P. 1
Bahasa Inggris Untuk Sekolah Dasar

Bahasa Inggris Untuk Sekolah Dasar

|Views: 423|Likes:
Published by stevevai80

More info:

Published by: stevevai80 on Mar 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/07/2014

pdf

text

original

BAHASA INGGRIS UNTUK SEKOLAH DASAR: Mau Ke Mana?

*) February 26, 2011
Posted by madesujana in Article on ELT. trackback I Made Sujana**) Luh Sri Narasintawati***) FKIP Univesitas Mataram SLTP 14 Mataram

Abstrak. Belajar bahasa Inggris pada usia anak-anak memiliki keunggulan baik secara biologis maupun secara psikologis. Berangkat dari keunggulan tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kurikulum Pendidikan Dasar 1994 menetapkan bahasa Inggris sebagai muatan lokal yang mulai diajarkan di kelas 4 sekolah dasar. Dalam hampir 10 tahun pelaksanaannya, pengajaran bahasa Inggris masih banyak menyisakan permasalahan yang memerlukan penanganan yang lebih serius. Tulisan ini membahas tentang keunggulan tentang pengajaran bahasa Inggris pada usia anak-anak dan berbagai kendala yang dihadapi dalam pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar. Kata-kata kunci: masa kritis, faktor usia, belajar bahasa, usia anak-anak, MULOK bahasa Inggris Abstract. Learning English in early ages has advantages from both biological and psychological point of view. Based on those advantages, Indonesian government through 1994’s Primary School Curriculum has introduced English as “local content”, starting from grade four at primary school. In ten years of its application, English in primary school still has a number of problems that need solutions. This article discusses the advantages of teaching English at early ages and possible problems in its application at primary schools.

Keywords: critical period, age factor, learning language, early age, local content.

A. PENDAHULUAN Kegagalan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia telah membuat para pengambil kebijakan untuk selalu mengadakan perubahan. Salah satu perubahan yang dilakukan adalah dengan mulai memperkenalkan bahasa Inggris pada usia lebih awal yaitu mulai kelas 4 Sekolah Dasar,

Nampaknya berangkat dari keunggulan ini Pemerintah Indonesia melalui Kurikulum Pendidikan Dasar 1994 mulai memperkenalkan bahasa Inggris pada usia lebih dini yaitu mulai kelas IV Sekolah Dasar (pada usia 10 tahun). kesempatan menggunakan bahasa. sekolah dan para orang tua sangat antusias menyambut ide pemberian bahasa Inggris lebih awal. Luciana. Berangkat dari opini di atas. setting belajar sangat berperan dalam pencapaian kesempurnaan berbahasa dan harus disesuaikan dengan karakteristik pembelajaran pada usia anak-anak. 1999. 2004. Walaupun sebagai muatan lokal. Disamping itu belajar bahasa pada masa anak-anak akan lebih berhasil karena secara psikologis anak-anak terbebas dari rasa malu dan rasa takut salah seperti yang dialami pembelajar bahasa dewasa. 2004. tulisan ini akan mencoba memaparkan tentang faktor usia dalam belajar bahasa (kedua/asing) dari sudut psikolinguistik dan tentang permasalahan yang mungkin muncul dalam pelaksanaan pengajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar di Mataram khususnya. psikologi. Kesempurnaan berbahasa relatif lebih mudah dicapai dalam konteks informal (natural) karena banyaknya aspek pendukung seperti setting. metode pengajaran dan lain-lain. materi. Dengan kata lain. Dalam hal ini. Faktor usia mulai belajar bahasa (age of onset/AO) merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar bahasa. 2001. B. Kesalahan pengucapan kata. . Sutarsyah 2004). Tetapi yang perlu disadari oleh pembuat kebijakan dan praktisi di lapangan adalah bahwa belajar bahasa kedua secara natural (akuisisi) berbeda dengan belajar bahasa secara formal (learning) dalam banyak hal. fasilitas. Sutarsyah. PEMBAHASAN 1. 2004) walaupun dalam pelaksanaanya sekolah banyak menghadapi kendala seperti kesiapan silabus. Dasar pemikiran yang mendasari perubahan ini adalah bahwa belajar bahasa pada anak memiliki beberapa keunggulan. Belajar bahasa akan memperoleh kesempurnaan kalau mulai pada usia sebelum pubertas karena pada usia ini secara biologis otak memiliki tingkat elastisitas yang tinggi yang memungkinkan seseorang belajar bahasa lebih cepat (Lennerberg dalam Sujana. 2004). misalnya. serta keinginan untuk menyampaikan suatu pesan (kebutuhan untuk berkomunikasi). 2001) telah memprovokasi para ahli baik di bidang pengajaran bahasa. faktor guru. akan berpengaruh besar terhadap perkembangan berbahasa anak dan kesalahannya cenderung menfosil (fossilized) sehingga sulit dirubah pada level berikutnya. FAKTOR USIA DALAM BELAJAR BAHASA Bahwa ada masa kritis (critical period) belajar bahasa yang diluncurkan oleh Lenneberg tahun 1967 (Sujana. guru. keunggulan yang disebutkan di atas tidak akan banyak memberikan kontribusi kalau program pengajaran tidak dirancang secara cermat. modelling. Ini terbukti dengan banyaknya SD yang mulai memberikan bahasa Inggris sebagai muatan lokal (lihat Kismadi. materi. Khrasen dalam Sutarsyah. Tujuan utama pengenalan bahasa Inggris pada usia lebih awal antara lain untuk memperbaiki kualitas output dan pemberian input lebih banyak (Huda.walaupun masih sebatas muatan lokal dalam Kurikulum Pendidikan Dasar 1994.

