P. 1
Tugas Mata Kuliah Pengkajian Cerpen Indonesia

Tugas Mata Kuliah Pengkajian Cerpen Indonesia

|Views: 16|Likes:

More info:

Published by: Ingeu Widyatari Heriana on Mar 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2012

pdf

text

original

TUGAS MATA KULIAH PENGKAJIAN CERPEN INDONESIA ANALISIS HAL-HAL MENARIK DALAM CERPEN “SERIBU KUNANG-KUNANG

DI MANHATTAN” UMAR KAYAM

INGEU WIDYATARI HERIANA 180110110055 SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

Pengarang:

Umar Kayam

Tahun Terbit: 1972 Judul Cerpen: Seribu Kunang-Kunang di Manhattan Kota Terbit: Penerbit: Jakarta Pustaka Jaya

Hal-Hal menarik terdapat dalam salah satu cerpen karya Umar Kayam yang berjudul ”Seribu Kunang-kunang di Manhattan”. Saya memilih tiga unsur cerpen sebagai hal menarik tersebut. Sebagai objek tugas mata kuliah Pengkajian Cerpen Indonesia, berikut Saya jabarkan hal-hal apa saja yang menjadikan cerpen karya Umar Kayam ini menjadi sebuah kisah yang begitu mengesenkan dan memberi pelajaran bagi para pembaca. 1. Sinopsis (Ringkasan Cerita) Menurut Saya, alur cerpen atau jalan cerita ”Seribu Kunang-kunang di Manhattan” sangat menarik dan membawa kehikmatan jika kita sedang membacanya. Oleh karena itu, sinopsis Saya kategorikan sebagai salah satu dari hal-hal menarik tersebut. Berikut penjabarannya. Marno, berasal dari Indonesia menjalin hubungan spesial dengan Jane, kekasihnya asal Amerika yang tinggal di Apartemen, daerah Manhattan blantara pencakar langit. Jane sudah bercerai dengan Tommy, yang sekarang entah ada di mana. Malam hari mereka sedang bersantai. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini duduk di sofa. Tidak heran mengenai yang mereka lakukan memang sudah tradisi orang barat di Amerika sana suka “minum”. Juga tidak heran jika sepasang kekasih tinggal berdua dalam satu rumah menginap, minum, tidur bersama pula. Mereka berbincang, Jane memaksa Marno untuk mengiyakan bahwa warna bulan itu ungu. Mungkin karena status dirinya yang sudah menjanda. Mengibaratkan bulan adalah simbol wanita dan lagi dirinya yang sudah bercerai dengan Tommy tidak berwarna kuning keemasan lagi yang begitu anggun dan memesona. Mereka hobi minum, sudah beberapa gelas diteguknya minuman keras sambil berbincang-bincang dalam malam damai Mnhattan. Jane bertanya pada Marno bagaimana keadaan di Alaska saat itu. Jane tidak ingin mantan suaminya, Tommy kedinginan di sana dalam kesendirian. Untung ada adat Alaska yang menyuguhkan istri untuk tamu, begiu sepengatahuan mereka. Jane berharap demikian itu benar.

Di sisi Jane sangat cerewet dia bercerita dari boneka Indian dari Oklahoma yang ia dapat dari Tommy, Empire State Building sudah dijual dan Marno telah membacanya di New York Times lalu Jane ingin memilikinya sembari membayangkan dengan pikiran yang cabul dan lucu, Uncle Tom mainan kekasih Jane berupa boneka yang buruk rupanya namun teman tidurnya begitu juga Marno yang punya mainan piaraan kerbau kakeknya, sampai perdebatan dengan mantan suaminya di Central Park Zoo depan kandang gorilla mengenai kedekatan chimpanze dan gorilla dengan manusia. Jane merasa dirinya membosankan karena dari cerita-ceritanya itu sebagian besar telah dicerikan kepada Marno. Marno terdiam merasa istrinya berada di dekatnya. Marno yang sekarang berada di daun jendela damai-damai menikmati beribu-ribu kunang-kunang di Manhattan. Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa. Suasan saat itu membuat Marno menginginkan adanya jangkrik berkerik dan katak menyanyi dari luar sana karena suasana seperti di pedesaan membuatnya senang. Jane terusik. "Oh, kalau saja ....." "Kalau saja apa, Kekasihku?" "Kalau saja ada suara jangkrik mengerik dan beberapa katak menyanyi dari luar sana." "Lantas?" "Tidak apa-apa. Itu kan membuat aku lebih senang sedikit." "Kau anak desa yang sentimental!" "Biar!" Marno terkejut karena kata "biar" itu terdengar keras sekali keluarnya. "Maaf, Jane. Aku kira scotch yang membuat itu." "Tidak, Sayang. Kau merasa tersinggung. Maaf." Marno mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas maaf itu. Sebuah pesawat jet terdengar mendesau keras lewat di atas bangunan apartemen Jane. "Jet keparat!" Jane mengutuk sambil berjalan terhuyung ke dapur. Dari kamar itu Marno mendengar Jane keras-keras membuka kran air. Kemudian dilihatnya Jane kembali, mukanya basah, di tangannya segelas air es.

Jane memulai kembali perbincangan. Sejak mereka berbincang-bincang di atas sofa hingga pindah ke jendela, baru kali ini Marno senyum karena mendengar cerita Jane yang sama sekali belum pernah diceritakan untuknya. Yang sekarang ini Jane menginginkan Marno berterima kasih pada dirinya kerena telah menepati janji membelikan Marno Piyama. Marno bilang piyamanya cantik, tetapi Ia ragu untuk mengenakannya dan membawanya pulang. Marno bingung harus tidur di apartemen Jane atau tidak, Jane bertanya-tanya. Namun, akhirnya Marno pulang dan berjanji akan menelepon Jane sesegera yang Marno bisa. Dibungkusnya kembali piyama itu. Jane kembali ke kamarnya dan tertidur. Lelap hingga bantalnya dirasa basah.

1.

UNSUR ADAT “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” sarat sekali dengan budaya orang Barat di

Amerika suka “minum-minum” biarpun saat santai atau pun acara mewah sekalian. Marno yang berasal dari Indonesia, terlihat dari namanya “Marno” yang populernya dari suku Jawa dengan nama berakhiran vokal o, terbawa oleh adat kebiasaan orang kulit putih Amerika. Bisa dikatakan lingkungan sekitar Marno semasa di Amerika atau yang paling dekat dengannya, Jane sang kekasih memengaruhi pola hidup Marno. Gaya hidup mahal orang Amerika hobi minum-minuman memabukkan atau yang beralkohol, seperi Martini dari gin dan dry vermouth, Scotch, gin yang koktail, vermouth untuk koktail, bourbon yang whiskey, dan berbagai minuman beralkohol lainnya. Memang tabu untuk negara asal Marno, Indonesia. Apalagi Marno yang dari Jawa sangat melestarikan kelembutan dan kesopan-santunan. Tidak menerima kebrutalan, kerusuhan,

ketidaksenonohan, dan lain-lain. Pendapat saya di atas bisa diperkuat dengan pepatah yang berbunyi, Jikau kau main dengan pandai besi, bajumu akan terbakar. Jika kau bermain dengan tukang parfum maka bajumu akan wangi parfum. Artinya, jika kamu bergaul dengan orang buruk maka perilakumu akan buruk. Jika kamu bergaul dengan orang baik maka perilakumu akan baik. Dalam cerpen dideskripsikan bahwa mereka sedang bermalas-malasan di sofa sambil minum martini dan scotch yang saya ketahui itu termasuk minum-minuman yang mahal, apalagi mereka berada di rumah. Ini menunjukkan Jane termasuk kaum atas di negaranya, karena tidak semua orang bisa minum yang mereka minum dan menyediakan di rumah sebagai kebutuhan. Biasanya orang-orang Barat meminumnya di kafe, acara pesta atau perayaan. Tempat tinggal Jane juga di apartemen yang berada di kawasan komplek gedunggedung yang lampunya berkelip mewah, hingga ada pesawat Jet yang melintasi daerah itu. Menunjukkan itu adalah daerah kaum elit. Marno mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas maaf itu. Sebuah pesawat jet terdengar mendesau keras lewat di atas bangunan apartemen Jane. "Jet keparat!" Jane mengutuk sambil berjalan terhuyung ke dapur. Dari kamar itu Marno mendengar Jane keras-keras membuka kran air. Kemudian dilihatnya Jane kembali, mukanya basah, di tangannya segelas air es.

Sepasang kekasih yang sering bersama dalam satu tempat tinggal melakukan kagiatan sehari-hari dari bebincang, bersendagurau, beristirahat, hingga tidur bersama, padahal belum dalam ikatan pernikahan. Bahkan ada yang sampai melakukan tindakan penyimpangan sosial “kumpul kebo” atau samen leven. Cerdasnya Umar Kayam di sini membandingakn kedua ranah dengan latar suasana yang bertolak belakang. Marno yang sedang berdiri di daun jendela memandangi keadaan Manhattan yang khas belantara pencakar langit dengan lampu-lampu yang berkelipan di sekitarnya. Ia menganalogikan dengan suasana ranah pedesaan di negara asalnya Indonesia. Umar Kayam menggunakan diksi yang cermat untuk menganalogikan latar suasana dan latar tempat dalam “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”. Belantara pencakar langit diibaratkan belantara pepohonan yang ada di pedesaan negara Marno berasal, dan lampu yang berkelipan di sekitar gedung-gedung dengan kunang-kunang yang melayang-layang berkelip pigmen tubuhnya. Saya menangkap bahwa Umar Kayam memberi judul cerpennya dengan “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” ingin menyampaikan makna tersirat adanya dua kebudayaan dalam alur ceritanya. Seribu kunang-kunang menggambarkan kebudayaan negara Marno berasal. Ranah pedesaan yang sangat asri, hewan-hewan dan pepohan masih terjaga. Belantara pohon, jangkrik berkerik, dan katak bernyanyi. Paling khas kunang-kunang pada malam hari yang berkelip, tidak ditemukan di Manhattan. Ranah elit komplek gedung bertingkat yang buminya bukan tanah lagi. Gaya hidup mahal dan bebas masyarakatnya juga. Mewakili alur cerita, Jane yang kaum atas di negaranya, Amerika, bersikap cerewet seperti menguasai, menularkan pola hidupnya pada Marno dan Marno yang berasal dari Indonesia bersikap halus, ramah, menghargai, dan menghormati.

2.

UNSUR SOSIAL Walaupun Jane sudah janda dan masih selalu membicarakan hal-hal tentang mantan

suaminya, Tommy, Marno tidak pernah berontak kepada Jane. Marno selalu mendengarkan cerita Jane tentang mantan suami Jane, menjawab pertanyan-pertanyan Jane yang berkaitan dengan mantan suami Jane. Tidak pernah terjadi pertengkaran, tidak ada kecemburuan yang diperdebatkan. Mereka tetap akur. Ini yang harus dicontoh oleh para pembaca. Walaupun dalam keadaan mantan dan masih suka membahas harus tetap menjaga keprcayaan. Janganlah berseteru, bersilat lidah bahkan sampai perang dingin seperti kebanyakan berita selebriti di kehidupan kita. Jane yang masih membahas tentang mantan suaminya pasti prmbaca menyimpulkan bahwa Jane masih menyimpan hati pada mantan suaminya. Pasti begitu adanya walaupun dikatakan perasaan sudah biasa saja. Marno yang tiba-tiba tersemyum padahal sedari tadi ia dingin sekali kepada Jane, diam-diam ia merindukan kampung halamannya juga istrinya. Namun, Marno di sini bersikap setia, ia lebih memiliih pulang daripada tidur di apartemen bersama Jane. Hal ini membuktikan bahwa adat Timur masih menghargai perkawinan. Ya, walaupun Marno nyaman dan terbiasa dengan cara perselingkuhannya. Jane yang selewat kasar dengan Marno saat Marno menginginkan suasana Manhattan seperti suasana pedesaan kampung halamannya bisa menggambarkan kekesalan atau kecemburuan Jane pada keluarga, istri, dan kampung halaman Marno yang sebenarnya. Namu, Jane meminta maaf karena bisa jadi ia mengetahui watak orang timur yang halus dan raman tidak menyukai perselisihan. Jane tidak mau terjadi pertengkaran dan perseteruan di perselingkuhan mereka. Jane memilih untuk meminta maaf. "Kalau saja ada suara jangkrik mengerik dan beberapa katak menyanyi dari luar sana." "Lantas?" "Tidak apa-apa. Itu kan membuat aku lebih senang sedikit." "Kau anak desa yang sentimental!" "Biar!" Marno terkejut karena kata "biar" itu terdengar keras sekali keluarnya. "Maaf, Jane. Aku kira scotch yang membuat itu." "Tidak, Sayang. Kau merasa tersinggung. Maaf." Marno mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas maaf itu

Marno juga mencerminkan sikap ramah orang Timur. Dibuktikan dengan alasan yang akan dipilih olehnya untuk menolak tidur di apartemen bersama Jane. Marno sangat hati-hati menjelaskan alasan ia tidak akan tidur bersama Jane. Marno agak gelagapan saat berbicara dengan Jane mengenai alasannya itu, ia takut salah. Marno tidak ingin membuat Jane tersinggung, bingung dan mencemaskan dirinya. Begitu juga dengan keraguan terhadap piyama pemberian Jane. Ia tidak ingin menyinggung orang yang telah memberinya rezeki. Masyarakat kita sangat ramah mau menghargai pemberian orang lain. Marno sangat berhatihati terhadap cara penolakkannya. Beberapa menit kemudian dengan wajah berseri dia keluar kembali dengan sebuah bungkusan di tangan. "Aku harap kausuka pilihanku." Dibukanya bungkusan itu dan dibeberkannya piyama itu di dadanya. "Kausuka dengan pilihanku ini?" "Ini piyama yang cantik, Jane." "Akan kaupakai saja malam ini. Aku kira sekarang sudah cukup malam untuk berganti dengan piyama." Marno memandang piyama yang ada di tangannya dengan keraguan. "Jane." "Ya, Sayang." "Eh, aku belum tahu apakah aku akan tidur di sini malam ini." "Oh? Kau banyak kerja?" "Eh, tidak seberapa sesungguhnya. Cuma tak tahulah ...." "Kaumerasa tidak enak badan?" "Aku baik-baik saja. Aku .... eh, tak tahulah, Jane." "Aku harap aku mengerti, Sayang. Aku tak akan bertanya lagi." "Terima kasih, Jane." "Terserahlah. Cuma aku kira, aku tak akan membawanya pulang." "Oh". Pelan-pelan dibungkusnya kembali piyama itu lalu dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Pelan-pelan Jane keluar kembali dari kamarnya. "Aku kira, aku pergi saja sekarang, Jane." "Kau akan menelpon aku hari-hari ini, kan?" "Tentu, Jane." "Kapan, aku bisa mengharapkan itu? "Eh, aku belum tahu lagi, Jane. Segera aku kira." "Kautahu nomorku kan? Eldorado" "Aku tahu, Jane." Kemudian pelan-pelan diciumnya dahi Jane, seperti dahi itu terbuat dari porselin. Lalu menghilanglah Marno di balik pintu, langkahnya terdengar sebentar dari dalam kamar turun tangga. Marno menunjukkan sikap teguh pendirian orang Timur, tercermina saat digunjing oleh Jane mngenai sifatnya yang kedesaan sentimental. Marno berkata Biar! Ia sangat menjaga dan menghargai apa yang dimilikinya.

3.

UNSUR PSIKOLOGIS Memang tidak dijelaskan pemberontakan Marno atau kecemburuan yang dialami

Marno terhadap cerita-cerita Jane mengenai Mantan suami Jane, Tommy, tetapi dari sikap Marno yang “kalem-kalem” saja dalam menanggapinya, justru menjadi tanda tanya di sini. Bisa jadi Marno sebenarnya sebal, kesal, dan benci pada cerewetnya Jane menceritakan semua kejadian yang pernah Jane lewati bersama Tommy, tetapi ia lebih memilih diam yang ternyata dipendam dalam hati Marno. Atau Marno menerima keadaan yang sedang dihadapinya, sehingga ia tidak memperumit. Marno yang berasal dari Jawa memang membawa sifat sabar terhadap apa pun dalam hidupnya. Tokoh Jane dalam cerpen ini berwatak keras. Tetapi agak membingungkan juga si Jane ini. Dia bilang pada Marno bahwa Marno anak desa yang sentimental, tetapi Jane sendiri berbicara kasar saat Jet melintasi kawasan apartemennya. Serba salah di sini, Jane menggunjing Marno mengenai pedesaan asal Marno, sementara ia sendiri membenci keadaan lingkungan tempat tinggalnya. Dan setelahnya ia berjalan ke dapur untuk menyajikan minuman lagi untuk dirinya sendiri. Kebiasaan yang sangat buruk untuk seorang wanita, apalagi untuk seorang Marno yang bisa jadi keurunan Jawa memegang teguh kesopansantunan. Jane juga yang menyebut dan memaksa Marno mengakui bahwa bulan itu berwarna ungu karena pengaruh meminum minuman beralkohol. Hal ini menunjukkan parah sekali reaksi alkohol untuk tubuh Jane, jelas saja hobinya yang keras “minum” membuatnya menghabiskan dalam beberapa gelas dan beberapa balik ke dapur. "Kalau saja ada suara jangkrik mengerik dan beberapa katak menyanyi dari luar sana." "Lantas?" "Tidak apa-apa. Itu kan membuat aku lebih senang sedikit." "Kau anak desa yang sentimental!" "Biar!" Marno terkejut karena kata "biar" itu terdengar keras sekali keluarnya. "Maaf, Jane. Aku kira scotch yang membuat itu." "Tidak, Sayang. Kau merasa tersinggung. Maaf." Marno mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas maaf itu. Sebuah pesawat jet terdengar mendesau keras lewat di atas bangunan apartemen Jane. "Jet keparat!" Jane mengutuk sambil berjalan terhuyung ke dapur. Dari kamar itu Marno mendengar Jane keras-keras membuka kran air. Kemudian dilihatnya Jane kembali, mukanya basah, di tangannya segelas air es

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->