Tanggal Efektif Masa Penawaran Tanggal Penjatahan

: 1 Pebruari 2011 : 2, 4, 7 dan 8 Pebruari 2011 : 9 Pebruari 2011

Tanggal Pengembalian Uang Pemesanan Tanggal Distribusi Saham Secara Elektronik Tanggal Pencatatan Saham Pada Bursa Efek Indonesia

: : :

10 Pebruari 2011 10 Pebruari 2011 11 Pebruari 2011

BAPEPAM DAN LK TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK MENYETUJUI EFEK INI, TIDAK JUGA MENYATAKAN KEBENARAN ATAU KECUKUPAN ISI PROSPEKTUS INI. SETIAP PERNYATAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN HAL-HAL TERSEBUT ADALAH PERBUATAN MELANGGAR HUKUM. PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN PENERBANGAN GARUDA INDONESIA (PERSERO) TBK ATAU DISINGKAT PT GARUDA INDONESIA (PERSERO) TBK. (“PERSEROAN”) DAN PARA PENJAMIN PELAKSANA EMISI EFEK BERTANGGUNG JAWAB SEPENUHNYA ATAS KEBENARAN SEMUA INFORMASI ATAU FAKTA MATERIAL, SERTA KEJUJURAN PENDAPAT YANG TERCANTUM DALAM PROSPEKTUS INI.

PT GARUDA INDONESIA (PERSERO) Tbk.
Kegiatan Usaha: Jasa Angkutan Udara Niaga Berkedudukan di Jakarta Pusat Kantor Pusat : Jl. Kebon Sirih No. 44 Jakarta 10110, Indonesia Telp. 62 21 231 1355, Fax. 62 21 231 1223 Kantor Manajemen: Management Building, Garuda City Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng 19120, Indonesia Telp. 62 21 5591 5671, Fax. 62 21 2291 5673

website: www.garuda-indonesia.com 49 Kantor Cabang yang berlokasi di Jakarta, Bandung, Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Pekanbaru, Palembang, Yogyakarta, Solo, Semarang, Pangkal Pinang, Tanjung Karang, Jambi, Surabaya, Denpasar, Makassar, Manado, Balikpapan, Banjarmasin, Palangkaraya, Pontianak, Mataram, Jayapura, Biak, Timika, Malang, Kupang, Ternate, Kendari, Palu, Ambon, Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Tokyo, Osaka, Nagoya, Seoul, Canton, Hongkong, Beijing, Shanghai, Sydney, Perth, Melbourne, Jeddah, Riyadh, Amsterdam. PENAWARAN UMUM PERDANA SAHAM Sebesar 6.335.738.000 (enam miliar tiga ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) atau sebesar 27,98% (dua puluh tujuh koma sembilan puluh delapan persen) dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah Penawaran Umum, yang merupakan Saham Biasa Atas Nama Seri B dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap saham, yang terdiri dari Saham Biasa Atas Nama Seri B yang dikeluarkan dari simpanan (portepel) Perseroan sebesar 4.400.000.000 (empat miliar empat ratus juta) (“Saham Baru”) dan sebesar 1.935.738.000 (satu miliar sembilan ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) Saham Biasa Atas Nama Seri B milik PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (“Bank Mandiri”) sebagai Pemegang Saham Penjual (“Saham Divestasi”), yang ditawarkan kepada Masyarakat dengan Harga Penawaran Rp750 (tujuh ratus lima puluh Rupiah) setiap saham yang ditetapkan berlaku untuk seluruh Saham Yang Ditawarkan (Saham Baru dan Saham Divestasi), yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan Formulir Pemesanan Pembelian Saham (“FPPS”). Jumlah seluruh nilai Penawaran Umum adalah sebesar Rp4.751.803.500.000 (empat triliun tujuh ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) yang terdiri dari sebesar Rp3.300.000.000.000 (tiga triliun tiga ratus miliar Rupiah) dari penawaran Saham Baru dan sebesar Rp1.451.803.500.000 (satu triliun empat ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) dari Saham Divestasi. Perseroan mengadakan program MESA dengan mengalokasikan saham sebanyak-banyaknya 5% (lima persen) dari jumlah penerbitan Saham Baru dan menerbitkan opsi saham untuk program MESOP sebanyak-banyaknya 0,97% (nol koma sembilan puluh tujuh persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum. Informasi lebih lengkap mengenai program MESA dan MESOP dapat dilihat pada Bab I Prospektus ini. RISIKO UTAMA YANG DAPAT MEMPENGARUHI KINERJA DAN KONDISI KEUANGAN PERSEROAN ADALAH KETERBATASAN PERSEROAN DALAM MEREKRUT, MELATIH, MEMPERTAHANKAN, DAN MEMOTIVASI PERSONIL KUNCI DAPAT MEMPENGARUHI BISNIS PERSEROAN. RISIKO USAHA PERSEROAN SELENGKAPNYA DAPAT DILIHAT PADA BAB V PROSPEKTUS INI. PERSEROAN BERGERAK DI BIDANG JASA ANGKUTAN UDARA NIAGA DIMANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN DAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 36 TAHUN 2010 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN DI BIDANG PENANAMAN MODAL (“PERPRES 36/2010“), SAHAM PERSEROAN DAPAT DIMILIKI OLEH PIHAK ASING HINGGA 49% DENGAN KETENTUAN SALAH SATU PEMILIK MODAL NASIONAL HARUS TETAP LEBIH BESAR DARI KESELURUHAN PEMILIK MODAL ASING (SINGLE MAJORITY). NAMUN, BERDASARKAN PENJELASAN PASAL 2 UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL DAN PASAL 4 PERPRES 36/2010, PEMBATASAN KEPEMILIKAN ASING TIDAK BERLAKU BAGI PENANAMAN MODAL TIDAK LANGSUNG ATAU PORTOFOLIO YANG TRANSAKSINYA DILAKUKAN MELALUI PASAR MODAL DALAM NEGERI. PERSEROAN TIDAK MENERBITKAN SAHAM HASIL PENAWARAN UMUM INI DALAM BENTUK SURAT KOLEKTIF SAHAM, TETAPI SAHAM TERSEBUT AKAN DIDISTRIBUSIKAN DALAM BENTUK ELEKTRONIK YANG DIADMINISTRASIKAN DALAM PENITIPAN KOLEKTIF PT KUSTODIAN SENTRAL EFEK INDONESIA (“KSEI”). MENGINGAT JUMLAH SAHAM YANG DITAWARKAN PADA PENAWARAN UMUM INI RELATIF TERBATAS, MAKA TERDAPAT KEMUNGKINAN PERDAGANGAN SAHAM YANG DITAWARKAN MENJADI TERBATAS ATAU SAHAM-SAHAM TERSEBUT MENJADI KURANG LIKUID. PENJAMIN PELAKSANA EMISI EFEK

Alamat Kontak Sekretaris Perusahaan Management Building, Ground Floor Garuda City Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng 19120 Indonesia Telp. 62 21 2560 1028 Fax. 62 21 2560 1028

Sekuritas

PT Bahana Securities (Terafiliasi)

PT Danareksa Sekuritas (Terafiliasi) PENJAMIN EMISI EFEK

PT Mandiri Sekuritas (Terafiliasi)

• PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas •PT Amcapital Indonesia •PT Asjaya Indosurya Securities •PT Bapindo Bumi Sekuritas •PT Bhakti Securities •PT BNI Securities (Terafiliasi) • PT Bumiputera Capital Indonesia •PT CIMB Securities Indonesia •PT Ciptadana Securities •PT Citi Pacific Securities •PT Danasakti Securities •PT Danatama Makmur •PT Danpac Sekuritas •PT Dhanawibawa Arthacemerlang •PT E-Capital Securities •PT Equity Securities Indonesia •PT Erdikha Elit Sekuritas •PT Evergreen Capital •PT HD Capital Tbk •PT Henan Putihrai •PT Indo Mitra Securities •PT Investindo Nusantara Sekuritas •PT JJ NAB Capital •PT Kim Eng Securities •PT Kresna Graha Sekurindo Tbk •PT Lautandhana Securindo •PT Madani Securities •PT Majapahit Securities Tbk •PT Makindo Securities •PT Masindo Artha Securities •PT Mega Capital Indonesia • PT Minna Padi Investama Tbk •PT Nusantara Capital Securities •PT Nikko Securities Indonesia •PT OSK Nusadana Securities Indonesia •PT Overseas Securities •PT Pacific Capital •PT Panca Global Securities Tbk •PT Panin Sekuritas Tbk •PT Phillip Securities Indonesia •PT Recapital Securities •PT Reliance Securities Tbk •PT Samuel Sekuritas Indonesia •PT Semesta Indovest •PT Sinarmas Sekuritas •PT Sucorinvest Central Gani •PT Transasia Securities • PT Universal Broker Indonesia •PT UOB Kay Hian Securities •PT Valbury Asia Securities •PT Victoria Sekuritas •PT Wanteg Securindo • PT Yulie Sekurindo Tbk Para Penjamin Pelaksana Emisi Efek dan Para Penjamin Emisi Efek menjamin secara kesanggupan penuh (full committment) Saham Yang Ditawarkan Ini Seluruhnya Akan Dicatatkan Pada PT Bursa Efek Indonesia Prospektus ini diterbitkan di Jakarta pada tanggal 2 Pebruari 2011

Perseroan telah menyampaikan Pernyataan Pendaftaran Emisi Efek sehubungan dengan Penawaran Umum ini kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam dan LK) di Jakarta dengan surat No.GARUDA/ JKTDZ-20497/10 tanggal 6 Desember 2010, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan Undang-undang No. 8 tahun 1995 tanggal 10 Nopember 1995 tentang Pasar Modal, yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia No. 64 Tahun 1995, Tambahan No. 3608 dan peraturan-peraturan pelaksanaannya (selanjutnya disebut “UU PM”). Saham Yang Ditawarkan ini direncanakan akan dicatatkan pada PT Bursa Efek Indonesia (“BEI”) sesuai dengan Perjanjian Pendahuluan Pencatatan Efek antara Perseroan dengan BEI tertanggal 6 Desember 2010. Apabila syaratsyarat pencatatan efek di BEI tidak terpenuhi, maka Penawaran Umum akan dibatalkan dan uang pemesanan pembelian saham yang telah diterima akan dikembalikan kepada para pemesan sesuai dengan ketentuan dalam UU PM. Perseroan, Para Penjamin Pelaksana Emisi Efek, dan Lembaga serta Profesi Penunjang Pasar Modal dalam rangka Penawaran Umum ini bertanggung jawab sepenuhnya atas kebenaran semua data, pendapat atau laporan yang disajikan dalam Prospektus ini sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing, berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia serta kode etik, norma dan standar profesinya masing-masing. Sehubungan dengan Penawaran Umum ini, setiap pihak terafiliasi tidak diperkenankan memberikan keterangan atau membuat pernyataan apapun mengenai hal-hal yang tidak diungkapkan dalam Prospektus ini tanpa sebelumnya memperoleh persetujuan tertulis dari Perseroan dan Penjamin Pelaksana Emisi Efek. Para Penjamin Pelaksana Emisi Efek merupakan pihak terafiliasi dengan Perseroan, sedangkan Penjamin Emisi Efek kecuali PT BNI Securities serta Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal lainnya dalam rangka Penawaran Umum ini bukan merupakan pihak terafiliasi dengan Perseroan baik secara langsung maupun tidak langsung sesuai dengan definisi Afiliasi dalam UU PM. Selanjutnya penjelasan mengenai ada atau tidak adanya hubungan afiliasi dapat dilihat pada Bab XIV tentang Penjaminan Emisi Efek dan Bab XV tentang Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal. PENAWARAN UMUM INI TIDAK DIDAFTARKAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG ATAU PERATURAN LAIN SELAIN YANG BERLAKU DI INDONESIA. BARANGSIAPA DI LUAR WILAYAH REPUBLIK INDONESIA MENERIMA PROSPEKTUS INI, MAKA DOKUMEN TERSEBUT TIDAK DIMAKSUDKAN SEBAGAI PENAWARAN UNTUK MEMBELI SAHAM, KECUALI BILA PENAWARAN DAN PEMBELIAN SAHAM-SAHAM TERSEBUT TIDAK BERTENTANGAN ATAU BUKAN MERUPAKAN PELANGGARAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN SERTA KETENTUAN-KETENTUAN BURSA EFEK YANG BERLAKU DI NEGARA ATAU YURISDIKSI DI LUAR REPUBLIK INDONESIA TERSEBUT. PERSEROAN TELAH MENGUNGKAPKAN SEMUA INFORMASI MATERIAL YANG WAJIB DIKETAHUI OLEH PUBLIK DAN TIDAK ADA LAGI INFORMASI MATERIAL YANG BELUM DIUNGKAPKAN SEHINGGA TIDAK MENYESATKAN PUBLIK.

Alamat Kontak Sekretaris Perusahaan Management Building, Ground Floor Garuda City Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng 19120 Indonesia Telp. 62 21 2560 1028 Fax. 62 21 2560 1028

DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR ISI.............................................................................................................................................................. DEFINISI DAN SINGKATAN.................................................................................................................................... RINGKASAN............................................................................................................................................................ BAB I. BAB II. BAB III. BAB IV. BAB V. BAB VI. BAB VII. PENAWARAN UMUM............................................................................................................................ RENCANA PENGGUNAAN DANA YANG DIPEROLEH DARI HASIL PENAWARAN UMUM.............. PERNYATAAN HUTANG....................................................................................................................... ANALISIS DAN PEMBAHASAN OLEH MANAJEMEN......................................................................... RISIKO USAHA.................................................................................................................................. KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN............................. KETERANGAN TENTANG PERSEROAN DAN ANAK PERUSAHAAN............................................... 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 11. Riwayat Singkat Perseroan.......................................................................................................... Perkembangan Kepemilikan Saham Perseroan........................................................................... i iii viii 1 10 12 25 69 90 91 91 98

Keterangan Mengenai Pemegang Saham Perseroan Berbentuk Badan Hukum......................... 102 Struktur Organisasi Perseroan..................................................................................................... 105 Pengurus dan Pengawas Perseroan............................................................................................ 105 Sumber Daya Manusia................................................................................................................. 111 Keterangan Mengenai Anak Perusahaan..................................................................................... 116 Hubungan Kepemilikan, Pengurus, Pengawas Perseroan dan Anak Perusahaan....................... 130 Hubungan Pengurusan dan Pengawasan Perseroan dan Anak Perusahaan.............................. 130 Perjanjian-Perjanjian Penting Perseroan...................................................................................... 133

10. Transaksi Dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa................................................. 131 12. Perizinan....................................................................................................................................... 139 13. Keterangan Mengenai Aktiva Tetap.............................................................................................. 141 14. Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance/GCG).................................... 144 15. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).............................. 144 16. Litigasi dan Proses Hukum Lainnya.............................................................................................. 146 BAB VIII. KEGIATAN DAN PROSPEK USAHA PERSEROAN............................................................................. 149 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Umum........................................................................................................................................... 149 Perkembangan Terkini Perseroan................................................................................................. 151 Kunci Utama Investasi.................................................................................................................. 151 Strategi Usaha.............................................................................................................................. 153 Kegiatan Usaha............................................................................................................................. 155 Armada Perseroan........................................................................................................................ 164 Perjanjian Pembelian dan Sewa Armada Pesawat....................................................................... 166 Kegiatan Operasional................................................................................................................... 167 Manajemen Pendapatan............................................................................................................... 170 Pemasaran, Penjualan dan Reservasi.......................................................................................... 171 Perjanjian Code-Sharing............................................................................................................... 173 Sistem Informasi Manajemen....................................................................................................... 173

i

13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. BAB IX. BAB X. BAB XI. BAB XI. BAB XIII. BAB XIV. BAB XV.

Persaingan Usaha........................................................................................................................ 174 Pilot dan Awak Pesawat............................................................................................................... 175 Keselamatan................................................................................................................................. 176 Fasilitas dan Bangunan................................................................................................................ 178 Asuransi........................................................................................................................................ 178 Kepatuhan Peraturan Lingkungan................................................................................................ 181 Hak atas Kekayaan Intelektual..................................................................................................... 181 Pengembangan Sumber Daya Manusia....................................................................................... 182 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan........................................................................................... 183 Riset dan Pengembangan............................................................................................................ 183

INDUSTRI PENERBANGAN DI INDONESIA....................................................................................... 184 IKHTISAR DATA KEUANGAN PENTING.............................................................................................. 203 EKUITAS............................................................................................................................................... 207 PERPAJAKAN....................................................................................................................................... 208 KEBIJAKAN DIVIDEN........................................................................................................................... 210 PENJAMINAN EMISI EFEK.................................................................................................................. 211 LEMBAGA DAN PROFESI PENUNJANG PASAR MODAL.................................................................. 214

BAB XVI. PENDAPAT DARI SEGI HUKUM.......................................................................................................... 217 BAB XVII. LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAN LAPORAN KEUANGAN PERSEROAN............................ 257 BAB XVIII. LAPORAN PENILAI.............................................................................................................................. 369 BAB XIX. ANGGARAN DASAR PERSEROAN..................................................................................................... 401 BAB XX. PERSYARATAN PEMESANAN PEMBELIAN SAHAM......................................................................... 432

BAB XXI. PENYEBARLUASAN PROSPEKTUS DAN FORMULIR PEMESANAN............................................... 438

ii

DEFINISI DAN SINGKATAN
Di dalam prospektus ini, kata-kata di bawah ini mempunyai arti sebagai berikut, kecuali bila kalimatnya menyatakan lain: “Abacus” “Aerowisata” “Afiliasi” “AFTK” “Anak Perusahaan” “Anggota Bursa” “ASK” “ATK” Berarti PT Abacus Distribution System Indonesia, merupakan Anak Perusahaan yang bergerak di bidang usaha jasa sistem komputerisasi reservasi. Berarti PT Aero Wisata, merupakan Anak Perusahaan yang bergerak di bidang usaha perhotelan (pariwisata), jasa boga penerbangan dan penjualan tiket. Berarti hubungan afiliasi sebagaimana dimaksud dalam UU PM. Berarti Available Freight Tonne Kilometres yaitu jumlah penerbangan dalam kilometer dikalikan dengan kapasitas tersedia untuk kargo dalam ton. Berarti perusahaan yang laporan keuangannya dikonsolidasikan dengan Perseroan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Berarti Anggota Bursa Efek sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 1 ayat 2 UU PM. Berarti Available Seat Kilometers yaitu jumlah tempat duduk yang tersedia untuk penumpang dikalikan dengan jarak kilometer yang diterbangi. Berarti Available Tones Kilometer yaitu kapasitas berat dari pesawat untuk mengangkut muatan yang memberi pendapatan (penumpang, bagasi, kargo, dan barang pos) dikalikan dengan jarak kilometer yang diterbangi. Berarti PT Aero Systems Indonesia, merupakan Anak Perusahaan yang bergerak di bidang usaha penyediaan sistem teknologi informasi untuk perusahaan penerbangan. Berarti Biro Administrasi Efek yang ditunjuk Perseroan, yaitu PT Datindo Entrycom, berkedudukan di Jakarta. Berarti Bank Umum yang memperoleh persetujuan dari Bapepam dan LK untuk memberikan jasa penitipan atau melakukan jasa kustodian sebagaimana dimaksud dalam UU PM. Berarti Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.184/PMK.01/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan yang ditetapkan tanggal 11 Oktober 2010. Berarti Bursa Efek Indonesia, yang diselenggarakan oleh PT Bursa Efek Indonesia, suatu perusahaan terbatas berkedudukan di Jakarta, yang merupakan bursa hasil penggabungan antara PT Bursa Efek Jakarta dan PT Bursa Efek Surabaya. Berarti Badan Usaha Milik Negara. Berarti Bursa Efek sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 1 angka 4 UU PM yaitu pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan/atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli Efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan Efek diantara mereka. Berarti compound average growth rate yaitu tingkat pertumbuhan rata-rata gabungan untuk periode tertentu. Berarti PT Citilink Indonesia, merupakan Anak Perusahaan yang bergerak di bidang angkutan niaga berjadwal yang berbiaya murah. Pada saat ini Citilink belum beroperasi secara komersial. Berarti Cargo Load Factor yaitu RFTK sebagai persentase dari AFTK Berarti Daftar yang dikeluarkan oleh KSEI yang memuat keterangan tentang kepemilikan saham oleh pemegang saham dalam Penitipan Kolektif di KSEI berdasarkan data yang diberikan oleh pemegang rekening di KSEI.

“ASYST” “BAE” “Bank Kustodian” “Bapepam dan LK”

“BEI”

“BUMN” “Bursa Efek”

“CAGR” “Citilink”

“CLF” “Daftar Pemegang Saham (DPS)”

iii

“Daftar Pemesanan Pembelian Saham (DPPS)” “DJPU” “Emisi” “Formulir Konfirmasi Penjatahan (FKP)” “Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS)” “FSC”

Berarti Daftar yang memuat nama-nama pemesan saham dan jumlah yang dipesan dan disusun berdasarkan Formulir Pemesanan Pembelian Saham yang dibuat oleh masingmasing Penjamin Emisi Efek. Berarti Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Berarti tindakan Perseroan untuk menawarkan Saham Yang Ditawarkan kepada masyarakat melalui Penawaran Umum. Berarti Formulir hasil penjatahan atas nama pemesan sebagai tanda bukti pemilikan saham-saham di pasar perdana. Berarti Formulir asli yang disediakan Perseroan bersama-sama dengan para Penjamin Pelaksana Emisi Efek yang harus diisi, ditandatangani dan diajukan dalam rangkap 5 (lima) oleh calon pembeli kepada Penjamin Emisi Efek. Berarti Full Service Carrier, dimana berdasarkan Undang-undang tentang Penerbangan dan KM No. 26 tahun 2010, dinyatakan sebagai badan usaha angkutan udara niaga berjadwal yang di dalam menjalankan kegiatannya dengan standard maksimum, antara lain pemberian makan dan minum, makanan ringan, dan fasilitas ruang tunggu eksekutif (lounge) untuk kelas bisnis (business class) dan kelas utama (first class). Berarti PT Gapura Angkasa merupakan Perusahaan Afiliasi yang sahamnya dimiliki oleh Perseroan sebanyak 37,5% yang bergerak di bidang usaha jasa ground handling. Berarti PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia, merupakan Anak Perusahaan yang bergerak di bidang usaha perbaikan dan perawatan pesawat terbang. Berarti hari pada saat mana Bank Indonesia menyelenggarakan kegiatan kliring antar bank. Berarti hari dimana Bursa Efek melakukan aktivitas transaksi perdagangan Efek menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan ketentuan-ketentuan Bursa Efek tersebut. Berarti setiap hari dalam 1 (satu) tahun sesuai dengan kalender Gregorius tanpa kecuali, termasuk Sabtu, Minggu dan hari libur nasional yang sewaktu-waktu ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Hari Kerja yang karena suatu keadaan tertentu ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai bukan Hari Kerja. Berarti hari Senin sampai dengan hari Jumat, kecuali hari libur nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia atau Hari Kerja yang karena suatu keadaan tertentu ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai bukan Hari Kerja. Berarti IATA Operational Safety Audit merupakan sistem evaluasi yang diakui dan diterima secara internasional yang dibuat untuk mengukur operasional manajemen dan kontrol sistem dari suatu maskapai penerbangan. Berarti surat konfirmasi kepemilikan Saham yang diterbitkan oleh KSEI kepada Pemegang Saham melalui Pemegang Rekening, khusus untuk menghadiri RUPS atau mengajukan permintaan diselenggarakannya RUPS, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan KSEI. Berarti Komite Nasional Keselamatan Transportasi. Berarti PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, berkedudukan di Jakarta, yang menjalankan kegiatan usaha sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian sebagaimana dimaksud dalam UU PM, yang dalam emisi Saham bertugas mengadministrasikan Saham berdasarkan Perjanjian Tentang Pendaftaran Efek di KSEI pada Penitipan Kolektif. Berarti Low Cost Carrier, dimana berdasarkan Undang-undang tentang Penerbangan dan KM No. 26 tahun 2010, dinyatakan sebagai badan usaha angkutan udara niaga berjadwal yang di dalam menjalankan kegiatannya dengan standard minimum, antara lain hanya ada 1 (satu) kelas pelayanan, tanpa pemberian makan dan minum, makanan ringan, fasilitas ruang tunggu eksekutif, dan dikenakan biaya untuk bagasi tercatat.

“Gapura” “GMF AeroAsia” “Hari Bank” “Hari Bursa”

“Hari Kalender”

“Hari Kerja”

“IOSA”

“Konfirmasi Tertulis Untuk RUPS” (“KTUR”)

“KNKT” “KSEI”

“LCC”

iv

“Manajer Penjatahan”

Berarti Pihak yang bertanggung jawab atas penjatahan Saham Yang Ditawarkan menurut syarat-syarat yang ditetapkan dalam Peraturan No.IX.A.7 tentang Tanggung Jawab Manajer Penjatahan Dalam Rangka Pemesanan Dan Penjatahan Efek Dalam Penawaran Umum Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-45/PM/2000 tanggal 27-10-2000, dalam hal ini PT Bahana Securities. Berarti perorangan warga negara Indonesia maupun warga negara asing dan/atau badan hukum Indonesia maupun badan hukum asing, baik yang bertempat tinggal atau berkedudukan hukum di Indonesia maupun bertempat tinggal atau berkedudukan di luar wilayah hukum Negara Republik Indonesia. Berarti Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Berarti Management and Employee Stock Allocation atau Program Penjatahan Saham Manajemen dan Karyawan. Berarti Management and Employee Stock Option Plan atau Program Pemberian Opsi Pembelian Saham kepada Manajemen dan Karyawan. Berarti Mean of Platts Arab Gulf, yaitu ukuran harga dasar bahan bakar minyak di Teluk Arab. Berarti Mean of Platts Singapore, yaitu ukuran harga dasar bahan bakar minyak di Singapura. Berarti anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, kecuali Komisaris Independen, pejabat struktural, pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut: (i) tercatat pada tanggal 30 Nopember 2010, (ii) dalam status aktif bekerja pada 30 Nopember 2010 dan (iii) tidak memiliki sanksi administratif dalam jumlah maksimum 5% dari Saham Baru, sesuai dengan Peraturan No.IX.A.7, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam No.Kep-45/PM/2000 tanggal 27 Oktober 2000 tentang Tanggung Jawab Manajer Penjatahan dalam Rangka Pemesanan dan Penjatahan Efek dalam Penawaran Umum. Berarti Pemerintah Negara Republik Indonesia. Berarti Pemerintah. Berarti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Berarti Pre Delivery Payments yaitu pembayaran cicilan uang muka pembelian pesawat sebelum penyerahan pesawat. Berarti pihak yang namanya tercatat sebagai pemilik Rekening Efek di KSEI yang meliputi Bank Kustodian dan/atau perusahaan efek dan/atau pihak lain yang disetujui oleh KSEI dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal dan peraturan KSEI. Berarti kegiatan penawaran Saham Yang Ditawarkan yang dilakukan oleh Perseroan untuk menjual Saham Yang Ditawarkan kepada Masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam UU PM. Berarti jasa penitipan administrasi saham sebagaimana dimaksud dalam UU PM. Berarti PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas, berkedudukan di Jakarta, dan para Penjamin Emisi Efek lainnya yang ditunjuk oleh Perseroan dan Bank Mandiri untuk melakukan Penawaran Umum di Pasar Perdana atas nama Perseroan dan Pemegang Saham Penjual, sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan Perjanjian Penjaminan Emisi Efek. Berarti pihak yang akan bertanggung jawab atas penyelenggaraan Penawaran Umum, yang dalam hal ini adalah PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas, sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan Perjanjian Penjaminan Emisi Efek.

“Masyarakat”

“Menkumham” “MESA” “MESOP” “MOPAG” “MOPS” “Para Pemesan Khusus”

“Pemerintah” “Pemegang Saham Pengendali” “Pemegang Saham Penjual” “PDP” “Pemegang Rekening”

“Penawaran Umum”

“Penitipan Kolektif” “Penjamin Emisi Efek”

“Penjamin Pelaksana Emisi Efek”

v

“Pernyataan Pendaftaran”

Berarti dokumen yang wajib diajukan kepada Bapepam dan LK oleh Perseroan bersamasama dengan para Penjamin Pelaksana Emisi Efek sebelum melakukan Penawaran Umum atas saham-saham kepada Masyarakat, berikut lampiran-lampiran serta semua perubahan, tambahan dan pembetulannya yang dibuat sesuai ketentuan dalam UU PM. Berarti pernyataan yang dikeluarkan oleh Bapepam dan LK yang menyatakan bahwa Pernyataan Pendaftaran menjadi efektif, sehingga Perseroan melalui para Penjamin Pelaksana Emisi Efek dapat menawarkan dan menjual Saham Yang Ditawarkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berarti Akta Perjanjian Penjaminan Emisi Efek Penawaran Umum Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. No. 7 tanggal 3 Desember 2010 dan Akta Perubahan I Perjanjian Penjaminan Emisi Efek Penawaran Umum Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. No. 28 tanggal 26 Januari 2011, keduanya dibuat di hadapan Fathiah Helmi, S.H., Notaris di Jakarta. Berarti Passanger Load Factor yaitu jumlah penumpang yang membayar (revenue passenger) yang diangkut sebagai suatu presentase dari kursi yang tersedia. Berarti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, suatu perseroan terbatas yang berkedudukan di Jakarta Pusat. Berarti perubahan, penambahan dan atau pembaharuan dari Perjanjian Penjaminan Emisi Efek yang akan ditentukan kemudian. Berarti setiap pernyataan yang dicetak atau informasi tertulis yang digunakan untuk Penawaran Umum dengan tujuan pihak lain membeli atau memperdagangkan Saham Yang Ditawarkan, kecuali pernyataan atau informasi yang berdasarkan peraturan Bapepam dan LK dinyatakan bukan sebagai prospektus. Berarti dokumen tertulis yang memuat seluruh informasi dalam prospektus yang disampaikan kepada Bapepam dan LK, sebagai bagian dari Pernyataan Pendaftaran, kecuali informasi mengenai Harga Penawaran, Penjaminan Emisi Efek, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan persyaratan penawaran yang belum dapat ditentukan, sesuai Peraturan No.IX.A.8. Berarti pernyataan atau informasi tertulis yang merupakan ringkasan dari Prospektus Awal, yang diumumkan dalam sekurang-kurangnya 1 (satu) surat kabar harian berbahasa Indonesia yang memiliki peredaran nasional dalam waktu selambat-lambatnya 2 (dua) Hari Kerja setelah diterimanya surat Bapepam dan LK sesuai Formulir No.IX.A.2-9, Lampiran 9 Peraturan No. IX.A.2. Berarti rekening yang memuat catatan posisi saham dan/atau dana milik pemegang saham yang diadministrasikan oleh KSEI, Anggota Bursa atau Bank Kustodian berdasarkan kontrak pembukaan rekening efek yang ditandatangani pemegang saham. Berarti rekening yang dibuka atas nama Penjamin Pelaksana Emisi Efek untuk menampung dana yang diterima dari investor. Berarti Revenue Freight Ton Kilometers, yaitu jumlah penerbangan dalam kilometer dikalikan dengan pendapatan kargo dalam ton. Berarti Revenue Passenger Kilometers yaitu pendapatan penumpang yang berasal dari jumlah penerbangan dikalikan dengan jarak kilometer yang diterbangi. Berarti Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan yang diselenggarakan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar Perseroan, UU PT, UU PM dan peraturan pelaksanaannya. Berarti Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan yang diselenggarakan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar Perseroan, UU PT, UU PM dan peraturan pelaksanaannya. Berarti saham-saham atas nama Seri A Dwiwarna dan Seri B yang dikeluarkan dari portepel oleh Perseroan dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) per saham. Berarti sebesar 4.400.000.000 (empat miliar empat ratus juta) Saham Seri B yang akan dikeluarkan dari simpanan (portepel) dalam jumlah sebesar saham yang akan ditawarkan dan dijual kepada masyarakat melalui Penawaran Umum, termasuk didalamnya penjatahan saham dalam rangka program MESA.

“Pernyataan Efektif”

“Perjanjian Penjaminan Emisi Efek”

“PLF” “Perseroan” “Perubahan Perjanjian Penjaminan Emisi Efek” “Prospektus”

“Prospektus Awal”

“Prospektus Ringkas”

“Rekening Efek”

“Rekening Penawaran Umum” “RFTK” “RPK” “RUPS” “RUPSLB”

“Saham” “Saham Baru”

vi

“Saham Yang Ditawarkan” “SAP Group” “SBU” “SBU Citilink” “SBU Garuda Cargo” “SBU Garuda Sentra Medika (GSM)” “SLF” “SUB-100” “Transaksi Afiliasi” “UU Penerbangan” “UU No.40 Tahun 2007 tanggal 16 Agustus 2007 tentang Perseroan Terbatas.000 (enam miliar tiga ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) atau sebesar 27.4756.1. Berarti pesawat regional dengan jumlah kursi penumpang kurang dari seratus. Berarti Undang-undang No.98% (dua puluh tujuh koma sembilan puluh delapan persen) dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah Penawaran Umum.935. Lembaran Negara Republik Indonsia No 1 Tahun 2009.“Saham Divestasi” Berarti Saham Seri B yang dimiliki oleh Pemegang Saham Penjual dalam jumlah sebesar 1. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang berdasarkan Pasal 160 UU PT telah dinyatakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. ahli di bidang industri penerbangan (Airline Industry Expert). Berarti Saham Baru dan Saham Divestasi yang akan ditawarkan dan dijual kepada Masyarakat melalui Penawaran Umum. Lembaran Negara Republik Indonesia No.7 Tahun 1982. Berarti Strategic Airport Planning Group. Berarti transaksi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan IX. atau seluruhnya sebesar 6. Berarti Seat Load Factor yaitu persentase kapasitas dari tempat duduk yang dipergunakan.000 (satu miliar sembilan ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) untuk ditawarkan dan dijual kepada Masyarakat melalui Penawaran Umum. Berarti Undang-undang No. Tambahan 4956.106 Tahun 2007. Berarti Strategic Business Unit yaitu unit usaha strategis yang dikelola Perseroan. Tambahan No. Berarti Undang-undang No.335. Berarti Undang-undang No. 8 tahun 1995 mengenai Pasar Modal.738. Tambahan No.3 Tahun 1982 tanggal 1 Pebruari 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.738. Berarti Undang-undang No. Berarti SBU Perseroan yang mengelola bisnis kargo. Berarti SBU Perseroan yang mengelola bisnis kesehatan.3214. Lembaran Negara Republik Indonesia No. yang merupakan Saham Biasa Atas Nama Seri B dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap saham yang selanjutnya akan dicatatkan pada BEI pada Tanggal Pencatatan.E. Berati SBU Perseroan yang mengelola bisnis di bidang angkutan udara niaga berjadwal yang berbiaya murah (LCC). 1/1995” “UU PM” “UU PT” “UU WDP” vii .

AHU-54724. Tambahan No. 12 tahun 1969 tentang Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran-Negara tahun 1969 No. 137 tanggal 31 Maret 1950. 87) tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara (P. telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia Serikat dalam keputusannya tertanggal 31 Maret 1950 dengan No. Umum Perseroan didirikan dengan nama Garuda Indonesian Airways N. Banjarmasin.62.RINGKASAN Ringkasan di bawah ini dibuat atas dasar fakta-fakta dan pertimbangan-pertimbangan yang paling penting bagi Perseroan yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dan harus dibaca dalam kaitannya dengan keterangan yang lebih rinci dan laporan keuangan serta catatan-catatan yang tercantum di dalam Prospektus ini. 67 tahun 1971 (Lembaran-Negara tahun 1971 No. Area Asia yang mengelola 3 kantor cabang di Singapura. 21).01. 30 tanggal 12 Mei 1950.02 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010. Perth. Area Jepang. 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. Semarang. Medan. Beijing.09 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010 dan No. Notaris di Jakarta. Y.37582 tanggal 25 Januari 2011. J. serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki Perseroan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas. yang berkedudukan di Jakarta berdasarkan Akta Perseroan Terbatas No. ketiganya dibuat di hadapan Soeleman Ardjasasmita. 40).AH. Kupang. 24 tanggal 12 Juni 1975. Anggaran Dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian tersebut telah mengalami beberapa kali perubahan. Area Eastern Indonesia yang mengelola 18 kantor cabang di Surabaya. 1 Tahun 1969 (Lembaran Negara tahun 1969 No. Palu. yang dibuat di hadapan Fathiah Helmi. Jayapura. dilakukan penyesuaian terhadap bentuk hukum Perusahaan Negara (P.A. Makassar. 3. Yogyakarta. 327 pada tanggal 24 April 1950. 6. Tambahan No. dan Cina. dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Serikat No. Malang.. Shanghai. Amsterdam. Area Western Indonesia. Padang. Area Europe dan Middle East yang mengelola 3 kantor cabang di Jeddah. Biak. Batam.H. 4. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. Kendari. tertanggal 4 Januari 1975 No. Canton. Solo. 24 tanggal 16 Nopember 2010. telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No. dan kemudian diubah dengan Akta Perubahan No. yang mengelola 8 kantor cabang di Tokyo. Status Perseroan sebagai Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero) dibentuk berdasarkan Akta Pendirian No. terakhir diubah dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa No. dimana dengan dilakukannya penyesuaian tersebut. yang mengelola 14 kantor cabang di Jakarta. Korea. Pekanbaru. 2250. Nagoya. 2.) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perseroan (Persero). 434 (“Akta Pendirian”). Palangkaraya. viii . 09.H. Ternate. Notaris di Jakarta yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. maksud dan tujuan Perseroan adalah melakukan usaha di bidang jasa angkutan udara niaga.N.051. Notaris di Jakarta. Perusahaan Negara “Garuda Indonesian Airways” dinyatakan bubar pada saat pendirian Perusahaan Perseroan (Persero). dan telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta pada tanggal 1 Juli 1975 berturut-turut di bawah No.V.A. Melbourne. Tanjung Karang. 16) tentang Bentukbentuk Usaha Negara menjadi Undang-undang (Lembaran Negara tahun 1969 No. Riyadh. Manado. dan 2252.AH.01. Jambi. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No. yang dibuat dihadapan Raden Kadiman. telah didaftarkan dalam buku register di Kantor Pengadilan Negeri di Jakarta di bawah No. 8 tanggal 4 Maret 1975 sebagaimana diubah dengan Akta Perubahan No. AHU-0001962. Hongkong. Per 30 September 2010. 136. 5/12/10. Denpasar. Bangkok. 42 tanggal 21 April 1975. Kuala Lumpur. Ambon. Palembang.T. S. Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan. Garuda Indonesian Airways”.AH.01.Tahun 2011 tanggal 10 Januari 2011 dan didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta Pusat di bawah Tanda Daftar Perusahaan No. Timika. 2251. 68. Pangkal Pinang. 5/225/8 tertanggal 23 Juni 1975. 5. Pontianak.N. Balikpapan. Bandung. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. Banda Aceh. Mataram. Perseroan memiliki 1 kantor pusat dan 6 Area Manajemen yang mengelola 49 kantor cabang: 1. KEP-2/MK/IV/1/1975 tentang Penetapan Modal Perusahaan Perseroan (Persero) “P. S. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. AHU-0084627. Area South West Pacific yang mengelola 3 kantor cabang di Sydney.09.) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Seoul. Osaka. juncto Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia. tanggal 26 Agustus 1975. Semua informasi keuangan Perseroan disusun dalam mata uang Rupiah dan telah disajikan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

13. 16.98% 99.99% 99. 6.5% 1998 penunjang usaha penerbangan 7 Abacus International Holdings Penyedia jasa sistem komputerisasi 2.10% 7. Ltd Garuda Orient Holidays Japan INC.87% 61. 14. 5. Perseroan memiliki penyertaan saham secara langsung pada 9 anak perusahaan sebagai berikut: No 1 2 3 4 5 6 Anak Perusahaan PT Aero Wisata PT Abacus Distribution Systems Indonesia PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia*** PT Aero Systems Indonesia*** PT Citilink Indonesia*** PT Gapura Angkasa** Bidang Usaha Perhotelan. 17.99% 95.98% 99.88% 99. 18. yaitu SBU Garuda Cargo yang mengelola bisnis kargo. Ltd.98% 99. apartemen.Perseroan memiliki 3 SBU. 3.065% 1997 sudah beroperasi Ltd** reservasi 8 Pan Asia Pacific Aviation Pengelolaan ground-handling dan 17.58% 98. Anak Perusahaan PT Angkasa Citra Sarana Catering Service PT Aero Hotel Management PT Aerojasa Perkasa PT Bina Inti Dinamika PT Belitung Inti Permai PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi PT Mandira Erajasa Wahana PT Mirtasari Hotel Deveploment PT Senggigi Pratama Internasional Garuda Orient Holidays Pty. 8. PT Aeronurti** PT Aeroprima** PT Bumi Minang Padang** PT Nusa Dua Graha Internasional** PT Arthaloka Indonesia** PT Aerojasa Cargo*** Bidang Usaha Jasa boga Jasa pengelolaan properti (hotel. 7.65% 1998 sudah beroperasi Services Ltd.98% 100% 60% 60% 45% 40% 10.98% 99. 15. SBU Garuda Sentra Medika (GSM) yang mengelola bisnis kesehatan. 4. 9. dan SBU Citilink yang mengelola bisnis di bidang angkutan udara niaga berjadwal yang berbiaya murah (LCC). Garuda Orient Holidays Korea Co.21% 1978 sudah beroperasi 9 Catatan: *) Citilink belum beroperasi dikarenakan masih dalam proses untuk memperoleh ijin usaha angkutan udara niaga **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aero Wisata Perseroan melalui PT Aero Wisata memiliki penyertaan saham secara tidak langsung pada 18 perusahaan sebagai berikut: No 1. jasa boga dan agen perjalanan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Perbaikan dan pemeliharaan pesawat terbang Penyedia jasa teknologi informasi Angkutan udara niaga Kepemilikan 99.99% 99.00% 99.98% 99. 2.99% Tahun Penyertaan 1989 1995 2002 2005 2009 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi Pengelolaan ground-handling dan 37.99% 99. pembangunan hotel masih dalam proses **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aerojasa Perkasa ix .** penunjang usaha penerbangan PT Merpati Nusantara Airlines** Penerbangan 4. 12.87% Tahun Penyertaan 1982 2009 1988 1987 1992 1974 1988 1979 1997 1981 2008 2009 1996 1993 1989 1988 1988 2003 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi Catatan: *) PT Belitung Inti Permai belum beroperasi. 10.54% 2. 11. kondominium) Jasa kargo Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Transportasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa pengelolaan properti Jasa pengurusan transportasi (freight forwarding) Kepemilikan 99.

640. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham Seri A Dwiwarna Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B Negara Republik Indonesia PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Angkasa Pura II (Persero) PT Angkasa Pura I (Persero) Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh C. Nilai Nominal 3.451. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar B. Harga Penawaran : Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap saham : Rp750 (tujuh ratus lima puluh Rupiah) setiap saham yang ditetapkan berlaku untuk seluruh Saham Yang Ditawarkan (Saham Baru dan Saham Divestasi) 4.000 201.000.000. yang terdiri dari: = Sebesar 4.61 2.826. Jumlah Saham : Sebesar 6.000 9.000 248. Saham dalam Portepel Jumlah Saham 1 29.000 5.000. termasuk hak atas pembagian dividen.500 967.000 124.000 403.000.935.634.000 11.803.738.127.000 (tiga triliun tiga ratus miliar Rupiah) dari penawaran Saham Baru dan sebesar Rp1.004. yang merupakan Saham Biasa Atas Nama Seri B.999.240.000.500.120.000 (empat triliun tujuh ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) yang terdiri dari sebesar Rp3. = Sebesar 1.000.98% (dua puluh tujuh koma sembilan puluh delapan persen) dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah Penawaran Umum.498.738. 2.248. x .000 500 7.759.999.000.000.000. Kecuali untuk saham Seri A Dwiwarna yang memiliki hak-hak khusus.000 Nilai Nominal (Rp) 500 14.738.000 % 1 15.496.751.502.335.803.400.Struktur Permodalan Pada saat Prospektus ini diterbitkan struktur permodalan dan susunan pemegang saham serta komposisi kepemilikan saham Perseroan adalah sebagai berikut: Modal Saham Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham Pemegang Saham A.000.000.653.999 30.500.999.21 1.935.563.500 15.000 (satu miliar sembilan ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) lembar Saham Biasa Atas Nama Seri B milik Pemegang Saham Penjual dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap saham (“Saham Divestasi”).869.000.999.999.82 10.996.36 100.817.879.000 18.999 1.000 0. Saham Yang Ditawarkan kepada Masyarakat dalam Penawaran Umum ini adalah merupakan Saham Baru dan Saham Divestasi yang memberikan kepada pemegangnya hak yang sama dan sederajat.300.000 (satu triliun empat ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) dari penawaran Saham Divestasi. Jumlah Penawaran Umum : Rp4.00 Penawaran Umum 1.000.000 (dua puluh dua miliar enam ratus empat puluh juta sembilan ratus sembilan puluh enam ribu) lembar saham 5. Jumlah Saham Yang Dicatatkan : Sebesar 22.00 85.000 (empat miliar empat ratus juta) lembar Saham Biasa Atas Nama Seri B yang merupakan Saham Baru yang dikeluarkan dari simpanan Perseroan dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap lembar saham (“Saham Baru”).996.999.000 (enam miliar tiga ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) lembar saham atau sebesar 27.

10 27.996. Selain program MESOP.000.999 14.82 15.359.935.000.498. Direksi Perseroan telah menetapkan jumlah saham untuk program MESA sebanyak-banyaknya 5% dari jumlah penerbitan Saham Baru dan opsi saham untuk program MESOP sebanyak-banyaknya 0.817. Berdasarkan keputusan RUPSLB Perseroan tanggal 15 Nopember 2010 sebagaimana diubah dengan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari RUPSLB tanggal 26 Januari 2011. Jumlah saham yang akan dicatatkan pada BEI adalah seluruh atau 100% (seratus persen) saham Perseroan yang telah dan akan dikeluarkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum.000 248. Perseroan tidak bermaksud untuk mengeluarkan atau mencatatkan Saham Baru dan/ atau efek lainnya yang dapat dikonversikan menjadi saham dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak Tanggal Efektif.000 7.00 1 500 1 500 29.000 124.000.000.000.00 7.000 15.000 3.634.240.498.000 (empat miliar empat ratus juta) lembar saham yang merupakan Saham Baru Perseroan yang seluruhnya ditawarkan dalam Penawaran Umum ini.004.879. yang terdiri dari 18.000 (delapan belas miliar dua ratus empat puluh juta sembilan ratus sembilan puluh enam ribu) saham lama yang berasal dari pemegang saham Perseroan sebelum pelaksanaan Penawaran Umum dan sebesar 4.000 Jumlah Nilai Nominal (Rp) % Sesudah Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) % 100.999.563.999. Negara Republik Indonesia melalui Kementerian BUMN selaku pemegang saham pengendali Perseroan telah memberitahukan kepada Perseroan bahwa dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak Tanggal Pencatatan Saham pada Bursa Efek Indonesia.248.36 403.00 22.320.653.000.000 248.21 1.563.000.000.000.653.738.000.500 201.000.999.000 29. Saham Dalam Portepel 15.999.000 3.000 15.000.000.000 85.000 69.999.640.999.000 (dua puluh dua miliar enam ratus empat puluh juta sembilan ratus sembilan puluh enam ribu) lembar saham.61 2. serta pemberian hak opsi kepada Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Options Plan/MESOP).335. xi .999 1. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar B.000.000.000.240.640.500 967.826.000 403.78 1.999.00 1 500 0.999.634.Negara Republik Indonesia .000.496.999.120.000 11.000 7.999.999 10.400.000.496.000 Perseroan akan mencatatkan sebesar 22. secara proforma menjadi sebagai berikut: Modal Saham Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham Keterangan Sebelum Penawaran Umum Jumlah Saham A.000.PT Angkasa Pura II (Persero) . Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh: Saham Seri A Dwiwarna: Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B: .502.97% (nol koma sembilan puluh tujuh persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum.817.127.502.999 14. para pemegang saham telah menyetujui program kepemilikan saham Perseroan oleh Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Allocation/MESA) melalui penjatahan saham untuk Para Pemesan Khusus yang terdiri dari saham penghargaan dan saham diskon. maka struktur permodalan dan susunan pemegang saham serta komposisi kepemilikan saham dalam Perseroan sesudah Penawaran Umum.Masyarakat Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh C.000 18.759.14 1.000.98 1 500 0.999.000 100.000.000 124.Dengan terjualnya seluruh Saham Baru yang ditawarkan Perseroan dan Saham Divestasi milik Pemegang Saham Penjual dalam Penawaran Umum ini.500 30.738. Negara Republik Indonesia tidak akan menjual atau mengalihkan saham yang dimilikinya di Perseroan.PT Angkasa Pura I (Persero) .000 5.000 9.999.004.500 30.869. Berdasarkan persetujuan para pemegang saham tersebut.996.000 6.127.000 201.869.679.248.996.996.000 11.826.PT Bank Mandiri (Persero) Tbk .167.

maupun belanja modal lain yang diperlukan dalam rangka pengembangan armada.Rencana Penggunaan Dana Perseroan bermaksud menggunakan dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum atas Saham Baru. seperti spare parts dan komponen pesawat. yaitu B737-800 NG sebanyak 78 unit. Dana untuk investasi akan digunakan untuk Anak Perusahaan. dan (iv) pesawat narrow-body untuk Citilink sebanyak 25 unit. penggunaan dana diperlukan untuk memenuhi kewajiban Perseroan sesuai perjanjian antara Perseroan dengan produsen pesawat udara termasuk Boeing dan Airbus. Fleksibilitas pengoperasian FSC dan LCC. xii . (iii) pesawat Sub-100 sebanyak 18 unit. untuk peningkatan kapabilitas GMF AeroAsia dalam merawat pesawat B737-800. dan belanja-belanja modal lainnya yang diperlukan baik untuk pengembangan Perseroan. Kunci Utama Investasi Kunci Utama Investasi Perseroan yang utama terletak pada faktor-faktor berikut: • • • • • Indonesia merupakan salah satu pasar penerbangan udara yang memiliki pertumbuhan yang pesat. (ii) pesawat berbadan lebar (wide-body). dan tipe B777 ER sebanyak 10 unit. akan disesuaikan dengan jadwal penyerahan pesawat udara. Final payment pembelian pesawat akan dilakukan dengan pembiayaan (financing). serta pesawat tipe narrow-body untuk Citilink sebanyak 5 unit. Abacus. Penambahan armada baru yang direncanakan adalah pesawat B737-800 NG sebanyak 10 unit. baik di Perseroan maupun Anak Perusahaan yang diperlukan untuk pengembangan usaha. security deposit pesawat yang disewa. Manajemen Perseroan menyatakan bahwa setiap penggunaan dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum akan mengikuti ketentuan peraturan dan perundangan yang berlaku. Untuk jangka waktu penambahan armada baru ini. setelah dikurangi biaya emisi yang terkait dengan Penawaran Umum untuk: • 80% akan digunakan untuk pengembangan armada baru. peningkatan pelayanan. Keterangan lebih lengkap mengenai penggunaan dana hasil Penawaran Umum dapat dilihat pada Bab II Prospektus ini. Pemimpin di pasar penerbangan Indonesia . Pengembangan armada baru harus dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan arus penumpang. Tidak ada hubungan afiliasi antara Perseroan dengan Boeing dan Airbus. maupun untuk kelancaran operasional Perseroan. Pendanaan yang diberikan kepada Anak Perusahaan adalah dalam bentuk pinjaman. dan investasi untuk IT (baik peningkatan pelayanan maupun operasi). Aerowisata. terutama pembayaran uang muka (predelivery payment) sebagaimana diuraikan dalam bagian lain Prospektus. serta pesawat tipe Sub-100 sebanyak 5 unit. baik untuk peningkatan pelayanan maupun operasi penerbangan. (iv) pesawat freighter (untuk layanan kargo) sebanyak 4 unit. Dana diperlukan baik untuk pembayaran Pre-Delivery Payment (PDP) pesawat yang dibeli. termasuk dengan cara sale and (operating) lease back. kenaikan frekuensi penerbangan. untuk pembelian suku cadang dan komponen. Brand yang kuat dan pelanggan yang loyal untuk mendukung pertumbuhan di masa yang akan datang. Perseroan berencana mengoperasikan pesawat dengan tipe sebagai berikut: (i) pesawat berbadan sempit (narrow-body). yaitu sampai dengan tahun 2016 berdasarkan perjanjian dengan produsen pesawat udara yang telah diuraikan dalam bagian lain Prospektus. Tim manajemen yang ahli dan berpengalaman dengan rekam jejak yang baik. A330-200 sebanyak 6 unit. final payment pembelian pesawat baru. peningkatan efisiensi bahan bakar dan menurunkan beban perawatan pesawat udara dikarenakan umur pesawat Perseroan. • 20% akan digunakan untuk membiayai belanja modal Perseroan. Dalam rangka pengembangan armada jangka panjang. B777 sebanyak 10 unit. yaitu GMF AeroAsia. berupa investasi untuk flight equipment dan maintenance-modification program. untuk peningkatan kualitas dan kapabilitas perawatan pesawat. serta persediaan engine/mesin pesawat. Selain itu. terdiri dari tipe A330-200/300 sebanyak 19 unit. ASYST. Jenis belanja modal yang akan dilakukan adalah untuk pengembangan teknologi informasi.

Strategi Usaha Perseroan berkeyakinan bahwa strategi Perseroan adalah memposisikan Perseroan untuk mengkapitalisasi pertumbuhan yang berkelanjutan di pasar penerbangan Indonesia. Meningkatkan disiplin biaya dan manajemen pendapatan Perseroan. Tingginya beban bunga dapat berdampak negatif terhadap profitabilitas Perseroan. Tidak terimplementasinya strategi Perseroan dapat berdampak pada bisnis Perseroan. Meningkatkan sumber daya manusia. menyederhanakan jenis dan meremajakan armada pesawat. xiii . Risiko Usaha Risiko Terkait Kegiatan Usaha Perseroan • • Keterbatasan Perseroan dalam merekrut. Australia dan Selandia Baru. Secara berkelanjutan meningkatkan bisnis layanan FSC. Aktivitas pekerja dapat mempengaruhi Perseroan. pelanggan dan perusahaan di Indonesia pada umumnya. hasil usaha dan prospek Perseroan Perseroan sangat bergantung pada sistem otomatisasi dalam menjalankan bisnisnya dan setiap kegagalan pada sistem otomatisasi ini dapat mempengaruhi bisnis Perseroan. Sumber utama pasokan bahan bakar berasal dari Pertamina. • • • • • • • • • • • • • • • • Risiko Terkait Industri Penerbangan • • • Industri penerbangan sangat kompetitif. Kenaikan beban bahan bakar dapat berdampak negatif terhadap bisnis Perseroan. Perseroan mengalami kerugian dari kegiatan operasi selama kurun waktu sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan kemungkinan akan terus mengalami kondisi tersebut. Perubahan pada peraturan pemerintah dapat membahayakan bisnis Perseroan. dimana pada akhirnya dapat mempengaruhi bisnis. Pengembangan LCC untuk memperoleh segmentasi pasar dengan layanan FSC. Keterbatasan infrastruktur dan fasilitas bandara internasional Soekarno-Hatta dan bandara lainnya di Indonesia dapat menghambat kemampuan Perseroan untuk meningkatkan utilisasi pesawat. Pemerintah akan tetap sebagai pemegang saham pengendali Perseroan. yang menghadapkan Perseroan pada ketidakpastian dan risiko integrasi terkait dengan akuisisi di masa yang akan datang. Memperbanyak jumlah. melatih. Peningkatan tingkat inflasi dapat berdampak negatif terhadap strategi ekspansi armada pesawat Perseroan mungkin melakukan ekspansi bisnis melalui akuisisi maskapai penerbangan atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan. Setelah selesainya Penawaran Umum. Tambahan beban bahan bakar yang diterapkan oleh Perseroan sedang diperkarakan di Indonesia. Perseroan pernah memiliki dan mungkin akan tetap memiliki defisit modal kerja di masa yang akan datang. kondisi keuangan. dan memotivasi personil kunci dapat mempengaruhi bisnis Perseroan. Reputasi dan bisnis Perseroan dapat terkena dampak negatif karena adanya larangan penerbangan ke Uni Eropa bagi sebagian perusahaan penerbangan Indonesia. Perseroan bergantung kepada Pemerintah dan institusi lain yang dimiliki dan dikendalikan oleh Pemerintah terkait dukungan keuangan dan pelayanan penting lainnya. Elemen-elemen kunci dari strategi Perseroan untuk mencapai misinya adalah sebagai berikut : • • • • • • Optimalisasi layanan bisnis FSC untuk mendukung pertumbuhan permintaan pasar domestik. Perseroan bergantung pada Kementerian Agama terkait kegiatan penerbangan haji. Kemampuan Perseroan dalam menetapkan tarif penerbangan pada segmen tertentu dipengaruhi oleh batasan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Tingginya tingkat hutang dan pembayaran kewajiban tetap dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam penerapan strategi Perseroan. memperkuat dan menambah rute internasional serta brand. mempertahankan. memperbaiki kinerja ketepatan waktu (“On Time Performance” atau “OTP”) dan menyediakan jasa transportasi udara yang aman dan efisien.

849.616 14. Reputasi dan bisnis Perseroan dapat terkena dampak negatif akibat kecelakaan atau insiden pesawat. Amir Jusuf.735 11.570.612 9.373 16. sebagai berikut: (dalam Jutaan Rupiah) Uraian Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 Pendapatan Usaha Jumlah Beban Usaha Laba (Rugi) Usaha Laba (Rugi) Bersih Jumlah Aset 12.456 (211. Wabah flu burung. Perseroan hanya memiliki jumlah pemasok yang terbatas untuk armada pesawat dan mesin.018. dan pembatasan dari kreditur Perseroan.831 2007 14.815 623. Amir Jusuf & Mawar (RSM). kebutuhan modal kerja.510 570.225. Asuransi mungkin menjadi lebih sulit atau mahal didapatkan. • • • • Risiko terkait Investasi pada saham Perseroan • • • Harga saham Perseroan dapat berfluktuasi di masa yang akan datang. kondisi keuangan.042. kondisi keuangan.952.303.319.325 11.155 14.914 2006** 12.492 xiv .172 152.971 (289. Indonesia terletak di zona gunung berapi yang masih aktif dan memiliki risiko seismik yang tinggi yang dapat mengganggu kegiatan usaha Perseroan.349.258 732.975 710.942. Penjualan saham Perseroan di masa yang akan datang dapat berdampak negatif terhadap harga pasar saham Perseroan. atau ancaman seperti serangan tersebut. Ikhtisar Data Keuangan Penting Tabel berikut di bawah ini menggambarkan Ikhtisar Data Keuangan Konsolidasi Penting Perseroan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian serta laporan keuangan konsolidasi yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang telah ditinjau.983. Ketidakstabilan politik dan sosial di Indonesia dapat secara negatif mempengaruhi perekonomian yang bisa memberikan dampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis.• • • • • Bisnis penerbangan ditandai dengan biaya tetap yang tinggi. atau persepsi bahwa wabah tersebut dapat terjadi.074 12.685.840.423 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008 19.049 15.468 1. Kemampuan Perseroan untuk membayar dividen di masa yang akan datang akan bergantung pada laba di masa yang akan datang.096 12. mungkin secara negatif mempengaruhi permintaan perjalanan udara.581) (521. Penurunan peringkat kredit Indonesia dan perusahaan Indonesia dapat secara material dan negatif mempengaruhi Perseroan dan harga pasar dari saham yang ditawarkan.897) 194.207 975.120 250. dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto.675 17. Hasil operasi Perseroan dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh perubahan siklus industri penerbangan dan bersifat musiman. hasil usaha dan prospek Perseroan.692 2005** 12. Mawar & Saptoto (RSM). virus influenza A (H1N1) atau penyakit menular lainnya.084 918.353.867 14.310.683 2009* 11. Lebih lengkap tentang Risiko Usaha Perseroan dijelaskan dalam Bab V Prospektus ini. kondisi keuangan. • • Risiko Terkait Indonesia • • Perubahan ekonomi domestik. seluruhnya dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.497.399. regional atau global dapat mempengaruhi bisnis Perseroan.802.429 2009 17.860. Serangan teroris di masa yang akan datang.222.628. Pertumbuhan otonomi daerah berpotensi menciptakan lingkungan bisnis yang tidak pasti bagi Perseroan dan dapat menambah beban Perseroan.996. severe acute respiratory syndrome (“SARS”). hasil dan prospek usaha Perseroan. dapat meningkatkan beban operasi dan mengurangi permintaan dari pelayanan Perseroan.974. arus kas. Depresiasi atau volatilitas nilai tukar Rupiah dapat secara negatif mempengaruhi bisnis.876 12.430 13.658) 9.289 1. ekspansi armada pesawat. oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto.

Manajemen Perseroan merencanakan kebijakan pembagian dividen tunai maksimum 50% (lima puluh persen) dari laba bersih Perseroan untuk setiap tahunnya dengan ketentuan (i) terdapat kelebihan kas (excess cash) Perseroan di tahun yang bersangkutan sebagaimana disyaratkan dalam Restrukturisasi Hutang tanggal 21 Desember 2010 (ii) tidak ada saldo yang jatuh tempo dan belum dibayar atas perjanjian sewa dan tidak ada saldo lainnya yang jatuh tempo dan belum dibayar atas peminjaman hutang lainnya dan (iii) tidak ada kejadian sehubungan dengan pailit dan ketidakmampuan membayar kewajiban yang ada. laba bersih Perseroan dapat dibagikan kepada Pemegang Saham sebagai dividen setelah penyisihan dana cadangan wajib yang dipersyaratkan undang-undang.771 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008 13.214.290 1. Peraturan perundang-undangan di Indonesia mensyaratkan cadangan sampai dengan sedikitnya 20% dari modal ditempatkan dan disetor Perseroan.Uraian Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009* 12. kondisi keuangan Perseroan serta kewajiban Perseroan terhadap para kreditur termasuk kreditur ECA. Direksi Perseroan akan membayarkan dividen secara tunai dalam bentuk dividen kas.349 (2. Manajemen Perseroan berencana untuk membagikan dividen setidaknya sekali setahun kecuali diputuskan lain dalam RUPS.768.230.146. xv . Bab X mengenai Ikhtisar Data Keuangan Penting. Dengan memperhatikan hal-hal di atas. Lebih lengkap tentang Kebijakan Dividen dijelaskan dalam Bab XIII Prospektus ini.070 11.719) 2006** 12.182.999 (3.447. Berdasarkan hal tersebut diatas.625.266.887.851 1. Kebijakan Dividen Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan Anggaran Dasar Perseroan.245. Dengan tetap memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku.429 (1. Laba bersih yang tersedia untuk pembayaran dividen dapat berkurang dengan adanya kewajiban Perseroan untuk mengalokasikan cadangan.366. Dividen hanya boleh dibagikan apabila Perseroan mempunyai saldo laba positif.799 3.749) 2005** 12.581. dan Bab XVII mengenai Laporan Auditor Independen dan Laporan Keuangan Konsolidasi Perseroan. Pembagian dividen harus disetujui oleh Pemegang Saham melalui keputusan RUPS Tahunan berdasarkan rekomendasi Direksi Perseroan. dengan persetujuan para pemegang saham dalam RUPS.065. dapat dilihat pada Bab IV mengenai Analisis dan Pembahasan Oleh Manajemen.127 2009 11.535 2007 13.924) Jumlah Kewajiban***) Jumlah Ekuitas (Defisiensi Modal) Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) **) Setelah penyesuaian dampak kumulatif penyajian kembali laporan keuangan konsolidasian tahun 2008 dan 2007 ***) Tanpa hak minoritas Untuk keterangan lebih rinci.400 3.946.

Halaman ini sengaja dikosongkan xvi .

Indonesia Telp. PENAWARAN UMUM Perseroan dan Pemegang Saham Penjual dengan ini melakukan Penawaran Umum Sebesar 6. 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN DAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 36 TAHUN 2010 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN DI BIDANG PENANAMAN MODAL (“PERPRES 36/2010“).751. MELATIH.400. Denpasar. NAMUN. Balikpapan. MEMPERTAHANKAN. Beijing. BERDASARKAN PENJELASAN PASAL 2 UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL DAN PASAL 4 PERPRES 36/2010.000. Biak. Tanjung Karang.000. Jayapura. 62 21 5591 5671.300. Kegiatan Usaha: Jasa Angkutan Udara Niaga Berkedudukan di Jakarta Pusat Kantor Pusat: Jl. 62 21 231 1355.500. Garuda City Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng 19120. Palembang. Shanghai. 62 21 231 1223 Kantor Manajemen: Management Building. Padang. Yogyakarta.000 (satu miliar sembilan ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) lembar Saham Biasa Atas Nama Seri B milik Pemegang Saham Penjual dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap saham (“Saham Divestasi”). Palangkaraya. Hongkong. Seoul.500.BAB I. RISIKO UTAMA YANG DAPAT MEMPENGARUHI KINERJA DAN KONDISI KEUANGAN PERSEROAN ADALAH KETERBATASAN PERSEROAN DALAM MEREKRUT.803. yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan FPPS. Fax. Kendari. SAHAM PERSEROAN DAPAT DIMILIKI OLEH PIHAK ASING HINGGA 49% DENGAN KETENTUAN SALAH SATU PEMILIK MODAL NASIONAL HARUS TETAP LEBIH BESAR DARI KESELURUHAN PEMILIK MODAL ASING (SINGLE MAJORITY). Perseroan mengadakan program MESA dengan mengalokasikan saham sebanyak-banyaknya 5% (lima persen) dari jumlah penerbitan Saham Baru dan menerbitkan opsi saham untuk program MESOP sebanyak-banyaknya 0. • Keseluruhan saham tersebut di atas ditawarkan kepada Masyarakat dengan Harga Penawaran Rp750 (tujuh ratus lima puluh Rupiah) setiap saham yang ditetapkan berlaku untuk seluruh Saham Yang Ditawarkan. Pekanbaru. Sydney. PEMBATASAN KEPEMILIKAN ASING TIDAK BERLAKU BAGI PENANAMAN MODAL TIDAK LANGSUNG ATAU PORTOFOLIO YANG TRANSAKSINYA DILAKUKAN MELALUI PASAR MODAL DALAM NEGERI. MAKA TERDAPAT KEMUNGKINAN PERDAGANGAN EFEK YANG DITAWARKAN MENJADI TERBATAS ATAU SAHAM-SAHAM TERSEBUT MENJADI KURANG LIKUID. Tokyo.000 (empat triliun tujuh ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) yang terdiri dari sebesar Rp3.335. Banda Aceh.000 (enam miliar tiga ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) atau sebesar 27.451. Pangkal Pinang. Bandung.803. Medan. Jumlah Penawaran Umum adalah sebesar Rp4. Kuala Lumpur. Batam. Riyadh. Solo. Banjarmasin. Singapura.000 (tiga triliun tiga ratus miliar Rupiah) dari penawaran Saham Baru dan sebesar Rp1. Semarang. Malang. 1 . Bangkok. Kupang. Palu. Melbourne.97% (nol koma sembilan puluh tujuh persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum.738. Timika. Ternate. Fax.738. Canton.98% (dua puluh tujuh koma sembilan puluh delapan persen) dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah Penawaran Umum. yang merupakan Saham Biasa Atas Nama Seri B. Kebon Sirih No. Surabaya. Jambi. MENGINGAT JUMLAH SAHAM YANG DITAWARKAN PADA PENAWARAN UMUM INI RELATIF TERBATAS. Manado. Mataram.935. yang terdiri dari: • Sebesar 4. 62 21 2291 5673 49 Kantor Cabang yang berlokasi di: Jakarta. Ambon.000 (empat miliar empat ratus juta) lembar Saham Biasa Atas Nama Seri B yang merupakan Saham Baru yang dikeluarkan dari simpanan Perseroan dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap lembar saham (“Saham Baru”). Amsterdam.000. Osaka. dan Sebesar 1. Nagoya. DAN MEMOTIVASI PERSONIL KUNCI DAPAT MEMPENGARUHI BISNIS PERSEROAN.000 (satu triliun empat ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) dari penawaran Saham Divestasi. Makassar. 44 Jakarta 10110 Indonesia Telp. Jeddah. Perth. RISIKO USAHA PERSEROAN SELENGKAPNYA DAPAT DILIHAT PADA BAB V PROSPEKTUS INI. PERSEROAN BERGERAK DI BIDANG JASA ANGKUTAN UDARA NIAGA DIMANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. Pontianak.

AHU-0001962. Banda Aceh. yaitu: • • Area Western Indonesia.00% 99.N.V. Ambon. yang mengelola 8 kantor cabang di Tokyo. 21). dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Serikat No. Seoul. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. Bandung. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No. KEP-2/MK/IV/1/1975 tentang Penetapan Modal Perusahaan Perseroan (Persero) “P. 16) tentang Bentukbentuk Usaha Negara menjadi Undang-undang (Lembaran Negara tahun 1969 No. 24 tanggal 12 Juni 1975. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. Padang. Peraturan Pemerintah No. Medan.99% 99. Korea.3758 tanggal 25 Januari 2011.) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Notaris di Jakarta. 327 pada tanggal 24 April 1950. • • • • Perseroan memiliki 3 SBU.T.62. Makassar. 2251. 40). Perubahan terakhir Anggaran Dasar Perseroan adalah sebagaimana Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham Luar Biasa No.02 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010. Malang.01. 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. Amsterdam. Notaris di Jakarta.AH. Manado. yaitu SBU Garuda Cargo yang mengelola bisnis kargo. Bangkok. Area Europe dan Middle East yang mengelola 3 kantor cabang di Jeddah. yang mengelola 14 kantor cabang di Jakarta. Kuala Lumpur. AHU-0084627. Kupang. 30 tanggal 12 Mei 1950.99% Tahun Penyertaan 1989 1995 2002 2005 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi 2 . Y. Canton.Perseroan didirikan dengan nama Garuda Indonesian Airways N. telah didaftarkan dalam buku register di Kantor Pengadilan Negeri di Jakarta di bawah No. Garuda Indonesian Airways”.A. dan SBU Citilink yang mengelola bisnis di bidang angkutan udara niaga berjadwal yang berbiaya murah (LCC). Area Eastern Indonesia yang mengelola 18 kantor cabang di Surabaya. Biak. 87) tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara (P.01. 8 tanggal 4 Maret 1975 sebagaimana diubah dengan Akta Perubahan No. Palembang. telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia Serikat dalam keputusannya tertanggal 31 Maret 1950 dengan No.. Jambi. Timika. Denpasar.H. yang dibuat di hadapan Raden Kadiman. Perseroan memiliki penyertaan saham secara langsung pada 9 anak perusahaan sebagai berikut: No 1 2 3 4 Anak Perusahaan PT Aero Wisata PT Abacus Distribution Systems Indonesia PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia*** PT Aero Systems Indonesia*** Bidang Usaha Perhotelan. Palu. ketiganya dibuat di hadapan Soeleman Ardjasasmita. Peraturan Pemerintah No.) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).99% 95. yang berkedudukan di Jakarta berdasarkan Akta Perseroan Terbatas No. Pontianak. Semarang. yang dibuat di hadapan Fathiah Helmi. S. Hongkong. tanggal 26 Agustus 1975. Palangkaraya. dan kemudian diubah dengan Akta Perubahan No.09 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010 dan No.051. 137 tanggal 31 Maret 1950. Status Perseroan sebagai Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero) dibentuk berdasarkan Akta Pendirian No. 68. Area South West Pacific yang mengelola 3 kantor cabang di Sydney. Melbourne. 2250. J.H. jasa boga dan agen perjalanan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Perbaikan dan pemeliharaan pesawat terbang Penyedia jasa teknologi informasi Kepemilikan 99. Area Asia yang mengelola 3 kantor cabang di Singapura. S. Tambahan No. 09. telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No. Balikpapan. juncto Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia.01. Osaka. Beijing.A. Riyadh. 42 tanggal 21 April 1975. Jayapura. Mataram. Nagoya. Yogyakarta. dan Cina. Pangkal Pinang. 5/225/8 tertanggal 23 Juni 1975. Kendari.AH. Perusahaan Negara “Garuda Indonesian Airways” dinyatakan bubar pada saat pendirian Perusahan Perseroan (Persero).AH. 24 tanggal 16 Nopember 2010. Perseroan memiliki 1 kantor pusat dan 6 Area Manajemen yang mengelola 49 kantor cabang. Tanjung Karang. SBU Garuda Sentra Medika (GSM) yang mengelola bisnis kesehatan. 136. 67 tahun 1971 (Lembaran-Negara tahun 1971 No. Tambahan No. dilakukan penyesuaian terhadap bentuk hukum Perusahaan Negara (P. Area Jepang. Banjarmasin. dimana dengan dilakukannya penyesuaian tersebut. Shanghai.Tahun 2011 tanggal 10 Januari 2011 dan didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta Pusat di bawah Tanda Daftar Perusahaan No. AHU-54724. Notaris di Jakarta yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. dan 2252. 1 Tahun 1969 (Lembaran Negara tahun 1969 No. 5/12/10. Batam. 434. Solo. Pekanbaru. dan telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta pada tanggal 1 Juli 1975 berturut-turut di bawah No. tertanggal 4 Januari 1975 No. Perth. Ternate.09.N. 12 tahun 1969 tentang Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran-Negara tahun 1969 No.

65% 4.01/5972/DPRRI/IX/2009 tanggal 16 September 2009. 24 tanggal 16 Nopember 2010. 7.** PT Merpati Nusantara Airlines** Bidang Usaha Angkutan udara niaga Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penerbangan Kepemilikan 99. 5. 15.5% 2. 17. antara lain berkenaan dengan jumlah Saham Baru dan harga penawaran.98% 99. hal ini telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 13. kondominium) Jasa kargo Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Transportasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa pengelolaan properti Jasa pengurusan transportasi (freight forwarding) Kepemilikan 99. 4 Tahun 2011 tanggal 11 Januari 2011 tentang Perubahan Struktur Kepemilikan Saham Negara Melalui Penerbitan dan Penjualan Saham Baru Pada Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero) Tbk. 4. dan persetujuan RUPS yang dituangkan dalam Akta No. apartemen. Garuda Orient Holidays Korea Co. 6. 10. Ltd Garuda Orient Holidays Japan INC.88% 99. Anak Perusahaan PT Angkasa Citra Sarana Catering Service PT Aero Hotel Management Bidang Usaha Jasa boga Jasa pengelolaan properti (hotel.87% 61. 2.99% 37. 16.58% 98. 8. 9.065% 17.98% 99.98% 99.21% Tahun Penyertaan 2009 1998 1997 1998 1978 Status Operasi Komersial belum beroperasi* sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi Citilink belum beroperasi dikarenakan masih dalam proses untuk memperoleh ijin usaha angkutan udara niaga **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aero Wisata Perseroan melalui PT Aero Wisata memiliki penyertaan saham secara tidak langsung pada 18 perusahaan sebagai berikut: No 1. 11.99% Tahun Penyertaan 1982 2009 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi 3.98% 100% 60% 60% 45% 40% 10. 3 . 18. Notaris di Jakarta dan persetujuan pemegang saham Perseroan. SH.54% 2. PT Aerojasa Perkasa PT Bina Inti Dinamika PT Belitung Inti Permai PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi PT Mandira Erajasa Wahana PT Mirtasari Hotel Deveploment PT Senggigi Pratama Internasional Garuda Orient Holidays Pty.98% 99. dibuat dihadapan Fathiah Helmi. pembangunan hotel masih dalam proses **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aerojasa Perkasa Perseroan telah memperoleh persetujuan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana sesuai dengan persetujuan privatisasi dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang tertuang dalam Surat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia No.98% 99.10% 7. 14. Ltd. Disamping itu. PT Aeronurti** PT Aeroprima** PT Bumi Minang Padang** PT Nusa Dua Graha Internasional** PT Arthaloka Indonesia** PT Aerojasa Cargo 99.No 5 6 7 8 9 Catatan: *) Anak Perusahaan PT Citilink Indonesia*** PT Gapura Angkasa** Abacus International Holdings Ltd** Pan Asia Pacific Aviation Services Ltd.87% 1988 1987 1992 1974 1988 1979 1997 1981 2008 2009 1996 1993 1989 1988 1988 2003 sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi Catatan: *) PT Belitung Inti Permai belum beroperasi. 12. yang dituangkan dalam Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari RUPSLB tanggal 26 Januari 2011.PW.

248.500 15.500 967.000 500 14.000.000 248. diutarakan bahwa sepanjang dalam Anggaran Dasar tidak ditetapkan lain maka pemegang saham Seri A Dwiwarna dan Saham Seri B mempunyai hak yang sama.000 Sesudah Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) 1 29.496.634.82 10.127.759. struktur permodalan dan susunan pemegang saham serta komposisi kepemilikan saham Perseroan adalah sebagai berikut: Modal Saham Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham Pemegang Saham A. secara proforma menjadi sebagai berikut: Modal Saham Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham Keterangan Sebelum Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) 1 29.999.00 C.000 11.000.653.21 1.826.000.000 201.999.999 30.61 2.000. dan (iii) membeli saham baru Perseroan.000 18. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar B.498.120. Dengan terjualnya seluruh Saham Baru dan Saham Divestasi.879.000 Nilai Nominal (Rp) 500 14.935.817.000.999.000 500 14.999. Saham Seri A Dwiwarna adalah saham yang memberikan hak istimewa kepada Negara Republik Indonesia sebagaimana diuraikan di bawah ini: • • • • Mengangkat dan memberhentikan anggota Direksi dan Dewan Komisaris Melakukan perubahan Anggaran Dasar Melakukan penggabungan.999.000.563.000 % % A. peleburan dan pengambilalihan Melakukan pembubaran dan likuidasi Saham Biasa Atas Nama Seri B Sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan.000.999.000.500 15.996. yang ditawarkan pada Penawaran Umum ini. Sedangkan hak istimewa dari pemegang saham Seri A telah diterangkan di atas.000. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar 4 . (ii) menerima dividen.869.999.36 100. Sehubungan dengan hal tersebut.999. maka struktur permodalan dan susunan pemegang saham serta komposisi kepemilikan saham dalam Perseroan sesudah Penawaran Umum.999.000 0.000 9.000.738.000 5.999.Pada saat Prospektus ini diterbitkan. Saham Seri B mempunyai hak yang sama antara lain untuk (i) menghadiri dan memberikan suara dalam RUPS.999 30.240.999.000 403. maka sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan.000 % 1 15.999 1.000.000.500 15.999.000.000 124.000.000 500 7.000.999.000.00 85. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham Seri A Dwiwarna Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B Negara Republik Indonesia PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Angkasa Pura II (Persero) PT Angkasa Pura I (Persero) Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham dalam Portepel Jumlah Saham 1 29.999.000.999.999 30.000.000. Saham Seri A – Dwiwarna Saham yang dikeluarkan Perseroan terdiri dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B. Perseroan hanya mengeluarkan 1 (satu) Saham Seri A Dwiwarna yang dimiliki oleh Negara Republik Indonesia dan tidak dapat dipindahtangankan kepada siapapun.502.004.999.000.

000.97% (nol koma sembilan puluh tujuh persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum.127. Direksi Perseroan telah menetapkan jumlah saham untuk program MESA sebanyak-banyaknya 5% (lima persen) dari jumlah penerbitan Saham Baru dan opsi saham untuk program MESOP sebanyak-banyaknya 0.679.000 500 7.000 9.120.000 1.999.PT Angkasa Pura II (Persero) .000 5. Perseroan dan Bank Mandiri sepakat untuk mengikutsertakan saham hasil konversi tersebut dalam Penawaran Umum Perdana yang akan dilakukan oleh Perseroan.000. Dalam perjanjian restrukturisasi tersebut disepakati bahwa pembayaran secara tunai senilai kurang lebih 5% (lima persen) dari pokok obligasi wajib konversi sedang sisanya akan dikonversikan menjadi saham Perseroan.000 Perseroan akan mencatatkan sebesar 22.000 (dua puluh dua miliar enam ratus empat puluh juta sembilan ratus sembilan puluh enam ribu) lembar saham.82 15.000 (delapan belas miliar dua ratus empat puluh juta sembilan ratus sembilan puluh enam ribu) lembar saham lama yang berasal dari pemegang saham Perseroan sebelum pelaksanaan Penawaran Umum dan sebesar 4.14 1.826.738.996.Keterangan Sebelum Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) % Sesudah Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) % A.10 27. Untuk melunasi hutang tersebut Perseroan menerbitkan obligasi wajib konversi pada 2001 yang kemudian direstrukturisasi pada 2009.400. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh: Saham Seri A Dwiwarna: Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B: .98 85.563.502.00 22.000 124. Perseroan menerima pembiayaan dari beberapa bank yang kemudian melakukan merger menjadi Bank Mandiri.61 2.634.996.004.Negara Republik Indonesia .879.00 69.500 201.000 3. Pada 2009 konversi tersebut telah dilakukan dan Bank Mandiri telah menyatakan akan turut serta dalam Penawaran Umum ini.000 124. serta pemberian hak opsi kepada Manajemen dan Karyawan (Management & Employee Stock Options Plan/MESOP).000.634.PT Bank Mandiri (Persero) Tbk .826.000.000.000 100.240.000 201.PT Angkasa Pura I (Persero) .935.869.498. Berdasarkan persetujuan para pemegang saham tersebut.496.000 100.240.640.996.000 11.653. Berdasarkan keputusan RUPSLB Perseroan tanggal 15 Nopember 2010 sebagaimana diubah dengan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari RUPSLB tanggal 26 Januari 2011.000 0.999.00 1 500 7.817. Program Kepemilikan Saham Karyawan dan Manajemen Perseroan Tujuan utama Program Kepemilikan Saham Manajemen dan Karyawan Perseroan adalah untuk memberikan penghargaan dan sebagai bagian dari program total reward kepada pegawai atas kontribusinya kepada Perseroan dan untuk meningkatkan rasa memiliki (sense of belonging) pegawai terhadap Perseroan yang diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan (shareholder value).320. Jumlah saham yang akan dicatatkan pada BEI adalah seluruh atau 100% (seratus persen) saham Perseroan yang telah dan akan dikeluarkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum. a.563. yang terdiri dari 18.000 7.78 1. Dewan Komisaris (kecuali komisaris independen).759.Masyarakat Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh A.000. Berdasarkan peraturan Bank Indonesia.496.000 18.996. JKTDZ/SKEP-50006/11 tertanggal 26 Januari 2011 tentang Program Pemberian Saham Penghargaan.004. Saham Diskon dan Hak Opsi Pembelian Saham untuk Pegawai dan Manajemen PT Garuda Indonesia (Persero).21 403. bank hanya dapat melakukan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit.000 0.000.000 248.000 403.248.500 967.817.999 1. 5 .000 11. Berdasarkan Pasal 7 UU Perbankan.167.498.738.000 .999 10.terdiri dari Direksi.000.335.000 (empat miliar empat ratus juta) lembar saham yang merupakan Saham Baru Perseroan yang seluruhnya ditawarkan dalam Penawaran Umum ini. semakin lama penyertaan modal sementara tersebut kualitasnya semakin menyusut. para pemegang saham telah menyetujui program kepemilikan saham Perseroan oleh Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Allocation/MESA) melalui penjatahan saham untuk Para Pemesan Khusus yang terdiri dari saham penghargaan dan saham diskon. Bank Mandiri bermaksud melakukan divestasi untuk mematuhi Undang-undang Perbankan dan ketentuan dalam perjanjian obligasi konversi yang diterbitkan Perseroan.640.000.359. dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya dalam waktu 5 (lima) tahun atau perusahaan telah memperoleh laba.36 248.248. dan pegawai tetap Perseroan yang tercatat pada data Perseroan pada tanggal 30 Nopember 2010 sebagaimana ditetapkan dalam Surat Keputusan Direksi No. Saham Dalam Portepel 1 15. Program Alokasi Saham Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Allocation/MESA) Program MESA adalah program pemilikan saham dengan penjatahan pasti dari Saham Baru yang ditawarkan kepada Para Pemesan Khusus (Peserta Program MESA).653.502.127.000.869.00 3.000.6.

000.000.000.869.000. b.Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh: Saham Seri A Dwiwarna: Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B: .21 403.999 10.999.000.679. dialokasikan sebagai jatah pasti kepada manajemen dan karyawan dan/atau pihak-pihak tertentu yang ditetapkan dalam Surat Keputusan yang diterbitkan oleh Perseroan.Program MESA diimplementasikan sesuai dengan Peraturan Bapepam No.738.999.999.82 15.PT Bank Mandiri (Persero) Tbk .999.500 30. maka sisa saham akan ditawarkan kembali kepada masyarakat.996.000 7.826.36 248.634.000 15.000 201. yaitu pemberian saham kepada pegawai sebagai Penghargaan.78 1. sehingga akan menjadi beban Perseroan.879.000.00 22.817.000.502.500 30.999.IX. Berdasarkan keputusan RUPSLB Perseroan tanggal 15 Nopember 2010 sebagaimana diubah dengan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari RUPSLB.000.127.999.999.PT Angkasa Pura I (Persero) .000.999.000 15.Negara Republik Indonesia .000 Aspek Perpajakan MESA Aspek perpajakan dalam Program MESA adalah sebagai berikut : 1. Dengan terjualnya seluruh Saham Yang Ditawarkan Perseroan dalam Penawaran Umum ini telah terjual.000 124. Saham Penghargaan.000.000.000.000 (dua ratus dua puluh juta) saham.000 110.000 403.496.61 2.248.563.000.000 220.000 0.240.127. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar A.359.999 1.000 100. Pegawai yang tidak mendapat alokasi Program MESA adalah: 1) 2) Pegawai dalam status cuti luar tanggungan Pegawai dalam status pembinaan Alokasi saham untuk MESA terdiri dari: a. yaitu pemberian potongan harga kepemilikan saham kepada pegawai dalam bentuk potongan harga dari harga saham Penawaran Umum dalam jumlah sebanyak-banyaknya 4% dari total Saham Baru.500 201.759.653.01 85. Bonus tersebut merupakan obyek pajak penghasilan.Masyarakat Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh A.000.000 Sesudah Penawaran Umum dan MESA Jumlah Saham Jumlah Nilai % Nominal (Rp) 1 500 29.000 18.000 124.000 1.500 967.000.817.000.563.00 1 500 7.000 % A.MESA .634.826.320.000.498. Saham Penghargaan akan dibayar oleh Peserta Program MESA dengan sebagian jasa produksi berupa bonus yang akan ditetapkan Direksi.004.502.000.640.496.000 (dua ratus dua puluh juta) saham.120. Dalam hal jumlah saham yang dipesan dalam program MESA kurang dari 220.00 69.14 1.869.057.000 9.999.000 11.000 3.996.000.999 14.00 5.999.000 - 0.004.000 248. telah disetujui saham yang dialokasikan untuk program MESA sebanyak-banyaknya 5% (lima persen) dari jumlah penerbitan Saham Baru atau sebanyak-banyaknya 220.000 3.000.999 14.Saham Dalam Portepel 1 15.A.000 . secara proforma menjadi sebagai berikut: Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham Keterangan Sebelum Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) 1 500 29. maka susunan modal saham dan pemegang saham Perseroan sebelum dan sesudah Penawaran Umum ini (sudah termasuk saham yang dialokasikan kepada manajemen dan karyawan dalam program MESA).935.PT Angkasa Pura II (Persero) . dalam jumlah sebanyakbanyaknya 1% dari total Saham Baru.000.000 11. Saham Diskon. 6 .999.000.999.7 yang memperkenankan maksimum 10% (sepuluh persen) dari Saham Yang Ditawarkan kepada publik.653.000.000 100.000.000 500 7.6.498.10 0.000.115.97 27.738.248.

2.

Saham Diskon akan dibayar dengan harga diskon sebesar 10% dari Harga Penawaran saham pada Penawaran Umum. Jika Peserta mengunakan haknya untuk membeli saham yang jatahnya dialokasikan kepadanya, maka 10% dari harga saham yang merupakan diskon tersebut akan menjadi beban Perseroan. Nilai diskon yang diterima oleh Peserta Program MESA yang melakukan pembelian saham merupakan obyek pajak penghasilan, dalam hal ini pajak penghasilan atas diskon tersebut juga akan menjadi beban Perseroan. Pajak atas transaksi program MESA menjadi beban peserta.

3.

Mekanisme Pelaksanaan Program MESA Mekanisme pelaksanaan program MESA adalah sebagai berikut: 1. Saham Penghargaan a. b. c. 2. a. b. c. d. Saham Penghargaan diberikan kepada seluruh peserta yang memenuhi persyaratan atas nama masingmasing peserta. Saham Penghargaan memiliki lock-up period selama 12 bulan, yaitu selama masa lock-up saham tidak dapat diikutsertakan dalam transaksi di bursa. Peserta tidak dikenakan biaya atas kepemilikan saham Penghargaan. Saham Diskon ditawarkan kepada seluruh peserta yang memenuhi persyaratan atas nama dari masingmasing peserta. Peserta yang menyetujui penawaran dapat membeli Saham Diskon dengan harga sebesar 90% (sembilan puluh persen) dari harga saham pada saat Penawaran Umum. Saham Diskon memiliki lock-up period selama 12 (dua belas) bulan yaitu selama masa lock-up saham tidak dapat diikutsertakan dalam transaksi di bursa. Apabila terdapat sisa alokasi Saham Diskon yang disebabkan saham tidak dibeli oleh peserta, maka peserta yang memenuhi syarat (eligible) dimungkinkan untuk mengajukan pemberian jatah tambahan dengan jumlah maksimal 1 (satu) kali jumlah pemberian jatah yang telah dialokasikan peserta yang apabila total permohonan tambahan melebihi kapasitas sisa alokasi maka jatah tambahan diberikan secara proporsional. Biaya yang timbul atas program Saham Diskon sebanyak 10% (sepuluh persen) menjadi beban Perseroan dan 90% (sembilan puluh persen) menjadi beban peserta.

Saham Diskon

e.

b.

Program Pemberian Opsi Pembelian Saham kepada Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Option Plan/MESOP)

Program MESOP adalah pemberian hak opsi pembelian saham kepada peserta program untuk membeli saham baru yang akan dikeluarkan dari portepel Perseroan, sebanyak-banyaknya sebesar 10% (sepuluh persen) dari modal ditempatkan dan disetor Perseroan dalam waktu 2 (dua) tahun, sesuai ketentuan Peraturan Bapepam dan LK No.IX.D.4. tentang Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Mekanisme pelaksanaan MESOP akan dilakukan sesuai dengan Peraturan BEI No.I-A yang akan dilaporkan kemudian. Penanggung jawab program MESOP adalah Direksi di bawah pengawasan Dewan Komisaris dan akan dilaporkan dalam RUPS. Berdasarkan keputusan RUPSLB Perseroan tanggal 15 Nopember 2010 sebagaimana diubah dengan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari RUPSLB, telah disetujui opsi saham untuk program MESOP sebanyakbanyaknya 0,97% (nol koma sembilan puluh tujuh persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum. Peserta Program MESOP terdiri dari Direksi, Dewan Komisaris (kecuali komisaris independen), dan pegawai tetap Perseroan yang tercatat pada data Perseroan pada tanggal 15 Januari 2011. Sedangkan peserta program MESOP tahap selanjutnya adalah Direksi, Dewan Komisaris (kecuali komisaris independen), dan pegawai tetap Perseroan yang tercatat dalam data Perseroan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sebelum penerbitan hak opsi. Pegawai yang tidak mendapat alokasi Program MESOP adalah: 1) 2) 3) Pegawai dalam status cuti luar tanggungan Pegawai dalam status pembinaan Pegawai yang ditempatkan di anak perusahaan/instansi lain, dengan ketentuan akan mendapat alokasi pada tahap MESOP berikutnya apabila termasuk dalam kriteria sebagaimana termasuk pada penjelasan diatas

7

Dengan terjualnya seluruh Saham Yang Ditawarkan Perseroan dalam Penawaran Umum, maka susunan modal saham dan pemegang saham Perseroan sebelum Penawaran Umum dan sesudah Penawaran Umum ini (sudah termasuk saham yang dialokasikan kepada manajemen dan karyawan dalam program MESA) serta pelaksanaan MESOP, secara proforma menjadi sebagai berikut: Modal Saham Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham
Keterangan Sesudah Penawaran Umum dan MESA Jumlah Saham A. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar A. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh: Saham Seri A Dwiwarna: Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B: - Negara Republik Indonesia - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk - PT Angkasa Pura II (Persero) - PT Angkasa Pura I (Persero) - MESA - MESOP - Masyarakat Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh A. Saham Dalam Portepel Jumlah Nilai Nominal (Rp) % Sesudah Penawaran Umum, MESA dan MESOP Jumlah Saham Jumlah Nilai % Nominal (Rp) 1 500 29.999.999.999 14.999.999.999.500 30.000.000.000 15.000.000.000.000

1 500 29.999.999.999 14.999.999.999.500 30.000.000.000 15.000.000.000.000

1 15.653.127.999 403.634.000 248.496.000 220.000.000 6.115.738.000

500 7.826.563.999.500 201.817.000.000 124.248.000.000 110.000.000.000 3.057.869.000.000

0,00

1

500 7.826.563.999.500 201.817.000.000 124.248.000.000 110.000.000.000 110.000.000.000 3.057.869.000.000

0,00 68,47 1,77 1,09 0,96 0,96 26,75

69,14 15.653.127.999 1,78 403.634.000 1,10 248.496.000 0,97 220.000.000 220.000.000 27,01 6.115.738.000

22.640.996.000 11.320.498.000.000 100,00 22.860.996.000 11.430.498.000.000 100,00 7.359.004.000 3.679.502.000.000 7.139.004.000 3.569.502.000.000

Tahapan Program MESOP Tahapan program MESOP akan dilakukan dengan menerbitkan hak opsi dalam 3 (tiga) tahap dengan rincian sebagai berikut: • Tahap Pertama

Jumlah hak opsi yang akan diterbitkan sebesar maksimum 40% (empat puluh persen) dari total saham dalam program MESOP, dan akan diberikan kepada peserta program MESOP bersamaan dengan tanggal pencatatan saham Perseroan di BEI. • Tahap Kedua

Jumlah hak opsi yang akan diterbitkan sebesar maksimum 30% (tiga puluh persen) dari total saham dalam program MESOP. • Tahap Ketiga

Jumlah hak opsi yang akan diterbitkan sebesar maksimum 30% (tiga puluh lima persen) dari total saham dalam program MESOP. Periode Pelaksanaan Hak Opsi akan ditetapkan dikemudian hari, sebanyak-banyaknya 2 (dua) periode pelaksanaan setiap tahunnya dan Harga Pelaksanaan akan ditetapkan dengan mengacu pada ketentuan yang termaktub dalam butir V.2.2 Peraturan I-A Lampiran I Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta No.Kep 305/BJ/07-2004 tertanggal 19 Juli 2004, yaitu sekurang-kurangnya 90% dari harga rata-rata penutupan saham Perusahaan. Tercatat yang bersangkutan selama kurun waktu 25 (dua puluh lima) Hari Bursa berturut-turut di Pasar Reguler sebelum laporan akan dilaksanakannya Periode Pelaksanaan.

8

Pelaksanaan Program MESOP akan dilakukan sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang akan ditetapkan oleh Direksi Perseroan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Aspek Perpajakan MESOP Aspek perpajakan dalam Program MESOP adalah sebagai berikut : 1. Untuk Program MESOP berlaku ketentuan PSAK 53 tentang Kompensasi Berbasis Saham, dimana Perseroan akan mencatat biaya sehubungan dengan pemberian Hak Opsi tersebut yang akan dihitung dengan menggunakan metode Black-scholes. Bilamana Pemegang hak Opsi melaksanakan haknya untuk membeli saham, maka biaya tersebut akan tereliminasi dan dicatat sebagai penyertaan saham dan agio saham bilamana harga pelaksanaan diatas harga nominal. Penerapan PSAK No.53 akan diimplementasikan dalam Laporan Keuangan Perseroan atas Hak Opsi yang telah didistribusikan. 2. Pajak atas transaksi program MESOP menjadi beban peserta.

Mekanisme Pelaksanaan Program MESOP Mekanisme pelaksanaan program MESOP adalah sebagai berikut: a. b. Hak opsi pembelian saham ditawarkan kepada seluruh peserta yang memenuhi persyaratan. Hak opsi pembelian saham yang dibagikan dalam program MESOP dapat digunakan oleh Peserta untuk membeli saham baru Perseroan dengan harga yang akan ditetapkan dengan memperhatikan peraturan dan perundangan yang berlaku. Hak Opsi pembelian saham akan diterbitkan oleh perseroan dalam 3 tahapan selama periode 2 tahun setelah tanggal pencatatan di BEI. Hak Opsi, tahap Pertama diberikan bersamaan dengan tanggal pencatatan saham di BEI. Tahap kedua diberikan selambat-lambatnya pada bulan Desember 2011. Tahap Ketiga diberikan selambat-lambatnya pada Bulan Desember 2012 Hak Opsi yang diterbitkan dalam setiap tahap akan dikenakan vesting period selama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal penerbitannya yaitu periode transaksi yang diperkenankan untuk mengkonversi hak opsi menjadi saham. Tahap pelaksanaan hak opsi : g. Hak opsi memiliki vesting period selama 12 bulan Hak opsi memiliki umur opsi selama 5 tahun

c. d.

e.

f.

Harga pelaksanaan hak Opsi akan ditetapkan berdasarkan peraturan yang berlaku, peserta yang akan menggunakan hak opsi untuk membeli saham, wajib membayar secara penuh harga pelaksanaan dan biayabiaya lainnya yang timbul dalam rangka pelaksanaan hak opsi tersebut.

Pelaksanaan teknis pembagian, distribusi, peserta, dan transaksi program MESA dan MESOP akan ditetapkan dalam surat keputusan Direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris. Selain program MESOP tersebut di atas Perseroan tidak bermaksud untuk mengeluarkan atau mencatatkan saham baru dan/atau efek lainnya yang dapat dikonversikan menjadi saham dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak Tanggal Efektif. Negara Republik Indonesia melalui Kementerian BUMN selaku pemegang saham pengendali Perseroan telah memberitahukan kepada Perseroan bahwa dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak Tanggal Pencatatan Saham Pada Bursa Efek Indonesia, Negara Republik Indonesia tidak akan menjual atau mengalihkan saham yang dimilikinya di Perseroan.

9

BAB II.

RENCANA PENGGUNAAN DANA YANG DIPEROLEH DARI HASIL PENAWARAN UMUM

Perseroan bermaksud menggunakan dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum atas Saham Baru, setelah dikurangi biaya emisi yang terkait dengan Penawaran Umum untuk: • 80% akan digunakan untuk pengembangan armada baru. Penambahan armada baru yang direncanakan adalah pesawat B737-800 NG sebanyak 10 unit, B777 sebanyak 10 unit, A330-200 sebanyak 6 unit, serta pesawat tipe narrow- body untuk Citilink sebanyak 5 unit, serta pesawat tipe Sub-100 sebanyak 5 unit. Untuk jangka waktu penambahan armada baru ini, akan disesuaikan dengan jadwal penyerahan pesawat udara, yaitu sampai dengan tahun 2016 berdasarkan perjanjian dengan produsen pesawat udara yang telah diuraikan dalam bagian lain Prospektus. Dana diperlukan baik untuk pembayaran Pre-Delivery Payment (PDP) pesawat yang dibeli, security deposit pesawat yang disewa, final payment pembelian pesawat baru, maupun belanja modal lain yang diperlukan dalam rangka pengembangan armada, seperti spare parts dan komponen pesawat, serta persediaan engine/mesin pesawat. Final payment pembelian pesawat akan dilakukan dengan pembiayaan (financing), termasuk dengan cara sale and (operating) lease back. Pengembangan armada baru harus dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan arus penumpang, kenaikan frekuensi penerbangan, peningkatan efisiensi bahan bakar dan menurunkan beban perawatan pesawat udara dikarenakan umur pesawat Perseroan. Selain itu, penggunaan dana diperlukan untuk memenuhi kewajiban Perseroan sesuai perjanjian antara Perseroan dengan produsen pesawat udara termasuk Boeing dan Airbus, terutama pembayaran uang muka (predelivery payment) sebagaimana diuraikan dalam bagian lain Prospektus. Tidak ada hubungan afiliasi antara Perseroan dengan Boeing dan Airbus. • 20% akan digunakan untuk membiayai belanja modal Perseroan, baik di Perseroan maupun Anak Perusahaan yang diperlukan untuk pengembangan usaha. Jenis belanja modal yang akan dilakukan adalah untuk pengembangan teknologi informasi, baik untuk peningkatan pelayanan maupun operasi penerbangan, untuk peningkatan kualitas dan kapabilitas perawatan pesawat, untuk pembelian suku cadang dan komponen, dan belanja-belanja modal lainnya yang diperlukan baik untuk pengembangan, peningkatan pelayanan, maupun untuk kelancaran operasional. Pendanaan yang diberikan kepada Anak Perusahaan adalah dalam bentuk pinjaman. Dana untuk investasi akan digunakan untuk Anak Perusahaan, yaitu GMF AeroAsia, Aerowisata, ASYST, Abacus, berupa investasi untuk flight equipment dan maintenance-modification program, untuk peningkatan kapabilitas GMF AeroAsia dalam merawat pesawat B737-800, dan investasi untuk IT (baik peningkatan pelayanan maupun operasi). Manajemen Perseroan menyatakan bahwa setiap penggunaan dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum akan mengikuti ketentuan peraturan dan perundangan yang berlaku. Perseroan akan mempertanggungjawabkan realisasi penggunaan dana hasil Penawaran Umum ini secara periodik kepada Pemegang Saham dalam RUPS dan melaporkan kepada BAPEPAM dan LK sesuai dengan Peraturan No.X.K.4 Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-27/PM/2003 tanggal 17 Juli 2003 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum. Apabila di kemudian hari Perseroan bermaksud mengubah rencana penggunaan dananya, maka Perseroan terlebih dahulu akan meminta persetujuan RUPS dan akan melaporkannya ke BAPEPAM dan LK sesuai dengan Peraturan No.X.K.4 Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-27/PM/2003 tanggal 17 Juli 2003 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.

10

Sesuai dengan Surat Edaran yang diterbitkan oleh Bapepam dan LK No. SE-05/BL/2006 tanggal 29 September 2006 tentang Keterbukaan Informasi Mengenai Biaya yang Dikeluarkan Dalam Rangka Penawaran Umum, biaya yang dikeluarkan oleh Perseroan adalah sekitar 3,428% dari nilai Penawaran Umum yang meliputi: • Biaya jasa untuk penjamin emisi efek sebesar 2,0%, yang terdiri dari : o o o • o o o o o • • Biaya jasa penyelenggaraan (Management fee ) sebesar 1,25% Biaya jasa penjaminan (Underwriting fee) sebesar 0,40% Biaya jasa penjualan (Selling fee) sebesar 0,35% Akuntan Publik sebesar 0,126% Konsultan Hukum sebesar 0,225% Notaris sebesar 0,003% Biro Administrasi Efek sebesar 0,006% Penilai sebesar 0,018%

Biaya Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal sebesar 0,378%, yang terdiri dari :

Biaya Konsultan sebesar 0,235% Biaya Pemasaran (percetakan, iklan dan paparan publik) sebesar 0,814%

Dana hasil penjualan Saham Divestasi yang ditawarkan oleh Pemegang Saham Penjual dalam Penawaran Umum ini akan dibayarkan kepada Pemegang Saham Penjual. Perseroan tidak akan menerima hasil dari penjualan Saham Divestasi. Pemegang Saham Penjual dan Perseroan akan secara bersama-sama menanggung beban biaya emisi saham sehubungan dengan Penawaran Umum. Sesuai dengan Perjanjian Penggantian Biaya tanggal 26 Januari 2011 antara Perseroan dan Pemegang Saham Penjual, biaya yang dikeluarkan dalam rangka Penawaran Umum ini akan ditanggung secara proporsional antara Pemegang Saham Penjual dan Perseroan, berdasarkan jumlah saham yang dijual oleh Pemegang Saham Penjual dan jumlah saham yang akan ditawarkan oleh Perseroan dalam Penawaran Umum ini.

11

BAB III.

PERNYATAAN HUTANG

Pernyataan hutang berikut diambil dari laporan keuangan konsolidasi Perseroan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) dengan pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan konsolidasi tersebut. Pada tanggal 30 September 2010, Perseroan mempunyai kewajiban yang seluruhnya berjumlah Rp11.065.799 juta, terdiri dari kewajiban lancar sebesar Rp5.856.729 juta, dan kewajiban tidak lancar sebesar Rp5.209.070 juta, dengan perincian sebagai berikut:
(dalam jutaan Rupiah) Keterangan Kewajiban Lancar Hutang Bank Hutang Usaha - Pihak hubungan istimewa - Pihak ketiga Hutang Lain-lain Hutang Pajak Biaya masih harus dibayar Pendapatan diterima dimuka Uang muka diterima Hutang jangka panjang yang jatuh tempo satu tahun - Pinjaman jangka panjang - Hutang sewa pembiayaan - Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Jumlah Kewajiban Lancar Kewajiban Tidak Lancar Hutang jangka panjang - setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun - Pinjaman jangka panjang - Hutang sewa pembiayaan - Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Obligasi konversi Kewajiban pajak tangguhan Kewajiban imbalan pasca kerja Kewajiban tidak lancar lain Jumlah Kewajiban Tidak Lancar JUMLAH KEWAJIBAN Jumlah 207.315 35.440 781.185 281.268 61.033 1.175.982 1.848.424 118.970 255.600 711.617 379.894 5.856.729

1.584.500 1.863.338 202.622 106.523 1.435.763 16.323 5.209.070 11.065.799

1.

KEWAJIBAN LANCAR

Hutang Bank Hutang bank Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp207.315 juta yang terdiri dari hutang bank Perseroan dan untuk Anak Perusahaan sebagai berikut: PT Bank Negara IndonesiaTbk Pada tanggal 28 Juli 2009, GMF AeroAsia, Anak Perusahaan, memperoleh fasilitas pembiayaan open account sebesar USD10 juta dari Bank Negara Indonesia (BNI) dengan tingkat bunga 6% per tahun dan jangka waktu 90 hari. Pada tanggal 16 Oktober 2009, fasilitas pembiayaan ini telah ditingkatkan menjadi sebesar USD15 juta. Pada bulan Desember 2009, PT Angkasa Citra Sarana Catering Service (ACS), anak perusahaan memperoleh pinjaman modal kerja maksimum sebesar Rp100 miliar. Pinjaman ini digunakan sebagai modal kerja dengan tingkat bunga sebesar 11% per tahun. Pinjaman ini dijamin dengan piutang usaha ACS sebesar Rp86.940.736.058 pada saat perjanjian ditandatangani. Pada tahun 2010, tanggal jatuh tempo pinjaman ini diperpanjang sampai dengan 13 September 2010 dan nilai agunan berubah menjadi Rp69.748.000.000. Pada tanggal laporan keuangan konsolidasi diterbitkan perpanjangan perjanjian pinjaman masih dalam proses. Perjanjian pinjaman mencakup persyaratan yang

12

harus dipenuhi oleh ACS, antara lain ACS wajib menjaga rasio keuangan tertentu yaitu perbandingan antara aset lancar dengan hutang lancar minimal 1 kali, perbandingan hutang dengan modal maksimal 2,5 kali dan perbandingan laba operasi bersih terhadap jumlah pinjaman (Debt Service Coverage) minimal 100%. ACS juga wajib memelihara saldo minimum di rekening sebesar Rp1 miliar dan menyediakan dana di rekening giro sebesar minimum 1 bulan kewajiban bunga pada bulan yang bersangkutan. Piutang yang telah dijaminkan kepada bank tidak boleh dijaminkan kepada pihak lain dan apabila performa kredit ACS menurun menjadi kurang lancar, diragukan atau macet, fasilitas kredit yang belum ditarik dapat dibatalkan secara otomatis oleh bank. Pada tanggal 30 September 2010, ACS telah memenuhi seluruh rasio keuangan yang dipersyaratkan dalam perjanjian pinjaman tersebut. Perjanjian pinjaman tersebut mencakup persyaratan jangka waktu dan kondisi tertentu untuk membatasi ACS dapat melakukan pembagian dividen tanpa ada persetujuan secara tertulis dari pihak bank. Pada tanggal 27 September 2010, Perseroan memperoleh surat dalam negeri atas fasilitas kredit (SKBDN) dengan jumlah maksimum senilai USD15 juta dari BNI. Penggunaan atas fasilitas ini diatur dalam subyek tertentu atas availment provisions yang dinyatakan dalam kontrak. Pinjaman atas fasilitas ini (SKBDN UPAS) akan jatuh tempo dalam waktu 3 bulan dengan tingkat suku bunga sebesar 4% per tahun dan akan ditinjau kembali serta disesuaikan dengan tingkat bunga yang berlaku sampai jatuh tempo. Fasilitas ini hanya digunakan untuk pembelian bahan bakar pesawat dari PT Pertamina (Persero). Sampai dengan tanggal 30 September 2010, Perseroan telah menggunakan fasilitas ini senilai USD7 juta yang mensyaratkan Perseroan untuk mengelola deposito dan akun bank yang ditempatkan pada BNI. Hutang Usaha Hutang usaha Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp816.625 juta yang berasal dari pihak ketiga sebesar Rp781.185 juta dan pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebesar Rp35.440 juta. Rincian umur hutang usaha dihitung sejak tanggal faktur adalah sebagai berikut:
(dalam jutaan Rupiah) Jumlah 419.723 215.505 127.835 47.197 6.364 816.625

Keterangan Lancar - belum jatuh tempo Jatuh tempo: 1 - 60 hari 61 - 180 hari 181 - 360 hari Lebih dari 360 hari Jumlah

Rincian hutang usaha berdasarkan mata uang adalah sebagai berikut:
(dalam jutaan Rupiah) Jumlah 524.716 182.296 23.268 14.273 6.972 65.100 816.625

Keterangan Rupiah Dolar Amerika Serikat Dolar Singapura Dolar Australia Euro Mata uang lainnya Jumlah

Hutang Lain-lain Hutang lain-lain Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp281.268 juta yang terutama terdiri dari retribusi bandara udara asing yaitu sebesar Rp180.912 juta, asuransi tiket penumpang dan kesehatan sebesar Rp27.790 juta, dan lain-lain sebesar Rp72.566 juta.

13

Hutang Pajak Hutang pajak Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp61.033 juta yang terdiri dari:
Keterangan Perseroan Pajak penghasilan: Pasal 21 Pasal 22 Pasal 23 Pasal 25 Pasal 26 Pasal 4(2) Pajak Pertambahan Nilai Pajak lain-lain Sub Jumlah Anak Perusahaan Pajak penghasilan: Pasal 21 Pasal 23 Pasal 25 Pasal 26 Pasal 29 Pasal 4(2) Final Pajak Pertambahan Nilai Pajak Pembangunan Pajak lain-lain Sub Jumlah Jumlah (dalam jutaan Rupiah) Jumlah

11.945 230 4.646 250 556 17.628

7.329 1.333 2.211 46 1.484 4 71 5.150 25.776 43.405 61.033

Biaya yang Masih Harus Dibayar Biaya yang masih harus dibayar Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp1.175.982 juta yang terdiri dari:
Keterangan Pemeliharaan Administrasi dan umum Bandara Tiket penjualan dan promosi Operasional penerbangan Pelayanan penumpang Bunga Lain-lain Jumlah (dalam jutaan Rupiah) Jumlah 587.560 219.174 171.784 67.381 52.680 40.309 15.969 21.125 1.175.982

Pendapatan diterima dimuka Pendapatan diterima dimuka Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp1.848.425 juta yang terdiri dari:
(dalam jutaan Rupiah) Jumlah 913.114 882.794 52.517 1.848.425

Keterangan Jasa Penerbangan Penerbangan Haji Penerbangan Berjadwal Lain-lain Jumlah

14

Uang Muka Diterima Uang muka diterima Perseroan pada 30 September 2010 sebesar Rp118.970 juta. Hutang Jangka Panjang yang Jatuh Tempo dalam Satu Tahun Hutang tersebut terdiri dari pinjaman jangka panjang, hutang sewa pembiayaan dan kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun yang masing-masing sebesar Rp255.600 juta, Rp711.617 juta dan Rp379.894 juta. 2. KEWAJIBAN TIDAK LANCAR

Hutang Jangka Panjang Setelah Dikurangi Bagian Jatuh Tempo Dalam Satu Tahun Hutang jangka panjang setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp3.650.460 juta yang terdiri dari :
(dalam jutaan Rupiah) Jumlah 1.584.500 1.863.338 202.622 3.650.460

Keterangan Pinjaman jangka panjang Hutang sewa pembiayaan Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Jumlah

Pinjaman Jangka Panjang Pinjaman jangka panjang termasuk pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun, yang terdiri dari:
(dalam jutaan Rupiah) Jumlah 615.278 96.382 675.726 185.990 91.465 77.703 71.392 21.891 4.274 1.840.100

Keterangan Wesel bayar bunga mengambang US Dollar Rupiah Pertamina Angkasa Pura II Angkasa Pura I Bank CIMB Niaga Indonesia EximBank PT Bank Negara Indonesia PT Mandiri Tunas Finance Jumlah

Pinjaman Direstrukturisasi Pada tahun 2001, Perseroan telah memperoleh persetujuan efektif dari para kreditur atas usulan restrukturisasi pinjaman Perseroan. Restrukturisasi pinjaman Perseroan meliputi: a. b. b. Konversi pinjaman Perseroan kepada Pemerintah Republik Indonesia menjadi modal saham. Pembiayaan kembali pinjaman Perseroan kepada bank Pemerintah dan Perseroan Badan Usaha Milik Negara dan mengkonversi sebagian pinjaman tersebut menjadi obligasi wajib konversi dalam mata uang Rupiah. Penjadwalan ulang pembayaran hutang kepada kreditur lain yang meliputi wesel bayar tanpa jaminan, fasilitas sindikasi pinjaman berjangka tanpa jaminan, fasilitas modal kerja dan hutang atas penghentian perjanjian sewa guna usaha pesawat. Penjadwalan ulang pembayaran sewa 6 pesawat Airbus A330 kepada kreditur yang tergabung dalam European Export Credit Agencies (ECA) dan Commercial Lenders.

d.

Perseroan diwajibkan untuk memenuhi pembatasan-pembatasan tertentu yang disyaratkan dalam perjanjian dengan para kreditur. Perseroan juga menyetujui untuk melakukan pembayaran kembali kepada para kreditur dengan dana dari kelebihan kas Perseroan sebagaimana diatur dalam Cash Sweep Deed of Covenant.

15

sesuai dengan akta perubahan dan perjanjian kembali tertanggal 21 Januari 2010.9%.394.382.068.301. Anak Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman khusus investasi dari Bank CIMB Niaga dengan jumlah kredit maksimum sebesar Rp20 miliar. dan akan berakhir pada 6 Oktober 2017. Pada tanggal 30 September 2010.64 menjadi pinjaman jangka panjang dengan dibayar secara cicilan. Perseroan memperoleh keuntungan sebesar Rp184. PT Angkasa Pura I (Persero) setuju untuk mengkonversikan hutang usaha Perseroan sejumlah USD8.5% per tahun diatas tingkat suku bunga deposito yang dijamin Pemerintah. Pinjaman ini dijaminkan dengan tiga sertfikat kepemilkan tanah dimana Hotel tersebut berdiri. Fasilitas ini digunakan untuk biaya renovasi Hotel Irian Biak.623.720.75% per tahun untuk FRN dalam Dolar Amerika Serikat dan berdasarkan tingkat bunga rata-rata deposito enam bulanan + 1.582. anak perusahaanAerowisata. PT Pertamina (Persero) setuju untuk mengkonversikan hutang usaha Perseroan atas pembelian avtur sejumlah USD74. Pertamina Berdasarkan perjanjian pada tanggal 19 Oktober 2009. Pada tanggal 30 September 2010.103. Pada tanggal 30 September 2010. AeroWisata.75% Bank Negara Indonesia (BNI).9% per tahun. Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Mandiri untuk FRN dalam Rupiah. menjadi pinjaman jangka panjang dan dibayar secara cicilan. termasuk didalamnya grace period 18 bulan. PT Angkasa Pura II (Persero) setuju untuk mengkonversikan hutang usaha Perseroan sejumlah USD21.465 juta. Dalam penerbitan FRN ini.128 dan dicatat sebagai pos luar biasa. PT Mandira Erajasa Wahana (“MEW”).946. saldo pinjaman kepada PT Angkasa Pura I berjumlah Rp91. Perjanjian pinjaman tersebut mencakup persyaratan jangka waktu dan kondisi tertentu kepada MEW dalam melakukan pembagian dividen dan merubah struktur organisasi dengan menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada pihak bank. Pinjaman ini akan jatuh tempo pada tanggal 31 Desember 2015 dengan tingkat bunga LIBOR 6 bulanan + 1. FRN tersebut jatuh tempo tahun 2007 dengan tingkat bunga mengambang berdasarkan LIBOR (London Inter Bank Offer Rate) tiga bulanan + 0.911. FRN yang belum dilunasi masing-masing sebesar USD75 juta dan Rp108 miliar direstrukturisasi dan akan jatuh tempo pada tahun 2018. Pinjaman ini jatuh tempo pada tanggal 30 Desember 2015 dengan tingkat bunga per tahun yang berlaku pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3 bulanan + 0.872. Pada tanggal 21 Januari 2010.London Branch bertindak sebagai Trustee. Selanjutnya. Bank CIMB Niaga Pada 6 Oktober 2009. Angkasa Pura I Berdasarkan perjanjian tanggal 27 Mei 2009.Wesel Bayar Bunga Mengambang Perseroan menerbitkan Wesel Bayar Bunga Mengambang (Floating Rate Note (FRN)) dalam Dolar Amerika Serikat dan Rupiah. Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Mandiri untuk FRN dalam Rupiah.052.5% Bank Negara Indonesia (BNI). Angkasa Pura II Berdasarkan perjanjian tanggal 27 Mei 2009.484.392 dan Rp96.063.5% per tahun untuk FRN dalam Dolar Amerika Serikat dan berdasarkan tingkat bunga rata-rata deposito tiga bulanan + 1. Sesuai perjanjian 2010 maka FRN tersebut jatuh tempo tahun 2018 dengan tingkat bunga mengambang berdasarkan LIBOR (London Inter Bank Offer Rate) enam bulanan + 1.75% per tahun. saldo pinjaman kepada PT Angkasa Pura II berjumlah USD20.5% . Pada tanggal 30 September 2010. 16 . Pinjaman ini akan jatuh tempo pada tanggal 30 Desember 2015 dengan tingkat bunga LIBOR + 0. memperoleh fasilitas pinjaman dari Bank CIMB Niaga yang digunakan sebagai pembiayaan dalam pengadaan kendaraan baru untuk kegiatan operasional dengan jangka waktu 3-4 tahun dan dikenakan bunga berkisar antara 2.25% per tahun dan dipengaruhi oleh tingkat bunga pasar.91 menjadi sejumlah Rp92.841. saldo pinjaman kepada Pertamina berjumlah USD75. Atas pembelian kembali FRN tersebut. Jangka waktu pinjaman adalah 8 tahun. Tingkat suku bunga adalah 13.339 juta. The Chase Manhattan Bank .465.19 menjadi pinjaman jangka panjang dan dibayar secara cicilan. Perseroan membeli kembali FRN dengan nilai nominal USD40 juta dan Rp37 miliar dengan total harga beli USD22 juta dan Rp23 miliar. saldo FRN berjumlah USD68.

Hutang ini direstrukturisasi dijamin dan diikat secara fidusia dengan kendaraan bermotor yang dibeli dengan total nilai minimum sebesar Rp175. Pinjaman ini digunakan untuk pembayaran Pre-Delivery Payment (PDP) pesawat Boeing 737-800 yang telah memperoleh komitmen pembiayaan melalui Sale and Leaseback Agreement dengan lessor.504.641.124.542.673 39. Pinjaman ini dijamin secara fidusia dengan kendaraan bermotor yang dibiayai. GMF AeroAsia memperoleh fasilitas kredit investasi sebesar Rp100 miliar. anak perusahaan.894.800. (c) rasio kemampuan membayar hutang minimal 100%. PT Bank Negara Indonesia Pada tanggal 31 Maret 2010.5 kali. Fasilitas kredit berjangka waktu 5 tahun 9 bulan ini ditujukan untuk pembiayaan pengembangan usaha berupa sarana dan prasarana baru serta pengadaan mesin dan peralatan sebesar 52.104.994 183. Pada tanggal 30 September 2010.709 Setara dengan (Rupiah)*) (dalam jutaan Rupiah) 768.401 1.761.466. Hutang Sewa Pembiayaan Perseroan melakukan transaksi sewa pesawat Airbus tipe A330-300 yang dijamin oleh Llyods (ECA) dengan masa sewa sejak tahun 1996 – 2016. GMF AeroAsia telah memenuhi seluruh rasio keuangan yang dipersyaratkan dalam perjanjian pinjaman tersebut antara lain: (a) rasio lancar minimal 1 kali.150.574. piutang yang timbul dari kontrak sewa kendaraan dengan total minimum sebesar Rp10.617 1. atas pembelian 27 unit kendaraan. Perseroan memperoleh fasilitas pembiayaan USD42 juta dengan jangka waktu 24 bulan dengan tingkat bunga sebesar LIBOR (6 bulan) + 3.158 dan penyerahan/ pengelolaan escrow account serta Comfort Letter dari Aerowisata Indonesia Eximbank Pada tanggal 12 Pebruari 2010.923. dengan jangka waktu pinjaman selama 36 bulan. Tingkat bunga pinjaman tersebut sebesar 18.955 17 . Pinjaman ini dijamin dengan saham GMF AeroAsia.000.542.863. Pembayaran minimum sewa berdasarkan perjanjian sewa adalah sebagai berikut: Keterangan Dalam satu tahun Lebih dari satu tahun tapi tidak lebih dari lima tahun Lebih dari lima tahun Jumlah pembayaran sewa masa depan Dikurangi beban keuangan di masa depan Nilai kini pembayaran minimum sewa Disajikan di neraca konsolidasi sebagai: Kewajiban lancar Kewajiban tidak lancar Jumlah Catatan: *) Per 30 September 2010 Mata Uang Asing (USD)*) 86. Perseroan telah menggunakan fasilitas tersebut sebesar USD30 juta dan saldo pinjaman pada tanggal 30 September 2010 sebesar USD8 juta.720 2.782 288.404. PT Mandiri Tunas Finance Merupakan pinjaman dari PT Mandiri Tunas Finance kepada PT Mandira Erajasa Wahana (MEW).955 79.380 288.338 2.709 711. MEW juga melakukan restrukturisasi hutang bank untuk membantu likuiditas keuangan pada aktivitas investasi yang diklasifikasikan dalam pinjaman jangka panjang. Fasilitas pinjaman ini dijamin dengan aset yang dibiayai melalui fasilitas ini.5% per tahun yang akan ditinjau ulang setiap 6 bulan dan akan jatuh tempo dalam jangka waktu 2 tahun.927 208.78% untuk tiga tahun. (b) rasio hutang dengan modal maksimal 2.32% dari nilai pembiayaan asset.Pada tanggal 24 Juni 2010.675 186. Selama periode berjalan.076 352. akan jatuh tempo tanggal 30 Desember 2015 dan suku bunga mengambang dari Bank Negara Indonesia.466.198 2.574.089 20.422 309.741.

058 orang. Abacus. Pada saat ini Perseroan sedang dalam proses restrukturisasi atas kewajiban keuangan yang belum dibayar.451) 19. Perseroan mengeluarkan pernyataan untuk membeli kembali pinjaman Perseroan melalui proses reverse dutch auction.472 (55. Aerowisata menyelenggarakan program pensiun manfaat pasti untuk seluruh karyawan tetapnya yang dikelola oleh Dana Pensiun Pegawai PT Aero Wisata.163. ASYST dan Aerowisata juga memberikan imbalan kepada karyawan yang memenuhi persyaratan sesuai kebijakan perusahaan berdasarkan UU Ketenagakerjaan No. Pada masa pensiun. Program jaminan hari tua memberikan manfaat jaminan hari tua yang ditentukan berdasarkan penghasilan terakhir peserta. Tidak terdapat pendanaan yang disisihkan oleh Perseroan dan Anak Perusahaan sehubungan dengan imbalan kerja pasti ini.698 136. a. Jumlah karyawan per 30 September 2010 yang berhak atas imbalan tersebut adalah 11. Imbalan Pasca kerja • Program Pensiun Perseroan dan GMF AeroAsia menyelenggarakan program pensiun iuran pasti untuk semua karyawan tetapnya.5% x masa kerja x penghasilan dasar pensiun. Abacus menyelenggarakan program penutupan asuransi atas jaminan hari tua untuk semua karyawan yang memenuhi persyaratan.894 202. 18 . karyawan akan memperoleh manfaat sebesar 2. aktuaris independen.100.000 atas pinjaman pokok (pinjaman komersial) dari beberapa kreditur komersial terkait dengan perolehan 6 unit pesawat Airbus A330-300. Program ini dikelola oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Kewajiban Estimasi Biaya Pengembalian dan Pemeliharaan Pesawat (dalam jutaan Rupiah) Jumlah 650. 13 tahun 2003.Perseroan memiliki saldo yang belum dibayar senilai USD95.4% dan 5% dari gaji dasar.517 Keterangan Saldo awal tahun Penambahan tahun berjalan Jumlah digunakan Amortisasi diskonto Selisih kurs Saldo akhir tahun Disajikan di neraca konsolidasi sebagai: Kewajiban lancar Kewajiban tidak lancar Jumlah 379. Program pensiun tersebut dikelola oleh Dana Pensiun Garuda Indonesia (DPGA). Sehubungan dengan penawaran tersebut.5% dan 2. Kewajiban Imbalan Pasca Kerja Perseroan memiliki program imbalan pasca kerja dan imbalan kerja jangka panjang lain.517 Kewajiban Pajak Tangguhan Kewajiban pajak tangguhan Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp106.622 582.5% dari gaji dasar.128) 582.5% dari gaji dasar karyawan dimana sebesar 2% ditanggung karyawan dan sisanya ditanggung Perseroan dan GMF AeroAsia. Perhitungan imbalan pasca kerja program imbalan pasti dan imbalan kerja jangka panjang lain dihitung oleh PT Padma Radya Aktuaria. Perseroan mencadangkan uang sebesar USD11 juta atau setara dengan Rp98.999.926 (169. Iuran dana pensiun berjumlah 7.523 juta. Pendanaan jaminan hari tua berasal dari kontribusi Abacus dan karyawannya masing-masing sebesar 7.998 untuk membeli kembali pinjaman komersial dan ditempatkan dalam escrow account. tanggal 4 Pebruari 2010. Terkait dengan restrukturisasi tersebut. berdasarkan perjanjian Escrow antara Perseroan dan Lloyds TSB Bank Plc. • Program Imbalan Pasti GMF AeroAsia. Iuran dana pensiun berasal dari kontribusi Aerowisata dan karyawan masing-masing sebesar 11.

Sesuai dengan Purchase Agreement No.953.323 juta yang terdiri dari uang muka agen sebesar Rp12. Tidak terdapat pendanaan yang disisihkan oleh Perseroan dan Anak Perusahaan sehubungan dengan imbalan kerja ini. yang terakhir diamandemen melalui Supplemental Agreement No. Perseroan mengadakan perjanjian sale and leaseback dengan Dubai Aerospace Enterprise (DAE) atas 8 pesawat dan MCAP atas 3 pesawat dan Pembroke Lease France SAS atas 4 Pesawat. Agustus 1998. yang berdasarkan Side Letter tanggal 21 Desember 1995 dinyatakan bahwa penyerahan 3 pesawat terakhir dijadwalkan bulan Juli 1998. akan tetapi berupaya melakukan perpanjangan waktu atas pengiriman 3 pesawat sisanya. Perseroan mengadakan kontrak pembelian pesawat Boeing 777-200ER sebanyak 6 pesawat dengan harga dasar (aircraft basic price) USD198.949. Perseroan telah menerima pengiriman 6 pesawat. Pengiriman pesawat tersebut belum dapat dilakukan karena Perseroan belum mencapai kesepakatan formal dengan Airbus sehubungan dengan kewajiban dalam Purchase Agreement untuk pengiriman 3 pesawat Airbus A-330-300 sisanya. Kewajiban imbalan pasca kerja per 30 September 2010 adalah Rp1. Harga pesawat akan ditetapkan pada saat penyerahan dengan penyesuaian harga sesuai perjanjian.600.317. 1938 jadwal pengiriman pesawat telah diubah dari mulai Agustus 2012 menjadi mulai Mei 2013 sampai dengan Januari 2016.518. Harga dasar pesawat (aircraft basic price) untuk 10 pesawat B777-300 ER adalah USD251. telah dikirim. dan diklasifikasikan sebagai sewa operasi.771.919 juta. Perseroan merencanakan menambah pembelian pesawat B 777 dari 6 pesawat B 777-200 menjadi 10 pesawat B 777-300ER.763 juta.192.740. 1938 oleh Boeing menjadi 10 pesawat jenis B 777-200ER/ 300ER/200LR. 9 atas Purchase Agreement No. Total komitmen per 30 September 2010 untuk pesawat Boeing dan Airbus adalah USD2. ASYST dan Aerowisata memberikan penghargaan masa bakti kepada karyawan yang telah bekerja selama 20 tahun sesuai dengan kebijakan perusahaan. 5 atas Purchase Agreement No. Harga pesawat ditetapkan pada saat penyerahan dengan penyesuaian harga sesuai perjanjian. Berdasarkan side letter tanggal 9 Nopember 2009. Menanggapi penawaran tersebut. Abacus. 4 tanggal 29 Desember 2005. Jadwal pengiriman pesawat adalah dari Juni 2009 sampai dengan Pebruari 2016. 6-1176-DJH-1049R-1 tanggal 30 Maret 2007. melalui Supplemental Agreement No. di mana Perseroan menambah jumlah pesawat menjadi 25 pesawat tipe B 737-800 dengan harga dasar (aircraft basic price) USD67. KOMITMEN DAN KONTINJENSI Per 30 September 2010 Perseroan memiliki komitmen dan kontinjensi sebagai berikut: a. dan Januari 1999. Jumlah karyawan per 30 September 2010 yang berhak atas imbalan tersebut adalah 11. Pada bulan Januari sampai dengan September 2010. 1938. 2158 tanggal 19 Juni 1998 untuk pembelian 18 pesawat Boeing 737-700. 3. Harga jual yang disepakati sebesar USD401. Harga dasar pesawat (aircraft basic price) untuk 6 pesawat A-330-200 sebesar USD173. pengiriman sisa 3 pesawat Airbus A-330-300 digantikan dengan pemesanan 6 pesawat Airbus A-330-200 dengan jadwal pengiriman mulai Oktober 2012 sampai dengan Oktober 2014.058 orang. 19 .694. sebanyak sembilan pesawat Boeing 737-800 yang telah diikat dengan perjanjian sale and leaseback. Pada tanggal 4 Nopember 1989. Konfirmasi tersebut kemudian dilanjutkan dengan adanya penawaran pembaharuan Purchase Agreement No.000. 8 tanggal 18 Januari 2010. Berdasarkan konfirmasi dari The Boeing Company No. pembelian 6 pesawat tipe Boeing 777–200ER diubah menjadi pembelian 10 pesawat tipe Boeing 787 dengan jadwal pengiriman April 2014 sampai dengan Juli 2015.397. Perseroan juga menandatangani Purchase Agreement No. Perseroan melakukan Purchase Agreement dengan Airbus untuk pembelian dan pengiriman 9 pesawat Airbus A-330-300. 1938 tanggal 4 Juni 1996 yang terakhir diamandemen melalui Supplemental Agreement No. Harga jual ditentukan pada saat kedatangan pesawat.682 dan akan disewa dengan jangka waktu 10 sampai 12 tahun.b.610. Imbalan Kerja Jangka Panjang Lain GMF AeroAsia. Kewajiban Tidak Lancar Lainnya Kewajiban tidak lancar lainnya per 30 September 2010 adalah sebesar Rp16.435.404 juta dan lain-lain sebesar Rp3. Melalui Supplemental Agreement No. Selanjutnya pada tahun 2009 dan 2010. b. Penyerahan direncanakan pada bulan Juni 2010 sampai dengan Agustus 2011.

