Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan lahan untuk mendukung program perluasan areal perkebunan dan pengembangan tanaman tebu memerlukan data dan informasi sumberdaya lahan yang handal. Ketidak lengkapan data dan informasi sumberdaya lahan tersebut dapat berakibat pada pemanfaatan lahan yang tidak optimal, dan bahkan dapatmenimbulkandampak kerusakanlahan atau kegagalan usaha bisnis dibidang perkebunan. Karakteristiklahan dalam perkebunan tebu mempunyai nilai penting bagi keberadaan suatu perkebunan tebu, karena merupakan salah satu sumber daya alam yang mendukung proses budidaya dan produksi kebun. Seperti diketahui bersama, tebu merupakan tanaman yang sangat membutuhkan air dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Tanpa ketersedian air yang cukup sepanjang tahun, maka dapat dipastikan pertumbuhan dan produksi akan menjadi rendah, karena tanaman tebu memerlukan kestabilan ketersedian air pada periode pembuahannya. Disisi lain tanaman tebu di awal pertumbuhan kurang tahan terhadap genangan, sehingga kalau budidaya akan dilakukan di daerah rawa diperlukan perencanaan drainase yang tepat untuk mengendalikan muka air tanah sampai batas yangg diinginkan perakaran tanaman tebu. Kedalaman muka air tanah yang diinginkankan tanaman tebu adalah berkisar antara 50-60 cm. Untuk itu bila akan membukan lahan di daerah rawa, maka terlebih dahulu harus dibuat sistem drainase yang tepat. Drainase yang baik adalah selain dapat membuang air bila terjadi kelebihan (banjir), juga dapat mengendalikan muka air tanah agar tidak terlalu turun jauh di musim kemarau. Lahan rawa yang memiliki lapisan sulfat masam kurang dari 1 m, maka air harus dikendalikan agar jangan sampai terlalu jauh turun dibawah lapisan sulfat masam. Untuk itu diperlukan zona pengelolaan air, dari tingkat mikro sampai makro. Zona mikro di level tersier harus dilengkapi dengan bangunan air agar bisa mengendalikan air sesuai dengan yang diinginkan tanaman. I-1 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Unruk zona makro, bisanya salurantidak hanya digunakan sebagai suplai air dan pembuangan tetapi juga digunakan sebagai navigasi (transportasi), Oleh karena itu pengeruh pasang surut air harus diketahui sehingga dapat disusun jadwal operasi transportasi kombinasi dengan kebutuhan suplai atau drainase. Dari potensi dan kendala diatas maka dirasa pelu untuk melakukan suatu studi secara terpadu yang melihat aspek fisik lahan, iklim, dan hidrologi. Data tersebut sangat penting dalam perhitungan dan perencanaan sistem jaringan

tata air yang tepat untuk budidaya tanaman tebu. B. Maksud dan Tujuan Maksud pekerjaan ini untuk melakukan studi karakteristik tanah, iklim, hidrologi, pemetaan tofografi dan sistem pengaliran pada lahan seluas 1000 ha yang memungkinkan dikembangan sebagai daerah rawa yang potensial untuk tanaman tebu dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. Tujuannya dihasilkanperencanaan teknis sistem tata air meliputi saluran dan keseluruhan bangunan air yang dibutuhkan untuk budidaya tanaman kelapa tebu. C.Lingkup dan Rincian Kegiatan Untuk mencapai maksud dan tujuan pekerjaan ini, maka dilakukan tahapan sebagai berikut : a. Kegiatan Persiapan 1)Pengumpulan data sekunder meliputi : • Data Klimatologi,Hidrologi dan hidrometri. • Data hasil studi terdahulu (bila ada). • Peta-peta yang terkait dengan pekerjaan ini. 2) Persiapan Survey • Program kerja (jadwal kerja dan personil).

Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Pembuatan peta kerja untuk survey lapangan • Pemeriksaan alat-alat survey • Menyiapkan perlengkapan survey. • Dan lain-lain. b.Kegiatan Survey Lapangan 1)Survai pendataan awal untuk skala tinjau pada areal seluas 1000 ha melihat informasi awal mengenai kegiatan pertanian, kondisi jaringan dan potensi pengembangan pertanian. 2)Pengukuran topografi (situasi semi detail) untuk areal studi seluas 1.000 ha. Pengukuran situasi detail bertujuan untuk mendapatkan data lapangan yang sebenarnya (Existing) yang akan disajikan dalam bentuk peta topografi (peta situasi) skala 1 : 5.000. Pengukuran situasi detail dilakukan dengan tahapan berikut : a)Inventarisasi/pemasangan Bench Mark (BM).

Situasi Trace. ukuran dan penyebarannya harus sesuai dengan daerah pekerjaan. I-3 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Ketinggian titik detail diukur dengan toleransi 10 cm dengan kerapatan sesuai dengan skala peta yang direncanakan.8 mm pada skala peta. Toleransi kesalahannya adalah maksimum setengah interval garis kontur. Pengukuran kerangka dasar pemetaaan ini harus terikat dengan benchmark-benchmark yang dipasang terlebih dahulu dan dibagi dalam beberapa loop sesuai dengan kebutuhan serta dikaitkan pada titik referensi terdekat atau yang ditentukan oleh Direksi. Pengukuran kerangka dasar pemetaan dilakukan dengan pengukuran polygon sebagai kerangka horizontal dan pengukuran waterpass sebagai kerangka vertical. diukur dengan lebar 50 m kekiri dan 50 m kekanan dari tepi sungai/saluran atau sesuai kebutuhan e) Ketelitian. c)Pengukuran Situasi Detail. kemudian diukur profil memanjang dan profil melintang dengan interval jarak 100 m untuk sungai/saluran yang lurus dan 25 -50 m untuk sungai/saluran berbelok dengan kerapatan titik pada profil melintang sesuai kebutuhan. • Pengukuran situasi diukur merata keseluruh daerah rencana pengukuran mencakup batas penggunaan lahan.Kondisi. d)Pengukuran Trace. tanggul/jalan yang direncanakan (Layout yang telah disetujui). • Pengukuran tersebut dilakukan pada saluran-saluran alam (sungai). • Setelah diukur trace dan situasi trace. • Situasi trace dan profil melintang. b)Pengukuran Kerangka Dasar Pemetaan. saluran alam dan bangunan buatan. Propil Memanjang dan Propil Melintang. • Ketelitian Vertikal. saluran buatan. • Pengukuran situasi detail dilakukan dengan cara rincikan dan harus terikat pada kerangka dasar pemetaan. digambar dengan toleransi kesalahan planimetris 0. . • Kontrol Azimuth ditentukan dengan pengamatan astronom dengan ketelitian 20”. • Ketelitian Horizontal Minimal 90% titik yang mudah dikenal dilapangan. Minimal 90% dari semua titik tinggi garis kontur pada peta yang mudah dikenal dilapangan.

I-4 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Koreksi sudut antara 2 kontrol azimuth maksimum 20”. • Peta Ikhtisar digambar dengan skala 1 :20. • SITUASI Trace dan profil memanjang digambar dengan skala horizontal 1 :5. Hasil perhitungan ini akan digunakan dalam proses penggambaran • Penggambaran peta situasi detail dibuat pada kertas kalkir atau kertas lain yang sama kualitasnya. • Ketinggian titik detail diukur dengan ketelitian 10 cm. • Gambar dibuat dengan ukuran A1.000 dan vertical 1 : 100. Dan diukur dengan tachimetri untuk saluran primer dan sungai alam dengan lebar lebih dari 10 m.• Jumlah titik polygon antara dua kontrol Azimuth maksimum 50 buah. Perhitungan data lapangan merupakan perhitungan sementara untuk mengetahui ketelitian ukuran.0m • Peta situasi detail dibuat dengan skala 1 :5.000 dengan interval 0. • Profil melintang digambar dengan skala horizontal 1 : 100 dan vertical 1 : 100 Lembaga Penelitian Unsri Proposal . • Jarak pengukuran waterpass dibagi dalam seksi dengan panjang maksimum 2 Km. • Propil melintang diukur dengan alat waterpass untuk saluran sekunder.memanjang dan situasi trace dibuat pada kalkir dengan ukuran 90/95 gram. • Salah penutup koordinat maksimum 1 : 5. Tiap seksi diukur pergi pulang dengan toleransi kesalahan 10 VD mm.000 dan interval kontur 1.000. • Penggambaran propel melintang. • Perhitungan definitive. tersier atau sungai alam dengan lebar maksimum 10 m. f) Perhitungan/Penggambaran. Perhitungan yang sudah menggunakan hitungan peralatan.5m.

• Pengukuran tinggi/fluktuasi muka air. 3)Survey Hidrologi dan hidrometri. kemampuan serta kesesuaian lahan dalam rangka upaya I-6 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu peningkatan usaha pertanian didaerah survey yang terdiri dari kegiatan-kegiatan : • Inventarisasi serta melokalisir masalah tanah yang ada seperti pirit. • Pengolahan dan analisa data lapangan dan laboratorium sebagai masukan dalam perhitungan desain jaringan reklamasi. tanah sulfat masam. • Pengukuran sifat datar (leveling) untuk mengikat papan duga/peilschaal terhadap BM terdekat. Tiap titik diambil contoh tanah sebanyak 2 lapisan. (terbaru) minimum selama 5 tahun dan stasiun terdekat. kedalaman lapisan pirit.000. • Pengumpulan data/informasi banjir (tinggi lamanya. • Pengukuran penampang melintang sungai/saluran pada setiap lokasi pengukuran muka air. keasaman. • Pengamatan karakteristik sungai antara lain morpologi. salinitas (bergerak dan setempat) dan keasaman pada titik-titik pengukuran yang disesuaikan dengan rencana skematisasi dari model matematik.Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Situasi tapak bangunan air (existing dan rencana) digambar dengan skala 1 : 200. kedalaman muka air tanah dan genangan serta kelas kesesuaian lahan dengan skala 1 : 20. kegaraman dan masalah gambut (ketebalan dan tingkat kematangannya). sedimintasi. keasaman. 4)Survey Tanah Pertanian. • Penggambaran peta tataguna lahan usulan dan peta tataguna . • Penggambaran peta pengeboran jenis tanah. perkiraan genangan dan dampaknya). • Pengumpulan data klimatologi lainnya. ketebalan gambut. kecepatan arus. Pekerjaan ini dimaksudkan guna mempelajari potensi. Pekerjaan ini dimaksud guna memperoleh data lapangan (primer dan sekunder) dari kondisi hidrologi dan hidrometri daerah survey melalui kegiatan-kegiatan : • Pengumpulan data curah hujan (terbaru) minimum selama 10 tahun dari stasiun terdekat. • Pengambilan contoh untuk dianalisa dilaboratorium. • Pengambilan contoh tanah untuk dianalisa dilaboratorium dengan kerapatan 50 Ha pertitik.

Kegiatan System Planning • Elaborasi dan analisa data lapangan • Perumusan rencana pengembangan lokasi.000. Desain Rinci Setelah Layout ditetapkan. Selain itu perlu dipertimbangkan fungsi masing-masing saluran tersebut. berdasarkan water Management Zoning. Perencanaan lay out harus mempertimbangkan pembebasan tanah minimal kebutuhan jalur hijau.existing skala 1 : 20. I-7 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 1)Dimensi Jaringan Reklamasi. sekunder dan tersier. Pengecekan ini dapat mengoptimalkan penampang desain aawal dengan syarat-syarat teknis yang ada. Perhitungan dimensi jaringan reklamasi dalam daerah pasang surut dilakukan dengan melakukan perhitungan aliran tidak tetap (Unsteady flow). • Merencanakan Lay Out jaringan untuk kegiatan pengembangan yang menunjang hasil/rumusan pada butir b dan mengevaluasi jaringan tata air yang ada. d. keseimbangan galian dan timbunan serta metode pelaksanaannya. Bangunan air direncanakan sesuai dengan fungsi yang diinginkan antara lain : • Sebagai bangunan penahan air banjir aatau air asin dari luar sistem. • Pengecekan dengan model matematis terhadap dimensidimensi diatas dengan menggunakan model matematis yang ada. Perhitungan dimensi jaringan dalam daerah pasang surut dilakukan sebagai berikut : • Melakukan asumsi-asumsi teknis sehingga dapat menggunakan rumus-rumus untuk perhitungan aliran dengan kondisi unsteady flow. Berdasarkan Layout yang ada konsultaan dapat melanjutkan dengan perhitungan dimensi jaringan reklamasi dengan memperhatikan ada/tidaknya pengaruh pasang surut. c. konsultan dapat melanjutkan kegiatan dengan perenccanaan yang lebih detail. . aspek social dan budaya setempat serta berwawasan lingkungan. modulus drainase. pemecahan permasalahan yang ada baik aspek teknis maupun non teknis. 2)Perencanaan Bangunan Air. Jaringan yang perlu dihitung dimensinya terdiri dari saluran primer.

• Pemilihan bahan yang dipakai. • Metode pelaksanaan konstruksi pemadatan. • Gambar-gambar Gambar-gambar desain berikut peta dasar yang dipakai dalam perencanaan harus dibuat dengan jelas dan rinci sesuai dengan tingkat ketelitian yang diperlukan untuk pelaksanaan. tahapan pelaksanaan dan sebagainya. Bahan tanggul sedapat mungkin menggunakan tanah yang ada ditempat.• Untuk menjaga agar tinggi muka air dalam system sesuai dengan yang direncanakan. 4)Penyiapan Dokumen Lain-lain. Perencanaan tanggul pada prinsipnya adalah penentuan elevasi dan kekuatan tanggul itu sendiri. Ukuran minimum tanggul harus memenuhi kriteria stabilitas (faktor keamanan > 3) sesuai dengan data tanah yang ada. Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Stabilitas. Bangunan-bangunan yang sudah didesain (saluran. Kekuatan tanggul mencakup ukuran tanggul dan bahan tanggul. lengkap dengan analisa harga satuan I-9 Lembaga Penelitian Unsri . Dalam hal dipakai tanah setempat konsultan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : • Penurunan muka tanggul yang akan terjadi. • Spesifikasi teknis. • Perkiraan Volume dan Estimasi Biaya (RAB) Konssultan harus menghitung perkiraan volume dan pekerja secara keseluruhan. 3) Perencanaan Tanggul. • Kekuatan. bangunan air dan bangunan pelengkap lainnya) harus dilengkapi dengan pedoman pelaksanaan konstruksi dilapangan. hal ini menimbang terbatasnya ketersediaan tanah dengan kualitas baik disekitar lokasi. Perhitungan Bangunan Air ini meliputi : • Ukuran bangunan yang diperlukan.

KEGIATAN PERSIAPAN Kegiatan persiapan adalah awal dari seluruh tahapan pelaksanaan pekerjaan. dan curah hujan. metode pelaksanaan pekerjaan. literatur maupun eta-peta yang berkaitan dengan lokasi pekeijaan dan hash studi terdahulu. Secara umum metodologi yang digunakan dalam kegiatan ini dibagi dalam beberapa tahapan.  Data iklim. yaitu : • Tahap Persiapan • Tahap Survey Lapangan • Tahap Analisis Data • Tahap Perencanaan Detail Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini. tanah. 2. .Pembuatan Peta Kerja dan Rencana Kerja Berdasarkan data-data yang diperoleh.Pengumpulan dan Analisis Data Sekunder I-10 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Data sekunder yang dikumpulkan mencakup berbagai data. Kegiatan ini mulai dilakukan setelah diterimanya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dari Pemberi Tugas. meliputi pengenalan masalah (problem identification).Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu pekerjaan. dibuat peta awal kondisi lokasi yang menunjukkan ciri-ciri utama topografi. Disamping membuat Peta Kerja.  Prediksi air pasang. cuaca.1. BAB 2 METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN Dalam mencapai tujuan dan sasaran kegiatan diperlukan suatu metodologi pendekatan. antara lain  Peta topografi. membuat suatu kerangka berfikir (design concept) yang didalamnya terdapat tahapan analisis dan evaluasi dalam rangka mengkaji permasalahan guna mendapatkan solusi yang dianggap paling akomodatif dan konstruktif yang nantinya dapat dipakai dalam penyusunan suatu konsep zonasi dalam pengelolaan air kawasan lahan dan rawa. daftar harga upah dan bahan dilokasi pekerjaan. Komponen kegiatan pada tahap ini dan metoda yang dilakukan secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut : 1. analisa teknik. dalam tahap mi juga ditentukan macam data yang akan dikumpulkan pada saat survey. Peta ini selanjutnya digunakan sebagai Peta Kerja dengan menunjukkan rencana garis-garis dan titik (ploting) pengamatan. 2. dan tataguna lahan. dengan melengkapi form . hidrologi.

dan ketersediaan personil/peralatan. metodologi. Sebelum survey lapangan dimulai. serta jadwal penugasan personil dan peralatan. maupun tokoh masyarakat. Konsultan juga melakukan pengurusan administrasi yang menyangkut perijinan survey di lokasi yang ditentukan. formulir yang digunakan untuk survey. rencana mobilisasi tim personil/peralatan.survey untuk setiap kegiatan survey yang dilakukan (topografi. Mobilisasi tim/peralatan untuk masing-masing kegiatan survey akan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan . 5. 4. rencana mobilisasi personil/peralatan dan jadwal kerja. Hal ml kemudiandituangkan dalam Laporan Persiapan. Dalam kaitan dengan hal ini.Persiapan Tim Personil dan Peralatan Survey Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Disamping membuat rencana keja. Persiapan tersebut meliputi kegiatan pengecekan tim/peralatan sesual dengan kuantitas serta kualifikasi yang diperlukan. Laporan Persiapan tersebut kemudian didiskusikan dengan pihak Proyek dan instansi terkait untuk memperoleh masukan guna penyempurnaan laporan dan rencana kerja telah yang telah disusun.Pembuatan Laporan Persiapan dan Diskusi Laporan Persiapan adalah laporan awal yang memuat program kerja. Sedangkan untuk survey sosio-agro-ekonomi dipersiapkan daftar pertanyaan (kuestionair) atau check-list yang digunakan untuk pedoman wawancara dengan petani. pejabat setempat. Dengan mempertimbangkan volume pekerjaan. hidrologi/hidrometri). tanah. peta rencana kerja. Rencana kerja ini mencakup jadwal pelaksanaan masing-masing komponen kegiatan. selanjutnya Konsultan membuat rencana kerja. batas waktu penyelesaian. balk untuk kegiatan survey lapangan maupun kegiatan studio/kantor.Mobilisasi Tim Personil dan Peralatan Survey Mobilisasi tim personil dan peralatan akan dilakukan segera setelah program kerja disetujul oleh Pemberi Tugas dan perijinan administratif survey diselesaikan. Konsultan melakukan persiapan tim personil pelaksana dan peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan survey. petugas lapangan. rencana kerja tersebut akan dikonsultasikan/didiskusikan dahulu dengan Pemberi Tugas. 3. dan kurva S.

Kegiatan ini dilakukan secara bersama/koordinasi dengan Supervisi/Direksi Lapangan untuk menentukan titik awal pengukuran. Lokasi pemasangan BM ini perlu mendapat persetujuan Supervisi/Direksi yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Lapangan. Orientasi Lapangan I-12 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Orientasi lapangan dimaksudkan untuk memperoleh gambaran awal mengenal lokasi yang akan diukur.jadwal/program kegiatan yang telah disetujui. Selama kegiatan ini juga dilakukan penyiapan lokasi basecamp. Bentuk. serta harus mempertimbangkan kepentingan pemetaan kerangka dasar dan penggunaannya di masa mendatang (pematokan jalur saluran. warna. dll).000. Benchmark lama dapat digunakan jika masih memenuhi syarat (kedudukan sesuai. 2. cukup kokoh dan mudah ditemukan. dapat diidentifikasi.1 Pengukuran Topografi Pengukuran topografi (situasi detail) dimaksudkan untuk mendapatkan data lapangan yang sebenarnya (eksisting) yang kemudian disajikan dalam bentuk peta topografi (peta situasi) dengan skala 1 : 20. dan nomenkatur BM yang dipasang harus sesual standar yang ditentukan. alinemen tanggul.000 dan 1 5. Pemasangan Benchmark Benchmark (BM) dipasang untuk menandai titik kontrol dan referensi pengukuran. . rekruitmen tenaga lokal dan sarana transportasi pangan. dimensi. batas areal pengukuran. termasuk penetapan lokasi BM dan CP.2 SURVEY LAPANGAN 2. lokasi bangunan.2. Pemasangan BM dipiHh pada lokasi yang aman. 2. tidak rusak). dan metodologi yang akan dilakukan. Pengukuran topografi (situasi detail) dilakukan dengan tahapan kegiatan dan metoda sebagai berikut: 1.

Pengukuran Kerangka Dasar Pemetaan Pengukuran kerangka dasar dimaksudkan untuk membuat suatu sistem referensi topografi yang benar dimana hasil-hasil survey . nomor identifikasi.Penetapan Tinggi Referensi Proyek Penetapan tinggi referensi proyek ditujukan untuk memperoleh satu referensi ketinggian yang sama/seragam pada semua titik pengukuran di lokasi pekerjaan. maka panjang BM yang tertanam ke dalam tanah adaah ± 30 s/d 40 cm. dan koordinat. Sketsa Bench Mark dan Control Point Ukuran BM yang digunakan adalah dengan dimensi 30 x 30 cm dan tinggi 60 cm. 3.2.Gambar 3. Setiap BM dibuat foto. sketsa situasi. Untuk kondisi lapangan. 4.

Penentuan arah/azimuth Arah/azimuth ditemukan dengan pengamatan astronomi atau menentukan azimuth metode gyro dengan memakai alat Theodolith T2 dan Gyro Compass. d. Pengukuran sipat datar dilakukan memakai alat ukur waterpas Ni2 atau sederajat. dan kemudian diikatkan pada titik referensi terdekat atau yang ditentukan oleh Direksi. ketelitian relatif sama sesuai persyaratan ketelitian yaitu 15” salah penutup sudut antar dua kontrol Azimuth. Pengukuran ini harus terikat dengan benchmark yang telah dipasang terlebih dahulu serta dibagi dalam beberapa loop/kring sesuai dengan kebutuhan.Pengukuran jarak polygon diukur memakai alat ukur elektronik EDM minimum dua kali (kemuka dan kebelakang) dengan ketelitian 1: 7.lainnya dapat dihubungkan dengan sistem referensi ini. Pengukuran I-14 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu kerangka dasar pemetaan dilakukan dengan cara pengukuran polygon sebagai kerangka horisontal dan pengukuran waterpass sebagai kerangka vertikal. Ketelitian sipat datar 10 ID mm dimana D =jarak dalam km.Pengukuran sudut polygon Setiap sudut diukur dua kali (double seri) memakai alat ukur Thedoilt T2 atau sederajat dengan ketelitian 8” setiap sudut polygon dan maksimum 20” salah penutup sudut antar dua korttrol Azimuth. b. setiap seksi ± 1 . Jarak pengukuran dibagi dengan seksi-seksi. Adapun spesifikasi dalam pengukuran kerangka dasar pemetaan adalah sebagai berikut: a. Pengamatan astronomi dilakukan pagi dan sore hari pada satu stasiun pengamatan. Pengukuran situasi derail/rincikan dilakuIan dengan metode Trigonometri/Tachimetri dimana ujung dan pangkal jalur I-15 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu pengukuran terikat/terkontrol terhadap . Jarak setiap patok sipat datar max. e. 100 m.500 setelah perataan beberapa set pembacaan setiap sisi tersebut.2 km. c.

Setiap seksi diukur pergi-pulang dengan toleransi kesalahan 10√D mm. lembah.kerangka dasar pengukuran/pemetaan. Pengukuran situasi diukur ke seluruh areal rencana pengukuran secara merata. f.8 mm pada skala peta. gundukan tanah/bukit-bukit tebing serta batas-batas tanah tinggi dan kalau perlu genangan) dan bangunan-bangunan buatan (saluran tanggul) kolam bangunan-bangunan air. − Ketinggian titik detail diukur dengan ketelitian 10 cm. Titik-titik rincikan/detail-detail diukur dengan kerapatan titik yang disesualkan dengan skala peta yang digunakan dan tersebar dengan kerapatan titik maksimum 1 cm pada peta. Dan titik tersebut diukur detail-detail lapangan dengan rincikan. I-16 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu − Kontrol azimuth ditentukan dengan pengamatan astronomi dengan ketelitian 20”. 6. toleransi kesalahan maksimum adalah setengah interv’al aris kontur. Elevasi titik detail diukur dengan toleransi 10 cm. kuburan dan lain-lain). dan mencakup batas tataguna lahan dan ciri-ciri yang sudah ada seperti saluran. perubahan permukaan tanah serta vegetasi yang ada di dalam areal pengukuran. − Jumlah titik polygon antara dua kontrol azimuth maksimum 50 buah. permukiman dan bangunan. − Ketelitian vertikal : minimal 90°k dan semua titik tinggi garis kontur pada peta yang mudah dikenal di lapangan. Profil Memanjang dan Profil . Ketelitian dan spesifikasi yang digunakan dalam pengukuran situasi detail adalah sebagai berikut: − Ketelitian horisontal : minimal 90% dan semua titik yang mudah dikenal di lapangan. dengan sistem rincikan/raai yang terikat pada kerangka dasar pemetaan. digambar dengan toleransi kesalahan planimeter 0. Situasi Trace. Peralatan yang digunakan Thedolit TD dengan ketelitian detail pengukuran 10 cm 5. dengan kerapatan sesuai dengan skala peta.Pengukuran Situasi Detail Pengukuran situasi detail dilakukan setelah kerangka dasar pemetaan dibuat. batas-batas tataguna tanah. Detail yang diambil di lapangan adalah bangunanbangunan alam (sungai. − Salah penutup koordinat maksimum 1 : 5000 − Jarak pengukuran waterpass dibagi dalam seksi-seksi dengan panjang maksimum 2 km. anak sungai alam. dimana D = panjang sirkuit dalam Km.Pengukuran Trace. − Koreksi sudut antara 2 kontrol azimuth maksimum 20”.

− Suvey trase termasuk pengukuran penampang memanjang dan melintang pada interval 100 meter untuk saluran yang lurus atau penampang sungai.000 /1: 5. 100 m pada trace lurus 50 s/d 25 meter pada tikungan. dengan interval jarak atau sisi polygon max. − Alinemen dan strip (situasi strip) sepanjang garis trase skala 1:2. Terikat terhadap (z) kerangka pemetaan dengan ketelitian 15√D mm dimana D = jarak dalam km.5’ (menit) setelah dirata-ratakan dan ketelitian antara dua titik kontrol kerangka pemetaan 10 N” (second) dimana N = jumlah titik polygon diukur dengan alat ukur Thedolit TO. dengan tujuan untuk memperoleh arah dan dimensi yang akurat. y) kerangka pemetaan dengan ketelitian siap sudut 0. − Pengukuran penampang melintang tarce. − Survey trase akan diambil pada sungai-sungai alam.000 − Potongan Memanjang Skala horisontal 1: 2. sungai dan ujung-ujung as pengukuran. Detail yang diambil sama dengan detail-detail yang tercantum dalam detail pengukuran situasi detail yang ada disepanjang trace.50 meter untuk saluran tikungan atau penampang sungai seperti diperlukan. sekunder dan tersier.000/1:5. dimana jarak diukur 2 kali (kemuka dn kebelakang) dengan ketelitian ukuran jarak 1:7500 yang diukur dengan pita ukur (kapasitas 100 m) − Pengukuran sipat datar yang berfungsi sebagal dasar penampang memanjang trace. jalan petani dan saluran-saluran yang direncanakan. dan terval 25 . Semua titik polygon diukur ketinggiannya. tanggultanggul dan jalan jalan internal sesuai dengan lay out yang ditandatangani untuk archtrase yang dikontrol dengan pengukuran traverse. tanggul-tanggul yang I-17 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu ada. − Situasi detail sepanjang jalur trase harus diukur didalam koridor 100 meter lebar (50 meter kekanan dan 50 meter kekiri) dan saluran.Melintang. Diukur dengan metode Trigonometri/ Tachimetri memakai peralatan Theodolit TO dengan ketelitian 10 cm.000 Skala vertikal 1: 100 − Potongan Mehntang Skala horisontal/vertikal 1:100 − Uitzet trase yang dikontrol dengan ukuran polygon terikat terhadap titik kontrol (x. saluran buatan seperti saluran primer. − Diukur dengan metode Tachimetri/Trigonometri memakai alat ukur Thedolit TO dengan ketelitian pengukuran 10 cm dengan interval jarak 100 m (untuk saluran primer) tepat pada titik trace atau penampang .

2. dan dampaknya. kelembaban udara harian. titik dasar saluran. perubahan warna pada tumbuhan). − Pengumpulan/inventarisasi data iklim juga diambil dan stasiun pengamat terdekat di lokasi studi. − Lokasi dan perluasan bangunan hidrolik baik yang ada maupun yang direncanakan. perbedaan bentuk saluran. Data ini diperoleh dari informasi penduduk setempat serta pengamatan tanda bekas banjir di sekitar sungai (mis. lama. kali tanggul/jalan pinggir atas tanggul/jalan sampai tanah asli − Pengukuran situasi tapak bangunan diukur dengan metade Trigonometri/ Tachimetri dengan dasar pengikatan kerangka pemertaan. tinggi. jumlah hari hujan. − Perhitungan sementara dan penggambaran sementara (draft) di lapangan semua pengukuran yang memenuhi syarat akan dihitung sementara untuk mengetahui syarat ketelitian dan dilangsungkan pada draft penggambaran yang dilakukan pada kertas milimeter Rencana kegiatan pengukuran topografi ditunjukkan pada Gambar 3. curah hujan bulanan. − Pengumpulan informasi mengenai pengaruh kekeringan dan intrusi asin di musim kemarau. pinggir atas saluran. dan dampaknya (bagi pertanian dan penduduk). perkiraan luas genangan. − Pengumpulan informasi mengenai banjir yang menyangkut periode. harus diukur dan diperlihatkan dalam skala 1 : 200. kecepatan angin. Detail-detail yang diambil adalah setiap perobahan permukaan tanah dengan kerangka titik ± 2 s/d 5 meter. Data-data iklim yang perlu dikumpulkan meliputi temperatur udara harian.memanjang serta posisinya tegak lurus terhadap jalur trace.3.Pengumpulan data sekunder yang meliputi: − Pengumpulan/inventarisasi data curah hujan selama 10 tahun terakhir dan stasiun pengamat di wilayah lokasi studi. Luas lokasi disesuaikan dengan I-18 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu bangunan dan rencana tapak bangunan sekitar 25 m x 25 x m s/d 100 x 150 meter atau ditentukan oleh pemberi pekerjaan.2. Detaildetail yang diambA as trace. menyangkut periode. dan penyinaran/radiasi matahari. dimana detaildetailnya diambil dengan teliti kalau perlu pengukuran jarak memakai metband dan ketinggian yang penting memakai waterpas dengan ketinggian dalam 1 cm. Data ini dapat diperoleh dari informasi penduduk .2 Survey Hidrologi / Hidrometri Kegiatan survey hidrologi dan hidrometri dimaksudkan untuk memperoleh gambaran kondisi hidrologi dan hidrometri di lokasi survey dan juga di daerah sekitarnya. luas. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai berikut: 1. Data curah hujan yang dikumpulkan adalah curah hujan harian. lama.

Kualitas Air •Tinggi air di luar zona intrusi kadar garam ditentukan dengan analisis laboratorium contoh air. − Pengamatan muka air di petak tersier − Pengukuran kualitas air (pH dan salinitas) pada waktu air tinggi dan air rendah. •Durasi banjir maksimum dan tenggang pasang selama debit aliran tinggi dan rendah diperoleh dan wawancara dengan masyarakat setempat. I-20 Luasan genangan banjir dapat ditentukan dan peta. 2. Patok. − Pengambilan contoh air untuk dianalisis di laboratorium sebanyak 2 sample. c. warna. harus diukur dalam-hubungannya terhadap pengamatan muka air selama survey. Tanggal.Kondisi iklim dan klimatoogi. topografi. Adapun pengamatan ini dilakukan di 2 lokasi. lokasi. •Contoh air diambil pada saat debit air rendah pada semua sungai dan anak sungai yang melintasi daerah proyek.Diikatkan (levelllng) ke BM. meteorologi hujan Penempatan alat Hidrometri : 1. .Peta dasar : geologi. foto udara atau citra radar. dan wawancara dengan masyarakat setempat.setempat. Penggenangan (Flooding) • Tinggi banjir maksimum diukur pada beberapa tempat sepanjang saluran.Ditempat yang lurus : terhindar dari penyadapan dan penggerusan 2. DAS 2. Untuk pelaksanaan pengukuran/pengamatan hidrometri diperlukan beberapa informasi antara lain : 1. yang diunjukkan oleh penduduk setempat atau yang diamati dan warna/tandah bekas banjir pada tumbuhan. Muka tanah setempat b. PH dan temperatur air harus dicatat pada saat pengambilan. waktu. − Pengamatan tinggi muka air simultan selama 30 jam di 2 lokasi terpilih. Pengamatan ini dilakukan secara insitu.Pengumpulan/inventarisasi data primer yang meliputi : I-19 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu − Pengamatan tinggi muka air secara simultan selama 15 hari di muara sungai. Mudah dicapai dan mudah dalam pelaksanaan pengukuran : misal keadaan banjir/flood 3. pengamatan tanda-tanda banjir maksimum.

yang memungkinkan pemodelan hidrodinamik aliran dapat dilakukan dengan hasil yang akurat.•Pada stasiun pengamatan muka air paling hulu dan setiap sungai utama. Inventarisasi sifat dan jenis tanah serta penyebarannya dengan melakukan pengamatan tanah melalul pemboran di seluruh areal. serta terdiri dan beberapa komponen kegiatan dan metoda sebagai berikut: 1. Pengambilan contoh tanah untuk dianalisis di laboratorium. Khusus pada pertemuan sungai besar dengan saluran primer atau sekunder.4 Survey Tanah Pertanian Kegiatan surley tanah pertanian dimaksudkan untuk mempelajari potensi. d. Jarak horisontal/lebar setiap I-21 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu penampang dapat ditentukan dengan alat “range finder” atau tali/kawat yang dibentang di atas sungai. kemampuan dan kesesuaian lahan dalam rangka pengembangan pertanian di lokasi survey. Kedalaman air ditentukan dengan “echo-sounder”. paling sedilsit 10 titik “sounding” harus diambil pada interval yang sama.Inventarisasi serta melokalisir masalah tanah yang ada seperti pirit. 2. dan masalah gambut (ketebalan dan tingkat kematangannya). keasaman. potongan melintang diambil pada lokasi pertemuan saluran atau jalan/tanggul. potongan melintang sungai diambil dekat dengan pertemuan dengan jarak paling tidak 100 m sebelum dan sesudah titik pertemuan.Pengukuran Potongan Melintang sungai •Potongan melintang sungai yang berpengaruh terhadap tata air atau yang melintasi atau mengelilingi daerah proyek harus diukur dengan interval yang sama (setiap 2 sampai 5 km) atau dengan interval yang lebih rapat pada bagian sungai yang tidak lurus atau pada setiap ada perubahan. Adapun ketentuan dan spesifikasi dalam kegiatan survey tanah . tanah sulfat masam. PH air sungai harus diukur selama pasang surut penuh (30 jam) secara simultan dengan pengamatan elevasi muka air. Untuk sungai kecil atau anak sungai (sungai alam) yang di dalam daerah proyek. •Pada setiap penampang. 3. guna menunjang keperluan klasifikasi tanah dan analisis kesuburan tanah. •Pada setiap penampang.2. tanggal dan waktu pengukuran harus dicatat demikian juga dengan tinggi pasang 2. mulai dan muara sungai sampal batas paling hulu dari daerah survey. kegaraman.

 Pada setiap pemboran. 2. tekstur. kematangan (rippening).3. sulfat masam dangkal. pemboran akan dilakukan sampai kedalaman batas lapisan tanah mineral atau sampai kedalaman ±2 m (untuk tanah gambut tebal). karatan. seluruh sifat-sifat tanah dideskripsi meliputi warna. maka intensitas pengamatan/pemboran akan ditambah. maka diperlukan hubungan kerjasama yang baik dan koordinatif. Analisa Data dan Konsep Zona Pengelolaan Air Kegiatan pengolahan dan anuisis data dilakukan setelah kegiatan lapangan selesai dilaksanakan. dengan intensitas pengamatan minimal ± 50 Ha/titik. baik antara tim pelaksana secara internal maupun antara . Disamping itu perlu dicatat eadaan tataguna lahan dan vegetasi sekitar lokasi pemboran. Kegiatan ini meliputi :  Analisa Survey Topografi  Analisa Hidrologi dan Hidrometri  Analisa Tanah Pertanian  Analisa Zona Pengelolaan Air BAB III ORGANISASI PELAKSANAAN Untuk mencapai hasil pekerjaan yang efektif dalam waktu yang ditentukan. Untuk tanah organik/gambut.pertanian adalah sebagai berikut:  Pengamatan pemboran tanah dilakukan dengan mengikuti atau terikat dengan jalur rintisan topografi.’ kedalaman batas lapisan pirit/sulfat masam (metoda oksidasi cepat H202). ketebalan bahan organik/gambut dan I-22 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu dekomposisinya. muka air tanah dan genangan. pasir kuarsa).  Pengamatan pemboran dilakukan sampai kedalaman ±120 cm untuk tanah mineral atau sampai bahan induk (jika lapisan tanah terlalu dangkal). pengamatan. Dalam hal ditemui kendala tanah yang serius (gambut tebal. kemasaman (pH).

termasuk persiapan kantor. rencana kerja serta metodologi yang akan diterapkan.1. baik pekerjaan lapangan survey lapangan pengukuran dan inventarisasi lahan) sampai pekerjaan kantor (detail desain dan pelaporan). . serta secara periodik melaporkan perkembangan pekerjaan kepada Pemberi Pekerjaan. Hubungan penugasan/tanggung jawab dari masing-masing personil maupun hubungan koordinatif dengan Pemberi Tugas dituaangkan dalam struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan yang tepat.TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB TENAGA AHLi Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Pekerjaan dilakukan dengan melibatkan beberapa personil/ tim pelaksana dari berbagai “ bidang keahlian. fasilitas-fasilitas pelaksanaan pekerjaan. Susunan personil/tim pelaksana dan lingkup penugasan/tanggung jawabnya diuraikan sebagai berikut : 1.Bertanggung jawab atas koordinasi dan Pengawasan terhadap tim yang lain dalam pelaksanaan pekerjaan. sehingga semua berjalan sesual dengan permintaan TOR sebagal . S2 Hidrologi dan memiliki pengalaman dalam perencanaan jaringan tata air daerah rawa . sehingga dapat menunjang kelancaran pekerjaan.Bertanggung jawab terhadap pemberi Pekerjaan yang berkaitan terhadap kegiatan tim pelaksanaan pekerjaan dan pelaksanaan pekerjaan yang berlangsung saat ml. Organisasi pelaksanaan pekerjaan tersebut diharapkan juga dapat mewujudkan hasil pekerjaan yang optimal. maka perlu disusun personil pelaksana yang akan dilibatkan disertai lingkup penugasan dan tanggung jawab masing-masing secara jelas. Berkaitan dengan hal tersebut. . .Bertanggung jawab secara keseluruhan terhadap pelaksanaan pekerjaan dari sejak persiapan sampai saat akhir pekerjaan. khususnya berkaitan dengan pengelolaan air daerah rawa. 3.Bertanggung jawab terhadap persiapan pelaksanaan pekerjaan. Ketua Tim / Team Leader .Sarjana S1 Ilmu Tanah.tim pelaksana dengan pihak Pemberi tugas.

serta data-data pendukung yang dibutuhkan dalam tahap desain. -Mendesain bangunan-bangunan yang sudah dihitung angka hidrolis dan stabllitasnya. . 2. -Menyiapkan perhitungan hidrolis dan stabilitas bangunanbangunan dan gambar-gambar yang diperlukan.Mengkaji ulang serta pengecekan keseluruhan hash pekerjaan yang telah dilaksanakan.acuan pekeijaan. . AHLI DESAIN -Sarjana S1 Teknik Sivil. Rencana Anggaran Biaya— dan Rencana Paket antara laporan-laporan lain. Bersama Team Leader melakukan survey pendahuluan untuk identifikasi lokasi di daerah rawa. I-25 Lembaga Penelitian Unsri Proposal . I-24 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Berperan sebagal koordinasi setiap kegiatan diskusi dengan pemberi Pekerjaan dan alokasi penugasan personil yang telibat dalam pelaksanaan proyek. -Melakukan monitoring terhadap kemajuan pekerjaan yang dilaksanakan sehingga sesuai shedul yang telah direncanakan. S2 Pengairan. -Menyiapkan peta daerah dan skema jaringannya beserta petak-petak tersier. -Menyiapkan Spesifikasi Teknis. -Bertanggung jawab terhadap pembuatan Lay-Out sementara sampal lay-out definitif disetujui direksi pekerjaan. kondisi dan sistem pengaliran yang telah ada serta rencana trase saluran yang akan direncanakan.Mengkoordinasi secara keseluruhan akan laporán yang harus dhserahkan pada Pihak Pemberi Pekerjaan. -Melakukan inventarisasi lahan serta jaringan irigasi yang ada.

Dermaga dan Sarana Bangunan Pelengkap lainnya. AHLI GEODESI ATAU PEMETAAN -Menguasi ilmu pemetaan. AHLI HIDROLOGI -Melakukan survel dan identifikasi kondisi jaringan irigasi yang ada. -Melakukan koordinasi di dalam pelaksanaan pengukuran baik ketelitian situasi maupun trase saluran. diskripsi BM dan lain-lain. . 6. Stabilitas Lereng Saluran. buku ukur.Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 3. dan rekomendasi untuk parameter desain dan perhitungan kebutuhan air dan ketersediaan air baku. analisis GIS. -Menyusun laporan lapangan hasil identifikasi dan laporan pendukung hidrologi. . -Membantu menyusun Nota Desain.Melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap perhitungan dan ketelitian di dalam perhitungan data pengukuran. AHLI STRUKTUR BANGUNAN AIR/HIDROLIKA . analisa data Curah Hujan.Membantu Team Leader dalam menyusun laporan pekerjaan. Struktur Jembatan. Debit Banjir. -Penyusunan laporan yang berhubungan dengan pekerjaan pengukuran baik laporan pengukuran. -Menyiapkan gambar-gambar hash pengukuran dan laporan akhir dan hasil pengukuran. -Mengkoordinir tim survey untuk melakukan pengukuran debit sumber air baku sesaat. Melakukan survey lokasi sehubungan dengan rencana jalur pengukuran yang akan dilaksanakan Menyiapkan titik-titik referensi pengukuran. -Melakukan analisa hidrologi berupa. -Memberikan Petunjuk dalam Penyusunan Spesifikasi Teknik dan Metoda Pelaksanaan konstruksi. 5. . fondasi dli) Tanggul Banjir. 4. -Melakukan pengumpulan data kilmatologi dan data debit sungai. -Menyiapkan hasil inventarisasi saluran dan bangunan.Melaksanakan Perhitungan dan Perencanaan Struktur Bangunan Hidraulik (pintu. AHLI TANAH PERTANIAN -Mengkoordinir peaksanaan survai tanah di lapangan.

Sc 3.com/doc/39024353/Proposal-Rawa-1000ha . Chief Surveyor.Melakukan pengamatan profil tanah dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisa di laboratorium. -Membuat laporan kemajuan kerja. Muh Bambang P. Momon Sodik Imanudin. Said.-Melakukan survai tanah di lokasi daerah rawa .scribd. . H. M. 3.Melakukan pengamatan perkembangan tanah di lokasi proyek. Tenaga Pendukung ini diperlukan sebanya 7 orang. Dr. operator komputer. surveyàr.Suveyor tofografi : Ir. Tenaga Pendukung Tenaga pendukung dalam pekerjaan ini adalah tenaga sub profesional yang meliputi : Asisten Tenaga Ahli. -Memberikan saran-saran yang berguna untuk peningkatan berdasarkan kriteria dan petunjuk.Ahli Bangunan Air : Ir. Ketua Tim: Ir. . -Membuat kerangka kerja pelaksanaan survai tanah yang pasti dan efisien di lapangan. Dery Darmawan 4. Sitompul http://www. ketebalan gambut di lokasi proyek. Ngudiantoro. Ir. Rencangan Personil Penanggung Jawab kegiatan: Prof. M. M.Ahli Simulasi dan Pemodelan komputer : Dr. M.M.Sc. Keseluruhan tenaga pendukung mi bertugas membantu Ketua Tim dan Tim Ahil lainnya dalam kegiatan survey lapangan.Si 5. (Ahli Hidrologi dan Rawa) Tenaga Ahli : 1. pembuatan laporan dan peta-peta. I-27 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 8. Juru Gambar. M.Si 2.Sc.Ahli Tanah Pertanian : Ir. pengolahan data.2. Feriadi. laporan bulanan dan membantu Team Leader dalam membuat laporan akhir.Mengidentifikasi hambatan-hambatan yang berhubungan dengan pengembangan pertanian khususnya budidaya tebu. serta tenaga lapangan. serta pengurusan administrasi dan keuangan dalam pelaksanaan pekerjaan. pengelola administrasi dan keuangan.Ahli GIS Pemetaan : Ir. -Mengidentifikasi kedalaman pint.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful