Tanggal Efektif Masa Penawaran Tanggal Penjatahan

: 1 Pebruari 2011 : 2, 4, 7 dan 8 Pebruari 2011 : 9 Pebruari 2011

Tanggal Pengembalian Uang Pemesanan Tanggal Distribusi Saham Secara Elektronik Tanggal Pencatatan Saham Pada Bursa Efek Indonesia

: : :

10 Pebruari 2011 10 Pebruari 2011 11 Pebruari 2011

BAPEPAM DAN LK TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK MENYETUJUI EFEK INI, TIDAK JUGA MENYATAKAN KEBENARAN ATAU KECUKUPAN ISI PROSPEKTUS INI. SETIAP PERNYATAAN YANG BERTENTANGAN DENGAN HAL-HAL TERSEBUT ADALAH PERBUATAN MELANGGAR HUKUM. PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN PENERBANGAN GARUDA INDONESIA (PERSERO) TBK ATAU DISINGKAT PT GARUDA INDONESIA (PERSERO) TBK. (“PERSEROAN”) DAN PARA PENJAMIN PELAKSANA EMISI EFEK BERTANGGUNG JAWAB SEPENUHNYA ATAS KEBENARAN SEMUA INFORMASI ATAU FAKTA MATERIAL, SERTA KEJUJURAN PENDAPAT YANG TERCANTUM DALAM PROSPEKTUS INI.

PT GARUDA INDONESIA (PERSERO) Tbk.
Kegiatan Usaha: Jasa Angkutan Udara Niaga Berkedudukan di Jakarta Pusat Kantor Pusat : Jl. Kebon Sirih No. 44 Jakarta 10110, Indonesia Telp. 62 21 231 1355, Fax. 62 21 231 1223 Kantor Manajemen: Management Building, Garuda City Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng 19120, Indonesia Telp. 62 21 5591 5671, Fax. 62 21 2291 5673

website: www.garuda-indonesia.com 49 Kantor Cabang yang berlokasi di Jakarta, Bandung, Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Pekanbaru, Palembang, Yogyakarta, Solo, Semarang, Pangkal Pinang, Tanjung Karang, Jambi, Surabaya, Denpasar, Makassar, Manado, Balikpapan, Banjarmasin, Palangkaraya, Pontianak, Mataram, Jayapura, Biak, Timika, Malang, Kupang, Ternate, Kendari, Palu, Ambon, Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Tokyo, Osaka, Nagoya, Seoul, Canton, Hongkong, Beijing, Shanghai, Sydney, Perth, Melbourne, Jeddah, Riyadh, Amsterdam. PENAWARAN UMUM PERDANA SAHAM Sebesar 6.335.738.000 (enam miliar tiga ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) atau sebesar 27,98% (dua puluh tujuh koma sembilan puluh delapan persen) dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah Penawaran Umum, yang merupakan Saham Biasa Atas Nama Seri B dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap saham, yang terdiri dari Saham Biasa Atas Nama Seri B yang dikeluarkan dari simpanan (portepel) Perseroan sebesar 4.400.000.000 (empat miliar empat ratus juta) (“Saham Baru”) dan sebesar 1.935.738.000 (satu miliar sembilan ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) Saham Biasa Atas Nama Seri B milik PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (“Bank Mandiri”) sebagai Pemegang Saham Penjual (“Saham Divestasi”), yang ditawarkan kepada Masyarakat dengan Harga Penawaran Rp750 (tujuh ratus lima puluh Rupiah) setiap saham yang ditetapkan berlaku untuk seluruh Saham Yang Ditawarkan (Saham Baru dan Saham Divestasi), yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan Formulir Pemesanan Pembelian Saham (“FPPS”). Jumlah seluruh nilai Penawaran Umum adalah sebesar Rp4.751.803.500.000 (empat triliun tujuh ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) yang terdiri dari sebesar Rp3.300.000.000.000 (tiga triliun tiga ratus miliar Rupiah) dari penawaran Saham Baru dan sebesar Rp1.451.803.500.000 (satu triliun empat ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) dari Saham Divestasi. Perseroan mengadakan program MESA dengan mengalokasikan saham sebanyak-banyaknya 5% (lima persen) dari jumlah penerbitan Saham Baru dan menerbitkan opsi saham untuk program MESOP sebanyak-banyaknya 0,97% (nol koma sembilan puluh tujuh persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum. Informasi lebih lengkap mengenai program MESA dan MESOP dapat dilihat pada Bab I Prospektus ini. RISIKO UTAMA YANG DAPAT MEMPENGARUHI KINERJA DAN KONDISI KEUANGAN PERSEROAN ADALAH KETERBATASAN PERSEROAN DALAM MEREKRUT, MELATIH, MEMPERTAHANKAN, DAN MEMOTIVASI PERSONIL KUNCI DAPAT MEMPENGARUHI BISNIS PERSEROAN. RISIKO USAHA PERSEROAN SELENGKAPNYA DAPAT DILIHAT PADA BAB V PROSPEKTUS INI. PERSEROAN BERGERAK DI BIDANG JASA ANGKUTAN UDARA NIAGA DIMANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN DAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 36 TAHUN 2010 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN DI BIDANG PENANAMAN MODAL (“PERPRES 36/2010“), SAHAM PERSEROAN DAPAT DIMILIKI OLEH PIHAK ASING HINGGA 49% DENGAN KETENTUAN SALAH SATU PEMILIK MODAL NASIONAL HARUS TETAP LEBIH BESAR DARI KESELURUHAN PEMILIK MODAL ASING (SINGLE MAJORITY). NAMUN, BERDASARKAN PENJELASAN PASAL 2 UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL DAN PASAL 4 PERPRES 36/2010, PEMBATASAN KEPEMILIKAN ASING TIDAK BERLAKU BAGI PENANAMAN MODAL TIDAK LANGSUNG ATAU PORTOFOLIO YANG TRANSAKSINYA DILAKUKAN MELALUI PASAR MODAL DALAM NEGERI. PERSEROAN TIDAK MENERBITKAN SAHAM HASIL PENAWARAN UMUM INI DALAM BENTUK SURAT KOLEKTIF SAHAM, TETAPI SAHAM TERSEBUT AKAN DIDISTRIBUSIKAN DALAM BENTUK ELEKTRONIK YANG DIADMINISTRASIKAN DALAM PENITIPAN KOLEKTIF PT KUSTODIAN SENTRAL EFEK INDONESIA (“KSEI”). MENGINGAT JUMLAH SAHAM YANG DITAWARKAN PADA PENAWARAN UMUM INI RELATIF TERBATAS, MAKA TERDAPAT KEMUNGKINAN PERDAGANGAN SAHAM YANG DITAWARKAN MENJADI TERBATAS ATAU SAHAM-SAHAM TERSEBUT MENJADI KURANG LIKUID. PENJAMIN PELAKSANA EMISI EFEK

Alamat Kontak Sekretaris Perusahaan Management Building, Ground Floor Garuda City Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng 19120 Indonesia Telp. 62 21 2560 1028 Fax. 62 21 2560 1028

Sekuritas

PT Bahana Securities (Terafiliasi)

PT Danareksa Sekuritas (Terafiliasi) PENJAMIN EMISI EFEK

PT Mandiri Sekuritas (Terafiliasi)

• PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas •PT Amcapital Indonesia •PT Asjaya Indosurya Securities •PT Bapindo Bumi Sekuritas •PT Bhakti Securities •PT BNI Securities (Terafiliasi) • PT Bumiputera Capital Indonesia •PT CIMB Securities Indonesia •PT Ciptadana Securities •PT Citi Pacific Securities •PT Danasakti Securities •PT Danatama Makmur •PT Danpac Sekuritas •PT Dhanawibawa Arthacemerlang •PT E-Capital Securities •PT Equity Securities Indonesia •PT Erdikha Elit Sekuritas •PT Evergreen Capital •PT HD Capital Tbk •PT Henan Putihrai •PT Indo Mitra Securities •PT Investindo Nusantara Sekuritas •PT JJ NAB Capital •PT Kim Eng Securities •PT Kresna Graha Sekurindo Tbk •PT Lautandhana Securindo •PT Madani Securities •PT Majapahit Securities Tbk •PT Makindo Securities •PT Masindo Artha Securities •PT Mega Capital Indonesia • PT Minna Padi Investama Tbk •PT Nusantara Capital Securities •PT Nikko Securities Indonesia •PT OSK Nusadana Securities Indonesia •PT Overseas Securities •PT Pacific Capital •PT Panca Global Securities Tbk •PT Panin Sekuritas Tbk •PT Phillip Securities Indonesia •PT Recapital Securities •PT Reliance Securities Tbk •PT Samuel Sekuritas Indonesia •PT Semesta Indovest •PT Sinarmas Sekuritas •PT Sucorinvest Central Gani •PT Transasia Securities • PT Universal Broker Indonesia •PT UOB Kay Hian Securities •PT Valbury Asia Securities •PT Victoria Sekuritas •PT Wanteg Securindo • PT Yulie Sekurindo Tbk Para Penjamin Pelaksana Emisi Efek dan Para Penjamin Emisi Efek menjamin secara kesanggupan penuh (full committment) Saham Yang Ditawarkan Ini Seluruhnya Akan Dicatatkan Pada PT Bursa Efek Indonesia Prospektus ini diterbitkan di Jakarta pada tanggal 2 Pebruari 2011

Perseroan telah menyampaikan Pernyataan Pendaftaran Emisi Efek sehubungan dengan Penawaran Umum ini kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam dan LK) di Jakarta dengan surat No.GARUDA/ JKTDZ-20497/10 tanggal 6 Desember 2010, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan Undang-undang No. 8 tahun 1995 tanggal 10 Nopember 1995 tentang Pasar Modal, yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia No. 64 Tahun 1995, Tambahan No. 3608 dan peraturan-peraturan pelaksanaannya (selanjutnya disebut “UU PM”). Saham Yang Ditawarkan ini direncanakan akan dicatatkan pada PT Bursa Efek Indonesia (“BEI”) sesuai dengan Perjanjian Pendahuluan Pencatatan Efek antara Perseroan dengan BEI tertanggal 6 Desember 2010. Apabila syaratsyarat pencatatan efek di BEI tidak terpenuhi, maka Penawaran Umum akan dibatalkan dan uang pemesanan pembelian saham yang telah diterima akan dikembalikan kepada para pemesan sesuai dengan ketentuan dalam UU PM. Perseroan, Para Penjamin Pelaksana Emisi Efek, dan Lembaga serta Profesi Penunjang Pasar Modal dalam rangka Penawaran Umum ini bertanggung jawab sepenuhnya atas kebenaran semua data, pendapat atau laporan yang disajikan dalam Prospektus ini sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing, berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia serta kode etik, norma dan standar profesinya masing-masing. Sehubungan dengan Penawaran Umum ini, setiap pihak terafiliasi tidak diperkenankan memberikan keterangan atau membuat pernyataan apapun mengenai hal-hal yang tidak diungkapkan dalam Prospektus ini tanpa sebelumnya memperoleh persetujuan tertulis dari Perseroan dan Penjamin Pelaksana Emisi Efek. Para Penjamin Pelaksana Emisi Efek merupakan pihak terafiliasi dengan Perseroan, sedangkan Penjamin Emisi Efek kecuali PT BNI Securities serta Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal lainnya dalam rangka Penawaran Umum ini bukan merupakan pihak terafiliasi dengan Perseroan baik secara langsung maupun tidak langsung sesuai dengan definisi Afiliasi dalam UU PM. Selanjutnya penjelasan mengenai ada atau tidak adanya hubungan afiliasi dapat dilihat pada Bab XIV tentang Penjaminan Emisi Efek dan Bab XV tentang Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal. PENAWARAN UMUM INI TIDAK DIDAFTARKAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG ATAU PERATURAN LAIN SELAIN YANG BERLAKU DI INDONESIA. BARANGSIAPA DI LUAR WILAYAH REPUBLIK INDONESIA MENERIMA PROSPEKTUS INI, MAKA DOKUMEN TERSEBUT TIDAK DIMAKSUDKAN SEBAGAI PENAWARAN UNTUK MEMBELI SAHAM, KECUALI BILA PENAWARAN DAN PEMBELIAN SAHAM-SAHAM TERSEBUT TIDAK BERTENTANGAN ATAU BUKAN MERUPAKAN PELANGGARAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN SERTA KETENTUAN-KETENTUAN BURSA EFEK YANG BERLAKU DI NEGARA ATAU YURISDIKSI DI LUAR REPUBLIK INDONESIA TERSEBUT. PERSEROAN TELAH MENGUNGKAPKAN SEMUA INFORMASI MATERIAL YANG WAJIB DIKETAHUI OLEH PUBLIK DAN TIDAK ADA LAGI INFORMASI MATERIAL YANG BELUM DIUNGKAPKAN SEHINGGA TIDAK MENYESATKAN PUBLIK.

Alamat Kontak Sekretaris Perusahaan Management Building, Ground Floor Garuda City Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng 19120 Indonesia Telp. 62 21 2560 1028 Fax. 62 21 2560 1028

DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR ISI.............................................................................................................................................................. DEFINISI DAN SINGKATAN.................................................................................................................................... RINGKASAN............................................................................................................................................................ BAB I. BAB II. BAB III. BAB IV. BAB V. BAB VI. BAB VII. PENAWARAN UMUM............................................................................................................................ RENCANA PENGGUNAAN DANA YANG DIPEROLEH DARI HASIL PENAWARAN UMUM.............. PERNYATAAN HUTANG....................................................................................................................... ANALISIS DAN PEMBAHASAN OLEH MANAJEMEN......................................................................... RISIKO USAHA.................................................................................................................................. KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN............................. KETERANGAN TENTANG PERSEROAN DAN ANAK PERUSAHAAN............................................... 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 11. Riwayat Singkat Perseroan.......................................................................................................... Perkembangan Kepemilikan Saham Perseroan........................................................................... i iii viii 1 10 12 25 69 90 91 91 98

Keterangan Mengenai Pemegang Saham Perseroan Berbentuk Badan Hukum......................... 102 Struktur Organisasi Perseroan..................................................................................................... 105 Pengurus dan Pengawas Perseroan............................................................................................ 105 Sumber Daya Manusia................................................................................................................. 111 Keterangan Mengenai Anak Perusahaan..................................................................................... 116 Hubungan Kepemilikan, Pengurus, Pengawas Perseroan dan Anak Perusahaan....................... 130 Hubungan Pengurusan dan Pengawasan Perseroan dan Anak Perusahaan.............................. 130 Perjanjian-Perjanjian Penting Perseroan...................................................................................... 133

10. Transaksi Dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa................................................. 131 12. Perizinan....................................................................................................................................... 139 13. Keterangan Mengenai Aktiva Tetap.............................................................................................. 141 14. Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance/GCG).................................... 144 15. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).............................. 144 16. Litigasi dan Proses Hukum Lainnya.............................................................................................. 146 BAB VIII. KEGIATAN DAN PROSPEK USAHA PERSEROAN............................................................................. 149 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Umum........................................................................................................................................... 149 Perkembangan Terkini Perseroan................................................................................................. 151 Kunci Utama Investasi.................................................................................................................. 151 Strategi Usaha.............................................................................................................................. 153 Kegiatan Usaha............................................................................................................................. 155 Armada Perseroan........................................................................................................................ 164 Perjanjian Pembelian dan Sewa Armada Pesawat....................................................................... 166 Kegiatan Operasional................................................................................................................... 167 Manajemen Pendapatan............................................................................................................... 170 Pemasaran, Penjualan dan Reservasi.......................................................................................... 171 Perjanjian Code-Sharing............................................................................................................... 173 Sistem Informasi Manajemen....................................................................................................... 173

i

13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. BAB IX. BAB X. BAB XI. BAB XI. BAB XIII. BAB XIV. BAB XV.

Persaingan Usaha........................................................................................................................ 174 Pilot dan Awak Pesawat............................................................................................................... 175 Keselamatan................................................................................................................................. 176 Fasilitas dan Bangunan................................................................................................................ 178 Asuransi........................................................................................................................................ 178 Kepatuhan Peraturan Lingkungan................................................................................................ 181 Hak atas Kekayaan Intelektual..................................................................................................... 181 Pengembangan Sumber Daya Manusia....................................................................................... 182 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan........................................................................................... 183 Riset dan Pengembangan............................................................................................................ 183

INDUSTRI PENERBANGAN DI INDONESIA....................................................................................... 184 IKHTISAR DATA KEUANGAN PENTING.............................................................................................. 203 EKUITAS............................................................................................................................................... 207 PERPAJAKAN....................................................................................................................................... 208 KEBIJAKAN DIVIDEN........................................................................................................................... 210 PENJAMINAN EMISI EFEK.................................................................................................................. 211 LEMBAGA DAN PROFESI PENUNJANG PASAR MODAL.................................................................. 214

BAB XVI. PENDAPAT DARI SEGI HUKUM.......................................................................................................... 217 BAB XVII. LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAN LAPORAN KEUANGAN PERSEROAN............................ 257 BAB XVIII. LAPORAN PENILAI.............................................................................................................................. 369 BAB XIX. ANGGARAN DASAR PERSEROAN..................................................................................................... 401 BAB XX. PERSYARATAN PEMESANAN PEMBELIAN SAHAM......................................................................... 432

BAB XXI. PENYEBARLUASAN PROSPEKTUS DAN FORMULIR PEMESANAN............................................... 438

ii

DEFINISI DAN SINGKATAN
Di dalam prospektus ini, kata-kata di bawah ini mempunyai arti sebagai berikut, kecuali bila kalimatnya menyatakan lain: “Abacus” “Aerowisata” “Afiliasi” “AFTK” “Anak Perusahaan” “Anggota Bursa” “ASK” “ATK” Berarti PT Abacus Distribution System Indonesia, merupakan Anak Perusahaan yang bergerak di bidang usaha jasa sistem komputerisasi reservasi. Berarti PT Aero Wisata, merupakan Anak Perusahaan yang bergerak di bidang usaha perhotelan (pariwisata), jasa boga penerbangan dan penjualan tiket. Berarti hubungan afiliasi sebagaimana dimaksud dalam UU PM. Berarti Available Freight Tonne Kilometres yaitu jumlah penerbangan dalam kilometer dikalikan dengan kapasitas tersedia untuk kargo dalam ton. Berarti perusahaan yang laporan keuangannya dikonsolidasikan dengan Perseroan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Berarti Anggota Bursa Efek sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 1 ayat 2 UU PM. Berarti Available Seat Kilometers yaitu jumlah tempat duduk yang tersedia untuk penumpang dikalikan dengan jarak kilometer yang diterbangi. Berarti Available Tones Kilometer yaitu kapasitas berat dari pesawat untuk mengangkut muatan yang memberi pendapatan (penumpang, bagasi, kargo, dan barang pos) dikalikan dengan jarak kilometer yang diterbangi. Berarti PT Aero Systems Indonesia, merupakan Anak Perusahaan yang bergerak di bidang usaha penyediaan sistem teknologi informasi untuk perusahaan penerbangan. Berarti Biro Administrasi Efek yang ditunjuk Perseroan, yaitu PT Datindo Entrycom, berkedudukan di Jakarta. Berarti Bank Umum yang memperoleh persetujuan dari Bapepam dan LK untuk memberikan jasa penitipan atau melakukan jasa kustodian sebagaimana dimaksud dalam UU PM. Berarti Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.184/PMK.01/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan yang ditetapkan tanggal 11 Oktober 2010. Berarti Bursa Efek Indonesia, yang diselenggarakan oleh PT Bursa Efek Indonesia, suatu perusahaan terbatas berkedudukan di Jakarta, yang merupakan bursa hasil penggabungan antara PT Bursa Efek Jakarta dan PT Bursa Efek Surabaya. Berarti Badan Usaha Milik Negara. Berarti Bursa Efek sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 1 angka 4 UU PM yaitu pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan/atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli Efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan Efek diantara mereka. Berarti compound average growth rate yaitu tingkat pertumbuhan rata-rata gabungan untuk periode tertentu. Berarti PT Citilink Indonesia, merupakan Anak Perusahaan yang bergerak di bidang angkutan niaga berjadwal yang berbiaya murah. Pada saat ini Citilink belum beroperasi secara komersial. Berarti Cargo Load Factor yaitu RFTK sebagai persentase dari AFTK Berarti Daftar yang dikeluarkan oleh KSEI yang memuat keterangan tentang kepemilikan saham oleh pemegang saham dalam Penitipan Kolektif di KSEI berdasarkan data yang diberikan oleh pemegang rekening di KSEI.

“ASYST” “BAE” “Bank Kustodian” “Bapepam dan LK”

“BEI”

“BUMN” “Bursa Efek”

“CAGR” “Citilink”

“CLF” “Daftar Pemegang Saham (DPS)”

iii

“Daftar Pemesanan Pembelian Saham (DPPS)” “DJPU” “Emisi” “Formulir Konfirmasi Penjatahan (FKP)” “Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS)” “FSC”

Berarti Daftar yang memuat nama-nama pemesan saham dan jumlah yang dipesan dan disusun berdasarkan Formulir Pemesanan Pembelian Saham yang dibuat oleh masingmasing Penjamin Emisi Efek. Berarti Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Berarti tindakan Perseroan untuk menawarkan Saham Yang Ditawarkan kepada masyarakat melalui Penawaran Umum. Berarti Formulir hasil penjatahan atas nama pemesan sebagai tanda bukti pemilikan saham-saham di pasar perdana. Berarti Formulir asli yang disediakan Perseroan bersama-sama dengan para Penjamin Pelaksana Emisi Efek yang harus diisi, ditandatangani dan diajukan dalam rangkap 5 (lima) oleh calon pembeli kepada Penjamin Emisi Efek. Berarti Full Service Carrier, dimana berdasarkan Undang-undang tentang Penerbangan dan KM No. 26 tahun 2010, dinyatakan sebagai badan usaha angkutan udara niaga berjadwal yang di dalam menjalankan kegiatannya dengan standard maksimum, antara lain pemberian makan dan minum, makanan ringan, dan fasilitas ruang tunggu eksekutif (lounge) untuk kelas bisnis (business class) dan kelas utama (first class). Berarti PT Gapura Angkasa merupakan Perusahaan Afiliasi yang sahamnya dimiliki oleh Perseroan sebanyak 37,5% yang bergerak di bidang usaha jasa ground handling. Berarti PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia, merupakan Anak Perusahaan yang bergerak di bidang usaha perbaikan dan perawatan pesawat terbang. Berarti hari pada saat mana Bank Indonesia menyelenggarakan kegiatan kliring antar bank. Berarti hari dimana Bursa Efek melakukan aktivitas transaksi perdagangan Efek menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan ketentuan-ketentuan Bursa Efek tersebut. Berarti setiap hari dalam 1 (satu) tahun sesuai dengan kalender Gregorius tanpa kecuali, termasuk Sabtu, Minggu dan hari libur nasional yang sewaktu-waktu ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Hari Kerja yang karena suatu keadaan tertentu ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai bukan Hari Kerja. Berarti hari Senin sampai dengan hari Jumat, kecuali hari libur nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia atau Hari Kerja yang karena suatu keadaan tertentu ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai bukan Hari Kerja. Berarti IATA Operational Safety Audit merupakan sistem evaluasi yang diakui dan diterima secara internasional yang dibuat untuk mengukur operasional manajemen dan kontrol sistem dari suatu maskapai penerbangan. Berarti surat konfirmasi kepemilikan Saham yang diterbitkan oleh KSEI kepada Pemegang Saham melalui Pemegang Rekening, khusus untuk menghadiri RUPS atau mengajukan permintaan diselenggarakannya RUPS, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan KSEI. Berarti Komite Nasional Keselamatan Transportasi. Berarti PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, berkedudukan di Jakarta, yang menjalankan kegiatan usaha sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian sebagaimana dimaksud dalam UU PM, yang dalam emisi Saham bertugas mengadministrasikan Saham berdasarkan Perjanjian Tentang Pendaftaran Efek di KSEI pada Penitipan Kolektif. Berarti Low Cost Carrier, dimana berdasarkan Undang-undang tentang Penerbangan dan KM No. 26 tahun 2010, dinyatakan sebagai badan usaha angkutan udara niaga berjadwal yang di dalam menjalankan kegiatannya dengan standard minimum, antara lain hanya ada 1 (satu) kelas pelayanan, tanpa pemberian makan dan minum, makanan ringan, fasilitas ruang tunggu eksekutif, dan dikenakan biaya untuk bagasi tercatat.

“Gapura” “GMF AeroAsia” “Hari Bank” “Hari Bursa”

“Hari Kalender”

“Hari Kerja”

“IOSA”

“Konfirmasi Tertulis Untuk RUPS” (“KTUR”)

“KNKT” “KSEI”

“LCC”

iv

“Manajer Penjatahan”

Berarti Pihak yang bertanggung jawab atas penjatahan Saham Yang Ditawarkan menurut syarat-syarat yang ditetapkan dalam Peraturan No.IX.A.7 tentang Tanggung Jawab Manajer Penjatahan Dalam Rangka Pemesanan Dan Penjatahan Efek Dalam Penawaran Umum Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-45/PM/2000 tanggal 27-10-2000, dalam hal ini PT Bahana Securities. Berarti perorangan warga negara Indonesia maupun warga negara asing dan/atau badan hukum Indonesia maupun badan hukum asing, baik yang bertempat tinggal atau berkedudukan hukum di Indonesia maupun bertempat tinggal atau berkedudukan di luar wilayah hukum Negara Republik Indonesia. Berarti Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Berarti Management and Employee Stock Allocation atau Program Penjatahan Saham Manajemen dan Karyawan. Berarti Management and Employee Stock Option Plan atau Program Pemberian Opsi Pembelian Saham kepada Manajemen dan Karyawan. Berarti Mean of Platts Arab Gulf, yaitu ukuran harga dasar bahan bakar minyak di Teluk Arab. Berarti Mean of Platts Singapore, yaitu ukuran harga dasar bahan bakar minyak di Singapura. Berarti anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, kecuali Komisaris Independen, pejabat struktural, pegawai yang memenuhi kriteria sebagai berikut: (i) tercatat pada tanggal 30 Nopember 2010, (ii) dalam status aktif bekerja pada 30 Nopember 2010 dan (iii) tidak memiliki sanksi administratif dalam jumlah maksimum 5% dari Saham Baru, sesuai dengan Peraturan No.IX.A.7, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam No.Kep-45/PM/2000 tanggal 27 Oktober 2000 tentang Tanggung Jawab Manajer Penjatahan dalam Rangka Pemesanan dan Penjatahan Efek dalam Penawaran Umum. Berarti Pemerintah Negara Republik Indonesia. Berarti Pemerintah. Berarti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Berarti Pre Delivery Payments yaitu pembayaran cicilan uang muka pembelian pesawat sebelum penyerahan pesawat. Berarti pihak yang namanya tercatat sebagai pemilik Rekening Efek di KSEI yang meliputi Bank Kustodian dan/atau perusahaan efek dan/atau pihak lain yang disetujui oleh KSEI dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal dan peraturan KSEI. Berarti kegiatan penawaran Saham Yang Ditawarkan yang dilakukan oleh Perseroan untuk menjual Saham Yang Ditawarkan kepada Masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam UU PM. Berarti jasa penitipan administrasi saham sebagaimana dimaksud dalam UU PM. Berarti PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas, berkedudukan di Jakarta, dan para Penjamin Emisi Efek lainnya yang ditunjuk oleh Perseroan dan Bank Mandiri untuk melakukan Penawaran Umum di Pasar Perdana atas nama Perseroan dan Pemegang Saham Penjual, sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan Perjanjian Penjaminan Emisi Efek. Berarti pihak yang akan bertanggung jawab atas penyelenggaraan Penawaran Umum, yang dalam hal ini adalah PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas, sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan Perjanjian Penjaminan Emisi Efek.

“Masyarakat”

“Menkumham” “MESA” “MESOP” “MOPAG” “MOPS” “Para Pemesan Khusus”

“Pemerintah” “Pemegang Saham Pengendali” “Pemegang Saham Penjual” “PDP” “Pemegang Rekening”

“Penawaran Umum”

“Penitipan Kolektif” “Penjamin Emisi Efek”

“Penjamin Pelaksana Emisi Efek”

v

“Pernyataan Pendaftaran”

Berarti dokumen yang wajib diajukan kepada Bapepam dan LK oleh Perseroan bersamasama dengan para Penjamin Pelaksana Emisi Efek sebelum melakukan Penawaran Umum atas saham-saham kepada Masyarakat, berikut lampiran-lampiran serta semua perubahan, tambahan dan pembetulannya yang dibuat sesuai ketentuan dalam UU PM. Berarti pernyataan yang dikeluarkan oleh Bapepam dan LK yang menyatakan bahwa Pernyataan Pendaftaran menjadi efektif, sehingga Perseroan melalui para Penjamin Pelaksana Emisi Efek dapat menawarkan dan menjual Saham Yang Ditawarkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berarti Akta Perjanjian Penjaminan Emisi Efek Penawaran Umum Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. No. 7 tanggal 3 Desember 2010 dan Akta Perubahan I Perjanjian Penjaminan Emisi Efek Penawaran Umum Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. No. 28 tanggal 26 Januari 2011, keduanya dibuat di hadapan Fathiah Helmi, S.H., Notaris di Jakarta. Berarti Passanger Load Factor yaitu jumlah penumpang yang membayar (revenue passenger) yang diangkut sebagai suatu presentase dari kursi yang tersedia. Berarti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, suatu perseroan terbatas yang berkedudukan di Jakarta Pusat. Berarti perubahan, penambahan dan atau pembaharuan dari Perjanjian Penjaminan Emisi Efek yang akan ditentukan kemudian. Berarti setiap pernyataan yang dicetak atau informasi tertulis yang digunakan untuk Penawaran Umum dengan tujuan pihak lain membeli atau memperdagangkan Saham Yang Ditawarkan, kecuali pernyataan atau informasi yang berdasarkan peraturan Bapepam dan LK dinyatakan bukan sebagai prospektus. Berarti dokumen tertulis yang memuat seluruh informasi dalam prospektus yang disampaikan kepada Bapepam dan LK, sebagai bagian dari Pernyataan Pendaftaran, kecuali informasi mengenai Harga Penawaran, Penjaminan Emisi Efek, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan persyaratan penawaran yang belum dapat ditentukan, sesuai Peraturan No.IX.A.8. Berarti pernyataan atau informasi tertulis yang merupakan ringkasan dari Prospektus Awal, yang diumumkan dalam sekurang-kurangnya 1 (satu) surat kabar harian berbahasa Indonesia yang memiliki peredaran nasional dalam waktu selambat-lambatnya 2 (dua) Hari Kerja setelah diterimanya surat Bapepam dan LK sesuai Formulir No.IX.A.2-9, Lampiran 9 Peraturan No. IX.A.2. Berarti rekening yang memuat catatan posisi saham dan/atau dana milik pemegang saham yang diadministrasikan oleh KSEI, Anggota Bursa atau Bank Kustodian berdasarkan kontrak pembukaan rekening efek yang ditandatangani pemegang saham. Berarti rekening yang dibuka atas nama Penjamin Pelaksana Emisi Efek untuk menampung dana yang diterima dari investor. Berarti Revenue Freight Ton Kilometers, yaitu jumlah penerbangan dalam kilometer dikalikan dengan pendapatan kargo dalam ton. Berarti Revenue Passenger Kilometers yaitu pendapatan penumpang yang berasal dari jumlah penerbangan dikalikan dengan jarak kilometer yang diterbangi. Berarti Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan yang diselenggarakan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar Perseroan, UU PT, UU PM dan peraturan pelaksanaannya. Berarti Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan yang diselenggarakan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar Perseroan, UU PT, UU PM dan peraturan pelaksanaannya. Berarti saham-saham atas nama Seri A Dwiwarna dan Seri B yang dikeluarkan dari portepel oleh Perseroan dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) per saham. Berarti sebesar 4.400.000.000 (empat miliar empat ratus juta) Saham Seri B yang akan dikeluarkan dari simpanan (portepel) dalam jumlah sebesar saham yang akan ditawarkan dan dijual kepada masyarakat melalui Penawaran Umum, termasuk didalamnya penjatahan saham dalam rangka program MESA.

“Pernyataan Efektif”

“Perjanjian Penjaminan Emisi Efek”

“PLF” “Perseroan” “Perubahan Perjanjian Penjaminan Emisi Efek” “Prospektus”

“Prospektus Awal”

“Prospektus Ringkas”

“Rekening Efek”

“Rekening Penawaran Umum” “RFTK” “RPK” “RUPS” “RUPSLB”

“Saham” “Saham Baru”

vi

Berarti SBU Perseroan yang mengelola bisnis kargo.4756. 1/1995” “UU PM” “UU PT” “UU WDP” vii . Berarti Seat Load Factor yaitu persentase kapasitas dari tempat duduk yang dipergunakan. Berarti Undang-undang No. Berarti transaksi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan IX. atau seluruhnya sebesar 6. Berarti Strategic Business Unit yaitu unit usaha strategis yang dikelola Perseroan.3214.40 Tahun 2007 tanggal 16 Agustus 2007 tentang Perseroan Terbatas. Lembaran Negara Republik Indonesia No.E. Berarti Saham Baru dan Saham Divestasi yang akan ditawarkan dan dijual kepada Masyarakat melalui Penawaran Umum. Berati SBU Perseroan yang mengelola bisnis di bidang angkutan udara niaga berjadwal yang berbiaya murah (LCC).106 Tahun 2007.000 (enam miliar tiga ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) atau sebesar 27. Lembaran Negara Republik Indonsia No 1 Tahun 2009.000 (satu miliar sembilan ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) untuk ditawarkan dan dijual kepada Masyarakat melalui Penawaran Umum. Tambahan No. Tambahan 4956. “Saham Yang Ditawarkan” “SAP Group” “SBU” “SBU Citilink” “SBU Garuda Cargo” “SBU Garuda Sentra Medika (GSM)” “SLF” “SUB-100” “Transaksi Afiliasi” “UU Penerbangan” “UU No.738. Berarti Undang-undang No.“Saham Divestasi” Berarti Saham Seri B yang dimiliki oleh Pemegang Saham Penjual dalam jumlah sebesar 1. Berarti SBU Perseroan yang mengelola bisnis kesehatan. ahli di bidang industri penerbangan (Airline Industry Expert). Berarti Undang-undang No.935. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang berdasarkan Pasal 160 UU PT telah dinyatakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Lembaran Negara Republik Indonesia No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.1. Berarti Undang-undang No. Berarti Undang-undang No. Berarti Strategic Airport Planning Group. Berarti pesawat regional dengan jumlah kursi penumpang kurang dari seratus. 8 tahun 1995 mengenai Pasar Modal.7 Tahun 1982. Tambahan No. yang merupakan Saham Biasa Atas Nama Seri B dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap saham yang selanjutnya akan dicatatkan pada BEI pada Tanggal Pencatatan.98% (dua puluh tujuh koma sembilan puluh delapan persen) dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah Penawaran Umum.3 Tahun 1982 tanggal 1 Pebruari 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan.738.335.

AHU-0001962. Peraturan Pemerintah No.T. yang mengelola 8 kantor cabang di Tokyo. Ternate.. Area Europe dan Middle East yang mengelola 3 kantor cabang di Jeddah.62. Bandung. 327 pada tanggal 24 April 1950. 136. Biak. dan telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta pada tanggal 1 Juli 1975 berturut-turut di bawah No. 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Serikat No. 8 tanggal 4 Maret 1975 sebagaimana diubah dengan Akta Perubahan No. Kupang. ketiganya dibuat di hadapan Soeleman Ardjasasmita. Area South West Pacific yang mengelola 3 kantor cabang di Sydney. Solo. Anggaran Dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian tersebut telah mengalami beberapa kali perubahan.051. Pangkal Pinang.A. Riyadh. 5/225/8 tertanggal 23 Juni 1975. Melbourne. maksud dan tujuan Perseroan adalah melakukan usaha di bidang jasa angkutan udara niaga.AH. Nagoya. 40). Notaris di Jakarta. 24 tanggal 12 Juni 1975. KEP-2/MK/IV/1/1975 tentang Penetapan Modal Perusahaan Perseroan (Persero) “P. Area Jepang. Area Western Indonesia.RINGKASAN Ringkasan di bawah ini dibuat atas dasar fakta-fakta dan pertimbangan-pertimbangan yang paling penting bagi Perseroan yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dan harus dibaca dalam kaitannya dengan keterangan yang lebih rinci dan laporan keuangan serta catatan-catatan yang tercantum di dalam Prospektus ini. Amsterdam. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No. Timika.01. 68.H. Kuala Lumpur. 4. 42 tanggal 21 April 1975. 24 tanggal 16 Nopember 2010.) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Umum Perseroan didirikan dengan nama Garuda Indonesian Airways N. 09.01.Tahun 2011 tanggal 10 Januari 2011 dan didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta Pusat di bawah Tanda Daftar Perusahaan No. Balikpapan. Malang. tertanggal 4 Januari 1975 No. 87) tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara (P. 2251. Tanjung Karang. AHU-54724. Palangkaraya. 30 tanggal 12 Mei 1950. yang dibuat di hadapan Fathiah Helmi. Area Asia yang mengelola 3 kantor cabang di Singapura. terakhir diubah dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa No. 434 (“Akta Pendirian”). 2250.H. Medan. Mataram. dilakukan penyesuaian terhadap bentuk hukum Perusahaan Negara (P. Korea. Y. Perth. dimana dengan dilakukannya penyesuaian tersebut. S. telah didaftarkan dalam buku register di Kantor Pengadilan Negeri di Jakarta di bawah No. Per 30 September 2010. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. Hongkong. AHU-0084627. Banjarmasin. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 3. Denpasar. yang dibuat dihadapan Raden Kadiman.09. 67 tahun 1971 (Lembaran-Negara tahun 1971 No. Semua informasi keuangan Perseroan disusun dalam mata uang Rupiah dan telah disajikan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. 1 Tahun 1969 (Lembaran Negara tahun 1969 No. S. 137 tanggal 31 Maret 1950. dan 2252.V. 12 tahun 1969 tentang Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran-Negara tahun 1969 No.02 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010. Area Eastern Indonesia yang mengelola 18 kantor cabang di Surabaya. Beijing. Seoul. Padang.AH. 5/12/10. Notaris di Jakarta. viii . Yogyakarta. Peraturan Pemerintah No. Perusahaan Negara “Garuda Indonesian Airways” dinyatakan bubar pada saat pendirian Perusahaan Perseroan (Persero). Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan. Status Perseroan sebagai Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero) dibentuk berdasarkan Akta Pendirian No. telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No. telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia Serikat dalam keputusannya tertanggal 31 Maret 1950 dengan No.AH. Osaka. 6. Batam.A. Tambahan No. Manado. 2. 5. Makassar.N. juncto Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia. yang berkedudukan di Jakarta berdasarkan Akta Perseroan Terbatas No. Banda Aceh. Palembang. Perseroan memiliki 1 kantor pusat dan 6 Area Manajemen yang mengelola 49 kantor cabang: 1.N. dan Cina. Garuda Indonesian Airways”. Kendari. dan kemudian diubah dengan Akta Perubahan No. Ambon. Pekanbaru.) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perseroan (Persero). tanggal 26 Agustus 1975. Jambi. Shanghai. Tambahan No. Semarang.37582 tanggal 25 Januari 2011. Pontianak. Jayapura. serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki Perseroan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas. 21). Notaris di Jakarta yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. Bangkok. Palu. 16) tentang Bentukbentuk Usaha Negara menjadi Undang-undang (Lembaran Negara tahun 1969 No.01. Canton. yang mengelola 14 kantor cabang di Jakarta.09 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010 dan No. J.

54% 2.10% 7. PT Aeronurti** PT Aeroprima** PT Bumi Minang Padang** PT Nusa Dua Graha Internasional** PT Arthaloka Indonesia** PT Aerojasa Cargo*** Bidang Usaha Jasa boga Jasa pengelolaan properti (hotel. 17. 14. jasa boga dan agen perjalanan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Perbaikan dan pemeliharaan pesawat terbang Penyedia jasa teknologi informasi Angkutan udara niaga Kepemilikan 99.98% 99.** penunjang usaha penerbangan PT Merpati Nusantara Airlines** Penerbangan 4. 12.98% 99.5% 1998 penunjang usaha penerbangan 7 Abacus International Holdings Penyedia jasa sistem komputerisasi 2.99% 99. 15. dan SBU Citilink yang mengelola bisnis di bidang angkutan udara niaga berjadwal yang berbiaya murah (LCC).21% 1978 sudah beroperasi 9 Catatan: *) Citilink belum beroperasi dikarenakan masih dalam proses untuk memperoleh ijin usaha angkutan udara niaga **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aero Wisata Perseroan melalui PT Aero Wisata memiliki penyertaan saham secara tidak langsung pada 18 perusahaan sebagai berikut: No 1. 11. apartemen.88% 99.Perseroan memiliki 3 SBU.99% 99.98% 100% 60% 60% 45% 40% 10.98% 99. Garuda Orient Holidays Korea Co. 9. 18.58% 98. 3.98% 99. 8. Anak Perusahaan PT Angkasa Citra Sarana Catering Service PT Aero Hotel Management PT Aerojasa Perkasa PT Bina Inti Dinamika PT Belitung Inti Permai PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi PT Mandira Erajasa Wahana PT Mirtasari Hotel Deveploment PT Senggigi Pratama Internasional Garuda Orient Holidays Pty.87% Tahun Penyertaan 1982 2009 1988 1987 1992 1974 1988 1979 1997 1981 2008 2009 1996 1993 1989 1988 1988 2003 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi Catatan: *) PT Belitung Inti Permai belum beroperasi.98% 99.065% 1997 sudah beroperasi Ltd** reservasi 8 Pan Asia Pacific Aviation Pengelolaan ground-handling dan 17.87% 61. Ltd Garuda Orient Holidays Japan INC. 13. kondominium) Jasa kargo Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Transportasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa pengelolaan properti Jasa pengurusan transportasi (freight forwarding) Kepemilikan 99. 7. Ltd.99% Tahun Penyertaan 1989 1995 2002 2005 2009 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi Pengelolaan ground-handling dan 37.00% 99. 10.65% 1998 sudah beroperasi Services Ltd. 5. 4. 2. 6. yaitu SBU Garuda Cargo yang mengelola bisnis kargo. Perseroan memiliki penyertaan saham secara langsung pada 9 anak perusahaan sebagai berikut: No 1 2 3 4 5 6 Anak Perusahaan PT Aero Wisata PT Abacus Distribution Systems Indonesia PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia*** PT Aero Systems Indonesia*** PT Citilink Indonesia*** PT Gapura Angkasa** Bidang Usaha Perhotelan. 16. pembangunan hotel masih dalam proses **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aerojasa Perkasa ix .99% 95. SBU Garuda Sentra Medika (GSM) yang mengelola bisnis kesehatan.99% 99.

000 (satu triliun empat ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) dari penawaran Saham Divestasi. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar B.000. 2.000 5.400.000 (dua puluh dua miliar enam ratus empat puluh juta sembilan ratus sembilan puluh enam ribu) lembar saham 5. Jumlah Penawaran Umum : Rp4.000.996.996. yang merupakan Saham Biasa Atas Nama Seri B. Jumlah Saham : Sebesar 6.000.000 (empat triliun tujuh ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) yang terdiri dari sebesar Rp3.21 1.98% (dua puluh tujuh koma sembilan puluh delapan persen) dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah Penawaran Umum.00 85.000 11.000 124. Harga Penawaran : Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap saham : Rp750 (tujuh ratus lima puluh Rupiah) setiap saham yang ditetapkan berlaku untuk seluruh Saham Yang Ditawarkan (Saham Baru dan Saham Divestasi) 4.Struktur Permodalan Pada saat Prospektus ini diterbitkan struktur permodalan dan susunan pemegang saham serta komposisi kepemilikan saham Perseroan adalah sebagai berikut: Modal Saham Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham Pemegang Saham A.500 967.000.999.451.000 201.000 403.000 Nilai Nominal (Rp) 500 14. Kecuali untuk saham Seri A Dwiwarna yang memiliki hak-hak khusus.999 1.240. Saham dalam Portepel Jumlah Saham 1 29.000 500 7.000 % 1 15.000. = Sebesar 1.36 100.300. yang terdiri dari: = Sebesar 4.000 (satu miliar sembilan ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) lembar Saham Biasa Atas Nama Seri B milik Pemegang Saham Penjual dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap saham (“Saham Divestasi”).000 (tiga triliun tiga ratus miliar Rupiah) dari penawaran Saham Baru dan sebesar Rp1.999.000.120.502. Jumlah Saham Yang Dicatatkan : Sebesar 22.500. termasuk hak atas pembagian dividen.738.000.869.999.500 15.004.000 248.935.000.61 2.935.000 18.999.640.999.817.879.496. Nilai Nominal 3.335.127.000.803.82 10.563.00 Penawaran Umum 1.000.803.826. Saham Yang Ditawarkan kepada Masyarakat dalam Penawaran Umum ini adalah merupakan Saham Baru dan Saham Divestasi yang memberikan kepada pemegangnya hak yang sama dan sederajat.248.999 30.738.738.500.999. x .498.000.653.634. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham Seri A Dwiwarna Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B Negara Republik Indonesia PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Angkasa Pura II (Persero) PT Angkasa Pura I (Persero) Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh C.000 9.000.000 0.000 (enam miliar tiga ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) lembar saham atau sebesar 27.751.759.000.000 (empat miliar empat ratus juta) lembar Saham Biasa Atas Nama Seri B yang merupakan Saham Baru yang dikeluarkan dari simpanan Perseroan dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap lembar saham (“Saham Baru”).

maka struktur permodalan dan susunan pemegang saham serta komposisi kepemilikan saham dalam Perseroan sesudah Penawaran Umum.000.679.869.999.000.000. Berdasarkan persetujuan para pemegang saham tersebut.500 30.000.359.000 201.999.738.502.999.000 85.000.999.Negara Republik Indonesia .000 7.120.78 1.000.00 7.000 3.563.498.000.000.000 (empat miliar empat ratus juta) lembar saham yang merupakan Saham Baru Perseroan yang seluruhnya ditawarkan dalam Penawaran Umum ini.82 15.36 403.000 Perseroan akan mencatatkan sebesar 22.000.999 14.000 5.759.996.97% (nol koma sembilan puluh tujuh persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum. Jumlah saham yang akan dicatatkan pada BEI adalah seluruh atau 100% (seratus persen) saham Perseroan yang telah dan akan dikeluarkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum.Dengan terjualnya seluruh Saham Baru yang ditawarkan Perseroan dan Saham Divestasi milik Pemegang Saham Penjual dalam Penawaran Umum ini.996.000. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar B.000.826.000.653.00 22.817.935.000 3.999 10. Perseroan tidak bermaksud untuk mengeluarkan atau mencatatkan Saham Baru dan/ atau efek lainnya yang dapat dikonversikan menjadi saham dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak Tanggal Efektif.999.000 100.000. xi .Masyarakat Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh C.248.000 15. Saham Dalam Portepel 15.000 124.PT Angkasa Pura II (Persero) .879.000.004.000 403.335.14 1.320.996.640.000 7.000 18.98 1 500 0. Negara Republik Indonesia melalui Kementerian BUMN selaku pemegang saham pengendali Perseroan telah memberitahukan kepada Perseroan bahwa dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak Tanggal Pencatatan Saham pada Bursa Efek Indonesia.999 1.496. Direksi Perseroan telah menetapkan jumlah saham untuk program MESA sebanyak-banyaknya 5% dari jumlah penerbitan Saham Baru dan opsi saham untuk program MESOP sebanyak-banyaknya 0.999.PT Bank Mandiri (Persero) Tbk .10 27.000 (dua puluh dua miliar enam ratus empat puluh juta sembilan ratus sembilan puluh enam ribu) lembar saham.999.127.640.996.496.817.000 9.00 1 500 0.999 14.127.999.999.000 29.500 30. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh: Saham Seri A Dwiwarna: Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B: .999.61 2.000.000 124. Berdasarkan keputusan RUPSLB Perseroan tanggal 15 Nopember 2010 sebagaimana diubah dengan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari RUPSLB tanggal 26 Januari 2011.000 15.500 967.240.248.634.000 69.738.653.000 (delapan belas miliar dua ratus empat puluh juta sembilan ratus sembilan puluh enam ribu) saham lama yang berasal dari pemegang saham Perseroan sebelum pelaksanaan Penawaran Umum dan sebesar 4.004.000.563.000. secara proforma menjadi sebagai berikut: Modal Saham Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham Keterangan Sebelum Penawaran Umum Jumlah Saham A.999.000.400. yang terdiri dari 18.240.000 248.634.000.21 1.PT Angkasa Pura I (Persero) .498.167.999.000 Jumlah Nilai Nominal (Rp) % Sesudah Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) % 100.000.000 6. Negara Republik Indonesia tidak akan menjual atau mengalihkan saham yang dimilikinya di Perseroan.500 201. para pemegang saham telah menyetujui program kepemilikan saham Perseroan oleh Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Allocation/MESA) melalui penjatahan saham untuk Para Pemesan Khusus yang terdiri dari saham penghargaan dan saham diskon.000 248.000 11.826.000.000 11.00 1 500 1 500 29.869. serta pemberian hak opsi kepada Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Options Plan/MESOP). Selain program MESOP.502.

Tim manajemen yang ahli dan berpengalaman dengan rekam jejak yang baik. yaitu GMF AeroAsia. ASYST. (iii) pesawat Sub-100 sebanyak 18 unit. untuk peningkatan kapabilitas GMF AeroAsia dalam merawat pesawat B737-800. kenaikan frekuensi penerbangan. B777 sebanyak 10 unit. Final payment pembelian pesawat akan dilakukan dengan pembiayaan (financing). penggunaan dana diperlukan untuk memenuhi kewajiban Perseroan sesuai perjanjian antara Perseroan dengan produsen pesawat udara termasuk Boeing dan Airbus. Pemimpin di pasar penerbangan Indonesia . Pengembangan armada baru harus dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan arus penumpang. dan investasi untuk IT (baik peningkatan pelayanan maupun operasi). seperti spare parts dan komponen pesawat. untuk peningkatan kualitas dan kapabilitas perawatan pesawat. maupun untuk kelancaran operasional Perseroan. (iv) pesawat freighter (untuk layanan kargo) sebanyak 4 unit. dan (iv) pesawat narrow-body untuk Citilink sebanyak 25 unit. serta persediaan engine/mesin pesawat. maupun belanja modal lain yang diperlukan dalam rangka pengembangan armada. untuk pembelian suku cadang dan komponen. Abacus. setelah dikurangi biaya emisi yang terkait dengan Penawaran Umum untuk: • 80% akan digunakan untuk pengembangan armada baru. Dana diperlukan baik untuk pembayaran Pre-Delivery Payment (PDP) pesawat yang dibeli. Keterangan lebih lengkap mengenai penggunaan dana hasil Penawaran Umum dapat dilihat pada Bab II Prospektus ini. Selain itu. Jenis belanja modal yang akan dilakukan adalah untuk pengembangan teknologi informasi. dan belanja-belanja modal lainnya yang diperlukan baik untuk pengembangan Perseroan. Pendanaan yang diberikan kepada Anak Perusahaan adalah dalam bentuk pinjaman. (ii) pesawat berbadan lebar (wide-body). baik untuk peningkatan pelayanan maupun operasi penerbangan. dan tipe B777 ER sebanyak 10 unit. Dana untuk investasi akan digunakan untuk Anak Perusahaan. Aerowisata. • 20% akan digunakan untuk membiayai belanja modal Perseroan. security deposit pesawat yang disewa. Manajemen Perseroan menyatakan bahwa setiap penggunaan dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum akan mengikuti ketentuan peraturan dan perundangan yang berlaku. Penambahan armada baru yang direncanakan adalah pesawat B737-800 NG sebanyak 10 unit. terutama pembayaran uang muka (predelivery payment) sebagaimana diuraikan dalam bagian lain Prospektus. peningkatan pelayanan. yaitu sampai dengan tahun 2016 berdasarkan perjanjian dengan produsen pesawat udara yang telah diuraikan dalam bagian lain Prospektus. Fleksibilitas pengoperasian FSC dan LCC. final payment pembelian pesawat baru. baik di Perseroan maupun Anak Perusahaan yang diperlukan untuk pengembangan usaha.Rencana Penggunaan Dana Perseroan bermaksud menggunakan dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum atas Saham Baru. serta pesawat tipe narrow-body untuk Citilink sebanyak 5 unit. termasuk dengan cara sale and (operating) lease back. akan disesuaikan dengan jadwal penyerahan pesawat udara. Untuk jangka waktu penambahan armada baru ini. Dalam rangka pengembangan armada jangka panjang. terdiri dari tipe A330-200/300 sebanyak 19 unit. Kunci Utama Investasi Kunci Utama Investasi Perseroan yang utama terletak pada faktor-faktor berikut: • • • • • Indonesia merupakan salah satu pasar penerbangan udara yang memiliki pertumbuhan yang pesat. peningkatan efisiensi bahan bakar dan menurunkan beban perawatan pesawat udara dikarenakan umur pesawat Perseroan. Tidak ada hubungan afiliasi antara Perseroan dengan Boeing dan Airbus. A330-200 sebanyak 6 unit. Brand yang kuat dan pelanggan yang loyal untuk mendukung pertumbuhan di masa yang akan datang. Perseroan berencana mengoperasikan pesawat dengan tipe sebagai berikut: (i) pesawat berbadan sempit (narrow-body). xii . berupa investasi untuk flight equipment dan maintenance-modification program. yaitu B737-800 NG sebanyak 78 unit. serta pesawat tipe Sub-100 sebanyak 5 unit.

Perseroan pernah memiliki dan mungkin akan tetap memiliki defisit modal kerja di masa yang akan datang. melatih. yang menghadapkan Perseroan pada ketidakpastian dan risiko integrasi terkait dengan akuisisi di masa yang akan datang. Kemampuan Perseroan dalam menetapkan tarif penerbangan pada segmen tertentu dipengaruhi oleh batasan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Memperbanyak jumlah. • • • • • • • • • • • • • • • • Risiko Terkait Industri Penerbangan • • • Industri penerbangan sangat kompetitif. Sumber utama pasokan bahan bakar berasal dari Pertamina. Aktivitas pekerja dapat mempengaruhi Perseroan. Elemen-elemen kunci dari strategi Perseroan untuk mencapai misinya adalah sebagai berikut : • • • • • • Optimalisasi layanan bisnis FSC untuk mendukung pertumbuhan permintaan pasar domestik. menyederhanakan jenis dan meremajakan armada pesawat. memperkuat dan menambah rute internasional serta brand. Tambahan beban bahan bakar yang diterapkan oleh Perseroan sedang diperkarakan di Indonesia. Secara berkelanjutan meningkatkan bisnis layanan FSC. Perubahan pada peraturan pemerintah dapat membahayakan bisnis Perseroan. memperbaiki kinerja ketepatan waktu (“On Time Performance” atau “OTP”) dan menyediakan jasa transportasi udara yang aman dan efisien. Tingginya tingkat hutang dan pembayaran kewajiban tetap dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam penerapan strategi Perseroan. pelanggan dan perusahaan di Indonesia pada umumnya. dan memotivasi personil kunci dapat mempengaruhi bisnis Perseroan. dimana pada akhirnya dapat mempengaruhi bisnis. Tidak terimplementasinya strategi Perseroan dapat berdampak pada bisnis Perseroan. Peningkatan tingkat inflasi dapat berdampak negatif terhadap strategi ekspansi armada pesawat Perseroan mungkin melakukan ekspansi bisnis melalui akuisisi maskapai penerbangan atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan. Tingginya beban bunga dapat berdampak negatif terhadap profitabilitas Perseroan. Meningkatkan sumber daya manusia. Setelah selesainya Penawaran Umum. kondisi keuangan. Perseroan bergantung pada Kementerian Agama terkait kegiatan penerbangan haji. Meningkatkan disiplin biaya dan manajemen pendapatan Perseroan. Keterbatasan infrastruktur dan fasilitas bandara internasional Soekarno-Hatta dan bandara lainnya di Indonesia dapat menghambat kemampuan Perseroan untuk meningkatkan utilisasi pesawat. Kenaikan beban bahan bakar dapat berdampak negatif terhadap bisnis Perseroan. Pemerintah akan tetap sebagai pemegang saham pengendali Perseroan. Perseroan bergantung kepada Pemerintah dan institusi lain yang dimiliki dan dikendalikan oleh Pemerintah terkait dukungan keuangan dan pelayanan penting lainnya. Risiko Usaha Risiko Terkait Kegiatan Usaha Perseroan • • Keterbatasan Perseroan dalam merekrut. Australia dan Selandia Baru. Perseroan mengalami kerugian dari kegiatan operasi selama kurun waktu sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan kemungkinan akan terus mengalami kondisi tersebut. mempertahankan.Strategi Usaha Perseroan berkeyakinan bahwa strategi Perseroan adalah memposisikan Perseroan untuk mengkapitalisasi pertumbuhan yang berkelanjutan di pasar penerbangan Indonesia. hasil usaha dan prospek Perseroan Perseroan sangat bergantung pada sistem otomatisasi dalam menjalankan bisnisnya dan setiap kegagalan pada sistem otomatisasi ini dapat mempengaruhi bisnis Perseroan. Pengembangan LCC untuk memperoleh segmentasi pasar dengan layanan FSC. xiii . Reputasi dan bisnis Perseroan dapat terkena dampak negatif karena adanya larangan penerbangan ke Uni Eropa bagi sebagian perusahaan penerbangan Indonesia.

mungkin secara negatif mempengaruhi permintaan perjalanan udara.456 (211.840.373 16. oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto. kebutuhan modal kerja. atau persepsi bahwa wabah tersebut dapat terjadi.831 2007 14.319.084 918.353. Pertumbuhan otonomi daerah berpotensi menciptakan lingkungan bisnis yang tidak pasti bagi Perseroan dan dapat menambah beban Perseroan. Lebih lengkap tentang Risiko Usaha Perseroan dijelaskan dalam Bab V Prospektus ini.860.897) 194.876 12.802.996.735 11. Wabah flu burung.074 12.172 152.310. dan pembatasan dari kreditur Perseroan.430 13. kondisi keuangan. dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto.222.685. Kemampuan Perseroan untuk membayar dividen di masa yang akan datang akan bergantung pada laba di masa yang akan datang.303.429 2009 17. Penjualan saham Perseroan di masa yang akan datang dapat berdampak negatif terhadap harga pasar saham Perseroan.952. dapat meningkatkan beban operasi dan mengurangi permintaan dari pelayanan Perseroan.683 2009* 11.983. kondisi keuangan.616 14.225.974.120 250.049 15.042.914 2006** 12. • • Risiko Terkait Indonesia • • Perubahan ekonomi domestik. Amir Jusuf.423 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008 19. seluruhnya dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.628. arus kas. Asuransi mungkin menjadi lebih sulit atau mahal didapatkan. regional atau global dapat mempengaruhi bisnis Perseroan. Depresiasi atau volatilitas nilai tukar Rupiah dapat secara negatif mempengaruhi bisnis. Ketidakstabilan politik dan sosial di Indonesia dapat secara negatif mempengaruhi perekonomian yang bisa memberikan dampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. hasil dan prospek usaha Perseroan. severe acute respiratory syndrome (“SARS”).492 xiv .612 9.975 710.658) 9. Amir Jusuf & Mawar (RSM).581) (521.468 1.942.675 17.• • • • • Bisnis penerbangan ditandai dengan biaya tetap yang tinggi. ekspansi armada pesawat. Ikhtisar Data Keuangan Penting Tabel berikut di bawah ini menggambarkan Ikhtisar Data Keuangan Konsolidasi Penting Perseroan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian serta laporan keuangan konsolidasi yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang telah ditinjau. kondisi keuangan.289 1.325 11.971 (289. • • • • Risiko terkait Investasi pada saham Perseroan • • • Harga saham Perseroan dapat berfluktuasi di masa yang akan datang. virus influenza A (H1N1) atau penyakit menular lainnya.570.096 12.258 732.692 2005** 12. Penurunan peringkat kredit Indonesia dan perusahaan Indonesia dapat secara material dan negatif mempengaruhi Perseroan dan harga pasar dari saham yang ditawarkan. Indonesia terletak di zona gunung berapi yang masih aktif dan memiliki risiko seismik yang tinggi yang dapat mengganggu kegiatan usaha Perseroan.849. Reputasi dan bisnis Perseroan dapat terkena dampak negatif akibat kecelakaan atau insiden pesawat.399. Serangan teroris di masa yang akan datang.867 14.497.207 975. Perseroan hanya memiliki jumlah pemasok yang terbatas untuk armada pesawat dan mesin. atau ancaman seperti serangan tersebut.155 14.018. hasil usaha dan prospek Perseroan.510 570.349. Mawar & Saptoto (RSM).815 623. Hasil operasi Perseroan dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh perubahan siklus industri penerbangan dan bersifat musiman. sebagai berikut: (dalam Jutaan Rupiah) Uraian Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 Pendapatan Usaha Jumlah Beban Usaha Laba (Rugi) Usaha Laba (Rugi) Bersih Jumlah Aset 12.

768. Pembagian dividen harus disetujui oleh Pemegang Saham melalui keputusan RUPS Tahunan berdasarkan rekomendasi Direksi Perseroan.Uraian Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009* 12.146. Kebijakan Dividen Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan Anggaran Dasar Perseroan.366.999 (3.065. Dengan tetap memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku.290 1. Dividen hanya boleh dibagikan apabila Perseroan mempunyai saldo laba positif.429 (1.887. Direksi Perseroan akan membayarkan dividen secara tunai dalam bentuk dividen kas. dan Bab XVII mengenai Laporan Auditor Independen dan Laporan Keuangan Konsolidasi Perseroan.851 1.214. dapat dilihat pada Bab IV mengenai Analisis dan Pembahasan Oleh Manajemen. Laba bersih yang tersedia untuk pembayaran dividen dapat berkurang dengan adanya kewajiban Perseroan untuk mengalokasikan cadangan.230.400 3.266.946.749) 2005** 12.625.719) 2006** 12. Bab X mengenai Ikhtisar Data Keuangan Penting. kondisi keuangan Perseroan serta kewajiban Perseroan terhadap para kreditur termasuk kreditur ECA. dengan persetujuan para pemegang saham dalam RUPS. Manajemen Perseroan berencana untuk membagikan dividen setidaknya sekali setahun kecuali diputuskan lain dalam RUPS.447. xv . laba bersih Perseroan dapat dibagikan kepada Pemegang Saham sebagai dividen setelah penyisihan dana cadangan wajib yang dipersyaratkan undang-undang.581.799 3. Berdasarkan hal tersebut diatas. Peraturan perundang-undangan di Indonesia mensyaratkan cadangan sampai dengan sedikitnya 20% dari modal ditempatkan dan disetor Perseroan.245. Dengan memperhatikan hal-hal di atas.349 (2.182.070 11.771 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008 13. Lebih lengkap tentang Kebijakan Dividen dijelaskan dalam Bab XIII Prospektus ini.127 2009 11.535 2007 13.924) Jumlah Kewajiban***) Jumlah Ekuitas (Defisiensi Modal) Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) **) Setelah penyesuaian dampak kumulatif penyajian kembali laporan keuangan konsolidasian tahun 2008 dan 2007 ***) Tanpa hak minoritas Untuk keterangan lebih rinci. Manajemen Perseroan merencanakan kebijakan pembagian dividen tunai maksimum 50% (lima puluh persen) dari laba bersih Perseroan untuk setiap tahunnya dengan ketentuan (i) terdapat kelebihan kas (excess cash) Perseroan di tahun yang bersangkutan sebagaimana disyaratkan dalam Restrukturisasi Hutang tanggal 21 Desember 2010 (ii) tidak ada saldo yang jatuh tempo dan belum dibayar atas perjanjian sewa dan tidak ada saldo lainnya yang jatuh tempo dan belum dibayar atas peminjaman hutang lainnya dan (iii) tidak ada kejadian sehubungan dengan pailit dan ketidakmampuan membayar kewajiban yang ada.

Halaman ini sengaja dikosongkan xvi .

MEMPERTAHANKAN.BAB I. Riyadh. Pekanbaru. MELATIH. DAN MEMOTIVASI PERSONIL KUNCI DAPAT MEMPENGARUHI BISNIS PERSEROAN.803. Malang. 62 21 231 1223 Kantor Manajemen: Management Building. Palembang.000. RISIKO UTAMA YANG DAPAT MEMPENGARUHI KINERJA DAN KONDISI KEUANGAN PERSEROAN ADALAH KETERBATASAN PERSEROAN DALAM MEREKRUT.400. Indonesia Telp. Kupang.300.000 (enam miliar tiga ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) atau sebesar 27. Makassar. Garuda City Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng 19120. 62 21 5591 5671.000 (empat triliun tujuh ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) yang terdiri dari sebesar Rp3. Kendari. Timika. Nagoya. Singapura.500. yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan FPPS. Batam.451.935. PERSEROAN BERGERAK DI BIDANG JASA ANGKUTAN UDARA NIAGA DIMANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO.000. Padang. MAKA TERDAPAT KEMUNGKINAN PERDAGANGAN EFEK YANG DITAWARKAN MENJADI TERBATAS ATAU SAHAM-SAHAM TERSEBUT MENJADI KURANG LIKUID.98% (dua puluh tujuh koma sembilan puluh delapan persen) dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah Penawaran Umum. • Keseluruhan saham tersebut di atas ditawarkan kepada Masyarakat dengan Harga Penawaran Rp750 (tujuh ratus lima puluh Rupiah) setiap saham yang ditetapkan berlaku untuk seluruh Saham Yang Ditawarkan. Kuala Lumpur. PEMBATASAN KEPEMILIKAN ASING TIDAK BERLAKU BAGI PENANAMAN MODAL TIDAK LANGSUNG ATAU PORTOFOLIO YANG TRANSAKSINYA DILAKUKAN MELALUI PASAR MODAL DALAM NEGERI. Semarang. Pontianak. Medan. Bandung.500. Perseroan mengadakan program MESA dengan mengalokasikan saham sebanyak-banyaknya 5% (lima persen) dari jumlah penerbitan Saham Baru dan menerbitkan opsi saham untuk program MESOP sebanyak-banyaknya 0. yang merupakan Saham Biasa Atas Nama Seri B. Tanjung Karang.803. Manado. Amsterdam. Banda Aceh. Hongkong. 1 . PENAWARAN UMUM Perseroan dan Pemegang Saham Penjual dengan ini melakukan Penawaran Umum Sebesar 6. dan Sebesar 1. Perth. Ternate.000. Jambi. Jeddah. NAMUN. Fax. Denpasar. yang terdiri dari: • Sebesar 4. Canton. MENGINGAT JUMLAH SAHAM YANG DITAWARKAN PADA PENAWARAN UMUM INI RELATIF TERBATAS. Fax.738. Banjarmasin. Biak. Bangkok. Surabaya. Yogyakarta. RISIKO USAHA PERSEROAN SELENGKAPNYA DAPAT DILIHAT PADA BAB V PROSPEKTUS INI. SAHAM PERSEROAN DAPAT DIMILIKI OLEH PIHAK ASING HINGGA 49% DENGAN KETENTUAN SALAH SATU PEMILIK MODAL NASIONAL HARUS TETAP LEBIH BESAR DARI KESELURUHAN PEMILIK MODAL ASING (SINGLE MAJORITY). Jayapura. Shanghai. Jumlah Penawaran Umum adalah sebesar Rp4. 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN DAN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 36 TAHUN 2010 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN DI BIDANG PENANAMAN MODAL (“PERPRES 36/2010“). Seoul. Beijing. 62 21 2291 5673 49 Kantor Cabang yang berlokasi di: Jakarta.000 (satu triliun empat ratus lima puluh satu miliar delapan ratus tiga juta lima ratus ribu Rupiah) dari penawaran Saham Divestasi. Tokyo.000 (satu miliar sembilan ratus tiga puluh lima juta tujuh ratus tiga puluh delapan ribu) lembar Saham Biasa Atas Nama Seri B milik Pemegang Saham Penjual dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap saham (“Saham Divestasi”). Kebon Sirih No. Palu. Melbourne.751. Palangkaraya. Sydney.335. Pangkal Pinang. Mataram.738. Balikpapan. 44 Jakarta 10110 Indonesia Telp. Kegiatan Usaha: Jasa Angkutan Udara Niaga Berkedudukan di Jakarta Pusat Kantor Pusat: Jl.000 (tiga triliun tiga ratus miliar Rupiah) dari penawaran Saham Baru dan sebesar Rp1. 62 21 231 1355. Solo. Osaka.97% (nol koma sembilan puluh tujuh persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum. Ambon. BERDASARKAN PENJELASAN PASAL 2 UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL DAN PASAL 4 PERPRES 36/2010.000 (empat miliar empat ratus juta) lembar Saham Biasa Atas Nama Seri B yang merupakan Saham Baru yang dikeluarkan dari simpanan Perseroan dengan nilai nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) setiap lembar saham (“Saham Baru”).

) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Beijing. Malang. 8 tanggal 4 Maret 1975 sebagaimana diubah dengan Akta Perubahan No. Notaris di Jakarta.AH. Denpasar.N.H.02 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010. Palembang.A.AH. 16) tentang Bentukbentuk Usaha Negara menjadi Undang-undang (Lembaran Negara tahun 1969 No.09 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010 dan No. dilakukan penyesuaian terhadap bentuk hukum Perusahaan Negara (P. dan kemudian diubah dengan Akta Perubahan No. Notaris di Jakarta yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. jasa boga dan agen perjalanan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Perbaikan dan pemeliharaan pesawat terbang Penyedia jasa teknologi informasi Kepemilikan 99. dimana dengan dilakukannya penyesuaian tersebut. J. Area Eastern Indonesia yang mengelola 18 kantor cabang di Surabaya. Area Jepang. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. S. Amsterdam. dan Cina. 327 pada tanggal 24 April 1950. Osaka. Riyadh. dan 2252.V. Pangkal Pinang. 42 tanggal 21 April 1975. telah didaftarkan dalam buku register di Kantor Pengadilan Negeri di Jakarta di bawah No. Perseroan memiliki penyertaan saham secara langsung pada 9 anak perusahaan sebagai berikut: No 1 2 3 4 Anak Perusahaan PT Aero Wisata PT Abacus Distribution Systems Indonesia PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia*** PT Aero Systems Indonesia*** Bidang Usaha Perhotelan. Kuala Lumpur. Perubahan terakhir Anggaran Dasar Perseroan adalah sebagaimana Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham Luar Biasa No. 24 tanggal 16 Nopember 2010. 87) tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara (P. Semarang. Peraturan Pemerintah No.Tahun 2011 tanggal 10 Januari 2011 dan didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta Pusat di bawah Tanda Daftar Perusahaan No. Status Perseroan sebagai Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero) dibentuk berdasarkan Akta Pendirian No. yang mengelola 8 kantor cabang di Tokyo. Balikpapan. 1 Tahun 1969 (Lembaran Negara tahun 1969 No. 2250. SBU Garuda Sentra Medika (GSM) yang mengelola bisnis kesehatan. Manado. AHU-0001962. Bangkok. Melbourne. tertanggal 4 Januari 1975 No. telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No. juncto Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia.H.3758 tanggal 25 Januari 2011. Area Asia yang mengelola 3 kantor cabang di Singapura. dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Serikat No.01. Timika. Pekanbaru. tanggal 26 Agustus 1975. telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia Serikat dalam keputusannya tertanggal 31 Maret 1950 dengan No. yaitu SBU Garuda Cargo yang mengelola bisnis kargo. Banjarmasin. Tambahan No. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No. Bandung.01.N.) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Kupang. Banda Aceh. Yogyakarta. 12 tahun 1969 tentang Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran-Negara tahun 1969 No. Palangkaraya.01. Makassar. Batam. 40).09. yaitu: • • Area Western Indonesia.T. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 5/225/8 tertanggal 23 Juni 1975. Perseroan memiliki 1 kantor pusat dan 6 Area Manajemen yang mengelola 49 kantor cabang. 24 tanggal 12 Juni 1975. Area Europe dan Middle East yang mengelola 3 kantor cabang di Jeddah.00% 99. AHU-54724.A. Biak. yang dibuat di hadapan Raden Kadiman. Perth. Padang. 5/12/10. Notaris di Jakarta. 137 tanggal 31 Maret 1950.99% 99. Korea.. Mataram. 30 tanggal 12 Mei 1950. AHU-0084627. Jayapura. Shanghai. 136. Ambon. 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. Y. KEP-2/MK/IV/1/1975 tentang Penetapan Modal Perusahaan Perseroan (Persero) “P. 2251. Palu. ketiganya dibuat di hadapan Soeleman Ardjasasmita. Nagoya.99% Tahun Penyertaan 1989 1995 2002 2005 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi 2 . Jambi. 67 tahun 1971 (Lembaran-Negara tahun 1971 No. 21). Pontianak. 68. Garuda Indonesian Airways”.AH.62. 434. yang dibuat di hadapan Fathiah Helmi. 09. Kendari. yang mengelola 14 kantor cabang di Jakarta. Seoul. Area South West Pacific yang mengelola 3 kantor cabang di Sydney.051. yang berkedudukan di Jakarta berdasarkan Akta Perseroan Terbatas No. Ternate. • • • • Perseroan memiliki 3 SBU. dan SBU Citilink yang mengelola bisnis di bidang angkutan udara niaga berjadwal yang berbiaya murah (LCC). Solo. Perusahaan Negara “Garuda Indonesian Airways” dinyatakan bubar pada saat pendirian Perusahan Perseroan (Persero). dan telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta pada tanggal 1 Juli 1975 berturut-turut di bawah No. Peraturan Pemerintah No. Medan. Tanjung Karang. Tambahan No.99% 95. Hongkong.Perseroan didirikan dengan nama Garuda Indonesian Airways N. Canton. S.

8.No 5 6 7 8 9 Catatan: *) Anak Perusahaan PT Citilink Indonesia*** PT Gapura Angkasa** Abacus International Holdings Ltd** Pan Asia Pacific Aviation Services Ltd. Ltd Garuda Orient Holidays Japan INC. 6.99% Tahun Penyertaan 1982 2009 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi 3.99% 37.98% 100% 60% 60% 45% 40% 10. 11. 12. 17. SH.10% 7. Disamping itu.98% 99. PT Aeronurti** PT Aeroprima** PT Bumi Minang Padang** PT Nusa Dua Graha Internasional** PT Arthaloka Indonesia** PT Aerojasa Cargo 99. 15. pembangunan hotel masih dalam proses **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aerojasa Perkasa Perseroan telah memperoleh persetujuan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana sesuai dengan persetujuan privatisasi dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang tertuang dalam Surat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia No.98% 99. dibuat dihadapan Fathiah Helmi.54% 2. 4. 24 tanggal 16 Nopember 2010.98% 99. dan persetujuan RUPS yang dituangkan dalam Akta No.58% 98.87% 1988 1987 1992 1974 1988 1979 1997 1981 2008 2009 1996 1993 1989 1988 1988 2003 sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi Catatan: *) PT Belitung Inti Permai belum beroperasi. Anak Perusahaan PT Angkasa Citra Sarana Catering Service PT Aero Hotel Management Bidang Usaha Jasa boga Jasa pengelolaan properti (hotel. 7. 18.21% Tahun Penyertaan 2009 1998 1997 1998 1978 Status Operasi Komersial belum beroperasi* sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi Citilink belum beroperasi dikarenakan masih dalam proses untuk memperoleh ijin usaha angkutan udara niaga **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aero Wisata Perseroan melalui PT Aero Wisata memiliki penyertaan saham secara tidak langsung pada 18 perusahaan sebagai berikut: No 1. 14. Garuda Orient Holidays Korea Co. kondominium) Jasa kargo Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Transportasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa pengelolaan properti Jasa pengurusan transportasi (freight forwarding) Kepemilikan 99.65% 4.98% 99. 13.** PT Merpati Nusantara Airlines** Bidang Usaha Angkutan udara niaga Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penerbangan Kepemilikan 99. 9. 2.88% 99. 3 . yang dituangkan dalam Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari RUPSLB tanggal 26 Januari 2011. 16. apartemen. Notaris di Jakarta dan persetujuan pemegang saham Perseroan.PW. PT Aerojasa Perkasa PT Bina Inti Dinamika PT Belitung Inti Permai PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi PT Mandira Erajasa Wahana PT Mirtasari Hotel Deveploment PT Senggigi Pratama Internasional Garuda Orient Holidays Pty.87% 61. hal ini telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. antara lain berkenaan dengan jumlah Saham Baru dan harga penawaran. 4 Tahun 2011 tanggal 11 Januari 2011 tentang Perubahan Struktur Kepemilikan Saham Negara Melalui Penerbitan dan Penjualan Saham Baru Pada Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero) Tbk.065% 17. Ltd. 5.98% 99.5% 2.01/5972/DPRRI/IX/2009 tanggal 16 September 2009. 10.

Sedangkan hak istimewa dari pemegang saham Seri A telah diterangkan di atas.61 2.000.240.000 % % A.000. maka sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan.82 10.000.879.999.999. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar B.935. diutarakan bahwa sepanjang dalam Anggaran Dasar tidak ditetapkan lain maka pemegang saham Seri A Dwiwarna dan Saham Seri B mempunyai hak yang sama. maka struktur permodalan dan susunan pemegang saham serta komposisi kepemilikan saham dalam Perseroan sesudah Penawaran Umum.Pada saat Prospektus ini diterbitkan.000. Sehubungan dengan hal tersebut.000.000.634.000.000 Nilai Nominal (Rp) 500 14.000 500 14.000 248. Perseroan hanya mengeluarkan 1 (satu) Saham Seri A Dwiwarna yang dimiliki oleh Negara Republik Indonesia dan tidak dapat dipindahtangankan kepada siapapun.496. (ii) menerima dividen.000 5.000.004.653.999.000.999 30.000 500 14.36 100.999.999.999.999.000. Saham Seri A Dwiwarna adalah saham yang memberikan hak istimewa kepada Negara Republik Indonesia sebagaimana diuraikan di bawah ini: • • • • Mengangkat dan memberhentikan anggota Direksi dan Dewan Komisaris Melakukan perubahan Anggaran Dasar Melakukan penggabungan.00 85.999. Dengan terjualnya seluruh Saham Baru dan Saham Divestasi.999.826.000 124.999 30.500 967.000.000.759. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar 4 .869.500 15.817.563.000 18.500 15. secara proforma menjadi sebagai berikut: Modal Saham Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham Keterangan Sebelum Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) 1 29.999.120.21 1.502.000.248.738.000.500 15.000 201.000 0. yang ditawarkan pada Penawaran Umum ini.000 Sesudah Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) 1 29.00 C.000.999.000 % 1 15. struktur permodalan dan susunan pemegang saham serta komposisi kepemilikan saham Perseroan adalah sebagai berikut: Modal Saham Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham Pemegang Saham A.000.999 1.000 403.000 9.127. Saham Seri B mempunyai hak yang sama antara lain untuk (i) menghadiri dan memberikan suara dalam RUPS.000.000. peleburan dan pengambilalihan Melakukan pembubaran dan likuidasi Saham Biasa Atas Nama Seri B Sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan. dan (iii) membeli saham baru Perseroan.000 11.996.999 30.000.000 500 7.999. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham Seri A Dwiwarna Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B Negara Republik Indonesia PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT Angkasa Pura II (Persero) PT Angkasa Pura I (Persero) Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham dalam Portepel Jumlah Saham 1 29.999.999.498. Saham Seri A – Dwiwarna Saham yang dikeluarkan Perseroan terdiri dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B.999.000.999.

999. Berdasarkan keputusan RUPSLB Perseroan tanggal 15 Nopember 2010 sebagaimana diubah dengan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari RUPSLB tanggal 26 Januari 2011.000.500 967.120.000 0.000. Direksi Perseroan telah menetapkan jumlah saham untuk program MESA sebanyak-banyaknya 5% (lima persen) dari jumlah penerbitan Saham Baru dan opsi saham untuk program MESOP sebanyak-banyaknya 0.000 7.000.000 248. Untuk melunasi hutang tersebut Perseroan menerbitkan obligasi wajib konversi pada 2001 yang kemudian direstrukturisasi pada 2009.Masyarakat Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh A.000 1.127. JKTDZ/SKEP-50006/11 tertanggal 26 Januari 2011 tentang Program Pemberian Saham Penghargaan.127. Pada 2009 konversi tersebut telah dilakukan dan Bank Mandiri telah menyatakan akan turut serta dalam Penawaran Umum ini.869.502. Dewan Komisaris (kecuali komisaris independen).335.36 248.738.817.498.PT Bank Mandiri (Persero) Tbk .826.98 85.000 124.000 (dua puluh dua miliar enam ratus empat puluh juta sembilan ratus sembilan puluh enam ribu) lembar saham.634. semakin lama penyertaan modal sementara tersebut kualitasnya semakin menyusut.6. Perseroan dan Bank Mandiri sepakat untuk mengikutsertakan saham hasil konversi tersebut dalam Penawaran Umum Perdana yang akan dilakukan oleh Perseroan.21 403.240.78 1. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh: Saham Seri A Dwiwarna: Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B: .000.999 10.000.PT Angkasa Pura I (Persero) .000 (delapan belas miliar dua ratus empat puluh juta sembilan ratus sembilan puluh enam ribu) lembar saham lama yang berasal dari pemegang saham Perseroan sebelum pelaksanaan Penawaran Umum dan sebesar 4. Saham Dalam Portepel 1 15. Program Alokasi Saham Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Allocation/MESA) Program MESA adalah program pemilikan saham dengan penjatahan pasti dari Saham Baru yang ditawarkan kepada Para Pemesan Khusus (Peserta Program MESA). a.14 1. Jumlah saham yang akan dicatatkan pada BEI adalah seluruh atau 100% (seratus persen) saham Perseroan yang telah dan akan dikeluarkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum.320.640. dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya dalam waktu 5 (lima) tahun atau perusahaan telah memperoleh laba. Berdasarkan Pasal 7 UU Perbankan.498.248. Perseroan menerima pembiayaan dari beberapa bank yang kemudian melakukan merger menjadi Bank Mandiri.653.004.000.97% (nol koma sembilan puluh tujuh persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum.738.759. Berdasarkan peraturan Bank Indonesia.000 124.996.00 3. para pemegang saham telah menyetujui program kepemilikan saham Perseroan oleh Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Allocation/MESA) melalui penjatahan saham untuk Para Pemesan Khusus yang terdiri dari saham penghargaan dan saham diskon.000 5.000 0.82 15.000 3.000.359.634.496.000 100. bank hanya dapat melakukan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit.869.00 69.000 11. Berdasarkan persetujuan para pemegang saham tersebut.004.640.000 100.000.000 Perseroan akan mencatatkan sebesar 22.000.996.Keterangan Sebelum Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) % Sesudah Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) % A.000. Dalam perjanjian restrukturisasi tersebut disepakati bahwa pembayaran secara tunai senilai kurang lebih 5% (lima persen) dari pokok obligasi wajib konversi sedang sisanya akan dikonversikan menjadi saham Perseroan.PT Angkasa Pura II (Persero) .999.999 1.Negara Republik Indonesia .167.10 27.935.679. yang terdiri dari 18.000 11.996.500 201.61 2.240.000 18. 5 .000. Saham Diskon dan Hak Opsi Pembelian Saham untuk Pegawai dan Manajemen PT Garuda Indonesia (Persero).00 1 500 7.000 9.000 500 7.653.826.879. Program Kepemilikan Saham Karyawan dan Manajemen Perseroan Tujuan utama Program Kepemilikan Saham Manajemen dan Karyawan Perseroan adalah untuk memberikan penghargaan dan sebagai bagian dari program total reward kepada pegawai atas kontribusinya kepada Perseroan dan untuk meningkatkan rasa memiliki (sense of belonging) pegawai terhadap Perseroan yang diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan (shareholder value).000 403.817.000 . Bank Mandiri bermaksud melakukan divestasi untuk mematuhi Undang-undang Perbankan dan ketentuan dalam perjanjian obligasi konversi yang diterbitkan Perseroan. serta pemberian hak opsi kepada Manajemen dan Karyawan (Management & Employee Stock Options Plan/MESOP).400.996.000 201.502.terdiri dari Direksi.563.000 (empat miliar empat ratus juta) lembar saham yang merupakan Saham Baru Perseroan yang seluruhnya ditawarkan dalam Penawaran Umum ini.563.248.00 22. dan pegawai tetap Perseroan yang tercatat pada data Perseroan pada tanggal 30 Nopember 2010 sebagaimana ditetapkan dalam Surat Keputusan Direksi No.496.

000 100.000 11.000.999.000 .999. dalam jumlah sebanyakbanyaknya 1% dari total Saham Baru.634.000 (dua ratus dua puluh juta) saham.120.000.996.000 9.000 100.500 201.000.Negara Republik Indonesia . Saham Penghargaan akan dibayar oleh Peserta Program MESA dengan sebagian jasa produksi berupa bonus yang akan ditetapkan Direksi.000 124. maka susunan modal saham dan pemegang saham Perseroan sebelum dan sesudah Penawaran Umum ini (sudah termasuk saham yang dialokasikan kepada manajemen dan karyawan dalam program MESA).359.057.00 1 500 7.817.999 1.999.000 403.PT Angkasa Pura I (Persero) .000 15.127.879.248.78 1.000. yaitu pemberian saham kepada pegawai sebagai Penghargaan.248.115.502.563.000.000.826.7 yang memperkenankan maksimum 10% (sepuluh persen) dari Saham Yang Ditawarkan kepada publik.000 1.000. Dengan terjualnya seluruh Saham Yang Ditawarkan Perseroan dalam Penawaran Umum ini telah terjual.000. telah disetujui saham yang dialokasikan untuk program MESA sebanyak-banyaknya 5% (lima persen) dari jumlah penerbitan Saham Baru atau sebanyak-banyaknya 220. maka sisa saham akan ditawarkan kembali kepada masyarakat. Saham Diskon.000 201. sehingga akan menjadi beban Perseroan.653.97 27.000 18.PT Bank Mandiri (Persero) Tbk .634.000.653.000 3.000 7.502.PT Angkasa Pura II (Persero) . yaitu pemberian potongan harga kepemilikan saham kepada pegawai dalam bentuk potongan harga dari harga saham Penawaran Umum dalam jumlah sebanyak-banyaknya 4% dari total Saham Baru.496.000 15.36 248.000.127.240.999 10.01 85.563.498.000.999.000.000.000.999.498.496. b.82 15.14 1.A.935.000.000.999.21 403.000 % A.Masyarakat Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh A.61 2.IX.6.817. Dalam hal jumlah saham yang dipesan dalam program MESA kurang dari 220.826.000 500 7.00 5. secara proforma menjadi sebagai berikut: Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham Keterangan Sebelum Penawaran Umum Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) 1 500 29.500 967.004. Saham Penghargaan. 6 .10 0.000.00 69.000 11.000.000 0.640.999.999 14.000.004.000 Sesudah Penawaran Umum dan MESA Jumlah Saham Jumlah Nilai % Nominal (Rp) 1 500 29.000 (dua ratus dua puluh juta) saham.Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh: Saham Seri A Dwiwarna: Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B: .Program MESA diimplementasikan sesuai dengan Peraturan Bapepam No.999.000.999. dialokasikan sebagai jatah pasti kepada manajemen dan karyawan dan/atau pihak-pihak tertentu yang ditetapkan dalam Surat Keputusan yang diterbitkan oleh Perseroan.759.Saham Dalam Portepel 1 15. Berdasarkan keputusan RUPSLB Perseroan tanggal 15 Nopember 2010 sebagaimana diubah dengan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari RUPSLB.000.000 110.00 22.000. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar A.999. Pegawai yang tidak mendapat alokasi Program MESA adalah: 1) 2) Pegawai dalam status cuti luar tanggungan Pegawai dalam status pembinaan Alokasi saham untuk MESA terdiri dari: a.999.999 14.000 124.000 Aspek Perpajakan MESA Aspek perpajakan dalam Program MESA adalah sebagai berikut : 1.320.000 - 0.000.679. Bonus tersebut merupakan obyek pajak penghasilan.999.869.869.996.738.500 30.000 248.000.500 30.000 3.MESA .000 220.000.738.

2.

Saham Diskon akan dibayar dengan harga diskon sebesar 10% dari Harga Penawaran saham pada Penawaran Umum. Jika Peserta mengunakan haknya untuk membeli saham yang jatahnya dialokasikan kepadanya, maka 10% dari harga saham yang merupakan diskon tersebut akan menjadi beban Perseroan. Nilai diskon yang diterima oleh Peserta Program MESA yang melakukan pembelian saham merupakan obyek pajak penghasilan, dalam hal ini pajak penghasilan atas diskon tersebut juga akan menjadi beban Perseroan. Pajak atas transaksi program MESA menjadi beban peserta.

3.

Mekanisme Pelaksanaan Program MESA Mekanisme pelaksanaan program MESA adalah sebagai berikut: 1. Saham Penghargaan a. b. c. 2. a. b. c. d. Saham Penghargaan diberikan kepada seluruh peserta yang memenuhi persyaratan atas nama masingmasing peserta. Saham Penghargaan memiliki lock-up period selama 12 bulan, yaitu selama masa lock-up saham tidak dapat diikutsertakan dalam transaksi di bursa. Peserta tidak dikenakan biaya atas kepemilikan saham Penghargaan. Saham Diskon ditawarkan kepada seluruh peserta yang memenuhi persyaratan atas nama dari masingmasing peserta. Peserta yang menyetujui penawaran dapat membeli Saham Diskon dengan harga sebesar 90% (sembilan puluh persen) dari harga saham pada saat Penawaran Umum. Saham Diskon memiliki lock-up period selama 12 (dua belas) bulan yaitu selama masa lock-up saham tidak dapat diikutsertakan dalam transaksi di bursa. Apabila terdapat sisa alokasi Saham Diskon yang disebabkan saham tidak dibeli oleh peserta, maka peserta yang memenuhi syarat (eligible) dimungkinkan untuk mengajukan pemberian jatah tambahan dengan jumlah maksimal 1 (satu) kali jumlah pemberian jatah yang telah dialokasikan peserta yang apabila total permohonan tambahan melebihi kapasitas sisa alokasi maka jatah tambahan diberikan secara proporsional. Biaya yang timbul atas program Saham Diskon sebanyak 10% (sepuluh persen) menjadi beban Perseroan dan 90% (sembilan puluh persen) menjadi beban peserta.

Saham Diskon

e.

b.

Program Pemberian Opsi Pembelian Saham kepada Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Option Plan/MESOP)

Program MESOP adalah pemberian hak opsi pembelian saham kepada peserta program untuk membeli saham baru yang akan dikeluarkan dari portepel Perseroan, sebanyak-banyaknya sebesar 10% (sepuluh persen) dari modal ditempatkan dan disetor Perseroan dalam waktu 2 (dua) tahun, sesuai ketentuan Peraturan Bapepam dan LK No.IX.D.4. tentang Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Mekanisme pelaksanaan MESOP akan dilakukan sesuai dengan Peraturan BEI No.I-A yang akan dilaporkan kemudian. Penanggung jawab program MESOP adalah Direksi di bawah pengawasan Dewan Komisaris dan akan dilaporkan dalam RUPS. Berdasarkan keputusan RUPSLB Perseroan tanggal 15 Nopember 2010 sebagaimana diubah dengan Keputusan Edaran Para Pemegang Saham Sebagai Pengganti dari RUPSLB, telah disetujui opsi saham untuk program MESOP sebanyakbanyaknya 0,97% (nol koma sembilan puluh tujuh persen) dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum. Peserta Program MESOP terdiri dari Direksi, Dewan Komisaris (kecuali komisaris independen), dan pegawai tetap Perseroan yang tercatat pada data Perseroan pada tanggal 15 Januari 2011. Sedangkan peserta program MESOP tahap selanjutnya adalah Direksi, Dewan Komisaris (kecuali komisaris independen), dan pegawai tetap Perseroan yang tercatat dalam data Perseroan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sebelum penerbitan hak opsi. Pegawai yang tidak mendapat alokasi Program MESOP adalah: 1) 2) 3) Pegawai dalam status cuti luar tanggungan Pegawai dalam status pembinaan Pegawai yang ditempatkan di anak perusahaan/instansi lain, dengan ketentuan akan mendapat alokasi pada tahap MESOP berikutnya apabila termasuk dalam kriteria sebagaimana termasuk pada penjelasan diatas

7

Dengan terjualnya seluruh Saham Yang Ditawarkan Perseroan dalam Penawaran Umum, maka susunan modal saham dan pemegang saham Perseroan sebelum Penawaran Umum dan sesudah Penawaran Umum ini (sudah termasuk saham yang dialokasikan kepada manajemen dan karyawan dalam program MESA) serta pelaksanaan MESOP, secara proforma menjadi sebagai berikut: Modal Saham Terdiri Dari Saham Seri A Dwiwarna dan Saham Biasa Atas Nama Seri B Dengan Nilai Nominal Rp500 (lima ratus Rupiah) Setiap Saham
Keterangan Sesudah Penawaran Umum dan MESA Jumlah Saham A. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Dasar A. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh: Saham Seri A Dwiwarna: Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B: - Negara Republik Indonesia - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk - PT Angkasa Pura II (Persero) - PT Angkasa Pura I (Persero) - MESA - MESOP - Masyarakat Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh A. Saham Dalam Portepel Jumlah Nilai Nominal (Rp) % Sesudah Penawaran Umum, MESA dan MESOP Jumlah Saham Jumlah Nilai % Nominal (Rp) 1 500 29.999.999.999 14.999.999.999.500 30.000.000.000 15.000.000.000.000

1 500 29.999.999.999 14.999.999.999.500 30.000.000.000 15.000.000.000.000

1 15.653.127.999 403.634.000 248.496.000 220.000.000 6.115.738.000

500 7.826.563.999.500 201.817.000.000 124.248.000.000 110.000.000.000 3.057.869.000.000

0,00

1

500 7.826.563.999.500 201.817.000.000 124.248.000.000 110.000.000.000 110.000.000.000 3.057.869.000.000

0,00 68,47 1,77 1,09 0,96 0,96 26,75

69,14 15.653.127.999 1,78 403.634.000 1,10 248.496.000 0,97 220.000.000 220.000.000 27,01 6.115.738.000

22.640.996.000 11.320.498.000.000 100,00 22.860.996.000 11.430.498.000.000 100,00 7.359.004.000 3.679.502.000.000 7.139.004.000 3.569.502.000.000

Tahapan Program MESOP Tahapan program MESOP akan dilakukan dengan menerbitkan hak opsi dalam 3 (tiga) tahap dengan rincian sebagai berikut: • Tahap Pertama

Jumlah hak opsi yang akan diterbitkan sebesar maksimum 40% (empat puluh persen) dari total saham dalam program MESOP, dan akan diberikan kepada peserta program MESOP bersamaan dengan tanggal pencatatan saham Perseroan di BEI. • Tahap Kedua

Jumlah hak opsi yang akan diterbitkan sebesar maksimum 30% (tiga puluh persen) dari total saham dalam program MESOP. • Tahap Ketiga

Jumlah hak opsi yang akan diterbitkan sebesar maksimum 30% (tiga puluh lima persen) dari total saham dalam program MESOP. Periode Pelaksanaan Hak Opsi akan ditetapkan dikemudian hari, sebanyak-banyaknya 2 (dua) periode pelaksanaan setiap tahunnya dan Harga Pelaksanaan akan ditetapkan dengan mengacu pada ketentuan yang termaktub dalam butir V.2.2 Peraturan I-A Lampiran I Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta No.Kep 305/BJ/07-2004 tertanggal 19 Juli 2004, yaitu sekurang-kurangnya 90% dari harga rata-rata penutupan saham Perusahaan. Tercatat yang bersangkutan selama kurun waktu 25 (dua puluh lima) Hari Bursa berturut-turut di Pasar Reguler sebelum laporan akan dilaksanakannya Periode Pelaksanaan.

8

Pelaksanaan Program MESOP akan dilakukan sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang akan ditetapkan oleh Direksi Perseroan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Aspek Perpajakan MESOP Aspek perpajakan dalam Program MESOP adalah sebagai berikut : 1. Untuk Program MESOP berlaku ketentuan PSAK 53 tentang Kompensasi Berbasis Saham, dimana Perseroan akan mencatat biaya sehubungan dengan pemberian Hak Opsi tersebut yang akan dihitung dengan menggunakan metode Black-scholes. Bilamana Pemegang hak Opsi melaksanakan haknya untuk membeli saham, maka biaya tersebut akan tereliminasi dan dicatat sebagai penyertaan saham dan agio saham bilamana harga pelaksanaan diatas harga nominal. Penerapan PSAK No.53 akan diimplementasikan dalam Laporan Keuangan Perseroan atas Hak Opsi yang telah didistribusikan. 2. Pajak atas transaksi program MESOP menjadi beban peserta.

Mekanisme Pelaksanaan Program MESOP Mekanisme pelaksanaan program MESOP adalah sebagai berikut: a. b. Hak opsi pembelian saham ditawarkan kepada seluruh peserta yang memenuhi persyaratan. Hak opsi pembelian saham yang dibagikan dalam program MESOP dapat digunakan oleh Peserta untuk membeli saham baru Perseroan dengan harga yang akan ditetapkan dengan memperhatikan peraturan dan perundangan yang berlaku. Hak Opsi pembelian saham akan diterbitkan oleh perseroan dalam 3 tahapan selama periode 2 tahun setelah tanggal pencatatan di BEI. Hak Opsi, tahap Pertama diberikan bersamaan dengan tanggal pencatatan saham di BEI. Tahap kedua diberikan selambat-lambatnya pada bulan Desember 2011. Tahap Ketiga diberikan selambat-lambatnya pada Bulan Desember 2012 Hak Opsi yang diterbitkan dalam setiap tahap akan dikenakan vesting period selama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal penerbitannya yaitu periode transaksi yang diperkenankan untuk mengkonversi hak opsi menjadi saham. Tahap pelaksanaan hak opsi : g. Hak opsi memiliki vesting period selama 12 bulan Hak opsi memiliki umur opsi selama 5 tahun

c. d.

e.

f.

Harga pelaksanaan hak Opsi akan ditetapkan berdasarkan peraturan yang berlaku, peserta yang akan menggunakan hak opsi untuk membeli saham, wajib membayar secara penuh harga pelaksanaan dan biayabiaya lainnya yang timbul dalam rangka pelaksanaan hak opsi tersebut.

Pelaksanaan teknis pembagian, distribusi, peserta, dan transaksi program MESA dan MESOP akan ditetapkan dalam surat keputusan Direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris. Selain program MESOP tersebut di atas Perseroan tidak bermaksud untuk mengeluarkan atau mencatatkan saham baru dan/atau efek lainnya yang dapat dikonversikan menjadi saham dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak Tanggal Efektif. Negara Republik Indonesia melalui Kementerian BUMN selaku pemegang saham pengendali Perseroan telah memberitahukan kepada Perseroan bahwa dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak Tanggal Pencatatan Saham Pada Bursa Efek Indonesia, Negara Republik Indonesia tidak akan menjual atau mengalihkan saham yang dimilikinya di Perseroan.

9

BAB II.

RENCANA PENGGUNAAN DANA YANG DIPEROLEH DARI HASIL PENAWARAN UMUM

Perseroan bermaksud menggunakan dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum atas Saham Baru, setelah dikurangi biaya emisi yang terkait dengan Penawaran Umum untuk: • 80% akan digunakan untuk pengembangan armada baru. Penambahan armada baru yang direncanakan adalah pesawat B737-800 NG sebanyak 10 unit, B777 sebanyak 10 unit, A330-200 sebanyak 6 unit, serta pesawat tipe narrow- body untuk Citilink sebanyak 5 unit, serta pesawat tipe Sub-100 sebanyak 5 unit. Untuk jangka waktu penambahan armada baru ini, akan disesuaikan dengan jadwal penyerahan pesawat udara, yaitu sampai dengan tahun 2016 berdasarkan perjanjian dengan produsen pesawat udara yang telah diuraikan dalam bagian lain Prospektus. Dana diperlukan baik untuk pembayaran Pre-Delivery Payment (PDP) pesawat yang dibeli, security deposit pesawat yang disewa, final payment pembelian pesawat baru, maupun belanja modal lain yang diperlukan dalam rangka pengembangan armada, seperti spare parts dan komponen pesawat, serta persediaan engine/mesin pesawat. Final payment pembelian pesawat akan dilakukan dengan pembiayaan (financing), termasuk dengan cara sale and (operating) lease back. Pengembangan armada baru harus dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan arus penumpang, kenaikan frekuensi penerbangan, peningkatan efisiensi bahan bakar dan menurunkan beban perawatan pesawat udara dikarenakan umur pesawat Perseroan. Selain itu, penggunaan dana diperlukan untuk memenuhi kewajiban Perseroan sesuai perjanjian antara Perseroan dengan produsen pesawat udara termasuk Boeing dan Airbus, terutama pembayaran uang muka (predelivery payment) sebagaimana diuraikan dalam bagian lain Prospektus. Tidak ada hubungan afiliasi antara Perseroan dengan Boeing dan Airbus. • 20% akan digunakan untuk membiayai belanja modal Perseroan, baik di Perseroan maupun Anak Perusahaan yang diperlukan untuk pengembangan usaha. Jenis belanja modal yang akan dilakukan adalah untuk pengembangan teknologi informasi, baik untuk peningkatan pelayanan maupun operasi penerbangan, untuk peningkatan kualitas dan kapabilitas perawatan pesawat, untuk pembelian suku cadang dan komponen, dan belanja-belanja modal lainnya yang diperlukan baik untuk pengembangan, peningkatan pelayanan, maupun untuk kelancaran operasional. Pendanaan yang diberikan kepada Anak Perusahaan adalah dalam bentuk pinjaman. Dana untuk investasi akan digunakan untuk Anak Perusahaan, yaitu GMF AeroAsia, Aerowisata, ASYST, Abacus, berupa investasi untuk flight equipment dan maintenance-modification program, untuk peningkatan kapabilitas GMF AeroAsia dalam merawat pesawat B737-800, dan investasi untuk IT (baik peningkatan pelayanan maupun operasi). Manajemen Perseroan menyatakan bahwa setiap penggunaan dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum akan mengikuti ketentuan peraturan dan perundangan yang berlaku. Perseroan akan mempertanggungjawabkan realisasi penggunaan dana hasil Penawaran Umum ini secara periodik kepada Pemegang Saham dalam RUPS dan melaporkan kepada BAPEPAM dan LK sesuai dengan Peraturan No.X.K.4 Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-27/PM/2003 tanggal 17 Juli 2003 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum. Apabila di kemudian hari Perseroan bermaksud mengubah rencana penggunaan dananya, maka Perseroan terlebih dahulu akan meminta persetujuan RUPS dan akan melaporkannya ke BAPEPAM dan LK sesuai dengan Peraturan No.X.K.4 Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-27/PM/2003 tanggal 17 Juli 2003 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.

10

Sesuai dengan Surat Edaran yang diterbitkan oleh Bapepam dan LK No. SE-05/BL/2006 tanggal 29 September 2006 tentang Keterbukaan Informasi Mengenai Biaya yang Dikeluarkan Dalam Rangka Penawaran Umum, biaya yang dikeluarkan oleh Perseroan adalah sekitar 3,428% dari nilai Penawaran Umum yang meliputi: • Biaya jasa untuk penjamin emisi efek sebesar 2,0%, yang terdiri dari : o o o • o o o o o • • Biaya jasa penyelenggaraan (Management fee ) sebesar 1,25% Biaya jasa penjaminan (Underwriting fee) sebesar 0,40% Biaya jasa penjualan (Selling fee) sebesar 0,35% Akuntan Publik sebesar 0,126% Konsultan Hukum sebesar 0,225% Notaris sebesar 0,003% Biro Administrasi Efek sebesar 0,006% Penilai sebesar 0,018%

Biaya Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal sebesar 0,378%, yang terdiri dari :

Biaya Konsultan sebesar 0,235% Biaya Pemasaran (percetakan, iklan dan paparan publik) sebesar 0,814%

Dana hasil penjualan Saham Divestasi yang ditawarkan oleh Pemegang Saham Penjual dalam Penawaran Umum ini akan dibayarkan kepada Pemegang Saham Penjual. Perseroan tidak akan menerima hasil dari penjualan Saham Divestasi. Pemegang Saham Penjual dan Perseroan akan secara bersama-sama menanggung beban biaya emisi saham sehubungan dengan Penawaran Umum. Sesuai dengan Perjanjian Penggantian Biaya tanggal 26 Januari 2011 antara Perseroan dan Pemegang Saham Penjual, biaya yang dikeluarkan dalam rangka Penawaran Umum ini akan ditanggung secara proporsional antara Pemegang Saham Penjual dan Perseroan, berdasarkan jumlah saham yang dijual oleh Pemegang Saham Penjual dan jumlah saham yang akan ditawarkan oleh Perseroan dalam Penawaran Umum ini.

11

BAB III.

PERNYATAAN HUTANG

Pernyataan hutang berikut diambil dari laporan keuangan konsolidasi Perseroan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) dengan pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan konsolidasi tersebut. Pada tanggal 30 September 2010, Perseroan mempunyai kewajiban yang seluruhnya berjumlah Rp11.065.799 juta, terdiri dari kewajiban lancar sebesar Rp5.856.729 juta, dan kewajiban tidak lancar sebesar Rp5.209.070 juta, dengan perincian sebagai berikut:
(dalam jutaan Rupiah) Keterangan Kewajiban Lancar Hutang Bank Hutang Usaha - Pihak hubungan istimewa - Pihak ketiga Hutang Lain-lain Hutang Pajak Biaya masih harus dibayar Pendapatan diterima dimuka Uang muka diterima Hutang jangka panjang yang jatuh tempo satu tahun - Pinjaman jangka panjang - Hutang sewa pembiayaan - Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Jumlah Kewajiban Lancar Kewajiban Tidak Lancar Hutang jangka panjang - setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun - Pinjaman jangka panjang - Hutang sewa pembiayaan - Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Obligasi konversi Kewajiban pajak tangguhan Kewajiban imbalan pasca kerja Kewajiban tidak lancar lain Jumlah Kewajiban Tidak Lancar JUMLAH KEWAJIBAN Jumlah 207.315 35.440 781.185 281.268 61.033 1.175.982 1.848.424 118.970 255.600 711.617 379.894 5.856.729

1.584.500 1.863.338 202.622 106.523 1.435.763 16.323 5.209.070 11.065.799

1.

KEWAJIBAN LANCAR

Hutang Bank Hutang bank Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp207.315 juta yang terdiri dari hutang bank Perseroan dan untuk Anak Perusahaan sebagai berikut: PT Bank Negara IndonesiaTbk Pada tanggal 28 Juli 2009, GMF AeroAsia, Anak Perusahaan, memperoleh fasilitas pembiayaan open account sebesar USD10 juta dari Bank Negara Indonesia (BNI) dengan tingkat bunga 6% per tahun dan jangka waktu 90 hari. Pada tanggal 16 Oktober 2009, fasilitas pembiayaan ini telah ditingkatkan menjadi sebesar USD15 juta. Pada bulan Desember 2009, PT Angkasa Citra Sarana Catering Service (ACS), anak perusahaan memperoleh pinjaman modal kerja maksimum sebesar Rp100 miliar. Pinjaman ini digunakan sebagai modal kerja dengan tingkat bunga sebesar 11% per tahun. Pinjaman ini dijamin dengan piutang usaha ACS sebesar Rp86.940.736.058 pada saat perjanjian ditandatangani. Pada tahun 2010, tanggal jatuh tempo pinjaman ini diperpanjang sampai dengan 13 September 2010 dan nilai agunan berubah menjadi Rp69.748.000.000. Pada tanggal laporan keuangan konsolidasi diterbitkan perpanjangan perjanjian pinjaman masih dalam proses. Perjanjian pinjaman mencakup persyaratan yang

12

harus dipenuhi oleh ACS, antara lain ACS wajib menjaga rasio keuangan tertentu yaitu perbandingan antara aset lancar dengan hutang lancar minimal 1 kali, perbandingan hutang dengan modal maksimal 2,5 kali dan perbandingan laba operasi bersih terhadap jumlah pinjaman (Debt Service Coverage) minimal 100%. ACS juga wajib memelihara saldo minimum di rekening sebesar Rp1 miliar dan menyediakan dana di rekening giro sebesar minimum 1 bulan kewajiban bunga pada bulan yang bersangkutan. Piutang yang telah dijaminkan kepada bank tidak boleh dijaminkan kepada pihak lain dan apabila performa kredit ACS menurun menjadi kurang lancar, diragukan atau macet, fasilitas kredit yang belum ditarik dapat dibatalkan secara otomatis oleh bank. Pada tanggal 30 September 2010, ACS telah memenuhi seluruh rasio keuangan yang dipersyaratkan dalam perjanjian pinjaman tersebut. Perjanjian pinjaman tersebut mencakup persyaratan jangka waktu dan kondisi tertentu untuk membatasi ACS dapat melakukan pembagian dividen tanpa ada persetujuan secara tertulis dari pihak bank. Pada tanggal 27 September 2010, Perseroan memperoleh surat dalam negeri atas fasilitas kredit (SKBDN) dengan jumlah maksimum senilai USD15 juta dari BNI. Penggunaan atas fasilitas ini diatur dalam subyek tertentu atas availment provisions yang dinyatakan dalam kontrak. Pinjaman atas fasilitas ini (SKBDN UPAS) akan jatuh tempo dalam waktu 3 bulan dengan tingkat suku bunga sebesar 4% per tahun dan akan ditinjau kembali serta disesuaikan dengan tingkat bunga yang berlaku sampai jatuh tempo. Fasilitas ini hanya digunakan untuk pembelian bahan bakar pesawat dari PT Pertamina (Persero). Sampai dengan tanggal 30 September 2010, Perseroan telah menggunakan fasilitas ini senilai USD7 juta yang mensyaratkan Perseroan untuk mengelola deposito dan akun bank yang ditempatkan pada BNI. Hutang Usaha Hutang usaha Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp816.625 juta yang berasal dari pihak ketiga sebesar Rp781.185 juta dan pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebesar Rp35.440 juta. Rincian umur hutang usaha dihitung sejak tanggal faktur adalah sebagai berikut:
(dalam jutaan Rupiah) Jumlah 419.723 215.505 127.835 47.197 6.364 816.625

Keterangan Lancar - belum jatuh tempo Jatuh tempo: 1 - 60 hari 61 - 180 hari 181 - 360 hari Lebih dari 360 hari Jumlah

Rincian hutang usaha berdasarkan mata uang adalah sebagai berikut:
(dalam jutaan Rupiah) Jumlah 524.716 182.296 23.268 14.273 6.972 65.100 816.625

Keterangan Rupiah Dolar Amerika Serikat Dolar Singapura Dolar Australia Euro Mata uang lainnya Jumlah

Hutang Lain-lain Hutang lain-lain Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp281.268 juta yang terutama terdiri dari retribusi bandara udara asing yaitu sebesar Rp180.912 juta, asuransi tiket penumpang dan kesehatan sebesar Rp27.790 juta, dan lain-lain sebesar Rp72.566 juta.

13

Hutang Pajak Hutang pajak Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp61.033 juta yang terdiri dari:
Keterangan Perseroan Pajak penghasilan: Pasal 21 Pasal 22 Pasal 23 Pasal 25 Pasal 26 Pasal 4(2) Pajak Pertambahan Nilai Pajak lain-lain Sub Jumlah Anak Perusahaan Pajak penghasilan: Pasal 21 Pasal 23 Pasal 25 Pasal 26 Pasal 29 Pasal 4(2) Final Pajak Pertambahan Nilai Pajak Pembangunan Pajak lain-lain Sub Jumlah Jumlah (dalam jutaan Rupiah) Jumlah

11.945 230 4.646 250 556 17.628

7.329 1.333 2.211 46 1.484 4 71 5.150 25.776 43.405 61.033

Biaya yang Masih Harus Dibayar Biaya yang masih harus dibayar Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp1.175.982 juta yang terdiri dari:
Keterangan Pemeliharaan Administrasi dan umum Bandara Tiket penjualan dan promosi Operasional penerbangan Pelayanan penumpang Bunga Lain-lain Jumlah (dalam jutaan Rupiah) Jumlah 587.560 219.174 171.784 67.381 52.680 40.309 15.969 21.125 1.175.982

Pendapatan diterima dimuka Pendapatan diterima dimuka Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp1.848.425 juta yang terdiri dari:
(dalam jutaan Rupiah) Jumlah 913.114 882.794 52.517 1.848.425

Keterangan Jasa Penerbangan Penerbangan Haji Penerbangan Berjadwal Lain-lain Jumlah

14

Uang Muka Diterima Uang muka diterima Perseroan pada 30 September 2010 sebesar Rp118.970 juta. Hutang Jangka Panjang yang Jatuh Tempo dalam Satu Tahun Hutang tersebut terdiri dari pinjaman jangka panjang, hutang sewa pembiayaan dan kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun yang masing-masing sebesar Rp255.600 juta, Rp711.617 juta dan Rp379.894 juta. 2. KEWAJIBAN TIDAK LANCAR

Hutang Jangka Panjang Setelah Dikurangi Bagian Jatuh Tempo Dalam Satu Tahun Hutang jangka panjang setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp3.650.460 juta yang terdiri dari :
(dalam jutaan Rupiah) Jumlah 1.584.500 1.863.338 202.622 3.650.460

Keterangan Pinjaman jangka panjang Hutang sewa pembiayaan Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Jumlah

Pinjaman Jangka Panjang Pinjaman jangka panjang termasuk pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun, yang terdiri dari:
(dalam jutaan Rupiah) Jumlah 615.278 96.382 675.726 185.990 91.465 77.703 71.392 21.891 4.274 1.840.100

Keterangan Wesel bayar bunga mengambang US Dollar Rupiah Pertamina Angkasa Pura II Angkasa Pura I Bank CIMB Niaga Indonesia EximBank PT Bank Negara Indonesia PT Mandiri Tunas Finance Jumlah

Pinjaman Direstrukturisasi Pada tahun 2001, Perseroan telah memperoleh persetujuan efektif dari para kreditur atas usulan restrukturisasi pinjaman Perseroan. Restrukturisasi pinjaman Perseroan meliputi: a. b. b. Konversi pinjaman Perseroan kepada Pemerintah Republik Indonesia menjadi modal saham. Pembiayaan kembali pinjaman Perseroan kepada bank Pemerintah dan Perseroan Badan Usaha Milik Negara dan mengkonversi sebagian pinjaman tersebut menjadi obligasi wajib konversi dalam mata uang Rupiah. Penjadwalan ulang pembayaran hutang kepada kreditur lain yang meliputi wesel bayar tanpa jaminan, fasilitas sindikasi pinjaman berjangka tanpa jaminan, fasilitas modal kerja dan hutang atas penghentian perjanjian sewa guna usaha pesawat. Penjadwalan ulang pembayaran sewa 6 pesawat Airbus A330 kepada kreditur yang tergabung dalam European Export Credit Agencies (ECA) dan Commercial Lenders.

d.

Perseroan diwajibkan untuk memenuhi pembatasan-pembatasan tertentu yang disyaratkan dalam perjanjian dengan para kreditur. Perseroan juga menyetujui untuk melakukan pembayaran kembali kepada para kreditur dengan dana dari kelebihan kas Perseroan sebagaimana diatur dalam Cash Sweep Deed of Covenant.

15

25% per tahun dan dipengaruhi oleh tingkat bunga pasar.911. sesuai dengan akta perubahan dan perjanjian kembali tertanggal 21 Januari 2010.946. 16 . Tingkat suku bunga adalah 13. termasuk didalamnya grace period 18 bulan.64 menjadi pinjaman jangka panjang dengan dibayar secara cicilan.75% per tahun. Selanjutnya. PT Angkasa Pura I (Persero) setuju untuk mengkonversikan hutang usaha Perseroan sejumlah USD8. saldo FRN berjumlah USD68.063.London Branch bertindak sebagai Trustee. anak perusahaanAerowisata.382.9%.103.91 menjadi sejumlah Rp92.465 juta.052.Wesel Bayar Bunga Mengambang Perseroan menerbitkan Wesel Bayar Bunga Mengambang (Floating Rate Note (FRN)) dalam Dolar Amerika Serikat dan Rupiah. memperoleh fasilitas pinjaman dari Bank CIMB Niaga yang digunakan sebagai pembiayaan dalam pengadaan kendaraan baru untuk kegiatan operasional dengan jangka waktu 3-4 tahun dan dikenakan bunga berkisar antara 2. saldo pinjaman kepada Pertamina berjumlah USD75. Angkasa Pura I Berdasarkan perjanjian tanggal 27 Mei 2009.872.841.392 dan Rp96. Pertamina Berdasarkan perjanjian pada tanggal 19 Oktober 2009. Pinjaman ini dijaminkan dengan tiga sertfikat kepemilkan tanah dimana Hotel tersebut berdiri. Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Mandiri untuk FRN dalam Rupiah. Sesuai perjanjian 2010 maka FRN tersebut jatuh tempo tahun 2018 dengan tingkat bunga mengambang berdasarkan LIBOR (London Inter Bank Offer Rate) enam bulanan + 1.582. Angkasa Pura II Berdasarkan perjanjian tanggal 27 Mei 2009. Atas pembelian kembali FRN tersebut. Pinjaman ini jatuh tempo pada tanggal 30 Desember 2015 dengan tingkat bunga per tahun yang berlaku pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3 bulanan + 0.301.484.19 menjadi pinjaman jangka panjang dan dibayar secara cicilan.5% Bank Negara Indonesia (BNI). Perseroan membeli kembali FRN dengan nilai nominal USD40 juta dan Rp37 miliar dengan total harga beli USD22 juta dan Rp23 miliar.623. Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Mandiri untuk FRN dalam Rupiah. PT Mandira Erajasa Wahana (“MEW”). Pinjaman ini akan jatuh tempo pada tanggal 31 Desember 2015 dengan tingkat bunga LIBOR 6 bulanan + 1. Perseroan memperoleh keuntungan sebesar Rp184. Jangka waktu pinjaman adalah 8 tahun. PT Angkasa Pura II (Persero) setuju untuk mengkonversikan hutang usaha Perseroan sejumlah USD21. Perjanjian pinjaman tersebut mencakup persyaratan jangka waktu dan kondisi tertentu kepada MEW dalam melakukan pembagian dividen dan merubah struktur organisasi dengan menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada pihak bank. Fasilitas ini digunakan untuk biaya renovasi Hotel Irian Biak.465. Pada tanggal 30 September 2010.9% per tahun. Dalam penerbitan FRN ini.068. Anak Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman khusus investasi dari Bank CIMB Niaga dengan jumlah kredit maksimum sebesar Rp20 miliar. The Chase Manhattan Bank . Pada tanggal 30 September 2010. saldo pinjaman kepada PT Angkasa Pura II berjumlah USD20. Pada tanggal 30 September 2010. Pada tanggal 30 September 2010. FRN tersebut jatuh tempo tahun 2007 dengan tingkat bunga mengambang berdasarkan LIBOR (London Inter Bank Offer Rate) tiga bulanan + 0. Pada tanggal 21 Januari 2010. Pinjaman ini akan jatuh tempo pada tanggal 30 Desember 2015 dengan tingkat bunga LIBOR + 0. saldo pinjaman kepada PT Angkasa Pura I berjumlah Rp91. FRN yang belum dilunasi masing-masing sebesar USD75 juta dan Rp108 miliar direstrukturisasi dan akan jatuh tempo pada tahun 2018.75% per tahun untuk FRN dalam Dolar Amerika Serikat dan berdasarkan tingkat bunga rata-rata deposito enam bulanan + 1.128 dan dicatat sebagai pos luar biasa. menjadi pinjaman jangka panjang dan dibayar secara cicilan. PT Pertamina (Persero) setuju untuk mengkonversikan hutang usaha Perseroan atas pembelian avtur sejumlah USD74.339 juta. dan akan berakhir pada 6 Oktober 2017.75% Bank Negara Indonesia (BNI).720.5% per tahun diatas tingkat suku bunga deposito yang dijamin Pemerintah.5% per tahun untuk FRN dalam Dolar Amerika Serikat dan berdasarkan tingkat bunga rata-rata deposito tiga bulanan + 1.5% . AeroWisata. Bank CIMB Niaga Pada 6 Oktober 2009.394.

piutang yang timbul dari kontrak sewa kendaraan dengan total minimum sebesar Rp10. PT Mandiri Tunas Finance Merupakan pinjaman dari PT Mandiri Tunas Finance kepada PT Mandira Erajasa Wahana (MEW).076 352.574.709 Setara dengan (Rupiah)*) (dalam jutaan Rupiah) 768.158 dan penyerahan/ pengelolaan escrow account serta Comfort Letter dari Aerowisata Indonesia Eximbank Pada tanggal 12 Pebruari 2010. Pinjaman ini dijamin dengan saham GMF AeroAsia.089 20.542. Pinjaman ini digunakan untuk pembayaran Pre-Delivery Payment (PDP) pesawat Boeing 737-800 yang telah memperoleh komitmen pembiayaan melalui Sale and Leaseback Agreement dengan lessor.150. Fasilitas kredit berjangka waktu 5 tahun 9 bulan ini ditujukan untuk pembiayaan pengembangan usaha berupa sarana dan prasarana baru serta pengadaan mesin dan peralatan sebesar 52. MEW juga melakukan restrukturisasi hutang bank untuk membantu likuiditas keuangan pada aktivitas investasi yang diklasifikasikan dalam pinjaman jangka panjang.741.782 288.709 711.466.466. akan jatuh tempo tanggal 30 Desember 2015 dan suku bunga mengambang dari Bank Negara Indonesia.5 kali.994 183.338 2.000.641.32% dari nilai pembiayaan asset.380 288. Pinjaman ini dijamin secara fidusia dengan kendaraan bermotor yang dibiayai.927 208. Hutang ini direstrukturisasi dijamin dan diikat secara fidusia dengan kendaraan bermotor yang dibeli dengan total nilai minimum sebesar Rp175. Pada tanggal 30 September 2010.863.Pada tanggal 24 Juni 2010.104.923. Pembayaran minimum sewa berdasarkan perjanjian sewa adalah sebagai berikut: Keterangan Dalam satu tahun Lebih dari satu tahun tapi tidak lebih dari lima tahun Lebih dari lima tahun Jumlah pembayaran sewa masa depan Dikurangi beban keuangan di masa depan Nilai kini pembayaran minimum sewa Disajikan di neraca konsolidasi sebagai: Kewajiban lancar Kewajiban tidak lancar Jumlah Catatan: *) Per 30 September 2010 Mata Uang Asing (USD)*) 86.673 39. Tingkat bunga pinjaman tersebut sebesar 18.422 309.504. GMF AeroAsia memperoleh fasilitas kredit investasi sebesar Rp100 miliar.574.124. atas pembelian 27 unit kendaraan. (c) rasio kemampuan membayar hutang minimal 100%.401 1.955 17 .800.404. Selama periode berjalan. anak perusahaan.617 1.78% untuk tiga tahun.5% per tahun yang akan ditinjau ulang setiap 6 bulan dan akan jatuh tempo dalam jangka waktu 2 tahun.198 2. Hutang Sewa Pembiayaan Perseroan melakukan transaksi sewa pesawat Airbus tipe A330-300 yang dijamin oleh Llyods (ECA) dengan masa sewa sejak tahun 1996 – 2016. dengan jangka waktu pinjaman selama 36 bulan. Perseroan telah menggunakan fasilitas tersebut sebesar USD30 juta dan saldo pinjaman pada tanggal 30 September 2010 sebesar USD8 juta.542. Fasilitas pinjaman ini dijamin dengan aset yang dibiayai melalui fasilitas ini.955 79.894. GMF AeroAsia telah memenuhi seluruh rasio keuangan yang dipersyaratkan dalam perjanjian pinjaman tersebut antara lain: (a) rasio lancar minimal 1 kali. PT Bank Negara Indonesia Pada tanggal 31 Maret 2010.675 186.720 2.761. (b) rasio hutang dengan modal maksimal 2. Perseroan memperoleh fasilitas pembiayaan USD42 juta dengan jangka waktu 24 bulan dengan tingkat bunga sebesar LIBOR (6 bulan) + 3.

Pendanaan jaminan hari tua berasal dari kontribusi Abacus dan karyawannya masing-masing sebesar 7.894 202. Perseroan mencadangkan uang sebesar USD11 juta atau setara dengan Rp98.5% x masa kerja x penghasilan dasar pensiun. Abacus menyelenggarakan program penutupan asuransi atas jaminan hari tua untuk semua karyawan yang memenuhi persyaratan. berdasarkan perjanjian Escrow antara Perseroan dan Lloyds TSB Bank Plc.4% dan 5% dari gaji dasar.999.926 (169. karyawan akan memperoleh manfaat sebesar 2.000 atas pinjaman pokok (pinjaman komersial) dari beberapa kreditur komersial terkait dengan perolehan 6 unit pesawat Airbus A330-300. Perseroan mengeluarkan pernyataan untuk membeli kembali pinjaman Perseroan melalui proses reverse dutch auction. Pada saat ini Perseroan sedang dalam proses restrukturisasi atas kewajiban keuangan yang belum dibayar. aktuaris independen. Perhitungan imbalan pasca kerja program imbalan pasti dan imbalan kerja jangka panjang lain dihitung oleh PT Padma Radya Aktuaria. Pada masa pensiun. Kewajiban Estimasi Biaya Pengembalian dan Pemeliharaan Pesawat (dalam jutaan Rupiah) Jumlah 650.472 (55. Kewajiban Imbalan Pasca Kerja Perseroan memiliki program imbalan pasca kerja dan imbalan kerja jangka panjang lain.998 untuk membeli kembali pinjaman komersial dan ditempatkan dalam escrow account.100.517 Kewajiban Pajak Tangguhan Kewajiban pajak tangguhan Perseroan per 30 September 2010 adalah sebesar Rp106. Terkait dengan restrukturisasi tersebut. • Program Imbalan Pasti GMF AeroAsia. Iuran dana pensiun berasal dari kontribusi Aerowisata dan karyawan masing-masing sebesar 11. 18 . Program pensiun tersebut dikelola oleh Dana Pensiun Garuda Indonesia (DPGA). Jumlah karyawan per 30 September 2010 yang berhak atas imbalan tersebut adalah 11. Sehubungan dengan penawaran tersebut. Aerowisata menyelenggarakan program pensiun manfaat pasti untuk seluruh karyawan tetapnya yang dikelola oleh Dana Pensiun Pegawai PT Aero Wisata.058 orang. Tidak terdapat pendanaan yang disisihkan oleh Perseroan dan Anak Perusahaan sehubungan dengan imbalan kerja pasti ini.523 juta.128) 582. tanggal 4 Pebruari 2010. Imbalan Pasca kerja • Program Pensiun Perseroan dan GMF AeroAsia menyelenggarakan program pensiun iuran pasti untuk semua karyawan tetapnya.163.698 136.517 Keterangan Saldo awal tahun Penambahan tahun berjalan Jumlah digunakan Amortisasi diskonto Selisih kurs Saldo akhir tahun Disajikan di neraca konsolidasi sebagai: Kewajiban lancar Kewajiban tidak lancar Jumlah 379. a.622 582.5% dan 2. Iuran dana pensiun berjumlah 7.451) 19. 13 tahun 2003. Program ini dikelola oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero).5% dari gaji dasar karyawan dimana sebesar 2% ditanggung karyawan dan sisanya ditanggung Perseroan dan GMF AeroAsia.5% dari gaji dasar. ASYST dan Aerowisata juga memberikan imbalan kepada karyawan yang memenuhi persyaratan sesuai kebijakan perusahaan berdasarkan UU Ketenagakerjaan No.Perseroan memiliki saldo yang belum dibayar senilai USD95. Program jaminan hari tua memberikan manfaat jaminan hari tua yang ditentukan berdasarkan penghasilan terakhir peserta. Abacus.

Pengiriman pesawat tersebut belum dapat dilakukan karena Perseroan belum mencapai kesepakatan formal dengan Airbus sehubungan dengan kewajiban dalam Purchase Agreement untuk pengiriman 3 pesawat Airbus A-330-300 sisanya.610.740. Berdasarkan side letter tanggal 9 Nopember 2009.771. 1938.323 juta yang terdiri dari uang muka agen sebesar Rp12.600.b. 4 tanggal 29 Desember 2005. Pada bulan Januari sampai dengan September 2010.682 dan akan disewa dengan jangka waktu 10 sampai 12 tahun. dan Januari 1999. sebanyak sembilan pesawat Boeing 737-800 yang telah diikat dengan perjanjian sale and leaseback. 9 atas Purchase Agreement No.404 juta dan lain-lain sebesar Rp3. Jadwal pengiriman pesawat adalah dari Juni 2009 sampai dengan Pebruari 2016. Perseroan mengadakan kontrak pembelian pesawat Boeing 777-200ER sebanyak 6 pesawat dengan harga dasar (aircraft basic price) USD198. 1938 oleh Boeing menjadi 10 pesawat jenis B 777-200ER/ 300ER/200LR.949. KOMITMEN DAN KONTINJENSI Per 30 September 2010 Perseroan memiliki komitmen dan kontinjensi sebagai berikut: a. Harga jual yang disepakati sebesar USD401. pengiriman sisa 3 pesawat Airbus A-330-300 digantikan dengan pemesanan 6 pesawat Airbus A-330-200 dengan jadwal pengiriman mulai Oktober 2012 sampai dengan Oktober 2014. Jumlah karyawan per 30 September 2010 yang berhak atas imbalan tersebut adalah 11. Harga dasar pesawat (aircraft basic price) untuk 6 pesawat A-330-200 sebesar USD173.192.763 juta. Selanjutnya pada tahun 2009 dan 2010.317. 3. 19 . pembelian 6 pesawat tipe Boeing 777–200ER diubah menjadi pembelian 10 pesawat tipe Boeing 787 dengan jadwal pengiriman April 2014 sampai dengan Juli 2015.518.397. 1938 jadwal pengiriman pesawat telah diubah dari mulai Agustus 2012 menjadi mulai Mei 2013 sampai dengan Januari 2016. Konfirmasi tersebut kemudian dilanjutkan dengan adanya penawaran pembaharuan Purchase Agreement No. Agustus 1998. akan tetapi berupaya melakukan perpanjangan waktu atas pengiriman 3 pesawat sisanya. Total komitmen per 30 September 2010 untuk pesawat Boeing dan Airbus adalah USD2. melalui Supplemental Agreement No.058 orang. Tidak terdapat pendanaan yang disisihkan oleh Perseroan dan Anak Perusahaan sehubungan dengan imbalan kerja ini. telah dikirim. 1938 tanggal 4 Juni 1996 yang terakhir diamandemen melalui Supplemental Agreement No. Perseroan juga menandatangani Purchase Agreement No. b. Perseroan melakukan Purchase Agreement dengan Airbus untuk pembelian dan pengiriman 9 pesawat Airbus A-330-300. Pada tanggal 4 Nopember 1989. 8 tanggal 18 Januari 2010. Kewajiban Tidak Lancar Lainnya Kewajiban tidak lancar lainnya per 30 September 2010 adalah sebesar Rp16.953.694. Harga pesawat ditetapkan pada saat penyerahan dengan penyesuaian harga sesuai perjanjian. yang berdasarkan Side Letter tanggal 21 Desember 1995 dinyatakan bahwa penyerahan 3 pesawat terakhir dijadwalkan bulan Juli 1998. yang terakhir diamandemen melalui Supplemental Agreement No. Imbalan Kerja Jangka Panjang Lain GMF AeroAsia. ASYST dan Aerowisata memberikan penghargaan masa bakti kepada karyawan yang telah bekerja selama 20 tahun sesuai dengan kebijakan perusahaan. dan diklasifikasikan sebagai sewa operasi. Berdasarkan konfirmasi dari The Boeing Company No. 2158 tanggal 19 Juni 1998 untuk pembelian 18 pesawat Boeing 737-700. 5 atas Purchase Agreement No.435. Menanggapi penawaran tersebut. Harga jual ditentukan pada saat kedatangan pesawat. Perseroan telah menerima pengiriman 6 pesawat.000. Penyerahan direncanakan pada bulan Juni 2010 sampai dengan Agustus 2011. Melalui Supplemental Agreement No. Kewajiban imbalan pasca kerja per 30 September 2010 adalah Rp1. Harga dasar pesawat (aircraft basic price) untuk 10 pesawat B777-300 ER adalah USD251. 6-1176-DJH-1049R-1 tanggal 30 Maret 2007. Harga pesawat akan ditetapkan pada saat penyerahan dengan penyesuaian harga sesuai perjanjian. Sesuai dengan Purchase Agreement No. di mana Perseroan menambah jumlah pesawat menjadi 25 pesawat tipe B 737-800 dengan harga dasar (aircraft basic price) USD67. Perseroan mengadakan perjanjian sale and leaseback dengan Dubai Aerospace Enterprise (DAE) atas 8 pesawat dan MCAP atas 3 pesawat dan Pembroke Lease France SAS atas 4 Pesawat. Perseroan merencanakan menambah pembelian pesawat B 777 dari 6 pesawat B 777-200 menjadi 10 pesawat B 777-300ER. Abacus.919 juta.

800 dan Rp1.Pada tanggal 4 Maret 2010.000. 100/SRT. Perseroan dan PT Magnus Indonesia (Magnus) menandatangani Perjanjian Konsultan No. Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memutuskan untuk menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut. Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memutuskan menguatkan putusan Pengadilan Jakarta Pusat tersebut dan menghukum Perseroan membayar ganti rugi sebesar USD1.PST yang mengabulkan gugatan WST dan memerintahkan Perseroan membayar ganti rugi kepada WST sebesar USD1. DS/PRJ/DZ-3345/2000 sebagaimana diubah dengan Perjanjian Tambahan I atas Perjanjian Konsultan No. Biaya pooling ditentukan dengan menggunakan tarif sesuai dengan komponen yang digunakan.G/2006/ PN. Perseroan berpartisipasi sebagai anggota pool A-330 untuk menggunakan persediaan komponen pesawat Airbus A-330 yang berada di penyimpanan persediaan induk Zurich. d.G/2006/PNJKT. 20 . Magnus mengajukan gugatan balik atas dasar perbuatan melawan hukum karena pembatalan perjanjian secara sepihak dan tidak adanya pengembalian jaminan pelaksanaan pekerjaan.160. Pada tanggal 6 Agustus 2004. perkara masih dalam proses pemeriksaan oleh Pengadilan Federal Australia.500 dan Rp1. Perseroan dan PT World Simulator Technology (WST) menandatangani Perjanjian Sewa Ruang Simulator beserta Fasilitas Pendukung No. Perseroan telah menerima Notice to Furnish Information and Produce Document dariAustralian Competition and Commerce Commission (“ACCC”) terkait dugaan kartel penetapan harga Fuel Surcharge Kargo. WST mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas dasar wanprestasi terhadap perjanjian tersebut dan perbuatan melawan hukum. Perseroan telah mengajukan peninjauan kembali sebagaimana telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 19 Nopember 2010. Perseroan mengajukan kasasi No. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mengeluarkan putusan No. Perjanjian ini telah diperpanjang beberapa kali dengan amendemen terakhir No. 41/SRT. Magnus telah melakukan wanprestasi sehingga Perseroan mengajukan gugatan tanggal 3 Maret 2006.678.111.000 dan dicatat sebagai biaya yang masih harus dibayar.KAS/2008/PN. f.KAS/2008/PN. Pada tanggal 12 Desember 2007.Pada tanggal 12 Maret 2010. Pada tanggal 23 Nopember 2006. Pada tanggal 17 Desember 2007. VZ/PERJ/3012/2004 dimana Perseroan setuju untuk menyewakan ruang simulator beserta fasilitas pendukungnya di lokasi SBU Garuda Indonesia Training Centre untuk digunakan sebagai tempat pemasangan Full Flight Simulator B 737-200 Level D Six Axis milik WST. Isi putusan tersebut telah diberikan kepada Perseroan dengan telah diterimanya relaas pemberitahuan kepada Perseroan pada tanggal 3 Nopember 2010.I/DZ-3345/2000/2004 tanggal 15 April 2004.590. PDT. Pada tanggal 12 Juni 2006. Mahkamah Agung mengeluarkan putusan yang menolak permohonan kasasi yang diajukan oleh Perseroan. PST yang mengabulkan gugatan Magnus dan memerintahkan Perseroan membayar ganti rugi sebesar USD2.PDT. Pada tanggal 22 Desember 2000. Atas putusan Mahkamah Agung tersebut. 1995 K/Pdt/2008 yang mengabulkan permohonan kasasi Perseroan dan menyatakan gugatan Perseroan tidak dapat diterima. Perseroan mengajukan permohonan kasasi No.984. Saat ini.000. Pada tanggal 4 Juni 2007.000.PST tanggal 7 Nopember 2008. pada tanggal 19 Desember 2006. dengan nilai gugatan sebesar USD6.JKT.813. Dalam pelaksanaannya. Pada tanggal 21 Agustus 2008.813.JKT. 397/PDT.700. Jumlah ganti rugi yang dituntut Magnus adalah ganti rugi materiil oleh Perseroan sebesar USD2.c. Perseroan juga berhak meminta SR Technics untuk memberikan temporary services. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mengeluarkan putusan No.PST tanggal 19 Mei 2008. e. Perseroan menerima putusan Mahkamah Agung No.000. Perjanjian Pooling Komponen dengan SR Technics Switzerland (“SR Technics”) Perseroan mengadakan perjanjian component pooling pesawat Airbus A-330 dengan SR Technics. tim asistensi lapangan atau pelayanan khusus lainnya serta memberikan pelatihan teknik dan administrasi kepada personil Perseroan pada tempat perawatan pesawat Perseroan di Jakarta atau pada line station-nya. 02/PDT. Kemudian salah satu pihak dapat mengakhiri perjanjian dengan syarat pemberitahuan 6 bulan sebelumnya kepada pihak lainnya.590.000. Karena Perseroan dianggap tidak melaksanakan perjanjian. DS/PERJ/AMEND-IV/DE3076/99/2009.000.111 dan immateriil oleh Perseroan dan PT Asuransi Jasa Indonesia sebesar USD100. DS/PRRJ/AMAND.JKT.360. Perseroan telah membukukan biaya tersebut sebesar Rp19.299.

n. AJP ditunjuk sebagai agen jasa pengangkutan kargo KA di wilayah Indonesia. m.000. penyediaan perkakas dapur serta penunjang lainnya dengan PT Binara Guna Mediktama (Rumah Sakit Pondok Indah) dengan nilai investasi Rp600. i. ACS juga menyerahkan jaminan yang diterbitkan melalui Bank Mandiri dan dicatat pada aset tidak lancar lainnya. Pada tanggal 8 April 2010.750 per m² per bulan atau total sebesar Rp66. yang mengubah tempo penggunaan sampai dengan 31 Maret 2010. yang oleh AJP diterbitkan melalui Bank Mandiri. yang berlaku selama 4 tahun atau sampai berakhirnya perjanjian. yang diterbitkan oleh bank umum (tidak termasuk Bank Perkreditan Rakyat) dengan nilai 3 kali biaya sewa bulanan atau sebesar Rp199. ACS mengadakan perjanjian untuk pengadaan fasilitas dapur. perkara masih dalam proses pemeriksaan oleh Pengadilan Tinggi New Zealand. perkara masih dalam pemeriksaan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. ACS mengadakan perjanjian untuk pengadaan fasilitas dapur. j. Pada tanggal 1 Nopember 2006.g. Perseroan menerima salinan keputusan KPPU pada tanggal 30 Oktober 2010. dengan minimal pendapatan sebesar USD0.075 miliar atas praktek dugaan persaingan usaha tidak sehat terkait tender give away haji yang melanggar UU No. Atas kerjasama ini. Pada tanggal 1 April 2009. Pada tanggal 5 Oktober 2009. Pada tanggal 27 Oktober 2010 KPPU menjatuhkan denda dan perintah pengembalian biaya transportasi sejumlah Rp8. AJP wajib menyerahkan jaminan ke KA dalam bentuk bank guarantee sebesar USD50.Sampai dengan laporan keuangan diterbitkan. ACS. 460/KPPU-TP-PP/2010 dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (“KPPU”) terkait dugaan pelanggaran diskriminasi pelaku usaha pada persetujuan perpanjangan give away haji tahun 2009/2010 dan tahun 2010/2011. 5 tahun 1999. Perjanjian tersebut dapat diperpanjang. yang paling terbaru pada tanggal 8 Januari 2010.000. KPPU telah memutus perkara ini dan menyatakan Perseroan bersalah serta menghukum untuk membayar denda sebesar Rp25 miliar dan ganti rugi sebesar Rp162 miliar.5/kg. Pada tanggal 22 Pebruari 2008 AJP melakukan perjanjian kerjasama dengan KA dalam bentuk Cargo General Sales Agency Agreement. Dalam kerjasama ini AJP akan menerima komisi penjualan sebesar 9% dan Overriding Commision sebesar 3% atas penjualan tiket KA. AJP. Pembayaran ganti rugi tanah dilakukan setiap 3 bulan di muka.000.000. Anak Perusahaan. Perjanjian ini mulai sejak tanggal 1 Nopember 2006 dan akan berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak. h. Perjanjian ini dimulai sejak tanggal 22 Pebruari 2008 dan akan berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak. telah mengadakan perjanjian kerjasama dengan Kenya Airways Limited (“KA”) dalam bentuk Passenger General Sales Agency Agreement.423. Perseroan telah menerima Pemberitahuan Pemeriksaan Lanjutan Perkara No. 21 . Pada tanggal 4 Mei 2010. Perseroan telah menerima Notice of Proceeding (Commercial List) dari Pengadilan Tinggi New Zealand terkait dugaan kartel penetapan harga Fuel Surcharge Kargo yang diajukan oleh New Zealand Commerce Commission (NZCC). Dalam kerjasama ini AJP akan memperoleh pendapatan yang dihitung dari kenaikan tarif sesuai dengan jumlah berat yang dikirimkan.270. mengadakan perjanjian dengan PT Angkasa Pura II untuk penggunaan lahan seluas 24. penataan dan instalasi peralatan dapur. Pada tanggal 16 Nopember 2009.500. Perseroan mengajukan permohonan banding pada tanggal 17 Juni 2010 ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.000. Pada tanggal 6 Agustus 2007. yang oleh AJP diterbitkan pada tanggal 18 Januari 2007 melalui Bank Mandiri. ACS harus memberikan jaminan bank untuk pembayaran kompensasi. 25/KPPU-I/2009 dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (“KPPU”) terkait dugaan kartel penetapan harga Fuel Surcharge tiket domestik. hingga tanggal laporan keuangan ini persidangan atas keberatan belum dimulai. penyediaan perkakas dapur serta penunjang lainnya dengan PT Sarana Meditama International (Omni International Hospital) dengan nilai investasi sebesar Rp994. Perjanjian ini berlaku selama lima tahun. New Zealand. Perjanjian ini berlangsung selama 3 tahun dimulai sejak Nopember 2009 hingga Oktober 2012. Perseroan telah mengajukan upaya keberatan ke pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 20 Desember 2010. Saat ini.800.154 per m² di area Soekarno – Hatta. Kompensasi atas penggunaan lahan sebesar USD2. AJP ditunjuk sebagai perwakilan agen penjualan tiket penerbangan KA di wilayah Indonesia. k. Perseroan telah menerima Pemberitahuan Pemeriksaan Pendahuluan Perkara No. penataan dan instalasi peralatan dapur. Pada tanggal 30 September 1993. l. Anak Perusahaan. dan perjanjian konsesi bisnis. AJP juga wajib menyerahkan jaminan ke KA dalam bentuk bank guarantee sebesar USD30.500 dan akan ditinjau setiap 2 tahun.

Perjanjian ini berlaku selama 3 tahun dan setiap tahunnya ditinjau kembali setiap tahun. Manajemen berpendapat bahwa tuntutan ganti tersebut tidak berpengaruh material terhadap laporan keuangan dan kegiatan usaha GMF AeroAsia. anak perusahaan. r.284. Dalam perjanjian ini.583.000 (atau setara Rp460 juta) setiap bulan sejak tanggal 23 Oktober 2007 sampai pesawat dapat beroperasi (3) kerugian imaterial sebesar USD10 juta (atau setara Rp92 miliar) dan (4) memperbaiki mesin yang rusak. Sebagai imbalan atas pemesanan bersih yang dilakukan pelanggan melalui sistem Abacus atas jasa penyedia produk perjalanan yang ditawarkan berdasarkan sistem Abacus. customer service dan pemasaran ke travel agent. Pada tanggal 8 Agustus 2008. AL diwajibkan membayar imbalan kepada Abacus sebesar persentase tertentu dari tagihan yang dikenakan.333. Anak Perusahaan.266 dan bunga 6% per tahun terhitung sejak tanggal 17 Nopember 2007.165. GMF AeroAsia. Pada tanggal 18 Mei 2009. s. Nilai perjanjian sebesar EUR100. imbalan tersebut diubah menjadi sebesar 25% dari tarif dasar tahun 2009 yang dikenakan pada pesawat udara per segmen pemesanan bersih yang dilakukan pelanggan setelah dikurangi biaya-biaya tertentu sebagaimana ditentukan dalam perjanjian. pembelian tiket otomatis serta tampilan ongkos.215.o.191. MB mengajukan memori banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat. dan Hewlett – Packard (Schwiez) GmbH menandatangani perjanjian proyek implementasi pengembangan sistem TPF . Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah memutuskan untuk menolak tuntutan MB kepada GMF AeroAsia dan menerima gugatan balik GMF AeroAsia sebesar USD256. Pada tanggal 6 Mei 2003.579 (atau setara Rp673. Abacus bertanggung jawab terhadap penagihan. Abacus. 503/ PDT/2009/PT. AIPL diwajibkan membayar imbalan jasa tertentu kepada ADSI sebagaimana ditentukan dalam perjanjian. Efektif tanggal 1 Pebruari 2009. Sistem ini memadukan suatu paket perangkat lunak yang melakukan berbagai fungsi termasuk reservasi seketika tempat duduk pesawat.615. Sehubungan dengan kasus ini. Pada tanggal 25 September 2008. 22 . MB kemudian mengajukan upaya kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia pada tanggal 25 Maret 2010. Sebagai respon. GMF AeroAsia mengajukan kontra kasasi pada tanggal 17 Mei 2010.000. mobil dan hotel. jadual pemesanan pelayanan udara. Perseroan dan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menghadapi gugatan ganti rugi dari PT Metro Batavia (MB) untuk (1) siklus tidak terpakai sebesar USD73. Anak Perusahaan. mengadakan perjanjian kerjasama dengan PT Aplikanusa Lintasarta (AL) dalam perjanjian mengenai AL menyediakan jaringan komunikasi data bagi jaringan akses pelanggan Abacus. Sebagai imbalan.266 ditambah bunga sebesar 6% per tahun sejak tanggal 15 Juli 2008 sampai dengan keputusan ditetapkan. Abacus. Singapura. Pada tanggal 15 Januari 2010 Pengadilan Tinggi telah menolak banding yang diajukan oleh MB. (2) bunga hutang MB sebesar 6% per tahun dari hutang sejak tanggal 15 Juli 2008 sampai dengan keputusan ditetapkan dan (3) membayar kerugian sebesar USD200 juta.500 atau setara dengan Rp1. GMF AeroAsia mengajukan gugatan balik kepada MB karena MB tidak memenuhi kewajiban pembayaran hutang kepada GMF AeroAsia atas jasa penggantian dan perbaikan mesin tersebut sebesar USD256.330) (2) kerugian material sebesar Rp500.780 dan dicatat Perseroan dalam aset lainnya. Perjanjian ini akan berlanjut kecuali diakhiri lebih awal sebagaimana ditentukan dalam perjanjian. Sampai tanggal laporan keuangan belum ada keputusan kasasi dari Mahkamah Agung atas kasus tersebut. Pada tanggal 11 Maret 2009. mengadakan perjanjian sub-distribution dengan Abacus International Pte Ltd (dahulu Abacus Distribution Systems Pte Ltd). Pada tanggal 9 Desember 2009. pada tanggal 16 Juli 2009 GMF AeroAsia juga mengajukan kontra memori banding dengan perkara No. (AIPL) yang efektif sejak tanggal 11 April 1995. ASYST. p.000 setiap hari dan USD50. GMF AeroAsia menuntut ganti rugi kepada MB atas (1) pembayaran hutang MB kepada GMF AeroAsia sebesar USD1. Tuntutan ganti rugi timbul karena GMF AeroAsia dinyatakan melanggar kontrak terkait dengan garansi yang diberikan GMF AeroAsia atas penggantian dan pemasangan 5 mesin pesawat ESN 857854 yang dimiliki MB.TCP/IP. AIPL memberikan hak sub-lisensi eksklusif kepada ADSI untuk memasarkan dan mendistribusikan sendiri sistem reservasi komputer (Sistem Abacus) di wilayah Indonesia. q.DKI.

191. Rp1. Perseroan mencatatkan perselisihan kepentingan kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Propinsi DKI Jakarta sehubungan dengan tidak tercapainya kesepakatan dengan Serikat Pekerja Perseroan mengenai rancangan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) periode 2010-2012. GMF AeroAsia memperoleh pendapatan atas jasa ini sesuai tarif yang disepakati dalam perjanjian. Rp1. MB mengajukan permohonan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat. AJP telah melakukan perjanjian kerjasama dengan JA dalam bentuk Cargo General Sales and Service Agency Agreement. pada tanggal 31 Desember 2008 yang digunakan sebagai jaminan pelaksanaan pekerjaan. yang oleh AJP diterbitkan pada tanggal 23 Pebruari 2009 melalui Bank Mandiri.165.279.780. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan menerima gugatan GMF AeroAsia terhadap MB sebesar USD1. Selanjutnya. Perjanjian ini dimulai sejak tanggal 1 Pebruari 2009 dan akan berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak. Perjanjian ini dimulai sejak tanggal 1 Pebruari 2009 dan akan berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak. y. 7% untuk penjualan internasional.000. Pada tanggal 3 Desember 2008. Pada tanggal 23 Nopember 2010. Dalam kerjasama ini AJP akan menerima pendapatan berupa komisi sebesar 5% atas penjualan bersih kargo JA. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta telah mengeluarkan anjuran yang merupakan hasil mediasi para pihak. Sampai saat ini banding tersebut masih dalam proses.294 pada tanggal 30 September 2010. u. Pada tanggal 9 Agustus 2010. GMF AeroAsia telah mengajukan klaim tagihannya kepada kurator PT Adam Skyconnection Airline (Adam) yang dinyatakan bangkrut berdasarkan Putusan No. Atas kerjasama ini. Bank guarantee tersebut diterbitkan oleh Bank Negara Indonesia dengan jangka waktu kurang dari 1 tahun yang ditempatkan pada bank yang sama.Jkt.Pst tanggal 9 Juni 2008. Pada tanggal 28 April 2009.615 dan bunga 6% per tahun terhitung sejak tanggal 15 Juli 2008 serta kerugian GMF AeroAsia sebesar USD500.430. Disamping itu. Yemen Airways. Bank guarantee dijamin dengan kas dalam jumlah yang sama. w. International Air Parts Pty Ltd.000. Pengadilan juga menyatakan sita jaminan terhadap 4 pesawat MB. dan Southern Air.000. dan Overriding Commision sebesar 3% atas penjualan tiket JA. AJP telah melakukan perjanjian kerjasama dengan Jet Airways (India) Limited (“JA”) dalam bentuk Passenger General Sales Agency Agreement. t. AJP wajib menyerahkan jaminan ke JA dalam bentuk bank guarantee sebesar USD40. Pada tanggal 9 Januari 2009. v.Niaga. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasi. 26/Pailit/PN.393.775. GMF AeroAsia melakukan perjanjian jangka panjang untuk pemeliharaan dan perbaikan pesawat dengan PT Sriwijaya Air. AJP wajib menyerahkan jaminan ke JA dalam bentuk bank guarantee sebesar USD10.Pada tanggal 22 April 2009. 23 .965 pada tanggal 30 September 2009. dan Rp1. GMF AeroAsia memiliki bank guarantee sebesar Rp436. Dalam kerjasama ini AJP akan menerima komisi penjualan atas penjualan tiket JA sebesar 5% untuk penjualan domestik. yang oleh AJP diterbitkan pada tanggal 6 Pebruari 2009 melalui Bank Mandiri. x. 504/ PDT/2009/PT.DKI. Hellenic Imperial Airways. Atas kerjasama ini. Pada tanggal 6 Desember 2010 Perseroan telah menyetujui anjuran tersebut. kebangkrutan Adam masih dalam proses dan pemulihan klaim GMF AeroAsia belum dapat ditentukan. AJP ditunjuk sebagai perwakilan agen penjualan tiket penerbangan JA di wilayah Indonesia.354. pada tanggal 19 Agustus 2009 GMF AeroAsia mengajukan kontra banding dengan perkara No. AJP ditunjuk sebagai agen jasa pengangkutan kargo JA di wilayah Indonesia.635 dan USD15. Gatewick Aviation Service.408.751 pada tanggal 31 Desember 2009.

SAMPAI DENGAN PROSPEKTUS INI DITERBITKAN TIDAK TERDAPAT PEMBATASAN-PEMBATASAN (NEGATIVE COVENANTS) YANG AKAN MERUGIKAN HAK-HAK PEMEGANG SAHAM PUBLIK. SEJAK TANGGAL 30 SEPTEMBER 2010 SAMPAI DENGAN TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAN SETELAH TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN SAMPAI DENGAN TANGGAL EFEKTIFNYA PERNYATAAN PENDAFTARAN. PERSEROAN TIDAK MEMILIKI KEWAJIBANKEWAJIBAN DAN IKATAN-IKATAN LAIN YANG JUMLAHNYA MATERIAL SELAIN YANG TELAH DINYATAKAN DI ATAS DAN YANG TELAH DIUNGKAPKAN DALAM LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAN LAPORAN KEUANGAN PERSEROAN. PERSEROAN MENYATAKAN KESANGGUPAN UNTUK DAPAT MENYELESAIKAN SELURUH KEWAJIBANNYA SESUAI DENGAN PERSYARATAN SEBAGAIMANA MESTINYA. 24 .KECUALI SEBAGAIMANA DINYATAKAN DALAM KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN. PERSEROAN TIDAK MEMILIKI KEWAJIBAN-KEWAJIBAN LAIN KECUALI KEWAJIBAN-KEWAJIBAN YANG TIMBUL DARI KEGIATAN USAHA NORMAL PERSEROAN SERTA KEWAJIBAN YANG TELAH DINYATAKAN DI DALAM PROSPEKTUS DAN YANG TELAH DIUNGKAPKAN DALAM LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI YANG DISAJIKAN DALAM BAB XVII PROSPEKTUS. DENGAN ADANYA PENGELOLAAN YANG SISTEMATIS ATAS ASET DAN KEWAJIBANNYA SERTA HARAPAN PENINGKATAN HASIL OPERASI DI MASA MENDATANG.

Perseroan juga mengalihkan rute penerbangan (dan meningkatkan tujuan penerbangan) ke beberapa tujuan di Indonesia dan luar negeri untuk mencegah abu dari letusan gunung merapi tersebut. Ambon. kedua gunung yang paling aktif. ANALISIS DAN PEMBAHASAN OLEH MANAJEMEN Analisis dan Pembahasan Manajemen ini harus dibaca bersama-sama dengan Ikhtisar Data Keuangan Penting. Balikpapan. Pekanbaru. Sebagai akibatnya. Pembatalan penerbangan tersebut dan pengurangan frekuensi penerbangan telah mempengaruhi secara negatif pendapatan per penumpang dan jumlah penumpang dan pengalihan rute penerbangan telah meningkatkan biaya bahan bakar dan biaya operasional penerbangan lainnya untuk periode 3 bulan yang berakhir pada 31 Desember 2010. Area Asia yang mengelola 3 kantor cabang di Singapura. Kuala Lumpur. Palangkaraya. 6. Osaka. Palu. 25 . yaitu: 1. Area South West Pacific yang mengelola 3 kantor cabang di Sydney. Jambi. Beijing. Mataram. Informasi yang disajikan berikut bersumber dari laporan keuangan konsolidasi yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. Perkembangan Terkini Perseroan Kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan untuk periode 3 bulan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010 dipengaruhi oleh dua kejadian luar biasa di bulan Nopember 2010. letusan berulang-ulang dari gunung Merapi dan Bromo. Solo. yang seluruhnya tercantum dalam Prospektus ini. semua informasi keuangan yang berhubungan dengan Perseroan adalah terkonsolidasi sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Manado. dan Cina. Yogyakarta. 2008. Area Jepang. yang mengelola 14 kantor cabang di Jakarta. Area Western Indonesia. dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto. 5. Selama bulan Nopember dan Desember 2010. Riyadh. Pada tanggal 30 September 2010. Seoul. 4. serta laporan keuangan konsolidasi yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 telah direview oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto. Malang. 3. Perseroan membatalkan sekitar 190 penerbangan pulang pergi ke dan dari beberapa tujuan tertentu. Timika. termasuk Yogjakarta. 2009 dan untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010. Kupang. Palembang. 1. Perseroan memiliki 3 Strategic Business Unit (“SBU”). serta laporan keuangan konsolidasi yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2009. Kecuali dinyatakan lain. Amir Jusuf & Mawar (RSM). yaitu SBU Garuda Cargo yang mengelola bisnis kargo. Biak. Perseroan memiliki 1 kantor pusat dan 6 Area Manajemen yang mengelola 49 kantor cabang. Korea. Umum Perseroan didirikan pada tahun 1975 dengan nama PT Garuda Indonesian Airways yang berkedudukan di Jakarta dengan kegiatan utamanya yaitu jasa angkutan udara niaga. Hongkong. Kendari. Denpasar. Area Europe dan Middle East yang mengelola 3 kantor cabang di Jeddah. Mawar & Saptoto (RSM). yang mengelola 8 kantor cabang di Tokyo. Area Eastern Indonesia yang mengelola 18 kantor cabang di Surabaya. Jayapura. Penjelasan pada Sub Bab Perkembangan Terbaru Perseroan adalah berdasarkan kinerja keuangan Perseroan yang tidak di audit (stand alone) untuk periode 2 bulan sampai dengan 30 Nopember 2010. yang terdiri dari 71 armada pesawat narrow-body dan 13 armada pesawat wide-body yang digunakan untuk penerbangan domestik dan juga internasional. Ternate. Medan. Jakarta dan lokasi lainnya di Jawa Tengah. 2. Semarang. Shanghai. laporan keuangan konsolidasi Perseroan beserta catatan-catatan di dalamnya. Bangkok. dan SBU Citilink yang mengelola bisnis di bidang angkutan udara niaga berjadwal dengan tarif murah (LCC).BAB IV. Amir Jusuf. Laporan keuangan konsolidasi Perseroan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit. Canton. Banda Aceh. SBU Garuda Sentra Medika (GSM) yang mengelola bisnis kesehatan. Batam. Padang. Pontianak. Melbourne. dan informasi keuangan lainnya. Tanjung Karang. Perseroan mengoperasikan 84 armada pesawat penumpang. 2. telah mengakibatkan adanya pembatasan penerbangan pada industri penerbangan di Indonesia. Perth. Nagoya. Bandung. Pangkal Pinang. Amsterdam. Makassar. Banjarmasin.

Menurut Biro Pusat Statistik (“BPS”). backup data dari sistem manajemen operasional tidak akurat dan. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Keuangan dan Operasi Perseroan Beberapa faktor penting yang mempengaruhi hasil keuangan dan operasi dari Perseroan adalah sebagai berikut: • Kondisi Umum Perekonomian Grafik di bawah ini memberikan gambaran mengenai total Penumpang Internasional dan Penumpang Domestik yang menggunakan jasa dibandingkan terhadap data BPS untuk Penumpang Internasional dan Departemen Perhubungan untuk Penumpang Domestik: Total Penumpang Internasional Garuda terhadap Total Penumpang Internasional di Indonesia 18 16 14 12 Juta Total Penumpang Domestik Garuda terhadap Total Penumpang Domestik di Indonesia 50 45 43. Menurut statistik yang dikeluarkan oleh Departemen Perhubungan.9% dibandingkan dengan lalu lintas penumpang internasional pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. BPS.3 7.9 7. produk domestik bruto (“PDB”) Indonesia tumbuh dengan CAGR sebesar 3. dan 9. Walaupun Perseroan telah menyimpan IOCS untuk mulai beroperasi pada 21 Nopember 2010. dari 37. telah melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab dari outage dari IOCS.2 juta orang di tahun 2008.4 10 8 6 4 2 0 2007 2008 2009 Jan-Sep 2009 Jan-Sep 2010 2.8 39. antara lain. yang menunjukan peningkatan sebesar 21. dan kondisi perekonomian secara umum di Indonesia dan global. Perseroan mengalami gangguan selama periode 3 jam selama melakukan pemindahan dari sistem manajemen operasional yang lama ke Integrated Operational and Control System ("IOCS") yang baru dan menyebabkan outage di sistem IOCS. keadaan industri pariwisata Indonesia. Dalam menjawab situasi tersebut.1 juta orang.4 37. beberapa crew tidak datang pada jadwal kedatangan yang telah ditentukan. jumlah penumpang Perseroan meningkat menjadi 10.2 juta orang di 26 .4 juta orang di tahun 2008 dan 39.6 juta orang di tahun 2007.7 14.4 Juta 40 35 30 25 20 15 10 5 0 7.5% dibandingkan dengan lalu lintas penumpang domestik untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.3 1.4 15. Pembatalan penerbangan dan shutdown sistem reservasi oleh Perseroan selama periode ini mengakibatkan penurunan pendapatan usaha dan volume penumpang pada kinerja 2 bulan sampai dengan 30 Nopember 2010. Pembatalan penerbangan tersebut dan penutupan sistem pemesanan selama periode tersebut telah mempengaruhi secara negatif pendapatan per penumpang dan jumlah penumpang untuk periode 3 bulan yang berakhir 31 Desember 2010.6%.9 juta orang di tahun 2009 dari 10.6 13. yang merupakan kenaikan 23. Pada tahun 2007-2009.5%. Selama periode yang sama. dimana total penumpang domestik meningkat menjadi 43.Pada tanggal 21 Nopember 2010.6 6.1 2007 2008 2009 Jan Sep 2009 Jan Sep 2010 Sumber: Perseroan. lalu lintas penumpang internasional berjumlah sekitar 14.7 8. 3. Perseroan bersama dengan Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) Institut Teknologi Bandung. Sebagai akibatnya. diolah Jumlah penumpang Perseroan dipengaruhi oleh sejumlah faktor.3 14. dengan demikian Perseroan mengalami kesulitan dalam mengalokasikan crew pada jadwal penerbangan yang telah ditentukan antara tanggal 21-23 Nopember 2010 dengan jadwal crew penerbangan yang terus-menerus dicetak dan didistribusikan ke beberapa crew penerbangan unit dengan menggunakan data yang tidak akurat dari sistem manajemen operasional yang lama. untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. dengan CAGR sebesar 6. 184 penerbangan dibatalkan dan Perseroan menutup sistem reservasi untuk mencegah pemesanan penumpang baru selama periode 21-23 Nopember 2010.7 1.3 2.0 14. Perseroan berencana untuk melakukan pemuktahiran pada sistem manajemen yang dimiliki oleh Perseroan untuk meningkatkan kemampuan Perseroan untuk memantau trafik jaringan dan memberikan early fault detection.2 juta penumpang.4 2. selama periode outage di sistem IOCS tersebut. Dari hasil investigasi tersebut menunjukkan bahwa saat ini Perseroan tidak memiliki jaringan sistem manajemen yang cukup yang dapat memantau trafik jaringan atau memberikan early fault detection di IOCS. Departemen Perhubungan.1 11.9 12.2 37.8 15.8 juta orang di tahun 2009. dan lalu lintas penumpang domestik untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 berjumlah sekitar 31.

dan 45.4%. yang sebagian terkompensasi dengan tingginya tingkat penetrasi pasar untuk rute internasional di Asia dan Australia.759. Industri penerbangan umumnya memiliki profit margin yang rendah dan biaya tetap yang tinggi.566.8%.882. RPK. USD7.2 juta orang di tahun 2008 menjadi 10. passenger load factor dan passenger yield: • ASK sebesar 18. dan 54.827. menjadi 73.3 juta di tahun 2008 menjadi 15. 2008. 20.2 miliar dalam sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.0 juta dalam sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 52. yang mencerminkan pengembangan armada dari 48 pesawat per 1 Januari 2007 menjadi 84 pesawat per 30 September 2010. yang dapat dilihat dari pemanfaatan pengembangan kapasitas tempat duduk pada frekuensi dan rute penerbangan domestik dan internasional. 47. dan 83.0% dalam sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 71.5 juta di tahun 2009. dan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.6 juta orang di tahun 2007 menjadi 10. Biaya mengoperasikan sebuah pesawat tidak berbeda signifikan terhadap jumlah penumpang maupun berat ton kargo yang dibawa oleh pesawat.7%. beban bahan bakar pesawat. dan 2009.533. yang disebabkan oleh turunnya jumlah penumpang pada tujuan penerbangan baru yang diperkenalkan pada jaringan rute Perseroan dan kompetisi LCC pada periode tersebut.tahun 2007 dengan CAGR 5. dan 18.1 juta di tahun 2007 menjadi 15. beban pemeliharaan dan perbaikan. Passenger yield dan faktor muat penumpang untuk penerbangan penumpang internasional telah terkena dampak yang kurang baik dengan adanya kompetisi dari LCC pada rute jarak pendek internasional dan relatif rendahnya tingkat penetrasi pasar pada rute jarak jauh internasional di Timur Tengah dan Eropa. Sebagai dampak dari tingginya kewajiban biaya tetap Perseroan. Passenger yield yaitu sebesar USD7. Saat ini Perseroan sedang dalam proses pemutakhiran perangkat lunak dari sistem manajemen pendapatan ini. dan 71. Rp12. dan 9. tingkat pengeluaran pendapatan. dan periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.2 miliar di tahun 2009 menjadi Rp10. dapat berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan.0%.0%. Pendapatan penumpang dari penerbangan adalah sebesar Rp10.2%. dan USD8.0 juta orang dalam sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 21.9 juta orang di tahun 2009.1 juta di tahun 2007. dan kondisi perekonomian global. Pendapatan penumpang dari penerbangan berjadwal masing-masing sebesar 72.1% di tahun 2009. dan beban bunga.0 miliar di tahun 2008.8 miliar di tahun 2007 menjadi Rp14.5% dari total pendapatan penerbangan penumpang pada tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.5 sen per kilometer di tahun 2009. dan 13.9 juta di tahun 2009.5 juta dalam sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.4 sen per kilometer pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.180. jumlah penumpang. perubahan yang hanya relatif kecil pada jumlah penumpang dan harga.8 juta di tahun 2008. • • • Pendapatan dari penerbangan berjadwal internasional adalah sebesar 50. beban pendaratan.8%.5 sen per kilometer di tahun 2008. 53. • Manajemen Pendapatan Kegiatan bisnis Perseroan dipengaruhi oleh jumlah penumpang dan tarif yang dikenakan pada rute domestik dan internasional yang dioperasikan oleh Perseroan. 2009. Pendapatan dari penerbangan berjadwal domestik adalah sebesar 50. 2008. USD9. sementara RPK meningkat dari 14. khususnya untuk beban sewa pesawat.4% di tahun 2007 menjadi 76.4 sen per kilometer di tahun 2007.713.4% di tahun 2008.0% dari total pendapatan usaha Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.5% dari total pendapatan penerbangan penumpang pada tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.366. 2009. Pendapatan dari penumpang domestik dan internasional dan juga passenger yield secara historis berkaitan dengan kemampuan Perseroan untuk menerapkan beban tambahan bahan bakar pesawat (fuel surcharge) yang dicatat sebagai bagian dari pendapatan usaha Perseroan 27 .532. dan periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.369.373. kondisi industri pariwisata di Indonesia. Manajemen pendapatan adalah serangkaian proses bisnis yang terintegrasi yang digunakan untuk menghitung penetapan harga yang optimal dan kebijakan ketersediaan kursi untuk memaksimalkan pendapatan yang dapat dihasilkan dari penjualan tiket berdasarkan estimasi perilaku permintaan untuk setiap pasar. Sejumlah faktor yang mempengaruhi kinerja pendapatan dari penerbangan berjadwal antara lain ASK. 46. Perseroan menggunakan proses dan sistem manajemen pendapatan untuk memaksimalkan tingkat penggunaan kursi dan pendapatan tiap penerbangan dan kemampuan Perseroan melakukan ini dengan sukses akan mempengaruhi hasil usaha Perseroan. 72. Kinerja keuangan Perseroan akan tetap dan diperkirakan akan terus dipengaruhi dengan cukup berarti oleh perkembangan ekonomi di Indonesia.067.5%. Passenger load factor mengalami penurunan dari 77.2%. Jumlah penumpang meningkat dari 9.8%. 2008.

Teluk Arab. Perseroan berkeyakinan bahwa sistem manajemen pendapatan saat ini memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengalokasikan cadangan kursi apabila dibandingkan dengan beberapa pesaing lain. Di masa lalu Perseroan pernah mengalami ketidakmampuan dalam pelunasan sejumlah biaya bakar kepada Pertamina.33 sen per liter di tahun 2009.95 sen per liter di tahun 2008. • Harga Bahan Bakar Pesawat Terbang Biaya bahan bakar pesawat terbang adalah komponen penting dalam struktur biaya Perseroan penerbangan. Saudi Arabia dan Belanda. dan 31. sedangkan perjanjian pasokan domestik dengan Pertamina saat ini mengijinkan Perseroan untuk melakukan pembayaran dalam dua minggu setelah pengiriman bahan bakar. dimana kemudian dikonversikan menjadi hutang subordinasi jangka panjang pada restrukturisasi hutang yang terkini. Mean of Platts Arab Gulf (MOPAG). Di samping itu. Harga bahan bakar pesawat terbang di masa yang lalu. bila dibandingkan dengan kesepakatan bahan bakar sebelumnya dengan Pertamina. 2008. 28 . Perjanjian pasokan bahan bakar internasional mewajibkan adanya pembayaran di muka atau adanya letter of credit terhadap pengiriman bahan bakar. dan juga perubahan permintaan dan penawaran. yang ditentukan oleh Pertamina berdasarkan kebijakannya sendiri. Perseroan dilarang membebankan biaya tambahan bahan bakar pesawat (fuel surcharge) di atas batas atas tarif kelas ekonomi domestik. Harga bahan bakar internasional umumnya ditetapkan dengan mengacu pada harga dasar rata-rata minyak yang dipublikasikan oleh Platts melalui Singapura berdasarkan Mean of Platts Singapore (MOPS). akan bergantung pada fluktuasi harga. Dari tahun 2007 sampai tahun 2009. dimana dapat disesuaikan apabila harga bahan bakar atau kenaikan biaya operasi pesawat berfluktuasi karena adanya fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap USD melebihi ambang batas (threshold) yang ditetapkan oleh DJPU untuk periode yang tersebut. Sebagai dampak dari penerapan aturan di domesik ini. Selama ini Perseroan membebankan sebagian dari biaya bakar kepada pelanggan dalam bentuk biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge).4%. Perjanjian pasokan bahan bakar baik untuk internasional dan domestik diperpanjang secara periodik dan pembayarannya menggunakan dolar Amerika Serikat. baru-baru ini Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan bahwa praktik tersebut bersifat anti-persaingan. Perseroan berkeyakinan bahwa proses pemutakhiran pelayanan penumpang akan meningkatkan jalur penjualan langsung Perseroan kepada pelanggan dan pemutakhiran sistem manajemen pendapatan akan meningkatkan kemampuan Perseroan dalam mengatur kapasitas tempat duduk sesuai dengan asal dan tujuan. dan menjadi USD51. dan juga di masa yang akan datang. Perseroan telah mengubah target manajemen pendapatannya. Selain itu. khususnya untuk penerbangan domestik dengan mengalokasikan cadangan kursi pada beberapa segmen tarif. Perjanjian pasokan bahan bakar domestik ditinjau secara periodik dan pembayaran dilakukan dalam Rupiah untuk harga yang ditetapkan dalam Rupiah. dan 2009 dan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Namun demikian. 29. sejak bulan April 2010. Biaya bahan bakar pesawat terbang mewakili 34.2%. Dengan demikian. Perseroan tidak melakukan transaksi lindung nilai (hedging) terhadap harga bahan bakar pesawat.8% dari total beban operasional di tahun 2007. walaupun sejak bulan April 2010 jumlah fuel surcharge yang dapat diterapkan diatur oleh Pemerintah dan sejak Juni 2010 kemampuan Perseroan untuk meneruskan biaya tambahan tersebut kepada pelanggan telah jauh berkurang. Perseroan mengadakan perjanjian pasokan bahan bakar selama lima tahun dengan Pertamina dan perjanjian pasokan bahan bakar dalam jangka waktu satu sampai dua tahun dengan beberapa pemasok internasional. sedangkan Pertamina secara historis memberikan Perseroan diskon persentase terhadap harga posting produksi dalam negeri. perjanjian baru akan pasokan bahan bakar Perseroan dengan Pertamina menggabungkan diskon tetap untuk harga posting produksi dalam negeri Pertamina. rata-rata beban bahan bakar berfluktuasi dari USD56. termasuk semua bahan bakar yang diperlukan untuk penerbangan di rute domestik. kecuali untuk transaksi derivatif tertentu yang terkait dengan bahan bakar pesawat untuk keperluan layanan haji. Perseroan saat ini dalam proses pemutakhiran sistem manajemen pendapatan termasuk PSS seiring dengan adanya pembangunan pusat data baru. mengalokasikan persedian tempat duduk diantara tarif kelas yang berbeda dan proyeksi arus kas yang lebih akurat.68 sen per liter di tahun 2007 menjadi USD85. perjanjian baru tersebut akan menghasilkan diskon yang lebih rendah (dan harga bahan bakar yang lebih tinggi) sejalan dengan kenaikan harga posting produksi dalam negeri.3%. Harga bahan bakar domestik ditetapkan dengan mengacu pada (dan umumnya termasuk diskon dari) harga posting produksi dalam negeri Pertamina. dimana perubahan pada harga bahan bakar pesawat terbang akan secara signifikan berpengaruh pada hasil operasi Perseroan. 41.yang tercermin dari fluktuasi harga bahan bakar pesawat. Perseroan mendapatkan pengadaan sekitar 70% bahan bakar bakar sesuai dengan perjanjian yang dibuat dengan Pertamina. yang diterbitkan oleh ARAMCO atau Rotterdam.

Peningkatan armada tersebut diharapkan dapat meningkatkan arus penumpang melalui pembukaan rute baru dan peningkatan frekuensi penerbangan dari yang ada saat ini. Perseroan memiliki komitmen pembelian pesawat sebesar Rp24. Per tanggal 30 September 2010. namun Perseroan juga tidak dapat memastikan bahwa ketentuan atas pinjaman untuk pengiriman pesawat tersebut (termasuk untuk pendanaan PDP) akan dapat diterima oleh Perseroan. perawatan. dan Simplifikasi Armada Sebagian besar dari kebutuhan belanja modal Perseroan. diharapkan dapat mengurangi biaya pemeliharaan dan perbaikan pesawat Perseroan dibandingkan dengan kompetitor lain. kenaikan frekuensi penerbangan. PDP yang digunakan untuk membeli pesawat tersebut umumnya dibiayai dengan arus kas operasi dan hutang. meskipun pada akhirnya Perseroan akan memperoleh pinjaman dana. Perseroan juga akan mengatur rencana pendanaan melalui hutang untuk pembiayaan 10 pesawat Boeing 777. sehingga Perseroan tidak dapat memastikan diperolehnya tambahan pendanaan atas pengiriman 26 pesawat (termasuk uang muka pembelian pesawat). peningkatan efisiensi bahan bakar dan menurunkan biaya perawatan. modernisasi. dengan mengoperasikan hanya satu tipe pesawat berbadan sempit yaitu Boeing 737-800 yang lebih efisien terhadap bahan bakar. 737-400. pengiriman awal atas 18 pesawat Beoing 737-800 pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. khususnya melalui pengoperasian satu jenis pesawat baru narrow-body. yaitu Boeing model 737-300. Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial memberikan batasan kepada Perseroan untuk memperoleh tambahan pinjaman baru. komitmen pembayaran PDP dan beban sewa pesawat Perseroan akan terkait dengan rencana ekspansi. Ukuran. Perseroan berkeyakinan bahwa ekspansi armada Perseroan merupakan hal yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan arus penumpang. sejalan dengan rencana Perseroan untuk menghentikan beberapa generasi tipe Boeing 737 untuk proses perawatan yang diperlukan sebelum dikembalikan dan sebelum berakhirnya periode sewa operasi di tahun 2010 dan 2011. yang kemudian akan dikonversikan menjadi sewa operasi melalui transaksi sale and leaseback dengan lessor. Perseroan juga telah memiliki letter of intent atas sewa operasi 12 pesawat Boeing 737-800 (dimana 4 pesawat telah dikirimkan antara bulan Oktober dan Desember 2010) dan 3 pesawat Airbus A330-200 dimana salah satunya telah dikirimkan pada Desember 2010 yang akan mulai beroperasi pada tahun 2011. Disamping itu. dan 747-500. yaitu Boeing 747 dan Airbus A330.460 miliar termasuk estimasi eskalasi harga kontrak untuk membeli 27 pesawat tambahan (dimana salah satunya dikirim pada Oktober 2010) sampai dengan 2016. Tingginya tingkat utilisasi armada dapat dicapai sebagian melalui pengurangan waktu perubahan haluan di bandara. sehingga lebih banyak jam yang digunakan untuk terbang setiap harinya. dan memiliki hak opsi untuk membeli tambahan 4 pesawat Airbus A330-200. 747-400. 10 pesawat Boeing 777. Utilisasi 29 . yang akan mengantikan biaya PDP dan mengurangi komitmen pengeluaran modal Perseroan. Perseroan juga berencana untuk mengganti tipe Boeing 747 dengan tipe pesawat yang lebih besar yang lebih lebih efisien dengan tipe Boeing 777-300 ER di tahun 2012. rata-rata umur pesawat Perseroan adalah 8. dan simplifikasi armada Perseroan. Disamping itu. Perseroan juga mengoperasikan dua pesawat tipe berbadan besar (wide-body aircraft). Peningkatan jumlah pesawat baru ini sebagai armada Perseroan melalui sewa operasi telah meningkatkan beban sewa pesawat. Per tanggal 30 September 2010. Perseroan saat ini mengoperasikan empat pesawat tipe berbadan sempit (narrow-body aircraft). seiring dengan peningkatan pelayanan penerbangan dan efisiensi bahan bakar. yang terdiri dari 11 pesawat Boeing 737-800. Untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. dan 6 Airbus A330200. Per tanggal 30 September 2010. Perseroan memutuskan untuk mempercepat program modernisasi dan simplifikasi armada dengan mempercepat pengiriman atas 18 pesawat Boeing 737-800 setelah sebelumnya menambah 15 dan 2 pesawat baru Boeing 737-800 di tahun 2009 dan 2 pesawat baru Boeing 737-800 di tahun 2008. Sehubungan dengan rencana Perseroan untuk melakukan program simplifikasi dan modernisasi pesawat. Tujuan program simplifikasi dan modernisasi armada Perseroan adalah untuk meningkatkan standarisasi pelatihan. 737-500 dan 737-800. Modernisasi. Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial Perseroan telah membatasi Perseroan untuk menambah beban sewa pesawat karenanya Perseroan tidak yakin akan dapat memperoleh tambahan sewa operasi untuk meningkatkan jumlah armada Perseroan. persedian. Perseroan akan melakukan penggantian pesawat-pesawat Boeing 737-300. Tingginya penggunaan harian dari pesawat terbang dapat meningkatkan kapasitas Perseroan dalam menghasilkan pendapatan dari armada. Per tanggal 30 September 2010. Perseroan berkeyakinan bahwa arus kas operasi Perseroan mencukupi untuk mendanai seluruh uang muka pembelian pesawat untuk pengiriman pesawat Boeing 737-800 dan pesawat Airbus A330-200. dan komposisi dari armada pesawat terbang Perseroan telah berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan. Perseroan memiliki 84 pesawat dan akan menjadi sekitar 150 pesawat di tahun 2015.• Ekspansi. • Utilisasi Pesawat Terbang Salah satu kunci elemen penting bagi strategi pertumbuhan Perseroan adalah peningkatan utilisasi armada pesawat terbang.8 tahun dan dengan pengurangan umur pesawat di masa yang akan datang dengan cara ekspansi armada. umur.

Dengan menambah armada pesawatnya. termasuk lalu lintas udara. dan Ngurah-Rai. penundaan oleh pihak ketiga dalam pelayanan penanganan di darat (ground handling) dan pengisian bahan bakar. Karena biaya dalam Dolar Amerika Serikat lebih besar dari pendapatan yang dihasilkan. termasuk juga kewajiban berdasarkan sewa pembiayaan. yang dikarenakan pendapatan usaha tahunan Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat lebih rendah dari jumlah beban modal Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat dan pembayaran tahunan atas pokok dan bunga dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. dimana pada akhirnya akan memberikan dampak buruk bagi keuntungan usaha Perseroan. • Fluktuasi Tingkat Bunga Sebagian besar dari kewajiban hutang berjalan saat ini adalah dalam denominasi Dolar Amerika Serikat dengan tingkat bunga mengambang (floating rate). Perseroan sebelumnya telah melakukan lindung nilai secara natural terhadap sebagian risiko mata uang asing. Per tanggal 30 September 2010. masalah mekanis sehubungan dengan pesawat terbang. Perseroan telah disetujui oleh DJPU untuk mempekerjakan pilot asing dengan jangka waktu kontrak 1 tahun dan dapat diperpanjang. di masa yang akan datang Perseroan mungkin akan memiliki sewa operasi dengan suku bunga mengambang. hutang dagang dalam mata uang Dolar Amerika Serikat terkait dengan biaya bahan bakar Perseroan. Sejak Agustus 2010. Perseroan juga melakukan perhitungan komitmen bulanan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat dan menyesuaikan komitmen tersebut dengan pendapatan Dolar Amerika Serikat Perseroan dan juga pendapatan konversi non-Dolar Amerika Serikat Perseroan. dekat Jakarta. • Fluktuasi Nilai Tukar Mata uang pelaporan dan fungsional Perseroan adalah dalam mata uang Rupiah. Perseroan terkena dampak risiko perubahan nilai tukar terkait dengan fluktuasi nilai tukar Dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah. masingmasing untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. Rata-rata utilisasi jam terbang pesawat (block hour) per hari Perseroan adalah 9:37. Sementara sekitar 46. kondisi cuaca yang buruk.8 miliar. Perseroan memiliki hutang jangka panjang dikurangi yang jatuh tempo dalam satu tahun sebesar Rp3. antrian di bandara (khususnya untuk bandara internasional Soekarno-Hatta. Pada saat nilai mata uang Rupiah mengalami pelemahan terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat. dan 2009 serta untuk periode 9 bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 9:00 dan 9:27. maka kewajiban dan beban Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat akan meningkat dalam mata uang Rupiah. sebagian hutang obligasi atas sewa pesawat jangka panjang juga menggunakan bunga mengambang. 2008. Perubahan tingkat bunga Dolar Amerika Serikat dapat berdampak pada beban keuangan Perseroan. kewajiban sewa yang ditentukan oleh perjanjian sewa pesawat. persyaratan keamanan. Selain itu. 9:51. profitabilitas Perseroan dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar Dolar Amerika Serikat LIBOR. Hutang Perseroan terdiri dari hutang bank dan pinjaman lainnya.447.3 miliar. dan oleh karenanya.863. Perseroan berencana untuk meningkatkan belanja modal untuk perekrutan dan pelatihan pilot dan awak kabin dengan tujuan untuk menunjang tingkat utilisasi armada pesawat terbang Perseroan. dimana sebagian berada di luar kontrol Perseroan. maka Perseroan akan mengkonversikan sebagian pendapatan Rupiah ke dalam mata uang Dolar Amerika Serikat untuk menutupi kekurangan tersebut. Namun demikian. yang disebabkan oleh adanya perubahan terhadap pendapatan bunga dan beban bunga dari simpanan jangka pendek maupun dari aset dan kewajiban keuangan yang mengandung bunga (interest bearing). maka transaksi dalam mata uang asing lain diperlukan untuk mengkompensasi kewajiban dan hutang dagang dalam Dolar Amerika Serikat. kebijakan Perseroan adalah untuk menangani eksposur terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat dengan melakukan konversi bulanan atas pendapatan dalam mata uang non-Dolar Amerika Serikat ke dalam mata uang Dolar Amerika Serikat dengan menggunakan spot rate yang tersedia pada saat tanggal konversi.pesawat terbang dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Sebagai dampaknya. Perseroan berkeyakinan bahwa hal ini akan mendukung kemampuan Perseroan untuk meningkatkan utilisasi pesawat terbang yang dimiliki. termasuk kewajiban sewa pembiayaan sebesar Rp1.6% dari pendapatan Perseroan adalah dalam mata uang Rupiah dan sisanya dalam mata uang lain. Beban sewa operasi Perseroan saat ini berdenominasi Dolar Amerika Serikat adalah dengan bunga tetap. Bali). Sekitar 44. 30 .2% dari biaya Perseroan adalah dalam Dolar Amerika Serikat. Apabila pendapatan Dolar Amerika Serikat dan pendapatan konversi non-USD Perseroan tidak mencukupi untuk membayar kewajiban Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat pada periode tertentu. yang terutama dikaitkan dengan kewajiban hutang Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Sejak tahun 2008.

penyebaran penyakit menular. Faktor persaingan utama adalah pada harga. kualitas layanan. Pada umumnya. juga bervariasi setiap tahunnya mengikuti kalender Hijriah. di tiap negara dan tempat dimana pesawat Perseroan terbang. 2008. tipe dan umur pesawat. dapat memberikan dampak negatif yang berkelanjutan bagi industri penerbangan yang mengakibatkan penurunan permintaan pelayanan penumpang. Kegiatan operasi Perseroan sangat terpengaruh selama puncak terjadinya penyebaran SARS dari bulan April sampai Juni 2003. Penyebaran penyakit menular. kondisi keuangan.0%. pendapatan dari pelayanan penumpang domestik juga dipengaruhi oleh permintaan yang rendah selama bulan Ramadhan yang terjadi pada setiap akhir musim panas dari tahun 2007 sampai dengan 2010. prospek. dan penerbangan haji Perseroan dimulai pada bulan Oktober 2010. Faktor musiman dapat mempengaruhi pendapatan penumpang Perseroan dan profitabilitas dari kuartal ke kuartal. image. 92. dan 2009. dimana lalu lintas penumpang Perseroan mengalami penurunan yang signfikan. Namun. seperti serangan teroris. penurunan harga tiket. Operasi penerbangan haji Perseroan untuk periode dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 pada umumnya dapat menutup periode di dua belas minggu setiap tahunnya dari periode Nopember sampai dengan Oktober. Jakarta dan tujuan lainnya di pulau Jawa. dan hasil operasi Perseroan di masa yang akan datang. banyak LCC baru yang masuk ke industri penerbangan domestik. telah berdampak pada adanya larangan terbang ke Indonesia. telah menewaskan delapan orang dan melukai sekitar 150 orang. Kejadian luar biasa dapat saja terjadi di masa yang akan datang dan dapat memberikan dampak jangka pendek dan jangka panjang bagi industri penerbangan dan juga pada bisnis. terjadi letusan Gunung Merapi dan pada bulan Desember 2010 terjadi letusan Gunung Bromo. Kinerja Perseroan juga bergantung pada aturan operasional dan lingkungan yang diaplikasikan pada industri penerbangan secara umum. peningkatan biaya premi asuransi. hampir seluruh dari pendapatan penumpang dihasilkan selama pertengahan tahun yang disebabkan oleh musim liburan sekolah dan musim akhir tahun. dan dapat berdampak pada bisnis. jaringan rute.5 miliar. dan hasil operasi Perseroan. Pemerintah telah melakukan deregulasi banyak aspek di industri penerbangan domestik. jadwal. Pendapatan Perseroan dari bisnis haji yang mewakili 94. maka Perseroan tidak memiliki pendapatan dari operasi penerbangan haji untuk periode sembilan bulan yang berakhir tanggal 30 September 2010. 31 .1 miliar. kualitas pelayanan. Sebagai dampaknya. dan 93. dan peristiwa bom Bali di tahun 2002 dan 2005.8 miliar dan Beban bunga dan keuangan Rp119. Karena operasi penerbangan haji Perseroan untuk tahun 2009 telah berakhir sebelum tanggal 31 Desember 2009.• Musiman Pendapatan penumpang dan profitabilitas Perseroan dipengaruhi oleh musiman di dalam industri penerbangan Indonesia.9%. seperti SARS dan virus H1N1 dapat berdampak buruk bagi kegiatan operasi Perseroan. bom yang meledak di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton di Jakarta. pos-pos terbesar dari Penghasilan (Beban) Lain-lain adalah Keuntungan atas sale and lease back Rp159. Perubahan peraturan dapat berdampak pada kenaikan maupun penurunan kompetisi dari operator penerbangan lainnya. Di bulan Nopember dan Desember 2010.9% terhadap total pendapatan operasi Perseroan dari pelayanan penerbangan tidak berjadwal di tahun 2007. Kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kondisi keuangan adalah kebijakan tarif batas atas yang dapat membatasi optimalisasi pendapatan dan kebijakan yang mendorong pertumbuhan industri pariwisata sehingga diharapkan dapat meningkatkan lalu lintas penumpang. Serangan teroris seperti pada tanggal 11 September 2001. yang membuka kompetisi yang besar dan akses ke industri penerbangan Indonesia. Letusan Gunung Merapi telah menggangu penerbangan Perseroan ke Yogjakarta. • Kebijakan Pemerintah Kebijakan pemerintah yang dapat berdampak bagi Perseroan adalah liberalisasi penerbangan sepenuhnya yang memungkinkan maskapai-maskapai asing beroperasi di seluruh bandara internasional Indonesia sehingga Perseroan harus bersaing pada semua aspek (jumlah frekuensi. • Kejadian Luar Biasa Kejadian luar biasa yang ada di luar kendali Perseroan. Perseroan bersaing juga dengan FSC dan LCC lain yang memberikan layanan penerbangan koneksi ke Indonesia. sebagai dua gunung yang paling aktif di Indonesia. • Peraturan Pemerintah terkait Industri Penerbangan Sejak tahun 2000. • Komponen penting lainnya Komponen-komponen penting dari Pendapatan atau beban lain-lain yang berjumlah 10% atau lebih dari Pendapatan tidak ada. Keuntungan atas mata uang asing-bersih Rp130. dapat mempengaruhi kinerja keuangan Perseroan. Pada tanggal 17 Juli 2009. dan meningkatkan biaya keamanan. Pada periode 9 bulan yang berakhir per 30 September 2010. dan harga) dan kenaikan tarif pajak badan usaha.

Atas pembelian kembali FRN tersebut dan permohonan persetujuan. Selain itu.5 miliar pada tanggal 31 Desember 2009. menjadi Build Operate Transfer (“BOT”) dan perubahan kebijakan akuntansi untuk BOT aset dari model revaluasi menjadi metode biaya. dan Aset kontinjensi”.1 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 30 (Revisi 2007) “Sewa”.6 miliar dengan total harga beli USD22. Perseroan mengakui keuntungan luar biasa sebesar Rp123. anak perusahaan PT Aero Wisata. 57 “Kewajiban diestimasi. Penyajian kembali tersebut akibat dari: Perubahan kebijakan akuntansi untuk beban inspeksi rangka pesawat. sewa tambahan akan diakui sebagai Aset (pembayaran deposit atau pembayaran di muka) sesuai dengan PSAK No. - - - - 32 . Perubahan pelaporan entitas PT Aero Wisata. 16 (Revisi 2007) dan FASB Staff Position (FSP) AUG AIR1 “Akuntansi untuk Aktivitas Perawatan Utama” yang dikeluarkan pada tanggal 8 September 2006. MCB adalah merupakan instrumen yang tidak dapat dipindahkan dan subordinasi terhadap hutang berjalan lainnya. dan 2008 dan mengikuti prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan praktek akuntansi industri penerbangan yang mengacu pada revisi AICPA Airline Industry Guide.. dimana Anak Perusahaan telah memperoleh data baru dari laporan keuangan GOH Korea Co. Kewajiban kontinjensi. Perubahan klasifikasi bangunan dan perbaikan. Anak Perusahaan. overhaul mesin untuk pesawat milik Perseroan dan pesawat yang disewa. mesin dan instalasi di PT Bina Inti Dinamika.65 juta dan Rp37. Pada tanggal 21 Januari 2010. dan Aset kontinjensi”. Perseroan memperpanjang jatuh tempo dari sisa FRN tersebut sampai dengan 21 Januari 2018 dan diakui sebagai keuntungan pada pos luar biasa Rp184.9 miliar. yang dapat dikonversikan yang ekuivalen dengan nilai saham pada Perseroan pada saat setiap waktu sebelum jatuh tempo dalam 5 (lima) tahun sejak diterbitkan. dengan demikian akuntansi untuk investasi Anak Perusahaan telah berubah dari metode beban menjadi metode konsolidasi. Pengakuan kewajiban kontraktual dan tambahan sewa ketika komponen rangka pesawat tidak lagi memenuhi standar minimum kinerja seperti yang disetujui. sejumlah beban minimum yang diestimasikan untuk kondisi pengembalian berdasarkan PSAK No. Kewajiban kontinjensi.8 miliar kepada Bank Mandiri dengan bunga 4% per tahun. anak perusahaan PT Aero Wisata per tanggal 31 Desember 2008. Dengan cara ini.018.5 juta dan Rp23 miliar. 24 (Revisi 2004) “Imbalan Kerja”.• Keuntungan Luar Biasa atas Restrukturisasi Hutang Sebagai hasil restrukturisasi pinjaman tahun 2001. • Penyajian kembali (restatement) laporan keuangan konsolidasi untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007. Perseroan menyelesaikan tender parsial dengan sistem dutch auction dari FRN yang gagal bayar dengan nilai nominal USD40. Pengakuan program kesetiaan pelanggan sesuai dengan PSAK No. Ltd. Perseroan menerbitkan Mandatory Convertible Bonds (“MCB”) dengan pokok pinjaman sebesar Rp1. dari metode akrual menjadi metode ditangguhkan dan menyajikan kembali laporan keuangan konsolidasi berdasarkan PSAK No. Perseroan dan Bank Mandiri menyetujui melakukan restrukturisasi dan menyelesaikan seluruh MCB dengan pembayaran kas sebesar Rp50. 57 “Kewajiban diestimasi. pembayaran untuk beban perawatan besar dilakukan melaui mekanisme penagihan kembali. Pengakuan keuntungan jangka panjang terkait dengan program Persiapan Pensiun yang dilakukan oleh Yayasan Kesehatan Garuda (Yakesga) dimana keuntungan akan ditentukan berdasarkan level jasa yang diberikan oleh karyawan yang pensiun berdasarkan PSAK No. Perseroan menyetujui dua tahun perpanjangan jatuh tempo dari MCB dengan Bank Mandiri. Sebagai hasil perbedaan antara total nilai penyelesaian ini dan nilai yang terbawa dari MCB. Di tahun 2006. Di bulan Desember 2009. dan 2008 Perseroan melakukan penyajian kembali (restatement) laporan keuangan konsolidasi untuk tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007.9 miliar dan mengkonversi menjadi saham Perseroan dengan nilai prinsipal sebesar Rp967.

Penarikan suatu produk dan layanan dapat dilakukan jika memang tidak sesuai lagi dengan ekspektasi pelanggan. Perseroan dari waktu ke waktu terus berupaya untuk mengembangkan produk maupun layanan yang inovatif untuk tetap memberikan penawaran yang komprehensif kepada pelanggan serta menjaga daya saing perseroan di pasar. Perusahan mengembangkan produk dan layanan baru melalui suatu analisa yang matang. Pendapatan operasional diakui pada saat penerbangan telah dilakukan. Penjualan didalamnya termasuk juga atas pemulihan surcharges selama tahun berjalan. Sistem baru ini diluncurkan untuk penjualan tiket Domestik sejak Agustus 2009. Harga Perseroan yang terdiri dari harga tahunan diterbitkan sepanjang tahun tidak terlalu banyak perubahan dalam tahun berjalan. Harga tahunan ini diatur mulai dari yang harga tertinggi yang sangat flexible sampai lebih rendah dengan beberapa pembatasan. Dimasa mendatang sesuai dengan pengembangan jaringan sistim distribusi Garuda yang dapat langsung ke pelanggan (direct channel). jasa boga. 1. dimana diharapkan produk dan layanan baru ini sesuai ekspektasi pelanggan sehingga dapat meningkatkan layanan dan tercipta peningkatan penjualan dan pangsa pasar. Dalam mengantisipasi perubahan pasar yang semakin dinamis. 4. Pada awal tahun 2009 Perseroan telah meluncurkan layanan pemesanan dan pembelian tiket secara online melalui website Perseroan untuk rute Domestik dan sejak akhir Mei 2010 Perseroan mulai melayani pemesanan dan pembelian tiket secara online tersebut untuk rute Internasional. Dengan adanya sistem ini jaringan distribusi Perseroan dapat diperluas hingga ke kota-kota yang belum dijangkau oleh agen penjualan IATA. Dalam rangka memperluas distribusi dan meningkatkan penjualan. Pada akhir Juli 2010. Pendapatan jasa perbaikan dan pemeliharaan pesawat atas kontrak jangka panjang diakui dengan menggunakan metode persentase penyelesaian. • Perubahan dalam harga. hal ini akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan dan jumlah penumpang.• Perubahan perilaku konsumen terhadap perubahan teknologi baru. Perubahan dapat dilakukan sampai harian sesuai dengan persaingan di pasar terutama dipasar domestik dan regional. • Perubahan dalam metode penjualan seperti perjanjian distribusi baru atau perkembangan tim penjualan. biro perjalanan dan jasa sistem reservasi serta jasa lain yang berhubungan dengan penerbangan diakui sebagai pendapatan pada saat jasa diserahkan. Perseroan menerapkan dynamic and flexible pricing concept. Perseroan berencana untuk mengembangkan distribusi dan penjualan sehingga penggunaan sistem ini tidak terbatas pada sub agen namun individu-individu yang potensial sebagai pemasar melalui mekanisme tertentu. Perseroan mengembangkan harga yang lebih mudah didapatkan oleh pelanggan dimana perubahan harga langsung dapat diatur sesuai segmen pasar yang dilayani. Pada tahun-tahun ke depan. Berikutnya Perseroan memiliki harga yang berubah sangat dinamis dikenal dengan harga promosi yang dapat disesuaikan dengan perkembangan market. Pada tahun-tahun ke depan Perseroan akan fokus untuk meningkatkan kehandalan dan kemudahan sistem penjualan langsung secara elektronik sehingga dapat memenuhi preferensi konsumen yang semakin tanggap terhadap perubahan teknologi. • Pengaruh produk baru atau penarikan produk. Perseroan telah mengembangkan sistem ini sehingga sub agen dapat menjual tiket Internasional melalui Garuda Online Sales. Penarikan jasa dilakukan melalui penutupan rute atau kota tujuan akan berdampak berkurangnya pendapatan dan jumlah penumpang. penarikan dilakukan dengan prinsip yang sangat hati-hati agar tidak terlalu mempengaruhi layanan secara keseluruhan. Perseroan memiliki komitmen untuk terus memanfaatkan teknologi informasi secara efektif dan efisien untuk kemudahan akses dan transaksi bagi pelanggan. atau peristiwa lainnya yang mempengaruhi penjualan Perseroan. Pendapatan jasa perbaikan dan pemeliharaan pesawat atas kontrak jangka pendek diakui pada saat jasa diserahkan kepada langganan. kondisi demografi pasar dan faktor lainnya. Kebijakan Akuntansi Penting Pengakuan Pendapatan Penjualan tiket penumpang dan jasa kargo awalnya diakui sebagai transportasi yang ditangguhkan. Sebagai contoh Perseroan telah merencanakan untuk mengembangkan jaringan melalui penambahan rute dan kota tujuan baik dilakukan sendiri maupun melalui kerjasama aliansi global maskapai penerbangan. persoalan dengan pemasok. Perseroan telah mengembangkan sistem penjualan baru yang bebasis website (Garuda Online Sales) yang ditujukan kepada para sub agen. Hal ini ditujukan untuk memberikan layanan yang handal dan cepat terutama kepada kelompok pelanggan yang sudah terbiasa mempersiapkan sendiri perjalanannya (self-arranging) yang porsinya cukup besar di antara pelanggan Perseroan. 33 . Pendapatan atas jasa perhotelan.

jika ada. tanah dan bangunan yang telah disajikan dalam ekuitas dipindahkan langsung ke saldo laba pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya. pesawat. 34 . Penyusutan Sejak 1 Januari 2009. dalam hal ini kenaikan revaluasi hingga sebesar penurunan nilai aset akibat revaluasi tersebut. Surplus revaluasi pesawat. kecuali sebelumnya penurunan revaluasi atas aset yang sama pernah diakui dalam laporan laba rugi. tanah dan bangunan dibebankan dalam laporan laba rugi apabila penurunan tersebut melebihi saldo surplus revaluasi aset yang bersangkutan. 3. Perubahan kebijakan akuntansi dari model biaya ke model revaluasi dalam pengukuran berikutnya aset tetap pesawat. dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai. Taksiran masa manfaat. tanah dan bangunan dinyatakan berdasarkan biaya perolehan. Sejak 1 Januari 2009 perkiraan masa manfaat dari aset Perseroan adalah sebagai berikut: Aset Pesawat Tahun Pesawat (dikurangi nilai sisa sebesar 20%) Rangka Pesawat Mesin Simulator (dikurangi nilai sisa sebesar 20%) Simulator Rotable Parts Aset Pemeliharaan Inspeksi Rangka Pesawat Overhaul mesin Aset Non Pesawat Bangunan Hanggar Gedung Kantor Kendaraan Furnitur dan peralatan 18-20 18-20 10 12 Periode inspeksi berikutnya Periode overhaul berikutnya 40 40 3-5 2-10 Aset sewaan disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan aset tetap yang dimiliki sendiri atau disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode sewa dan umur manfaatnya. tanah dan bangunan dinyatakan berdasarkan nilai revaluasi yang merupakan nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. pesawat. Sebelumnya. Revaluasi dilakukan dengan keteraturan yang memadai untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca. dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi akuntansi diterapkan secara prospektif. nilai residu dan metode penyusutan ditinjau minimum setiap akhir tahun buku.Pendapatan bunga diakru berdasarkan waktu terjadinya dengan acuan jumlah pokok simpanan dan tingkat bunga yang sesuai. dikreditkan dalam laporan laba rugi. tanah dan bangunan langsung dikreditkan surplus revaluasi pada bagian ekuitas. Perseroan mulai menerapkan perubahan kebijakan akuntansi sehubungan dengan perkiraan nilai manfaat dari pesawat Perseroan dari 12 sampai dengan 15 tahun menjadi 18 sampai dengan 20 tahun. Kenaikan yang berasal dari revaluasi pesawat. Biaya-biaya lain yang terjadi selanjutnya yang timbul untuk menambah. tanah dan bangunan diterapkan secara prospektif. Penurunan jumlah tercatat yang berasal dari revaluasi pesawat. 2. Revaluasi Aset Tetap Sejak 31 Desember 2008. mengganti atau memperbaiki aset tetap dicatat sebagai biaya perolehan aset jika dan hanya jika besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas dan biaya perolehan aset dapat diukur secara andal. Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi pada saat terjadinya.

Bila terdapat komitmen untuk perawatan pesawat sesuai yang diatur dalam perjanjian sewa operasi. diklasifikasikan sebagai sewa operasi. 5. Jika harga jual diatas nilai wajar. Kewajiban terkait kepada pihak yang menyewakan termasuk ke dalam neraca sebagai kewajiban pembiayaan sewa. selisih lebih diatas nilai wajar tersebut ditangguhkan dan diamortisasi selama periode penggunaan aset. Dalam hal insentif diperoleh dalam sewa operasi. insentif tersebut diakui sebagai kewajiban. yang tidak memenuhi kriteria tersebut. Apabila aset tetap tidak digunakan lagi atau dijual. Biaya perolehan tersebut termasuk biaya pinjaman yang terjadi selama masa pembangunan yang timbul dari hutang yang digunakan untuk pembangunan aset tersebut. Keseluruhan manfaat dari insentif diakui sebagai pengurangan dari biaya sewa dengan dasar garis lurus kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat yang dinikmati pengguna. maka rugi sebesar selisih antara nilai tercatat dan nilai wajar diakui segera. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing aset. selisih lebih hasil penjualan diatas nilai tercatat. dikapitalisasi sesuai dengan kebijakan akuntansi mengenai biaya pinjaman. 35 . maka laba atau rugi diakui segera. 4. petunjuk pabrik dan. Sewa lainnya. 6. jika lebih rendah. Penyisihan dibuat berdasarkan pengalaman historis. Jika harga jual di bawah nilai wajar. Penurunan Aset Bila nilai tercatat aset melebihi taksiran jumlah yang dapat diperoleh kembali maka nilai tercatat tersebut diturunkan ke jumlah yang dapat diperoleh kembali tersebut. nilai tercatat diturunkan ke jumlah yang dapat dipulihkan. maka nilai tercatat dikeluarkan dari laporan keuangan konsolidasi dan keuntungan atau kerugian yang dihasilkan diakui dalam laporan laba (rugi) konsolidasi pada periode bersangkutan. Biaya Pemeliharaan Pesawat Biaya inspeksi besar rangka pesawat dan perbaikan besar mesin pesawat milik sendiri dan sewa pembiayaan dikapitalisasi dan disusutkan selama periode sampai dengan inspeksi atau perbaikan besar berikutnya. kewajiban kontrak untuk menentukan nilai sekarang dari perkiraan biaya masa depan dari inspeksi rangka pesawat dan perbaikan mesin berdasarkan biaya aktual yang dibebankan dalam laporan laba rugi. Pembayaran sewa dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pengurangan dari kewajiban sewa sehingga mencapai suatu tingkat bunga yang konstan (tetap) atas saldo kewajiban. Sewa Sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. tidak segera diakui sebagai pendapatan tetapi ditangguhkan dan diamortisasi selama masa sewa. maka rugi tersebut ditangguhkan dan diamortisasi secara proporsional dengan pembayaran sewa selama periode penggunaan aset. Beban keuangan dibebankan langsung ke laba rugi kecuali beban keuangan itu secara langsung diatribusikan pada aset yang memenuhi syarat. kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati pengguna. Dalam hal ini.Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan. atau. Aset yang dijual berdasarkan transaksi jual dan leaseback diperlakukan sebagai berikut: Jika transaksi jual dan leaseback merupakan sewa operasi dan transaksi tersebut dilakukan pada nilai wajar. Jika suatu transaksi jual dan leaseback merupakan sewa pembiayaan. tidak diperlukan penyesuaian kecuali jika telah terjadi penurunan nilai. - Untuk sewa operasi. Untuk sewa pembiayaan. jika relevan. dalam nilai pada saat ini dari pembayaran sewa minimum. kecuali rugi tersebut dikompensasikan dengan pembayaran sewa masa depan yang lebih rendah dari harga pasar. Rental kontijen diakui sebagai beban di dalam periode terjadinya. yang ditentukan sebagai nilai tertinggi antara nilai jual neto dan nilai pakai. dihitung dengan merujuk pada periode perbaikan besar atau inspeksi berikutnya. Aset berdasarkan pembiayaan sewa dimana Perseroan dan Anak Perusahaan adalah penyewa diakui sebagai aset Perseroan dan Anak Perusahaan dalam nilai pada permulaan sewa. Pembayaran sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus selama masa sewa. jika nilai wajar aset pada saat transaksi jual dan sewa-balik lebih rendah daripada nilai tercatatnya. maka laba atau rugi diakui segera. penyisihan diakui selama jangka waktu sewa atas kewajiban pengembalian sesuai yang dipersyaratkan dalam perjanjian tersebut.

Aset keuangan Perseroan dan Anak Perusahaan diklasifikasikan sebagai berikut: • Nilai wajar pada laporan laba rugi Derivatif keuangan diklasifikasikan dalam kategori ini kecuali ditujukan sebagai derivatif lindung nilai. dan dikurangi dengan nilai yang wajar dari aset program. Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan kerja jangka panjang di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan kerja pasti jasa lalu belum diakui. piutang usaha dan piutang lain-lain yang mempunyai jangka waktu pembayaran yang tetap dan yang tidak diperdagangkan dalam pasar aktif. kecuali aset keuangan itu diklasifikasikan sebagai “at fair value through profit or loss”. selain yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Aset Keuangan Seluruh aset keuangan yang diakui dan yang tidak diakui pada tanggal pembelian atau penjualan suatu aset keuangan diatur dalam kontrak yang dimana persyaratan periode yang diperlukan aset keuangan ditentukan oleh pasar. kecuali untuk piutang jangka pendek di mana pengakuan bunga tidak material. apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested. Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan pasca-kerja di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan pascakerja disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial belum diakui dan biaya jasa lalu yang belum diakui. Imbalan Pasca Kerja dan Imbalan Kerja Jangka Panjang Imbalan Pasca Kerja Perhitungan imbalan pasca-kerja ditentukan dengan menggunakan metode Projected Unit Credit. Bila tidak ada pasar aktif untuk investasi tersebut dan nilai wajar tidak dapat diukur dengan andal. 36 . • Tersedia untuk dijual Investasi jangka panjang dalam bentuk saham. dana pemeliharaan pesawat dan uang jaminan atas sewa operasi. Keuntungan atau kerugian dari derivatif non lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. dan dikurangi dengan nilai wajar aset program. dan pengukuran awal dengan menggunakan nilai wajar ditambah dengan biaya-biaya transaksi. yang berdampak pada estimasi arus kas masa depan dari investasi. Imbalan Kerja Jangka Panjang Perhitungan imbalan kerja jangka panjang ditentukan dengan menggunakan Projected Unit Credit. 7. dievaluasi terhadap indikator penurunan nilai pada setiap tanggal neraca. diklasifikasikan dalam kategori ini. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari jumlah yang lebih besar diantara nilai kini kewajiban imbalan pasti atau nilai wajar aset program diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diprakirakan dari para pekerja dalam program tersebut. deposito berjangka. kecuali investasi pada perusahaan asosiasi. sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset keuangan. • Pinjaman dan Piutang Bank. dikurangi penurunan nilai. Bunga diakui dengan menggunakan metode suku bunga efektif. dikurangi penurunan nilai. 8.Biaya perbaikan dan pemeliharaan lainnya dibebankan pada saat terjadinya. investasi ini diukur sebesar biaya perolehan. Biaya jasa lalu dibebankan langsung. Pinjaman dan piutang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Aset keuangan diturunkan nilainya bila terdapat bukti yang objektif. Penurunan nilai aset keuangan Aset keuangan. diklasifikasikan dalam kategori ini. Biaya jasa lalu dan keuntungan (kerugian) aktuarial diakui langsung pada tahun yang bersangkutan. yang mana dari awal diukur dengan menggunakan nilai wajar. dan sebaliknya diakui sebagai biaya dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested.

jika sebaliknya. manajemen mempertimbangkan beberapa faktor seperti. Untuk lindung nilai efektif terhadap eksposur perubahan nilai wajar. 9. Semua derivatif dicatat sebagai aset apabila nilai wajarnya positif. derivatif dicatat sebagai kewajiban. Kerugian penurunan nilai tersebut tidak dihapus pada periode berikutnya. Pemulihan dikemudian hari dari jumlah yang dihapuskan sebelumnya. kerugian penurunan nilai diukur sebesar selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini dari nilai estimasi arus kas masa depan yang didiskontokan pada tingkat pengembalian pasar atas aset keuangan sejenis. penurunan nilai adalah sebesar perbedaan antara nilai tercatat dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan yang didiskonto dengan tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut. Aset keuangan diukur pada biaya. item yang dilindung nilai disesuaikan dengan perubahan nilai wajar yang diatribusikan terhadap risiko yang dilindung nilai dan perubahan tersebut langsung diakui dalam laporan laba rugi. dan hanya jika. dikurangi kerugian penurunan nilai Jika terdapat bukti objektif bahwa rugi penurunan nilai telah terjadi atas aset keuangan yang diukur pada biaya. kegagalan atau peningkatan signifikan atas jumlah pembayaran tertunda atas kredit rata-rata sebelumnya. 10. Untuk lindung nilai yang tidak mengakibatkan pengakuan aset atau kewajiban. Jumlah diakui sebagai kewajiban diestimasi merupakan taksiran terbaik yang diharuskan menyelesaikan kewajiban pada tanggal neraca. Perubahan nilai tercatat akun penyisihan diakui dalam laporan laba rugi. termasuk yang diakui kesulitan keuangan debitur. kecuali untuk piutang usaha dan piutang lainlain dimana nilai tercatat diturunkan melalui akun penyisihan. Kewajiban Diestimasi Kewajiban diestimasi diakui bila Perseroan dan Anak Perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu dan besar kemungkinan Perseroan dan Anak Perusahaan diharuskan menyelesaikan kewajiban serta jumlah kewajiban tersebut dapat diestimasi secara andal.Aset keuangan diukur pada amortized cost Dalam penentuan apakah terdapat bukti objektif bahwa kerugian atas penurunan nilai telah terjadi atas aset keuangan. dikreditkan terhadap akun penyisihan. Untuk aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. kewajiban Perseroan telah dibebaskan. seperti kesulitan keuangan signifikan pada penerbit atau terjadi perubahan lingkungan operasi yang merugikan penerbit. Nilai tercatat aset keuangan diturunkan secara langsung melalui kerugian penurunan nilai untuk seluruh aset keuangan. Kewajiban diestimasi diukur menggunakan estimasi arus kas untuk menyelesaikan kewajiban kini dengan jumlah tercatatnya sebesar nilai kini dari arus kas tersebut. Jika transaksi lindung nilai mengakibatkan pengakuan aset atau kewajiban. pengalaman kolektibilitas pembayaran di masa lalu. Instrumen Keuangan Derivatif Instrumen derivatif awalnya diakui sebesar nilai wajar pada tanggal kontrak derivatif dibuat dan kemudian dinilai kembali sebesar nilai wajarnya pada setiap tanggal neraca. dibatalkan atau berakhir. jumlah yang ditangguhkan dalam ekuitas diakui dalam laporan laba rugi pada periode yang sama dimana item yang dilindung nilai mempengaruhi laba atau rugi bersih. Perubahan nilai wajar instrumen derivatif keuangan yang ditujukan untuk lindung arus kas masa depan yang efektif diakui sebagai bagian dari ekuitas dan bagian yang tidak efektif langsung diakui dalam laporan laba rugi. 37 . Penghentian pengakuan kewajiban keuangan Kewajiban keuangan dihentikan pengakuannya jika. Kewajiban Keuangan dan Instrumen Ekuitas Klasifikasi sebagai hutang atau ekuitas Kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh Perseroan dan Anak Perusahaan diklasifikasikan sesuai substansi perjanjian kontrak dan definisi kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas. 11. dengan memperhatikan unsur risiko dan ketidakpastian yang melekat pada kewajiban. Bila piutang usaha atau piutang lain-lain tidak tertagih. piutang dihapuskan terhadap akun penyisihan. akumulasi keuntungan dan kerugian dalam ekuitas direklasifikasi ke laporan laba rugi dalam periode yang sama selama aset atau kewajiban yang terkait mempengaruhi laba rugi.

713.369.882.3 15. Tingkat isian (load factor) secara teori merupakan pendapatan dari penumpang secara keseluruhan dan pendapatan kargo.9 7.0 16.980.5 2007 9.3 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 10.7 35.1 7.7 110.3 20.9 37.5 18.5 30. Penggunaan Estimasi Penyusunan laporan keuangan konsolidasi sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan konsolidasi serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan.2 1.9 15.3 11.9 539. Dihitung dengan membagi pendapatan penumpang dari pelayanan berjadwal oleh RPK 5.045. 12.633. piutang diakui sebagai aset apabila terdapat kepastian tagihan dapat diterima dan jumlah piutang dapat diukur secara andal.0 157.373.Bila beberapa atau keseluruhan dari manfaat ekonomis mengharuskan penyelesaian kewajiban diestimasi diharapkan dapat dipulihkan dari pihak ketiga. Dihitung sebagai jumlah kargo dan barang muatan (dalam ton-kilometer) sebagai persentase dari total kapasitas kotor (dalam ton-kilometer) 9. Dihitung berdasarkan persentase RPK terhadap ASK 4.532. dihitung dengan jumlah unit beban penumpang sebagai persentase dari passenger yield. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi.0 71.5 14.9 37.5 2008 10.3 275.4 122.6 30.172.8 76. yang ekuivalen dengan pengeluaran atau beban operasional (dengan asumsi pendapatan kargo adalah statis. Dihitung sebagai jumlah kargo dan barang muatan yang dibawa (dalam ton) dikali dengan jarak tempuh (dalam kilometer) 7.4 627.6 13.4 7.0 8.2 29. beberapa data statistik penting adalah sebagai berikut: Data Operasional Penting: Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009 9.209. Kami telah menerjemahkan mata uang Rupiah hasil kargo ke dolar Amerika Serikat dengan basis bulanan dengan menggunakan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari terakhir pada bulan sebelumnyaDihitung berdasarkan jumlah penumpang yang dibawa x jarak terbang (dalam km) 2.1 30.4 234.1 77.5 21.9 149.1 18. 38 .336.6 191.827. Perseroan telah menerjemahkan total dari passenger yield dan cargo yield ke Dolar Amerika Serikat berdasarkan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari terakhir bulan sebelumnya.566.901.1 757. Dihitung sebagai jumlah kapasitas kargo (dalam ton) dikali dengan jarak tempuh (dalam kilometer) 8.0 43.9 41.4 Informasi terkait pendapatan penumpang: Jumlah Penumpang (ribu) Penumpang-km diangkut (RPK) (dalam juta) (1) Tempat duduk-km tersedia (ASK) (dalam juta) (2) Tingkat isian tempat duduk (PLF) (%) (3) (5) Passenger yield (USD sen/km penumpang) (4) (9) Informasi terkait kegiatan usaha kargo Tonase kargo diangkut (juta kg) Tonase-km kargo diangkut (juta ton-km) (6) Tonase-km kargo tersedia (juta ton-km) (7) Tingkat isian kargo (%) (5) (8) Cargo yield (USD sen/km ) (1)(9) Catatan: 149.7 311.809.4 9.1 282. Unit beban penumpang dihitung dengan membagi pengeluaran operasional dengan ketersediaan kursi (kilometer) 6. Data Operasional Penting Untuk mengukur kinerja operasional Perseroan. Dihitung berdasarkan jumlah kursi tersedia x jarak terbang (dalam kilometer) 3.5 38.4 815.4 7.3 72.0 568.9 73.

3% 2.4% 44.2% 78.2% 30.8 Charter 102.0% 839.2 83.1 89.1% 10.042 11.8 0. jasa kesehatan.3% 49.7% 1.000 17.423.466.350 19.5% 4.655.8 Total Pendapatan penerbangan tidak 102.353 153 2008 975 918 1.4% 64.2 79. seperti jasa pemeliharaan dan perbaikan pesawat.491. Laba Usaha dan Laba Bersih: 19.8 72.2% 26.4 78.0 0.7 90.4 85.4% 75.3 0.1% b.339. dan jasa lainnya.533.7 13.3% 10.291.7% 15.9% 12. jasa biro perjalanan.8 0.6 berjadwal Total Pendapatan Usaha 11.7% 151.8% 95.000 732 -1. Deskripsi atas Akun-Akun Penting Grafik di bawah ini memberikan gambaran pertumbuhan Pendapatan.2% 23.8% 79.860 Pendapatan Usaha Laba(Rugi) Usaha Laba Bersih Bersih Laba(Rugi) 14.2 71.685 Rp miliar 9. Pendapatan Usaha Penerbangan Pendapatan usaha penerbangan pada prinsipnya terdiri dari pendapatan yang diperoleh dari penerbangan berjadwal dan tidak berjadwal.6 0.0 Total pendapatan penerbangan 11.7% 11.759.510.5 0.605.7% 10.3 0.586.4 76. pelatihan.6 0.120.2 13.2 0.569.190.551.9% 2.2 91.1% 11.4 5.9% 12.8% 1.448.0 Kargo 845.7% 593.9 Penerbangan Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 72.7% 947.8% 174.4 90.8% 0.9 5.9 11.849 12.5% 12.3 0.3 6.5.000 1. hotel.6 Kelebihan Bagasi 42.6 0.9 90.067.4 10.6 Surat dan Dokumen 27.0% 2.7% 17.3 4.3 berjadwal Pendapatan Tidak Berjadwal: Haji 396.1% 2.2% 36.019 2009 624 570 195 2007 Jan-Sep 2009 2009 Jan-Sep 2010 2010 Sumber: Perseroan a.049.0 3.6 0.7% 0.000 4.8% 475.699. Tabel berikut menunjukan detail dari komponen penting pendapatan Perseroan dan persentasenya dari total nilai pendapatan usaha Perseroan untuk periode sebagai berikut: (dalam miliar Rupiah) Uraian Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September (%) 2010 % 2009*) Untuk tahun yang berakhir 31 Desember (%) 2007 (%) 2009 (%) 2008 Pendapatan Berjadwal: Penumpang 10. Pendapatan Lain-lain Pendapatan lain-lain merupakan pendapatan yang diperoleh dari jasa yang berhubungan dengan penerbangan yang diberikan Perseroan.3% 0.0% 9.4% 90.4% 14.9% 801.000 14. 39 . jasa boga.7 0.2% 16.180.2% 13.093.6 4.

0 0. e. sistem reservasi.2% 0.7 3.8% 0.2% 0.8 (%) 1.6 0.7 0.1% 22.8% 1.1% 5.3% 200.7 1.3% 0.1% 1. Jasa Hotel Pendapatan dari jasa hotel merupakan pendapatan usaha anak perusahaan Aerowisata yaitu PT Mirtasari Hotel Development.7 0.0% 38.5 1.7 (%) 1. Pemeliharaan dan Perbaikan Pesawat Pendapatan yang diperoleh dari jasa pemeliharaan dan perbaikan pesawat merupakan pendapatan usaha Anak Perusahaan.8 Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September (%) 2010 % 2009*) 258.1% 253. Garuda Orient Holidays Pty.280.1% 18.4 589.3 0.6 250.9 0. d.9% 2.5 1. Ltd.2 0. f. dan Australia. Jasa Boga Pendapatan jasa boga merupakan pendapatan usaha anak perusahaan Aerowisata.8% 113. Ltd.. Lombok.7 10.2 231.0% 7.0% 191. Bali.9 Transportasi 14.7 0.7 0.1 8. Jasa Lain -Lain Pendapatan dari jasa lain-lain adalah pendapatan yang diperoleh dari administrasi operasi penerbangan codesharing yang dioperasikan oleh operator penerbangan pihak ketiga. yaitu PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi. PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika. PT Aero Jasa Perkasa. 40 .8 436.1% 20.7 2. penyewaan gudang.7% 274.7 0.6% 260.8% 1.8 1.8% 139. PT Angkasa Citra Sarana Catering Service.762.3 Hotel 96.Tabel berikut menunjukan detail dari komponen pendapatan lain-lain dan persentasenya terhadap total pendapatan usaha untuk periode sebagai berikut: (dalam miliar Rupiah) Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 256. Garuda Orient Holidays Japan INC.2% 0.2% 19.8 2.5 0. dan juga bertindak sebagai agen jasa biro perjalanan bagi penerbangan lainnya.8% 122.1% 18.1% 15.8% 98.8% 2. h.9 Fasilitas 121.6% 0.9 379.6 337.4% 2008 333. (“ACS”) yang memberikan jasa boga kepada perusahaan penerbangan pihak ketiga yang beroperasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.0 0.1% 7.1% 20. dan penyediaan jasa teknologi informasi kepada pihak ketiga.0% 25.1% 1.7 Lain-lain 1.6% 78.0% 2007 251. yang memberikan jasa pemeliharaan dan perbaikan pesawat kepada operator penerbangan lain.2% 28.0% 94.9 Pelatihan 6.3% 1. yang mengoperasikan biro perjalanan wisata berupa masing-masing paket wisata di Indonesia. g.7 Lain-lain 17. atau penyewaan tempat kargo kepada perusahan pengiriman barang pihak ketiga.3 0.8 0.6 0.9 0.1% 173.2 9.1% 11.9 (%) 1. Jepang.5 Teknologi Informasi 17.4 0. dan Bandung.1% 28.5% 213.7% 1. yaitu GMF AeroAsia.8% 159.9% 1.2% 3.2 0.8 Kesehatan 14. yang mengoperasikan lima hotel di Surabaya.3 0.1% 13. dan Garuda Orient Korea Co.0 c. Biak.7 0. Korea Selatan. Jasa Kesehatan Pendapatan jasa kesehatan merupakan pendapatan yang diperoleh dari klinik dan apotik yang dioperasikan oleh SBU Perseroan.1% 20.1% 9.387.3 0. Jasa Biro Perjalanan Pendapatan jasa biro perjalanan merupakan pendapatan usaha anak perusahaan PT Aero Wisata (“Aerowisata”).7% 1.1% 21.669.5 0.133.2% 31.8 0.0 2.4% 1.2 0.2% 0.4 0.2% 38.3 1.8 9.4 0.1% 163.8% 134.3 0.9 1.3% 370.9% Uraian Biro Perjalanan Jasa Boga Pemeliharaan dan Perbaikan Pesawat Pelayanan Penerbangan 160.

075.206.414.002.0 100.5% 4.2 18.6% 104.225. Pengeluaran terkait dengan inspeksi perawatan besar dikapitalisasi dan disusutkan sampai dengan inspeksi berikutnya.8% 669.4%. Beban Pemeliharaan dan Perbaikan Beban pemeliharaan dan perbaikan pesawat merupakan beban usaha GMF AeroAsia terdiri dari beban perawatan umum dan overhaul.7 0.7% 984.4% 58.295.6 0.1%.246.212.6% 7.142.6% 95.948.3% 1.2% 32.6 15.3% Sewa pesawat 1.1% 6.8 7.8 8.0% Uraian Operasional penerbangan Pemeliharaan dan perbaikan Bandara Pelayanan Penumpang Tiket.942.6 8.3% 38.3% 4.142.2% 986.4% 482.8% 165.5 3.7% 1.3% 230.1 9.8% 723.9 7.096.4 9.7% 1.4 0. gaji pegawai dan tunjangan.6% 890.1 7.948.1 0.7% 1.2 0.5 1. Beban Usaha Tabel berikut menunjukkan detail beban usaha Perseroan dan persentase terhadap total beban untuk periode sebagai berikut: (dalam miliar Rupiah) Untuk sembilan bulan yang Untuk tahun yang berakhir 31 Desember berakhir 30 September (%) 2009 (%) 2008 (%) 2007 (%) 2010 % 2009*) 6.3 6. sekitar 73.1% 223. dan 74.2 0.7 0.6 44. beban sewa.0% 9.i.310.6 61.7 47.1% 1.3 21.1% 199.5% 197.8 9. dan group pariwisata.5%.9 7.8 5.9 8.9 3.286.3 6.4% 39.045. 41 . beban bahan bakar dan beban asuransi.9 0.1 8.7 8.6% 68.107.122. dan 2009.636.6% 1.035.1% 1.942.7 47.562.0% 11.1 0.7% 1.9% 1.9% 1.378.6 100.4% 1.4 7. pendidikan. Beban sewa dan charter pesawat terdiri dari sewa pesawat dan charter pesawat untuk penerbangan haji.3 0.089.3% Gaji dan tunjangan 516.1 0.6 74.1 0.983.3% 44.9 0.1% 3.2% 12.569.6% 1.8 10.4% 66.4 8.8 2.1% 3. pemerintah.096.3 0.3 0.0% 16.7% 749.1 70.4 2.504.9% 876.202.3% 6.996.1% Total 6.3% 51. sedangkan sisanya untuk penyediaan layanan pemeliharaan dan perbaikan oleh GMF AeroAsia kepada pihak ketiga.6% 1.250.5 48.308.2% 1.107.5% 1. Penjualan dan Promosi Administrasi dan Umum Penyusutan dan Amortisasi Imbalan Kerja Operasional Transportasi Operasional Jaringan Operasional Hotel Beban Usaha Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) j.9% 880. (dalam miliar Rupiah) Untuk tahun yang berakhir 31 Desember Uraian 2009 (%) 2008 (%) 2007 (%) Beban operasional Penerbangan Bahan Bakar 4.327.5 0.2 0.2% 1.5% 668.6 0.0% 4.7 7.078.4% Lain-lain 3.0% 260.1 67.2 7.6% dari total beban dikontribusikan oleh beban pemeliharaan dan perbaikan untuk armada Perseroan. dan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Beban pemeliharaan dan perbaikan tidak termasuk pengeluaran untuk inspeksi perawatan besar pada rangka pesawat dan mesin yang mensyaratkan adanya sertifikat kelayakan pesawat atau sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa.2 1.8 6. 71.3 100.7 100.0 65.1% 4.0 6.0% Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September (%) 2010 % 2009*) k.5% 1.0% 13.8 100. beban suku cadang.9 6.8 7.6% 110.3% 911.0 1.6 100.0 8.9 5.1 0.9% 273.5 100.225.74. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.4% 734.8% 58.420.5% 75.0 55.975.4% 1.504.0 100. beban sewa dan charter pesawat.3 10.4% 1.4 6.9 11.7 8.7 8.1 100.0% 6.3% 1. serta biaya asuransi pesawat.2 7.8 8.4% 1. Beban Operasional Penerbangan Beban operasional penerbangan terdiri dari biaya bahan bakar.9 10. 2008.2% 938.2 2.0% 8.4 2.8% 188.1% 1. gaji pegawai dan tunjangan untuk pilot. bisnis.9 9.0% 17.3% 550.6% 949.7% Asuransi 173.5% 1.6% 919.0% 4.2 11.1% 8.252.2 9.3% 1.4% 49.268.105.942.6 1.8% 9.6 6.609.7 100.9% 158.4% 70.7 10.0% 8.3 9.4 0.8 2.2% Sewa dan charter pesawat Pesawat charter 159.5% 368.

beban utilities. Beban Imbalan Kerja Beban imbalan kerja pegawai terdiri dari kontribusi dan pendanaan Perseroan sehubungan dengan imbalan jangka panjang dan pensiun. dan beban usaha Anak Perusahaan. penyisihan piutang tak tertagih. beban keanggotaan profesi dan asosiasi internasional. Beban Operasional Jaringan Beban operasional jaringan merupakan beban jasa teknologi informasi dan operasi sistem jaringan dari ASYST dan Abacus. beban pemeliharaan dan perbaikan. Beban Penyusutan dan Amortisasi Beban penyusutan dan amortisasi terutama terdiri dari beban penyusutan rangka dan mesin pesawat. Penambahan atau penurunan hasil revaluasi akan berdampak pada beban penyusutan periode setelah tanggal revaluasi. beban reservasi . pegawai jasa boga serta beban untuk barangbarang yang dikonsumsi pelayanan penumpang. m. s. beban perawatan kesehatan. juga termasuk biaya penyusutan dan amortisasi atas gedung. n. Beban Pelayanan Penumpang Beban pelayanan penumpang terutama terdiri dari beban jasa boga. p. dan pemasaran. beban sewa kantor. beban perlengkapan kantor. dan gaji dan tunjangan untuk pegawai di bandara. penjualan. t. dan promosi terutama terdiri dari beban komisi kepada agen perjalanan . Penjualan. dan beban promosi.l. dan Promosi Beban tiket. Beban Tiket. gaji dan tunjangan pegawai bagian tiket. yaitu nilai pasar pada tanggal revaluasi. executive lounges. pesawat. penjualan. hanggar. r. beban profesional dan pelatihan. aset pemeliharaan pesawat (D-checks). PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika. PT Mirtasari Hotel Development. ACS. beban asuransi. inflight entertainment. Beban Administrasi dan Umum Beban administrasi dan umum terutama terdiri dari beban gaji dan tunjangan pegawai administrasi. q. 42 . Beban Bandara Beban bandara terdiri dari beban terminal. o. beban sewa untuk gedung dan kendaraan. kendaraan dan perabot. gaji dan tunjangan awak kabin. beban pajak. Beban Operasional Hotel Beban operasional hotel merupakan beban operasi hotel Aerowisata. dan bangunan yang dimiliki oleh Perseroan dicatat sebesar nilai revaluasi. tanah. Sejak 31 Desember 2008. Beban Operasional Transportasi Beban operasi transportasi merupakan beban transportasi dari PT Mandira Erajasa Wahana (anak perusahaan Aerowisata).

685.553.6.0% untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 72.849.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 11. Perseroan mendapatkan persetujuan dari DJPU untuk mempekerjakan pilot asing dengan kontrak kerja selama 1 tahun dan dapat diperpanjang dan Perseroan berkeyakinan hal ini dapat mengatasi masalah kekurangan pilot.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 dan passenger yield meningkat menjadi USD8.1% menjadi Rp12. yang disebabkan terutama oleh meningkatnya pendapatan penerbangan berjadwal.0 juta orang dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 8. Perbandingan Kinerja Usaha Periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dibandingkan dengan periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.3 sen per kilometer dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.0 juta orang dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.4% menjadi Rp11. Pendapatan penumpang. Pembukaan rute baru.4 sen per kilometer dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari USD7.9% dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.448. Fuel surcharge dinaikkan untuk menutupi kenaikan harga bahan bakar pesawat yaitu USD64. Pada bulan Juli 2010. Beberapa faktor juga membawa dampak negatif terhadap hasil usaha untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.3 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. yang sebagian terkompensasi oleh menurunnya passenger load factor menjadi 71. Australia. Perseroan sebelumnya juga telah mendatangkan 15 dan 2 pesawat baru Boeing 737-800 masing-masing ditahun 2009 dan 2008.4 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.9 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp10.1 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp11. disebabkan oleh rendahnya load factor untuk rute domestik jarak jauh tujuan Indonesia Timur. Selama periode ini load factor dari penerbangan rute baru jarak jauh tujuan Indonesia Timur rendah sebagaimana yang dialami oleh rute Eropa tujuan Amsterdam.2 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. dengan indikator RPK meningkat menjadi 13.093. Pendapatan penumpang meningkat 11.9% untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. disebabkan adanya peningkatan pendapatan jasa penumpang dan kargo. Fuel surcharge yang dikenakan untuk penerbangan domestik sudah tidak berlaku mulai Juni 2010 disaat Pemerintah memperkenalkan tarif batas atas penerbangan yang telah memuat fluktuasi harga bahan bakar. Jepang dan Amsterdam. Hasil usaha Perseroan untuk sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dengan posisi negatif yang disebabkan oleh percepatan penyewaan 18 pesawat Boeing 737-800 terkait dengan program simplifikasi armada. disebabkan adanya jumlah penumpang yang meningkat menjadi 9. a.423. Atas kedatangan pesawat baru tersebut ke dalam jajaran armada Perseroan menyebabkan kenaikan beban sewa pesawat dan disaat yang bersamaan Perseroan memutuskan untuk melakukan peremajaan armada dengan menghentikan operasi pesawat yang sudah tua yaitu tipe Boeing 737 untuk proses perawatan final yang diwajibkan melalui sewa operasi sebelum jatuh tempo pengembalian pesawat yaitu tahun 2010 dan 2011. dan juga pembukaan rute baru penerbangan langsung dengan tujuan dari Jakarta ke Cina.5 sen rata-rata per liter dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari sebelumnya USD49.8% menjadi Rp10. Pendapatan Penerbangan Berjadwal Pendapatan penerbangan berjadwal meningkat sebesar 13. Atas hal diatas passenger load factor menurun menjadi 71.2 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp9. Pendapatan Usaha Pendapatan usaha naik sebesar 7.0% dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 72. 43 .0 sen ratarata per liter dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. khususnya rute baru internasional biasanya memerlukan waktu untuk mencapai profit margin yang positif sehubungan dengan tingginya kewajiban dan beban tetap yang terjadi dalam pembukaan rute baru yang dipicu oleh rendahnya passenger load factor dan dampak buruk dari harga promosi atas passenger yield sebagaimana diperlukan dalam membangun brand awareness dan pangsa pasar pada rute tersebut. Utilisasi rata-rata penggunaan pesawat juga menjadi berkurang karena dipengaruhi oleh kekurangan pilot yang menyebabkan satu pesawat tidak beroperasi selama 1 tahun penuh.

9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp200. yang disebabkan oleh belum adanya pendapatan penerbangan haji pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 (karena penerbangan haji akan dilakukan pada kuartal empat tahun 2010).6 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Pendapatan Lain-lain Pendapatan lain-lain menurun sebesar 11. yang disebabkan menurunnya pendapatan pemeliharaan dan perbaikan menjadi Rp163.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp475. 44 .142.0 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.0 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 sehubungan jasa boga yang diberikan kepada pihak ketiga oleh Aerowisata serta meningkatnya pendapatan jasa fasilitas menjadi Rp121. sebagaimana RFTK meningkat menjadi 311.5% menjadi Rp102.2 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.3% menjadi Rp6.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp4.0 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp11.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. dimana sebagian dikompensasi dengan kenaikan pendapatan penerbangan charter menjadi Rp102.Pendapatan kargo.0 sen per kilometer dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.5 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 sehubungan kenaikan penjualan tiket oleh Aerowisata dan kenaikan pendapatan jasa boga menjadi Rp260. dan juga peningkatan ASK menjadi 18. Beban Bahan Bakar Beban bahan bakar meningkat sebesar 28.6 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Beban Usaha Beban usaha mengalami kenaikan sebesar 15.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. yang didorong oleh kenaikan harga bahan bakar 31. Pendapatan kargo meningkat 42.7 sen per kilometer dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari USD30. Beban Operasional Penerbangan Beban operasional penerbangan meningkat sebesar 24. Pendapatan Penerbangan Tidak Berjadwal Pendapatan penerbangan tidak berjadwal menurun sebesar 78.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp94.3% menjadi Rp845.133.225.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp593. c. yang disebabkan terutama oleh kenaikan beban bahan bakar.8 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 16.7% dan kenaikan penggunaan bahan bakar yang sejalan dengan kenaikan block hour 11%.280.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp253.122.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.4% menjadi Rp1.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang sebagian terkompensasi dengan kenaikan pendapatan jasa biro perjalanan menjadi Rp258.942.975.5% dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 35. b. kenaikan beban sewa dan charter pesawat dan beban gaji dan tunjangan. terutama disebabkan oleh peningkatan rata-rata harga bahan bakar menjadi USD64.5 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp370.5 sen per liter pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari USD49 sen per liter pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.6% dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 dan yield kargo meningkat menjadi USD30. yang disebabkan terutama oleh kenaikan beban operasional penerbangan dan beban administrasi dan umum. cargo load factor meningkat menjadi 38.3 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp79.6% menjadi Rp12.9 juta dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.3% menjadi Rp4. a.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 akibat menurunnya jasa pemeliharaan dan perbaikan yang diberikan kepada pihak ketiga oleh GMF AeroAsia.212. dari Rp3.6 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. menurunnya pendapatan jasa yang berhubungan dengan penerbangan menjadi Rp160.3 juta dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 191.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp1.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp191.

dan pengembalian kepada lessor atas 2 pesawat Boeing 737-300 dan 2 pesawat Boeing 737-400.3 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.3% menjadi Rp1. terkait dengan sewa operasi atas 18 pesawat Boeing 737-800.2 miliar dari Rp166.5 miliar dari Rp32.6 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp949.Beban Sewa dan Charter Pesawat Beban sewa dan charter pesawat meningkat 23.327. yang sebagian dikompensasi dengan penurunan beban sewa sebesar Rp29. yang disebabkan oleh kenaikan beban pemeliharaan dan perbaikan pesawat sebesar Rp383. Beban Bandara Beban bandara meningkat sebesar 3. d.079.9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.2 miliar per 30 September 2009.7 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp285.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.0 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 karena penerbangan haji baru akan dilakukan pada kuartal empat tahun 2010.3 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp1.078. Beban Pelayanan Penumpang Beban pelayanan penumpang mengalami peningkatan sebesar 18. b.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp328. yang dikaitkan dengan peningkatan kualitas dan layanan.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Beban Gaji dan Tunjangan Beban gaji dan tunjangan untuk pilot sebagai salah satu komponen beban operasional penerbangan meningkat sebesar 6. Kenaikan tersebut disebabkan oleh peningkatan jasa pelayanan pesawat dan lalu lintas penerbangan menjadi sebesar Rp864.4 miliar dari Rp176. dari Rp35. 45 .5 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp825. c. Peningkatan beban sewa dan charter pesawat ini sebagian telah dikompensasi dengan tidak adanya beban charter pesawat untuk operasional penerbangan haji untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp159. Kenaikan tersebut disebabkan kenaikan jumlah jam terbang dan pemakaian suku cadang sebesar Rp231.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp517 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. disebabkan oleh kenaikan jumlah pilot dan peningkatan beban gaji dan tunjangan yang termasuk dalam kenaikan komponen gaji dasar pilot dan tunjangan yang terkait dengan jam terbang. Di samping itu peningkatan tersebut berasal dari kenaikan beban gaji dan tunjangan menjadi Rp204.600 jam pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.3 miliar pada periode 30 September 2010 dari Rp919.9% menjadi Rp986. sehubungan dengan peningkatan block hour menjadi 161. sehubungan dengan adanya kenaikan beban pelayanan penumpang termasuk didalamnya inflight catering.6 miliar yang disebabkan oleh kenaikan jumlah karyawan dari GMF AeroAsia dan beban lainnya menjadi Rp35.9% menjadi Rp516.300 jam pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari 141.3 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp84.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp482.327. peningkatan gaji dan tunjangan menjadi Rp87. inflight entertainment dan executive lounge sebesar Rp702.5 miliar terkait dengan peningkatan inventarisasi suku cadang untuk Boeing B737-800 baru sebagaimana pemeliharaan terhadap pesawat yang lebih tua yang harus dilaksanakan sebelum masa sewa operasi.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp723. sebagai hasil dari peningkatan jumlah penumpang dan RPK.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp911.2% menjadi Rp876.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Kenaikan bersih disebabkan oleh adanya penambahan beban sewa pesawat menjadi Rp1. Beban gaji dan tunjangan untuk awak kabin meningkat menjadi Rp340.0% menjadi Rp1.Hal ini sehubungan dengan adanya peningkatan frekuensi dan jumlah penumpang.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Beban Pemeliharaan dan Perbaikan Beban pemeliharaan dan perbaikan meningkat sebesar 21.

yang disebabkan oleh peningkatan tingkat hunian dan jumlah tamu pada hotel yang dimiliki dan dikelola oleh Aerowisata dan anak perusahaan Aerowisata yaitu PT Mirtasari Hotel Development. kenaikan pada beban sewa kantor menjadi Rp58. g.6% menjadi Rp984. Beban Imbalan Kerja Beban imbalan kerja meningkat 22.5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp68. i.2% menjadi Rp1. Beban Administrasi dan Umum Beban administrasi dan umum mengalami kenaikan sebesar 10.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp289.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp23. beban sewa dan perlengkapan kantor. Kenaikan tersebut disebabkan kenaikan beban promosi menjadi Rp138.1 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp1. serta beban penyisihan piutang tak tertagih yang sebagian dikompensasi oleh penurunan beban pajak dan kesehatan.225. dan kenaikan beban komisi menjadi Rp552.202.1 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. pemeliharaan dan perbaikan.8 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Kenaikan tersebut dikompensasi dengan penurunan gaji dan tunjangan menjadi Rp125. Beban Tiket.6 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 sehubungan dengan penurunan jumlah karyawan serta penurunan beban lain-lain menjadi Rp23.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. dan bangunan. f.9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp51.3% menjadi Rp39. kenaikan beban reservasi menjadi Rp355.0 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp161. beban jasa profesional dan pelatihan.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp1. Kenaikan tersebut disebabkan oleh peningkatan beban gaji dan tunjangan. h. Beban Penyusutan dan Amortisasi Beban penyusutan dan amortisasi mengalami penurunan sebesar 1. 46 .7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp890.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp550. disebabkan oleh peningkatan kontribusi program manfaat pensiun karyawan dan imbalan kerja jangka panjang lainnya akibat adanya peningkatan sejumlah karyawan yang pensiun di bawah program percepatan pensiun karyawan.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp38.e.6% menjadi Rp1. Beban Operasional Transportasi Beban operasional transportasi meningkat 10.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp223.252.7% menjadi Rp75.1 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. yang disebabkan peningkatan penyusutan dan amortisasi dari aset pemeliharaan yang dikompensasi dari penurunan nilai tercatat pesawat.1% menjadi Rp273.206. disebabkan oleh peningkatan beban transportasi oleh PT Mandira Erajasa Wahana (anak perusahaan Aerowisata).4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 disebabkan adanya peningkatan pada jumlah penumpang. Beban Operasional Hotel Beban operasional hotel meningkat sebesar 2. tanah. j. Penjualan dan Promosi Beban tiket.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. penjualan. dan promosi mengalami kenaikan sebesar 4.6 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp126. PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika.

9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang sebagian terkompensasi dengan penurunan keuntungan selisih kurs sebesar Rp130. disebabkan oleh peningkatan pendapatan jasa teknologi informasi dari ASYST. Penghasilan (Beban) Lain-lain Penghasilan (Beban) lain-lain mengalami peningkatan menjadi Rp245. keuntungan atas penyesuaian beban estimasi pesangon karyawan menjadi Rp68. yang disebabkan oleh perbedaan waktu antara perlakukan akuntansi dan pajak.0 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.2% menjadi Rp49. hal ini karena didukung oleh pesawat baru Boeing 737-800 yang ditambahkan pada armada Perseroan melalui transaksi sale and leaseback. Perseroan mengalami rugi usaha sebesar Rp289.9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 terkait dengan penyisihan piutang jasa MRO yang jatuh tempo dari PT Merpati Airlines (“Merpati”).k. Pos Luar Biasa Sehubungan dengan lelang penawaran sebagian (dutch action and consent solicitation) atas FRN dengan nominal sebesar USD40. Hak Minoritas Pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp80. hak minoritas atas laba bersih adalah sebesar Rp0. 47 . Selain itu terdapat penurunan beban lain-lain bersih sebesar Rp35.5 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.7 miliar dibandingkan Rp3.4 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.924 per 30 September 2010.2 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp61.3 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang disebabkan karena penurunan rata-rata ketersediaan kas dalam deposito berjangka untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Manfaat (Beban) Pajak Manfaat pajak turun sebesar 20.8 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari beban lain-lain sebesar Rp115.3 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp49.9 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang terutama disebabkan oleh keuntungan selisih kurs-bersih di tahun 2009 terhadap kewajiban keuangan yang didenominasi dalam dolar Amerika Serikat akibat Rupiah yang terapresiasi dibandingkan nilai tukar dolar Amerika Serikat (1 USD: Rp8.8 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 sehubungan dengan menurunnya tingkat bunga dan pokok pinjaman dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.5 juta dan Rp23 miliar. selain itu terdapat juga penurunan penghasilan bunga menjadi Rp42.5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp233.65 juta dan Rp37. 1 USD: Rp9.7 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp434.5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari beban pesangon karyawan sebesar Rp203.6 miliar dengan harga pembelian USD22.1 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Kenaikan tersebut juga disebabkan oleh tidak adanya beban penyisihan piutang tidak tertagih pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp156. Perseroan membukukan keuntungan luar biasa atas pembelian kembali FRN sebesar Rp184. Peningkatan ini disebabkan oleh keuntungan sale and leaseback menjadi Rp159.4% menjadi Rp58. Beban Operasional Jaringan Beban operasional jaringan meningkat sebesar 18.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari sebelumnya laba usaha sebesar Rp623.681 per 30 September 2009).5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp38.2 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari keuntungan sebesar Rp2.1 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. penurunan beban bunga dan keuangan menjadi Rp119. yang disebabkan oleh kenaikan beban pajak kini dari Anak Perusahaan dan menurunnya beban pajak tangguhan dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.4 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. Laba (Rugi) Usaha Sebagai hasil dari pendapatan dan beban usaha.

2 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009.566 di tahun 2008 dan permintaan pelayanan charter mengalami penurunan di tahun 2009 yang disebabkan oleh pengurangan penerbangan untuk bisnis. Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.4% menjadi Rp839.4 juta di tahun 2008 terutama disebabkan oleh menurunnya permintaan jasa kargo akibat melemahnya perekonomian.95 sen per liter pada tahun 2008. Perseroan tidak melakukan lindung nilai terhadap beban bahan bakar pesawat terbang untuk penerbangan haji dan rata-rata harga bahan bakar pesawat terbang meningkat di atas perkiraan biaya dalam periode setelah biaya jasa penerbangan haji disetujui antara Perseroan dengan Menteri Agama.Laba Bersih Laba bersih mengalami penurunan sebesar 65.2 miliar untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2009 dari Rp14. dimana telah dikompensasi dengan kenaikan RFTK menjadi 282.0% menjadi Rp2. pendidikan.1 juta di tahun 2009 dari 275. Fuel surcharge menurun karena penurunan harga rata-rata bahan bakar menjadi USD51. yang disebabkan terutama oleh penurunan pendapatan penerbangan berjadwal dan pendapatan jasa lainnya.7% menjadi Rp17.3 miliar di tahun 2009 dari Rp947.067.4% menjadi Rp13. 48 .466. akibat penurunan passenger yield menjadi USD7.9 miliar di tahun 2009 dari 15.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. Perseroan melakukan transaksi lindung nilai penuh terhadap beban bahan bakar pesawat terbang untuk penerbangan haji di tahun 2009 berdasarkan asumsi penerbangan haji yang telah disetujui antara Perseroan dan Pemerintah.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. b. Pendapatan Kargo Pendapatan kargo menurun 11.9 juta di tahun 2009 dari 10. a. dimana telah dikompensasi dengan terjadinya penurunan pendapatan dari penerbangan sewa khusus (charter).5 miliar di tahun 2008.55 sen per RPK di tahun 2009 dari USD9.9 miliar dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dari Rp570.860.120. Pendapatan Penumpang Pendapatan penerbangan menurun 9. dan kelompok pariwisata.33 sen per liter di tahun 2009 dari USD85.349. Pendapatan Usaha Pendapatan usaha turun sebesar 7. Pendapatan Penerbangan Berjadwal Pendapatan penerbangan berjadwal mengalami penurunan sebesar 9.2 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp2.2% di tahun 2009 dari 43.9% di tahun 2008 dan penurunan yield kargo menjadi USD29.2 juta di tahun 2008 dan RPK menjadi 15. Di tahun 2008. yang disebabkan oleh penurunan penerimaan jasa penumpang dan kargo.759.4% di tahun 2008 dimana sebagian dikompensasi dengan peningkatan total penumpang menjadi 10. dimana jumlah penumpang haji meningkat menjadi 263.8% menjadi Rp194.944 di tahun 2009 dari 259.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp15.6 miliar di tahun 2008 seiring dengan penurunan cargo load factor menjadi 37.491. yang disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari penerbangan haji.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.47 sen per RPK di tahun 2008 dan load factor penumpang menjadi 73.3% menjadi Rp12.9 sen per kilometer di tahun 2009 dari USD37.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp19.699. pemerintah. yang sebagian telah dikompensasi dengan peningkatan pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal.1% di tahun 2009 dari 76.4 sen per kilometer di tahun 2008. Pendapatan Penerbangan Tidak Berjadwal Pendapatan penerbangan tidak berjadwal mengalami kenaikan 1. terutama disebabkan oleh kompetisi dari penerbangan LCC untuk penerbangan domestik dan jarak dekat. kenaikan ini memberikan dampak negatif pada profitabilitas operasi penerbangan haji Perseroan.

6 miliar di tahun 2009 dari Rp7.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp333.8 miliar di tahun 2008. Beban charter dan sewa pesawat sebagai salah satu komponen dalam beban operasional penerbangan telah meningkat 23. kenaikan jasa yang berhubungan dengan penerbangan sebesar Rp274.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 yang terkompensasi dengan kenaikan pendapatan jasa boga menjadi Rp337.3 juta di 2008.3 miliar di tahun 2008. sementara block hour meningkat menjadi 190. Bahan bakar sebagai komponen beban operasional penerbangan telah menurun sebesar 32.035.6% menjadi Rp8.c.3% menjadi Rp1.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp589.8 miliar di tahun 2008.206.996. a.628 di tahun 2009 dari 524. menurunnya jasa biro perjalanan sebesar Rp256.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 akibat dari peningkatan jasa boga yang disediakan kepada pihak ketiga oleh Aerowisata. mengalami kenaikan 21. Beban Usaha Beban usaha menurun sebesar 5. Bahan bakar. Beban charter dan sewa pesawat.5 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. dan juga komponen variabel gaji pilot dihubungkan dengan jam terbang. Gaji dan tunjangan pilot sebagai salah satu komponen beban operasional penerbangan.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. selain itu juga dikompensasi dengan kenaikan pendapatan hotel sebesar Rp139.1 miliar di tahun 2008. yang terjadi karena penurunan biaya sewa charter untuk pengguna pesawat dalam pelayanan haji yang tidak berjadwal seiring dengan kenaikan jumlah kursi yang ditawarkan untuk pelayanan jasa haji menjadi 529.8 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp231.6 miliar di tahun 2009 dari Rp749.785. sementara 4 Boeing 737-300 dihapus dari armada Perseroan di tahun 2009.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp159.762.6 miliar di tahun 2008.95 per liter di tahun 2008.268.800 jam di tahun 2009 dari 182.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1. Gaji dan tunjangan.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp9. dimana sebagian telah dikompensasi dengan kenaikan ASK menjadi 21. yang disebabkan oleh penurunan pendapatan yang diatribusi oleh pendapatan pemeliharaan dan perbaikan pesawat sebesar Rp436.500 jam di tahun 2008.669. termasuk kenaikan komponen dasar gaji pilot. 49 . 15 Boeing 737-800 dan 4 Airbus A330-200 yang masuk dalam armada Perseroan.414. Pendapatan Lain-lain Pendapatan lain-lain mengalami penurunan sebesar 5.983.096. beban sewa dan charter pesawat.33 sen per liter di tahun 2009 dari USD85. yang disebabkan oleh penurunan beban operasional penerbangan.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.1 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp17. terutama disebabkan oleh kenaikan beban sewa pesawat dari Rp1.6% menjadi Rp2.8 miliar di tahun 2009 dari Rp1.9% menjadi Rp16. Peningkatan di beban sewa pesawat sebagian dikompensasi oleh penurunan beban charter mejadi Rp938. terutama disebabkan oleh kenaikan jumlah pilot akibat peningkatan jumlah armada Perseroan.8 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. penurunan pendapatan atas fasilitas yang berhubungan dengan penerbangan sebesar Rp134.7 juta di tahun 2009 dari 20.7 miliar di tahun 2009 dari Rp550.8% menjadi 4. serta gaji dan tunjangan.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 yang disebabkan penurunan jasa pemeliharaan dan perbaikan pesawat yang dilakukan oleh GMF AeroAsia kepada pihak ketiga akibat dampak dari melemahnya perekonomian.310 di tahun 2008.2 miliar di tahun 2009 dari Rp1.2 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 sebagai akibat penurunan pendapatan dari penerbangan berjadwal. seiring dengan peningkatan sewa operasi dari satu Boeing B737-300. Beban Operasional Penerbangan Beban operasional penerbangan mengalami penurunan sebesar 18.942.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp213. yang disebabkan terutama oleh penurunan beban bahan bakar pesawat terbang dimana sebagian telah dikompensasi oleh kenaikan beban sewa. terutama disebabkan oleh penurunan signifikan dari harga rata-rata bahan bakar pesawat terbang menjadi USD51.6% menjadi Rp669. dan naiknya gaji dan tunjangan.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp122.948.

b. Penjualan.420.6 miliar dalam tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. yang disebabkan terutama oleh penurunan beban utilitas menjadi Rp88. penjualan.7 miliar untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 dari Rp105.7 miliar di tahun 2009 dari Rp156. penurunan beban pajak menjadi Rp72. disamping juga adanya perbaikan kualitas pelayanan.2 miliar di tahun 2009 dari Rp141. dan promosi mengalami peningkatan sebesar 4.7 miliar di tahun 2008 akibat penurunan jumlah karyawan dan dikompensasi dengan peningkatan gaji dan tunjangan untuk karyawan administrasi umum dan kenaikan biaya sewa kantor menjadi Rp131.4 miliar di tahun 2009 dari Rp600.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1.562.3 miliar di tahun 2008 sebagai dampak dari pengurangan pegawai (khususnya awak kabin). dan pemasaran dan naiknya beban gaji dan tunjangan.8 miliar dalam tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1.308. Gaji dan tunjangan untuk awak kabin juga mengalami peningkatan menjadi Rp468. dan juga peningkatan gaji dan tunjangan menjadi Rp272. Beban Tiket.120. terkait dengan peningkatan pelayanan jasa pemeliharaan dan perbaikan yang dilakukan oleh GMF AeroAsia untuk pesawat Perseroan.0 miliar di tahun 2009 dari Rp134. yang sebagian dikompensasi dengan peningkatan suku cadang menjadi Rp283.1 miliar di tahun 2009 dari Rp240.7% lebih menjadi Rp1. Beban Bandara Beban bandara mengalami peningkatan sebesar 8.2 miliar di tahun 2008. penjualan.1 miliar di tahun 2008 akibat naiknya jumlah penumpang dan ASK.4 miliar di tahun 2009 dari Rp377. Beban Pelayanan Penumpang Beban pelayanan penumpang mengalami peningkatan 24.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1.7% menjadi Rp1.1 miliar di tahun 2008 sebagai hasil dari penurunan layanan pemeliharaan dan perbaikan yang dilakukan oleh pihak ketiga terhadap pesawat milik Perseroan sesuai dengan jadwal pemeriksaan dan perawatan (C-check) terkait dengan peremajaan armada.6 miliar di tahun 2009 dari Rp125.7 miliar untuk tahun 2008 dan penurunan beban lainnya sebesar Rp56.0 miliar di tahun 2009 dari Rp547.8 miliar di tahun 2009 dari Rp54.075. e. f. yang disebabkan terutama oleh kenaikan pelayanan penumpang termasuk in-flight catering.6% menjadi Rp1.105.636. dimana kenaikan beban-beban sehubungan dengan kegiatan promosi menjadi Rp197.3% menjadi Rp1.7 miliar di tahun 2008 sebagai akibat dari penurunan pendapatan pelayanan penerbangan berjadwal dan peningkatan penjualan langsung Perseroan.6 miliar di tahun 2008 akibat peningkatan frekuensi penerbangan dan jumlah penumpang. yang dikompensasi dengan penurunan gaji dan tunjangan mejadi Rp132. akibat peningkatan jalur pemasaran melalui penjualan langsung.227. Beban Administrasi dan Umum Beban administrasi dan umum mengalami penurunan sebesar 0. hiburan dan executive lounge menjadi Rp753. peningkatan beban sewa bangunan dan kendaraan menjadi Rp54.3 miliar di tahun 2009 dari Rp41.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1.2 miliar di tahun 2008 sebagai hasil dari peningkatan gaji dan tunjangan untuk karyawan di bagian pemeliharaan dan perbaikan c. yang disebabkan terutama oleh peningkatan jumlah gaji dan tunjangan menjadi Rp304. dan Promosi Beban tiket.246. 50 .6 miliar di tahun 2008 akibat naiknya jumlah karyawan yang menangani pelayanan tiket.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1.9 miliar di tahun 2008.7 miliar di tahun 2009 dari Rp232.3 miliar untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008.9 miliar di tahun 2009 dari Rp756.9 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. Peningkatan beban ini dikompensasi dengan penurunan komisi menjadi Rp672. d. dan juga adanya peningkatan melalui penjualan langsung.2 miliar di tahun 2008 sebagai hasil dari naiknya tingkat tujuan penerbangan.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.250. Beban Pemeliharaan dan Perbaikan Beban pemeliharaan dan perbaikan mengalami penurunan sebesar 2. sebagai hasil dari peningkatan aktivitas brand awareness dan peningkatan beban sewa menjadi Rp64.107. dan penurunan dalam beban yang terkait dengan pelayanan pemesanan akibat penurunan biaya diikuti sebagai akibat dari pengambilalihan (takeover) ASYST d/h PT Lufthansa Systems Indonesia.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. yang disebabkan terutama oleh penurunan beban pemeliharaan dan perbaikan menjadi Rp455.9 miliar di tahun 2009 dari Rp1.378.3 miliar di tahun 2008 sebagai hasil dari penurunan jumlah karyawan di bandara. dimana penurunan jumlah pegawai telah dikompensasi dengan peningkatan gaji dan tunjangan. yang disebabkan terutama oleh kenaikan dalam pelayanan penerbangan dan pesawat terbang menjadi sebesar Rp1.6 miliar untuk tahun 2009 dari Rp97.5 miliar di tahun 2008 yang sebagian dikompensasi dengan kenaikan beban gaji dan tunjangan menjadi Rp652.1 miliar di tahun 2008.8 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.9% menjadi Rp1.8 miliar di tahun 2009 dari Rp535.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp104.

g.400 per Dolar Amerika Serikat per 31 Desember 2009 dari Rp10.1 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. 51 .5% menjadi Rp55.6 miliar di tahun 2009 dari Rp378. yang disebabkan terutama oleh peningkatan tingkat hunian dan jumlah tamu pada hotel yang saat ini dimiliki dan dikelola oleh Aerowisata dan anak perusahaan Aerowisata yaitu PT Mirtasari Hotel Development. dan penurunan beban lain-lain bersih Rp53.1 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.1 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp333.609. Pada saat Rupiah terapresiasi terhadap Dolar Amerika Serikat menjadi Rp9.2 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.5 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp44. dibandingkan dengan beban pajak Rp44. Beban Operasional Hotel Beban operasional hotel mengalami peningkatan sebesar 15. PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika. h.6% menjadi Rp95. Beban Imbalan Kerja Beban imbalan kerja mengalami kenaikan sebesar 32. Beban Operasional Transportasi Beban operasional transportasi mengalami peningkatan sebesar 13. Beban Penyusutan dan Amortisasi Beban penyusutan dan amortisasi meningkat sebesar 24.9 miliar di tahun 2009 atas pinjaman jatuh tempo ke PT Merpati Nusantara Airlines untuk jasa perawatan pesawat.1 miliar di tahun 2009 dalam kaitannya dengan program pensiun dini untuk mengurangi jumlah karyawan.353.3% menjadi Rp260.2 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp110.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp66.5% menjadi Rp51.2% menjadi Rp70.3 miliar di tahun 2008 yang berasal dari keuntungan penjualan kantor pusat di tahun 2008. Beban Operasional Jaringan Beban operasional jaringan mengalami peningkatan sebesar 6. yang disebabkan terutama oleh peningkatan beban penyusutan atas aset pemeliharaan mesin dan rangka pesawat dari armada Perseroan termasuk penambahan armada baru. Manfaat (Beban) Pajak Manfaat pajak penghasilan adalah sebesar Rp23. Laba (Rugi) Usaha Laba usaha mengalami penurunan 32. beban pesangon karyawan Rp203.2 miliar di tahun 2009 dari pendapatan lain-lain bersih Rp350.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.5 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. i. yang disebabkan terutama oleh peningkatan kontribusi program pensiun karyawan dan imbalan kerja jangka panjang lainnya yang dikompensasi penurunan jumlah karyawan.2% menjadi Rp1.1 miliar di tahun 2009 dari nihil di tahun 2008 akibat transaksi sale and lease back dimana ini dikompensasi dengan pencadangan beban piutang ragu-ragu sekitar Rp156.1% menjadi Rp918.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. akibat penurunan beban pajak kini karena adanya penurunan pendapatan sebelum pajak di tahun 2009 dan peningkatan pajak tangguhan di tahun 2009 yang disebabkan oleh perbedaan waktu antara perlakuan akuntansi dan pajak.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp1.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. yang disebabkan terutama kenaikan pendapatan terkait pelayanan teknologi informasi pada ASYST.295.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.950 per Dolar Amerika Serikat pada tanggal 31 Desember 2008 dan laba sale and lease back sebesar Rp65.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp197. k. dan penurunan pada beban bunga Rp262. yang disebabkan terutama oleh keuntungan translasi mata uang asing yang belum direalisasi di tahun 2009 terhadap kewajiban keuangan Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. j.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. Penghasilan (Beban) Lain-Lain Penghasilan (Beban) lain-lain mengalami penurunan sebesar 83. yang disebabkan terutama oleh penurunan transportasi darat yang dioperasikan oleh anak perusahaan Aerowisata yaitu PT Mandira Erajasa Wahana.0 miliar di tahun 2008 sebagai hasil dari rendahnya tingkat suku bunga atas pinjaman dengan bunga mengambang milik Perseroan.

47 sen per RPK dari USD7.4 juta di tahun 2008 dari 234.4 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.566 di tahun 2008 dari 235.049.2% menjadi Rp947. Perseroan memiliki pos luar biasa sebesar Rp123.018. Pendapatan penumpang meningkat 38.8 miliar dari Rp1.120.510.6% menjadi Rp2. Laba Bersih Laba bersih untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 meningkat 4.2 sen per kilometer di tahun 2007.8% menjadi Rp19.7 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp14. Pendapatan penerbangan haji meningkat menjadi Rp2. akibat jumlah penumpang meningkat menjadi 10.5% menjadi Rp1. beban hak minoritas sebesar Rp4.4 miliar di tahun 2007 seiring dengan peningkatan RFTK menjadi 275.4 sen per kilometer di tahun 2008 dari USD30. Pendapatan Usaha Pendapatan usaha meningkat 37.Pos Luar Biasa Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.4% di tahun 2007 akibat peningkatan Fuel surcharge untuk memperbaiki segmentasi harga dalam sistem manajemen pendapatan Perseroan. 52 .067.8% menjadi Rp15.605. dan pendapatan penerbangan charter meningkat menjadi Rp174.349.037 di tahun 2007.466.8 miliar di tahun 2008 dari Rp95.1 miliar tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.4% di tahun 2008 dari 77. Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. cargo load factor meningkat menjadi 43. Pendapatan kargo.6 miliar di tahun 2007 disebabkan oleh meningkatnya jumlah penerbangan charter dan harga sewa charter sebagai dampak dari kenaikan beban bahan bakar. dengan indikator meningkat RPK menjadi 15. Pendapatan kargo meningkat 18. pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal dan pendapatan lainnya. Pendapatan penumpang.0 juta di tahun 2007.180.4 miliar pada tahun berakhir 31 Desember 2007 sebagai akibat dari peningkatan penerbangan berjadwal.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.6 juta pada tahun 2007.042.6 miliar di tahun 2008 dari Rp801. Hak Minoritas Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.4 miliar seiring dengan kenaikan jumlah penumpang jemaah haji yang meningkat menjadi 259. Pendapatan Penerbangan Berjadwal Pendapatan penerbangan berjadwal meningkat sebesar 36. a. b. disebabkan oleh peningkatan permintaan domestik untuk jasa kargo.9% di tahun 2008 dari 41.95 sen per liter pada tahun 2008 dari USD56. termasuk kenaikan fuel surcharge dengan adanya peningkatan harga rata-rata bahan bakar pesawat menjadi USD85.68 sen per liter pada tahun 2007.6 miliar dari Rp975.0 miliar untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2008 dari Rp10.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp11.2 juta pada tahun 2008 dari 9. Kenaikan tersebut disebabkan oleh peningkatan pendapatan jasa penumpang dan kargo.4 juta di tahun 2007 dan passenger yield meningkat menjadi USD9.5 miliar yang merupakan hasil restrukturisasi di tahun 2009 dari hutang obligasi konversi yang diterbitkan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Penerbangan Tidak Berjadwal Pendapatan penerbangan tidak berjadwal meningkat sebesar 53.8 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.2% menjadi Rp14.3 miliar dibandingkan dengan Rp9.41 sen per RPK karena adanya peningkatan fuel surcharges.291.5 juta di tahun 2008 dari 14. yang sebagian dikompensasi dengan menurunnya passenger load factor menjadi 76.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp1.1% di tahun 2007 dan yield kargo meningkat menjadi USD37.