Magnus mengajukan gugatan balik atas dasar perbuatan melawan hukum karena pembatalan perjanjian secara sepihak dan tidak adanya pengembalian jaminan pelaksanaan pekerjaan. 397/PDT. WST mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas dasar wanprestasi terhadap perjanjian tersebut dan perbuatan melawan hukum.KAS/2008/PN.I/DZ-3345/2000/2004 tanggal 15 April 2004. 1995 K/Pdt/2008 yang mengabulkan permohonan kasasi Perseroan dan menyatakan gugatan Perseroan tidak dapat diterima. Perseroan mengajukan kasasi No.PDT. Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memutuskan menguatkan putusan Pengadilan Jakarta Pusat tersebut dan menghukum Perseroan membayar ganti rugi sebesar USD1.JKT. Mahkamah Agung mengeluarkan putusan yang menolak permohonan kasasi yang diajukan oleh Perseroan.Pada tanggal 12 Maret 2010. DS/PRJ/DZ-3345/2000 sebagaimana diubah dengan Perjanjian Tambahan I atas Perjanjian Konsultan No.000. Pada tanggal 12 Desember 2007. 20 . Pada tanggal 6 Agustus 2004. Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memutuskan untuk menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut.JKT. Perseroan telah membukukan biaya tersebut sebesar Rp19. PDT. Perseroan juga berhak meminta SR Technics untuk memberikan temporary services. Pada tanggal 12 Juni 2006. Pada tanggal 22 Desember 2000.813. Saat ini.JKT. DS/PRRJ/AMAND. Karena Perseroan dianggap tidak melaksanakan perjanjian.000 dan dicatat sebagai biaya yang masih harus dibayar. Pada tanggal 17 Desember 2007. Perjanjian Pooling Komponen dengan SR Technics Switzerland (“SR Technics”) Perseroan mengadakan perjanjian component pooling pesawat Airbus A-330 dengan SR Technics. 100/SRT.G/2006/PNJKT.500 dan Rp1. Atas putusan Mahkamah Agung tersebut.299. VZ/PERJ/3012/2004 dimana Perseroan setuju untuk menyewakan ruang simulator beserta fasilitas pendukungnya di lokasi SBU Garuda Indonesia Training Centre untuk digunakan sebagai tempat pemasangan Full Flight Simulator B 737-200 Level D Six Axis milik WST.Pada tanggal 4 Maret 2010.PST yang mengabulkan gugatan WST dan memerintahkan Perseroan membayar ganti rugi kepada WST sebesar USD1. f. e. PST yang mengabulkan gugatan Magnus dan memerintahkan Perseroan membayar ganti rugi sebesar USD2. Isi putusan tersebut telah diberikan kepada Perseroan dengan telah diterimanya relaas pemberitahuan kepada Perseroan pada tanggal 3 Nopember 2010. Kemudian salah satu pihak dapat mengakhiri perjanjian dengan syarat pemberitahuan 6 bulan sebelumnya kepada pihak lainnya.000.800 dan Rp1.KAS/2008/PN. perkara masih dalam proses pemeriksaan oleh Pengadilan Federal Australia. pada tanggal 19 Desember 2006. 02/PDT. Pada tanggal 21 Agustus 2008.590. Dalam pelaksanaannya. d.678. Perseroan mengajukan permohonan kasasi No. Pada tanggal 4 Juni 2007.000.360. Perseroan dan PT Magnus Indonesia (Magnus) menandatangani Perjanjian Konsultan No.PST tanggal 19 Mei 2008.000. 41/SRT. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mengeluarkan putusan No.G/2006/ PN. Perseroan telah mengajukan peninjauan kembali sebagaimana telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 19 Nopember 2010. dengan nilai gugatan sebesar USD6.000.700.111.984.160.111 dan immateriil oleh Perseroan dan PT Asuransi Jasa Indonesia sebesar USD100. Perseroan menerima putusan Mahkamah Agung No.c. tim asistensi lapangan atau pelayanan khusus lainnya serta memberikan pelatihan teknik dan administrasi kepada personil Perseroan pada tempat perawatan pesawat Perseroan di Jakarta atau pada line station-nya. DS/PERJ/AMEND-IV/DE3076/99/2009. Perseroan berpartisipasi sebagai anggota pool A-330 untuk menggunakan persediaan komponen pesawat Airbus A-330 yang berada di penyimpanan persediaan induk Zurich.PST tanggal 7 Nopember 2008.590. Perseroan dan PT World Simulator Technology (WST) menandatangani Perjanjian Sewa Ruang Simulator beserta Fasilitas Pendukung No. Jumlah ganti rugi yang dituntut Magnus adalah ganti rugi materiil oleh Perseroan sebesar USD2. Pada tanggal 23 Nopember 2006. Biaya pooling ditentukan dengan menggunakan tarif sesuai dengan komponen yang digunakan. Magnus telah melakukan wanprestasi sehingga Perseroan mengajukan gugatan tanggal 3 Maret 2006.000. Perseroan telah menerima Notice to Furnish Information and Produce Document dariAustralian Competition and Commerce Commission (“ACCC”) terkait dugaan kartel penetapan harga Fuel Surcharge Kargo.813. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mengeluarkan putusan No. Perjanjian ini telah diperpanjang beberapa kali dengan amendemen terakhir No.

000. Pada tanggal 27 Oktober 2010 KPPU menjatuhkan denda dan perintah pengembalian biaya transportasi sejumlah Rp8. Pada tanggal 16 Nopember 2009. Pada tanggal 8 April 2010.154 per m² di area Soekarno – Hatta. penataan dan instalasi peralatan dapur. Perjanjian ini mulai sejak tanggal 1 Nopember 2006 dan akan berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak.075 miliar atas praktek dugaan persaingan usaha tidak sehat terkait tender give away haji yang melanggar UU No.800.5/kg. Pada tanggal 6 Agustus 2007. penyediaan perkakas dapur serta penunjang lainnya dengan PT Binara Guna Mediktama (Rumah Sakit Pondok Indah) dengan nilai investasi Rp600. ACS harus memberikan jaminan bank untuk pembayaran kompensasi. Perseroan telah menerima Notice of Proceeding (Commercial List) dari Pengadilan Tinggi New Zealand terkait dugaan kartel penetapan harga Fuel Surcharge Kargo yang diajukan oleh New Zealand Commerce Commission (NZCC). yang oleh AJP diterbitkan pada tanggal 18 Januari 2007 melalui Bank Mandiri. dan perjanjian konsesi bisnis. Dalam kerjasama ini AJP akan memperoleh pendapatan yang dihitung dari kenaikan tarif sesuai dengan jumlah berat yang dikirimkan. j. Perseroan telah mengajukan upaya keberatan ke pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 20 Desember 2010. yang diterbitkan oleh bank umum (tidak termasuk Bank Perkreditan Rakyat) dengan nilai 3 kali biaya sewa bulanan atau sebesar Rp199. AJP ditunjuk sebagai agen jasa pengangkutan kargo KA di wilayah Indonesia. ACS juga menyerahkan jaminan yang diterbitkan melalui Bank Mandiri dan dicatat pada aset tidak lancar lainnya. yang berlaku selama 4 tahun atau sampai berakhirnya perjanjian. h. n. Perseroan menerima salinan keputusan KPPU pada tanggal 30 Oktober 2010. Anak Perusahaan.500.000. New Zealand.000. Kompensasi atas penggunaan lahan sebesar USD2. dengan minimal pendapatan sebesar USD0.000.270. i.423. AJP wajib menyerahkan jaminan ke KA dalam bentuk bank guarantee sebesar USD50.000. Pada tanggal 1 Nopember 2006. telah mengadakan perjanjian kerjasama dengan Kenya Airways Limited (“KA”) dalam bentuk Passenger General Sales Agency Agreement. KPPU telah memutus perkara ini dan menyatakan Perseroan bersalah serta menghukum untuk membayar denda sebesar Rp25 miliar dan ganti rugi sebesar Rp162 miliar. yang mengubah tempo penggunaan sampai dengan 31 Maret 2010. Perseroan telah menerima Pemberitahuan Pemeriksaan Pendahuluan Perkara No. Saat ini. perkara masih dalam proses pemeriksaan oleh Pengadilan Tinggi New Zealand. Perseroan mengajukan permohonan banding pada tanggal 17 Juni 2010 ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pembayaran ganti rugi tanah dilakukan setiap 3 bulan di muka. Perjanjian tersebut dapat diperpanjang. AJP. ACS mengadakan perjanjian untuk pengadaan fasilitas dapur. penataan dan instalasi peralatan dapur. Atas kerjasama ini.750 per m² per bulan atau total sebesar Rp66. Perjanjian ini berlaku selama lima tahun. Perjanjian ini berlangsung selama 3 tahun dimulai sejak Nopember 2009 hingga Oktober 2012. 460/KPPU-TP-PP/2010 dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (“KPPU”) terkait dugaan pelanggaran diskriminasi pelaku usaha pada persetujuan perpanjangan give away haji tahun 2009/2010 dan tahun 2010/2011. perkara masih dalam pemeriksaan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. yang paling terbaru pada tanggal 8 Januari 2010. Anak Perusahaan. penyediaan perkakas dapur serta penunjang lainnya dengan PT Sarana Meditama International (Omni International Hospital) dengan nilai investasi sebesar Rp994. l. ACS mengadakan perjanjian untuk pengadaan fasilitas dapur. 21 . hingga tanggal laporan keuangan ini persidangan atas keberatan belum dimulai. Perseroan telah menerima Pemberitahuan Pemeriksaan Lanjutan Perkara No. m. k.Sampai dengan laporan keuangan diterbitkan. ACS. Pada tanggal 22 Pebruari 2008 AJP melakukan perjanjian kerjasama dengan KA dalam bentuk Cargo General Sales Agency Agreement. Pada tanggal 5 Oktober 2009. Pada tanggal 1 April 2009. AJP ditunjuk sebagai perwakilan agen penjualan tiket penerbangan KA di wilayah Indonesia. 5 tahun 1999.500 dan akan ditinjau setiap 2 tahun. Pada tanggal 30 September 1993. yang oleh AJP diterbitkan melalui Bank Mandiri.g. mengadakan perjanjian dengan PT Angkasa Pura II untuk penggunaan lahan seluas 24. Dalam kerjasama ini AJP akan menerima komisi penjualan sebesar 9% dan Overriding Commision sebesar 3% atas penjualan tiket KA. Perjanjian ini dimulai sejak tanggal 22 Pebruari 2008 dan akan berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak. Pada tanggal 4 Mei 2010. 25/KPPU-I/2009 dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (“KPPU”) terkait dugaan kartel penetapan harga Fuel Surcharge tiket domestik. AJP juga wajib menyerahkan jaminan ke KA dalam bentuk bank guarantee sebesar USD30.

o.TCP/IP. AIPL diwajibkan membayar imbalan jasa tertentu kepada ADSI sebagaimana ditentukan dalam perjanjian.330) (2) kerugian material sebesar Rp500.583. Tuntutan ganti rugi timbul karena GMF AeroAsia dinyatakan melanggar kontrak terkait dengan garansi yang diberikan GMF AeroAsia atas penggantian dan pemasangan 5 mesin pesawat ESN 857854 yang dimiliki MB. p. Dalam perjanjian ini. Sebagai imbalan atas pemesanan bersih yang dilakukan pelanggan melalui sistem Abacus atas jasa penyedia produk perjalanan yang ditawarkan berdasarkan sistem Abacus. dan Hewlett – Packard (Schwiez) GmbH menandatangani perjanjian proyek implementasi pengembangan sistem TPF . Abacus. Nilai perjanjian sebesar EUR100. Abacus. ASYST.615. Sehubungan dengan kasus ini. AL diwajibkan membayar imbalan kepada Abacus sebesar persentase tertentu dari tagihan yang dikenakan. GMF AeroAsia mengajukan gugatan balik kepada MB karena MB tidak memenuhi kewajiban pembayaran hutang kepada GMF AeroAsia atas jasa penggantian dan perbaikan mesin tersebut sebesar USD256. mengadakan perjanjian kerjasama dengan PT Aplikanusa Lintasarta (AL) dalam perjanjian mengenai AL menyediakan jaringan komunikasi data bagi jaringan akses pelanggan Abacus. (AIPL) yang efektif sejak tanggal 11 April 1995. Pada tanggal 11 Maret 2009. AIPL memberikan hak sub-lisensi eksklusif kepada ADSI untuk memasarkan dan mendistribusikan sendiri sistem reservasi komputer (Sistem Abacus) di wilayah Indonesia. MB kemudian mengajukan upaya kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia pada tanggal 25 Maret 2010. Sebagai respon. Pada tanggal 25 September 2008.165.191. GMF AeroAsia mengajukan kontra kasasi pada tanggal 17 Mei 2010.579 (atau setara Rp673. pembelian tiket otomatis serta tampilan ongkos. pada tanggal 16 Juli 2009 GMF AeroAsia juga mengajukan kontra memori banding dengan perkara No.284.780 dan dicatat Perseroan dalam aset lainnya.215.266 dan bunga 6% per tahun terhitung sejak tanggal 17 Nopember 2007. imbalan tersebut diubah menjadi sebesar 25% dari tarif dasar tahun 2009 yang dikenakan pada pesawat udara per segmen pemesanan bersih yang dilakukan pelanggan setelah dikurangi biaya-biaya tertentu sebagaimana ditentukan dalam perjanjian. anak perusahaan. Perseroan dan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menghadapi gugatan ganti rugi dari PT Metro Batavia (MB) untuk (1) siklus tidak terpakai sebesar USD73. r. Sampai tanggal laporan keuangan belum ada keputusan kasasi dari Mahkamah Agung atas kasus tersebut. Sebagai imbalan. Sistem ini memadukan suatu paket perangkat lunak yang melakukan berbagai fungsi termasuk reservasi seketika tempat duduk pesawat. Anak Perusahaan.500 atau setara dengan Rp1. mobil dan hotel. Perjanjian ini akan berlanjut kecuali diakhiri lebih awal sebagaimana ditentukan dalam perjanjian.000 setiap hari dan USD50. Singapura. Pada tanggal 6 Mei 2003. Perjanjian ini berlaku selama 3 tahun dan setiap tahunnya ditinjau kembali setiap tahun.DKI. Pada tanggal 15 Januari 2010 Pengadilan Tinggi telah menolak banding yang diajukan oleh MB. 503/ PDT/2009/PT.000 (atau setara Rp460 juta) setiap bulan sejak tanggal 23 Oktober 2007 sampai pesawat dapat beroperasi (3) kerugian imaterial sebesar USD10 juta (atau setara Rp92 miliar) dan (4) memperbaiki mesin yang rusak. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah memutuskan untuk menolak tuntutan MB kepada GMF AeroAsia dan menerima gugatan balik GMF AeroAsia sebesar USD256. q. GMF AeroAsia.333. Anak Perusahaan. jadual pemesanan pelayanan udara. MB mengajukan memori banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat. Abacus bertanggung jawab terhadap penagihan. customer service dan pemasaran ke travel agent.266 ditambah bunga sebesar 6% per tahun sejak tanggal 15 Juli 2008 sampai dengan keputusan ditetapkan. (2) bunga hutang MB sebesar 6% per tahun dari hutang sejak tanggal 15 Juli 2008 sampai dengan keputusan ditetapkan dan (3) membayar kerugian sebesar USD200 juta. Pada tanggal 8 Agustus 2008. Manajemen berpendapat bahwa tuntutan ganti tersebut tidak berpengaruh material terhadap laporan keuangan dan kegiatan usaha GMF AeroAsia. mengadakan perjanjian sub-distribution dengan Abacus International Pte Ltd (dahulu Abacus Distribution Systems Pte Ltd).000. Efektif tanggal 1 Pebruari 2009. Pada tanggal 18 Mei 2009. s. 22 . Pada tanggal 9 Desember 2009. GMF AeroAsia menuntut ganti rugi kepada MB atas (1) pembayaran hutang MB kepada GMF AeroAsia sebesar USD1.

GMF AeroAsia telah mengajukan klaim tagihannya kepada kurator PT Adam Skyconnection Airline (Adam) yang dinyatakan bangkrut berdasarkan Putusan No.Niaga. GMF AeroAsia memiliki bank guarantee sebesar Rp436. Perjanjian ini dimulai sejak tanggal 1 Pebruari 2009 dan akan berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak. w. yang oleh AJP diterbitkan pada tanggal 6 Pebruari 2009 melalui Bank Mandiri. u. Pada tanggal 9 Januari 2009.393. Yemen Airways. Pada tanggal 23 Nopember 2010.775. x. Bank guarantee tersebut diterbitkan oleh Bank Negara Indonesia dengan jangka waktu kurang dari 1 tahun yang ditempatkan pada bank yang sama.430. 23 .165. pada tanggal 19 Agustus 2009 GMF AeroAsia mengajukan kontra banding dengan perkara No.Jkt. MB mengajukan permohonan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat. Pada tanggal 28 April 2009. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan menerima gugatan GMF AeroAsia terhadap MB sebesar USD1.354. AJP telah melakukan perjanjian kerjasama dengan JA dalam bentuk Cargo General Sales and Service Agency Agreement. Sampai saat ini banding tersebut masih dalam proses.294 pada tanggal 30 September 2010.751 pada tanggal 31 Desember 2009. Perjanjian ini dimulai sejak tanggal 1 Pebruari 2009 dan akan berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak.635 dan USD15. Pada tanggal 3 Desember 2008.000.191. dan Southern Air. Atas kerjasama ini. Selanjutnya. y. Disamping itu. GMF AeroAsia memperoleh pendapatan atas jasa ini sesuai tarif yang disepakati dalam perjanjian. Dalam kerjasama ini AJP akan menerima komisi penjualan atas penjualan tiket JA sebesar 5% untuk penjualan domestik.000. t. AJP wajib menyerahkan jaminan ke JA dalam bentuk bank guarantee sebesar USD10. Gatewick Aviation Service.780. Atas kerjasama ini. Rp1. Pada tanggal 6 Desember 2010 Perseroan telah menyetujui anjuran tersebut.Pst tanggal 9 Juni 2008. Hellenic Imperial Airways. Rp1. dan Rp1.279.000. Pengadilan juga menyatakan sita jaminan terhadap 4 pesawat MB. 26/Pailit/PN. Dalam kerjasama ini AJP akan menerima pendapatan berupa komisi sebesar 5% atas penjualan bersih kargo JA. yang oleh AJP diterbitkan pada tanggal 23 Pebruari 2009 melalui Bank Mandiri. pada tanggal 31 Desember 2008 yang digunakan sebagai jaminan pelaksanaan pekerjaan. 7% untuk penjualan internasional. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta telah mengeluarkan anjuran yang merupakan hasil mediasi para pihak. Bank guarantee dijamin dengan kas dalam jumlah yang sama. AJP ditunjuk sebagai agen jasa pengangkutan kargo JA di wilayah Indonesia.DKI. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasi. AJP telah melakukan perjanjian kerjasama dengan Jet Airways (India) Limited (“JA”) dalam bentuk Passenger General Sales Agency Agreement. 504/ PDT/2009/PT. AJP wajib menyerahkan jaminan ke JA dalam bentuk bank guarantee sebesar USD40.965 pada tanggal 30 September 2009. International Air Parts Pty Ltd. v. Perseroan mencatatkan perselisihan kepentingan kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Propinsi DKI Jakarta sehubungan dengan tidak tercapainya kesepakatan dengan Serikat Pekerja Perseroan mengenai rancangan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) periode 2010-2012. dan Overriding Commision sebesar 3% atas penjualan tiket JA. AJP ditunjuk sebagai perwakilan agen penjualan tiket penerbangan JA di wilayah Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 2010. kebangkrutan Adam masih dalam proses dan pemulihan klaim GMF AeroAsia belum dapat ditentukan. GMF AeroAsia melakukan perjanjian jangka panjang untuk pemeliharaan dan perbaikan pesawat dengan PT Sriwijaya Air.615 dan bunga 6% per tahun terhitung sejak tanggal 15 Juli 2008 serta kerugian GMF AeroAsia sebesar USD500.408.Pada tanggal 22 April 2009.

24 .KECUALI SEBAGAIMANA DINYATAKAN DALAM KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN. SAMPAI DENGAN PROSPEKTUS INI DITERBITKAN TIDAK TERDAPAT PEMBATASAN-PEMBATASAN (NEGATIVE COVENANTS) YANG AKAN MERUGIKAN HAK-HAK PEMEGANG SAHAM PUBLIK. PERSEROAN TIDAK MEMILIKI KEWAJIBAN-KEWAJIBAN LAIN KECUALI KEWAJIBAN-KEWAJIBAN YANG TIMBUL DARI KEGIATAN USAHA NORMAL PERSEROAN SERTA KEWAJIBAN YANG TELAH DINYATAKAN DI DALAM PROSPEKTUS DAN YANG TELAH DIUNGKAPKAN DALAM LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI YANG DISAJIKAN DALAM BAB XVII PROSPEKTUS. SEJAK TANGGAL 30 SEPTEMBER 2010 SAMPAI DENGAN TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAN SETELAH TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN SAMPAI DENGAN TANGGAL EFEKTIFNYA PERNYATAAN PENDAFTARAN. DENGAN ADANYA PENGELOLAAN YANG SISTEMATIS ATAS ASET DAN KEWAJIBANNYA SERTA HARAPAN PENINGKATAN HASIL OPERASI DI MASA MENDATANG. PERSEROAN MENYATAKAN KESANGGUPAN UNTUK DAPAT MENYELESAIKAN SELURUH KEWAJIBANNYA SESUAI DENGAN PERSYARATAN SEBAGAIMANA MESTINYA. PERSEROAN TIDAK MEMILIKI KEWAJIBANKEWAJIBAN DAN IKATAN-IKATAN LAIN YANG JUMLAHNYA MATERIAL SELAIN YANG TELAH DINYATAKAN DI ATAS DAN YANG TELAH DIUNGKAPKAN DALAM LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAN LAPORAN KEUANGAN PERSEROAN.

laporan keuangan konsolidasi Perseroan beserta catatan-catatan di dalamnya. Nagoya. Jambi. termasuk Yogjakarta. Pangkal Pinang. Makassar. Kupang. letusan berulang-ulang dari gunung Merapi dan Bromo. Mataram. yang seluruhnya tercantum dalam Prospektus ini. Perseroan juga mengalihkan rute penerbangan (dan meningkatkan tujuan penerbangan) ke beberapa tujuan di Indonesia dan luar negeri untuk mencegah abu dari letusan gunung merapi tersebut. Batam. Perkembangan Terkini Perseroan Kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan untuk periode 3 bulan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010 dipengaruhi oleh dua kejadian luar biasa di bulan Nopember 2010. yang mengelola 14 kantor cabang di Jakarta. Area Eastern Indonesia yang mengelola 18 kantor cabang di Surabaya. Pembatalan penerbangan tersebut dan pengurangan frekuensi penerbangan telah mempengaruhi secara negatif pendapatan per penumpang dan jumlah penumpang dan pengalihan rute penerbangan telah meningkatkan biaya bahan bakar dan biaya operasional penerbangan lainnya untuk periode 3 bulan yang berakhir pada 31 Desember 2010. Palembang. Area Jepang. 2. Banjarmasin. Tanjung Karang. Bangkok. SBU Garuda Sentra Medika (GSM) yang mengelola bisnis kesehatan. 25 . Ambon. Balikpapan. Bandung. Kendari.BAB IV. 2008. Korea. Malang. Timika. Kuala Lumpur. Perseroan mengoperasikan 84 armada pesawat penumpang. Area Western Indonesia. 4. telah mengakibatkan adanya pembatasan penerbangan pada industri penerbangan di Indonesia. Amsterdam. Area South West Pacific yang mengelola 3 kantor cabang di Sydney. Jakarta dan lokasi lainnya di Jawa Tengah. Pada tanggal 30 September 2010. Area Europe dan Middle East yang mengelola 3 kantor cabang di Jeddah. Semarang. Perseroan membatalkan sekitar 190 penerbangan pulang pergi ke dan dari beberapa tujuan tertentu. Sebagai akibatnya. 2. 3. Perseroan memiliki 1 kantor pusat dan 6 Area Manajemen yang mengelola 49 kantor cabang. Jayapura. Mawar & Saptoto (RSM). dan informasi keuangan lainnya. Canton. Palangkaraya. Solo. Penjelasan pada Sub Bab Perkembangan Terbaru Perseroan adalah berdasarkan kinerja keuangan Perseroan yang tidak di audit (stand alone) untuk periode 2 bulan sampai dengan 30 Nopember 2010. 1. dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto. Osaka. yaitu SBU Garuda Cargo yang mengelola bisnis kargo. Padang. Medan. Laporan keuangan konsolidasi Perseroan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit. Selama bulan Nopember dan Desember 2010. Kecuali dinyatakan lain. Seoul. dan SBU Citilink yang mengelola bisnis di bidang angkutan udara niaga berjadwal dengan tarif murah (LCC). Perth. serta laporan keuangan konsolidasi yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2009. yang mengelola 8 kantor cabang di Tokyo. Perseroan memiliki 3 Strategic Business Unit (“SBU”). Yogyakarta. Pekanbaru. kedua gunung yang paling aktif. Area Asia yang mengelola 3 kantor cabang di Singapura. Amir Jusuf & Mawar (RSM). yang terdiri dari 71 armada pesawat narrow-body dan 13 armada pesawat wide-body yang digunakan untuk penerbangan domestik dan juga internasional. yaitu: 1. Umum Perseroan didirikan pada tahun 1975 dengan nama PT Garuda Indonesian Airways yang berkedudukan di Jakarta dengan kegiatan utamanya yaitu jasa angkutan udara niaga. Informasi yang disajikan berikut bersumber dari laporan keuangan konsolidasi yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. serta laporan keuangan konsolidasi yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 telah direview oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto. Banda Aceh. semua informasi keuangan yang berhubungan dengan Perseroan adalah terkonsolidasi sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Pontianak. Beijing. Biak. Ternate. Melbourne. Amir Jusuf. Hongkong. Denpasar. Riyadh. ANALISIS DAN PEMBAHASAN OLEH MANAJEMEN Analisis dan Pembahasan Manajemen ini harus dibaca bersama-sama dengan Ikhtisar Data Keuangan Penting. Shanghai. 2009 dan untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010. Palu. dan Cina. 5. 6. Manado.

7 14. untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. jumlah penumpang Perseroan meningkat menjadi 10. dengan demikian Perseroan mengalami kesulitan dalam mengalokasikan crew pada jadwal penerbangan yang telah ditentukan antara tanggal 21-23 Nopember 2010 dengan jadwal crew penerbangan yang terus-menerus dicetak dan didistribusikan ke beberapa crew penerbangan unit dengan menggunakan data yang tidak akurat dari sistem manajemen operasional yang lama.Pada tanggal 21 Nopember 2010. dan lalu lintas penumpang domestik untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 berjumlah sekitar 31.4 2.4 15. yang menunjukan peningkatan sebesar 21. Perseroan bersama dengan Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) Institut Teknologi Bandung. dari 37. dengan CAGR sebesar 6.3 1.2 juta orang di tahun 2008.3 7.8 juta orang di tahun 2009.9% dibandingkan dengan lalu lintas penumpang internasional pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.8 39.6 6.5%. Pembatalan penerbangan dan shutdown sistem reservasi oleh Perseroan selama periode ini mengakibatkan penurunan pendapatan usaha dan volume penumpang pada kinerja 2 bulan sampai dengan 30 Nopember 2010.3 14. Selama periode yang sama.5% dibandingkan dengan lalu lintas penumpang domestik untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Departemen Perhubungan. yang merupakan kenaikan 23. Sebagai akibatnya.7 8. Perseroan mengalami gangguan selama periode 3 jam selama melakukan pemindahan dari sistem manajemen operasional yang lama ke Integrated Operational and Control System ("IOCS") yang baru dan menyebabkan outage di sistem IOCS. 3. produk domestik bruto (“PDB”) Indonesia tumbuh dengan CAGR sebesar 3. BPS. dimana total penumpang domestik meningkat menjadi 43. Menurut Biro Pusat Statistik (“BPS”). lalu lintas penumpang internasional berjumlah sekitar 14. Pembatalan penerbangan tersebut dan penutupan sistem pemesanan selama periode tersebut telah mempengaruhi secara negatif pendapatan per penumpang dan jumlah penumpang untuk periode 3 bulan yang berakhir 31 Desember 2010. telah melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab dari outage dari IOCS. backup data dari sistem manajemen operasional tidak akurat dan.2 juta orang di 26 .1 juta orang. Pada tahun 2007-2009. diolah Jumlah penumpang Perseroan dipengaruhi oleh sejumlah faktor.3 2. dan 9. antara lain.6%. Walaupun Perseroan telah menyimpan IOCS untuk mulai beroperasi pada 21 Nopember 2010.8 15. keadaan industri pariwisata Indonesia.0 14. beberapa crew tidak datang pada jadwal kedatangan yang telah ditentukan. Dari hasil investigasi tersebut menunjukkan bahwa saat ini Perseroan tidak memiliki jaringan sistem manajemen yang cukup yang dapat memantau trafik jaringan atau memberikan early fault detection di IOCS. Dalam menjawab situasi tersebut. 184 penerbangan dibatalkan dan Perseroan menutup sistem reservasi untuk mencegah pemesanan penumpang baru selama periode 21-23 Nopember 2010.4 37.4 juta orang di tahun 2008 dan 39. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Keuangan dan Operasi Perseroan Beberapa faktor penting yang mempengaruhi hasil keuangan dan operasi dari Perseroan adalah sebagai berikut: • Kondisi Umum Perekonomian Grafik di bawah ini memberikan gambaran mengenai total Penumpang Internasional dan Penumpang Domestik yang menggunakan jasa dibandingkan terhadap data BPS untuk Penumpang Internasional dan Departemen Perhubungan untuk Penumpang Domestik: Total Penumpang Internasional Garuda terhadap Total Penumpang Internasional di Indonesia 18 16 14 12 Juta Total Penumpang Domestik Garuda terhadap Total Penumpang Domestik di Indonesia 50 45 43. selama periode outage di sistem IOCS tersebut. Menurut statistik yang dikeluarkan oleh Departemen Perhubungan.9 7.7 1.2 37.4 10 8 6 4 2 0 2007 2008 2009 Jan-Sep 2009 Jan-Sep 2010 2. Perseroan berencana untuk melakukan pemuktahiran pada sistem manajemen yang dimiliki oleh Perseroan untuk meningkatkan kemampuan Perseroan untuk memantau trafik jaringan dan memberikan early fault detection.6 juta orang di tahun 2007.1 2007 2008 2009 Jan Sep 2009 Jan Sep 2010 Sumber: Perseroan.2 juta penumpang.1 11.4 Juta 40 35 30 25 20 15 10 5 0 7.9 12. dan kondisi perekonomian secara umum di Indonesia dan global.9 juta orang di tahun 2009 dari 10.6 13.

6 juta orang di tahun 2007 menjadi 10.5% dari total pendapatan penerbangan penumpang pada tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.532.8%.366. Kinerja keuangan Perseroan akan tetap dan diperkirakan akan terus dipengaruhi dengan cukup berarti oleh perkembangan ekonomi di Indonesia.4%.4% di tahun 2007 menjadi 76. dan 18.0%.5 juta dalam sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Saat ini Perseroan sedang dalam proses pemutakhiran perangkat lunak dari sistem manajemen pendapatan ini. Biaya mengoperasikan sebuah pesawat tidak berbeda signifikan terhadap jumlah penumpang maupun berat ton kargo yang dibawa oleh pesawat.3 juta di tahun 2008 menjadi 15.0% dari total pendapatan usaha Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.8%. 20. passenger load factor dan passenger yield: • ASK sebesar 18.2%.0%.373.2 miliar dalam sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.0% dalam sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Pendapatan dari penumpang domestik dan internasional dan juga passenger yield secara historis berkaitan dengan kemampuan Perseroan untuk menerapkan beban tambahan bahan bakar pesawat (fuel surcharge) yang dicatat sebagai bagian dari pendapatan usaha Perseroan 27 .5%. 53. USD7.9 juta di tahun 2009. Pendapatan dari penerbangan berjadwal domestik adalah sebesar 50. Rp12.5 sen per kilometer di tahun 2008. dan USD8. 47. yang dapat dilihat dari pemanfaatan pengembangan kapasitas tempat duduk pada frekuensi dan rute penerbangan domestik dan internasional.4% di tahun 2008. perubahan yang hanya relatif kecil pada jumlah penumpang dan harga. 2008. Industri penerbangan umumnya memiliki profit margin yang rendah dan biaya tetap yang tinggi. 2009. Jumlah penumpang meningkat dari 9. menjadi 73. dan 54.1 juta di tahun 2007 menjadi 15. dan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. beban pendaratan.0 miliar di tahun 2008. dan periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Pendapatan penumpang dari penerbangan berjadwal masing-masing sebesar 72. dan 9. • Manajemen Pendapatan Kegiatan bisnis Perseroan dipengaruhi oleh jumlah penumpang dan tarif yang dikenakan pada rute domestik dan internasional yang dioperasikan oleh Perseroan. Manajemen pendapatan adalah serangkaian proses bisnis yang terintegrasi yang digunakan untuk menghitung penetapan harga yang optimal dan kebijakan ketersediaan kursi untuk memaksimalkan pendapatan yang dapat dihasilkan dari penjualan tiket berdasarkan estimasi perilaku permintaan untuk setiap pasar. 71.369. 52. Passenger yield yaitu sebesar USD7. dan kondisi perekonomian global.0 juta orang dalam sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. tingkat pengeluaran pendapatan. dan 13. USD9. • • • Pendapatan dari penerbangan berjadwal internasional adalah sebesar 50.8%.4 sen per kilometer di tahun 2007.2 miliar di tahun 2009 menjadi Rp10. dan periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.566. kondisi industri pariwisata di Indonesia. Perseroan menggunakan proses dan sistem manajemen pendapatan untuk memaksimalkan tingkat penggunaan kursi dan pendapatan tiap penerbangan dan kemampuan Perseroan melakukan ini dengan sukses akan mempengaruhi hasil usaha Perseroan.882.8 miliar di tahun 2007 menjadi Rp14.5 juta di tahun 2009. dan 2009.759. beban bahan bakar pesawat. Sebagai dampak dari tingginya kewajiban biaya tetap Perseroan.180.0 juta dalam sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Sejumlah faktor yang mempengaruhi kinerja pendapatan dari penerbangan berjadwal antara lain ASK.533. 21.827. jumlah penumpang. 72.9 juta orang di tahun 2009.067. yang sebagian terkompensasi dengan tingginya tingkat penetrasi pasar untuk rute internasional di Asia dan Australia.1% di tahun 2009. 2009.5 sen per kilometer di tahun 2009. 2008.7%. sementara RPK meningkat dari 14. 2008. dapat berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan. dan 45. Passenger yield dan faktor muat penumpang untuk penerbangan penumpang internasional telah terkena dampak yang kurang baik dengan adanya kompetisi dari LCC pada rute jarak pendek internasional dan relatif rendahnya tingkat penetrasi pasar pada rute jarak jauh internasional di Timur Tengah dan Eropa. 46. Passenger load factor mengalami penurunan dari 77.4 sen per kilometer pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.713. Pendapatan penumpang dari penerbangan adalah sebesar Rp10. dan 71. beban pemeliharaan dan perbaikan. dan 83.tahun 2007 dengan CAGR 5.1 juta di tahun 2007. khususnya untuk beban sewa pesawat. yang disebabkan oleh turunnya jumlah penumpang pada tujuan penerbangan baru yang diperkenalkan pada jaringan rute Perseroan dan kompetisi LCC pada periode tersebut.8 juta di tahun 2008. yang mencerminkan pengembangan armada dari 48 pesawat per 1 Januari 2007 menjadi 84 pesawat per 30 September 2010.5% dari total pendapatan penerbangan penumpang pada tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.2 juta orang di tahun 2008 menjadi 10.2%. RPK. dan beban bunga.

Perseroan tidak melakukan transaksi lindung nilai (hedging) terhadap harga bahan bakar pesawat. 41. sejak bulan April 2010. 28 . Di masa lalu Perseroan pernah mengalami ketidakmampuan dalam pelunasan sejumlah biaya bakar kepada Pertamina. dan juga perubahan permintaan dan penawaran. Perseroan saat ini dalam proses pemutakhiran sistem manajemen pendapatan termasuk PSS seiring dengan adanya pembangunan pusat data baru. Harga bahan bakar internasional umumnya ditetapkan dengan mengacu pada harga dasar rata-rata minyak yang dipublikasikan oleh Platts melalui Singapura berdasarkan Mean of Platts Singapore (MOPS). Harga bahan bakar pesawat terbang di masa yang lalu. Perjanjian pasokan bahan bakar internasional mewajibkan adanya pembayaran di muka atau adanya letter of credit terhadap pengiriman bahan bakar. Perjanjian pasokan bahan bakar domestik ditinjau secara periodik dan pembayaran dilakukan dalam Rupiah untuk harga yang ditetapkan dalam Rupiah. yang diterbitkan oleh ARAMCO atau Rotterdam. • Harga Bahan Bakar Pesawat Terbang Biaya bahan bakar pesawat terbang adalah komponen penting dalam struktur biaya Perseroan penerbangan.33 sen per liter di tahun 2009. Perseroan dilarang membebankan biaya tambahan bahan bakar pesawat (fuel surcharge) di atas batas atas tarif kelas ekonomi domestik. dan 2009 dan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. walaupun sejak bulan April 2010 jumlah fuel surcharge yang dapat diterapkan diatur oleh Pemerintah dan sejak Juni 2010 kemampuan Perseroan untuk meneruskan biaya tambahan tersebut kepada pelanggan telah jauh berkurang.yang tercermin dari fluktuasi harga bahan bakar pesawat. dan juga di masa yang akan datang. Harga bahan bakar domestik ditetapkan dengan mengacu pada (dan umumnya termasuk diskon dari) harga posting produksi dalam negeri Pertamina. Mean of Platts Arab Gulf (MOPAG). Perseroan telah mengubah target manajemen pendapatannya. Di samping itu.4%. Teluk Arab. mengalokasikan persedian tempat duduk diantara tarif kelas yang berbeda dan proyeksi arus kas yang lebih akurat. sedangkan Pertamina secara historis memberikan Perseroan diskon persentase terhadap harga posting produksi dalam negeri. Sebagai dampak dari penerapan aturan di domesik ini. dan 31. Perseroan berkeyakinan bahwa sistem manajemen pendapatan saat ini memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengalokasikan cadangan kursi apabila dibandingkan dengan beberapa pesaing lain. bila dibandingkan dengan kesepakatan bahan bakar sebelumnya dengan Pertamina.8% dari total beban operasional di tahun 2007. khususnya untuk penerbangan domestik dengan mengalokasikan cadangan kursi pada beberapa segmen tarif. 29. Selain itu. yang ditentukan oleh Pertamina berdasarkan kebijakannya sendiri.3%. Namun demikian. dimana dapat disesuaikan apabila harga bahan bakar atau kenaikan biaya operasi pesawat berfluktuasi karena adanya fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap USD melebihi ambang batas (threshold) yang ditetapkan oleh DJPU untuk periode yang tersebut. kecuali untuk transaksi derivatif tertentu yang terkait dengan bahan bakar pesawat untuk keperluan layanan haji. baru-baru ini Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan bahwa praktik tersebut bersifat anti-persaingan. perjanjian baru akan pasokan bahan bakar Perseroan dengan Pertamina menggabungkan diskon tetap untuk harga posting produksi dalam negeri Pertamina. rata-rata beban bahan bakar berfluktuasi dari USD56. Dari tahun 2007 sampai tahun 2009. akan bergantung pada fluktuasi harga. Selama ini Perseroan membebankan sebagian dari biaya bakar kepada pelanggan dalam bentuk biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge). Saudi Arabia dan Belanda. dimana kemudian dikonversikan menjadi hutang subordinasi jangka panjang pada restrukturisasi hutang yang terkini.2%. Perseroan mengadakan perjanjian pasokan bahan bakar selama lima tahun dengan Pertamina dan perjanjian pasokan bahan bakar dalam jangka waktu satu sampai dua tahun dengan beberapa pemasok internasional. Perseroan berkeyakinan bahwa proses pemutakhiran pelayanan penumpang akan meningkatkan jalur penjualan langsung Perseroan kepada pelanggan dan pemutakhiran sistem manajemen pendapatan akan meningkatkan kemampuan Perseroan dalam mengatur kapasitas tempat duduk sesuai dengan asal dan tujuan. dimana perubahan pada harga bahan bakar pesawat terbang akan secara signifikan berpengaruh pada hasil operasi Perseroan. perjanjian baru tersebut akan menghasilkan diskon yang lebih rendah (dan harga bahan bakar yang lebih tinggi) sejalan dengan kenaikan harga posting produksi dalam negeri. Perseroan mendapatkan pengadaan sekitar 70% bahan bakar bakar sesuai dengan perjanjian yang dibuat dengan Pertamina. 2008. Perjanjian pasokan bahan bakar baik untuk internasional dan domestik diperpanjang secara periodik dan pembayarannya menggunakan dolar Amerika Serikat.68 sen per liter di tahun 2007 menjadi USD85. Biaya bahan bakar pesawat terbang mewakili 34. Dengan demikian. dan menjadi USD51. termasuk semua bahan bakar yang diperlukan untuk penerbangan di rute domestik. sedangkan perjanjian pasokan domestik dengan Pertamina saat ini mengijinkan Perseroan untuk melakukan pembayaran dalam dua minggu setelah pengiriman bahan bakar.95 sen per liter di tahun 2008.

Tingginya penggunaan harian dari pesawat terbang dapat meningkatkan kapasitas Perseroan dalam menghasilkan pendapatan dari armada. Perseroan juga akan mengatur rencana pendanaan melalui hutang untuk pembiayaan 10 pesawat Boeing 777. seiring dengan peningkatan pelayanan penerbangan dan efisiensi bahan bakar.460 miliar termasuk estimasi eskalasi harga kontrak untuk membeli 27 pesawat tambahan (dimana salah satunya dikirim pada Oktober 2010) sampai dengan 2016. dan 6 Airbus A330200. dan memiliki hak opsi untuk membeli tambahan 4 pesawat Airbus A330-200. dan 747-500. 737-400. dan simplifikasi armada Perseroan. pengiriman awal atas 18 pesawat Beoing 737-800 pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial Perseroan telah membatasi Perseroan untuk menambah beban sewa pesawat karenanya Perseroan tidak yakin akan dapat memperoleh tambahan sewa operasi untuk meningkatkan jumlah armada Perseroan. Peningkatan jumlah pesawat baru ini sebagai armada Perseroan melalui sewa operasi telah meningkatkan beban sewa pesawat. 10 pesawat Boeing 777. sejalan dengan rencana Perseroan untuk menghentikan beberapa generasi tipe Boeing 737 untuk proses perawatan yang diperlukan sebelum dikembalikan dan sebelum berakhirnya periode sewa operasi di tahun 2010 dan 2011.• Ekspansi. PDP yang digunakan untuk membeli pesawat tersebut umumnya dibiayai dengan arus kas operasi dan hutang. sehingga lebih banyak jam yang digunakan untuk terbang setiap harinya. modernisasi. umur. Peningkatan armada tersebut diharapkan dapat meningkatkan arus penumpang melalui pembukaan rute baru dan peningkatan frekuensi penerbangan dari yang ada saat ini. Per tanggal 30 September 2010. Tujuan program simplifikasi dan modernisasi armada Perseroan adalah untuk meningkatkan standarisasi pelatihan. namun Perseroan juga tidak dapat memastikan bahwa ketentuan atas pinjaman untuk pengiriman pesawat tersebut (termasuk untuk pendanaan PDP) akan dapat diterima oleh Perseroan. diharapkan dapat mengurangi biaya pemeliharaan dan perbaikan pesawat Perseroan dibandingkan dengan kompetitor lain. Per tanggal 30 September 2010. Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial memberikan batasan kepada Perseroan untuk memperoleh tambahan pinjaman baru. yaitu Boeing model 737-300. yang terdiri dari 11 pesawat Boeing 737-800. Ukuran. Per tanggal 30 September 2010.8 tahun dan dengan pengurangan umur pesawat di masa yang akan datang dengan cara ekspansi armada. Disamping itu. Perseroan juga mengoperasikan dua pesawat tipe berbadan besar (wide-body aircraft). 747-400. Perseroan juga berencana untuk mengganti tipe Boeing 747 dengan tipe pesawat yang lebih besar yang lebih lebih efisien dengan tipe Boeing 777-300 ER di tahun 2012. Perseroan memutuskan untuk mempercepat program modernisasi dan simplifikasi armada dengan mempercepat pengiriman atas 18 pesawat Boeing 737-800 setelah sebelumnya menambah 15 dan 2 pesawat baru Boeing 737-800 di tahun 2009 dan 2 pesawat baru Boeing 737-800 di tahun 2008. Perseroan memiliki 84 pesawat dan akan menjadi sekitar 150 pesawat di tahun 2015. Untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Perseroan berkeyakinan bahwa arus kas operasi Perseroan mencukupi untuk mendanai seluruh uang muka pembelian pesawat untuk pengiriman pesawat Boeing 737-800 dan pesawat Airbus A330-200. perawatan. dan komposisi dari armada pesawat terbang Perseroan telah berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan. peningkatan efisiensi bahan bakar dan menurunkan biaya perawatan. Tingginya tingkat utilisasi armada dapat dicapai sebagian melalui pengurangan waktu perubahan haluan di bandara. Perseroan berkeyakinan bahwa ekspansi armada Perseroan merupakan hal yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan arus penumpang. 737-500 dan 737-800. dengan mengoperasikan hanya satu tipe pesawat berbadan sempit yaitu Boeing 737-800 yang lebih efisien terhadap bahan bakar. komitmen pembayaran PDP dan beban sewa pesawat Perseroan akan terkait dengan rencana ekspansi. khususnya melalui pengoperasian satu jenis pesawat baru narrow-body. Utilisasi 29 . yang akan mengantikan biaya PDP dan mengurangi komitmen pengeluaran modal Perseroan. Disamping itu. Modernisasi. Per tanggal 30 September 2010. meskipun pada akhirnya Perseroan akan memperoleh pinjaman dana. dan Simplifikasi Armada Sebagian besar dari kebutuhan belanja modal Perseroan. rata-rata umur pesawat Perseroan adalah 8. • Utilisasi Pesawat Terbang Salah satu kunci elemen penting bagi strategi pertumbuhan Perseroan adalah peningkatan utilisasi armada pesawat terbang. persedian. sehingga Perseroan tidak dapat memastikan diperolehnya tambahan pendanaan atas pengiriman 26 pesawat (termasuk uang muka pembelian pesawat). yang kemudian akan dikonversikan menjadi sewa operasi melalui transaksi sale and leaseback dengan lessor. Sehubungan dengan rencana Perseroan untuk melakukan program simplifikasi dan modernisasi pesawat. kenaikan frekuensi penerbangan. yaitu Boeing 747 dan Airbus A330. Perseroan juga telah memiliki letter of intent atas sewa operasi 12 pesawat Boeing 737-800 (dimana 4 pesawat telah dikirimkan antara bulan Oktober dan Desember 2010) dan 3 pesawat Airbus A330-200 dimana salah satunya telah dikirimkan pada Desember 2010 yang akan mulai beroperasi pada tahun 2011. Perseroan akan melakukan penggantian pesawat-pesawat Boeing 737-300. Perseroan saat ini mengoperasikan empat pesawat tipe berbadan sempit (narrow-body aircraft). Perseroan memiliki komitmen pembelian pesawat sebesar Rp24.

dan oleh karenanya. Perseroan berencana untuk meningkatkan belanja modal untuk perekrutan dan pelatihan pilot dan awak kabin dengan tujuan untuk menunjang tingkat utilisasi armada pesawat terbang Perseroan. Sejak tahun 2008. yang dikarenakan pendapatan usaha tahunan Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat lebih rendah dari jumlah beban modal Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat dan pembayaran tahunan atas pokok dan bunga dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Perseroan memiliki hutang jangka panjang dikurangi yang jatuh tempo dalam satu tahun sebesar Rp3. masingmasing untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. Namun demikian.3 miliar. Perseroan juga melakukan perhitungan komitmen bulanan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat dan menyesuaikan komitmen tersebut dengan pendapatan Dolar Amerika Serikat Perseroan dan juga pendapatan konversi non-Dolar Amerika Serikat Perseroan. dan Ngurah-Rai. Perubahan tingkat bunga Dolar Amerika Serikat dapat berdampak pada beban keuangan Perseroan.pesawat terbang dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Sebagai dampaknya. Hutang Perseroan terdiri dari hutang bank dan pinjaman lainnya. penundaan oleh pihak ketiga dalam pelayanan penanganan di darat (ground handling) dan pengisian bahan bakar. Selain itu. Karena biaya dalam Dolar Amerika Serikat lebih besar dari pendapatan yang dihasilkan. yang terutama dikaitkan dengan kewajiban hutang Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Sekitar 44. maka Perseroan akan mengkonversikan sebagian pendapatan Rupiah ke dalam mata uang Dolar Amerika Serikat untuk menutupi kekurangan tersebut. dekat Jakarta.2% dari biaya Perseroan adalah dalam Dolar Amerika Serikat. Perseroan sebelumnya telah melakukan lindung nilai secara natural terhadap sebagian risiko mata uang asing. termasuk juga kewajiban berdasarkan sewa pembiayaan. persyaratan keamanan. sebagian hutang obligasi atas sewa pesawat jangka panjang juga menggunakan bunga mengambang. Per tanggal 30 September 2010. dan 2009 serta untuk periode 9 bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. • Fluktuasi Tingkat Bunga Sebagian besar dari kewajiban hutang berjalan saat ini adalah dalam denominasi Dolar Amerika Serikat dengan tingkat bunga mengambang (floating rate). kewajiban sewa yang ditentukan oleh perjanjian sewa pesawat. dimana sebagian berada di luar kontrol Perseroan. di masa yang akan datang Perseroan mungkin akan memiliki sewa operasi dengan suku bunga mengambang. Perseroan terkena dampak risiko perubahan nilai tukar terkait dengan fluktuasi nilai tukar Dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah.863. Apabila pendapatan Dolar Amerika Serikat dan pendapatan konversi non-USD Perseroan tidak mencukupi untuk membayar kewajiban Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat pada periode tertentu. hutang dagang dalam mata uang Dolar Amerika Serikat terkait dengan biaya bahan bakar Perseroan. Sementara sekitar 46. 9:00 dan 9:27. dimana pada akhirnya akan memberikan dampak buruk bagi keuntungan usaha Perseroan. 30 . maka kewajiban dan beban Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat akan meningkat dalam mata uang Rupiah. Beban sewa operasi Perseroan saat ini berdenominasi Dolar Amerika Serikat adalah dengan bunga tetap. Dengan menambah armada pesawatnya.447. Perseroan telah disetujui oleh DJPU untuk mempekerjakan pilot asing dengan jangka waktu kontrak 1 tahun dan dapat diperpanjang. Perseroan berkeyakinan bahwa hal ini akan mendukung kemampuan Perseroan untuk meningkatkan utilisasi pesawat terbang yang dimiliki. kebijakan Perseroan adalah untuk menangani eksposur terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat dengan melakukan konversi bulanan atas pendapatan dalam mata uang non-Dolar Amerika Serikat ke dalam mata uang Dolar Amerika Serikat dengan menggunakan spot rate yang tersedia pada saat tanggal konversi. Bali). Rata-rata utilisasi jam terbang pesawat (block hour) per hari Perseroan adalah 9:37. yang disebabkan oleh adanya perubahan terhadap pendapatan bunga dan beban bunga dari simpanan jangka pendek maupun dari aset dan kewajiban keuangan yang mengandung bunga (interest bearing). 2008. termasuk lalu lintas udara.6% dari pendapatan Perseroan adalah dalam mata uang Rupiah dan sisanya dalam mata uang lain. masalah mekanis sehubungan dengan pesawat terbang. Sejak Agustus 2010.8 miliar. kondisi cuaca yang buruk. termasuk kewajiban sewa pembiayaan sebesar Rp1. 9:51. profitabilitas Perseroan dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar Dolar Amerika Serikat LIBOR. antrian di bandara (khususnya untuk bandara internasional Soekarno-Hatta. Pada saat nilai mata uang Rupiah mengalami pelemahan terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat. • Fluktuasi Nilai Tukar Mata uang pelaporan dan fungsional Perseroan adalah dalam mata uang Rupiah. maka transaksi dalam mata uang asing lain diperlukan untuk mengkompensasi kewajiban dan hutang dagang dalam Dolar Amerika Serikat.

• Komponen penting lainnya Komponen-komponen penting dari Pendapatan atau beban lain-lain yang berjumlah 10% atau lebih dari Pendapatan tidak ada. dapat mempengaruhi kinerja keuangan Perseroan. dapat memberikan dampak negatif yang berkelanjutan bagi industri penerbangan yang mengakibatkan penurunan permintaan pelayanan penumpang. dan 93. dan hasil operasi Perseroan di masa yang akan datang. bom yang meledak di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton di Jakarta. juga bervariasi setiap tahunnya mengikuti kalender Hijriah. banyak LCC baru yang masuk ke industri penerbangan domestik. • Peraturan Pemerintah terkait Industri Penerbangan Sejak tahun 2000. telah berdampak pada adanya larangan terbang ke Indonesia. Namun.5 miliar. Penyebaran penyakit menular. dan harga) dan kenaikan tarif pajak badan usaha. yang membuka kompetisi yang besar dan akses ke industri penerbangan Indonesia. Serangan teroris seperti pada tanggal 11 September 2001. Perseroan bersaing juga dengan FSC dan LCC lain yang memberikan layanan penerbangan koneksi ke Indonesia. pendapatan dari pelayanan penumpang domestik juga dipengaruhi oleh permintaan yang rendah selama bulan Ramadhan yang terjadi pada setiap akhir musim panas dari tahun 2007 sampai dengan 2010. Jakarta dan tujuan lainnya di pulau Jawa. kondisi keuangan. Pendapatan Perseroan dari bisnis haji yang mewakili 94.0%. Karena operasi penerbangan haji Perseroan untuk tahun 2009 telah berakhir sebelum tanggal 31 Desember 2009. penyebaran penyakit menular. telah menewaskan delapan orang dan melukai sekitar 150 orang. jaringan rute. maka Perseroan tidak memiliki pendapatan dari operasi penerbangan haji untuk periode sembilan bulan yang berakhir tanggal 30 September 2010. Faktor musiman dapat mempengaruhi pendapatan penumpang Perseroan dan profitabilitas dari kuartal ke kuartal. Kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kondisi keuangan adalah kebijakan tarif batas atas yang dapat membatasi optimalisasi pendapatan dan kebijakan yang mendorong pertumbuhan industri pariwisata sehingga diharapkan dapat meningkatkan lalu lintas penumpang. • Kebijakan Pemerintah Kebijakan pemerintah yang dapat berdampak bagi Perseroan adalah liberalisasi penerbangan sepenuhnya yang memungkinkan maskapai-maskapai asing beroperasi di seluruh bandara internasional Indonesia sehingga Perseroan harus bersaing pada semua aspek (jumlah frekuensi. • Kejadian Luar Biasa Kejadian luar biasa yang ada di luar kendali Perseroan. Kinerja Perseroan juga bergantung pada aturan operasional dan lingkungan yang diaplikasikan pada industri penerbangan secara umum. seperti serangan teroris.1 miliar. pos-pos terbesar dari Penghasilan (Beban) Lain-lain adalah Keuntungan atas sale and lease back Rp159. Pada periode 9 bulan yang berakhir per 30 September 2010. di tiap negara dan tempat dimana pesawat Perseroan terbang. 2008. dan dapat berdampak pada bisnis. image.8 miliar dan Beban bunga dan keuangan Rp119.9%. Faktor persaingan utama adalah pada harga. dimana lalu lintas penumpang Perseroan mengalami penurunan yang signfikan. Operasi penerbangan haji Perseroan untuk periode dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 pada umumnya dapat menutup periode di dua belas minggu setiap tahunnya dari periode Nopember sampai dengan Oktober. Sebagai dampaknya. jadwal.• Musiman Pendapatan penumpang dan profitabilitas Perseroan dipengaruhi oleh musiman di dalam industri penerbangan Indonesia. kualitas pelayanan. terjadi letusan Gunung Merapi dan pada bulan Desember 2010 terjadi letusan Gunung Bromo. peningkatan biaya premi asuransi. tipe dan umur pesawat. Kejadian luar biasa dapat saja terjadi di masa yang akan datang dan dapat memberikan dampak jangka pendek dan jangka panjang bagi industri penerbangan dan juga pada bisnis. hampir seluruh dari pendapatan penumpang dihasilkan selama pertengahan tahun yang disebabkan oleh musim liburan sekolah dan musim akhir tahun. 92.9% terhadap total pendapatan operasi Perseroan dari pelayanan penerbangan tidak berjadwal di tahun 2007. sebagai dua gunung yang paling aktif di Indonesia. Keuntungan atas mata uang asing-bersih Rp130. Pada umumnya. dan 2009. Kegiatan operasi Perseroan sangat terpengaruh selama puncak terjadinya penyebaran SARS dari bulan April sampai Juni 2003. dan penerbangan haji Perseroan dimulai pada bulan Oktober 2010. Pemerintah telah melakukan deregulasi banyak aspek di industri penerbangan domestik. dan peristiwa bom Bali di tahun 2002 dan 2005. Di bulan Nopember dan Desember 2010. dan hasil operasi Perseroan. penurunan harga tiket. Perubahan peraturan dapat berdampak pada kenaikan maupun penurunan kompetisi dari operator penerbangan lainnya. 31 . seperti SARS dan virus H1N1 dapat berdampak buruk bagi kegiatan operasi Perseroan. kualitas layanan. prospek. dan meningkatkan biaya keamanan. Letusan Gunung Merapi telah menggangu penerbangan Perseroan ke Yogjakarta. Pada tanggal 17 Juli 2009.

dan 2008 dan mengikuti prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan praktek akuntansi industri penerbangan yang mengacu pada revisi AICPA Airline Industry Guide. sewa tambahan akan diakui sebagai Aset (pembayaran deposit atau pembayaran di muka) sesuai dengan PSAK No.. Kewajiban kontinjensi. dan Aset kontinjensi”. Perseroan memperpanjang jatuh tempo dari sisa FRN tersebut sampai dengan 21 Januari 2018 dan diakui sebagai keuntungan pada pos luar biasa Rp184. Pengakuan program kesetiaan pelanggan sesuai dengan PSAK No.8 miliar kepada Bank Mandiri dengan bunga 4% per tahun. Perseroan menyetujui dua tahun perpanjangan jatuh tempo dari MCB dengan Bank Mandiri. Perubahan pelaporan entitas PT Aero Wisata. pembayaran untuk beban perawatan besar dilakukan melaui mekanisme penagihan kembali. Ltd. mesin dan instalasi di PT Bina Inti Dinamika. dengan demikian akuntansi untuk investasi Anak Perusahaan telah berubah dari metode beban menjadi metode konsolidasi.5 juta dan Rp23 miliar. 57 “Kewajiban diestimasi.65 juta dan Rp37. Atas pembelian kembali FRN tersebut dan permohonan persetujuan. 57 “Kewajiban diestimasi.018. Dengan cara ini. MCB adalah merupakan instrumen yang tidak dapat dipindahkan dan subordinasi terhadap hutang berjalan lainnya. Perseroan dan Bank Mandiri menyetujui melakukan restrukturisasi dan menyelesaikan seluruh MCB dengan pembayaran kas sebesar Rp50. Pada tanggal 21 Januari 2010. Perubahan klasifikasi bangunan dan perbaikan. dan 2008 Perseroan melakukan penyajian kembali (restatement) laporan keuangan konsolidasi untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007. Penyajian kembali tersebut akibat dari: Perubahan kebijakan akuntansi untuk beban inspeksi rangka pesawat. Perseroan mengakui keuntungan luar biasa sebesar Rp123. - - - - 32 . 24 (Revisi 2004) “Imbalan Kerja”. Perseroan menyelesaikan tender parsial dengan sistem dutch auction dari FRN yang gagal bayar dengan nilai nominal USD40. Kewajiban kontinjensi. yang dapat dikonversikan yang ekuivalen dengan nilai saham pada Perseroan pada saat setiap waktu sebelum jatuh tempo dalam 5 (lima) tahun sejak diterbitkan. Perseroan menerbitkan Mandatory Convertible Bonds (“MCB”) dengan pokok pinjaman sebesar Rp1. • Penyajian kembali (restatement) laporan keuangan konsolidasi untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007.5 miliar pada tanggal 31 Desember 2009. Di tahun 2006. dari metode akrual menjadi metode ditangguhkan dan menyajikan kembali laporan keuangan konsolidasi berdasarkan PSAK No. anak perusahaan PT Aero Wisata.9 miliar dan mengkonversi menjadi saham Perseroan dengan nilai prinsipal sebesar Rp967. Anak Perusahaan. dan Aset kontinjensi”.1 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.• Keuntungan Luar Biasa atas Restrukturisasi Hutang Sebagai hasil restrukturisasi pinjaman tahun 2001. dimana Anak Perusahaan telah memperoleh data baru dari laporan keuangan GOH Korea Co. overhaul mesin untuk pesawat milik Perseroan dan pesawat yang disewa. Pengakuan keuntungan jangka panjang terkait dengan program Persiapan Pensiun yang dilakukan oleh Yayasan Kesehatan Garuda (Yakesga) dimana keuntungan akan ditentukan berdasarkan level jasa yang diberikan oleh karyawan yang pensiun berdasarkan PSAK No. 16 (Revisi 2007) dan FASB Staff Position (FSP) AUG AIR1 “Akuntansi untuk Aktivitas Perawatan Utama” yang dikeluarkan pada tanggal 8 September 2006. Pengakuan kewajiban kontraktual dan tambahan sewa ketika komponen rangka pesawat tidak lagi memenuhi standar minimum kinerja seperti yang disetujui.6 miliar dengan total harga beli USD22. Di bulan Desember 2009. 30 (Revisi 2007) “Sewa”.9 miliar. Selain itu. sejumlah beban minimum yang diestimasikan untuk kondisi pengembalian berdasarkan PSAK No. anak perusahaan PT Aero Wisata per tanggal 31 Desember 2008. menjadi Build Operate Transfer (“BOT”) dan perubahan kebijakan akuntansi untuk BOT aset dari model revaluasi menjadi metode biaya. Sebagai hasil perbedaan antara total nilai penyelesaian ini dan nilai yang terbawa dari MCB.

• Perubahan dalam metode penjualan seperti perjanjian distribusi baru atau perkembangan tim penjualan. 4. penarikan dilakukan dengan prinsip yang sangat hati-hati agar tidak terlalu mempengaruhi layanan secara keseluruhan. Perseroan berencana untuk mengembangkan distribusi dan penjualan sehingga penggunaan sistem ini tidak terbatas pada sub agen namun individu-individu yang potensial sebagai pemasar melalui mekanisme tertentu. Dalam rangka memperluas distribusi dan meningkatkan penjualan. Berikutnya Perseroan memiliki harga yang berubah sangat dinamis dikenal dengan harga promosi yang dapat disesuaikan dengan perkembangan market. Perseroan dari waktu ke waktu terus berupaya untuk mengembangkan produk maupun layanan yang inovatif untuk tetap memberikan penawaran yang komprehensif kepada pelanggan serta menjaga daya saing perseroan di pasar. Perseroan mengembangkan harga yang lebih mudah didapatkan oleh pelanggan dimana perubahan harga langsung dapat diatur sesuai segmen pasar yang dilayani. Perseroan memiliki komitmen untuk terus memanfaatkan teknologi informasi secara efektif dan efisien untuk kemudahan akses dan transaksi bagi pelanggan. Perseroan menerapkan dynamic and flexible pricing concept. Penarikan jasa dilakukan melalui penutupan rute atau kota tujuan akan berdampak berkurangnya pendapatan dan jumlah penumpang. Pendapatan operasional diakui pada saat penerbangan telah dilakukan. Pendapatan jasa perbaikan dan pemeliharaan pesawat atas kontrak jangka panjang diakui dengan menggunakan metode persentase penyelesaian. Perseroan telah mengembangkan sistem ini sehingga sub agen dapat menjual tiket Internasional melalui Garuda Online Sales. biro perjalanan dan jasa sistem reservasi serta jasa lain yang berhubungan dengan penerbangan diakui sebagai pendapatan pada saat jasa diserahkan. Perseroan telah mengembangkan sistem penjualan baru yang bebasis website (Garuda Online Sales) yang ditujukan kepada para sub agen. Pendapatan atas jasa perhotelan. Sistem baru ini diluncurkan untuk penjualan tiket Domestik sejak Agustus 2009. Kebijakan Akuntansi Penting Pengakuan Pendapatan Penjualan tiket penumpang dan jasa kargo awalnya diakui sebagai transportasi yang ditangguhkan. Penarikan suatu produk dan layanan dapat dilakukan jika memang tidak sesuai lagi dengan ekspektasi pelanggan. dimana diharapkan produk dan layanan baru ini sesuai ekspektasi pelanggan sehingga dapat meningkatkan layanan dan tercipta peningkatan penjualan dan pangsa pasar. Hal ini ditujukan untuk memberikan layanan yang handal dan cepat terutama kepada kelompok pelanggan yang sudah terbiasa mempersiapkan sendiri perjalanannya (self-arranging) yang porsinya cukup besar di antara pelanggan Perseroan. jasa boga. Penjualan didalamnya termasuk juga atas pemulihan surcharges selama tahun berjalan. Perubahan dapat dilakukan sampai harian sesuai dengan persaingan di pasar terutama dipasar domestik dan regional. Pada awal tahun 2009 Perseroan telah meluncurkan layanan pemesanan dan pembelian tiket secara online melalui website Perseroan untuk rute Domestik dan sejak akhir Mei 2010 Perseroan mulai melayani pemesanan dan pembelian tiket secara online tersebut untuk rute Internasional. Dimasa mendatang sesuai dengan pengembangan jaringan sistim distribusi Garuda yang dapat langsung ke pelanggan (direct channel). • Perubahan dalam harga. Harga tahunan ini diatur mulai dari yang harga tertinggi yang sangat flexible sampai lebih rendah dengan beberapa pembatasan. Sebagai contoh Perseroan telah merencanakan untuk mengembangkan jaringan melalui penambahan rute dan kota tujuan baik dilakukan sendiri maupun melalui kerjasama aliansi global maskapai penerbangan. 33 . atau peristiwa lainnya yang mempengaruhi penjualan Perseroan. Pada tahun-tahun ke depan. Harga Perseroan yang terdiri dari harga tahunan diterbitkan sepanjang tahun tidak terlalu banyak perubahan dalam tahun berjalan. • Pengaruh produk baru atau penarikan produk. kondisi demografi pasar dan faktor lainnya. Perusahan mengembangkan produk dan layanan baru melalui suatu analisa yang matang. 1. hal ini akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan dan jumlah penumpang. Pendapatan jasa perbaikan dan pemeliharaan pesawat atas kontrak jangka pendek diakui pada saat jasa diserahkan kepada langganan.• Perubahan perilaku konsumen terhadap perubahan teknologi baru. Dalam mengantisipasi perubahan pasar yang semakin dinamis. Dengan adanya sistem ini jaringan distribusi Perseroan dapat diperluas hingga ke kota-kota yang belum dijangkau oleh agen penjualan IATA. persoalan dengan pemasok. Pada tahun-tahun ke depan Perseroan akan fokus untuk meningkatkan kehandalan dan kemudahan sistem penjualan langsung secara elektronik sehingga dapat memenuhi preferensi konsumen yang semakin tanggap terhadap perubahan teknologi. Pada akhir Juli 2010.

Perubahan kebijakan akuntansi dari model biaya ke model revaluasi dalam pengukuran berikutnya aset tetap pesawat. dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi akuntansi diterapkan secara prospektif. pesawat. Sebelumnya. dalam hal ini kenaikan revaluasi hingga sebesar penurunan nilai aset akibat revaluasi tersebut. dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai. 2. tanah dan bangunan dinyatakan berdasarkan nilai revaluasi yang merupakan nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Penurunan jumlah tercatat yang berasal dari revaluasi pesawat. Surplus revaluasi pesawat. mengganti atau memperbaiki aset tetap dicatat sebagai biaya perolehan aset jika dan hanya jika besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas dan biaya perolehan aset dapat diukur secara andal. Taksiran masa manfaat. tanah dan bangunan dinyatakan berdasarkan biaya perolehan. pesawat. Perseroan mulai menerapkan perubahan kebijakan akuntansi sehubungan dengan perkiraan nilai manfaat dari pesawat Perseroan dari 12 sampai dengan 15 tahun menjadi 18 sampai dengan 20 tahun. tanah dan bangunan langsung dikreditkan surplus revaluasi pada bagian ekuitas. Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi pada saat terjadinya. 3. Biaya-biaya lain yang terjadi selanjutnya yang timbul untuk menambah. nilai residu dan metode penyusutan ditinjau minimum setiap akhir tahun buku. Penyusutan Sejak 1 Januari 2009. Revaluasi Aset Tetap Sejak 31 Desember 2008. tanah dan bangunan diterapkan secara prospektif.Pendapatan bunga diakru berdasarkan waktu terjadinya dengan acuan jumlah pokok simpanan dan tingkat bunga yang sesuai. tanah dan bangunan yang telah disajikan dalam ekuitas dipindahkan langsung ke saldo laba pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya. dikreditkan dalam laporan laba rugi. tanah dan bangunan dibebankan dalam laporan laba rugi apabila penurunan tersebut melebihi saldo surplus revaluasi aset yang bersangkutan. Kenaikan yang berasal dari revaluasi pesawat. kecuali sebelumnya penurunan revaluasi atas aset yang sama pernah diakui dalam laporan laba rugi. Revaluasi dilakukan dengan keteraturan yang memadai untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca. jika ada. Sejak 1 Januari 2009 perkiraan masa manfaat dari aset Perseroan adalah sebagai berikut: Aset Pesawat Tahun Pesawat (dikurangi nilai sisa sebesar 20%) Rangka Pesawat Mesin Simulator (dikurangi nilai sisa sebesar 20%) Simulator Rotable Parts Aset Pemeliharaan Inspeksi Rangka Pesawat Overhaul mesin Aset Non Pesawat Bangunan Hanggar Gedung Kantor Kendaraan Furnitur dan peralatan 18-20 18-20 10 12 Periode inspeksi berikutnya Periode overhaul berikutnya 40 40 3-5 2-10 Aset sewaan disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan aset tetap yang dimiliki sendiri atau disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode sewa dan umur manfaatnya. 34 .

Aset berdasarkan pembiayaan sewa dimana Perseroan dan Anak Perusahaan adalah penyewa diakui sebagai aset Perseroan dan Anak Perusahaan dalam nilai pada permulaan sewa. jika nilai wajar aset pada saat transaksi jual dan sewa-balik lebih rendah daripada nilai tercatatnya. maka rugi tersebut ditangguhkan dan diamortisasi secara proporsional dengan pembayaran sewa selama periode penggunaan aset. yang tidak memenuhi kriteria tersebut. Sewa lainnya. Beban keuangan dibebankan langsung ke laba rugi kecuali beban keuangan itu secara langsung diatribusikan pada aset yang memenuhi syarat. dalam nilai pada saat ini dari pembayaran sewa minimum. selisih lebih hasil penjualan diatas nilai tercatat. kewajiban kontrak untuk menentukan nilai sekarang dari perkiraan biaya masa depan dari inspeksi rangka pesawat dan perbaikan mesin berdasarkan biaya aktual yang dibebankan dalam laporan laba rugi. insentif tersebut diakui sebagai kewajiban. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing aset. 5. Bila terdapat komitmen untuk perawatan pesawat sesuai yang diatur dalam perjanjian sewa operasi. maka laba atau rugi diakui segera. petunjuk pabrik dan. - Untuk sewa operasi. diklasifikasikan sebagai sewa operasi. Apabila aset tetap tidak digunakan lagi atau dijual. Aset yang dijual berdasarkan transaksi jual dan leaseback diperlakukan sebagai berikut: Jika transaksi jual dan leaseback merupakan sewa operasi dan transaksi tersebut dilakukan pada nilai wajar. maka nilai tercatat dikeluarkan dari laporan keuangan konsolidasi dan keuntungan atau kerugian yang dihasilkan diakui dalam laporan laba (rugi) konsolidasi pada periode bersangkutan. tidak diperlukan penyesuaian kecuali jika telah terjadi penurunan nilai.Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan. Penyisihan dibuat berdasarkan pengalaman historis. Pembayaran sewa dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pengurangan dari kewajiban sewa sehingga mencapai suatu tingkat bunga yang konstan (tetap) atas saldo kewajiban. Dalam hal ini. Biaya Pemeliharaan Pesawat Biaya inspeksi besar rangka pesawat dan perbaikan besar mesin pesawat milik sendiri dan sewa pembiayaan dikapitalisasi dan disusutkan selama periode sampai dengan inspeksi atau perbaikan besar berikutnya. Untuk sewa pembiayaan. kecuali rugi tersebut dikompensasikan dengan pembayaran sewa masa depan yang lebih rendah dari harga pasar. atau. nilai tercatat diturunkan ke jumlah yang dapat dipulihkan. Kewajiban terkait kepada pihak yang menyewakan termasuk ke dalam neraca sebagai kewajiban pembiayaan sewa. 4. penyisihan diakui selama jangka waktu sewa atas kewajiban pengembalian sesuai yang dipersyaratkan dalam perjanjian tersebut. Penurunan Aset Bila nilai tercatat aset melebihi taksiran jumlah yang dapat diperoleh kembali maka nilai tercatat tersebut diturunkan ke jumlah yang dapat diperoleh kembali tersebut. Jika harga jual diatas nilai wajar. selisih lebih diatas nilai wajar tersebut ditangguhkan dan diamortisasi selama periode penggunaan aset. Dalam hal insentif diperoleh dalam sewa operasi. Rental kontijen diakui sebagai beban di dalam periode terjadinya. maka laba atau rugi diakui segera. Sewa Sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Biaya perolehan tersebut termasuk biaya pinjaman yang terjadi selama masa pembangunan yang timbul dari hutang yang digunakan untuk pembangunan aset tersebut. 6. jika lebih rendah. kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati pengguna. maka rugi sebesar selisih antara nilai tercatat dan nilai wajar diakui segera. Jika harga jual di bawah nilai wajar. jika relevan. Jika suatu transaksi jual dan leaseback merupakan sewa pembiayaan. 35 . yang ditentukan sebagai nilai tertinggi antara nilai jual neto dan nilai pakai. dihitung dengan merujuk pada periode perbaikan besar atau inspeksi berikutnya. tidak segera diakui sebagai pendapatan tetapi ditangguhkan dan diamortisasi selama masa sewa. Pembayaran sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus selama masa sewa. Keseluruhan manfaat dari insentif diakui sebagai pengurangan dari biaya sewa dengan dasar garis lurus kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat yang dinikmati pengguna. dikapitalisasi sesuai dengan kebijakan akuntansi mengenai biaya pinjaman.

Biaya jasa lalu dibebankan langsung. Imbalan Pasca Kerja dan Imbalan Kerja Jangka Panjang Imbalan Pasca Kerja Perhitungan imbalan pasca-kerja ditentukan dengan menggunakan metode Projected Unit Credit. Aset Keuangan Seluruh aset keuangan yang diakui dan yang tidak diakui pada tanggal pembelian atau penjualan suatu aset keuangan diatur dalam kontrak yang dimana persyaratan periode yang diperlukan aset keuangan ditentukan oleh pasar. 7. dievaluasi terhadap indikator penurunan nilai pada setiap tanggal neraca. investasi ini diukur sebesar biaya perolehan. Pinjaman dan piutang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. dana pemeliharaan pesawat dan uang jaminan atas sewa operasi. diklasifikasikan dalam kategori ini. diklasifikasikan dalam kategori ini. dan pengukuran awal dengan menggunakan nilai wajar ditambah dengan biaya-biaya transaksi. Keuntungan atau kerugian dari derivatif non lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. • Pinjaman dan Piutang Bank. kecuali investasi pada perusahaan asosiasi. dan dikurangi dengan nilai yang wajar dari aset program. piutang usaha dan piutang lain-lain yang mempunyai jangka waktu pembayaran yang tetap dan yang tidak diperdagangkan dalam pasar aktif. kecuali untuk piutang jangka pendek di mana pengakuan bunga tidak material. Aset keuangan diturunkan nilainya bila terdapat bukti yang objektif. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari jumlah yang lebih besar diantara nilai kini kewajiban imbalan pasti atau nilai wajar aset program diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diprakirakan dari para pekerja dalam program tersebut. dikurangi penurunan nilai. yang berdampak pada estimasi arus kas masa depan dari investasi. 8.Biaya perbaikan dan pemeliharaan lainnya dibebankan pada saat terjadinya. dan dikurangi dengan nilai wajar aset program. • Tersedia untuk dijual Investasi jangka panjang dalam bentuk saham. selain yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. deposito berjangka. Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan kerja jangka panjang di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan kerja pasti jasa lalu belum diakui. 36 . dan sebaliknya diakui sebagai biaya dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested. dikurangi penurunan nilai. Bila tidak ada pasar aktif untuk investasi tersebut dan nilai wajar tidak dapat diukur dengan andal. Imbalan Kerja Jangka Panjang Perhitungan imbalan kerja jangka panjang ditentukan dengan menggunakan Projected Unit Credit. yang mana dari awal diukur dengan menggunakan nilai wajar. Penurunan nilai aset keuangan Aset keuangan. sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset keuangan. apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested. Bunga diakui dengan menggunakan metode suku bunga efektif. kecuali aset keuangan itu diklasifikasikan sebagai “at fair value through profit or loss”. Biaya jasa lalu dan keuntungan (kerugian) aktuarial diakui langsung pada tahun yang bersangkutan. Aset keuangan Perseroan dan Anak Perusahaan diklasifikasikan sebagai berikut: • Nilai wajar pada laporan laba rugi Derivatif keuangan diklasifikasikan dalam kategori ini kecuali ditujukan sebagai derivatif lindung nilai. Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan pasca-kerja di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan pascakerja disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial belum diakui dan biaya jasa lalu yang belum diakui.

kegagalan atau peningkatan signifikan atas jumlah pembayaran tertunda atas kredit rata-rata sebelumnya.Aset keuangan diukur pada amortized cost Dalam penentuan apakah terdapat bukti objektif bahwa kerugian atas penurunan nilai telah terjadi atas aset keuangan. Pemulihan dikemudian hari dari jumlah yang dihapuskan sebelumnya. Kerugian penurunan nilai tersebut tidak dihapus pada periode berikutnya. Untuk lindung nilai yang tidak mengakibatkan pengakuan aset atau kewajiban. Jumlah diakui sebagai kewajiban diestimasi merupakan taksiran terbaik yang diharuskan menyelesaikan kewajiban pada tanggal neraca. dan hanya jika. kecuali untuk piutang usaha dan piutang lainlain dimana nilai tercatat diturunkan melalui akun penyisihan. seperti kesulitan keuangan signifikan pada penerbit atau terjadi perubahan lingkungan operasi yang merugikan penerbit. Untuk lindung nilai efektif terhadap eksposur perubahan nilai wajar. dengan memperhatikan unsur risiko dan ketidakpastian yang melekat pada kewajiban. Aset keuangan diukur pada biaya. kewajiban Perseroan telah dibebaskan. 10. dikurangi kerugian penurunan nilai Jika terdapat bukti objektif bahwa rugi penurunan nilai telah terjadi atas aset keuangan yang diukur pada biaya. pengalaman kolektibilitas pembayaran di masa lalu. Jika transaksi lindung nilai mengakibatkan pengakuan aset atau kewajiban. Penghentian pengakuan kewajiban keuangan Kewajiban keuangan dihentikan pengakuannya jika. jumlah yang ditangguhkan dalam ekuitas diakui dalam laporan laba rugi pada periode yang sama dimana item yang dilindung nilai mempengaruhi laba atau rugi bersih. dikreditkan terhadap akun penyisihan. Kewajiban Keuangan dan Instrumen Ekuitas Klasifikasi sebagai hutang atau ekuitas Kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh Perseroan dan Anak Perusahaan diklasifikasikan sesuai substansi perjanjian kontrak dan definisi kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas. Kewajiban Diestimasi Kewajiban diestimasi diakui bila Perseroan dan Anak Perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu dan besar kemungkinan Perseroan dan Anak Perusahaan diharuskan menyelesaikan kewajiban serta jumlah kewajiban tersebut dapat diestimasi secara andal. Bila piutang usaha atau piutang lain-lain tidak tertagih. Semua derivatif dicatat sebagai aset apabila nilai wajarnya positif. jika sebaliknya. Perubahan nilai tercatat akun penyisihan diakui dalam laporan laba rugi. piutang dihapuskan terhadap akun penyisihan. akumulasi keuntungan dan kerugian dalam ekuitas direklasifikasi ke laporan laba rugi dalam periode yang sama selama aset atau kewajiban yang terkait mempengaruhi laba rugi. penurunan nilai adalah sebesar perbedaan antara nilai tercatat dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan yang didiskonto dengan tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut. 11. kerugian penurunan nilai diukur sebesar selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini dari nilai estimasi arus kas masa depan yang didiskontokan pada tingkat pengembalian pasar atas aset keuangan sejenis. 37 . manajemen mempertimbangkan beberapa faktor seperti. Nilai tercatat aset keuangan diturunkan secara langsung melalui kerugian penurunan nilai untuk seluruh aset keuangan. Instrumen Keuangan Derivatif Instrumen derivatif awalnya diakui sebesar nilai wajar pada tanggal kontrak derivatif dibuat dan kemudian dinilai kembali sebesar nilai wajarnya pada setiap tanggal neraca. derivatif dicatat sebagai kewajiban. termasuk yang diakui kesulitan keuangan debitur. Kewajiban diestimasi diukur menggunakan estimasi arus kas untuk menyelesaikan kewajiban kini dengan jumlah tercatatnya sebesar nilai kini dari arus kas tersebut. Perubahan nilai wajar instrumen derivatif keuangan yang ditujukan untuk lindung arus kas masa depan yang efektif diakui sebagai bagian dari ekuitas dan bagian yang tidak efektif langsung diakui dalam laporan laba rugi. 9. item yang dilindung nilai disesuaikan dengan perubahan nilai wajar yang diatribusikan terhadap risiko yang dilindung nilai dan perubahan tersebut langsung diakui dalam laporan laba rugi. Untuk aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. dibatalkan atau berakhir.

3 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 10.6 30.373. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi.1 7. Dihitung berdasarkan jumlah kursi tersedia x jarak terbang (dalam kilometer) 3.0 16. beberapa data statistik penting adalah sebagai berikut: Data Operasional Penting: Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009 9.4 122.3 72.4 7.6 13.3 11.5 30. 38 .2 29.5 14.0 43.566.4 234.809.4 Informasi terkait pendapatan penumpang: Jumlah Penumpang (ribu) Penumpang-km diangkut (RPK) (dalam juta) (1) Tempat duduk-km tersedia (ASK) (dalam juta) (2) Tingkat isian tempat duduk (PLF) (%) (3) (5) Passenger yield (USD sen/km penumpang) (4) (9) Informasi terkait kegiatan usaha kargo Tonase kargo diangkut (juta kg) Tonase-km kargo diangkut (juta ton-km) (6) Tonase-km kargo tersedia (juta ton-km) (7) Tingkat isian kargo (%) (5) (8) Cargo yield (USD sen/km ) (1)(9) Catatan: 149.9 41.3 15.0 157.1 18.532. Data Operasional Penting Untuk mengukur kinerja operasional Perseroan.5 38. Dihitung sebagai jumlah kargo dan barang muatan (dalam ton-kilometer) sebagai persentase dari total kapasitas kotor (dalam ton-kilometer) 9.1 77.4 627.901. Kami telah menerjemahkan mata uang Rupiah hasil kargo ke dolar Amerika Serikat dengan basis bulanan dengan menggunakan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari terakhir pada bulan sebelumnyaDihitung berdasarkan jumlah penumpang yang dibawa x jarak terbang (dalam km) 2.3 275.6 191.9 7.9 37.0 8.8 76. Dihitung dengan membagi pendapatan penumpang dari pelayanan berjadwal oleh RPK 5.172.633.336.Bila beberapa atau keseluruhan dari manfaat ekonomis mengharuskan penyelesaian kewajiban diestimasi diharapkan dapat dipulihkan dari pihak ketiga.045. Dihitung sebagai jumlah kapasitas kargo (dalam ton) dikali dengan jarak tempuh (dalam kilometer) 8.1 30.209.7 110.369.7 35.0 568.713.9 73.4 815.1 282.827. Tingkat isian (load factor) secara teori merupakan pendapatan dari penumpang secara keseluruhan dan pendapatan kargo.980. Perseroan telah menerjemahkan total dari passenger yield dan cargo yield ke Dolar Amerika Serikat berdasarkan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari terakhir bulan sebelumnya.2 1.1 757.9 539. Penggunaan Estimasi Penyusunan laporan keuangan konsolidasi sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan konsolidasi serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan.4 9.5 2007 9.9 15. Unit beban penumpang dihitung dengan membagi pengeluaran operasional dengan ketersediaan kursi (kilometer) 6. 12.0 71.5 18. Dihitung berdasarkan persentase RPK terhadap ASK 4.5 21. Dihitung sebagai jumlah kargo dan barang muatan yang dibawa (dalam ton) dikali dengan jarak tempuh (dalam kilometer) 7. yang ekuivalen dengan pengeluaran atau beban operasional (dengan asumsi pendapatan kargo adalah statis.4 7.3 20.5 2008 10.9 149.7 311.9 37. piutang diakui sebagai aset apabila terdapat kepastian tagihan dapat diterima dan jumlah piutang dapat diukur secara andal. dihitung dengan jumlah unit beban penumpang sebagai persentase dari passenger yield.882.

4 10.6 berjadwal Total Pendapatan Usaha 11.3% 0.759. Laba Usaha dan Laba Bersih: 19.2 13.7% 1.7 0.466.9 11.4 90. dan jasa lainnya. jasa kesehatan.448.4 5.000 732 -1.2 71.0 Total pendapatan penerbangan 11.2% 26.190.9 5. pelatihan.5.042 11.8% 174.4% 90.4% 64.510.8% 95.2% 78.3 berjadwal Pendapatan Tidak Berjadwal: Haji 396.7% 593.6 Surat dan Dokumen 27.849 12.6 0.6 Kelebihan Bagasi 42.569. Pendapatan Usaha Penerbangan Pendapatan usaha penerbangan pada prinsipnya terdiri dari pendapatan yang diperoleh dari penerbangan berjadwal dan tidak berjadwal.0% 9.291.8 0.7% 17. Tabel berikut menunjukan detail dari komponen penting pendapatan Perseroan dan persentasenya dari total nilai pendapatan usaha Perseroan untuk periode sebagai berikut: (dalam miliar Rupiah) Uraian Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September (%) 2010 % 2009*) Untuk tahun yang berakhir 31 Desember (%) 2007 (%) 2009 (%) 2008 Pendapatan Berjadwal: Penumpang 10.9 90.7% 15. jasa biro perjalanan.3 0.8% 1.423.8% 0.3 0.2% 23.7% 11.000 4.049.0 Kargo 845.7 90.3% 10.9% 801.0 3. Pendapatan Lain-lain Pendapatan lain-lain merupakan pendapatan yang diperoleh dari jasa yang berhubungan dengan penerbangan yang diberikan Perseroan.180.2 79. 39 .6 0.339.1% b.2% 36.533.9% 2.605.9 Penerbangan Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 72.8% 79.8 Total Pendapatan penerbangan tidak 102.7% 947.685 Rp miliar 9.1% 11.6 4.2 83.1% 2.2 91.0% 839.491.3% 49.7% 0.2% 16.1 89.1% 10.8% 475.019 2009 624 570 195 2007 Jan-Sep 2009 2009 Jan-Sep 2010 2010 Sumber: Perseroan a.9% 12.120. seperti jasa pemeliharaan dan perbaikan pesawat.067.2% 13.8 72.3% 2.5 0.3 4.093.551. jasa boga.3 6. hotel.0% 2.6 0.000 14.8 0.655.6 0.2% 30.8 Charter 102.353 153 2008 975 918 1.4% 14.4 85.9% 12.000 1.7% 10.5% 12.3 0.4 76.4% 75.7% 151.2 0.0 0.5% 4.699.4 78.860 Pendapatan Usaha Laba(Rugi) Usaha Laba Bersih Bersih Laba(Rugi) 14. Deskripsi atas Akun-Akun Penting Grafik di bawah ini memberikan gambaran pertumbuhan Pendapatan.4% 44.7 13.350 19.586.000 17.

4 0.4 0.7 0.6 0. e.8 Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September (%) 2010 % 2009*) 258.7% 274.0 0.2 231.2 9.1% 18.9% Uraian Biro Perjalanan Jasa Boga Pemeliharaan dan Perbaikan Pesawat Pelayanan Penerbangan 160.0% 2007 251.133.7 2.7 0. Lombok. PT Aero Jasa Perkasa.2% 19. sistem reservasi. yang memberikan jasa pemeliharaan dan perbaikan pesawat kepada operator penerbangan lain. d.9 0.0% 7.1% 13.8 1.0% 25. Jasa Biro Perjalanan Pendapatan jasa biro perjalanan merupakan pendapatan usaha anak perusahaan PT Aero Wisata (“Aerowisata”).3 0.669. g.8% 1.6 250.2% 31.3 0.7 (%) 1.3% 370. h. Jasa Boga Pendapatan jasa boga merupakan pendapatan usaha anak perusahaan Aerowisata. Garuda Orient Holidays Japan INC.8% 0. dan juga bertindak sebagai agen jasa biro perjalanan bagi penerbangan lainnya.3% 1.1% 21.8% 139.2 0.6% 260. Jasa Lain -Lain Pendapatan dari jasa lain-lain adalah pendapatan yang diperoleh dari administrasi operasi penerbangan codesharing yang dioperasikan oleh operator penerbangan pihak ketiga. Jasa Hotel Pendapatan dari jasa hotel merupakan pendapatan usaha anak perusahaan Aerowisata yaitu PT Mirtasari Hotel Development. atau penyewaan tempat kargo kepada perusahan pengiriman barang pihak ketiga.8 436.6 337. dan Australia.3% 200.280.3 0.8% 113.1% 1.4% 2008 333. 40 .4 589. penyewaan gudang.5 1.4% 1. (“ACS”) yang memberikan jasa boga kepada perusahaan penerbangan pihak ketiga yang beroperasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.7 0.9 1.3 Hotel 96.2 0.1% 11. Ltd.5 0. dan Garuda Orient Korea Co.7 3.0 c.0% 191.7% 1.1 8.3% 0.9% 2. Bali.8 9.5 0.8 0.7% 1.3 0.1% 15.8% 122. Korea Selatan. yang mengoperasikan biro perjalanan wisata berupa masing-masing paket wisata di Indonesia.Tabel berikut menunjukan detail dari komponen pendapatan lain-lain dan persentasenya terhadap total pendapatan usaha untuk periode sebagai berikut: (dalam miliar Rupiah) Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 256.0 0.3 0.8 0.2% 0.1% 173.7 0.9 Fasilitas 121. yaitu GMF AeroAsia.8% 159.762.5% 213.6% 78. dan penyediaan jasa teknologi informasi kepada pihak ketiga.0 2. PT Angkasa Citra Sarana Catering Service.1% 1.6 0. Jepang.2% 0. Garuda Orient Holidays Pty.1% 253.2% 28. dan Bandung.8 Kesehatan 14.3 1.8% 98.9 0.1% 20.8% 1.2% 38.1% 20.1% 7.8 (%) 1.5 1. Pemeliharaan dan Perbaikan Pesawat Pendapatan yang diperoleh dari jasa pemeliharaan dan perbaikan pesawat merupakan pendapatan usaha Anak Perusahaan.9 (%) 1.0% 94.4 0.8% 134.2% 3. Jasa Kesehatan Pendapatan jasa kesehatan merupakan pendapatan yang diperoleh dari klinik dan apotik yang dioperasikan oleh SBU Perseroan.7 1.7 10. yang mengoperasikan lima hotel di Surabaya.2 0.387. PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika.6% 0.2% 0..1% 9.1% 28.0% 38.8% 2. Biak.7 Lain-lain 17.9 379.5 Teknologi Informasi 17.1% 163.9 Pelatihan 6.1% 22.1% 5.1% 18.2% 0.7 0.7 0. Ltd.1% 20.7 Lain-lain 1. f.9 Transportasi 14.8 2.9% 1. yaitu PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi.

7% 749.1 0.8 7. sedangkan sisanya untuk penyediaan layanan pemeliharaan dan perbaikan oleh GMF AeroAsia kepada pihak ketiga.7 0.i.8 8.8 7.6% 68.107.6 0. beban suku cadang. Beban Pemeliharaan dan Perbaikan Beban pemeliharaan dan perbaikan pesawat merupakan beban usaha GMF AeroAsia terdiri dari beban perawatan umum dan overhaul.308.6% 104.0 65.1% 8.4% 482. beban bahan bakar dan beban asuransi.1% 1.246.942.9% 876.1 8.212.3 9.0 55. dan 74.0% 17.3% 911.1% 1.3% 1.0% 6.3 0.0% 4.7 7.7 47.078.9 6.310.8 9.0% 260.6 15.4%.6% 7.1 0.142.0 6.8% 669.4% 66.0% 8.6 8.6% 949. Pengeluaran terkait dengan inspeksi perawatan besar dikapitalisasi dan disusutkan sampai dengan inspeksi berikutnya. 2008.562.286.8% 9.8 5.2 7. 71.2 0.6% 1.9 8.7 100.250. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.3 6.0 100.2 18.0% 4.5% 75.1 0.4% 1.7% 1.5%.3% 4.3% 1.9 9.0 1.075.6% dari total beban dikontribusikan oleh beban pemeliharaan dan perbaikan untuk armada Perseroan.4% Lain-lain 3.4 9.74.5 0.6% 1.7 8.1% 4.0% 8.4 6.5 100.1% 223.035.6 100.1 67.636.089.107.9 7.3% Sewa pesawat 1.5% 197.0% 11.983.2% Sewa dan charter pesawat Pesawat charter 159.2% 986. Beban sewa dan charter pesawat terdiri dari sewa pesawat dan charter pesawat untuk penerbangan haji.6% 890.3 0.414.9 0.0 8.8% 723.2% 1.7% 984.9% 1. 41 .6 61.105.295.8 6.045.1% 3.2 2.3 10.7 47.7 0.5% 668. sekitar 73.327.8 10.2 0.9 10.8% 58.6 0.4 8.4% 39.7% 1.3 0.9 11.948. gaji pegawai dan tunjangan.2 0.252. beban sewa dan charter pesawat.6 6.9 3.996.7% 1.6% 919.225.2 7.7 8.2 1. bisnis.4 2. serta biaya asuransi pesawat.4 2.4 0.0% Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September (%) 2010 % 2009*) k.206.4% 1.8% 188. Beban Operasional Penerbangan Beban operasional penerbangan terdiri dari biaya bahan bakar.7 8.5% 4. Penjualan dan Promosi Administrasi dan Umum Penyusutan dan Amortisasi Imbalan Kerja Operasional Transportasi Operasional Jaringan Operasional Hotel Beban Usaha Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) j.3% 38. pendidikan.609.5% 1.0 100.4% 70.1% 6.0% 13.7% 1.1 70.6% 1.9 7.8 100.8 8.3 100.202.9% 1.4 0. dan group pariwisata. gaji pegawai dan tunjangan untuk pilot.4% 1.1 7.225.268.6 100.8 2.7% Asuransi 173.0% 9.8 2.2% 32. pemerintah.1% 1.378.122.5% 368.2% 12. (dalam miliar Rupiah) Untuk tahun yang berakhir 31 Desember Uraian 2009 (%) 2008 (%) 2007 (%) Beban operasional Penerbangan Bahan Bakar 4.7 100.6 1.569.1% Total 6. dan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.5 1.948.4% 58.7 10.5 3.2% 938.1 0.4% 1.3% 550.3 21. Beban pemeliharaan dan perbaikan tidak termasuk pengeluaran untuk inspeksi perawatan besar pada rangka pesawat dan mesin yang mensyaratkan adanya sertifikat kelayakan pesawat atau sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa. beban sewa.9 5.9% 158.2 11.1%.1 100.942.1% 199.504.9 0.2% 1.420.4% 49.3% 51.9% 273.6% 95.6% 110.5% 1.2 9.1 9. dan 2009.504.0% 16.6 44. Beban Usaha Tabel berikut menunjukkan detail beban usaha Perseroan dan persentase terhadap total beban untuk periode sebagai berikut: (dalam miliar Rupiah) Untuk sembilan bulan yang Untuk tahun yang berakhir 31 Desember berakhir 30 September (%) 2009 (%) 2008 (%) 2007 (%) 2010 % 2009*) 6.002.9% 880.942.096.5% 1.3% Gaji dan tunjangan 516.096.5 48.4 7.975.3% 1.1 0.3% 44.3% 230.142.1% 3.8% 165.0% Uraian Operasional penerbangan Pemeliharaan dan perbaikan Bandara Pelayanan Penumpang Tiket.4% 734.3 6.3% 6.6 74.

beban reservasi . p. PT Mirtasari Hotel Development. beban perlengkapan kantor. s. Penjualan. aset pemeliharaan pesawat (D-checks). executive lounges. penjualan.l. q. juga termasuk biaya penyusutan dan amortisasi atas gedung. dan promosi terutama terdiri dari beban komisi kepada agen perjalanan . yaitu nilai pasar pada tanggal revaluasi. gaji dan tunjangan pegawai bagian tiket. beban utilities. Penambahan atau penurunan hasil revaluasi akan berdampak pada beban penyusutan periode setelah tanggal revaluasi. dan beban promosi. n. beban keanggotaan profesi dan asosiasi internasional. Beban Operasional Hotel Beban operasional hotel merupakan beban operasi hotel Aerowisata. hanggar. pesawat. gaji dan tunjangan awak kabin. tanah. beban sewa untuk gedung dan kendaraan. 42 . Beban Operasional Transportasi Beban operasi transportasi merupakan beban transportasi dari PT Mandira Erajasa Wahana (anak perusahaan Aerowisata). dan gaji dan tunjangan untuk pegawai di bandara. Beban Imbalan Kerja Beban imbalan kerja pegawai terdiri dari kontribusi dan pendanaan Perseroan sehubungan dengan imbalan jangka panjang dan pensiun. Beban Bandara Beban bandara terdiri dari beban terminal. inflight entertainment. Sejak 31 Desember 2008. beban pemeliharaan dan perbaikan. Beban Tiket. Beban Administrasi dan Umum Beban administrasi dan umum terutama terdiri dari beban gaji dan tunjangan pegawai administrasi. m. penjualan. kendaraan dan perabot. beban asuransi. penyisihan piutang tak tertagih. dan beban usaha Anak Perusahaan. Beban Penyusutan dan Amortisasi Beban penyusutan dan amortisasi terutama terdiri dari beban penyusutan rangka dan mesin pesawat. Beban Pelayanan Penumpang Beban pelayanan penumpang terutama terdiri dari beban jasa boga. pegawai jasa boga serta beban untuk barangbarang yang dikonsumsi pelayanan penumpang. dan pemasaran. beban perawatan kesehatan. t. dan bangunan yang dimiliki oleh Perseroan dicatat sebesar nilai revaluasi. o. beban pajak. PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika. Beban Operasional Jaringan Beban operasional jaringan merupakan beban jasa teknologi informasi dan operasi sistem jaringan dari ASYST dan Abacus. beban sewa kantor. beban profesional dan pelatihan. ACS. dan Promosi Beban tiket. r.

3 sen per kilometer dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. a.2 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp9.448.9% untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Pendapatan Usaha Pendapatan usaha naik sebesar 7. 43 . Beberapa faktor juga membawa dampak negatif terhadap hasil usaha untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Jepang dan Amsterdam.3 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. khususnya rute baru internasional biasanya memerlukan waktu untuk mencapai profit margin yang positif sehubungan dengan tingginya kewajiban dan beban tetap yang terjadi dalam pembukaan rute baru yang dipicu oleh rendahnya passenger load factor dan dampak buruk dari harga promosi atas passenger yield sebagaimana diperlukan dalam membangun brand awareness dan pangsa pasar pada rute tersebut.6. disebabkan oleh rendahnya load factor untuk rute domestik jarak jauh tujuan Indonesia Timur.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 dan passenger yield meningkat menjadi USD8. Perbandingan Kinerja Usaha Periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dibandingkan dengan periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.423.4 sen per kilometer dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari USD7. yang disebabkan terutama oleh meningkatnya pendapatan penerbangan berjadwal. yang sebagian terkompensasi oleh menurunnya passenger load factor menjadi 71. disebabkan adanya jumlah penumpang yang meningkat menjadi 9. Fuel surcharge dinaikkan untuk menutupi kenaikan harga bahan bakar pesawat yaitu USD64.8% menjadi Rp10. Pendapatan penumpang. disebabkan adanya peningkatan pendapatan jasa penumpang dan kargo. Perseroan mendapatkan persetujuan dari DJPU untuk mempekerjakan pilot asing dengan kontrak kerja selama 1 tahun dan dapat diperpanjang dan Perseroan berkeyakinan hal ini dapat mengatasi masalah kekurangan pilot.0% dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 72. Pada bulan Juli 2010.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 11.849.0 sen ratarata per liter dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Perseroan sebelumnya juga telah mendatangkan 15 dan 2 pesawat baru Boeing 737-800 masing-masing ditahun 2009 dan 2008. Atas hal diatas passenger load factor menurun menjadi 71. Pembukaan rute baru. Australia.4 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.0 juta orang dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 8. Pendapatan Penerbangan Berjadwal Pendapatan penerbangan berjadwal meningkat sebesar 13.093. dengan indikator RPK meningkat menjadi 13.9% dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. dan juga pembukaan rute baru penerbangan langsung dengan tujuan dari Jakarta ke Cina.1% menjadi Rp12.0% untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 72. Atas kedatangan pesawat baru tersebut ke dalam jajaran armada Perseroan menyebabkan kenaikan beban sewa pesawat dan disaat yang bersamaan Perseroan memutuskan untuk melakukan peremajaan armada dengan menghentikan operasi pesawat yang sudah tua yaitu tipe Boeing 737 untuk proses perawatan final yang diwajibkan melalui sewa operasi sebelum jatuh tempo pengembalian pesawat yaitu tahun 2010 dan 2011. Hasil usaha Perseroan untuk sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dengan posisi negatif yang disebabkan oleh percepatan penyewaan 18 pesawat Boeing 737-800 terkait dengan program simplifikasi armada.553. Pendapatan penumpang meningkat 11.685.0 juta orang dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Selama periode ini load factor dari penerbangan rute baru jarak jauh tujuan Indonesia Timur rendah sebagaimana yang dialami oleh rute Eropa tujuan Amsterdam.5 sen rata-rata per liter dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari sebelumnya USD49.2 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.9 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp10.1 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp11.4% menjadi Rp11. Utilisasi rata-rata penggunaan pesawat juga menjadi berkurang karena dipengaruhi oleh kekurangan pilot yang menyebabkan satu pesawat tidak beroperasi selama 1 tahun penuh. Fuel surcharge yang dikenakan untuk penerbangan domestik sudah tidak berlaku mulai Juni 2010 disaat Pemerintah memperkenalkan tarif batas atas penerbangan yang telah memuat fluktuasi harga bahan bakar.

975.133. yang disebabkan terutama oleh kenaikan beban bahan bakar.3 juta dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 191. dan juga peningkatan ASK menjadi 18.5% dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 35.9 juta dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.0 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.6 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp4.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp191.6 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Beban Operasional Penerbangan Beban operasional penerbangan meningkat sebesar 24. yang didorong oleh kenaikan harga bahan bakar 31. yang disebabkan terutama oleh kenaikan beban operasional penerbangan dan beban administrasi dan umum.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang sebagian terkompensasi dengan kenaikan pendapatan jasa biro perjalanan menjadi Rp258. terutama disebabkan oleh peningkatan rata-rata harga bahan bakar menjadi USD64.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp593. cargo load factor meningkat menjadi 38.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp200.3% menjadi Rp6.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.212.7 sen per kilometer dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari USD30. Pendapatan Lain-lain Pendapatan lain-lain menurun sebesar 11.142.5% menjadi Rp102. kenaikan beban sewa dan charter pesawat dan beban gaji dan tunjangan.5 sen per liter pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari USD49 sen per liter pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.7% dan kenaikan penggunaan bahan bakar yang sejalan dengan kenaikan block hour 11%.0 sen per kilometer dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.6% menjadi Rp12.3 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp79.942.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 akibat menurunnya jasa pemeliharaan dan perbaikan yang diberikan kepada pihak ketiga oleh GMF AeroAsia.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. dimana sebagian dikompensasi dengan kenaikan pendapatan penerbangan charter menjadi Rp102.Pendapatan kargo. 44 . sebagaimana RFTK meningkat menjadi 311.0 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 sehubungan jasa boga yang diberikan kepada pihak ketiga oleh Aerowisata serta meningkatnya pendapatan jasa fasilitas menjadi Rp121.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.3% menjadi Rp845.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp475. yang disebabkan menurunnya pendapatan pemeliharaan dan perbaikan menjadi Rp163. b.2 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.6 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.5 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp370. a. Pendapatan Penerbangan Tidak Berjadwal Pendapatan penerbangan tidak berjadwal menurun sebesar 78.280.4% menjadi Rp1.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp94. Beban Usaha Beban usaha mengalami kenaikan sebesar 15. dari Rp3. yang disebabkan oleh belum adanya pendapatan penerbangan haji pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 (karena penerbangan haji akan dilakukan pada kuartal empat tahun 2010). c. Beban Bahan Bakar Beban bahan bakar meningkat sebesar 28.122.5 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 sehubungan kenaikan penjualan tiket oleh Aerowisata dan kenaikan pendapatan jasa boga menjadi Rp260.6% dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 dan yield kargo meningkat menjadi USD30.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp1.8 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 16.0 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp11.225.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp253.3% menjadi Rp4. Pendapatan kargo meningkat 42.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. menurunnya pendapatan jasa yang berhubungan dengan penerbangan menjadi Rp160.

sehubungan dengan peningkatan block hour menjadi 161.6 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Kenaikan tersebut disebabkan kenaikan jumlah jam terbang dan pemakaian suku cadang sebesar Rp231.5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.2 miliar per 30 September 2009. Beban Gaji dan Tunjangan Beban gaji dan tunjangan untuk pilot sebagai salah satu komponen beban operasional penerbangan meningkat sebesar 6.9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Beban Pelayanan Penumpang Beban pelayanan penumpang mengalami peningkatan sebesar 18. dan pengembalian kepada lessor atas 2 pesawat Boeing 737-300 dan 2 pesawat Boeing 737-400. c. terkait dengan sewa operasi atas 18 pesawat Boeing 737-800. yang disebabkan oleh kenaikan beban pemeliharaan dan perbaikan pesawat sebesar Rp383. 45 .4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp825.7 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp285.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. inflight entertainment dan executive lounge sebesar Rp702.600 jam pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.Beban Sewa dan Charter Pesawat Beban sewa dan charter pesawat meningkat 23.5 miliar dari Rp32.2% menjadi Rp876.3 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp1.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp328. d. disebabkan oleh kenaikan jumlah pilot dan peningkatan beban gaji dan tunjangan yang termasuk dalam kenaikan komponen gaji dasar pilot dan tunjangan yang terkait dengan jam terbang. dari Rp35.327. Beban Pemeliharaan dan Perbaikan Beban pemeliharaan dan perbaikan meningkat sebesar 21. Kenaikan bersih disebabkan oleh adanya penambahan beban sewa pesawat menjadi Rp1.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009. Di samping itu peningkatan tersebut berasal dari kenaikan beban gaji dan tunjangan menjadi Rp204.5 miliar terkait dengan peningkatan inventarisasi suku cadang untuk Boeing B737-800 baru sebagaimana pemeliharaan terhadap pesawat yang lebih tua yang harus dilaksanakan sebelum masa sewa operasi.0 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.Hal ini sehubungan dengan adanya peningkatan frekuensi dan jumlah penumpang.3 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Peningkatan beban sewa dan charter pesawat ini sebagian telah dikompensasi dengan tidak adanya beban charter pesawat untuk operasional penerbangan haji untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp159. Beban gaji dan tunjangan untuk awak kabin meningkat menjadi Rp340. yang dikaitkan dengan peningkatan kualitas dan layanan. peningkatan gaji dan tunjangan menjadi Rp87.079.4 miliar dari Rp176. sebagai hasil dari peningkatan jumlah penumpang dan RPK.3% menjadi Rp1. Kenaikan tersebut disebabkan oleh peningkatan jasa pelayanan pesawat dan lalu lintas penerbangan menjadi sebesar Rp864.2 miliar dari Rp166.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp482. Beban Bandara Beban bandara meningkat sebesar 3.3 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp84.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp911.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp517 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.5 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 karena penerbangan haji baru akan dilakukan pada kuartal empat tahun 2010.0% menjadi Rp1. b.9% menjadi Rp986. yang sebagian dikompensasi dengan penurunan beban sewa sebesar Rp29.300 jam pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 141.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp723.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.9% menjadi Rp516.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.6 miliar yang disebabkan oleh kenaikan jumlah karyawan dari GMF AeroAsia dan beban lainnya menjadi Rp35.3 miliar pada periode 30 September 2010 dari Rp919.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp949.327.078. sehubungan dengan adanya kenaikan beban pelayanan penumpang termasuk didalamnya inflight catering.

1 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp890.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.1% menjadi Rp273.252. kenaikan beban reservasi menjadi Rp355.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp1.7% menjadi Rp75. tanah.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp68. Beban Operasional Transportasi Beban operasional transportasi meningkat 10.0 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp161. beban sewa dan perlengkapan kantor.6 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 sehubungan dengan penurunan jumlah karyawan serta penurunan beban lain-lain menjadi Rp23. f. Beban Penyusutan dan Amortisasi Beban penyusutan dan amortisasi mengalami penurunan sebesar 1.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp23.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp289.6% menjadi Rp984. Beban Imbalan Kerja Beban imbalan kerja meningkat 22. dan promosi mengalami kenaikan sebesar 4. yang disebabkan peningkatan penyusutan dan amortisasi dari aset pemeliharaan yang dikompensasi dari penurunan nilai tercatat pesawat.3% menjadi Rp39. Kenaikan tersebut disebabkan kenaikan beban promosi menjadi Rp138. beban jasa profesional dan pelatihan.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. dan bangunan.6% menjadi Rp1.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 disebabkan adanya peningkatan pada jumlah penumpang.2% menjadi Rp1.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp223. Beban Administrasi dan Umum Beban administrasi dan umum mengalami kenaikan sebesar 10. g. Kenaikan tersebut dikompensasi dengan penurunan gaji dan tunjangan menjadi Rp125.206. serta beban penyisihan piutang tak tertagih yang sebagian dikompensasi oleh penurunan beban pajak dan kesehatan.202.1 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp1. penjualan.9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp51. disebabkan oleh peningkatan beban transportasi oleh PT Mandira Erajasa Wahana (anak perusahaan Aerowisata). Beban Operasional Hotel Beban operasional hotel meningkat sebesar 2.e. disebabkan oleh peningkatan kontribusi program manfaat pensiun karyawan dan imbalan kerja jangka panjang lainnya akibat adanya peningkatan sejumlah karyawan yang pensiun di bawah program percepatan pensiun karyawan.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.225.5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. i.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Beban Tiket. PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika. Kenaikan tersebut disebabkan oleh peningkatan beban gaji dan tunjangan. h. pemeliharaan dan perbaikan. kenaikan pada beban sewa kantor menjadi Rp58.6 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp126.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. yang disebabkan oleh peningkatan tingkat hunian dan jumlah tamu pada hotel yang dimiliki dan dikelola oleh Aerowisata dan anak perusahaan Aerowisata yaitu PT Mirtasari Hotel Development. Penjualan dan Promosi Beban tiket. j.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp38.8 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp550. dan kenaikan beban komisi menjadi Rp552. 46 .1 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.

0 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Manfaat (Beban) Pajak Manfaat pajak turun sebesar 20. Laba (Rugi) Usaha Sebagai hasil dari pendapatan dan beban usaha.681 per 30 September 2009).1 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp80.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp434.3 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang disebabkan karena penurunan rata-rata ketersediaan kas dalam deposito berjangka untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Pos Luar Biasa Sehubungan dengan lelang penawaran sebagian (dutch action and consent solicitation) atas FRN dengan nominal sebesar USD40.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.6 miliar dengan harga pembelian USD22. Perseroan membukukan keuntungan luar biasa atas pembelian kembali FRN sebesar Rp184. Perseroan mengalami rugi usaha sebesar Rp289. Beban Operasional Jaringan Beban operasional jaringan meningkat sebesar 18.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. yang disebabkan oleh perbedaan waktu antara perlakukan akuntansi dan pajak.5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp233.2 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Peningkatan ini disebabkan oleh keuntungan sale and leaseback menjadi Rp159.2% menjadi Rp49.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp49.65 juta dan Rp37.9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang sebagian terkompensasi dengan penurunan keuntungan selisih kurs sebesar Rp130.5 juta dan Rp23 miliar. Selain itu terdapat penurunan beban lain-lain bersih sebesar Rp35.8 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 sehubungan dengan menurunnya tingkat bunga dan pokok pinjaman dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.5 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. disebabkan oleh peningkatan pendapatan jasa teknologi informasi dari ASYST.7 miliar dibandingkan Rp3.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. yang disebabkan oleh kenaikan beban pajak kini dari Anak Perusahaan dan menurunnya beban pajak tangguhan dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Kenaikan tersebut juga disebabkan oleh tidak adanya beban penyisihan piutang tidak tertagih pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp156.5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp38.9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 terkait dengan penyisihan piutang jasa MRO yang jatuh tempo dari PT Merpati Airlines (“Merpati”). selain itu terdapat juga penurunan penghasilan bunga menjadi Rp42. hak minoritas atas laba bersih adalah sebesar Rp0.5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari beban pesangon karyawan sebesar Rp203.9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang terutama disebabkan oleh keuntungan selisih kurs-bersih di tahun 2009 terhadap kewajiban keuangan yang didenominasi dalam dolar Amerika Serikat akibat Rupiah yang terapresiasi dibandingkan nilai tukar dolar Amerika Serikat (1 USD: Rp8.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari sebelumnya laba usaha sebesar Rp623. 47 . 1 USD: Rp9.2 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp61.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari beban lain-lain sebesar Rp115. Hak Minoritas Pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Penghasilan (Beban) Lain-lain Penghasilan (Beban) lain-lain mengalami peningkatan menjadi Rp245.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari keuntungan sebesar Rp2. keuntungan atas penyesuaian beban estimasi pesangon karyawan menjadi Rp68.4% menjadi Rp58.k. penurunan beban bunga dan keuangan menjadi Rp119. hal ini karena didukung oleh pesawat baru Boeing 737-800 yang ditambahkan pada armada Perseroan melalui transaksi sale and leaseback.924 per 30 September 2010.

566 di tahun 2008 dan permintaan pelayanan charter mengalami penurunan di tahun 2009 yang disebabkan oleh pengurangan penerbangan untuk bisnis.2% di tahun 2009 dari 43.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp19.6 miliar di tahun 2008 seiring dengan penurunan cargo load factor menjadi 37. dimana telah dikompensasi dengan kenaikan RFTK menjadi 282. Perseroan melakukan transaksi lindung nilai penuh terhadap beban bahan bakar pesawat terbang untuk penerbangan haji di tahun 2009 berdasarkan asumsi penerbangan haji yang telah disetujui antara Perseroan dan Pemerintah.4% menjadi Rp13.2 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp2. terutama disebabkan oleh kompetisi dari penerbangan LCC untuk penerbangan domestik dan jarak dekat. dimana telah dikompensasi dengan terjadinya penurunan pendapatan dari penerbangan sewa khusus (charter). pendidikan.33 sen per liter di tahun 2009 dari USD85. yang disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari penerbangan haji.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.5 miliar di tahun 2008.759.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.8% menjadi Rp194.9% di tahun 2008 dan penurunan yield kargo menjadi USD29. Pendapatan Kargo Pendapatan kargo menurun 11.3% menjadi Rp12.466. akibat penurunan passenger yield menjadi USD7.9 sen per kilometer di tahun 2009 dari USD37.4 juta di tahun 2008 terutama disebabkan oleh menurunnya permintaan jasa kargo akibat melemahnya perekonomian.2 miliar untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2009 dari Rp14. Di tahun 2008.860.944 di tahun 2009 dari 259.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.349. Fuel surcharge menurun karena penurunan harga rata-rata bahan bakar menjadi USD51.2 juta di tahun 2008 dan RPK menjadi 15.7% menjadi Rp17.4% menjadi Rp839.9 juta di tahun 2009 dari 10. kenaikan ini memberikan dampak negatif pada profitabilitas operasi penerbangan haji Perseroan.3 miliar di tahun 2009 dari Rp947.55 sen per RPK di tahun 2009 dari USD9.067. dan kelompok pariwisata.1 juta di tahun 2009 dari 275. Pendapatan Penerbangan Tidak Berjadwal Pendapatan penerbangan tidak berjadwal mengalami kenaikan 1.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. yang sebagian telah dikompensasi dengan peningkatan pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal.1% di tahun 2009 dari 76.9 miliar di tahun 2009 dari 15. Pendapatan Penumpang Pendapatan penerbangan menurun 9.0% menjadi Rp2. Pendapatan Penerbangan Berjadwal Pendapatan penerbangan berjadwal mengalami penurunan sebesar 9.2 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.95 sen per liter pada tahun 2008.47 sen per RPK di tahun 2008 dan load factor penumpang menjadi 73.4 sen per kilometer di tahun 2008. b. Perseroan tidak melakukan lindung nilai terhadap beban bahan bakar pesawat terbang untuk penerbangan haji dan rata-rata harga bahan bakar pesawat terbang meningkat di atas perkiraan biaya dalam periode setelah biaya jasa penerbangan haji disetujui antara Perseroan dengan Menteri Agama.120. yang disebabkan terutama oleh penurunan pendapatan penerbangan berjadwal dan pendapatan jasa lainnya. pemerintah.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp570. Pendapatan Usaha Pendapatan usaha turun sebesar 7.699.491. yang disebabkan oleh penurunan penerimaan jasa penumpang dan kargo. a. dimana jumlah penumpang haji meningkat menjadi 263. 48 .Laba Bersih Laba bersih mengalami penurunan sebesar 65.4% di tahun 2008 dimana sebagian dikompensasi dengan peningkatan total penumpang menjadi 10.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp15. Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.

c.942. terutama disebabkan oleh kenaikan beban sewa pesawat dari Rp1.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp9.33 sen per liter di tahun 2009 dari USD85.6 miliar di tahun 2008. Peningkatan di beban sewa pesawat sebagian dikompensasi oleh penurunan beban charter mejadi Rp938.8 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp231.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp122.3% menjadi Rp1. serta gaji dan tunjangan.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp159.628 di tahun 2009 dari 524.1 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp17. penurunan pendapatan atas fasilitas yang berhubungan dengan penerbangan sebesar Rp134. Bahan bakar sebagai komponen beban operasional penerbangan telah menurun sebesar 32.414. beban sewa dan charter pesawat.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp589.8 miliar di tahun 2009 dari Rp1.206.762.6% menjadi Rp2. dan naiknya gaji dan tunjangan.6 miliar di tahun 2009 dari Rp7.500 jam di tahun 2008. yang disebabkan oleh penurunan beban operasional penerbangan. yang disebabkan oleh penurunan pendapatan yang diatribusi oleh pendapatan pemeliharaan dan perbaikan pesawat sebesar Rp436.8 miliar di tahun 2008. terutama disebabkan oleh penurunan signifikan dari harga rata-rata bahan bakar pesawat terbang menjadi USD51.8 miliar di tahun 2008.035.95 per liter di tahun 2008. termasuk kenaikan komponen dasar gaji pilot.2 miliar di tahun 2009 dari Rp1. Pendapatan Lain-lain Pendapatan lain-lain mengalami penurunan sebesar 5.5 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. Beban charter dan sewa pesawat. mengalami kenaikan 21.785. dan juga komponen variabel gaji pilot dihubungkan dengan jam terbang.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 yang disebabkan penurunan jasa pemeliharaan dan perbaikan pesawat yang dilakukan oleh GMF AeroAsia kepada pihak ketiga akibat dampak dari melemahnya perekonomian.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1. kenaikan jasa yang berhubungan dengan penerbangan sebesar Rp274. Beban Usaha Beban usaha menurun sebesar 5.8% menjadi 4.7 juta di tahun 2009 dari 20. menurunnya jasa biro perjalanan sebesar Rp256. terutama disebabkan oleh kenaikan jumlah pilot akibat peningkatan jumlah armada Perseroan. a. Bahan bakar.800 jam di tahun 2009 dari 182.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp213. yang disebabkan terutama oleh penurunan beban bahan bakar pesawat terbang dimana sebagian telah dikompensasi oleh kenaikan beban sewa.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.268.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp333.096. Gaji dan tunjangan pilot sebagai salah satu komponen beban operasional penerbangan. dimana sebagian telah dikompensasi dengan kenaikan ASK menjadi 21.3 miliar di tahun 2008. seiring dengan peningkatan sewa operasi dari satu Boeing B737-300.948.1 miliar di tahun 2008.6% menjadi Rp8. Beban charter dan sewa pesawat sebagai salah satu komponen dalam beban operasional penerbangan telah meningkat 23.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 yang terkompensasi dengan kenaikan pendapatan jasa boga menjadi Rp337.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 akibat dari peningkatan jasa boga yang disediakan kepada pihak ketiga oleh Aerowisata.310 di tahun 2008. Gaji dan tunjangan.669.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. sementara 4 Boeing 737-300 dihapus dari armada Perseroan di tahun 2009.6% menjadi Rp669. 49 .3 juta di 2008. Beban Operasional Penerbangan Beban operasional penerbangan mengalami penurunan sebesar 18.996. 15 Boeing 737-800 dan 4 Airbus A330-200 yang masuk dalam armada Perseroan.9% menjadi Rp16.7 miliar di tahun 2009 dari Rp550. sementara block hour meningkat menjadi 190.8 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.983.2 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 sebagai akibat penurunan pendapatan dari penerbangan berjadwal. selain itu juga dikompensasi dengan kenaikan pendapatan hotel sebesar Rp139. yang terjadi karena penurunan biaya sewa charter untuk pengguna pesawat dalam pelayanan haji yang tidak berjadwal seiring dengan kenaikan jumlah kursi yang ditawarkan untuk pelayanan jasa haji menjadi 529.6 miliar di tahun 2009 dari Rp749.

f. Beban Bandara Beban bandara mengalami peningkatan sebesar 8. dimana kenaikan beban-beban sehubungan dengan kegiatan promosi menjadi Rp197.107.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp104. dan promosi mengalami peningkatan sebesar 4.7 miliar untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 dari Rp105.7% lebih menjadi Rp1. yang disebabkan terutama oleh kenaikan dalam pelayanan penerbangan dan pesawat terbang menjadi sebesar Rp1.3 miliar di tahun 2009 dari Rp41.227.7% menjadi Rp1. Peningkatan beban ini dikompensasi dengan penurunan komisi menjadi Rp672. yang sebagian dikompensasi dengan peningkatan suku cadang menjadi Rp283.9 miliar di tahun 2008.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1. disamping juga adanya perbaikan kualitas pelayanan.6 miliar untuk tahun 2009 dari Rp97. dan juga peningkatan gaji dan tunjangan menjadi Rp272.8 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. akibat peningkatan jalur pemasaran melalui penjualan langsung. sebagai hasil dari peningkatan aktivitas brand awareness dan peningkatan beban sewa menjadi Rp64. yang disebabkan terutama oleh peningkatan jumlah gaji dan tunjangan menjadi Rp304.3% menjadi Rp1.9 miliar di tahun 2009 dari Rp756.6 miliar di tahun 2009 dari Rp125.075.6 miliar dalam tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. 50 . yang dikompensasi dengan penurunan gaji dan tunjangan mejadi Rp132.2 miliar di tahun 2008. yang disebabkan terutama oleh penurunan beban utilitas menjadi Rp88.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1.308.1 miliar di tahun 2008 sebagai hasil dari penurunan layanan pemeliharaan dan perbaikan yang dilakukan oleh pihak ketiga terhadap pesawat milik Perseroan sesuai dengan jadwal pemeriksaan dan perawatan (C-check) terkait dengan peremajaan armada.1 miliar di tahun 2008.3 miliar di tahun 2008 sebagai dampak dari pengurangan pegawai (khususnya awak kabin).7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1. penjualan.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.2 miliar di tahun 2008 sebagai hasil dari naiknya tingkat tujuan penerbangan.8 miliar di tahun 2009 dari Rp54.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1.3 miliar di tahun 2008 sebagai hasil dari penurunan jumlah karyawan di bandara.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. dan penurunan dalam beban yang terkait dengan pelayanan pemesanan akibat penurunan biaya diikuti sebagai akibat dari pengambilalihan (takeover) ASYST d/h PT Lufthansa Systems Indonesia.1 miliar di tahun 2009 dari Rp240.9% menjadi Rp1.105.0 miliar di tahun 2009 dari Rp547.6% menjadi Rp1. Gaji dan tunjangan untuk awak kabin juga mengalami peningkatan menjadi Rp468.562.9 miliar di tahun 2009 dari Rp1.7 miliar di tahun 2008 akibat penurunan jumlah karyawan dan dikompensasi dengan peningkatan gaji dan tunjangan untuk karyawan administrasi umum dan kenaikan biaya sewa kantor menjadi Rp131. dan juga adanya peningkatan melalui penjualan langsung. Beban Administrasi dan Umum Beban administrasi dan umum mengalami penurunan sebesar 0.5 miliar di tahun 2008 yang sebagian dikompensasi dengan kenaikan beban gaji dan tunjangan menjadi Rp652.1 miliar di tahun 2008 akibat naiknya jumlah penumpang dan ASK. Beban Pemeliharaan dan Perbaikan Beban pemeliharaan dan perbaikan mengalami penurunan sebesar 2.378. dan Promosi Beban tiket.9 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. dan pemasaran dan naiknya beban gaji dan tunjangan.8 miliar dalam tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1. Penjualan.7 miliar di tahun 2009 dari Rp232.6 miliar di tahun 2008 akibat peningkatan frekuensi penerbangan dan jumlah penumpang.4 miliar di tahun 2009 dari Rp600. hiburan dan executive lounge menjadi Rp753. d.2 miliar di tahun 2008 sebagai hasil dari peningkatan gaji dan tunjangan untuk karyawan di bagian pemeliharaan dan perbaikan c. yang disebabkan terutama oleh penurunan beban pemeliharaan dan perbaikan menjadi Rp455. yang disebabkan terutama oleh kenaikan pelayanan penumpang termasuk in-flight catering.250.246. terkait dengan peningkatan pelayanan jasa pemeliharaan dan perbaikan yang dilakukan oleh GMF AeroAsia untuk pesawat Perseroan.4 miliar di tahun 2009 dari Rp377.2 miliar di tahun 2009 dari Rp141.8 miliar di tahun 2009 dari Rp535. penurunan beban pajak menjadi Rp72.636.b.420. Beban Tiket.0 miliar di tahun 2009 dari Rp134.7 miliar di tahun 2009 dari Rp156. peningkatan beban sewa bangunan dan kendaraan menjadi Rp54. e.3 miliar untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008.7 miliar untuk tahun 2008 dan penurunan beban lainnya sebesar Rp56. penjualan.7 miliar di tahun 2008 sebagai akibat dari penurunan pendapatan pelayanan penerbangan berjadwal dan peningkatan penjualan langsung Perseroan.6 miliar di tahun 2008 akibat naiknya jumlah karyawan yang menangani pelayanan tiket. dimana penurunan jumlah pegawai telah dikompensasi dengan peningkatan gaji dan tunjangan. Beban Pelayanan Penumpang Beban pelayanan penumpang mengalami peningkatan 24.120.

51 .1 miliar di tahun 2009 dari nihil di tahun 2008 akibat transaksi sale and lease back dimana ini dikompensasi dengan pencadangan beban piutang ragu-ragu sekitar Rp156.6 miliar di tahun 2009 dari Rp378. Beban Operasional Hotel Beban operasional hotel mengalami peningkatan sebesar 15.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. Manfaat (Beban) Pajak Manfaat pajak penghasilan adalah sebesar Rp23. dan penurunan pada beban bunga Rp262. Beban Penyusutan dan Amortisasi Beban penyusutan dan amortisasi meningkat sebesar 24.5 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.9 miliar di tahun 2009 atas pinjaman jatuh tempo ke PT Merpati Nusantara Airlines untuk jasa perawatan pesawat.0 miliar di tahun 2008 sebagai hasil dari rendahnya tingkat suku bunga atas pinjaman dengan bunga mengambang milik Perseroan. yang disebabkan terutama oleh peningkatan kontribusi program pensiun karyawan dan imbalan kerja jangka panjang lainnya yang dikompensasi penurunan jumlah karyawan.2% menjadi Rp1.295.2% menjadi Rp70.1 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. Laba (Rugi) Usaha Laba usaha mengalami penurunan 32. PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika. Beban Operasional Transportasi Beban operasional transportasi mengalami peningkatan sebesar 13.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp66.6% menjadi Rp95. akibat penurunan beban pajak kini karena adanya penurunan pendapatan sebelum pajak di tahun 2009 dan peningkatan pajak tangguhan di tahun 2009 yang disebabkan oleh perbedaan waktu antara perlakuan akuntansi dan pajak.g.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. h. yang disebabkan terutama oleh peningkatan beban penyusutan atas aset pemeliharaan mesin dan rangka pesawat dari armada Perseroan termasuk penambahan armada baru.3 miliar di tahun 2008 yang berasal dari keuntungan penjualan kantor pusat di tahun 2008.5 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp44.2 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. yang disebabkan terutama oleh keuntungan translasi mata uang asing yang belum direalisasi di tahun 2009 terhadap kewajiban keuangan Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. yang disebabkan terutama oleh penurunan transportasi darat yang dioperasikan oleh anak perusahaan Aerowisata yaitu PT Mandira Erajasa Wahana.1 miliar di tahun 2009 dalam kaitannya dengan program pensiun dini untuk mengurangi jumlah karyawan. Beban Imbalan Kerja Beban imbalan kerja mengalami kenaikan sebesar 32.353.2 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp110.5% menjadi Rp51. Penghasilan (Beban) Lain-Lain Penghasilan (Beban) lain-lain mengalami penurunan sebesar 83. yang disebabkan terutama kenaikan pendapatan terkait pelayanan teknologi informasi pada ASYST.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp197.950 per Dolar Amerika Serikat pada tanggal 31 Desember 2008 dan laba sale and lease back sebesar Rp65. beban pesangon karyawan Rp203.5% menjadi Rp55. dan penurunan beban lain-lain bersih Rp53.400 per Dolar Amerika Serikat per 31 Desember 2009 dari Rp10.3% menjadi Rp260.1 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp333.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1.1 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. Pada saat Rupiah terapresiasi terhadap Dolar Amerika Serikat menjadi Rp9.1% menjadi Rp918. i. Beban Operasional Jaringan Beban operasional jaringan mengalami peningkatan sebesar 6. k. j. yang disebabkan terutama oleh peningkatan tingkat hunian dan jumlah tamu pada hotel yang saat ini dimiliki dan dikelola oleh Aerowisata dan anak perusahaan Aerowisata yaitu PT Mirtasari Hotel Development.2 miliar di tahun 2009 dari pendapatan lain-lain bersih Rp350. dibandingkan dengan beban pajak Rp44.609.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1.

pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal dan pendapatan lainnya. akibat jumlah penumpang meningkat menjadi 10.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp1.1 miliar tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.2 sen per kilometer di tahun 2007.5 juta di tahun 2008 dari 14.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.037 di tahun 2007. yang sebagian dikompensasi dengan menurunnya passenger load factor menjadi 76.5 miliar yang merupakan hasil restrukturisasi di tahun 2009 dari hutang obligasi konversi yang diterbitkan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.2% menjadi Rp947.6 miliar dari Rp975.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp11.1% di tahun 2007 dan yield kargo meningkat menjadi USD37. termasuk kenaikan fuel surcharge dengan adanya peningkatan harga rata-rata bahan bakar pesawat menjadi USD85.2 juta pada tahun 2008 dari 9. Pendapatan Penerbangan Berjadwal Pendapatan penerbangan berjadwal meningkat sebesar 36.6% menjadi Rp2.9% di tahun 2008 dari 41.605.Pos Luar Biasa Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. disebabkan oleh peningkatan permintaan domestik untuk jasa kargo.049. cargo load factor meningkat menjadi 43.6 miliar di tahun 2008 dari Rp801. 52 .6 juta pada tahun 2007.47 sen per RPK dari USD7. a. Hak Minoritas Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. dengan indikator meningkat RPK menjadi 15.466.291.41 sen per RPK karena adanya peningkatan fuel surcharges. Penerbangan Tidak Berjadwal Pendapatan penerbangan tidak berjadwal meningkat sebesar 53.8 miliar dari Rp1.8% menjadi Rp19. Laba Bersih Laba bersih untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 meningkat 4.4 miliar di tahun 2007 seiring dengan peningkatan RFTK menjadi 275.6 miliar di tahun 2007 disebabkan oleh meningkatnya jumlah penerbangan charter dan harga sewa charter sebagai dampak dari kenaikan beban bahan bakar. Pendapatan kargo meningkat 18.4 sen per kilometer di tahun 2008 dari USD30. Kenaikan tersebut disebabkan oleh peningkatan pendapatan jasa penumpang dan kargo.4 miliar pada tahun berakhir 31 Desember 2007 sebagai akibat dari peningkatan penerbangan berjadwal.2% menjadi Rp14.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.0 miliar untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2008 dari Rp10.510.68 sen per liter pada tahun 2007.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp14.0 juta di tahun 2007. Pendapatan Usaha Pendapatan usaha meningkat 37.4 juta di tahun 2007 dan passenger yield meningkat menjadi USD9.067.349. Pendapatan penerbangan haji meningkat menjadi Rp2.95 sen per liter pada tahun 2008 dari USD56. Pendapatan penumpang. Pendapatan kargo. beban hak minoritas sebesar Rp4.566 di tahun 2008 dari 235. dan pendapatan penerbangan charter meningkat menjadi Rp174.042.4 miliar seiring dengan kenaikan jumlah penumpang jemaah haji yang meningkat menjadi 259.120.8 miliar di tahun 2008 dari Rp95.4 juta di tahun 2008 dari 234.4% di tahun 2007 akibat peningkatan Fuel surcharge untuk memperbaiki segmentasi harga dalam sistem manajemen pendapatan Perseroan.8 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.4% di tahun 2008 dari 77. Perseroan memiliki pos luar biasa sebesar Rp123.180.018.8% menjadi Rp15.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. Pendapatan penumpang meningkat 38.5% menjadi Rp1. b.3 miliar dibandingkan dengan Rp9.

403.9% menjadi Rp9. Beban bahan bakar pesawat terbang yang merupakan komponen dari beban operasional penerbangan meningkat 62. kenaikan pendapatan fasilitas menjadi Rp159. dan dua Boeing 737-800 yang masuk dalam armada Perseroan pada tahun 2008.8 miliar pada tahun 2008 dari Rp668.9 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp379.1 miliar pada tahun 2007.4 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp250.3 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp113.2 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp251.8 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp1.1 miliar pada tahun 2008 dari Rp352.310 di tahun 2008 dari 475.2 miliar pada tahun 2008 dari Rp352. dan juga komponen variabel komponen pilot dihubungkan dengan jam terbang.1 miliar pada tahun 2008 dari Rp400.107.7 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. a. kenaikan pendapatan usaha hotel menjadi Rp122.0 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 menjadi Rp78.6 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. Peningkatan pada beban charter pesawat terbang menjadi Rp1.375 jam pada tahun 2007.6 juta pada tahun 2007.1 miliar pada tahun 2008 dari 1. disebabkan oleh peningkatan yang signifikan pada beban rata-rata bahan bakar pesawat menjadi USD85.414.035.5 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp38.8 miliar pada tahun 2008 dari Rp368.948. Beban Gaji dan Tunjangan.762. peningkatan pendapatan service penerbangan sebesar Rp213.6 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp173.9 miliar disebabkan oleh peningkatan harga sewa charter pesawat terbang dan jumlah tempat duduk yang ditawarkan terkait penerbangan haji menjadi 524.569.6 miliar pada tahun 2008 dari Rp4. 53 . Beban Sewa dan Charter Pesawat. termasuk kenaikan komponen dasar gaji pilot. b.500 jam pada tahun 2008 dari 167.68 sen per liter pada tahun 2007. Beban Bahan Bakar.9 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007 sebagai akibat penurunan jasa boga kepada pihak ketiga oleh Aerowisata dan penurunan jasa transportasi menjadi Rp7. Beban gaji dan tunjangan pilot yang merupakan komponen dari beban operasional penerbangan meningkat 49. dan penurunan pada gaji dan tunjangan Rp232.3% menjadi Rp550.9 miliar pada tahun 2007. disebabkan oleh peningkatan jumlah pilot dan naiknya gaji dan tunjangan.1% menjadi Rp1.0 miliar pada tahun 2007 sebagai akibat berkurangnya jumlah karyawan GMF AeroAsia.6 pada tahun 2007 sebagai hasil dari peningkatan jasa pelayanan pemeliharaan dan perbaikan yang disediakan oleh pihak ketiga untuk Perseroan. sementara block hour meningkat menjadi 182. Kenaikan tersebut dikompensasi sebagian dengan penurunan pendapatan jasa boga menjadi Rp231.95 sen per liter pada tahun 2008 dari USD56.8 miliar sebagai dampak peningkatan permintaan jasa pemeliharaan dan perbaikan pesawat kepada pihak ketiga oleh GMF AeroAsia.7 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.c. dan peningkatan pada ASK menjadi 20.8 miliar pada tahun 2007.780 di tahun 2007.3% menjadi Rp7.0 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007 disebabkan oleh peningkatan pendapatan pemeliharaan dan perbaikan pesawat menjadi Rp589. Beban sewa dan charter pesawat terbang yang merupakan komponen beban operasional penerbangan meningkat 27. disebabkan oleh peningkatan pemeliharaan dan perbaikan menjadi Rp547.6 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007 sebagai akibat peningkatan penjualan tiket untuk pelayanan penerbangan berjadwal. terutama disebabkan oleh peningkatan beban operasional penerbangan.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp6.0 miliar pada tahun 2007 yang disebabkan oleh berkurangnya pemakaian suku cadang terkait dengan jasa pelayanan pemeliharaan dan perbaikan yang disediakan oleh GMF AeroAsia untuk armada pesawat Perseroan.3 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. Beban Pemeliharaan dan Perbaikan Beban pemeliharaan dan perbaikan meningkat sebesar 1. Beban Operasional Penebangan Beban operasional penerbangan meningkat 52.504.966. terutama diakibatkan oleh peningkatan beban bahan bakar pesawat terbang.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp1.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. terutama disebabkan oleh peningkatan beban sewa pesawat menjadi Rp749.785.3 juta pada tahun 2008 dari 18.5 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp13.2% menjadi Rp17.9 miliar pada tahun 2007 seiring dengan peningkatan sewa operasi dari tiga Boeing 737300. Beban Usaha Beban usaha meningkat 35.310. satu Boeing B737-400.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. peningkatan jasa biro perjalanan menjadi Rp333.3 miliar pada tahun 2008 dari Rp734.2% menjadi Rp1. Pendapatan Lain-lain Pendapatan lain-lain meningkat sebesar 27.4 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.6% menjadi Rp1. Peningkatan tersebut sebagian terkompensasi oleh penurunan suku cadang menjadi Rp240.387.089.

0 miliar di tahun 2007 sebagai akibat dari peningkatan frekuensi penerbangan dan jumlah penumpang. Penjualan dan Promosi Beban tiket. disebabkan oleh penurunan kontribusi program manfaat pensiun karyawan dan imbalan kerja jangka panjang lainnya. peningkatan komisi menjadi Rp756.2 miliar untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007. disebabkan oleh kenaikan pelayanan penumpang termasuk in-flight catering . g.3 miliar pada tahun 2008 dari Rp335.6 miliar pada tahun 2008 dari Rp146.6 miliar sebagai akibat dari naiknya jumlah pegawai dan beban gaji dan tunjangan.9 miliar pada tahun 2008 dari Rp81. disebabkan oleh peningkatan penyusutan untuk perbaikan pada rangka dan mesin pesawat Perseroan dan dengan adanya penyusutan dan amortisasi atas nilai wajar pesawat.9 miliar pada tahun 2007 dimana terjadi penurunan jumlah karyawan tetapi diikuti dengan kenaikan gaji dan tunjangan.2 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.7 miliar pada tahun 2008 dari Rp367. h.2 miliar pada tahun 2008 dari Rp31. Gaji dan tunjangan untuk awak kabin juga meningkat menjadi Rp377. dimana pengurangan jumlah awak kabin telah dikompensasi dengan kenaikan gaji dan tunjangan.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2008 dari Rp1. inflight entertainment dan executive lounge menjadi Rp600.6 miliar pada tahun 2007 sebagai akibat dari peningkatan tujuan penerbangan.6 miliar pada tahun 2007 sebagai hasil dari naiknya jumlah penumpang dan ASK dari tahun 2007 sampai tahun 2008.308. peningkatan beban pajak menjadi Rp97.7 miliar pada tahun 2008 dari Rp61.562.286.3 miliar pada tahun 2008 dari Rp115.105.1 miliar pada tahun 2001 dan peningkatan reservasi penerbangan menjadi Rp428.5 miliar pada tahun 2008 dari Rp65. Beban Bandara Beban bandara meningkat sebesar 18. tanah.1 miliar pada tahun 2007 sebagai akibat dari peningkatan pendapatan dari penerbangan berjadwal.0 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.5% menjadi Rp1. kenaikan beban sewa menjadi Rp104. Selain itu terdapat kenaikan pada beban promosi menjadi Rp125. peningkatan beban kesehatan menjadi Rp66.9 miliar pada tahun 2007 karena adanya pengurangan jumlah karyawan dikurangi dikompensasi dengan peningkatan gaji dan tunjangan. Beban Administrasi dan Umum Beban administrasi dan umum meningkat sebesar 42.120.7 miliar pada tahun 2008 dari Rp597. Beban Tiket. disebabkan oleh peningkatan pada gaji dan tunjangan menjadi Rp535.0% menjadi Rp1. yang disebabkan oleh peningkatan gaji dan tunjangan menjadi Rp156. e. Beban Penyusutan dan amortisasi Beban penyusutan dan amortisasi meningkat sebesar 24. Beban Imbalan Kerja Beban imbalan kerja karyawan menurun 1.7 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp1.250.045.3 miliar pada tahun 2008 dari Rp43.1 miliar pada tahun 2007 yang merupakan hasil dari peningkatan brand awareness.3% menjadi Rp1.6 miliar pada tahun 2008 dari Rp957. dan bangunan yang dimiliki oleh Perseroan dimulai sejak 31 Desember 2008.0 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp199.c.295.1 miliar pada tahun 2008 dari Rp528.7 miliar pada tahun 2007 sebagai akibat dari membebankan hutang PPN keluaran untuk fuel surcharges.2% menjadi Rp1.1 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.3 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp880.1% menjadi Rp197.2 miliar pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007.6 miliar pada tahun 2007.1% menjadi Rp1. penjualan dan promosi meningkat 21. peningkatan sewa bangunan dan kendaraan menjadi Rp41. disebabkan oleh peningkatan pelayanan pesawat dan penerbangan menjadi Rp1.107.4 miliar pada tahun 2007 dan peningkatan beban lain-lain menjadi Rp134. f.9 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp1.8 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp1.002.6 miliar pada tahun 2008 dari Rp366. dan peningkatan gaji dan tunjangan menjadi Rp141.3 miliar pada tahun 2007. 54 . d.2 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.8 miliar pada tahun 2007. Beban Pelayanan Penumpang Beban pelayanan penumpang meningkat sebesar 10.2 miliar pada tahun 2008 dari Rp72.

9 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. Beban Operasional Jaringan Beban operasional jaringan meningkat sebesar 12.950 untuk setiap 1 USD pada 31 Desember 2008 dari Rp9.9 miliar pada tahun 2008 dari Rp438. disebabkan oleh peningkatan kerugian selisih kurs pada tahun 2008 terkait kewajiban keuangan Perseroan yang didominasi dalam Dolar Amerika Serikat.1 miliar dibandingkan dengan Rp11. disebabkan oleh peningkatan pendapatan jasa teknologi informasi dari ASYST. Beban Operasional Hotel Beban operasional hotel meningkat sebesar 38. beban hak minoritas mencapai Rp9.9 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp422. Manfaat (Beban) Pajak Beban pajak menurun sebesar 70.1 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 menjadi Rp58. Beban Operasional Transportasi Beban operasional transportasi meningkat 5.7 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.8% menjadi Rp44. PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika.4 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.1 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. 55 .0 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.2 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp732.1% menjadi Rp44.353.3 miliar pada tahun 2007 sebagai akibat dari rendahnya tingkat suku bunga untuk hutang dengan bunga mengambang dan penghasilan lain-lain dari keuntungan penjualan aset berupa gedung kantor pusat di Jakarta sebesar Rp385. dimana telah terkompensasi dengan penurunan beban bunga menjadi Rp377.1 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.6 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp32.6 miliar pada tahun 2008. dimana Rupiah terdepresiasi terhadap Dolar Amerika Serikat menjadi Rp10.0% menjadi Rp110.419 untuk setiap 1 USD. d.7% menjadi Rp66. e. Laba (Rugi) Usaha Sebagai hasil dari pendapatan dan beban usaha. Penghasilan (Beban) Lain–lain Penghasilan (Beban) lain-lain menurun 20.i. laba usaha mengalami peningkatan 84. diakibatkan oleh peningkatan beban transportasi oleh PT Mandira Erajasa Wahana.2 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. disebabkan oleh peningkatan manfaat pajak tangguhan pada tahun 2008 yang disebabkan oleh perbedaan waktu antara perlakuan akuntansi dan pajak dimana sebagian terkompensasi oleh beban pajak kini akibat peningkatan laba sebelum pajak di tahun 2008.8% menjadi Rp1.9% menjadi Rp333.5 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari sebesar Rp149. disebabkan oleh peningkatan tingkat hunian dan jumlah tamu pada hotel yang dimiliki dan dikelola oleh Aerowisata dan anak perusahaan Aerowisata yaitu PT Mirtasari Hotel Development.1 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp104. Hak Minoritas Pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008. anak perusahaan Aerowisata .

Aset Perseroan mengalami kenaikan sebesar 28.581 11. Selain itu.768 3.399 12. Kenaikan ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kas bersih dari Aktivitas Operasi. Aset tidak lancar meningkat sebesar 63.8 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh tingginya Aktivitas Investasi dan pembayaran pinjaman jangka panjang. Kas dan setara kas per 31 Desember 2009 berjumlah Rp1.000 Sumber: Perseroan 2008 2009 30 Sep’09 Sep-09 30 Sep’10 Sep-10 Aset Aset Perseroan menurun sebesar 3.901.5 miliar.000 13.7 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. juga adanya kenaikan uang muka pembelian pesawat yaitu sebesar 382.953 Aset 15.4% menjadi Rp975.7 miliar dengan adanya pembelian armada pesawat baru tipe Airbus A330. disebabkan oleh penurunan aset tidak lancar. disebabkan oleh penurunan aset lancar 8.722.527 miliar per 31 Desember 2007 sebagai akibat dari peningkatan aset tetap dengan adanya revaluasi aset khususnya mesin pesawat.4% menjadi Rp4.213 miliar per 31 Desember 2009 terutama disebabkan oleh kenaikan kas dan setara kas dan piutang usaha pihak ketiga.000 10.529 miliar per 30 September 2010 dari Rp10. Kewajiban dan Ekuitas: 18.6 miliar dari Rp393.223 Rp miliar 12.601.677 miliar dari Rp6.147 2007 -2.626 miliar per 31 Desember 2008 sebagai akibat penurunan kas dan setara kas sebesar 33.000 16.888 Kewajiban Ekuitas 14.367 1.802 miliar per 31 Desember 2009.304 miliar per 31 Desember 2008 dari Rp11.694 miliar per 30 September 2010 dari Rp4.Laba Bersih Laba bersih meningkat 538.0% menjadi Rp9. Aset tidak lancar mengalami penurunan sebesar 10.000 8.8% dari jumlah per 31 Desember 2008 Rp2. Aset lancar meningkat sebesar 11. Kas dan Setara Kas.9% menjadi Rp14. Kas dan setara kas per 30 September 2010 berjumlah Rp1.3% menjadi Rp14.3 miliar atau 33.8% dari jumlah per 31 Desember 2009 Rp1.000 2.213 miliar per 31 Desember 2009 dari Rp4.953 miliar per 31 Desember 2007. 56 . meningkat sebesar Rp83. Pertumbuhan Aset. Boeing 777-300ER dan Boeing 737-800.805.304 13. Aset Perseroan mengalami penurunan sebesar 3. tetapi dikompensasi oleh kenaikan dari aset lancar.214 1.182 11.722.9% menjadi Rp1.802 miliar per 31 Desember 2009 dari Rp15.625 14.223 miliar per 30 September 2010 dari Rp14.000 6.304 miliar per 31 Desember 2008.802 14. Kewajiban dan Ekuitas Grafik di bawah ini memberikan gambaran pertumbuhan Aset.8%.066 3.000 4. menurun sebesar Rp879.000 14.3 miliar atau 4.0% menjadi Rp15.5 miliar .9% yaitu menjadi Rp4.0 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp152.590 miliar per 31 Desember 2009 terutama disebabkan oleh penurunan aset tetap.000 0 11.6% menjadi Rp10. disebabkan oleh kenaikan aset tidak lancar.8 miliar.

7 miliar atau 8% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1. Penurunan ini dipengaruhi oleh adanya penurunan uang muka perbaikan pesawat. Penurunan ini disebabkan oleh adanya peningkatan penerimaan tagihan dari pelanggan.9 miliar.0 miliar.2 miliar.1 miliar. Dana Perawatan Pesawat dan Uang Jaminan per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.4% dari jumlah per 31 Desember 2007 Rp2.641.7 miliar atau 39. 57 .2% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp643.791.5 miliar. meningkat sebesar Rp450. disebabkan oleh penurunan kewajiban lancar.7% menjadi Rp5.2 miliar. meningkat sebesar Rp762. Uang Muka Pembelian Pesawat.6 miliar.9 miliar. Peningkatan ini dipengaruhi oleh adanya penambahan jumlah pesawat yang dirawat.1 miliar. Dana Perawatan Pesawat dan Uang Jaminan per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.6 miliar.066.6 miliar.5 miliar.2% dari jumlah per 31 Desember 2008 Rp831.3 miliar.8 miliar.8 miliar. meningkat sebesar Rp110.901.8 miliar. Piutang Usaha.773.145.8 miliar atau 12. Kewajiban lancar mengalami penurunan sebesar 7. Penurunan ini disebabkan oleh pelaksanaan pembelian pesawat yang dipesan. meningkat sebesar Rp358. Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka. Kenaikan ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan aktivitas kegiatan usaha. menurun sebesar Rp367.8 miliar.5% menjadi Rp11.8 miliar.191. Dana Perawatan Pesawat dan Uang Jaminan.6 miliar.857 miliar per 30 September 2010 dari Rp6.1 miliar atau 17.066 miliar per 30 September 2010 dari Rp11. Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka 31 Desember 2008 Rp548. menurun sebesar Rp254. Uang Muka Pembelian Pesawat per 31 Desember 2009 sebesar Rp1. sekaligus pengembalian uang muka pembelian pesawat.7 miliar atau 38.5 miliar atau 23. Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp888.191.7 miliar. Piutang Usaha per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp1.8 miliar. Kewajiban Kewajiban Perseroan menurun sebesar 4. meningkat sebesar Rp79.0 miliar.791.5 miliar atau 5.6 miliar. meningkat sebesar Rp245. meningkat sebesar Rp131. Penurunan ini disebabkan oleh pelaksanaan pembelian pesawat yang dipesan. Dana Perawatan Pesawat dan Uang Jaminan per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp1.028.901. sekaligus pengembalian uang muka pembelian pesawat. Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka 31 Desember 2009 sebesar Rp643.4% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.641.5% dari jumlah per 31 Desember 2008 Rp907. Peningkatan ini disebabkan oleh naiknya pembayaran uang muka pembelian pesawat.066.348 miliar per 31 Desember 2009 terutama disebabkan oleh penurunan hutang usaha dan bagian dari pinjaman jangka panjang tetapi dikompensasi oleh kenaikan pendapatan diterima dimuka. Kenaikan ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan uang muka untuk sewa pesawat Airbus A330 yang dibiayai oleh Lloyd.086.8 miliar Kenaikan ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan aktivitas kegiatan usaha.5 miliar atau 42.8% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.507. meningkat sebesar Rp1. Peningkatan ini dipengaruhi oleh adanya penambahan jumlah pesawat yang dirawat.8 miliar atau 52. meningkat sebesar Rp234.969. Kenaikan ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan uang muka perbaikan pesawat.6% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp780.2 miliar atau 7.581 miliar per 31 Desember 2009.6% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.9% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp393.4% dari jumlah per 31 Desember 2007 Rp1. Piutang Usaha per 31 Desember 2008 Rp831.8 miliar atau 28. Uang Muka Pembelian Pesawat per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.8% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1. Penurunan ini disebabkan oleh bersih dari tingginya Aktivitas Investasi dan pembayaran pinjaman jangka panjang.6 miliar atau 37.8 miliar atau 382.1% dari jumlah per 31 Desember 2008 Rp548. meningkat sebesar Rp94. meningkat sebesar Rp410.6 miliar. Uang Muka Pembelian Pesawat per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp1.601.8 miliar. Piutang Usaha per 31 Desember 2009 berjumlah Rp1.Kas dan setara kas per 31 Desember 2008 berjumlah Rp2. Peningkatan ini dipengaruhi oleh adanya penambahan jumlah pesawat yang dirawat.

menurun sebesar Rp150.3% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp717.266.5% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.234 miliar akibat penurunan hutang sewa pembiayaan sebesar Rp1. turun sebesar Rp802.378.182 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.8 miliar.5% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1. Pinjaman Jangka Panjang Yang Jatuh Tempo Dalam Setahun.436.176.9 miliar.4 miliar.0 miliar. Biaya Yang Masih Harus Dibayar.3 miliar atau 35. dan penurunan overhaul ke pihak ketiga. Penurunan ini disebabkan oleh disebabkan oleh penurunan jumlah penjualan tiket yang diterima yang belum diterbangkan. Hutang Usaha per 31 Desember 2008 sebesar Rp2.581 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp13.5% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp564.285.2 miliar atau 14. Kewajiban tidak lancar meningkat sebesar 7. Kewajiban tidak lancar mengalami penurunan sebesar 23. peningkatan pemeliharaan dan perbaikan pesawat. dan penurunan biaya operasional penerbangan. 58 .8% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp2.6 miliar atau 10.7 miliar. Pendapatan Diterima Dimuka per 30 September 2010 sebesar Rp1.493. meningkat sebesar Rp1. dan penurunan overhaul ke pihak ketiga.3 miliar. menurun sebesar Rp450.030. Pinjaman Jangka Panjang Yang Jatuh Tempo Dalam Setahun Desember 2009 sebesar Rp1.1% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.266. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan pemakaian biaya bahan bakar kepada supplier. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan hutang bahan bakar kepada supplier. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan biaya pemeliharaan dan perbaikan pesawat.7 miliar.0 miliar atau 0. meningkat sebesar Rp1.8 miliar. Hutang Usaha per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.9% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp930 miliar.Kewajiban Perseroan mengalami penurunan sebesar 16.6 miliar. Pendapatan Diterima Dimuka per 31 Desember 2009 sebesar Rp564.4 miliar.5 miliar.3 miliar. Biaya Yang Masih Harus Dibayar per 30 September 2010 sebesar Rp1.8 miliar atau 22. meningkat sebesar Rp243.285. Biaya Yang Masih Harus Dibayar per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.379.7% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp1.5.379. menurun sebesar Rp203.330 miliar sebagai akibat peningkatan kewajiban estimasi beban pengembalian dan pemeliharaan pesawat dan kewajiban pajak tangguhan. penurunan penggunaan spareparts.6 miliar atau 38.6 miliar.0 miliar atau 227. penurunan hutang jasa ground handling di luar negeri.1 miliar. Kewajiban Perseroan mengalami kenaikan sebesar 5.3 miliar.3 miliar. Pendapatan Diterima Dimuka per 31 Desember 2008 sebesar Rp717. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan jumlah penjualan tiket yang diterima yang belum diterbangkan. Penurunan ini disebabkan oleh pembelian kembali FRN.3 miliar.4 miliar atau 7. menurun sebesar Rp152.378. penurunan penggunaan spareparts. disebabkan oleh penurunan kewajiban tidak lancar dan kewajiban lancar.9 miliar. Hutang Usaha. menurun sebesar Rp212.8 miliar atau 13.284. Pinjaman Jangka Panjang Yang Jatuh Tempo Dalam Setahun per 30 September 2010 sebesar Rp255.888 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.069.1% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1. menurun sebesar Rp115. menurun sebesar Rp1. penurunan hutang jasa ground handling di luar negeri.1 miliar.1% menjadi Rp5.4% menjadi Rp13. Penurunan ini disebabkan oleh pembelian kembali FRN. disebabkan oleh kenaikan kewajiban tidak lancar.7 miliar atau 21. Hutang Usaha per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp816.848.6% menjadi Rp11.381 miliar dibandingkan di periode yang sama.825.7% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan hutang bahan bakar kepada supplier.4% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp1. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan biaya administrasi dan umum. Biaya Yang Masih Harus Dibayar per per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.069.1 miliar atau 80.4 miliar. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah penjualan tiket yang diterima yang belum diterbangkan.803 miliar dari Rp6.5% menjadi Rp6.888 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp13. dan penurunan biaya operasional penerbangan.

146.257.366. Peningkatan ini disebabkan oleh adanya tambahan modal disetor sebesar Rp1.008.436.039.9% dari jumlah per 31 Desember 2007 yang merupakan defisiensi modal sebesar Rp1. meningkat sebesar Rp58. Peningkatan ini disebabkan oleh keuntungan usaha Perseroan dan adanya dana setoran modal dari Pemerintah sebesar Rp500 miliar.7%. Hutang Jangka Panjang 31 Desember 2008 sebesar Rp5.7 miliar atau 5.3 miliar atau 11.3%. dan 2007 adalah sebesar 1. yang dihitung dari perbandingan antara laba bersih dengan total ekuitas. meningkat sebesar Rp1. Hutang Jangka Panjang 31 Desember 2009 sebesar Rp3. Ekuitas per 31 Desember 2008 sebesar Rp1. dan 2007 adalah sebesar 6.5 miliar.9% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp4.650.3 miliar atau 3. Penurunan ini disebabkan penurunan Surplus revaluasi menjadi Rp1. Peningkatan ini disebabkan oleh akumulasi tahun berjalan atas Imbalan Pasca Kerja Kewajiban Imbalan Pasca Kerja 31 Desember 2009 sebesar Rp1.4%.4%.2% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1. menurun sebesar Rp1.1 miliar.4 miliar yang merupakan konversi MCB Mandiri.5 miliar atau 0.3 miliar atau 207.2% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.1% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp3. 71. Penurunan ini disebabkan oleh pembayaran hutang kepada ECA.5% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp1. Peningkatan ini disebabkan oleh akumulasi tahun berjalan atas Imbalan Pasca Kerja Kewajiban Imbalan Pasca Kerja per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.0 miliar. menurun sebesar Rp53. Kewajiban Imbalan Pasca Kerja per 30 September 2010 sebesar Rp1. dan (12.257.176.515.7 miliar.2%. meningkat sebesar Rp1. 6.7 miliar per 30 September 2010 dari sebelumnya sebesar Rp1.070. Hutang Jangka Panjang per 30 September 2010 sebesar Rp3.4%.6% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp1. dan 1.8 miliar. ROA untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2009.6 miliar.3% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp3.Pinjaman Jangka Panjang Yang Jatuh Tempo Dalam Setahun per 31 Desember 2008 sebesar Rp1. meningkat sebesar Rp12.366.3% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp5. meningkat sebesar Rp178. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan pinjaman jangka panjang.9 miliar.266.2 miliar atau 14.9 miliar atau 24.5 miliar per 31 Desember 2009.847.129.1%).435.6 miliar.4% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.5 miliar atau 135. Penurunan ini disebabkan oleh pembayaran pinjaman jangka panjang.6 miliar.0 miliar.216.3 miliar atau 2.8 miliar atau 30.638.5 miliar.6 miliar. Imbal Hasil Aset Imbal hasil aset (ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan aset produktif Perseroan untuk menghasilkan laba usaha. meningkat sebesar Rp2. Peningkatan ini disebabkan oleh akumulasi tahun berjalan atas Imbalan Pasca Kerja Ekuitas Ekuitas per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp3.7 miliar.129. yang dihitung dari perbandingan antara laba bersih dengan total aset. sebesar 6.5 miliar. Imbal Hasil Ekuitas Imbal hasil Ekuitas (ROE) digunakan untuk mengukur kemampuan ekuitas Perseroan di dalam meraih laba.216.7 miliar. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan pinjaman jangka panjang. 2008.214.216.1 miliar. Hutang Jangka Panjang. meningkat sebesar Rp128.3 miliar. menurun sebesar Rp67.578.638. ROE untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2009. 59 . 2008.9%.489.2 miliar.8 miliar.633. Ekuitas per 31 Desember 2009 sebesar Rp3. 31.214.2 miliar. Kewajiban Imbalan Pasca Kerja.

799 12. Likuiditas Tingkat likuiditas mencerminkan kemampuan Perseroan di dalam memenuhi kewajiban lancarnya.678 66. 2008. terutama yang diperoleh dari arus kas aktivitas operasi Perseroan pada suatu tanggal tertentu.633 90.400 14.679 80.290 14. Kenaikan ROE pada tahun 2008 jika dibandingkan dengan tahun 2007 disebabkan oleh peningkatan pendapatan Perseroan seiring dengan penambahan produksi dan kenaikan passenger yield.887. Tingkat likuiditas diukur dengan membandingkan aset lancar dengan kewajiban lancar.4% Solvabilitas Rasio solvabilitas mencerminkan kemampuan Perseroan di dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dan jangka panjangnya.1% 57.182.694.588.8% 87. ROE Perseroan pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 83.2% Uraian Aset Lancar Kewajiban Lancar Likuiditas Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 30 September 2010 2009*) 4.154 6.219.581.729 6.683 14.212.445 5.2% 60 .085. yang dapat dihitung dari perbandingan antara jumlah kewajiban dengan jumlah aset.851 13.7% 2009 11.565 65.937.399.297 13.038 3.526 5.7% 110.347.803.7% 2009 4. Berikut adalah tabel tingkat solvabilitas Perseroan dan Anak Perusahaan per 31 Desember 2007. 2009 dan 30 September 2009 dan 2010: (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 13.ROE Perseroan pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 40.802.852.222.065.3% 79. 2009 dan 30 September 2009 dan 2010: (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 4. Berikut adalah tabel tingkat likuiditas konsolidasi Perseroan dan Anak Perusahaan per 31 Desember 2007.4% dibandingkan dengan tahun 2007.529 6.429 13.429 77.856.0% dibandingkan dengan tahun 2008.425.625. Penurunan ROE dari tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008 disebabkan oleh peningkatan modal disetor yang berasal dari konversi obligasi konversi.626.3% Uraian Jumlah Kewajiban Jumlah Aset Solvabilitas Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 30 September 2010 2009*) 11.193 7. 2008.423 78.

2) 1.8) (108.822.6) (1.2 (1.0) (16.0) (503.6) 255.0) 1.192.4) 653.014.9 12.651.4) 2.9 (15.415.5 103.7 (105.3 11.0 (29.5) (809.5 (112.3) (601.0 9.8 (89.231.3) (799.7 18.9) (1.8 (10.3) (2.5) (320. Saat ini. dalam hal untuk membiayai kebutuhan belanja modal.8 7.1) (40.6 5.8) (73.8 (210.7.370.6 (10.6) 3. Sumber likuiditas utama Perseroan adalah kas yang dihasilkan dari kegiatan operasi dan fasilitas pendanaan dari pihak ketiga.6) (188.3 247.0) (191.7 10.5 (14.8 (141.2) (57.8) (822.2 (213.1) (327.9 (335.7) 47.4) (1.369.0) (439.4) 1.058.6 14.937. serta perdagangan normal dengan pemasok Perseroan.9) (258.703.2 (596.1) (0.0) (487.837.5 20.2) (324.564.9 269.590.1 176.0) (177.735.0 28.3) (687.410.8) (1.0 (630.4 188.5 94.8 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 17.3) (0.2) (197.1 30.3 45.007.1 124.7 204.000.7 1.5) (1.8) (145.5) 1.7) 0.0 (507.030.2) (377.5) (138.5) (0.2 1.1) 876.6) 0.6 8.2) (56.402.6 (751. Perseroan bergantung pada kas yang dihasilkan dari kegiatan usaha.9 (733.900.4) 81.7) (1.5 (8.1) 22. Likuiditas dan Sumber Modal Sumber penggunaan kas yang paling utama adalah untuk membiayai kegiatan usaha Perseroan.7) 55.7 5.6) (7.5) (22.7) (379.9) 1.3 (570.0) (5.6) (0.8) (94.8 Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 61 .0) (317.554.6) 97.1 447.553.1) 56.8 2008 18.8) 11.3) (626.095.9) (55.563.3 116.3) (69.8) (117.3) (99.1) 36.3) (1.0 45.3 (12.2 214.7) (90.5) (192.2 35.902. Laporan Arus Kas Konsolidasian (dalam miliar Rupiah) Uraian ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Penerimaan kas dari pelanggan Pengeluaran kas kepada pemasok Pengeluaran kas kepada karyawan Kas dihasilkan dari operasi Pembayaran bunga dan beban keuangan Pembayaran pajak penghasilan Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Operasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Penerimaan bunga Penerimaan dividen Hasil penjualan aset tetap Hasil penjualan properti investasi Penerimaan lain-lain dari penjualan tanah dan bangunan Penerimaan pengembalian uang muka pembelian pesawat Penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat Penerimaan uang jaminan Pengeluaran untuk dana pemeliharaan pesawat Uang muka pembelian pesawat Uang muka perolehan aset tetap Pengeluaran untuk perolehan aset pemeliharaan pesawat Pengeluaran untuk perolehan aset tetap Pembayaran uang jaminan Pengeluaran untuk perolehan investasi Pembayaran lainnya dari aktivitas investasi Penerimaan lainnya dari aktivitas investasi Penempatan deposito berjangka Pencairan deposito berjangka Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Penerimaan pinjaman jangka panjang Penerimaan hutang jangka pendek Penerimaan dana setoran modal Pembayaran pinjaman jangka panjang Pembayaran pinjaman jangka pendek Pembayaran dividen ke pemegang saham minoritas Kenaikan kas yang dibatasi penggunaannya Pembayaran untuk aktivitas pendanaan lainnya Kas Bersih Diperoleh Dari (Digunakan untuk) Aktivitas Pendanaan KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009* 14.215.1 208.6) 1.2) (3.5) 1.6) 1.025.6 16.049.6 (1.4) (134.8 (1.739.1) (15.1 35.1) (2.766.8 169.030.0 (962.0 2007 14.9) (64.6 (153.9) 1.0) 101.8 212.518.

arus kas diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp1. dimana sebagian telah dikompensasi dengan pembayaran kas pada pemasok dan pegawai sebesar Rp10. dimana sebagian telah dikompensasi dengan pembayaran kas pada pemasok dan pegawai sebesar Rp14. Rp138 miliar untuk pembayaran uang jaminan. dan Rp204 miliar dari penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat terbang. terutama berasal dari penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp14. arus kas digunakan dari aktivitas investasi sebesar Rp1. dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp214 miliar untuk hasil penjualan aset tetap. Rp188 miliar untuk uang muka pembelian pesawat.590 miliar. Rp317 miliar untuk pengeluaran perolehan aset tetap. Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2009. terutama berasal dari Rp327 miliar untuk uang muka pembelian pesawat terbang. terutama terdiri dari Rp751 miliar untuk pembayaran hutang jangka panjang.410 miliar. Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007.232 miliar untuk uang muka pembelian pesawat terbang komitmen pembelian armada pesawat berdasarkan perjanjian pembelian dengan Boeing 737-800 dan Airbus A330-200. terutama terdiri dari pembayaran pokok dari hutang jangka panjang yang telah direstrukturisasi.095 miliar.736 miliar. dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp213 miliar untuk hasil penjualan aset tetap. Rp146 miliar untuk pembayaran uang jaminan. Pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.903 miliar. arus kas digunakan dari aktivitas investasi sebesar Rp571 miliar.030 miliar untuk pengeluaran untuk dana pemeliharaan pesawat terbang. Rp100 miliar untuk pembayaran hutang jangka pendek. arus kas diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp1. terutama berasal dari penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp14. Rp630 miliar untuk pengeluaran untuk dana pemeliharaan pesawat terbang. Rp117 miliar untuk pengeluaran perolehan aset tetap.519 miliar. Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2008. dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp209 miliar dari penerimaan pinjaman jangka pendek dan Rp56 miliar dari penerimaan pinjaman jangka panjang. Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Investasi Untuk sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010. terutama berasal dari Rp503 miliar untuk perolehan aset pemeliharaan pesawat. Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Pendanaan Untuk sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010. terutama berasal dari penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp17. arus kas dari aktivitas operasi sebesar Rp1. dan Rp117 miliar untuk penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat terbang. Rp169 miliar untuk penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat dan Rp102 miliar untuk penerimaan bunga dari deposito.908 miliar dan Rp1.370 miliar dan Rp2. terutama berasal dari penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp18. arus kas digunakan untuk aktivitas investasi sebesar Rp1.402 miliar. Rp321 miliar untuk uang muka perolehan aset. 62 . Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2008. Pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008. Rp178 untuk pengeluaran perolehan aset tetap. arus kas digunakan dari aktivitas pendanaan sebesar Rp799 miliar. Rp377 miliar untuk pembayaran uang jaminan.837 miliar. dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp1. Rp1. Rp198 miliar untuk pengeluaran perolehan aset pemeliharaan pesawat.766 miliar. terutama terdiri dari Rp734 miliar untuk pembayaran pinjaman jangka panjang dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp48 miliar dari penerimaan pinjaman jangka panjang. dan Rp269 miliar dari penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat terbang. arus kas digunakan dari aktivitas pendanaan sebesar Rp602 miliar. Rp335 miliar untuk pengeluaran dana pemeliharaan pesawat terbang sesuai dengan perjanjian sewa operasi untuk Boeing 737.031 miliar. terutama berasal dari Rp1.Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Operasi Untuk sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010. Pada tahun yang berakhir 31 Desember 2009. dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp448 miliar dari penerimaan pengembalian uang muka pembelian pesawat terbang. dimana sebagian telah dikompensasi dengan pembayaran kas pada pemasok dan pegawai sebesar Rp12. Rp191 miliar untuk uang muka perolehan aset. arus kas diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp1.563 miliar dan Rp1.370 miliar. dimana sebagian telah dikompensasi dengan pembayaran kas pada pemasok dan pegawai sebesar Rp10. Pada tahun yang berakhir pada 30 Desember 2009.215 miliar. arus kas digunakan dari aktivitas investasi sebesar Rp507 miliar.059 miliar.554 miliar dan Rp2. terutama berasal dari Rp809 miliar untuk uang muka pembelian pesawat terbang komitmen pembelian armada pesawat berdasarkan perjanjian pembelian dengan Boeing. arus kas digunakan dari aktivitas pendanaan sebesar Rp687 miliar.822 miliar.015 miliar dari penerimaan pengembalian uang muka pembelian pesawat.

uang muka kepada Boeing terkait komitmen pembelian Boeing 777 dan/ atau pembayaran kewajiban lainnya atau tujuan lainnya.9 Pada tanggal 30 September 2010.4 miliar.795. Perseroan dimungkinkan akan menambah hutang untuk membiayai seluruh atau sebagian dari belanja modal yang direncanakan. 2008.7 miliar.2 7.427.0 745.8 337. Tabel berikut menggambarkan belanja modal untuk akhir tahun 2007. 2008.215. Bagian dari pengembalian pinjaman dan hutang sewa guna usaha yang jatuh tempo dalam 12 bulan berikutnya dari tanggal neraca disajikan sebagai kewajiban lancar pada neraca Perseroan.3 miliar dan pendapatan diterima di muka dari operasi penerbangan berjadwal dan haji sebesar Rp902 miliar. Perseroan berkeyakinan memiliki modal kerja yang cukup untuk kebutuhan Perseroan saat ini dan bahwa kas bersih yang dihasilkan dari aktivitas operasi. realisasi belanja modal yang sudah dikeluarkan oleh Perseroan sebesar Rp384.007.0 108.9 65. 2009 dan sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010: (dalam miliar Rupiah) Keterangan Periode sembilan bulan yang berakhir 2010 Peralatan Penerbangan Rangka Pesawat Mesin Simulator Ground property dan Peralatan Furnitur dan Perabot Kantor Teknologi Informasi Tanah dan Bangunan Sub Total Aset pemeliharaan pesawat Total Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 191.9 miliar untuk tahun yang bersangkutan. 69 tahun 2007 tentang persetujuan peningkatan modal Pemerintah pada Perseroan. Belanja Modal Sebagian besar dari belanja modal Perseroan secara historis terkait dengan pembelian pesawat.8 miliar. Kewajiban lancar ini terutama berasal dari beban yang belum diakui. kewajiban lancar Perseroan melebihi aset lancar sebesar Rp1. Perseroan berencana untuk mendanai belanja modal tersebut melalui arus kas operasi dan pembiayaan hutang. berdasarkan pada kebutuhan modal Perseroan.7 2009 *) 379.7 16.4 2.000 miliar yang berdasarkan pada Peraturan Pemerintah No. Perseroan dapat melakukan pendanaan tambahan melalui hutang atau ekuitas atau penjualan lain atas saham atau aset Perseroan.1 miliar dan Rp1.0 51. Rp689 miliar. pendapatan ditangguhkan untuk penerbangan berjadwal dan haji dan pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun dan hutang sewa guna usaha yang dikeluarkan untuk pengembangan armada pesawat.7 72.1 68.9 729. Ke depannya. terutama berasal dari penerimaan dana setoran modal sebesar Rp1. dan Rp1.4 60. dimana kemudian Perseroan akan mengkonversi menjadi perjanjian sewa operasi atau sewa pembiayaan. arus kas dan kondisi keuangan secara keseluruhan. tidak termasuk komitmen pembelian armada pesawat berdasarkan perjanjian pembelian dengan Boeing. Selain itu.0 24.7 1. 9.7 197.0 8.4 42.0 96.1 52.0 1.0 384.1 22.458.410. 2009 dan September 2010. 2008 dan 2009 dan sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010.0 miliar.5 42. Perseroan berencana untuk mengalokasikan pembiayaan pengadaan pesawat pada sebagian besar belanja modal untuk membeli pesawat / armada baru.8 22. kondisi pasar dan faktor lainnya. akan menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan belanja modal yang diantisipasi dan pembayaran kewajiban lainnya untuk 12 bulan ke depan. Rp2.3 22.0 miliar.767. serta pertimbangan seperti biaya pendanaan. Rp1.135.8 638.5 368. Pada tanggal 31 Desember 2007. yang seharusnya dapat mengurangi total belanja modal.2 79. Rp524.0 548.8 638.5 2007 40.5 31.7 miliar.1 miliar.9 2008 22. arus kas diperoleh dari aktivitas pendanaan sebesar Rp1. 46 tahun 2006 dan Peraturan Pemerintah No. Rp2.1 90. Perseroan dapat menyesuaikan rencana belanja modal berdasarkan hasil usaha di masa yang akan datang.8 45. dan Rp1.7 miliar.Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007. Rp1. Modal Kerja Karena sifat bisnis Perseroan.8 72. kondisi 63 .5 miliar.0 Tahun yang berakhir 31 Desember 2009 320. bersama dengan kas dan setara kas.1 139.9 503. Pada tahun-tahun yang berakhir pada 2007.369.162.3 29. kewajiban lancar Perseroan saat ini umumnya akan melebihi aset lancar. Perseroan memiliki arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp1. 8.

6 2.6 853.3 16.6 16.9 4.2 28. serta kreditur Perseroan.1 14.2 206.0 13.9 897.2 237.2 288.6 78.6 660.840.5 206. Perseroan tidak memasukkan ke dalam tabel di atas beberapa bank garansi yang dikeluarkan atas nama Perseroan.1 55. yang sebelumnya telah direstrukturisasi pada tahun 2001. termasuk yang berikut: 64 . Perseroan tidak memiliki perjanjian atau kewajiban yang tidak dibukukan dalam neraca.6 2.1 37.6 12.017.2 4. 11.7 433.5 259.6 1.1 368.4 743.944. perekonomian Indonesia dan industri penerbangan secara umum.027.8 8.329.972.2 528.6 79.2 65.6 Rp miliar Ekuivalen Rp miliar Ekuivalen Rp miliar Ekuivalen Rp miliar Ekuivalen Rp miliar USD USD USD USD Hutang bank dan hutang lain jangka pendek Hutang bank dan hutang lain jangka panjang Kewajiban sewa pembiayaan Komitmen sewa operasi Komitmen Pembelian Pesawat Total 207. Belanja modal Perseroan pada umumnya dibatasi dengan adanya persetujuan yang diperlukan dari Pemerintah Indonesia dan DJPU.2 Perseroan telah memasukkan komitmen modal ke dalam tabel kewajiban dan komitmen dalam prospektus sebesar kewajiban Perseroan untuk membayar kepada pemasok terkait pesanan yang sudah dikeluarkan.9 Uraian Peralatan Penerbangan Rangka Pesawat Pengembangan Aset Sewa Mesin Rotable Simulator Ground property dan Peralatan Furnitur dan Perabot Kantor Teknologi Informasi Bangunan Tanah dan lainnya Sub Total Aset pemeliharaan pesawat Total 10.6 207. Tabel berikut merangkum rencana belanja modal Perseroan untuk periode berikut ini: (dalam miliar Rupiah) 31 Desember 2010 2011 2012 636.4 11. Pengeluaran Perseroan yang sebenarnya untuk periode ini mungkin berbeda dari jumlah yang tercantum di atas.6 1.1 95.7 11.998.630.7 226.6 64.0 1.1 111.564.2 236.3 3.2 1.0 60.pasar keuangan.933.6 6.5 9.6 711.741. namun belum diselesaikan.3 1.6 285.809. Sebagai hasilnya.9 241.019.045.5 123.7 7.1 638. ketersediaan pemasok atau pembiayaan lainnya dengan syarat yang dapat diterima oleh Perseroan.3 23.0 74.3 72.9 35.2 270.386.8 128.3 1.2 577.4 947.0 38. Perseroan mengumumkan penundaan pembayaran pokok terkait beberapa hutang yang masih terhutang.5 32.0 395.8 575. Kewajiban kontrak dan komitmen Tabel berikut merangkum pembayaran kewajiban dan komitmen Perseroan pada 30 September 2010: Kewajiban Kontraktual Kurang dari 1 tahun Jatuh tempo berdasarkan periode 1-3 tahun 4-5 tahun Lebih dari 5 tahun Total Ekuivalen USD 23.9 191.715.341. teknis atau masalah lain dalam memperoleh atau memasang peralatan.060.3 44. Seluruh kewajiban dan komitmen Perseroan pada 30 September 2010 telah disajikan dalam Laporan Keuangan Perseroan.674. Perjanjian yang Tidak Dibukukan dalam Neraca (Off-Balance Sheet) Pada tanggal 30 September 2010.7 559.865.6 34.575.4 24.5 71.2 55.167.578.3 255.051.8 305.3 5.460.1 1.2 130.3 589.6 340.9 1.144.0 4.0 850.150. Perseroan mengadakan berbagai perjanjian dengan beberapa kreditur dan debitur untuk melakukan restrukturisasi hutang yang masih terhutang dan kewajiban tetap.1 453.1 2.8 1.0 106.5 343.6 557. Restrukturisasi Hutang Pada tahun 2005. perubahan rencana bisnis dan strategi dan perubahan nilai tukar antara Dolar Amerika Serikat dan Rupiah.2 1.590.9 1.6 1.

7 juta dan Rp146.900. dan Rp1. yaitu efektif dari restrukturisasi. Perseroan merestrukturisasi Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial. Hutang tersebut dijamin dengan hipotik atas pesawat. Ketentuan dalam Pinjaman ECA termasuk beberapa kewajiban termasuk ikatan perjanjian keuangan yang membatasi (i) rasio EBITDAR dibagi dengan nilai pokok berjalan ditambah bunga berjalan ditambah beban sewa pesawat tidak lebih dari 1. Pinjaman ECA 65 .95% dan Perseroan diharuskan untuk melakukan pembayaran pokok setiap enam bulan sekali per pesawat sampai dengan berakhirnya Pinjaman ECA pada tanggal 31 Desember 2016.1 juta. PT Angkasa Pura I (“AP I”) dan PT Angkasa Pura II (“AP II”). Rp60 miliar berdasarkan fasilitas pinjaman sindikasi dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Perseroan menyetujui untuk membeli sembilan pesawat Airbus A330. Pada tanggal 21 Desember 2010.6 juta dalam jumlah pokok terhutang transaksi sewa pembiayaan tertentu yang berkaitan dengan akuisisi enam pesawat A330-300 yang sebagian dijamin oleh lembaga kredit ekspor dari Perancis. Kewajiban ini telah dilunasi pada bulan Oktober 2009.9 miliar. Perseroan memberitahukan Kreditur ECA dan Kreditur Komersial maksud Perseroan untuk menunda pembayaran pokok yang jatuh tempo sesuai dengan kewajiban hutang Perseroan yang lain karena keadaan keuangan Perseroan. jumlah saldo hutang Perseroan pada Pinjaman Komersial sebesar USD95. Perseroan memformulasikan dan menyetujui pengaturan interim sehubungan dengan Pinjaman ECA didasarkan pada kondisi dimana Perseroan telah melakukan pembayaran pokok dan bunga sejak Januari 2008.5% dari total pendapatan usaha.0. pengalihan hak atas pembayaran sewa dan pendapatan hasil klaim asuransi.61% dari modal saham yang beredar dengan dasar dilusi pada tanggal konversi). Enam pesawat tersebut telah dikirimkan antara Desember 1996 dan April 1997 dan telah dibiayai dengan bantuan pinjaman dari Kreditur ECA (pinjaman tersebut disebut “Pinjaman ECA”) dan Kreditur Komersial (pinjaman tersebut disebut “Pinjaman Komersial”) melalui dua perusahaan khusus yang didirikan di Perancis. Pada tahun 2001. Berdasarkan ketentuan. Perseroan merestrukturisasi Obligasi Konversi yang dimiliki oleh Bank Mandiri dengan membayar pokok yang setara dengan lima persen dari jumlah pokok Obligasi Konversi dengan nilai sebesar Rp50.5 miliar dalam jumlah pokok hutang dolar Amerika Serikat Floating Rate Notes dan Rupiah Floating Rate Notes yang jatuh tempo pada tahun 2007 (“FRN”). USD106.75% dan Perseroan diharuskan untuk melakukan pembayaran pokok setiap enam bulan sekali per pesawat sampai dengan berakhirnya Pinjaman Komersial pada 2016. Jerman dan Inggris (masing-masing merupakan “ECA” dan. bunga yang akan dikenakan atas Pinjaman Komersial adalah sebesar LIBOR ditambah 1. yaitu G. untuk mengubah dan menyatakan kembali Obligasi Konversi yang ada. USD115. Pada bulan Mei 2009.000 dibayarkan pada bulan Desember 2010.• USD501. untuk menyesuaikan suku bunga terhutang dan memperpanjang jatuh tempo setiap pinjaman sampai dengan 31 Desember 2010 dengan jaminan USD100 juta irrevocable standby letter of credit yang diterbitkan oleh Bank Mandiri. • • • • Pada bulan Desember 2009 Perseroan mengadakan perjanjian dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Perseroan menyetujui untuk melakukan pembayaran pokok hutang selama enam bulanan untuk Pinjaman ECA dan pembayaran pokok hutang pada saat jatuh tempo untuk Pinjaman Komersial. saldo hutang Perseroan antara lain adalah : Pinjaman Export Credit Agency dan Pinjaman Komersial Pada Nopember 1989. dan sisa konversi sebesar 95% jumlah pokok hutang menjadi saham biasa Perseroan (yang mewakili sekitar 10.E Sumatera. jumlah saldo hutang Perseroan pada Pinjaman ECA sebesar USD193. Pada tanggal 30 September 2010.I. Pada tanggal 30 September 2010. yang telah mengakuisisi pesawat Airbus A330 tersebut dan telah menyewakan pesawat tersebut kepada Perseroan melalui kombinasi antara financial lease dan struktur ‘sewa leverage Jepang’. “Kreditur ECA “) dan beberapa bank umum (“Kreditur Komersial”).3 (ii) Ratio total hutang ditambah 8 (delapan) dikali dengan beban sewa berjalan dibagi dengan EBITDA tidak lebih dari 5.9 juta secara keseluruhan hutang usaha yang masih terhutang kepada Pertamina. Pada tanggal 21 Desember 2010. dimana masing-masing merupakan Perseroan yang terafiliasi dengan Pemerintah Indonesia. Berdasarkan ketentuan restrukturisasi 2010. (iii) maksimum pengeluaran modal tidak lebih dari 2. dan setuju untuk terus melakukan pembayaran ini untuk periode tersebut hingga pelaksanaan dokumentasi definitif untuk merestrukturisasi kewajiban-kewajiban sesuai dengan restrukturisasi. Perseroan menyetujui dan menandatangani dokumentasi restrukturisasi hutang Perseroan yang belum dibayarkan kepada Kreditur ECA dan Kreditur Komersial.E Sulawesi dan G. setelah penyelesaian restrukturisasi hutang. (“Bank Mandiri”) dan bank lain tertentu.8 miliar jumlah pokok obligasi subordinasi konversi (“Obligasi Konversi”) Bank Mandiri. Sehubungan dengan perjanjian tersebut. bunga yang akan dikenakan atas Pinjaman ECA adalah sebesar LIBOR ditambah 0.4 juta. Beban restrukturisasi sebesar USD350. Pada bulan Desember 2005.018.I.

sebagai mata uang yang digunakan dalam pelaporan keuangan Perseroan. pembatasan-pembatasan pada pembebanan hutang. Risiko Pasar Risiko Suku Bunga Eksposur risiko suku bunga terutama terkait dengan pinjaman bank terhadap Dolar Amerika Serikat dan Rupiah yang menanggung bunga mengambang.90% LIBOR + 0.90% LIBOR + 3. Perseroan diwajibkan untuk mengakumulasi beberapa cadangan pemeliharaan tertentu untuk rangka pesawat dari enam pesawat Airbus A-330.5% + suku bunga deposito berjangka yang dijamin pemerintah Suku bunga mengambang Perseroan telah merencanakan untuk mulai menerapkan kebijakan lindung nilai atas suku bunga mengambang terhadap hutang bunga terkait dengan pinjaman ECA. pembayaran dividen. pembayaran yang dananya berasal dari Perseroan atau Anak Perusahaan. transaksi sale and leaseback.9 6 bulan LIBOR + 0. 66 .50% 2.7 91.75% Rata-rata deposito Rupiah dari tiga bank referensi pemerintah + 1. setelah dikurangi dengan jumlah yang dicadangkan untuk modal kerja. pembayaran dividen kepada pemegang saham Perseroan dan meningkatkan modal tambahan. pemberian gadai dan jaminan serta merger atau perubahan pengendalian. saham.5% .726. Perseroan juga mentranlasikan aset dan kewajiban keuangannya yang berdenominasi mata uang asing yang berjalan pada tanggal neraca kedalam Rupiah dengan nilai tukar yang berlaku pada saat tanggal neraca.75% 3 bulan tingkat SBI + 0.0 71.3 675.meliputi ketentuan-ketentuan lainnya yang membatasi kemampuan Perseroan untuk mengambil tindakan-tindakan dan membatasi fleksibilitas Perseroan dalam melaksanakan kegiatan bisnis Perseroan. penjualan aset.7 96. Kreditur ECA dan Kreditur Komersial juga berhak atas pra-pembayaran atas jumlah pokok yang masih terhutang berdasarkan laporan neraca kas Perseroan (termasuk 30% dari hasil penyetoran modal yang diterima Perseroan baik langsung maupun tidak langsung. sebagaimana dinyatakan dalam laporan keuangan yang diiaudit pada setiap akhir tahun buku.miliar 1. Pembatasan-pembatasan tersebut meliputi. pengambilalihan aset.2 848. Perseroan tidak diharuskan untuk mengakumulasi beban cadangan perawatan untuk mesin karena mesin dijamin dalam perjanjian total care package dengan Rolls Royce.75% 6 bulan LIBOR + 1. Sejak tahun 2008.2 BNI 21.5 186.90% 6 bulan LIBOR + 1. pada dasarnya karena penerimaan pendapatan usaha Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat lebih rendah dibandingkan dengan keseluruhan belanja modal dan pembayaran tahunan hutang pokok dan bunga dalam Dolar Amerika Serikat. Di masa lalu Perseroan melakukan transaksi hedging atas eksposur nilai tukar. Perseroan mencatatkan transaksi dengan mata uang asing pada nilai tukar yang berlaku pada tanggal transaksi. Risiko Nilai Tukar Eksposur risiko nilai tukar yang dihadapi Perseroan adalah terkait dengan pergerakan nilai tukar mata uang asing terhadap Rupiah.75% 6 bulan LIBOR + 1. Berdasarkan beberapa ketentuan restrukturisasi Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial. pengeluaran modal.4 67. termasuk Penawaran Umum Perseroan).4 Suku Bunga Hutang ECA Hutang Komersial FRN (Hutang dalam Rupiah) FRN (Hutang dalam Dolar Amerika Serikat) Hutang Subordinasi Pertamina Hutang Subordinasi AP I Hutang Subordinasi AP II Indonesia EximBank CIMB Niaga 615. seperti yang dinyatakan pada tabel berikut: Pinjaman Jumlah Terhutang per 30 September 2010 Rp. Keterangan lebih lanjut mengenai hutang Perseroan per 30 September 2010 dapat dilihat di Bab III Pernyataan Hutang. harta kekayaan. 12. antara lain. transaksi afiliasi.

beban ditangguhkan lainnya atas pendapatan diterima dimuka. mencakup: • • Awareness session. sebagai bagian yang tak terpisahkan dari praktik tata kelola yang baik atas korporasi. VP.8 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. kerugian nilai tukar Rp413. Pembentukan unit ERM yang dikepalai oleh seorang VP dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama. dimana keduanya bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama.6 miliar dan kewajiban moneter dalam mata uang asing sebesar Rp3. dan respon risiko. Aktivitas pengelolaan risiko ini akan direview oleh Komite Kebijakan Risiko yang merupakan perangkat Dewan Komisaris. kecuali untuk transaksi derivatif tertentu terkait dengan bahan bakar untuk penerbangan haji. Apabila pendapatan dalam Dolar Amerika Serikat Perseroan dan hasil konversinya tidak mencukupi kewajiban dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. dan aset lainnya yang berdenominasi Dolar Amerika Serikat. Perseroan juga menghitung komitmen bulanan dalam Dolar Amerika Serikat dikaitkan dengan penerimaan pendapatan Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Profil risiko tersebut kemudian ditentukan prioritisasi dalam pengelolaannya dan seberapa besar dukungan sumber daya yang dibutuhkan. Aset moneter Perseroan adalah termasuk kas dan setara kas. Sepanjang tahun 2009. Per tanggal 30 September 2010. Perseroan memiliki kerugian nilai tukar sekitar Rp233. dan melakukan pemantauan risiko menyeluruh untuk seluruh unit korporasi.optimal. asesmen. Pada kuartal kedua 2009. keuntungan nilai tukar sekitar Rp462. yang dimaksudkan sebagai pembekalan pengetahuan dan ketrampilan bagi mereka dalam memfasilitasi pelaksanaan proses manajemen risiko di unitnya masingmasing. Fungsi unit ERM ini adalah untuk memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan atas pengelolaan risiko-risiko yang dihadapi setiap unit dan fungsi. dan berkesinambungan. • • • 67 . dilaksanakan baik untuk jajaran direksi. Manajemen Risiko Perseroan menyadari bahwa jalannya operasional Perseroan tidak terlepas dari berbagai risiko. yang dimitigasi oleh Perseroan dalam level yang terbatas.kebijakan Perseroan adalah mengelola eksposur Dolar Amerika Serikat dengan menggunakan konversi bulanan dari pendapatan non-Dolar Amerika Serikat ke dalam Dolar Amerika Serikat pada spot rate yang ada pada saat dilakukannya konversi tersebut. Perseroan telah membentuk proyek Enterprise Risk Management (“ERM”) melalui SK No. Karena itu risiko tidak boleh diabaikan dan harus dikelola secara terintegrasi.760. mengkoordinasikan aktivitas manajemen risiko. ERM yang bertugas untuk membangun framework dan infrastruktur untuk penerapan manajemen risiko secara terintegrasi atau ERM yang efektif. baik risiko yang berada di bawah kendali maupun risiko yang berada di luar kendali Perseroan. Workshop manajemen risiko untuk para key risk officer. Penyusunan profil risiko Perseroan yang diperoleh dari proses identifikasi.8 miliar di tahun 2007. JKTDZ/SKEP/50044/09 tanggal 24 Agustus 2009 tentang Organisasi Induk PT Garuda Indonesia (Persero) yang dipimpin oleh seorang Vice President (“VP”) yang independen dari unit operasional.644. uang muka. Namun demikian hal ini dikompensasi pada batas tertentu dengan hutang usaha kepada Pertamina. langkah-langkah menuju tahap penerapan manajemen risiko secara terintegrasi di seluruh Perseroan yang telah dilakukan. dan kewajiban dalam Dolar Amerika Serikat lainnya. Risiko Harga Komoditas Eksposur Perseroan terhadap risiko harga komoditas adalah terkait dengan beban bahan bakar pesawat dalam denominasi mata uang Dolar Amerika Serikat. Selain ERM. Keuntungan maupun kerugian ini disebabkan terutama oleh translasi mata keuntungan maupun kerugian moneter dalam mata uang asing karena adanya aset dan kewajiban moneter Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. dan keuntungan nilai tukar sekitar Rp130. piutang usaha.3 miliar di tahun 2008. 13. Perseroan juga telah membentuk unit Internal Audit. Perseroan tidak mengadakan transaksi lindung nilai terkait dengan harga bahan bakar. uang muka. maka selanjutnya Perseroan akan mengkonversikan pendapatan dalam mata uang Rupiah kedalam mata uang Dolar Amerika Serikat untuk menutupin kekurangan tersebut.5 miliar terkait dengan kewajiban eksposur mata uang asing. hingga ke key risk officer yaitu mereka yang nantinya akan menjadi fasilitator penerapan manajemen risiko di unit-unit. Penyusunan manual ERM sebagai panduan seluruh unit dalam menerapkan manajemen risiko. proses penerapan tahap awal (initial implementation) telah dimulai sebagai langkah pendahuluan formalisasi dan sistematisasi penerapan ERM secara terintegrasi. Perseroan memiliki aset moneter dalam mata uang asing sebesar Rp2.5 miliar di tahun 2009.

yang juga pada akhirnya akan berdampak positif terhadap pendapatan dan juga likuiditas Perseroan.9%.1 916.849. Pengukuran Keuangan Non-US GAAP Perseroan menghitung EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan dalam rangka untuk memberikan tambahan informasi terkait kinerja operasi Perseroan.4%.2 Laba (Rugi) Usaha Penyesuaian: Penyusutan dan Amortisasi EBITDA yang disesuaikan Sewa Pesawat EBITDAR yang disesuaikan Investor tidak harus mempertimbangkan definisi EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan dalam isolasi atau sebagai cara lain untuk mengartikan laba (rugi) usaha. EBITDA yang disesuaikan dihitung dari laba (rugi) usaha ditambah penyusutan dan amortisasi. Sebelumnya dengan semakin membaiknya kondisi perekonomian secara makro dan juga membaiknya kondisi pasar saham global. biaya pesangon karyawan.2 1. (Sumber: Bloomberg). EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan bukan merupakan standar pengukuran baik menurut US GAAP atau PSAK.7 1. Perseroan menggunakan EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan dibandingkan laba bersih karena laba bersih mencakup beberapa akun akuntansi terkait belanja modal.268. peningkatan jumlah kargo serta peningkatan jumlah wisatawan. tingkat suku bunga BI berada pada level 6. India sebesar 5.6 3.0 1.25% dibandingkan periode yang sama tahun 2008. akan memberikan dampak positif pada pasar saham Indonesia.2 2. Perseroan berkeyakinan bahwa salah satu pengukuran yang dapat dibandingkan secara langsung antara US GAAP atau PSAK terhadap EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan adalah laba bersih.609.4 1. Tabel berikut merekonsiliasi laba (rugi) usaha sesuai PSAK ke dalam EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan sesuai dengan definisi Perseroan pada periode terkait: Sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009 (Rpmiliar) (Rpmiliar) (289. atau sebagai indikator kinerja usaha atau standar pengukuran lain sesuai dengan US GAAP atau PSAK. konsumsi pemerintah sebesar 3. Dana yang digambarkan dalam EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan mungkin tidak tersedia untuk pembayaran hutang dikarenakan adanya pembatasan perjanjian.1 749. meningkat cukup tajam yaitu 635 poin atau sekitar 34. Kondisi Perekonomian dan Efek Inflasi Pertumbuhan ekonomi Indonesia dilihat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) selama kuartal ketiga 2009 dibandingkan periode yang sama tahun lalu tumbuh sebesar 2.4 Tahun yang berakhir pada 31 Desember 2009 2008 2007 (Rpmiliar) (Rpmiliar) (Rpmiliar) 918.528. penyisihan piutang lain-lain dan pos luar biasa serta hak minoritas. Kontribusi terbesar atas pertumbuhan tersebut diperoleh dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga 5. Dengan tingkat pertumbuhan ini.225.777. EBITDAR yang disesuaikan dihitung dari laba (rugi) usaha ditambah penyusutan dan amortisasi dan beban sewa pesawat terkait dengan layanan penerbangan berjadwal dan charter.243.5 1.2%. yang berdampak pada peningkatan jumlah penumpang.295.206. Hal ini terjadi karena adanya dukungan stimulus fiskal dan suku bunga yang relatif rendah yang diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan investasi. Indonesia termasuk dalam tiga besar negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.6%. 15. juga dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2007 sebesar 6.649.3 2.2 1.2 732.9 2. setelah Cina dengan pertumbuhan ekonomi 7. Tingkat IHSG pada penutupan perdagangan per 30 September 2009 berada pada level 2. 68 .3 919.8 1.045. seperti penyusutan dan akun selain operasi.9 3.7% dibandingkan penutupan perdagangan pada periode yang sama tahun 2008 yang berada pada level 1.3 668. Akun-akun akuntansi ini mungkin berbeda di setiap perusahaan tergantung metode akuntansi yang digunakan di masing-masing perusahaan. keuntungan dari sale and lease back. Sebagai salah satu pengukuran kinerja operasi Perseroan.446.1%.2 1.832.467. Kondisi makro ekonomi yang semakin membaik yang diindikasikan antara lain oleh peningkatan PDB dan juga penurunan tingkat suku bunga pinjaman. kebutuhan belanja modal dan komitmen lain. seperti pendapatan bunga dan beban bunga.9 2. Penurunan ini diharapkan dapat menjadi pertanda bahwa proses pemulihan perekonomian masih terus berlanjut.14. pembentukan modal tetap bruto sebesar 8. Namun angka pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada kuartal ketiga 2008 sebesar 11.3 1.768.0%. beban keuangan dan keuntungan dan kerugian selisih kurs.399.353. Pada bulan September 2009.2 1.327. akan menjadi suatu keuntungan bagi Perseroan.9 2.796.8%.5%.9) 623.5% menurun 9.

kinerja operasional. mempertahankan. khususnya Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta dan Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. prediksi. dalam mengevaluasi pembelian saham Perseroan. berusaha meningkatkan jumlah armada pesawatnya. Selain itu. kepadatan lalu lintas udara di beberapa bandara utama yang dilayani Perseroan. Walaupun infrastruktur penerbangan komersial Indonesia telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan beberapa tahun terakhir ini. kinerja keuangan. Perseroan dan pesaing lainnya harus meningkatkan gaji dan tunjangan lain dalam rangka untuk merekrut. keterbatasan pada panjang dan/atau kekuatan landasan. Perihal di bawah ini yang terkait dengan pemerintahan atau data makro ekonomi Indonesia dimana informasi tersebut diambil dari publikasi pemerintah atau sumber-sumber lain dan tidak diverifikasi secara terpisah oleh Perseroan. dan memotivasi personil inti ini. arus kas (cash flow). memperbaiki kinerja ketepatan waktu (“On Time Performance” atau “OTP”) dan menyediakan jasa transportasi udara yang aman dan efisien. Keterbatasan Perseroan dalam merekrut. sumber daya dari beberapa segmen pada industri penerbangan termasuk fasilitas bandara dan sistem kontrol lalu lintas udara. • • • • • 69 . mempertahankan. Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. khususnya Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. Risiko Terkait Kegiatan Usaha Perseroan 1. awak kabin dan engineer MRO di industri penerbangan di Indonesia dan global. Terdapat kekurangan personil kunci termasuk pilot. antara lain: • • kapasitas slot pendaratan di bandara-bandara yang dilayani oleh Perseroan. kondisi keuangan. dan memotivasi personil kunci dapat mempengaruhi bisnis Perseroan. khususnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta. Keterbatasan infrastruktur dan fasilitas bandara internasional Soekarno-Hatta dan bandara lainnya di Indonesia dapat menghambat kemampuan Perseroan untuk meningkatkan utilisasi pesawat. Meskipun Perseroan berkeyakinan bahwa tunjangan gaji dan lainnya bagi pilot. sehingga akan mempengaruhi kapasitas muatan pesawat. Risiko-risiko yang diuraikan di bawah ini bukan hanya risiko-risiko yang dapat mempengaruhi Perseroan atau saham Perseroan. Bali. Harga saham Perseroan dapat turun diakibatkan oleh salah satu dari risiko ini dan para investor mungkin dapat kehilangan seluruh atau sebagian investasinya. Keterbatasan Perseroan dalam merekrut. Kemampuan Perseroan dalam meningkatkan tingkat pemanfaatan. Perseroan melihat bahwa kekurangan tenaga kerja ini akan meningkat karena Perseroan dan pesaing lainnya. meningkatkan OTP. dan kualitas sistem navigasi dan pengendalian lalu lintas darat pesawat di bandara-bandara Indonesia. awak kabin. Perseroan juga perlu meningkatkan usaha pelatihan Perseroan bagi personil inti tersebut guna memastikan kecukupan tenaga kerja baru yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan Perseroan yang terus meningkat. dan engineer MRO di industri penerbangan Indonesia. khususnya di industri penerbangan Indonesia. Para investor juga harus mengetahui bahwa beberapa dari pernyataan yang diuraikan di bawah ini merupakan pernyataan yang merupakan proyeksi. dan/atau estimasi ketika dinyatakan proyeksi dan atau estimasi. namun karena adanya peningkatan permintaan untuk pilot. atau prospek usaha Perseroan. Risiko-risko lainnya yang mungkin belum tercakup atau sampai saat ini belum dirasakan cukup material dapat memberikan dampak negatif kepada kegiatan usaha. dan memotivasi personil kunci ini dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap kegiatan usaha. kualitas pengendali lalu lintas udara (Air Traffic Controller) nasional. dan hasil usaha Perseroan. penggunaannya telah mencapai kapasitas maksimum sebagai akibat dari peningkatan yang signifikan pada volume lalu lintas udara. kapasitas penumpang di setiap terminal pada bandara utama yang dilayani Perseroan. dan awak kabin dalam rangka untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pemanfaatan pesawat dan ketepatan waktu. awak kabin. karena saat ini Perseroan berusaha untuk meningkatkan jumlah armada pesawat. dan engineer MRO secara umum kompetitif dengan pesaing lainnya. melatih. serta dalam rangka menyediakan sarana transportasi udara yang aman dan efisien di masa yang akan datang tergantung pada beberapa faktor dimana termasuk faktor yang di luar kendali Perseroan. 2. Bali dan Bandara Internasional Polonia di Medan. RISIKO USAHA Investasi pada saham Perseroan ini mengandung risiko.BAB V. Bali dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta. Para investor harus selalu secara hati-hati mempertimbangkan seluruh informasi yang tersedia pada Prospektus ini. Selain itu. mempertahankan. melatih dan mempertahankan beberapa pilot. terutama yang diuraikan di bawah ini. Perseroan akan merekrut. keterbatasan operasi di sebagian bandara Indonesia-bandara Indonesia yang beroperasi 24 jam adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta. melatih.

Walaupun perjanjian pasokan bahan bakar antara Perseroan dengan Pertamina sebelumnya memberikan diskon persentase terhadap harga posting produksi. dan melakukan segmentasi operasi dan pangsa pasar yang dilayani antara FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia dan LCC Perseroan dengan brand Citilink. Teluk Arab. namun di masa yang akan datang Perseroan berencana untuk melakukan pemisahan kegiatan usaha menjadi PT Citilink Indonesia (“Citilink”) anak perusahaan yang terpisah.2%. Harga bahan bakar domestik ditetapkan dengan mengacu pada umumnya termasuk diskon dari harga posting produksi dalam negeri Pertamina. Perjanjian pasokan bahan bakar internasional mewajibkan adanya pembayaran di muka atau adanya letter of credit terhadap pengiriman bahan bakar. hasil usaha dan prospek Perseroan. Segmentasi operasi Perseroan dan pangsa pasar yang dilayani antara bisnis FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia dan bisnis LCC Perseroan dengan brand Citilink mengharuskan Perseroan untuk melakukan penyempurnaan 70 . dan 2009 dan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. mempertahankan serta memotivasi awak pesawat terbang dalam rangka untuk mempertahankan serta meningkatkan tingkat pemanfaatan pesawat. Harga bahan bakar internasional umumnya ditetapkan dengan mengacu pada harga dasar rata-rata minyak yang dipublikasikan oleh Platts melalui Singapura berdasarkan Mean of Platts Singapore (MOPS). Beban bahan bakar pesawat terbang mewakili 34. 4. Di masa lalu Perseroan pernah mengalami ketidakmampuan dalam pelunasan sejumlah beban bahan bakar kepada Pertamina. Tidak terimplementasinya strategi Perseroan dapat berdampak pada bisnis Perseroan. 41. Perseroan mendapatkan pengadaan sekitar 70% bahan bakar bakar sesuai dengan perjanjian yang dibuat dengan Pertamina. Walaupun saat ini Citilink merupakan bagian dari kegiatan SBU Perseroan. maka keduanya dapat memberikan dampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. Sumber utama pasokan bahan bakar berasal dari Pertamina. Pencapaian strategi pertumbuhan Perseroan baik untuk FSC maupun LCC sangatlah penting bagi bisnis Perseroan dalam rangka pencapaian skala ekonomis dan peningkatan profitabilitas Perseroan. dalam meningkatkan ketepatan waktu serta dalam menyediakan sarana transportasi udara yang aman akan terpengaruhi. perjanjian dengan Pertamina terbaru menggabungkan diskon tetap terhadap harga posting produksi.Apabila salah satu dari faktor-faktor diatas tidak memadai. meningkatkan jumlah tujuan yang dilayani. Mean of Platts Arab Gulf (MOPAG). kemampuan Perseroan dalam melakukan ekspansi rute atau dalam meningkatkan frekuensi penerbangan pada rute yang telah tersedia. meningkatkan frekuensi penerbangan dari tujuan yang ada. Strategi Perseroan untuk secara bersamaan mengembangkan baik bisnis FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia dan bisnis LCC Perseroan dengan brand Citilink mengharuskan Perseroan untuk mengembangkan dua budaya perusahaan (corporate culture) yang terpisah dengan kebutuhan operasi serta fokus pelanggan yang berbeda. yang diterbitkan oleh ARAMCO atau Rotterdam. memperluas ruang lingkup operasional dari SBU Citilink. Perseroan mengadakan perjanjian pasokan bahan bakar selama lima tahun dengan Pertamina dan perjanjian pasokan bahan bakar dengan jangka waktu satu sampai dengan dua tahun dengan beberapa pemasok internasional. 29.3%. dan prospek bisnis serta hasil operasional Perseroan dapat terpengaruh secara material dan negatif. Dengan demikian. bila dibandingkan dengan kesepakatan bahan bakar sebelumnya dengan Pertamina. Perjanjian pasokan bahan bakar untuk internasional diperpanjang secara periodik dan pembayarannya menggunakan Dolar Amerika Serikat. kondisi keuangan. dimana hal ini mengharuskan Perseroan untuk memenuhi persyaratan pembelian minimum jumlah pesawat dan beberapa syarat-syarat operasional yang wajib dimiliki oleh Citilink dalam rangka untuk mendapatkan Sertifikat Operator Pesawat (“AOC”).4% dan 31. Tidak adanya kepastian bahwa Perseroan akan memiliki kemampuan untuk memperoleh harga yang bersaing dari Pertamina akan memberikan dampak negatif yang bersifat material terhadap bisinis. sedangkan perjanjian pasokan domestik dengan Pertamina saat ini mengijinkan Perseroan untuk melakukan pembayaran dalam dua minggu setelah pengiriman bahan bakar. kondisi keuangan. yang ditentukan oleh Pertamina berdasarkan kebijakannya sendiri.8% dari total beban operasional di tahun 2007. melatih. Perseroan berkeyakinan bahwa. Strategi pertumbuhan Perseroan meliputi meningkatkan jumlah armada pesawat. Saudi Arabia dan Belanda. dimana jumlah tersebut telah dikonversikan menjadi hutang subordinasi jangka panjang pada restrukturisasi hutang yang terkini. 3. Peningkatan jumlah armada pesawat baik untuk bisnis FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia maupun bisnis LCC Perseroan dengan brand Citilink akan membutuhkan sejumlah belanja modal yang cukup signifikan dan pembayaran lain untuk pembelian pesawat serta beban sewa terkait sewa operasi dan akan mengharuskan Perseroan untuk merekrut. perjanjian baru tersebut akan menghasilkan diskon yang lebih rendah (dan harga bahan bakar yang lebih tinggi) sejalan dengan kenaikan harga posting produksi dalam negeri. Perjanjian pasokan bahan bakar domestik diperpanjang secara periodik dan pembayaran dilakukan dalam Rupiah untuk harga yang ditetapkan dalam Rupiah pula. hasil usaha dan prospek Perseroan. Tidak adanya kepastian bahwa Perseroan akan mampu memenuhi pembayaran bahan bakar kepada Pertamina atau bahwa Pertamina akan melakukan restrukturisasi terhadap kewajiban yang telah jatuh tempo. 2008. termasuk semua bahan bakar yang diperlukan untuk penerbangan di rute domestik.

Perseroan juga diharuskan untuk menambah jumlah hutang dan kewajiban tetap yang cukup signifikan sehubungan dengan penerapan strategi pertumbuhan Perseroan. Per tanggal 30 September 2010. kewajiban dalam bentuk sewa pembiayaan dan hutang pinjaman jangka pendek) sebesar Rp4. Keterbatasan Perseroan dalam merekrut dan mempertahankan tenaga kerja terlatih atau memastikan ketersediaan peralatan yang dibutuhkan dan efisiensi dari fasilitas dan efektifitas biaya dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam mencapai strategi pertumbuhan. Tingginya tingkat hutang dan pembayaran kewajiban tetap dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam penerapan strategi Perseroan. membatasi atau menunda akses Perseroan ke bandara yang dilayani di masa yang akan datang akan menghambat kemampuan Perseroan untuk berkembang. ruang terminal bandara. Selain itu. 71 . yang merupakan 70. sistem keuangan dan manajemen informasi sampai dititik dimana semua hal tersebut tidak cukup untuk dapat membantu kegiatan usaha sehingga mengharuskan Perseroan untuk mengeluarkan belanja modal yang cukup signifikan untuk pengembangan di bagian ini.sistem manajemen pendapatan dan PSS dalam rangka untuk memaksimalkan kapasitas yang terisi dan pendapatan per penerbangan. Perseroan berkeyakinan bahwa sistem manajemen pendapatan yang digunakan oleh bisnis FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia saat ini relatif kurang memiliki fleksibilitas penetapan harga dibandingkan dengan pesaingnya. bahkan sebelum dimulainya pelayanan baru. keterlambatan dalam pemenuhan pembayaran uang muka untuk pesawat baru dapat mengakibatkan adanya penalti dengan adanya tambahan kewajiban sesuai dengan syarat perjanjian pembelian pesawat dengan Airbus dan Boeing. Peningkatan jumlah tujuan yang dilayani akan bergantung pada kemampuan Perseroan dalam mengakses bandara yang terletak pada sasaran pasar geografis yang mana hal ini haruslah sejalan dengan strategi biaya Perseroan. Walaupun Perseroan baru menyelesaikan restrukturisasi hutang dan kewajiban tetap lainnya.1% dari total kapitalisasi Perseroan (diperhitungkan sebagai total hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun dan total ekuitas). Penambahan pelayanan ke tujuan baru mengharuskan Perseroan untuk menempatkan sumber dana dan lainnya. Strategi pertumbuhan Perseroan juga akan membutuhkan tambahan pegawai. Kemungkinan pada awal pelayanan tersebut Perseroan akan mengalami rendahnya jumlah penumpang sehingga diperlukannya harga promosi ke rute tujuan baru tersebut dimana akan memberikan dampak negatif terhadap profitabilitas rute tujuan baru ini. 5. Strategi pertumbuhan tersebut memungkinan adanya optimalisasi penggunaan sumber daya manajemen dan operasional. Selain itu. Perseroan tidak dapat memastikan untuk dapat menerapkan dengan sukses strategi pertumbuhan dan kegagalan Perseroan dalam pencapaiannya dapat berdampak negatif terhadap bisnis. serta kegiatan operasional Perseroan.944. peralatan dan fasilitas. Kegagalan Perseroan dalam menerapkan strategi pertumbuhan dapat berdampak negatif terhadap kinerja operasi dan arus kas di masa yang akan datang dimana hal ini dapat berdampak negatif terhadap pembayaran uang muka untuk armada pesawat terbang baru. serta hasil usaha Perseroan. setelah penyelesaian restrukturisasi hutang. Perseroan membutuhkan hak lalu lintas udara dan slot pendaratan sebelum Perseroan dapat melayani tujuan baru tersebut. sistem pelaporan serta prosedurprosedur untuk mengakomodasi pertumbuhan di masa yang akan datang. Perseroan memiliki sejumlah kewajiban tetap yang signifikan dalam bentuk sewa operasi dan sewa pembiayaan terkait armada pesawat terbang Perseroan. Kondisi apapun yang mungkin menolak. kondisi keuangan. dan saat ini Perseroan sedang dalam proses pemutakhiran perangkat lunak untuk meningkatkan fleksibiltas tersebut meningkatkan kemampuan Perseroan dalam mengalokasikan persedian tempat duduk diantara tarif kelas yang berbeda dan proyeksi permintaan pasar yang lebih baik. Peningkatan frekuensi penerbangan ke tujuan-tujuan yang sudah tersedia mengharuskan Perseroan untuk mendapatkan slot pendaratan dan membuka gates tambahan di beberapa tujuan tersebut. Perseroan tetap memiliki tingkat hutang dan kewajiban tetap lainnya yang cukup tinggi. kondisi keuangan. Perseroan memiliki jumlah hutang (termasuk hutang jangka panjang. Perseroan tidak dapat memastikan keberhasilan dari segmentasi operasi kegiatan usaha antara FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia dan LCC Perseroan dengan brand Citilink serta kegagalan Perseroan dalam pencapaiannya dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. Sebagian dari hutang jangka panjang dan seluruh hutang jangka pendek Perseroan dikenakan suku bunga mengambang.4 miliar.4 miliar. sistem atau prosedur ini tepat waktu atau bahkan tidak sama sekali. Perseroan berharap untuk dapat mengembangkan kendali dalam hal keuangan. Untuk hutang jangka panjang. Per tanggal 30 September 2010. pembayaran minimum untuk sewa operasi di masa yang akan datang sekitar Rp14. Perseroan tidak dapat memastikan untuk dapat mengembangkan kendali.622. fasilitas bandara dan ruangan lainnya. membatasi kemampuan Perseroan untuk memenuhi pembayaran kewajiban tambahan dan kewajiban tetap lain yang dibutuhkan untuk ekspansi dari armada pesawat terbang Perseroan dan akan berdampak negatif terhadap kemampuan Perseroan dalam memenuhi syarat dari perjanjian sewa armada pesawat terbang dan mesin. dan manajemen. operasional.

Selain itu. Apabila Perseroan tidak dapat memenuhi pembayaran hutang dan kewajiban tetap lainnya. yang terdiri dari 11 pesanan Boeing 737-800. mengharuskan Perseroan untuk dapat menanggung beban bunga atau beban sewa yang lebih besar daripada saat ini. termasuk proyeksi kenaikan harga untuk membeli 27 pesawat tambahan (dimana satu diantaranya telah dikirimkan pada bulan Oktober 2010) sampai dengan tahun 2016. dan mengharuskan Perseroan untuk mematuhi pembatasan-pembatasan keuangan dan lainnya. walaupun Perseroan mampu mengeluarkan tambahan hutang. Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial membatasi kemampuan Perseroan dalam menambah hutang sehingga Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan mampu untuk mendapatkan hutang tambahan terkait pembiayaan pengiriman 26 pesawat (termasuk pembayaran uang muka). Dengan adanya pembiayaan kegiatan usaha Perseroan dengan menggunakan tambahan pinjaman dapat mewajibkan Perseroan untuk patuh pada pembatasan keuangan dan lainnya yang dapat membatasi kemampuan Perseroan dalam pencapaian strategi pertumbuhan Perseroan. atau tidak sama sekali. Perseroan mungkin terpaksa untuk melakukan renegosiasi kewajiban-kewajiban tersebut atau memperoleh pendanaan tambahan baik dalam bentuk ekuitas ataupun hutang. likuiditas Dolar Amerika Serikat dan bank-bank dalam Rupiah dan pasar modal dengan instrumen hutang. 10 pesanan Boeing 777 dan 6 pesanan Airbus A330-200 dan memiliki opsi untuk membeli tambahan 4 pesawat Airbus A330-200. Dengan demikian. termasuk pembatasan kemampuan Perseroan dalam mengumumkan pembagian dividen atau memperoleh tambahan pinjaman.460 miliar. Sebagai contoh.Per tanggal 30 September 2010. menempatkan Perseroan di posisi yang kurang kompetitif dibandingkan pesaing lain yang memiliki tingkat hutang yang lebih rendah dan pesaing lain yang memiliki akses yang lebih baik ke sumber-sumber permodalan. karena sebagian besar hutang Perseroan memiliki beban bunga yang mengambang dan beberapa armada pesawat disewa menggunakan tingkat bunga variable. Perseroan akan tetap membutuhkan perencanaan pendanaan pembayaran uang muka untuk pengiriman 10 pesawat Boeing 777. • • Kemampuan Perseroan dalam mengatur pembayaran hutang dan kewajiban tetap lainnya akan bergantung pada kinerja operasional dan arus kas. bisnis dan lainnya. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa baik hutang atau sewa pembiayaan akan tersedia untuk pengiriman tipe pesawat tersebut (termasuk pembayaran uang muka) pada syarat-syarat yang dapat diterima oleh Perseroan atau tidak sama sekali. kondisi keuangan. Sehingga dalam hal ini Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan mampu untuk mengadakan perjanjian sewa operasi pesawat dalam meningkatkan jumlah armada pesawat Perseroan. Sebelum pengiriman. peraturan. Perseroan dapat menutupi pembayaran uang muka dan mengurangi belanja modal Perseroan namun meningkatkan biaya uang jaminan dan beban sewa pesawat. serta kegiatan usaha Perseroan. dimana banyak dari faktor-faktor tersebut berada di luar kendali Perseroan. memburuknya ekonomi. Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial Perseroan memiliki pembatasan yang mungkin. Walaupun Perseroan berkeyakinan bahwa dana internal dari kegiatan usaha Perseroan cukup untuk membiayai pembayaran uang muka untuk pengiriman pesawat Boeing 737-800 dan Airbus A330-200 yang tersisa. Perseroan memiliki komitmen pembelian pesawat sebesar Rp24. ketidakstabilan sosial atau perubahan dalam peraturan dapat meningkatkan beban pinjaman Perseroan atau membatasi kemampuan Perseroan untuk memperoleh pinjaman. Pembayaran uang muka untuk pembelian pesawat biasanya dibiayai melalui arus kas operasi dan hutang. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan dapat menghasilkan arus kas yang cukup dari operasi bisnisnya untuk memenuhi hutang dan kewajiban tetap lainnya pada saat jatuh tempo dan kegagalan Perseroan dalam memenuhi kewajiban tersebut berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. dapat membatasi kemampuan Perseroan dalam mengeluarkan hutang tambahan dan biaya sewa pesawat tambahan. persaingan. pesawat-pesawat yang dibeli tersebut umumnya dikonversikan menjadi perjanjian sewa operasi dalam transaksi sale and leaseback melalui perusahaan penyewaan pesawat. dapat berpengaruh pada Perseroan sebagai berikut: • • • mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam mendapatkan tambahan pendanaan dalam mendukung rencana ekspansi dan modal kerja dan keperluan lainnya atau tidak sama sekali. 72 . mengalihkan arus kas yang signifikan dari kegiatan usaha dan rencana ekspansi untuk memenuhi kewajiban tetap Perseroan. dalam kondisi tertentu. ketidakstabilan politik. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa upaya renegosiasi di masa yang akan datang akan berhasil atau tepat waktu atau bahwa Perseroan dapat melakukan refinance kewajiban-kewajibannya sesuai dengan kondisi-kondisi yang dapat diterima. Tingginya tingkat hutang dan kewajiban tetap. dimana pada akhirnya akan bergantung pada kondisi ekonomi dan politik saat ini dan faktor-faktor keuangan.

7. Hal ini menggambarkan korelasi antara kemampuan Perseroan dalam menerapkan tambahan beban bahan bakar dan pendapatan usaha Perseroan. atau pemisahan kegiatan usaha Perseroan dan persetujuan likuidasi atau permohonan kepailitan. menjadi sebesar USD709. Kemampuan Perseroan dalam menetapkan tarif penerbangan pada segmen tertentu dipengaruhi oleh batasan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Tidak dapat pula dipastikan bahwa Perseroan dapat menjadi terlepas dari kendali Pemerintah sebagai pemegang saham atau jika ada kemungkinan bagi Perseroan untuk menjadi independen akan dapat menerapkan kebebasan tersebut secara efektif dalam mengambil keputusan terkait kegiatan dan prospek usaha Perseroan. atau mungkin bertentangan dengan. Pemerintah dapat mewajibkan Perseroan untuk melakukan tindakan yang tidak sejalan. Berdasarkan Undang-undang No. Perseroan dapat diminta untuk membuka rute penerbangan ke tujuan yang tidak menguntungkan.8 miliar pada tahun 2008. kepentingan Perseroan atau pemegang saham lainnya. hal ini akan berdampak negatif yang bersifat material terhadap kegiatan usaha. Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (“DJPU”). Setelah Penawaran Umum berakhir.3%. Pemerintah mengendalikan secara efektif halhal yang membutuhkan keputusan pemegang saham. 73 . akan dibayarkan tepat waktu atau ketika dibayarkan akan sesuai dengan tingkat pengembalian investasi Perseroan. jika disetujui. Pemerintah di masa lalu pernah mempengaruhi. kondisi keuangan.9%.7 juta pada tahun 2008. DJPU menetapkan batas atas pada tarif kelas ekonomi rute domestik yang dijual di Indonesia yang membatasi kemampuan Perseroan dalam menyesuaikan tarif kelas ekonomi yang dijual di Indonesia. Di masa lalu pendapatan usaha penerbangan Perseroan terkait penerbangan berjadwal secara signifikan dipengaruhi oleh kemampuan penerapan fuel surcharges selain tarif tiket yang telah ditetapkan Perseroan. dimana tiap hal tersebut ditetapkan oleh DJPU. 2009 dan sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Selain itu. menerbitkan lisensi yang diperlukan untuk operasi penerbangan. Pemerintah dapat meminta Perseroan untuk melakukan suatu transaksi yang tidak sesuai dengan kebijakan Perseroan.4 juta di tahun 2007. 2008. beban rata-rata bahan bakar berfluktuasi dari USD56. dan mungkin akan terus mempengaruhi strategi dan kegiatan usaha Perseroan. Sebagai pemegang saham pengendali. Antara lain. Kementerian Perhubungan merupakan otoritas yang bertanggung jawab untuk mengatur sektor penerbangan Indonesia. Namun tidak dapat dipastikan bahwa kompensasi tersebut. yang memiliki hak khusus yang tidak tersedia bagi para pemegang saham Seri B. Sebagai perusahaan penerbangan. Pemerintah. melalui Kementerian Negara BUMN akan memiliki sekitar 69% saham Perseroan yang beredar. atau tidak sesuai dengan strategi bisnis Perseroan. Saham Seri A Dwiwarna memberikan Pemerintah kekuasaan dalam mengangkat dan memberhentikan Direksi dan Dewan Komisaris. dan menjadi sebesar USD644. antara lain. Dari tahun 2007 sampai dengan 2009. termasuk keputusan mengenai kompensasi dari Pemerintah apabila Perseroan melakukan PSO.68 sen per liter pada tahun 2007 menjadi USD85.4 miliar pada tahun 2009. pendapatan Perseroan dari penerbangan domestik berjadwal berfluktuasi dari sebesar USD536. Pemerintah Indonesia menetapkan batas atas tarif penerbangan domestik kelas ekonomi yang dijual di Indonesia. Sebagai contoh. menjadi 7. Meskipun RPK domestik meningkat selama periode ini dari 6. termasuk perubahan apapun terkait modal Perseroan. Perubahan atas batas atas tersebut bergantung pada kondisi-kondisi dimana beban bahan bakar pesawat atau nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat melebihi acuan tertentu untuk waktu yang telah disetujui. Pemerintah akan tetap sebagai pemegang saham pengendali Perseroan.95 sen per liter pada tahun 2008 dan menjadi USD51. Karena Pemerintah menetapkan berbagai kebijakan terkait transportasi udara.0 juta pada tahun 2009. 41. hasil usaha dan prospek Perseroan. menyetujui merger. melalui Kementerian BUMN.33 sen per liter pada tahun 2009. menyetujui perubahan pada Anggaran Dasar Perseroan. menjadi 6. 42. akuisisi. membatasi tambahan beban bahan bakar bagi penumpang domestik dan jasa kargo dan menyetujui perjanjian bilateral internasional terkait transportasi udara dengan negara lain. Pemerintah wajib memberikan kompensasi yang wajar ketika Perseroan menetapkan rute penerbangan atau melakukan kegiatan usaha yang terkait dengan kepentingan umum (Public Service Obligation / “PSO”) atas permintaan Pemerintah. sebagai pemegang saham pengendali. Perseroan mungkin harus menyetujui untuk melakukan PSO dan apabila Perseroan tidak mendapat kompensasi yang layak dari Pemerintah. Perseroan memiliki beban bahan bakar yang dibatasi oleh fluktuasi harga dan kewajiban tetap dalam Dolar Amerika Serikat yang signifikan. pemerintah memegang saham Seri A Dwiwarna. konsolidasi. Pendapatan pelayanan penumpang domestik menyumbang sekitar 43. penetapan batas atas tarif kelas ekonomi pada rute domestik untuk pelayanan penumpang yang dijual di Indonesia. Tidak dapat dipastikan bahwa Pemerintah akan menggunakan kendali dan pengaruhnya untuk keuntungan Perseroan dan pemegang saham lainnya.8% dari pendapatan penerbangan berjadwal di tahun 2007.6.4 miliar pada tahun 2007. termasuk komposisi Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan serta menentukan waktu dan jumlah pembayaran dividen.19 tahun 2003 tentang BUMN.0% dan 54. Perseroan diatur oleh Pemerintah melalui. Setelah selesainya Penawaran Umum.

Perseroan telah melakukan negosiasi perjanjian kerja bersama baru dengan serikat pekerja ini melalui perundingan tripartit bersama dengan otoritas ketenagakerjaan setempat (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi / “Disnaker”). FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia. batas atas tarif kelas ekonomi LCC relatif lebih tinggi sebagai kelipatan dari beban usaha dibandingkan dengan batas atas tarif kelas ekonomi FSC. Tarif kelas ekonomi domestik saat ini dapat disesuaikan hanya apabila harga bahan bakar melebihi Rp10. dikenakan batas atas tarif kelas ekonomi yang berbeda. 74 . Disnaker telah menyarankan kepada Perseroan dan serikat pekerja untuk menyepakati ketentuan tertentu yang telah disetujui oleh Disnaker. yang antara lain peningkatan jumlah pembayaran pesangon wajib. sebagai tambahan untuk peraturan lainnya dan kebijakan yang mengatur operasi penerbangan. Pada tanggal 6 Desember 2010. termasuk bisnis Perseroan. DJPU meningkatkan batas atas tarif kelas ekonomi domestik namun tidak mengizinkan Perseroan untuk membebankan fuel surcharges ke dalam batas atas tarif kelas ekonomi domestik. dan selama belum adanya persetujuan Perseroan tetap harus tunduk pada batas atas tarif kelas ekonomi yang ada. Aktivitas pekerja dapat mempengaruhi Perseroan. dua serikat pekerja awak kabin. Usulan tersebut telah ditangguhkan dan peraturan baru Pemerintah mengenai penanganan PHK pekerja belum berlaku efektif. Untuk menegosiasikan perjanjian kerja dengan Perseroan tersebut. Akibatnya. Dimungkinan adanya penundaan dalam mendapatkan persetujuan tersebut. dapat berdampak negatif yang bersifat material pada usaha. bahwa serikat pekerja telah menolak ketentuan yang disarankan. hasil usaha dan prospek Perseroan Hukum dan peraturan perundang-undangan yang memfasilitasi pembentukan serikat pekerja. Perseroan telah menyatakan persetujuan atas anjuran dimaksud. dalam mempertahankan fleksibelitas kebijakan tenaga kerja. Adanya persyaratan tambahan untuk memperoleh persetujuan dari DJPU sebelum adanya persetujuan terkait peningkatan batas atas tarif ekonomi atau keterlambatan dalam mendapatkan persetujuan tersebut. dan karena itu dapat menghasilkan profitabilitas yang lebih tinggi untuk LCC kelas ekonomi rute domestik selama periode puncak ketika tarif yang ingin dibebankan untuk FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia untuk penumpang dibatasi oleh batas atas tarif kelas ekonomi. kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan. Berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan tahun 2003 (“UU Ketenagakerjaan”). meskipun harga bahan bakar atau nilai tukar lebih tinggi. pelanggan dan perusahaan di Indonesia pada umumnya. dan dapat mengakibatkan ketidakstabilan dan gerakan pekerja di Indonesia di masa yang akan datang. batas atas untuk tarif kelas ekonomi rute domestik yang ditetapkan DJPU berbeda untuk FSC dan LCC. peningkatan penggunaan karyawan outsourcing dan larangan terhadap serikat pekerja untuk melakukan pemogokan. hasil dan prospek usaha Perseroan. pensiun dan kompensasi kepada karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Hukum ketenagakerjaan dan peraturan ini dapat mempersulit kegiatan usaha. dan satu serikat pekerja umum dimana Perseroan telah mengadakan perjanjian kerja bersama yang berakhir pada tahun 2008. dengan batas atas LCC saat ini ditetapkan sebesar 85% dari batas atas tarif FSC. 8. telah mengakibatkan. Perseroan telah menerima informasi secara verbal walaupun Perseroan sampai saat ini belum mendapatkan pernyataan secara formal. dengan demikian pihak manapun dapat mengajukan perselisihan terkait perjanjian kerja sama ke Pengadilan Hubungan Industrial. yaitu satu serikat pekerja pilot. ditambah dengan kondisi ekonomi yang lemah.Sejak bulan April 2010. kondisi keuangan. Pemerintah mengusulkan untuk mengubah UU Ketenagakerjaan dengan cara. dimana pada akhirnya dapat mempengaruhi bisnis. setelah itu Perseroan dapat mengajukan permohonan kepada DJPU untuk menaikkan batas atas tarif kelas ekonomi. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan memberikan struktur beban usaha yang lebih rendah untuk LCC. Setiap perselisihan pekerja atau gerakan pekerja yang signifikan yang dialami oleh Perseroan dapat berdampak negatif yang bersifat material pada bisnis. keanggotaan serikat pekerja (atau anggota koalisi apabila Perseroan memiliki lebih dari satu serikat pekerja) harus terdiri dari lebih dari 50% dari karyawan Perseroan. atau pada batas atas tarif ekonomi atau beban tambahan bahan bakar. dan mengharuskan pengusaha dengan 50 atau lebih karyawan untuk membuat forum bipartit yang terdiri dari pemberi kerja dan karyawan. yang menurut pandangan gerakan pekerja akan menghasilkan pengurangan manfaat pensiun. Selain itu.000 per liter atau fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang dapat meningkatkan paling tidak 10% beban operasional penerbangan dimana keduanya untuk periode tiga bulan berturut-turut. dan LCC Perseroan dengan brand Citilink. Saat ini Perseroan memiliki empat serikat pekerja. kondisi keuangan. atau perubahan yang bersifat negatif pada kebijakan ini. Setiap kenaikan tersebut akan terlebih dahulu ditinjau dan disetujui oleh DJPU sesuai dengan diskresinya. Perseroan akan terus memiliki beban bahan bakar pesawat yang tinggi yang dibatasi oleh fluktuasi harga dan kewajiban tetap dalam Dolar Amerika Serikat yang signifikan.

e-ticketing. Perseroan bergantung pada sistem otomatisasi untuk menjalankan bisnisnya. atau bahkan tidak sama sekali. Pemutakhiran ini akan membutuhkan migrasi data dari sistem informasi yang ada saat ini pada pusat data Perseroan yang ada saat ini ke sistem informasi baru pada pusat data baru. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan tidak akan menghadapi kesalahan migrasi data di masa yang akan datang. Perseroan sangat bergantung pada sistem otomatisasi dalam menjalankan bisnisnya dan setiap kegagalan pada sistem otomatisasi ini dapat mempengaruhi bisnis Perseroan. backup data dari sistem manajemen operasional tidak akurat dan. Perseroan mengalami gangguan selama periode 3 jam selama melakukan pemindahan dari sistem manajemen operasional yang lama ke Integrated Operational and Control System (IOCS) yang baru dan menyebabkan outage di sistem IOCS. kondisi keuangan dan hasil usaha. baik sementara ataupun permanen. selama periode outage di sistem IOCS tersebut. Sebagai akibatnya. Website dan sistem reservasi Perseroan harus dapat menampung volume lalu lintas yang tinggi dan menyampaikan informasi penerbangan penting. namun untuk sebagian besar penumpang Perseroan mengeluarkan tiket elektronik. Kesalahan migrasi dapat mengakibatkan kehilangan data penting. kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. Perseroan bersama dengan LAPI Institut Teknologi Bandung. jika dibandingkan dengan sistem yang umumnya digunakan oleh pesaing Perseroan. dan dimasukkan ke dalam sistem informasi baru. mesin pemesanan dan pembayaran online yang menyediakan pelayanan reservasi.9. Perseroan mungkin diharuskan untuk mengeluarkan dana dan sumber-sumber manajemen yang cukup signifikan untuk menyelesaikan migrasi data. meningkatkan biaya dan secara negatif mempengaruhi bisnis. Dalam menjawab situasi tersebut. Walaupun Perseroan telah menyimpan IOCS untuk mulai beroperasi pada 21 Nopember 2010. pengadaan tiket. perantara antaramesin pemesanan dan pembayaran dan notifikasi dalam bentuk email. • • • Perseroan berkeyakinan bahwa PSS dan manajemen pendapatan yang tersedia saat ini. ketersediaan tempat duduk dan kontrol keberangkatan yang memudahkan Perseroan untuk mengatur jadwal penerbangan dan penempatan penumpang. Perseroan juga bergantung pada pihak ketiga dalam memfasilitasi pemesanan dan manajemen reservasi tiket pesawat. termasuk: • Passenger Service Solution (“PSS”) yang menyediakan fungsi reservasi. sistem manajemen pendapatan menyediakan analisis data pasar (termasuk perubahan pada tarif rekan kerja dan pesaing) untuk memudahkan Perseroan dalam mengembangkan segmentasi harga pada tarif dan alokasi ketersediaan tempat duduk dari seluruh segmen-segmen harga yang mana dapat memaksimalkan pendapatan penumpang. dengan demikian Perseroan mengalami kesulitan dalam mengalokasikan crew pada jadwal penerbangan yang telah ditentukan antara tanggal 21-23 Nopember 2010 dengan jadwal crew penerbangan yang terus-menerus dicetak dan didistribusikan ke beberapa crew penerbangan unit dengan menggunakan data yang tidak akurat dari sistem manajemen operasional yang lama. Kegagalan pada website. dan sistem penyimpanan data yang bertujuan untuk secara efektif mengambil dan mengintegrasikan informasi dari data keuangan. Meskipun Perseroan mengeluarkan paper tickets untuk beberapa penumpang. dimana migrasi data akan selesai tepat waktu atau atau sistem informasi baru akan mencapai kinerja yang optimal sesuai dengan jadwal yang diinginkan. meningkatkan beban dan dapat berdampak negatif terhadap bisnis. 184 penerbangan dibatalkan dan Perseroan menutup sistem reservasi untuk mencegah pemesanan penumpang baru selama periode 21-23 Nopember 2010. ditransformasikan. Apabila pihak ketiga tersebut mengalami kesulitan dalam memenuhi permintaan atau standar Perseroan. serta menyediakan Perseroan platform pendistribusian dan pengadaan tiket. dan kemudian akan dilakukan pengujian untuk menjamin kinerja sistem yang optimal. mengalami kesulitan keuangan atau gangguan bisnis lain. pada tanggal 21 Nopember 2010. sistem reservasi atau sistem telekomunikasi yang signifikan atau berulang dapat mengurangi daya tarik Perseroan dan dapat menyebabkan pelanggan Perseroan membeli tiket dari maskapai penerbangan lain. Perseroan saat ini sedang melakukan proses pemutakhiran PSS dan manajemen pendapatan sejalan dengan pengembangan pusat data baru. Pembatalan penerbangan tersebut dan penutupan sistem pemesanan selama periode tersebut telah mempengaruhi secara negatif pendapatan per penumpang dan jumlah penumpang untuk periode 3 bulan yang berakhir 31 Desember 2010. Pusat data yang baru memiliki data-data yang bersifat rahasia dalam jumlah yang banyak yang harus dipindahkan. beberapa crew tidak datang pada jadwal kedatangan yang telah ditentukan. apabila pemberi jasa pihak ketiga tersebut sedang tidak beroperasi. hal tersebut dapat merusak reputasi Perseroan atau menyulitkan Perseroan dalam mengoperasikan seluruh aspek bisnis Perseroan. Perseroan dapat dihadapkan pada adanya kenaikan biaya dan penundaan dari kemampuan Perseroan untuk memberikan pelayanan yang serupa 75 . Setiap gangguan dalam sistem ini dapat mengakibatkan hilangnya beberapa data pelanggan penting. telah melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab dari outage dari IOCS. pasar dan operasi Perseroan. sudah tidak layak dan mengakibatkan terbatasnya kemampuan untuk melakukan penjualan langsung ke konsumen dan untuk secara efektif mengalokasikan persedian tempat duduk dari seluruh kategori harga. Selain itu. Dari hasil investigasi tersebut menunjukkan bahwa saat ini Perseroan tidak memiliki jaringan sistem manajemen yang cukup yang dapat memantau trafik jaringan atau memberikan early fault detection di IOCS.

virus komputer dapat masuk ke dalam sistem Perseroan atau sistem registrasi pihak ketiga. dan dinegosiasikan kembali setiap tahunnya. Perseroan bergantung pada Kementerian Agama terkait kegiatan penerbangan haji. Internet adalah jaringan publik dan data yang dikirimkan melalui jaringan ini berasal dari beberapa sumber. kondisi keuangan. maka hal ini dapat bedampak negatif terhadap hasil usaha dan keuangan Perseroan. Di tahun 2007. Di masa lalu. Jika realisasi tidak sesuai dengan proyeksi internal Perseroan. dan 13.9%. beberapa hutang usaha Perseroan terhadap Pertamina. virus komputer atau program perangkat lunak yang dapat mengakibatkan tidak berfungsinya komputer telah didistribusikan atau disebarluaskan melalui internet. dan 93. Pendapatan dari penerbangan haji ini mencakup sekitar 10. 2008. 10. 2008. seperti melalui pinjaman dari kreditur luar negeri untuk membiayai pembelian pesawat. 76 . Sistem keamanan mungkin belum cukup untuk melindungi pelanggaran keamanan dan kegiatan usaha Perseroan dapat terpengaruh secara negatif dengan adanya pembatalan pembelian tiket apabila pelanggaran keamanan tidak ditanggulangi. Tarif tiket pesawat terkait penerbangan jemaah haji disetujui oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama setelah melalui proses negosiasi dengan Perseroan sekitar enam bulan dari jadwal penerbangan setiap tahunnya. Tingginya kemampuan penggunaan komputer. 11. Kementerian Agama bertanggung jawab atas pelaksanaan ibadah haji termasuk di dalamnya perjalanan bagi para jemaah haji ke dan dari Arab Saudi. Tiket pesawat untuk jemaah haji dibayarkan kepada Perseroan oleh Kementerian Agama berdasarkan perjanjian yang ditandatangani oleh Perseroan dan Kementerian. AP I dan AP II telah dikonversikan menjadi hutang subordinasi jangka panjang dimana telah membantu Perseroan dalam meningkatkan posisi keuangan Perseroan. penemuan terbaru atau pengembangan lainnya dapat membahayakan atau melanggar sistem keamanan dan data pribadi yang tersimpan pada sistem tersebut. kondisi keuangan. Kementerian Agama mungkin dapat mengundang beberapa maskapai penerbangan domestik atau internasional untuk ikut serta dalam proses tender terkait bisnis ini dan tidak dapat dipastikan bahwa Kementerian Agama akan menindaklanjuti perjanjian ini dengan Perseroan di masa yang akan datang. Pemerintah juga telah memberikan kontribusi modal dan melakukan konversi hutang Perseroan menjadi modal dalam bentuk saham. Penunaian ibadah haji di tahun 2010 berlangsung pada kuartal keempat pada tahun tersebut sehingga tidak tercermin pada sembilan bulan yang berakhir pada bulan September 2010. Pemerintah memberikan bantuan dalam memperoleh beberapa armada pesawat.0%. dan hasil usaha Perseroan dapat terpengaruh secara negatif. Tidak adanya kepastian bahwa Perseroan dapat mempertahankan perjanjian dengan Kementerian Agama dan kegagalan untuk mempertahankan pelayanan haji tersebut dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. Perseroan mungkin diharuskan untuk mengeluarkan modal yang signifikan dan sumber lain untuk melindungi dari ancaman pelanggaran keamanan atau untuk mengurangi permasalahan yang diakibatkan dari pelanggaran keamanan. dan 2009. jasa pengendalian lalu lintas udara.1% dari total pendapatan usaha pada tahun 2007. maka tarif yang dibayarkan oleh Kementerian Agama mungkin tidak dapat menutupi beban Perseroan dalam hal pelayanan haji dan profitabilitas. Perseroan menerima tagihan setiap bulan terkait penggunaan fasilitas bandara dan pelayanan pada setiap bandara di Indonesia dimana Perseroan beroperasi termasuk sewa tempat penjualan tiket dan ruangan kantor. 11. Sebagian besar penerbangan Perseroan beroperasi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Ngurah-Rai. Siapapun yang melanggar pengaman dari sistem tersebut dapat mengambil informasi rahasia atau mengganggu pelayanan atau usaha Perseroan. hasil usaha dan prospek Perseroan.sampai pemberi jasa serupa ditemukan atau Perseroan dapat mengembangkan teknologi atau operasi pengganti.8%. Saat ini Perseroan merupakan satu-satunya maskapai penerbangan Indonesia terkait angkutan haji. Perseroan bergantung kepada Pemerintah dan institusi lain yang dimiliki dan dikendalikan oleh Pemerintah terkait dukungan keuangan dan pelayanan penting lainnya. Apabila Perseroan tidak sukses dalam memilih pihak ketiga pemberi jasa sistem registrasi yang berkualitas atau tidak dapat secara efektif membina hubungan dengan pihak ketiga tersebut. termasuk beban bahan bakar pesawat dan beban charter pesawat. 92. Sistem automatisasi Perseroan dan sistem registrasi pihak ketiga berhubungan dengan perpindahan informasi rahasia ke jaringan publik. PT Angkasa Pura II (Persero) (“AP II”) dan PT Angkasa Pura I (Persero) (“AP I”). jasa pengendalian di darat dan jasa penerbangan lainnya.9%% dari total pendapatan usaha yang berasal dari penerbangan tidak berjadwal pada tahun 2007. yang dapat mengganggu kegiatan usaha Perseroan atau mengakibatkan tidak dapat diaksesnya sistem Perseroan oleh pihak ketiga. yang dioperasikan oleh BUMN yaitu. 2009 dan sekitar 94. Namun. sehingga membantu Perseroan dalam meningkatkan posisi keuangannya. dan kemudian menyewakan pesawat tersebut kepada Perseroan untuk digunakan dalam kegiatan usaha Perseroan. Di masa lalu. Perseroan menegosiasikan tarif tersebut yang didasarkan pada asumsi dan proyeksi internal dari rencana beban yang dikeluarkan terkait penerbangan ini. beberapa hutang usaha Perseroan terhadap AP I dan AP II telah dikonversikan menjadi ekuitas Perseroan dan baru-baru ini.8%. Perseroan mulai melakukan kegiatan penerbangan haji pada tahun 1956.

pra-sidang diselenggarakan berkenaan dengan tuduhan terhadap Perseroan. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (“KPPU”) telah menjatuhkan sanksi denda terhadap Perseroan sebesar Rp187. PN Jakarta Pusat mengeluarkan putusan sela yang pada intinya memerintahkan KPPU untuk melakukan pemeriksaan tambahan terhadap ahli tambahan Perseroan Sidang pemeriksaan keberatan akan dilanjutkan pada 26 Januari 2011 dengan agenda penyerahan berkas pemeriksaan tambahan oleh KPPU ke majelis hakim.135. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mengadakan sidang pemeriksaan keberatan tersebut pada 8 Desember 2010 dan 15 Desember 2010. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan akan mampu untuk menjaga ketersediaan modal untuk menjalankan bisnis Perseroan dan kegagalan Perseroan untuk menjalankan hal tersebut dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. pendapatan ditangguhkan untuk penerbangan berjadwal dan haji dan porsi pinjaman jangka panjang saat ini dan hutang sewa guna usaha yang dikeluarkan untuk pengembangan armada pesawat. Pada tanggal 31 Desember 2007.7 miliar. dan pada 2 Juni 2010. Kewajiban lancar termasuk kewajiban-kewajiban yang pembayarannya jatuh tempo dalam satu tahun dari tanggal neraca dan mencakup sebagian dari hutang dan kewajiban tetap Perseroan. Pada 17 Oktober 2010. dimana hal ini akan membatasi kemampuan Perseroan untuk bersaing secara efektif dan melakukan ekspansi bisnis. 2008.4 miliar. Hingga prospektus ini diterbitkan belum ada putusan pengadilan sehubungan dengan perkara ini. 0 miliar untuk dugaan praktek persaingan tidak sehat terkait tambahan beban bahan bakar kepada penumpang yang melanggar Pasal 5 dan 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No 5 Tahun 1999) (”UU Persaingan Usaha”). kondisi keuangan. 13.7 miliar. Bagian dari pengembalian pinjaman dan hutang sewa guna usaha yang jatuh tempo dalam 12 bulan berikutnya dari tanggal neraca disajikan sebagai kewajiban lancar pada Neraca Perseroan. kewajiban lancar Perseroan melebihi aset lancar sebesar Rp1. Pada bulan September 2009. likuiditas dan hasil usaha Perseroan mungkin dapat terpengaruh secara material dan negatif. Perseroan mungkin menambah hutang dan kewajiban tetap tambahan untuk membiayai seluruh atau sebagian dari ekspansi armada pesawat yang direncanakan atau untuk tujuan lain. Rp2. prospek. 77 . Apabila bantuan keuangan dan beberapa pelayanan penting tersebut tidak diberikan kepada Perseroan atau tidak diberikan dalam kondisi yang menguntungkan Perseroan dan bisnis. Australia dan Selandia Baru. tergantung pada kebutuhan modal. New Zealand Commerce Commission (NZCC) menerbitkan pernyataan tuntutan terhadap Perseroan. karena diduga terlibat dalam kartel beban tambahan bahan bakar global jasa kargo. Belum ada temuan atau keputusan sehubungan dengan sidang di Australia dan Selandia Baru pada tanggal Prospektus ini. dapat digunakan untuk membayar kewajiban lancar saat jatuh tempo selama periode itu. kondisi pasar dan faktor lainnya. Selain itu. Perseroan pernah memiliki dan mungkin akan tetap memiliki defisit modal kerja di masa yang akan datang. 12. Persidangan sehubungan dengan penggabungan pembelaan berkenaan dengan tuntutan terhadap Perseroan di New Zealand rencananya akan diselenggarakan tahun 2011. Perseroan mengajukan banding atas putusan tersebut yang mana masih dalam proses penelaahan oleh pengadilan. KPPU telah dijadwalkan untuk menyampaikan laporan berupa expert testimony kepada panel hakim.427. Perseroan mungkin dapat melakukan pengadaan dana tambahan melalui penawaran hutang atau ekuitas atau penjualan atau penempatan lain dari saham atau aset. Dalam persidangan tanggal 15 Desember 2010 tersebut. Aset lancar adalah aset yang diharapkan akan dikonversi menjadi kas atau digunakan dalam satu tahun dari tanggal neraca dan.458. Australian Competition and Consumer Commission (“ACCC”) mengajukan tuntutan hukum terhadap Perseroan bersama-sama dengan maskapai penerbangan internasional lain sehubungan dengan dugaan atas keterlibatan dalam kartel fuel surcharges global jasa kargo. Pada tanggal 4 Mei 2010. bersama-sama dengan maskapai penerbangan internasional lain. Belum ada putusan terkait upaya hukum keberatan tersebut hingga tanggal Prospektus ini. kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. Rp2. Pada tanggal 17 Juni 2010. Perseroan telah mengajukan keberatan atas putusan KPPU tersebut ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Antara bulan Oktober 2009 dan bulan Juni 2010. Kewajiban lancar terutama berasal dari biaya yang masih harus dibayar.162. Perseroan memiliki defisit modal kerja yang berarti bahwa kewajiban lancar Perseroan melebihi aset lancar.1 miliar dan Rp1. Pengadilan Negeri New South Wales menolak permohonan untuk dikeluarkan dari perkara berdasarkan Foreign Satates Immunities Act 1985. 2009 dan 30 September 2010. karenanya. Tambahan beban bahan bakar yang diterapkan oleh Perseroan sedang diperkarakan di Indonesia. Pada tahun 2008.Perseroan tidak bisa memastikan bahwa Perseroan akan terus mendapatkan bantuan keuangan dan pelayanan penting dari Pemerintah dan institusi lainnya yang dikendalikan oleh Pemerintah.

Sebagian besar hutang Perseroan memiliki suku bunga mengambang. sebagai akibat dari perubahan tersebut pada pendapatan dan beban bunga yang berasal dari deposito jangka pendek dan aset dan kewajiban berbunga. FAA juga telah mengeluarkan peringatan kepada warga negara Amerika Serikat untuk menggunakan alternatif maskapai penerbangan dari maskapai penerbangan Indonesia. hasil usaha serta likuiditas Perseroan. Jika hal ini terjadi. 2009 dan 0. 14. termasuk Perseroan. didasarkan pada memburuknya standar keselamatan sejak deregulasi sektor penerbangan Indonesia di akhir 1990-an. Adanya pembatasan pada operasi penerbangan dapat berdampak negatif terhadap strategi pertumbuhan Perseroan termasuk kemampuan untuk mempertahankan atau meningkatkan jumlah tujuan pada rute penerbangan Perseroan atau frekuensi penerbangan dari rute tujuan yang sudah ada. Tingginya beban bunga dapat berdampak negatif terhadap profitabilitas Perseroan. antara lain. serta bisnis. 2008. dan terus akan mengakibatkan. sehingga Perseroan memiliki risiko pendanaan kembali pada tingkat bunga yang lebih tinggi. Perseroan wajib mendapatkan dan mempertahankan perizinan yang dimiliki dan persetujuan untuk mengoperasikan jaringan rute Perseroan. hasil operasi dan prospek Perseroan. atau sanksi lain. Industri penerbangan diatur oleh peraturan-peraturan yang sangat luas dan Perseroan tidak memiliki kendali atas peraturan-peraturan tersebut. 78 . pengenaan denda yang besar. Suku bunga mengambang atas saldo hutang Perseroan dapat meningkat di masa yang akan datang dan dengan demikian meningkatkan beban bunga yang dapat menurunkan margin Perseroan sehingga dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. Perseroan berkepentingan agar pembatasan FAA dicabut sebelum Perseroan dapat mulai melayani penerbangan tujuan Amerika Serikat. Selain itu. sanksi administratif. hutang Perseroan dikenakan baik bunga tetap maupun bunga mengambang memiliki jangka waktu yang lebih pendek dari perjanjian sewa Perseroan. profitabilitas Perseroan dipengaruhi oleh perubahan dalam LIBOR Dolar Amerika Serikat. Beban bunga mencakup 3.5% masing-masing dari total pendapatan operasi Perseroan di tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007. Pada bulan Juni 2007. Perubahan-perubahan dalam peraturan atau sosialisasi atas peraturan baru dapat berpengaruh negatif terhadap bisnis. yang telah mengakibatkan. pembatalan atau penangguhan lisensi tertentu yang dibutuhkan untuk operasi bisnis Perseroan di wilayah hukum tersebut. Pada bulan Juli 2009. atau memaksakan larangan tambahan (termasuk larangan tambahan penerbangan) terhadap maskapai penerbangan yang telah disertifikasi oleh pihak berwenang di Indonesia. kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan mungkin akan terpengaruh secara material dan negatif. kondisi keuangan. pembatasan kegiatan usaha Perseroan di wilayah hukum terkait. Reputasi dan bisnis Perseroan dapat terkena dampak negatif karena adanya larangan penerbangan ke Uni Eropa bagi sebagian perusahaan penerbangan Indonesia. maka Perseroan mungkin dikenakan. profitabilitas. atau wilayah hukum lain. larangan tersebut telah dicabut terhadap Perseroan dan tiga maskapai penerbangan Indonesia lainnya. Perseroan membuka penerbangan antara Jakarta dan Amsterdam setiap harinya. Uni Eropa (“EU”) memberlakukan larangan terhadap semua maskapai penerbangan Indonesia berlaku sejak 6 Juli 2007. prospek. termasuk Perseroan. 15. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa larangan yang sudah ada akan dicabut terhadap Perseroan atau peraturanperaturan di masa yang akan datang tidak akan membatasi Perseroan. dengan demikian secara efektif melarang maskapai penerbangan Indonesia.Jika Perseroan dinyatakan telah bertindak melanggar undang-undang anti monopoli atau persaingan usaha di Indonesia. Australia. menyatakan bahwa maskapai penerbangan Indonesia telah gagal memenuhi standar keselamatan internasional yang ditetapkan oleh ICAO. bisnis. kondisi keuangan. Pada bulan Juni 2010. dan 1. dalam melakukan pelayanan penerbangan dengan tujuan Amerika Serikat. Kemudian Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan meninjau ulang larangan EU terhadap maskapai domestik. 1. Selandia Baru. Dengan demikian. kondisi keuangan dan hasil usaha dan prospek Perseroan. dimana hal tersebut dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap reputasi Perseroan. seperti antara Jakarta dan Bali. FAA. EU dan otoritas peraturan internasional lainnya dapat terus menerapkan larangan yang sudah ada. Uni Eropa juga telah mengeluarkan peringatan kepada warga negara dari negara-negara anggotanya untuk mengurangi jumlah penggunaan maskapai penerbangan Indonesia untuk rute transit. Walaupun saat ini rute penerbangan Amerika Serikat belum menjadi tujuan rute penerbangan internasional Perseroan. Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat juga telah menurunkan peringkat keamanan untuk seluruh maskapai penerbangan Indonesia. atau jika ada pembatasan yang bersifat material dikenakan terhadap kemampuan Perseroan untuk menerapkan fuel surcharges.1%.9%. beban bunga yang berfluktuasi sehubungan dengan perubahan tingkat suku bunga.9% dari total pendapatan operasi Perseroan dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. dan hukuman perdata atau pidana lain.

Perseroan telah menandatangani perjanjian pembelian armada pesawat dengan Boeing untuk membeli 11 armada pesawat Boeing 737-800. dan 6 Airbus A330-200 dengan jadwal pengiriman antara tahun 2011 sampai tahun 2016. Peraturan ini. 17. Perseroan sebelumnya telah mendapatkan pengiriman masing-masing 15 dan 2 pesawat Boeing 737-800 baru pada tahun 2009 dan 2008. Pemerintah telah mengundangkan UU Penerbangan No. dan sistem manajemen informasi dan jasa. penghematan beban atau peluang meningkatkan pendapatan yang dihasilkan dari akuisisi maskapai penerbangan atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan. dimana dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam hal pengadaan armada pesawat terbang sesuai dengan rencana ekspansi armada pesawat Perseroan. 10 armada pesawat Boeing 777. Perseroan mungkin melakukan ekspansi bisnis melalui akuisisi maskapai penerbangan atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan. keterlambatan atau masalah operasional atau keuangan lainnya. Perseroan mengalami kerugian dari kegiatan operasi selama kurun waktu sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan kemungkinan akan terus mengalami kondisi tersebut.9 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.16. 1 tahun 2009. prosedur. inflasi dan indeks gaji di Amerika Serikat. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Perseroan mungkin tidak dapat mencapai tujuan atau sinergi yang diinginkan dari akuisisi tersebut dan akuisisi tersebut dapat berdampak negatif terhadap kegiatan operasi dan hasil keuangan dari kegiatan usaha yang ada. Walaupun Perseroan mendapatkan laba bersih sebesar Rp194. Perseroan mengalami rugi usaha sebesar Rp289. Perseroan mungkin mengakuisisi maskapai penerbangan atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan untuk memperluas kegiatan usaha Perseroan.5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. yang mengharuskan semua maskapai penerbangan berjadwal untuk menguasai minimal 10 pesawat pada bulan Januari 2012 dan maskapai penerbangan tersebut harus memiliki minimal 5 pesawat. Adanya pesawat baru pada armada pesawat Perseroan meningkatkan beban sewa pesawat Perseroan dan sesuai dengan keputusan Perseroan untuk melarang terbang (grounded) beberapa jenis pesawat yang sudah tua seperti Boeing 737 untuk pengecekan akhir sebelum pengiriman kembali pada saat berakhirnya sewa operasi pada tahun 2010 dan 2011.9 miliar jika dibandingkan dengan laba usaha Rp623. dan tekanan ekonomi keuangan yang semakin meningkat akibat adanya asumsi kewajiban yang dicatat dan tidak dicatat dari maskapai penerbangan yang diakuisisi atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan. ditambah dengan kondisi persaingan yang kuat di bidang industri penerbangan. Selain itu. komitmen belanja modal dan pembayaran uang muka pesawat mungkin meningkat. Apabila terjadi peningkatan inflasi yang signifikan. kegagalan untuk mencapai sinergi yang diantisipasi. sistem manajemen. harga perolehan harus disesuaikan dengan. • • • Jika Perseroan tidak dapat mengelola atau mengintegrasikan maskapai penerbangan yang baru diakuisisi atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan dengan sukses tanpa adanya pengeluaran yang besar. termasuk karyawan. hal ini menggambarkan sebanyak satu pesawat dilarang terbang selama satu tahun penuh. Proses akuisisi seperti itu melibatkan ketidakpastian dan risiko. hal ini paling utama disebabkan oleh pendapatan pada pos luar biasa sebesar Rp184. akan memungkinkan untuk konsolidasi di industri penerbangan di Indonesia dimana perusahaan penerbangan berskala kecil akan diharuskan untuk bergabung atau ditutup. 18. sebagaimana ditetapkan sesuai dengan metode yang telah disepakati sebelumnya dalam masing-masing perjanjian. antara lain. Perseroan juga memiliki opsi untuk membeli 4 tambahan pesawat A330-200.1 miliar yang berasal dari pengembangan armada pesawat Perseroan dan keuntungan dari kurs mata uang asing sebesar Rp130. kesulitan dalam melaksanakan pengendalian dan pengawasan atas kegiatan usaha dari maskapai penerbangan yang baru diakuisisi.9 miliar Hasil usaha untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 secara negatif telah dipengaruhi oleh keputusan dalam mempercepat pengiriman 18 pesawat Boeing 737-800 sehubungan dengan program simplifikasi armada. yang menghadapkan Perseroan pada ketidakpastian dan risiko integrasi terkait dengan akuisisi di masa yang akan datang. Rata-rata penggunaan pesawat udara pada periode ini juga telah dipengaruhi secara negatif oleh kekurangan pilot dan adanya program pembaharuan kabin terhadap 6 pesawat A330 yang dilakukan pada tahun 2010. budaya perusahaan. termasuk sebagai berikut: • kesulitan dalam pengintegrasian aset dan operasi penerbangan dari maskapai penerbangan yang diakuisisi atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan. Menurut ketentuan perjanjian pembelian pesawat dengan Boeing dan Airbus. keuntungan dari sale lease back sebesar Rp159. Peningkatan tingkat inflasi dapat berdampak negatif terhadap strategi ekspansi armada pesawat Sampai dengan 30 September 2010. 79 . Sebagai akibatnya.1 miliar yang berasal dari restrukturisasi hutang.

Setiap perubahan lebih lanjut atas kondisi persaingan pasar maskapai penerbangan di Indonesia dan regional. Banyak dari pesaing Perseroan juga memiliki jaringan penjualan yang lebih besar dan memiliki sistem reservasi yang lebih komprehensif dan dapat diakses dimanapun. pada umumnya membutuhkan waktu untuk pada akhirnya dapat menghasilkan margin keuntungan yang positif. 2. Perseroan menghadapi berbagai tingkat persaingan dari FSC dan LCC di setiap pasar yang dilayani oleh Perseroan. beberapa rute domestik dan internasional juga menghadapi diskon tarif atau promosi harga yang signifikan yang dapat mengurangi passenger yield Perseroan. jadwal. khususnya LCC. Pengurangan pembatasan ini serta pertumbuhan LCC domestik. secara signifikan dapat mempengaruhi hasil usaha Perseroan. 2008. Kenaikan beban bahan bakar dapat berdampak negatif terhadap bisnis Perseroan. Selama periode tersebut. Faktor-faktor kompetitif utama termasuk harga. Ketersediaan bahan bakar juga tergantung pada periode ketika pasar surplus dan defisit dan dapat dipengaruhi oleh permintaan baik untuk minyak tanah dan bensin. Banyak dari pesaing Perseroan dari luar negeri yang memiliki jaringan rute yang lebih luas. Beban bahan bakar pesawat mewakili 34. kualitas pelayanan. Masuknya maskapai penerbangan baru. Meskipun Perseroan telah menggunakan lindung nilai (hedging) pada bahan bakar yang 80 . telah meningkatkan kapasitas tempat duduk penumpang dan persaingan harga pada rute-rute yang sudah tersedia. seperti program kerjasama pemasaran. Dari waktu ke waktu. atau memiliki persepsi publik sebagai maskapai penerbangan yang sangat aman dan memberikan pelayanan terbaik. 29. jaringan rute.2%. Perseroan membeli sebagian besar bahan bakar pesawat. jenis dan umur pesawat. dan Medan. dimana tingginya kewajiban tetap yang dibutuhkan untuk mengembangkan rute baru biasanya diikuti dengan adanya passenger load factors yang rendah dan pengaruh negatif dari promosi tarif “lead in” pada passenger yields.3%. terutama rute internasional.Beberapa faktor lain juga telah mempengaruhi kondisi hasil usaha Perseroan selama periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. maka prospek bisnis dan profitabilitas Perseroan dapat terpengaruh secara negatif.4% dan 31.8% dari total beban operasional Perseroan pada tahun 2007. dan sumber daya keuangan dan teknologi yang lebih baik. atau terlibat dalam kegiatan promosi. yang mungkin berdampak negatif yang bersifat material terhadap kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. Tidak ada kepastian bahwa Perseroan akan terus menderita kerugian pendapatan. Surabaya. Industri penerbangan sangat kompetitif. rute internasional jarak jauh dengan tujuan Indonesia Timur maupun rute Eropa ke Amsterdam terbaru mengalami load factors yang rendah. Denpasar. serta adanya gangguan dari personil maupun gangguan teknis selama proses migrasi data dari IOCS baru yang mengakibatkan penutupan sistem reservasi penumpang dari tanggal 21-23 Nopember 2010. Hal tersebut disebabkan karena Perseroan sedang dalam proses pengembangan brand awareness dan pangsa pasar pada rute baru. Bencana letusan gunung merapi dari Gunung Merapi dan Gunung Bromo pada bulan Nopember 2010. pengenalan brand yang lebih kuat. beban bahan bakar bergantung pada fluktuasi harga secara umum yang dipengaruhi oleh isu-isu geopolitik serta penawaran dan permintaan. dari satu sumber yaitu Pertamina. Apabila Perseroan tidak mampu bersaing secara efektif dalam situasi ini. peningkatan biaya atau rugi dari hasil usaha untuk tahun berakhir pada tanggal 31 Desember 2010 atau selama periode di masa yang akan datang atau bahwa Perseroan dapat mencatat keuntungan di periode masa yang akan datang. Risiko Terkait Industri Penerbangan 1. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa pesaing yang ada saat ini atau di masa yang akan datang tidak akan ikut serta dalam strategi diskon atau promosi harga tiket dalam upaya untuk mendapatkan pangsa pasar FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia dan LCC Perseroan dengan brand Citilink. maka beban dan ketersediaan bahan bakar di masa yang akan datang tidak dapat diprediksi dengan pasti. termasuk semua bahan bakar pesawat yang diperlukan untuk penerbangan domestik Perseroan. Pemerintah Indonesia mengurangi pembatasan LCC asing yang melayani empat pintu masuk bandara Indonesia melalui Jakarta. Pengadaan rute terbaru. Di masa lalu. termasuk sebagai hasil dari pengenalan “open skies” (seperti penerapan kebijakan “open skies” di ASEAN) atau hak sabotage di Indonesia. maka meningkatkan persaingan baik LCC asing maupun domestik. 2009 dan sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Perseroan juga telah dipengaruhi secara negatif oleh dua kejadian luar biasa yang terjadi di bulan Nopember dan Desember 2010. Sejak September 2010. 41. Pasokan dan harga bahan bakar pesawat berdampak signifikan terhadap beban operasional dan hasil usaha Perseroan. Karena beragamnya faktor yang dapat mempengaruhi harga dan ketersediaan bahan bakar. Hal tersebut mengakibatkan kerugian pendapatan sebagai akibat dari peniadaan penerbangan dan peningkatan biaya termasuk beban bahan bakar dan beban operasional lainnya karena adanya penjadwalan ulang rute pesawat di daerah sekitar bencana alam tersebut.

2%. mengurangi pendapatan dan meningkatkan beban. karena sangat kompetitifnya industri penerbangan dan regulasi di Indonesia and di luar negeri.(joint venture antara Snecma (SAFRAN Group) di Perancis dan General Electric di Amerika Serikat) dan Rolls-Royce Plc. Mesin yang digunakan oleh armada pesawat Perseroan diproduksi oleh CFM International. termasuk pembayaran sewa pembiayaan dan sewa operasi untuk armada pesawat dan mesin. Perseroan saat ini sedang meninjau kembali kebutuhan armada pesawat dan jadwal kedatangan pesawat baru sesuai dengan perjanjian pembelian yang sudah ada. atau jika Perseroan tidak dapat membeli atau menyewa pesawat baru atau mesin dari produsen atau lessor pesawat terbang atau mesin dengan syarat dan ketentuan yang dapat diterima Perseroan. pajak dan tarif dan biaya bandara telah diajukan dari waktu ke waktu dimana secara signifikan dapat meningkatkan biaya operasional penerbangan atau mengurangi permintaan perjalanan udara. Bisnis penerbangan ditandai dengan biaya tetap yang tinggi. S. Perseroan bermaksud untuk tetap menggunakan produsen pesawat ini untuk memasok pesawat terbang di masa yang akan datang. 2008. yaitu Boeing 747 dan Airbus 330 dan empat jenis pesawat berbadan sempit (narrow-body). Perseroan bermaksud untuk menghentikan operasi Boeing 747 dan menggantikannya dengan pesawat yang lebih efisien terkait bahan bakar dan jarak tempuh yang panjang yaitu Boeing 777-300 ER. Perseroan saat ini tidak menggunakan lindung nilai (hedging) untuk penerbangan berjadwal. Tidak ada kepastian bahwa pesawat pengganti akan memiliki keuntungan operasional yang sama seperti pesawat Boeing dan Airbus yang merupakan bagian utama dari armada pesawat Perseroan. peraturan. Beban sewa dan charter pesawat (dimana terutama terdiri dari beban sewa pesawat) mencakup 11. Dengan demikian.1%.6% masing-masing dari pendapatan angkutan penerbangan Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. Strategi bisnis Perseroan adalah meningkatkan sinergi armada pesawat dan meminimalkan beban operasional penerbangan melalui modernisasi dan program simplifikasi pesawat. Bisnis penerbangan pada umumnya ditandai dengan biaya tetap yang tinggi. maka Boeing atau Airbus mungkin menolak untuk memasok armada pesawat yang akan datang. 4. Perseroan juga bermaksud untuk mengganti armada pesawat Boeing 737300. 737-500 dan 737-800.5% dari pendapatan jasa penerbangan untuk sembilan bulan terakhir pada tanggal 30 September 2010. yaitu Boeing 737-300. kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. Jika Perseroan harus melakukan penyewaan atau pembelian pesawat pengganti dari pemasok lain.A. maka langkahlangkah ini bisa memiliki efek terhadap kenaikan harga tiket. Jika Perseroan harus melakukan renegosiasi dengan Boeing atau Airbus dan tidak dapat menyelesaikan negosiasi tersebut secara musyawarah. Setiap hal tersebut di atas dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. setiap perubahan dalam jumlah penumpang Perseroan atau harga atau lalu lintas Perseroan dapat mempengaruhi kegiatan usaha dan keuangan Perseroan. Dalam beberapa tahun terakhir. dan 13. DJPU dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (“KNKT”) telah mengeluarkan peraturan yang berhubungan dengan operasional penerbangan Indonesia yang memerlukan pengeluaran biaya yang signifikan. 737-400. Perseroan hanya memiliki jumlah pemasok yang terbatas untuk armada pesawat dan mesin. Maskapai penerbangan harus mematuhi persyaratan peraturan dan hukum yang beragam. terkait kegiatan usaha penerbangan Perseroan dan telah mengadakan perjanjian pembelian dengan Boeing dan Airbus untuk pembelian tambahan pesawat. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa perjanjian lindung nilai (hedging) bahan bakar jika diperluas ke penerbangan berjadwal akan dapat secara memadai melindungi Perseroan terhadap kenaikan harga bahan bakar. atau pada akhirnya gagal memenuhi kewajiban berdasarkan perjanjian pembelian yang ada. 3. Selain itu. Model Boeing 777-300 ER dan 737-800 diproduksi oleh Boeing dan model A330 diproduksi oleh Airbus. Tambahan undang-undang. atau bahwa setiap pesawat pengganti tersebut akan dapat diandalkan 81 . Apabila diterapkan. 5. Selain itu. 2009 dan 11. baik di Indonesia maupun di luar negeri yang melibatkan biaya kepatuhan yang signifikan. apabila salah satu diantara Boeing atau Airbus ini tidak dapat memenuhi kewajiban kontrak mereka. lindung nilai (hedging) bahan bakar dibatasi oleh volume bahan bakar dan durasinya. sedangkan pendapatan yang dihasilkan dari penerbangan berhubungan langsung dengan jumlah penumpang dan struktur tarif penerbangan. Saat ini. Perubahan pada peraturan pemerintah dapat membahayakan bisnis Perseroan. Perseroan dapat kehilangan manfaat yang saat ini diperoleh dari komposisi armada dan mungkin tidak mendapatkan sinergi dan manfaat lain yang diharapkan dari simplifikasi armada di masa yang akan datang. dan mengoperasikan hanya satu jenis pesawat berbadan sempit yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar yaitu Boeing 737-800 dan tipe pesawat Sub-100. 737-400 dan 737-500. 10. Biaya yang terkait dengan operasi penerbangan Perseroan tidak bervariasi secara proporsional dengan jumlah penumpang.digunakan untuk penerbangan haji sejak tahun 2009. Perseroan tidak bisa memastikan bahwa peraturan perundang-undangan ini yang berlaku di masa depan tidak akan membahayakan bisnis Perseroan. Selain itu. maka Perseroan harus mencari pemasok lainnya untuk tipe armada pesawat atau mesin yang sama. Perseroan mengoperasikan dua jenis pesawat berbadan lebar (wide-body). Perseroan mungkin tidak dapat mengenakan kenaikan beban bahan bakar kepada pelanggan di masa yang akan datang.

7. Pilot tersebut kemudian dihukum karena kelalaian kriminal. dimana hal ini konsisten dengan musim padat untuk liburan sekolah dan akhir tahun. Hasil operasi Perseroan dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh perubahan siklus industri penerbangan dan bersifat musiman.6 juta terkait penyisihan untuk armada pesawat tersebut dan Perseroan telah menerima secara keseluruhan USD104 juta sebagai kompensasi dari asuransi yang dimiliki Perseroan. Akibat dari sifat industri penerbangan yang rentan terhadap siklus ekonomi. Sidang awal diadakan pada tanggal 5 Nopember 2010. mengganti sistem yang bersifat manual dan penyesuaian fasilitas. reputasi dan hasil usaha Perseroan. Bisnis Perseroan juga akan terganggu apabila publik menghindari penggunaan pesawat Perseroan yang disebabkan oleh adanya persepsi negatif untuk model pesawat dan mesin tersebut terkait kekhawatiran keselamatan atau masalah lain. berbeda setiap tahunnya sesuai dengan kalendar Hijriah. 2008 dan 2009. Pada tanggal 30 Juli 2010. maka tidak akan berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis Perseroan.A atau Rolls-Royce Plc untuk menyediakan suku cadang yang cukup atau dukungan pelayanan tertentu secara tepat waktu. Pendapatan Perseroan dari penerbangan haji yang mencakup 94. Selain itu. Perseroan tidak memiliki pendapatan dari penerbangan haji pada periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010. tetapi juga ada potensial klaim yang signifikan dari penumpang yang terluka dan korban penumpang meninggal. Klaim yang signifikan akibat kecelakaan atau insiden pesawat terbang yang melebihi dari nilai perlindungan asuransi terkait dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap hasil usaha dan kondisi keuangan Perseroan. selama terjadi krisis ekonomi dan periode ketidakstabilan politik dan sosial di masa lalu. yang akan membahayakan bisnis.0%. penerbangan Garuda Indonesia GA 200 mengalami kecelakaan pada saat mendarat di Bandara Internasional Adisucipto di Yogjakarta mengakibatkan 21 orang terluka parah. dengan pendapatan pelayanan penumpang tertinggi terjadi di pertengahan bulan Juni sampai pertengahan September dan akhir bulan Desember sampai dengan awal bulan Januari. bisa menciptakan persepsi publik bahwa Perseroan kurang aman atau kurang dapat diandalkan dibandingkan dengan maskapai lain.4 juta untuk mengkompensasi penumpang dan kerabat penumpang yang meninggal dan mencatat kerugian sebesar USD21. atau pada suatu kondisi yang terkait dengan kecelakaan pada model atau mesin pesawat ini.9%. Sehubungan dengan operasi penerbangan pada tahun 2009 telah diselesaikan sebelum 31 Desember 2009 dan operasi penerbangan haji dimulai pada bulan Oktober 2010. industri penerbangan mengalami kerugian keuangan yang signifikan. Penyelidikan kecelakaan oleh KNKT dari insiden tersebut menemukan bahwa penyebab kecelakaan itu adalah kesalahan pilot. Penggunaan pesawat dapat ditangguhkan atau dilarang ketika terjadi masalah mekanis atau cacat desain baik nyata ataupun hanya persepsi. Pada tanggal 7 Maret 2007. Perseroan telah membayar sekitar USD82.9% dari total pendapatan operasi dari penerbangan tidak berjadwal di tahun 2007.A atau Rolls-Royce yang merupakan armada pesawat Perseroan. 6. Kecelakaan atau insiden pesawat terbang dapat melibatkan tidak hanya perbaikan atau penggantian pesawat yang rusak dan akibatnya kerugian pelayanan yang dapat bersifat sementara atau permanen. Perseroan juga mungkin akan menanggung biaya yang besar akibat perubahan ini. Belum adanya penemuan yang telah dikeluarkan terkait sidang tersebut sampai dengan Prospektus ini diterbitkan. Sejak tahun 2007 sampai dengan September 2010. 82 . politik dan sosial yang tidak dapat dikendalikan oleh Perseroan) dapat secara negatif mempengaruhi kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. setiap kecelakaan atau insiden pesawat terbang. Walaupun Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan menjaga kecukupan cakupan asuransi dibandingkan dengan maskapai penerbangan Indonesia lainnya. bahkan jika diasuransikan sepenuhnya. sejauh bahwa biaya tersebut tidak disediakan oleh pemasok alternatif. dengan asumsi bahwa cacat atau masalah tersebut dapat ditanggulangi. istri dan anak dari awak kabin yang meninggal mengajukan tuntutan hukum pada Pengadilan Negeri Kyoto di Jepang terkait kehilangan bantuan pasangan (spousal support) dan perkiraan kehilangan pendapatan. Untuk penerbangan domestik. industri penerbangan cenderung bersifat musiman. CFM International S.dan efisien. dan 93. Kegiatan usaha Perseroan dapat dirugikan oleh kegagalan atau ketidakmampuan Boeing. 92. Selain itu. Reputasi dan bisnis Perseroan dapat terkena dampak negatif akibat kecelakaan atau insiden pesawat. Airbus. termasuk biaya yang terkait dengan mempertahankan karyawan. baik itu nyata ataupun hanya persepsi. meskipun hukum ini kemudian dibatalkan pada tingkat banding. yang biasanya jatuh pada akhir musim panas pada setiap tahunnya dari tahun 2007 sampai dengan 30 September 2010. yang menyebabkan pesawat Perseroan dilarang terbang (grounded) sementara cacat atau masalah tersebut diperbaiki. Operasi penerbangan haji pada periode tahun 2007 sampai dengan 2009 pada umumnya mencakup 12 minggu yang dimulai setiap tahunnya dengan tanggal yang maju dari periode Nopember ke Oktober. dan pilot telah mengabaikan beberapa peringatan otomatis kecepatan pendaratan yang berlebihan dan prosedur Perseroan untuk membatalkan pendaratan. Hasil dari perkara tersebut di atas tidak dapat dipastikan. dan tidak terdapat kepastian bahwa jika Perseroan dikalahkan dalam gugatan tersebut. Bisnis Perseroan akan sangat terganggu apabila ditemukan cacat desain atau masalah mekanis pada model pesawat Boeing atau Airbus atau mesin CFM International S. sementara penyelidikan sedang berjalan. Setiap penurunan secara umum pada penumpang penerbangan di masa yang akan datang (yang mungkin disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi. pada bulan Ramadhan biasanya pasar penumpang mengalami penurunan. tingkat cakupan bisnis Perseroan mungkin tidak memadai dan Perseroan mungkin terpaksa menanggung kerugian besar yang timbul dari kecelakaan atau insiden.

bom meledak di Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW Marriot di Jakarta. dapat mencegah penumpang untuk bepergian atau menyebabkan keterlambatan atau gangguan terhadap jadwal penerbangan Perseroan. di Hotel JW Marriott di Jakarta pada bulan Agustus 2003. yang secara signifikan telah mempengaruhi kegiatan ekonomi dan menyebabkan penurunan pasar penumpang dan permintaan barang di daerah-daerah yang terkena musibah tersebut. dimana telah dikonfirmasi melalui laporan laboratorium bahwa kasus-kasus tersebut merupakan kasus flu burung. Wabah flu burung. Singapura. Menurut United Nations Food and Agricultural. dan tetap melakukan investigasi terhadap insiden ini dan menganggap bahwa hal-hal ini terkait dengan kegiatan kelompok militan Islam tertentu. Dari jumlah tersebut. Virus influenza A (H1N1) diyakini sangat menular dan mungkin tidak mudah dikontrol penyebarannya. sehingga dapat berdampak negatif terhadap hasil usaha Perseroan. meningkatnya kekhawatiran tentang serangan teroris di masa yang akan datang. dan di beberapa tempat lain di Asia. atau tindakan yang diambil oleh pemerintah dan negara-negara lain terhadap penyakit menular. beberapa insiden pemboman telah terjadi di Indonesia. di Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada bulan September 2004 dan di kota Indonesia timur Tentena di pulau Sulawesi bulan Mei 2005. Serangan teroris dan akibatnya dapat berdampak buruk bagi industri penerbangan Indonesia. bahan bakar. dapat meningkatkan beban operasi dan mengurangi permintaan dari pelayanan Perseroan. mungkin secara negatif mempengaruhi permintaan perjalanan udara. termasuk di Indonesia. virus influenza A (H1N1) atau penyakit menular lainnya. suatu bentuk atypical pneumonia yang dapat menular. Sejak tahun 2002. asuransi dan lainnya. negara-negara tertentu di Asia mengalami wabah SARS. secara negatif dapat mempengaruhi industri penerbangan dan mengakibatkan penurunan lalu lintas dan passenger yield. sebagian besar Asia mengalami gejala merebaknya wabah flu burung yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain itu. Hong Kong. Pada tahun 2003. severe acute respiratory syndrome (“SARS”). Per tanggal 31 Agustus 2010. menurut laporan yang telah dikonfirmasikan. menewaskan sembilan orang dan melukai lebih dari 50 lainnya. 9. Kementerian Kesehatan Indonesia telah melaporkan kepada WHO terkait kematian 139 dalam jumlah 168 kasus flu burung di Indonesia. 83 . Demonstrasi juga terjadi di Indonesia menanggapi rencana dan aksi militer AS. walaupun tidak diarahkan pada atau dikaitkan dengan industri penerbangan. WHO mengumumkan pada bulan Juni 2006 bahwa penularan flu burung dari manusia ke manusia telah ditemukan di Sumatera. publisitas yang merugikan tentang keprihatinan mengenai penyakit menular melalui komunikasi dan kerentanan udara bagi penumpang. Indonesia. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa wabah penyakit menular tidak akan terjadi di masa yang akan datang dan bahwa wabah penyakit apapun. Pada tanggal 17 Juli 2009.8. atau persepsi bahwa wabah tersebut dapat terjadi. Pada bulan April 2009. virus flu burung yang terdapat di 31 dari 33 propinsi di Indonesia dan upaya untuk menanggulangi flu burung telah gagal di Indonesia. atau ketakutan serangan tersebut. Dampak yang potensial termasuk kerugian yang besar terkait jumlah penumpang bepergian dan pendapatan pada industri penerbangan. Organisasi Kesehatan Dunia (“WHO”) telah mengkonfirmasikan total kematian sebanyak 300 dalam jumlah 505 kasus yang dilaporkan ke WHO. Pemerintah telah menangkap dan mendakwa beberapa pihak terkait insiden ini. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa peristiwa-peristiwa teroris tersebut tidak akan merugikan industri penerbangan secara umum atau bisnis Perseroan. tidak akan berdampak buruk pada hasil usaha Perseroan. meningkatkan keterlambatan penerbangan atau pembatalan terkait dengan peraturan baru pemerintah dan peningkatan biaya keamanan. meningkatkan kemungkinan bahwa virus tersebut dapat bermutasi menjadi bentuk yang mematikan. Serangan teroris di masa yang akan datang. yang paling signifikan terjadi di Bali pada bulan Oktober 2002 dan Oktober 2005. Malaysia. mewabah virus Influenza A (H1N1) yang berasal dari Meksiko tetapi telah menyebar secara global. Jepang. baik benar atau tidak benar. atau ancaman seperti serangan tersebut. meningkatnya beban keamanan dan asuransi. Selain itu. Serangan teroris tambahan. Inggris dan Australia di Irak. keterlambatan karena peningkatan keamanan dan berkurangnya passenger yield akibat rendahnya permintaan untuk perjalanan udara. Tidak ditemukannya vaksin flu burung yang efektif dan vaksin yang efektif mungkin tidak ditemukan pada waktu yang tepat untuk melindungi pandemi flu burung yang potensial. Selama beberapa tahun terakhir.

Asuransi mungkin menjadi lebih sulit atau mahal didapatkan Sejak tanggal 11 September 2001 serangan teroris di Amerika Serikat. Keterbatasan Perseroan untuk mendapatkan asuransi yang dapat diterima secara umum atau tidak sama sekali. suku bunga yang tinggi. terkait kewajiban umum atau aset tertentu dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. 84 . Pasar keuangan global telah mengalami. tidak tersedia atau tersedia hanya dengan nilai pertanggungan yang kecil yang tidak sesuai dengan syarat tingkat pertanggungan yang diwajibkan oleh pihak yang menyewakan pesawat atau peraturan pemerintah yang berlaku. Tingkat suku bunga di Indonesia juga mengalami ketidakstabilan dalam beberapa tahun terakhir. penurunan investasi langsung dari pihak asing. dan mengakibatkan bailout pemerintah pada beberapa bank dan lembaga lainnya oleh pemerintah. Sejauh dimana risiko yang tidak diasuransikan tersebut bernilai material. Krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara. Akibatnya.78% pada tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. cadangan devisa dalam mata uang yang asing yang kecil. Perseroan dapat terpengaruh secara material dan negatif. dapat menyebabkan peningkatan volatilitas di pasar keuangan internasional dan Indonesia dan menghambat atau mengubah arah pertumbuhan ekonomi global dan perekonomian Indonesia. asuransi penerbangan secara signifikan meningkatkan premi per penumpang terkait tambahan asuransi dan mengurangi jumlah maksimum pertanggungan kewajiban pihak ketiga untuk klaim yang diakibatkan oleh tindakan terorisme. Pemerintah terus mengalami defisit fiskal yang besar dan tingginya tingkat hutang negara dalam mata uang asing. termasuk Indonesia. regional atau global dapat mempengaruhi bisnis Perseroan. atau menghilangkan dari yang diambil atau diadopsi. Perseroan tidak mengasuransikan beberapa risiko bisnis termasuk risiko gangguan usaha. dan sektor perbankan yang lemah dan memiliki non-performing loan yang tinggi. Perubahan ekonomi domestik. yang memiliki dampak negatif terhadap kemampuan beberapa perusahaan Indonesia dalam memenuhi hutang yang ada.8% pada bulan Juli akhir tahun 1998 menjadi 6. antara lain. kondisi politik. dapat berpengaruh secara negatif yang bersifat material terhadap bisnis. serta tindakan dan kebijakan tertentu yang mungkin diambil atau diadopsi oleh Pemerintah. sehingga memiliki dampak negatif yang bersifat material terhadap kemampuan perusahaan-perusahaan Indonesia dalam memenuhi hutang yang ada. antara lain. kegagalan institusi keuangan secara global. Tidak ada kepastian bahwa asuransi Perseroan dapat menutup kerugian yang sebenarnya. volatilitas yang signifikan pada suku bunga. pertumbuhan ekonomi negatif. Secara khusus. Risiko Terkait Indonesia Sebagian besar dari operasi Perseroan dan seluruh aset Perseroan berada di Indonesia.5% pada tanggal 31 Desember 2009. hilangnya kepercayaan investor pada sistem keuangan negara berkembang dan pasar lain. dan mungkin akan terus mengalami. atau faktor lain. penurunan nilai pasar saham global. dimana hal ini menyebabkan masalah likuiditas yang mengakibatkan kebangkrutan bagi banyak institusi. Inflasi (diukur berdasarkan perubahan indeks harga konsumen dari tahun ke tahun) tetap tidak stabil dengan tingkat inflasi tahunan sebesar 2. serta kenaikan harga minyak. Dengan adanya serangan teroris dan beberapa kejadian lainnya. ekonomi dan sosial di Indonesia di masa yang akan datang. perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan penurunan permintaan komoditas tertentu. tidak adanya kepastian bahwa perbaikan kondisi ekonomi akan terus berlanjut atau memburuknya perekonomian Indonesia dan seluruh kawasan Asia Pasifik beberapa tahun lalu tidak akan terjadi di masa yang akan datang. 1.10. Krisis ekonomi mengakibatkan kegagalan beberapa perusahaan Indonesia melalui ketidakmampuan atau sebaliknya dalam pemenuhan kewajibannya tepat waktu. asuransi maskapai penerbangan tertentu dapat menjadi lebih mahal. oleh krisis ekonomi global yang dimulai pada akhir tahun 2007. kehilangan keuntungan atau pendapatan dan kehilangan bisinis yang timbul sebagai akibat dari kegagalan mekanis. Sedangkan suku bunga Bank sertifikat Bank Indonesia satu bulan telah menurun dari tingkat tertingginya sebesar 70.3% pada tahun 2007. hasil usaha dan prospek Perseroan. Pemerintah harus bergantung pada dukungan dari kreditur internasional dan Pemerintah internasional untuk mencegah terjadinya gagal bayar hutang. depresiasi mata uang. Sesuai dengan asuransi penerbangan pada umumnya. Kebutuhan dana Pemerintah untuk daerah yang terkena musibah tsunami di Samudra Hindia pada bulan Desember 2004 dan bencana alam lainnya. dapat meningkatkan defisit fiskal Pemerintah. Kesulitan ekonomi yang dihadapi Indonesia selama krisis ekonomi Asia yang dimulai pada tahun 1997 mengakibatkan. dari pertengahan tahun 1997 dapat dilihat di Indonesia. terbukti dengan penurunan laju pertumbuhan menjadi 4.50% pada tahun 2009 dari 6. Apabila kerugian yang ditanggung Perseroan melebihi dari nilai pertanggungan asuransi maka Perseroan mungkin harus menanggung kerugian yang akan berdampak negatif yang bersifat material terhadap kegiatan usaha Perseroan. kondisi keuangan. gangguan signifikan yang berasal dari kekurangan likuiditas di AS dan kredit sub-prime pada kredit perumahan sejak pertengahan tahun 2007. Perekonomian Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh krisis ekonomi Asia dan. kerusuhan sosial dan perkembangan politik yang luar biasa.1% pada tahun 2008 dan 6. Krisis global ini juga mengakibatkan kekurangan dalam ketersediaan kredit. baru-baru ini. mata uang Rupiah yang tidak stabil serta memiliki likuiditas yang buruk. Kondisi ini berdampak negatif yang bersifat material pada bisnis di Indonesia. Sebagai akibat dari krisis ekonomi. perang atau peristiwa serupa.

menyebabkan demonstrasi publik yang besar. Di kedua kasus tersebut. Setiap hal tersebut sebelumnya dapat menimbulkan dampak material dan negatif terhadap bisnis. Pemotongan subsidi BBM serupa memberikan kontribusi pada ketidakstabilan politik yang mengarah pada pengunduran diri Presiden Soeharto pada tahun 1998. Tidak ada jaminan bahwa perubahan kebijakan Pemerintah dan Pemerintahan di masa yang akan datang tidak akan mengakibatkan ketidakstabilan politik dan sosial. Warga negara Indonesia juga mulai secara langsung memilih kepala dan wakil pemerintah lokal dan regional. Pada bulan Juni 2001. warga negara Indonesia secara langsung memilih Presiden. privatisasi aset negara.000 per liter. yang juga menimbulkan demonstrasi publik. hasil dan prospek usaha Perseroan. demonstrasi dan pemogokan telah terjadi paling sedikit di 19 kota setelah Pemerintah memberikan peraturan mengenai peningkatan harga BBM sebesar 30%. Di propinsi Aceh dan Papua (dahulu Irian Jaya). Di propinsi Maluku dan Kalimantan Barat. diadakan pada bulan Juli 2009. mengakibatkan kejadian politik dan sosial yang menggambarkan dinamika politik di Indonesia. Pada bulan Oktober 2005. Dengan demikian. Di masa lalu. sehingga menaikkan harga bensin premium sekitar 87. mantan Presiden Megawati. Sejak tahun 2000. kampanye politik di Indonesia dapat membawa tingkat ketidakpastian politik dan sosial. Susilo Bambang Yudhoyono. Gerakan separatis dan bentrokan antara kelompok agama dan etnis juga mengakibatkan ketidakstabilan sosial dan sipil di wilayah Indonesia. Ketidakstabilan politik dan sosial di Indonesia dapat secara negatif mempengaruhi perekonomian yang bisa memberikan dampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. kurangnya kredit yang tersedia dan kurangnya kepercayaan terhadap pasar keuangan terkait memburuknya kondisi pasar dapat mempengaruhi akses Perseroan untuk mendapatkan pendanaan. hasil usaha dan prospek Perseroan. desentralisasi dan otonomi daerah serta kampanye militer yang dipimpin Amerika di Afghanistan dan Irak. Sangat dimungkinkan bahwa peningkatan aktivitas pemilu akan disertai oleh peningkatan aktivitas politik di Indonesia. kondisi keuangan. kegagalan lembaga-lembaga keuangan global. Pada tahun 2004. sering terjadi bentrokan antara pendukung gerakan-gerakan separatis dan militer Indonesia. kondisi keuangan. Wakil-Presiden dan wakil-wakil di Parlemen Indonesia untuk pertama kalinya. bentrokan antara kelompok agama dan kelompok etnis telah mengakibatkan ribuan korban dan pengungsi selama beberapa tahun terakhir. Pemilihan Presiden Indonesia. politik dan perkembangan sosial di Indonesia tidak dapat diprediksi. propinsi dan kabupaten). bailout PT Bank Century Tbk pada tahun 2008. penurunan pasar saham global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Demonstrasi serupa terjadi kembali pada Januari 2003 ketika Pemerintah berusaha menaikkan harga BBM.300 per liter. Pemerintah lebih lanjut menurunkan subsidi BBM kepada masyarakat. yang telah ditandai antara lain dengan adanya kekurangan dalam ketersediaan kredit. Pada bulan Mei 2008. yang memiliki efek negatif terhadap bisnis di Indonesia. Pemerintah mengurangi subsidi BBM kepada masyarakat. Pada bulan April 2009. Indonesia telah mengalami beberapa konflik sosial yang diakibatkan oleh masalah ekonomi. Pemerintah telah berusaha untuk menyelesaikan masalah di kawasan bermasalah tersebut dengan keberhasilan yang terbatas kecuali di propinsi Aceh di mana kesepakatan antara Pemerintah dan separatis Aceh tercapai dan pemilihan daerah yang damai diadakan dengan beberapa mantan separatis sebagai calon. serta beban listrik dan telepon. pemilu diadakan untuk memilih wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (termasuk wakil-wakil nasional. dimana pada saat-saat tertentu berubah menjadi kerusuhan dan kekerasan. 85 . Perubahan dalam Pemerintahan dan kebijakan Pemerintah mungkin memiliki dampak langsung terhadap bisnis dan harga saham Perseroan.5% menjadi Rp4. menunda atau mengurangi secara signifikan rencana kenaikan harga-harga tersebut. ribuan orang Indonesia telah berpartisipasi dalam demonstrasi di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia baik dalam rangka mendukung atau menentang mantan Presiden Abdurahman Wahid. Sebagai negara demokrasi yang relatif baru. 2. hasil usaha dan prospek Perseroan. Gangguan sosial dan sipil dapat secara langsung atau tidak langsung. Selain itu. langkah-langkah anti-korupsi. kondisi keuangan.500 per liter. dan harga minyak tanah sekitar 185. harga bensin biasa dan solar sekitar 104. memburuknya perekonomian dapat memberikan dampak yang signifikan pada permintaan untuk pelayanan penerbangan Perseroan. dan Presiden yang menjabat saat ini. Harga untuk produk-produk ini terus meningkat. dengan hasil terpilihnya kembali Presiden Yudhoyono. Industri penerbangan sangat terpengaruh oleh siklus ekonomi dan telah mengalami kerugian keuangan yang sangat signifikan ketika perekonomian memburuk. Indonesia telah mengalami perubahan demokrasi. material dan secara negatif mempengaruhi bisnis. termasuk Indonesia dan Asia Tenggara.8% menjadi Rp4. termasuk pengurangan subsidi BBM. penurunan investasi langsung pihak asing. Pemerintah terpaksa mencabut.7% menjadi Rp2. serta dalam menanggapi isu-isu tertentu.Krisis ekonomi global yang dimulai pada akhir tahun 2007 telah memberikan dampak terhadap perekonomian global. Selain itu. Walaupun pada April 2009 dan Juli 2009 pemilihan dilaksanakan dengan damai. Sejak tahun 1998. secara umum Indonesia menghadapi masalah-masalah sosial-politik yang beragam.

membutuhkan restrukturisasi organisasi dan meningkatkan pajak dan beban lain dalam menjalankan kegiatan usaha. upaya-upaya perbaikan maupun bantuan kemungkinan besar membebani keuangan Pemerintah. Thailand dan Sri Lanka. gempa berkekuatan 6. Setelah gempa tsunami Desember 2004 dan gempa bumi susulan terjadi di Indonesia. Jakarta dan tujuan lain di Jawa Tengah. pada bulan Januari 2009. menyebabkan korban jiwa dan kerusakan signifikan. 4. atau bahwa bantuan tersebut dapat mencapai korban yang membutuhkan tepat waktu.0 skala ritcher melanda Tasikmalaya. sehingga memiliki risiko terhadap kegiatan seismik yang signifikan yang dapat menyebabkan letusan gunung berapi.6 skala ritcher melanda sekitar 95 mil sebelah utara Manokwari. terakhir terjadi pada bulan Pebruari 2009 ketika gempa berkekuatan 7. menewaskan sedikitnya 30 jiwa dan pengungsi sedikitnya 340. Pertumbuhan otonomi daerah berpotensi menciptakan lingkungan bisnis yang tidak pasti bagi Perseroan dan dapat menambah beban Perseroan. gempa bumi melanda selatan kota Jawa Tengah Yogyakarta bulan Mei 2006. atau deklarasi moratorium atas Surat Hutang Negara (“SUN”) dapat menimbulkan kejadian kelalaian untuk hutanghutang sektor swasta termasuk hutang Perseroan. Tidak terdapat kepastian bahwa bantuan tersebut akan terus datang.6 sampai 7. Pemerintah juga telah mengeluarkan banyak dana untuk pertolongan darurat dan usaha-usaha relokasi tempat tinggal korban bencana. Peningkatan otonomi daerah dapat meningkatkan peraturan-peraturan pada bisnis Perseroan.000 orang tersebut. menghanyutkan dinding air berlumpur ke lingkungan yang padat dan menewaskan sedikitnya 58 orang. Banjir pada bulan Januari dan Februari 2007 di sekitar ibukota. memungkinkan pengenaan pajak dan beban lainnya oleh pemerintah daerah sesuai dengan wilayah hukum mereka dimana hal ini membutuhkan partisipasi masyarakat lokal dan investasi pada bisnis tersebut. dan tsunami. Aliran listrik juga terputus di kota dengan penduduk sekitar 160. yang menewaskan sedikitnya 72 jiwa dan gempa berkekuatan 7. dan hasil usaha Perseroan. kondisi keuangan. Bencana ini menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai sedikitnya 37 orang. diikuti oleh gempa besar dan serangkaian gempa susulan. Selain peristiwa geologis. gempa bumi bawah laut di lepas pantai Sumatera mengakibatkan tsunami yang menghantam penduduk di dekat garis pantai di Indonesia. dan dapat mempengaruhi kemampuan Pemerintah untuk memenuhi kewajibannya. Baru-baru ini.3. kondisi keuangan. Dalam menanggapi kenaikan permintaan dan pernyataan otonomi daerah di pemerintahan daerah Indonesia. Gempa itu diikuti oleh dua gempa susulan namun tidak menimbulkan tsunami dan tidak ada laporan korban atau kerusakan. Sebagian besar beban tersebut ditanggung oleh pemerintah luar negeri dan lembaga bantuan internasional. hujan lebat pada bulan Desember 2006 mengakibatkan banjir yang menewaskan lebih dari 100 jiwa dan pengungsi lebih dari 400. Pemerintah baru-baru ini mendelegasikan otonomi daerah ke beberapa pemerintahan daerah. Indonesia terletak di zona gunung berapi yang masih aktif dan memiliki risiko seismik yang tinggi yang dapat mengganggu kegiatan usaha Perseroan. hasil operasi dan prospek usaha Perseroan. Kegagalan pembayaran tersebut.000 orang di barat laut Pulau Sumatera. Sementara peristiwa seismik baru-baru ini tidak memiliki dampak ekonomi yang signifikan terhadap pasar modal Indonesia. 86 . mengakibatkan pembatasan penerbangan di Indonesia. sehingga dapat secara material dan negatif mempengaruhi bisnis. Dua gunung berapi yang paling aktif di Indonesia. Pada bulan Januari 2009.0 skala ritcher melanda Sulawesi. Kepulauan Indonesia merupakan salah satu daerah yang memiliki aktivitas vulkanik teraktif di dunia. sebuah gempa berkekuatan 7. gempa bumi. Karena Indonesia terletak pada zona pertemuan tiga patahan tektonik utama. Apabila Pemerintah tidak dapat mendistribusikan bantuan luar negeri kepada korban yang membutuhkan tepat waktu maka ketidakstabilan politik dan sosial dapat terjadi. Selanjutnya. di lepas pantai selatan Jawa pada bulan Juli 2006.6 skala ritcher melanda Padang Sumatra. semua ini dapat berdampak material dan negatif terhadap bisnis. Banjir ini juga menyebabkan banyak orang yang hilang dan ratusan rumah terendam. Jawa Barat. prospek. Sebagai contoh.7 skala ritcher pada tahun 2008 dan 2009. setidaknya 9 orang tewas dan sedikitnya 16. Di Indonesia diperkirakan lebih dari 220.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena banjir dan tanah longsor yang disebabkan oleh hujan deras di Pulau Sulawesi. yang menewaskan sedikitnya 400 orang dan menimbun ribuan orang di bawah reruntuhan. Pada bulan September 2009. Pada bulan Nopember dan Desember 2010 terjadi letusan gunung berapi dari Gunung Merapi dan Gunung Bromo. Pada bulan Juli 2007.000 orang. Hal ini mengharuskan Perseroan membatalkan sekitar 190 penerbangan pulang pergi ke dan dari beberapa tujuan termasuk Yogyakarta. Solok di Sumatra Barat di bulan Maret 2007 dan Sumatera Selatan pada bulan September 2007. Pada tanggal 26 Desember 2004. Jakarta. Pembatalan penerbangan tersebut memberikan dampak negatif terhadap pendapatan penumpang Perseroan dan volume penumpang dan pengalihan rute penerbangan meningkatkan biaya bahan bakar Perseroan dan biaya penerbangan lainnya untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010.000 jiwa meninggal atau dicatat hilang dalam bencana. Perseroan juga diharuskan untuk mengalihkan rute penerbangan (dan menambah jarak penerbangan) ke tujuan tertentu di Indonesia dan luar negeri untuk menghindari abu vulkanik. Ada juga beberapa gempa bumi di daerah Sulawesi dengan besaran gempa berkisar antara 4. hujan lebat menyebabkan bendungan era kolonial di luar Jakarta meledak.

Selain itu. seperti Dolar Amerika Serikat. Depresiasi atau volatilitas nilai tukar Rupiah dapat secara negatif mempengaruhi bisnis. sejumlah badan internasional pemeringkat kredit. Penurunan peringkat kredit Indonesia dan perusahaan Indonesia dapat secara material dan negatif mempengaruhi Perseroan dan harga pasar dari saham yang ditawarkan. 87 . Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Rupiah tidak akan terdepresiasi dan terfluktuasi berkelanjutan. “BB” oleh Standard & Poor’s. Laporan keuangan konsolidasi Perseroan dilaporkan dalam Rupiah. atau dimana Pemerintah akan. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa kebijakan nilai tukar yang mengambang dari Bank Indonesia tidak akan diubah.000 per Dolar Amerika Serikat pada bulan Januari 1998. Fitch atau badan internasional pemeringkat kredit lainnya akan tidak lebih lanjut menurunkan peringkat kredit Indonesia atau perusahaan Indonesia lainnya. sebagian besar bank-bank Indonesia dan perusahaan lainnya. Hampir seluruh kewajiban hutang. Inc (“Moody’s”) dan Standard & Poor’s. atau akan mampu. dimana kebijakan nilai tukar saat ini akan tetap sama. termasuk Perseroan. Tidak ada kepastian yang dapat diberikan bahwa Moody’s. Sejak tahun 1997. atau bahwa Pemerintah akan mengambil tindakan untuk menstabilkan. khususnya. Namun. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa premi yang harus dibayar untuk asuransi tersebut setelah perpanjangan tidak akan meningkat secara signifikan. meningkat dari “Ba3” pada tanggal 16 September 2009. baik dengan menjual Rupiah atau dengan menggunakan cadangan mata uang asing untuk membeli Rupiah. Modifikasi kebijakan nilai tukar mengambang bisa mengakibatkan tingginya suku bunga domestik. hasil dan prospek usaha Perseroan. jika diambil. Setiap konsekuensi tersebut dapat memberikan dampak negatif yang bersifat material terhadap usaha.Perseroan tidak dapat memastikan bahwa nilai pertanggungan yang ada akan cukup melindungi Perseroan dari potensi kerugian akibat bencana alam dan peristiwa lain di luar kendali Perseroan. meningkat dari “BB+” pada tanggal 12 Maret 2010 dan “BB+” oleh Fitch Rating Service (“Fitch”). Perseroan juga akan menghadapi kesulitan pendanaan untuk ekspansi armada pesawat dan dalam menerapkan strategi bisnis Perseroan. kewajiban pembayaran sewa. kondisi keuangan. risiko nilai tukar berkaitan dengan fluktuasi Dolar Amerika Serikat terhadap nilai tukar Rupiah. 5. peringkat hutang dengan mata uang asing adalah “Ba2” oleh Moody. Bank Indonesia telah melakukan intervensi dalam pasar pertukaran mata uang sebagai kelanjutan dari kebijakan Bank Indonesia. sementara sekitar separuh dari pendapatan Perseroan adalah dalam mata uang Rupiah dan sisanya dalam mata uang asing lainnya. namun Rupiah terus mengalami volatilitas yang signifikan. kondisi keuangan. yang mungkin secara negatif mempengaruhi kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. atau bahwa setiap tindakan tersebut. bertindak bila diperlukan untuk menstabilkan. akan berhasil. kekurangan likuiditas. dan sebagai hasilnya. 6. hasil dan prospek usaha Perseroan. bahwa depresiasi Rupiah yang berkelanjutan terhadap mata uang lainnya. Dengan demikian. Saat ini. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa peristiwa geologi di masa yang akan datang tidak akan memberikan dampak pada perekonomian Indonesia. kontrol modal atau nilai tukar atau pemotongan bantuan keuangan tambahan oleh pemberi pinjaman multinasional. menurunkan peringkat utang luar negeri Indonesia dan peringkat kredit dari berbagai instrumen kredit Pemerintah. Setiap penurunan rating Indonesia dapat berdampak buruk pada likuiditas pasar keuangan Indonesia. kemampuan Pemerintah dan perusahaan di Indonesia. Selain itu. Standard & Poor’s. tidak akan terjadi. kondisi keuangan. hasil usaha dan prospek Perseroan. meningkat dari “BB” pada tanggal 25 Januari 2010. memelihara atau meningkatkan nilai Rupiah. Salah satu penyebab langsung dari krisis ekonomi yang dimulai di Indonesia pada pertengahan 1997 adalah depresiasi dan volatilitas nilai tukar Rupiah. Hal ini dapat mengakibatkan pengurangan aktifitas ekonomi. jika diambil. resesi ekonomi. yang diukur terhadap mata uang lain. dan tidak akan bertindak untuk mendevaluasi Rupiah. Rupiah secara umum dapat ditukar dan ditransfer dengan bebas (kecuali bank-bank Indonesia dimana mereka tidak dapat mengalihkan Rupiah kepada orang-orang di luar Indonesia dan tidak dapat melakukan transaksi tertentu yang bukan penduduk). akan berhasil. dari waktu ke waktu. atau bahwa salah satu tindakan ini. Sebuah gempa yang signifikan atau gangguan geologi lainnya di setiap kota di Indonesia yang berpenduduk banyak dan pusat-pusat keuangan dapat sangat mengganggu perekonomian Indonesia dan merusak kepercayaan investor. dan penurunan volume penumpang. memelihara atau meningkatkan nilai Rupiah. Peringkat-peringkat ini merefleksikan penilaian atas kemampuan keuangan Pemerintah secara keseluruhan untuk membayar kewajibannya dan kemampuan atau niat Pemerintah untuk memenuhi komitmen finansialnya pada saat jatuh tempo. termasuk Dolar Amerika Serikat. Meskipun Rupiah telah dihargai jauh dari titik rendah sekitar Rp17. beban pemeliharaan dan perbaikan dan bahan bakar adalah dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Perseroan memiliki risiko nilai tukar. termasuk Moody’s Investors Service. untuk meningkatkan pendanaan tambahan dan tingkat suku bunga dan syarat komersial lainnya dimana tersedianya pendanaan tambahan tersebut dan hal ini dapat berdampak material dan negatif terhadap kinerja keuangan Perseroan. sehingga dapat secara material dan negatif mempengaruhi bisnis. Perseroan saat ini tidak melakukan nilai lindung terhadap risiko dari nilai tukar mata uang asing.

dan kebutuhan modal kerja serta belanja modal Perseroan. menjual. penjualan saham dengan jumlah besar oleh pemegang saham Perseroan. dapat memberikan pengaruh negatif pada harga pasar pada saat itu atau kemampuan Perseroan untuk memperoleh modal dari penawaran umum melalui penerbitan saham atau surat berharga yang berkaitan dengan ekuitas (equity-linked securities) kepada publik. sosial. perbedaan antara kondisi keuangan dan hasil kegiatan usaha yang sebenarnya dibandingkan dengan perkiraan para investor dan analis. perubahan rekomendasi atau persepsi dari para analis terhadap Perseroan atau Indonesia. Perseroan telah menyetujui ketentuan-ketentuan tertentu sesuai dengan kemampuan Perseroan untuk mengalihkan atau melepaskan saham Perseroan untuk jangka waktu yang terbatas setelah penutupan Penawaran Umum. atau persepsi bahwa sejumlah penjualan saham Perseroan akan terjadi di masa yang akan datang. jika ada. atau persepsi bahwa penjualan tersebut akan terjadi. baik secara langsung maupun tidak langsung. Penjualan saham Perseroan di masa yang akan datang dapat berdampak negatif terhadap harga pasar saham Perseroan. penambahan atau pengurangan personel inti. Selain itu. prospek bisnis dan kegiatan operasional Perseroan. Namun demikian. setelah berakhirnya ketentuan-ketentuan tersebut. mengalihkan. dan tingginya fluktuasi harga saham. menggadaikan. termasuk: • • • • • • • • 2. Penjualan saham Perseroan di pasar dalam jumlah besar. Jumlah pembayaran dividen Perseroan di masa yang akan datang. Dimana hal tersebut dibatasi oleh ketentuan-ketentuan tertentu dan pengesampingan oleh Agen Penjual Internasional.Risiko terkait Investasi pada saham Perseroan 1. Setelah penawaran umum selesai. politik atau pasar di Indonesia perubahan harga efek bersifat ekuitas dari perusahaan-perusahaan asing (terutama di Asia) di pasar berkembang. kondisi keuangan. Perseroan mungkin memiliki pembatasan yang diatur dalam ketentuanketentuan dari perjanjian pembiayaan di masa yang akan datang untuk membayar dividen setelah periode tertentu sebagaimana disetujui oleh kreditur. 88 . kebutuhan modal kerja. arus kas. dan dapat menimbulkan pengeluaran atau kewajiban yang dapat mengurangi kas yang tersedia untuk membayar dividen. 3. Pemerintah. Pemerintah telah mengumumkan bahwa secara umum pemerintah bermaksud untuk melakukan privatisasi terhadap Badan Usaha Milik Negara. akan tergantung pada laba ditahan di masa yang akan datang. Perseroan juga dapat mengadakan perjanjian pembiayaan serupa di masa yang akan datang dimana dapat membatasi kemampuan Perseroan untuk membayar dividen. Harga saham Perseroan dapat berfluktuasi di masa yang akan datang Harga saham Perseroan setelah Penawaran Umum dapat berfluktuasi yang disebabkan beberapa faktor. perubahan pada kondisi ekonomi. arus kas. komitmen kontraktual dan beban sewa pesawat yang terjadi sebagai akibat dari ekspansi armada pesawat Perseroan. atau penjualan saham baru oleh Perseroan di masa yang akan datang. Ketentuan yang yang ada dalam perjanjian Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial membatasi jumlah dividen yang mungkin dapat dibayarkan oleh Perseroan sampai 50% dari laba bersih untuk setiap periode pelaporan. Kemampuan Perseroan untuk membayar dividen di masa yang akan datang akan bergantung pada laba di masa yang akan datang. keterlibatan dalam litigasi. Pemerintah belum menandatangani perjanjian yang mengikat tetapi telah memberitahukan Agen Penjual Internasional dan Perseroan bahwa saat ini Pemerintah tidak bermaksud untuk menawarkan. kondisi keuangan. yang mungkin menyebabkan penjualan saham Perseroan di masa yang akan datang sebagai bagian dari rencana privatisasi. ekspansi armada pesawat dan pembatasan dari kreditur Perseroan. dapat menyebabkan harga saham Perseroan turun dan membuat kemampuan untuk mendapatkan modal tambahan menjadi lebih sulit. melalui Menteri Badan Usaha Milik Negara. akan memegang sekitar 69% saham dari sisa saham (outstanding shares). sahamnya di dalam Perseroan dalam jangka waktu enam bulan sejak tanggal terdaftarnya saham Perseroan. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan akan mampu membayar dividen atau bahwa Direksi Perseroan akan mengumumkan pembagian dividen.

satu-satunya sumber pendapatan para pemegang saham diperoleh dari kenaikan nilai saham Perseroan. Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan Anggaran Dasar Perseroan. Perseroan tidak dapat menjamin bahwa dividen akan dibayar dalam jumlah yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya atau bahkan tidak sama sekali.Berdasarkan laporan keuangan untuk tahun yang berakhir 30 September 2010. Perseroan tidak dapat menjamin bahwa Perseroan tidak akan mengalami saldo laba negatif lagi di kemudian hari dan karenanya Perseroan tidak dapat membagikan dividen pada kurun waktu tersebut. Dividen dinyatakan dalam Rupiah. Perseroan tidak dapat membagikan dividen sampai dengan Perseroan memiliki saldo laba positif. dan hanya dapat diubah ke dalam mata uang asing yang diinginkan dengan risiko nilai tukar yang kurang menguntungkan. laba bersih Perseroan dapat dibagikan kepada Pemegang Saham sebagai dividen setelah penyisihan dana cadangan wajib yang dipersyaratkan undang-undang. sebagai akibatnya. Manajemen Perseroan dengan ini menyatakan bahwa Perseroan telah mengungkapkan seluruh risiko usaha material yang disusun berdasarkan bobot risiko terhadap kegiatan usaha utama dan keuangan Perseroan. Pembagian dividen harus disetujui oleh Pemegang Saham melalui keputusan RUPS Tahunan berdasarkan rekomendasi Direksi Perseroan. 89 . Perseroan mengalami saldo laba negatif dan. Akibatnya. Dividen hanya boleh dibagikan apabila Perseroan mempunyai saldo laba positif.

KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Tidak ada kejadian penting yang mempunyai dampak cukup material terhadap keadaan keuangan dan hasil usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang terjadi setelah tanggal laporan Auditor Independen tertanggal 23 Desember 2010 atas laporan keuangan konsolidasi yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan dengan pendapat wajar tanpa pengecualian yang perlu diungkapkan dalam prospektus ini. 90 .BAB VI.

00 dan modal disetor Perseroan dari Rp20. Notaris di Jakarta.Th.12 tahun 1969 tentang Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara tahun 1969 No.000.000. Notaris di Jakarta.000. C2-23896 HT. 16) tentang Bentuk-bentuk Usaha Negara menjadi Undang-undang (Lembaran Negara tahun 1969 No. S.000.00 yang terbagi atas 4.00 menjadi Rp400. 919/1989 tanggal 16 Mei 1989.04.000. 136. masing-masing saham dengan nilai nominal Rp100..000. yang dibuat di hadapan Soeleman Ardjasasmita. dan kemudian diubah dengan Akta Perubahan No. yang berkedudukan di Jakarta Pusat berdasarkan Akta Perseroan Terbatas No. dimana dengan dilakukannya penyesuaian tersebut.000. 5/12/10.98 tanggal 6 Nopember 1998 dan diberitahukan kepada Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Laporan Perubahan Anggaran Dasar yang telah diterima dan dicatat pada tanggal 6 Nopember 1998 di bawah No.KEP-2/MK/ IV/1/1975 tentang Penetapan Modal Perusahaan Perseroan (Persero) “PT Garuda Indonesian Airways”. 2. juncto Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia.67 tahun 1971 (Lembaran-Negara tahun 1971 No. 1 Tahun 1969 (Lembaran Negara tahun 1969 No. 91 .00.H.04..N.000 saham prioritas dan 16. 3/1989”). masing-masing saham dengan nilai nominal sebesar Rp10. 68.05/VI/99 tanggal 4 Juni 1999. KETERANGAN TENTANG PERSEROAN DAN ANAK PERUSAHAAN 1.00 per lembar saham menjadi Rp1. para pemegang saham Perseroan menyetujui untuk (i) meningkatkan modal dasar Perseroan dari Rp200. (ii) meningkatkan modal ditempatkan Perseroan dari Rp40. S. Perusahaan Negara “Garuda Indonesian Airways” dinyatakan bubar pada saat pendirian Perusahaan Perseroan (Persero). dan telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta pada tanggal 1 Juli 1975 berturut-turut di bawah No. Tambahan No. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 4267/BH. tertanggal 4 Januari 1975 No.) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). 42 tanggal 21 April 1975. S. 137 tanggal 31 Maret 1950.000. 44 tanggal 2 Juni 1989.A. Peraturan Pemerintah No. C2-23897 HT.) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). 327 pada tanggal 24 April 1950.V.000.Th. yang dibuat di hadapan Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro.HT. 2250.000 saham prioritas dan 6. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No.000. didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di bawah No. Notaris di Jakarta yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. 2251. 8 tanggal 4 Maret 1975 sebagaimana diubah dengan Akta Perubahan No. Tambahan No. Tambahan No. Anggaran Dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian tersebut selanjutnya secara berturut-turut diubah sebagai berikut: 1.000.000.000. 3/1989.000 saham biasa. 10 tanggal 3 September 1998.000. yang dibuat dihadapan Raden Kadiman.00 menjadi Rp400.TH’89 tanggal 3 Mei 1989. 24 tanggal 12 Juni 1975. dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Serikat No. 87) tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara (P. C2-4163.000. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No.N. J. Status Perseroan sebagai Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero) dibentuk berdasarkan Akta Pendirian No.BAB VII. 970 (“Akta No.00 yang terbagi atas 4. dan 2252. 30 tanggal 12 Mei 1950. dilakukan penyesuaian terhadap bentuk hukum Perusahaan Negara (P.000 saham biasa.01.000..01. Notaris di Jakarta.98. 10/1998”).01.000. 5/225/8 tertanggal 23 Juni 1975. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 63 tanggal 6 Agustus 1999.H. telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia Serikat dalam keputusannya tertanggal 31 Maret 1950 dengan No. Peraturan Pemerintah No. 40). 3 tanggal 4 April 1989. Tambahan No.000.000. ketiganya dibuat di hadapan Soeleman Ardjasasmita.04. 434 (“Akta Pendirian”). 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.000. Berdasarkan Akta No.000.09. Akta Perubahan Anggaran Dasar No. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. Y. Akta Pernyataan Keputusan di Luar Rapat No.A.000. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. telah didaftarkan dalam buku register di Kantor Pengadilan Negeri di Jakarta di bawah No. tanggal 26 Agustus 1975. Riwayat Singkat Perseroan Perseroan didirikan dengan nama Garuda Indonesian Airways N.000. 4795 (“Akta No.H. 21).00 per lembar saham. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. dan (iii) mengadakan perubahan atas seluruh anggaran dasar Perseroan.

117/2006. 10 tanggal 1 Pebruari 2002. Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No. Peningkatan Modal Dasar Perseroan dari Rp1.655.000. para pemegang saham Perseroan menyetujui: a.09. Tambahan No.431. Notaris di Jakarta.594.540.04. yang telah diberitahukan kepada Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Penerimaan Laporan Akta Perubahan Anggaran Dasar No. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. S-46/MK. yang dibuat di hadapan Aulia Taufani.000.01.. Perubahan dari Saham Prioritas menjadi Saham Biasa.000. maka Pasal 4 ayat 2 dan 3 anggaran dasar Perseroan juga diubah. S.000 terbagi atas 11.04.000. Peningkatan modal ditempatkan yang disetor penuh oleh Negara Republik Indonesia menjadi Rp898.04-4928 tanggal 13 April 2007. 8034 (“Akta No. 3. 1340/RUB.H.H.655. Untuk mengeluarkan modal PT Merpati Nusantara Airlines sebesar Rp43. 60 tanggal 27 Juli 2007.019. 50 tanggal 22 Agustus 2001. Terkait dengan perubahan tersebut. g. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No.09. b. para pemegang saham Perseroan telah mengambil keputusan secara tertulis untuk menyetujui perubahan beberapa pasal anggaran dasar Perseroan untuk disesuaikan dengan ketentuan Undang-undang No.055.Berdasarkan Akta No. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.000. 840 (“Akta No.TH.076 saham. 19/2003”). didaftarkan di Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No. berdasarkan Peraturan Pemerintah No.09. serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. C-11467 HT.594. Tambahan No.H.H. 10/1998.755.076. S. para pemegang saham Perseroan memutuskan: a. pemegang saham Perseroan menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor Perseroan dari semula Rp2. Akta Pernyataan No. 14 Tahun 1991 dan surat Menteri Keuangan No.H.000 menjadi Rp2.000.000 per saham menjadi Rp1.000. Perubahan hal tersebut di atas mengakibatkan perubahan pada Pasal 4 Anggaran Dasar Perseroan. 63/2007”). 49 tanggal 20 Juni 2006. 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (“UU No. 4.01. masing-masing saham bernilai nominal Rp1. 35/2001. 98 tanggal 7 Desember 2001.620.05/XI/2001 tanggal 1 Nopember 2001.885. C-07276 HT. f. Notaris di Jakarta. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (“UU No. Tambahan No. S. 92 . Menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor Perusahaan dari semula Rp898. 5878/RUB.000. 643 (“Akta No.620. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No. pengganti Sutjipto.000. 5.000. Berdasarkan Akta No. e. 117 tanggal 24 Pebruari 2006 yang dibuat di hadapan Sutjipto. 14 Tahun 1991 dan Peraturan Pemerintah No.000. 2141/RUB. S. S. yang telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Penerimaan Laporan Akta Perubahan Anggaran Dasar No. Perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha.05/VI/2007 tanggal 5 Juni 2007. Notaris di Jakarta.000 menjadi Rp6. Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. S. c. C-08794 HT.000. 35 tanggal 12 Oktober 2001.000. Berdasarkan Akta No.01.TH. Menyetujui peningkatan modal dasar Perseroan dari Rp3.016/1997 tanggal 21 Januari 1997..000.2001 tanggal 25 Oktober 2001.. Tambahan No. yang dibuat di hadapan Aulia Taufani.000. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No.. Berdasarkan Akta No.2006 tanggal 27 Maret 2006.000.01.04.000. 50/2001.019. 75 (“Akta No. pengganti dari Sutjipto.05/VI/2006 tanggal 2 Juni 2006. 4267/ BH.564. d. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No.H.09. Notaris di Jakarta. 28 Tahun 1993.000.05/VI/1999 tanggal 8 Agustus 2001. b..000 menjadi Rp11. S. 117/2006”).. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.TH.885.79.000 menjadi Rp3.000 yang penambahannya bersumber dari tambahan penyertaan modal Negara Republik Indonesia sebesar Rp498.2001 tanggal 4 September 2001.853. W7HT.90 dari jumlah keseluruhan Penyertaan Modal Pemerintah ke dalam Modal Perseroan sebagaimana diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 50/2001”).826. Untuk merubah dan/atau menambah beberapa pasal Anggaran Dasar Perseroan sesuai dengan ketentuan Undang-undang No. Perubahan nilai nominal saham dari Rp100. Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham Perubahan Anggaran Dasar No. 63 tanggal 15 Maret 2007 yang dibuat di hadapan Aulia Taufani. 35/2001”). 1/1995”).089. 6. yang telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Penerimaan Laporan Akta Perubahan Anggaran Dasar No.000..H. pengganti dari Sutjipto.540.655.

Tahun 2008 tanggal 8 September 2008. Undang-undang No.000. 87 tanggal 28 Oktober 2008.000.248 lembar saham dalam Perseroan dengan nilai nominal per saham Rp1. 63/2007.000. para pemegang saham Perseroan menyetujui hal-hal sebagai berikut: a.152. S. Menyetujui pengeluaran/penempatan saham yang masih dalam simpanan (portepel) sejumlah 1. sebagai Penerbit Obligasi Wajib Konversi dan PT (Persero) Angkasa Pura I. Berdasarkan Akta No. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No.000 atau sebesar Rp124.000 dalam rangka peningkatan modal ditempatkan dan disetor dalam Perseroan sehubungan dengan konversi atas Obligasi Wajib Konversi.000.000. 51 tanggal 7 Agustus 2008. 46 Tahun 2006 tanggal 28 Desember 2006 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perseroan.09.000. PT (Persero) Angkasa Pura II sebanyak 201.000. 51/2008”). e.000.629.01.000. Menyetujui perubahan Anggaran Dasar Perseroan secara keseluruhan untuk disesuaikan dengan UU No.000. sebagai Penerbit Obligasi Wajib Konversi dan PT (Persero) Angkasa Pura II.248. menyetujui penambahan modal disetor Perseroan sebesar Rp1. 45/2005”) dan perkembangan kebutuhan pengelolaan Perusahaan.000.01. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No. b. 45 Tahun 2005 tentang Pendirian. d. 69 Tahun 2007 tanggal 10 Desember 2007 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perseroan.000. 8884/RUB. sebagai Pemegang Obligasi Wajib Konversi.065. pemegang saham Perseroan telah mengambil keputusan antara lain sebagai berikut: a. f.02. c.817 lembar saham dalam Perseroan dengan nilai nominal per saham Rp1.000.000 sehingga seluruhnya seharga Rp1.AH.000 yang berasal dari: (i).065 lembar saham baru dalam simpanan yang dimiliki oleh Perseroan. telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham Perubahan Anggaran Dasar No.000 saham. 19/2003.000.Berdasarkan Akta No.000. yang dibuat di hadapan Sutjipto. maka modal ditempatkan/disetor Perseroan yang semula sebesar Rp7. (ii).000 yang seluruhnya diambil bagian oleh Negara Republik Indonesia. (ii).817.H. Pengeluaran 326. Untuk memenuhi pengeluaran/penempatan saham yang diambil bagian pada bagian (c) di atas.000 menjadi Rp8.000.000 atau sebesar Rp201. yang akan diambil bagian masing-masing oleh: (i).152. Pengesampingan ketentuan Pasal 4 ayat 5 Anggaran Dasar Perseroan mengenai hak memesan saham terlebih dahulu yang dimiliki oleh pemegang saham dan karyawan Perseroan.000. sebagai Pemegang Obligasi Wajib Konversi. sebesar Rp500.000 merupakan setoran Negara Republik Indonesia sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.000. b. 51/2008. Menyetujui peningkatan Rp15. (ii).000.000 merupakan setoran Negara Republik Indonesia sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.540. AHU-0081465. Tambahan No. 21451 (“Akta No.09-05/I/2009 tanggal 14 Januari 2009..000. Peraturan Pemerintah No. modal dasar Perseroan yang semula Rp11. Pengurusan.076. dengan nilai nominal per saham Rp1.000.Tahun 2008 tanggal 8 September 2008. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. AHU-60235. PT (Persero) Angkasa Pura I sebanyak 124.000. Notaris di Jakarta.000. Perubahan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 Anggaran Dasar Perseroan.629.000. Pelaksanaan konversi Obligasi Wajib Konversi yang telah diterbitkan oleh Perseroan dalam rangka restrukturisasi hutang Perseroan pada tahun 2001 kepada PT (Persero) Angkasa Pura I dan PT (Persero) Angkasa Pura II berdasarkan: (i).000. Dengan adanya penambahan modal disetor tersebut.AH. c. Subscription Agreement tanggal 10 Agustus 2001 yang dibuat dan ditandatangani oleh dan antara Perseroan. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UU No. masing-masing saham dengan nilai nominal sebesar Rp1. sebesar Rp500.000.000 menjadi 7. d.000. 93 . 40/2007”).000 atau sebesar Rp326. Pengawasan dan Pembubaran Badan Usaha Milik Negara (“PP No.000. Subscription Agreement tanggal 10 Agustus 2001 yang dibuat dan ditandatangani oleh dan antara Perseroan. Menyetujui perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan.

01.000. Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa No. AHU-0087362. dan (ii). 129/2009.1. Menegaskan kembali susunan anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan. IX.1 antara lain sebagai berikut: a. 09.01.H. Notaris di Jakarta.1. 9.000.62. Terkait dengan perubahan tersebut di atas. AHU-0001962.37582 tanggal 25 Januari 2011 (“Akta No. AHU-0084627.10.05.37582 tanggal 27 Oktober 2010 (“Akta No. c. Berdasarkan Akta No.10-18961 tanggal 29 Oktober 2009 dan telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No.. 129/2009”).Tahun 2009 tanggal 31 Desember 2009. b. yang dibuat di hadapan Aulia Taufani.H.869.AH. S. yang dilakukan berdasarkan nilai nominal Rp1. dengan nilai nominal per saham Rp1. yang telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. 3 Tahun 2011 tanggal 11 Januari 2011. 09.000 menjadi Rp500.J.AH. 274/2009.. maka Pasal 4 ayat (2) dan (3) Anggaran Dasar Perseroan diubah.000 kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. b. pemegang saham Perseroan telah mengambil keputusan antara lain sebagai berikut: a. AH. S.000.869. S. Menyetujui restrukturisasi atas Obligasi Wajib Konversi dengan ketentuan sebagai berikut: (i). 274 tanggal 30 Desember 2009. AHU-AH.62.869 saham-saham baru yang akan dikeluarkan oleh Perseroan dengan memperhatikan syarat dan ketentuan konversi sesuai dengan persetujuan dan perundang-undangan yang berlaku.09. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham Perubahan Anggaran Dasar No. S.09 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010 dan No.01.01. yang dibuat di hadapan Aulia Taufani.H.01. berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 10.000. Notaris di Jakarta.01.02 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010 dan No. Tahun 2011 tanggal 10 Januari 2011 dan didaftarkan dapal Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta Pusat di bawah Tanda Daftar Perusahaan No. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-AH. pemegang saham Perseroan telah mengambil keputusan antara lain sebagai berikut: a.869 lembar saham baru dalam simpanan yang dimiliki oleh Perseroan.1. b.05.62.000 per saham sehingga akan menghasilkan 967.37582 tanggal 27 Oktober 2010 (“Akta No. 24/2010”).AH.09. pengganti Sutjipto. Menyetujui perubahan ketentuan Pasal 11 Anggaran Dasar Perseroan tentang Tugas Wewenang dan Kewajiban Direksi dengan mencabut ketentuan ayat 12 sehubungan dengan kewenangan Direksi yang tidak memerlukan persetujuan Dewan Komisaris dan/atau RUPS. Menyetujui permohonan Direksi Perseroan untuk mengeluarkan 967. 129 tanggal 16 Oktober 2009.H. Notaris di Jakarta. 274/2009”).000 dalam rangka peningkatan modal ditempatkan dan disetor dalam Perseroan sehubungan dengan konversi atas Obligasi Wajib Konversi pada butir (1) di atas. Sisa dari pokok Obligasi Wajib Konversi senilai kurang lebih 95% dari nilai pokok Obligasi Wajib Konversi atau sebesar Rp967. Perseroan akan membayar secara tunai kurang lebih 5% dari pokok Obligasi Wajib Konversi atau sebesar Rp50.000 akan segera dikonversikan menjadi Saham Hasil Konversi.000. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham Perubahan Anggaran Dasar No. telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No. yang dibuat di hadapan Fathiah Helmi.000.05.Tahun 2009 tanggal 29 Oktober 2009. yang akan diambil bagian oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.940.09. pemegang saham Perseroan menyetujui antara lain: 1.10-00801 tanggal 10 Januari 2011..AH. 24 tanggal 16 Nopember 2010. Menyetujui perubahan seluruh Anggaran Dasar Perseroan untuk disesuaikan dengan Peraturan BapepamLK No.000 atau sebesar Rp967.H. AHU-0071084. S.09..01.01. dan didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta di bawah Tanda Daftar Perusahaan No. yang telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. dan telah didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta di bawah Tanda Daftar Perseroan No. telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No. AHU-54724. Berdasarkan Akta No. pengganti Sutjipto. Perubahan nilai nominal saham Perseroan dari semula Rp1. Menyetujui untuk melepaskan haknya berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat 5 Anggaran Dasar Perseroan mengenai hak untuk mengambil bagian atas penerbitan saham baru dalam Perseroan sebagai pelaksanaan keputusan tersebut pada butir (1) dan (2) di atas. d. AHU-AH.8. Berdasarkan Akta No. dan 94 .23939 tanggal 31 Desember 2009. 24/2010. Perubahan status dari Perseroan Tertutup menjadi Perseroan Terbuka.

Penerbitan Saham Seri A Dwi Warna sebanyak 1 (satu) lembar dan Saham Seri B. Menunjuk Saudara Abdulgani selaku Komisaris Independen Perseroan. akan diagendakan penunjukan tambahan Komisaris Independen Perseroan. Pegawai dalam status pembinaan. dan pegawai tetap Perseroan yang tercatat pada data Perseroan pada tanggal 15 Januari 2011 (atau tanggal lain yang ditetapkan oleh Direksi Perseroan). Pegawai dalam status Cuti Luar Tanggungan Perseroan. 3. KEP-305/BEJ/07-2004 tanggal 19 Juli 2004 tentang Peraturan nomor I-A tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham yang diterbitkan oleh Perseroan tercatat. dari harga saham Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan.d. maka dalam RUPSLB selanjutnya sebelum dilaksanakan Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan. Persetujuan tersebut berlaku efektif setelah terbitnya Peraturan Pemerintah tentang perubahan struktur kepemilikan saham melalui penerbitan dan penjualan saham baru pada Perseroan yang didalamnya sudah termasuk program alokasi kepemilikan saham manajemen dan karyawan (MESA) dan opsi kepemilikan saham manajemen dan karyawan (MESOP) 2. Saham Diskon akan diterbitkan dan dibayarkan dengan pembagian beban yaitu 90% beban peserta MESA dan 10% beban Perseroan. 3. Dalam rangka memenuhi ketentuan Peraturan nomor I-A lampiran I Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta No. Dewan Komisaris (kecuali Komisaris Independen). penetapan tersebut berlaku sejak tanggal 15 Nopember 2010 dan masa jabatannya akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa jabatan Dewan Komisaris lainnya. sedangkan jumlah saham baru yang akan dialokasikan untuk program MESA akan ditetapkan dalam RUPSLB Perseroan yang akan diselenggarakan kemudian sebelum pelaksanaan Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan.c. Peserta Program MESA terdiri dari Direksi. Menyetujui pengeluaran saham baru dalam simpanan Perseroan sebanyak-banyaknya 30% (tiga puluh persen) dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh setelah pengeluaran saham baru yang akan ditawarkan kepada masyarakat melalui Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan Persetujuan tersebut berlaku efektif setelah terbitnya Peraturan Pemerintah tentang perubahan struktur kepemilikan saham melalui penerbitan dan penjualan saham baru pada Perseroan. b. Pengawasan pelaksanaan Program MESA dilakukan oleh Dewan Komisaris dan pelaksanaannya agar mengikuti ketentuan yang berlaku serta dilaporkan kepada Pemegang Saham. Menyetujui program kepemilikan saham Perseroan oleh Manajemen dan Karyawan melalui penjatahan saham untuk Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Allocation/MESA) sebanyakbanyaknya 5% (lima persen) dari jumlah penerbitan saham baru yang terdiri dari Saham Penghargaan dan saham discount dengan ketentuan sebagai berikut: a.c. Pegawai yang tidak mendapat alokasi Program MESA adalah : 1) 2) d e f Ketentuan lebih lanjut mengenai Program MESA selain yang telah diatur dalam butir 3. sedangkan jumlah saham baru yang akan dijual dalam Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan akan ditetapkan dalam RUPSLB Perseroan yang akan diselenggarakan kemudian sebelum pelaksanaan Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan. Perbandingan Saham Penghargaan dan Saham Diskon yaitu 20% dan 80% dari total 5% saham baru yang diterbitkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering). 3. 4.e di atas ditetapkan oleh Direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris. 95 . Saham Penghargaan tidak boleh diperjualbelikan (lock up) selama 12 bulan terhitung sejak pencatatan saham di PT Bursa Efek Indonesia (”BEI”). 3. dan 3. Alokasi saham untuk program MESA dibagi menjadi: 1) Saham Penghargaan yang menjadi bagian dari jasa produksi/bonus kinerja peserta Program MESA yang pembayarannya dapat ditanggung terlebih dahulu oleh Perseroan yang selanjutnya diperhitungkan dengan jasa produksi/bonus kinerja masing-masing peserta program MESA. Lock up Period untuk Saham Diskon adalah selama 12 bulan terhitung sejak pencatatan saham di BEI.a.b. 2) 3) c. 5. Persetujuan Program MESA ini berlaku efektif setelah terbitnya Peraturan Pemerintah tentang perubahan struktur kepemilikan saham melalui penerbitan dan penjualan saham baru pada Perseroan.

Banjarmasin. Ternate. Menunjuk Saudara Elisa Lumbantoruan. Pekanbaru. Jasa pelayanan sistem informasi yang berkaitan dengan industri penerbangan. melalui pasar modal bersamaan dengan Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan. dan Pemegang Saham lain dengan ini melepaskan hak untuk membeli saham dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tersebut. 96 . Direktur Strategi dan Teknologi Informasi sebagai Direktur Tidak Terafiliasi guna memenuhi ketentuan Peraturan nomor I-A lampiran I Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta No. Banda Aceh. Malang. Makassar. Reparasi dan pemeliharaan pesawat udara. kecuali penetapan harga penawaran dan kepastian jumlah Saham-Saham Yang Ditawarkan melalui penawaran umum. Memberikan kuasa kepada Dewan Komisaris Perseroan untuk menyatakan realisasi jumlah saham yang telah dikeluarkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan termasuk jumlah saham program MESA. Medan. Mataram. Tanjung Karang. mencatatkan seluruh saham Perseroan yang telah dikeluarkan dan disetor penuh pada bursa efek. sesuai dengan ketentuan dalam Anggaran Dasar Perseroan. Denpasar. Perkantoran. 8. Biak. Jasa layanan kesehatan personil penerbangan. c. Area Eastern Indonesia yang mengelola 18 kantor cabang di Surabaya. Semarang. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas. Jasa penunjang operasional angkutan udara niaga. Fasilitas pariwisata.6. 7. barang dan pos dalam negeri dan luar negeri. Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai berikut: a. Kendari. Perseroan memiliki 1 kantor pusat dan 6 Area manajemen yang mengelola 49 kantor cabang: 1. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. barang dan pos dalam negeri dan luar negeri. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. b. Sedangkan harga saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tersebut mengikuti harga pada saat Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan. b. mencatatkan saham-saham Perseroan dalam penitipan kolektif sesuai dengan peraturan kustodian sentral efek Indonesia. Tbk dalam Perseroan. meliputi catering dan ground handling baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. KEP-305/BEJ/07-2004 tanggal 19 Juli 2004 tentang Peraturan nomor I-A tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham yang diterbitkan oleh Perseroan tercatat. 3. Pergudangan. dan pelepasan saham milik PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki Perseroan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas. Palembang. e. h. Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha pendukung dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk: a. Angkutan udara niaga tidak berjadwal untuk penumpang. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. Area Asia yang mengelola 3 kantor cabang di Singapura. Menyetujui pelepasan seluruh saham PT Bank Mandiri (Persero). Angkutan udara niaga berjadwal untuk penumpang. Timika. Batam. d. termasuk tetapi tidak terbatas pada: a. Pontianak. Ambon. sehubungan dengan Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan. d. Manado. maksud dan tujuan Perseroan adalah melakukan usaha dibidang jasa angkutan udara niaga. Palu. Kupang. yang mengelola 14 kantor cabang di Jakarta. Selain kegiatan usaha utama sebagaimana dimaksud di atas. Yogyakarta. Kuala Lumpur dan Bangkok. Pangkal Pinang. Per 30 September 2010. b. Jasa layanan pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan industri penerbangan. 2. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. Jambi. 9. Area Western Indonesia. Jasa pelayanan konsultansi yang berkaitan dengan industri penerbangan. Padang. Memberikan kuasa kepada Direksi Perseroan untuk melaksanakan segala tindakan yang diperlukan. Balikpapan. Bandung. g. Palangkaraya. dan Penyewaan dan pengusahaan sarana dan prasarana yang terkait dengan industri penerbangan. c. f. Solo. Jayapura. Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan.

Amsterdam. PT Aeronurti** PT Aeroprima** PT Bumi Minang Padang** PT Nusa Dua Graha Internasional** Bidang Usaha Jasa boga Jasa pengelolaan properti (hotel.** 9 PT Merpati Nusantara 4.99% 95. Nagoya. Korea.4. 13. dan SBU Citilink yang mengelola bisnis di bidang angkutan udara niaga berjadwal yang berbiaya murah (LCC). Hongkong.88% 99. Seoul. 10. Beijing. 6.98% 99. Riyadh.98% 99.5% Tahun Penyertaan 1989 1995 2002 2005 2009 1998 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi Abacus International Holdings Ltd.98% 99. kondominium) Jasa agen penjualan umum Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Jasa transportasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Kepemilikan 99. Shanghai. Garuda Orient Holidays Korea Co.065% 1997 sudah beroperasi 8 Pan Asia Pacific Aviation 17. jasa boga dan agen perjalanan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Perbaikan dan pemeliharaan pesawat terbang Penyedia jasa teknologi informasi Angkutan udara niaga Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penerbangan Kepemilikan 99.00% 99. Canton. Area Eropa dan Timur Tengah yang mengelola 3 kantor cabang di Jeddah. 6.98% 100% 60% 60% 45% 40% 10. SBU Garuda Sentra Medika (GSM) yang mengelola bisnis kesehatan. Area Pasifik Barat Daya yang mengelola 3 kantor cabang di Sydney. Melbourne. Area Jepang. 12. 7. 8.99% 99.99% 37. 15. 11. Perseroan memiliki penyertaan saham secara langsung pada 9 anak perusahaan sebagai berikut: No 1 2 3 4 5 6 7 Anak Perusahaan PT Aero Wisata PT Abacus Distribution Systems Indonesia PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia*** PT Aero Systems Indonesia*** PT Citilink Indonesia*** PT Gapura Angkasa** Bidang Usaha Perhotelan. 3.21% 1978 sudah beroperasi Airlines** Catatan: *) Citilink belum beroperasi dikarenakan masih dalam proses untuk memperoleh ijin usaha angkutan udara niaga **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aero Wisata Perseroan melalui PT Aero Wisata memiliki penyertaan saham secara tidak langsung pada 18 perusahaan sebagai berikut : No 1. yaitu SBU Garuda Cargo yang mengelola bisnis kargo.10% 7. yang mengelola 8 kantor cabang di Tokyo. Perseroan memiliki 3 SBU. Ltd. Perth. 5. dan Cina. Anak Perusahaan PT Angkasa Citra Sarana Catering Service PT Aero Hotel Management PT Aerojasa Perkasa PT Bina Inti Dinamika PT Belitung Inti Permai PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi PT Mandira Erajasa Wahana PT Mirtasari Hotel Deveploment PT Senggigi Pratama Internasional Garuda Orient Holidays Pty. 14.** 2. Ltd Garuda Orient Holidays Japan INC. 2.99% 99. 5. 4. 16. Osaka. 9.98% 99.99% 99. apartemen.54% Tahun Penyertaan 1982 2009 1988 1987 1992 1974 1988 1979 1997 1981 2008 2009 1996 1993 1989 1988 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi 97 .98% 99.65% 1998 sudah beroperasi Services Ltd.87% 61.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 3/1989.000 39.000.000 10. 18.000.000 160. Anak Perusahaan PT Arthaloka Indonesia** PT Aerojasa Cargo*** Bidang Usaha Jasa pengelolaan properti Jasa pengurusan transportasi (freight forwarding) Kepemilikan 2. B. Seluruh modal Perseroan telah habis terjual sebelum tahun 1989.000 16.975 0.58% 98. Modal Dasar B.000.000 per saham Jumlah Saham (lembar) Jumlah Nilai Nominal (Rp) Seri A Seri B (Saham Prioritas) (Saham Biasa) 4.000. Saham dalam Portepel 99.000.87% Tahun Penyertaan 1988 2003 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi Catatan: *) PT Belitung Inti Permai belum beroperasi.000 400.000.000 16.000.000.000. C.000 1. kecuali jika waktu tersebut diperpanjang oleh yang berwajib atas permintaan Direksi. D. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham dalam Portepel 100.000 per saham Jumlah Saham (lembar) Jumlah Nilai Nominal (Rp) Seri A Seri B (Saham Prioritas) (Saham Biasa) 4.000 4.000 4. masing-masing telah menyetor penuh dengan uang maupun dengan pemasukan yang seluruhnya berjumlah Rp20. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp10. Tahun 1989 Berdasarkan Akta No. setelah memperoleh persetujuan dari rapat umum para pemegang saham.000 200. Pada Waktu Pendirian (Tahun 1975) Pada saat pendirian.000 % A. KEP-268/MK/IV/3/1975 tentang Penarikan Kembali Surat Keputusan Menteri Keuangan No. Perkembangan Kepemilikan Saham Perseroan Perubahan komposisi permodalan dan kepemilikan saham Perseroan sejak pendirian sampai saat ini dapat dilihat pada keterangan di bawah ini. KEP-2/MK/IV/1/1975 tanggal 4 Januari 1975 sebagaimana dicabut dan digantikan dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan No.000.000.990.025 100. berupa uang maupun dengan pemasukan.999 1 4.00.000.000.000 6.000.000 600.000 6.000. KEP-2/MK/IV/1/1975 tanggal 4 Januari 1975 Serta Menetapkan Kembali Permodalan Perseroan. KEP-268/MK/IV/3/1975 tanggal 11 Maret 1975 dan Akta Pendirian.000.00 100. terhitung sejak hari dan tanggal akta perubahan anggaran dasar ini disahkan oleh yang berwajib.000. sebagaimana dimuat dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan No. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia Jusuf Indradewa C.000.000 400. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.000. Negara RI menyetorkan Rp20. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp100.000.000 3.000.000. Modal Perseroan seluruhnya harus sudah ditempatkan dan disetor penuh dalam waktu 10 tahun. pembangunan hotel masih dalam proses **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aerojasa Perkasa 2.000.00 - 98 .00 yang merupakan kekayaan Negara yang dipisahkan dan berasal dari hasil likuidasi Perusahaan Negara Garuda Indonesian Airways.000 40.000.00 - Dari seluruh jumlah saham yang telah ditempatkan dan diambil bagian oleh Negara RI dan Jusuf Indradewa.No 17.000 % A.000.

594.000.00 100.364. sehingga yang dikonversi menjadi modal Perseroan adalah sebesar Rp1. Tahun 2001 Berdasarkan Akta No. Tahun 1998 Berdasarkan Akta No.057. 70 Tahun 2000 tanggal 21 Agustus 2000 dengan kompensasi tagihan Negara Republik Indonesia kepada Perseroan berdasarkan Sub Loan Agreement No.885.000 8. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.000 2.620 3. 10/1998.655.000.986.695.655.56 dan (ii) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.000 berupa uang tunai yang berasal dari tambahan penyertaan modal Negara Republik Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No.019. 10 Tahun 1997 tanggal 29 April 1997 melalui pengalihan piutang Perseroan di PT Merpati Nusantara Airlines atas penyerahan 17 buah pesawat F-28/4000 senilai Rp162.965 898.000. 2.000. D.885.000.885.000 dikarenakan nilai nominal setiap saham Perseroan adalah Rp1.364. B.00 - Sebesar 100% dari saham yang ditempatkan tersebut telah disetor penuh oleh Negara Republik Indonesia dengan cara: 1. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.885. 99 . dan Rp498.195.000. antara tahun 1975 sampai dengan 1989 Jusuf Indradewa sudah mengalihkan 1 saham yang dimilikinya kepada Negara Republik Indonesia.986.168.000.000 penyetorannya dilakukan berdasarkan: (i) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.655.000.000.00 100.000.000. Rp400.986.655.910.364.000 merupakan setoran modal lama. 50/2001.Berdasarkan surat pernyataan dari Jusuf Indradewa tertanggal 5 Januari 2010.000 % A.00 - Sebesar 100% saham yang telah ditempatkan tersebut telah disetor penuh oleh Negara Republik Indonesia dengan cara: (i) (ii) sebesar Rp898.000. 14 Tahun 1991 dan Peraturan Pemerintah No.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 11.019.79 ekuivalen dengan Rp2.000.540.000.620.695.000 898.000.655 2.149. Sebesar 100% dari saham yang ditempatkan/diambil bagian telah disetor penuh dengan tunai untuk kas Perseroan.000 merupakan setoran lama.655 898.019 2.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 3.076 11.057 2. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham dalam Portepel 100. C.000.56 yang dibulatkan menjadi Rp1.104.019 8. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham dalam Portepel 100.000.000. dan sebesar Rp1. C.000 % A. D.594.076. 28 Tahun 1993.195. SLA-757/DP3/1994 dalam rangka pengadaan 2 buah pesawat B-747/400 dan 7 buah pesawat B-737/400 dengan nilai tagihan Negara Republik Indonesia kepada Perseroan sebesar USD909.000 2.000 2.000 898.540. B.000.274.965.104.655.000.402.655.

struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.Tahun 2001 Berdasarkan Akta No. sebesar Rp2.969.564 124.000 6.000 merupakan hasil konversi atas Obligasi Wajib Konversi dalam rangka restrukturisasi hutang Perseroan pada tahun 2001 kepada PT (Persero) Angkasa Pura II.000. sebesar Rp201.941.000 % A. 2.000. D.000 4. Tahun 2007 Berdasarkan Akta No.000 6.000.387.826.000. 35/2001.500.000.564 4.248 201.000. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia PT (Persero) Angkasa Pura I PT (Persero) Angkasa Pura II C.076 11. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.564.713.000 6.941.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai (lembar) Nominal (Rp) 11.076.447.000 merupakan hasil konversi atas Obligasi Wajib Konversi dalam rangka restrukturisasi hutang Perseroan pada tahun 2001 kepada PT (Persero) Angkasa Pura I berdasarkan Subscription Agreement tanggal 10 Agustus 2001 yang dibuat dan ditandatangani oleh dan antara Perseroan.152.000.629. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham dalam Portepel 100 100 - Sebesar 100% saham yang telah ditempatkan tersebut telah disetor penuh oleh Negara Republik Indonesia dengan cara: 1.500.817 7.540. berdasarkan Subscription Agreement tanggal 10 Agustus 2001 yang dibuat dan ditandatangani oleh dan antara Perseroan.152.749. RDI-201/DDI/1988 yang diperhitungkan sampai dengan tanggal 15 April 2001 sebesar Rp67.826.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 11.000.000.44 1.248.000.629 4.000 7. c.000.248.000.000. Denda hutang pokok pinjaman Rekening Dana Investasi No.817.000 201.256.564.000.470.82 100 - Sebesar 100% dari saham yang ditempatkan tersebut telah disetor penuh dengan cara sebagai berikut: 1.512 6.000.540. 100 . 2. 67 Tahun 2001 tanggal 17 September 2001 yang dilakukan dengan kompensasi tagihan Negara Republik Indonesia kepada Perseroan sebesar Rp3. sebesar Rp6. SLA-363/DDI/1988 sebesar Rp695.540. Tagihan atas beban pengadaan 11 pesawat Boeing 737 sebesar USD422.000.826.000. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.000. RDI-201/DDI/1988 yang diperhitungkan sampai dengan tanggal 15 April 2001 sebesar Rp54.000 % A.370.087.076.74 2.875 yang terdiri dari: a.885. b.000 merupakan setoran lama.000. Saham dalam Portepel 95.000 ekuivalen dengan Rp3.000.019.447 6.322. sebagai Penerbit Obligasi Wajib Konversi dan PT (Persero) Angkasa Pura I. sebesar Rp124. dan Denda beban administrasi pinjaman Rekening Dana Investasi No.540.564. 3.000 oleh Negara Republik Indonesia merupakan setoran lama. d. C. B. 63/2007.817. sebagai Pemegang Obligasi Wajib Konversi. sebagai Penerbit Obligasi Wajib Konversi dan PT (Persero) Angkasa Pura II.000 penyetorannya dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.564 6.000.000.512. Beban Administrasi pinjaman Rekening Dana Investasi No.545.000 124.826. RDI-201/DDI/1988 yang diperhitungkan sampai dengan tanggal 15 April 2001 sebesar Rp69.886.564.545.826. dan sebesar Rp3. Sebagian bunga masa tenggang pinjaman Sub Loan Agreement No.826.713. sebagai Pemegang Obligasi Wajib Konversi.076 11.826. B.387.000 4. e.000.875.

000.H. sebesar Rp8.826.000 telah disetor penuh dengan cara sebagai berikut: 1.869.248.000.000 merupakan setoran Negara Republik Indonesia sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.629.000 merupakan setoran modal lama. keduanya tertanggal keduanya 31 Desember 2009.000 merupakan setoran Negara Republik Indonesia sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.371 7. Saham dalam Portepel 96. Terkait dengan konversi hutang Perseroan kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.817 8.000. Dengan demikian.879.000 7.498 5.000.152.36 2.000.152. Saham dalam Portepel A.152.000.000. setoran mana berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (“APBN”) Tahun Anggaran 2007.817.564. 15/1999. sebesar Rp7. berdasarkan akta “Perjanjian Penyelesaian Akta No.H.000 967. 2.248 201.000 merupakan konversi hutang Perseroan kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.000. Tahun 2008 Berdasarkan Akta No.000 8.000.000.152.00 1. 3.000. keduanya tertanggal 26 Maret 2007.000. Tahun 2009 Berdasarkan Akta No. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.826.826.564 124. 274/2009.000.22 10.000.000.000 201. 51/2008.120.817 967.000.000 % A. 69 Tahun 2007 tanggal 10 Desember 2007 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perseroan.629.48 100.000. 46 Tahun 2006 tanggal 28 Desember 2006 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perseroan setoran mana berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (“APBN”) Perubahan Tahun Anggaran 2006.000.000 201.847. Perseroan telah melakukan pengumuman dalam 2 surat kabar harian.152.629 6. dan sebesar Rp967.000 5. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia PT (Persero) Angkasa Pura I PT (Persero) Angkasa Pura II C.000. yaitu dalam harian Kompas dan Bisnis Indonesia. yaitu Bisnis Indonesia dan Investor Daily.000 124.82 1.371.564.817.826.502 7. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D. Perseroan telah melakukan pengumuman dalam 2 surat kabar harian.879.564 124. B.000 % Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia PT (Persero) Angkasa Pura I PT (Persero) Angkasa Pura II PT Bank Mandiri (Persero) Tbk C.502.000 6. S. 101 ..000..000.000 15.000. 85. sebesar Rp500.248 201. sebesar Rp500.00 Sebesar 100% saham yang ditempatkan tersebut di atas atau seluruhnya berjumlah Rp8. 2. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.61 100.000.000.000. B.629.000 15. Perseroan telah memenuhi kewajiban yang ditetapkan dalam Pasal 6 PP No.248.000 merupakan setoran modal lama.629.847.498. S. tersebut di atas.000 9.000 124. yang dibuat dihadapan Aulia Taufani.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 15.000.000.869 9.52 2. Notaris di Jakarta.000.120.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 15.000 7.Terkait dengan konversi atas Obligasi Wajib Konversi tersebut di atas. 24 Tanggal 14 September 2001 tentang Perubahan dan Pernyataan Kembali Perjanjian Penerbitan Obligasi Wajib Konversi” tertanggal 30 Desember 2009.869. pengganti Sutjipto.00 Sebesar 100% saham yang ditempatkan tersebut di atas telah disetor penuh dengan cara sebagai berikut: 1.000.

75 Tahun 1998. tanggal 1 Oktober 1998.21 1. Dalam rangka penggabungan usaha. antara lain menyetujui dan memutuskan untuk menggabungkan Bank Peserta Penggabungan ke dalam Bank Mandiri. SH.240. dimana Bank Mandiri akan menjadi Perusahaan hasil penggabungan usaha.000 1 500 29. Keterangan Mengenai Pemegang Saham Perseroan Berbentuk Badan Hukum Di bawah ini merupakan keterangan mengenai pemegang saham berbadan hukum dengan kepemilikan di atas 5%. serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.999. SH. Berdasarkan Akta Berita Acara RUPSLB No.999 14.999 1.03/X/98.999. serta penyetoran sejumlah uang tunai. tanggal 24 Juli 1999.826.500 % A.01.61 2.000 403. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham Seri A Dwiwarna Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B Negara Republik Indonesia PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT (Persero) Angkasa Pura II PT (Persero) Angkasa Pura I C. Akta pendirian tersebut telah memperoleh persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia.000 201. didaftarkan di dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Selatan. 10 tanggal 2 Oktober 1998 sebagaimana dibuat dihadapan Notaris Sutjipto.935. 6859. Notaris di Jakarta.738.04. berdasarkan Surat Keputusan No. Notaris di Jakarta.36 100. C2-16561.999.000.999.Tahun 2010 Berdasarkan Akta No. tanggal 29 Juli 1999 dan disetujui oleh Gubernur Bank Indonesia dengan Surat Keputusan No. 3264/BH.781. SH.498. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. 24/2010.248. PT Bank Dagang Negara (Persero).999.653.496. Notaris di Jakarta. Penggabungan usaha tersebut dimuat dalam Akta Merger No.000.000.000 500 7. 100.879.TH.000.869. C13. dan sebagai akibatnya Bank Peserta Penggabungan bubar demi hukum tanpa terlebih dahulu dilakukan likuidasi. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.000.01.000 9. tanggal 2 Oktober 1998. (“Bank Mandiri”) 1) Akta Pendirian Bank Mandiri berkedudukan di Jakarta.500 967.01. PT Bank Ekspor Impor Indonesia (Persero) dan PT Bank Pembangunan Indonesia (Persero) (secara bersamasama disebut “Bank Peserta Penggabungan”). dibuat dihadapan Sutjipto. dan berdasarkan Akta No.000.per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai (lembar) Nominal (Rp) 30. tidak ada perubahan struktur permodalan Perseroan setelah tanggal 30 September 2010. di bawah No.000. Tambahan Berita Negara No.634.999. tanggal 2 Oktober 1998. dibuat dihadapan Sutjipto.000.502.GBI/1999 tanggal 29 Juli 1999.120.HT.000 5.996.000.000 248. 102 . tanggal 9 Oktober 1998.000. yang berlaku efektif pada tanggal 31 Juli 1999.09. 97. Saham dalam Portepel 1 15.HT.00 85.000 18.000 11.000 124. Pendirian Bank Mandiri dilakukan dengan cara penyetoran secara inbreng atas seluruh saham-saham milik Negara Republik Indonesia (kecuali masing-masing satu saham) dalam masing-masing PT Bank Bumi Daya (Persero).82 10.127.98. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp500.563. tanggal 4 Desember 1998. didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.99. 3. 1/9/KEP.000 15. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B B. akta penggabungan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No.817.TH.004.000 0. tanggal 24 Juli 1999..00 Sampai dengan Prospektus ini diterbitkan.759. 97.

(ii). usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat. asuransi. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas. baik dengan menggunakan surat. dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan secepatnya. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro. surat berharga lain yang berjangka waktu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga. j. memberikan kredit. b. menempatkan dana pada. baik semua maupun sebagian. (iv). Bank Mandiri dapat melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut: a.2) Maksud dan Tujuan serta Kegiatan Usaha Berdasarkan akta pendiriannya. dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang. f. cek atau sarana lainnya. melakukan kegiatan anjak piutang. c. m. b. (vi). melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek. memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah. membeli agunan. g. melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau Perseroan lain di bidang keuangan. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga. surat dagang berjangka waktu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya. Bank Mandiri dapat pula: a. surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud. Sertifikat Bank Indonesia (SBI). surat pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya yang masa berlakunya tidak lebih lama dari kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud. melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. 103 . atau meminjamkan dana kepada bank lain. e. c. meminjam dana dari. d. seperti sewa guna usaha. kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah. deposito berjangka. i. d. sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk. (iii). bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan dana pensiun. melalui pelelangan atau dengan cara lain dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada Bank Mandiri. tabungan dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. l. menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya: (i). e. sertifikat deposito. menyediakan pembiayaan dan/atau melakukan kegiatan lain berdasarkan Prinsip Syariah. Obligasi. membeli. melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak. k. menerbitkan surat pengakuan hutang. serta lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan. h. melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang. dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang. melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah. (v). maksud dan tujuan Bank Mandiri ialah melakukan usaha di bidang perbankan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. modal ventura. Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 Anggaran Dasar. perusahaan efek.

999 6.999. SH.000 Modal Dasar Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia .000 10.000. A.2% 100. Notaris di Jakarta. yaitu sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama (merangkap Komisaris Independen) Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Direksi: Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur : Zulkifli Zaini : Riswinandi : Abdul Rahman : Sentot A.438. AH. Notaris di Jakarta.Tahun 2010. tanggal 17 Juni 2010.620. AHU-0048031.500 3.000. sebagaimana diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan No.189. 29.000 5.490.Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham Dalam Portepel 1 13.509. Sentausa : Thomas Arifin : Budi Gunadi Sadikin : Ogi Prastomiyono : Pahala N.490.01. Amrul Partomuan Pohan.01.Saham Seri A Dwiwarna .810.000.810.000.999. Mansury : Fransisca Nelwan Mok : Sunarso : Kresno Sediarsi : Edwin Gerungan : Muchayat : Mahmuddin Yasin : Cahyana Ahmadjayadi : Pradjoto : Gunarni Soeworo : Krisna Wijaya 104 .562. Akta tersebut diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan telah telah diterima dan dicatat berdasarkan Surat No.999.Saham Biasa Atas Nama Seri B Masyarakat .0% 4) Susunan Anggota Dewan Komisaris dan Direksi Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Bank Mandiri adalah sebagaimana tercantum dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Tahunan No. LLM.000 16.018.999. dilakukan perubahan atas Pasal 4 ayat 2 tentang penambahan modal ditempatkan dan disetor Bank Mandiri.620.999. yang dibuat di hadapan Dr. AHU-AH.3) Struktur Permodalan dan Susunan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Perubahan Anggaran Dasar No.000 0. dibuat di hadapan DR.09.125 500 6. SH.000. dengan demikian telah dilakukan perubahan atas susunan permodalan Bank Mandiri sebagai berikut: Keterangan Nilai Nominal Rp500.981.379.875 11. tanggal 24 Juni 2010 dan didaftarkan di Daftar Perseroan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. LLM.10-15813. AHU-AH. Partomuan Pohan. 12 tanggal 13 Juli 2010. tanggal 24 Juni 2010.per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal Persentase (Rp) 32.8% 33.0% 66.01.876 20.438..10-18655 tanggal 23 Juli 2010.981.

. 176/2005”). masa jabatan seluruh anggota Dewan Komisaris di atas berdasarkan Akta No. 50/2008”). Selanjutnya berdasarkan Akta No. 24/2010”) sebagai berikut: Dewan Komisaris : Komisaris Utama Komisaris Independen Komisaris Komisaris Komisaris : Hadiyanto : Abdulgani : Adi Rahman Adiwoso : Sahala Lumban Gaol : Wendy Aritenang Yazid Kecuali untuk Abdulgani. STRATEGY & IT SERVICES EVP ENGINEERING & MAINTENANCE SERVICES EVP OPERATIONS SERVICES EVP COMMERCIAL SERVICES VP SBU GSM VP HAJJ VP HUMAN CAPITAL MANAGEMENT VP LEARNING & DEVELOPMENT VP BUSINESS SUPPORT VP COMPTROLLER VP TREASURY MANAGEMENT VP ASSET MANAGEMENT VP FINANCIAL ANALYSIS VP STRATEGIC MANAGEMENT OFFICE VP INFORMATION SYSTEM SOLUTION VP AIRWORTHINESS MANAGEMENT VP AIRCRAFT MAINTENANCE MANAGEMENT VP FLIGHT OPERATION VP GROUND OPERATIONS VP OPERATION SUPPORT VP NETWORK MANAGEMENT VP MARKETING VP REVENUE MANAGEMENT VP SERVICE PLANNING & DEVELOPMENT VP SERVICE DELIVERY VP CABIN SERVICES Senior GM AREA WESTERN INDONESIA AREA EASTERN INDONESIA AREA ASIA AREA JAPAN. KEP.. S. masa jabatan Abdulgani adalah terhitung sejak tanggal 16 Maret 2005. S. (ii) Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. KOREA. CHINA AREA SOUTH WEST PACIFIC AREA EUROPE & MIDDLE EAST 5. pemegang saham Perseroan telah mengambil keputusan untuk memperpanjang untuk sementara waktu masa tugas Abdulgani sebagai anggota Dewan Komisaris Perseroan terhitung sejak tanggal 16 Maret 2010 sampai dengan ditetapkannya anggota Dewan Komisaris yang definitif. dan Akta No. 176/2005. Pengurus dan Pengawas Perseroan Susunan Dewan Komisaris Perseroan berdasarkan: (i) Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero) No. SUPPORT SERVICES EVP FINANCIAL SERVICES & GROUP CFO EVP CORP. QUALITY SAFETY & ENVIRONMENT MANAGEMENT Board of Director PRESIDENT & CHIEF EXECUTIVE OFFICER SUBSIDIARIES VP CORPORATE COMMUNICATION VP INTERNAL AUDIT VP ENTERPRISE RISK MANAGEMENT VP CEO OFFICE VP CORPORATE SECURITY VP CORPORATE SECRETARY VP SBU GARUDA CARGO VP SBU CITILINK EVP HUMAN CAPITAL & CORP.305/BEJ/07-2004. 75/2010”). Struktur Organisasi Perseroan CORPORATE SAFETY COMMITTEE VP CORP. dibuat dihadapan Aulia Taufani. Berdasarkan Akta No.. pengganti Sutjipto. 75/2010. dibuat di hadapan Aulia Taufani.H. dibuat dihadapan Fathiah Helmi. 75 tanggal 10 Mei 2010. (iii) sebagaimana ditegaskan kembali dalam Akta No. pemegang saham Perseroan telah menunjuk Bapak Abdulgani sebagai Komisaris Independen dalam rangka memenuhi peraturan Bapepam dan LK dan peraturan BEI No. 50 tanggal 7 Agustus 2008 yang dibuat di hadapan Sutjipto. notaris di Jakarta (“Akta No. pengganti Sutjipto. 129/2009 dan (iv) dinyatakan kembali dengan Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda (Persero) Indonesia No. Notaris di Jakarta (“Akta No.4.H.H.H. Notaris di Jakarta (“Akta No. S. 105 . S.H. S.. 176 tanggal 25 Juli 2005.. Notaris di Jakarta (“Akta No. 50/2008 berlaku terhitung sejak 4 Juni 2007. Berdasarkan RUPSLB tanggal 15 Nopember 2010. 24 tanggal 16 Nopember 2010.

176/2005. 50/2008. AS di tahun 1998. dan menjadi Direktur Utama Perseroan sejak 1998 sampai 2002. 48 tahun. AS di tahun 1993. (ii) Akta No. dan gelar Doktor dari Universitas Gajah Mada pada tahun 2010. beliau menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak Juni 2007. Dewan Komisaris Hadiyanto. Berdasarkan Akta No. Komisaris Utama Warga Negara Indonesia. Komisaris Independen Warga Negara Indonesia. AS dan memperoleh gelar LLM dari Harvard University Law School. Komisaris Utama Perseroan sejak tahun 2005. Abdulgani. Saat ini beliau juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Kekayaan Negara di Kementerian Keuangan dan Dewan Direktur pada Indonesia-Eximbank. (iii) sebagaimana ditegaskan kembali dalam Akta No. Komisaris PT Tugu Reasuransi Indonesia. 75/2010. Alternate Executive Director World Bank di Washington DC dan Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Keuangan. berdasarkan Akta No. meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia tahun 1968. masa jabatan Emirsyah Satar dan Agus Priyanto adalah 5 (lima) tahun terhitung sejak 16 Maret 2005. KEP. Komisaris PT Amro Duta Leasing dan anggota Direksi dari The Asean Finance Corporation di Singapura. meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Padjajaran Bandung tahun 1986. Selanjutnya. Lahir di Bukittinggi pada tanggal 14 Maret 1943. 67 tahun. Komisaris Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). Dewan Pengawas Perum Perhutani. Menjabat sebagai Komisaris Utama Perseroan sejak Juni 2007. pemegang saham menyetujui untuk memperpanjang masa jabatan Emirsyah Satar dan Agus Priyanto untuk sementara waktu sampai dengan ditetapkannya anggota Direksi yang definitif.305/BEJ/07-2004. pemegang saham Perseroan telah menunjuk Bapak Elisa Lumbantoruan sebagai Direktur Tidak Terafiliasi dalam rangka memenuhi peraturan BEI No. Menjabat sebagai Komisaris Independen Perseroan sejak Nopember 2010.Susunan Direksi Perseroan berdasarkan: (i) Akta No. Beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Menteri Negara BUMN. 129/2009 dan (iv) dinyatakan kembali dengan Akta No. Berdasarkan RUPSLB tanggal 15 Nopember 2010. Memperoleh sertifikat International Tax & Law Program dari Harvard University. 176/2005. 24/2010 sebagai berikut: Direksi : Direktur Utama Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum Direktur Niaga Direktur Operasi Direktur Keuangan Direktur Teknik : Emirsyah Satar : Achirina : Agus Priyanto : Ari Sapari : Elisa Lumbantoruan : Hadinoto Soedigno Kecuali untuk masa jabatan Emirsyah Satar dan Agus Priyanto. 106 . Beliau pernah menjabat sebagai Komisaris Utama PT Bank Ekspor Indonesia (Persero). 75/2010 dan Akta No. Sebelumnya. Komisaris PT Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia. Komisaris Bank Bukopin. Direktur Utama Bank Duta. Berikut ini adalah keterangan singkat mengenai Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan. gelar Master in Economics dari University of Colorado di Boulder. Lahir di Ciamis pada tanggal 10 Oktober 1962. masa jabatan anggota Direksi tersebut di atas adalah 5 (lima) tahun terhitung sejak 31 Oktober 2007.

57 tahun. Deputi Administrasi dan Perencanaan Otoritas Batam. Komisaris Warga Negara Indonesia. Komisaris Warga Negara Indonesia. Ketua Dewan Komisaris Pertamina (DKPP). Asisten Ketua Monitoring dan Evaluasi Pembangunan . Saat ini beliau juga menjabat sebagai Ketua dari Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG). Chairman dan CEO dari ACeS dan pendiri PT Pasifik Satelit Nusantara. Saat ini beliau juga menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Perhubungan. dan Ekonometrik dari Iowa State University. Komisaris PT PLN.BPP Tekonologi. Sahala Lumban Gaol. AS di tahun 1994. Dewan Pengawas RS Fatmawati. Beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan. Direktur Penerimaan Minyak dan Direktur Penerimaan Bukan Pajak dan Badan Layanan Umum. Pimpinan Proyek Pameran Teknologi Industri dan Pariwisata . meraih gelar Sarjana Peternakan dari IPB. Managing Director di PT Rajasa Hazanah Perkasa. Kepala Biro Perencanaan .BP3 Natuna. Indiana. AS tahun 1975 dan memperoleh gelar Master of Science dari California Institute of Technology. Komisaris PT Aditirta Batam. dan memperoleh gelar Doctor of Philosophy in Economy dengan spesialisasi dibidang Ekonomi. Menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak Juni 2007. Menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak Juni 2007. Deputi Menteri Riset dan Teknologi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek.BPP Teknologi. dan memperoleh gelar Master of Science & Diploma di tahun 1986 dan gelar Doktor (PhD) di tahun 1989 dari University of London at Imperial College of Science & Technology dalam bidang Structural Engineering. Site Engineer di PT Pembangunan Perumahan (Persero). Kepala Divisi Umum – Biro HOH. Beliau pernah menjabat sebagai Komisaris PT PGN (Tbk). Deputi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan. Ekonomi Moneter.Adi Rahman Adiwoso. Komisaris Warga Negara Indonesia. Ekonomi Internasional. Komisaris PT Petrokimia Gresik. AS tahun 1988. Lahir di Sibolga pada tanggal 7 Juli 1952. 56 tahun. Beliau pernah menjabat sebagai Direktur Pemasaran PT Satelit Palapa Indonesia. 58 tahun. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 26 Juli 1953. DC. dan menyelesaikan studi Master of Economics dari University of Illinois. Kepala Paviliun Indonesia (Expo Sevilla Spanyol). meraih gelar Sarjana Teknik Sipil dari ITB tahun 1979. Wendy Aritenang Yazid. AS di tahun 1977. Direksi dan COO di Orion Satellite Asia Pacific di Washington. meraih gelar Bachelor of Science (BSc) in Aeronautical and Astronautical Engineering dari Purdue University. Lahir di Jakarta pada tanggal 15 Desember 1954. 107 . dan pernah aktif di Rasikomp Nusantara dan Hughes Aircraft. menjabat sebagai Alternate Governor OPEC Fund dan juga Dosen di Universitas Indo Nusa Esa Unggul. Keuangan. Bogor tahun 1977. Saat ini beliau juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) dan Staf Ahli Menteri BUMN Bidang Kebijakan Publik. Komisaris Utama PT Geo Dipa Energi. Menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak Juni 2007. Direktur Jenderal Perkeretaapian.

anggota tim Revitalisasi Pemasaran. Route Check Pilot DC-10. 108 . meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Jenderal Sudirman. Lahir di Bandung pada tanggal 17 Desember 1957. menyelesaikan program Diploma di Sorbonne University. General Manager untuk Australia. termasuk sebagai Presiden Asosiasi Pilot Garuda. Achirina. Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak Oktober 2007. Lahir di Lubuk Pakam pada tanggal 15 Agustus 1958. Beliau sebelumnya pernah menjabat berbagai posisi manajerial di Citibank NA. Kepala Sub Dinas Konsolidasi Laporan Keuangan. dan meraih gelar Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dari Universitas Indonesia tahun 1985. Lahir di Jakarta pada tanggal 28 Juni 1959. menangani penyelesaian seluruh proses restrukturisasi keuangan Perseroan. meraih Diploma dari Institut Teknologi Nasional. Kepala Seksi Line Operations DC-10. 51 tahun. Menjabat sebagai Direktur Utama Perseroan sejak Maret 2005. termasuk beberapa pelatihan manajemen di Amerika Serikat. Instruktur Simulator DC-10. Tahun 2003. Inggris pada tahun 1977.Direksi Emirsyah Satar. Beliau sebelumnya pernah menjabat beberapa posisi manajerial di Perseroan. Manajer Line Operations DC-10 WIP (President) Pilot dan Instruktur dan Government Check Pilot. Kapten Pilot Airbus 330. Ari Sapari. Bandung di tahun 1985. Kepala Dinas Revenue and Financial Accounting.. beliau juga menjabat sebagai Presiden INACA (Indonesia National Air Carriers Association). Beliau sebelumnya pernah menjabat pada beberapa posisi di Perseroan. Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak Oktober 2007. termasuk sebagai General Manager untuk Jerman. dan telah mengikuti sejumlah training dan kursus di bidang penerbangan dan yang terkait dengan penerbangan yang diselenggarakan oleh institusi baik di dalam maupun luar negeri. Direktur Niaga Warga Negara Indonesia. Jan Darmadi Group. Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak Maret 2005. Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum Warga Negara Indonesia. Saat ini. Kepala Dinas Akuntansi Keuangan. Agus Priyanto. 52 tahun. Instruktur Rute (Route Instructor) DC-10. termasuk sebagai VP Business Support. General Manager untuk Brunei Darussalam. Purwokerto pada tahun 1984. 53 tahun. General Manager untuk Switzerland. Jakarta. Beliau sebelumnya pernah menjabat pada beberapa posisi di Perseroan. VP Controlling. Beliau pertama kali bergabung dengan Garuda Indonesia di tahun 1998 sebagai EVP Finance (CFO). beliau diangkat sebagai Deputy CEO di Bank Danamon. Paris di tahun 1978. sebelum kembali bergabung dengan Perseroan sebagai Direktur Utama dan CEO. Bandung pada tahun 1975 dan meraih lisensi Penerbangan Komersial dari Oxford Air Training School. dan General Manager untuk Skandinavia dan Finlandia. Lahir di Semarang pada tanggal 29 September 1955. meraih gelar Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dari Universitas Padjadjaran. VP Revenue Management. dan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bidang Luar Negeri. Niaga Factoring Corporation dan Niaga Finance di Hong Kong. Direktur Utama Warga Negara Indonesia. 55 tahun. Direktur Operasi Warga Negara Indonesia.

Kompensasi Komisaris dan Direksi Jumlah kompensasi total gaji dan tunjangan yang dibayarkan Perseroan untuk Komisaris dan Direksi Perseroan untuk periode sembilan bulan yang berakhir tanggal 30 September 2010 adalah sebesar Rp30. JKTDZ/SKEP/50056/09 tanggal 2 Oktober 2009 tentang Pembebasan dan Pengangkatan Pejabat di PT Garuda Indonesia (Persero). Sebagai penghubung atau contact person antara Perseroan dengan Bapepam dan LK dan masyarakat. 57 tahun. dan telah terlibat di Perseroan sejak pendirian. dan juga pernah menjabat sebagai Vice President di Divisi Workshop Perseroan. Lahir di Siborong-borong. (iii) Surat Keputusan Dewan Komisaris No.. Direktur Teknik Warga Negara Indonesia. (ii) Surat Keputusan Dewan Komisaris No. Perseroan telah mengangkat Ike Andriani sebagai VP Corporate Secretary and Corporate Legal Perseroan. Direktur Pemasaran PT Compaq Computer Indonesia. JKTDU/SKEP/2056/10 tanggal 1 Oktober 2010 tentang Pengangkatan Anggota Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero). 50 tahun. Sumatera Utara pada tanggal 19 Juli 1960. Direktur Regional Hewlett Packard South East Asia Ltd. Kep. Bandung di tahun 1985. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya. JKTDU/SKEP/5011/09 tanggal 1 Mei 2008 tentang Pengangkatan Anggota Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero). 2.318. 4. Country Alliances Manager Oracle Systems Asia Tenggara Pte. Bandung tahun 1977 dan memperoleh gelar Magister Manajemen dari Universitas Indonesia di tahun 1990. Sales Manager PT Cipta Arta Graha Informasi dan Account Manager PT Astra Graphia. Direktur Pemasaran PT Digital Astra Nusantara. Sales Unit Manager PT Digital Astra Nusantara. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 5 Januari 1953. Presiden Direktur PT Hewlett Packard Indonesia. antara lain: 1. Sebelum bergabung dengan Perseroan. Komite Audit Perseroan telah membentuk Komite Audit melalui Surat Keputusan Dewan Komisaris No. GARUDA/DEKOM001/2011 tanggal 3 Januari 2011. Executive Vice President. (iv) Surat Keputusan Dewan Komisaris No.305/BEJ/072004 tanggal19 Juli 2004. Sekretaris Perusahaan Sesuai dengan peraturan Bapepam No.I.4 mengenai Pembentukan Sekretaris Perusahaan juncto Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta No. Beliau saat ini menjabat sebagai Direktur Keuangan Perseroan berdasarkan surat Dewan Komisaris No. JKTDU/SKEP/2006/10 tanggal 26 Januari 2010 tentang Perpanjangan Masa Tugas Ketua dan Anggota Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero). Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak Oktober 2007. antara lain sebagai Direktur. 3. (v) Surat Keputusan 109 . Kepala Strategic Business Unit GMF AeroAsia. Hadinoto Soedigno. beliau berpengalaman sebagai pimpinan beberapa proyek konstruksi bidang minyak dan gas. Beliau sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia (GMF AeroAsia). Direktur Keuangan (Direktur Tidak Terafiliasi) Warga Negara Indonesia. KEP-63/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996 Lampiran Peraturan No. berdasarkan Surat Keputusan Direksi Perseroan No. Memberikan pelayanan atas setiap informasi yang dibutuhkan pemodal yang berkaitan dengan kondisi Perseroan. Bidang tugas Sekretaris Perusahaan. IX. meraih gelar Sarjana bidang Matematika dari ITB. Mengikuti perkembangan Pasar Modal khususnya peraturan-peraturan yang berlaku di bidang Pasar Modal. Beliau sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur PT Hewlett Packard Financial Services.67 juta.Elisa Lumbantoruan. Ltd. Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak Oktober 2007.JKTDU/SKEP/5054/07 tanggal 25 Oktober 2007 tentang Pengangkatan Ketua dan Anggota Komite Audit dan Penyempurnaan Piagam Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero) yang diperbaharui dari waktu ke waktu dengan: (i) Surat Keputusan Dewan Komisaris No. meraih gelar Sarjana Teknik Mesin dari ITB. Memberikan masukan kepada Direksi Perseroan untuk mematuhi ketentuan Undang-undang No. JKTDU/SKEP/5050/08 tanggal 1 Desember 2008 tentang Pengangkatan Anggota Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero). dengan berbagai jabatan.

Dewan Komisaris No. JKTDU/SKEP/5002/11 pada tanggal 5 Januari 2011 tentang Pemberhentian SDRI. Etty Retno Wulandari Sebagai Anggota Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero); dan (vi) Surat Keputusan Dewan Komisaris No. JKTDU/SKEP/5005/11 pada tanggal 10 Januari 2011 tentang Penggantian Ketua Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero). Susunan Komite Audit Perseroan adalah sebagai berikut: Ketua Anggota Anggota : Abdulgani : Adi Dharmanto : Endang Mudiman

Berikut keterangan singkat mengenai masing-masing anggota Komite Audit Perseroan : Abdulgani Ketua Komite Audit Warga Negara Indonesia, lahir pada tanggal 14 Maret 1943 (57 tahun). Diangkat menjadi Ketua Komite Audit Perseroan pada tahun 2011. Selain menjadi Anggota Komite Audit juga menjabat sebagai Komisaris Independen di Perseroan sejak 2010. Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak Juni 2007, Komisaris Utama Perseroan sejak tahun 2005, dan menjadi Direktur Utama Perseroan sejak 1998 sampai 2002. Beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Menteri Negara BUMN, Direktur Utama Bank Duta, Komisaris Bank Bukopin, Komisaris PT Amro Duta Leasing dan anggota Direksi dari The Asean Finance Corporation di Singapura. Pendidikan: memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia, tahun 1968, gelar Master of Economics dari University of Colorado di Boulder, AS tahun 1998, dan gelar Doktor dari Universitas Gajah Mada pada tahun 2010. Adi Dharmanto Anggota Komite Audit Warga Negara Indonesia, lahir pada tanggal 30 September 1962 (48 tahun). Diangkat menjadi Anggota Komite Audit Perseroan pada tahun 2009. Selain menjadi Anggota Komite Audit juga bekerja di PT Nura Kapital dan bertanggung jawab atas Business Development, Corporate Restructuring, Equity Financing & Project Financing. Pendidikan: Sarjana bidang Teknik Sipil dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) tahun 1987. Endang Mudiman Anggota Komite Audit Warga Negara Indonesia, lahir pada tanggal 28 April 1963 (49 tahun). Diangkat menjadi Anggota Komite Audit Perseroan pada bulan September 2010. Selain menjadi Anggota Komite Audit juga bekerja di PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) sebagai Group Head of Finance, Accounting, and Tax, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai Komite Ombudsman, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai Audit Team Leader. Pendidikan: Diploma Akuntansi Sarjana Akuntansi dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara tahun 1985, dan Sarjana Akuntansi dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara tahun 1993. Sebagai suatu BUMN, berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No. PER-05/MBU/2006 (“Keputusan BUMN”), Perseroan diwajibkan untuk memiliki suatu komite audit. Berdasarkan peraturan Bapepam & LK dan BEI, Perseroan juga diharuskan untuk membentuk suatu komite audit dalam waktu 6 (enam) bulan sejak pencatatan di BEI. Komite audit harus terdiri dari setidaknya 3 (tiga) anggota, satu diantaranya haruslah merupakan Komisaris Independen yang akan menjadi ketua, dan setidaknya 2 anggota komite tambahan, yang bukan berasal dari BUMN. Saat ini, ketua Komite Audit Perseroan bukan merupakan komisaris independen dan Perseroan telah memiliki jumlah anggota nonBUMN yang mencukupi.

110

6.

Sumber Daya Manusia

Perseroan dan Anak Perusahaan Per tanggal 30 September 2010, Perseroan dan Anak Perusahaan mempekerjakan 8.879 orang karyawan, terdiri dari 6.663 orang karyawan tetap, dan 1.216 orang karyawan kontrak. Komposisi karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan berdasarkan jenjang jabatan, jenjang pendidikan, dan usia per tanggal 30 September 2010, 31 Desember 2009, 2008, dan 2007 adalah sebagai berikut : Komposisi Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan Menurut Jabatan
Jenjang Jabatan Perseroan: Direksi Vice President Senior Manager Manager Staff Total Anak Perusahaan: Direksi Vice President Senior Manager Manager Staff Total Total Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan 30 September 2010 6 31 151 262 5.040 5.490 2009 7 36 179 286 4.567 5.075 31 Desember 2008 7 34 171 331 5.005 5.548 2007 7 26 150 349 5.276 5.808

15 32 100 232 3.010 3.389 8.879

14 29 101 211 2.342 2.697 7.772

12 26 91 202 2.275 2.606 8.154

11 21 64 169 2.332 2.597 8.405

Komposisi Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan Menurut Jenjang Pendidikan
Tingkat Pendidikan Perseroan: Master dan Doktor Sarjana Diploma SD/SMP/SLTA Total Anak Perusahaan: Master dan Doktor Sarjana Diploma SD/SMP/SLTA Total Total Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan 30 September 2010 289 1.371 629 3.201 5.490 122 1.092 605 1.570 3.389 8.879 2009 289 1.514 586 2.686 5.075 111 764 568 1.254 2.697 7.772 31 Desember 2008 301 1.543 630 3.074 5.548 98 667 575 1.266 2.606 8.154 2007 325 1.322 660 3.501 5.808 78 498 651 1.370 2.597 8.405

Komposisi Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan Menurut Kelompok Usia
Kelompok Usia (tahun) Perseroan: > 50 41 – 50 31 – 40 21 – 30 < 21 Total 30 September 2010 776 2.331 1.490 428 465 5.490 2009 757 2.253 1.652 369 44 5.075 31 Desember 2008 836 2.368 2.034 280 30 5.548 2007 837 2.256 2.478 212 25 5.808

111

Kelompok Usia (tahun)

30 September 2010

2009

31 Desember 2008

2007

Anak Perusahaan: > 50 41 – 50 31 – 40 21 – 30 < 21 Total Total Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan

527 1.423 448 797 194 3.389 8.879

574 1.435 415 273 2.697 7.772

624 1.407 405 170 2.606 8.154

394 1.300 802 100 1 2.597 8.405

Komposisi Karyawan Perseroan Menurut Jenis Pekerjaan:
Uraian Per 30 September 2010 Per 31 Desember 2008

2009

2007

Perseroan: Kru Penerbangan: Pilot Awak Kabin Ground Personnel: Ground services Pemeliharaan Fungsi Tersentralisasi Lainnya: Pemasaran, Reservasi dan Penjualan Kargo Pusat Kesehatan Lain-lain Total Karyawan Perseroan

626 1859

579 1.608

563 1.724

558 1.909

373 99

397 102

406 104

431 95

749 286 64 1434 5.490

764 295 59 1.271 5.075

706 354 78 1.613 5.548

871 372 81 1.491 5.808

Pada saat prospektus ini diterbitkan, penggajian tenaga kerja Perseroan telah sesuai dengan Upah Minimum Propinsi (UMP) yang berlaku. Pada saat ini, Perseroan telah merekrut 101 tenaga kerja asing untuk posisi pilot, first officer dan awak kabin. Dari 101 tenaga kerja asing tersebut, Perseroan telah mepekerjakan dan memperoleh Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (“IMTA”) yang berlaku untuk 67 tenaga kerja asing, sedangkan sisanya, yaitu sebanyak 33 tenaga kerja asing, akan mendapatkan izin tenaga kerja asing yang diperlukan ketika tenaga kerja asing tersebut dipekerjakan secara aktual oleh Perseroan. Perseroan saat ini sedang melakukan proses perijinan beberapa tenaga kerja asing. Tenaga kerja asing yang bekerja di Perseroan saat ini adalah sebagai berikut:
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Nama Perdiguero Alba Felix Juan Fuentes Anglede Fransisco Wezel Neil Lof Timon Ruurd Olabari Blanco Iker Lugrini Alesandro Aviles Cediel Alfredo Arevalo Leon Emilio Carter Treptau Ian Robert Tasselo Dennis Feldhahn Michael Paul Suna Harun Casson Mark John Posisi First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer Captain Boeing 737 No. IMTA 30851/MEN/B/IMTA/2010 30949/MEN/B/IMTA/2010 30277/MEN/B/IMTA/2010 30297/MEN/B/IMTA/2010 30279/MEN/B/IMTA/2010 Masa Berlaku IMTA 28 Oktober 2011 28 Oktober 2011 28 Oktober 2011 28 Oktober 2011 9 Nopember 2011 No. KITAS 2C11JD3288-J 2C11JD3290-J 2C11JD3289-J 2C11JD3287-J 2C11JD3413-J 2C11JD3576-J 2C11JD3578-J 2C11JD3633-J 2C11JD3574-J 2C11JD3577-J 2C11JD3411-J 2C11JD3424-J 2C11JD3575-J Masa Berlaku KITAS 22 Oktober 2011 22 Oktober 2011 22 Oktober 2011 22 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 Warga Negara Spanyol Spanyol Belanda Belanda Spanyol Italia Spanyol Spanyol Inggris Italia Inggris Turki Australia

32912/MEN/B/IMTA/2010 19 Nopember 2011 32518/MEN/B/IMTA/2010 19 Nopember 2011 32524/MEN/B/IMTA/2010 22 Nopember 2011 31747/MEN/B/IMTA/2010 19 Nopember 2011 31366/MEN/B/IMTA/2010 19 Nopember 2011 30299/MEN/B/IMTA/2010 31867/MEN/B/IMTA/2010 9 Nopember 2011 9 Nopember 2011

32276/MEN/B/IMTA/2010 19 Nopember 2011

112

No. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49.

Nama Lim Sangsoo Martinez Moro Federico Mosteghanemi Mohamed Ruzicka Ziri Sendur Taylan Cserhati Zoltan Bariccat Los Arcos Jesus Maria Gutierrez Cortes Oscar Ruben Cozar Fernandez Dai Ying Ding Wei Yishan Ding Fei Yanshu Kong Lingqi He Iyang Li Lu Liu Xuan Lu Jiangzhou Lu Jinzhi Ni Yun Wang Ying Xiao Ping Xiong Chenyu Yachun Xu Yao Lan Yuan Jingjing Zheng Jie Yi Zhu Bae Eunji Eom Go Eun Ha Minyoung Im Seongin Jo Jihyun Joung Yoonjoung Kim Bo Young Kim Yun A

Posisi First Officer First Officer First Officer Captain Boeing 737 First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin

No. IMTA 32150/MEN/B/IMTA/2010 31866/MEN/B/IMTA/2010 31057/MEN/B/IMTA/2010 30281/MEN/B/IMTA/2010 31868/MEN/B/IMTA/2010 30296/MEN/B/IMTA/2010 32651/MEN/B/IMTA/2010 32539/MEN/B/IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08400A-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400B-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400C-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400D-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400E-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400F-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400G-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400H-S/MEN/B/ IMTA/ 2010

Masa Berlaku IMTA 9 Nopember 2011 9 Nopember 2011 3 Nopember 2011 4 Nopember 2011 9 Nopember 2011 3 Nopember 2011 9 Desember 2011 8 Desember 2011

No. KITAS 2C11JD3407-J 2C11JD3412-J 2C11JD3358-J 2C11JD3368-J 2C11JD3423-J 2C11JD3357-J 2C11JD3807-J 2C11JD3791-J 2C11JD3936-J 2C11JB0499-J 2C11JB0496-J 2C11JB0508-J 2C11JB0493-J 2C11JB0506-J 2C11JB0504-J 2C11JB0516-J 2C11JB0509-J 2C11JB0518-J 2C11JB0507-J 2C11JB0515-J 2C11JB0513-J 2C11JB0517-J 2C11JB0502-J 2C11JB0501-J 2C11JB0497-J 2C11JB0514-J 2C11JB0519-J 2C11JB0510-J 2C11JB0S22-J 2C11JB0512-J 2C11JB0503-J 2C11JB0520-J 2C11JB0498-J 2C11JB0505-J 2C11JB0511-J 2C11JB0495-J

Masa Berlaku KITAS 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 29 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 27 April 2011 28 April 2011 27 April 2011 27 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 27 April 2011 27 April 2011 27 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011

Warga Negara Korea Selatan Spanyol Prancis Republik Ceko Turki Hongaria Spanyol Spanyol Spanyol Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan

32278/MEN/B/IMTA/2010 16 Desember 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011

113

No. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. Ko Ala

Nama

Posisi Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin

No. IMTA KEP.08400I-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400J-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400K-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.11982/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.11987/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.11989/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.11993/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.11996/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.11998/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12002/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12005/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12010/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12013/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12016/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12021/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12023/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12026/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12029/MEN/B/IMTA/ 2010

Masa Berlaku IMTA 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011

No. KITAS 2C11JB0500-J 2C11JB0494-J 2C11JB0521-J 2C11JB0691-J 2C11JB0683-J 2C11JB0694-J 2C11JB0693-J 2C11JB0685-J 2C11JB0687-J 2C11JB0688-J 2C11JB0686-J 2C11JB0695-J 2C11JB0696-J 2C11JB0697-J 2C11JB0698-J 2C11JB0684-J 2C11JB0689-J 2C11JB0690-J

Masa Berlaku KITAS 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011

Warga Negara Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang

Ley Eunyoung Song Juyeon Risa Kataoka Rie Igami Yoshiko Sonoda Risa Morii Erina Tanaka Toshimi Ata Sayaka Kimura Miwa Saito Miki Koyama Masumi Kamata Ono Yuka Mikiko Sakamoto Mariko Shimada Keiko Tashiro Chie Nakayama

Pendidikan dan Pelatihan Program kepegawaian Perseroan yang dimiliki Perseroan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia adalah dengan melakukan investasi melalui pelatihan staf dan peningkatan kualitas hidup karyawan. Program pelatihan karyawan yang diterapkan Perseroan adalah sebagai berikut: Program Pelatihan Kepemimpinan Program pengembangan dalam rangka mempersiapkan pemimpin masa depan merupakan investasi yang dilakukan oleh Garuda Indonesia kepada pegawai yang berpotensi tinggi dalam bentuk Management Development Program (“MDP”). Program ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk menyelaraskan dengan rencana jangka panjang Perseroan dan sebagai bagian dari Rencana Suksesi. MDP telah dilaksanakan dalam beberapa tingkatan, yaitu : • • Leaders Forum yang diperuntukkan bagi pegawai satu tingkat di bawah Direksi, yang dilaksanakan setiap bulan; Operational Leaders Development Program (OLDP) yang diperuntukkan bagi pegawai dua tingkat di bawah Direksi, telah dilaksanakan sebanyak 1 (satu) angkatan dengan periode program selama 6 (enam) bulan dan batch ke 2 untuk OLDP, masih dalam tahap pelaksanaan; Emerging Leaders Development Program (ELDP) yang diperuntukkan bagi pegawai tiga tingkat di bawah Direksi, telah dilaksanakan sebanyak 1 (satu) angkatan dengan periode program selama 6 (enam) bulan.

114

Program Pelatihan Bagi Awak Pesawat Untuk menjaga kualifikasi dan kompetensi awak pesawat, yaitu penerbang dan awak kabin, maka Perseroan mewajibkan dilakukannya recurrent training yang dilaksanakan secara periodik. Recurrent training ini mewajibkan setiap penerbang untuk menjalani inspeksi kualifikasi sebanyak 2 (dua) kali dalam periode 12 bulan, yang terdiri dari uji kecakapan/ketrampilan terbang untuk tujuan menjaga tingkat proficiency penerbang dan uji kesehatan. Selain itu setiap penerbang juga harus menjalani pelatihan di kelas sebagai persyaratan untuk memastikan kualifikasi dan kompetensi sebagai penerbang. Sementara untuk setiap awak kabin, harus menjalani inspeksi kualifikasi sebanyak 1 (satu) kali dalam periode 12 bulan, yang terdiri dari check terhadap kualifikasi dalam hal keselamatan penerbangan, aspek layanan dan uji kesehatan. Pelatihan Bagi Para Frontliners Untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, Perseroan memberikan pelatihan service attitude for frontliners kepada seluruh frontliners. Pelatihan ini bertujuan untuk membentuk professional image para frontliners yang nantinya akan membentuk company image Perseroan. Pelatihan ini diberikan berupa perilaku layanan, tata cara berpenampilan dan berbusana secara profesional yang mencerminkan budaya FLY-HI. Pelatihan service attitude bagi frontliners Perseroan dan juga frontliners pihak ketiga telah dilaksanakan untuk melayani ground handling, dimana telah dilakukan dalam 54 angkatan, sedangkan Development Leadership for Assistant Manager and Supervisor telah berjalan dalam 5 angkatan. Pelatihan bagi para Karyawan bagian Pemasaran Untuk memberikan pembekalan dalam hal marketing dan sense business, maka diberikan pelatihan bagi para GM Branch Office dan Sales Manager berupa pelatihan Salespreneuring yang telah dilaksanakan dalam 4 angkatan untuk Manager dan Supervisor serta dalam 2 angkatan untuk GM Branch Office. Fasilitas Kesejahteraan Karyawan Perseroan berkeyakinan bahwa strategi kompensasi dan benefit akan dapat meningkatkan kinerja Perseroan sehingga adaptif terhadap perubahan siklus bisnis untuk membangun profesi yang sesuai dengan pertumbuhan Perseroan yang berkelanjutan dengan mengutamakan untuk menarik (attracting) dan mempertahankan (retaining) karyawan berdasarkan ukuran kinerja tinggi (high performing) dan berpotensi tinggi (high potential). Karyawan Perseroan menerima remunerasi kas terdiri dari gaji dan subsidi tunai lainnya. Secara umum, gaji karyawan ditentukan berdasarkan kualifikasi karyawan, posisi, senioritas dan kinerja, subsidi kas mungkin dapat termasuk subsidi hidup, dan dapat bervariasi tergantung pada kondisi yang terjadi. Perseroan juga memberikan manfaat non tunai, termasuk asuransi kesehatan, pensiun dini dan kesejahteraan sosial, seperti yang disyaratkan oleh hukum di Indonesia. Skema kompensasi dan benefit terdiri dari gaji tetap dan variable/ insentif, sedangkan Tunjangan Hari Raya, Tunjangan Tengah Tahun dan Bantuan Istirahat Tahunan (cuti). Selain itu Perseroan juga memberikan fasilitas kesejahteraan bagi para pegawainya dengan selalu memperhatikan ketentuan-ketentuan dan peraturan di bidang ketenagakerjaan serta disesuaikan dengan kebutuhan untuk mendukung bisnis Perseroan, berbagai fasilitas tersebut antara lain: Jaminan Sosial kepada Jamsostek berupa iuran Jaminan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. Cuti Tahunan diberikan kepada pegawai sesuai dengan lamanya masa kerja. Program Pemeliharaan kesehatan pegawai Program kesehatan pensiun. Program dana pensiun. Fasilitas Konsesi Terbang diberikan kepada karyawan dan keluarga. Pakaian Seragam dan Pakaian Representatif sesuai dengan kebutuhan bisnis Perseroan. Pada saat terjadi pemutusan hubungan kerja yang seharusnya diterima (santunan kematian, uang pisah, pesangon dan penghargaan masa kerja). Penghargaan Garuda Bakti, bagi karyawan yang telah mencapai masa kerja 20 tahun. Penghargaan Pensiun kepada karyawan yang memasuki usia pensiun. Fasilitas Pajak Penghasilan karyawan yang dibayarkan oleh Perseroan.

115

Serikat Pekerja Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Perseroan berlaku sejak tanggal 26 Januari 2004 sampai dengan 25 Januari 2006 berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.KEP.08/PHI/PK/2004 tanggal 20 Januari 2004. Perjanjian tersebut diperpanjang secara otomatis dan oleh karenanya masa berlaku PKB tersebut menjadi berakhir pada tanggal 25 Januari 2007. Terdapat empat serikat pekerja Perseroan yang masing-masing mewakili kepentingan awak kabin, awak kokpit, pramugari dan karyawan lainnya (Serikat Karyawan Garuda). 1. 2. 3. 4. Asosiasi Pilot Garuda (APG) Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) Serikat Karyawan Garuda (SEKARGA) Serikat Pekerja Awak Kabin Garuda Indonesia (SPAKGI)

Perjanjian kerjasama antara Perseroan dengan keempat serikat pekerja tersebut telah dibuat pada tahun 2008 dan Perseroan saat ini sedang melakukan negosiasi perjanjian kerja bersama baru dengan serikat pekerja ini melalui perundingan tripartit bersama dengan otoritas ketenagakerjaan setempat (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi / “Disnaker”). Disnaker telah menyarankan kepada Perseroan dan serikat pekerja untuk menyepakati ketentuan tertentu yang telah disetujui oleh Disnaker. Pada tanggal 6 Desember 2010, Perseroan telah menyatakan persetujuan atas anjuran dimaksud. Perseroan telah menerima pernyataan secara verbal walaupun Perseroan sampai saat ini belum mendapatkan pernyataan secara formal, bahwa serikat pekerja telah menolak ketentuan yang disarankan, dengan demikian pihak manapun dapat mengajukan ketidaksepakatan terkait perjanjian kerja sama sebelum ke Pengadilan Hubungan Industrial. 7. Keterangan Mengenai Anak Perusahaan

Saat ini Perseroan mengoperasikan tiga unit bisnis strategis (SBU): SBU Garuda Cargo, SBU Citilink dan SBU Garuda Sentra Medika dan empat Anak Perusahaan yang signifikan: PT Aero Wisata (jasa boga, hotel, transportasi dan travel), PT Abacus Distribution Systems Indonesia (pemesanan), PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (perbaikan dan perawatan pesawat/MRO), PT Aero Systems Indonesia (teknologi informasi), serta PT Citilink Indonesia (angkutan udara berjadwal berbiaya murah) yang belum beroperasi. Perseroan juga memiliki perusahaan terafiliasi, PT Gapura Angkasa, yang menyediakan perusahaan dengan pelayanan ground handling. Tabel berikut menunjukkan struktur bisnis Perseroan termasuk unit utama bisnisnya, Anak Perusahaan yang beroperasi maupun yang belum beroperasi sebagai suatu Anak Perusahaan, dan perusahaan afiliasi lainnya yang signifikan. Perseroan memiliki penyertaan saham secara langsung pada 9 anak perusahaan sebagai berikut:
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Anak Perusahaan PT Aero Wisata PT Abacus Distribution Systems Indonesia PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia*** PT Aero Systems Indonesia*** PT Citilink Indonesia*** PT Gapura Angkasa** Abacus International Holdings Ltd.** Pan Asia Pacific Aviation Services Ltd.** PT Merpati Nusantara Airlines** Bidang Usaha Perhotelan, jasa boga dan agen perjalanan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Perbaikan dan pemeliharaan pesawat terbang Penyedia jasa teknologi informasi Angkutan udara niaga Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penerbangan Kepemilikan 99,99% 95,00% 99,99% 99,99% 99,99% 37,5% Tahun Status Operasi Penyertaan Komersial 1989 sudah beroperasi 1995 2002 2005 2009 1998 sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi

2,065% 17,65% 4,21%

1997 1998 1978

sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi

Catatan: *) Citilink belum beroperasi dikarenakan masih dalam proses untuk memperoleh ijin usaha angkutan udara niaga **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aero Wisata

116

Perseroan melalui PT Aero Wisata memiliki penyertaan saham secara tidak langsung pada 18 perusahaan sebagai berikut:
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Anak Perusahaan PT Angkasa Citra Sarana Catering Service PT Aero Hotel Management Bidang Usaha Jasa boga Kepemilikan 99,98% 99,99% 99,87% 61,88% 99,98% 99,98% 99,98% 99,98% 99,98% 100% 60% 60% 45% 40% 10,10% 7,54% 2,58% 98,87% Tahun Penyertaan 1982 2009 1988 1987 1992 1974 1988 1979 1997 1981 2008 2009 1996 1993 1989 1988 1988 2003 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi

Jasa pengelolaan properti (hotel, apartemen, kondominium) PT Aerojasa Perkasa Jasa agen penjualan umum PT Bina Inti Dinamika Jasa akomodasi PT Belitung Inti Permai Jasa akomodasi PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi Jasa biro perjalanan wisata PT Mandira Erajasa Wahana Jasa Transportasi PT Mirtasari Hotel Deveploment Jasa akomodasi PT Senggigi Pratama Internasional Jasa akomodasi Garuda Orient Holidays Pty. Ltd. Jasa biro perjalanan wisata Garuda Orient Holidays Korea Co. Ltd Jasa biro perjalanan wisata Garuda Orient Holidays Japan INC. Jasa biro perjalanan wisata PT Aeronurti** Jasa akomodasi PT Aeroprima** Jasa akomodasi PT Bumi Minang Padang** Jasa akomodasi PT Nusa Dua Graha Internasional** Jasa akomodasi PT Arthaloka Indonesia** Jasa pengelolaan properti PT Aerojasa Cargo*** Jasa pengurusan transportasi (freight forwarding)

Catatan: *) PT Belitung Inti Permai belum beroperasi, pembangunan hotel masih dalam proses **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aerojasa Perkasa

a.

PT Aero Wisata (“Aerowisata”)

Pendirian dan Kegiatan Usaha Aerowisata, berkedudukan di Jakarta Pusat, didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Aerowisata No. 85 tanggal 30 Juni 1973 yang dibuat di hadapan Soeleman Ardjasasmita, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. Y.A. 5/32/18 tanggal 2 Pebruari 1974, telah didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta No. 446 tanggal 13 Pebruari 1974, serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 20 tanggal 11 Maret 1983, Tambahan No. 320 (“Akta Pendirian Aerowisata”). Anggaran dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian Aerowisata tersebut telah beberapa kali mengalami perubahan, dimana perubahan yang terakhir sehubungan dengan penyesuaian dengan Undang-undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dimuat dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 25 tanggal 20 Nopember 2008, yang dibuat di hadapan Siti Rayhana, S.H., pengganti dari Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Keputusan No. AHU-92558.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 2 Desember 2008, didaftarkan dalam Daftar Perseroan No. AHU-0117183.AH.01.09.Tahun 2008 tanggal 2 Desember 2008 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 82 tanggal 13 Oktober 2009, Tambahan No. 25579. Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar Aerowisata, kegiatan usaha Aerowisata adalah sebagai berikut: a. b. c. d. Menjalankan usaha di bidang perhotelan dan sarana penunjangnya; Menjalankan usaha di bidang penyediaan tempat dan pelayanan makan dan minum; Menjalankan usaha di bidang pakaian/binatu; Menjalankan usaha di bidang penyediaan fasilitas akomodasi dan pelayanan lain yang diperlukan bagi penyelenggaraan kegiatan usaha hotel.

117

Manajemen dan Pengawasan Susunan Dewan Komisaris Aerowisata berdasarkan: (i) Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 12 tanggal 6 Desember 2005 yang dibuat di hadapan Siti Rayhana, S.H., pengganti dari Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro, S.H., Notaris di Jakarta dan (ii) Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham No. 1 tanggal 2 Pebruari 2010 yang dibuat di hadapan Rismalena Kasri, S.H., Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama Komisaris : Abdulgani : Abdul Anshari Ritonga

Susunan Direksi Aerowisata berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Sirkuler Para Pemegang Saham No. 12 tanggal 13 Nopember 2009, yang dibuat di hadapan Rismalena Kasri, S.H., Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Direksi: Direktur Utama Direktur : Alexander Maria Tae Maneklaran : Doddy Virgianto

Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 30 tanggal 5 Nopember 1998, dibuat di hadapan Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro, S.H., Notaris di Jakarta, telah dilaporkan kepada Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Laporan Perubahan Anggaran Dasar yang telah diterima dan dicatat tanggal 17 Mei 1999 No. C-8437. HT.01.04.TH.99, telah didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No. 271/BH.09.05/XI/1999 tanggal 18 Nopember 1999, dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 33 tanggal 25 April 2000, Tambahan No. 2056, serta: (i) Akta Jual Beli Saham No. 34 tanggal 21 Januari 2000 yang dibuat di hadapan Mahyasari Ashinta Krisnuryanti, S.H., pengganti dari Notaris Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro, S.H. tersebut, (ii) Akta Jual Beli Saham No. 08 tanggal 4 Oktober 2000, dan (iii) Akta Jual Beli Saham No. 139 tanggal 29 Nopember 2001, yang keduanya dibuat di hadapan Siti Rayhana, S.H., pengganti dari Notaris Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro, S.H. tersebut, struktur permodalan dan susunan pemegang saham Aerowisata adalah sebagai berikut:
Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.000.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 400.000 400.000.000.000 249.999 1 250.000 150.000 249.999.000.000 1.000.000 250.000.000.000 150.000.000.000

%

Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan Dana Pensiun Pegawai Aerowisata C. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D. Saham dalam Portepel

A. B.

99,99 0,01 100,00 -

Ikhtisar Laporan Keuangan Ikhtisar Laporan Keuangan Konsolidasi Aerowisata untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 dan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, serta laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 30 Septembar 2009 yang telah direview, oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited), dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Kanaka Puradiredja Suhartono (Nexia International), dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, sebagai berikut:
(dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 580.036 639.806 1.219.842 544.856 304.536 849.392

Uraian NERACA Aset Lancar Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET

30 September 2010 2009* 727.549 878.668 1.606.217 538.408 808.159 1.346.567

2009 656.934 841.165 1.498.099

118

Uraian Kewajiban Lancar Kewajiban Jangka Panjang Jumlah Kewajiban Hak Minoritas Modal saham Saldo laba Jumlah Ekuitas JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS LABA RUGI Pendapatan Usaha Pendapatan Beban Usaha Laba Usaha LABA / (RUGI) BERSIH Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas)

30 September 2010 2009* 471.396 260.508 140.651 122.385 612.047 382.893 7.949 3.762 250.000 250.000 335.955 338.595 986.221 959.911 1.606.217 1.346.567

2009 345.195 151.573 496.768 4.700 250.000 374.294 996.631 1.498.099

(dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 202.673 200.343 106.454 85.108 309.127 285.452 3.673 (672) 250.000 250.000 305.374 298.849 907.042 564.612 1.219.842 849.392

1.104.329 184.666 36.431 19.334

796.204 147.658 52.703 41.026

1.150.897 204.659 91.841 76.724

1.089.244 162.587 81.419 76.625

908.601 151.559 57.941 70.209

Jumlah Aset, Kewajiban, dan Ekuitas untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 meningkat jika dibandingkan dengan pada tanggal 30 September 2009. Jumlah Aset, Kewajiban, dan Ekuitas PT Aero Wisata untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009, 2008 dan 2007 naik. Jumlah Aset tidak Lancar PT Aero Wisata pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 110% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007, hal ini disebabkan pada tahun 2008 terdapat peningkatan aset tetap yang diakibatkan dari revaluasi atas tanah dan bangunan. Pada 31 Desember 2008, kenaikan tanah dan bangunan akibat revaluasi Rp353.404 juta. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 September 2010, jumlah Aset Lancar juga mengalami kenaikan sebesar 35% jika dibandingkan dengan tanggal 30 September 2009, hal ini disebabkan oleh kenaikan persediaan Rp68.124 juta atau sebesar 266% Persediaan terbesar berasal dari ACS unit ISTS, karena pengalihan fungsi unit ACS, yang semula tidak mempunyai persediaan, namun pada bulan Nopember 2009, ada transfer persediaan dari Garuda ke unit PT ACS-ISTS. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009, jumlah Aset tidak Lancar juga mengalami kenaikan sebesar 31% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya investasi jangka panjang sebesar Rp84.206 juta atau sebesar 253% sebagai akibat dari penambahan investasi saham pada perusahaan asosiasi. Selain berasal dari kenaikan investasi dalam saham, meningkatnya Aset Tidak Lancar juga disebabkan dari meningkatnya nilai aset tetap sebesar Rp113.178 juta atau sebesar 20% yang berasal dari penambahan aset dalam penyelesaian di 31 Desember 2009. Jumlah Aset PT Aero Wisata pada tanggal tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 44% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007, hal ini disebabkan oleh kenaikan Aset Tidak Lancar yang berasal dari kenaikan aset tetap akibat adanya revaluasi tanah dan bangunan. Kenaikan revaluasi pada tanggal 31 Desember 2008, sebesar Rp353.404 juta. Jumlah Kewajiban Lancar PT Aero Wisata pada tanggal 31 Desember 2009 mengalami kenaikan sebesar 70% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008, hal ini disebabkan oleh meningkatnya hutang bank di tahun 2009 sebesar Rp70.248 juta yang terutama berasal dari pinjaman Bank BNI sebesar Rp69.748 juta. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 September 2010, jumlah Kewajiban Lancar juga mengalami kenaikan sebesar 81% jika dibandingkan dengan tanggal 30 September 2009, hal ini disebabkan oleh kenaikan pinjaman bank sebesar Rp68.891 juta yang berasal dari penambahan pinjaman Bank BNI sebesar Rp69.748 juta pada Desember 2009. Selain itu, terdapat peningkatan kewajiban lancar karena meningkatnya hutang usaha sebesar Rp52.790 juta atau sebesar 42% yang disebabkan peningkatan pembelian yang dilakukan tidak secara tunai. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009, jumlah Kewajiban Jangka Panjang juga mengalami kenaikan sebesar 42% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008, hal ini disebabkan oleh kenaikan pinjaman jangka panjang sebesar Rp30.712 juta atau sebesar 84% yang berasal dari pinjaman investasi.

119

2008.01.104.703 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar (31%).298 juta.329 juta dan Rp796. dimana perubahan terakhir sehubungan dengan penyesuaian dengan Undang-undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dimuat dalam Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham Perseroan Terbatas No.334 juta dan Rp41.995 juta juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan Laba (Rugi) Bersih PT Aero Wisata pada 30 September 2010 jika dibandingkan dengan 30 September 2009. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 41% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 13%.711 juta. AHU-14409. Laba Usaha PT Aero Wisata untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. Pendapatan usaha PT Aero Wisata untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.1%.H. 9 tanggal 30 Januari 1996. dan Rp57. kegiatan usaha Abacus adalah menjalankan usaha dalam bidang jasa konsultasi manajemen di bidang teknologi informasi. dan telah didaftarkan di Kantor Pendaftaran Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di bawah No. 1 tanggal 1 Maret 1995 yang kemudian diperbaiki dengan Akta Perbaikan No. 2008.01.Ekuitas PT Aero Wisata pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 61% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007.150. Pengembangan sistem reservasi dalam kegiatan bisnis. (“Akta Pendirian Abacus”) Anggaran dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian Abacus tersebut telah beberapa kali mengalami perubahan. dan Rp70. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.H. Laba usaha PT Aero Wisata untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 sebesar Rp36. S. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp1. b.209 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 9% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 0.089. didaftarkan dalam Daftar Perseroan No. Peningkatan Laba Usaha dari tahun 2007 ke tahun 2008 disebabkan oleh meningkatnya pendapatan usaha katering. Notaris di Jakarta.841 juta.431 juta dan Rp52.09.724 juta. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp91.AH.625 juta. Laba (Rugi) Bersih PT Aero Wisata untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. hal ini disebabkan menurunnya laba operasional sebesar Rp16.02. PT Abacus Distribution Systems Indonesia (“Abacus”) Pendirian dan Kegiatan Usaha Abacus berkedudukan di Jakarta Selatan.244 juta dan Rp908. Peningkatan beban bunga juga sebesar Rp9. 123. hal ini disebabkan oleh meningkatnya beban umum dan administrasi serta beban pemeliharaan & energi.272 juta atau (31%) dari Rp52. hal ini disebabkan terutama oleh peningkatan pendapatan dari divisi katering.941 juta. Laba (Rugi) Bersih PT Aero Wisata untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 sebesar Rp19. didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Abacus No.204 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar 39%.703 juta pada 30 September 2009 menjadi Rp36. b. keduanya dibuat di hadapan Anna Sunarhadi.419 juta. berupa pemberian: a. 2008. 1156/1995 tanggal 21 Juli 1995. 53 tanggal 28 Juni 1995.026 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar (53%).01. telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Keputusan No. Notaris di Jakarta. Peningkatan sumber daya manusia yang berhubungan dengan bisnis transportasi secara efektif dan efisien. Pendapatan usaha PT Aero Wisata untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 sebesar Rp1. 120 . AHU-0018384. hal ini disebabkan oleh peningkatan surplus revaluasi tanah dan bangunan sebesar Rp334.925 juta.HT. Rp1.431 juta pada 30 September 2010.Tahun 2009 tanggal 22 April 2009.Tahun 2009 tanggal 22 April 2009. biro perjalanan dan transportasi masing-masing sebesar Rp59. S.601 juta. Tambahan No. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp76. Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar Abacus.01. Rp76. 3 tanggal 5 Nopember 2008 dibuat di hadapan Suryati Moerwibowo. Rp55. Rp81. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 20% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 6%.207 juta dan Rp22.TH’95 tanggal 13 Juli 1995.AH. C2-8542.. telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Keputusan No.897 juta..

312.437.844 3.099. 4642.108 2.787 28. Amir Jusuf. Mawar & Saptoto (RSM).981 3. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan Abacus International Pte. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No. 7 tanggal 14 Maret 2008 yang dibuat di hadapan Suryati Moerwibowo.000 2.00 5. dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.250.627 26.164 55.547 10.842 7.742 52. dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.01.01.686 25.375 125 2. Notaris di Jakarta.500 7. Saham dalam Portepel 95.500 137..04.360 2.000. Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Direksi: Direktur : Widjaya Hadinukarto Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Pendirian Abacus dan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. (ii) Akta No.995. S. S.611. Tambahan No.000 8.246. C.437 4. B.417 7.526 3.441 2009 26.406 8.000 % A.2001 tanggal 28 Pebruari 2001 dan dilaporkan kepada Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum berdasarkan Laporan Perubahan Anggaran Dasar yang telah diterima dan dicatat di bawah No.000 10.. 57 tanggal 17 Juli 2001.TH..500 2. 2 tanggal 21 Juli 2009 yang dibuat di hadapan Suryati Moerwibowo. dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto.H.H.376 53. oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited)..097 3.748.500 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai (lembar) Nominal (Rp) 10.695 26.901 18. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.936 26. telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Keputusan No. Notaris di Jakarta.908 Uraian NERACA Aset Lancar Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET Kewajiban Lancar Kewajiban Tidak Lancar Jumlah Kewajiban 30 September 2010 2009 *) 21.H.09. Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama Komisaris Komisaris : Agus Priyanto : Achirina : Tan Kien Hui Susunan Direksi Abacus berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham No. serta laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 30 Septembar 2009 yang telah direview.344 7.04-TH. C-1465 HT. sebagai berikut: (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 28.505 47.500 2. C-1466 HT.Manajemen dan Pengawasan Susunan Dewan Komisaris Abacus berdasarkan: (i) Akta Pernyataan Keputusan Rapat No.942 121 .678 7.00 100. S.676 29. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Abacus adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.2001 pada tanggal 28 Pebruari 2001. 667/RUB.100 5.305 50.750. S. 2 tanggal 15 Januari 2001 yang dibuat dihadapan Suryati Moerwibowo. 15 tanggal 17 Juni 2008 yang dibuat di hadapan Suryati Moerwibowo.004 4. Ltd.00 - Ikhtisar Laporan Keuangan Ikhtisar Laporan Keuangan Abacus untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 dan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit.05/ V/2001 tanggal 14 Mei 2001.H.

2008. dan Rp4.749 7.749 2. hal ini disebabkan oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD yang berdampak terhadap pendapatan Perseroan dan kenaikan beban usaha.331 19. Pada tanggal 31 Desember 2009 jumlah Kewajiban Tidak Lancar mengalami kenaikan sebesar 30.572 juta kepada Bank Bukopin pada tanggal 25 Juli 2008 dan penurunan hutang usaha sebesar Rp1. sedangkan kewajiban turun.981 52.417 23.500 7.4%).135 2.996 50.101 43. Laba Bersih Abacus untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.417 juta.8% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007. dan 2007 masingmasing adalah sebesar Rp25.957 35.167 36.100 47.749 2.4%) dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 46.147 4.146 7. Laba (Rugi) Usaha Abacus untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar (Rp1. hal ini disebabkan oleh kenaikan saldo kewajiban imbalan kerja.725 juta) dan setelah memperhitungkan kenaikan laba usaha sebesar Rp1. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 0.449 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar (5.452 juta) dan kerugian selisih kurs akibat penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD.313 36.889 juta) dari tahun 2008 ke tahun 2009 terutama disebabkan oleh perubahan keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing – bersih dari tahun 2008 ke tahun 2009 akibat penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD sebesar (Rp3.657 (1.126 1.326) (703) 19. Rp23.199 juta.061 47. Rp2.924 3. Pendapatan usaha Abacus untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.3%) dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar (50.449 16.199 1.326) juta dan Rp3.123 21. 2008. Pendapatan usaha Abacus untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp18. dan 2007 masingmasing adalah sebesar Rp3.4% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 7. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar (16.415 juta. 2008.415 Jumlah Aset dan Ekuitas pada tanggal 30 September 2010 turun jika dibandingkan dengan tanggal 30 September 2009 sedangkan jumlah kewajiban naik.502 juta dan setelah memperhitungkan penurunan laba usaha sebesar (Rp1.859 23. dan Rp23.749 2.Uraian Modal saham Ekuitas lainnya Saldo laba Jumlah Ekuitas JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS LABA RUGI Pendapatan Usaha Pendapatan Beban Usaha Laba (Rugi) Usaha LABA / (RUGI) BERSIH Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 30 September 2010 2009 *) 2.126 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar (142. Laba Usaha Abacus untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.331 juta dan Rp19.0%).335 juta.749 45. hal ini terutama disebabkan oleh pelunasan pinjaman sebesar Rp1.316 juta.4% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008.071 juta.352 25.437 (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2009 2008 2007 2. hal ini terutama disebabkan oleh penurunan laba usaha sebesar (Rp4.182 2. 122 .218 juta. dan 2007 masingmasing adalah sebesar Rp1. Rp2. hal ini terutama disebabkan oleh sejak 31 Desember 2008.071 3. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar (46. dan Rp3.498 53.406 18.146 33. Jumlah Aset Tidak Lancar Abacus pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 36. Jumlah Kewajiban Lancar Abacus pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami penurunan sebesar 38. tanah dan bangunan dan prasarana dinyatakan di neraca berdasarkan nilai revaluasi.6% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007.323 3.017 juta.295 44. Pertumbuhan Laba Bersih dari tahun 2007 ke tahun 2008 terutama disebabkan oleh kenaikan penghasilan lain-lain akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap USD sebesar Rp1.859 juta. Jumlah Aset dan Ekuitas pada tanggal 31 Desember 2009 turun jika dibandingkan dengan pada tanggal 31 Desember 2008 sedangkan jumlah kewajiban naik dan jumlah Aset dan Ekuitas pada tanggal 31 Desember 2008 naik jika dibandingkan dengan pada tanggal 31 Desember 2007.7%.4%).046 35.7%). Pertumbuhan Laba Usaha dari tahun 2007 ke tahun 2008 terutama disebabkan oleh kenaikan biaya gaji dan biaya pemeliharaan dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 hal ini disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari booking segment.004 55.608 33.123 juta.352 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar (152.6%.218 19.182 juta. Laba (Rugi) Bersih Abacus untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar (Rp703) juta dan Rp1.749 7.316 21.

308 tanggal 31 Juli 2008. 241 tanggal 31 Oktober 2007. S. PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (“GMF AeroAsia”) Pendirian dan Kegiatan Usaha GMF AeroAsia berkedudukan di Kotamadya Tangerang didirikan berdasarkan Akta Pendirian No. AHU-53074.H. S. Notaris di Jakarta. 0455/BH. 11677 (“Akta Pendirian GMF AeroAsia”). dibuat dihadapan Arry Supratno. dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. Perawatan dan penyediaan pesawat terbang secara terpadu. 93 tanggal 26 April 2002 yang dibuat di hadapan Arry Supratno. 273 tanggal 30 Mei 2008 yang dibuat di hadapan Arry Supratno. S. pelatihan dan penyediaan tenaga ahli di bidang perawatan pesawat.01. 61 tanggal 6 Nopember 2009. S. AHU-0073244. 51 tanggal 3 Pebruari 2010. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 3497.30. telah didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kabupaten/Kota Tangerang No.. Perawatan Komponen dan Kalibrasi.09. Perawatan mesin untuk pesawat dan industri. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kabupaten/Kota Tangerang di bawah No.H..Tahun 2008 tanggal 20 Agustus 2008. 11 tanggal 6 Pebruari 2009.c.AH.H. 78 tanggal 27 September 2002.H. Jasa pelayanan material.02. Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris : Hadinoto Soedigno Susunan Direksi GMF AeroAsia berdasarkan: (i) Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham No. keduanya yang dibuat di hadapan Arry Supratno. logistik. Jasa konsultan. yang telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. dimana perubahan yang terakhir sehubungan dengan penyesuaian dengan Undang-undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dimuat dalam Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham No. g. Pembuatan dan Perawatan sarana pendukung. h.. Tambahan No.. c. 0455/BH 3006/VIII/2002 pada tanggal 7 Oktober 2008. komponen dan mesin.06/VIII/2002 tanggal 2 Agustus 2002.AH.H. dan Usaha-usaha lain yang dapat menunjang tercapainya tujuan GMF AeroAsia dengan mengutamakan optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki. Tambahan No. f. 221 tanggal 23 Nopember 2007 dan (iii) Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham No.01. ketiganya dibuat di hadapan Arry Supratno. Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Direksi: Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Keuangan : Richard Budihadianto : Agus Sudaryo : Gatot Satriawan Direktur SDM dan Umum : Hanrozan Haznam 123 . dan (ii) Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham No. (ii) Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham No. b.2002 tanggal 28 Juni 2002.01. Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar GMF AeroAsia. kegiatan usaha GMF AeroAsia adalah sebagai berikut : a. didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No.HT. pergudangan dan konsinyasi.TH. Anggaran dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian GMF AeroAsia tersebut telah beberapa kali mengalami perubahan. S. C-11685. Manajemen dan Pengawasan Susunan Dewan Komisaris GMF AeroAsia berdasarkan: (i) Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. Engineering dan Services/Jasa engineering. d. e.01. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No.Tahun 2008 tanggal 20 Agustus 2008.. Notaris di Jakarta.

Jumlah Aset.498 1.963 866.555 168. dan Ekuitas GMF AeroAsia pada tanggal 31 Desember 2009.132 1.817 73.607 1.400 41 288.996 164. 99.056 201.407.016 juta. 2007 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.203 221. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No.790 287.786 53.500 166.000.917 613.562 1. 11485.00 100. 124 .467.200.453 961. 2008.364 1.01.400 193.247 48. Notaris di Jakarta.000.246 juta.Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan persediaan sebesar Rp162.664.617 99. sebagai berikut: (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 1. dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.667 2009 1.434.038.8% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007.544 67.TH.047 1.916 168.275 290.H.000.998 1.400 10.351 1.999 811.851 510. kas dan setara kas sebesar Rp48.800. B.315 Jumlah Aset dan Kewajiban pada tanggal 30 September 2010 turun dibandingkan dengan pada tanggal 30 September 2009.000 166.038.020 1.407.04.000 1.648 1.3006/VIII/2002 tanggal 15 Oktober 2003. Kewajiban.862 161.438 1.013 7. struktur permodalan dan susunan pemegang saham GMF AeroAsia adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp250. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kab/Kota Tangerang No. 2008 naik dibandingkan masing-masing dengan pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007.557 58.000.00 1.210 269.736.000 200.331. Peningkatan persediaan terutama berasal dari pelaksanaan perjanjian pertukaran persediaan dengan Aero Inventory (UK) Limited.118 1.261 1.667 799. Jumlah Aset Lancar GMF AeroAsia pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 34.897 166.038 359. S.000 658.970 191.658 40.337 679.656 665.598.413 166.000 % Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan PT Aero Wisata C.944 6.101.126 1.380 22.000.600 164.2003 tanggal 18 September 2003. 0455/BH.369 1.981 782.300 1. sedangkan Ekuitas GMF AeroAsia naik.400 23 279. C-22440 HT.929 446.381.620 418.937 465.400 251.391 90.238 166.478 74.545 187.619 88. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D..166.434.413 250. Tambahan No. serta laporan keuangan yang berakhir 30 September 2009 telah ditinjau.076 169.00 - Ikhtisar Laporan Keuangan Ikhtisar Laporan Keuangan GMF AeroAsia untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.917 817.851 Uraian NERACA Aset Lancar Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET Kewajiban Lancar Kewajiban Tidak Lancar Jumlah Kewajiban Modal saham Ekuitas lainnya Saldo laba Jumlah Ekuitas JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS LABA RUGI Pendapatan Usaha Pendapatan Beban Usaha Laba Usaha LABA BERSIH Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 30 September 2010 2009*) 1. Saham dalam Portepel A.331.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai (lembar) Nominal (Rp) 1.945 980.315 166.652.600 801. oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited).364 575.400.276.400. 25 tanggal 17 Agustus 2003 yang dibuat dihadapan Arry Supratno.066.057 454.200 366. 91 tanggal 14 Nopember 2003.637 juta dan piutang usaha sebesar Rp29.200.344.332 51.319.

4% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007.5% sedangkan Pendapatan Non Afiliasi turun sebesar 26.7% jika dibandingkan dengan tanggal 30 September 2009.544 juta. Pertumbuhan Laba Usaha dari tahun 2007 ke tahun 2008 disebabkan oleh peningkatan pendapatan usaha. Laba Usaha GMF AeroAsia untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing adalah sebesar Rp22.7% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar (28.056 juta.. Laba Bersih GMF AeroAsia untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing adalah sebesar Rp7.01. hal ini disebabkan oleh perolehan laba bersih tahun 2008 sebesar Rp67. d.2% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008. Peningkatan Pendapatan Usaha pada tahun 2008 disebabkan oleh kenaikan Pendapatan dari Afiliasi dan Non Afiliasi masing-masing sebesar 18. Rp74.2% jika dibandingkan dengan tanggal 30 September 2009. dimana perubahan yang terakhir sehubungan dengan perubahan seluruh ketentuan anggaran dasar ASYST dimuat dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat No.013 juta dan Rp58.3% dan kerugian kurs mata uang asing sebesar 154.261 juta. hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan aset tetap terkait pengeluaran modal atas suku cadang rotable sebesar Rp42.381.970 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke tahun 2010 sebesar (16.361 juta dan peningkatan kewajiban imbalan kerja terkait penyelesaian kewajiban imbalan kerja karyawan GMF AeroAsia yang berasal dari Perseroan sebesar Rp97. hal ini terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan usaha sebesar 16. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 39.2005 tanggal 29 Juli 2005. (“Akta Pendirian ASYST”) Anggaran dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian ASYST tersebut telah beberapa kali mengalami perubahan.300 juta terutama terkait pemindahan manfaat pajak imbalan kerja dari Perseroan. dan Rp1. yang juga menjadi penyebab utama jumlah Aset Tidak Lancar mengalami penurunan sebesar 55.276. 2008.7%. Rp1.545 juta dan Rp1.315 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 31.332 juta.210 juta. Laba Bersih GMF AeroAsia untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.652.413 juta. Notaris 125 . serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.7% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 3. hal ini disebabkan oleh penurunan pendapatan usaha. 2101/BH 09. Pertumbuhan Laba Usaha dari tahun 2007 ke tahun 2008 dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan pendapatan usaha. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 15.598. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp1.387 juta dan peningkatan hutang usaha dari afiliasi sebesar Rp71.5%).7%).4%. 36 tanggal 2 Oktober 2009 dibuat dihadapan Aulia Taufani.2% sedangkan peningkatan pada tahun 2009 disebabkan oleh Pendapatan dari Afiliasi naik sebesar 20. 8827.5% dan 11.980 juta.247 juta. Laba Usaha GMF AeroAsia untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.118 juta dan Rp40.279 juta dan peningkatan aset pajak tangguhan Rp29.06/VIII/2005 tanggal 8 Agustus 2005. Rp67. C-21017 HT. yang telah memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. 7 tanggal 9 Juni 2005 yang dibuat di hadapan Adrian Djuaini. Tambahan No. 66 tanggal 19 Agustus 2005.Persediaan dalam perjanjian pertukaran yang sebelumnya disajikan sebagai bagian aset tidak lancar dipindahkan ke aset lancar terkait pelaksanaan perjanjian. telah didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No. hal ini terutama disebabkan oleh timbulnya pinjaman jangka panjang yang berasal dari Bank Negara Indonesia sebesar Rp18. Pendapatan Usaha GMFAeroAsia untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing adalah sebesar Rp1.132 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke tahun 2010 sebesar (82. 2008. Saldo Laba GMF AeroAsia pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 30. 2008.5%).2% pada tanggal 31 Desember 2008 jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007. S. hal ini terutama disebabkan oleh timbulnya pinjaman jangka pendek dari Bank Negara Indonesia sebesar Rp138.5% serta peningkatan beban keuangan sebesar 524.562 juta.01. Pada tanggal 30 September 2010 jumlah Kewajiban Tidak Lancar mengalami peningkatan sebesar 80.066. Pendapatan Usaha GMF AeroAsia untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.3%).658 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke tahun 2010 sebesar (62. Jumlah Kewajiban Lancar GMF AeroAsia pada tanggal 31 Desember 2009 mengalami peningkatan sebesar 32. Notaris di Jakarta.6%).8% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar (1. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp73.TH.H.4%.833 juta. PT Aero Systems Indonesia (“ASYST”) Pendirian dan Kegiatan Usaha ASYST berkedudukan di Jakarta Pusat didirikan dengan nama “PT Lufthansa Systems Indonesia” berdasarkan Akta Pendirian No. Pada tanggal 30 September 2010 jumlah Aset Tidak Lancar mengalami peningkatan sebesar 86.562 juta dan pengurangan untuk pembagian dividen sebesar Rp8. dan Rp51.610 juta melalui offsetting dengan pembayaran hutang usaha GMF AeroAsia kepada Perseroan. dan Rp53. dan 2007 masingmasing adalah sebesar Rp48.

b. persediaan (inventory). didaftarkan dalam Daftar Perseroan No. S. e.Tahun 2009 tanggal 4 Mei 2009.. S.01. h. i. S. agen-agen. pemesanan (reservasi).Tahun 2009 tanggal 23 Oktober 2009. penyediaan jasa yang berkaitan dengan kegiatan operasional sistem teknologi informasi. l.09. S. jasa perbantuan (help desk) dan penyediaan perangkat keras untuk fasilitas pendaftaran (check-in) di bandara. pengelolaan. pembuatan sistem untuk penjualan.. kegiatan-kegiatan usaha lainnya dalam bidang jasa teknologi informasi yang berkaitan dengan industri-industri lainnya. j. agen umum penjualan dan agen penanganan (general sales agents and handling agents) sebagaimana dapat terjadi.02. Notaris di Jakarta.AH.01. perencanaan rute transportasi.AH. jasa yang berkaitan dengan penyediaan dan pemeliharaan data. penyediaan jasa teknologi informasi kepada perusahaan-perusahaan penerbangan. AHU-0022995. dan ekspor impor dan perdagangan peralatan informatika dan multimedia. Notaris di Jakarta dan (ii) Akta No. pelayanan pendaftaran (check in) di bandara. AHU-0071027.H. g. agen dan/atau perwakilan dari perusahaan lain baik dari dalam maupun luar negeri. 11 tanggal 8 Januari 2009 dibuat di hadapan Sutjipto.02.H. penyimpanan dan pemeliharaan pusat data (data center). yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. f.48/2009”) adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama Komisaris Komisaris : Eddy Porwanto : Hadinoto Soedigno : Alexander Maria Tae Maneklaran Susunan Direksi ASYST berdasarkan Akta No.09-05/III/2010 tanggal 15 Maret 2010. M. penyediaan perangkat keras berikut aplikasi/sistem/program piranti lunak yang dibuat.pengganti Sutjpto.H. Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar ASYST kegiatan usaha ASYST adalah sebagai berikut : a.. penyediaan jasa jaringan telekomunikasi.H.09. 48 tanggal 10 Juli 2009 yang dibuat di hadapan Aulia Taufani.. AHU-17977. pembuatan dan pengembangan aplikasi sistem dan program piranti lunak (software). k. dikembangkan atau disuplai oleh ASYST. struktur permodalan dan susunan pemegang saham ASYST adalah sebagai berikut: 126 . kalkulasi harga dan sistem manajemen pendapatan. jasa pengoperasian. S. 14 tanggal 20 Juni 2008 yang dibuat di hadapan Adrian Djuaini. penyediaan jasa pembuatan atau pengembangan aplikasi yang digunakan untuk penjadwalan.AH. Manajemen dan Pengawasan Susunan Dewan Komisaris ASYST berdasarkan: (i) Akta No. Notaris di Jakarta (“Akta No.Tahun 2009 tanggal 28 Oktober 2009 serta didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di kantor Pendaftaran Perusahaan dengan nomor agenda pendaftaran No.H.AH.14374/RUB. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.Tahun 2009 tanggal 4 Mei 2009. penyediaan sistem dan solusi untuk peningkatan sumber daya manusia yang berhubungan dengan teknologi informasi dan jasa konsultasi. ticketing. pengganti Sutjipto.01.Kn. melakukan usaha-usaha dalam bidang perdagangan.48/2009 adalah sebagai berikut: Direksi: Direktur Utama Direktur Direktur : Rian Alisjahbana : Firdaus Muchtar : Ridwan Irianto Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Pendirian ASYST dan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No.01.. c. AHU-51439. pendaftaran dalam Daftar Perseroan No. d. Notaris di Jakarta. bertindak sebagai distributor..

192 2009 171.705 37.500.472.380 22.799 20.001 65. sementara di tahun 2008 Perseroan melakukan investasi sebesar Rp10 miliar. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.911 75.704 12.354. Mawar & Saptoto (RSM). 2008.862 175. Jumlah Aset Lancar ASYST pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami peningkatan sebesar 40% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007.299 23.302 88.722 juta. Modal Dasar B.259 110.585.939.484 13.180 % 51.Pemegang Saham A.549 71.125 97.663 8.047 89.546 juta dan Rp75. Kewajiban.495 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 18.369.067 18. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 4% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar (5)%.168 4.074 108.025 21.641 78.413.864 187.074 82.235 5. hal ini disebabkan karena terjadi re-statement pada pos Piutang Usaha dan Hutang Usaha dari pihak hubungan istimewa.216 13.311 606 164. hal ini disebabkan karena Perseroan tidak melakukan investasi di perangkat lunak pada tahun 2009.722 92.806 Uraian NERACA Jumlah Aset Lancar Jumlah Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET Jumlah Kewajiban Lancar Jumlah Kewajiban Tidak Lancar Jumlah Kewajiban Jumlah Ekuitas JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS RUGI LABA Pendapatan Usaha Beban Usaha Laba Usaha LABA / (RUGI) BERSIH 30 September 2010 2009 162.00 100. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan PT Aero Wisata C.765 4.617. Saham dalam Portepel Nilai Nominal Rp9.973 77.987 64.257 15.381 1. dan Rp110.921 93. 127 . 2008 dan 2007 naik.840 176. sebagai berikut: (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 142.555 139.689 89.987 73. Amir Jusuf.103 101. Pendapatan Usaha ASYST untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.771 175.689 juta.023 22.691 73.460 13.00 49.549 juta dengan pertumbuhan sebesar (3%).604 176.973 114.118.255 192.276.921 juta.646. dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto.137.695 2.612 187.819 97.009 94. Jumlah Aset Tidak Lancar ASYST pada tanggal 31 Desember 2009 mengalami penurunan sebesar 41% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008.622 21. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp108.254.568 139.259 51.809 12.275 192. Jumlah Aset dan Kewajiban untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 dan 2010 turun sedangkan Ekuitas naik.883.690 14.699 15.584 Jumlah Aset.00 - Ikhtisar Laporan Keuangan Ikhtisar Laporan Keuangan ASYST untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 dan 2009 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited).369 34.550.911 85. Rp114.700 132.546 68.880 2. dimana pada tahun 2007 dilakukan pendekatan net off pada Piutang Usaha dan Hutang Usaha tersebut. Pendapatan Usaha untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp73.343 98. dan Ekuitas ASYST untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.878 88.671 176.424 10.675 44.

067 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 8% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar (31%). dan Rp18. Penurunan Pendapatan yang signifikan dikarenakan di tahun 2009 Perseroan tidak lagi memberikan layanan Infrastructure Operation and Support (IOS) yang sebelumnya bernilai Rp42. d. Rencana spin-off dikemudian hari akan dilakukan sesuai UU Pasar Modal.Laba Usaha ASYST untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. barang dan pos dalam negeri dan luar negeri. Dimana sementara ini Perseroan mengoperasikan Citilink sebagai unit bisnis. barang dan pos dalam negeri dan luar negeri. jasa layanan pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan industri penerbangan.699 juta. 2008 dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp15. Jawa Timur didirikan dengan nama “PT Citilink Indonesia” berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas No.01. AHU-14555. dan Rp21.806 dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar (20%) dan dari 2008 ke tahun 2009 sebesar (43%). Value Added Service dan Frequent Flyer.400 juta di tahun 2008. g. hal ini disebabkan karena terjadi penurunan pendapatan Perseroan dan kenaikan biaya operasional. angkutan udara niaga berjadwal untuk penumpang.381 juta dengan pertumbuhan sebesar 21%. Jasa penjualan paket wisata. Laba Bersih untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp606 juta dan Rp1. maksud dan tujuan Citilink adalah untuk melakukan usaha di bidang jasa angkutan udara niaga/komersial berbiaya murah (low cost carrier). hal ini disebabkan meningkatnya pendapatan lainlain terutama karena Perseroan mendapatkan klaim ganti rugi dari salah satu customer di tahun 2009. Strategi Perseroan secara bersamaan dalam mengembangkan baik brand premium Garuda Indonesia dan brand lowcost Citilink akan mengharuskan Perseroan untuk mengembangkan dua budaya perusahaan yang terpisah dengan kebutuhan operasional yang berbeda dengan fokus pelanggan yang berbeda. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. 128 . yang telah memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. 2008. jasa layanan sistem informasi yang berkaitan dengan industri penerbangan. Laba Usaha untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp5. e. Sehingga sampai saat ini Citilink masih berupa unit bisnis karena masih belum terpenuhinya persyaratan kepemilikan armada pesawat minimum untuk mendapatkan Sertifikat Operator Pesawat. Citilink dapat melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai berikut: a. baik untuk keperluan sendiri maupun pihak ketiga. penurunan Laba Bersih di tahun 2008 disebabkan adanya Beban Penyesuaian Tarif untuk layanan Infrastructure Operation and Support (IOS) sebesar Rp17 miliar sedangkan penurunan Laba Bersih di tahun 2009 disebabkan oleh penurunan laba usaha sebesar 31%. c.192 juta dengan pertumbuhan sebesar (49%). f. dan telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan No.09. Rp22. jasa layanan konsultasi yang berkaitan dengan industri penerbangan.H. b. dan 2007 masingmasing adalah sebesar Rp8. Notaris di Jakarta. 01 tanggal 6 Januari 2009 yang dibuat di hadapan Arikanti Natakusumah.01. S. PT Citilink Indonesia (“Citilink”) Pendirian dan Kegiatan Usaha Citilink berkedudukan di Sidoarjo. e.AHU-0018562.. angkutan udara niaga tidak berjadwal untuk penumpang.663 juta. h.311 juta dan Rp4.AH. dan kegiatan usaha lainnya dengan melakukan optimalisasi pemanfaatan sumber daya Citilink. jasa penunjang operasional angkutan udara niaga. namun demikian terjadi peningkatan pendapatan untuk layanan lainnya terutama di pelayanan penumpang. Laba Bersih ASYST untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.Tahun 2009 tanggal 22 April 2009.01. serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki Citilink untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Citilink dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.AH.Tahun 2009 tanggal 22 April 2009 (“Akta Pendirian Citilink”) Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar Citilink. Perseroan berniat untuk melakukan spin-off unit usaha tersebut menjadi anak perusahaan dari Perseroan. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. Rp15.103 juta. Perseroan berencana melakukan spin-off atau pengalihan bisnis Citilink yang saat ini dilaksanakan melalui Strategic Business Unit Citilink kepada Citilink pada kurun waktu akhir 2011 dan pertengahan 2012.584 juta.

250 24.494 31 Desember 2009 79.000.000.Manajemen dan Pengawasan Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Citilink berdasarkan Akta Pendirian Citilink. adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama Komisaris Direksi: Direktur Utama Direktur : Joseph Adrian Saul : Taviana Dewi Kushermawati : Elisa Lumbantoruan : Alexander Maria Tae Maneklaran Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Pendirian Citilink.000 75. Saham dalam Portepel 67.000.251 79.494 82.000 300.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 300.000 225. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.00 - Ikhtisar Laporan Keuangan Posisi Neraca adalah sebagai berikut: (dalam jutaan Rupiah) Uraian NERACA JUMLAH ASET Modal Saham Saldo Laba JUMLAH EKUITAS LABA RUGI Pendapatan Usaha Penghasilan Bunga LABA / (RUGI) BERSIH 30 September 2010 82.000. B.250.000 % A.000.00 33.243 4.000 7.000.494 75.251 3.000.251 4. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Citilink adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.243 3.000 4.000.251 129 .00 100.000 50.000 50.000 24.750.000 225.251 75.000.750 75. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan PT Aero Wisata C.

Pengawas Perseroan dan Anak Perusahaan Struktur Kepemilikan Perseroan Struktur kepemilikan saham Perseroan pada pada Anak Perusahaan.8. termasuk penyertaan secara tidak langsung saat ini adalah sebagai berikut: 9. Hubungan Kepemilikan. Hubungan Pengurusan dan Pengawasan Perseroan dan Anak Perusahaan Perseroan KU KI K K K DU D D D DTA D Aerowisata KU K DU DKPU Abacus K KU K D GMF AeroAsia K DU WDU DK ASYST K K Citilink KU K - Nama Hadiyanto Abdulgani Adi Rahman Adiwoso Sahala Lumban Gaol Wendy Aritenang Yazid Emirsyah Satar Achirina Agus Priyanto Ari Sapari Elisa Lumbantoruan Hadinoto Soedigno Abdul Anshari Ritonga Alexander Maria Tae Maneklaran Doddy Virgianto Tan Kien Hui Widjaya Hadinukarto Richard Budihadianto Agus Sudaryo Gatot Satriawan 130 . Pengurus.

Mataram. WDU: Wakil Dirut. Anak Perusahaan Perjanjian kerjasama terkait dengan aplikasi teknologi informasi untuk kegiatan operasional Perseroan Anak Perusahaan Lufthansa Systems Group memberikan layanan jasa tertentu kepada ASYST agar ASYST dapat memberikan layanan jasa informasi teknologi kepada Perseroan dan pelanggan pihak ketiga. *) 1 tahun sejak tanggal 1 Oktober 2010. Ujung Pandang. 2.15 Agustus 2017 sebagai berikut: aerial platform. 7 April 2009 . Jeddah. Manado. Batam. Cengkareng. dinding. Anak Perusahaan Perjanjian kerja sama penyediaan dan pengelolaan kantor cabang dan kantor penjualan Perseroan. ASYST ASYST 13. Balikpapan. Makassar. Padang. Balikpapan. GMF Pihak Sifat Hubungan Istimewa Deskripsi Transaksi Jangka Waktu Anak Perusahaan Perseroan menunjuk GMF untuk melaksanakan *) 1 Januari 2010 . DSU: Direktur SDM dan Umum. GMF PT Gapura Angkasa** 8. air conditioning unit truck. Banjarmasin. Anak Perusahaan Perseroan menyediakan jasa angkutan udara berjadwal bagi penumpang GMF pada rute penerbangan dalam dan luar negeri oleh Perseroan. GMF Anak Perusahaan Perseroan menyerahkan penggunaan tanah dan bangunan *) Berlaku sejak tanggal 1 Agustus 2002 di area GMF. Bandar Udara Soekarno-Hatta. DU: Direktur Utama. K: Komisaris. pengerjaan pemasangan ULD (Unit Load Device) Pallet dan Container (perlengkapan ULD tertutup terdiri dari disar. Semarang. KI: Komisaris Independen. lavatory service truck.31 Desember 2010 (dalam proses perpanjangan) Perjanjian berlaku untuk jangka waktu 5 tahun sejak 3 Agustus 2009. Citilink 131 . order picker lift. hand pallet lift. Surabaya. PT Gapura Angkasa** Aerowisata Aerowisata Anak Perusahaan Perjanjian penggunaan executive lounge. water service truck. Makassar. 1. Bangka Belitung. cabin cleaning truck. aircraft towing tractor. Anak Perusahaan Perjanjian pinjaman dari Perseroan kepada Citilink 8 April 2009 . Palembang. self propelled scissors lift. Banda Aceh. Surabaya. Biak. ground power unit. GMF GMF Anak Perusahaan Preventive Maintenance Inspection terhadap peralatan 1 Agustus 2002 . 3. GMF 5. 1 Januari 2008 . Anak Perusahaan Perseroan menunjuk GMF untuk melakukan perawatan atas pesawat yang dioperasikan oleh Perseroan. 7. 7 Januari 2008-6 Desember 2011 *) Jangka waktu perjanjian Ground Handling pada umumnya dimulai sejak tanggal perjanjian sampai dengan jangka waktu yang tidak ditentukan dalam perjanjian 6. Banda Aceh. Palembang.1 Juni 2018. Medan. 11. DTA: Direktur Tidak Terafiliasi. Pangkal Pinang. forklift.31 Desember 2010. Pekanbaru. Anak Perusahaan Perjanjian pengangkutan kargo Perusahaan Afiliasi Ground Handling untuk lokasi Cengkareng. air starter unit. dan Madinah. air starter unit (portable). Padang. 9. Pontianak. Bandung. DKPU: Direktur Keuangan dan Pengembang Usaha. Denpasar. Transaksi Dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa Perseroan melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa berdasarkan UU PM.31 Desember 2010 (dalam proses perpanjangan untuk jangka waktu 1 tahun sejak 31 Desember 2010) *) Perjanjian berlaku 5 tahun sejak tahun 2010 *) Jangka waktu perjanjian berkisar selama 10 tahun sejak tanggal 21 Juni 2005. D: Direktur. 10. Anak Perusahaan Perjanjian sehubungan dengan promosi dan program Garuda Frequent Flyers/Selling Mileage. Jayapura. overhaul Maintenance. 10. Cengkareng. Medan. (dalam proses perpanjangan) 4. Yogyakarta. DK: Direktur Keuangan. Transaksitransaksi tersebut adalah sebagai berikut: No. 5 Maret 2003 .31 Desember 2011. Solo.Nama Hanrozan Haznam Eddy Porwanto Rian Alisjahbana Firdaus Muchtar Ridwan Irianto Joseph Adrian Saul Taviana Dewi Kushermawati Catatan: Perseroan - Aerowisata - Abacus - GMF AeroAsia DSU - ASYST KU DU D D - Citilink DU D KU: Komisaris Utama. Dan Ground Handling terkait penerbangan haji di lokasi Solo. Ujung Pandang. Banjarmasin. sampai dengan adanya pemberitahuan secara tertulis 3 bulan sebelumnya mengenai berakhirnya perjanjian. 12. Batam. dan pintu). maintenance working truck.

SPI Anak Perusahaan Perseroan melakukan kerjasama dengan SPI untuk 1 Agustus 2010-31 Juli 2012 Tidak Langsung akomodasi bagi awak pesawatnya untuk rute penerbangan Lombok. Jangka waktu perjanjian berkisar sejak 15 Agustus 2010-15 Agustus 2015 20 Juli 2010-20 Juli 2012 26. Anak Perusahaan Perjanjian sewa kendaraan untuk kegiatan operasional Tidak Langsung Perseroan Anak Perusahaan Perjanjian sewa kendaraan operasional untuk Citilink Tidak Langsung Anak Perusahaan Perjanjian sehubungan dengan jasa boga untuk Tidak Langsung penerbangan haji Anak Perusahaan Perseroan menunjuk ACS untuk melakukan Tidak Langsung penyelenggaraan dan pengelolaan in-flight services. PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara PT Angkasa Pura I (Persero) PT Angkasa Pura I (Persero) PT Angkasa Pura II (Persero) PT Angkasa Pura II (Persero) PT Angkasa Pura II (Persero) Pusat Koperasi Markas Besar Angkatan Laut (PUSKOPAL) BUMN 34. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Anak Perusahaan Transportasi terkait penerbangan haji untuk air crew dan Tidak Langsung petugas darat haji. 18. Jangka waktu perjanjian berkisar 3-4 tahun terhitung sejak dimulainya perjanjian. AJP 21. 31. Perseroan membuat perjanjian sewa menyewa tanah. AJP AC BPWS Garuda Orient Holiday Korea. 38. MEW ACS ACS 19. ruangan dan bangunan untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya Perseroan menyewa ruangan dari PT Angkasa Pura II (Persero) untuk ruangan executive lounge. Anak Perusahaan Perseroan menunjuk AJP untuk melaksanakan Tidak Langsung Pengelolaan Kantor Penjualan Perseroan (Garuda Sales Outlet) yang berlokasi di Bogor. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. 17. Perseroan dan PUSKOPAL melakukan kerjasama berupa sarana pelayanan penjualan tiket penerbangan domestik maupun internasional untuk rute-rute yang diterbangi oleh Perseroan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. 22. 36. *) 3 tahun sejak tanggal 30 Desember peningkatan kerjasama melalui layanan pembayaran yang 2009 dan dapat diperpanjang sesuai dimiliki PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Selama masa musim haji 2010 Berlaku selama 5 tahun terhitung sejak tanggal 1 Nopember 2009. BUMN BUMN 33. MEW 16. 20. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. 1 Mei 2003-31 Desember 2010 (dalam proses perpanjangan) 1 Juli 2009-30 Juni 2011 Anak Perusahaan Kerjasama sehubungan dengan Garuda Frequent Flyer Tidak Langsung Mileage BUMN Pengadaan bahan bakar pesawat untuk penerbangan internasional dan domestik. 39. 32.periode musim haji tahun 2010. 23. 15. MEW Pihak Sifat Hubungan Istimewa Deskripsi Transaksi Jangka Waktu Jangka waktu perjanjian berkisar selama periode musim haji tahun 2007 . Perjanjian penjaminan emisi efek 25. 22 April 2010-31 Januari 2011 *) 2 tahun terhitung sejak tanggal penandatanganan dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan para pihak 3 tahun sejak tanggal 9 April 2008. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Nota Kesepahaman untuk meningkatkan pelayanan di lingkungan Bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II. 14. 29. Kerjasama dalam bentuk Joint Promotion Perseroan melakukan kerjasama untuk melaksanakan pembayaran tiket penerbangan Perseroan melalui fasilitas yang dimiliki PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Ltd. Bank Mandiri menjalin kerjasama kemitraan dengan Perseroan dalam rangka pelaksanaan program power points. Anak Perusahaan Perjanjian kerjasama paket Garuda Indonesia Holidays Tidak Langsung Anak Perusahaan Perjanjian keagenan penjualan kargo dalam negeri Tidak Langsung Cucu Perseroan Perjanjian jasa sewa-menyewa di gedung Perseroan cabang Balikpapan 19 Desember 2007-31 Agustus 2011. Co.No. 35. 37. BUMN BUMN BUMN 1 Maret 2010 . Kerjasama berkenaan dengan Garuda Frequent Flyer Mileage Kerjasama berupa pemotongan harga tiket pesawat terbang bagi pemegang kartu kredit Bank Mandiri. dengan kesepakatan para pihak. BUMN BUMN BUMN BUMN 1 Juli 2010-30 Juni 2013 14 April 2010-15 Desember 2011 Selama proses penawaran umum perdana Perseroan Kerjasama di bidang pengelolaan penerimaan dana haji. BUMN BUMN BUMN 132 . PT Pertamina N/A 15 Mei 2009-30 April 2011. 5 tahun sejak Berita Acara Operasi ditandatangani para pihak (tahun 2006) *) 1 tahun sejak tanggal 9 Nopember 2010 1 Februari 2010-31 Januari 2011. 24. 10 Nopember 2009-9 Nopember 2012. BUMN 27. 28.29 Februari 2012 *)1 tahun sejak tanggal 18 Nopember 2010 Jangka waktu perjanjian berkisar sejak tanggal 1 Januari 1992 – 31 Desember 2012. Perseroan melakukan kerjasama untuk melaksanakan pembayaran tiket penerbangan Perseroan melalui fasilitas yang dimiliki PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Perseroan membuat perjanjian sewa-menyewa ruangan untuk kegiatan operasional Perseroan. 30. Nota Kesepahaman untuk meningkatkan pelayanan di lingkungan Bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I.

54. atau b. 133 . Amendment No 2 to A330 Purchase Agreement pada bulan Juli 2009 dengan Airbus S. Catatan: *) Masa berlaku perjanjian dapat diperpanjang pada saat berakhir dengan cara. c. Perum Damri Badan Koordinasi Penanaman Modal BUMN 42. antara lain: a. Perjanjian Pembelian Pesawat Udara a. PT Bank Negara Indonesia Tbk. 24 Agustus 2010 sampai dengan diselesaikannya seluruh kewajiban oleh para pihak. Otomatis diperpanjang kecuali diakhiri. Perseroan melakukan kerjasama untuk melaksanakan pembayaran tiket penerbangan Perseroan melalui fasilitas yang dimiliki PT Bank Negara Indonesia Tbk. 9 tertanggal 3 September 2010) untuk pembelian sepuluh (10) unit B777-300.5% saham ditempatkan dan disetor PT Gapura Angkasa 11. Perjanjian-Perjanjian Penting Perseroan Sampai dengan tanggal Propektus ini diterbitkan. PT Bank Negara Indonesia Tbk. PT Bank Bukopin Tbk. Disesuaikan dengan kegiatan operasional kepresidenan *) 21 Januari 2010-20 Januari 2013 48. 43. 46. 8 tertanggal 18 Januari 2010) untuk pembelian 25 (dua puluh lima) unit B737-800. dan diperpanjang otomatis untuk jangka waktu 2 tahun berikutnya. Kementrian Agama Republik Indonesia Institusi Pemerintah 49. BUMN BUMN 44. Transportasi peserta sehubungan dengan penerbangan haji Jangka waktu perjanjian berkisar sejak tanggal 20 Juni 2005--31 Mei 2012. Perjanjian kerjasama pembayaran tiket melalui fasilitas PT 6 Agustus 2007 – 5 Agustus 2011 Bank Rakyat Indonesia Kerjasama terkait dengan transaksi pembelian tiket Citilink *) 2 tahun sejak tanggal 22 Juli 2008 secara On line melalui Internet Payment Gateway dan diperpanjang otomatis untuk jangka waktu 2 tahun berikutnya. 41. Perjanjian kerjasama pembayaran tiket melalui fasilitas PT *) 2 tahun sampai dengan 4 Mei 2010 Bank Bukopin Tbk. 1938 tertanggal 4 Juni 1996 dengan The Boeing Company (sebagaimana diubah dari waktu ke waktu terakhir dengan Supplemental Agreement No. Institusi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Pemerintah Udara 51. 40. Ltd. 12 Oktober 2009-31 Januari 2012. 47. Perseroan berencana melakukan penjualan 2 (dua) pesawat Boeing seri 737-400 dengan nomor mesin (MSN) 25714 dan 25719 kepada TNI AU Nota Kesepahaman berlaku sejak tanggal penandatanganan yakni 8 Nopember 2010 dan berakhir sampai dengan ditandatanganinya perjanjian mengenai rincian ruang lingkup. Aircraft Purchase Agreement (PA) No.400 saham yang mewakili 37. untuk pembelian enam (6) unit Airbus 330-200 b.. 2158 tertanggal 19 Juni 1996 dengan The Boeing Company (sebagaimana diubah dari waktu ke waktu terakhir dengan Supplemental Agreement No. BUMN 45.S. PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Negara Indonesia Tbk. Kementrian Agama Republik Indonesia menunjuk Perjanjian berlaku sejak Perseroan untuk melaksanakan pengangkutan jemaah haji ditandatanganinya perjanjian ini yakni dan petugas haji 1431 H. Dapat diperpanjang dengan persetujuan para pihak.A. 52. **) Perseroan memiliki 806. Berakhir pada akhir periode musim haji tahun 2010. Pihak PT Indosat Tbk Sifat Hubungan Istimewa BUMN Deskripsi Transaksi Jangka Waktu Kerjasama antara para pihak berkenaan dengan selling Perjanjian ini berlaku selama 2 tahun mileage pada program GFF untuk kepentingan pelanggan terhitung sejak tanggal 1 Februari 2010 Indosat yang juga merupakan anggota GFF dengan bentuk sampai dengan1 Februari 2011 penukaran Poin Plus Plus Indosat dengan sejumlah GFF Mileage. Abacus Distribution System Pte. Ltd. Aircraft Purchase Agreement (PA) No.No. Perseroan membuat perjanjian penting yang bersifat material dengan pihak ketiga sebagai berikut: 1. Rumah Tangga Kepresidenan Direktorat Jenderal Imigrasi dan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Institusi Pemerintah Institusi Pemerintah Perjanjian charter pesawat untuk kegiatan kenegaraan Perjanjian kerjasama pemeriksaaan keimigrasian dalam penerbangan 53. *) Perjanjian ini berlaku sejak 1 Mei 1999 sampai dengan diakhiri oleh para pihak *) Berlaku sampai dengan diakhiri oleh para pihak sejak tanggal 6 Oktober 1997. BUMN BUMN Institusi Pemerintah Perseroan melaksanakan kerjasama dengan Badan 27 Januari 2010-27 Januari 2012 Koordinasi Penanaman Modal meliputi promosi produk dan layanan dari masing-masing pihak dan pemberian fasilitas khusus seperti harga khusus untuk korporasi. Perjanjian sehubungan dengan promosi dan program Garuda Frequent Flyers/Selling Mileage. Abacus International Afiliasi Anak Perusahaan Pte. Afiliasi Anak Perusahaan Perseroan Perseroan bekerjasama dengan Abacus terkait dengan pemesanan tiket secara elektronik dengan menggunakan sistem Abacus. Perseroan menggunakan sistem reservasi Abacus untuk layanan reservasi internasional.

insolven atau pailit atau menunda kewajiban pembayaran hutang. tahun 2010 (10 unit). selaku pihak yang menyewakan pesawat dan para perusahaan penyewaan pesawat tersebut menyewakan pesawat udara tersebut kepada Perseroan. Namun perjanjian dapat diputuskan setiap waktu dengan pemberitahuan tertulis sehubungan dengan pesawat yang belum diserahkan jika salah satu pihak berhenti menjalankan usahanya. Perseroan telah mengadakan 64 perjanjian sewa operasional dengan perusahaan pebiayaan pesawat udara untuk 64 pesawat udara dimana dalam perjanjian-perjanjian tersebut diatur bahwa Perseroan selaku penyewa. tahun 2016 (2 unit) tahun 2013 (3 unit). Selain itu. Sementara berdasarkan Amandemen No. Berdasarkan perjanjian.PA 1938 Airbus Tipe Pesawat B-737-800 B-777-300 A330-200 Jumlah (unit) 25 10 6 Penyerahan Tahun 2009 (5 unit). Perseroan sepakat untuk membeli sejumlah pesawat dari Boeing dan Airbus dengan spesifikasi tertentu sebagaimana disepakati para pihak. 2 Perseroan memiliki hak opsi untuk membeli tambahan 4 pesawat Airbus A330-200. dan (vi) Kuartal 4 tahun 2014. tahun 2011 (1 unit). Berikut adalah produsen pesawat dengan siapa Perseroan mengadakan perjanjian pembelian pesawat.Perseroan telah menandatangani perjanjian-perjanjian pembelian pesawat udara dengan Boeing dan Airbus sebagaimana diubah dari waktu ke waktu. tahun 2015 (2 unit). dan (iii) pihak pembiaya kemudian menandatangani perjanjian sewa pesawat dengan Perseroan. Sebelum waktu penyerahan masing-masing pesawat tersebut. 2. Perseroan mengadakan perjanjian pengalihan dengan pihak-pihak pembiayaan. tahun 2012 (5 unit). Perjanjian Sewa Pesawat Udara Per 30 September 2010. tahun 2016 (1 unit) masing-masing 1 pesawat pada: (i) Kuartal 4 tahun 2012. (ii) Kuartal 2 tahun 2013. Berdasarkan Daftar Garuda Fleet per tanggal 21 September 2010. Perseroan telah menandatangani 64*** Perjanjian Sewa Pesawat Udara atas pesawat udara yang masih dioperasikan sebagai berikut: 134 . (iv) Kuartal 2 tahun 2014. tahun 2014 (3 unit). Berdasarkan perjanjian pengalihan tersebut: (i) Perseroan mengalihkan hak dan kewajibannya berdasarkan perjanjian pembelian masing-masing pesawat tersebut kepada pihak pembiayaan. (v) Kuartal 3 tahun 2014. Perseroan memiliki hak opsi untuk membeli tambahan pesawat masing-masing 10 unit B-777-2U3LR atau 777-3U3ER dan 25 unit B-737 8U3. menunda kegiatan usahanya. (iii) Kuartal 4 tahun 2013. Berdasarkan perjanjian Perseroan mengalihkan haknya atas perjanjian kepada pihak lain sebelum penyerahan pesawat. Pihak tersebut akan menjadi pemilik pesawat dan kemudian akan mengatur pembiayaan sehingga Perseroan dapat menyewa dengan cara leasing pesawat tersebut untuk operasi penerbangannya. sesuai dengan ketentuan perjanjian pembelian pesawat. tipe dan jumlah pesawat berikut jadwal penyerahannya: Produsen Boeing – PA 2158 Boeing. Dalam hal pengakhiran perjanjian. Jangka waktu perjanjian adalah sejak mulai ditandatangani hingga penyerahan pesawat yang jadwalnya disepakati Perseroan dan produsen dalam perjanjian atau perubahannya. Masa jaminan sifatnya terbatas jangka waktunya maupun ruang lingkupnya. dimana produsen pesawat akan mengembalikan cicilan harga pesawat yang telah dibayarkan oleh Perseroan. berdasarkan PA 1938 dan PA 2158. Harga pembelian pesawat akan ditentukan pada saat penyerahan masing-masing pesawat. produsen akan mengembalikan kepada Perseroan seluruh pembayaran dimuka yang telah diterima untuk pesawat yang belum diserahkan tersebut. yang merupakan penjumlahan dari harga dasar pesawat dan penyesuaian-penyesuaian yang diperhitungkan berdasarkan formula yang ditentukan dalam perjanjian atau yang disepakati oleh para pihak. (ii) pihak pembiayaan akan melunasi harga beli pesawat dari produsen dan menerima penyerahan pesawat dari produsen. tahun 2015 (3 unit). menyewa dari perusahaan pebiayaan pesawat. Boeing dan Airbus sebagai produsen memberikan jaminan atas pesawat yang diproduksi oleh produsen (tidak termasuk alat yang dipesan Perseroan) dari cacat atau ketidaksesuaian dengan spesifikasi pesawat sebagaimana dirinci dalam perjanjian. yaitu penggantian bagian yang cacat atau tidak sesuai atau perbaikan tanpa biaya tambahan.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 Tipe Pesawat B747-400 A330-200 A330-200 A330-200 A330-200 A330-300 A330-300 A330-300 A330-300 A330-300 A330-300 B737-300 B737-300 B737-300 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 Registrasi dan No.No. NA SARL MASA FRANCE SARL MASB FRANCE ILFC ILFC GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL SARL MASC FRANCE CIT Group Location (France) SAS CIT Group Location (France) SAS CIT Group Location (France) SAS CIT Group Location (France) SAS CIT Group Location (France) SAS GECAS (France) SARL MSN 30151 Leasing France SARL ALS France SARL MSN 30155 Leasing France SARL MSN 30156 Leasing France SARL MSN 30157 Leasing France SARL MSN 30140 Leasing France SARL MSN 30141 Leasing France SARL BBAM Aircraft Holding 121 SARL BBAM Aircraft Holding 122 SARL MSN 30142 Leasing France SARL Masa berakhirnya sewa 20-Mei-12 23-Jun-16 28-Jun-16 20-Jul-16 29-Okt-16 31-Des-16 31-Des-16 31-Des-16 31-Des-16 31-Des-16 31-Des-16 19-Mar-11 01-Apr-14 23-Jun-14 19-Mei-11 26-Apr-11 20-Jan-11** 10 Pebruari 2011 12-Mar-11 12-Apr-11 01-Mei-11 29-Mei-11 01-Jul-11 23-Mei-12 28 Pebruari 2014 15-Apr-14 01-Sep-16 09-Jul-16 11-Mar-16 04-Mei-16 18 Pebruari 2016 21-Jan-17 22-Mar-17 26-Apr-17 18 Mei 2017 8 Pebruari 2017 07-Jul-16 28-Jun-21 10-Agust-15 02-Nop-21 29-Nop-21 16-Des-21 22-Des-21 4 Pebruari 2022 9 Pebruari 2020 15 Pebruari 2020 21-Mar-22 135 . Seri Manufaktur PK-GSI MSN 24956 PK-GPJ MSN 988 PK-GPH MSN 1020 PK-GPK MSN 1028 PK-GPI MSN 1052 PK-GPA MSN 138 PK-GPC MSN 140 PK-GPD MSN 144 PK-GPE MSN 148 PK-GPF MSN 153 PK-GPG MSN 165 PK-GGV MSN 26293 PK-GHX MSN 26440 PK-GHW MSN 25039 PK-GWT MSN 26316 PK-GWU MSN 24708 PK-GZI MSN 29204 PK-GZJ MSN 29205 PK-GZK MSN 29206 PK-GZL MSN 29207 PK-GZM MSN 29208 PK-GZN MSN 29209 PK-GZO MSN 29210 PK-GZP MSN 28661 PK-GEE MSN 32361 PK-GEF MSN 32363 PK-GEG MSN 30033 PK-GEH MSN 30643 PK-GEI MSN 29883 PK-GEJ MSN 33003 PK-GEK MSN 30568 PK-GEL MSN 29927 PK-GEM MSN 29928 PK-GEN MSN 29929 PK-GEO MSN 29930 PK-GEP MSN 29931 PK-GEQ MSN 32659 PK-GMA MSN 30151 PK-GER MSN 30876 PK-GMC MSN 30155 PK-GMD MSN 30156 PK-GME MSN 30157 PK-GMF MSN 30140 PK-GMG MSN 30141 PK-GMK MSN 29666 PK-GML MSN 31763 PK-GMH MSN 30142 Pihak yang menyewakan Pesawat International Lease Finance Corporation (ILFC) ILFC Nice Location SARL ILFC Biarritz Location SARL GIE Sumatra GIE Sulawesi GIE Sumatra GIE Sumatra GIE Sulawesi GIE Sulawesi Banque AIG AerCo France SARL ALS France SARL ILFC Castle 2003-1A Genesis Funding France 1 SARL GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL Wells Fargo Bank Northwest.

Mataram. Ambon. Banda Aceh. Palu dan Ampenan. Perjanjian ini berlangsung untuk jangka waktu 5 tahun dimana Perseroan sepakat untuk membayar beban perawatan kepada CAE sesuai dengan kesepakatan para pihak. Perjanjian ini saat ini sedang menjadi objek sengketa sebagaimana diuraikan dalam bagian litigasi pada Bab VII.No. PT Pratitha Titian Nusantara. 4. Perseroan membuat perjanjian dengan 11 Ground Handling Company di Indonesia seperti PT Gapura Angkasa. Pekanbaru. Surabaya. Malang. PT Lahand Air Service. Perseroan telah menambah sewa pesawat udara sejumlah 7 unit. PT Batam Airmars Services. Pangkal Pinang. Makassar. SARL Pembroke Lease france SAS Wells Fargo Bank Notrhwest NA Trustee International Lease Finance Corporation ACG Acquisition XX LLC Masa berakhirnya sewa 18-Apr-22 25-Apr-22 27-Mei-22 14-Jun-22 08-Jul-20 13-Jul-22 15-Jul-18 26-Jul-22 10-Agust-20 16-Agust-20 19-Agust-22 07-Sep-20 16-Sep-13 20-Sep-20 30 Agustus 2013* 20 Juli 2012* 31 Agustus 2013* Catatan: *) Pesawat disewa dan dioperasikan Perseroan dengan menggunakan brand low cost Citilink. Perjanjian ini berlaku selama 10 tahun sejak tanggal Certificate of Acceptance dari DSKU Departemen Perhubungan Republik Indonesia. Palembang. Dalam perjanjian sewa ini. Palangkaraya. 3. Perjanjian Ground Handling Dalam rangka pengadaan jasa pelayanan teknis penanganan pesawat udara di darat (“Ground Handling”). Semarang. Yogyakarta. Biaya sewa atas ruangan yang disewakan Perseroan akan dibayarkan secara bulanan oleh PT World Simulator Technology. Timika. Untuk 34 rute domestik antara lain Cengkareng. Kupang. Padang. ***) Sejak 22 September hingga 25 Januari 2011. Perjanjian Sehubungan dengan Simulator Perseroan telah menandatangani dua perjanjian dengan pihak ketiga terkait dengan simulator yang terdapat di lokasi SBU Garuda Aviation Training & Education (GATE). Batam. Perseroan telah menandatangani perjanjian perawatan simulator dengan CAE Australia PTY LTD. **) Sewa pesawat ini telah diakhiri pada Nopember 2010 dan pesawat telah dikembalikan kepada lessor. 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Tipe Pesawat B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-300 B737-300 B737-400 Registrasi dan No. Tanjung Karang. Medan. Biak. Dalam perjanjian ini. Denpasar. Banjarmasin. Kendari. PT Globalsky Aviasi. Solo. Ternate. Balikpapan. Manado. Perseroan telah membuat perjanjian-perjanjian sehubungan dengan jasa Ground Handling dengan beberapa perusahaan penyedia jasa Ground Handling (“Ground Handling Company”). PT Langgang Buana Perkasa. Tarakan. untuk 26 rute internasional 136 . Perseroan juga telah menandatangani perjanjian sewa ruangan untuk penempatan simulator B737200 dengan PT World Simulator Technology. Seri Manufaktur PK-GMI MSN 30143 PK-GMJ MSN 30144 PK-GMM MSN 30145 PK-GMN MSN 30146 PK-GMO MSN 30147 PK-GFA MSN 36549 PK-GFD MSN 40807 PK-GFC MSN 39390 PK-GMP MSN 30148 PK-GFF MSN 36436 PK-GFE MSN 36804 PK-GFH MSN 36850 PK-GFG MSN 37819 PK-GMQ MSN 30149 PK-GCA MSN 24569 PK-GCC MSN 28200 PK-GZQ MSN 25134 Pihak yang menyewakan Pesawat MSN 30143 Leasing France SARL MITSUBISHI France SAS MITSUBISHI France SAS MITSUBISHI France SAS Pembroke Lease France SAS GECAS (France) SARL RBS Paris Leasing 1 SARL GECAS (France) SARL Pembroke Lease france SAS Bank of Utah GECAS (France) SARL Bank of Utah Centenntial Aviation (France) 1. Selain itu. Perseroan sepakat untuk menyediakan tempat untuk PT World Simulator Technology menempatkan simulator miliknya di lokasi GATE untuk kemudian disewakan. Pontianak. Perjanjian perawatan simulator ini meliputi perawatan terhadap simulator B737-400 dan B737-300. PT Citra Dunia Angkasa. Pada umumnya perjanjian sewa pesawat udara memungkinkan perpanjangan dengan persyaratan yang disepakati oleh para pihak. PT Freeport Indonesia. CAE bertanggung jawab untuk menyediakan Filed Service Representative (“FSR”) untuk mengawasi perawatan yang dilakukan CAE. dan PT Avia Citra Dirgantara. Jayapura. Jambi. PT Mulio Citra Angkasa. PT Pelita Air Service. Selain itu.

Kargo dan Kantor Pos. Singapura Belanda. Deicing/Anti Icing Service. (ii) PT Pertamina (Persero) untuk penerbangan internasional sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. Uni Emirat Arab. (iii) Shell Malaysia Trading SDN BHD sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011.. Passenger and Baggage Screening and Reconciliation). Material handling. Cathay Pacific Airways. Co. Perseroan juga membuat perjanjian dengan 20 Ground Handling Company di negara-negara lain seperti Japan Airlines International Company. Cooling and Heating. (iv) Hyundai Corporation sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011.. Penumpang dan Bagasi. Perjanjian pengadaan bahan bakar dengan perusahaan pemasok bahan bakar pada umumnya berlaku selama 2 (dua) tahun. Periode pengadaan perjanjian bahan bakar adalah (i) PT Pertamina (Persero) untuk penerbangan domestik sejak 1 Oktober 2010 – 30 September 2015.Ltd.. Ltd. Dalam perjanjianperjanjian tersebut. Koninklijke Luchtvaart Maatschapij N. Perjanjian Pengadaan Bahan Bakar Perseroan mengadakan perjanjian pengadaan bahan bakar dengan pemasok bahan bakar antara lain Shell Malaysia Trading SDN BHD. dan Korean Airlines. Shanghai International Airport Co. tidak disebutkan klausul pengakhiran perjanjian selain karena habisnya masa berlaku perjanjian itu sendiri. Thai Airways International Public Company Limited. Catering. and post flight). Saudi Arabian Oil Company (ARAMCO). PT Freeport Indonesia dan PT Pertamina. Ltd. keamanan). Ltd. (vii) Chevron USA Inc. Saudi Arabia. dan Attar Ground Handling Co. dan Security (Aircraft security. Sebagai kompensasi dari jasa Ground Handling yang diberikan oleh Ground Handling Company. Ltd.V. Sistem Load Control dan Sistem Kontrol Komunikasi dan Keberangkatan. sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. Pan Asia Pacific Aviation Services Limited. Post Flight Activity. Perseroan dan Ground Handling Company sepakat bahwa ketentuan pada Perjanjian Utama (“Main Agreement”) dan Lampiran pada Standard Ground Handling Agreement tahun 1998 sebagaimana diterbitkan oleh International Air Transport Association (“IATA”) berlaku bagi para pihak.V. (v) Air BP sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. Flight Operations and Crew Administration (Flight Preparation at the Airport of Departure. harga dan lokasi yang ditentukan dalam perjanjian.. Storage and Cabin Material). National Handling Services Company Ltd. Parkir. baggage and cargo/mail). Interior Cleaning. Al Mazroi.. Non routine services. Catering Service.. Perseroan sepakat untuk membayar kepada Ground Handling Company. Loading/Embarking and Unloading/Disembarking. Ltd. Thailand. Co. on-flight. Aircraft Engineering. 5. Korea.termasuk rute untuk penerbangan haji. Changi International Airport Services Private Limited. Ghuangzhou aircraft maintenance of engineering Co. Ltd. Crew Administration. Hongkong. (vi) Cosmo Oil sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. Toilet Service. Unit Load Device Control. (viii) Arabian Petroleum Supply Company sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. Dalam perjanjian disebutkan pemasok akan menyediakan bahan bakar bagi Perseroan dalam jumlah. Malaysian Airlines System Berhad. sebesar nilai yang disepakati para pihak sebagaimana diuraikan dalam masing-masing perjanjian. Cina. Ground Handling Company sepakat untuk memberikan jasa-jasa ground handling antara lain Akomodasi dan Perwakilan. Perjanjian pengadaan bahan bakar yang diadakan oleh Perseroan mengacu kepada standar perjanjian pengadaan bahan bakar pesawat udara yang dibuat oleh International Air Transport Association (“IATA”) yang dikenal dengan Model Fuel Supply Agreement. 137 .. Pengakhiran seluruh atau sebagian jasa yang diberikan oleh Ground Handling Company pada lokasi tertentu memerlukan pemberitahuan 60 hari sebelumnya oleh salah satu pihak yang mengakhiri perjanjian kepada pihak lainnya. (x) PT Freeport Indonesia sejak 1 Juli 2009 – 30 Juni 2011. Replenishing of Oils and Fluids). Jardine Air Terminal Services Limited. dan untuk Jangka waktu masing-masing perjanjian Ground Handling disepakati pada masing-masing perjanjian. Surface Transport (passengers. Menzies World Cargo B. Aircraft Maintenance (routine Service. Qantas Airways. (ix) Saudi Arabian Oil Company yang berlaku sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. Cargo and Post Office Mail. Air BP. Ramp (Marshalling.. Aircraft Servicing (Exterior Cleaning. Malaysia. DNATA Airport Operation. Flight Preparation at a Point Different from the Airport Departure. Supervision and Administration Function of Services Provided by Others (pre flight.. Hyundai Corporation. Pada umumnya. Australia. antara lain Jepang. In-flight assistance. Fuel and Oil (Fuelling and/or Defueling. Parking and Hangar Space). Ltd. Main Agreement akan berlaku secara terus menerus sampai diakhiri dengan kesepakatan para pihak dengan memberitahukan terlebih dahulu 60 hari sebelumnya. Aircraft Maintenance & Engineering Corporation. Cabin Equipment and Inflight Entertainment Material. Chevron USA. Ramp to Flight Deck Communication. Water Service. Ltd. Cosmo Oil Co.. The Arabian Petroleum Supply.

DS/PERJ/DZ-3504/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. DS/PERJ/DZ-3505/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. DS/PERJ/DZ-3502/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. dan 10% sisanya (14 hari setelah tibanya kloter terakhir). pengangkutan barang bawaan jemaah haji.T Inc. DS/PERJ/DZ-3507/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. Klausul pengakhiran memberikan hak bagi salah satu pihak untuk mengakhiri perjanjian apabila pihak lainnya dinyatakan insolven atau bangkrut atau izin usaha salah satu pihak dicabut atau salah satu pihak melanggar kewajibannya dalam perjanjian. Selain itu. (iv) SR Technics Switzerland yang berlaku selama 5 tahun sejak tanggal 27 Mei 2008. yang berlaku sejak tanggal 1 Oktober 1997 sampai dengan 1 Oktober 1999. Perseroan telah mengadakan perjanjian sewa untuk 14 pesawat udara dengan beberapa pihak antara lain: No.6. 2. 40% (7 hari sebelum pemulangan). 30% (14 hari sebelum pemberangkatan). Monarch Airlines Limited Iberworld Airlines S. membayar ganti rugi apabila jemaah haji kehilangan barang bawaan dan menyediakan air zam-zam kepada setiap jemaah. Obyek dari perjanjian pemeliharaan pesawat dapat mencakup perawatan kerangka pesawat. 1. Perseroan akan memberikan imbalan jasa sesuai dengan nilai yang disepakati kepada perusahaan pemeliharaan pesawat. Ltd yang berlaku sejak tanggal 26 Februari 2009 sampai dengan tanggal 26 Februari 2014. Pada umumnya. Klausul mengenai jangka waktu perjanjian ini. Kementerian Agama wajib membayar jumlah beban penerbangan yang dihitung berdasarkan jumlah jamaah yang diterbangkan. yang berlaku selama 5 tahun sejak tanggal 1 Oktober 2008.A. Thomson Airways Limited Pullmantur Air S. perawatan Auxiliary Power Unit (“APU”). menyediakan pesawat udara cadangan. Jenis Pesawat Udara B747-400 A330-200 A330-200 Nomor Serial Manufaktur 26877 1008 250 271 480 28979 26549 27178 265 670 833 349 356 357 Nomor Pendaftaran F-HSEA CS-TFZ C-GGTS C-GITS C-GPTS G-OBYE EC-KQC EC-KSM G-EOMA EC-JHP EC-KCP OY-VKG OY-VKH OY-VKI 4. Perjanjian pemeliharaan pesawat dengan perusahaan pemeliharaan pesawat pada umumnya berlaku selama lima tahun.. dalam perjanjian disebutkan klausul pengakhiran perjanjian selain karena habisnya masa berlaku perjanjian itu sendiri. (vii) Honeywell (SIN) PTE. 5.784 jamaah haji dari 10 titik embarkasi sebagaimana dituangkan dalam Kontrak Kerja Angkutan Udara Jemaah Haji Indonesia Tahun 1431 H tertanggal 24 Agustus 2010 antara Kementerian Agama dan Perseroan. Berdasarkan Perjanjian tersebut Perseroan diwajibkan menyediakan sekurang-kurangnya 14 pesawat udara berbadan lebar untuk penerbangan haji. berdasarkan perjanjian Perseroan juga wajib mengizinkan Kementerian Perhubungan untuk melakukan inspeksi tentang kelaikan pesawat udara. B767-304 B747-400 A330-200 A330-200 A330-343 138 . DS/PERJ/DZ-3508/2010 tanggal 23 Agustus 2010 Lessor Corsair SA Hifly Transportes Aereos S. Perjanjian Sehubungan dengan Penerbangan Haji 2010 Kementerian Agama telah menunjuk Perseroan untuk melayani penerbangan haji untuk kurang lebih 116. DS/PERJ/DZ-3501/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. kabin. (ii) Evergreen Aviation Technologies Corp. 8. Air Transat A.. DS/PERJ/DZ-3506/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. 6. 3. (v) Thales Avionic Inc. (vi) Panasonic Avionic Corporation yang berlaku selama 60 bulan sejak tanggal 18 Mei 2010. perawatan komponen. Perjanjian tersebut juga mengatur beban penerbangan untuk setiap jamaah haji dengan jumlah berbeda sesuai titik embarkasi. Perjanjian Sewa Pesawat No. dan (viii) Rolls Royce Total Care Services Limited yang berlaku sejak tanggal 29 Juni 2010. DS/PERJ/DZ-3503/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. (iii) Koninklijke Luchtuaart Maatschappij NV. Sedangkan pada beberapa perjanjian lainnya terdapat klausul bahwa perjanjian akan diperpanjang secara otomatis per tahun. penyediaan suku cadang dan pelayanan engineering. Untuk memenuhi kewajiban tersebut.A.A. Pembayaran dilakukan melalui 4 tahap yaitu sebesar 20% (30 hari sebelum pemberangkatan). 7. perawatan mesin. pada beberapa perjanjian ditambahkan dengan klausul bahwa perjanjian ini dapat diperpanjang oleh salah satu pihak dengan memberikan pemberitahuan tertulis kepada pihak lainnya. yang berlaku selama 5 tahun sejak tanggal 30 Maret 2010. Thomas Cook Airlines Ltd. Perjanjian Pengadaan Pemeliharaan Pesawat Udara Perseroan mengadakan perjanjian pemeliharaan pesawat dengan beberapa pihak yang bergerak di bidang pemeliharaan pesawat antara lain dengan: (i) GMF AeroAsia yang berlaku sejak sejak tanggal 1 Januari 2008 hingga 1 Juni 2018. 7.

Penyediaan bahan bakar pesawat udara dengan (i) PT Pertamina (Persero) yang mencakup seluruh titik embarkasi di Indonesia dan (ii) Arabian Petroleum Supply Company untuk Jeddah dan Madinah. 3. (vii) PT Mitra Angkasa berlaku sejak tanggal 4 Januari 2010 – 31 Desember 2011. (Pemilik) dengan Perseroan (Penyewa) berlaku sejak tanggal 25 April 2008 – 31 Maret 2010 dan diperpanjang secara otomatis. Perseroan memiliki izin-izin yang wajib dimiliki dari instansi yang berwenang untuk menjalankan kegiatan usahanya antara lain sebagai berikut: 1. 2. Perseroan telah menandatangani perjanjian-perjanjian kerjasama dengan berbagai pihak antara lain sehubungan dengan sewa-menyewa tanah dan bangunan. (iii) awak pesawat dan akomodasinya.Sewa diadakan dengan skema wet lease dimana pemberi sewa (lessor) bertanggung jawab untuk: (i) menutup asuransi pesawat udara dan pihak ketiga (kecuali penumpang dan kargo). Selain sewa pesawat udara untuk mendukung penerbangan haji tersebut. Perjanjian ini pada umumnya berlangsung 1 (satu) tahun hingga 4 (empat) tahun. sertifikat kebisingan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan izin radio yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi untuk masing-masing pesawat udara tersebut. dan (iv) Kementerian Agama memiliki sifat hubungan istimewa sebagai instansi Pemerintah. (v) PT Bali Satwika (“Satwika”) berlaku sejak tanggal 1 Juli 2008 – 30 Juni 2010. (ii) perawatan pesawat udara. terdapat perjanjian-perjanjian antara Perseroan dengan pihak terafiliasi. (ii) Guang dong Asia International Hotel berlaku sejak tanggal 10 Desember 2009 – 9 desember 2011. Sewa Menyewa Kendaraan Perseroan juga memiliki perjanjian-perjanjian sehubungan dengan penyewaan kendaraan bermotor untuk menunjang kegiatan operasionalnya. Terkait dengan perjanjian-perjanjian penting yang disebutkan di atas. dan Jasa boga dengan PT Angkasa Citra Sarana Catering Services yang mencakup seluruh titik embarkasi di Indonesia. (iv) PT Anugrah Citra Ilahi (“ACI”) berlaku sejak 1 Februari 2007 – 31 Januari 2011. dalam hal ini pihak-pihak terafiliasi antara lain: (i) PT Gapura Angkasa dan GMF AeroAsia memiliki sifat hubungan istimewa sebagai Anak Perusahaan (ii) PT Angkasa Citra Sarana Catering Services memiliki sifat hubungan istimewa sebagai Anak Perusahaan Tidak Langsung. sertifikat pendaftaran dan sertifikat kelaikan udara yang keduanya dikeluarkan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara atas nama Direktur Jenderal Perhubungan Udara. 8. Kendaraan-kendaraan sewaan ini digunakan antara lain untuk transportasi karyawan dalam menjalankan fungsi operasionalnya ataupun untuk antar-jemput karyawan dari tempat tinggal ke kantor. Ground handling dengan (i) PT Gapura Angkasa dan PT Batam Airmars Services yang mencakup seluruh titik embarkasi di Indonesia. 12. Madinah. 139 . Dalam perjanjianperjanjian sewa ini Perseroan selaku penyewa wajib membayar uang sewa tahunan atau bulanan kepada pihak yang menyewakan tanah atau bangunan tersebut untuk keperluan Perseroan untuk digunakan antara lain sebagai kantor cabang. (iii) Central Japan International Airport. Perizinan sehubungan Pesawat Udara Sehubungan dengan pesawat udara yang dioperasikannya. (iii) PT Pertamina (Persero) memiliki sifat hubungan istimewa sebagai BUMN. Perseroan telah menandatangani beberapa perjanjian lain antara lain sehubungan dengan: 1. antara lain sertifikat tipe (validasi) untuk setiap jenis pesawat udara. dan (ii) Attar Ground Handling Company dan Saudi Arabian Airlines untuk Jeddah dan National Handling Services Company Ltd. Perizinan Dalam menjalankan kegiatan usahanya. dan (iv) staff operasional. (vi) PT Mandai Prima berlaku sejak tanggal 1 Mei 2009 – 30 April 2011. Perjanjian ini berlangsung antara (i) Treasure Spot Investments Limited berlaku sejak tanggal 16 Juni 2008 – 15 Juni 2011. Perseroan telah mendapatkan perizinan sehubungan dengan pesawat udara tersebut. dan kegunaan lainnya. Pemeliharaan Sewa Menyewa Tanah dan Bangunan Untuk menunjang kegiatan operasionalnya. gudang. perumahan bagi karyawan. Co. 9.

AU/752/DAU. Guangzhou Baiyun dan Shanghai Pudong untuk regular flight. Sertifikat ini merupakan bukti bahwa Perseroan. Pemerintah Australia untuk bandar udara internasional di tujuan Adelaide.2. Melbourne. Fuzhou Changle. sebagai anggota IATA. Untuk mengoperasikan rute internasionalnya. Perseroan juga telah memperoleh izin maupun hak untuk terbang melintasi wilayah udara negara lain atau mendarat serta melakukan kegiatan operasinya di negara-negara yang menjadi tujuan penerbangan internasionalnya. dan (ii) Surat DJPU tentang Izin Penerbangan Periode Winter 2010/2011 No. telah diaudit oleh IATA atas kepatuhannya terhadap standar keamanan yang ditetapkan IATA di dalam IOSA Program Manual dan terdaftar sebagai operator IOSA. Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal Sehubungan dengan pesawat udara yang dioperasikannya. Wuhan Tianhe. Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal ini berlaku selama Perseroan masih menjalankan usahanya. Tanjin Binhai dan Xiamen Gaoqi. 140 . Perizinan sehubungan dengan Rute Penerbangan Perseroan telah mendapatkan perizinan yang diperlukan untuk melayani rute penerbangan berjadwal domestik dan internasionalnya berdasarkan (i) Surat DJPU tentang Jadwal Penerbangan Dalam Negeri Periode Winter 2010/2011 No. sertifikat pendaftaran dan sertifikat kelaikan udara yang keduanya dikeluarkan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara atas nama Direktur Jenderal Perhubungan Udara. Foreign Operator Authoriztion for Commercial Operations within the Kingdom of Saudi Arabia yang dikeluarkan untuk 9 pesawat udara Perseroan yang dioperasikan dengan tujuan ke Saudi Arabia. sertifikat kebisingan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan izin radio yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi untuk masing-masing pesawat udara tersebut. Brisbane. AU/7747/DAU. Sedangkan alternate airport adalah Shanghai Hongqiao. Izin tersebut berlaku untuk bandar udara internasional Beijing. China Operations Spesifications berdasarkan China Civil Aviation Regulation (“CCAR”) 129. c. 4. SKEP/02/I/2007 tanggal 2 Januari 2007.85/09 tanggal 28 Januari 2009. b.1899/X/2010 tertanggal 18 Oktober 2010 berlaku sejak 31 Oktober 2010 sampai dengan 26 Maret 2011. yang dikeluarkan oleh DJPU. Operations & Infrastructure dan Senior Vice President Member & Government Relations IOSA. Perth dan Kingsford Smith (Sydney). 3. OS No. Izin ini berakhir 31 Januari 2011 dan dapat diperpanjang kembali. sebagaimana diubah dengan Surat Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. GIAF-040-ZN menyatakan Perseroan memegang Economic Permit yang berlaku sejak 1 April 2009 sampai 31 Maret 2012 dan Foreign Air Carrier State’s Operating Certificate or Permit No. Sertifikat IATA Operasional Safety Audit Program Operator (Sertifikat IOSA) Perseroan telah memperoleh Sertifikat IOSA yang berlaku sampai dengan tanggal 8 September 2012 yang dikeluarkan oleh Senior Vice President Safety. AU/7141/ DAU. Hangzhou Xiaoshan. 5. General Authority of Civil Aviation. Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal No. antara lain sertifikat tipe (validasi) untuk setiap jenis pesawat udara.1735/IX/2010 tertanggal 29 September 2010 berlaku sejak 31 Oktober 2010 sampai dengan 26 Maret 2011. Sertifikat Operator Pesawat Udara Perseroan terlah memperoleh Sertifikat Operator Pesawat Udara (Air Operator Certificate) No. Dalian Zhoushuizi. Perseroan telah mendapatkan sertifikat operator pesawat udara atau dokumen sejenis sebagai berikut: a. Air Operator’s Certificate AOC # F503122-27 tanggal 29 July 2010 yang dikeluarkan oleh Civil Aviation Safety Authority. Menteri Perhubungan. AOC/121-001 yang berlaku sejak 10 Juni 2009 sampai 9 Juni 2011. 6. yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara a.n. Selain itu. yang berlaku sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Perseroan telah mendapatkan perizinan sehubungan dengan pesawat udara tersebut. 121-001 tanggal 10 Juni 2009. Kerajaan Saudi Arabia. yang dikeluarkan oleh Aviation Standards & Safety Department.

Komplek GIA No.540 141 . 601 tanggal 22 Nopember 2035 23 Nopember 2005 111 Peruntukan: Balai Pertemuan Peruntukan: Tanah Kosong 11. Jakarta Selatan Jl. Jakarta Barat Jl.010/ RW. Pancoran. Jakarta Pusat Jl.016/RW. Bukit Duri Raya No. Cengkareng. Jakarta Selatan Jl. Komplek GIA RT.04. Kec. Bendungan Jago. 27 Oktober 2033 620 Peruntukan: Gudang (eks kantor) Peruntukan: Kantor 9.016/RW. Kalibata. Kec. 28B. Kemayoran.01. 16 September 2033 3. Kalibata. Kel.590 4. Jakarta Selatan Jl. 6 RT.01 No.n Direktur Jenderal PHU.270 3. Cengkareng. Sertipikat HGB No. Gunung Sahari Raya No. Jakarta Barat Luas /m2 64. 1090 tanggal 30 September 2003 Sertipikat HGB No. 1.04. Manggarai Selatan IX RT. Kec. Kec. 1656 tanggal 2 April 2004 Sertipikat HGB No. Kalibata. Jakarta Pusat Jl. Jakarta Selatan Jl. Serdang. Tebet. Samanhudi No. 4816 tanggal 24 Desember 2003 Sertipikat HGB No. Kec. Jakarta Selatan 104.II/4/ HJ. Sawah Besar.Sehubungan dengan penerbangan tidak berjadwal.05/2165/2010 Tanggal 10 Agustus 2010 yang dikeluarkan oleh Direktur Pelayanan Haji a. yaitu sebagai berikut : Tanah dan Bangunan Perseroan memiliki aktiva tetap berupa tanah dan bangunan sebagai berikut : No. Kec. Jakarta Selatan Jl. Kec.666 Peruntukan: Tanah Kosong 16. 4806 tanggal 17 September 2003 Sertipikat HGB No. 4805 tanggal 25 September 2005 Sertipikat HGB No. H.010/ RW.04. 1113 tanggal 2 Maret 2004 Sertipikat HGB No.890 10. Kel. 807 tanggal 26 Pebruari 2024 27 Pebruari 2004 Sertipikat HGB No. 23A. Jakarta Selatan Jl. Cengkareng. 29 September 2033 645 Peruntukan: Lapangan Olah Raga Peruntukan: Tanah kosong Peruntukan: Tanah Kosong 6. Duri Kosambi. Kemayoran. Komplek GIA RT. 1094 tanggal 30 September 2003 29 September 2033 992 Peruntukan: Gedung Pertemuan Peruntukan: Sekolah TK 13. Pancoran. 106 tanggal 21 Pebruari 2005 Sertipikat HGB No. 1 April 2024 1. Kalibata. Bukit Duri.016/RW. Perseroan mendapatkan izin terbang untuk setiap penerbangan tersebut. Jakarta Pusat Jl. 29 September 2033 1.016/RW.647 7. 1095 tanggal 30 September 2003 Sertipikat HGB No. Kel. Kec. Jakarta Barat Jl.04. Bukit Duri. Pancoran. Gunung Sahari Selatan.04. Perseroan telah ditunjuk sebagai sebagaimana ternyata dalam Surat Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Republik Indonesia No. 13. Pasar Baru. Tanah/ Bangunan Sertipikat Hak Guna Bangunan (“HGB”) No.478 8. Pancoran. 202 12 Sertipikat HGB No.016/RW. 1 Maret 2014 356 Peruntukan: Kantor 5.04. Kel. 1129 tanggal 8 Juli 2004 Sertipikat HGB No. Komplek GIA RT. Jakarta Selatan Jl. Kel. Kel. 1092 tanggal 30 September 2003 Sertipikat HGB No. Pancoran. Komplek GIA No.VII. Kalibata. Duri Kosambi Raya RT. 23 Juli 2028 2. Komplek GIA RT. Pancoran. Cengkareng. 602 tanggal 20 Nopember 2035 21 Nopember 2005 Sertipikat HGB No. Kemayoran. Pondok Randu RT. Dt. Kalibata. 20B. Tebet.016/RW. Kalibata. Dalam hal penerbangan haji tahun 1413H/2010M. Pancoran. Komplek GIA RT. Serdang. Bendungan Jago.016/RW. 23 Desember 2023 2. Komplek GIA RT. 1567 tanggal 24 Juli 2008 Masa Berlaku HGB 6 Januari 2025 Lokasi Jl. Komplek GIA RT. 006/01. Kel. Kec. 24 September 2033. Keterangan Mengenai Aset Tetap Perseroan memiliki aset tetap berupa tanah-tanah / bangunan dengan sertifikat HGB yang seluruhnya atas nama Perseroan. 237 Peruntukan: Tanah Kosong 15. 52. Jakarta Barat Jl. Jakarta Selatan Jl. Kel. 0011/03. Kel. 4354 tanggal 28 Oktober 2003 Sertipikat HGB No. Kec. Jakarta Pusat Jl. 433 14.643 Keterangan Peruntukan: Pusat Pelatihan atau Pendidikan Kelengkapan dan manajerial penerbangan Peruntukan: Asrama (Dormitory)/ Tanah Kosong Peruntukan: Lahan parkir 2. Duri Kosambi.04. 7 Juli 2024 3. Kel. 14. 29 September 2033 1158 Peruntukan: Lapangan Olah Raga dan Tanah Kosong Peruntukan: Lapangan Olah Raga dan Tanah Kosong 17. Duri Kosambi. Kec. 808 tanggal 26 Pebruari 2024 27 Pebruari 2004 Sertipikat HGB No.

Antara Perseroan selaku pembeli dan Jacob Pieter Loppies selaku penjual 12 Oktober 2038 HGB sedang dalam proses. Wakil Notaris di Padang antara Perseroan selaku pembeli dan Basril selaku penjual Sertipikat HGB No. Jakarta Barat Jalan Kebon Sirih No 44. Tegalsari. Yogyakarta Kel. 18. 29. Pekanbaru Kel. Gowongan. Tangkuban Perahu No. Sertipikat HGB No. Kel. Ahmad Yani. 31. Notaris di Batam antara Perseroan selaku pembeli dan CV Sri Usaha selaku penjual Sertipikat HGB No. Kel. Veteran. Kel.000 33. 1211 tanggal 12 September 2007 17 Juli 2027 142 . Ahmad Yani No. Kec. Ambon. Perumahan Sei Balai Indah. Sawahan. Sertipikat HGB No. 36. Gondomanan. 50 tanggal 6 Nopember 2001 Akta Jual Beli Nomor 84 tanggal 7 Desember 1964. 24 Nopember 2012 1. Padang Jalan Hayam Wuruk Nomor 32 757 989 2. Kec. sedang dalam proses. Genteng. 383 797 1. Didirikan di atas tanah Kaveling Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam 168 Peruntukan: Rumah Dinas 22. Sumahilang. 1. Sirimau. 92 tanggal 13 Oktober 2008 Akta Jual Beli Nomor 17/ 1964 tanggal 17 Maret 1964. 4677 tanggal 25 June 2002 24 Juni 2022 754 Peruntukan: Tanah kosong 20.645 Peruntukan: Kantor Peruntukan: Tanah Kosong Peruntukan: Rumah Tinggal 28. Didirikan di atas tanah Kaveling Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam 157. Kel. Kec. Suryasumirat SH. Kec.01 Peruntukan: Rumah Dinas 23. Kel. 50 tanggal 12 Juni 1997 24 Oktober 2021 HGB sedang dalam proses. 20 Ilir III. 923 tanggal 25 April 2019 26 April 1994 19. Pesawat terbangis.269 467 485 174 Peruntukan: Rumah Tinggal Peruntukan: Rumah Tinggal Peruntukan: Kantor Peruntukan: Rumah Tinggal Sertipikat HGB No. antara Perseroan selaku pembeli dan PT Danareksa selaku penjual HGB sedang dalam proses. Semarang Timur. Kec.390 Keterangan Peruntukan: Klinik & Kantor Sertipikat HGB No. Duri Kosambi. Genteng. 596 tanggal 6 Juli 2026 29 Agustus 2006 Sertipikat HGB No. Ahusen.925 Peruntukan: Kantor 21. sedang dalam dibuat dihadapan Nurhayati proses.129/Gwn tanggal 27 Agustus 1997 Sertipikat HGB No. Kemayoran. Pondok Randu RT. Kec. dibuat dihadapan Anna Sunarhadi SH. Pekanbaru Kota.382 286 Peruntukan: Kantor Peruntukan: Rumah tinggal Peruntukan: Kantor Peruntukan: Rumah tinggal Peruntukan: Rumah Tinggal Sertipikat HGB No. Surabaya 1. Akta Penjualan dan Pembelian Serta Pemindahan dan Penyerahan Hak Nomor 51 Tanggal 30 Juli 1990. Notaris di Jakarta. Kel. Gunung Sahari Selatan. Tipes. Tanah/ Bangunan Masa Berlaku HGB Lokasi Jl. Notaris di Batam antara Perseroan selaku pembeli dan CV Sri Usaha selaku penjual Akta Jual Beli Rumah Nomor HGB 22 tanggal 21 Oktober 1986. Kec. Kel. 25. 11 Juni 2017 Kel. Jakarta Pusat Jl. Sarangan. Tunjungan No. Jl.005/02. Catatan: Seluas 723 m2 telah dikonversi dalam bentuk Sertipikat HGB No. Akta Jual Beli Rumah Nomor HGB 21 tanggal 21 Oktober 1986. Nomor 7 C. Kec.No. 1539 tanggal 12 Januari 1993 Sertipikat HGB No. 142. 12 tanggal 24 Agustus 1993 Sertipikat HGB No. Angkasa Komp. B. Kemayoran Blok B-15 Kav No. 406 tanggal 5 September 2030 7 September 2000 Sertipikat HGB No. Gambir Jakarta Pusat Luas /m2 6. Cengkareng. Comal No. Padang Timur. Kec. Sawahan. Perumahan Sei Balai Indah. Surabaya Jl. Ambon Kotapradja. Semarang Jl. 560 tanggal 10 April 2031 12 April 2001 Sertipikat HGB No. Semarang Timur. Ngupasan. Ilir Timur I. Kec. 24. 161 tanggal 23 Oktober 2020 23 Oktober 2000 Sertipikat HGB No. Yogyakarta Jl. Keputran. Kel. Seroja Dalam. Maluku 723 992 Peruntukan: Eks Kantor & Mess Peruntukan: Eks Kantor & Mess 25. Semarang Jl. Kel. dibuat dihadapan Hasan Qalbi. Pekunden. Kec. 92 tanggal 13 Oktober 2008. 27. 29. 14. 34. Kec. 35. Kec. Kel. Kel. Pekunden. 1538 tanggal 12 Januari 1993 24 Agustus 2017 20 April 2013 24 Nopember 2012 30. 26. Sawahan. Nomor 41 C. 3. Kec. 32. Surakarta Jl. Surabaya Jl. Palembang Jalan Bayangkara Nomor 34 (28). dibuat dihadapan Nurhayati Suryasumirat SH.

Pontianak Kel. 384 tanggal 12 Nopember 2011 12 Nopember 1991 Sertipikat HGB No. Bangkok Metropolis Luas /m2 1. 1437 tanggal 20 September 1996 Berlaku selama diperlukan 12 Oktober 2017 41. Kec. Sub district: Sathon (Bang Rak). Lumpini Tower 27th Floor Building No. 03 tanggal 25 April 2002 Sertipikat HGB No. Ujung Pandang Kel. Denpasar Barat. Kel. 416. Condominium Unit No. 42. Brambaken. B. Samoa. Brussel 375 Peruntukan: Kantor Pesawat Udara Perseroan juga memiliki aset tetap berupa pesawat udara yaitu sebagai berikut: No. 102 tanggal Tidak ada masa 27 Oktober 2005 berlaku Sertipikat HGB No. Kec.1 Akta Jual Beli atas Bangunan yang terletak di Galerie Porte Louise 4th Floor Avenue De la Toisson No. Denpasar Jl. 44.606. Tanjungpura Nomor 8. Darat Sekip. 3086. Province: Bangkok Metropolis. Kerta Baru Ulu. Banjar Barat. HGB sedang dalam proses. Manado Kel. Biak Numfor Lumpini Tower Building No. 26 Desember 1997 26 Desember 1997 27 Desember 1997 31 Desember 1998 27 Desember 1997 Dokumen Kepemilikan Bill of Sale tertanggal 14 Januari 1994 Bill of Sale tertanggal 27 Mei 1994 Bill of Sale tertanggal 13 Januari 1975* Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009** Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009** Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009** Bill of Sale tertanggal 15 Oktober 1993 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 1993 Bill of Sale tertanggal 25 Oktober 1993 Bill of Sale tertanggal 1 Nopember 1993 Bill of Sale tertanggal 9 Nopember 1993 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 1993 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 1993 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Catatan: *) Perseroan tidak mengoperasikan pesawat ini dan hanya digunakan untuk kebutuhan pelatihan Perseroan. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Tipe Pesawat Boeing 747-400 Boeing 747-4U3 DC10-30 Boeing 737-300 Boeing 737-300 Boeing 737-3U3 Boeing 737-3U3 Boeing 737-3U3 Boeing 737-3U3 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-500 Boeing 737-500 Boeing 737-500 Boeing 737-5U3 Boeing 737-500 Nomor Registrasi PK-GSG PK-GSH PK-GID PK-GGG PK-GGO PK-GGP PK-GGR PK-GGQ PK-GGN PK-GWK PK-GWL PK-GWM PK-GWN PK-GWO PK-GWP PK-GWQ PK-GGA PK-GGC PK-GGD PK-GGE PK-GGF MSN 25704 25705 46951 28731 28736 28737 28741 28739 28735 25713 25714 25715 25716 25717 25718 25719 28726 28727 28728 28729 28730 Tanggal Penyerahan 14 Januari 1994 27 Mei 1994 13 Januari 1978 31 Desember 1997 29 Desember 1998 29 Desember 1998 29 Desember 1998 29 Desember 1998 29 Desember 1998 15 Oktober 1993 23 Desember 1993 25 Oktober 1993 1 Nopember 1993 9 Nopember 1993 23 Desember 1993. Slamet Riadi No. Balikpapan Jl. 45. Kec. Kec. Denpasar Timur. Ujung Pandang. Denpasar Desa Sumerta Klod.8 Peruntukan: Kantor Cabang 47. 23 Desember 1993. Kec. 49-50.1168/77 27th Floor. Tanah/ Bangunan Masa Berlaku HGB Lokasi Desa Dauh Puri Kangin. Kec. Balikpapan Timur. Pontianak Barat.710 Peruntukan: Kantor Peruntukan: Kantor Peruntukan: Kantor Peruntukan: Kantor Peruntukan: Rumah Tinggal Sertipikat HGB No. Kec. Denpasar Desa Dauh Puri Kangin. 4220 tanggal 13 Oktober 1997 Sertipikat HGB No. 39. **) Pesawat-pesawat ini dioperasikan dengan low cost brand Citilink. Banjarmasin Kel. Condominium Unit No. Denpasar Barat. 462 tanggal Tidak ada masa 16 Pebruari 1995 berlaku Sertipikat HGB No.415/ Brambaken tanggal 4 September 2001 Title of Condominium Unit Deed No. 6.No. 24 September 2016 897 117 1. Kec. 103 tanggal Tidak ada masa 27 Oktober 2005 berlaku Sertipikat Hak Pakai No. HGB sedang dalam proses. Titiwungen Selatan. Galerie Porte Louise 4th Floor Avenue De la Toisson No. Kec. Baru. 84 tanggal 21 Oktober 2008 Sertipikat HGB No. 43. 143 . 1168/77. 40.621 558 154 709 Keterangan Peruntukan: Kantor Peruntukan: Gedung Arsip Peruntukan: Tanah Kosong Peruntukan: Kantor Sertipikat HGB No. 37 38.073 763 4. 49-50 25 April 2022 3 September 2021 46. Sario. Klandasan Ilir.1. Kel.

Pesta Tenun. Perseroan telah menyalurkan bantuan pinjaman dengan total dana sebesar Rp14. Komitmen ini sesungguhnya telah dimulai sejak tahun 2003 dengan ditandatanganinya “Maklumat Komitmen bersama” Komisaris. Untuk Program Bina Lingkungan dari penyisihan laba bersih Perseroan tahun 2009. Di samping memberikan bantuan pinjaman.904 juta yang didistribusikan ke sektor-sektor Industri. pelatihan. maka proses pengadaan barang dan jasa akan berlangsung secara transparan. Pertanian. Selain itu. Perikanan. yang meliputi aspek hak dan tanggung jawab Pemegang Saham (RUPS). menerapkan whistleblowing system serta memasukkan laporan pelaksanaan Corporate Governance pada website Perseroan agar dapat diakses oleh publik. Turki (Indonesian Unique Intangible Cultural Heritage). Inacraft. Perkebunan dan Jasa lainnya. Kebijakan GCG. Perseroan telah menyalurkan Rp1. bantuan sarana ibadah. Berdasarkan hasil assessment. 144 . Inacraft. Pengungkapan informasi (disclosure). Di tahun 2009. Penerapan GCG yang lain adalah di bidang teknologi informasi. Peternakan. Jasa. Dalam melaksanakan tanggung jawab untuk pembangunan yang keberlanjutan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar lingkungan usaha. penelaahan dan penyempurnaan Code of Corporate Governance. Perseroan telah secara konsisten menyisihkan dana dari keuntungan Perseroan untuk kegiatan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan yang disalurkan kepada masyarakat baik sebagai pinjaman lunak ataupun hibah. yaitu Komite Audit. dan bantuan pelestarian alam. dimana hal ini menunjukkan bahwa Perseroan termasuk dalam kategori “baik” berdasarkan 5 aspek yang diukur. aplikasi ini mendukung program efisiensi yang tengah digalakkan di dalam organisasi.547 juta melalui bantuan bagi korban bencana alam. dan Komitmen. Bazar BUMN. Komite Kebijakan Corporate Governance dan Komite Kebijakan Risiko. dan Bazar Ramadhan) dan pameran di luar negeri di Istanbul. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) Pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) oleh Perseroan merupakan wujud tanggung jawab sosial dan kepedulian Perseroan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui kesempatan berusaha untuk meningkatkan kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan di sekitar. PKBL BUMN Expo). bantuan peningkatan kesehatan. PPKI. dimana hasil assessment tahun 2009 Perseroan memperoleh skor 80. Dekranas. Komisaris dan Komite-komite yang sesuai dengan prinsip-prinsip GCG terbaik. Piagam yang berisi acuan bagi hubungan kerja Dewan Komisaris dan Direksi untuk memperjelas prinsip Akuntabilitas. Perdagangan. melalui Program Kemitraan sejak tahun 1992 sampai dengan tahun 2009. yang juga diterapkan pada level komite-komite yang berada di bawah Dewan Komisaris. Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance/GCG) Tata kelola Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) merupakan sebuah komitmen bagi Perseroan dalam upaya terpadu Perseroan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Program Kemitraan yang telah dilaksanakan di tahun 2010 adalah mengikut sertakan sejumlah mitra binaan untuk meningkatkan usaha yang yang berkelanjutan dalam pembinaan dan promosi melalui kegiatan pameran dalam negeri (Gelar Karya PKBL BUMN.79 dari skala 100. bantuan pengembangan prasarana/sarana umum. Penerapan GCG juga dilakukan melalui pengembangan budaya kerja yang positif dengan mematuhi “code of conduct” yang telah dibuat. Tanggung jawab dan Independensi dalam penerapan GCG di level Direksi. PPKI. Penerapan GCG terus mengalami perbaikan. Dengan digunakannya aplikasi ini. Perseroan juga melakukan tindak lanjut dengan membentuk komite nominasi dan remunerasi. Laporan GCG dibuat berdasarkan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance pada akhir tahun 2006. Penerapan GCG. Sepanjang tahun 2009. telah mencapai tahapan “Good Governed Garuda” dalam hal pelaksanaan GCG yang diperlukan untuk mendukung strategi “growth” Perusahaan dalam dua tahun mendatang. melalui berbagai kegiatan yang sejalan dengan program pemberdayaan masyarakat. dengan penerapan aplikasi e-Procurement dan e-Auction untuk setiap proses pengadaan yang dilakukan di lingkungan Perseroan.445 juta yang dialokasikan bagi 55 mitra binaan di 5 propinsi di Indonesia serta penyaluran program peningkatan kualitas usaha mitra binaan sebesar Rp732 juta melalui program-program pelatihan kewirausahaan dan promosi dengan mengikut sertakan mitra binaan dalam acara pameran (Gelar Karya PKBL BUMN. pendampingan dan promosi. serta melaksanakan peran pengawasan dan peningkatkan peran dari komite-komite di bawah Dewan Komisaris. seluruh Mitra Binaan usaha juga diberi pembinaan melalui program-program pelatihan. Direksi dan Pegawai Pimpinan pada tanggal 1 April 2003 serta dikeluarkannya Piagam Komisaris dan Direksi. untuk penyaluran bantuan Program Kemitraan secara bertahap Perseroan telah membina Usaha Kecil Menengah di masyarakat berupa penyaluran pinjaman bergulir sejumlah Rp2. sesuai dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG). 15. Adiwastra.14.

rehabilitasi pembangunan sekolah yang terkena gempa dan rehabilitasi sarana perpustakaan sekolah. Disamping itu. Water Conservation: Yang merupakan program observasi aspek pengelolaan sumber daya air di seluruh area kerja Perseroan. bantuan sarana ibadah . Pemerintah Daerah. Program ini juga telah berhasil membangun kedua kawasan tersebut menjadi daerah tujuan wisata ”eco-tourism” baru sehingga dapat meningkatkan taraf hidup rakyat. peningakatan ekonomi. Pada tahun 2007 dan 2008 Perseroan telah melaksanakan program “One Tree One Passenger” dimana melalui program tersebut Perseroan menyisihkan sebagian dari hasil penjualan tiket untuk pelaksanaan program penghijauan dan reforestasi. Selain itu. program peningkatan pangan dan pembangunan sarana rumah ibadah. Perseroan berpartisipasi dalam ”Global Earth Hour”. 4. 145 . Kalimantan Tengah dan Yogjakarta. serta bentuk lainnya bersama dengan Perusahaan BUMN lain. 5. Keberpihakan Perseroan dalam sektor pendidikan diantaranya dilaksanakan melalui sosial edukasi kepada masyarakat misalnya sosialisasi kanker anak melalui kegiatan seminar kepada karyawan.533 juta dalam bentuk bantuan kepada korban bencana alam. para medis puskesmas. pelestarian alam. bantuan pengembangan prasarana/sarana umum. Recycle Waste: Perseroan melakukan pengelolaan lingkungan sesuai Standar Nasional Indonesia (ISO 14001) tentang Sistem Manajemen Lingkungan. untuk melestarikan berbagai spesies penyu yang sudah hampir punah. Perseroan juga melaksanakan program Garuda Indonesia Go Green melalui pembangunan “Arbetarium Eco Park Cibinong Science Center LIPI” Cibinong sebagai upaya untuk menyelamatkan jenis tumbuhan khas pulau Jawa. Bentuk Program Bina Lingkungan lain yang telah dilaksanakan oleh Perseroan misalnya program pelestarian tenun melalui peningkatan mutu produksi dan peningkatan marketing capability melalui program pelatihan dan pengembangan tenun seperti di Bali dan Sambas yang bekerja sama dengan Yayasan Cita Tenun Indonesia (CTI). Perseroan juga telah melaksanakan program ”Garuda Green Action” sebagai salah satu bagian pelaksanaan CSR Perseroan yang diimplementasikan dalam beberapa kegiatan antara lain: 1. bantuan pendidikan dan/atau pelatihan. khususnya dalam melestarikan lingkungan. pada akhir 2009. Perseroan juga menyalurkan bantuan kepada korban bencana alam melalui ”Garuda Indonesia Peduli“ sebesar Rp831 juta di beberapa daerah yang terkena bencana misalnya: • • • Korban Bencana Banjir Bandang di Wasior Manokwari – Papua Barat Korban Bencana Gunung Merapi – DIY dan Jawa Tengah Korban Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Kepulauan Mentawai – Sumatera Barat Untuk kegiatan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Selain itu. Perseroan juga melaksanakan program pembangunan Rumah Pintar. Dalam perwujudan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Dalam pelaksanan program CSR yang berkesinambungan untuk tahun 2010. 3. dan peningkatan kesehatan. Perseroan juga telah berkomitmen untuk meningkatkan peran dan partisipasinya terhadap pengembangan lingkungan dan kehidupan masyarakat yang lebih baik . program Bina Lingkungan lainnya adalah program peningkatan lingkungan. bantuan peningkatan kesehatan. Reduce Emission: Perseroan menjadi salah satu airline yang melaksanakan program ”Carbon Offset” bersama IATA Noise Reduction: Perseroan senantiasa mengurangi tingkat kebisingan penerbangan dengan mengoperasikan pesawat-pesawat mutakhir yang modern. Perseroan telah melaksanakan beberapa kegiatan dalam sektor pendidikan. dan WWF Indonesia. Dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Program tersebut merupakan program rehabilitasi dan reforestasi kawasan hutan yang bernilai ekologis tinggi seluas 300 hektar di Taman nasional Sebangau. 2. Energy Conservation: Bekerjasama dengan WWF. serta sebagai upaya untuk mengurangi emisi karbon. Program ini dilaksanakan bekerjasama dengan Departemen Kehutanan. Perseroan juga bekerjasama dengan pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat membangun fasilitas penangkaran penyu di pulau Gili Trawangan. penyediaan sarana air bersih. dan bantuan pelestarian alam. serta penggerak sosial masyarakat.Program Bina Lingkungan tahun 2010 telah menyalurkan sebesar Rp1. disamping membantu memfasilitasi masyarakat dalam melakukan penelitian ilmiah dan melakukan pelatihan recycle limbah organik. selain turut aktif dalam pengembangan kemampuan entrepreneurship para wirausahawan sebagai upaya untuk memfasilitas pengembangan kualitas pendidikan masyarakat.

Pada bulan September 2009. Hingga tanggal Prospektus ini persidangan atas keberatan belum dimulai. pra-sidang diselenggarakan berkenaan dengan tuduhan terhadap Perseroan. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau “KPPU”) menjatuhkan denda kepada Perseroan sebesar Rp187 miliar atas praktek dugaan persaingan tidak sehat berkaitan dengan beban tambahan bahan bakar (fuel surcharge) yang melanggar Pasal 5 dan Pasal 21 Undang-undang No.Perseroan juga berpartisipasi dalam pelestarian untuk pemeliharaan Monumen Pesawat RI-001 Seulawah bekerjasama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Komando Daerah Militer Iskandar Muda.6 juta sehubungan dengan penghapusbukuan (write-off) dari pesawat. Pada 30 Juli 2010.530 untuk bantuan pasangan dan perkiraan kehilangan pendapatan. bersama-sama dengan maskapai penerbangan internasional lain. Jika tuntutan ACCC dikabulkan. Dari 140 penumpang pesawat.AUSD7 juta. Perseroan dapat dikenakan sanksi denda sebesar NZD1 juta . Perseroan telah menerima salinan putusan KPPU tersebut pada 30 Nopember 2010. Pada tanggal 30 September 2010. Atas hal tersebut. Perseroan telah membayar kompensasi atau ganti rugi sekitar USD82. dan pada 2 Juni 2010. New Zealand Commerce Commission (NZCC) menerbitkan pernyataan tuntutan terhadap Perseroan. Namun hingga prospektus ini diterbitkan belum ada temuan atau putusan yang diterbitkan oleh NZCC sehubungan perkara ini. Pada tanggal 7 Maret 2007. Kalaupun Perseroan dikalahkan dalam proses persidangan ini. 21 penumpang dan awak kabin meninggal dunia. KPPU telah dijadwalkan untuk menyampaikan laporan berupa expert testimony kepada panel hakim.000 dan ganti rugi sebesar Rp7. maka Perseroan dapat dikenakan sanksi denda sebesar AUSD5 juta .000 kepada penumpang dan keluarga penumpang yang meninggal. sedangkan jika tuntutan NZCC dikabulkan. kegiatan CSR Perseroan telah memfasilitasi pembangunan Rumah Singgah untuk penderita kanker pada anak serta Program Garuda Indonesia Peduli kesehatan gigi anak dan kesehatan umum masyarakat yang terkena bencana alam . Dalam kecelakaan tersebut seorang awak kabin Perseroan telah meninggal dunia.000. Dalam persidangan tanggal 15 Desember 2010 tersebut.075 miliar atas praktek dugaan persaingan usaha tidak sehat berkaitan dengan tender give away haji yang melanggar Pasal 19 huruf (d) UU No 5 Tahun 1999. karena diduga terlibat dalam kartel beban tambahan bahan bakar global jasa kargo. Pada 17 Juni 2010.990. Sidang keberatan tersebut telah dilakukan pada 8 Desember 2011 dan 15 Desember 2010 dan hingga prospektus ini diterbitkan belum ada putusan pengadilan sehubungan dengan upaya hukum keberatan tersebut. hal tersebut tidak akan memberikan dampak material negatif terhadap usaha dan keuangan Perseroan. dan Perseroan telah menerima kompensasi total sebesar USD104. Pada 17 Oktober 2010. Perseroan mengajukan banding atas putusan tersebut. Dalam bidang kesehatan. Sidang diadakan pada tanggal 5 Nopember 2010. Perseroan telah mengajukan upaya hukum Keberatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas putusan KPPU tersebut pada tanggal 20 Desember 2010. KPPU juga telah mengeluarkan putusan terhadap dugaan pelanggaran Pasal 19 UU No 5 Tahun 1999 terkait dengan penunjukkan langsung yang dilakukan oleh Perseroan kepada PT Gaya Bella Diantama dan PT Uskarindo Prima untuk pengadaan give-away kepada jamaah haji Indonesia untuk tahun 2009/2010 dan 2010/2011. penerbangan Garuda Indonesia GA 200 mengalami kecelakaan di landasan pacu saat mendarat di Bandara Adisucipto di Yogyakarta. dan Perseroan mengalami kerugian sebesar USD21. Australian Competition and Consumer Commission (“ACCC”) mengajukan tuntutan hukum terhadap Perseroan bersama-sama dengan maskapai penerbangan internasional lain sehubungan dengan dugaan atas keterlibatan dalam kartel beban tambahan bahan bakar global jasa kargo. Hingga prospektus ini diterbitkan belum ada putusan pengadilan sehubungan dengan perkara ini. Pengadilan Negeri New South Wales menolak permohonan Perseroan untuk dikeluarkan dari perkara berdasarkan Foreign Satates Immunities Act 1985. istri dan anak dari awak kabin yang telah meninggal dimaksud mengajukan tuntutan hukum di pengadilan Kyoto di Jepang sebesar JPY188. Pada 27 Oktober 2010. 146 . KPPU menjatuhkan denda sebesar Rp1. 16. Perseroan mengajukan keberatan atas putusan KPPU ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Antara bulan Oktober 2009 dan bulan Juni 2010.0 juta atas polis asuransi yang dimiliki Perseroan. Sampai dengan tanggal Prospektus ini belum ada keputusan atas perkara ini. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai sarana kepedulian Perseroan terhadap monumen pesawat yang bersejarah tersebut. Persidangan sehubungan dengan penggabungan pembelaan berkenaan dengan tuntutan terhadap Perseroan di New Zealand rencananya akan diselenggarakan tahun 2011. keluarga dari awak kabin dimaksud telah menerima kompensasi baik dari pihak Perseroan asuransi maupun dari Perseroan.400. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (“UU No 5 Tahun 1999”). Litigasi dan Proses Hukum Lainnya Pada 4 Mei 2010.NZD2 juta.000. PN Jakarta Pusat mengeluarkan putusan sela yang pada intinya memerintahkan KPPU untuk melakukan pemeriksaan tambahan terhadap ahli tambahan Perseroan Sidang pemeriksaan keberatan akan dilanjutkan pada 26 Januari 2011 dengan agenda penyerahan berkas pemeriksaan tambahan oleh KPPU ke majelis hakim. Pada tahun 2008.

Perseroan menjadi tergugat II dalam gugatan yang diajukan oleh PT Metro Batavia (“Batavia”) terhadap GMF AeroAsia. Batavia kemudian mengajukan upaya hukum kasasi kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan mengajukan memori kasasi pada tanggal 25 Maret 2010. Perseroan telah mendapat relaas pemberitahuan putusan Mahkamah Agung yang menyatakan Mahkamah Agung telah menolak upaya hukum kasasi dari Perseroan dan oleh karenanya putusan pengadilan tersebut telah berkekuatan hukum tetap dapat dilaksanakan terhadap Perseroan dan aset-asetnya.000. Pada tanggal 3 Nopember 2010.00 akan dipenuhi ketika PT World Simulator Technology melakukan pembongkaran/pemindahan simulator tersebut selambat-lambatnya tanggal 10 Pebruari 2011.000.984. Majalah Garuda.00. belum ada putusan Mahkamah Agung atas kasasi tersebut. termasuk Perseroan. (iii) membayar ganti rugi moril sebesar USD10. Tommy Soeharto berpendapat bahwa tergugat telah menginvasi hak pribadinya.Jkt. Perseroan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia.000. (ii) GMF AeroAsia secara tanggung renteng bersama Perseroan membayar ganti rugi materiil Rp500.00 per bulan terhitung sejak 23 Oktober 2007 sampai dengan pesawat milik Batavia dapat dioperasikan lagi.710.Pada tanggal 6 Agustus 2004.000.000. 503/PDT/2009/PT. edisi Desember 2009.00 atau setara dengan Rp460.DKI tanggal 15 Januari 2010.G/2008/PN. GARUDA/JKTDF-20004/11 tanggal 31 Januari 2011 tentang Konfirmasi Pelaksanaan Putusan Pengadilan.000. Hutomo Mandala Putera (“Tommy Soeharto”) mengajukan klaim terhadap beberapa tergugat.590. dalam kaitannya dengan sebuah artikel yang diterbitkan oleh majalah in-flight yang diterbitkan oleh Perseroan. Pada tanggal 23 Nopember 2010 Disnaker DKI Jakarta telah mengeluarkan anjuran yang merupakan hasil dari mediasi antara para pihak.000.984. Batavia kemudian mengajukan Banding kepada Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang menolak banding tersebut berdasarkan putusan No. Pada tanggal 4 Agustus 2010.000.000. Sampai dengan tanggal Prospektus ini. Kedua kasus tersebut dalam proses pemeriksaan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. repair dan service sebesar Rp 1. Pada 9 Agustus 2010. Pada tanggal 19 Desember 2008.590.839. (ii) tidak mengizinkan digunakannya ruang simulator dan (iii) menuntut pembayaran sewa ruangan lebih tinggi dari beban sewa yang disepakati. 269/PDT.000.000.690. PT World Simulator Technology (“WST”) mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengklaim bahwa Perseroan telah (i) cidera janji dalam menyediakan fasilitas pendukung alat simulator pesawat. Perseroan mendapat informasi. sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Baik Perseroan maupun WST mengajukan banding atas keputusan tersebut ke Pengadilan Tinggi Jakarta. yang pada 4 Juni 2008 memutuskan memenangkan WST dan memerintahkan Perseroan untuk membayar kerugian WST sebesar USD1. Berdasarkan Berita Acara Penyelesaian Sebagian dengan PT World Simulator Technology tanggal 28 Januari 2011. Disnaker DKI Jakarta memberikan batas waktu 10 hari kerja sejak tanggal 3 Desember 2010 (tanggal penerimaan surat) bagi para pihak untuk menyampaikan tanggapan atas anjuran tersebut. klaim yang diajukan BPG disampaikan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal 7 September 2010.000. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengabulkan gugatan WST dan memerintahkan Perseroan untuk membayar kerugian yang dialami WST sebesar USD1.360. Jika benar.Pst tanggal 11 Maret 2009. Tommy Suharto dan BPG juga menuntut permintaan maaf dari para tergugat yang akan diterbitkan di Majalah Garuda dan beberapa media nasional lainnya. Batavia mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 1 Agustus 2008 dan menuntut: (i) Perseroan untuk memerintahkan GMF AeroAsia untuk bertanggung jawab memperbaiki mesin milik Batavia.00. Perseroan mencatatkan perselisihan kepentingan kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Propinsi DKI Jakarta (“Disnaker DKI Jakarta”) karena tidak tercapainya kesepakatan antara Perseroan dengan Serikat Pekerja Perseroan perihal ketentuan dalam rancangan perjanjian kerja bersama periode 2010-2012. Berdasarkan surat Direksi Perseroan No. GMF AeroAsia mengajukan kontra memori kasasi pada tanggal 17 Mei 2010.000. Perseroan telah memenuhi putusan pengadilan sebagaimana dinyatakan dalam Putusan Kasasi Mahkamah Agung No. Belum ada temuan atau putusan yang dikeluarkan terkait penelaahan pada tanggal Prospektus ini diterbitkan. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menolak gugatan Batavia berdasarkan putusan No.000.000. Pada tanggal 19 Nopember 2010 Perseroan mengajukan upaya hukum luar biasa peninjauan kembali atas putusan kasasi Mahkamah Agung tersebut.580 dan kerugian immaterial sebesar Rp25 miliar yang harus dibayar secara tanggung renteng oleh para tergugat. 526/K/PDT/2009 yang pada pokoknya mewajibkan Perseroan untuk membayar kerugian materiil kepada PT World Simulator Technology sebesar Biaya operasional pendapatan yang diharapkan sebesar USD 1. Dalam kasus ini BPG menuntut kerugian material sebesar Rp1.000. reputasi dan privasi dalam artikel di Pecatu Indah Resort yang mencatat bahwa Tommy Soeharto adalah narapidana dalam kaitannya dengan kasus pembunuhan. Tommy Suharto mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan meminta pembayaran atas kerugian material sebesar Rp13.062 dan kerugian immaterial sebesar Rp25 miliar yang harus dibayar secara tanggung renteng oleh para tergugat. namun belum mendapat pemberitahuan resmi. biaya pembongkaran/ pemindahan simulator ditambah dengan biaya parts.00 setiap hari dan USD50.500 ditambah Rp1. perselisihan kepentingan tersebut dapat diajukan kepada Peradilan Hubungan Industrial.000.00 setara dengan Rp92. 147 .800 dan Rp1. bahwa Serikat Pekerja Perseroan menolak anjuran tersebut. Tuntutan Batavia terhadap GMF AeroAsia terkait tagihan yang dilayangkan GMF AeroAsia kepada Batavia untuk perbaikan mesin pesawat Batavia yang memiliki garansi GMF AeroAsia dan biaya sewa mesin yang harus ditanggung oleh Batavia selama masa perbaikan mesin pesawat milik Batavia oleh GMF AeroAsia.000. PT Bali Pecatu Graha (“BPG”) sebagai operator Pecatu Indah Resort juga mengajukan klaim terhadap beberapa tergugat termasuk Perseroan atas dasar yang sama.000.00 dan Biaya pengembalian dana talangan sebesar Rp 590. Pada tanggal 4 Juni 2007.500.

tidak akan menimbulkan dampak negatif secara material terhadap kelangsungan usaha. namun apabila pengadilan memberikan putusan yang mengalahkan Perseroan. keuangan Perseroan maupun rencana Penawaran Umum ini. 148 . pidana dan atau perselisihan lain di lembaga peradilan dan/atau lembaga perwasitan atau tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu Perseroan menjadi dinyatakan pailit. Anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan tidak sedang terlibat dalam suatu perkara perdata.Perkara-perkara sebagaimana diungkapkan di atas merupakan perkara yang dianggap penting oleh Perseroan. Pada saat ini.

sebuah perusahaan patungan (joint venture) antara maskapai nasional Belanda KLM (dengan kepemilikan saham 51%) dan Pemerintah Indonesia (dengan kepemilikan saham 49%). KEGIATAN DAN PROSPEK USAHA PERSEROAN 1. menjadi pemegang saham utama Garuda Indonesian Airways NV. Pada tahun 1985. f. e. Pada tahun 1954. dibentuk untuk menyediakan jasa teknologi informasi dan jasa sistem jaringan operasi termasuk jasa untuk sistem distribusi global Perseroan. Pada tanggal 31 Maret 1950. Negara Republik Indonesia. Pada tahun 1975. serta melayani rute yang terdiri dari 31 tujuan domestik dan 18 tujuan internasional. yang merupakan tujuan wisata utama di Indonesia. Pada Juni 2010. Perseroan membuka kembali kegiatan usaha Citilink demi memenuhi permintaan akan layanan LCC di Indonesia. Perseroan memberikan layanan penerbangan haji pertama bagi para jemaah haji ke Arab Saudi Pada tahun 1973. Perseroan membentuk anak perusahaan PT Aero Wisata yang menyediakan dan mengembangkan jasa layanan pendukung seperti in-flight catering. k. Perseroan memperbaharui identitas (brand) Perseroan dan meluncurkan brand baru dengan pesawat baru Boeing 737-800 NG dan Airbus A330-200. serta jasa lainnya yang terkait dengan transportasi udara di Indonesia. “Garuda Indonesian Airways” mulai beroperasi. untuk melanjutkan kegiatan usaha dari Garuda Indonesian Airways NV. sebuah perusahaan riset yang memiliki spesialisasi dalam industri transportasi udara. Perseroan dianugerahi peringkat bintang empat oleh Skytrax. ibukota Indonesia dan pusat bisnis. Pada tanggal 26 Januari 1949. Perseroan mengganti identitas perusahaan untuk meningkatkan tampilan (image) dan dalam rangka memenuhi visi Perseroan di masa depan. sebuah perseroan terbatas Badan Usaha Milik Negara yang tunduk pada hukum Negara Republik Indonesia.BAB VIII. Perseroan melakukan penerbangan ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya. j. Perseroan dibentuk menjadi PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero). anak perusahaan Perseroan. yang diwakili oleh Pemerintah melalui Menteri Keuangan. d. Pada September 2008. PT Aero Systems Indonesia dibentuk untuk menyediakan teknologi informasi bagi industri transportasi. Pada bulan Desember 2009. biro perjalanan dan wisata serta transportasi darat. l. o. perbaikan dan overhaul (MRO) termasuk perbaikan rangka pesawat (airframe) dan pemeliharaan mesin pesawat (engine) serta layanan pendukung terkait lainnya. Perseroan beroperasi di beberapa bandara besar yaitu Bandara Internasional Soekarno-Hatta. p. dan dalam sejarahnya telah menjadi maskapai penerbangan pembawa bendera negara yang melayani perjalanan penerbangan internasional dan domestik. Perseroan dianugerahi sebagai pemenang penghargaan Skytrax 2010 “World’s Most Improved Airline. atau FSC) melalui brand Garuda Indonesia. i. n. anak perusahaan Perseroan. Beberapa tahapan penting (key milestones) Perseroan adalah sebagai berikut: a. dan Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. yang merupakan pesawat berbadan lebar pertama yang dipakai pada armada pesawat Perseroan. penerbangan komersial Indonesia yang pertama mulai beroperasi dengan menggunakan nama “Indonesian Airways”. Pada tahun 1995. Perseroan dibentuk dengan nama Garuda Indonesian Airways NV. Pada tahun 2002. m. PT Abacus Distribution Systems Indonesia. h. kargo. Pada tahun 1956. yang berlokasi dekat dengan kota Jakarta. Pada Desember 2008. Pada tahun 1985. dekat kota Jakarta. Perseroan menerima penyerahan pesawat pertama dengan jenis pesawat DC-10. Pada tahun 1985. Cengkareng. Pada tanggal 28 Desember 1949. c. UMUM Perseroan adalah maskapai penerbangan milik Negara Republik Indonesia dan penyedia layanan angkutan udara niaga untuk penumpang. Perseroan juga menempati kantor manajemen baru yang terletak di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bali. Perseroan juga menyediakan layanan LCC melalui brand Citilink yang terpisah dari brand Garuda Indonesia yang dijalankan oleh SBU. Pada Juli 2009. Perseroan melakukan penerbangan kembali ke Amsterdam. Pada tahun 1976. g. yang berkantor pusat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. hotel dan resort. Perseroan adalah satu-satunya maskapai penerbangan berlisensi di Indonesia yang menyediakan pelayanan lengkap (full service carrier. Perseroan memiliki sejarah operasional yang panjang di Indonesia. Perseroan mengganti identitas perusahaan menjadi PT Garuda Indonesia (Persero). b.” Selain layanan FSC. 149 . anak perusahaan Perseroan. PT GMF Aero Asia dibentuk untuk menyediakan layanan pemeliharaan. Pada bulan Mei 2010. yang menyatakan adanya perbaikan pada Perseroan dalam produk dan kualitas layanan.

9% apabila dibandingkan dengan periode Januari sampai September 2009. SBU Citilink. Rp14. serta jasa layanan kargo. PT Aero Wisata (in-flight catering. Gambar berikut menunjukkan struktur bisnis Perseroan termasuk unit bisnis strategisnya.September 2010. Rp710.7 miliar untuk periode yang berakhir 31 Desember 2009.5% PT Gapura Angkasa ) Ground Handling) 1% 49% 33% 150 . Perseroan juga memiliki penyertaan pada. dan pada akhir tahun 31 Desember 2009. dan perusahaan afiliasi lainnya. dan dengan populasi yang saat ini melebihi 240 juta jiwa. Rp975. dengan lalu lintas penumpang sekitar 13. PT Garuda Indonesia Cargo Business Unit Healtcare Business Unit Citilink Business Unit 99. transport) 99% PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (MRO) 51% PT Aero Systems Indonesia 67% PT Citilink Indonesia (belum beroperasi) 95% PT Abacus Distribution Systems Indonesia (Reservasi) 37. SBU Citilink dan SBU Garuda Sentra Medika. PDB (tanpa migas) Indonesia telah tumbuh dengan CAGR sebesar 3.5% dari tahun 2007 hingga tahun 2009.9 juta untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 masingmasing sebesar Rp1.9 juta penumpang. Saat ini Perseroan memiliki tiga SBU: SBU Garuda Kargo. Perseroan menerbangkan sekitar 10.9% PT Aero Wisata (catering.6 miliar dan Rp688. dan empat Anak Perusahaan utama: PT Abacus Distribution Systems Indonesia (reservasi).1 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 masing-masing sebesar Rp17. yang mana menunjukkan adanya peningkatan sebesar 23. Indonesia memiliki kebutuhan layanan penerbangan yang kian meningkat. Berdasarkan data BPS yang diambil dari website BPS tanggal 21 Oktober 2010. suatu anak perusahaan yang dibentuk untuk tujuan tersebut. Berdasarkan data BPS Januari .4 miliar.7 miliar. yang menyediakan jasa layanan ground handling. Jumlah pendapatan usaha Perseroan adalah Rp12.2 juta penumpang.685. untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009.042. Pada 30 September 2010. yang mana menunjukkan adanya peningkatan sebesar 21.7 miliar. dan Perseroan berharap di masa depan untuk mengalihkan operasional SBU Citilink kepada PT Citilink Indonesia. Perseroan mengoperasikan 84 pesawat yang melayani 31 rute tujuan domestik dan 18 rute tujuan internasional untuk penerbangan penumpang FSC dan LCC. 2006 dan 2005.4 miliar. Dalam periode Januari sampai dengan 30 September pada 2010. Perseroan menerbangkan sekitar 9 juta penumpang. Rp152. Perseroan berkeyakinan bahwa.1 juta RFTK. hotel.4 miliar RPK (“Revenue Passenger Kilometer”) dan lalu lintas kargo sekitar 311.2 miliar dan Rp12. 2007.4 juta RFTK (“Revenue Freight Ton Kilometers”). lalu lintas penumpang dengan rute internasional adalah sebesar 14. serta memiliki PT Citilink Indonesia (LCC) yang belum beroperasi. Rp12.000 pulau yang tersebar. dan jaringan rute yang melayani wilayah pusat perkotaan di Indonesia dan luar negeri.SBU Citilink adalah unit bisnis terpisah yang berkantor pusat di Surabaya. Perseroan memiliki posisi yang kuat untuk mengembangkan bisnisnya dan mampu memenuhi peningkatan permintaan akan layanan penerbangan di Indonesia. yang baru diluncurkan kembali di bulan September 2008. dan juga kepada budget travellers.5% apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya.860. perhotelan. Laba bersih sebesar Rp194.349. Rp19. dengan lokasi hub-hub operasional Perseroan yang terletak di Jakarta dan Denpasar serta Surabaya untuk brand Citilink.018.1 juta penumpang. jasa transportasi dan jasa travel). dimana telah memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan kelas menengah yang kian meningkat.5 miliar. travel. melalui penerbangan langsung ke kota-kota besar di Indonesia. PT Gapura Angkasa (Gapura). dengan lalu lintas penumpang sekitar 15. sekitar 90% dari rute jaringan domestik membutuhkan penerbangan di atas wilayah perairan.0 miliar. mengoperasikan 6 pesawat menyediakan untuk penerbangan LCC pada 8 rute domestik di Indonesia. dimana sekitar 6.343. lalu lintas penumpang dengan rute domestik adalah sebesar 31.650.6 miliar. 2007. Dengan sekitar 17.9 miliar RPK dan lalu lintas kargo sekitar 282. Pada 30 September 2010. 2008. 2006 dan 2005. 2008. Sedangkan pada periode yang sama. Anak Perusahaan utama yang beroperasi maupun yang belum beroperasi. Perseroan berkeyakinan bahwa pemisahan antara layanan FSC dan LCC akan mendukung Perseroan untuk melakukan segmentasi layanan yang diberikan kepada pelanggan “premium” korporat dan penumpang pribadi yang melakukan perjalanan di kelas bisnis dan kelas ekonomi.000 pulau dihuni. PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (perbaikan dan pemeliharaan pesawat atau MRO) dan PT Aero Systems Indonesia (teknologi informasi). Pada 30 September 2010.

pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat dengan CAGR 3. Perseroan membatalkan sekitar 190 penerbangan pulang pergi ke dan dari beberapa tujuan tertentu.000 pulau dihuni. atau tumbuh dengan CAGR sebesar 7. Indonesia memiliki kebutuhan yang cenderung meningkat akan layanan penerbangan udara.8%. penumpang domestik meningkat dari 31. backup data dari sistem manajemen operasional tidak akurat dan. PERKEMBANGAN TERKINI PERSEROAN Kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan untuk periode 3 bulan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010 dipengaruhi oleh dua kejadian luar biasa di bulan Nopember 2010. Sebagai akibatnya. Indonesia merupakan salah satu pasar penerbangan udara yang memiliki pertumbuhan yang pesat Dengan kurang lebih sekitar 17. Pembatalan penerbangan dan shutdown sistem reservasi oleh Perseroan selama periode ini mengakibatkan penurunan pendapatan usaha dan volume penumpang pada kinerja 2 bulan sampai dengan 30 Nopember 2010. dengan rata-rata pertumbuhan pertahun (“CAGR”) sebesar 4. Indonesia juga diuntungkan sebagai salah satu pusat keuangan yang memiliki pertumbuhan yang relatif cepat di region Asia. Perseroan saat ini melayani 31 tujuan domestik pada 33 propinsi. Pada 30 September 2010. dan populasi yang saat ini melebihi 240 juta jiwa dengan masyarakat kelas menengah yang sedang berkembang. beberapa crew tidak datang pada jadwal kedatangan yang telah ditentukan. sekitar 90% dari rute jaringan domestik Perseroan merupakan penerbangan antar pulau. termasuk Yogjakarta. Berdasarkan data BPS. Dalam menjawab situasi tersebut. Selama bulan Nopember dan Desember 2010. telah mengakibatkan adanya pembatasan penerbangan pada industri penerbangan di Indonesia. dengan demikian Perseroan mengalami kesulitan dalam mengalokasikan crew pada jadwal penerbangan yang telah ditentukan antara tanggal 21-23 Nopember 2010 dengan jadwal crew penerbangan yang terus-menerus dicetak dan didistribusikan ke beberapa crew penerbangan unit dengan menggunakan data yang tidak akurat dari sistem manajemen operasional yang lama. dimana Indonesia bagian Timur menjadi salah satu fokus untuk tujuan investasi. KUNCI UTAMA INVESTASI Keunggulan kompetitif yang sudah dimiliki Perseroan secara keseluruhan antara lain: a. Dari hasil investigasi tersebut menunjukkan bahwa saat ini Perseroan tidak memiliki jaringan sistem manajemen yang cukup yang dapat memantau trafik jaringan atau memberikan early fault detection di IOCS. Perseroan juga yakin bahwa lalu lintas penerbangan internasional terbagi secara merata antara penduduk Indonesia yang terbang ke luar negeri dan penduduk luar negeri yang terbang ke Indonesia. kedua gunung yang paling aktif.000 pulau.8 juta penumpang dalam periode satu tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. Pembatalan penerbangan tersebut dan pengurangan frekuensi penerbangan telah mempengaruhi secara negatif pendapatan per penumpang dan jumlah penumpang dan pengalihan rute penerbangan telah meningkatkan biaya bahan bakar dan biaya operasional penerbangan lainnya untuk periode 3 bulan yang berakhir pada 31 Desember 2010. serta menurut grup konsultan The SAP Group (“SAP”). telah melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab dari outage dari IOCS. Pada tanggal 21 Nopember 2010. penumpang lalu lintas internasional meningkat dari 12. 3. Sebagai hasilnya. Indonesia juga mendapatan keuntungan dari pertumbuhan industri pariwisata di Bali dan tempat-tempat lain di Indonesia. dengan sekitar setengah dari populasi dunia terletak sekitar 6 jam dari Jakarta. Pembatalan penerbangan tersebut dan penutupan sistem pemesanan selama periode tersebut telah mempengaruhi secara negatif pendapatan per penumpang dan jumlah penumpang untuk periode 3 bulan yang berakhir 31 Desember 2010. dimana hal tersebut memberikan kontribusi untuk perkembangan kelas menengah yang meningkat dan pertumbuhan kebutuhan akan layanan penerbangan udara. selama periode outage di sistem IOCS tersebut. dimana Perseroan berkeyakinan dapat membatasi risiko substitusi oleh moda transportasi lainnya.2 juta penumpang pada periode satu tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007 menjadi 35. 151 .6 juta penumpang pada 31 Desember 2007 menjadi sekitar 15. Berdasarkan data BPS. pertumbuhan ekonomi juga semakin tersebar ke kepulauan lain.2.6%.7 juta penumpang pada periode satu tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. Jakarta dan lokasi lainnya di Jawa Tengah. 184 penerbangan dibatalkan dan Perseroan menutup sistem reservasi untuk mencegah pemesanan penumpang baru selama periode 21–23 Nopember 2010. Sebagai akibatnya. dimana sekitar 6. Walaupun Perseroan telah menyimpan IOCS untuk mulai beroperasi pada 21 Nopember 2010.5% dari tahun 2007 sampai 2009. kemudian meningkatkan permintaan akan transportasi udara diantara ibukota propinsi. Indonesia juga telah mengalami proses regionalisasi dimana adanya perpindahan kekuatan politik yang awalnya dikendalikan di Jakarta dan sekarang berpindah di 33 propinsi di Indonesia. letusan berulang-ulang dari gunung Merapi dan Bromo. Berdasarkan data BPS. Perseroan juga mengalihkan rute penerbangan (dan meningkatkan tujuan penerbangan) ke beberapa tujuan di Indonesia dan luar negeri untuk mencegah abu dari letusan gunung merapi tersebut. Perseroan bersama dengan LAPI Institut Teknologi Bandung. Perseroan mengalami gangguan selama periode 3 jam selama melakukan pemindahan dari sistem manajemen operasional yang lama ke Integrated Operational and Control System (IOCS) yang baru dan menyebabkan outage di sistem IOCS.

Dengan beroperasi melalui hub di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta.000 anggota yang terdaftar per 30 September 2010. dan juga penerbangan langsung dari dan ke luar negeri. c. Citilink mengoperasikan 5 pesawat Boeing 737-300 dan 1 pesawat Boeing 737-400 dan memiliki 45 pilot dan 64 awak kabin. yang merupakan faktor penting untuk mengukur kepuasan pelanggan dan reputasi perusahaaan. Fleksibilitas pengoperasian bisnis FSC dan LCC Perseroan memiliki SBU Citilink dengan kantor pusat dan tim manajemen yang terpisah yang berlokasi di Surabaya dengan mengoperasikan model bisnis LCC yang berfokus pada rute dengan yield yang rendah dan jumlah pasar yang besar. Pada 30 September 2010. Perseroan memiliki berbagai jaringan rute yang melayani 31 rute tujuan domestik dan 18 rute internasional. “World’s Most Improved Airline” oleh SkyTrax pada tahun 2010. Perseroan memperkenalkan “Immigration and Visa On-Board” untuk memperoleh izin imigrasi terlebih dahulu sebelum kedatangan untuk penumpang internasional pada beberapa penerbangan tertentu dengan tujuan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. “Good Corporate Governance Award” dari majalah SWA dan Indonesia Institute for Corporate Governance dan penghargaan “Best of The Best CEO” oleh 152 . dan penghargaan “Indonesia Customer Satisfaction Award” yang diberikan olah Frontier Consulting & Majalah SWA di tahun 2009. Bali. ibukota Indonesia dan pusat bisnis. dan juga bersamaan dengan itu. yang telah berdiri sejak tahun 1950. serta penghargaan “Airline of the Year 2009” oleh Majalah Angkasa. Pemimpin di pasar penerbangan Indonesia Perseroan memiliki sejarah operasional yang panjang sebagai maskapai penerbangan nasional yang menyediakan jasa penerbangan internasional dan domestik di Indonesia. pangsa pasar Perseroan pada penerbangan rute domestik dengan keberangkatan dari Indonesia adalah 23. e.b.8 sen. termasuk sebagian perusahaan BUMN. Perseroan juga berkeyakinan bahwa on-time performance (“OTP”). Perseroan berkeyakinan memiliki pelanggan yang sangat loyal diantara penumpang premium di pasar domestik. Perseroan memperoleh “Indonesia’s Most Admired Company” dan “The Best in Building and Managing Corporate Image” oleh Bloomberg Business Week di tahun 2010. d. dengan telah menerbangkan lebih dari 80 juta penumpang dalam 10 tahun terakhir. Dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.9 sen. juga menyediakan pelayanan LCC kepada penumpang yang sensitif terhadap harga untuk rute dengan yield rendah dan jumlah pasar yang besar. lebih baik dibandingkan dengan pesaing Perseroan. Dari beberapa penghargaan yang telah diterima. Perseroan memiliki posisi yang kuat untuk meningkatkan jumlah penumpang baik di pasar domestik maupun di pasar internasional. Manajemen Perseroan memperoleh penghargaan “Best Chief Financial Officer“ oleh majalah SWA di tahun 2010. cost per ASK Citilink adalah USD4. telah sangat diakui di pasar domestik. dalam rangka meningkatkan pendapatan Perseroan dari penumpang “premium”. Perseroan telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan pelanggan korporasi yang berjumlah sekitar 1.5% dan Perseroan melayani lebih banyak lokasi tujuan apabila dibandingkan dengan maskapai di Indonesia lainnya. Cathay Pacific Airlines dan Malaysia Airlines dan dua maskapai penerbangan berbintang lima versi Skytrax seperti Bangkok Airways dan Thai Airways. persentase anggota GFF adalah sekitar 28. Tim Manajemen yang Ahli dan Berpengalaman Dengan Rekam Jejak yang Baik Perseroan berkeyakinan bahwa tim manajemen yang ada memiliki keahlian dan berpengalaman untuk dapat terus mengembangkan bisnis Perseroan dalam industri penerbangan Indonesia. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan kuatnya pengakuan atas brand Perseroan dan loyalitas pelanggan. Perseroan juga berkeyakinan bahwa dengan pemisahan tersebut akan mendukung untuk mencapai segmentasi pasar pada rute dengan densitas yang tinggi dan memberikan perlindungan terhadap yield dimana Perseroan akan mengembangkan bisnis FSC dan secara simultan memberikan kesempatan bagi Perseroan untuk memanfaatkan pertumbuhan pasar LCC yang sensitif terhadap harga. Program Garuda Frequent Flyer (“GFF”) memiliki sekitar 435. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan adanya pemisahan operasional antara FSC dan LCC mampu untuk menyediakan pelayanan bisnis FSC untuk penumpang premium dengan yield yang tinggi. Garuda menduduki peringkat pertama dalam hal kualitas layanan dibandingkan dengan tiga maskapai penerbangan lainnya dengan kategori bintang lima versi Sky Trax yaitu Singapore Airlines.1%. Berdasarkan data SAP. Perseroan juga merupakan satu-satunya maskapai penerbangan domestik yang memberikan layanan FSC di Indonesia. yang termasuk beban per ASK untuk layanan LCC Perseroan. apabila dibandingkan dengan cost per ASK Garuda yaitu sebesar USD6.000 perusahaan di Indonesia. tujuan wisata utama di Indonesia. selama bulan September 2010. Brand yang kuat dan pelanggan yang loyal untuk mendukung pertumbuhan di masa yang akan datang Perseroan berkeyakinan bahwa brand Garuda Indonesia. Per 30 September 2010. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Centre of Asia Pacific Aviation (“CAPA”) di tahun 2010. dan Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. Perseroan berkeyakinan memiliki posisi yang baik untuk dapat memenuhi permintaan yang bertambah untuk penumpang premium dan penumpang budget travellers untuk penerbangan langsung di berbagai destinasi di Indonesia. Sebagai satu-satunya penerbangan FSC domestik dan pemimpin dalam jaringan rute di pasar penerbangan di Indonesia. Pada tahun 2010.8% dari total penumpang di periode yang sama. sedangkan pangsa pasar pada penerbangan rute internasional sebesar 15.

sehingga dapat dirasakan seperti layanan full service oleh penumpang. Strategi Usaha Perseroan berkeyakinan bahwa strategi Perseroan dapat memposisikan Perseroan untuk mengkapitalisasi pertumbuhan yang berkelanjutan di pasar penerbangan Indonesia. Perseroan memiliki kontrak untuk mendatangkan 10 pesawat Boeing 777 yang akan dikirim antara tahun 2013 dan 2016 untuk mengganti pesawat Boeing 747 dan meningkatkan penerbangan langsung untuk tujuan regional. Perseroan berencana mengoperasikan 18 armada pesawat Sub-100 untuk melayani rute dengan yield yang tinggi dan jumlah pasar yang kecil. Perseroan berkeyakinan bahwa jenis pesawat tersebut dapat meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan kapasitas untuk kebutuhan rute dengan jumlah pasar yang kecil. Perseroan juga merencanakan untuk menambah jaringan rute untuk melayani semua ibukota propinsi di Indonesia dan memperoleh keuntungan dari otonomi daerah. Perseroan juga berencana untuk mengimplementasikan sistem Customer Relationship Management (“CRM”) untuk meningkatkan kontribusi penerbangan dari anggota GFF. dengan perpaduan kemampuan di industri penerbangan dan pengalaman di sektor lain yang lebih luas. Memperkuat dan Menambah Rute Internasional serta Brand Perseroan berusaha untuk meningkatkan jaringan rute internasional untuk FSC selama adanya kesempatan untuk menyediakan penerbangan langsung untuk rute internasional dari Indonesia yang dapat menghindari transit di lokasi penghubung bandara internasional dan langsung ke tujuan baru seperti India. terbukti mampu merestrukturisasi kegiatan usaha Perseroan dan menghasilkan laba selama resesi global di tahun 2008-2009. Perseroan juga merencanakan untuk menjadi anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan dalam dua tahun ke depan dan akan meningkatkan perjanjian kerjasama codeshare yang akan mendukung strategi Perseroan untuk memperluas jangkauan tujuan internasional baru yang pada saat ini belum dapat dilayani dengan penerbangan langsung dari Indonesia. untuk menciptakan pangsa pasar di tujuan-tujuan tersebut sebelum dibuka untuk pesaing dengan akan diterapkannya konsep liberalisasi kebijakan “Open Skies” di tahun 2015 untuk ASEAN. = Secara Berkelanjutan Meningkatkan Bisnis Layanan FSC. yang saat ini tidak bisa dioperasikan secara menguntungkan oleh konfigurasi standar pesawat FSC dan LCC Perseroan. Manajemen Perseroan telah membentuk budaya pelayanan dan meritokrasi yang berfokus pada penerimaan karyawan. Perseroan berkeyakinan bahwa pesawat baru tersebut akan memberikan penawaran yang baru bagi penumpang FSC dan lebih memberikan kenyamanan bagi penumpang. dengan demikian akan mempertahankan dan menambah yield penumpang dan PLF pada layanan bisnis FSC Perseroan. terutama pada bandara regional yang berukuran kecil. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan pemutakhiran sistem ini dapat mengoptimalkan kebijakan penentuan harga antara kantor regional dengan petugas manajemen pendapatan di pusat. 153 . sebagai dampak dari peningkatan PDB di Indonesia dan biaya perjalanan yang cenderung menurun.majalah Warta Ekonomi di tahun 2009. retensi dan motivasi awak kabin dan personel inti lainnya. melayani para wisatawan yang biasanya hanya sampai ke Bali. bersamaan dengan itu menambah frekuensi penerbangan di rute yang saat ini memberikan keuntungan. Taiwan dan Filipina. dalam rangka memperluas rute jaringan point-to-point dan menghubungkan hub-hub Perseroan dengan lokasi-lokasi tujuan wisata di Indonesia. Sebagai satu-satunya perusahaan penerbangan domestik dengan layanan FSC di Indonesia. 4. pelatihan. Inisiatif-inisiatif kunci dari strategi Perseroan adalah sebagai berikut: = Optimalisasi Layanan bisnis FSC untuk Mendukung Pertumbuhan Permintaan Pasar Domestik Perseroan berencana untuk mengoptimalkan pelayanan FSC dengan meningkatkan armada yang sesuai dan memperbanyak jaringan rute untuk dapat mendukung pertumbuhan permintaan untuk pasar domestik. Perseroan berkeinginan untuk memesan dan mengoperasikan pesawat Sub-100 baru dengan tetap mempertahankan image. dan untuk meningkatkan serta memperbaiki sistem manajemen pendapatan Perseroan agar dapat meningkatkan segmentasi harga untuk pemesanan bagi penumpang premium dan penumpang budget pada bisnis FSC Perseroan dan sistem Passenger Service Solution (‘PSS’) Perseroan serta meningkatkan metode jalur penjualan dan menambah kapasitas reservasi melalui internet untuk penjualan tiket secara langsung. Walaupun untuk sementara ini Perseroan belum memesan jenis pesawat tersebut. Perseroan berencana untuk melakukan layanan internasional dari tiga daerah utama di Indonesia yaitu Medan. yang merupakan periode yang sangat sulit bagi setiap maskapai penerbangan dengan layanan FSC di industri penerbangan global. Per 30 September 2010. dapat melanjutkan perjalanannya ke kota-kota tujuan lainnya selain Bali. Manajemen Perseroan. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan tim manajemen yang sekarang ada akan mampu memberikan landasan yang kuat untuk mencapai strategi pertumbuhan Perseroan. Makassar dan Balikpapan. rata-rata pengalaman pilot Perseroan adalah 22 tahun.

serta merealisasikan penghematan dalam pemeliharaan pesawat. Perseroan berencana untuk mengembangkan layanan bisnis LCC Citilink dalam memperoleh pertumbuhan penumpang yang sensitif terhadap harga pada rute domestik dengan yield rendah dan jumlah pasar yang besar. efisien dan pelayanan yang ramah dan dikombinasikan dengan kebutuhan mendasar dari penumbang berbiaya murah. Perseroan memiliki komitmen pemesanan untuk 27 pesawat baru untuk Boeing 737-800. serta terus meningkatkan dan memperbaiki sistem solusi hubungan pelanggan. meningkatkan utilisasi pesawat dan efisiensi penggunaan bahan bakar dengan memperkenalkan pesawat baru dan melakukan fuel conservation program. dimana hal ini dapat melindungi profitabilitas layanan bisnis FSC. Perseroan telah mendirikan SBU Citilink dengan tim manajemen dan lokasi kantor pusat yang terpisah di Surabaya. Per 30 September 2010. Saat ini. Jawa Timur untuk meningkatkan kemampuan Perseroan untuk mengembangkan bisnis LCC dengan menekankan pada konsep sederhana. Perseroan berencana untuk menambah armada dari 84 pesawat per tanggal 30 September 2010 menjadi sekitar 150 pesawat sampai dengan tahun 2015. Perseroan juga bermaksud untuk memesan dan memperkenalkan pesawat regional Sub-100 baru.dan PSS dalam rangka meningkatkan tingkat pemanfaatan passanger load factor dan passenger yield. = Meningkatkan Disiplin Biaya dan Manajemen Pendapatan Perseroan Perseroan berusaha untuk terus meningkatkan manajemen biaya dengan. Perseroan juga melakukan pemutakhiran PSS yang diharapkan dapat meningkatkan jaringan penjualan langsung kepada penumpang dan sistem manajemen pendapatan yang akan meningkatkan kemampuan Perseroan untuk mengelola persediaan tempat duduk dengan mengalokasikan di kelas berbeda dan perkiraan permintaan yang lebih baik dan penambahan jenis kelas penerbangan yang dijual. SBU Citilink melayani 8 tujuan domestik dengan 6 pesawat Boeing 737. = Pengembangan LCC untuk Memperoleh Segmentasi Pasar dengan Layanan FSC Perseroan berencana untuk memperluas kehadiran LCC untuk meningkatkan peluang yang ada untuk melayani penumpang yang sensitif terhadap harga di dalam negeri dan pasar regional dengan yield yang rendah dan jumlah pasar yang besar. mengurangi rata-rata umur pesawat dan mengurangi keseluruhan beban pemeliharaan untuk pesawat yang melayani FSC dan LCC. antara lain. dan juga meningkatkan efisiensi biaya atas jasa pelayanan Perseroan. Perseoran juga merencanakan untuk menggunakan layanan bisnis LCC Citilink untuk membuka rute internasional dengan yield rendah dan jumlah pasar yang besar yang tidak dapat dilayani secara menguntungkan oleh layanan bisnis FSC Perseroan. dan meremajakan pesawat untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan efisiensi beban untuk operasional armada pesawat. Perseroan berencana untuk melakukan investasi pada pembaharuan interior kabin. dan memiliki hak opsi untuk membeli tambahan 4 pesawat Airbus A330-200. dan Perseroan berencana untuk menambah jumlah armada sampai dengan 25 pesawat di tahun 2015.= Memperkuat brand Perseroan di Pasar Internasional Perseroan berencana untuk fokus pada konsistensi terhadap layanan dan jasa dan terus mengembangkan program “Garuda Indonesian Experience” untuk membedakan layanan FSC Perseroan dibandingkan dengan perusahaan pesaing. dilengkapi dengan fasilitas di dalam pesawat yang nyaman akan semakin memperkuat brand Perseroan. Menyederhanakan Jenis dan Meremajakan Armada Pesawat Perseroan berencana untuk menambah. serta memperkenalkan budaya Indonesia bagi wisatawan asing yang ke Indonesia. Perseroan juga telah memiliki letter of intent atas sewa operasi 12 pesawat Boeing 737-800 (dimana 4 pesawat telah dikirimkan antara bulan Oktober dan Desember 2010) dan 3 pesawat Airbus A330-200 (dimana satu pesawat telah dikirimkan di bulan Desember 2010) yang akan mulai beroperasi pada periode 2011. sistem hiburan dalam pesawat serta mendesain ulang situs internet Perseroan untuk pelanggan dan agar dapat diakses secara online. Perseroan berusaha untuk meningkatkan secara proporsional kru penerbangan dan personel inti lainnya. 154 . sistem manajemen pendapatan. Strategi Perseroan adalah agar brand Perseroan untuk lebih fokus pada brand Garuda yang sangat kental akan budaya dan keramah tamahan Indonesia. = Memperbanyak Jumlah. sehingga dapat bertahan terhadap perubahan harga diantara penumpang FSC Perseroan dan budget travellers pada rute yang sama. Perseroan mengharapkan agar anak-anak perusahaan kunci nantinya akan menyumbangkan sekitar 50% pendapatan dari pihak ketiga untuk dapat beroperasi mandiri dari Perseroan. Per 30 September 2010. Perseroan berkeyakinan bahwa SBU Citilink menikmati keuntungan dari reputasi Perseroan untuk keamanan dan kehandalannya. Secara keseluruhan. Saat ini Perseroan ingin membedakan SBU Citilink dengan brand yang berbeda dan budaya pelayanan yang berbeda. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan memberikan persepsi budaya Indonesia untuk penumpang domestik dan penumpang Indonesia yang pergi ke luar negeri. Perseroan adalah satu dari dua maskapai penerbangan domestik yang memiki sertifikasi IOSA dan mendapat penghargaan bintang empat yang telah diterima dari Skytrax. Boeing 777 dan Airbus A330-200 yang diharapkan meningkatkan keseluruhan efisiensi bahan bakar. Sejalan dengan bertambahnya armada. pelatihan dan biaya tenaga kerja dengan mengubah biaya tetap menjadi biaya variabel sebagaimana Perseroan mengembangkan bisnisnya. menyederhanakan.

88.4 78.2 845.6 105.9.5% 12.571.4 9.9 9.3%. Perseroan bermaksud untuk mempertahankan hubungan yang ada dengan berbagai akademi pelatihan domestik dan internasional untuk penerbangan global yang lebih baik memanfaatkan praktik terbaik (best practice) dalam pelatihan awak pesawat Perseroan dan personil inti lainnya.3% 1.7 100.1% 9. 90.533.5% 704. Mempertahankan.2 6.4 67.4% 14.5 66. dan memotivasi karyawan-karyawan kunci Perseroan adalah sangat penting untuk mewujudkan peluang pertumbuhan.042. untuk saat ini merupakan pusat pelatihan terbesar dan hanya untuk mengoperasikan pesawat di Indonesia. Selain itu.860.7 0. surat dan dokumen Pendapatan lainnya yang tidak termasuk dalam tabel di atas adalah terdiri dari pendapatan dari jasa penerbangan tambahan terkait yang disediakan oleh Perseroan.8 11.628.0% 12.0% 2.8% 1.180.9 13.3% 2.535.6% 11. pelayanan kesehatan.0% 19.2 78.4 85. 2008.7% 17.2% 16.9 Pendapatan tidak Berjadwal: Haji Carter Total Pendapatan tidak berjadwal Total Pelayanan Penerbangan Lainnya Jumlah Pendapatan Usaha Catatan: 1 90.6 72. jasa MRO. sedangkan penerbangan tidak berjadwal seperti haji dan pesawat charter. Selain itu.1% 5. serta layanan tidak berjadwal seperti layanan keberangkatan haji dan penerbangan charter yang disediakan dibawah brand Garuda Indonesia.6 65. jasa boga.466.569.9% 1.655.3% 1.4% 1.6% 0.566. jasa hotel.9 71.7 102.9% 174.1 100.1 86.0 4.7% 154.7 14.8% 396.0% 12.9 100.1 90.6 10.4% 1.378.416. perekrutan dan pelatihan karyawan yang akan melayani pelanggan dimana Perseroan tengah memperluas bisnisnya juga merupakan faktor yang penting untuk dilakukan.3 102.6% 839. jasa agen perjalanan. awak kabin dan insinyur pemeliharaan untuk mengakomodasi pengembangan armada pesawa yang telah direncanakan.2% 147.8 5.9 90.387. 2007.8% 0.7 74.2 72.4 76.448.551.0% 9.6% 801.8% 1.4%.% 8.067.491.3 11.093.8 0.605.3 100.1%. 90.1 100. kelebihan bagasi dan pengantaran surat dan dokumen.9% 95.8% 1.3% 10.1% 10.2 12.3 100.6% 87.5% 8.7% 0.190.0% 2. 2006.1% 2.7 10.4 67.2% 13.8 4. dan layanan katering in-flight.7 12.349.0% 17.2 5.7% 10.6% 593. masing-masing sekitar 86.2% 4.133.5 5.6 13.6 68.3% % 2009 (%) 2009 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember (%) 2008 (%) 2007 (%) 2006 (%) 2005 (%) Total pendapatan berjadwal 11.0% 11.2 12.9% 1. 155 .0 79.= Pengembangan Sumber Daya Manusia Tim manajemen Perseroan telah berhasil dalam merasionalisasi bisnis dan fokus pada pemanfaatan peluang pertumbuhan yang ada.1% 10.423.9 76.9% 12.762.0 11.3 79.4% 1.2 1.280. untuk melatih pilot.602. Perseroan telah memperkenalkan langkah-langkah sebagai panduan untuk setiap posisi dan karyawan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan budaya kerja yang ditandai dengan transparansi dan meritokrasi. KEGIATAN USAHA Perseroan menyediakan jasa penumpang udara dan kargo serta jasa penerbangan terkait termasuk ground services.2% 13.1% 1.9% 0.0% 0.4 1.308.586.8 9.7% 0.5% 710.7% 0.669.7% 9.3 70.849.685.0% Termasuk bagasi berlebih.5% 74.4 100.4 0.759.6 90.7% 15.879. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.537.7% 1.7% dan 91.2 89.7 12.4 100.291.6 3. Perseroan berencana untuk meningkatkan pusat pelatihan di Jakarta. 5.5% 1.7% 0.1 8. Pendapatan Perseroan dalam lima tahun terakhir beserta persentasi kontribusi produk/jasa terhadap total pendapatan adalah sebagai berikut: (dalam miliar Rupiah) Pendapatan Penerbangan Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 Pendapatan Berjadwal: Penumpang Kargo Lainnya1 10.8% 12.1% dari total pendapatan usaha di tahun 2005.699.7% 151. 90.8 0.9 91.690.2 11.6 475. pelatihan dan jasa lainnya Jasa Penerbangan Perseroan menyediakan jasa penerbangan berjadwal yang terdiri dari penerbangan penumpang dengan layanan FSC melalui brand Garuda dan layanan LCC melalui brand Citilink. Perseroan juga memberikan layanan kargo.570.0% 14.6% 947.4 83.8 0.339. mengembangkan keahlian. seperti perawatan pesawat udara dan jasa perbengkelan.714.092.049. Layanan penerbangan Perseroan memberikan kontribusi pendapatan terbesar.9%.120.510.1% 11.

2 8.S.3 1.0 5.6 13.4 906.364.445.1 190.5 167.2 6.566. (4) Dihitung sebagai jumlah kursi yang tersedia dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer)untuk setiap penerbangan.1 77.4 10.6 9:27 49 979 76.7 7.5%.0 5.1 8. cents) (1)(9) Internasional Domestik Kilometer terbang (dalam juta) Block hour (dalam ribu) Internasional Domestik Pemanfaatan pesawat harian (block hour per hari per armada) (10) Jumlah tujuan penerbangan berjadwal yang dilayani sampai dengan akhir tahun Frekuensi penerbangan berjadwal (penerbangan per minggu) Jumlah penerbangan 1.8 18.8 6.0 476.947.3 5.825.901.7 87.369.7 2.724.5 6.538.8 9.821.827.2 9.Jasa Penerbangan Berjadwal Pendapatan layanan penumpang dari penerbangan berjadwal memberikan kontribusi masing-masing sekitar 68. (9) Dihitung sebagai total biaya yang berkaitan dengan kegiatan penumpang penerbangan Perseroan(termasuk biaya langsung dan tidak langsung.6 68.6 52. (8) Dihitung sebagai total biaya yang berkaitan dengan kegiatan penumpang penerbangan Perseroan (termasuk biaya langsung dan tidak langsung.890.0% dari total pendapatan usaha di tahun 2005.3 7.2 20.0 6. hasil penumpang.172.6 8.9 67.1 67.5 114.544.682.6 3.3 5.4 6.5 3.2 7.4 77.713.1 7.4 6.8 5.9 15.980.452.5 7.7 447.072.633.1 18.4 162.2 8. (10) Hanya termasuk layanan FSC Garuda Indonesia 156 .3 11.9 5. 2006.342.9 72.8 5.8 9.5 102.4 62.7 536.0 6.3 644.4 99.095.6 19.8 60.3 72.4 3.1 774.4% dan 83.369.045.1 6.039.321.843 44 870 90.6 9:51 9:37 8:53 8:32 41 852 88.4 72.4 6.5 8.7 71.8 5.9 6.098.0 69.8 7.003.943.6 6.5 7. 67.8 111.1 21.3 5.7 6. biaya per ASK dan biaya per ASK tidak termasuk bahan bakar dan yield layanan kargo.6 8.205.268.774.9 619.8 71. 2008. (6) Dihitung berdasarkan pendapatan layanan berpenumpang dari layanan berjadwal.8 7.037.6 1.8 2.7 517.8 4.7 102.2 74.7 7.2 99.6 8.6 5.924.7 77.3 9.776.6 7.2 5. cents)(1)(8) Internasional Domestik Biaya per ASK tidak termasuk bahan bakar (U. ke dolar Amerika Serikat berdasarkan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari pertama setiap bulannya pada periode tersebut.0 6.6 5.1 9.0 7.S.1 7.6 182.483.701 2008 2007 2006 2005 1.0 5.8 3.324.0 2.5 7.577.523.552 39 790 82.210.2 6.3 8.4 11.8 5.7 101.377 2009 867.9 10.618. 72.262.8 4.6 3.S.8 176.8 117. biaya overhead dan armada) sebagaimana tercermin dalam catatan akuntansi Perseroan minus biaya bahan bakar dibagi oleh ASK.8 3.2 9. pendapatan non-terjadwal per ASK.9 69.5 10.S.532.0 6.256. 2007.0 10.7 6.7 73.7 4.6 7. (5) Dihitung sebagai RPK dibagi oleh ASK dan dinyatakan sebagai persentase.300.168 41 758 78.9 5.252.5 6.1 79. cents per RPK)(1)(6) Internasional Domestik Pendapatan berjadwal per ASK (U.7 9.5 2.8 4.7 59. dijadwalkan pendapatan per ASK.0 10.4 81.0 10.692.5 76.2 16.9 8.8 69.7 6.8 107.3 7. (2) Merepresentasikan pendapatan layanan berpenumpang berdasarkan tujuan penerbangan (3) Dihitung sebagai jumlah penumpang dilakukan dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer) untuk setiap penerbangan.4 3.8 5. 72.5 8.8 77.9 6.347.1 69.5 5.3 6.1 106.2 74.1 8:43 46 877 68.3 10.7%.0 4.3 566.8 8.336.454 Catatan: (1) Perseroan telah menerjemahkan pendapatan penumpang dalam Rupiah.8 6.5 9.6 2.0 4.1 6.3 411.8 6.798.4 430. biaya overhead dan armada) sebagaimana tercermin dalam catatan akuntansiPerseroan dibagi oleh ASK.2 536.373.5 6.5 4.9 4.137.8 12.276.2 7.2 7.4 7.6 439.6 6.935.4 6.7 3. sewa gudang kargo.3 59.2 5.3 6.7 6.6 709.3 9:00 46 891 92.9 8.9 3.3 3.0 7.024.2 64.2 7.508.1 7.0 161.102.4 427.1 3.9 12.2 114.7 15.4 7.5 8.1 5. Tabel di bawah ini menunjukkan rincian informasi mengenai pendapatan dari layanan penerbangan berjadwal dalam lima tahun terakhir: Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 Pelayanan Penumpang: Pendapatan penumpang ( dalam juta USD )(1) Internasional (2) Domestik (2) Jumlah penumpang diangkut (dalam ribu) Internasional Domestik RPK (dalam juta) (3) Internasional Domestik ASK (dalam juta) (4) Internasional Domestik PLF (%)(5) Internasional Domestik Passenger Yield (U.1 13.9%.957.209.3 14.3 9.393 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 1.5 5.8 18.356.756.4 6.359.282.5 10. layanan teknologi informasi dan layanan pelatihan dibagi dengan RPK (7) Dihitung sebagai pendapatan dari jasa maskapai penerbangan dibagi oleh ASK.9 1. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.5 89.1 3.8 3.5 121.9 859.1%. cents) (1)(7) Internasional Domestik Biaya per ASK (U.5 6.0 7.809.882.424.747.1 141. 71.

Mandala. 47.8%.9%. perusahaan domestik besar dan perusahaan multinasional. Per 30 September 2010. adalah sebagai berikut: Rute Pesaing Utama dalam rute Frekuensi Penerbangan (per minggu) Per 30 September Per 31 Desember 2010 2009 2008 2007 2006 104 115 108 115 105 54 74 66 60 50 63 63 63 56 43 63 63 63 56 49 Jakarta-Surabaya Jakarta-Denpasar Jakarta-Jogyakarta Jakarta-Semarang Batavia Air. Perseroan mengoperasikan sekitar 814 layanan penumpang penerbangan berjadwal domestik pergi-pulang setiap minggu. Perseroan melayani 30 tujuan domestik dari Jakarta. Lion Air. Sriwijaya Air Batavia Air.0% dan 54. Operasi penerbangan domestik Perseroan saat ini menggunakan sistem hub-and-spoke. Perseroan melayani 30 tujuan di Indonesia dan 15 tujuan internasional dari Jakarta. Denpasar adalah ibu kota Bali merupakan tujuan wisata terkemuka di Indonesia dan salah satu pusat budaya utama di Indonesia. Bandara Internasional Soekarno-Hatta adalah bandara tersibuk di Indonesia diukur dari throughput. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 47. 50. Per 30 September 2010. Bali. Perseroan berencana untuk mengoptimalkan lebih jauh rute jaringan yang saat ini dimiliki dengan menggabungkan hingga 18 armada pesawat Sub-100 dengan pesawat Perseroan dan menambah lokasi tujuan domestik dari yang saat ini dilayani.Pinang Palembang Tjg. pendaratan dan lepas landas pesawat berpenumpang. 42. Bali. dan Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. 2006. Sebagai ibukota Indonesia.8% dari total pendapatan penerbangan berjadwal masing-masing di tahun 2005.Perseroan mengoperasikan penerbangan dari dua lokasi hub utama yang terletak di Bandara Internasional SoekarnoHatta di dekat Jakarta. dan melayani 31 tujuan domestik. Lion Air. Indonesia AirAsia Batavia Air.0%. Jasa Penumpang Pasar Domestik Perseroan memiliki sejarah operasional terpanjang dan saat ini memiliki jaringan rute yang paling luas di dalam negeri dibandingkan dengan maskapai penerbangan Indonesia lainnya. Peta di bawah ini memberikan gambaran jaringan rute domestik Perseroan: Banda Aceh Medan Manado Pekanbaru Batam Padang Ternate Pontianak Palangkaraya Jambi Palu Balikpapan Banjarmasin Biak Jayapura Pgk. Denpasar adalah bandara kedua tersibuk di Indonesia diukur dari throughput. Indonesia AirAsia Batavia Air. Tabel di bawah ini menunjukkan lokasi tujuan utama layanan penumpang penerbangan berjadwal domestik berpenumpang dalam 5 tahun terakhir. Jaringan rute penerbangan Perseroan yang berbasis di Jakarta merupakan jaringan yang terluas dibandingkan dengan penerbangan lainnya. dengan lokasi penghubung utama yang berlokasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat kota Jakarta. 2007.Karang Jakarta Semarang Surabaya Solo Denpasar Mataram Yogyakarta Malang Kendari Ujung Pandang Ambon Timika Kupang Layanan penumpang penerbangan berjadwal domestik memberikan kontribusi masing-masing sekitar 47.4%. serta merupakan gerbang internasional dan hub transit domestik yang utama di Indonesia. pendaratan dan lepas landas pesawat berpenumpang. Jakarta merupakan pusat kegiatan politik dan administrasi pemerintahan. Jakarta juga merupakan salah satu pusat ekonomi Indonesia dan pusat dari perusahaan BUMN. Lion Air. Perseroan melayani 6 tujuan di domestik dan 9 tujuan internasional dari Denpasar. Hal ini dapat dicapai dengan membangun rute jaringan domestik yang lebih luas dan meningkatkan rute jaringan point-to-point untuk melayani penerbangan langsung antar kota yang saat ini membutuhkan transit di hub. 2008. Sriwijaya Air 2005 105 78 55 56 157 . Lokasi hub utama kedua Perseroan terletak di Denpasar. Per 30 September 2010. Per 30 September 2010.

Sriwijaya Air Jakarta-Pekanbaru Batavia Air. Pada tanggal 30 September 2010 Perseroan melayani 15 tujuan internasional dari Jakarta. Denpasar-Hong Kong. 158 . Sriwijaya Air Surabaya-Denpasar Batavia Air. Mataram-Jakarta-Kuala Lumpur dan Surabaya-Hongkong. Lion Air. Merpati *) termasuk seluruh rute melalui Jakarta-Makassar Frekuensi Penerbangan (per minggu) Per 30 September Per 31 Desember 2010 2009 2008 2007 2006 49 63 42 49 42 49 49 49 49 42 45 49 42 40 35 21 21 28 28 28 21 21 21 21 21 56 42 35 28 28 2005 42 42 35 21 35 33 Perseroan umumnya menggunakan armada Boeing 737 dan Airbus A330.Rute Pesaing Utama dalam rute Jakarta-Medan Batavia Air. Jakarta-Shanghai. Mandala Jakarta-Makassar* Batavia Air. Perseroan berkeyakinan bahwa pesawat kelas tersebut perlu dan penting untuk dimiliki agar dapat memenuhi kebutuhan kapasitas pada rute-rute yang memiliki tingkat densitas rendah yang saat ini tidak dilayani oleh layanan LCC Perseroan. Lion Air. Sejak tahun 2007. Peta di bawah ini memberikan gambaran rute jaringan internasional Perseroan: Amsterdam Beijing Seoul Nagoya Shanghai Guangzhou Hong Kong Bangkok Tokyo Osaka Riyadh Jeddah Dubai Kuala Lumpur Singapore Jakarta Surabaya Denpasar Mataram Perth Sydney Melbourne Perseroan mengoperasikan penerbangan melalui dua hub utama yang terletak di Bandara Internasional SoekarnoHatta di dekat kota Jakarta. Sementara Perseroan belum melakukan pemesanan untuk pesawat kelas tersebut. Lion Air. Denpasar-Nagoya. Jakarta-Tokyo. Perseroan telah memperluas rute internasionalnya antara lain. Sriwijaya Air Jakarta-Balikpapan Batavia Air. JakartaSeoul. Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan memiliki jaringan rute yang berbasis di Jakarta yang paling luas dibandingkan dengan penerbangan lainnya. Lion Air. Perseroan mengoperasikan sekitar 165 penerbangan internasional pergi-pulang setiap minggu. Sriwijaya Air Jakarta-Palembang Batavia Air. Perseroan bermaksud untuk memperkenalkan pesawat kelas Sub-100 untuk layanan domestik dalam rangka melayani bandara yang lebih kecil. Jakarta-Melbourne. Jasa Penumpang Internasional Perseroan memiliki sejarah kegiatan operasional yang panjang dan berkeyakinan bahwa saat ini Perseroan memiliki jaringan rute internasional yang paling luas dibandingkan maskapai penerbangan lain di Indonesia. dan melayani 18 tujuan internasional. Jakarta-Beijing. dan Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. Lion Air. Per 30 September 2010. Bali. Jakarta-Sydney. Lion Air.

Value Air.8 115.2 8.8 6.544. dan pada saat yang bersamaan Perseroan berencana untuk menambah frekuensi yang ada pada rute internasional.319. Al wafeer Virgin Blue.7 163. Lion Air. 50.199.2 2007 536.8 206.602.618.1%.3 2006 476.021.9 3.1 1.6 1.893.515.711.2 135. Perseroan melayani 6 tujuan domestik dan 9 tujuan internasional yang berangkat dari Denpasar.2 10.382.6 159. Bali.8 2.750.432.9 7. Denpasar adalah bandara kedua tersibuk di Indonesia bila diukur dengan throughput penumpang.422.632.8 4.6 5.8 4. yang dikenal sebagai tujuan wisata terkemuka di Indonesia dan salah satu pusat budaya utama di Indonesia.6 125.4 2.2 1.051.347.452.1 176.0 166.924.0%. Lufthansa.689.3 74.3 72.484.9 19.3 1.251. Indonesia Air Asia. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.6%.274.8 388.8%.830.8 1.0 10. Tabel berikut adalah performa jasa penerbangan internasional dalam 5 tahun terakhir dan sembilan bulan yang berakhir per 30 September 2010 berdasarkan lokasi geografis tujuan penerbangan: Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 Sep 2010 2009 Pendapatan penumpang internasional (dalam jutaan USD) (1) (2) Asia (ex.9 199.6 111.0 89.369.000.2%.2 1.227. Perseroan telah melayani 22. 46.Jepang Korea Cina) Jepang Korea Cina Australia Timur Tengah Eropa ASK (dalam juta) Asia (ex.5 2.7 1.052. Lion Air. dan 45. Timur Tengah dan Eropa.7 595.5 3.5 115.9 63.514.0 2.255. Indonesia Air Asia. Mandala.6 1.2 265. Tiger.Jepang Korea Cina) Jepang Korea Cina Australia 517.0 843.650. 17. Tabel di bawah ini memberikan informasi mengenai 5 rute utama Perseroan untuk layanan penumpang penerbangan berjadwal internasional dalam 5 tahun terakhir dan sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010: Rute Internasional Pesaing Utama dalam rute Frekuensi Penerbangan (per minggu) Per 30 September Per 31 Desember 2010 2009 2008 2007 2006 48 49 49 49 38 2005 42 Internasional: Jakarta-Singapura Jakarta-Jeddah Jakarta/Denpasar-Perth Jakarta-Hongkong Jakarta/Denpasar-Tokyo Singapore Airlines.4 2.9 12.8 573. pendaratan dan lepas landas pesawat.7 4.5% dari total pendapatan jasa penerbangan berjadwal untuk penumpang di tahun 2005.8 1.2 4.1 117.6 56.2 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 566. 18.270.0 3.4 1.7 2005 447.523.9 3.7 1.8 427.0 95.537.756.6 2.5 1.8 3.205.136.038. 2007. Batavia.559.921.281.051. 2006. Philippines Airline Saudi Arabia Air.2 1.921.9 1. tujuan Perseroan untuk menjadi anggota aliansi global maskapai penerbangan yang akan mendukung strategi Perseroan dalam memperluas jangkauan tujuan internasional yang baru.0 149.5 2.9 6. termasuk benua yang saat ini tidak dilayani oleh Perseroan. 52. Strategic Air Cathay Pacific.Jepang Korea Cina) Jepang Korea Cina Australia Timur Tengah Eropa RPK (dalam juta) Asia (ex. 20. dimana kota-kota tersebut merupakan tujuan utama perjalanan luar negeri oleh warga negara Indonesia. 18.798. dan 18 lokasi tujuan internasional pada 31 Desember 2005.2 999.7 9.6 2008 774.8 2.821.176.252. Perseroan berencana untuk memperkenalkan layanan penumpang internasional ke India.3 110. 52.5 7. 2008.732.1 85.893.101.2 1.935.7 197. China Airline Japan Airlines 14 14 7 14 11 21 7 7 14 25 7 7 8 17 5 7 7 14 7 7 4 14 7 7 Layanan penumpang penerbangan berjadwal internasional memberikan kontribusi masing-masing sekitar 52. 2008.2 8.2 159 .4 217.6 2.6 2.805.3 10.4 2.216. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.325.3 1. Batavia. Perseroan senantiasa berusaha untuk memperluas jaringan internasionalnya pada lima tahun ke depan dengan memperkenalkan pelayanan kepada lebih dari dua pertiga dari 20 pasar utama untuk perjalanan ke dan dari Indonesia.2 2.109. Selain itu.6 11.160. Australia.0 106.1 133.7 2. Saat ini Perseroan terfokus melayani kota-kota utama di Asia.311.9 1.774.1 3. serta meningkatkan pendapatan dari layanan penumpang yang dimiliki.6 117.4 1.3 780. Jetstar. Filipina dan Taiwan di tahun 2011. 2006.8 7.9 1.9 99.Base kedua utama Perseroan terletak di Denpasar.2 3.630.3 10. Pada tanggal 30 September 2010. 2007.

2 6. serta penerbangan dari Jakarta–Denpasar ke Tokyo. Perseroan juga menawarkan jasa penerbangan berpenumpang ke beberapa kota di Asia seperti Manila. Perseroan memiliki penerbangan yang beroperasi antara Denpasar dan Shanghai.3 2006 2.9 2007 2.6 9.Jepang Korea Cina) Jepang Korea Cina Australia Timur Tengah Eropa Passenger yield (U.0 - Catatan: (1) Perseroan telah menerjemahkan jumlah Rupiah pendapatan penumpang dan hasil penumpang ke dolar Amerika Serikat berdasarkan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari pertama setiap bulannya pada periode tersebut. Jepang.2 63. Korea dan Cina) Pada tahun 2009. Timur Tengah Pada tahun 2009. Untuk periode yang berakhir pada 30 September 2010.Timur Tengah Eropa PLF (%)(3) Asia (ex.1 61.4 68.6% dari total RPK Internasional dan 14.6 5.7 66. Korea dan Cina ) menyumbangkan sekitar 8.8 2008 3.7 68. 160 . serta penerbangan antara Surabaya dan Hong Kong. Perseroan mengoperasikan penerbangan antara Jakarta dan Bangkok. Korea dan Cina Pada tahun 2009.4 73.854.2 71. Perseroan juga menawarkan jasa penumpang ke Guangzhou.6 64.1 8.7 74.3% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional (tidak termasuk penerbangan haji).8 10.9% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional.1 7. cents per RPK) (1) (4) Asia (ex.8 6. Timur Tengah memberikan kontribusi sekitar 29. China Southern Airlines dan Korean Air.1 67.6 6. (4) Dihitung sebagai pendapatan penumpang dari penerbangan terjadwal dibagi dengan RPK.8% dari total RPK internasional Perseroan dan 14.4 73.6 63. (3) Dihitung sebagai RPK dibagi oleh ASK dan dinyatakan sebagai persentase.3 70.9 74.8 76.6 7.2 67.111.0 66. Shanghai dan Guangzhou.2 5.S.0 7.2 2005 2.6 71.2% dari total RPK internasional Perseroan dan 30.2 66. Korea dan Cina menyumbangkan sekitar 39.2 6.3 69.0 12.4 5.1 7.1 82. Kuala Lumpur dan Ho Chi Minh City melalui perjanjian codeshare antara Perseroan dengan Phillippine Airlines.1% dari total RPK internasional dan 27. Osaka.303.394. Perseroan juga mengoperasikan penerbangan antara Denpasar dan Hong Kong dan Singapura.2 74. Untuk periode yang berakhir pada 30 September 2010.0 8.0 10. Perseroan juga mengoperasikan penerbangan antara Jakarta dan Seoul.5 82.2% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional.8 2.8 6.9 59.3 5.1 6.2 64.0 9.6% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional. Asia (tidak termasuk Jepang.6 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 3. Nagoya.9 69.6 9.8 5.4 6.3% dari total RPK Internasional dan 34. Hong Kong.697. Taipei dan Seoul melalui perjanjian codeshare antara Perseroan dengan China Airlines. Korea dan Cina ) merupakan pasar internasional yang paling penting bila diukur dari RPK lalu lintas penumpang dan pendapatan penumpang. Perseroan mengoperasikan penerbangan antara Jakarta dan Riyadh dan Jeddah.8 6.4% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional.696.6 6.1 78. rute Jepang.1 69.8 68.5 8.7 8.1% dari total RPK internasional Perseroan dan 34. Asia (ex Jepang.9 63.4 615.1% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional (tidak termasuk penerbangan haji).120.1 74. Malaysia Airlines dan Vietnam Airlines. Jepang.2 79.3 7. Kuala Lumpur dan Singapura.5 6.4 5. yaitu sekitar 9.Jepang Korea Cina) Jepang Korea Cina Australia Timur Tengah Eropa Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 Sep 2010 2009 2. (2) Merepresentasikan pendapatan layanan berpenumpang berdasarkan lokasi tujuan penerbangan.8 6. Timur Tengah menyumbangkan sekitar 28.4 6. Untuk periode yang berakhir pada 30 September 2010.7 68.4 7. Korea dan Cina memberikan kontribusi sekitar 41. Tokyo dan Seoul.3 68.6 66.4 69.2 7. Asia (ex Jepang.1 5.

Perseroan mengoperasikan penerbangan antara Jakarta dan Melbourne dan Sydney. Eropa Pada bulan Juli 2009. Saat ini Citilink beroperasi sebagai sebuah SBU dan Perseroan berniat untuk mendapatkan Aircraft Operator Certificate (“AOC”) tersendiri untuk Anak Perusahaan dari Perseroan. nantinya Perseroan diharuskan untuk mematuhi persyaratan minimum kepemilikan armada pesawat dan persyaratan operasional untuk PT Citilink Indonesia. serta Jakarta-Denpasar ke Perth. Perseroan memulai kembali layanan antara Jakarta dan Amsterdam. London dan Frankfurt melalui perjanjian codeshare antara Perseroan dengan Malaysian Airlines. Dengan kepemilikan AOC yang terpisah. Perseroan juga menawarkan jasa penerbangan berpenumpang ke Paris. Jakarta-Balikpapan. SBU Citilink Strategi Perseroan secara bersamaan dalam mengembangkan baik bisnis layanan FSC Garuda Indonesia dan LCC Citilink mengharuskan Perseroan untuk mengembangkan dua budaya perusahaan yang terpisah dengan kebutuhan operasional yang berbeda serta fokus pelanggan yang berbeda. SBU Citilink mulai beroperasi kembali pada September 2008 sebagai bagian dari strategi Perseroan dalam melayani pasar penerbangan LCC di dalam negeri. Peta Indonesia dibawah memberikan informasi mengenai rute jaringan dimana SBU Citilink beroperasi: Medan Batam Balikpapan Banjarmasin Ujung Pandang Surabaya Denpasar Jakarta Pada tanggal 30 September 2010. Kantor pusat manajemen SBU Citilink berlokasi di Surabaya terpisah secara geografis dari kantor pusat Garuda di Jakarta dan pada tanggal 30 September 2010.Australia Pada tahun 2009. SBU Citilink mengoperasikan 5 pesawat Boeing 737-300 yang terdiri dari pesawat dengan 142 atau 148 kursi penumpang kelas ekonomi. menyusul pencabutan larangan terbang dari Uni Eropa pada operator maskapai penerbangan Indonesia. Pilot dan awak kabin SBU Citilink menerima pelatihan secara berkala di fasilitas pelatihan Perseroan di Jakarta. Perencanaan rute SBU Citilink dilakukan berkoordinasi dengan Garuda. Jakarta-Medan dan Jakarta-Denpasar.3% dari total RPK internasional Perseroan dan 2. Perseroan juga mengoperasikan penerbangan dari Denpasar ke Melbourne.8% dari total RPK Internasional dan 21. Setiap penerbangan SBU Citilink diawaki 3 awak kabin. SBU Citilink mempekerjakan 45 pilot dan 64 awak kabin. Perth dan Sydney. dibandingkan dengan 5 awak kabin dalam komposisi awak pesawat FSC Garuda Boeing 737-300. Jaringan rute SBU Citilink saat ini berfokus pada rute yang padat dan sensitif terhadap harga. Pada periode yang berakhir pada 30 September 2010. Australia menyumbangkan sekitar 18. dengan 170 kursi penumpang kelas ekonomi. Australia memberikan kontribusi sekitar 19. Pada tanggal 30 September 2010. rute yang dilayani bersama oleh bisnis dengan FSC Garuda dan layanan LCC Citilink adalah antara Surabaya-Jakarta. SBU Citilink melayani 8 tujuan di Indonesia dari Surabaya dan Jakarta. dan melakukan spin-off unit bisnis tersebut menjadi Anak Perusahaan.1% dari total penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional. Untuk periode yang berakhir pada 30 September 2010. Eropa memberikan kontribusi sekitar 5. Pada tanggal 30 September 2010.8% dari total RPK internasional dan 21. 161 . dan 1 pesawat Boeing 737-400.3% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional.1% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional. PT Citilink Indonesia.

ke dolar Amerika Serikat berdasarkan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari pertama setiap bulannya pada periode tersebut.1 63. SBU Citilink umumnya melaksanakan program promosi melaui internet.9 800.0 4. PT Jasa Angkasa Pura (“JAS”) dan penyedia lainnya berdasarkan beban yang kompetitif. indirect. Perseroan berkeyakinan bahwa pesawat Boeing 737-300 SBU Citilink saat ini memiliki 5 kursi lebih sedikit daripada konfigurasi kursi yang digunakan oleh beberapa pesaingnya. penjualan tiket dari penjualan langsung online menghasilkan sekitar 3% dari total penjualan bersih penumpang. tidak ada jaminan akan keberhasilan Perseroan dalam strategi tersebut. cents) (1)(7) Beban per ASK excluding fuel (U. (5) Dihitung sebagai pendapatan penumpang dari penerbangan terjadwal dibagi dengan RPK. cents per RPK)(1)(5) Pendapatan per ASK (U. Tiket SBU Citilink adalah non-refundable. kantor penjualan bandara dan agen perjalanan menghasilkan sekitar 97% dari penjualan total penumpang.7 4. dan radio.8 4. walaupun. Amerika Serikat.3 2.cents)(1)(6) Beban per ASK (U. (7) Dihitung sebagai jumlah beban usaha yang berkaitan dengan penerbangan penumpang (termasuk beban direct. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.S. di hub dan kota tujuannya.7 588.6 Untuk tahun yang berakhir 31 Des 2009 509. sedangkan penjualan dari kantor penjualan Perseroan sendiri. dan informasi manajemen dan pelaporan SBU. Operasi penerbangan SBU Citilink dan penjadwalan dilakukan dari kantor pusat di Surabaya. yang telah ditargetkan mencapai 30 menit untuk SBU Citilink dan bila dibandingkan dengan waktu 45 menit untuk penerbangan Perseroan. akuntansi pendapatan. Selain itu. termasuk papan iklan di bandara. persediaan dan sistem pemesanan. Jasa MRO disediakan oleh GMF Aeroasia.2 4. (3) Dihitung sebagai jumlah kursi yang tersedia dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer)untuk setiap penerbangan. business-to-enterprise dan business-to-customer internetbooking engine untuk penjualan langsung. untuk Perseroan (termasuk SBU Citilink) pada periode yang berakhir 30 September 2010. media cetak. saat ini diakuisisi oleh Mercator. meskipun jadwal penerbangan dapat dirubah dengan tambahan biaya dalam waktu maksimum 24 jam sebelum penerbangan. Sebagai konsekuensinya. GMF AeroAsia tidak menyediakan layanan konversi tertentu untuk konfigurasi kursi kelas ekonomi pesawat SBU Citilink. Sebagai perbandingan. dan Sriwijaya Air. saat ini memiliki ukuran pesawat yang lebih besar dan kapasitas kursi yang relatif lebih banyak dari SBU Citilink. (6) Dihitung sebagai pendapatan dari jasa maskapai penerbangan dibagi oleh ASK. yaitu Lion Air.4 69. sebuah perusahaan yang berbasis di Seattle. Saat ini jalur penjualan tiket SBU Citilink didistribusikan melalui penjualan langsung secara online dan melalui agen perjalanan. SBU Citilink mengembangkan sistem manajemen awak pesawat yang berbasis tikAero. 162 . seperti IFE dan makanan. indirect.3 796. sistem kontrol keberangkatan. seperti peniadaan pantry di bagian depan. yang meliputi komponen untuk manajemen pendapatan. Sementara Perseroan berencana untuk meningkatkan ukuran armada pesawat SBU Citilink dan kapasitas kursi di masa mendatang. Washington. (4) Dihitung sebagai RPK dibagi oleh ASK dan dinyatakan sebagai persentase.3 3.9 2. Penerbangan berpenumpang: RPK (dalam juta)(2) ASK (dalam juta)(3) Passenger load factor (%)(4) Jumlah penumpang diangkut (dalam ribu) Passenger yield (U. ground handling disediakan oleh Gapura. SBU Citilink menerima sekitar 50% dari pemesanan melalui business-to-customer internet-booking engine untuk penjualan konsumen langsung dan sekitar 50% dari pemesanan melalui mesin-pemesanan internet business-to-bisnis untuk agen perjalanan yang membayar biaya layanan nominal. Batavia Air.S. Perseroan masih menggunakan tempat duduk kelas ekonomi FSC.8 984. overhead dan beban armada) yang terefleksikan dalam pembukuan akuntasi dikurangi beban bahan bakar)dan dibagi oleh ASK. dan dengan didasari oleh kontrak dengan Perseroan. Setiap pesaing utama SBU Citilink. Biaya jasa MRO untuk SBU Citilink umumnya lebih rendah dari biaya Perseroan untuk pelayanan MRO karena tidak adanya layanan kabin standar.70 3. SBU Citilink merencanakan untuk fokus pada distribusi penjualan tiket melalui penjualan langsung secara online. business-tobusiness internet-booking engine untuk agen perjalanan.SBU Citilink mengoperasikan sistem informasi yang terintegrasi yang disebut “tikAero” yang disediakan oleh TIK Systems (Thailand). Citilink juga mengoperasikan modul manajemen pendapatan dan optimasi yang disediakan oleh AirRM. yang memiliki sandaran kursi lebih tinggi dari tempat duduk LCC. SBU Citilink fokus kepada turnaround penerbangan yang lebih cepat. penjualan katering on-board disediakan oleh PT Aero Wisata.S. pendapatan per beban per ASK dan beban per ASK tidak termasuk bahan bakar.5 Catatan: (1) Perseroan telah menerjemahkan jumlah Rupiah hasil penumpang. bahan bakar pesawat disediakan dari Pertamina. sebuah perusahaan penyedia layanan IT yang melayani Group Emirates. overhead dan beban armada) yang terefleksikan dalam pembukuan akuntasi dibagi oleh ASK.S. (2) Dihitung sebagai jumlah pendapatan penumpang yang diangkut dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer)untuk setiap penerbangan. cents) (1)(8) Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 Sep 2010 681. (8) Dihitung sebagai (yang berkaitan dengan penerbangan penumpang (termasuk beban direct.

7%. Layanan Haji Perseroan melayani 164.9 41. Perseroan bermaksud untuk dapat lebih fokus dalam memberikan layanan kargo khusus.2 30.2 42.0 192.3 miliar untuk pendapatan dari layanan kargo.1 43.4 207. Perseroan memberikan layanan kargo sekitar 144. kapasitas penanganan kargo tahunan terminal Perseroan juga diperkirakan meningkat di masa depan.000 ton kargo per tahun.3 589.3 815.3 51. barang-barang berharga dan barang yang membahayakan. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan perbaikan manajemen layanan kargo dan dengan kondisi lalu lintas kargo yang meningkat.3 151.0 43.0 172.994 jemaah haji ke Jeddah dengan perjalanan pulang pergi dari Indonesia ke Jeddah dalam rangka memberikan layanan haji tahunan bagi umat Islam masing-masing pada tahun 2005.4 234.6 86.7 340.2 2006 241.5%. Pada tahun 2009.037. 5.2 149. (4) Dihitung sebagai muatan kargo dan surat (dalam ton-kilometer) dibagi dengan kapasitas tetap (dalam ton-kilometer) per jenis pesawat per penerbangan dan dinyatakan sebagai persentase.5 2005 283. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.9 477.1 45.3 44.260. Perseroan juga menawarkan layanan surat dan servis ekspres.0 192. 4. 220. 12.2 34.566 dan 263.3 110.1 757.9 41.4% dari total RFTK di Indonesia untuk periode yang berakhir pada tanggal per 30 September 2010.9 539. hewan hidup.6 31.1 183. Perseroan memiliki fasilitas terminal kargo utama seluas 23.9 86.9 283.8 30. Kementerian Agama bertanggung jawab untuk mengatur 163 .4 199.4 386.2 30.838.8 99.5 122.8 757.4 110. 5. 11. walaupun sampai saat ini Perseroan belum memiliki komitmen secara kontrak.000 meter persegi yang terletak di Bandara Internasional Soekarno Hatta yang dapat menangani sekitar 350.7 191.9 2008 275.9 376. 235.5 558.0 42. Layanan kargo yang ditawarkan Perseroan meliputi layanan kargo udara umum dan layanan kargo khusus untuk barang dan bahan material yang memerlukan penanganan khusus. 2007. 4.3 48.0 Per 31 Desember 2009 282. 2006. Jasa Penerbangan Penumpang Tidak Berjadwal Perseroan memberikan jasa penerbangan tidak berjadwal berpenumpang dengan tujuan domestik dan internasional ke Arab Saudi untuk para rombongan jamaah haji (layanan haji) dan layanan charter.6 27. 259.2 259.9 37. Perseroan juga berencana untuk membeli atau menyewa pesawat untuk kargo yang terdedikasi mulai sejak tahun 2012.0 568.4 241. termasuk layanan surat ekspres 24 jam dan jasa transfer kargo ekspres.2 157. 13.7%. tarif penyewaaan pesawat dan harga bahan bakar. 2007.0 627.0 147.9% dan 0.8 28. 2008 dan 2009. 2006.0 539.4 43.9%. yang umumnya menghasilkan margin yang lebih tinggi.6%. Layanan haji tersebut diberikan atas permintaan Pemerintah Indonesia dengan tarif yang dinegosiasikan oleh Pemerintah berdasarkan dari beberapa faktor termasuk dengan kurs RupiahUSD.3 149.4 815.1 282.7 35.8 224.3 397. (5) Dihitung sebagai pendapatan dari jasa kargo dibagi dengan RFTK.6%. 2006.8 280. Jasa penerbangan tidak berjadwal berpenumpang menyumbang masing-masing sekitar 13.Jasa Kargo Perseroan merupakan penyedia layanan kargo udara terbesar di Indonesia berdasarkan total volume kargo.4 165.1 37. Layanan kargo menyumbang masing-masing sekitar 5. atau dengan pangsa pasar sekitar 46.2 37.1 589.4 2007 234.2 40.5 556.8 29.0 Catatan: (1) Kami telah menerjemahkan mata uang Rupiah hasil kargo ke dolar Amerika Serikat dengan basis bulanan dengan menggunakan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari terakhir pada bulan sebelumnya (2) Dihitung sebagai beban kargo dan surat yang diangkut (dalam ton) dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer) untuk tiap penerbangan (3) Dihitung sebagai total kapasitas kargo (dalam ton) dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer).9 105. Tabel di bawah ini memberikan informasi mengenai layanan kargo yang dimiliki Perseroan dalam 5 tahun terakhir: Periode berakhir 30 September 2010 2010 2009 Pelayanan Kargo: RFTK (dalam ribu) 2 Internasional Domestik AFTK (dalam ribu) 3 Internasional Domestik Surat dan Kargo diangkut (juta kg) Load Kargo (juta ton-km) Kapasitas Bruto (juta ton-km) CLF4 Internasional Domestik Yield Kargo (ribuan rupiah per km)5 311.4 627. 2007.1 162.059 ton kargo dan menghasilkan Rp839.1 104.6 191. 2008.0 402. sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh AP I dan AP II.9 122.8% (dimana layanan penerbangan haji akan dilaksanakan pada kuartal ke 4 di tahun 2010) dari total pendapatan usaha masing-masing di tahun 2005. termasuk material yang mudah rusak.6%. 2008.7% dari total pendapatan usaha masing-masing di tahun 2005.9 558.6 78.1 39.0 46.1 49.12.4%.3 275.5 162.4 568.5 38. Perseroan berencana untuk menerapkan sistem pelacakan kargo 24 jam untuk melacak pengiriman barang yang ditangani oleh terminal Jakarta.3 119.7 311.7% dan 6. 2009 dan periode yang berakhir di tanggal 30 September 2010.

8%.2%. Kementerian Agama mungkin dapat mengundang beberapa maskapai penerbangan domestik atau internasional untuk ikut serta dalam proses tender terkait bisnis ini.9% dari total pendapatan usaha masing-masing di tahun 2005. 6. meliputi prakiraan permintaan di industri penerbangan. Perseroan mencatat bahwa jasa lainnya terkait dengan penerbangan menyumbangkan masing-masing sekitar 12. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.4%.9%.6%. 2006. 2007.1% dari total pendapatan usaha pada tahun 2005. 9. 2006. 10. 7. kebutuhan pesawat terbang saat ini dan di masa depan.0%. penerbangan charter secara berkala akan melakukan pemindahan atau transfer pesawat yang sebelumnya merupakan penerbangan berjadwal. 2007. 11. Layanan Charter Pada tahun 2009. 13. 164 . termasuk pengaturan perjalanan penerbangan dari dan ke dan Arab Saudi.8%. Dalam rangka mempertahankan kontrak layanan penerbangan haji dari Kementerian Agama RI. Dalam operasinya.5%. Perjanjian tersebut akan di negosiasi ulang setiap tahun. termasuk efisiensi operasi.3% dan 8. Layanan charter menyumbang masing-masing sekitar 8. Perseroan mempertimbangkan banyak faktor. 9.1% dan 100. Perseroan mengoperasikan 191 penerbangan charter untuk keperluan bisnis. Jasa layanan penerbangan haji menyumbang masing-masing sekitar 12. 6. dimana sekitar 91. tetapi Perseroan pun melayani penerbangan charter dengan pemberitahuan jadwal yang lebih singkat. struktur permodalan. dengan demikian pendapatan tidak akan terefleksi untuk periode yang berakhir pada bulan September 2010.8%.2%. 2008 dan 2009.1%. Jasa Lain-lain Terkait dengan Penerbangan Perseroan menyediakan jasa lainnya yang berkaitan dengan penerbangan seperti groud services. Layanan penerbangan haji tahun 2010 dilaksanakan pada kuartal ke 4. 6. 11.9% merupakan proporsi kontribusi dari layanan haji terhadap pendapatan usaha jasa penerbangan tidak berjadwal pada tahun 2005. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 90. pendidikan dan kelompok wisatawan. Selain itu. Perseroan umumnya menentukan jadwal penerbangan charter dua minggu sampai satu bulan sebelum rencana jadwal penerbangan.4%. 9. keselamatan dan permintaan di pasar akan jenis pesawat tertentu. mengurangi biaya operasi dan meningkatkan profitabilitas Perseroan. tingkat suku bunga yang berlaku dan kondisi pasar lainnya yang dapat mempengaruhi beban pembiayaan. Terdapat ketergantungan Perseroan terhadap kontrak Kementerian Agama RI. Perseroan mengevaluasi satu per satu penghentian pengoperasian pesawat berdasarkan beberapa faktor. dan modern untuk melayani rute jaringan penerbangan pada pasar penerbangan dimana Perseroan beroperasi. Perseroan menyeimbangkan antara beban konsumsi bahan bakar jet dan pemeliharaan akan pesawat udara yang sudah tua terhadap beban pembiayaan dan beban penyusutan yang mungkin timbul dari pembelian pesawat baru pengganti. ARMADA PERSEROAN Kebijakan Pengadaan dan Penghentian Pengoperasian (Pengembalian dan/atau Penjualan) Pesawat Perseroan senantiasa berusaha untuk menyediakan armada pesawat yang rasional. 2008. Namun. efisien. arus kas. Perseroan merupakan maskapai penerbangan domestik satu-satunya yang dikontrak oleh Kementerian Agama untuk layanan haji tahunan.0% dari pendapatan layanan tidak berjadwal masing-masing pada tahun 2005. Perseroan menentukan pengaturan jadwal penerbangan charter berdasarkan permintaan dan keberadaan penerbangan.1%. 2008. 2007. kapasitas armada yang ada saat ini. 9. 92. 2006. Perseroan berkeyakinan bahwa kenaikan tersebut akan meningkatkan tingkat utilisasi pesawat. Umumnya Perseroan membeli atau menyewa pesawat baru. 2008 dan 2009. dan 13. Biaya tiket pesawat yang dikenakan kepada rombongan haji. dibayar oleh Kementerian Agama kepada Perseroan sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui bersama antara Perseroan dan Kementerian. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan tersebut. layanan MRO dan jasa in-flight catering. dan 93. pemerintahan. biaya pembelian dan penyewaaan. 2006.perjalanan bagi para rombongan haji. Saat ini. Ketika mengevaluasi rencana pengadaan dan penghentian pengoperasian pesawat. Perseroan selalu mengupayakan peningkatan pelayanan seperti on time performance dan harga yang kompetitif.0%. 2007.4%. 94.9%.

2008. 12. perbaikan dan perbaikan jasa untuk mempertahankan operasi yang aman dan efisien. Perseroan mengoperasikan 84 pesawat penumpang. 2006. tingkat utilisasi dan lingkungan operasi. Rata-rata usia armada Perseroan adalah 11. 49. 11. 11. 2006. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 70 dan 84 pesawat terbang pada akhir Desember tahun 2005. yang memungkinkan Perseroan untuk mendapatkan pengembalian PDP dan akan menurunkan belanja modal Perseroan. 2007. Walaupun Perseroan yakin bahwa arus kas dari kegiatan usaha Perseroan akan cukup untuk mendanai PDP untuk semua sisa pengiriman Boeing 737-800 dan untuk semua Airbus A330-200. 2007.1. jumlah tersebut termasuk estimasi kenaikan nilai kontrak untuk membeli tambahan 27 pesawat yang dikirim pada bulan Oktober 2010 sampai dengan 2016.8 tahun untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2005. 165 . Umumnya Perseroan melakukan pembayaran PDP dibiayai melalui arus kas operasi Perseroan dan pembiayaan melalui hutang.460 miliar. yang terdiri dari 11 pesawat Boeing 737-800. Penuaan pesawat biasanya membutuhkan perawatan yang lebih tinggi. Menurut standar industri. 2010: Jumlah Unit Pesawat Sewa Sewa Operasi Pembiayaan Konfigurasi Kursi* (Standar) Dimiliki Penerbangan Berpenumpang Narrow-body: B737-300 B737-400 B737-500 B737-800 Sub-total Wide-body: B747-400 A330-300 A330-200 Sub-total Penerbangan Citilink Narrow-body: B737-300 B737-400 Sub-total Total *Catatan: C = kelas bisnis. 54.4 dan 8. Jadwal Kedatangan dan Penghentian Pengoperasian (Pengembalian dan/atau Penjualan) Pesawat Pada tanggal 30 September 2010. 48. catatan perawatan. Tabel di bawah ini menjelaskan informasi tentang armada Perseroan per 30 September. 10 pesawat Boeing 777.1. dan 6 pesawat Airbus A330-200. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 2008. masa operasi yang sebenarnya pada pesawat berkisar pesawat dari 20 sampai dengan 40 tahun. yang kemudian akan dikonversi menjadi sewa operasi dengan transaksi penjualan dan penyewaan kembali (sale and lease back) dengan perusahaan leasing pesawat. tergantung pada tipe pesawat. Hutang ECA dan hutang komersil membatasi Perseroan dalam pelunasan hutang dan dengan demikian Perseroan tidak dapat menjamin bahwa Perseroan dapat menambah pembiayaan melalui hutang untuk pengiriman 26 armada pesawat (termasuk PDP).Komposisi Armada Pada tanggal 30 September 2010. Perseroan perlu merencanakan pembiayaan hutang untuk pembayaran PDP pada pengiriman 10 unit pesawat Boeing 777. Perseroan memiliki komitmen pembelian pesawat sebesar Rp24.7. Y = kelas ekonomi Armada 3 7 5 0 15 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 6 0 6 3 10 0 37 50 1 0 4 5 6 17 5 37 65 3 6 4 13 16 C + 94 Y 14 C + 120 Y 12 C + 84 Y 12 C + 150 Y 42 C + 386 Y 42 C + 215 Y 36 C + 186 Y 3 0 3 20 0 0 0 6 2 1 3 58 5 1 6 84 142 Y atau 148 Y 170 Y Jumlah pesawat Perseroan masing-masing sebanyak 58. 15 pesawat dalam armada Perseroan lebih dari 15 tahun dan pesawat tertua di armada Perseroan adalah berumur 19 tahun. pada persyaratan yang dapat diterima oleh pihak lain.0. 10. Pada tanggal 30 September 2010.

Tabel di bawah menunjukkan perkiraan jadwal penghentian operasional pesawat per 30 September 2010 (termasuk jadwal penjualan dan pengembalian pesawat pada di akhir masa sewa operasi): Perkiraan Jadwal Penghentian Pengoperasian 2010 (1 Oktober s/d 31 Desember) 2011 2012 Tipe Pesawat Jumlah B-737-400 1 B-737-300 1 B-737-400 10 B-737-300 1 B-737-400 1 B-747-400 1 B-737-300 1 B-737-400 1 B-737-800 1 B-737-300 2 B-737-800 2 B-737-800 1 B-737-800 6 A330-200 4 Jumlah Tempat Duduk (Standard) 14 C + 120 Y 16 C + 94 Y 14 C + 120 Y 148 Y 14 C + 120 Y 42 C + 386Y 148 Y 170 Y 12 C + 150 Y 16 C + 94 Y 12 C + 144 Y 12 C + 150 Y 12 C + 144 Y 36 C + 186 Y 2013 2014 2015 2016 7. dan memiliki hak opsi untuk membeli tambahan 4 pesawat Airbus A330-200. karenanya. untuk memperluas armada sekitar 150 pesawat pada tahun 2015. hutang ECA dan hutang komersial Perseroan membatasi kemampuan Perseroan untuk menanggung beban tambahan pesawat sewa dan. Sewa Pembiayaan Berdasarkan perjanjian sewa beli. Perseroan tidak bisa menjamin bahwa Perseroan akan dapat memperoleh pesawat tambahan melalui sewa operasi untuk meningkatkan jumlah armada. PERJANJIAN PEMBELIAN DAN SEWA ARMADA PESAWAT Armada Perseroan terdiri dari pesawat yang dibeli serta disewa berdasarkan perjanjian sewa guna usaha (sewa pembiayaan dan sewa operasi). Namun. yang membiayai hampir seluruh pembelian 6 unit pesawat A330-300. termasuk pesawat Sub-100 dan pesawat tambahan untuk SBU Citilink. Perseroan melakukan pembayaran sewa melalui sebuah SPC (“Special Purpose Company”) sebagai pembayaran hutang kepada ECA dan hutang komersil. Pada tanggal 30 September 2010. Perseroan memiliki 20 pesawat dan mengoperasikan 6 pesawat di bawah perjanjian sewa pembiayaan dan 58 pesawat di bawah perjanjian sewa operasi. SPC tersebut menanggung secara subtansial segala risiko dan manfaat ekonomis dari 166 . Semua pesawat tersebut telah terdaftar di Indonesia.Tabel di bawah menunjukkan perkiraan jadwal pengiriman pesawat per 30 September 2010 (termasuk jadwal pemberhentian dan pengembalian pesawat pada di akhir masa sewa operasi): Perkiraan Jadwal Akusisi 2010 (1 Oktober s/d 31 Desember) 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Tipe Pesawat B-737-800 A330-200 B-737-800 B-737-800 A330-200 B-777-300ER A330-200 B-777-300ER A330-200 B-737-800 B-777-300ER B-737-800 B-777-300ER Jumlah 5 1 9 5 1 3 2 3 3 2 3 2 1 Jumlah Tempat Duduk (Standard) 12 C + 150 Y 36 C + 186Y 12 C + 150 Y 12 C + 150 Y 36 C + 186Y 4 F + 38 C + 295 Y 36 C + 186 Y 4F + 38C + 295 Y 36 C + 186 Y 12 C + 150 Y 4F + 38C + 295 Y 12 C + 150 Y 4F + 38C + 295 Y Per tanggal 30 September 2010. dan Perseroan berencana untuk dapat memperpanjang sewa operasi untuk pesawat Airbus A330-200 pada saat jatuh tempo yang dimulai pada tahun 2013 dan mencari tambahan sewa operasi. Perseroan juga telah memiliki letter of intent atas sewa operasi 12 pesawat Boeing 737-800 (dimana 4 pesawat telah dikirimkan antara bulan Oktober dan Desember 2010) dan 3 pesawat Airbus A330200 (dimana satu diantaranya telah dikirimkan di bulan Desember 2010) yang akan mulai beroperasi pada periode 2011.

kepemilikan pesawat. pihak yang menyewakan kepada Perseroan tidak pernah menghentikan perjanjian sewa guna usaha di awal periode yang ada atau mengharuskan Perseroan untuk mengembalikan pesawat terbang sebagai akibat dari pelanggaran atau kegagalan pelunasan. lessor mungkin boleh atau tidak boleh menyimpan sisa dana dalam pemeliharaan dan dana perbaikan pada saat berakhirnya sewa. dan menghilangkan rute yang tidak menguntungkan setelah melalui proses identifikasi. yang kemudian akan di konversi menjadi perjanjian sewa operasi melalui transaksi sale & leaseback dengan perusahaan leasing pesawat. Perseroan berhak untuk menggunakan pesawat dan wajib melakukan pembayaran sewa sesuai dengan perjanjian sewa yang disetujui. Umumnya lender menyediakan SPV dengan pembiayaan suku bunga mengambang (floating). Umumnya. Persyaratan sewa beli bervariasi tergantung pada struktur pembiayaan dan perjanjian komersial yang disetujui oleh pihak yang bersangkutan. lessor Perseroan tidak pernah menghentikan sewa diawal atau apapun yang membutuhkan Perseroan untuk mengembalikan pesawat apapun sebagai akibat dari default. dan 4 rute domestik baru pada tanggal 31 Desember 2007. 8. seperti kegagalan pembayaran sewa. yang tergantung diantaranya. Perseroan diberikan opsi untuk mengakhiri perjanjian sewa di awal secara sukarela. dan termasuk cadangan untuk pemeliharaan struktur badan pesawat. Perseroan melayani 2 rute internasional baru (termasuk rute baru internasional jarak jauh) dan 5 rute domestik baru. Perseroan umumnya memiliki termin berkisar dari 7 sampai 12 tahun sejak pengiriman pesawat. Perseroan dituntut untuk menjaga pesawat dengan standar yang telah disepakati selama jangka waktu sewa dan berhak untuk dana penggantian oleh lessor dari dana pemeliharaan dan perbaikan cadangan pada saat presentasi dokumentasi penyelesaian pekerjaan pemeliharaan yang diperlukan. Sampai saat ini. demikian pula mencari peluang untuk meningkatkan frekuensi penerbangan Perseroan pada rute penerbangan domestik di Indonesia. Perjanjian sewa operasi yang dimiliki Perseroan mengharuskan Perseroan untuk memelihara dan memberikan kontribusi dana cadangan untuk pemeliharaan dan perbaikan selama jangka waktu sewa. Perseroan senantiasa meninjau dan berusaha mengoptimalkan jaringan rute yang dimiliki dengan mengidentifikasi peluang untuk menawarkan penerbangan internasional langsung dari dan ke Indonesia pada rute yang banyak dilayani melalui lokasi penghubung negara ketiga. dan pemeliharaan unit daya tambahan (auxiliary power unit). Dalam sewa operasi Perseroan tertentu. perawatan pemulihan kinerja mesin. Tergantung pada perjanjian sewa operasi tertentu. pemeliharaan landing gear. kegagalan untuk mempertahankan pertanggungan asuransi pesawat dan kebangkrutan. pada inflasi dan kenaikan indeks gaji seperti yang telah ditentukan berdasarkan formula yang telah disetujui sebelumnya pada perjanjian pembelian tersebut. 2 rute internasional baru dan 1 rute domestik baru pada tanggal 31 Desember 2008. Perseroan dituntut untuk mengembalikan pesawat dalam kondisi yang telah disepakati pada akhir masa sewa. Sewa Operasi Perjanjian sewa operasi yang dimiliki. dan 7 rute internasional baru dan 8 rute domestik baru pada tanggal 31 Desember 2009. Untuk saat ini. Perseroan juga bermaksud untuk memanfaatkan bisnis 167 . Persyaratan masa sewa beli biasanya berjangka waktu 15 tahun. meningkatkan jumlah rute dilayani. hal ini akan memungkinkan Perseroan mendapatkan kembali pembayaran pre-delivery yang telah dibayarkan yang akan berdampak pada penurunan beban belanja modal Perseroan. Pada perjanjian pembelian pesawat. Pada sewa operasi. Pembayaran sewa biasanya dibayar per setengah-tahunan. Pada sewa beli. Pihak yang menyewakan menanggung risiko dan manfaat ekonomis dari kepemilikan pesawat. perawatan mesin penggunaan terbatas. Pada kondisi tertentu lessor memiliki hak untuk mengakhiri perjanjian diawal masa sewa dan Perseroan dituntut untuk menyerahkan pesawat. kegagalan untuk memberikan kontribusi untuk pemeliharaan dan perbaikan dana untuk mempertahankan jumlah pertanggungan asuransi untuk pesawat atau kebangkrutan. asalkan tidak terjadi default. pembayaran di awal atas pembelian tersebut awalnya didanai melalui arus kas dari kegiatan operasi dan pendanaan lewat penerbitan hutang. apabila Perseroan dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan. harga akuisisi bergantung kepada penyesuaian eskalasi. Pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. lessor berhak untuk mengakhiri sewa lebih awal dan membutuhkan Perseroan untuk dapat menyerahkan pesawat apabila terjadi default. Perseroan dapat membeli pesawat pada akhir masa sewa dan mendapatkan hak kepemilikan atas pesawat apabila semua pembayaran sewa yang terhutang telah dilakukan. Kontribusi dana cadangan untuk pemeliharaan dan perbaikan didasarkan pada penggunaan pesawat selama masa sewa. termasuk pada kondisi dimana terjadi kegagalan pelunasan (default) seperti kegagalan pembayaran sewa. termasuk risiko nilai residual pesawat pada akhir masa sewa. Pada perjanjian sewa guna usaha tertentu. Pembelian Pesawat Perseroan pada waktu ke waktu dapat membeli unit pesawat langsung kepada perusahaan manufaktur. KEGIATAN OPERASIONAL Perencanaan Rute Penerbangan Strategi pertumbuhan Perseroan meliputi pengidentifikasian rute yang memiliki peluang usaha yang belum mendapatkan pelayanan yang cukup oleh maskapai penerbangan lainnya. meningkatkan frekuensi penerbangan.

Perseroan berharap untuk dapat mengimplementasikan komunikasi Air-To-Ground Datalink (“AGDL”) di masa depan. Perseroan memiliki beberapa sistem informasi manajemen seperti sistem netline plan dan netline sched untuk meningkatkan kualitas analisis pasar. Ground services meliputi layanan check-in. rata-rata ketepatan waktu keberangkatan adalah 82. Perseroan bermaksud untuk menggunakan layanan bisnis LCC Citilink menjadi price taker untuk mencegah penurunan harga FSC Garuda Indonesia akibat persaingan dengan LCC lain pada rute yang sama. dan mengkoordinasi layanan di darat yang diperlukan. Perseroan menerbitkan jadwal penerbangan musim panas dan musim dingin setiap tahunnya. Pengembangan dan optimalisasi rute yang menguntungkan serta tingkat frekuensi penerbangan bergantung pada beberapa faktor.8 % disebabkan oleh faktor-faktor di luar kontrol perusahaan (seperti kemacetan bandara.2 % dari penerbangan yang penjadwalannya tidak menentu tersebut disebabkan oleh faktor-faktor yang masih dalam kendali perusahaan (seperti penjadwalan penerbangan. insiden bersifat mekanik dan layanan penumpang) dan 8. OCC mengumpulkan dan menganalisis informasi yang berkaitan dengan proyeksi payload. menggabungkan dan jika perlu. layanan lounge kelas premium.5% dimana 8. Perseroan bekerjasama dengan pihak yang berwenang dalam mendapatkan hak-hak atas rute tambahan yang diatur oleh peraturan bilateral layanan udara baik yang lama maupun yang baru dan dapat membantu Pemerintah dalam negosiasi dengan pemerintah negara lain mengenai perjanjian terkait. Untuk memaksimalkan tingkat utilisasi armada pesawat dan meningkatkan daya saing Perseroan. boarding. Sesuai dengan ketentuan IATA. meliputi kemampuan Perseroan untuk mendapatkan data pasar yang akurat untuk kebutuhan evaluasi. dan perencanaan jaringan rute. Operasional Penerbangan Operation Control Center (“OCC”) Perseroan yang terletak di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat kota Jakarta bertugas mengawasi dan mengendalikan aktivitas penerbangan sesuai dengan jadwal operasional penerbangan Perseroan. Menurut laporan internal Perseroan tahun 2009. keterbatasan fasilitas bandara. Perseroan juga mengevaluasi tingkat profitabilitas setiap rute dan menyesuaikan jadwal dan frekuensi penerbangan untuk memaksimalkan profitabilitas. OCC Perseroan memonitor penerbangan melalui media komunikasi radio dan Air Communication and Reporting System (“ACARS”). seperti strategi bisnis Perseroan. Untuk bandara di luar negeri. Berdasarkan rute yang direncanakan. perusahaan asosiasi Perseroan. Perseroan meminta persetujuan DJPU untuk rute tambahan yang diinginkan atau memodifikasi frekuensi penerbangan pada rute tertentu dalam rangka memperbaiki jaringan rute yang dimiliki. proyeksi dan analisis pasar serta persaingan usaha. Ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangan adalah sangat penting untuk kepuasan pelanggan. cuaca buruk dan perintah pembatalan penerbangan). kondisi cuaca dan status peralatan pesawat. Unit Network Management Perseroan bertugas untuk mempersiapkan dan memberikan informasi terkini secara berkala mengenai rencana rute perjalanan pada setiap periode 1 dan 5 tahun berdasarkan beberapa faktor. PT Gapura Angkasa menyediakan ground service untuk penerbangan domestik Perseroan dan penerbangan lain berbasis kontrak. Perseroan juga bermaksud untuk menggunakan bisnis LCC Citilink untuk membuka rute internasional baru dengan yield rendah dan jumlah pasar yang besar yang tidak menguntungkan jika dilayani oleh bisnis FSC Garuda Indonesia. OCC dapat menyesuaikan jadwal penerbangan. 168 . membatalkan penerbangan. Perseroan juga menyesuaikan frekuensi penerbangan dan jenis pesawat yang digunakan pada rute penerbangan berjadwal untuk mengantisipasi permintaan yang sifatnya musiman. kontrol lalu lintas udara. layanan kebersihan kabin dan layanan transit. Apabila terjadi ketidakpastian. penanganan bagasi. Perseroan menggunakan ground service dari pihak ketiga atau dari perusahaan penerbangan utama yang berbasis di bandara tersebut yang memberikan ground service yang biayanya sudah ditetapkan berdasarkan kontrak. Perseroan dengan seksama melakukan evaluasi dan merencanakan jaringan rute dan jadwal penerbangan. memberikan pelayanan flight dispatches. ketersediaan pesawat dan kemampuan Perseroan untuk memperoleh hak mendarat di bandara-bandara tujuan. jasa bongkar muat. Ground Services Di bandara domestik.LCC Citilink untuk memanfaatkan kesempatan melayani penumpang budget travellers pada rute domestik dan regional dengan yield rendah dan jumlah pasar yang besar untuk melindungi keuntungan dari bisnis FSC. reputasi brand Garuda Indonesia dan untuk pengendalian biaya. ramp service. Penjadwalan Penerbangan Unit Network Management Perseroan berwenang merumuskan jadwal penerbangan untuk berbagai rute perjalanan yang dimiliki berdasarkan permintaan pasar. Dari waktu ke waktu.

Perseroan pada umumnya memiliki kontrak jasa in-flight catering dengan perusahaan penerbangan lokal atau perusahaan katering lokal. biaya bahan bakar pesawat masing-masing sebesar 30. menyediakan jasa in-flight catering untuk penerbangan yang berasal dari Jakarta dan Denpasar serta penerbangan lain dari bandara domestik. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Dengan demikian.Bahan Bakar Pesawat Pada tahun 2005. Mean of Platts Arab Gulf (MOPAG). Saudi Arabia dan Belanda. Untuk penerbangan yang berasal dari bandara internasional luar negeri. Perseroan membeli bahan bakar pesawat dari pemasok internasional yang memberlakukan harga pasar internasional. Perjanjian pasokan bahan bakar domestik ditinjau secara periodik dan pembayaran dilakukan dalam Rupiah untuk harga yang ditetapkan dalam dolar Amerika Serikat. pajak terkait. kecuali untuk transaksi derivatif tertentu yang terkait dengan bahan bakar pesawat untuk keperluan layanan haji. perjanjian baru akan pasokan bahan bakar Perseroan dengan Pertamina menggabungkan diskon tetap untuk harga posting produksi dalam negeri Pertamina. walaupun jumlah fuel surcharge yang dapat diterapkan diatur oleh Pemerintah dan sejak Juni 2010 kemampuan Perseroan untuk meneruskan beban tambahan tersebut kepada pelanggan telah jauh berkurang. Harga bahan bakar domestik ditetapkan dengan mengacu pada (dan umumnya termasuk diskon dari) harga posting produksi dalam negeri Pertamina. termasuk bagi armada Perseroan. 29. Harga bahan bakar internasional umumnya ditetapkan dengan mengacu pada harga dasar rata-rata minyak yang dipublikasikan oleh Platts melalui Singapura berdasarkan Mean of Platts Singapore (MOPS). Perseroan berkeyakinan bahwa. Teluk Arab. termasuk semua bahan bakar yang diperlukan untuk penerbangan di rute domestik. 2006. dimana jumlah tersebut telah dikonversikan menjadi hutang subordinasi jangka panjang pada restrukturisasi hutang yang terkini. Perseroan telah melakukan beberapa upaya diantaranya adalah dengan melakukan negosiasi secara maksimal untuk memperoleh harga terbaik. Namun demikian. 2007. Untuk penerbangan internasional kembali ke Indonesia. bahan bakar dan beban tambahan lainnya) yang disebabkan oleh kenaikan yang signifikan pada harga bahan bakar jet dapat menurunkan permintaan atas layanan yang diberikan Perseroan. Perseroan memiliki beberapa pemasok utama bahan bakar pesawat seperti air BP dan Shell Malaysia Trading. yang diterbitkan oleh ARAMCO atau Rotterdam. 34. Jasa In-flight Catering PT Angkasa Citra Sarana (“ACS”). Perseroan semakin mengandalkan proteksi terhadap bahan bakar agar Perseroan dapat mengkontrol eksposurnya terhadap perubahan harga bahan bakar. bila dibandingkan dengan kesepakatan bahan bakar sebelumnya dengan Pertamina. yang bersifat tahunan dan berlaku sebaliknya dengan ketentuan yang lazim digunakan dalam industri penerbangan. Selain itu. beban bahan bakar pesawat tertimbang per barel yang tinggi dapat berpengaruh buruk terhadap profitabilitas dan pendapatan usaha Perseroan. Perseroan mendapatkan pengadaan sekitar 70% bahan bakar sesuai dengan perjanjian yang dibuat dengan Pertamina. perjanjian baru tersebut akan menghasilkan diskon yang lebih rendah (dan harga bahan bakar yang lebih tinggi) sejalan dengan kenaikan harga posting produksi dalam negeri. Perjanjian pasokan bahan bakar internasional mewajibkan adanya pembayaran di muka atau adanya letter of credit terhadap pengiriman bahan bakar. Di masa lalu Perseroan pernah mengalami ketidakmampuan dalam pelunasan sejumlah pembiayaan bahan bakar kepada Pertamina.1%. 2008. dan 31. sedangkan Pertamina secara historis memberikan Perseroan diskon persentase terhadap harga posting produksi dalam negeri. Karena Perseroan memiliki keterbatasan kemampuan untuk dapat terus menerapkan beban tambahan bahan bakar pesawat di luar ketetapan tarif kelas ekonomi yang ditentukan. Perseroan masuk ke dalam perjanjian pasokan bahan bakar selama lima tahun dengan Pertamina dan perjanjian pasokan bahan bakar selama 1 sampai 2 tahun dengan beberapa pemasok internasional. Perjanjian pasokan bahan bakar baik untuk internasional diperpanjang secara periodik dan pembayarannya menggunakan dolar Amerika Serikat dan mata uang lokal.8% dari total beban operasional. baru-baru ini Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan bahwa praktik tersebut bersifat anti-persaingan. Dengan demikian.3%. Perseroan tidak melakukan transaksi lindung nilai (hedging) terhadap harga bahan bakar pesawat. bergantung pada volatilitas harga dan fluktuasi pasokan dan permintaan. 169 .2%.4%. Sampai dengan saat ini hampir seluruh dari pasokan bakar di Indonesia berasal dari Pertamina. Kenaikan agregat harga tiket perjalanan udara (tiket pesawat yang terdiri dari. 41. Perjanjian pasokan bahan bakar domestik ditinjau secara periodik dan pembayaran dilakukan dalam Rupiah untuk harga yang ditetapkan dalam dolar Amerika Serikat. Selama ini Perseroan membebankan sebagian dari beban bahan bakar kepada pelanggan dalam bentuk beban tambahan bahan bakar (fuel surcharge).2%. Harga bahan bakar pesawat selama ini dan akan selalu. Hal ini mengkondisikan Perseroan untuk tetap bergantung kepada Pertamina. sedangkan perjanjian pasokan domestik dengan Pertamina saat ini mengijinkan Perseroan untuk melakukan pembayaran dalam dua minggu setelah pengiriman bahan bakar. yaitu anak perusahaan dari PT Aero Wisata. 34. Di samping itu.

Umumnya. Manajemen pendapatan adalah serangkaian proses bisnis yang terintegrasi yang digunakan untuk menghitung harga yang optimal dan menentukan persediaan kursi untuk penumpang yang sensitif terhadap harga tiket untuk dapat memaksimalkan pendapatan yang dapat dihasilkan oleh penjualan tiket yang berdasarkan pada perkiraan perilaku permintaan untuk setiap pasar. juga dikenal dengan sebutan MRO. Ltd. data pencatatan dan data tren musiman digunakan untuk memproyeksikan 170 . Jepang dan Australia serta berperan sebagai general sales agent untuk maskapai penerbangan lain. pasar dan di seluruh kegiatan operasional Perseroan. bisnis Perseroan dipengaruhi oleh jumlah penumpang yang terbang dan tarif yang dikenakan. Jasa Transportasi Anak perusahaan PT Aero Jasa Perkasa. Seperti yang diterapkan oleh maskapai penerbangan lainnya. perkiraan dan optimalisasi. Perseroan telah menerapkan sistem manajemen pendapatan untuk memaksimalkan pendapatan berdasarkan penerbangan. Dalam penyediaan jasa MRO kepada Perseroan di Indonesia dan juga kepada maskapai penerbangan pihak ketiga. perbaikan dan overhaul. Layanan Teknologi Informatika Anak Perusahaan. sebagai salah satu proses yang paling penting dalam manajemen pendapatan. PT Abacus Distribution Systems Indonesia menyediakan sistem dan solusi reservasi yang terkomputerisasi. termasuk umur dan jenis pesawat dan spesifikasi pabrikan. dalam rangka mengkonsolidasikan dan mengintegrasikan pengoperasian teknisi pemeliharaan pesawat Perseroan. GMF Aeroasia telah mendapatkan lisensi dari DJPU.Pendapatan dari usaha katering Perseroan meliputi pendapatan yang diperoleh oleh ACS sebagai penyedia jasa inflight catering kepada maskapai pihak ketiga yang beroperasi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. GMF Aeroasia didirikan sebagai Anak Perusahaan. Ltd. Layanan Jasa Hotel Anak Perusahaan. penggunaan yang efisien dan pemeliharaan pesawat serta optimalisasi pemanfaatan armada yang dimiliki Perseroan. Kabin pesawat yang dimiliki Perseroan dibagi menjadi dua kelas kabin yaitu kelas eksekutif dan ekonomi. Ltd. PT Aero Jasa Perkasa. Pemeliharaan mesin pesawat diberikan oleh GMF Aeroasia untuk pesawat Boeing 737-300/400/500 dengan program Power by The Hour (PBTH) dan oleh pihak ketiga termasuk Rolls Royce dengan Program Total Care pada Airbus A330 dan EGAT di bawah program Maintenance Cost Per Hour untuk pesawat pesawat Boeing 747-400. MANAJEMEN PENDAPATAN Dalam menjalankan kegiatan usahanya. Pemeliharaan dan Perbaikan Pesawat Perawatan pesawat. Jasa pelayanan yang paling banyak diberikan oleh GMF Aeroasia untuk pesawat milik Perseroan adalah jasa pemeliharaan kerangka pesawat. termasuk pelayanan konsultasi dan perawatan kepada maskapai penerbangan dan industri lainnya. Perseroan menentukan jumlah kursi yang ditawarkan di setiap tarif melalui proses analisis yang kompetitif. Korea. melayani sistem teknisi teknologi informasi. PT Aero Wisata. PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi. Perseroan berusaha untuk memaksimalkan jumlah kursi terisi dan pendapatan di tiap kelas penerbangan. PT Aero Systems Indonesia. Otoritas United States Federal Aviation Administration (FAA) dan European Aviation Safety Agency (EASA). dan Garuda Orient Holidays Korea Co. Pada tahun 2002. Jadwal dan siklus jasa MRO untuk armada yang dimiliki Perseroan bervariasi tergantung pada faktor-faktor tertentu. PT Mirtasari Hotel Development. mempromosikan paket liburan dan mengoperasikan usaha agen perjalanan yang masing-masing terletak di Indonesia. 9. GMF Aeroasia menggunakan fasilitas yang disewa dari Perseroan.. PT Aero Wisata. Garuda Orient Holidays Pty. Melalui sistem manajemen pendapatan yang selama ini digunakan oleh bisnis FSC Garuda Indonesia. PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika. sangat penting untuk keselamatan dan kenyamanan penumpang. Garuda Orient Holidays Japan Co.. menyediakan jasa transportasi untuk awak pesawat dan grup wisatawan. memiliki dan mengoperasikan lima hotel dan mengelola dan mengoperasikan beberapa hotel lainnya Layanan Biro Perjalanan Anak Perusahaan. termasuk penyewaan peralatan komputer dan penyediaan dukungan teknis untuk biro perjalanan yang Perseroan gunakan pada layanan bisnis FSC Garuda Indonesia untuk meningkatkan utilisasi dari sistem reservasi yang terkomputerisasi. Perseroan memiliki berbagai struktur harga untuk memenuhi permintaan yang bervariasi di setiap segmen pasar.

dan oleh karena itu. Perseroan menggunakan perkiraan data di masa lalu. dan informasi manajemen dan pelaporan. Sistem tersebut menggunakan model prakiraan dan optimalisasi secara cepat yang dapat menganalisa pertimbangan ekonomis yang diperlukan untuk menentukan jumlah kursi yang akan ditawarkan pada setiap tarif. iklan televisi dan radio. Perseroan juga terlibat dalam berbagai kegiatan promosi. Amerika Serikat. Perseroan banyak mempromosikan bisnisnya terutama melalui iklan-iklan di internet. Pendapatan Perseroan dari jasa penumpang internasional dan domestik dan menghasilkan penumpang secara historis berkorelasi dengan kemampuan Perseroan untuk mengelola harga dan mengoptimalkan load factor serta (fuel surcharges) bahan bakar yang mencerminkan fluktuasi harga bahan bakar pesawat. yang memungkinkan Perseroan untuk memaksimalkan pendapatan dari kapasitas yang ada. Perseroan memiliki sekitar 435. SBU Citilink mengembangkan sistem manajemen awak pesawat yang berbasis tikAero. Perseroan mengharapkan upgrade tersebut dapat selesai dilakukan dalam 12 sampai 18 bulan kedepan. DJPU telah meningkatkan batasan tarif penumpang kelas ekonomi untuk domestik dan tidak lagi mengizinkan Perseroan untuk menerapkan beban tambahan bahan bakar di atas tarif tetap domestik kelas ekonomi yang ditetapkan oleh DJPU.000 anggota yang terdaftar dalam program GFF tersebut dengan persentase sebesar 28. sistem kontrol keberangkatan. PENJUALAN DAN RESERVASI Jasa Penumpang Pemasaran Strategi pemasaran Perseroan adalah meningkatkan reputasi brand untuk dapat memperluas pangsa pasar penerbangan berpenumpang yang sedang berkembang di Indonesia dan meningkatkan pengenalan konsumen internasional terhadap reputasi brand Garuda Indonesia (brand awareness). dibentuk pada tahun 1999.8% dari total penumpang pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. dikombinasikan dengan pemesanan yang ada saat ini. seperti memberikan sponsor untuk acara besar budaya dan olahraga dan bertugas sebagai Perseroan penerbangan yang ditunjuk khusus sebagai delegasi budaya dan olah raga di Indonesia. sebuah perusahaan penyedia layanan IT yang melayani Group Emirates. media cetak. Program Garuda Frequent Flyer (“GFF”). Perseroan berkeyakinan bahwa program GFF dapat meningkatkan loyalitas khususnya dikalangan business traveller dengan memberikan penghargaan berupa mileages pada setiap penerbangannya ataupun diperoleh dari hasil kerjasama Perseroan dengan penyedia 171 . Perseroan telah menerapkan sistem tersebut pada semua rute domestik dan internasionalnya sejak tahun 2006. Apabila dibandingkan dengan beberapa pesaingnya di industri. acara-acara mendatang. business-to-enterprise dan business-to-customer internetbooking engine untuk penjualan langsung. SBU Citilink juga mengoperasikan modul manajemen pendapatan dan optimasi yang disediakan oleh AirRM. akuntansi pendapatan. 10. Perseroan berkeyakinan bahwa sebagai flag carrier. Tarif tetap kelas ekonomi tersebut saat ini hanya dapat disesuaikan apabila harga fuel atau kurs Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melebihi batas tertentu yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk jangka waktu yang ditentukan. SBU Citilink mengoperasikan sistem informasi yang terintegrasi yang disebut “tikAero” yang disediakan oleh TIK Systems (Thailand). Perseroan saat ini dalam proses pemutakhiran sistem manajemen pendapatan termasuk sistem pelayanan penumpang untuk meningkatkan jalur penjualan langsung Perseroan kepada pelanggan. sebuah perangkat lunak sistem manajemen pendapatan yang digunakan oleh beberapa perusahaan penerbangan lainnya. adalah program frequent flyer yang pertama kali dibentuk oleh maskapai penerbangan di Indonesia. papan reklame. sebuah perusahaan yang berbasis di Seattle. PEMASARAN. persediaan dan sistem pemesanan.kebutuhan yang harus diantisipasi. Perseroan saat ini dalam proses melakukan upgrade terhadap perangkat lunak manajemen pendapatan yang dimiliki demi meningkatkan persediaan kursi pesawat yang ada dan fleksibilitas harga berdasarkan lokasi asal dan lebih baik dalam memperkirakan permintaan pasar. saat ini diakuisisi oleh Mercator. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan menyediakan layanan penerbangan charter kepada para pemimpin dan delegasi pemerintahan akan meningkatkan prestise dan reputasi Perseroan. “Garuda Indonesia” adalah brand yang diakui secara luas di Indonesia dan di luar negeri. Washington. Perseroan berkeyakinan bahwa saat ini manajemen pendapatan Perseroan memiliki kemampuan yang relatif terbatas. yang meliputi komponen untuk manajemen pendapatan. Sebagai akibat adanya keputusan baru. Per 30 September 2010. Perseroan telah menggeser fokus manajemen pendapatan khususnya untuk penerbangan domestik untuk alokasi persediaan kursi di kelas tarif yang berbeda. tekanan persaingan dan faktor lainnya. dalam menentukan struktur tarif untuk memaksimalkan pendapatan. business-tobusiness internet-booking engine untuk agen perjalanan. Selain itu. Sejak April 2010. Perseroan menggunakan REMBRANDT. majalah.

Tokyo.program lainnya seperti penerbit kartu kredit. hotel dan penyedia layanan telekomunikasi. antara lain di Jakarta. termasuk audit atas kepatuhan dan organisasi. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Amerika dan Afrika. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. dan Perseroan berencana untuk menjadi anggota penuh dari salah satu aliansi global maskapai penerbangan pada bulan Juni 2012. Perseroan berkeyakinan bahwa menjadi anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan dapat memperkuat citra Perseroan di industri penerbangan. Sistem komputer untuk reservasi yang digunakan oleh Perseroan adalah ARGA. Untuk menjadi anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan. program frequent flyer. SABRE dan GALILEO di Amerika Serikat. Denpasar.988 agen (663 agen IATA dan 2. antara lain Singapura. Perseroan harus memenuhi persyaratan keanggotaan dan melewati tahap pemeriksaan audit. dengan memberikan fasilitas pembayaran secara langsung. Perseroan diberikan penghargaan bintang empat dari Skytrax. dan AMADEUS di Eropa. Perseroan juga melakukan penjualan langsung kepada pelanggan korporat dan pemerintahan. keselamatan dan keamanan. pelayanan pelanggan di bandara. Perseroan memiliki jaringan agen perjalanan sekitar 2. seperti apakah penjualan untuk penerbangan domestik atau internasional dan struktur tarif dari rute tertentu. Struktur komisi agen penjualan bervariasi tergantung pada beberapa faktor. Serupa dengan maskapai penerbangan Indonesia lainnya. Dalam mendukung penjualan internasional. termasuk Amerika Serikat. dengan memanfaatkan kedekatan geografis Perseroan terhadap pelanggan korporat dan kantor administrasi pemerintahan yang berbasis di Jakarta. Perseroan akan mendapatkan keuntungan dari luasnya jaringan yang dicakup oleh anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan. Meskipun Perseroan menawarkan layanan penjualan langsung kepada para pelanggan. Penjualan dan Distribusi Perseroan memiliki jaringan kantor cabang sebanyak 32 kantor domestik dan 17 kantor internasional dan regional. Mileages yang dikumpulkan dapat ditukar menjadi tiket perjalanan gratis. Jasa Kargo Udara SBU kargo Perseroan bertanggung jawab atas penjualan dan kegiatan pemasaran yang berkaitan dengan layanan kargo udara. sekitar 23% dari total penjualan bersih untuk penumpang berasal dari kantor penjualan Perseroan . dan telah memiliki perjanjian jangka panjang akan layanan maskapai penerbangan pilihan dengan pelanggan tersebut. penjualan tiket online melalui call center dan website menghasilkan sekitar 2% dari total penjualan bersih untuk penumpang. Pada Desember 2009. Agen-agen tersebut melacak ketersediaan ruang 172 . Perseroan juga melakukan penjualan langsung melalui call center atau website. dan pada Mei 2010. India dan New Zealand. membuktikan peningkatan kualitas layanan produk dan jasa. dan penjualan. dimana karyawannya adalah personel Perseroan. Sebagai bagian dari tahap awal. lounge IT. Perseroan telah menandatangani surat kesepahaman dengan semua anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan pada tanggal 23 Nopember 2010. Medan dan Makassar. Sistem reservasi tersebut memberikan informasi secara real-time untuk memudahkan pengelolaan reservasi penerbangan dan merupakan cara yang efektif untuk memperluas jaringan penjualan Perseroan. Perseroan juga memiliki kantor penjualan internasional di kota-kota besar di luar negeri. termasuk Eropa. reservasi dan distribusi.967 agen IATA dan 140 sub-agen) dan telah menunjuk 8 (delapan) agen penjual biasa (General Sales Agent) yang tersebar di 8 (delapan) negara. diskon atau up grade pada penerbangan Perseroan atau ditukar dengan barang tertentu pada In Flight Sales pada saat penerbangan. seperti Abacus di Asia Tenggara. Layanan pemesanan dan pembelian tiket pesawat online untuk rute domestik telah diluncurkan pada awal tahun 2009 dan untuk rute internasional telah diluncurkan pada akhir Mei 2010. Perseroan saat ini tengah berupaya keras menjadi anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan dalam rangka memperluas jaringan internasional dan meningkatkan pangsa pasar Perseroan untuk perjalanan udara internasional. Perseroan dianugerahi sebagai pemenang penghargaan Skytrax 2010 sebagai “World’s Most Improved Airline”. Dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.107 agen perjalanan internasional (1. Perseroan juga bekerjasama dengan beberapa operator sistem reservasi internasional. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan berpartisipasi pada aliansi global maskapai penerbangan. Sebagian besar kantor wilayah penjualan beroperasi di kota-kota besar di Indonesia. Perseroan memiliki 2. Jeddah. penjualan tiket dari agen perjalanan (tidak termasuk penjualan pelanggan korporat) telah menghasilkan sekitar 69% dari total penjualan bersih untuk penumpang. Sydney dan Perth. jalur utama penjualan dan pemasaran adalah melalui agen kargo independen. Per 30 September 2010.325 sub-agen) di Indonesia. seluruh kantor penjualan Perseroan yang terletak di Indonesia tersambung ke sistem komputer untuk reservasi. Surabaya. Kanada. pembelian dan sinergi.

Code-sharing umumnya membolehkan penjualan kursi yang tidak dibatasi (free-sale). sistem yang menyediakan fasilitas bagi penumpang untuk melakukan check-in penerbangan melalui mesin secara sendiri. c. tagihan melalui airwaybill. Perseroan melibatkan tiga jenis agen: a. dan Perseroan mengoperasikan sekitar 55 penerbangan pulang pergi berjadwal code-sharing setiap minggunya. PERJANJIAN CODE-SHARING Perjanjian code-sharing adalah perjanjian pemasaran dimana perusahaan penerbangan yang tidak beroperasi menjual kursi dan/atau ruang pada penerbangan yang dioperasikan oleh mitra code-share lainnya sebagai produk sendiri dengan menggunakan dua-huruf kode penerbangan sebagai penanda.kargo yang ada di antara semua perusahaan penerbangan dan bertindak sebagai perantara antara pelanggan dan penyedia layanan kargo. persediaan kursi penumpang (seat inventory). • • • • 173 . kapasitas. Perseroan memiliki sekitar 223 penerbangan pulang pergi berjadwal yang dioperasikan oleh mitra code-sharing Perseroan setiap minggu. sistem pengendalian keberangkatan untuk mengelola jadwal penerbangan dan kursi. 11. China Southern Airlines. sistem yang menyediakan fasilitas untuk reservasi. dan Agen-agen lokal (baik Indonesia dan luar negeri) yang biasanya memiliki pangsa pasar besar di pasar lokal mereka dan memiliki pengetahuan yang cukup terkait dengan ketentuan pemerintah dan prosedur kepabeanan setempat. Malaysia Airlines. Sistem manajemen jaringan dan jadwal. inventori. sistem yang menyediakan fasilitas untuk melakukan reservasi layanan kargo. Perseroan telah berhasil membentuk kemitraan code-sharing dengan berbagai perusahaan penerbangan internasional termasuk Singapore Airlines. sistem yang yang dirancang untuk membantu Perseroan dalam mengembangkan dan mengelola rute jaringan dan jadwal penerbangan yang bertujuan untuk mengurangi beban operasional dan memaksimalkan pendapatan. Vietnam Airlines dan KLM Royal Dutch Airlines. Pesaing utama Perseroan untuk layanan kargo domesik adalah Lion Air dan di pasar kargo internasional adalah Singapore Airline. dan Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan adalah salah satu maskapai penerbangan yang memiliki program kemitraan code-sharing yang paling ekstensif diantara perusahaan penerbangan Indonesia lainnya. EVA Air dan China Airlines. Kios / pelayanan sendiri (self service). Perseroan telah menerapkan sistem informasi manajemen sebagai berikut: • Passenger Service Solution (“PSS”). dan meningkatkan citra Perseroan di pasar internasional. Korean Air. pencarian/ sistem kontrol untuk mengelola penerbangan. Turkish Airlines.multinasional dan perusahaan yang bergerak di bidang ekspor dan impor. block seat atau penukaran kursi (seat swap). sistem yang menyediakan fasilitas untuk pemesanan secara online dan elektronik tiket (e-ticket) dan penghubung antara sistem pemesanan (booking engine) dan pembayaran dan pemberitahuan melalui email. SISTEM INFORMASI MANAJEMEN Perseroan berkeyakinan bahwa sistem informasi manajemen memiliki andil yang sangat penting dalam bisnis Perseroan. penumpang. dan Royal Brunei Airlines. yang tidak menguntungkan yang disebabkan oleh volume penumpang yang rendah. b. meningkatkan pendapatan. Solusi kargo integrasi. Silk Air. Per 30 September 2010. Transportasi global dan perusahaan logistik. 12. serta menyediakan untuk distribusi dan platform tiket. Philippine Airlines.domestik dengan jaringan penjualan domestik yang luas. dengan jaringan penjualan yang luas di luar negeri untuk melayani kebutuhan perusahaan. Korean Air. Umumnya Perseroan membayar agen seperti komisi berdasarkan persentase dari tarif angkutan barang. Perseroan berkeyakinan bahwa perjanjian code-sharing tersebut adalah cara yang efektif untuk memperluas cakupan layanan penerbangan. tiket. inventarisasi kargo dan manajemen keuangan dari pendapatan kargo. Sistem internet booking engine atau sistem pemesanan melalui internet dan sistem pembayaran online. China Airlines. Umumnya Perseroan menandatangani perjanjian code-share untuk melayani pasar yang dianggap penting ditinjau dari jaringan rute internasional yang saat ini dioperasikan oleh Perseroan. Malaysian Airlines. Perusahaan.

Malaysia Airlines dan Thai Airways di Asia. perbaikan dan overhaul (MRO) dan aplikasi online fuel Garuda (“FOGA”) di seluruh kantor cabang agar memudahkan pengelolaan dan kontrol dari penggunaan bahan bakar pesawat dari setiap penerbangan. Pada pasar Australia. Sistem logistik termasuk modul perencanaan sumber daya Perseroan. banjir. yang keseluruhannya berjumlah 28.8% dari total penumpang untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. termasuk administrasi karyawan. Sistem integrasi kontrol operasi (integrated operations control systems) yaitu sistem yang bertujuan untuk mengelola operasional penerbangan. 13. Perseroan tidak dapat menjamin bahwa pesaing-pesaing baik untuk saat ini maupun di masa mendatang tidak akan melakukan taktik pemotongan harga atau taktik lainnya. Malaysia dan Thailand. Demikian 174 . Korean Air dan China Southern Airlines. a. Baru-baru ini Perseroan juga dalam proses peningkatan (upgrading) layanan penumpang Perseroan dan sistem manajemen pendapatan untuk menyatukan dengan pendirian dari pusat data (data center) yang baru. telah memberikan dampak terhadap persaingan harga yang kian meningkat. sistem yang menyediakan data analisa pasar terkait. Infrastruktur komunikasi dengan teknologi berbasis IP baik untuk jaringan domestik dan internasional yang dapat meningkatkan efisiensi biaya dalam jaringan komunikasi.• Sistem manajemen pendapatan. Perseroan dapat menerapkan diskon tarif yang signifikan pada beberapa rute domestik dan internasional yang berakibat pada penurunan passenger yield. yang bertujuan untuk pengelolaan yang lebih baik bagi hubungan Perseroan dengan pelanggannya yang tergabung dalam anggota GFF. suatu sistem yang dirancang untuk membantu Perseroan dalam meminimalkan tingkat persediaan (inventory) dengan tetap mempertahankan persediaan suku cadang yang memadai. Perseroan bersaing dengan Japan Airlines. penggajian. Dari waktu ke waktu. termasuk bentuk-bentuk standar industri penerbangan dan bentuk laporan untuk pemerintahan. sabotase dan bencana alam lainnya atau kejadian yang diakibatkan oleh perbuatan manusia. termasuk perubahan tarif tiket pesawat dari mitra dan pesaing Perseroan. dan laporan hukum. Sistem sumber daya manusia (“SDM”). Etihad dan Qatar Airways. sistem yang dirancang untuk mengekstrak dan mengintegrasikan informasi yang berharga dari pasar dan data operasional Perseroan. Perseroan juga bersaing dengan Singapore Airlines. sistem yang melakukan otomatisasi proses-proses utama dari SDM. pengelolaan arus kas. Sistem keuangan. Maskapai penerbangan baru yang masuk ke pasar Indonesia. Data Recovery Center (“DRC”). Perseroan menghadapi pesaing yang berbeda pada setiap rute Internasional yang dilayani. sedangkan pada pasar Timur Tengah. yang mungkin dapat berdampak negatif yang cukup material terhadap kondisi keuangan dan kegiatan usaha Perseroan. laporan keuangan. Sistem manajemen persediaan suku cadang pesawat. pada rute internasional yang dilayani Perseroan. termasuk menambah kapasitas pada rute yang sudah ada atau menerapkan diskon harga maupun beroperasi dengan biaya rendah. PERSAINGAN USAHA Industri penerbangan merupakan industri yang sangat kompetitif. untuk meningkatkan efisiensi dan mendukung aturan kepatuhan sesuai dengan perubahan peraturan internasional dan domestik. baik penyedia penerbangan FSC maupun LCC. Perseroan bersaing dengan Qantas dan Jetstar. suatu sistem yang untuk memenuhi kebutuhan jasa pemeliharaan. Perseroan bersaing dengan Saudi Airlines. termasuk pusat program data cadangan atau Data Center Backup (“DCB”) suatu sistem yang bertujuan untuk melindungi data Perseroan dan infrastruktur teknologi informasi dari kerusakan dan kehancuran ketika terjadi situasi yang menganggu sistem seperti ledakan. sehingga Perseroan dapat melakukan segmentasi harga tiket pesawat dan mengalokasikan persediaan kursi penumpang yang bertujuan untuk memaksimalkan passenger yield secara efektif. serta laporan lainnya. masing-masing pada rute-rute ke dan dari Jepang. Perseroan menghadapi berbagai tingkatan persaingan dari penerbangan FSC dan LCC di setiap pasar yang dilayani. Emirates. Jasa Penerbangan Berjadwal untuk Penumpang – Rute Internasional Perseroan bersaing dengan banyak perusahaan penerbangan internasional terkemuka lainnya. Korea dan China. dan menyiapkan berbagai laporan keuangan. Sistem data pergudangan. khususnya pada rute-rute ke dan dari Singapura. khususnya maskapai penerbagan LCC. dalam upaya untuk meningkatkan pangsa pasar perusahaan pesaing tersebut. • • • • • • • • Perseroan juga bermaksud untuk menerapkan Customer Relationship Management System (“CRM”). sistem yang dirancang untuk membantu Perseroan menyiapkan kondolidasi akun keuangan. gempa bumi.

Di masa lalu. 14. Jakarta-Jeddah dan Jakarta/Denpasar-Perth. Jasa Penerbangan Berjadwal untuk Penumpang – Rute Domestik Perseroan adalah satu-satunya bisnis FSC di Indonesia dan satu dari hanya dua maskapai penerbangan dengan sertifikasi IOSA yang melayani penumpang di pasar domestik. tergantung pada jumlah dan sifat dari pesaing. Perseroan bermaksud untuk mengirim beberapa pilotnya untuk menghadiri program pelatihan perusahaan penerbangan yang terafiliasi dengan Perseroan. Jakarta . Sampai dengan per 30 September 2010. Pada saat pesawat yang baru digunakan sebagai bagian dari armada Perseroan. termasuk Singapore Airlines. yang dilengkapi dengan simulator penerbangan untuk beberapa jenis pesawat. yang mengoperasikan armada yang lebih besar dengan pesawat berbadan lebar dan pesawat khusus kargo. termasuk Singapore Airlines. fasilitas lounge bandara bersama. Intensitas persaingan di rute domestik bervariasi dari rute ke rute. dibandingkan dengan bisnis FSC.Denpasar. secara substansial memiliki sumber keuangan dan teknologi yang lebih baik. yang mengharuskan pilot Indonesia untuk menjalani ujian sertifikasi ulang secara tahunan. Perseroan berkeyakinan memiliki posisi brand yang kuat di domestik serta memiliki pelanggan premium (khususnya anggota GFF) yang loyal terhadap brand Garuda Indonesia. Batavia Air dan Sriwijaya Air. Malaysia Airlines. Korean Air dan China Airlines. serta lebih rendahnya struktur beban operasional dari layanan bisnis layanan LCC. Perseroan berkeyakinan bahwa Garuda Indonesia adalah pemimpin di pasar domestik karena jangkauan jaringan domestik yang dimiliki dan konsistensi dalam memenuhi permintaan penjadwalan. Untuk segmen budget traveler. Cathay Pacific. memiliki jaringan penjualan yang lebih luas.Surabaya. Anggota aliansi global maskapai penerbangan dapat menikmati manfaat/fasilitas tertentu seperti code-sharing. pengakuan brand yang lebih baik dan sistem reservasi yang dapat diakses secara luas. Perseroan memberikan pelatihan tambahan untuk pilot-pilotnya di pusat pelatihan yang dimiliki Perseroan di Jakarta. Intensitas kompetisi bervariasi dari rute ke rute. Jakarta-Kuala Lumpur. pangsa pasar Perseroan tergolong rendah karena kapasitas kargo Perseroan yang terbatas dibandingkan dengan operator lain di kawasan Asia. Perseroan yakin bahwa penetapan tarif batas atas kelas ekonomi yang berlaku untuk bisnis LCC. Perseroan menghadapi persaingan yang ketat dengan banyaknya maskapai penerbangan yang beroperasi baik yang melakukan penerbangan langsung (direct flight) seperti KLM. rata-rata pengalaman pilot Perseroan adalah 22 tahun. 175 . yang menawarkan jasa kargo udara dikaitkan dengan layanan penerbangan berjadwal serta dengan maskapai penerbangan yang khusus melayani kargo udara.Medan dan Jakarta . PILOT DAN AWAK PESAWAT Perseroan mempekerjakan sebagian besar pilotnya yang diperoleh langsung dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia.Ujung Pandang. Selain itu. Semua pilot maskapai penerbangan di Indonesia. Perseroan juga menghadapi persaingan tambahan sebagai akibat dari aliansi global maskapai penerbangan. banyak perusahaan penerbangan pesaing internasional yang memiliki pengalaman operasional yang lebih lama. dapat menghasilkan profitabilitas yang lebih tinggi untuk bisnis LCC di tiket kelas ekonomi rute domestik selama periode puncak ketika Perseroan menentukan tarif yang akan dikenakan untuk penumpang FSC Garuda Indonesia adalah yang sering dibatasi oleh tarif tetap dimana Perseroan harus mematuhinya. Jakarta . Jasa Kargo Udara Sektor kargo udara di Indonesia sangat kompetitif. Di pasar kargo udara internasional. b. Perseroan menggabungkan pelatihan di ruang kelas dengan pelatihan simulasi penerbangan. bergantung pada jumlah dan sifat dari perusahaan pesaing. harus memiliki lisensi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (“DJPU”).juga untuk pasar Eropa. Perseroan bersaing dengan maskapai domestik seperti Lion Air. termasuk pilot Perseroan. Perseroan telah dan akan terus menghadapi persaingan dari bentuk-bentuk transportasi untuk perjalanan domestik. Malaysian Airlines. Perseroan juga bersaing dengan operator kargo udara yang telah ada dan perusahaan layanan kargo udara yang terintegrasi seperti DHL dan UPS yang memiliki ground transport sendiri dan menawarkan layanan kargo udara secara door-to-door. Perseroan bersaing di sektor kargo udara dengan penerbangan untuk penumpang lain di rute internasional dan domestik. Perseroan juga merekrut pilot dari sumber lain. termasuk melalui perekrutan sesekali dari maskapai lain. maupun yang melakukan penerbangan tidak langsung (indirect flight) seperti Singapore Airlines dan Emirates. c. Korea Airlines dan China Airlines. termasuk layanan kereta api dan bus. Perseroan juga mengirim calon pilotnya ke sekolah-sekolah pilot asing untuk mengikuti pelatihan tambahan sebelum mereka bergabung dengan Perseroan. manfaat bersama program frequent flyer dan peningkatan kekuatan brand. Rute penerbangan domestik yang sangat kompetitif meliputi rute seperti Jakarta . umumnya perusahaan Airbus atau Boeing akan menawarkan pelatihan khusus untuk pilot Perseroan. Rute penerbangan internasional yang sangat kompetitif antara lain rute Jakarta-Singapura. Sebagai satu-satunya FSC. Dibandingkan dengan Perseroan. suatu lembaga pelatihan pilot terkemuka di Indonesia.

15. Perseroan diwajibkan untuk memperoleh sertifikasi dari pihak yang berwenang dari setiap negara yang merupakan rute penerbangan Perseroan. serta standar keamanan internasional yang dikeluarkan oleh asosiasi seperti IATA.000 keberangkatan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 176 . Kegagalan dalam memenuhi standar keselamatan dapat mengakibatkan denda atau sanksi administrasi lainnya. Perseroan juga memiliki risiko yang mungkin timbul sebagai akibat dari kegagalan memenuhi keselamatan penerbangan yang disebabkan oleh pihak bandara . Perseroan telah membentuk komite keselamatan yang terdiri dari anggota manajemen senior. Perseroan telah mematuhi arahan dan langkah-langkah yang telah ditetapkan DJPU dan tidak pernah mendapatkan denda maupun hukuman material yang diakibatkan dari kegagalan dalam mematuhi standar keselamatan yang berlaku. Badan otoritas penerbangan sipil di negara dimana maskapai penerbangan tersebut mengimplementasi dan menerapkan peraturan yang terkait dan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa awak pesawat dan pesawat memenuhi standar yang telah ditetapkan. Perseroan bertanggung jawab untuk membuat dan mendistribusikan manual keselamatan dan panduan pelatihan yang disetujui oleh DJPU kepada seluruh karyawan Perseroan. Saat ini. KESELAMATAN Perseroan tunduk pada standar keselamatan yang diberlakukan oleh Menteri Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. peralatan. Program pelatihan terdiri dari 64 hari pelatihan dasar. Perseroan memperoleh persetujuan dari DJPU untuk mempekerjakan pilot asing untuk satu tahun dan dapat diperpanjang dengan kontrak. Untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan-peraturan tersebut. Strategi Perseroan untuk mempekerjakan karyawan eksternal termasuk merekrut pilot Indonesia dengan pengalaman dari operator pesawat internasional lain. Perseroan berdedikasi untuk memastikan keselamatan penumpang dan menjaga kepatuhan terhadap semua undang-undang dan peraturan yang berlaku yang berhubungan dengan keselamatan penerbangan. Karena maskapai penerbangan memiliki tanggung jawab untuk keselamatan penumpangnya. industri penerbangan Indonesia mengalami kekurangan pilot yang berpengalaman dan pada saat ini Perseroan berupaya untuk meningkatkan jumlah pilot-pilot yang direkrut dari luar negeri. keamanan dan pelayanan. tahunan dan layanan sesi pelatihan bagi pramugari Perseroan.Perseroan juga mempekerjakan awak kabin dari seluruh propinsi di Indonesia sebagai bagian dari strategi Perseroan untuk mengembangkan “Garuda Indonesia Experince” untuk memperkenalkan penumpang Indonesia dengan budaya yang sudah dikenal dan untuk memperkenalkan penumpang asing dengan budaya dan keramah-tamahan Indonesia. Korea. pemeliharaan dan standar pelatihan bagi seluruh maskapai penerbangan di Indonesia. antara lain. dispatch. dan Cina. perawatan dan pengoperasian pesawat. Perseroan telah mengambil langkah-langkah untuk mengeliminasi faktor-faktor yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan. DJPU mempunyai yurisdiksi atas keselamatan operasional penerbangan. Perseroan juga mempekerjakan awak kabin dari Jepang. Perseroan menyediakan program pelatihan yang terdiri dari program studi dalam keselamatan. DJPU juga mengeluarkan ketentuan dan peraturan yang terkait dengan. 3 mentor pelatihan penerbangan dan satu penilai penerbangan. pengalaman dan catatan keselamatan dari pilot Perseroan. personil penerbangan dan hal-hal lainnya yang dapat mempengaruhi keselamatan udara. Awak kabin Perseroan berpartisipasi dalam program pelatihan secara berkala dan telah memperoleh izin dari DJPU. DJP Umewajibkan setiap maskapai penerbangan Indonesia untuk memberikan rekaman catatan keselamatan penerbangan kepada DJPU secara berkala. Untuk memenuhi permintaan dari penumpang Internasional. komunikasi.000 keberangkatan pada tahun 2009 dan 0. Pada bulan Agustus 2010. yang menetapkan standar keselamatan global di industri penerbangan. DJPU melakukan inspeksi keselamatan secara berkala pada setiap maskapai penerbangan Indonesia.34 insiden penerbangan dari 1. untuk merumuskan kebijakan keselamatan dan memantau pelaksanaan kewajiban keselamatan yang terkait.53 insiden penerbangan dari 1. Perseroan secara berkala mengevaluasi keahlian. mempekerjakan warga negara asing untuk jangka pendek dan mempekerjakan pilot untuk jangka pendek dari maskapai penerbangan Indonesia lain di mana pilot tersebut jarang digunakan. Perseroan diwajibkan untuk mematuhi peraturan standar keselamatan yang ditentukan oleh otoritas penerbangan dari setiap negara yang merupakan rute penerbangan Perseroan. Anggota ICAO biasanya mengakui sertifikasi kepatuhan yang dikeluarkan oleh negara penerbit. Perseroan memberikan pelatihan kepada pramugari Perseroan di sekolah kejuruan pramugari yang dimiliki sendiri. Selain sertifikasi standar keselamatan dan kepatuhan terhadap peraturan keselamatan DJPU. Perseroan juga bermaksud untuk mengatasi kekurangan pilot dengan promosi internal co-pilot menjadi pilot melalui captaincy program dan dengan menyewa eksternal pilot di Indonesia. termasuk laporan insiden penerbangan atau kecelakaan pada pesawat udara selama periode laporan tersebut dan masalah keselamatan udara terkait lainnya. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara adalah anggota dari International Civil Aviation Organization (ICAO). Selain itu. Perseroan juga telah melakukan keselamatan keamanan. Perseroan memiliki 0.

Perseroan menerima agregat sebesar US $ 52. terjatuh ketika kedua mesin mati (flamed out) saat menghadapi turbulensi parah selama penerbangan.4 juta sebagai kompensasi kepada para penumpang dan keluarga almarhum.000. dan Perseroan mengalami kerugian sebesar US $ 14. Dari 60 penumpang dan awak di penerbangan.000 sebagai kompensasi atas polis asuransi Perseroan. Philippine Airlines. Audit keselamatan tersebut biasanya dilakukan sebelum memasuki perjanjian code-share. Berikut adalah ringkasan dari kecelakaan besar penerbangan yang dialami Perseroan dalam 15 tahun terakhir: • Pada tanggal 16 Januari 2002. termasuk perjanjian dengan Silk Air. istri dan anak dari awak kabin yang telah meninggal mengajukan tuntutan hukum di pengadilan Kyoto di Jepang dengan jumlah sebesar JPY 188. KLM Royal Dutch Airlines.000 sebagai kompensasi atas polis asuransi yang dimiliki. Malaysia Airlines. maskapai penerbangan diminta untuk memperbarui pendaftaran mereka secara tahunan dengan melaksanakan pembaharuan audit.7 juta kompensasi kepada keluarga para penumpang yang meninggal dunia. Awak penerbangan tidak dapat melakukan restart mesin dan pesawat mendarat keras di sungai Bengawan Solo.000 sehubungan dengan penghapusbukuan (write-off) pesawat. Dari 133 penumpang dan awak pesawat. dan Perseroan telah menerima sejumlah US $ 104. Sebuah “insiden penerbangan” oleh DJPU disebut sebagai suatu kejadian selain kecelakaan. penerbangan GA 152 pada Airbus 300 terbang dari Jakarta ke Medan.530 untuk kehilangan bantuan pasangan dan perkiraan kehilangan pendapatan. salah satu awak kabin meninggal dunia. meskipun hukuman tersebut kemudian dibatalkan pada tahap banding. Pilot kemudian dihukum karena melakukan kelalaian kriminal. China Airlines. Penerbangan Garuda Indonesia GA 200 menabrak landasan pacu saat mendarat di Bandara Adisucipto di Yogyakarta. Perseroan membayar sekitar US $ 6. dan Perseroan mengalami kerugian sebesar US $ 29. Tak satu pun dari 234 penumpang dan awak pesawat yang selamat dari kecelakaan itu. Perseroan telah membayar kompensasi kepada penumpang dan keluarga penumpang yang meninggal sekitar US $ 82.35 juta sebagai kompensasi kepada para penumpang dan keluarga penumpang yang meninggal.990. Pada tanggal 7 Maret 2007. Sidang diadakan pada tanggal 5 Nopember 2010.170. 21 penumpang dan awak kabin meninggal dunia. Sumatera Utara ketika pesawat ada dalam mode pilot otomatis. Singapore Airlines. Pengakuan timbal balik atas standar keselamatan yang diberikan oleh pihak lain sangat penting dalam keberhasilan pelaksanaan perjanjian code-share. Belum adanya penemuan yang telah dikeluarkan terkait sidang tersebut pada tanggal Prospektus ini. Turkish Airlines dan Vietnam Airlines umumnya memerlukan mitra code-share untuk mengaudit masing-masing sistem manajemen keselamatan yang dimiliki. tiga penumpang meninggal dunia dan 16 penumpang dan dua anggota awak luka berat.600. Pada tanggal 30 Juli 2010.4 juta sehubungan dengan write-off dari pesawat.30 September 2010. penerbangan GA 421 dengan pesawat Boeing 737-300 terbang dari Ampenan ke Yogyakarta. dan Perseroan mengalami kerugian sebesar US $ 21. yang berhubungan dengan kegiatan usaha operasional pesawat udara yang mempengaruhi atau dapat mempengaruhi keselamatan operasinya. dengan 13 penumpang dan anggota awak penerbangan menderita luka parah. Indonesia. dimana pilot mengabaikan beberapa peringatan otomatis yang disebabkan oleh kecepatan pendaratan yang berlebihan serta melanggar prosedur Perseroan untuk membatalkan pendaratan. Sejak tahun 2007 sampai tanggal 30 September 2010. Perseroan membayar sekitar US $ 37. Pada tanggal 26 September 1997.000 sebagai kompensasi atas polis asuransi Perseroan.600. menabrak pohon di atas punggung bukit di Buah Nabar. Perseroan membayar sekitar USD1. DJPU tidak menetapkan standar rasio insiden penerbangan yang dapat diterima.000 sehubungan dengan write-off dari pesawat. apabila tidak diperbaharui kembali.400. China Southern Airlines. dan registrasi terakhir telah diperbarui pada bulan April 2010. Perjanjian code-share Perseroan umumnya memberikan informasi mengenai kewajiban audit dimana masing-masing pihak harus dianggap mencukupi atau memuaskan dalam kurun waktu selama pihak tersebut terdaftar sebagai operator di bawah program audit IATA Operational Safety Audit (IOSA). penerbangan GA 865 pada pesawat McDonnell Douglas DC10-30 terbang dari Fukuoka. dan terbakar. dan Perseroan membayar kerugian sebesar US $ 21.500.000 sehubungan dengan penghapus bukuan (write-off) pesawat. Berbagai perjanjian code-share yang dimiliki Perseroan.900. Pada tanggal 13 Juni 1996. Terdapat suatu gugatan yang disampaikan pada Pengadilan Negeri Kyoto Jepang sehubungan dengan insiden penerbangan GA 200 yang belum diselesaikan sampai dengan prospektus ini diterbitkan. 177 . membatalkan take-off dari landasan pacu Bandara Internasional di Fukuoka.100. Registrasi tersebut akan berakhir pada bulan September 2012.0 juta sebagai kompensasi atas polis asuransi Perseroan. • • Segala klaim yang disampaikan mengenai 3 kecelakaan di atas telah diselesaikan. Dapat dilihat pada bagian Resiko Usaha-Resiko Terkait Industri Penerbangan-Reputasi dan bisnis Perseroan dapat terpengaruh akibat kecelakaan atau insiden pesawat. Sesuai dengan persyaratan pendaftaran dari program IOSA. Penyelidikan Kecelakaan KNKT menentukan bahwa penyebab kecelakaan tersebut adalah kesalahan dari pilot. Perseroan menerima agregat sebesar US $ 35. Dari 275 penumpang dan awak pesawat. Perseroan adalah maskapai penerbangan Indonesia pertama yang terdaftar sebagai operator di bawah program IOSA pada tahun 2008. Jepang ke Denpasar. Perseroan menerima suatu agregat sebesar US $ 22. Korean Air.

110.927 meter persegi dari pihak ketiga yang digunakan sebagai kantor penjualan dan pemasaran. b. memiliki fasilitas meliputi hanggar. Bali.000.000 178 . ASURANSI Dalam menjalankan usahanya.000 Tanggung jawab penerbangan sebesar US $ 750. Perseroan memiliki perjanjian layanan dan membayar penggunaan fasilitas bandara tersebut. Umumnya Perseroan membayar beban penyediaan. Perseroan juga memiliki beberapa bangunan yang terkait dengan kegiatan usaha perhotelan Perseroan.16. a. Dari waktu ke waktu. Perseroan bertanggung jawab atas pemeliharaan. Perseroan menandatangani Memorandum of Understanding (“MOU”) dengan PT Angkasa Pura II terkait terminal yang khusus disediakan untuk Perseroan dan aliansi global maskapai penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta. dekat Jakarta. Umumnya perjanjian sewa tersebut memiliki masa waktu sewa antara satu sampai lima tahun dan memiliki ketentuan-ketentuan tarif sewa yang disesuaikan secara berkala. Hampir semua bandara dimana Perseroan beroperasi.0032 Masa Berlaku 30 Nopember 2010 (Catatan: Polis ini telah diperbaharui berdasarkan Cover Note No.000 Suku cadang pesawat udara sebesar US $150.000 Penerbangan Haji sebesar US $ 37. Perseroan menyewa sekitar 21 bangunan dengan luas keseluruhan 9. 5 pesawat tipe B737-500. FASILITAS DAN BANGUNAN Kantor manajemen Perseroan berlokasi di Garuda City Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng. Polis 201. untuk menempatkan peralatan penerbangan seperti simulator. Penyewaan fasilitas layanan untuk penumpang di terminal meliputi ruang loket dan area keberangkatan. Perseroan berharap terminal yang terdedikasi tersebut akan mulai beroperasi pada bulan Juli 2011.000. Fasilitas Bandara Perseroan menyewa seluruh fasilitas di masing-masing bandara domestik dan internasional dimana Perseroan beroperasi. 6 pesawat tipe A330-300. Penanggung PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) (“Jasindo”) dan the Indonesian Aviation Insurance Consortium (“IAIC”) No.000 meter persegi dari pihak ketiga atau BUMN lainnya. area pendukung operasi dan kantor pelayanan bagasi.500. area katering dan layanan penerbangan terkait lainnya. US $ 1. Pada tanggal 9 Nopember 2010. 35 pesawat tipe B737-800.000. 6 pesawat tipe A330-200. serta bangunan untuk pelatihan pilot dan pramugari. 18 pesawat tipe B737400. pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas tersebut. Perseroan juga menandatangani MOU dengan PT Angkasa Pura I terkait peningkatan pelayanan terminal yang khusus untuk Garuda Indonesia dan aliansi global maskapai penerbangan di Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar.056/JPB/ HSL/GIA/XII/2010 dengan masa berlaku sejak 1 Desember 2010 sampai 30 Nopember 2011) Jumlah Pertanggungan Kerugian atau kerusakan pesawat udara sebesar USD 125. Perseroan juga menyewa fasilitas perawatan pesawat di bandarabandara tertentu. Perseroan menyewa sekitar 15 bangunan yang berlokasi di luar negeri keseluruhan 4. 1.000. Properti Berdasarkan Sewa Pada tanggal 30 September 2010. 12 pesawat tipe B737-300.000. Pada 18 Nopember 2010.09. 4 buah pesawat tipe B737-300.500 Excess legal liability sebesar US $ 25. asuransi dan beban serta layanan lainnya yang berhubungan dengan fasilitas yang digunakan. Perseroan juga memiliki beberapa properti yang disediakan untuk perumahan kru Perseroan yang berada di berbagai lokasi tujuan dimana Perseroan memiliki rute operasi. 17.301. Jenis Asuransi Airline Hull and Spares “All Risk” and Liability (Including Personal Accident) Obyek Asuransi 90 pesawat: 3 Pesawat tipe B747400. Pada tanggal 30 September 2010. Perseroan telah melakukan penutupan atas resiko-resiko yang mungkin dihadapi dengan polis-polis asuransi di bawah ini: No. dan 1 buah pesawat tipe B737-400.000.

Uang sejumlah US $ 828.690 7.500.000.705.09.332. Beban pengobatan Rp2. Aviation War.332.0034 Masa Berlaku 30 Nopember 2010 (Catatan: Polis ini telah diperbaharui berdasarkan Cover Note No.000.231 Parolamas JKT/CIS/00005/10 15 April 2011 Parolamas JKT/CIT/00013/10 15 April 2011 US $ 1. 6 pesawat tipe A330-300.09.110. 11 pesawat tipe B737-400.138 atau senilai Rp5. 6 pesawat tipe A330-200. 6 pesawat tipe A330-300. Rp1. Penumpang domestik Jasindo 201. Jenis Asuransi Obyek Asuransi Penanggung Jasindo dan IAIC No.000. dan 1 buah pesawat tipe B737-400.869.757 dan Rp26. 35 pesawat tipe B737-800.110. Polis 201. 5 pesawat tipe B737-500. 6 pesawat tipe A330-300.000 per klaim 179 . 5 pesawat tipe B737-500. 90 pesawat: Jasindo dan 1 Pesawat tipe B747IAIC 400. 6 pesawat tipe B737-300.000. 10 April 2013 Meninggal dunia Rp1.282.000.0035 30 Nopember 2010 (Catatan: Polis ini telah diperbaharui berdasarkan Cover Note No. 18 pesawat tipe B737400.000.690 Uang sejumlah US $ 11.09.000.9009 dan haji 15 April 2011 Meninggal dunia Rp25.000 5.301. Asuransi tambahan (Extra Cover) penumpang domestik dan haji 20 orang Staff Perseroan PT Asuransi JKT/PA/00004/10 Parolamas Catatan: (“Parolamas”) Kami tidak menemukan keterangan atas 20 orang staff Perseroan yang menjadi obyek asuransi dalam polis tersebut. HiJacking and Other Perils Excess Liability Jumlah Pertanggungan US $7. Beban Perawatan Rp275.000 Jasindo dan IAIC 201. Airline Hull and 90 pesawat: Spares War and 3 Pesawat tipe B747Allied Perils 400.000.301.000.000.200.000. dan 1 buah pesawat tipe B737-400.000.000.000.000.000.000. 12 pesawat tipe B737-300.0033 30 Nopember 2010 US $600.000.059/JPB/ HSL/GIA/XII/2010 dengan masa berlaku sejak 1 Desember 2010 sampai 30 Nopember 2011) US $ 1. 16 pesawat tipe B737800. Beban penguburan Rp100. 2 buah pesawat tipe B737-300. 12 pesawat tipe B737-300. 18 pesawat tipe B737400.000. dan 1 buah pesawat tipe B737-400.No.373. Asuransi Cash in Safe Asuransi Cash in Transit 8.000. 2. 35 pesawat tipe B737-800 4 buah pesawat tipe B737-300.000.110.373.500. 6 pesawat tipe A330-200. Rp5. Airline Hull and 90 pesawat: Spares Deductible 3 Pesawat tipe B747400. Cacat tetap Rp1. Cacat Tetap Rp25. 4 buah pesawat tipe B737-300. 4 pesawat tipe A330-200.000.057/JPB/ HSL/GIA/XII/2010 dengan masa berlaku sejak 1 Desember 2010 sampai 30 Nopember 2011) 4. Asuransi Kecelakaan 6.10. 201.000 (Catatan: Polis ini telah diperbaharui berdasarkan Cover Note No.433.301.058/JPB/ HSL/GIA/XII/2010 dengan masa berlaku sejak 1 Desember 2010 sampai 30 Nopember 2011) 3.

637.200.000. Crew Insurace 2.000 PT Jasa Raharja DS/PERJ/DZ-3029/03 Perjanjian ini berlaku dan mengikat para pihak terhitung sejak tanggal ditandatanganinya perjanjian. 16. Lost of Lisence Insurace untuk lisensi pilot.10.000 17. Jasindo 201.000.000.200.200.00014 15 April 2011 Rp46.600 201.10.10.404.00025 12 bulan sejak 1 Agustus 2010 13.10.00081 Masa Berlaku 15 April 2011 10.000. Properti (Bangunan beserta fasilitas dan mesin-mesin) Indonesian Properti (Bangunan Earthquake beserta fasilitas dan Standard mesin-mesin) Penumpang yang sah Pertanggungan Wajib Kecelakaan atau calon penumpang Penumpang yang telah membayar Udara. Tanggung jawab Directors dan Officers Jasindo 201.No. Flight Simulator B747-200.10. Cacat tetap Rp50. Bandara Soekarno Hatta-GA Cargo Area.000/ Pilot/ Co-Pilot Rp21.200.200. Cabin Service Trainer. Contractor’s Plant and Machinery Insurance Directors and Officers Liability Insurance Electronic Equipment Insurance Electronic Equipment Insurance 714 orang Pilot/co-pilot Jasindo 201.000/ orang.733. Jenis Asuransi Property All Risk Insurance Obyek Asuransi Penanggung Jasindo No. Machinery Breakdown Insurance Peralatan Elektronik Jasindo non Simulator (Electric Power Distribution. dan Peralatan IT) Peralatan Elektronik Jasindo Simulator (Flight Simulator Fokker 28.739. Polis 201. Life Raft) Mesin dan Jasindo perlengkapannya (untuk mesin pelengkap bangunan di Jakarta.443.10.672 12. beban penguburan Rp1. Meninggal dunia Rp50. Flight SimulatorB747-300/400.00013 Jasindo 201.000.733.00026 12 bulan sejak 1 Agustus 2010 15 April 2011 Ground Support Equipment (GSE) milik GMF.10.760.036 pramugari.200. Pramugari US $75.094. 9.000 (hanya untuk perjalanan haji). Sport Centre.000/ orang US $ 150.760.00018 18 Maret 2011 US $ 30.000.00083 15 April 2011 Rp92.000.653. Catatan: Beban rawatan Kami tidak menemukan Rp25. 18.266. 15. dan 20 orang flight observer.297.733. 11.200.325. Meninggal alamiah Rp10.10.266. tanggal berakhirnya jangka waktu.704. flight observer US $ 125.000.10.200.203.297.297.733. tiket yang selanjutnya disetorkan kepada PT Jasa Raharja Jumlah Pertanggungan Rp735.00084 15 April 2011 US $ 4.000. Pilot/Co-Pilot US $ 150. Sentra Operasi.730. Personal Accident 802 orang Pilot/co-pilot. 14.000 180 .200.00082 15 April 2011 735.000/ orang.000 Jasindo 201. dan Gedung Manajemen dan Bandara Soekarno Hatta-GMF) 201.000.19 201.

000. Jenis Asuransi Travel Accident Insurance.000. bahan-bahan limbah. Perseroan mematuhi aturan yang berlaku yang berkaitan dengan peraturan lingkungan dan kebisingan di Indonesia. Luar negeri (travel biro).546 pada 30 September 2010.000. Polis 201. Perseroan memiliki berbagai brand “Garuda Indonesia”. yang menetapkan prinsip pertanggungjawaban terbatas pada perusahaan angkutan udara berdasarkan praduga kesalahan. “Citilink”.705. pengantaran barang (cargo). Antara Perseroan. peraturan pengelolaan bahan berbahaya. Manajemen Perseroan menyatakan bahwa premi asuransi diatas yang telah dibayarkan oleh Perseroan cukup untuk pertanggungan asuransi terhadap aset Perseroan. Sebagai anggota IATA. Indonesia merupakan pihak yang terlibat pada Konvensi Warsawa. Hak tersebut didapatkan pada kegiatan usaha Perseroan dan sebagai tambahan nilai pada pengadaan peralatan Perseroan dari pihak ketiga yang sifatnya tidak eksklusif dan tidak boleh dialihkan. HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL Perseroan memiliki berbagai hak kekayaan intelektual yang berhubungan dengan kegiatan usaha Perseroan. No Nama Dokumen dan Nomor Pendaftaran Hak Cipta Surat Pendaftaran Ciptaan dengan nomor 1 Pendaftaran 021268 tanggal 11 April 2001 Surat Pendaftaran Ciptaan dengan nomor 2 Pendaftaran 021269 tanggal 11 April 2001 Surat Pendaftaran Ciptaan dengan nomor 3 Pendaftaran 022676 tanggal 29 Juli 2002 Surat Pendaftaran Ciptaan dengan nomor 4 pendaftaran 029343 20 Pebruari 2006 Merek Dagang Sertifikat Merek tanggal 29 Agustus 2002 dengan nomor pendaftaran 514896 tanggal 29 Agustus 2002 5 Ciptaan/ Merek Dagang yang dilindungi Seni Motif dengan judul Flora Dasar Biru Seni Motif dengan judul Flora Dasar Hijau Seni Lukis dengan judul Stilasi Bungan Daerah Iklim Tropis Pada Pesawat Program Komputer dengan judul Online Payment Garuda Indonesia Masa Berlaku Merek: Citilink Warna: Merah. menjual tiket dalam. 18. dan tingkat kebisingan. 20 Nopember 2010 sampai 20 Nopember 2011) Jumlah Pertanggungan Kematian Rp1.000. KEPATUHAN PERATURAN LINGKUNGAN Perseroan mematuhi peraturan kebisingan di Indonesia dan tingkat kebisingan pesawat Perseroan telah mendapatkan sertifikasi dari DJPU. minyak. Bandara di Indonesia dimana Perseroan beroperasi tunduk pada peraturan yang berkaitan dengan pembuangan subtansi tertentu ke permukaan dan dibawah permukaan air.00064 Masa Berlaku 20 Nopember 2010 (Catatan: Polis ini telah diperbaharui dengan polis No.200. serta logo Perseroan dan SBU Citilink. Putih Kelas dan Jenis: 39.705.000. 29 Agustus 2012 181 . Perseroan juga mematuhi peraturan lingkungan dan kebisingan di setiap negara dimana Perseroan memiliki rute penerbangan. SDR merupakan unit mata uang buatan yang diciptakan oleh International Monetary Fund dan 100.No. Konvensi Warsawa atau perjanjian bilateral lainnya yang berlaku. 19. 19.09.000 Special Drawing Rights (“SDR”). Jasa transportasi udara. Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan telah menjaga nilai pertanggungan asuransi yang memadai untuk kewajiban maksimum sipil yang dapat dikenakan apabila terjadi insiden cedera atas penumpang di dalam naungan hukum Indonesia.000.00055 Kehilangan Tertentu yang berlaku sejak Rp1. Jasindo dan PT Jasa Raharja terdapat hubungan afiliasi.200.000 SDR merupakan setara dengan sekitar US $ 154. Travel Inconvenience Insurance Obyek Asuransi Seluruh pemegang kartu Executive Card + Garuda Indonesia yang merupakan anggota aktif dan syah saat melakukan perjalanan menurut jadwal penerbangan Garuda Indonesia Penanggung Jasindo No.201. Perseroan merupakan pihak pada Perjanjian Intercarrier IATA mengenai Kewajiban terhadap Penumpang (IATA Intercarrier Agreement on Passanger Liability) dan pada Perjanjian atas Tindakan-tindakan dalam mengimplementasi Perjanjian Intercarrier IATA (Agreement on Measures to Implement the IATA Intercarrier Agreement) berdasarkan mana perusahaan penerbangan yang menandatangani perjanjian telah menyetujui bahwa penumpang terluka atau korban penumpang yang meninggal dapat menerima kompensasi sampai dengan 100.09.

Perseroan juga menerapkan strategi pengelolaan bakat yang meliputi perolehan bakat dan pengembangan bakat. kejujuran dan keterbukaan dan integritas. Perseroan berkeyakinan bahwa nilai-nilai ini akan memberikan bimbingan kepada karyawan Perseroan dalam bekerja untuk mencapai tujuan Perseroan. Perseroan juga telah mengembangkan dan mengimplementasikan program FLY-HI yang bertujuan untuk mempromosikan budaya Perseroan dan nilai-nilai.No 6 Nama Dokumen dan Nomor Pendaftaran Sertifikat Merek Nomor IDM000025157 tanggal 29 Desember 2004 dengan nomor pendaftaran V00-2003-03694-03698 tanggal 29 Desember 2004 7 Sertifikat Merek Nomor IDM000025158 tanggal 29 Desember 2004 dengan nomor pendaftaran V00-2003-03696-03700 29 Desember 2004 Sertifikat Merek Nomor IDM000024226 tanggal 22 Desember 2004 dengan nomor pendaftaran V00-2003-03693-03697 tanggal 22 Desember 2004 8 Sertifikat Merek Nomor IDM000024227 tanggal 22 Desember 2004 dengan nomor pendaftaran V00-2003-03695-03699 tanggal 22 Desember 2004 9 Ciptaan/ Merek Dagang yang dilindungi Merek: Garuda Indonesia Warna: Putih Biru tua. pembelajaran dan pengembangan. Penerbangan Huruf GA di bawah logo berwarna Dark Blue Merek: Garuda Indonesia Warna Dasar: Dark Blue. Sebagai contoh. Penerbangan Masa Berlaku 29 Desember 2014 29 Desember 2014 22 Desember 2014 22 Desember 2014 20. hubungan karyawan dan manajemen bakat dan pengembangan organisasi. Selain itu. termasuk efisiensi dan efektivitas. jiwa customer service. Hijau Kelas dan Jenis: 39. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA Strategi Perseroan untuk mengembangkan sumber daya manusia dilaksanakan melalui sistem Human Capital Management. Huruf GA di belakang Logo berwarna Putih Kelas dan Jenis: 39. merekrut ahli dalam pengelolaan bakat dan meminjam untuk jangka waktu sementara dengan cara bekerja sama dengan operator pesawat lainnya. Hijau. Strategi pengelolaan bakat Perseroan meliputi membangun dan mengembangkan bakat. Dalam rangka untuk mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan. Penerbangan Merek: Garuda Indonesia Warna Dasar: Putih. Kelas dan Jenis: 39. Putih Kelas dan Jenis: 39. Perseroan juga telah memperkenalkan langkah-langkah sebagai patokan bagi tiap posisi dan karyawan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas yang ditandai dengan adanya transparansi dan meritokrasi. kinerja manajemen dan penghargaan. Warna Logo: Dark Blue & Dark Aqua. 182 . Perseroan juga menerapkan reward yang terintegrasi dan sistem manajemen kinerja untuk memotivasi karyawan untuk memberikan potensi penuh mereka dan kompetensi untuk mendukung kinerja Perseroan. Perseroan menyediakan program pelatihan berdasarkan kebutuhan karyawan untuk mendukung perkembangan mereka dan meningkatkan kinerja mereka dan karir. loyalitas. Warna Logo: Light Aqua & Green. Hijau Muda. Penerbangan Merek: Garuda Indonesia Warna: Biru tua. yang mencakup berbagai tahap pengembangan sumber daya manusia termasuk akuisisi bakat. pengembangan program bagi pemimpin masa depan disusun melalui program pengembangan manajemen. Human Capital Management System memungkinkan Perseroan untuk memantau dan mengalokasikan sumber daya untuk mengelola pengembangan karyawan Perseroan.

Perseroan menanam pohon seluas sekitar 300 hektar untuk kedua daerah secara keseluruhan. Sebagai bagian dari komitmen Perseroan dalam hal pendidikan. Pada tahun 2011 rencana Perseroan lebih kepada memberdayakan hasil riset Brand Positioning dan Market Segmentation serta untuk berlangganan data MIDT (Marketing Information Data Tape). Perseroan juga memberikan sponsor untuk mendukung bakat baru olahraga. persaingan serta pelanggan yang akurat. dimana Perseroan menyisihkan sebagian dari penghasilannya yang berasal dari pendapatan penumpang dari penumpang Jepang dan Australia dan menyumbangkan dananya untuk Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah dan Yogyakarta. Bersama dengan World Wildlife Fund. Perseroan juga berhasil menerapkanprogram “One Tree One Passenger”. Perseroan telah berfokus pada berbagai bidang seperti pendidikan.21. Perseroan menempatkan program tanggung jawab sosial dalam rangka memberikan kuliah bagi siswa miskin dan kesempatan agar dapat berpartisipasi dalam kegiatan di luar negeri. TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN Perseroan berkomitmen untuk memenuhi tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat. tepat waktu dan relevan untuk mendukung pemilihan strategi pemasaran yang tepat. seperti pengembangan layanan pre/in/post-flight dan pengembangan jaringan penerbangan Perseroan. khususnya untuk tenis. baik Sebangau Taman Nasional dan Yogyakarta kini telah berkembang menjadi tujuan eko-wisata yang berdampak pada peningkatan bisnis masyarakat di sekitarnya. Sebagai hasil dari proyek-proyek reboisasi. pengembangan masyarakat. Pemanfaatan hasil riset ditujukan untuk pengembangan produk oleh unitunit lain di Perseroan. RISET DAN PENGEMBANGAN Perseroan memiliki unit Commercial Research yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan tersedianya hasil riset komersial yang meliputi riset tentang pasar dan kinerja Perseroan. olahraga dan lingkungan. 22. Perseroan juga memberikan bantuan teknis dan pemasaran kepada usaha kecil dan menengah untuk meningkatkan kualitas produk mereka dan mengembangkan kemampuan pemasaran mereka. Jawa Tengah untuk proyek reboisasi . 183 .

5% 5.4% 3. Philipina. SAP Group merupakan konsultan industri penerbangan dengan fokus di wilayah Asia Pasifik.8% 2. Brunei. Sementara itu. Penumpang yang bepergian di wilayah Asia Pasifik diperkirakan naik dengan pertumbuhan rata-rata majemuk per tahun sebesar 7. UMUM Industri penerbangan Asia Pasifik telah berkembang dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir. dengan sekitar 647 juta penumpang. Jepang. baik global maupun Asia Pasifik: CAGR Historis 1995-2000 2000-2005 5.5% 7. jika penumpang di kawasan Asia Pasifik terbang pada tingkat yang sama per tahunnya sebesar penumpang di Amerika Serikat.9% 4.6% 6. dari.2% 3. Malaysia. kawasan Asia Pasifik telah menjadi pasar industri penerbangan terbesar di tahun 2009.7% 4.0% 4. Burma.1% 5.4% 3.1% dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2029 dan penumpang yang pergi dan datang di wilayah Asia Pasifik diperkirakan tumbuh pada tingkat CAGR 6.9% 1985-2009 4. atau di dalam kawasan Asia Pasifik dengan menggunakan penerbangan komersial pada tahun tersebut.0% 1.6% 9. maka perkembangan industri penerbangan global akan naik tiga kali lipat.8% dalam periode yang sama. Indonesia. termasuk data statistik dan table yang ada di dalamnya. (iii) informasi dari data-data yang dikumpulkan dan disimpan oleh SAP Group secara rutin. Kamboja.1% 11.7% 1. Thailand.8% 5. dan 2010. Current Market Outlook.9% 7.5% 1.1% 25.2% 4.9% 6. Taiwan.6% -2.2% 7.5% 5.6% 3.2% 2.8% 2. Penumpang internasional naik dengan CAGR sebesar 4.6% 12.6% 13. Menurut IATA.1% Proyeksi 2009-2029 5.5% 5. Sebagai contoh. India. Singapura. Pertumbuhan Penumpang Asia Pasifik Pertumbuhan penumpang.5% 10.1% 6.BAB IX. INDUSTRI PENERBANGAN DI INDONESIA Bab ini.4% 3. jumlah penumpang di Asia Pasifik tercatat tumbuh pada tingkat tertinggi di dunia dan diperkirakan akan terus naik secara signifikan di tahun-tahun mendatang.3% Sumber: The Boeing Company. Baik para penjamin pelaksana emisi maupun pihak lain yang terafiliasi dapat memberikan representasi atas keakuratan informasi yang ada di dalamnya.8% 5.9% 4. secara historis telah menunjukan pertumbuhan yang pesat dibandingkan dengan pertumbuhan PDB.7% 8.1% 10. SAP Group telah menyiapkan laporannya yang didasarkan pada (i) informasi yang tersedia di publik yang diberikan oleh pihak-pihak yang terkait dengan industri. dan Vietnam 184 . atau sebesar 27% dari wisatawan dunia. (ii) informasi publik yang dikeluarkan oleh pihak ketiga termasuk survey pasar dan informasi publik yang dikeluarkan oleh agen pemerintah dan departemen di industri terkait.7% 8. dan Afghanistan (c).3% 8. berkunjung ke. dan (iv) informasi yang disediakan bagi SAP Group oleh pihak-pihak penting yang terkait dengan pasar dan industri. (a).3% 3. yang diukur dengan RPK.1% 2.0% 7.3% 1985-1990 Global Di Regional Di Cina Di Erope Di Timur Tengah Di Amerika Utara Di Timur Tengah Asia(a) Di Oceania Di Amerika Selatan Di Asia Selatan(b) Di Asia Tenggara(c) 6.Korea Utara dan Korea Selatan (b). 2003.7% 14.0% -0.2% 5.8% 14.5% 3.7% 9. Volume penumpang di Asia Pasifik berjumlah sangat besar dan Asia Pasifik membukukan volume penumpang sekitar 27% dari penerbangan dunia pada tahun 2009. Laos. di tahun 2009 di Amerika Utara tercatat sekitar 638 juta orang terbang dengan menggunakan pesawat komersial.7% 5.2% 5.5% 2.3% 2. 2009.4% 7. telah disusun berdasarkan laporan yang dibuat oleh SAP Group untuk Perseroan tanggal 5 Nopember 2010.6% 16.6% dari tahun 1985 sampai dengan tahun 2009. dari tahun 1985 sampai tahun 2009 dan proyeksi pertumbuhan CAGR periode 2009 sampai tahun 2029.3% 7. yang diukur dengan RPK.6% 4. Tingkat pertumbuhan di kawasan Asia Pasifik diperkirakan akan terus meningkat dalam 20 tahun mendatang.0% 2. Selama periode tersebut.9% 4. Tabel berikut mengambarkan pertumbuhan historis CAGR penumpang yang bepergian.5% 4.5% 9.8% 1990-1995 3.5% 4.1% 13.3% 2005-2009 2.2% 1. Pakistan.6% 0.

941 Total 15.4 7.6% untuk periode terkait.0 5. Tingginya pertumbuhan lalu lintas udara dapat didorong oleh beberapa faktor termasuk: (1) pertumbuhan yang kuat di ASEAN dan terutama di Indonesia (2) pertumbuhan populasi dan urbanisasi di Asia Pasifik (3) Peningkatan Perjalanan dan Pengunjung Internasional (4) Pengembangan Model LCC (5) Liberalisasi Peraturan dan Pengembangan Infrastruktur. Badan Pusat Statistik.Pertumbuhan Penumpang di Indonesia PDB Indonesia telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat dimana telah memberikan kontribusi terhadap pengembangan negara berkembang kelas menengah dan meningkatkan permintaan untuk pelayanan lalu lintas udara. Thailand .593 126..377 263.0% 5...7 2006 34.7 2001 9..979 Per kapita 2. (1) Pertumbuhan yang kuat di ASEAN dan terutama di Indonesia Untuk periode dari tahun 2002 sampai dengan 2009...2 4.8 2003 19. sedangkan PDB per kapita untuk Indonesia meningkat dengan CAGR 14..6% 11... Indonesia dan Vietnam memiliki PDB per kapita tertinggi dalam Dolar Amerika Serikat. Selain itu.. Sumber: The SAP Group.. Selama periode ini.7 2007 39. Gambar di bawah ini memberikan ringkasan mengenai hubungan antara PDB dan RPK per kapita untuk bebagai negara di regional Asia Pasifik untuk tahun 2009.. berdasarkan IMF.....2 6.0% selama periode yang sama. Indonesia diharapkan memiliki pertumbuhan PDB tertinggi di regional Asia Pasifik dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2014..0% 10. industri perhubungan udara Indonesia relatif belum ditembus..4% Indonesia ...3 2004 23. Walaupun Indonesia diharapkan memiliki pertumbuhan PDB tertinggi di regional Asia Pasifik...8 5.0% Per kapita 14. and sumber lain. PDB per kapita di Cina meningkat dengan CAGR 18.329 3.2 4.877 Per kapita 928 1.8 5...3 CAGR (20002008) 22.. dengan proyeksi CAGR sebesar 13. Penumpang (dalam jutaan) Penumpang (dalam jutaan) Udara (domestik) Udara (internasional) 2000 7.6 2008 37. Tabel berikut menggambarkan ringkasan dari pertumbungan penumpang yang menggunakan jalur udara di Indonesia dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2008...999 Total (dalam jutaan) 539.6%.6% Sumber: Direktorat Transportasi Udara Indonesia. Cina..6% 9. Negara PDB 2002 (USD) PDB 2009 (USD) CAGR PDB (2002-2009) Proyeksi CAGR PDB (20092014) (a) Total 13.7 2002 12....6 4.2% 185 . Oktober 2010.4 2005 28. Total (dalam jutaan) 195..3 4.

4% pada tahun 2050 dan di Indonesia akan meningkat dari 44..9% 14..2% 9.9% 91..571 15...748 1. Populasi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan umumnya memiliki tingkat pendapatan rumah tangga rata-rata lebih tinggi dan populasi tersebut bermukim di lokasi yang lebih dekat dengan bandara dibandingkan dengan populasi yang tinggal di wilayah terpencil (rural)....0% 14.....837 1... Rata-rata (c) .9% 9.0% 22...246 117.. Rata-rata (b) ..097 4.983.0% 19.. Oktober 2010 (a) (b) (c) Total Pertumbuhan PDB saat ini [dalam harga Dolar Amerika Serikat ]..Negara PDB 2002 (USD) PDB 2009 (USD) CAGR PDB (2002-2009) Malaysia .6% 60.7% 10..943 94.132 477 340 887 1... Vietnam .......231 161.....8% 4...775 2...339 994.3% pada tahun 2050..9% 27.6% 8..4% 87...033 1.324 Total (dalam jutaan) 192...833 514.. Indonesia diharapkan menjadi bukti salah satu negara yang memiliki tingkat urbanisasi yang tinggi di regional.5% 6...467.0% Negara Jumlah kota/ Sekitar kota 2005 Aktual 7 2 3 1 1 1 1 1 Persentase populasi perkotaan 2005 Aktual 18....279.3% 44...0% pada tahun 2009 menjadi 65...0% 65. Kamboja .751 Total 9.470 60....236..0% 15.019... di India akan naik dari 29. Banglades.845 90..731 1.984...0% 100.. Singapura ..0% 32...735 1.....6% Sumber: IMF.8% 43...560 Per kapita 4.... urbanisasi di Cina diperkirakan akan naik dari 46.. dan Banglades..3% 87..0% 33.754 1.196 93...7% 100....0% 67..0% 33..0% 18..... Seluruh negara Asia yang tertera kecuali India. Total (dalam jutaan) 100..955 182.0% Indonesia Filipina Vietnam Thailand Myanmar Malaysia Kamboja Singapura 186 ...4% 9..283 1.4% 11.....0% 13.0% 48.. Cina..9% 9. Seluruh negara Asia yang tertera..8% 59.2% 8..5% 11.....600 1..3% 426.....0% 50..2% 19.1% 7. (2) Pertumbuhan Populasi dan Urbanisasi di Asia Pasifik Kenaikan pertumbuhan populasi dan urbanisasi di Asia Pasifik.7% pada tahun 2009 menjadi 56..871 4.0% 8...814 35.7% 69.032 583 2....0% 62...640 76....259 12..6% 11.987..4% 10..028 958 440 327 1.964.0% Proyeksi CAGR PDB (20092014) (a) Total 9.8% 12.95% di tahun 2050..285 27.764..6% 7..3% 11.....068 768 3.. persentase total populasi yang tinggal di wilayah metropolitan dan perkotaan (urban).253 49.379 1.0% 100...9% 10.5% 13..0% 50....102 2. World Economic Outlook Database.. Australia.358 1.112 22.4% 9....7% Per kapita 7.. Tabel di bawah ini memberikan informasi data aktual populasi tahun 2009 dan perkiraan pertumbuhan rata-rata CAGR tahun 2009-2015 di beberapa negara Asia Pasifik: Kota dan sekitar perkotaan dengan 1 juta jiwa atau lebih Populasi Urbanisasi (% dari total populasi yang tinggal di daerah) 2009 20092009 2050F Aktual 2015 Aktual CAGR 229.3% 27.164 10..... Philipina ..... Selandia Baru ...7% 71..0% 50.. Cina ....602 Per kapita 6....8% 7.. Berdasarkan data dari IMF..2% 15..747 21..794 45.9% 11..2% 29. India ..........723 1.. diharapkan akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan layanan penerbangan di wilayah Asia Pasifik....453.....409 2..805....950 36.1% pada tahun 2009 menjadi 72.2% 13..

363 762.007.713 Total kedatangan CAGR (2005.2% 2.851.0% 6.758 397. Kenaikan PDB di negaranegara anggota ASEAN memberikan kontribusi terhadap kenaikan pengunjung dan wisatawan asing dari beberapa negara tersebut.4% 37.0% 46.0% Sumber: IMF World Economic Outlook Database Oktober 2010.386.7% 5.626 18.335 4.3% 1.191 14.Negara Kota dan sekitar perkotaan dengan 1 juta jiwa atau lebih Populasi Urbanisasi (% dari total populasi yang tinggal di daerah) 2009 20092009 2050F Aktual 2015 Aktual CAGR 1.5% 8.5% 5.003 77. World Urbanization Prospects: The 2009 Revision Population Database Oktober 2010. (3) Peningkatan Perjalanan dan Pengunjung Internasional Indonesia diuntungkan dengan adanya kenaikan kedatangan pengunjung dan wisatawan internasional.1% 80.819 1.622 3.220.2% 73.363 4.762 21.2% 68.718 30.582 3.0% 16.460.577 2.1% Total 23.4% 1.5% 6.259 6.331.1% 0.917 (a) 692.9% 86.090.874.4% 3.4% 47.800 0.3% Sumber: ASEAN Tourism Statistics Database per Juni 2010.452. (a) tidak terdapat data pada saat penerbitan 187 .772. dan PBB.259 2.5% 1.746 31.2009) 9.704.900 4.678 162.417 6.646. terutama mereka yang berasal dari negara-negara anggota ASEAN.9% Jumlah kota/ Sekitar kota 2005 Aktual Persentase populasi perkotaan 2005 Aktual China India Banglades Australia Selandia Baru 93 40 3 5 1 43.468.5% (a) 32.3% 1.7% 27.8% 90.2% 54.869.8% 28.8% 11. memasuki negara Indonesia.0% 34.083.009 524.547 157.828 10.2% 56.008.6% 88.437.0% 69.611.161.967 2.000 1.030.880.7% 24. Tabel berikut memberikan informasi kedatangan wisatawan dan pendatang yang berasal dari negara-negara anggota ASEAN dan pertumbuhan rata-rata CAGR untuk periode 2005-2009: Negara anggota ASEAN ASEAN Malaysia Thailand Singapura Indonesia Vietnam Filipina Kamboja Laos Myanmar Brunei Total Jumlah kedatangan 2009 Lainnya 5. a.354 238.342 (a) 1. Kedatangan di wilayah negara-negara anggota ASEAN Tarif untuk perjalanan dan pariwisata internasional untuk negara-negara di Asia Tenggara naik secara signifikan pada beberapa tahun terakhir.946 % kedatangan dari negara anggota ASEAN terhadap total kedatangan 77.1% 29.464 65.544 79.650.6% 2.999 9. sebagai dampak dari pertumbuhan PDB dari negara-negara anggota ASEAN.681.4% 93.347.000 3.582.453.155.924 1.0% 40.315.0% 46.7% 49. dengan pendatang dari negara-negara ASEAN yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan tersebut.378 318.259.

713 475.239 203. wisatawan dari Malaysia meningkat secara signifikan.706 163.772.844 720.058 306.213 508. dan memperkenalkan penerbangan baru point-to-point. Beberapa jaringan penerbangan Asia telah memperkenalkan dan atau akan memperkenalkan layanan LCC mereka Operator bandara di Malaysia dan Singapura telah membuat fasilitas terminal bagi penumpang LCC.804 1.8% 13. Beberapa dampak yang diberikan antara lain: • Persaingan layanan LCC mampu mendorong Perseroan penerbangan yang sudah ada untuk lebih efisien.192.051 77.334 381.033.550.877 384.1% 4.581 201.720 517.351 5.282 1.8% -3.546 209.245 268.212 225.b.469.7% 0.856 112.476 337.551 184.2% 7. dan frekuensi penerbangan.052 175.321.024 150.636 1.178.981 314.9% 10.779 209.397.401.468 277.730 150.820 546.389 391.236 1.862 226.824 74.178 584. Layanan LCC telah berdampak besar bagi industri penerbangan di Asia Pasifik dan ASEAN.273 730. terutama dikarenakan oleh perkenalan layanan LCC antara kedua negara dan yang berdampak kepada penurunan tarif tiket penerbangan pada rute-rute tersebut.412 1.076 2.117.818.888.194 203.216 140.443 2.843 320.879 419.541 591.384 227.845 156.163 466.513 605.853 110.315 1.759 6.056 1.446 438.870 50.522 400.473 106.118 1.444 5.227 163.5% 2.730 Source: Biro Pusat Statistik per Oktober 2010.037 236.722 463.4% 2.915.454 1.1% 2.599 104.125 97.270 796.960 978.644.006 2.202 239.234.522 202.412 125.320 2.529 833.607 2.097 320.085.125 1.3% 0.154 798.165 5.511 184.688 83.710 92.678 229.7% 40.004 98.174.758 924.271 159.353 1.467.408 110.685 40.431. sehingga dapat menurunkan beban penerbangan rata-rata dan meningkatkan permintaan diantara seluruh penerbangan Perseroan penerbangan yang sudah ada dapat mengantisipasi persaingan yang disebabkan dengan adanya layanan LCC.164 147.8% 7.152 536.409 160.505. Di samping itu.741 228.432 1.013 210.490 61.101 4.5% 10. Negara asal Kedatangan Pengunjung Asing ke Indonesia 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1.803 1.916 75.540.408 251.398 121.771 658.971 295.490.432 450.2% 4.626 2.637 211.631 625.808 256.077 96.154 2.538 406.8% 1.469 299.083.687 574.904 113.417. seperti turnaround pesawat yang lebih cepat.862 475.525 220.844 110.3% Singapura Malaysia Lainnya ASEAN Australia Jepang Cina Korea Selatan Taiwan Lainnya Negara lainnya di Asia Pasifik United Kingdom Perancis Belanda Lainnya Eropa Amerika Afrika dan Timur Tengah Total 222.002.328. • • • 188 .447.226 247.514 327.395 1. meningkatkan kapasitas kursi.021 5.245 230.345 2.578 91.9% -9.811 622.945 91.987 585.898 109.485 674.369 CAGR (20022009) -1.553 246.567 114.272 521.924 143.437 620.615 71.352. sementara Thailand sedang mempelajari penggunaan Bandara Don Mueang International untuk memfasilitasi layanan LCC.323. Pertumbuhan yang cepat untuk layanan LCC didukung oleh beberapa pemerintah dan operator bandara untuk membebaskan perjanjian penerbangan bilateral dan untuk mengembangkan bandara baru untuk mengakomodasi permintaan yang meningkat.717 1.082 395.497 6.871.258 147. beberapa operator penerbangan di beberapa daerah sedang mempersiapkan potongan harga atas biaya penerbangan untuk rute baru dan untuk efisiensi penggunaan fasilitas bandara.366 163.988 891.179.358 769.766 36. Pada periode tersebut.456 2.4% 3. termasuk penurunan yang signifikan terhadap harga tiket.6% 3.311 280.794.412 98.290 88.732.745 169. Kedatangan Pengunjung Asing ke Indonesia Tabel di bawah memberikan ringkasan mengenai kedatangan berdasarkan negara asal pada periode 2002-2009.736 2.272.586 224.896 164.684 346.400 4. (4) Pengembangan Model LCC Beban penerbangan berkurang sejalan dengan peningkatan efisiensi dan daya saing. khususnya diantara perusahaaan penerbangan yang memberikan layanan LCC.088 615.

berakibat pada berkurangnya biaya per penumpang. dapat menghilangkan hambatan tradisional dalam hal pengembangan industri penerbangan. (2) Dari Januari sampai dengan Agustus.4% 6. 189 . Sebagaimana pesawat baru memiliki efisiensi tinggi terintegrasi menjadi pesawat operasional.1% 1.3% 9. Perubahan kapasitas bandara dan pesawat terbang secara menguntungkan dapat mendukung pertumbuhan. pemerintah ASEAN dan otoritas bandara sangat ingin mengembangkan infrastruktur penerbangan mereka dan kapitalisasi peningkatan perdagangan dan pariwisata.Gambar grafik berikut ini menggambarkan kapasitas pertumbuhan secara historis untuk LCC di Regional Asia Pasifik dari tahun 2001 sampai dengan 2009 dan penetrasi pasar LCC untuk tahun 2009 Kapasitas Pertumbuhan LCC Asia Pasifik (1) 12. dan tergantung dari struktur keuangan dalam pengimplementasian perubahan-perubahan ini. Beberapa maskapai penerbangan di regional Asia Pasifik dan ASEAN berencana untuk merubah secara signifikan armada pesawat mereka.7% Penetrasi LCC di Tahun 2009 (2) 46. Pertumbuhan yang tinggi pada permintaan penumpang penerbangan di Asia telah mendorong pemerintah dan beberapa operator bandara untuk mengembangkan kapasitas bandara utnuk mengakomodai peningkatan permintaan. Catatan: (1) Kalendar satu tahun penuh. Sebagai akibat dari hal terserbut.4% 36. Beberapa maskapai penerbangan di regional Asia Pasifik dan ASEAN berencana untuk merubah secara signifikan armada pesawat mereka. Sebagai akibatnya.0% 4.5% Sumber: Pusat Penerbangan Asia Pasifik.5% 1. Tabel berikut memperlihatkan ringkasan dari infrastruktur transportasi di beberapa negara di regional Asia Pasifik.2% 14. Sebagaimana pesawat baru memiliki efisiensi tinggi terintegrasi menjadi pesawat operasional. Seperti yang terdapat pada tabel dibawah ini.8% 2. Hal ini pada umumnya berakibat pada menurunnya rata-rata tarif dan pada akhirnya peningkatan pada permintaan. beban operasional jangka panjang menjadi berkurang.7% 32. (5) Liberalisasi Peraturan dan Pengembangan Infrastruktur Liberalisasi peraturan dan pengembangan infrastruktur pada armada pesawat dan fasilitas bandara adalah hal penting dalam peningkatan penumpang lalu lintas udara.0% 27.9% 21. pertumbuhan lalu lintas udara dapat difasilitasikan dengan adanya ketersediaan kapasitas lapangan terbang tersebut. beban operasional jangka panjang menjadi berkurang.7% 15. dan tergantung dari struktur keuangan dalam pengimplementasian perubahan-perubahan ini.1% 15. Indonesia memiliki sejumlah bandara yang cukup banyak dengan landasan yang diaspal dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. berakibat pada berkurangnya biaya per penumpang. Liberalisasi peraturan di antara negara-negara anggota ASEAN yang membebaskan batasan lama terhadap perkembangan industri penerbangan dengan mengusahakan pembebasan hak terbang di sebagian besar lalu lintas yang dipersiapkan untuk awal tahun 2015.

tingkat pendapatan yang tinggi.560.529 2.855 4.768 690 n.925. pihak yang melakukan perjalanan dari negara-negara dengan tingkat populasi yang besar dapat memberikan dampak terhadap kebutuhan yang signifikan untuk melakukan perjalanan dengan tujuan bisnis maupun pariwisata ke negara-negara di Asia Tenggara. The World Factbook 2008.977 4. dengan tendensi untuk melakukan perjalanan yang tinggi dan jaringan pariwisata yang kuat dengan Indonesia dan negara lainnya di wilayah Asia.437m 2.a.849 4.015 77. Pertumbuhan Industri Penerbangan di Asia Tenggara Berdasarkan data dari grup konsultan SAP. = Kedekatan jarak dengan Cina Dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan adanya kelonggaran terhadap peraturan dan larangan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri.053 258.726 2. proporsi yang besar dari populasi tidak mampu secara materiil untuk menggunakan moda transportasi udara.047m 6 10 24 11 50 19 4 1 6 2 4 29 14 75 132 148 12 2 3 2 8 5 57 137 13 1 Landasan Diaspal km(b) Jumlah(1) 7 8 4 2 2 4 9 21 63 11 2 38 64 171 8 15 6 9 85 37 249 442 326 40 80.047m >3. sebagai akibat dari rendahnya tingkat PDB per kapita di seluruh wilayah dan faktor lainnya.071 8. = Kedekatan jarak dengan Australia Australia merupakan negara yang paling maju dari sisi ekonomi di wilayahnya.128 Sumber: CIA.789 1. 897 2. mengindikasikan potensi yang besar untuk pasar penerbangan regional.438-3. dengan tingkat PDB per kapita yang tinggi.028 341. dan juga berada diantara Asia Utara dan Asia Tenggara. Walaupun demikian. Oktober 2010 Catatan: (1) Termasuk panjang landasan <1. penerbangan domestik dan internasional di Asia Tenggara diharapkan mengalami pertumbuhan jangka panjang dengan beberapa faktor pendukung: = Jarak kedekatan dengan populasi yang besar Sekitar 50% dari total populasi di dunia berjarak sekitar 6 jam waktu tempuh penerbangan dari Jakarta. 190 . yang semestinya akan memberikan dampak terhadap peningkatan jumlah perjalanan per orang.524-2.448 61.593 2.524 meters (2) Beberapa jumlag merupakan hasil estimasi Sebagai negara sekunder di regional yang berkembang.356 22. permintaan akan pelayanan dari bandara sekunder dengan tujuan domestik dan internasional akan tumbuh.834 37. Pertumbuhan ini dapat difasilitasikan dengan cara menggunakan pesawat jet yang kecil untuk melayani pasar sekunder.811 21.879 Rel Kereta Jumlah km(b) 1.347 64.280 180. = Lokasi pada rute pusat bisnis Indonesia berada pada posisi yang strategis antara Eropa dan wilayah sekitar Pasifik. Konsultan indutri SAP.677 125. memperkirakan kemampuan masyarakat untuk menggunakan moda transportasi udara meningkat seiring dengan peningkatan PDB per kapita.Negara Malaysia Thailand Indonesia Singapura Banglades Kamboja Laos Pilipina Vietnam India Cina Australia Selandia Baru Jumlah Airport yang Diaspal Panjang 1.744 3.

8 5.3 2006 34. Larangan pemerintah terkait perjalanan ke luar negeri.6 2004 23. and sumber lain.8 175. group konsultan SAP memperkirakan moda transportasi udara akan menggantikan moda transportasi darat dan laut.7 Jumlah Penumpang (dalam jutaan) 2002 12.4 192.7 14. = Infrastruktur Pariwisata Negara-negara tersebut telah memiliki infrastruktur pariwisata yang cukup untuk menunjang dan akan terus menarik minat para wisatawan = Urbanisasi Proporsi populasi di negara-negara Asia Tenggara yang tinggal di daerah perkotaan diperkirakan akan semakin meningkat Peluang bagi industri penerbangan untuk tumbuh dapat terkompensasi dengan antara lain: = Kenaikan harga bahan bakar dan/atau tingkat nilai tukar yang kurang menguntungkan. Oktober 2010.0 235. keterbatasan jumlah visa masuk atau keluar yang dikeluarkan atau pengenaan beban visa yang tinggi.0 218. dan bencana alam dapat berpengaruh pada tingkat aktivitas. akan bertumbuh pada saat masyarakat dari negaranegara tersebut mulai lebih sering melakukan perjalanan. Badan Pusat Statistik.6 14. Faktor lingkungan.0 220. seperti.4 16.0 196.4 7. Terorisme atau kejadian lainnya yang dapat menghambat aktivitas di masa yang akan datang.7 2001 9.6% 3.0% 5.0 5.7 19.6 4. abu vulkanik. terutama dengan wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan.7 159. Tabel berikut memberikan ringkasan mengenai jumlah penumpang yang melakukan perjalanan di Indonesia dan jenis transportasi yang digunakan oleh penumpang dari tahun 2000 sampai dengan 2008.1% Udara (Domestik) Udara (Internasional) Laut Kereta Jumlah Sumber: Direktorat Transportasi Udara Indonesia.4% 0. Sosial-ekonomi atau hambatan lain dapat berakibat pada keterlambatan atau perubahan pada rencana oleh pemerintah terkait rencana ekspansi infrastruktur.0 2005 28. Keterbatasan infrastruktur bandara. diantara negara-negara ASEAN dan juga dengan negara lainnya. dimana dapat menghambat permintaan apabila beban transportasi udara dan lainnya meningkat dan tingkat pendapatan disposable pihak yang melakukan perjalanan menurun.0 257.8 20.5 2008 37. = = = = 191 .3 19.5 176. Larangan perjalanan. = Liberisasi perjanjian peraturan penerbangan dan pemasaran Negara-negara di Asia Tenggara memiliki perjanjian peraturan penerbangan dan pemasaran yang semakin liberal.0 201.4 2007 39. Pakistan (negara dengan populasi terbesar keenam) dan Banglades (dengan populasi terbesar ke tujuh).0 197.= Lokasi antara Cina dan Asia Tenggara Peran Indonesia sebagai lokasi tujuan para pendatang dari Cina (negara dengan populasi terbesar) dan Asia Selatan.7 13.9 187.3 4. Jumlah Penumpang (dalam jutaan) 2000 7.7 152.2 155.0 212. Kejadian alam seperti kabut.4 CAGR (20002008) 22.7 14. termasuk India (negara dengan populasi terbesar kedua).3 18.0 213.2 6. = Substitusi moda transportasi Ketika tingkat pendapatan meningkat dan tarif transportasi udara semakin murah.8 150.8 5.7 194. dapat membatasi pertumbuhan industri penerbangan di masa yang akan datang.1% 2.7 2003 19. Konflik antar negara. Catatan: 2008 merupakan tahun terakhir yang dapat memberikan data konsolidasi.2 4.2 4. Ketidakstabilan sipil.

9% 32.9% n.140 3.764 28.814 34.0 Sebagian besar diharapkan akan revoed pada tahun 2012 ketika peraturan Indonesia yang baru mengharuskan lima pesawat yang dimiliki menjadi efektif.297 2005 6.467 21.553 0.9% 29.549 17.771 6.207 4.761 7. 2010.244 1.255 8.116 2.208 0.586 3.455 3.653 13.888 11.0.971 5. n.4% Sumber: Direktorat Transportasi.8 9 6 19 84(1)(2) 64 8.690 2.273 5.1% 20.649 .660 8.182 0.701 1.246 8. Oktober 2010.2% 90.758 7. FSC & LCC LCC ? ? LCC LCC ? 4 Tidak dirating Tidak dirating Tidak dirating Tidak dirating 3 Tidak dirating Sumber: Airfleets.232 8.204 1.168 12.410 9.104 10.187 2. (1) Armada Garuda Indonesia per of September 30.577 4.506 1.874 27.079 5.405 43.975 3.060 31.808 48.029 . terdapat beberapa maskapai penerbangan dengan layanan LCC domestik lainnya yang beroperasi di pasar penerbangan domestik di Indonesia.108 .511 4.0% Garuda Indonesia Layanan LCC Lion Air/Wings Air Batavia Air Sriwijaya Air Mandala Airlines Indonesia AirAsia Other air carriers Subtotal Total Pangsa Pasar Garuda Indonesia dari total 0. (2) Orderbook untuk Garuda Indonesia termasuk komitmen pembelian unit pesawat dan komitmen sewa operasi.682 2.373 1.333 19. Ascend.5% 18.015 0.7% 0.665 CAGR (20002009 2009) 8.679 1.449 3.346 3. sedangkan Perseroan memiliki pangsa tertinggi diukur dari kursi domestik berangkat dari Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar.680 Penumpang Udara (juta) 2003 5. Tabel berikut memberikan gambaran ringkasan peserta utama di pasar penerbangan domestik Indonesia.410 2002 4.791 29.732 3.046 7.181 23.623 50. 14.162 37.5% 24.010 0.181 4.8% 20. Per Nopember 2010.0.314 4. Bali.2 13 16 110 37 20.861 2001 4.4% 5. Skytrax.768 1.net.5% 28.956 2007 7.4% 26.043 1.Pasar Penerbangan Domestik di Indonesia Sementara Garuda Indonesia adalah satu-satunya maskapai penerbangan dengan layanan FSC yang memiliki lisensi untuk beroperasi di Indonesia.5% 19.398 9.0.740 35. Jumlah Armada Rata-rata usia pesawat 2011 2012 2013+ Model Peringkat SkyTrax IATA Operational Safety Audit (IOSA) Yes No No No Yes No No Garuda Indonesia Lion Air Batavia Air Sriwijaya Air Mandala Airlines Indonesia AirAsia 40+ AOCs 8.371 2008 7.a.3 4 7.124 4.504 1.511 1.3% 21.a.465 1.2 28 24.632 2004 6. Aviation Safety Network. Lion Air memiliki pangsa pasar tertinggi diukur dari jumlah kursi domestik dan penerbangan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dekat Jakarta.739 7. Beberapa data merupakan estimasi Catatan: Angka merepresentasikan keberangkatan penumpang udara Tabel berikut menunjukkan informasi pangsa pasar saham maskapai penerbangan yang berbasis di Indonesia per September 2010 untuk kursi penerbangan domestik dan penerbangan keberangkatan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Internasional Ngurah-Rai.1% 37.011 2.834 3.3 1 4 20 19 9. Keberangkatan Domestik Untuk penerbangan yang dioperasikan oleh operator yang berkedudukan di Indonesia selama September 2010.536 14.016 39. 192 .022 7. Tabel berikut menunjukkan informasi pasar saham berdasarkan keberangkatan domestik untuk operator Indonesia berbasis pada periode tahun 2000-2009 Layanan FSC 2000 3.370 1.939 2006 6.

0% 12. SBU yang dimiliki Perseroan.5% 2.7% 100.7% 100.1% 12.0% 8.9% 28. Oktober 2010. Oktober 2010.0% 41.0% 100.0% 100.5% 3.6% 2.4% 25.8% 3.2% 15.Maskapai Penerbangan Indonesia Lion Air Wings Air Lion Air/Wings Air Garuda Indonesia (a) Batavia Air Sriwijaya Air Merpati Nusantara Airline Mandala Airlines Indonesia AirAsia Kartika Airlines Indonesia Trigana Air Riau Airlines Transportasi Udara Indonesia Total Jadual Pelayanan Penumpang Domestik Persentase Tempat Duduk Keberangkatan per minggu Persentase Penerbangan Keberangkatan per Minggu Semua Bandara Dari Dari Semua Bandara Dari Dari Jakarta Denpasar Jakarta Denpasar (CGK) saja (DPS) saja (CGK) saja (DPS) saja 39.0% 23.6% 0.9% 32.0% 2.3% 0.7% 1.5% 0.7% 0.1% 42.0% 10.0% 2.7% 2.2% 7.5% 1.4% 3.0% 2.4% 1.6% 30.5% 10.6% 100.3% 9.6% 5.0% 12.8% 12.2% 8.6% 22.3% 0.5% 0.8% 0.1% 1.6% 15.3% 40.5% 2.0% 27.4% 8.2% 5.0% 10.0% 2.2% 0.5% 14.3% 2.6% 12.3% 2.4% 3.0% 9.5% 5.6% 1.6% 4.5% 1.4% 0.0% 2.0% 29.0% 28.5% 55.5% 20.3% 64.0% 19.3% 25.1% 100.1% 8.1% 30.6% 9.0% 0.2% 100.0% 2.1% 0.4% 19. (a) Termasuk aktivitas yang dioperasikan oleh Citilink.8% 0.2% 28.6% 11.2% 3.0% 100.4% 4.3% 4.0% Malaysia Singapura Australia Garuda Indonesia Indonesia AirAsia Singapore Airlines AirAsia (Malaysia) Malaysia Airlines Cathay Pacific Lion Air China Airlines SilkAir Jetstar Airways Valuair Thai Airways Int’l Emirates Airlines Japan Airlines Korean Air Virgin Blue KLM EVA Airways Batavia Air Mandala Airlines Lainnya Total 2.2% 36.1% 1. 193 .2% 1. berdasarkan data pada OAG.9% 0.0% 9.7% 27.8% 100.0% 33.3% 100.4% 54.4% 14.1% 31.3% 100.4% 6.3% 0.5% 2.7% 0.8% 2.5% 3. Keberangkatan Internasional Tabel berikut memberikan ringkasan dari persentase tempat duduk maskapai penerbangan untuk kedatangan penumpang internasional terkait penerbangan berjadwal oleh maskapai penerbangan Indonesia dan Internasional selama periode September 2010. Maskapai Penerbangan Tujuan Negara/Regional Cina Thailand Jepang Timur Sisanya Lainnya Tengah SAR HK Mainland 28.0% 18.2% 100.2% 36.8% 29.0% 22.0% 4.8% 29.7% 14.1% 21.8% 15.3% 1.0% 0.0% Sumber: The SAP Group.8% 7.9% 1.8% 5.7% 9.4% 10.5% 2.5% 2.0% 0.3% 100.6% 23.1% 0.7% 2.6% 10.9% 1.9% 12.0% 1.0% 23.8% 2.2% 100.5% 15.7% 3.5% 2.8% 6.0% 4.0% 1.4% 2.5% 43.0% 3.0% 17.8% 9.6% 1.8% 12.7% 36.6% 1.0% 0.2% 11.5% 33.0% 10.0% 100.5% 3.2% 100.0% Sumber: OAG.2% 45.0% 0.

9% 4.149 0.078 0.1% $ 5.086 78.4 25.067 0. Oktober 2010 (a) dalam juta USD.5% -0.7% -42.081 72.085 0.6 71.7 61.1 43.036 $ 0.5% 70.4 6.539 5.8 194 .3% -1.331 8.0 82.4% 0.255 12.6% $ 0. Matrik Kunci Keuangan dan Kinerja Operasional untuk Layanan Bisnis LCC Tabel berikut memperlihatkan data kunci keuangan dan kinerja operasi Perseroan.7% 2.3 Dec-09 88.165 66.067 $ 0.4 34.120 1.4% -3.0 13.094 $ 0. Taiwan) Air New Zealand (New Zeal.3 49.381 3.938 2.057 $ 0.126 66.0 11.077 $ 0.064 0.4 32.2 10.086 $ 0.071 76.104 0.776 1.5% 8.3% 18.3% 77.7 24.) Air India (India) Jet Airways (India) Hainan Airlines (Cina) EVA Air (Taiwan) Garuda (Indonesia) (e) Philippine Airlines (Philippines) Weighted Average FSC 13.2 71 48 48 10 $ $ $ $ 29.6 29.070 0.0% 61.302 2.281 2.4 16.079 0.2% 86.2 14.082 0.6 23.079 $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ 0.4% 77.4% 78.069 $ 0.4% -10.3 3.908 4. (e) Termasuk operasional yang dilayani oleh SBU Garuda.060 $ 0.4% 10.087 0.080 75.981 2.9 31.6 66.1% -1.2% $ 0.5% $ 0.102 $ 0.3% $ 0.Matriks Kunci Keuangan dan Kinerja Operasional untuk layanan bisnis FSC Tabel berikut memperlihatkan data kunci keuangan dan kinerja operasi Perseroan.928 3.411 11.4 3. (b) Revenue per available seat kilometer.2 Jun-09 Mar-10 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Jun-09 Mar-09 Mar-10 Des-09 Des-09 Des-09 Mar-09 $ 0.4 38.0% 77.4 152 174 133 110 121 324 131 255 248 90 84 67 65 46 137 72 71 52 74 39 $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ Laporan Keuangan yang berakhir pada 87.6% 1.0 41.4% $ 0. terkait layanan LCC tertentu: LCC Kinerja Keuangan Pendapatan Laba Marjin RASK(b) Usaha (a) (Rugi) Usaha Usaha (a) Kinerja Operasi Pax Armada Pendapatan (juta) Pesawat Usaha per pesawat (d) CASK(c) Pax Load Factor Laporan Keuangan yang berakhir pada Jun-09 Jun-09 Des-09 Mar-09 Virgin Blue Airlines (Australia) JetStar (Australia) AirAsia (Malaysia) Tiger Airways (Singapura) 2. Citilink.8% -16.9% -4.5 24.065 69.093 0.064 0.5% 6.0 12.637 8.2 Mar-10 71.8% $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ 0.094 $ 0.7% 4.4 10.3 20.3% $ 0.0 17.042 0.054 78.096 78. termasuk RASK dan CASK.188 2.8% $ 14.072 80.8 21. terkait FSC tertentu: FSC Kinerja Keuangan Pendapatan Laba (Rugi) Marjin RASK(b) Usaha (a) Usaha (a) Usaha Kinerja Operasi Pax Pax Armada Pendapatan Load (juta) Pesawat Usaha per Factor pesawat (d) CASK(c) ANA Group (Jepang) Japan Airlines Corp.310) 164 46 578 211 113 807 267 416 (184) (204) (52) 50 (1.5% 1.1% Sumber: The SAP Group.2% 72.8 54.707 9.6 41.0 64.8 44. (d) Pendapatan usaha (dalam juta USD) per pesawat.8% $ 0.063 0.8% $ 0.6% $ 0.9 49.273 1.6% 75. dihitung sebagai beban usaha dalam USD per ketersediaan tempat duduk kilometer penerbangan.6% $ 0.080 0.4% -6.9% 72.340 3.4% 44.158 $ 0.076 0.0 19.1% $ 5.634 (586) (1.098 0.0 32.101 69.073 7. berdasarkan sumber industri.068 $ 0.083 8.261) (104) (9) (88) 86 (266) -4.2 12.078 $ 0.4% -5.083 0.078 $ 0.6% 1.2% 76.092 0. (Jepang) Qantas (Australia) Singapore Airlines (Singapura) Cathay Pacific (Hong Kong) China Southern (Cina) Korean Air (South Korea) Air China (Cina) China Eastern Airlines (Cina) Thai Airways (Thailand) Malaysia Airlines (Malaysia) Asiana Airlines (South Korea) China Airlines (Chin.9 13.4 11.085 0.8% 79.079 0.066 75. dihitung sebagai penadapatan usaha dalam USD per ketersediaan tempat duduk kilometer penerbangan (c) Cost per available seat kilometer.093 79.2 9.7 39.8 40.489 929 348 (24) 86 131 20 -1.9 49.1% $ 0. termasuk RASK dan CASK.114 $ 0.

International Civil Aviation Organization (“ICAO”) kemudian dibentuk berdasarkan Chicago Convention.044 0. Dalam konvensi ini. dengan beberapa batasan yang dapat dikenakan oleh negara tujuan atau negara tempat pendaratan. Montreal Convention kemudian mengubah batasan kewajiban yang ada dalam Konvensi Warsawa dan memperbarui serta menjelaskan aspek lainnya dari sistem batasan kewajiban kecelakaan penerbangan internasional. $ 0. Convention on International Civil Aviation of 1944 (the “Chicago Convention”) dan Convention for the Unification of Certain Rules for International Carriage by Air of 1999 (the “Montreal Convention”). Menjalankan 93% dari jadwal lalu lintas internasional dunia. dihitung sebagai beban usaha dalam USD per ketersediaan tempat duduk kilometer penerbangan.5 23 29 17 $ $ $ $ 12. termasuk dalam hal melakukan kerjasama bidang transportasi udara dengan negara lain.043 n. standar bagi pilot dan awak kabin.7 23. (b) Revenue per available seat kilometer. Batasan-batasan tersebut mungkin dikesampingkan jika dapat dibuktikan bahwa kerusakan tersebut diakibatkan oleh kesengajaan dari perusahaan.a.7% 77. (7) 1. International Air Transportation Association (“IATA”) IATA memberikan kerangka pengaturan (self-regulatory) internasional yang penting bagi industri penerbangan sipil internasional.0 8. Konvensi Warsawa mengatur pembatasan kewajiban bagi perusahaan transportasi udara. Dibentuk tahun 1945. IATA saat ini memiliki anggota sebanyak 230 perusahaan penerbangan di lebih dari 115 negara.0 Sumber: The SAP Group.2% $ 0. dan juga mengenai bandar udara dan infrastruktur pendukung penerbangan sipil.LCC Kinerja Keuangan Pendapatan Laba Marjin RASK(b) Usaha (a) (Rugi) Usaha Usaha (a) CASK(c) Pax Load Factor Kinerja Operasi Pax Armada Pendapatan (juta) Pesawat Usaha per pesawat (d) Laporan Keuangan yang berakhir pada Des-09 Des-09 Des-09 Thai AirAsia (Thailand) Cebu Pacific Air (Philippines) Indonesia AirAsia (Indonesia) Weighted Average dari LCC 280 236 183 4 n.6% 5. berdasarkan sumber industri.067 $ 0. ICAO menjadi suatu divisi di PBB yang khusus mengatur mengenai masalah transportasi udara internasional.4% $ n.034 $ 0. dimana negara-negara anggota. anggota IATA merupakan perusahaan penerbangan terkemuka di dunia.1 10. yang kemudian diubah dengan Protocol to Amend the Convention for the Unification of Certain Rules Relating to International Carriage by Air Tahun 1929 (the “Warsaw Convention”). $ -3. Chicago Convention mengatur prinsip umum bahwa tiap negara memiliki kedaulatan atas wilayah udara masingmasing dan memiliki hak untuk mengontrol kegiatan penerbangan internasional berjadwal yang melintasi wilayah udaranya. penerbangan sewa dan penerbangan kargo tidak berjadwal diizinkan untuk melintas di daerah teritori udara negara-negara anggota dan diberikan hak untuk berhenti dengan tujuan selain mengangkut penumpang. (a) dalam juta USD.064 75. (d) Pendapatan usaha (dalam juta USD) per pesawat. Indonesia merupakan pihak dalam konvensi ini. ICAO mengadopsi standar dan rekomendasi mengenai praktek penerbangan sipil. Negara anggota ICAO menetapkan aturan teknis penerbangan yang disusun oleh ICAO untuk diaplikasikan dalam sistem penerbangan nasional negara anggota. dihitung sebagai penadapatan usaha dalam USD per ketersediaan tempat duduk kilometer penerbangan (c) Cost per available seat kilometer. Kemudian pada tahun 1947.6% 75. Konvensi ini juga menetapkan prinsip hukum yang mengatur penerbangan komersial internasional. Indonesia bukan merupakan pihak dalam konvensi ini. yang mayoritas anggota dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Indonesia merupakan anggota dalam konvensi ini. Konvensi internasional utama adalah Convention for the Unification of Certain Rules Relating to International Carriage by Air di tahun 1929.2 8.a. termasuk mengenai keamanan dan keselamatan.9% $ 5. Indonesia merupakan anggota ICAO. Peraturan Penerbangan Internasional Transportasi udara komersial internasional diatur melalui konvensi internasional yang diterapkan oleh negara-negara anggota konvensi sebagai acuan pengaturan transportasi udara komersial di negara masing-masing.025 0.033 0.8 3. Oktober 2010.4% 73. mengimplementasikan konvensi ini di negara masing-masing.a. Fungsi utama IATA termasuk diantaranya: (i) membentuk aturan dalam aspek 195 .

jatah slot ditetapkan untuk setiap musim oleh IATA. Indonesia memiliki ASA dengan 71 negara. (ii) tarif untuk penumpang internasional dan jasa kargo. teknisi. pengawasan. Perseroan telah menjadi anggota IATA sejak 2006. Penjatahan tersebut diatur dalam Scheduling Procedures Guidelines yang dikeluarkan IATA. Perjanjian Bilateral Mengenai Transportasi Udara Transportasi udara internasional memerlukan adanya hak angkut (sebuah konsep yang dikenal sebagai hak lalu lintas atau hak rute) dimana satu negara mungkin memperolehnya dengan meminta hak transport dari negara lain melalui perjanjian bilateral transportasi udara atau secara umum disebut perjanjian layanan udara (air services agreements atau “ASAs”). suatu bandar udara. Sebagai aturan umum. Melalui IATA. bandar udara serta kewajiban dan tanggung jawab perusahaan penerbangan terhadap penumpang dan barang yang diangkutnya. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan (“Undang-undang Penerbangan”) yang menggantikan Undang-undang Penerbangan lama yang disahkan pada tahun 1992. rute penerbangan dan tarif pesawat. sertifikasi dan evaluasi penerbangan sipil. yang sampai dengan tanggal Prospektus ini belum dikeluarkan dan. Akses pada hampir semua bandar udara di Eropa dan Asia diatur dengan menggunakan sistem penjatahan slot ini. Undang-undang Penerbangan mengatur banyak aspek dalam industri penerbangan di Indonesia. akibatnya. Pengaturan slot memungkinkan suatu pesawat untuk mendarat di atau akan terbang dari. kelaikan udara pesawat. Aturan umum mengenai penjatahan slot ini yaitu perusahaan penerbangan berhak untuk mendapatkan jatah tempat yang sama untuk periode penerbangan berikutnya (sering disebut dengan “grandfather rights”). dan (iv) memberlikan ijin kepada agen perjalanan. Di awal setiap musim. sistem dan prosedur pelaksanaan transportasi udara. ada dua musim yang dikenal dalam sistem IATA yaitu musim panas (summer). penegakan hukum. lalu lintas udara dan navigasi. perusahaan penerbangan melakukan perjanjian yang mengubah batasan kewajiban perusahaan penerbangan terhadap penumpang yang meninggal atau cacat berdasarkan Konvensi Warsawa. termasuk pendaftaran pesawat. kapasitas penerbangan dan prosedur terkait tarif yang akan dikenakan. yang bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan kapasitas airport. membuat produk aeronautika. Penjatahan Slot Bandar Udara Kegiatan Penerbangan Akses pada bandar udara utama dunia diatur dengan pemberian jatah waktu yang mengatur kedatangan dan keberangkatan pesawat dari dan ke bandar udara tersebut oleh koordinator slot disetiap negara. standardisasi praktek pelaksanaan transportasi udara. Perseroan telah menjadi anggota The IATA Intercarrier Agreement on Passenger Liability sejak tahun 1996. (iii) menetapkan pembayaran diantara anggota IATA atau antar anggota IATA dan non-IATA. petunjuk pelaksanaan transportasi udara. perizinan usaha. keselamatan dan keamanan penerbangan. dan musim dingin (winter). Negara yang menjadi pihak dalam ASA lazimnya menunjuk satu atau beberapa perusahaan penerbangan nasional untuk melaksanakan hak mengoperasikan rute yang diberikan oleh satu negara kepada negara lain berdasarkan ASA tersebut. pada waktu dan tanggal yang sudah disetujui oleh koordinator slot. Berikut adalah direktorat yang ada di DJPU beserta tugas dan wewenangnya: • Direktorat Kelaikan Udara & Pengoperasian Pesawat Udara (“DKUPPU”) bertugas melakukan pengawasan mesin. pengoperasian pesawat udara. Undang-undang Penerbangan ini mensyaratkan beberapa peraturan pelaksana. perawatan pesawat udara dan personil pesawat udara. Instansi pemerintah yang memiliki otoritas dalam mengatur penerbangan sipil adalah Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (“DJPU”) dan direktorat-direktorat yang ada di bawahnya. pilot dan awak pesawat terbang. Peraturan Penerbangan Sipil di Indonesia Industri penerbangan di Indonesia saat ini diatur berdasarkan Undang-undang No. Dalam satu tahun. yang dimulai pada hari Minggu terakhir di bulan Oktober dan berakhir di hari Sabtu terakhir di bulan Maret. pesawat yang ingin beroperasi di bandar udara internasional harus mengajukan jatah slot. DJPU dan direktorat di bawahnya bertanggung jawab melakukan persiapan. yang dimulai pada hari Minggu terakhir di bulan Maret dan berakhir di hari Sabtu terakhir di bulan Oktober. evaluasi. Dalam IATA Intercarrier Agreement on Passenger Liability. perusahaan penerbangan yang menandatangani perjanjian sepakat untuk mengenyampingkan batasan kewajiban atas kompensasi kerugian yang harus dilaksanakan berdasarkan The Konvensi Warsawa sehingga memungkinkan kompensasi ditentukan dan dilaksanakan sesuai dengan hukum dari domisili penumpang. beberapa peraturan pelaksana berdasarkan Undangundang Penerbangan sebelumnya masih tetap berlaku. Perjanjian bilateral ini pada umumnya menetapkan prinsip-prinsip yang mengatur pengoperasian rute. 196 .tertentu dalam industri penerbangan sipil.

Seluruh pesawat yang dioperasikan di Indonesia harus terdaftar pada otoritas penerbangan negara asalnya. dan material pesawat dan perlengkapan lainnya yang terpasang pada pesawat yang dianggap perlu oleh DKUPPU. Pemegang AOC wajib untuk patuh pada ketentuan yang ada pada AOC dan lampirannya serta peraturan-peraturan lain yang dikeluarkan oleh DJPU. AOC dan Perizinan Usaha Angkutan Udara Niaga Berdasarkan Undang-undang Penerbangan. Setiap tahun. • • • Sertifikasi Kelaikan Udara Pengadaan pesawat udara harus dilakukan dengan persetujuan DJPU dan seluruh pesawat udara yang diimpor ke Indonesia (baik baru maupun yang sudah pernah digunakan) harus memiliki sertifikat tipe dan validasi (termasuk perubahan atas modifikasi terhadap pesawat) yang dikeluarkan oleh DKUPPU. sertifikasi personil keamanan penerbangan. perawatan. Direktorat Bandar Udara bertugas menyiapkan rumusan tatanan kebandarudaraan dan lingkungan. organisasi. DJPU menerbitkan AOC untuk perusahaan penerbangan yang telah memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. termasuk di dalamnya kriteria terkait catatan operasi. Pesawat Indonesia yang dioperasikan dan telah memperoleh Sertifikat Kelaikan Udara harus dioperasikan sesuai dengan peruntukan sertifikat kelaikan udara (termasuk mengenai hal terkait mesin dan perawatan) dan dilakukan dalam batasan manual penerbangan yang telah disetujui oleh DJPU. DKUPPU mengeluarkan sertifikat kelaikan udara dengan melakukan pemeriksaan terhadap disain. Jika melanggar syarat dan ketentuan dalam sertifikat kelaikan udara. staff. wajib mencantumkan lambang Indonesia pada badan pesawat tersebut. yang berlaku untuk kurun waktu dua tahun. operator pesawat udara akan dikenakan sanksi administratif berupa pembekuan sampai pencabutan sertifikat operator pesawat udara. konstruksi. personil dan operasi bandar udara serta penyelenggaraan bandar udara. fasilitas keamanan penerbangan serta kontrol terhadap kualitas keamanan penerbangan. Selain itu. dan Direktorat Navigasi Penerbangan: manajemen and fasilitas lalu lintas penerbangan. kecakapan kerja. stability dan ground and water handling characteristics. pengangkutan barang berbahaya dan kargo. selain juga melakukan penilaian terhadap hasil dari percobaan penerbangan dan pengujian pesawat lainnya yang dianggap perlu oleh DKUPPU. standarisasi dan sertifikasi. Seluruh pesawat yang terdaftar di Indonesia juga wajib memperoleh sertifikat kelaikan udara yang dikeluarkan oleh DKUPPU. prasarana bandar udara. peralatan dan utilitas bandar udara. angkutan udara niaga berjadwal. pesawat udara. 197 . kerjasama angkutan udara serta pengembangan dan pembinaan usaha angkutan udara. peralatan dan fasilitas. Registrasi atas pesawat akan berlaku selama tiga tahun dan harus didaftarkan kembali selama pesawat udara masih dioperasikan. dalam hal ini Menteri Perhubungan. Kelalaian dalam mematuhi salah satu dari peraturan tersebut dapat berakibat pada pembekuan atau pencabutan AOC atau sanksi lain berdasarkan Undang-Undang Penerbangan. Sebelum menerbitkan AOC perpanjangan. AOC dapat diberikan berdasarkan syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh DJPU yang dirinci dalam operation spesification sebagai lampiran AOC. pelayanan darurat. Pesawat yang terdaftar pada otoritas penerbangan di Indonesia. DJPU akan melakukan audit (quality audit) untuk memastikan apakah perusahaan penerbangan memenuhi ketentuan peraturan terkait dan layak memperoleh perpanjangan AOC. DJPU melakukan inspeksi dan pemeriksaan terhadap pesawat udara untuk memastikan bahwa pesawat telah dioperasikan dan dirawat sesuai dengan syarat dan ketentuan dalam manual teknis yang disetujui DJPU sebelum diterbitkan sertifikat kelaikan udara lanjutan. dan kriteria lain yang diatur di dalam sistem dan manual pengaturan yang penting untukk menjamin pengoperasian pesawat dengan aman. Direktorat Angkutan Udara bertugas menyiapkan rumusan kebijakan di bidang sistem data dan standarisasi pelayanan angkutan udara. angkutan udara niaga tidak berjadwal dan angkutan udara non niaga. tidak satu pun badan hukum Indonesia boleh mengoperasikan pesawat udara untuk tujuan transportasi umum kecuali dengan persyaratan izin usaha angkutan udara niaga AOC yang dikeluarkan oleh DJPU atas nama Menteri Perhubungan. Sertifikat kelaikan udara tersebut terdiri dari dua jenis: (i) sertifikat kelaikan udara awal yang diperoleh setelah pesawat memperoleh sertifikat validasi dan tipe yang diperoleh pada saat pesawat udara selesai diproduksi serta akan pertama kali digunakan dan (ii) sertifikat kelaikan udara lanjutan sebagai bukti bahwa perawatan pesawat sudah dilakukan dengan baik. perusahaan penerbangan Indonesia yang bermaksud untuk mengoperasikan jenis pesawat baru di Indonesia wajib mendapatkan sertifikat tipe dan validasi yang diperlukan pada saat mendaftarkan pesawat tersebut di Indonesia. AOC Perseroan dikeluarkan pada Juni 2009. Perseroan telah memiliki sertifikat pendaftaran dan sertifikat kelaikan udara bagi pesawat-pesawat yang dioperasikan.• Direktorat Keamanan Penerbangan bertugas melaksanakan pengawasan dan pengendalian di bidang standarisasi dan program. Inspeksi dan pemeriksaan oleh DJPU juga mencakup kinerja pesawat udara seperti controllability dan maneuverability.

(iii) penerbangan khusus kargo. Perseroan telah memiliki persetujuan atas rute domestik. antara lain ketersediaan hak angkut dan kemampuan operasional Perseroan. maka izin angkutan udara niaga secara otomatis tidak berlaku. Untuk memperoleh persetujuan rute. yang didalamnya termasuk rencana pelaksanaan rute. Persetujuan Terbang (Flight Approval) Dalam melaksanakan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal. Negara tertentu mungkin mewajibkan perusahaan penerbangan dari negara lain untuk memperoleh AOC atau sertifikasi sejenis dari otoritas penerbangan sipil negara tersebut untuk mengoperasikan penerbangan di negara tersebut. minimum lima pesawat. sebuah perusahaan penerbangan wajib memperoleh persetujuan terbang (flight approval) dari DJPU setiap akan melakukan penerbangan tidak berjadwal. 198 . Izin angkutan udara niaga Perseroan baik yang berjadwal maupun yang tidak berjadwal untuk penerbangan kargo dan penumpang baik domesitik maupun internasional telah diperoleh Perseroan pada 2 Januari 2007 dan terus berlaku selama Perseroan tetap beroperasi sesuai dengan audit kinerja tahunan. Ketika ASA disetujui oleh para pihak. dan distribusi rute di seluruh wilayah Indonesia. Perseroan telah memiliki hak untuk mengoperasikan rute internasionalnya yang diperbaharui setiap enam bulan sekali kepada DJPU. yang wajib diperbaharui setiap enam bulan sekali kepada DJPU. Izin angkutan udara niaga juga mewajibkan perusahaan penerbangan di Indonesia untuk menyampaikan laporan keuangan dan operasional secara periodik kepada DJPU. Menteri Perhubungan mempelajari dan menyetujui permintaan rute perusahaan penerbangan dengan mempertimbangkan rencana bisnis sesuai dengan permintaan. perusahaan penerbangan Indonesia yang melakukan kegiatan usaha di bidang penerbangan berjadwal harus menguasai. Setiap izin angkutan udara niaga akan tetap berlaku selama Perseroan melakukan usahanya dan mengoperasikan jumlah pesawat udara dalam jumlah minimum seperti yang disyaratkan oleh Undang-undang Penerbangan dan sesuai dengan hasil audit kinerja tahunan yang dikeluarkan oleh DJPU. Tarif Penerbangan Pemerintah mengatur tarif penerbangan domestik kelas ekonomi melalui Peraturan Menteri Perhubungan tahun 2010 (“Peraturan”) dimana DJPU melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan tersebut. Rute Rute Internasional Pelaksanaan rute internasional dilakukan berdasarkan perjanjian transportasi udara atau ASA antara Pemerintah Indonesia dengan negara lain yang dilakukan melalui DJPU. Setiap perusahaan penerbangan yang ditentukan untuk melakukan penerbangan dengan rute internasional juga wajib memperoleh ijin operasi penerbangan dari pemerintah negara tujuan. DJPU kemudian akan melakukan evaluasi terhadap rencana bisnis setiap lima tahun sekali. Perseroan penerbangan wajib menyampaikan laporan mingguan kepada DJPU untuk seluruh flight approval.Izin angkutan udara niaga dibedakan dalam tiga kategori. flight approval juga diperlukan dari negara tujuan bagi penerbangan internasional tidak berjadwal. Setiap perubahan pada rute yang telah disetujui harus terlebih dahulu disetujui oleh DJPU. Berdasarkan Undang-undang Penerbangan. Tarif penerbangan kelas bisnis tidak diatur sehingga perusahan penerbangan memiliki hak untuk mengatur dan menetapkan tarif penerbangan bagi kelas bisnis berdasarkan tingkat permintaan pasar. termasuk melalui perjanjian leasing. setiap negara memberikan hak kepada negara lain untuk mengoperasikan pesawatnya ke negara tersebut sesuai dengan ketentuan yang telah diperjanjikan. sementara setiap pelaksanaan rute yang telah disetujui harus dilaporkan kepada DJPU. dan membayar beban untuk setiap flight approval kepada DJPU. maka pemerintah melalui DJPU akan memberikan hak rute internasional kepada perusahaan penerbangan di Indonesia yang memenuhi syarat untuk melakukan penerbangan rute internasional dengan berdasarkan beberapa kriteria. Berdasarkan ASA. Jika suatu perusahaan penerbangan lalai untuk mengoperasikan atau tidak memiliki jumlah pesawat yang dipersyaratkan dalam waktu 12 (dua belas) bulan berturut-turut. perusahaan penerbangan Indonesia harus mempersiapkan rencana operasi. Kursi di kelas ekonomi ditetapkan minimum sebesar 60% dari total kursi yang tersedia di setiap penerbangan. dan memiliki sendiri paling sedikit lima pesawat udara. fasilitas bandar udara. termasuk penerbangan VVIP. Rute dan Jaringan Domestik Rute domestik hanya dapat dioperasikan oleh perusahaan penerbangan Indonesia yang telah memiliki izin usaha angkutan niaga berjadwal. Selain itu. yaitu: (i) penerbangan berjadwal berpenumpang dan kargo domestik dan internasional. (ii) penerbangan kargo dan penumpang domestik dan internasional yang tidak berjadwal. yang tunduk pada standar layanan minimum yang ditetapkan oleh DJPU. kepatuhan kepada persyaratan operasi penerbangan.

Indonesia telah mengadopsi aturan. dan rekomendasi praktek yang dikeluarkan oleh ICAO untuk diterapkan pada Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil atau Civil Aviation Safety Regulations (“CASR”) berdasarkan surat keputusan atau ketetapan atau peraturan yang dikeluarkan oleh DJPU atas nama Menteri Perhubungan. tertutama saat hari raya. Tarif jarak diperoleh dari jumlah produk tarif dasar setiap penumpang dan jarak yang mempertimbangkan juga kemampuan beli. DJPU akan mengevaluasi tarif jarak setiap tahunnya berdasarkan pada perubahan yang signifikan yang mempengaruhi industri penerbangan. DJPU dan DKUPPU mengeluarkan instruksi kepada staf yang bersangkutan dan memberikan edaran petunjuk. dan juga aspek perlindungan konsumen dan kompetisi bisnis yang wajar. Undang-undang Penerbangan juga mewajibkan perusahaan penerbangan untuk menerbitkan manual perawatan pesawat. Keamanan dan Keselamatan ICAO mengeluarkan aturan. dan selain itu. termasuk manual yang diwajibkan sebagai prasyarat dalam perolehan AOC. Berdasarkan Undang-undang Penerbangan. Perusahaan penerbangan Indonesia harus menetapkan dan mengumumkan tarif normal yang telah disetujui DJPU baik melalui media cetak maupun media elektronik yang tidak dapat melebihi jumlah maksimum yang ditentukan DJPU atas nama Menteri Perhubungan. seluruh instruktur pelatihan harus sudah memiliki lisensi DJPU. yang menetapkan petunjuk pelatihan untuk pegawainya. dimana pembatasannya didasarkan kepada beberapa hal. Manual operasi perusahaan ini meliputi kebijakan-kebijakan perusahaan penerbangan terkait dengan penerbangan. pemegang lisensi organisasi perawatan pesawat udara. dapat melakukan perawatan dan perbaikan atas mayoritas pesawat yang dioperasikan oleh perusahaan dan juga bagi perusahaan penerbangan pihak ketiga. Peraturan. Perseroan melakukan perjanjian perawatan pesawat dengan organisasi perawatan pesawat udara lain yang berlisensi di wilayah dimaksud. juga atas perawatan pesawat pada daerah tujuan internasional.070 per perjalanan untuk 301-375 kilometer dan Rp1. Untuk perawatan pesawat di wilayah dimana GMFAeroAsia tidak memiliki izin untuk melakukan perawatan. DJPU atas nama Menteri Perhubungan menentukan dan mengumumkan tarif jarak melalui konsultasi dengan asosiasi penerbangan nasional dan asosiasi pelanggan penerbangan. standar. pajak. personel dan bandar udara. edaran keselamatan dan kelaikan udara yang wajib dipatuhi perusahaan penerbangan. premi asuransi yang diwajibkan dan beban tambahan. Syarat untuk memperoleh AOC antara lain perusahaan penerbangan Indonesia harus mengeluarkan manual operasi perusahaan. dan rekomendasi praktek yang digunakan bagi keamanan dan keselamatan penerbangan. standar dan praktek ICAO meliputi keselamatan dan keamanan sehubungan dengan pesawat dan pemeliharaan.400 kilometer. antara lain: tarif jarak. Untuk mengimplementasikan CASR. Program pelatihan dipersiapkan berdasarkan standar ICAO dan disahkan oleh DJPU. CASR dan Undang-undang Penerbangan mewajibkan perusahaan penerbangan untuk membuat dan mengimplementasikan sistem dan manual. yang menetapkan standar dan prosedur dari perbaikan dan perawatan pesawat berdasarkan CASR yang harus disetujui oleh DJPU.Tarif penerbangan kelas ekonomi dibatasi oleh DJPU. termasuk kru dan pilot. GMFAeroAsia. Maksimum tarif jarak bergantung pada tingkat layanan yang diberikan oleh perusahaan penerbangan.190 untuk perjalanan lebih dari 1. prosedur pilot. Peraturan juga melampirkan semua rute yang saat ini dilayani perusahaan penerbangan masing-masing dengan tarif dasarnya. termasuk: (i) beban bahan bakar pesawat udara yang mencapai Rp10. Menteri Perhubungan juga memiliki hak untuk menentukan dan menerapkan tambahan beban yang dapat dibebankan oleh perusahaan penerbangan kepada penumpang selama kondisi tertentu. DJPU memastikan pelaksanaan manual dan program tersebut melalui audit dan pemeriksaan sebelum menerbitkan atau memperbaharui AOC untuk perusahaan penerbangan tersebut atau sertifikat kelaikan udara untuk setiap pesawat. dimana FSC dapat membebankan sampai dengan 100% dari tarif jarak dan layanan penerbangan kelas menengah (MSC) dapat membebankan sampai dengan 90% dari tarif jarak dan LCC dapat mengutip beban hingga 85% dari tarif jarak. Manual operasi perusahaan menjabarkan standar dan prosedur dari kegiatan harian dan operasi keseluruhan dari perusahaan penerbangan. manual pemeliharaan pesawat dan manual sistem manajemen keselamatan yang telah disetujui oleh DJPU. Selain itu. dan fasilitas pelatihan yang dipersyaratkan. Perawatan pesawat dapat dilakukan baik oleh perusahaan penerbangan sendiri maupun oleh organisasi perawatan pesawat udara yang telah memperoleh izin DJPU. penanganan kargo dan penumpang. 199 . tarif penerbangan internasional ditetapkan berdasarkan referensi dari ASA bilateral maupun multilateral yang mengatur rute yang terkait. standar. Menteri menetapkan tarif dasar per penumpang berdasarkan tarif jarak per kilometer terbang adalah Rp2. yang dapat diaplikasikan kepada otoritas perusahaan penerbangan di masing-masing negara anggota. perusahaan penerbangan wajib menerbitkan program pemeliharaan kelaikan udara yang merinci panduan pelaksanaan pemeliharaan setiap pesawat yang dioperasikan perusahaan penerbangan tersebut.000/liter atau (ii) fluktuasi nilai tukar yang dapat meningkatkan beban operasional penerbangan minimum sampai 10% selama lebih dari tiga bulan berturut-turut. operasi penerbangan. Perusahaan penerbangan harus memiliki manual pelatihan. manual pelatihan. Berdasarkan Peraturan.

Berdasarkan Undang-undang Penerbangan. bahkan menolak keberangkatan maupun pendaratan pesawat untuk memenuhi level tersebut. KNKT juga memberikan rekomendasi formulasi kebijakan dan peraturan terkait keselamatan transportasi. Selain itu. disusun juga manual jaminan asuransi perusahaan. manual aerodrome yang dikeluarkan oleh DJPU. Ketentuan utama Annex 6 ICAO mewajibkan pembentukan metode pengawasan operasi penerbangan untuk memastikan tingkat keselamatan yang berkesinambungan. Menteri Perhubungan akan mengeluarkan cetak biru pengembangan bandar udara yang berlaku untuk 20 tahun. mayoritas bandar udara di Indoensia dioperasikan oleh Perusahaan BUMN. yaitu PT Angkasa Pura I (13 bandar udara di pusat dan Indonesia Bagian Timur) dan PT Angkasa Pura II (13 bandar udara di Indonesia Bagian Barat). operator bandar udara harus memenuhi aturan keamanan dan keselamatan dan juga standar layanan udara yang dikeluarkan oleh DJPU. KNKT melaporkan temuantemuannya kepada Menteri Perhubungan. Ijin konstruksi bandar udara dikeluarkan oleh Menteri Perhubungan dengan berkoordinansi dengan agen pemerintah setempat. petugas pengoperasian pesawat. terutama sehubungan dengan awak pesawat. Saat ini pemerintah telah merencanakan untuk menetapkan lima otoritas bandar udara yang akan disahkan di tahun 2012. Selain itu. Peraturan Lingkungan dan Kebisingan Untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara. diwajibkan pula adanya manual operasional untuk setiap tipe pesawat dimana masing-masing operator wajib memastikan seluruh personel telah dilatih dalam menjalankan tugas dan kewajibannya dan hubungan antara tugas tersebut dengan operasi perusahaan penerbangan pada umumnya. dengan mengadopsi ketentuan-ketentuan dalam manual yang dikeluarkan oleh pabrik pesawat yang bersangkutan berdasarkan CASR. frekuensi. Selain itu. pesawat harus memenuhi standar emisi gas dan kebisingan. program keamanan juga harus dipersiapkan dan bertujuan untuk menjamin keamanan properti atau keamanan individual dari tindakan melanggar hukum atau tindakan yang dilarang untuk dilakukan di dalam pesawat. termasuk seluruh hal yang berkaitan dengan emisi minyak dan material buangan lainnya. Menurut CSAR. dimana perusahaan penerbangan wajib: (i) menunjuk unit keamanan dan pegawai yang didedikasikan dan (ii) mengadopsi tindakan keamanan dan rencana tanggapan darurat. pesawat Indonesia harus memiliki awak kabin seimbang dengan jumlah dan deskripsi pesawat udara untuk menjamin keamanan pesawat dan penerbangan dan sesuai dengan sertifikat kelaikan udara atau sesuai dengan jumlah kapasitas tempat duduk penumpang. Undang-undang Penerbangan mengamanatkan untuk membentuk otoritas bandar udara untuk menjamin keselamatan dan keamanan maupun kepatuhan pada standar layanan bandar udara dalam suatu daerah. sertifikat kesehatan yang pada umumnya berlaku untuk 12 sampai dengan 24 bulan dan dapat diperpanjang pada saat penilaian kembali dan sertifikat tipe peringkat pesawat yang menunjukkan tipe pesawat yang dapat ditangani oleh pilot/awak tersebut. Selain itu diwajibkan juga untuk menjaga tingkat kebisingan dan emisi lainnya pada level yang ditentukan oleh Pemerintah. Perusahaan penerbangan di Indoensia dan operator bandar udara harus mematuhi peraturan terkait lingkungan dan kebisingan. operator pesawat udara wajib memenuhi persyaratan Annex 6 ICAO yang menentukan kewajiban negara dalam mengawasi operator pesawat udara. Operator bandar udara dapat membatasi waktu. yang menetapkan suatu sistem kontrol kualitas terhadap operasi perawatan dan performa teknik. dan teknisi perusahaan penerbangan Indonesia harus memiliki lisensi dari DJPU sesuai dengan CASR. Perusahaan penerbangan di Indonesia wajib untuk mematuhi peraturan lingkungan dan kebisingan di tiap negara dimana mereka beroperasi. Kualifikasi bandar udara dikeluarkan bersamaan dengan sertifikat bergantung pada kapasitas mereka pada saat memenuhi persyaratan personel. Untuk memperoleh ijin konstruksi ini. Awak Penerbangan Seluruh pilot dan awak penerbangan non-pilot. Bandar Udara Saat ini. Lisensi ini terdiri dari ijin.Perusahaan penerbangan di Indonesia harus menyusun dan mengimplementasikan sistem manajemen keamanan. Perusahaan penerbangan Indonesia harus mengoperasikan pesawatnya sesuai dengan prosedur operasi yang terkait. 200 . risiko keamanan dan asuransi. sebuah institusi independen yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden. navigator. Disamping itu. Terhadap kecelakaan pesawat di Indonesia dilakukan investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). fasilitas. termasuk lokasi dari bandar udara yang baru. Disamping itu. termasuk awak kabin.

maka perusahaan penerbangan harus (i) menyediakan makanan dan minuman ataupun akomodasi. jika dalam perjanjian kerjasama pengangkutan ditemukan hal-hal yang menjurus kepada pelanggaran atas UU Persaingan. Perusahaan penerbangan bertanggung jawab mengganti kerugian penumpang tersebut sebesar Rp100. Namun.Kewajiban dan Tanggung Jawab berdasarkan Undang-undang Penerbangan Undang-undang Penerbangan telah menetapkan batasan kewajiban perusahaan penerbangan terhadap hal-hal seperti kematian. perusahaan penerbangan di Indonesia bertanggung-jawab terhadapa hal-hal sebagai berikut: = Meninggal. penundaan maupun pembatalan penerbangan. Secara umum. dan (ii) pengalihan penumpang ke jadwal penerbangan lainnya jika penumpang memintanya. Kerusakan atau kehilangan kargo ataupun barang yang dimasukan ke dalam pesawat pada saat barang atau kargo d.. (b) pembatalan penerbangan. apabila penumpang memintanya. = = = = = = Jumlah kewajiban maksimum yang tercantum di atas kemungkinan akan direvisi sesuai dengan Peraturan yang sampai saat ini belum ada revisi yang telah diterbitkan. kecacatan maupun kecelakaan. Kerusakan atau kehilangan bagasi kabin. kehilangan dan kerusakan bagasi dan kargo yang dialami oleh penumpang. UU Persaingan tidak mengatur apapun mengenai perjanjian kerjasama pengangkutan.000. yang masih dalam kontrak perusahaan penerbangan tersebut. cacat tetap dan terlukanya penumpang pada saat pesawat memuat maupun menurunkan penumpang. kecelakaan pesawat udara atau akibat benda yang jatuh dari udara saat pesawat dioperasikan. Peraturan menetapkan jumlah maksimum yang harus ditanggung atas hal-hal tersebut di atas dan jumlah maksimum tersebut harus ditinjau kembali setiap tahunnya. maka perusahaan penerbangan harus menyediakan akomodasi maupun transfer ke jadwal penerbangan lainnya. apabila penumpang dapat membuktikan bahwa kerusakan maupun kehilangan tersebut disebabkan oleh tindakan perusahan penerbangan maupun awaknya. 5 Tahun 1999 (UU Persaingan).untuk korban cacat tetap selain asuransi kecelakaan yang diwajibkan. serta perjanjian yang mengakibatkan penetapan harga. Tidak terangkutnya penumpang karena kapasitas pesawat. termasuk monopoli. kecuali yang disebabkan oleh cuaca buruk maupun masalah teknis yang akan diatur dalam Peraturan yang hingga kini belum terbit. maupun kargo. penguasaan pasar. bagasi. trust dan perjanjian tertutup. Peraturan Persaingan Perusahaan penerbangan tunduk pada peraturan mengenai persaingan usaha tidak sehat dan monopoli bedasarkan Undang-undang No.untuk korban luka-luka.000. Berdasarkan Peraturan.000. dalam hal ini. maka perusahaan penerbangan dapat bertanggung jawab atas ganti kerugian diluar maksimum ganti kerugian yang ditentukan oleh Undang-undang Penerbangan. Jumlah ganti kerugian adalah maksimum Rp40.000. 201 . Perusahaan penerbangan bertanggung jawab mengganti kerugian atas hal ini sebesar kerugian yang nyata-nyata diderita oleh pihak ketiga.. UU Persaingan mengatur mengenai hal-hal yang dilarang. KPPU dapat melakukan penyelidikan.000. Penundaan terhadap penumpang. bergantung pada lamanya penundaan. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan pengawasan terhadap praktek persaingan usaha melalui penerimaan pengaduan masyarakat ataupun investigasi yang dilakukan oleh KPPU sendiri. kartel.. Berdasarkan Undang-undang Penerbangan. maka perusahaan penerbangan harus memberikan ganti rugi kepada penumpang dengan bebas beban akomodasi maupun beban transfer ke jadwal penerbangan.untuk setiap penumpang.000. Rp40. Kerugian dapat juga dialami oleh pihak ketiga akibat kegiatan perusahaan penerbangan.-/kilogram atau dalam jumlah lain yang disepakati oleh penumpang dan perusahaan penerbangan. Jika terlukanya penumpang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian perusahaan penerbangan atau petugasnya.000.000.000. Perusahaan penerbangan bertanggung jawab mengganti kerugian nyata penumpang tersebut maksimum Rp1.untuk korban meninggal dunia dan Rp50. penentuan harga dan konspirasi. dalam hal-hal: (a) keterlambatan penerbangan. pembagian wilayah.

Kontribusi penumpang akan dugunakan untuk proyek CER yang disponsori oleh IATA. sebuah perusahaan penerbangan dapat menggunakan nomor penerbangannya meskipun Perseroan itu tidak menggunakan pesawat dan rutenya sendiri. Program IATA hanya berinvestasi pada proyek-proyek Certified Emission Reductions (CER) yang disetujui PBB dan kredit sukarela yang memenuhi Standar Karbon Sukarela dan atau Gold yang diakui. namun untuk melakukan kerjasama pengangkutan seperti ini. Perseroan bermaksud untuk bekerjasama dengan IATA untuk menerapkan offset karbon dengan melakukan penjualan langsung kepada pelanggan melalui internet dan mengidentifikasi proyek-proyek CER yang akan mendapatkan manfaat dari prakarsa ini. Walaupun UU Persaingan tidak memerlukan persyaratan persetujuan. Program IATA Mengenai Penghapusan Karbon IATA mengelola program penghapusan karbon yang memungkinkan maskapai penerbangan untuk menawarkan para penumpangnya untuk mengimbangi emisi karbon mereka dengan memberikan kontribusi terhadap proyek-proyek pengurangan karbon di negara berkembang. Saat ini negara-negara ASEAN telah menandatangani perjanjian liberalisasi transportasi udara antara ibu kota negara-negara anggota. negara anggota Association of Southeast Asian Nations (“ASEAN”) mengesahkan deklarasi Bali Concord II yang bertujuan untuk membentuk komunitas ekonomi terintegrasi antara negara anggota selambatnya pada 2020. sebagai sarana untuk mendapatkan akses ke rute atau pasar tertentu. Program IATA menghitung emisi karbon berdasarkan metodologi yang dikembangkan oleh ICAO. 202 . Inisiatif Open Skies ASEAN Pada 2003. termasuk percepatan liberalisasi untuk 11 sektor prioritas. Perseroan adalah maskapai penerbangan Indonesia pertama yang menandatangani Nota Kesepahaman dengan IATA yang sepakat untuk memberikan kesempatan kepada penumpang untuk mengurangi karbon yang dihasilkan dari penerbangan. Perseroan memerlukan persetujuan dari DJPU atas rute yang dikerjasamakan. Dengan perjanjian kerjasama pengangkutan. Sistem ini memanfaatkan sistem keuangan IATA yang memungkinkan penumpang untuk membeli tiket dan melakukan offset pada saat yang sama. termasuk penerbangan dan turisme.Perusahaan penerbangan dapat melakukan perjanjian kerjasama pengangkutan dengan perusahaan penerbangan lain. Inisiatif tertentu telah dilakukan ke arah integrasi komunitas ekonomi tersebut. Diharapkan pula negara-negara anggota akan menandatangani perjanjian yang akan berlaku efektif pada 2015 untuk meliberalisasi transportasi udara antar seluruh daerah tujuan di ASEAN.

306 26.208 204.496.438.759 362.685.071 637.379.911.840 888.905 23.647 11.552.303.738 1.029 10.911 176.353 111.529 2.612 81.378.497.933 31.281 5.000 2.069.191.937 48.315 816.906 213.815 1.641.465 25.492 11.833 865.796.941 4.268 61.206 87.193 1.595.138 516. kesemuanya dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.993 113.056 1.767 67.049.344.448 173.568 3. 2007.838 63.755 929.805.567 6.006 4.905 198.setelah dikurangi akumulasi penyusutan Investasi jangka panjang Investasi jangka panjang lainnya Properti investasi Beban tangguhan Aset lain-lain Jumlah Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET KEWAJIBAN DAN EKUITAS Kewajiban Lancar Hutang bank Hutang usaha Pihak hubungan istimewa Pihak ketiga Hutang lain-lain Hutang pajak Biaya masih harus dibayar Pendapatan diterima dimuka 30 September 2010 2009*) 2009 2008 31 Desember 2007 2006**) 2005**) 1.290 51.972 46.218.146 205.997 20.028.310 1. IKHTISAR DATA KEUANGAN PENTING Tabel berikut di bawah ini menggambarkan ikhtisar data keuangan penting konsolidasi Perseroan berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasi Perseroan dan Anak Perusahaan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian serta laporan keuangan konsolidasi yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang telah direview oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio dan Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) serta tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.410 203 .585 28.604 500.000 16.175.594.136 53.528 68.761.172 548.584 313.766 1.493.445 2.882 170.944 4.194.442 817.735.532 9.528.000 4.600 14.979 907.525 1.103 11.307 936.841 57.554 950.914 1.267.894 14.956 63.423 1.000.982 1.838 1.674 10.901 174.308 1.866 218.033 1.800 1.038.859 79.816 4.601.854 6.622 6.006 803.589.710 41.790 198.183 261.935 833.000 16.692 1.184 281.831 780.391 66.901.425.816 330.918 598.126.541 1.745 1.222.307.455 646.624 35.039 166.833 83.424.465 393.230 1.212. Neraca Konsolidasi (dalam juta Rupiah) Uraian ASET Aset Lancar Kas dan setara kas Investasi jangka pendek Piutang usaha Pihak hubungan istimewa Pihak ketiga-setelah dikurangi Penyisihan Piutang ragu-ragu Penyertaan modal pemerintah yang akan diterima Piutang lain-lain Aset derivatif Persediaan Uang muka dan biaya dibayar dimuka Pajak dibayar dimuka Jumlah Aset Lancar Aset Tidak Lancar Dana perawatan pesawat dan uang jaminan Uang muka pembelian pesawat Aset pajak tangguhan Investasi saham Aset tetap .803.221 5.074 135.595 178.609 60.065.966 1.527.810 15.266 5.266.399.776 10.983.045 36.848.422 41.813 9.960 1.597 232.000 18.983 11.419 608.147.644 249.649 212.795 890.440 781.167 1.246 6.969.789 14.450.424 104.917 80.471 163.492 207.304 564.118 643.607 1.340 222.798 19.754 1.939 4.802.387 15.645 14.725 224. 2006 dan 2005 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto Amir Jusuf dan Mawar (RSM).990 565.353 50.039 3.037 1.798 618.5 11.676.502 4.694.995 75.622 20.825.179 89.113.BAB X.290 224.046.069 11.773.082 504.417 10.833 61.626.736 726.000 1.305 48.769 6.621 6.635 1.903 14.738 17.199.493 1.838 1.624 615.647 1.515.511.722.266 6.791.374.429 1.542 448.157 14.020 120.132 3.021 141.334 1.340 717.779 64.358 9.683 1.721 11.742 396.931 2.677.404 2.624 11.952.632 812.017.260 3.329 4.438 4.540.607 322.112.

526 395.042.332 786.209.461.809 391.435.780 5.675 (9.724 (7.874 3.600 711.929 (7.614 12.768.997 (656) 8.447.763 16.243 1.303.669 12.430 2006**) 9.683 8.999 (1.802.120.170 5.497.933 6.672.180 7.402 3.762.349 (913) 446.399.714.552 6.245.570 902.489.266.771 14.setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Pinjaman jangka panjang Hutang sewa pembiayaan Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Obligasi konversi Kewajiban pajak tangguhan Kewajiban imbalan pasca kerja Kewajiban tidak lancar lain Jumlah Kewajiban Tidak Lancar JUMLAH KEWAJIBAN HAK MINORITAS EKUITAS Modal saham .402 1.500 1.214.588.962.753 1.035 6.086) (1.074 10.752) 1.323 5.675 2007 11.Nilai nominal Rp1.290.690.344.628.484.669.402 1.093.325 2009 13.983.258.729 35.678 31 Desember 2008 2007 92.436.349.250 12.773 8.805 450.533 8.872 1.133.120.894 5.354 1.852.856.404 157.625.849.244.564 8.329.018.656 (8.807 794.968 12.085.629 8.344 1.422 1.768 255.883 3.793.570.437 1.874 71.402 3.677 2009 48.182.719) 11.344.817 4.498 8.096 2005**) 9.233.402 1.031 1.946 1.869 2.248 1.230.588.552 25.269 6.582 6.841 9.367 6.120.551.710 17.821) (10.114 332.415 2.887.637 487.308.280.137 1.631 1.466.887.192 97.997 664 3.729 1.946.584) 9.574.235 242.629 401.436.669 (10.442.900 102.436 475.421 4.236 30.876 PENDAPATAN USAHA Penerbangan berjadwal Penerbangan tidak berjadwal Lainnya JUMLAH PENDAPATAN USAHA 204 .809 37.997 500.338 202.863 13.292.280 213.018.722 11.152.969 78.592 163.214 3.331 261.071 14.724 (9.272 2.744) 9.478 358.049.921 305.382 332.015.802.747.851 49.400 6.378.998 12.900.571.943 1.914 6.387.480 7.(dalam juta Rupiah) Uraian Uang muka diterima Hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun Pinjaman jangka panjang Hutang sewa pembiayaan Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Jumlah Kewajiban Lancar Kewajiban Tidak Lancar Hutang jangka panjang .129.535 15.154 1.860.831 4.439.826.000 (364) 6.257.374 2008 15.258 11.122 1.423 4.429 9.731 1.290 6.285.778 1.492 Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) **) Setelah penyesuaian dampak kumulatif penyajian kembali laporan keuangan konsolidasian tahun 2008 dan 2007 Laporan Laba Rugi Konsolidasi (dalam juta Rupiah) Untuk tahun yang berakhir 31 Desember Uraian Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009*) 11.616 379.952.522 1.119 1.329.830 12.157.826.584.204 38.470 3.395.680 2005**) 35.863.629 1.955) (2.152.402 1.799 10.498 8.402 3.366.267.008.699.446 33.146.566 2006**) 26.216.036.478 4.152.924) 9.809 229.629 8.065.000.581.673 1.012 1.070 11.504 1.449 6.796 1.531 71.429 37.424) 3.551 76.045 1.564 8.605.000 per saham Modal dasar Modal ditempatkan dan disetor Tambahan modal disetor Selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan Dana setoran modal Surplus revaluasi Kerugian belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Defisit JUMLAH EKUITAS (DEFISIENSI MODAL) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 30 September 2010 2009*) 118.515.953 35.037) 1.696 13.622 106.222.448.835 4.070.618 1.535.783) 7.292) 3.092 1.849 687.347.491.018.737 850.366.786 19.685.389 282.740 1.692 (3.114 2.126 14.050 14.795 (7.322 255.

956 (4.334) 78.107.690 1.884 58.033 1.049 164.498 1.089.455 50.099 (36.391) 152.242 104. penjualan dan promosi Penyusutan dan amortisasi Pelayanan penumpang Bandara Administrasi dan umum Pemeliharaan dan perbaikan Beban imbalan kerja Operasional transportasi Operasional jaringan Operasional hotel Beban usaha lainnya JUMLAH BEBAN USAHA LABA (RUGI) USAHA PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN Keuntungan sale and lease back Keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing – bersih Biaya pesangon pegawai Penghasilan bunga Beban bunga dan keuangan Keuntungan penjualan aset Beban penyisihan piutang lain-lain Bagian laba bersih investasi jangka panjang Pemulihan (penurunan) nilai aset Laba penjualan investasi Pemulihan (beban) keusangan persediaan Lain-lain – bersih BEBAN LAIN-LAIN – BERSIH BAGIAN LABA BERSIH PERUSAHAAN ASOSIASI LABA (RUGI) SEBELUM BEBAN PAJAK MANFAAT (BEBAN) PAJAK Pajak kini Pajak tangguhan Jumlah manfaat (beban) pajak LABA(RUGI) DARI AKTIVITAS NORMAL POS LUAR BIASA LABA (RUGI) SEBELUM HAK MINORITAS HAK MINORITAS LABA (RUGI) BERSIH 6.090 (262.368 11.678 135.314 (119.562.466) (115.735 876.873 876.107 (66.897) 4.400 1.172 6.627 949.701 58.179.250.942.789 511.721 12.420.353.286.658) Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) **) Setelah penyesuaian dampak kumulatif penyajian kembali laporan keuangan konsolidasian tahun 2008 dan 2007 205 .581) 159.126 - 512.867 573.566 934.642 (7.380 71.207 6.340 (333.098) 3.077) 45.193 - 195.456 (211.174 11.372) 570.366 984.800 891.033 313.217) (55.076 26.609.144) 975.089 1.975 6.126 (11.875 1.340) 1.105.074 723.719 1.630 12.236.993 1.085 918.996.899 5.942.764 890.541 913.396 (784) 710.894 400.427) 3.319.806 1.921 900.002.884) (53.502 (413.840.239 23.369 75.396 - (239.716 1.766) (156.411 (37.549 (682) 194.120 250.797) (82.Uraian Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009*) (dalam juta Rupiah) Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 2008 2007 2006**) 2005**) BEBAN USAHA Operasional penerbangan Tiket.068 2.267 51.160.566 (438.026 5.508 (441.486) 984.756) 98 (521.269 39.223 38.688 32.065 462.434) 70.527 - 65.337 1.981) 164.022.468 42.202.289 9.516 628.063) 12.254 12.258 732.122) 33.789) 65.486) 128.149 13.616 984.884) (35.454 123.990 61.041 434.378.815 623.847 1.349 (233.098) 93.807 68.735 711.145 1.591 1.445.096.308.337) 107.569) (156.229 1.653 1.585 38.637 1.884) 60.353 49.612 (521.852 (203.018.619) 128.693) 34.054.797 986.947.206.141 880.504.421 223.468 1.142.078.355 899.075.693 1.620 95.793 6.169 70.233) 185.155 1.692) (21.193 (9.710 113.864 68.246.510 8.266) 184.036 17.848 260.991 110.928) 9.912 1.934 273.265 1.078.802 83.310.097 130.252.894 (521.167 1.142 66.045.976 367.051.329 1.283 1.183 711.893 199.213 (45.293 (33.608 49.485) (35.225.136 44.039 1.722 9.390 (422.436 1.679 (78.086 1.184) (148.610 17.295.967 593649 (56.618 85.756) 79.968) - (233.107.710 343.007 912.037 (377.527 (3.550 (203.028.481 184.098) 80.194 1.738 911.636.971 (289.028.784 1.058.225.636 (44.565 196.534 16.656 573.974.938 27.018 1.871 (17.466) 245.756) - 350.914 1.

1% 6.46x 12. GMF AeroAsia telah memenuhi seluruh rasio keuangan yang dipersyaratkan dalam perjanjian pinjaman dari PT Bank Negara Indonesia antara lain: (a) rasio lancar minimal 1 kali.5% -9.80x 3. Jumlah Kewajiban dan Jumlah Ekuitas untuk periode 9 bulan yang berakhir per 30 September 2009 dibandingkan dengan periode 9 bulan yang berakhir per 30 September 2008 tidak dapat disajikan karena Laporan keuangan untuk periode 9 bulan yang berakhir per 30 September 2008 tidak disajikan.7% -11.58x 7.4% 5.65x 10. Beban Usaha.0% 71.91x 0.2% -31. Anak Perusahaan.7% 28.6% 31.0% 5. Pada tanggal 30 September 2010.8% 35.2% 3.52x 0.3% 1.63x Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) **) Rasio-rasio pertumbuhan Pendapatan Usaha.87x 0.6% -2.5% 32.7% 6. Laba (Rugi) Bersih. (b) rasio hutang dengan modal maksimal 2. (b) rasio hutang dengan modal maksimal 2.5 kali.0% 99. Beban Usaha.7% -4. Laba (Rugi) Bersih.2% 1.69x -3. ***) Rasio-rasio pertumbuhan Pendapatan Usaha.5 kali.25x 0. Laporan keuangan tahun 2004 tidak disajikan karena memerlukan penyajian kembali sehubungan dengan perubahan penerapan prinsip akuntansi.1% -8.2% 1.1% 15.40x 1.2% 6. Laba (Rugi) Usaha.3% 2% 5.Rasio – Rasio Keuangan Uraian 30 September 2010 2009*) 31 Desember 2007 2009 2008 2006 2005 RASIO PERTUMBUHAN Pendapatan Usaha Beban Usaha Laba (Rugi) Usaha Laba (Rugi) Bersih Jumlah Aset Jumlah Kewajiban Jumlah Ekuitas RASIO USAHA Laba (Rugi) Usaha / Pendapatan Usaha Laba (Rugi) Bersih / Pendapatan Usaha Laba (Rugi) Usaha / Jumlah Ekuitas Laba (Rugi) Bersih / Jumlah Ekuitas Laba (Rugi) Bersih / Jumlah Aset RASIO KEUANGAN Aset Lancar / Kewajiban Lancar Jumlah Kewajiban / Jumlah Ekuitas Jumlah Kewajiban / Jumlah Aset 7% 16% -146% -66% -1% -12% 78% N/A**) N/A**) N/A**) N/A**) N/A**) N/A**) N/A**) -8% -6% -32% 4% -3% -17% 135% 38% 35% 85% 539% 28% 5% -208% 12% 8% 192% -178% 20% 8% -44% 0% -4% -219% -236% 5% -6% -35% N/A***) N/A***) N/A***) N/A***) N/A***) N/A***) N/A***) -2.76x 13.4% 6. Anak Perusahaan Aerowisata.3% 4.67x -54.78x 0.1% 1.16x 0.79x -10.9% 5. Pada tanggal 30 September 2010.10x 0.9% 0. (c) rasio kemampuan membayar hutang minimal 100 kali.4% 5. ACS telah memenuhi seluruh rasio keuangan yang dipersyaratkan dalam perjanjian pinjaman dari PT Bank Negara Indonesia antara lain: (a) rasio lancar minimal 1 kali. Jumlah Aset.4% 1.1% -57.9% 7. Jumlah Aset.8% -12. (c) rasio perbandingan laba operasi bersih terhadap jumlah pinjaman minimal 100%.60x 0. Laba (Rugi) Usaha.78x 0.66x 3. Jumlah Kewajiban dan Jumlah Ekuitas untuk tahun yang berakhir per 31 Desember 2005 dibandingkan dengan tahun yang berakhir per Desember 2004 tidak dapat disajikan karena Laporan keuangan untuk tahun 2004 yang berakhir per Desember 2004 tidak disajikan.1% 5.14x 0. 206 .

744) 2005 6.244.000 1.996 (655) 4.266.100.515.498 8. Posisi ekuitas menurut laporan keuangan konsolidasi per tanggal 30 September 2010 setelah penawaran umum 9.841 9.424) 6.146.729 35.724 (7.436.245.771 - - - - - - - 2.997 664 3. 207 .783) 4. maka struktur Ekuitas Perseroan secara proforma adalah sebagai berikut: Tabel Proforma Ekuitas Pada Tanggal 30 September 2010 (dalam juta Rupiah) Uraian Modal Ditempatkan danTambahan Modal Disetor Penuh Tambahan Modal Disetor Surplus Revaluasi Cadangan Lindung Nilai Selisih Kurs Karena Penjabaran Laporan Keuangan Defisit Jumlah Ekuitas Posisi ekuitas menurut laporan keuangan konsolidasi audit pada tanggal 30 September 2010 Perubahan ekuitas setelah tanggal 30 September 2010 jika diasumsikan telah terjadi pada tanggal tersebut : = Perubahan nilai nominal saham dari sebesar Rp1.BAB XI.120.498 8.821) (2.= Penawaran umum sebesar 6.446.037) 1.729 35.000.000.656 (8.826.120.402 3. yang terdiri dari 4.588.300.498 8.152.402 1.461.669 (10. EKUITAS Tabel berikut di bawah ini menggambarkan posisi ekuitas Perseroan berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasi Perseroan dan Anak Perusahaan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio dan Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) serta tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.000 Saham Biasa Atas Nama Seri B milik Bank Mandiri. 2007.439.424) 3.200.214.729 35.290.629 8.996 (364) 4.402 1. (dalam juta Rupiah) Uraian Modal ditempatkan dan disetor penuh Tambahan modal disetor Dana setoran modal Surplus revaluasi Cadangan lindung nilai Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Defisit Jumlah Ekuitas (devisiensi modal) 30 September 2010 9.000 saham. 2006 dan 2005 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto Amir Jusuf dan Mawar.724 (7.770 Catatan: *) Jumlah belum dikurangkan dengan biaya-biaya sehubungan dengan Penawaran Umum Tidak ada penambahan modal setelah tanggal Laporan Auditor Independen.152.955) (3.478 (9.924) Apabila seluruh Saham Yang Ditawarkan dalam rangka Penawaran Umum Perdana Saham ini telah dilaksanakan seluruhnya menjadi saham Perseroan pada tanggal 30 September 2010.366.000* - - - - 3.498 1.564 8.335.071 2008 8. kesemuanya dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.535 2007 7.738.000 Saham Baru dan 1.086) (1.771 31 Desember 2009 9.000.320.841 9.533 8.216.108.402 1.424) 3.719) 2006 6.935.000 11.146.216.724 (7.402 1.400.629 8.000 3.564 8.402 1.menjadi Rp500.672.675 (9.841 9.929 (7.292) 3.244.000.826.447.244.216.000 3.120.402 1.723 (10.402 500.738.

Dalam hal Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat 1 tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. sertifikat tersebut tetap berlaku. Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah yang menerima dividen. 2. dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia tidak termasuk sebagai Objek Pajak Penghasilan sepanjang seluruh syarat-syarat di bawah ini terpenuhi: 1. Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud oleh pasal 23 pada ayat (1). dapat memperoleh fasilitas tarif yang lebih rendah dengan ketentuan harus menyerahkan Sertifikat Domisili asli yang diterbitkan Kantor Pajak negara asal. maka penghasilan berupa dividen atau bagian laba tersebut tetap merupakan objek pajak. Dividen berasal dari cadangan laba ditahan. dan Bagi perseroan terbatas. Koperasi. Selanjutnya. tarif yang dikenakan atas penghasilan berupa dividen yang dibagikan kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) dan bersifat final. atau perwakilan Perseroan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak Dalam Negeri atau Bentuk Usaha Tetap. yayasan dan organisasi sejenis dan sebagainya. Bentuk Usaha Tetap.BAB XII. SE-03/PJ. Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. firma. kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen minimal 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor dan harus mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut. Sertifikat ini berlaku untuk masa 1 (satu) tahun dan selanjutnya harus diperpanjang. 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang No. dipotong pajak sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan. disediakan untuk dibayarkan. perseroan komanditer. baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. dengan memenuhi Surat Edaran Dirjen Pajak No.04/1994 tanggal 29 Desember 1994 tentang Bidang-bidang Penanaman Modal Tertentu Yang Memberikan Penghasilan Kepada Dana Pensiun Yang Tidak Termasuk Sebagai Objek Pajak dari Penghasilan. seperti orang pribadi baik dalam negeri maupun luar negeri. Dividen yang dibayar atau terhutang kepada Wajib Pajak Luar Negeri akan dikenakan tarif sebesar 20% (dua puluh persen) dari kas yang dibayarkan (dalam hal dividen tunai) atau 20% (dua puluh persen) dari nilai pari (dalam hal dividen saham). yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan. selanjutnya disebut sebagai “UU PPh” pasal 4 ayat (1) menyebutkan bahwa yang menjadi Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak. PERPAJAKAN Perpajakan Untuk Pemegang Saham Pajak Penghasilan atas dividen saham yang dikenakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. Pasal 23 ayat (1) huruf a UU PPh menyebutkan bahwa atas dividen yang dibayarkan. Subjek Pajak badan dalam negeri.101/1996 tanggal 29 Maret 1996 tentang Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). selama bank tersebut tidak mengubah alamat seperti yang tercantum pada sertifikat tersebut. maka penghasilan yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia tidak termasuk sebagai Objek Pajak Penghasilan apabila penghasilan tersebut diterima atau diperoleh dari penanaman modal antara lain dividen dari saham pada Perseroan Terbatas yang tercatat di Bursa Efek di Indonesia. Namun untuk bank. Lebih lanjut dalam penjelasan pasal 4 ayat (3) huruf f di atas juga ditegaskan bahwa dalam hal penerima dividen atau bagian laba adalah Wajib Pajak selain badan-badan tersebut di atas. Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah. atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah. Sedangkan berdasarkan Pasal 17 ayat 2c. dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk antara lain dividen. penyelenggara kegiatan. pasal 4 ayat (3) huruf f menyebutkan bahwa dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh Perseroan Terbatas sebagai Wajib Pajak Dalam Negeri. antara lain tidak dilakukan atas dividen yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f dan dividen yang diterima oleh orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2c). 651/KMK. Kepada mereka yang merupakan penduduk dari suatu negara yang telah menandatangani suatu Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dengan Indonesia. 36 Tahun 2008 (berlaku efektif 1 Januari 2009). besarnya tarif pemotongan adalah lebih tinggi 100% (seratus persen) dari pada tarif pajak yang seharusnya dikenakan. 208 .

PEMILIKAN MAUPUN PENJUALAN SAHAM YANG DIBELI MELALUI PENAWARAN UMUM INI. ditetapkan sebagai berikut: 1.5% (nol koma lima persen) dari nilai seluruh saham pendiri yang dimilikinya pada saat Penawaran Umum. Peraturan Pemerintah atas penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek di atas juga berlaku untuk Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menkeu Republik Indonesia. 41 Tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek. CALON PEMBELI SAHAM DALAM PENAWARAN UMUM INI DIHARAPKAN UNTUK BERKONSULTASI DENGAN KONSULTAN PAJAK MASING-MASING MENGENAI AKIBAT PERPAJAKAN YANG TIMBUL DARI PEMBELIAN. Namun apabila pemilik saham pendiri tidak memilih metode pembayaran berdasarkan 0. Pemenuhan Kewajiban Perpajakan Perseroan Sebagai Wajib Pajak secara umum Perseroan memiliki kewajiban perpajakan untuk Pajak Penghasilan (PPh).1% (nol koma satu persen) dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan dan bersifat final. Pemilik saham pendiri dikenakan tambahan Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 0.Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Sampai dengan tanggal Prospektus ini diterbitkan. Penyetoran tambahan Pajak Penghasilan yang terhutang dapat dilakukan oleh Perseroan atas nama masingmasing pemilik saham pendiri dalam jangka waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah saham tersebut diperdagangkan di Bursa Efek. dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). 209 . Pajak Pertambahan Nilai (PPN). 14 Tahun 1997 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. maka penghitungan Pajak Penghasilannya dilakukan berdasarkan tarif Pajak Penghasilan yang berlaku umum sesuai pasal 17 Undang-undang No 17 tahun 2000.5% Pajak Penghasilan yang bersifat final. 3. Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dan Wajib Pajak Badan dari transaksi penjualan saham di Bursa Efek dikenakan Pajak Penghasilan sebesar 0. 2. Perseroan tidak memiliki tunggakan pajak. Perseroan telah memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan perundang-undangan dan peraturan perpajakan yang berlaku. Penyetoran Pajak Penghasilan yang terhutang dilakukan dengan cara pemotongan oleh penyelenggara Bursa Efek melalui perantara pedagang efek pada saat pelunasan transaksi penjualan saham.

Laba bersih yang tersedia untuk pembayaran dividen dapat berkurang dengan adanya kewajiban Perseroan untuk mengalokasikan cadangan. kondisi keuangan Perseroan serta kewajiban Perseroan terhadap para kreditur termasuk kreditur ECA. Pembagian dividen harus disetujui oleh Pemegang Saham melalui keputusan RUPS Tahunan berdasarkan rekomendasi Direksi Perseroan. Dividen hanya boleh dibagikan apabila Perseroan mempunyai saldo laba positif. Manajemen Perseroan berencana untuk membagikan dividen setidaknya sekali setahun kecuali diputuskan lain dalam RUPS. Manajemen Perseroan merencanakan kebijakan pembagian dividen tunai maksimum 50% (lima puluh persen) dari laba bersih Perseroan untuk setiap tahunnya dengan ketentuan (i) terdapat kelebihan kas (excess cash) Perseroan di tahun yang bersangkutan sebagaimana disyaratkan dalam Restrukturisasi Hutang tanggal 21 Desember 2010 (ii) tidak ada saldo yang jatuh tempo dan belum dibayar atas perjanjian sewa dan tidak ada saldo lainnya yang jatuh tempo dan belum dibayar atas peminjaman hutang lainnya dan (iii) tidak ada kejadian sehubungan dengan pailit dan ketidakmampuan membayar kewajiban yang ada. Peraturan perundang-undangan di Indonesia mensyaratkan cadangan sampai dengan sedikitnya 20% dari modal ditempatkan dan disetor Perseroan. Dengan tetap memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku.BAB XIII. KEBIJAKAN DIVIDEN Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan Anggaran Dasar Perseroan. laba bersih Perseroan dapat dibagikan kepada Pemegang Saham sebagai dividen setelah penyisihan dana cadangan wajib yang dipersyaratkan undang-undang. Dengan memperhatikan hal-hal di atas. dengan persetujuan para pemegang saham dalam RUPS. 210 . Direksi Perseroan akan membayarkan dividen secara tunai dalam bentuk dividen kas. Berdasarkan hal tersebut diatas.

3.000 9.508.500 1.195% 1.000 13. 7. 19.726.000 13.500 28.335.919.000 11.125.121.625.649.306.245% 0.952. Notaris di Jakarta.A.919.887% 0.152.619.614.306.960.500 1.306.300. 17.625.000 10.281. PENJAMINAN EMISI EFEK Keterangan Tentang Penjaminan Emisi Efek Berdasarkan persyaratan serta ketentuan yang tercantum dalam Akta Perjanjian Penjaminan Emisi Efek No.437.000 95. 6.201.000 45.294.975.736. 9.000 5. 2.788% 0.500.000 12.492. Perjanjian Emisi Efek ini menghapuskan perikatan sejenis baik tertulis maupun tidak tertulis yang telah ada sebelumnya dan yang akan ada dikemudian hari antara Perseroan dengan Penjamin Emisi Efek.151. Penjamin Emisi Efek Lembar Saham Penjamin Pelaksana Emisi Efek 1. 20.000.742.000 40. 28 tanggal 26 Januari 2011.250.750. pada tanggal penutupan masa penawaran.209% 0.000 18.299% 0.543% 0.210% 0.425.500 5. keduanya dibuat di hadapan Fathiah Helmi S. Selanjutnya para Penjamin Emisi Efek yang ikut dalam Penjaminan Emisi Saham Yang Ditawarkan telah sepakat untuk melaksanakan tugasnya masing-masing sesuai dengan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal No. 18. PT Majapahit Securities Tbk.500 45.151.000 42.251.000 9.935.235% 0.688.453% 0.500 34. 16. PT BNI Securities (Terafiliasi) PT CIMB Securities Indonesia PT OSK Nusadana Securities Indonesia PT Valbury Asia Securities PT Reliance Securities Tbk. Adapun susunan dan jumlah porsi penjaminan serta persentase dari anggota sindikasi penjaminan emisi dalam Penawaran Umum atas Saham Yang Ditawarkan adalah sebagai berikut: No. 4.825.516. selanjutnya pada tanggal pembayaran membayar hasil penjualan saham pada pasar perdana kepada Perseroan dan Pemegang Saham Penjual.000 14.H.258.625.455.841.162.901. 8.401.000 30.500 56.000 11.226. Peraturan No.000 25.000 3.943. 3.210..750.000.301.000 14.500.613.742.000 34.750.724% 0.000 1.000 11. Penjamin Pelaksana Emisi Efek dan Para Penjamin Emisi Efek yang namanya tercantum di bawah ini menyatakan dengan kesanggupan penuh (full commitment).247% 0.000.250.425.000.KEP-45/PM/2000 tanggal 27 Oktober 2000.000 15.125.157.100. 14. 2.613. 10. 15.505% 0.909.497% 27. 11.500 40.000 1. 13.7 tentang Tanggung Jawab Manajer Penjatahan dalam Rangka Pemesanan dan Penjatahan Efek dalam Penawaran Umum.439.000 30.000 15.000 27.000 37.819.725% 0.917.497% 82.492% Porsi Penjaminan Nilai (Rp) Persentase (%) 211 . untuk membeli sendiri sisa Saham Yang Ditawarkan yang tidak habis terjual sesuai dengan bagian penjaminan masing-masing.344.638% 0.500 255. 7 tanggal 3 Desember 2010 dan Akta Perubahan I Perjanjian Penjaminan Emisi Efek No.742. PT Bahana Securities (Terafiliasi) PT Danareksa Sekuritas (Terafiliasi) PT Mandiri Sekuritas (Terafiliasi) Sub Total Penjamin Emisi Efek 1. IX.375.000 34.384% 1.000 13.000 9.625.210% 0.500 1.000 13.375.875.220% 0.181.BAB XIV.750.464.875.750.000 34.000 21.497% 27. PT Bhakti Securities PT Sinarmas Sekuritas PT Ciptadana Securities PT Bumiputera Capital Indonesia PT Panin Sekuritas Tbk PT Panca Global Securities Tbk PT Recapital Securities PT Phillip Securities Indonesia PT Amcapital Indonesia PT UOB Kay Hian Securities PT Mega Capital Indonesia PT Lautandhana Securindo PT Nikko Securities PT Equity Securities Indonesia 341. 12. 5.000 45.375.500 49.634% 0.722% 0.000 9.000 71.

000 968.000 2.500.500.000 782.253.721.004.500 11.973.151.608.105% 0.000.000 2.125. 30.500 3. 23.803.625. 28. 37.107% 0.500.945.018% 0.000 2.000 861.750.099% 0.180% 0.000 1. 52. direktur atau komisaris dari pihak tersebut.644.000. 26. 40.000 3.000 860.000 Porsi Penjaminan Nilai (Rp) 8.000 7.335.968.000 4.000 4.000 4. 45.500.147.000 143.015.000 5.750.750.839. 35.168% 0. 50. Penjamin Emisi Efek Lembar Saham 21.958.000 1.000 Persentase (%) 0. 44.000 5.000 5.508% 100% Berdasarkan Undang-undang No. baik langsung maupun tidak langsung.020% 0.936.000 2.077.000 831.000 2.000 5.000 498.No.291.282.500.569.500 11.000 4.000 7. 212 .000 4. 32.000 4.295. 49.250.109.750.746.181% 0.000 7. 33.014% 0.041% 0.010% 0. 53. Hubungan antara para pihak dengan pegawai. 47.500 10. 25.722.401.684.500 1. Hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan.980.375. 36. 31.041% 0.064. 29.250.298.000 687.000 937.000 5.014% 0.489.000 1. 27. yang dimaksudkan dengan pihak yang mempunyai hubungan afiliasi adalah sebagai berikut : Hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai derajat kedua.000.751.582.250.000 3.024% 0.379.000 2.056% 0.000 3. 43.000. oleh pihak yang sama.869.500.986.092% 0.083% 0.875. mengendalikan atau dikendalikan oleh perusahaan tersebut.000 645.033% 0.000 2.175% 0.286.648.000 9.043.250.063% 0. 51.500.070% 0.250. 46. PT Danatama Makmur PT Kresna Graha Sekurindo Tbk PT Masindo Artha Securities PT Danpac Sekuritas PT Erdikha Elit Sekuritas PT Minna Padi Investama Tbk PT Danasakti Securities PT Dhanawibawa Arthacemerlang PT Semesta Indovest PT Asjaya Indosurya Securities PT E-Capital Securities PT Investindo Nusantara Sekuritas PT Evergreen Capital PT Sucorinvest Central Gani PT JJ NAB Capital PT Andalan Artha Advisiondo Sekuritas PT Henan Putihrai PT Victoria Sekuritas PT Transasia Securities PT Overseas Securities PT Pacific Capital PT Citi Pacific Securities PT Bapindo Bumi Sekuritas PT Nusantara Capital Securities PT Makindo Securities PT Samuel Sekuritas Indonesia PT Wanteg Securindo PT Indo Mitra Securities PT Madani Securities PT Yulie Sekurindo Tbk PT Universal Broker Indonesia PT Kim Eng Securities PT HD Capital Tbk Sub Total Total 11. Hubungan antara perusahaan dengan pihak.297.550.770.000 6. 41.000 1. 8 Tahun 1995.261.080.000 665.000 107. 38.750.000 916. atau Hubungan antara perusahaan dan pemegang saham utama.983.111% 0. 22.117% 0.761.000 8.250.016% 0.809.250.000 1. 48.002% 17. 24.715.750.062% 0. baik langsung maupun tidak langsung.000 1.000 1.000 6.250. 34.000 2. tanggal 10 Nopember 1995 Tentang Pasar Modal dan Peraturan Pelaksanaannya.000 4. 39.250.875.750.020% 0.000 5.375.560.000 5.036% 0.738.750.875.000 1.335.000 1.956.913.000 7.122% 0.116.078% 0. Hubungan antara 2 (dua) perusahaan dimana terdapat satu atau lebih anggota direksi atau dewan komisaris yang sama.000 2.447.500 6. 42. baik secara horisontal maupun vertikal.045% 0.000 1.000 3.500 6.000.605.426.538.000 8.961.653.090% 0.000 6.142% 0.474.000 3.

100.82% dari modal ditempatkan dan disetor dalam Perseroan dimiliki oleh Negara Republik Indonesia. sedangkan PT Danareksa (Persero) memiliki 99. PT Danareksa Sekuritas. Status dan perkembangan terakhir dari Perseroan.006. Data dan informasi mengenai Perseroan. Penjamin Emisi Efek lainnya dengan tegas menyatakan tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Perseroan baik secara langsung maupun tidak langsung. bahwa setelah Penawaran Umum ini. PT Mandiri Sekuritas. Negara Republik Indonesia memiliki sebanyak 1 (satu) lembar saham Seri A Dwiwarna.399 (dua ratus tujuh belas juta enam ribu tiga ratus sembilan puluh sembilan) Saham Seri B atau 1.Perseroan adalah Badan Hukum Indonesia yang 85. operasi dan kinerja Perseroan.99% modal ditempatkan dan disetor penuh dalam PT Bahana Securities.500 (dua puluh dua ribu lima ratus) saham atau 100% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) sedangkan PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) memiliki 99. berada pada kisaran harga Rp750-Rp1.21% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.475 (sepuluh miliar sembilan ratus tujuh puluh dua juta seratus delapan puluh tujuh ribu empat ratus tujuh puluh lima) Saham Seri C atau 58. Penentuan harga ini juga telah mempertimbangkan faktorfaktor berikut: • • • • • • Kondisi pasar pada saat bookbuilding dilakukan. dan PT BNI Securities.99% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT Danareksa Sekuritas. prospek usaha dan keterangan mengenai industri penerbangan di Indonesia. Selain PT Bahana Securities. Kinerja keuangan Perseroan. Perseroan dan Penjamin Pelaksana Emisi Efek dengan mempertimbangkan hasil penawaran awal (bookbuilding) yang dilakukan pada tanggal 12-24 Januari 2011. 213 .000. Dengan demikian antara Perseroan dengan PT BNI Securities selaku Penjamin Emisi Efek adalah terafiliasi melalui kepemilikan saham oleh Negara Republik Indonesia.16% dan 10.000 (tiga puluh satu miliar) Saham Seri B atau 69. sejarah singkat. Tidak dapat dijamin atau dipastikan.187. Penilaian terhadap manajemen Perseroan.84% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Penentuan Harga Penawaran Pada Pasar Perdana Harga Penawaran untuk saham ini ditentukan berdasarkan hasil kesepakatan dan negosiasi Pemegang Saham Penjual. harga saham Perseroan akan terus berada di atas Harga Penawaran atau perdagangan saham Perseroan akan terus berkembang secara aktif di Bursa Efek dimana saham tersebut dicatatkan. Dengan mempertimbangkan hasil penawaran awal tersebut di atas maka berdasarkan kesepakatan antara Penjamin Pelaksana Emisi Efek dengan Perseroan ditetapkan harga penawaran sebesar Rp750 (tujuh ratus lima puluh Rupiah). Negara Republik Indonesia memiliki 22. Berdasarkan hasil penawaran awal (bookbuilding) jumlah permintaan terbanyak yang diterima oleh Penjamin Pelaksana Emisi Efek. dan Mempertimbangkan kinerja saham di pasar sekunder. sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memiliki 99. Dengan demikian antara Perseroan dengan PT Bahana Securities selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek adalah terafiliasi melalui kepemilikan saham oleh Negara Republik Indonesia.85% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT BNI Securities.972. Negara Republik Indonesia memiliki 100% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT Danareksa (Persero). 217.000. Dengan demikian antara Perseroan dengan PT Danareksa Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek adalah terafiliasi melalui kepemilikan saham oleh Negara Republik Indonesia. kinerja Perseroan.69% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT Mandiri Sekuritas. sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memiliki 95. serta prospek pendapatan di masa mendatang. Negara Republik Indonesia memiliki 1 (satu) lembar saham Seri A Dwiwarna dan 31. baik di masa lampau maupun pada saat ini. Dengan demikian antara Perseroan dengan PT Mandiri Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek adalah terafiliasi melalui kepemilikan saham oleh Negara Republik Indonesia.

Konsultan Hukum: Assegaf Hamzah & Partners Menara Rajawali lt. S. Notaris: Nomor Asosiasi Notaris Indonesia: 011. STTD: 344/PM/STTD-AP/2003 Fungsi utama Akuntan Publik dalam rangka Penawaran Umum Saham ini adalah untuk melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. 30 tahun 2004 Tentang Jl. S. Tugas Akuntan Publik meliputi pemeriksaan. No STTD: 02/STTD-N-PM-1996 tanggal 12 Pebruari 1996 Graha Irama lt. 6 Pedoman kerja: Pernyataan Undang-undang No. Penunjukan Fathiah Helmi. Keanggotaan Asosiasi: 1010 No. GARUDA/TIM/IPO-20168/2010 tanggal 16 Agustus 2010. 12 Jl. Medan Merdeka Selatan No. GARUDA/TIM/IPO-20151/2010 tanggal 16 Agustus 2010. Perjanjian Penjaminan Emisi Efek antara Perseroan dengan Para Para Penjamin Pelaksana Emisi Efek dan Para Penjamin Emisi Efek. HR Rasuna Said Blok X-1 Jabatan Notaris dan Kode Etik Ikatan Notaris Indonesia Kav. c. sebagai Notaris sesuai dengan Surat No. 5. Standar tersebut mengharuskan Akuntan Publik merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji yang material dan bertanggung jawab atas pendapat yang diberikan terhadap laporan keuangan berdasarkan audit yang dilakukan.H. sebagaimana diharuskan dalam rangka penerapan prinsip-prinsip keterbukaan yang berhubungan dengan Penawaran Umum Penunjukan Assegaf Hamzah & Partners sebagai Konsultan Hukum sesuai dengan Surat No.H. 16 Jl. 17 Jakarta 10110 – Indonesia No. Perjanjian Pengelolaan Administrasi Saham antara Perseroan dan Biro Administrasi Efek. 1&2. Audit juga meliputi penilaian atas dasar prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen. atas dasar pengujian. bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. LEMBAGA DAN PROFESI PENUNJANG PASAR MODAL Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal yang berperan dalam penawaran umum ini adalah sebagai berikut: Akuntan Publik: Osman Bing Satrio dan Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) Wisma Antara lt.260. Hasil pemeriksaan dan penelitian hukum tersebut telah dimuat dalam Laporan Uji Tuntas yang menjadi dasar Pendapat Hukum yang diberikan secara obyektif dan mandiri. Mega Kuningan Lot.958 Kantor Notaris Fathiah Helmi. sesuai dengan Standar Profesi dan Peraturan Pasar Modal yang berlaku. serta guna meneliti informasi yang dimuat dalam Prospektus sepanjang menyangkut segi hukum. b. 214 .003.027.1 Kawasan Mega Kuningan Jakarta 12950 – Indonesia No. HKHPM: 200720 No. STTD: 43/BL/STTD-KH/2007 Tugas dan tanggung jawab Konsultan Hukum dalam rangka Penawaran Umum ini. meliputi pemeriksaan dan penelitian dengan kemampuan terbaik yang dimiliki Konsultan Hukum atas fakta yang ada mengenai Perseroan dan keterangan lain yang berhubungan dengan itu yang disampaikan oleh Perseroan atau pihak terkait lainnya kepada Konsultan Hukum.BAB XV. Penunjukan Osman Bing Satrio dan Rekan sebagai Akuntan Publik sesuai dengan Surat No. Perubahan Anggaran Dasar Perseroan dalam rangka Penawaran Umum. Kuningan Ruang lingkup tugas Notaris selaku Profesi Penunjang Pasar Modal dalam Jakarta 12950 – Indonesia rangka Penawaran Umum ini adalah membuat akta otentik atas : a. GARUDA/TIM/IPO-20150/2010 tanggal 16 Agustus 2010. serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.

Penunjukan PT Datindo Entrycom sebagai Biro Administrasi Efek sesuai dengan Surat No. sesuai dengan Standar Profesi dan Peraturan Pasar Modal yang berlaku. Bersama-sama dengan Penjamin Emisi. BAE melakukan proses penjatahan sesuai dengan rumus penjatahan yang ditetapkan oleh Manager Penjatahan. BAE juga bertanggung jawab menerbitkan Surat Kolektif Saham (SKS). Jend. dan menyusun laporan Penawaran Umum Perdana sesuai dengan peraturan yang berlaku. STTD: 01/PM/STTD-P/AB/2006 Tugas dan kewajiban Perusahaan Penilai secara langsung pada lokasi aktiva tetap Perseroan dan memberikan pendapat atas nilai pasar aktiva tetap Perseroan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilai Indonesia serta peraturan Pasar Modal yang berlaku dengan tujuan untuk mengungkapkan suatu pendapat mengenai Nilai Pasar atas aktiva tetap Perseroan. GARUDA/TIM/IPO-20146/2010 tanggal 16 Agustus 2010.Perusahaan Penilai: KJPP Toto Suharto dan Rekan Jl.08. Keanggotaan MAPPI: 93-S-00361 No. Properti yang dinilai meliputi aktiva tetap yang terdiri atas tanah. serta melakukan administrasi pemesanan pembelian saham sesuai dengan aplikasi yang tersedia pada BAE.00060 No. Biro Administrasi Efek: PT Datindo Entrycom Puri Datindo – Wisma Sudirman Jl. Sudirman Kav. Hayam Wuruk No. mencetak Formulir Konfirmasi Penjatahan dan menyiapkan laporan penjatahan. GARUDA/TIM/IPO-20152/2010 tanggal 16 Agustus 2010. Dalam hal terjadinya pemesanan yang melebihi jumlah saham yang ditawarkan. apabila diperlukan. alat berat dan kendaraan serta inventaris Perseroan. BAE mempunyai hak untuk menolak pemesanan saham yang tidak memenuhi persyaratan pemesanan dengan memperhatikan peraturan yang berlaku. bangunan. infrastruktur. Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal yang terlibat dalam Penawaran Umum ini tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Perseroan sebagaimana definisi hubungan afiliasi dalam UU PM. meliputi penerimaan pemesanan saham berupa Daftar Pemesanan Pembelian Saham (DPPS) dan Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS) yang telah dilengkapi dengan dokumen sebagaimana diisyaratkan dalam pemesanan pembelian saham dan telah mendapat persetujuan dari Penjamin Emisi sebagai pemesanan yang diajukan untuk diberikan penjatahan saham. Izin Penilai Publik: PB-1. mesin-mesin dan peralatan.16/PM/1991 tanggal 19 April 1995 Pedoman kerja: Peraturan Pasar Modal dan Bapepam dan LK Tugas dan tanggung jawab Biro Administrasi Efek (BAE) dalam Penawaran Umum ini. 215 . Penunjukan KJPP Toto Suharto dan Rekan sebagai Perusahaan Penilai sesuai dengan Surat No. 1-RL Jakarta 10120 – Indonesia No. 34-35 Jakarta 10220 – Indonesia Asosiasi: Asosiasi Biro Administrasi Efek Indonesia (ABI) No STTD: Kep.

Halaman ini sengaja dikosongkan 216 .

PENDAPAT DARI SEGI HUKUM Berikut ini adalah salinan Pendapat Dari Segi Hukum mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan Perseroan. 217 . dalam rangka Penawaran Umum melalui Prospektus ini. yang telah disusun oleh Konsultan Hukum Assegaf Hamzah & Partners.BAB XVI.

Halaman ini sengaja dikosongkan 218 .

219 .

220 .

221 .

222 .

223 .

224 .

225 .

226 .

227 .

228 .

229 .

230 .

231 .

232 .

233 .

234 .

235 .

236 .

237 .

238 .

239 .

240 .

241 .

242 .

243 .

244 .

245 .

246 .

247 .

248 .

249 .

250 .

251 .

252 .

253 .

254 .

255 .

256 .

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAN LAPORAN KEUANGAN PERSEROAN Laporan Keuangan Konsolidasi Perseroan dan Anak Perusahaan untuk periode 9 (sembilan) bulan yang berakhir pada tanggal 30 Septembar 2010 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian serta laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang telah direview oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio dan Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) serta tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. kesemuanya dengan pendapat wajar tanpa pengecualian. 257 .BAB XVII. 2006 dan 2005 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto Amir Jusuf dan Mawar (RSM). 2007.

Halaman ini sengaja dikosongkan 258 .

259 .

260 .

261 .

262 .

933 11.212.939.886.045.677.9 3w.816.503.746.027.919 14.612.683.971.135.812.695 10.237.138.500 23.594 396.742.210.773.441.387.PT.484.444.909 1.540.344.104.930.647.512 untuk 31 Desember 2009.955 1.326 6.145.7 3z.814 4.000.186 3.210.711 615.432 11.905.737.989.744 1.962.952 17.45 30 September 2010 Rp 31 Desember 2009 Rp 1.888 198.767.675.113 14.643.943.969.086.000 14.997.824.171. 2008 dan 2007 Piutang lain-lain Aset derivatif Persediaan Uang muka dan biaya dibayar dimuka Pajak dibayar dimuka Jumlah Aset Lancar ASET TIDAK LANCAR Dana perawatan pesawat dan uang jaminan Uang muka pembelian pesawat Aset pajak tangguhan Investasi saham Aset tetap .3x.981 3p.391.761 14.621. 2008 DAN 2007 30 September 2009 (Tidak diaudit) Rp (Disajikan kembali .656.835 4.050 643.786.634.641.675.528.505.290.494 41.091.103.954.795.978.43 3j.636 10.911.418 178.061 1.415 14.000 16.Catatan 54) 31 Desember 31 Desember 2008 2007 Rp Rp Catatan ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas Investasi jangka pendek Piutang usaha Pihak hubungan istimewa Pihak ketiga .540.434.217 1.769.710.698.413 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.935.676.17 5.052.626.481.913.987.694.123.450 618.779 15.595 608.113.184.331 907.424.065.137.075 212.662. Rp 6.463 4.800.000.265.658 41.068.976 53.233 2.774 11.710.049.152.583.512 2.978 6.614.901.952.951 2.455.689 66. -4- 263 .882.639.208.253 9.965.337 313.474.722.724.952.019 205.837. Rp 319.401.712.840.254.813.081 565.809.802.483 174.607.955 1.766 81.932.595.119 516.073.665 393.444 51.setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp 7.453 4.940.661.399.000.886.981.049.003.513.933.609.48 3h.293.748 untuk 31 Desember 2009.386.527.894.704.151.401 1.491.229.656.853.192.710.788.13 1.918.601.568.352.933.303.079.140. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA 31 DESEMBER 2009.039.028.305 213.798.985.504.923.184.070 3m.220 60.097 10.017.903.setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu sebesar Rp 323.805.374.906.8 3i.464.403.579 20.279.815.928.15 3q.673.599 3x.000 20. serta Rp 7.735 11.222.504.572 322.901.823.864 1.220.815 135.253 548.584.543 67.914.722.3x.831.16 3d.117.228 6.126.429.158 888.156.4 5 3x.244.14 3l.173 dan Rp 7.419.733 19.600.566.603 46.305.905.654.423.797.504 176.992.393.536.297.607.000.647.803.492.265.187 330.276 11.290 5.648 170.3o.419.097.776.624.519 204.903.305 dan Rp 6.551.784 598.589.464.721.947.583 15.701.10 1.000.685.376.911.191.595.696 14.502.389.113.445 28.453.422.063 1.266.525.553 dan Rp 317.425.278 untuk 30 September 2010 dan 2009.923.624.158.833.211 646.645.813 817.3n.029.099 780.903.791.805.403. 2008 dan 2007 Properti Investasi Beban tangguhan Aset lain-lain Jumlah Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET 3g.492 4.122 11.125 31.000.640.598.901. serta Rp 300.943.994.607 5.158.528.037.818.290.480.790.649.317 890.248 1.866.11 12 3w.572.6 3f.928 198.212.641.587.552.470 83.350.438.590.000 16.281.751 untuk 30 September 2010 dan 2009.540.264 dan Rp 260.550.430 6.

945.175.629.745.213 106.034.001 1.709 92.060.395 6.785.013.174 35.310.923.021.809.758.884 6.30 3y.132.787 61.259.988 218.962.234.018.621.575 1.20 3w.492 7.000.067.135 37.085.126.179.814) 1.214.001 1.634.244.237.437.152.809.461.436.121 202.695.079.000 8.507.982.113.629 saham pada tanggal 30 September 2009 dan 31 Desember 2008.952.292.996.553.441 332.336.594 717.27 29 3w.863.268.001 1.21 22 3r.302.758 1.731 14.809.227.303.402.044 (7.018.036.005 664.646.875.306 1.722.056.829 76.015.076.329.265 1.000 saham pada tanggal 30 September 2010 dan 2009.310.812.280 487.968 104.498 saham pada tanggal 30 September 2010 dan 31 Desember 2009.742.076 saham pada tanggal 31 Desember 2007 Modal ditempatkan dan disetor .424.339.303.192.477.402.756 358.763.291.459.778.752.000 64.901 1.422.872.421 6.902) 3.424.664.051 1.500.352 1.33 3z.412 450.178.240.649 1.000.000 8.Lanjutan 30 September 2009 (Tidak diaudit) Rp (Disajikan kembali .496 157.755.378.937 6.489.336 6.280.502 255.079.000 3.070.728.471.436.452.053 (9.739 8.044.086.404.357 14.331.782.000 per saham pada tanggal 30 September 2010 dan 2009.15.152.502) (1.528.723.093 49.962.806.190 68.909 78.009.423.129.813 261.840.040 1.319 213.486.588.070.000.780.042.072 89.629 saham pada tanggal 31 Desember 2007 Tambahan modal disetor Dana setoran modal Surplus revaluasi Cadangan lindung nilai Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Defisit Jumlah Ekuitas (Defisiensi Modal) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 3b.152. 8.862.226 3.849.805.484.260 57.224.514.754.683.216.613.038.227.887.480.520 (7.940 6.766.498.049.842 25.811 6.000.250.540.952.388.066.285.25 3v. 31 Desember 2009.004.331.778.037.901 48.677.629.706.228 8.852.863.18 3y.049.018.995.137.551.614.696.000.761.000 8.847 71.900 6.114.698 5.305.073.525.000.236.000.978 9.000 8.916.196 1.703. -5- 264 .610 850.865.000 8.019.522.027.214.25 3v.439.731 282.667.848.529 24 3o.339.402.403.673.199 2.841.624.675.798 7.962 564.407 75.28 26 1.808 10.602 1.setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Pinjaman jangka panjang Hutang sewa pembiayaan Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Obligasi konversi Kewajiban pajak tangguhan Kewajiban imbalan pasca kerja Kewajiban tidak lancar lain Jumlah Kewajiban Tidak Lancar HAK MINORITAS EKUITAS Modal saham Nilai nominal Rp 1.023.865.872.001 1.878.266.000.142 3y.616.000.366.565.257.401 14.743.735.338.323.180.655.149.010.399.422.382.218.000.31 32 32 3m.619.413 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.532. dan 7.636.848 9.347.120.222.000.079.354.768.032. 31 Desember 2009 dan 2008 dan 11.208 35.694 (10.243.580.551.493.535.719.48 3e 9.795.000.070 5.859) 3.118 1.787.831.823 222.546.747.379.233.601 2.294 261.000 391.655.807.617.334 281.216 6.933. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA 31 DESEMBER 2009.958.469.668.470.569.506.525 1.119.23 30 September 2010 Rp 31 Desember 2009 Rp 207.584.343 1.276 1.435.820.929.263 15.505.714.928.135.233 35.050 3.965.661 1.393) 11.381 255.983.647 786.530.396 1.122.676.553.648.43 3t.269.381.356.413.015.315.358.402.793.19 3y.629.969.390.120.430 8.436 711.000 37.184.280.000.882.440.796 242.044) 4.366.448.280.402.728.204 3.351 16.234.430 118.3s.724.768.302.008.689.479 687.152.001 1.627.957 5.307.435.012.498.017 950.403.596.000.900.859.515.473 1.125.154.215 2.894.107.27 24 3o.020 781.441 332.814.294 929.672.718.277.Catatan 54) 31 Desember 31 Desember 2008 2007 Rp Rp Catatan KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN LANCAR Hutang bank Hutang usaha Pihak hubungan istimewa Pihak ketiga Hutang lain-lain Hutang pajak Biaya masih harus dibayar Pendapatan diterima dimuka Uang muka diterima Hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun Pinjaman jangka panjang Hutang sewa pembiayaan Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Jumlah Kewajiban Lancar KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang jangka panjang .548 379.770.737.738.876 1.416.070.931.493.894.000 229.182.855.582.843 80.152.258.622.705.103 1.445.368 3.959.390.588.610 (7.304) 1.290 10.120.600.079.238 1.079.492 163.000.152.000.856.027.551.914.000.323.564 1.416.330.113.990 48.146.956.536 1.366.585 3.PT.929.768 33.429.834.209.868.802.802. 2008 DAN 2007 .202.204.9.329 232.586 30. 2008 dan 2007 Modal dasar .163.916 (8.736 61.018.374.388.157.696 395.000.

422.823 1.669.630.104 9.336.803.167.445 3r.660 6.599 106.636.225.527.695.883.533.570 911.369.468.39 3r.970 573.970 (3.073.420.099.928.096.bersih Penghasilan (beban) Lain-Lain .142.009.626.093.417 68.337.317.915.734.735.658.258.105.354.884 1.926 39.806.803.934 (9.807.656.000 1.858 (11.797.363) 60.448.248.541 38.14.975) (38.640 (78.355.384) (82.738.668) 33.286 1.640.530.258.295.695.767) 152.388.851.610.502.501) 65.420.562.223 11.390.144.485.068.348.770 (203.38 3r.353.830.30 3u.575 986.062 1.018.252.206.915.482) 93.218.699.887.359.168.832 1.776.216 (119.617.223.073.550.424 2.871.120.685.004 880.032.980.045.835 1.50 3e 3r.897.874.491.757 123.003.239.025.444.428 273.28 3r 3r 3r 2010 (Sembilan bulan) Rp 11.048.783.186.513 918.427.846 17.34 3r.321 260.076.345 4.768) (233.167.907 21.765.793.598 (36.485 1.723 1.133.099.125 1.812.398.125.213 623.519 17.534.159 899.34 21.803.229.410.060.343.269.319.769 14.091 Catatan PENDAPATAN USAHA Penerbangan berjadwal Penerbangan tidak berjadwal Lainnya Jumlah Pendapatan Usaha BEBAN USAHA Operasional penerbangan Tiket.935.893 434.40 3t.240.514 124.296 1.541 1.943.393 313.881.863) 70.992.626 1.610.123.623.410.028.719.484) 570.343.404.042.904.265.085.078.609) 78.615.564.019.817.252.485.405.305.592) (148.572.019 890.849.189 (333.817.934.129.636.174) (35.250.762.635.374 1.34 3r.389.768 66.033.736.890.382 949.494.368.075.942.122.877.327.083) 3.107.470 (682.325.36 3m.353.950.591.976 6.609.883.981.411.770.039 1.797.651 984.827 732.175 1.208 95.751.466.163.030) 9.678.486 (Disajikan kembali .430.695 12.17 3r.637.962 (44.943 111.391 110.290 1.990.229.098.852 11.226.378.357.864.286.524 (233.198.246.974.290 475.966 130.314.985 1. -6- 265 .084.979 511.035 223.107.096.424.092.722.484.266.886.817.968.921.883.860.395.128 195.499.466.649.342 184.327.718.605.142.502.381.288.751.364.727.834 (66.723 (289.415.709.715 49. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.454.996.049.510.424 573. 2008 DAN 2007 2009 (Sembilan bulan) (Tidak diaudit) Rp 10.002.627.858 164.598.145.bersih Biaya pesangon pegawai Penghasilan bunga Beban penyisihan piutang lain-lain Beban bunga dan keuangan Lain-lain .533.352.568.797 16.040.675.280 1.373.171.788.308.365.591.975.225.540) 350.565) 3.481.342.121.050.420.482) 80.217.271.968.248.687.037.049.506 196.914.172.128 1.35 3r.475 876.990.354.976) 164.585) 107.331 44.955.327 1.065. penjualan dan promosi Penyusutan dan amortisasi Pelayanan penumpang Bandara Administrasi dan umum Pemeliharaan dan perbaikan Beban imbalan kerja Operasional transportasi Operasional jaringan Operasional hotel Jumlah Beban Usaha LABA (RUGI) USAHA PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN Keuntungan atas sale and leaseback Keuntungan (kerugian) atas kurs mata uang asing .668.090 32.132 75.020 51.106.722.310.945) (53.253.912 58.101 723.848 11.906 (377.815.764.098.436.747 1.743.746 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.896.473) 12.529.958.527.483.399.581.242.387.768) (262.141.702) (55.980.129.529.152.433 1.690.874.893.136.198 11.692.184 (156.37 3r.692.062.684 119.546 (17.172.413.089.491.538.036.045 462.354 16.202.713 42.033.182) 184.609 (156.355.282.513) 194.846.44 3b.455 (422.912.194.459.063) 159.971 1.033 61.705.148.366 21.155.854 1.596 65.29 3w.577 (37.390.947.347.786.280.847.942.652.700.715.608.166 1.900.432 49.098.473 1.392.472.420.991) 245.28 3r 3x.388) (115.563.347.694.372.233 70.258.459.985.41 42 3r.17 3r.720.629 876.291.678.022.349.786.885.340.207.476.630.706) 984.164.13 3o.587 199.631 (413.137.532 102.959.566.736) 975.297 13.439.957 2009 (Satu tahun) Rp 13.793.892.192.765.883.510) (21.812.192.109 8.504.368.757 (4.132 2.509 1.Bersih BAGIAN LABA BERSIH PERUSAHAAN ASOSIASI LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK MANFAAT (BEBAN) PAJAK Pajak kini Pajak tangguhan Jumlah Manfaat (Beban) Pajak LABA DARI AKTIVITAS NORMAL POS LUAR BIASA LABA SEBELUM HAK MINORITAS HAK MINORITAS LABA BERSIH LABA PER SAHAM (dalam Rupiah penuh) Dasar Dilusi 3aa.145 (438.967.620.437.549.PT.364 12.763.873.010 1.351 6.027 104.956.24.295.064.038.312) 1.848.934 984.789.485.483.434.173.888 2.Catatan 54) 2008 2007 (Satu tahun) (Satu tahun) Rp Rp 15.125.246 68.406.867.884.522 23.333.187 1.090.340.386.872.692.480 58.669.157.145.468.657.663 1.493 19.183.971 (203.183.43 3j.366 69.436.970.630.935 62.

527.535.369.850.401 794.926) 1.861.000.957 (7.130 (343.734.803.668.48 31 266 8.615.000.369.926) - Modal saham Rp Dana setoran modal Rp Defisit Rp Tambahan modal disetor Rp Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Rp Surplus revaluasi Rp Cadangan lindung nilai Rp (6.996.174 35.044 1.065.214.922.439.094) 975.304) 3.672.370.445 3.629.137.743.498.445 (3.841.084.086.527.564.094) (10.028.403.580.955.417.000.826.935.135.020) (100.996.976 152.988.001 8.091 (2.382.648.001 4.629.107.125.402.935.672.402.000.048.018.436.689 1.610 8.079.369.498.743.087.861. 2008 DAN 2007 Catatan 6.776.000.000 1.739 (298.564.922.053 980.841.120.464.291.000.604 (154.sebelum disajikan kembali Efek kumulatif dari penerapan PSAK 30 Kewajiban aset pemeliharaan Kewajiban imbalan kerja Dampak kumulatif dari program Garuda Frequent Flyer 54 54 31 3e - 6.668.000 8.586.079.614.020) (100.198 (8.152.782.000 - 4.867.719.778.006.000.588.137.456) 1.000 9.957 3.001 3.005 1.743.689 (11.000.000) - 8.456) 1.863 1.742.520.000.417.755) (3.266.626.734.402.580.782.565) 35.532.464.085.001 4.929.079.000 4.477.000.027.885.776.461.742.146.000.120.850.360.903.655.273.000 (1.048.506.837.000.000.447.402.000.245.863 - 3.050 (11.000 500.896.000.580.000.477.731 29 3e 3n.445 (7.079.000.48 7.390.896.152.848 (9.000.070.502) 975.000 8.976 500.591.48 3e 3n.130 (343.000.216.000 500.33 Saldo 31 Desember 2009 Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Surplus revaluasi (defisit) Keuntungan yang belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Laba bersih periode berjalan 3y.538.803.091 Saldo 31 Desember 2006 .664.000 8.48 Saldo 30 September 2010 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.728.198 1.000.000.000 326.565) 35.869.000.000.005 (364.079.120 (802.826.626.067) (9.263 967.744.028.000 9.368.612.000.000.424.000.000. -7- .393) 1.366.000 (1.492) Saldo 31 Desember 2006 .859) 194.000.820.770.996.090 9.280.037.955.001 8.916 4.023.447.368.079.903.084.370.244.273.120 3.538.724.33 Saldo 31 Desember 2008 Konversi dari mandatory convertible bonds Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Surplus revaluasi (defisit) Keuntungan yang belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Laba bersih tahun berjalan 3y.593) 152.646.390.000.090 (298.694 (157.402.018.440.867.928.955) 664.000.000 (802.001 - 3.000.869. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.044) 10.848 1.520 794.369.902) (1.000.042.782.393) 326.000.000 1.784.000) 980.955) 10.668.023.615.390.675.008.000 - 1.005 (364.800.612.358.492) Jumlah ekuitas Rp 751.841.044 1.setelah disajikan kembali Modal saham Tambahan modal disetor Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Keuntungan yang belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Laba bersih tahun berjalan 3y.000 967.065.604 - Saldo 31 Desember 2007 Modal saham Tambahan modal disetor Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Surplus revaluasi Kerugian yang belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Laba bersih tahun berjalan 3e 3n.402.PT.848 194.440.33 3y.672.129.000 - 500.515.067) 1.520.

155.152.001 6.402.655.814) Jumlah ekuitas Rp Catatan Modal saham Rp Dana setoran modal Rp Tambahan modal disetor Rp Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Rp 3e 3n.013.486 1.655.402.000.000 8.743.125.001 - 4.152.068.629.198.126.506. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2009 Tidak diaudit Surplus revaluasi Rp Cadangan lindung nilai Rp 1.694 (188.768.263 2.484.535.224.795.129.000.916 2.357.128 (185.079.464) 14.382.079.PT.226 14.366.336.357 Saldo 1 Januari 2009 Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Surplus (defisit) revaluasi Keuntungan yang belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Laba bersih periode berjalan 3y.357.468) 1.887.259.037.461.128 - (10.756.044 - 8.944 3.756.944 570.136.000 - - 8.664.486 (7.48 Saldo 30 September 2009 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.752.668.752.139.470.629.800.528.582.900 Defisit Rp (8.364.304) 3.33 8.782. 267 .364.752.004 570.672.139.044) - 1.155.

130.347.406.254) 2.891.899.650) (601.122.510.937.654.413.591.620) (324.722.011) (55.895.385.117) (377.052 28.985.277 8.847.014.623) 36.670.706.939) (192.415) (3. 2008 DAN 2007 2010 (Sembilan bulan) Rp ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Penerimaan kas dari pelanggan Pengeluaran kas kepada pemasok Pengeluaran kas kepada karyawan Kas dihasilkan dari operasi Pembayaran bunga dan beban keuangan Pembayaran pajak penghasilan Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Operasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Penerimaan bunga Penerimaan dividen Hasil penjualan aset tetap Hasil penjualan properti investasi Penerimaan lain-lain dari penjualan tanah dan bangunan Penerimaan pengembalian uang muka pembelian pesawat Penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat Penerimaan uang jaminan Pengeluaran untuk dana pemeliharaan pesawat Uang muka pembelian pesawat Uang muka perolehan aset tetap Pengeluaran untuk perolehan aset pemeliharaan pesawat Pengeluaran untuk perolehan aset tetap Pembayaran uang jaminan Pengeluaran untuk perolehan investasi Pembayaran lainnya dari aktivitas investasi Penerimaan lainnya dari aktivitas investasi Penempatan deposito berjangka Pencairan deposito berjangka Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Penerimaan pinjaman jangka panjang Penerimaan hutang jangka pendek Penerimaan dana setoran modal Pembayaran pinjaman jangka panjang Pembayaran pinjaman jangka pendek Pembayaran dividen ke pemegang saham minoritas Kenaikan kas yang dibatasi penggunaannya Pembayaran untuk aktivitas pendanaan lainnya Kas Bersih Diperoleh Dari (Digunakan untuk) Aktivitas Pendanaan KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS KAS DAN SETARA KAS AWAL PERIODE Efek perubahan kurs mata uang asing KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE INFORMASI TAMBAHAN: AKTIVITAS INVESTASI DAN PENDANAAN YANG TIDAK MEMPENGARUHI ARUS KAS Kenaikan (penurunan) aset tetap atas surplus revaluasi (Catatan 14) Kenaikan (penurunan) uang muka pembelian pesawat (Catatan 12) Kenaikan (penurunan) aset tetap melalui kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat (Catatan 27) Reklasifikasi hutang jangka pendek ke hutang jangka panjang (Catatan 24) Reklasifikasi persediaan ke aset tetap (Catatan 14) Reklasifikasi hutang usaha ke pinjaman jangka panjang (Catatan 24) Obligasi konversi yang dikonversi menjadi modal saham disetor (Catatan 29 dan 31) Piutang atas penjualan aset tetap (Catatan 7) Reklasifikasi deposito berjangka ke aset lain-lain (Catatan 5) Reklasifikasi dana setoran modal ke modal disetor (Catatan 31) Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.320.381 188. 14.250 176.077.523.057) 236.765.245.564.049.246.524) 47.147.276.711 (751.063.040.675.832.134.370.573.956.085.743.907.033.370) (1.846.583) (809.225 14.565) (327.000.000 29.326.624.169 212.590) 1.607 30.472.000.934 94.153.623) (177.287.920 1.654 967.362.839.474.709.348.814.452) (626.665 5.266) (56.479.571.436) (2.948 169.203.168) (69.346.388) 3.300.711) (1.014.752) (1. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.697) (138.000.625 101.140.058.634.497 1.083) 1.077.982 (10.770) 279.212) 22.830) (197.441 (153.854.923.000.532.972.557.280.000.586 381.795.799.170.230) (90.410.006.587.000.848) (687.781.902.845 204.653.862) 1.491.028.662.540.631.925.252.371) (320.016.056.265.007.185.537 (1.823.343.101.227.573.562.107.593.306.328.522.600.437.643.000) (1.432.319.192.964.777 55.071) (117.520.633.099.234 116.505) (7.068.409.926.655.030.302.796 35.658.773.862.836.799 12.307.916.746) (74.833.457 (15.525.044.142.220.995 10.876.982.475.373.774 (410.267.798.484.549) 653.091) (22.783.919.121.000.000 (570.638.955.300.025.765.097.592) (472.470.601.683.433.035) (317.817 97.743) (73.152.903) (15.886.680.000 (105.281.657 1.729) 11.824.593) (5.504.376.777.681.932 2.615.079.070.566 - (262.485.600.837.563 999.274.463.709.502.103.304.318.861 9.610.661 (335.846 214.361) (94.785.760.900) (487.000 (507.055.000 4.412.617 45.911.483.237.822.481.214.046 (112.977 18.599.525) (188.388 - (217.882) (57.926.312.089) 1.881) (92.687.841.319.621.578.985.778.453 45.919 (57.226) (1.612) (134.559.000 (29.241.784.894.541.346.582.500.888.465.969.010.518.527 621.709 10.367.895) 2.805.733 2009 (Sembilan bulan) (Tidak diaudit) Rp 11.656) 102.077.830) (145.304 (14.468.962.369.376.026.000.931) (258.272.625.836) 1.647.077.889.601.030.511.869.000.623.823.150.542.684) 853.102.985.182.000.792.338.661) (99.000 (1.484.355) (439.527.554.806.967.910 16.656.000.540.311.195.266) (16.095.000.220 (630.914.914.115.091) 1.826.441.954 (89.245.565.808.504.953.553.286.070.239.577.120) 1.582.281.410.624) (2.000 - -9- 268 .000.035) 1.919 2007 (Satu tahun) Rp 14.374.069.253.000 1.878.656.897.267.000) 3.204.507 (213.788.369.600.531) (379.003.589.928.510.558.774 72.695.722.043.263.810.703.491.000.710.980) 1.428.601.253.160.000 124.592 (141.800.948.883.214.123.940.918) (821.933 2008 (Satu tahun) Rp 18.914.563.725 35.078.644.534 (12.399 2.592 5.503 1.559 20.135 (962.993) (1.206.592 1.994.573.956) 876.916) 1.327.402.262.477.000) (796.799.000 447.755.095.512) 136.072.120.410.044.491) (561.961.563.724.840.787.077.738.100.794) 56.948 208.231.301 (10.933 (20.650.188.638.122 2009 (Satu tahun) Rp 17.191.482) 103.735.725) (190.044.126.714) 2.149 (8.208.650) 255.919 (35.185 35.651.382.002.661 276.590.326) (39.000 45.065) (107.765.000.498.265.494.308) (799.169.813.415.739.160.955.804) (1.973.986) (64.624.212.881 7.788.000.969.073.423 269.226.690.961.000 (1.803.724 81.482) (142.509.058.736 (596.149.348) (503.221.035.131.335.144.756.712.054.538 246.000 - 2.863 (733.845.744.788.348 (210.985.035.598.318) 1.877 245.630.655.841.121.000.860.798) (290.651.937.486.386.029.946.714.PT.896.520) 2.

8 tanggal 4 Maret 1975 dari Notaris Soeleman Ardjasasmita.H.10 - 269 . Perubahan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 67 tahun 1971. 4.528. 274 tanggal 30 Desember 2009 dari Aulia Taufani. 5. 30 tanggal 12 Mei 1950. 3. 5. Perusahaan berkantor pusat di Jl. 5. 2008 DAN 2007 1. Jumlah karyawan Perusahaan (tidak diaudit) Pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 serta 31 Desember 2009. Angkutan udara niaga tidak berjadwal untuk penumpang. 44.490.01. Jasa pelayanan penunjang operasional angkutan udara. kargo dan pos dalam negeri dan luar negeri.075. 2008 dan 2007 masing-masing 5. kargo dan pos dalam negeri dan luar negeri. UMUM a.H. Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan. S.H. S.. . 5. Jasa konsultasi. sebagai realisasi Peraturan Pemerintah No. Tujuan pendirian Perusahaan adalah untuk melaksanakan serta menunjang program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya. tanggal 31 Maret 1950 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. Jasa pelayanan kesehatan bagi karyawan Perusahaan maupun untuk pihak ketiga.548 dan 5. mengenai perubahan modal ditempatkan dan disetor. pendidikan dan latihan yang berkaitan dengan pengangkutan udara. khususnya di bidang jasa pengangkutan udara dan bidang lainnya yang berhubungan dengan jasa pengangkutan udara.136. tambahan No. notaris di Jakarta. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan. Perusahaan yang awalnya berbentuk Perusahaan Negara. 2. Kebon Sirih No.808 karyawan.09. Pemeliharaan dan perbaikan pesawat.PT. 7. Perusahaan mulai beroperasi komersial pada tahun 1950. J. 68 tanggal 26 Agustus 1975. Angkutan udara niaga berjadwal untuk penumpang. ruang lingkup kegiatan Perusahaan terutama adalah sebagai berikut: 1. 137 tanggal 31 Maret 1950.. Pendirian dan Informasi Umum PT Garuda Indonesia (Persero) (“Perusahaan”) didirikan berdasarkan akta notaris Raden Kadiman No.Tahun 2009 tanggal 31 Desember 2009. Perubahan ini telah diterima dan dicatat dalam Database Sisminbakum Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. S. Jakarta. 6. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.AH.A. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. AHU0087362.. Jasa pelayanan sistem informasi yang berkaitan dengan pengangkutan udara.5/12/10. pengganti Sutjipto. berubah menjadi Persero berdasarkan Akta No. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam surat keputusannya No. terakhir dengan Akta No.

PT. S.194.843.370.11 270 .217.666 6. 75 tanggal 10 Mei 2010 dari Notaris Sutjipto.107. 31 Desember 2009. M. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009..354. 2008 dan 2007 adalah sebagai berikut: 30 September 2009.468 2008 (Satu tahun) Rp 2.588.475.H. 2008 dan 2007.643 19.000 2007 (Satu tahun) Rp 1.Kn.600.416.H. adalah sebagai berikut: 2010 (Sembilan bulan) Rp Komisaris Direksi 5. Susunan pengurus Perusahaan per 30 September 2010 dan 2009 serta 31 Desember 2009.142.Kn. di Jakarta mengenai perpanjangan sementara untuk seluruh pengurus Perusahaan.000 2009 (Satu tahun) Rp 6.. serta tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2009. S.615 2009 (Sembilan bulan) (Tidak diaudit) Rp 5. Ari Sapari Elisa Lumbantoruan Hadiyanto Sahala Lumban Gaol Wendi Aritenang Yazid Abdulgani Adi Rahman Adiwoso Emirsyah Satar Eddy Porwanto Hadinoto Soedigno Agus Priyanto Achirina Capt.000 8.592.000 30 September 2010 Adi Rahman Adiwoso Etty Retno Wulandari Adi Dharmanto Ike Andriani . 30 September 2010 2008 dan 2007 Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Direktur Utama Direktur Keuangan Direktur Teknik Direktur Niaga Direktur Sumber Daya Manusia & Umum Direktur Operasi Direktur Strategi & Teknologi Informasi *) Sementara sebagai Direktur Keuangan Hadiyanto Sahala Lumban Gaol Wendi Aritenang Yazid Abdulgani Adi Rahman Adiwoso Emirsyah Satar Elisa Lumbantoruan *) Hadinoto Soedigno Agus Priyanto Achirina Capt.780. di Jakarta dan telah diubah dengan akta notaris No. Ari Sapari Elisa Lumbantoruan Susunan komite audit dan sekretaris Perusahaan adalah sebagai berikut: Komite Audit Ketua Anggota Sekretaris Perusahaan Perusahaan memiliki fungsi internal audit.621. M.112.520.171.537.876.641 24. 50 tanggal 7 Agustus 2008 dari Notaris Sutjipto. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Berdasarkan akta No.083. Jumlah kompensasi kepada komisaris dan direksi Perusahaan untuk periode yang berakhir 30 September 2010 dan 2009.157 21.

00 60.00 60. baik langsung maupun tidak langsung.99 99.99 99. 2008 DAN 2007 – Lanjutan b. jasa boga.99 99.00 99. lebih dari 50% saham anak perusahaan sebagai berikut: Anak perusahaan PT Abacus Distribution Systems Indonesia (ADSI)**) PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFAA) **) PT Aero Wisata dan anak perusahaan PT Mirtasari Hotel Development (MHD) *) PT Angkasa Citra Sarana Catering Service (ACS) *) PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi (BPWS) *) PT Mandira Erajasa Wahana (MEW) *) PT Aerojasa Perkasa (AJP) *) PT Senggigi Pratama Internasional (SPI) *) Garuda Orient Holidays.89 100.12 271 .99 99. penjualan tiket Hotel Jasa boga pesawat Biro perjalanan wisata Jasa transportasi Penjualan tiket Hotel Biro perjalanan wisata Biro perjalanan wisata Biro perjalanan wisata Hotel Manajemen hotel Penyedia jasa teknologi informasi Jasa transportasi Persentase kepemilikan % 95.00 99.99 99.99 99.87 99. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.00 61. Limited (GOHJ) *) PT Bina Inti Dinamika (BID) *) PT Aero Hotel Management (AHM) *) PT Aero Systems Indonesia **) (d/h PT Lufthansa System Indonesia) PT Citilink Indonesia **) *) Kepemilikan tidak langsung **) Kepemilikan langsung dan tidak langsung Lokasi Jakarta Jakarta Kegiatan usaha utama Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Perbaikan dan pemeliharaan pesawat terbang penjualan tiket Hotel.99 100.PT. Limited (GOHA) *) Garuda Orient Holidays Korea Co. Limited (GOHK) *) Garuda Orient Holidays Japan Co.99 operasi komersial 1996 2002 Jakarta Denpasar Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Lombok Sydney Korea Jepang Bandung Jakarta Jakarta Jakarta 99.99 1973 1974 1974 1967 1989 1989 1988 1981 2008 2010 1989 2010 2005 Dalam tahap Pengembangan . Anak Perusahaan Perusahaan memiliki. Pty.

235 182.297.973.621 1. Pty.294 2.850.359.072 8.071.221 113.746.518.009.748. Limited (GOHA) *) Garuda Orient Holidays Korea Co.720.566.632.815 - 50.954.139.756.088 3.932 66.493. .161.910.394.565 10.452 103.793.790 21.899.884.379 15.361 334.407.405.981.541.169.905.351.598 78.582 3.972 1.098.346.533.025 dan Rp 21.394 77.253.157.113.488 2007 Rp 47.512.472 1.879.413.349 181.986.349 159.719 192.770 26.851.556.251.331.606.074. untuk membentuk perusahaan joint venture bernama PT Lufthansa Systems Indonesia (”LSI”). Limited (GOHK) *) Garuda Orient Holidays Japan Co.242.780.158.471.617.684 1.868.268.998.296 79. Perusahaan mengadakan perjanjian Joint Venture dengan Lufthansa Systems Group GmbH (”Lufthansa”).291.900 39.403 59.833.838.994.214 22.581 1.055.829 1.438. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.3/PERJ/DZ-3064/2005 tanggal 30 April 2005 pasal 9.038.700.582.509.607.060 12.135.618 101.046.264.325.254.233.217.364.640.219. paling lambat pada 30 Juni 2007.963 36.110 192.824. LSI memberikan jasa konsultasi. Sesuai Amandemen No.910.100.412 *) Kepemilikan tidak langsung **) Kepemilikan langsung dan tidak langsung Pada tanggal 13 Mei 2004.438 3.073.571.259. 3 atas Joint Venture Agreement No.492 82.434.378 49.198.866 203.427.498. DS/AMEND.573 5.287.235.105.594.698 12. kepada perusahaan-perusahaan penerbangan dan industri-industri lainnya.594.386.522 1.738. kepemilikan Lufthansa akan ditingkatkan menjadi 51%.027 1.681 139.567.134.634.883.191.382.143.636.558.486.802.666.196.500.014.003.026.942.894.298.283.336.675.400 19.095.850.194.925.841.694 176.654.291.177.102 29. Perusahaan dan Lufthansa memiliki saham LSI 51% dan 49%.569 31 Desember 2008 Rp 54.915 605.391.156.456 22.034.238.525.391 189.711 193.13 272 .395 91.116. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Jumlah aset anak perusahaan sebelum dieliminasi sebagai berikut: Anak perusahaan PT Abacus Distribution Systems Indonesia (ADSI) **) PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFAA) **) PT Aero Wisata dan anak perusahaan (PT Aero Wisata) PT Mirtasari Hotel Development (MHD) *) PT Angkasa Citra Sarana Catering Service (ACS) *) PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi (BPWS) *) PT Mandira Erajasa Wahana (MEW) *) PT Aerojasa Perkasa (AJP) *) PT Senggigi Pratama International (SPI) *) Garuda Orient Holidays.538 76.787.352.036.129 101.436.199.218.075 518. rekayasa sistem Teknologi Informasi (TI) dan pemeliharaan TI.422 2009 Rp 53.250.636.438 187.451.974.234.200.772 849.411 31.256.929 379.445.PT.500 22.404 199. Limited (GOHJ) *) PT Bina Inti Dinamika (BID) *) PT Aero Hotel Management (AHM*) PT Aero Systems Indonesia **) (d/h PT Lufthansa System Indonesia) PT Citilink Indonesia **) 2010 Rp 30 September 2009 (Tidak diaudit) Rp 52.219. sementara Perusahaan akan memiliki 49% kepemilikan.000 22.978.379.075.916.231.882.907.572 39.340.059 1.126 102.864 399.338.464 175. dengan nilai penyertaan awal masingmasing sebesar Rp 22.

 PSAK 50 (Revisi 2006). PT Citilink Indonesia belum beroperasi secara komersial.000. Pembatalan tersebut dinyatakan dalam Settlement Agreement antara Lufthansa dan Perusahaan tertanggal 10 Desember 2008. atau produksi dari suatu qualifying aset dikapitalisasi sebagai bagian biaya perolehan aset tersebut. antara lain. Standar revisi yang berlaku efektif pada tahun berjalan i. mendirikan perusahaan dengan nama PT Citilink Indonesia. Penerapan awal tidak mempunyai pengaruh signifikan pada laporan keuangan konsolidasi tetapi dapat mempengaruhi akuntansi untuk transaksi-transaksi atau perjanjian yang akan datang. Efektif 1 Januari 2010. Pada tanggal 6 Januari 2009. 131 tanggal 29 Januari 2009 yang dibuat dihadapan Sutjipto.600 lembar saham (60%).H. PENERAPAN PERNYATAAN DAN INTERPRETASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN REVISI (PSAK DAN ISAK) a.200. Perusahaan dan PT Aero Wisata. dan keadaan dimana aset keuangan dan kewajiban keuangan akan saling hapus. .14 273 . Perusahaan mengajukan permohonan arbitrase kepada Singapore International Arbitration Committee.. pengakhiran perjanjian joint venture antara Perusahaan dan Lufthansa. PT Aero Wisata. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Berdasarkan akta No.. 2. Pada tanggal 30 Oktober 2009. Standar ini berlaku terhadap klasifikasi instrumen keuangan dari perspektif penerbit.PT. S. anak perusahaan mengadakan perjanjian kerjasama dengan Good Luck Travel Co.276. dalam aset keuangan. AHM berkedudukan di Jakarta dan bergerak dalam bidang jasa manajemen dan konsultasi bisnis. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Pada tahun 2007. yang bergerak di bidang angkutan udara niaga. Perusahaan tersebut beroperasi secara komersial sejak tahun 2010. pengklasifikasian yang terkait dengan suku bunga. Perusahaan dan anak perusahaan telah menerapkan standar revisi sebagai berikut:  PSAK 26 (Revisi 2008). konstruksi. dan instrumen ekuitas. Limited (GOHJ) yang bergerak di bidang agen perjalanan.. dividen. dimana Perusahaan menuntut. notaris di Jakarta. kerugian dan keuntungan. Lufthansa telah mengalihkan sahamnya di LSI sebanyak 2. sedangkan MHD sebanyak 50 lembar saham atau 10% kepemilikan atas AHM. PT Aero Wisata bersama MHD mendirikan PT Aero Hotel Management (AHM) dengan porsi kepemilikan PT Aero Wisata sebanyak 450 lembar saham atau 90% kepemilikan. Ltd untuk membentuk perusahaan Joint Venture berkedudukan di Jepang dengan nama Garuda Orient Holidays Japan Co. Pada tanggal 15 Desember 2009. Dengan adanya pengalihan saham Lufthansa kepada PT Aero Wisata. dimana persentase kepemilikan Perusahaan atas LSI secara langsung dan tidak langsung menjadi 100%. PT Aero Wisata memiliki kepemilikan sebesar 3. anak perusahaan. Biaya Pinjaman Standar ini mengharuskan biaya pinjaman yang dapat secara langsung diatribusikan dengan perolehan. kewajiban keuangan. Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan Standar revisi ini menetapkan prinsip-prinsip penyajian dan pengungkapan instrumen keuangan serta saling hapus aset keuangan dan kewajiban keuangan. Biaya pinjaman lainnya diakui sebagai beban. dengan komposisi kepemilikan sebesar 67% dan 33% masing-masing untuk Perusahaan dan PT Aero Wisata. Setelah pengalihan tersebut nama PT Lufthansa System Indonesia berubah nama menjadi PT Aero Systems Indonesia. maka proses arbitrase tersebut dibatalkan. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasi.765 saham atau 49% kepada PT Aero Wisata seharga USD 5.

Laporan Keuangan Interim PSAK 8 (revisi 2010). Laporan Arus Kas PSAK 4 (revisi 2009). Standar ini berlaku efektif untuk laporan keuangan konsolidasi yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011:               ii. Standar revisi ini telah diterbitkan tetapi belum diterapkan pada periode berjalan i. Instrumen Keuangan : Penyajian PSAK 53 (revisi 2010). Provisi. Segmen Operasi PSAK 7 (revisi 2010). b. Pembayaran Berbasis Saham PSAK 60. Laporan Keuangan Konsolidasi dan Laporan Keuangan Tersendiri PSAK 5 (revisi 2009).  PSAK 55 (Revisi 2006). Liabilitas Kontinjensi. Penerapan awal standar ini mengakibatkan perbedaan pengukuran nilai wajar atas aset keuangan tertentu terhadap nilai tercatat sebelumnya. PSAK 1 (revisi 2009). bagaimana menentukan nilai wajar dan mengevaluasi penurunan nilai. Peristiwa Setelah Periode Pelaporan PSAK 10 (revisi 2009). Aset Tidak Berwujud PSAK 22 (revisi 2010). Investasi pada Entitas Asosiasi PSAK 19 (revisi 2010). Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama PSAK 15 (revisi 2009). dan Kesalahan PSAK 48 (revisi 2009).15 274 . dan Aset Kontinjensi PSAK 58 (revisi 2009). Manajemen yakin bahwa selain pengukuran nilai wajar atas aset tersebut. efek penerapan awal standar ini tidak signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasi. Instrumen Keuangan : Pengungkapan . Pendapatan PSAK 25 (revisi 2009). Penurunan Nilai Aset PSAK 57 (revisi 2009). Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya PSAK 24 (revisi 2010). 2008 DAN 2007 – Lanjutan Penerapan standar ini mengakibatkan pengungkapan yang lebih luas terhadap instrumen keuangan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam standar revisi ini. serta akuntansi lindung nilai. Imbalan Kerja PSAK 50 (revisi 2010. Perubahan Estimasi Akuntansi. Kebijakan Akuntansi. kewajiban keuangan dan kontrak pembelian atau penjualan item non keuangan. Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran Standar ini menetapkan prinsip-prinsip dasar pengakuan dan pengukuran aset keuangan. Penyajian Laporan Keuangan PSAK 2 (revisi 2009). Standar ini juga menetapkan pedoman untuk penghentian pengakuan.PT. Kombinasi Bisnis PSAK 23 (revisi 2010). Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan Standar ini berlaku efektif untuk laporan keuangan konsolidasi yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2012:         PSAK 3 (revisi 2010). kapan suatu aset dan kewajiban keuangan dinilai pada nilai wajar. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing PSAK 18 (revisi 2010). Pihak-pihak Berelasi PSAK 12 (revisi 2009).

dan Liabilitas Serupa ISAK 10. KEBIJAKAN AKUNTANSI a. Restorasi. dan Iaporan keuangan konsolidasi tersebut disusun berdasarkan nilai historis. SE-02/PM/2002 tanggal 27 Desember 2002 tentang Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Transportasi. Hak minoritas terdiri dari jumlah kepemilikan pada tanggal terjadinya penggabungan usaha (Catatan 3c) dan bagian minoritas dari perubahan ekuitas sejak tanggal dimulainya penggabungan usaha.16 275 . serta tidak dimaksudkan untuk menunjukkan posisi keuangan. Pengendalian Bersama Entitas: Kontribusi Nonmoneter oleh Venturer ISAK 14. Pengendalian tercapai apabila Perusahaan mempunyai hak untuk mengatur dan menentukan kebijakan finansial dan operasional dari investee untuk memperoleh manfaat dari aktivitasnya. kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut.G. 3.PT. Laporan arus kas konsolidasi disusun dengan menggunakan metode mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi. Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan konsolidasi adalah mata uang Rupiah (Rp). Dasar penyusunan laporan keuangan konsolidasi.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan yang merupakan lampiran Keputusan Ketua Bapepam No. b. hasil operasi dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi dan prinsip pelaporan yang berlaku umum di negara dan wilayah hukum lain. ISAK ini berlaku efektif untuk laporan keuangan konsolidasi yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2012:   ISAK 13. Batasan Aset Manfaat Pasti. Program Loyalitas Pelanggan ISAK 11. Lindung Nilai Investasi Neto Kegiatan Usaha Luar Negeri ISAK 15. 2008 DAN 2007 – Lanjutan iii. ISAK berikut ini telah berlaku efektif untuk laporan keuangan konsolidasi yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011:       ISAK 7 (revisi 2009). Persyaratan Minimum dan Interaksinya Manajemen sedang mengevaluasi dampak dari standar dan interpretasi ini terhadap laporan keuangan konsolidasi. Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasi Laporan keuangan konsolidasi disusun menggunakan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan Peraturan Bapepam – LK No. KEP-06/PM/2000 tanggal 13 Maret 2000 dan Surat Edaran Ketua Bapepam No. Prinsip Konsolidasi Laporan keuangan konsolidasi menggabungkan laporan keuangan Perusahaan dan entitas yang dikendalikan oleh Perusahaan (anak perusahaan). Pengendalian juga dianggap ada apabila induk perusahaan memiliki baik secara langsung atau tidak langsung melalui anak perusahaan lebih dari 50% hak suara. Aset Tidak Berwujud – Biaya Situs Web iv. kecuali untuk laporan arus kas konsolidasi adalah dasar akrual. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus ISAK 9. VIII. Distribusi Aset Nonkas Kepada Pemilik ISAK 12. investasi dan pendanaan. langsung dengan . Perubahan atas Liabilitas Aktivitas Purnaoperasi. Kerugian yang menjadi bagian minoritas melebihi hak minoritas dialokasikan kepada bagian induk perusahaan.

Pada saat akuisisi. maka nilai wajar aset non-moneter harus diturunkan secara proposional sampai seluruh selisih tersebut tereliminasi. Selisih lebih antara biaya perolehan dan bagian Perusahaan atas nilai wajar aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi diakui sebagai goodwill dan diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus selama lima tahun. e. c. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi. Keuntungan atau kerugian kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan dalam laporan laba rugi tahun yang bersangkutan. Penggabungan usaha Akuisisi anak perusahaan dicatat dengan menggunakan metode pembelian. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Untuk tujuan penyajian laporan keuangan konsolidasi. Selisih lebih setelah penurunan nilai wajar aset dan kewajiban non-moneter tersebut diakui sebagai goodwill negatif. Pembukuan GOHA diselenggarakan dalam Dolar Australia. diselenggarakan dalam mata uang Rupiah. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Hasil dari anak perusahaan yang diakusisi atau dijual selama tahun berjalan dari tanggal efektif akusisi atau sampai dengan tanggal efektif penjualan termasuk dalam laporan laba rugi konsolidasi. Pada tanggal neraca. Seluruh transaksi antar perusahaan. GOHK dan GOHJ. Penggunaan Estimasi Penyusunan laporan keuangan konsolidasi sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan. saldo. sedangkan pendapatan dan beban dijabarkan dengan menggunakan kurs rata-rata. Transaksi dan Penjabaran Laporan Keuangan Dalam Mata Uang Asing Pembukuan Perusahaan dan anak perusahaan. Hak pemegang saham minoritas dinyatakan sebesar bagian minoritas dari biaya perolehan historis aset bersih. aset dan kewajiban anak perusahaan diukur sebesar nilai wajarnya pada tanggal akuisisi. aset dan kewajiban anak perusahaan tersebut pada tanggal neraca dijabarkan masing-masing dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut.PT. penghasilan dan beban dieliminasi pada saat konsolidasi. kecuali GOHA. Penyesuaian dapat dilakukan terhadap laporan keuangan anak perusahaan agar kebijakan akuntansi yang digunakan sesuai dengan kebijakan akuntansi Perusahaan. Biaya perolehan adalah jumlah nilai wajar (pada tanggal pertukaran) aset yang diberikan. Jika biaya perolehan lebih rendah dari bagian Perusahaan atas nilai wajar aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi yang diperoleh pada tanggal akuisisi.17 276 . dan diperlakukan sebagai pendapatan ditangguhkan dan diakui sebagai pendapatan dengan menggunakan metode garis lurus selama 20 tahun. . Selisih kurs yang terjadi disajikan sebagai bagian dari ekuitas pada akun “Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan”. d. aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. GOHK dalam Won Korea dan GOHJ dalam Yen Jepang. Transaksi-transaksi selama tahun berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi. kewajiban yang terjadi atau diambil alih dan instrumen ekuitas yang diterbitkan sebagai imbalan atas perolehan kendali ditambah biaya lain yang secara langsung dapat diatribusikan pada akuisisi tersebut.

4) karyawan kunci. 2) perusahaan asosiasi. Nilai realisasi bersih merupakan taksiran harga jual persediaan dikurangi beban penjualan yang diperlukan. mengendalikan atau berada di bawah pengendalian bersama. Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata tertimbang. 3) perorangan yang memiliki. atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. 7 mengenai “Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa”. suatu kepentingan hak suara di Perusahaan yang berpengaruh secara signifikan. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Kas dan Setara Kas Untuk tujuan pelaporan arus kas.18 277 . Perusahaan dan anak perusahaan tidak diperlukan mengungkapkan transaksi dengan Badan Usaha Milik Negara/Daerah sebagai pihak hubungan istimewa sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. dan 5) perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam butir (3) atau (4). direksi dan manajer dari Perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut. baik yang dilakukan dengan atau tidak dengan tingkat bunga atau harga. yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan. yang meliputi anggota dewan komisaris. Ini mencakup perusahaan yang dimiliki komisaris. persyaratan-persyaratan dan kondisi yang sama sebagaimana dilakukan dengan pihak ketiga. 2008 DAN 2007 – Lanjutan f. i. dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksudkan dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan Perusahaan). kas dan setara kas terdiri dari kas. dengan Perusahaan (termasuk holding companies. memimpin dan mengendalikan kegiatan Perusahaan. Persediaan Persediaan dinyatakan berdasarkan jumlah terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih. subsidiaries dan fellow subsidiaries). Semua transaksi dengan pihak-pihak hubungan istimewa. direksi atau pemegang saham utama Perusahaan dan perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan Perusahaan. bank dan semua investasi yang jatuh tempo dalam tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya dan tidak dijaminkan serta tidak dibatasi penggunaannya.PT. . Biaya Dibayar Dimuka Biaya dibayar dimuka diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan metode garis lurus. Transaksi Hubungan Istimewa Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah: 1) Perusahaan baik langsung maupun melalui satu atau lebih perantara. diungkapkan dalam laporan keuangan konsolidasi. baik secara langsung maupun tidak langsung. h. g.

tanah dan bangunan dibebankan dalam laporan laba rugi apabila penurunan tersebut melebihi saldo surplus revaluasi aset yang bersangkutan. Selanjutnya setelah penilaian awal. pesawat. Sebelumnya.19 278 . jika ada. dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai. dikurangi dengan penurunan nilai yang ditentukan untuk setiap investasi secara individu. Perubahan kebijakan akuntansi dari model biaya ke model revaluasi dalam pengukuran berikutnya aset tetap pesawat. tanah dan bangunan dinyatakan berdasarkan biaya perolehan. Investasi pada perusahaan asosiasi Perusahaan asosiasi adalah suatu perusahaan dimana induk Perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan. dalam hal demikian. Penghasilan dan aset dan kewajiban dari perusahaan asosiasi digabungkan dalam laporan keuangan konsolidasi dicatat dengan mengunakan metode ekuitas. dalam hal ini kenaikan revaluasi hingga sebesar penurunan nilai aset akibat revaluasi tersebut. 2008 DAN 2007 – Lanjutan j. dan akan diakui sebagai pendapatan atau beban pada saat pelepasan investasi yang bersangkutan. k. Revaluasi dilakukan dengan keteraturan yang memadai untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca. Surplus revaluasi pesawat. tanah dan bangunan langsung dikreditkan surplus revaluasi pada bagian ekuitas. melalui partisipasi dalam pengambilan keputusan atas kebijakan finansial dan operasional investee. namun tidak mempunyai pengendalian atau pengendalian bersama. Bagian Perusahaan atas kerugian perusahaan asosiasi yang melebihi nilai tercatat dari investasi tidak diakui kecuali jika Perusahaan mempunyai kewajiban atau melakukan pembayaran kewajiban perusahaan asosiasi yang dijaminnya. . dikreditkan dalam laporan laba rugi. tanah dan bangunan dinyatakan berdasarkan nilai revaluasi yang merupakan nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. aset tetap pesawat. Penurunan jumlah tercatat yang berasal dari revaluasi pesawat. Properti investasi awalnya dinilai sebesar biaya perolehan. Investasi pada perusahaan asosiasi dicatat di neraca sebesar biaya perolehan dan selanjutnya disesuaikan untuk perubahan dalam bagian kepemilikan Perusahaan atas aset bersih perusahaan asosiasi yang terjadi setelah perolehan. l. tanah dan bangunan diterapkan secara prospektif. properti investasi dinilai dengan menggunakan nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui pada laporan laba rugi pada saat terjadinya. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. tanah dan bangunan yang telah disajikan dalam ekuitas dipindahkan langsung ke saldo laba pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya. Kenaikan yang berasal dari revaluasi pesawat. Properti Investasi Properti investasi adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau keduanya) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai atau keduanya. m. kecuali sebelumnya penurunan revaluasi atas aset yang sama pernah diakui dalam laporan laba rugi. Perubahan Ekuitas Anak Perusahaan dan Perusahaan Asosiasi Perubahan nilai investasi yang disebabkan terjadinya perubahan nilai ekuitas anak perusahaan/perusahaan asosiasi yang bukan merupakan transaksi antara Perusahaan dengan anak perusahaan/perusahaan asosiasi diakui sebagai bagian dari ekuitas dengan akun Selisih Transaksi Perubahan Ekuitas Anak perusahaan/Perusahaan asosiasi. Aset Tetap Sejak 31 Desember 2008.PT. tambahan kerugian diakui sebesar kewajiban atau pembayaran tersebut.

10 Aset sewaan disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan aset tetap yang dimiliki sendiri atau disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode sewa dan umur manfaatnya.20 279 . sebagai berikut: Tahun Bangunan Hanggar Gedung kantor Kendaraan Inventaris dan peralatan Tanah tidak disusutkan. 2007 : 12 . GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Biaya-biaya lain yang terjadi selanjutnya yang timbul untuk menambah. dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi akuntansi diterapkan secara prospektif. 2007 : 20) 3-5 2 . Apabila aset tetap tidak digunakan lagi atau dijual.20 (2008.15) 10 12 Periode inspeksi berikut Periode overhaul berikut Aset tetap non pesawat kecuali tanah dan bangunan dicatat berdasarkan harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan penurunan nilai jika ada dan disusutkan dengan metode garis lurus selama masa manfaat aset tesebut. Biaya perolehan tersebut termasuk biaya pinjaman yang terjadi selama masa pembangunan yang timbul dari hutang yang digunakan untuk pembangunan aset tersebut. maka nilai tercatat dikeluarkan dari laporan keuangan konsolidasi dan keuntungan atau kerugian yang dihasilkan diakui dalam laporan laba rugi konsolidasi. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Aset tetap pesawat disusutkan hingga ke estimasi nilai residu dengan mengunakan metode garis lurus selama taksiran masa manfaat. jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi tertentu terhadap jumlah pengeluaran untuk perolehan aset tersebut. nilai residu dan metode penyusutan direview minimum setiap akhir tahun buku. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing aset tetap yang bersangkutan pada saat selesai dan siap digunakan. Tingkat kapitalisasi adalah rata-rata tertimbang dari biaya pinjaman terhadap saldo pinjaman terkait selama periode tersebut. sebagai berikut: Tahun Rangka pesawat Mesin Simulator Rotable part Aset pemeliharaan Inspeksi rangka pesawat Overhaul mesin 18 . tidak termasuk jumlah pinjaman yang spesifik digunakan untuk perolehan aset tertentu lainnya.15) 18 . .20 (2008. mengganti atau memperbaiki aset tetap dicatat sebagai biaya perolehan aset jika dan hanya jika besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas dan biaya perolehan aset dapat diukur secara andal. Taksiran masa manfaat. Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi pada saat terjadinya.PT. Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan. 40 40 (2008. Untuk pinjaman yang tidak spesifik digunakan untuk perolehan aset tertentu. 2007 : 12 .

Penurunan Nilai Aset Bila nilai tercatat aset melebihi taksiran jumlah yang dapat diperoleh kembali maka nilai tercatat tersebut diturunkan ke jumlah yang dapat diperoleh kembali tersebut. Rental kontijen diakui sebagai beban di dalam periode terjadinya. Jika harga jual diatas nilai wajar. diklasifikasikan sebagai sewa operasi. Pembayaran sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus selama masa sewa. Sewa Sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. maka laba atau rugi diakui segera. Dalam hal insentif diperoleh dalam sewa operasi. Kewajiban kepada lessor disajikan di dalam neraca sebagai kewajiban sewa pembiayaan. sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum. maka laba atau rugi diakui segera. o. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. tidak segera diakui sebagai pendapatan tetapi ditangguhkan dan diamortisasi selama masa sewa. Jika harga jual dibawah nilai wajar. dikapitalisasi sesuai dengan kebijakan akuntansi mengenai biaya pinjaman. Beban keuangan dibebankan langsung ke laba rugi kecuali beban keuangan itu secara langsung diatribusikan pada aset yang memenuhi syarat. Jika transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa operasi dan transaksi tersebut dilakukan pada nilai wajar. selisih lebih diatas nilai wajar tersebut ditangguhkan dan diamortisasi selama periode penggunaan aset. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus selama 20 .PT. insentif tersebut diakui sebagai kewajiban. Sebagai Lessee Aset yang diperoleh melalui sewa pembiayaan dicatat pada awal masa sewa sebesar nilai wajar aset sewaan Perusahaan dan anak perusahaan yang ditentukan pada awal kontrak atau. kelola dan alih dinyatakan berdasarkan biaya perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan.21 280 . yang ditentukan sebagai nilai tertinggi antara nilai jual neto dan nilai pakai. Pembayaran sewa dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pengurangan dari kewajiban sewa sehingga mencapai suatu tingkat bunga yang konstan (tetap) atas saldo kewajiban. Sewa lainnya.30 tahun. - . yang tidak memenuhi kriteria tersebut. kecuali rugi tersebut dikompensasikan dengan pembayaran sewa masa depan yang lebih rendah dari harga pasar. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Aset tetap dalam rangka bangun. n. Jual dan Sewa–Balik Aset yang dijual berdasarkan transaksi jual dan sewa-balik diperlakukan sebagai berikut: Jika suatu transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa pembiayaan. selisih lebih hasil penjualan diatas nilai tercatat. maka rugi tersebut ditangguhkan dan diamortisasi secara proporsional dengan pembayaran sewa selama periode penggunaan aset. kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati pengguna. jika lebih rendah. Keseluruhan manfaat dari insentif diakui sebagai pengurangan dari biaya sewa dengan dasar garis lurus kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat yang dinikmati pengguna.

r. . Frequent Flyer Program Perusahaan menyelenggarakan program “Garuda Frequent Flyer” yang menyediakan penghargaan perjalanan kepada anggotanya berdasarkan akumulasi jarak tempuh. q. Penghargaan yang tidak digunakan diakui sebagai pendapatan pada saat kadaluarsa. Penghasilan dividen dari investasi saham diakui pada saat hak menerima dividen telah ditetapkan. maka rugi sebesar selisih antara nilai tercatat dan nilai wajar diakui segera. jasa boga. Bila terdapat komitmen untuk perawatan pesawat sesuai yang diatur dalam perjanjian sewa operasi. dihitung dengan merujuk pada periode perbaikan besar atau inspeksi berikutnya. Beban Tangguhan Biaya-biaya lain yang memenuhi kriteria pengakuan aset akan ditangguhkan dan diamortisasi dengan metode garis lurus berdasarkan masa manfaatnya. Sebagian pendapatan penumpang diatribusikan terhadap penghargaan perjalanan yang diestimasi dan dihitung berdasarkan ekpektasi penggunaan penghargaan tersebut. Pendapatan operasional diakui pada saat penerbangan telah dilakukan. Pendapatan atas jasa perhotelan.22 281 . s. Penjualan didalamnya termasuk juga atas pemulihan surcharges selama tahun berjalan. biro perjalanan dan jasa sistem reservasi serta jasa lain yang berhubungan dengan penerbangan diakui sebagai pendapatan pada saat jasa diserahkan. Beban diakui pada saat terjadi atau sesuai dengan masa manfaatnya. Pengakuan Pendapatan dan Beban Penjualan tiket penumpang dan jasa kargo awalnya diakui sebagai pendapatan diterima dimuka transportasi. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Untuk sewa operasi. Dalam hal ini. jika relevan. Pendapatan sewa diakui sesuai dengan Catatan 3o. ditangguhkan sampai penghargaan digunakan dan dicatat sebagai pendapatan ditangguhkan. Pendapatan jasa perbaikan dan pemeliharaan pesawat atas kontrak jangka panjang diakui dengan menggunakan metode persentase penyelesaian. Biaya Pemeliharaan Pesawat Biaya inspeksi besar rangka pesawat dan perbaikan besar mesin pesawat milik sendiri dan sewa pembiayaan dikapitalisasi dan disusutkan selama periode sampai dengan inspeksi atau perbaikan besar berikutnya. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Biaya perbaikan dan pemeliharaan lainnya dibebankan pada saat terjadinya. p. penyisihan diakui selama jangka waktu sewa atas kewajiban pengembalian sesuai yang dipersyaratkan dalam perjanjian tersebut.PT. jika nilai wajar aset pada saat transaksi jual dan sewa-balik lebih rendah daripada nilai tercatatnya. Untuk sewa pembiayaan. kewajiban kontrak untuk menentukan nilai sekarang dari perkiraan biaya masa depan dari inspeksi rangka pesawat dan perbaikan mesin berdasarkan biaya aktual yang dibebankan dalam laporan laba rugi. Pendapatan jasa perbaikan dan pemeliharaan pesawat atas kontrak jangka pendek diakui pada saat jasa diserahkan kepada langganan. Pendapatan bunga diakru berdasarkan waktu terjadinya dengan acuan jumlah pokok terhutang dan tingkat bunga yang sesuai. Penyisihan dibuat berdasarkan pengalaman historis. petunjuk pabrik dan. tidak diperlukan penyesuaian kecuali jika telah terjadi penurunan nilai. nilai tercatat diturunkan ke jumlah yang dapat dipulihkan.

selisih lebih jumlah tercatat hutang diatas jumlah pembayaran kas masa depan yang ditetapkan dalam persyaratan baru hutang dalam restrukturisasi hutang yang terbatas pada modifikasi atas persyaratan hutang langsung diakui sebagai keuntungan hasil restrukturisasi. Jika nilai tercatat pinjaman lebih kecil dari jumlah pembayaran kas masa depan yang ditetapkan dalam persyaratan baru hutang dalam restrukturisasi yang terbatas pada modifikasi persyaratan. Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan kerja jangka panjang di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan kerja pasti. v. dengan memperhatikan unsur risiko dan ketidakpastian yang melekat pada kewajiban. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Restrukturisasi Hutang Bermasalah Sebelum tanggal 1 Januari 2010. maka tidak ada keuntungan ataupun kerugian hasil restrukturisasi yang diakui. Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan pasca-kerja di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan pasca-kerja disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial belum diakui dan biaya jasa lalu belum diakui. Imbalan Kerja Jangka Panjang Perhitungan imbalan kerja jangka panjang ditentukan dengan menggunakan Projected Unit Credit. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari jumlah yang lebih besar diantara nilai kini kewajiban imbalan pasti atau nilai wajar aset program diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diprakirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Setelah restrukturisasi. Bila beberapa atau keseluruhan dari manfaat ekonomis mengharuskan penyelesaian kewajiban diestimasi diharapkan dapat dipulihkan dari pihak ketiga. apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested. Kewajiban diestimasi diukur menggunakan estimasi arus kas untuk menyelesaikan kewajiban kini dengan jumlah tercatatnya sebesar nilai kini dari arus kas tersebut. . 2008 DAN 2007 – Lanjutan t. Kewajiban Diestimasi Kewajiban diestimasi diakui bila Perusahaan dan anak perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu dan besar kemungkinan Perusahaan dan anak perusahaan diharuskan menyelesaikan kewajiban serta jumlah kewajiban tersebut dapat diestimasi secara andal.23 282 . dan sebaliknya diakui sebagai beban dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested. u. Imbalan Pasca-Kerja dan Imbalan Kerja Jangka Panjang Imbalan Pasca-Kerja Perhitungan imbalan pasca-kerja ditentukan dengan menggunakan metode Projected Unit Credit. dan dikurangi dengan nilai wajar aset program. Setelah restrukturisasi. jumlah pembayaran kas masa depan yang ditetapkan dalam persyaratan baru dikurangkan dari nilai tercatat hutang dan tidak ada beban bunga yang diakui hingga jatuh tempo hutang tersebut. Jumlah diakui sebagai kewajiban diestimasi merupakan taksiran terbaik yang diharuskan menyelesaikan kewajiban pada tanggal neraca. Biaya jasa lalu dan keuntungan (kerugian) aktuarial diakui langsung pada tahun yang bersangkutan. piutang diakui sebagai aset apabila terdapat kepastian tagihan dapat diterima dan jumlah piutang dapat diukur secara andal. Biaya jasa lalu dibebankan langsung.PT. Dampak restrukturisasi tersebut diakui secara prospektif sejak saat restrukturisasi dilaksanakan. beban bunga dihitung dengan menggunakan tingkat bunga efektif konstan dikalikan dengan nilai tercatat hutang pada awal setiap periode sampai dengan jatuh temponya.

 Tersedia untuk dijual Investasi jangka panjang dalam bentuk saham. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. biaya transaksi dan premium atau diskonto lainnya). Aset keuangan Perusahaan dan anak perusahaan diklasifikasikan sebagai berikut:  Nilai wajar pada laporan laba rugi Derivatif keuangan diklasifikasikan dalam kategori ini kecuali ditujukan sebagai derivatif lindung nilai. kecuali untuk piutang jangka pendek di mana pengakuan bunga tidak material.24 283 . kecuali investasi pada perusahaan asosiasi. selama perkiraan umur dari instrumen keuangan. Bunga diakui dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Keuntungan atau kerugian dari derivatif non lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. kecuali aset keuangan itu diklasifikasikan sebagai “at fair value through profit or loss”. Pinjaman dan piutang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Aset dan kewajiban pajak tangguhan disajikan di neraca. atau jika lebih tepat. sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba kena pajak pada masa datang. Pajak tangguhan dibebankan atau dikreditkan dalam laporan laba rugi. Pajak Penghasilan Beban pajak kini ditentukan berdasarkan laba kena pajak dalam tahun yang bersangkutan yang dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku. diklasifikasikan dalam kategori ini. dana pemeliharaan pesawat dan uang jaminan atas sewa operasi. dikurangi penurunan nilai.PT. Tingkat bunga efektif adalah tingkat bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas masa depan (termasuk semua biaya yang dibayar atau diterima yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif. piutang usaha dan piutang lain-lain yang mempunyai jangka waktu pembayaran yang tetap dan yang tidak diperdagangkan dalam pasar aktif. Pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal neraca. Aset dan kewajiban pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode mendatang yang timbul dari perbedaan jumlah tercatat aset dan kewajiban menurut laporan keuangan dengan dasar pengenaan pajak aset dan kewajiban. yang mana dari awal diukur dengan menggunakan nilai wajar. investasi ini diukur sebesar biaya perolehan. dan pengukuran awal dengan menggunakan nilai wajar ditambah dengan biayabiaya transaksi. diklasifikasikan dalam kategori ini. Metode bunga efektif Metode bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan yang diamortisasi dari instrumen keuangan dan mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode terkait.  Pinjaman dan Piutang Bank. x. kecuali pajak tangguhan yang dibebankan atau dikreditkan langsung ke ekuitas. Bila tidak ada pasar aktif untuk investasi tersebut dan nilai wajar tidak dapat diukur dengan andal. 2008 DAN 2007 – Lanjutan w. deposito berjangka. kecuali aset dan kewajiban pajak tangguhan untuk entitas yang berbeda. dikurangi penurunan nilai. digunakan periode yang lebih pendek atas nilai tercatat bersih pada pengakuan awal. . Kewajiban pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan Aset pajak tangguhan diakui untuk perbedaan temporer yang boleh dikurangkan. Aset Keuangan Seluruh aset keuangan yang diakui dan yang tidak diakui pada tanggal pembelian atau penjualan suatu aset keuangan diatur dalam kontrak yang dimana persyaratan periode yang diperlukan aset keuangan ditentukan oleh pasar. atas dasar kompensasi sesuai dengan penyajian aset dan kewajiban pajak kini.

25 284 . penurunan nilai adalah sebesar perbedaan antara nilai tercatat dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan yang. Untuk aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. Jika Perusahaan memiliki secara substansial seluruh risiko dan manfaat kepemilikan aset keuangan yang ditransfer. kerugian penurunan nilai diukur sebesar selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini dari nilai estimasi arus kas masa depan yang didiskontokan pada tingkat pengembalian pasar atas aset keuangan sejenis. termasuk yang diakui kesulitan keuangan debitur. dievaluasi terhadap indikator penurunan nilai pada setiap tanggal neraca. Bila piutang usaha atau piutang lain-lain tidak tertagih.  Aset keuangan diukur pada amortized cost Dalam penentuan apakah terdapat bukti objektif bahwa kerugian atas penurunan nilai telah terjadi atas aset keuangan. Perusahaan masih mengakui aset keuangan dan juga mengakui pinjaman yang dijamin sebesar pinjaman yang diterima. dikurangi kerugian penurunan nilai Jika terdapat bukti objektif bahwa rugi penurunan nilai telah terjadi atas aset keuangan yang diukur pada biaya. Pemulihan dikemudian hari dari jumlah yang dihapuskan sebelumnya. maka Perusahaan mengakui keterlibatan berkelanjutan atas aset yang ditransfer dan kewajiban terkait sebesar jumlah yang mungkin harus dibayar. kegagalan atau peningkatan signifikan atas jumlah pembayaran tertunda atas kredit rata-rata sebelumnya. Kewajiban Keuangan dan Instrumen Ekuitas Klasifikasi sebagai hutang atau ekuitas Kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh Perusahaan dan anak perusahaan diklasifikasikan sesuai substansi perjanjian kontrak dan definisi kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas. Jika Perusahaan tidak mentransfer serta tidak memiliki secara substansial atas seluruh risiko dan manfaat kepemilikan serta masih mengendalikan aset yang ditransfer. atau Perusahaan mentransfer aset keuangan dan secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset kepada entitas lain. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Pendapatan diakui berdasarkan suku bunga efektif untuk instrumen keuangan selain instrumen keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset keuangan. pengalaman kolektibilitas pembayaran di masa lalu. Aset keuangan diturunkan nilainya bila terdapat bukti yang objektif. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.PT. piutang dihapuskan terhadap akun penyisihan. . Nilai tercatat aset keuangan diturunkan secara langsung melalui kerugian penurunan nilai untuk seluruh aset keuangan. Kerugian penurunan nilai tersebut tidak dihapus pada periode berikutnya. manajemen mempertimbangkan beberapa faktor seperti. selain yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Perubahan nilai tercatat akun penyisihan diakui dalam laporan laba rugi. yang berdampak pada estimasi arus kas masa depan dari investasi. dikreditkan terhadap akun penyisihan. Penghentian pengakuan aset keuangan Perusahaan menghentikan pengakuan aset keuangan jika dan hanya jika hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset berakhir. seperti kesulitan keuangan signifikan pada penerbit atau terjadi perubahan lingkungan operasi yang merugikan penerbit. y. didiskonto dengan tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut. Penurunan nilai aset keuangan Aset keuangan. kecuali untuk piutang usaha dan piutang lain-lain dimana nilai tercatat diturunkan melalui akun penyisihan.  Aset keuangan diukur pada biaya.

PT. Perolehan kembali atas saham Perusahaan yang sebelumnya diterbitkan dihitung menggunakan metode biaya. derivatif dicatat sebagai kewajiban. Segmen usaha adalah komponen perusahaan yang terlibat dalam menghasilkan produk atau jasa individual maupun kelompok produk atau jasa terkait dan komponen itu memiliki risiko serta tingkat pengembalian yang berbeda dengan segmen usaha lainnya. . Semua derivatif dicatat sebagai aset apabila nilai wajarnya positif. Kewajiban keuangan lainnya Hutang bank. setelah dikurangi biaya transaksi. Instrumen keuangan derivatif Instrumen derivatif awalnya diakui sebesar nilai wajar pada tanggal kontrak derivatif dibuat dan kemudian dinilai kembali sebesar nilai wajarnya pada setiap tanggal neraca. hutang jangka panjang. kewajiban Perusahaan telah dibebaskan. Penghentian pengakuan kewajiban keuangan Kewajiban keuangan dihentikan pengakuannya jika. Laba per Saham Laba bersih per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar pada tahun yang bersangkutan. jumlah yang ditangguhkan dalam ekuitas diakui dalam laporan laba rugi pada periode yang sama dimana item yang dilindung nilai mempengaruhi laba atau rugi bersih. bb.26 285 . Bentuk primer pelaporan segmen adalah segmen usaha. jika sebaliknya. Informasi Segmen Informasi segmen disusun sesuai dengan kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian. setelah dikurangi biaya penerbitan langsung. Untuk lindung nilai efektif terhadap eksposur perubahan nilai wajar. Laba per saham dilusian dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang telah disesuaikan dengan dampak dari semua efek berpotensi bersifat dilutif pada saham. akumulasi keuntungan dan kerugian dalam ekuitas direklasfikasi ke laporan laba rugi dalam periode yang sama selama aset atau kewajiban yang terkait mempengaruhi laba rugi. Instrumen ekuitas dicatat sebesar hasil yang diterima. dan selanjutnya dinilai berdasarkan biaya perolehan yang diamortisasi. dan beban bunga diakui berdasarkan suku bunga efektif. Jika transaksi lindung nilai mengakibatkan pengakuan aset atau kewajiban. sedangkan segmen sekunder adalah segmen geografis. dengan menggunakan metode suku bunga efektif. z. Untuk lindung nilai yang tidak mengakibatkan pengakuan aset atau kewajiban. aa. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Treasury stock tersebut dicatat pada harga perolehan dan disajikan sebagai pengurang jumlah modal saham. Perubahan nilai wajar instrumen derivatif keuangan yang ditujukan untuk lindung arus kas masa depan yang efektif diakui sebagai bagian dari ekuitas dan bagian yang tidak efektif langsung diakui dalam laporan laba rugi. item yang dilindung nilai disesuaikan dengan perubahan nilai wajar yang atribusikan terhadap risiko yang dilindung nilai dan perubahan tersebut langsung diakui dalam laporan laba rugi. hutang usaha dan hutang lainnya pada awalnya dinilai berdasarkan nilai wajar. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Instrumen ekuitas Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang membuktikan hak residual atas aset Perusahaan setelah dikurangi seluruh kewajibannya. dan hanya jika. dibatalkan atau berakhir.

281.682.375 1.100.000 55.177.199.752 2.736.661.903.757. KAS DAN SETARA KAS 30 September 2010 Rp 7.902.167.000.053.608.554 17.625.670 1.245.204.508.861 19.178.000 40.250.406.000 11.640.628 19.556 7.228.328.037.131.293.000 1.589.810.409.A Bank Negara Indonesia Bank of China Bank Rakyat Indonesia National Australian Bank Mizuho Bank Saudi Arabian Bank Commonwealth Bank of Australia Llyods Bank Ltd California Bank and Trust Industrial and Commercial Bank of China The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Korean Exchange Bank Bank Central Asia Bank Internasional Indonesia Deutsche Bank Lain-lain (dibawah Rp 3 miliar) Jumlah Deposito berjangka Bank Negara Indonesia Bank Rakyat Indonesia Bank Bukopin Bank CIMB Niaga Citibank N.970.401 63.314.592.043 3.722.550.188.190 9.154.000 775.578 269.000.969.495 415.717.328 2.000 3.831.933 2007 Rp 8.000 1.000.000 19.875 15.502.000 8.529 9.995 678.461.978.900.285 9.000 86.904.841 3.450.733 2009 (Tidak diaudit) Rp 6.469.000.000 1.585.081.774 .418 2.142 31.801.438.706.403.102 4.074 3.356 3.309.373 28.222.962.970.750 733.000 1.028.205 126.607.285.183 1.043 42.321.750 24.169.000.162.210.193.696.281.385.638.219 22.117.418.744.385 2.467.484.000.676.374.000.180.217 15.811.602 2.030.000.565.000.729.025 6.566.788.963.471.000 16.000.084 12.451.27 286 .777.859.367 1.126.135.566 5.800 4.305.765 35.881 32.705.601 16.039.212.700.784.921.233.000.000.591 2.857.918 72.000 40.000.406 272.006.000 17.710.837.000 45.757.190.720 43.900.865.000.000 8.985.563.835 261.000 32.749. Aset dan kewajiban yang digunakan bersama dalam satu segmen atau lebih dialokasikan kepada setiap segmen.312 9.000.501.949.000.831.051 1.000.000 10.000.087.376.000 1.640.092.009.262.427.758.802.947.000 38.917 1.142 53.000.029.824.908.245.770 4.179.000.500.000.979 5.316 587.332.000.234.482 9.384.676.583 720.779.142.776.726 4.000 8.000.384.000.853 3.471.612.506.504.243.071.487 58.000.500.876 946.048.385.948.925.776 2.431.040.385 13.PT.812 545.597.086.824.000 13.860 6.785 12.000 8.416.797.200 44.000.430.536.624.044.000.000 48.347.000 4.000 6.567.796 5.000 8.248 1.919 Kas Rupiah Dolar Amerika Serikat Mata uang asing lainnya Jumlah Bank Bank Mandiri Citibank N.526.094.961.890.219.443.965.000 30.821 46.133.467 219.448.277 3.676.256.763.498 1.601.744.000 41.792.000 144.587.A National Australian Bank Bank Tabungan Pensiun Nasional Bank Mandiri Bank Danamon Bank Mega Syariah Bank Korea Bank Himpunan Saudara Bank Permata Bank Mega Bank Artha Graha Bank Pembangunan Daerah Jatim Bank Internasional Indonesia Bank Ekspor Indonesia Bank of China Jumlah Jumlah 2009 Rp 3.251.663.836.144 200.422 3. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Segmen geografis adalah komponen perusahaan yang dapat dipisahkan berdasarkan lingkungan ekonomi tertentu yang menghasilkan produk atau jasa.100.931 1.050.450.838.521.399.454.400.806 1.536.431.000 4.760 3.194 64.196.369.937.246.102 149.874.373.000.254 4.875 14.000.778.288.000.968.871 86. 4.343.923.184.397.646.604.965.603.147 1.490 10.002 517.496.162 4.844.591.357 57.669.056.410.300.450.000.592.342 4.124.070.000 5.600.722.843.000.188.000 16.980.077 23.005.965.777.155 104.401.540.835.144 646.474.440.875 294.520 210.785.580 2.000 38.014.914 56.938.000.704.913 49.350.544.651.213 18.471.000 10.019 122.967 351.188.881.714.473 819.861.954.748 12.722.298 8.884.805.271 1.000 230.971.648.000. pendapatan dan beban yang terkait juga dialokasikan kepada segmen.245 241.788 6.000 502.132.555 6.256.304.006 12.166.446.923 31.200.000 1.000.290.125.648.379.785 9.071 2.948 682.235.207.000.000 1.000.000.043.800.600 359.294.264.000.870.000 5.675.700.546.860 2.272.000 5.103.827 4.606 13.427.015.000.078.366.121.878.004.810.999.578.000 2.954 2.801 6.348.876.180.455 1.871 8.154.000. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.700.796.923 1.925.539.927 1.347 6.238.999.174.282.798.800.320.826.556.464.237 24.148.892.086. setiap komponen memiliki risiko dan tingkat pengembalian yang berbeda tergantung pada letak operasi pada lingkungan ekonomi.977.000.479 4.810.009.255.381 11.000 14. jika dan hanya jika.174.068.259 26.629.000 4.933 309.000.411 287.224.552 1.000.662.922.192.850.508 529.043.000 2.111.204.346.742 1.221 31.491.737 1.054.000.973.454.292.000 25.756.447 3.308.381.043.338.600.122 31 Desember 2008 Rp 3.536 35.715.600.280.000.992.958.717.508.470.018.712 18.000 20.301.536 3.

706 76.000.585.888.665.653.238.974.00% .848.3.000.158 16.25% .044.845 559.414.922.813.052.7.3.850.694 649. 2008 DAN 2007 – Lanjutan 30 September 2010 Tingkat suku bunga per tahun Rupiah Dolar Amerika Serikat Dolar Australia Won Korea Renmimbi Cina 5.746 677.9.540.582.221 3.131.923.458.994.78% - Kas dan setara kas dalam mata uang fungsional dan mata uang non-fungsional dari Perusahaan dan anak perusahaan adalah sebagai berikut: 30 September 2010 Rp Mata uang fungsional Rupiah Mata uang non fungsional Dolar Amerika Serikat Dolar Australia Renmimbi Cina Yen Jepang Riyal Saudi Arabia Euro Dolar Singapura Poundsterling Inggris Dolar Hongkong Won Korea Mata uang asing lainnya (dibawah Rp 5 miliar) 2009 (Tidak diaudit) Rp 31 Desember 2008 Rp 2009 Rp 2007 Rp 369.234.78% - 2009 (Tidak diaudit) 2009 6.426.9.2.662.762 6.032.298 96.452.25% 2.973 21.473.236.75% 2.008.461.969.149.591.9.843 54.3.25% 2007 Rp 11.484.894 4.000 6.918 659.000.219 11.096 28.50% .000.88% 2.515 743.080.000.358.848 13.100.706 7.956.993.350.257.852.680 26.836 11.992 6.600.111.287.807.34% .899 56.886.714.363.007.451.065.50% 2.25% 2.494 22.186.923.134.443.265 1.469.88% 2.886.180.976 2.530.621.020 30.654.654.10.364.50% .784.25% 3.224. .75% Deposito berjangka pada Bank CIMB Niaga digunakan sebagai jaminan atas pinjaman PT Mandira Erajasa Wahana (Catatan 18).017.457.885.494 9.898.000 7.000 6.55% .399.973 20.50% 3.212.781.926.563.783.88% 6.75% .14% 2009 Rp 11.679 76.536.9.50% .968 12.221 6.941.920 24.655.630.799 25.522.835 63.703.551.527. Jumlah Tingkat bunga per tahun 2009 (Tidak diaudit) Rp 11.25% 31 Desember 2008 Rp 11.000 11.250 1.203 15.599.000 11.446.PT.75% 2.594.50% .226.050 19.726 13.248 1.000.555.000 11.000.297.676 13.A.000.631.A mempunyai jangka waktu lebih dari tiga bulan. Deposito berjangka pada Citibank N.281 127.640 1. INVESTASI JANGKA PENDEK 30 September 2010 Rp Deposito berjangka Bank CIMB Niaga Citibank N.000.886.600.00% .839.75% .159 5.002.513.25% 2.349 21.843 4.78% - 31 Desember 2008 7.423 7.000 14.292.6.922.057 10.000.512.141.000 8.091 24.00% - 2007 8.984 8.650.000.844.490 24.8.25% 2.983.574.052.610 71.75% .608.040 141.929 13.782.582.786.889 5.889 46.367.442.180.75% .361 76.764 725. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.13.609 10.236.507.73% 6.908.7.724.4.75% 2.931.624.709.75% .104.248.000.790.621.128 113.394.407.721.496.959 25.60% .633.28 287 .455.957.340 69.000 3.077.

012.814.684.973 938.690 42. 2008 DAN 2007 – Lanjutan 6.646.865 12.117.358 (317.097.201 539.647.671. Berdasarkan Umur Piutang 30 September 2010 Rp Belum jatuh tempo Jatuh tempo 1 .173 44.621.137.905.284.443.107.150.430 217.075.923) 1.529.033 8.156.126.934.276.949.809.115 510.759.901.321.086.011 22.114.559.813.984.058.885.264) 831.572.391.789.751) 890.953 (319.066.494.479.609 58.602.351.480.301.267 5.310.556.642 22.735 1.983.512 Pihak hubungan istimewa (Catatan 45) Pihak ketiga Jasa penerbangan Agen penumpang Agen kargo Kartu kredit Perusahaan penerbangan Pos Haji Lain-lain Sub jumlah Non jasa penerbangan Jumlah Penyisihan piutang ragu-ragu Jumlah Jumlah bersih 2009 Rp 16.708.838 539.987.585.867.294.796.346.384.126 15.525.084.156.636 345.180 29.207.484.367.939.512.249 (323.426.066 495.799.129.126.529.301 277.696 1.061 2009 (Tidak diaudit) Rp 16.484.757.334 b.172.357.833.287 404.245.061.886.759 (317.919.745 356.29 288 .492.993.647.294.034 115.397.956.591.327 1.079.080 112.239.360 hari > 360 hari Jumlah Penyisihan piutang ragu-ragu Jumlah bersih 583.326.800.465 (319.630 1.263 7.540. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.728.401 31 Desember 2008 Rp 14.003.625 176.972 182.531.020.345.535.916 1.768.157.231.491.683 451.092.066.145.218.329.712.152 82.689 831.114.542 84.156.456.134 1.231.197.008 512.077.162.075.765 105.198.696 842.344.PT.334 299.604 2009 Rp 225.621 370.224.738.060.152.205.750.204.449.730 31 Desember 2008 Rp 189.366.951 2007 Rp 20.613.630.126.191.795.468.921.751) 907.561 651.187 88.575 10.861.642.621.264) 817.779.015 180.923) 1.077.975.039.082 (260.070 176.748) 1.139.844 18.094.852 49.862.352.813.520 1.510 1.919 14.003.475.097.321.717 119.251.084 179.483 (260.453.516 862.894.743.220.510.607.136 483.140.572.793 74.842.652.441.788.347 1.653 (300.553) 1.630.599 617.833.171 12.554.424.237.646.836.613.260.086.779 614.454.065.362 116.722.244.145.511.796.184.639. Berdasarkan Debitur 30 September 2010 Rp 19.757 454.676 1.008 .903.533.903.039.449 94.098.822.534.327 279.745.547.184.151.297.201 2007 Rp 386.067.638.921.375 7.349.297.968.320 1. PIUTANG USAHA a.004.046.009 117.610.757 2009 (Tidak diaudit) Rp 394.981.631.748) 1.541.702 (300.944.852.60 hari 61 .426.124 246.310 (323.204.844 8.281.981.536.161.146.607 907.536.294.606 1.443 523.245.731 667.795.445.413 160.987.610.613.112.049.046.438.778.096 488.553) 1.145.049.597.764.180 hari 181 .764.350.160.779 1.730 407.658.240 96.

701 (40.557 82.523.974. Berdasarkan Mata Uang 30 September 2010 Rp Rupiah Yen Jepang Dolar Amerika Serikat Dolar Australia Mata uang asing lainnya Jumlah 957.173.915.264 19.267 89.231.764.218.082 (260.085 50.760 73.117.532.065.655 1.120 292.767) 260.532.436.591.881.349.101.530 (52.536.077.756.497. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.748) 1.722.071) 323.553) 615.049.475.506.116.536.484.357.151.621.292 106.730 Mutasi penyisihan piutang ragu-ragu: 30 September 2010 Rp 2009 (Tidak diaudit) Rp 31 Desember 2008 Rp 2009 Rp 2007 Rp Saldo awal periode Penambahan Pengurangan Saldo akhir periode 300. Manajemen juga berpendapat bahwa tidak terdapat risiko yang terkonsentrasi secara signifikan atas piutang kepada pihak ketiga.538.929.557 82.758.469 49.610 155.000.484.903.329.077.659.651.921 291.756.559.875.267 89.399 434.740 1.867.506.246 23.553 319.487.085 50.294.080 78.962.546 31 Desember 2008 Rp 73.700.748 Manajemen berpendapat bahwa penyisihan piutang ragu-ragu cukup untuk menutup kerugian yang mungkin timbul akibat tidak tertagihnya piutang.512 (7.291.116.097.813.536 (34.405.621.758.786 64.780.597.264) 831.218 48.653 31 Desember 2008 Rp 513.120 292.786 64.831.003.444 95.068.768 1.538.617.677.297.928 187.127.301.339.270.051.536.246 23.833.436.525.307.468.018.817 231.513.475.226.987.008 (300.334 Penyisihan piutang ragu-ragu Jumlah bersih (323.399 434.875.075.903.923 62.677.315.929.831.226.987.962.542.923) 1.646.145.437.368.651.077.484.297.613.572.484.097.903.066.339.928 187.150.759 (317.218 48.231.586 74.552.621.PT.828 2009 (Tidak diaudit) Rp 78.987.307.466. Piutang usaha dalam mata uang selain mata uang fungsional Perusahaan dan anak perusahaan adalah sebagai berikut: 30 September 2010 Rp Yen Jepang Dolar Amerika Serikat Dolar Australia Mata uang asing lainnya 155.813.405.367.498 366.768 2009 Rp 64.349.646.263.923 260.887.572.264 260.097.649 64.368.751 319.561.653 (22.613.120.003.610.297.270.051.572.877) 300.039.310 2009 (Tidak diaudit) Rp 2009 Rp 864.757 1.817.672.655 .014) 319.086.748 112.579.003.921.101.915.469 49.921 291.003 7.231.586 74.346.740 2007 Rp 95.646.264 15.342.30 289 .166) 317.039.536.813.172. 2008 DAN 2007 – Lanjutan c.263.813.201 2007 Rp 747.301.817 231.051.546 1.487.542.828 1.297.738.292 106.751) 907.498 366.768.172.392.552.738.291.315.465 (319.392.497.224.

501.470.254.870.574.328.063.940 38.049.143.715.963. 2008 DAN 2007 – Lanjutan 7.794.781.494 30 September 2009 (Tidak diaudit) Rp 1.372.695 direklasifikasi ke aset lain-lain.195 (50.511.050 31 Desember 2008 Rp 505.161.204) 615.492.334.991 31 Desember 2008 Rp 3.558 50.254.377 25.000.125 2009 Rp 1.952.333.384 Manajemen berpendapat bahwa penyisihan penurunan nilai persediaan tersebut cukup untuk menutup kerugian yang mungkin timbul dari penurunan nilai persediaan.000.802.450 36.000. USD 150.000.323 86.443.873 688.204 2009 Rp 50.234.202 11.648 566.927 12.720.481. persediaan suku cadang yang tidak digunakan untuk kegiatan operasi Perusahaan dengan biaya perolehan Rp 69.988.870.158 30 September 2009 (Tidak diaudit) Rp 600.366 2009 (Tidak diaudit) Rp 50.419.862.875 5.366.580.363.594 Piutang kepada Kementerian Negara BUMN merupakan piutang atas penjualan tanah dan bangunan.973 36.661.258.070.000.033 607.117.253 2007 Rp 353.190.384 46.289.384) 396.728 6.133. Pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 serta 31 Desember 2009.355 6.061 66.443.362 7.849.942 26.000.942) 516.799 (66.710 681.608.602.918.331 Pada tahun 2010.243. persediaan telah diasuransikan kepada PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) dan PT IBS Broking Service terhadap risiko kebakaran dan risiko lainnya berdasarkan suatu paket polis dengan nilai pertanggungan masing-masing sebesar USD 150. USD 200.138.700.333.417.434.311.503.393.551.020 15.264 dan penyisihan penurunan nilai sebesar Rp 62.030 396.402 1.848.781.278) 3.887.870.277.374.274 13.034 5.802.572.034.377.469 4. yang pembayarannya telah diterima di tahun 2009.520.608 22.614.695) 8.840.189.283.375.403.132) 70.991) 618.432. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.000.073.363.774 15.991 541.797.788.359.344.662 (11.330 47.742.163. 2008 dan 2007 tidak terdapat persediaan yang digunakan sebagai jaminan.862.349.PT.104.933.417.910.070 (62.622.419.103. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas persediaan yang dipertanggungkan.090.580 14.217. 2008 dan 2007.366) 598.440.483.221.919 5.715 (3. 8. Perubahan penyisihan penurunan nilai persediaan adalah sebagai berikut: 30 September 2010 Rp Saldo awal periode Penambahan Penghapusan Pemulihan Reklasifikasi ke aset lain-lain Saldo akhir periode 70.041 (70.730.637 18.524 (8.555.364 (10.862. USD 200.953.181 (10.595 2009 Rp 588.169.622 248.524.124.058.572.614.119 2007 Rp 4.746. PERSEDIAAN 2010 Rp Suku cadang Persediaan umum Jasa boga Dokumen Lain-lain Jumlah Penyisihan penurunan nilai persediaan Jumlah bersih 484. PIUTANG LAIN-LAIN 2010 Rp Piutang pegawai Pendapatan masih harus diterima Kementerian Negara BUMN Lain-lain Jumlah 2.000 dan USD 217.124.435. Manajemen berkeyakinan bahwa piutang lain-lain akan dapat ditagih seluruhnya karenanya tidak terdapat penyisihan atas piutang tak tertagih.422.992.180.731.176 5.375.102) 66.124.942 30.450 31 Desember 2008 Rp 3.872.118.862.802.227.049.813 30.537.855.455.802.610.419.137.349.363.469.049.423. .449.276.978.049.224.685 72.942 2007 Rp 14.555.925.049.694.263.326.31 290 .000 9.254.987 118.509.000.460 5.815.171. Pada tanggal 30 September 2010 persedian telah diasuransikan kepada PT Asuransi Jasa Indonesia dan 30 September 2009 serta 31 Desember 2009.415.754.399 400.

186 20.833.510.990.203.PT.324 13.831 70.723 104.762.593.946 643.448.137 22.178.050.036.940 163.788.999.999.569.357.961.643.360.463 18.177.812.752.763.433.564 8.881.123 147.166.461 7. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.726.924.886.728 7.203.318.361 25.745 8.900.325 41.417.837 499.924.163.502.497 57.609.984.633.658 10.108 138.381.965 28.882.805.940.050.046 907.516 17.187.165 11.998 90.015 19.861 83.346.962 7.290 .971.122.158.147 11.907 82.084.913.767.155 21.771.749.603 2007 Rp 435.742.687.206 109.291 23.818 119.397.545.450. UANG MUKA DAN BIAYA DIBAYAR DIMUKA 30 September 2010 Rp Perbaikan pesawat Sewa dibayar dimuka Uang muka sewa untuk ECA (Catatan 25) Bahan bakar Suku cadang Sewa pesawat Perjalanan dinas Sewa gedung Asuransi Lain-lain Jumlah 285.823.470 2009 Rp 247.906 5.848.496 21.209.855.341 20.853.089 1.057.781.833.604.339 135.635 27.305.276.906.835 18.815.445 22.710.361.223.382.954.109 20.984.184.621 31.969 9.412 130.480.680.679.678 18.656.753.861.151.821.603 47.405.815 31 Desember 2008 Rp 82.345.824.741.961.482.553.335.437.618.664.015.32 291 .108.259.505.210.155 110.689.681 23.448.786 282.935.434.581.186.220.223.468.018 198.455 5.851.824 50.416.256 1.901 4.406 25.936.018.675. PAJAK DIBAYAR DIMUKA 30 September 2010 Rp Perusahaan Taksiran Pajak Penghasilan Badan Lebih Bayar Tahun 2010 Tahun 2009 Tahun 2008 Tahun 2007 Tahun 2006 Pajak Pertambahan Nilai Sub Jumlah Anak perusahaan Taksiran Pajak Penghasilan Badan Lebih Bayar Tahun 2010 Tahun 2009 Tahun 2008 Tahun 2007 Pajak Pertambahan Nilai Sub jumlah Jumlah 2009 (Tidak diaudit) Rp 31 Desember 2008 Rp 2009 Rp 2007 Rp 16.438.135.466.251.032 9.058 88.157.514.254.724.710.581.999.372.100.781 6.953.883.339 181.545.918.828.660.449.672.954.639.962 6.932.482 548.953.263.568.537 8.379.494.353 34.641.216 888.181 27.560 25. 2008 DAN 2007 – Lanjutan 9.930.641.048.002.820.073.298 56.482.156.325 89.578.243 12.881 4.342 70.532 8.631.722 6.928 2009 (Tidak diaudit) Rp 304.068.852 46.710.657.295 46.914.061.790.540.966.868 232.567 608.673.046.204.814 26.741.274.857 98.875.054 35.236 28.622.437.585.492.202.152 76.098 4.

191.198.458.114.300.433 1.278.036.773.490 87.955 2009 (Tidak diaudit) Rp 932.198.377.686.905 (277.233 31 Desember 2009 Rp 1.007.875.057.229.947.072 752.665 12.852.100 1.730) 459.934 484.023.000 (770.826.562 519.774.543 A330 Saldo awal Penambahan Pengurangan Saldo akhir B777-300ER Saldo awal Penambahan Pengurangan Saldo akhir B737-800 Saldo awal Penambahan Pengurangan Saldo akhir Total Saldo Akhir .796.539.000 1.500 280.962.435.828.632.063 451.080 1.028.620 4.713.052.300.620 4.826.875.128.220 4.350.032.113.581.911.584.044 (1.917 445.279.641.060.203 280.685.976 (Disajikan kembali .710.911.096.490 411.604.522.453.215.397.774.343 780.464.052.614.000 (22.054 2.33 292 .PT.198.464.113.010 519.053.835.620 108.901.Catatan 54) 31 Desember 2008 2007 Rp Rp 706. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.205.462.911.458.200.539.620 519.920) 423.976.464.238.230 193.612.052.534.888.377.112.791.024.745.265.458.826.782.462.100 658.955 (Disajikan kembali .965. DANA PERAWATAN PESAWAT DAN UANG JAMINAN 30 September 2010 Rp Dana perbaikan pesawat (Catatan 49) Uang jaminan sewa operasi (Catatan 49) Jumlah 1.767. UANG MUKA PEMBELIAN PESAWAT Akun ini merupakan uang muka pembelian pesawat 6 Airbus tipe A-330 dengan jadwal pengiriman mulai Oktober 2012 sampai dengan Oktober 2014.826.609.620 108.101.377.951) 1.517.433 393.129 1.562 (4.562 (4.766.036.563 558.770 1.Catatan 54) 31 Desember 2008 2007 Rp Rp 4.414 318.160.871.031.766 2009 (Tidak diaudit) Rp 4. 10 Boeing 777-300ER dengan jadwal pengiriman mulai Mei 2013 sampai dengan Januari 2016. Boeing 737-800 sebanyak 25 pesawat dengan jadwal pengiriman mulai Juni 2009 sampai dengan Pebruari 2016 (Catatan 50a dan 50b) dengan rincian sebagai berikut: 30 September 2010 Rp 79.054.540.539.530.828.462.265.539.826.438.645) 75.322 328.826.828.837.837 609.153.928.903.000 17.044.444 31 Desember 2009 Rp 4.500 (60.323.819.135.539.426.504.826.490 108.620 12.300.620 79.689) 529.667 1.036.100 536.161 1.701.464.500 (73.323.832.928. 2008 DAN 2007 – Lanjutan 11.686) 1.403.637.500) 445.121.414 1.599.036.394.835.323.539.206.406.928.258.539.620) 79.474.888.392 1.270.573.306.118 1.347.826.290.745.769 1.

024.441 2.084 3.378) 6.437.531.115.084 3.958.432..744 2007 Rp 103.450.212.346.266.943.000 427.089 (102.951 3.815.750.587.467.088.762.058 990.391.451 (4.609 213.623.796) 6.000 5.609 198.691.125 59.729.215 7.704.986.161 6.041.507.110.951 3.741.117 7.113 (566.144.018.088.812.196.951 3.000) 103.088.084 3.940.96 8.174.384.329.586 2.297) 1.117 2007 Rp 101.531.450) 117.951 3.266.524.554 12.794.00 3.118 6.668.000.668.442.794.221.386) 7.084 3.058 1. anak perusahaan.125.290.174.000.609 205.115.621.210.747.248 Mutasi investasi pada perusahaan asosiasi: 30 September 2010 Rp 117.084 3.125 (281. PT Nusa Dua Graha International PT Arthaloka Indonesia PT Bumi Minang Padang P