KARAKTERISTIK SISWA MEDIA DAN METODE PEMBELAJARAN DI SD

Karakteristik Anak SD Anak SD merupakan anak dengan katagori banyak mengalami perubahan yang sangat drastis baik mental maupun fisik. Usia anak SD yang berkisar antara 6 – 12 tahun menurut Seifert dan Haffung memiliki tiga jenis perkembangan :

1. Perkembangan Fisik

Hal tersebut mencakup pertumbuhan biologis misalnya pertumbuhan otak, otot dan tulang. Pada usia 10 tahun baik lai-laki maupun perempuan tinggi dan berat badannya bertambah kurang lebih 3,5 kg. Namun setelah usia remaja yaitu 12 -13 tahun anak perempuan berkembang lebig cepat dari pada laki-laki, Sumantri dkk (2005).

2. Perkembangan Kognitif Hal tersebut mencakup perubahan – perubahan dalam perkembangan pola fikir.Perkembangan kognitif seperti dijelaskan oleh Jean Piaget dapat dijelaskan berdasarkan tiga pendekatan perkembangan yaitu :

1. Tahapan Pra Oprasional 2. Tahapan Oprasional Konkrit 3. Tahapan Oprasional Formal

3. Perkembangan Psikososial

Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu. Seperti dijelaskan oleh Robert J. Havighurst mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial. Sejalan dengan R. J. Havighurst di atas, Syaodih (2007) menjelaskan tahapan perkembangan anak jika dipandang dari aspek psikis, moral dan sosial adalah : Ketiga jenis perkembangan tersebut berjalan tergantung dari perkembangan masing masing jenis seperti tersebut di atas yang berbeda. Hal tersebut tergantung dari variabel stimulan yang mendorong. Apabila

analitis. Kompetensi tersebut diperlukan siswa dalam mengembangkan kemampuan mencari. sistematis. memperoleh. . metode dan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran guru diharapkan menggunakan pendekatan. mengembangkan teknik mencari solusi pemecahan masalah dan menemulkan solusi yang paling tepat dalam pemecahan masalah. Matematika mengedepankan pendekatan pemecahan masalah yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal. Maka penguasaan ilmu matematika dasar maupun terapan adalah kunci dari suatu keinginan untuk mengejar ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. masalah terbuka dengan pemecahan tidak tunggal dan berbagai masalah matematis dengan berbagai cara penyelesaian. kritis. mencari penyebab masalah. Sehingga penguasaan matematika dasar sedapat mungkin telah dimulai semenjak dini. Standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum KTSP disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah maka perlu dikembangkan keterampilan menemukan masalah. matematika mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu yang berimplikasi pada daya eksplorasi fikiran manusia. kreatif dan mengembangkan pola kebiasaan bekerjasama dalam memecahkan masalah.rangsangan fisik yang sering diberikan maka faktor fisik anak yang berkembangan demikian juga halnya dengan faktor kognitif dan psikososial. Dalam setiap kesempatan pembelajaran matematika menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (BNSP 2006) hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem) Dengan mengajukan permasalahan yang kontekstual maka secara bertahap siswa terbimbing untuk menguasai konsep matematika. Karakteristik Pembelajaran Matematika SD Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi moderen. Perkembangan pesat ilmu pengetahun dan teknologi dewasa ini sebagian besar berasal dari perkembangan ilmu terapan matematika. Di era globalisasi dewasa ini segala hal dalam bertahan hidup memerlukan kesiapan dalam berkompetisi baik dalam sekala lokal maupun internasional. Walaupun dalam tataran sekolah dasar pengembangan sikap logis ilmiah tersebut sangat perlu tetapi dalam tataran permasalahan yang sederhana dan kontekstual. Mata pelajaran matematika diberikan pada tingkat sekolah dasar selain untuk mendapatkan ilmu matematika itu sendiri demikian juga untuk mengembangkan daya berfikir siswa yang logis. mengelola dan pemanfaatan informasi berdasarkan konsep berfikir logis ilmiah dalam rangka bertahan dalam kehidupan yang serba tidak pasti.

Menggunakan penalaran pada pola dan sifat. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol. Sedangkan Pengolahan data lebih banyak membahas tentang hakekat data. Ruang lingkup mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan sekolah dasar meliputi aspek bilangan. secara luwes. Bilangan membahas tentang kaedah konsep simbolisasi lambang bilangan dan perhitungan dasar sederhana yang banyak melibatkan media konkrit dan media manipulatif lainnya.Mata pelajaran matematika pendidikan sekolah dasar bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut : 1. diagram. effesien dan tepat dalam pemecahan masalah 2. Hal tersebut sejalan dengan pandangan kaum konstruktifistik yang memandang bahwa pengetahuan adalah atas dasar bentukan kita sendiri seperti dikemukakan oleh Von Glaserfeld dalam Suparno (1997). perhatian dan minat dalam mempelajari matematika. Giometri dan pengukuran lebih fokus membelajarkan siswa tentang konsep ruang dan ukurannya dengan perhitungan dasar yang sederhana menggunakan media konkrit dan media manipulatif lainnya. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif berdasarkan fakta dalam aktifitas seseorang . Semakin tinggi tingkatan siswa maka penggunaan media di arahkan ke semi abstrak (manipulatif) sampai tingkatan abstrak. Sehingga siswa tersebut diberikan perlakuan khusus sebagai siswa berbakat. Penggunaan media dari konkrit ke absatrak mempertimbangkan tingkatan kelas dan daya nalar siswa. Demikian juga semakin tinggi daya nalar logis siswa maka semakin berani bagi guru menggunakan media yang semi abstrak sampai abstrak. menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika 3. serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. jenius dan sejenisnya. Hal ini terjadi pada kasus jika ditemukan siswa yang memiliki keberbekatan yang tinggi di bidang matrmatika. Memahami konsep matematika . dan atau media lain untuk memperjelas keadaan dan masalah. akurat. Von Glaserfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dan gambaran dari suatu kenyataan yang ada. cara mengolah dan membaca data berdaasrkan kaidah rasional dan ilmiah menggunakan data-data konkrit dan data manipulatif. giometri dan pengukuran serta pengolahan data. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah merancang model matematika. 5. menjelaskan keterkaitan antara konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma. melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi. menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh 4. tabel. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yang didasari oleh rasa ingin tahu.

Pendekatan yang menekankan penggunaan matematika dan sains dalam situasi dan minat siswa. berkembang dan ada dalam diri seseorang yang dalam keadaan mencari tahu tentang sesuatu.al 2002) Pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik awalnya disebut dengan prakonsepsi yang dimiliki siswa. 2. Penekanan lebih pada konstruksi. Siswa sendirilah yang harus mengartikan apa yang dibelajarkan guru yang disesuaikan dengan pengalaman-pengalamannya sendiri. Secara hakiki proses asimilasi dan akomodasi terjadi sebagai usaha peserta didik untuk menumbuhkembangkan pengetahuan yang ada dibenaknya (Heinich. Seseorang membentuk skema. Para konstruktifistik memandang bahwa satu satunya sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah indranya. 3. Pengetahuan tidak begitu saja dapat dipindahkan dari guru kepada siswanya. Para kontruktifistik percaya bahwa pengetahuan tumbuh. Prinsip ini dikembangkan oleh para pakar pendidikan bahwa ada satu hal lagi yang terjadi di struktur kognitif siswa jika kedua hal antara asimilasi dan akomodasi terjadi yang diistilahkan dengan generalisasi. konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan dalam membangun strukgur kognitifnya. bukan hanya menekankan isi matematika dan sains tetapi juga fokus dalam konteks prinsip-prinsipnya. Menekankan agar siswa dapat bereksplorasi menggunakan seluruh panca indranya Penggunaan Media Alat Peraga . Dalam hubungannya dengan pembelajaran matematika dan sains maka para kontrutifisme bergerak pada sisi mengusahakan perubahan mendasar dari kurikulum yang menggunakan beberapa prinsip : 1. koordinasi dan multiple ide 4. Seseorang berinteraksi dengan obyek dan lingkungan dengan menggunakan segenap panca indranya. Sedangkan akomodasi terjadi jika pengalaman baru tidak sesuai dengan prakonsepsi yang sudah dimiliki siswa. katagori. et. Proses asimilasi terjadi apabila terdapat kesesuaian antara pengalaman baru dengan prakonsepsi yang sudah dimiliki siswa. interpretasi.dalam membagun pengalamanya sendiri. Matematika pengetahuan artinya. Pengkontruksian pemahaman dalam ivent belajar melalui proses asimilasi dan akomodasi. Menurut paham konstrufistik balajar merupakan proses hasil konstruksi sendiri sebagai hasil interaksinya dengan berbagai lingkungan dan pengalaman belajar.

Hal yang paling penting adalah siswa mampu mengimajinasikan kesan obyektif terhadap pesan yang sampaikan. Berdasarkan prinsip belajar kontruktifistik maka perantara pembelajaran yang tepat yang dapat menyampaikan pesan pembelajaran secara tepat adalah media konkrit. sehingga pada saat guru membelajarkan sesuatu yang berhubungan dengan suatu benda maka ada baiknya benda tersebut ditampilkan jika memungkinkan dan apabila tidak dapat digunakan dalam bentuk miniatur atau manipulatif baik manual ataupun elektronik. Di mana Darwin berpandangan bahwa perkembangan suatu mahluk hidup termasuk manusia di dalamnya seiring waktu berlalu selalu melalui proses adaptasi agar ia selalu dapat bertahan dalam kerasnya kehidupan. Proses adaptasi diperlukan dalam rangka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. . Akomodasi adalah proses adaptasi kognitif melalui penggantian konsep dan atau pengalaman lama dengan yang baru karna tidak sesuai lagi dengan struktur kognitif prakonsepsi siswa . Sedangakan generalisasi adalah proses menarik kesimpulan berdasarkan fakta dan konsep. sehingga merangsang perhatian minat pikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Ibrahim. Media Konkrit Bagi kaum konstruktifisme belajar diartikan sebagai usaha mengubah konsepsi kognitif siswa melalaui usaha stimulan oleh guru menggunakan berbagai metode dan media yang memadai dan mendukung ke arah tersebut. Dimana pengertian media konkrit dalam konteks pendidikan adalah benda benda yang dapat menjadi perantara menyampaikan pesan pembelajaran dari guru kepada siswa . 1997. 2001) Guru berperan sebagai komunikator dan siswa adalah komunikan sehingga proses pembelajaran termasuk salah satu proses komunikasi. Sedangkan asimilasi adalah proses adopsi beberapa konsep dan atau pengalaman baru yang sesuai dengan struktur kognitif prakonsepsi siswa. Berangkat dari persepektif tersebut maka Piaget memandang bahwa struktur otak juga mengalami hal yang sama. Struktur otak atau dalam istilah pendidikan adalah struktur kognitif juga mengalami hal yang disebut dengan adaptasi. ibrahim et al.1. Media didefinisikan sebagai medium yang artinya perantara atau pengantar sehingga terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima (Heinich et al. 2002. Sehingga oleh Piaget mengistilahkan belajar adalah sebagai proses adaptasai kognitif . asimilasi dan generalisasi. Dipilih “benda” adalah untuk menegaskan bahwa obyek tersebut dapat diterima langsung oleh panca indra manusia. Jadi media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran). Struktur kognitif beradaptasi melalui tiga cara yaitu akomodasi. Ia mengadopsi istilah evolusi ala Darwin dalam memandang permasalahan ini.

pelajaran terprogram. gambar bergerak. gambar diam. Allen mengkaitkan antara jenis media pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Terdapat lima model klasifikasi media pembelajaran. antara lain info faktual. film bersuara dan mesin belajar. dan (4) Ibrahim. Berikut disajikan beberapa penggolongan media pembelajaran menurut para pakar media pendidikan. (3) Gerlach adn Ely.. media tnpa proyrksi tiga dimensi. memberi kondisi eksternal. media audio. Ketujuh kelompok media pembelajaran tersebut dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi fungsi menurut hirarki belajar yang dikembangkan yaitu pelontar stimulus bejajar. presentasi grafis. media digolongkan menjadi media rumit. memasukkan alih ilmu. telvisi. prinsip dan konsep. Menurut Gagne . Menurut Allen. Ia juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputan yaitu (1) liputan luas dan serentak seperti TV. film televisi. yaitu benda sebenarnya. vidio dan komputer. Sementara menurut Ibrahim media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleksitas alat dan perlengkapan. komunikasi lisan. presentasi verbal. Jika dipandang berdasarkan karakteristik media maka media dibedakan menjadi media pembelajaran dua dimensi dan media pembelajaran tiga dimensi. media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas delapan kelompok. prosedur. terdapat sembilan kelompok media.komputer dan telepon. Allen melihat bahwa media tertentu memiliki kelebihan untuk belajar tertentu. Di samping mengklasifikasikan. Ia membedakan media menjadi media tanpa proyeksi. pengenalan visual.Proses pembelajaran adalah sebuah sistem yang menempatkan media pembelajaran dalam posisi penting selain guru. Seperti dikemukakan oleh (1) Wilbur Schramm. siswa. menilai prestasi dan memberi umpan balik. pengajaran terprogram dan simulasi. rekaman suara. keterampilan dan sikap. (3) media untuk belajar individual seperti buku. poster dan audio tape. gambar diam. gambar bergerak. yaitu visual diam. media dikelompokkan menjadi tujuh kelompok yaitu benda yang akan didemonstrasikan. sedang dan rendah). Allen mengungkapkan enam tujuan belajar. media cetak. menuntun cara berfikir. penarik minat belajar. Posisi media dalam sistem pembelajaran tidak dapat digantikan jika ingin mendapatkan hasil belajar yang optimal melalui pembelajaran yang atraktif. program. (2) Gagne. Media dapat digolongkan menjadi berbagai jenis berdasarkan pemakaian dan karakteristik jenis media. (2) liputan terbatas pada ruangan seperti film. rekaman. demonstrasi. tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. modul. Menurut Schramm. Menurut Gerlach dan Ely. contoh perilaku belajar. sumber belajar dan lingkungan belajar. mahal dan media sederhana. vidio. obyek tiga dimensi. radio dan faksimil . buku teks cetak dan sajian lisan. slide. Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar (ada tinggi. Media pembelajaran dua dimensi digolongkan kedalam media .

Terjadunya perubahan perilaku yang diharapkan menandakan konsep baru berhasil diadaptasi dan sejalan dengan konsep prakonsepsi yang sudah dimiliki siswa. Tinkatan persepsi siswa terhadap pesan dari media dalam bentuk apapun tergantung dari prakonsepsi siswa. baik yang menyangkut saintifik dan non sains. memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran agar sesuai dengan program yang sudah ditetapkan. 2. media bentuk papan. IPS Matematika. Akan tetapi dengan luasnya bidang pembelajaran di SD yang meliputi IPA. Hal tersebut berbeda dengan pola pembelajaran sekolah kkejuruan yang mutlak harus menampilkan media asli ke dalam ruang belajar. spesimen. Hal tersebut akan memudahkan siswa untuk membangun struktur konsepnya di otak. Secara rinci berikut manfaat dari media konkrit 1. Jika dalam struktur kognitif siswa sudah tertanam suatu konsep (prakonsepsi). Sebagian besar materi pembelajaran di SD bersifat imajinatif baik rasional maupun tidak. Pesan yang dismpaikan dari media apapun bentuknya akan mengalami proses encoding perseptions dalam pikiran siswa. Sehingga timbul gagasan untuk memanipulasi benda asli agar menjadi media yang mendekati asli. Bahasa hingga keterampilan sehingga menyulitkan kita apabila semua pembelajaran harus dilengkapi dengan media asli. dan bentuk lainnya yang dapat dilihat secara tiga dimensi.melalui peta timbul. memudahkan siswa dalam membangun struktur kognitif dalam membentuk konsep. meningkatkan interaksi komponen pembelajaran . Dengan penjabaran di atas maka segala media karakteristiknya adalah berusaha memvisualisasikan segala bentuk pesan sehingga siswa menangkap pesan yang disampaikan yang selanjutnya dipersepsikan dalam struktur kognitif menjadi konsep. 3. mengefektifkan proses pembelajaran 4. dimana kemudia diberikan konsep baru yang maka proses adaptasi kognitif melalui akomodasi dan asimilasi berlangsung. Itu artinya penggunaan media sebagai penyampai pesan tepat berdasarkan simpul kognitif dan waktu (timingnya) tepat. media cetak dan media lain yang penampakannya bebentuk dua dimensi. media tiruan berupa miniatur atau bentuk lainnya. Manfaat Media Konkrit Penggunaan media konkrit dalam proses pembelajaran membawa dampak yang sangat luas terhadap pola pembelajaran tingkat sekolah dasar. 2.grafis. Sedangka media tiga dimensi digolongkan menjadi belajar benda sebenarnya melalui karyawisata.

kadangkala ada media konkrit yang sangat menarik perhatian siswa sehingga banyak waktu tersita bukan untuk tujuan yang ada kaitannya dengan materi 4. Kelemahan Media Konkrit Disamping memiliki keunggulan media konkrit juga memiliki kelemahan. dapat dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan. Sisi negatifnya adalah : 1. maka potensi kegaduhan siswa di kelas akan meningkat. situasi dan kondisi. Sudah barang tentu sisi negatif memerlukan penanganan manajemen kelas yang effektif. mudah berinteraksi dengan siswa melalui segenap panca indra 3. 4. Hal tersebut terjadi karna media konkrit memiliki banyak keunggulan di antaranya adalah : 1. memiliki fleksibilitas yang tinggi dimana dapat digunakan untuk pembelajaran mata pelajaran yang lain 4. Sebab setiap benda ataupun hal yang lain di alam ini suatu saat memiliki dampak buruk. Hal-hal yang merupakan sisi negatif dari benda konkrit adalah berpulang kepada guru itu sendiri karna siswa sangat diuntungkan dalam hal ini. . Karna hal tersebut selalu dihubungkan dengan faktor kesesuaian hubungannya dengan manusia.3. sangat merepotkan guru dalam proses persiapan pembelajaran 2. memiliki tingkat obyektifitas yang tinggi 2. praktisi pendidikan dan pengamat pendidikan. Keunggulan Media Konkrit Media konkrit merupakan media yang saat ini paling dianjurkan penggunaannya oleh para pakar pendidikan. benda dan hal tertentu sangat sulit dimanipulasi 3. sehingga suasana tetap menjadi kondusif walaupun potensi kemungkinan paling buruk terjadi. Manusia adalah subyek penentui apakah suatu benda atau hal lain merugikan atau menguntungkan. kadangkala suatu ide. sehubungan dengan poin c.

2. Pada pembelajaran menggunakan kartu bilangan dan garis bilangan adalah jenis alat peraga konkrit manipulatif. Kartu bilangan bergambar Kartu bilangan di atas dilengkapi dengan kait gantungan yang akan dipakai menggantungkannya pada paku pada garis bilangan. Ajak siswa menggantungkan bilangan pada papan berpaku secara terurut yang dimulai dari bilangan acak bebas sesuai keinginan siswa. . Karakteristik Media Konkrit Digunakannya manipulasi media konkrit didasari oleh suatu alasan yang rasional dan kuat seperti dijelaskan berikut ini. Metode Bermain Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Secara khusus manipulasi media konkrit yang akan digunakan pada kegiatan saat ini adalah : 1. Paku selain sebagai titik penanda juga berfungsi untuk menggantungkan kartu bergambar bilangan. d). Tehnik Memainkan Tehnik memainkan peraga tersebut di atas adalah sebagai berikut : a). Tempelkan papan garis bilangan pada papan tulis b). sehingga dapat dimainkan oleh siswa. Sehingga secara bebas dapat dimainkan oleh siswa. Sebabnya adalah sulitnya mencari alat yang konkrit yang tepat untuk materi pembelajaran tersebut. maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Modifikasi garis bilangan Dimana garis bilangan dibuat dari sebuah papan dimana titik pada bilangan ditandai dengan paku. Kemudian bagikan kartu bilangan kepada siswa c). 3. Demikian seterusnya sehingga sambil bermain siswa dapat mengurutkan bilangan 4.5. Sehubungan dengan upaya ilmiah.

metode berkedudukan : 1. faktor guru. Ia dianggap sebagai orang pertama yang menyadari dan melihat pentingnya nilai praktis dari bermain. faktor situasi. metode bermain dan sebagainya. metode bermain. metode diskusi. Berikut beberapa pengertian metode seperti dikemukakan oleh beberapa ahli. Salah satu tokoh yang dianggap paling berjasa sebagai pencetus penggunaan metode bermain adalah Plato seorang filsuf Yunani. sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru. metode observasi. Nasution adalah suatu cara yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam suatu tugas pekerjaan agar dapat mencapai tujuan sesuai yang ditetapkan. (lingkungan belajar). metode penugasan. Saat ini penulis akan mengangkat metode bermain sebagai salah satu alternative dalam membuat suasana belajar lebih kreatif sehingga keterlibatan siswa dalam proses lebih besar. Sedangkan menurut Drs. Menurut Syaiful B. Mensiasati perbedaan individual anak didik 3. Sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan pembelajaran 2.Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat di perlukan oleh para pendidik.S. H Abu Ahmad dkk (2005:52) metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang diberikan oleh seorang guru atau instruktur. Terdapat banyak ragam metode yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi pembelajaran sperti metode ceramah. Sudah barang tentu factor lainpun harus diperhatikan seperti . faktor siswa. Sedangkan menurut kamus besar Bahasa Indonesia metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pengertian metode menurut Dr. memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak. Sedangkan pengertian pembelajaran adalah usaha untuk membuat siswa belajar. Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar diharapkan makin efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pembelajaran. Djamarah dkk (2006:82-84). metode eksperimen. Menyimak dari pengertian tersebut maka metode pembelajaran menempati posisi penting dalam memerankan fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan. metode tutor teman sebaya. Sedangkan Sudono (2000:1) mengemukakan bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi. Menurut Plato anak-anak akan lebih mudah mempelajari Aritmatika dengan cara permainan. media dan yang lainnya. Dengan mengambil dua pengertian di atas maka metode pembelajaran adalah jalan atau usaha yang ditempuh untuk membuat siswa belajar. .

Dalam belajar dengan cara ini harus ada: 1) motif pendororng kegiatan. 2) ada bermacam-macam respon dalam situasi tertentu. Dalam praktek ini diberikan hadiah . Tujuan pemberantasan buta aksara dan buta angka untuk orang dewasa atau pelajaran membaca.Dengan bermain anak bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. maka reaksi memuaskan. Dalam proses pembelajaran guru hendaknya memberikan kebebasan kepada setiap anak didiknya untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pemikiran mereka. Hukum dalam teori Thordinke ada tiga tahap yaitu : 1) Low readness yaitu kesiapan stimulus dalam bereaksi. yaitu apabila S_R sering dilakukan atau dipraktekkan maka hubungan ini semakin kuat. Sebagaimana dikemukakan oleh Mayke (dalam Sudono. jika reaksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan bereaksi. 2) Low of exerscises (hukum latihan. Sebaiknya guru juga memberi kebebasan sesuai dengan sifat alami anak sehingga dalam mengembangkan kreatifitasnya anak tidak merasa takut untuk memiliki pendapat berbeda dengan gurunya Dari penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa metode bermain yang dimaksud adalah suatu cara yang digunakan dalam melakukan kegiatan untuk menjelaskan konsep abstrak dalam matematika yang lebih menyenangkan Hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk mencegah ketakutan siswa terhadap pelajaran matematika sehingga siswa lebih paham dan lebih lama mengingatnya. 2000:3) bahwa belajar dengan bermain akan memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi. Teori Belajar menurut Behavioristik (Thordinke) Belajar merupakan proses pembentukan hubungan yang erat antara stimulus (S) dengan respon (R) semakin erat hubungan antara hubungan S-R maka proses belajar telah berlangsung dengan baik. Berikut dikemukakan beberapa pendapat para ahli berupa teori tentang pentingnya penggunaan metode bermain diantaranya seperti diuraikan di bawah ini. 3) ada eliminasi mencapai tujuan. menulis permulaan serta matematika adalah yang lazim dikaitkan dengan permainan. Arief Sadiman (2002:79) mengatakan permainan dapat dipakai untuk mempraktekkan keterampilan membaca dan berhitung sederhana. bereksplorasi serta mempraktekkannya. Teori-teori Belajar 1. mengulang-ulang. anak-anak akan lebih senang dan menjadikan si anak lebih aktif. Teori ini juga akan mencoba berbagai cara dan usaha untuk mendapatkan respon yang benar. menemukan sendiri. Belajar merupakan teori yang diutamakan latihan-latihan.

Melalui bermain ataupun fantasi seseorang dapat memproyeksikan harapan-harapan serta pengalaman yang menyenangkan. Teori Robert White (1959) yang menjelaskan bahwa bahwa kegiatan bermain pada anak tidak membutuhkan hadiah ataupun reward namun mereka bermain untuk kegiatan itu sendiri. White mengemukakan . 3. Teori Belajar Kognisi 1) Menurut Piaget. Pandangan Freud tentang bermain akhirnya memberi ilham atau inspirasi kepada para ilmu jiwa untuk menggunakan bermain sebagai alat diagnosa ataupun “mengobati” anak yang bermasalah. daya ingat. khususnya dalam kondisi normal seperti di sekolah. Freud percaya bahwa bermain penting dalam perkembangan emosi anak. anak dapat memiliki perhatian. Dalam teori Piaget. 4). dalam pengertian selain untuk perkembangan kognisi. 2. Piaget juga mengemukakan bahwa saat bermain anak-anak tidak belajar sesuatu yang baru. tetapi mereka belajar mempraktekkan dan mengkonsolidasi keterampilan baru yang diperoleh. memandang bermain sama seperti fantasi atau lamunan. Pandangan Vygotsky mengenai bermain bersifat mennyeluruh. anak menjalani tahapan perkembangan kognisi dan sampai akhirnya proses berfikir anak menyamai proses berfikir orang dewasa.bagi respon yang benar. Dengan demikian melalui bermain. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa dengan bermain. Teori Jerome Singer (1937). Perkembangan emosi anak yang dimaksud adalah dengan bermain proses belajar-mengajar menjadi lebih menyenangkan dan dapat merangsang belajar siswa sehingga prestasi siswa dapat meningkat. keterampilan baru yang diperoleh melalui praktek tidak akan segera hilang dan akan selalu diingatnya sehingga belajar dapat meningkat. bermain juga mempunyai peranan penting bagi perkembangan sosial dan emosi anak. Vygotsky memandang bermain identik dengan kaca pembesar yang dapat menelaah kemampuan baru dari anak yang bersifat potensial sebelum diaktulisasikan dalam situasi lain. menegaskan bahwa menggunakan metode bermain sebagai usaha untuk menggunakan kemampuan fisik dan mental guna mengatur atau mengorganisasi pengalamanny. 3) Law of Effect (Hukun Akibat) yaitu apabila hubungan S_R dibarengai dengan pengaruh yang memuaskan maka hubungan ini menjadi kuat. 2). dan kerjasama yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Bermain memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menjelajahi dunianya serta mengmbangkan kreativitasnya. 3). Teori dari sudut pandang psikonalisa (Sigmund Freud) Sigmund Freud. bermain bukan saja mencerminkan tahap perkembangan kognisi anak itu sendiri.

Melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan struktur Matematika. (c). Tahap Iconic dimana dalam tahap ini kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari obyek-obyek yang dimanipulasinya. Pada tahap ini anak-anak tidak langsung dari objek. Permainan mencari persamaan sifat dimana pada tahap ini siswa mulai diarahkan untuk menemukan struktur yang menunjukkan kesamaan yang terdapat dalam permainan yang dimainkan (d). dengan adanya kegiatan bermain itu sendiri dapat membuat siswa merasa senang dan ingin mengulanginya lagi. Jadi. Permainan yang menggunakan aturan Pada tahap ini siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam suatu konsep. (c). Konsep-konsep Matematika dipelajari menurut tahapan-tahapan bertingkat dalam belajar mamatika. Permainan dengan simbolisasi dimana tahap ini merupakan tahap belajar konsep pada saat anak perlu merumuskan reperesentasi pada setiap konsep dengan menggunakan simbol Matematika atau dengan perumusan verbal yang sesuai. disamping hubungan-hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur. Anak tidak lagi terkait objek-objek pada tahap sebelumnya. Keberhasilan melakukan sesuatu atau memperoleh tanggapan dari lingkungannya sudah merupakan hadiah tersendiri bagi anak. Brunner melukiskan anak-anak berkembang melalui tiga tahap perkembangan yaitu: (a). Tahap Simbolik yaitu tahapan ini siswa memanipulasi simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu. Permainan bebas adalah tahap belajar konsep yang terdiri dari aktivitas yang tidak terstruktur dan tidak diarahkan. (b). Hal ini memungkinkan siswa untuk bereksperimen dan memanipulasi benda-benda konkrit dan abstrak dari unsur-unsur yang dipelajari. 6).Teori Belajar Dienes yang mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam Matematika yang disajikan dalam bentuk konkret akan dapat dipahami dengan baik. (b). Bermain dapat merupakan cara anak bertindak menurut kehendaknya sendiri dalam tindakan yang efektif. Permainan dengan reperesentasi yaitu merupakan tahap pengambilan kesamaan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. (e). Adapun tahapan-tahapan tersebut yaitu: (a). 5). Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek real. (f) Formalisasi tahapan mempelajari suatu konsep dan struktur matematika yang saling berhubungan.bahwa dengan adanya kegiatan bermain anak-anak akan memperoleh kepuasan pribadi karena merasa kompeten. Pada tahap ini anak mencari gambaran konsep kesamaan sifat dari situasi tertentu. Dalam hal ini anak harus . Teori Jerome Brunner menyatakan bahwa belajar matematika akan berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang akan diajarkan.Tahap Enactive Dalam tahapan ini anakanak langsung terlibat dalam menggunakan/ memanipulasi objek.

Dengan kemampuan siswa yang mahir dalam mengurutkan bilangan dari kecil ke besar dan sebaliknya sehingga dapat menjadi dasar bagi pembelajaran selanjutnya. maka pengajaran matematika akan lebih berhasil bila menggunakan metode bermain. karena anak didik dilibatkan secara aktif bermain dalam situasi nyata yang berkaitan dengan matematika. ratusan bahkan dapat di acak antara satuan puluhan dan ratusan. Mengurutkan bilangan dilakukan secara bertahap dari bilangan satuan. puluhan. .mengurut sifat-sifat itu untuk dapat merumuskan sifat-sifat baru Kerangka Konseptual Dalam kegiatan belajar mengajar penggunaan metode mengajar matematika harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Selain menyenangkan bermain juga membantu anak untuk memahami materi pelajaran dan meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah. sehingga siswa akan lebih termotivasi dalam belajar dan meningkatkan hasil belajar matematika khususnya pada materi mengurutkan bilangan menggunakan garis bilangan. Untuk anak/ peserta didik pada jenjang pendidikan permulaan pada umumnya masih senang bermain-main. Dengan metode bermain pengajaran matematika akan lebih menarik dan menyenangkan karena menggunakan bendabenda konkret yang telah dikenal oleh siswa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful