KEDUDUKAN SAHABAT DAN ‘ADALAHNYA

Oleh : Fitri Yanti, S.Sos

A. PENDAHULUAN Hadis sebagai sumber hukum Islam yang kedua mendapat perhatian besar dari kalangan ulama. Hal ini disebabkan oleh kedudukannya sebagai penjelas bagi Alquran al-Karim. Di samping itu, Hadis juga memuat beberapa hukum tersendiri dan menggambarkan corak kehidupan Rasulullah saw., sehingga kedudukannya sangat urgen dalam perkembangan hukum Islam. Salah satu syarat untuk memahami ajaran Islam dengan sempurna adalah pemahaman terhadap Hadis. Periode kedua sejarah perkembangan Hadis, adalah masa sahabat, khususnya masa Khulafa’ Al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Usman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib) yang berlangsung sekitar tahun 11 H sampai dengan 40 H. Masa ini juga disebut dengan masa sahabat besar.1 Para sahabat mempunyai peranan yang istimewa dalam proses periwayatan Hadis. Sahabat adalah titik awal proses periwayatan Hadis, karena mereka lah yang langsung melihat, mendengar atau menyaksikan Rasulullah saw. Sebutan bagi siapa saja yang pernah bertemu atau melihat Nabi Muhammad saw. dan beriman kepadanya serta mengikuti dan hidup bersamanya dalam waktu yang panjang, dijadikan rujukan oleh generasi sesudahnya dan mempunyai hubungan khusus dengan Rasulullah saw., sehingga secara adat dinamakan sebagai sahabat. Ada pula Ulama yang mempersingkat identitas sahabat itu dengan “orang-orang yang bertemu dan beriman kepada Nabi Muhammad saw., serta hidup bersamanya dalam waktu yang cukup lama.2 Dilihat dari segi kemulian dan perjumpaan dengan Rasul, derajat semua sahabat sama. Tapi dilihat dari segi kapan mereka masuk Islam, lamanya bersama Nabi, besar pengorbanannya membela Islam, dan ilmu yang dimiliki sahabat itu berbeda-beda peringkatnya. Selain itu, Jumhur Ulama berpendirian bahwa seluruh sahabat bersifat ‘adalah dan terpercaya dalam meriwayatkan Hadis Rasulullah saw. ‘adalah dimaksud di sini harus dipahami dalam rangka periwayatan Hadis.3

1 2

Munzier Suparta, Ilmu Hadis (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008), h.79. Nasrun Haroen, Ushul Fiqih (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 155. 3 Abuddin Nata, Alquran dan Hadis (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 1996), h. 194.

dalam keadaan Islam dan beriman. dengan pertemuan yang wajar sewaktu Rasulullah saw. tanpa ada batasan waktu dan jumlah”.6 Menurut definisi di atas orang yang telah pernah bergaul dengan Nabi. . walaupun ia tidak pernah meriwayatkan Hadis dari beliau. Pengantar Ilmu Hadis (Bandung: Angkasa. dengan mengetahui kedudukan dan keadilan sahabat. M. cara mengetahui sahabat. 176. Kedua. maka termasuk sahabat. Cet. pandangan Ulama dan argumentasinya tentang keadilan sahabat serta jumlah sahabat yang meriwayatkan Hadis. fenomena mencaci maki dan melecehkan para sahabat. pertama. dalam bukunya Al-Sunnah Qabl al-Tadwin sebagaimana yang dikutip oleh Nawir Yuslem dalam bukunya Ulumul Hadis. salah satu pokok akidah Islam adah mencintai Rasullah saw.4 Berdasarkan pengertian inilah para ahli Hadis mengemukakan rumusan mereka tentang sahabat sebagai berikut: 1. kaum muslimin meyakini Hadis yang diriwayatkan para sahabat Nabi saw. 29.’Ajjaj al-Khatib. PEMBAHASAN B. B. tetapi dikategorikan sahabat. Ummahatul mukminin (Aisyah). masih hidup. keadilan sahabat. 1994). Contoh dalam hal ini adalah kaum syiah yang mengkafirkan Abu Bakar. orang yang tidak dapat melihat karena buta misalnya Ibn Ummi Maktum tetapi karena bergaul dengan Nabi. Kedua. Syuhudi Ismail. h.Setidaknya ada tiga alasan mengapa topik ini perlu dibahas yaitu.Mutiara Sumber Widya. Ketiga. Maksud kata “bertemu” disini adalah “bergaul”. kata sahabat (Arab: Shahabat).hari Sahabat dikenal sebagai al Adillatussahabah (semua sahabat adil) yaitu yang paling bertaqwa dan memilih sifat wara (menjauhkan diri dari maksiat dan perkara subhat) serta tidak pernah berdusta. h. dari segi kebahasaan adalah musytaq (turunan) dari kata shuhbah yang berarti “orang yang menemani yang lain. Orang yang pernah bergaul 4 5 Nawir Yuslem. Hal ini terjadi karena ketidaktahuan mereka tentang sahabat menyangkut al wara wal bara. 2001).. dan sahabatnya sehingga kebersihan hati dan lisan harus di jaga terhadap kebencian kepada para sahabat. Permasalahan yang penulis bahas dalam makalah ini antara lain : pengertian sahabat. Sahabat ialah orang yang bertemu Rasulullah saw. Ulumul Hadis (Jakarta : PT. dan menerapkannya dalam kehidupan sehari . Pengertian Sahabat Menurut M.5 2. 6 Ibid.1. Jadi.

13 Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas disamping masih terdapat rumusanrumusan lainnya yang pada dasarnya tidak banyak berbeda dengan yang di atas. atau orang yang pernah melihat beliau sekali atau orang . h.9 Menurut Ibnu Hajar al-Haitami. bukan lagi disebut sahabat. dan orang itu menjadi mukmin dan hidup bersama beliau baik lama atau sebentar. mengatakan bahwa yang dimaksud sahabat dikalangan Ulama Hadis adalah setiap muslim yang melihat Rasulullah saw. Ulumul Hadis. mengatakan. h. juz I. 10 Ibid.12 Yang dimaksud dengan melihat (al-Ru’yat) di dalam definisi tersebut adalah bertemu dengan Rasulullah saw. 12 Bukhari. h. h. seperti Abdullah bin Jahasy dan Abdullah bin Khathai. Ensiklopedia Islam. maka masih dapat dikategorikan sebagai sahabat. h. 197. atau sesaat atau hanya melihatnya”. 11 Yuslem. bahkan ia mengawinkannya dengan saudara perempuannya. meskipun tidak melihat beliau. Hal ini seperti yang dikemukakan Ibnu Hajar al-Asqalani tentang Asy’as bin Qais yang pernah murtad. seorang sahabat Rasul yang buta. 1978). 10. kemudian dikala menghadap kepada Abu Bakar as-Shiddiq sebagai tawanan perang ia menyatakan kembali masuk Islam. sebulan atau sehari. adalah sahabat. Kitab al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (Beirut: Dar al-Fikr.7 Ahmad bin Hanbal mengatakan sahabat Rasul adalah orang yang pernah hidup bersama beliau.10 Menurut Ibn al-Shalah (577-643) dalam bukunya Ulum al-Hadist sebagaimana yang dikutip oleh Nawir Yuslem dalam bukunya Ulumul Hadis.. Abu Bakar menerima keislamannya itu. 4. Tetapi bila sahabat yang murtad itu kemudian masuk Islam dan beriman kembali. 9 Ibid. Ibn Hajar as-Asqalani mendefinisikan sahabat dengan “setiap orang yang bertemu dengan Nabi Muhammad saw. 188. kemudian murtad. atau melihatnya. dalam keadaan Islam dan Iman.orang yang tidak pernah melihat beliau karena buta. seorang pemuka tabiin. pada prinsipnya 7 8 Ibid. Shahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Fikr. 1401 H/1981 M). maka dia adalah sahabat beliau.11 Imam Bukhari (194-256) mengatakan bahwa sahabat ialah siapa saja dari umat Islam yang menemani Nabi Muhammad saw. baik orang tersebut meriwayatkan Hadis atau tidak dari Nabi. 13 Ibn Hajar al-Asqalani. sahabat adalah “orang yang pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. sahabat adalah orang-orang yang hidup bersama Rasulullah selama satu. 176. sebagaimana halnya Ibn Ummi Maktum. dua tahun dan pernah ikut berperang bersamanya satu atau dua kali. 8 Sa’id bin Musayyab. juz.dengan Nabi. beriman dengan beliau dan mati dalam keadaan Islam”. .

Pengakuan tersebut hanya dianggap sah dan dapat diterima selama tidak lebih dari seratus 14 15 Yuslem. sahabatnya terdiri 114.ada dua unsur yang disepakati oleh para Ulama dalam menetapkan seseorang untuk disebut sebagai sahabat. Hasbi Ash-Shiddieqy. Ulumul Hadis.15 Ada beberapa cara yang dipedomani oleh para Ulama untuk mengetahui seseorang itu adalah sahabat. M. yaitu : 16 1. 3. Semuanya mereka melihat Nabi. Melalui keterangan seorang Tabi’in yang tsiqat (terpercaya) yang menerangkan seseorang itu adalah sahabat. 2. h. ia pernah bertemu dengan Rasulullah saw. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist (Jakarta: Bulan Bintang.2. seperti sahabat yang sepuluh dijamin Rasul saw. h. Kedua. yaitu: pertama. seperti kabar yang menyatakan kesahabatan Dhammam ibn Tsa’labah dan ‘Ukasyah ibn Muhsam.1973). Cet. 14 B. 5. Melalui kabar mutawatir yang menyatakan bahwa seseorang itu adalah sahabat. Ada yang meriwayatkan Hadis dari padanya dan turut berhaji Wada’ bersamanya. namun meluas dikalangan masyarakat. maka ia tidak dapat disebut sebagai sahabat. atau bertemu dalam keadaan beriman tetapi ia meningal tidak dalam keadaan beriman. mereka yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah saw. Melalui pemberitaan sahabat lain yang telah dikenal kesahabatannya melalui cara-cara di atas.. 179-180. pertemuan tersebut terjadi dalam keadaan dia beriman dengan beliau dan meninggal juga dalam keadaan beriman (Islam). XI. tidak dapat dikumpulkan oleh sesuatu kitab. 271. Contohnya adalah kesahabatan Hamamah ibn al-Dawsi yang diberitakan oleh Abu Musa al-Asy’ari. Pengakuan sendiri oleh seorang yang adil bahwa dirinya adalah seorang sahabat. Hasbi Ash-Shiddieqy. 4. contohnya adalah status kesahabatan khalifah yang empat (Khulafa’ al-rasyidin). dan mendengar Hadis beliau di padang Arafah. bahwa jumlah sahabat Rasul sangat banyak. Cara Mengetahui Sahabat Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ka’ab ibn Malik. Dan mereka yang terkenal lainnya. atau bertemu tetapi tidak dalam keadaan beriman. Diwaktu Rasulullah wafat. M. masuk surga. 141.. Melalui kabar masyhur dan mustafid. Cet. Sejarah dan Perkembangan Hadist (Jakarta: Bulan Bintang. 16 h. yaitu kabar yang belum mencapai tingkat mutawatir.1954). .000 orang. Dengan demikian. kedua.

mereka yang ikut hijrah antara Hudaibiyah dan al-Failah (Penakluk Makkah). keislamannya mereka membawanya menghadap Rasulullah saw. Peringkat pertama adalah as-Sabiqun al-Awwalun (mereka yang pertama kali masuk Islam). orang-orang Muhajirin yang pertama menemui Nabi ketika beliau tiba di Quba sebelum memasuki kota Madinah pada waktu hijrah. ke dalam dua belas peringkat (derajat) berdasarkan peristiwa yang mereka alami atau saksikan.. berdasarkan urutan masuk Islam. di Aqabah pertama. mereka yang membaiat Nabi saw. Peringkat kesepuluh.tahun sejak wafatnya Rasulullah saw. para remaja dan anak-anak yang sempat melihat Rasulullah saw. Peringkat kedelapan. Peringkat kedua. mereka yang tergabung ke dalam Daran Nadwah (gedung pertemuan bagi orang-orang quraisy yang pada masa sebelum dan awal Islam). mereka yang tergabung dalam kelompok Baiat ar-Ridwan (Baiat yang dilakukan oleh kaum muslim ketika terjadi gazwah/perjanjian Hudaibiyah). lalu membaiatnya. (HR. Peringkat keenam. Peringkat kelima. mereka yang ikut dalam perang Badar. Peringkat keempat. pada waktu penolakan kota Makkah dan haji wadak serta tempat-tempat lain. Peringkat ketiga mereka yang ikut hijrah ke Habsyah (Abessina). Usman bin Affan. dimulai dari Abu Bakar as-Siddiq. yang menyatakan: ‫ارايتكم ليلتكم هذه ؟ فا ن على راس مائة سنة منها ل يبقى احد ممن هذا اليوم على ظهر الرض‬ ‫) ) رواه لبخارى ومسلم‬ “Apakah yang kamu lihat pada malammu ini? Maka sesungguhnya sudah berlalu seratus tahun tiadalah yang tinggal dari golongan orang sekarang ini (sahabat) di atas permukaan bumi ini. Bukhari-Muslim)” Abu al-Husain Muslim al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi atau Imam Muslim. yang ketika Umar mengatakan. Peringkat ketujuh. Ali bin Abi Thalib dan seterusnya. mereka yang berhijrah kesuatu tempat antara Badar dan Hudaibiyah. Peringkat kesebelas. Jumlah orang yang mendapat predikat sahabat pada waktu Nabi . Umar bin Khattab. seorang ahli Hadis terkenal mengelompokkan sahabat-sahabat Rasulullah saw. mereka yang membaiat Nabi saw. Hal ini berdasarkan pada Hadis Nabi Muhammad saw. Peringkat kedua belas. di Aqabah kedua. Peringkat kesembilan.

17 B. yakni para pengikut Nabi Muhammad saw. Selalu memelihara perbuatan taat dan menjauhi maksiat 2.000 orang. Tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan syara’. dan dari perbuatan-perbuatan lain yang menyebabkan tidak diterimanya riwayat mereka.Muhammad saw. Yang dimaksud keadilan mereka di sini adalah dalam konteks ilmu Hadis. 19 Yuslem. dan secara nyata melihatnya dan memeluk Islam. Menurut ibnu Sam’ani. 4. keadilan seorang rawi harus memenuhi empat syarat.19 Diantara dalil yang dikemukakan Ulama Hadis dalam menetapkan keadilan sahabat adalah : Surah al-Baqarah ayat 143 :              17 18 Ensiklopedia Islam. h. (Jakarta : Bumi Aksara. 1997). h.18 Para Ulama Hadis sepakat menetapkan bahwa seluruh sahabat adalah adil. Kamus Ilmu Hadits . Totok Jumantoro. yaitu yang terpeliharanya mereka dari kesengajaan melakukan dusta dalam meriwayatkan Hadis. 11.3. 198. . Ulumul Hadis. yang berarti lurus. ‘Adalah Al-Shahabat (Keadilan Sahabat) Al-‘Adalah menurut bahasa adalah masdar dan kata kerja ( ‫ )عدل‬dan sinonimnya adalah alIstiqomah. dari melakukan penukaran (pemutarbalikan) Hadis. h. Tidak melakukan perkataan-perkataan mubah yang dapat menggugurkan Iman kepada qadar dan mengakibatkan penyesalan. Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun 3. yaitu : 1. 182. wafat sekitar 114. menurut pengertian sahabat bersikap lurus di jalan kebenaran dengan menghindarkan hal-hal yang dilarang oleh agama.

(Ali-Imran : 110) Hadis Rasulullah saw. Ahmad Amin dalam mengkritik ‘adalah sahabat dalam kitabnya Fajr al-Islam halaman 216 mengatakan “kebanyakan kritikus Hadis itu menganggap adil semua sahabat. (al-Baqarah : 143) Surah ali-Imran ayat 110 :                           Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Bukhari-Muslim). umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. sehingga para kritikus itu tidak akan mengenakan keburukan apapun kepada para sahabat.Artinya : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam). dan tidak ada seorang pun dari sahabat itu yang dinisbatkan kepada . tentulah itu lebih baik bagi mereka. baik secara garis besar maupun secara rinci. dan mencegah dari yang munkar. dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman. di antara mereka ada yang beriman. dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. ‫ارايتكم ليلتكم هذه ؟ فا ن على راس مائة سنة منها ل يبقى احد ممن هذا اليوم على ظهر الرض‬ ‫) ) رواه لبخارى ومسلم‬ Artinya: Apakah yang kamu lihat pada malammu ini? Maka sesungguhnya sudah berlalu seratus tahun tiadalah yang tinggal dari golongan orang sekarang ini (sahabat) di atas permukaan bumi ini (HR. menyuruh kepada yang ma'ruf.

Ibid. Telah saya saksikan sebelumnya. ia haruslah diadakan pembahasan.21 Melanjutkan penjelasannya. . bahwa di antara mereka kalau diriwayatkan untuknya suatu Hadis. yang berkata. Sedikit saja dari kalangan kritikus itu yang memperlakukan kepada orang-orang lain. 23 Ibid. menganggap mereka itu adil dan memuji mereka dalam Alquran.”22 Kemudian Amin mengemukakan suatu pembuktian. Fajr al-Islam (Kairo: Maktabat al-Nahdlah al-Mishriyyah. Pandangan Ulama dan Argumentasinya Tentang Keadilan Sahabat 20 21 Ahmad Amin. Kecuali kalau ada riwayat yang pasti benarnya bahwa mereka itu telah berbuat fasik sedang mereka mengetahui yang dilakukannya. seperti yang dinyatakan dalam kitabnya Fajr al-Islam sebagai berikut: ”dan jelas bahwa para sahabat sendiri pada zaman mereka saling mengeritik (meneliti) di antara sesama mereka. Amin mengatakan. maka hendaklah dia berwudhu”.kebohongan.4. ”Tidak mengharuskan kita berwudhu karena membawa kayu yang kering. dan darah pun telah mengalir. bahkan ada yang lebih dari itu”. bahwa Ibn Abbas tidak mau mengambil Hadis ini.” B. Amin mengemukakan anggapan umum yang beredar dikalangan sebagian Hadis dengan menyampaikan pernyataan sebagai berikut: ”sebagian kritikus menganggap para sahabat ini sama saja dengan orang lain yang harus pula diteliti. yang mengutip pendapat al-Ghazali yang mengatakan: dalam pandangan Ulama Salaf dan kebanyakan Umat Khalaf bahwa ‘adalah para sahabat sudah diketahui dengan bukti bahwa Allah swt.23 Sebagai contoh Hadis yang di bawah Abu Hurairah yang berbunyi: ‫من حمل جنا زة فليتوضا‬ “Barang siapa membawa (mengangkat) mayat. dan memposisikan yang sebagian pada posisi yang lebih tinggi dari sebagian yang lain yang berada di posisi yang diteliti. 216. maka tidak perlu lagi ta’dil terhadap mereka. Amin di halaman yang sama mengemukakan bukti. ini adalah kepercayaan kami terhadap mereka. Maka dari itu. 1975). Keadaan yang demikian ini tidak terjadi. h. Mereka berkata. 22 Ibid.”20 Untuk menguatkan pendapatnya itu. ia selalu minta kepada pembawa Hadis itu akan pembuktian atas kebenarannya. Sebab itu. Kemudian keadaan jadi berubah. “pada mulanya kondisi para sahabat itu ‘adalah sampai terjadinya peperangan dan perselisihan di antara mereka.

Cet. 399. Jadi bila ada sahabat yang meriwayatkan Hadis dari Rasulullah saw. Menurut pendapat segolongan Ulama harus kita teliti keadaan mereka setelah timbul kekacauan-kekacauan antara sesama mereka. maka terkadang ada kekeliruan dan kesalahan dalam menyampaikan Hadis atau riwayat. bahwa seorang sahabat itu. Ensiklopedia Islam. 3.26 Ke-’adalahan mereka bukan secara umum seperti kaidah pendapat jumhur : as-sahabat kulluhum ‘udul (sahabat semuanya adil). bahwa semua sahabat dipandang adil. Cara memeriksanya ialah dengan membanding-bandingkan. 5. tetapi secara perorangan. Keadaannya harus diteliti diantara mereka ada yang tidak adil. karena tingkat pengetahuan. penguasaan terhadap agama dan kemampuan mereka tidak sama. dibeberapa tempat dalam Alquran.27 24 25 A. Sebab. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist (Jakarta: Bulan Bintang. adakah keliru atau tidak. begitu juga khabaran-khabaran yang lain. baik yang turut campur ke dalam pertentangan-pertentangan antara sahabat dengan sahabat. semua sahabat seperti semua periwayat yang lain harus diuji ‘adalah-nya.Qadir Hassan. h. 24 Tentang penilaian terhadap para sahabat juga terdapat beberapa pendapat. Pendeknya diri sahabat tidak perlu kita periksa. atau mencocokkan dengan dalil – dalil lain atau keterangan..Kalau kita melihat pujian Nabi Muhammad saw. bila pendapat Jumhur Ulama diterima. ataupun tidak. begitu juga pujian Allah swt. yakni mereka tidak khianat dan tidak berdusta dalam menyampaikan sabda-sabda dan perjalanan Nabi Muhammad saw. maka semua Hadis sahih. 2. Segolongan Ulama berpendapat. tidaklah harus dipandang adil karena dia dipandang sahabat. 1996). Cet. 1. 11. Ibid. h. bahwa sahabat-sahabat semua bersifat adil dalam meriwayatkan Hadis. maka tidak boleh kita mesti tetapkan. M. ceritakan. Para sahabat. 1993). Hasbi Ash Shiddieqy. kepada sahabat-sahabat. VII. Menurut pendapat sebagaian kecil Ulama. hanya kita perlu periksa Hadis yang meriwayatkan. 198. Tetapi oleh karena mereka itu manusia seperti kita. Jumhur Ulama berpendapat. 26 27 . Menurut pendapat Muktazilah semua sahabat adil kecuali mereka yang terlibat dalam perang siffin. maka ‘adalah-nya harus diteliti untuk menerima atau tidak Hadis tersebut. h. 25 4. Ilmu Mushthalah Hadist (Bandung: Diponegoro. 268. itu tidak berbeda dengan manusia lainnya dalam hal ketidakmustahilannya berbuat salah dan alfa.

Ubadah ibn Samit. dan ada pula yang sedikit. Sa’ad ibn Abi Waqqash. Hal tersebut karena banyaknya faktor yang dapat menghalanginya dari meriwayatkan Hadis yang telah diterimanya. Tetapi pendapat ini tidak menggunakan rumusan yang oleh Jumhur Ulama di atas.Sebahagian ulama yang tidak sependapat dengan rumusan yang dibuat oleh Jumhur Ulama di atas. 28 B. karena yang dimaksud ‘adalah sahabat secara kolektif. Namun ada beberapa riwayat yang menyatakan jumlah para sahabat pada peristiwa-peristiwa tertentu. ada yang sedang jumlahnya. Mereka bisa lupa. juga sebagai sahabat yang sangat dekat pergaulannya dengan Nabi.5. tidaklah secara otomatis akan meriwayatkan Hadis yang banyak pula. Abu Ubaidah ibn Jarrah. Diantara mereka ada yang banyak meriwayatkan Hadis. Sa’ad ibn Ubadah. bukan perorangan. Sahabat yang banyak menerima Hadis dari Nabi Muhammad saw. Ulumul Hadis. penyebabnya di antaranya adalah:30 28 29 Abuddin Nata.29 Dari seluruh sahabat di atas.. 194. 1994). dan lain-lain. Usaid ibn Hudair. Sa’id ibn Zaid. hanya ada sedikit sahabat yang meriwayatkan Hadis. para sahabat Nabi tidaklah sama kedudukannya. Muaz ibn Jabal. Usman. 187-188. Abu Bakar alShiddiq. keliru. sehingga keadaan yang demikian menyebabkan banyak menerima Hadis. seperti pada haji wada’ yakni berjumlah tujuh puluh ribu orang.. h. Alquran dan Hadis. dan orang-orang Badui yang ikut serta dalam haji wada’. karena kehidupan mereka berada di berbagai negeri dan kawasan. terutama dalam kaitannya dengan banyaknya atau jumlah Hadis yang mereka riwayatkan. Thalhah. Madinah. tidak banyak meriwayatkan Hadis. selain sebagai seorang yang terdahulu memeluk agama Islam. Dalam hal periwayatan Hadis. Mereka berpendapat bahwa para sahabat itu sama saja dengan manusia biasa lainnya. h. 180. Ibnu Katsir. 30 . h. Meskipun demikian Abu Bakar bukanlah termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan Hadis. seorang sahabat yang banyak menerima Hadis dari Nabi saw. Zubair. Abu Bakar. Sahabat-sahabat besar tidak banyak meriwayatkan Hadis seperti : Abu Bakar. Jumlah Sahabat Yang Meriwayatkan Hadis Membatasi jumlah sahabat dengan angka tertentu adalah hal yang sulit. Yuslem. Abdur Rahman bin’Auf. daerah di antara keduanya. Ubay ibn Ka’ab. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa jumlah keseluruhan sahabat adalah empat belas ribu orang yang terdiri dari penduduk Mekkah. Umpamanya. tidak ada juga catatan yang dengan jelas menyebutkan jumlah mereka pada saat Rasulullah saw. al-Ba’is al-Hasis Syarh Ikhtisar Ulum al-Hadis (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyyah. wafat. Di samping itu.

Abu Hurairah.286 Hadis. 28 Hadis oleh Bukhari saja. dan 52 Hadis oleh Muslim sendiri. sebabnya kurang diterima Hadis dari sahabat-sahabat besar. 80 Hadis oleh Bukhari saja. Diantaranya 168 Hadis desepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dia meriwayatkan 5.210 Hadis. Dia meriwayatkan 2. 188-189. yaitu: 1. 2. 3.31 Tak ada dari kalangan sahabat yang meriwayatkan Hadis lebih dari seribu.170 Hadis. Dia meriwayatkan 1. Abu Sa’id al-Khudri. h. Dari Hadis tersebut. Muhammad ibn Sa’ad dalam Thabaqatnya berkata. . ‘Aisyah binti Abu Bakar. 7. ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Pada masa pemerintahannya. 2. 170 Hadis disepakati oleh Bukhari dan Muslim. dan 70 Hadis oleh Muslim saja.374 Hadis. Anas ibn Malik. 16 Hadis oleh Bukhari sendiri. Jabir ibn ‘Abdullah. Dia meriwayatkan 1. 64 Hadis diriwayatkan oleh Bukhari saja. Diantaranya 95 diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. 16 Hadis oleh Bukhari saja. Diantaranya 46 Hadis diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Diantaranya 174 Hadis yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. adalah karena para sahabat-sahabat itu wafat sebelum masyarakat 31 Ibid. dan 126 Hadis oleh Muslim.1. Dia meriwayatkan sejumlah 2. 93 diriwayatkan oleh Bukhari sendiri dan 189 Hadis diriwayatkan oleh Muslim. Abu Bakar disibukkan oleh peperangan untuk menumpas kaum murtad dan anti zakat. Abu Bakar lebih mengutamakan pemeliharaan Alquran. Diantaranya 325 Hadis disepakati oleh Bukhari-Muslim. Diantaranya 60 Hadis diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.660 Hadis. ‘Abdullah Ibn ‘Umar ibn Khaththab. mereka berjumlah tujuh orang.630 Hadis. dan 31 Hadis oleh Muslim saja. Sahabat-sahabat yang paling banyak meriwayatkan Hadis. 8 hadis oleh Bukhari saja. dan 68 Hadis diriwayatkan oleh Muslim saja. selain dari mereka ini. Setelah Nabi wafat.540 Hadis. 4. yang jumlahnya lebih dari seribu Hadis disebut al-muktsirun fi al-Hadis. 5. dan 49 Hadis oleh Muslim saja 6. 3. Dia meriwayatkan 1. Dia meriwayatkan 2. Abu Bakar telah meninggal dunia sebelum ummat menaruh perhatian khusus terhadap Hadis Nabi Muhammad saw.

M. Menurut mayoritas Jumhur Ulama Hadis. Para Ulama untuk mengetahui seseorang itu adalah sahabat. Kedua. 3. Melalui pemberitaan sahabat lain yang telah dikenal kesahabatannya melalui cara-cara di atas.210 Hadis. 4. Sahabat-sahabat yang paling banyak meriwayatkan Hadis.32 C. Pengakuan sendiri oleh seorang yang adil bahwa dirinya adalah seorang sahabat. Para Ulama Hadis sepakat menetapkan bahwa seluruh sahabat adalah adil. yang jumlahnya lebih dari seribu Hadis disebut al-muktsirun fi al-hadis. Kata sahabat (Arab: Shahabat). Sejarah Perkembangan Hadist (Jakarta: Bulan Bintang. dan dari perbuatan-perbuatan lain yang menyebabkan tidak diterimanya riwayat mereka. mereka berjumlah tujuh orang. e. yaitu yang terpeliharanya mereka dari kesengajaan melakukan dusta dalam meriwayatkan Hadis. yaitu : - Abu Hurairah. ia masih dikatakan sahabat. Melalui kabar masyhur dan mustafid. Banyaknya riwayat dari Umar dan Ali. 2.630 Hadis. Anas ibn Malik. d. Dia meriwayatkan sejumlah 2. yaitu : a. Dia meriwayatkan 5374 Hadis.286 Hadis.memerlukan mereka untuk menerima Hadis-hadisnya. . karena kedua orang tersebut bertindak sebagai kepala negara. KESIMPULAN 1. Cet. Hasbi Ash-Shiddieqy. tetapi ia kembali beriman. Melalui kabar mutawatir yang menyatakan bahwa seseorang itu adalah sahabat b. tanpa ada batasan waktu dan jumlah. dari melakukan penukaran (pemutarbalikan) Hadis. maka banyaklah pertanyaan yang dihadapkan kepada beliau dan banyaklah pula putusan-putusan yang beliau berikan selaku seorang hakim. 1973). ‘Abdullah Ibn ‘Umar ibn Khaththab. seseorang dapat disebut sahabat apabila ia tetap dalam keadaan beriman sampai ia wafat bahkan sekalipun seorang telah mendapat gelar murtad. ‘Aisyah binti Abu Bakar. Dia meriwayatkan 2. h. c. Yang dimaksud keadilan mereka di sini adalah dalam konteks ilmu Hadis. dari segi kebahasaan adalah musytaq (turunan) dari kata shuhbah yang berarti orang yang menemani yang lain. Dia meriwayatkan 2. 32 143. Melalui keterangan seorang Tabi’in yang tsiqat (terpercaya) yang menerangkan seseorang itu adalah sahabat.

Shahih al-Bukhari. Amin.660 Hadis. Bukhari. 4. Dewan Redaksi. Jabir ibn ‘Abdullah. 1978. Abu Sa’id al-Khudri. mohon maaf atas segala kekurangan dan terima kasih atas semua masukannya terutama dari dosen pembimbing. Beirut: Dar al-Fikr. 2002. juz I. 1401 H/1981 M. Dia meriwayatkan 1. Ensiklopedia Islam. Fajr al-Islam. Ahmad. Dia meriwayatkan 1. Ibn Hajar. . Ichtiar Baru Van Hoeve.170 Hadis.540 Hadis. Jakarta : PT. Demikian makalah ini. Kitab al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah. Kairo: Maktabat al-Nahdlah al-Mishriyyah. juz. DAFTAR PUSTAKA Asqalani.- ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Kesepuluh. Dia meriwayatkan 1. Beirut: Dar al-Fikr. Cet. 1975.

. Ismail. Cet. Munzier. Hasbi. Ilmu Hadis. Ulumul Hadis. Jakarta: Kencana. 1972. Ulum al-Hadis. Munzier. Jakarta: PT. Shiddieqy. Mutiara Sumber Widya.Qadir. Syuhudi. 1994. Jakarta : Bumi Aksara.Hassan. Rajagrafindo Persada. Nur al-Din ‘Atar. Jakarta: PT. Pengantar Ilmu Hadis. Ushul Fiqih. Bandung: Diponegoro. Totok. 2008. Jumantoro. Soebahar. Alquran dan Hadis. M. 2001. Haroen. Kedua. Ibn al-Shalah. Cet. M. Rajagrafindo Persada. Hasbi. 1973. Ciputat: PT. Jakarta: Bulan Bintang. 2003 Suparta. 1995. Jakarta: Bulan Bintang. Ilmu Mushthalah Hadis.Erfan. M. 1996. A. Pertama. Nata. Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadis. Cet. Abuddin. 1996. VII. Yuslem. Jakarta: PT. Cet. Menguak Fakta Keabsahan Al-Sunnah. Madinah: Al-Maktabat al’Ilmiyyah. 1997. Nawir. 1997. Shiddieqy. ED. Bandung: Angkasa. M. Sejarah Perkembangan Hadis. Kedua. Kamus Ilmu Hadits. Logos Wacana Ilmu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful