P. 1
Quo Vadis PeNgawasan DPRD Dalam Sistem Pemerintahan Daerah

Quo Vadis PeNgawasan DPRD Dalam Sistem Pemerintahan Daerah

|Views: 176|Likes:
Published by lululaw

More info:

Published by: lululaw on Mar 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/21/2015

pdf

text

original

Muhammad Hasrul Dosen Fakultas Hukum Unhas QUO VADIS PENGAWASAN DPRD DALAM SISTEM PEMERINTAHAN DAERAH

Abstract :

Latar Belakang Pelaksanaan hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah melahirkan adanya 2 (dua) macam organ pemerintahan di daerah, yaitu pemerintah daerah dan pemerintah wilayah.2 Pemerintah daerah adalah organ daerah otonom yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri dalam rangka desentralisasi. Sedangkan pemerintah wilayah adalah organ pemerintah pusat di wilayah-wilayah administratif dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi yang terwujud dalam bentuk provinsi dan ibukota negara, kabupaten/kota, yang tentu saja tidak terkait dengan kewenangan yang muncul dari otonomi daerah. Asas desentralisasi dalam pelaksanaan otonomi adalah memberikan keleluasaan organ daerah otonom yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri dalam rangka desentralisasi. Dalam asas desentralisasi terjadi penyerahan wewenang sepenuhnya dari pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah tentang urusan tertentu, sehingga pemerintahan daerah dapat mengambil prakarsa sepenuhnya, baik yang menyangkut policy, perencanaan, pelaksanaan, maupun pembiayaannya. Pemerintahan daerah melaksanakan urusan pemerintahan yang dilimpahkan agar menjadi urusan rumah tangganya sendiri. Era globalisasi menghadapkan Indonesia pada suatu tuntutan untuk melaksanakan pembangunan disegala bidang secara merata, termasuk juga menuntut kesiapan setiap daerah untuk mampu berPengawasan serta didalamnya. Antisipasi terhadap arus globalisasi ini diperlukan setiap daerah, terutama berkaitan dengan peluang dan tantangan penanaman modal asing di daerah dan persaingan global di daerah. Dalam otonomi daerah, daerah menjadi lebih leluasa dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya, dan memberi kesempatan tumbuhnya iklim yang lebih demokratis di daerah. Pemerintahan daerah yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah semacam keleluasaan daerah dalam mewujudkan otonomi yang luas dan bertanggungjawab untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, prakarsa dan aspirasi masyarakat, atas dasar pemerataan dan keadilan, serta sesuai dengan kondisi, potensi dan keanekaragaman daerah. Untuk itu, pemerintah daerah perlu mempunyai kemauan sungguh-sungguh dan kesiapan untuk mampu melaksanakan kebijakan otonomi daerah untuk kepentingan rakyat

1

Kaloh.Kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Salah satu ciri Negara Demokrasi adalah kedudukan rakyat sebagai pemilik pemerintahan (people own government). Besarnya kewenangan yang diberikan oleh Undang-undang kepada DPRD ternyata tidak berbanding lurus dengan pelaksanaan fungsinya yang optimal. keterikatan kelompok dan keterikatan pribadi membuat DPRD tidak maksimal dalam melaksanakan fungsi dan kewenangannya. DPRD adalah mitra sejajar dari Kepala Daerah sebagai pemimpin pemerintah daerah. Kehadiran Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (sebagai pelaksanaan amanat Ketetapan MPR Nomor XV/MPR/1998 pada Sidang Istimewa MPR 1998) dan kemudian digantikan oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. menurut James W. Hal ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa DPRD bersama rakyat di daerah terpinggirkan dari berbagai proses pembangunan yang sebenarnya menjadi haknya untuk terlibat dan melakukan kontrol. sehingga secara bersama-sama melaksanakan pemerintahan daerah. dinilai dapat memberikan pembaharuan sistem pemerintahan daerah di Indonesia. Dalam hal ini rakyat ikut aktif dalam pemerintahan dan memiliki kewenangan untuk melakukan social control terhadap jalannya pemerintahan. Sebelum era Reformasi. Sebagai pemilik pemerintahan. B. sehingga rakyat merasakan bahwa pengelolaan pemerintahan dilakukan secara baik. Berdasarkan Pasal 19 ayat (2) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Kuatnya keterikatan politik. DPRD yang mewakili rakyat daerah tidak berdaya menghadapi kekuatan pemerintah pusat dan kepala daerah. Konsekuensinya pemerintah yang terbentuk harus berusaha menyenangkan rakyatnya. maka kedaulatan berada di tangan rakyat. Dengan demikian. Otonomi daerah seharusnya dipandang sebagai suatu tuntutan yang berupaya untuk mengatur kewenangan pemerintahan sehingga serasi dan fokus pada tuntutan kebutuhan masyarakat. Hal ini akan menyebabkan dukungan rakyat terhadap pemerintah akan semakin besar (legitimasi).daerahnya. karena kedua lembaga ini merupakan unsur-unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Fesler sebagaimana dikutip J. DPRD terkesan menutup mata terhadap banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh aparat dalam hal ini pemerintah dan bahkan oleh anggota DPRD sendiri. Lembaga Legislatif dalam hal ini adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (selanjutnya disingkat DPRD) sebagai salah satu institusi lokal dianggap sebagai wahana untuk bisa memberdayakan masyarakat daerah dalam era otonomi daerah. sehingga diharapkan mampu memberikan keleluasaan bagi daerah dalam rangka menjalankan rumah tangganya sendiri sesuai dengan kepentingan rakyat daerah. otonomi daerah bukanlah tujuan tetapi suatu instrumen untuk mencapai tujuan. 2 .

meminta laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah dan lain-lain. dalam hal ini agar anggaran yang ada betul-betul mencerminkan kepentingan rakyat. melaksanakan pengawasan.Sisi lain dari reformasi politik ini akan berdampak pada pemerintahan daerah adalah perubahan peran DPRD yang sebelumnya dianggap hanya merupakan stempelnya pemerintah menjadi pihak yang mengawasi pemerintah. Sedangkan yang menjadi tugas dan wewenang DPRD antara lain membentuk Perda. Dalam sebuah Negara yang menganut sistem demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahannya maka kekuasaan ini tidak berada pada satu tangan tapi adanya pemisahan kekuasaan. hal yang sama juga dijelaskan dalam UU No. anggaran. Kekuasaan yang dijalankan lembaga perwakilan ini dalam perwujudannya antara lain pada tingkat pemerintah daerah adalah membentuk program daerah. dimana kedudukan DPRD sejajar dengan eksekutif bahkan terkesan kuat. Peraturan Daerah yang akan ditetapkan oleh Kepala Daerah harus terlebih dahulu diajukan ke DPRD untuk dibahas dan disetujui. 3 . mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala/Wakil Kepala Daerah. DPR. membahas dan menyetujui Rancangan APBD. Hal ini sebagai konsekuensi dari terlepasnya pengaruh pemerintah dalam rekrutmen anggota legislatif. sebagaimana disebutkan dalam UU NO. Peran dan kedudukan DPRD juga jelas diatur dalam UU No. angket dan menyatakan pendapat. Sekalipun APBD ditetapkan oleh Peraturan Daerah. 32 Tahun 2004 (pasal 41) DPRD memiliki fungsi legislasi. DPRD. daerah kabupaten dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum. namun usul inisiatifnya harus datang dari pemerintah daerah sebagai pihak pelaksanaan (eksekutif) yang memerlukan anggaran untuk mendukung program dan rencana kerja yang telah dibuat. 22 Tahun 2003. Peran DPRD dalam menjalankan fungsi legislasi merupakan perwujudan lembaga ini sebagai lembaga perwakilan rakyat. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Kedudukan MPR. Keterlibatan DPRD dalam penyusunan APBD ini adalah supaya susunan anggaran yang diusulkan eksekutif sesuai dengan prioritas kebutuhan daerah. Salah satu diantaranya adalah kekuasaan legislatif. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18 (3) menyebutkan pemerintah daerah. Fungsi yang memberikan kesan kuat dalam kedudukan DPRD adalah adanya hak-hak yang dimiliki seperti hak interpelasi. Kedudukan DPRD merupakan Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah. yang membawa implikasi pada pergeseran peran DPRD secara signifikan. Dengan demikian pemerintah tidak dapat membuat kebijakan dengan sewenang-wenang karena DPRD akan membatasinya sesuai dengan kepentingan rakyat yang diwakilinya. dan pengawasan. DPD. Peran budgetair (anggaran) yang dilaksanakan oleh DPRD terlihat pada tugas dan wewenang DPRD yang salah satunya adalah membahas dan menyetujui rancangan Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah bersama dengan Kepala Daerah. sehingga para anggota yang terpilih akan lebih setia kepada masyarakat pemilihnya dari pada pihak eksekutif di daerah.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. maka DPRD memiliki hak (pasal 43 ayat 1) yaitu hak interpelasi ialah hak DPRD untuk meminta keterangan kepada kepala daerah mengenai kebijakan pemerintah daerah yang penting dan strategis yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat. daerah dan negara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundangundangan. Sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-undang No. Hak lainnya yang dimiliki DPRD adalah hak menyatakan pendapat yaitu hak DPRD untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan kepala daerah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. Untuk mengimplementasikan fungsi DPRD tersebut. Membahas dan menyetujui rancangan Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan Belanja Daerah bersama dengan kepala daerah. Fungsi pengawasan (control function) Selanjutnya dikatakan bahwa berdasarkan fungsi-fungsi tersebut melahirkan sejumlah kekuasaan-kekuasaan tertentu. selain itu juga DPRD mempunyai tugas dan wewenang : a. Undang-undang No. Membentuk Peraturan Daerah yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama. b. Secara garis besar terdapat tugas fungsi pokok DPRD.Peran pengawasan DPRD secara tegas disebutkan dalam UndangUndang Nomor 32 tahun 2004 Pasal 42 ayat 1 huruf c bahwa DPRD mempunyai tugas dan wewenang melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. daerah. Fungsi penganggaran (budgeting function) c. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan kemudian lahirlah Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. yaitu : a. Lebih lanjut dalam pasal 41 disebutkan bahwa DPRD memiliki fungsi legislasi. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah disebutkan didalamnya pada pasal 40 bahwa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah dan berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah. 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah sebagai peletak dasar penyelenggaraan pemerintahan daerah otonom kemudian di awal reformasi telah dibentuk Undangundang No. sedangkan hak angket ialah pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu kebijakan tertentu kepala daerah yang penting dan strategis yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat. 4 . Fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sebagai jabaran lebih lanjut dari UUD 1945. anggaran dan pengawasan. dan kerjasama internasional di daerah. sejak proklamasi kemerdekaan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia telah dibentuk Undangundang tentang Pemerintahan Daerah. dan negara. Fungsi perundang – undangan (legislative function) b. peraturan Kepala Daerah. Kebijakan Pemerintah. C.

Priyatmoko (Budiardjo et al. kultural (adat. yaitu fungsi representasi. umur dan wilayah). Selanjutnya dijelaskan bahwa fungsi representasi. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD dan kepada Menteri dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. sosiologi (strata sosial). j. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. agama. b. Mengawasi pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembelanjaan Negara. Sedangkan fungsi pembuatan keputusan berkaitan dengan upaya mengidentifikasikan sekaligus pemecahan masalah dalam konteks mewujudkan kesejahteraan bersama. Membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. Pelaksanaan fungsi ini dapat diukur dari kemampuan lembaga perwakilan untuk mengidentifikasi dan memecahkan berbagai masalah dalam upaya mengantisipasi masa depan. g. Mengadakan perdebatan mengenai kebijaksanaan umum. Melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. Memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. Meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintah daerah. fungsi pembuatan keputusan dan fungsi pembentukan legitimasi. e. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. ekonomi (pekerjaan pemilikan). h. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang – undangan lainnya.c. seperti: seberapa besar keanekaragaman tadi termanifestasikan dalam badan perwakilan ini serta bagaimana wujud interaksi dan komunikasi perwakilan rakyat dengan masyarakat. DPRD merupakan lembaga perwakilan rakyat yang anggotanya mencerminkan keanekaragaman baik demografis (jenis kelamin. k. Fungsi pembentukan legitimasi yang secara implisit di dalamnya tercakup fungsi pengawasan. Mengubah atau amandemen terhadap berbagai peraturan perundangan. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. kepercayaan. d. yang merupakan fungsi DPRD yang urgen dalam 5 . maka beberapa pertanyaan yang perlu dijawab. orientasi sosial dan kesenian). 1997:122) mengemukakan tiga fungsi legislatif. Mengambil inisiatif atas upaya pembuatan undang-undang. maupun politik di dalam masyarakat. dan kerja sama internasional di daerah. d. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. Jimly Asshiddiqie (2005: 39-40) mengatakan bahwa tugas pokok lembaga parlemen itu di mana-mana adalah: a. i. peraturan kepala daerah. c. f. Untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan fungsi representasi.

6 . Y.menghadapi eksekutif. Angket (adalah pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu kebijakan tertentu kepala daerah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat. Membela diri. c.) c. serta mengawasi jalannya pemerintahan daerah. Sibuea (1975: 39 . DPRD juga diberikan hak menurut pasal 43 ayat (1) dan pasal 44 ayat (1). b. Keuangan dan administratif. Pasal 43 ayat (1) DPRD mempunyai hak: a.) b.40) bahwa ”Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai fungsi penting dalam sistem ketatanegaraan dan praktek penyelenggaraan Negara. Hak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam menumbuhkan semangat demokrasi. Mengajukan Rancangan Peraturan Daerah. daerah dan Negara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundangundangan. Hotman P. Memilih dan dipilih. f. Interpelasi (hak DPRD untuk meminta keterangan kepada kepala daerah mengenai kebijakan pemerintah daerah yang penting dan strategis yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat. Imunitas. Menurut M. Untuk melaksanakan ketiga fungsi ini Dewan memiliki beberapa hak yang diatur dalam tata tertib. bagi aktifitas pihak eksekutif dalam menjalankan fungsinya secara efektif. Menyatakan Pendapat (adalah hak DPRD untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan kepala daerah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. e.) Sedangkan Pasal 44 ayat (1) anggota DPRD mempunyai hak: a. Sesuai tingkatannya maka di daerah terdapat DPRD yang berwenang membuat Peraturan Daerah bersama Kepala Daerah. legislasi. mengontrol anggaran. Fungsi dimaksud adalah : pengawasan. D. Protokoler. 32 tahun 2004. serta pengawasan terhadap jalannya pemerintahan. DPRD dalam menjalankan fungsinya menurut pasal 41 Undang – undang No. d. DPRD dapat membentuk citra pemerintahan umum. mengontrol anggaran daerah. daerah dan Negara. Implementasi fungsi akan menentukan stabilitas politik serta suasana kondusif. maka pimpinan dan atau kebijaksanaan yang dapat diterima atau mendapat dukungan rakyat. yaitu kekuasaan dalam bidang perundang-undangan. Mengajukan pertanyaan. dan h. Menyampaikan usul dan pendapat. dan anggaran. Dengan fungsi ini. g. Tiyas Tinov (1974 : 92) bahwa “menurut UUD 1945 ada tiga jenis kekuasaan yang melekat pada Dewan Perwakilan Rakyat.

d. dan menaati segala peraturan perundangundangan. Mengamalkan Pancasila. Hal ini akan menjadi tolok ukur juga bagi anggota DPRD sebagai wakil rakyat. Artinya fungsi pengawasan dapat bermakna jika para anggota DPRD melaksanakan hak-haknya secara eksis sesuai dengan peraturan tata tertib DPRD dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. g. yaitu dalam hal penggunaan fungsi pengawasan legislasi. di sisi lain DPRD dibebani kewajiban-kewajiban. Mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. artinya segala sesuatu yang masih bersifat rencana. setelah pekerjaan atau kegiatan dilaksanakan dan preventif. Mendahulukan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi. sesuai Pasal 45 yaitu: a. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga yang terkait. f. sebelum kegiatan dilaksanakan. kelompok atau golongan. menghimpun. Menaati Peraturan Tata Tertib. fiskal dan politis melalui penggunaan hakhak anggota DPRD. Kendati Undang-Undang No. yaitu represif. Menyerap. penyerap sekaligus penyalur aspirasi rakyat di daerah yang mensyaratkan kualitas serta kemampuan intelektual dengan tidak melupakan tekad dan semangat para anggota DPRD itu sendiri. h. Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah.Menurut Undang-Undang No. E. menerima atau menolak. dan sumpah/janji anggota DPRD. e. b. i. akan tetapi realitasnya bergantung dari komitmen dan tanggung jawab yang didasarkan pada etos dan moralitas yang tinggi (ligh standards of performance) DPRD itu sendiri. Pengawasan DPRD Pelaksanaan pengawasan DPRD dari sudut implementasi hak sehingga pengawasan DPRD hanya ada dua kemungkinan. menampung. Umumnya pengawasan preventif dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan. Memberikan pertanggungjawaban atas tugas dan kinerjanya selaku anggota DPRD sebagai wujud tanggung jawab moral dan politis terhadap daerah pemilihannya. anggaran. karena kemungkinan itu terkait dengan substansi apa yang dibahas tatkala DPRD menggunakan fungsinya sehingga sampai pada kesimpulan. kode Etik. Melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. c. 32 tahun 2004 di satu sisi DPRD diberikan hak-hak yang sangat luas agar dapat mengaktualisasikan fungsi-fungsinya. 32 Tahun 2004 secara teoritis menempatkan DPRD pada posisi yang cukup menentukan dalam sistem demokrasi pemerintahan di daerah yaitu sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah disertai peran yang sangat luas. Sehubungan dengan fungsi pengawasan DPRD berarti keterlibatan DPRD sejak awal 7 .

Menurut Laica Marzuki (jasin. sebagai penampung dan penyalur aspirasi masyarakat. memberikan usul penyempurnaan terhadap rancangan Peraturan Daerah atau perubahan Peraturan Daerah yang disampaikan kepada Daerah atau oleh para anggota DPRD yang bersangkutan. b. penempatan pegawai dan pembagian kerjanya. memperjuangkan dan menjamin agar dalam penyusunan dan perubahan Peraturan Daerah serta pelaksanaannya selalu sejalan dengan aspirasi masyarakat. Menurut Suwarno (1976: 145) bahwa pengawasan preventif dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan: a. dan pembuatan kebijaksanaan politik kepala daerah. pelaporan dan pemeriksaannya. Menentukan sistem koordinasi. Pelaksanaan hak amandemen ini pada umumnya terjadi saat pembicaraan tingkat I. Hak mengadakan perubahan atas rancangan Peraturan Daerah yang sedang dibahas (amandemen) dan hal mengajukan rancangan peraturan daerah (hak prakarsa) merupakan dua hak DPRD dalam melaksanakan fungsi legislatifnya (membuat Peraturan Daerah). f. Menentukan peraturan yang berhubungan dengan sistem prosedur. Menetapkan sanksi terhadap pejabat yang menyimpang dari peraturan yang telah ditetapkan. c. rapat fraksi. rapat-rapat komisi. penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. dan wewenang. dilakukan oleh DPRD dengan tujuan agar penggunaan anggaran sesuai dengan program yang menyentuh kepentingan rakyat serta mempertimbangkan kemampuan daerah. dan III. ataupun rapat panitia khusus. d. II. Pengawasan legislasi. tidak hanya sekadar menanggapi apa yang datang dari lembaga perwakilan itu sendiri. 2. Hak prakarsa ini memberikan kesempatan kepada DPRD untuk berperan secara lebih aktif dan nyata. Menentukan kedudukan. Pengawasan anggaran dapat dilakukan DPRD saat penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setelah tahun anggaran berakhir. yaitu: 1. dilakukan oleh DPRD untuk mengetahui. tugas.penyusunan Peraturan Daerah. Mengorganisasikan segala macam kegiatan. Sedangkan pelaksanaan hak mengajukan rancangan Peraturan Daerah (hak prakarsa) memberi peluang yang besar kepada anggota DPRD untuk menyalurkan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Membuat pedoman/manual sesuai peraturan yang telah ditetapkan. dan tanggung jawabnya. Pengawasan Anggaran. e. Pelaksanaan fungsi ini dilakukan dengan cara mengadakan rapat dengan unit-unit kerja yang memiliki sumber dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk meminta penjelasan/keterangan tentang 8 . Melalui prakarsa pengajuan Peraturan Daerah atau amandemen terhadapnya maka para anggota DPRD dapat menyampaikan. hubungan dan tata kerjanya. 2000: 63) bahwa DPR termasuk DPRD mempunyai beberapa fungsi pengawasan.

Selain itu mengadakan rapat kerja. rapat komisi. Pengawasan Politis. (d) manfaat hasil pemungutan pajak. Pengawasan fiskal. 3. Berkenaan dengan sistem pengawasan sebagaimana dijelaskan di atas maka kedudukan dan peranan DPRD cenderung menjadi sasaran dan sumber kontroversi. terutama dalam penyelenggaraan pelayanan publik kepada masyarakat. hal ini didasarkan pada suatu pandangan bahwa badan legislatif dapat mewakili rakyat dan memiliki kompetensi untuk memenuhi kehendak rakyat. 4. Pengawasan merupakan salah satu hal yang dapat menjamin kesuksesan jalannya pemerintahan. Pengawasan yang dilakukan oleh DPRD bersifat pengawasan politik. dilakukan oleh DPRD untuk mengetahui sumber pendapatan yang berasal dari pajak daerah. peralatan daerah. bidang pembangunan. Sementara Jimly (2005: 75) untuk lebih mempertegas posisi lembaga perwakilan maka kewenangan di bidang pengawasan diperkuat dengan penerapan hak subpoena yaitu hak untuk memanggil seseorang. badan usaha milik daerah serta pembangunan desa agar tidak ada penyimpangan dari rencana atau pengaturan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu ketika membuat suatu rancangan peraturan daerah tentang Pajak daerah. (b) pajak daerah harus dikonsultasikan dan dikoordinasikan dengan instansi vertikal. bidang sosial politik. mengingat kewenangan yang dimiliki pemerintah sangat luas setelah adanya Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah. para anggota DPRD harus memperhatikan : (a) pajak itu belum pernah dipungut. disertai dengan ancaman pidana bagi yang tidak memenuhi panggilan tersebut. keuangan. akan tetapi tentu saja hal ini memerlukan pengawasan ekstra. (c) kemampuan masyarakat wajib pajak. perekonomian dan kesejahteraan rakyat. DPRD sebagai lembaga legislatif memiliki posisi sentral yang biasanya tercermin dalam doktrin kedaulatan rakyat. perangkat wilayah/daerah. 9 .kelancaran atau hambatan pengeluaran dana yang tersedia. Pelaksanaan fungsi pengawasan yang dilakukan oleh DPRD merupakan salah satu fungsi yang dimiliki oleh lembaga ini dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. dimana penekanannya terletak pada kebijakan-kebijakan strategis dan bukan pengawasan teknis maupun administratif. anggota DPRD mempunyai kewajiban untuk melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah. ataupun rapat panitia anggaran. Satu di antara alasan yang mendasari adalah karena paradoks antara cita-cita yang mendasari pembentukannya dengan realitas sosial-politik yang berlaku. Pengawasan bisa dilakukan secara individual maupun secara institusional. dan retribusi bagi masyarakat serta konstribusinya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. ditujukan kepada berbagai langkah kebijaksanaan yang ditempuh Pemerintah daerah sehubungan pelaksanaan tugas pemerintah daerah. Banyaknya penyimpangan yang dilakukan aparat terkait merupakan hal nyata pada tingkatan lokal. Sebagai representasi rakyat di daerah.

Pasal 81 (6) UU No. Merespons Pengaduan Masyarakat Penerima manfaat langsung pelayanan publik adalah masyarakat. Secara institusional maupun individual. (c) pengawasan ke SKPD. Pengawasan oleh Gabungan Komisi.Secara sederhana pengawasan DPRD dibedakan menjadi enam jenis: a. Dalam beberapa tahun terakhir. yakni pengawasan yang dilakukan oleh alat kelengkapan DPRD yang dibentuk khusus untuk melakukan pengawasan. b. banyak ’pengaduan’ dari masyarakat yang disampaikan secara sistematis oleh organisasi masyarakat sipil. Pengawasan oleh Kelompok Kerja (Pokja) dan pengawasan oleh Panitia Khusus (Pansus). diantaranya dalam bentuk hasil survei maupun polling pendapat masyarakat. (b) pengawasan ke unit layanan. membuat pernyataan di media massa. e. Agar DPRD bisa mendapat informasi yang selalu up to date tentang pelaksanaan pelayanan publik. Meski demikian. Upaya ini sangat 10 . (a). melalui unjuk rasa. melalui SMS. bahkan komplain atau pengaduan masyarakat terhadap penyelenggaraan maupun kualitas pelayanan publik yang diterimanya. dan (d) pengawasan kepada Kepala Daerah. secara lisan menemui langsung anggota DPRD. 22/2003 menyatakan bahwa DPRD mempunyai kewajiban menyerap. dan lain-lain. Pengawasan oleh Komisi. Secara formal melalui surat resmi. dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. f. yakni pengawasan yang ruang lingkupnya (objeknya) merupakan bidang yang menjadi tugas lintas Komisi dan dilaksanakan oleh dua Komisi atau lebih. DPRD juga bisa melakukan langkah responsif dengan menginisiasi dan mengembangkan pos pengaduan. F. menghimpun. Pengawasan oleh Pimpinan DPRD yakni pengawasan yang laksanakan langsung atas nama pimpinan DPRD. penyampaian pengaduan masyarakat dilakukan melalui beragam media. menampung. sehingga masyarakatlah yang merasakan langsung apakah pelayanan publik dilaksanakan dengan baik atau tidak. Aspirasi masyarakat di sini bisa berarti usulan. kritik. Selain itu. yakni pengawasan yang ruang lingkupnya (objeknya) merupakan bidang tugas Komisi dan dilaksanakan oleh Komisi d. DPRD harus mempunyai wadah atau mekanisme yang bisa menampung keluhan dan aspirasi masyarakat. Bentuk Pengawasan DPRD Bentuk pengawasan DPRD dapat dibagi dalam beberapa kelompok. Dalam prakteknya. c. dan menampung aspirasi masyarakat DPRD bisa melakukannya secara proaktif melakukan pendekatan ke masyarakat. untuk menyerap. diantaranya: (a) merespons pengaduan masyarakat. yakni pengawasan yang melekat pada kedudukan setiap anggota DPRD. gagasan. Pengawasan oleh Fraksi. Fraksi sesungguhnya bukan alat kelengkapan DPRD melainkan perpanjangan tangan partai politik untuk mengkomunikasikan agenda atau kepentingan partai politik bersangkutan dalam institusi DPRD. Pengawasan oleh anggota DPRD. fraksi memiliki fungsi pengawasan terhadap kebijakan dan kinerja pelayanan publik yang hasilnya dapat disampaikan langsung melalui alat kelengkapan dewan dan atau induk partai masing-masing sebagai sikap politik. menghimpun.

Secara prosedural. anggota DPRD bisa melakukan pengawasan langsung ke unit-unit pelaksana teknis daerah. Mulai dari meminta keterangan kepada pelaksana pelayanan publik. kantor kelurahan/kecamatan. DPRD bisa melakukan tindak lanjut yang lebih mendasar. 7. E-mail (b). Pengawasan ke unit layanan Masyarakat mendapatkan pelayanan publik secara langsung melaui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). dan lain-lain. antara lain sekolah. Facsimile. menghimpun. karena DPRD bisa mendapatkan masukan maupun umpan balik dari masyarakat dan bisa memberikan pengayaan bagi DPRD dalam melakukan pengawasan terhadap pelayanan publik. Pesan singkat (SMS) dengan nomor khusus. Persuratan 8. SKPD memberikan mandat dan alokasi anggaran kepada UPTD atau perusahaan 11 . 5. Untuk menjamin pelaksanaan pelayanan publik berjalan dengan baik dan masyarakat mendapatkan kualitas barang dan jasa dengan baik. (c) Pengawasan ke SKPD (termasuk unit layanan) SKPD merupakan institusi penentu kebijakan. Berdasarkan data pengaduan yang dihimpun secara sistematis. Website yang dibentuk dewan masing-masing daerah.strategis. puskesmas. 6. 2. 4. masyarakat juga bisa mendapatkan pelayanan publik melalui unit-unit pelayanan publik yang diselenggarakan oleh badan usaha swasta. Mengembangkan posko aspirasi 3. Bisa bekerjasama dengan media cetak untuk membuka pengaduan layanan publik. Hal ini dimungkinkan. 9. SKPD didukung oleh UPTD (dan service provider swasta). baik di aspek penyerapan. perencana dan penyelenggara pelayanan publik di sektor tertentu. jika masyarakat merasakan manfaat konkret dari pengaduan yang dilakukannya kepada DPRD. Membentuk tim penerima aspirasi untuk menerima aspirasi masyarakat yang datang langsung ke gedung DPRD. Dalam pelaksanaan pelayanan publik langsung ke masyarakat. klinik pengobatan atau rumah sakit swasta. Banyak jenis pengaduan yang bisa disiapkan oleh DPRD. dalam arti bahwa input maupun umpan balik yang dihimpun oleh DPRD mempunyai legitimasi prosedural untuk dibahas lebih lanjut dalam mekanisme pembahasan di DPRD dan pengayaan secara substansial dalam arti bahwa pengaduan sebagai masukan dan umpan balik yang diperoleh dari masyarakat menjadi lebih berkualitas. Pengaduan dari masyarakat akan menjadi lebih berkualitas sebagai aspirasi jika didukung oleh mekanisme pengelolaan yang sistematis. maupun menampung. baik di tingkat unit pelayanan maupun ke Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). baik secara prosedural maupun secara substansial. maupun membawanya dalam pembahasan di alat kelengkapan DPRD. Lewat telepon on-line. Pengawasan bisa dilakukan secara proaktif dengan melakukan peninjauan lapangan secara acak ke UPTD maupun sebagai respons positif terhadap pengaduan masyarakat. dan lain-lain. yang sesuai dengan standar pelayanan minimal. seperti sekolah swasta. di antaranya: 1. Selain itu. Dalam hal ini. kantor kependudukan dan catatan sipil.

903/ 2429/SJ tanggal 21 September 2005. selama ini sulit ditemukan sehingga mempengaruhi persepsi publik terhadap DPRD menjadi rendah. saluran drainase. adalah agar publik dapat mengetahui kinerja wakilnya di DPRD. isi. saluran irigasi. Misalnya. (d) Pengawasan kepada Kepala Daerah (Bupati/Walikota) Pengawasan oleh DPRD kepada Kepala Daerah dilakukan terhadap penyelenggaraan pelayanan publik secara keseluruhan dan penyelenggaraan pemerintahan daerah pada umumnya. jenis laporan ditegaskan dalam Surat Mendagri No. Mekanisme pertanggungjawaban tidak secara tegas diatur dalam undangundang nomor 22 tahun 2003 termasuk dalam UU nomor 32 tahun 2004. Bahkan dalam Undang-Undang nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk. anggota DPRD perlu mendapatkan informasi tentang penerima manfaat beasiswa tersebut. 120/1306/SJ tanggal 7 Juni 2005). SKPD juga melakukan supervisi dan pengendalian kepada UPTD. serta mengidentifikasi penerima manfaat anggaran publik di bidang pelayanan dasar.penyedia barang dan jasa. waktu. format. LKPJ dapat memuat mengenai realisasi program dan kegiatan yang telah disepakati dalam arah kebijakan umum APBD sampai dengan akhir tahun anggaran (SE Mendagri No. dan memberikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban kepada DPRD. secara tegas mengharuskan setiap anggota DPRD melakukan pertanggungjawaban atas kinerjanya. Terutama untuk program maupun proyek yang mendapatkan alokasi anggaran yang besar. 12 . anggota DPRD seharusnya melakukan uji petik terhadap beberapa proyek pembangunan infrastruktur. Publik ingin mendapatkan informasi terhadap realisasi atas aspirasi yang dikeluhkan selama ini melalui lembaga DPRD. maupun pasar. Apa yang ingin didorong dalam Undang-Undang tersebut. Hal ini untuk melihat apakah program beasiswa ditujukan untuk meningkatkan akses masyarakat miskin atau tidak. Sayangnya. G. Dalam proyek pembangunan infrastruktur berupa jalan. DPRD juga perlu meminta keterangan kepada pejabat SKPD terkait. Pertanggungjawaban Hasil Pengawasan Pertanggungjawaban atas hasil pengawasan menjadi penting untuk akuntabilitas suatu pekerjaan. tata cara. prosedur. apakah sampai ke masyarakat sebagai penerima manfaat atau tidak. Agar bisa menilai LKPJ bupati/walikota dengan baik. pengadaan barang dan jasa dalam penyelenggaraan bidang pendidikan dan kesehatan. melainkan diatur dalam tata tertib masing-masing DPRD. Dalam Pasal 27 (2) UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa “Kepala Daerah mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah. Pengawasan terhadap Kepala Daerah oleh DPRD setiap tahun dilakukan terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ). anggota DPRD bisa melakukan penelusuran pelaksanaan proyek dengan melibatkan konstituennya di daerah pemilihan. serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat”. jika ada tindakan atau kebijakan UPTD atau penyedia layanan yang merugikan masyarakat sebagai penerima manfaat pelayanan publik. Selain itu. informasi tersebut.. jika ada program pemberian beasiswa pendidikan yang anggarannya mencapai miliaran rupiah. Dalam konteks ini.

• Hasil pengawasan. baik melalui persuratan resmi yang ditembuskan kepada setiap anggota. peraturan daerah. baik individu. komisi dan gabungan komisi serta Pansus juga dapat dipertanggungjawabkan melalui rapat pimpinan yang diperluas. komisi termasuk sekretariat dewan dan media massa. kepada konstituen. sehingga pertanggungjawabannya juga sudah baku. Bahkan anggota DPRD bisa meminta untuk dilakukan rapat resmi fraksi untuk menjadikan hasil pengawasan mereka sebagai agenda politik melalui fraksi di mana mereka bergabung selama ini. maupun fungsi representasi. Salah satu bentuk pertanggungjawaban adalah menjadikan hasil-hasil pengawasan sebagai bahan untuk menyusun kebijakan publik di masa depan. maupun kepada publik. maupun rencana strategis daerah. maupun dalam sidang paripurna anggota DPRD. Pembahasan Rancangan APBD yang diajukan oleh pihak eksekutif juga akan 13 . Penutup Hasil pengawasan bisa menjadi bahan pertanggungjawaban kinerja DPRD. Usulan perubahan peraturan maupun pembuatan peraturan baru di daerah akan jauh lebih baik apabila didasarkan pada hasil indentifikasi terhadap kondisi riil penyelenggaraan pelayanan publik. • Pertanggungjawaban hasil pengawasan komisi biasanya dilaksanakan melalui rapat rutin mingguan internal anggota komisi yang biasa disebut rapat kerja mingguan komisi.Mekanisme pertanggungjawaban dapat dilakukan dalam bentuk: • Pengawasan individual yang terencana lebih banyak diterjemahkan dalam bentuk kegiatan reses dengan pola penganggaran yang sudah baku. • Hal yang sama dengan hasil pengawasan yang dilakukan gabungan komisi atau Pansus. bagaimana hasil pengawasan tersebut terdokumentasi dalam bentuk laporan yang bagus dan terkelolah dengan baik serta mudah dan murah untuk diakses oleh Publik. sistem pelayanan publik. Efektifnya fungsi pengawasan akan meningkatkan kualitas fungsi legislasi. baik berupa kebijakan anggaran daerah. Meski demikian secara kelembagaan berdasarkan tata tertib DPRD diagendakan rapat pleno DPRD untuk tiga bulan masa sidang (sebagian daerah ada enam bulan masa sidang). • Hasil pengawasan DPRD bisa dipertanggungjawabkan melalui sidang paripurna atau dengan melibatkan masyarakat luas melalui forum evaluasi satu tahun masa sidang DPRD dan Yang terpenting pula. masing-masing DPRD melalui sidang pleno paripurna akan menyampaikan hasil kinerja selama tiga bulan masa sidang. Dalam forum ini. fungsi penganggaran. baik secara formal kelembagaan. Substansinya adalah bagaimana memastikan hasil pengawasan menjadi bagian dari agenda lembaga yang dapat ditindaklanjuti. Fungsi pengawasan sangat berkaitan erat dengan tiga fungsi lainnya. dan hasilnya ditujukan kepada pimpinan DPRD. H. Setiap anggota DPRD dibebankan membuat pelaporan hasil pengawasan (selama reses) dan disampaikan kepada Pimpinan DPRD. fraksi. dapat dilakukan dalam rapat internal anggota gabungan komisi dan/atau anggota Pansus.

memiliki dasar yang kuat apabila didasarkan pada hasil pengawasan oleh DPRD terhadap pelaksanaan pelayanan publik di tahun-tahun sebelumnya Fungsi pengawasan DPRD belum sepenuhnya efektif. kepetingan kelompok dan kepentingan politik yang nantinya akan mempengaruhi objektivitasnya. Pembentukan panitia khusus. Di samping upaya yang bersifat internal juga sebaiknya dilaksanakan upaya yang bersifat eksternal yaitu menjalin hubungan dan kerjasama dengan pihak lain di luar DPRD untuk dapat memberikan masukan-masukan dalam melaksanakan fungsi pengawasan. baik anggaran. sudah sepatutnya apabila DPRD mengalokasikan sumber daya yang lebih besar untuk mengoptimalkan fungsi pengawasan terhadap pelayanan publik. DPRD bisa mengajukan usulan perbaikan terhadap rencana strategis daerah. Berdasarkan hasil-hasil pengawasannya. maka kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan fungsi pengawasan dapat dieliminir. Peningkatan frekuensi dengar pendapat dan kunjungan kerja komisikomisi. e. Pemenuhan sarana dan prasarana kerja komisi. d. Pembentukan panitia kerja. waktu. Untuk lebih memaksimalkan fungsi dan perannya. c. DPRD masih mengalami hambatan yakni. DPRD hendaknya melepaskan diri dari kepentingan pribadi. melekatnya kepentingan kelompok dan melekatnya kepentingan politik. Komitmen nasional untuk memberikan pendidikan dasar 9 tahun dan layanan kesehatan gratis secara bertahap misalnya. Menimbang hal tersebut. maupun agenda kerja. Pengawasan yang dilaksanakan oleh DPRD tidak ubahnya seperti pemeriksaan.Hak-hak DPRD belum dilaksanakan sepenuhnya. diklat tekhnis dan sebagainya. Melalui upaya internal peningkatan kedisiplinan dan kemampuan SDM anggota DPRD. Pengawasan yang dilaksanakan oleh DPRD belum sesuai dengan hak.Bahwa dalam pelaksanaan fungsi pengawasan. Hal-hal tersebut menyebabkan lemahnya fungsi pengawasan yg diemban oleh DPRD sehingga akan terjadi penyalahgunaan kewenangan dalam pelaksanaan pemerintahan didaerah. b. perlu diwujudkan dengan mengusulkan rencana strategis daerah yang memuat secara bertahap perwujudan komitmen tersebut. Upaya lain dalam mengatasi kendala dalam melaksanakan fungsi pengawasan agar lebih optimal antara lain melalui : a. Dalam pelaksanaan fungsi pengawasan. seminar. tugas dan wewenang serta kewajibannya. Setiap anggota DPRD juga diharuskan memiliki kemampuan dan pengalaman dalam bidang hukum dan pemerintahan baik itu berupa pendidikan formal maupun pendidikan non formal seperti mengikuti workshop. 14 . Hal tersebut disebabkan oleh melekatnya kepentingan pribadi. Secara kelembagaan dengan adanya upaya-upaya tersebut menunjukkan adanya tekad dan semangat untuk dapat melaksanakan fungsinya secara optimal. efisien dan belum proporsional. Pembentukan panitia anggaran. serta keterbatasan pengalaman dan atau pendidikan baik formal maupun nonformal dalam bidang hukum dan pemerintahan.

Format kelembagaan Negara dan Pergesaran Kekuasaan dalam UUD 1945. Jakarta Syarifin Pipin dan Jubaedah Dedah. 1995. Ghalia Indonesia. --------------------------. Yayasan Pendidikan Tinggi Dakwah Islam. Negara Hukum Indonesia. 1988. Maros. Ichtiar Baru Van Hoeve. Hukum Tata Pemerintahan dan Proses Legislatif Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat Dalam Era Pemerintahan Modern – Industrial. ------------------------. 2006. ------------------------. 1996. PT. Bandung. Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi . 2004. Jakarta. Ruang Pola kantor Bupati Maros. 1995. Fungsi Legislatif Dalam Sistem Politik Indonesia. Jakarta. Jakarta. 2005. Azhary. Raja Grafindo Persada. Hukum Pemerintahan Daerah. Sujamto. Raja Grafindo Persada. 2005. 2000. Jakarta.Konsolidasi gerakan menuntut tanggung jawab negara untuk pemenuhan hak dasar melalui penyelenggaraan pelayanan publik yang adil dan berkualitas”. Raja Grafindo Persada. Budiardjo Miriam dan Ambong Ibrahim. Pustaka Bani Quraisy. 2001. 2005. Asshiddiqie Jimly. FH UII Press. Universitas Indonesia Press. Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN). 1995. Gagasan Kedaulatan Rakyat Dalam Konstitusi dan Pelaksanaannya di Indonesia. Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3). Arus Balik Kekuasaan Pusat Ke Daerah. Jakarta. Yogyakarta. 15 . Jakarta.H. 1994. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Ali Faried. Soedirman Basofi. PT. Lembaga Negara dan Sengketa Kewenangan antar Lembaga Negara. S. Konstitusi Press. PT. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan. Cipto Bambang. Makalah Penerapan Good Governance (Tata Pemerintahan yang Baik) Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Otonomi Daerah yang Nyata dan Bertanggungjawab. Otonomi Daerah Menuju Indonesia baru. Jakarta. 2007 Sarundajang. Jaringan Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3). Bachrie Syamsul. Bandung.

Yogyakarta. Pengurus HKTI Sulsel. 16 . Una Sayuti.Hukum Unhas. Local Governance Support Program. Undang . Menyelesaikan S1 & S2 di Fak. Pustaka Sinar Harapan. Insan Cendekia. Jakarta. LGSP Jakarta.M. Purnomowati Dwi Reni. PT. Jakarta.Sujamto. Undang . Implementasi Sistem Bikameral dalam Parlemen Indonesia. Pembina UKM Pramuka Unhas.H. 1994. Pusat Kajian Hukum dan Otonomi Daerah dll. Jakarta. Pakpahan Muchtar. Yogyakarta. Surabaya. sementara dalam proses untuk menyelesaikan Pendidikan Doktor (S3) Pada Fakultas Hukum Unhas. serta aktif dibeberapa pusat kajian: CELDIS. Pergeseran Kekuasaan Pemerintahan Daerah Menurut Konstitusi Indonesia. Aktif dibeberapa organisasi. Pengawasan DPRD terhadap kebijakan publik. DPmR RI Semasa Orde Baru. Thaib dahlan. Bhinneka Cipta.Pengurus ICMI Orwil Sulsel. 2005.. UII University Press. Perspektif Otonomi Daerah.Undang Dasar 1945 dan Amandemen Lengkap. 1990. S. 1994.H Adalah Dosen Fakultas Hukum Unhas sejak thn 2002. DPR dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Muh. Lahir di Gowa 18 April 1981. Badan Hukum Kosgoro 1957 Sul-sel. Dewan Pembina HLSC dan Garda Tipikor Unhas. Raja Grafindo Persada. 2001. Konsultan Hukum Pemilukada. Hasrul. Polyama Widyapustaka. Pengurus KNPI Propinsi Sulsel.Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 2000. 2004. Jakarta. Liberty. Widodo Joko. Good Governance.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->