P. 1
Pengembangan instrumen

Pengembangan instrumen

|Views: 236|Likes:
Published by Eny Fachrijah

More info:

Published by: Eny Fachrijah on Mar 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2015

pdf

text

original

Pengembangan instrumen psikomotor

mencakup:

tes

psikomotor,

daftar

cek,

dan

skala penilaian. Tes untuk mengukur ranah psikomotor adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja yang telah dikuasai peserta didik. Hal ini dapat berupa: test paper and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja.Test paper and pencilWalaupun bentuk aktivitasnya seperti tes tulis, yang menjadi sasaran adalah kemampuan peserta didik dalam menampilkan karya, misalnya: berupa desain alat, desain grafis, dsb.Tes identifikasiTes ini lebih ditujukan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi sesuatu hal, misalnya menemukan bagian yang rusak atau tidak berfungsinya dari suatu alat.Tes simulasiTes ini dilakukan jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta didik sehingga dengan simulasi dapat dinilai apakah seseorang sudah dapat menguasai keterampilan dengan bantuan alat tiruan , atau berperaga seolah-oleh menggunakan suatu alat.Tes unjuk kerjaTes ini menggunakan dengan alat yang sesungguhnya, tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah terampil menggunakan alat tersebut.Tes penampilan perbuatan baik menggunakan tes identifikasi, simulasi maupun unjuk kerja datanya dapat diperoleh dengan menggunakan daftar atau skala penilaian. Daftar cek dan

skala penilaian dapat juga dipakai sebagai lembar penilaian atau alat untuk observasi dalam rangka pengukuran yang bebas waktunya, dalam arti tidak dilakukan dalam suasana ujian formal. Misalnya ...

Langkah Langkah Membuat Instrumen Penilaian
Tes, Instrumen Kognitif pada Pengembangan ALat Ukur Setelah memahami prosedur penilaian, kemudian akan dibahas bagaimana mengembangkan alat ukur. Penilaian pendidikan pada umumnya menggunakan tes. Tes dapat berbentuk lisan , tes tulis, dan tes perbuatan. Dalam pendidikan yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi, maka kompetensi siswa yang diharapkan berupa kemampuan atau kompetensi yang bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotor. Oleh karena itu pengembangan alat ukur yang dibahas mencakup tiga aspek tersebut. Penjelasan dan prinsip-prinsip penyusunan tiap jenis tes dibahas secara rinci, karena bukan hanya untuk dipahami tetapi juga untuk dapat diaplikasikan. Pengembangan instrumen kognitif mencakup tes objektif, tes nonobjektif, tes unjukkerja, dan portofolio. Tes lisan di kelas Pertanyaan lisan dapat digunakan untuk mengetahui taraf serap peserta didik untuk masalah yang berkaitan dengan kognitif. Pertanyaan yang diajukan di kelas harus jelas. Semua peserta didik harus diberi kesempatan yang sama. Prinsip yang perlu diperhatikan dalam memberikan pertanyaan lisan di kelas adalah: mengajukan pertanyaan, memberikan waktu untuk berpikir, menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan. Benar atau salah, jawaban peserta didik tersebut ditawarkan lagi kepada kelas. .Tingkat berpikir yang ditanyakan lisan di kelas cenderung rendah: seperti pengetahuan dan pemahaman. Tes objektif

 Pilihan ganda Pedoman utama dalam pembuatan soal bentuk pilihan ganda adalah: 1. 2. 3. 4.

pokok soal harus jelas pilihan jawaban homogen dalam arti isi panjang kalimat pilihan jawaban relatif sama tidak artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac.id ada petunjuk jawaban benar 5. menghindari penggunaan pilihan jawaban: semua benar atau semua salah 6. pilihan jawaban angka diurutkan 7. semua pilihan jawaban logis 8. tidak menggunakan bentuk negatif ganda 9. kalimat artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac.id yang digunakan sesuai artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac.id dengan tingkat perkembangan peserta tes 10. menggunakan bahasa Indonesia artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac.id yang baku 11. letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak  Uraian objektif Bentuk soal uraian objektif sangat tepat digunakan artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac.id untuk bidang Matematika artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac.id dan IPA, karena kunci jawabannya hanya satu. Pengerjaan soal ini melalui suatu prosedur atau langkah-langkah tertentu. Setiap langkah artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac.id ada skornya. Objektif di sini dalam arti apabila pekerjaan tes

