Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan lahan untuk mendukung program perluasan areal perkebunan dan pengembangan tanaman tebu memerlukan data dan informasi sumberdaya lahan yang handal. Ketidak lengkapan data dan informasi sumberdaya lahan tersebut dapat berakibat pada pemanfaatan lahan yang tidak optimal, dan bahkan dapatmenimbulkandampak kerusakanlahan atau kegagalan usaha bisnis dibidang perkebunan. Karakteristiklahan dalam perkebunan tebu mempunyai nilai penting bagi keberadaan suatu perkebunan tebu, karena merupakan salah satu sumber daya alam yang mendukung proses budidaya dan produksi kebun. Seperti diketahui bersama, tebu merupakan tanaman yang sangat membutuhkan air dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Tanpa ketersedian air yang cukup sepanjang tahun, maka dapat dipastikan pertumbuhan dan produksi akan menjadi rendah, karena tanaman tebu memerlukan kestabilan ketersedian air pada periode pembuahannya. Disisi lain tanaman tebu di awal pertumbuhan kurang tahan terhadap genangan, sehingga kalau budidaya akan dilakukan di daerah rawa diperlukan perencanaan drainase yang tepat untuk mengendalikan muka air tanah sampai batas yangg diinginkan perakaran tanaman tebu. Kedalaman muka air tanah yang diinginkankan tanaman tebu adalah berkisar antara 50-60 cm. Untuk itu bila akan membukan lahan di daerah rawa, maka terlebih dahulu harus dibuat sistem drainase yang tepat. Drainase yang baik adalah selain dapat membuang air bila terjadi kelebihan (banjir), juga dapat mengendalikan muka air tanah agar tidak terlalu turun jauh di musim kemarau. Lahan rawa yang memiliki lapisan sulfat masam kurang dari 1 m, maka air harus dikendalikan agar jangan sampai terlalu jauh turun dibawah lapisan sulfat masam. Untuk itu diperlukan zona pengelolaan air, dari tingkat mikro sampai makro. Zona mikro di level tersier harus dilengkapi dengan bangunan air agar bisa mengendalikan air sesuai dengan yang diinginkan tanaman. I-1 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Unruk zona makro, bisanya salurantidak hanya digunakan sebagai suplai air dan pembuangan tetapi juga digunakan sebagai navigasi (transportasi), Oleh karena itu pengeruh pasang surut air harus diketahui sehingga dapat disusun jadwal operasi transportasi kombinasi dengan kebutuhan suplai atau drainase. Dari potensi dan kendala diatas maka dirasa pelu untuk melakukan suatu studi secara terpadu yang melihat aspek fisik lahan, iklim, dan hidrologi. Data tersebut sangat penting dalam perhitungan dan perencanaan sistem jaringan

tata air yang tepat untuk budidaya tanaman tebu. B. Maksud dan Tujuan Maksud pekerjaan ini untuk melakukan studi karakteristik tanah, iklim, hidrologi, pemetaan tofografi dan sistem pengaliran pada lahan seluas 1000 ha yang memungkinkan dikembangan sebagai daerah rawa yang potensial untuk tanaman tebu dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. Tujuannya dihasilkanperencanaan teknis sistem tata air meliputi saluran dan keseluruhan bangunan air yang dibutuhkan untuk budidaya tanaman kelapa tebu. C.Lingkup dan Rincian Kegiatan Untuk mencapai maksud dan tujuan pekerjaan ini, maka dilakukan tahapan sebagai berikut : a. Kegiatan Persiapan 1)Pengumpulan data sekunder meliputi : • Data Klimatologi,Hidrologi dan hidrometri. • Data hasil studi terdahulu (bila ada). • Peta-peta yang terkait dengan pekerjaan ini. 2) Persiapan Survey • Program kerja (jadwal kerja dan personil).

Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Pembuatan peta kerja untuk survey lapangan • Pemeriksaan alat-alat survey • Menyiapkan perlengkapan survey. • Dan lain-lain. b.Kegiatan Survey Lapangan 1)Survai pendataan awal untuk skala tinjau pada areal seluas 1000 ha melihat informasi awal mengenai kegiatan pertanian, kondisi jaringan dan potensi pengembangan pertanian. 2)Pengukuran topografi (situasi semi detail) untuk areal studi seluas 1.000 ha. Pengukuran situasi detail bertujuan untuk mendapatkan data lapangan yang sebenarnya (Existing) yang akan disajikan dalam bentuk peta topografi (peta situasi) skala 1 : 5.000. Pengukuran situasi detail dilakukan dengan tahapan berikut : a)Inventarisasi/pemasangan Bench Mark (BM).

kemudian diukur profil memanjang dan profil melintang dengan interval jarak 100 m untuk sungai/saluran yang lurus dan 25 -50 m untuk sungai/saluran berbelok dengan kerapatan titik pada profil melintang sesuai kebutuhan. • Situasi trace dan profil melintang. • Pengukuran situasi detail dilakukan dengan cara rincikan dan harus terikat pada kerangka dasar pemetaan.Kondisi. • Kontrol Azimuth ditentukan dengan pengamatan astronom dengan ketelitian 20”. saluran buatan. diukur dengan lebar 50 m kekiri dan 50 m kekanan dari tepi sungai/saluran atau sesuai kebutuhan e) Ketelitian. c)Pengukuran Situasi Detail.8 mm pada skala peta. saluran alam dan bangunan buatan. Minimal 90% dari semua titik tinggi garis kontur pada peta yang mudah dikenal dilapangan. Pengukuran kerangka dasar pemetaan dilakukan dengan pengukuran polygon sebagai kerangka horizontal dan pengukuran waterpass sebagai kerangka vertical. Toleransi kesalahannya adalah maksimum setengah interval garis kontur. . • Setelah diukur trace dan situasi trace. tanggul/jalan yang direncanakan (Layout yang telah disetujui). Pengukuran kerangka dasar pemetaaan ini harus terikat dengan benchmark-benchmark yang dipasang terlebih dahulu dan dibagi dalam beberapa loop sesuai dengan kebutuhan serta dikaitkan pada titik referensi terdekat atau yang ditentukan oleh Direksi. • Ketelitian Vertikal. Situasi Trace. I-3 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Ketinggian titik detail diukur dengan toleransi 10 cm dengan kerapatan sesuai dengan skala peta yang direncanakan. Propil Memanjang dan Propil Melintang. • Ketelitian Horizontal Minimal 90% titik yang mudah dikenal dilapangan. b)Pengukuran Kerangka Dasar Pemetaan. digambar dengan toleransi kesalahan planimetris 0. ukuran dan penyebarannya harus sesuai dengan daerah pekerjaan. d)Pengukuran Trace. • Pengukuran tersebut dilakukan pada saluran-saluran alam (sungai). • Pengukuran situasi diukur merata keseluruh daerah rencana pengukuran mencakup batas penggunaan lahan.

