P. 1
VULNUS LASERATUM

VULNUS LASERATUM

|Views: 1,237|Likes:
Published by bloodsphere

More info:

Published by: bloodsphere on Mar 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2015

pdf

text

original

VULNUS LASERATUM A. Pengertian.

Dari beberapa reverensi yang memuat tentang vulnus laseratum di antara reverensi yanhg penulis temukan adalah: 1. Chada (1995) menyatakan “Vulnus (luka) adalah satu keadaan dimana terputusnya kontinutas jaringan tubuh”. (p.66). 2. Mansjoer (2000) menyatakan “Vulnus Laseratum merupakan luka terbuka yang terdiri dari akibat kekerasan tumpul yang kuat sehingga melampaui elastisitas kulit atau otot”. (p.219). 3. Vulnus Laseratum ( luka robek ) adallah luka yang terjadi akibat kekerasan benda tumpul , robekan jaringan sering diikuti kerusakan alat di dalam seperti patah tulang. (http://one.indoskripsi.com) Dari pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa vulnus laseratum adalaah luka robek yang tidak beraturan yang terjadi akibat kekerasan benda tumpul sering diikuti alat dalam seperti patah tulang. B. Penyebab. Chada 1995 menyatakan “Vulnus Laseratum dapat di sebabkan oleh beberapa hal di antaranya : 1. Alat yang tumpul. 2. Jatuh ke benda tajam dan keras. 3. Kecelakaan lalu lintas dan kereta api. 4. Kecelakaan akibat kuku dan gigitan”. (p.73) C. Anatomi dan Pathofisiologi. 1. Kulit. Price 2005 menyatakan “Secara mikroskopis kulit terdiri dari 3 lapisan epidermis, dermis, lemak subkutan. Kulit melindungi tubuh dari trauma dan merupakan benang pertahanan terhadap bakteri virus dan jamur. Kulit juga merupakan tempat sensasi raba, tekan, suhu, nyeri dan nikmat berkat jahitan ujung syaraf yang saling bertautan”. (p.1260). a. Epidermis bagian terluas kulit di bagi menjadi 2 bagian lapisan yaitu : 1) Lapisan tanduk (stratum konsum) terdiri dari lapisan sel-sel tidak ber inti dan bertanduk. 2) Lapisan dalam (stratum malfigi) merupakan asal sel permukaan bertanduk setelah mengalami proses di ferensiasi . b. Dermis Dermis terletak di bawah epidermis dan terdiri dari seabut-serabut kolagen elastin, dan retikulum yang tertanam dalam substansi dasar. Matrik kulit mengandung pembuluh pembuluh darah dan syaraf yang menyokong nutrisi pada epidermis. Disekitar pembuluh darah yang kecil terdapat limfosit. Limfosit sel masuk dan leukosit yang melindungi tubuh dari infeksi dan infeksi dan instansi benda-benda asing. Serabut-serabut kolagen, elastin khusus menambahkan sel-sel basal epidermis pada dermis. c. Lemak Subkutan Price (2005) menyatakan “Lemak subkutan merupakan lapisan kulit ketiga yang terletak di bawah dermis. Lapisan ini merupakan bantalan untuk kulit isolasi untuk mempertahankan daya tarik seksual pada kedua jenis kelamin”. (p.1265) 2. Jaringan Otot Otot adalah jaringan yang mempunyai kemampuan khusus yaitu berkontraksi dengan sedemikian

b. Otot terdiri dari serabut silindris yang mempunyai sifat sama dengan sel dari jaringan lain. Pathofisiologi Menurut Price (2006:p. LC (1998:p. Setiap sel saraf dan prosesnya di sebut neuron. Tipe ini dikarakteristikkan oleh adanya luka yang luas dan hilangnya jaringan dalam jumlah besar. Penyebabnya cepat yang di sebabkan oleh mikroorganisme yang biasanya tidak berbahaya. juluran ini mengantarkan rangsangan rangsangan saraf kepada dan dari sel saraf. D.reaksi peradangan akan terjadi apabila jaringan terputus. Jika jaringan yang nekrosis luas maka reaksi peradangan tak di temukan di tengah jaringan yang hidup dengan sirkulasi yang utuh terjadi pada tepinya antara jaringan mati dan hidup. kecelakaan sehingga kontuinitas jaringan terputus. Luka ini merupakan tipe penyembuhan luka yang terakhir. Luka jenis ini biasanya tetap terbuka.maka pergerakan terlaksana. E. tepi luka dipertautkan (4-7 hari). Sel saraf terdiri atas protoplasma yang berbutir khusus dengan nukleus besar dan berdinding sel lainnya. 3. c. Tertiary Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridement.sek-sel yang rusak akan membentuk zat kimia sehingga akan menurunkan ambang stimulus terhadap reseptormekano sensitif dan hernosenssitif. jatuh. Setelah diyakini bersih. Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama.762) Nyeri timbul karena kulit mengalami luka infeksi sehingga terjadi kerusakan jaringan.397) Terdapat 3 macam tipe penyembuhan luka. Unsur berwarna abu-abu yang membentuk sel syaraf.berbagai juluran timbul (prosesus) timbul dari sel saraf. Secondary Intention Healing (penyembuhan luka sekunder) yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan primer. Reaksi peradangan itu sebenarnya adalah peristiwa yang di koordinasikan dengan baik yang dinamis dan kontinyu untuk menimbulkan reaksi peradangan maka jaringan harus hidup dan harus di mikrosekulasi fungsional. Apabila nyeri di atas hal ini dapat mengakibatkan gangguan rasa nyaman nyeri yang berlanjut istirahat atau tidur terganggu dan terjadi ketertiban . dimana pembagian ini dikarakteristikkan dengan jumlah jaringan yang hilang. Primary Intention Healing (penyembuhan luka primer) yaitu penyembuhan yang terjadi segera setelah diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan.semua sel di ikat menjadi berkas-berkas serabut kecil oleh sejenis jaringan ikat yang mengandung unsur kontaktil. “Neuroclea. Tipe Penyembuhan luka Menurut Mansjoer (2000:p.36) Vulnus laserrratum terjadi akibat kekerasan benda tumpul.dalam keadaan ini ada peluang besar timbulnya infeksi yang sangat hebat. Menurut Buyton & hal (1997:p. goresan. sejenis sel pendukung yang di jumpai hanya dalam saraf dan yang menghimpun serta menopang sel saraf dan serabut saraf.157) Jaringan saraf terdiri dari 3 unsur: a. Jaringan Saraf Menurut Jungviera. Unsur putih serabut saraf. Pada umumnya respon tubuh terhadap trauma akan terjadi proses peradangan atau inflamasi.

F. Pathway Modifikasi : (Chada 1995. Gula darah random memberikan petunjuk terhadap penyakit deabetus melitus H. Manifestasi klinis dan pemeriksaan penunjang 1. Bengkak d. penurunan kekuatan tahanan keterbatasaan rentang gerak. baal pada ekstremitas. Laju endap darah (LED) menunjukkan karakteristik infeksi.gerak. (p. d. Tampak lecet atau memer di setiap luka”. Hitung darah lengkap. perubahan aktifitas. . c. cemas. Tanda : belum buang air besar selama 2 hari. Akar rambut tampak hancur atau tercabut bila kekerasanya di daerah rambut f. Neurosensori Gejala : vertigo.tujuanya untuk mengetahui tentang infeksi yang terjadi. Mansjoer (2000) menyatakan “Manifestasi klinis vulnus laseratum adalah: a. Price 2005) G. Tanda : perubahan kesadaran. Aktifitas atau istirahat Gejala : merasa lemah. p. Luka tidak teratur b. lelah. Guiton & Hall 1997. Pemeriksaan diagnostik yang perlu di lakukan terutama jenis darah lengkap. Tanda : perubahan frekwensi jantung takikardi atau bradikardi. gelisah. Carpenito 2000. kesemutan.leukosit dapat terjadi kecenderungan dengan kehilangan sel pada lesi luka dan respon terhadap proses infeksi. e. 3.hematokrit mungkin tinggi atau lengkap. tinitus. 2. Pemeriksaan diagnostik vulnus laseratum adalah a. Jaringan rusak c. 4. b.217) menyatakan bahwa untuk mengkaji pasien dengan vulnus laseratum di perlukan data-data sebagai berikut: 1. 5. Sirkulasi Gejala : perubahan tekanan darah atau normal. Pendarahan e. Integritas ego Gejala : perubahan tingkah laku dan kepribadian. Sel-sel darah putih. retensi urin.pemeriksaannya melalui laboratorium. Fokus Pengkajian Doenges (2000. nyeri. Tanda : ketakutan.219) 2. Eliminasi Gejala : konstipasi. Doenges 2000.

KH : • pasien melaporkan reduksi nyeri dan hilangnya nyeri setelah tindakan penghilang nyeri. 2. Tanda : pada luka warna kemerahan . kemerahmerahan. Tanda : wajah meringis. 7. 6. . 7. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d diskontuinitas jaringan. (p. • Lakukan ambulasi diri. Tujuan : nyeri hilang / berkurang. Gangguan istirahat tidur kurang dari kebutuhan b/d nyeri. Resiko tinggi infeksi b/d perawatan luka tidak efektif. pusing. gelisah. • Melaporkan perbaikan dalam pola tidur. Kulit Gejala : nyeri. I. Gangguan kebutuhan istirahat dan tidur adalah gangguan jumlah kualitas tidur. respon menarik pada rangsang nyeri yang hebat. Gangguan mobilitas fisik b/d kelemahan otot. Penggandaan zat-zat racunnya sehingga mengakibatkan perubahan neurologis yanng sangat besar. 5. Resti kekurangan volume cairan b/d pendarahan. Intervensi : • Kaji tanda tada vital. 2. tidak ada lingkar hitam pada mata. Nyeri / kenyamanan Gejala : nyeri pada daerah luka bila di sentuh atau di tekan. 3. 4. Menurut Doenges (2000:p. Gangguan eliminasi BAB b/d kelemahan fisik. nyeri pada daerah cidera . Diagnosa Keperawatan 1. edema. tidak pucat. • Pasien rileks. jaringan saraf terinfeksi oleh bakteri pathogen. jaringan otot. Gangguan integritas kulit b/d kerusakan jaringan. bau. Fokus intervensi Fokus intervensi di dasarkan oleh diagnosa keperawatan yang muncul pada teori. 1. 6. tidak bisa tidur. Carpenito L (2000) menyatakan “Gangguan rasa nyaman nyeri adalah bedaan dimana indifidu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam berespon terhadap suatu rangsangan yang berbahaya”.915) Gangguan rasa nyaman nyeri muncul akibat jaringan kulit .234) Gangguan istirahat tidur kurang dari kebutuhan b/d nyeri. J. Tujuan : gangguan istirahat tidur tetasi KH : • Mengatakan peningkatan rasa segar.42) Menurut Doenges (2000:p. panas. • Berikan obat sesuai petunjuk. • Dapat istirahat / tidur dan ikut serta dalam aktifitas sesuai kemampuan.Tanda : sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan. • Ajarkan teknik distraksi dann relaksasi misalnya nafas dalam.

Intervensi : • Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus. 2000: 930-931) 5. • Bantu dalam aktifitas perawatan diri. • Konsistensi feses normal. • Kolabirasi dengan keluarga untuk menciptakan lingkungan tenang. (doenges. • Berikan posisi nyaman pada klien. KH : • pasien mempertahankan / menetapkan pola nominal fungsi usus. • Anjurkan minum hangat. • Anjurkan untuk ambulasi sesuai kemampuan. • Mencapai penyembuhan luka tepat waktu Intervensi : . KH : • Bebas tanda tanda infeksi.234) Gangguan eliminasi BAB / konstipasi b/d penurunan mobilitas usus aadalah suatu penurunan frekwensi defekasi yag normal pada seseorang. Tujuan : tidak terjadi gangguan integritas kulit. 4. • Kemungkinan melakukan aktifitas. Menurut Willson J. Menurut Doenges. Intervensi : • Kaji kemampuan secara fungsional / luasnya kerusakan awal. Menurut Doenges (2000:p. • Mendemonstrasikan teknik atau perilaku yang di ajarkan.Intervensi : • Kaji penyebab nyeri / gangguan tidur. 3. • Berikan obat laksatif pelembek feses bila di perlukan. • Pantau respon pasien terhadap aktivitas. Tujuan : tidak terjadi konstipasi. 2000:43) Tujuan : mempertahankan mobilitas fisik KH : • mempertahankan meningkatkan kekuatan dan fungsi atau bagian tubuh yang terkena. (carpenito L J. (2000:p.930-931) Gangguan mobilitas fisik b/d kelemahan otot Gangguan mobilitas fisik adalah keadaan di mana seorang individu mengalami atau beresiko keterbatasan gerak fisik tetapi bukan imobilisasi.466) Gangguan integritas kulit b/d kerusakan jaringan. • Perut tidak kembung. Kerusakan integritas kulit adalah suatu kondisi individu yang mengalami perubahan dermis dan atau epidermis .M (2007:p. di sertai gangguan kesulitan keluarnya feses yang tidak lengkap atau keluarnya feses yang sangat keras dan kering.

Edisi 3. 2000. • Ajarkan pemeliharaan luka secara aseptik. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.J. EGC: Jakarta. perhatikan daerah sekitar luka. • Observasi tanda-tanda infeksi. • Catat munculnya mual muntah. Willson.261) Resiko infeksi sekunder b/d perawatan luka tidak efektif. . Chada. Volume 2. palpasi.S. 7. Mansjoer. turgor.M. 2000.913) bahwa : Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pendarahan. 1998. membran rukosa lembab. Medika Auskulapius FKUI: Jakarta. 2006. Edisi EGC: Jakarta. Menurut Willson J. • Berikan cairan parenteral sesuai indikasi. (terjemahan) Edisi 6.A. EGC: Jakarta. pengeluaran urine yang sesuai. • Pantau suhu kulit. Guyton & Hall.• Kaji / catat ukuran. Edisi 7. Resiko infeksi adalah suatu kondisi yang beresiko mengalami peningkatan terserang organisme pathogenik. Widya Medika: Jakarta. P. EGC: Jakarta. 2000. • Pantau tanda-tanda vital. EGC: Jakarta. warna keadaan luka. denyut perifer. KH : • Tidak terdapat tanda tanda infeksi lebih lanjut dengan luka bersih tidak ada pus.E. Doenges. • Pantau ssuhu tubuh secara teratur. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Pediatrik Klinis. Catatan Kuliah Ilmu Forensik & Teknologi (Terjemahan). Intervensi : • Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan. Tujuan : Volume cairan terpenuhi KH : • Keseimbangan cairan yang adekuat ditandai dengan TTV yang stabil . Tucker. Panduan Diagnosa Keperawatan. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (Terjemahan). Edisi 9. Kapita Selekta Kedokteran. 2007.M. 6. Daftar Pustaka Carpenito L. Menurut Doenges (2000 : p. M. Nanda. Prima Medika: Jakarta. kulit normal. Fisiologi Kedokteran (Terjemahan). Edisi 2.V. Standar Keperawatan Pasien Proses Keperawatan Diagnosa dan Evaluasi (Terjemahan).J. • Berikan antibiotik secara teratur. Jilid 2. 1993.M (2007:p. 1997. Intervensi : • Kaji pengeluaran dan pemasukan cairan. Tujuan : tidak terjadi infeksi lebih lanjut.

R : Pada paha kanan. . Sehingga muncul diagnosa yang pertama yaitu nyeri berhubungan dengan diskontuinitas jaringan. Pasien mengatakan makan 3x sehari dengan menu diit Rumah Sakit dengan menu.CM 162641. RR : 16x/menit. pasien mengatakan BAB 1x2 hari dengan warna kuning bau khas dan BAK 3-4x/hari. umur 20 tahun. Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 17 Juni 2009 yaitu Hemoglobin 8. Di IGD mendapatkan terapi O2 3 liter/menit.30. Trachea/mediastinum tak tampak devlasi : Cor : Apeks ke laterokavdal. Pulmo : gerakan vaskular normal dan Hilus tak melebar. Dan data objektif terdapat vulnus laseratum sepanjang 15 cm dan 20 jahitan.Soetrasno Rembang. Pengkajian ini dilakukan pada tanggal 23 Juni 2009 dengan cara autoanamese. Q : Nyeri dirasakan seperti ditusuk. alloanamese. Analisa Data. RR : 20x/menit. sebagai penanggung jawab Tuan S. status belum kawin. Pada saat pengkajian ditemukan keluhan nyeri pada kaki sebelah kiri yaitu P :Nyeri bertambah saat digunakan untuk bergerak. T : Hilang timbul. alamat Soditan-Lasem. TD : 90/palpasi. umur 58 tahun. kemudian pada tanggal 18 Juni 2009 jam 12.R. mandi. Dan untuk kebutuhan makan/minum. Diafragma : sinus kostorremikus. Keterolak 3x1 25mlgram. kaki kirinya tertusuk bambu. minum ± 3 gelas/hari. Kemudian pasien dibawa ke ruang ICU selama 2 hari untuk diobservasi keadaannya.berpindah. T : Hilang timbul. TTV : N : 72x/menit.BAB III TINJAUAN KASUS A. toileting. agama Islam. TD : 110/60mmHg. Pola nutrisi adalah.30 pasien dipindahkan ke ruang Bogenvile untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Di IGD didapatkan data sebagai berikut :KU : Somnolen. TTV : N : 72x/menit. injeksi kalnek 1gr ekstra. dan mobilitas di tempat tidur pasien lakukan secara mandiri. kemudian pasien dipindahkan ke ruang operasi untuk dilakukan perawatan medis selanjutnya.nasi. R : Pada paha kanan. berpakaian. no.5 P12 –P16/L14-L18 g/ 100ml. Program terapi tanggal 21 Juni 2009 yaitu Ceftriaxon 1x1 1gram. Dari riwayat kesehatan sekarang diperoleh data pasien adalah korban kecelakaan lalu lintas dan pasien datang di ruang IGD tanggal 16 Juni 2009 jam 18. Pola ADL: Kemampuan perawatan diri pasien. terdapat luka sepanjang ± 15cm. S : 367 o C. Pola tidur dan istirahat pasien mengatakan tidur sehari selama 5-6 jam sehari dan sering terbangun karena nyeri yang dirasakannya. Pengkajian Asuhan Keperawatan pada Tuan K di ruang perawatan Bugenville RSU Dr. 1. sayur. infus RL 2 jalur. S : 362 o C. Q : Nyeri dirasakan seperti ditusuk. lauk habis ½ porsi. B. alamat sama dengan pasien. S : Skala nyeri 6. perawatan luka heting ± 20 jahitan. Pasien masuk RS tanggal 16 Juni 2009. Pola eliminasi. Data penunjang pada tanggal 20 Juni 2009 yaitu Foto Thorax : 5 kelet dan soft tissue tampak normal. sebelumnya pasien kecelakaan menabrak sepeda dan terjatuh. Analisa data yang pertama yaitu pasien mengatakan nyeri pada kaki sebelah kiri P :Nyeri bertambah saat digunakan untuk bergerak. pemeriksaan fisik dan status pasien didapatkan dari data nama Tuan H. jenis kelamin laki-laki. ambulasi/ROM di bantu orang lain. diagnosa Vulnus laseratum. Riwayat penyakit dahulu pasien mengatakan belum pernah diopname di Rumah Sakit dan tidak memiliki Penyakit keturunan atau menular. hubungan dengan pasien adalah ayah. pekerjaan Pelajar. S : Skala nyeri 6.

3.3. S : 367 o C. anjurkan pasien untuk melakukan pergerakan tubuh yang tepat. P : nyeri bertambah saat dilakukan untuk bergerak. ajarkan teknik distraksi dan relaksasi. lakukan ganti balut. tidak ada darah. luka kering. Tujuan dan kriteria hasil setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nyeri berkurang dengan Kriteria hasil : nyeri berkurang. kolaborasi pemberian obat analgetik dan antibiotik. P : lanjutkan intervensi 1. Resiko infeksi berhubungan dengan perawatan luka yang tidak efektif. batasi aktivitas pasien yang berat. kolaborasi pemberian anti biotik. S : 367oC. Dari data tersebut diambil diagnosa resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perawatan luka. 2. O : TD : 100/60mmHg. Q : nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk. Implementasi dilakukan pada tanggal 24 Juni 2009 antara lain melakukan perawatan luka ganti balut dengan teknik aseptik.2. Rencana Intervensi. anjurkan orang terdekat untuk membantu pemenuhan ADL. A : masalah nyeri belum teratasi. Intervensi yang penulis buat adalah kaji tanda-tanda infeksi. Dari data tersebut diambil diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. anjurkan ambulasi dini. pasien tampak rileks. ADL terpenuhi.2. Gangguan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Intervensi yang penulis lakukan antara lain : kaji intensitas. S : skala nyeri 6. C. N : 72x/menit. mengukur TTV jam 12. Implementasi dilakukan pada tanggal 23 Juni 2009 pukul 08.2.30. Nyeri berhubungan dengan diskontuinitas jaringan.00 mengukur TTV. Analisa data yang ketiga yaitu pasien mengatakan nyeri pada kaki sebelah kirinya dan data objektif terdapat vulnus laseratum sepanjang ± 15 cm dan ± 20 jahitan. tidak ada pus.6. Responnya pasien tampak meringis menahan nyeri. monitor TTV. disfungsi laesa). mengkaji intensitas skala nyeri.4. R : pada paha kiri. rubor. RR : 20x/menit. T : hilang timbul. RR : 20x/menit. memonitor TTV. Evaluasi dilakukan pada tanggal 24 Juni 2009 dengan S : pasien mengatakan sudah bisa duduk walaupun masih dengan bantuan keluarga. luka kering tidak ada darah dan pus. terdapat VL sepanjang ± 15cm dan ± 20 jahitan. Evaluasi dilakukan pada tanggal 23 Juni 2009 pukul 13. 3. skala dan karakteristik nyeri. Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan resiko tinggi infeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil tidak ada tanda-tanda infeksi (kolor.00 WIB dengan SOAP yaitu S : pasien mengatakan nyeri pada daerah yang luka. Evaluasi dilakukan tanggal 24 Juni 2009 dengan SOAP yaitu S : pasien mengatakan masih panas dan . A : masalah intoleransi aktivitas teratasi sebagian. dan Evaluasi Diagnosa yang muncul menurut prioritas adalah : 1. O : pasien tampak duduk di tempat tidur.4. 3. Implementasi. TD : 110/60mmHg. P : lanjutkan intervensi 1. mengajarkan teknik distraksi dan relaksasi. Analisa data yang kedua yaitu data subjektif pasien mengatakan lemas dan data objektifnya 44 52 TTV : N : 72x/menit. Implementasi yang dilakukan pada tanggal 24 Juni 2009 menganjurkan pasien untuk beraktivitas semampunya dan menganjurkan pasien untuk melakukan pergerakan yang ringan. skala nyeri 4-5. Intervensi yang penulis buat antara lain :catat aktivitas pasien sehari-hari. Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24jam diharapkan intoleransi aktivitas teratasi.5.

S : 37oC. N : 80 x/menit. R : 24 x/menit. .pasien mengatakan lemas. A : masalah resiko tinggi infeksi teratasi.3.4. P : pertahankan intervensi 1. TD : 120/60 mmHg. O : KU : lemah.2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->