4 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp250.3 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.089. Peningkatan tersebut sebagian terkompensasi oleh penurunan suku cadang menjadi Rp240.1 miliar pada tahun 2008 dari Rp352. kenaikan pendapatan fasilitas menjadi Rp159.375 jam pada tahun 2007.95 sen per liter pada tahun 2008 dari USD56.1 miliar pada tahun 2007.785.2% menjadi Rp17. a.9 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.9% menjadi Rp9. Beban sewa dan charter pesawat terbang yang merupakan komponen beban operasional penerbangan meningkat 27.3% menjadi Rp550. Beban Pemeliharaan dan Perbaikan Beban pemeliharaan dan perbaikan meningkat sebesar 1.68 sen per liter pada tahun 2007.2% menjadi Rp1.6% menjadi Rp1. terutama disebabkan oleh peningkatan beban operasional penerbangan. terutama diakibatkan oleh peningkatan beban bahan bakar pesawat terbang.5 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp13. kenaikan pendapatan usaha hotel menjadi Rp122.0 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007 disebabkan oleh peningkatan pendapatan pemeliharaan dan perbaikan pesawat menjadi Rp589.035.780 di tahun 2007.310.4 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.948.2 miliar pada tahun 2008 dari Rp352.0 miliar pada tahun 2007 sebagai akibat berkurangnya jumlah karyawan GMF AeroAsia.c.2 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp251.9 miliar pada tahun 2007.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp1.1 miliar pada tahun 2008 dari 1. Peningkatan pada beban charter pesawat terbang menjadi Rp1. disebabkan oleh peningkatan pemeliharaan dan perbaikan menjadi Rp547.3 miliar pada tahun 2008 dari Rp734. Pendapatan Lain-lain Pendapatan lain-lain meningkat sebesar 27.8 miliar pada tahun 2008 dari Rp668. termasuk kenaikan komponen dasar gaji pilot.9 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007 sebagai akibat penurunan jasa boga kepada pihak ketiga oleh Aerowisata dan penurunan jasa transportasi menjadi Rp7. disebabkan oleh peningkatan jumlah pilot dan naiknya gaji dan tunjangan.1 miliar pada tahun 2008 dari Rp400. dan juga komponen variabel komponen pilot dihubungkan dengan jam terbang. Beban Sewa dan Charter Pesawat. Beban Gaji dan Tunjangan.569.504.6 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. satu Boeing B737-400.8 miliar pada tahun 2007.6 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp173.762.6 juta pada tahun 2007.3 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp113.5 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp38. dan penurunan pada gaji dan tunjangan Rp232.403.8 miliar pada tahun 2008 dari Rp368. dan peningkatan pada ASK menjadi 20. Beban bahan bakar pesawat terbang yang merupakan komponen dari beban operasional penerbangan meningkat 62.9 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp379.500 jam pada tahun 2008 dari 167.3% menjadi Rp7.1% menjadi Rp1. disebabkan oleh peningkatan yang signifikan pada beban rata-rata bahan bakar pesawat menjadi USD85. peningkatan jasa biro perjalanan menjadi Rp333.6 miliar pada tahun 2008 dari Rp4.414. Beban Operasional Penebangan Beban operasional penerbangan meningkat 52. b. terutama disebabkan oleh peningkatan beban sewa pesawat menjadi Rp749.0 miliar pada tahun 2007 yang disebabkan oleh berkurangnya pemakaian suku cadang terkait dengan jasa pelayanan pemeliharaan dan perbaikan yang disediakan oleh GMF AeroAsia untuk armada pesawat Perseroan.6 pada tahun 2007 sebagai hasil dari peningkatan jasa pelayanan pemeliharaan dan perbaikan yang disediakan oleh pihak ketiga untuk Perseroan. Beban Bahan Bakar. peningkatan pendapatan service penerbangan sebesar Rp213.966. Beban gaji dan tunjangan pilot yang merupakan komponen dari beban operasional penerbangan meningkat 49. 53 .9 miliar disebabkan oleh peningkatan harga sewa charter pesawat terbang dan jumlah tempat duduk yang ditawarkan terkait penerbangan haji menjadi 524.0 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 menjadi Rp78.0 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp6.6 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.8 miliar sebagai dampak peningkatan permintaan jasa pemeliharaan dan perbaikan pesawat kepada pihak ketiga oleh GMF AeroAsia.7 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. Beban Usaha Beban usaha meningkat 35.7 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.107. dan dua Boeing 737-800 yang masuk dalam armada Perseroan pada tahun 2008.8 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp1.310 di tahun 2008 dari 475.9 miliar pada tahun 2007 seiring dengan peningkatan sewa operasi dari tiga Boeing 737300.3 juta pada tahun 2008 dari 18.387. sementara block hour meningkat menjadi 182.6 miliar di tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007 sebagai akibat peningkatan penjualan tiket untuk pelayanan penerbangan berjadwal. Kenaikan tersebut dikompensasi sebagian dengan penurunan pendapatan jasa boga menjadi Rp231.

Penjualan dan Promosi Beban tiket. 54 . kenaikan beban sewa menjadi Rp104.1 miliar pada tahun 2008 dari Rp528. h.8 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp1.5% menjadi Rp1. peningkatan beban pajak menjadi Rp97.2 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. yang disebabkan oleh peningkatan gaji dan tunjangan menjadi Rp156. Beban Pelayanan Penumpang Beban pelayanan penumpang meningkat sebesar 10.8 miliar pada tahun 2007.3 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp880.6 miliar pada tahun 2008 dari Rp957. inflight entertainment dan executive lounge menjadi Rp600.2 miliar pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007.3% menjadi Rp1.9 miliar pada tahun 2007 dimana terjadi penurunan jumlah karyawan tetapi diikuti dengan kenaikan gaji dan tunjangan.2 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.107. Selain itu terdapat kenaikan pada beban promosi menjadi Rp125.105.6 miliar pada tahun 2007.1 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. f.6 miliar pada tahun 2008 dari Rp366. tanah.0 miliar di tahun 2007 sebagai akibat dari peningkatan frekuensi penerbangan dan jumlah penumpang. Gaji dan tunjangan untuk awak kabin juga meningkat menjadi Rp377. Beban Imbalan Kerja Beban imbalan kerja karyawan menurun 1. disebabkan oleh kenaikan pelayanan penumpang termasuk in-flight catering . peningkatan beban kesehatan menjadi Rp66.7 miliar pada tahun 2007 sebagai akibat dari membebankan hutang PPN keluaran untuk fuel surcharges. dan peningkatan gaji dan tunjangan menjadi Rp141.562.3 miliar pada tahun 2008 dari Rp115.3 miliar pada tahun 2008 dari Rp335.308.6 miliar pada tahun 2007 sebagai akibat dari peningkatan tujuan penerbangan.3 miliar pada tahun 2007. dimana pengurangan jumlah awak kabin telah dikompensasi dengan kenaikan gaji dan tunjangan.0% menjadi Rp1.9 miliar pada tahun 2007 karena adanya pengurangan jumlah karyawan dikurangi dikompensasi dengan peningkatan gaji dan tunjangan. e.6 miliar pada tahun 2007 sebagai hasil dari naiknya jumlah penumpang dan ASK dari tahun 2007 sampai tahun 2008. Beban Administrasi dan Umum Beban administrasi dan umum meningkat sebesar 42.120. penjualan dan promosi meningkat 21.4 miliar pada tahun 2007 dan peningkatan beban lain-lain menjadi Rp134. peningkatan komisi menjadi Rp756.9 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp1.2 miliar pada tahun 2008 dari Rp31. peningkatan sewa bangunan dan kendaraan menjadi Rp41.1% menjadi Rp1.7 miliar pada tahun 2008 dari Rp597.3 miliar pada tahun 2008 dari Rp43. Beban Penyusutan dan amortisasi Beban penyusutan dan amortisasi meningkat sebesar 24.3 miliar untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2008 dari Rp1.7 miliar pada tahun 2008 dari Rp367. dan bangunan yang dimiliki oleh Perseroan dimulai sejak 31 Desember 2008. d.250.1 miliar pada tahun 2007 yang merupakan hasil dari peningkatan brand awareness.2 miliar untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007. g.295. disebabkan oleh peningkatan pelayanan pesawat dan penerbangan menjadi Rp1.5 miliar pada tahun 2008 dari Rp65.9 miliar pada tahun 2008 dari Rp81.0 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp199. disebabkan oleh penurunan kontribusi program manfaat pensiun karyawan dan imbalan kerja jangka panjang lainnya.c.1 miliar pada tahun 2007 sebagai akibat dari peningkatan pendapatan dari penerbangan berjadwal.2 miliar pada tahun 2008 dari Rp72.0 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.7 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp1.6 miliar pada tahun 2008 dari Rp146. disebabkan oleh peningkatan penyusutan untuk perbaikan pada rangka dan mesin pesawat Perseroan dan dengan adanya penyusutan dan amortisasi atas nilai wajar pesawat. Beban Bandara Beban bandara meningkat sebesar 18. Beban Tiket. disebabkan oleh peningkatan pada gaji dan tunjangan menjadi Rp535.6 miliar sebagai akibat dari naiknya jumlah pegawai dan beban gaji dan tunjangan.1 miliar pada tahun 2001 dan peningkatan reservasi penerbangan menjadi Rp428.002.2% menjadi Rp1.286.7 miliar pada tahun 2008 dari Rp61.1% menjadi Rp197.045.

7% menjadi Rp66.419 untuk setiap 1 USD.9 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp422. Beban Operasional Hotel Beban operasional hotel meningkat sebesar 38.2 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp732. Beban Operasional Jaringan Beban operasional jaringan meningkat sebesar 12. disebabkan oleh peningkatan tingkat hunian dan jumlah tamu pada hotel yang dimiliki dan dikelola oleh Aerowisata dan anak perusahaan Aerowisata yaitu PT Mirtasari Hotel Development.0% menjadi Rp110. disebabkan oleh peningkatan manfaat pajak tangguhan pada tahun 2008 yang disebabkan oleh perbedaan waktu antara perlakuan akuntansi dan pajak dimana sebagian terkompensasi oleh beban pajak kini akibat peningkatan laba sebelum pajak di tahun 2008.4 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. dimana Rupiah terdepresiasi terhadap Dolar Amerika Serikat menjadi Rp10.2 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. Hak Minoritas Pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008.1 miliar dibandingkan dengan Rp11.i.1 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. Penghasilan (Beban) Lain–lain Penghasilan (Beban) lain-lain menurun 20.1% menjadi Rp44.9 miliar pada tahun 2008 dari Rp438. dimana telah terkompensasi dengan penurunan beban bunga menjadi Rp377.9 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. 55 .9% menjadi Rp333. Beban Operasional Transportasi Beban operasional transportasi meningkat 5. disebabkan oleh peningkatan pendapatan jasa teknologi informasi dari ASYST.6 miliar pada tahun 2008.6 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp32. e.7 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. laba usaha mengalami peningkatan 84.1 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp104. diakibatkan oleh peningkatan beban transportasi oleh PT Mandira Erajasa Wahana. PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika.353.950 untuk setiap 1 USD pada 31 Desember 2008 dari Rp9. Laba (Rugi) Usaha Sebagai hasil dari pendapatan dan beban usaha. beban hak minoritas mencapai Rp9.1 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. anak perusahaan Aerowisata .8% menjadi Rp44.5 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari sebesar Rp149.3 miliar pada tahun 2007 sebagai akibat dari rendahnya tingkat suku bunga untuk hutang dengan bunga mengambang dan penghasilan lain-lain dari keuntungan penjualan aset berupa gedung kantor pusat di Jakarta sebesar Rp385. disebabkan oleh peningkatan kerugian selisih kurs pada tahun 2008 terkait kewajiban keuangan Perseroan yang didominasi dalam Dolar Amerika Serikat.0 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. Manfaat (Beban) Pajak Beban pajak menurun sebesar 70. d.8% menjadi Rp1.1 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 menjadi Rp58.

9% menjadi Rp1. meningkat sebesar Rp83.722.0 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008 dari Rp152.601.8 miliar. Kas dan setara kas per 30 September 2010 berjumlah Rp1.626 miliar per 31 Desember 2008 sebagai akibat penurunan kas dan setara kas sebesar 33.3 miliar atau 33.000 16.9% menjadi Rp14.000 8.805.6 miliar dari Rp393. Aset Perseroan mengalami penurunan sebesar 3.5 miliar.9% yaitu menjadi Rp4. disebabkan oleh kenaikan aset tidak lancar.3% menjadi Rp14.213 miliar per 31 Desember 2009 terutama disebabkan oleh kenaikan kas dan setara kas dan piutang usaha pihak ketiga.000 14.0% menjadi Rp9. Aset tidak lancar meningkat sebesar 63.066 3. Penurunan ini disebabkan oleh tingginya Aktivitas Investasi dan pembayaran pinjaman jangka panjang. Kas dan setara kas per 31 Desember 2009 berjumlah Rp1.4% menjadi Rp4.802 miliar per 31 Desember 2009 dari Rp15.367 1.Laba Bersih Laba bersih meningkat 538.223 miliar per 30 September 2010 dari Rp14.625 14.0% menjadi Rp15.4% menjadi Rp975.901.7 miliar dengan adanya pembelian armada pesawat baru tipe Airbus A330. Kenaikan ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kas bersih dari Aktivitas Operasi.000 Sumber: Perseroan 2008 2009 30 Sep’09 Sep-09 30 Sep’10 Sep-10 Aset Aset Perseroan menurun sebesar 3. Boeing 777-300ER dan Boeing 737-800.529 miliar per 30 September 2010 dari Rp10.8 miliar.768 3.953 miliar per 31 Desember 2007. Kas dan Setara Kas.000 4.888 Kewajiban Ekuitas 14.694 miliar per 30 September 2010 dari Rp4.581 11.590 miliar per 31 Desember 2009 terutama disebabkan oleh penurunan aset tetap.304 miliar per 31 Desember 2008.223 Rp miliar 12.000 0 11.304 13. 56 .399 12.000 2. Kewajiban dan Ekuitas Grafik di bawah ini memberikan gambaran pertumbuhan Aset. Selain itu. Aset tidak lancar mengalami penurunan sebesar 10. juga adanya kenaikan uang muka pembelian pesawat yaitu sebesar 382.527 miliar per 31 Desember 2007 sebagai akibat dari peningkatan aset tetap dengan adanya revaluasi aset khususnya mesin pesawat.147 2007 -2.213 miliar per 31 Desember 2009 dari Rp4. tetapi dikompensasi oleh kenaikan dari aset lancar.3 miliar atau 4.677 miliar dari Rp6.802 14. menurun sebesar Rp879.953 Aset 15.214 1.722.304 miliar per 31 Desember 2008 dari Rp11.8% dari jumlah per 31 Desember 2009 Rp1.000 6.5 miliar . Pertumbuhan Aset. disebabkan oleh penurunan aset lancar 8. Kewajiban dan Ekuitas: 18. Aset lancar meningkat sebesar 11.8% dari jumlah per 31 Desember 2008 Rp2.182 11.7 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007.000 13. Aset Perseroan mengalami kenaikan sebesar 28. disebabkan oleh penurunan aset tidak lancar.802 miliar per 31 Desember 2009.6% menjadi Rp10.000 10.8%.

meningkat sebesar Rp358.8 miliar atau 52. meningkat sebesar Rp131.0 miliar.4% dari jumlah per 31 Desember 2007 Rp2. menurun sebesar Rp367.507. Dana Perawatan Pesawat dan Uang Jaminan per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp1.2 miliar. meningkat sebesar Rp1.8 miliar Kenaikan ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan aktivitas kegiatan usaha.6% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp780.581 miliar per 31 Desember 2009. Dana Perawatan Pesawat dan Uang Jaminan per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.7 miliar atau 8% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.2% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp643. Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka.7 miliar atau 39.8 miliar.1 miliar. menurun sebesar Rp254.9% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp393. meningkat sebesar Rp410.791. Peningkatan ini disebabkan oleh naiknya pembayaran uang muka pembelian pesawat.9 miliar.6% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1. Uang Muka Pembelian Pesawat per 31 Desember 2009 sebesar Rp1. Uang Muka Pembelian Pesawat per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.086.6 miliar atau 37. meningkat sebesar Rp234.6 miliar.6 miliar.773.901.8 miliar atau 28.5 miliar atau 42.641. Penurunan ini disebabkan oleh adanya peningkatan penerimaan tagihan dari pelanggan.4% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.066. sekaligus pengembalian uang muka pembelian pesawat. meningkat sebesar Rp79. Kenaikan ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan aktivitas kegiatan usaha. Kewajiban lancar mengalami penurunan sebesar 7. meningkat sebesar Rp110.5 miliar atau 5.8 miliar.191. meningkat sebesar Rp762.2% dari jumlah per 31 Desember 2008 Rp831. Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka 31 Desember 2009 sebesar Rp643. meningkat sebesar Rp245. Uang Muka Pembelian Pesawat. Peningkatan ini dipengaruhi oleh adanya penambahan jumlah pesawat yang dirawat.145. Penurunan ini disebabkan oleh pelaksanaan pembelian pesawat yang dipesan.7% menjadi Rp5. Piutang Usaha per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp1.1 miliar atau 17.8 miliar.8% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1. Piutang Usaha per 31 Desember 2009 berjumlah Rp1.8 miliar. 57 .791.028.5 miliar atau 23. Piutang Usaha.8 miliar atau 382.601.9 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh bersih dari tingginya Aktivitas Investasi dan pembayaran pinjaman jangka panjang. Dana Perawatan Pesawat dan Uang Jaminan per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.3 miliar. sekaligus pengembalian uang muka pembelian pesawat. Penurunan ini dipengaruhi oleh adanya penurunan uang muka perbaikan pesawat.7 miliar atau 38. meningkat sebesar Rp94.348 miliar per 31 Desember 2009 terutama disebabkan oleh penurunan hutang usaha dan bagian dari pinjaman jangka panjang tetapi dikompensasi oleh kenaikan pendapatan diterima dimuka. Kewajiban Kewajiban Perseroan menurun sebesar 4. Piutang Usaha per 31 Desember 2008 Rp831.1 miliar. Uang Muka Pembelian Pesawat per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp1.7 miliar. disebabkan oleh penurunan kewajiban lancar. Peningkatan ini dipengaruhi oleh adanya penambahan jumlah pesawat yang dirawat.0 miliar.8 miliar. Peningkatan ini dipengaruhi oleh adanya penambahan jumlah pesawat yang dirawat.1% dari jumlah per 31 Desember 2008 Rp548.5 miliar.857 miliar per 30 September 2010 dari Rp6.4% dari jumlah per 31 Desember 2007 Rp1.969.8 miliar.Kas dan setara kas per 31 Desember 2008 berjumlah Rp2.8% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1. Kenaikan ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan uang muka untuk sewa pesawat Airbus A330 yang dibiayai oleh Lloyd.6 miliar.066 miliar per 30 September 2010 dari Rp11. Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp888. Penurunan ini disebabkan oleh pelaksanaan pembelian pesawat yang dipesan.901.5% menjadi Rp11.066. Kenaikan ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan uang muka perbaikan pesawat.6 miliar.2 miliar. Dana Perawatan Pesawat dan Uang Jaminan.2 miliar atau 7.8 miliar atau 12.6 miliar.191. Uang Muka dan Biaya Dibayar Dimuka 31 Desember 2008 Rp548.641. meningkat sebesar Rp450.5% dari jumlah per 31 Desember 2008 Rp907.6 miliar.8 miliar.5 miliar.

Biaya Yang Masih Harus Dibayar per 30 September 2010 sebesar Rp1.5% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1. turun sebesar Rp802.0 miliar atau 0.9 miliar. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah penjualan tiket yang diterima yang belum diterbangkan.888 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dari Rp13.5 miliar.4 miliar.8 miliar.5% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.4 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan biaya administrasi dan umum. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan hutang bahan bakar kepada supplier.3% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp717. Kewajiban Perseroan mengalami kenaikan sebesar 5. Pinjaman Jangka Panjang Yang Jatuh Tempo Dalam Setahun Desember 2009 sebesar Rp1.266. Biaya Yang Masih Harus Dibayar per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.330 miliar sebagai akibat peningkatan kewajiban estimasi beban pengembalian dan pemeliharaan pesawat dan kewajiban pajak tangguhan.8 miliar.7% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.6 miliar atau 10.848.2 miliar atau 14.030. dan penurunan overhaul ke pihak ketiga.234 miliar akibat penurunan hutang sewa pembiayaan sebesar Rp1. Hutang Usaha. Biaya Yang Masih Harus Dibayar per per 31 Desember 2009 sebesar Rp1. Pinjaman Jangka Panjang Yang Jatuh Tempo Dalam Setahun per 30 September 2010 sebesar Rp255. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan biaya pemeliharaan dan perbaikan pesawat. penurunan hutang jasa ground handling di luar negeri.381 miliar dibandingkan di periode yang sama. dan penurunan biaya operasional penerbangan.379. Penurunan ini disebabkan oleh disebabkan oleh penurunan jumlah penjualan tiket yang diterima yang belum diterbangkan.8 miliar atau 13.8% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp2.4% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp1.7% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp1. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan jumlah penjualan tiket yang diterima yang belum diterbangkan. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan hutang bahan bakar kepada supplier. dan penurunan overhaul ke pihak ketiga.6 miliar atau 38.5. meningkat sebesar Rp1.9 miliar.7 miliar.285. Kewajiban tidak lancar meningkat sebesar 7. Hutang Usaha per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp816.4% menjadi Rp13.581 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 dari Rp13.825.3 miliar.436.379.1 miliar.7 miliar. Hutang Usaha per 31 Desember 2008 sebesar Rp2. Penurunan ini disebabkan oleh pembelian kembali FRN. disebabkan oleh penurunan kewajiban tidak lancar dan kewajiban lancar. Hutang Usaha per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.888 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. Pinjaman Jangka Panjang Yang Jatuh Tempo Dalam Setahun.182 miliar untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007.1 miliar atau 80. penurunan penggunaan spareparts.1% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.5% menjadi Rp6.Kewajiban Perseroan mengalami penurunan sebesar 16. Kewajiban tidak lancar mengalami penurunan sebesar 23.3 miliar. menurun sebesar Rp115.8 miliar atau 22.285.9% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp930 miliar. menurun sebesar Rp150. menurun sebesar Rp450.6 miliar.1 miliar. peningkatan pemeliharaan dan perbaikan pesawat.0 miliar atau 227.3 miliar. menurun sebesar Rp1.176. meningkat sebesar Rp1. disebabkan oleh kenaikan kewajiban tidak lancar.3 miliar atau 35. meningkat sebesar Rp243. Pendapatan Diterima Dimuka per 30 September 2010 sebesar Rp1.493.266.803 miliar dari Rp6.1% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.3 miliar.378. Penurunan ini disebabkan oleh pembelian kembali FRN.4 miliar atau 7.069. dan penurunan biaya operasional penerbangan. Pendapatan Diterima Dimuka per 31 Desember 2008 sebesar Rp717.284. menurun sebesar Rp212.6 miliar. Pendapatan Diterima Dimuka per 31 Desember 2009 sebesar Rp564. menurun sebesar Rp203.1% menjadi Rp5.069. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan pemakaian biaya bahan bakar kepada supplier.5% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp564. penurunan hutang jasa ground handling di luar negeri.378.0 miliar. 58 . Biaya Yang Masih Harus Dibayar. menurun sebesar Rp152.4 miliar.6% menjadi Rp11.7 miliar atau 21. penurunan penggunaan spareparts.3 miliar.

7 miliar. Kewajiban Imbalan Pasca Kerja per 30 September 2010 sebesar Rp1.8 miliar atau 30. meningkat sebesar Rp128.039. 6. Peningkatan ini disebabkan oleh akumulasi tahun berjalan atas Imbalan Pasca Kerja Ekuitas Ekuitas per 30 September 2010 berjumlah sebesar Rp3. 2008.9% dari jumlah per 31 Desember 2007 yang merupakan defisiensi modal sebesar Rp1. 59 .3 miliar atau 3.1 miliar.Pinjaman Jangka Panjang Yang Jatuh Tempo Dalam Setahun per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.436.366.4 miliar yang merupakan konversi MCB Mandiri. Penurunan ini disebabkan oleh pembayaran hutang kepada ECA.1%).7 miliar.5% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp1.3% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp5.1% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp3.3 miliar.257.3 miliar atau 207.578.638.3 miliar atau 11.3%. meningkat sebesar Rp1.7 miliar atau 5. meningkat sebesar Rp2.214.9 miliar atau 24. Hutang Jangka Panjang 31 Desember 2008 sebesar Rp5.2 miliar atau 14.7%. Peningkatan ini disebabkan oleh akumulasi tahun berjalan atas Imbalan Pasca Kerja Kewajiban Imbalan Pasca Kerja 31 Desember 2009 sebesar Rp1.257. 31.6 miliar. Ekuitas per 31 Desember 2009 sebesar Rp3. dan 2007 adalah sebesar 6. Peningkatan ini disebabkan oleh akumulasi tahun berjalan atas Imbalan Pasca Kerja Kewajiban Imbalan Pasca Kerja per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.6 miliar.129.2% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.0 miliar.9% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp4.129. Penurunan ini disebabkan oleh pembayaran pinjaman jangka panjang.638.3 miliar atau 2.6% dari jumlah per 31 Desember 2007 sebesar Rp1. meningkat sebesar Rp1.435.1 miliar. dan 2007 adalah sebesar 1.6 miliar.5 miliar. Penurunan ini disebabkan penurunan Surplus revaluasi menjadi Rp1.266. meningkat sebesar Rp12.650.5 miliar per 31 Desember 2009. Ekuitas per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.2% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1.9%.515. 2008.216.847. 71. sebesar 6. Kewajiban Imbalan Pasca Kerja.8 miliar.2%.216.4%. dan (12.176.4%.5 miliar atau 135.214.5 miliar. meningkat sebesar Rp178.146. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan pinjaman jangka panjang. menurun sebesar Rp53. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan pinjaman jangka panjang.070. menurun sebesar Rp1.0 miliar. yang dihitung dari perbandingan antara laba bersih dengan total ekuitas. dan 1. ROA untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2009.4% dari jumlah per 31 Desember 2008 sebesar Rp1. Hutang Jangka Panjang 31 Desember 2009 sebesar Rp3.216.6 miliar. Peningkatan ini disebabkan oleh keuntungan usaha Perseroan dan adanya dana setoran modal dari Pemerintah sebesar Rp500 miliar.366.008.633.7 miliar per 30 September 2010 dari sebelumnya sebesar Rp1. Hutang Jangka Panjang per 30 September 2010 sebesar Rp3. yang dihitung dari perbandingan antara laba bersih dengan total aset. Imbal Hasil Aset Imbal hasil aset (ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan aset produktif Perseroan untuk menghasilkan laba usaha. menurun sebesar Rp67. Imbal Hasil Ekuitas Imbal hasil Ekuitas (ROE) digunakan untuk mengukur kemampuan ekuitas Perseroan di dalam meraih laba. Peningkatan ini disebabkan oleh adanya tambahan modal disetor sebesar Rp1.7 miliar. ROE untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2009. meningkat sebesar Rp58. Hutang Jangka Panjang.2 miliar.5 miliar atau 0.9 miliar.3% dari jumlah per 31 Desember 2009 sebesar Rp3.2 miliar.489.8 miliar.5 miliar.4%.

803.683 14. Berikut adalah tabel tingkat likuiditas konsolidasi Perseroan dan Anak Perusahaan per 31 Desember 2007. 2008.937. ROE Perseroan pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 83.182. Penurunan ROE dari tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008 disebabkan oleh peningkatan modal disetor yang berasal dari konversi obligasi konversi.802.565 65.694.212.3% Uraian Jumlah Kewajiban Jumlah Aset Solvabilitas Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 30 September 2010 2009*) 11.3% 79. Tingkat likuiditas diukur dengan membandingkan aset lancar dengan kewajiban lancar.7% 110.2% 60 .679 80. 2009 dan 30 September 2009 dan 2010: (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 4.852.581.425.ROE Perseroan pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 40.297 13.887.2% Uraian Aset Lancar Kewajiban Lancar Likuiditas Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 30 September 2010 2009*) 4.729 6.399.1% 57.633 90.856.7% 2009 4.626.529 6.219.423 78.4% Solvabilitas Rasio solvabilitas mencerminkan kemampuan Perseroan di dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dan jangka panjangnya.222.526 5.799 12. yang dapat dihitung dari perbandingan antara jumlah kewajiban dengan jumlah aset.429 13.085. 2009 dan 30 September 2009 dan 2010: (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 13.429 77.7% 2009 11.193 7.445 5.154 6.038 3.588. Likuiditas Tingkat likuiditas mencerminkan kemampuan Perseroan di dalam memenuhi kewajiban lancarnya. Berikut adalah tabel tingkat solvabilitas Perseroan dan Anak Perusahaan per 31 Desember 2007. 2008.400 14.065.8% 87.4% dibandingkan dengan tahun 2007.290 14.347.678 66.625. Kenaikan ROE pada tahun 2008 jika dibandingkan dengan tahun 2007 disebabkan oleh peningkatan pendapatan Perseroan seiring dengan penambahan produksi dan kenaikan passenger yield.851 13.0% dibandingkan dengan tahun 2008. terutama yang diperoleh dari arus kas aktivitas operasi Perseroan pada suatu tanggal tertentu.

1 35.3) (69.8 Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 61 .6 5.5) 1.6) (188.049.902.4) 1.6 14.553.0 (962.3 (12.1) (0.8 169.369.2 35.564.6) 1.2 (213.1) 22. Laporan Arus Kas Konsolidasian (dalam miliar Rupiah) Uraian ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Penerimaan kas dari pelanggan Pengeluaran kas kepada pemasok Pengeluaran kas kepada karyawan Kas dihasilkan dari operasi Pembayaran bunga dan beban keuangan Pembayaran pajak penghasilan Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Operasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Penerimaan bunga Penerimaan dividen Hasil penjualan aset tetap Hasil penjualan properti investasi Penerimaan lain-lain dari penjualan tanah dan bangunan Penerimaan pengembalian uang muka pembelian pesawat Penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat Penerimaan uang jaminan Pengeluaran untuk dana pemeliharaan pesawat Uang muka pembelian pesawat Uang muka perolehan aset tetap Pengeluaran untuk perolehan aset pemeliharaan pesawat Pengeluaran untuk perolehan aset tetap Pembayaran uang jaminan Pengeluaran untuk perolehan investasi Pembayaran lainnya dari aktivitas investasi Penerimaan lainnya dari aktivitas investasi Penempatan deposito berjangka Pencairan deposito berjangka Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Penerimaan pinjaman jangka panjang Penerimaan hutang jangka pendek Penerimaan dana setoran modal Pembayaran pinjaman jangka panjang Pembayaran pinjaman jangka pendek Pembayaran dividen ke pemegang saham minoritas Kenaikan kas yang dibatasi penggunaannya Pembayaran untuk aktivitas pendanaan lainnya Kas Bersih Diperoleh Dari (Digunakan untuk) Aktivitas Pendanaan KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009* 14.937.8 7.0 (507.058.0 (29.1 30.6) 1.3) (626.0) (317.563.5) (320.6 (10.2 214.370.7) 0.014.3 (570.1) (40.231.4) 81.5 20.766.007.7 18.1) (2.1) 36. dalam hal untuk membiayai kebutuhan belanja modal.651.7) 55.735.0 2007 14.8 (10.3 116.3 45.9) (258. Saat ini.5 103.8 (1.7) (379.0) (439.030.6) 3.7 1.5 (8.6 8.9 12.6 (751.2 1.3) (0.8) (73.4) 653.0) (487.2) (57.6 (153.2) (197.9 (15.2) (3.6) (7.2) (377.6) 97.402.3) (601.5 (112.9 269.900.3) (2.8) (145.5) (0.8) (822.822.3) (799.3 11.8) (94.4) 2.4) (1.590.1 124.6 (1.7 204.030.7.000.1 176.2 (596.9) (64.3) (687.703.2 (1. serta perdagangan normal dengan pemasok Perseroan.410.0 28.9 (335.192.9 (733.3) (99.0 (630.5) 1.8 (141.7) (1.1 208.9) (55.1) 56.1) (327.9) 1.0) 1.7 5.5 94.025. Likuiditas dan Sumber Modal Sumber penggunaan kas yang paling utama adalah untuk membiayai kegiatan usaha Perseroan.518.5) (809.8 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 17. Perseroan bergantung pada kas yang dihasilkan dari kegiatan usaha.5 (14.0 9.8 2008 18.8) (1.0) (177.1 447.215.2) (324.4) (134.554.1) 876.6) (0.0) (503.5) (192.5) (22.5) (138.7 (105. Sumber likuiditas utama Perseroan adalah kas yang dihasilkan dari kegiatan operasi dan fasilitas pendanaan dari pihak ketiga.3) (1.0) (16.8 212.7) (90.8 (89.8) (108.837.0 45.9) 1.2) (56.739.0) (5.4 188.3 247.1) (15.5) (1.2) 1.6) 0.0) 101.0) (191.6) 255.7) 47.7 10.095.8 (210.8) 11.6) (1.6 16.415.9) (1.8) (117.

590 miliar. arus kas diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp1. Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007. dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp213 miliar untuk hasil penjualan aset tetap. Pada tahun yang berakhir 31 Desember 2009. dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp448 miliar dari penerimaan pengembalian uang muka pembelian pesawat terbang. terutama terdiri dari Rp734 miliar untuk pembayaran pinjaman jangka panjang dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp48 miliar dari penerimaan pinjaman jangka panjang.519 miliar.370 miliar. Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Pendanaan Untuk sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010.215 miliar. Rp1. Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Investasi Untuk sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010. terutama berasal dari penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp17.370 miliar dan Rp2.031 miliar. Rp377 miliar untuk pembayaran uang jaminan. Pada tahun yang berakhir 31 Desember 2008. dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp209 miliar dari penerimaan pinjaman jangka pendek dan Rp56 miliar dari penerimaan pinjaman jangka panjang. Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2008. Rp191 miliar untuk uang muka perolehan aset. Rp100 miliar untuk pembayaran hutang jangka pendek.030 miliar untuk pengeluaran untuk dana pemeliharaan pesawat terbang. Rp117 miliar untuk pengeluaran perolehan aset tetap. Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2008. Pada tahun yang berakhir 31 Desember 2007. arus kas diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp1.736 miliar. dimana sebagian telah dikompensasi dengan pembayaran kas pada pemasok dan pegawai sebesar Rp12.059 miliar. arus kas dari aktivitas operasi sebesar Rp1. dimana sebagian telah dikompensasi dengan pembayaran kas pada pemasok dan pegawai sebesar Rp10.908 miliar dan Rp1.095 miliar.563 miliar dan Rp1. Rp321 miliar untuk uang muka perolehan aset. Pada tahun yang berakhir pada 30 Desember 2009.232 miliar untuk uang muka pembelian pesawat terbang komitmen pembelian armada pesawat berdasarkan perjanjian pembelian dengan Boeing 737-800 dan Airbus A330-200. arus kas digunakan dari aktivitas investasi sebesar Rp507 miliar.410 miliar. Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2009.402 miliar. Rp335 miliar untuk pengeluaran dana pemeliharaan pesawat terbang sesuai dengan perjanjian sewa operasi untuk Boeing 737. Rp178 untuk pengeluaran perolehan aset tetap. terutama terdiri dari pembayaran pokok dari hutang jangka panjang yang telah direstrukturisasi. Rp169 miliar untuk penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat dan Rp102 miliar untuk penerimaan bunga dari deposito. dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp214 miliar untuk hasil penjualan aset tetap.822 miliar. terutama berasal dari Rp809 miliar untuk uang muka pembelian pesawat terbang komitmen pembelian armada pesawat berdasarkan perjanjian pembelian dengan Boeing. Rp317 miliar untuk pengeluaran perolehan aset tetap. dan Rp117 miliar untuk penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat terbang.015 miliar dari penerimaan pengembalian uang muka pembelian pesawat. dimana sebagian telah dikompensasi dengan pembayaran kas pada pemasok dan pegawai sebesar Rp14.766 miliar. terutama berasal dari Rp503 miliar untuk perolehan aset pemeliharaan pesawat. dimana sebagian telah dikompensasi dengan Rp1.554 miliar dan Rp2. 62 . dimana sebagian telah dikompensasi dengan pembayaran kas pada pemasok dan pegawai sebesar Rp10. arus kas digunakan dari aktivitas pendanaan sebesar Rp799 miliar. arus kas digunakan dari aktivitas investasi sebesar Rp1. terutama terdiri dari Rp751 miliar untuk pembayaran hutang jangka panjang. dan Rp204 miliar dari penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat terbang. Rp138 miliar untuk pembayaran uang jaminan. Rp188 miliar untuk uang muka pembelian pesawat. terutama berasal dari Rp327 miliar untuk uang muka pembelian pesawat terbang. terutama berasal dari penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp18. arus kas digunakan dari aktivitas pendanaan sebesar Rp687 miliar. terutama berasal dari penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp14. terutama berasal dari penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp14. Rp198 miliar untuk pengeluaran perolehan aset pemeliharaan pesawat. Rp146 miliar untuk pembayaran uang jaminan. arus kas diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp1. dan Rp269 miliar dari penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat terbang. terutama berasal dari Rp1. Rp630 miliar untuk pengeluaran untuk dana pemeliharaan pesawat terbang.903 miliar. arus kas digunakan dari aktivitas investasi sebesar Rp571 miliar. arus kas digunakan untuk aktivitas investasi sebesar Rp1. arus kas digunakan dari aktivitas pendanaan sebesar Rp602 miliar.Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Operasi Untuk sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010.837 miliar.

arus kas diperoleh dari aktivitas pendanaan sebesar Rp1.8 638.0 Tahun yang berakhir 31 Desember 2009 320.9 miliar untuk tahun yang bersangkutan. berdasarkan pada kebutuhan modal Perseroan. Perseroan dapat menyesuaikan rencana belanja modal berdasarkan hasil usaha di masa yang akan datang. pendapatan ditangguhkan untuk penerbangan berjadwal dan haji dan pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun dan hutang sewa guna usaha yang dikeluarkan untuk pengembangan armada pesawat. Perseroan dimungkinkan akan menambah hutang untuk membiayai seluruh atau sebagian dari belanja modal yang direncanakan.1 90.5 2007 40.5 368.8 45. 9. Perseroan berencana untuk mendanai belanja modal tersebut melalui arus kas operasi dan pembiayaan hutang. Modal Kerja Karena sifat bisnis Perseroan. arus kas dan kondisi keuangan secara keseluruhan.2 7. Perseroan berencana untuk mengalokasikan pembiayaan pengadaan pesawat pada sebagian besar belanja modal untuk membeli pesawat / armada baru.007. 2009 dan sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010: (dalam miliar Rupiah) Keterangan Periode sembilan bulan yang berakhir 2010 Peralatan Penerbangan Rangka Pesawat Mesin Simulator Ground property dan Peralatan Furnitur dan Perabot Kantor Teknologi Informasi Tanah dan Bangunan Sub Total Aset pemeliharaan pesawat Total Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 191.9 729.5 42.0 miliar. 69 tahun 2007 tentang persetujuan peningkatan modal Pemerintah pada Perseroan.9 2008 22. 46 tahun 2006 dan Peraturan Pemerintah No. 2008.8 miliar.369.0 108. Perseroan memiliki arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp1.3 22. Bagian dari pengembalian pinjaman dan hutang sewa guna usaha yang jatuh tempo dalam 12 bulan berikutnya dari tanggal neraca disajikan sebagai kewajiban lancar pada neraca Perseroan.0 miliar.0 8.0 51.410.5 31.0 384.427.7 16. yang seharusnya dapat mengurangi total belanja modal.135.215. Pada tanggal 31 Desember 2007.3 29.4 2.795. kondisi pasar dan faktor lainnya.3 miliar dan pendapatan diterima di muka dari operasi penerbangan berjadwal dan haji sebesar Rp902 miliar.1 miliar dan Rp1. Rp1.7 miliar. akan menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan belanja modal yang diantisipasi dan pembayaran kewajiban lainnya untuk 12 bulan ke depan. dan Rp1.1 22. kewajiban lancar Perseroan saat ini umumnya akan melebihi aset lancar.1 68. Pada tahun-tahun yang berakhir pada 2007.1 52. Rp1.162.0 96.4 miliar. serta pertimbangan seperti biaya pendanaan.458.8 337. terutama berasal dari penerimaan dana setoran modal sebesar Rp1.7 miliar.9 Pada tanggal 30 September 2010.0 1. 2008 dan 2009 dan sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010.8 72. 2009 dan September 2010.7 2009 *) 379. kewajiban lancar Perseroan melebihi aset lancar sebesar Rp1.7 miliar.4 60.0 24.2 79.1 miliar. 8.9 503.8 638. Perseroan berkeyakinan memiliki modal kerja yang cukup untuk kebutuhan Perseroan saat ini dan bahwa kas bersih yang dihasilkan dari aktivitas operasi.000 miliar yang berdasarkan pada Peraturan Pemerintah No. Rp2.8 22. 2008.Pada tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007. kondisi 63 . Ke depannya. tidak termasuk komitmen pembelian armada pesawat berdasarkan perjanjian pembelian dengan Boeing. bersama dengan kas dan setara kas.0 548.7 72. Rp689 miliar. Perseroan dapat melakukan pendanaan tambahan melalui hutang atau ekuitas atau penjualan lain atas saham atau aset Perseroan.7 197. Kewajiban lancar ini terutama berasal dari beban yang belum diakui.4 42. realisasi belanja modal yang sudah dikeluarkan oleh Perseroan sebesar Rp384.7 1. Tabel berikut menggambarkan belanja modal untuk akhir tahun 2007. uang muka kepada Boeing terkait komitmen pembelian Boeing 777 dan/ atau pembayaran kewajiban lainnya atau tujuan lainnya.9 65.1 139.0 745.5 miliar. Belanja Modal Sebagian besar dari belanja modal Perseroan secara historis terkait dengan pembelian pesawat.767. dan Rp1. Rp2. Rp524. Selain itu. dimana kemudian Perseroan akan mengkonversi menjadi perjanjian sewa operasi atau sewa pembiayaan.

9 35.6 16.5 9.6 Rp miliar Ekuivalen Rp miliar Ekuivalen Rp miliar Ekuivalen Rp miliar Ekuivalen Rp miliar USD USD USD USD Hutang bank dan hutang lain jangka pendek Hutang bank dan hutang lain jangka panjang Kewajiban sewa pembiayaan Komitmen sewa operasi Komitmen Pembelian Pesawat Total 207.8 575.027. termasuk yang berikut: 64 .6 2.060.3 255.3 1.0 4.7 433.2 55.6 79.9 Uraian Peralatan Penerbangan Rangka Pesawat Pengembangan Aset Sewa Mesin Rotable Simulator Ground property dan Peralatan Furnitur dan Perabot Kantor Teknologi Informasi Bangunan Tanah dan lainnya Sub Total Aset pemeliharaan pesawat Total 10. Perseroan mengumumkan penundaan pembayaran pokok terkait beberapa hutang yang masih terhutang. perekonomian Indonesia dan industri penerbangan secara umum.1 111. ketersediaan pemasok atau pembiayaan lainnya dengan syarat yang dapat diterima oleh Perseroan.6 711.2 577.0 60.809.933.7 7.6 207.329. Perseroan tidak memasukkan ke dalam tabel di atas beberapa bank garansi yang dikeluarkan atas nama Perseroan.3 16.7 226. serta kreditur Perseroan.741.2 130.1 95.1 638.944. Sebagai hasilnya.6 6.3 3.840.2 236.6 340.1 2.9 4.5 123. Pengeluaran Perseroan yang sebenarnya untuk periode ini mungkin berbeda dari jumlah yang tercantum di atas.715.3 5.5 206. Seluruh kewajiban dan komitmen Perseroan pada 30 September 2010 telah disajikan dalam Laporan Keuangan Perseroan.0 13.8 8.9 1. yang sebelumnya telah direstrukturisasi pada tahun 2001.4 11.3 44.6 1.3 72.9 241.150.1 55.5 32.6 64.9 897.2 237.6 853. Tabel berikut merangkum rencana belanja modal Perseroan untuk periode berikut ini: (dalam miliar Rupiah) 31 Desember 2010 2011 2012 636.1 14.972. Restrukturisasi Hutang Pada tahun 2005.630.0 395.6 1.6 557.5 71.6 285.2 1.6 660.2 270.2 28.0 106.386.144.7 559.3 23.674.2 1.017.9 191.460. 11.8 128.0 74.1 368.0 1. Perseroan tidak memiliki perjanjian atau kewajiban yang tidak dibukukan dalam neraca.2 288.2 528.998.019.1 1.8 1.1 453.6 12.6 34.0 850.9 1. perubahan rencana bisnis dan strategi dan perubahan nilai tukar antara Dolar Amerika Serikat dan Rupiah.6 78.2 4.865.2 65.2 Perseroan telah memasukkan komitmen modal ke dalam tabel kewajiban dan komitmen dalam prospektus sebesar kewajiban Perseroan untuk membayar kepada pemasok terkait pesanan yang sudah dikeluarkan.3 1. Perseroan mengadakan berbagai perjanjian dengan beberapa kreditur dan debitur untuk melakukan restrukturisasi hutang yang masih terhutang dan kewajiban tetap.2 206.5 259.pasar keuangan.051. namun belum diselesaikan.564.575.6 1.045.590. teknis atau masalah lain dalam memperoleh atau memasang peralatan.8 305.4 743.3 589.1 37.341. Perjanjian yang Tidak Dibukukan dalam Neraca (Off-Balance Sheet) Pada tanggal 30 September 2010.4 24.167.7 11.0 38.4 947. Belanja modal Perseroan pada umumnya dibatasi dengan adanya persetujuan yang diperlukan dari Pemerintah Indonesia dan DJPU.6 2.5 343. Kewajiban kontrak dan komitmen Tabel berikut merangkum pembayaran kewajiban dan komitmen Perseroan pada 30 September 2010: Kewajiban Kontraktual Kurang dari 1 tahun Jatuh tempo berdasarkan periode 1-3 tahun 4-5 tahun Lebih dari 5 tahun Total Ekuivalen USD 23.578.

USD106. Pada bulan Mei 2009. Pada bulan Desember 2005.8 miliar jumlah pokok obligasi subordinasi konversi (“Obligasi Konversi”) Bank Mandiri. “Kreditur ECA “) dan beberapa bank umum (“Kreditur Komersial”). dan sisa konversi sebesar 95% jumlah pokok hutang menjadi saham biasa Perseroan (yang mewakili sekitar 10. Beban restrukturisasi sebesar USD350.E Sumatera. Perseroan merestrukturisasi Obligasi Konversi yang dimiliki oleh Bank Mandiri dengan membayar pokok yang setara dengan lima persen dari jumlah pokok Obligasi Konversi dengan nilai sebesar Rp50. yaitu G.900.6 juta dalam jumlah pokok terhutang transaksi sewa pembiayaan tertentu yang berkaitan dengan akuisisi enam pesawat A330-300 yang sebagian dijamin oleh lembaga kredit ekspor dari Perancis. Ketentuan dalam Pinjaman ECA termasuk beberapa kewajiban termasuk ikatan perjanjian keuangan yang membatasi (i) rasio EBITDAR dibagi dengan nilai pokok berjalan ditambah bunga berjalan ditambah beban sewa pesawat tidak lebih dari 1.61% dari modal saham yang beredar dengan dasar dilusi pada tanggal konversi). Perseroan memberitahukan Kreditur ECA dan Kreditur Komersial maksud Perseroan untuk menunda pembayaran pokok yang jatuh tempo sesuai dengan kewajiban hutang Perseroan yang lain karena keadaan keuangan Perseroan. PT Angkasa Pura I (“AP I”) dan PT Angkasa Pura II (“AP II”).3 (ii) Ratio total hutang ditambah 8 (delapan) dikali dengan beban sewa berjalan dibagi dengan EBITDA tidak lebih dari 5. untuk menyesuaikan suku bunga terhutang dan memperpanjang jatuh tempo setiap pinjaman sampai dengan 31 Desember 2010 dengan jaminan USD100 juta irrevocable standby letter of credit yang diterbitkan oleh Bank Mandiri.75% dan Perseroan diharuskan untuk melakukan pembayaran pokok setiap enam bulan sekali per pesawat sampai dengan berakhirnya Pinjaman Komersial pada 2016. Perseroan menyetujui untuk membeli sembilan pesawat Airbus A330. Jerman dan Inggris (masing-masing merupakan “ECA” dan.• USD501. Pinjaman ECA 65 . Pada tahun 2001.9 miliar. • • • • Pada bulan Desember 2009 Perseroan mengadakan perjanjian dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Hutang tersebut dijamin dengan hipotik atas pesawat. Perseroan menyetujui dan menandatangani dokumentasi restrukturisasi hutang Perseroan yang belum dibayarkan kepada Kreditur ECA dan Kreditur Komersial.000 dibayarkan pada bulan Desember 2010. Perseroan memformulasikan dan menyetujui pengaturan interim sehubungan dengan Pinjaman ECA didasarkan pada kondisi dimana Perseroan telah melakukan pembayaran pokok dan bunga sejak Januari 2008. dan Rp1. Sehubungan dengan perjanjian tersebut. Pada tanggal 21 Desember 2010.0. Berdasarkan ketentuan restrukturisasi 2010. jumlah saldo hutang Perseroan pada Pinjaman ECA sebesar USD193. setelah penyelesaian restrukturisasi hutang.I. yaitu efektif dari restrukturisasi. untuk mengubah dan menyatakan kembali Obligasi Konversi yang ada. Enam pesawat tersebut telah dikirimkan antara Desember 1996 dan April 1997 dan telah dibiayai dengan bantuan pinjaman dari Kreditur ECA (pinjaman tersebut disebut “Pinjaman ECA”) dan Kreditur Komersial (pinjaman tersebut disebut “Pinjaman Komersial”) melalui dua perusahaan khusus yang didirikan di Perancis. pengalihan hak atas pembayaran sewa dan pendapatan hasil klaim asuransi. Rp60 miliar berdasarkan fasilitas pinjaman sindikasi dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.5% dari total pendapatan usaha. dimana masing-masing merupakan Perseroan yang terafiliasi dengan Pemerintah Indonesia.E Sulawesi dan G.018. jumlah saldo hutang Perseroan pada Pinjaman Komersial sebesar USD95. Berdasarkan ketentuan. Pada tanggal 30 September 2010.5 miliar dalam jumlah pokok hutang dolar Amerika Serikat Floating Rate Notes dan Rupiah Floating Rate Notes yang jatuh tempo pada tahun 2007 (“FRN”).I. dan setuju untuk terus melakukan pembayaran ini untuk periode tersebut hingga pelaksanaan dokumentasi definitif untuk merestrukturisasi kewajiban-kewajiban sesuai dengan restrukturisasi. saldo hutang Perseroan antara lain adalah : Pinjaman Export Credit Agency dan Pinjaman Komersial Pada Nopember 1989. USD115.4 juta. Perseroan merestrukturisasi Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial. Perseroan menyetujui untuk melakukan pembayaran pokok hutang selama enam bulanan untuk Pinjaman ECA dan pembayaran pokok hutang pada saat jatuh tempo untuk Pinjaman Komersial. Kewajiban ini telah dilunasi pada bulan Oktober 2009.7 juta dan Rp146. (“Bank Mandiri”) dan bank lain tertentu. bunga yang akan dikenakan atas Pinjaman Komersial adalah sebesar LIBOR ditambah 1. Pada tanggal 21 Desember 2010. yang telah mengakuisisi pesawat Airbus A330 tersebut dan telah menyewakan pesawat tersebut kepada Perseroan melalui kombinasi antara financial lease dan struktur ‘sewa leverage Jepang’. bunga yang akan dikenakan atas Pinjaman ECA adalah sebesar LIBOR ditambah 0.1 juta.95% dan Perseroan diharuskan untuk melakukan pembayaran pokok setiap enam bulan sekali per pesawat sampai dengan berakhirnya Pinjaman ECA pada tanggal 31 Desember 2016. (iii) maksimum pengeluaran modal tidak lebih dari 2. Pada tanggal 30 September 2010.9 juta secara keseluruhan hutang usaha yang masih terhutang kepada Pertamina.

setelah dikurangi dengan jumlah yang dicadangkan untuk modal kerja.726.0 71. saham. pengambilalihan aset.75% 6 bulan LIBOR + 1. Perseroan tidak diharuskan untuk mengakumulasi beban cadangan perawatan untuk mesin karena mesin dijamin dalam perjanjian total care package dengan Rolls Royce.meliputi ketentuan-ketentuan lainnya yang membatasi kemampuan Perseroan untuk mengambil tindakan-tindakan dan membatasi fleksibilitas Perseroan dalam melaksanakan kegiatan bisnis Perseroan. pengeluaran modal.75% 3 bulan tingkat SBI + 0. pembatasan-pembatasan pada pembebanan hutang.5% . pembayaran dividen kepada pemegang saham Perseroan dan meningkatkan modal tambahan. Kreditur ECA dan Kreditur Komersial juga berhak atas pra-pembayaran atas jumlah pokok yang masih terhutang berdasarkan laporan neraca kas Perseroan (termasuk 30% dari hasil penyetoran modal yang diterima Perseroan baik langsung maupun tidak langsung. 66 .90% 6 bulan LIBOR + 1. Risiko Nilai Tukar Eksposur risiko nilai tukar yang dihadapi Perseroan adalah terkait dengan pergerakan nilai tukar mata uang asing terhadap Rupiah. harta kekayaan. sebagai mata uang yang digunakan dalam pelaporan keuangan Perseroan. Keterangan lebih lanjut mengenai hutang Perseroan per 30 September 2010 dapat dilihat di Bab III Pernyataan Hutang. termasuk Penawaran Umum Perseroan). Perseroan diwajibkan untuk mengakumulasi beberapa cadangan pemeliharaan tertentu untuk rangka pesawat dari enam pesawat Airbus A-330. seperti yang dinyatakan pada tabel berikut: Pinjaman Jumlah Terhutang per 30 September 2010 Rp.75% 6 bulan LIBOR + 1. transaksi sale and leaseback.7 91. sebagaimana dinyatakan dalam laporan keuangan yang diiaudit pada setiap akhir tahun buku. Perseroan juga mentranlasikan aset dan kewajiban keuangannya yang berdenominasi mata uang asing yang berjalan pada tanggal neraca kedalam Rupiah dengan nilai tukar yang berlaku pada saat tanggal neraca. Risiko Pasar Risiko Suku Bunga Eksposur risiko suku bunga terutama terkait dengan pinjaman bank terhadap Dolar Amerika Serikat dan Rupiah yang menanggung bunga mengambang.90% LIBOR + 3. 12.5 186.9 6 bulan LIBOR + 0.90% LIBOR + 0. pembayaran dividen.50% 2. pemberian gadai dan jaminan serta merger atau perubahan pengendalian.75% Rata-rata deposito Rupiah dari tiga bank referensi pemerintah + 1. Sejak tahun 2008. pada dasarnya karena penerimaan pendapatan usaha Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat lebih rendah dibandingkan dengan keseluruhan belanja modal dan pembayaran tahunan hutang pokok dan bunga dalam Dolar Amerika Serikat.4 Suku Bunga Hutang ECA Hutang Komersial FRN (Hutang dalam Rupiah) FRN (Hutang dalam Dolar Amerika Serikat) Hutang Subordinasi Pertamina Hutang Subordinasi AP I Hutang Subordinasi AP II Indonesia EximBank CIMB Niaga 615. pembayaran yang dananya berasal dari Perseroan atau Anak Perusahaan. Berdasarkan beberapa ketentuan restrukturisasi Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial.2 848.5% + suku bunga deposito berjangka yang dijamin pemerintah Suku bunga mengambang Perseroan telah merencanakan untuk mulai menerapkan kebijakan lindung nilai atas suku bunga mengambang terhadap hutang bunga terkait dengan pinjaman ECA. Di masa lalu Perseroan melakukan transaksi hedging atas eksposur nilai tukar.4 67. transaksi afiliasi. Pembatasan-pembatasan tersebut meliputi.3 675.miliar 1. Perseroan mencatatkan transaksi dengan mata uang asing pada nilai tukar yang berlaku pada tanggal transaksi. antara lain. penjualan aset.7 96.2 BNI 21.

dan respon risiko. dan berkesinambungan. Pembentukan unit ERM yang dikepalai oleh seorang VP dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama. Workshop manajemen risiko untuk para key risk officer. Perseroan memiliki aset moneter dalam mata uang asing sebesar Rp2. • • • 67 . Profil risiko tersebut kemudian ditentukan prioritisasi dalam pengelolaannya dan seberapa besar dukungan sumber daya yang dibutuhkan. sebagai bagian yang tak terpisahkan dari praktik tata kelola yang baik atas korporasi. dan keuntungan nilai tukar sekitar Rp130. Pada kuartal kedua 2009. Namun demikian hal ini dikompensasi pada batas tertentu dengan hutang usaha kepada Pertamina. dan kewajiban dalam Dolar Amerika Serikat lainnya. Perseroan telah membentuk proyek Enterprise Risk Management (“ERM”) melalui SK No.8 miliar di tahun 2007. Aktivitas pengelolaan risiko ini akan direview oleh Komite Kebijakan Risiko yang merupakan perangkat Dewan Komisaris.kebijakan Perseroan adalah mengelola eksposur Dolar Amerika Serikat dengan menggunakan konversi bulanan dari pendapatan non-Dolar Amerika Serikat ke dalam Dolar Amerika Serikat pada spot rate yang ada pada saat dilakukannya konversi tersebut. Risiko Harga Komoditas Eksposur Perseroan terhadap risiko harga komoditas adalah terkait dengan beban bahan bakar pesawat dalam denominasi mata uang Dolar Amerika Serikat. mencakup: • • Awareness session. Perseroan juga telah membentuk unit Internal Audit. maka selanjutnya Perseroan akan mengkonversikan pendapatan dalam mata uang Rupiah kedalam mata uang Dolar Amerika Serikat untuk menutupin kekurangan tersebut. piutang usaha. keuntungan nilai tukar sekitar Rp462. proses penerapan tahap awal (initial implementation) telah dimulai sebagai langkah pendahuluan formalisasi dan sistematisasi penerapan ERM secara terintegrasi. Sepanjang tahun 2009. Aset moneter Perseroan adalah termasuk kas dan setara kas. kecuali untuk transaksi derivatif tertentu terkait dengan bahan bakar untuk penerbangan haji.3 miliar di tahun 2008.760. kerugian nilai tukar Rp413. Fungsi unit ERM ini adalah untuk memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan atas pengelolaan risiko-risiko yang dihadapi setiap unit dan fungsi.644. ERM yang bertugas untuk membangun framework dan infrastruktur untuk penerapan manajemen risiko secara terintegrasi atau ERM yang efektif. Karena itu risiko tidak boleh diabaikan dan harus dikelola secara terintegrasi. yang dimaksudkan sebagai pembekalan pengetahuan dan ketrampilan bagi mereka dalam memfasilitasi pelaksanaan proses manajemen risiko di unitnya masingmasing. mengkoordinasikan aktivitas manajemen risiko. Selain ERM.optimal. hingga ke key risk officer yaitu mereka yang nantinya akan menjadi fasilitator penerapan manajemen risiko di unit-unit. Perseroan juga menghitung komitmen bulanan dalam Dolar Amerika Serikat dikaitkan dengan penerimaan pendapatan Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat.6 miliar dan kewajiban moneter dalam mata uang asing sebesar Rp3.5 miliar di tahun 2009. baik risiko yang berada di bawah kendali maupun risiko yang berada di luar kendali Perseroan. beban ditangguhkan lainnya atas pendapatan diterima dimuka. dan melakukan pemantauan risiko menyeluruh untuk seluruh unit korporasi. dilaksanakan baik untuk jajaran direksi. Apabila pendapatan dalam Dolar Amerika Serikat Perseroan dan hasil konversinya tidak mencukupi kewajiban dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. dimana keduanya bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama.5 miliar terkait dengan kewajiban eksposur mata uang asing. uang muka. asesmen. Penyusunan profil risiko Perseroan yang diperoleh dari proses identifikasi. Per tanggal 30 September 2010. uang muka. Manajemen Risiko Perseroan menyadari bahwa jalannya operasional Perseroan tidak terlepas dari berbagai risiko. VP. Perseroan tidak mengadakan transaksi lindung nilai terkait dengan harga bahan bakar. 13. yang dimitigasi oleh Perseroan dalam level yang terbatas. Keuntungan maupun kerugian ini disebabkan terutama oleh translasi mata keuntungan maupun kerugian moneter dalam mata uang asing karena adanya aset dan kewajiban moneter Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Penyusunan manual ERM sebagai panduan seluruh unit dalam menerapkan manajemen risiko. JKTDZ/SKEP/50044/09 tanggal 24 Agustus 2009 tentang Organisasi Induk PT Garuda Indonesia (Persero) yang dipimpin oleh seorang Vice President (“VP”) yang independen dari unit operasional. dan aset lainnya yang berdenominasi Dolar Amerika Serikat. langkah-langkah menuju tahap penerapan manajemen risiko secara terintegrasi di seluruh Perseroan yang telah dilakukan. Perseroan memiliki kerugian nilai tukar sekitar Rp233.8 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.

1 749. Hal ini terjadi karena adanya dukungan stimulus fiskal dan suku bunga yang relatif rendah yang diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan investasi. Sebagai salah satu pengukuran kinerja operasi Perseroan. pembentukan modal tetap bruto sebesar 8. beban keuangan dan keuntungan dan kerugian selisih kurs.1%. akan menjadi suatu keuntungan bagi Perseroan.768. India sebesar 5.0%.2 1. Kontribusi terbesar atas pertumbuhan tersebut diperoleh dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga 5.3 919. Pengukuran Keuangan Non-US GAAP Perseroan menghitung EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan dalam rangka untuk memberikan tambahan informasi terkait kinerja operasi Perseroan.649. Akun-akun akuntansi ini mungkin berbeda di setiap perusahaan tergantung metode akuntansi yang digunakan di masing-masing perusahaan. Kondisi makro ekonomi yang semakin membaik yang diindikasikan antara lain oleh peningkatan PDB dan juga penurunan tingkat suku bunga pinjaman.467. Sebelumnya dengan semakin membaiknya kondisi perekonomian secara makro dan juga membaiknya kondisi pasar saham global. kebutuhan belanja modal dan komitmen lain. Pada bulan September 2009. 15. 68 . akan memberikan dampak positif pada pasar saham Indonesia.295. Penurunan ini diharapkan dapat menjadi pertanda bahwa proses pemulihan perekonomian masih terus berlanjut.1 916.2 1.045. EBITDAR yang disesuaikan dihitung dari laba (rugi) usaha ditambah penyusutan dan amortisasi dan beban sewa pesawat terkait dengan layanan penerbangan berjadwal dan charter. Tingkat IHSG pada penutupan perdagangan per 30 September 2009 berada pada level 2. EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan bukan merupakan standar pengukuran baik menurut US GAAP atau PSAK.609.2 732.7% dibandingkan penutupan perdagangan pada periode yang sama tahun 2008 yang berada pada level 1.7 1. yang berdampak pada peningkatan jumlah penumpang.2 1.327.0 1.3 1.832.25% dibandingkan periode yang sama tahun 2008.9 2.225.9 2. yang juga pada akhirnya akan berdampak positif terhadap pendapatan dan juga likuiditas Perseroan. peningkatan jumlah kargo serta peningkatan jumlah wisatawan.5% menurun 9.2 Laba (Rugi) Usaha Penyesuaian: Penyusutan dan Amortisasi EBITDA yang disesuaikan Sewa Pesawat EBITDAR yang disesuaikan Investor tidak harus mempertimbangkan definisi EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan dalam isolasi atau sebagai cara lain untuk mengartikan laba (rugi) usaha. Indonesia termasuk dalam tiga besar negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.9%. seperti pendapatan bunga dan beban bunga.3 2.8 1.777.6%. Namun angka pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada kuartal ketiga 2008 sebesar 11. seperti penyusutan dan akun selain operasi. (Sumber: Bloomberg). EBITDA yang disesuaikan dihitung dari laba (rugi) usaha ditambah penyusutan dan amortisasi. meningkat cukup tajam yaitu 635 poin atau sekitar 34.796.2 1.8%. penyisihan piutang lain-lain dan pos luar biasa serta hak minoritas.528.9) 623. atau sebagai indikator kinerja usaha atau standar pengukuran lain sesuai dengan US GAAP atau PSAK.9 3.6 3. biaya pesangon karyawan.5%. setelah Cina dengan pertumbuhan ekonomi 7. Tabel berikut merekonsiliasi laba (rugi) usaha sesuai PSAK ke dalam EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan sesuai dengan definisi Perseroan pada periode terkait: Sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009 (Rpmiliar) (Rpmiliar) (289.206. keuntungan dari sale and lease back. juga dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2007 sebesar 6.243.5 1. Dana yang digambarkan dalam EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan mungkin tidak tersedia untuk pembayaran hutang dikarenakan adanya pembatasan perjanjian.4 1. tingkat suku bunga BI berada pada level 6.4 Tahun yang berakhir pada 31 Desember 2009 2008 2007 (Rpmiliar) (Rpmiliar) (Rpmiliar) 918.849.446.4%. Perseroan berkeyakinan bahwa salah satu pengukuran yang dapat dibandingkan secara langsung antara US GAAP atau PSAK terhadap EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan adalah laba bersih.2%.9 2.399.2 2.268.14.353.3 668. Kondisi Perekonomian dan Efek Inflasi Pertumbuhan ekonomi Indonesia dilihat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) selama kuartal ketiga 2009 dibandingkan periode yang sama tahun lalu tumbuh sebesar 2. konsumsi pemerintah sebesar 3. Dengan tingkat pertumbuhan ini. Perseroan menggunakan EBITDA dan EBITDAR yang disesuaikan dibandingkan laba bersih karena laba bersih mencakup beberapa akun akuntansi terkait belanja modal.

keterbatasan operasi di sebagian bandara Indonesia-bandara Indonesia yang beroperasi 24 jam adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta. dalam mengevaluasi pembelian saham Perseroan. Perseroan dan pesaing lainnya harus meningkatkan gaji dan tunjangan lain dalam rangka untuk merekrut. Keterbatasan Perseroan dalam merekrut. RISIKO USAHA Investasi pada saham Perseroan ini mengandung risiko. • • • • • 69 . dan awak kabin dalam rangka untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat pemanfaatan pesawat dan ketepatan waktu. dan memotivasi personil inti ini. kinerja keuangan. melatih. dan hasil usaha Perseroan. Bali dan Bandara Internasional Polonia di Medan.BAB V. karena saat ini Perseroan berusaha untuk meningkatkan jumlah armada pesawat. khususnya Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta dan Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. dan/atau estimasi ketika dinyatakan proyeksi dan atau estimasi. Selain itu. keterbatasan pada panjang dan/atau kekuatan landasan. atau prospek usaha Perseroan. antara lain: • • kapasitas slot pendaratan di bandara-bandara yang dilayani oleh Perseroan. Selain itu. 2. kapasitas penumpang di setiap terminal pada bandara utama yang dilayani Perseroan. awak kabin. kinerja operasional. Bali dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta. Risiko-risko lainnya yang mungkin belum tercakup atau sampai saat ini belum dirasakan cukup material dapat memberikan dampak negatif kepada kegiatan usaha. mempertahankan. mempertahankan. berusaha meningkatkan jumlah armada pesawatnya. Perseroan melihat bahwa kekurangan tenaga kerja ini akan meningkat karena Perseroan dan pesaing lainnya. meningkatkan OTP. mempertahankan. Bali. serta dalam rangka menyediakan sarana transportasi udara yang aman dan efisien di masa yang akan datang tergantung pada beberapa faktor dimana termasuk faktor yang di luar kendali Perseroan. memperbaiki kinerja ketepatan waktu (“On Time Performance” atau “OTP”) dan menyediakan jasa transportasi udara yang aman dan efisien. arus kas (cash flow). kepadatan lalu lintas udara di beberapa bandara utama yang dilayani Perseroan. Keterbatasan Perseroan dalam merekrut. Perseroan akan merekrut. Perihal di bawah ini yang terkait dengan pemerintahan atau data makro ekonomi Indonesia dimana informasi tersebut diambil dari publikasi pemerintah atau sumber-sumber lain dan tidak diverifikasi secara terpisah oleh Perseroan. Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. dan engineer MRO secara umum kompetitif dengan pesaing lainnya. Terdapat kekurangan personil kunci termasuk pilot. dan memotivasi personil kunci ini dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap kegiatan usaha. namun karena adanya peningkatan permintaan untuk pilot. Meskipun Perseroan berkeyakinan bahwa tunjangan gaji dan lainnya bagi pilot. sumber daya dari beberapa segmen pada industri penerbangan termasuk fasilitas bandara dan sistem kontrol lalu lintas udara. melatih dan mempertahankan beberapa pilot. Risiko Terkait Kegiatan Usaha Perseroan 1. Harga saham Perseroan dapat turun diakibatkan oleh salah satu dari risiko ini dan para investor mungkin dapat kehilangan seluruh atau sebagian investasinya. dan engineer MRO di industri penerbangan Indonesia. prediksi. Keterbatasan infrastruktur dan fasilitas bandara internasional Soekarno-Hatta dan bandara lainnya di Indonesia dapat menghambat kemampuan Perseroan untuk meningkatkan utilisasi pesawat. terutama yang diuraikan di bawah ini. melatih. kualitas pengendali lalu lintas udara (Air Traffic Controller) nasional. khususnya di industri penerbangan Indonesia. Para investor harus selalu secara hati-hati mempertimbangkan seluruh informasi yang tersedia pada Prospektus ini. awak kabin. penggunaannya telah mencapai kapasitas maksimum sebagai akibat dari peningkatan yang signifikan pada volume lalu lintas udara. Risiko-risiko yang diuraikan di bawah ini bukan hanya risiko-risiko yang dapat mempengaruhi Perseroan atau saham Perseroan. sehingga akan mempengaruhi kapasitas muatan pesawat. khususnya Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. dan kualitas sistem navigasi dan pengendalian lalu lintas darat pesawat di bandara-bandara Indonesia. kondisi keuangan. Perseroan juga perlu meningkatkan usaha pelatihan Perseroan bagi personil inti tersebut guna memastikan kecukupan tenaga kerja baru yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan Perseroan yang terus meningkat. Walaupun infrastruktur penerbangan komersial Indonesia telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan beberapa tahun terakhir ini. awak kabin dan engineer MRO di industri penerbangan di Indonesia dan global. khususnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta. dan memotivasi personil kunci dapat mempengaruhi bisnis Perseroan. Kemampuan Perseroan dalam meningkatkan tingkat pemanfaatan. Para investor juga harus mengetahui bahwa beberapa dari pernyataan yang diuraikan di bawah ini merupakan pernyataan yang merupakan proyeksi.

Walaupun perjanjian pasokan bahan bakar antara Perseroan dengan Pertamina sebelumnya memberikan diskon persentase terhadap harga posting produksi. kondisi keuangan. dan 2009 dan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. hasil usaha dan prospek Perseroan. dan prospek bisnis serta hasil operasional Perseroan dapat terpengaruh secara material dan negatif. memperluas ruang lingkup operasional dari SBU Citilink. Perjanjian pasokan bahan bakar domestik diperpanjang secara periodik dan pembayaran dilakukan dalam Rupiah untuk harga yang ditetapkan dalam Rupiah pula. melatih. hasil usaha dan prospek Perseroan. meningkatkan jumlah tujuan yang dilayani. perjanjian baru tersebut akan menghasilkan diskon yang lebih rendah (dan harga bahan bakar yang lebih tinggi) sejalan dengan kenaikan harga posting produksi dalam negeri. Sumber utama pasokan bahan bakar berasal dari Pertamina.3%. Walaupun saat ini Citilink merupakan bagian dari kegiatan SBU Perseroan. 4. dimana hal ini mengharuskan Perseroan untuk memenuhi persyaratan pembelian minimum jumlah pesawat dan beberapa syarat-syarat operasional yang wajib dimiliki oleh Citilink dalam rangka untuk mendapatkan Sertifikat Operator Pesawat (“AOC”).8% dari total beban operasional di tahun 2007. Mean of Platts Arab Gulf (MOPAG). 2008.4% dan 31. perjanjian dengan Pertamina terbaru menggabungkan diskon tetap terhadap harga posting produksi. Strategi pertumbuhan Perseroan meliputi meningkatkan jumlah armada pesawat. Perseroan mendapatkan pengadaan sekitar 70% bahan bakar bakar sesuai dengan perjanjian yang dibuat dengan Pertamina.2%. sedangkan perjanjian pasokan domestik dengan Pertamina saat ini mengijinkan Perseroan untuk melakukan pembayaran dalam dua minggu setelah pengiriman bahan bakar. maka keduanya dapat memberikan dampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. Segmentasi operasi Perseroan dan pangsa pasar yang dilayani antara bisnis FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia dan bisnis LCC Perseroan dengan brand Citilink mengharuskan Perseroan untuk melakukan penyempurnaan 70 .Apabila salah satu dari faktor-faktor diatas tidak memadai. 29. Tidak adanya kepastian bahwa Perseroan akan memiliki kemampuan untuk memperoleh harga yang bersaing dari Pertamina akan memberikan dampak negatif yang bersifat material terhadap bisinis. Beban bahan bakar pesawat terbang mewakili 34. Perseroan mengadakan perjanjian pasokan bahan bakar selama lima tahun dengan Pertamina dan perjanjian pasokan bahan bakar dengan jangka waktu satu sampai dengan dua tahun dengan beberapa pemasok internasional. Dengan demikian. Perjanjian pasokan bahan bakar internasional mewajibkan adanya pembayaran di muka atau adanya letter of credit terhadap pengiriman bahan bakar. dan melakukan segmentasi operasi dan pangsa pasar yang dilayani antara FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia dan LCC Perseroan dengan brand Citilink. mempertahankan serta memotivasi awak pesawat terbang dalam rangka untuk mempertahankan serta meningkatkan tingkat pemanfaatan pesawat. Di masa lalu Perseroan pernah mengalami ketidakmampuan dalam pelunasan sejumlah beban bahan bakar kepada Pertamina. Tidak adanya kepastian bahwa Perseroan akan mampu memenuhi pembayaran bahan bakar kepada Pertamina atau bahwa Pertamina akan melakukan restrukturisasi terhadap kewajiban yang telah jatuh tempo. Harga bahan bakar domestik ditetapkan dengan mengacu pada umumnya termasuk diskon dari harga posting produksi dalam negeri Pertamina. Teluk Arab. termasuk semua bahan bakar yang diperlukan untuk penerbangan di rute domestik. meningkatkan frekuensi penerbangan dari tujuan yang ada. Harga bahan bakar internasional umumnya ditetapkan dengan mengacu pada harga dasar rata-rata minyak yang dipublikasikan oleh Platts melalui Singapura berdasarkan Mean of Platts Singapore (MOPS). kondisi keuangan. namun di masa yang akan datang Perseroan berencana untuk melakukan pemisahan kegiatan usaha menjadi PT Citilink Indonesia (“Citilink”) anak perusahaan yang terpisah. 41. Peningkatan jumlah armada pesawat baik untuk bisnis FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia maupun bisnis LCC Perseroan dengan brand Citilink akan membutuhkan sejumlah belanja modal yang cukup signifikan dan pembayaran lain untuk pembelian pesawat serta beban sewa terkait sewa operasi dan akan mengharuskan Perseroan untuk merekrut. yang ditentukan oleh Pertamina berdasarkan kebijakannya sendiri. yang diterbitkan oleh ARAMCO atau Rotterdam. Perjanjian pasokan bahan bakar untuk internasional diperpanjang secara periodik dan pembayarannya menggunakan Dolar Amerika Serikat. Strategi Perseroan untuk secara bersamaan mengembangkan baik bisnis FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia dan bisnis LCC Perseroan dengan brand Citilink mengharuskan Perseroan untuk mengembangkan dua budaya perusahaan (corporate culture) yang terpisah dengan kebutuhan operasi serta fokus pelanggan yang berbeda. dalam meningkatkan ketepatan waktu serta dalam menyediakan sarana transportasi udara yang aman akan terpengaruhi. Perseroan berkeyakinan bahwa. dimana jumlah tersebut telah dikonversikan menjadi hutang subordinasi jangka panjang pada restrukturisasi hutang yang terkini. Tidak terimplementasinya strategi Perseroan dapat berdampak pada bisnis Perseroan. Saudi Arabia dan Belanda. 3. bila dibandingkan dengan kesepakatan bahan bakar sebelumnya dengan Pertamina. kemampuan Perseroan dalam melakukan ekspansi rute atau dalam meningkatkan frekuensi penerbangan pada rute yang telah tersedia. Pencapaian strategi pertumbuhan Perseroan baik untuk FSC maupun LCC sangatlah penting bagi bisnis Perseroan dalam rangka pencapaian skala ekonomis dan peningkatan profitabilitas Perseroan.

Per tanggal 30 September 2010. Perseroan memiliki jumlah hutang (termasuk hutang jangka panjang. serta kegiatan operasional Perseroan. dan saat ini Perseroan sedang dalam proses pemutakhiran perangkat lunak untuk meningkatkan fleksibiltas tersebut meningkatkan kemampuan Perseroan dalam mengalokasikan persedian tempat duduk diantara tarif kelas yang berbeda dan proyeksi permintaan pasar yang lebih baik. bahkan sebelum dimulainya pelayanan baru. Kegagalan Perseroan dalam menerapkan strategi pertumbuhan dapat berdampak negatif terhadap kinerja operasi dan arus kas di masa yang akan datang dimana hal ini dapat berdampak negatif terhadap pembayaran uang muka untuk armada pesawat terbang baru.944. membatasi kemampuan Perseroan untuk memenuhi pembayaran kewajiban tambahan dan kewajiban tetap lain yang dibutuhkan untuk ekspansi dari armada pesawat terbang Perseroan dan akan berdampak negatif terhadap kemampuan Perseroan dalam memenuhi syarat dari perjanjian sewa armada pesawat terbang dan mesin. sistem atau prosedur ini tepat waktu atau bahkan tidak sama sekali. yang merupakan 70. Perseroan berkeyakinan bahwa sistem manajemen pendapatan yang digunakan oleh bisnis FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia saat ini relatif kurang memiliki fleksibilitas penetapan harga dibandingkan dengan pesaingnya. Perseroan tetap memiliki tingkat hutang dan kewajiban tetap lainnya yang cukup tinggi. Sebagian dari hutang jangka panjang dan seluruh hutang jangka pendek Perseroan dikenakan suku bunga mengambang. Perseroan tidak dapat memastikan untuk dapat menerapkan dengan sukses strategi pertumbuhan dan kegagalan Perseroan dalam pencapaiannya dapat berdampak negatif terhadap bisnis. Per tanggal 30 September 2010. sistem pelaporan serta prosedurprosedur untuk mengakomodasi pertumbuhan di masa yang akan datang.sistem manajemen pendapatan dan PSS dalam rangka untuk memaksimalkan kapasitas yang terisi dan pendapatan per penerbangan. Peningkatan jumlah tujuan yang dilayani akan bergantung pada kemampuan Perseroan dalam mengakses bandara yang terletak pada sasaran pasar geografis yang mana hal ini haruslah sejalan dengan strategi biaya Perseroan. Penambahan pelayanan ke tujuan baru mengharuskan Perseroan untuk menempatkan sumber dana dan lainnya. Selain itu. Kondisi apapun yang mungkin menolak. Kemungkinan pada awal pelayanan tersebut Perseroan akan mengalami rendahnya jumlah penumpang sehingga diperlukannya harga promosi ke rute tujuan baru tersebut dimana akan memberikan dampak negatif terhadap profitabilitas rute tujuan baru ini. Perseroan juga diharuskan untuk menambah jumlah hutang dan kewajiban tetap yang cukup signifikan sehubungan dengan penerapan strategi pertumbuhan Perseroan.1% dari total kapitalisasi Perseroan (diperhitungkan sebagai total hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun dan total ekuitas). Perseroan berharap untuk dapat mengembangkan kendali dalam hal keuangan. Strategi pertumbuhan tersebut memungkinan adanya optimalisasi penggunaan sumber daya manajemen dan operasional. Strategi pertumbuhan Perseroan juga akan membutuhkan tambahan pegawai. Perseroan tidak dapat memastikan untuk dapat mengembangkan kendali. serta hasil usaha Perseroan. kewajiban dalam bentuk sewa pembiayaan dan hutang pinjaman jangka pendek) sebesar Rp4. Perseroan memiliki sejumlah kewajiban tetap yang signifikan dalam bentuk sewa operasi dan sewa pembiayaan terkait armada pesawat terbang Perseroan. dan manajemen. 5. Selain itu. Walaupun Perseroan baru menyelesaikan restrukturisasi hutang dan kewajiban tetap lainnya. sistem keuangan dan manajemen informasi sampai dititik dimana semua hal tersebut tidak cukup untuk dapat membantu kegiatan usaha sehingga mengharuskan Perseroan untuk mengeluarkan belanja modal yang cukup signifikan untuk pengembangan di bagian ini. operasional. ruang terminal bandara.4 miliar. kondisi keuangan. 71 . keterlambatan dalam pemenuhan pembayaran uang muka untuk pesawat baru dapat mengakibatkan adanya penalti dengan adanya tambahan kewajiban sesuai dengan syarat perjanjian pembelian pesawat dengan Airbus dan Boeing. Perseroan tidak dapat memastikan keberhasilan dari segmentasi operasi kegiatan usaha antara FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia dan LCC Perseroan dengan brand Citilink serta kegagalan Perseroan dalam pencapaiannya dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. kondisi keuangan. setelah penyelesaian restrukturisasi hutang. Perseroan membutuhkan hak lalu lintas udara dan slot pendaratan sebelum Perseroan dapat melayani tujuan baru tersebut. Keterbatasan Perseroan dalam merekrut dan mempertahankan tenaga kerja terlatih atau memastikan ketersediaan peralatan yang dibutuhkan dan efisiensi dari fasilitas dan efektifitas biaya dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam mencapai strategi pertumbuhan. membatasi atau menunda akses Perseroan ke bandara yang dilayani di masa yang akan datang akan menghambat kemampuan Perseroan untuk berkembang. Peningkatan frekuensi penerbangan ke tujuan-tujuan yang sudah tersedia mengharuskan Perseroan untuk mendapatkan slot pendaratan dan membuka gates tambahan di beberapa tujuan tersebut.622. fasilitas bandara dan ruangan lainnya. pembayaran minimum untuk sewa operasi di masa yang akan datang sekitar Rp14. Untuk hutang jangka panjang. peralatan dan fasilitas. Tingginya tingkat hutang dan pembayaran kewajiban tetap dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam penerapan strategi Perseroan.4 miliar.

ketidakstabilan politik. Walaupun Perseroan berkeyakinan bahwa dana internal dari kegiatan usaha Perseroan cukup untuk membiayai pembayaran uang muka untuk pengiriman pesawat Boeing 737-800 dan Airbus A330-200 yang tersisa. dapat berpengaruh pada Perseroan sebagai berikut: • • • mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam mendapatkan tambahan pendanaan dalam mendukung rencana ekspansi dan modal kerja dan keperluan lainnya atau tidak sama sekali. mengalihkan arus kas yang signifikan dari kegiatan usaha dan rencana ekspansi untuk memenuhi kewajiban tetap Perseroan. Perseroan memiliki komitmen pembelian pesawat sebesar Rp24. termasuk pembatasan kemampuan Perseroan dalam mengumumkan pembagian dividen atau memperoleh tambahan pinjaman. Perseroan dapat menutupi pembayaran uang muka dan mengurangi belanja modal Perseroan namun meningkatkan biaya uang jaminan dan beban sewa pesawat. dan mengharuskan Perseroan untuk mematuhi pembatasan-pembatasan keuangan dan lainnya. peraturan. dimana banyak dari faktor-faktor tersebut berada di luar kendali Perseroan.460 miliar. Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial membatasi kemampuan Perseroan dalam menambah hutang sehingga Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan mampu untuk mendapatkan hutang tambahan terkait pembiayaan pengiriman 26 pesawat (termasuk pembayaran uang muka). Pembayaran uang muka untuk pembelian pesawat biasanya dibiayai melalui arus kas operasi dan hutang. Perseroan mungkin terpaksa untuk melakukan renegosiasi kewajiban-kewajiban tersebut atau memperoleh pendanaan tambahan baik dalam bentuk ekuitas ataupun hutang. walaupun Perseroan mampu mengeluarkan tambahan hutang. Dengan demikian. Sebelum pengiriman. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa upaya renegosiasi di masa yang akan datang akan berhasil atau tepat waktu atau bahwa Perseroan dapat melakukan refinance kewajiban-kewajibannya sesuai dengan kondisi-kondisi yang dapat diterima. Selain itu. • • Kemampuan Perseroan dalam mengatur pembayaran hutang dan kewajiban tetap lainnya akan bergantung pada kinerja operasional dan arus kas. menempatkan Perseroan di posisi yang kurang kompetitif dibandingkan pesaing lain yang memiliki tingkat hutang yang lebih rendah dan pesaing lain yang memiliki akses yang lebih baik ke sumber-sumber permodalan. dimana pada akhirnya akan bergantung pada kondisi ekonomi dan politik saat ini dan faktor-faktor keuangan. Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial Perseroan memiliki pembatasan yang mungkin. termasuk proyeksi kenaikan harga untuk membeli 27 pesawat tambahan (dimana satu diantaranya telah dikirimkan pada bulan Oktober 2010) sampai dengan tahun 2016. Tingginya tingkat hutang dan kewajiban tetap. bisnis dan lainnya. Perseroan akan tetap membutuhkan perencanaan pendanaan pembayaran uang muka untuk pengiriman 10 pesawat Boeing 777. Apabila Perseroan tidak dapat memenuhi pembayaran hutang dan kewajiban tetap lainnya. 10 pesanan Boeing 777 dan 6 pesanan Airbus A330-200 dan memiliki opsi untuk membeli tambahan 4 pesawat Airbus A330-200. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa baik hutang atau sewa pembiayaan akan tersedia untuk pengiriman tipe pesawat tersebut (termasuk pembayaran uang muka) pada syarat-syarat yang dapat diterima oleh Perseroan atau tidak sama sekali. persaingan. Sebagai contoh. Sehingga dalam hal ini Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan mampu untuk mengadakan perjanjian sewa operasi pesawat dalam meningkatkan jumlah armada pesawat Perseroan. 72 . atau tidak sama sekali. memburuknya ekonomi.Per tanggal 30 September 2010. pesawat-pesawat yang dibeli tersebut umumnya dikonversikan menjadi perjanjian sewa operasi dalam transaksi sale and leaseback melalui perusahaan penyewaan pesawat. serta kegiatan usaha Perseroan. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan dapat menghasilkan arus kas yang cukup dari operasi bisnisnya untuk memenuhi hutang dan kewajiban tetap lainnya pada saat jatuh tempo dan kegagalan Perseroan dalam memenuhi kewajiban tersebut berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. mengharuskan Perseroan untuk dapat menanggung beban bunga atau beban sewa yang lebih besar daripada saat ini. ketidakstabilan sosial atau perubahan dalam peraturan dapat meningkatkan beban pinjaman Perseroan atau membatasi kemampuan Perseroan untuk memperoleh pinjaman. karena sebagian besar hutang Perseroan memiliki beban bunga yang mengambang dan beberapa armada pesawat disewa menggunakan tingkat bunga variable. Dengan adanya pembiayaan kegiatan usaha Perseroan dengan menggunakan tambahan pinjaman dapat mewajibkan Perseroan untuk patuh pada pembatasan keuangan dan lainnya yang dapat membatasi kemampuan Perseroan dalam pencapaian strategi pertumbuhan Perseroan. kondisi keuangan. yang terdiri dari 11 pesanan Boeing 737-800. dapat membatasi kemampuan Perseroan dalam mengeluarkan hutang tambahan dan biaya sewa pesawat tambahan. likuiditas Dolar Amerika Serikat dan bank-bank dalam Rupiah dan pasar modal dengan instrumen hutang. dalam kondisi tertentu.

41. dimana tiap hal tersebut ditetapkan oleh DJPU. jika disetujui. beban rata-rata bahan bakar berfluktuasi dari USD56. pendapatan Perseroan dari penerbangan domestik berjadwal berfluktuasi dari sebesar USD536. Sebagai pemegang saham pengendali. Perseroan dapat diminta untuk membuka rute penerbangan ke tujuan yang tidak menguntungkan.4 miliar pada tahun 2007. yang memiliki hak khusus yang tidak tersedia bagi para pemegang saham Seri B. Pendapatan pelayanan penumpang domestik menyumbang sekitar 43. Pemerintah wajib memberikan kompensasi yang wajar ketika Perseroan menetapkan rute penerbangan atau melakukan kegiatan usaha yang terkait dengan kepentingan umum (Public Service Obligation / “PSO”) atas permintaan Pemerintah. Perubahan atas batas atas tersebut bergantung pada kondisi-kondisi dimana beban bahan bakar pesawat atau nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat melebihi acuan tertentu untuk waktu yang telah disetujui.7 juta pada tahun 2008.4 miliar pada tahun 2009. Saham Seri A Dwiwarna memberikan Pemerintah kekuasaan dalam mengangkat dan memberhentikan Direksi dan Dewan Komisaris.68 sen per liter pada tahun 2007 menjadi USD85.3%.8 miliar pada tahun 2008. atau mungkin bertentangan dengan. hal ini akan berdampak negatif yang bersifat material terhadap kegiatan usaha.19 tahun 2003 tentang BUMN. Karena Pemerintah menetapkan berbagai kebijakan terkait transportasi udara. melalui Kementerian BUMN.4 juta di tahun 2007.0% dan 54. Pemerintah mengendalikan secara efektif halhal yang membutuhkan keputusan pemegang saham. termasuk keputusan mengenai kompensasi dari Pemerintah apabila Perseroan melakukan PSO. Pemerintah di masa lalu pernah mempengaruhi. DJPU menetapkan batas atas pada tarif kelas ekonomi rute domestik yang dijual di Indonesia yang membatasi kemampuan Perseroan dalam menyesuaikan tarif kelas ekonomi yang dijual di Indonesia. termasuk perubahan apapun terkait modal Perseroan. akan dibayarkan tepat waktu atau ketika dibayarkan akan sesuai dengan tingkat pengembalian investasi Perseroan. kondisi keuangan. Perseroan diatur oleh Pemerintah melalui. menerbitkan lisensi yang diperlukan untuk operasi penerbangan. 7. atau tidak sesuai dengan strategi bisnis Perseroan. Berdasarkan Undang-undang No. Kemampuan Perseroan dalam menetapkan tarif penerbangan pada segmen tertentu dipengaruhi oleh batasan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Setelah selesainya Penawaran Umum. Kementerian Perhubungan merupakan otoritas yang bertanggung jawab untuk mengatur sektor penerbangan Indonesia.6.8% dari pendapatan penerbangan berjadwal di tahun 2007. menjadi 6. 73 .95 sen per liter pada tahun 2008 dan menjadi USD51. 42. Di masa lalu pendapatan usaha penerbangan Perseroan terkait penerbangan berjadwal secara signifikan dipengaruhi oleh kemampuan penerapan fuel surcharges selain tarif tiket yang telah ditetapkan Perseroan. Pemerintah. menyetujui perubahan pada Anggaran Dasar Perseroan. dan mungkin akan terus mempengaruhi strategi dan kegiatan usaha Perseroan. 2008.0 juta pada tahun 2009. melalui Kementerian Negara BUMN akan memiliki sekitar 69% saham Perseroan yang beredar. Dari tahun 2007 sampai dengan 2009. sebagai pemegang saham pengendali.9%. menjadi 7. Tidak dapat dipastikan bahwa Pemerintah akan menggunakan kendali dan pengaruhnya untuk keuntungan Perseroan dan pemegang saham lainnya. pemerintah memegang saham Seri A Dwiwarna. Setelah Penawaran Umum berakhir. antara lain. Perseroan mungkin harus menyetujui untuk melakukan PSO dan apabila Perseroan tidak mendapat kompensasi yang layak dari Pemerintah. 2009 dan sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Antara lain. penetapan batas atas tarif kelas ekonomi pada rute domestik untuk pelayanan penumpang yang dijual di Indonesia. Hal ini menggambarkan korelasi antara kemampuan Perseroan dalam menerapkan tambahan beban bahan bakar dan pendapatan usaha Perseroan. Tidak dapat pula dipastikan bahwa Perseroan dapat menjadi terlepas dari kendali Pemerintah sebagai pemegang saham atau jika ada kemungkinan bagi Perseroan untuk menjadi independen akan dapat menerapkan kebebasan tersebut secara efektif dalam mengambil keputusan terkait kegiatan dan prospek usaha Perseroan. Sebagai contoh. konsolidasi. Namun tidak dapat dipastikan bahwa kompensasi tersebut. Perseroan memiliki beban bahan bakar yang dibatasi oleh fluktuasi harga dan kewajiban tetap dalam Dolar Amerika Serikat yang signifikan. atau pemisahan kegiatan usaha Perseroan dan persetujuan likuidasi atau permohonan kepailitan. menjadi sebesar USD709. Sebagai perusahaan penerbangan. menyetujui merger. akuisisi. dan menjadi sebesar USD644. Selain itu. Pemerintah Indonesia menetapkan batas atas tarif penerbangan domestik kelas ekonomi yang dijual di Indonesia. Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (“DJPU”). Pemerintah akan tetap sebagai pemegang saham pengendali Perseroan. Meskipun RPK domestik meningkat selama periode ini dari 6. termasuk komposisi Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan serta menentukan waktu dan jumlah pembayaran dividen. kepentingan Perseroan atau pemegang saham lainnya. Pemerintah dapat meminta Perseroan untuk melakukan suatu transaksi yang tidak sesuai dengan kebijakan Perseroan. membatasi tambahan beban bahan bakar bagi penumpang domestik dan jasa kargo dan menyetujui perjanjian bilateral internasional terkait transportasi udara dengan negara lain.33 sen per liter pada tahun 2009. Pemerintah dapat mewajibkan Perseroan untuk melakukan tindakan yang tidak sejalan. hasil usaha dan prospek Perseroan.

Perseroan akan terus memiliki beban bahan bakar pesawat yang tinggi yang dibatasi oleh fluktuasi harga dan kewajiban tetap dalam Dolar Amerika Serikat yang signifikan. kondisi keuangan. dapat berdampak negatif yang bersifat material pada usaha.Sejak bulan April 2010. Disnaker telah menyarankan kepada Perseroan dan serikat pekerja untuk menyepakati ketentuan tertentu yang telah disetujui oleh Disnaker. Perseroan telah menyatakan persetujuan atas anjuran dimaksud. pensiun dan kompensasi kepada karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja. kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan. atau perubahan yang bersifat negatif pada kebijakan ini. batas atas tarif kelas ekonomi LCC relatif lebih tinggi sebagai kelipatan dari beban usaha dibandingkan dengan batas atas tarif kelas ekonomi FSC. yang antara lain peningkatan jumlah pembayaran pesangon wajib. Selain itu. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan memberikan struktur beban usaha yang lebih rendah untuk LCC. yang menurut pandangan gerakan pekerja akan menghasilkan pengurangan manfaat pensiun. pelanggan dan perusahaan di Indonesia pada umumnya. Saat ini Perseroan memiliki empat serikat pekerja. atau pada batas atas tarif ekonomi atau beban tambahan bahan bakar. dua serikat pekerja awak kabin. 8. Aktivitas pekerja dapat mempengaruhi Perseroan. Hukum ketenagakerjaan dan peraturan ini dapat mempersulit kegiatan usaha. Perseroan telah menerima informasi secara verbal walaupun Perseroan sampai saat ini belum mendapatkan pernyataan secara formal. Setiap kenaikan tersebut akan terlebih dahulu ditinjau dan disetujui oleh DJPU sesuai dengan diskresinya.000 per liter atau fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang dapat meningkatkan paling tidak 10% beban operasional penerbangan dimana keduanya untuk periode tiga bulan berturut-turut. meskipun harga bahan bakar atau nilai tukar lebih tinggi. ditambah dengan kondisi ekonomi yang lemah. Tarif kelas ekonomi domestik saat ini dapat disesuaikan hanya apabila harga bahan bakar melebihi Rp10. dengan batas atas LCC saat ini ditetapkan sebesar 85% dari batas atas tarif FSC. setelah itu Perseroan dapat mengajukan permohonan kepada DJPU untuk menaikkan batas atas tarif kelas ekonomi. hasil dan prospek usaha Perseroan. keanggotaan serikat pekerja (atau anggota koalisi apabila Perseroan memiliki lebih dari satu serikat pekerja) harus terdiri dari lebih dari 50% dari karyawan Perseroan. dimana pada akhirnya dapat mempengaruhi bisnis. hasil usaha dan prospek Perseroan Hukum dan peraturan perundang-undangan yang memfasilitasi pembentukan serikat pekerja. dan selama belum adanya persetujuan Perseroan tetap harus tunduk pada batas atas tarif kelas ekonomi yang ada. Perseroan telah melakukan negosiasi perjanjian kerja bersama baru dengan serikat pekerja ini melalui perundingan tripartit bersama dengan otoritas ketenagakerjaan setempat (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi / “Disnaker”). termasuk bisnis Perseroan. Usulan tersebut telah ditangguhkan dan peraturan baru Pemerintah mengenai penanganan PHK pekerja belum berlaku efektif. dan dapat mengakibatkan ketidakstabilan dan gerakan pekerja di Indonesia di masa yang akan datang. FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia. Adanya persyaratan tambahan untuk memperoleh persetujuan dari DJPU sebelum adanya persetujuan terkait peningkatan batas atas tarif ekonomi atau keterlambatan dalam mendapatkan persetujuan tersebut. dalam mempertahankan fleksibelitas kebijakan tenaga kerja. batas atas untuk tarif kelas ekonomi rute domestik yang ditetapkan DJPU berbeda untuk FSC dan LCC. Pada tanggal 6 Desember 2010. dan satu serikat pekerja umum dimana Perseroan telah mengadakan perjanjian kerja bersama yang berakhir pada tahun 2008. yaitu satu serikat pekerja pilot. kondisi keuangan. Berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan tahun 2003 (“UU Ketenagakerjaan”). Dimungkinan adanya penundaan dalam mendapatkan persetujuan tersebut. DJPU meningkatkan batas atas tarif kelas ekonomi domestik namun tidak mengizinkan Perseroan untuk membebankan fuel surcharges ke dalam batas atas tarif kelas ekonomi domestik. dikenakan batas atas tarif kelas ekonomi yang berbeda. telah mengakibatkan. 74 . sebagai tambahan untuk peraturan lainnya dan kebijakan yang mengatur operasi penerbangan. dan mengharuskan pengusaha dengan 50 atau lebih karyawan untuk membuat forum bipartit yang terdiri dari pemberi kerja dan karyawan. dan LCC Perseroan dengan brand Citilink. Setiap perselisihan pekerja atau gerakan pekerja yang signifikan yang dialami oleh Perseroan dapat berdampak negatif yang bersifat material pada bisnis. bahwa serikat pekerja telah menolak ketentuan yang disarankan. peningkatan penggunaan karyawan outsourcing dan larangan terhadap serikat pekerja untuk melakukan pemogokan. Pemerintah mengusulkan untuk mengubah UU Ketenagakerjaan dengan cara. Untuk menegosiasikan perjanjian kerja dengan Perseroan tersebut. dengan demikian pihak manapun dapat mengajukan perselisihan terkait perjanjian kerja sama ke Pengadilan Hubungan Industrial. dan karena itu dapat menghasilkan profitabilitas yang lebih tinggi untuk LCC kelas ekonomi rute domestik selama periode puncak ketika tarif yang ingin dibebankan untuk FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia untuk penumpang dibatasi oleh batas atas tarif kelas ekonomi. Akibatnya.

Website dan sistem reservasi Perseroan harus dapat menampung volume lalu lintas yang tinggi dan menyampaikan informasi penerbangan penting. ketersediaan tempat duduk dan kontrol keberangkatan yang memudahkan Perseroan untuk mengatur jadwal penerbangan dan penempatan penumpang. Apabila pihak ketiga tersebut mengalami kesulitan dalam memenuhi permintaan atau standar Perseroan. Pemutakhiran ini akan membutuhkan migrasi data dari sistem informasi yang ada saat ini pada pusat data Perseroan yang ada saat ini ke sistem informasi baru pada pusat data baru. serta menyediakan Perseroan platform pendistribusian dan pengadaan tiket. Setiap gangguan dalam sistem ini dapat mengakibatkan hilangnya beberapa data pelanggan penting. • • • Perseroan berkeyakinan bahwa PSS dan manajemen pendapatan yang tersedia saat ini. mesin pemesanan dan pembayaran online yang menyediakan pelayanan reservasi. dan dimasukkan ke dalam sistem informasi baru. 184 penerbangan dibatalkan dan Perseroan menutup sistem reservasi untuk mencegah pemesanan penumpang baru selama periode 21-23 Nopember 2010. Walaupun Perseroan telah menyimpan IOCS untuk mulai beroperasi pada 21 Nopember 2010. atau bahkan tidak sama sekali. hal tersebut dapat merusak reputasi Perseroan atau menyulitkan Perseroan dalam mengoperasikan seluruh aspek bisnis Perseroan. Perseroan juga bergantung pada pihak ketiga dalam memfasilitasi pemesanan dan manajemen reservasi tiket pesawat. baik sementara ataupun permanen. termasuk: • Passenger Service Solution (“PSS”) yang menyediakan fungsi reservasi. meningkatkan biaya dan secara negatif mempengaruhi bisnis. Perseroan mengalami gangguan selama periode 3 jam selama melakukan pemindahan dari sistem manajemen operasional yang lama ke Integrated Operational and Control System (IOCS) yang baru dan menyebabkan outage di sistem IOCS. Kesalahan migrasi dapat mengakibatkan kehilangan data penting. beberapa crew tidak datang pada jadwal kedatangan yang telah ditentukan. Meskipun Perseroan mengeluarkan paper tickets untuk beberapa penumpang. apabila pemberi jasa pihak ketiga tersebut sedang tidak beroperasi. Perseroan saat ini sedang melakukan proses pemutakhiran PSS dan manajemen pendapatan sejalan dengan pengembangan pusat data baru. ditransformasikan. e-ticketing. selama periode outage di sistem IOCS tersebut. dimana migrasi data akan selesai tepat waktu atau atau sistem informasi baru akan mencapai kinerja yang optimal sesuai dengan jadwal yang diinginkan. dan kemudian akan dilakukan pengujian untuk menjamin kinerja sistem yang optimal. pengadaan tiket. sistem reservasi atau sistem telekomunikasi yang signifikan atau berulang dapat mengurangi daya tarik Perseroan dan dapat menyebabkan pelanggan Perseroan membeli tiket dari maskapai penerbangan lain. perantara antaramesin pemesanan dan pembayaran dan notifikasi dalam bentuk email. sudah tidak layak dan mengakibatkan terbatasnya kemampuan untuk melakukan penjualan langsung ke konsumen dan untuk secara efektif mengalokasikan persedian tempat duduk dari seluruh kategori harga. Perseroan mungkin diharuskan untuk mengeluarkan dana dan sumber-sumber manajemen yang cukup signifikan untuk menyelesaikan migrasi data. namun untuk sebagian besar penumpang Perseroan mengeluarkan tiket elektronik. mengalami kesulitan keuangan atau gangguan bisnis lain. kondisi keuangan dan hasil usaha. backup data dari sistem manajemen operasional tidak akurat dan. Dalam menjawab situasi tersebut. Dari hasil investigasi tersebut menunjukkan bahwa saat ini Perseroan tidak memiliki jaringan sistem manajemen yang cukup yang dapat memantau trafik jaringan atau memberikan early fault detection di IOCS. meningkatkan beban dan dapat berdampak negatif terhadap bisnis. Pembatalan penerbangan tersebut dan penutupan sistem pemesanan selama periode tersebut telah mempengaruhi secara negatif pendapatan per penumpang dan jumlah penumpang untuk periode 3 bulan yang berakhir 31 Desember 2010. Perseroan dapat dihadapkan pada adanya kenaikan biaya dan penundaan dari kemampuan Perseroan untuk memberikan pelayanan yang serupa 75 . Perseroan bersama dengan LAPI Institut Teknologi Bandung. sistem manajemen pendapatan menyediakan analisis data pasar (termasuk perubahan pada tarif rekan kerja dan pesaing) untuk memudahkan Perseroan dalam mengembangkan segmentasi harga pada tarif dan alokasi ketersediaan tempat duduk dari seluruh segmen-segmen harga yang mana dapat memaksimalkan pendapatan penumpang. jika dibandingkan dengan sistem yang umumnya digunakan oleh pesaing Perseroan. Perseroan sangat bergantung pada sistem otomatisasi dalam menjalankan bisnisnya dan setiap kegagalan pada sistem otomatisasi ini dapat mempengaruhi bisnis Perseroan. telah melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab dari outage dari IOCS.9. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan tidak akan menghadapi kesalahan migrasi data di masa yang akan datang. kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. Sebagai akibatnya. pasar dan operasi Perseroan. Kegagalan pada website. pada tanggal 21 Nopember 2010. dengan demikian Perseroan mengalami kesulitan dalam mengalokasikan crew pada jadwal penerbangan yang telah ditentukan antara tanggal 21-23 Nopember 2010 dengan jadwal crew penerbangan yang terus-menerus dicetak dan didistribusikan ke beberapa crew penerbangan unit dengan menggunakan data yang tidak akurat dari sistem manajemen operasional yang lama. Selain itu. Pusat data yang baru memiliki data-data yang bersifat rahasia dalam jumlah yang banyak yang harus dipindahkan. dan sistem penyimpanan data yang bertujuan untuk secara efektif mengambil dan mengintegrasikan informasi dari data keuangan. Perseroan bergantung pada sistem otomatisasi untuk menjalankan bisnisnya.

11. Perseroan bergantung kepada Pemerintah dan institusi lain yang dimiliki dan dikendalikan oleh Pemerintah terkait dukungan keuangan dan pelayanan penting lainnya. seperti melalui pinjaman dari kreditur luar negeri untuk membiayai pembelian pesawat. Perseroan mungkin diharuskan untuk mengeluarkan modal yang signifikan dan sumber lain untuk melindungi dari ancaman pelanggaran keamanan atau untuk mengurangi permasalahan yang diakibatkan dari pelanggaran keamanan. dan 2009. Di tahun 2007. yang dapat mengganggu kegiatan usaha Perseroan atau mengakibatkan tidak dapat diaksesnya sistem Perseroan oleh pihak ketiga. Perseroan bergantung pada Kementerian Agama terkait kegiatan penerbangan haji. kondisi keuangan. Pemerintah memberikan bantuan dalam memperoleh beberapa armada pesawat. Jika realisasi tidak sesuai dengan proyeksi internal Perseroan. Kementerian Agama mungkin dapat mengundang beberapa maskapai penerbangan domestik atau internasional untuk ikut serta dalam proses tender terkait bisnis ini dan tidak dapat dipastikan bahwa Kementerian Agama akan menindaklanjuti perjanjian ini dengan Perseroan di masa yang akan datang.1% dari total pendapatan usaha pada tahun 2007. 10. kondisi keuangan. Tarif tiket pesawat terkait penerbangan jemaah haji disetujui oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama setelah melalui proses negosiasi dengan Perseroan sekitar enam bulan dari jadwal penerbangan setiap tahunnya.8%.0%.9%% dari total pendapatan usaha yang berasal dari penerbangan tidak berjadwal pada tahun 2007. maka tarif yang dibayarkan oleh Kementerian Agama mungkin tidak dapat menutupi beban Perseroan dalam hal pelayanan haji dan profitabilitas. Pendapatan dari penerbangan haji ini mencakup sekitar 10. 2008. Kementerian Agama bertanggung jawab atas pelaksanaan ibadah haji termasuk di dalamnya perjalanan bagi para jemaah haji ke dan dari Arab Saudi. jasa pengendalian lalu lintas udara. 2009 dan sekitar 94. Namun. PT Angkasa Pura II (Persero) (“AP II”) dan PT Angkasa Pura I (Persero) (“AP I”). virus komputer atau program perangkat lunak yang dapat mengakibatkan tidak berfungsinya komputer telah didistribusikan atau disebarluaskan melalui internet. dan 13. penemuan terbaru atau pengembangan lainnya dapat membahayakan atau melanggar sistem keamanan dan data pribadi yang tersimpan pada sistem tersebut. dan kemudian menyewakan pesawat tersebut kepada Perseroan untuk digunakan dalam kegiatan usaha Perseroan. beberapa hutang usaha Perseroan terhadap AP I dan AP II telah dikonversikan menjadi ekuitas Perseroan dan baru-baru ini. Sistem keamanan mungkin belum cukup untuk melindungi pelanggaran keamanan dan kegiatan usaha Perseroan dapat terpengaruh secara negatif dengan adanya pembatalan pembelian tiket apabila pelanggaran keamanan tidak ditanggulangi. hasil usaha dan prospek Perseroan. 92. termasuk beban bahan bakar pesawat dan beban charter pesawat. Sebagian besar penerbangan Perseroan beroperasi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Ngurah-Rai.sampai pemberi jasa serupa ditemukan atau Perseroan dapat mengembangkan teknologi atau operasi pengganti. 11. Sistem automatisasi Perseroan dan sistem registrasi pihak ketiga berhubungan dengan perpindahan informasi rahasia ke jaringan publik. Perseroan menerima tagihan setiap bulan terkait penggunaan fasilitas bandara dan pelayanan pada setiap bandara di Indonesia dimana Perseroan beroperasi termasuk sewa tempat penjualan tiket dan ruangan kantor. Perseroan mulai melakukan kegiatan penerbangan haji pada tahun 1956. jasa pengendalian di darat dan jasa penerbangan lainnya. maka hal ini dapat bedampak negatif terhadap hasil usaha dan keuangan Perseroan. AP I dan AP II telah dikonversikan menjadi hutang subordinasi jangka panjang dimana telah membantu Perseroan dalam meningkatkan posisi keuangan Perseroan. Di masa lalu. Siapapun yang melanggar pengaman dari sistem tersebut dapat mengambil informasi rahasia atau mengganggu pelayanan atau usaha Perseroan. Tiket pesawat untuk jemaah haji dibayarkan kepada Perseroan oleh Kementerian Agama berdasarkan perjanjian yang ditandatangani oleh Perseroan dan Kementerian. Internet adalah jaringan publik dan data yang dikirimkan melalui jaringan ini berasal dari beberapa sumber. 76 . 2008. Pemerintah juga telah memberikan kontribusi modal dan melakukan konversi hutang Perseroan menjadi modal dalam bentuk saham. Tidak adanya kepastian bahwa Perseroan dapat mempertahankan perjanjian dengan Kementerian Agama dan kegagalan untuk mempertahankan pelayanan haji tersebut dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. virus komputer dapat masuk ke dalam sistem Perseroan atau sistem registrasi pihak ketiga. dan hasil usaha Perseroan dapat terpengaruh secara negatif. sehingga membantu Perseroan dalam meningkatkan posisi keuangannya. Penunaian ibadah haji di tahun 2010 berlangsung pada kuartal keempat pada tahun tersebut sehingga tidak tercermin pada sembilan bulan yang berakhir pada bulan September 2010.9%. Tingginya kemampuan penggunaan komputer. yang dioperasikan oleh BUMN yaitu.8%. dan 93. dan dinegosiasikan kembali setiap tahunnya. beberapa hutang usaha Perseroan terhadap Pertamina. Saat ini Perseroan merupakan satu-satunya maskapai penerbangan Indonesia terkait angkutan haji. Di masa lalu. Apabila Perseroan tidak sukses dalam memilih pihak ketiga pemberi jasa sistem registrasi yang berkualitas atau tidak dapat secara efektif membina hubungan dengan pihak ketiga tersebut. Perseroan menegosiasikan tarif tersebut yang didasarkan pada asumsi dan proyeksi internal dari rencana beban yang dikeluarkan terkait penerbangan ini.

kondisi pasar dan faktor lainnya. 2008. kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan.458. dan pada 2 Juni 2010. Pada 17 Oktober 2010. Belum ada temuan atau keputusan sehubungan dengan sidang di Australia dan Selandia Baru pada tanggal Prospektus ini. Australian Competition and Consumer Commission (“ACCC”) mengajukan tuntutan hukum terhadap Perseroan bersama-sama dengan maskapai penerbangan internasional lain sehubungan dengan dugaan atas keterlibatan dalam kartel fuel surcharges global jasa kargo.Perseroan tidak bisa memastikan bahwa Perseroan akan terus mendapatkan bantuan keuangan dan pelayanan penting dari Pemerintah dan institusi lainnya yang dikendalikan oleh Pemerintah. Belum ada putusan terkait upaya hukum keberatan tersebut hingga tanggal Prospektus ini. Bagian dari pengembalian pinjaman dan hutang sewa guna usaha yang jatuh tempo dalam 12 bulan berikutnya dari tanggal neraca disajikan sebagai kewajiban lancar pada Neraca Perseroan. Perseroan mungkin menambah hutang dan kewajiban tetap tambahan untuk membiayai seluruh atau sebagian dari ekspansi armada pesawat yang direncanakan atau untuk tujuan lain. pra-sidang diselenggarakan berkenaan dengan tuduhan terhadap Perseroan. Pada bulan September 2009. Selain itu.7 miliar.4 miliar. karena diduga terlibat dalam kartel beban tambahan bahan bakar global jasa kargo. likuiditas dan hasil usaha Perseroan mungkin dapat terpengaruh secara material dan negatif. Pengadilan Negeri New South Wales menolak permohonan untuk dikeluarkan dari perkara berdasarkan Foreign Satates Immunities Act 1985. Rp2. Persidangan sehubungan dengan penggabungan pembelaan berkenaan dengan tuntutan terhadap Perseroan di New Zealand rencananya akan diselenggarakan tahun 2011. 0 miliar untuk dugaan praktek persaingan tidak sehat terkait tambahan beban bahan bakar kepada penumpang yang melanggar Pasal 5 dan 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No 5 Tahun 1999) (”UU Persaingan Usaha”). Australia dan Selandia Baru. Rp2. 77 . Apabila bantuan keuangan dan beberapa pelayanan penting tersebut tidak diberikan kepada Perseroan atau tidak diberikan dalam kondisi yang menguntungkan Perseroan dan bisnis. Perseroan pernah memiliki dan mungkin akan tetap memiliki defisit modal kerja di masa yang akan datang. Pada tanggal 31 Desember 2007.7 miliar. Tambahan beban bahan bakar yang diterapkan oleh Perseroan sedang diperkarakan di Indonesia. New Zealand Commerce Commission (NZCC) menerbitkan pernyataan tuntutan terhadap Perseroan. 13. bersama-sama dengan maskapai penerbangan internasional lain. Pada tanggal 4 Mei 2010. Pada tanggal 17 Juni 2010. Kewajiban lancar terutama berasal dari biaya yang masih harus dibayar. kewajiban lancar Perseroan melebihi aset lancar sebesar Rp1. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (“KPPU”) telah menjatuhkan sanksi denda terhadap Perseroan sebesar Rp187. dimana hal ini akan membatasi kemampuan Perseroan untuk bersaing secara efektif dan melakukan ekspansi bisnis. Perseroan telah mengajukan keberatan atas putusan KPPU tersebut ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 2009 dan 30 September 2010.135. Perseroan mungkin dapat melakukan pengadaan dana tambahan melalui penawaran hutang atau ekuitas atau penjualan atau penempatan lain dari saham atau aset. tergantung pada kebutuhan modal. Pada tahun 2008. prospek. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan akan mampu untuk menjaga ketersediaan modal untuk menjalankan bisnis Perseroan dan kegagalan Perseroan untuk menjalankan hal tersebut dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. Dalam persidangan tanggal 15 Desember 2010 tersebut. dapat digunakan untuk membayar kewajiban lancar saat jatuh tempo selama periode itu. Aset lancar adalah aset yang diharapkan akan dikonversi menjadi kas atau digunakan dalam satu tahun dari tanggal neraca dan. pendapatan ditangguhkan untuk penerbangan berjadwal dan haji dan porsi pinjaman jangka panjang saat ini dan hutang sewa guna usaha yang dikeluarkan untuk pengembangan armada pesawat. KPPU telah dijadwalkan untuk menyampaikan laporan berupa expert testimony kepada panel hakim. karenanya. Perseroan memiliki defisit modal kerja yang berarti bahwa kewajiban lancar Perseroan melebihi aset lancar. 12. kondisi keuangan.427. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mengadakan sidang pemeriksaan keberatan tersebut pada 8 Desember 2010 dan 15 Desember 2010. Perseroan mengajukan banding atas putusan tersebut yang mana masih dalam proses penelaahan oleh pengadilan.1 miliar dan Rp1. PN Jakarta Pusat mengeluarkan putusan sela yang pada intinya memerintahkan KPPU untuk melakukan pemeriksaan tambahan terhadap ahli tambahan Perseroan Sidang pemeriksaan keberatan akan dilanjutkan pada 26 Januari 2011 dengan agenda penyerahan berkas pemeriksaan tambahan oleh KPPU ke majelis hakim. Hingga prospektus ini diterbitkan belum ada putusan pengadilan sehubungan dengan perkara ini. Kewajiban lancar termasuk kewajiban-kewajiban yang pembayarannya jatuh tempo dalam satu tahun dari tanggal neraca dan mencakup sebagian dari hutang dan kewajiban tetap Perseroan.162. Antara bulan Oktober 2009 dan bulan Juni 2010.

Perseroan wajib mendapatkan dan mempertahankan perizinan yang dimiliki dan persetujuan untuk mengoperasikan jaringan rute Perseroan. profitabilitas Perseroan dipengaruhi oleh perubahan dalam LIBOR Dolar Amerika Serikat.Jika Perseroan dinyatakan telah bertindak melanggar undang-undang anti monopoli atau persaingan usaha di Indonesia. hutang Perseroan dikenakan baik bunga tetap maupun bunga mengambang memiliki jangka waktu yang lebih pendek dari perjanjian sewa Perseroan. Walaupun saat ini rute penerbangan Amerika Serikat belum menjadi tujuan rute penerbangan internasional Perseroan. 15.9% dari total pendapatan operasi Perseroan dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Perubahan-perubahan dalam peraturan atau sosialisasi atas peraturan baru dapat berpengaruh negatif terhadap bisnis. menyatakan bahwa maskapai penerbangan Indonesia telah gagal memenuhi standar keselamatan internasional yang ditetapkan oleh ICAO. profitabilitas. Selain itu. dalam melakukan pelayanan penerbangan dengan tujuan Amerika Serikat.1%. yang telah mengakibatkan. Perseroan membuka penerbangan antara Jakarta dan Amsterdam setiap harinya. Industri penerbangan diatur oleh peraturan-peraturan yang sangat luas dan Perseroan tidak memiliki kendali atas peraturan-peraturan tersebut. termasuk Perseroan. Sebagian besar hutang Perseroan memiliki suku bunga mengambang. Reputasi dan bisnis Perseroan dapat terkena dampak negatif karena adanya larangan penerbangan ke Uni Eropa bagi sebagian perusahaan penerbangan Indonesia. 2008. Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat juga telah menurunkan peringkat keamanan untuk seluruh maskapai penerbangan Indonesia. Uni Eropa (“EU”) memberlakukan larangan terhadap semua maskapai penerbangan Indonesia berlaku sejak 6 Juli 2007. atau sanksi lain. 78 . FAA. didasarkan pada memburuknya standar keselamatan sejak deregulasi sektor penerbangan Indonesia di akhir 1990-an. serta bisnis. pengenaan denda yang besar. dengan demikian secara efektif melarang maskapai penerbangan Indonesia. Kemudian Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan meninjau ulang larangan EU terhadap maskapai domestik.5% masing-masing dari total pendapatan operasi Perseroan di tahun-tahun yang berakhir pada 31 Desember 2007. Beban bunga mencakup 3. Uni Eropa juga telah mengeluarkan peringatan kepada warga negara dari negara-negara anggotanya untuk mengurangi jumlah penggunaan maskapai penerbangan Indonesia untuk rute transit. EU dan otoritas peraturan internasional lainnya dapat terus menerapkan larangan yang sudah ada. Perseroan berkepentingan agar pembatasan FAA dicabut sebelum Perseroan dapat mulai melayani penerbangan tujuan Amerika Serikat. larangan tersebut telah dicabut terhadap Perseroan dan tiga maskapai penerbangan Indonesia lainnya. Pada bulan Juni 2007. Adanya pembatasan pada operasi penerbangan dapat berdampak negatif terhadap strategi pertumbuhan Perseroan termasuk kemampuan untuk mempertahankan atau meningkatkan jumlah tujuan pada rute penerbangan Perseroan atau frekuensi penerbangan dari rute tujuan yang sudah ada. Jika hal ini terjadi. Dengan demikian. dan 1. Australia. dimana hal tersebut dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap reputasi Perseroan. 1. sebagai akibat dari perubahan tersebut pada pendapatan dan beban bunga yang berasal dari deposito jangka pendek dan aset dan kewajiban berbunga. Tingginya beban bunga dapat berdampak negatif terhadap profitabilitas Perseroan. antara lain. kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan mungkin akan terpengaruh secara material dan negatif. FAA juga telah mengeluarkan peringatan kepada warga negara Amerika Serikat untuk menggunakan alternatif maskapai penerbangan dari maskapai penerbangan Indonesia. atau jika ada pembatasan yang bersifat material dikenakan terhadap kemampuan Perseroan untuk menerapkan fuel surcharges. pembatalan atau penangguhan lisensi tertentu yang dibutuhkan untuk operasi bisnis Perseroan di wilayah hukum tersebut. sehingga Perseroan memiliki risiko pendanaan kembali pada tingkat bunga yang lebih tinggi. beban bunga yang berfluktuasi sehubungan dengan perubahan tingkat suku bunga. seperti antara Jakarta dan Bali.9%. dan terus akan mengakibatkan. kondisi keuangan dan hasil usaha dan prospek Perseroan. 2009 dan 0. sanksi administratif. Selandia Baru. bisnis. Pada bulan Juni 2010. hasil usaha serta likuiditas Perseroan. pembatasan kegiatan usaha Perseroan di wilayah hukum terkait. Pada bulan Juli 2009. Suku bunga mengambang atas saldo hutang Perseroan dapat meningkat di masa yang akan datang dan dengan demikian meningkatkan beban bunga yang dapat menurunkan margin Perseroan sehingga dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. dan hukuman perdata atau pidana lain. maka Perseroan mungkin dikenakan. termasuk Perseroan. hasil operasi dan prospek Perseroan. prospek. atau memaksakan larangan tambahan (termasuk larangan tambahan penerbangan) terhadap maskapai penerbangan yang telah disertifikasi oleh pihak berwenang di Indonesia. 14. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa larangan yang sudah ada akan dicabut terhadap Perseroan atau peraturanperaturan di masa yang akan datang tidak akan membatasi Perseroan. kondisi keuangan. kondisi keuangan. atau wilayah hukum lain.

9 miliar Hasil usaha untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 secara negatif telah dipengaruhi oleh keputusan dalam mempercepat pengiriman 18 pesawat Boeing 737-800 sehubungan dengan program simplifikasi armada. Perseroan juga memiliki opsi untuk membeli 4 tambahan pesawat A330-200. 18. 1 tahun 2009. termasuk karyawan. yang mengharuskan semua maskapai penerbangan berjadwal untuk menguasai minimal 10 pesawat pada bulan Januari 2012 dan maskapai penerbangan tersebut harus memiliki minimal 5 pesawat. Peningkatan tingkat inflasi dapat berdampak negatif terhadap strategi ekspansi armada pesawat Sampai dengan 30 September 2010. inflasi dan indeks gaji di Amerika Serikat. Perseroan mengalami kerugian dari kegiatan operasi selama kurun waktu sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan kemungkinan akan terus mengalami kondisi tersebut. Adanya pesawat baru pada armada pesawat Perseroan meningkatkan beban sewa pesawat Perseroan dan sesuai dengan keputusan Perseroan untuk melarang terbang (grounded) beberapa jenis pesawat yang sudah tua seperti Boeing 737 untuk pengecekan akhir sebelum pengiriman kembali pada saat berakhirnya sewa operasi pada tahun 2010 dan 2011. termasuk sebagai berikut: • kesulitan dalam pengintegrasian aset dan operasi penerbangan dari maskapai penerbangan yang diakuisisi atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan. Perseroan mungkin melakukan ekspansi bisnis melalui akuisisi maskapai penerbangan atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan. antara lain. Apabila terjadi peningkatan inflasi yang signifikan.5 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009. 79 . Peraturan ini. dan sistem manajemen informasi dan jasa. dimana dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan dalam hal pengadaan armada pesawat terbang sesuai dengan rencana ekspansi armada pesawat Perseroan.9 miliar jika dibandingkan dengan laba usaha Rp623. keuntungan dari sale lease back sebesar Rp159. keterlambatan atau masalah operasional atau keuangan lainnya. Pemerintah telah mengundangkan UU Penerbangan No. Perseroan sebelumnya telah mendapatkan pengiriman masing-masing 15 dan 2 pesawat Boeing 737-800 baru pada tahun 2009 dan 2008. Perseroan mungkin mengakuisisi maskapai penerbangan atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan untuk memperluas kegiatan usaha Perseroan. ditambah dengan kondisi persaingan yang kuat di bidang industri penerbangan. akan memungkinkan untuk konsolidasi di industri penerbangan di Indonesia dimana perusahaan penerbangan berskala kecil akan diharuskan untuk bergabung atau ditutup. 10 armada pesawat Boeing 777. Rata-rata penggunaan pesawat udara pada periode ini juga telah dipengaruhi secara negatif oleh kekurangan pilot dan adanya program pembaharuan kabin terhadap 6 pesawat A330 yang dilakukan pada tahun 2010.9 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Walaupun Perseroan mendapatkan laba bersih sebesar Rp194. komitmen belanja modal dan pembayaran uang muka pesawat mungkin meningkat. sistem manajemen. 17. dan 6 Airbus A330-200 dengan jadwal pengiriman antara tahun 2011 sampai tahun 2016. prosedur. Proses akuisisi seperti itu melibatkan ketidakpastian dan risiko. • • • Jika Perseroan tidak dapat mengelola atau mengintegrasikan maskapai penerbangan yang baru diakuisisi atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan dengan sukses tanpa adanya pengeluaran yang besar. Menurut ketentuan perjanjian pembelian pesawat dengan Boeing dan Airbus.1 miliar yang berasal dari pengembangan armada pesawat Perseroan dan keuntungan dari kurs mata uang asing sebesar Rp130. Perseroan mengalami rugi usaha sebesar Rp289. budaya perusahaan. yang menghadapkan Perseroan pada ketidakpastian dan risiko integrasi terkait dengan akuisisi di masa yang akan datang. Selain itu. hal ini menggambarkan sebanyak satu pesawat dilarang terbang selama satu tahun penuh. Perseroan mungkin tidak dapat mencapai tujuan atau sinergi yang diinginkan dari akuisisi tersebut dan akuisisi tersebut dapat berdampak negatif terhadap kegiatan operasi dan hasil keuangan dari kegiatan usaha yang ada. hal ini paling utama disebabkan oleh pendapatan pada pos luar biasa sebesar Rp184. dan tekanan ekonomi keuangan yang semakin meningkat akibat adanya asumsi kewajiban yang dicatat dan tidak dicatat dari maskapai penerbangan yang diakuisisi atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. kegagalan untuk mencapai sinergi yang diantisipasi. sebagaimana ditetapkan sesuai dengan metode yang telah disepakati sebelumnya dalam masing-masing perjanjian. Sebagai akibatnya. penghematan beban atau peluang meningkatkan pendapatan yang dihasilkan dari akuisisi maskapai penerbangan atau bisnis yang berhubungan dengan penerbangan. kesulitan dalam melaksanakan pengendalian dan pengawasan atas kegiatan usaha dari maskapai penerbangan yang baru diakuisisi. Perseroan telah menandatangani perjanjian pembelian armada pesawat dengan Boeing untuk membeli 11 armada pesawat Boeing 737-800.1 miliar yang berasal dari restrukturisasi hutang.16. harga perolehan harus disesuaikan dengan.

pengenalan brand yang lebih kuat. Pasokan dan harga bahan bakar pesawat berdampak signifikan terhadap beban operasional dan hasil usaha Perseroan. Perseroan menghadapi berbagai tingkat persaingan dari FSC dan LCC di setiap pasar yang dilayani oleh Perseroan. 2008.2%.4% dan 31. Pengurangan pembatasan ini serta pertumbuhan LCC domestik. Banyak dari pesaing Perseroan dari luar negeri yang memiliki jaringan rute yang lebih luas. Risiko Terkait Industri Penerbangan 1. Pengadaan rute terbaru. pada umumnya membutuhkan waktu untuk pada akhirnya dapat menghasilkan margin keuntungan yang positif. Perseroan membeli sebagian besar bahan bakar pesawat. Hal tersebut mengakibatkan kerugian pendapatan sebagai akibat dari peniadaan penerbangan dan peningkatan biaya termasuk beban bahan bakar dan beban operasional lainnya karena adanya penjadwalan ulang rute pesawat di daerah sekitar bencana alam tersebut.3%. atau terlibat dalam kegiatan promosi. jadwal. Faktor-faktor kompetitif utama termasuk harga. Banyak dari pesaing Perseroan juga memiliki jaringan penjualan yang lebih besar dan memiliki sistem reservasi yang lebih komprehensif dan dapat diakses dimanapun. dari satu sumber yaitu Pertamina. Masuknya maskapai penerbangan baru. Dari waktu ke waktu. 2009 dan sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Karena beragamnya faktor yang dapat mempengaruhi harga dan ketersediaan bahan bakar. peningkatan biaya atau rugi dari hasil usaha untuk tahun berakhir pada tanggal 31 Desember 2010 atau selama periode di masa yang akan datang atau bahwa Perseroan dapat mencatat keuntungan di periode masa yang akan datang. telah meningkatkan kapasitas tempat duduk penumpang dan persaingan harga pada rute-rute yang sudah tersedia. serta adanya gangguan dari personil maupun gangguan teknis selama proses migrasi data dari IOCS baru yang mengakibatkan penutupan sistem reservasi penumpang dari tanggal 21-23 Nopember 2010. Ketersediaan bahan bakar juga tergantung pada periode ketika pasar surplus dan defisit dan dapat dipengaruhi oleh permintaan baik untuk minyak tanah dan bensin. Industri penerbangan sangat kompetitif. terutama rute internasional. Di masa lalu. beberapa rute domestik dan internasional juga menghadapi diskon tarif atau promosi harga yang signifikan yang dapat mengurangi passenger yield Perseroan. Beban bahan bakar pesawat mewakili 34. secara signifikan dapat mempengaruhi hasil usaha Perseroan. Tidak ada kepastian bahwa Perseroan akan terus menderita kerugian pendapatan. Hal tersebut disebabkan karena Perseroan sedang dalam proses pengembangan brand awareness dan pangsa pasar pada rute baru. Setiap perubahan lebih lanjut atas kondisi persaingan pasar maskapai penerbangan di Indonesia dan regional. maka meningkatkan persaingan baik LCC asing maupun domestik. 2. khususnya LCC. dan sumber daya keuangan dan teknologi yang lebih baik. maka prospek bisnis dan profitabilitas Perseroan dapat terpengaruh secara negatif. yang mungkin berdampak negatif yang bersifat material terhadap kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. beban bahan bakar bergantung pada fluktuasi harga secara umum yang dipengaruhi oleh isu-isu geopolitik serta penawaran dan permintaan. jenis dan umur pesawat. termasuk semua bahan bakar pesawat yang diperlukan untuk penerbangan domestik Perseroan. termasuk sebagai hasil dari pengenalan “open skies” (seperti penerapan kebijakan “open skies” di ASEAN) atau hak sabotage di Indonesia. kualitas pelayanan.8% dari total beban operasional Perseroan pada tahun 2007. rute internasional jarak jauh dengan tujuan Indonesia Timur maupun rute Eropa ke Amsterdam terbaru mengalami load factors yang rendah. Meskipun Perseroan telah menggunakan lindung nilai (hedging) pada bahan bakar yang 80 . Denpasar. Pemerintah Indonesia mengurangi pembatasan LCC asing yang melayani empat pintu masuk bandara Indonesia melalui Jakarta. 29. jaringan rute. dan Medan. seperti program kerjasama pemasaran. dimana tingginya kewajiban tetap yang dibutuhkan untuk mengembangkan rute baru biasanya diikuti dengan adanya passenger load factors yang rendah dan pengaruh negatif dari promosi tarif “lead in” pada passenger yields. Bencana letusan gunung merapi dari Gunung Merapi dan Gunung Bromo pada bulan Nopember 2010. Sejak September 2010. Selama periode tersebut. 41.Beberapa faktor lain juga telah mempengaruhi kondisi hasil usaha Perseroan selama periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa pesaing yang ada saat ini atau di masa yang akan datang tidak akan ikut serta dalam strategi diskon atau promosi harga tiket dalam upaya untuk mendapatkan pangsa pasar FSC Perseroan dengan brand Garuda Indonesia dan LCC Perseroan dengan brand Citilink. atau memiliki persepsi publik sebagai maskapai penerbangan yang sangat aman dan memberikan pelayanan terbaik. Apabila Perseroan tidak mampu bersaing secara efektif dalam situasi ini. maka beban dan ketersediaan bahan bakar di masa yang akan datang tidak dapat diprediksi dengan pasti. Perseroan juga telah dipengaruhi secara negatif oleh dua kejadian luar biasa yang terjadi di bulan Nopember dan Desember 2010. Kenaikan beban bahan bakar dapat berdampak negatif terhadap bisnis Perseroan. Surabaya.

3. Perseroan mungkin tidak dapat mengenakan kenaikan beban bahan bakar kepada pelanggan di masa yang akan datang. pajak dan tarif dan biaya bandara telah diajukan dari waktu ke waktu dimana secara signifikan dapat meningkatkan biaya operasional penerbangan atau mengurangi permintaan perjalanan udara. termasuk pembayaran sewa pembiayaan dan sewa operasi untuk armada pesawat dan mesin. 737-400. 4. Strategi bisnis Perseroan adalah meningkatkan sinergi armada pesawat dan meminimalkan beban operasional penerbangan melalui modernisasi dan program simplifikasi pesawat. Perseroan bermaksud untuk tetap menggunakan produsen pesawat ini untuk memasok pesawat terbang di masa yang akan datang.1%. Perseroan dapat kehilangan manfaat yang saat ini diperoleh dari komposisi armada dan mungkin tidak mendapatkan sinergi dan manfaat lain yang diharapkan dari simplifikasi armada di masa yang akan datang. maka langkahlangkah ini bisa memiliki efek terhadap kenaikan harga tiket. Perseroan bermaksud untuk menghentikan operasi Boeing 747 dan menggantikannya dengan pesawat yang lebih efisien terkait bahan bakar dan jarak tempuh yang panjang yaitu Boeing 777-300 ER. Tambahan undang-undang. Beban sewa dan charter pesawat (dimana terutama terdiri dari beban sewa pesawat) mencakup 11. sedangkan pendapatan yang dihasilkan dari penerbangan berhubungan langsung dengan jumlah penumpang dan struktur tarif penerbangan.digunakan untuk penerbangan haji sejak tahun 2009. Jika Perseroan harus melakukan penyewaan atau pembelian pesawat pengganti dari pemasok lain.6% masing-masing dari pendapatan angkutan penerbangan Perseroan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007. atau jika Perseroan tidak dapat membeli atau menyewa pesawat baru atau mesin dari produsen atau lessor pesawat terbang atau mesin dengan syarat dan ketentuan yang dapat diterima Perseroan. atau bahwa setiap pesawat pengganti tersebut akan dapat diandalkan 81 . Selain itu. Jika Perseroan harus melakukan renegosiasi dengan Boeing atau Airbus dan tidak dapat menyelesaikan negosiasi tersebut secara musyawarah. Maskapai penerbangan harus mematuhi persyaratan peraturan dan hukum yang beragam. Dengan demikian. yaitu Boeing 737-300. Tidak ada kepastian bahwa pesawat pengganti akan memiliki keuntungan operasional yang sama seperti pesawat Boeing dan Airbus yang merupakan bagian utama dari armada pesawat Perseroan. yaitu Boeing 747 dan Airbus 330 dan empat jenis pesawat berbadan sempit (narrow-body). terkait kegiatan usaha penerbangan Perseroan dan telah mengadakan perjanjian pembelian dengan Boeing dan Airbus untuk pembelian tambahan pesawat. Perseroan tidak bisa memastikan bahwa peraturan perundang-undangan ini yang berlaku di masa depan tidak akan membahayakan bisnis Perseroan. Saat ini. Perseroan hanya memiliki jumlah pemasok yang terbatas untuk armada pesawat dan mesin. kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. Perseroan juga bermaksud untuk mengganti armada pesawat Boeing 737300. Apabila diterapkan.A. Mesin yang digunakan oleh armada pesawat Perseroan diproduksi oleh CFM International. 737-400 dan 737-500. maka Boeing atau Airbus mungkin menolak untuk memasok armada pesawat yang akan datang. Perseroan mengoperasikan dua jenis pesawat berbadan lebar (wide-body). Perubahan pada peraturan pemerintah dapat membahayakan bisnis Perseroan. Model Boeing 777-300 ER dan 737-800 diproduksi oleh Boeing dan model A330 diproduksi oleh Airbus.5% dari pendapatan jasa penerbangan untuk sembilan bulan terakhir pada tanggal 30 September 2010. mengurangi pendapatan dan meningkatkan beban. atau pada akhirnya gagal memenuhi kewajiban berdasarkan perjanjian pembelian yang ada. Perseroan saat ini tidak menggunakan lindung nilai (hedging) untuk penerbangan berjadwal.2%. S. apabila salah satu diantara Boeing atau Airbus ini tidak dapat memenuhi kewajiban kontrak mereka. 10. Biaya yang terkait dengan operasi penerbangan Perseroan tidak bervariasi secara proporsional dengan jumlah penumpang. Selain itu.(joint venture antara Snecma (SAFRAN Group) di Perancis dan General Electric di Amerika Serikat) dan Rolls-Royce Plc. Perseroan saat ini sedang meninjau kembali kebutuhan armada pesawat dan jadwal kedatangan pesawat baru sesuai dengan perjanjian pembelian yang sudah ada. Bisnis penerbangan ditandai dengan biaya tetap yang tinggi. maka Perseroan harus mencari pemasok lainnya untuk tipe armada pesawat atau mesin yang sama. Dalam beberapa tahun terakhir. dan 13. peraturan. 2009 dan 11. dan mengoperasikan hanya satu jenis pesawat berbadan sempit yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar yaitu Boeing 737-800 dan tipe pesawat Sub-100. baik di Indonesia maupun di luar negeri yang melibatkan biaya kepatuhan yang signifikan. 5. 737-500 dan 737-800. Setiap hal tersebut di atas dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. 2008. lindung nilai (hedging) bahan bakar dibatasi oleh volume bahan bakar dan durasinya. Selain itu. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa perjanjian lindung nilai (hedging) bahan bakar jika diperluas ke penerbangan berjadwal akan dapat secara memadai melindungi Perseroan terhadap kenaikan harga bahan bakar. setiap perubahan dalam jumlah penumpang Perseroan atau harga atau lalu lintas Perseroan dapat mempengaruhi kegiatan usaha dan keuangan Perseroan. karena sangat kompetitifnya industri penerbangan dan regulasi di Indonesia and di luar negeri. Bisnis penerbangan pada umumnya ditandai dengan biaya tetap yang tinggi. DJPU dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (“KNKT”) telah mengeluarkan peraturan yang berhubungan dengan operasional penerbangan Indonesia yang memerlukan pengeluaran biaya yang signifikan.

82 . dan pilot telah mengabaikan beberapa peringatan otomatis kecepatan pendaratan yang berlebihan dan prosedur Perseroan untuk membatalkan pendaratan. Perseroan juga mungkin akan menanggung biaya yang besar akibat perubahan ini. Perseroan telah membayar sekitar USD82. Kecelakaan atau insiden pesawat terbang dapat melibatkan tidak hanya perbaikan atau penggantian pesawat yang rusak dan akibatnya kerugian pelayanan yang dapat bersifat sementara atau permanen. Pilot tersebut kemudian dihukum karena kelalaian kriminal. Pendapatan Perseroan dari penerbangan haji yang mencakup 94.0%. Selain itu. dengan pendapatan pelayanan penumpang tertinggi terjadi di pertengahan bulan Juni sampai pertengahan September dan akhir bulan Desember sampai dengan awal bulan Januari. atau pada suatu kondisi yang terkait dengan kecelakaan pada model atau mesin pesawat ini.A atau Rolls-Royce Plc untuk menyediakan suku cadang yang cukup atau dukungan pelayanan tertentu secara tepat waktu. tetapi juga ada potensial klaim yang signifikan dari penumpang yang terluka dan korban penumpang meninggal.9%. selama terjadi krisis ekonomi dan periode ketidakstabilan politik dan sosial di masa lalu.dan efisien.6 juta terkait penyisihan untuk armada pesawat tersebut dan Perseroan telah menerima secara keseluruhan USD104 juta sebagai kompensasi dari asuransi yang dimiliki Perseroan. Bisnis Perseroan akan sangat terganggu apabila ditemukan cacat desain atau masalah mekanis pada model pesawat Boeing atau Airbus atau mesin CFM International S. Setiap penurunan secara umum pada penumpang penerbangan di masa yang akan datang (yang mungkin disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi. penerbangan Garuda Indonesia GA 200 mengalami kecelakaan pada saat mendarat di Bandara Internasional Adisucipto di Yogjakarta mengakibatkan 21 orang terluka parah. yang menyebabkan pesawat Perseroan dilarang terbang (grounded) sementara cacat atau masalah tersebut diperbaiki. Operasi penerbangan haji pada periode tahun 2007 sampai dengan 2009 pada umumnya mencakup 12 minggu yang dimulai setiap tahunnya dengan tanggal yang maju dari periode Nopember ke Oktober. Perseroan tidak memiliki pendapatan dari penerbangan haji pada periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010. Akibat dari sifat industri penerbangan yang rentan terhadap siklus ekonomi. politik dan sosial yang tidak dapat dikendalikan oleh Perseroan) dapat secara negatif mempengaruhi kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. Belum adanya penemuan yang telah dikeluarkan terkait sidang tersebut sampai dengan Prospektus ini diterbitkan. Untuk penerbangan domestik. Airbus. Walaupun Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan menjaga kecukupan cakupan asuransi dibandingkan dengan maskapai penerbangan Indonesia lainnya. dimana hal ini konsisten dengan musim padat untuk liburan sekolah dan akhir tahun. dan 93. Sejak tahun 2007 sampai dengan September 2010. Reputasi dan bisnis Perseroan dapat terkena dampak negatif akibat kecelakaan atau insiden pesawat. Penyelidikan kecelakaan oleh KNKT dari insiden tersebut menemukan bahwa penyebab kecelakaan itu adalah kesalahan pilot. Selain itu. Sidang awal diadakan pada tanggal 5 Nopember 2010. Sehubungan dengan operasi penerbangan pada tahun 2009 telah diselesaikan sebelum 31 Desember 2009 dan operasi penerbangan haji dimulai pada bulan Oktober 2010. industri penerbangan mengalami kerugian keuangan yang signifikan. Kegiatan usaha Perseroan dapat dirugikan oleh kegagalan atau ketidakmampuan Boeing. 92. termasuk biaya yang terkait dengan mempertahankan karyawan. reputasi dan hasil usaha Perseroan. pada bulan Ramadhan biasanya pasar penumpang mengalami penurunan. 6. meskipun hukum ini kemudian dibatalkan pada tingkat banding. Bisnis Perseroan juga akan terganggu apabila publik menghindari penggunaan pesawat Perseroan yang disebabkan oleh adanya persepsi negatif untuk model pesawat dan mesin tersebut terkait kekhawatiran keselamatan atau masalah lain. Pada tanggal 30 Juli 2010. bahkan jika diasuransikan sepenuhnya.9% dari total pendapatan operasi dari penerbangan tidak berjadwal di tahun 2007. 7. baik itu nyata ataupun hanya persepsi. Klaim yang signifikan akibat kecelakaan atau insiden pesawat terbang yang melebihi dari nilai perlindungan asuransi terkait dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap hasil usaha dan kondisi keuangan Perseroan.4 juta untuk mengkompensasi penumpang dan kerabat penumpang yang meninggal dan mencatat kerugian sebesar USD21. 2008 dan 2009. sejauh bahwa biaya tersebut tidak disediakan oleh pemasok alternatif. yang biasanya jatuh pada akhir musim panas pada setiap tahunnya dari tahun 2007 sampai dengan 30 September 2010. setiap kecelakaan atau insiden pesawat terbang. dan tidak terdapat kepastian bahwa jika Perseroan dikalahkan dalam gugatan tersebut. berbeda setiap tahunnya sesuai dengan kalendar Hijriah. CFM International S. Penggunaan pesawat dapat ditangguhkan atau dilarang ketika terjadi masalah mekanis atau cacat desain baik nyata ataupun hanya persepsi. dengan asumsi bahwa cacat atau masalah tersebut dapat ditanggulangi. maka tidak akan berdampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis Perseroan. industri penerbangan cenderung bersifat musiman. tingkat cakupan bisnis Perseroan mungkin tidak memadai dan Perseroan mungkin terpaksa menanggung kerugian besar yang timbul dari kecelakaan atau insiden. sementara penyelidikan sedang berjalan. Hasil dari perkara tersebut di atas tidak dapat dipastikan. Hasil operasi Perseroan dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh perubahan siklus industri penerbangan dan bersifat musiman. istri dan anak dari awak kabin yang meninggal mengajukan tuntutan hukum pada Pengadilan Negeri Kyoto di Jepang terkait kehilangan bantuan pasangan (spousal support) dan perkiraan kehilangan pendapatan. bisa menciptakan persepsi publik bahwa Perseroan kurang aman atau kurang dapat diandalkan dibandingkan dengan maskapai lain. Pada tanggal 7 Maret 2007. mengganti sistem yang bersifat manual dan penyesuaian fasilitas.A atau Rolls-Royce yang merupakan armada pesawat Perseroan. yang akan membahayakan bisnis.

Singapura. Serangan teroris di masa yang akan datang. Kementerian Kesehatan Indonesia telah melaporkan kepada WHO terkait kematian 139 dalam jumlah 168 kasus flu burung di Indonesia. meningkatkan keterlambatan penerbangan atau pembatalan terkait dengan peraturan baru pemerintah dan peningkatan biaya keamanan. menewaskan sembilan orang dan melukai lebih dari 50 lainnya. Pada bulan April 2009. WHO mengumumkan pada bulan Juni 2006 bahwa penularan flu burung dari manusia ke manusia telah ditemukan di Sumatera. sebagian besar Asia mengalami gejala merebaknya wabah flu burung yang belum pernah terjadi sebelumnya. Inggris dan Australia di Irak. Pemerintah telah menangkap dan mendakwa beberapa pihak terkait insiden ini. atau ketakutan serangan tersebut. Dari jumlah tersebut. menurut laporan yang telah dikonfirmasikan. Per tanggal 31 Agustus 2010. Sejak tahun 2002. Tidak ditemukannya vaksin flu burung yang efektif dan vaksin yang efektif mungkin tidak ditemukan pada waktu yang tepat untuk melindungi pandemi flu burung yang potensial. walaupun tidak diarahkan pada atau dikaitkan dengan industri penerbangan. 9. secara negatif dapat mempengaruhi industri penerbangan dan mengakibatkan penurunan lalu lintas dan passenger yield. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa peristiwa-peristiwa teroris tersebut tidak akan merugikan industri penerbangan secara umum atau bisnis Perseroan. dan tetap melakukan investigasi terhadap insiden ini dan menganggap bahwa hal-hal ini terkait dengan kegiatan kelompok militan Islam tertentu. Organisasi Kesehatan Dunia (“WHO”) telah mengkonfirmasikan total kematian sebanyak 300 dalam jumlah 505 kasus yang dilaporkan ke WHO. Dampak yang potensial termasuk kerugian yang besar terkait jumlah penumpang bepergian dan pendapatan pada industri penerbangan. dimana telah dikonfirmasi melalui laporan laboratorium bahwa kasus-kasus tersebut merupakan kasus flu burung. yang paling signifikan terjadi di Bali pada bulan Oktober 2002 dan Oktober 2005. beberapa insiden pemboman telah terjadi di Indonesia. meningkatnya kekhawatiran tentang serangan teroris di masa yang akan datang. 83 . Indonesia. Menurut United Nations Food and Agricultural. Demonstrasi juga terjadi di Indonesia menanggapi rencana dan aksi militer AS. atau ancaman seperti serangan tersebut. severe acute respiratory syndrome (“SARS”). Wabah flu burung. yang secara signifikan telah mempengaruhi kegiatan ekonomi dan menyebabkan penurunan pasar penumpang dan permintaan barang di daerah-daerah yang terkena musibah tersebut. di Hotel JW Marriott di Jakarta pada bulan Agustus 2003. suatu bentuk atypical pneumonia yang dapat menular. keterlambatan karena peningkatan keamanan dan berkurangnya passenger yield akibat rendahnya permintaan untuk perjalanan udara. baik benar atau tidak benar. asuransi dan lainnya. publisitas yang merugikan tentang keprihatinan mengenai penyakit menular melalui komunikasi dan kerentanan udara bagi penumpang. negara-negara tertentu di Asia mengalami wabah SARS. virus influenza A (H1N1) atau penyakit menular lainnya. bom meledak di Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW Marriot di Jakarta. mewabah virus Influenza A (H1N1) yang berasal dari Meksiko tetapi telah menyebar secara global. meningkatkan kemungkinan bahwa virus tersebut dapat bermutasi menjadi bentuk yang mematikan. di Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada bulan September 2004 dan di kota Indonesia timur Tentena di pulau Sulawesi bulan Mei 2005. Selama beberapa tahun terakhir. atau tindakan yang diambil oleh pemerintah dan negara-negara lain terhadap penyakit menular. dapat mencegah penumpang untuk bepergian atau menyebabkan keterlambatan atau gangguan terhadap jadwal penerbangan Perseroan. dan di beberapa tempat lain di Asia. meningkatnya beban keamanan dan asuransi. Serangan teroris dan akibatnya dapat berdampak buruk bagi industri penerbangan Indonesia. Selain itu. Pada tahun 2003. Serangan teroris tambahan. tidak akan berdampak buruk pada hasil usaha Perseroan. virus flu burung yang terdapat di 31 dari 33 propinsi di Indonesia dan upaya untuk menanggulangi flu burung telah gagal di Indonesia. bahan bakar. sehingga dapat berdampak negatif terhadap hasil usaha Perseroan. mungkin secara negatif mempengaruhi permintaan perjalanan udara. dapat meningkatkan beban operasi dan mengurangi permintaan dari pelayanan Perseroan. Jepang. atau persepsi bahwa wabah tersebut dapat terjadi. Hong Kong. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa wabah penyakit menular tidak akan terjadi di masa yang akan datang dan bahwa wabah penyakit apapun. Selain itu. Virus influenza A (H1N1) diyakini sangat menular dan mungkin tidak mudah dikontrol penyebarannya. Pada tanggal 17 Juli 2009. Malaysia. termasuk di Indonesia.8.

dapat berpengaruh secara negatif yang bersifat material terhadap bisnis. regional atau global dapat mempengaruhi bisnis Perseroan. asuransi maskapai penerbangan tertentu dapat menjadi lebih mahal. Sesuai dengan asuransi penerbangan pada umumnya. Dengan adanya serangan teroris dan beberapa kejadian lainnya. antara lain. Inflasi (diukur berdasarkan perubahan indeks harga konsumen dari tahun ke tahun) tetap tidak stabil dengan tingkat inflasi tahunan sebesar 2. Krisis global ini juga mengakibatkan kekurangan dalam ketersediaan kredit. Apabila kerugian yang ditanggung Perseroan melebihi dari nilai pertanggungan asuransi maka Perseroan mungkin harus menanggung kerugian yang akan berdampak negatif yang bersifat material terhadap kegiatan usaha Perseroan. terkait kewajiban umum atau aset tertentu dapat berdampak negatif yang bersifat material terhadap kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. Tidak ada kepastian bahwa asuransi Perseroan dapat menutup kerugian yang sebenarnya. Pemerintah harus bergantung pada dukungan dari kreditur internasional dan Pemerintah internasional untuk mencegah terjadinya gagal bayar hutang. dan mengakibatkan bailout pemerintah pada beberapa bank dan lembaga lainnya oleh pemerintah. dimana hal ini menyebabkan masalah likuiditas yang mengakibatkan kebangkrutan bagi banyak institusi. atau menghilangkan dari yang diambil atau diadopsi.1% pada tahun 2008 dan 6. gangguan signifikan yang berasal dari kekurangan likuiditas di AS dan kredit sub-prime pada kredit perumahan sejak pertengahan tahun 2007. yang memiliki dampak negatif terhadap kemampuan beberapa perusahaan Indonesia dalam memenuhi hutang yang ada. tidak tersedia atau tersedia hanya dengan nilai pertanggungan yang kecil yang tidak sesuai dengan syarat tingkat pertanggungan yang diwajibkan oleh pihak yang menyewakan pesawat atau peraturan pemerintah yang berlaku. Kondisi ini berdampak negatif yang bersifat material pada bisnis di Indonesia. Perubahan ekonomi domestik. kehilangan keuntungan atau pendapatan dan kehilangan bisinis yang timbul sebagai akibat dari kegagalan mekanis. sehingga memiliki dampak negatif yang bersifat material terhadap kemampuan perusahaan-perusahaan Indonesia dalam memenuhi hutang yang ada. Sejauh dimana risiko yang tidak diasuransikan tersebut bernilai material. 84 .50% pada tahun 2009 dari 6. perang atau peristiwa serupa. depresiasi mata uang.78% pada tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. penurunan nilai pasar saham global. Kebutuhan dana Pemerintah untuk daerah yang terkena musibah tsunami di Samudra Hindia pada bulan Desember 2004 dan bencana alam lainnya. Perseroan tidak mengasuransikan beberapa risiko bisnis termasuk risiko gangguan usaha. Kesulitan ekonomi yang dihadapi Indonesia selama krisis ekonomi Asia yang dimulai pada tahun 1997 mengakibatkan. Asuransi mungkin menjadi lebih sulit atau mahal didapatkan Sejak tanggal 11 September 2001 serangan teroris di Amerika Serikat. oleh krisis ekonomi global yang dimulai pada akhir tahun 2007. cadangan devisa dalam mata uang yang asing yang kecil. atau faktor lain. hilangnya kepercayaan investor pada sistem keuangan negara berkembang dan pasar lain. mata uang Rupiah yang tidak stabil serta memiliki likuiditas yang buruk. serta kenaikan harga minyak.5% pada tanggal 31 Desember 2009. kondisi politik. 1. Risiko Terkait Indonesia Sebagian besar dari operasi Perseroan dan seluruh aset Perseroan berada di Indonesia. dan sektor perbankan yang lemah dan memiliki non-performing loan yang tinggi. penurunan investasi langsung dari pihak asing. terbukti dengan penurunan laju pertumbuhan menjadi 4. Pemerintah terus mengalami defisit fiskal yang besar dan tingginya tingkat hutang negara dalam mata uang asing. pertumbuhan ekonomi negatif. Sebagai akibat dari krisis ekonomi. suku bunga yang tinggi. dapat meningkatkan defisit fiskal Pemerintah. perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan penurunan permintaan komoditas tertentu. Akibatnya. Perseroan dapat terpengaruh secara material dan negatif. dari pertengahan tahun 1997 dapat dilihat di Indonesia. Tingkat suku bunga di Indonesia juga mengalami ketidakstabilan dalam beberapa tahun terakhir. kerusuhan sosial dan perkembangan politik yang luar biasa. Keterbatasan Perseroan untuk mendapatkan asuransi yang dapat diterima secara umum atau tidak sama sekali. Krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara. asuransi penerbangan secara signifikan meningkatkan premi per penumpang terkait tambahan asuransi dan mengurangi jumlah maksimum pertanggungan kewajiban pihak ketiga untuk klaim yang diakibatkan oleh tindakan terorisme. Sedangkan suku bunga Bank sertifikat Bank Indonesia satu bulan telah menurun dari tingkat tertingginya sebesar 70. dan mungkin akan terus mengalami.10. Perekonomian Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh krisis ekonomi Asia dan. termasuk Indonesia. dapat menyebabkan peningkatan volatilitas di pasar keuangan internasional dan Indonesia dan menghambat atau mengubah arah pertumbuhan ekonomi global dan perekonomian Indonesia. kegagalan institusi keuangan secara global. kondisi keuangan. baru-baru ini. serta tindakan dan kebijakan tertentu yang mungkin diambil atau diadopsi oleh Pemerintah. Pasar keuangan global telah mengalami. antara lain. tidak adanya kepastian bahwa perbaikan kondisi ekonomi akan terus berlanjut atau memburuknya perekonomian Indonesia dan seluruh kawasan Asia Pasifik beberapa tahun lalu tidak akan terjadi di masa yang akan datang. ekonomi dan sosial di Indonesia di masa yang akan datang. volatilitas yang signifikan pada suku bunga.3% pada tahun 2007.8% pada bulan Juli akhir tahun 1998 menjadi 6. Secara khusus. Krisis ekonomi mengakibatkan kegagalan beberapa perusahaan Indonesia melalui ketidakmampuan atau sebaliknya dalam pemenuhan kewajibannya tepat waktu. hasil usaha dan prospek Perseroan.

85 . Dengan demikian. Indonesia telah mengalami perubahan demokrasi. material dan secara negatif mempengaruhi bisnis. dan Presiden yang menjabat saat ini. Warga negara Indonesia juga mulai secara langsung memilih kepala dan wakil pemerintah lokal dan regional. Sejak tahun 1998. bailout PT Bank Century Tbk pada tahun 2008. diadakan pada bulan Juli 2009. Sangat dimungkinkan bahwa peningkatan aktivitas pemilu akan disertai oleh peningkatan aktivitas politik di Indonesia. 2. Setiap hal tersebut sebelumnya dapat menimbulkan dampak material dan negatif terhadap bisnis. Susilo Bambang Yudhoyono. Di kedua kasus tersebut. kampanye politik di Indonesia dapat membawa tingkat ketidakpastian politik dan sosial. Di masa lalu. sehingga menaikkan harga bensin premium sekitar 87. kondisi keuangan. ribuan orang Indonesia telah berpartisipasi dalam demonstrasi di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia baik dalam rangka mendukung atau menentang mantan Presiden Abdurahman Wahid. Sejak tahun 2000. harga bensin biasa dan solar sekitar 104. kegagalan lembaga-lembaga keuangan global. yang memiliki efek negatif terhadap bisnis di Indonesia. Di propinsi Maluku dan Kalimantan Barat. Pemerintah telah berusaha untuk menyelesaikan masalah di kawasan bermasalah tersebut dengan keberhasilan yang terbatas kecuali di propinsi Aceh di mana kesepakatan antara Pemerintah dan separatis Aceh tercapai dan pemilihan daerah yang damai diadakan dengan beberapa mantan separatis sebagai calon.7% menjadi Rp2. mantan Presiden Megawati. Pada bulan Oktober 2005. langkah-langkah anti-korupsi. dimana pada saat-saat tertentu berubah menjadi kerusuhan dan kekerasan. mengakibatkan kejadian politik dan sosial yang menggambarkan dinamika politik di Indonesia. Harga untuk produk-produk ini terus meningkat. Pemerintah lebih lanjut menurunkan subsidi BBM kepada masyarakat. propinsi dan kabupaten). serta dalam menanggapi isu-isu tertentu.8% menjadi Rp4. serta beban listrik dan telepon. Wakil-Presiden dan wakil-wakil di Parlemen Indonesia untuk pertama kalinya. Indonesia telah mengalami beberapa konflik sosial yang diakibatkan oleh masalah ekonomi. penurunan pasar saham global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global. dengan hasil terpilihnya kembali Presiden Yudhoyono. memburuknya perekonomian dapat memberikan dampak yang signifikan pada permintaan untuk pelayanan penerbangan Perseroan. Gangguan sosial dan sipil dapat secara langsung atau tidak langsung. Ketidakstabilan politik dan sosial di Indonesia dapat secara negatif mempengaruhi perekonomian yang bisa memberikan dampak negatif yang bersifat material terhadap bisnis. privatisasi aset negara. dan harga minyak tanah sekitar 185. Demonstrasi serupa terjadi kembali pada Januari 2003 ketika Pemerintah berusaha menaikkan harga BBM. Gerakan separatis dan bentrokan antara kelompok agama dan etnis juga mengakibatkan ketidakstabilan sosial dan sipil di wilayah Indonesia. Pemotongan subsidi BBM serupa memberikan kontribusi pada ketidakstabilan politik yang mengarah pada pengunduran diri Presiden Soeharto pada tahun 1998.Krisis ekonomi global yang dimulai pada akhir tahun 2007 telah memberikan dampak terhadap perekonomian global. termasuk Indonesia dan Asia Tenggara. hasil dan prospek usaha Perseroan. Tidak ada jaminan bahwa perubahan kebijakan Pemerintah dan Pemerintahan di masa yang akan datang tidak akan mengakibatkan ketidakstabilan politik dan sosial. sering terjadi bentrokan antara pendukung gerakan-gerakan separatis dan militer Indonesia. desentralisasi dan otonomi daerah serta kampanye militer yang dipimpin Amerika di Afghanistan dan Irak. Perubahan dalam Pemerintahan dan kebijakan Pemerintah mungkin memiliki dampak langsung terhadap bisnis dan harga saham Perseroan. Pada bulan Juni 2001.5% menjadi Rp4. Selain itu. demonstrasi dan pemogokan telah terjadi paling sedikit di 19 kota setelah Pemerintah memberikan peraturan mengenai peningkatan harga BBM sebesar 30%. Sebagai negara demokrasi yang relatif baru. Pada bulan Mei 2008. Industri penerbangan sangat terpengaruh oleh siklus ekonomi dan telah mengalami kerugian keuangan yang sangat signifikan ketika perekonomian memburuk. Di propinsi Aceh dan Papua (dahulu Irian Jaya). termasuk pengurangan subsidi BBM.300 per liter. Selain itu. yang telah ditandai antara lain dengan adanya kekurangan dalam ketersediaan kredit. yang juga menimbulkan demonstrasi publik. hasil usaha dan prospek Perseroan. Pada tahun 2004. kurangnya kredit yang tersedia dan kurangnya kepercayaan terhadap pasar keuangan terkait memburuknya kondisi pasar dapat mempengaruhi akses Perseroan untuk mendapatkan pendanaan. politik dan perkembangan sosial di Indonesia tidak dapat diprediksi. kondisi keuangan. menyebabkan demonstrasi publik yang besar. secara umum Indonesia menghadapi masalah-masalah sosial-politik yang beragam. Pemerintah mengurangi subsidi BBM kepada masyarakat.500 per liter. hasil usaha dan prospek Perseroan. Pada bulan April 2009. bentrokan antara kelompok agama dan kelompok etnis telah mengakibatkan ribuan korban dan pengungsi selama beberapa tahun terakhir. pemilu diadakan untuk memilih wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (termasuk wakil-wakil nasional. penurunan investasi langsung pihak asing. Walaupun pada April 2009 dan Juli 2009 pemilihan dilaksanakan dengan damai. Pemerintah terpaksa mencabut.000 per liter. kondisi keuangan. warga negara Indonesia secara langsung memilih Presiden. Pemilihan Presiden Indonesia. menunda atau mengurangi secara signifikan rencana kenaikan harga-harga tersebut.

Gempa itu diikuti oleh dua gempa susulan namun tidak menimbulkan tsunami dan tidak ada laporan korban atau kerusakan. 4.0 skala ritcher melanda Sulawesi. Karena Indonesia terletak pada zona pertemuan tiga patahan tektonik utama. semua ini dapat berdampak material dan negatif terhadap bisnis. Banjir ini juga menyebabkan banyak orang yang hilang dan ratusan rumah terendam. Di Indonesia diperkirakan lebih dari 220. Pada bulan September 2009. yang menewaskan sedikitnya 72 jiwa dan gempa berkekuatan 7. gempa bumi melanda selatan kota Jawa Tengah Yogyakarta bulan Mei 2006. dan dapat mempengaruhi kemampuan Pemerintah untuk memenuhi kewajibannya. atau deklarasi moratorium atas Surat Hutang Negara (“SUN”) dapat menimbulkan kejadian kelalaian untuk hutanghutang sektor swasta termasuk hutang Perseroan. Kepulauan Indonesia merupakan salah satu daerah yang memiliki aktivitas vulkanik teraktif di dunia. gempa bumi bawah laut di lepas pantai Sumatera mengakibatkan tsunami yang menghantam penduduk di dekat garis pantai di Indonesia. Banjir pada bulan Januari dan Februari 2007 di sekitar ibukota.6 skala ritcher melanda Padang Sumatra. memungkinkan pengenaan pajak dan beban lainnya oleh pemerintah daerah sesuai dengan wilayah hukum mereka dimana hal ini membutuhkan partisipasi masyarakat lokal dan investasi pada bisnis tersebut. kondisi keuangan. Pemerintah baru-baru ini mendelegasikan otonomi daerah ke beberapa pemerintahan daerah. Kegagalan pembayaran tersebut. Jawa Barat. Setelah gempa tsunami Desember 2004 dan gempa bumi susulan terjadi di Indonesia. membutuhkan restrukturisasi organisasi dan meningkatkan pajak dan beban lain dalam menjalankan kegiatan usaha.000 orang di barat laut Pulau Sumatera. Bencana ini menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai sedikitnya 37 orang. terakhir terjadi pada bulan Pebruari 2009 ketika gempa berkekuatan 7. Pada bulan Juli 2007. 86 .7 skala ritcher pada tahun 2008 dan 2009. Selanjutnya. dan hasil usaha Perseroan. hasil operasi dan prospek usaha Perseroan.6 skala ritcher melanda sekitar 95 mil sebelah utara Manokwari. pada bulan Januari 2009. Thailand dan Sri Lanka. Perseroan juga diharuskan untuk mengalihkan rute penerbangan (dan menambah jarak penerbangan) ke tujuan tertentu di Indonesia dan luar negeri untuk menghindari abu vulkanik. Sebagian besar beban tersebut ditanggung oleh pemerintah luar negeri dan lembaga bantuan internasional. prospek.000 orang tersebut. gempa berkekuatan 6. gempa bumi. Aliran listrik juga terputus di kota dengan penduduk sekitar 160. sehingga memiliki risiko terhadap kegiatan seismik yang signifikan yang dapat menyebabkan letusan gunung berapi. Selain peristiwa geologis. Indonesia terletak di zona gunung berapi yang masih aktif dan memiliki risiko seismik yang tinggi yang dapat mengganggu kegiatan usaha Perseroan.3. Peningkatan otonomi daerah dapat meningkatkan peraturan-peraturan pada bisnis Perseroan.6 sampai 7. mengakibatkan pembatasan penerbangan di Indonesia. Hal ini mengharuskan Perseroan membatalkan sekitar 190 penerbangan pulang pergi ke dan dari beberapa tujuan termasuk Yogyakarta. Apabila Pemerintah tidak dapat mendistribusikan bantuan luar negeri kepada korban yang membutuhkan tepat waktu maka ketidakstabilan politik dan sosial dapat terjadi.0 skala ritcher melanda Tasikmalaya. Sebagai contoh. Pembatalan penerbangan tersebut memberikan dampak negatif terhadap pendapatan penumpang Perseroan dan volume penumpang dan pengalihan rute penerbangan meningkatkan biaya bahan bakar Perseroan dan biaya penerbangan lainnya untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010. dan tsunami.000 orang. sebuah gempa berkekuatan 7. diikuti oleh gempa besar dan serangkaian gempa susulan. Pada bulan Nopember dan Desember 2010 terjadi letusan gunung berapi dari Gunung Merapi dan Gunung Bromo. Jakarta. Dalam menanggapi kenaikan permintaan dan pernyataan otonomi daerah di pemerintahan daerah Indonesia. Ada juga beberapa gempa bumi di daerah Sulawesi dengan besaran gempa berkisar antara 4. hujan lebat menyebabkan bendungan era kolonial di luar Jakarta meledak. Baru-baru ini. kondisi keuangan. Pada bulan Januari 2009. menghanyutkan dinding air berlumpur ke lingkungan yang padat dan menewaskan sedikitnya 58 orang. Pada tanggal 26 Desember 2004. hujan lebat pada bulan Desember 2006 mengakibatkan banjir yang menewaskan lebih dari 100 jiwa dan pengungsi lebih dari 400. sehingga dapat secara material dan negatif mempengaruhi bisnis. Solok di Sumatra Barat di bulan Maret 2007 dan Sumatera Selatan pada bulan September 2007. Pertumbuhan otonomi daerah berpotensi menciptakan lingkungan bisnis yang tidak pasti bagi Perseroan dan dapat menambah beban Perseroan. Tidak terdapat kepastian bahwa bantuan tersebut akan terus datang. upaya-upaya perbaikan maupun bantuan kemungkinan besar membebani keuangan Pemerintah. Pemerintah juga telah mengeluarkan banyak dana untuk pertolongan darurat dan usaha-usaha relokasi tempat tinggal korban bencana. setidaknya 9 orang tewas dan sedikitnya 16. Dua gunung berapi yang paling aktif di Indonesia. Sementara peristiwa seismik baru-baru ini tidak memiliki dampak ekonomi yang signifikan terhadap pasar modal Indonesia. menyebabkan korban jiwa dan kerusakan signifikan.000 jiwa meninggal atau dicatat hilang dalam bencana.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena banjir dan tanah longsor yang disebabkan oleh hujan deras di Pulau Sulawesi. menewaskan sedikitnya 30 jiwa dan pengungsi sedikitnya 340. yang menewaskan sedikitnya 400 orang dan menimbun ribuan orang di bawah reruntuhan. di lepas pantai selatan Jawa pada bulan Juli 2006. Jakarta dan tujuan lain di Jawa Tengah. atau bahwa bantuan tersebut dapat mencapai korban yang membutuhkan tepat waktu.

atau akan mampu. Sejak tahun 1997. Inc (“Moody’s”) dan Standard & Poor’s. hasil dan prospek usaha Perseroan. akan berhasil. Modifikasi kebijakan nilai tukar mengambang bisa mengakibatkan tingginya suku bunga domestik. atau bahwa Pemerintah akan mengambil tindakan untuk menstabilkan. Salah satu penyebab langsung dari krisis ekonomi yang dimulai di Indonesia pada pertengahan 1997 adalah depresiasi dan volatilitas nilai tukar Rupiah. yang mungkin secara negatif mempengaruhi kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. Standard & Poor’s. Selain itu. kontrol modal atau nilai tukar atau pemotongan bantuan keuangan tambahan oleh pemberi pinjaman multinasional. kondisi keuangan. bertindak bila diperlukan untuk menstabilkan. dan tidak akan bertindak untuk mendevaluasi Rupiah. dan penurunan volume penumpang. Depresiasi atau volatilitas nilai tukar Rupiah dapat secara negatif mempengaruhi bisnis. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Rupiah tidak akan terdepresiasi dan terfluktuasi berkelanjutan. Rupiah secara umum dapat ditukar dan ditransfer dengan bebas (kecuali bank-bank Indonesia dimana mereka tidak dapat mengalihkan Rupiah kepada orang-orang di luar Indonesia dan tidak dapat melakukan transaksi tertentu yang bukan penduduk). jika diambil. Hampir seluruh kewajiban hutang. 5. termasuk Perseroan. seperti Dolar Amerika Serikat. termasuk Dolar Amerika Serikat. Tidak ada kepastian yang dapat diberikan bahwa Moody’s. kondisi keuangan. dan sebagai hasilnya. beban pemeliharaan dan perbaikan dan bahan bakar adalah dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Saat ini. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa premi yang harus dibayar untuk asuransi tersebut setelah perpanjangan tidak akan meningkat secara signifikan. resesi ekonomi. Penurunan peringkat kredit Indonesia dan perusahaan Indonesia dapat secara material dan negatif mempengaruhi Perseroan dan harga pasar dari saham yang ditawarkan. Setiap konsekuensi tersebut dapat memberikan dampak negatif yang bersifat material terhadap usaha. Dengan demikian. atau bahwa setiap tindakan tersebut. Meskipun Rupiah telah dihargai jauh dari titik rendah sekitar Rp17. Perseroan saat ini tidak melakukan nilai lindung terhadap risiko dari nilai tukar mata uang asing. peringkat hutang dengan mata uang asing adalah “Ba2” oleh Moody. meningkat dari “Ba3” pada tanggal 16 September 2009. untuk meningkatkan pendanaan tambahan dan tingkat suku bunga dan syarat komersial lainnya dimana tersedianya pendanaan tambahan tersebut dan hal ini dapat berdampak material dan negatif terhadap kinerja keuangan Perseroan. memelihara atau meningkatkan nilai Rupiah. kewajiban pembayaran sewa. 87 . atau dimana Pemerintah akan. kekurangan likuiditas. hasil usaha dan prospek Perseroan. menurunkan peringkat utang luar negeri Indonesia dan peringkat kredit dari berbagai instrumen kredit Pemerintah.Perseroan tidak dapat memastikan bahwa nilai pertanggungan yang ada akan cukup melindungi Perseroan dari potensi kerugian akibat bencana alam dan peristiwa lain di luar kendali Perseroan. Fitch atau badan internasional pemeringkat kredit lainnya akan tidak lebih lanjut menurunkan peringkat kredit Indonesia atau perusahaan Indonesia lainnya. dari waktu ke waktu. jika diambil. Laporan keuangan konsolidasi Perseroan dilaporkan dalam Rupiah. akan berhasil. meningkat dari “BB+” pada tanggal 12 Maret 2010 dan “BB+” oleh Fitch Rating Service (“Fitch”). sebagian besar bank-bank Indonesia dan perusahaan lainnya. risiko nilai tukar berkaitan dengan fluktuasi Dolar Amerika Serikat terhadap nilai tukar Rupiah. Perseroan memiliki risiko nilai tukar. Bank Indonesia telah melakukan intervensi dalam pasar pertukaran mata uang sebagai kelanjutan dari kebijakan Bank Indonesia. atau bahwa salah satu tindakan ini. Sebuah gempa yang signifikan atau gangguan geologi lainnya di setiap kota di Indonesia yang berpenduduk banyak dan pusat-pusat keuangan dapat sangat mengganggu perekonomian Indonesia dan merusak kepercayaan investor. kemampuan Pemerintah dan perusahaan di Indonesia. “BB” oleh Standard & Poor’s. namun Rupiah terus mengalami volatilitas yang signifikan. 6. memelihara atau meningkatkan nilai Rupiah. yang diukur terhadap mata uang lain. khususnya.000 per Dolar Amerika Serikat pada bulan Januari 1998. sejumlah badan internasional pemeringkat kredit. sehingga dapat secara material dan negatif mempengaruhi bisnis. Setiap penurunan rating Indonesia dapat berdampak buruk pada likuiditas pasar keuangan Indonesia. Peringkat-peringkat ini merefleksikan penilaian atas kemampuan keuangan Pemerintah secara keseluruhan untuk membayar kewajibannya dan kemampuan atau niat Pemerintah untuk memenuhi komitmen finansialnya pada saat jatuh tempo. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa peristiwa geologi di masa yang akan datang tidak akan memberikan dampak pada perekonomian Indonesia. baik dengan menjual Rupiah atau dengan menggunakan cadangan mata uang asing untuk membeli Rupiah. tidak akan terjadi. Hal ini dapat mengakibatkan pengurangan aktifitas ekonomi. Namun. hasil dan prospek usaha Perseroan. Perseroan juga akan menghadapi kesulitan pendanaan untuk ekspansi armada pesawat dan dalam menerapkan strategi bisnis Perseroan. kondisi keuangan. sementara sekitar separuh dari pendapatan Perseroan adalah dalam mata uang Rupiah dan sisanya dalam mata uang asing lainnya. Selain itu. dimana kebijakan nilai tukar saat ini akan tetap sama. meningkat dari “BB” pada tanggal 25 Januari 2010. termasuk Moody’s Investors Service. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa kebijakan nilai tukar yang mengambang dari Bank Indonesia tidak akan diubah. bahwa depresiasi Rupiah yang berkelanjutan terhadap mata uang lainnya.

dan kebutuhan modal kerja serta belanja modal Perseroan. atau persepsi bahwa penjualan tersebut akan terjadi. arus kas. Dimana hal tersebut dibatasi oleh ketentuan-ketentuan tertentu dan pengesampingan oleh Agen Penjual Internasional. Pemerintah telah mengumumkan bahwa secara umum pemerintah bermaksud untuk melakukan privatisasi terhadap Badan Usaha Milik Negara. perbedaan antara kondisi keuangan dan hasil kegiatan usaha yang sebenarnya dibandingkan dengan perkiraan para investor dan analis. Pemerintah. Penjualan saham Perseroan di masa yang akan datang dapat berdampak negatif terhadap harga pasar saham Perseroan. menggadaikan. komitmen kontraktual dan beban sewa pesawat yang terjadi sebagai akibat dari ekspansi armada pesawat Perseroan. 3.Risiko terkait Investasi pada saham Perseroan 1. akan tergantung pada laba ditahan di masa yang akan datang. penambahan atau pengurangan personel inti. mengalihkan. Perseroan mungkin memiliki pembatasan yang diatur dalam ketentuanketentuan dari perjanjian pembiayaan di masa yang akan datang untuk membayar dividen setelah periode tertentu sebagaimana disetujui oleh kreditur. 88 . Selain itu. Perseroan telah menyetujui ketentuan-ketentuan tertentu sesuai dengan kemampuan Perseroan untuk mengalihkan atau melepaskan saham Perseroan untuk jangka waktu yang terbatas setelah penutupan Penawaran Umum. baik secara langsung maupun tidak langsung. jika ada. Perseroan juga dapat mengadakan perjanjian pembiayaan serupa di masa yang akan datang dimana dapat membatasi kemampuan Perseroan untuk membayar dividen. yang mungkin menyebabkan penjualan saham Perseroan di masa yang akan datang sebagai bagian dari rencana privatisasi. sosial. Setelah penawaran umum selesai. Pemerintah belum menandatangani perjanjian yang mengikat tetapi telah memberitahukan Agen Penjual Internasional dan Perseroan bahwa saat ini Pemerintah tidak bermaksud untuk menawarkan. Jumlah pembayaran dividen Perseroan di masa yang akan datang. perubahan pada kondisi ekonomi. Harga saham Perseroan dapat berfluktuasi di masa yang akan datang Harga saham Perseroan setelah Penawaran Umum dapat berfluktuasi yang disebabkan beberapa faktor. Perseroan tidak dapat memastikan bahwa Perseroan akan mampu membayar dividen atau bahwa Direksi Perseroan akan mengumumkan pembagian dividen. sahamnya di dalam Perseroan dalam jangka waktu enam bulan sejak tanggal terdaftarnya saham Perseroan. dapat memberikan pengaruh negatif pada harga pasar pada saat itu atau kemampuan Perseroan untuk memperoleh modal dari penawaran umum melalui penerbitan saham atau surat berharga yang berkaitan dengan ekuitas (equity-linked securities) kepada publik. dan dapat menimbulkan pengeluaran atau kewajiban yang dapat mengurangi kas yang tersedia untuk membayar dividen. akan memegang sekitar 69% saham dari sisa saham (outstanding shares). setelah berakhirnya ketentuan-ketentuan tersebut. Kemampuan Perseroan untuk membayar dividen di masa yang akan datang akan bergantung pada laba di masa yang akan datang. dan tingginya fluktuasi harga saham. Namun demikian. politik atau pasar di Indonesia perubahan harga efek bersifat ekuitas dari perusahaan-perusahaan asing (terutama di Asia) di pasar berkembang. termasuk: • • • • • • • • 2. arus kas. melalui Menteri Badan Usaha Milik Negara. kondisi keuangan. kondisi keuangan. atau persepsi bahwa sejumlah penjualan saham Perseroan akan terjadi di masa yang akan datang. kebutuhan modal kerja. Ketentuan yang yang ada dalam perjanjian Pinjaman ECA dan Pinjaman Komersial membatasi jumlah dividen yang mungkin dapat dibayarkan oleh Perseroan sampai 50% dari laba bersih untuk setiap periode pelaporan. menjual. dapat menyebabkan harga saham Perseroan turun dan membuat kemampuan untuk mendapatkan modal tambahan menjadi lebih sulit. perubahan rekomendasi atau persepsi dari para analis terhadap Perseroan atau Indonesia. Penjualan saham Perseroan di pasar dalam jumlah besar. penjualan saham dengan jumlah besar oleh pemegang saham Perseroan. ekspansi armada pesawat dan pembatasan dari kreditur Perseroan. atau penjualan saham baru oleh Perseroan di masa yang akan datang. keterlibatan dalam litigasi. prospek bisnis dan kegiatan operasional Perseroan.

Manajemen Perseroan dengan ini menyatakan bahwa Perseroan telah mengungkapkan seluruh risiko usaha material yang disusun berdasarkan bobot risiko terhadap kegiatan usaha utama dan keuangan Perseroan. Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan Anggaran Dasar Perseroan.Berdasarkan laporan keuangan untuk tahun yang berakhir 30 September 2010. Perseroan tidak dapat menjamin bahwa dividen akan dibayar dalam jumlah yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya atau bahkan tidak sama sekali. Dividen hanya boleh dibagikan apabila Perseroan mempunyai saldo laba positif. satu-satunya sumber pendapatan para pemegang saham diperoleh dari kenaikan nilai saham Perseroan. sebagai akibatnya. Akibatnya. 89 . Perseroan tidak dapat menjamin bahwa Perseroan tidak akan mengalami saldo laba negatif lagi di kemudian hari dan karenanya Perseroan tidak dapat membagikan dividen pada kurun waktu tersebut. Perseroan tidak dapat membagikan dividen sampai dengan Perseroan memiliki saldo laba positif. dan hanya dapat diubah ke dalam mata uang asing yang diinginkan dengan risiko nilai tukar yang kurang menguntungkan. Pembagian dividen harus disetujui oleh Pemegang Saham melalui keputusan RUPS Tahunan berdasarkan rekomendasi Direksi Perseroan. laba bersih Perseroan dapat dibagikan kepada Pemegang Saham sebagai dividen setelah penyisihan dana cadangan wajib yang dipersyaratkan undang-undang. Perseroan mengalami saldo laba negatif dan. Dividen dinyatakan dalam Rupiah.

KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Tidak ada kejadian penting yang mempunyai dampak cukup material terhadap keadaan keuangan dan hasil usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang terjadi setelah tanggal laporan Auditor Independen tertanggal 23 Desember 2010 atas laporan keuangan konsolidasi yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan dengan pendapat wajar tanpa pengecualian yang perlu diungkapkan dalam prospektus ini.BAB VI. 90 .

Anggaran Dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian tersebut selanjutnya secara berturut-turut diubah sebagai berikut: 1.04. C2-4163.000. 87) tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara (P. dan kemudian diubah dengan Akta Perubahan No.000 saham biasa.000.V.) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.000.000. 44 tanggal 2 Juni 1989.01.12 tahun 1969 tentang Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara tahun 1969 No.000.01.H. C2-23897 HT. telah didaftarkan dalam buku register di Kantor Pengadilan Negeri di Jakarta di bawah No. S. S.TH’89 tanggal 3 Mei 1989. 30 tanggal 12 Mei 1950.000. 1 Tahun 1969 (Lembaran Negara tahun 1969 No. para pemegang saham Perseroan menyetujui untuk (i) meningkatkan modal dasar Perseroan dari Rp200. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. Tambahan No.000. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No. tanggal 26 Agustus 1975. 42 tanggal 21 April 1975. 970 (“Akta No. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.000. 4267/BH. dan telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta pada tanggal 1 Juli 1975 berturut-turut di bawah No. dan (iii) mengadakan perubahan atas seluruh anggaran dasar Perseroan. Akta Pernyataan Keputusan di Luar Rapat No.Th. 91 . ketiganya dibuat di hadapan Soeleman Ardjasasmita.00 menjadi Rp400. 4795 (“Akta No. 21).000.H.000. 327 pada tanggal 24 April 1950.05/VI/99 tanggal 4 Juni 1999. didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di bawah No. 10 tanggal 3 September 1998. 5/225/8 tertanggal 23 Juni 1975.98 tanggal 6 Nopember 1998 dan diberitahukan kepada Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Laporan Perubahan Anggaran Dasar yang telah diterima dan dicatat pada tanggal 6 Nopember 1998 di bawah No. 16) tentang Bentuk-bentuk Usaha Negara menjadi Undang-undang (Lembaran Negara tahun 1969 No. Notaris di Jakarta.000. Perusahaan Negara “Garuda Indonesian Airways” dinyatakan bubar pada saat pendirian Perusahaan Perseroan (Persero).A.000 saham prioritas dan 6. yang berkedudukan di Jakarta Pusat berdasarkan Akta Perseroan Terbatas No. 10/1998”).000.000.00 dan modal disetor Perseroan dari Rp20. Peraturan Pemerintah No.00 menjadi Rp400. Notaris di Jakarta yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.000. juncto Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia..00 yang terbagi atas 4.98. Berdasarkan Akta No.04.BAB VII.00.000.000. KETERANGAN TENTANG PERSEROAN DAN ANAK PERUSAHAAN 1.00 per lembar saham. yang dibuat di hadapan Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro.00 per lembar saham menjadi Rp1.000. masing-masing saham dengan nilai nominal Rp100. 5/12/10. 68. 3 tanggal 4 April 1989. Akta Perubahan Anggaran Dasar No. 919/1989 tanggal 16 Mei 1989. 136.A. S. dimana dengan dilakukannya penyesuaian tersebut.. Tambahan No.09.N. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.. Y. yang dibuat dihadapan Raden Kadiman. C2-23896 HT. 2251.000. 2. masing-masing saham dengan nilai nominal sebesar Rp10. 63 tanggal 6 Agustus 1999. Notaris di Jakarta. J. 137 tanggal 31 Maret 1950. Tambahan No. dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Serikat No. 8 tanggal 4 Maret 1975 sebagaimana diubah dengan Akta Perubahan No.000. 3/1989. 24 tanggal 12 Juni 1975.000. 434 (“Akta Pendirian”).HT.000. Status Perseroan sebagai Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero) dibentuk berdasarkan Akta Pendirian No. tertanggal 4 Januari 1975 No.N. dan 2252. telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia Serikat dalam keputusannya tertanggal 31 Maret 1950 dengan No.Th. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.000 saham prioritas dan 16. Notaris di Jakarta.000 saham biasa. dilakukan penyesuaian terhadap bentuk hukum Perusahaan Negara (P.000. Peraturan Pemerintah No. 40).H. yang dibuat di hadapan Soeleman Ardjasasmita.01.KEP-2/MK/ IV/1/1975 tentang Penetapan Modal Perusahaan Perseroan (Persero) “PT Garuda Indonesian Airways”.) Perhubungan Udara “Garuda Indonesian Airways” menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).00 yang terbagi atas 4.67 tahun 1971 (Lembaran-Negara tahun 1971 No. Tambahan No. Riwayat Singkat Perseroan Perseroan didirikan dengan nama Garuda Indonesian Airways N.04. (ii) meningkatkan modal ditempatkan Perseroan dari Rp40. 3/1989”). 2250. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.000.

. 117 tanggal 24 Pebruari 2006 yang dibuat di hadapan Sutjipto.000.620. berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Notaris di Jakarta.H.04. Menyetujui peningkatan modal dasar Perseroan dari Rp3.04. 50/2001.000..H. Peningkatan modal ditempatkan yang disetor penuh oleh Negara Republik Indonesia menjadi Rp898. Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham Perubahan Anggaran Dasar No.01.. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No. yang dibuat di hadapan Aulia Taufani. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No.2001 tanggal 4 September 2001.01.000. C-11467 HT. Peningkatan Modal Dasar Perseroan dari Rp1.09.019. Perubahan dari Saham Prioritas menjadi Saham Biasa. 63 tanggal 15 Maret 2007 yang dibuat di hadapan Aulia Taufani.885. 8034 (“Akta No. S.000 menjadi Rp6.01. didaftarkan di Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. S-46/MK. S. Menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor Perusahaan dari semula Rp898. 6. 50 tanggal 22 Agustus 2001. Notaris di Jakarta. b.000.05/VI/2006 tanggal 2 Juni 2006.655.000.TH.000. 643 (“Akta No.000. Untuk mengeluarkan modal PT Merpati Nusantara Airlines sebesar Rp43. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No. e. 75 (“Akta No. 4267/ BH.H. maka Pasal 4 ayat 2 dan 3 anggaran dasar Perseroan juga diubah.000 menjadi Rp2.. S. 14 Tahun 1991 dan Peraturan Pemerintah No. Notaris di Jakarta. 35 tanggal 12 Oktober 2001. 10 tanggal 1 Pebruari 2002.000. Tambahan No.05/XI/2001 tanggal 1 Nopember 2001.055. pengganti dari Sutjipto.H. Perubahan nilai nominal saham dari Rp100.Berdasarkan Akta No.000 terbagi atas 11.05/VI/2007 tanggal 5 Juni 2007. S. c.076.H.000. 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (“UU No. 98 tanggal 7 Desember 2001.05/VI/1999 tanggal 8 Agustus 2001. b.000.01. 50/2001”).000 yang penambahannya bersumber dari tambahan penyertaan modal Negara Republik Indonesia sebesar Rp498. 92 . para pemegang saham Perseroan menyetujui: a. pengganti dari Sutjipto.000. 117/2006. 28 Tahun 1993..000. 10/1998. S.09. masing-masing saham bernilai nominal Rp1. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (“UU No. Berdasarkan Akta No.. yang dibuat di hadapan Aulia Taufani. g.000. yang telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Penerimaan Laporan Akta Perubahan Anggaran Dasar No.076 saham. 60 tanggal 27 Juli 2007. para pemegang saham Perseroan telah mengambil keputusan secara tertulis untuk menyetujui perubahan beberapa pasal anggaran dasar Perseroan untuk disesuaikan dengan ketentuan Undang-undang No. f.TH. 1/1995”). 49 tanggal 20 Juni 2006. 1340/RUB.. 35/2001”).000 per saham menjadi Rp1. Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. Tambahan No.04.885.000.540. d. 5878/RUB. Tambahan No.04-4928 tanggal 13 April 2007. 5.016/1997 tanggal 21 Januari 1997. Perubahan hal tersebut di atas mengakibatkan perubahan pada Pasal 4 Anggaran Dasar Perseroan.79.H. 117/2006”). Notaris di Jakarta.594. 4.431. Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No.564.000. C-08794 HT. S. 35/2001. Terkait dengan perubahan tersebut.000. Berdasarkan Akta No.90 dari jumlah keseluruhan Penyertaan Modal Pemerintah ke dalam Modal Perseroan sebagaimana diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah No.000 menjadi Rp11. 19/2003”).655.09.826.000. pengganti Sutjipto.2006 tanggal 27 Maret 2006. Untuk merubah dan/atau menambah beberapa pasal Anggaran Dasar Perseroan sesuai dengan ketentuan Undang-undang No.089.540. Perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha. Berdasarkan Akta No. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.853. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No. pemegang saham Perseroan menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor Perseroan dari semula Rp2.000. para pemegang saham Perseroan memutuskan: a.09. 840 (“Akta No. S.000. 63/2007”).594.000 menjadi Rp3.H.2001 tanggal 25 Oktober 2001. yang telah diberitahukan kepada Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Penerimaan Laporan Akta Perubahan Anggaran Dasar No. yang telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Penerimaan Laporan Akta Perubahan Anggaran Dasar No.TH.620. W7HT. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. Tambahan No.655.019. 3.755. C-07276 HT. 14 Tahun 1991 dan surat Menteri Keuangan No. Akta Pernyataan No. 2141/RUB. serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.

000 saham. sebagai Penerbit Obligasi Wajib Konversi dan PT (Persero) Angkasa Pura I.000 atau sebesar Rp326. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.AH. maka modal ditempatkan/disetor Perseroan yang semula sebesar Rp7. Notaris di Jakarta. Menyetujui peningkatan Rp15. Menyetujui perubahan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan. PT (Persero) Angkasa Pura I sebanyak 124.000.000. 40/2007”). modal dasar Perseroan yang semula Rp11. yang akan diambil bagian masing-masing oleh: (i). 93 . S.000.000. Pengeluaran 326. b. Menyetujui pengeluaran/penempatan saham yang masih dalam simpanan (portepel) sejumlah 1.000.000. Subscription Agreement tanggal 10 Agustus 2001 yang dibuat dan ditandatangani oleh dan antara Perseroan.000.000. Perubahan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 Anggaran Dasar Perseroan. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UU No. c. Subscription Agreement tanggal 10 Agustus 2001 yang dibuat dan ditandatangani oleh dan antara Perseroan. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No. dengan nilai nominal per saham Rp1.000.Berdasarkan Akta No. sebesar Rp500. (ii).01. 69 Tahun 2007 tanggal 10 Desember 2007 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perseroan. 45/2005”) dan perkembangan kebutuhan pengelolaan Perusahaan.248.000.Tahun 2008 tanggal 8 September 2008. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No.000 sehingga seluruhnya seharga Rp1.000. 45 Tahun 2005 tentang Pendirian. d.000.000.000 menjadi Rp8. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham Perubahan Anggaran Dasar No. c.540.000. menyetujui penambahan modal disetor Perseroan sebesar Rp1.076.02. sebagai Penerbit Obligasi Wajib Konversi dan PT (Persero) Angkasa Pura II.000.000.000. Berdasarkan Akta No.Tahun 2008 tanggal 8 September 2008.000.000 menjadi 7. Pengesampingan ketentuan Pasal 4 ayat 5 Anggaran Dasar Perseroan mengenai hak memesan saham terlebih dahulu yang dimiliki oleh pemegang saham dan karyawan Perseroan.000 merupakan setoran Negara Republik Indonesia sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.09.000.000. Pelaksanaan konversi Obligasi Wajib Konversi yang telah diterbitkan oleh Perseroan dalam rangka restrukturisasi hutang Perseroan pada tahun 2001 kepada PT (Persero) Angkasa Pura I dan PT (Persero) Angkasa Pura II berdasarkan: (i). AHU-0081465. Menyetujui perubahan Anggaran Dasar Perseroan secara keseluruhan untuk disesuaikan dengan UU No. Undang-undang No.09-05/I/2009 tanggal 14 Januari 2009. 8884/RUB. masing-masing saham dengan nilai nominal sebesar Rp1. 19/2003.H.01.000. Peraturan Pemerintah No.152.000.629.000. 51 tanggal 7 Agustus 2008. para pemegang saham Perseroan menyetujui hal-hal sebagai berikut: a.000 yang berasal dari: (i). Pengurusan. sebesar Rp500.000 dalam rangka peningkatan modal ditempatkan dan disetor dalam Perseroan sehubungan dengan konversi atas Obligasi Wajib Konversi.817.000 atau sebesar Rp201. Untuk memenuhi pengeluaran/penempatan saham yang diambil bagian pada bagian (c) di atas.000. 21451 (“Akta No.000.000. f. sebagai Pemegang Obligasi Wajib Konversi. Dengan adanya penambahan modal disetor tersebut. PT (Persero) Angkasa Pura II sebanyak 201. sebagai Pemegang Obligasi Wajib Konversi. 51/2008”). 51/2008.000.248 lembar saham dalam Perseroan dengan nilai nominal per saham Rp1. 46 Tahun 2006 tanggal 28 Desember 2006 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perseroan.AH.065 lembar saham baru dalam simpanan yang dimiliki oleh Perseroan. Pengawasan dan Pembubaran Badan Usaha Milik Negara (“PP No.000 atau sebesar Rp124. telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No.629.065.817 lembar saham dalam Perseroan dengan nilai nominal per saham Rp1. 63/2007. e.000.152.000 yang seluruhnya diambil bagian oleh Negara Republik Indonesia. 87 tanggal 28 Oktober 2008. yang dibuat di hadapan Sutjipto. Tambahan No. d. AHU-60235.. (ii). b.000 merupakan setoran Negara Republik Indonesia sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. (ii). pemegang saham Perseroan telah mengambil keputusan antara lain sebagai berikut: a.

AH.000 atau sebesar Rp967. 129 tanggal 16 Oktober 2009.H. 24 tanggal 16 Nopember 2010. 3 Tahun 2011 tanggal 11 Januari 2011. AHU-0087362.000.01.1. Tahun 2011 tanggal 10 Januari 2011 dan didaftarkan dapal Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta Pusat di bawah Tanda Daftar Perusahaan No. Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa No. 274/2009. S. 274/2009”).Tahun 2009 tanggal 29 Oktober 2009.000.10-00801 tanggal 10 Januari 2011. Berdasarkan Akta No.000. Menyetujui untuk melepaskan haknya berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat 5 Anggaran Dasar Perseroan mengenai hak untuk mengambil bagian atas penerbitan saham baru dalam Perseroan sebagai pelaksanaan keputusan tersebut pada butir (1) dan (2) di atas.H.37582 tanggal 27 Oktober 2010 (“Akta No. 24/2010.869 saham-saham baru yang akan dikeluarkan oleh Perseroan dengan memperhatikan syarat dan ketentuan konversi sesuai dengan persetujuan dan perundang-undangan yang berlaku. 24/2010”). Notaris di Jakarta.869. pengganti Sutjipto.10-18961 tanggal 29 Oktober 2009 dan telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No. S. AHU-AH. dengan nilai nominal per saham Rp1.. pemegang saham Perseroan telah mengambil keputusan antara lain sebagai berikut: a.869.09. telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No. yang dibuat di hadapan Fathiah Helmi. Berdasarkan Akta No. 09.01. pengganti Sutjipto.37582 tanggal 27 Oktober 2010 (“Akta No. pemegang saham Perseroan telah mengambil keputusan antara lain sebagai berikut: a.H.000 dalam rangka peningkatan modal ditempatkan dan disetor dalam Perseroan sehubungan dengan konversi atas Obligasi Wajib Konversi pada butir (1) di atas. dan (ii).01.01. dan telah didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta di bawah Tanda Daftar Perseroan No.62.01. AHU-0084627.1. Menyetujui restrukturisasi atas Obligasi Wajib Konversi dengan ketentuan sebagai berikut: (i).000 kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.AH.000 akan segera dikonversikan menjadi Saham Hasil Konversi. 129/2009. yang akan diambil bagian oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.62. pemegang saham Perseroan menyetujui antara lain: 1.8. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham Perubahan Anggaran Dasar No..1 antara lain sebagai berikut: a.. AHU-AH.01.Tahun 2009 tanggal 31 Desember 2009. S.09 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010 dan No.H. Menyetujui permohonan Direksi Perseroan untuk mengeluarkan 967.37582 tanggal 25 Januari 2011 (“Akta No. AHU-54724. Menyetujui perubahan ketentuan Pasal 11 Anggaran Dasar Perseroan tentang Tugas Wewenang dan Kewajiban Direksi dengan mencabut ketentuan ayat 12 sehubungan dengan kewenangan Direksi yang tidak memerlukan persetujuan Dewan Komisaris dan/atau RUPS. Perubahan status dari Perseroan Tertutup menjadi Perseroan Terbuka. IX. yang dibuat di hadapan Aulia Taufani. yang telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No. Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham Perubahan Anggaran Dasar No.10. c. yang dibuat di hadapan Aulia Taufani.09.AH.000.. b. Sisa dari pokok Obligasi Wajib Konversi senilai kurang lebih 95% dari nilai pokok Obligasi Wajib Konversi atau sebesar Rp967. 9.01. AH. AHU-AH.02 Tahun 2010 tanggal 22 Nopember 2010 dan No.H. berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Menyetujui perubahan seluruh Anggaran Dasar Perseroan untuk disesuaikan dengan Peraturan BapepamLK No. S. dan 94 .940. dan didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Jakarta di bawah Tanda Daftar Perusahaan No. 274 tanggal 30 Desember 2009.000.09. b. yang dilakukan berdasarkan nilai nominal Rp1.000.23939 tanggal 31 Desember 2009.09. Notaris di Jakarta. Menegaskan kembali susunan anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan. maka Pasal 4 ayat (2) dan (3) Anggaran Dasar Perseroan diubah.1.05. Perseroan akan membayar secara tunai kurang lebih 5% dari pokok Obligasi Wajib Konversi atau sebesar Rp50.000 menjadi Rp500.AH. Terkait dengan perubahan tersebut di atas.J.05.869 lembar saham baru dalam simpanan yang dimiliki oleh Perseroan.01. Berdasarkan Akta No. S.62. yang telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No. 10. Perubahan nilai nominal saham Perseroan dari semula Rp1. AHU-0001962. b.000 per saham sehingga akan menghasilkan 967. 129/2009”). Notaris di Jakarta. d. 09.05. AHU-0071084.

4.b. 3. penetapan tersebut berlaku sejak tanggal 15 Nopember 2010 dan masa jabatannya akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa jabatan Dewan Komisaris lainnya. Peserta Program MESA terdiri dari Direksi. Menyetujui program kepemilikan saham Perseroan oleh Manajemen dan Karyawan melalui penjatahan saham untuk Manajemen dan Karyawan (Management and Employee Stock Allocation/MESA) sebanyakbanyaknya 5% (lima persen) dari jumlah penerbitan saham baru yang terdiri dari Saham Penghargaan dan saham discount dengan ketentuan sebagai berikut: a. Lock up Period untuk Saham Diskon adalah selama 12 bulan terhitung sejak pencatatan saham di BEI. dan pegawai tetap Perseroan yang tercatat pada data Perseroan pada tanggal 15 Januari 2011 (atau tanggal lain yang ditetapkan oleh Direksi Perseroan). dari harga saham Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan.a. Menyetujui pengeluaran saham baru dalam simpanan Perseroan sebanyak-banyaknya 30% (tiga puluh persen) dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh setelah pengeluaran saham baru yang akan ditawarkan kepada masyarakat melalui Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan Persetujuan tersebut berlaku efektif setelah terbitnya Peraturan Pemerintah tentang perubahan struktur kepemilikan saham melalui penerbitan dan penjualan saham baru pada Perseroan. Pegawai dalam status Cuti Luar Tanggungan Perseroan. 3. 5. 3.c. 95 . Pegawai yang tidak mendapat alokasi Program MESA adalah : 1) 2) d e f Ketentuan lebih lanjut mengenai Program MESA selain yang telah diatur dalam butir 3. maka dalam RUPSLB selanjutnya sebelum dilaksanakan Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan. Pengawasan pelaksanaan Program MESA dilakukan oleh Dewan Komisaris dan pelaksanaannya agar mengikuti ketentuan yang berlaku serta dilaporkan kepada Pemegang Saham. Dewan Komisaris (kecuali Komisaris Independen). KEP-305/BEJ/07-2004 tanggal 19 Juli 2004 tentang Peraturan nomor I-A tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham yang diterbitkan oleh Perseroan tercatat. sedangkan jumlah saham baru yang akan dialokasikan untuk program MESA akan ditetapkan dalam RUPSLB Perseroan yang akan diselenggarakan kemudian sebelum pelaksanaan Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan. 2) 3) c. Dalam rangka memenuhi ketentuan Peraturan nomor I-A lampiran I Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta No. Saham Diskon akan diterbitkan dan dibayarkan dengan pembagian beban yaitu 90% beban peserta MESA dan 10% beban Perseroan. Alokasi saham untuk program MESA dibagi menjadi: 1) Saham Penghargaan yang menjadi bagian dari jasa produksi/bonus kinerja peserta Program MESA yang pembayarannya dapat ditanggung terlebih dahulu oleh Perseroan yang selanjutnya diperhitungkan dengan jasa produksi/bonus kinerja masing-masing peserta program MESA.c. Perbandingan Saham Penghargaan dan Saham Diskon yaitu 20% dan 80% dari total 5% saham baru yang diterbitkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering). dan 3. Penerbitan Saham Seri A Dwi Warna sebanyak 1 (satu) lembar dan Saham Seri B. b. Persetujuan tersebut berlaku efektif setelah terbitnya Peraturan Pemerintah tentang perubahan struktur kepemilikan saham melalui penerbitan dan penjualan saham baru pada Perseroan yang didalamnya sudah termasuk program alokasi kepemilikan saham manajemen dan karyawan (MESA) dan opsi kepemilikan saham manajemen dan karyawan (MESOP) 2. Menunjuk Saudara Abdulgani selaku Komisaris Independen Perseroan. Saham Penghargaan tidak boleh diperjualbelikan (lock up) selama 12 bulan terhitung sejak pencatatan saham di PT Bursa Efek Indonesia (”BEI”). Pegawai dalam status pembinaan.e di atas ditetapkan oleh Direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris. akan diagendakan penunjukan tambahan Komisaris Independen Perseroan.d. 3. Persetujuan Program MESA ini berlaku efektif setelah terbitnya Peraturan Pemerintah tentang perubahan struktur kepemilikan saham melalui penerbitan dan penjualan saham baru pada Perseroan. sedangkan jumlah saham baru yang akan dijual dalam Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan akan ditetapkan dalam RUPSLB Perseroan yang akan diselenggarakan kemudian sebelum pelaksanaan Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan.

Memberikan kuasa kepada Dewan Komisaris Perseroan untuk menyatakan realisasi jumlah saham yang telah dikeluarkan dalam Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan termasuk jumlah saham program MESA. Solo. dan Pemegang Saham lain dengan ini melepaskan hak untuk membeli saham dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tersebut. termasuk tetapi tidak terbatas pada: a. Balikpapan. Banjarmasin. meliputi catering dan ground handling baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. Tanjung Karang. KEP-305/BEJ/07-2004 tanggal 19 Juli 2004 tentang Peraturan nomor I-A tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham yang diterbitkan oleh Perseroan tercatat. Perseroan memiliki 1 kantor pusat dan 6 Area manajemen yang mengelola 49 kantor cabang: 1. dan pelepasan saham milik PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. maksud dan tujuan Perseroan adalah melakukan usaha dibidang jasa angkutan udara niaga. Banda Aceh. Batam. Tbk dalam Perseroan. Area Eastern Indonesia yang mengelola 18 kantor cabang di Surabaya. b. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. Mataram. Palembang. Kendari. Pontianak. 3. Medan. Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan. mencatatkan saham-saham Perseroan dalam penitipan kolektif sesuai dengan peraturan kustodian sentral efek Indonesia. Menyetujui pelepasan seluruh saham PT Bank Mandiri (Persero). Menunjuk Saudara Elisa Lumbantoruan. h. melalui pasar modal bersamaan dengan Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan. Per 30 September 2010. Direktur Strategi dan Teknologi Informasi sebagai Direktur Tidak Terafiliasi guna memenuhi ketentuan Peraturan nomor I-A lampiran I Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta No. 9. Reparasi dan pemeliharaan pesawat udara. Kupang. Makassar. Timika. Sedangkan harga saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tersebut mengikuti harga pada saat Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan. Jayapura. 8. Ternate. 2. Angkutan udara niaga berjadwal untuk penumpang. Palangkaraya. Palu. barang dan pos dalam negeri dan luar negeri. sesuai dengan ketentuan dalam Anggaran Dasar Perseroan. c. Fasilitas pariwisata. Biak. Malang. Pergudangan. 96 . Pekanbaru. serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki Perseroan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas. Jasa penunjang operasional angkutan udara niaga. Jasa layanan kesehatan personil penerbangan. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. Perkantoran. Perseroan dapat melakukan kegiatan usaha pendukung dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk: a. b. yang mengelola 14 kantor cabang di Jakarta. Pangkal Pinang. g. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas. f. Jasa layanan pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan industri penerbangan. c. e. Denpasar. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. Padang. b. Manado. 7. mencatatkan seluruh saham Perseroan yang telah dikeluarkan dan disetor penuh pada bursa efek. Kuala Lumpur dan Bangkok. Area Asia yang mengelola 3 kantor cabang di Singapura.6. Memberikan kuasa kepada Direksi Perseroan untuk melaksanakan segala tindakan yang diperlukan. d. Bandung. d. Yogyakarta. Selain kegiatan usaha utama sebagaimana dimaksud di atas. kecuali penetapan harga penawaran dan kepastian jumlah Saham-Saham Yang Ditawarkan melalui penawaran umum. Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai berikut: a. barang dan pos dalam negeri dan luar negeri. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. Jasa pelayanan konsultansi yang berkaitan dengan industri penerbangan. Angkutan udara niaga tidak berjadwal untuk penumpang. Ambon. Jambi. Semarang. dan Penyewaan dan pengusahaan sarana dan prasarana yang terkait dengan industri penerbangan. Area Western Indonesia. sehubungan dengan Penawaran Umum Saham Perdana (Initial Public Offering) Perseroan. Jasa pelayanan sistem informasi yang berkaitan dengan industri penerbangan.

99% 99.99% 99. 5. 12. Hongkong.5% Tahun Penyertaan 1989 1995 2002 2005 2009 1998 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi Abacus International Holdings Ltd. 9.88% 99. jasa boga dan agen perjalanan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Perbaikan dan pemeliharaan pesawat terbang Penyedia jasa teknologi informasi Angkutan udara niaga Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penerbangan Kepemilikan 99. Melbourne. Shanghai. Beijing.98% 99. Riyadh.99% 95. Garuda Orient Holidays Korea Co. yaitu SBU Garuda Cargo yang mengelola bisnis kargo. dan Cina. SBU Garuda Sentra Medika (GSM) yang mengelola bisnis kesehatan.4. Amsterdam. Perth. Seoul.98% 100% 60% 60% 45% 40% 10.** 9 PT Merpati Nusantara 4. 6.87% 61. Nagoya. 7. 10.98% 99. 16. Osaka. 13. Canton.21% 1978 sudah beroperasi Airlines** Catatan: *) Citilink belum beroperasi dikarenakan masih dalam proses untuk memperoleh ijin usaha angkutan udara niaga **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aero Wisata Perseroan melalui PT Aero Wisata memiliki penyertaan saham secara tidak langsung pada 18 perusahaan sebagai berikut : No 1. 6. yang mengelola 8 kantor cabang di Tokyo. Area Pasifik Barat Daya yang mengelola 3 kantor cabang di Sydney. 4. Anak Perusahaan PT Angkasa Citra Sarana Catering Service PT Aero Hotel Management PT Aerojasa Perkasa PT Bina Inti Dinamika PT Belitung Inti Permai PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi PT Mandira Erajasa Wahana PT Mirtasari Hotel Deveploment PT Senggigi Pratama Internasional Garuda Orient Holidays Pty. apartemen. 14.00% 99.065% 1997 sudah beroperasi 8 Pan Asia Pacific Aviation 17.10% 7.99% 37. kondominium) Jasa agen penjualan umum Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Jasa transportasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa biro perjalanan wisata Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Jasa akomodasi Kepemilikan 99. 2. 5. Perseroan memiliki penyertaan saham secara langsung pada 9 anak perusahaan sebagai berikut: No 1 2 3 4 5 6 7 Anak Perusahaan PT Aero Wisata PT Abacus Distribution Systems Indonesia PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia*** PT Aero Systems Indonesia*** PT Citilink Indonesia*** PT Gapura Angkasa** Bidang Usaha Perhotelan.99% 99.98% 99. 11. Area Jepang.** 2.65% 1998 sudah beroperasi Services Ltd.98% 99.98% 99. Korea. Ltd. 3. dan SBU Citilink yang mengelola bisnis di bidang angkutan udara niaga berjadwal yang berbiaya murah (LCC). Perseroan memiliki 3 SBU. Area Eropa dan Timur Tengah yang mengelola 3 kantor cabang di Jeddah. PT Aeronurti** PT Aeroprima** PT Bumi Minang Padang** PT Nusa Dua Graha Internasional** Bidang Usaha Jasa boga Jasa pengelolaan properti (hotel. 15. Ltd Garuda Orient Holidays Japan INC.54% Tahun Penyertaan 1982 2009 1988 1987 1992 1974 1988 1979 1997 1981 2008 2009 1996 1993 1989 1988 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi 97 . 8.

000.000. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp100.000 per saham Jumlah Saham (lembar) Jumlah Nilai Nominal (Rp) Seri A Seri B (Saham Prioritas) (Saham Biasa) 4.000 1.000.000.000.000 % A.000 3.000 6. kecuali jika waktu tersebut diperpanjang oleh yang berwajib atas permintaan Direksi. berupa uang maupun dengan pemasukan.No 17. Negara RI menyetorkan Rp20.990.000 4.000. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia Jusuf Indradewa C.000 600.000.000.00 yang merupakan kekayaan Negara yang dipisahkan dan berasal dari hasil likuidasi Perusahaan Negara Garuda Indonesian Airways.000.000 4.000 % A.000 16. setelah memperoleh persetujuan dari rapat umum para pemegang saham.000. sebagaimana dimuat dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan No. Pada Waktu Pendirian (Tahun 1975) Pada saat pendirian. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.000 39. masing-masing telah menyetor penuh dengan uang maupun dengan pemasukan yang seluruhnya berjumlah Rp20.975 0.000. D.000. Saham dalam Portepel 99.000. B.000.000 160.00.000. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham dalam Portepel 100.00 - 98 .000 400.000 40.999 1 4. KEP-2/MK/IV/1/1975 tanggal 4 Januari 1975 Serta Menetapkan Kembali Permodalan Perseroan.000. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.025 100.000 16.87% Tahun Penyertaan 1988 2003 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi Catatan: *) PT Belitung Inti Permai belum beroperasi.000 6.000.000.58% 98.000 per saham Jumlah Saham (lembar) Jumlah Nilai Nominal (Rp) Seri A Seri B (Saham Prioritas) (Saham Biasa) 4.000. KEP-268/MK/IV/3/1975 tanggal 11 Maret 1975 dan Akta Pendirian. Modal Perseroan seluruhnya harus sudah ditempatkan dan disetor penuh dalam waktu 10 tahun.000. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp10. KEP-2/MK/IV/1/1975 tanggal 4 Januari 1975 sebagaimana dicabut dan digantikan dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. Perkembangan Kepemilikan Saham Perseroan Perubahan komposisi permodalan dan kepemilikan saham Perseroan sejak pendirian sampai saat ini dapat dilihat pada keterangan di bawah ini.000. terhitung sejak hari dan tanggal akta perubahan anggaran dasar ini disahkan oleh yang berwajib.000. pembangunan hotel masih dalam proses **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aerojasa Perkasa 2. Tahun 1989 Berdasarkan Akta No. Anak Perusahaan PT Arthaloka Indonesia** PT Aerojasa Cargo*** Bidang Usaha Jasa pengelolaan properti Jasa pengurusan transportasi (freight forwarding) Kepemilikan 2.000. 18.000.00 - Dari seluruh jumlah saham yang telah ditempatkan dan diambil bagian oleh Negara RI dan Jusuf Indradewa. C.00 100. KEP-268/MK/IV/3/1975 tentang Penarikan Kembali Surat Keputusan Menteri Keuangan No.000 10.000. 3/1989. Seluruh modal Perseroan telah habis terjual sebelum tahun 1989. Modal Dasar B.000 400.000 200.

000.885. 70 Tahun 2000 tanggal 21 Agustus 2000 dengan kompensasi tagihan Negara Republik Indonesia kepada Perseroan berdasarkan Sub Loan Agreement No.149.885.195.019.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 11.540.104.000.594. 14 Tahun 1991 dan Peraturan Pemerintah No.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 3.885. C.00 - Sebesar 100% saham yang telah ditempatkan tersebut telah disetor penuh oleh Negara Republik Indonesia dengan cara: (i) (ii) sebesar Rp898. 99 .885.00 100. dan Rp498.986. 50/2001.000 berupa uang tunai yang berasal dari tambahan penyertaan modal Negara Republik Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No.655. dan sebesar Rp1.000.00 100.104.655.000 8.000.019 2.076 11. SLA-757/DP3/1994 dalam rangka pengadaan 2 buah pesawat B-747/400 dan 7 buah pesawat B-737/400 dengan nilai tagihan Negara Republik Indonesia kepada Perseroan sebesar USD909.000.986.000.594.000 2. antara tahun 1975 sampai dengan 1989 Jusuf Indradewa sudah mengalihkan 1 saham yang dimilikinya kepada Negara Republik Indonesia.057. 10/1998.Berdasarkan surat pernyataan dari Jusuf Indradewa tertanggal 5 Januari 2010.000 % A.00 - Sebesar 100% dari saham yang ditempatkan tersebut telah disetor penuh oleh Negara Republik Indonesia dengan cara: 1.655.000 898.695.620 3. 2. B.000 penyetorannya dilakukan berdasarkan: (i) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.000.000.986.000.019. B.195.000.076.402.655 898.000.655. 28 Tahun 1993. D.000 2.000 merupakan setoran modal lama.910. Tahun 2001 Berdasarkan Akta No.965 898.79 ekuivalen dengan Rp2.655.000. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham dalam Portepel 100.655 2.965. D.364. Sebesar 100% dari saham yang ditempatkan/diambil bagian telah disetor penuh dengan tunai untuk kas Perseroan.000 dikarenakan nilai nominal setiap saham Perseroan adalah Rp1.000.695.364.000.655.000 898.168.000 merupakan setoran lama. 10 Tahun 1997 tanggal 29 April 1997 melalui pengalihan piutang Perseroan di PT Merpati Nusantara Airlines atas penyerahan 17 buah pesawat F-28/4000 senilai Rp162.56 dan (ii) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.057 2.620.000 2.56 yang dibulatkan menjadi Rp1.019 8. Rp400. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.364.000. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.000. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham dalam Portepel 100.000 % A.540.274.000. C. sehingga yang dikonversi menjadi modal Perseroan adalah sebesar Rp1.000. Tahun 1998 Berdasarkan Akta No.000.000.

B.875. sebagai Pemegang Obligasi Wajib Konversi. Saham dalam Portepel 95.322.000 6.885.540.000 % A. c.000 merupakan setoran lama.540. 67 Tahun 2001 tanggal 17 September 2001 yang dilakukan dengan kompensasi tagihan Negara Republik Indonesia kepada Perseroan sebesar Rp3.564.500.387.564 4.000.817 7.000.512 6.470.387.564.545. sebesar Rp124.000. Tagihan atas beban pengadaan 11 pesawat Boeing 737 sebesar USD422. 2. 100 .000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 11. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.152. 3.000.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai (lembar) Nominal (Rp) 11. sebesar Rp6.875 yang terdiri dari: a.826.000 penyetorannya dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.076 11. e. D.512.000.564.000 merupakan hasil konversi atas Obligasi Wajib Konversi dalam rangka restrukturisasi hutang Perseroan pada tahun 2001 kepada PT (Persero) Angkasa Pura II.826. Sebagian bunga masa tenggang pinjaman Sub Loan Agreement No.000. dan sebesar Rp3.817.000 124. sebagai Penerbit Obligasi Wajib Konversi dan PT (Persero) Angkasa Pura I.000 6. sebesar Rp2. sebesar Rp201. RDI-201/DDI/1988 yang diperhitungkan sampai dengan tanggal 15 April 2001 sebesar Rp67.540. 35/2001.248 201.248.000.000 4.000.370.000.749.629 4. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham dalam Portepel 100 100 - Sebesar 100% saham yang telah ditempatkan tersebut telah disetor penuh oleh Negara Republik Indonesia dengan cara: 1.076 11. sebagai Pemegang Obligasi Wajib Konversi. C.076.019.000 ekuivalen dengan Rp3.000. RDI-201/DDI/1988 yang diperhitungkan sampai dengan tanggal 15 April 2001 sebesar Rp54.000.447.941. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia PT (Persero) Angkasa Pura I PT (Persero) Angkasa Pura II C.000.000 6.000 201.076.248. d.500. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.000 4.000. B.256.941. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.44 1.826.000 merupakan hasil konversi atas Obligasi Wajib Konversi dalam rangka restrukturisasi hutang Perseroan pada tahun 2001 kepada PT (Persero) Angkasa Pura I berdasarkan Subscription Agreement tanggal 10 Agustus 2001 yang dibuat dan ditandatangani oleh dan antara Perseroan.447 6.629.000.826.545. b. 2.540.152. sebagai Penerbit Obligasi Wajib Konversi dan PT (Persero) Angkasa Pura II. dan Denda beban administrasi pinjaman Rekening Dana Investasi No.826.Tahun 2001 Berdasarkan Akta No.000.000 % A.969.000.087.564 6. SLA-363/DDI/1988 sebesar Rp695.000.564.886.000.000.000.000.000 oleh Negara Republik Indonesia merupakan setoran lama. RDI-201/DDI/1988 yang diperhitungkan sampai dengan tanggal 15 April 2001 sebesar Rp69.713.82 100 - Sebesar 100% dari saham yang ditempatkan tersebut telah disetor penuh dengan cara sebagai berikut: 1.564 124.000.000 7.000.817.826. 63/2007. Beban Administrasi pinjaman Rekening Dana Investasi No. berdasarkan Subscription Agreement tanggal 10 Agustus 2001 yang dibuat dan ditandatangani oleh dan antara Perseroan.826.74 2. Denda hutang pokok pinjaman Rekening Dana Investasi No. Tahun 2007 Berdasarkan Akta No.713.

879.000.498. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.152.879. Saham dalam Portepel 96. S.000.120.371.000.000.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 15.000 15.000.817. Perseroan telah memenuhi kewajiban yang ditetapkan dalam Pasal 6 PP No.00 1. 2.000 telah disetor penuh dengan cara sebagai berikut: 1.564. sebesar Rp7. keduanya tertanggal keduanya 31 Desember 2009. B.152.000. Terkait dengan konversi hutang Perseroan kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. 24 Tanggal 14 September 2001 tentang Perubahan dan Pernyataan Kembali Perjanjian Penerbitan Obligasi Wajib Konversi” tertanggal 30 Desember 2009.248.000. yang dibuat dihadapan Aulia Taufani. Notaris di Jakarta.00 Sebesar 100% saham yang ditempatkan tersebut di atas atau seluruhnya berjumlah Rp8.000.000 201.000 201.826.H. Dengan demikian.22 10. dan sebesar Rp967.000 9. Saham dalam Portepel A.826. Tahun 2009 Berdasarkan Akta No.629 6.502 7. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.817. keduanya tertanggal 26 Maret 2007. yaitu dalam harian Kompas dan Bisnis Indonesia. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.000.847. Perseroan telah melakukan pengumuman dalam 2 surat kabar harian.248 201.000 7.000 merupakan setoran modal lama.000 124.869.000 merupakan setoran Negara Republik Indonesia sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.61 100.000.000.152.000 8.817 967. Tahun 2008 Berdasarkan Akta No.817 8.869.82 1. sebesar Rp500.Terkait dengan konversi atas Obligasi Wajib Konversi tersebut di atas..000. yaitu Bisnis Indonesia dan Investor Daily.502.847. berdasarkan akta “Perjanjian Penyelesaian Akta No.120.564.371 7. sebesar Rp500.000.000 % A. S.000.629.000 124.152. 51/2008. tersebut di atas.000.000 merupakan setoran Negara Republik Indonesia sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.000. 46 Tahun 2006 tanggal 28 Desember 2006 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perseroan setoran mana berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (“APBN”) Perubahan Tahun Anggaran 2006. pengganti Sutjipto.498 5.000.000.000 5.52 2.000. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1. B.629.000.564 124.564 124. 85.000.629.000 967.826.000 7.000.00 Sebesar 100% saham yang ditempatkan tersebut di atas telah disetor penuh dengan cara sebagai berikut: 1.000.000.000 % Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia PT (Persero) Angkasa Pura I PT (Persero) Angkasa Pura II PT Bank Mandiri (Persero) Tbk C. 15/1999. sebesar Rp8.36 2.48 100. 3.000.000 15.152.000. 274/2009. Perseroan telah melakukan pengumuman dalam 2 surat kabar harian.248 201.000 6. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia PT (Persero) Angkasa Pura I PT (Persero) Angkasa Pura II C. setoran mana berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (“APBN”) Tahun Anggaran 2007.H.000 merupakan konversi hutang Perseroan kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.000.000. 69 Tahun 2007 tanggal 10 Desember 2007 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perseroan.629.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 15.248.869 9.. 101 . 2.000 merupakan setoran modal lama.000.826.

Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham Seri A Dwiwarna Negara Republik Indonesia Saham Biasa Atas Nama Seri B Negara Republik Indonesia PT Bank Mandiri (Persero) Tbk PT (Persero) Angkasa Pura II PT (Persero) Angkasa Pura I C.999.82 10.000.120.996.500 % A. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.500 967. Pendirian Bank Mandiri dilakukan dengan cara penyetoran secara inbreng atas seluruh saham-saham milik Negara Republik Indonesia (kecuali masing-masing satu saham) dalam masing-masing PT Bank Bumi Daya (Persero).21 1.000 403.000 5.00 Sampai dengan Prospektus ini diterbitkan.000.000.61 2. 97. 3264/BH.000 1 500 29.01.000. dan sebagai akibatnya Bank Peserta Penggabungan bubar demi hukum tanpa terlebih dahulu dilakukan likuidasi. (“Bank Mandiri”) 1) Akta Pendirian Bank Mandiri berkedudukan di Jakarta. 100. tanggal 2 Oktober 1998.000 124. dan berdasarkan Akta No.498. dibuat dihadapan Sutjipto. Penggabungan usaha tersebut dimuat dalam Akta Merger No. tanggal 1 Oktober 1998.869.000 201.738.TH. Notaris di Jakarta.000.000 11. Notaris di Jakarta. tanggal 4 Desember 1998. 102 .000 0.004. C13. Saham dalam Portepel 1 15.000 15. 3..999.999 14. PT Bank Dagang Negara (Persero).826. 6859.000 500 7. Akta pendirian tersebut telah memperoleh persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia. tanggal 24 Juli 1999. Modal Dasar Saham Seri A Dwiwarna Saham Biasa Atas Nama Seri B B.000.04.999. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.999. serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.HT.563. berdasarkan Surat Keputusan No.36 100. dimana Bank Mandiri akan menjadi Perusahaan hasil penggabungan usaha. 1/9/KEP.01.000 18. antara lain menyetujui dan memutuskan untuk menggabungkan Bank Peserta Penggabungan ke dalam Bank Mandiri. Keterangan Mengenai Pemegang Saham Perseroan Berbentuk Badan Hukum Di bawah ini merupakan keterangan mengenai pemegang saham berbadan hukum dengan kepemilikan di atas 5%. tidak ada perubahan struktur permodalan Perseroan setelah tanggal 30 September 2010. didaftarkan di dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Selatan.496.03/X/98. 75 Tahun 1998.000.781.Tahun 2010 Berdasarkan Akta No. Tambahan Berita Negara No. didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.GBI/1999 tanggal 29 Juli 1999. serta penyetoran sejumlah uang tunai.000. SH. yang berlaku efektif pada tanggal 31 Juli 1999.879.HT.01. PT Bank Ekspor Impor Indonesia (Persero) dan PT Bank Pembangunan Indonesia (Persero) (secara bersamasama disebut “Bank Peserta Penggabungan”). 97.240. Dalam rangka penggabungan usaha. di bawah No. SH. tanggal 29 Juli 1999 dan disetujui oleh Gubernur Bank Indonesia dengan Surat Keputusan No.09.817.759.000.000 248.999 1. SH.00 85.248. tanggal 9 Oktober 1998.98. Notaris di Jakarta. 24/2010. C2-16561. akta penggabungan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No.000 9.502. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp500. tanggal 2 Oktober 1998.999. dibuat dihadapan Sutjipto.TH. tanggal 24 Juli 1999.634. Berdasarkan Akta Berita Acara RUPSLB No.99.127.999.653.per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai (lembar) Nominal (Rp) 30.000. 10 tanggal 2 Oktober 1998 sebagaimana dibuat dihadapan Notaris Sutjipto.935.

d. serta lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan. bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan dana pensiun. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro. melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah. Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 Anggaran Dasar. Sertifikat Bank Indonesia (SBI). (v). 103 . (iii). menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga. dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang. membeli agunan. perusahaan efek. memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang. melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau Perseroan lain di bidang keuangan. asuransi. f. Bank Mandiri dapat pula: a. surat dagang berjangka waktu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. memberikan kredit. maksud dan tujuan Bank Mandiri ialah melakukan usaha di bidang perbankan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. menempatkan dana pada.2) Maksud dan Tujuan serta Kegiatan Usaha Berdasarkan akta pendiriannya. e. surat berharga lain yang berjangka waktu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. surat pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya yang masa berlakunya tidak lebih lama dari kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud. Bank Mandiri dapat melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut: a. cek atau sarana lainnya. menyediakan pembiayaan dan/atau melakukan kegiatan lain berdasarkan Prinsip Syariah. l. kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas. k. dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan secepatnya. j. menerbitkan surat pengakuan hutang. c. surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud. baik dengan menggunakan surat. seperti sewa guna usaha. h. sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk. deposito berjangka. melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang. g. (vi). atau meminjamkan dana kepada bank lain. Obligasi. c. melalui pelelangan atau dengan cara lain dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada Bank Mandiri. sertifikat deposito. dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang. (iv). d. usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat. dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya. b. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga. (ii). i. melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek. tabungan dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak. e. m. meminjam dana dari. menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya: (i). modal ventura. melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. baik semua maupun sebagian. b. melakukan kegiatan anjak piutang. membeli.

sebagaimana diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Penerimaan Pemberitahuan No.981.10-18655 tanggal 23 Juli 2010.3) Struktur Permodalan dan Susunan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Perubahan Anggaran Dasar No. tanggal 17 Juni 2010. SH. tanggal 24 Juni 2010.562.Saham Biasa Atas Nama Seri B Masyarakat . Amrul Partomuan Pohan.per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal Persentase (Rp) 32.999. AHU-AH. dibuat di hadapan DR. LLM. 12 tanggal 13 Juli 2010.999.0% 66. AHU-AH. AH.490. dilakukan perubahan atas Pasal 4 ayat 2 tentang penambahan modal ditempatkan dan disetor Bank Mandiri.Tahun 2010.000.875 11. A.Saham Seri A Dwiwarna . SH.01..189.01.018.620.01. Partomuan Pohan.000.10-15813.438.09. Notaris di Jakarta. Mansury : Fransisca Nelwan Mok : Sunarso : Kresno Sediarsi : Edwin Gerungan : Muchayat : Mahmuddin Yasin : Cahyana Ahmadjayadi : Pradjoto : Gunarni Soeworo : Krisna Wijaya 104 . yaitu sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama (merangkap Komisaris Independen) Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Direksi: Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur : Zulkifli Zaini : Riswinandi : Abdul Rahman : Sentot A. Sentausa : Thomas Arifin : Budi Gunadi Sadikin : Ogi Prastomiyono : Pahala N.999.490.125 500 6.2% 100. AHU-0048031. dengan demikian telah dilakukan perubahan atas susunan permodalan Bank Mandiri sebagai berikut: Keterangan Nilai Nominal Rp500.379. LLM.620.981.Saham Biasa Atas Nama Seri B Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Saham Dalam Portepel 1 13. 29.999.000 5.000 Modal Dasar Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Negara Republik Indonesia .000 10. tanggal 24 Juni 2010 dan didaftarkan di Daftar Perseroan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No.438.999. Notaris di Jakarta.000.509. yang dibuat di hadapan Dr.000 0.000 16.810. Akta tersebut diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan telah telah diterima dan dicatat berdasarkan Surat No.500 3.876 20.000.0% 4) Susunan Anggota Dewan Komisaris dan Direksi Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Bank Mandiri adalah sebagaimana tercantum dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Tahunan No.810.999 6.000.8% 33.

H.. 105 . notaris di Jakarta (“Akta No. CHINA AREA SOUTH WEST PACIFIC AREA EUROPE & MIDDLE EAST 5.H. 75/2010. pengganti Sutjipto. Notaris di Jakarta (“Akta No. 176/2005.4. 176 tanggal 25 Juli 2005. 50/2008”). Berdasarkan RUPSLB tanggal 15 Nopember 2010. (ii) Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 24 tanggal 16 Nopember 2010. dibuat dihadapan Aulia Taufani. masa jabatan Abdulgani adalah terhitung sejak tanggal 16 Maret 2005. S. S.H. S. (iii) sebagaimana ditegaskan kembali dalam Akta No..305/BEJ/07-2004.. Notaris di Jakarta (“Akta No. Pengurus dan Pengawas Perseroan Susunan Dewan Komisaris Perseroan berdasarkan: (i) Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero) No. STRATEGY & IT SERVICES EVP ENGINEERING & MAINTENANCE SERVICES EVP OPERATIONS SERVICES EVP COMMERCIAL SERVICES VP SBU GSM VP HAJJ VP HUMAN CAPITAL MANAGEMENT VP LEARNING & DEVELOPMENT VP BUSINESS SUPPORT VP COMPTROLLER VP TREASURY MANAGEMENT VP ASSET MANAGEMENT VP FINANCIAL ANALYSIS VP STRATEGIC MANAGEMENT OFFICE VP INFORMATION SYSTEM SOLUTION VP AIRWORTHINESS MANAGEMENT VP AIRCRAFT MAINTENANCE MANAGEMENT VP FLIGHT OPERATION VP GROUND OPERATIONS VP OPERATION SUPPORT VP NETWORK MANAGEMENT VP MARKETING VP REVENUE MANAGEMENT VP SERVICE PLANNING & DEVELOPMENT VP SERVICE DELIVERY VP CABIN SERVICES Senior GM AREA WESTERN INDONESIA AREA EASTERN INDONESIA AREA ASIA AREA JAPAN. S. pengganti Sutjipto. masa jabatan seluruh anggota Dewan Komisaris di atas berdasarkan Akta No. Notaris di Jakarta (“Akta No. 75/2010”). 50/2008 berlaku terhitung sejak 4 Juni 2007.. Berdasarkan Akta No. Selanjutnya berdasarkan Akta No. dibuat dihadapan Fathiah Helmi. S.H. Struktur Organisasi Perseroan CORPORATE SAFETY COMMITTEE VP CORP. 176/2005”). dibuat di hadapan Aulia Taufani. pemegang saham Perseroan telah menunjuk Bapak Abdulgani sebagai Komisaris Independen dalam rangka memenuhi peraturan Bapepam dan LK dan peraturan BEI No. KEP. 50 tanggal 7 Agustus 2008 yang dibuat di hadapan Sutjipto. dan Akta No. QUALITY SAFETY & ENVIRONMENT MANAGEMENT Board of Director PRESIDENT & CHIEF EXECUTIVE OFFICER SUBSIDIARIES VP CORPORATE COMMUNICATION VP INTERNAL AUDIT VP ENTERPRISE RISK MANAGEMENT VP CEO OFFICE VP CORPORATE SECURITY VP CORPORATE SECRETARY VP SBU GARUDA CARGO VP SBU CITILINK EVP HUMAN CAPITAL & CORP.. 75 tanggal 10 Mei 2010. 129/2009 dan (iv) dinyatakan kembali dengan Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Penerbangan Garuda (Persero) Indonesia No.H. pemegang saham Perseroan telah mengambil keputusan untuk memperpanjang untuk sementara waktu masa tugas Abdulgani sebagai anggota Dewan Komisaris Perseroan terhitung sejak tanggal 16 Maret 2010 sampai dengan ditetapkannya anggota Dewan Komisaris yang definitif. KOREA. 24/2010”) sebagai berikut: Dewan Komisaris : Komisaris Utama Komisaris Independen Komisaris Komisaris Komisaris : Hadiyanto : Abdulgani : Adi Rahman Adiwoso : Sahala Lumban Gaol : Wendy Aritenang Yazid Kecuali untuk Abdulgani. SUPPORT SERVICES EVP FINANCIAL SERVICES & GROUP CFO EVP CORP.

AS dan memperoleh gelar LLM dari Harvard University Law School. masa jabatan anggota Direksi tersebut di atas adalah 5 (lima) tahun terhitung sejak 31 Oktober 2007. Komisaris Utama Perseroan sejak tahun 2005. Komisaris Independen Warga Negara Indonesia. Saat ini beliau juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Kekayaan Negara di Kementerian Keuangan dan Dewan Direktur pada Indonesia-Eximbank. 176/2005.305/BEJ/07-2004. Abdulgani. Komisaris Utama Warga Negara Indonesia. Direktur Utama Bank Duta. Lahir di Bukittinggi pada tanggal 14 Maret 1943. Komisaris PT Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia. Menjabat sebagai Komisaris Utama Perseroan sejak Juni 2007. Berdasarkan RUPSLB tanggal 15 Nopember 2010. 67 tahun. Memperoleh sertifikat International Tax & Law Program dari Harvard University. 176/2005. dan gelar Doktor dari Universitas Gajah Mada pada tahun 2010. beliau menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak Juni 2007. AS di tahun 1993. meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Padjajaran Bandung tahun 1986. 75/2010. (ii) Akta No. Sebelumnya. pemegang saham menyetujui untuk memperpanjang masa jabatan Emirsyah Satar dan Agus Priyanto untuk sementara waktu sampai dengan ditetapkannya anggota Direksi yang definitif. Komisaris Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). dan menjadi Direktur Utama Perseroan sejak 1998 sampai 2002. Dewan Komisaris Hadiyanto. 48 tahun. AS di tahun 1998. KEP. Selanjutnya. Beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Menteri Negara BUMN. Dewan Pengawas Perum Perhutani. (iii) sebagaimana ditegaskan kembali dalam Akta No. Berdasarkan Akta No. Alternate Executive Director World Bank di Washington DC dan Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Keuangan. pemegang saham Perseroan telah menunjuk Bapak Elisa Lumbantoruan sebagai Direktur Tidak Terafiliasi dalam rangka memenuhi peraturan BEI No. Menjabat sebagai Komisaris Independen Perseroan sejak Nopember 2010. Lahir di Ciamis pada tanggal 10 Oktober 1962. 129/2009 dan (iv) dinyatakan kembali dengan Akta No. 24/2010 sebagai berikut: Direksi : Direktur Utama Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum Direktur Niaga Direktur Operasi Direktur Keuangan Direktur Teknik : Emirsyah Satar : Achirina : Agus Priyanto : Ari Sapari : Elisa Lumbantoruan : Hadinoto Soedigno Kecuali untuk masa jabatan Emirsyah Satar dan Agus Priyanto. 50/2008. gelar Master in Economics dari University of Colorado di Boulder. berdasarkan Akta No. Berikut ini adalah keterangan singkat mengenai Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan.Susunan Direksi Perseroan berdasarkan: (i) Akta No. 106 . masa jabatan Emirsyah Satar dan Agus Priyanto adalah 5 (lima) tahun terhitung sejak 16 Maret 2005. Komisaris Bank Bukopin. 75/2010 dan Akta No. Komisaris PT Amro Duta Leasing dan anggota Direksi dari The Asean Finance Corporation di Singapura. Beliau pernah menjabat sebagai Komisaris Utama PT Bank Ekspor Indonesia (Persero). Komisaris PT Tugu Reasuransi Indonesia. meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia tahun 1968.

Beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan. Deputi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan. Saat ini beliau juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) dan Staf Ahli Menteri BUMN Bidang Kebijakan Publik. Deputi Administrasi dan Perencanaan Otoritas Batam. Managing Director di PT Rajasa Hazanah Perkasa. Ketua Dewan Komisaris Pertamina (DKPP). Direktur Jenderal Perkeretaapian. Beliau pernah menjabat sebagai Komisaris PT PGN (Tbk). DC. Beliau pernah menjabat sebagai Direktur Pemasaran PT Satelit Palapa Indonesia. Asisten Ketua Monitoring dan Evaluasi Pembangunan . Kepala Divisi Umum – Biro HOH. Kepala Paviliun Indonesia (Expo Sevilla Spanyol).BPP Teknologi. 58 tahun. Deputi Menteri Riset dan Teknologi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek. Direktur Penerimaan Minyak dan Direktur Penerimaan Bukan Pajak dan Badan Layanan Umum. Saat ini beliau juga menjabat sebagai Ketua dari Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG). Ekonomi Moneter. Menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak Juni 2007. menjabat sebagai Alternate Governor OPEC Fund dan juga Dosen di Universitas Indo Nusa Esa Unggul. Komisaris Warga Negara Indonesia. Sahala Lumban Gaol. dan Ekonometrik dari Iowa State University.BPP Tekonologi. Site Engineer di PT Pembangunan Perumahan (Persero). Komisaris PT Petrokimia Gresik. meraih gelar Sarjana Teknik Sipil dari ITB tahun 1979. meraih gelar Bachelor of Science (BSc) in Aeronautical and Astronautical Engineering dari Purdue University. 57 tahun. Keuangan. dan memperoleh gelar Doctor of Philosophy in Economy dengan spesialisasi dibidang Ekonomi. Direksi dan COO di Orion Satellite Asia Pacific di Washington. Bogor tahun 1977. Saat ini beliau juga menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Perhubungan. Lahir di Jakarta pada tanggal 15 Desember 1954. Kepala Biro Perencanaan . Komisaris PT PLN. AS tahun 1975 dan memperoleh gelar Master of Science dari California Institute of Technology. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 26 Juli 1953. Lahir di Sibolga pada tanggal 7 Juli 1952. 56 tahun. Menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak Juni 2007. Komisaris Utama PT Geo Dipa Energi. AS di tahun 1994. meraih gelar Sarjana Peternakan dari IPB. AS di tahun 1977. Ekonomi Internasional. Komisaris Warga Negara Indonesia. dan memperoleh gelar Master of Science & Diploma di tahun 1986 dan gelar Doktor (PhD) di tahun 1989 dari University of London at Imperial College of Science & Technology dalam bidang Structural Engineering.BP3 Natuna. 107 . Komisaris Warga Negara Indonesia. Dewan Pengawas RS Fatmawati. Menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak Juni 2007. dan pernah aktif di Rasikomp Nusantara dan Hughes Aircraft. AS tahun 1988. Chairman dan CEO dari ACeS dan pendiri PT Pasifik Satelit Nusantara. Pimpinan Proyek Pameran Teknologi Industri dan Pariwisata . Wendy Aritenang Yazid.Adi Rahman Adiwoso. Komisaris PT Aditirta Batam. Indiana. dan menyelesaikan studi Master of Economics dari University of Illinois.

Kepala Seksi Line Operations DC-10. Beliau sebelumnya pernah menjabat berbagai posisi manajerial di Citibank NA.. Instruktur Simulator DC-10. Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak Oktober 2007. termasuk sebagai VP Business Support. Achirina. 51 tahun. Direktur Operasi Warga Negara Indonesia. General Manager untuk Switzerland. Lahir di Lubuk Pakam pada tanggal 15 Agustus 1958. meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Jenderal Sudirman. Purwokerto pada tahun 1984. 55 tahun. Menjabat sebagai Direktur Utama Perseroan sejak Maret 2005. VP Controlling. Beliau sebelumnya pernah menjabat pada beberapa posisi di Perseroan. General Manager untuk Australia. Instruktur Rute (Route Instructor) DC-10. Beliau sebelumnya pernah menjabat beberapa posisi manajerial di Perseroan. Lahir di Bandung pada tanggal 17 Desember 1957. dan General Manager untuk Skandinavia dan Finlandia. Kapten Pilot Airbus 330. meraih gelar Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dari Universitas Padjadjaran. Ari Sapari. Beliau pertama kali bergabung dengan Garuda Indonesia di tahun 1998 sebagai EVP Finance (CFO). Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak Maret 2005. dan meraih gelar Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dari Universitas Indonesia tahun 1985. anggota tim Revitalisasi Pemasaran. Direktur Utama Warga Negara Indonesia. Niaga Factoring Corporation dan Niaga Finance di Hong Kong. Route Check Pilot DC-10.Direksi Emirsyah Satar. menyelesaikan program Diploma di Sorbonne University. menangani penyelesaian seluruh proses restrukturisasi keuangan Perseroan. Kepala Dinas Revenue and Financial Accounting. Bandung pada tahun 1975 dan meraih lisensi Penerbangan Komersial dari Oxford Air Training School. General Manager untuk Brunei Darussalam. dan telah mengikuti sejumlah training dan kursus di bidang penerbangan dan yang terkait dengan penerbangan yang diselenggarakan oleh institusi baik di dalam maupun luar negeri. VP Revenue Management. Lahir di Jakarta pada tanggal 28 Juni 1959. Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum Warga Negara Indonesia. beliau juga menjabat sebagai Presiden INACA (Indonesia National Air Carriers Association). dan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bidang Luar Negeri. 52 tahun. beliau diangkat sebagai Deputy CEO di Bank Danamon. sebelum kembali bergabung dengan Perseroan sebagai Direktur Utama dan CEO. Saat ini. Tahun 2003. Lahir di Semarang pada tanggal 29 September 1955. 53 tahun. Direktur Niaga Warga Negara Indonesia. Kepala Sub Dinas Konsolidasi Laporan Keuangan. Jakarta. Paris di tahun 1978. Jan Darmadi Group. Kepala Dinas Akuntansi Keuangan. Agus Priyanto. Bandung di tahun 1985. meraih Diploma dari Institut Teknologi Nasional. termasuk sebagai Presiden Asosiasi Pilot Garuda. Beliau sebelumnya pernah menjabat pada beberapa posisi di Perseroan. termasuk beberapa pelatihan manajemen di Amerika Serikat. 108 . Inggris pada tahun 1977. Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak Oktober 2007. termasuk sebagai General Manager untuk Jerman. Manajer Line Operations DC-10 WIP (President) Pilot dan Instruktur dan Government Check Pilot.

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 5 Januari 1953. Sales Unit Manager PT Digital Astra Nusantara. antara lain: 1. Hadinoto Soedigno. Ltd. 4. Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak Oktober 2007. Bandung di tahun 1985. Bandung tahun 1977 dan memperoleh gelar Magister Manajemen dari Universitas Indonesia di tahun 1990. JKTDU/SKEP/5050/08 tanggal 1 Desember 2008 tentang Pengangkatan Anggota Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero). dan juga pernah menjabat sebagai Vice President di Divisi Workshop Perseroan. meraih gelar Sarjana Teknik Mesin dari ITB. Bidang tugas Sekretaris Perusahaan. Direktur Pemasaran PT Compaq Computer Indonesia. KEP-63/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996 Lampiran Peraturan No. meraih gelar Sarjana bidang Matematika dari ITB. Sebagai penghubung atau contact person antara Perseroan dengan Bapepam dan LK dan masyarakat. antara lain sebagai Direktur. beliau berpengalaman sebagai pimpinan beberapa proyek konstruksi bidang minyak dan gas. Direktur Keuangan (Direktur Tidak Terafiliasi) Warga Negara Indonesia. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya. Memberikan masukan kepada Direksi Perseroan untuk mematuhi ketentuan Undang-undang No. Menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak Oktober 2007. Kompensasi Komisaris dan Direksi Jumlah kompensasi total gaji dan tunjangan yang dibayarkan Perseroan untuk Komisaris dan Direksi Perseroan untuk periode sembilan bulan yang berakhir tanggal 30 September 2010 adalah sebesar Rp30.Elisa Lumbantoruan.. JKTDU/SKEP/5011/09 tanggal 1 Mei 2008 tentang Pengangkatan Anggota Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero). Kep. JKTDZ/SKEP/50056/09 tanggal 2 Oktober 2009 tentang Pembebasan dan Pengangkatan Pejabat di PT Garuda Indonesia (Persero). Beliau sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur PT Hewlett Packard Financial Services.I.4 mengenai Pembentukan Sekretaris Perusahaan juncto Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta No. 50 tahun. Memberikan pelayanan atas setiap informasi yang dibutuhkan pemodal yang berkaitan dengan kondisi Perseroan. dan telah terlibat di Perseroan sejak pendirian. Beliau saat ini menjabat sebagai Direktur Keuangan Perseroan berdasarkan surat Dewan Komisaris No. Executive Vice President. Sebelum bergabung dengan Perseroan. JKTDU/SKEP/2006/10 tanggal 26 Januari 2010 tentang Perpanjangan Masa Tugas Ketua dan Anggota Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero).305/BEJ/072004 tanggal19 Juli 2004. berdasarkan Surat Keputusan Direksi Perseroan No. 3. Beliau sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia (GMF AeroAsia). Direktur Regional Hewlett Packard South East Asia Ltd. Direktur Teknik Warga Negara Indonesia.JKTDU/SKEP/5054/07 tanggal 25 Oktober 2007 tentang Pengangkatan Ketua dan Anggota Komite Audit dan Penyempurnaan Piagam Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero) yang diperbaharui dari waktu ke waktu dengan: (i) Surat Keputusan Dewan Komisaris No. Sekretaris Perusahaan Sesuai dengan peraturan Bapepam No. Sales Manager PT Cipta Arta Graha Informasi dan Account Manager PT Astra Graphia. Country Alliances Manager Oracle Systems Asia Tenggara Pte. (iii) Surat Keputusan Dewan Komisaris No. Sumatera Utara pada tanggal 19 Juli 1960. (iv) Surat Keputusan Dewan Komisaris No. 57 tahun.318. (ii) Surat Keputusan Dewan Komisaris No. 2. IX. Direktur Pemasaran PT Digital Astra Nusantara. Presiden Direktur PT Hewlett Packard Indonesia. JKTDU/SKEP/2056/10 tanggal 1 Oktober 2010 tentang Pengangkatan Anggota Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero). Komite Audit Perseroan telah membentuk Komite Audit melalui Surat Keputusan Dewan Komisaris No. Kepala Strategic Business Unit GMF AeroAsia. Mengikuti perkembangan Pasar Modal khususnya peraturan-peraturan yang berlaku di bidang Pasar Modal. Perseroan telah mengangkat Ike Andriani sebagai VP Corporate Secretary and Corporate Legal Perseroan. Lahir di Siborong-borong. dengan berbagai jabatan. (v) Surat Keputusan 109 . GARUDA/DEKOM001/2011 tanggal 3 Januari 2011.67 juta.

Dewan Komisaris No. JKTDU/SKEP/5002/11 pada tanggal 5 Januari 2011 tentang Pemberhentian SDRI. Etty Retno Wulandari Sebagai Anggota Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero); dan (vi) Surat Keputusan Dewan Komisaris No. JKTDU/SKEP/5005/11 pada tanggal 10 Januari 2011 tentang Penggantian Ketua Komite Audit PT Garuda Indonesia (Persero). Susunan Komite Audit Perseroan adalah sebagai berikut: Ketua Anggota Anggota : Abdulgani : Adi Dharmanto : Endang Mudiman

Berikut keterangan singkat mengenai masing-masing anggota Komite Audit Perseroan : Abdulgani Ketua Komite Audit Warga Negara Indonesia, lahir pada tanggal 14 Maret 1943 (57 tahun). Diangkat menjadi Ketua Komite Audit Perseroan pada tahun 2011. Selain menjadi Anggota Komite Audit juga menjabat sebagai Komisaris Independen di Perseroan sejak 2010. Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Komisaris Perseroan sejak Juni 2007, Komisaris Utama Perseroan sejak tahun 2005, dan menjadi Direktur Utama Perseroan sejak 1998 sampai 2002. Beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Menteri Negara BUMN, Direktur Utama Bank Duta, Komisaris Bank Bukopin, Komisaris PT Amro Duta Leasing dan anggota Direksi dari The Asean Finance Corporation di Singapura. Pendidikan: memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia, tahun 1968, gelar Master of Economics dari University of Colorado di Boulder, AS tahun 1998, dan gelar Doktor dari Universitas Gajah Mada pada tahun 2010. Adi Dharmanto Anggota Komite Audit Warga Negara Indonesia, lahir pada tanggal 30 September 1962 (48 tahun). Diangkat menjadi Anggota Komite Audit Perseroan pada tahun 2009. Selain menjadi Anggota Komite Audit juga bekerja di PT Nura Kapital dan bertanggung jawab atas Business Development, Corporate Restructuring, Equity Financing & Project Financing. Pendidikan: Sarjana bidang Teknik Sipil dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) tahun 1987. Endang Mudiman Anggota Komite Audit Warga Negara Indonesia, lahir pada tanggal 28 April 1963 (49 tahun). Diangkat menjadi Anggota Komite Audit Perseroan pada bulan September 2010. Selain menjadi Anggota Komite Audit juga bekerja di PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) sebagai Group Head of Finance, Accounting, and Tax, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai Komite Ombudsman, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai Audit Team Leader. Pendidikan: Diploma Akuntansi Sarjana Akuntansi dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara tahun 1985, dan Sarjana Akuntansi dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara tahun 1993. Sebagai suatu BUMN, berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No. PER-05/MBU/2006 (“Keputusan BUMN”), Perseroan diwajibkan untuk memiliki suatu komite audit. Berdasarkan peraturan Bapepam & LK dan BEI, Perseroan juga diharuskan untuk membentuk suatu komite audit dalam waktu 6 (enam) bulan sejak pencatatan di BEI. Komite audit harus terdiri dari setidaknya 3 (tiga) anggota, satu diantaranya haruslah merupakan Komisaris Independen yang akan menjadi ketua, dan setidaknya 2 anggota komite tambahan, yang bukan berasal dari BUMN. Saat ini, ketua Komite Audit Perseroan bukan merupakan komisaris independen dan Perseroan telah memiliki jumlah anggota nonBUMN yang mencukupi.

110

6.

Sumber Daya Manusia

Perseroan dan Anak Perusahaan Per tanggal 30 September 2010, Perseroan dan Anak Perusahaan mempekerjakan 8.879 orang karyawan, terdiri dari 6.663 orang karyawan tetap, dan 1.216 orang karyawan kontrak. Komposisi karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan berdasarkan jenjang jabatan, jenjang pendidikan, dan usia per tanggal 30 September 2010, 31 Desember 2009, 2008, dan 2007 adalah sebagai berikut : Komposisi Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan Menurut Jabatan
Jenjang Jabatan Perseroan: Direksi Vice President Senior Manager Manager Staff Total Anak Perusahaan: Direksi Vice President Senior Manager Manager Staff Total Total Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan 30 September 2010 6 31 151 262 5.040 5.490 2009 7 36 179 286 4.567 5.075 31 Desember 2008 7 34 171 331 5.005 5.548 2007 7 26 150 349 5.276 5.808

15 32 100 232 3.010 3.389 8.879

14 29 101 211 2.342 2.697 7.772

12 26 91 202 2.275 2.606 8.154

11 21 64 169 2.332 2.597 8.405

Komposisi Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan Menurut Jenjang Pendidikan
Tingkat Pendidikan Perseroan: Master dan Doktor Sarjana Diploma SD/SMP/SLTA Total Anak Perusahaan: Master dan Doktor Sarjana Diploma SD/SMP/SLTA Total Total Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan 30 September 2010 289 1.371 629 3.201 5.490 122 1.092 605 1.570 3.389 8.879 2009 289 1.514 586 2.686 5.075 111 764 568 1.254 2.697 7.772 31 Desember 2008 301 1.543 630 3.074 5.548 98 667 575 1.266 2.606 8.154 2007 325 1.322 660 3.501 5.808 78 498 651 1.370 2.597 8.405

Komposisi Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan Menurut Kelompok Usia
Kelompok Usia (tahun) Perseroan: > 50 41 – 50 31 – 40 21 – 30 < 21 Total 30 September 2010 776 2.331 1.490 428 465 5.490 2009 757 2.253 1.652 369 44 5.075 31 Desember 2008 836 2.368 2.034 280 30 5.548 2007 837 2.256 2.478 212 25 5.808

111

Kelompok Usia (tahun)

30 September 2010

2009

31 Desember 2008

2007

Anak Perusahaan: > 50 41 – 50 31 – 40 21 – 30 < 21 Total Total Karyawan Perseroan dan Anak Perusahaan

527 1.423 448 797 194 3.389 8.879

574 1.435 415 273 2.697 7.772

624 1.407 405 170 2.606 8.154

394 1.300 802 100 1 2.597 8.405

Komposisi Karyawan Perseroan Menurut Jenis Pekerjaan:
Uraian Per 30 September 2010 Per 31 Desember 2008

2009

2007

Perseroan: Kru Penerbangan: Pilot Awak Kabin Ground Personnel: Ground services Pemeliharaan Fungsi Tersentralisasi Lainnya: Pemasaran, Reservasi dan Penjualan Kargo Pusat Kesehatan Lain-lain Total Karyawan Perseroan

626 1859

579 1.608

563 1.724

558 1.909

373 99

397 102

406 104

431 95

749 286 64 1434 5.490

764 295 59 1.271 5.075

706 354 78 1.613 5.548

871 372 81 1.491 5.808

Pada saat prospektus ini diterbitkan, penggajian tenaga kerja Perseroan telah sesuai dengan Upah Minimum Propinsi (UMP) yang berlaku. Pada saat ini, Perseroan telah merekrut 101 tenaga kerja asing untuk posisi pilot, first officer dan awak kabin. Dari 101 tenaga kerja asing tersebut, Perseroan telah mepekerjakan dan memperoleh Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (“IMTA”) yang berlaku untuk 67 tenaga kerja asing, sedangkan sisanya, yaitu sebanyak 33 tenaga kerja asing, akan mendapatkan izin tenaga kerja asing yang diperlukan ketika tenaga kerja asing tersebut dipekerjakan secara aktual oleh Perseroan. Perseroan saat ini sedang melakukan proses perijinan beberapa tenaga kerja asing. Tenaga kerja asing yang bekerja di Perseroan saat ini adalah sebagai berikut:
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Nama Perdiguero Alba Felix Juan Fuentes Anglede Fransisco Wezel Neil Lof Timon Ruurd Olabari Blanco Iker Lugrini Alesandro Aviles Cediel Alfredo Arevalo Leon Emilio Carter Treptau Ian Robert Tasselo Dennis Feldhahn Michael Paul Suna Harun Casson Mark John Posisi First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer Captain Boeing 737 No. IMTA 30851/MEN/B/IMTA/2010 30949/MEN/B/IMTA/2010 30277/MEN/B/IMTA/2010 30297/MEN/B/IMTA/2010 30279/MEN/B/IMTA/2010 Masa Berlaku IMTA 28 Oktober 2011 28 Oktober 2011 28 Oktober 2011 28 Oktober 2011 9 Nopember 2011 No. KITAS 2C11JD3288-J 2C11JD3290-J 2C11JD3289-J 2C11JD3287-J 2C11JD3413-J 2C11JD3576-J 2C11JD3578-J 2C11JD3633-J 2C11JD3574-J 2C11JD3577-J 2C11JD3411-J 2C11JD3424-J 2C11JD3575-J Masa Berlaku KITAS 22 Oktober 2011 22 Oktober 2011 22 Oktober 2011 22 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 Warga Negara Spanyol Spanyol Belanda Belanda Spanyol Italia Spanyol Spanyol Inggris Italia Inggris Turki Australia

32912/MEN/B/IMTA/2010 19 Nopember 2011 32518/MEN/B/IMTA/2010 19 Nopember 2011 32524/MEN/B/IMTA/2010 22 Nopember 2011 31747/MEN/B/IMTA/2010 19 Nopember 2011 31366/MEN/B/IMTA/2010 19 Nopember 2011 30299/MEN/B/IMTA/2010 31867/MEN/B/IMTA/2010 9 Nopember 2011 9 Nopember 2011

32276/MEN/B/IMTA/2010 19 Nopember 2011

112

No. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49.

Nama Lim Sangsoo Martinez Moro Federico Mosteghanemi Mohamed Ruzicka Ziri Sendur Taylan Cserhati Zoltan Bariccat Los Arcos Jesus Maria Gutierrez Cortes Oscar Ruben Cozar Fernandez Dai Ying Ding Wei Yishan Ding Fei Yanshu Kong Lingqi He Iyang Li Lu Liu Xuan Lu Jiangzhou Lu Jinzhi Ni Yun Wang Ying Xiao Ping Xiong Chenyu Yachun Xu Yao Lan Yuan Jingjing Zheng Jie Yi Zhu Bae Eunji Eom Go Eun Ha Minyoung Im Seongin Jo Jihyun Joung Yoonjoung Kim Bo Young Kim Yun A

Posisi First Officer First Officer First Officer Captain Boeing 737 First Officer First Officer First Officer First Officer First Officer Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin

No. IMTA 32150/MEN/B/IMTA/2010 31866/MEN/B/IMTA/2010 31057/MEN/B/IMTA/2010 30281/MEN/B/IMTA/2010 31868/MEN/B/IMTA/2010 30296/MEN/B/IMTA/2010 32651/MEN/B/IMTA/2010 32539/MEN/B/IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08307A-S/MEN/B/ IMTA/2010 KEP.08400A-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400B-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400C-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400D-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400E-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400F-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400G-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400H-S/MEN/B/ IMTA/ 2010

Masa Berlaku IMTA 9 Nopember 2011 9 Nopember 2011 3 Nopember 2011 4 Nopember 2011 9 Nopember 2011 3 Nopember 2011 9 Desember 2011 8 Desember 2011

No. KITAS 2C11JD3407-J 2C11JD3412-J 2C11JD3358-J 2C11JD3368-J 2C11JD3423-J 2C11JD3357-J 2C11JD3807-J 2C11JD3791-J 2C11JD3936-J 2C11JB0499-J 2C11JB0496-J 2C11JB0508-J 2C11JB0493-J 2C11JB0506-J 2C11JB0504-J 2C11JB0516-J 2C11JB0509-J 2C11JB0518-J 2C11JB0507-J 2C11JB0515-J 2C11JB0513-J 2C11JB0517-J 2C11JB0502-J 2C11JB0501-J 2C11JB0497-J 2C11JB0514-J 2C11JB0519-J 2C11JB0510-J 2C11JB0S22-J 2C11JB0512-J 2C11JB0503-J 2C11JB0520-J 2C11JB0498-J 2C11JB0505-J 2C11JB0511-J 2C11JB0495-J

Masa Berlaku KITAS 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 29 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 31 Oktober 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 27 April 2011 28 April 2011 27 April 2011 27 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 27 April 2011 27 April 2011 27 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011

Warga Negara Korea Selatan Spanyol Prancis Republik Ceko Turki Hongaria Spanyol Spanyol Spanyol Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Cina Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan

32278/MEN/B/IMTA/2010 16 Desember 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011

113

No. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. Ko Ala

Nama

Posisi Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin Awak Kabin

No. IMTA KEP.08400I-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400J-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.08400K-S/MEN/B/ IMTA/ 2010 KEP.11982/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.11987/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.11989/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.11993/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.11996/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.11998/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12002/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12005/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12010/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12013/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12016/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12021/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12023/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12026/MEN/B/IMTA/ 2010 KEP.12029/MEN/B/IMTA/ 2010

Masa Berlaku IMTA 5 Mei 2011 5 Mei 2011 5 Mei 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011 2 Juni 2011

No. KITAS 2C11JB0500-J 2C11JB0494-J 2C11JB0521-J 2C11JB0691-J 2C11JB0683-J 2C11JB0694-J 2C11JB0693-J 2C11JB0685-J 2C11JB0687-J 2C11JB0688-J 2C11JB0686-J 2C11JB0695-J 2C11JB0696-J 2C11JB0697-J 2C11JB0698-J 2C11JB0684-J 2C11JB0689-J 2C11JB0690-J

Masa Berlaku KITAS 28 April 2011 28 April 2011 28 April 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011 29 Mei 2011

Warga Negara Korea Selatan Korea Selatan Korea Selatan Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang Jepang

Ley Eunyoung Song Juyeon Risa Kataoka Rie Igami Yoshiko Sonoda Risa Morii Erina Tanaka Toshimi Ata Sayaka Kimura Miwa Saito Miki Koyama Masumi Kamata Ono Yuka Mikiko Sakamoto Mariko Shimada Keiko Tashiro Chie Nakayama

Pendidikan dan Pelatihan Program kepegawaian Perseroan yang dimiliki Perseroan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia adalah dengan melakukan investasi melalui pelatihan staf dan peningkatan kualitas hidup karyawan. Program pelatihan karyawan yang diterapkan Perseroan adalah sebagai berikut: Program Pelatihan Kepemimpinan Program pengembangan dalam rangka mempersiapkan pemimpin masa depan merupakan investasi yang dilakukan oleh Garuda Indonesia kepada pegawai yang berpotensi tinggi dalam bentuk Management Development Program (“MDP”). Program ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk menyelaraskan dengan rencana jangka panjang Perseroan dan sebagai bagian dari Rencana Suksesi. MDP telah dilaksanakan dalam beberapa tingkatan, yaitu : • • Leaders Forum yang diperuntukkan bagi pegawai satu tingkat di bawah Direksi, yang dilaksanakan setiap bulan; Operational Leaders Development Program (OLDP) yang diperuntukkan bagi pegawai dua tingkat di bawah Direksi, telah dilaksanakan sebanyak 1 (satu) angkatan dengan periode program selama 6 (enam) bulan dan batch ke 2 untuk OLDP, masih dalam tahap pelaksanaan; Emerging Leaders Development Program (ELDP) yang diperuntukkan bagi pegawai tiga tingkat di bawah Direksi, telah dilaksanakan sebanyak 1 (satu) angkatan dengan periode program selama 6 (enam) bulan.

114

Program Pelatihan Bagi Awak Pesawat Untuk menjaga kualifikasi dan kompetensi awak pesawat, yaitu penerbang dan awak kabin, maka Perseroan mewajibkan dilakukannya recurrent training yang dilaksanakan secara periodik. Recurrent training ini mewajibkan setiap penerbang untuk menjalani inspeksi kualifikasi sebanyak 2 (dua) kali dalam periode 12 bulan, yang terdiri dari uji kecakapan/ketrampilan terbang untuk tujuan menjaga tingkat proficiency penerbang dan uji kesehatan. Selain itu setiap penerbang juga harus menjalani pelatihan di kelas sebagai persyaratan untuk memastikan kualifikasi dan kompetensi sebagai penerbang. Sementara untuk setiap awak kabin, harus menjalani inspeksi kualifikasi sebanyak 1 (satu) kali dalam periode 12 bulan, yang terdiri dari check terhadap kualifikasi dalam hal keselamatan penerbangan, aspek layanan dan uji kesehatan. Pelatihan Bagi Para Frontliners Untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, Perseroan memberikan pelatihan service attitude for frontliners kepada seluruh frontliners. Pelatihan ini bertujuan untuk membentuk professional image para frontliners yang nantinya akan membentuk company image Perseroan. Pelatihan ini diberikan berupa perilaku layanan, tata cara berpenampilan dan berbusana secara profesional yang mencerminkan budaya FLY-HI. Pelatihan service attitude bagi frontliners Perseroan dan juga frontliners pihak ketiga telah dilaksanakan untuk melayani ground handling, dimana telah dilakukan dalam 54 angkatan, sedangkan Development Leadership for Assistant Manager and Supervisor telah berjalan dalam 5 angkatan. Pelatihan bagi para Karyawan bagian Pemasaran Untuk memberikan pembekalan dalam hal marketing dan sense business, maka diberikan pelatihan bagi para GM Branch Office dan Sales Manager berupa pelatihan Salespreneuring yang telah dilaksanakan dalam 4 angkatan untuk Manager dan Supervisor serta dalam 2 angkatan untuk GM Branch Office. Fasilitas Kesejahteraan Karyawan Perseroan berkeyakinan bahwa strategi kompensasi dan benefit akan dapat meningkatkan kinerja Perseroan sehingga adaptif terhadap perubahan siklus bisnis untuk membangun profesi yang sesuai dengan pertumbuhan Perseroan yang berkelanjutan dengan mengutamakan untuk menarik (attracting) dan mempertahankan (retaining) karyawan berdasarkan ukuran kinerja tinggi (high performing) dan berpotensi tinggi (high potential). Karyawan Perseroan menerima remunerasi kas terdiri dari gaji dan subsidi tunai lainnya. Secara umum, gaji karyawan ditentukan berdasarkan kualifikasi karyawan, posisi, senioritas dan kinerja, subsidi kas mungkin dapat termasuk subsidi hidup, dan dapat bervariasi tergantung pada kondisi yang terjadi. Perseroan juga memberikan manfaat non tunai, termasuk asuransi kesehatan, pensiun dini dan kesejahteraan sosial, seperti yang disyaratkan oleh hukum di Indonesia. Skema kompensasi dan benefit terdiri dari gaji tetap dan variable/ insentif, sedangkan Tunjangan Hari Raya, Tunjangan Tengah Tahun dan Bantuan Istirahat Tahunan (cuti). Selain itu Perseroan juga memberikan fasilitas kesejahteraan bagi para pegawainya dengan selalu memperhatikan ketentuan-ketentuan dan peraturan di bidang ketenagakerjaan serta disesuaikan dengan kebutuhan untuk mendukung bisnis Perseroan, berbagai fasilitas tersebut antara lain: Jaminan Sosial kepada Jamsostek berupa iuran Jaminan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. Cuti Tahunan diberikan kepada pegawai sesuai dengan lamanya masa kerja. Program Pemeliharaan kesehatan pegawai Program kesehatan pensiun. Program dana pensiun. Fasilitas Konsesi Terbang diberikan kepada karyawan dan keluarga. Pakaian Seragam dan Pakaian Representatif sesuai dengan kebutuhan bisnis Perseroan. Pada saat terjadi pemutusan hubungan kerja yang seharusnya diterima (santunan kematian, uang pisah, pesangon dan penghargaan masa kerja). Penghargaan Garuda Bakti, bagi karyawan yang telah mencapai masa kerja 20 tahun. Penghargaan Pensiun kepada karyawan yang memasuki usia pensiun. Fasilitas Pajak Penghasilan karyawan yang dibayarkan oleh Perseroan.

115

Serikat Pekerja Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Perseroan berlaku sejak tanggal 26 Januari 2004 sampai dengan 25 Januari 2006 berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.KEP.08/PHI/PK/2004 tanggal 20 Januari 2004. Perjanjian tersebut diperpanjang secara otomatis dan oleh karenanya masa berlaku PKB tersebut menjadi berakhir pada tanggal 25 Januari 2007. Terdapat empat serikat pekerja Perseroan yang masing-masing mewakili kepentingan awak kabin, awak kokpit, pramugari dan karyawan lainnya (Serikat Karyawan Garuda). 1. 2. 3. 4. Asosiasi Pilot Garuda (APG) Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) Serikat Karyawan Garuda (SEKARGA) Serikat Pekerja Awak Kabin Garuda Indonesia (SPAKGI)

Perjanjian kerjasama antara Perseroan dengan keempat serikat pekerja tersebut telah dibuat pada tahun 2008 dan Perseroan saat ini sedang melakukan negosiasi perjanjian kerja bersama baru dengan serikat pekerja ini melalui perundingan tripartit bersama dengan otoritas ketenagakerjaan setempat (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi / “Disnaker”). Disnaker telah menyarankan kepada Perseroan dan serikat pekerja untuk menyepakati ketentuan tertentu yang telah disetujui oleh Disnaker. Pada tanggal 6 Desember 2010, Perseroan telah menyatakan persetujuan atas anjuran dimaksud. Perseroan telah menerima pernyataan secara verbal walaupun Perseroan sampai saat ini belum mendapatkan pernyataan secara formal, bahwa serikat pekerja telah menolak ketentuan yang disarankan, dengan demikian pihak manapun dapat mengajukan ketidaksepakatan terkait perjanjian kerja sama sebelum ke Pengadilan Hubungan Industrial. 7. Keterangan Mengenai Anak Perusahaan

Saat ini Perseroan mengoperasikan tiga unit bisnis strategis (SBU): SBU Garuda Cargo, SBU Citilink dan SBU Garuda Sentra Medika dan empat Anak Perusahaan yang signifikan: PT Aero Wisata (jasa boga, hotel, transportasi dan travel), PT Abacus Distribution Systems Indonesia (pemesanan), PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (perbaikan dan perawatan pesawat/MRO), PT Aero Systems Indonesia (teknologi informasi), serta PT Citilink Indonesia (angkutan udara berjadwal berbiaya murah) yang belum beroperasi. Perseroan juga memiliki perusahaan terafiliasi, PT Gapura Angkasa, yang menyediakan perusahaan dengan pelayanan ground handling. Tabel berikut menunjukkan struktur bisnis Perseroan termasuk unit utama bisnisnya, Anak Perusahaan yang beroperasi maupun yang belum beroperasi sebagai suatu Anak Perusahaan, dan perusahaan afiliasi lainnya yang signifikan. Perseroan memiliki penyertaan saham secara langsung pada 9 anak perusahaan sebagai berikut:
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Anak Perusahaan PT Aero Wisata PT Abacus Distribution Systems Indonesia PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia*** PT Aero Systems Indonesia*** PT Citilink Indonesia*** PT Gapura Angkasa** Abacus International Holdings Ltd.** Pan Asia Pacific Aviation Services Ltd.** PT Merpati Nusantara Airlines** Bidang Usaha Perhotelan, jasa boga dan agen perjalanan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Perbaikan dan pemeliharaan pesawat terbang Penyedia jasa teknologi informasi Angkutan udara niaga Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Pengelolaan ground-handling dan penunjang usaha penerbangan Penerbangan Kepemilikan 99,99% 95,00% 99,99% 99,99% 99,99% 37,5% Tahun Status Operasi Penyertaan Komersial 1989 sudah beroperasi 1995 2002 2005 2009 1998 sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi

2,065% 17,65% 4,21%

1997 1998 1978

sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi

Catatan: *) Citilink belum beroperasi dikarenakan masih dalam proses untuk memperoleh ijin usaha angkutan udara niaga **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aero Wisata

116

Perseroan melalui PT Aero Wisata memiliki penyertaan saham secara tidak langsung pada 18 perusahaan sebagai berikut:
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Anak Perusahaan PT Angkasa Citra Sarana Catering Service PT Aero Hotel Management Bidang Usaha Jasa boga Kepemilikan 99,98% 99,99% 99,87% 61,88% 99,98% 99,98% 99,98% 99,98% 99,98% 100% 60% 60% 45% 40% 10,10% 7,54% 2,58% 98,87% Tahun Penyertaan 1982 2009 1988 1987 1992 1974 1988 1979 1997 1981 2008 2009 1996 1993 1989 1988 1988 2003 Status Operasi Komersial sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi belum beroperasi* sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi sudah beroperasi

Jasa pengelolaan properti (hotel, apartemen, kondominium) PT Aerojasa Perkasa Jasa agen penjualan umum PT Bina Inti Dinamika Jasa akomodasi PT Belitung Inti Permai Jasa akomodasi PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi Jasa biro perjalanan wisata PT Mandira Erajasa Wahana Jasa Transportasi PT Mirtasari Hotel Deveploment Jasa akomodasi PT Senggigi Pratama Internasional Jasa akomodasi Garuda Orient Holidays Pty. Ltd. Jasa biro perjalanan wisata Garuda Orient Holidays Korea Co. Ltd Jasa biro perjalanan wisata Garuda Orient Holidays Japan INC. Jasa biro perjalanan wisata PT Aeronurti** Jasa akomodasi PT Aeroprima** Jasa akomodasi PT Bumi Minang Padang** Jasa akomodasi PT Nusa Dua Graha Internasional** Jasa akomodasi PT Arthaloka Indonesia** Jasa pengelolaan properti PT Aerojasa Cargo*** Jasa pengurusan transportasi (freight forwarding)

Catatan: *) PT Belitung Inti Permai belum beroperasi, pembangunan hotel masih dalam proses **) Tidak terkonsolidasi ***) Kepemilikan langsung dan tidak langsung melalui PT Aerojasa Perkasa

a.

PT Aero Wisata (“Aerowisata”)

Pendirian dan Kegiatan Usaha Aerowisata, berkedudukan di Jakarta Pusat, didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Aerowisata No. 85 tanggal 30 Juni 1973 yang dibuat di hadapan Soeleman Ardjasasmita, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. Y.A. 5/32/18 tanggal 2 Pebruari 1974, telah didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta No. 446 tanggal 13 Pebruari 1974, serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 20 tanggal 11 Maret 1983, Tambahan No. 320 (“Akta Pendirian Aerowisata”). Anggaran dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian Aerowisata tersebut telah beberapa kali mengalami perubahan, dimana perubahan yang terakhir sehubungan dengan penyesuaian dengan Undang-undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dimuat dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 25 tanggal 20 Nopember 2008, yang dibuat di hadapan Siti Rayhana, S.H., pengganti dari Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Keputusan No. AHU-92558.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 2 Desember 2008, didaftarkan dalam Daftar Perseroan No. AHU-0117183.AH.01.09.Tahun 2008 tanggal 2 Desember 2008 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 82 tanggal 13 Oktober 2009, Tambahan No. 25579. Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar Aerowisata, kegiatan usaha Aerowisata adalah sebagai berikut: a. b. c. d. Menjalankan usaha di bidang perhotelan dan sarana penunjangnya; Menjalankan usaha di bidang penyediaan tempat dan pelayanan makan dan minum; Menjalankan usaha di bidang pakaian/binatu; Menjalankan usaha di bidang penyediaan fasilitas akomodasi dan pelayanan lain yang diperlukan bagi penyelenggaraan kegiatan usaha hotel.

117

Manajemen dan Pengawasan Susunan Dewan Komisaris Aerowisata berdasarkan: (i) Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 12 tanggal 6 Desember 2005 yang dibuat di hadapan Siti Rayhana, S.H., pengganti dari Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro, S.H., Notaris di Jakarta dan (ii) Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham No. 1 tanggal 2 Pebruari 2010 yang dibuat di hadapan Rismalena Kasri, S.H., Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama Komisaris : Abdulgani : Abdul Anshari Ritonga

Susunan Direksi Aerowisata berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Sirkuler Para Pemegang Saham No. 12 tanggal 13 Nopember 2009, yang dibuat di hadapan Rismalena Kasri, S.H., Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Direksi: Direktur Utama Direktur : Alexander Maria Tae Maneklaran : Doddy Virgianto

Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 30 tanggal 5 Nopember 1998, dibuat di hadapan Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro, S.H., Notaris di Jakarta, telah dilaporkan kepada Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Laporan Perubahan Anggaran Dasar yang telah diterima dan dicatat tanggal 17 Mei 1999 No. C-8437. HT.01.04.TH.99, telah didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No. 271/BH.09.05/XI/1999 tanggal 18 Nopember 1999, dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 33 tanggal 25 April 2000, Tambahan No. 2056, serta: (i) Akta Jual Beli Saham No. 34 tanggal 21 Januari 2000 yang dibuat di hadapan Mahyasari Ashinta Krisnuryanti, S.H., pengganti dari Notaris Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro, S.H. tersebut, (ii) Akta Jual Beli Saham No. 08 tanggal 4 Oktober 2000, dan (iii) Akta Jual Beli Saham No. 139 tanggal 29 Nopember 2001, yang keduanya dibuat di hadapan Siti Rayhana, S.H., pengganti dari Notaris Bandoro Raden Ayu Mahyastoeti Notonagoro, S.H. tersebut, struktur permodalan dan susunan pemegang saham Aerowisata adalah sebagai berikut:
Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.000.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 400.000 400.000.000.000 249.999 1 250.000 150.000 249.999.000.000 1.000.000 250.000.000.000 150.000.000.000

%

Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan Dana Pensiun Pegawai Aerowisata C. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D. Saham dalam Portepel

A. B.

99,99 0,01 100,00 -

Ikhtisar Laporan Keuangan Ikhtisar Laporan Keuangan Konsolidasi Aerowisata untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 dan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, serta laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 30 Septembar 2009 yang telah direview, oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited), dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Kanaka Puradiredja Suhartono (Nexia International), dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, sebagai berikut:
(dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 580.036 639.806 1.219.842 544.856 304.536 849.392

Uraian NERACA Aset Lancar Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET

30 September 2010 2009* 727.549 878.668 1.606.217 538.408 808.159 1.346.567

2009 656.934 841.165 1.498.099

118

Uraian Kewajiban Lancar Kewajiban Jangka Panjang Jumlah Kewajiban Hak Minoritas Modal saham Saldo laba Jumlah Ekuitas JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS LABA RUGI Pendapatan Usaha Pendapatan Beban Usaha Laba Usaha LABA / (RUGI) BERSIH Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas)

30 September 2010 2009* 471.396 260.508 140.651 122.385 612.047 382.893 7.949 3.762 250.000 250.000 335.955 338.595 986.221 959.911 1.606.217 1.346.567

2009 345.195 151.573 496.768 4.700 250.000 374.294 996.631 1.498.099

(dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 202.673 200.343 106.454 85.108 309.127 285.452 3.673 (672) 250.000 250.000 305.374 298.849 907.042 564.612 1.219.842 849.392

1.104.329 184.666 36.431 19.334

796.204 147.658 52.703 41.026

1.150.897 204.659 91.841 76.724

1.089.244 162.587 81.419 76.625

908.601 151.559 57.941 70.209

Jumlah Aset, Kewajiban, dan Ekuitas untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 meningkat jika dibandingkan dengan pada tanggal 30 September 2009. Jumlah Aset, Kewajiban, dan Ekuitas PT Aero Wisata untuk periode yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009, 2008 dan 2007 naik. Jumlah Aset tidak Lancar PT Aero Wisata pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 110% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007, hal ini disebabkan pada tahun 2008 terdapat peningkatan aset tetap yang diakibatkan dari revaluasi atas tanah dan bangunan. Pada 31 Desember 2008, kenaikan tanah dan bangunan akibat revaluasi Rp353.404 juta. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 September 2010, jumlah Aset Lancar juga mengalami kenaikan sebesar 35% jika dibandingkan dengan tanggal 30 September 2009, hal ini disebabkan oleh kenaikan persediaan Rp68.124 juta atau sebesar 266% Persediaan terbesar berasal dari ACS unit ISTS, karena pengalihan fungsi unit ACS, yang semula tidak mempunyai persediaan, namun pada bulan Nopember 2009, ada transfer persediaan dari Garuda ke unit PT ACS-ISTS. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009, jumlah Aset tidak Lancar juga mengalami kenaikan sebesar 31% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya investasi jangka panjang sebesar Rp84.206 juta atau sebesar 253% sebagai akibat dari penambahan investasi saham pada perusahaan asosiasi. Selain berasal dari kenaikan investasi dalam saham, meningkatnya Aset Tidak Lancar juga disebabkan dari meningkatnya nilai aset tetap sebesar Rp113.178 juta atau sebesar 20% yang berasal dari penambahan aset dalam penyelesaian di 31 Desember 2009. Jumlah Aset PT Aero Wisata pada tanggal tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 44% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007, hal ini disebabkan oleh kenaikan Aset Tidak Lancar yang berasal dari kenaikan aset tetap akibat adanya revaluasi tanah dan bangunan. Kenaikan revaluasi pada tanggal 31 Desember 2008, sebesar Rp353.404 juta. Jumlah Kewajiban Lancar PT Aero Wisata pada tanggal 31 Desember 2009 mengalami kenaikan sebesar 70% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008, hal ini disebabkan oleh meningkatnya hutang bank di tahun 2009 sebesar Rp70.248 juta yang terutama berasal dari pinjaman Bank BNI sebesar Rp69.748 juta. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 September 2010, jumlah Kewajiban Lancar juga mengalami kenaikan sebesar 81% jika dibandingkan dengan tanggal 30 September 2009, hal ini disebabkan oleh kenaikan pinjaman bank sebesar Rp68.891 juta yang berasal dari penambahan pinjaman Bank BNI sebesar Rp69.748 juta pada Desember 2009. Selain itu, terdapat peningkatan kewajiban lancar karena meningkatnya hutang usaha sebesar Rp52.790 juta atau sebesar 42% yang disebabkan peningkatan pembelian yang dilakukan tidak secara tunai. Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009, jumlah Kewajiban Jangka Panjang juga mengalami kenaikan sebesar 42% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008, hal ini disebabkan oleh kenaikan pinjaman jangka panjang sebesar Rp30.712 juta atau sebesar 84% yang berasal dari pinjaman investasi.

119

104. AHU-0018384. berupa pemberian: a.298 juta.Tahun 2009 tanggal 22 April 2009.AH.H.01.01. dan Rp70. 1156/1995 tanggal 21 Juli 1995. didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Abacus No. hal ini disebabkan terutama oleh peningkatan pendapatan dari divisi katering. 2008. Laba (Rugi) Bersih PT Aero Wisata untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 sebesar Rp19. Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar Abacus. kegiatan usaha Abacus adalah menjalankan usaha dalam bidang jasa konsultasi manajemen di bidang teknologi informasi. 1 tanggal 1 Maret 1995 yang kemudian diperbaiki dengan Akta Perbaikan No.334 juta dan Rp41. hal ini disebabkan oleh meningkatnya beban umum dan administrasi serta beban pemeliharaan & energi. dan telah didaftarkan di Kantor Pendaftaran Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di bawah No.207 juta dan Rp22.. biro perjalanan dan transportasi masing-masing sebesar Rp59.01. Pengembangan sistem reservasi dalam kegiatan bisnis. Peningkatan sumber daya manusia yang berhubungan dengan bisnis transportasi secara efektif dan efisien. S. PT Abacus Distribution Systems Indonesia (“Abacus”) Pendirian dan Kegiatan Usaha Abacus berkedudukan di Jakarta Selatan.925 juta. Notaris di Jakarta. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.Ekuitas PT Aero Wisata pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 61% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007. Rp81.01. Rp55. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp76. 3 tanggal 5 Nopember 2008 dibuat di hadapan Suryati Moerwibowo. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 41% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 13%. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp1.419 juta. 2008.703 juta pada 30 September 2009 menjadi Rp36.431 juta dan Rp52.AH. Peningkatan beban bunga juga sebesar Rp9.HT. S. Pendapatan usaha PT Aero Wisata untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. Tambahan No. 9 tanggal 30 Januari 1996. AHU-14409. b.089. Laba usaha PT Aero Wisata untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 sebesar Rp36. Laba Usaha PT Aero Wisata untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. keduanya dibuat di hadapan Anna Sunarhadi.724 juta. 53 tanggal 28 Juni 1995.H. didaftarkan dalam Daftar Perseroan No.995 juta juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan Laba (Rugi) Bersih PT Aero Wisata pada 30 September 2010 jika dibandingkan dengan 30 September 2009.841 juta.150.TH’95 tanggal 13 Juli 1995.209 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 9% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 0. hal ini disebabkan oleh peningkatan surplus revaluasi tanah dan bangunan sebesar Rp334.625 juta.02.431 juta pada 30 September 2010.026 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar (53%). Laba (Rugi) Bersih PT Aero Wisata untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 20% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 6%.272 juta atau (31%) dari Rp52.601 juta.941 juta. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp91. dan Rp57.204 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar 39%.09.1%. 123.703 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar (31%). telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Keputusan No. Rp76. Peningkatan Laba Usaha dari tahun 2007 ke tahun 2008 disebabkan oleh meningkatnya pendapatan usaha katering.. Rp1. hal ini disebabkan menurunnya laba operasional sebesar Rp16. telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Keputusan No.711 juta.244 juta dan Rp908. 2008. Pendapatan usaha PT Aero Wisata untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 sebesar Rp1. C2-8542. Notaris di Jakarta.329 juta dan Rp796. dimana perubahan terakhir sehubungan dengan penyesuaian dengan Undang-undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dimuat dalam Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham Perseroan Terbatas No.Tahun 2009 tanggal 22 April 2009.897 juta. b. (“Akta Pendirian Abacus”) Anggaran dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian Abacus tersebut telah beberapa kali mengalami perubahan. 120 .

500 137. Notaris di Jakarta.748.441 2009 26. 667/RUB.686 25.Manajemen dan Pengawasan Susunan Dewan Komisaris Abacus berdasarkan: (i) Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 2 tanggal 15 Januari 2001 yang dibuat dihadapan Suryati Moerwibowo.004 4.2001 tanggal 28 Pebruari 2001 dan dilaporkan kepada Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum berdasarkan Laporan Perubahan Anggaran Dasar yang telah diterima dan dicatat di bawah No.842 7. Saham dalam Portepel 95.305 50.000 8.500 2.500 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai (lembar) Nominal (Rp) 10.09.942 121 .099.936 26.995. dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto.742 52..00 - Ikhtisar Laporan Keuangan Ikhtisar Laporan Keuangan Abacus untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 dan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit.417 7.344 7. C-1466 HT. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Abacus adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.676 29..406 8.787 28.981 3.375 125 2. Ltd. C.500 2.547 10. 2 tanggal 21 Juli 2009 yang dibuat di hadapan Suryati Moerwibowo. S. Notaris di Jakarta.TH. sebagai berikut: (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 28.437 4.100 5. 57 tanggal 17 Juli 2001.312.908 Uraian NERACA Aset Lancar Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET Kewajiban Lancar Kewajiban Tidak Lancar Jumlah Kewajiban 30 September 2010 2009 *) 21.500 7. Amir Jusuf.695 26.108 2. C-1465 HT. (ii) Akta No.H.000 10. 7 tanggal 14 Maret 2008 yang dibuat di hadapan Suryati Moerwibowo. S. 15 tanggal 17 Juni 2008 yang dibuat di hadapan Suryati Moerwibowo.04.000.2001 pada tanggal 28 Pebruari 2001. telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Keputusan No.611. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.00 100.505 47. Tambahan No.000 2.526 3.376 53.05/ V/2001 tanggal 14 Mei 2001. serta laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 30 Septembar 2009 yang telah direview. B. dengan pendapat wajar tanpa pengecualian. 4642. S.164 55. Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama Komisaris Komisaris : Agus Priyanto : Achirina : Tan Kien Hui Susunan Direksi Abacus berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham No.678 7.00 5.H.04-TH. Mawar & Saptoto (RSM).250.H. dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.246.097 3.627 26.901 18. Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan Abacus International Pte. S. oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited).437. Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Direksi: Direktur : Widjaya Hadinukarto Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Pendirian Abacus dan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No.01.360 2.000 % A.750..844 3.01..H.

101 43.147 4.017 juta.046 35. Rp2. Jumlah Aset dan Ekuitas pada tanggal 31 Desember 2009 turun jika dibandingkan dengan pada tanggal 31 Desember 2008 sedangkan jumlah kewajiban naik dan jumlah Aset dan Ekuitas pada tanggal 31 Desember 2008 naik jika dibandingkan dengan pada tanggal 31 Desember 2007. hal ini terutama disebabkan oleh sejak 31 Desember 2008. Jumlah Kewajiban Lancar Abacus pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami penurunan sebesar 38.981 52.889 juta) dari tahun 2008 ke tahun 2009 terutama disebabkan oleh perubahan keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing – bersih dari tahun 2008 ke tahun 2009 akibat penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD sebesar (Rp3.725 juta) dan setelah memperhitungkan kenaikan laba usaha sebesar Rp1.502 juta dan setelah memperhitungkan penurunan laba usaha sebesar (Rp1.182 2.608 33. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 0.3%) dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar (50.331 19.071 3.135 2. Pendapatan usaha Abacus untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.182 juta.749 2.123 juta.4% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008.313 36.218 19.352 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar (152.437 (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2009 2008 2007 2. dan 2007 masingmasing adalah sebesar Rp25.123 21.331 juta dan Rp19.572 juta kepada Bank Bukopin pada tanggal 25 Juli 2008 dan penurunan hutang usaha sebesar Rp1.126 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar (142. dan Rp23.957 35.146 33.323 3.749 7.100 47. 2008.352 25.335 juta. hal ini terutama disebabkan oleh penurunan laba usaha sebesar (Rp4. Laba Bersih Abacus untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.6% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007. Pada tanggal 31 Desember 2009 jumlah Kewajiban Tidak Lancar mengalami kenaikan sebesar 30.657 (1.859 juta. hal ini disebabkan oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD yang berdampak terhadap pendapatan Perseroan dan kenaikan beban usaha.199 juta. Laba Usaha Abacus untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. Jumlah Aset Tidak Lancar Abacus pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 36.126 1.452 juta) dan kerugian selisih kurs akibat penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD.326) (703) 19.0%).749 2.7%). dan Rp4.4% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 7.199 1.500 7. Pendapatan usaha Abacus untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp18.996 50. 2008. Rp23. Pertumbuhan Laba Bersih dari tahun 2007 ke tahun 2008 terutama disebabkan oleh kenaikan penghasilan lain-lain akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap USD sebesar Rp1. dan 2007 masingmasing adalah sebesar Rp1.406 18. hal ini disebabkan oleh kenaikan saldo kewajiban imbalan kerja.4%).326) juta dan Rp3.449 16.749 7. Laba (Rugi) Usaha Abacus untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar (Rp1.6%. sedangkan kewajiban turun. tanah dan bangunan dan prasarana dinyatakan di neraca berdasarkan nilai revaluasi. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar (16.859 23.Uraian Modal saham Ekuitas lainnya Saldo laba Jumlah Ekuitas JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS LABA RUGI Pendapatan Usaha Pendapatan Beban Usaha Laba (Rugi) Usaha LABA / (RUGI) BERSIH Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 30 September 2010 2009 *) 2.218 juta.417 juta. Rp2.316 juta.071 juta.167 36. 2008.4%) dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 46.146 7. Laba (Rugi) Bersih Abacus untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar (Rp703) juta dan Rp1. dan 2007 masingmasing adalah sebesar Rp3.004 55.7%.417 23.749 45. dan Rp3.749 2.316 21.295 44.449 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke 2010 sebesar (5.8% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007.061 47.4%).415 Jumlah Aset dan Ekuitas pada tanggal 30 September 2010 turun jika dibandingkan dengan tanggal 30 September 2009 sedangkan jumlah kewajiban naik.924 3. Pertumbuhan Laba Usaha dari tahun 2007 ke tahun 2008 terutama disebabkan oleh kenaikan biaya gaji dan biaya pemeliharaan dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 hal ini disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari booking segment. hal ini terutama disebabkan oleh pelunasan pinjaman sebesar Rp1.498 53.415 juta. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar (46. 122 .

241 tanggal 31 Oktober 2007. AHU-0073244.HT. (ii) Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham No.c. Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar GMF AeroAsia. kegiatan usaha GMF AeroAsia adalah sebagai berikut : a. h.AH. g. didaftarkan dalam Daftar Perseroan di bawah No. dan Usaha-usaha lain yang dapat menunjang tercapainya tujuan GMF AeroAsia dengan mengutamakan optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki.01. PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (“GMF AeroAsia”) Pendirian dan Kegiatan Usaha GMF AeroAsia berkedudukan di Kotamadya Tangerang didirikan berdasarkan Akta Pendirian No.H.. AHU-53074. Perawatan mesin untuk pesawat dan industri. keduanya yang dibuat di hadapan Arry Supratno. Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Direksi: Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Keuangan : Richard Budihadianto : Agus Sudaryo : Gatot Satriawan Direktur SDM dan Umum : Hanrozan Haznam 123 .. logistik. yang telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No.01. Notaris di Jakarta adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris : Hadinoto Soedigno Susunan Direksi GMF AeroAsia berdasarkan: (i) Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham No. 221 tanggal 23 Nopember 2007 dan (iii) Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham No. pelatihan dan penyediaan tenaga ahli di bidang perawatan pesawat. e. b. S. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. dimana perubahan yang terakhir sehubungan dengan penyesuaian dengan Undang-undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dimuat dalam Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham No.30. komponen dan mesin.01. Notaris di Jakarta. Manajemen dan Pengawasan Susunan Dewan Komisaris GMF AeroAsia berdasarkan: (i) Akta Pernyataan Keputusan Rapat No.TH. ketiganya dibuat di hadapan Arry Supratno.06/VIII/2002 tanggal 2 Agustus 2002. 0455/BH 3006/VIII/2002 pada tanggal 7 Oktober 2008. telah didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kabupaten/Kota Tangerang No. Tambahan No. Pembuatan dan Perawatan sarana pendukung. 61 tanggal 6 Nopember 2009. 78 tanggal 27 September 2002. dibuat dihadapan Arry Supratno. S. Tambahan No. Jasa konsultan. pergudangan dan konsinyasi. 51 tanggal 3 Pebruari 2010. 308 tanggal 31 Juli 2008.Tahun 2008 tanggal 20 Agustus 2008.2002 tanggal 28 Juni 2002. 0455/BH.01. c. d. f. Jasa pelayanan material.09.AH.H. Perawatan Komponen dan Kalibrasi. 273 tanggal 30 Mei 2008 yang dibuat di hadapan Arry Supratno. dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 93 tanggal 26 April 2002 yang dibuat di hadapan Arry Supratno.. 11 tanggal 6 Pebruari 2009. S.H. 3497.02. C-11685. Anggaran dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian GMF AeroAsia tersebut telah beberapa kali mengalami perubahan.H. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kabupaten/Kota Tangerang di bawah No. Notaris di Jakarta.Tahun 2008 tanggal 20 Agustus 2008. dan (ii) Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham No.. Perawatan dan penyediaan pesawat terbang secara terpadu. S. Engineering dan Services/Jasa engineering. S.H.. 11677 (“Akta Pendirian GMF AeroAsia”).

11485.331.2003 tanggal 18 September 2003.996 164.038.498 1.407. 99.981 782. Notaris di Jakarta.047 1..400 41 288.600 164.400.038.851 510.00 1. B. Saham dalam Portepel A.555 168.275 290. S.319.999 811. Jumlah Aset Lancar GMF AeroAsia pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 34.Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No.238 166. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia berdasarkan Surat Keputusan No. 2007 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.351 1.658 40.056 201. dan Ekuitas GMF AeroAsia pada tanggal 31 Desember 2009.800.364 575.000 166. struktur permodalan dan susunan pemegang saham GMF AeroAsia adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp250.000 1.000 200.664. kas dan setara kas sebesar Rp48. 91 tanggal 14 Nopember 2003.246 juta.817 73.101. 2008 naik dibandingkan masing-masing dengan pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007.013 7.247 48. sebagai berikut: (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 1.790 287.364 1.315 166. 0455/BH.998 1.000 658.945 980.562 1.300 1.963 866.331.166.276.000. serta laporan keuangan yang berakhir 30 September 2009 telah ditinjau.400 23 279.038 359.917 613.337 679.944 6.637 juta dan piutang usaha sebesar Rp29.TH.000.332 51.557 58.203 221.600 801.200.407.434.210 269.400 193.500 166. Tambahan No.851 Uraian NERACA Aset Lancar Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET Kewajiban Lancar Kewajiban Tidak Lancar Jumlah Kewajiban Modal saham Ekuitas lainnya Saldo laba Jumlah Ekuitas JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS LABA RUGI Pendapatan Usaha Pendapatan Beban Usaha Laba Usaha LABA BERSIH Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) 30 September 2010 2009*) 1. 124 .000 % Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan PT Aero Wisata C.00 - Ikhtisar Laporan Keuangan Ikhtisar Laporan Keuangan GMF AeroAsia untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.076 169.344.8% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007.381.400 251. 25 tanggal 17 Agustus 2003 yang dibuat dihadapan Arry Supratno.016 juta.413 166.380 22.400.315 Jumlah Aset dan Kewajiban pada tanggal 30 September 2010 turun dibandingkan dengan pada tanggal 30 September 2009.916 168.607 1.786 53. dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.126 1.261 1. Kewajiban.652.01.648 1.970 191.656 665.619 88. sedangkan Ekuitas GMF AeroAsia naik. Peningkatan persediaan terutama berasal dari pelaksanaan perjanjian pertukaran persediaan dengan Aero Inventory (UK) Limited.118 1.00 100.897 166. didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kab/Kota Tangerang No.369 1.544 67.862 161.000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai (lembar) Nominal (Rp) 1. hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan persediaan sebesar Rp162.04.620 418. Jumlah Aset.545 187.000.200.937 465.H.736.066.598. oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited).400 10.132 1.020 1. 2008.667 799.391 90.434.467.057 454.438 1.3006/VIII/2002 tanggal 15 Oktober 2003.200 366.413 250.453 961.000.667 2009 1. C-22440 HT.478 74.617 99.929 446.917 817.000.

Pada tanggal 30 September 2010 jumlah Aset Tidak Lancar mengalami peningkatan sebesar 86. Pertumbuhan Laba Usaha dari tahun 2007 ke tahun 2008 dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan pendapatan usaha. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 15. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp1.970 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke tahun 2010 sebesar (16.387 juta dan peningkatan hutang usaha dari afiliasi sebesar Rp71. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 39.7%). dimana perubahan yang terakhir sehubungan dengan perubahan seluruh ketentuan anggaran dasar ASYST dimuat dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat No.056 juta. Notaris 125 .H. dan Rp53.261 juta. Laba Bersih GMF AeroAsia untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.6%). Saldo Laba GMF AeroAsia pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami kenaikan sebesar 30.132 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke tahun 2010 sebesar (82.2% pada tanggal 31 Desember 2008 jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007.01. Rp74. C-21017 HT.06/VIII/2005 tanggal 8 Agustus 2005. telah didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Pusat No. Pendapatan Usaha GMF AeroAsia untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.279 juta dan peningkatan aset pajak tangguhan Rp29. 2008. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp73. (“Akta Pendirian ASYST”) Anggaran dasar yang dimuat dalam Akta Pendirian ASYST tersebut telah beberapa kali mengalami perubahan. hal ini terutama disebabkan oleh timbulnya pinjaman jangka panjang yang berasal dari Bank Negara Indonesia sebesar Rp18.980 juta. Jumlah Kewajiban Lancar GMF AeroAsia pada tanggal 31 Desember 2009 mengalami peningkatan sebesar 32.2% jika dibandingkan dengan tanggal 30 September 2009. Notaris di Jakarta. Laba Bersih GMF AeroAsia untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing adalah sebesar Rp7.3%).361 juta dan peningkatan kewajiban imbalan kerja terkait penyelesaian kewajiban imbalan kerja karyawan GMF AeroAsia yang berasal dari Perseroan sebesar Rp97.300 juta terutama terkait pemindahan manfaat pajak imbalan kerja dari Perseroan.118 juta dan Rp40.833 juta.2005 tanggal 29 Juli 2005.7% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar 3. Pada tanggal 30 September 2010 jumlah Kewajiban Tidak Lancar mengalami peningkatan sebesar 80. 2008. dan Rp1.413 juta.4%.7%. Rp1. hal ini terutama disebabkan oleh timbulnya pinjaman jangka pendek dari Bank Negara Indonesia sebesar Rp138.4% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007. dan 2007 masingmasing adalah sebesar Rp48. S.7% jika dibandingkan dengan tanggal 30 September 2009.5%). Pertumbuhan Laba Usaha dari tahun 2007 ke tahun 2008 disebabkan oleh peningkatan pendapatan usaha.5% dan 11.5%).315 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 31.544 juta.381.545 juta dan Rp1.247 juta.562 juta dan pengurangan untuk pembagian dividen sebesar Rp8. Laba Usaha GMF AeroAsia untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing adalah sebesar Rp22. 7 tanggal 9 Juni 2005 yang dibuat di hadapan Adrian Djuaini.276. Pendapatan Usaha GMFAeroAsia untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing adalah sebesar Rp1.610 juta melalui offsetting dengan pembayaran hutang usaha GMF AeroAsia kepada Perseroan. hal ini disebabkan oleh perolehan laba bersih tahun 2008 sebesar Rp67. Laba Usaha GMF AeroAsia untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. hal ini disebabkan oleh penurunan pendapatan usaha.2% sedangkan peningkatan pada tahun 2009 disebabkan oleh Pendapatan dari Afiliasi naik sebesar 20.2% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008.658 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2009 ke tahun 2010 sebesar (62.013 juta dan Rp58. d.5% sedangkan Pendapatan Non Afiliasi turun sebesar 26.TH.562 juta.652. Tambahan No. 36 tanggal 2 Oktober 2009 dibuat dihadapan Aulia Taufani. hal ini terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan usaha sebesar 16.4%.01. hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan aset tetap terkait pengeluaran modal atas suku cadang rotable sebesar Rp42. PT Aero Systems Indonesia (“ASYST”) Pendirian dan Kegiatan Usaha ASYST berkedudukan di Jakarta Pusat didirikan dengan nama “PT Lufthansa Systems Indonesia” berdasarkan Akta Pendirian No. 2008. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 66 tanggal 19 Agustus 2005. 8827. yang juga menjadi penyebab utama jumlah Aset Tidak Lancar mengalami penurunan sebesar 55. dan Rp51. 2101/BH 09.8% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar (1.332 juta.Persediaan dalam perjanjian pertukaran yang sebelumnya disajikan sebagai bagian aset tidak lancar dipindahkan ke aset lancar terkait pelaksanaan perjanjian.7% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar (28. Peningkatan Pendapatan Usaha pada tahun 2008 disebabkan oleh kenaikan Pendapatan dari Afiliasi dan Non Afiliasi masing-masing sebesar 18.3% dan kerugian kurs mata uang asing sebesar 154..598. yang telah memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.066.210 juta.5% serta peningkatan beban keuangan sebesar 524. Rp67.

Notaris di Jakarta (“Akta No.Tahun 2009 tanggal 4 Mei 2009. 14 tanggal 20 Juni 2008 yang dibuat di hadapan Adrian Djuaini.09. Notaris di Jakarta dan (ii) Akta No. dan ekspor impor dan perdagangan peralatan informatika dan multimedia. pembuatan sistem untuk penjualan. Notaris di Jakarta. kegiatan-kegiatan usaha lainnya dalam bidang jasa teknologi informasi yang berkaitan dengan industri-industri lainnya. agen-agen.. agen umum penjualan dan agen penanganan (general sales agents and handling agents) sebagaimana dapat terjadi. S. didaftarkan dalam Daftar Perseroan No.Tahun 2009 tanggal 28 Oktober 2009 serta didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di kantor Pendaftaran Perusahaan dengan nomor agenda pendaftaran No.Tahun 2009 tanggal 4 Mei 2009. pendaftaran dalam Daftar Perseroan No. b. Notaris di Jakarta. jasa perbantuan (help desk) dan penyediaan perangkat keras untuk fasilitas pendaftaran (check-in) di bandara.14374/RUB.02. Manajemen dan Pengawasan Susunan Dewan Komisaris ASYST berdasarkan: (i) Akta No. Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar ASYST kegiatan usaha ASYST adalah sebagai berikut : a. AHU-0022995.01.. pengganti Sutjipto.H.01. j. jasa yang berkaitan dengan penyediaan dan pemeliharaan data. e. h. AHU-0071027. penyediaan jasa pembuatan atau pengembangan aplikasi yang digunakan untuk penjadwalan. S. bertindak sebagai distributor. jasa pengoperasian.48/2009”) adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama Komisaris Komisaris : Eddy Porwanto : Hadinoto Soedigno : Alexander Maria Tae Maneklaran Susunan Direksi ASYST berdasarkan Akta No. i.AH. S.pengganti Sutjpto. dikembangkan atau disuplai oleh ASYST.09.Tahun 2009 tanggal 23 Oktober 2009.. pemesanan (reservasi). agen dan/atau perwakilan dari perusahaan lain baik dari dalam maupun luar negeri. kalkulasi harga dan sistem manajemen pendapatan. persediaan (inventory). M.H.H. d. pengelolaan.. c. f. AHU-51439. k.AH. g.H. pembuatan dan pengembangan aplikasi sistem dan program piranti lunak (software).01. penyediaan perangkat keras berikut aplikasi/sistem/program piranti lunak yang dibuat. perencanaan rute transportasi. ticketing. S. l. penyediaan jasa yang berkaitan dengan kegiatan operasional sistem teknologi informasi.09-05/III/2010 tanggal 15 Maret 2010.Kn. penyediaan jasa teknologi informasi kepada perusahaan-perusahaan penerbangan. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. 48 tanggal 10 Juli 2009 yang dibuat di hadapan Aulia Taufani. 11 tanggal 8 Januari 2009 dibuat di hadapan Sutjipto.01. penyediaan sistem dan solusi untuk peningkatan sumber daya manusia yang berhubungan dengan teknologi informasi dan jasa konsultasi. penyimpanan dan pemeliharaan pusat data (data center). penyediaan jasa jaringan telekomunikasi. AHU-17977.AH. melakukan usaha-usaha dalam bidang perdagangan...02. struktur permodalan dan susunan pemegang saham ASYST adalah sebagai berikut: 126 . S.H.48/2009 adalah sebagai berikut: Direksi: Direktur Utama Direktur Direktur : Rian Alisjahbana : Firdaus Muchtar : Ridwan Irianto Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Pendirian ASYST dan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. pelayanan pendaftaran (check in) di bandara. yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.AH.

695 2.939.622 21.921 juta.584 Jumlah Aset. dan Rp110.125 97.987 64. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.074 108. Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan PT Aero Wisata C.880 2.Pemegang Saham A.819 97.275 192.299 23.704 12.689 89. dan Ekuitas ASYST untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.001 65. dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp108.722 juta.023 22. dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 4% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar (5)%.549 71.690 14.862 175.806 Uraian NERACA Jumlah Aset Lancar Jumlah Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET Jumlah Kewajiban Lancar Jumlah Kewajiban Tidak Lancar Jumlah Kewajiban Jumlah Ekuitas JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS RUGI LABA Pendapatan Usaha Beban Usaha Laba Usaha LABA / (RUGI) BERSIH 30 September 2010 2009 162.840 176.00 49.254. hal ini disebabkan karena terjadi re-statement pada pos Piutang Usaha dan Hutang Usaha dari pihak hubungan istimewa.705 37.047 89. Kewajiban.973 114.549 juta dengan pertumbuhan sebesar (3%).691 73.911 85.074 82. sebagai berikut: (dalam jutaan Rupiah) 31 Desember 2008 2007 142.103 101.495 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 18. Saham dalam Portepel Nilai Nominal Rp9.025 21.604 176.343 98.568 139.381 1.911 75.235 5.699 15.354.180 % 51.00 100.413.311 606 164.259 51.617. Jumlah Aset Lancar ASYST pada tanggal 31 Desember 2008 mengalami peningkatan sebesar 40% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2007.137.484 13.192 2009 171.276. Amir Jusuf.671 176. sementara di tahun 2008 Perseroan melakukan investasi sebesar Rp10 miliar. hal ini disebabkan karena Perseroan tidak melakukan investasi di perangkat lunak pada tahun 2009.369.118.546 juta dan Rp75.067 18.546 68.216 13.555 139. Pendapatan Usaha untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp73.380 22.500.771 175.168 4.973 77. Jumlah Aset dan Kewajiban untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 dan 2010 turun sedangkan Ekuitas naik.612 187.369 34. Pendapatan Usaha ASYST untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.675 44.864 187.883. dan tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 dan 2007 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto.302 88.663 8.257 15. Modal Dasar B.460 13.009 94.765 4. Jumlah Aset Tidak Lancar ASYST pada tanggal 31 Desember 2009 mengalami penurunan sebesar 41% jika dibandingkan dengan tanggal 31 Desember 2008. dimana pada tahun 2007 dilakukan pendekatan net off pada Piutang Usaha dan Hutang Usaha tersebut.255 192.987 73.700 132.472.809 12. 2008.921 93.259 110. Rp114.799 20.689 juta.550. 2008 dan 2007 naik. Mawar & Saptoto (RSM). 127 .641 78.722 92.646.00 - Ikhtisar Laporan Keuangan Ikhtisar Laporan Keuangan ASYST untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2010 dan 2009 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio & Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited).585.424 10.878 88.

angkutan udara niaga berjadwal untuk penumpang. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. dan Rp21. dan 2007 masingmasing adalah sebesar Rp8. b. jasa penunjang operasional angkutan udara niaga. 128 . Perseroan berencana melakukan spin-off atau pengalihan bisnis Citilink yang saat ini dilaksanakan melalui Strategic Business Unit Citilink kepada Citilink pada kurun waktu akhir 2011 dan pertengahan 2012. jasa layanan sistem informasi yang berkaitan dengan industri penerbangan.Laba Usaha ASYST untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009.09. e. barang dan pos dalam negeri dan luar negeri. Citilink dapat melaksanakan kegiatan usaha utama sebagai berikut: a.584 juta.AHU-0018562. 01 tanggal 6 Januari 2009 yang dibuat di hadapan Arikanti Natakusumah. jasa layanan pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan industri penerbangan. g. Rencana spin-off dikemudian hari akan dilakukan sesuai UU Pasar Modal.H.400 juta di tahun 2008. f.Tahun 2009 tanggal 22 April 2009 (“Akta Pendirian Citilink”) Berdasarkan Ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar Citilink. dan Rp18. jasa layanan konsultasi yang berkaitan dengan industri penerbangan. S. Rp15. hal ini disebabkan meningkatnya pendapatan lainlain terutama karena Perseroan mendapatkan klaim ganti rugi dari salah satu customer di tahun 2009.01. penurunan Laba Bersih di tahun 2008 disebabkan adanya Beban Penyesuaian Tarif untuk layanan Infrastructure Operation and Support (IOS) sebesar Rp17 miliar sedangkan penurunan Laba Bersih di tahun 2009 disebabkan oleh penurunan laba usaha sebesar 31%. 2008. Laba Bersih ASYST untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. baik untuk keperluan sendiri maupun pihak ketiga.AH. Laba Usaha untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp5. Jawa Timur didirikan dengan nama “PT Citilink Indonesia” berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas No.AH. yang telah memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. dan telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan No. Value Added Service dan Frequent Flyer. Jasa penjualan paket wisata. 2008 dan 2007 masing-masing adalah sebesar Rp15. AHU-14555. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. PT Citilink Indonesia (“Citilink”) Pendirian dan Kegiatan Usaha Citilink berkedudukan di Sidoarjo.. c. hal ini disebabkan karena terjadi penurunan pendapatan Perseroan dan kenaikan biaya operasional. barang dan pos dalam negeri dan luar negeri.663 juta. serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki Citilink untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Citilink dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas. Laba Bersih untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp606 juta dan Rp1.699 juta. dan kegiatan usaha lainnya dengan melakukan optimalisasi pemanfaatan sumber daya Citilink. namun demikian terjadi peningkatan pendapatan untuk layanan lainnya terutama di pelayanan penumpang. angkutan udara niaga tidak berjadwal untuk penumpang. d.192 juta dengan pertumbuhan sebesar (49%).067 juta dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar 8% dan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar (31%).311 juta dan Rp4. Sehingga sampai saat ini Citilink masih berupa unit bisnis karena masih belum terpenuhinya persyaratan kepemilikan armada pesawat minimum untuk mendapatkan Sertifikat Operator Pesawat.01. maksud dan tujuan Citilink adalah untuk melakukan usaha di bidang jasa angkutan udara niaga/komersial berbiaya murah (low cost carrier). h.806 dengan pertumbuhan dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar (20%) dan dari 2008 ke tahun 2009 sebesar (43%).103 juta. Penurunan Pendapatan yang signifikan dikarenakan di tahun 2009 Perseroan tidak lagi memberikan layanan Infrastructure Operation and Support (IOS) yang sebelumnya bernilai Rp42. Notaris di Jakarta. Perseroan berniat untuk melakukan spin-off unit usaha tersebut menjadi anak perusahaan dari Perseroan. Rp22.381 juta dengan pertumbuhan sebesar 21%. e. Strategi Perseroan secara bersamaan dalam mengembangkan baik brand premium Garuda Indonesia dan brand lowcost Citilink akan mengharuskan Perseroan untuk mengembangkan dua budaya perusahaan yang terpisah dengan kebutuhan operasional yang berbeda dengan fokus pelanggan yang berbeda. Dimana sementara ini Perseroan mengoperasikan Citilink sebagai unit bisnis.01.Tahun 2009 tanggal 22 April 2009.

Modal Dasar Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan PT Aero Wisata C.000.00 100. B. adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris: Komisaris Utama Komisaris Direksi: Direktur Utama Direktur : Joseph Adrian Saul : Taviana Dewi Kushermawati : Elisa Lumbantoruan : Alexander Maria Tae Maneklaran Struktur Permodalan dan Pemegang Saham Berdasarkan Akta Pendirian Citilink.251 4.250.000 300.000 50.000.000.750.243 4.000.000. Saham dalam Portepel 67.251 129 .000 per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (lembar) (Rp) 300.000.Manajemen dan Pengawasan Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Citilink berdasarkan Akta Pendirian Citilink.000 50.000 % A.00 - Ikhtisar Laporan Keuangan Posisi Neraca adalah sebagai berikut: (dalam jutaan Rupiah) Uraian NERACA JUMLAH ASET Modal Saham Saldo Laba JUMLAH EKUITAS LABA RUGI Pendapatan Usaha Penghasilan Bunga LABA / (RUGI) BERSIH 30 September 2010 82.251 75.000.250 24.000 7.750 75.000 4.494 82. Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh D.000 225.494 31 Desember 2009 79.00 33.243 3.000.251 79.000 24.494 75.251 3. struktur permodalan dan susunan pemegang saham Citilink adalah sebagai berikut: Pemegang Saham Nilai Nominal Rp1.000.000 75.000 225.

Pengurus.8. Pengawas Perseroan dan Anak Perusahaan Struktur Kepemilikan Perseroan Struktur kepemilikan saham Perseroan pada pada Anak Perusahaan. Hubungan Kepemilikan. termasuk penyertaan secara tidak langsung saat ini adalah sebagai berikut: 9. Hubungan Pengurusan dan Pengawasan Perseroan dan Anak Perusahaan Perseroan KU KI K K K DU D D D DTA D Aerowisata KU K DU DKPU Abacus K KU K D GMF AeroAsia K DU WDU DK ASYST K K Citilink KU K - Nama Hadiyanto Abdulgani Adi Rahman Adiwoso Sahala Lumban Gaol Wendy Aritenang Yazid Emirsyah Satar Achirina Agus Priyanto Ari Sapari Elisa Lumbantoruan Hadinoto Soedigno Abdul Anshari Ritonga Alexander Maria Tae Maneklaran Doddy Virgianto Tan Kien Hui Widjaya Hadinukarto Richard Budihadianto Agus Sudaryo Gatot Satriawan 130 .

air starter unit (portable). Padang. Mataram. water service truck. ground power unit. Anak Perusahaan Perjanjian sehubungan dengan promosi dan program Garuda Frequent Flyers/Selling Mileage. dan pintu). overhaul Maintenance. (dalam proses perpanjangan) 4. Balikpapan. DU: Direktur Utama.15 Agustus 2017 sebagai berikut: aerial platform.31 Desember 2010 (dalam proses perpanjangan) Perjanjian berlaku untuk jangka waktu 5 tahun sejak 3 Agustus 2009. Anak Perusahaan Perseroan menunjuk GMF untuk melakukan perawatan atas pesawat yang dioperasikan oleh Perseroan. hand pallet lift. Banjarmasin. Surabaya. WDU: Wakil Dirut. aircraft towing tractor. DSU: Direktur SDM dan Umum. GMF 5. Biak. Cengkareng. 10. Jeddah. 7 Januari 2008-6 Desember 2011 *) Jangka waktu perjanjian Ground Handling pada umumnya dimulai sejak tanggal perjanjian sampai dengan jangka waktu yang tidak ditentukan dalam perjanjian 6. 9. air conditioning unit truck. Anak Perusahaan Perjanjian pengangkutan kargo Perusahaan Afiliasi Ground Handling untuk lokasi Cengkareng. cabin cleaning truck. Ujung Pandang. Batam. Transaksi Dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa Perseroan melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa berdasarkan UU PM. lavatory service truck. dinding. Cengkareng. Ujung Pandang. Anak Perusahaan Perseroan menyediakan jasa angkutan udara berjadwal bagi penumpang GMF pada rute penerbangan dalam dan luar negeri oleh Perseroan. pengerjaan pemasangan ULD (Unit Load Device) Pallet dan Container (perlengkapan ULD tertutup terdiri dari disar. Manado. DKPU: Direktur Keuangan dan Pengembang Usaha. Transaksitransaksi tersebut adalah sebagai berikut: No. Palembang. 10. Citilink 131 . Pekanbaru. K: Komisaris. Bandung. Bangka Belitung. Banda Aceh. dan Madinah. air starter unit. Banjarmasin. Denpasar. order picker lift. Pangkal Pinang. 11. 2. GMF Pihak Sifat Hubungan Istimewa Deskripsi Transaksi Jangka Waktu Anak Perusahaan Perseroan menunjuk GMF untuk melaksanakan *) 1 Januari 2010 . Surabaya. sampai dengan adanya pemberitahuan secara tertulis 3 bulan sebelumnya mengenai berakhirnya perjanjian. GMF PT Gapura Angkasa** 8. 1. Anak Perusahaan Perjanjian kerja sama penyediaan dan pengelolaan kantor cabang dan kantor penjualan Perseroan. 12. Dan Ground Handling terkait penerbangan haji di lokasi Solo. forklift. Solo. ASYST ASYST 13. Medan. GMF Anak Perusahaan Perseroan menyerahkan penggunaan tanah dan bangunan *) Berlaku sejak tanggal 1 Agustus 2002 di area GMF. PT Gapura Angkasa** Aerowisata Aerowisata Anak Perusahaan Perjanjian penggunaan executive lounge. Pontianak. Makassar. Anak Perusahaan Perjanjian kerjasama terkait dengan aplikasi teknologi informasi untuk kegiatan operasional Perseroan Anak Perusahaan Lufthansa Systems Group memberikan layanan jasa tertentu kepada ASYST agar ASYST dapat memberikan layanan jasa informasi teknologi kepada Perseroan dan pelanggan pihak ketiga.31 Desember 2010 (dalam proses perpanjangan untuk jangka waktu 1 tahun sejak 31 Desember 2010) *) Perjanjian berlaku 5 tahun sejak tahun 2010 *) Jangka waktu perjanjian berkisar selama 10 tahun sejak tanggal 21 Juni 2005. *) 1 tahun sejak tanggal 1 Oktober 2010. Jayapura. Anak Perusahaan Perjanjian pinjaman dari Perseroan kepada Citilink 8 April 2009 . DK: Direktur Keuangan. 7. Bandar Udara Soekarno-Hatta. GMF GMF Anak Perusahaan Preventive Maintenance Inspection terhadap peralatan 1 Agustus 2002 . Yogyakarta.Nama Hanrozan Haznam Eddy Porwanto Rian Alisjahbana Firdaus Muchtar Ridwan Irianto Joseph Adrian Saul Taviana Dewi Kushermawati Catatan: Perseroan - Aerowisata - Abacus - GMF AeroAsia DSU - ASYST KU DU D D - Citilink DU D KU: Komisaris Utama. Padang. 1 Januari 2008 . Palembang. Makassar. Balikpapan. D: Direktur.31 Desember 2010. 5 Maret 2003 . DTA: Direktur Tidak Terafiliasi. 3. self propelled scissors lift.1 Juni 2018.31 Desember 2011. 7 April 2009 . KI: Komisaris Independen. Semarang. maintenance working truck. Batam. Medan. Banda Aceh.

35. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. 22 April 2010-31 Januari 2011 *) 2 tahun terhitung sejak tanggal penandatanganan dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan para pihak 3 tahun sejak tanggal 9 April 2008. ruangan dan bangunan untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya Perseroan menyewa ruangan dari PT Angkasa Pura II (Persero) untuk ruangan executive lounge.No. BUMN BUMN BUMN 1 Maret 2010 . 37. AJP AC BPWS Garuda Orient Holiday Korea. 39. 36. Anak Perusahaan Perjanjian kerjasama paket Garuda Indonesia Holidays Tidak Langsung Anak Perusahaan Perjanjian keagenan penjualan kargo dalam negeri Tidak Langsung Cucu Perseroan Perjanjian jasa sewa-menyewa di gedung Perseroan cabang Balikpapan 19 Desember 2007-31 Agustus 2011. Bank Mandiri menjalin kerjasama kemitraan dengan Perseroan dalam rangka pelaksanaan program power points. Ltd. MEW Pihak Sifat Hubungan Istimewa Deskripsi Transaksi Jangka Waktu Jangka waktu perjanjian berkisar selama periode musim haji tahun 2007 . Anak Perusahaan Transportasi terkait penerbangan haji untuk air crew dan Tidak Langsung petugas darat haji. BUMN BUMN BUMN 132 . 18. BUMN BUMN BUMN BUMN 1 Juli 2010-30 Juni 2013 14 April 2010-15 Desember 2011 Selama proses penawaran umum perdana Perseroan Kerjasama di bidang pengelolaan penerimaan dana haji. 24. PT Pertamina N/A 15 Mei 2009-30 April 2011. 15. AJP 21. Anak Perusahaan Perseroan menunjuk AJP untuk melaksanakan Tidak Langsung Pengelolaan Kantor Penjualan Perseroan (Garuda Sales Outlet) yang berlokasi di Bogor. MEW ACS ACS 19. 20. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. BUMN BUMN 33. 10 Nopember 2009-9 Nopember 2012. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.periode musim haji tahun 2010. Nota Kesepahaman untuk meningkatkan pelayanan di lingkungan Bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II. 23. SPI Anak Perusahaan Perseroan melakukan kerjasama dengan SPI untuk 1 Agustus 2010-31 Juli 2012 Tidak Langsung akomodasi bagi awak pesawatnya untuk rute penerbangan Lombok. 38. MEW 16. Perjanjian penjaminan emisi efek 25. Nota Kesepahaman untuk meningkatkan pelayanan di lingkungan Bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I. 5 tahun sejak Berita Acara Operasi ditandatangani para pihak (tahun 2006) *) 1 tahun sejak tanggal 9 Nopember 2010 1 Februari 2010-31 Januari 2011. BUMN 27. Perseroan membuat perjanjian sewa menyewa tanah. 32. 30. 17. Jangka waktu perjanjian berkisar 3-4 tahun terhitung sejak dimulainya perjanjian. 29. *) 3 tahun sejak tanggal 30 Desember peningkatan kerjasama melalui layanan pembayaran yang 2009 dan dapat diperpanjang sesuai dimiliki PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. 28. Anak Perusahaan Perjanjian sewa kendaraan untuk kegiatan operasional Tidak Langsung Perseroan Anak Perusahaan Perjanjian sewa kendaraan operasional untuk Citilink Tidak Langsung Anak Perusahaan Perjanjian sehubungan dengan jasa boga untuk Tidak Langsung penerbangan haji Anak Perusahaan Perseroan menunjuk ACS untuk melakukan Tidak Langsung penyelenggaraan dan pengelolaan in-flight services. Co. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kerjasama berkenaan dengan Garuda Frequent Flyer Mileage Kerjasama berupa pemotongan harga tiket pesawat terbang bagi pemegang kartu kredit Bank Mandiri. dengan kesepakatan para pihak. Jangka waktu perjanjian berkisar sejak 15 Agustus 2010-15 Agustus 2015 20 Juli 2010-20 Juli 2012 26. Perseroan melakukan kerjasama untuk melaksanakan pembayaran tiket penerbangan Perseroan melalui fasilitas yang dimiliki PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Perseroan membuat perjanjian sewa-menyewa ruangan untuk kegiatan operasional Perseroan. Kerjasama dalam bentuk Joint Promotion Perseroan melakukan kerjasama untuk melaksanakan pembayaran tiket penerbangan Perseroan melalui fasilitas yang dimiliki PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. 14. PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara PT Angkasa Pura I (Persero) PT Angkasa Pura I (Persero) PT Angkasa Pura II (Persero) PT Angkasa Pura II (Persero) PT Angkasa Pura II (Persero) Pusat Koperasi Markas Besar Angkatan Laut (PUSKOPAL) BUMN 34. Perseroan dan PUSKOPAL melakukan kerjasama berupa sarana pelayanan penjualan tiket penerbangan domestik maupun internasional untuk rute-rute yang diterbangi oleh Perseroan. 22.29 Februari 2012 *)1 tahun sejak tanggal 18 Nopember 2010 Jangka waktu perjanjian berkisar sejak tanggal 1 Januari 1992 – 31 Desember 2012. 31. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Selama masa musim haji 2010 Berlaku selama 5 tahun terhitung sejak tanggal 1 Nopember 2009. 1 Mei 2003-31 Desember 2010 (dalam proses perpanjangan) 1 Juli 2009-30 Juni 2011 Anak Perusahaan Kerjasama sehubungan dengan Garuda Frequent Flyer Tidak Langsung Mileage BUMN Pengadaan bahan bakar pesawat untuk penerbangan internasional dan domestik.

9 tertanggal 3 September 2010) untuk pembelian sepuluh (10) unit B777-300. Aircraft Purchase Agreement (PA) No. PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Negara Indonesia Tbk. Perjanjian Pembelian Pesawat Udara a.5% saham ditempatkan dan disetor PT Gapura Angkasa 11. Kementrian Agama Republik Indonesia menunjuk Perjanjian berlaku sejak Perseroan untuk melaksanakan pengangkutan jemaah haji ditandatanganinya perjanjian ini yakni dan petugas haji 1431 H. PT Bank Bukopin Tbk. Amendment No 2 to A330 Purchase Agreement pada bulan Juli 2009 dengan Airbus S. 2158 tertanggal 19 Juni 1996 dengan The Boeing Company (sebagaimana diubah dari waktu ke waktu terakhir dengan Supplemental Agreement No. c.No. Aircraft Purchase Agreement (PA) No. 1938 tertanggal 4 Juni 1996 dengan The Boeing Company (sebagaimana diubah dari waktu ke waktu terakhir dengan Supplemental Agreement No. Dapat diperpanjang dengan persetujuan para pihak. Perum Damri Badan Koordinasi Penanaman Modal BUMN 42. 54. Perjanjian sehubungan dengan promosi dan program Garuda Frequent Flyers/Selling Mileage. Disesuaikan dengan kegiatan operasional kepresidenan *) 21 Januari 2010-20 Januari 2013 48. 41. untuk pembelian enam (6) unit Airbus 330-200 b. 12 Oktober 2009-31 Januari 2012. 46.400 saham yang mewakili 37. Otomatis diperpanjang kecuali diakhiri. BUMN BUMN 44. Rumah Tangga Kepresidenan Direktorat Jenderal Imigrasi dan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Institusi Pemerintah Institusi Pemerintah Perjanjian charter pesawat untuk kegiatan kenegaraan Perjanjian kerjasama pemeriksaaan keimigrasian dalam penerbangan 53. *) Perjanjian ini berlaku sejak 1 Mei 1999 sampai dengan diakhiri oleh para pihak *) Berlaku sampai dengan diakhiri oleh para pihak sejak tanggal 6 Oktober 1997. Perjanjian kerjasama pembayaran tiket melalui fasilitas PT *) 2 tahun sampai dengan 4 Mei 2010 Bank Bukopin Tbk. Catatan: *) Masa berlaku perjanjian dapat diperpanjang pada saat berakhir dengan cara. PT Bank Negara Indonesia Tbk. 47. dan diperpanjang otomatis untuk jangka waktu 2 tahun berikutnya. antara lain: a. Perseroan menggunakan sistem reservasi Abacus untuk layanan reservasi internasional. Ltd. Perseroan membuat perjanjian penting yang bersifat material dengan pihak ketiga sebagai berikut: 1. BUMN 45. Afiliasi Anak Perusahaan Perseroan Perseroan bekerjasama dengan Abacus terkait dengan pemesanan tiket secara elektronik dengan menggunakan sistem Abacus. 43. 52. 133 . Perseroan berencana melakukan penjualan 2 (dua) pesawat Boeing seri 737-400 dengan nomor mesin (MSN) 25714 dan 25719 kepada TNI AU Nota Kesepahaman berlaku sejak tanggal penandatanganan yakni 8 Nopember 2010 dan berakhir sampai dengan ditandatanganinya perjanjian mengenai rincian ruang lingkup. Institusi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Pemerintah Udara 51. Perjanjian kerjasama pembayaran tiket melalui fasilitas PT 6 Agustus 2007 – 5 Agustus 2011 Bank Rakyat Indonesia Kerjasama terkait dengan transaksi pembelian tiket Citilink *) 2 tahun sejak tanggal 22 Juli 2008 secara On line melalui Internet Payment Gateway dan diperpanjang otomatis untuk jangka waktu 2 tahun berikutnya. Ltd. Abacus International Afiliasi Anak Perusahaan Pte. PT Bank Negara Indonesia Tbk.A. atau b. Perjanjian-Perjanjian Penting Perseroan Sampai dengan tanggal Propektus ini diterbitkan. Transportasi peserta sehubungan dengan penerbangan haji Jangka waktu perjanjian berkisar sejak tanggal 20 Juni 2005--31 Mei 2012. Perseroan melakukan kerjasama untuk melaksanakan pembayaran tiket penerbangan Perseroan melalui fasilitas yang dimiliki PT Bank Negara Indonesia Tbk. Abacus Distribution System Pte. Pihak PT Indosat Tbk Sifat Hubungan Istimewa BUMN Deskripsi Transaksi Jangka Waktu Kerjasama antara para pihak berkenaan dengan selling Perjanjian ini berlaku selama 2 tahun mileage pada program GFF untuk kepentingan pelanggan terhitung sejak tanggal 1 Februari 2010 Indosat yang juga merupakan anggota GFF dengan bentuk sampai dengan1 Februari 2011 penukaran Poin Plus Plus Indosat dengan sejumlah GFF Mileage. 8 tertanggal 18 Januari 2010) untuk pembelian 25 (dua puluh lima) unit B737-800. Kementrian Agama Republik Indonesia Institusi Pemerintah 49. **) Perseroan memiliki 806. Berakhir pada akhir periode musim haji tahun 2010.S. BUMN BUMN Institusi Pemerintah Perseroan melaksanakan kerjasama dengan Badan 27 Januari 2010-27 Januari 2012 Koordinasi Penanaman Modal meliputi promosi produk dan layanan dari masing-masing pihak dan pemberian fasilitas khusus seperti harga khusus untuk korporasi. 40.. 24 Agustus 2010 sampai dengan diselesaikannya seluruh kewajiban oleh para pihak.

(iii) Kuartal 4 tahun 2013. Berdasarkan perjanjian. Perseroan sepakat untuk membeli sejumlah pesawat dari Boeing dan Airbus dengan spesifikasi tertentu sebagaimana disepakati para pihak. Perseroan mengadakan perjanjian pengalihan dengan pihak-pihak pembiayaan. produsen akan mengembalikan kepada Perseroan seluruh pembayaran dimuka yang telah diterima untuk pesawat yang belum diserahkan tersebut. Sebelum waktu penyerahan masing-masing pesawat tersebut. tahun 2015 (3 unit). dan (iii) pihak pembiaya kemudian menandatangani perjanjian sewa pesawat dengan Perseroan. tahun 2012 (5 unit). yaitu penggantian bagian yang cacat atau tidak sesuai atau perbaikan tanpa biaya tambahan. Perseroan telah menandatangani 64*** Perjanjian Sewa Pesawat Udara atas pesawat udara yang masih dioperasikan sebagai berikut: 134 . tahun 2011 (1 unit). Berdasarkan perjanjian pengalihan tersebut: (i) Perseroan mengalihkan hak dan kewajibannya berdasarkan perjanjian pembelian masing-masing pesawat tersebut kepada pihak pembiayaan. Selain itu. Dalam hal pengakhiran perjanjian. tipe dan jumlah pesawat berikut jadwal penyerahannya: Produsen Boeing – PA 2158 Boeing. (iv) Kuartal 2 tahun 2014. menunda kegiatan usahanya. yang merupakan penjumlahan dari harga dasar pesawat dan penyesuaian-penyesuaian yang diperhitungkan berdasarkan formula yang ditentukan dalam perjanjian atau yang disepakati oleh para pihak. Masa jaminan sifatnya terbatas jangka waktunya maupun ruang lingkupnya.Perseroan telah menandatangani perjanjian-perjanjian pembelian pesawat udara dengan Boeing dan Airbus sebagaimana diubah dari waktu ke waktu. (ii) Kuartal 2 tahun 2013. Perjanjian Sewa Pesawat Udara Per 30 September 2010. insolven atau pailit atau menunda kewajiban pembayaran hutang. Berdasarkan perjanjian Perseroan mengalihkan haknya atas perjanjian kepada pihak lain sebelum penyerahan pesawat. tahun 2015 (2 unit). Sementara berdasarkan Amandemen No. berdasarkan PA 1938 dan PA 2158. 2 Perseroan memiliki hak opsi untuk membeli tambahan 4 pesawat Airbus A330-200. Jangka waktu perjanjian adalah sejak mulai ditandatangani hingga penyerahan pesawat yang jadwalnya disepakati Perseroan dan produsen dalam perjanjian atau perubahannya. tahun 2014 (3 unit). sesuai dengan ketentuan perjanjian pembelian pesawat. tahun 2016 (2 unit) tahun 2013 (3 unit). Harga pembelian pesawat akan ditentukan pada saat penyerahan masing-masing pesawat. tahun 2010 (10 unit). Pihak tersebut akan menjadi pemilik pesawat dan kemudian akan mengatur pembiayaan sehingga Perseroan dapat menyewa dengan cara leasing pesawat tersebut untuk operasi penerbangannya. selaku pihak yang menyewakan pesawat dan para perusahaan penyewaan pesawat tersebut menyewakan pesawat udara tersebut kepada Perseroan. Namun perjanjian dapat diputuskan setiap waktu dengan pemberitahuan tertulis sehubungan dengan pesawat yang belum diserahkan jika salah satu pihak berhenti menjalankan usahanya. dan (vi) Kuartal 4 tahun 2014. Berikut adalah produsen pesawat dengan siapa Perseroan mengadakan perjanjian pembelian pesawat. 2. Perseroan telah mengadakan 64 perjanjian sewa operasional dengan perusahaan pebiayaan pesawat udara untuk 64 pesawat udara dimana dalam perjanjian-perjanjian tersebut diatur bahwa Perseroan selaku penyewa. menyewa dari perusahaan pebiayaan pesawat. Perseroan memiliki hak opsi untuk membeli tambahan pesawat masing-masing 10 unit B-777-2U3LR atau 777-3U3ER dan 25 unit B-737 8U3. Berdasarkan Daftar Garuda Fleet per tanggal 21 September 2010.PA 1938 Airbus Tipe Pesawat B-737-800 B-777-300 A330-200 Jumlah (unit) 25 10 6 Penyerahan Tahun 2009 (5 unit). (ii) pihak pembiayaan akan melunasi harga beli pesawat dari produsen dan menerima penyerahan pesawat dari produsen. (v) Kuartal 3 tahun 2014. Boeing dan Airbus sebagai produsen memberikan jaminan atas pesawat yang diproduksi oleh produsen (tidak termasuk alat yang dipesan Perseroan) dari cacat atau ketidaksesuaian dengan spesifikasi pesawat sebagaimana dirinci dalam perjanjian. tahun 2016 (1 unit) masing-masing 1 pesawat pada: (i) Kuartal 4 tahun 2012. dimana produsen pesawat akan mengembalikan cicilan harga pesawat yang telah dibayarkan oleh Perseroan.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 Tipe Pesawat B747-400 A330-200 A330-200 A330-200 A330-200 A330-300 A330-300 A330-300 A330-300 A330-300 A330-300 B737-300 B737-300 B737-300 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-400 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 Registrasi dan No. NA SARL MASA FRANCE SARL MASB FRANCE ILFC ILFC GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL SARL MASC FRANCE CIT Group Location (France) SAS CIT Group Location (France) SAS CIT Group Location (France) SAS CIT Group Location (France) SAS CIT Group Location (France) SAS GECAS (France) SARL MSN 30151 Leasing France SARL ALS France SARL MSN 30155 Leasing France SARL MSN 30156 Leasing France SARL MSN 30157 Leasing France SARL MSN 30140 Leasing France SARL MSN 30141 Leasing France SARL BBAM Aircraft Holding 121 SARL BBAM Aircraft Holding 122 SARL MSN 30142 Leasing France SARL Masa berakhirnya sewa 20-Mei-12 23-Jun-16 28-Jun-16 20-Jul-16 29-Okt-16 31-Des-16 31-Des-16 31-Des-16 31-Des-16 31-Des-16 31-Des-16 19-Mar-11 01-Apr-14 23-Jun-14 19-Mei-11 26-Apr-11 20-Jan-11** 10 Pebruari 2011 12-Mar-11 12-Apr-11 01-Mei-11 29-Mei-11 01-Jul-11 23-Mei-12 28 Pebruari 2014 15-Apr-14 01-Sep-16 09-Jul-16 11-Mar-16 04-Mei-16 18 Pebruari 2016 21-Jan-17 22-Mar-17 26-Apr-17 18 Mei 2017 8 Pebruari 2017 07-Jul-16 28-Jun-21 10-Agust-15 02-Nop-21 29-Nop-21 16-Des-21 22-Des-21 4 Pebruari 2022 9 Pebruari 2020 15 Pebruari 2020 21-Mar-22 135 .No. Seri Manufaktur PK-GSI MSN 24956 PK-GPJ MSN 988 PK-GPH MSN 1020 PK-GPK MSN 1028 PK-GPI MSN 1052 PK-GPA MSN 138 PK-GPC MSN 140 PK-GPD MSN 144 PK-GPE MSN 148 PK-GPF MSN 153 PK-GPG MSN 165 PK-GGV MSN 26293 PK-GHX MSN 26440 PK-GHW MSN 25039 PK-GWT MSN 26316 PK-GWU MSN 24708 PK-GZI MSN 29204 PK-GZJ MSN 29205 PK-GZK MSN 29206 PK-GZL MSN 29207 PK-GZM MSN 29208 PK-GZN MSN 29209 PK-GZO MSN 29210 PK-GZP MSN 28661 PK-GEE MSN 32361 PK-GEF MSN 32363 PK-GEG MSN 30033 PK-GEH MSN 30643 PK-GEI MSN 29883 PK-GEJ MSN 33003 PK-GEK MSN 30568 PK-GEL MSN 29927 PK-GEM MSN 29928 PK-GEN MSN 29929 PK-GEO MSN 29930 PK-GEP MSN 29931 PK-GEQ MSN 32659 PK-GMA MSN 30151 PK-GER MSN 30876 PK-GMC MSN 30155 PK-GMD MSN 30156 PK-GME MSN 30157 PK-GMF MSN 30140 PK-GMG MSN 30141 PK-GMK MSN 29666 PK-GML MSN 31763 PK-GMH MSN 30142 Pihak yang menyewakan Pesawat International Lease Finance Corporation (ILFC) ILFC Nice Location SARL ILFC Biarritz Location SARL GIE Sumatra GIE Sulawesi GIE Sumatra GIE Sumatra GIE Sulawesi GIE Sulawesi Banque AIG AerCo France SARL ALS France SARL ILFC Castle 2003-1A Genesis Funding France 1 SARL GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL GECAS (France) SARL Wells Fargo Bank Northwest.

PT Batam Airmars Services. PT Lahand Air Service. Jayapura. Selain itu. Untuk 34 rute domestik antara lain Cengkareng. CAE bertanggung jawab untuk menyediakan Filed Service Representative (“FSR”) untuk mengawasi perawatan yang dilakukan CAE. Batam. Perseroan telah membuat perjanjian-perjanjian sehubungan dengan jasa Ground Handling dengan beberapa perusahaan penyedia jasa Ground Handling (“Ground Handling Company”). Perseroan juga telah menandatangani perjanjian sewa ruangan untuk penempatan simulator B737200 dengan PT World Simulator Technology. Pangkal Pinang. Perseroan sepakat untuk menyediakan tempat untuk PT World Simulator Technology menempatkan simulator miliknya di lokasi GATE untuk kemudian disewakan. Timika. PT Citra Dunia Angkasa. SARL Pembroke Lease france SAS Wells Fargo Bank Notrhwest NA Trustee International Lease Finance Corporation ACG Acquisition XX LLC Masa berakhirnya sewa 18-Apr-22 25-Apr-22 27-Mei-22 14-Jun-22 08-Jul-20 13-Jul-22 15-Jul-18 26-Jul-22 10-Agust-20 16-Agust-20 19-Agust-22 07-Sep-20 16-Sep-13 20-Sep-20 30 Agustus 2013* 20 Juli 2012* 31 Agustus 2013* Catatan: *) Pesawat disewa dan dioperasikan Perseroan dengan menggunakan brand low cost Citilink. Balikpapan. PT Freeport Indonesia. Semarang. Kupang. Palembang.No. 4. Perseroan telah menambah sewa pesawat udara sejumlah 7 unit. Pontianak. Jambi. Kendari. Tanjung Karang. Palu dan Ampenan. Selain itu. untuk 26 rute internasional 136 . PT Pelita Air Service. Solo. Tarakan. Manado. PT Globalsky Aviasi. Denpasar. Perjanjian Sehubungan dengan Simulator Perseroan telah menandatangani dua perjanjian dengan pihak ketiga terkait dengan simulator yang terdapat di lokasi SBU Garuda Aviation Training & Education (GATE). Perseroan telah menandatangani perjanjian perawatan simulator dengan CAE Australia PTY LTD. Biaya sewa atas ruangan yang disewakan Perseroan akan dibayarkan secara bulanan oleh PT World Simulator Technology. Palangkaraya. 3. Biak. Seri Manufaktur PK-GMI MSN 30143 PK-GMJ MSN 30144 PK-GMM MSN 30145 PK-GMN MSN 30146 PK-GMO MSN 30147 PK-GFA MSN 36549 PK-GFD MSN 40807 PK-GFC MSN 39390 PK-GMP MSN 30148 PK-GFF MSN 36436 PK-GFE MSN 36804 PK-GFH MSN 36850 PK-GFG MSN 37819 PK-GMQ MSN 30149 PK-GCA MSN 24569 PK-GCC MSN 28200 PK-GZQ MSN 25134 Pihak yang menyewakan Pesawat MSN 30143 Leasing France SARL MITSUBISHI France SAS MITSUBISHI France SAS MITSUBISHI France SAS Pembroke Lease France SAS GECAS (France) SARL RBS Paris Leasing 1 SARL GECAS (France) SARL Pembroke Lease france SAS Bank of Utah GECAS (France) SARL Bank of Utah Centenntial Aviation (France) 1. PT Mulio Citra Angkasa. Perjanjian Ground Handling Dalam rangka pengadaan jasa pelayanan teknis penanganan pesawat udara di darat (“Ground Handling”). Mataram. Dalam perjanjian ini. Ambon. Banda Aceh. **) Sewa pesawat ini telah diakhiri pada Nopember 2010 dan pesawat telah dikembalikan kepada lessor. ***) Sejak 22 September hingga 25 Januari 2011. Malang. Perjanjian ini berlaku selama 10 tahun sejak tanggal Certificate of Acceptance dari DSKU Departemen Perhubungan Republik Indonesia. Perjanjian ini saat ini sedang menjadi objek sengketa sebagaimana diuraikan dalam bagian litigasi pada Bab VII. Ternate. Medan. Padang. Yogyakarta. Perjanjian ini berlangsung untuk jangka waktu 5 tahun dimana Perseroan sepakat untuk membayar beban perawatan kepada CAE sesuai dengan kesepakatan para pihak. Banjarmasin. Surabaya. Pekanbaru. Dalam perjanjian sewa ini. Perjanjian perawatan simulator ini meliputi perawatan terhadap simulator B737-400 dan B737-300. Pada umumnya perjanjian sewa pesawat udara memungkinkan perpanjangan dengan persyaratan yang disepakati oleh para pihak. Makassar. Perseroan membuat perjanjian dengan 11 Ground Handling Company di Indonesia seperti PT Gapura Angkasa. PT Pratitha Titian Nusantara. dan PT Avia Citra Dirgantara. PT Langgang Buana Perkasa. 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Tipe Pesawat B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-800 B737-300 B737-300 B737-400 Registrasi dan No.

Perseroan dan Ground Handling Company sepakat bahwa ketentuan pada Perjanjian Utama (“Main Agreement”) dan Lampiran pada Standard Ground Handling Agreement tahun 1998 sebagaimana diterbitkan oleh International Air Transport Association (“IATA”) berlaku bagi para pihak. keamanan). Ltd. Catering Service. Cina. and post flight). Flight Operations and Crew Administration (Flight Preparation at the Airport of Departure. 5. Saudi Arabia. Kargo dan Kantor Pos. Malaysian Airlines System Berhad. PT Freeport Indonesia dan PT Pertamina. Ltd. Pada umumnya. (vii) Chevron USA Inc. (v) Air BP sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. Parking and Hangar Space). Ground Handling Company sepakat untuk memberikan jasa-jasa ground handling antara lain Akomodasi dan Perwakilan. Saudi Arabian Oil Company (ARAMCO). Penumpang dan Bagasi. Ltd. Jardine Air Terminal Services Limited.. antara lain Jepang. Malaysia. baggage and cargo/mail). Deicing/Anti Icing Service. Material handling. Post Flight Activity. Periode pengadaan perjanjian bahan bakar adalah (i) PT Pertamina (Persero) untuk penerbangan domestik sejak 1 Oktober 2010 – 30 September 2015. Ltd. Sebagai kompensasi dari jasa Ground Handling yang diberikan oleh Ground Handling Company. Dalam perjanjian disebutkan pemasok akan menyediakan bahan bakar bagi Perseroan dalam jumlah. Toilet Service.. Menzies World Cargo B. Cosmo Oil Co. Cathay Pacific Airways. Aircraft Maintenance & Engineering Corporation. Singapura Belanda. Ramp (Marshalling. (ii) PT Pertamina (Persero) untuk penerbangan internasional sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. on-flight.. sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. dan Security (Aircraft security. dan untuk Jangka waktu masing-masing perjanjian Ground Handling disepakati pada masing-masing perjanjian. 137 ... Flight Preparation at a Point Different from the Airport Departure. Uni Emirat Arab. Parkir. Al Mazroi. Interior Cleaning. National Handling Services Company Ltd. Perjanjian pengadaan bahan bakar dengan perusahaan pemasok bahan bakar pada umumnya berlaku selama 2 (dua) tahun. Thai Airways International Public Company Limited. Hyundai Corporation. Air BP. Passenger and Baggage Screening and Reconciliation). (ix) Saudi Arabian Oil Company yang berlaku sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011.termasuk rute untuk penerbangan haji. Replenishing of Oils and Fluids). (viii) Arabian Petroleum Supply Company sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. Hongkong. tidak disebutkan klausul pengakhiran perjanjian selain karena habisnya masa berlaku perjanjian itu sendiri. (iv) Hyundai Corporation sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. Dalam perjanjianperjanjian tersebut. Thailand.. Main Agreement akan berlaku secara terus menerus sampai diakhiri dengan kesepakatan para pihak dengan memberitahukan terlebih dahulu 60 hari sebelumnya. Shanghai International Airport Co. Surface Transport (passengers.. Changi International Airport Services Private Limited.V. dan Attar Ground Handling Co. Pan Asia Pacific Aviation Services Limited. (vi) Cosmo Oil sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. Australia. Pengakhiran seluruh atau sebagian jasa yang diberikan oleh Ground Handling Company pada lokasi tertentu memerlukan pemberitahuan 60 hari sebelumnya oleh salah satu pihak yang mengakhiri perjanjian kepada pihak lainnya. dan Korean Airlines. Qantas Airways. In-flight assistance..V. Perjanjian Pengadaan Bahan Bakar Perseroan mengadakan perjanjian pengadaan bahan bakar dengan pemasok bahan bakar antara lain Shell Malaysia Trading SDN BHD. Fuel and Oil (Fuelling and/or Defueling. Ghuangzhou aircraft maintenance of engineering Co. Non routine services. (x) PT Freeport Indonesia sejak 1 Juli 2009 – 30 Juni 2011. Koninklijke Luchtvaart Maatschapij N. Ltd. harga dan lokasi yang ditentukan dalam perjanjian. Chevron USA.. Ltd. The Arabian Petroleum Supply. (iii) Shell Malaysia Trading SDN BHD sejak 1 April 2009 – 31 Maret 2011. Aircraft Engineering. Perjanjian pengadaan bahan bakar yang diadakan oleh Perseroan mengacu kepada standar perjanjian pengadaan bahan bakar pesawat udara yang dibuat oleh International Air Transport Association (“IATA”) yang dikenal dengan Model Fuel Supply Agreement. Water Service. Aircraft Maintenance (routine Service. Loading/Embarking and Unloading/Disembarking.Ltd. Aircraft Servicing (Exterior Cleaning. Crew Administration. Ltd. Perseroan juga membuat perjanjian dengan 20 Ground Handling Company di negara-negara lain seperti Japan Airlines International Company. Korea. Unit Load Device Control. DNATA Airport Operation. Supervision and Administration Function of Services Provided by Others (pre flight. Co. Ramp to Flight Deck Communication. Ltd. Co. Storage and Cabin Material).. Perseroan sepakat untuk membayar kepada Ground Handling Company. Cabin Equipment and Inflight Entertainment Material. Sistem Load Control dan Sistem Kontrol Komunikasi dan Keberangkatan. Catering. sebesar nilai yang disepakati para pihak sebagaimana diuraikan dalam masing-masing perjanjian. Cooling and Heating. Cargo and Post Office Mail.

7. berdasarkan perjanjian Perseroan juga wajib mengizinkan Kementerian Perhubungan untuk melakukan inspeksi tentang kelaikan pesawat udara.T Inc. menyediakan pesawat udara cadangan. Sedangkan pada beberapa perjanjian lainnya terdapat klausul bahwa perjanjian akan diperpanjang secara otomatis per tahun. Pembayaran dilakukan melalui 4 tahap yaitu sebesar 20% (30 hari sebelum pemberangkatan). 6. 1. (ii) Evergreen Aviation Technologies Corp. perawatan komponen. DS/PERJ/DZ-3504/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. Perjanjian pemeliharaan pesawat dengan perusahaan pemeliharaan pesawat pada umumnya berlaku selama lima tahun. Untuk memenuhi kewajiban tersebut. Obyek dari perjanjian pemeliharaan pesawat dapat mencakup perawatan kerangka pesawat. Pada umumnya. 30% (14 hari sebelum pemberangkatan). perawatan Auxiliary Power Unit (“APU”). Klausul mengenai jangka waktu perjanjian ini. (v) Thales Avionic Inc.784 jamaah haji dari 10 titik embarkasi sebagaimana dituangkan dalam Kontrak Kerja Angkutan Udara Jemaah Haji Indonesia Tahun 1431 H tertanggal 24 Agustus 2010 antara Kementerian Agama dan Perseroan. (vii) Honeywell (SIN) PTE. yang berlaku selama 5 tahun sejak tanggal 1 Oktober 2008. (iii) Koninklijke Luchtuaart Maatschappij NV. (iv) SR Technics Switzerland yang berlaku selama 5 tahun sejak tanggal 27 Mei 2008. Perjanjian Pengadaan Pemeliharaan Pesawat Udara Perseroan mengadakan perjanjian pemeliharaan pesawat dengan beberapa pihak yang bergerak di bidang pemeliharaan pesawat antara lain dengan: (i) GMF AeroAsia yang berlaku sejak sejak tanggal 1 Januari 2008 hingga 1 Juni 2018. Kementerian Agama wajib membayar jumlah beban penerbangan yang dihitung berdasarkan jumlah jamaah yang diterbangkan. 40% (7 hari sebelum pemulangan). DS/PERJ/DZ-3505/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. DS/PERJ/DZ-3507/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. penyediaan suku cadang dan pelayanan engineering. DS/PERJ/DZ-3501/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. DS/PERJ/DZ-3503/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. Perseroan akan memberikan imbalan jasa sesuai dengan nilai yang disepakati kepada perusahaan pemeliharaan pesawat. DS/PERJ/DZ-3502/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. Monarch Airlines Limited Iberworld Airlines S. Berdasarkan Perjanjian tersebut Perseroan diwajibkan menyediakan sekurang-kurangnya 14 pesawat udara berbadan lebar untuk penerbangan haji. Selain itu. pada beberapa perjanjian ditambahkan dengan klausul bahwa perjanjian ini dapat diperpanjang oleh salah satu pihak dengan memberikan pemberitahuan tertulis kepada pihak lainnya. Jenis Pesawat Udara B747-400 A330-200 A330-200 Nomor Serial Manufaktur 26877 1008 250 271 480 28979 26549 27178 265 670 833 349 356 357 Nomor Pendaftaran F-HSEA CS-TFZ C-GGTS C-GITS C-GPTS G-OBYE EC-KQC EC-KSM G-EOMA EC-JHP EC-KCP OY-VKG OY-VKH OY-VKI 4.6. 3. Klausul pengakhiran memberikan hak bagi salah satu pihak untuk mengakhiri perjanjian apabila pihak lainnya dinyatakan insolven atau bangkrut atau izin usaha salah satu pihak dicabut atau salah satu pihak melanggar kewajibannya dalam perjanjian. Perseroan telah mengadakan perjanjian sewa untuk 14 pesawat udara dengan beberapa pihak antara lain: No. Thomson Airways Limited Pullmantur Air S. Perjanjian tersebut juga mengatur beban penerbangan untuk setiap jamaah haji dengan jumlah berbeda sesuai titik embarkasi. perawatan mesin. Perjanjian Sewa Pesawat No.A. kabin.A. DS/PERJ/DZ-3506/2010 tanggal 23 Agustus 2010 No. dan (viii) Rolls Royce Total Care Services Limited yang berlaku sejak tanggal 29 Juni 2010. yang berlaku sejak tanggal 1 Oktober 1997 sampai dengan 1 Oktober 1999.. pengangkutan barang bawaan jemaah haji. membayar ganti rugi apabila jemaah haji kehilangan barang bawaan dan menyediakan air zam-zam kepada setiap jemaah. dalam perjanjian disebutkan klausul pengakhiran perjanjian selain karena habisnya masa berlaku perjanjian itu sendiri. yang berlaku selama 5 tahun sejak tanggal 30 Maret 2010. dan 10% sisanya (14 hari setelah tibanya kloter terakhir)..A. 8. 2. 5. DS/PERJ/DZ-3508/2010 tanggal 23 Agustus 2010 Lessor Corsair SA Hifly Transportes Aereos S. B767-304 B747-400 A330-200 A330-200 A330-343 138 . (vi) Panasonic Avionic Corporation yang berlaku selama 60 bulan sejak tanggal 18 Mei 2010. Air Transat A. Thomas Cook Airlines Ltd. 7. Perjanjian Sehubungan dengan Penerbangan Haji 2010 Kementerian Agama telah menunjuk Perseroan untuk melayani penerbangan haji untuk kurang lebih 116. Ltd yang berlaku sejak tanggal 26 Februari 2009 sampai dengan tanggal 26 Februari 2014.

dan Jasa boga dengan PT Angkasa Citra Sarana Catering Services yang mencakup seluruh titik embarkasi di Indonesia. 8. Selain sewa pesawat udara untuk mendukung penerbangan haji tersebut. sertifikat pendaftaran dan sertifikat kelaikan udara yang keduanya dikeluarkan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara atas nama Direktur Jenderal Perhubungan Udara. Perjanjian ini pada umumnya berlangsung 1 (satu) tahun hingga 4 (empat) tahun. sertifikat kebisingan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan izin radio yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi untuk masing-masing pesawat udara tersebut. Perizinan Dalam menjalankan kegiatan usahanya. 12. 139 . Perseroan telah menandatangani beberapa perjanjian lain antara lain sehubungan dengan: 1. (ii) perawatan pesawat udara. (iii) awak pesawat dan akomodasinya. terdapat perjanjian-perjanjian antara Perseroan dengan pihak terafiliasi. dan (iv) staff operasional. (v) PT Bali Satwika (“Satwika”) berlaku sejak tanggal 1 Juli 2008 – 30 Juni 2010. dan (iv) Kementerian Agama memiliki sifat hubungan istimewa sebagai instansi Pemerintah. antara lain sertifikat tipe (validasi) untuk setiap jenis pesawat udara. (iv) PT Anugrah Citra Ilahi (“ACI”) berlaku sejak 1 Februari 2007 – 31 Januari 2011. Ground handling dengan (i) PT Gapura Angkasa dan PT Batam Airmars Services yang mencakup seluruh titik embarkasi di Indonesia. Co. dalam hal ini pihak-pihak terafiliasi antara lain: (i) PT Gapura Angkasa dan GMF AeroAsia memiliki sifat hubungan istimewa sebagai Anak Perusahaan (ii) PT Angkasa Citra Sarana Catering Services memiliki sifat hubungan istimewa sebagai Anak Perusahaan Tidak Langsung. dan (ii) Attar Ground Handling Company dan Saudi Arabian Airlines untuk Jeddah dan National Handling Services Company Ltd. Pemeliharaan Sewa Menyewa Tanah dan Bangunan Untuk menunjang kegiatan operasionalnya. (Pemilik) dengan Perseroan (Penyewa) berlaku sejak tanggal 25 April 2008 – 31 Maret 2010 dan diperpanjang secara otomatis. gudang. dan kegunaan lainnya. (vii) PT Mitra Angkasa berlaku sejak tanggal 4 Januari 2010 – 31 Desember 2011. Perizinan sehubungan Pesawat Udara Sehubungan dengan pesawat udara yang dioperasikannya. 2. Madinah. (vi) PT Mandai Prima berlaku sejak tanggal 1 Mei 2009 – 30 April 2011. Perseroan telah mendapatkan perizinan sehubungan dengan pesawat udara tersebut. Perseroan telah menandatangani perjanjian-perjanjian kerjasama dengan berbagai pihak antara lain sehubungan dengan sewa-menyewa tanah dan bangunan. Perjanjian ini berlangsung antara (i) Treasure Spot Investments Limited berlaku sejak tanggal 16 Juni 2008 – 15 Juni 2011. Kendaraan-kendaraan sewaan ini digunakan antara lain untuk transportasi karyawan dalam menjalankan fungsi operasionalnya ataupun untuk antar-jemput karyawan dari tempat tinggal ke kantor. Penyediaan bahan bakar pesawat udara dengan (i) PT Pertamina (Persero) yang mencakup seluruh titik embarkasi di Indonesia dan (ii) Arabian Petroleum Supply Company untuk Jeddah dan Madinah. (iii) Central Japan International Airport. 3. Perseroan memiliki izin-izin yang wajib dimiliki dari instansi yang berwenang untuk menjalankan kegiatan usahanya antara lain sebagai berikut: 1. 9. (ii) Guang dong Asia International Hotel berlaku sejak tanggal 10 Desember 2009 – 9 desember 2011.Sewa diadakan dengan skema wet lease dimana pemberi sewa (lessor) bertanggung jawab untuk: (i) menutup asuransi pesawat udara dan pihak ketiga (kecuali penumpang dan kargo). (iii) PT Pertamina (Persero) memiliki sifat hubungan istimewa sebagai BUMN. Terkait dengan perjanjian-perjanjian penting yang disebutkan di atas. perumahan bagi karyawan. Dalam perjanjianperjanjian sewa ini Perseroan selaku penyewa wajib membayar uang sewa tahunan atau bulanan kepada pihak yang menyewakan tanah atau bangunan tersebut untuk keperluan Perseroan untuk digunakan antara lain sebagai kantor cabang. Sewa Menyewa Kendaraan Perseroan juga memiliki perjanjian-perjanjian sehubungan dengan penyewaan kendaraan bermotor untuk menunjang kegiatan operasionalnya.

Perth dan Kingsford Smith (Sydney). Selain itu. sertifikat pendaftaran dan sertifikat kelaikan udara yang keduanya dikeluarkan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara atas nama Direktur Jenderal Perhubungan Udara. 5. Perseroan juga telah memperoleh izin maupun hak untuk terbang melintasi wilayah udara negara lain atau mendarat serta melakukan kegiatan operasinya di negara-negara yang menjadi tujuan penerbangan internasionalnya. Perizinan sehubungan dengan Rute Penerbangan Perseroan telah mendapatkan perizinan yang diperlukan untuk melayani rute penerbangan berjadwal domestik dan internasionalnya berdasarkan (i) Surat DJPU tentang Jadwal Penerbangan Dalam Negeri Periode Winter 2010/2011 No. Sertifikat IATA Operasional Safety Audit Program Operator (Sertifikat IOSA) Perseroan telah memperoleh Sertifikat IOSA yang berlaku sampai dengan tanggal 8 September 2012 yang dikeluarkan oleh Senior Vice President Safety. dan (ii) Surat DJPU tentang Izin Penerbangan Periode Winter 2010/2011 No. AU/7747/DAU.85/09 tanggal 28 Januari 2009. Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal Sehubungan dengan pesawat udara yang dioperasikannya. General Authority of Civil Aviation. 140 . 121-001 tanggal 10 Juni 2009. GIAF-040-ZN menyatakan Perseroan memegang Economic Permit yang berlaku sejak 1 April 2009 sampai 31 Maret 2012 dan Foreign Air Carrier State’s Operating Certificate or Permit No. sebagai anggota IATA. Foreign Operator Authoriztion for Commercial Operations within the Kingdom of Saudi Arabia yang dikeluarkan untuk 9 pesawat udara Perseroan yang dioperasikan dengan tujuan ke Saudi Arabia. Fuzhou Changle. Guangzhou Baiyun dan Shanghai Pudong untuk regular flight. SKEP/02/I/2007 tanggal 2 Januari 2007. 4. yang dikeluarkan oleh Aviation Standards & Safety Department. 3. Brisbane. sertifikat kebisingan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan izin radio yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi untuk masing-masing pesawat udara tersebut. Dalian Zhoushuizi. 6. Izin ini berakhir 31 Januari 2011 dan dapat diperpanjang kembali. China Operations Spesifications berdasarkan China Civil Aviation Regulation (“CCAR”) 129.1899/X/2010 tertanggal 18 Oktober 2010 berlaku sejak 31 Oktober 2010 sampai dengan 26 Maret 2011. AU/752/DAU. b. Menteri Perhubungan. Operations & Infrastructure dan Senior Vice President Member & Government Relations IOSA. Sertifikat Operator Pesawat Udara Perseroan terlah memperoleh Sertifikat Operator Pesawat Udara (Air Operator Certificate) No. Kerajaan Saudi Arabia.n. Hangzhou Xiaoshan. Sertifikat ini merupakan bukti bahwa Perseroan. Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal No. Sedangkan alternate airport adalah Shanghai Hongqiao. AU/7141/ DAU. sebagaimana diubah dengan Surat Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. Untuk mengoperasikan rute internasionalnya. Pemerintah Australia untuk bandar udara internasional di tujuan Adelaide. antara lain sertifikat tipe (validasi) untuk setiap jenis pesawat udara. Melbourne. telah diaudit oleh IATA atas kepatuhannya terhadap standar keamanan yang ditetapkan IATA di dalam IOSA Program Manual dan terdaftar sebagai operator IOSA. Perseroan telah mendapatkan perizinan sehubungan dengan pesawat udara tersebut. OS No. Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal ini berlaku selama Perseroan masih menjalankan usahanya. Air Operator’s Certificate AOC # F503122-27 tanggal 29 July 2010 yang dikeluarkan oleh Civil Aviation Safety Authority. Perseroan telah mendapatkan sertifikat operator pesawat udara atau dokumen sejenis sebagai berikut: a. yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara a.2. Wuhan Tianhe. AOC/121-001 yang berlaku sejak 10 Juni 2009 sampai 9 Juni 2011. Tanjin Binhai dan Xiamen Gaoqi. Izin tersebut berlaku untuk bandar udara internasional Beijing. yang berlaku sampai dengan waktu yang tidak ditentukan.1735/IX/2010 tertanggal 29 September 2010 berlaku sejak 31 Oktober 2010 sampai dengan 26 Maret 2011. yang dikeluarkan oleh DJPU. c.

Cengkareng. Komplek GIA RT. Jakarta Selatan Jl. 106 tanggal 21 Pebruari 2005 Sertipikat HGB No.01. Kel.016/RW. Jakarta Barat Jl. Jakarta Selatan Jl. Tanah/ Bangunan Sertipikat Hak Guna Bangunan (“HGB”) No. Komplek GIA RT. Kel. 601 tanggal 22 Nopember 2035 23 Nopember 2005 111 Peruntukan: Balai Pertemuan Peruntukan: Tanah Kosong 11. Kec. 1 Maret 2014 356 Peruntukan: Kantor 5. Jakarta Selatan Jl. 202 12 Sertipikat HGB No. 14. 16 September 2033 3.010/ RW. Jakarta Pusat Jl. 1090 tanggal 30 September 2003 Sertipikat HGB No. 1 April 2024 1.04. 0011/03. 1092 tanggal 30 September 2003 Sertipikat HGB No. Pondok Randu RT. Kec. Kec. Komplek GIA RT. Pancoran. 4806 tanggal 17 September 2003 Sertipikat HGB No. 602 tanggal 20 Nopember 2035 21 Nopember 2005 Sertipikat HGB No. Kec. Komplek GIA No. Kemayoran. Kel. Komplek GIA RT. Jakarta Selatan Jl.016/RW. 1. Manggarai Selatan IX RT. Tebet. Tebet. Kec. Jakarta Pusat Jl. Bukit Duri. Kel. 4354 tanggal 28 Oktober 2003 Sertipikat HGB No. Pancoran. 1113 tanggal 2 Maret 2004 Sertipikat HGB No. Cengkareng. 433 14. Kemayoran. Samanhudi No.010/ RW.666 Peruntukan: Tanah Kosong 16. 13. Pancoran. Cengkareng. Komplek GIA RT. 7 Juli 2024 3. Kalibata. Kel.016/RW. Jakarta Pusat Jl. 006/01. Keterangan Mengenai Aset Tetap Perseroan memiliki aset tetap berupa tanah-tanah / bangunan dengan sertifikat HGB yang seluruhnya atas nama Perseroan. 20B. Pancoran. 237 Peruntukan: Tanah Kosong 15. Jakarta Selatan 104. Duri Kosambi. Kalibata. yaitu sebagai berikut : Tanah dan Bangunan Perseroan memiliki aktiva tetap berupa tanah dan bangunan sebagai berikut : No.016/RW. 1129 tanggal 8 Juli 2004 Sertipikat HGB No. 27 Oktober 2033 620 Peruntukan: Gudang (eks kantor) Peruntukan: Kantor 9. Kalibata. Pancoran. Gunung Sahari Selatan. 23 Juli 2028 2. Kel. Jakarta Selatan Jl.05/2165/2010 Tanggal 10 Agustus 2010 yang dikeluarkan oleh Direktur Pelayanan Haji a.n Direktur Jenderal PHU.590 4.270 3.04.016/RW. Komplek GIA RT. Kalibata. Serdang. Dalam hal penerbangan haji tahun 1413H/2010M. Kec. 4805 tanggal 25 September 2005 Sertipikat HGB No. Kec. 52. 1656 tanggal 2 April 2004 Sertipikat HGB No. Jakarta Barat Luas /m2 64.890 10.647 7. Dt. Cengkareng. Bukit Duri.04. Komplek GIA No. Kel. 1567 tanggal 24 Juli 2008 Masa Berlaku HGB 6 Januari 2025 Lokasi Jl.01 No. Kalibata. Jakarta Selatan Jl.Sehubungan dengan penerbangan tidak berjadwal. 29 September 2033 1158 Peruntukan: Lapangan Olah Raga dan Tanah Kosong Peruntukan: Lapangan Olah Raga dan Tanah Kosong 17.016/RW. Jakarta Barat Jl. Kemayoran. Kec. Kec. 807 tanggal 26 Pebruari 2024 27 Pebruari 2004 Sertipikat HGB No. 28B. Jakarta Pusat Jl. Bukit Duri Raya No.643 Keterangan Peruntukan: Pusat Pelatihan atau Pendidikan Kelengkapan dan manajerial penerbangan Peruntukan: Asrama (Dormitory)/ Tanah Kosong Peruntukan: Lahan parkir 2. Jakarta Selatan Jl. Kalibata.04. Kel. Duri Kosambi Raya RT. 24 September 2033. 23 Desember 2023 2. Pancoran. Kel. Pasar Baru.540 141 .478 8. Jakarta Barat Jl. Kalibata. Perseroan mendapatkan izin terbang untuk setiap penerbangan tersebut. Kec. 808 tanggal 26 Pebruari 2024 27 Pebruari 2004 Sertipikat HGB No. 1094 tanggal 30 September 2003 29 September 2033 992 Peruntukan: Gedung Pertemuan Peruntukan: Sekolah TK 13. 1095 tanggal 30 September 2003 Sertipikat HGB No. Bendungan Jago. H. 6 RT. 29 September 2033 1. Serdang. Sertipikat HGB No. Jakarta Selatan Jl. Duri Kosambi. Gunung Sahari Raya No.04. 29 September 2033 645 Peruntukan: Lapangan Olah Raga Peruntukan: Tanah kosong Peruntukan: Tanah Kosong 6. 23A.016/RW. Komplek GIA RT.04. Sawah Besar. Perseroan telah ditunjuk sebagai sebagaimana ternyata dalam Surat Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Republik Indonesia No. Bendungan Jago. 4816 tanggal 24 Desember 2003 Sertipikat HGB No.04. Kec. Pancoran.II/4/ HJ.VII. Duri Kosambi. Kel.

Antara Perseroan selaku pembeli dan Jacob Pieter Loppies selaku penjual 12 Oktober 2038 HGB sedang dalam proses. 26. Genteng. Kel. Pekunden. Yogyakarta Jl. Wakil Notaris di Padang antara Perseroan selaku pembeli dan Basril selaku penjual Sertipikat HGB No. 11 Juni 2017 Kel. Notaris di Batam antara Perseroan selaku pembeli dan CV Sri Usaha selaku penjual Akta Jual Beli Rumah Nomor HGB 22 tanggal 21 Oktober 1986. Kec. Kec. sedang dalam dibuat dihadapan Nurhayati proses. Ambon Kotapradja. Kec. Palembang Jalan Bayangkara Nomor 34 (28). 560 tanggal 10 April 2031 12 April 2001 Sertipikat HGB No. Ambon. Kec. Didirikan di atas tanah Kaveling Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam 157. Veteran. 923 tanggal 25 April 2019 26 April 1994 19. Sumahilang. Semarang Timur. 4677 tanggal 25 June 2002 24 Juni 2022 754 Peruntukan: Tanah kosong 20. 161 tanggal 23 Oktober 2020 23 Oktober 2000 Sertipikat HGB No. Kel. Pesawat terbangis. Surabaya Jl. Gondomanan.269 467 485 174 Peruntukan: Rumah Tinggal Peruntukan: Rumah Tinggal Peruntukan: Kantor Peruntukan: Rumah Tinggal Sertipikat HGB No. 383 797 1. Semarang Jl. 29. 24. Kemayoran. Tipes. 27. Kel.005/02. Duri Kosambi. Ahmad Yani. Suryasumirat SH. 29. Surabaya Jl. Kel. Kec.000 33. 1211 tanggal 12 September 2007 17 Juli 2027 142 . Kel. dibuat dihadapan Anna Sunarhadi SH.390 Keterangan Peruntukan: Klinik & Kantor Sertipikat HGB No. Padang Timur. dibuat dihadapan Hasan Qalbi. 142. Sawahan. 3. Cengkareng. 25. Sawahan. Gambir Jakarta Pusat Luas /m2 6. Ilir Timur I. Notaris di Batam antara Perseroan selaku pembeli dan CV Sri Usaha selaku penjual Sertipikat HGB No. Pekanbaru Kota. Sertipikat HGB No. Kel. Kec. Akta Penjualan dan Pembelian Serta Pemindahan dan Penyerahan Hak Nomor 51 Tanggal 30 Juli 1990. Sirimau. Semarang Jl. Tunjungan No. 35. antara Perseroan selaku pembeli dan PT Danareksa selaku penjual HGB sedang dalam proses. 1539 tanggal 12 Januari 1993 Sertipikat HGB No.645 Peruntukan: Kantor Peruntukan: Tanah Kosong Peruntukan: Rumah Tinggal 28. Kec. 14. 12 tanggal 24 Agustus 1993 Sertipikat HGB No.No. Kemayoran Blok B-15 Kav No. Kec. Nomor 7 C. Yogyakarta Kel. Sertipikat HGB No. 18. Ahusen. 31. Gunung Sahari Selatan. Pekanbaru Kel. Gowongan.129/Gwn tanggal 27 Agustus 1997 Sertipikat HGB No. 92 tanggal 13 Oktober 2008 Akta Jual Beli Nomor 17/ 1964 tanggal 17 Maret 1964. Surabaya 1. Comal No. Notaris di Jakarta. Seroja Dalam. Didirikan di atas tanah Kaveling Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam 168 Peruntukan: Rumah Dinas 22. Kec. Semarang Timur. Kel. Nomor 41 C. 92 tanggal 13 Oktober 2008. 36. Keputran. Tangkuban Perahu No. Kel. Kec.01 Peruntukan: Rumah Dinas 23. 1538 tanggal 12 Januari 1993 24 Agustus 2017 20 April 2013 24 Nopember 2012 30. Kel. Ahmad Yani No. Tegalsari. Surakarta Jl. Pekunden. Tanah/ Bangunan Masa Berlaku HGB Lokasi Jl. Sarangan. Catatan: Seluas 723 m2 telah dikonversi dalam bentuk Sertipikat HGB No. Kec. dibuat dihadapan Nurhayati Suryasumirat SH. Ngupasan. 406 tanggal 5 September 2030 7 September 2000 Sertipikat HGB No. 32. 24 Nopember 2012 1. Kec. Kec. 34. Kec.382 286 Peruntukan: Kantor Peruntukan: Rumah tinggal Peruntukan: Kantor Peruntukan: Rumah tinggal Peruntukan: Rumah Tinggal Sertipikat HGB No. Maluku 723 992 Peruntukan: Eks Kantor & Mess Peruntukan: Eks Kantor & Mess 25. Perumahan Sei Balai Indah. Genteng.925 Peruntukan: Kantor 21. 1. Jl. B. 596 tanggal 6 Juli 2026 29 Agustus 2006 Sertipikat HGB No. Kel. 20 Ilir III. 50 tanggal 12 Juni 1997 24 Oktober 2021 HGB sedang dalam proses. Sawahan. Akta Jual Beli Rumah Nomor HGB 21 tanggal 21 Oktober 1986. Kel. Jakarta Pusat Jl. Perumahan Sei Balai Indah. 50 tanggal 6 Nopember 2001 Akta Jual Beli Nomor 84 tanggal 7 Desember 1964. Padang Jalan Hayam Wuruk Nomor 32 757 989 2. Pondok Randu RT. Angkasa Komp. sedang dalam proses. Jakarta Barat Jalan Kebon Sirih No 44.

Denpasar Barat. 102 tanggal Tidak ada masa 27 Oktober 2005 berlaku Sertipikat HGB No. Sub district: Sathon (Bang Rak). Brambaken. Biak Numfor Lumpini Tower Building No.621 558 154 709 Keterangan Peruntukan: Kantor Peruntukan: Gedung Arsip Peruntukan: Tanah Kosong Peruntukan: Kantor Sertipikat HGB No. Kel. 416. Slamet Riadi No. Galerie Porte Louise 4th Floor Avenue De la Toisson No. 26 Desember 1997 26 Desember 1997 27 Desember 1997 31 Desember 1998 27 Desember 1997 Dokumen Kepemilikan Bill of Sale tertanggal 14 Januari 1994 Bill of Sale tertanggal 27 Mei 1994 Bill of Sale tertanggal 13 Januari 1975* Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009** Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009** Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009** Bill of Sale tertanggal 15 Oktober 1993 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 1993 Bill of Sale tertanggal 25 Oktober 1993 Bill of Sale tertanggal 1 Nopember 1993 Bill of Sale tertanggal 9 Nopember 1993 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 1993 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 1993 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Bill of Sale tertanggal 23 Desember 2009 Catatan: *) Perseroan tidak mengoperasikan pesawat ini dan hanya digunakan untuk kebutuhan pelatihan Perseroan. 45. Bangkok Metropolis Luas /m2 1.8 Peruntukan: Kantor Cabang 47. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Tipe Pesawat Boeing 747-400 Boeing 747-4U3 DC10-30 Boeing 737-300 Boeing 737-300 Boeing 737-3U3 Boeing 737-3U3 Boeing 737-3U3 Boeing 737-3U3 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-400 Boeing 737-500 Boeing 737-500 Boeing 737-500 Boeing 737-5U3 Boeing 737-500 Nomor Registrasi PK-GSG PK-GSH PK-GID PK-GGG PK-GGO PK-GGP PK-GGR PK-GGQ PK-GGN PK-GWK PK-GWL PK-GWM PK-GWN PK-GWO PK-GWP PK-GWQ PK-GGA PK-GGC PK-GGD PK-GGE PK-GGF MSN 25704 25705 46951 28731 28736 28737 28741 28739 28735 25713 25714 25715 25716 25717 25718 25719 28726 28727 28728 28729 28730 Tanggal Penyerahan 14 Januari 1994 27 Mei 1994 13 Januari 1978 31 Desember 1997 29 Desember 1998 29 Desember 1998 29 Desember 1998 29 Desember 1998 29 Desember 1998 15 Oktober 1993 23 Desember 1993 25 Oktober 1993 1 Nopember 1993 9 Nopember 1993 23 Desember 1993. 103 tanggal Tidak ada masa 27 Oktober 2005 berlaku Sertipikat Hak Pakai No. 40.415/ Brambaken tanggal 4 September 2001 Title of Condominium Unit Deed No. Darat Sekip. 143 . Balikpapan Jl. 84 tanggal 21 Oktober 2008 Sertipikat HGB No. Baru.1168/77 27th Floor. B. **) Pesawat-pesawat ini dioperasikan dengan low cost brand Citilink. Tanjungpura Nomor 8. 03 tanggal 25 April 2002 Sertipikat HGB No. HGB sedang dalam proses. Ujung Pandang Kel. Klandasan Ilir. 6. Condominium Unit No.1. Province: Bangkok Metropolis. 44. Kec.073 763 4. Kel. Lumpini Tower 27th Floor Building No. HGB sedang dalam proses. Brussel 375 Peruntukan: Kantor Pesawat Udara Perseroan juga memiliki aset tetap berupa pesawat udara yaitu sebagai berikut: No. 384 tanggal 12 Nopember 2011 12 Nopember 1991 Sertipikat HGB No. Pontianak Kel. Kec. 49-50. Manado Kel. Kec. Banjar Barat. Kec. Pontianak Barat. 49-50 25 April 2022 3 September 2021 46. Denpasar Barat. Kerta Baru Ulu. Denpasar Desa Sumerta Klod. 37 38. Samoa. 1168/77. Tanah/ Bangunan Masa Berlaku HGB Lokasi Desa Dauh Puri Kangin. Kec. Denpasar Timur. Kec. 4220 tanggal 13 Oktober 1997 Sertipikat HGB No. 1437 tanggal 20 September 1996 Berlaku selama diperlukan 12 Oktober 2017 41. Titiwungen Selatan. 42.1 Akta Jual Beli atas Bangunan yang terletak di Galerie Porte Louise 4th Floor Avenue De la Toisson No. Kec. 24 September 2016 897 117 1. Balikpapan Timur. Kec. Sario. Denpasar Desa Dauh Puri Kangin. 43.710 Peruntukan: Kantor Peruntukan: Kantor Peruntukan: Kantor Peruntukan: Kantor Peruntukan: Rumah Tinggal Sertipikat HGB No. 462 tanggal Tidak ada masa 16 Pebruari 1995 berlaku Sertipikat HGB No. Condominium Unit No. Kec. Ujung Pandang.606.No. 39. Denpasar Jl. Banjarmasin Kel. 3086. 23 Desember 1993.

Direksi dan Pegawai Pimpinan pada tanggal 1 April 2003 serta dikeluarkannya Piagam Komisaris dan Direksi. Di samping memberikan bantuan pinjaman. Turki (Indonesian Unique Intangible Cultural Heritage). Bazar BUMN. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) Pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) oleh Perseroan merupakan wujud tanggung jawab sosial dan kepedulian Perseroan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui kesempatan berusaha untuk meningkatkan kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan di sekitar. serta melaksanakan peran pengawasan dan peningkatkan peran dari komite-komite di bawah Dewan Komisaris. dan Bazar Ramadhan) dan pameran di luar negeri di Istanbul. Penerapan GCG yang lain adalah di bidang teknologi informasi. Sepanjang tahun 2009. Perseroan telah secara konsisten menyisihkan dana dari keuntungan Perseroan untuk kegiatan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan yang disalurkan kepada masyarakat baik sebagai pinjaman lunak ataupun hibah. melalui Program Kemitraan sejak tahun 1992 sampai dengan tahun 2009. sesuai dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG). PKBL BUMN Expo). Dengan digunakannya aplikasi ini. Selain itu. dimana hal ini menunjukkan bahwa Perseroan termasuk dalam kategori “baik” berdasarkan 5 aspek yang diukur.14. seluruh Mitra Binaan usaha juga diberi pembinaan melalui program-program pelatihan. maka proses pengadaan barang dan jasa akan berlangsung secara transparan. Untuk Program Bina Lingkungan dari penyisihan laba bersih Perseroan tahun 2009. penelaahan dan penyempurnaan Code of Corporate Governance.547 juta melalui bantuan bagi korban bencana alam. Tanggung jawab dan Independensi dalam penerapan GCG di level Direksi. yang juga diterapkan pada level komite-komite yang berada di bawah Dewan Komisaris. Perseroan telah menyalurkan Rp1. yaitu Komite Audit. melalui berbagai kegiatan yang sejalan dengan program pemberdayaan masyarakat. Penerapan GCG terus mengalami perbaikan. menerapkan whistleblowing system serta memasukkan laporan pelaksanaan Corporate Governance pada website Perseroan agar dapat diakses oleh publik. Inacraft. Dekranas. Berdasarkan hasil assessment. Program Kemitraan yang telah dilaksanakan di tahun 2010 adalah mengikut sertakan sejumlah mitra binaan untuk meningkatkan usaha yang yang berkelanjutan dalam pembinaan dan promosi melalui kegiatan pameran dalam negeri (Gelar Karya PKBL BUMN. 15. aplikasi ini mendukung program efisiensi yang tengah digalakkan di dalam organisasi. dimana hasil assessment tahun 2009 Perseroan memperoleh skor 80. Adiwastra. 144 . PPKI. Perkebunan dan Jasa lainnya. pelatihan. pendampingan dan promosi. Perseroan telah menyalurkan bantuan pinjaman dengan total dana sebesar Rp14. Di tahun 2009.445 juta yang dialokasikan bagi 55 mitra binaan di 5 propinsi di Indonesia serta penyaluran program peningkatan kualitas usaha mitra binaan sebesar Rp732 juta melalui program-program pelatihan kewirausahaan dan promosi dengan mengikut sertakan mitra binaan dalam acara pameran (Gelar Karya PKBL BUMN. dan bantuan pelestarian alam. dengan penerapan aplikasi e-Procurement dan e-Auction untuk setiap proses pengadaan yang dilakukan di lingkungan Perseroan. Komitmen ini sesungguhnya telah dimulai sejak tahun 2003 dengan ditandatanganinya “Maklumat Komitmen bersama” Komisaris. Komite Kebijakan Corporate Governance dan Komite Kebijakan Risiko. bantuan pengembangan prasarana/sarana umum. telah mencapai tahapan “Good Governed Garuda” dalam hal pelaksanaan GCG yang diperlukan untuk mendukung strategi “growth” Perusahaan dalam dua tahun mendatang. Penerapan GCG juga dilakukan melalui pengembangan budaya kerja yang positif dengan mematuhi “code of conduct” yang telah dibuat. Piagam yang berisi acuan bagi hubungan kerja Dewan Komisaris dan Direksi untuk memperjelas prinsip Akuntabilitas. Pertanian. bantuan peningkatan kesehatan. untuk penyaluran bantuan Program Kemitraan secara bertahap Perseroan telah membina Usaha Kecil Menengah di masyarakat berupa penyaluran pinjaman bergulir sejumlah Rp2. Inacraft. Perikanan. Pesta Tenun. Perseroan juga melakukan tindak lanjut dengan membentuk komite nominasi dan remunerasi. Pengungkapan informasi (disclosure). bantuan sarana ibadah. Peternakan. Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance/GCG) Tata kelola Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) merupakan sebuah komitmen bagi Perseroan dalam upaya terpadu Perseroan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Kebijakan GCG. Laporan GCG dibuat berdasarkan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance pada akhir tahun 2006.79 dari skala 100.904 juta yang didistribusikan ke sektor-sektor Industri. yang meliputi aspek hak dan tanggung jawab Pemegang Saham (RUPS). Dalam melaksanakan tanggung jawab untuk pembangunan yang keberlanjutan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar lingkungan usaha. Jasa. Komisaris dan Komite-komite yang sesuai dengan prinsip-prinsip GCG terbaik. PPKI. Perdagangan. dan Komitmen. Penerapan GCG.

Pemerintah Daerah. bantuan pendidikan dan/atau pelatihan. Keberpihakan Perseroan dalam sektor pendidikan diantaranya dilaksanakan melalui sosial edukasi kepada masyarakat misalnya sosialisasi kanker anak melalui kegiatan seminar kepada karyawan. Dalam perwujudan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. dan bantuan pelestarian alam. untuk melestarikan berbagai spesies penyu yang sudah hampir punah. Perseroan juga bekerjasama dengan pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat membangun fasilitas penangkaran penyu di pulau Gili Trawangan. Kalimantan Tengah dan Yogjakarta. Pada tahun 2007 dan 2008 Perseroan telah melaksanakan program “One Tree One Passenger” dimana melalui program tersebut Perseroan menyisihkan sebagian dari hasil penjualan tiket untuk pelaksanaan program penghijauan dan reforestasi. 2. rehabilitasi pembangunan sekolah yang terkena gempa dan rehabilitasi sarana perpustakaan sekolah. Program ini juga telah berhasil membangun kedua kawasan tersebut menjadi daerah tujuan wisata ”eco-tourism” baru sehingga dapat meningkatkan taraf hidup rakyat. selain turut aktif dalam pengembangan kemampuan entrepreneurship para wirausahawan sebagai upaya untuk memfasilitas pengembangan kualitas pendidikan masyarakat. Selain itu.533 juta dalam bentuk bantuan kepada korban bencana alam. 4. Water Conservation: Yang merupakan program observasi aspek pengelolaan sumber daya air di seluruh area kerja Perseroan. para medis puskesmas. dan WWF Indonesia. pelestarian alam. Perseroan juga melaksanakan program pembangunan Rumah Pintar. penyediaan sarana air bersih. bantuan sarana ibadah . disamping membantu memfasilitasi masyarakat dalam melakukan penelitian ilmiah dan melakukan pelatihan recycle limbah organik. 145 . program peningkatan pangan dan pembangunan sarana rumah ibadah. Perseroan berpartisipasi dalam ”Global Earth Hour”. Selain itu.Program Bina Lingkungan tahun 2010 telah menyalurkan sebesar Rp1. Perseroan juga melaksanakan program Garuda Indonesia Go Green melalui pembangunan “Arbetarium Eco Park Cibinong Science Center LIPI” Cibinong sebagai upaya untuk menyelamatkan jenis tumbuhan khas pulau Jawa. 3. 5. program Bina Lingkungan lainnya adalah program peningkatan lingkungan. Recycle Waste: Perseroan melakukan pengelolaan lingkungan sesuai Standar Nasional Indonesia (ISO 14001) tentang Sistem Manajemen Lingkungan. bantuan pengembangan prasarana/sarana umum. serta bentuk lainnya bersama dengan Perusahaan BUMN lain. khususnya dalam melestarikan lingkungan. Energy Conservation: Bekerjasama dengan WWF. pada akhir 2009. Perseroan telah melaksanakan beberapa kegiatan dalam sektor pendidikan. bantuan peningkatan kesehatan. serta sebagai upaya untuk mengurangi emisi karbon. serta penggerak sosial masyarakat. Dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Perseroan juga menyalurkan bantuan kepada korban bencana alam melalui ”Garuda Indonesia Peduli“ sebesar Rp831 juta di beberapa daerah yang terkena bencana misalnya: • • • Korban Bencana Banjir Bandang di Wasior Manokwari – Papua Barat Korban Bencana Gunung Merapi – DIY dan Jawa Tengah Korban Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Kepulauan Mentawai – Sumatera Barat Untuk kegiatan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). dan peningkatan kesehatan. Disamping itu. Dalam pelaksanan program CSR yang berkesinambungan untuk tahun 2010. Reduce Emission: Perseroan menjadi salah satu airline yang melaksanakan program ”Carbon Offset” bersama IATA Noise Reduction: Perseroan senantiasa mengurangi tingkat kebisingan penerbangan dengan mengoperasikan pesawat-pesawat mutakhir yang modern. Bentuk Program Bina Lingkungan lain yang telah dilaksanakan oleh Perseroan misalnya program pelestarian tenun melalui peningkatan mutu produksi dan peningkatan marketing capability melalui program pelatihan dan pengembangan tenun seperti di Bali dan Sambas yang bekerja sama dengan Yayasan Cita Tenun Indonesia (CTI). Program ini dilaksanakan bekerjasama dengan Departemen Kehutanan. peningakatan ekonomi. Perseroan juga telah berkomitmen untuk meningkatkan peran dan partisipasinya terhadap pengembangan lingkungan dan kehidupan masyarakat yang lebih baik . Program tersebut merupakan program rehabilitasi dan reforestasi kawasan hutan yang bernilai ekologis tinggi seluas 300 hektar di Taman nasional Sebangau. Perseroan juga telah melaksanakan program ”Garuda Green Action” sebagai salah satu bagian pelaksanaan CSR Perseroan yang diimplementasikan dalam beberapa kegiatan antara lain: 1.

Pada bulan September 2009. Dalam persidangan tanggal 15 Desember 2010 tersebut. New Zealand Commerce Commission (NZCC) menerbitkan pernyataan tuntutan terhadap Perseroan. penerbangan Garuda Indonesia GA 200 mengalami kecelakaan di landasan pacu saat mendarat di Bandara Adisucipto di Yogyakarta. Perseroan telah mengajukan upaya hukum Keberatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas putusan KPPU tersebut pada tanggal 20 Desember 2010.075 miliar atas praktek dugaan persaingan usaha tidak sehat berkaitan dengan tender give away haji yang melanggar Pasal 19 huruf (d) UU No 5 Tahun 1999. KPPU juga telah mengeluarkan putusan terhadap dugaan pelanggaran Pasal 19 UU No 5 Tahun 1999 terkait dengan penunjukkan langsung yang dilakukan oleh Perseroan kepada PT Gaya Bella Diantama dan PT Uskarindo Prima untuk pengadaan give-away kepada jamaah haji Indonesia untuk tahun 2009/2010 dan 2010/2011. Antara bulan Oktober 2009 dan bulan Juni 2010. KPPU menjatuhkan denda sebesar Rp1.Perseroan juga berpartisipasi dalam pelestarian untuk pemeliharaan Monumen Pesawat RI-001 Seulawah bekerjasama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Komando Daerah Militer Iskandar Muda.000. kegiatan CSR Perseroan telah memfasilitasi pembangunan Rumah Singgah untuk penderita kanker pada anak serta Program Garuda Indonesia Peduli kesehatan gigi anak dan kesehatan umum masyarakat yang terkena bencana alam . bersama-sama dengan maskapai penerbangan internasional lain. PN Jakarta Pusat mengeluarkan putusan sela yang pada intinya memerintahkan KPPU untuk melakukan pemeriksaan tambahan terhadap ahli tambahan Perseroan Sidang pemeriksaan keberatan akan dilanjutkan pada 26 Januari 2011 dengan agenda penyerahan berkas pemeriksaan tambahan oleh KPPU ke majelis hakim.AUSD7 juta.000 dan ganti rugi sebesar Rp7. Sidang keberatan tersebut telah dilakukan pada 8 Desember 2011 dan 15 Desember 2010 dan hingga prospektus ini diterbitkan belum ada putusan pengadilan sehubungan dengan upaya hukum keberatan tersebut. Pengadilan Negeri New South Wales menolak permohonan Perseroan untuk dikeluarkan dari perkara berdasarkan Foreign Satates Immunities Act 1985. dan Perseroan telah menerima kompensasi total sebesar USD104. Pada 27 Oktober 2010. Pada 30 Juli 2010. istri dan anak dari awak kabin yang telah meninggal dimaksud mengajukan tuntutan hukum di pengadilan Kyoto di Jepang sebesar JPY188. Hingga tanggal Prospektus ini persidangan atas keberatan belum dimulai.NZD2 juta. Sampai dengan tanggal Prospektus ini belum ada keputusan atas perkara ini. Sidang diadakan pada tanggal 5 Nopember 2010. Pada 17 Juni 2010.0 juta atas polis asuransi yang dimiliki Perseroan. dan Perseroan mengalami kerugian sebesar USD21. Pada tanggal 30 September 2010. Kalaupun Perseroan dikalahkan dalam proses persidangan ini. Perseroan mengajukan keberatan atas putusan KPPU ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. sedangkan jika tuntutan NZCC dikabulkan. karena diduga terlibat dalam kartel beban tambahan bahan bakar global jasa kargo. 21 penumpang dan awak kabin meninggal dunia. 146 . Australian Competition and Consumer Commission (“ACCC”) mengajukan tuntutan hukum terhadap Perseroan bersama-sama dengan maskapai penerbangan internasional lain sehubungan dengan dugaan atas keterlibatan dalam kartel beban tambahan bahan bakar global jasa kargo. Hingga prospektus ini diterbitkan belum ada putusan pengadilan sehubungan dengan perkara ini. Perseroan telah menerima salinan putusan KPPU tersebut pada 30 Nopember 2010. Pada tahun 2008. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau “KPPU”) menjatuhkan denda kepada Perseroan sebesar Rp187 miliar atas praktek dugaan persaingan tidak sehat berkaitan dengan beban tambahan bahan bakar (fuel surcharge) yang melanggar Pasal 5 dan Pasal 21 Undang-undang No.000 kepada penumpang dan keluarga penumpang yang meninggal. Dalam kecelakaan tersebut seorang awak kabin Perseroan telah meninggal dunia. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (“UU No 5 Tahun 1999”). Namun hingga prospektus ini diterbitkan belum ada temuan atau putusan yang diterbitkan oleh NZCC sehubungan perkara ini. Litigasi dan Proses Hukum Lainnya Pada 4 Mei 2010. dan pada 2 Juni 2010.400. Pada 17 Oktober 2010. Persidangan sehubungan dengan penggabungan pembelaan berkenaan dengan tuntutan terhadap Perseroan di New Zealand rencananya akan diselenggarakan tahun 2011. hal tersebut tidak akan memberikan dampak material negatif terhadap usaha dan keuangan Perseroan.000. Perseroan mengajukan banding atas putusan tersebut.530 untuk bantuan pasangan dan perkiraan kehilangan pendapatan. Perseroan telah membayar kompensasi atau ganti rugi sekitar USD82. KPPU telah dijadwalkan untuk menyampaikan laporan berupa expert testimony kepada panel hakim. maka Perseroan dapat dikenakan sanksi denda sebesar AUSD5 juta . Jika tuntutan ACCC dikabulkan. Perseroan dapat dikenakan sanksi denda sebesar NZD1 juta . Dalam bidang kesehatan.990. keluarga dari awak kabin dimaksud telah menerima kompensasi baik dari pihak Perseroan asuransi maupun dari Perseroan. 16. pra-sidang diselenggarakan berkenaan dengan tuduhan terhadap Perseroan. Atas hal tersebut. Dari 140 penumpang pesawat.6 juta sehubungan dengan penghapusbukuan (write-off) dari pesawat. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai sarana kepedulian Perseroan terhadap monumen pesawat yang bersejarah tersebut. Pada tanggal 7 Maret 2007.

Perseroan telah memenuhi putusan pengadilan sebagaimana dinyatakan dalam Putusan Kasasi Mahkamah Agung No. Pada tanggal 4 Agustus 2010. PT World Simulator Technology (“WST”) mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengklaim bahwa Perseroan telah (i) cidera janji dalam menyediakan fasilitas pendukung alat simulator pesawat.000.DKI tanggal 15 Januari 2010.00 dan Biaya pengembalian dana talangan sebesar Rp 590.000.00 per bulan terhitung sejak 23 Oktober 2007 sampai dengan pesawat milik Batavia dapat dioperasikan lagi.000.000. Baik Perseroan maupun WST mengajukan banding atas keputusan tersebut ke Pengadilan Tinggi Jakarta.Jkt. sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan surat Direksi Perseroan No. Perseroan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia. yang pada 4 Juni 2008 memutuskan memenangkan WST dan memerintahkan Perseroan untuk membayar kerugian WST sebesar USD1. (iii) membayar ganti rugi moril sebesar USD10.00 setara dengan Rp92.G/2008/PN.984. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menolak gugatan Batavia berdasarkan putusan No. Batavia mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 1 Agustus 2008 dan menuntut: (i) Perseroan untuk memerintahkan GMF AeroAsia untuk bertanggung jawab memperbaiki mesin milik Batavia. GMF AeroAsia mengajukan kontra memori kasasi pada tanggal 17 Mei 2010. Pada 9 Agustus 2010. klaim yang diajukan BPG disampaikan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal 7 September 2010. biaya pembongkaran/ pemindahan simulator ditambah dengan biaya parts.00 akan dipenuhi ketika PT World Simulator Technology melakukan pembongkaran/pemindahan simulator tersebut selambat-lambatnya tanggal 10 Pebruari 2011. Kedua kasus tersebut dalam proses pemeriksaan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. belum ada putusan Mahkamah Agung atas kasasi tersebut. Perseroan telah mendapat relaas pemberitahuan putusan Mahkamah Agung yang menyatakan Mahkamah Agung telah menolak upaya hukum kasasi dari Perseroan dan oleh karenanya putusan pengadilan tersebut telah berkekuatan hukum tetap dapat dilaksanakan terhadap Perseroan dan aset-asetnya. Jika benar. Perseroan mendapat informasi. 526/K/PDT/2009 yang pada pokoknya mewajibkan Perseroan untuk membayar kerugian materiil kepada PT World Simulator Technology sebesar Biaya operasional pendapatan yang diharapkan sebesar USD 1. edisi Desember 2009. Batavia kemudian mengajukan Banding kepada Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang menolak banding tersebut berdasarkan putusan No.062 dan kerugian immaterial sebesar Rp25 miliar yang harus dibayar secara tanggung renteng oleh para tergugat. 147 . Tuntutan Batavia terhadap GMF AeroAsia terkait tagihan yang dilayangkan GMF AeroAsia kepada Batavia untuk perbaikan mesin pesawat Batavia yang memiliki garansi GMF AeroAsia dan biaya sewa mesin yang harus ditanggung oleh Batavia selama masa perbaikan mesin pesawat milik Batavia oleh GMF AeroAsia. reputasi dan privasi dalam artikel di Pecatu Indah Resort yang mencatat bahwa Tommy Soeharto adalah narapidana dalam kaitannya dengan kasus pembunuhan. (ii) tidak mengizinkan digunakannya ruang simulator dan (iii) menuntut pembayaran sewa ruangan lebih tinggi dari beban sewa yang disepakati.000.360.710. perselisihan kepentingan tersebut dapat diajukan kepada Peradilan Hubungan Industrial. Tommy Suharto mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan meminta pembayaran atas kerugian material sebesar Rp13.Pada tanggal 6 Agustus 2004.800 dan Rp1.000.000. termasuk Perseroan. Majalah Garuda.000. bahwa Serikat Pekerja Perseroan menolak anjuran tersebut. Belum ada temuan atau putusan yang dikeluarkan terkait penelaahan pada tanggal Prospektus ini diterbitkan.590.500 ditambah Rp1.00 atau setara dengan Rp460. (ii) GMF AeroAsia secara tanggung renteng bersama Perseroan membayar ganti rugi materiil Rp500.000. 269/PDT. Pada tanggal 19 Desember 2008.000.000. dalam kaitannya dengan sebuah artikel yang diterbitkan oleh majalah in-flight yang diterbitkan oleh Perseroan.000. Batavia kemudian mengajukan upaya hukum kasasi kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan mengajukan memori kasasi pada tanggal 25 Maret 2010. Perseroan mencatatkan perselisihan kepentingan kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Propinsi DKI Jakarta (“Disnaker DKI Jakarta”) karena tidak tercapainya kesepakatan antara Perseroan dengan Serikat Pekerja Perseroan perihal ketentuan dalam rancangan perjanjian kerja bersama periode 2010-2012.000.580 dan kerugian immaterial sebesar Rp25 miliar yang harus dibayar secara tanggung renteng oleh para tergugat.00.00 setiap hari dan USD50.000. Perseroan menjadi tergugat II dalam gugatan yang diajukan oleh PT Metro Batavia (“Batavia”) terhadap GMF AeroAsia.500. Berdasarkan Berita Acara Penyelesaian Sebagian dengan PT World Simulator Technology tanggal 28 Januari 2011. Pada tanggal 23 Nopember 2010 Disnaker DKI Jakarta telah mengeluarkan anjuran yang merupakan hasil dari mediasi antara para pihak. Pada tanggal 4 Juni 2007. namun belum mendapat pemberitahuan resmi.000.839.000.000.000.984.590. Tommy Soeharto berpendapat bahwa tergugat telah menginvasi hak pribadinya. Hutomo Mandala Putera (“Tommy Soeharto”) mengajukan klaim terhadap beberapa tergugat. Dalam kasus ini BPG menuntut kerugian material sebesar Rp1. GARUDA/JKTDF-20004/11 tanggal 31 Januari 2011 tentang Konfirmasi Pelaksanaan Putusan Pengadilan. Pada tanggal 19 Nopember 2010 Perseroan mengajukan upaya hukum luar biasa peninjauan kembali atas putusan kasasi Mahkamah Agung tersebut. repair dan service sebesar Rp 1. Tommy Suharto dan BPG juga menuntut permintaan maaf dari para tergugat yang akan diterbitkan di Majalah Garuda dan beberapa media nasional lainnya.690.00. Disnaker DKI Jakarta memberikan batas waktu 10 hari kerja sejak tanggal 3 Desember 2010 (tanggal penerimaan surat) bagi para pihak untuk menyampaikan tanggapan atas anjuran tersebut. Pada tanggal 3 Nopember 2010. 503/PDT/2009/PT. Sampai dengan tanggal Prospektus ini. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengabulkan gugatan WST dan memerintahkan Perseroan untuk membayar kerugian yang dialami WST sebesar USD1. PT Bali Pecatu Graha (“BPG”) sebagai operator Pecatu Indah Resort juga mengajukan klaim terhadap beberapa tergugat termasuk Perseroan atas dasar yang sama.Pst tanggal 11 Maret 2009.000.

namun apabila pengadilan memberikan putusan yang mengalahkan Perseroan. Pada saat ini. tidak akan menimbulkan dampak negatif secara material terhadap kelangsungan usaha. pidana dan atau perselisihan lain di lembaga peradilan dan/atau lembaga perwasitan atau tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu Perseroan menjadi dinyatakan pailit. 148 . keuangan Perseroan maupun rencana Penawaran Umum ini. Anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan tidak sedang terlibat dalam suatu perkara perdata.Perkara-perkara sebagaimana diungkapkan di atas merupakan perkara yang dianggap penting oleh Perseroan.

Perseroan melakukan penerbangan kembali ke Amsterdam. Pada tahun 2002. hotel dan resort. Beberapa tahapan penting (key milestones) Perseroan adalah sebagai berikut: a. untuk melanjutkan kegiatan usaha dari Garuda Indonesian Airways NV. KEGIATAN DAN PROSPEK USAHA PERSEROAN 1. Perseroan dibentuk menjadi PT Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia (Persero). c. serta melayani rute yang terdiri dari 31 tujuan domestik dan 18 tujuan internasional. h. Perseroan beroperasi di beberapa bandara besar yaitu Bandara Internasional Soekarno-Hatta. n. Perseroan melakukan penerbangan ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya. PT Aero Systems Indonesia dibentuk untuk menyediakan teknologi informasi bagi industri transportasi. Perseroan adalah satu-satunya maskapai penerbangan berlisensi di Indonesia yang menyediakan pelayanan lengkap (full service carrier. Pada tanggal 28 Desember 1949. Pada tahun 1976. biro perjalanan dan wisata serta transportasi darat. PT GMF Aero Asia dibentuk untuk menyediakan layanan pemeliharaan. Pada tanggal 26 Januari 1949. Perseroan juga menyediakan layanan LCC melalui brand Citilink yang terpisah dari brand Garuda Indonesia yang dijalankan oleh SBU. g. Pada Juli 2009. Perseroan mengganti identitas perusahaan menjadi PT Garuda Indonesia (Persero). Perseroan mengganti identitas perusahaan untuk meningkatkan tampilan (image) dan dalam rangka memenuhi visi Perseroan di masa depan. yang menyatakan adanya perbaikan pada Perseroan dalam produk dan kualitas layanan. Pada tahun 1975. yang berkantor pusat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. atau FSC) melalui brand Garuda Indonesia. penerbangan komersial Indonesia yang pertama mulai beroperasi dengan menggunakan nama “Indonesian Airways”. k. Perseroan memberikan layanan penerbangan haji pertama bagi para jemaah haji ke Arab Saudi Pada tahun 1973. dan dalam sejarahnya telah menjadi maskapai penerbangan pembawa bendera negara yang melayani perjalanan penerbangan internasional dan domestik. Pada tanggal 31 Maret 1950. dibentuk untuk menyediakan jasa teknologi informasi dan jasa sistem jaringan operasi termasuk jasa untuk sistem distribusi global Perseroan. sebuah perseroan terbatas Badan Usaha Milik Negara yang tunduk pada hukum Negara Republik Indonesia. yang diwakili oleh Pemerintah melalui Menteri Keuangan. m. Pada September 2008. Pada tahun 1985. Pada tahun 1954. Bali. Perseroan juga menempati kantor manajemen baru yang terletak di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. anak perusahaan Perseroan. PT Abacus Distribution Systems Indonesia. Perseroan dianugerahi sebagai pemenang penghargaan Skytrax 2010 “World’s Most Improved Airline. b. serta jasa lainnya yang terkait dengan transportasi udara di Indonesia.BAB VIII. kargo. f. Perseroan memperbaharui identitas (brand) Perseroan dan meluncurkan brand baru dengan pesawat baru Boeing 737-800 NG dan Airbus A330-200. Pada bulan Mei 2010. j. yang merupakan pesawat berbadan lebar pertama yang dipakai pada armada pesawat Perseroan. dekat kota Jakarta. anak perusahaan Perseroan. Pada Desember 2008. Pada bulan Desember 2009. sebuah perusahaan patungan (joint venture) antara maskapai nasional Belanda KLM (dengan kepemilikan saham 51%) dan Pemerintah Indonesia (dengan kepemilikan saham 49%). Perseroan memiliki sejarah operasional yang panjang di Indonesia. d. l. p. Pada Juni 2010. ibukota Indonesia dan pusat bisnis. Pada tahun 1956. menjadi pemegang saham utama Garuda Indonesian Airways NV. Perseroan dibentuk dengan nama Garuda Indonesian Airways NV. 149 . anak perusahaan Perseroan. sebuah perusahaan riset yang memiliki spesialisasi dalam industri transportasi udara. UMUM Perseroan adalah maskapai penerbangan milik Negara Republik Indonesia dan penyedia layanan angkutan udara niaga untuk penumpang. yang berlokasi dekat dengan kota Jakarta. Pada tahun 1995. “Garuda Indonesian Airways” mulai beroperasi. o. Perseroan menerima penyerahan pesawat pertama dengan jenis pesawat DC-10. yang merupakan tujuan wisata utama di Indonesia.” Selain layanan FSC. e. Perseroan dianugerahi peringkat bintang empat oleh Skytrax. Perseroan membuka kembali kegiatan usaha Citilink demi memenuhi permintaan akan layanan LCC di Indonesia. Negara Republik Indonesia. Pada tahun 1985. Perseroan membentuk anak perusahaan PT Aero Wisata yang menyediakan dan mengembangkan jasa layanan pendukung seperti in-flight catering. dan Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. Cengkareng. i. Pada tahun 1985. perbaikan dan overhaul (MRO) termasuk perbaikan rangka pesawat (airframe) dan pemeliharaan mesin pesawat (engine) serta layanan pendukung terkait lainnya.

transport) 99% PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (MRO) 51% PT Aero Systems Indonesia 67% PT Citilink Indonesia (belum beroperasi) 95% PT Abacus Distribution Systems Indonesia (Reservasi) 37. Rp19. mengoperasikan 6 pesawat menyediakan untuk penerbangan LCC pada 8 rute domestik di Indonesia.9% PT Aero Wisata (catering.1 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 masing-masing sebesar Rp17.1 juta RFTK.4 juta RFTK (“Revenue Freight Ton Kilometers”). Jumlah pendapatan usaha Perseroan adalah Rp12.9 juta penumpang.2 juta penumpang. Pada 30 September 2010. yang mana menunjukkan adanya peningkatan sebesar 21. Rp975.4 miliar. serta memiliki PT Citilink Indonesia (LCC) yang belum beroperasi.6 miliar. Rp14. PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (perbaikan dan pemeliharaan pesawat atau MRO) dan PT Aero Systems Indonesia (teknologi informasi). travel. untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009. 2007. perhotelan. Rp710.349.SBU Citilink adalah unit bisnis terpisah yang berkantor pusat di Surabaya.4 miliar RPK (“Revenue Passenger Kilometer”) dan lalu lintas kargo sekitar 311.7 miliar. Pada 30 September 2010. Sedangkan pada periode yang sama. 2006 dan 2005. Perseroan menerbangkan sekitar 9 juta penumpang.7 miliar.5% apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya.000 pulau yang tersebar. dan jaringan rute yang melayani wilayah pusat perkotaan di Indonesia dan luar negeri. yang baru diluncurkan kembali di bulan September 2008. dan dengan populasi yang saat ini melebihi 240 juta jiwa. Perseroan berkeyakinan bahwa. yang mana menunjukkan adanya peningkatan sebesar 23. dan empat Anak Perusahaan utama: PT Abacus Distribution Systems Indonesia (reservasi). jasa transportasi dan jasa travel). Anak Perusahaan utama yang beroperasi maupun yang belum beroperasi. dimana sekitar 6. hotel.7 miliar untuk periode yang berakhir 31 Desember 2009. 2008. lalu lintas penumpang dengan rute internasional adalah sebesar 14. serta jasa layanan kargo.343. 2008.5% dari tahun 2007 hingga tahun 2009. Gambar berikut menunjukkan struktur bisnis Perseroan termasuk unit bisnis strategisnya.5 miliar. SBU Citilink. Dengan sekitar 17. melalui penerbangan langsung ke kota-kota besar di Indonesia.9 juta untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 masingmasing sebesar Rp1. Perseroan juga memiliki penyertaan pada. dengan lalu lintas penumpang sekitar 15. Rp12.000 pulau dihuni.685.042.1 juta penumpang. Rp152. dimana telah memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan kelas menengah yang kian meningkat.650. Indonesia memiliki kebutuhan layanan penerbangan yang kian meningkat. Laba bersih sebesar Rp194.9% apabila dibandingkan dengan periode Januari sampai September 2009.5% PT Gapura Angkasa ) Ground Handling) 1% 49% 33% 150 . Perseroan memiliki posisi yang kuat untuk mengembangkan bisnisnya dan mampu memenuhi peningkatan permintaan akan layanan penerbangan di Indonesia. 2006 dan 2005. SBU Citilink dan SBU Garuda Sentra Medika. suatu anak perusahaan yang dibentuk untuk tujuan tersebut. dan juga kepada budget travellers.0 miliar.4 miliar.September 2010. Perseroan menerbangkan sekitar 10. Perseroan berkeyakinan bahwa pemisahan antara layanan FSC dan LCC akan mendukung Perseroan untuk melakukan segmentasi layanan yang diberikan kepada pelanggan “premium” korporat dan penumpang pribadi yang melakukan perjalanan di kelas bisnis dan kelas ekonomi.018.6 miliar dan Rp688. Berdasarkan data BPS Januari . sekitar 90% dari rute jaringan domestik membutuhkan penerbangan di atas wilayah perairan. dan Perseroan berharap di masa depan untuk mengalihkan operasional SBU Citilink kepada PT Citilink Indonesia. dan pada akhir tahun 31 Desember 2009. Perseroan mengoperasikan 84 pesawat yang melayani 31 rute tujuan domestik dan 18 rute tujuan internasional untuk penerbangan penumpang FSC dan LCC. 2007.9 miliar RPK dan lalu lintas kargo sekitar 282. Berdasarkan data BPS yang diambil dari website BPS tanggal 21 Oktober 2010. PDB (tanpa migas) Indonesia telah tumbuh dengan CAGR sebesar 3. PT Aero Wisata (in-flight catering. Saat ini Perseroan memiliki tiga SBU: SBU Garuda Kargo. dan perusahaan afiliasi lainnya. Pada 30 September 2010. PT Gapura Angkasa (Gapura).860. dengan lalu lintas penumpang sekitar 13. lalu lintas penumpang dengan rute domestik adalah sebesar 31. PT Garuda Indonesia Cargo Business Unit Healtcare Business Unit Citilink Business Unit 99. Dalam periode Januari sampai dengan 30 September pada 2010.2 miliar dan Rp12. yang menyediakan jasa layanan ground handling. dengan lokasi hub-hub operasional Perseroan yang terletak di Jakarta dan Denpasar serta Surabaya untuk brand Citilink.

Walaupun Perseroan telah menyimpan IOCS untuk mulai beroperasi pada 21 Nopember 2010. Indonesia merupakan salah satu pasar penerbangan udara yang memiliki pertumbuhan yang pesat Dengan kurang lebih sekitar 17. sekitar 90% dari rute jaringan domestik Perseroan merupakan penerbangan antar pulau. Perseroan mengalami gangguan selama periode 3 jam selama melakukan pemindahan dari sistem manajemen operasional yang lama ke Integrated Operational and Control System (IOCS) yang baru dan menyebabkan outage di sistem IOCS.5% dari tahun 2007 sampai 2009. KUNCI UTAMA INVESTASI Keunggulan kompetitif yang sudah dimiliki Perseroan secara keseluruhan antara lain: a. Selama bulan Nopember dan Desember 2010. Berdasarkan data BPS. Indonesia juga mendapatan keuntungan dari pertumbuhan industri pariwisata di Bali dan tempat-tempat lain di Indonesia.8 juta penumpang dalam periode satu tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat dengan CAGR 3. Sebagai hasilnya. Indonesia juga diuntungkan sebagai salah satu pusat keuangan yang memiliki pertumbuhan yang relatif cepat di region Asia. backup data dari sistem manajemen operasional tidak akurat dan. 3.2 juta penumpang pada periode satu tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007 menjadi 35.6 juta penumpang pada 31 Desember 2007 menjadi sekitar 15. Indonesia memiliki kebutuhan yang cenderung meningkat akan layanan penerbangan udara. Dalam menjawab situasi tersebut. 151 . letusan berulang-ulang dari gunung Merapi dan Bromo. Berdasarkan data BPS. beberapa crew tidak datang pada jadwal kedatangan yang telah ditentukan. serta menurut grup konsultan The SAP Group (“SAP”). Berdasarkan data BPS. dengan rata-rata pertumbuhan pertahun (“CAGR”) sebesar 4. Perseroan juga yakin bahwa lalu lintas penerbangan internasional terbagi secara merata antara penduduk Indonesia yang terbang ke luar negeri dan penduduk luar negeri yang terbang ke Indonesia.2. dengan demikian Perseroan mengalami kesulitan dalam mengalokasikan crew pada jadwal penerbangan yang telah ditentukan antara tanggal 21-23 Nopember 2010 dengan jadwal crew penerbangan yang terus-menerus dicetak dan didistribusikan ke beberapa crew penerbangan unit dengan menggunakan data yang tidak akurat dari sistem manajemen operasional yang lama. dimana hal tersebut memberikan kontribusi untuk perkembangan kelas menengah yang meningkat dan pertumbuhan kebutuhan akan layanan penerbangan udara. Perseroan bersama dengan LAPI Institut Teknologi Bandung. dimana sekitar 6. Sebagai akibatnya.000 pulau. penumpang domestik meningkat dari 31. kedua gunung yang paling aktif.7 juta penumpang pada periode satu tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009. pertumbuhan ekonomi juga semakin tersebar ke kepulauan lain.000 pulau dihuni. Pembatalan penerbangan tersebut dan pengurangan frekuensi penerbangan telah mempengaruhi secara negatif pendapatan per penumpang dan jumlah penumpang dan pengalihan rute penerbangan telah meningkatkan biaya bahan bakar dan biaya operasional penerbangan lainnya untuk periode 3 bulan yang berakhir pada 31 Desember 2010. dengan sekitar setengah dari populasi dunia terletak sekitar 6 jam dari Jakarta. Dari hasil investigasi tersebut menunjukkan bahwa saat ini Perseroan tidak memiliki jaringan sistem manajemen yang cukup yang dapat memantau trafik jaringan atau memberikan early fault detection di IOCS. Pembatalan penerbangan tersebut dan penutupan sistem pemesanan selama periode tersebut telah mempengaruhi secara negatif pendapatan per penumpang dan jumlah penumpang untuk periode 3 bulan yang berakhir 31 Desember 2010.6%. selama periode outage di sistem IOCS tersebut.8%. dimana Perseroan berkeyakinan dapat membatasi risiko substitusi oleh moda transportasi lainnya. atau tumbuh dengan CAGR sebesar 7. kemudian meningkatkan permintaan akan transportasi udara diantara ibukota propinsi. Perseroan saat ini melayani 31 tujuan domestik pada 33 propinsi. telah mengakibatkan adanya pembatasan penerbangan pada industri penerbangan di Indonesia. 184 penerbangan dibatalkan dan Perseroan menutup sistem reservasi untuk mencegah pemesanan penumpang baru selama periode 21–23 Nopember 2010. Perseroan membatalkan sekitar 190 penerbangan pulang pergi ke dan dari beberapa tujuan tertentu. telah melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab dari outage dari IOCS. dimana Indonesia bagian Timur menjadi salah satu fokus untuk tujuan investasi. Sebagai akibatnya. Jakarta dan lokasi lainnya di Jawa Tengah. Indonesia juga telah mengalami proses regionalisasi dimana adanya perpindahan kekuatan politik yang awalnya dikendalikan di Jakarta dan sekarang berpindah di 33 propinsi di Indonesia. Pembatalan penerbangan dan shutdown sistem reservasi oleh Perseroan selama periode ini mengakibatkan penurunan pendapatan usaha dan volume penumpang pada kinerja 2 bulan sampai dengan 30 Nopember 2010. penumpang lalu lintas internasional meningkat dari 12. Perseroan juga mengalihkan rute penerbangan (dan meningkatkan tujuan penerbangan) ke beberapa tujuan di Indonesia dan luar negeri untuk mencegah abu dari letusan gunung merapi tersebut. Pada tanggal 21 Nopember 2010. Pada 30 September 2010. termasuk Yogjakarta. PERKEMBANGAN TERKINI PERSEROAN Kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan untuk periode 3 bulan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010 dipengaruhi oleh dua kejadian luar biasa di bulan Nopember 2010. dan populasi yang saat ini melebihi 240 juta jiwa dengan masyarakat kelas menengah yang sedang berkembang.

Brand yang kuat dan pelanggan yang loyal untuk mendukung pertumbuhan di masa yang akan datang Perseroan berkeyakinan bahwa brand Garuda Indonesia. dan Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. yang merupakan faktor penting untuk mengukur kepuasan pelanggan dan reputasi perusahaaan. Program Garuda Frequent Flyer (“GFF”) memiliki sekitar 435. Perseroan telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan pelanggan korporasi yang berjumlah sekitar 1. pangsa pasar Perseroan pada penerbangan rute domestik dengan keberangkatan dari Indonesia adalah 23. persentase anggota GFF adalah sekitar 28. selama bulan September 2010.1%. Pemimpin di pasar penerbangan Indonesia Perseroan memiliki sejarah operasional yang panjang sebagai maskapai penerbangan nasional yang menyediakan jasa penerbangan internasional dan domestik di Indonesia. dan juga bersamaan dengan itu. yang telah berdiri sejak tahun 1950. Sebagai satu-satunya penerbangan FSC domestik dan pemimpin dalam jaringan rute di pasar penerbangan di Indonesia.000 perusahaan di Indonesia. ibukota Indonesia dan pusat bisnis. e. serta penghargaan “Airline of the Year 2009” oleh Majalah Angkasa. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Centre of Asia Pacific Aviation (“CAPA”) di tahun 2010. Pada 30 September 2010. tujuan wisata utama di Indonesia. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan adanya pemisahan operasional antara FSC dan LCC mampu untuk menyediakan pelayanan bisnis FSC untuk penumpang premium dengan yield yang tinggi. Pada tahun 2010. apabila dibandingkan dengan cost per ASK Garuda yaitu sebesar USD6. “Good Corporate Governance Award” dari majalah SWA dan Indonesia Institute for Corporate Governance dan penghargaan “Best of The Best CEO” oleh 152 . dengan telah menerbangkan lebih dari 80 juta penumpang dalam 10 tahun terakhir. termasuk sebagian perusahaan BUMN. Perseroan memperkenalkan “Immigration and Visa On-Board” untuk memperoleh izin imigrasi terlebih dahulu sebelum kedatangan untuk penumpang internasional pada beberapa penerbangan tertentu dengan tujuan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.8 sen. d. dalam rangka meningkatkan pendapatan Perseroan dari penumpang “premium”. Dengan beroperasi melalui hub di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta. Per 30 September 2010. Tim Manajemen yang Ahli dan Berpengalaman Dengan Rekam Jejak yang Baik Perseroan berkeyakinan bahwa tim manajemen yang ada memiliki keahlian dan berpengalaman untuk dapat terus mengembangkan bisnis Perseroan dalam industri penerbangan Indonesia. telah sangat diakui di pasar domestik. c. dan juga penerbangan langsung dari dan ke luar negeri. Dari beberapa penghargaan yang telah diterima. lebih baik dibandingkan dengan pesaing Perseroan. Perseroan juga merupakan satu-satunya maskapai penerbangan domestik yang memberikan layanan FSC di Indonesia. Dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.9 sen. cost per ASK Citilink adalah USD4. Fleksibilitas pengoperasian bisnis FSC dan LCC Perseroan memiliki SBU Citilink dengan kantor pusat dan tim manajemen yang terpisah yang berlokasi di Surabaya dengan mengoperasikan model bisnis LCC yang berfokus pada rute dengan yield yang rendah dan jumlah pasar yang besar. Perseroan memiliki berbagai jaringan rute yang melayani 31 rute tujuan domestik dan 18 rute internasional. Perseroan juga berkeyakinan bahwa dengan pemisahan tersebut akan mendukung untuk mencapai segmentasi pasar pada rute dengan densitas yang tinggi dan memberikan perlindungan terhadap yield dimana Perseroan akan mengembangkan bisnis FSC dan secara simultan memberikan kesempatan bagi Perseroan untuk memanfaatkan pertumbuhan pasar LCC yang sensitif terhadap harga. Perseroan berkeyakinan memiliki posisi yang baik untuk dapat memenuhi permintaan yang bertambah untuk penumpang premium dan penumpang budget travellers untuk penerbangan langsung di berbagai destinasi di Indonesia. sedangkan pangsa pasar pada penerbangan rute internasional sebesar 15.8% dari total penumpang di periode yang sama. Garuda menduduki peringkat pertama dalam hal kualitas layanan dibandingkan dengan tiga maskapai penerbangan lainnya dengan kategori bintang lima versi Sky Trax yaitu Singapore Airlines. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan kuatnya pengakuan atas brand Perseroan dan loyalitas pelanggan. Manajemen Perseroan memperoleh penghargaan “Best Chief Financial Officer“ oleh majalah SWA di tahun 2010. Perseroan memiliki posisi yang kuat untuk meningkatkan jumlah penumpang baik di pasar domestik maupun di pasar internasional. “World’s Most Improved Airline” oleh SkyTrax pada tahun 2010. Perseroan memperoleh “Indonesia’s Most Admired Company” dan “The Best in Building and Managing Corporate Image” oleh Bloomberg Business Week di tahun 2010. Berdasarkan data SAP. Bali. Citilink mengoperasikan 5 pesawat Boeing 737-300 dan 1 pesawat Boeing 737-400 dan memiliki 45 pilot dan 64 awak kabin. Perseroan berkeyakinan memiliki pelanggan yang sangat loyal diantara penumpang premium di pasar domestik. dan penghargaan “Indonesia Customer Satisfaction Award” yang diberikan olah Frontier Consulting & Majalah SWA di tahun 2009. Cathay Pacific Airlines dan Malaysia Airlines dan dua maskapai penerbangan berbintang lima versi Skytrax seperti Bangkok Airways dan Thai Airways. yang termasuk beban per ASK untuk layanan LCC Perseroan.b.5% dan Perseroan melayani lebih banyak lokasi tujuan apabila dibandingkan dengan maskapai di Indonesia lainnya. Perseroan juga berkeyakinan bahwa on-time performance (“OTP”).000 anggota yang terdaftar per 30 September 2010. juga menyediakan pelayanan LCC kepada penumpang yang sensitif terhadap harga untuk rute dengan yield rendah dan jumlah pasar yang besar.

Perseroan berkeyakinan bahwa pesawat baru tersebut akan memberikan penawaran yang baru bagi penumpang FSC dan lebih memberikan kenyamanan bagi penumpang. melayani para wisatawan yang biasanya hanya sampai ke Bali. rata-rata pengalaman pilot Perseroan adalah 22 tahun. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan tim manajemen yang sekarang ada akan mampu memberikan landasan yang kuat untuk mencapai strategi pertumbuhan Perseroan. bersamaan dengan itu menambah frekuensi penerbangan di rute yang saat ini memberikan keuntungan. Perseroan juga berencana untuk mengimplementasikan sistem Customer Relationship Management (“CRM”) untuk meningkatkan kontribusi penerbangan dari anggota GFF. dalam rangka memperluas rute jaringan point-to-point dan menghubungkan hub-hub Perseroan dengan lokasi-lokasi tujuan wisata di Indonesia. Makassar dan Balikpapan. Taiwan dan Filipina.majalah Warta Ekonomi di tahun 2009. pelatihan. Per 30 September 2010. untuk menciptakan pangsa pasar di tujuan-tujuan tersebut sebelum dibuka untuk pesaing dengan akan diterapkannya konsep liberalisasi kebijakan “Open Skies” di tahun 2015 untuk ASEAN. sebagai dampak dari peningkatan PDB di Indonesia dan biaya perjalanan yang cenderung menurun. Perseroan berencana mengoperasikan 18 armada pesawat Sub-100 untuk melayani rute dengan yield yang tinggi dan jumlah pasar yang kecil. Walaupun untuk sementara ini Perseroan belum memesan jenis pesawat tersebut. 153 . dan untuk meningkatkan serta memperbaiki sistem manajemen pendapatan Perseroan agar dapat meningkatkan segmentasi harga untuk pemesanan bagi penumpang premium dan penumpang budget pada bisnis FSC Perseroan dan sistem Passenger Service Solution (‘PSS’) Perseroan serta meningkatkan metode jalur penjualan dan menambah kapasitas reservasi melalui internet untuk penjualan tiket secara langsung. dengan perpaduan kemampuan di industri penerbangan dan pengalaman di sektor lain yang lebih luas. Perseroan berkeinginan untuk memesan dan mengoperasikan pesawat Sub-100 baru dengan tetap mempertahankan image. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan pemutakhiran sistem ini dapat mengoptimalkan kebijakan penentuan harga antara kantor regional dengan petugas manajemen pendapatan di pusat. Perseroan berencana untuk melakukan layanan internasional dari tiga daerah utama di Indonesia yaitu Medan. retensi dan motivasi awak kabin dan personel inti lainnya. yang saat ini tidak bisa dioperasikan secara menguntungkan oleh konfigurasi standar pesawat FSC dan LCC Perseroan. Sebagai satu-satunya perusahaan penerbangan domestik dengan layanan FSC di Indonesia. Perseroan berkeyakinan bahwa jenis pesawat tersebut dapat meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan kapasitas untuk kebutuhan rute dengan jumlah pasar yang kecil. terutama pada bandara regional yang berukuran kecil. dapat melanjutkan perjalanannya ke kota-kota tujuan lainnya selain Bali. 4. Strategi Usaha Perseroan berkeyakinan bahwa strategi Perseroan dapat memposisikan Perseroan untuk mengkapitalisasi pertumbuhan yang berkelanjutan di pasar penerbangan Indonesia. Perseroan juga merencanakan untuk menambah jaringan rute untuk melayani semua ibukota propinsi di Indonesia dan memperoleh keuntungan dari otonomi daerah. Manajemen Perseroan. Manajemen Perseroan telah membentuk budaya pelayanan dan meritokrasi yang berfokus pada penerimaan karyawan. sehingga dapat dirasakan seperti layanan full service oleh penumpang. Inisiatif-inisiatif kunci dari strategi Perseroan adalah sebagai berikut: = Optimalisasi Layanan bisnis FSC untuk Mendukung Pertumbuhan Permintaan Pasar Domestik Perseroan berencana untuk mengoptimalkan pelayanan FSC dengan meningkatkan armada yang sesuai dan memperbanyak jaringan rute untuk dapat mendukung pertumbuhan permintaan untuk pasar domestik. Perseroan juga merencanakan untuk menjadi anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan dalam dua tahun ke depan dan akan meningkatkan perjanjian kerjasama codeshare yang akan mendukung strategi Perseroan untuk memperluas jangkauan tujuan internasional baru yang pada saat ini belum dapat dilayani dengan penerbangan langsung dari Indonesia. yang merupakan periode yang sangat sulit bagi setiap maskapai penerbangan dengan layanan FSC di industri penerbangan global. terbukti mampu merestrukturisasi kegiatan usaha Perseroan dan menghasilkan laba selama resesi global di tahun 2008-2009. dengan demikian akan mempertahankan dan menambah yield penumpang dan PLF pada layanan bisnis FSC Perseroan. Memperkuat dan Menambah Rute Internasional serta Brand Perseroan berusaha untuk meningkatkan jaringan rute internasional untuk FSC selama adanya kesempatan untuk menyediakan penerbangan langsung untuk rute internasional dari Indonesia yang dapat menghindari transit di lokasi penghubung bandara internasional dan langsung ke tujuan baru seperti India. = Secara Berkelanjutan Meningkatkan Bisnis Layanan FSC. Perseroan memiliki kontrak untuk mendatangkan 10 pesawat Boeing 777 yang akan dikirim antara tahun 2013 dan 2016 untuk mengganti pesawat Boeing 747 dan meningkatkan penerbangan langsung untuk tujuan regional.

dan meremajakan pesawat untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan efisiensi beban untuk operasional armada pesawat. Per 30 September 2010. sehingga dapat bertahan terhadap perubahan harga diantara penumpang FSC Perseroan dan budget travellers pada rute yang sama. Perseroan berencana untuk melakukan investasi pada pembaharuan interior kabin. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan memberikan persepsi budaya Indonesia untuk penumpang domestik dan penumpang Indonesia yang pergi ke luar negeri. = Pengembangan LCC untuk Memperoleh Segmentasi Pasar dengan Layanan FSC Perseroan berencana untuk memperluas kehadiran LCC untuk meningkatkan peluang yang ada untuk melayani penumpang yang sensitif terhadap harga di dalam negeri dan pasar regional dengan yield yang rendah dan jumlah pasar yang besar. Perseroan berencana untuk menambah armada dari 84 pesawat per tanggal 30 September 2010 menjadi sekitar 150 pesawat sampai dengan tahun 2015. Perseroan juga bermaksud untuk memesan dan memperkenalkan pesawat regional Sub-100 baru. dan juga meningkatkan efisiensi biaya atas jasa pelayanan Perseroan. Jawa Timur untuk meningkatkan kemampuan Perseroan untuk mengembangkan bisnis LCC dengan menekankan pada konsep sederhana. Perseroan berusaha untuk meningkatkan secara proporsional kru penerbangan dan personel inti lainnya. SBU Citilink melayani 8 tujuan domestik dengan 6 pesawat Boeing 737. efisien dan pelayanan yang ramah dan dikombinasikan dengan kebutuhan mendasar dari penumbang berbiaya murah. 154 . = Memperbanyak Jumlah. serta terus meningkatkan dan memperbaiki sistem solusi hubungan pelanggan. Menyederhanakan Jenis dan Meremajakan Armada Pesawat Perseroan berencana untuk menambah. mengurangi rata-rata umur pesawat dan mengurangi keseluruhan beban pemeliharaan untuk pesawat yang melayani FSC dan LCC. dimana hal ini dapat melindungi profitabilitas layanan bisnis FSC. Per 30 September 2010. Secara keseluruhan. Saat ini. Perseroan memiliki komitmen pemesanan untuk 27 pesawat baru untuk Boeing 737-800. dilengkapi dengan fasilitas di dalam pesawat yang nyaman akan semakin memperkuat brand Perseroan. = Meningkatkan Disiplin Biaya dan Manajemen Pendapatan Perseroan Perseroan berusaha untuk terus meningkatkan manajemen biaya dengan. pelatihan dan biaya tenaga kerja dengan mengubah biaya tetap menjadi biaya variabel sebagaimana Perseroan mengembangkan bisnisnya. Perseroan adalah satu dari dua maskapai penerbangan domestik yang memiki sertifikasi IOSA dan mendapat penghargaan bintang empat yang telah diterima dari Skytrax. Sejalan dengan bertambahnya armada. antara lain. Perseroan berkeyakinan bahwa SBU Citilink menikmati keuntungan dari reputasi Perseroan untuk keamanan dan kehandalannya. Saat ini Perseroan ingin membedakan SBU Citilink dengan brand yang berbeda dan budaya pelayanan yang berbeda. Perseroan telah mendirikan SBU Citilink dengan tim manajemen dan lokasi kantor pusat yang terpisah di Surabaya. Perseroan juga telah memiliki letter of intent atas sewa operasi 12 pesawat Boeing 737-800 (dimana 4 pesawat telah dikirimkan antara bulan Oktober dan Desember 2010) dan 3 pesawat Airbus A330-200 (dimana satu pesawat telah dikirimkan di bulan Desember 2010) yang akan mulai beroperasi pada periode 2011. Strategi Perseroan adalah agar brand Perseroan untuk lebih fokus pada brand Garuda yang sangat kental akan budaya dan keramah tamahan Indonesia. Boeing 777 dan Airbus A330-200 yang diharapkan meningkatkan keseluruhan efisiensi bahan bakar.dan PSS dalam rangka meningkatkan tingkat pemanfaatan passanger load factor dan passenger yield. meningkatkan utilisasi pesawat dan efisiensi penggunaan bahan bakar dengan memperkenalkan pesawat baru dan melakukan fuel conservation program. Perseroan berencana untuk mengembangkan layanan bisnis LCC Citilink dalam memperoleh pertumbuhan penumpang yang sensitif terhadap harga pada rute domestik dengan yield rendah dan jumlah pasar yang besar.= Memperkuat brand Perseroan di Pasar Internasional Perseroan berencana untuk fokus pada konsistensi terhadap layanan dan jasa dan terus mengembangkan program “Garuda Indonesian Experience” untuk membedakan layanan FSC Perseroan dibandingkan dengan perusahaan pesaing. Perseoran juga merencanakan untuk menggunakan layanan bisnis LCC Citilink untuk membuka rute internasional dengan yield rendah dan jumlah pasar yang besar yang tidak dapat dilayani secara menguntungkan oleh layanan bisnis FSC Perseroan. sistem hiburan dalam pesawat serta mendesain ulang situs internet Perseroan untuk pelanggan dan agar dapat diakses secara online. dan memiliki hak opsi untuk membeli tambahan 4 pesawat Airbus A330-200. Perseroan juga melakukan pemutakhiran PSS yang diharapkan dapat meningkatkan jaringan penjualan langsung kepada penumpang dan sistem manajemen pendapatan yang akan meningkatkan kemampuan Perseroan untuk mengelola persediaan tempat duduk dengan mengalokasikan di kelas berbeda dan perkiraan permintaan yang lebih baik dan penambahan jenis kelas penerbangan yang dijual. serta memperkenalkan budaya Indonesia bagi wisatawan asing yang ke Indonesia. serta merealisasikan penghematan dalam pemeliharaan pesawat. dan Perseroan berencana untuk menambah jumlah armada sampai dengan 25 pesawat di tahun 2015. Perseroan mengharapkan agar anak-anak perusahaan kunci nantinya akan menyumbangkan sekitar 50% pendapatan dari pihak ketiga untuk dapat beroperasi mandiri dari Perseroan. menyederhanakan. sistem manajemen pendapatan.

2008.2% 147.2 6.4 83.586. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 90.466.605.9%. untuk melatih pilot.4%.9% 95.4 67.2 89.7% dan 91.9 76. kelebihan bagasi dan pengantaran surat dan dokumen.9% 0.7% 151.4% 14.8 0.8% 1. Perseroan berencana untuk meningkatkan pusat pelatihan di Jakarta.6% 947.5% 8.190.4 100.6 72.4% 1.378.6% 87.9% 12.8% 396. pelatihan dan jasa lainnya Jasa Penerbangan Perseroan menyediakan jasa penerbangan berjadwal yang terdiri dari penerbangan penumpang dengan layanan FSC melalui brand Garuda dan layanan LCC melalui brand Citilink.9 91.0% 17. jasa hotel.2 5.8% 1. Selain itu.551.0% 14.7% 17.% 8.4% 1.510.1% 1.8 0.7% 0. Perseroan juga memberikan layanan kargo.1%.7% 0.416.9% 1.8 0.4 9. masing-masing sekitar 86.566.0% 9. 2007.180.9 90.7% 10.133.9 100. 88.0% 12.602.6% 839.2 11.8 9. pelayanan kesehatan. sedangkan penerbangan tidak berjadwal seperti haji dan pesawat charter.0 4.535. surat dan dokumen Pendapatan lainnya yang tidak termasuk dalam tabel di atas adalah terdiri dari pendapatan dari jasa penerbangan tambahan terkait yang disediakan oleh Perseroan.308.1% 5.2 845.0 79.0% 19.628.7% 15. Perseroan telah memperkenalkan langkah-langkah sebagai panduan untuk setiap posisi dan karyawan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan budaya kerja yang ditandai dengan transparansi dan meritokrasi.1% 10.1 100.9 71.7% 0.1 8.571.7 102.4 85.7 0.3 102.0% 11.9% 174.3% 10.2% 13.6 65.349.8 11.3 100. 2006.4 100.1% 10.8% 1.1 86. perekrutan dan pelatihan karyawan yang akan melayani pelanggan dimana Perseroan tengah memperluas bisnisnya juga merupakan faktor yang penting untuk dilakukan.9 Pendapatan tidak Berjadwal: Haji Carter Total Pendapatan tidak berjadwal Total Pelayanan Penerbangan Lainnya Jumlah Pendapatan Usaha Catatan: 1 90.533.120.1% 2.5% 710. untuk saat ini merupakan pusat pelatihan terbesar dan hanya untuk mengoperasikan pesawat di Indonesia.879.092. 90. Mempertahankan.3 100. 5. dan memotivasi karyawan-karyawan kunci Perseroan adalah sangat penting untuk mewujudkan peluang pertumbuhan.8% 0.0% 12. KEGIATAN USAHA Perseroan menyediakan jasa penumpang udara dan kargo serta jasa penerbangan terkait termasuk ground services.4% 1.3 11.0% Termasuk bagasi berlebih.3% 1.280.3% % 2009 (%) 2009 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember (%) 2008 (%) 2007 (%) 2006 (%) 2005 (%) Total pendapatan berjadwal 11.699.849.0% 2.3% 1.7 100.5% 74.759.049.7% 154.6 475.9% 1.4 76. dan layanan katering in-flight.9.6% 11.3 70.537. Selain itu.714.7 12.7% 0.5 5.669.067.387.5 66.6 3.491.1 90. jasa MRO.4 78.1 100.3%.7% 1. Pendapatan Perseroan dalam lima tahun terakhir beserta persentasi kontribusi produk/jasa terhadap total pendapatan adalah sebagai berikut: (dalam miliar Rupiah) Pendapatan Penerbangan Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 Pendapatan Berjadwal: Penumpang Kargo Lainnya1 10.7 10.685.0% 0.2 1. Layanan penerbangan Perseroan memberikan kontribusi pendapatan terbesar.7 14.= Pengembangan Sumber Daya Manusia Tim manajemen Perseroan telah berhasil dalam merasionalisasi bisnis dan fokus pada pemanfaatan peluang pertumbuhan yang ada.6% 801.1% dari total pendapatan usaha di tahun 2005.6 68.860.7% 9.2 72.2% 16.6 13.690.093.423.8% 12.9 13.2 12. serta layanan tidak berjadwal seperti layanan keberangkatan haji dan penerbangan charter yang disediakan dibawah brand Garuda Indonesia.6 90.570.339.448.2% 4.655. mengembangkan keahlian.4 0.762.2 12.2 78.4 1.5% 1. awak kabin dan insinyur pemeliharaan untuk mengakomodasi pengembangan armada pesawa yang telah direncanakan.291.1% 9.6% 0.5% 704.8 5.3% 2. seperti perawatan pesawat udara dan jasa perbengkelan.1% 11.6 10.8 4. jasa agen perjalanan.2% 13. Perseroan bermaksud untuk mempertahankan hubungan yang ada dengan berbagai akademi pelatihan domestik dan internasional untuk penerbangan global yang lebih baik memanfaatkan praktik terbaik (best practice) dalam pelatihan awak pesawat Perseroan dan personil inti lainnya.042.3 79. jasa boga.0 11. 90.6% 593.569. 155 .7 74.9 9.0% 2.5% 12.7 12.4 67.6 105.

6 6.9 8.1 3.0 161.8 6.809.5 6.0 7.0 6. (4) Dihitung sebagai jumlah kursi yang tersedia dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer)untuk setiap penerbangan.037.890.209.4 6.756.9%.268.3 7.8 111.8 6.2 8.5 5.843 44 870 90.9 67.282.045.5 4.3 5.172.7 6.342.6 1.1 9.8 5.6 68. cents) (1)(7) Internasional Domestik Biaya per ASK (U.701 2008 2007 2006 2005 1.7 7.9 69. (8) Dihitung sebagai total biaya yang berkaitan dengan kegiatan penumpang penerbangan Perseroan (termasuk biaya langsung dan tidak langsung.0 6.1%.5 5. dijadwalkan pendapatan per ASK.9 5.1 7.2 114.0 7.137. biaya overhead dan armada) sebagaimana tercermin dalam catatan akuntansiPerseroan dibagi oleh ASK.098.262.6 5.2 20.S. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.S.8 12.682.5 3. 71.5 7.747.039.7 536.776.1 774.8 9.577.Jasa Penerbangan Berjadwal Pendapatan layanan penumpang dari penerbangan berjadwal memberikan kontribusi masing-masing sekitar 68.445.7 447.6 182.9 3.4 7.825.8 5.8 8.3 3.0 5.7 6.0 6.633.S.336.2 16.072.377 2009 867.2 6.2 7.957.3 9.8 69.0 6.7 71. (6) Dihitung berdasarkan pendapatan layanan berpenumpang dari layanan berjadwal.532.7 7.321.1 67.4 6.1 3.924.4 6.2 74.424.5 9.S.2 64.3 14.9 12.5 7.5%.6 439.4 62.8 71.0% dari total pendapatan usaha di tahun 2005.102.8 6.5 102.9 8.6 2.6 7.369.7 517.8 2.9 4.3 411.095.7 73.0 5.5 8.452.8 7.4 427.8 4.692.713.8 3.8 5.6 3.393 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 1.0 4.9 6.0 7. 2007.003.0 10.6 19. 2008.9 10.1 79.9 5.6 52.2 536.3 566.538.8 60.901.3 6.3 8.1 21.3 9:00 46 891 92.8 117. cents per RPK)(1)(6) Internasional Domestik Pendapatan berjadwal per ASK (U.7 87.0 69.552 39 790 82.1 141.827.483.356. layanan teknologi informasi dan layanan pelatihan dibagi dengan RPK (7) Dihitung sebagai pendapatan dari jasa maskapai penerbangan dibagi oleh ASK.5 167. 2006.7 102.7 59.5 6.9 1.4 430.4 77. Tabel di bawah ini menunjukkan rincian informasi mengenai pendapatan dari layanan penerbangan berjadwal dalam lima tahun terakhir: Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 Pelayanan Penumpang: Pendapatan penumpang ( dalam juta USD )(1) Internasional (2) Domestik (2) Jumlah penumpang diangkut (dalam ribu) Internasional Domestik RPK (dalam juta) (3) Internasional Domestik ASK (dalam juta) (4) Internasional Domestik PLF (%)(5) Internasional Domestik Passenger Yield (U.6 6.4 6.0 476.1 106.935.6 3.7 77.4 3.618.8 176. hasil penumpang.774. (5) Dihitung sebagai RPK dibagi oleh ASK dan dinyatakan sebagai persentase.821.0 10.168 41 758 78. 72.8 18.4 162.8 4.7 3.2 74.9 6.9 859. ke dolar Amerika Serikat berdasarkan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari pertama setiap bulannya pada periode tersebut.1 77.252.3 644.6 13.3 10.0 2.798.9 72.1 7.454 Catatan: (1) Perseroan telah menerjemahkan pendapatan penumpang dalam Rupiah.3 6.2 99.2 7.324.9 15.4 7.8 107.359.4% dan 83.1 8. cents)(1)(8) Internasional Domestik Biaya per ASK tidak termasuk bahan bakar (U.4 3.276.1 8:43 46 877 68.347.256.2 5.5 121.6 9:27 49 979 76.1 190.1 5.210.5 6.2 7.3 11.4 11.7 15.5 7.2 7.6 8.8 9.7%.8 5.2 9.4 81.8 3.3 5.6 9:51 9:37 8:53 8:32 41 852 88. (2) Merepresentasikan pendapatan layanan berpenumpang berdasarkan tujuan penerbangan (3) Dihitung sebagai jumlah penumpang dilakukan dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer) untuk setiap penerbangan.6 8.4 99.2 9.205.508.947.724.1 18.7 4.5 89. sewa gudang kargo.1 6.1 69.6 8. biaya overhead dan armada) sebagaimana tercermin dalam catatan akuntansi Perseroan minus biaya bahan bakar dibagi oleh ASK.8 18.7 6.0 10. pendapatan non-terjadwal per ASK.5 10. biaya per ASK dan biaya per ASK tidak termasuk bahan bakar dan yield layanan kargo.024. 72.5 76.373.544.7 2.364. (10) Hanya termasuk layanan FSC Garuda Indonesia 156 .1 7.0 4.5 10.1 6.6 7. cents) (1)(9) Internasional Domestik Kilometer terbang (dalam juta) Block hour (dalam ribu) Internasional Domestik Pemanfaatan pesawat harian (block hour per hari per armada) (10) Jumlah tujuan penerbangan berjadwal yang dilayani sampai dengan akhir tahun Frekuensi penerbangan berjadwal (penerbangan per minggu) Jumlah penerbangan 1.3 59.2 6.7 101.8 77.2 8.5 8.4 6.300.3 1.8 4.5 6.4 906.4 72.8 3.3 72.2 5.1 13.369.8 7.9 619.5 114.0 5.6 5.5 2.523.3 9.3 5.3 7.566.943.7 9.882. (9) Dihitung sebagai total biaya yang berkaitan dengan kegiatan penumpang penerbangan Perseroan(termasuk biaya langsung dan tidak langsung.6 709.5 8.4 10.980. 67.7 6.8 5.

47. Perseroan melayani 30 tujuan domestik dari Jakarta. 50. dan melayani 31 tujuan domestik. dan Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar.Perseroan mengoperasikan penerbangan dari dua lokasi hub utama yang terletak di Bandara Internasional SoekarnoHatta di dekat Jakarta. Hal ini dapat dicapai dengan membangun rute jaringan domestik yang lebih luas dan meningkatkan rute jaringan point-to-point untuk melayani penerbangan langsung antar kota yang saat ini membutuhkan transit di hub. 47. pendaratan dan lepas landas pesawat berpenumpang. Mandala. Perseroan mengoperasikan sekitar 814 layanan penumpang penerbangan berjadwal domestik pergi-pulang setiap minggu. Bali.9%. Peta di bawah ini memberikan gambaran jaringan rute domestik Perseroan: Banda Aceh Medan Manado Pekanbaru Batam Padang Ternate Pontianak Palangkaraya Jambi Palu Balikpapan Banjarmasin Biak Jayapura Pgk.0%. 2007. pendaratan dan lepas landas pesawat berpenumpang. Operasi penerbangan domestik Perseroan saat ini menggunakan sistem hub-and-spoke. 2006. Jasa Penumpang Pasar Domestik Perseroan memiliki sejarah operasional terpanjang dan saat ini memiliki jaringan rute yang paling luas di dalam negeri dibandingkan dengan maskapai penerbangan Indonesia lainnya. Perseroan berencana untuk mengoptimalkan lebih jauh rute jaringan yang saat ini dimiliki dengan menggabungkan hingga 18 armada pesawat Sub-100 dengan pesawat Perseroan dan menambah lokasi tujuan domestik dari yang saat ini dilayani. Sriwijaya Air Batavia Air. Per 30 September 2010. Per 30 September 2010. adalah sebagai berikut: Rute Pesaing Utama dalam rute Frekuensi Penerbangan (per minggu) Per 30 September Per 31 Desember 2010 2009 2008 2007 2006 104 115 108 115 105 54 74 66 60 50 63 63 63 56 43 63 63 63 56 49 Jakarta-Surabaya Jakarta-Denpasar Jakarta-Jogyakarta Jakarta-Semarang Batavia Air. Per 30 September 2010. Indonesia AirAsia Batavia Air. Sriwijaya Air 2005 105 78 55 56 157 . Lion Air. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 2008. serta merupakan gerbang internasional dan hub transit domestik yang utama di Indonesia. Perseroan melayani 6 tujuan di domestik dan 9 tujuan internasional dari Denpasar.8% dari total pendapatan penerbangan berjadwal masing-masing di tahun 2005. dengan lokasi penghubung utama yang berlokasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat kota Jakarta. Jaringan rute penerbangan Perseroan yang berbasis di Jakarta merupakan jaringan yang terluas dibandingkan dengan penerbangan lainnya. Sebagai ibukota Indonesia. Lion Air.4%. Lokasi hub utama kedua Perseroan terletak di Denpasar. Jakarta merupakan pusat kegiatan politik dan administrasi pemerintahan. Lion Air. Denpasar adalah ibu kota Bali merupakan tujuan wisata terkemuka di Indonesia dan salah satu pusat budaya utama di Indonesia. Perseroan melayani 30 tujuan di Indonesia dan 15 tujuan internasional dari Jakarta.0% dan 54.8%. Bali. Tabel di bawah ini menunjukkan lokasi tujuan utama layanan penumpang penerbangan berjadwal domestik berpenumpang dalam 5 tahun terakhir. perusahaan domestik besar dan perusahaan multinasional. Jakarta juga merupakan salah satu pusat ekonomi Indonesia dan pusat dari perusahaan BUMN.Karang Jakarta Semarang Surabaya Solo Denpasar Mataram Yogyakarta Malang Kendari Ujung Pandang Ambon Timika Kupang Layanan penumpang penerbangan berjadwal domestik memberikan kontribusi masing-masing sekitar 47. Per 30 September 2010. Indonesia AirAsia Batavia Air.Pinang Palembang Tjg. Bandara Internasional Soekarno-Hatta adalah bandara tersibuk di Indonesia diukur dari throughput. Denpasar adalah bandara kedua tersibuk di Indonesia diukur dari throughput. 42.

Sriwijaya Air Jakarta-Balikpapan Batavia Air. Per 30 September 2010. Jakarta-Tokyo. Perseroan bermaksud untuk memperkenalkan pesawat kelas Sub-100 untuk layanan domestik dalam rangka melayani bandara yang lebih kecil. Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan memiliki jaringan rute yang berbasis di Jakarta yang paling luas dibandingkan dengan penerbangan lainnya. Denpasar-Hong Kong. dan Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. Peta di bawah ini memberikan gambaran rute jaringan internasional Perseroan: Amsterdam Beijing Seoul Nagoya Shanghai Guangzhou Hong Kong Bangkok Tokyo Osaka Riyadh Jeddah Dubai Kuala Lumpur Singapore Jakarta Surabaya Denpasar Mataram Perth Sydney Melbourne Perseroan mengoperasikan penerbangan melalui dua hub utama yang terletak di Bandara Internasional SoekarnoHatta di dekat kota Jakarta. Mataram-Jakarta-Kuala Lumpur dan Surabaya-Hongkong. Perseroan mengoperasikan sekitar 165 penerbangan internasional pergi-pulang setiap minggu. Sriwijaya Air Jakarta-Pekanbaru Batavia Air. Sriwijaya Air Jakarta-Palembang Batavia Air. Lion Air. JakartaSeoul. Jasa Penumpang Internasional Perseroan memiliki sejarah kegiatan operasional yang panjang dan berkeyakinan bahwa saat ini Perseroan memiliki jaringan rute internasional yang paling luas dibandingkan maskapai penerbangan lain di Indonesia. Perseroan berkeyakinan bahwa pesawat kelas tersebut perlu dan penting untuk dimiliki agar dapat memenuhi kebutuhan kapasitas pada rute-rute yang memiliki tingkat densitas rendah yang saat ini tidak dilayani oleh layanan LCC Perseroan. 158 . Denpasar-Nagoya.Rute Pesaing Utama dalam rute Jakarta-Medan Batavia Air. Sementara Perseroan belum melakukan pemesanan untuk pesawat kelas tersebut. Lion Air. Sriwijaya Air Surabaya-Denpasar Batavia Air. Jakarta-Sydney. Lion Air. Pada tanggal 30 September 2010 Perseroan melayani 15 tujuan internasional dari Jakarta. dan melayani 18 tujuan internasional. Bali. Jakarta-Melbourne. Lion Air. Lion Air. Lion Air. Merpati *) termasuk seluruh rute melalui Jakarta-Makassar Frekuensi Penerbangan (per minggu) Per 30 September Per 31 Desember 2010 2009 2008 2007 2006 49 63 42 49 42 49 49 49 49 42 45 49 42 40 35 21 21 28 28 28 21 21 21 21 21 56 42 35 28 28 2005 42 42 35 21 35 33 Perseroan umumnya menggunakan armada Boeing 737 dan Airbus A330. Jakarta-Shanghai. Sejak tahun 2007. Perseroan telah memperluas rute internasionalnya antara lain. Mandala Jakarta-Makassar* Batavia Air. Jakarta-Beijing.

9 19.2 1.5% dari total pendapatan jasa penerbangan berjadwal untuk penumpang di tahun 2005.2 8. Batavia.325.2 8.2 1.2%.3 72. Selain itu.559.101.0 149.8 3.0%.6 111.432.632. 18.8 4. Batavia.4 2.544.2 1.484.8 115. dimana kota-kota tersebut merupakan tujuan utama perjalanan luar negeri oleh warga negara Indonesia.9 63.821.3 10.4 1. Mandala.7 9.2 4.6 11.3 2006 476.830.2 3.5 7.6 159.8 206.8 2.1 133.805. Al wafeer Virgin Blue.051. Australia. Lion Air.756.205. 2006.2 265.689.227.9 3. dan 18 lokasi tujuan internasional pada 31 Desember 2005.9 1.921.935.9 1.9 1. 46. pendaratan dan lepas landas pesawat. 18.452.6 2. yang dikenal sebagai tujuan wisata terkemuka di Indonesia dan salah satu pusat budaya utama di Indonesia.1%.893.630.347. 20.893.9 6. Philippines Airline Saudi Arabia Air. 2006. dan 45.Jepang Korea Cina) Jepang Korea Cina Australia Timur Tengah Eropa ASK (dalam juta) Asia (ex.6 117.9 7. 2007.2 135. Tiger. serta meningkatkan pendapatan dari layanan penumpang yang dimiliki.2 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 566.8%.5 3.7 2005 447.0 106.8 1.Jepang Korea Cina) Jepang Korea Cina Australia Timur Tengah Eropa RPK (dalam juta) Asia (ex.8 2.6 56.3 1.2 1.7 1. 52. dan pada saat yang bersamaan Perseroan berencana untuk menambah frekuensi yang ada pada rute internasional.5 2.Base kedua utama Perseroan terletak di Denpasar. Saat ini Perseroan terfokus melayani kota-kota utama di Asia.2 2007 536.1 176. China Airline Japan Airlines 14 14 7 14 11 21 7 7 14 25 7 7 8 17 5 7 7 14 7 7 4 14 7 7 Layanan penumpang penerbangan berjadwal internasional memberikan kontribusi masing-masing sekitar 52.8 4.750.6 125.7 1.7 595.281. Indonesia Air Asia.5 2.5 1. termasuk benua yang saat ini tidak dilayani oleh Perseroan. 17. 2007.514.3 1.921.6 2008 774.6 2. Pada tanggal 30 September 2010.6 2.6 1.523. 2008.618.1 3.021.0 10. Lion Air.0 843. 2008.515. Strategic Air Cathay Pacific.270.6 5.255.2 10.798.311.252.1 1.6%. Denpasar adalah bandara kedua tersibuk di Indonesia bila diukur dengan throughput penumpang.000. Perseroan melayani 6 tujuan domestik dan 9 tujuan internasional yang berangkat dari Denpasar.369.774.3 10. Bali. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. 52.199.650.5 115. 50.7 4.160.3 74.9 99.8 6. Perseroan telah melayani 22.537. Perseroan senantiasa berusaha untuk memperluas jaringan internasionalnya pada lima tahun ke depan dengan memperkenalkan pelayanan kepada lebih dari dua pertiga dari 20 pasar utama untuk perjalanan ke dan dari Indonesia.Jepang Korea Cina) Jepang Korea Cina Australia 517.924.136.1 85.732.8 7. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.0 2.051.9 3. Tabel berikut adalah performa jasa penerbangan internasional dalam 5 tahun terakhir dan sembilan bulan yang berakhir per 30 September 2010 berdasarkan lokasi geografis tujuan penerbangan: Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 Sep 2010 2009 Pendapatan penumpang internasional (dalam jutaan USD) (1) (2) Asia (ex.251.8 427.6 1. Indonesia Air Asia.2 159 .7 163. Lufthansa.8 1.382.4 217.0 89.3 780.3 110. Timur Tengah dan Eropa.0 95. Jetstar.9 12.038.176.109.052.2 2.4 1.1 117. Tabel di bawah ini memberikan informasi mengenai 5 rute utama Perseroan untuk layanan penumpang penerbangan berjadwal internasional dalam 5 tahun terakhir dan sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010: Rute Internasional Pesaing Utama dalam rute Frekuensi Penerbangan (per minggu) Per 30 September Per 31 Desember 2010 2009 2008 2007 2006 48 49 49 49 38 2005 42 Internasional: Jakarta-Singapura Jakarta-Jeddah Jakarta/Denpasar-Perth Jakarta-Hongkong Jakarta/Denpasar-Tokyo Singapore Airlines.4 2.602.0 3. Perseroan berencana untuk memperkenalkan layanan penumpang internasional ke India.8 388.422.7 197.2 999.7 2.216. Filipina dan Taiwan di tahun 2011. Value Air.319.711.0 166.9 199. tujuan Perseroan untuk menjadi anggota aliansi global maskapai penerbangan yang akan mendukung strategi Perseroan dalam memperluas jangkauan tujuan internasional yang baru.8 573.274.4 2.

1 7.2 74. Timur Tengah Pada tahun 2009.4 73. Korea dan Cina) Pada tahun 2009. Tokyo dan Seoul.Jepang Korea Cina) Jepang Korea Cina Australia Timur Tengah Eropa Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 Sep 2010 2009 2. Shanghai dan Guangzhou.0 7.4 5.6 5. China Southern Airlines dan Korean Air.2 71.3 2006 2. Hong Kong.2 63.5 8.8 5.3 69.Jepang Korea Cina) Jepang Korea Cina Australia Timur Tengah Eropa Passenger yield (U. (2) Merepresentasikan pendapatan layanan berpenumpang berdasarkan lokasi tujuan penerbangan.9 69.8 68.6% dari total RPK Internasional dan 14.0 8.8 76.0 12.1% dari total RPK internasional dan 27.7 66. Perseroan juga mengoperasikan penerbangan antara Jakarta dan Seoul. Korea dan Cina menyumbangkan sekitar 39. Untuk periode yang berakhir pada 30 September 2010.5 82.697.2 6.9 2007 2.1 7.0 - Catatan: (1) Perseroan telah menerjemahkan jumlah Rupiah pendapatan penumpang dan hasil penumpang ke dolar Amerika Serikat berdasarkan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari pertama setiap bulannya pada periode tersebut.1 74.8% dari total RPK internasional Perseroan dan 14.6 66.Timur Tengah Eropa PLF (%)(3) Asia (ex.3% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional (tidak termasuk penerbangan haji).8 2.120.2% dari total RPK internasional Perseroan dan 30.696.6 71. serta penerbangan dari Jakarta–Denpasar ke Tokyo.2 67. Kuala Lumpur dan Singapura. Kuala Lumpur dan Ho Chi Minh City melalui perjanjian codeshare antara Perseroan dengan Phillippine Airlines.8 6.2 5. Timur Tengah memberikan kontribusi sekitar 29. Malaysia Airlines dan Vietnam Airlines. Korea dan Cina ) menyumbangkan sekitar 8.9 59.5 6.1 82. Nagoya.303.7 74.1% dari total RPK internasional Perseroan dan 34.2 6.0 66.2 64.1 8. 160 . Asia (tidak termasuk Jepang.6 Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 3.6 6.4 68.0 9.4 615. cents per RPK) (1) (4) Asia (ex.6 9.7 68.1 6.2 2005 2.1% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional (tidak termasuk penerbangan haji).8 6.6% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional. rute Jepang.6 7.6 9.6 63.S.4 6. yaitu sekitar 9.4 7.0 10. Perseroan juga menawarkan jasa penerbangan berpenumpang ke beberapa kota di Asia seperti Manila.9 63. Korea dan Cina Pada tahun 2009.1 5.3% dari total RPK Internasional dan 34. Jepang.2% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional. Osaka. Perseroan mengoperasikan penerbangan antara Jakarta dan Riyadh dan Jeddah.2 66. Untuk periode yang berakhir pada 30 September 2010.9 74. serta penerbangan antara Surabaya dan Hong Kong. Korea dan Cina ) merupakan pasar internasional yang paling penting bila diukur dari RPK lalu lintas penumpang dan pendapatan penumpang. Taipei dan Seoul melalui perjanjian codeshare antara Perseroan dengan China Airlines. Perseroan juga menawarkan jasa penumpang ke Guangzhou. Perseroan mengoperasikan penerbangan antara Jakarta dan Bangkok.8 10. Jepang.1 78.394.1 67. Asia (ex Jepang. (4) Dihitung sebagai pendapatan penumpang dari penerbangan terjadwal dibagi dengan RPK.2 7.2 79.7 68.7 8. Perseroan juga mengoperasikan penerbangan antara Denpasar dan Hong Kong dan Singapura. (3) Dihitung sebagai RPK dibagi oleh ASK dan dinyatakan sebagai persentase.111.6 6.3 68. Korea dan Cina memberikan kontribusi sekitar 41.8 6.3 70. Untuk periode yang berakhir pada 30 September 2010.4% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional.1 69. Asia (ex Jepang.854.3 5.4 6. Timur Tengah menyumbangkan sekitar 28.6 64. Perseroan memiliki penerbangan yang beroperasi antara Denpasar dan Shanghai.8 2008 3.1 61.9% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional.8 6.4 69.4 5.4 73.3 7.

Australia memberikan kontribusi sekitar 19. Peta Indonesia dibawah memberikan informasi mengenai rute jaringan dimana SBU Citilink beroperasi: Medan Batam Balikpapan Banjarmasin Ujung Pandang Surabaya Denpasar Jakarta Pada tanggal 30 September 2010.3% dari total RPK internasional Perseroan dan 2. Saat ini Citilink beroperasi sebagai sebuah SBU dan Perseroan berniat untuk mendapatkan Aircraft Operator Certificate (“AOC”) tersendiri untuk Anak Perusahaan dari Perseroan. SBU Citilink mengoperasikan 5 pesawat Boeing 737-300 yang terdiri dari pesawat dengan 142 atau 148 kursi penumpang kelas ekonomi. Perth dan Sydney. Pada tanggal 30 September 2010.Australia Pada tahun 2009. 161 . Kantor pusat manajemen SBU Citilink berlokasi di Surabaya terpisah secara geografis dari kantor pusat Garuda di Jakarta dan pada tanggal 30 September 2010. rute yang dilayani bersama oleh bisnis dengan FSC Garuda dan layanan LCC Citilink adalah antara Surabaya-Jakarta.1% dari total penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional.8% dari total RPK internasional dan 21. menyusul pencabutan larangan terbang dari Uni Eropa pada operator maskapai penerbangan Indonesia. Dengan kepemilikan AOC yang terpisah. SBU Citilink Strategi Perseroan secara bersamaan dalam mengembangkan baik bisnis layanan FSC Garuda Indonesia dan LCC Citilink mengharuskan Perseroan untuk mengembangkan dua budaya perusahaan yang terpisah dengan kebutuhan operasional yang berbeda serta fokus pelanggan yang berbeda. SBU Citilink mempekerjakan 45 pilot dan 64 awak kabin.3% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional. serta Jakarta-Denpasar ke Perth. Pilot dan awak kabin SBU Citilink menerima pelatihan secara berkala di fasilitas pelatihan Perseroan di Jakarta. Jakarta-Medan dan Jakarta-Denpasar. Pada tanggal 30 September 2010. Perseroan juga mengoperasikan penerbangan dari Denpasar ke Melbourne. Perseroan mengoperasikan penerbangan antara Jakarta dan Melbourne dan Sydney. dengan 170 kursi penumpang kelas ekonomi. Jaringan rute SBU Citilink saat ini berfokus pada rute yang padat dan sensitif terhadap harga. dan 1 pesawat Boeing 737-400.8% dari total RPK Internasional dan 21. dibandingkan dengan 5 awak kabin dalam komposisi awak pesawat FSC Garuda Boeing 737-300. Eropa Pada bulan Juli 2009. Australia menyumbangkan sekitar 18. Perseroan memulai kembali layanan antara Jakarta dan Amsterdam. Perseroan juga menawarkan jasa penerbangan berpenumpang ke Paris. Jakarta-Balikpapan. Eropa memberikan kontribusi sekitar 5. Perencanaan rute SBU Citilink dilakukan berkoordinasi dengan Garuda. SBU Citilink melayani 8 tujuan di Indonesia dari Surabaya dan Jakarta. nantinya Perseroan diharuskan untuk mematuhi persyaratan minimum kepemilikan armada pesawat dan persyaratan operasional untuk PT Citilink Indonesia. Untuk periode yang berakhir pada 30 September 2010. PT Citilink Indonesia. SBU Citilink mulai beroperasi kembali pada September 2008 sebagai bagian dari strategi Perseroan dalam melayani pasar penerbangan LCC di dalam negeri. Pada periode yang berakhir pada 30 September 2010. dan melakukan spin-off unit bisnis tersebut menjadi Anak Perusahaan.1% dari total layanan penumpang penerbangan berjadwal dari rute internasional. London dan Frankfurt melalui perjanjian codeshare antara Perseroan dengan Malaysian Airlines. Setiap penerbangan SBU Citilink diawaki 3 awak kabin.

cents)(1)(6) Beban per ASK (U. meskipun jadwal penerbangan dapat dirubah dengan tambahan biaya dalam waktu maksimum 24 jam sebelum penerbangan. seperti IFE dan makanan. Washington. saat ini diakuisisi oleh Mercator. Setiap pesaing utama SBU Citilink. dan dengan didasari oleh kontrak dengan Perseroan.7 588. untuk Perseroan (termasuk SBU Citilink) pada periode yang berakhir 30 September 2010. Citilink juga mengoperasikan modul manajemen pendapatan dan optimasi yang disediakan oleh AirRM.9 2. Operasi penerbangan SBU Citilink dan penjadwalan dilakukan dari kantor pusat di Surabaya. Sebagai perbandingan. business-tobusiness internet-booking engine untuk agen perjalanan. ground handling disediakan oleh Gapura. (7) Dihitung sebagai jumlah beban usaha yang berkaitan dengan penerbangan penumpang (termasuk beban direct. overhead dan beban armada) yang terefleksikan dalam pembukuan akuntasi dibagi oleh ASK. cents per RPK)(1)(5) Pendapatan per ASK (U. yang memiliki sandaran kursi lebih tinggi dari tempat duduk LCC. overhead dan beban armada) yang terefleksikan dalam pembukuan akuntasi dikurangi beban bahan bakar)dan dibagi oleh ASK. business-to-enterprise dan business-to-customer internetbooking engine untuk penjualan langsung. cents) (1)(8) Untuk sembilan bulan yang berakhir 30 Sep 2010 681. Jasa MRO disediakan oleh GMF Aeroasia.7 4. ke dolar Amerika Serikat berdasarkan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari pertama setiap bulannya pada periode tersebut. Tiket SBU Citilink adalah non-refundable. di hub dan kota tujuannya. saat ini memiliki ukuran pesawat yang lebih besar dan kapasitas kursi yang relatif lebih banyak dari SBU Citilink. tidak ada jaminan akan keberhasilan Perseroan dalam strategi tersebut.3 796.6 Untuk tahun yang berakhir 31 Des 2009 509. Perseroan masih menggunakan tempat duduk kelas ekonomi FSC.S.SBU Citilink mengoperasikan sistem informasi yang terintegrasi yang disebut “tikAero” yang disediakan oleh TIK Systems (Thailand). sedangkan penjualan dari kantor penjualan Perseroan sendiri. yaitu Lion Air. 162 . indirect. media cetak. dan informasi manajemen dan pelaporan SBU. Amerika Serikat. walaupun. (8) Dihitung sebagai (yang berkaitan dengan penerbangan penumpang (termasuk beban direct.1 63. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Biaya jasa MRO untuk SBU Citilink umumnya lebih rendah dari biaya Perseroan untuk pelayanan MRO karena tidak adanya layanan kabin standar. kantor penjualan bandara dan agen perjalanan menghasilkan sekitar 97% dari penjualan total penumpang. (3) Dihitung sebagai jumlah kursi yang tersedia dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer)untuk setiap penerbangan. indirect.S. dan radio. Batavia Air. Sementara Perseroan berencana untuk meningkatkan ukuran armada pesawat SBU Citilink dan kapasitas kursi di masa mendatang. (2) Dihitung sebagai jumlah pendapatan penumpang yang diangkut dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer)untuk setiap penerbangan.4 69. akuntansi pendapatan. dan Sriwijaya Air. termasuk papan iklan di bandara. persediaan dan sistem pemesanan.S.S. Penerbangan berpenumpang: RPK (dalam juta)(2) ASK (dalam juta)(3) Passenger load factor (%)(4) Jumlah penumpang diangkut (dalam ribu) Passenger yield (U. Saat ini jalur penjualan tiket SBU Citilink didistribusikan melalui penjualan langsung secara online dan melalui agen perjalanan. bahan bakar pesawat disediakan dari Pertamina. sistem kontrol keberangkatan. yang telah ditargetkan mencapai 30 menit untuk SBU Citilink dan bila dibandingkan dengan waktu 45 menit untuk penerbangan Perseroan. Perseroan berkeyakinan bahwa pesawat Boeing 737-300 SBU Citilink saat ini memiliki 5 kursi lebih sedikit daripada konfigurasi kursi yang digunakan oleh beberapa pesaingnya. SBU Citilink umumnya melaksanakan program promosi melaui internet.9 800. pendapatan per beban per ASK dan beban per ASK tidak termasuk bahan bakar. seperti peniadaan pantry di bagian depan.8 984. yang meliputi komponen untuk manajemen pendapatan. Selain itu. (5) Dihitung sebagai pendapatan penumpang dari penerbangan terjadwal dibagi dengan RPK. sebuah perusahaan penyedia layanan IT yang melayani Group Emirates.5 Catatan: (1) Perseroan telah menerjemahkan jumlah Rupiah hasil penumpang. SBU Citilink fokus kepada turnaround penerbangan yang lebih cepat.0 4. SBU Citilink merencanakan untuk fokus pada distribusi penjualan tiket melalui penjualan langsung secara online.8 4. SBU Citilink menerima sekitar 50% dari pemesanan melalui business-to-customer internet-booking engine untuk penjualan konsumen langsung dan sekitar 50% dari pemesanan melalui mesin-pemesanan internet business-to-bisnis untuk agen perjalanan yang membayar biaya layanan nominal.70 3. sebuah perusahaan yang berbasis di Seattle.3 3.3 2. penjualan tiket dari penjualan langsung online menghasilkan sekitar 3% dari total penjualan bersih penumpang. (6) Dihitung sebagai pendapatan dari jasa maskapai penerbangan dibagi oleh ASK. PT Jasa Angkasa Pura (“JAS”) dan penyedia lainnya berdasarkan beban yang kompetitif. penjualan katering on-board disediakan oleh PT Aero Wisata. cents) (1)(7) Beban per ASK excluding fuel (U. Sebagai konsekuensinya. GMF AeroAsia tidak menyediakan layanan konversi tertentu untuk konfigurasi kursi kelas ekonomi pesawat SBU Citilink. SBU Citilink mengembangkan sistem manajemen awak pesawat yang berbasis tikAero.2 4. (4) Dihitung sebagai RPK dibagi oleh ASK dan dinyatakan sebagai persentase.

kapasitas penanganan kargo tahunan terminal Perseroan juga diperkirakan meningkat di masa depan.9 2008 275. 4.8 30.8 224.5%.3 48.2 30.9%. Layanan Haji Perseroan melayani 164.7% dari total pendapatan usaha masing-masing di tahun 2005.4 568.5 558.5 556.4 234. 235.6 31.0 539.7%.4 199. Perseroan berencana untuk menerapkan sistem pelacakan kargo 24 jam untuk melacak pengiriman barang yang ditangani oleh terminal Jakarta.2 30.7%.7% dan 6.9 539.9 86. Layanan kargo yang ditawarkan Perseroan meliputi layanan kargo udara umum dan layanan kargo khusus untuk barang dan bahan material yang memerlukan penanganan khusus. yang umumnya menghasilkan margin yang lebih tinggi.6%.9 37.9 283.4 43.1 589.3 51.2 259.4 165.7 35. Jasa Penerbangan Penumpang Tidak Berjadwal Perseroan memberikan jasa penerbangan tidak berjadwal berpenumpang dengan tujuan domestik dan internasional ke Arab Saudi untuk para rombongan jamaah haji (layanan haji) dan layanan charter. 4. 2007. 5.7 191.1 162. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan perbaikan manajemen layanan kargo dan dengan kondisi lalu lintas kargo yang meningkat.9 105.3 44.3 589. 2008 dan 2009.0 627. walaupun sampai saat ini Perseroan belum memiliki komitmen secara kontrak.3 110.2 157.4 241.Jasa Kargo Perseroan merupakan penyedia layanan kargo udara terbesar di Indonesia berdasarkan total volume kargo.9% dan 0.1 45. Pada tahun 2009.6 86.0 43. Perseroan bermaksud untuk dapat lebih fokus dalam memberikan layanan kargo khusus.5 162.838.059 ton kargo dan menghasilkan Rp839. 5.0 42.9 376. termasuk material yang mudah rusak. Jasa penerbangan tidak berjadwal berpenumpang menyumbang masing-masing sekitar 13. atau dengan pangsa pasar sekitar 46. (4) Dihitung sebagai muatan kargo dan surat (dalam ton-kilometer) dibagi dengan kapasitas tetap (dalam ton-kilometer) per jenis pesawat per penerbangan dan dinyatakan sebagai persentase. 2007.566 dan 263.3 119.6%. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.6 191.994 jemaah haji ke Jeddah dengan perjalanan pulang pergi dari Indonesia ke Jeddah dalam rangka memberikan layanan haji tahunan bagi umat Islam masing-masing pada tahun 2005.9 477.000 meter persegi yang terletak di Bandara Internasional Soekarno Hatta yang dapat menangani sekitar 350.8 757.4 2007 234.3 397.2 42.4 815.4%.8 280.8 99.2 149. sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh AP I dan AP II.1 757. 2006.7 311.3 149.0 192.3 815.4 207. Kementerian Agama bertanggung jawab untuk mengatur 163 .0 172. Layanan haji tersebut diberikan atas permintaan Pemerintah Indonesia dengan tarif yang dinegosiasikan oleh Pemerintah berdasarkan dari beberapa faktor termasuk dengan kurs RupiahUSD. 220. Layanan kargo menyumbang masing-masing sekitar 5.4 110.0 Per 31 Desember 2009 282. 2009 dan periode yang berakhir di tanggal 30 September 2010.1 43. hewan hidup.5 2005 283. Perseroan memberikan layanan kargo sekitar 144. barang-barang berharga dan barang yang membahayakan.7 340.3 miliar untuk pendapatan dari layanan kargo. Tabel di bawah ini memberikan informasi mengenai layanan kargo yang dimiliki Perseroan dalam 5 tahun terakhir: Periode berakhir 30 September 2010 2010 2009 Pelayanan Kargo: RFTK (dalam ribu) 2 Internasional Domestik AFTK (dalam ribu) 3 Internasional Domestik Surat dan Kargo diangkut (juta kg) Load Kargo (juta ton-km) Kapasitas Bruto (juta ton-km) CLF4 Internasional Domestik Yield Kargo (ribuan rupiah per km)5 311.0 46. 2008.0 192.1 49.2 2006 241.12.3 151.2 37. tarif penyewaaan pesawat dan harga bahan bakar. 2007. Perseroan juga berencana untuk membeli atau menyewa pesawat untuk kargo yang terdedikasi mulai sejak tahun 2012. 2006. 12.1 282. 13.9 122.037.0 568.9 41.4 386.5 122.8 28.1 104. 11. (5) Dihitung sebagai pendapatan dari jasa kargo dibagi dengan RFTK. termasuk layanan surat ekspres 24 jam dan jasa transfer kargo ekspres.260. 259.1 39.8% (dimana layanan penerbangan haji akan dilaksanakan pada kuartal ke 4 di tahun 2010) dari total pendapatan usaha masing-masing di tahun 2005.9 41.0 402.6%.5 38.2 34.4% dari total RFTK di Indonesia untuk periode yang berakhir pada tanggal per 30 September 2010. 2006.000 ton kargo per tahun.3 275. Perseroan memiliki fasilitas terminal kargo utama seluas 23.9 558.6 27.0 147. 2008.1 37.0 Catatan: (1) Kami telah menerjemahkan mata uang Rupiah hasil kargo ke dolar Amerika Serikat dengan basis bulanan dengan menggunakan kurs tengah yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada hari terakhir pada bulan sebelumnya (2) Dihitung sebagai beban kargo dan surat yang diangkut (dalam ton) dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer) untuk tiap penerbangan (3) Dihitung sebagai total kapasitas kargo (dalam ton) dikalikan dengan jarak terbang (dalam kilometer).8 29.4 627.1 183. Perseroan juga menawarkan layanan surat dan servis ekspres.2 40.6 78.

1%. 13. 2007.4%. Perseroan menentukan pengaturan jadwal penerbangan charter berdasarkan permintaan dan keberadaan penerbangan. Ketika mengevaluasi rencana pengadaan dan penghentian pengoperasian pesawat. 2006. Layanan charter menyumbang masing-masing sekitar 8. Selain itu. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Perseroan menyeimbangkan antara beban konsumsi bahan bakar jet dan pemeliharaan akan pesawat udara yang sudah tua terhadap beban pembiayaan dan beban penyusutan yang mungkin timbul dari pembelian pesawat baru pengganti. kapasitas armada yang ada saat ini. struktur permodalan. Jasa layanan penerbangan haji menyumbang masing-masing sekitar 12. Perseroan mengevaluasi satu per satu penghentian pengoperasian pesawat berdasarkan beberapa faktor. 2007. 92.4%. 2008 dan 2009. Perseroan umumnya menentukan jadwal penerbangan charter dua minggu sampai satu bulan sebelum rencana jadwal penerbangan. 2008. Jasa Lain-lain Terkait dengan Penerbangan Perseroan menyediakan jasa lainnya yang berkaitan dengan penerbangan seperti groud services. dimana sekitar 91. Umumnya Perseroan membeli atau menyewa pesawat baru. tetapi Perseroan pun melayani penerbangan charter dengan pemberitahuan jadwal yang lebih singkat. 2006.9%. Dalam operasinya. Perseroan mengoperasikan 191 penerbangan charter untuk keperluan bisnis.5%. tingkat suku bunga yang berlaku dan kondisi pasar lainnya yang dapat mempengaruhi beban pembiayaan. Perseroan berkeyakinan bahwa kenaikan tersebut akan meningkatkan tingkat utilisasi pesawat. Terdapat ketergantungan Perseroan terhadap kontrak Kementerian Agama RI. biaya pembelian dan penyewaaan.0%. 2008 dan 2009. 9. layanan MRO dan jasa in-flight catering. 7. 9.4%. mengurangi biaya operasi dan meningkatkan profitabilitas Perseroan.3% dan 8. Namun. 2006. Perseroan merupakan maskapai penerbangan domestik satu-satunya yang dikontrak oleh Kementerian Agama untuk layanan haji tahunan. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. efisien. Perjanjian tersebut akan di negosiasi ulang setiap tahun. 2006. Biaya tiket pesawat yang dikenakan kepada rombongan haji. termasuk efisiensi operasi.6%. ARMADA PERSEROAN Kebijakan Pengadaan dan Penghentian Pengoperasian (Pengembalian dan/atau Penjualan) Pesawat Perseroan senantiasa berusaha untuk menyediakan armada pesawat yang rasional.2%. pemerintahan.1% dan 100. dan modern untuk melayani rute jaringan penerbangan pada pasar penerbangan dimana Perseroan beroperasi. Layanan Charter Pada tahun 2009.9% merupakan proporsi kontribusi dari layanan haji terhadap pendapatan usaha jasa penerbangan tidak berjadwal pada tahun 2005. 2008.8%. dengan demikian pendapatan tidak akan terefleksi untuk periode yang berakhir pada bulan September 2010.9%. pendidikan dan kelompok wisatawan. Saat ini. 9. 2007.1% dari total pendapatan usaha pada tahun 2005. 94. dan 13. keselamatan dan permintaan di pasar akan jenis pesawat tertentu. penerbangan charter secara berkala akan melakukan pemindahan atau transfer pesawat yang sebelumnya merupakan penerbangan berjadwal.9% dari total pendapatan usaha masing-masing di tahun 2005. Perseroan mempertimbangkan banyak faktor. Perseroan mencatat bahwa jasa lainnya terkait dengan penerbangan menyumbangkan masing-masing sekitar 12. 6. 11.2%.0% dari pendapatan layanan tidak berjadwal masing-masing pada tahun 2005. dibayar oleh Kementerian Agama kepada Perseroan sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui bersama antara Perseroan dan Kementerian. 2007. 11. dan 93. Perseroan selalu mengupayakan peningkatan pelayanan seperti on time performance dan harga yang kompetitif. 90.8%. Layanan penerbangan haji tahun 2010 dilaksanakan pada kuartal ke 4. Kementerian Agama mungkin dapat mengundang beberapa maskapai penerbangan domestik atau internasional untuk ikut serta dalam proses tender terkait bisnis ini. termasuk pengaturan perjalanan penerbangan dari dan ke dan Arab Saudi. kebutuhan pesawat terbang saat ini dan di masa depan. 10. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan tersebut.perjalanan bagi para rombongan haji. 164 .0%. 6. arus kas. 9.1%. meliputi prakiraan permintaan di industri penerbangan. 6. Dalam rangka mempertahankan kontrak layanan penerbangan haji dari Kementerian Agama RI.8%.

Jadwal Kedatangan dan Penghentian Pengoperasian (Pengembalian dan/atau Penjualan) Pesawat Pada tanggal 30 September 2010. 49.1. Pada tanggal 30 September 2010. tingkat utilisasi dan lingkungan operasi. yang memungkinkan Perseroan untuk mendapatkan pengembalian PDP dan akan menurunkan belanja modal Perseroan. Perseroan mengoperasikan 84 pesawat penumpang. 48. 2008. masa operasi yang sebenarnya pada pesawat berkisar pesawat dari 20 sampai dengan 40 tahun. 70 dan 84 pesawat terbang pada akhir Desember tahun 2005. 2006.1.7. Perseroan memiliki komitmen pembelian pesawat sebesar Rp24. 12. 2006. Penuaan pesawat biasanya membutuhkan perawatan yang lebih tinggi. 2007. 11. Umumnya Perseroan melakukan pembayaran PDP dibiayai melalui arus kas operasi Perseroan dan pembiayaan melalui hutang. yang kemudian akan dikonversi menjadi sewa operasi dengan transaksi penjualan dan penyewaan kembali (sale and lease back) dengan perusahaan leasing pesawat. Walaupun Perseroan yakin bahwa arus kas dari kegiatan usaha Perseroan akan cukup untuk mendanai PDP untuk semua sisa pengiriman Boeing 737-800 dan untuk semua Airbus A330-200. 11. 15 pesawat dalam armada Perseroan lebih dari 15 tahun dan pesawat tertua di armada Perseroan adalah berumur 19 tahun. Rata-rata usia armada Perseroan adalah 11. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.460 miliar. 54.Komposisi Armada Pada tanggal 30 September 2010.4 dan 8. 2008. perbaikan dan perbaikan jasa untuk mempertahankan operasi yang aman dan efisien. Tabel di bawah ini menjelaskan informasi tentang armada Perseroan per 30 September. tergantung pada tipe pesawat. Y = kelas ekonomi Armada 3 7 5 0 15 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 6 0 6 3 10 0 37 50 1 0 4 5 6 17 5 37 65 3 6 4 13 16 C + 94 Y 14 C + 120 Y 12 C + 84 Y 12 C + 150 Y 42 C + 386 Y 42 C + 215 Y 36 C + 186 Y 3 0 3 20 0 0 0 6 2 1 3 58 5 1 6 84 142 Y atau 148 Y 170 Y Jumlah pesawat Perseroan masing-masing sebanyak 58. 2007. Perseroan perlu merencanakan pembiayaan hutang untuk pembayaran PDP pada pengiriman 10 unit pesawat Boeing 777. Menurut standar industri. 10 pesawat Boeing 777. 10.8 tahun untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2005. jumlah tersebut termasuk estimasi kenaikan nilai kontrak untuk membeli tambahan 27 pesawat yang dikirim pada bulan Oktober 2010 sampai dengan 2016. pada persyaratan yang dapat diterima oleh pihak lain. Hutang ECA dan hutang komersil membatasi Perseroan dalam pelunasan hutang dan dengan demikian Perseroan tidak dapat menjamin bahwa Perseroan dapat menambah pembiayaan melalui hutang untuk pengiriman 26 armada pesawat (termasuk PDP). 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. dan 6 pesawat Airbus A330-200. yang terdiri dari 11 pesawat Boeing 737-800.0. 2010: Jumlah Unit Pesawat Sewa Sewa Operasi Pembiayaan Konfigurasi Kursi* (Standar) Dimiliki Penerbangan Berpenumpang Narrow-body: B737-300 B737-400 B737-500 B737-800 Sub-total Wide-body: B747-400 A330-300 A330-200 Sub-total Penerbangan Citilink Narrow-body: B737-300 B737-400 Sub-total Total *Catatan: C = kelas bisnis. 165 . catatan perawatan.

Semua pesawat tersebut telah terdaftar di Indonesia. Pada tanggal 30 September 2010. termasuk pesawat Sub-100 dan pesawat tambahan untuk SBU Citilink. dan Perseroan berencana untuk dapat memperpanjang sewa operasi untuk pesawat Airbus A330-200 pada saat jatuh tempo yang dimulai pada tahun 2013 dan mencari tambahan sewa operasi. yang membiayai hampir seluruh pembelian 6 unit pesawat A330-300. Perseroan melakukan pembayaran sewa melalui sebuah SPC (“Special Purpose Company”) sebagai pembayaran hutang kepada ECA dan hutang komersil. Perseroan memiliki 20 pesawat dan mengoperasikan 6 pesawat di bawah perjanjian sewa pembiayaan dan 58 pesawat di bawah perjanjian sewa operasi. Sewa Pembiayaan Berdasarkan perjanjian sewa beli. SPC tersebut menanggung secara subtansial segala risiko dan manfaat ekonomis dari 166 .Tabel di bawah menunjukkan perkiraan jadwal pengiriman pesawat per 30 September 2010 (termasuk jadwal pemberhentian dan pengembalian pesawat pada di akhir masa sewa operasi): Perkiraan Jadwal Akusisi 2010 (1 Oktober s/d 31 Desember) 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Tipe Pesawat B-737-800 A330-200 B-737-800 B-737-800 A330-200 B-777-300ER A330-200 B-777-300ER A330-200 B-737-800 B-777-300ER B-737-800 B-777-300ER Jumlah 5 1 9 5 1 3 2 3 3 2 3 2 1 Jumlah Tempat Duduk (Standard) 12 C + 150 Y 36 C + 186Y 12 C + 150 Y 12 C + 150 Y 36 C + 186Y 4 F + 38 C + 295 Y 36 C + 186 Y 4F + 38C + 295 Y 36 C + 186 Y 12 C + 150 Y 4F + 38C + 295 Y 12 C + 150 Y 4F + 38C + 295 Y Per tanggal 30 September 2010. untuk memperluas armada sekitar 150 pesawat pada tahun 2015. PERJANJIAN PEMBELIAN DAN SEWA ARMADA PESAWAT Armada Perseroan terdiri dari pesawat yang dibeli serta disewa berdasarkan perjanjian sewa guna usaha (sewa pembiayaan dan sewa operasi). Perseroan tidak bisa menjamin bahwa Perseroan akan dapat memperoleh pesawat tambahan melalui sewa operasi untuk meningkatkan jumlah armada. karenanya. dan memiliki hak opsi untuk membeli tambahan 4 pesawat Airbus A330-200. Namun. hutang ECA dan hutang komersial Perseroan membatasi kemampuan Perseroan untuk menanggung beban tambahan pesawat sewa dan. Perseroan juga telah memiliki letter of intent atas sewa operasi 12 pesawat Boeing 737-800 (dimana 4 pesawat telah dikirimkan antara bulan Oktober dan Desember 2010) dan 3 pesawat Airbus A330200 (dimana satu diantaranya telah dikirimkan di bulan Desember 2010) yang akan mulai beroperasi pada periode 2011. Tabel di bawah menunjukkan perkiraan jadwal penghentian operasional pesawat per 30 September 2010 (termasuk jadwal penjualan dan pengembalian pesawat pada di akhir masa sewa operasi): Perkiraan Jadwal Penghentian Pengoperasian 2010 (1 Oktober s/d 31 Desember) 2011 2012 Tipe Pesawat Jumlah B-737-400 1 B-737-300 1 B-737-400 10 B-737-300 1 B-737-400 1 B-747-400 1 B-737-300 1 B-737-400 1 B-737-800 1 B-737-300 2 B-737-800 2 B-737-800 1 B-737-800 6 A330-200 4 Jumlah Tempat Duduk (Standard) 14 C + 120 Y 16 C + 94 Y 14 C + 120 Y 148 Y 14 C + 120 Y 42 C + 386Y 148 Y 170 Y 12 C + 150 Y 16 C + 94 Y 12 C + 144 Y 12 C + 150 Y 12 C + 144 Y 36 C + 186 Y 2013 2014 2015 2016 7.

kepemilikan pesawat. Pembelian Pesawat Perseroan pada waktu ke waktu dapat membeli unit pesawat langsung kepada perusahaan manufaktur. Pembayaran sewa biasanya dibayar per setengah-tahunan. Persyaratan masa sewa beli biasanya berjangka waktu 15 tahun. Perseroan berhak untuk menggunakan pesawat dan wajib melakukan pembayaran sewa sesuai dengan perjanjian sewa yang disetujui. hal ini akan memungkinkan Perseroan mendapatkan kembali pembayaran pre-delivery yang telah dibayarkan yang akan berdampak pada penurunan beban belanja modal Perseroan. perawatan mesin penggunaan terbatas. Sewa Operasi Perjanjian sewa operasi yang dimiliki. Kontribusi dana cadangan untuk pemeliharaan dan perbaikan didasarkan pada penggunaan pesawat selama masa sewa. Pada sewa beli. 2 rute internasional baru dan 1 rute domestik baru pada tanggal 31 Desember 2008. Perseroan diberikan opsi untuk mengakhiri perjanjian sewa di awal secara sukarela. termasuk pada kondisi dimana terjadi kegagalan pelunasan (default) seperti kegagalan pembayaran sewa. apabila Perseroan dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan. asalkan tidak terjadi default. Pihak yang menyewakan menanggung risiko dan manfaat ekonomis dari kepemilikan pesawat. kegagalan untuk mempertahankan pertanggungan asuransi pesawat dan kebangkrutan. lessor Perseroan tidak pernah menghentikan sewa diawal atau apapun yang membutuhkan Perseroan untuk mengembalikan pesawat apapun sebagai akibat dari default. dan 4 rute domestik baru pada tanggal 31 Desember 2007. Umumnya lender menyediakan SPV dengan pembiayaan suku bunga mengambang (floating). meningkatkan frekuensi penerbangan. Perseroan melayani 2 rute internasional baru (termasuk rute baru internasional jarak jauh) dan 5 rute domestik baru. yang tergantung diantaranya. harga akuisisi bergantung kepada penyesuaian eskalasi. lessor berhak untuk mengakhiri sewa lebih awal dan membutuhkan Perseroan untuk dapat menyerahkan pesawat apabila terjadi default. pihak yang menyewakan kepada Perseroan tidak pernah menghentikan perjanjian sewa guna usaha di awal periode yang ada atau mengharuskan Perseroan untuk mengembalikan pesawat terbang sebagai akibat dari pelanggaran atau kegagalan pelunasan. pada inflasi dan kenaikan indeks gaji seperti yang telah ditentukan berdasarkan formula yang telah disetujui sebelumnya pada perjanjian pembelian tersebut. Umumnya. demikian pula mencari peluang untuk meningkatkan frekuensi penerbangan Perseroan pada rute penerbangan domestik di Indonesia. dan 7 rute internasional baru dan 8 rute domestik baru pada tanggal 31 Desember 2009. Pada sewa operasi. Pada perjanjian pembelian pesawat. meningkatkan jumlah rute dilayani. Perjanjian sewa operasi yang dimiliki Perseroan mengharuskan Perseroan untuk memelihara dan memberikan kontribusi dana cadangan untuk pemeliharaan dan perbaikan selama jangka waktu sewa. dan pemeliharaan unit daya tambahan (auxiliary power unit). Perseroan juga bermaksud untuk memanfaatkan bisnis 167 . 8. lessor mungkin boleh atau tidak boleh menyimpan sisa dana dalam pemeliharaan dan dana perbaikan pada saat berakhirnya sewa. dan menghilangkan rute yang tidak menguntungkan setelah melalui proses identifikasi. Tergantung pada perjanjian sewa operasi tertentu. Sampai saat ini. termasuk risiko nilai residual pesawat pada akhir masa sewa. pembayaran di awal atas pembelian tersebut awalnya didanai melalui arus kas dari kegiatan operasi dan pendanaan lewat penerbitan hutang. perawatan pemulihan kinerja mesin. KEGIATAN OPERASIONAL Perencanaan Rute Penerbangan Strategi pertumbuhan Perseroan meliputi pengidentifikasian rute yang memiliki peluang usaha yang belum mendapatkan pelayanan yang cukup oleh maskapai penerbangan lainnya. Untuk saat ini. Dalam sewa operasi Perseroan tertentu. Perseroan dituntut untuk mengembalikan pesawat dalam kondisi yang telah disepakati pada akhir masa sewa. Pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Perseroan umumnya memiliki termin berkisar dari 7 sampai 12 tahun sejak pengiriman pesawat. dan termasuk cadangan untuk pemeliharaan struktur badan pesawat. Pada kondisi tertentu lessor memiliki hak untuk mengakhiri perjanjian diawal masa sewa dan Perseroan dituntut untuk menyerahkan pesawat. pemeliharaan landing gear. Perseroan dapat membeli pesawat pada akhir masa sewa dan mendapatkan hak kepemilikan atas pesawat apabila semua pembayaran sewa yang terhutang telah dilakukan. Pada perjanjian sewa guna usaha tertentu. yang kemudian akan di konversi menjadi perjanjian sewa operasi melalui transaksi sale & leaseback dengan perusahaan leasing pesawat. Persyaratan sewa beli bervariasi tergantung pada struktur pembiayaan dan perjanjian komersial yang disetujui oleh pihak yang bersangkutan. kegagalan untuk memberikan kontribusi untuk pemeliharaan dan perbaikan dana untuk mempertahankan jumlah pertanggungan asuransi untuk pesawat atau kebangkrutan. Perseroan dituntut untuk menjaga pesawat dengan standar yang telah disepakati selama jangka waktu sewa dan berhak untuk dana penggantian oleh lessor dari dana pemeliharaan dan perbaikan cadangan pada saat presentasi dokumentasi penyelesaian pekerjaan pemeliharaan yang diperlukan. Perseroan senantiasa meninjau dan berusaha mengoptimalkan jaringan rute yang dimiliki dengan mengidentifikasi peluang untuk menawarkan penerbangan internasional langsung dari dan ke Indonesia pada rute yang banyak dilayani melalui lokasi penghubung negara ketiga. seperti kegagalan pembayaran sewa.

proyeksi dan analisis pasar serta persaingan usaha. PT Gapura Angkasa menyediakan ground service untuk penerbangan domestik Perseroan dan penerbangan lain berbasis kontrak. Untuk bandara di luar negeri. meliputi kemampuan Perseroan untuk mendapatkan data pasar yang akurat untuk kebutuhan evaluasi.8 % disebabkan oleh faktor-faktor di luar kontrol perusahaan (seperti kemacetan bandara. boarding. kondisi cuaca dan status peralatan pesawat. dan perencanaan jaringan rute. Perseroan bermaksud untuk menggunakan layanan bisnis LCC Citilink menjadi price taker untuk mencegah penurunan harga FSC Garuda Indonesia akibat persaingan dengan LCC lain pada rute yang sama.LCC Citilink untuk memanfaatkan kesempatan melayani penumpang budget travellers pada rute domestik dan regional dengan yield rendah dan jumlah pasar yang besar untuk melindungi keuntungan dari bisnis FSC. memberikan pelayanan flight dispatches.5% dimana 8. Berdasarkan rute yang direncanakan. Perseroan juga bermaksud untuk menggunakan bisnis LCC Citilink untuk membuka rute internasional baru dengan yield rendah dan jumlah pasar yang besar yang tidak menguntungkan jika dilayani oleh bisnis FSC Garuda Indonesia. keterbatasan fasilitas bandara. OCC dapat menyesuaikan jadwal penerbangan. penanganan bagasi.2 % dari penerbangan yang penjadwalannya tidak menentu tersebut disebabkan oleh faktor-faktor yang masih dalam kendali perusahaan (seperti penjadwalan penerbangan. Ground services meliputi layanan check-in. Operasional Penerbangan Operation Control Center (“OCC”) Perseroan yang terletak di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat kota Jakarta bertugas mengawasi dan mengendalikan aktivitas penerbangan sesuai dengan jadwal operasional penerbangan Perseroan. Menurut laporan internal Perseroan tahun 2009. layanan lounge kelas premium. Penjadwalan Penerbangan Unit Network Management Perseroan berwenang merumuskan jadwal penerbangan untuk berbagai rute perjalanan yang dimiliki berdasarkan permintaan pasar. Pengembangan dan optimalisasi rute yang menguntungkan serta tingkat frekuensi penerbangan bergantung pada beberapa faktor. Perseroan juga menyesuaikan frekuensi penerbangan dan jenis pesawat yang digunakan pada rute penerbangan berjadwal untuk mengantisipasi permintaan yang sifatnya musiman. Perseroan dengan seksama melakukan evaluasi dan merencanakan jaringan rute dan jadwal penerbangan. OCC Perseroan memonitor penerbangan melalui media komunikasi radio dan Air Communication and Reporting System (“ACARS”). insiden bersifat mekanik dan layanan penumpang) dan 8. layanan kebersihan kabin dan layanan transit. Perseroan meminta persetujuan DJPU untuk rute tambahan yang diinginkan atau memodifikasi frekuensi penerbangan pada rute tertentu dalam rangka memperbaiki jaringan rute yang dimiliki. Untuk memaksimalkan tingkat utilisasi armada pesawat dan meningkatkan daya saing Perseroan. seperti strategi bisnis Perseroan. cuaca buruk dan perintah pembatalan penerbangan). membatalkan penerbangan. menggabungkan dan jika perlu. Perseroan juga mengevaluasi tingkat profitabilitas setiap rute dan menyesuaikan jadwal dan frekuensi penerbangan untuk memaksimalkan profitabilitas. Dari waktu ke waktu. dan mengkoordinasi layanan di darat yang diperlukan. Perseroan berharap untuk dapat mengimplementasikan komunikasi Air-To-Ground Datalink (“AGDL”) di masa depan. kontrol lalu lintas udara. perusahaan asosiasi Perseroan. Sesuai dengan ketentuan IATA. Perseroan memiliki beberapa sistem informasi manajemen seperti sistem netline plan dan netline sched untuk meningkatkan kualitas analisis pasar. jasa bongkar muat. rata-rata ketepatan waktu keberangkatan adalah 82. Unit Network Management Perseroan bertugas untuk mempersiapkan dan memberikan informasi terkini secara berkala mengenai rencana rute perjalanan pada setiap periode 1 dan 5 tahun berdasarkan beberapa faktor. Ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangan adalah sangat penting untuk kepuasan pelanggan. reputasi brand Garuda Indonesia dan untuk pengendalian biaya. ketersediaan pesawat dan kemampuan Perseroan untuk memperoleh hak mendarat di bandara-bandara tujuan. OCC mengumpulkan dan menganalisis informasi yang berkaitan dengan proyeksi payload. 168 . Perseroan bekerjasama dengan pihak yang berwenang dalam mendapatkan hak-hak atas rute tambahan yang diatur oleh peraturan bilateral layanan udara baik yang lama maupun yang baru dan dapat membantu Pemerintah dalam negosiasi dengan pemerintah negara lain mengenai perjanjian terkait. ramp service. Ground Services Di bandara domestik. Apabila terjadi ketidakpastian. Perseroan menggunakan ground service dari pihak ketiga atau dari perusahaan penerbangan utama yang berbasis di bandara tersebut yang memberikan ground service yang biayanya sudah ditetapkan berdasarkan kontrak. Perseroan menerbitkan jadwal penerbangan musim panas dan musim dingin setiap tahunnya.

yang diterbitkan oleh ARAMCO atau Rotterdam. sedangkan Pertamina secara historis memberikan Perseroan diskon persentase terhadap harga posting produksi dalam negeri.Bahan Bakar Pesawat Pada tahun 2005.1%. Perjanjian pasokan bahan bakar internasional mewajibkan adanya pembayaran di muka atau adanya letter of credit terhadap pengiriman bahan bakar. bila dibandingkan dengan kesepakatan bahan bakar sebelumnya dengan Pertamina. 2009 dan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. sedangkan perjanjian pasokan domestik dengan Pertamina saat ini mengijinkan Perseroan untuk melakukan pembayaran dalam dua minggu setelah pengiriman bahan bakar. Dengan demikian. Di samping itu. termasuk bagi armada Perseroan. Kenaikan agregat harga tiket perjalanan udara (tiket pesawat yang terdiri dari. biaya bahan bakar pesawat masing-masing sebesar 30. bergantung pada volatilitas harga dan fluktuasi pasokan dan permintaan. Untuk penerbangan internasional kembali ke Indonesia. walaupun jumlah fuel surcharge yang dapat diterapkan diatur oleh Pemerintah dan sejak Juni 2010 kemampuan Perseroan untuk meneruskan beban tambahan tersebut kepada pelanggan telah jauh berkurang. 34. Harga bahan bakar domestik ditetapkan dengan mengacu pada (dan umumnya termasuk diskon dari) harga posting produksi dalam negeri Pertamina. 34. Selama ini Perseroan membebankan sebagian dari beban bahan bakar kepada pelanggan dalam bentuk beban tambahan bahan bakar (fuel surcharge). Perseroan semakin mengandalkan proteksi terhadap bahan bakar agar Perseroan dapat mengkontrol eksposurnya terhadap perubahan harga bahan bakar. Mean of Platts Arab Gulf (MOPAG). kecuali untuk transaksi derivatif tertentu yang terkait dengan bahan bakar pesawat untuk keperluan layanan haji. Perseroan memiliki beberapa pemasok utama bahan bakar pesawat seperti air BP dan Shell Malaysia Trading. 2006. yang bersifat tahunan dan berlaku sebaliknya dengan ketentuan yang lazim digunakan dalam industri penerbangan. 2008.3%. Selain itu. Perseroan berkeyakinan bahwa. Teluk Arab. yaitu anak perusahaan dari PT Aero Wisata. Jasa In-flight Catering PT Angkasa Citra Sarana (“ACS”).4%. Perjanjian pasokan bahan bakar domestik ditinjau secara periodik dan pembayaran dilakukan dalam Rupiah untuk harga yang ditetapkan dalam dolar Amerika Serikat. perjanjian baru tersebut akan menghasilkan diskon yang lebih rendah (dan harga bahan bakar yang lebih tinggi) sejalan dengan kenaikan harga posting produksi dalam negeri. 2007. Perseroan masuk ke dalam perjanjian pasokan bahan bakar selama lima tahun dengan Pertamina dan perjanjian pasokan bahan bakar selama 1 sampai 2 tahun dengan beberapa pemasok internasional. Di masa lalu Perseroan pernah mengalami ketidakmampuan dalam pelunasan sejumlah pembiayaan bahan bakar kepada Pertamina. Karena Perseroan memiliki keterbatasan kemampuan untuk dapat terus menerapkan beban tambahan bahan bakar pesawat di luar ketetapan tarif kelas ekonomi yang ditentukan. 29.2%. Namun demikian. Sampai dengan saat ini hampir seluruh dari pasokan bakar di Indonesia berasal dari Pertamina. dan 31. Perseroan mendapatkan pengadaan sekitar 70% bahan bakar sesuai dengan perjanjian yang dibuat dengan Pertamina. Dengan demikian. pajak terkait. Hal ini mengkondisikan Perseroan untuk tetap bergantung kepada Pertamina. Harga bahan bakar internasional umumnya ditetapkan dengan mengacu pada harga dasar rata-rata minyak yang dipublikasikan oleh Platts melalui Singapura berdasarkan Mean of Platts Singapore (MOPS). menyediakan jasa in-flight catering untuk penerbangan yang berasal dari Jakarta dan Denpasar serta penerbangan lain dari bandara domestik.2%. Perseroan membeli bahan bakar pesawat dari pemasok internasional yang memberlakukan harga pasar internasional. perjanjian baru akan pasokan bahan bakar Perseroan dengan Pertamina menggabungkan diskon tetap untuk harga posting produksi dalam negeri Pertamina. Harga bahan bakar pesawat selama ini dan akan selalu. Perseroan pada umumnya memiliki kontrak jasa in-flight catering dengan perusahaan penerbangan lokal atau perusahaan katering lokal. beban bahan bakar pesawat tertimbang per barel yang tinggi dapat berpengaruh buruk terhadap profitabilitas dan pendapatan usaha Perseroan. baru-baru ini Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan bahwa praktik tersebut bersifat anti-persaingan. bahan bakar dan beban tambahan lainnya) yang disebabkan oleh kenaikan yang signifikan pada harga bahan bakar jet dapat menurunkan permintaan atas layanan yang diberikan Perseroan. 169 . termasuk semua bahan bakar yang diperlukan untuk penerbangan di rute domestik. Perseroan tidak melakukan transaksi lindung nilai (hedging) terhadap harga bahan bakar pesawat. Perjanjian pasokan bahan bakar baik untuk internasional diperpanjang secara periodik dan pembayarannya menggunakan dolar Amerika Serikat dan mata uang lokal. 41.8% dari total beban operasional. dimana jumlah tersebut telah dikonversikan menjadi hutang subordinasi jangka panjang pada restrukturisasi hutang yang terkini. Perseroan telah melakukan beberapa upaya diantaranya adalah dengan melakukan negosiasi secara maksimal untuk memperoleh harga terbaik. Untuk penerbangan yang berasal dari bandara internasional luar negeri. Perjanjian pasokan bahan bakar domestik ditinjau secara periodik dan pembayaran dilakukan dalam Rupiah untuk harga yang ditetapkan dalam dolar Amerika Serikat. Saudi Arabia dan Belanda.

PT Aero Systems Indonesia. termasuk penyewaan peralatan komputer dan penyediaan dukungan teknis untuk biro perjalanan yang Perseroan gunakan pada layanan bisnis FSC Garuda Indonesia untuk meningkatkan utilisasi dari sistem reservasi yang terkomputerisasi. Garuda Orient Holidays Pty.. data pencatatan dan data tren musiman digunakan untuk memproyeksikan 170 . dalam rangka mengkonsolidasikan dan mengintegrasikan pengoperasian teknisi pemeliharaan pesawat Perseroan.. PT Senggigi Pratama Internasional dan PT Bina Inti Dinamika. perkiraan dan optimalisasi. Pemeliharaan dan Perbaikan Pesawat Perawatan pesawat. PT Mirtasari Hotel Development. termasuk pelayanan konsultasi dan perawatan kepada maskapai penerbangan dan industri lainnya. dan Garuda Orient Holidays Korea Co. Jasa Transportasi Anak perusahaan PT Aero Jasa Perkasa. Perseroan menentukan jumlah kursi yang ditawarkan di setiap tarif melalui proses analisis yang kompetitif. Jadwal dan siklus jasa MRO untuk armada yang dimiliki Perseroan bervariasi tergantung pada faktor-faktor tertentu. PT Aero Wisata. 9. PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi. memiliki dan mengoperasikan lima hotel dan mengelola dan mengoperasikan beberapa hotel lainnya Layanan Biro Perjalanan Anak Perusahaan. Perseroan telah menerapkan sistem manajemen pendapatan untuk memaksimalkan pendapatan berdasarkan penerbangan. sebagai salah satu proses yang paling penting dalam manajemen pendapatan. PT Aero Wisata. juga dikenal dengan sebutan MRO. Layanan Teknologi Informatika Anak Perusahaan.Pendapatan dari usaha katering Perseroan meliputi pendapatan yang diperoleh oleh ACS sebagai penyedia jasa inflight catering kepada maskapai pihak ketiga yang beroperasi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Umumnya. perbaikan dan overhaul. PT Abacus Distribution Systems Indonesia menyediakan sistem dan solusi reservasi yang terkomputerisasi. Garuda Orient Holidays Japan Co. pasar dan di seluruh kegiatan operasional Perseroan. menyediakan jasa transportasi untuk awak pesawat dan grup wisatawan. MANAJEMEN PENDAPATAN Dalam menjalankan kegiatan usahanya. GMF Aeroasia telah mendapatkan lisensi dari DJPU. Perseroan berusaha untuk memaksimalkan jumlah kursi terisi dan pendapatan di tiap kelas penerbangan. Perseroan memiliki berbagai struktur harga untuk memenuhi permintaan yang bervariasi di setiap segmen pasar. Ltd. Layanan Jasa Hotel Anak Perusahaan. GMF Aeroasia menggunakan fasilitas yang disewa dari Perseroan. Pada tahun 2002. GMF Aeroasia didirikan sebagai Anak Perusahaan. Otoritas United States Federal Aviation Administration (FAA) dan European Aviation Safety Agency (EASA). Jasa pelayanan yang paling banyak diberikan oleh GMF Aeroasia untuk pesawat milik Perseroan adalah jasa pemeliharaan kerangka pesawat. Ltd. sangat penting untuk keselamatan dan kenyamanan penumpang. Korea. Seperti yang diterapkan oleh maskapai penerbangan lainnya. Kabin pesawat yang dimiliki Perseroan dibagi menjadi dua kelas kabin yaitu kelas eksekutif dan ekonomi. Pemeliharaan mesin pesawat diberikan oleh GMF Aeroasia untuk pesawat Boeing 737-300/400/500 dengan program Power by The Hour (PBTH) dan oleh pihak ketiga termasuk Rolls Royce dengan Program Total Care pada Airbus A330 dan EGAT di bawah program Maintenance Cost Per Hour untuk pesawat pesawat Boeing 747-400. termasuk umur dan jenis pesawat dan spesifikasi pabrikan. Melalui sistem manajemen pendapatan yang selama ini digunakan oleh bisnis FSC Garuda Indonesia. Ltd. Dalam penyediaan jasa MRO kepada Perseroan di Indonesia dan juga kepada maskapai penerbangan pihak ketiga. bisnis Perseroan dipengaruhi oleh jumlah penumpang yang terbang dan tarif yang dikenakan. PT Aero Jasa Perkasa. Jepang dan Australia serta berperan sebagai general sales agent untuk maskapai penerbangan lain. penggunaan yang efisien dan pemeliharaan pesawat serta optimalisasi pemanfaatan armada yang dimiliki Perseroan. melayani sistem teknisi teknologi informasi. Manajemen pendapatan adalah serangkaian proses bisnis yang terintegrasi yang digunakan untuk menghitung harga yang optimal dan menentukan persediaan kursi untuk penumpang yang sensitif terhadap harga tiket untuk dapat memaksimalkan pendapatan yang dapat dihasilkan oleh penjualan tiket yang berdasarkan pada perkiraan perilaku permintaan untuk setiap pasar. mempromosikan paket liburan dan mengoperasikan usaha agen perjalanan yang masing-masing terletak di Indonesia.

Perseroan berkeyakinan bahwa dengan menyediakan layanan penerbangan charter kepada para pemimpin dan delegasi pemerintahan akan meningkatkan prestise dan reputasi Perseroan. Perseroan menggunakan REMBRANDT. Pendapatan Perseroan dari jasa penumpang internasional dan domestik dan menghasilkan penumpang secara historis berkorelasi dengan kemampuan Perseroan untuk mengelola harga dan mengoptimalkan load factor serta (fuel surcharges) bahan bakar yang mencerminkan fluktuasi harga bahan bakar pesawat. Perseroan memiliki sekitar 435. Perseroan saat ini dalam proses melakukan upgrade terhadap perangkat lunak manajemen pendapatan yang dimiliki demi meningkatkan persediaan kursi pesawat yang ada dan fleksibilitas harga berdasarkan lokasi asal dan lebih baik dalam memperkirakan permintaan pasar. media cetak. business-tobusiness internet-booking engine untuk agen perjalanan. PENJUALAN DAN RESERVASI Jasa Penumpang Pemasaran Strategi pemasaran Perseroan adalah meningkatkan reputasi brand untuk dapat memperluas pangsa pasar penerbangan berpenumpang yang sedang berkembang di Indonesia dan meningkatkan pengenalan konsumen internasional terhadap reputasi brand Garuda Indonesia (brand awareness). adalah program frequent flyer yang pertama kali dibentuk oleh maskapai penerbangan di Indonesia. Perseroan mengharapkan upgrade tersebut dapat selesai dilakukan dalam 12 sampai 18 bulan kedepan. dan oleh karena itu. persediaan dan sistem pemesanan. dibentuk pada tahun 1999. “Garuda Indonesia” adalah brand yang diakui secara luas di Indonesia dan di luar negeri. dan informasi manajemen dan pelaporan. SBU Citilink mengembangkan sistem manajemen awak pesawat yang berbasis tikAero. Perseroan menggunakan perkiraan data di masa lalu. PEMASARAN. majalah. dikombinasikan dengan pemesanan yang ada saat ini. Washington. acara-acara mendatang. akuntansi pendapatan. Per 30 September 2010. dalam menentukan struktur tarif untuk memaksimalkan pendapatan.8% dari total penumpang pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Perseroan juga terlibat dalam berbagai kegiatan promosi. DJPU telah meningkatkan batasan tarif penumpang kelas ekonomi untuk domestik dan tidak lagi mengizinkan Perseroan untuk menerapkan beban tambahan bahan bakar di atas tarif tetap domestik kelas ekonomi yang ditetapkan oleh DJPU. sebuah perusahaan penyedia layanan IT yang melayani Group Emirates. Sejak April 2010. Sebagai akibat adanya keputusan baru. Apabila dibandingkan dengan beberapa pesaingnya di industri. Selain itu. Amerika Serikat. Perseroan banyak mempromosikan bisnisnya terutama melalui iklan-iklan di internet. saat ini diakuisisi oleh Mercator. sebuah perusahaan yang berbasis di Seattle. SBU Citilink mengoperasikan sistem informasi yang terintegrasi yang disebut “tikAero” yang disediakan oleh TIK Systems (Thailand). 10. tekanan persaingan dan faktor lainnya. seperti memberikan sponsor untuk acara besar budaya dan olahraga dan bertugas sebagai Perseroan penerbangan yang ditunjuk khusus sebagai delegasi budaya dan olah raga di Indonesia. iklan televisi dan radio. sebuah perangkat lunak sistem manajemen pendapatan yang digunakan oleh beberapa perusahaan penerbangan lainnya. Perseroan berkeyakinan bahwa program GFF dapat meningkatkan loyalitas khususnya dikalangan business traveller dengan memberikan penghargaan berupa mileages pada setiap penerbangannya ataupun diperoleh dari hasil kerjasama Perseroan dengan penyedia 171 . Perseroan telah menerapkan sistem tersebut pada semua rute domestik dan internasionalnya sejak tahun 2006. Perseroan saat ini dalam proses pemutakhiran sistem manajemen pendapatan termasuk sistem pelayanan penumpang untuk meningkatkan jalur penjualan langsung Perseroan kepada pelanggan. sistem kontrol keberangkatan. Perseroan berkeyakinan bahwa sebagai flag carrier. yang memungkinkan Perseroan untuk memaksimalkan pendapatan dari kapasitas yang ada. Perseroan berkeyakinan bahwa saat ini manajemen pendapatan Perseroan memiliki kemampuan yang relatif terbatas. papan reklame. SBU Citilink juga mengoperasikan modul manajemen pendapatan dan optimasi yang disediakan oleh AirRM. Program Garuda Frequent Flyer (“GFF”).kebutuhan yang harus diantisipasi.000 anggota yang terdaftar dalam program GFF tersebut dengan persentase sebesar 28. Sistem tersebut menggunakan model prakiraan dan optimalisasi secara cepat yang dapat menganalisa pertimbangan ekonomis yang diperlukan untuk menentukan jumlah kursi yang akan ditawarkan pada setiap tarif. yang meliputi komponen untuk manajemen pendapatan. Tarif tetap kelas ekonomi tersebut saat ini hanya dapat disesuaikan apabila harga fuel atau kurs Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melebihi batas tertentu yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk jangka waktu yang ditentukan. Perseroan telah menggeser fokus manajemen pendapatan khususnya untuk penerbangan domestik untuk alokasi persediaan kursi di kelas tarif yang berbeda. business-to-enterprise dan business-to-customer internetbooking engine untuk penjualan langsung.

dengan memberikan fasilitas pembayaran secara langsung. keselamatan dan keamanan. lounge IT. hotel dan penyedia layanan telekomunikasi. Perseroan dianugerahi sebagai pemenang penghargaan Skytrax 2010 sebagai “World’s Most Improved Airline”. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.967 agen IATA dan 140 sub-agen) dan telah menunjuk 8 (delapan) agen penjual biasa (General Sales Agent) yang tersebar di 8 (delapan) negara. diskon atau up grade pada penerbangan Perseroan atau ditukar dengan barang tertentu pada In Flight Sales pada saat penerbangan. seperti apakah penjualan untuk penerbangan domestik atau internasional dan struktur tarif dari rute tertentu. Kanada. Jasa Kargo Udara SBU kargo Perseroan bertanggung jawab atas penjualan dan kegiatan pemasaran yang berkaitan dengan layanan kargo udara. SABRE dan GALILEO di Amerika Serikat. Perseroan memiliki jaringan agen perjalanan sekitar 2. Sistem komputer untuk reservasi yang digunakan oleh Perseroan adalah ARGA. Perseroan berkeyakinan bahwa menjadi anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan dapat memperkuat citra Perseroan di industri penerbangan. Perseroan akan mendapatkan keuntungan dari luasnya jaringan yang dicakup oleh anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan. termasuk Amerika Serikat. Perseroan juga melakukan penjualan langsung kepada pelanggan korporat dan pemerintahan. Medan dan Makassar. Sistem reservasi tersebut memberikan informasi secara real-time untuk memudahkan pengelolaan reservasi penerbangan dan merupakan cara yang efektif untuk memperluas jaringan penjualan Perseroan. dan telah memiliki perjanjian jangka panjang akan layanan maskapai penerbangan pilihan dengan pelanggan tersebut. jalur utama penjualan dan pemasaran adalah melalui agen kargo independen. Agen-agen tersebut melacak ketersediaan ruang 172 . Dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Dalam mendukung penjualan internasional. Amerika dan Afrika. Tokyo. Denpasar. Surabaya. pembelian dan sinergi. Sebagai bagian dari tahap awal. program frequent flyer. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Perseroan berkeyakinan bahwa dengan berpartisipasi pada aliansi global maskapai penerbangan. membuktikan peningkatan kualitas layanan produk dan jasa. Struktur komisi agen penjualan bervariasi tergantung pada beberapa faktor. Penjualan dan Distribusi Perseroan memiliki jaringan kantor cabang sebanyak 32 kantor domestik dan 17 kantor internasional dan regional. Meskipun Perseroan menawarkan layanan penjualan langsung kepada para pelanggan. dan pada Mei 2010.988 agen (663 agen IATA dan 2. dan penjualan. Untuk menjadi anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan. termasuk audit atas kepatuhan dan organisasi. termasuk Eropa. Perseroan memiliki 2. Per 30 September 2010. Sydney dan Perth. reservasi dan distribusi. Layanan pemesanan dan pembelian tiket pesawat online untuk rute domestik telah diluncurkan pada awal tahun 2009 dan untuk rute internasional telah diluncurkan pada akhir Mei 2010. penjualan tiket online melalui call center dan website menghasilkan sekitar 2% dari total penjualan bersih untuk penumpang. Perseroan diberikan penghargaan bintang empat dari Skytrax. Sebagian besar kantor wilayah penjualan beroperasi di kota-kota besar di Indonesia. Pada Desember 2009. sekitar 23% dari total penjualan bersih untuk penumpang berasal dari kantor penjualan Perseroan . Perseroan saat ini tengah berupaya keras menjadi anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan dalam rangka memperluas jaringan internasional dan meningkatkan pangsa pasar Perseroan untuk perjalanan udara internasional. Perseroan telah menandatangani surat kesepahaman dengan semua anggota salah satu aliansi global maskapai penerbangan pada tanggal 23 Nopember 2010.107 agen perjalanan internasional (1.program lainnya seperti penerbit kartu kredit. dimana karyawannya adalah personel Perseroan. dan AMADEUS di Eropa. antara lain di Jakarta. seluruh kantor penjualan Perseroan yang terletak di Indonesia tersambung ke sistem komputer untuk reservasi. Perseroan juga melakukan penjualan langsung melalui call center atau website. seperti Abacus di Asia Tenggara. Mileages yang dikumpulkan dapat ditukar menjadi tiket perjalanan gratis. pelayanan pelanggan di bandara. Perseroan juga bekerjasama dengan beberapa operator sistem reservasi internasional. penjualan tiket dari agen perjalanan (tidak termasuk penjualan pelanggan korporat) telah menghasilkan sekitar 69% dari total penjualan bersih untuk penumpang. Perseroan juga memiliki kantor penjualan internasional di kota-kota besar di luar negeri. Serupa dengan maskapai penerbangan Indonesia lainnya. dengan memanfaatkan kedekatan geografis Perseroan terhadap pelanggan korporat dan kantor administrasi pemerintahan yang berbasis di Jakarta.325 sub-agen) di Indonesia. dan Perseroan berencana untuk menjadi anggota penuh dari salah satu aliansi global maskapai penerbangan pada bulan Juni 2012. Jeddah. India dan New Zealand. Perseroan harus memenuhi persyaratan keanggotaan dan melewati tahap pemeriksaan audit. antara lain Singapura.

inventori.kargo yang ada di antara semua perusahaan penerbangan dan bertindak sebagai perantara antara pelanggan dan penyedia layanan kargo. China Southern Airlines. Perseroan memiliki sekitar 223 penerbangan pulang pergi berjadwal yang dioperasikan oleh mitra code-sharing Perseroan setiap minggu. sistem yang yang dirancang untuk membantu Perseroan dalam mengembangkan dan mengelola rute jaringan dan jadwal penerbangan yang bertujuan untuk mengurangi beban operasional dan memaksimalkan pendapatan. yang tidak menguntungkan yang disebabkan oleh volume penumpang yang rendah. dengan jaringan penjualan yang luas di luar negeri untuk melayani kebutuhan perusahaan. dan Agen-agen lokal (baik Indonesia dan luar negeri) yang biasanya memiliki pangsa pasar besar di pasar lokal mereka dan memiliki pengetahuan yang cukup terkait dengan ketentuan pemerintah dan prosedur kepabeanan setempat. c. inventarisasi kargo dan manajemen keuangan dari pendapatan kargo. Turkish Airlines. China Airlines. Perseroan telah berhasil membentuk kemitraan code-sharing dengan berbagai perusahaan penerbangan internasional termasuk Singapore Airlines.multinasional dan perusahaan yang bergerak di bidang ekspor dan impor. 11. Korean Air. meningkatkan pendapatan. EVA Air dan China Airlines. Per 30 September 2010. Vietnam Airlines dan KLM Royal Dutch Airlines. sistem yang menyediakan fasilitas bagi penumpang untuk melakukan check-in penerbangan melalui mesin secara sendiri. Pesaing utama Perseroan untuk layanan kargo domesik adalah Lion Air dan di pasar kargo internasional adalah Singapore Airline. Malaysian Airlines. persediaan kursi penumpang (seat inventory). sistem yang menyediakan fasilitas untuk melakukan reservasi layanan kargo. tiket. dan Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan adalah salah satu maskapai penerbangan yang memiliki program kemitraan code-sharing yang paling ekstensif diantara perusahaan penerbangan Indonesia lainnya. Philippine Airlines. Umumnya Perseroan menandatangani perjanjian code-share untuk melayani pasar yang dianggap penting ditinjau dari jaringan rute internasional yang saat ini dioperasikan oleh Perseroan. • • • • 173 . penumpang. Transportasi global dan perusahaan logistik. PERJANJIAN CODE-SHARING Perjanjian code-sharing adalah perjanjian pemasaran dimana perusahaan penerbangan yang tidak beroperasi menjual kursi dan/atau ruang pada penerbangan yang dioperasikan oleh mitra code-share lainnya sebagai produk sendiri dengan menggunakan dua-huruf kode penerbangan sebagai penanda. Umumnya Perseroan membayar agen seperti komisi berdasarkan persentase dari tarif angkutan barang. block seat atau penukaran kursi (seat swap). SISTEM INFORMASI MANAJEMEN Perseroan berkeyakinan bahwa sistem informasi manajemen memiliki andil yang sangat penting dalam bisnis Perseroan. Korean Air. pencarian/ sistem kontrol untuk mengelola penerbangan. Code-sharing umumnya membolehkan penjualan kursi yang tidak dibatasi (free-sale).domestik dengan jaringan penjualan domestik yang luas. dan meningkatkan citra Perseroan di pasar internasional. dan Perseroan mengoperasikan sekitar 55 penerbangan pulang pergi berjadwal code-sharing setiap minggunya. Solusi kargo integrasi. Perusahaan. b. Kios / pelayanan sendiri (self service). Perseroan berkeyakinan bahwa perjanjian code-sharing tersebut adalah cara yang efektif untuk memperluas cakupan layanan penerbangan. Sistem internet booking engine atau sistem pemesanan melalui internet dan sistem pembayaran online. Silk Air. serta menyediakan untuk distribusi dan platform tiket. Perseroan telah menerapkan sistem informasi manajemen sebagai berikut: • Passenger Service Solution (“PSS”). Perseroan melibatkan tiga jenis agen: a. Malaysia Airlines. tagihan melalui airwaybill. sistem pengendalian keberangkatan untuk mengelola jadwal penerbangan dan kursi. dan Royal Brunei Airlines. 12. sistem yang menyediakan fasilitas untuk pemesanan secara online dan elektronik tiket (e-ticket) dan penghubung antara sistem pemesanan (booking engine) dan pembayaran dan pemberitahuan melalui email. sistem yang menyediakan fasilitas untuk reservasi. Sistem manajemen jaringan dan jadwal. kapasitas.

termasuk pusat program data cadangan atau Data Center Backup (“DCB”) suatu sistem yang bertujuan untuk melindungi data Perseroan dan infrastruktur teknologi informasi dari kerusakan dan kehancuran ketika terjadi situasi yang menganggu sistem seperti ledakan. khususnya pada rute-rute ke dan dari Singapura. penggajian. Perseroan bersaing dengan Qantas dan Jetstar. serta laporan lainnya. 13. Emirates. sistem yang dirancang untuk membantu Perseroan menyiapkan kondolidasi akun keuangan. telah memberikan dampak terhadap persaingan harga yang kian meningkat. Malaysia Airlines dan Thai Airways di Asia. pada rute internasional yang dilayani Perseroan. Maskapai penerbangan baru yang masuk ke pasar Indonesia. Jasa Penerbangan Berjadwal untuk Penumpang – Rute Internasional Perseroan bersaing dengan banyak perusahaan penerbangan internasional terkemuka lainnya. Sistem integrasi kontrol operasi (integrated operations control systems) yaitu sistem yang bertujuan untuk mengelola operasional penerbangan. PERSAINGAN USAHA Industri penerbangan merupakan industri yang sangat kompetitif. yang mungkin dapat berdampak negatif yang cukup material terhadap kondisi keuangan dan kegiatan usaha Perseroan. Korea dan China. perbaikan dan overhaul (MRO) dan aplikasi online fuel Garuda (“FOGA”) di seluruh kantor cabang agar memudahkan pengelolaan dan kontrol dari penggunaan bahan bakar pesawat dari setiap penerbangan. masing-masing pada rute-rute ke dan dari Jepang. • • • • • • • • Perseroan juga bermaksud untuk menerapkan Customer Relationship Management System (“CRM”). sabotase dan bencana alam lainnya atau kejadian yang diakibatkan oleh perbuatan manusia. Pada pasar Australia. suatu sistem yang untuk memenuhi kebutuhan jasa pemeliharaan. Perseroan menghadapi berbagai tingkatan persaingan dari penerbangan FSC dan LCC di setiap pasar yang dilayani. Baru-baru ini Perseroan juga dalam proses peningkatan (upgrading) layanan penumpang Perseroan dan sistem manajemen pendapatan untuk menyatukan dengan pendirian dari pusat data (data center) yang baru. Korean Air dan China Southern Airlines. Demikian 174 . banjir. Sistem data pergudangan. termasuk bentuk-bentuk standar industri penerbangan dan bentuk laporan untuk pemerintahan. sistem yang menyediakan data analisa pasar terkait. Perseroan menghadapi pesaing yang berbeda pada setiap rute Internasional yang dilayani. Sistem manajemen persediaan suku cadang pesawat. baik penyedia penerbangan FSC maupun LCC. a. Perseroan dapat menerapkan diskon tarif yang signifikan pada beberapa rute domestik dan internasional yang berakibat pada penurunan passenger yield. Perseroan tidak dapat menjamin bahwa pesaing-pesaing baik untuk saat ini maupun di masa mendatang tidak akan melakukan taktik pemotongan harga atau taktik lainnya. Perseroan bersaing dengan Saudi Airlines. Sistem keuangan. khususnya maskapai penerbagan LCC. dalam upaya untuk meningkatkan pangsa pasar perusahaan pesaing tersebut. Sistem logistik termasuk modul perencanaan sumber daya Perseroan. termasuk administrasi karyawan. Data Recovery Center (“DRC”). Sistem sumber daya manusia (“SDM”). sedangkan pada pasar Timur Tengah. Etihad dan Qatar Airways. sistem yang dirancang untuk mengekstrak dan mengintegrasikan informasi yang berharga dari pasar dan data operasional Perseroan. Perseroan bersaing dengan Japan Airlines. termasuk menambah kapasitas pada rute yang sudah ada atau menerapkan diskon harga maupun beroperasi dengan biaya rendah. suatu sistem yang dirancang untuk membantu Perseroan dalam meminimalkan tingkat persediaan (inventory) dengan tetap mempertahankan persediaan suku cadang yang memadai. laporan keuangan. pengelolaan arus kas.• Sistem manajemen pendapatan. Malaysia dan Thailand. untuk meningkatkan efisiensi dan mendukung aturan kepatuhan sesuai dengan perubahan peraturan internasional dan domestik. gempa bumi. Dari waktu ke waktu. sehingga Perseroan dapat melakukan segmentasi harga tiket pesawat dan mengalokasikan persediaan kursi penumpang yang bertujuan untuk memaksimalkan passenger yield secara efektif. dan laporan hukum. termasuk perubahan tarif tiket pesawat dari mitra dan pesaing Perseroan. yang bertujuan untuk pengelolaan yang lebih baik bagi hubungan Perseroan dengan pelanggannya yang tergabung dalam anggota GFF. Perseroan juga bersaing dengan Singapore Airlines. yang keseluruhannya berjumlah 28. Infrastruktur komunikasi dengan teknologi berbasis IP baik untuk jaringan domestik dan internasional yang dapat meningkatkan efisiensi biaya dalam jaringan komunikasi. sistem yang melakukan otomatisasi proses-proses utama dari SDM. dan menyiapkan berbagai laporan keuangan.8% dari total penumpang untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010.

Perseroan bersaing di sektor kargo udara dengan penerbangan untuk penumpang lain di rute internasional dan domestik. Perseroan bersaing dengan maskapai domestik seperti Lion Air. banyak perusahaan penerbangan pesaing internasional yang memiliki pengalaman operasional yang lebih lama. Jasa Kargo Udara Sektor kargo udara di Indonesia sangat kompetitif. 14. yang mengharuskan pilot Indonesia untuk menjalani ujian sertifikasi ulang secara tahunan. Di pasar kargo udara internasional. suatu lembaga pelatihan pilot terkemuka di Indonesia. maupun yang melakukan penerbangan tidak langsung (indirect flight) seperti Singapore Airlines dan Emirates. termasuk Singapore Airlines. dapat menghasilkan profitabilitas yang lebih tinggi untuk bisnis LCC di tiket kelas ekonomi rute domestik selama periode puncak ketika Perseroan menentukan tarif yang akan dikenakan untuk penumpang FSC Garuda Indonesia adalah yang sering dibatasi oleh tarif tetap dimana Perseroan harus mematuhinya. rata-rata pengalaman pilot Perseroan adalah 22 tahun. Intensitas kompetisi bervariasi dari rute ke rute. Korean Air dan China Airlines. termasuk layanan kereta api dan bus. termasuk pilot Perseroan. Perseroan yakin bahwa penetapan tarif batas atas kelas ekonomi yang berlaku untuk bisnis LCC. Jakarta . harus memiliki lisensi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (“DJPU”). Jasa Penerbangan Berjadwal untuk Penumpang – Rute Domestik Perseroan adalah satu-satunya bisnis FSC di Indonesia dan satu dari hanya dua maskapai penerbangan dengan sertifikasi IOSA yang melayani penumpang di pasar domestik. b. fasilitas lounge bandara bersama. Perseroan juga bersaing dengan operator kargo udara yang telah ada dan perusahaan layanan kargo udara yang terintegrasi seperti DHL dan UPS yang memiliki ground transport sendiri dan menawarkan layanan kargo udara secara door-to-door. Perseroan juga mengirim calon pilotnya ke sekolah-sekolah pilot asing untuk mengikuti pelatihan tambahan sebelum mereka bergabung dengan Perseroan. manfaat bersama program frequent flyer dan peningkatan kekuatan brand. Perseroan menggabungkan pelatihan di ruang kelas dengan pelatihan simulasi penerbangan. yang dilengkapi dengan simulator penerbangan untuk beberapa jenis pesawat. yang mengoperasikan armada yang lebih besar dengan pesawat berbadan lebar dan pesawat khusus kargo. Malaysia Airlines. Semua pilot maskapai penerbangan di Indonesia. Jakarta . Untuk segmen budget traveler. Selain itu. Jakarta-Jeddah dan Jakarta/Denpasar-Perth. Perseroan berkeyakinan memiliki posisi brand yang kuat di domestik serta memiliki pelanggan premium (khususnya anggota GFF) yang loyal terhadap brand Garuda Indonesia. yang menawarkan jasa kargo udara dikaitkan dengan layanan penerbangan berjadwal serta dengan maskapai penerbangan yang khusus melayani kargo udara. memiliki jaringan penjualan yang lebih luas. Dibandingkan dengan Perseroan. secara substansial memiliki sumber keuangan dan teknologi yang lebih baik. Perseroan juga merekrut pilot dari sumber lain. Korea Airlines dan China Airlines. Perseroan telah dan akan terus menghadapi persaingan dari bentuk-bentuk transportasi untuk perjalanan domestik. dibandingkan dengan bisnis FSC. Pada saat pesawat yang baru digunakan sebagai bagian dari armada Perseroan. Intensitas persaingan di rute domestik bervariasi dari rute ke rute.Denpasar. Perseroan berkeyakinan bahwa Garuda Indonesia adalah pemimpin di pasar domestik karena jangkauan jaringan domestik yang dimiliki dan konsistensi dalam memenuhi permintaan penjadwalan. Batavia Air dan Sriwijaya Air. Jakarta-Kuala Lumpur.Ujung Pandang. Perseroan bermaksud untuk mengirim beberapa pilotnya untuk menghadiri program pelatihan perusahaan penerbangan yang terafiliasi dengan Perseroan. Anggota aliansi global maskapai penerbangan dapat menikmati manfaat/fasilitas tertentu seperti code-sharing.Medan dan Jakarta . Perseroan juga menghadapi persaingan tambahan sebagai akibat dari aliansi global maskapai penerbangan. tergantung pada jumlah dan sifat dari pesaing.juga untuk pasar Eropa. Cathay Pacific. bergantung pada jumlah dan sifat dari perusahaan pesaing. Rute penerbangan domestik yang sangat kompetitif meliputi rute seperti Jakarta . umumnya perusahaan Airbus atau Boeing akan menawarkan pelatihan khusus untuk pilot Perseroan. c. PILOT DAN AWAK PESAWAT Perseroan mempekerjakan sebagian besar pilotnya yang diperoleh langsung dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia. pengakuan brand yang lebih baik dan sistem reservasi yang dapat diakses secara luas.Surabaya. pangsa pasar Perseroan tergolong rendah karena kapasitas kargo Perseroan yang terbatas dibandingkan dengan operator lain di kawasan Asia. termasuk Singapore Airlines. serta lebih rendahnya struktur beban operasional dari layanan bisnis layanan LCC. Sampai dengan per 30 September 2010. Perseroan menghadapi persaingan yang ketat dengan banyaknya maskapai penerbangan yang beroperasi baik yang melakukan penerbangan langsung (direct flight) seperti KLM. Malaysian Airlines. 175 . Perseroan memberikan pelatihan tambahan untuk pilot-pilotnya di pusat pelatihan yang dimiliki Perseroan di Jakarta. termasuk melalui perekrutan sesekali dari maskapai lain. Rute penerbangan internasional yang sangat kompetitif antara lain rute Jakarta-Singapura. Sebagai satu-satunya FSC. Di masa lalu.

Perseroan juga mempekerjakan awak kabin dari Jepang. DJP Umewajibkan setiap maskapai penerbangan Indonesia untuk memberikan rekaman catatan keselamatan penerbangan kepada DJPU secara berkala. Perseroan juga memiliki risiko yang mungkin timbul sebagai akibat dari kegagalan memenuhi keselamatan penerbangan yang disebabkan oleh pihak bandara . dispatch. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara adalah anggota dari International Civil Aviation Organization (ICAO). dan Cina. Perseroan telah membentuk komite keselamatan yang terdiri dari anggota manajemen senior. perawatan dan pengoperasian pesawat. industri penerbangan Indonesia mengalami kekurangan pilot yang berpengalaman dan pada saat ini Perseroan berupaya untuk meningkatkan jumlah pilot-pilot yang direkrut dari luar negeri. komunikasi. Perseroan memiliki 0. Perseroan diwajibkan untuk memperoleh sertifikasi dari pihak yang berwenang dari setiap negara yang merupakan rute penerbangan Perseroan. serta standar keamanan internasional yang dikeluarkan oleh asosiasi seperti IATA. tahunan dan layanan sesi pelatihan bagi pramugari Perseroan. KESELAMATAN Perseroan tunduk pada standar keselamatan yang diberlakukan oleh Menteri Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Pada bulan Agustus 2010. Perseroan secara berkala mengevaluasi keahlian. Kegagalan dalam memenuhi standar keselamatan dapat mengakibatkan denda atau sanksi administrasi lainnya. Perseroan telah mematuhi arahan dan langkah-langkah yang telah ditetapkan DJPU dan tidak pernah mendapatkan denda maupun hukuman material yang diakibatkan dari kegagalan dalam mematuhi standar keselamatan yang berlaku. Untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan-peraturan tersebut. Untuk memenuhi permintaan dari penumpang Internasional. Program pelatihan terdiri dari 64 hari pelatihan dasar. Selain sertifikasi standar keselamatan dan kepatuhan terhadap peraturan keselamatan DJPU. Perseroan memperoleh persetujuan dari DJPU untuk mempekerjakan pilot asing untuk satu tahun dan dapat diperpanjang dengan kontrak. peralatan. termasuk laporan insiden penerbangan atau kecelakaan pada pesawat udara selama periode laporan tersebut dan masalah keselamatan udara terkait lainnya. mempekerjakan warga negara asing untuk jangka pendek dan mempekerjakan pilot untuk jangka pendek dari maskapai penerbangan Indonesia lain di mana pilot tersebut jarang digunakan. pemeliharaan dan standar pelatihan bagi seluruh maskapai penerbangan di Indonesia. DJPU mempunyai yurisdiksi atas keselamatan operasional penerbangan. DJPU juga mengeluarkan ketentuan dan peraturan yang terkait dengan. Perseroan juga bermaksud untuk mengatasi kekurangan pilot dengan promosi internal co-pilot menjadi pilot melalui captaincy program dan dengan menyewa eksternal pilot di Indonesia. pengalaman dan catatan keselamatan dari pilot Perseroan. 3 mentor pelatihan penerbangan dan satu penilai penerbangan. Perseroan telah mengambil langkah-langkah untuk mengeliminasi faktor-faktor yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan. 15. Perseroan berdedikasi untuk memastikan keselamatan penumpang dan menjaga kepatuhan terhadap semua undang-undang dan peraturan yang berlaku yang berhubungan dengan keselamatan penerbangan.000 keberangkatan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 176 . Perseroan diwajibkan untuk mematuhi peraturan standar keselamatan yang ditentukan oleh otoritas penerbangan dari setiap negara yang merupakan rute penerbangan Perseroan. Karena maskapai penerbangan memiliki tanggung jawab untuk keselamatan penumpangnya.000 keberangkatan pada tahun 2009 dan 0. personil penerbangan dan hal-hal lainnya yang dapat mempengaruhi keselamatan udara. untuk merumuskan kebijakan keselamatan dan memantau pelaksanaan kewajiban keselamatan yang terkait.Perseroan juga mempekerjakan awak kabin dari seluruh propinsi di Indonesia sebagai bagian dari strategi Perseroan untuk mengembangkan “Garuda Indonesia Experince” untuk memperkenalkan penumpang Indonesia dengan budaya yang sudah dikenal dan untuk memperkenalkan penumpang asing dengan budaya dan keramah-tamahan Indonesia. Saat ini. Perseroan memberikan pelatihan kepada pramugari Perseroan di sekolah kejuruan pramugari yang dimiliki sendiri.53 insiden penerbangan dari 1. DJPU melakukan inspeksi keselamatan secara berkala pada setiap maskapai penerbangan Indonesia. Strategi Perseroan untuk mempekerjakan karyawan eksternal termasuk merekrut pilot Indonesia dengan pengalaman dari operator pesawat internasional lain. Perseroan juga telah melakukan keselamatan keamanan. Selain itu. Awak kabin Perseroan berpartisipasi dalam program pelatihan secara berkala dan telah memperoleh izin dari DJPU. Perseroan menyediakan program pelatihan yang terdiri dari program studi dalam keselamatan. Perseroan bertanggung jawab untuk membuat dan mendistribusikan manual keselamatan dan panduan pelatihan yang disetujui oleh DJPU kepada seluruh karyawan Perseroan. Anggota ICAO biasanya mengakui sertifikasi kepatuhan yang dikeluarkan oleh negara penerbit. yang menetapkan standar keselamatan global di industri penerbangan.34 insiden penerbangan dari 1. Badan otoritas penerbangan sipil di negara dimana maskapai penerbangan tersebut mengimplementasi dan menerapkan peraturan yang terkait dan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa awak pesawat dan pesawat memenuhi standar yang telah ditetapkan. keamanan dan pelayanan. antara lain. Korea.

Pada tanggal 13 Juni 1996. • • Segala klaim yang disampaikan mengenai 3 kecelakaan di atas telah diselesaikan.500. Sebuah “insiden penerbangan” oleh DJPU disebut sebagai suatu kejadian selain kecelakaan. penerbangan GA 421 dengan pesawat Boeing 737-300 terbang dari Ampenan ke Yogyakarta. China Airlines. Philippine Airlines. apabila tidak diperbaharui kembali. Perseroan menerima agregat sebesar US $ 52.900. Turkish Airlines dan Vietnam Airlines umumnya memerlukan mitra code-share untuk mengaudit masing-masing sistem manajemen keselamatan yang dimiliki. termasuk perjanjian dengan Silk Air.530 untuk kehilangan bantuan pasangan dan perkiraan kehilangan pendapatan. Korean Air.000. Malaysia Airlines. Perseroan adalah maskapai penerbangan Indonesia pertama yang terdaftar sebagai operator di bawah program IOSA pada tahun 2008.400. Penyelidikan Kecelakaan KNKT menentukan bahwa penyebab kecelakaan tersebut adalah kesalahan dari pilot. 177 .000 sehubungan dengan penghapusbukuan (write-off) pesawat. dan Perseroan mengalami kerugian sebesar US $ 29. dan Perseroan membayar kerugian sebesar US $ 21. Sidang diadakan pada tanggal 5 Nopember 2010. Sejak tahun 2007 sampai tanggal 30 September 2010. terjatuh ketika kedua mesin mati (flamed out) saat menghadapi turbulensi parah selama penerbangan. Dari 133 penumpang dan awak pesawat.100. dimana pilot mengabaikan beberapa peringatan otomatis yang disebabkan oleh kecepatan pendaratan yang berlebihan serta melanggar prosedur Perseroan untuk membatalkan pendaratan. Perseroan membayar sekitar US $ 6. Audit keselamatan tersebut biasanya dilakukan sebelum memasuki perjanjian code-share.4 juta sebagai kompensasi kepada para penumpang dan keluarga almarhum. dan Perseroan telah menerima sejumlah US $ 104.990.000 sebagai kompensasi atas polis asuransi Perseroan. dan Perseroan mengalami kerugian sebesar US $ 21. membatalkan take-off dari landasan pacu Bandara Internasional di Fukuoka. Dari 275 penumpang dan awak pesawat. Perseroan telah membayar kompensasi kepada penumpang dan keluarga penumpang yang meninggal sekitar US $ 82. Berbagai perjanjian code-share yang dimiliki Perseroan. Terdapat suatu gugatan yang disampaikan pada Pengadilan Negeri Kyoto Jepang sehubungan dengan insiden penerbangan GA 200 yang belum diselesaikan sampai dengan prospektus ini diterbitkan. Pada tanggal 30 Juli 2010. KLM Royal Dutch Airlines. Dari 60 penumpang dan awak di penerbangan. China Southern Airlines. dengan 13 penumpang dan anggota awak penerbangan menderita luka parah. 21 penumpang dan awak kabin meninggal dunia. DJPU tidak menetapkan standar rasio insiden penerbangan yang dapat diterima. maskapai penerbangan diminta untuk memperbarui pendaftaran mereka secara tahunan dengan melaksanakan pembaharuan audit. Perjanjian code-share Perseroan umumnya memberikan informasi mengenai kewajiban audit dimana masing-masing pihak harus dianggap mencukupi atau memuaskan dalam kurun waktu selama pihak tersebut terdaftar sebagai operator di bawah program audit IATA Operational Safety Audit (IOSA). penerbangan GA 152 pada Airbus 300 terbang dari Jakarta ke Medan. Pada tanggal 26 September 1997. Pengakuan timbal balik atas standar keselamatan yang diberikan oleh pihak lain sangat penting dalam keberhasilan pelaksanaan perjanjian code-share. Indonesia.000 sebagai kompensasi atas polis asuransi yang dimiliki. Jepang ke Denpasar. Perseroan menerima agregat sebesar US $ 35. Dapat dilihat pada bagian Resiko Usaha-Resiko Terkait Industri Penerbangan-Reputasi dan bisnis Perseroan dapat terpengaruh akibat kecelakaan atau insiden pesawat. menabrak pohon di atas punggung bukit di Buah Nabar. istri dan anak dari awak kabin yang telah meninggal mengajukan tuntutan hukum di pengadilan Kyoto di Jepang dengan jumlah sebesar JPY 188. Sumatera Utara ketika pesawat ada dalam mode pilot otomatis. Perseroan membayar sekitar US $ 37. Tak satu pun dari 234 penumpang dan awak pesawat yang selamat dari kecelakaan itu. Pilot kemudian dihukum karena melakukan kelalaian kriminal. Singapore Airlines. Berikut adalah ringkasan dari kecelakaan besar penerbangan yang dialami Perseroan dalam 15 tahun terakhir: • Pada tanggal 16 Januari 2002.000 sehubungan dengan write-off dari pesawat. Perseroan menerima suatu agregat sebesar US $ 22. tiga penumpang meninggal dunia dan 16 penumpang dan dua anggota awak luka berat. meskipun hukuman tersebut kemudian dibatalkan pada tahap banding. Belum adanya penemuan yang telah dikeluarkan terkait sidang tersebut pada tanggal Prospektus ini. penerbangan GA 865 pada pesawat McDonnell Douglas DC10-30 terbang dari Fukuoka.170. Registrasi tersebut akan berakhir pada bulan September 2012.4 juta sehubungan dengan write-off dari pesawat. yang berhubungan dengan kegiatan usaha operasional pesawat udara yang mempengaruhi atau dapat mempengaruhi keselamatan operasinya.30 September 2010. dan terbakar. Pada tanggal 7 Maret 2007.7 juta kompensasi kepada keluarga para penumpang yang meninggal dunia.000 sehubungan dengan penghapus bukuan (write-off) pesawat.600. dan Perseroan mengalami kerugian sebesar US $ 14. Awak penerbangan tidak dapat melakukan restart mesin dan pesawat mendarat keras di sungai Bengawan Solo. dan registrasi terakhir telah diperbarui pada bulan April 2010.0 juta sebagai kompensasi atas polis asuransi Perseroan.35 juta sebagai kompensasi kepada para penumpang dan keluarga penumpang yang meninggal. Perseroan membayar sekitar USD1. Sesuai dengan persyaratan pendaftaran dari program IOSA.600. salah satu awak kabin meninggal dunia. Penerbangan Garuda Indonesia GA 200 menabrak landasan pacu saat mendarat di Bandara Adisucipto di Yogyakarta.000 sebagai kompensasi atas polis asuransi Perseroan.

000. Pada tanggal 9 Nopember 2010. Perseroan menyewa sekitar 21 bangunan dengan luas keseluruhan 9. 4 buah pesawat tipe B737-300. 1.000.0032 Masa Berlaku 30 Nopember 2010 (Catatan: Polis ini telah diperbaharui berdasarkan Cover Note No. untuk menempatkan peralatan penerbangan seperti simulator. Pada 18 Nopember 2010. pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas tersebut. 6 pesawat tipe A330-200. ASURANSI Dalam menjalankan usahanya. Perseroan telah melakukan penutupan atas resiko-resiko yang mungkin dihadapi dengan polis-polis asuransi di bawah ini: No. 35 pesawat tipe B737-800. Perseroan memiliki perjanjian layanan dan membayar penggunaan fasilitas bandara tersebut. Fasilitas Bandara Perseroan menyewa seluruh fasilitas di masing-masing bandara domestik dan internasional dimana Perseroan beroperasi. Perseroan juga menyewa fasilitas perawatan pesawat di bandarabandara tertentu.000. Perseroan menyewa sekitar 15 bangunan yang berlokasi di luar negeri keseluruhan 4.927 meter persegi dari pihak ketiga yang digunakan sebagai kantor penjualan dan pemasaran. asuransi dan beban serta layanan lainnya yang berhubungan dengan fasilitas yang digunakan. Perseroan juga menandatangani MOU dengan PT Angkasa Pura I terkait peningkatan pelayanan terminal yang khusus untuk Garuda Indonesia dan aliansi global maskapai penerbangan di Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar. Pada tanggal 30 September 2010. Properti Berdasarkan Sewa Pada tanggal 30 September 2010. US $ 1.110.000 Tanggung jawab penerbangan sebesar US $ 750. a. memiliki fasilitas meliputi hanggar. Dari waktu ke waktu. 6 pesawat tipe A330-300. Bali. Perseroan bertanggung jawab atas pemeliharaan.09. 5 pesawat tipe B737-500. Penyewaan fasilitas layanan untuk penumpang di terminal meliputi ruang loket dan area keberangkatan. Jenis Asuransi Airline Hull and Spares “All Risk” and Liability (Including Personal Accident) Obyek Asuransi 90 pesawat: 3 Pesawat tipe B747400. b. FASILITAS DAN BANGUNAN Kantor manajemen Perseroan berlokasi di Garuda City Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng.000 Suku cadang pesawat udara sebesar US $150. area katering dan layanan penerbangan terkait lainnya. area pendukung operasi dan kantor pelayanan bagasi. 17.500.000.000. Umumnya Perseroan membayar beban penyediaan. serta bangunan untuk pelatihan pilot dan pramugari.000. Perseroan berharap terminal yang terdedikasi tersebut akan mulai beroperasi pada bulan Juli 2011.000 meter persegi dari pihak ketiga atau BUMN lainnya.056/JPB/ HSL/GIA/XII/2010 dengan masa berlaku sejak 1 Desember 2010 sampai 30 Nopember 2011) Jumlah Pertanggungan Kerugian atau kerusakan pesawat udara sebesar USD 125. Perseroan juga memiliki beberapa properti yang disediakan untuk perumahan kru Perseroan yang berada di berbagai lokasi tujuan dimana Perseroan memiliki rute operasi.301. 18 pesawat tipe B737400.16. dan 1 buah pesawat tipe B737-400. Perseroan menandatangani Memorandum of Understanding (“MOU”) dengan PT Angkasa Pura II terkait terminal yang khusus disediakan untuk Perseroan dan aliansi global maskapai penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di dekat Jakarta. Umumnya perjanjian sewa tersebut memiliki masa waktu sewa antara satu sampai lima tahun dan memiliki ketentuan-ketentuan tarif sewa yang disesuaikan secara berkala. Polis 201. Perseroan juga memiliki beberapa bangunan yang terkait dengan kegiatan usaha perhotelan Perseroan.000 178 .500 Excess legal liability sebesar US $ 25. dekat Jakarta. Hampir semua bandara dimana Perseroan beroperasi. 12 pesawat tipe B737-300.000 Penerbangan Haji sebesar US $ 37. Penanggung PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) (“Jasindo”) dan the Indonesian Aviation Insurance Consortium (“IAIC”) No.

690 Uang sejumlah US $ 11.231 Parolamas JKT/CIS/00005/10 15 April 2011 Parolamas JKT/CIT/00013/10 15 April 2011 US $ 1.110.09.09. Uang sejumlah US $ 828.373. Penumpang domestik Jasindo 201.200.000 per klaim 179 . 6 pesawat tipe A330-300.000. Airline Hull and 90 pesawat: Spares War and 3 Pesawat tipe B747Allied Perils 400.000 (Catatan: Polis ini telah diperbaharui berdasarkan Cover Note No. Aviation War.10.869.332.000.000. Beban Perawatan Rp275. Beban penguburan Rp100.No. dan 1 buah pesawat tipe B737-400.000.000.000. 201.000 Jasindo dan IAIC 201.000.000.138 atau senilai Rp5. dan 1 buah pesawat tipe B737-400. 10 April 2013 Meninggal dunia Rp1.690 7.057/JPB/ HSL/GIA/XII/2010 dengan masa berlaku sejak 1 Desember 2010 sampai 30 Nopember 2011) 4.500. 18 pesawat tipe B737400.000.000.0033 30 Nopember 2010 US $600. 90 pesawat: Jasindo dan 1 Pesawat tipe B747IAIC 400.433. 16 pesawat tipe B737800. 35 pesawat tipe B737-800 4 buah pesawat tipe B737-300.110.301. Polis 201. 6 pesawat tipe A330-300.000.059/JPB/ HSL/GIA/XII/2010 dengan masa berlaku sejak 1 Desember 2010 sampai 30 Nopember 2011) US $ 1. 11 pesawat tipe B737-400. Beban pengobatan Rp2. Cacat Tetap Rp25. Airline Hull and 90 pesawat: Spares Deductible 3 Pesawat tipe B747400. 5 pesawat tipe B737-500.0035 30 Nopember 2010 (Catatan: Polis ini telah diperbaharui berdasarkan Cover Note No.000.110. 4 pesawat tipe A330-200. Jenis Asuransi Obyek Asuransi Penanggung Jasindo dan IAIC No.373. 6 pesawat tipe A330-200. Asuransi Kecelakaan 6.09.000. 4 buah pesawat tipe B737-300. Rp5. 5 pesawat tipe B737-500.705.282.500. 6 pesawat tipe B737-300.000. Rp1.058/JPB/ HSL/GIA/XII/2010 dengan masa berlaku sejak 1 Desember 2010 sampai 30 Nopember 2011) 3.301. 12 pesawat tipe B737-300. Asuransi tambahan (Extra Cover) penumpang domestik dan haji 20 orang Staff Perseroan PT Asuransi JKT/PA/00004/10 Parolamas Catatan: (“Parolamas”) Kami tidak menemukan keterangan atas 20 orang staff Perseroan yang menjadi obyek asuransi dalam polis tersebut.000. 6 pesawat tipe A330-300. 35 pesawat tipe B737-800. Cacat tetap Rp1.000.0034 Masa Berlaku 30 Nopember 2010 (Catatan: Polis ini telah diperbaharui berdasarkan Cover Note No.000.757 dan Rp26. 18 pesawat tipe B737400. 6 pesawat tipe A330-200.332.000. dan 1 buah pesawat tipe B737-400.9009 dan haji 15 April 2011 Meninggal dunia Rp25.000 5. Asuransi Cash in Safe Asuransi Cash in Transit 8.000. 12 pesawat tipe B737-300. 2.000.000.000. 2 buah pesawat tipe B737-300.301. HiJacking and Other Perils Excess Liability Jumlah Pertanggungan US $7.

297.200. Contractor’s Plant and Machinery Insurance Directors and Officers Liability Insurance Electronic Equipment Insurance Electronic Equipment Insurance 714 orang Pilot/co-pilot Jasindo 201.000.000.00014 15 April 2011 Rp46.10.000. Personal Accident 802 orang Pilot/co-pilot.266.00026 12 bulan sejak 1 Agustus 2010 15 April 2011 Ground Support Equipment (GSE) milik GMF.733.200.000.000. dan Peralatan IT) Peralatan Elektronik Jasindo Simulator (Flight Simulator Fokker 28.200.733.00083 15 April 2011 Rp92.000 Jasindo 201.200.200. Tanggung jawab Directors dan Officers Jasindo 201. 16.760. Bandara Soekarno Hatta-GA Cargo Area.297. tiket yang selanjutnya disetorkan kepada PT Jasa Raharja Jumlah Pertanggungan Rp735.200.637. Cabin Service Trainer.10. 9. dan 20 orang flight observer.733.000/ Pilot/ Co-Pilot Rp21. 15.00025 12 bulan sejak 1 Agustus 2010 13.000 (hanya untuk perjalanan haji).000/ orang US $ 150. Jenis Asuransi Property All Risk Insurance Obyek Asuransi Penanggung Jasindo No. Polis 201.094.00081 Masa Berlaku 15 April 2011 10.325.203.739. Meninggal dunia Rp50.036 pramugari.000. Sport Centre. Catatan: Beban rawatan Kami tidak menemukan Rp25.200. 18.10.733. dan Gedung Manajemen dan Bandara Soekarno Hatta-GMF) 201. Jasindo 201.760. flight observer US $ 125.653. Flight SimulatorB747-300/400. Machinery Breakdown Insurance Peralatan Elektronik Jasindo non Simulator (Electric Power Distribution. Cacat tetap Rp50.730.10.19 201.10.000/ orang.No.00018 18 Maret 2011 US $ 30.000 17.00082 15 April 2011 735.10.000. Properti (Bangunan beserta fasilitas dan mesin-mesin) Indonesian Properti (Bangunan Earthquake beserta fasilitas dan Standard mesin-mesin) Penumpang yang sah Pertanggungan Wajib Kecelakaan atau calon penumpang Penumpang yang telah membayar Udara.10. 11.10.000.000 PT Jasa Raharja DS/PERJ/DZ-3029/03 Perjanjian ini berlaku dan mengikat para pihak terhitung sejak tanggal ditandatanganinya perjanjian.00084 15 April 2011 US $ 4.200.000 180 . Pilot/Co-Pilot US $ 150. Lost of Lisence Insurace untuk lisensi pilot.266.10.000. Flight Simulator B747-200.00013 Jasindo 201.297.404.200.000. Pramugari US $75.000/ orang.600 201.443.672 12. tanggal berakhirnya jangka waktu. Crew Insurace 2. Meninggal alamiah Rp10. 14. Life Raft) Mesin dan Jasindo perlengkapannya (untuk mesin pelengkap bangunan di Jakarta. beban penguburan Rp1.704. Sentra Operasi.

29 Agustus 2012 181 .000. Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan telah menjaga nilai pertanggungan asuransi yang memadai untuk kewajiban maksimum sipil yang dapat dikenakan apabila terjadi insiden cedera atas penumpang di dalam naungan hukum Indonesia.000.000 SDR merupakan setara dengan sekitar US $ 154. peraturan pengelolaan bahan berbahaya. Travel Inconvenience Insurance Obyek Asuransi Seluruh pemegang kartu Executive Card + Garuda Indonesia yang merupakan anggota aktif dan syah saat melakukan perjalanan menurut jadwal penerbangan Garuda Indonesia Penanggung Jasindo No. Hak tersebut didapatkan pada kegiatan usaha Perseroan dan sebagai tambahan nilai pada pengadaan peralatan Perseroan dari pihak ketiga yang sifatnya tidak eksklusif dan tidak boleh dialihkan. Antara Perseroan.200.000. Perseroan memiliki berbagai brand “Garuda Indonesia”.546 pada 30 September 2010. minyak. dan tingkat kebisingan. 19.000. Sebagai anggota IATA. Polis 201.200. 19. Perseroan mematuhi aturan yang berlaku yang berkaitan dengan peraturan lingkungan dan kebisingan di Indonesia.705. 18. Putih Kelas dan Jenis: 39.00064 Masa Berlaku 20 Nopember 2010 (Catatan: Polis ini telah diperbaharui dengan polis No. menjual tiket dalam. SDR merupakan unit mata uang buatan yang diciptakan oleh International Monetary Fund dan 100. serta logo Perseroan dan SBU Citilink. Indonesia merupakan pihak yang terlibat pada Konvensi Warsawa.00055 Kehilangan Tertentu yang berlaku sejak Rp1.000. Perseroan merupakan pihak pada Perjanjian Intercarrier IATA mengenai Kewajiban terhadap Penumpang (IATA Intercarrier Agreement on Passanger Liability) dan pada Perjanjian atas Tindakan-tindakan dalam mengimplementasi Perjanjian Intercarrier IATA (Agreement on Measures to Implement the IATA Intercarrier Agreement) berdasarkan mana perusahaan penerbangan yang menandatangani perjanjian telah menyetujui bahwa penumpang terluka atau korban penumpang yang meninggal dapat menerima kompensasi sampai dengan 100.705.09. 20 Nopember 2010 sampai 20 Nopember 2011) Jumlah Pertanggungan Kematian Rp1. yang menetapkan prinsip pertanggungjawaban terbatas pada perusahaan angkutan udara berdasarkan praduga kesalahan. Bandara di Indonesia dimana Perseroan beroperasi tunduk pada peraturan yang berkaitan dengan pembuangan subtansi tertentu ke permukaan dan dibawah permukaan air. “Citilink”. KEPATUHAN PERATURAN LINGKUNGAN Perseroan mematuhi peraturan kebisingan di Indonesia dan tingkat kebisingan pesawat Perseroan telah mendapatkan sertifikasi dari DJPU. Jasa transportasi udara. Luar negeri (travel biro).000.No. Jenis Asuransi Travel Accident Insurance.09. Jasindo dan PT Jasa Raharja terdapat hubungan afiliasi. Perseroan juga mematuhi peraturan lingkungan dan kebisingan di setiap negara dimana Perseroan memiliki rute penerbangan. Manajemen Perseroan menyatakan bahwa premi asuransi diatas yang telah dibayarkan oleh Perseroan cukup untuk pertanggungan asuransi terhadap aset Perseroan.201.000 Special Drawing Rights (“SDR”). HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL Perseroan memiliki berbagai hak kekayaan intelektual yang berhubungan dengan kegiatan usaha Perseroan. No Nama Dokumen dan Nomor Pendaftaran Hak Cipta Surat Pendaftaran Ciptaan dengan nomor 1 Pendaftaran 021268 tanggal 11 April 2001 Surat Pendaftaran Ciptaan dengan nomor 2 Pendaftaran 021269 tanggal 11 April 2001 Surat Pendaftaran Ciptaan dengan nomor 3 Pendaftaran 022676 tanggal 29 Juli 2002 Surat Pendaftaran Ciptaan dengan nomor 4 pendaftaran 029343 20 Pebruari 2006 Merek Dagang Sertifikat Merek tanggal 29 Agustus 2002 dengan nomor pendaftaran 514896 tanggal 29 Agustus 2002 5 Ciptaan/ Merek Dagang yang dilindungi Seni Motif dengan judul Flora Dasar Biru Seni Motif dengan judul Flora Dasar Hijau Seni Lukis dengan judul Stilasi Bungan Daerah Iklim Tropis Pada Pesawat Program Komputer dengan judul Online Payment Garuda Indonesia Masa Berlaku Merek: Citilink Warna: Merah. bahan-bahan limbah. pengantaran barang (cargo). Konvensi Warsawa atau perjanjian bilateral lainnya yang berlaku.

pembelajaran dan pengembangan.No 6 Nama Dokumen dan Nomor Pendaftaran Sertifikat Merek Nomor IDM000025157 tanggal 29 Desember 2004 dengan nomor pendaftaran V00-2003-03694-03698 tanggal 29 Desember 2004 7 Sertifikat Merek Nomor IDM000025158 tanggal 29 Desember 2004 dengan nomor pendaftaran V00-2003-03696-03700 29 Desember 2004 Sertifikat Merek Nomor IDM000024226 tanggal 22 Desember 2004 dengan nomor pendaftaran V00-2003-03693-03697 tanggal 22 Desember 2004 8 Sertifikat Merek Nomor IDM000024227 tanggal 22 Desember 2004 dengan nomor pendaftaran V00-2003-03695-03699 tanggal 22 Desember 2004 9 Ciptaan/ Merek Dagang yang dilindungi Merek: Garuda Indonesia Warna: Putih Biru tua. Kelas dan Jenis: 39. Dalam rangka untuk mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan. Penerbangan Merek: Garuda Indonesia Warna Dasar: Putih. Sebagai contoh. hubungan karyawan dan manajemen bakat dan pengembangan organisasi. Warna Logo: Light Aqua & Green. Penerbangan Huruf GA di bawah logo berwarna Dark Blue Merek: Garuda Indonesia Warna Dasar: Dark Blue. Hijau Muda. merekrut ahli dalam pengelolaan bakat dan meminjam untuk jangka waktu sementara dengan cara bekerja sama dengan operator pesawat lainnya. Hijau Kelas dan Jenis: 39. Warna Logo: Dark Blue & Dark Aqua. 182 . PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA Strategi Perseroan untuk mengembangkan sumber daya manusia dilaksanakan melalui sistem Human Capital Management. termasuk efisiensi dan efektivitas. loyalitas. kinerja manajemen dan penghargaan. Human Capital Management System memungkinkan Perseroan untuk memantau dan mengalokasikan sumber daya untuk mengelola pengembangan karyawan Perseroan. Putih Kelas dan Jenis: 39. kejujuran dan keterbukaan dan integritas. Perseroan berkeyakinan bahwa nilai-nilai ini akan memberikan bimbingan kepada karyawan Perseroan dalam bekerja untuk mencapai tujuan Perseroan. Penerbangan Masa Berlaku 29 Desember 2014 29 Desember 2014 22 Desember 2014 22 Desember 2014 20. Perseroan menyediakan program pelatihan berdasarkan kebutuhan karyawan untuk mendukung perkembangan mereka dan meningkatkan kinerja mereka dan karir. Penerbangan Merek: Garuda Indonesia Warna: Biru tua. Perseroan juga telah memperkenalkan langkah-langkah sebagai patokan bagi tiap posisi dan karyawan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas yang ditandai dengan adanya transparansi dan meritokrasi. Perseroan juga menerapkan strategi pengelolaan bakat yang meliputi perolehan bakat dan pengembangan bakat. Hijau. pengembangan program bagi pemimpin masa depan disusun melalui program pengembangan manajemen. Selain itu. yang mencakup berbagai tahap pengembangan sumber daya manusia termasuk akuisisi bakat. Strategi pengelolaan bakat Perseroan meliputi membangun dan mengembangkan bakat. Perseroan juga telah mengembangkan dan mengimplementasikan program FLY-HI yang bertujuan untuk mempromosikan budaya Perseroan dan nilai-nilai. Huruf GA di belakang Logo berwarna Putih Kelas dan Jenis: 39. Perseroan juga menerapkan reward yang terintegrasi dan sistem manajemen kinerja untuk memotivasi karyawan untuk memberikan potensi penuh mereka dan kompetensi untuk mendukung kinerja Perseroan. jiwa customer service.

seperti pengembangan layanan pre/in/post-flight dan pengembangan jaringan penerbangan Perseroan. Perseroan juga berhasil menerapkanprogram “One Tree One Passenger”. Sebagai hasil dari proyek-proyek reboisasi. Bersama dengan World Wildlife Fund. 183 . 22. RISET DAN PENGEMBANGAN Perseroan memiliki unit Commercial Research yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan tersedianya hasil riset komersial yang meliputi riset tentang pasar dan kinerja Perseroan. pengembangan masyarakat. khususnya untuk tenis. baik Sebangau Taman Nasional dan Yogyakarta kini telah berkembang menjadi tujuan eko-wisata yang berdampak pada peningkatan bisnis masyarakat di sekitarnya. Pada tahun 2011 rencana Perseroan lebih kepada memberdayakan hasil riset Brand Positioning dan Market Segmentation serta untuk berlangganan data MIDT (Marketing Information Data Tape).21. tepat waktu dan relevan untuk mendukung pemilihan strategi pemasaran yang tepat. Perseroan menempatkan program tanggung jawab sosial dalam rangka memberikan kuliah bagi siswa miskin dan kesempatan agar dapat berpartisipasi dalam kegiatan di luar negeri. Perseroan juga memberikan sponsor untuk mendukung bakat baru olahraga. Perseroan menanam pohon seluas sekitar 300 hektar untuk kedua daerah secara keseluruhan. dimana Perseroan menyisihkan sebagian dari penghasilannya yang berasal dari pendapatan penumpang dari penumpang Jepang dan Australia dan menyumbangkan dananya untuk Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah dan Yogyakarta. Perseroan juga memberikan bantuan teknis dan pemasaran kepada usaha kecil dan menengah untuk meningkatkan kualitas produk mereka dan mengembangkan kemampuan pemasaran mereka. persaingan serta pelanggan yang akurat. TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN Perseroan berkomitmen untuk memenuhi tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat. Sebagai bagian dari komitmen Perseroan dalam hal pendidikan. Perseroan telah berfokus pada berbagai bidang seperti pendidikan. olahraga dan lingkungan. Jawa Tengah untuk proyek reboisasi . Pemanfaatan hasil riset ditujukan untuk pengembangan produk oleh unitunit lain di Perseroan.

4% 3. Tingkat pertumbuhan di kawasan Asia Pasifik diperkirakan akan terus meningkat dalam 20 tahun mendatang. Penumpang internasional naik dengan CAGR sebesar 4. Singapura. dan Vietnam 184 .4% 3.5% 2. Tabel berikut mengambarkan pertumbuhan historis CAGR penumpang yang bepergian. SAP Group telah menyiapkan laporannya yang didasarkan pada (i) informasi yang tersedia di publik yang diberikan oleh pihak-pihak yang terkait dengan industri. dan 2010.3% 1985-1990 Global Di Regional Di Cina Di Erope Di Timur Tengah Di Amerika Utara Di Timur Tengah Asia(a) Di Oceania Di Amerika Selatan Di Asia Selatan(b) Di Asia Tenggara(c) 6.1% dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2029 dan penumpang yang pergi dan datang di wilayah Asia Pasifik diperkirakan tumbuh pada tingkat CAGR 6. (ii) informasi publik yang dikeluarkan oleh pihak ketiga termasuk survey pasar dan informasi publik yang dikeluarkan oleh agen pemerintah dan departemen di industri terkait. dan (iv) informasi yang disediakan bagi SAP Group oleh pihak-pihak penting yang terkait dengan pasar dan industri.0% 1.9% 6.5% 7. Laos. Jepang. dengan sekitar 647 juta penumpang.5% 5. 2003. Sementara itu.8% 5.3% 2005-2009 2.1% 2. (a). Thailand. Penumpang yang bepergian di wilayah Asia Pasifik diperkirakan naik dengan pertumbuhan rata-rata majemuk per tahun sebesar 7.1% Proyeksi 2009-2029 5. telah disusun berdasarkan laporan yang dibuat oleh SAP Group untuk Perseroan tanggal 5 Nopember 2010.2% 1. jumlah penumpang di Asia Pasifik tercatat tumbuh pada tingkat tertinggi di dunia dan diperkirakan akan terus naik secara signifikan di tahun-tahun mendatang. Current Market Outlook. Volume penumpang di Asia Pasifik berjumlah sangat besar dan Asia Pasifik membukukan volume penumpang sekitar 27% dari penerbangan dunia pada tahun 2009.6% 6.2% 5.6% dari tahun 1985 sampai dengan tahun 2009.6% 13.3% 7.5% 3.7% 5.6% 3. atau di dalam kawasan Asia Pasifik dengan menggunakan penerbangan komersial pada tahun tersebut.8% 5.Korea Utara dan Korea Selatan (b).7% 8. berkunjung ke. yang diukur dengan RPK.2% 5.BAB IX.5% 5. Pakistan.6% 0.0% 4. UMUM Industri penerbangan Asia Pasifik telah berkembang dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir.1% 5. maka perkembangan industri penerbangan global akan naik tiga kali lipat.9% 4. atau sebesar 27% dari wisatawan dunia. Sebagai contoh.0% 2.8% dalam periode yang sama. Indonesia. jika penumpang di kawasan Asia Pasifik terbang pada tingkat yang sama per tahunnya sebesar penumpang di Amerika Serikat. Kamboja.6% 12.3% 8.9% 4.5% 5. yang diukur dengan RPK. Taiwan.4% 7.2% 4. dari.7% 9.2% 3.8% 1990-1995 3.7% 1.5% 4. Menurut IATA. Burma. INDUSTRI PENERBANGAN DI INDONESIA Bab ini. Baik para penjamin pelaksana emisi maupun pihak lain yang terafiliasi dapat memberikan representasi atas keakuratan informasi yang ada di dalamnya.1% 6. Malaysia. Pertumbuhan Penumpang Asia Pasifik Pertumbuhan penumpang. dan Afghanistan (c).9% 7. SAP Group merupakan konsultan industri penerbangan dengan fokus di wilayah Asia Pasifik.6% 9.8% 2.6% -2.7% 4.5% 10.3% 2.6% 4. termasuk data statistik dan table yang ada di dalamnya.8% 2.1% 25. India.7% 8.6% 16.9% 1985-2009 4.3% 3.1% 13.0% 7.3% Sumber: The Boeing Company.1% 11.4% 3. secara historis telah menunjukan pertumbuhan yang pesat dibandingkan dengan pertumbuhan PDB. baik global maupun Asia Pasifik: CAGR Historis 1995-2000 2000-2005 5.2% 2. (iii) informasi dari data-data yang dikumpulkan dan disimpan oleh SAP Group secara rutin.9% 4. dari tahun 1985 sampai tahun 2009 dan proyeksi pertumbuhan CAGR periode 2009 sampai tahun 2029.2% 7.1% 10.0% -0.5% 9.7% 14. 2009. di tahun 2009 di Amerika Utara tercatat sekitar 638 juta orang terbang dengan menggunakan pesawat komersial. Selama periode tersebut. Brunei. kawasan Asia Pasifik telah menjadi pasar industri penerbangan terbesar di tahun 2009.8% 14. Philipina.5% 4.5% 1.

... Selama periode ini. Total (dalam jutaan) 195.2 4..6 2008 37.2 4.6% 11.329 3.0 5.. berdasarkan IMF..4 7..979 Per kapita 2.0% selama periode yang sama. Negara PDB 2002 (USD) PDB 2009 (USD) CAGR PDB (2002-2009) Proyeksi CAGR PDB (20092014) (a) Total 13... Indonesia diharapkan memiliki pertumbuhan PDB tertinggi di regional Asia Pasifik dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2014.6% 9. Oktober 2010...0% 10.377 263.Pertumbuhan Penumpang di Indonesia PDB Indonesia telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat dimana telah memberikan kontribusi terhadap pengembangan negara berkembang kelas menengah dan meningkatkan permintaan untuk pelayanan lalu lintas udara.8 5. industri perhubungan udara Indonesia relatif belum ditembus. and sumber lain.8 2003 19.3 CAGR (20002008) 22....4 2005 28.7 2002 12..2% 185 . Walaupun Indonesia diharapkan memiliki pertumbuhan PDB tertinggi di regional Asia Pasifik..6% untuk periode terkait.3 2004 23..0% Per kapita 14. Sumber: The SAP Group.6% Sumber: Direktorat Transportasi Udara Indonesia.7 2007 39. sedangkan PDB per kapita untuk Indonesia meningkat dengan CAGR 14....4% Indonesia . Penumpang (dalam jutaan) Penumpang (dalam jutaan) Udara (domestik) Udara (internasional) 2000 7.877 Per kapita 928 1.7 2006 34. Indonesia dan Vietnam memiliki PDB per kapita tertinggi dalam Dolar Amerika Serikat.6 4. Tabel berikut menggambarkan ringkasan dari pertumbungan penumpang yang menggunakan jalur udara di Indonesia dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2008.. Selain itu.8 5. Badan Pusat Statistik.. dengan proyeksi CAGR sebesar 13... PDB per kapita di Cina meningkat dengan CAGR 18.7 2001 9.3 4.2 6.. (1) Pertumbuhan yang kuat di ASEAN dan terutama di Indonesia Untuk periode dari tahun 2002 sampai dengan 2009.0% 5. Thailand ....941 Total 15. Cina.593 126. Gambar di bawah ini memberikan ringkasan mengenai hubungan antara PDB dan RPK per kapita untuk bebagai negara di regional Asia Pasifik untuk tahun 2009.999 Total (dalam jutaan) 539.. Tingginya pertumbuhan lalu lintas udara dapat didorong oleh beberapa faktor termasuk: (1) pertumbuhan yang kuat di ASEAN dan terutama di Indonesia (2) pertumbuhan populasi dan urbanisasi di Asia Pasifik (3) Peningkatan Perjalanan dan Pengunjung Internasional (4) Pengembangan Model LCC (5) Liberalisasi Peraturan dan Pengembangan Infrastruktur...6%..

..814 35.1% 7.2% 8....285 27...0% 50. Total (dalam jutaan) 100.......... Rata-rata (c) . World Economic Outlook Database.983....7% 71.6% 60. Seluruh negara Asia yang tertera..0% 100......9% 11.032 583 2.0% 100.. Philipina ...775 2.. Berdasarkan data dari IMF.....019.470 60.4% 9.754 1.0% 33.....102 2...0% pada tahun 2009 menjadi 65.236..068 768 3.. Oktober 2010 (a) (b) (c) Total Pertumbuhan PDB saat ini [dalam harga Dolar Amerika Serikat ]...196 93.132 477 340 887 1.......246 117..1% pada tahun 2009 menjadi 72..2% 15..8% 59...735 1..805.... Tabel di bawah ini memberikan informasi data aktual populasi tahun 2009 dan perkiraan pertumbuhan rata-rata CAGR tahun 2009-2015 di beberapa negara Asia Pasifik: Kota dan sekitar perkotaan dengan 1 juta jiwa atau lebih Populasi Urbanisasi (% dari total populasi yang tinggal di daerah) 2009 20092009 2050F Aktual 2015 Aktual CAGR 229....7% 69.0% 50...560 Per kapita 4...231 161.. Seluruh negara Asia yang tertera kecuali India. Indonesia diharapkan menjadi bukti salah satu negara yang memiliki tingkat urbanisasi yang tinggi di regional.950 36.3% 87.0% 32.7% 10.2% 29.5% 13.. persentase total populasi yang tinggal di wilayah metropolitan dan perkotaan (urban).731 1.... Vietnam .379 1.164 10..845 90.9% 91..409 2.358 1.751 Total 9. India . Australia.253 49..964.7% Per kapita 7.4% 9..794 45......0% 48..984.8% 43...283 1.2% 19.097 4.. Kamboja . diharapkan akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan layanan penerbangan di wilayah Asia Pasifik.453...... Selandia Baru .Negara PDB 2002 (USD) PDB 2009 (USD) CAGR PDB (2002-2009) Malaysia . Rata-rata (b) .7% pada tahun 2009 menjadi 56.2% 9.......6% 7.640 76......95% di tahun 2050. urbanisasi di Cina diperkirakan akan naik dari 46.0% 18.0% 8.4% 10...467..3% 44.279. Banglades. (2) Pertumbuhan Populasi dan Urbanisasi di Asia Pasifik Kenaikan pertumbuhan populasi dan urbanisasi di Asia Pasifik......8% 4..9% 9..9% 27..0% 33..9% 9.9% 10..5% 11..028 958 440 327 1.3% 27.0% 62..987.... Cina...837 1..723 1..339 994.0% Proyeksi CAGR PDB (20092014) (a) Total 9...943 94..748 1.....0% 14. Cina .0% Negara Jumlah kota/ Sekitar kota 2005 Aktual 7 2 3 1 1 1 1 1 Persentase populasi perkotaan 2005 Aktual 18.833 514..4% 87..0% 65.0% 19..6% 11....747 21.7% 100....0% 22.5% 6......3% 426..764.112 22..0% 15.. Singapura ..571 15....033 1...6% Sumber: IMF.324 Total (dalam jutaan) 192.....602 Per kapita 6.259 12.3% pada tahun 2050...871 4......3% 11..0% 13..600 1.8% 12..0% Indonesia Filipina Vietnam Thailand Myanmar Malaysia Kamboja Singapura 186 . dan Banglades.8% 7..0% 67. Populasi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan umumnya memiliki tingkat pendapatan rumah tangga rata-rata lebih tinggi dan populasi tersebut bermukim di lokasi yang lebih dekat dengan bandara dibandingkan dengan populasi yang tinggal di wilayah terpencil (rural)...9% 14.4% pada tahun 2050 dan di Indonesia akan meningkat dari 44...6% 8.2% 13...........4% 11...955 182.. di India akan naik dari 29.......0% 50.

155.0% 6.7% 27.681.544 79.363 762.1% 29.453.363 4.3% 1.900 4.1% Total 23.0% 69. terutama mereka yang berasal dari negara-negara anggota ASEAN.869.2% 54.5% 5.582.3% 1.819 1. dan PBB.354 238.4% 1.417 6.464 65. Kedatangan di wilayah negara-negara anggota ASEAN Tarif untuk perjalanan dan pariwisata internasional untuk negara-negara di Asia Tenggara naik secara signifikan pada beberapa tahun terakhir.0% 16.378 318.946 % kedatangan dari negara anggota ASEAN terhadap total kedatangan 77.259 6.7% 24.718 30. World Urbanization Prospects: The 2009 Revision Population Database Oktober 2010.762 21.0% 34.9% 86. dengan pendatang dari negara-negara ASEAN yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan tersebut.331.2% 56.259 2.315.Negara Kota dan sekitar perkotaan dengan 1 juta jiwa atau lebih Populasi Urbanisasi (% dari total populasi yang tinggal di daerah) 2009 20092009 2050F Aktual 2015 Aktual CAGR 1.4% 3.622 3.220.4% 47. memasuki negara Indonesia.009 524.342 (a) 1.000 3.0% Sumber: IMF World Economic Outlook Database Oktober 2010. a. (a) tidak terdapat data pada saat penerbitan 187 .0% 46.7% 5.259. sebagai dampak dari pertumbuhan PDB dari negara-negara anggota ASEAN.626 18.2% 68.967 2.2009) 9.713 Total kedatangan CAGR (2005.8% 90.917 (a) 692.547 157.191 14. Kenaikan PDB di negaranegara anggota ASEAN memberikan kontribusi terhadap kenaikan pengunjung dan wisatawan asing dari beberapa negara tersebut.3% Sumber: ASEAN Tourism Statistics Database per Juni 2010.828 10. (3) Peningkatan Perjalanan dan Pengunjung Internasional Indonesia diuntungkan dengan adanya kenaikan kedatangan pengunjung dan wisatawan internasional.437.4% 37.003 77.4% 93.090. Tabel berikut memberikan informasi kedatangan wisatawan dan pendatang yang berasal dari negara-negara anggota ASEAN dan pertumbuhan rata-rata CAGR untuk periode 2005-2009: Negara anggota ASEAN ASEAN Malaysia Thailand Singapura Indonesia Vietnam Filipina Kamboja Laos Myanmar Brunei Total Jumlah kedatangan 2009 Lainnya 5.772.6% 88.704.9% Jumlah kota/ Sekitar kota 2005 Aktual Persentase populasi perkotaan 2005 Aktual China India Banglades Australia Selandia Baru 93 40 3 5 1 43.008.646.468.000 1.007.582 3.577 2.8% 28.1% 0.2% 73.161.758 397.386.650.5% (a) 32.880.746 31.924 1.1% 80.7% 49.460.851.874.611.999 9.5% 1.5% 8.8% 11.030.347.083.0% 46.5% 6.452.800 0.678 162.6% 2.0% 40.335 4.2% 2.

924 143.395 1.469.843 320.717 1.328.706 163.915. dan memperkenalkan penerbangan baru point-to-point.988 891.772.522 400.5% 10.194 203. Beberapa dampak yang diberikan antara lain: • Persaingan layanan LCC mampu mendorong Perseroan penerbangan yang sudah ada untuk lebih efisien.505.412 1.398 121.384 227.4% 2.154 798.397.971 295.820 546. Pertumbuhan yang cepat untuk layanan LCC didukung oleh beberapa pemerintah dan operator bandara untuk membebaskan perjanjian penerbangan bilateral dan untuk mengembangkan bandara baru untuk mengakomodasi permintaan yang meningkat.586 224.9% 10.437 620.8% 7.2% 7.771 658.8% -3.432 1.794.311 280.720 517.710 92.7% 40.408 251. khususnya diantara perusahaaan penerbangan yang memberikan layanan LCC.417.987 585.945 91. terutama dikarenakan oleh perkenalan layanan LCC antara kedua negara dan yang berdampak kepada penurunan tarif tiket penerbangan pada rute-rute tersebut.862 475.315 1.804 1.5% 2.178 584. seperti turnaround pesawat yang lebih cepat. termasuk penurunan yang signifikan terhadap harga tiket. sehingga dapat menurunkan beban penerbangan rata-rata dan meningkatkan permintaan diantara seluruh penerbangan Perseroan penerbangan yang sudah ada dapat mengantisipasi persaingan yang disebabkan dengan adanya layanan LCC.811 622.522 202.321.408 110.553 246.730 150.551 184.236 1.227 163.960 978.3% 0.722 463.578 91.898 109.258 147.745 169. meningkatkan kapasitas kursi.685 40.8% 13.272. Kedatangan Pengunjung Asing ke Indonesia Tabel di bawah memberikan ringkasan mengenai kedatangan berdasarkan negara asal pada periode 2002-2009.862 226.626 2.400 4. Pada periode tersebut.525 220.540.741 228.454 1.320 2. wisatawan dari Malaysia meningkat secara signifikan.085.051 77. beberapa operator penerbangan di beberapa daerah sedang mempersiapkan potongan harga atas biaya penerbangan untuk rute baru dan untuk efisiensi penggunaan fasilitas bandara. Negara asal Kedatangan Pengunjung Asing ke Indonesia 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1.101 4.687 574.202 239.212 225.154 2.024 150.7% 0.389 391.468 277.056 1.234.270 796.369 CAGR (20022009) -1.877 384.351 5.758 924.6% 3. sementara Thailand sedang mempelajari penggunaan Bandara Don Mueang International untuk memfasilitasi layanan LCC.456 2.513 605.550.779 209.088 615.006 2.174.353 1.431.730 Source: Biro Pusat Statistik per Oktober 2010.432 450.226 247.117.844 720.443 2.082 395.567 114.529 833.871.678 229. Layanan LCC telah berdampak besar bagi industri penerbangan di Asia Pasifik dan ASEAN.358 769.476 337.818.2% 4.077 96.844 110.125 1.239 203.581 201.192.216 140.467.323.490. (4) Pengembangan Model LCC Beban penerbangan berkurang sejalan dengan peningkatan efisiensi dan daya saing.058 306.164 147.097 320.178.879 419.3% Singapura Malaysia Lainnya ASEAN Australia Jepang Cina Korea Selatan Taiwan Lainnya Negara lainnya di Asia Pasifik United Kingdom Perancis Belanda Lainnya Eropa Amerika Afrika dan Timur Tengah Total 222.607 2.447.1% 2.366 163.490 61.4% 3.125 97.272 521.916 75.118 1.766 36.732.b.245 230.469 299.824 74.845 156.870 50.759 6.538 406.637 211.511 184.271 159.412 125.631 625.599 104.688 83.083.1% 4.713 475.052 175.803 1.352.013 210.163 466.853 110.033.282 1.004 98.021 5.213 508.981 314.684 346.644. • • • 188 .401. Beberapa jaringan penerbangan Asia telah memperkenalkan dan atau akan memperkenalkan layanan LCC mereka Operator bandara di Malaysia dan Singapura telah membuat fasilitas terminal bagi penumpang LCC.888.856 112.037 236.273 730. dan frekuensi penerbangan.514 327.245 268.896 164. Di samping itu.446 438.290 88.904 113.409 160.9% -9.636 1.615 71.412 98.179.541 591.736 2.002.345 2.8% 1.076 2.444 5.497 6.334 381.152 536.485 674.546 209.473 106.808 256.165 5.

Beberapa maskapai penerbangan di regional Asia Pasifik dan ASEAN berencana untuk merubah secara signifikan armada pesawat mereka. 189 .8% 2. Perubahan kapasitas bandara dan pesawat terbang secara menguntungkan dapat mendukung pertumbuhan.0% 27. (2) Dari Januari sampai dengan Agustus.3% 9. beban operasional jangka panjang menjadi berkurang. Hal ini pada umumnya berakibat pada menurunnya rata-rata tarif dan pada akhirnya peningkatan pada permintaan.Gambar grafik berikut ini menggambarkan kapasitas pertumbuhan secara historis untuk LCC di Regional Asia Pasifik dari tahun 2001 sampai dengan 2009 dan penetrasi pasar LCC untuk tahun 2009 Kapasitas Pertumbuhan LCC Asia Pasifik (1) 12.4% 6.1% 15.0% 4. dan tergantung dari struktur keuangan dalam pengimplementasian perubahan-perubahan ini. Sebagaimana pesawat baru memiliki efisiensi tinggi terintegrasi menjadi pesawat operasional.2% 14. Sebagai akibat dari hal terserbut. Sebagai akibatnya.5% 1.7% 15.9% 21. berakibat pada berkurangnya biaya per penumpang. Seperti yang terdapat pada tabel dibawah ini.5% Sumber: Pusat Penerbangan Asia Pasifik. Pertumbuhan yang tinggi pada permintaan penumpang penerbangan di Asia telah mendorong pemerintah dan beberapa operator bandara untuk mengembangkan kapasitas bandara utnuk mengakomodai peningkatan permintaan. dan tergantung dari struktur keuangan dalam pengimplementasian perubahan-perubahan ini.1% 1. berakibat pada berkurangnya biaya per penumpang. Sebagaimana pesawat baru memiliki efisiensi tinggi terintegrasi menjadi pesawat operasional. Catatan: (1) Kalendar satu tahun penuh. pemerintah ASEAN dan otoritas bandara sangat ingin mengembangkan infrastruktur penerbangan mereka dan kapitalisasi peningkatan perdagangan dan pariwisata.7% 32.4% 36.7% Penetrasi LCC di Tahun 2009 (2) 46. beban operasional jangka panjang menjadi berkurang. Indonesia memiliki sejumlah bandara yang cukup banyak dengan landasan yang diaspal dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. (5) Liberalisasi Peraturan dan Pengembangan Infrastruktur Liberalisasi peraturan dan pengembangan infrastruktur pada armada pesawat dan fasilitas bandara adalah hal penting dalam peningkatan penumpang lalu lintas udara. pertumbuhan lalu lintas udara dapat difasilitasikan dengan adanya ketersediaan kapasitas lapangan terbang tersebut. Tabel berikut memperlihatkan ringkasan dari infrastruktur transportasi di beberapa negara di regional Asia Pasifik. Liberalisasi peraturan di antara negara-negara anggota ASEAN yang membebaskan batasan lama terhadap perkembangan industri penerbangan dengan mengusahakan pembebasan hak terbang di sebagian besar lalu lintas yang dipersiapkan untuk awal tahun 2015. dapat menghilangkan hambatan tradisional dalam hal pengembangan industri penerbangan. Beberapa maskapai penerbangan di regional Asia Pasifik dan ASEAN berencana untuk merubah secara signifikan armada pesawat mereka.

pihak yang melakukan perjalanan dari negara-negara dengan tingkat populasi yang besar dapat memberikan dampak terhadap kebutuhan yang signifikan untuk melakukan perjalanan dengan tujuan bisnis maupun pariwisata ke negara-negara di Asia Tenggara.448 61.Negara Malaysia Thailand Indonesia Singapura Banglades Kamboja Laos Pilipina Vietnam India Cina Australia Selandia Baru Jumlah Airport yang Diaspal Panjang 1. = Kedekatan jarak dengan Australia Australia merupakan negara yang paling maju dari sisi ekonomi di wilayahnya.280 180.524 meters (2) Beberapa jumlag merupakan hasil estimasi Sebagai negara sekunder di regional yang berkembang.529 2.560. dan juga berada diantara Asia Utara dan Asia Tenggara.438-3.071 8.855 4. Konsultan indutri SAP. Pertumbuhan Industri Penerbangan di Asia Tenggara Berdasarkan data dari grup konsultan SAP.811 21.015 77.593 2.a. The World Factbook 2008. = Kedekatan jarak dengan Cina Dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan adanya kelonggaran terhadap peraturan dan larangan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. proporsi yang besar dari populasi tidak mampu secara materiil untuk menggunakan moda transportasi udara.925.347 64.047m 6 10 24 11 50 19 4 1 6 2 4 29 14 75 132 148 12 2 3 2 8 5 57 137 13 1 Landasan Diaspal km(b) Jumlah(1) 7 8 4 2 2 4 9 21 63 11 2 38 64 171 8 15 6 9 85 37 249 442 326 40 80.437m 2. penerbangan domestik dan internasional di Asia Tenggara diharapkan mengalami pertumbuhan jangka panjang dengan beberapa faktor pendukung: = Jarak kedekatan dengan populasi yang besar Sekitar 50% dari total populasi di dunia berjarak sekitar 6 jam waktu tempuh penerbangan dari Jakarta.028 341. 190 . permintaan akan pelayanan dari bandara sekunder dengan tujuan domestik dan internasional akan tumbuh. 897 2.524-2. memperkirakan kemampuan masyarakat untuk menggunakan moda transportasi udara meningkat seiring dengan peningkatan PDB per kapita. Walaupun demikian.744 3. mengindikasikan potensi yang besar untuk pasar penerbangan regional.849 4. Oktober 2010 Catatan: (1) Termasuk panjang landasan <1.677 125. = Lokasi pada rute pusat bisnis Indonesia berada pada posisi yang strategis antara Eropa dan wilayah sekitar Pasifik. dengan tendensi untuk melakukan perjalanan yang tinggi dan jaringan pariwisata yang kuat dengan Indonesia dan negara lainnya di wilayah Asia.768 690 n.789 1. tingkat pendapatan yang tinggi. yang semestinya akan memberikan dampak terhadap peningkatan jumlah perjalanan per orang.834 37.879 Rel Kereta Jumlah km(b) 1.053 258. dengan tingkat PDB per kapita yang tinggi. Pertumbuhan ini dapat difasilitasikan dengan cara menggunakan pesawat jet yang kecil untuk melayani pasar sekunder.356 22.977 4.726 2. sebagai akibat dari rendahnya tingkat PDB per kapita di seluruh wilayah dan faktor lainnya.128 Sumber: CIA.047m >3.

Faktor lingkungan. Catatan: 2008 merupakan tahun terakhir yang dapat memberikan data konsolidasi. dimana dapat menghambat permintaan apabila beban transportasi udara dan lainnya meningkat dan tingkat pendapatan disposable pihak yang melakukan perjalanan menurun. Larangan perjalanan.2 4.7 13.0 213.5 176.7 2001 9.7 Jumlah Penumpang (dalam jutaan) 2002 12. Sosial-ekonomi atau hambatan lain dapat berakibat pada keterlambatan atau perubahan pada rencana oleh pemerintah terkait rencana ekspansi infrastruktur. abu vulkanik.0 196. group konsultan SAP memperkirakan moda transportasi udara akan menggantikan moda transportasi darat dan laut. Terorisme atau kejadian lainnya yang dapat menghambat aktivitas di masa yang akan datang.8 20.5 2008 37.7 14.3 4.4 2007 39. dan bencana alam dapat berpengaruh pada tingkat aktivitas.6 4.= Lokasi antara Cina dan Asia Tenggara Peran Indonesia sebagai lokasi tujuan para pendatang dari Cina (negara dengan populasi terbesar) dan Asia Selatan.4 16.2 4.6 2004 23.7 152.0 2005 28. Badan Pusat Statistik.4% 0. Keterbatasan infrastruktur bandara. dapat membatasi pertumbuhan industri penerbangan di masa yang akan datang. Pakistan (negara dengan populasi terbesar keenam) dan Banglades (dengan populasi terbesar ke tujuh). diantara negara-negara ASEAN dan juga dengan negara lainnya.0 201.3 18. akan bertumbuh pada saat masyarakat dari negaranegara tersebut mulai lebih sering melakukan perjalanan.8 5. = Substitusi moda transportasi Ketika tingkat pendapatan meningkat dan tarif transportasi udara semakin murah.3 19. Kejadian alam seperti kabut.3 2006 34.7 14. Tabel berikut memberikan ringkasan mengenai jumlah penumpang yang melakukan perjalanan di Indonesia dan jenis transportasi yang digunakan oleh penumpang dari tahun 2000 sampai dengan 2008. terutama dengan wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan. = Liberisasi perjanjian peraturan penerbangan dan pemasaran Negara-negara di Asia Tenggara memiliki perjanjian peraturan penerbangan dan pemasaran yang semakin liberal. Ketidakstabilan sipil.7 2003 19. Oktober 2010.8 175.0 220.0 218.0 5.4 CAGR (20002008) 22.8 5. Jumlah Penumpang (dalam jutaan) 2000 7. Konflik antar negara.4 192.7 19.7 159. and sumber lain.0 257.6 14.7 194.0 197.9 187. seperti.0 235.1% Udara (Domestik) Udara (Internasional) Laut Kereta Jumlah Sumber: Direktorat Transportasi Udara Indonesia. = = = = 191 .2 6. termasuk India (negara dengan populasi terbesar kedua).4 7.2 155.0% 5. keterbatasan jumlah visa masuk atau keluar yang dikeluarkan atau pengenaan beban visa yang tinggi.0 212. Larangan pemerintah terkait perjalanan ke luar negeri.1% 2. = Infrastruktur Pariwisata Negara-negara tersebut telah memiliki infrastruktur pariwisata yang cukup untuk menunjang dan akan terus menarik minat para wisatawan = Urbanisasi Proporsi populasi di negara-negara Asia Tenggara yang tinggal di daerah perkotaan diperkirakan akan semakin meningkat Peluang bagi industri penerbangan untuk tumbuh dapat terkompensasi dengan antara lain: = Kenaikan harga bahan bakar dan/atau tingkat nilai tukar yang kurang menguntungkan.8 150.6% 3.

Keberangkatan Domestik Untuk penerbangan yang dioperasikan oleh operator yang berkedudukan di Indonesia selama September 2010.549 17.975 3.649 . 14.874 27.2% 90.504 1.5% 28.116 2.2 13 16 110 37 20.665 CAGR (20002009 2009) 8. Beberapa data merupakan estimasi Catatan: Angka merepresentasikan keberangkatan penumpang udara Tabel berikut menunjukkan informasi pangsa pasar saham maskapai penerbangan yang berbasis di Indonesia per September 2010 untuk kursi penerbangan domestik dan penerbangan keberangkatan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Internasional Ngurah-Rai.232 8.405 43.208 0.680 Penumpang Udara (juta) 2003 5.8 9 6 19 84(1)(2) 64 8.371 2008 7.467 21.104 10.455 3.764 28.682 2.5% 24.3 4 7.7% 0.162 37.511 1.043 1. 2010.a.2 28 24.0. Jumlah Armada Rata-rata usia pesawat 2011 2012 2013+ Model Peringkat SkyTrax IATA Operational Safety Audit (IOSA) Yes No No No Yes No No Garuda Indonesia Lion Air Batavia Air Sriwijaya Air Mandala Airlines Indonesia AirAsia 40+ AOCs 8.3 1 4 20 19 9.108 . sedangkan Perseroan memiliki pangsa tertinggi diukur dari kursi domestik berangkat dari Bandara Internasional Ngurah-Rai di Denpasar.632 2004 6.0. n.553 0.4% Sumber: Direktorat Transportasi.690 2.187 2.Pasar Penerbangan Domestik di Indonesia Sementara Garuda Indonesia adalah satu-satunya maskapai penerbangan dengan layanan FSC yang memiliki lisensi untuk beroperasi di Indonesia.207 4.011 2.273 5.956 2007 7. Lion Air memiliki pangsa pasar tertinggi diukur dari jumlah kursi domestik dan penerbangan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dekat Jakarta.010 0.679 1.346 3.029 .net.022 7.449 3.506 1.9% 29. Ascend.653 13.586 3.204 1.333 19.182 0. Skytrax.971 5.834 3.9% n.0.5% 19.255 8.060 31.739 7.465 1. Tabel berikut memberikan gambaran ringkasan peserta utama di pasar penerbangan domestik Indonesia.016 39.732 3.8% 20.5% 18.046 7.0% Garuda Indonesia Layanan LCC Lion Air/Wings Air Batavia Air Sriwijaya Air Mandala Airlines Indonesia AirAsia Other air carriers Subtotal Total Pangsa Pasar Garuda Indonesia dari total 0.015 0.660 8.701 1.771 6.410 9.3% 21.314 4. Tabel berikut menunjukkan informasi pasar saham berdasarkan keberangkatan domestik untuk operator Indonesia berbasis pada periode tahun 2000-2009 Layanan FSC 2000 3. FSC & LCC LCC ? ? LCC LCC ? 4 Tidak dirating Tidak dirating Tidak dirating Tidak dirating 3 Tidak dirating Sumber: Airfleets.511 4.791 29.808 48.1% 20.181 4.1% 37.181 23.888 11. Bali.a.740 35.4% 5.410 2002 4. (2) Orderbook untuk Garuda Indonesia termasuk komitmen pembelian unit pesawat dan komitmen sewa operasi.577 4.4% 26.861 2001 4.140 3.814 34.398 9.370 1.373 1.297 2005 6.536 14.9% 32.124 4.168 12.0 Sebagian besar diharapkan akan revoed pada tahun 2012 ketika peraturan Indonesia yang baru mengharuskan lima pesawat yang dimiliki menjadi efektif. Aviation Safety Network. (1) Armada Garuda Indonesia per of September 30.246 8. Oktober 2010. terdapat beberapa maskapai penerbangan dengan layanan LCC domestik lainnya yang beroperasi di pasar penerbangan domestik di Indonesia.079 5.623 50. Per Nopember 2010.768 1.939 2006 6.758 7. 192 .244 1.761 7.

8% 5.0% 12.0% 2.4% 14.2% 36.0% 18.3% 100.8% 7.0% 3.6% 11.5% 2.3% 0.2% 8.0% 2.0% 8.8% 3.2% 100.0% 2.8% 12.3% 2.6% 15.4% 19.3% 0.3% 2.0% 100. Oktober 2010. berdasarkan data pada OAG.6% 4.0% 0.5% 2.0% 19.4% 10.1% 21.4% 1.4% 3.7% 0.9% 12.1% 12.6% 1.0% 9.0% 0.0% 33.7% 14.1% 42.5% 10.4% 6. (a) Termasuk aktivitas yang dioperasikan oleh Citilink.8% 100.3% 9.1% 0.0% Sumber: The SAP Group.2% 100.1% 100.0% 27.2% 11.6% 12.3% 64.0% 29.0% 4.7% 36.0% 2.4% 4.1% 1.0% 100.0% 0.0% 2.3% 40.6% 9.6% 10.2% 3.0% 0.0% 10.5% 1.0% 4.2% 0.5% 2.4% 0.5% 2.8% 0.5% 20.3% 0.0% 12.7% 100.5% 5.5% 0.0% 9.5% 33.0% 17.5% 55.Maskapai Penerbangan Indonesia Lion Air Wings Air Lion Air/Wings Air Garuda Indonesia (a) Batavia Air Sriwijaya Air Merpati Nusantara Airline Mandala Airlines Indonesia AirAsia Kartika Airlines Indonesia Trigana Air Riau Airlines Transportasi Udara Indonesia Total Jadual Pelayanan Penumpang Domestik Persentase Tempat Duduk Keberangkatan per minggu Persentase Penerbangan Keberangkatan per Minggu Semua Bandara Dari Dari Semua Bandara Dari Dari Jakarta Denpasar Jakarta Denpasar (CGK) saja (DPS) saja (CGK) saja (DPS) saja 39.4% 8.6% 2.2% 100.7% 2.2% 5.0% 23.9% 1.0% Malaysia Singapura Australia Garuda Indonesia Indonesia AirAsia Singapore Airlines AirAsia (Malaysia) Malaysia Airlines Cathay Pacific Lion Air China Airlines SilkAir Jetstar Airways Valuair Thai Airways Int’l Emirates Airlines Japan Airlines Korean Air Virgin Blue KLM EVA Airways Batavia Air Mandala Airlines Lainnya Total 2.0% 100.2% 28.2% 36.2% 15.3% 1.0% 22.6% 5.0% 23.8% 0.6% 1.9% 28.5% 15.0% 28.6% 1.0% 100.0% 10.8% 6.6% 30.0% 2. Maskapai Penerbangan Tujuan Negara/Regional Cina Thailand Jepang Timur Sisanya Lainnya Tengah SAR HK Mainland 28.8% 12.2% 100.1% 1.1% 0.9% 1.8% 9.9% 32.3% 25.4% 3.5% 1.2% 1.5% 3.4% 2. SBU yang dimiliki Perseroan.0% Sumber: OAG.2% 45.3% 100.0% 0.6% 22. 193 .8% 29.5% 3. Keberangkatan Internasional Tabel berikut memberikan ringkasan dari persentase tempat duduk maskapai penerbangan untuk kedatangan penumpang internasional terkait penerbangan berjadwal oleh maskapai penerbangan Indonesia dan Internasional selama periode September 2010.7% 2.5% 14.0% 1.9% 0.3% 100.6% 100.3% 4.2% 7.4% 54. Oktober 2010.5% 3.4% 25.7% 1.6% 0.0% 41.7% 3.5% 2.0% 10.8% 2.5% 2.8% 15.7% 0.5% 0.7% 9.8% 29.0% 1.1% 31.8% 2.7% 100.6% 23.5% 43.1% 30.1% 8.7% 27.

0% 77.281 2.068 $ 0.1% -1.1% $ 5.340 3.7% -42.120 1.381 3. berdasarkan sumber industri.080 0. terkait FSC tertentu: FSC Kinerja Keuangan Pendapatan Laba (Rugi) Marjin RASK(b) Usaha (a) Usaha (a) Usaha Kinerja Operasi Pax Pax Armada Pendapatan Load (juta) Pesawat Usaha per Factor pesawat (d) CASK(c) ANA Group (Jepang) Japan Airlines Corp.067 0.5% 6.3% $ 0.077 $ 0.6% $ 0.085 0.0 17.114 $ 0.9 13.079 $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ 0.331 8.9% 72.8% $ 14.1% $ 0.7% 2. (b) Revenue per available seat kilometer.4% 77.3% 77.6% 1.078 $ 0.0 11.4% 0.2 Jun-09 Mar-10 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Des-09 Jun-09 Mar-09 Mar-10 Des-09 Des-09 Des-09 Mar-09 $ 0. Matrik Kunci Keuangan dan Kinerja Operasional untuk Layanan Bisnis LCC Tabel berikut memperlihatkan data kunci keuangan dan kinerja operasi Perseroan.092 0.776 1.1% $ 5.7% 4.079 0.4% -6.079 0.149 0.098 0.1% Sumber: The SAP Group.3 Dec-09 88.9 49.093 79. Citilink.3% $ 0.2 Mar-10 71.4 11.082 0.261) (104) (9) (88) 86 (266) -4. terkait layanan LCC tertentu: LCC Kinerja Keuangan Pendapatan Laba Marjin RASK(b) Usaha (a) (Rugi) Usaha Usaha (a) Kinerja Operasi Pax Armada Pendapatan (juta) Pesawat Usaha per pesawat (d) CASK(c) Pax Load Factor Laporan Keuangan yang berakhir pada Jun-09 Jun-09 Des-09 Mar-09 Virgin Blue Airlines (Australia) JetStar (Australia) AirAsia (Malaysia) Tiger Airways (Singapura) 2.908 4.9 49. (e) Termasuk operasional yang dilayani oleh SBU Garuda. (d) Pendapatan usaha (dalam juta USD) per pesawat.4 16.086 78.4 6.7 39.8% $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ 0.078 0.4 32.3 3.067 $ 0.4 34.4 25.4% 78.8% $ 0.4% 10.065 69.5% -0.0 82.0 32.042 0.707 9.063 0.054 78.8 21.6 71.5% 8.3 49.104 0.070 0. dihitung sebagai beban usaha dalam USD per ketersediaan tempat duduk kilometer penerbangan.083 8.9% 4.2% $ 0.0% 61.101 69.6 23.8 44.6% 1.102 $ 0.066 75.0 13.057 $ 0.8 194 .071 76.4% -5.064 0.158 $ 0.Matriks Kunci Keuangan dan Kinerja Operasional untuk layanan bisnis FSC Tabel berikut memperlihatkan data kunci keuangan dan kinerja operasi Perseroan.073 7.8% $ 0.087 0.078 $ 0.2 14.8 54.076 0.8 40.086 $ 0.2 10.064 0. termasuk RASK dan CASK.036 $ 0.081 72.096 78.083 0.) Air India (India) Jet Airways (India) Hainan Airlines (Cina) EVA Air (Taiwan) Garuda (Indonesia) (e) Philippine Airlines (Philippines) Weighted Average FSC 13.7 61.4 152 174 133 110 121 324 131 255 248 90 84 67 65 46 137 72 71 52 74 39 $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ Laporan Keuangan yang berakhir pada 87.2 9.634 (586) (1.0 41.6% 75.489 929 348 (24) 86 131 20 -1.094 $ 0.094 $ 0.3 20.4 10.6% $ 0.093 0. termasuk RASK dan CASK.072 80.4% $ 0. Oktober 2010 (a) dalam juta USD.2% 76.2% 86.7 24.085 0. (Jepang) Qantas (Australia) Singapore Airlines (Singapura) Cathay Pacific (Hong Kong) China Southern (Cina) Korean Air (South Korea) Air China (Cina) China Eastern Airlines (Cina) Thai Airways (Thailand) Malaysia Airlines (Malaysia) Asiana Airlines (South Korea) China Airlines (Chin. Taiwan) Air New Zealand (New Zeal.4% 44.981 2.165 66. dihitung sebagai penadapatan usaha dalam USD per ketersediaan tempat duduk kilometer penerbangan (c) Cost per available seat kilometer.3% -1.637 8.9% -4.0 12.6 29.0 19.3% 18.5% 1.2 71 48 48 10 $ $ $ $ 29.1 43.411 11.5% 70.0 64.9 31.4% -3.060 $ 0.4 3.080 75.8% 79.6 66.539 5.302 2.928 3.273 1.310) 164 46 578 211 113 807 267 416 (184) (204) (52) 50 (1.255 12.4 38.2 12.126 66.4% -10.2% 72.188 2.5 24.6 41.6% $ 0.8% -16.938 2.069 $ 0.5% $ 0.

6% 5. Dalam konvensi ini. berdasarkan sumber industri.0 8. mengimplementasikan konvensi ini di negara masing-masing. termasuk mengenai keamanan dan keselamatan. ICAO mengadopsi standar dan rekomendasi mengenai praktek penerbangan sipil.7% 77. Konvensi ini juga menetapkan prinsip hukum yang mengatur penerbangan komersial internasional.LCC Kinerja Keuangan Pendapatan Laba Marjin RASK(b) Usaha (a) (Rugi) Usaha Usaha (a) CASK(c) Pax Load Factor Kinerja Operasi Pax Armada Pendapatan (juta) Pesawat Usaha per pesawat (d) Laporan Keuangan yang berakhir pada Des-09 Des-09 Des-09 Thai AirAsia (Thailand) Cebu Pacific Air (Philippines) Indonesia AirAsia (Indonesia) Weighted Average dari LCC 280 236 183 4 n.5 23 29 17 $ $ $ $ 12. Montreal Convention kemudian mengubah batasan kewajiban yang ada dalam Konvensi Warsawa dan memperbarui serta menjelaskan aspek lainnya dari sistem batasan kewajiban kecelakaan penerbangan internasional. Menjalankan 93% dari jadwal lalu lintas internasional dunia. ICAO menjadi suatu divisi di PBB yang khusus mengatur mengenai masalah transportasi udara internasional.4% 73.2% $ 0. Chicago Convention mengatur prinsip umum bahwa tiap negara memiliki kedaulatan atas wilayah udara masingmasing dan memiliki hak untuk mengontrol kegiatan penerbangan internasional berjadwal yang melintasi wilayah udaranya. $ -3.8 3. dengan beberapa batasan yang dapat dikenakan oleh negara tujuan atau negara tempat pendaratan.0 Sumber: The SAP Group. (d) Pendapatan usaha (dalam juta USD) per pesawat. Indonesia merupakan anggota dalam konvensi ini.044 0.043 n.1 10. International Air Transportation Association (“IATA”) IATA memberikan kerangka pengaturan (self-regulatory) internasional yang penting bagi industri penerbangan sipil internasional.a. yang mayoritas anggota dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).034 $ 0. Kemudian pada tahun 1947.2 8. standar bagi pilot dan awak kabin. Batasan-batasan tersebut mungkin dikesampingkan jika dapat dibuktikan bahwa kerusakan tersebut diakibatkan oleh kesengajaan dari perusahaan.a. Convention on International Civil Aviation of 1944 (the “Chicago Convention”) dan Convention for the Unification of Certain Rules for International Carriage by Air of 1999 (the “Montreal Convention”). Konvensi internasional utama adalah Convention for the Unification of Certain Rules Relating to International Carriage by Air di tahun 1929. IATA saat ini memiliki anggota sebanyak 230 perusahaan penerbangan di lebih dari 115 negara. Dibentuk tahun 1945. dihitung sebagai penadapatan usaha dalam USD per ketersediaan tempat duduk kilometer penerbangan (c) Cost per available seat kilometer.a. Konvensi Warsawa mengatur pembatasan kewajiban bagi perusahaan transportasi udara. termasuk dalam hal melakukan kerjasama bidang transportasi udara dengan negara lain.033 0. Indonesia bukan merupakan pihak dalam konvensi ini.4% $ n. anggota IATA merupakan perusahaan penerbangan terkemuka di dunia. Fungsi utama IATA termasuk diantaranya: (i) membentuk aturan dalam aspek 195 .9% $ 5.064 75.025 0. Negara anggota ICAO menetapkan aturan teknis penerbangan yang disusun oleh ICAO untuk diaplikasikan dalam sistem penerbangan nasional negara anggota.7 23.067 $ 0. dan juga mengenai bandar udara dan infrastruktur pendukung penerbangan sipil. yang kemudian diubah dengan Protocol to Amend the Convention for the Unification of Certain Rules Relating to International Carriage by Air Tahun 1929 (the “Warsaw Convention”). $ 0. (b) Revenue per available seat kilometer. Indonesia merupakan anggota ICAO. Indonesia merupakan pihak dalam konvensi ini. International Civil Aviation Organization (“ICAO”) kemudian dibentuk berdasarkan Chicago Convention. dihitung sebagai beban usaha dalam USD per ketersediaan tempat duduk kilometer penerbangan.6% 75. dimana negara-negara anggota. Peraturan Penerbangan Internasional Transportasi udara komersial internasional diatur melalui konvensi internasional yang diterapkan oleh negara-negara anggota konvensi sebagai acuan pengaturan transportasi udara komersial di negara masing-masing. penerbangan sewa dan penerbangan kargo tidak berjadwal diizinkan untuk melintas di daerah teritori udara negara-negara anggota dan diberikan hak untuk berhenti dengan tujuan selain mengangkut penumpang. Oktober 2010. (a) dalam juta USD. (7) 1.

ada dua musim yang dikenal dalam sistem IATA yaitu musim panas (summer). jatah slot ditetapkan untuk setiap musim oleh IATA. lalu lintas udara dan navigasi. Pengaturan slot memungkinkan suatu pesawat untuk mendarat di atau akan terbang dari. dan (iv) memberlikan ijin kepada agen perjalanan. yang bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan kapasitas airport. evaluasi. yang dimulai pada hari Minggu terakhir di bulan Oktober dan berakhir di hari Sabtu terakhir di bulan Maret. Sebagai aturan umum. (ii) tarif untuk penumpang internasional dan jasa kargo. petunjuk pelaksanaan transportasi udara. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan (“Undang-undang Penerbangan”) yang menggantikan Undang-undang Penerbangan lama yang disahkan pada tahun 1992. Peraturan Penerbangan Sipil di Indonesia Industri penerbangan di Indonesia saat ini diatur berdasarkan Undang-undang No. Perseroan telah menjadi anggota IATA sejak 2006. beberapa peraturan pelaksana berdasarkan Undangundang Penerbangan sebelumnya masih tetap berlaku. Undang-undang Penerbangan ini mensyaratkan beberapa peraturan pelaksana. Negara yang menjadi pihak dalam ASA lazimnya menunjuk satu atau beberapa perusahaan penerbangan nasional untuk melaksanakan hak mengoperasikan rute yang diberikan oleh satu negara kepada negara lain berdasarkan ASA tersebut. Di awal setiap musim. DJPU dan direktorat di bawahnya bertanggung jawab melakukan persiapan. Instansi pemerintah yang memiliki otoritas dalam mengatur penerbangan sipil adalah Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (“DJPU”) dan direktorat-direktorat yang ada di bawahnya. Berikut adalah direktorat yang ada di DJPU beserta tugas dan wewenangnya: • Direktorat Kelaikan Udara & Pengoperasian Pesawat Udara (“DKUPPU”) bertugas melakukan pengawasan mesin. kapasitas penerbangan dan prosedur terkait tarif yang akan dikenakan.tertentu dalam industri penerbangan sipil. bandar udara serta kewajiban dan tanggung jawab perusahaan penerbangan terhadap penumpang dan barang yang diangkutnya. Penjatahan Slot Bandar Udara Kegiatan Penerbangan Akses pada bandar udara utama dunia diatur dengan pemberian jatah waktu yang mengatur kedatangan dan keberangkatan pesawat dari dan ke bandar udara tersebut oleh koordinator slot disetiap negara. perawatan pesawat udara dan personil pesawat udara. sertifikasi dan evaluasi penerbangan sipil. perusahaan penerbangan yang menandatangani perjanjian sepakat untuk mengenyampingkan batasan kewajiban atas kompensasi kerugian yang harus dilaksanakan berdasarkan The Konvensi Warsawa sehingga memungkinkan kompensasi ditentukan dan dilaksanakan sesuai dengan hukum dari domisili penumpang. Perjanjian Bilateral Mengenai Transportasi Udara Transportasi udara internasional memerlukan adanya hak angkut (sebuah konsep yang dikenal sebagai hak lalu lintas atau hak rute) dimana satu negara mungkin memperolehnya dengan meminta hak transport dari negara lain melalui perjanjian bilateral transportasi udara atau secara umum disebut perjanjian layanan udara (air services agreements atau “ASAs”). Dalam IATA Intercarrier Agreement on Passenger Liability. akibatnya. yang dimulai pada hari Minggu terakhir di bulan Maret dan berakhir di hari Sabtu terakhir di bulan Oktober. Penjatahan tersebut diatur dalam Scheduling Procedures Guidelines yang dikeluarkan IATA. suatu bandar udara. sistem dan prosedur pelaksanaan transportasi udara. pada waktu dan tanggal yang sudah disetujui oleh koordinator slot. termasuk pendaftaran pesawat. pesawat yang ingin beroperasi di bandar udara internasional harus mengajukan jatah slot. perizinan usaha. 196 . kelaikan udara pesawat. standardisasi praktek pelaksanaan transportasi udara. penegakan hukum. pengawasan. Perjanjian bilateral ini pada umumnya menetapkan prinsip-prinsip yang mengatur pengoperasian rute. membuat produk aeronautika. (iii) menetapkan pembayaran diantara anggota IATA atau antar anggota IATA dan non-IATA. teknisi. Melalui IATA. yang sampai dengan tanggal Prospektus ini belum dikeluarkan dan. pengoperasian pesawat udara. dan musim dingin (winter). Perseroan telah menjadi anggota The IATA Intercarrier Agreement on Passenger Liability sejak tahun 1996. Indonesia memiliki ASA dengan 71 negara. Akses pada hampir semua bandar udara di Eropa dan Asia diatur dengan menggunakan sistem penjatahan slot ini. keselamatan dan keamanan penerbangan. Undang-undang Penerbangan mengatur banyak aspek dalam industri penerbangan di Indonesia. pilot dan awak pesawat terbang. rute penerbangan dan tarif pesawat. Aturan umum mengenai penjatahan slot ini yaitu perusahaan penerbangan berhak untuk mendapatkan jatah tempat yang sama untuk periode penerbangan berikutnya (sering disebut dengan “grandfather rights”). perusahaan penerbangan melakukan perjanjian yang mengubah batasan kewajiban perusahaan penerbangan terhadap penumpang yang meninggal atau cacat berdasarkan Konvensi Warsawa. Dalam satu tahun.

Sebelum menerbitkan AOC perpanjangan. stability dan ground and water handling characteristics. Seluruh pesawat yang terdaftar di Indonesia juga wajib memperoleh sertifikat kelaikan udara yang dikeluarkan oleh DKUPPU. Pesawat Indonesia yang dioperasikan dan telah memperoleh Sertifikat Kelaikan Udara harus dioperasikan sesuai dengan peruntukan sertifikat kelaikan udara (termasuk mengenai hal terkait mesin dan perawatan) dan dilakukan dalam batasan manual penerbangan yang telah disetujui oleh DJPU. Selain itu. Direktorat Bandar Udara bertugas menyiapkan rumusan tatanan kebandarudaraan dan lingkungan. DJPU melakukan inspeksi dan pemeriksaan terhadap pesawat udara untuk memastikan bahwa pesawat telah dioperasikan dan dirawat sesuai dengan syarat dan ketentuan dalam manual teknis yang disetujui DJPU sebelum diterbitkan sertifikat kelaikan udara lanjutan. pengangkutan barang berbahaya dan kargo. organisasi. DKUPPU mengeluarkan sertifikat kelaikan udara dengan melakukan pemeriksaan terhadap disain. DJPU menerbitkan AOC untuk perusahaan penerbangan yang telah memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. AOC dan Perizinan Usaha Angkutan Udara Niaga Berdasarkan Undang-undang Penerbangan. peralatan dan utilitas bandar udara. selain juga melakukan penilaian terhadap hasil dari percobaan penerbangan dan pengujian pesawat lainnya yang dianggap perlu oleh DKUPPU. Seluruh pesawat yang dioperasikan di Indonesia harus terdaftar pada otoritas penerbangan negara asalnya. staff. fasilitas keamanan penerbangan serta kontrol terhadap kualitas keamanan penerbangan. pelayanan darurat. wajib mencantumkan lambang Indonesia pada badan pesawat tersebut. peralatan dan fasilitas.• Direktorat Keamanan Penerbangan bertugas melaksanakan pengawasan dan pengendalian di bidang standarisasi dan program. dalam hal ini Menteri Perhubungan. konstruksi. standarisasi dan sertifikasi. personil dan operasi bandar udara serta penyelenggaraan bandar udara. perawatan. yang berlaku untuk kurun waktu dua tahun. Sertifikat kelaikan udara tersebut terdiri dari dua jenis: (i) sertifikat kelaikan udara awal yang diperoleh setelah pesawat memperoleh sertifikat validasi dan tipe yang diperoleh pada saat pesawat udara selesai diproduksi serta akan pertama kali digunakan dan (ii) sertifikat kelaikan udara lanjutan sebagai bukti bahwa perawatan pesawat sudah dilakukan dengan baik. Perseroan telah memiliki sertifikat pendaftaran dan sertifikat kelaikan udara bagi pesawat-pesawat yang dioperasikan. dan Direktorat Navigasi Penerbangan: manajemen and fasilitas lalu lintas penerbangan. prasarana bandar udara. dan material pesawat dan perlengkapan lainnya yang terpasang pada pesawat yang dianggap perlu oleh DKUPPU. perusahaan penerbangan Indonesia yang bermaksud untuk mengoperasikan jenis pesawat baru di Indonesia wajib mendapatkan sertifikat tipe dan validasi yang diperlukan pada saat mendaftarkan pesawat tersebut di Indonesia. • • • Sertifikasi Kelaikan Udara Pengadaan pesawat udara harus dilakukan dengan persetujuan DJPU dan seluruh pesawat udara yang diimpor ke Indonesia (baik baru maupun yang sudah pernah digunakan) harus memiliki sertifikat tipe dan validasi (termasuk perubahan atas modifikasi terhadap pesawat) yang dikeluarkan oleh DKUPPU. angkutan udara niaga tidak berjadwal dan angkutan udara non niaga. sertifikasi personil keamanan penerbangan. termasuk di dalamnya kriteria terkait catatan operasi. dan kriteria lain yang diatur di dalam sistem dan manual pengaturan yang penting untukk menjamin pengoperasian pesawat dengan aman. Setiap tahun. operator pesawat udara akan dikenakan sanksi administratif berupa pembekuan sampai pencabutan sertifikat operator pesawat udara. DJPU akan melakukan audit (quality audit) untuk memastikan apakah perusahaan penerbangan memenuhi ketentuan peraturan terkait dan layak memperoleh perpanjangan AOC. kerjasama angkutan udara serta pengembangan dan pembinaan usaha angkutan udara. AOC Perseroan dikeluarkan pada Juni 2009. tidak satu pun badan hukum Indonesia boleh mengoperasikan pesawat udara untuk tujuan transportasi umum kecuali dengan persyaratan izin usaha angkutan udara niaga AOC yang dikeluarkan oleh DJPU atas nama Menteri Perhubungan. Pemegang AOC wajib untuk patuh pada ketentuan yang ada pada AOC dan lampirannya serta peraturan-peraturan lain yang dikeluarkan oleh DJPU. kecakapan kerja. Kelalaian dalam mematuhi salah satu dari peraturan tersebut dapat berakibat pada pembekuan atau pencabutan AOC atau sanksi lain berdasarkan Undang-Undang Penerbangan. Pesawat yang terdaftar pada otoritas penerbangan di Indonesia. pesawat udara. Jika melanggar syarat dan ketentuan dalam sertifikat kelaikan udara. Inspeksi dan pemeriksaan oleh DJPU juga mencakup kinerja pesawat udara seperti controllability dan maneuverability. Registrasi atas pesawat akan berlaku selama tiga tahun dan harus didaftarkan kembali selama pesawat udara masih dioperasikan. 197 . Direktorat Angkutan Udara bertugas menyiapkan rumusan kebijakan di bidang sistem data dan standarisasi pelayanan angkutan udara. angkutan udara niaga berjadwal. AOC dapat diberikan berdasarkan syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh DJPU yang dirinci dalam operation spesification sebagai lampiran AOC.

dan distribusi rute di seluruh wilayah Indonesia. perusahaan penerbangan Indonesia harus mempersiapkan rencana operasi. DJPU kemudian akan melakukan evaluasi terhadap rencana bisnis setiap lima tahun sekali. Perseroan telah memiliki persetujuan atas rute domestik. maka izin angkutan udara niaga secara otomatis tidak berlaku. Setiap perusahaan penerbangan yang ditentukan untuk melakukan penerbangan dengan rute internasional juga wajib memperoleh ijin operasi penerbangan dari pemerintah negara tujuan. Berdasarkan Undang-undang Penerbangan. dan memiliki sendiri paling sedikit lima pesawat udara. yang didalamnya termasuk rencana pelaksanaan rute. yang tunduk pada standar layanan minimum yang ditetapkan oleh DJPU. Setiap perubahan pada rute yang telah disetujui harus terlebih dahulu disetujui oleh DJPU. Rute Rute Internasional Pelaksanaan rute internasional dilakukan berdasarkan perjanjian transportasi udara atau ASA antara Pemerintah Indonesia dengan negara lain yang dilakukan melalui DJPU. Menteri Perhubungan mempelajari dan menyetujui permintaan rute perusahaan penerbangan dengan mempertimbangkan rencana bisnis sesuai dengan permintaan. kepatuhan kepada persyaratan operasi penerbangan. Perseroan penerbangan wajib menyampaikan laporan mingguan kepada DJPU untuk seluruh flight approval. sementara setiap pelaksanaan rute yang telah disetujui harus dilaporkan kepada DJPU. termasuk melalui perjanjian leasing. antara lain ketersediaan hak angkut dan kemampuan operasional Perseroan. Izin angkutan udara niaga Perseroan baik yang berjadwal maupun yang tidak berjadwal untuk penerbangan kargo dan penumpang baik domesitik maupun internasional telah diperoleh Perseroan pada 2 Januari 2007 dan terus berlaku selama Perseroan tetap beroperasi sesuai dengan audit kinerja tahunan. Tarif penerbangan kelas bisnis tidak diatur sehingga perusahan penerbangan memiliki hak untuk mengatur dan menetapkan tarif penerbangan bagi kelas bisnis berdasarkan tingkat permintaan pasar. Jika suatu perusahaan penerbangan lalai untuk mengoperasikan atau tidak memiliki jumlah pesawat yang dipersyaratkan dalam waktu 12 (dua belas) bulan berturut-turut. Ketika ASA disetujui oleh para pihak. setiap negara memberikan hak kepada negara lain untuk mengoperasikan pesawatnya ke negara tersebut sesuai dengan ketentuan yang telah diperjanjikan. dan membayar beban untuk setiap flight approval kepada DJPU. perusahaan penerbangan Indonesia yang melakukan kegiatan usaha di bidang penerbangan berjadwal harus menguasai. maka pemerintah melalui DJPU akan memberikan hak rute internasional kepada perusahaan penerbangan di Indonesia yang memenuhi syarat untuk melakukan penerbangan rute internasional dengan berdasarkan beberapa kriteria. Selain itu. sebuah perusahaan penerbangan wajib memperoleh persetujuan terbang (flight approval) dari DJPU setiap akan melakukan penerbangan tidak berjadwal. yang wajib diperbaharui setiap enam bulan sekali kepada DJPU. Perseroan telah memiliki hak untuk mengoperasikan rute internasionalnya yang diperbaharui setiap enam bulan sekali kepada DJPU. Kursi di kelas ekonomi ditetapkan minimum sebesar 60% dari total kursi yang tersedia di setiap penerbangan. 198 . termasuk penerbangan VVIP. yaitu: (i) penerbangan berjadwal berpenumpang dan kargo domestik dan internasional. Negara tertentu mungkin mewajibkan perusahaan penerbangan dari negara lain untuk memperoleh AOC atau sertifikasi sejenis dari otoritas penerbangan sipil negara tersebut untuk mengoperasikan penerbangan di negara tersebut. Untuk memperoleh persetujuan rute. Rute dan Jaringan Domestik Rute domestik hanya dapat dioperasikan oleh perusahaan penerbangan Indonesia yang telah memiliki izin usaha angkutan niaga berjadwal. flight approval juga diperlukan dari negara tujuan bagi penerbangan internasional tidak berjadwal. (ii) penerbangan kargo dan penumpang domestik dan internasional yang tidak berjadwal.Izin angkutan udara niaga dibedakan dalam tiga kategori. Tarif Penerbangan Pemerintah mengatur tarif penerbangan domestik kelas ekonomi melalui Peraturan Menteri Perhubungan tahun 2010 (“Peraturan”) dimana DJPU melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan tersebut. (iii) penerbangan khusus kargo. Izin angkutan udara niaga juga mewajibkan perusahaan penerbangan di Indonesia untuk menyampaikan laporan keuangan dan operasional secara periodik kepada DJPU. Persetujuan Terbang (Flight Approval) Dalam melaksanakan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal. Setiap izin angkutan udara niaga akan tetap berlaku selama Perseroan melakukan usahanya dan mengoperasikan jumlah pesawat udara dalam jumlah minimum seperti yang disyaratkan oleh Undang-undang Penerbangan dan sesuai dengan hasil audit kinerja tahunan yang dikeluarkan oleh DJPU. fasilitas bandar udara. Berdasarkan ASA. minimum lima pesawat.

Untuk perawatan pesawat di wilayah dimana GMFAeroAsia tidak memiliki izin untuk melakukan perawatan. operasi penerbangan. standar. DJPU memastikan pelaksanaan manual dan program tersebut melalui audit dan pemeriksaan sebelum menerbitkan atau memperbaharui AOC untuk perusahaan penerbangan tersebut atau sertifikat kelaikan udara untuk setiap pesawat. DJPU dan DKUPPU mengeluarkan instruksi kepada staf yang bersangkutan dan memberikan edaran petunjuk. dan rekomendasi praktek yang digunakan bagi keamanan dan keselamatan penerbangan. Program pelatihan dipersiapkan berdasarkan standar ICAO dan disahkan oleh DJPU. Menteri Perhubungan juga memiliki hak untuk menentukan dan menerapkan tambahan beban yang dapat dibebankan oleh perusahaan penerbangan kepada penumpang selama kondisi tertentu. DJPU akan mengevaluasi tarif jarak setiap tahunnya berdasarkan pada perubahan yang signifikan yang mempengaruhi industri penerbangan. Berdasarkan Peraturan. Selain itu. Undang-undang Penerbangan juga mewajibkan perusahaan penerbangan untuk menerbitkan manual perawatan pesawat. Berdasarkan Undang-undang Penerbangan. Untuk mengimplementasikan CASR. Keamanan dan Keselamatan ICAO mengeluarkan aturan. Peraturan juga melampirkan semua rute yang saat ini dilayani perusahaan penerbangan masing-masing dengan tarif dasarnya. CASR dan Undang-undang Penerbangan mewajibkan perusahaan penerbangan untuk membuat dan mengimplementasikan sistem dan manual. premi asuransi yang diwajibkan dan beban tambahan. Perusahaan penerbangan harus memiliki manual pelatihan. yang dapat diaplikasikan kepada otoritas perusahaan penerbangan di masing-masing negara anggota. Indonesia telah mengadopsi aturan. prosedur pilot. pemegang lisensi organisasi perawatan pesawat udara. termasuk: (i) beban bahan bakar pesawat udara yang mencapai Rp10. Tarif jarak diperoleh dari jumlah produk tarif dasar setiap penumpang dan jarak yang mempertimbangkan juga kemampuan beli. edaran keselamatan dan kelaikan udara yang wajib dipatuhi perusahaan penerbangan.Tarif penerbangan kelas ekonomi dibatasi oleh DJPU. GMFAeroAsia.070 per perjalanan untuk 301-375 kilometer dan Rp1. Perseroan melakukan perjanjian perawatan pesawat dengan organisasi perawatan pesawat udara lain yang berlisensi di wilayah dimaksud. Peraturan. tertutama saat hari raya. dan rekomendasi praktek yang dikeluarkan oleh ICAO untuk diterapkan pada Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil atau Civil Aviation Safety Regulations (“CASR”) berdasarkan surat keputusan atau ketetapan atau peraturan yang dikeluarkan oleh DJPU atas nama Menteri Perhubungan. dimana FSC dapat membebankan sampai dengan 100% dari tarif jarak dan layanan penerbangan kelas menengah (MSC) dapat membebankan sampai dengan 90% dari tarif jarak dan LCC dapat mengutip beban hingga 85% dari tarif jarak. juga atas perawatan pesawat pada daerah tujuan internasional. Perusahaan penerbangan Indonesia harus menetapkan dan mengumumkan tarif normal yang telah disetujui DJPU baik melalui media cetak maupun media elektronik yang tidak dapat melebihi jumlah maksimum yang ditentukan DJPU atas nama Menteri Perhubungan. 199 . antara lain: tarif jarak. termasuk kru dan pilot. manual pemeliharaan pesawat dan manual sistem manajemen keselamatan yang telah disetujui oleh DJPU. dan fasilitas pelatihan yang dipersyaratkan. seluruh instruktur pelatihan harus sudah memiliki lisensi DJPU. termasuk manual yang diwajibkan sebagai prasyarat dalam perolehan AOC. Menteri menetapkan tarif dasar per penumpang berdasarkan tarif jarak per kilometer terbang adalah Rp2. personel dan bandar udara.000/liter atau (ii) fluktuasi nilai tukar yang dapat meningkatkan beban operasional penerbangan minimum sampai 10% selama lebih dari tiga bulan berturut-turut. standar dan praktek ICAO meliputi keselamatan dan keamanan sehubungan dengan pesawat dan pemeliharaan. dapat melakukan perawatan dan perbaikan atas mayoritas pesawat yang dioperasikan oleh perusahaan dan juga bagi perusahaan penerbangan pihak ketiga. yang menetapkan standar dan prosedur dari perbaikan dan perawatan pesawat berdasarkan CASR yang harus disetujui oleh DJPU. pajak.400 kilometer. manual pelatihan. Manual operasi perusahaan menjabarkan standar dan prosedur dari kegiatan harian dan operasi keseluruhan dari perusahaan penerbangan. tarif penerbangan internasional ditetapkan berdasarkan referensi dari ASA bilateral maupun multilateral yang mengatur rute yang terkait. Manual operasi perusahaan ini meliputi kebijakan-kebijakan perusahaan penerbangan terkait dengan penerbangan. dan selain itu. penanganan kargo dan penumpang. DJPU atas nama Menteri Perhubungan menentukan dan mengumumkan tarif jarak melalui konsultasi dengan asosiasi penerbangan nasional dan asosiasi pelanggan penerbangan. Maksimum tarif jarak bergantung pada tingkat layanan yang diberikan oleh perusahaan penerbangan. standar. yang menetapkan petunjuk pelatihan untuk pegawainya. dan juga aspek perlindungan konsumen dan kompetisi bisnis yang wajar.190 untuk perjalanan lebih dari 1. dimana pembatasannya didasarkan kepada beberapa hal. perusahaan penerbangan wajib menerbitkan program pemeliharaan kelaikan udara yang merinci panduan pelaksanaan pemeliharaan setiap pesawat yang dioperasikan perusahaan penerbangan tersebut. Syarat untuk memperoleh AOC antara lain perusahaan penerbangan Indonesia harus mengeluarkan manual operasi perusahaan. Perawatan pesawat dapat dilakukan baik oleh perusahaan penerbangan sendiri maupun oleh organisasi perawatan pesawat udara yang telah memperoleh izin DJPU.

Saat ini pemerintah telah merencanakan untuk menetapkan lima otoritas bandar udara yang akan disahkan di tahun 2012. Menurut CSAR. sertifikat kesehatan yang pada umumnya berlaku untuk 12 sampai dengan 24 bulan dan dapat diperpanjang pada saat penilaian kembali dan sertifikat tipe peringkat pesawat yang menunjukkan tipe pesawat yang dapat ditangani oleh pilot/awak tersebut. Bandar Udara Saat ini. Selain itu. termasuk lokasi dari bandar udara yang baru. fasilitas. diwajibkan pula adanya manual operasional untuk setiap tipe pesawat dimana masing-masing operator wajib memastikan seluruh personel telah dilatih dalam menjalankan tugas dan kewajibannya dan hubungan antara tugas tersebut dengan operasi perusahaan penerbangan pada umumnya. yang menetapkan suatu sistem kontrol kualitas terhadap operasi perawatan dan performa teknik. 200 . program keamanan juga harus dipersiapkan dan bertujuan untuk menjamin keamanan properti atau keamanan individual dari tindakan melanggar hukum atau tindakan yang dilarang untuk dilakukan di dalam pesawat. termasuk awak kabin. Operator bandar udara dapat membatasi waktu. pesawat Indonesia harus memiliki awak kabin seimbang dengan jumlah dan deskripsi pesawat udara untuk menjamin keamanan pesawat dan penerbangan dan sesuai dengan sertifikat kelaikan udara atau sesuai dengan jumlah kapasitas tempat duduk penumpang. frekuensi. Kualifikasi bandar udara dikeluarkan bersamaan dengan sertifikat bergantung pada kapasitas mereka pada saat memenuhi persyaratan personel. Lisensi ini terdiri dari ijin. Perusahaan penerbangan di Indonesia wajib untuk mematuhi peraturan lingkungan dan kebisingan di tiap negara dimana mereka beroperasi. risiko keamanan dan asuransi. termasuk seluruh hal yang berkaitan dengan emisi minyak dan material buangan lainnya. Disamping itu. pesawat harus memenuhi standar emisi gas dan kebisingan. dengan mengadopsi ketentuan-ketentuan dalam manual yang dikeluarkan oleh pabrik pesawat yang bersangkutan berdasarkan CASR. petugas pengoperasian pesawat. Disamping itu. Untuk memperoleh ijin konstruksi ini. Ijin konstruksi bandar udara dikeluarkan oleh Menteri Perhubungan dengan berkoordinansi dengan agen pemerintah setempat. Selain itu. Perusahaan penerbangan di Indoensia dan operator bandar udara harus mematuhi peraturan terkait lingkungan dan kebisingan. Berdasarkan Undang-undang Penerbangan. dimana perusahaan penerbangan wajib: (i) menunjuk unit keamanan dan pegawai yang didedikasikan dan (ii) mengadopsi tindakan keamanan dan rencana tanggapan darurat. disusun juga manual jaminan asuransi perusahaan. sebuah institusi independen yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden. dan teknisi perusahaan penerbangan Indonesia harus memiliki lisensi dari DJPU sesuai dengan CASR. bahkan menolak keberangkatan maupun pendaratan pesawat untuk memenuhi level tersebut. Awak Penerbangan Seluruh pilot dan awak penerbangan non-pilot. operator bandar udara harus memenuhi aturan keamanan dan keselamatan dan juga standar layanan udara yang dikeluarkan oleh DJPU. manual aerodrome yang dikeluarkan oleh DJPU. yaitu PT Angkasa Pura I (13 bandar udara di pusat dan Indonesia Bagian Timur) dan PT Angkasa Pura II (13 bandar udara di Indonesia Bagian Barat). terutama sehubungan dengan awak pesawat. Peraturan Lingkungan dan Kebisingan Untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara.Perusahaan penerbangan di Indonesia harus menyusun dan mengimplementasikan sistem manajemen keamanan. Ketentuan utama Annex 6 ICAO mewajibkan pembentukan metode pengawasan operasi penerbangan untuk memastikan tingkat keselamatan yang berkesinambungan. KNKT juga memberikan rekomendasi formulasi kebijakan dan peraturan terkait keselamatan transportasi. Terhadap kecelakaan pesawat di Indonesia dilakukan investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Selain itu. KNKT melaporkan temuantemuannya kepada Menteri Perhubungan. operator pesawat udara wajib memenuhi persyaratan Annex 6 ICAO yang menentukan kewajiban negara dalam mengawasi operator pesawat udara. Undang-undang Penerbangan mengamanatkan untuk membentuk otoritas bandar udara untuk menjamin keselamatan dan keamanan maupun kepatuhan pada standar layanan bandar udara dalam suatu daerah. mayoritas bandar udara di Indoensia dioperasikan oleh Perusahaan BUMN. navigator. Selain itu diwajibkan juga untuk menjaga tingkat kebisingan dan emisi lainnya pada level yang ditentukan oleh Pemerintah. Perusahaan penerbangan Indonesia harus mengoperasikan pesawatnya sesuai dengan prosedur operasi yang terkait. Menteri Perhubungan akan mengeluarkan cetak biru pengembangan bandar udara yang berlaku untuk 20 tahun.

kecuali yang disebabkan oleh cuaca buruk maupun masalah teknis yang akan diatur dalam Peraturan yang hingga kini belum terbit.000. penguasaan pasar. Secara umum. bagasi.. trust dan perjanjian tertutup. Tidak terangkutnya penumpang karena kapasitas pesawat. Perusahaan penerbangan bertanggung jawab mengganti kerugian nyata penumpang tersebut maksimum Rp1. 5 Tahun 1999 (UU Persaingan). Namun. maka perusahaan penerbangan harus (i) menyediakan makanan dan minuman ataupun akomodasi. apabila penumpang dapat membuktikan bahwa kerusakan maupun kehilangan tersebut disebabkan oleh tindakan perusahan penerbangan maupun awaknya. kehilangan dan kerusakan bagasi dan kargo yang dialami oleh penumpang. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan pengawasan terhadap praktek persaingan usaha melalui penerimaan pengaduan masyarakat ataupun investigasi yang dilakukan oleh KPPU sendiri. dalam hal ini. yang masih dalam kontrak perusahaan penerbangan tersebut.-/kilogram atau dalam jumlah lain yang disepakati oleh penumpang dan perusahaan penerbangan. Jumlah ganti kerugian adalah maksimum Rp40. jika dalam perjanjian kerjasama pengangkutan ditemukan hal-hal yang menjurus kepada pelanggaran atas UU Persaingan.000.. kecelakaan pesawat udara atau akibat benda yang jatuh dari udara saat pesawat dioperasikan. apabila penumpang memintanya. = = = = = = Jumlah kewajiban maksimum yang tercantum di atas kemungkinan akan direvisi sesuai dengan Peraturan yang sampai saat ini belum ada revisi yang telah diterbitkan. Perusahaan penerbangan bertanggung jawab mengganti kerugian penumpang tersebut sebesar Rp100. Penundaan terhadap penumpang. Peraturan menetapkan jumlah maksimum yang harus ditanggung atas hal-hal tersebut di atas dan jumlah maksimum tersebut harus ditinjau kembali setiap tahunnya. termasuk monopoli. maka perusahaan penerbangan dapat bertanggung jawab atas ganti kerugian diluar maksimum ganti kerugian yang ditentukan oleh Undang-undang Penerbangan. Rp40.000. kartel.untuk korban meninggal dunia dan Rp50.000. penentuan harga dan konspirasi.untuk setiap penumpang. Kerusakan atau kehilangan bagasi kabin. dan (ii) pengalihan penumpang ke jadwal penerbangan lainnya jika penumpang memintanya. Kerusakan atau kehilangan kargo ataupun barang yang dimasukan ke dalam pesawat pada saat barang atau kargo d. UU Persaingan mengatur mengenai hal-hal yang dilarang. cacat tetap dan terlukanya penumpang pada saat pesawat memuat maupun menurunkan penumpang. Berdasarkan Undang-undang Penerbangan. maka perusahaan penerbangan harus menyediakan akomodasi maupun transfer ke jadwal penerbangan lainnya. KPPU dapat melakukan penyelidikan. UU Persaingan tidak mengatur apapun mengenai perjanjian kerjasama pengangkutan. Peraturan Persaingan Perusahaan penerbangan tunduk pada peraturan mengenai persaingan usaha tidak sehat dan monopoli bedasarkan Undang-undang No.000.000. dalam hal-hal: (a) keterlambatan penerbangan.Kewajiban dan Tanggung Jawab berdasarkan Undang-undang Penerbangan Undang-undang Penerbangan telah menetapkan batasan kewajiban perusahaan penerbangan terhadap hal-hal seperti kematian.000.untuk korban luka-luka. penundaan maupun pembatalan penerbangan. Kerugian dapat juga dialami oleh pihak ketiga akibat kegiatan perusahaan penerbangan.000. (b) pembatalan penerbangan.. maka perusahaan penerbangan harus memberikan ganti rugi kepada penumpang dengan bebas beban akomodasi maupun beban transfer ke jadwal penerbangan. maupun kargo.000. pembagian wilayah. kecacatan maupun kecelakaan. Jika terlukanya penumpang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian perusahaan penerbangan atau petugasnya.untuk korban cacat tetap selain asuransi kecelakaan yang diwajibkan. Perusahaan penerbangan bertanggung jawab mengganti kerugian atas hal ini sebesar kerugian yang nyata-nyata diderita oleh pihak ketiga. bergantung pada lamanya penundaan. perusahaan penerbangan di Indonesia bertanggung-jawab terhadapa hal-hal sebagai berikut: = Meninggal. Berdasarkan Peraturan. serta perjanjian yang mengakibatkan penetapan harga. 201 .

202 . namun untuk melakukan kerjasama pengangkutan seperti ini. Saat ini negara-negara ASEAN telah menandatangani perjanjian liberalisasi transportasi udara antara ibu kota negara-negara anggota. sebagai sarana untuk mendapatkan akses ke rute atau pasar tertentu. Perseroan bermaksud untuk bekerjasama dengan IATA untuk menerapkan offset karbon dengan melakukan penjualan langsung kepada pelanggan melalui internet dan mengidentifikasi proyek-proyek CER yang akan mendapatkan manfaat dari prakarsa ini. negara anggota Association of Southeast Asian Nations (“ASEAN”) mengesahkan deklarasi Bali Concord II yang bertujuan untuk membentuk komunitas ekonomi terintegrasi antara negara anggota selambatnya pada 2020. Program IATA hanya berinvestasi pada proyek-proyek Certified Emission Reductions (CER) yang disetujui PBB dan kredit sukarela yang memenuhi Standar Karbon Sukarela dan atau Gold yang diakui. Dengan perjanjian kerjasama pengangkutan. Walaupun UU Persaingan tidak memerlukan persyaratan persetujuan. Diharapkan pula negara-negara anggota akan menandatangani perjanjian yang akan berlaku efektif pada 2015 untuk meliberalisasi transportasi udara antar seluruh daerah tujuan di ASEAN. termasuk percepatan liberalisasi untuk 11 sektor prioritas. Perseroan adalah maskapai penerbangan Indonesia pertama yang menandatangani Nota Kesepahaman dengan IATA yang sepakat untuk memberikan kesempatan kepada penumpang untuk mengurangi karbon yang dihasilkan dari penerbangan.Perusahaan penerbangan dapat melakukan perjanjian kerjasama pengangkutan dengan perusahaan penerbangan lain. termasuk penerbangan dan turisme. Perseroan memerlukan persetujuan dari DJPU atas rute yang dikerjasamakan. Kontribusi penumpang akan dugunakan untuk proyek CER yang disponsori oleh IATA. sebuah perusahaan penerbangan dapat menggunakan nomor penerbangannya meskipun Perseroan itu tidak menggunakan pesawat dan rutenya sendiri. Sistem ini memanfaatkan sistem keuangan IATA yang memungkinkan penumpang untuk membeli tiket dan melakukan offset pada saat yang sama. Program IATA Mengenai Penghapusan Karbon IATA mengelola program penghapusan karbon yang memungkinkan maskapai penerbangan untuk menawarkan para penumpangnya untuk mengimbangi emisi karbon mereka dengan memberikan kontribusi terhadap proyek-proyek pengurangan karbon di negara berkembang. Inisiatif tertentu telah dilakukan ke arah integrasi komunitas ekonomi tersebut. Program IATA menghitung emisi karbon berdasarkan metodologi yang dikembangkan oleh ICAO. Inisiatif Open Skies ASEAN Pada 2003.

374.882 170.838 1.597 232.901.000 18.917 80.997 20.266 5.585 28. Neraca Konsolidasi (dalam juta Rupiah) Uraian ASET Aset Lancar Kas dan setara kas Investasi jangka pendek Piutang usaha Pihak hubungan istimewa Pihak ketiga-setelah dikurangi Penyisihan Piutang ragu-ragu Penyertaan modal pemerintah yang akan diterima Piutang lain-lain Aset derivatif Persediaan Uang muka dan biaya dibayar dimuka Pajak dibayar dimuka Jumlah Aset Lancar Aset Tidak Lancar Dana perawatan pesawat dan uang jaminan Uang muka pembelian pesawat Aset pajak tangguhan Investasi saham Aset tetap . kesemuanya dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.056 1.745 1.492 11.914 1.960 1.069.000 4.492 207.815 1. 2006 dan 2005 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto Amir Jusuf dan Mawar (RSM).391 66.816 330.645 14.906 213.194.647 1.738 1.497.353 50.448 173.179 89.046.952.838 63.502 4.979 907.683 1.268 61.039 166.290 224.529 2.525 1.607 322.810 15.387 15.866 218.465 25.146 205.307.315 816.692 1.641.840 888.798 618.993 113.738 17.267.813 9.918 598.567 6.767 67.609 60.358 9.761.221 5.028.607 1.901 174.600 14.966 1.157 14.754 1.208 204.419 608.595 178.379.021 141.674 10.082 504.193 1.791.266.006 803.937 48.542 448.493.776 10.621 6.736 726.594.911.766 1.796.266 6.676.802.983 11.422 41.000 16.685.017.769 6.290 51.260 3.471 163.306 26.854 6.624 35.722.410 203 .833 61.604 500.175.632 812.setelah dikurangi akumulasi penyusutan Investasi jangka panjang Investasi jangka panjang lainnya Properti investasi Beban tangguhan Aset lain-lain Jumlah Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET KEWAJIBAN DAN EKUITAS Kewajiban Lancar Hutang bank Hutang usaha Pihak hubungan istimewa Pihak ketiga Hutang lain-lain Hutang pajak Biaya masih harus dibayar Pendapatan diterima dimuka 30 September 2010 2009*) 2009 2008 31 Desember 2007 2006**) 2005**) 1.038. 2007.933 31.624 615.721 11.303.647 11.622 6.831 780.118 643.183 261.103 11.344.438 4.528.281 5.554 950.552.BAB X.710 41.905 198.983.033 1.795 890.969.935 833.074 135.307 936.995 75.065.218.528 68.612 81.246 6.841 57.941 4.172 548.649 212.455 646.329 4.399.779 64.039 3.798 19.429 1.644 249. IKHTISAR DATA KEUANGAN PENTING Tabel berikut di bawah ini menggambarkan ikhtisar data keuangan penting konsolidasi Perseroan berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasi Perseroan dan Anak Perusahaan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian serta laporan keuangan konsolidasi yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang telah direview oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio dan Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) serta tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.029 10.442 817.601.438.903 14.445 2.037 1.308 1.532 9.755 929.212.000 2.511.626.334 1.735.378.191.677.184 281.069 11.071 637.404 2.982 1.5 11.905 23.589.126.584 313.972 46.230 1.789 14.527.424 104.833 83.515.911 176.833 865.595.199.805.493 1.894 14.859 79.417 10.310 1.939 4.006 4.440 781.956 63.496.049.825.624 11.742 396.803.340 222.304 564.340 717.541 1.222.147.635 1.931 2.167 1.305 48.020 120.773.132 3.465 393.000.206 87.425.424.800 1.816 4.694.540.000 1.759 362.113.622 20.000 16.450.848.136 53.112.353 111.045 36.725 224.790 198.568 3.990 565.138 516.944 4.423 1.838 1.

762.402 3.566 2006**) 26.504 1.269 6.570 902.402 1.086) (1.400 6.629 1.404 157.551 76.778 1.841 9.856.120.491.722 11.214.809 37.272 2.685.696 13.071 14.744) 9.768 255.000.180 7.230.588.322 255.344.Nilai nominal Rp1.863.233.564 8.424) 3.796 1.616 379.152.669.997 664 3.070.478 358.461.367 6.531 71.(dalam juta Rupiah) Uraian Uang muka diterima Hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun Pinjaman jangka panjang Hutang sewa pembiayaan Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Jumlah Kewajiban Lancar Kewajiban Tidak Lancar Hutang jangka panjang .849 687.574.192 97.349 (913) 446.182.740 1.008.719) 11.724 (7.675 2007 11.851 49.763 16.498 8.421 4.683 8.860.780 5.484.209.714.551.876 PENDAPATAN USAHA Penerbangan berjadwal Penerbangan tidak berjadwal Lainnya JUMLAH PENDAPATAN USAHA 204 .752) 1.795 (7.900.584) 9.872 1.382 332.622 106.921 305.710 17.258 11.065.480 7.170 5.552 6.793.436.422 1.831 4.154 1.946 1.245.773 8.692 (3.807 794.605.436 475.768.631 1.492 Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) **) Setelah penyesuaian dampak kumulatif penyajian kembali laporan keuangan konsolidasian tahun 2008 dan 2007 Laporan Laba Rugi Konsolidasi (dalam juta Rupiah) Untuk tahun yang berakhir 31 Desember Uraian Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009*) 11.952.629 8.625.673 1.600 711.629 401.222.887.582 6.478 4.564 8.826.584.378.070 11.809 229.280 213.285.737 850.366.031 1.018.037) 1.035 6.429 37.802.446 33.292) 3.049.656 (8.395.618 1.724 (9.998 12.924) 9.250 12.821) (10.018.308.036.152.753 1.869 2.402 1.669 12.805 450.120.152.535.914 6.347.874 71.786 19.042.999 (1.997 (656) 8.267.012 1.969 78.096 2005**) 9.874 3.292.157.442.677 2009 48.894 5.126 14.366.699.946.943 1.374 2008 15.729 35.962.354 1.849.680 2005**) 35.535 15.244.729 1.119 1.883 3.329.588.614 12.389 282.570.402 3.120.802.402 3.000 (364) 6.248 1.783) 7.500 1.435.setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Pinjaman jangka panjang Hutang sewa pembiayaan Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Obligasi konversi Kewajiban pajak tangguhan Kewajiban imbalan pasca kerja Kewajiban tidak lancar lain Jumlah Kewajiban Tidak Lancar JUMLAH KEWAJIBAN HAK MINORITAS EKUITAS Modal saham .592 163.731 1.449 6.447.146.675 (9.344.331 261.122 1.257.114 2.137 1.498 8.092 1.015.489.258.000 per saham Modal dasar Modal ditempatkan dan disetor Tambahan modal disetor Selisih transaksi perubahan ekuitas anak perusahaan Dana setoran modal Surplus revaluasi Kerugian belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Defisit JUMLAH EKUITAS (DEFISIENSI MODAL) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 30 September 2010 2009*) 118.402 1.515.303.045 1.344 1.466.216.522 1.835 4.628.018.863 13.243 1.809 391.672.214 3.533 8.852.236 30.747.771 14.552 25.933 6.997 500.423 4.387.129.402 1.280.290.637 487.323 5.290 6.439.830 12.826.526 395.629 8.817 4.955) (2.325 2009 13.329.799 10.900 102.669 (10.204 38.470 3.690.887.074 10.571.085.448.436.581.332 786.953 35.497.929 (7.050 14.338 202.429 9.235 242.968 12.349.437 1.415 2.133.093.266.114 332.399.983.430 2006**) 9.678 31 Desember 2008 2007 92.

884 58.355 899.498 1.400 1.167 1.337) 107.690 1.090 (262.619) 128.098) 80.721 12.612 (521.942.420.018.618 85.411 (37.391) 152.636.848 260.566 934.468 42.974.076 26.454 123.627 949.369 75.142 66.864 68.802 83.541 913.756) - 350.Uraian Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2010 2009*) (dalam juta Rupiah) Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009 2008 2007 2006**) 2005**) BEBAN USAHA Operasional penerbangan Tiket.565 196.678 135.852 (203.620 95.160.427) 3.233) 185.089.793 6.283 1.045.875 1.784 1.894 (521.107.107 (66.871 (17.033 313.585 38.068 2.797 986.183 711.692) (21.293 (33.527 - 65.921 900.947.688 32.466) 245.107.098) 93.591 1.637 1.022.077) 45.550 (203.172 6.789 511.636 (44.701 58.078.049 164.516 628.334) 78.956 (4.028.756) 79.225.800 891.213 (45.310.693) 34.569) (156.485) (35.252.815 623.481 184.942.097 130.738 911.991 110.086 1.063) 12.329 1.036 17.996.028.893 199.608 49.041 434.396 - (239.314 (119.527 (3.642 (7.378.968) - (233.295.976 367.421 223.353.884) (35.122) 33.993 1.089 1.884) (53.766) (156.250.396 (784) 710.434) 70.051.581) 159.319.207 6.229 1.710 113.340 (333.074 723.508 (441.934 273.899 5.549 (682) 194.236.267 51.002.894 400.223 38.840.975 6.807 68.938 27.510 8.239 23.194 1.075.455 50.971 (289.504.246.349 (233.719 1.225.217) (55.847 1.981) 164.289 9.265 1.722 9.193 (9.534 16.308.616 984.337 1.609.566 (438.007 912.266) 184.193 - 195.436 1.562.054.867 573.456 (211.897) 4.764 890.018 1.366 984.105.468 1.169 70.202.466) (115.340) 1.120 250.126 - 512.806 1.155 1.136 44.065 462.269 39.145 1.039 1. penjualan dan promosi Penyusutan dan amortisasi Pelayanan penumpang Bandara Administrasi dan umum Pemeliharaan dan perbaikan Beban imbalan kerja Operasional transportasi Operasional jaringan Operasional hotel Beban usaha lainnya JUMLAH BEBAN USAHA LABA (RUGI) USAHA PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN Keuntungan sale and lease back Keuntungan (kerugian) kurs mata uang asing – bersih Biaya pesangon pegawai Penghasilan bunga Beban bunga dan keuangan Keuntungan penjualan aset Beban penyisihan piutang lain-lain Bagian laba bersih investasi jangka panjang Pemulihan (penurunan) nilai aset Laba penjualan investasi Pemulihan (beban) keusangan persediaan Lain-lain – bersih BEBAN LAIN-LAIN – BERSIH BAGIAN LABA BERSIH PERUSAHAAN ASOSIASI LABA (RUGI) SEBELUM BEBAN PAJAK MANFAAT (BEBAN) PAJAK Pajak kini Pajak tangguhan Jumlah manfaat (beban) pajak LABA(RUGI) DARI AKTIVITAS NORMAL POS LUAR BIASA LABA (RUGI) SEBELUM HAK MINORITAS HAK MINORITAS LABA (RUGI) BERSIH 6.184) (148.884) 60.096.873 876.756) 98 (521.445.353 49.258 732.630 12.912 1.174 11.679 (78.368 11.206.286.656 573.735 711.026 5.380 71.126 (11.179.099 (36.149 13.610 17.142.098) 3.789) 65.144) 975.658) Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) **) Setelah penyesuaian dampak kumulatif penyajian kembali laporan keuangan konsolidasian tahun 2008 dan 2007 205 .716 1.967 593649 (56.372) 570.502 (413.653 1.914 1.254 12.990 61.085 918.141 880.928) 9.058.390 (422.693 1.486) 984.710 343.486) 128.078.735 876.797) (82.037 (377.033 1.242 104.

(b) rasio hutang dengan modal maksimal 2. Pada tanggal 30 September 2010.2% -31.60x 0.63x Catatan: *) Tidak diaudit/(penelaahan terbatas) **) Rasio-rasio pertumbuhan Pendapatan Usaha. Beban Usaha.40x 1.9% 7.76x 13.5% -9.52x 0. Beban Usaha.7% -4.1% -57.3% 4.65x 10. Laba (Rugi) Bersih.87x 0. Laporan keuangan tahun 2004 tidak disajikan karena memerlukan penyajian kembali sehubungan dengan perubahan penerapan prinsip akuntansi. Jumlah Kewajiban dan Jumlah Ekuitas untuk periode 9 bulan yang berakhir per 30 September 2009 dibandingkan dengan periode 9 bulan yang berakhir per 30 September 2008 tidak dapat disajikan karena Laporan keuangan untuk periode 9 bulan yang berakhir per 30 September 2008 tidak disajikan.6% 31.1% 5.16x 0.7% 28.91x 0.2% 3.80x 3.14x 0.2% 1.3% 2% 5.9% 0. Laba (Rugi) Usaha. (c) rasio perbandingan laba operasi bersih terhadap jumlah pinjaman minimal 100%.79x -10.4% 5. GMF AeroAsia telah memenuhi seluruh rasio keuangan yang dipersyaratkan dalam perjanjian pinjaman dari PT Bank Negara Indonesia antara lain: (a) rasio lancar minimal 1 kali.10x 0.5 kali.3% 1.1% 6.8% 35.0% 99. (b) rasio hutang dengan modal maksimal 2. ***) Rasio-rasio pertumbuhan Pendapatan Usaha.Rasio – Rasio Keuangan Uraian 30 September 2010 2009*) 31 Desember 2007 2009 2008 2006 2005 RASIO PERTUMBUHAN Pendapatan Usaha Beban Usaha Laba (Rugi) Usaha Laba (Rugi) Bersih Jumlah Aset Jumlah Kewajiban Jumlah Ekuitas RASIO USAHA Laba (Rugi) Usaha / Pendapatan Usaha Laba (Rugi) Bersih / Pendapatan Usaha Laba (Rugi) Usaha / Jumlah Ekuitas Laba (Rugi) Bersih / Jumlah Ekuitas Laba (Rugi) Bersih / Jumlah Aset RASIO KEUANGAN Aset Lancar / Kewajiban Lancar Jumlah Kewajiban / Jumlah Ekuitas Jumlah Kewajiban / Jumlah Aset 7% 16% -146% -66% -1% -12% 78% N/A**) N/A**) N/A**) N/A**) N/A**) N/A**) N/A**) -8% -6% -32% 4% -3% -17% 135% 38% 35% 85% 539% 28% 5% -208% 12% 8% 192% -178% 20% 8% -44% 0% -4% -219% -236% 5% -6% -35% N/A***) N/A***) N/A***) N/A***) N/A***) N/A***) N/A***) -2.58x 7.5 kali.5% 32.1% 15.7% 6.1% 1.4% 1.69x -3.2% 1. Anak Perusahaan Aerowisata. Jumlah Kewajiban dan Jumlah Ekuitas untuk tahun yang berakhir per 31 Desember 2005 dibandingkan dengan tahun yang berakhir per Desember 2004 tidak dapat disajikan karena Laporan keuangan untuk tahun 2004 yang berakhir per Desember 2004 tidak disajikan.78x 0.0% 5.6% -2.2% 6. (c) rasio kemampuan membayar hutang minimal 100 kali.7% -11. Anak Perusahaan. ACS telah memenuhi seluruh rasio keuangan yang dipersyaratkan dalam perjanjian pinjaman dari PT Bank Negara Indonesia antara lain: (a) rasio lancar minimal 1 kali. Pada tanggal 30 September 2010. 206 . Jumlah Aset. Laba (Rugi) Bersih.78x 0.4% 6.25x 0.1% -8. Jumlah Aset.67x -54.4% 5. Laba (Rugi) Usaha.66x 3.9% 5.8% -12.0% 71.46x 12.

Posisi ekuitas menurut laporan keuangan konsolidasi per tanggal 30 September 2010 setelah penawaran umum 9.841 9.461.000 3.402 1.929 (7.320.629 8.498 8.729 35.402 1.924) Apabila seluruh Saham Yang Ditawarkan dalam rangka Penawaran Umum Perdana Saham ini telah dilaksanakan seluruhnya menjadi saham Perseroan pada tanggal 30 September 2010.402 500.menjadi Rp500.675 (9. 207 .535 2007 7.771 31 Desember 2009 9.037) 1.669 (10.588.424) 6.216. 2007.770 Catatan: *) Jumlah belum dikurangkan dengan biaya-biaya sehubungan dengan Penawaran Umum Tidak ada penambahan modal setelah tanggal Laporan Auditor Independen.498 8.436.729 35.533 8.955) (3.300.446.000 11.723 (10.629 8. maka struktur Ekuitas Perseroan secara proforma adalah sebagai berikut: Tabel Proforma Ekuitas Pada Tanggal 30 September 2010 (dalam juta Rupiah) Uraian Modal Ditempatkan danTambahan Modal Disetor Penuh Tambahan Modal Disetor Surplus Revaluasi Cadangan Lindung Nilai Selisih Kurs Karena Penjabaran Laporan Keuangan Defisit Jumlah Ekuitas Posisi ekuitas menurut laporan keuangan konsolidasi audit pada tanggal 30 September 2010 Perubahan ekuitas setelah tanggal 30 September 2010 jika diasumsikan telah terjadi pada tanggal tersebut : = Perubahan nilai nominal saham dari sebesar Rp1.656 (8.= Penawaran umum sebesar 6.000 saham.200.086) (1.738.771 - - - - - - - 2.000.996 (364) 4.120.000* - - - - 3.244.216.000 3.738. 2006 dan 2005 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto Amir Jusuf dan Mawar.402 1.447.515.214. yang terdiri dari 4.402 1.498 8.783) 4.000 Saham Biasa Atas Nama Seri B milik Bank Mandiri.152.BAB XI.826.000.071 2008 8.000 1.000. kesemuanya dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.266.245.290.424) 3.100.564 8. (dalam juta Rupiah) Uraian Modal ditempatkan dan disetor penuh Tambahan modal disetor Dana setoran modal Surplus revaluasi Cadangan lindung nilai Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Defisit Jumlah Ekuitas (devisiensi modal) 30 September 2010 9.000 Saham Baru dan 1.821) (2.997 664 3.400.996 (655) 4.672.244.729 35.292) 3.826.146.424) 3.724 (7.724 (7.216.146.724 (7.402 1.366.744) 2005 6.841 9.000.335.564 8.402 3. EKUITAS Tabel berikut di bawah ini menggambarkan posisi ekuitas Perseroan berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasi Perseroan dan Anak Perusahaan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 dan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio dan Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) serta tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008.719) 2006 6.120.108.402 1.244.841 9.935.120.152.439.478 (9.498 1.

101/1996 tanggal 29 Maret 1996 tentang Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Subjek Pajak badan dalam negeri. perseroan komanditer. selama bank tersebut tidak mengubah alamat seperti yang tercantum pada sertifikat tersebut. Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah. seperti orang pribadi baik dalam negeri maupun luar negeri. maka penghasilan berupa dividen atau bagian laba tersebut tetap merupakan objek pajak. Sedangkan berdasarkan Pasal 17 ayat 2c. Dividen berasal dari cadangan laba ditahan. Koperasi. dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia tidak termasuk sebagai Objek Pajak Penghasilan sepanjang seluruh syarat-syarat di bawah ini terpenuhi: 1. dengan memenuhi Surat Edaran Dirjen Pajak No. dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk antara lain dividen. Dividen yang dibayar atau terhutang kepada Wajib Pajak Luar Negeri akan dikenakan tarif sebesar 20% (dua puluh persen) dari kas yang dibayarkan (dalam hal dividen tunai) atau 20% (dua puluh persen) dari nilai pari (dalam hal dividen saham). Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 651/KMK. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 208 . Namun untuk bank. kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen minimal 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor dan harus mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut. Lebih lanjut dalam penjelasan pasal 4 ayat (3) huruf f di atas juga ditegaskan bahwa dalam hal penerima dividen atau bagian laba adalah Wajib Pajak selain badan-badan tersebut di atas. dapat memperoleh fasilitas tarif yang lebih rendah dengan ketentuan harus menyerahkan Sertifikat Domisili asli yang diterbitkan Kantor Pajak negara asal. Dalam hal Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat 1 tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Sertifikat ini berlaku untuk masa 1 (satu) tahun dan selanjutnya harus diperpanjang. antara lain tidak dilakukan atas dividen yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f dan dividen yang diterima oleh orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2c). Kepada mereka yang merupakan penduduk dari suatu negara yang telah menandatangani suatu Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dengan Indonesia. Pasal 23 ayat (1) huruf a UU PPh menyebutkan bahwa atas dividen yang dibayarkan. 2.BAB XII. penyelenggara kegiatan. Bentuk Usaha Tetap. 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang No. selanjutnya disebut sebagai “UU PPh” pasal 4 ayat (1) menyebutkan bahwa yang menjadi Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan. baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. dan Bagi perseroan terbatas. atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah. atau perwakilan Perseroan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak Dalam Negeri atau Bentuk Usaha Tetap. pasal 4 ayat (3) huruf f menyebutkan bahwa dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh Perseroan Terbatas sebagai Wajib Pajak Dalam Negeri. disediakan untuk dibayarkan. firma. besarnya tarif pemotongan adalah lebih tinggi 100% (seratus persen) dari pada tarif pajak yang seharusnya dikenakan. 36 Tahun 2008 (berlaku efektif 1 Januari 2009). maka penghasilan yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia tidak termasuk sebagai Objek Pajak Penghasilan apabila penghasilan tersebut diterima atau diperoleh dari penanaman modal antara lain dividen dari saham pada Perseroan Terbatas yang tercatat di Bursa Efek di Indonesia. sertifikat tersebut tetap berlaku. PERPAJAKAN Perpajakan Untuk Pemegang Saham Pajak Penghasilan atas dividen saham yang dikenakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. dipotong pajak sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan.04/1994 tanggal 29 Desember 1994 tentang Bidang-bidang Penanaman Modal Tertentu Yang Memberikan Penghasilan Kepada Dana Pensiun Yang Tidak Termasuk Sebagai Objek Pajak dari Penghasilan. SE-03/PJ. Selanjutnya. Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud oleh pasal 23 pada ayat (1). Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah yang menerima dividen. tarif yang dikenakan atas penghasilan berupa dividen yang dibagikan kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) dan bersifat final. yayasan dan organisasi sejenis dan sebagainya.

3. Namun apabila pemilik saham pendiri tidak memilih metode pembayaran berdasarkan 0.5% (nol koma lima persen) dari nilai seluruh saham pendiri yang dimilikinya pada saat Penawaran Umum. 14 Tahun 1997 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. Penyetoran tambahan Pajak Penghasilan yang terhutang dapat dilakukan oleh Perseroan atas nama masingmasing pemilik saham pendiri dalam jangka waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah saham tersebut diperdagangkan di Bursa Efek. Sampai dengan tanggal Prospektus ini diterbitkan. 209 . Perseroan telah memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan perundang-undangan dan peraturan perpajakan yang berlaku. Pemilik saham pendiri dikenakan tambahan Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 0. dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Penyetoran Pajak Penghasilan yang terhutang dilakukan dengan cara pemotongan oleh penyelenggara Bursa Efek melalui perantara pedagang efek pada saat pelunasan transaksi penjualan saham. maka penghitungan Pajak Penghasilannya dilakukan berdasarkan tarif Pajak Penghasilan yang berlaku umum sesuai pasal 17 Undang-undang No 17 tahun 2000. Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dan Wajib Pajak Badan dari transaksi penjualan saham di Bursa Efek dikenakan Pajak Penghasilan sebesar 0. 2. PEMILIKAN MAUPUN PENJUALAN SAHAM YANG DIBELI MELALUI PENAWARAN UMUM INI. CALON PEMBELI SAHAM DALAM PENAWARAN UMUM INI DIHARAPKAN UNTUK BERKONSULTASI DENGAN KONSULTAN PAJAK MASING-MASING MENGENAI AKIBAT PERPAJAKAN YANG TIMBUL DARI PEMBELIAN. Peraturan Pemerintah atas penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek di atas juga berlaku untuk Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menkeu Republik Indonesia. Perseroan tidak memiliki tunggakan pajak. Pajak Pertambahan Nilai (PPN).Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Pemenuhan Kewajiban Perpajakan Perseroan Sebagai Wajib Pajak secara umum Perseroan memiliki kewajiban perpajakan untuk Pajak Penghasilan (PPh). ditetapkan sebagai berikut: 1. 41 Tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek.5% Pajak Penghasilan yang bersifat final.1% (nol koma satu persen) dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan dan bersifat final.

kondisi keuangan Perseroan serta kewajiban Perseroan terhadap para kreditur termasuk kreditur ECA. Manajemen Perseroan berencana untuk membagikan dividen setidaknya sekali setahun kecuali diputuskan lain dalam RUPS.BAB XIII. dengan persetujuan para pemegang saham dalam RUPS. KEBIJAKAN DIVIDEN Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia dan Anggaran Dasar Perseroan. Direksi Perseroan akan membayarkan dividen secara tunai dalam bentuk dividen kas. Berdasarkan hal tersebut diatas. Dengan memperhatikan hal-hal di atas. Manajemen Perseroan merencanakan kebijakan pembagian dividen tunai maksimum 50% (lima puluh persen) dari laba bersih Perseroan untuk setiap tahunnya dengan ketentuan (i) terdapat kelebihan kas (excess cash) Perseroan di tahun yang bersangkutan sebagaimana disyaratkan dalam Restrukturisasi Hutang tanggal 21 Desember 2010 (ii) tidak ada saldo yang jatuh tempo dan belum dibayar atas perjanjian sewa dan tidak ada saldo lainnya yang jatuh tempo dan belum dibayar atas peminjaman hutang lainnya dan (iii) tidak ada kejadian sehubungan dengan pailit dan ketidakmampuan membayar kewajiban yang ada. Laba bersih yang tersedia untuk pembayaran dividen dapat berkurang dengan adanya kewajiban Perseroan untuk mengalokasikan cadangan. 210 . laba bersih Perseroan dapat dibagikan kepada Pemegang Saham sebagai dividen setelah penyisihan dana cadangan wajib yang dipersyaratkan undang-undang. Dengan tetap memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku. Peraturan perundang-undangan di Indonesia mensyaratkan cadangan sampai dengan sedikitnya 20% dari modal ditempatkan dan disetor Perseroan. Dividen hanya boleh dibagikan apabila Perseroan mempunyai saldo laba positif. Pembagian dividen harus disetujui oleh Pemegang Saham melalui keputusan RUPS Tahunan berdasarkan rekomendasi Direksi Perseroan.

299% 0. PT BNI Securities (Terafiliasi) PT CIMB Securities Indonesia PT OSK Nusadana Securities Indonesia PT Valbury Asia Securities PT Reliance Securities Tbk.725% 0.750. 11.000 37.250.619.952.209% 0.000.375. 7 tanggal 3 Desember 2010 dan Akta Perubahan I Perjanjian Penjaminan Emisi Efek No. PT Majapahit Securities Tbk.000. 15.505% 0.157..638% 0. 20.492% Porsi Penjaminan Nilai (Rp) Persentase (%) 211 .000 9.724% 0.500 1.625.000.722% 0.497% 82.919.543% 0.500 255.294.000 95. selanjutnya pada tanggal pembayaran membayar hasil penjualan saham pada pasar perdana kepada Perseroan dan Pemegang Saham Penjual. 7.151. PT Bahana Securities (Terafiliasi) PT Danareksa Sekuritas (Terafiliasi) PT Mandiri Sekuritas (Terafiliasi) Sub Total Penjamin Emisi Efek 1.000 27.919.750.492.625.500. PENJAMINAN EMISI EFEK Keterangan Tentang Penjaminan Emisi Efek Berdasarkan persyaratan serta ketentuan yang tercantum dalam Akta Perjanjian Penjaminan Emisi Efek No. 13.613.306.210% 0.634% 0.000 1.500 56. pada tanggal penutupan masa penawaran.300.000 21.500 45.344.000 42.100.162.152.453% 0.375. 16.437. untuk membeli sendiri sisa Saham Yang Ditawarkan yang tidak habis terjual sesuai dengan bagian penjaminan masing-masing.439.306.000 11.500 1.000 30. Selanjutnya para Penjamin Emisi Efek yang ikut dalam Penjaminan Emisi Saham Yang Ditawarkan telah sepakat untuk melaksanakan tugasnya masing-masing sesuai dengan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal No.210% 0. 28 tanggal 26 Januari 2011.KEP-45/PM/2000 tanggal 27 Oktober 2000.000 9.909.875.500 34.726.000 5.614.425.195% 1.250.000 9.151.258.306.425.455.000 9.000 13. IX.000 45. 17. 10.875.247% 0.497% 27. Perjanjian Emisi Efek ini menghapuskan perikatan sejenis baik tertulis maupun tidak tertulis yang telah ada sebelumnya dan yang akan ada dikemudian hari antara Perseroan dengan Penjamin Emisi Efek.220% 0.841.000 34.825.000 15.500 28. 8.000 14.000 34.750.613. 14.384% 1.788% 0.500 5. 9.000 34.975.819.901.508.000 13.649. 12.401. Notaris di Jakarta.000 13.750.943.000 14.500.A.210.000 15.000 30.750. 18. 2.516.497% 27.201.BAB XIV.000 18.235% 0.7 tentang Tanggung Jawab Manajer Penjatahan dalam Rangka Pemesanan dan Penjatahan Efek dalam Penawaran Umum.125. 3.000 1. 4.000 11.625. Penjamin Emisi Efek Lembar Saham Penjamin Pelaksana Emisi Efek 1.935.281.742.000 40.742.000 3. PT Bhakti Securities PT Sinarmas Sekuritas PT Ciptadana Securities PT Bumiputera Capital Indonesia PT Panin Sekuritas Tbk PT Panca Global Securities Tbk PT Recapital Securities PT Phillip Securities Indonesia PT Amcapital Indonesia PT UOB Kay Hian Securities PT Mega Capital Indonesia PT Lautandhana Securindo PT Nikko Securities PT Equity Securities Indonesia 341. Penjamin Pelaksana Emisi Efek dan Para Penjamin Emisi Efek yang namanya tercantum di bawah ini menyatakan dengan kesanggupan penuh (full commitment). Adapun susunan dan jumlah porsi penjaminan serta persentase dari anggota sindikasi penjaminan emisi dalam Penawaran Umum atas Saham Yang Ditawarkan adalah sebagai berikut: No. 6.251.000 12.917. Peraturan No.000.500 1.960. 3.121.688.625.464.000 71.125.500 49. 19.736.887% 0.000 45.000 25. 5.375.226. 2.500 40.000 13.H.245% 0.742.181.000 10.000 11. keduanya dibuat di hadapan Fathiah Helmi S.335.301.

945. 48.116.111% 0.375.181% 0.500.000 1.500 6.000 2. 40.000 5.500.000 2.062% 0.936.298. 27. 26.002% 17. 36.500 11.000.000 645. Hubungan antara perusahaan dengan pihak.750.000 2.500.000 1. 212 .875.109.117% 0. 29.447.078% 0. 24.000 7.500 1.644.000 8.761.750.000 5.000 6.750.020% 0.684.560. Penjamin Emisi Efek Lembar Saham 21.569. baik secara horisontal maupun vertikal. 41.000 8.080.968. baik langsung maupun tidak langsung.625.000 3.092% 0.809. Hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan.000 6.000 1.000 2.973.750.000 1. 34.000 1.250.722. Hubungan antara para pihak dengan pegawai.168% 0.070% 0.261.016% 0.282.000 5. 46.099% 0. 42.000.000 Persentase (%) 0.056% 0.000 3. 22.608.No. 31.041% 0. yang dimaksudkan dengan pihak yang mempunyai hubungan afiliasi adalah sebagai berikut : Hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai derajat kedua. 45. Hubungan antara 2 (dua) perusahaan dimana terdapat satu atau lebih anggota direksi atau dewan komisaris yang sama.000 860. 39.000.253.000.000 7.986.041% 0.250.018% 0. 43. 44.750.000 4.250.015.000 1.000 Porsi Penjaminan Nilai (Rp) 8.000 2.751.142% 0.010% 0.839.083% 0. 32.250.045% 0.014% 0. 37.000 498.750.000 5.004. 30.983.000 831.000 3.000 4.000 7.746.000 9.000 782.605.000 5.550. 51.958. baik langsung maupun tidak langsung.508% 100% Berdasarkan Undang-undang No.105% 0.250.122% 0.803.014% 0. 8 Tahun 1995.090% 0. 50.379.000 4.770.980.043. mengendalikan atau dikendalikan oleh perusahaan tersebut.147.000 6.180% 0.000 2.000 2.000 7. 38. atau Hubungan antara perusahaan dan pemegang saham utama.077.175% 0.875.000 4.500.375.500.064.000.961.020% 0.107% 0.738.000 1.401. 25.750.000 3.653.000 1.000 665. 35. PT Danatama Makmur PT Kresna Graha Sekurindo Tbk PT Masindo Artha Securities PT Danpac Sekuritas PT Erdikha Elit Sekuritas PT Minna Padi Investama Tbk PT Danasakti Securities PT Dhanawibawa Arthacemerlang PT Semesta Indovest PT Asjaya Indosurya Securities PT E-Capital Securities PT Investindo Nusantara Sekuritas PT Evergreen Capital PT Sucorinvest Central Gani PT JJ NAB Capital PT Andalan Artha Advisiondo Sekuritas PT Henan Putihrai PT Victoria Sekuritas PT Transasia Securities PT Overseas Securities PT Pacific Capital PT Citi Pacific Securities PT Bapindo Bumi Sekuritas PT Nusantara Capital Securities PT Makindo Securities PT Samuel Sekuritas Indonesia PT Wanteg Securindo PT Indo Mitra Securities PT Madani Securities PT Yulie Sekurindo Tbk PT Universal Broker Indonesia PT Kim Eng Securities PT HD Capital Tbk Sub Total Total 11. oleh pihak yang sama.295.913.151.582.000 2.715.956. 52.000 107.000 5.750. direktur atau komisaris dari pihak tersebut. tanggal 10 Nopember 1995 Tentang Pasar Modal dan Peraturan Pelaksanaannya.335.250.291.000 5.489.250.000 4. 28.000 143.000 4.000 1.250.500 10.500 11.500.125.063% 0. 47.000 1.000 2. 49.036% 0. 33.297.000 687.000 916.000 861.474.721.000 3.648.286.538.033% 0. 23.000 968.250.500.000 937. 53.875.024% 0.000 4.500 6.869.500 3.335.426.

006. PT Danareksa Sekuritas. Negara Republik Indonesia memiliki 100% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT Danareksa (Persero).85% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT BNI Securities. sejarah singkat. prospek usaha dan keterangan mengenai industri penerbangan di Indonesia. Penjamin Emisi Efek lainnya dengan tegas menyatakan tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Perseroan baik secara langsung maupun tidak langsung. Penentuan Harga Penawaran Pada Pasar Perdana Harga Penawaran untuk saham ini ditentukan berdasarkan hasil kesepakatan dan negosiasi Pemegang Saham Penjual. Penentuan harga ini juga telah mempertimbangkan faktorfaktor berikut: • • • • • • Kondisi pasar pada saat bookbuilding dilakukan. kinerja Perseroan. Negara Republik Indonesia memiliki sebanyak 1 (satu) lembar saham Seri A Dwiwarna. Dengan demikian antara Perseroan dengan PT Bahana Securities selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek adalah terafiliasi melalui kepemilikan saham oleh Negara Republik Indonesia. sedangkan PT Danareksa (Persero) memiliki 99.99% modal ditempatkan dan disetor penuh dalam PT Bahana Securities.84% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.972. dan PT BNI Securities. Dengan demikian antara Perseroan dengan PT Mandiri Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek adalah terafiliasi melalui kepemilikan saham oleh Negara Republik Indonesia.100.000.187.21% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.99% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT Danareksa Sekuritas. Negara Republik Indonesia memiliki 1 (satu) lembar saham Seri A Dwiwarna dan 31. sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memiliki 95.000. Negara Republik Indonesia memiliki 22.82% dari modal ditempatkan dan disetor dalam Perseroan dimiliki oleh Negara Republik Indonesia. Berdasarkan hasil penawaran awal (bookbuilding) jumlah permintaan terbanyak yang diterima oleh Penjamin Pelaksana Emisi Efek. dan Mempertimbangkan kinerja saham di pasar sekunder.Perseroan adalah Badan Hukum Indonesia yang 85.16% dan 10. Penilaian terhadap manajemen Perseroan. sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memiliki 99.399 (dua ratus tujuh belas juta enam ribu tiga ratus sembilan puluh sembilan) Saham Seri B atau 1. Tidak dapat dijamin atau dipastikan. baik di masa lampau maupun pada saat ini.500 (dua puluh dua ribu lima ratus) saham atau 100% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) sedangkan PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) memiliki 99. harga saham Perseroan akan terus berada di atas Harga Penawaran atau perdagangan saham Perseroan akan terus berkembang secara aktif di Bursa Efek dimana saham tersebut dicatatkan. Status dan perkembangan terakhir dari Perseroan. bahwa setelah Penawaran Umum ini. operasi dan kinerja Perseroan. Perseroan dan Penjamin Pelaksana Emisi Efek dengan mempertimbangkan hasil penawaran awal (bookbuilding) yang dilakukan pada tanggal 12-24 Januari 2011. Dengan demikian antara Perseroan dengan PT BNI Securities selaku Penjamin Emisi Efek adalah terafiliasi melalui kepemilikan saham oleh Negara Republik Indonesia. Data dan informasi mengenai Perseroan. serta prospek pendapatan di masa mendatang. PT Mandiri Sekuritas. 213 . Dengan demikian antara Perseroan dengan PT Danareksa Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek adalah terafiliasi melalui kepemilikan saham oleh Negara Republik Indonesia. Dengan mempertimbangkan hasil penawaran awal tersebut di atas maka berdasarkan kesepakatan antara Penjamin Pelaksana Emisi Efek dengan Perseroan ditetapkan harga penawaran sebesar Rp750 (tujuh ratus lima puluh Rupiah).475 (sepuluh miliar sembilan ratus tujuh puluh dua juta seratus delapan puluh tujuh ribu empat ratus tujuh puluh lima) Saham Seri C atau 58. Selain PT Bahana Securities.69% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh pada PT Mandiri Sekuritas. berada pada kisaran harga Rp750-Rp1. Kinerja keuangan Perseroan. 217.000 (tiga puluh satu miliar) Saham Seri B atau 69.

STTD: 344/PM/STTD-AP/2003 Fungsi utama Akuntan Publik dalam rangka Penawaran Umum Saham ini adalah untuk melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.027.260. sebagaimana diharuskan dalam rangka penerapan prinsip-prinsip keterbukaan yang berhubungan dengan Penawaran Umum Penunjukan Assegaf Hamzah & Partners sebagai Konsultan Hukum sesuai dengan Surat No. Kuningan Ruang lingkup tugas Notaris selaku Profesi Penunjang Pasar Modal dalam Jakarta 12950 – Indonesia rangka Penawaran Umum ini adalah membuat akta otentik atas : a. HKHPM: 200720 No.BAB XV. c. GARUDA/TIM/IPO-20150/2010 tanggal 16 Agustus 2010. Hasil pemeriksaan dan penelitian hukum tersebut telah dimuat dalam Laporan Uji Tuntas yang menjadi dasar Pendapat Hukum yang diberikan secara obyektif dan mandiri. Mega Kuningan Lot. 1&2. serta guna meneliti informasi yang dimuat dalam Prospektus sepanjang menyangkut segi hukum. Perjanjian Pengelolaan Administrasi Saham antara Perseroan dan Biro Administrasi Efek. 17 Jakarta 10110 – Indonesia No. Notaris: Nomor Asosiasi Notaris Indonesia: 011. atas dasar pengujian. 5. 6 Pedoman kerja: Pernyataan Undang-undang No. Perjanjian Penjaminan Emisi Efek antara Perseroan dengan Para Para Penjamin Pelaksana Emisi Efek dan Para Penjamin Emisi Efek. Standar tersebut mengharuskan Akuntan Publik merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji yang material dan bertanggung jawab atas pendapat yang diberikan terhadap laporan keuangan berdasarkan audit yang dilakukan. GARUDA/TIM/IPO-20168/2010 tanggal 16 Agustus 2010. serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.1 Kawasan Mega Kuningan Jakarta 12950 – Indonesia No. meliputi pemeriksaan dan penelitian dengan kemampuan terbaik yang dimiliki Konsultan Hukum atas fakta yang ada mengenai Perseroan dan keterangan lain yang berhubungan dengan itu yang disampaikan oleh Perseroan atau pihak terkait lainnya kepada Konsultan Hukum.H. LEMBAGA DAN PROFESI PENUNJANG PASAR MODAL Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal yang berperan dalam penawaran umum ini adalah sebagai berikut: Akuntan Publik: Osman Bing Satrio dan Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) Wisma Antara lt.958 Kantor Notaris Fathiah Helmi.003.H. Audit juga meliputi penilaian atas dasar prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen. HR Rasuna Said Blok X-1 Jabatan Notaris dan Kode Etik Ikatan Notaris Indonesia Kav. bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Penunjukan Osman Bing Satrio dan Rekan sebagai Akuntan Publik sesuai dengan Surat No. Medan Merdeka Selatan No. 12 Jl. b. Konsultan Hukum: Assegaf Hamzah & Partners Menara Rajawali lt. 16 Jl. S. STTD: 43/BL/STTD-KH/2007 Tugas dan tanggung jawab Konsultan Hukum dalam rangka Penawaran Umum ini. Keanggotaan Asosiasi: 1010 No. Perubahan Anggaran Dasar Perseroan dalam rangka Penawaran Umum. S. 214 . sebagai Notaris sesuai dengan Surat No. sesuai dengan Standar Profesi dan Peraturan Pasar Modal yang berlaku. 30 tahun 2004 Tentang Jl. No STTD: 02/STTD-N-PM-1996 tanggal 12 Pebruari 1996 Graha Irama lt. Tugas Akuntan Publik meliputi pemeriksaan. GARUDA/TIM/IPO-20151/2010 tanggal 16 Agustus 2010. Penunjukan Fathiah Helmi.

mesin-mesin dan peralatan. BAE juga bertanggung jawab menerbitkan Surat Kolektif Saham (SKS). BAE melakukan proses penjatahan sesuai dengan rumus penjatahan yang ditetapkan oleh Manager Penjatahan. GARUDA/TIM/IPO-20152/2010 tanggal 16 Agustus 2010.Perusahaan Penilai: KJPP Toto Suharto dan Rekan Jl. Penunjukan PT Datindo Entrycom sebagai Biro Administrasi Efek sesuai dengan Surat No. Hayam Wuruk No. 215 . serta melakukan administrasi pemesanan pembelian saham sesuai dengan aplikasi yang tersedia pada BAE. dan menyusun laporan Penawaran Umum Perdana sesuai dengan peraturan yang berlaku. sesuai dengan Standar Profesi dan Peraturan Pasar Modal yang berlaku. Properti yang dinilai meliputi aktiva tetap yang terdiri atas tanah. Bersama-sama dengan Penjamin Emisi. 34-35 Jakarta 10220 – Indonesia Asosiasi: Asosiasi Biro Administrasi Efek Indonesia (ABI) No STTD: Kep. alat berat dan kendaraan serta inventaris Perseroan. Izin Penilai Publik: PB-1. BAE mempunyai hak untuk menolak pemesanan saham yang tidak memenuhi persyaratan pemesanan dengan memperhatikan peraturan yang berlaku. 1-RL Jakarta 10120 – Indonesia No. Dalam hal terjadinya pemesanan yang melebihi jumlah saham yang ditawarkan. Biro Administrasi Efek: PT Datindo Entrycom Puri Datindo – Wisma Sudirman Jl. Keanggotaan MAPPI: 93-S-00361 No. meliputi penerimaan pemesanan saham berupa Daftar Pemesanan Pembelian Saham (DPPS) dan Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS) yang telah dilengkapi dengan dokumen sebagaimana diisyaratkan dalam pemesanan pembelian saham dan telah mendapat persetujuan dari Penjamin Emisi sebagai pemesanan yang diajukan untuk diberikan penjatahan saham. STTD: 01/PM/STTD-P/AB/2006 Tugas dan kewajiban Perusahaan Penilai secara langsung pada lokasi aktiva tetap Perseroan dan memberikan pendapat atas nilai pasar aktiva tetap Perseroan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilai Indonesia serta peraturan Pasar Modal yang berlaku dengan tujuan untuk mengungkapkan suatu pendapat mengenai Nilai Pasar atas aktiva tetap Perseroan. infrastruktur.08. bangunan. Penunjukan KJPP Toto Suharto dan Rekan sebagai Perusahaan Penilai sesuai dengan Surat No.00060 No. apabila diperlukan. Sudirman Kav. Jend. mencetak Formulir Konfirmasi Penjatahan dan menyiapkan laporan penjatahan.16/PM/1991 tanggal 19 April 1995 Pedoman kerja: Peraturan Pasar Modal dan Bapepam dan LK Tugas dan tanggung jawab Biro Administrasi Efek (BAE) dalam Penawaran Umum ini. GARUDA/TIM/IPO-20146/2010 tanggal 16 Agustus 2010. Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal yang terlibat dalam Penawaran Umum ini tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Perseroan sebagaimana definisi hubungan afiliasi dalam UU PM.

Halaman ini sengaja dikosongkan 216 .

dalam rangka Penawaran Umum melalui Prospektus ini. yang telah disusun oleh Konsultan Hukum Assegaf Hamzah & Partners.BAB XVI. 217 . PENDAPAT DARI SEGI HUKUM Berikut ini adalah salinan Pendapat Dari Segi Hukum mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan Perseroan.

Halaman ini sengaja dikosongkan 218 .

219 .

220 .

221 .

222 .

223 .

224 .

225 .

226 .

227 .

228 .

229 .

230 .

231 .

232 .

233 .

234 .

235 .

236 .

237 .

238 .

239 .

240 .

241 .

242 .

243 .

244 .

245 .

246 .

247 .

248 .

249 .

250 .

251 .

252 .

253 .

254 .

255 .

256 .

BAB XVII. 2007. kesemuanya dengan pendapat wajar tanpa pengecualian. 257 . LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN DAN LAPORAN KEUANGAN PERSEROAN Laporan Keuangan Konsolidasi Perseroan dan Anak Perusahaan untuk periode 9 (sembilan) bulan yang berakhir pada tanggal 30 Septembar 2010 serta tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 yang telah diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian serta laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 30 September 2009 yang telah direview oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing Satrio dan Rekan (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited) serta tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008. 2006 dan 2005 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Aryanto Amir Jusuf dan Mawar (RSM).

Halaman ini sengaja dikosongkan 258 .

259 .

260 .

261 .

262 .

264 dan Rp 260.933.145.293.767.317 890.253 548.943.297.434.248 1.453.626.634.866.985.598.643.192.344.152.742.187 330.551.656.636 10.158.003.888 198.791.746.086.setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp 7.790.425.073.037.000 14.444.186 3.905.744 1.579 20.049.928 198.795.512 untuk 31 Desember 2009.528.550.676.599 3x.4 5 3x.000.766 81.305 dan Rp 6.029.6 3f.987.151.337 313.387.969.624.918.940.491.816.835 4.376.081 565.824.8 3i.453 4.813.229.568.704.886.000.528.901.PT.595.423.494 41.607 5.654.123.10 1.673.140.492.840.097.803.552.481.415 14.800.158 888.403. serta Rp 7.722.788.823.584.265.050 643.079.438.612.802.3x.712.540.099 780.603 46.500 23.158.976 53.290 5.027.254.16 3d.290.061 1.503.621.583 15.886.683.389.104.220.017. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA 31 DESEMBER 2009.278 untuk 30 September 2010 dan 2009.813 817.710.401 1.594 396.675.640.000.156.818.492 4.685.943.228 6.911.641.290.113.711 615.733 19.386.833.724.403.648 170.947.952 17.399.525.864 1.601.350.761 14.138.645.527. 2008 DAN 2007 30 September 2009 (Tidak diaudit) Rp (Disajikan kembali .303.543 67.647.911.15 3q.831.424.000.955 1.3o.776.setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu sebesar Rp 323.470 83.737.11 12 3w.117.933.184.464.809.391.695 10.853.913.211 646.000 16.070 3m.7 3z.17 5.3x.923.965.419.019 205.774 11.305.978.735 11.710.455.954.450 618.928.126.981 3p.773.3n.894.331 907.444 51.992.393.590.000.266.901.962. Rp 319.572 322.352.000.656.091.815.814 4.502.305 213.065.815 135.930.519 204.474.279.191.422.751 untuk 30 September 2010 dan 2009.Catatan 54) 31 Desember 31 Desember 2008 2007 Rp Rp Catatan ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas Investasi jangka pendek Piutang usaha Pihak hubungan istimewa Pihak ketiga .624.220 60.210.955 1.504.909 1.901.933 11.504.253 9.445 28. 2008 dan 2007 Properti Investasi Beban tangguhan Aset lain-lain Jumlah Aset Tidak Lancar JUMLAH ASET 3g.587.722.113.952.641.932.662.137.483 174.326 6.748 untuk 31 Desember 2009.413 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.536.374.923.000 16.063 1.441.244.566.589.805.052.677.049.184.595.769.779 15.000 20.951 2.9 3w.14 3l.513.119 516.212.103.233 2.504 176.237.971.125 31. Rp 6.075 212.661.068.658 41.430 6.212.639.837.217 1.698.797.600.401.939. serta Rp 300.710.265.097 10.903.805.171.665 393.903.981.464.480.919 14.978 6.935.903.798.43 3j.583.914.210. -4- 263 .553 dan Rp 317.989.572.281.122 11.045.208.607.609.607.812.649.222.505.906.039.694.429.540.647.997.786.13 1.994.48 3h.696 14.418 178.689 66. 2008 dan 2007 Piutang lain-lain Aset derivatif Persediaan Uang muka dan biaya dibayar dimuka Pajak dibayar dimuka Jumlah Aset Lancar ASET TIDAK LANCAR Dana perawatan pesawat dan uang jaminan Uang muka pembelian pesawat Aset pajak tangguhan Investasi saham Aset tetap .952.173 dan Rp 7.484.028.512 2.463 4.614.595 608.784 598.701.45 30 September 2010 Rp 31 Desember 2009 Rp 1.432 11.113 14.419.276 11.540.905.882.135.675.721.

152.829 76.957 5.402.627.040 1.743.672.629.402.038.493.18 3y.983.469.551.269.012.044.43 3t.841.175.056.351 16.667.305.021.152.668.268.329.079.227.787.814.900 6.952.778.280.677.163.802.390.226 3.865.689.875.228 8.796 242.290 10.480.793.122.9.000 37.179.238 1.202.388.304) 1.422.520 (7.214. 2008 DAN 2007 .763.436 711.619.366.978 9.244.940 6.629.629 saham pada tanggal 31 Desember 2007 Tambahan modal disetor Dana setoran modal Surplus revaluasi Cadangan lindung nilai Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Defisit Jumlah Ekuitas (Defisiensi Modal) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 3b.401 14.675.276 1.218.3s.648.629 saham pada tanggal 30 September 2009 dan 31 Desember 2008.695.000.859.738.722.358.852.424.530.259.343 1.430 8.745.407 75.120.962.785.066.23 30 September 2010 Rp 31 Desember 2009 Rp 207.034.079.285.152.525 1.000.778.076.696 395.154.027.079.834.004.423.655.338.PT.357 14.000.843 80.909 78.564 1.440.001 1.277.808 10.085.227.616.498.617.990 48.813 261.135 37.000 8.118 1.142 3y.416.374.27 24 3o.502 255.000.182.354.768 33.441 332.586 30.005 664.Lanjutan 30 September 2009 (Tidak diaudit) Rp (Disajikan kembali .809.000.381.216.236.266.008.540.780.240.018.448.017 950.862.049.018.48 3e 9.113.445.900.477.820.436.21 22 3r.435.916.436.051 1.152.646.636.000 per saham pada tanggal 30 September 2010 dan 2009.224.532.010.493.178. -5- 264 .787 61.496 157.000.694 (10.610 850.933.180.152.Catatan 54) 31 Desember 31 Desember 2008 2007 Rp Rp Catatan KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN LANCAR Hutang bank Hutang usaha Pihak hubungan istimewa Pihak ketiga Hutang lain-lain Hutang pajak Biaya masih harus dibayar Pendapatan diterima dimuka Uang muka diterima Hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun Pinjaman jangka panjang Hutang sewa pembiayaan Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Jumlah Kewajiban Lancar KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang jangka panjang .306 1.588.621.204 3.718.863.053 (9.000.000 391.103 1.149.390.902) 3.848.634.840.280.872.931.731 14.000.728.280.945.872.000.25 3v.216 6.582.489.724.814) 1.859) 3.135.894.706. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA 31 DESEMBER 2009.294 929.529 24 3o.119.600.575 1.768.747.001 1.001 1.901 48.331.705.876 1.243.622.492 7.000 8.395 6.294 261.958.044 (7.683.996.676.000 saham pada tanggal 30 September 2010 dan 2009.602 1.878.735.937 6.742.719.505.310.805.213 106.461.498.330.049.000.303.366.809.624.412 450.471.962 564.093 49.070.199 2.27 29 3w.551.995.929.126.215 2.070 5.855.setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam satu tahun Pinjaman jangka panjang Hutang sewa pembiayaan Kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat Obligasi konversi Kewajiban pajak tangguhan Kewajiban imbalan pasca kerja Kewajiban tidak lancar lain Jumlah Kewajiban Tidak Lancar HAK MINORITAS EKUITAS Modal saham Nilai nominal Rp 1.184.196 1.009.916 (8.129.661 1.114.015.015.484.610 (7.366.459.25 3v.731 282.500.882.336.736 61.393) 11.020 781.739 8.037.429.339.664.696.655.413 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.331.319 213.703.060.806.263 15.042.050 3.356.257.565.782.209.553.956.439.614.000.302.000 3.452.070.435.535.204.280 487.146.894.752.001 1.303.307.863.965.492 163.250.19 3y.018.553.388.023.378.000.237.233.334 281.174 35.125.137.847 71.968 104.323.723.551.422.214.072 89.000.381 255.536 1.258.416.714.234. 2008 dan 2007 Modal dasar .421 6.441 332.027.413.914.402.479 687.310.584.470.000.291.588.019.000 8.000 64.315.486.959.403.339.585 3.404.323.601 2.594 717.698 5.000.969.649 1.809.569.329 232.152.073.018.28 26 1.032.352 1.15.067.507.347.528.157.120.709 92.086.548 379.923.382. 31 Desember 2009 dan 2008 dan 11.079.596.265 1.403.076 saham pada tanggal 31 Desember 2007 Modal ditempatkan dan disetor .070.336 6.430 118.013.982.113.754.399.402.613.802.506.580.868.798 7.044) 4.756 358.121 202.368 3.546.761.234.208 35.000.000.887.737.515.849.424.758 1.629.856.728.000 229.379.988 218.795. dan 7.758.120.928.525. 31 Desember 2009.768.865.673.952.33 3z.473 1.498 saham pada tanggal 30 September 2010 dan 31 Desember 2009.190 68.036.766.823 222.437.260 57.000.884 6.402.192.20 3w.514.396 1.901 1.647 786.222.929.848 9.811 6.000 8.30 3y.962.522.001 1.292.132.812.079.842 25.502) (1.755.302.000 8.770.31 32 32 3m. 8.233 35.807.831.107.

678.803.996.656.608.540) 350.468.355.141.068.381.317.032.352.093.510.532 102.883.436.926 39.598.106.735.568.763.599 106.652.883.152.390.630.620.36 3m.382 949.226.083) 3.713 42.420.250.609) 78.637.374 1.893.217.253.783.121.468.173.107.874.757 123.286.297 13.767) 152.493 19.089.957 2009 (Satu tahun) Rp 13.133.751.424 573.225.437.129.433 1.269.912 58.897.101 723.815.295.715 49.288.486 (Disajikan kembali .572.198.372.485.631 (413.439.107.280.966 130.786.860.747 1.970. penjualan dan promosi Penyusutan dan amortisasi Pelayanan penumpang Bandara Administrasi dan umum Pemeliharaan dan perbaikan Beban imbalan kerja Operasional transportasi Operasional jaringan Operasional hotel Jumlah Beban Usaha LABA (RUGI) USAHA PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN Keuntungan atas sale and leaseback Keuntungan (kerugian) atas kurs mata uang asing .351 6.718.246 68.183.075.765.985 1.915.956.797.527.871.692.41 42 3r.50 3e 3r.347.668) 33.675.610.807.817.476.229.366 69.658.867.189 (333.327.592) (148.483.142.657.884 1.109 8.669.684 119.848.480 58.120.690.817.967.630.406.506 196.353.797.096.715.719.424.609 (156.817.570 911.033.327 1.PT.258.037.223 11. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.280 1.239.459.524 (233.883.428 273.364.971 (203.183.550.636.365.033 61.018.823 1.098.137.768) (262.723 (289.064.491.366 21.393 313.148.769 14.125.530.565) 3.424 2.738.34 3r.336.38 3r.321 260.623.14.343.098.529.566.720.669.17 3r.896.225.390.388) (115.045 462.942.078.368.413.004 880.640 (78.216 (119.063) 159.319.348.030) 9.415.482) 80.132 2.990.473 1.990.904.331 44.252.405.491.723 1.906 (377.065.246.851.34 21.513) 194.357.959.596 65.981.175 1.202.834 (66.533.308.975.976 6.812.858 (11.144.466.340.420.027 104.970 573.519 17.213 623.073.830.028.481.187 1.846.009.538.167.692.751.564.420.472.762.172.062.042.342.722.912.668.258.24.000 1.700.734.420.863) 70.976) 164.166 1.687.384) (82.391 110.17 3r.036.651 984.832 1.914.454.699.591.768) (233.266.629 876.979 511.504.145.092.44 3b.970 (3.35 3r.890.314.757 (4.947.434.470 (682.242.096.585) 107.455 (422.411.363) 60.084.900.359.305.835 1. -6- 265 .884.136.290 475.849.128 1.527.206.893 434.282.444.340.484.640.627.482) 93.770 (203.002.635.020 51.803.123.28 3r 3x.626 1.709.793.797 16.514 124.706) 984.174) (35.076.587 199.286 1.038.513 918.039 1.342 184.019 890.207.695.40 3t.942.546 (17.325.182) 184.907 21.788.770.617.347.233 70.43 3j.295.159 899.915.045.098.085.968.223.122.378.466.864.630.155.129.943 111.240.992.609.163.050.776.702) (55.389.765.354.575 986.333.192.694.827 732.248.291.872.768 66.945) (53.296 1.605.473) 12.563.172.364 12.950.541 38.369.692.310.722.019.194.145 (438.921.484) 570.806.bersih Penghasilan (beban) Lain-Lain .615.980.705.387.660 6.386.448.485 1.509 1.432 49.736.445 3r.935.803.128 195.934.062 1.048.248.522 23.bersih Biaya pesangon pegawai Penghasilan bunga Beban penyisihan piutang lain-lain Beban bunga dan keuangan Lain-lain .34 3r.035 223.678.252.229.073.736) 975.534.Catatan 54) 2008 2007 (Satu tahun) (Satu tahun) Rp Rp 15.877.934 (9.192.417 68.846 17.685.168.743.494.184 (156.Bersih BAGIAN LABA BERSIH PERUSAHAAN ASOSIASI LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK MANFAAT (BEBAN) PAJAK Pajak kini Pajak tangguhan Jumlah Manfaat (Beban) Pajak LABA DARI AKTIVITAS NORMAL POS LUAR BIASA LABA SEBELUM HAK MINORITAS HAK MINORITAS LABA BERSIH LABA PER SAHAM (dalam Rupiah penuh) Dasar Dilusi 3aa.974.502.858 164.353.099.099.848 11.39 3r.049.854 1.395.510) (21.459.934 984.373.789.764.368.060.091 Catatan PENDAPATAN USAHA Penerbangan berjadwal Penerbangan tidak berjadwal Lainnya Jumlah Pendapatan Usaha BEBAN USAHA Operasional penerbangan Tiket.610.499.145.892.985.399.591.971 1.887.483.883.218.104 9.533.033.663 1.847.186. 2008 DAN 2007 2009 (Sembilan bulan) (Tidak diaudit) Rp 10.626.852 11.928.392.422.132 75.312) 1.105.727.888 2.649.529.090.343.549.581.271.975) (38.198 11.812.636.695.695 12.436.935 62.354 16.427.164.265.355.388.37 3r.991) 245.125 1.29 3w.398.290 1.049.485.885.010 1.786.30 3u.410.746 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.040.208 95.955.598 (36.354.485.171.345 4.502.125.404.501) 65.13 3o.022.167.886.28 3r 3r 3r 2010 (Sembilan bulan) Rp 11.003.025.968.958.541 1.962 (44.881.410.337.090 32.943.327.577 (37.562.475 876.793.980.430.873.258.142.874.349.157.

174 35.393) 326.000.586.955.782.000.477.000.369.000 (1.setelah disajikan kembali Modal saham Tambahan modal disetor Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Keuntungan yang belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Laba bersih tahun berjalan 3y.648.498.850.402.417.070.440.445 (3.755) (3.120 (802.393) 1.382.48 3e 3n.604 - Saldo 31 Desember 2007 Modal saham Tambahan modal disetor Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Surplus revaluasi Kerugian yang belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Laba bersih tahun berjalan 3e 3n.PT.091 Saldo 31 Desember 2006 .000.090 9.079.000.000.743.447.000.527.044 1.848 194.719.135.000 8.369.001 8.743.129.996.044 1.506.079.867.826.120.896.000.008.48 Saldo 30 September 2010 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.664.527.535.273.520.198 (8.996. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.001 - 3.000 1.538.742.996.800.028.976 500.000 8.896.000) 980.368.280.005 (364.094) (10.000 500.000.926) - Modal saham Rp Dana setoran modal Rp Defisit Rp Tambahan modal disetor Rp Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Rp Surplus revaluasi Rp Cadangan lindung nilai Rp (6.922.668.869.532.424.000 9.782.744.000 967.957 (7.091 (2.731 29 3e 3n.629.000.000 326.440.137.724.776.120.370.784.000.929.580.988.370.520.869.935.591.368.580.266.629.417.028.000.130 (343.065.005 (364.610 8.000.000 500.001 4.084.615.492) Jumlah ekuitas Rp 751.130 (343.000.000.672.626.782.694 (157.903.018.369.863 1.067) 1.001 4.492) Saldo 31 Desember 2006 .086.626.000.000.803.006.863 - 3.198 1.848 1.734.000.152.672.976 152.sebelum disajikan kembali Efek kumulatif dari penerapan PSAK 30 Kewajiban aset pemeliharaan Kewajiban imbalan kerja Dampak kumulatif dari program Garuda Frequent Flyer 54 54 31 3e - 6.456) 1.050 (11.803.614.023.33 Saldo 31 Desember 2008 Konversi dari mandatory convertible bonds Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Surplus revaluasi (defisit) Keuntungan yang belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Laba bersih tahun berjalan 3y.107.928.000.000.000.668.841.672.604 (154.515.48 31 266 8.291.244.820.000 8.137.580.776.743.390.646.085.841.000 4.402.456) 1.885.848 (9.000.000 - 4.390.903.916 4.902) (1.859) 194.152.001 3.841.436.000.861.461.000.728.369.957 3.464.439.955) 10.739 (298.612.048.001 8.564.273.668.402.922.084. 2008 DAN 2007 Catatan 6.742.33 3y.564.655.401 794.000 (1.020) (100.778. -7- .358.087.390.044) 10.000.000.445 3.837.000.615.565) 35.048.402.125.023.402.366.498.850.000 9.588.000.33 Saldo 31 Desember 2009 Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Surplus revaluasi (defisit) Keuntungan yang belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Laba bersih periode berjalan 3y.689 1.520 794.689 (11.146.000 (802.053 980.538.005 1.214.402.042.445 (7.48 7.000 - 1.935.000.000.065.770.018.216.000.447.861.734.079.000.675.867.079.826.000.502) 975.304) 3.000 1.360.955) 664.000) - 8.464.037.955.120 3.079.079.593) 152.263 967.020) (100.094) 975.000 - 500.067) (9.027.565) 35.090 (298.477.245.926) 1.403.612.

582.48 Saldo 30 September 2009 Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.000.461.402.752.001 6.364.768.944 3.535.263 2.664.128 - (10.506.004 570.364.33 8. 267 .139.800.694 (188.068.155.126.001 - 4.484.000.382.044) - 1.152.782.655.668.470.125.752.357.PT.366.944 570.152.916 2.136.486 (7.795.357 Saldo 1 Januari 2009 Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Surplus (defisit) revaluasi Keuntungan yang belum direalisasi atas lindung nilai arus kas Laba bersih periode berjalan 3y.756.128 (185.259.887.304) 3.000 8.079.155.037.756.672.000 - - 8.486 1.079.655.629.198.226 14.129.752.900 Defisit Rp (8.044 - 8.528.629.402.013.139. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2009 Tidak diaudit Surplus revaluasi Rp Cadangan lindung nilai Rp 1.743.336.814) Jumlah ekuitas Rp Catatan Modal saham Rp Dana setoran modal Rp Tambahan modal disetor Rp Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Rp 3e 3n.468) 1.357.224.464) 14.

803.643.985.276.964.524) 47.590) 1.014.796 35.920 1.592 5.386.262.006.765.714.185 35.993) (1.739.724.527.463.711) (1.326) (39.007.655.837.025.651.982 (10.542.320.065) (107.000.755.231.886.658.263.077.623.553.823.482) 103.355) (439.756.933 2008 (Satu tahun) Rp 18.274.319.725 35.370.000.914.910 16.681.592 (141.482) (142.000 29.504.593.895) 2.520.073.491) (561.338.914.147.079.785.914.794) 56.961.919.348 (210.000.656) 102.656.916) 1.126.415.697) (138.121.845 204.203.468.792.457 (15.948 169.300.531) (379.474.436) (2.304.977 18.212) 22.208.091) 1.301 (10.494.703.122.510.600.744.863 (733.638.000) (796.630.571.624) (2.253.168) (69.054.925.985.623) (177.000.000 (507.030.250 176.385.969.328.916.410.661 276.000.895.926.939) (192.598.795.563.252.046 (112.130.592) (472.374.565.650) (601.000.169 212.115.565) (327.532.000 45.327.140.237.142.371) (320.486.525) (188.883.798.714) 2.003.245.601.035.527 621.695.311.144.000 447.504.123.415) (3.955.432.095.510.587.346.306.770) 279.937.808.624.206.077.644.940.220 (630.665 5.423 269.712.485.840.069.188.000.044.706.376.000.000 - 2.152.044.710.470.433.861 9.817 97.877 245.962.765.185.134.709.956.577.160.743) (73.230) (90.000.277 8.777.335.540.000.538 246.631.070.725) (190.491.083) 1.620) (324.406.634.589.928.170.304 (14.623) 36.102.765.000 4.077.049.122 2009 (Satu tahun) Rp 17.000.573.373.212.633.931) (258.822.881 7.078.799 12.607 30.226) (1.573.511.016.412.661) (99.035.000.497 1.839.058.625.534 (12.826.896.798) (290.348.601.382.846.781.097.286.845.862) 1.773.029.135 (962.653.413.225 14.055.557.149 (8.472.120.788.804) (1.028.265.475.617 45.889.684) 853.522.000 (1.030.056.409.000 124.265.722.484.592 1.169.089) 1.980) 1.830) (197.690.836.367.654.680.736 (596.502.033.057) 236.593) (5.788.554.040.120) 1.774 (410.832.841.477.650) 255.063.563 999.068.153.956) 876.860.833.307.103. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.100.591.799.182.882) (57.650.955.911.399 2.600.000 (29.814.638.923.709.220.241.287.525.195.150.953.919 2007 (Satu tahun) Rp 14.724 81.388) 3.302.657 1.946.254) 2.000 (105.441 (153.612) (134.985.091) (22.729) 11.610.687.010.000 (1.563.453 45.806.095.221.902.813.043.000) (1.919 (57.227.805.318.954 (89.410.000 - -9- 268 .836) 1.972.934 94.191.052 28.601.778.624.226.370) (1.578.512) 136.369.318) 1.933 (20.625 101.326.541.907.862.071) (117.253.000.343.204.347.709 10.266) (16.026.675.234 116.000.711 (751.800.994.000.266) (56.662.537 (1.899.823.590.107.897.746) (74.000.101.784. 14.319.000.891.774 72.491.099.661 (335.312.117) (377.903) (15.558.437. 2008 DAN 2007 2010 (Sembilan bulan) Rp ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Penerimaan kas dari pelanggan Pengeluaran kas kepada pemasok Pengeluaran kas kepada karyawan Kas dihasilkan dari operasi Pembayaran bunga dan beban keuangan Pembayaran pajak penghasilan Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Operasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Penerimaan bunga Penerimaan dividen Hasil penjualan aset tetap Hasil penjualan properti investasi Penerimaan lain-lain dari penjualan tanah dan bangunan Penerimaan pengembalian uang muka pembelian pesawat Penerimaan pengembalian dana pemeliharaan pesawat Penerimaan uang jaminan Pengeluaran untuk dana pemeliharaan pesawat Uang muka pembelian pesawat Uang muka perolehan aset tetap Pengeluaran untuk perolehan aset pemeliharaan pesawat Pengeluaran untuk perolehan aset tetap Pembayaran uang jaminan Pengeluaran untuk perolehan investasi Pembayaran lainnya dari aktivitas investasi Penerimaan lainnya dari aktivitas investasi Penempatan deposito berjangka Pencairan deposito berjangka Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Penerimaan pinjaman jangka panjang Penerimaan hutang jangka pendek Penerimaan dana setoran modal Pembayaran pinjaman jangka panjang Pembayaran pinjaman jangka pendek Pembayaran dividen ke pemegang saham minoritas Kenaikan kas yang dibatasi penggunaannya Pembayaran untuk aktivitas pendanaan lainnya Kas Bersih Diperoleh Dari (Digunakan untuk) Aktivitas Pendanaan KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS KAS DAN SETARA KAS AWAL PERIODE Efek perubahan kurs mata uang asing KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE INFORMASI TAMBAHAN: AKTIVITAS INVESTASI DAN PENDANAAN YANG TIDAK MEMPENGARUHI ARUS KAS Kenaikan (penurunan) aset tetap atas surplus revaluasi (Catatan 14) Kenaikan (penurunan) uang muka pembelian pesawat (Catatan 12) Kenaikan (penurunan) aset tetap melalui kewajiban estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat (Catatan 27) Reklasifikasi hutang jangka pendek ke hutang jangka panjang (Catatan 24) Reklasifikasi persediaan ke aset tetap (Catatan 14) Reklasifikasi hutang usaha ke pinjaman jangka panjang (Catatan 24) Obligasi konversi yang dikonversi menjadi modal saham disetor (Catatan 29 dan 31) Piutang atas penjualan aset tetap (Catatan 7) Reklasifikasi deposito berjangka ke aset lain-lain (Catatan 5) Reklasifikasi dana setoran modal ke modal disetor (Catatan 31) Lihat catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi.564.760.683.518.937.369.272.743.192.876.246.600.308) (799.995 10.346.738.783.948 208.583) (809.878.919 (35.239.854.361) (94.000 (570.586 381.621.121.362.465.559 20.011) (55.894.573.985.582.131.281.483.267.070.599.615.149.520) 2.072.077.810.267.841.507 (213.035) (317.281.777 55.388 - (217.967.888.160.540.559.014.300.280.932 2.566 - (262.986) (64.058.846 214.799.085.926.077.484.428.348) (503.481.002.654 967.848) (687.670.847.381 188.655.918) (821.503 1.582.549) 653.869.000 1.752) (1.982.441.735.881) (92.969.505) (7.647.500.PT.044.733 2009 (Sembilan bulan) (Tidak diaudit) Rp 11.452) (626.214.035) 1.900) (487.214.410.824.948.787.523.961.788.479.402.562.376.509.245.000) 3.651.830) (145.656.973.722.498.

Jakarta. 67 tahun 1971. Kebon Sirih No. Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan.A. 2. mengenai perubahan modal ditempatkan dan disetor. 274 tanggal 30 Desember 2009 dari Aulia Taufani. baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga. Jasa pelayanan penunjang operasional angkutan udara. 44.H. Jasa pelayanan sistem informasi yang berkaitan dengan pengangkutan udara. 30 tanggal 12 Mei 1950. 5.H..528. pengganti Sutjipto. 7. Perusahaan yang awalnya berbentuk Perusahaan Negara.490. 5. Jasa pelayanan kesehatan bagi karyawan Perusahaan maupun untuk pihak ketiga. Jumlah karyawan Perusahaan (tidak diaudit) Pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 serta 31 Desember 2009. kargo dan pos dalam negeri dan luar negeri.10 - 269 . Perusahaan berkantor pusat di Jl. 8 tanggal 4 Maret 1975 dari Notaris Soeleman Ardjasasmita. tanggal 31 Maret 1950 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 2008 DAN 2007 1. S. .AH. khususnya di bidang jasa pengangkutan udara dan bidang lainnya yang berhubungan dengan jasa pengangkutan udara. Perubahan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 3. 5. berubah menjadi Persero berdasarkan Akta No. 4. tambahan No.H. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam surat keputusannya No. 68 tanggal 26 Agustus 1975. ruang lingkup kegiatan Perusahaan terutama adalah sebagai berikut: 1. Jasa konsultasi.548 dan 5.136. Angkutan udara niaga tidak berjadwal untuk penumpang. J.5/12/10. pendidikan dan latihan yang berkaitan dengan pengangkutan udara. S. kargo dan pos dalam negeri dan luar negeri. Perubahan ini telah diterima dan dicatat dalam Database Sisminbakum Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. notaris di Jakarta. 137 tanggal 31 Maret 1950.PT. sebagai realisasi Peraturan Pemerintah No. 2008 dan 2007 masing-masing 5. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan. terakhir dengan Akta No. AHU0087362.808 karyawan. 5. Perusahaan mulai beroperasi komersial pada tahun 1950. UMUM a.09. Pendirian dan Informasi Umum PT Garuda Indonesia (Persero) (“Perusahaan”) didirikan berdasarkan akta notaris Raden Kadiman No. Angkutan udara niaga berjadwal untuk penumpang. 6. Pemeliharaan dan perbaikan pesawat.. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.075. S.Tahun 2009 tanggal 31 Desember 2009.01.. Tujuan pendirian Perusahaan adalah untuk melaksanakan serta menunjang program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya.

di Jakarta dan telah diubah dengan akta notaris No.876. di Jakarta mengenai perpanjangan sementara untuk seluruh pengurus Perusahaan.Kn. Ari Sapari Elisa Lumbantoruan Hadiyanto Sahala Lumban Gaol Wendi Aritenang Yazid Abdulgani Adi Rahman Adiwoso Emirsyah Satar Eddy Porwanto Hadinoto Soedigno Agus Priyanto Achirina Capt.171.217. adalah sebagai berikut: 2010 (Sembilan bulan) Rp Komisaris Direksi 5.000 30 September 2010 Adi Rahman Adiwoso Etty Retno Wulandari Adi Dharmanto Ike Andriani .643 19. 31 Desember 2009.843. 30 September 2010 2008 dan 2007 Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Direktur Utama Direktur Keuangan Direktur Teknik Direktur Niaga Direktur Sumber Daya Manusia & Umum Direktur Operasi Direktur Strategi & Teknologi Informasi *) Sementara sebagai Direktur Keuangan Hadiyanto Sahala Lumban Gaol Wendi Aritenang Yazid Abdulgani Adi Rahman Adiwoso Emirsyah Satar Elisa Lumbantoruan *) Hadinoto Soedigno Agus Priyanto Achirina Capt.615 2009 (Sembilan bulan) (Tidak diaudit) Rp 5. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Berdasarkan akta No.588. S. Jumlah kompensasi kepada komisaris dan direksi Perusahaan untuk periode yang berakhir 30 September 2010 dan 2009. 2008 dan 2007.475. serta tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2009.780.083.000 2009 (Satu tahun) Rp 6.520.Kn.370.641 24.194.621. Susunan pengurus Perusahaan per 30 September 2010 dan 2009 serta 31 Desember 2009.468 2008 (Satu tahun) Rp 2. M.666 6.142.112.11 270 . 2008 dan 2007 adalah sebagai berikut: 30 September 2009.157 21.. 75 tanggal 10 Mei 2010 dari Notaris Sutjipto. S.537. M. 50 tanggal 7 Agustus 2008 dari Notaris Sutjipto.600..354.H. Ari Sapari Elisa Lumbantoruan Susunan komite audit dan sekretaris Perusahaan adalah sebagai berikut: Komite Audit Ketua Anggota Sekretaris Perusahaan Perusahaan memiliki fungsi internal audit.107.592. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.000 8.PT.H.416.000 2007 (Satu tahun) Rp 1.

00 60. Limited (GOHK) *) Garuda Orient Holidays Japan Co.99 100. baik langsung maupun tidak langsung. Limited (GOHA) *) Garuda Orient Holidays Korea Co.00 99. jasa boga.99 99.99 operasi komersial 1996 2002 Jakarta Denpasar Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Lombok Sydney Korea Jepang Bandung Jakarta Jakarta Jakarta 99. lebih dari 50% saham anak perusahaan sebagai berikut: Anak perusahaan PT Abacus Distribution Systems Indonesia (ADSI)**) PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFAA) **) PT Aero Wisata dan anak perusahaan PT Mirtasari Hotel Development (MHD) *) PT Angkasa Citra Sarana Catering Service (ACS) *) PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi (BPWS) *) PT Mandira Erajasa Wahana (MEW) *) PT Aerojasa Perkasa (AJP) *) PT Senggigi Pratama Internasional (SPI) *) Garuda Orient Holidays.99 1973 1974 1974 1967 1989 1989 1988 1981 2008 2010 1989 2010 2005 Dalam tahap Pengembangan .99 99.99 99.00 61. Anak Perusahaan Perusahaan memiliki.89 100.00 99.00 60. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. penjualan tiket Hotel Jasa boga pesawat Biro perjalanan wisata Jasa transportasi Penjualan tiket Hotel Biro perjalanan wisata Biro perjalanan wisata Biro perjalanan wisata Hotel Manajemen hotel Penyedia jasa teknologi informasi Jasa transportasi Persentase kepemilikan % 95. Pty.12 271 .99 99. Limited (GOHJ) *) PT Bina Inti Dinamika (BID) *) PT Aero Hotel Management (AHM) *) PT Aero Systems Indonesia **) (d/h PT Lufthansa System Indonesia) PT Citilink Indonesia **) *) Kepemilikan tidak langsung **) Kepemilikan langsung dan tidak langsung Lokasi Jakarta Jakarta Kegiatan usaha utama Penyedia jasa sistem komputerisasi reservasi Perbaikan dan pemeliharaan pesawat terbang penjualan tiket Hotel.87 99.PT.99 99.99 99. 2008 DAN 2007 – Lanjutan b.

135.772 849.394.200.582.824.787.075.719 192.014.666.404 199.427.780.829 1.088 3.253. sementara Perusahaan akan memiliki 49% kepemilikan.PT.349 181.451.218.518.607. rekayasa sistem Teknologi Informasi (TI) dan pemeliharaan TI.340.700.694 176.456 22.379.841.095.391.378 49.498.916.287. Limited (GOHA) *) Garuda Orient Holidays Korea Co.059 1.681 139.346.361 334.558.640.242.158.573 5.598 78.572 39.110 192.436.850.910.102 29. paling lambat pada 30 Juni 2007.866 203.438 3.291.486. Limited (GOHK) *) Garuda Orient Holidays Japan Co.027 1.720.978.196.567.581 1.297.055.000 22.636.074.571.900 39.038. Sesuai Amandemen No.973.850.116. .509.905.698 12.851.231.403 59.434.998.139.606.522 1.838.009.488 2007 Rp 47.235.250.100.994. Limited (GOHJ) *) PT Bina Inti Dinamika (BID) *) PT Aero Hotel Management (AHM*) PT Aero Systems Indonesia **) (d/h PT Lufthansa System Indonesia) PT Citilink Indonesia **) 2010 Rp 30 September 2009 (Tidak diaudit) Rp 52.251.929 379.438 187.157. dengan nilai penyertaan awal masingmasing sebesar Rp 22.331.445.325.234.748.883.541.391 189.879.617.046. untuk membentuk perusahaan joint venture bernama PT Lufthansa Systems Indonesia (”LSI”).294 2.582 3.972 1.177. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.675.746.394 77.925.618 101.072 8.793.472 1.894.566.134.291.379 15.974. 3 atas Joint Venture Agreement No.264.336.073.492 82.525.915 605.126 102.161.199.770 26.219.910.060 12.538 76. kepemilikan Lufthansa akan ditingkatkan menjadi 51%.833.256. Pty.405.594.036.298.075 518.932 66.296 79.815 - 50.954.963 36.711 193.942.098.756.352.533. kepada perusahaan-perusahaan penerbangan dan industri-industri lainnya.238.400 19.411 31.464 175.738.026.143.884.233.219.268. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Jumlah aset anak perusahaan sebelum dieliminasi sebagai berikut: Anak perusahaan PT Abacus Distribution Systems Indonesia (ADSI) **) PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFAA) **) PT Aero Wisata dan anak perusahaan (PT Aero Wisata) PT Mirtasari Hotel Development (MHD) *) PT Angkasa Citra Sarana Catering Service (ACS) *) PT Biro Perjalanan Wisata Satriavi (BPWS) *) PT Mandira Erajasa Wahana (MEW) *) PT Aerojasa Perkasa (AJP) *) PT Senggigi Pratama International (SPI) *) Garuda Orient Holidays.254.214 22.422 2009 Rp 53.684 1.632.594. Perusahaan mengadakan perjanjian Joint Venture dengan Lufthansa Systems Group GmbH (”Lufthansa”).981. LSI memberikan jasa konsultasi.217.790 21.868.899.882.105.500.382.349 159.395 91.565 10.003.512.986.634.198.169.412 *) Kepemilikan tidak langsung **) Kepemilikan langsung dan tidak langsung Pada tanggal 13 Mei 2004.259.13 272 .338.907.413.569 31 Desember 2008 Rp 54.129 101.386.283.452 103.113. Perusahaan dan Lufthansa memiliki saham LSI 51% dan 49%.025 dan Rp 21.556.235 182.636.3/PERJ/DZ-3064/2005 tanggal 30 April 2005 pasal 9.359.191.156.864 399.194.034.802.221 113.351.621 1.438.071.364.407.500 22. DS/AMEND.471.654.493.

. dimana Perusahaan menuntut. Standar revisi yang berlaku efektif pada tahun berjalan i.14 273 . dan instrumen ekuitas. dimana persentase kepemilikan Perusahaan atas LSI secara langsung dan tidak langsung menjadi 100%. anak perusahaan. Pada tanggal 6 Januari 2009. Setelah pengalihan tersebut nama PT Lufthansa System Indonesia berubah nama menjadi PT Aero Systems Indonesia.000. 131 tanggal 29 Januari 2009 yang dibuat dihadapan Sutjipto. maka proses arbitrase tersebut dibatalkan. PT Aero Wisata. Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan Standar revisi ini menetapkan prinsip-prinsip penyajian dan pengungkapan instrumen keuangan serta saling hapus aset keuangan dan kewajiban keuangan.. Penerapan awal tidak mempunyai pengaruh signifikan pada laporan keuangan konsolidasi tetapi dapat mempengaruhi akuntansi untuk transaksi-transaksi atau perjanjian yang akan datang. Perusahaan mengajukan permohonan arbitrase kepada Singapore International Arbitration Committee. Sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasi. Perusahaan dan PT Aero Wisata. kerugian dan keuntungan. AHM berkedudukan di Jakarta dan bergerak dalam bidang jasa manajemen dan konsultasi bisnis. notaris di Jakarta. dalam aset keuangan. konstruksi. Ltd untuk membentuk perusahaan Joint Venture berkedudukan di Jepang dengan nama Garuda Orient Holidays Japan Co. Pada tanggal 30 Oktober 2009. kewajiban keuangan. Dengan adanya pengalihan saham Lufthansa kepada PT Aero Wisata.H. dividen. pengklasifikasian yang terkait dengan suku bunga. Biaya pinjaman lainnya diakui sebagai beban.765 saham atau 49% kepada PT Aero Wisata seharga USD 5. Standar ini berlaku terhadap klasifikasi instrumen keuangan dari perspektif penerbit. PT Citilink Indonesia belum beroperasi secara komersial.PT. Perusahaan tersebut beroperasi secara komersial sejak tahun 2010. PT Aero Wisata memiliki kepemilikan sebesar 3. dengan komposisi kepemilikan sebesar 67% dan 33% masing-masing untuk Perusahaan dan PT Aero Wisata. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.  PSAK 50 (Revisi 2006). Lufthansa telah mengalihkan sahamnya di LSI sebanyak 2. PENERAPAN PERNYATAAN DAN INTERPRETASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN REVISI (PSAK DAN ISAK) a. Limited (GOHJ) yang bergerak di bidang agen perjalanan. Berdasarkan akta No. pengakhiran perjanjian joint venture antara Perusahaan dan Lufthansa. sedangkan MHD sebanyak 50 lembar saham atau 10% kepemilikan atas AHM. mendirikan perusahaan dengan nama PT Citilink Indonesia. yang bergerak di bidang angkutan udara niaga. Efektif 1 Januari 2010. Pada tanggal 15 Desember 2009. PT Aero Wisata bersama MHD mendirikan PT Aero Hotel Management (AHM) dengan porsi kepemilikan PT Aero Wisata sebanyak 450 lembar saham atau 90% kepemilikan. Biaya Pinjaman Standar ini mengharuskan biaya pinjaman yang dapat secara langsung diatribusikan dengan perolehan. Perusahaan dan anak perusahaan telah menerapkan standar revisi sebagai berikut:  PSAK 26 (Revisi 2008).. 2. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Pada tahun 2007.276.600 lembar saham (60%). atau produksi dari suatu qualifying aset dikapitalisasi sebagai bagian biaya perolehan aset tersebut.200. . Pembatalan tersebut dinyatakan dalam Settlement Agreement antara Lufthansa dan Perusahaan tertanggal 10 Desember 2008. antara lain. S. anak perusahaan mengadakan perjanjian kerjasama dengan Good Luck Travel Co. dan keadaan dimana aset keuangan dan kewajiban keuangan akan saling hapus.

dan Aset Kontinjensi PSAK 58 (revisi 2009). Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama PSAK 15 (revisi 2009). dan Kesalahan PSAK 48 (revisi 2009).15 274 . Standar ini juga menetapkan pedoman untuk penghentian pengakuan. Imbalan Kerja PSAK 50 (revisi 2010. Instrumen Keuangan : Penyajian PSAK 53 (revisi 2010). Laporan Arus Kas PSAK 4 (revisi 2009). Aset Tidak Berwujud PSAK 22 (revisi 2010).  PSAK 55 (Revisi 2006). Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan Standar ini berlaku efektif untuk laporan keuangan konsolidasi yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2012:         PSAK 3 (revisi 2010). Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya PSAK 24 (revisi 2010). Manajemen yakin bahwa selain pengukuran nilai wajar atas aset tersebut. Liabilitas Kontinjensi. Peristiwa Setelah Periode Pelaporan PSAK 10 (revisi 2009). Segmen Operasi PSAK 7 (revisi 2010). Pihak-pihak Berelasi PSAK 12 (revisi 2009). serta akuntansi lindung nilai. Instrumen Keuangan : Pengungkapan .PT. kapan suatu aset dan kewajiban keuangan dinilai pada nilai wajar. PSAK 1 (revisi 2009). Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran Standar ini menetapkan prinsip-prinsip dasar pengakuan dan pengukuran aset keuangan. Laporan Keuangan Konsolidasi dan Laporan Keuangan Tersendiri PSAK 5 (revisi 2009). 2008 DAN 2007 – Lanjutan Penerapan standar ini mengakibatkan pengungkapan yang lebih luas terhadap instrumen keuangan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam standar revisi ini. Penyajian Laporan Keuangan PSAK 2 (revisi 2009). GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Penerapan awal standar ini mengakibatkan perbedaan pengukuran nilai wajar atas aset keuangan tertentu terhadap nilai tercatat sebelumnya. Penurunan Nilai Aset PSAK 57 (revisi 2009). kewajiban keuangan dan kontrak pembelian atau penjualan item non keuangan. efek penerapan awal standar ini tidak signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasi. Pendapatan PSAK 25 (revisi 2009). Standar revisi ini telah diterbitkan tetapi belum diterapkan pada periode berjalan i. b. Laporan Keuangan Interim PSAK 8 (revisi 2010). Pembayaran Berbasis Saham PSAK 60. Perubahan Estimasi Akuntansi. Investasi pada Entitas Asosiasi PSAK 19 (revisi 2010). Kombinasi Bisnis PSAK 23 (revisi 2010). Kebijakan Akuntansi. bagaimana menentukan nilai wajar dan mengevaluasi penurunan nilai. Provisi. Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing PSAK 18 (revisi 2010). Standar ini berlaku efektif untuk laporan keuangan konsolidasi yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011:               ii.

Perubahan atas Liabilitas Aktivitas Purnaoperasi. 2008 DAN 2007 – Lanjutan iii. 3. Aset Tidak Berwujud – Biaya Situs Web iv. Distribusi Aset Nonkas Kepada Pemilik ISAK 12. dan Iaporan keuangan konsolidasi tersebut disusun berdasarkan nilai historis.16 275 . ISAK berikut ini telah berlaku efektif untuk laporan keuangan konsolidasi yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011:       ISAK 7 (revisi 2009). b. Pengendalian tercapai apabila Perusahaan mempunyai hak untuk mengatur dan menentukan kebijakan finansial dan operasional dari investee untuk memperoleh manfaat dari aktivitasnya. langsung dengan . KEBIJAKAN AKUNTANSI a. SE-02/PM/2002 tanggal 27 Desember 2002 tentang Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Transportasi. Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus ISAK 9.G. KEP-06/PM/2000 tanggal 13 Maret 2000 dan Surat Edaran Ketua Bapepam No. VIII. investasi dan pendanaan. Hak minoritas terdiri dari jumlah kepemilikan pada tanggal terjadinya penggabungan usaha (Catatan 3c) dan bagian minoritas dari perubahan ekuitas sejak tanggal dimulainya penggabungan usaha. kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut. Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasi Laporan keuangan konsolidasi disusun menggunakan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan Peraturan Bapepam – LK No.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan yang merupakan lampiran Keputusan Ketua Bapepam No. Pengendalian juga dianggap ada apabila induk perusahaan memiliki baik secara langsung atau tidak langsung melalui anak perusahaan lebih dari 50% hak suara. hasil operasi dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi dan prinsip pelaporan yang berlaku umum di negara dan wilayah hukum lain. Laporan arus kas konsolidasi disusun dengan menggunakan metode mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi. Program Loyalitas Pelanggan ISAK 11. Prinsip Konsolidasi Laporan keuangan konsolidasi menggabungkan laporan keuangan Perusahaan dan entitas yang dikendalikan oleh Perusahaan (anak perusahaan). Batasan Aset Manfaat Pasti. serta tidak dimaksudkan untuk menunjukkan posisi keuangan. kecuali untuk laporan arus kas konsolidasi adalah dasar akrual. Kerugian yang menjadi bagian minoritas melebihi hak minoritas dialokasikan kepada bagian induk perusahaan. Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan konsolidasi adalah mata uang Rupiah (Rp). Persyaratan Minimum dan Interaksinya Manajemen sedang mengevaluasi dampak dari standar dan interpretasi ini terhadap laporan keuangan konsolidasi. Restorasi. ISAK ini berlaku efektif untuk laporan keuangan konsolidasi yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2012:   ISAK 13. Lindung Nilai Investasi Neto Kegiatan Usaha Luar Negeri ISAK 15. Pengendalian Bersama Entitas: Kontribusi Nonmoneter oleh Venturer ISAK 14.PT. dan Liabilitas Serupa ISAK 10. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Dasar penyusunan laporan keuangan konsolidasi.

Pada tanggal neraca. Selisih lebih antara biaya perolehan dan bagian Perusahaan atas nilai wajar aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi diakui sebagai goodwill dan diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus selama lima tahun. penghasilan dan beban dieliminasi pada saat konsolidasi. Selisih lebih setelah penurunan nilai wajar aset dan kewajiban non-moneter tersebut diakui sebagai goodwill negatif.PT. diselenggarakan dalam mata uang Rupiah. Transaksi dan Penjabaran Laporan Keuangan Dalam Mata Uang Asing Pembukuan Perusahaan dan anak perusahaan. Jika biaya perolehan lebih rendah dari bagian Perusahaan atas nilai wajar aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi yang diperoleh pada tanggal akuisisi. d. Penggabungan usaha Akuisisi anak perusahaan dicatat dengan menggunakan metode pembelian. aset dan kewajiban anak perusahaan diukur sebesar nilai wajarnya pada tanggal akuisisi. Pada saat akuisisi. saldo. kewajiban yang terjadi atau diambil alih dan instrumen ekuitas yang diterbitkan sebagai imbalan atas perolehan kendali ditambah biaya lain yang secara langsung dapat diatribusikan pada akuisisi tersebut. Pembukuan GOHA diselenggarakan dalam Dolar Australia. dan diperlakukan sebagai pendapatan ditangguhkan dan diakui sebagai pendapatan dengan menggunakan metode garis lurus selama 20 tahun. e. Seluruh transaksi antar perusahaan. sedangkan pendapatan dan beban dijabarkan dengan menggunakan kurs rata-rata. Hak pemegang saham minoritas dinyatakan sebesar bagian minoritas dari biaya perolehan historis aset bersih. Penyesuaian dapat dilakukan terhadap laporan keuangan anak perusahaan agar kebijakan akuntansi yang digunakan sesuai dengan kebijakan akuntansi Perusahaan. maka nilai wajar aset non-moneter harus diturunkan secara proposional sampai seluruh selisih tersebut tereliminasi. c. GOHK dalam Won Korea dan GOHJ dalam Yen Jepang. Transaksi-transaksi selama tahun berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi.17 276 . . GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. kecuali GOHA. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Hasil dari anak perusahaan yang diakusisi atau dijual selama tahun berjalan dari tanggal efektif akusisi atau sampai dengan tanggal efektif penjualan termasuk dalam laporan laba rugi konsolidasi. Untuk tujuan penyajian laporan keuangan konsolidasi. Keuntungan atau kerugian kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan dalam laporan laba rugi tahun yang bersangkutan. Selisih kurs yang terjadi disajikan sebagai bagian dari ekuitas pada akun “Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan”. Penggunaan Estimasi Penyusunan laporan keuangan konsolidasi sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan. aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. aset dan kewajiban anak perusahaan tersebut pada tanggal neraca dijabarkan masing-masing dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. GOHK dan GOHJ. Biaya perolehan adalah jumlah nilai wajar (pada tanggal pertukaran) aset yang diberikan. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi.

suatu kepentingan hak suara di Perusahaan yang berpengaruh secara signifikan. Kas dan Setara Kas Untuk tujuan pelaporan arus kas. h. dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksudkan dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan Perusahaan). memimpin dan mengendalikan kegiatan Perusahaan. baik yang dilakukan dengan atau tidak dengan tingkat bunga atau harga. . GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. subsidiaries dan fellow subsidiaries). Biaya Dibayar Dimuka Biaya dibayar dimuka diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan metode garis lurus. dengan Perusahaan (termasuk holding companies. Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata tertimbang. Transaksi Hubungan Istimewa Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah: 1) Perusahaan baik langsung maupun melalui satu atau lebih perantara.PT. baik secara langsung maupun tidak langsung. direksi atau pemegang saham utama Perusahaan dan perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan Perusahaan. direksi dan manajer dari Perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut. Ini mencakup perusahaan yang dimiliki komisaris. kas dan setara kas terdiri dari kas. Semua transaksi dengan pihak-pihak hubungan istimewa. dan 5) perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam butir (3) atau (4). atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut.18 277 . g. yang meliputi anggota dewan komisaris. Nilai realisasi bersih merupakan taksiran harga jual persediaan dikurangi beban penjualan yang diperlukan. i. 3) perorangan yang memiliki. Perusahaan dan anak perusahaan tidak diperlukan mengungkapkan transaksi dengan Badan Usaha Milik Negara/Daerah sebagai pihak hubungan istimewa sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan. diungkapkan dalam laporan keuangan konsolidasi. 2) perusahaan asosiasi. bank dan semua investasi yang jatuh tempo dalam tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya dan tidak dijaminkan serta tidak dibatasi penggunaannya. 2008 DAN 2007 – Lanjutan f. persyaratan-persyaratan dan kondisi yang sama sebagaimana dilakukan dengan pihak ketiga. 7 mengenai “Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa”. mengendalikan atau berada di bawah pengendalian bersama. 4) karyawan kunci. Persediaan Persediaan dinyatakan berdasarkan jumlah terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih.

Surplus revaluasi pesawat. Kenaikan yang berasal dari revaluasi pesawat. dikurangi dengan penurunan nilai yang ditentukan untuk setiap investasi secara individu. 2008 DAN 2007 – Lanjutan j. melalui partisipasi dalam pengambilan keputusan atas kebijakan finansial dan operasional investee. dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai.PT. Perubahan kebijakan akuntansi dari model biaya ke model revaluasi dalam pengukuran berikutnya aset tetap pesawat. tanah dan bangunan langsung dikreditkan surplus revaluasi pada bagian ekuitas. Investasi pada perusahaan asosiasi Perusahaan asosiasi adalah suatu perusahaan dimana induk Perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan. tanah dan bangunan dibebankan dalam laporan laba rugi apabila penurunan tersebut melebihi saldo surplus revaluasi aset yang bersangkutan. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. pesawat. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui pada laporan laba rugi pada saat terjadinya. dikreditkan dalam laporan laba rugi. Revaluasi dilakukan dengan keteraturan yang memadai untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca. Penurunan jumlah tercatat yang berasal dari revaluasi pesawat. tanah dan bangunan dinyatakan berdasarkan nilai revaluasi yang merupakan nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. tanah dan bangunan dinyatakan berdasarkan biaya perolehan. dalam hal ini kenaikan revaluasi hingga sebesar penurunan nilai aset akibat revaluasi tersebut. tanah dan bangunan diterapkan secara prospektif.19 278 . kecuali sebelumnya penurunan revaluasi atas aset yang sama pernah diakui dalam laporan laba rugi. jika ada. aset tetap pesawat. k. Penghasilan dan aset dan kewajiban dari perusahaan asosiasi digabungkan dalam laporan keuangan konsolidasi dicatat dengan mengunakan metode ekuitas. Aset Tetap Sejak 31 Desember 2008. m. Bagian Perusahaan atas kerugian perusahaan asosiasi yang melebihi nilai tercatat dari investasi tidak diakui kecuali jika Perusahaan mempunyai kewajiban atau melakukan pembayaran kewajiban perusahaan asosiasi yang dijaminnya. l. Selanjutnya setelah penilaian awal. properti investasi dinilai dengan menggunakan nilai wajar. . dalam hal demikian. dan akan diakui sebagai pendapatan atau beban pada saat pelepasan investasi yang bersangkutan. tanah dan bangunan yang telah disajikan dalam ekuitas dipindahkan langsung ke saldo laba pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya. tambahan kerugian diakui sebesar kewajiban atau pembayaran tersebut. Perubahan Ekuitas Anak Perusahaan dan Perusahaan Asosiasi Perubahan nilai investasi yang disebabkan terjadinya perubahan nilai ekuitas anak perusahaan/perusahaan asosiasi yang bukan merupakan transaksi antara Perusahaan dengan anak perusahaan/perusahaan asosiasi diakui sebagai bagian dari ekuitas dengan akun Selisih Transaksi Perubahan Ekuitas Anak perusahaan/Perusahaan asosiasi. Properti investasi awalnya dinilai sebesar biaya perolehan. namun tidak mempunyai pengendalian atau pengendalian bersama. Properti Investasi Properti investasi adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau keduanya) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai atau keduanya. Sebelumnya. Investasi pada perusahaan asosiasi dicatat di neraca sebesar biaya perolehan dan selanjutnya disesuaikan untuk perubahan dalam bagian kepemilikan Perusahaan atas aset bersih perusahaan asosiasi yang terjadi setelah perolehan.

15) 18 . Taksiran masa manfaat. Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan. Tingkat kapitalisasi adalah rata-rata tertimbang dari biaya pinjaman terhadap saldo pinjaman terkait selama periode tersebut.20 279 . Biaya-biaya lain yang terjadi selanjutnya yang timbul untuk menambah. Biaya perolehan tersebut termasuk biaya pinjaman yang terjadi selama masa pembangunan yang timbul dari hutang yang digunakan untuk pembangunan aset tersebut. sebagai berikut: Tahun Rangka pesawat Mesin Simulator Rotable part Aset pemeliharaan Inspeksi rangka pesawat Overhaul mesin 18 .20 (2008. dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi akuntansi diterapkan secara prospektif. 2007 : 20) 3-5 2 . tidak termasuk jumlah pinjaman yang spesifik digunakan untuk perolehan aset tertentu lainnya. . 2007 : 12 . sebagai berikut: Tahun Bangunan Hanggar Gedung kantor Kendaraan Inventaris dan peralatan Tanah tidak disusutkan. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Aset tetap pesawat disusutkan hingga ke estimasi nilai residu dengan mengunakan metode garis lurus selama taksiran masa manfaat. jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi tertentu terhadap jumlah pengeluaran untuk perolehan aset tersebut. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing aset tetap yang bersangkutan pada saat selesai dan siap digunakan. Untuk pinjaman yang tidak spesifik digunakan untuk perolehan aset tertentu. maka nilai tercatat dikeluarkan dari laporan keuangan konsolidasi dan keuntungan atau kerugian yang dihasilkan diakui dalam laporan laba rugi konsolidasi. 2007 : 12 .PT. mengganti atau memperbaiki aset tetap dicatat sebagai biaya perolehan aset jika dan hanya jika besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas dan biaya perolehan aset dapat diukur secara andal. nilai residu dan metode penyusutan direview minimum setiap akhir tahun buku. 40 40 (2008.15) 10 12 Periode inspeksi berikut Periode overhaul berikut Aset tetap non pesawat kecuali tanah dan bangunan dicatat berdasarkan harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan penurunan nilai jika ada dan disusutkan dengan metode garis lurus selama masa manfaat aset tesebut. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi pada saat terjadinya.10 Aset sewaan disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan aset tetap yang dimiliki sendiri atau disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode sewa dan umur manfaatnya.20 (2008. Apabila aset tetap tidak digunakan lagi atau dijual.

yang tidak memenuhi kriteria tersebut. Penurunan Nilai Aset Bila nilai tercatat aset melebihi taksiran jumlah yang dapat diperoleh kembali maka nilai tercatat tersebut diturunkan ke jumlah yang dapat diperoleh kembali tersebut. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Aset tetap dalam rangka bangun. diklasifikasikan sebagai sewa operasi. o. selisih lebih hasil penjualan diatas nilai tercatat. dikapitalisasi sesuai dengan kebijakan akuntansi mengenai biaya pinjaman. maka rugi tersebut ditangguhkan dan diamortisasi secara proporsional dengan pembayaran sewa selama periode penggunaan aset. Beban keuangan dibebankan langsung ke laba rugi kecuali beban keuangan itu secara langsung diatribusikan pada aset yang memenuhi syarat. insentif tersebut diakui sebagai kewajiban. Kewajiban kepada lessor disajikan di dalam neraca sebagai kewajiban sewa pembiayaan. Dalam hal insentif diperoleh dalam sewa operasi. Jika transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa operasi dan transaksi tersebut dilakukan pada nilai wajar. Sewa lainnya. tidak segera diakui sebagai pendapatan tetapi ditangguhkan dan diamortisasi selama masa sewa. maka laba atau rugi diakui segera. sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum. n. jika lebih rendah. maka laba atau rugi diakui segera. selisih lebih diatas nilai wajar tersebut ditangguhkan dan diamortisasi selama periode penggunaan aset. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Sebagai Lessee Aset yang diperoleh melalui sewa pembiayaan dicatat pada awal masa sewa sebesar nilai wajar aset sewaan Perusahaan dan anak perusahaan yang ditentukan pada awal kontrak atau.30 tahun. Keseluruhan manfaat dari insentif diakui sebagai pengurangan dari biaya sewa dengan dasar garis lurus kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat yang dinikmati pengguna. kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati pengguna. Sewa Sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.PT. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus selama 20 . Jual dan Sewa–Balik Aset yang dijual berdasarkan transaksi jual dan sewa-balik diperlakukan sebagai berikut: Jika suatu transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa pembiayaan. kelola dan alih dinyatakan berdasarkan biaya perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan. Rental kontijen diakui sebagai beban di dalam periode terjadinya. yang ditentukan sebagai nilai tertinggi antara nilai jual neto dan nilai pakai. Pembayaran sewa dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pengurangan dari kewajiban sewa sehingga mencapai suatu tingkat bunga yang konstan (tetap) atas saldo kewajiban. Jika harga jual diatas nilai wajar. kecuali rugi tersebut dikompensasikan dengan pembayaran sewa masa depan yang lebih rendah dari harga pasar. Jika harga jual dibawah nilai wajar.21 280 . - . Pembayaran sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus selama masa sewa.

. Pendapatan atas jasa perhotelan. Pendapatan jasa perbaikan dan pemeliharaan pesawat atas kontrak jangka panjang diakui dengan menggunakan metode persentase penyelesaian. maka rugi sebesar selisih antara nilai tercatat dan nilai wajar diakui segera. Penghargaan yang tidak digunakan diakui sebagai pendapatan pada saat kadaluarsa. r. jika relevan. Sebagian pendapatan penumpang diatribusikan terhadap penghargaan perjalanan yang diestimasi dan dihitung berdasarkan ekpektasi penggunaan penghargaan tersebut. Pendapatan sewa diakui sesuai dengan Catatan 3o. ditangguhkan sampai penghargaan digunakan dan dicatat sebagai pendapatan ditangguhkan. Biaya perbaikan dan pemeliharaan lainnya dibebankan pada saat terjadinya. Beban diakui pada saat terjadi atau sesuai dengan masa manfaatnya. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Untuk sewa operasi. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Pengakuan Pendapatan dan Beban Penjualan tiket penumpang dan jasa kargo awalnya diakui sebagai pendapatan diterima dimuka transportasi. Pendapatan jasa perbaikan dan pemeliharaan pesawat atas kontrak jangka pendek diakui pada saat jasa diserahkan kepada langganan.PT. Penyisihan dibuat berdasarkan pengalaman historis. Untuk sewa pembiayaan. biro perjalanan dan jasa sistem reservasi serta jasa lain yang berhubungan dengan penerbangan diakui sebagai pendapatan pada saat jasa diserahkan. kewajiban kontrak untuk menentukan nilai sekarang dari perkiraan biaya masa depan dari inspeksi rangka pesawat dan perbaikan mesin berdasarkan biaya aktual yang dibebankan dalam laporan laba rugi.22 281 . Penghasilan dividen dari investasi saham diakui pada saat hak menerima dividen telah ditetapkan. penyisihan diakui selama jangka waktu sewa atas kewajiban pengembalian sesuai yang dipersyaratkan dalam perjanjian tersebut. Pendapatan bunga diakru berdasarkan waktu terjadinya dengan acuan jumlah pokok terhutang dan tingkat bunga yang sesuai. q. Beban Tangguhan Biaya-biaya lain yang memenuhi kriteria pengakuan aset akan ditangguhkan dan diamortisasi dengan metode garis lurus berdasarkan masa manfaatnya. nilai tercatat diturunkan ke jumlah yang dapat dipulihkan. dihitung dengan merujuk pada periode perbaikan besar atau inspeksi berikutnya. p. s. Dalam hal ini. petunjuk pabrik dan. Penjualan didalamnya termasuk juga atas pemulihan surcharges selama tahun berjalan. jika nilai wajar aset pada saat transaksi jual dan sewa-balik lebih rendah daripada nilai tercatatnya. tidak diperlukan penyesuaian kecuali jika telah terjadi penurunan nilai. Pendapatan operasional diakui pada saat penerbangan telah dilakukan. jasa boga. Bila terdapat komitmen untuk perawatan pesawat sesuai yang diatur dalam perjanjian sewa operasi. Biaya Pemeliharaan Pesawat Biaya inspeksi besar rangka pesawat dan perbaikan besar mesin pesawat milik sendiri dan sewa pembiayaan dikapitalisasi dan disusutkan selama periode sampai dengan inspeksi atau perbaikan besar berikutnya. Frequent Flyer Program Perusahaan menyelenggarakan program “Garuda Frequent Flyer” yang menyediakan penghargaan perjalanan kepada anggotanya berdasarkan akumulasi jarak tempuh.

Imbalan Kerja Jangka Panjang Perhitungan imbalan kerja jangka panjang ditentukan dengan menggunakan Projected Unit Credit. maka tidak ada keuntungan ataupun kerugian hasil restrukturisasi yang diakui. dengan memperhatikan unsur risiko dan ketidakpastian yang melekat pada kewajiban. Setelah restrukturisasi. Bila beberapa atau keseluruhan dari manfaat ekonomis mengharuskan penyelesaian kewajiban diestimasi diharapkan dapat dipulihkan dari pihak ketiga. Biaya jasa lalu dan keuntungan (kerugian) aktuarial diakui langsung pada tahun yang bersangkutan. u. . Jumlah diakui sebagai kewajiban diestimasi merupakan taksiran terbaik yang diharuskan menyelesaikan kewajiban pada tanggal neraca. Dampak restrukturisasi tersebut diakui secara prospektif sejak saat restrukturisasi dilaksanakan. 2008 DAN 2007 – Lanjutan t. piutang diakui sebagai aset apabila terdapat kepastian tagihan dapat diterima dan jumlah piutang dapat diukur secara andal. jumlah pembayaran kas masa depan yang ditetapkan dalam persyaratan baru dikurangkan dari nilai tercatat hutang dan tidak ada beban bunga yang diakui hingga jatuh tempo hutang tersebut. Jika nilai tercatat pinjaman lebih kecil dari jumlah pembayaran kas masa depan yang ditetapkan dalam persyaratan baru hutang dalam restrukturisasi yang terbatas pada modifikasi persyaratan. Setelah restrukturisasi. Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan pasca-kerja di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan pasca-kerja disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial belum diakui dan biaya jasa lalu belum diakui.23 282 . Biaya jasa lalu dibebankan langsung. v. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Restrukturisasi Hutang Bermasalah Sebelum tanggal 1 Januari 2010. dan sebaliknya diakui sebagai beban dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested. Kewajiban diestimasi diukur menggunakan estimasi arus kas untuk menyelesaikan kewajiban kini dengan jumlah tercatatnya sebesar nilai kini dari arus kas tersebut. dan dikurangi dengan nilai wajar aset program. beban bunga dihitung dengan menggunakan tingkat bunga efektif konstan dikalikan dengan nilai tercatat hutang pada awal setiap periode sampai dengan jatuh temponya. selisih lebih jumlah tercatat hutang diatas jumlah pembayaran kas masa depan yang ditetapkan dalam persyaratan baru hutang dalam restrukturisasi hutang yang terbatas pada modifikasi atas persyaratan hutang langsung diakui sebagai keuntungan hasil restrukturisasi.PT. Kewajiban Diestimasi Kewajiban diestimasi diakui bila Perusahaan dan anak perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu dan besar kemungkinan Perusahaan dan anak perusahaan diharuskan menyelesaikan kewajiban serta jumlah kewajiban tersebut dapat diestimasi secara andal. Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan kerja jangka panjang di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan kerja pasti. Imbalan Pasca-Kerja dan Imbalan Kerja Jangka Panjang Imbalan Pasca-Kerja Perhitungan imbalan pasca-kerja ditentukan dengan menggunakan metode Projected Unit Credit. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari jumlah yang lebih besar diantara nilai kini kewajiban imbalan pasti atau nilai wajar aset program diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diprakirakan dari para pekerja dalam program tersebut. apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested.

dikurangi penurunan nilai.  Tersedia untuk dijual Investasi jangka panjang dalam bentuk saham. atas dasar kompensasi sesuai dengan penyajian aset dan kewajiban pajak kini. Pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal neraca. diklasifikasikan dalam kategori ini. x. kecuali aset dan kewajiban pajak tangguhan untuk entitas yang berbeda.24 283 . piutang usaha dan piutang lain-lain yang mempunyai jangka waktu pembayaran yang tetap dan yang tidak diperdagangkan dalam pasar aktif. Bila tidak ada pasar aktif untuk investasi tersebut dan nilai wajar tidak dapat diukur dengan andal. kecuali aset keuangan itu diklasifikasikan sebagai “at fair value through profit or loss”. sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba kena pajak pada masa datang. yang mana dari awal diukur dengan menggunakan nilai wajar. Pajak Penghasilan Beban pajak kini ditentukan berdasarkan laba kena pajak dalam tahun yang bersangkutan yang dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku. deposito berjangka. dikurangi penurunan nilai. Pinjaman dan piutang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. selama perkiraan umur dari instrumen keuangan. Tingkat bunga efektif adalah tingkat bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas masa depan (termasuk semua biaya yang dibayar atau diterima yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif. dan pengukuran awal dengan menggunakan nilai wajar ditambah dengan biayabiaya transaksi. Aset keuangan Perusahaan dan anak perusahaan diklasifikasikan sebagai berikut:  Nilai wajar pada laporan laba rugi Derivatif keuangan diklasifikasikan dalam kategori ini kecuali ditujukan sebagai derivatif lindung nilai.PT. dana pemeliharaan pesawat dan uang jaminan atas sewa operasi. Kewajiban pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan Aset pajak tangguhan diakui untuk perbedaan temporer yang boleh dikurangkan. Bunga diakui dengan menggunakan metode suku bunga efektif. investasi ini diukur sebesar biaya perolehan. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. Aset dan kewajiban pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode mendatang yang timbul dari perbedaan jumlah tercatat aset dan kewajiban menurut laporan keuangan dengan dasar pengenaan pajak aset dan kewajiban. Pajak tangguhan dibebankan atau dikreditkan dalam laporan laba rugi. diklasifikasikan dalam kategori ini. atau jika lebih tepat.  Pinjaman dan Piutang Bank. Aset Keuangan Seluruh aset keuangan yang diakui dan yang tidak diakui pada tanggal pembelian atau penjualan suatu aset keuangan diatur dalam kontrak yang dimana persyaratan periode yang diperlukan aset keuangan ditentukan oleh pasar. kecuali pajak tangguhan yang dibebankan atau dikreditkan langsung ke ekuitas. kecuali untuk piutang jangka pendek di mana pengakuan bunga tidak material. biaya transaksi dan premium atau diskonto lainnya). . Keuntungan atau kerugian dari derivatif non lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. 2008 DAN 2007 – Lanjutan w. digunakan periode yang lebih pendek atas nilai tercatat bersih pada pengakuan awal. kecuali investasi pada perusahaan asosiasi. Aset dan kewajiban pajak tangguhan disajikan di neraca. Metode bunga efektif Metode bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan yang diamortisasi dari instrumen keuangan dan mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode terkait.

y. Pemulihan dikemudian hari dari jumlah yang dihapuskan sebelumnya. manajemen mempertimbangkan beberapa faktor seperti. dikreditkan terhadap akun penyisihan. Nilai tercatat aset keuangan diturunkan secara langsung melalui kerugian penurunan nilai untuk seluruh aset keuangan. dievaluasi terhadap indikator penurunan nilai pada setiap tanggal neraca. Jika Perusahaan memiliki secara substansial seluruh risiko dan manfaat kepemilikan aset keuangan yang ditransfer. pengalaman kolektibilitas pembayaran di masa lalu. Penghentian pengakuan aset keuangan Perusahaan menghentikan pengakuan aset keuangan jika dan hanya jika hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset berakhir. atau Perusahaan mentransfer aset keuangan dan secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset kepada entitas lain. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset keuangan.PT. Bila piutang usaha atau piutang lain-lain tidak tertagih. yang berdampak pada estimasi arus kas masa depan dari investasi. kecuali untuk piutang usaha dan piutang lain-lain dimana nilai tercatat diturunkan melalui akun penyisihan. Perusahaan masih mengakui aset keuangan dan juga mengakui pinjaman yang dijamin sebesar pinjaman yang diterima. kerugian penurunan nilai diukur sebesar selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini dari nilai estimasi arus kas masa depan yang didiskontokan pada tingkat pengembalian pasar atas aset keuangan sejenis. maka Perusahaan mengakui keterlibatan berkelanjutan atas aset yang ditransfer dan kewajiban terkait sebesar jumlah yang mungkin harus dibayar. selain yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Kewajiban Keuangan dan Instrumen Ekuitas Klasifikasi sebagai hutang atau ekuitas Kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh Perusahaan dan anak perusahaan diklasifikasikan sesuai substansi perjanjian kontrak dan definisi kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas. kegagalan atau peningkatan signifikan atas jumlah pembayaran tertunda atas kredit rata-rata sebelumnya. Perubahan nilai tercatat akun penyisihan diakui dalam laporan laba rugi.  Aset keuangan diukur pada biaya. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Pendapatan diakui berdasarkan suku bunga efektif untuk instrumen keuangan selain instrumen keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. penurunan nilai adalah sebesar perbedaan antara nilai tercatat dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan yang. . Penurunan nilai aset keuangan Aset keuangan. didiskonto dengan tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut.  Aset keuangan diukur pada amortized cost Dalam penentuan apakah terdapat bukti objektif bahwa kerugian atas penurunan nilai telah terjadi atas aset keuangan. dikurangi kerugian penurunan nilai Jika terdapat bukti objektif bahwa rugi penurunan nilai telah terjadi atas aset keuangan yang diukur pada biaya.25 284 . Jika Perusahaan tidak mentransfer serta tidak memiliki secara substansial atas seluruh risiko dan manfaat kepemilikan serta masih mengendalikan aset yang ditransfer. Kerugian penurunan nilai tersebut tidak dihapus pada periode berikutnya. seperti kesulitan keuangan signifikan pada penerbit atau terjadi perubahan lingkungan operasi yang merugikan penerbit. Untuk aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. Aset keuangan diturunkan nilainya bila terdapat bukti yang objektif. termasuk yang diakui kesulitan keuangan debitur. piutang dihapuskan terhadap akun penyisihan.

Laba per saham dilusian dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang telah disesuaikan dengan dampak dari semua efek berpotensi bersifat dilutif pada saham. akumulasi keuntungan dan kerugian dalam ekuitas direklasfikasi ke laporan laba rugi dalam periode yang sama selama aset atau kewajiban yang terkait mempengaruhi laba rugi. Instrumen ekuitas dicatat sebesar hasil yang diterima. Perolehan kembali atas saham Perusahaan yang sebelumnya diterbitkan dihitung menggunakan metode biaya. dan beban bunga diakui berdasarkan suku bunga efektif. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Instrumen ekuitas Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang membuktikan hak residual atas aset Perusahaan setelah dikurangi seluruh kewajibannya. Jika transaksi lindung nilai mengakibatkan pengakuan aset atau kewajiban. Laba per Saham Laba bersih per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar pada tahun yang bersangkutan. Kewajiban keuangan lainnya Hutang bank. Treasury stock tersebut dicatat pada harga perolehan dan disajikan sebagai pengurang jumlah modal saham. Bentuk primer pelaporan segmen adalah segmen usaha. jika sebaliknya. dan hanya jika. Semua derivatif dicatat sebagai aset apabila nilai wajarnya positif. Penghentian pengakuan kewajiban keuangan Kewajiban keuangan dihentikan pengakuannya jika. setelah dikurangi biaya transaksi. item yang dilindung nilai disesuaikan dengan perubahan nilai wajar yang atribusikan terhadap risiko yang dilindung nilai dan perubahan tersebut langsung diakui dalam laporan laba rugi. hutang jangka panjang.26 285 . dengan menggunakan metode suku bunga efektif. hutang usaha dan hutang lainnya pada awalnya dinilai berdasarkan nilai wajar. . Perubahan nilai wajar instrumen derivatif keuangan yang ditujukan untuk lindung arus kas masa depan yang efektif diakui sebagai bagian dari ekuitas dan bagian yang tidak efektif langsung diakui dalam laporan laba rugi. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009. dibatalkan atau berakhir. kewajiban Perusahaan telah dibebaskan. dan selanjutnya dinilai berdasarkan biaya perolehan yang diamortisasi. jumlah yang ditangguhkan dalam ekuitas diakui dalam laporan laba rugi pada periode yang sama dimana item yang dilindung nilai mempengaruhi laba atau rugi bersih. Untuk lindung nilai yang tidak mengakibatkan pengakuan aset atau kewajiban. Informasi Segmen Informasi segmen disusun sesuai dengan kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian. setelah dikurangi biaya penerbitan langsung. sedangkan segmen sekunder adalah segmen geografis. Instrumen keuangan derivatif Instrumen derivatif awalnya diakui sebesar nilai wajar pada tanggal kontrak derivatif dibuat dan kemudian dinilai kembali sebesar nilai wajarnya pada setiap tanggal neraca. Segmen usaha adalah komponen perusahaan yang terlibat dalam menghasilkan produk atau jasa individual maupun kelompok produk atau jasa terkait dan komponen itu memiliki risiko serta tingkat pengembalian yang berbeda dengan segmen usaha lainnya. aa. Untuk lindung nilai efektif terhadap eksposur perubahan nilai wajar. derivatif dicatat sebagai kewajiban. bb. z.PT.

785 9.961.638.316 587.015.000.544.000.000.608. jika dan hanya jika.871 86.565.373. KAS DAN SETARA KAS 30 September 2010 Rp 7.418.455 1.601 16.037.473 819.918 72.788.000.947.788 6.776.122 31 Desember 2008 Rp 3.540.000 4.PT.651.000.431.200 44.801 6.592.044.925.350.949.770 4.500.467 219.591 2.717.410.000.204.980.607.474.304.366.000.669.000.255.051 1.154.469.578.000 55.874.860 6.000 40.000 1.487 58.321.555 6.043 3.908.124.000 1.285.030.000 25.831.000.228.431.178.000 19. 2008 DAN 2007 – Lanjutan Segmen geografis adalah komponen perusahaan yang dapat dipisahkan berdasarkan lingkungan ekonomi tertentu yang menghasilkan produk atau jasa.043 42.162.213 18.430.385 2.000 10.625.451.958.262.914 56.640.338.342 4.212.777.508 529.233.778.827 4.385 13.000.280.884.500.841 3.744.385.132.878.293.591.948.600 359.245 241.871 8.068.005.401 63.495 415.447 3.502.332.490 10.919 Kas Rupiah Dolar Amerika Serikat Mata uang asing lainnya Jumlah Bank Bank Mandiri Citibank N.000.826.000 16.193.000.199.467.183 1.810.000 1.567.019 122.676.000.000.902.600.757.663.629.765 35.250.135.000.748 12.000 11.000 38.715.154.875 294.356 3.347 6.234.056.999.550.009.967 351.965.054.179.300.696.648.606 13.217 15.977.881.479 4.776 2.409.000.A National Australian Bank Bank Tabungan Pensiun Nasional Bank Mandiri Bank Danamon Bank Mega Syariah Bank Korea Bank Himpunan Saudara Bank Permata Bank Mega Bank Artha Graha Bank Pembangunan Daerah Jatim Bank Internasional Indonesia Bank Ekspor Indonesia Bank of China Jumlah Jumlah 2009 Rp 3.312 9.999.923 1.000.837.729.078.271 1.374.048.071.583 720.802.752 2.448.913 49.536.506.931 1.018.117.184.000.205 126.742 1.682.397.973.965.050.000.000 3.756.556.000.264.000.121.422 3.471.347.251.450.000.900.290.705.890.970.369.403.922.800.002 517.000.978.806 1.601.102 149.000 48.009.094.521.192.025 6.676.167.272.861 19.427.938.454.963.188.328 2.000 45.000.600.440.737 1.000 30.811.084 12.000 38.000 1.446.844.000.587.000 5.074 3.092.566 5.992.923 31.536 35.471.081.000.700.314.892.722.006 12.904.357 57.954 2.962.706.000.484.835.000.381 11.102 4.086.798.111.346.646.927 1.384.750 24.406 272.000 41.222.000 40.000 20.294.662.000.968.133.256.700.865.000.144 200.712 18.000 5.717.376.194 64.427.281.071 2.200.043.602 2.000.760 3.177.000.796.995 678.937.169.603.399.000 4.000 8.589.860 2.838.384.188.A Bank Negara Indonesia Bank of China Bank Rakyat Indonesia National Australian Bank Mizuho Bank Saudi Arabian Bank Commonwealth Bank of Australia Llyods Bank Ltd California Bank and Trust Industrial and Commercial Bank of China The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Korean Exchange Bank Bank Central Asia Bank Internasional Indonesia Deutsche Bank Lain-lain (dibawah Rp 3 miliar) Jumlah Deposito berjangka Bank Negara Indonesia Bank Rakyat Indonesia Bank Bukopin Bank CIMB Niaga Citibank N.471.536.100.624.875 15.461.053.373 28.796 5.000.379.028.142 53.000.125.556 7.800 4.843.040. 4.245. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.797.501.965.070.256.400.000.343.27 286 .000 8.144 646.103.259 26.508.000 1.245.526.800.162 4.661.188.000 2.204.612.733 2009 (Tidak diaudit) Rp 6.298 8.777.835 261.529 9.792.491.810.640.881 32.174.979 5.285 9.100.014.147 1.710.903.726 4.720 43.704.648.714.801.933 309.000.000 13.592.857.000 86.566.000.086.504.520 210.043.508.722.235.375 1.000.464. Aset dan kewajiban yang digunakan bersama dalam satu segmen atau lebih dialokasikan kepada setiap segmen.870.498 1.288.470.077 23.597.301.676.812 545.785.282.000 8.450.438.180.000.000 230.406.482 9.784.348.006.563.000.385.921.328.000 8.454.029.219 22.174.237 24.917 1.925.308.196.210.416.000.628 19.000 8.600.779.758.000 775.585.536 3.219.785 12.670 1.000 2.923.000.277 3.131.876.142 31.039.552 1.000.190.736.401.000.000 17.853 3.744.155 104.496.000 5.831.126.043.000 16.000 502.281.933 2007 Rp 8.700.320.000 6.985.248 1.675.148.578 269.142.411 287.000 10.305.900.000.970.824.750 733.004.546.254 4.418 2.207.876 946.309.443.859.554 17.722.087.757.824.292.243.221 31.000 1.971.246.000 144.000.948 682.850.763.954. pendapatan dan beban yang terkait juga dialokasikan kepada segmen.000 1.238.836.774 .749.450. setiap komponen memiliki risiko dan tingkat pengembalian yang berbeda tergantung pada letak operasi pada lingkungan ekonomi.821 46.580 2.180.166.000 4.367 1.190 9.810.805.000 14.000 32.604.861.969.539.224.875 14.381.

141.2.226.091 24.50% 3.000 11.9.599.782.968 12.631.9.790.88% 2.640 1.000.451.610 71.746 677.88% 2.221 6.000. .994.000.452.224.457.764 725.706 76.494 22.9.582.000.75% .60% .000.527.848.052.836 11.455.00% - 2007 8.676 13.941.654.886.650.976 2.358.203 15.248 1.507.594.443.000 3.25% 2.13.350.992 6.974.885.75% 2.25% 2.73% 6.426.236.A. INVESTASI JANGKA PENDEK 30 September 2010 Rp Deposito berjangka Bank CIMB Niaga Citibank N.484.706 7.000.848 13.292.000 6.180.922.28 287 .000 11.298 96.522.4.10.844.983.25% 31 Desember 2008 Rp 11.956.8.993.75% 2. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.653.414.158 16.75% .630.585.799 25.065.34% .621.3.100.931.973 20.813.3.515 743.703.007.469.265 1.786.899 56.212.957.423 7.555.040 141.186.00% .340 69.297.7.807.052.75% Deposito berjangka pada Bank CIMB Niaga digunakan sebagai jaminan atas pinjaman PT Mandira Erajasa Wahana (Catatan 18).969.835 63.714.888.889 5.726 13.PT.6.248.000.002.781.680 26.104.9.000.563.25% 2.50% .473.14% 2009 Rp 11.724.709.236.88% 6.886.134.574.540.000 6.662.363.894 4.920 24.128 113.721.694 649.25% .446.257.845 559.080.654.609 10.000.238.530.050 19.367.984 8.407.394.000.886.923.008.679 76.496.75% .399.75% 2.7.784.219 11.490 24.512.923.096 28.180.017.839.00% .600.624.850.78% - 2009 (Tidak diaudit) 2009 6.591.131.A mempunyai jangka waktu lebih dari tiga bulan.458.25% 2007 Rp 11.600. 2008 DAN 2007 – Lanjutan 30 September 2010 Tingkat suku bunga per tahun Rupiah Dolar Amerika Serikat Dolar Australia Won Korea Renmimbi Cina 5.461.75% .000 14. Jumlah Tingkat bunga per tahun 2009 (Tidak diaudit) Rp 11.25% 2.50% .973 21.513.889 46.908.78% - Kas dan setara kas dalam mata uang fungsional dan mata uang non-fungsional dari Perusahaan dan anak perusahaan adalah sebagai berikut: 30 September 2010 Rp Mata uang fungsional Rupiah Mata uang non fungsional Dolar Amerika Serikat Dolar Australia Renmimbi Cina Yen Jepang Riyal Saudi Arabia Euro Dolar Singapura Poundsterling Inggris Dolar Hongkong Won Korea Mata uang asing lainnya (dibawah Rp 5 miliar) 2009 (Tidak diaudit) Rp 31 Desember 2008 Rp 2009 Rp 2007 Rp 369.020 30.50% .75% .665.959 25.843 4.000 7.111.655.50% 2.25% 3.494 9.633.621.000 11.50% .000 8.582.149.364.250 1.077.044.608.281 127.057 10.852.762 6.783.221 3.000.361 76.926.898.032.918 659.551.922.442.78% - 31 Desember 2008 7.287.55% .159 5. Deposito berjangka pada Citibank N.349 21.929 13.3.536.000.843 54.234.

294.536.140.224.445.276.011 22.764.613.067.284.646.207.690 42.008 512.520 1.510.743.301.842.391.357.240 96.424.034 115.375 7. Berdasarkan Umur Piutang 30 September 2010 Rp Belum jatuh tempo Jatuh tempo 1 .631.597.934.702 (300.953 (319.264) 831.287 404.039.156.126.479.294.813.137. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.082 (260.647.362 116.525.553) 1.735 1.613.297.114.728.630 1.625 176.484.671.327 279.800.077.231.066 495.049.984.075.245.160.788.201 2007 Rp 386.607 907.795.833.554.905.630.449 94. PIUTANG USAHA a.602.730 407.642.750.865 12.187 88.886.536.981.684.885.126. 2008 DAN 2007 – Lanjutan 6.789.033 8.516 862.779 614.29 288 .638.510 1.294.981.813.575 10.921.676 1.097.779.894.636 345.060.320 1.360 hari > 360 hari Jumlah Penyisihan piutang ragu-ragu Jumlah bersih 583.765 105.205.944.993.086.696 1.366.599 617.973 938.862.449.358 (317.151.384.139.152 82.003.512.642 22.607.919.080 112.923) 1.218.492.535.180 hari 181 .260.708.987.799.511.456.092.184.757 454.738.621 370. Berdasarkan Debitur 30 September 2010 Rp 19.046.157.146.852 49.249 (323.921.658.129.553) 1.061.764.070 176.540.329.609 58.114.126 15.077.639.468.919 14.096 488.397.730 31 Desember 2008 Rp 189.630.683 451.541.346.245.696 842.172.326.441.117.162.156.115 510.529.759 (317.483 (260.610.852.591.352.795.814.484.604 2009 Rp 225.512 Pihak hubungan istimewa (Catatan 45) Pihak ketiga Jasa penerbangan Agen penumpang Agen kargo Kartu kredit Perusahaan penerbangan Pos Haji Lain-lain Sub jumlah Non jasa penerbangan Jumlah Penyisihan piutang ragu-ragu Jumlah Jumlah bersih 2009 Rp 16.344.793 74.401 31 Desember 2008 Rp 14.239.327 1.983.264) 817.585.084.231.443.430 217.951 2007 Rp 20.547.916 1.653 (300.049.731 667.281.321.529.556.712.647.572.244.191.180 29.008 .003.015 180.844 18.004.748) 1.542 84.836.197.150.494.465 (319.610.861.778.751) 907.838 539.152.126.867.134 1.086.903.621.491.345.768.350.796.751) 890.171 12.347 1.039.972 182.263 7.094.204.426.084 179.066.844 8.334 299.968.079.297.009 117.757.012.561 651.689 831.531.220.903.923) 1.652.646.475.975.065.075.454.833.717 119.533.757 2009 (Tidak diaudit) Rp 394.621.779 1.204.310.60 hari 61 .606 1.759.334 b.901.066.301 277.251.809.480.061 2009 (Tidak diaudit) Rp 16.453.745.939.413 160.956.184.310 (323.534.145.796.351.267 5.020.822.161.745 356.321.572.097.112.443 523.PT.201 539.046.426.987.124 246.173 44.613.136 483.349.722.748) 1.058.156.367.237.198.559.145.949.098.438.145.107.

813.532.987.523.621.740 1.903.117.468.813.536.246 23.339.621.572.559.655 1.536 (34.231.875.484.506.475.000.786 64.659.579.738.116.923 62.145.267 89.066.357.469 49.307.264 19.552.469 49.962.329.297. Berdasarkan Mata Uang 30 September 2010 Rp Rupiah Yen Jepang Dolar Amerika Serikat Dolar Australia Mata uang asing lainnya Jumlah 957.497.751 319.513.270.151.923 260.597.646.831.748) 1.831.929.487.292 106.760 73.828 2009 (Tidak diaudit) Rp 78.071) 323.921 291.291.887.315.542.231.097.700.051.617.085 50.536.915.987.506.572.291.068.610 155.813.436.392.120 292.651.487.297.101.532.437.738.003.613.297.307.018.536.921.877) 300.051.561.833.226.120.756.224.903.962.881.751) 907.264 260.813.484. Piutang usaha dalam mata uang selain mata uang fungsional Perusahaan dan anak perusahaan adalah sebagai berikut: 30 September 2010 Rp Yen Jepang Dolar Amerika Serikat Dolar Australia Mata uang asing lainnya 155.075.546 1.512 (7.915.929.538.740 2007 Rp 95.653 31 Desember 2008 Rp 513.263.264 15.613.065.405.557 82.116.263.405.538.552.294.082 (260.646.270.758.484.201 2007 Rp 747.748 Manajemen berpendapat bahwa penyisihan piutang ragu-ragu cukup untuk menutup kerugian yang mungkin timbul akibat tidak tertagihnya piutang.218 48.077.392.867.436.127.465 (319.315.928 187.767) 260.586 74.003 7.003. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.768.828 1.903.30 289 .655 .120 292.310 2009 (Tidak diaudit) Rp 2009 Rp 864.349.301.497.817.292 106.367.651.757 1.334 Penyisihan piutang ragu-ragu Jumlah bersih (323.039.817 231. 2008 DAN 2007 – Lanjutan c.525.466.399 434.586 74.875.987.077.542.759 (317. Manajemen juga berpendapat bahwa tidak terdapat risiko yang terkonsentrasi secara signifikan atas piutang kepada pihak ketiga.267 89.730 Mutasi penyisihan piutang ragu-ragu: 30 September 2010 Rp 2009 (Tidak diaudit) Rp 31 Desember 2008 Rp 2009 Rp 2007 Rp Saldo awal periode Penambahan Pengurangan Saldo akhir periode 300.218 48.173.444 95.546 31 Desember 2008 Rp 73.646.172.498 366.780.297.086.921 291.923) 1.484.591.097.553 319.399 434.672.649 64.498 366.097.764.768 2009 Rp 64.572.817 231.150.014) 319.368.339.475.530 (52.553) 615.701 (40.085 50.080 78.101.677.677.172.536.768 1.653 (22.349.049.166) 317.557 82.722.928 187.748 112.974.039.218.264) 831.346.786 64.756.758.077.003.226.008 (300.231.246 23.301.610.PT.342.368.621.051.

991 31 Desember 2008 Rp 3. Manajemen berkeyakinan bahwa piutang lain-lain akan dapat ditagih seluruhnya karenanya tidak terdapat penyisihan atas piutang tak tertagih.117.363.202 11.103.637 18.330 47.073.119 2007 Rp 4.870.509.872.460 5.254.366 2009 (Tidak diaudit) Rp 50.695 direklasifikasi ke aset lain-lain.377 25.041 (70.171.622.417.124.419.034.511.221.161.774 15.781.978.138.483. USD 150.034 5.794.469 4.331 Pada tahun 2010.195 (50.855.070.614.494 30 September 2009 (Tidak diaudit) Rp 1.158 30 September 2009 (Tidak diaudit) Rp 600.000. Pada tanggal 30 September 2010 dan 2009 serta 31 Desember 2009.815.063.180.870.000.132) 70.375.802.469.PT.227.710 681.253 2007 Rp 353.940 38. 8.952.662 (11.449.133.362 7.384 46.000 dan USD 217.440.061 66. yang pembayarannya telah diterima di tahun 2009.030 396.049.700.574.695) 8.124.443.728 6.417.169.163.918.742.402 1.595 2009 Rp 588.049.503.555.991) 618.349.118.393.933. USD 200.217.942 30.204) 615.366) 598. Perubahan penyisihan penurunan nilai persediaan adalah sebagai berikut: 30 September 2010 Rp Saldo awal periode Penambahan Penghapusan Pemulihan Reklasifikasi ke aset lain-lain Saldo akhir periode 70.102) 66.580 14.799 (66.204 2009 Rp 50.870.333.492.419.887.326.363.862.685 72.000.910.987 118. 2008 DAN 2007 – Lanjutan 7.289.754.862.372.377.432.715 (3.090.862.537.311.254.000.622 248.450 31 Desember 2008 Rp 3.813 30.443.176 5.953. .359.973 36.608.000 9.797.276.520.243.283.925.355 6.143. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.848.033 607. persediaan telah diasuransikan kepada PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) dan PT IBS Broking Service terhadap risiko kebakaran dan risiko lainnya berdasarkan suatu paket polis dengan nilai pertanggungan masing-masing sebesar USD 150.104.058.746.991 541.328.374.875 5.264 dan penyisihan penurunan nilai sebesar Rp 62.802. persediaan suku cadang yang tidak digunakan untuk kegiatan operasi Perusahaan dengan biaya perolehan Rp 69.224.277.070 (62.334.274 13.344.455. USD 200.125 2009 Rp 1.364 (10.434.470.555.572.399 400.614.000.366.715.254.558 50.992.551.988.661.049.000.349. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas persediaan yang dipertanggungkan.840.384 Manajemen berpendapat bahwa penyisihan penurunan nilai persediaan tersebut cukup untuk menutup kerugian yang mungkin timbul dari penurunan nilai persediaan.000.694.190.050 31 Desember 2008 Rp 505.788.333.731.181 (10.862.524.572.415.124.580.375.419.258.049. 2008 dan 2007 tidak terdapat persediaan yang digunakan sebagai jaminan. 2008 dan 2007. Pada tanggal 30 September 2010 persedian telah diasuransikan kepada PT Asuransi Jasa Indonesia dan 30 September 2009 serta 31 Desember 2009.278) 3.423.384) 396.481.435.137.363.730. PERSEDIAAN 2010 Rp Suku cadang Persediaan umum Jasa boga Dokumen Lain-lain Jumlah Penyisihan penurunan nilai persediaan Jumlah bersih 484.403.450 36.31 290 .602.234.524 (8.610.720.608 22.323 86.020 15.849. PIUTANG LAIN-LAIN 2010 Rp Piutang pegawai Pendapatan masih harus diterima Kementerian Negara BUMN Lain-lain Jumlah 2.263.189.049.927 12.000.594 Piutang kepada Kementerian Negara BUMN merupakan piutang atas penjualan tanah dan bangunan.802.919 5.963.942 26.501.802.648 566.422.942 2007 Rp 14.873 688.942) 516.781.

930.675.372. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.357.482.861.990.184.868 232.163.585.181 27.907 82.058 88.999.361 25.998 90.724.568.953.061.906.480.971.641.068.918.641.406 25.710.687.771.660.824 50.564 8.046 907.961.962 7.833.940.815.449.814 26.657.946 643.046.151.818 119.514.274.216 888.833.824.335.763.835 18.658 10.502.158.341 20.728 7.382.155 110.482 548.339 181.166.416.209.749.223.924.540.516 17.681 23.812.656.999.204.048.147 11.906 5.831 70.882.379.073.455 5.165 11.664.954.018.848.015.015 19.618.360.578.861 83.036.581.855.823.745 8.593.635 27.202.089 1.220.914.932.135.276.742. 2008 DAN 2007 – Lanjutan 9.156.054 35.962 6.567 608.098 4.123 147.018 198.680.461 7.254.186.901 4.643.PT.482.621 31.936.984.639.603 2007 Rp 435.259.790.305.631.298 56.108.505.412 130.122.256 1.767.569.497 57.722 6.886.852 46.251.496 21.236 28.853.109 20.984.405.545.537 8.050.417.788. PAJAK DIBAYAR DIMUKA 30 September 2010 Rp Perusahaan Taksiran Pajak Penghasilan Badan Lebih Bayar Tahun 2010 Tahun 2009 Tahun 2008 Tahun 2007 Tahun 2006 Pajak Pertambahan Nilai Sub Jumlah Anak perusahaan Taksiran Pajak Penghasilan Badan Lebih Bayar Tahun 2010 Tahun 2009 Tahun 2008 Tahun 2007 Pajak Pertambahan Nilai Sub jumlah Jumlah 2009 (Tidak diaudit) Rp 31 Desember 2008 Rp 2009 Rp 2007 Rp 16.672.881 4.324 13.969 9.609.881.532 8.325 89.820.437.186 20.940 163.851.633.999.295 46.622.290 .057.353 34.223.434.318.445 22.492.726.345.741.510.494.560 25.723 104.762.291 23.953.913.966.828.603 47.781.178.339 135.155 21.468.361.710.084.325 41.678 18.875.050.815 31 Desember 2008 Rp 82.466.752.177.137 22.438.604.032 9.437.108 138.935.342 70.821.463 18.397.450.243 12.263.900.961.673.545.753.781 6.206 109.433.002.470 2009 Rp 247.32 291 . UANG MUKA DAN BIAYA DIBAYAR DIMUKA 30 September 2010 Rp Perbaikan pesawat Sewa dibayar dimuka Uang muka sewa untuk ECA (Catatan 25) Bahan bakar Suku cadang Sewa pesawat Perjalanan dinas Sewa gedung Asuransi Lain-lain Jumlah 285.805.346.883.710.203.786 282.448.741.448.581.689.857 98.679.157.553.203.100.924.837 499.187.965 28.928 2009 (Tidak diaudit) Rp 304.954.152 76.381.210.

113.832.100 658.835.667 1. UANG MUKA PEMBELIAN PESAWAT Akun ini merupakan uang muka pembelian pesawat 6 Airbus tipe A-330 dengan jadwal pengiriman mulai Oktober 2012 sampai dengan Oktober 2014.689) 529.462.464.539.300.641.238.054 2.976 (Disajikan kembali .206.000 17.888.036.614.562 (4.032.462.500 280.965.562 (4.444 31 Desember 2009 Rp 4.464.300.270.837 609.028.875.258.905 (277.000 (22.118 1.229.826.620 519.220 4.290.054.153.773.517.036.433 1.464.128.233 31 Desember 2009 Rp 1.458.612.205.464.114.101.414 1.414 318.053.129 1.947.934 484.745.031.121.052.100 536.504.100 1.540.903.539.620 4.609.837.057.323.620 12.826.072 752.023.394.200.911.198.530.539.766.901.769 1.928.323.490 108.215.113.852.322 328.007.230 193.766 2009 (Tidak diaudit) Rp 4.791.871.433 393.710.010 519.203 280.474.500) 445.438.573.063 451.637.279.796.686) 1.377. DANA PERAWATAN PESAWAT DAN UANG JAMINAN 30 September 2010 Rp Dana perbaikan pesawat (Catatan 49) Uang jaminan sewa operasi (Catatan 49) Jumlah 1.604.044 (1.300.406.620) 79.543 A330 Saldo awal Penambahan Pengurangan Saldo akhir B777-300ER Saldo awal Penambahan Pengurangan Saldo akhir B737-800 Saldo awal Penambahan Pengurangan Saldo akhir Total Saldo Akhir .522.620 108.397.198.686.875.500 (73.951) 1.191.976.161 1. 2008 DAN 2007 – Lanjutan 11.774.539.Catatan 54) 31 Desember 2008 2007 Rp Rp 4.323.584.500 (60.835.620 4.458.426.377.024.685.920) 423.645) 75.350.052.052.044. 10 Boeing 777-300ER dengan jadwal pengiriman mulai Mei 2013 sampai dengan Januari 2016.581.828.599.036.928.620 108.701.826.534.539.000 (770.828.888.453.112.826.000 1.828.911.490 411.826.911.713.782.745.826.33 292 .403.955 2009 (Tidak diaudit) Rp 932.458.198.377.955 (Disajikan kembali .343 780.928. GARUDA INDONESIA (PERSERO) DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2009.730) 459.562 519.347.632. Boeing 737-800 sebanyak 25 pesawat dengan jadwal pengiriman mulai Juni 2009 sampai dengan Pebruari 2016 (Catatan 50a dan 50b) dengan rincian sebagai berikut: 30 September 2010 Rp 79.767.265.PT.665 12.563 558.770 1.265.620 79.080 1.826.Catatan 54) 31 Desember 2008 2007 Rp Rp 706.435.826.036.539.490 87.096.135.306.539.819.962.160.462.774.392 1.060.917 445.278.

Manajemen anak perusahaan percaya bahwa investasi ini tidak akan pulih karena pembangunan Belitung Beach Hotel sudah dihentikan sejak tahun 1994.524.729.903.125 59.110.554 12.058 2.00 30 September 2010 Rp 117.115.971.914.853.531.943.633.531.432.762.524.609 205.013.812.000 5.474 3.426 5.473.115.586 59.524.609 213.586 2.432.883 (101.450.794.110.864 2009 (Tidak diaudit) Rp 31 Desember 2008 Rp 110.000.452) 117.212.439.958. .653.442.384.000 5.883 59.263.019.117 2007 Rp 101.0