unesa.ac. Kaidah pokok penulisan soal jenis ini adalah sebagai berikut: 1. artikel ini disalin dari website http://elearning. Peserta tes dituntut artikel ini disalin dari website http://elearning. Ada 3 jenis soal bentuk ini yaitu: jenis pertanyaan.unesa.ac. soal harus sesuai artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa. tafsirkan. alternatif jawaban harus “nyambung” atau berhubungan secara logis dengan premisnya 4.unesa.id dengan menggunakan kata-katanya sendiri.ac.unesa.ac. rumusan kalimat soal harus komunikatif 5.diperikasa oleh beberapa guru dalam bidang studi tersebut hasil penyekorannya akan sama.unesa.id yang sama dapat pula digunakan sebagai alternatif jawaban.unesa.ac. Keunggulan tes ini mudah dibuat.ac. jawaban artikel ini disalin dari website http://elearning. pernyataan. tanggal/tahun. Pertanyaan pada bentuk soal ini di antaranya adalah: hitunglah.unesa.id dengan indikator 2.ac.unesa.id yang baik artikel ini disalin dari website http://elearning.ac. rumusan kalimat harus komunikatif 4. Biasanya nama. istilah.id dengan adanya tempat kosong artikel ini disalin dari website http://elearning.id yang sejenis digunakan sebagai premis.unesa. dari pengetahuan hafalan sampai evaluasi.id itu artikel ini disalin dari website http://elearning. melengkapi.unesa.id dengan indikator 2.unesa.unesa. bagian dari diagram.id untuk menyampaikan. dan dapat mengukur tingkat berpikir dari tingkat rendah sampai tinggi. Kaidah utama penyusunan soal bentuk jawab singkat ini sebagai berikut: 1.unesa.unesa.ac.unesa.id dan memadukan gagasan artikel ini disalin dari website http://elearning.id yang disediakan bagi peserta tes artikel ini disalin dari website http://elearning.ac. frase.ac.ac. Hal-hal artikel ini disalin dari website http://elearning. artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac.id yang baik artikel ini disalin dari website http://elearning.ac.id dan suatu petunjuk artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.id dan sebagainya.ac. memilih.ac. menggunakan bahasa Indonesia artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.  Menjodohkan Soal bentuk menjodohkan terdiri atas suatu premis. dan artikel ini disalin dari website http://elearning. Meskipun perlu dihindari pertanyaan .ac.id dengan satu kemungkinan jawaban. menyusun.unesa.id yang benar hanya satu 3.id dan benar  Tes nonobjektif: uraian nonobjektif Tes ini dikatakan nonobjektif karena penilaian dipengaruhi oleh subjektivitas penilai.unesa. buat simpulan artikel ini disalin dari website http://elearning.id untuk menjodohkan.ac.ac.id untuk menuliskan jawabannya sesuai artikel ini disalin dari website http://elearning. jumlah alternatif jawaban lebih banyak daripada premis 3.id dengan petunjuk.ac. menggunakan bahasa Indonesia artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa. soal harus sesuai artikel ini disalin dari website http://elearning.ac.ac.id dan jenis identifikasi atau asosiasi.id yang telah dimiliki artikel ini disalin dari website http://elearning.ac.id dan benar  Jawab singkat Bentuk jawab singkat ditandai artikel ini disalin dari website http://elearning. suatu daftar kemungkinan jawaban artikel ini disalin dari website http://elearning. Masing-masing premis artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.

id yang mengungkap hafalan artikel ini disalin dari website http://elearning. tafsirkan. buktikan.unesa. Menyiapkan pedoman penyekoran.ac.ac.unesa.unesa.ac.id yang dapat ditafsirkan ganda 5. Penyekoran dipengaruhi oleh subjektivitas penilai 2. 3.id untuk mengerjakan tes cukup? Kaidah penulisan tes nonobjektif adalah sebagai berikut: 1. siapa. Memeriksa tiap butir secara keseluruhan tanpa istirahat. Jawaban tiap soal tidak panjang.id yang menggunakan pertanyaan: apa. Menulis soal berdasarkan kisi-kisi pada indikator 2. bandingkan. di mana.ac. Cakupan materi artikel ini disalin dari website http://elearning. Menghindari kata: apa.ac.unesa. Adapun langkah-langkah menyusun tes nonobjektif adalah: 1. Pemeriksaan lembar jawaban memerlukan waktu artikel ini disalin dari website http://elearning. siapa.id yang diujikan sangat terbatas 4. Mengedit pertanyaan: o o o o o o Apakah pertanyaan mudah dimengerti? Data artikel ini disalin dari website http://elearning. hitunglah.unesa.ac.ac.artikel ini disalin dari website http://elearning.ac. 2.id yang digunakan benar? Tata letak secara keseluruhan baik? Pemberian bobot skor sudah baik/tepat? Kunci jawaban sudah benar? Waktu artikel ini disalin dari website http://elearning. Menggunakan kata-kata: mengapa. 2.unesa. Menggunakan bahasa Indonesia artikel ini disalin dari website http://elearning. 4.unesa. Kelemahan bentuk tes uraian nonobjektif adalah: 1.id yang lebih banyak. sehingga dapat mencakup materi artikel ini disalin dari website http://elearning. bila. Waktu pemeriksaan tidak melihat nama peserta didik 3.id yang lama 3. Menghindari penggunaan kata-kata artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa. Membuat petunjuk pengerjaan soal artikel ini disalin dari website . uraikan.id yang baku 4. Ada efek bluffing (gertakan!?) Untuk mengatasi kelemahan ini maka perlu diusahakan: 1.unesa. jelaskan.ac.

id yang jelas 6. misalnya menemukan bagian yang rusak atau tidak berfungsinya dari suatu alat. atau berperaga seolah-oleh menggunakan suatu alat. dan tes unjuk kerja. Test paper and pencil Test paper and pencil Walaupun bentuk aktivitasnya seperti tes tulis.id dan skala 5 paling sempurna. dsb. tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah terampil menggunakan alat tersebut. Dibuat skala 5.id yang dinilai mempunyai resiko tinggi. Hal ini dapat berupa: test paper and pencil. desain grafis. Daftar cek dan skala penilaian dapat juga dipakai sebagai lembar penilaian atau alat untuk observasi dalam rangka pengukuran yang bebas waktunya. Tes penampilan perbuatan baik menggunakan tes identifikasi. Membuat kunci jawaban 7. Misalnya dipakai saat peserta didik melakukan proses pembelajaran praktek di laboratorium. Perbuatan artikel ini disalin dari website http://elearning. Tes Identifakasi Tes ini lebih ditujukan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi sesuatu hal. maka skala 1 paling tidak sempurna artikel ini disalin dari website http://elearning. yang menjadi sasaran adalah kemampuan peserta didik dalam menampilkan karya. Tes unjuk kerja Tes ini menggunakan dengan alat yang sesungguhnya. Tes simulasi Tes ini dilakukan jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta didik sehingga dengan simulasi dapat dinilai apakah seseorang sudah dapat menguasai keterampilan dengan bantuan alat tiruan .http://elearning. dalam arti tidak dilakukan dalam suasana ujian formal.id untuk menghadapi subjek sedikit. daftar cek. simulasi maupun unjuk kerja datanya dapat diperoleh dengan menggunakan daftar atau skala penilaian. Apakah seseorang sudah mampu menggunakan mikroskup akan lebih tepat jika dinilai menggunakan daftar cek Sedangkan skala penilaian cocok artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac. misalnya: berupa desain alat.unesa.unesa. tes simulasi.unesa. tes identifikasi. Tes.ac.ac. Tes untuk mengukur ranah psikomotor adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja yang telah dikuasai peserta didik.unesa.id yang diukur menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang dari sangat tidak sempurna sampai sangat sempurna.ac. Penyusunan Butir Soal Bentuk Daftar Cek Daftar cek berisi seperangkat butir soal artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac. Instrumen Psikomotor pada Pengembangan Alat Ukur Pengembangan instrumen psikomotor mencakup: tes psikomotor. Membuat pedoman penyekoran.unesa.ac.ac.ac. dan skala penilaian. Daftar cek lebih praktis jika digunakan artikel ini disalin dari website http://elearning.id yang menggunakan peralatan mahal. misalnya dalam kegiatan praktek di laboratorium artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa. atau jika perbuatan artikel ini disalin dari website http://elearning.id .id untuk menghadapi subjek dalam jumlah besar.

yang mencerminkan rangkaian tindakan/perbuatan artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa. Cara memasang termometer pada tubuh orang artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac. Cara mengambil termometer dari tubuh orang artikel ini disalin dari website http://elearning.ac.ac.ac.id untuk melihat pemunculan indikator-indikator artikel ini disalin dari website http://elearning. menulis instrumen 3. Oleh karena artikel ini disalin dari website http://elearning. menentukan spesifikasi instrumen 2.ac.id yang diukur suhunya 4.ac.unesa.id yang harus ditampilkan oleh peserta tes. Misalnya indikator-indikator artikel ini disalin dari website http://elearning. Cara menurunkan posisi air raksa serendah-rendahnya 3.id yang diukur suhunya 5.ac.unesa.id yang dinilai artikel ini disalin dari website http://elearning. nilai. Ada 11 (sebelas) langkah dalam mengembangkan instrumen penilaian afektif. Pada pengukuran terhadap keterampilan peserta didik menggunakan termometer badan.unesa.id yang telah disediakan.ac.unesa. yaitu: 1.unesa. Melakukan pengamatan terhadap subjek artikel ini disalin dari website http://elearning.id yang menunjukkan peserta didik terampil menggunakan termometer badan.unesa. konsep diri. menentukan pedoman penskoran 5.id yang dimaksud. Cara membaca tinggi air raksa dalam pipa kapiler thermometer Pengembangan Instrumen Penilaian Afektif Instrumen penilaian afektif meliputi lembar pengamatan sikap.id yang merupakan indikator dari keterampilan artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.unesa.unesa.id yang akan diukur.unesa.ac.id dengan urutan penampilannya 3. Menyususn indikator-indikator tersebut sesuai artikel ini disalin dari website http://elearning.ac. Lama waktu pemasangan termometer pada tubuh orang artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa. menentukan skala instrumen 4.unesa.ac.id yang diujikan 2. artikel ini disalin dari website http://elearning. dicari indikator artikel ini disalin dari website http://elearning. minat.id yang diukur suhunya 6. Mencari indikator-indikator penguasaan keterampilan artikel ini disalin dari website http://elearning.unesa.ac.id itu adalah sebagai berikut: 1. Jika indikator tersebut muncul maka diberi tanda V atau menulis kata “ya” pada tempat artikel ini disalin dari website http://elearning. dan moral.id itu dalam menyusun daftar cek hendaknya: 1. Cara mengeluarkan termometer dari tempatnya 2.ac.ac.ac. menelaah instrumen 6. merakit instrumen .

a. b. Karakteristik potensi peserta didik sangat penting untuk menentukan jenjang karirnya. pendidik. yaitu instrumen (1) sikap. Informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh. c. (2) minat. (4) nilai. Instrumen nilai Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan peserta didik. Instrumen minat Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap mata pelajaran. (3) konsep diri. Instrumen sikap Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek. Instrumen konsep diri Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Hasil pengukuran sikap berguna untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat. dan (5) moral. menganalisis hasil ujicoba 9. Peserta didik melakukan evaluasi secara objektif terhadap potensi yang ada dalam dirinya. dan sebagainya. Sikap terhadap mata pelajaran bisa positif bisa negatif. mata pelajaran.7. d. yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran. melakukan ujicoba 8. misalnya terhadap kegiatan sekolah. . memperbaiki instrumen 10. menafsirkan hasil pengukuran 1. Spesifikasi instrumen Ditinjau dari tujuannya ada lima macam instrumen pengukuran ranah afektif. Hal-hal yang bersifat positif diperkuat sedangkan yang bersifat negatif dikurangi dan akhirnya dihilangkan. melaksanakan pengukuran 11. Informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan yang negatif.

merupakan matrik yang berisi spesifikasi instrumen yang akan ditulis. Indikator merupakan pedoman dalam menulis instrumen. Kisi-kisi (blue-print). dan (4) panjang instrumen. Hasil pengamatan dan hasil kuesioner menjadi informasi tentang moral seseorang. Instrumen moral Instrumen moral bertujuan untuk mengungkap moral. yaitu kompetensi yang dapat diukur. Langkah pertama dalam menentukan kisi-kisi adalah menentukan definisi konseptual yang berasal dari teori-teori yang diambil dari buku teks.e. Tiap indikator bisa dikembangkan dua atau lebih instrumen. kegiatan berikutnya adalah menyusun kisi-kisi instrumen. 2. Selanjutnya mengembangkan definisi operasional berdasarkan kompetensi dasar. Dalam menyusun spesifikasi instrumen perlu memperhatikan empat hal yaitu (1) tujuan pengukuran. (3) bentuk dan format instrumen. Informasi moral seseorang diperoleh melalui pengamatan terhadap perbuatan yang ditampilkan dan laporan diri melalui pengisian kuesioner. Definisi operasional ini kemudian dijabarkan menjadi sejumlah indikator. Kisi-Kisi Instrumen Afektif . Setelah menetapkan tujuan pengukuran afektif. Penulisan instrumen Tabel 1. (2) kisi-kisi instrumen.

Instrumen sikap Definisi konseptual: Sikap merupakan kecenderungan merespon secara konsisten baik menyukai atau tidak menyukai suatu objek. Mengerjakan tugas matematika 5. atau suatu kebijakan. Tidak semua orang harus belajar matematika 3. Contoh indikator sikap terhadap mata pelajaran matematika misalnya. menyenangi-tidak menyenangi. Membaca buku matematika 2. a. 1. Objek bisa berupa kegiatan atau mata pelajaran. Saya senang membaca buku matematika 2. Saya jarang bertanya pada guru tentang pelajaran matematika 4. misalnya kegiatan sekolah. Pertanyaan tentang sikap meminta responden menunjukkan perasaan yang positif atau negatif terhadap suatu objek. Definisi operasional: sikap adalah perasaan positif atau negatif terhadap suatu objek. menerima-menolak. Melakukan diskusi tentang matematika 6.Penilaian ranah afektif peserta didik dilakukan dengan menggunakan instrumen penilaian afektif sebagai berikut. Mempelajari matematika 3. Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek. Memiliki buku matematika Contoh pernyataan untuk kuesioner: 1. Cara yang mudah untuk mengetahui sikap peserta didik adalah melalui kuesioner. diingini-tidak diingini. Kata-kata yang sering digunakan pada pertanyaan sikap menyatakan arah perasaan seseorang. baik-buruk. Melakukan interaksi dengan guru matematika 4. Saya tidak senang pada tugas pelajaran matematika . Sikap bisa positif bisa negatif.

2. dan keterampilan untuk tujuan mendapatkan perhatian atau penguasaan. Memiliki catatan pelajaran matematika. Memiliki buku matematika 4. aktivitas. Instrumen konsep diri Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh oleh peserta didik. Saya berusaha memahami mata pelajaran matematika c. . Saya berusaha selalu hadir pada pelajaran matematika c. Saya senang mengerjakan soal matematika. Mengikuti pelajaran matematika Contoh pernyataan untuk kuesioner: a. Instrumen minat Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap suatu mata pelajaran yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran tersebut. Saya berusaha mengerjakan soal-soal matematika sebaik-baiknya 6. Memiliki buku matematika penting untuk semua peserta didik b. Catatan pelajaran matematika saya lengkap b.5. Saya selalu menyiapkan pertanyaan sebelum mengikuti pelajaran matematika b. d. Contoh indikator minat terhadap pelajaran matematika: 1. Berusaha memahami matematika 3. konsep. Definisi konseptual: Minat adalah keinginan yang tersusun melalui pengalaman yang mendorong individu mencari objek. Catatan pelajaran matematika saya terdapat coretan-coretan tentang hal-hal yang penting a. Definisi operasional: Minat adalah keingintahuan seseorang tentang keadaan suatu objek.

Contoh indikator konsep diri: a. d. Mengukur kekuatan dan kelemahan fisik Contoh pernyataan untuk instrumen: a. Saya bisa bermain sepak bola dengan baik g. Misalnya. Kegiatan yang disenangi peserta didik di sekolah dipengaruhi oleh nilai (value) peserta didik terhadap kegiatan tersebut. ada peserta didik yang menyukai pelajaran keterampilan dan ada yang tidak. Instrumen nilai Nilai merupakan konsep penting dalam pembentukan kompetensi peserta didik. . d.Definisi konsep: konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri yang menyangkut keunggulan dan kelemahannya. sikap dan aktivitas atau tindakan seseorang. Saya merasa sulit mengikuti pelajaran fisika f. Saya perlu waktu yang lama untuk memahami pelajaran fisika. Memilih mata pelajaran yang mudah dipahami b. Semua ini dipengaruhi oleh nilai peserta didik. Nilai seseorang pada dasarnya terungkap melalui bagaimana ia berbuat atau keinginan berbuat. Definisi operasional konsep diri adalah pernyataan tentang kemampuan diri sendiri yang menyangkut mata pelajaran. Tindakan seseorang terhadap sesuatu merupakan refleksi dari nilai yang dianutnya. ada yang menyukai pelajaran seni tari dan ada yang tidak. Saya sulit mengikuti pelajaran matematika b. yaitu yang berkaitan dengan penilaian baik dan buruk. Memiliki kecepatan memahami mata pelajaran c. Saya mampu membuat karangan yang baik e. Nilai berkaitan dengan keyakinan. Saya mudah menghapal suatu konsep. Saya mampu membuat karya seni yang baik h. Menunjukkan mata pelajaran yang dirasa sulit d. Saya mudah memahami bahasa Inggris c.

dan nilai dapat digali melalui pengamatan. d. Definisi operasional nilai adalah keyakinan seseorang tentang keadaan suatu objek atau kegiatan. . Informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan yang negatif. Hal-hal yang positif ditingkatkan sedang yang negatif dikurangi dan akhirnya dihilangkan. Selain melalui kuesioner ranah afektif peserta didik. • Saya berkeyakinan sekolah tidak akan mampu mengubah tingkat kesejahteraan masyarakat. perlu ditentukan dulu indikator substansi yang akan diukur. Mempertahankan keyakinan akan harapan masyarakat Contoh pernyataan untuk kuesioner tentang nilai peserta didik: • Saya berkeyakinan bahwa prestasi belajar peserta didik sulit untuk ditingkatkan. • Saya berkeyakinan bahwa kinerja pendidik sudah maksimal. kegiatan. Misalnya keyakinan akan kemampuan peserta didik dan kinerja guru. sikap. Contoh indikator nilai adalah: a. Kemungkinan ada yang berkeyakinan bahwa prestasi peserta didik sulit ditingkatkan atau ada yang berkeyakinan bahwa guru sulit melakukan perubahan. • Saya berkeyakinan bahwa peserta didik yang ikut bimbingan tes cenderung akan diterima di perguruan tinggi. Menyakini keberhasilan peserta didik c. Menunjukkan keyakinan atas kemampuan guru. • Saya berkeyakinan bahwa perubahan selalu membawa masalah. minat. Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan individu. dan pendidik harus mencatat setiap perilaku yang muncul dari peserta didik yang berkaitan dengan indikator tersebut. Pengamatan karakteristik afektif peserta didik dilakukan di tempat dilaksanakannya kegiatan pembelajaran. • Saya berkeyakinan bahwa hasil yang dicapai peserta didik adalah atas usahanya.Definisi konseptual: Nilai adalah keyakinan terhadap suatu pendapat. Memiliki keyakinan akan peran sekolah b. Untuk mengetahui keadaan ranah afektif peserta didik. atau objek. konsep diri.

saya tidak selalu mempercayainya. walau ia tidak melihat saya. saya selalu menyapanya walau ia tidak melihat saya. Contoh indikator moral sesuai dengan definisi tersebut adalah: a. Skala Likert. walau tidak seluruhnya benar. • Bila berjanji kepada orang yang lebih tua.e. • Bila berjanji pada anak kecil. • Saya selalu bercerita hal yang menyenangkan teman. Memiliki kepedulian terhadap orang lain c. 3. Contoh Skala Thurstone: Minat terhadap pelajaran sejarah . Menunjukkan komitmen terhadap tugas-tugas d. saya selalu meminta bantuan orang lain. saya tidak harus menepatinya. • Bila menghadapi kesulitan. • Bila ada orang lain yang menghadapi kesulitan. tidak harus menepati. • Kesulitan orang lain merupakan tanggung jawabnya sendiri. Memegang janji b. • Bila bertemu teman. saya selalu memberikan salam. dan Skala Beda Semantik. • Bila ada orang yang bercerita.Skala Instrumen Penilaian Afektif Skala yang sering digunakan dalam instrumen penelilaian afektif adalah Skala Thurstone. Memiliki Kejujuran Contoh pernyataan untuk instrumen moral • Bila saya berjanji pada teman. Instrumen Moral Instrumen ini bertujuan untuk mengetahui moral peserta didik. • Bila bertemu guru. saya berusaha menepatinya. saya berusaha membantu.

Contoh skala Likert: Sikap terhadap pelajaran matematika Keterangan: SS : Sangat setuju S : Setuju TS : Tidak setuju .

Untuk skala Likert. tertinggi 7 terendah 1. maka skor tertinggi untuk tiap butir 7 dan skor terendah 1. Demikian pula untuk instrumen dengan skala beda semantik. yaitu dengan mencari rerata (mean) dan simpangan baku skor. Dalam pengukuran sering terjadi kecenderungan responden memilih jawaban pada katergori tiga 3 (tiga) untuk skala Likert. 5. pada awalnya skor tertinggi tiap butir 5 dan terendah 1. Selanjutnya ditafsirkan hasilnya untuk mengetahui minat masing-masing peserta didik dan minat kelas terhadap suatu mata pelajaran. Apabila digunakan skala Thurstone. Sistem penskoran Sistem penskoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran. Untuk menghindari hal tersebut skala Likert dimodifikasi dengan hanya menggunakan 4 (empat) pilihan. agar jelas sikap atau minat responden. Skor perolehan perlu dianalisis untuk tingkat peserta didik dan tingkat kelas.STS : Sangat tidak setuju Contoh skala beda Semantik: Pelajaran ekonomi 4. Telaah instrumen .

d. dan f) jumlah butir dan/atau panjang kalimat pertanyaan/pernyataan sudah tepat sehingga tidak menjemukan untuk dibaca/dijawab. e) pedoman menjawab atau mengisi instrumen jelas. Telaah bisa juga dilakukan oleh teman sejawat bila yang diinginkan adalah masukan tentang bahasa dan format instrumen. Contoh pertanyaan yang bias: Sebagian besar pendidik setuju semua peserta didik yang menempuh ujian akhir lulus. Pertanyaan yang diajukan jangan sampai bias. Gunakan kata-kata yang sederhana sesuai dengan tingkat pendidikan responden b. Langkah pertama dalam menulis suatu pertanyaan/ pernyataan adalah informasi apa yang ingin diperoleh. Panjang instrumen berhubungan dengan masalah kebosanan. c) butir peranyaaan/pernyataan tidak bias. struktur pertanyaan. Hasil telaah instrumen digunakan untuk memperbaiki instrumen. Hasil telaah selanjutnya digunakan untuk memperbaiki instrumen. b) bahasa yang digunakan komunikatif dan menggunakan tata bahasa yang benar. namun sebagian lain tidak setuju. positif atau negatif. Perbaikan dilakukan terhadap .Kegiatan pada telaah instrumen adalah menelaah apakah: a) butir pertanyaan/ pernyataan sesuai dengan indikator. Apakah saudara setuju bila semua peserta didik yang menempuh ujian akhir lulus semua? Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan kata-kata untuk suatu kuesioner. Bahasa yang digunakan adalah yang sesuai dengan tingkat pendidikan responden. d) format instrumen menarik untuk dibaca. Hindari pertanyaan hipotetikal atau pengandaian. Telaah dilakukan oleh pakar dalam bidang yang diukur dan akan lebih baik bila ada pakar penilaian. Hindari pertanyaan yang bias. yaitu tingkat kejemuan dalam mengisi instrumen. dan pemilihan kata-kata. yaitu mengarahkan jawaban responden pada arah tertentu. Apakah saudara setuju bila semua peserta didik yang mengikuti ujian lulus semua? Contoh pertanyaan yang tidak bias: Sebagian pendidik setuju bahwa tidak semua peserta didik harus lulus. yaitu: a. Lama pengisian instrumen sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. Pertanyaannya jangan samar-samar c.

konstruksi instrumen. Pada saat ujicoba yang perlu dicatat adalah saran-saran dari responden atas kejelasan pedoman pengisian instrumen. kejelasan kalimat yang digunakan. Merakit instrumen Setelah instrumen diperbaiki selanjutnya instrumen dirakit. waktu yang diperlukan agar tidak jenuh adalah 30 menit atau kurang. maka sampelnya juga peserta didik SMA. Analisis hasil ujicoba . yaitu menentukan format tata letak instrumen dan urutan pertanyaan/ pernyataan. yaitu kalimat yang digunakan. 6. dan pengetikan. bisa berasal dari satu sekolah atau lebih. Agar responden mengisi instrumen dengan akurat sesuai harapan. dan waktu yang diperlukan untuk mengisi instrumen. Sampel yang diperlukan minimal 30 peserta didik. Bila yang ingin dinilai adalah peserta didik SMA. Urutkan pertanyaan/pernyataan sesuai dengan tingkat kemudahan dalam menjawab atau mengisinya. sehingga walau ada batasan waktu namun tidak terlalu ketat. Waktu yang digunakan disarankan bukan waktu saat responden sudah lelah. 8. Perlu diingat bahwa pengisian instrumen penilaian afektif bukan merupakan tes. cara pengisian atau cara menjawab instrumen. Setiap sepuluh pertanyaan sebaiknya dipisahkan dengan cara memberi spasi yang lebih. Selain itu sebaiknya responden juga diberi minuman agar tidak lelah. kepada guru atau orang tua peserta didik. waktu yang diperlukan untuk mengisi instrumen. Untuk itu dipilih sampel yang karakteristiknya mewakili populasi yang ingin dinilai. Berdasarkan pengalaman. 7. Ujicoba instrumen Setelah dirakit instrumen diujicobakan kepada responden. atau diberi batasan garis empat persegi panjang. Format instrumen harus dibuat menarik dan tidak terlalu panjang. sehingga responden tertarik untuk membaca dan mengisinya. sesuai dengan tujuan penilaian apakah kepada peserta didik. maka sebaiknya instrumen dirancang sedemikian rupa sehingga waktu yang diperlukan mengisi instrumen tidak terlalu lama.

namun hasil ujicoba empirik tidak baik. dan jawaban responden bervariasi dari 1 sampai 7. dan pedoman pengisian instrumen. maka butir instrumen ini tergolong tidak baik. manfaat bagi responden. Untuk itu butir pertanyaan/pernyataan instrumen harus diperbaiki. misalnya pada pilihan nomor 3. Pelaksanaan pengukuran Pelaksanaan pengukuran perlu memperhatikan waktu dan ruangan yang digunakan. Bila indeks ini lebih kecil dari 0. berdasarkan analisis hasil ujicoba. Penafsiran hasil pengukuran Hasil pengukuran berupa skor atau angka. Kriteria yang digunakan tergantung pada skala dan jumlah butir pertanyaan/pernyataan yang digunakan. Ruang untuk mengisi instrumen harus memiliki cahaya (penerangan) yang cukup dan sirkulasi udara yang baik. Indikator yang digunakan adalah besarnya daya beda.70. Jika menggunakan skala instrumen 1 sampai 7.70. Namun apabila jawabannya hanya pada satu pilihan jawaban saja. Diusahakan agar responden tidak saling bertanya pada responden yang lain agar jawaban kuesioner tidak sama atau homogen. maka butir pertanyaan/pernyataan pada instrumen ini dapat dikatakan baik. Perbaikan termasuk mengakomodasi saransaran dari responden ujicoba. Bila daya beda butir instrumen lebih dari 0. Indikator lain yang diperhatikan adalah indeks keandalan yang dikenal dengan indeks reliabilitas. Tempat duduk juga diatur agar responden tidak terganggu satu sama lain.30.Analisis hasil ujicoba meliputi variasi jawaban tiap butir pertanyaan/ pernyataan. Perbaikan instrumen Perbaikan dilakukan terhadap butir-butir pertanyaan/pernyataan yang tidak baik. Misalkan digunakan skala Likert yang berisi 10 butir pertanyaan/ pernyataan dengan 4 .70. Pengisian instrumen dimulai dengan penjelasan tentang tujuan pengisian. Waktu pelaksanaan bukan pada waktu responden sudah lelah. Untuk menafsirkan hasil pengukuran diperlukan suatu kriteria. Oleh karena itu diusahakan agar indeks keandalan instrumen minimal 0. 10. Bisa saja hasil telaah instrumen baik. butir instrumen tergolong baik. kesalahan pengukuran akan melebihi batas. Instrumen sebaiknya dilengkapi dengan pertanyaan terbuka. Batas indeks reliabilitas minimal 0. 11. 9.

Kategorisasi sikap atau minat peserta didik untuk 10 butir pernyataan.Setuju .Tidak setuju .Sangat tidak setuju. Tabel 2. rendah (kurang). Penentuan kategori hasil pengukuran sikap atau minat dapat dilihat pada tabel berikut.(empat) pilihan untuk mengukur sikap peserta didik. (1) (2) (3) (4) Skor tertinggi untuk instrumen tersebut adalah 10 butir x 4 = 40.Setuju . Skor ini dikualifikasikan misalnya menjadi empat kategori sikap atau minat. Selanjutnya dapat dicari sikap dan minat kelas terhadap mata pelajaran tertentu. yaitu sangat tinggi (sangat baik). Skor untuk butir pertanyaan/pernyataan yang sifatnya positif: Sangat setuju .Tidak setuju .Sangat tidak setuju. dan sangat rendah (sangat kurang). tinggi (baik). Berdasarkan kategori ini dapat ditentukan minat atau sikap peserta didik. dengan rentang skor 10 – 40. . (4) (3) (2) (1) Sebaliknya untuk pertanyaan/pernyataan yang bersifat negatif Sangat setuju . dan skor terendah 10 butir x 1 = 10.

Skor batas bawah kategori sangat tinggi atau sangat baik adalah: 0. dan batas atasnya 40.70 x 40 = 28. Rata-rata skor kelas: jumlah skor semua peserta didik dibagi jumlah peserta didik di kelas ybs.70 x 40 = 28.80 x 40 = 36. Tabel 3 Kategorisasi sikap atau minat kelas Keterangan: 1.Keterangan Tabel 2: 1. Skor batas bawah pada kategori rendah atau kurang adalah: 0. 2. dan skor batas atasnya adalah 27.50 x 40 = 20. Pada Tabel 2 dapat diketahui minat atau sikap tiap peserta didik terhadap tiap mata pelajaran. Skor batas bawah pada kategori rendah atau kurang adalah: 0. 3.80 x 40 = 36. Skor yang tergolong pada kategori sangat rendah atau sangat kurang adalah kurang dari 20. 4. 5. dan skor batas atasnya adalah 35.50 x 40 = 20. Skor batas bawah pada kategori tinggi atau baik adalah: 0. dan skor batas atasnya adalah 35. dan batas atasnya 40. 4. Bila sikap peserta didik tergolong rendah. Skor batas bawah kategori sangat tinggi atau sangat baik adalah: 0. Skor yang tergolong pada kategori sangat rendah atau sangat kurang adalah kurang dari 20. Skor batas bawah pada kategori tinggi atau baik adalah: 0. 2. 3. maka peserta didik harus berusaha meningkatkan sikap dan minatnya . dan skor batas atasnya adalah 27.

C. Hasil observasi akan melengkapi informasi dari hasil kuesioner. Sedang bila sikap atau minat peserta didik tergolong tinggi. 1. sehingga kebijakan yang ditempuh akan lebih tepat. yaitu dimulai dengan penentuan definisi konseptual dan definisi operasional.dengan bimbingan pendidik. Dengan demikian informasi yang diperoleh akan lebih akurat. . Misalnya indikator peserta didik berminat pada mata pelajaran matematika adalah kehadiran di kelas. seperti mata pelajaran. Tabel 3 menujukkan minat atau sikap kelas terhadap suatu mata pelajaran. Penutup Cukup banyak ranah afektif yang penting untuk dinilai. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan instrumen afektif sebagai berikut. Umumnya peserta didik yang berminat pada mata pelajaran tertentu prestasi belajarnya untuk mata pelajaran tersebut baik. Dalam pengukuran sikap atau minat kelas diperlukan informasi tentang minat atau sikap setiap peserta didik terhadap suatu objek. Prosedurnya sama. Indikator ini menjadi isi pedoman observasi. Hasil pengukuran minat kelas untuk semua mata pelajaran berguna untuk membuat profil minat kelas. Ranah afektif yang penting dikembangkan adalah sikap dan minat peserta didik. banyaknya bertanya. Jadi satuan pendidikan akan memiliki peta minat kelas dan selanjutnya dikaitkan dengan profil prestasi belajar. kerapihan dan kelengkapan catatan. Menentukan definisi konseptual atau konstruk yang akan diukur. peserta didik harus berusaha mempertahankannya. Observasi Penilaian ranah afektif peserta didik selain menggunakan kuesioner juga bisa dilakukan melalui observasi atau pengamatan. Untuk itu pada tahap awal dicari komponen afektif yang bisa dinilai oleh pendidik dan pada tahun berikutnya bisa ditambah ranah afektif lain untuk dinilai. Definisi konseptual kemudian diturunkan menjadi sejumlah indikator. kerajinan dalam mengerjakan tugas-tugas. Namun yang perlu diperhatikan adalah kemampuan pendidik untuk melakukan penilaian.

70. sedang negatif berarti minat peserta didik rendah atau sikap peserta didik terhadap objek kurang. Hasil telaah digunakan untuk memperbaiki instrumen. dan bahasa yang digunakan. substansi yang ditanyakan. Penafsiran hasil pengukuran menggunakan dua kategori yaitu positif atau negatif. Menulis instrumen. dan indeks keandalan instrumen. Demikian juga untuk instrumen yang direncanakan untuk mengukur ranah afektif yang lain. . Instrumen yang dibuat harus ditelaah oleh teman sejawat untuk mengetahui keterbacaan. Hasil ujicoba digunakan untuk memperbaiki instrumen. Menentukan indikator 4. Menentukan definisi operasional 3. Hal yang penting pada instrumen afektif adalah besarnya indeks keandalan instrumen yang dikatakan baik adalah minimal 0. Hasil ujicoba akan menghasilkan informasi yang berupa variasi jawaban. indeks beda.2. Positif berarti minat peserta didik tinggi atau sikap peserta didik terhadap suatu objek baik. Selanjutnya instrumen tersebut di ujicoba di lapangan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->