SEX REVERSAL PADA IKAN Oleh: Roqib Muta’ali (1509100026); Aisyah Maulida H (1509100049); M.

Ainul Mahbubillah (1509100703) Jurusan Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2011

Dalam ilmu genetika ikan, modifikasi kelamin dikenal dengan istilah sex reversal atau pengarahan kelamin. Dengan metode ini, jenis kelamin dapat diarahkan sesuai dengan keinginan; menjadi jantan atau betina. Keputusan untuk menjantankan atau membetinakan ikan dapat didasarkan kepada harga jual atau performa ikan akibat perbedaan kelamin. Untuk ikan tertentu, ikan jantan lebih diminati, dan begitu sebaliknya. Untuk melakukan kegiatan ini, beberapa jenis hormon estrogen dan androgen dapat digunakan; masing-masing untuk pembetinaan dan penjantanan. Umumnya, proses sex reversal dilakukan secara oral atau melalui pakan dan melalui perendaman (dipping). Untuk fase larva, kita dapat melakukannya melalui oral dan atau dipping dan untuk fase telur dapat dilakukan dengan dipping. Pada beberapa jenis ikan yang lain, perlakuannya diterapkan pada saat sedang hamil atau bunting. Untuk yang terakhir ini (biasanya pada beberapa jenis ikan hias berukuran kecil), Anda dapat menerapkannya dengan cara merendam induk yang sedang bunting tersebut. Sex reversal adalah proses memproduksi ikan monosex atau memproduksi ikan dengan satu jenis kelamin yaitu jantan atau betina saja. Sex reversal dengan pemberian metiltestosteron dikenal cukup efektif untuk memproduksi populasi jantan. Pemberian metiltestosteron melalui oral (pakan) dianggap kurang efisien karena memerlukan dosis tinggi dan waktu pemberiannya relatif lebih lama walaupun tingkat keberhasilan merubah kelamin jantan dapat mencapai 96–100%, sedangkan pemberian metiltestosteron melalui metode perendaman (dipping) lebih efisien karena dosis yang diberikan relatif kecil dan waktu kontaknya lebih singkat walaupun tingkat keberhasilan merubah kelamin jantan dibawah 96% (Zairin, 2002), hal ini didukung oleh penelitian Priambodo (1998), pada ikan nila bahwa dengan dosis 0,9-1,2 dengan lama perendaman dua jam sudah dapat merubah jenis kelaminnya. Sex reversal merupakan cara pembalikan arah perkembangan kelamin ikan yang seharusnya berkelamin jantan diarahkan perkembangan gonadnya menjadi betina atau sebaliknya. Teknik ini dilakukan pada saat belum terdiferensiasinya gonad ikan secara jelas antara jantang dan betina pada waktu menetas. Sex reversal merubah fenotif ikan tetapi tidak merubah genotifnya. Teknik sex reversal mulai dikenal pada tahun 1937 ketika estradiol 17 disintesis untuk pertama kalinya di Amerika Serikat. Pada mulanya teknik ini diterapkan pada ikan guppy (Poecilia reticulata). Kemudian dikembangkan oleh Yamamato di Jepang pada ikan medaka (Oryzias latipes). Ikan medaka betina yang diberi metiltestosteron akan berubah menjadi jantan. Setelah melalui berbagai penelitian teknik ini menyebar keberbagai negara lain dan diterapkan pada berbagai jenis ikan. Awalnya dinyakini bahwa saat yang baik untuk melakukan sex reversal adalah beberapa hari sebelum menetas (gonad belum didiferensiasikan).Teori ini pun berkembang karena adanya fakta yang menunjukkan bahwa sex reversal dapat diterapkan melalui embrio dan induk yang sedang bunting (Masduki, 2011).

Sex reversal dapat dilakukan melalui terapi hormon (cara langsung) dan melalui rekayasa kromosom (cara tidak langsung). Methyl testosterone merupakan androgen yang paling sering dipakai untuk merubah jenis kelamin dan penggunaan metiltestosteron pada dosis yang berbeda akan memberikan pengaruh yang berbeda pula. Pemijahan liar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kolam cepat penuh dengan berbagai ukuran ikan. Pemeliharaan ikan monoseks akan mencegah perkawinan dan pemijahan liar sehingga kolam tidak cepat dipenuhi ikan. 17α-methyltestosterone (17α-MT) merupakan hormon sistetik yang molekulnya sudah dimodifikasi agar tahan lama di dalam tubuh. Cara langsung dapat meminimalkan jumlah kematian ikan. Total biomass ikan tinggi namun kualitasnya rendah. Untuk mencegah pemijahan liar dapat dilakukan melalui teknik ini. Methyl testosterone dibuat . Metode langsung dapat diterapkan pada semua jenis ikan apapun sex kromosomnya. guppy. Selain itu ikan yang dihasilkan akan berukuran besar dan seragam. Selanjutnya ikan ini dikawinkan dengan saudaranya dan diulangi beberapa kali sampai diperoleh ikan dengan ras murni (Masduki. Ikan yang seharusnya berkembang menjadi betina dibelokkan perkembangannya menjadi jantan melalui prosespenjantanan (maskulinisasi). kongo dan rainbow akan memiliki penampilan tubuh yang lebih baik pada jantan daripada ikan betina. dan 30% jantan:50% betina pada pemijahan berikutnya (Masduki. Pada kasus hermaprodit. Hal ini dikarenakan pada karbon ke-17 telah ditempeli gugus metal agar tahan lama (Junior. 2011). Pada terapi langsung hormon androgen dan estrogen mempengaruhi fenotif tetapi tidak mempengaruhi genotif.Pada beberapa jenis ikan hias seperti cupang. Beberapa ikan yang berjenis jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada jenis betina misalkan ikan nila dan ikan lele Amerika. nisbah kelamin anakan tidak selalu 1:1 tetapi 50% jantan: 50% betina pada pemijahan pertama. Dengan demikian nilai jual ikan jantan lebih tinggi ketimbang ikan betina (Masduki. hormon yang diberikan hanya akan mempercepat proses perubahan sedangkan pada sex reversal perubahannya benar-benar dipaksakan.Penerapan sex reversal dapat menghasilkan populasi monosex (kelamin tunggal). Menjelang diferensiasi gonad sebagian dari populasi betina tersebut diambil dan diberi hormon androgen berupa metiltestosteron sehingga menjadi ikan jantan. 2011). Sex reversal juga dapat dimanfaatkan untuk teknik pemurnian ras ikan. 2011). Telah lama diketahui ikan dapat dimurnikan dengan teknik ginogenesis yang produknya adalah semua betina. Misalkan pada ikan hias. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan tingkat pertumbuhan antara ikan berjenis jantan dengan betina. Sedangkan ikan yang seharusnya menjadi jantan dibelokkan menjadi betina melalui proses pembetinaan (feminisasi) (Masduki. Kelemahan dari cara ini adalah hasilnya tidak bisa seragam dikarenakan perbandingan alamiah kelamin yang tidak selalu sama. 2002). Contoh ikan yang cepat berkembangbiak yaitu ikan nila dan mujair. Kegiatan budidaya secara monosex (monoculture) akan bermanfaat dalam mempercepat pertumbuhan ikan. Methyl Testosterone (MT) Hormon androgen yang paling umum yang digunakan dalam aplikasi sex reversal untuk maskulinisasi (pengarahan kelamin menjadi jantan) adalah 17α-methyltestosterone yang diperkirakan efektif digunakan pada lebih dari 25 spesies yang telah diuji. 2011).

Residu ini dikhawatirkan dapat menimbulkan ekspos yang tidak diharapkan pada pekerja. Penggunaan non-steroid agen untuk seks pembalikan dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang mekanisme yang mengontrol diferensiasi seks. karena adanya sifat racun (toxit) dari hormon kepada ikan. serta menyediakan alternatif untuk pengobatan steroid. Mereka dapat classi berdasarkan struktur kimia yang mereka sebagai steroid (tipe I) dan non steroid (tipe II).dengan cara menambahkan satu kelompok α-metil pada atom karbon ke-17 di dalam gugus testosteron dengan rumus bangun kimia kimia C20H30O2. Paralichthys olivaceus (Kitano et al. Fadrozole itu dibuktikan menyebabkan lengkap pembalikan seks betina ke genetik fenotipik laki-laki di nil ikan nila. 2002). Hal ini dikarenakan diduga sifat 17α-metiltestosteron yang dapat menimbulkan pencemaran karena sulit terdegradasi.. berbobot molekul 302. Pemberian hormon metiltestosteron pada benih ikan gurami tidak menyebabkan perubahan genetik ikan. Semakin tinggi dosis hormon yang diberikan dapat menurunkan tingkat kelulushidupan ikan. 2006). tipe II aromatase inhibitor. dan karena 17α-metiltestosteron dapat menyebabkan kanker pada manusia. hasil dari pekerjaan yang lebih baru menunjukkan bahwa suhu pemeliharaan tidak mempengaruhi rasio jenis kelamin (Hughes et al. tetapi sementara steroid disetujui untuk digunakan dalam pertanian di beberapa negara. Efektifitas pembentukan kelamin jantan sangat ditentukan oleh ketepatan pemberian dosis hormon metiltestosteron dan umur ikan sebelum gonad terdifferensiasi. sejumlah AI telah dikembangkan. Fadrozole (afema) adalah sebuah kompetitif. karena hormon ini hanya akan mencapai dan mempengaruhi organ target saja dan bukan kelamin ikan.. sejak selektif inhibisi produksi estrogen telah ditemukan untuk menjadi strategi yang efektif untuk pengobatan kanker payudara. tetapi tidak mengubah genotipnya (Zairin. ikan zebra Danio rerio (uchida et al. al (2001) menyatakan bahwa residu anabolik 17α-methyltestosterone masih tertinggal pada sedimen kolam setelah tiga bulan penggunaan pada maskulinisasi benih ikan nila. Penggunaan 17α-methyltestosterone saat ini sudah mulai dikurangi... Penggunaan steroid hormon yang efektif untuk seks disebabkan pembalikan (Hendry et al. Tindakan didasarkan pada noncovalent reversibel interaksi dengan heme bagian dari aromatase dan pekerjaan yang substrate binding situs (miller et al. Percobaan pada diferensiasi seks lingkungan (ESD) di Atlantik Halibut melalui suhu pemeliharaan terkendali yang menunjukkan hasil yang samar-samar. 2004).05. Menurut Mukti (2002). ikan dan organisme lain. 2003. dan flounder jepang. kwon et al. 2000). karena dosis dan masa differensiasi yang tepat akan menghambat pembentukan ovari dan sebaliknya .. 2000). 2003). Aromatase Inhibitor (AI) telah banyak digunakan dalam terapi kanker payudara. Contreras – Sanchez et. 2008). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon 17α-methyltestosterone mampu mempengaruhi perkembangan gonad beberapa ikan. 2008).. Meskipun satu studi menunjukkan bahwa suhu tinggi terpengaruh ekspresi sitokrom P450 aromatase gen (cyp19a) (van SPN dan Andersen. kelebihan dosis hormon metiltestosteron yang diberikan pada ikan dapat mengurangi jumlah kelamin jantan yaitu hormon metiltestosteron semakin memacu perkembangan kelamin atau gonad betina ikan (bukan kelamin jantan). Oreochromis niloticus (kobayashi et al.. differensiasi kelamin atas pengaruh pemberian hormon mengubah fenotip kelamin. mereka dapat menyebabkan masalah dengan konsumen persepsi di bagian lain dunia.

Substansi yang dapat menggangu sistem endokrin (EDS. secara umum mekanisme terjadi secara alamiah dan rekayasa (rangsangan). memiliki kemampuan untuk berikatan dengan estrogen reseptor (Brian. kemoreseptor untuk suhu dan metabolit yang kemudian diterima oleh susunan saraf otak melalui reseptor-reseptor penerima rangsangan susunan saraf otak kemudian merangsang hipotalamus untuk melepaskan Gonadropin Releasing Hormon (GnRH) untuk mestimulasi kelenjar hipofisa (pituitary) untuk mengsekresikan Gonadotropin Hormon (GtH) kemudian dialirkan ke dalam darah untuk merangsang kematangan gonad akhir melalui simulasi untuk mensintesis hormon-hormon steroid pematangan (seperti hormon testoteron dan estradiol) dalam ovarium atau testis. Proses bagaimana hormon steroid tersebut dapat merangsang pemasakan oosit maupun sperma mekanismenya belum diketahui. et all. baik bersifat alami ataupun sintesis yang dikenal sebagai endocrine disrupter.. et al. Pematang gonad ikan yang bekerja dibawah kendali hormon-hormon. baik pembentukan rongga ovari seperti betina dan/atau keberadaan sel germ jantan dan betina pada gonad . dan mempengaruhi perkembangan kelamin sekunder (Sunandar. 2006). 2006). 2006). baik adanya perubahan pada pembentukan duktus atau adanya perkembangan ovotestis yang mengarah pada feminisasi (Liney. Mekanisme rangsangan pembentukan gonad jantan dengan menggunakan hormon metiltestosteron (hormon steroid) dimulai dari penyepan hormon kedalam tubuh ikan secara difusi dan disekresikan melalui saluran darah (Montgomery. 2005) atau androgen reseptor (Larsson. et al.. substansi kimia. atau keturunannya. et al. 2006) bergantung pada mekanismenya. Gangguan sistem endokrin yang dapat terjadi adalah adanya mekanisme “feminisasi” pada ikan jantan yaitu perubahan pada perkembangan duktus gonad. 1983). Gangguan endokrin didefinisikan sebagai gangguan perkembangan gonad. Mekanisme secara alamiah kerja hormon untuk perkembangan dan pematangan gonad dimulai dari adanya rangsangan dari luar seperti visual untuk fotoperiode. Gangguan dapat terjadi dengan berbagai jalan karena ikan yang hidup di perairan terbuka bukan hanya terpapar pada subtansi tunggal melainkan dapat terpapar pada substansi kompleks dengan jumlah bervariasi sehingga dapat menimbulkan pengaruh kombinasi baik dengan mekanisme yang tunggal/sama ataupun berbeda (8085).. 2002).. Sedangkan menurut WHO/IPCS dalam Falcorner. et al. tetapi diduga melalui tranfer kode terjemahan RNA (Darwisito. Umumnya. Gangguan ini dapat terjadi akibat adanya substansi kimia di perairan yang mengganggu sistem endokrin pada organisme ikan.. 2005) atau adanya rangsangan munculnya karakter kelamin sekunder jantan yang mengarah pada maskulinisasi (Larsson. Gangguan yang ditimbulkan juga bervariasi bergantung tipe bahan dan organisme yang dipengaruhinya.. endocrine disrupting substance) tersebut diantaranya estrogen alami (17b-estradiol dan estron) dan estrogen sintetis (17a-ethynil estradiol) (Kavanagh. atau (sub)-populasi yang menerimanya. 2004). et al. et al. (2006) endocrine-disrupting compounds didefinisikan sebagai substansi eksogenus yang mengubah fungsi sistem endokrin yang menimbulkan konsekuensi pengaruh kesehatan yang kurang baik terhadap organisme. Beberapa substansi kimiawi yang terdeteksi berada di lingkungan perairan dapat berpengaruh terhadap sistem endokrin organisme. sehingga gonad akan berkembang menjadi testis (Sunandar.pembentukan gonad jantan semakin cepat.

shovelnose sturgeon (Scaphirhynchus platyorynchus). seperti yang dilaporkan terjadi di sungai-sungai di Eropa. et al.. et al.. . et al.9 ng/L di limbah perkotaan dan <0.. 2005). 2005). 2005). peningkatan konsentrasi vitellogenin. Kondisi seperti itu dilaporkan pada ikan roach yang sebelumnya tidak terekspose limbah kemudian setelah dewasa diekspose pada limbah dan ternyata tidak teramati adanya gangguan pada duktus reproduksinya (Liney. sensitifitas terhadap estrogen juga bersifat spesifik-spesies (Vethaak. Di Indonesia. misalnya ikan nilem. Dari hasil pengamatan kepadatan sperma ikan nilem pada beberapa perlakuan injeksi EE2 belum dapat diindikasikan adanya perubahan kemampuan spermiasis ikan nilem. Pengaruh substansi estrogenik teramati pada beberapa ikan liar yang mengalami perkembangan interseks yang tidak biasa seperti pada ikan roach (Rutilus rutilus). Namun. Sedangkan pada ikan zebrafish (Danio rerio). et al. et al. Jepang dan Amerika (Liney. perubahan mungkin terjadi bila dapat diamati pada level vitellogenin plasma darah seperti yang teramati pada ikan rainbow trout yang diekspose limbah pada selang waktu yang relatif pendek (selama 12 – 17 hari) dimana konsentrasi vitellogeninnya meningkat hampir dua kali lipat (Vethaak. Adanya phenomena tersebut disinyalir akibat degradasi yang tidak lengkap pada sistem instalasi pengolahan air limbah. barbel (Barbus plebejus). 2005). Ekspose ikan rainbow (Oncorhynchus mykiss) jantan dewasa pada limbah perkotaan tersebut selama 12 – 17 hari telah menyebabkan adanya peningkatan konsentrasi vitellogenin plasma darah (Vethaak.. et al. 2005). Jawa Barat. 2002). 17b-estradiol (E2) dan 17a-ethynil estradiol (EE2) merupakan dua substansi yang paling poten yang dapat menyebabkan gangguan sistem endokrin. 2005) sehingga dapat terjadi EE2 tidak berpengaruh terhadap ikan nilem. gangguan fungsi imun dan menyebabkan kerusakan genotoksik (Liney. Pada konsentrasi nanogram per mililiter EE2 telah dapat berpengaruh terhadap ikan. et al... et al.3 – 3.9 ng/L di limbah industri. pada substansi yang mungkin dapat ditemukan di perairan umum. Menurut Sumpter dan Johnson (2005)..yang sama. seperti Sungai Citarum. Hal ini diduga akibat terlalu pendeknya selang waktu injeksi dengan pengamatan spermiasis. Potensi adanya gangguan tersebut akan lebih besar di sungai-sungai yang menerima limbah industri yang sangat tinggi. Hampir semua penelitian mengenai gangguan endokrin dilaporkan berkaitan dengan efek estrogenik yang menimbulkan gejala feminisasi pada ikan akibat buangan dari pengolahan air limbah perkotaan/industri dan efek androgenik yang menimbulkan gejala maskulinisasi akibat buangan air limbah pengolahan kayu. Potensi nyata EE2 dapat mencapai 20 kali lipat dibandingkan E2. perubahan pada perkembangan ginjal. ekspose ikan sejak fertilisasi hingga mencapai tahap reproduksi (umur 118 hari) pada EE2 3 ng/L dapat menyebabkan 100% individu menjadi betina (Fenske. Penelitian di Belanda menunjukkan EE2 ditemukan pada konsentrasi <0. salah satunya ethynil estradiol. 2005). potensi gangguan tersebut dapat diamati dengan ekspose ikanikan liar. gudgeon (Gobio gobio)..3 – 5. Selain itu. Secara laboratoris. European flounder (Platichthyes flesus) dan Japanese flounders (Pleuronectes yokohamae) (Jobling. sejauh ini belum ditemukan adanya laporan mengenai pengaruh limbah perkotaan terhadap gangguan endokrin pada ikan liar yang hidup di perairan umum.

Gangguan endokrin yang muncul tersebut berkaitan dengan ekspose ikan pada buangan dari instalasi pengolahan air limbah industri dan domestik. Laporan awal yang paling ekstensif mengenai feminisasi akibat pengaruh air limbah dilakukan Jobling dan koleganya pada tahun 1998 pada ikan roach (Rutilus rutilus) di >50 titik sungai di Inggris (Liney.. 2005).. 2005). Rutilus rutilus. menyebabkan perubahan yang signifikan pada perkembangan ginjal (Gambar 3). Spesies ikan air tawar liar yang menampakkan adanya kejadian interseks yang tidak biasa telah dilaporkan pada ikan roach (Rutilus rutilus). barbel (Barbus plebejus). 2004) dan/atau adanya gangguan pada duktus gonad dimana duktus jantan mengalami feminisasi membentuk rongga ovari seperi betina (Gambar 1) (Liney. et al. 2004).. et al. ekspose selama 300 hari pada air limbah konsentrasi 0.. 34.Efek Estrogenik Penelitian mengenai adanya feminisasi pada ikan liar di perairan tawar dan estuari telah banyak dilaporkan di Inggris dan beberapa negara Eropa. et al. and 78. 2005). 2006).. Pengaruh limbah kayu pada sistem sitokrom P450 pada ikan ... 2005) dan white perch (Morone americana) (Kavanagh..7% (yang diencerkan dengan air bersih) telah merangsang feminisasi pada individu jantan yang diukur dari induksi vitellogenin (Gambar 2) dan perubahan histologi gonad. (2002). et al. Interseks pada gonad ditandai dengan adanya jaringan testikular dan ovari pada gonad yang sama (Kavanagh. 2004). perubahan waktu diferensiasi seks dan interseks pada gonad (Liney. Fenomena serupa ditemukan juga pada ikan mas (Cyprinus carpio) (Lavado. 2005). kelemahan pada perkembangan gonad. gudgeon (Gobio gobio). dan shovelnose sturgeon (Scaphirhynchus platyorynchus). et al. bream (Abramis brama) (Vethaak. et al. sedangkan pada ikan estuari telah dilaporkan pada ikan flounder Eropa (Platichthyes flesus) and flounder Jepang (Pleuronectes yokohamae) (Jobling. Meskipun interseks secara alami biasa terjadi pada spesies ikan protaginus dan protandri... Pada ikan roach. Efek Androgenik Adanya gangguan endokrin yang mengarah pada maskulinisasi pada ikan liar berkaitan dengan buangan limbah dari industri pengolahan kayu. et al. Kebanyakan laporan mengenai pengaruh feminisasi dari air limbah pada ikan adalah adanya induksi pada vitellogenin. 2002). Pengaruh interseks akibat gangguan endokrin terhadap kemampuan fertilisasi (kualitas gamet) dipublikasikan oleh Jobling. et al. perubahan tingkat hormon steroid seks pada ikan juvenil dan ikan dewasa. 2002). persentase ikan yang mampu melakukan spermiasi dan fertilisasi menurun dengan adanya indikasi interseks yang lebih akut. 2005) dan Guillette dan koleganya pada tahun 2000 yang telah menemukan adanya pengaruh tersebut pada alligator di beberapa danau di Florida (Sumpter.2. et al. Pemeliharaan kembali ikan yang mengalami gangguan seksual setelah ekspose pada air limbah menunjukkan bahwa feminisasi pada duktus reproduksi bersifat permanen (Liney. 15.. namun pada ikan gonokoristik fenomena ini merupakan gejala tidak normal dan biasanya hanya ditemukan pada ikan yang sengaja diekspose terhadap hormon steroid atau aromatase inhibitor (Jobling. Jepang dan Amerika Serikat. et al. Pada ikan roach. et al. modulasi fungsi immum (jumlah total trombosit) dan menyebabkan kerusakan genotoksik (induksi mikronukleus dan kerusakan single-strand pada insang dan sel darah) (Liney. et al.8.

sidat (Anguilla rostrata). Selain pada masquitofish. 2006). Pada viviparous eelpout. Pencemaran merupakan penambahan bermacam-macam bahan sebagai aktivitas manusia ke dalam lingkungan yang biasanya memberikan pengaruh berbahaya terhadap lingkungan (Tugaswaty. (Coregonus clupeaformis). Terdapat dua jenis sumber pencemaran yaitu (1) Pencemaran yang dapat diketahui secara pasti sumbernya misalnya limbah industri.. Sedangkan pada invertebrata dilaporkan pertama kali oleh Blaber tahun 1970 yang menemukan adanya struktur seperti penis disamping tentakel kanan dogwhelks (Nucella lapillus) (Sumpter. 2002). et al. Pencemaran terjadi apabila terdapat gangguan dalam daur materi yaitu apabila laju produksi suatu zat melebihi laju pembuangan atau penggunaan zat tersebut (Soemarwoto.. 2002). munculnya tingkah laku dan warna tubuh seperti jantan pada ikan betina (Larsson. terdapat hubungan yang jelas antara pergeseran seks rasio dengan ekspose terhadap limbah olahan kayu. atau dapat merusak sumber bahan mentah.telah teridentifikasi dengan adanya interferensi pada sistem reproduksi yang meliputi depresi siskulasi hormon steroid. ukuran gonad yang lebih kecil. (2) Pencemaran yang tidak diketahui secara pasti sumbernya yaitu masuk ke .. tempat tinggal dan peninggalan-peninggalan. largemouth bass(Micropterus salmoides). salah satunya adalah progesteron. 2002). Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya multiple ligand terhadap reseptor androgen yang ditemukan pada limbah kayu. Maskulinisasi ikan yang ditemukan di aliran sungai yang menerima limbah kayu diperkuat oleh penelitian Larsson. proses-proses industri. et al. 1987). 2005). adanya limbah dari olahan kayu tidak berpengaruh terhadap fisiologi reproduksi jantan tetapi dapat menekan tingkat testosteron dan vitellogenin pada ikan 1% dari aliran air (Gambar 6) (Fentress. guppy (Poecelia reticulata) (Larsson. et al. et al.³betina ketika limbah mencapai et al. Kimia dan Biologi yang tidak dikehendaki pada udara. et al. 2006). Laporan awal mengenai fenomena ini dipublikasikan oleh Howell dan koleganya pada tahun 1980 yang mengidentifikasi adanya perkembangan pemanjangan sirip anal yang menirukan gonopodium jantan pada mosquitofish (Gambusia sp. terdapat embrio betina yang lebih sedikit dibandingkan dengan jantan pada daerah yang lebih dekat dengan sumber limbah kayu Pencemaran Air Pencemaran adalah perubahan sifat Fisika. Peruahan tersebut dapat menimbulkan bahaya bagi kehidupan manusia atau organisme lainya. tanah dan air. fathead minnows (Pimephales promelas).. (2006). keterlambatan waktu pematangan... Treatment biologi dapat mengurangi progesteron tersebut tetapi tidak mengurangi jumlah aktifitas pengikatan resepto androgen.. perch (Perca fluviatilis). 2006) dan longnose sucker (Catostomus catostomus) (McMaster. Menurut (Larsson. 2005)..1990). et al.. Pada ikan longear sunfish (Lepomis megalotis) liar. viviparous eelpout (Zoarces viviparus) (Larsson. Menurunnya tingkat vitellogenin berdampak pada lebih sedikitnya telur yang dikeluarkan induk betina ataupun memperpendek waktu pijah pada saat musim pemijahan. longear sunfish (Lepomis megalotis) (Fentress. et al. 2006). penelitian mengenai pengaruh limbah kayu yang menyebabkan gangguan endokrin telah dipublikasikan terjadi pada ikan lake whitefish. 2006). et al. perubahan pada ekspresi karakter seks sekunder (Larsson. et al.) betina (Larsson. white suckers (Catosomus commersoni).

Bilamana air di alam (disungai sungai. limbah industri. perikanan. 1987). kemungkinan besar menyebabkan persediaan sumber daya air untuk segala kehidupan tidak dapat dipenuhi. 1994).perairan bersama air hujan dan limpasan air permukaan. musim. logam berat dan minyak. kegiatan pertanbangan dan limbah dari penggunaan lahan pertanian (Manan. Bahan pencemaran yang masuk ke dalam air dapat dikelompokkan atas limbah organik. Dalam sebuah daerah aliran sungai. merusak jaringan usus dan fungsi ginjal (Duffus. industri dan sebagainya. Keadaan demikian akan menyebabkan terganggunya suatu faktor ekosistem kehidupan manusia yaitu faktor kesehatan lingkungan yang mempengaruhi hiduup m. berasal terutama dari limbah domestik. Oksigen penting untuk pernafasan yang merupakan komponen utama untuk metabolisma ikan dan oprganisme lain (Mason. 1992). seperti hutan. danau-danau dan lain-lain) dikotori oleh kegiatan manusia. 1978). Terjadinya proses ini sangat membutuhkan oksigen terlarut dalam perairan tersebut (Duffus.1991). Salah satu perubahan yang terjadi karena pembuangan limbah ke badan perairan dapat menyebabkan berkurangnya kadar oksigen terlarut (Lembaga ekologi Unpad.anusia itu sendiri (Anwar dan Husin. Apabila suatu limbah yang berupa bahan pencemar masuk ke suatu lokasi maka akan terjadi perubahan padanya.sedemikian rupa sehingga tidak memenuhi syarat untuk suatu penggunaan yang khusus maka disebut terkena pencemaran (pollution) (Manan. terdapat berbagi penggunaan lahan. pemukiman. perkebunan. Beban pencemaran pada badan air merupakan jumlah bahan yang dihasilkan dari kedua sumber tersebut (Husin dan Kastamana. 1990). 1979). 1980). Senyawa beracun ini juga mempengaruhi darah organtubuh lainya. Persenyawaan organik di perairan akan dipecah oleh organisme pembusuk. Perubahan dapat terjadi pada organisme yang hidup di lokasi itu serta lingkunya yang berupa faktor Fisika dan Kimianya (ekosistim) (Suin. pertanian lahan kering dan persawahan. Disamping itu senyawa beracun dan logam berat dapat menghambat metabolisma serum protein (Tewari.Masing –masing kelompok ini sangat berpengaruh terhadap organisme perairan.1992). Aanggapan bahwa badan perairan merupakan tempat pembuangan limbah baik limbah domestik maupun limbah industri adalah salah karena dapat menyebabkan perubahan dn gangguan terhadap sumber daya air. Beban bahan pencemar yang menyebabkan penurunan kwaliotas air pada sebagian sungai. Gill dan Plant. Disamping itu adanya senyawa racun yang terkandung di dalam limbah juga mempengruhi proses metabolisma dalam tubuh ikan. Bahan pencemar dan ekosistim perairan Kwalitas air dipengaruhi oleh faktor alami (yaitu iklim. Logam berat merupakan bahan pencemar yang paling banyak ditemukan diperairan akibat limbah Industri dan . Organisasi yang tergolong dalam kelompok organisme akuatik adalah yang pertama kali mengalami kehidupann buruk secara langsung dari pengaruh limbah atau pencemaran terhadap badan air (Price. mineralogi dan vegetasi) dan kegiatan manusia. 1980). 1980). Tanpa adanya tindakan kebijaksanaan untuk mencegah dan mengendalikan pencemaran perairan sungai.

N-NH3 dan pH badan air (Zulkifli dan Anwar. Hal ini terjadi karena adanya logam berat yang bersifat racun bagi organisme dalam perairan.1994). namun dalam jumlah yang sangat rendah. 1987). Daerah mendekati Muara juga telah terjadi penumpukan terhadap logam berat terutama Cu dan Pb (Abu dan Arifin. 1993). Pendedahan logam berat kadmium pada beberapa jenis ikan berakibat berkurangnya nilai hematokrit. C dan D serta nilai BOD dan COD yang cukup tinggi (proyek pengendalian banjir. 1992). Secara alamiah. Hal ini akan memperlambat ekspersi pada insang dan pada akhirnya menyebabkan kematian (Sudarmadi. 1993). Aliran batang Arau yang paling tercemar pada daerah muara karena kwalitas airnya sudah tidak memenuhi syarat sebagai air golongan B. Limbah pabrik karet dapat mempengaruhi nilai DO.1983). Permukaan insang lebih dari 90% seluruh luas badan. kadar hemoglobin serta nilai hematokrit (Tewari et al. Manifestasi dari keracunan logam berat adalah diare denan fesis biru kehijauan dan kelainan fungsi ginjal. karena banyak sel darah yang rusak. Masuknya logam berat ke dalam tubuh organisme perairan dengan tiga cara yaitu melalui makanan. Perlakuan logam berat terhadap ikan air tawar juga menyebabkan penurunan jumlah sel darah merah. Logam berat hampir selalu ada dalam setiap pencemaran oleh limbah industri karena selalu diperlukan dalam setiap proses industri (Forstner dan Wittmann. Akibat yang serius dari keracunan logam berat dapat menimbulkan kematian (Tewari et al. karena bereaksinya kation logam tersebut dengan fraksi tertentu dari lendir insang. Lebih jelasnya penyebab anemia tersebut adalah menurunya kecepatan produksi sel darah mrah atau rusaknya sel darah merah lebih cepat (Larsson et al. unsur logam berat terdapat dalam perairan. . COD. 1987). 1993). Kondisi ini menyebabkan proses metabolisme dari insang menjadi terganggu. kadar hemoglobin dan jumlah sel darah merah sehingga menyebabkan anemia. Sehingga dengan masuknya logam berat ke dalam insang dapat menyebabkan keracunan. hati dan ginjal. 1976). BOD. Untuk ikan insang merupakan jalan masuk yang penting. Kadar ini akan meningkat bila limbah yang banyak mengandung unsur logam berat masuk ke dalam lingkungan perairan sehingga akan terjadi racun bagi organisme perairan (Hutagalung dan Razak. Akibat organisme yang paling sensitif pertama kali mengalami akibat buruk dan juga organisme yang tidak mampu bertahan akan musnah. Bila kadarnya tinggi dalam tubuh dapat merusak jantung. Batang Arau merupakan salah satu sungai terbesar di Kotamadya Padang yang kwalitas airnya cenderung terus menurun akibat meningkatnya pencemaran. Kerusakan ekosistim akibat pencemaran logam berat sering dijumpai khususnya untuk ekosistim perairan.limbah perkotaan (Suin. Anemia sering ditandai dengan meningkatnya volume plasma oleh karena sistim keseimbangan dalam tubuh ikan terganggu. sehingga keseimbangan rantai makanan dan ekosistem perairan akan mengalami kerusakan (Sudarmadi. 1983). padatan tersuspensi. insang dan diffusi melalui permukaan kulit (Poels.1982). Sumber pencemaran di sungai ini terutama berasal dari limbah industri (terutama pabrik karet) dan limbah perkotaan. Absorbsi logam berat masuk ke dalam darah dapat menimbulkan hemolisis yang akut. Lendir yang berfungsi sebagai pelindung doproduksi lebih banyak sehingga terjadi penumpukan lendir.1994).

dapat pula berupa cairan kimia lainnya dari pabrik kimia. Canada. DAFTAR PUSTAKA Abu bakar. yang di akibatkan dari hormone sintesi estrogen yang terkandung dalam pil KB. Anwar. Anderson. M. kandungan pada urin yang berupa zat sintesis dari penggunaan pil kb yang dapat mempengaruhi langsung terhadap kelamin ikan. pencemaran sungai tempat habitat ikan dapat tercemari limbah dari pabrik maupun dari limbah perorangan. Padang Amnan. and S. Apollonia 1978. Sedang pada limbah perorangan yakni berupa air urin yang di buang di sungai. Pengaruh Limbah Terhadap Kwalitas Air Batang Arau dan Batang Kuranji. Jakarta. Tesis Program Pasca Sarjana. Faktor-faktor yang dimaksud adalah: 1. Penomena antagonis. P. Bustanil Arifin.Dalam ekosistem alami perairan. 1993). Laporan Penelitian. sehingga zat-zat yang tadinya beracun berhasil dikurangi dinetralisir daya racunya sehingga tidak membahayakan. Department of Biological Sciencies. 1994. limbah pabrik sendiri dapat berupa limbah beraneka macam bahan kimia. Evaluasi Kandungan Logam Berat Hg dan Pb pada kerang Polymesoda sp Pada Ekosistim Sungai di Kawasan Industri.3: 183 – 192. serta sifat polutan itu sendiri (Sudarmadi. yaitu kombinasi dari dua zat atau lebih yang bersifat memperkuat daya racun. Jenis ikan Pada dasarnya perubahan jenis kelamin pada ikan tidak hanya pada ikan tertentu. UI.D. 1990. semisal. 2. pewarna dari limbah pabrik tekstil. Marta. melainkan pada semua jenis ikan yang berada pada daerah atau habitat sungai yang sedang mengalami pencemaran. Aquatic. D. 10. yang tertarik dengan daya tahan ikan serta adaptasinya terhadap lingkungan. Jakarta . Jurnal Lingkungan dan Pembangunan. Unand. Studi Lingkungan Perairan air Sungai di Kecamatan Gambut dan Kertak Hanyur Kalimantan Selatan. Ottawa. S. yaitu kombinasi antara dua zat atau lebih yang saling menetralisir. Jenis ikan dan sifat polutan.Animal. 3. H Saaludian. 1990. hampir dapat dipastikan bahwa kematian dan perubahan jenis kelamin sejenis ikan tidak selalu karena sebab faktor tunggal tetapi karena beberapa faktor. Penomena sinergis.

Liney. Water Quality Measurement The Modern Analytical Techniques. Departments of Chemistry of Cincinate. Hutagalung. Bandung Husin. London. Stretegi Reproduksi Pada Ikan Kerapu. Kavanagh. A. IPB. Environment Toxicologi. Effect of Cadmium for Hematologys and Biochemis on Fish. Pengelolaan Hutan Lindung yang Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Pulau Sumatera Rimba Indonesia XXVII. B. Geonarso. Ohio. 1982. Tokyo.P dan H. University Edinbueg. Environmental Health Perspectives.B. 112(8):898902 Larson. H. Metal Pollution in the Aquatic Environment. New York. Springerverlag. Pengamatan Pendahuluan Kadar Pb dan Cd dalam Air dan Biota di Estuari Muara angke.Darwisito. Environmental Health Perspectives. Penelitian Lingkungan Hidup. An environmentally relevant concentration of estrogen induces arrest of male gonad development in zebrafish. Lembaga Penelitian. Oseanologi. New York. Chambridge University Press. Biology of Reproduction. Indonesia. dan Eman. D. Heidelberg. Wild Intersex Roach (Rutilus rutilus) Have Reduced Fertility. 1988. 2004. Environmental Toxicology and Chemistry. 2005.H. . Second revised Edition. 2002. Jobling. 113(10):1299-1307 Manan. Metoda teknik Analisisi Kwalitas Air. 67:515524. ITB. 1981. Svaberg.. Bogor. 1976. Bogor Duffus. 3 – 4 Persatuan Peminat dan Ahli kehutanan. Hariot-Watt. 1980. U and G. Danio rerio. Endocrine Disruption and Altered Gonadal Development in White Perch (Morone americana) from the Lower Great Lakes Region. Bengston and O. Razak. K. Mark. S. Fenske. Makalah Pengantar Falsafah Sains Program Pasca Sarjana. Wittman. Department of brewing and Biological Science. Assessing the Sensitivity of Different Life Stages for Sexual Disruption in Roach (Rutilus rutilus) Exposed to Effluents from Wastewater Treatment Works.E.W. 1992. 24(5):10881098.S. 2005. Jr. H. 1991. Y. J. Institut Pertanian Bogor. Perubahan faal ikan sebagai indikator kehadiran insektisida dan detergen dalam air. 2002.T. Disertasi. Melboum. 1983. Forstner.

Endang. Jakarta.. London. W. Gill and J. SUPM-bone. 2006. Perndaman Benih Ikan Gurami () Terhadap Keberhasilan pembentukan Kelamin Jantan. Pemda Kodya TK. D. Yogyakarta Mukti. Embirom. dan Kerusakan insang. Toksiologi Limbah pabrik kulit terhadap Cyprinus Carpio L. Beberapa Masalh Mendesak dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. 1987. PKMI (1-20): 1-9 Tewari.net Mason. Plant. dkk. Universitas Muhammadiyah Malang. Widyapura No. 1983. John Wiley and Sons.L. Biological pf FreshWater Pollution. 1987. A. Sigit. 247 – 260. Sumpter. Contam Tugaswaty.F. Testing and research Institute of the Netherlands Water Undertakings. 1998. Suin. Rustidja. Lessons from endocrine disruption and their Application to other issues concerning trace organics in the aquatic environment.H. Jurusan Perikanan. L. H. Sudarmadi. Nurdin. Proseding penataran pencemaran Lingkungan Dampak dan Penanggulanganya. 2002. Soemarwoto.. Priambodo. Fakutas Perikanan Universitas Brawijaya.Masduki. Biokimia: Suatu Pendekatan Berorietasi-Kasus Jilid 2 Edisi Keempat. 39(12):4321-4332. 1 tahun VII/1990. A. B. Pusat penelitian dan pengembangan dan Perkotaan dan Lingkungan DKI. 1990. Otto. M. Sex Reversal. KIWA Ltd. 1994. R.T.M. Malang Price. Montgomery. C. Environmental Science & Technology.S. C. Chicester. Universitas Brawijaya. Malang Poels. Conway. Toronto.) Terhadap Keberhasilan Perubahan Jenis Kelamin. II. Gajah Mada Univercity. R.. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan 13. Malang.T. Sunandar. Lembaga Penelitian Universitas Indonesia. Jakarta..4: hal. Rijswijk. Optimalisasi Dosis Hormon Sintetis 17 αMetiltestosteron dan Lama Perendaman Larva Ikan Nila (Oreochromis spp. 2011. 1980. Jakarta. Dryer. Optimalisasi Dosis Hormon Sintetis 17 α-Metiltestosteron dan Lama Perendaman Larva Ikan Nila (Oreochromis spp. Sub lethal Effect of RhineWater of Rainbouw Trout. R. M. 1879.) Terhadap Keberhasilan Perubahan Jenis Kelamin. Priambodo. dan Widodo. B.R. 1983. 2005. Metoda Penelitian Kwalitas Air.S. Netherlands.. Penataran Metoda Penelitian Ilmu Lingkungan. Dampak pencemaran pada Ekosistim Pengairan. New York. Fish as Indicators of Water Quality. dan Spector A.. . Padang. Impact of Chronic Lead Poisoning on the Hematological and Biochemistry Profiles on a Fish Barbus Chonchonius (Ham) Bull. T. 1993.

59:511-524. Jakarta Zulkifli dan Jazanul. Sex Reversal: Memproduksi Benih Ikan Jantan atau Betina. . An integrated assessment of estrogenic contamination and biological effects in the aquatic environment of The Netherlands.Vethaak. Alternatif Penanggulangan Limbah Pabrik Karet. 2002. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan 14. Zairin. Penebar Swadaya. 1994. 2005. M. Chemosphere. 1: 60 – 67.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful