Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan lahan untuk mendukung program perluasan areal perkebunan dan pengembangan tanaman tebu memerlukan data dan informasi sumberdaya lahan yang handal. Ketidak lengkapan data dan informasi sumberdaya lahan tersebut dapat berakibat pada pemanfaatan lahan yang tidak optimal, dan bahkan dapatmenimbulkandampak kerusakanlahan atau kegagalan usaha bisnis dibidang perkebunan. Karakteristiklahan dalam perkebunan tebu mempunyai nilai penting bagi keberadaan suatu perkebunan tebu, karena merupakan salah satu sumber daya alam yang mendukung proses budidaya dan produksi kebun. Seperti diketahui bersama, tebu merupakan tanaman yang sangat membutuhkan air dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Tanpa ketersedian air yang cukup sepanjang tahun, maka dapat dipastikan pertumbuhan dan produksi akan menjadi rendah, karena tanaman tebu memerlukan kestabilan ketersedian air pada periode pembuahannya. Disisi lain tanaman tebu di awal pertumbuhan kurang tahan terhadap genangan, sehingga kalau budidaya akan dilakukan di daerah rawa diperlukan perencanaan drainase yang tepat untuk mengendalikan muka air tanah sampai batas yangg diinginkan perakaran tanaman tebu. Kedalaman muka air tanah yang diinginkankan tanaman tebu adalah berkisar antara 50-60 cm. Untuk itu bila akan membukan lahan di daerah rawa, maka terlebih dahulu harus dibuat sistem drainase yang tepat. Drainase yang baik adalah selain dapat membuang air bila terjadi kelebihan (banjir), juga dapat mengendalikan muka air tanah agar tidak terlalu turun jauh di musim kemarau. Lahan rawa yang memiliki lapisan sulfat masam kurang dari 1 m, maka air harus dikendalikan agar jangan sampai terlalu jauh turun dibawah lapisan sulfat masam. Untuk itu diperlukan zona pengelolaan air, dari tingkat mikro sampai makro. Zona mikro di level tersier harus dilengkapi dengan bangunan air agar bisa mengendalikan air sesuai dengan yang diinginkan tanaman. I-1 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Unruk zona makro, bisanya salurantidak hanya digunakan sebagai suplai air dan pembuangan tetapi juga digunakan sebagai navigasi (transportasi), Oleh karena itu pengeruh pasang surut air harus diketahui sehingga dapat disusun jadwal operasi transportasi kombinasi dengan kebutuhan suplai atau drainase. Dari potensi dan kendala diatas maka dirasa pelu untuk melakukan suatu studi secara terpadu yang melihat aspek fisik lahan, iklim, dan hidrologi. Data tersebut sangat penting dalam perhitungan dan perencanaan sistem jaringan

tata air yang tepat untuk budidaya tanaman tebu. B. Maksud dan Tujuan Maksud pekerjaan ini untuk melakukan studi karakteristik tanah, iklim, hidrologi, pemetaan tofografi dan sistem pengaliran pada lahan seluas 1000 ha yang memungkinkan dikembangan sebagai daerah rawa yang potensial untuk tanaman tebu dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. Tujuannya dihasilkanperencanaan teknis sistem tata air meliputi saluran dan keseluruhan bangunan air yang dibutuhkan untuk budidaya tanaman kelapa tebu. C.Lingkup dan Rincian Kegiatan Untuk mencapai maksud dan tujuan pekerjaan ini, maka dilakukan tahapan sebagai berikut : a. Kegiatan Persiapan 1)Pengumpulan data sekunder meliputi : • Data Klimatologi,Hidrologi dan hidrometri. • Data hasil studi terdahulu (bila ada). • Peta-peta yang terkait dengan pekerjaan ini. 2) Persiapan Survey • Program kerja (jadwal kerja dan personil).

Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Pembuatan peta kerja untuk survey lapangan • Pemeriksaan alat-alat survey • Menyiapkan perlengkapan survey. • Dan lain-lain. b.Kegiatan Survey Lapangan 1)Survai pendataan awal untuk skala tinjau pada areal seluas 1000 ha melihat informasi awal mengenai kegiatan pertanian, kondisi jaringan dan potensi pengembangan pertanian. 2)Pengukuran topografi (situasi semi detail) untuk areal studi seluas 1.000 ha. Pengukuran situasi detail bertujuan untuk mendapatkan data lapangan yang sebenarnya (Existing) yang akan disajikan dalam bentuk peta topografi (peta situasi) skala 1 : 5.000. Pengukuran situasi detail dilakukan dengan tahapan berikut : a)Inventarisasi/pemasangan Bench Mark (BM).

• Pengukuran situasi diukur merata keseluruh daerah rencana pengukuran mencakup batas penggunaan lahan. Situasi Trace. ukuran dan penyebarannya harus sesuai dengan daerah pekerjaan. • Setelah diukur trace dan situasi trace.8 mm pada skala peta. • Kontrol Azimuth ditentukan dengan pengamatan astronom dengan ketelitian 20”. Toleransi kesalahannya adalah maksimum setengah interval garis kontur. tanggul/jalan yang direncanakan (Layout yang telah disetujui). • Ketelitian Vertikal. b)Pengukuran Kerangka Dasar Pemetaan. saluran buatan. I-3 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Ketinggian titik detail diukur dengan toleransi 10 cm dengan kerapatan sesuai dengan skala peta yang direncanakan. Pengukuran kerangka dasar pemetaaan ini harus terikat dengan benchmark-benchmark yang dipasang terlebih dahulu dan dibagi dalam beberapa loop sesuai dengan kebutuhan serta dikaitkan pada titik referensi terdekat atau yang ditentukan oleh Direksi. • Situasi trace dan profil melintang. • Ketelitian Horizontal Minimal 90% titik yang mudah dikenal dilapangan.Kondisi. Minimal 90% dari semua titik tinggi garis kontur pada peta yang mudah dikenal dilapangan. c)Pengukuran Situasi Detail. • Pengukuran tersebut dilakukan pada saluran-saluran alam (sungai). . digambar dengan toleransi kesalahan planimetris 0. kemudian diukur profil memanjang dan profil melintang dengan interval jarak 100 m untuk sungai/saluran yang lurus dan 25 -50 m untuk sungai/saluran berbelok dengan kerapatan titik pada profil melintang sesuai kebutuhan. saluran alam dan bangunan buatan. • Pengukuran situasi detail dilakukan dengan cara rincikan dan harus terikat pada kerangka dasar pemetaan. Propil Memanjang dan Propil Melintang. Pengukuran kerangka dasar pemetaan dilakukan dengan pengukuran polygon sebagai kerangka horizontal dan pengukuran waterpass sebagai kerangka vertical. d)Pengukuran Trace. diukur dengan lebar 50 m kekiri dan 50 m kekanan dari tepi sungai/saluran atau sesuai kebutuhan e) Ketelitian.

• Penggambaran propel melintang.5m.memanjang dan situasi trace dibuat pada kalkir dengan ukuran 90/95 gram. • Profil melintang digambar dengan skala horizontal 1 : 100 dan vertical 1 : 100 Lembaga Penelitian Unsri Proposal . Dan diukur dengan tachimetri untuk saluran primer dan sungai alam dengan lebar lebih dari 10 m. • SITUASI Trace dan profil memanjang digambar dengan skala horizontal 1 :5. Perhitungan yang sudah menggunakan hitungan peralatan. Hasil perhitungan ini akan digunakan dalam proses penggambaran • Penggambaran peta situasi detail dibuat pada kertas kalkir atau kertas lain yang sama kualitasnya. I-4 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Koreksi sudut antara 2 kontrol azimuth maksimum 20”.000 dan interval kontur 1.000 dan vertical 1 : 100. tersier atau sungai alam dengan lebar maksimum 10 m. • Salah penutup koordinat maksimum 1 : 5. Tiap seksi diukur pergi pulang dengan toleransi kesalahan 10 VD mm.0m • Peta situasi detail dibuat dengan skala 1 :5. • Gambar dibuat dengan ukuran A1. • Peta Ikhtisar digambar dengan skala 1 :20. • Ketinggian titik detail diukur dengan ketelitian 10 cm. • Propil melintang diukur dengan alat waterpass untuk saluran sekunder.000.000 dengan interval 0. • Perhitungan definitive. • Jarak pengukuran waterpass dibagi dalam seksi dengan panjang maksimum 2 Km. Perhitungan data lapangan merupakan perhitungan sementara untuk mengetahui ketelitian ukuran.• Jumlah titik polygon antara dua kontrol Azimuth maksimum 50 buah. f) Perhitungan/Penggambaran.

perkiraan genangan dan dampaknya).000. • Pengambilan contoh tanah untuk dianalisa dilaboratorium dengan kerapatan 50 Ha pertitik. kemampuan serta kesesuaian lahan dalam rangka upaya I-6 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu peningkatan usaha pertanian didaerah survey yang terdiri dari kegiatan-kegiatan : • Inventarisasi serta melokalisir masalah tanah yang ada seperti pirit. kecepatan arus. • Pengukuran penampang melintang sungai/saluran pada setiap lokasi pengukuran muka air. 4)Survey Tanah Pertanian. kedalaman muka air tanah dan genangan serta kelas kesesuaian lahan dengan skala 1 : 20. • Penggambaran peta pengeboran jenis tanah. Tiap titik diambil contoh tanah sebanyak 2 lapisan. • Pengumpulan data klimatologi lainnya. ketebalan gambut. tanah sulfat masam. Pekerjaan ini dimaksudkan guna mempelajari potensi. • Pengolahan dan analisa data lapangan dan laboratorium sebagai masukan dalam perhitungan desain jaringan reklamasi. • Pengumpulan data/informasi banjir (tinggi lamanya. Pekerjaan ini dimaksud guna memperoleh data lapangan (primer dan sekunder) dari kondisi hidrologi dan hidrometri daerah survey melalui kegiatan-kegiatan : • Pengumpulan data curah hujan (terbaru) minimum selama 10 tahun dari stasiun terdekat. • Pengamatan karakteristik sungai antara lain morpologi. • Pengukuran sifat datar (leveling) untuk mengikat papan duga/peilschaal terhadap BM terdekat. (terbaru) minimum selama 5 tahun dan stasiun terdekat. • Pengukuran tinggi/fluktuasi muka air. • Pengambilan contoh untuk dianalisa dilaboratorium. 3)Survey Hidrologi dan hidrometri. sedimintasi. • Penggambaran peta tataguna lahan usulan dan peta tataguna .Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Situasi tapak bangunan air (existing dan rencana) digambar dengan skala 1 : 200. keasaman. kegaraman dan masalah gambut (ketebalan dan tingkat kematangannya). keasaman. kedalaman lapisan pirit. salinitas (bergerak dan setempat) dan keasaman pada titik-titik pengukuran yang disesuaikan dengan rencana skematisasi dari model matematik.

000. Pengecekan ini dapat mengoptimalkan penampang desain aawal dengan syarat-syarat teknis yang ada. pemecahan permasalahan yang ada baik aspek teknis maupun non teknis. I-7 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 1)Dimensi Jaringan Reklamasi. Perhitungan dimensi jaringan reklamasi dalam daerah pasang surut dilakukan dengan melakukan perhitungan aliran tidak tetap (Unsteady flow). d. Bangunan air direncanakan sesuai dengan fungsi yang diinginkan antara lain : • Sebagai bangunan penahan air banjir aatau air asin dari luar sistem. Jaringan yang perlu dihitung dimensinya terdiri dari saluran primer. aspek social dan budaya setempat serta berwawasan lingkungan.Kegiatan System Planning • Elaborasi dan analisa data lapangan • Perumusan rencana pengembangan lokasi. 2)Perencanaan Bangunan Air. • Merencanakan Lay Out jaringan untuk kegiatan pengembangan yang menunjang hasil/rumusan pada butir b dan mengevaluasi jaringan tata air yang ada. .existing skala 1 : 20. Perhitungan dimensi jaringan dalam daerah pasang surut dilakukan sebagai berikut : • Melakukan asumsi-asumsi teknis sehingga dapat menggunakan rumus-rumus untuk perhitungan aliran dengan kondisi unsteady flow. • Pengecekan dengan model matematis terhadap dimensidimensi diatas dengan menggunakan model matematis yang ada. modulus drainase. keseimbangan galian dan timbunan serta metode pelaksanaannya. c. Selain itu perlu dipertimbangkan fungsi masing-masing saluran tersebut. sekunder dan tersier. konsultan dapat melanjutkan kegiatan dengan perenccanaan yang lebih detail. Perencanaan lay out harus mempertimbangkan pembebasan tanah minimal kebutuhan jalur hijau. Desain Rinci Setelah Layout ditetapkan. Berdasarkan Layout yang ada konsultaan dapat melanjutkan dengan perhitungan dimensi jaringan reklamasi dengan memperhatikan ada/tidaknya pengaruh pasang surut. berdasarkan water Management Zoning.

• Untuk menjaga agar tinggi muka air dalam system sesuai dengan yang direncanakan. Kekuatan tanggul mencakup ukuran tanggul dan bahan tanggul. Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Stabilitas. lengkap dengan analisa harga satuan I-9 Lembaga Penelitian Unsri . hal ini menimbang terbatasnya ketersediaan tanah dengan kualitas baik disekitar lokasi. • Metode pelaksanaan konstruksi pemadatan. • Pemilihan bahan yang dipakai. bangunan air dan bangunan pelengkap lainnya) harus dilengkapi dengan pedoman pelaksanaan konstruksi dilapangan. • Perkiraan Volume dan Estimasi Biaya (RAB) Konssultan harus menghitung perkiraan volume dan pekerja secara keseluruhan. • Kekuatan. • Spesifikasi teknis. 4)Penyiapan Dokumen Lain-lain. Bahan tanggul sedapat mungkin menggunakan tanah yang ada ditempat. tahapan pelaksanaan dan sebagainya. Dalam hal dipakai tanah setempat konsultan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : • Penurunan muka tanggul yang akan terjadi. Bangunan-bangunan yang sudah didesain (saluran. Perencanaan tanggul pada prinsipnya adalah penentuan elevasi dan kekuatan tanggul itu sendiri. • Gambar-gambar Gambar-gambar desain berikut peta dasar yang dipakai dalam perencanaan harus dibuat dengan jelas dan rinci sesuai dengan tingkat ketelitian yang diperlukan untuk pelaksanaan. Ukuran minimum tanggul harus memenuhi kriteria stabilitas (faktor keamanan > 3) sesuai dengan data tanah yang ada. 3) Perencanaan Tanggul. Perhitungan Bangunan Air ini meliputi : • Ukuran bangunan yang diperlukan.

Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu pekerjaan.Pengumpulan dan Analisis Data Sekunder I-10 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Data sekunder yang dikumpulkan mencakup berbagai data.  Prediksi air pasang. Komponen kegiatan pada tahap ini dan metoda yang dilakukan secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut : 1. meliputi pengenalan masalah (problem identification).Pembuatan Peta Kerja dan Rencana Kerja Berdasarkan data-data yang diperoleh. literatur maupun eta-peta yang berkaitan dengan lokasi pekeijaan dan hash studi terdahulu. dengan melengkapi form . dan curah hujan. dalam tahap mi juga ditentukan macam data yang akan dikumpulkan pada saat survey. Kegiatan ini mulai dilakukan setelah diterimanya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dari Pemberi Tugas. daftar harga upah dan bahan dilokasi pekerjaan. BAB 2 METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN Dalam mencapai tujuan dan sasaran kegiatan diperlukan suatu metodologi pendekatan.  Data iklim. 2. KEGIATAN PERSIAPAN Kegiatan persiapan adalah awal dari seluruh tahapan pelaksanaan pekerjaan. . 2. analisa teknik. dan tataguna lahan. membuat suatu kerangka berfikir (design concept) yang didalamnya terdapat tahapan analisis dan evaluasi dalam rangka mengkaji permasalahan guna mendapatkan solusi yang dianggap paling akomodatif dan konstruktif yang nantinya dapat dipakai dalam penyusunan suatu konsep zonasi dalam pengelolaan air kawasan lahan dan rawa. dibuat peta awal kondisi lokasi yang menunjukkan ciri-ciri utama topografi. Disamping membuat Peta Kerja. hidrologi. tanah. Peta ini selanjutnya digunakan sebagai Peta Kerja dengan menunjukkan rencana garis-garis dan titik (ploting) pengamatan. cuaca. Secara umum metodologi yang digunakan dalam kegiatan ini dibagi dalam beberapa tahapan. metode pelaksanaan pekerjaan. yaitu : • Tahap Persiapan • Tahap Survey Lapangan • Tahap Analisis Data • Tahap Perencanaan Detail Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini. antara lain  Peta topografi.1.

Rencana kerja ini mencakup jadwal pelaksanaan masing-masing komponen kegiatan. Sebelum survey lapangan dimulai. rencana mobilisasi tim personil/peralatan. batas waktu penyelesaian. petugas lapangan. serta jadwal penugasan personil dan peralatan. pejabat setempat. dan ketersediaan personil/peralatan. maupun tokoh masyarakat. Konsultan juga melakukan pengurusan administrasi yang menyangkut perijinan survey di lokasi yang ditentukan. Sedangkan untuk survey sosio-agro-ekonomi dipersiapkan daftar pertanyaan (kuestionair) atau check-list yang digunakan untuk pedoman wawancara dengan petani.survey untuk setiap kegiatan survey yang dilakukan (topografi. rencana kerja tersebut akan dikonsultasikan/didiskusikan dahulu dengan Pemberi Tugas. Dalam kaitan dengan hal ini. 4. Persiapan tersebut meliputi kegiatan pengecekan tim/peralatan sesual dengan kuantitas serta kualifikasi yang diperlukan. peta rencana kerja. metodologi. 3. Hal ml kemudiandituangkan dalam Laporan Persiapan. Mobilisasi tim/peralatan untuk masing-masing kegiatan survey akan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan . formulir yang digunakan untuk survey. tanah.Pembuatan Laporan Persiapan dan Diskusi Laporan Persiapan adalah laporan awal yang memuat program kerja. Konsultan melakukan persiapan tim personil pelaksana dan peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan survey. dan kurva S. rencana mobilisasi personil/peralatan dan jadwal kerja. hidrologi/hidrometri).Persiapan Tim Personil dan Peralatan Survey Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Disamping membuat rencana keja. Dengan mempertimbangkan volume pekerjaan. selanjutnya Konsultan membuat rencana kerja. Laporan Persiapan tersebut kemudian didiskusikan dengan pihak Proyek dan instansi terkait untuk memperoleh masukan guna penyempurnaan laporan dan rencana kerja telah yang telah disusun. balk untuk kegiatan survey lapangan maupun kegiatan studio/kantor. 5.Mobilisasi Tim Personil dan Peralatan Survey Mobilisasi tim personil dan peralatan akan dilakukan segera setelah program kerja disetujul oleh Pemberi Tugas dan perijinan administratif survey diselesaikan.

cukup kokoh dan mudah ditemukan. Orientasi Lapangan I-12 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Orientasi lapangan dimaksudkan untuk memperoleh gambaran awal mengenal lokasi yang akan diukur. 2. tidak rusak). dan nomenkatur BM yang dipasang harus sesual standar yang ditentukan. dll). warna. Pengukuran topografi (situasi detail) dilakukan dengan tahapan kegiatan dan metoda sebagai berikut: 1. dapat diidentifikasi. Lokasi pemasangan BM ini perlu mendapat persetujuan Supervisi/Direksi yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Lapangan. .000. 2. serta harus mempertimbangkan kepentingan pemetaan kerangka dasar dan penggunaannya di masa mendatang (pematokan jalur saluran. dimensi. Selama kegiatan ini juga dilakukan penyiapan lokasi basecamp. Kegiatan ini dilakukan secara bersama/koordinasi dengan Supervisi/Direksi Lapangan untuk menentukan titik awal pengukuran.jadwal/program kegiatan yang telah disetujui. Pemasangan BM dipiHh pada lokasi yang aman.2 SURVEY LAPANGAN 2.1 Pengukuran Topografi Pengukuran topografi (situasi detail) dimaksudkan untuk mendapatkan data lapangan yang sebenarnya (eksisting) yang kemudian disajikan dalam bentuk peta topografi (peta situasi) dengan skala 1 : 20. termasuk penetapan lokasi BM dan CP.000 dan 1 5.2. batas areal pengukuran. Benchmark lama dapat digunakan jika masih memenuhi syarat (kedudukan sesuai. lokasi bangunan. rekruitmen tenaga lokal dan sarana transportasi pangan. Pemasangan Benchmark Benchmark (BM) dipasang untuk menandai titik kontrol dan referensi pengukuran. dan metodologi yang akan dilakukan. Bentuk. alinemen tanggul.

Setiap BM dibuat foto.Gambar 3.Pengukuran Kerangka Dasar Pemetaan Pengukuran kerangka dasar dimaksudkan untuk membuat suatu sistem referensi topografi yang benar dimana hasil-hasil survey . 4. nomor identifikasi. maka panjang BM yang tertanam ke dalam tanah adaah ± 30 s/d 40 cm. Untuk kondisi lapangan. Sketsa Bench Mark dan Control Point Ukuran BM yang digunakan adalah dengan dimensi 30 x 30 cm dan tinggi 60 cm. 3. dan koordinat.2. sketsa situasi.Penetapan Tinggi Referensi Proyek Penetapan tinggi referensi proyek ditujukan untuk memperoleh satu referensi ketinggian yang sama/seragam pada semua titik pengukuran di lokasi pekerjaan.

ketelitian relatif sama sesuai persyaratan ketelitian yaitu 15” salah penutup sudut antar dua kontrol Azimuth. e. setiap seksi ± 1 . d. b.lainnya dapat dihubungkan dengan sistem referensi ini.Pengukuran jarak polygon diukur memakai alat ukur elektronik EDM minimum dua kali (kemuka dan kebelakang) dengan ketelitian 1: 7. Adapun spesifikasi dalam pengukuran kerangka dasar pemetaan adalah sebagai berikut: a. Jarak setiap patok sipat datar max. Pengukuran situasi derail/rincikan dilakuIan dengan metode Trigonometri/Tachimetri dimana ujung dan pangkal jalur I-15 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu pengukuran terikat/terkontrol terhadap .2 km. Ketelitian sipat datar 10 ID mm dimana D =jarak dalam km. 100 m. dan kemudian diikatkan pada titik referensi terdekat atau yang ditentukan oleh Direksi. Pengukuran I-14 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu kerangka dasar pemetaan dilakukan dengan cara pengukuran polygon sebagai kerangka horisontal dan pengukuran waterpass sebagai kerangka vertikal. Pengukuran sipat datar dilakukan memakai alat ukur waterpas Ni2 atau sederajat. c. Pengukuran ini harus terikat dengan benchmark yang telah dipasang terlebih dahulu serta dibagi dalam beberapa loop/kring sesuai dengan kebutuhan.500 setelah perataan beberapa set pembacaan setiap sisi tersebut. Penentuan arah/azimuth Arah/azimuth ditemukan dengan pengamatan astronomi atau menentukan azimuth metode gyro dengan memakai alat Theodolith T2 dan Gyro Compass. Jarak pengukuran dibagi dengan seksi-seksi. Pengamatan astronomi dilakukan pagi dan sore hari pada satu stasiun pengamatan.Pengukuran sudut polygon Setiap sudut diukur dua kali (double seri) memakai alat ukur Thedoilt T2 atau sederajat dengan ketelitian 8” setiap sudut polygon dan maksimum 20” salah penutup sudut antar dua korttrol Azimuth.

dan mencakup batas tataguna lahan dan ciri-ciri yang sudah ada seperti saluran. toleransi kesalahan maksimum adalah setengah interv’al aris kontur. perubahan permukaan tanah serta vegetasi yang ada di dalam areal pengukuran. Peralatan yang digunakan Thedolit TD dengan ketelitian detail pengukuran 10 cm 5. dengan kerapatan sesuai dengan skala peta. f. dengan sistem rincikan/raai yang terikat pada kerangka dasar pemetaan.Pengukuran Trace. Detail yang diambil di lapangan adalah bangunanbangunan alam (sungai.Pengukuran Situasi Detail Pengukuran situasi detail dilakukan setelah kerangka dasar pemetaan dibuat. batas-batas tataguna tanah. Situasi Trace. I-16 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu − Kontrol azimuth ditentukan dengan pengamatan astronomi dengan ketelitian 20”. digambar dengan toleransi kesalahan planimeter 0. Elevasi titik detail diukur dengan toleransi 10 cm. Ketelitian dan spesifikasi yang digunakan dalam pengukuran situasi detail adalah sebagai berikut: − Ketelitian horisontal : minimal 90% dan semua titik yang mudah dikenal di lapangan. Profil Memanjang dan Profil . Titik-titik rincikan/detail-detail diukur dengan kerapatan titik yang disesualkan dengan skala peta yang digunakan dan tersebar dengan kerapatan titik maksimum 1 cm pada peta. gundukan tanah/bukit-bukit tebing serta batas-batas tanah tinggi dan kalau perlu genangan) dan bangunan-bangunan buatan (saluran tanggul) kolam bangunan-bangunan air. dimana D = panjang sirkuit dalam Km. permukiman dan bangunan. − Salah penutup koordinat maksimum 1 : 5000 − Jarak pengukuran waterpass dibagi dalam seksi-seksi dengan panjang maksimum 2 km.8 mm pada skala peta. kuburan dan lain-lain). anak sungai alam.kerangka dasar pengukuran/pemetaan. − Ketelitian vertikal : minimal 90°k dan semua titik tinggi garis kontur pada peta yang mudah dikenal di lapangan. Setiap seksi diukur pergi-pulang dengan toleransi kesalahan 10√D mm. Pengukuran situasi diukur ke seluruh areal rencana pengukuran secara merata. lembah. Dan titik tersebut diukur detail-detail lapangan dengan rincikan. 6. − Koreksi sudut antara 2 kontrol azimuth maksimum 20”. − Ketinggian titik detail diukur dengan ketelitian 10 cm. − Jumlah titik polygon antara dua kontrol azimuth maksimum 50 buah.

000 − Potongan Memanjang Skala horisontal 1: 2. dimana jarak diukur 2 kali (kemuka dn kebelakang) dengan ketelitian ukuran jarak 1:7500 yang diukur dengan pita ukur (kapasitas 100 m) − Pengukuran sipat datar yang berfungsi sebagal dasar penampang memanjang trace. sekunder dan tersier. saluran buatan seperti saluran primer.50 meter untuk saluran tikungan atau penampang sungai seperti diperlukan. 100 m pada trace lurus 50 s/d 25 meter pada tikungan. − Suvey trase termasuk pengukuran penampang memanjang dan melintang pada interval 100 meter untuk saluran yang lurus atau penampang sungai. dengan interval jarak atau sisi polygon max. tanggultanggul dan jalan jalan internal sesuai dengan lay out yang ditandatangani untuk archtrase yang dikontrol dengan pengukuran traverse. y) kerangka pemetaan dengan ketelitian siap sudut 0. Terikat terhadap (z) kerangka pemetaan dengan ketelitian 15√D mm dimana D = jarak dalam km. Diukur dengan metode Trigonometri/ Tachimetri memakai peralatan Theodolit TO dengan ketelitian 10 cm. − Survey trase akan diambil pada sungai-sungai alam. dan terval 25 .Melintang. − Alinemen dan strip (situasi strip) sepanjang garis trase skala 1:2. jalan petani dan saluran-saluran yang direncanakan.5’ (menit) setelah dirata-ratakan dan ketelitian antara dua titik kontrol kerangka pemetaan 10 N” (second) dimana N = jumlah titik polygon diukur dengan alat ukur Thedolit TO. tanggul-tanggul yang I-17 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu ada. − Situasi detail sepanjang jalur trase harus diukur didalam koridor 100 meter lebar (50 meter kekanan dan 50 meter kekiri) dan saluran. sungai dan ujung-ujung as pengukuran. dengan tujuan untuk memperoleh arah dan dimensi yang akurat.000/1:5. − Diukur dengan metode Tachimetri/Trigonometri memakai alat ukur Thedolit TO dengan ketelitian pengukuran 10 cm dengan interval jarak 100 m (untuk saluran primer) tepat pada titik trace atau penampang . Detail yang diambil sama dengan detail-detail yang tercantum dalam detail pengukuran situasi detail yang ada disepanjang trace.000 Skala vertikal 1: 100 − Potongan Mehntang Skala horisontal/vertikal 1:100 − Uitzet trase yang dikontrol dengan ukuran polygon terikat terhadap titik kontrol (x.000 /1: 5. Semua titik polygon diukur ketinggiannya. − Pengukuran penampang melintang tarce.

lama. kali tanggul/jalan pinggir atas tanggul/jalan sampai tanah asli − Pengukuran situasi tapak bangunan diukur dengan metade Trigonometri/ Tachimetri dengan dasar pengikatan kerangka pemertaan. kecepatan angin. dan penyinaran/radiasi matahari. 2. harus diukur dan diperlihatkan dalam skala 1 : 200. − Pengumpulan informasi mengenai pengaruh kekeringan dan intrusi asin di musim kemarau. luas. jumlah hari hujan.2. − Pengumpulan informasi mengenai banjir yang menyangkut periode.Pengumpulan data sekunder yang meliputi: − Pengumpulan/inventarisasi data curah hujan selama 10 tahun terakhir dan stasiun pengamat di wilayah lokasi studi. Detaildetail yang diambA as trace. curah hujan bulanan.2 Survey Hidrologi / Hidrometri Kegiatan survey hidrologi dan hidrometri dimaksudkan untuk memperoleh gambaran kondisi hidrologi dan hidrometri di lokasi survey dan juga di daerah sekitarnya. dan dampaknya (bagi pertanian dan penduduk). Luas lokasi disesuaikan dengan I-18 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu bangunan dan rencana tapak bangunan sekitar 25 m x 25 x m s/d 100 x 150 meter atau ditentukan oleh pemberi pekerjaan.memanjang serta posisinya tegak lurus terhadap jalur trace. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai berikut: 1. menyangkut periode. Data ini dapat diperoleh dari informasi penduduk .3. dimana detaildetailnya diambil dengan teliti kalau perlu pengukuran jarak memakai metband dan ketinggian yang penting memakai waterpas dengan ketinggian dalam 1 cm. − Perhitungan sementara dan penggambaran sementara (draft) di lapangan semua pengukuran yang memenuhi syarat akan dihitung sementara untuk mengetahui syarat ketelitian dan dilangsungkan pada draft penggambaran yang dilakukan pada kertas milimeter Rencana kegiatan pengukuran topografi ditunjukkan pada Gambar 3. pinggir atas saluran. − Pengumpulan/inventarisasi data iklim juga diambil dan stasiun pengamat terdekat di lokasi studi. Data ini diperoleh dari informasi penduduk setempat serta pengamatan tanda bekas banjir di sekitar sungai (mis. perbedaan bentuk saluran. Detail-detail yang diambil adalah setiap perobahan permukaan tanah dengan kerangka titik ± 2 s/d 5 meter. titik dasar saluran. lama. tinggi. − Lokasi dan perluasan bangunan hidrolik baik yang ada maupun yang direncanakan. perubahan warna pada tumbuhan). Data curah hujan yang dikumpulkan adalah curah hujan harian. kelembaban udara harian. Data-data iklim yang perlu dikumpulkan meliputi temperatur udara harian. dan dampaknya. perkiraan luas genangan.

harus diukur dalam-hubungannya terhadap pengamatan muka air selama survey. •Durasi banjir maksimum dan tenggang pasang selama debit aliran tinggi dan rendah diperoleh dan wawancara dengan masyarakat setempat. meteorologi hujan Penempatan alat Hidrometri : 1.Ditempat yang lurus : terhindar dari penyadapan dan penggerusan 2. PH dan temperatur air harus dicatat pada saat pengambilan.Pengumpulan/inventarisasi data primer yang meliputi : I-19 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu − Pengamatan tinggi muka air secara simultan selama 15 hari di muara sungai. dan wawancara dengan masyarakat setempat.Diikatkan (levelllng) ke BM. DAS 2.setempat. •Contoh air diambil pada saat debit air rendah pada semua sungai dan anak sungai yang melintasi daerah proyek. Mudah dicapai dan mudah dalam pelaksanaan pengukuran : misal keadaan banjir/flood 3. Patok. Pengamatan ini dilakukan secara insitu. foto udara atau citra radar.Peta dasar : geologi. I-20 Luasan genangan banjir dapat ditentukan dan peta. .Kondisi iklim dan klimatoogi. topografi. waktu. warna. Muka tanah setempat b. pengamatan tanda-tanda banjir maksimum. Adapun pengamatan ini dilakukan di 2 lokasi. Kualitas Air •Tinggi air di luar zona intrusi kadar garam ditentukan dengan analisis laboratorium contoh air. yang diunjukkan oleh penduduk setempat atau yang diamati dan warna/tandah bekas banjir pada tumbuhan. − Pengamatan tinggi muka air simultan selama 30 jam di 2 lokasi terpilih. c. − Pengamatan muka air di petak tersier − Pengukuran kualitas air (pH dan salinitas) pada waktu air tinggi dan air rendah. Penggenangan (Flooding) • Tinggi banjir maksimum diukur pada beberapa tempat sepanjang saluran. − Pengambilan contoh air untuk dianalisis di laboratorium sebanyak 2 sample. Tanggal. 2. Untuk pelaksanaan pengukuran/pengamatan hidrometri diperlukan beberapa informasi antara lain : 1. lokasi.

•Pada setiap penampang. guna menunjang keperluan klasifikasi tanah dan analisis kesuburan tanah. serta terdiri dan beberapa komponen kegiatan dan metoda sebagai berikut: 1. tanggal dan waktu pengukuran harus dicatat demikian juga dengan tinggi pasang 2. keasaman. tanah sulfat masam. dan masalah gambut (ketebalan dan tingkat kematangannya).2. 2. d. Khusus pada pertemuan sungai besar dengan saluran primer atau sekunder.4 Survey Tanah Pertanian Kegiatan surley tanah pertanian dimaksudkan untuk mempelajari potensi. potongan melintang sungai diambil dekat dengan pertemuan dengan jarak paling tidak 100 m sebelum dan sesudah titik pertemuan. potongan melintang diambil pada lokasi pertemuan saluran atau jalan/tanggul. •Pada setiap penampang. kemampuan dan kesesuaian lahan dalam rangka pengembangan pertanian di lokasi survey.Inventarisasi serta melokalisir masalah tanah yang ada seperti pirit. Untuk sungai kecil atau anak sungai (sungai alam) yang di dalam daerah proyek. paling sedilsit 10 titik “sounding” harus diambil pada interval yang sama. Pengambilan contoh tanah untuk dianalisis di laboratorium. mulai dan muara sungai sampal batas paling hulu dari daerah survey. Kedalaman air ditentukan dengan “echo-sounder”. kegaraman. PH air sungai harus diukur selama pasang surut penuh (30 jam) secara simultan dengan pengamatan elevasi muka air.•Pada stasiun pengamatan muka air paling hulu dan setiap sungai utama. Inventarisasi sifat dan jenis tanah serta penyebarannya dengan melakukan pengamatan tanah melalul pemboran di seluruh areal. Adapun ketentuan dan spesifikasi dalam kegiatan survey tanah . 3. Jarak horisontal/lebar setiap I-21 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu penampang dapat ditentukan dengan alat “range finder” atau tali/kawat yang dibentang di atas sungai.Pengukuran Potongan Melintang sungai •Potongan melintang sungai yang berpengaruh terhadap tata air atau yang melintasi atau mengelilingi daerah proyek harus diukur dengan interval yang sama (setiap 2 sampai 5 km) atau dengan interval yang lebih rapat pada bagian sungai yang tidak lurus atau pada setiap ada perubahan. yang memungkinkan pemodelan hidrodinamik aliran dapat dilakukan dengan hasil yang akurat.

kemasaman (pH). dengan intensitas pengamatan minimal ± 50 Ha/titik. 2. sulfat masam dangkal. karatan. kematangan (rippening).’ kedalaman batas lapisan pirit/sulfat masam (metoda oksidasi cepat H202).pertanian adalah sebagai berikut:  Pengamatan pemboran tanah dilakukan dengan mengikuti atau terikat dengan jalur rintisan topografi. pasir kuarsa).  Pada setiap pemboran.3. Disamping itu perlu dicatat eadaan tataguna lahan dan vegetasi sekitar lokasi pemboran. Analisa Data dan Konsep Zona Pengelolaan Air Kegiatan pengolahan dan anuisis data dilakukan setelah kegiatan lapangan selesai dilaksanakan. tekstur. baik antara tim pelaksana secara internal maupun antara . ketebalan bahan organik/gambut dan I-22 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu dekomposisinya.  Pengamatan pemboran dilakukan sampai kedalaman ±120 cm untuk tanah mineral atau sampai bahan induk (jika lapisan tanah terlalu dangkal). maka diperlukan hubungan kerjasama yang baik dan koordinatif. muka air tanah dan genangan. Kegiatan ini meliputi :  Analisa Survey Topografi  Analisa Hidrologi dan Hidrometri  Analisa Tanah Pertanian  Analisa Zona Pengelolaan Air BAB III ORGANISASI PELAKSANAAN Untuk mencapai hasil pekerjaan yang efektif dalam waktu yang ditentukan. Dalam hal ditemui kendala tanah yang serius (gambut tebal. seluruh sifat-sifat tanah dideskripsi meliputi warna. pengamatan. Untuk tanah organik/gambut. maka intensitas pengamatan/pemboran akan ditambah. pemboran akan dilakukan sampai kedalaman batas lapisan tanah mineral atau sampai kedalaman ±2 m (untuk tanah gambut tebal).

Organisasi pelaksanaan pekerjaan tersebut diharapkan juga dapat mewujudkan hasil pekerjaan yang optimal. fasilitas-fasilitas pelaksanaan pekerjaan.1. 3.tim pelaksana dengan pihak Pemberi tugas. Berkaitan dengan hal tersebut. Susunan personil/tim pelaksana dan lingkup penugasan/tanggung jawabnya diuraikan sebagai berikut : 1.Sarjana S1 Ilmu Tanah. termasuk persiapan kantor. sehingga semua berjalan sesual dengan permintaan TOR sebagal . sehingga dapat menunjang kelancaran pekerjaan. khususnya berkaitan dengan pengelolaan air daerah rawa. baik pekerjaan lapangan survey lapangan pengukuran dan inventarisasi lahan) sampai pekerjaan kantor (detail desain dan pelaporan). . .Bertanggung jawab secara keseluruhan terhadap pelaksanaan pekerjaan dari sejak persiapan sampai saat akhir pekerjaan.TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB TENAGA AHLi Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Pekerjaan dilakukan dengan melibatkan beberapa personil/ tim pelaksana dari berbagai “ bidang keahlian.Bertanggung jawab atas koordinasi dan Pengawasan terhadap tim yang lain dalam pelaksanaan pekerjaan. serta secara periodik melaporkan perkembangan pekerjaan kepada Pemberi Pekerjaan. rencana kerja serta metodologi yang akan diterapkan.Bertanggung jawab terhadap pemberi Pekerjaan yang berkaitan terhadap kegiatan tim pelaksanaan pekerjaan dan pelaksanaan pekerjaan yang berlangsung saat ml. S2 Hidrologi dan memiliki pengalaman dalam perencanaan jaringan tata air daerah rawa . Hubungan penugasan/tanggung jawab dari masing-masing personil maupun hubungan koordinatif dengan Pemberi Tugas dituaangkan dalam struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan yang tepat. . maka perlu disusun personil pelaksana yang akan dilibatkan disertai lingkup penugasan dan tanggung jawab masing-masing secara jelas. Ketua Tim / Team Leader .Bertanggung jawab terhadap persiapan pelaksanaan pekerjaan.

Rencana Anggaran Biaya— dan Rencana Paket antara laporan-laporan lain.Mengkaji ulang serta pengecekan keseluruhan hash pekerjaan yang telah dilaksanakan. kondisi dan sistem pengaliran yang telah ada serta rencana trase saluran yang akan direncanakan. . -Menyiapkan perhitungan hidrolis dan stabilitas bangunanbangunan dan gambar-gambar yang diperlukan. -Melakukan monitoring terhadap kemajuan pekerjaan yang dilaksanakan sehingga sesuai shedul yang telah direncanakan.Mengkoordinasi secara keseluruhan akan laporán yang harus dhserahkan pada Pihak Pemberi Pekerjaan.acuan pekeijaan. -Mendesain bangunan-bangunan yang sudah dihitung angka hidrolis dan stabllitasnya. -Bertanggung jawab terhadap pembuatan Lay-Out sementara sampal lay-out definitif disetujui direksi pekerjaan. AHLI DESAIN -Sarjana S1 Teknik Sivil. . -Menyiapkan Spesifikasi Teknis. Bersama Team Leader melakukan survey pendahuluan untuk identifikasi lokasi di daerah rawa. -Melakukan inventarisasi lahan serta jaringan irigasi yang ada. serta data-data pendukung yang dibutuhkan dalam tahap desain. 2. -Menyiapkan peta daerah dan skema jaringannya beserta petak-petak tersier. I-25 Lembaga Penelitian Unsri Proposal . S2 Pengairan. I-24 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Berperan sebagal koordinasi setiap kegiatan diskusi dengan pemberi Pekerjaan dan alokasi penugasan personil yang telibat dalam pelaksanaan proyek.

AHLI TANAH PERTANIAN -Mengkoordinir peaksanaan survai tanah di lapangan. AHLI HIDROLOGI -Melakukan survel dan identifikasi kondisi jaringan irigasi yang ada. -Melakukan pengumpulan data kilmatologi dan data debit sungai. -Memberikan Petunjuk dalam Penyusunan Spesifikasi Teknik dan Metoda Pelaksanaan konstruksi. buku ukur. Struktur Jembatan. -Menyusun laporan lapangan hasil identifikasi dan laporan pendukung hidrologi. AHLI STRUKTUR BANGUNAN AIR/HIDROLIKA .Melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap perhitungan dan ketelitian di dalam perhitungan data pengukuran. AHLI GEODESI ATAU PEMETAAN -Menguasi ilmu pemetaan.Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 3. fondasi dli) Tanggul Banjir. diskripsi BM dan lain-lain. 5. -Mengkoordinir tim survey untuk melakukan pengukuran debit sumber air baku sesaat. analisis GIS.Membantu Team Leader dalam menyusun laporan pekerjaan. Melakukan survey lokasi sehubungan dengan rencana jalur pengukuran yang akan dilaksanakan Menyiapkan titik-titik referensi pengukuran. -Menyiapkan gambar-gambar hash pengukuran dan laporan akhir dan hasil pengukuran. -Melakukan koordinasi di dalam pelaksanaan pengukuran baik ketelitian situasi maupun trase saluran. -Menyiapkan hasil inventarisasi saluran dan bangunan. 6. analisa data Curah Hujan. -Membantu menyusun Nota Desain. -Melakukan analisa hidrologi berupa. . . dan rekomendasi untuk parameter desain dan perhitungan kebutuhan air dan ketersediaan air baku. Dermaga dan Sarana Bangunan Pelengkap lainnya. Stabilitas Lereng Saluran. . 4. Debit Banjir. -Penyusunan laporan yang berhubungan dengan pekerjaan pengukuran baik laporan pengukuran.Melaksanakan Perhitungan dan Perencanaan Struktur Bangunan Hidraulik (pintu.

pengelola administrasi dan keuangan.scribd.Ahli Simulasi dan Pemodelan komputer : Dr. Ketua Tim: Ir. Said. Momon Sodik Imanudin. I-27 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 8. surveyàr.Melakukan pengamatan profil tanah dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisa di laboratorium.Sc 3.Sc.com/doc/39024353/Proposal-Rawa-1000ha . . M. serta pengurusan administrasi dan keuangan dalam pelaksanaan pekerjaan.Mengidentifikasi hambatan-hambatan yang berhubungan dengan pengembangan pertanian khususnya budidaya tebu.Sc. Chief Surveyor. pembuatan laporan dan peta-peta.2. Keseluruhan tenaga pendukung mi bertugas membantu Ketua Tim dan Tim Ahil lainnya dalam kegiatan survey lapangan. -Memberikan saran-saran yang berguna untuk peningkatan berdasarkan kriteria dan petunjuk. . Sitompul http://www. -Membuat laporan kemajuan kerja.Si 2.Ahli Bangunan Air : Ir.M. Tenaga Pendukung Tenaga pendukung dalam pekerjaan ini adalah tenaga sub profesional yang meliputi : Asisten Tenaga Ahli. serta tenaga lapangan. (Ahli Hidrologi dan Rawa) Tenaga Ahli : 1. Tenaga Pendukung ini diperlukan sebanya 7 orang.Ahli Tanah Pertanian : Ir. Muh Bambang P.Si 5. -Mengidentifikasi kedalaman pint. M. 3.Melakukan pengamatan perkembangan tanah di lokasi proyek. M. M. -Membuat kerangka kerja pelaksanaan survai tanah yang pasti dan efisien di lapangan. ketebalan gambut di lokasi proyek. Dery Darmawan 4.-Melakukan survai tanah di lokasi daerah rawa . Ir. Juru Gambar. M.Suveyor tofografi : Ir. Ngudiantoro.Ahli GIS Pemetaan : Ir. Rencangan Personil Penanggung Jawab kegiatan: Prof. Dr. operator komputer. H. laporan bulanan dan membantu Team Leader dalam membuat laporan akhir. pengolahan data. Feriadi.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.