P. 1
Lembaga Penelitian Unsri

Lembaga Penelitian Unsri

|Views: 125|Likes:
Published by h_91

More info:

Published by: h_91 on Mar 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2012

pdf

text

original

Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan lahan untuk mendukung program perluasan areal perkebunan dan pengembangan tanaman tebu memerlukan data dan informasi sumberdaya lahan yang handal. Ketidak lengkapan data dan informasi sumberdaya lahan tersebut dapat berakibat pada pemanfaatan lahan yang tidak optimal, dan bahkan dapatmenimbulkandampak kerusakanlahan atau kegagalan usaha bisnis dibidang perkebunan. Karakteristiklahan dalam perkebunan tebu mempunyai nilai penting bagi keberadaan suatu perkebunan tebu, karena merupakan salah satu sumber daya alam yang mendukung proses budidaya dan produksi kebun. Seperti diketahui bersama, tebu merupakan tanaman yang sangat membutuhkan air dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Tanpa ketersedian air yang cukup sepanjang tahun, maka dapat dipastikan pertumbuhan dan produksi akan menjadi rendah, karena tanaman tebu memerlukan kestabilan ketersedian air pada periode pembuahannya. Disisi lain tanaman tebu di awal pertumbuhan kurang tahan terhadap genangan, sehingga kalau budidaya akan dilakukan di daerah rawa diperlukan perencanaan drainase yang tepat untuk mengendalikan muka air tanah sampai batas yangg diinginkan perakaran tanaman tebu. Kedalaman muka air tanah yang diinginkankan tanaman tebu adalah berkisar antara 50-60 cm. Untuk itu bila akan membukan lahan di daerah rawa, maka terlebih dahulu harus dibuat sistem drainase yang tepat. Drainase yang baik adalah selain dapat membuang air bila terjadi kelebihan (banjir), juga dapat mengendalikan muka air tanah agar tidak terlalu turun jauh di musim kemarau. Lahan rawa yang memiliki lapisan sulfat masam kurang dari 1 m, maka air harus dikendalikan agar jangan sampai terlalu jauh turun dibawah lapisan sulfat masam. Untuk itu diperlukan zona pengelolaan air, dari tingkat mikro sampai makro. Zona mikro di level tersier harus dilengkapi dengan bangunan air agar bisa mengendalikan air sesuai dengan yang diinginkan tanaman. I-1 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Unruk zona makro, bisanya salurantidak hanya digunakan sebagai suplai air dan pembuangan tetapi juga digunakan sebagai navigasi (transportasi), Oleh karena itu pengeruh pasang surut air harus diketahui sehingga dapat disusun jadwal operasi transportasi kombinasi dengan kebutuhan suplai atau drainase. Dari potensi dan kendala diatas maka dirasa pelu untuk melakukan suatu studi secara terpadu yang melihat aspek fisik lahan, iklim, dan hidrologi. Data tersebut sangat penting dalam perhitungan dan perencanaan sistem jaringan

tata air yang tepat untuk budidaya tanaman tebu. B. Maksud dan Tujuan Maksud pekerjaan ini untuk melakukan studi karakteristik tanah, iklim, hidrologi, pemetaan tofografi dan sistem pengaliran pada lahan seluas 1000 ha yang memungkinkan dikembangan sebagai daerah rawa yang potensial untuk tanaman tebu dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. Tujuannya dihasilkanperencanaan teknis sistem tata air meliputi saluran dan keseluruhan bangunan air yang dibutuhkan untuk budidaya tanaman kelapa tebu. C.Lingkup dan Rincian Kegiatan Untuk mencapai maksud dan tujuan pekerjaan ini, maka dilakukan tahapan sebagai berikut : a. Kegiatan Persiapan 1)Pengumpulan data sekunder meliputi : • Data Klimatologi,Hidrologi dan hidrometri. • Data hasil studi terdahulu (bila ada). • Peta-peta yang terkait dengan pekerjaan ini. 2) Persiapan Survey • Program kerja (jadwal kerja dan personil).

Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Pembuatan peta kerja untuk survey lapangan • Pemeriksaan alat-alat survey • Menyiapkan perlengkapan survey. • Dan lain-lain. b.Kegiatan Survey Lapangan 1)Survai pendataan awal untuk skala tinjau pada areal seluas 1000 ha melihat informasi awal mengenai kegiatan pertanian, kondisi jaringan dan potensi pengembangan pertanian. 2)Pengukuran topografi (situasi semi detail) untuk areal studi seluas 1.000 ha. Pengukuran situasi detail bertujuan untuk mendapatkan data lapangan yang sebenarnya (Existing) yang akan disajikan dalam bentuk peta topografi (peta situasi) skala 1 : 5.000. Pengukuran situasi detail dilakukan dengan tahapan berikut : a)Inventarisasi/pemasangan Bench Mark (BM).

tanggul/jalan yang direncanakan (Layout yang telah disetujui). d)Pengukuran Trace. Toleransi kesalahannya adalah maksimum setengah interval garis kontur. • Pengukuran situasi diukur merata keseluruh daerah rencana pengukuran mencakup batas penggunaan lahan. . diukur dengan lebar 50 m kekiri dan 50 m kekanan dari tepi sungai/saluran atau sesuai kebutuhan e) Ketelitian. saluran alam dan bangunan buatan. kemudian diukur profil memanjang dan profil melintang dengan interval jarak 100 m untuk sungai/saluran yang lurus dan 25 -50 m untuk sungai/saluran berbelok dengan kerapatan titik pada profil melintang sesuai kebutuhan. b)Pengukuran Kerangka Dasar Pemetaan. • Pengukuran tersebut dilakukan pada saluran-saluran alam (sungai). • Setelah diukur trace dan situasi trace. digambar dengan toleransi kesalahan planimetris 0. • Ketelitian Vertikal. Propil Memanjang dan Propil Melintang. Situasi Trace. • Ketelitian Horizontal Minimal 90% titik yang mudah dikenal dilapangan. saluran buatan. Pengukuran kerangka dasar pemetaan dilakukan dengan pengukuran polygon sebagai kerangka horizontal dan pengukuran waterpass sebagai kerangka vertical. • Pengukuran situasi detail dilakukan dengan cara rincikan dan harus terikat pada kerangka dasar pemetaan. Pengukuran kerangka dasar pemetaaan ini harus terikat dengan benchmark-benchmark yang dipasang terlebih dahulu dan dibagi dalam beberapa loop sesuai dengan kebutuhan serta dikaitkan pada titik referensi terdekat atau yang ditentukan oleh Direksi. • Kontrol Azimuth ditentukan dengan pengamatan astronom dengan ketelitian 20”. ukuran dan penyebarannya harus sesuai dengan daerah pekerjaan.Kondisi. • Situasi trace dan profil melintang. I-3 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Ketinggian titik detail diukur dengan toleransi 10 cm dengan kerapatan sesuai dengan skala peta yang direncanakan. c)Pengukuran Situasi Detail. Minimal 90% dari semua titik tinggi garis kontur pada peta yang mudah dikenal dilapangan.8 mm pada skala peta.

• Jumlah titik polygon antara dua kontrol Azimuth maksimum 50 buah. • SITUASI Trace dan profil memanjang digambar dengan skala horizontal 1 :5. • Penggambaran propel melintang. • Jarak pengukuran waterpass dibagi dalam seksi dengan panjang maksimum 2 Km. • Peta Ikhtisar digambar dengan skala 1 :20.000 dan interval kontur 1. • Profil melintang digambar dengan skala horizontal 1 : 100 dan vertical 1 : 100 Lembaga Penelitian Unsri Proposal . Hasil perhitungan ini akan digunakan dalam proses penggambaran • Penggambaran peta situasi detail dibuat pada kertas kalkir atau kertas lain yang sama kualitasnya. • Gambar dibuat dengan ukuran A1.memanjang dan situasi trace dibuat pada kalkir dengan ukuran 90/95 gram. f) Perhitungan/Penggambaran. • Salah penutup koordinat maksimum 1 : 5. Perhitungan data lapangan merupakan perhitungan sementara untuk mengetahui ketelitian ukuran. Dan diukur dengan tachimetri untuk saluran primer dan sungai alam dengan lebar lebih dari 10 m. tersier atau sungai alam dengan lebar maksimum 10 m. I-4 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Koreksi sudut antara 2 kontrol azimuth maksimum 20”.000 dengan interval 0.000 dan vertical 1 : 100. • Propil melintang diukur dengan alat waterpass untuk saluran sekunder. Perhitungan yang sudah menggunakan hitungan peralatan.0m • Peta situasi detail dibuat dengan skala 1 :5.5m. • Perhitungan definitive.000. Tiap seksi diukur pergi pulang dengan toleransi kesalahan 10 VD mm. • Ketinggian titik detail diukur dengan ketelitian 10 cm.

Pekerjaan ini dimaksud guna memperoleh data lapangan (primer dan sekunder) dari kondisi hidrologi dan hidrometri daerah survey melalui kegiatan-kegiatan : • Pengumpulan data curah hujan (terbaru) minimum selama 10 tahun dari stasiun terdekat. kedalaman muka air tanah dan genangan serta kelas kesesuaian lahan dengan skala 1 : 20. kegaraman dan masalah gambut (ketebalan dan tingkat kematangannya). • Pengumpulan data/informasi banjir (tinggi lamanya. tanah sulfat masam. • Pengukuran tinggi/fluktuasi muka air. kemampuan serta kesesuaian lahan dalam rangka upaya I-6 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu peningkatan usaha pertanian didaerah survey yang terdiri dari kegiatan-kegiatan : • Inventarisasi serta melokalisir masalah tanah yang ada seperti pirit. • Penggambaran peta pengeboran jenis tanah.Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Situasi tapak bangunan air (existing dan rencana) digambar dengan skala 1 : 200. Pekerjaan ini dimaksudkan guna mempelajari potensi. Tiap titik diambil contoh tanah sebanyak 2 lapisan. • Pengolahan dan analisa data lapangan dan laboratorium sebagai masukan dalam perhitungan desain jaringan reklamasi. • Pengambilan contoh tanah untuk dianalisa dilaboratorium dengan kerapatan 50 Ha pertitik.000. • Penggambaran peta tataguna lahan usulan dan peta tataguna . (terbaru) minimum selama 5 tahun dan stasiun terdekat. 4)Survey Tanah Pertanian. • Pengukuran penampang melintang sungai/saluran pada setiap lokasi pengukuran muka air. kecepatan arus. • Pengamatan karakteristik sungai antara lain morpologi. ketebalan gambut. sedimintasi. keasaman. perkiraan genangan dan dampaknya). • Pengumpulan data klimatologi lainnya. kedalaman lapisan pirit. • Pengukuran sifat datar (leveling) untuk mengikat papan duga/peilschaal terhadap BM terdekat. 3)Survey Hidrologi dan hidrometri. keasaman. salinitas (bergerak dan setempat) dan keasaman pada titik-titik pengukuran yang disesuaikan dengan rencana skematisasi dari model matematik. • Pengambilan contoh untuk dianalisa dilaboratorium.

Berdasarkan Layout yang ada konsultaan dapat melanjutkan dengan perhitungan dimensi jaringan reklamasi dengan memperhatikan ada/tidaknya pengaruh pasang surut.Kegiatan System Planning • Elaborasi dan analisa data lapangan • Perumusan rencana pengembangan lokasi. pemecahan permasalahan yang ada baik aspek teknis maupun non teknis. • Pengecekan dengan model matematis terhadap dimensidimensi diatas dengan menggunakan model matematis yang ada.existing skala 1 : 20.000. sekunder dan tersier. berdasarkan water Management Zoning. Perencanaan lay out harus mempertimbangkan pembebasan tanah minimal kebutuhan jalur hijau. Pengecekan ini dapat mengoptimalkan penampang desain aawal dengan syarat-syarat teknis yang ada. Perhitungan dimensi jaringan dalam daerah pasang surut dilakukan sebagai berikut : • Melakukan asumsi-asumsi teknis sehingga dapat menggunakan rumus-rumus untuk perhitungan aliran dengan kondisi unsteady flow. Perhitungan dimensi jaringan reklamasi dalam daerah pasang surut dilakukan dengan melakukan perhitungan aliran tidak tetap (Unsteady flow). konsultan dapat melanjutkan kegiatan dengan perenccanaan yang lebih detail. Selain itu perlu dipertimbangkan fungsi masing-masing saluran tersebut. keseimbangan galian dan timbunan serta metode pelaksanaannya. Desain Rinci Setelah Layout ditetapkan. Jaringan yang perlu dihitung dimensinya terdiri dari saluran primer. Bangunan air direncanakan sesuai dengan fungsi yang diinginkan antara lain : • Sebagai bangunan penahan air banjir aatau air asin dari luar sistem. c. d. modulus drainase. aspek social dan budaya setempat serta berwawasan lingkungan. 2)Perencanaan Bangunan Air. . I-7 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 1)Dimensi Jaringan Reklamasi. • Merencanakan Lay Out jaringan untuk kegiatan pengembangan yang menunjang hasil/rumusan pada butir b dan mengevaluasi jaringan tata air yang ada.

Perhitungan Bangunan Air ini meliputi : • Ukuran bangunan yang diperlukan. • Spesifikasi teknis. Dalam hal dipakai tanah setempat konsultan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : • Penurunan muka tanggul yang akan terjadi. Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Stabilitas. • Pemilihan bahan yang dipakai. Ukuran minimum tanggul harus memenuhi kriteria stabilitas (faktor keamanan > 3) sesuai dengan data tanah yang ada. • Metode pelaksanaan konstruksi pemadatan. 3) Perencanaan Tanggul. tahapan pelaksanaan dan sebagainya. Perencanaan tanggul pada prinsipnya adalah penentuan elevasi dan kekuatan tanggul itu sendiri. Kekuatan tanggul mencakup ukuran tanggul dan bahan tanggul.• Untuk menjaga agar tinggi muka air dalam system sesuai dengan yang direncanakan. 4)Penyiapan Dokumen Lain-lain. Bahan tanggul sedapat mungkin menggunakan tanah yang ada ditempat. hal ini menimbang terbatasnya ketersediaan tanah dengan kualitas baik disekitar lokasi. • Kekuatan. bangunan air dan bangunan pelengkap lainnya) harus dilengkapi dengan pedoman pelaksanaan konstruksi dilapangan. lengkap dengan analisa harga satuan I-9 Lembaga Penelitian Unsri . • Gambar-gambar Gambar-gambar desain berikut peta dasar yang dipakai dalam perencanaan harus dibuat dengan jelas dan rinci sesuai dengan tingkat ketelitian yang diperlukan untuk pelaksanaan. • Perkiraan Volume dan Estimasi Biaya (RAB) Konssultan harus menghitung perkiraan volume dan pekerja secara keseluruhan. Bangunan-bangunan yang sudah didesain (saluran.

dengan melengkapi form . Secara umum metodologi yang digunakan dalam kegiatan ini dibagi dalam beberapa tahapan. dan curah hujan. membuat suatu kerangka berfikir (design concept) yang didalamnya terdapat tahapan analisis dan evaluasi dalam rangka mengkaji permasalahan guna mendapatkan solusi yang dianggap paling akomodatif dan konstruktif yang nantinya dapat dipakai dalam penyusunan suatu konsep zonasi dalam pengelolaan air kawasan lahan dan rawa. meliputi pengenalan masalah (problem identification). yaitu : • Tahap Persiapan • Tahap Survey Lapangan • Tahap Analisis Data • Tahap Perencanaan Detail Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini. dibuat peta awal kondisi lokasi yang menunjukkan ciri-ciri utama topografi. . Kegiatan ini mulai dilakukan setelah diterimanya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dari Pemberi Tugas. cuaca.Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu pekerjaan. dan tataguna lahan. metode pelaksanaan pekerjaan. analisa teknik. daftar harga upah dan bahan dilokasi pekerjaan. Komponen kegiatan pada tahap ini dan metoda yang dilakukan secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut : 1. antara lain  Peta topografi. tanah. BAB 2 METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN Dalam mencapai tujuan dan sasaran kegiatan diperlukan suatu metodologi pendekatan. 2.  Data iklim. Disamping membuat Peta Kerja.Pembuatan Peta Kerja dan Rencana Kerja Berdasarkan data-data yang diperoleh. dalam tahap mi juga ditentukan macam data yang akan dikumpulkan pada saat survey. literatur maupun eta-peta yang berkaitan dengan lokasi pekeijaan dan hash studi terdahulu.  Prediksi air pasang.Pengumpulan dan Analisis Data Sekunder I-10 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Data sekunder yang dikumpulkan mencakup berbagai data. Peta ini selanjutnya digunakan sebagai Peta Kerja dengan menunjukkan rencana garis-garis dan titik (ploting) pengamatan. hidrologi. 2. KEGIATAN PERSIAPAN Kegiatan persiapan adalah awal dari seluruh tahapan pelaksanaan pekerjaan.1.

rencana mobilisasi personil/peralatan dan jadwal kerja. pejabat setempat. serta jadwal penugasan personil dan peralatan. 3. metodologi. petugas lapangan. tanah.survey untuk setiap kegiatan survey yang dilakukan (topografi. Konsultan juga melakukan pengurusan administrasi yang menyangkut perijinan survey di lokasi yang ditentukan.Mobilisasi Tim Personil dan Peralatan Survey Mobilisasi tim personil dan peralatan akan dilakukan segera setelah program kerja disetujul oleh Pemberi Tugas dan perijinan administratif survey diselesaikan. Konsultan melakukan persiapan tim personil pelaksana dan peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan survey. rencana kerja tersebut akan dikonsultasikan/didiskusikan dahulu dengan Pemberi Tugas. peta rencana kerja. Mobilisasi tim/peralatan untuk masing-masing kegiatan survey akan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan . selanjutnya Konsultan membuat rencana kerja. Dalam kaitan dengan hal ini. balk untuk kegiatan survey lapangan maupun kegiatan studio/kantor. maupun tokoh masyarakat. 5. Sebelum survey lapangan dimulai.Pembuatan Laporan Persiapan dan Diskusi Laporan Persiapan adalah laporan awal yang memuat program kerja.Persiapan Tim Personil dan Peralatan Survey Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Disamping membuat rencana keja. dan kurva S. Rencana kerja ini mencakup jadwal pelaksanaan masing-masing komponen kegiatan. Dengan mempertimbangkan volume pekerjaan. batas waktu penyelesaian. dan ketersediaan personil/peralatan. Laporan Persiapan tersebut kemudian didiskusikan dengan pihak Proyek dan instansi terkait untuk memperoleh masukan guna penyempurnaan laporan dan rencana kerja telah yang telah disusun. Hal ml kemudiandituangkan dalam Laporan Persiapan. formulir yang digunakan untuk survey. hidrologi/hidrometri). Sedangkan untuk survey sosio-agro-ekonomi dipersiapkan daftar pertanyaan (kuestionair) atau check-list yang digunakan untuk pedoman wawancara dengan petani. 4. Persiapan tersebut meliputi kegiatan pengecekan tim/peralatan sesual dengan kuantitas serta kualifikasi yang diperlukan. rencana mobilisasi tim personil/peralatan.

Bentuk. Benchmark lama dapat digunakan jika masih memenuhi syarat (kedudukan sesuai. termasuk penetapan lokasi BM dan CP. dan nomenkatur BM yang dipasang harus sesual standar yang ditentukan.2 SURVEY LAPANGAN 2. 2.000. cukup kokoh dan mudah ditemukan.2. tidak rusak). alinemen tanggul. dll). batas areal pengukuran. Lokasi pemasangan BM ini perlu mendapat persetujuan Supervisi/Direksi yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Lapangan.000 dan 1 5. Pengukuran topografi (situasi detail) dilakukan dengan tahapan kegiatan dan metoda sebagai berikut: 1. lokasi bangunan. Kegiatan ini dilakukan secara bersama/koordinasi dengan Supervisi/Direksi Lapangan untuk menentukan titik awal pengukuran.jadwal/program kegiatan yang telah disetujui. dimensi.1 Pengukuran Topografi Pengukuran topografi (situasi detail) dimaksudkan untuk mendapatkan data lapangan yang sebenarnya (eksisting) yang kemudian disajikan dalam bentuk peta topografi (peta situasi) dengan skala 1 : 20. 2. rekruitmen tenaga lokal dan sarana transportasi pangan. Selama kegiatan ini juga dilakukan penyiapan lokasi basecamp. Orientasi Lapangan I-12 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Orientasi lapangan dimaksudkan untuk memperoleh gambaran awal mengenal lokasi yang akan diukur. dapat diidentifikasi. serta harus mempertimbangkan kepentingan pemetaan kerangka dasar dan penggunaannya di masa mendatang (pematokan jalur saluran. . warna. Pemasangan Benchmark Benchmark (BM) dipasang untuk menandai titik kontrol dan referensi pengukuran. Pemasangan BM dipiHh pada lokasi yang aman. dan metodologi yang akan dilakukan.

sketsa situasi. dan koordinat. 4.Penetapan Tinggi Referensi Proyek Penetapan tinggi referensi proyek ditujukan untuk memperoleh satu referensi ketinggian yang sama/seragam pada semua titik pengukuran di lokasi pekerjaan. 3.2. Sketsa Bench Mark dan Control Point Ukuran BM yang digunakan adalah dengan dimensi 30 x 30 cm dan tinggi 60 cm. Setiap BM dibuat foto. nomor identifikasi.Gambar 3. Untuk kondisi lapangan.Pengukuran Kerangka Dasar Pemetaan Pengukuran kerangka dasar dimaksudkan untuk membuat suatu sistem referensi topografi yang benar dimana hasil-hasil survey . maka panjang BM yang tertanam ke dalam tanah adaah ± 30 s/d 40 cm.

setiap seksi ± 1 . 100 m. Pengukuran situasi derail/rincikan dilakuIan dengan metode Trigonometri/Tachimetri dimana ujung dan pangkal jalur I-15 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu pengukuran terikat/terkontrol terhadap . c. d.lainnya dapat dihubungkan dengan sistem referensi ini. e. Pengukuran sipat datar dilakukan memakai alat ukur waterpas Ni2 atau sederajat. Ketelitian sipat datar 10 ID mm dimana D =jarak dalam km. Jarak pengukuran dibagi dengan seksi-seksi. Adapun spesifikasi dalam pengukuran kerangka dasar pemetaan adalah sebagai berikut: a. Penentuan arah/azimuth Arah/azimuth ditemukan dengan pengamatan astronomi atau menentukan azimuth metode gyro dengan memakai alat Theodolith T2 dan Gyro Compass. ketelitian relatif sama sesuai persyaratan ketelitian yaitu 15” salah penutup sudut antar dua kontrol Azimuth. Pengamatan astronomi dilakukan pagi dan sore hari pada satu stasiun pengamatan.Pengukuran jarak polygon diukur memakai alat ukur elektronik EDM minimum dua kali (kemuka dan kebelakang) dengan ketelitian 1: 7.Pengukuran sudut polygon Setiap sudut diukur dua kali (double seri) memakai alat ukur Thedoilt T2 atau sederajat dengan ketelitian 8” setiap sudut polygon dan maksimum 20” salah penutup sudut antar dua korttrol Azimuth. dan kemudian diikatkan pada titik referensi terdekat atau yang ditentukan oleh Direksi. Jarak setiap patok sipat datar max.500 setelah perataan beberapa set pembacaan setiap sisi tersebut. b. Pengukuran I-14 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu kerangka dasar pemetaan dilakukan dengan cara pengukuran polygon sebagai kerangka horisontal dan pengukuran waterpass sebagai kerangka vertikal.2 km. Pengukuran ini harus terikat dengan benchmark yang telah dipasang terlebih dahulu serta dibagi dalam beberapa loop/kring sesuai dengan kebutuhan.

Pengukuran situasi diukur ke seluruh areal rencana pengukuran secara merata. Titik-titik rincikan/detail-detail diukur dengan kerapatan titik yang disesualkan dengan skala peta yang digunakan dan tersebar dengan kerapatan titik maksimum 1 cm pada peta. toleransi kesalahan maksimum adalah setengah interv’al aris kontur.Pengukuran Trace. 6. gundukan tanah/bukit-bukit tebing serta batas-batas tanah tinggi dan kalau perlu genangan) dan bangunan-bangunan buatan (saluran tanggul) kolam bangunan-bangunan air. digambar dengan toleransi kesalahan planimeter 0. f. lembah. dengan sistem rincikan/raai yang terikat pada kerangka dasar pemetaan. dan mencakup batas tataguna lahan dan ciri-ciri yang sudah ada seperti saluran.kerangka dasar pengukuran/pemetaan. anak sungai alam. batas-batas tataguna tanah. − Salah penutup koordinat maksimum 1 : 5000 − Jarak pengukuran waterpass dibagi dalam seksi-seksi dengan panjang maksimum 2 km. Ketelitian dan spesifikasi yang digunakan dalam pengukuran situasi detail adalah sebagai berikut: − Ketelitian horisontal : minimal 90% dan semua titik yang mudah dikenal di lapangan. dengan kerapatan sesuai dengan skala peta. dimana D = panjang sirkuit dalam Km. perubahan permukaan tanah serta vegetasi yang ada di dalam areal pengukuran. − Koreksi sudut antara 2 kontrol azimuth maksimum 20”. Dan titik tersebut diukur detail-detail lapangan dengan rincikan. − Ketelitian vertikal : minimal 90°k dan semua titik tinggi garis kontur pada peta yang mudah dikenal di lapangan. permukiman dan bangunan.Pengukuran Situasi Detail Pengukuran situasi detail dilakukan setelah kerangka dasar pemetaan dibuat. − Ketinggian titik detail diukur dengan ketelitian 10 cm. − Jumlah titik polygon antara dua kontrol azimuth maksimum 50 buah. Profil Memanjang dan Profil . Elevasi titik detail diukur dengan toleransi 10 cm. kuburan dan lain-lain). Situasi Trace. I-16 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu − Kontrol azimuth ditentukan dengan pengamatan astronomi dengan ketelitian 20”. Detail yang diambil di lapangan adalah bangunanbangunan alam (sungai. Setiap seksi diukur pergi-pulang dengan toleransi kesalahan 10√D mm.8 mm pada skala peta. Peralatan yang digunakan Thedolit TD dengan ketelitian detail pengukuran 10 cm 5.

000 /1: 5. dengan interval jarak atau sisi polygon max. saluran buatan seperti saluran primer. dimana jarak diukur 2 kali (kemuka dn kebelakang) dengan ketelitian ukuran jarak 1:7500 yang diukur dengan pita ukur (kapasitas 100 m) − Pengukuran sipat datar yang berfungsi sebagal dasar penampang memanjang trace. Detail yang diambil sama dengan detail-detail yang tercantum dalam detail pengukuran situasi detail yang ada disepanjang trace. Diukur dengan metode Trigonometri/ Tachimetri memakai peralatan Theodolit TO dengan ketelitian 10 cm. tanggultanggul dan jalan jalan internal sesuai dengan lay out yang ditandatangani untuk archtrase yang dikontrol dengan pengukuran traverse. dengan tujuan untuk memperoleh arah dan dimensi yang akurat. − Alinemen dan strip (situasi strip) sepanjang garis trase skala 1:2. − Survey trase akan diambil pada sungai-sungai alam.000/1:5. Semua titik polygon diukur ketinggiannya. − Diukur dengan metode Tachimetri/Trigonometri memakai alat ukur Thedolit TO dengan ketelitian pengukuran 10 cm dengan interval jarak 100 m (untuk saluran primer) tepat pada titik trace atau penampang . jalan petani dan saluran-saluran yang direncanakan.50 meter untuk saluran tikungan atau penampang sungai seperti diperlukan. − Pengukuran penampang melintang tarce. − Suvey trase termasuk pengukuran penampang memanjang dan melintang pada interval 100 meter untuk saluran yang lurus atau penampang sungai.Melintang. sungai dan ujung-ujung as pengukuran.000 − Potongan Memanjang Skala horisontal 1: 2. y) kerangka pemetaan dengan ketelitian siap sudut 0. dan terval 25 . − Situasi detail sepanjang jalur trase harus diukur didalam koridor 100 meter lebar (50 meter kekanan dan 50 meter kekiri) dan saluran. 100 m pada trace lurus 50 s/d 25 meter pada tikungan.000 Skala vertikal 1: 100 − Potongan Mehntang Skala horisontal/vertikal 1:100 − Uitzet trase yang dikontrol dengan ukuran polygon terikat terhadap titik kontrol (x. Terikat terhadap (z) kerangka pemetaan dengan ketelitian 15√D mm dimana D = jarak dalam km.5’ (menit) setelah dirata-ratakan dan ketelitian antara dua titik kontrol kerangka pemetaan 10 N” (second) dimana N = jumlah titik polygon diukur dengan alat ukur Thedolit TO. sekunder dan tersier. tanggul-tanggul yang I-17 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu ada.

curah hujan bulanan. lama. dan penyinaran/radiasi matahari. kali tanggul/jalan pinggir atas tanggul/jalan sampai tanah asli − Pengukuran situasi tapak bangunan diukur dengan metade Trigonometri/ Tachimetri dengan dasar pengikatan kerangka pemertaan. − Pengumpulan informasi mengenai banjir yang menyangkut periode. − Pengumpulan/inventarisasi data iklim juga diambil dan stasiun pengamat terdekat di lokasi studi. Data curah hujan yang dikumpulkan adalah curah hujan harian.2. − Lokasi dan perluasan bangunan hidrolik baik yang ada maupun yang direncanakan. pinggir atas saluran. harus diukur dan diperlihatkan dalam skala 1 : 200. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai berikut: 1. luas. dan dampaknya.2 Survey Hidrologi / Hidrometri Kegiatan survey hidrologi dan hidrometri dimaksudkan untuk memperoleh gambaran kondisi hidrologi dan hidrometri di lokasi survey dan juga di daerah sekitarnya. lama. Data-data iklim yang perlu dikumpulkan meliputi temperatur udara harian. Luas lokasi disesuaikan dengan I-18 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu bangunan dan rencana tapak bangunan sekitar 25 m x 25 x m s/d 100 x 150 meter atau ditentukan oleh pemberi pekerjaan. 2. kelembaban udara harian. perbedaan bentuk saluran. dimana detaildetailnya diambil dengan teliti kalau perlu pengukuran jarak memakai metband dan ketinggian yang penting memakai waterpas dengan ketinggian dalam 1 cm. jumlah hari hujan. dan dampaknya (bagi pertanian dan penduduk). perubahan warna pada tumbuhan).Pengumpulan data sekunder yang meliputi: − Pengumpulan/inventarisasi data curah hujan selama 10 tahun terakhir dan stasiun pengamat di wilayah lokasi studi. Data ini diperoleh dari informasi penduduk setempat serta pengamatan tanda bekas banjir di sekitar sungai (mis. tinggi. menyangkut periode. − Pengumpulan informasi mengenai pengaruh kekeringan dan intrusi asin di musim kemarau. Detaildetail yang diambA as trace. − Perhitungan sementara dan penggambaran sementara (draft) di lapangan semua pengukuran yang memenuhi syarat akan dihitung sementara untuk mengetahui syarat ketelitian dan dilangsungkan pada draft penggambaran yang dilakukan pada kertas milimeter Rencana kegiatan pengukuran topografi ditunjukkan pada Gambar 3. Detail-detail yang diambil adalah setiap perobahan permukaan tanah dengan kerangka titik ± 2 s/d 5 meter. Data ini dapat diperoleh dari informasi penduduk . titik dasar saluran.memanjang serta posisinya tegak lurus terhadap jalur trace. kecepatan angin. perkiraan luas genangan.3.

− Pengamatan muka air di petak tersier − Pengukuran kualitas air (pH dan salinitas) pada waktu air tinggi dan air rendah. − Pengambilan contoh air untuk dianalisis di laboratorium sebanyak 2 sample. Kualitas Air •Tinggi air di luar zona intrusi kadar garam ditentukan dengan analisis laboratorium contoh air.setempat. Muka tanah setempat b. lokasi.Peta dasar : geologi. topografi. Patok. . yang diunjukkan oleh penduduk setempat atau yang diamati dan warna/tandah bekas banjir pada tumbuhan. 2.Diikatkan (levelllng) ke BM. warna. c. Penggenangan (Flooding) • Tinggi banjir maksimum diukur pada beberapa tempat sepanjang saluran. Untuk pelaksanaan pengukuran/pengamatan hidrometri diperlukan beberapa informasi antara lain : 1. DAS 2. •Contoh air diambil pada saat debit air rendah pada semua sungai dan anak sungai yang melintasi daerah proyek. Tanggal. pengamatan tanda-tanda banjir maksimum. Adapun pengamatan ini dilakukan di 2 lokasi. Mudah dicapai dan mudah dalam pelaksanaan pengukuran : misal keadaan banjir/flood 3. harus diukur dalam-hubungannya terhadap pengamatan muka air selama survey. meteorologi hujan Penempatan alat Hidrometri : 1.Kondisi iklim dan klimatoogi. foto udara atau citra radar. dan wawancara dengan masyarakat setempat.Pengumpulan/inventarisasi data primer yang meliputi : I-19 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu − Pengamatan tinggi muka air secara simultan selama 15 hari di muara sungai. •Durasi banjir maksimum dan tenggang pasang selama debit aliran tinggi dan rendah diperoleh dan wawancara dengan masyarakat setempat. waktu. I-20 Luasan genangan banjir dapat ditentukan dan peta. PH dan temperatur air harus dicatat pada saat pengambilan. − Pengamatan tinggi muka air simultan selama 30 jam di 2 lokasi terpilih.Ditempat yang lurus : terhindar dari penyadapan dan penggerusan 2. Pengamatan ini dilakukan secara insitu.

paling sedilsit 10 titik “sounding” harus diambil pada interval yang sama. Jarak horisontal/lebar setiap I-21 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu penampang dapat ditentukan dengan alat “range finder” atau tali/kawat yang dibentang di atas sungai. kegaraman. Untuk sungai kecil atau anak sungai (sungai alam) yang di dalam daerah proyek. 2. mulai dan muara sungai sampal batas paling hulu dari daerah survey. keasaman. serta terdiri dan beberapa komponen kegiatan dan metoda sebagai berikut: 1. yang memungkinkan pemodelan hidrodinamik aliran dapat dilakukan dengan hasil yang akurat. •Pada setiap penampang.2. guna menunjang keperluan klasifikasi tanah dan analisis kesuburan tanah. Kedalaman air ditentukan dengan “echo-sounder”. tanah sulfat masam.4 Survey Tanah Pertanian Kegiatan surley tanah pertanian dimaksudkan untuk mempelajari potensi. Adapun ketentuan dan spesifikasi dalam kegiatan survey tanah .Inventarisasi serta melokalisir masalah tanah yang ada seperti pirit.•Pada stasiun pengamatan muka air paling hulu dan setiap sungai utama. Khusus pada pertemuan sungai besar dengan saluran primer atau sekunder. •Pada setiap penampang. potongan melintang diambil pada lokasi pertemuan saluran atau jalan/tanggul. Inventarisasi sifat dan jenis tanah serta penyebarannya dengan melakukan pengamatan tanah melalul pemboran di seluruh areal. kemampuan dan kesesuaian lahan dalam rangka pengembangan pertanian di lokasi survey. tanggal dan waktu pengukuran harus dicatat demikian juga dengan tinggi pasang 2. d. 3.Pengukuran Potongan Melintang sungai •Potongan melintang sungai yang berpengaruh terhadap tata air atau yang melintasi atau mengelilingi daerah proyek harus diukur dengan interval yang sama (setiap 2 sampai 5 km) atau dengan interval yang lebih rapat pada bagian sungai yang tidak lurus atau pada setiap ada perubahan. potongan melintang sungai diambil dekat dengan pertemuan dengan jarak paling tidak 100 m sebelum dan sesudah titik pertemuan. Pengambilan contoh tanah untuk dianalisis di laboratorium. PH air sungai harus diukur selama pasang surut penuh (30 jam) secara simultan dengan pengamatan elevasi muka air. dan masalah gambut (ketebalan dan tingkat kematangannya).

pemboran akan dilakukan sampai kedalaman batas lapisan tanah mineral atau sampai kedalaman ±2 m (untuk tanah gambut tebal). maka intensitas pengamatan/pemboran akan ditambah. dengan intensitas pengamatan minimal ± 50 Ha/titik. sulfat masam dangkal. pasir kuarsa). tekstur. Kegiatan ini meliputi :  Analisa Survey Topografi  Analisa Hidrologi dan Hidrometri  Analisa Tanah Pertanian  Analisa Zona Pengelolaan Air BAB III ORGANISASI PELAKSANAAN Untuk mencapai hasil pekerjaan yang efektif dalam waktu yang ditentukan. 2.pertanian adalah sebagai berikut:  Pengamatan pemboran tanah dilakukan dengan mengikuti atau terikat dengan jalur rintisan topografi. pengamatan. baik antara tim pelaksana secara internal maupun antara . muka air tanah dan genangan. ketebalan bahan organik/gambut dan I-22 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu dekomposisinya. kemasaman (pH).3. maka diperlukan hubungan kerjasama yang baik dan koordinatif.  Pengamatan pemboran dilakukan sampai kedalaman ±120 cm untuk tanah mineral atau sampai bahan induk (jika lapisan tanah terlalu dangkal). Disamping itu perlu dicatat eadaan tataguna lahan dan vegetasi sekitar lokasi pemboran. Dalam hal ditemui kendala tanah yang serius (gambut tebal.’ kedalaman batas lapisan pirit/sulfat masam (metoda oksidasi cepat H202). Untuk tanah organik/gambut. karatan. seluruh sifat-sifat tanah dideskripsi meliputi warna.  Pada setiap pemboran. Analisa Data dan Konsep Zona Pengelolaan Air Kegiatan pengolahan dan anuisis data dilakukan setelah kegiatan lapangan selesai dilaksanakan. kematangan (rippening).

TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB TENAGA AHLi Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Pekerjaan dilakukan dengan melibatkan beberapa personil/ tim pelaksana dari berbagai “ bidang keahlian. serta secara periodik melaporkan perkembangan pekerjaan kepada Pemberi Pekerjaan.Sarjana S1 Ilmu Tanah. rencana kerja serta metodologi yang akan diterapkan. Berkaitan dengan hal tersebut. Hubungan penugasan/tanggung jawab dari masing-masing personil maupun hubungan koordinatif dengan Pemberi Tugas dituaangkan dalam struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan yang tepat. maka perlu disusun personil pelaksana yang akan dilibatkan disertai lingkup penugasan dan tanggung jawab masing-masing secara jelas.Bertanggung jawab terhadap pemberi Pekerjaan yang berkaitan terhadap kegiatan tim pelaksanaan pekerjaan dan pelaksanaan pekerjaan yang berlangsung saat ml. S2 Hidrologi dan memiliki pengalaman dalam perencanaan jaringan tata air daerah rawa . 3. fasilitas-fasilitas pelaksanaan pekerjaan. sehingga dapat menunjang kelancaran pekerjaan. termasuk persiapan kantor.Bertanggung jawab secara keseluruhan terhadap pelaksanaan pekerjaan dari sejak persiapan sampai saat akhir pekerjaan. sehingga semua berjalan sesual dengan permintaan TOR sebagal . . Susunan personil/tim pelaksana dan lingkup penugasan/tanggung jawabnya diuraikan sebagai berikut : 1. khususnya berkaitan dengan pengelolaan air daerah rawa.tim pelaksana dengan pihak Pemberi tugas. . Organisasi pelaksanaan pekerjaan tersebut diharapkan juga dapat mewujudkan hasil pekerjaan yang optimal.Bertanggung jawab terhadap persiapan pelaksanaan pekerjaan.Bertanggung jawab atas koordinasi dan Pengawasan terhadap tim yang lain dalam pelaksanaan pekerjaan. baik pekerjaan lapangan survey lapangan pengukuran dan inventarisasi lahan) sampai pekerjaan kantor (detail desain dan pelaporan). Ketua Tim / Team Leader . .1.

-Melakukan monitoring terhadap kemajuan pekerjaan yang dilaksanakan sehingga sesuai shedul yang telah direncanakan. -Menyiapkan peta daerah dan skema jaringannya beserta petak-petak tersier.acuan pekeijaan. AHLI DESAIN -Sarjana S1 Teknik Sivil. -Menyiapkan Spesifikasi Teknis. -Mendesain bangunan-bangunan yang sudah dihitung angka hidrolis dan stabllitasnya. -Bertanggung jawab terhadap pembuatan Lay-Out sementara sampal lay-out definitif disetujui direksi pekerjaan. 2. .Mengkaji ulang serta pengecekan keseluruhan hash pekerjaan yang telah dilaksanakan. I-24 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Berperan sebagal koordinasi setiap kegiatan diskusi dengan pemberi Pekerjaan dan alokasi penugasan personil yang telibat dalam pelaksanaan proyek. . Rencana Anggaran Biaya— dan Rencana Paket antara laporan-laporan lain. S2 Pengairan. -Melakukan inventarisasi lahan serta jaringan irigasi yang ada. kondisi dan sistem pengaliran yang telah ada serta rencana trase saluran yang akan direncanakan. Bersama Team Leader melakukan survey pendahuluan untuk identifikasi lokasi di daerah rawa. serta data-data pendukung yang dibutuhkan dalam tahap desain.Mengkoordinasi secara keseluruhan akan laporán yang harus dhserahkan pada Pihak Pemberi Pekerjaan. I-25 Lembaga Penelitian Unsri Proposal . -Menyiapkan perhitungan hidrolis dan stabilitas bangunanbangunan dan gambar-gambar yang diperlukan.

-Melakukan koordinasi di dalam pelaksanaan pengukuran baik ketelitian situasi maupun trase saluran. diskripsi BM dan lain-lain. AHLI STRUKTUR BANGUNAN AIR/HIDROLIKA .Melaksanakan Perhitungan dan Perencanaan Struktur Bangunan Hidraulik (pintu. -Melakukan pengumpulan data kilmatologi dan data debit sungai. 4. . 5.Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 3. Dermaga dan Sarana Bangunan Pelengkap lainnya. . -Penyusunan laporan yang berhubungan dengan pekerjaan pengukuran baik laporan pengukuran. Struktur Jembatan. AHLI GEODESI ATAU PEMETAAN -Menguasi ilmu pemetaan. analisa data Curah Hujan. -Melakukan analisa hidrologi berupa. Debit Banjir. -Menyusun laporan lapangan hasil identifikasi dan laporan pendukung hidrologi. Melakukan survey lokasi sehubungan dengan rencana jalur pengukuran yang akan dilaksanakan Menyiapkan titik-titik referensi pengukuran. -Mengkoordinir tim survey untuk melakukan pengukuran debit sumber air baku sesaat. analisis GIS. 6. -Membantu menyusun Nota Desain. AHLI TANAH PERTANIAN -Mengkoordinir peaksanaan survai tanah di lapangan. buku ukur. AHLI HIDROLOGI -Melakukan survel dan identifikasi kondisi jaringan irigasi yang ada.Membantu Team Leader dalam menyusun laporan pekerjaan. Stabilitas Lereng Saluran. -Memberikan Petunjuk dalam Penyusunan Spesifikasi Teknik dan Metoda Pelaksanaan konstruksi.Melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap perhitungan dan ketelitian di dalam perhitungan data pengukuran. fondasi dli) Tanggul Banjir. dan rekomendasi untuk parameter desain dan perhitungan kebutuhan air dan ketersediaan air baku. . -Menyiapkan hasil inventarisasi saluran dan bangunan. -Menyiapkan gambar-gambar hash pengukuran dan laporan akhir dan hasil pengukuran.

Melakukan pengamatan perkembangan tanah di lokasi proyek.Ahli Simulasi dan Pemodelan komputer : Dr.Melakukan pengamatan profil tanah dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisa di laboratorium.Mengidentifikasi hambatan-hambatan yang berhubungan dengan pengembangan pertanian khususnya budidaya tebu.Ahli Bangunan Air : Ir. pengolahan data. Juru Gambar.Sc. Ngudiantoro. -Membuat laporan kemajuan kerja. serta tenaga lapangan. Chief Surveyor. I-27 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 8. ketebalan gambut di lokasi proyek.Ahli Tanah Pertanian : Ir.Sc 3. pengelola administrasi dan keuangan.Ahli GIS Pemetaan : Ir. operator komputer. Said. -Mengidentifikasi kedalaman pint. serta pengurusan administrasi dan keuangan dalam pelaksanaan pekerjaan. surveyàr.Si 5. (Ahli Hidrologi dan Rawa) Tenaga Ahli : 1. M. Momon Sodik Imanudin. Muh Bambang P. Dr. .com/doc/39024353/Proposal-Rawa-1000ha . H.Suveyor tofografi : Ir.Si 2. Rencangan Personil Penanggung Jawab kegiatan: Prof. Sitompul http://www. M. M. Dery Darmawan 4. Tenaga Pendukung Tenaga pendukung dalam pekerjaan ini adalah tenaga sub profesional yang meliputi : Asisten Tenaga Ahli.-Melakukan survai tanah di lokasi daerah rawa . pembuatan laporan dan peta-peta. M. -Membuat kerangka kerja pelaksanaan survai tanah yang pasti dan efisien di lapangan.M.scribd. 3.Sc. M. Ketua Tim: Ir. Ir. -Memberikan saran-saran yang berguna untuk peningkatan berdasarkan kriteria dan petunjuk.2. laporan bulanan dan membantu Team Leader dalam membuat laporan akhir. . Feriadi. Tenaga Pendukung ini diperlukan sebanya 7 orang. Keseluruhan tenaga pendukung mi bertugas membantu Ketua Tim dan Tim Ahil lainnya dalam kegiatan survey lapangan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->