I-4 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Koreksi sudut antara 2 kontrol azimuth maksimum 20”.0m • Peta situasi detail dibuat dengan skala 1 :5.• Jumlah titik polygon antara dua kontrol Azimuth maksimum 50 buah. tersier atau sungai alam dengan lebar maksimum 10 m. • SITUASI Trace dan profil memanjang digambar dengan skala horizontal 1 :5.memanjang dan situasi trace dibuat pada kalkir dengan ukuran 90/95 gram. • Peta Ikhtisar digambar dengan skala 1 :20. • Profil melintang digambar dengan skala horizontal 1 : 100 dan vertical 1 : 100 Lembaga Penelitian Unsri Proposal . • Propil melintang diukur dengan alat waterpass untuk saluran sekunder. Tiap seksi diukur pergi pulang dengan toleransi kesalahan 10 VD mm. Perhitungan data lapangan merupakan perhitungan sementara untuk mengetahui ketelitian ukuran. • Gambar dibuat dengan ukuran A1.000 dan interval kontur 1. • Salah penutup koordinat maksimum 1 : 5. • Perhitungan definitive. Dan diukur dengan tachimetri untuk saluran primer dan sungai alam dengan lebar lebih dari 10 m.000. • Penggambaran propel melintang. • Jarak pengukuran waterpass dibagi dalam seksi dengan panjang maksimum 2 Km.000 dengan interval 0. Hasil perhitungan ini akan digunakan dalam proses penggambaran • Penggambaran peta situasi detail dibuat pada kertas kalkir atau kertas lain yang sama kualitasnya.5m. f) Perhitungan/Penggambaran.000 dan vertical 1 : 100. • Ketinggian titik detail diukur dengan ketelitian 10 cm. Perhitungan yang sudah menggunakan hitungan peralatan.

Tiap titik diambil contoh tanah sebanyak 2 lapisan. kemampuan serta kesesuaian lahan dalam rangka upaya I-6 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu peningkatan usaha pertanian didaerah survey yang terdiri dari kegiatan-kegiatan : • Inventarisasi serta melokalisir masalah tanah yang ada seperti pirit. Pekerjaan ini dimaksudkan guna mempelajari potensi. Pekerjaan ini dimaksud guna memperoleh data lapangan (primer dan sekunder) dari kondisi hidrologi dan hidrometri daerah survey melalui kegiatan-kegiatan : • Pengumpulan data curah hujan (terbaru) minimum selama 10 tahun dari stasiun terdekat. • Pengolahan dan analisa data lapangan dan laboratorium sebagai masukan dalam perhitungan desain jaringan reklamasi. kecepatan arus. • Pengumpulan data/informasi banjir (tinggi lamanya. • Pengambilan contoh untuk dianalisa dilaboratorium. • Pengamatan karakteristik sungai antara lain morpologi. • Pengukuran sifat datar (leveling) untuk mengikat papan duga/peilschaal terhadap BM terdekat. perkiraan genangan dan dampaknya). kedalaman muka air tanah dan genangan serta kelas kesesuaian lahan dengan skala 1 : 20. • Pengukuran penampang melintang sungai/saluran pada setiap lokasi pengukuran muka air.000. sedimintasi. • Pengukuran tinggi/fluktuasi muka air. kedalaman lapisan pirit. • Pengumpulan data klimatologi lainnya. • Penggambaran peta tataguna lahan usulan dan peta tataguna . salinitas (bergerak dan setempat) dan keasaman pada titik-titik pengukuran yang disesuaikan dengan rencana skematisasi dari model matematik. ketebalan gambut. 4)Survey Tanah Pertanian. 3)Survey Hidrologi dan hidrometri. keasaman.Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Situasi tapak bangunan air (existing dan rencana) digambar dengan skala 1 : 200. tanah sulfat masam. • Pengambilan contoh tanah untuk dianalisa dilaboratorium dengan kerapatan 50 Ha pertitik. kegaraman dan masalah gambut (ketebalan dan tingkat kematangannya). (terbaru) minimum selama 5 tahun dan stasiun terdekat. keasaman. • Penggambaran peta pengeboran jenis tanah.

Berdasarkan Layout yang ada konsultaan dapat melanjutkan dengan perhitungan dimensi jaringan reklamasi dengan memperhatikan ada/tidaknya pengaruh pasang surut. 2)Perencanaan Bangunan Air. berdasarkan water Management Zoning.000. Jaringan yang perlu dihitung dimensinya terdiri dari saluran primer. keseimbangan galian dan timbunan serta metode pelaksanaannya. aspek social dan budaya setempat serta berwawasan lingkungan. I-7 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 1)Dimensi Jaringan Reklamasi. Perhitungan dimensi jaringan reklamasi dalam daerah pasang surut dilakukan dengan melakukan perhitungan aliran tidak tetap (Unsteady flow). Perencanaan lay out harus mempertimbangkan pembebasan tanah minimal kebutuhan jalur hijau. .existing skala 1 : 20. pemecahan permasalahan yang ada baik aspek teknis maupun non teknis. Pengecekan ini dapat mengoptimalkan penampang desain aawal dengan syarat-syarat teknis yang ada. Desain Rinci Setelah Layout ditetapkan. d. Perhitungan dimensi jaringan dalam daerah pasang surut dilakukan sebagai berikut : • Melakukan asumsi-asumsi teknis sehingga dapat menggunakan rumus-rumus untuk perhitungan aliran dengan kondisi unsteady flow. konsultan dapat melanjutkan kegiatan dengan perenccanaan yang lebih detail. Selain itu perlu dipertimbangkan fungsi masing-masing saluran tersebut. • Merencanakan Lay Out jaringan untuk kegiatan pengembangan yang menunjang hasil/rumusan pada butir b dan mengevaluasi jaringan tata air yang ada. • Pengecekan dengan model matematis terhadap dimensidimensi diatas dengan menggunakan model matematis yang ada. c. modulus drainase. sekunder dan tersier.Kegiatan System Planning • Elaborasi dan analisa data lapangan • Perumusan rencana pengembangan lokasi. Bangunan air direncanakan sesuai dengan fungsi yang diinginkan antara lain : • Sebagai bangunan penahan air banjir aatau air asin dari luar sistem.

• Metode pelaksanaan konstruksi pemadatan. Ukuran minimum tanggul harus memenuhi kriteria stabilitas (faktor keamanan > 3) sesuai dengan data tanah yang ada. Bahan tanggul sedapat mungkin menggunakan tanah yang ada ditempat. Perhitungan Bangunan Air ini meliputi : • Ukuran bangunan yang diperlukan. • Gambar-gambar Gambar-gambar desain berikut peta dasar yang dipakai dalam perencanaan harus dibuat dengan jelas dan rinci sesuai dengan tingkat ketelitian yang diperlukan untuk pelaksanaan. tahapan pelaksanaan dan sebagainya. • Kekuatan. 4)Penyiapan Dokumen Lain-lain. Dalam hal dipakai tanah setempat konsultan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : • Penurunan muka tanggul yang akan terjadi. Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu • Stabilitas.• Untuk menjaga agar tinggi muka air dalam system sesuai dengan yang direncanakan. • Perkiraan Volume dan Estimasi Biaya (RAB) Konssultan harus menghitung perkiraan volume dan pekerja secara keseluruhan. Bangunan-bangunan yang sudah didesain (saluran. Kekuatan tanggul mencakup ukuran tanggul dan bahan tanggul. • Pemilihan bahan yang dipakai. Perencanaan tanggul pada prinsipnya adalah penentuan elevasi dan kekuatan tanggul itu sendiri. 3) Perencanaan Tanggul. bangunan air dan bangunan pelengkap lainnya) harus dilengkapi dengan pedoman pelaksanaan konstruksi dilapangan. • Spesifikasi teknis. lengkap dengan analisa harga satuan I-9 Lembaga Penelitian Unsri . hal ini menimbang terbatasnya ketersediaan tanah dengan kualitas baik disekitar lokasi.

Pembuatan Peta Kerja dan Rencana Kerja Berdasarkan data-data yang diperoleh. literatur maupun eta-peta yang berkaitan dengan lokasi pekeijaan dan hash studi terdahulu. dan tataguna lahan. cuaca. antara lain  Peta topografi. tanah. 2. daftar harga upah dan bahan dilokasi pekerjaan. Komponen kegiatan pada tahap ini dan metoda yang dilakukan secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut : 1.  Prediksi air pasang. Secara umum metodologi yang digunakan dalam kegiatan ini dibagi dalam beberapa tahapan. dan curah hujan. Disamping membuat Peta Kerja. KEGIATAN PERSIAPAN Kegiatan persiapan adalah awal dari seluruh tahapan pelaksanaan pekerjaan.Pengumpulan dan Analisis Data Sekunder I-10 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Data sekunder yang dikumpulkan mencakup berbagai data. dalam tahap mi juga ditentukan macam data yang akan dikumpulkan pada saat survey. Peta ini selanjutnya digunakan sebagai Peta Kerja dengan menunjukkan rencana garis-garis dan titik (ploting) pengamatan. meliputi pengenalan masalah (problem identification). . dibuat peta awal kondisi lokasi yang menunjukkan ciri-ciri utama topografi. analisa teknik.  Data iklim.1. membuat suatu kerangka berfikir (design concept) yang didalamnya terdapat tahapan analisis dan evaluasi dalam rangka mengkaji permasalahan guna mendapatkan solusi yang dianggap paling akomodatif dan konstruktif yang nantinya dapat dipakai dalam penyusunan suatu konsep zonasi dalam pengelolaan air kawasan lahan dan rawa. yaitu : • Tahap Persiapan • Tahap Survey Lapangan • Tahap Analisis Data • Tahap Perencanaan Detail Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini. 2. BAB 2 METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN Dalam mencapai tujuan dan sasaran kegiatan diperlukan suatu metodologi pendekatan. Kegiatan ini mulai dilakukan setelah diterimanya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dari Pemberi Tugas.Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu pekerjaan. hidrologi. dengan melengkapi form . metode pelaksanaan pekerjaan.

Persiapan Tim Personil dan Peralatan Survey Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Disamping membuat rencana keja. 4. maupun tokoh masyarakat. tanah. Laporan Persiapan tersebut kemudian didiskusikan dengan pihak Proyek dan instansi terkait untuk memperoleh masukan guna penyempurnaan laporan dan rencana kerja telah yang telah disusun. Dalam kaitan dengan hal ini. Konsultan juga melakukan pengurusan administrasi yang menyangkut perijinan survey di lokasi yang ditentukan.Mobilisasi Tim Personil dan Peralatan Survey Mobilisasi tim personil dan peralatan akan dilakukan segera setelah program kerja disetujul oleh Pemberi Tugas dan perijinan administratif survey diselesaikan. Sebelum survey lapangan dimulai. serta jadwal penugasan personil dan peralatan. rencana mobilisasi personil/peralatan dan jadwal kerja. 3.survey untuk setiap kegiatan survey yang dilakukan (topografi. Sedangkan untuk survey sosio-agro-ekonomi dipersiapkan daftar pertanyaan (kuestionair) atau check-list yang digunakan untuk pedoman wawancara dengan petani. dan ketersediaan personil/peralatan. rencana mobilisasi tim personil/peralatan. metodologi. batas waktu penyelesaian. Hal ml kemudiandituangkan dalam Laporan Persiapan. 5. rencana kerja tersebut akan dikonsultasikan/didiskusikan dahulu dengan Pemberi Tugas. peta rencana kerja. selanjutnya Konsultan membuat rencana kerja. formulir yang digunakan untuk survey. petugas lapangan. hidrologi/hidrometri). balk untuk kegiatan survey lapangan maupun kegiatan studio/kantor. Rencana kerja ini mencakup jadwal pelaksanaan masing-masing komponen kegiatan. pejabat setempat. dan kurva S. Dengan mempertimbangkan volume pekerjaan. Persiapan tersebut meliputi kegiatan pengecekan tim/peralatan sesual dengan kuantitas serta kualifikasi yang diperlukan. Mobilisasi tim/peralatan untuk masing-masing kegiatan survey akan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan . Konsultan melakukan persiapan tim personil pelaksana dan peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan survey.Pembuatan Laporan Persiapan dan Diskusi Laporan Persiapan adalah laporan awal yang memuat program kerja.

serta harus mempertimbangkan kepentingan pemetaan kerangka dasar dan penggunaannya di masa mendatang (pematokan jalur saluran. 2. dll). dan metodologi yang akan dilakukan. Lokasi pemasangan BM ini perlu mendapat persetujuan Supervisi/Direksi yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Lapangan.000. Kegiatan ini dilakukan secara bersama/koordinasi dengan Supervisi/Direksi Lapangan untuk menentukan titik awal pengukuran. lokasi bangunan. warna. termasuk penetapan lokasi BM dan CP. batas areal pengukuran.2.2 SURVEY LAPANGAN 2. Benchmark lama dapat digunakan jika masih memenuhi syarat (kedudukan sesuai. Pemasangan BM dipiHh pada lokasi yang aman. dimensi. Bentuk.000 dan 1 5. Pengukuran topografi (situasi detail) dilakukan dengan tahapan kegiatan dan metoda sebagai berikut: 1. rekruitmen tenaga lokal dan sarana transportasi pangan. dan nomenkatur BM yang dipasang harus sesual standar yang ditentukan.1 Pengukuran Topografi Pengukuran topografi (situasi detail) dimaksudkan untuk mendapatkan data lapangan yang sebenarnya (eksisting) yang kemudian disajikan dalam bentuk peta topografi (peta situasi) dengan skala 1 : 20. tidak rusak). Pemasangan Benchmark Benchmark (BM) dipasang untuk menandai titik kontrol dan referensi pengukuran. dapat diidentifikasi. 2. cukup kokoh dan mudah ditemukan. Orientasi Lapangan I-12 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Orientasi lapangan dimaksudkan untuk memperoleh gambaran awal mengenal lokasi yang akan diukur. alinemen tanggul. . Selama kegiatan ini juga dilakukan penyiapan lokasi basecamp.jadwal/program kegiatan yang telah disetujui.

3. Setiap BM dibuat foto. dan koordinat. nomor identifikasi.Gambar 3.Penetapan Tinggi Referensi Proyek Penetapan tinggi referensi proyek ditujukan untuk memperoleh satu referensi ketinggian yang sama/seragam pada semua titik pengukuran di lokasi pekerjaan. 4. maka panjang BM yang tertanam ke dalam tanah adaah ± 30 s/d 40 cm. Untuk kondisi lapangan. Sketsa Bench Mark dan Control Point Ukuran BM yang digunakan adalah dengan dimensi 30 x 30 cm dan tinggi 60 cm.2.Pengukuran Kerangka Dasar Pemetaan Pengukuran kerangka dasar dimaksudkan untuk membuat suatu sistem referensi topografi yang benar dimana hasil-hasil survey . sketsa situasi.

c. dan kemudian diikatkan pada titik referensi terdekat atau yang ditentukan oleh Direksi. d.Pengukuran sudut polygon Setiap sudut diukur dua kali (double seri) memakai alat ukur Thedoilt T2 atau sederajat dengan ketelitian 8” setiap sudut polygon dan maksimum 20” salah penutup sudut antar dua korttrol Azimuth.Pengukuran jarak polygon diukur memakai alat ukur elektronik EDM minimum dua kali (kemuka dan kebelakang) dengan ketelitian 1: 7. Jarak setiap patok sipat datar max.2 km. ketelitian relatif sama sesuai persyaratan ketelitian yaitu 15” salah penutup sudut antar dua kontrol Azimuth. Penentuan arah/azimuth Arah/azimuth ditemukan dengan pengamatan astronomi atau menentukan azimuth metode gyro dengan memakai alat Theodolith T2 dan Gyro Compass. Pengamatan astronomi dilakukan pagi dan sore hari pada satu stasiun pengamatan. Jarak pengukuran dibagi dengan seksi-seksi. Pengukuran I-14 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu kerangka dasar pemetaan dilakukan dengan cara pengukuran polygon sebagai kerangka horisontal dan pengukuran waterpass sebagai kerangka vertikal.500 setelah perataan beberapa set pembacaan setiap sisi tersebut. Pengukuran sipat datar dilakukan memakai alat ukur waterpas Ni2 atau sederajat. Pengukuran situasi derail/rincikan dilakuIan dengan metode Trigonometri/Tachimetri dimana ujung dan pangkal jalur I-15 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu pengukuran terikat/terkontrol terhadap . e. 100 m. Ketelitian sipat datar 10 ID mm dimana D =jarak dalam km. setiap seksi ± 1 . Adapun spesifikasi dalam pengukuran kerangka dasar pemetaan adalah sebagai berikut: a. Pengukuran ini harus terikat dengan benchmark yang telah dipasang terlebih dahulu serta dibagi dalam beberapa loop/kring sesuai dengan kebutuhan.lainnya dapat dihubungkan dengan sistem referensi ini. b.

anak sungai alam. toleransi kesalahan maksimum adalah setengah interv’al aris kontur.Pengukuran Situasi Detail Pengukuran situasi detail dilakukan setelah kerangka dasar pemetaan dibuat. − Ketelitian vertikal : minimal 90°k dan semua titik tinggi garis kontur pada peta yang mudah dikenal di lapangan. f. batas-batas tataguna tanah. dan mencakup batas tataguna lahan dan ciri-ciri yang sudah ada seperti saluran. gundukan tanah/bukit-bukit tebing serta batas-batas tanah tinggi dan kalau perlu genangan) dan bangunan-bangunan buatan (saluran tanggul) kolam bangunan-bangunan air. dengan kerapatan sesuai dengan skala peta. lembah. − Salah penutup koordinat maksimum 1 : 5000 − Jarak pengukuran waterpass dibagi dalam seksi-seksi dengan panjang maksimum 2 km. dimana D = panjang sirkuit dalam Km. 6. perubahan permukaan tanah serta vegetasi yang ada di dalam areal pengukuran. digambar dengan toleransi kesalahan planimeter 0. Setiap seksi diukur pergi-pulang dengan toleransi kesalahan 10√D mm. Elevasi titik detail diukur dengan toleransi 10 cm. − Koreksi sudut antara 2 kontrol azimuth maksimum 20”. Ketelitian dan spesifikasi yang digunakan dalam pengukuran situasi detail adalah sebagai berikut: − Ketelitian horisontal : minimal 90% dan semua titik yang mudah dikenal di lapangan. Situasi Trace. Titik-titik rincikan/detail-detail diukur dengan kerapatan titik yang disesualkan dengan skala peta yang digunakan dan tersebar dengan kerapatan titik maksimum 1 cm pada peta. Pengukuran situasi diukur ke seluruh areal rencana pengukuran secara merata. permukiman dan bangunan. dengan sistem rincikan/raai yang terikat pada kerangka dasar pemetaan.Pengukuran Trace.kerangka dasar pengukuran/pemetaan. Detail yang diambil di lapangan adalah bangunanbangunan alam (sungai. Profil Memanjang dan Profil . Dan titik tersebut diukur detail-detail lapangan dengan rincikan. − Ketinggian titik detail diukur dengan ketelitian 10 cm.8 mm pada skala peta. Peralatan yang digunakan Thedolit TD dengan ketelitian detail pengukuran 10 cm 5. − Jumlah titik polygon antara dua kontrol azimuth maksimum 50 buah. I-16 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu − Kontrol azimuth ditentukan dengan pengamatan astronomi dengan ketelitian 20”. kuburan dan lain-lain).

50 meter untuk saluran tikungan atau penampang sungai seperti diperlukan. − Alinemen dan strip (situasi strip) sepanjang garis trase skala 1:2. sekunder dan tersier. jalan petani dan saluran-saluran yang direncanakan.000 Skala vertikal 1: 100 − Potongan Mehntang Skala horisontal/vertikal 1:100 − Uitzet trase yang dikontrol dengan ukuran polygon terikat terhadap titik kontrol (x.000 − Potongan Memanjang Skala horisontal 1: 2. Detail yang diambil sama dengan detail-detail yang tercantum dalam detail pengukuran situasi detail yang ada disepanjang trace. − Survey trase akan diambil pada sungai-sungai alam. − Diukur dengan metode Tachimetri/Trigonometri memakai alat ukur Thedolit TO dengan ketelitian pengukuran 10 cm dengan interval jarak 100 m (untuk saluran primer) tepat pada titik trace atau penampang . dan terval 25 . tanggul-tanggul yang I-17 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu ada. Diukur dengan metode Trigonometri/ Tachimetri memakai peralatan Theodolit TO dengan ketelitian 10 cm. Terikat terhadap (z) kerangka pemetaan dengan ketelitian 15√D mm dimana D = jarak dalam km. dengan tujuan untuk memperoleh arah dan dimensi yang akurat. − Pengukuran penampang melintang tarce. Semua titik polygon diukur ketinggiannya.Melintang.5’ (menit) setelah dirata-ratakan dan ketelitian antara dua titik kontrol kerangka pemetaan 10 N” (second) dimana N = jumlah titik polygon diukur dengan alat ukur Thedolit TO. tanggultanggul dan jalan jalan internal sesuai dengan lay out yang ditandatangani untuk archtrase yang dikontrol dengan pengukuran traverse. 100 m pada trace lurus 50 s/d 25 meter pada tikungan. − Situasi detail sepanjang jalur trase harus diukur didalam koridor 100 meter lebar (50 meter kekanan dan 50 meter kekiri) dan saluran.000/1:5. dimana jarak diukur 2 kali (kemuka dn kebelakang) dengan ketelitian ukuran jarak 1:7500 yang diukur dengan pita ukur (kapasitas 100 m) − Pengukuran sipat datar yang berfungsi sebagal dasar penampang memanjang trace. y) kerangka pemetaan dengan ketelitian siap sudut 0. dengan interval jarak atau sisi polygon max. sungai dan ujung-ujung as pengukuran.000 /1: 5. saluran buatan seperti saluran primer. − Suvey trase termasuk pengukuran penampang memanjang dan melintang pada interval 100 meter untuk saluran yang lurus atau penampang sungai.

perubahan warna pada tumbuhan). dan dampaknya. curah hujan bulanan. − Pengumpulan informasi mengenai banjir yang menyangkut periode. jumlah hari hujan. pinggir atas saluran.Pengumpulan data sekunder yang meliputi: − Pengumpulan/inventarisasi data curah hujan selama 10 tahun terakhir dan stasiun pengamat di wilayah lokasi studi.memanjang serta posisinya tegak lurus terhadap jalur trace. kelembaban udara harian. tinggi. dimana detaildetailnya diambil dengan teliti kalau perlu pengukuran jarak memakai metband dan ketinggian yang penting memakai waterpas dengan ketinggian dalam 1 cm. titik dasar saluran. dan penyinaran/radiasi matahari.3. Detaildetail yang diambA as trace. Data ini dapat diperoleh dari informasi penduduk . lama. − Perhitungan sementara dan penggambaran sementara (draft) di lapangan semua pengukuran yang memenuhi syarat akan dihitung sementara untuk mengetahui syarat ketelitian dan dilangsungkan pada draft penggambaran yang dilakukan pada kertas milimeter Rencana kegiatan pengukuran topografi ditunjukkan pada Gambar 3. kali tanggul/jalan pinggir atas tanggul/jalan sampai tanah asli − Pengukuran situasi tapak bangunan diukur dengan metade Trigonometri/ Tachimetri dengan dasar pengikatan kerangka pemertaan. perkiraan luas genangan. Data curah hujan yang dikumpulkan adalah curah hujan harian. − Pengumpulan/inventarisasi data iklim juga diambil dan stasiun pengamat terdekat di lokasi studi. Detail-detail yang diambil adalah setiap perobahan permukaan tanah dengan kerangka titik ± 2 s/d 5 meter. − Lokasi dan perluasan bangunan hidrolik baik yang ada maupun yang direncanakan. dan dampaknya (bagi pertanian dan penduduk). luas. menyangkut periode. harus diukur dan diperlihatkan dalam skala 1 : 200.2. perbedaan bentuk saluran. kecepatan angin. 2. lama. Data-data iklim yang perlu dikumpulkan meliputi temperatur udara harian. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai berikut: 1.2 Survey Hidrologi / Hidrometri Kegiatan survey hidrologi dan hidrometri dimaksudkan untuk memperoleh gambaran kondisi hidrologi dan hidrometri di lokasi survey dan juga di daerah sekitarnya. Data ini diperoleh dari informasi penduduk setempat serta pengamatan tanda bekas banjir di sekitar sungai (mis. − Pengumpulan informasi mengenai pengaruh kekeringan dan intrusi asin di musim kemarau. Luas lokasi disesuaikan dengan I-18 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu bangunan dan rencana tapak bangunan sekitar 25 m x 25 x m s/d 100 x 150 meter atau ditentukan oleh pemberi pekerjaan.

yang diunjukkan oleh penduduk setempat atau yang diamati dan warna/tandah bekas banjir pada tumbuhan. I-20 Luasan genangan banjir dapat ditentukan dan peta. Kualitas Air •Tinggi air di luar zona intrusi kadar garam ditentukan dengan analisis laboratorium contoh air. Pengamatan ini dilakukan secara insitu. c. 2. Patok. foto udara atau citra radar. − Pengamatan tinggi muka air simultan selama 30 jam di 2 lokasi terpilih.Pengumpulan/inventarisasi data primer yang meliputi : I-19 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu − Pengamatan tinggi muka air secara simultan selama 15 hari di muara sungai.Peta dasar : geologi. − Pengambilan contoh air untuk dianalisis di laboratorium sebanyak 2 sample. waktu. harus diukur dalam-hubungannya terhadap pengamatan muka air selama survey.setempat. topografi. Muka tanah setempat b. .Diikatkan (levelllng) ke BM.Ditempat yang lurus : terhindar dari penyadapan dan penggerusan 2. warna. dan wawancara dengan masyarakat setempat. Adapun pengamatan ini dilakukan di 2 lokasi. pengamatan tanda-tanda banjir maksimum. Penggenangan (Flooding) • Tinggi banjir maksimum diukur pada beberapa tempat sepanjang saluran. PH dan temperatur air harus dicatat pada saat pengambilan. •Durasi banjir maksimum dan tenggang pasang selama debit aliran tinggi dan rendah diperoleh dan wawancara dengan masyarakat setempat. DAS 2. lokasi. Mudah dicapai dan mudah dalam pelaksanaan pengukuran : misal keadaan banjir/flood 3. Untuk pelaksanaan pengukuran/pengamatan hidrometri diperlukan beberapa informasi antara lain : 1. •Contoh air diambil pada saat debit air rendah pada semua sungai dan anak sungai yang melintasi daerah proyek. meteorologi hujan Penempatan alat Hidrometri : 1.Kondisi iklim dan klimatoogi. Tanggal. − Pengamatan muka air di petak tersier − Pengukuran kualitas air (pH dan salinitas) pada waktu air tinggi dan air rendah.

Untuk sungai kecil atau anak sungai (sungai alam) yang di dalam daerah proyek. Khusus pada pertemuan sungai besar dengan saluran primer atau sekunder. kegaraman. Inventarisasi sifat dan jenis tanah serta penyebarannya dengan melakukan pengamatan tanah melalul pemboran di seluruh areal.4 Survey Tanah Pertanian Kegiatan surley tanah pertanian dimaksudkan untuk mempelajari potensi.•Pada stasiun pengamatan muka air paling hulu dan setiap sungai utama.2. guna menunjang keperluan klasifikasi tanah dan analisis kesuburan tanah.Pengukuran Potongan Melintang sungai •Potongan melintang sungai yang berpengaruh terhadap tata air atau yang melintasi atau mengelilingi daerah proyek harus diukur dengan interval yang sama (setiap 2 sampai 5 km) atau dengan interval yang lebih rapat pada bagian sungai yang tidak lurus atau pada setiap ada perubahan. mulai dan muara sungai sampal batas paling hulu dari daerah survey. •Pada setiap penampang. Jarak horisontal/lebar setiap I-21 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu penampang dapat ditentukan dengan alat “range finder” atau tali/kawat yang dibentang di atas sungai. 2. serta terdiri dan beberapa komponen kegiatan dan metoda sebagai berikut: 1. 3.Inventarisasi serta melokalisir masalah tanah yang ada seperti pirit. keasaman. potongan melintang diambil pada lokasi pertemuan saluran atau jalan/tanggul. paling sedilsit 10 titik “sounding” harus diambil pada interval yang sama. kemampuan dan kesesuaian lahan dalam rangka pengembangan pertanian di lokasi survey. potongan melintang sungai diambil dekat dengan pertemuan dengan jarak paling tidak 100 m sebelum dan sesudah titik pertemuan. Adapun ketentuan dan spesifikasi dalam kegiatan survey tanah . d. tanggal dan waktu pengukuran harus dicatat demikian juga dengan tinggi pasang 2. PH air sungai harus diukur selama pasang surut penuh (30 jam) secara simultan dengan pengamatan elevasi muka air. tanah sulfat masam. dan masalah gambut (ketebalan dan tingkat kematangannya). Pengambilan contoh tanah untuk dianalisis di laboratorium. •Pada setiap penampang. yang memungkinkan pemodelan hidrodinamik aliran dapat dilakukan dengan hasil yang akurat. Kedalaman air ditentukan dengan “echo-sounder”.

pasir kuarsa). kematangan (rippening). tekstur.  Pengamatan pemboran dilakukan sampai kedalaman ±120 cm untuk tanah mineral atau sampai bahan induk (jika lapisan tanah terlalu dangkal). Kegiatan ini meliputi :  Analisa Survey Topografi  Analisa Hidrologi dan Hidrometri  Analisa Tanah Pertanian  Analisa Zona Pengelolaan Air BAB III ORGANISASI PELAKSANAAN Untuk mencapai hasil pekerjaan yang efektif dalam waktu yang ditentukan. muka air tanah dan genangan. seluruh sifat-sifat tanah dideskripsi meliputi warna. maka intensitas pengamatan/pemboran akan ditambah. maka diperlukan hubungan kerjasama yang baik dan koordinatif. Untuk tanah organik/gambut. Analisa Data dan Konsep Zona Pengelolaan Air Kegiatan pengolahan dan anuisis data dilakukan setelah kegiatan lapangan selesai dilaksanakan. Disamping itu perlu dicatat eadaan tataguna lahan dan vegetasi sekitar lokasi pemboran. ketebalan bahan organik/gambut dan I-22 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu dekomposisinya.pertanian adalah sebagai berikut:  Pengamatan pemboran tanah dilakukan dengan mengikuti atau terikat dengan jalur rintisan topografi. sulfat masam dangkal. pengamatan. pemboran akan dilakukan sampai kedalaman batas lapisan tanah mineral atau sampai kedalaman ±2 m (untuk tanah gambut tebal). baik antara tim pelaksana secara internal maupun antara . kemasaman (pH). karatan.’ kedalaman batas lapisan pirit/sulfat masam (metoda oksidasi cepat H202).3. dengan intensitas pengamatan minimal ± 50 Ha/titik. 2. Dalam hal ditemui kendala tanah yang serius (gambut tebal.  Pada setiap pemboran.

rencana kerja serta metodologi yang akan diterapkan.Bertanggung jawab secara keseluruhan terhadap pelaksanaan pekerjaan dari sejak persiapan sampai saat akhir pekerjaan. termasuk persiapan kantor.Bertanggung jawab terhadap persiapan pelaksanaan pekerjaan. baik pekerjaan lapangan survey lapangan pengukuran dan inventarisasi lahan) sampai pekerjaan kantor (detail desain dan pelaporan). . Hubungan penugasan/tanggung jawab dari masing-masing personil maupun hubungan koordinatif dengan Pemberi Tugas dituaangkan dalam struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan yang tepat.Bertanggung jawab terhadap pemberi Pekerjaan yang berkaitan terhadap kegiatan tim pelaksanaan pekerjaan dan pelaksanaan pekerjaan yang berlangsung saat ml. Ketua Tim / Team Leader .Bertanggung jawab atas koordinasi dan Pengawasan terhadap tim yang lain dalam pelaksanaan pekerjaan.1. . fasilitas-fasilitas pelaksanaan pekerjaan. sehingga semua berjalan sesual dengan permintaan TOR sebagal .Sarjana S1 Ilmu Tanah. Susunan personil/tim pelaksana dan lingkup penugasan/tanggung jawabnya diuraikan sebagai berikut : 1.TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB TENAGA AHLi Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Pekerjaan dilakukan dengan melibatkan beberapa personil/ tim pelaksana dari berbagai “ bidang keahlian. Organisasi pelaksanaan pekerjaan tersebut diharapkan juga dapat mewujudkan hasil pekerjaan yang optimal. khususnya berkaitan dengan pengelolaan air daerah rawa.tim pelaksana dengan pihak Pemberi tugas. maka perlu disusun personil pelaksana yang akan dilibatkan disertai lingkup penugasan dan tanggung jawab masing-masing secara jelas. S2 Hidrologi dan memiliki pengalaman dalam perencanaan jaringan tata air daerah rawa . serta secara periodik melaporkan perkembangan pekerjaan kepada Pemberi Pekerjaan. 3. sehingga dapat menunjang kelancaran pekerjaan. Berkaitan dengan hal tersebut. .

serta data-data pendukung yang dibutuhkan dalam tahap desain. I-25 Lembaga Penelitian Unsri Proposal . -Melakukan monitoring terhadap kemajuan pekerjaan yang dilaksanakan sehingga sesuai shedul yang telah direncanakan. -Melakukan inventarisasi lahan serta jaringan irigasi yang ada.Mengkaji ulang serta pengecekan keseluruhan hash pekerjaan yang telah dilaksanakan. Rencana Anggaran Biaya— dan Rencana Paket antara laporan-laporan lain. -Bertanggung jawab terhadap pembuatan Lay-Out sementara sampal lay-out definitif disetujui direksi pekerjaan. -Menyiapkan perhitungan hidrolis dan stabilitas bangunanbangunan dan gambar-gambar yang diperlukan.acuan pekeijaan. kondisi dan sistem pengaliran yang telah ada serta rencana trase saluran yang akan direncanakan. 2. -Menyiapkan Spesifikasi Teknis. -Menyiapkan peta daerah dan skema jaringannya beserta petak-petak tersier.Mengkoordinasi secara keseluruhan akan laporán yang harus dhserahkan pada Pihak Pemberi Pekerjaan. I-24 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu Berperan sebagal koordinasi setiap kegiatan diskusi dengan pemberi Pekerjaan dan alokasi penugasan personil yang telibat dalam pelaksanaan proyek. AHLI DESAIN -Sarjana S1 Teknik Sivil. S2 Pengairan. . . -Mendesain bangunan-bangunan yang sudah dihitung angka hidrolis dan stabllitasnya. Bersama Team Leader melakukan survey pendahuluan untuk identifikasi lokasi di daerah rawa.

Membantu Team Leader dalam menyusun laporan pekerjaan. -Melakukan koordinasi di dalam pelaksanaan pengukuran baik ketelitian situasi maupun trase saluran. -Menyiapkan gambar-gambar hash pengukuran dan laporan akhir dan hasil pengukuran. -Penyusunan laporan yang berhubungan dengan pekerjaan pengukuran baik laporan pengukuran. -Melakukan analisa hidrologi berupa. 6. AHLI STRUKTUR BANGUNAN AIR/HIDROLIKA . . buku ukur. AHLI HIDROLOGI -Melakukan survel dan identifikasi kondisi jaringan irigasi yang ada. -Mengkoordinir tim survey untuk melakukan pengukuran debit sumber air baku sesaat. Dermaga dan Sarana Bangunan Pelengkap lainnya. Stabilitas Lereng Saluran. Melakukan survey lokasi sehubungan dengan rencana jalur pengukuran yang akan dilaksanakan Menyiapkan titik-titik referensi pengukuran.Melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap perhitungan dan ketelitian di dalam perhitungan data pengukuran. 4. fondasi dli) Tanggul Banjir. Debit Banjir. -Membantu menyusun Nota Desain. -Memberikan Petunjuk dalam Penyusunan Spesifikasi Teknik dan Metoda Pelaksanaan konstruksi. -Menyusun laporan lapangan hasil identifikasi dan laporan pendukung hidrologi.Melaksanakan Perhitungan dan Perencanaan Struktur Bangunan Hidraulik (pintu. analisis GIS. . analisa data Curah Hujan. -Menyiapkan hasil inventarisasi saluran dan bangunan.Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 3. AHLI TANAH PERTANIAN -Mengkoordinir peaksanaan survai tanah di lapangan. Struktur Jembatan. dan rekomendasi untuk parameter desain dan perhitungan kebutuhan air dan ketersediaan air baku. -Melakukan pengumpulan data kilmatologi dan data debit sungai. 5. diskripsi BM dan lain-lain. AHLI GEODESI ATAU PEMETAAN -Menguasi ilmu pemetaan. .

pengelola administrasi dan keuangan. Dr. I-27 Lembaga Penelitian Unsri Proposal Studi Perencanaan Sistem Tata Air Lahan rawa 3000 ha untuk Perkebunan Tebu 8. pembuatan laporan dan peta-peta. -Membuat laporan kemajuan kerja.Sc.scribd.Melakukan pengamatan perkembangan tanah di lokasi proyek. H.M. -Mengidentifikasi kedalaman pint.Ahli GIS Pemetaan : Ir. .-Melakukan survai tanah di lokasi daerah rawa . surveyàr. pengolahan data. (Ahli Hidrologi dan Rawa) Tenaga Ahli : 1. laporan bulanan dan membantu Team Leader dalam membuat laporan akhir. -Membuat kerangka kerja pelaksanaan survai tanah yang pasti dan efisien di lapangan.Mengidentifikasi hambatan-hambatan yang berhubungan dengan pengembangan pertanian khususnya budidaya tebu. Feriadi. Muh Bambang P.Melakukan pengamatan profil tanah dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisa di laboratorium. ketebalan gambut di lokasi proyek.2. Ngudiantoro. Ir. Chief Surveyor.Sc. M. Tenaga Pendukung Tenaga pendukung dalam pekerjaan ini adalah tenaga sub profesional yang meliputi : Asisten Tenaga Ahli. 3.Ahli Tanah Pertanian : Ir. . Tenaga Pendukung ini diperlukan sebanya 7 orang. Ketua Tim: Ir. serta pengurusan administrasi dan keuangan dalam pelaksanaan pekerjaan. Rencangan Personil Penanggung Jawab kegiatan: Prof. -Memberikan saran-saran yang berguna untuk peningkatan berdasarkan kriteria dan petunjuk. operator komputer.com/doc/39024353/Proposal-Rawa-1000ha .Suveyor tofografi : Ir. M. M. Keseluruhan tenaga pendukung mi bertugas membantu Ketua Tim dan Tim Ahil lainnya dalam kegiatan survey lapangan.Si 2. M. Said. Juru Gambar.Si 5. Sitompul http://www. Momon Sodik Imanudin.Ahli Simulasi dan Pemodelan komputer : Dr.Sc 3. serta tenaga lapangan. Dery Darmawan 4.Ahli Bangunan Air : Ir. M.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.