1990). akan tetapi semakin tua belajar bahasa semakin menyusut tingkat elastisitasnya. para ahli lebih suka menggunakan sensitive period hypothesis. dan (ii) orang yang mengalami gangguan otak pada usia sebelum pubertas masih bisa menguasai bahasa pertama secara sempurna sedangkan orang mengalami gangguan otak pada usia dewasa sulit menguasai bahasa pertama seperti penutur asli. dewasa. 1978. Genesee. Patkowski. akan tetapi tingkat kesempurnaan penguasaan sangat dipengaruhi oleh usia belajar bahasa (age of onset/AO). Hipotesa ini kemudian berkembang menjadi dua kubu/versi yaitu aliran “keras” dan aliran “lemah”. Piranti ini memungkinkan setiap anak (sejak lahir sampai kira-kira usia 11 tahun) menguasai bahasa apa saja. 1988. pembelajar bahasa pada usia anak-anak memiliki beberapa keunggulan dalam belajar bahasa antara lain: (1) Menurut Chomsky (dalam Sutarsyah. Sehingga. 1989. Dalam konteks belajar bahasa kedua/asing. penderita apasia. 2001) tentang masa kritis belajar bahasa. Fledge. Akan tetapi. 1980 dalam Sujana. ide lateralisasi yang terjadi sebelum pubertas ditentang oleh banyak ahli. Pengikut aliran lemah berpendapat bahwa belajar bahasa setelah pubertas masih mungkin tapi agak sulit dan tidak bisa mencapai kesempurnaan (Curtiss dalam Long. ditemukan bahwa para ahli sepakat akan adanya faktor usia dalam belajar bahasa tetapi tidak seekstrim hipotesa Lenneberg. Dari eksperimen-eksperimen tersebut ada yang mendukung (misalnya Johnson & Newport. tingkat kesempurnaan akan bisa tercapai (mendekati penutur asli) kalau belajarnya dimulai sebelum masa pubertas (sebelum usia 13 tahun). Sejak itu. Krashen (dalam Singleton. 1985. dan lain-lain). Pengikut aliran keras meyakini bahwa belajar bahasa harus dimulai sebelum pubertas kalau tidak seseorang tidak akan pernah menguasai bahasa. 1987. Belajar bahasa masih mungkin pada usia dewasa. 1979 dalam Sujana. 1971. Curtiss. Dari sudut teori psikolinguistik dan psikologi. Seseorang bisa belajar bahasa kapan saja. istilah “the younger. setiap anak memiliki piranti belajar bahasa yang disebut “Language Acquisition Device” (LAD). 2004). Ellis. 2001) dan ada yang menolak (misalnya Snow & Hoefnagel Hohle. para ahli mencoba mengadakan eksperimen untuk membuktikan adanya faktor usia dalam belajar bahasa dengan melibatkan berbagai responden (anak-anak. 1978. the better” (Long. misalnya. Oyama. Akan tetapi dari analisis ulang yang dilakukan Long (1990) terhadap hasil eksperimen yang pernah dilakukan para ahli. LAD ini memberikan anak sarana untuk mengolah ungkapan yang didengar dalam lingkungannya sehingga mereka . 1991. 1989). dengan menganalisis data yang sama yang digunakan Lenneberg menyimpulkan bahwa lateralisasi bahasa terjadi pada usia sebelum lima tahun bukan sebelum pubertas. kapasitas belajar bahasa pertama akan hilang kalau tidak diaktifkan atau dilatih pada masa kritis (critical period) yang berkisar antara usia 2 sampai 13 tahun. Johnson & Newport. sehingga pencapaiannya tidak bisa sempurna. Neufeld. Alasan yang disampaikan Lenneberg dalam mendukung hipotesanya antara lain (i) lateralisasi bahasa terjadi pada usia pubertas dan otak sebelah kiri tidak lagi bisa menguasai bahasa setelah pubertas. Menurut Lenneberg. 1990) banyak dipakai dalam konteks pembelajaran bahasa kedua/asing untuk menunjukkan bahwa kalau ingin mencapai kesempurnaan dalam belajar bahasa maka kita harus mulai pada usia sebelum masa pubertas.maupun biologi/kedokteran untuk mengadakan eksperimen untuk membuktikan keberadaan faktor usia dalam belajar bahasa. Sebagai pengganti istilah “critical period”.

Dengan dimulainya pemberian bahasa Inggris mulai dari kelas 4 Sekolah Dasar (usia 10 tahun) akan menambah input pengajaran bahasa Inggris disamping. (2) Dalam cricital (sensitive) period hypothesis. Krashen dalam Sutarsyah. bahasa Inggris di SMP/SMU memiliki panduan yang jelas mulai dari perumusan tujuan pembelajaran. tidak malu dan tidak takut membuat kesalahan (George dalam Sutarsyah. Kendala yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan bahasa Inggris di sekolah dasar bisa bersumber dari: tujuan pembelajaran. kalau dilaksanakan dengan tepat. Elastisitas ini akan menyusut sejalan dengan perkembangan usia (Lenneberg dalam Sujana. fasilitas belajar. . Dengan demikian pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing pada usia dini merupakan langkah yang tepat. setting kelas. Sebagaimana disebutkan di atas. metode. 2001. pembelajar usia anak-anak memiliki beberapa keunggulan dalam belajar bahasa. secara biologis otak sebelum masa pubertas memiliki tingkat elastisitas yang memungkinkan seseorang untuk belajar bahasa lebih cepat dan lebih mudah. dan lain-lain. Pelatihan pengembangan profesi guru bahasa Inggris SD sangat jarang dilakukan. pendekatan yang digunakan. Akan tetapi implementasi di lapangan menimbulkan berbagai permasalahan seperti penetapan tujuan pengajaran. Sehubungan dengan pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar di Indonesia tingkat keberhasilan belajar bahasa akan sangat bergantung pada perencanaan pengajaran (silabus. materi/pokok bahasan. serta alat evaluasi yang baku secara nasional (dalam Ujian Nasional). spontanitas dan fleksibel. Dengan status sebagai muatan lokal. bahasa Inggris di sekolah dasar mendapat perlakuan yang sangat berbeda dengan bahasa Inggris di SMP/SMA. Menurut teori ini tidak ada perbedaan antara belajar bahasa pertama dan kedua. fasilitas. (3) Secara psikologis. guru. Tenaga pengajar pun memiliki kualifikasi sebagai guru bahasa Inggris dan secara intensif mendapat kesempatan untuk berdiskusi dalam satu wadah baik berupa penataran maupun diskusi (lewat MGMP) atau kegiatan pengembangan profesionalisme lainnya. KENDALA PENGAJARAN BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH DASAR DI KOTA MATARAM Berdasarkan uraian di atas pengajaran bahasa Inggris mulai dari sekolah dasar (sebelum masa pubertas) memiliki beberapa keuntungan antara lain memperbanyak input dan meningkatkan kualitas penguasaan bahasa Inggris. materi) dan implementasi di lapangan seperti kemampuan guru berinteraksi di kelas. setting kelas. akan membantu penguasaan bahasa Inggris secara sempurna. Pembelajar anak secara natural memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Sebagai mata pelajaran wajib. tingkat kesiapan guru.dapat mengkonstruksi sistem yang mendasari ungkapan tersebut. 2004). materi. memiliki partisipasi aktif. materi yang seharusnya diberikan. 2004). belajar bahasa kedua dalam konteks formal berbeda dengan belajar bahasa dalam konteks natural dimana dalam belajar bahasa secara natural peran lingkungan sangat kondusif. 2.

metode pengajaran. sekolah memiliki kewenangan untuk menentukan kapan bahasa Inggris diberikan. dimana ide mata pelajaran muatan lokal adalah untuk memenuhi kebutuhan lokal suatu masyarakat. mahasiswa. Mengamati pelaksanaan pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar. Tujuan pembelajaran ini akan dengan mudah diformulasikan kalau ada kejelasan status mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar. Dalam perancangan pembelajaran. Tetapi dalam pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak tidak perlu dipaksakan untuk mencapai target tersebut karena untuk memenuhi tujuan tersebut mereka memiliki paling sedikit 6 – 10 tahun untuk belajar. bahkan beberapa sekolah mengajarakannya mulai dari kelas I. Beberapa sekolah mulai memberikan bahasa Inggris di kelas IV. Dengan status sebagai muatan lokal. maka tujuan dan materi pembelajaran diarahkan pada pengenalan kosa kata dan ungkapan berkaitan dengan kepariwisataan. . Beberapa hal yang perlu direnungkan bersama-sama oleh pembuat kebijakan dan praktisi pengajaran bahasa Inggris antara lain: tujuan yang ingin dicapai dalam program pengajaran bahasa Inggris ini. kalau tujuan yang ingin dicapai adalah untuk penyempurnaan penguasaan bahasa Inggris dengan memberikan mata pelajaran ini sebelum masa pubertas. (1) Tujuan Pembelajaran. Nampaknya ini terlalu dini. siapa yang akan mengajarkan. media pembelajaran dan masalahmasalah lain yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Inggris di SD. Atau. guru. sekolah. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah peninjauan kembali tujuan-tujuan pembelajaran yang lebih tinggi. Dinas Pendidikan Kota). Sebagai muatan lokal. Pihak yang terkait perlu duduk bersama untuk mencari solusi yang terbaik dalam program pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar sehingga program ini dapat berjalan sesuai yang diharapkan yaitu dapat meningkatkan kualitas ouput.Di Kota Mataram pengajaran bahasa Inggris di SD mendapat sambutan positif dari semua pihak (orang tua. apa yang ingin dicapai dalam mata pelajaran bahasa Inggris? Apakah untuk memenuhi kebutuhan dalam bidang kepariwisataan. materi ajar. diperlukan adanya perubahan yang sangat mendasar. terutama dengan label muatan lokal ini. pengajaran bahasa Inggris di SD justru akan memperparah kegagalan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia. Berikut ini diuraikan beberapa kendala yang muncul dalam pengajaran bahasa Inggris untuk sekolah dasar. untuk melanjutkan studi atau mempunyai tujuan yang lain? Kalau tujuan diarahkan untuk melanjutkan studi maka tujuan ini harus sejalan dengan tujuan pengajaran pada jenjang berikutnya (SMP) yaitu untuk meningkatkan kemampuan keempat keterampilan berbahasa. unsur suprasegmental dan lain-lain. Nampaknya penerjemahan “muatan lokal” dalam konteks ini sebagai semacam otonomi sekolah untuk memberikan pelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah tergantung pada kesiapan sekolah. apa materi yang digunakan. Ini terlihat dari diberikannya bahasa Inggris di hampir semua sekolah dasar di Kota Mataram. Kalau tidak. di Kota Mataram khususnya. dimana NTB menjadi salah satu tujuan wisata. maka perlu dipikirkan pengajaran yang mampu mengarahkan siswa mencapai kesempurnaan pemakaian bahasa Inggris seperti ketepatan pelafalan. benar dan lancar. Kualifikasi pengajar pun sangat bervariasi dari guru kelas. Kalau tujuannya untuk memenuhi kebutuhan lokal. Tujuan jangka panjang belajar bahasa Inggris adalah supaya siswa dapat berbicara dalam bahasa Inggris dengan penuh percaya diri. perlu dipertimbangkan skala prioritas tujuan yang disesuaikan dengan usia dan pola belajar mereka. dan sarjana bahasa Inggris.

skill yang ditekankan atau tema-tema yang disajikan? Ini harus ada keselarasan antara materi bahasa Inggris SD dengan materi SMP. membaca manual dll. (ii) functional (mampu menggunakan bahasa untuk kebutuhan sehari-hari (survival) seperti membaca koran. Dengan kata lain. apakah perbedaannya menyangkut level.. Dengan demikian. dimana akan terjadi kelas yang siswanya sudah dapat pelajaran bahasa Inggris dan yang belum (karena status bahasa Inggris di SD sebagai pilihan).Dalam penyusunan Kurikulum 2004. maka permasalahan yang akan muncul pada pengajaran pada jenjang pendidikan berikutnya (di SMP). Kalau akan dipilih materi yang berbeda. Yang perlu menjadi perhatian juga adalah penekanan ketrampilan dan aspek berbahasa yang ingin dikembangkan. Materi bisa menimbulkan masalah yang paling sentral dengan diberlakukannya Bahasa Inggris di sekolah dasar. Depdiknas (2004) telah menetapkan tingkat “oracy dan literacy” (kewicaraan dan keaksaraan) yang ditargetkan pada setiap jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Permasalahan ini akan mengakibatkan kejenuhan pada siswa yang sudah pernah belajar bahasa Inggris. dan (iv) epitesmic (pembelajar diharapkan mampu mentransformasi pengetahuan dalam bahasa yang dipelajari) (Wells dalam Depdiknas. yaitu (i) performative (mampu membaca. pengajaran bahasa Inggris di SD perlu diarahkan pada pengembangan komunikasi lisan untuk tujuan interaksi kelas dan kegiatan sekolah dan sekitarnya (here and now). 2004). menulis. (2) Materi. Pertanyaan yang mendasar yang harus dijawab adalah karena ini input bahasa Inggris pertama apakah materinya akan sama dengan bahasa Inggris di SMP sekarang? Kalau sama. Bahasa tulis sedikit demi sedikit diperkenalkan dan itupun dalam konteks pengembangan bahasa lisan. dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan dan berkomunikasi dalam konteks yang terbatas. Rentangan tersebut digambarkan sebagai berikut: Tabel: kontinum penekanan pengajaran bahasa Inggris berdasarkan jenjang pendidikan Bahasa Lisan SD Kelas 1 – 3 SD Kelas 4 – 6 SMP SMA . (iii) informational (siswa diharapkan mampu mengakses pengetahuan yang ditulis dalam bahasa Inggris. guru atau pembuat kebijakan kurikulum hendaknya mempedomani tingkat kewicaraan dan keaksaraan yang telah ditetapkan. Depdiknas (2004) mencoba membuat kontinum atau rentangan pengajaran bahasa Inggris dari jenjang pendidikan SD – SMA yang berangkat dari bahasa lisan dan semakin meningkat ke bahasa tulis.

maka perlu penambahan anggaran untuk perekrutan atau kontrak. Tetapi. Masalah guru ini bisa juga diatasi dengan melibatkan guru-guru Bahasa Inggris di SMP. Disamping faktor biaya. terlepas dari tingkat kesulitan materi. (4) Metode Pengajaran. Saat ini karena status mata pelajarannya sebagai muatan lokal dan kebanyakan gurunya adalah guru honor. misalnya. Belajar pada usia anak harus menggunakan pendekatan yang berbeda dengan pengajaran orang dewasa. Pembiayaan atas kegiatan ini bisa dibebankan pada Komite Sekolah atau sumber dana lainnya. guru-guru bahasa Inggris SD terkesan termarjinalkan. Masalah ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi LPTK dengan mempertimbangkan apakah pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak ini perlu menjadi bagian dari kurikulum. Kalau diajarkan oleh guru bahasa Inggris. maka diperlukan training yang cukup lama untuk bisa menguasai bahasa Inggris sekaligus mengajarkannya.Bahasa Tulis Depdiknas (2004) Dari kontinum tersebut tergambar bahwapengajaran bahasa Inggris di SD seharusnya didominasi oleh pengajaran bahasa lisan dan semakin berkurang sejalan dengan jenjang pendidikan. Pembelajaran bahasa Inggris pada anak-anak harus mempertimbangkan karakteristik pembelajar anak-anak. tetapi juga perlu dipikirkan tentang pengembangan profesi melalui pelatihan-pelatihan sebagaimana diberikan kepada guru-guru SMP dan SMA. Masalah guru tidak terhenti pada perekrutan saja. karena ada kecendrungan kesalahan yang dibuat akan memfosil dan sulit diubah. Siapa yang akan mengajarkan bahasa Inggris. Kalau tidak. Tingkat penguasaan guru pada bidang yang diajarkan akan berakibat fatal pada kemampuan siswa. Kasubdin bisa membuat kebijakan dengan menugaskan guru bahasa Inggris SMP untuk membantu minimal sekali seminggu di SD. hal lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kesiapan alumni LPTK Bahasa Inggris mengajarkan bahasa Inggris untuk anak-anak. (3) Guru. Bahasa Inggris di SD lebih merupakan bahasa untuk menyertai tindakan (language accompanying action) atau bahasa yang bersifat “here and now”. mengajar bahasa Inggris di SD berbeda dengan mengajar di sekolah lanjutan. telah mengantisipasi masalah ini dengan memasukkan mata kuliah “English for Young Learners (EYL)” dalam kurikulumnya (lihat Sutarsyah. terutama yang menyangkut pronunciation. guru kelas atau guru mata pelajaran? Kalau guru kelas yang terlibat. di mata kuliah apa akan disisipkan tentang pengajaran ini? LPTK Bahasa Inggris Universitas Lampung. Hal ini memungkinkan karena SD dan SMP berada pada satu payung sub-dinas (subdin). Belajar sambil bermain akan . Banyak yang berasumsi bahwa mengajar di SD (English for Children) tidak sulit karena materinya sangat dasar. 2004).

kata kunci dan lain-lain). rasa aman. Menurut Vale (1995) hal-hal yang perlu diprioritaskan pada awal-awal pembelajaran bahasa Inggris antara lain:      Membangun rasa percaya diri. kepala sekolah. mempelajari sesuatu yang baru. gambar. Menurut Vale (1995). gambar. dan media lainnya. yaitu berani mengungkapkan diri dengan keterbatasan bahasa yang dimiliki (dengan alat bantu. permainan. Mengingat banyaknya potensi masalah yang mungkin muncul dalam pengajaran bahasa Inggris di SD baik dalam perencanaan maupun implementasinya. Membangun hubungan yang baik dengan teman sehingga akan tercipta suasana belajar yang kondusif. . mimik. Kreativitas ini bisa dibangun dengan secara intens melakukan diskusi-diskusi dengan guru sejawat (5) Media Pengajaran dan Fasilitas Penunjang. permainan. Mendorong siswa untuk ekspresif. multimedia. Penggunaan materi yang telalu tekstual akan mengurangi daya tarik dan siswa cenderung kurang termotivasi. Perbedaan pola pembelajaran bahasa pada usia anak-anak dengan orang dewasa akan membawa dampak pada program pengajaran termasuk penggunaan media pengajaran. kepercayaan diri. Pembelajar anak-anak memerlukan alat peraga karena memiliki tingkat abstraksi yang terbatas. komite sekolah. VCD/DVD. persahabatan. Pengajaran bahasa Inggris anak-anak memerlukan banyak gambar. Sekolah dengan fasilitas memadai tentu saja bisa memanfaatkan teknologi pengajaran bahasa yang lebih canggih seperti penggunaan laboratorium. dituntut kreativitas guru untuk menciptakan media penunjang pengajaran yang bisa terjangkau seperti realia. instansi terkait) untuk memikirkan solusi sesuai dengan porsi masing-masing. Suasana bermain sambil belajar perlu ditonjolkan supaya suasana kelas menyenangkan dan terbebas dari rasa takut. realia. dll. Guru harus mampu menciptakan permainan-permainan yang mampu membuat siswa senang dalam belajar dan memperoleh sesuatu dari permainan tersebut. Dalam pengajarannya guru seharusnya mengakomodasi kebutuhan tersebut sehingga pembelajaran bisa menyenangkan dan berhasil. Guru selalu dituntut untuk melakukan inovasi pengajaran sehingga pembelajaran dapat berjalan dalam kondisi yang kondusif dan menyenangkan sehingga bahasa Inggris tidak lagi sebagai “momok” bagi siswa. Berangkat dari karakteristik pembelajar usia anak-anak. tape recorder. sukses. diperlukan adanya dukungan dari semua pihak (pembuat kebijakan. anak-anak dalam belajar (apa saja) membutuhkan motivasi. perlu diusahakan program pengajaran yang berbeda dari pengajaran di tingkat yang lebih atas (SMP/SMA). Sehingga dalam pengajarannya diperlukan variasi kegiatan dan sumber belajar seperti melalui lagu-lagu. cerita. Dalam hal ini.mempercepat penguasaan bahasa. Menanamkan pada diri anak bahwa belajar bahasa Inggris sangat menyenangkan. dan lain-lain. video (VCD/DVD) dan alat bantu lainnya. interest. gerak. Dengan rasa senang siswa akan termotivasi untuk belajar. rasa senang. Memotivasi dan menumbuhkan minat belajar bahasa Inggris.

Malang: Universitas Negeri Malang.. Para pengambil kebijakan dan praktisi di lapangan perlu duduk bersama untuk secara serius membicarakan tentang kebijakan pengajaran bahasa Inggris di SD sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri seperti sekarang ini. acara seperti Speech Contest dan English Debate telah menjadi agenda banyak instansi di Mataram dan NTB. 2004. Language Learning and Teaching: Issues and Trends. dalam Cahyono. Nuril. Ini bisa menambah beban belajar mereka. Bambang Yudi dan Utami Widiati (ed. perlu dipertimbangkan dari pola pengajarannya. PENUTUP Pengajaran bahasa Inggris di SD memiliki keunggulan baik secara biologis maupun secara psikologis. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 4-6 SD dan MI. Tujuan utama acara tersebut adalah memacu penggunaan bahasa Inggris serta memperkenalkan kepada siswa bahwa belajar bahasa Inggris itu menyenangkan. Acara-acara semacam ini memiliki dampak yang sangat besar pada motivasi anak untuk belajar bahasa Inggris. Pengajaran di kelas I SD. Selain itu. Kismadi. The Tapestry of English . Gloria C. Program pengajaran bahasa Inggris di SD ini bisa berhasil dengan baik kalau ada niat dan keseriusan serta kerjasama semua pihak yang terlibat dalam kebijakan di SD. Acara tersebut merupakan ajang untuk mengasah kemampuan anak (SD dan SMP) dalam penguasaan bidang ilmu yang dikemas dalam bahasa Inggris.Dalam rangka memajukan dan menggiatkan pembelajaran Bahasa Inggris di Kota Mataram terutama pada jenjang Pendidikan Dasar. 2004. Jangan dibebankan siswa dengan catatan bahasa Inggris (yang pengucapannya berbeda dengan tulisannya) sementara siswa sendiri sedang strunggling belajar menulis dan membaca. C. Tentu saja kegiatan ini harus diimbangi dengan pembenahan proses belajar mengajar di kelas beserta piranti pengajarannya. REFERENSI Depdiknas. 1999. Akan tetapi keunggulan ini tidak akan telalu bermakna kalau pelaksanaannya tidak dirancang secara tepat. “Start Them Early: Teaching English to Young earners in Indonesia”. Kekurangtepatan program pengajaran justru akan memperparah kegagalan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia.). Dinas Pendidikan Kota bekerjasama dengan PT Newmont Nusa Tenggata dan Lombok TV mengadakan “English Quiz Contest”. Huda. Muatan lokal mungkin menjadi kebijakan sekolah tetapi harus ada rambu-rambu yang jelas tentang program pengajaran bahasa Inggris (bukan pada apa maunya sekolah). misalnya. 2004. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

2004. I Made. The Tapestry of English Language Teaching and Learning in Indoensia. Luciana. pp. 50. dalam Cahyono. No. Dalam Cahyono.Language Teaching and Learning in Indoensia. Bambang Yudi dan Utami Widiati (ed. “Designing an “English for Young Learners” Course as a Part of English Department Curriculum”. Philadelphia: Multilingual Matters Ltd. pp. Cucu.). “Teaching and Assessing Young Learners’ English: Bridging the Gap”. 253 – 264. Vale.). 1995. Jurnal Ilmu Pendidikan FKIP UNRAM. Malang: State University of Malang Press. Singleton. Long. The Tapestry of English Language Teaching and Learning in Indoensia. Tahun XIV Maret 2001. 12. 2004. Language Acquisition: The Age Factors. 280 -290. Teaching Children English. Sujana. Cambridge: CUP =================== Catatan: *) Beberapa bagian tulisan ini pernah disampaikan pada Workshop Guru-Guru Bahasa Inggris SD se-Pulau Lombok di Pusat Bahasa UNRAM atas dukungan dana P8KT DIKTI **) Dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Mataram dan Kordinator Pengembangan Materi UPT Pusat Bahasa UNRAM ***) Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 14 Mataram dan banyak bergelut pada Kursus Bahasa Inggris untuk Anak-Anak (English for Children) . 265 – 280. Malang: State University of Malang Press. 251 – 285. Sutarsyah. 1989. Pp. 2001. Malang: State University of Malang Press. “Maturation Constarints on Language Development”. Pp. “Critica Period: Does it Exist in Language Acquisition?”. Studies in Second Language Acquisitions. Michael.. Bambang Yudi dan Utami Widiati (ed. 2004. 1990. D. Dave. 2004.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->