Pengertian dan Tujuan Agama Hindu Tujuan agama Hindu yang dirumuskan sejak Weda mulai diwahyukan adalah

"Moksartham Jagadhitaya ca iti Dharma", yang artinya bahwa agama (dharma) bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani atau kebahagiaan secara lahir dan bathin. Tujuan ini secara rinci disebutkan di dalam Catur Purusa Artha, yaitu empat tujuan hidup manusia, yakni Dharma, Artha, Kama dam Moksa. Agama sebagai pengetahuan kerohanian yang menyangkut soal-soal rohani yang bersifat gaib dan methafisika secara esthimologinya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata "A" dan "gam". "a" berarti tidak dan "gam" berarti pergi atau bergerak. Jadi kata agama berarti sesuatu yang tidak pergi atau bergerak dan bersifat langgeng. Menurut Hindu yang dimaksudkan memiliki sifat langgeng (kekal, abadi dan tidak berubah-ubah) hanyalah Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Demikian pula ajaran-ajaran yang diwahyukan-Nya adalah kebenaran abadi yang berlaku selalu, dimana saja dan kapan saja. Berangkat dari pengertian itulah, maka agama adalah merupakan kebenaran abadi yang mencakup seluruh jalan kehidupan manusia yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi dengan tujuan untuk menuntun manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup yang berupa kebahagiaan yang maha tinggi dan kesucian lahir bathin. Tujuan Agama Hindu Tujuan agama Hindu yang dirumuskan sejak Weda mulai diwahyukan adalah "Moksartham Jagadhitaya ca iti Dharma", yang artinya bahwa agama (dharma) bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani atau kebahagiaan secara lahir dan bathin. Tujuan ini secara rinci disebutkan di dalam Catur Purusa Artha, yaitu empat tujuan hidup manusia, yakni Dharma, Artha, Kama dam Moksa. Dharma berarti kebenaran dan kebajikan, yang menuntun umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan. Artha adalah benda-benda atau materi yang dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan hidup manusia. Kama artinya hawa nafsu, keinginan, juga berarti kesenangan sedangkan Moksa berarti kebahagiaan yang tertinggi atau pelepasan. Di dalam memenuhi segala nafsu dan keinginan harus berdasarkan atas kebajikan dan kebenaran yang dapat menuntun setiap manusia di dalam mencapai kebahagiaan. Karena seringkali manusia menjadi celaka atau sengsara dalam memenuhi nafsu atau kamanya bila tidak berdasarkan atas dharma. Oleh karena itu dharma harus menjadi pengendali dalam memenuhi tuntunan kama atas artha, sebagaimana disyaratkan di dalam Weda (S.S.12) sebagai berikut:

Kamarthau Lipsmanastu dharmam eweditaccaret, na hi dhammadapetyarthah kamo vapi kadacana. Artinya: Pada hakekatnya, jika artha dan kama dituntut, maka hendaknyalah dharma dilakukan terlebih dahulu. Tidak dapat disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti. Tidak akan ada artinya, jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma. Jadi dharma mempunyai kedudukan yang paling penting dalam Catur Purusa Artha, karena dharmalah yang menuntun manusia untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Dengan jalan dharma pula manusia dapat mencapai Sorga, sebagaimana pula ditegaskan di dalam Weda (S.S.14), sebagai berikut: Dharma ewa plawo nanyah swargam samabhiwanchatam sa ca naurpwani jastatam jala dhen paramicchatah Artinya: Yang disebut dharma adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga, sebagai halnya perahu yang merupakan alat bagi saudagar untuk mengarungi lautan. Selanjutnya di dalam Cantiparwa disebutkan pula sebagai berikut: Prabhawar thaya bhutanam dharma prawacanam krtam yah syat prabhawacam yuktah

demikianlah orang yang melakukan dharma. Demikianlah dharma merupakan dasar dan penuntun manusia di dalam menuju kesempurnaan hidup. Demikianlah Catur Purusa Artha itu. memusnahkan segala macam dosa. Weda (S. bebasnya roh dari penjelmaan dan manunggal dengan Hyang Widhi Wasa (Brahman). segala sesuatu yang membawa kesentosaan dunia itulah dharma yang sebenarnya. Hanya atas dasar dharmalah manusia akan dapat mencapai kebahagiaan dan kelepasan.S. Orang yang tidak mau menjadikan dharma sebagai jalan hidupnya maka tidak akan mendapatkan kebahagiaan tetapi kesedihanlah yang akan dialaminya. 16) juga menyebutkan : Yathadityah samudyan wai tamah sarwwam wyapohati ewam kalyanamatistam sarwwa papam wyapohati Artinya: Seperti halnya matahari yang terbit melenyapkan gelapnya dunia. ketenangan dan keharmonisan hidup lahir bathin. itulah disebut dharma (agama). sebagai alat untuk mencapai kesempurnaan hidup. lepas dari ikatan duniawi ini dan mencapai Moksa yang merupakan tujuan tertinggi. Demikian pula Manusamhita merumuskan dharma itu sebagai berikut: "Weda pramanakah creyah sadhanam dharmah" Artinya: Dharma (agama) tercantum didalam ajaran suci Weda.sa dharma iti nicacayah Artinya: Segala sesuatu yang bertujuan memberi kesejahteraan dan memelihara semua mahluk. .

sedangkan kelompok Smerti isinya bersumber dari Weda Sruti. Anak Agung Gde Oka Netra Pengertian Weda Sumber ajaran agama Hindu adalah Kitab Suci Weda. Bahasa Weda Bahasa yang dipergunakan dalam Weda disebut bahasa Sansekerta. Juga disebut kitab mantra karena memuat nyanyian-nyanyian pujaan. keduanya adalah sumber ajaran agama Hindu yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Pembagian ini juga dipergunakan untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda. yang artinya mengetahui atau pengetahuan. jadi merupakan manual. Jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Wararuci. Kitab Suci Weda dikenal pula dengan Sruti. Agaknya sloka berikut ini mempertegas pernyataan di atas. Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna dan kekal abadi serta berasal dari Hyang Widhi Wasa. maka jenis buku weda itu banyak. laksana sumber air yang mengalir terus melalui sungai-sungai yang amat panjang dalam sepanjang abad. Weda secara ethimologinya berasal dari kata "Vid" (bahasa sansekerta). Dengan demikian yang dimaksud dengan Weda adalah Sruti dan merupakan kitab yang tidak boleh diragukan kebenarannya dan berasal dari Hyang Widhi Wasa. maka bahasa yang dipergunakan dalam Weda dikenal dengan nama Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Sebelum nama Sansekerta menjadi populer. isi dan luas lingkupnya. Tokoh yang merintis penggunaan tatabahasa Sansekerta ialah Rsi Panini. Kemudian dilanjutkan oleh Rsi Patanjali dengan karyanya adalah kitab Bhasa. yang artinya bahwa kitab suci Weda adalah wahyu yang diterima melalui pendengaran suci dengan kemekaran intuisi para maha Rsi. Pembagian dan Isi Weda Weda adalah kitab suci yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh manusia. yaitu seorang penulis Tata Bahasa Sensekerta yang berjudul Astadhyayi yang sampai kini masih menjadi buku pedoman pokok dalam mempelajari Sansekerta. yaitu kitab yang berisikan ajaran kesucian yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi.Tuntunan Dasar Agama Hindu (milik Departemen Agama) Disusun oleh: Drs. Weda adalah sabda suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Weda merupakan jiwa yang meresapi seluruh ajaran Hindu. Berdasarkan materi. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu. maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu ke dalam dua kelompok besar yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti. Nama sansekerta dipopulerkan oleh maharsi Panini. yakni buku pedoman yang sisinya tidak bertentangan dengan Sruti. baik yang telah berkembang dan tumbuh menurut tafsir sebagaimana dilakukan secara turun temurun menurut tradisi maupun sebagai wahyu yang berlaku secara institusional ilmiah. . Baik Sruti maupun Smerti.

11. (M.37). (M. acarasca iwa sadhunam atmanastustireqaca. (Dharma) Weda khilo dharma mulam smrti sile ca tad widam. Artinya: Sesungguhnya Sruti adalah Weda. kemudian barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan. Artinya: Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma). II. (S. Dh.1o). te sarwatheswam imamsye tabhyam dharmo winir bhrtah.S. te sarrtheswamimamsye tab hyam dharmohi nirbabhau. Artinya: .kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri). demikian pula Smrti itu adalah dharma sastra.Srutistu wedo wijneyo dharma sastram tu wai smerth. keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Hindu. Dh.6). Srutir wedah samakhyato dharmasastram tu wai smrth.

Sruti adalah Weda yang sebenarnya (originair) yang diterima melalui pendengaran. disamping menguraikan tentang wahyu juga menyebutkan Sapta Rsi sebagai penerima wahyu.Ketahuilah olehmu Sruti itu adalah Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya adalah dharmasastra. terdiri dari 10. Mandala II sampai dengan VIII. Wahyu Rg Weda dikumpulkan atau dihimpun oleh Rsi Pulaha. Rg Weda berisikan nyanyian-nyanyian pujaan. Atharwa Weda Samhita . Yajur Weda Samhita. Adapun kitab-kitab Catur Weda tersebut adalah: Rg. Sruti dan Smerti merupakan dasar yang harus dipegang teguh.875 mantra. Weda. Dari sloka-sloka diatas.975 mantra. Wahyu Yayur Weda dihimpun oleh Rsi Waisampayana.552 mantra dan seluruhnya terbagi dalam 10 mandala. Weda atau Rg Weda Samhita. yang diturunkan sesuai periodesasinya dalam empat kelompok atau himpunan. keduanya harus diyakini kebenarannya dan dijadikan jalan serta dituruti agar sempurnalah dalam dharma itu. Keseluruhan mantranya berjumlah 1. Yajur Weda terdiri atas dua aliran. Yajur Weda memuat ajaran mengenai pokok-pokok yajus. Untuk mempermudah sistem pembahasan materi isi Weda. Adalah Weda yang terdiri atas mantra-mantra dan sebagian besar berasal dari Rg. Sama Weda Samhita. maka dibawah ini akan diuraikan tiaptiap bagian dari Weda itu sebagai berikut: SRUTI Sruti adalah kitab wahyu yang diturunkan secara langsung oleh Tuhan (Hyang Widhi Wasa) melalui para maha Rsi. supaya dituruti ajarannya untuk setiap usaha. Adalah Weda yang merupakan kumpulan mantra dan memuat ajaran mengenai lagu-lagu pujaan. Adalah wahyu yang paling pertama diturunkan sehingga merupakan Weda yang tertua. Oleh karena itu Weda Sruti disebut juga Catur Weda atau Catur Weda Samhita (Samhita artinya himpunan). Sama Weda terdiri dari 1. yaitu Yayur Weda Putih dan Yayur Weda Hitam. Wahyu Sama Weda dihimpun oleh Rsi Jaimini. maka tegaslah bahwa Sruti dan Smerti merupakan dasar utama ajaran Hindu yang kebenarannya tidak boleh dibantah.

Masing-masing bagian Catur Weda memiliki kitab-kitab Brahmana yang isinya adalah penjelasan tentang bagaimana mempergunakan mantra dalam rangkain upacara. Kitab-kitab brahmana digolongkan ke dalam Karma Kandha sedangkan kitab-kitab Upanishad digolonglan ke dalam Jnana Kanda. dikodifikasikan di daerah Doab (daerah dua sungai yakni lembah sungai Gangga dan Yamuna. Weda. Kelompok Wedangga: Kelompok ini disebut juga Sadangga. SMERTI Smerti adalah Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Isinya adalah doa-doa untuk kehidupan sehari-hari seperti mohon kesembuhan dan lain-lain. Kitab-kitab Catur Weda juga memiliki Aranyaka dan Upanisad. . (2).Adalah kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis. yakni kelompok Wedangga (Sadangga). yang berisikan mengenai bagaimana cara melenyapkan awidya (kebodohan). dan kelompok Upaweda. Wahyu Atharwa Weda dihimpun oleh Rsi Sumantu. Disamping kitab Brahmana. dan Atharwa Weda). Sedangkan kitab Upanisad mengandung ajaran filsafat. Sebagaimana nama-nama tempat yang disebutkan dalam Rg. Sedangkan ketiga Weda yang lain (Sama. Wedangga terdiri dari enam bidang Weda yaitu: (1). yang juga banyak berasal dari Rg.Wyakarana (Tata Bahasa) Merupakan suplemen batang tubuh Weda dan dianggap sangat penting serta menentukan. Kitab Aranyaka isinya adalah penjelasan-penjelasan terhadap bagian mantra dan Brahmana. tidak mungkin tanpa bantuan pengertian dan bahasa yang benar. Weda maka dapat diperkirakan bahwa wahyu Rg Weda dikodifikasikan di daerah Punjab. Yayur. menguraikan tentang hubungan Atman dengan Brahman serta mengupas tentang tabir rahasia alam semesta dengan segala isinya. karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti. Atharwa Weda terdiri dari 5.987 mantra. Secara garis besarnya Smerti dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar.Siksa (Phonetika) Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam pengucapan mantra serta rendah tekanan suara. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara sistematis menurut bidang profesi.

Dan Sulwasutra.Itihasa Merupakan jenis epos yang terdiri dari dua macam yaitu Ramayana dan Mahabharata.Chanda (Lagu) Adalah cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. misalnya Pura. (6). (5). Seluruh isinya dikelompokkan kedalam tujuh Kanda dan berbentuk syair.Nirukta Memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat di dalam Weda.(3). Menurut jenis isinya. bidang Grhya. epos besar lainnya adalah Mahabharata.Kalpa Merupakan kelompok Wedangga (Sadangga) yang terbesar dan penting. Tiap-tiap Kanda itu merupakan satu kejadian yang menggambarkan ceritra yang menarik. Kitan Ramayana ditulis oleh Rsi Walmiki. bagian Dharmasutra adalah membahas berbagai aspek tentang peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Kitab ini disusun oleh maharsi Wyasa. yaitu bidang Srauta. Isinya adalah menceritakan kehidupan keluarga Bharata dan menggambarkan pecahnya . Kelompok Upaweda terdiri dari beberapa jenis. penebusan dosa dan lain-lain. isinya adalah membahas tata surya. peranan Chanda sangat penting.Jyotisa (Astronomi) Merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan untuk pedoman dalam melakukan yadnya. Disamping Ramayana.000 syair. Kelompok Upaweda: Adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga. memuat berbagai ajaran mengenai peraturan pelaksanaan yajna yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga. bidang Dharma. Sundara Kanda. bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh di dalam pelaksanaan yadnya. Di Indonesia cerita Ramayana sangat populer yang digubah ke dalam bentuk Kekawin dan berbahasa Jawa Kuno. Sejak dari sejarah penulisan Weda. Yudha Kanda dan Utara Kanda. Bala Kanda. Jumlah syairnya sekitar 24. Candi dan bangunan-bangunan suci lainnya yang berhubungan dengan ilmu arsitektur. terutama yang berhubungan dengan upacara keagamaan. Karena dengan Chanda itu. Kalpa terbagi atas beberapa bidang. Kiskinda Kanda. Lebih lanjut. dan bidang Sulwa. Adapun ketujuh kanda tersebut adalah Ayodhya Kanda. Kekawin ini merupakan kakawin tertua yang disusun sekitar abad ke-8. yaitu: (1). semua ayatayat itu dapat dipelihara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat. Srauta memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan yajna. Sedangkan kitab Grhyasutra. adalah memuat peraturan-peraturan mengenai tata cara membuat tempat peribadatan. (4).

ilmu obat-obatan. Sukraniti dan Arthasastra.Arthasastra Adalah jenis ilmu pemerintahan negara. Udyogaparwa. Narada Purana. ilmu psikotherapy. Siwa Purana. Garuda Purana.perang saudara diantara bangsa Arya sendiri. tatacara upacara keagamaan dan petunjuk-petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke tempat-tempat suci. Santiparwa. yang amat masyur isinya adalah wejangan Sri Krsna kepada Arjuna tentang ajaran filsafat yang amat tinggi. maka luas lingkup ajaran yang dikodifikasikan di dalam Ayur Weda meliputi bidang yang amat luas dan merupakan hal-hal yang hidup. Padma Purana. Nitisara. ada pula kitab Caraka Samhita yang ditulis oleh Maharsi Punarwasu. Disamping Ayur Weda. ilmu penyakit. Bhagawan Usana. Lingga Purana. juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara. yang memuat mengenai kehidupan keagamaan. Ada beberapa Acarya terkenal di bidang Nitisastra adalah Bhagawan Brhaspati. ilmu mujizat dan ilmu jiwa remaja. yaitu Purana. ilmu pendiudikan anak-anak (ilmu jiwa anak). Kurma Purana. Bhagawan Parasara dan Rsi Canakya. (4). yaitu Adiparwa. doa-doa dan mantra untuk sembahyang. Waraha Purana. Wamana Purana. terutama di dalam Bhismaparwa terdapatlah kitab Bhagavad Gita. Ayur Weda adalah filsafat kehidupan. yaitu ilmu bedah. Isinya merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik. Kitab inipun memuat delapan bidan ajaran (ilmu). Bhagawata Purana. Sebagai cabang ilmu. Bhawisya Purana. Dan yang terpenting dari kitab-kitab Purana adalah memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme (Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu. Skanda Purana dan Agni Purana. "ha" dan "asa" artinya adalah "sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya") maka Mahabharata itu gambaran sejarah. jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma atau pula Dandaniti.Purana Merupakan kumpulan cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan silsilah para raja yang memerintah di dunia.Ayur Weda Adalah kitab yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rohani dengan berbagai sistem sifatnya. Sabhaparwa. Ilmu mengenai berbagai jens . Kitab Mahabharata meliputi 18 Parwa. Dronaparwa. Wisnu Purana. cerita mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan Candrawangsa serta memuat ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-pembuktian hukum yang pernah di jalankan. Mahaprastanikaparwa. Anusasanaparwa. sosial dan politik menurut ajaran Hindu. Matsya Purana. Asramawasikaparwa. ilmu toksikologi. dan Swargarohanaparwa. Wirataparwa. Bhismaparwa. Menurut isinya. Diantara parwa-parwa tersebut. (3). Salyaparwa. Wanaparwa. Sauptikaparwa. Brahma Purana. Adapun kitab-kitab Purana itu terdiri dari 18 buah. baik etis maupun medis. Mausalaparwa. Ayur Weda meliptui delapan bidang ilmu. Aswamedhikaparwa. (2). cara melakukan puasa. yakni Ilmu pengobatan. Ada beberapa buku yang dikodifikasikan ke dalam jenis ini adalah kitab Usana. Karnaparwa. Oleh karena demikian. Selain itu Kitab Purana juga memuat pokok-pokok pemikiran yang menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta. Ditinjau dari arti Itihasa (berasal dari kata "Iti".

Mimamsa dan Wedanta. Yoga. Samkhya. . Waisesika. namun percaya itu penting dalam kehidupan ini. Kendati kita tidak boleh cepat-cepat percaya kepada sesuatu. ilmu diagnosis dan pragnosis. Setiap hari kita mneyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Tuhan pula sebagai penyebab pertama segala yang ada. karena tiap ilmu akan menunjuk pada satu aspek dengan sumber-sumber yang pasti pula. isinya memuat pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan dengan sistem anatomi yang penting artinya dalam pembinaan kesehatan jasmani dan rohani. maka jelaslah bahwa kelompok Weda Smerti meliptui banyak buku dan kodifikasinya menurut jenis bidang-bidang tertentu. semuanya ini mengantarkan kita harus percaya kepada Tuhan. Kalpasthana dan Siddhistana. Dengan uraian ini kiranya dapat diperkirakan betapa luasnya Weda itu. Banyak sekali kegiatan yang kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari hanyalah berdasarkan kepercayaan saja. ilmu pathologi. Rasarnawa. Ada beberapa buku penting yang termasuk Gandharwaweda ini adalah Natyasastra (yang meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri). Adanya gejala atau kejadian dan keajaiban di dunia ini. ilmu anatomi dan embriologi. Semuanya itu pasti ada sebabmusababnya. Tuntunan Dasar Agama Hindu (milik Departemen Agama) Pokok-pokok Keimanan Agama Hindu (1) Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi) Sesungguhnya. Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Nagaryuna. Ditambah lagi kitab-kitab agama misalnya Saiwa Agama. yang perlu adalah disiplin ilmu. usia tua. bahwa Tuhanlah yang merupakan sumber dari segala yang terjadi di alam semesta ini. Vaisnawa Agama dan Sakta Agama dan kitab-kitab Darsana yaitu Nyaya. Rasaratnasamuscaya dan lain-lain. Belum lagi oleh adanya berbagai mahluk hidup dan hal-hal lain yang dapat menjadikan kita semakin tertegun menyaksikannya. dan muara yang terakhir adalah Tuhan Yang Maha Kuasa.Gandharwaweda Adalah kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni. Banyak hal yang mendorong kita harus percaya terhadap adanya Tuhan itu dan berlaku secara alami. mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. adalah kitab Yogasara dan Yogasastra. Kitab yang sejenis pula dengan Ayurweda. Kedua terakhir ini termasuk golongan filsafat yang mengakui otoritas kitab Weda dan mendasarkan ajarannya pada Upanisad. Hal inilah yang perlu diperhatikan dan dihayati untuk dapat mengenal isi Weda secara sempurna. pokok-pokok ilmu therapy. Demikian pula adanya bulan dan bintang yang hadir di langit dengan teratur.penyakit yang umum. Dari uraian di atas. adanya kelahiran. bertitik tolak kepada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhanlah yang mengatur semuanya ini. menyebabkan kepercayaan itu semakin mantap. Di dalam ajaran Weda. (5). dan kematian. setiap agama yang ada dan berkembang dimuka bumi ini. Adanya pergantian siang menjadi malam.

Didalam Weda (Bhagavad Gita). Pegangan itu tiada lain adalah Tuhan. (BG. Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi) Percaya terhadap Tuhan. yaitu percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi). Maha Kuasa. VII. maka dengan agama pula kita akan merasa mempunyai suatu pegangan iman yang menambatkan kita pada satu pegangan yang kokoh. bahwa semua insani mempunyai sumber-sumber kelahiran disini. Maha Esa dan Maha segala-galanya. percaya adanya Punarbhawa (Reinkarnasi/Samsara) dan percaya adanya Moksa. Keimanan kepada Tuhan ini merupakan dasar kepercayaan agama Hindu. Kepada-Nya-lah kita memasrahkan diri. Inilah yang menjadi pokok-pokok keimanan agama Hindu. adalah ia yang kuasa atas segala yang ada ini. Tuhan Yang Maha Kuasa. Aham atma gudakesa sarva bhutasaya sthitah aham adis cha madhyam cha . mempunyai pengertian yakin dan iman terhadap Tuhan itu sendiri. Tuhan (Hyang Widhi) bersabda mengenai hal ini. percaya adanya Hukum Karma Phala. karena tidak ada tempat lain dari pada-Nya tempat kita kembali. Tuhan adalah sumber dan awal serta akhir dan pertengahan dari segala yang ada. yang disebut juga Hyang Widhi (Brahman). Aku adalah asal mula alam semesta ini demikian pula kiamat-kelaknya nanti. Yakin dan iman ini merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada.Karena agama itu adalah kepercayaan.6) Ketahuilah. Adapun pokok-pokok keimanan dalam agama Hindu dapat dibagi menjadi lima bagian yang disebut dengan Panca Sraddha. Tidak ada apapun yang luput dari Kuasa-Nya. sebagai pemelihara dan Pelebur alam semesta dengan segala isinya. sebagai berikut: Etadyonini bhutani sarvani ty upadharaya aham kristnasya jagatah prabhavah pralayas tatha. yang merupakan sumber dari semua yang ada dan yang terjadi. percaya adalanya Atman. Ia sebagai pencipta.

pertengahan dan penghabisan dari mahluk semua.39) Dan selanjutnya apapun. (BG.20) Aku adalah jiwa yang berdiam dalam hati segala insani. 1. Artinya: Tuhan (Ciwa). nafas dari segala nafas dan mata dari segala mata".bhutanam anta eva cha. yang bersifat Maha Ada. X. juga berada disetiap mahluk hidup. (BG. serta tidak berubah dan kekal abadi (Nirwikara). didalam maupun doluar dunia (imanen dan transenden). Tiada suatu tempatpun yang Beliau tiada tempati. bagaikan angkasa (ether). Aku adalah permulaan.U. Dia gaib. aku adalah benih dari segala mahluk.2) disebutkan bahwa Hyang Widhi adalah "telinga dari semua telinga. tetapi Tuhan hadir dimana-mana. wahai Gudakesa. ucapan dari segala ucapan. Tuhan (Hyang Widhi) meresap disegala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka). bergerak atau tidak bergerak. Beliau ada disini dan berada disana Tuhan memenuhi jagat raya ini. Di dalam Upanisad (k. Walaupun amat gaib. Dia ada di mana-mana. Tuhan (Hyang Widhi).X. sukar dibayangkan. namun Hyang Widhi itu bersifat gaib (maha suksma) dan abstrak tetapi ada. Di dalam Bhuana Kosa disebutkan sebagai berikut: "Bhatara Ciwa sira wyapaka sira suksma tan keneng angen-angen kadiang ganing akasa tan kagrahita dening manah muang indriya". tanpa aku. dia tak dapat ditangkap oleh akal maupun panca indriya. tidak ada sesuatupun bisa ada. Beliau bersifat wyapi-wyapaka. oh Arjuna. yach cha pi sarvabhutanam bijam tad aham arjuna na tad asti vina syan maya bhutam characharam. pikiran dari segala pikiran. . meresapi segalanya.

(Rg Veda X. Demikian pula seperti adanya api di dalam kayu. VI.W. ia mengetahui segalanya.11) Tuhan yang tunggal sembunyi pada semua mahluk. bermata tak terhingga. Tuhan berkepala tak terhingga. Kemanapun berlari akan selalu berjumpa dengan Dia. Up. bermata seribu. semua mata adalah mataNya. Ia memenuhi bumi-bumi pada semua arah. Seribu dalam mantra Rg Veda di atas berarti tak terhingga. semua tangan adalah tangan-Nya. IV. mengatasi kesepuluh penjuru. (Svet. bagaikan garam dalam air. Tidak ada tempat sepi yang luput dari kehadiran-Nya. sa bhumim visato vrtva tyatistad dasangulam". kehadirannya seolah-olah tidak ada. tetapi Tuhan dapat dirasakan kehadirannya dengan rasa hati. saksi yang mengetahui. Tidak ada sesuatu apapun yang ia tidak ketahui. bertangan tak terhingga. maka orang tidak dapat lari kemanapun untuk menyembunyikan segala perbuatannya. menyusupi segala. Eko devas sarva-bhutesu gudhas sarva vyapi sarwa bhutantar-atma karmadyajsas sarvabhutadhivasas saksi ceta kevalo nirgunasca. Ia tidak tampak. Karena Tuhan berada di mana-mana.1) Tuhan berkepala seribu. yang tunggal. bebas dari kualitas apapun.16."Sahasrasirsa purusah sahasraksah sahasrapat.2) . Yas tisthati carati yasca vancanti Yo nilayam carati yah pratamkam dvatu samnisadya yanmantrayete raja tad veda varunas trtiyah (A. Karena demikian sifat Tuhan. Semua kepala adalah kepa_Nya. inti hidupnya semua mahluk. tapi bila kayu ini digosok maka api akan muncul. Tuhan adalah saksi agung akan segala yang ada dan terjadi. hakim semua perbuatan yang berada pada semua mahluk. Tidak ada apapun yang dapat disembunyikan kepada-Nya. namun bila dicicipi terasa adanya disana. berkaki seribu.90. Walaupun Tuhan tak dapat dilihat dengan mata biasa.

tetapi sukar dapat dilihat oleh mata biasa. nasthamo na navamo dasamo napyucyate. Tuhan di atas semua. ia adalah uyang ketiga hadir di sana. tidak bertangan dan berkaki (nirkaram nirpadam). Di dalam Weda disebutkan bahwa Tuhan (Hyang Widhi) tidak berbentuk (nirupam). .W. sedangkan Tuhan (Hyang Widhi) adalah Maha Sempurna dan tak terbatas. yang memberi kekuatan spiritual dan yang membangkitkan kebaktian. Tuhan yang berkuasa. berjalan atau bergerak dengan sembunyi-sembunyi. Ia yang satu itu. sa sarvasmai vi pasyati vacca pranati yacca na.Siapapun berdiri. siapaun yang membaringkan diri atau bangun.8) Siapakah yang akan kami puja dengan segala persembahan ini? Ia Yang Maha Suci yang kebesaran-Nya mengatasi semua yang ada. apapun yang dua orang duduk bersama bisikan satu dengan yang lain. semuanya itu diketahui oleh Tuhan (Sang Raja Alam Semesta). Kemampuannya terbatas. Lagi pula Hyang Widhi tidak pernah lahir dan tidak pernah tua. Indra kita hanya dapat menangkap apa yang dilihat. Kendatipun Tuhan itu selalu hadir dan meresap di segala tempat.X. Yoccitdapo mahina paryapacyad daksam dadhana janayantiryajnam Yo deweswadhi dewa eka asit kasmai dewaya hawisa widhema. Tuhan berkuasa atas semua dan Tunggal atau Esa adanya. na pancamo na sasthah saptamo napyucyate. didengar. tidak pernah berkurang tidak juga bertambah. dikecap dan dirasakan. tidak berpancaindra (nirindryam). tam idam nigatam sahah sa esa eka ekavrd eka eva. ya etam devam ekavrtam veda na dwitya na trtiyas cateutho napyucyate. tetapi Tuhan (Hyang Widhi) dapat mengetahui segala yang ada pada mahluk. (R. namun Beliau Maha Ada dan Maha Mengetahui segala yang ada di alam semesta ini.121.

"Idam mitram Varunam agnim ahur atho divyah sa suparno garutman Ekam sad vipra bahudha vadantyagnim yamam matarisvanam ahuh.XIII.U.W.sarve asmin deva ekavrto bhavanti. (A. keenam.46) Mereka menyebut Indra. Tuhan Yang Maha Esa. keempat Ia dipanggil.V. Padanya semua dewa hanya satu saja. Varuna. Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran. ketiga. Tidak ada yang kelima.2. Agni dan Dia yang Bercahaya. yaitu Garutman yang bersayap elok. Ia hanya tunggal belaka. Yang Maha Kuasa. "Eko Narayanad na dvityo "Sti kaccit" (Weda Sanggraha) Hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya. Satu Itu (Tuhan).1) Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.I. Ia melihat segala apa yang bernafas dan apa yang tidak bernafas. seperti Agni.IV. Tunggal adanya. tan hana Darma mangrwa" (Lontar Sutasoma) Berbeda-beda tetapi satu tidak ada Dharma yang dua. Mitra. "Bhineka Tungal Ika. Tuhan yang Tunggal (Esa) itu dipanggilnya dengan banyak nama sesuai . kesembilan Ia dipanggil. sang bijaksana menyebut dengan banyak nama. Kepada-Nya-lah tenaga penakluk kembali. ketujuh. Tidak ada yang kedua.4) Kepada ia yang mengetahui ini Tuhan semata-mata hanya tunggal. yang gaib dipanggil dengan nama sesuai dengan jangkauan pikiran. yang tak terjangkau oleh pikiran. maka orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya. 1964. Yama Matarisvam. Tidak ada yang kedelapan. "Ekam eva advityam Brahma" (Ch. Ia dipanggil. namun ia hanya satu. (R.

viduramrtaste bhavanti". yang merupakan jiwa semua mahluk. Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi) 2. Kepada-Nyalah orang menyerahkan diri. Satu That yang bersembunyi dalam setiap mahluk yang menghidupi semuanya. bagaikan titik embun yang . Pokok-Pokok Keimanan dalam Agama Hindu: 1. yang bersembunyi dalam hati dan pikiran. (Upanisad) Ia adalah jiwa yang paling sempurna (Purusa). "Angusthamatrah Purusa ntaratman Sada jananam hrdaya samnivish thah Hrada mnisi manasbhikrto yaetad. Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta. mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini. Demikian Atman itu menghidupi sarva prani (mahluk) di alam semesta ini. Atman di dalam badan manusia disebut Jiwatman. Orang-orang menyembah-Nya dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda.dengan fungsinya. Banyak lagi panggilannya yang lain. Ia maha tahu. mereka yang mengetahuinya menjadi abadi. Percaya adanya Hukum Karma Phala 4. Percaya adanya Moksa Tuntunan Dasar Agama Hindu (milik Depag) Disusun oleh Anak Agung Gde Oka Netra Pokok-pokok Keimanan Agama Hindu (2) Percaya adanya Atman Atman adalah percikan kecil dari Paramatman (Hyang Widhi/Brahman). Kusir adalah Atman yang mengemudikan dan kreta adalah badan. berada dimanamana. saksi yang mengetahui dan tunggal. Atman adalah bagian dari pada Tuhan. Percaya adanya Atman 3. Percaya adanya Punarbhawa/Reinkarnasi/Samsara 5. raja dari semua perbuatan pada semua mahluk. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan dihadapan-Nya. Wisnu sebagai pemelihara dan Ciwa sebagai pelebur/pemralina. yang menguasai pengetahuan. Ia adalah yang paling kecil. Atman dengan badan adalah laksana kusir dengan kereta. yang menyebabkan manusia itu hidup. Demikianlah Atman merupakan percikan-percikan kecil dari paramatman (Tuhan) yang berada di setiap mahluk hidup.

maka Atman pada hakekatnya memiliki sifat yang sama dengan sumbernya. Oleh karena Atman itu merupakan bagian dari Brahman/Hyang Widhi. Menurut Weda (Bh. yakni Brahman itu sendiri.berasal dari penguapan air laut.G. Seperti halnya juga percikan-percikan sinar berasal dari matahari. tetap selama-lamanya. angin tidak dapat mengeringkan Dia. Avyakto yam achityo yam avikaryo yam uchyate tasmad evam viditvai nam na nusochitum arhasi (Bh. dibakar.23) Senjata tidak dapat melukai Dia.24) Dia tak dapat dilukai.G. tidak mengalami kelahiran dan kematian. Dia adalah abadi. sifat-sifat Atman dinyatakan sebagai berikut: Nai nam Chindanti sastrani nai nam dahati pavakah na soshayati marutah (Bh. tiada berubah.24 dan 25). juga tidak dikeringkan dan dibsahi. karena ada pengaruh dari suatu temperatur tertentu. tidak dapat dipikirkan.II. tidak bergerak. II.25) Dia dikatakan tidak termanifestasikan. dan api tidak dapat membakarnya. tidak berubah-ubah.23. achchhedyo "yam adahyo yam akledyo soshya eva cha nityah sarvagatah sthnur achalo yam sanatanah. bebas dari suka dan duka. Atau dapat diumpamakan Hyang Widhi (Brahman/Tuhan) adalah sumber tenaga lsitrik yang dapat menghidupkan bola lampu besar atau kecil dimanapun ia berada.II. (Bh. dan air tidak bisa membasahinya. Bola lampu disini dapat diumpamakan sebagai tubuh setiap mahluk dan aliran listriknya adalah Atman.G. kemudian terpencar menerangi segala pelosok alam semesta ini. Atman bersifat sempurna dan kekal abadi. dan mengetahui . G.

Jiwatman yang terbelengu berpindah dari satu badan ke badan yang lain. demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani yang baru. tetapi manusia itu sendiri tidaklah sempurna. Atman itu tetap sempurna. namun Atman tidak akan bisa mati. yang menyebabkan ketidak sempurnaannya. Sthanu (tak berpindah-pindah). Akledya (tak terkeringkan oleh angin). kekal abadi. dan tidak terpikirkan. hidup dan badan jasmani. Perpaduan Atman dengan badan jasmani.G. Karena semua bentuk-bentuk yang dialami ini bisa berubah. Jadi manusia lahir dalam keadaan awidya. tetapi jiwa itu tetap langgeng untuk selamanya. Pertemuan Atman dengan badan jasmani ini menyebabkan Dia terpengaruh oleh sifat-sifat maya yang menimbulkan awidya (kegelapan). Oleh karena itu Atman (Jiwatman) tidak dapat menjadi subyek ataupun obyek daripada perubahan-perubahan yang dialami oleh pikiran. Acesyah (tak terbasahkan oleh air). Dari uraian sloka di atas. Yang dimaksud "Dia" dan "Nya" dalam sloka di atas adalah Atman itu sendiri. sedangkan Atman tetap kekal abadi. Walaupun manusia itu mengalami kematian. Achintya (tak terpikirkan). Nitya (abadi). Karena itu Atman tidak akan selalu . Dia mengatasi segala elemen materi. dan Awikara (tak berubah dan sempurna tidak laki-laki atau perempuan).22) Ibarat orang yang menanggalkan pakaian lama dan menggantikannya dengan yang baru. datang dan pergi. maka alam pikiran sebagai pembalut jiwa merupakan kesadaran baginya untuk berpindah-pindah dari satu badan ke badan yang lain yang disebut reinkarnasi atau phunarbhawa sesuai dengan karmaphalanya (hasil perbuatannya di dunia). hidup dan pikiran yang terbentuk dari pada prakerti menurut evolusinya dimasa yang lalu dan kebutuhannya dimasa yang akan datang.halnya demikian engkau hendaknya jangan berduka. Acala (tak bergerak). Adahya (tak terbakar oleh api). hidup dan mati. Setiap kelahirannya membawa badan. Hanya badan yang mati dan hancur. Atman yang menghidupi badan disebut Jiwatman.II. Manusia tidak luput dari hukum lahir. Awyakta (tak terlahirkan). Apabila badan jasmani yang menjadi tua dan hancur. menyebabkan mahluk itu hidup. Sarvagatah (dimana-mana ada). Sanatana (selalu sama). Vasamsi jirnani yatha vihaya navani grihnati naro parani tahta sartrahi vihaya jirmany anyani samyati navani dehi (Bh. ada beberapa sifat atman yang penting di sini adalah: Achodya (tak terlukai oleh senjata).

Hukum sebab akibat inilah yang disebut dengan Hukum Karma Phala. . Percaya adanya Punarbhawa/Reinkarnasi/Samsara 5. buah. Di Neraka Jiwatman itu mendapat siksaan sesuai dengan hasil perbuatannya. Percaya adanya Atman 3. artinya karma phala adalah akibat phala dari baik buruk suatu perbuatan atau karma (Clokantra 68).dapat kembali kepada asalnya yaitu ke Paramaatman. Demikian pula sebaliknya. Di dalam Weda disebutkan "Karma phala ika palaing gawe hala ayu". Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi) 2. Jadi setiap orang berbuat baik (subha karma). Orang-orang yang berbuat baik di dunia akan menuju sorga dan yang berbuat buruk akan jatuh ke Neraka. pasti akan menerima hasil dari perbuatan baiknya itu. Hukum karma ini sesungguhnya sangat berpengaruh terhadap baik buruknya segala mahluk sesuai dengan perbuatan baik dan perbuatan buruknya yang dilakukan semasa hidup. kata karma berasal dari kata "Kr" (bahasa sansekerta). Percaya adanya Hukum Karma Phala 4. Pokok-Pokok Keimanan dalam Agama Hindu: 1. benar atau salah. setiap yang berbuat buruk. Demikianlah sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan akibat. kesemuanya itu disebut "Karma". yang artinya bergerak atau berbuat. hasil atau pahala. disadari atau diluar kesadaran. terlepas dari pengaruh awidya dan mencapai Moksa yaitu kebahagiaan dan kedamaian yang abadi serta kembali bersatu kepada asalnya. Percaya adanya Moksa Tuntunan Dasar Agama Hindu (milik Depag) Disusun oleh Anak Agung Gde Oka Netra Pokok-pokok Keimanan Agama Hindu (3) Percaya adanya Hukum Karmaphala Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan. Karena itulah penjelmaan terus berlanjut sampai Jiwatman sadar akan hakekat dirinya sebagai Atman. baik atau buruk. Menurut Hukum Sebab Akibat. disengaja atau tidak. maka segala sebab pasti akan membuat akibat. Ditinjau dari segi ethimologinya. Hukum karma dapat menentukan seseorang itu hidup bahagia atau menderita lahir bathin. maka keburukan itu sendiri tidak bisa terelakkan dan pasti akan diterima.

dan Kriyamana Karma Phala. Ia melekat pada-Nya. Hal ini adalah seperti periuk yang diisikan kemenyan. karena hal itu sudah merupakan hukum perbuatan. Apa saja perbuatan yang dilakukannya. pada kelahiran nanti.Sancita Karma Phala: Hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita yang sekarang. dalam kehidupan sekarang atau nanti. namun nantinya ia juga harus menerima hasil perbuatannya yang buruk yang ia lakukan pada masa kehidupannya sekarang ini. sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang. Di dalam Weda (Wrhaspati Tatwa 3). 3. Ia ada pada Atman. Seperti juga halnya dengan karma wasana. segala hasil perbuatan itu pasti akan diterima. bahwa cepat atau lambat. Prarabda Karma Phala. bau kemenyan yang melekat pada periuk itu. dinyatakan sebagai berikut: "Wasana artinya bahwa semua perbuatan yang telah dilakukan didunia ini. apakah akibat itu akibat yang baik atau yang buruk. walaupun kemenyannya sudah habis dan periuknya dicuci bersih-bersih namun tetap saja masih ada bau. Setiap perbuatan akan meninggalkan bekas.Kriyamana Karma Phala: Hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat. hal itu disebabkan oleh karmanya yang lalu (sancita karma). Jadi adanya penderitaan dalam kehidupan ini walaupun seseorang selalu berbuat baik. 2. Tegasnya. Dengan demikian karma phala dapat digolongkan menjadi 3 macam sesuai dengan saat dan kesempatan dalam menerima hasilnya.Phala atau hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat dirasakan atau dinikmati.Prarabda Karma Phala: Hasil perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi. Tangan yang menyentuh es akan seketika dingin. namun menanam padi harus menunggu berbulan-bulan untuk bisa memetik hasilnya. ada bekas dalam angan dan ada yang abstrak. hal itu disebabkan karena sancita karmanya yang dahulu baik. 1. pada akhirnya kesemuanya itu akan menghasilkan buah. Inilah yang disebut wasana. terutama yang buruk yang harus ia nikmati hasilnya sekarang. Orang akan mengecap akibat perbuatannya di alam lain. ada bekas yang nyata. Ia mewarnai . Oleh karena itu hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat atau pada kehidupan sekarang maka akan ia terima setelah di akherat kelak dan ada kalanya pula akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang. Sebaliknya seseorang yang berbuat buruk pada kehidupannya sekarang dan nampaknya ia hidup bahagia. karena pada kelahirannya terdahulu belum habis diterimanya. yaitu Sancita Karma Phala.

"Bhatara Dharma ngaran ira Bhatara Yama sang kumayatnaken cubhacubha prawrti sekala janma". Tetapi kita harus yakin bahwa penyakit atau penderita tersebut pasti dapat diatasi. Seseorang tidak bisa menghindari hasil perbuatannya. apakah baik ataupun buruk. (Agastya Parwa 355." Ada penyakit tentu ada penyebabnya. Demikian pula sebaliknya. karena apa yang ia terima merupakan tanggungjawabnya. bahwa hukum karma phala itu tidak terlepas dari kekuasaan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).15) Bhatara Dharma (juga) bergelar Bhatara Yama (sebagai Dew . Jelasnya dengan itu seseorang tidak perlu sedih atau menyesali orang lain karena mengalami penderitaan dan tidak perlu sombong karena mengalami kebahagiaan. bahwa penderitaan disaat ini adalah akibat dari perbuatan kita sendiri. seseorang tidak perlu menyesali nasibnya. demikian pula penderitaan itu.Atman. Hyang Widhilah yang menentukan phala dari karma seseorang. apan sira pinaka paracaya Bhatara ring cubhacubha karmaning janma". baik yang sekarang maupun yang telah lampau. (semua) itulah yang dicatat oleh Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). (Wrhaspati Tattwa 22) Segala (apa) yang diperbuat di dalam penjelmaan menjadi manusia. Ini harus disadari. Perbuatan baik yang dilakukan saat ini akan memberikan kebahagiaan baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. pasti ada sebab musababnya. sehingga seseorang tidak boleh iri jika melihat orang lain hidupnya bahagia atau lebih baik. Namun kita harus sadar pula bahwa suatu saat penderitaan itu akan berakhir asal kita selalu berusaha untuk berbuat baik. Beliaulah yang memberi ganjaran sesuai dengan Hukum Karma. karena hal itu adalah hasil karma. ya ta mingetaken de Bhetara Widhi. karena Dia sebagai saksi (dari) baik buruk (amal-dosa) perbuatan manusia. "Asing sagawenya dadi manusa. Satu hal yang perlu diingat.

11: Dharanad dharma ityahur Dharmena widrtah prajah Hindu sebagai nama agama Artinya: Kata dharma dikatakan datang dari kata Dharana (yang berarti memangku.. Tujuan agama Hindu Di dalam kitab suci Weda dijelaskan tujuan agama sebagai tercantum dalam sloka "MOKSARTHAM JAGADHITA YA CA ITI DHARMAH" yang artinya bahwa tujuan agama atau dharma adalah untuk mencapai jagadhita dan moksa. misalnya kata "Soma" dapat menjadi kata Homa. Moksa juga disebut Mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau juga disebut mencapai kebahagiaan rohani yang langgeng di akhirat..titik air.Pustaka Smrti Santi Parwa 109. Kata Sindu inilah yang kemudian berubah menjadi kata Hindu karena terkena pengaruh hukum metathesis dalam bahasa Sanskerta di mana penggunaan huruf "s" dan "h" dapat ditukar. Kata Hindu atau Sindu dalam bahasa Sanskerta adalah tergolong kata benda masculine.. Dengan dharma semua makhluk diatur Istilah Hindu yang dipergunakan sekarang sebagai nama agama pada umumnya tidak dikenal pada jaman klasik.tukar. Jagadhita juga disebut bhukti yaitu kemakmuran dan kebahagiaan setiap orang.> Hindu Dharma MOKSA (Keyakinan terhadap bersatunya Atman dengan Brahman). kata "Satima" dapat menjadi Hatima. maupun negara.upacara agama Hindu dalam bentuk tirtha (air suci).> Pokok-pokok. PANCA SRADHA > Tattwa . Kebahagiaan batin yang tertinggi ialah bersatunya Atman dengan Brahman yang . masyarakat. laut. atau samudra.> 3 Kerangka . atau mengatur). yang berarti titik.. menjunjung. Jadi secara garis besar tujuan agama Hindu adalah untuk mengantarkan umatnya dalam mencapai kesejahteraan hidup di dunia ini maupun mencapai moksa yaitu kebahagiaan di akhirat kelak. Beratus. Istilah agama dengan istilah dharma mempunyai pengertian yang sulit dibedakan. maka dalam kaitannya dengan nama agama Hindu biasa juga disebut Hindu Dharma. Tujuan hidup umat Hindu ialah mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin (moksartham jagadhita).. bahkan di India lebih umum nama ini dipakai. dipergunakan dalam upacara. sehingga para ahli menyebutkannya dengan nama agama Weda atau Jaman Weda. penganut ajaran kitab suci Weda tumbuh subur dan berkembang pesat dalam masyarakat.. Air melambangkan Amrita yang diartikan air kehidupan yang kekal abadi. Kemudian Hindu dipakai nama dengan mengambil nama tempat di mana agama itu mulai berkembang. dan sebagainya.ratus tahun sebelum tahun masehi. yakni di sekitar sungai Sindu atau Indus. sungai.

Moksa atau mukti atau nirwana berarti kebebasan. sebagai AWATARA. kematian. dan belenggu maya/ penderitaan hidup keduniawian. memusatkan cipta (Dhyana) dan mengheningkan cipta (Semadhi). \ . Akan tetapi masih ada satu yang tak tampak dan kekal. tetapi sebagai penolong sesama manusia. berbuat baik sesuai dengan ajaran agamanya. Kebebasan yang sulit dicapai banyak makhluk akan lahir dan mati. Jika kita selalu ingat kepada Brahman. sumber © Yayasan Bali Galang. Untuk mencapai ini orang harus selalu berusaha. serta hidup kembali tanpa kemauannya sendiri. Kitab suci telah menunjukkan bagaimana caranya orang melaksanakan pelepasan dirinya dari ikatan maya agar akhirnya Atman dapat bersatu dengan Brahman (suka tan pawali duka). manusia berangsur. berbuat demi Brahman maka tak usah disangsikan lagi kita akan kembali kepada Brahman. kelahiran. Nah.angsur akan dapat mencapai tujuan hidupnya yang tertinggi ialah bebas dari segala ikatan keduniawian. misalnya dengan menjalankan sembahyang batin dengan menetapkan cipta (Dharana). Bhagavad-Gita VII. Moksa adalah tujuan terakhir bagi umat Hindu.hari secara baik dan benar. Artinya: Pada akhir dari banyak kelahiran orang yang bijaksana menuju kepada Aku. kemerdekaan atau terlepas dari ikatan karma.disebut Moksa. untuk mencapai bersatunya Atman dengan Brahman. Dengan menghayati dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari. yang tak tampak dan kekal itulah harus menjadi tujuan utama supaya tidak lagi mengalami penjelmaan ke dunia. 19: Bahunam janmanam ante jnnanawan mam prapadyate Wasudewah sarwam iti sa mahatma sudurlabhah. karena mengetahui bahwa Tuhan adalah semuanya yang ada. tiada binasa dikala semua makhluk binasa. All rights reserved. tetapi mencapai tempat Brahman yang tertinggi. sehingga penderitaan dapat dikikis habis dan tidak lagi menjelma ke dunia ini sebagai hukuman.

dan kematian akan diikuti oleh kelahiran". Pokok-Pokok Keimanan Agama Hindu (5) Dalam Weda disebutkan: "Moksartham Jagadhitaya ca itu dharma".Copyright @ 1998-2009 Tuntunan Dasar Agama Hindu Dewa Yadnya Upacara Dewa Yadnya adalah pemujaan atau persembahan sebagai perwujudan bakti kepada Hyang Widhi dalam berbagai manifestasinya. yaitu perbuatan baik dan perbuatan yang tidak baik. Bakti. Di dalam Weda disebutkan bahwa "Penjelmaan jiwatman yang berulang-ulang di dunia ini atau didunia yang lebih tinggi disebut Samsara. Çubha dan Açubha Karma Pada dasarnya sesuai dengan siklus rwabhineda. Perbuatan baik ini disebut dengan Cubha Karma. maka hendaklah manusia memelihara dan mengembangkan dirinya. Samsara atau Punarbhawa ini terjadi oleh karena Jiwatman masih dipengaruhi oleh kenikmatan. juga atas dasar yadnya sebagai jalan untuk memperbaiki dan mengabdikan diri kepada Sang Pencipta yakni Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Pengantar: Upacara Yadnya Yadnya menurut ajaran agama Hindu. Sebab Tuhan menciptakan manusia beserta makhluk hidup lainnya berdasarkan atas yadnya. Moksa ialah kebebasan dari keterikatan benda-benda yang bersifat duniawi dan terlepasnya Atman danri pengaruh maya serta bersatu kembali dengan sumber-Nya. . Siklus cubha dan acubhakarma ini selalu saling berhubungan satu sama lain dan tidak dipisahkan. Kelahiran yang berulang-ulang ini membawa akibat suka dan duka. maka Moksa merupakan tujuan yang tertinggi. yang diwujudkan dalam bermacam-macam bentuk upakara. merupakan satu bentuk kewajiban yang harus dilakukan oleh umat manusia di dalam kehidupannya sehari-hari. mengalami kesadaran dan kebahagiaan yang kekal abadi yang disebut Sat Cit Ananda. bertujuan untuk mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi terhadap hamba-Nya dan mohon KasihNya agar kita mendapatkan berkah. sedangkan perbuatan yang tidak baik disebut dengan Acubha Karma. rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat hidup dengan selamat. perbuatan itu terjadi dari dua sisi yang berbeda. Pokok-Pokok Keimanan Agama Hindu (4) Punarbhawa berarti kelahiran yang berulang-ulang. yaitu Brahman (Hyang Widhi) dan mencapai kebenaran tertinggi. yang disebut juga penitisan kembali (reinkarnasi) atau Samsara.

Artha. Weda Sumber Ajaran Agama Hindu Sumber ajaran agama Hindu adalah Kitab Suci Weda. yaitu kitab yang berisikan ajaran kesucian yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi. Semuanya itu pasti ada sebab. kesemuanya itu disebut "Karma". Banyak hal yang mendorong kita harus percaya terhadap adanya Tuhan itu dan berlaku secara alami. yang artinya bahwa agama (dharma) bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani atau kebahagiaan secara lahir dan bathin. Atman di dalam badan manusia disebut Jiwatman. Ditinjau dari segi ethimologinya. disadari atau diluar kesadaran. setiap agama yang ada dan berkembang dimuka bumi ini. Tuhanlah yang mengatur semuanya ini. laksana sumber air yang mengalir terus melalui sungai-sungai yang amat panjang dalam sepanjang abad. disengaja atau tidak. yaitu empat tujuan hidup manusia. dan muara yang terakhir adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Weda adalah sabda suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan pula sebagai penyebab pertama segala yang ada. s . Menurut Hukum Sebab Akibat. Tujuan ini secara rinci disebutkan di dalam Catur Purusa Artha. maka segala sebab pasti akan membuat akibat. kata karma berasal dari kata "Kr" (bahasa sansekerta). menyebabkan kepercayaan itu semakin mantap. Kusir adalah Atman yang mengemudikan dan kreta adalah badan. benar atau salah. Atman dengan badan adalah laksana kusir dengan kereta. Demikianlah sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan akibat. Pokok-Pokok Keimanan Agama Hindu (2) Atman adalah percikan kecil dari Paramatman (Hyang Widhi/Brahman). Adanya gejala atau kejadian dan keajaiban di dunia ini. hasil atau pahala. yakni Dharma. yang menyebabkan manusia itu hidup. bertitik tolak kepada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. buah. Pokok-Pokok Keimanan Agama Hindu (1) Sesungguhnya. baik atau buruk.musababnya. Hukum sebab akibat inilah yang disebut dengan Hukum Karma Phala. Weda merupakan jiwa yang meresapi seluruh ajaran Hindu. Demikian Atman itu menghidupi sarva prani (mahluk) di alam semesta ini. Kama dam Moksa. yang artinya bergerak atau berbuat.Pokok-Pokok Keimanan Agama Hindu (3) Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan. Pengertian dan Tujuan Agama Hindu Tujuan agama Hindu yang dirumuskan sejak Weda mulai diwahyukan adalah "Moksartham Jagadhitaya ca iti Dharma".

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful