BAB I PENDAHULUAN A. Definisi 1.

Bahasa Al-miirats (‫ )انًيساث‬dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar ُ ِ َ ِ َ (infinitif) dari kata (‫ )ٔزث يَسث إِزْ حًا ٔييساحًا‬waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. َ ِْ َ Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain', atau dari suatu kaum kepada kaum lain. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta, tetapi mencakup harta benda dan non harta benda. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini, demikian pula sabda Rasulullah saw.. Di antaranya Allah berfirman: ‫ٔٔزث سهَيًاٌُ دَأٔد‬ َ ُ َْ ُ َ ِ َ َ "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud ..." (an-Naml: 16) ُ َ ٍَ‫ٔكَُّا ََحْ ٍُ انٕازحِي‬ ِ َْ "... Dan Kami adalah yang mewarisinya." (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw.: ‫انعهًَاء ْٔزحَحُ األََثِيَاء‬ َ َ ُ َ ُ َ ْ 'Ulama adalah ahli waris para nabi'. 2. Pengertian syariah Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah : berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. B. Waris, Hibah dan Wasiat Ada tiga istilah yang berbeda namun memiliki kesamaan dalam beberapa halnya, yaitu waris, hibah dan wasiat. Ketiganya memiliki kemiripan sehingga kita seringkali kesulitan saat membedakannya. Tetapi akan terasa lebih mudah kalau kita buatkan tabel seperti berikut ini.

1

WARIS Waktu Setelah wafat Ahli waris

HIBAH Sebelum wafat ahli waris &

WASIAT Setelah wafat bukan ahli waris

Penerima Nilai Hukum

bukan ahli waris Sesuai faraidh wajib Bebas Sunnah Maksimal 1/3 Sunnah

1. Waktu Dari segi wattu, harta waris tidak dibagi-bagi kepada para ahli warisnya, juga tidak ditentukan berapa besar masing-masing bagian, kecuali setelah pemiliknya (muwarrits) meninggal dunia. Dengan kata lain, pembagian waris dilakukan setelah pemilik harta itu meninggal dunia. Maka yang membagi waris pastilah bukan yang memiliki harta itu. Sedangkan hibah dan washiyat, justru penetapannya dilakukan saat pemiliknya masih hidup. Bedanya, kalau hibah harta itu langsung diserahkan saat itu juga, tidak menunggu sampai pemiliknya meninggal dulu. Sedangkan washiyat ditentukan oleh pemilik harta pada saat masih hidup namun perpindahan kepemilikannya baru terjadi saat dia meninggal dunia. 2. Penerima Yang berhak menerima waris hanyalah orang-orang yang terdapat di dalam daftar ahli waris dan tidak terkena hijab hirman. Tentunya juga yang statusnya tidak gugur. Sedangkan washiyat justru diharamkan bila diberikan kepada ahli waris. Penerima washiyat harus seorang yang bukan termasuk penerima harta waris. Karena ahli waris sudah menerima harta lewat jalur pembagian waris, maka haram baginya menerima lewat jalur washiat. Sedangkan pemberian harta lewat hibah, boleh diterima oleh ahli waris dan bukan ahli waris. Hibah itu boleh diserahkan kepada siapa saja. 3. Nilai Dari segi nilai, harta yang dibagi waris sudah ada ketentuan besarannya, yaitu sebagaimana ditetapkan di dalam ilmu faraidh. Ada ashabul furudh yang sudah ditetapkan besarannya, seperti 1/2, 1/3, 1/4, 1/6, 1/8 hingga 2/3. Ada juga para ahli waris dengan status

2

menerima ashabah, yaitu menerima warisan berupa sisa harta dari yang telah diambil oleh para ashabul furudh. Dan ada juga yang menerima lewat jalur furudh dan ashabah sekaligus. Sedangkan besaran nilai harta yang boleh diwasiatkan maksimal hanya 1/3 dari nilai total harta peninggalan. Walau pun itu merupakan pesan atau wasiat dari almarhum sebagai pemilik harta, namun ada ketentuan dari Allah SWT untuk membela kepentingan ahli waris, sehingga berwasiat lebih dari 1/3 harta merupakan hal yang diharamkan. Bahkan apabila terlanjur diwasiatkan lebih dari 1/3, maka kelebihannya itu harus dibatalkan. 4. Hukum Pembagian waris itu hukumnya wajib dilakuan sepeninggal muwarrits, karena merupakan salah satu kewajiban atas harta. Sedangkan memberikan washiyat hukumnya hanya sunnah. Demikian juga memberikan harta hibah hukumnya sunnah. C. Istilah-istilah dalam ilmu waris Setiap cabang ilmu memiliki istilah-istilah yang khas, dimana istilah itu seringkali tidak sama dengan istilah yang umum. Berikut ini kami uraikan beberapa istilah yang akan seringkali muncul. 1. Tarikah Tarikah, (‫ )تسكح‬kadang dibaca tirkah, adalah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris, baik berupa harta (uang) atau lainnya. Jadi, pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang, baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai), atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). 2. Fardh Fardh (‫ )فسض‬adalah bagian harta yang didapat oleh seorang ahli waris yang telah ditetapkan langsung oleh nash Al-Quran, As-Sunnah atau ijma' ulama. Fardh itu adalah bilangan pecahan berupa 1/2, 1/3. 1/4, 1/6, 1/8 dan 2/3. Harta yang dibagi waris itu adalah 1 lalu dipecah-pecah sesuai bilangan fardh.

3

seorang istri yang ditinggal mati suaminya sudah dipastikan besar harta yang akan diterimanya. apabila suaminya punya keturunan. Contoh ashabul furudh adalah suami. ibu. yaitu bagian harta yang diterima oleh ahli waris. maka suami mendapat 1/4 dari harta istri. biasanya ashahabnya menjadi besar. Sedangkan anak tersebut mendapat waris sebagai ashabah. seorang anak laki-laki tunggal adalah ahli waris ashabah dari ayahnya yang meninggal dunia. mendapat 1/8 dari harta suaminya. Tergantung seberapa banyak harta yang diambil oleh ahli waris ashhabul furudh. ayah dan lainnya. Seandainya istri punya anak. istri menapat 1/4 dari harta suami. Besar harta yang diterimanya sudah ditetapkan oleh nash. Tapi kalau istri tidak punya anak. 3. 4. Sebagai contoh.Misalnya seorang istri yang ditinggal mati suaminya sudah dipastikan mendapat 1/8 bagian dari harta suaminya. Begitu juga seorang suami yang ditinggal mati istrinya. ashabul furudh adalah para ahli waris yang sudah punya bagian pecahan tertentu dari harta muwarristnya. yaitu 1/4 atau 1/8. Ashabah Istilah ashabaha (‫ )عصثح‬berposisi sebagai lawan fardh. 4 . Mereka adalah ahli waris yang punya bagian yang pasti dari warisan yang diterimanya. sudah dipastikan besar harta yang akan diterimanya. Ashhabul Furudh. kalau jumlah mereka sedikit. berarti adalah orang-orangnya. yaitu 1/2 atau 1/4. suami mendapat 1/2 dari harta istri. Misalnya. tapi tergantung keadaannya. Seandainya suaminya punya anak. Ibunya adalah ahli waris dari ashabul furudh. Tapi kalau suami tidak punya anak. Tapi intinya. Kalau jumlah mereka banyak. maka istri mendapat 1/8 dari harta suami. yaitu orang-orang yang mendapat waris secara fardh. istri. tergantung keberadaan anak dari istri. yang besarnya belum diketahui secara pasti. maka bagian untuk ashabah menjadi kecil. yaitu 1 – 1/8 = 7/8. Ashabul furudh (‫ )أصحاب انفسٔض‬sesuai dengan namanya. Besarnya bisa nol persen hingga seratus persen. Karena harta itu hanyalah sisa dari apa yang telah diambil sebelumnya oleh ahli waris yang menjadi ashhabul-furudh. atau sisa dari apa yang sudah diambil ibunya. Atau mendapat 1/4 bagian bila suaminya tidak punya keturunan.

Termasuk juga anak dari anaknya (cucu) baik laki-laki maupun perempuan. D. Bagaimana cara pembagian harta warisan? E. atau anak dari anaknya (cucu) dan seterusnya. 6. Dan kakek atau nenek yang merupakan ayah dan ibunya ayah ini disebut juga al-jaddu ash-shahih. baik hubungan ke atasnya seperti ayah kandung. Untuk mengetahui siapa sah dalam menerima harta waris 5 . maksudnya adalah anak laki-laki atau anak perempuan dari almarhum yang akan dibagi hartanya.5. Sahm Sahm (‫ )سٓى‬adalah istilah untuk menyebut bagian harta yang diberikan kepada setiap ahli waris yang berasal dari asal masalah. Untuk mengetahui bagaimana cara mengetahui pembagian waris 2. Bisa juga hubungan seseorang ke arah bawah (keturunannya) seperti dengan anak kandungnya. Hubugnan ke atas ini disebut abuwwah. Al-Ashl Yang dimaksud dengan istilah al-ashl (‫ )األصم‬adalah ayah kandung dan ibu kandung. atau ahli waris anak-anak tersebut ke bawahnya. 8. Bila disebut Al-far'ul-warists maksudnya adalah anak laki-laki dan anak perempuan. Hubngan ini disebut bunuwwah. Atau disebut juga jumlah kepala mereka. Apakah yang di maksud dengan ilmu waris? 2. 7. Nasab Nasab (‫ )َسة‬adalah hubungan seseorang secara darah. juga termasuk ayah kandung atau ibu kandung dari ayah kandung (kakek). kakek kandung dan seterusnya. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang di berikan adalah : 1. Tujuan Adapun tujuan yang kami berikan adalah : 1. Al-Far'u Istilah (‫ )انفسع‬bila kita temukan di dalam ilmu waris.

harta yang dibagi waris itu harus harta yang 100% dimiliki oleh almarhum yang meninggal dunia. Usaha Bersama Suami Istri Sepasang suami istri sejak menikah telah membangun usaha bersama. Suami tentu tidak bisa menguasai begitu saja peninggalan itu. justru bagian ini paling rumit dari semua urusan pembagian warisan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. terutama di negeri kita. diantaranya : 1. harus dirunut ke belakang tentang status kepemilikan usaha keluarga itu. Padahal kenyataan yang sering terjadi harta yang ada itu masih menjadi milik bersama. Ada beberapa contoh kasus yang sering terjadi dimana di dalam harta seseorang masih tercampur hak milik orang lain. lantran kedua suami istri. Tentu di dalam harta berupa usaha toko itu ada hak milik istri sebelumnya. seharusnya ditetapkan terlebih dahulu. tetapi tercampur di dalam harta almarhum. Tapi akan muncul masalah saat istri meninggal dunia. Berapakah besar yang menjadi milik suami dan berapa yang menjadi bagian istri. Dalam hal ini. Mengapa demikian? Karena ketentuan dalam hukum waris Islam. Keduanya mengeluarkan harta benda dan tenaga untuk memajukan usaha keluarga itu secara bersama-sama. Bisa dikatakan harta yang mereka miliki itu menjadi harta berdua. Ketika keduanya masih hidup. Boleh jadi akan muncul masalah dengan anak-anak. namun pada kenyataannya. barangkali tidak timbul persoalan. Mereka akan mengatakan bahwa ibu mereka punya hak atas harta yang kini menjadi milik ayah dan ibu tiri mereka. Apalagi bila suami kawin lagi. katakanlah membuka toko. Pertama yang harus dilakukan adalah memilah dan memilih mana yang merupakan harta almarhum dan mana yang harta milik orang lain. baik antara suami istri atau pun dengan pihak lain. 6 . Menetapkan Kepemilikan Harta Meski pun bagian ini nyaris tidak kita temukan di kitab-kitab fiqih klasik.

kalau almarhum tidak punya anak laki-laki. sisa warisan jatuh kepada ashabah yang tidak lain adalah adik-adik almarhum. karena statusnya bukan milik almarhum. Anak keturunan sang adik mengatakan bahwa sawah itu milik orang tua mereka. karena para ahli waris meributkan statusnya. almarhum telah menghadiahkan kolam pancing itu kepada dirinya sebagai hadiah ulang tahun. 3. Otomatis sawah sebagai jaminan pun juga masih di tangan sang kakak. kolam pancing ikan yang diributkan itu pada dasarnya bukan asset harta milik suaminya yang sudah almarhum. uang pinjaman ini tidak dikembalikan. sedangkan yang milik suami tentu tidak dibagi waris. Pinjam atau Beli Ini kisah nyata. gajinya harus ditetapkan secara jelas juga. baik dengan menghadirkan saksi-saksi atau pun dengan surat-surat bukti kepemilikan. lantaran sang kakak tidak punya anak laki-laki. Ketika kedua kakak beradik ini sudah meninggal. Muncul masalah tentang status sawah. Maka seberapa benar pernyataan dari masing-masing pihak. harus ditelusuri terlebih dahulu. Karena semasa hidupnya.Kalau istri sebagai pemilik atau pemegang saham. Maka hanya harta yang sudah benar-benar 100% milik istri saja yang dibagi waris. Dan kalau istri berstatus sebagai pegawai. sepetak sawah digadaikan kepada sang kakak. Maka harta itu tidak bisa dibagi waris. Seorang adik pinjam uang kepada kakaknya untuk naik haji. karena orang tua 7 . mereka berhak mendapat harta warisan berupa kolam pemancingan dari peninggalan harta kakak mereka. Barulah setelah semua jelas. 2. Pasalnya. Dalam hal ini. Hal itu terbukti dari surat tanah yang memang atas nama istri. bagi waris bisa dilakukan. maka berapa besar saham istri harus ditetapkan secara jelas. Suami Memberi Hadiah Kepada Istri Sebuah keluarga pecah gara-gara istri almarhum dan anak-anaknya diteror oleh adik-adik almarhum sendiri. menurut adik-adik almarhum. Sayangnya sampai sekian puluh tahun kemudian. Tapi menurut istri almarhum yang kini sudah menjanda. anak dan cucu mereka bermaksud membagi harta warisan. Dan sebagai jaminannya. karena dia masih hidup.

atau belum 8 . Mereka meminta setidaknya uang itu dikembalikan seharga biaya ONH sekarang. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit. Sedangkan anak keturunan sang kakak mengatakan bahwa sawah itu sudah menjadi hak orangtua mereka. seperti belum membayar zakat. yaitu sekitar 30-an juta. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. Karuan saja keluarga sang kakak meradang. dengan catatan tidak boleh berlebihan. karena dulu pinjam uangnya hanya senilai itu saja. pembelian kain kafan. tetapi nilainya hanya Rp. Padahal di masa lalu. Dan masih banyak lagi kasus-kasus di tengah masyarakat. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. sejak wafatnya hingga pemakamannya. Hutang Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. kecuali hanya menjadikannya sebagai jaminan hutang. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit. uang segitu senilai dengan biaya pergi haji ke tanah suci. Pengurusan Jenazah Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. yang intinya menuntut penyelesaian terlebih dahulu dalam hal status kepemilikan harta almarhum.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. C. Di antaranya.mereka tidak pernah menjual sawah itu semasa hidupnya.000 saja. biaya pemakaman. Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. Artinya. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. Anak keturunan si adik akhirnya bersedia mengembalikan hutang orangtua mereka. atau belum menunaikan nadzar. karena apa artinya uang segitu di zaman sekarang ini. lantaran utang belum pernah dikembalikan. biaya memandikan. 30. B.

menurut mereka. bila sang mayit berwasiat. dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. Mereka beralasan bahwa menunaikan hal-hal tersebut merupakan ibadah. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya. Namun. hal ini merupakan amalan yang tidak memerlukan niat karena bukan termasuk ibadah mahdhah. 9 . maka wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya. tetapi termasuk hak yang menyangkut harta peninggalan pewaris. sedangkan kewajiban ibadah gugur jika seseorang telah meninggal dunia.  Al-Malikiyah Mazhab Maliki berpendapat bahwa hak yang berhubungan dengan Allah wajib ditunaikan oleh ahli warisnya sama seperti mereka diwajibkan menunaikan utang piutang pewaris yang berkaitan dengan hak sesama hamba. ia tetap akan dikenakan sanksi kelak pada hari kiamat sebab ia tidak menunaikan kewajiban ketika masih hidup. Hal ini tentu saja merupakan keputusan Allah SWT. Hanya saja mazhab ini lebih mengutamakan agar mendahulukan utang yang berkaitan dengan sesama hamba daripada utang kepada Allah. Karena itu wajib bagi ahli waris untuk menunaikannya.memenuhi kafarat (denda). Menurut jumhur ulama.  Asy-syafi'iyah Menurut pandangan ulama mazhab Syafi'i hal tersebut wajib ditunaikan sebelum memenuhi hak yang berkaitan dengan hak sesama hamba. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. Akan tetapi. baik pewaris mewasiatkan ataupun tidak.  Al-Hanafiyah Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya.  Jumhur Ulama Jumhur ulama yang menyatakan bahwa ahli waris wajib untuk menunaikan utang pewaris terhadap Allah beralasan bahwa hal tersebut sama saja seperti utang kepada sesama manusia. Padahal. meskipun kewajiban tersebut dinyatakan telah gugur bagi orang yang sudah meninggal. Pendapat mazhab ini tentunya bila sebelumnya mayit tidak berwasiat kepada ahli waris untuk membayarnya. pengamalan suatu ibadah harus disertai dengan niat dan keikhlasan.

Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah saw.a. Rasulullah saw. diantaranya agar ahli waris menjaga dan benar-benar melaksanakannya. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. ketika menjawab pertanyaan Sa'ad bin Abi Waqash r. --pada waktu itu Sa'ad sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. wasiat memang lebih dahulu disebutkan daripada soal utang piutang. termasuk diambil untuk membayar utangnya. dan lainnya). serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Hal ini tentu saja berbeda 10 . Al-Hanabilah Ulama mazhab Hambali menyamakan antara utang kepada sesama hamba dengan utang kepada Allah. Washiyat Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya. persoalan utang piutang hendaklah terlebih dahulu diselesaikan. Oleh karena itu. D.setelah ashhabul furudh menerima bagian). bersabda: ". Keduanya wajib ditunaikan secara bersamaan sebelum seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada setiap ahli waris. Pada ayat waris.. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. istri. misalnya ibu. Sepertiga. dan kesepakatan para ulama (ijma').. Padahal secara syar'i. baru kemudian melaksanakan wasiat. didahulukannya penyebutan wasiat tentu mengandung hikmah. Sebab wasiat tidak ada yang menuntut hingga kadangkadang seseorang enggan menunaikannya. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli warisnya. As-Sunnah. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang. suami. dan sepertiga itu banyak. ayah. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada :   ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya." Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an.

11 .dengan utang piutang. Itulah sebabnya wasiat lebih didahulukan penyebutannya dalam susunan ayat tersebut.

diagram ini juga dilengkapi dengan daftar orang-orang yang terhijab oleh seorang ahli waris. Seorang ahli waris bisa saja dia menjadi 'ayah' bagi ahli waris lainnya. Sekedar untuk memastikan identitas seorang ahli waris. 'keponakan'. dia adalah 'anak' dari seseorang. Tapi dalam waktu yang sama. Dan begitulah seterusnya.BAB III PARA AHLI WARIS A. atau 'paman'. Sebagian orang memahami istilah saudara kandung adalah saudara yang sama-sama satu kandungan ibu.)أخ شميك‬ sering kita terjemahkan menjadi saudara kandung. yang sepenuhnya merupakan ijtihad penulis sendiri. dimana ayah mereka bisa saja berbeda. 12 . akh li ab wa li um (‫. Diagram ini juga dilengkapi dengan nomor ahli waris. agar tidak tertukar-tukar penyebutannya dengan ahli waris yang lain. juga dilengkapi juga dengan istilah dalam bahasa Arab aslinya. kita akan dimudahkan. Selain itu. 'saudara'. Terakhir. Apalagi ditambah dengan penyebutan yang relatif antara satu ahli waris dengan yang lainnya. Dan itu adalah saudara seibu (‫. Relatifitas ini akan menyulitkan kita dalam memahami duduk masalah. Kira-kira seperti id number kalau dalam sistem database. Selain itu istilah-istilah yang kita gunakan dalam bahasa Indonesia sering tidak baku. Maka dengan bantuan diagram struktur keluarga ini.)أخ ألو‬ Untuk itu diagram ini selain berbahasa Indonesia. Bahkan dia juga seorang 'kakek'. Katakanlah sebagai contoh. 'cucu' bagi seseorang. cukup dengan sekali melihat bagan. Kesimpulan Salah satu kendala terbesar dalam mengerti dan menghafal siapa saja ahli waris adalah tidak adanya diagram atau struktur keluarga (family chart). diagram ini juga dilengkapi dengan bagian-bagian yang mungkin akan bisa diterima oleh seorang ahli waris. Sehingga dengan mudah kita bisa memastikan siapa saja dari mereka yang terhijab.

13 .

Jadi masing-masing mendapat 1 milyar. Karena anak laki-laki memang mendapat semua sisa harta. Contoh Pertama : Seseorang meninggal dunia dengan nilai total warisan sebesar 10 milyar. Penyelesaiannya adalah anak laki-laki satu-satunya itu mewarisi seluruh harta ayahnya.  Bagian  Asabah (sisa harta) dan mendapat 2 kali bagian anak perempuan. Ahli warisnya 7 orang anak laki-laki semua. Tetapi seorang anak laki-laki tidak mungkin tidak kebagian harta waris. tergantung seberapa besar sisa yang ada. Bahkan bisa saja sisanya sama dengan seluruh harta. Akan lebih tergambar kalau kita masukkan ke dalam contoh-contoh yang nyata. Bagian 1/1 Nilai 10 milyar 14 . Mengingat kedudukan anak laki-laki sangat berpengaruh kepada nasib ahli waris yang lain. Untuk seterusnya agar memudahkan.1. harta itu dibagi rata kepada lima orang. Penyelesaian sederhana saja. Terkadang sisanya besar. yang dalam hal ini tidak ada satu pun ahli waris dari ashabul furudh yang masih hidup. tanpa memiliki istri atau anak perempuan. kita tinggal menggunakan nomor urut satu sebagai id buat anak laki-laki. yaitu sisa harta yang sebelumnya diambil oleh ahli waris lain. misalnya karena almarhum tidak punya ahli waris lain selain anak laki-laki. tanpa memiliki istri atau anak perempuan. Ahli Waris Anak laki-laki Contoh Kedua : Seorang meninggal dunia dengan harta sebesar 7 milyar. Ahli warisnya hanyalah seorang anak laki-laki tunggal satu-satunya. Karena mendapat sisa. maka besarannya tidak pasti. terkadang sisanya kecil. ANAK LAKI-LAKI (‫)ابن‬ Kita urutkan pada nomor satu dalam daftar struktur keluarga adalah anak laki-laki. sebesar 10 milyar. Seorang anak laki-laki mendapat warisan dengan cara ashabah.

mereka berhak atas sisanya. jadi masing-masing mendapat 1 milyar. Dan sisanya yang 7/8 bagian itu dibagi rata kepada 7 orang anak laki-laki. Istri adalah ashabul furudh yang jatahnya sudah ditetapkan. Bagaimana penyelesaiannya? Istri mendapat 1/8 bagian. 7/8 dibagi 7 adalah 1/8. yaitu 1/8 atau 1 milyar. Hak anak laki-laki adalah sisa harta yang telah diambil terlebih dahulu oleh istri almarhum. 7 orang anak laki-laki adalah ashabah. Kalau kita jabarkan dalam bentuk tabel. hasilnya sebagai berikut : Ahli Waris Istri Anak laki-laki (ashabah) Contoh Keempat : Harta almarhum sebesar 8 milyar. Ahli Waris Istri Anak laki-laki 1 Anak laki-laki 2 Anak laki-laki 3 1/8 Bagian 1/8 1/8 1/8 1/8 Nilai 1 milyar 1 milyar 1 milyar 1 milyar Bagian 1/8 7/8 Nilai 1 milyar 7 milyar 7/8 15 . Sisanya adalah 7/8 bagian atau 7 milyar. menjadi hak oleh anak laki-laki adalah 7/8.Ahli Waris Anak laki-laki 1 Anak laki-laki 2 Anak laki-laki 3 Anak laki-laki 4 Anak laki-laki 5 Anak laki-laki 6 Anak laki-laki 7 Contoh Ketiga : Bagian 1/7 1/7 1/7 1/7 1/7 1/7 1/7 Nilai 1 milyar 1 milyar 1 milyar 1 milyar 1 milyar 1 milyar 1 milyar Seorang laki-laki wafat dengan harta 8 milyar. meninggalkan ahli waris seorang istri dan seorang anak laki-laki. pada saat wafat beliau memiliki seorang istri dan 7 orang anak laki-laki. Kita perhatikan bahwa masing-masing ahli waris sama-sama mendapat 1/8 dari 8 milyar.

Anak laki-laki 4 Anak laki-laki 5 Anak laki-laki 6 Anak laki-laki 7  Menghijab Ahli Waris              1/8 1/8 1/8 1/8 1 milyar 1 milyar 1 milyar 1 milyar  id 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 22 saudara seayah-ibu  saudari seayah-ibu  saudara seayah  saudari seayah  keponakan : anak saudara seayah ibu  keponakan : anak saudara seayah  paman : saudara ayah seayah-ibu  paman : saudara ayah seayah  sepupu : anak laki paman seayah ibu  sepupu : anak laki paman seayah  cucu : anak laki dari anak laki  cucu : anak wanita dari anak laki saudara & saudari seibu  Dihijab oleh : Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya bahwa anak laki-laki tidak dihijab oleh siapa pun. Karena posisinya yang langsung berhubungan dengan muwarrits.  Bagian  1/2 = menjadi satu-satunya anak almarhum  2/3 = dua orang atau lebih dan almarhum tak ada anak laki  ashabah = almarhum punya anak lak-laki dengan ketentuan bagiannya 1/2 dari bagian anak laki-laki 16 . Kita letakkan pada nomor urut dua. ANAK PEREMPUAN (‫)بنت‬ Anak perempuan yang dimaksud adalah anak perempuan dari muwarrits yang telah meninggal dunia. karena posisinya yang sangat dekat dengan muwarrits. 2. serta bersisian dengan anak lak-laki yang berada pada nomor urut satu.

ّ ُُ ِ ٍ‫يُٕصيكى ّللاُ فِي أَْٔ الَدكى نِهركس يخم حظِّ األَُخَيَي‬ َ ُ ْ ِ ِ َ َّ ْ ُ ِ ِ ْ Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu. Pertama. An-Nisa': 11) Ketiga. Harta sisa itu dibagi rata dengan semua saudara atau saudarinya dengan ketentuan dia mendapat 1/2 dari jatah yang diterima saudara laki-lakinya. maka ia mendapat separuh harta warisan yang ada. cucu perempu-an almarhum.. Artinya. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan . An-Nisa : 11) Kedua. dia bersama anak lakilaki akan mendapat ashabah atau sisa. dia tidak punya saudara satu pun baik saudara laki-laki atau pun saudara perempuan. Pertama. 17 . Kedua. Dia punya saudara perempuan sehingga minimal mereka berdua.. Dan mereka semua akan mendapat jatah total (bukan masingmasing) 2/3 bagian. Syaratnya. dia tidak sendirian. َّ َ‫فَإٌِ كٍ َِساء فَْٕ ق احَُتَيٍ فَهٍَُٓ حُهُخَا يا تَسن‬ َ َ َ َّ ُ ِ ْ ْ َ Dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. An-Nisa : 11)  Menghijab  cucu : anak wanita dari anak laki  saudara & saudari seibu 20 22 Ada 2 orang yang dihijab oleh anak perempuan." (QS. saudara atau saudari seibu tidak seayah. dia mendapat 2/3 dari semua harta. Syaratnya. dengan syarat jumlah anak perempuan itu dua orang atau lebih dan tidak ada cucu laki-laki yang menjadikan cucu perempuan sebagai ashabah bersamanya..(QS. dia mendapat 1/2 atau separuh dari semua harta warisan. dia menjadi anak tunggal dari muwarritsnya.Anak perempuan bisa punya tiga kemungkinan dalam menerima waris dari orang tuanya. ُ‫ٔإٌِ كاََت ٔاحدجً فَهََٓا انُِّصْ ف‬ َِ َ ْ َ َ Dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang. kalau dia punya saudara laki-laki. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan. selama semuanya perempuan dan tidak ada saudara laki-laki satu pun. (QS.

. karena tidak ada penghalang antara dirinya dengan muwarritsnya. artinya dia punya keturunan yang mendapatkan warisan. An-Nisa': 12)  Menghijab Kedudukan seorang istri tidak menghijab siapa pun dari ahli waris suami. kalau suami punya fara' waris. tidak dibagi waris begitu saja. َ ٍ‫فَإٌِ كاٌَ نَكى ٔنَد فَهٍَُٓ انخًٍُُّ يًا تَسكتُى يٍ تَعد ٔصيَّح تُٕصٌَُٕ تَِٓا أَْٔ دي‬ ٍ ِ َ ِ ْ ِّ ْ َ َّ ِ ُ َّ َ ُْ ٍ َْ ". maka bagian istri adalah adalah 1/8 dari harta peninggalan suami.. Yang dibagi waris hanya yang menjadi bagian suami. Keberadaannya hanya sekedar mengurangi harta saja. namun dipisahkan terlebih dahulu. An-Nisa': 12) Kedua. Jika kamu mempunyai anak. Dihijab Oleh : Seorang anak perempuan tidak pernah dihijab oleh siapa pun. Pertama.  Bagian Seorang istri punya dua kemungkinan dalam menerima bagian. yaitu ayah kandungnya sendiri. maka hak istri adalah 1/4 bagian dari harta peninggalan almarhum suaminya. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu . berhak menerima sebagian harta yang sebelumnya milik suaminya. bila suami yang meninggal itu tidak punya fara' waris. Yang menjadi bagian istri. 18 . tentu tidak dibagi waris. َّ َ ‫ٔنٍَُٓ انسُّ تُع يًا تَسكتُى إٌِ نَّى يَكٍ نَّكى ٔنَد‬ ْ ْ َ َّ ِ ُ َ ُْ ُ ْ "Dan mereka mendapat 1/4 dari apa yang kamu tinggalkan bila kamu tidak mempunyai anak (QS. yaitu 1/4 atau 1/8 sebagaimana disebutkan di dalam ayat 11 surat A-Nisa'. 3.. maka dia menjadi ahli waris. ISTRI (‫)زوجة‬ Seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya. Sedangkan harta yang dimiliki bersama antara suami istri. tetapi tidak membuat seseorang menjadi kehilangan haknya." (QS..

Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Yang dibagi waris hanya yang menjadi bagian istri. maka dia menjadi ahli waris. dan bagi kalian (para suami) mendapat separuh dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. berhak menerima sebagian harta yang sebelumnya milik istrinya. Dihijab oleh Karena hubungan langsung antara istri dan suami. SUAMI Seorang laki-laki yang ditinggal mati oleh istrinya. Dengan demikian.. Yang menjadi bagian suami. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya (QS. bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak . artinya dia punya keturunan yang mendapatkan warisan. yaitu 1/2 atau 1/4 sebagaimana disebutkan di dalam ayat 11 surat A-Nisa'.. kalau istri punya fara' waris.. tetapi tidak membuat seseorang menjadi kehilangan haknya. ُ ْ ‫ٔنَكى َِصْ فُ يا تَسن أَشٔاجكى إٌِ نَّى يَكٍ نٍَُّٓ ٔنَد‬ ُْ ُ َ ْ َ َ َ ُْ َ َ َّ "." (QS.. Pertama. An-Nisa': 12)  Menghijab Kedudukan seorang suami tidak menghijab siapa pun dari ahli waris istri. bila istri yang meninggal itu tidak punya fara' waris. maka bagian suami adalah adalah 1/4 dari harta peninggalan istri. An-Nisa': 12) Kedua. maka tidak ada seorang pun yang bisa menjadi penghalang antara mereka.  Bagian Seorang suami punya dua kemungkinan bagian. 4. istri tidak dihijab oleh siapa pun.. maka hak suami 1/2 bagian dari harta peninggalan almarhumah istrinya. tidak dibagi waris begitu saja. tentu tidak dibagi waris. Keberadaannya hanya sekedar mengurangi harta saja. 19 . Sedangkan harta yang dimiliki bersama antara suami istri. namun dipisahkan terlebih dahulu.. ْ َ َّ ِ ُ َ ٍَ‫فَإٌِ كاٌَ نٍَُٓ ٔنَد فَهَكى انسُّ تُع يًا تَسك‬ ُُ َ َّ ".

 1/6 = almarhum punya fara' waris laki-laki  1/6 + sisa = almarhum punya fara' waris wanita. baik anak itu laki-laki atau perempuan. maka tidak ada seorang pun yang bisa menjadi penghalang antara mereka. Kalau ayah sudah meninggal dunia terlebih dahulu. almarhum anaknya itu punya fara' waris laki-laki. Dengan demikian. karena dalam hal ini ayah menjadi ahli waris laki-laki yang lebih utama atau lebih dekat kedudukannya kepada almarhum dibandingkan dengan ahli waris lainnya. Syaratnya. tidak menjadi ahli waris.‫ أَ ْنحمُٕا انفَسائِط تِأَْهَِٓا فًَا تَمِي فَألََ ْٔ نَى زجُم ذكس‬ ِ‫ لَال لَال زسُٕل ّللا‬ ‫عٍ اتٍ عثَّاس‬ ُ َ َ َ َ ِ َ ِ َ ٍ َ ِ ْ ِ َ 20 . َ ُّ َ ْ ِّ ٍ ِ َ ِّ ُ ِ ْ َ َ ‫ٔألَتَٕيّ نِكم ٔاحد يًُُٓا انسدُسُ يًا تَسَنَ إٌِ كاٌَ نَُّ ٔنَد‬ َّ ِ َ Dan untuk dua orang ibu bapak. Bahwa sisanya itu menjadi hak ayah." (QS. Tentu saja syaratnya adalah ayah masih hidup saat sang anak meninggal dunia. An-Nisa': 11) Kedua. termasuk orang yang berhak mendapatkan warisan. jika yang meninggal itu mempunyai anak .. Dihijab oleh Karena hubungan langsung antara istri dan suami. dia menerima 1/6 bagian dari harta anaknya yang meninggal. suami tidak dihijab oleh siapa pun. Hal itu terjadi manakala almarhum yaitu anaknya yang meninggal itu punya fara' waris perempuan dan tidak punya fara' waris laki-laki. Misalnya anak laki-laki atau cucu laki-laki dari anak laki-laki. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan..  Bagian Seorang ayah punya tiga macam kemungkinan dalam menerima hak warisnya. Rasulullah SAW bersabda : ْ َ ََ ٍ َ . dia menerima 1/6 dan ditambah lagi dengan sisa harta yang ada. AYAH Seorang ayah yang ditinggal mati oleh anaknya. 5. tidak punya fara' waris laki-laki  Ashabah = almarhum tidak punya fara' waris Pertama.

ayah mendapat seluruh harta dengan cara ashabah. " (HR Bukhari) Contohnya. jatahnya adalah 1/4 bagian. baik laki-laki atau pun perempuan. ُ ُ ْ ‫فَإٌِ نَّى يَكٍ نَّّ ُ ٔنَد ٔٔزحَُّ أَتَٕاُِ فَألُيّ انخُّهُج‬ ِ ِّ َ ِ َ َ َ Bila dia tidak punya anak. An-Nisa': 11) Di ayat ini tidak tertera kalimat yang secara langsung menyebutkan bahwa ayah mendapat sisanya. seseorang wafat meninggalkan hanya seorang istri dan seorang ayah.. maka ayah ibunya mewarisi hartanya dimana bagian ibu adalah sepertiga. Ketiga. Hanya disebutkan bahwa ayah dan ibu itu menerima warisan dari anak mereka bersama-sama. Maka istri adalah ahli waris dari kalangan ashabul furud.. Sisanya yang 3/4 bagian menjadi hak ayah sebagai ashabah bi nafsihi. seseorang wafat meninggalkan anak perempuan dan seorang ayah. Meski pun pada dasarnya ada lagi ahli waris lain yang juga berhak menjadi ashabah. namun ayah telah menghijab mereka dan mengambil hak asabah itu untuk dirinya. Contohnya. jika yang meninggal itu mempunyai anak . Anak perempuan mendapat 1/2 bagian. Logikanya. karena almarhum tidak punya fara' waris. dengan dasar dalil di atas. 21 . setelah ashabul furudh mengambil bagiannya. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. yaitu sisanya. An-Nisa': 11) Harta yang telah diambil ayah dan anak perempuan itu tentu masih bersisa. Syaratnya. Mengapa? Karena ayah dalam hal ini menjadi ahli waris yang merupakan ashabah juga." (QS." (QS."Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak. kalau bagian itu ibu sudah disebutkan maka bagian ayah pasti diketahui. Dan yang menjadi bagian buat ibu adalah 1/3. Siapakah yang berhak atas harta ini? Jawabnya adalah ayah. sedangkan ayah mendapatkan 1/6 sebagaimana disebut dalam dalil berikut : َ ُّ َ ْ ِّ ٍ ِ َ ِّ ُ ِ ْ َ َ ‫ٔألَتَٕيّ نِكم ٔاحد يًُُٓا انسدُسُ يًا تَسَنَ إٌِ كاٌَ نَُّ ٔنَد‬ َّ ِ َ Dan untuk dua orang ibu bapak. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. almarhum tidak punya fara' waris.

َ ُّ َ ْ ِّ ٍ ِ َ ِّ ُ ِ ْ َ َ ‫ٔألَتَٕيّ نِكم ٔاحد يًُُٓا انسدُسُ يًا تَسَنَ إٌِ كاٌَ نَُّ ٔنَد‬ َّ ِ َ             7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 22 .  Bagian Seorang ibu punya tiga macam kemungkinan dalam menerima hak warisnya. selain anak laki-laki. ibu masih ada. 6. Ada 12 ahli waris yang dihijab dan tidak mendapatkan harta warisan. sudah dipastikan ibu mendapat warisan. Karena hubungan ayah dengan anaknya yang menjadi muwarrits adalah hubungan langsung. bila anaknya itu punya fara' waris. Bila saat meninggalnya. Menghijab Ayah termasuk orang yang cukup banyak menghijab ahli waris yang lain. IBU Ibu adalah orang yang juga dekat dengan anaknya yang meninggal dunia.  1/6 = almarhum punya fara' waris  1/3 = almarhum tidak punya fara' waris  1/3 dari sisa = bila almarhum punya fara' waris (hanya dalam kasus umariyatain) Pertama. ibu mendapat 1/6 dari harta almarhum anaknya yang wafat. karena keberadaan ayah dari almarhum. Mereka yang terhijab oleh ayah adalah :  kakek : ayahnya ayah  Nenek : ibunya ayah  saudara seayah-ibu  saudari seayah-ibu  saudara seayah  saudari seayah  keponakan : anak saudara seayah-ibu  keponakan : anak saudara seayah  paman : saudara ayah seayah-ibu  paman : saudara ayah seayah  sepupu : anak laki paman seayah-ibu  sepupu : anak laki paman seayah  Dihijab oleh Seorang ayah tidak terhijab oleh siapa pun dari para ahli waris yang lain.

" (QS. maka posisinya tidak akan terhijab oleh siapa pun. An-Nisa': 11) Kedua. sehingga kita tidak bicara tentang warisan buat kakek. dia menghijab ibunya sendiri (21) dan ibu dari suaminya (8). 7. Semua hitungan untuk warisan buat kakek. 23 . ُ ُ ْ ‫فَإٌِ نَّى يَكٍ نَّّ ُ ٔنَد ٔٔزحَُّ أَتَٕاُِ فَألُيّ انخُّهُج‬ ِ ِّ َ ِ َ َ َ Bila dia tidak punya anak. ibu mendapatkan 1/3 dari sisa harta yang sudah diambil oleh para ashabul furudh. jika yang meninggal itu mempunyai anak . Kalau ayah anak itu masih hidup. Pembagian ini hanya terjadi bila seseorang wafat dengan meninggalkan hanya 3 orang ahli waris. yaitu nenek dari pihak ibu dan nenek dari pihak ayah. namun haknya yang 1/3 tidak berlaku.. Kasus ini terjadi di zaman khalifah Umar bin al-Khattab dan dikenal dengan istilah kasus Umariyatain. termasuk orang yang berhak mendapatkan warisan. Atau dengan kata lain. maka kakek (ayahnya ayah) terhijab. An-Nisa': 11) Ketiga. ayah dan ibu. KAKEK (‫)أب أب‬ Yang dimaksud dengan kakek disini adalah ayahnya ayah. Seorang kakek yang ditinggal mati oleh cucunya. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan.. yaitu suami/istri. maka ayah ibunya mewarisi hartanya dimana bagian ibu adalah sepertiga.  Menghijab Seorang ibu menghijab 2 orang ahli waris lainnya. bila anaknya tidak punya fara' waris.Dan untuk dua orang ibu bapak.  Dihijab oleh Seorang wanita yang ditinggal mati oleh anaknya. selalu dalam kondisi bahwa ayah almarhum sudah meninggal terlebih dahulu." (QS. seorang ibu mendapat 1/3 dari harta peninggalan almarhum anaknya. Syaratnya adalah ayah anak itu sudah meninggal dunia saat si cucu meninggal dunia. baik cucu itu laki-laki atau perempuan. Karena mereka punya hubungan langsung tanpa diselingi oleh orang lain.

dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama. jika yang meninggal itu mempunyai anak .‫ أَ ْنحمُٕا انفَسائِط تِأَْهَِٓا فًَا تَمِي فَألََ ْٔ نَى زجُم ذكس‬ ِ‫ لَال لَال زسُٕل ّللا‬ ‫عٍ اتٍ عثَّاس‬ ُ َ َ َ َ ِ َ ِ َ ٍ َ ِ ْ ِ َ "Bagikanlah harta peninggalan (warisan) kepada yang berhak." (QS.  1/6 = almarhum punya fara' waris laki-laki  1/6 + sisa = almarhum punya fara' waris wanita. Anak perempuan mendapat 1/2 bagian. An-Nisa': 11) Kedua. jika yang meninggal itu mempunyai anak . 24 . sedangkan ayahnya ayah mendapatkan 1/6 sebagaimana disebut dalam dalil berikut : َ ُّ َ ْ ِّ ٍ ِ َ ِّ ُ ِ ْ َ َ ‫ٔألَتَٕيّ نِكم ٔاحد يًُُٓا انسدُسُ يًا تَسَنَ إٌِ كاٌَ نَُّ ٔنَد‬ َّ ِ َ Dan untuk dua orang ibu bapak. Rasulullah SAW bersabda : ْ َ ََ ٍ َ . setelah ashabul furudh mengambil bagiannya. Syaratnya. almarhum cucunyanya itu punya fara' waris lakilaki. dia menerima 1/6 bagian dari harta anaknya yang meninggal. Bagian Seorang kakek punya tiga macam kemungkinan dalam menerima hak warisnya. " (HR Bukhari) Contohnya. Bahwa sisanya itu menjadi hak kakek. seseorang wafat meninggalkan anak perempuan dan seorang kakek. karena dalam hal ini kakek sebagai gantinya ayah menjadi ahli waris laki-laki yang lebih utama atau lebih dekat kedudukannya kepada almarhum dibandingkan dengan ahli waris lainnya. tidak punya fara' waris laki-laki  Ashabah = almarhum tidak punya fara' waris Pertama. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan.... kakek sebagai ayahnya ayah mendapat seluruh harta dengan cara ashabah. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. yaitu ayahnya ayah. dia menerima 1/6 dan ditambah lagi dengan sisa harta yang ada. Misalnya anak laki-laki atau cucu laki-laki dari anak laki-laki." (QS. َ ُّ َ ْ ِّ ٍ ِ َ ِّ ُ ِ ْ َ َ ‫ٔألَتَٕيّ نِكم ٔاحد يًُُٓا انسدُسُ يًا تَسَنَ إٌِ كاٌَ نَُّ ٔنَد‬ َّ ِ َ Dan untuk dua orang ibu bapak. An-Nisa': 11) Ketiga. Hal itu terjadi manakala almarhum yaitu cucunya yang meninggal itu punya fara' waris perempuan dan tidak punya fara' waris laki-laki..

Syaratnya. almarhum tidak punya fara' waris. baik laki-laki atau pun perempuan. Sisanya yang 3/4 bagian menjadi hak kakek sebagai ganti dari ayah yang sudah meninggal terlebih dahulu. Ada 10 ahli waris yang dihijab dan tidak mendapatkan harta warisan. kecuali oleh ayah. An-Nisa': 11) Contohnya. ُ ُ ْ ‫فَإٌِ نَّى يَكٍ نَّّ ُ ٔنَد ٔٔزحَُّ أَتَٕاُِ فَألُيّ انخُّهُج‬ ِ ِّ َ ِ َ َ َ Bila dia tidak punya anak. maka ayah ibunya mewarisi hartanya dimana bagian ibu adalah sepertiga. Mereka yang terhijab oleh ayah adalah :  saudara seayah-ibu  saudari seayah-ibu  saudara seayah  saudari seayah  keponakan : anak saudara seayah-ibu  keponakan : anak saudara seayah  paman : saudara ayah seayah-ibu  paman : saudara ayah seayah  sepupu : anak laki paman seayah-ibu  sepupu : anak laki paman seayah  saudara/i yang hanya seibu (rajih)  Dihijab oleh Seorang kakek tidak terhijab oleh siapa pun dari para ahli waris yang lain. karena almarhum tidak punya fara' waris. NENEK (‫)أم أب‬ Yang dimaksud dengan nenek disini adalah ibu dari ayahnya almarhum.  Menghijab Kakek (ayahnya ayah) termasuk orang yang cukup banyak menghijab ahli waris yang lain. 8. selain anak laki-laki. karena keberadaan ayah dari almarhum. jatahnya adalah 1/4 bagian." (QS.            9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 22 25 . seseorang wafat meninggalkan hanya seorang istri dan seorang kakek (ayahnya ayah). yang dalam hal ini tidak lain adalah anaknya sendiri. Maka istri adalah ahli waris dari kalangan ashabul furud.

yaitu 3/4 bagian. saudara laki-laki dan saudara wanita. saudara mendapatkan 2/4 dan saudarinya mendapat 1/4. Kita menghindari penggunaan istilah saudara sekandung. seseorang wafat meninggalkan istri. SAUDARA SEAYAH-IBU (‫)أخ شقيق‬ Saudara disini bisa saja lebih tua (kakak) atau bisa saja lebih muda (adik). hubungan antara dirinya dengan almarhum adalah bahwa mereka punya ayah dan ibu yang sama. cucu. Contoh. Bagian Dalam hal ini nenek hanya punya satu kemungkinan dalam mendapat bagian warisnya. yaitu 1/6. Contoh. yaitu sisa harta waris yang sebelumnya dibagikan terlebih dahulu kepada ahli waris secara fardh.  ayah  ibu 9. 26   5 6 . Syaratnya. kedudukannya tidak terhijab oleh orang-orang yang menghijabnya. almarhum tidak punya ibu dan ayah. sisanya yang 3/4 itu dibagi dua dengan saudarinya. Maka pembagian warisannya adalah istri mendapat 1/4.  Menghijab Nenek tidak menghijab siapapun  Dihijab oleh Nenek dihijab oleh 2 orang yaitu ayah. Maka pembagiannya warisannya adalah istri mendapat 1/4 dan saudara mendapatkan sisanya. Saat itulah saudara seayah seibu baru mendapat jatah warisan. Apabila saudara laki-laki juga punya saudara perempuan yang sama-sama seayah dan seibu. ayah atau kakek. Dengan syarat. Dalam hal ini almarhum tidak meninggalkan anak. Lebih pastinya kita gunakan istilah saudara seayah dan seibu. maka bagian yang diterimanya harus 2 kali lipat lebih besar. Yang penting. seseorang wafat meninggalkan ahli waris hanya : istri dan saudara laki-laki seayah seibu.  Bagian Saudara seayah seibu mendapat waris dari almarhum dengan cara ashabah. karena konotasinya bisa keliru.

Pertama. =     1 5 7 19         11 12 13 14 15 16 17 18 27 . asalkan posisinya tidak terhijab. dia mendapat 1/2 bagian dari seluruh harta milik almarhum. Menghijab  saudara seayah  saudari seayah  keponakan : anak saudara seayah-ibu  keponakan : anak saudara seayah  paman : saudara ayah seayah-ibu  paman : saudara ayah seayah  sepupu : anak laki paman seayah-ibu  sepupu : anak laki paman seayah  Dihijab Oleh :  Anak laki-laki  Ayah  Ayahnya ayah (kakek)  Cucu laki-laki 10. SAUDARI SEAYAH-IBU Saudari seayah dan seibu juga termasuk yang mendapat warisan.  Bagian  1/2 almarhum tidak punya fara' waris (1-2-19-20) tidak punya ashlul waris laki-laki (5-7) tidak punya saudara laki-laki seayah seibu (9) tidak punya saudari seayah seibu (10)  2/3 = almarhum tidak punya fara' waris (1-2-19-20) tidak punya ashlul waris laki-laki (5-7) tidak punya saudara laki-laki seayah seibu (9) punya saudari seayah seibu (10)  Ashabah = almarhum tidak punya fara' waris (1-2-19-20) tidak punya ashlul waris laki-laki (5-7) punya saudara laki-laki seayah seibu (9) Saudari seayah seibu dengan almarhum bisa mendapatkan warisan dengan tiga kemungkinan.

ayah. Maka kedua saudaranya itu total mendapat 2/3 dari semua harta warisan almarhum saudaranya. ayah atau kakek. seseorang wafat meninggalkan ahli waris hanya : istri dan saudara laki-laki seayah. Atau dalam bahasa lebih sederhana. cucu. hubungan antara almarhum dengan dirinya adalah saudara tiri. ayah. yaitu 3/4 bagian. dengan perbandingan bahwa saudara laki-lakinya itu mendapat 2/3 bagian dan dirinya mendapat 1/3 bagian. dia mendapat waris secara ashabah dari seluruh harta milik almarhum. Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya anak. Maka pembagiannya warisannya adalah istri mendapat 1/4 dan saudara seayah mendapat sisanya. Contoh. Dengan syarat. dan saudara laki-laki. SAUDARA SEAYAH (‫)أخ ألب‬ Saudara disini bisa saja lebih tua (kakak) atau bisa saja lebih muda (adik). Ketiga. yaitu sisa harta waris yang sebelumnya dibagikan terlebih dahulu kepada ahli waris secara fardh. Maka saudarinya itu mendapat 1/2 dari semua harta warisan almarhum. kakek. cucu. 11. kakek. ayah atau kakek. Yang dia punya hanya seorang saudari perempuan seayah seibu. almarhum tidak meninggalkan anak. kedudukannya tidak terhijab oleh orang-orang yang menghijabnya. cucu.Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya anak. Yang dia punya hanya 2 orang saudari perempuan seayah seibu. Yang penting. 2/3 bagian itu kemudian dibagi 2 lagi secara sama besar. Kedua.  Bagian Saudara seayah mendapat waris dari almarhum dengan cara ashabah. cucu. termasuk almarhum tidak punya saudara/i yang seayah dan seibu. Saat itulah saudara seayah baru kebagian jatah warisan. dia mendapat 2/3 bagian dari seluruh harta milik almarhum. Artinya. Maka mereka berdua mendapat warisan secara ashabah. 28 . Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya anak. hubungan saudara ini dengan almarhum bahwa mereka punya ayah yang sama tapi ibu mereka berbeda. dan saudara laki-laki. Yang dia punya seorang saudara laki-laki seayah seibu.

SAUDARI SEAYAH (‫)أخت ألب‬ Yang dimaksud dengan saudari perempuan seayah bahwa dirinya punya ayah yang sama dengan almarhum. asalkan posisinya tidak terhijab. Saudari tiri juga termasuk yang mendapat warisan. Dengan mudah juga bisa kita sebut saudari perempuan tiri. Contoh. seseorang wafat meninggalkan istri.Apabila saudara laki-laki seayah itu juga punya saudara perempuan yang juga seayah. Maka pembagian warisannya adalah istri mendapat 1/4.  Menghijab  keponakan : anak saudara seayah-ibu  keponakan : anak saudara seayah  paman : saudara ayah seayah-ibu  paman : saudara ayah seayah  sepupu : anak laki paman seayah-ibu  sepupu : anak laki paman seayah  Dihijab Oleh :  Anak laki-laki  Ayah  Ayahnya ayah (kakek)  Saudara laki-laki seayah seibu  Saudara perempuan seayah seibu *  Cucu laki-laki 12. tapi ibu mereka berbeda. maka bagian yang diterimanya harus 2 kali lipat lebih besar dari saudari perempuannya itu. saudara laki-laki dan saudara wanita seayah. sisanya yang 3/4 itu dibagi dua dengan saudarinya. saudara laki-laki mendapatkan 2/4 dan saudari perempuannya mendapat 1/4.  Bagian  1/2 = almarhum tidak punya fara' waris (1-2-19-20) tidak punya ashlul waris laki-laki (5-7) tidak punya saudara laki-laki seayah seibu (9) tidak punya saudari seayah seibu (10)  2/3 = almarhum tidak punya fara' waris (1-2-19-20) tidak punya ashlul waris laki-laki (5-7) tidak punya saudara laki-laki seayah seibu (9) punya saudari seayah seibu (10)  Ashabah = almarhum 29             13 14 15 16 17 18 1 5 7 9 10 19 .

Kedua. dia mendapat 1/2 bagian dari seluruh harta milik almarhum. dia mendapat waris secara ashabah dari seluruh harta milik almarhum. Yang dia punya hanya 2 orang saudari perempuan seayah seibu. Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya anak. bila almarhum punya anak laki-laki. CUCU LAKI-LAKI (‫)ابن ابن‬ Cucu yang dimaksud adalah anak laki-laki dari anak laki-laki. 2/3 bagian itu kemudian dibagi 2 lagi secara sama besar. Yang dia punya hanya seorang saudari perempuan seayah seibu. Maka kedua saudaranya itu total mendapat 2/3 dari semua harta warisan almarhum saudaranya. Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya anak. Pertama. cucu. Sedangkan cucu dari anak perempuan tidak termasuk ahli waris. ayah atau kakek. maka cucu tidak mendapatkan hak waris. ayah atau kakek. ayah atau kakek. Keberadaan cucu ini baru berarti manakala almarhum tidak punya anak laki-laki saat meningal dunia. dia mendapat 2/3 bagian dari seluruh harta milik almarhum. Ketiga. 30 . Maka mereka berdua mendapat warisan secara ashabah. meski posisinya bukan ayah dari cucu. Sebaliknya. saudara laki-laki. misalnya sebagai paman. saudara laki-laki. dengan perbandingan bahwa saudara laki-lakinya itu mendapat 2/3 bagian dan dirinya mendapat 1/3 bagian 19. cucu. karena terhijab olehnya. cucu. Yang dia punya seorang saudara laki-laki seayah seibu. Contoh : seseorang wafat dalam keadaan tidak punya anak. Maka dia mendapat 1/2 dari semua harta warisan almarhum saudaranya.tidak punya fara' waris (1-2-19-20) tidak punya ashlul waris laki-laki (5-7) punya saudara laki-laki seayah seibu (9) Saudari seayah seibu dengan almarhum bisa mendapatkan warisan dengan tiga kemungkinan.

dengan ketentuan cucu laki-laki mendapat 2 kali bagian cucu perempuan. Karena kedudukannya memang sebagai pengganti anak lakilaki. Seorang cucu laki-laki mendapat warisan dengan cara ashabah. Berarti sisanya adalah 1/2 bagian. Maka bagian yang didapat oleh cucu laki-laki adalah 7/8. Karena mendapat sisa. dengan ketentuan bahwa cucu perempuan hanya mendapat setengah dari apa yang didapat cucu laki-laki. Apabila almarhum juga meninggalkan cucu perempuan. yaitu sisa harta yang sebelumnya diambil oleh ahli waris lain. Maka pembagiannya sebagai berikut : Ahli Waris Anak Perempuan Cucu Laki-laki Sisa = 1/2 Cucu Perempuan 1/6 Bagian 1/2 3/6 2/6 31 . maka dia juga mendapat sisa sebagaimana halnya cucu laki-laki. Contoh yang sederhana adalah seorang laki-laki wafat meninggalkan ahli waris : cucu laki-laki dan anak perempuan. yaitu jumlah sisa itu dibagi rata di antara para cucu. Anak perempuan tunggal adalah ashabul furudh yang jatahnya sudah ditetapkan. tergantung seberapa besar sisa yang ada. Bagian Bagian yang menjadi hak seorang cucu mirip yang diterima seorang anak laki-laki. Atau dengan kata lain.  Asabah (sisa harta) bila ada ahli waris lain yang telah mengambil bagian masing-masing. maka besarannya tidak pasti. Dalam hal ini anak perempuan mendapat 1/2. Maka hak cucu laki-laki adalah sisa harta yang telah diambil terlebih dahulu oleh anak perempuan. yang diterima cucu laki-laki 2 kali lipat lebih besar dari anak perempuan.

tapi bisa juga bukan anak tetapi keponakan. Menghijab Ahli Waris             id 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 22 saudara seayah-ibu  saudari seayah-ibu  saudara seayah  saudari seayah  keponakan : anak saudara seayah ibu  keponakan : anak saudara seayah  paman : saudara ayah seayah-ibu  paman : saudara ayah seayah  sepupu : anak laki paman seayah ibu  sepupu : anak laki paman seayah saudara & saudari seibu  Dihijab oleh : Satu-satunya pihak yang dapat menghijab cucu laki-laki adalah anak laki-laki (1). selama almarhum masih punya anak laki-laki. Tapi intinya. cucu laki-laki akan terhijab. bisa saja cucu laki-laki merupakan anak dari anak laki-laki. Dalam kenyataannya. Saran Adapun saran yang kami berikan adalah semoga ilmu mawaris ini mampu membuat kita sadar akan penting membagi waris bagi yang berhak mendapatkan 32 . B.

33 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful