Asuhan Keperawatan Tonsilitis Kronik

Posted by Sanco Irianto A, S.Kep.Ns | Posted in Askep , Materi | Posted on 10/18/2010

Tonsilitis Pengertian Tonsilitis adalah terdapatnya peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan tonsil dengan pengumpulan lekosit, sel-sel epitel mati dan bakteri patogen dalam kripta (Adam Boeis, 1994: 330). Tonsilektomi adalah suatu tindakan invasif yang dilakukan untuk mengambil tonsil dengan atau tanpa adenoid (Adam Boeis, 1994: 337).

Etiologi 1. 2. 3. 4. Streptokokus hemolitikus grup A. Pneumokokus. Stafilokokus. Haemofilus influezae.

Pathofisiologi 1. 2. 3. 4. 5. Terjadinya peradangan pada daerah tonsila akibat virus. Mengakibatkan terjadinya pembentukan eksudat. Terjadi selulitis tonsila dan daerah sekitarnya. Pembentukan abses peritonsilar. Nekrosis jaringan.

Gejala-gejala

Malaise. Hipertrofi yang berlebihan yang mengakibatkan disfagia dan penurunan berat badan sebagai penyertanya. Pemberian obat-obat (analgesik dan antibiotik). 3. Demam. 6. Pemberian cairan adekuat dan diet ringan. Abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada jaringan sekitarnya. 2. Apabila tidak ada kemajuan maka alternatif tindakan yang dapat di lakukan adalah pembedahan. 4. 3. Serangan tonsilitis yang berulang. Indikasi tindakan pembedahan Indikasi absolut 1. 5. Tidak memberikan respons terhadap penatalaksanaan dan terapi. 4. 3. Penatalaksanaan 1. Sakit tenggorokan dan disfagia. Hiperplasia tonsil dengan gangguan fungsional (disfagia). 3. . Indikasi lain yang paling dapat di terima adalah 1. Tirah baring.1. Indikasi relatif Seluruh indikasi lain untuk tindakan tonsilektomi di anggap sebagai indikasi relatif. Timbulnya kor pulmonale akibat adanya obstruksi jalan nafas yang kronis. 2. Hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindroma apnea pada waktu tidur. 2. Nafas bau. Penderita tidak mau makan atau minum. Biopsi eksisi yang di curigai sebagai keganasan (limfoma). 4. Otitis media merupakan salah satu faktor pencetusnya. 5. Hiperplasia dan obstruksi yang menetap selama 6 bulan. 4. 2.

distensi abdomen. penurunan tekanan darah. Sinusitis.Before And After Tonsilektomy Kontraindikasi 1. 3. 4. Eliminasi : Perubahan pola eliminasi (inkontinensia uri/alvi). Aktivitas/istirahat : Terdapat penurunan aktivitas karena kelemahan tubuh. waktu perdarahan). sulit dalam beristirahat karena kejang otot atau spasme dan nyeri. menghilangnya bising usus. Demam yang tidak di ketahui penyebabnya. kelemahan tubuh secara umum. ekstrimitas tampak pucat. mudah lelah. . 2.Berikan premedikasi ½ jam sebelum operasi.Berikan penjelasan kepada klien tindakan dan perawatan setelah operasi.Puasa 6-8 jam sebelum operasi. lekosit. kehilangan sensasi atau parese/plegia. Peredaran darah : Palpitasi. menurunnya kekuatan otot. Riwayat kesehatan yang bergubungan dengan faktor pendukung terjadinya tonsilitis serta bio-psiko-sosio-spiritual. Asma. Infeksi sistemik atau kronis. bradikardi. tubuh teraba dingin. 3. Menurunnya tingkat kesadaran. sakit kepala pada saat melakukan perubahan posisi. Persiapan operasi yang mungkin di lakukan Pemeriksaan laboratorium (Hb. 2. Pengkajian 1. 4.Berikan antibiotik sebagai propilaksis.

3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler pada ekstrimitas. apnea. paralise otot wajah. 2. Keamanan Fluktuasi dari suhu dalam ruangan. 10. kelmahan pada ekstrimitas. Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan tindakan. nyeri kepala. Kenyamanan : Ekspresi wajah yang tegang. Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan pernafasan secara adekuat dengan memperlihatkan hasil blood gas yang stabil dan baik serta hilangnya tanda-tanda distress pernafasan. menurunnya sensasi raba terutama pada daerah muka dan ekstrimitas. afasia. nyeri kepala. Psikologis : Denial. 5. dan kehilangan sensasi pada lidah. gelisah. 6. kesedihan yang mendalam. ketidakmampuan dalam bernafas. Rencana tindakan: . 9. Bebaskan jalan nafas secara paten (pertahankan posisi kepala dalam keadaan sejajar dengan tulang belakang/sesuai indikasi). Masalah dan rencana tindakan keperawatan Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kerusakan jaringan atau trauma pada pusat pernafasan. Lakukan suction jika di perlukan. timbulnya periode apnea dalam pola nafas. 8. mual muntah akibat peningkatan TIK (tekanan intra kranial). cemas. menurunnya luas lapang pandang/pandangan kabur. Status mental koma. Nutrisi dan cairan : Anoreksia. 6. gangguan menelan. Persarafan : Pusing/syncope.5. 4. tidak percaya. Pernafasan : Nafas yang memendek. Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas fisik. Rencana tindakan: 1.Kolaborasi dengan terapist dalam pemberian fisoterapi. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan batuk/usaha mengeluarkan sekret. takut. penurunan pendengaran. Kaji fungsi sistem pernafasan. 7. pupil dilatasi. Observasi tanda-tanda adanya ditress pernafasan (kulit menjadi pucat/cyanosis).

Berikan pasien posisi terlentang. Kolaborasi dalam pemberian antispamodic atau relaxant jika di perlukan. Ajarkan pada pasien tentang rentang gerak yang masih dapat di lakukan. 4.1. kognitif dan fungsi sensori. 4. 3. Tujuan: dengan efek dari . 4. 2. Kolaborasi dalam pemberian O2.Observasi kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas. 2. 3. Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kesadaran. Kaji tingkat atau derajat nyeri yang di rasakan oleh pasien dengan menggunakan skala. 2. Anjurkan pasien untuk mengambil posisi yang lurus. Rencana tindakan: 1. Tujuan: Pasien mengungkapkan nyeri sudah berkurang dan menunjukkan suatu keadaan yang relaks dan tenang. Bantu pasien secara bertahap dalam melakukan ROM sesuai kemampuan. 5. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas. Penurunan perfusi jaringan otak berhubungan dengan edema cerebri. Ajarkan dan demontrasikan ke pasien tentang beberapa cara dalam melakukan tehnik relaksasi.Kolaborasi dalam pemberian sesuai indikasi. Rencana tindakan: 1. Bantu pasien dalam mencarai faktor presipitasi dari nyeri yang di rasakan. Kaji status neurologis dan catat perubahannya. perdarahan pada otak. 3. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan kerusakan pada area bicara pada himisfer otak. tanda vital. Observasi tingkat kesadaran. Lakukan latihan secara aktif dan pasif pada akstrimitas untuk mencegah kekakuan otot dan atrofi. 6. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya trauma secara fisik. Ciptakan lingkungan yang tenang.

2. Auskultasi bising usus dan distensi abdomen. 6. 3.Pasien mampu melakukan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan menunjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan komunikasi. 5. 2. Pertahankan porsi minum 2-3 liter perhari (sesuai indikasi). Ciptakan suatu suasana penerimaan terhadap perubahan yang dialami pasien. Kaji pasien terhadap derajat perubahan konsep diri. Perubahan pola eliminasi defekasi dan uri berhubungan dengan an inervasi pada bladder dan rectum. 4. Lakukan bladder training sesuai indikasi. 7. Rencana tindakan: 1. Dampingi dan dengarkan keluhan pasien. Rencana tindakan: 1. Kaji pola eliminasi pasien sebelum dan saat di lakukan pengkajian. . Tujuan: Pasien menunjukan peningkatan kemampuan dalam menerima keadaan nya. 2. 5. Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan eliminasi (defekasi/uri) secara normal sesuai dengan kebiasaan pasien. Kolaborasi dalam pelaksanaan terapi wicara. 4. pemasangan dower katheter dan pemberian obat sesuai indikasi). Bantu/lakukan pengeluaran feces secara manual.Observasi kemampuan pasien dalam melakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal. Pergunakan tehnik komunikasi non verbal. Kaji kemampuan pasien dalam beristirahat (tidur). Rencana tindakan: 1. Ajarkan pada pasien untuk memperbaiki tehnik berkomunikasi. Beri dukungan terhadap tindakan yang bersifat positif. Lakukan komunkasi dengan pasien (sering tetapi pendek serta mudah di pahami). Kaji/palpasi distensi dari bladder. Observasi kemampuan pasien dalam menerima keadaanya. 3. 3. Perubahan konsep diri berhubungan dengan perubahan persepsi. 5. 4. Kolaborasi dalam(pemberian gliserin.

Jakarta: EGC. 5. 1985. Diskusikan dengan pasien cara-cara untuk mengatasi faktor penghambat tersebut. Resiko terjadinya ketidakpatuhan terhadap penatalaksanaan yang berhubungan dengan kurangnya informasi. 2. adanya edema. Kapita Selekta Kedokteran. Kaji keadaan kulit dan lokasi yang biasanya terjadi luka atau lecet. Tujuan: Tidak terjadi kerusakan integritas kulit (dikubitus). Pathofisiologi Konsep klinik proses-proses penyakit. Junadi. Identifikasi faktor yang dapat menimbulkan ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan. Rencana tindakan: 1. Adam. 1994. 1982. Source: • • • Boeis. imobilisasi. 4. Tujuan: Pasien menunjukan kemauan untuk melakukan kegiatan penatalaksanaan. 4. Jelaskan pada pasien akibat dari ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan. Purnawan. 3. Rapikan alas tidur agar tidak terlipat. Anjurkan pada keluarga agar menjaga keadan kulit tetap kering dan bersih.Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak adekuat. . Rencana tindakan: 1. 3. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: EGC. Ganti posisi tiap 2 jam sekali. Libatkan keluarga dalam penyuluhan. Buku Ajar Penyakit THT. Price. 2. Sylvia Anderson. Anjurkan pada pasien untuk melakukan kontrol secara teratur.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful