasi terjadi apabila terdapat kesesuaian antara pengalaman baru dengan prakonsepsi yang sudah dimiliki siswa. bukan hanya menekankan isi matematika dan sains tetapi juga fokus dalam konteks prinsip-prinsipnya. Pengkontruksian pemahaman dalam ivent belajar melalui proses asimilasi dan akomodasi. Para kontruktifistik percaya bahwa pengetahuan tumbuh. 2. Seseorang membentuk skema. Matematika pengetahuan artinya. koordinasi dan multiple ide 4. interpretasi. Para konstruktifistik memandang bahwa satu satunya sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah indranya. 3. Pendekatan yang menekankan penggunaan matematika dan sains dalam situasi dan minat siswa. Seseorang berinteraksi dengan obyek dan lingkungan dengan menggunakan segenap panca indranya. Dalam hubungannya dengan pembelajaran matematika dan sains maka para kontrutifisme bergerak pada sisi mengusahakan perubahan mendasar dari kurikulum yang menggunakan beberapa prinsip : 1. Sedangkan akomodasi terjadi jika pengalaman baru tidak sesuai dengan prakonsepsi yang sudah dimiliki siswa. Pengetahuan tidak begitu saja dapat dipindahkan dari guru kepada siswanya. Siswa sendirilah yang harus mengartikan apa yang dibelajarkan guru yang disesuaikan dengan pengalaman-pengalamannya sendiri.dalam membagun pengalamanya sendiri. et. Menurut paham konstrufistik balajar merupakan proses hasil konstruksi sendiri sebagai hasil interaksinya dengan berbagai lingkungan dan pengalaman belajar. Prinsip ini dikembangkan oleh para pakar pendidikan bahwa ada satu hal lagi yang terjadi di struktur kognitif siswa jika kedua hal antara asimilasi dan akomodasi terjadi yang diistilahkan dengan generalisasi. katagori. Penekanan lebih pada konstruksi.

Ibrahim. Proses adaptasi diperlukan dalam rangka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 1997. Berangkat dari persepektif tersebut maka Piaget memandang bahwa struktur otak juga mengalami hal yang sama. Struktur kognitif beradaptasi melalui tiga cara yaitu akomodasi. sehingga pada saat guru membelajarkan sesuatu yang berhubungan dengan suatu benda maka ada baiknya benda tersebut ditampilkan jika memungkinkan dan apabila tidak dapat digunakan dalam bentuk miniatur atau manipulatif baik manual ataupun elektronik. Dimana pengertian media konkrit dalam konteks pendidikan adalah benda benda yang dapat menjadi perantara menyampaikan pesan pembelajaran dari guru kepada siswa . . sehingga merangsang perhatian minat pikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Di mana Darwin berpandangan bahwa perkembangan suatu mahluk hidup termasuk manusia di dalamnya seiring waktu berlalu selalu melalui proses adaptasi agar ia selalu dapat bertahan dalam kerasnya kehidupan. Struktur otak atau dalam istilah pendidikan adalah struktur kognitif juga mengalami hal yang disebut dengan adaptasi. Berdasarkan prinsip belajar kontruktifistik maka perantara pembelajaran yang tepat yang dapat menyampaikan pesan pembelajaran secara tepat adalah media konkrit. ibrahim et al. Hal yang paling penting adalah siswa mampu mengimajinasikan kesan obyektif terhadap pesan yang sampaikan.1. Sedangakan generalisasi adalah proses menarik kesimpulan berdasarkan fakta dan konsep. Sehingga oleh Piaget mengistilahkan belajar adalah sebagai proses adaptasai kognitif . Jadi media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran). Dipilih “benda” adalah untuk menegaskan bahwa obyek tersebut dapat diterima langsung oleh panca indra manusia. Media didefinisikan sebagai medium yang artinya perantara atau pengantar sehingga terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima (Heinich et al. Sedangkan asimilasi adalah proses adopsi beberapa konsep dan atau pengalaman baru yang sesuai dengan struktur kognitif prakonsepsi siswa. asimilasi dan generalisasi. Akomodasi adalah proses adaptasi kognitif melalui penggantian konsep dan atau pengalaman lama dengan yang baru karna tidak sesuai lagi dengan struktur kognitif prakonsepsi siswa . Media Konkrit Bagi kaum konstruktifisme belajar diartikan sebagai usaha mengubah konsepsi kognitif siswa melalaui usaha stimulan oleh guru menggunakan berbagai metode dan media yang memadai dan mendukung ke arah tersebut. 2002. 2001) Guru berperan sebagai komunikator dan siswa adalah komunikan sehingga proses pembelajaran termasuk salah satu proses komunikasi. Ia mengadopsi istilah evolusi ala Darwin dalam memandang permasalahan ini.

Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar (ada tinggi. presentasi verbal. menuntun cara berfikir. sumber belajar dan lingkungan belajar. vidio. memasukkan alih ilmu. terdapat sembilan kelompok media. (2) liputan terbatas pada ruangan seperti film. Posisi media dalam sistem pembelajaran tidak dapat digantikan jika ingin mendapatkan hasil belajar yang optimal melalui pembelajaran yang atraktif. vidio dan komputer. prinsip dan konsep. (3) media untuk belajar individual seperti buku. gambar diam. obyek tiga dimensi. contoh perilaku belajar. komunikasi lisan. gambar bergerak. (3) Gerlach adn Ely. modul. pengenalan visual. media cetak. Jika dipandang berdasarkan karakteristik media maka media dibedakan menjadi media pembelajaran dua dimensi dan media pembelajaran tiga dimensi. media digolongkan menjadi media rumit. poster dan audio tape. program. Seperti dikemukakan oleh (1) Wilbur Schramm. prosedur. tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. pengajaran terprogram dan simulasi. presentasi grafis. rekaman. Media pembelajaran dua dimensi digolongkan kedalam media . film bersuara dan mesin belajar.. slide. media dikelompokkan menjadi tujuh kelompok yaitu benda yang akan didemonstrasikan. sedang dan rendah). memberi kondisi eksternal. Berikut disajikan beberapa penggolongan media pembelajaran menurut para pakar media pendidikan. Terdapat lima model klasifikasi media pembelajaran. radio dan faksimil . Menurut Allen. Menurut Gerlach dan Ely. film televisi. Sementara menurut Ibrahim media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleksitas alat dan perlengkapan. penarik minat belajar. gambar bergerak. pelajaran terprogram. Allen melihat bahwa media tertentu memiliki kelebihan untuk belajar tertentu. demonstrasi. Ia juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputan yaitu (1) liputan luas dan serentak seperti TV. keterampilan dan sikap. media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas delapan kelompok. dan (4) Ibrahim. Allen mengkaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Allen mengungkapkan enam tujuan belajar.Proses pembelajaran adalah sebuah sistem yang menempatkan media pembelajaran dalam posisi penting selain guru. media audio. buku teks cetak dan sajian lisan. (2) Gagne. gambar diam. rekaman suara.komputer dan telepon. Media dapat digolongkan menjadi berbagai jenis berdasarkan pemakaian dan karakteristik jenis media. Ia membedakan media menjadi media tanpa proyeksi. yaitu benda sebenarnya. telvisi. siswa. menilai prestasi dan memberi umpan balik. yaitu visual diam. mahal dan media sederhana. media tnpa proyrksi tiga dimensi. Di samping mengklasifikasikan. Ketujuh kelompok media pembelajaran tersebut dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi fungsi menurut hirarki belajar yang dikembangkan yaitu pelontar stimulus bejajar. antara lain info faktual. Menurut Schramm. Menurut Gagne .

Tinkatan persepsi siswa terhadap pesan dari media dalam bentuk apapun tergantung dari prakonsepsi siswa. mengefektifkan proses pembelajaran 4. Hal tersebut berbeda dengan pola pembelajaran sekolah kkejuruan yang mutlak harus menampilkan media asli ke dalam ruang belajar. IPS Matematika. Pesan yang dismpaikan dari media apapun bentuknya akan mengalami proses encoding perseptions dalam pikiran siswa.grafis. Hal tersebut akan memudahkan siswa untuk membangun struktur konsepnya di otak. media cetak dan media lain yang penampakannya bebentuk dua dimensi. Terjadunya perubahan perilaku yang diharapkan menandakan konsep baru berhasil diadaptasi dan sejalan dengan konsep prakonsepsi yang sudah dimiliki siswa. memudahkan siswa dalam membangun struktur kognitif dalam membentuk konsep. 2. media tiruan berupa miniatur atau bentuk lainnya. Akan tetapi dengan luasnya bidang pembelajaran di SD yang meliputi IPA. Sehingga timbul gagasan untuk memanipulasi benda asli agar menjadi media yang mendekati asli. dimana kemudia diberikan konsep baru yang maka proses adaptasi kognitif melalui akomodasi dan asimilasi berlangsung. Sebagian besar materi pembelajaran di SD bersifat imajinatif baik rasional maupun tidak. Secara rinci berikut manfaat dari media konkrit 1. meningkatkan interaksi komponen pembelajaran . 3. Dengan penjabaran di atas maka segala media karakteristiknya adalah berusaha memvisualisasikan segala bentuk pesan sehingga siswa menangkap pesan yang disampaikan yang selanjutnya dipersepsikan dalam struktur kognitif menjadi konsep. Jika dalam struktur kognitif siswa sudah tertanam suatu konsep (prakonsepsi). 2. Manfaat Media Konkrit Penggunaan media konkrit dalam proses pembelajaran membawa dampak yang sangat luas terhadap pola pembelajaran tingkat sekolah dasar.melalui peta timbul. Bahasa hingga keterampilan sehingga menyulitkan kita apabila semua pembelajaran harus dilengkapi dengan media asli. spesimen. media bentuk papan. Itu artinya penggunaan media sebagai penyampai pesan tepat berdasarkan simpul kognitif dan waktu (timingnya) tepat. Sedangka media tiga dimensi digolongkan menjadi belajar benda sebenarnya melalui karyawisata. dan bentuk lainnya yang dapat dilihat secara tiga dimensi. baik yang menyangkut saintifik dan non sains. memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran agar sesuai dengan program yang sudah ditetapkan.

Karna hal tersebut selalu dihubungkan dengan faktor kesesuaian hubungannya dengan manusia. situasi dan kondisi. 4. kadangkala ada media konkrit yang sangat menarik perhatian siswa sehingga banyak waktu tersita bukan untuk tujuan yang ada kaitannya dengan materi 4. maka potensi kegaduhan siswa di kelas akan meningkat. Manusia adalah subyek penentui apakah suatu benda atau hal lain merugikan atau menguntungkan. mudah berinteraksi dengan siswa melalui segenap panca indra 3. Hal tersebut terjadi karna media konkrit memiliki banyak keunggulan di antaranya adalah : 1. sehubungan dengan poin c. praktisi pendidikan dan pengamat pendidikan. sehingga suasana tetap menjadi kondusif walaupun potensi kemungkinan paling buruk terjadi. Kelemahan Media Konkrit Disamping memiliki keunggulan media konkrit juga memiliki kelemahan. memiliki fleksibilitas yang tinggi dimana dapat digunakan untuk pembelajaran mata pelajaran yang lain 4. Sudah barang tentu sisi negatif memerlukan penanganan manajemen kelas yang effektif. benda dan hal tertentu sangat sulit dimanipulasi 3. sangat merepotkan guru dalam proses persiapan pembelajaran 2. Keunggulan Media Konkrit Media konkrit merupakan media yang saat ini paling dianjurkan penggunaannya oleh para pakar pendidikan. Sebab setiap benda ataupun hal yang lain di alam ini suatu saat memiliki dampak buruk.3. kadangkala suatu ide. memiliki tingkat obyektifitas yang tinggi 2. . Sisi negatifnya adalah : 1. dapat dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan. Hal-hal yang merupakan sisi negatif dari benda konkrit adalah berpulang kepada guru itu sendiri karna siswa sangat diuntungkan dalam hal ini.

Tempelkan papan garis bilangan pada papan tulis b). sehingga dapat dimainkan oleh siswa. d). . maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Kartu bilangan bergambar Kartu bilangan di atas dilengkapi dengan kait gantungan yang akan dipakai menggantungkannya pada paku pada garis bilangan. Modifikasi garis bilangan Dimana garis bilangan dibuat dari sebuah papan dimana titik pada bilangan ditandai dengan paku. Pada pembelajaran menggunakan kartu bilangan dan garis bilangan adalah jenis alat peraga konkrit manipulatif. Karakteristik Media Konkrit Digunakannya manipulasi media konkrit didasari oleh suatu alasan yang rasional dan kuat seperti dijelaskan berikut ini.5. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Sebabnya adalah sulitnya mencari alat yang konkrit yang tepat untuk materi pembelajaran tersebut. Kemudian bagikan kartu bilangan kepada siswa c). 3. Sehubungan dengan upaya ilmiah. Metode Bermain Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Ajak siswa menggantungkan bilangan pada papan berpaku secara terurut yang dimulai dari bilangan acak bebas sesuai keinginan siswa. Tehnik Memainkan Tehnik memainkan peraga tersebut di atas adalah sebagai berikut : a). Demikian seterusnya sehingga sambil bermain siswa dapat mengurutkan bilangan 4. Secara khusus manipulasi media konkrit yang akan digunakan pada kegiatan saat ini adalah : 1. Paku selain sebagai titik penanda juga berfungsi untuk menggantungkan kartu bergambar bilangan. 2. Sehingga secara bebas dapat dimainkan oleh siswa.

Pengertian metode menurut Dr. Saat ini penulis akan mengangkat metode bermain sebagai salah satu alternative dalam membuat suasana belajar lebih kreatif sehingga keterlibatan siswa dalam proses lebih besar. Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar diharapkan makin efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pembelajaran. faktor guru. Berikut beberapa pengertian metode seperti dikemukakan oleh beberapa ahli. Dengan mengambil dua pengertian di atas maka metode pembelajaran adalah jalan atau usaha yang ditempuh untuk membuat siswa belajar. Sedangkan menurut kamus besar Bahasa Indonesia metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditetapkan.Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat di perlukan oleh para pendidik. Sudah barang tentu factor lainpun harus diperhatikan seperti . Menurut Syaiful B. metode penugasan. metode diskusi. Ia dianggap sebagai orang pertama yang menyadari dan melihat pentingnya nilai praktis dari bermain. Mensiasati perbedaan individual anak didik 3. faktor siswa. faktor situasi. Djamarah dkk (2006:82-84). metode observasi. (lingkungan belajar). Sedangkan pengertian pembelajaran adalah usaha untuk membuat siswa belajar. sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru. Untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan pembelajaran 2. metode bermain. Terdapat banyak ragam metode yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi pembelajaran sperti metode ceramah. . Sedangkan menurut Drs. memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak.S. metode bermain dan sebagainya. Salah satu tokoh yang dianggap paling berjasa sebagai pencetus penggunaan metode bermain adalah Plato seorang filsuf Yunani. metode tutor teman sebaya. Menyimak dari pengertian tersebut maka metode pembelajaran menempati posisi penting dalam memerankan fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan. H Abu Ahmad dkk (2005:52) metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang diberikan oleh seorang guru atau instruktur. media dan yang lainnya. Sedangkan Sudono (2000:1) mengemukakan bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi. Nasution adalah suatu cara yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam suatu tugas pekerjaan agar dapat mencapai tujuan sesuai yang ditetapkan. metode berkedudukan : 1. metode eksperimen. Menurut Plato anak-anak akan lebih mudah mempelajari Aritmatika dengan cara permainan.

yaitu apabila S_R sering dilakukan atau dipraktekkan maka hubungan ini semakin kuat. mengulang-ulang. Teori Belajar menurut Behavioristik (Thordinke) Belajar merupakan proses pembentukan hubungan yang erat antara stimulus (S) dengan respon (R) semakin erat hubungan antara hubungan S-R maka proses belajar telah berlangsung dengan baik. menulis permulaan serta matematika adalah yang lazim dikaitkan dengan permainan. Dalam belajar dengan cara ini harus ada: 1) motif pendororng kegiatan. 2000:3) bahwa belajar dengan bermain akan memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi. bereksplorasi serta mempraktekkannya. menemukan sendiri.Dengan bermain anak bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Berikut dikemukakan beberapa pendapat para ahli berupa teori tentang pentingnya penggunaan metode bermain diantaranya seperti diuraikan di bawah ini. Arief Sadiman (2002:79) mengatakan permainan dapat dipakai untuk mempraktekkan keterampilan membaca dan berhitung sederhana. 2) ada bermacam-macam respon dalam situasi tertentu. Sebaiknya guru juga memberi kebebasan sesuai dengan sifat alami anak sehingga dalam mengembangkan kreatifitasnya anak tidak merasa takut untuk memiliki pendapat berbeda dengan gurunya Dari penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa metode bermain yang dimaksud adalah suatu cara yang digunakan dalam melakukan kegiatan untuk menjelaskan konsep abstrak dalam matematika yang lebih menyenangkan Hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk mencegah ketakutan siswa terhadap pelajaran matematika sehingga siswa lebih paham dan lebih lama mengingatnya. maka reaksi memuaskan. Belajar merupakan teori yang diutamakan latihan-latihan. Tujuan pemberantasan buta aksara dan buta angka untuk orang dewasa atau pelajaran membaca. Sebagaimana dikemukakan oleh Mayke (dalam Sudono. Teori ini juga akan mencoba berbagai cara dan usaha untuk mendapatkan respon yang benar. anak-anak akan lebih senang dan menjadikan si anak lebih aktif. Dalam praktek ini diberikan hadiah . Teori-teori Belajar 1. 2) Low of exerscises (hukum latihan. Hukum dalam teori Thordinke ada tiga tahap yaitu : 1) Low readness yaitu kesiapan stimulus dalam bereaksi. 3) ada eliminasi mencapai tujuan. jika reaksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan bereaksi. Dalam proses pembelajaran guru hendaknya memberikan kebebasan kepada setiap anak didiknya untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pemikiran mereka.

Piaget juga mengemukakan bahwa saat bermain anak-anak tidak belajar sesuatu yang baru. bermain juga mempunyai peranan penting bagi perkembangan sosial dan emosi anak. Dengan demikian melalui bermain. tetapi mereka belajar mempraktekkan dan mengkonsolidasi keterampilan baru yang diperoleh. Pandangan Freud tentang bermain akhirnya memberi ilham atau inspirasi kepada para ilmu jiwa untuk menggunakan bermain sebagai alat diagnosa ataupun “mengobati” anak yang bermasalah. Perkembangan emosi anak yang dimaksud adalah dengan bermain proses belajar-mengajar menjadi lebih menyenangkan dan dapat merangsang belajar siswa sehingga prestasi siswa dapat meningkat. menegaskan bahwa menggunakan metode bermain sebagai usaha untuk menggunakan kemampuan fisik dan mental guna mengatur atau mengorganisasi pengalamanny.bagi respon yang benar. Bermain memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menjelajahi dunianya serta mengmbangkan kreativitasnya. Melalui bermain ataupun fantasi seseorang dapat memproyeksikan harapan-harapan serta pengalaman yang menyenangkan. Freud percaya bahwa bermain penting dalam perkembangan emosi anak. White mengemukakan . Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa dengan bermain. Vygotsky memandang bermain identik dengan kaca pembesar yang dapat menelaah kemampuan baru dari anak yang bersifat potensial sebelum diaktulisasikan dalam situasi lain. Teori dari sudut pandang psikonalisa (Sigmund Freud) Sigmund Freud. 3) Law of Effect (Hukun Akibat) yaitu apabila hubungan S_R dibarengai dengan pengaruh yang memuaskan maka hubungan ini menjadi kuat. khususnya dalam kondisi normal seperti di sekolah. 3). Dalam teori Piaget. anak menjalani tahapan perkembangan kognisi dan sampai akhirnya proses berfikir anak menyamai proses berfikir orang dewasa. memandang bermain sama seperti fantasi atau lamunan. 2). 2. Teori Robert White (1959) yang menjelaskan bahwa bahwa kegiatan bermain pada anak tidak membutuhkan hadiah ataupun reward namun mereka bermain untuk kegiatan itu sendiri. dalam pengertian selain untuk perkembangan kognisi. bermain bukan saja mencerminkan tahap perkembangan kognisi anak itu sendiri. daya ingat. dan kerjasama yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Teori Belajar Kognisi 1) Menurut Piaget. 3. anak dapat memiliki perhatian. Teori Jerome Singer (1937). keterampilan baru yang diperoleh melalui praktek tidak akan segera hilang dan akan selalu diingatnya sehingga belajar dapat meningkat. 4). Pandangan Vygotsky mengenai bermain bersifat mennyeluruh.

Hal ini memungkinkan siswa untuk bereksperimen dan memanipulasi benda-benda konkrit dan abstrak dari unsur-unsur yang dipelajari. Konsep-konsep Matematika dipelajari menurut tahapan-tahapan bertingkat dalam belajar mamatika.bahwa dengan adanya kegiatan bermain anak-anak akan memperoleh kepuasan pribadi karena merasa kompeten. Anak tidak lagi terkait objek-objek pada tahap sebelumnya. Permainan mencari persamaan sifat dimana pada tahap ini siswa mulai diarahkan untuk menemukan struktur yang menunjukkan kesamaan yang terdapat dalam permainan yang dimainkan (d). 5). 6). Permainan bebas adalah tahap belajar konsep yang terdiri dari aktivitas yang tidak terstruktur dan tidak diarahkan. Teori Jerome Brunner menyatakan bahwa belajar matematika akan berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang akan diajarkan. (b). Brunner melukiskan anak-anak berkembang melalui tiga tahap perkembangan yaitu: (a). (f) Formalisasi tahapan mempelajari suatu konsep dan struktur matematika yang saling berhubungan. (e). Keberhasilan melakukan sesuatu atau memperoleh tanggapan dari lingkungannya sudah merupakan hadiah tersendiri bagi anak. Jadi. Tahap Iconic dimana dalam tahap ini kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari obyek-obyek yang dimanipulasinya. Bermain dapat merupakan cara anak bertindak menurut kehendaknya sendiri dalam tindakan yang efektif. Permainan yang menggunakan aturan Pada tahap ini siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam suatu konsep. Permainan dengan simbolisasi dimana tahap ini merupakan tahap belajar konsep pada saat anak perlu merumuskan reperesentasi pada setiap konsep dengan menggunakan simbol Matematika atau dengan perumusan verbal yang sesuai. (c). Pada tahap ini anak mencari gambaran konsep kesamaan sifat dari situasi tertentu. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek real. Melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan struktur Matematika. Adapun tahapan-tahapan tersebut yaitu: (a). Tahap Simbolik yaitu tahapan ini siswa memanipulasi simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu. (c).Tahap Enactive Dalam tahapan ini anakanak langsung terlibat dalam menggunakan/ memanipulasi objek. Permainan dengan reperesentasi yaitu merupakan tahap pengambilan kesamaan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Dalam hal ini anak harus .Teori Belajar Dienes yang mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam Matematika yang disajikan dalam bentuk konkret akan dapat dipahami dengan baik. disamping hubungan-hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur. Pada tahap ini anak-anak tidak langsung dari objek. (b). dengan adanya kegiatan bermain itu sendiri dapat membuat siswa merasa senang dan ingin mengulanginya lagi.

ratusan bahkan dapat di acak antara satuan puluhan dan ratusan. Untuk anak/ peserta didik pada jenjang pendidikan permulaan pada umumnya masih senang bermain-main. Dengan metode bermain pengajaran matematika akan lebih menarik dan menyenangkan karena menggunakan bendabenda konkret yang telah dikenal oleh siswa. maka pengajaran matematika akan lebih berhasil bila menggunakan metode bermain. Selain menyenangkan bermain juga membantu anak untuk memahami materi pelajaran dan meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah.mengurut sifat-sifat itu untuk dapat merumuskan sifat-sifat baru Kerangka Konseptual Dalam kegiatan belajar mengajar penggunaan metode mengajar matematika harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Dengan kemampuan siswa yang mahir dalam mengurutkan bilangan dari kecil ke besar dan sebaliknya sehingga dapat menjadi dasar bagi pembelajaran selanjutnya. karena anak didik dilibatkan secara aktif bermain dalam situasi nyata yang berkaitan dengan matematika. sehingga siswa akan lebih termotivasi dalam belajar dan meningkatkan hasil belajar matematika khususnya pada materi mengurutkan bilangan menggunakan garis bilangan. puluhan. . Mengurutkan bilangan dilakukan secara bertahap dari bilangan satuan.