P. 1
Tata Tertib Tkpsda Bbwsbs

Tata Tertib Tkpsda Bbwsbs

|Views: 313|Likes:
Tata Tertib TKPSDA BBWSBS
Tata Tertib TKPSDA BBWSBS

More info:

Published by: mochammad-arie-widiaputra-7307 on Mar 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2014

pdf

text

original

PERATURAN TIM KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO NOMOR : 01 /TKPSDA/2009

TENTANG TATA TERTIB TIM KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO

Menimbang

: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 87 ayat (5) UndangUndang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 04/PRT/M/2008 tentang Pedoman Pembentukan Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada Tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota dan Wilayah Sungai; maka perlu ditetapkan peraturan tata tertib TKPSDA Wilayah Sungai Bengawan Solo : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377); Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 tahun 2007 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan, Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Kabupaten / Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2008 tentang Dewan Sumber Daya Air; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 04/PRT/M/2008 Tentang Pedoman Pembentukan Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Pada Tingkat Propinsi, Kabupaten/Kota dan Wilayah Sungai MEMUTUSKAN :

Mengingat

2.

3.

4.

5. 6.

Menetapkan : TATA TERTIB TIM KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO.

1

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Tata Tertib ini yang dimaksud dengan: 1. Wilayah Sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2. 2. Daerah Aliran Sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. 3. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 4. Dewan Sumber Daya Air adalah wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air yang meliputi Dewan Sumber Daya Air Nasional, dewan sumber daya air provinsi atau dengan nama lain, dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain, dan Dewan Sumber Daya Air Wilayah Sungai atau dengan nama lain. 5. Dewan Sumber Daya Air Wilayah Sungai atau dengan nama lain yang selanjutnya disebut Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai atau TKPSDA WS adalah wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai. 6. Dewan sumber daya air wilayah sungai lintas provinsi atau dengan nama lain yang selanjutnya disebut Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Lintas Provinsi atau TKPSDA WS lintas provinsi adalah wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. 7. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati atau walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. 8. Unsur-unsur pemerintah adalah wakil-wakil Instansi Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota. 9. Unsur-unsur nonpemerintah adalah wakil-wakil yang berasal dari kelompok pengguna dan pengusaha sumber daya air serta lembaga masyarakat adat dan lembaga masyarakat pelestari lingkungan sumber daya air. 10. Strategi adalah langkah-langkah yang berisi program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. 11. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah.

2

BAB II KEANGGOTAAN TKPSDA WS BENGAWAN SOLO Pasal 2 (1) Anggota Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo terdiri atas unsur pemerintah dan non pemerintah dalam jumlah yang seimbang. (2) Keanggotaan TKPSDA WS Bengawan Solo ditetapkan dengan keputusan Menteri Pekerjaan Umum, Republik Indonesia. (3) Anggota TKPSDA WS Bengawan Solo berdomisili di dalam Wilayah Sungai Bengawan Solo. (4) Masa keanggotaan TKPSDA WS Bengawan Solo selama 5 (lima) tahun.

BAB III KEPEMIMPINAN TKPSDA WS BENGAWAN SOLO Pasal 3 (1) Kepemimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo terdiri dari Ketua, Ketua Harian, Ketuaketua Komisi, Wakil Ketua Komisi, dan Sekretaris Komisi. (2) Ketua dan Ketua Harian TKPSDA WS Bengawan Solo di jabat secara bergantian antara utusan pemerintah dari Jawa Tengah dan utusan pemerintah dari Jawa Timur. (3) Masa jabatan Ketua dan Ketua Harian TKPSDA WS Bengawan Solo dijabat masingmasing selama 1 (satu) tahun. Pasal 4 Keanggotaan TKPSDA dapat berhenti atau diberhentikan dari jabatannya karena : a. b. Meninggal dunia. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri secara tertulis kepada sekretariat TKPSDA dan ditembuskan ke kelompok pemilih untuk anggota yang berasal dari organisasi non pemerintah. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri secara tertulis kepada sekretariat TKPSDA dan ditembuskan kepada instansi pengutusnya. Jika utusan dari pemerintah pusat maka tembusan di berikan kepada Dirjen Sumber Daya Air. Jika utusan dari pemerintah propinsi maka tembusan diberikan kepada Gubernur. Dan jika utusan dari pemerintah Kabupaten/Kota surat tembusan diberikan kepada Bupati/Walikota pengutusnya. Tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai anggota TKPSDA. Dinyatakan bersalah atas keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
3

c.

d. e.

Pasal 5 (1) Pemberhentian yang dimaksud pada Pasal 4 dilaporkan dalam rapat paripurna TKPSDA WS Bengawan Solo. (2) Usulan pemberhentian keanggotaan TKPSDA WS Bengawan Solo seperti yang tercantum pada Pasal 4 ditetapkan dalam Keputusan TKPSDA WS Bengawan Solo dan dilengkapai dengan Berita Acara Rapat Paripurna TKPSDA WS Bengawan Solo. Pasal 6 Keputusan usulan pemberhentian sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 5 disampaikan oleh pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo Kepada Menteri Pekerjaan Umum dengan tembusan kepada Gubernur Jawa Tengah, Gubernur Jawa Timur, dan Bupati/Walikota di Wilayah Sungai Bengawan Solo.

BAB IV KEDUDUKAN, TUGAS DAN FUNGSI Pasal 7 (1) TKPSDA WS Bengawan Solo berkedudukan di Surakarta. (2) Sekretariat TKPSDA WS Bengawan Solo berkedudukan di Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo. (3) TKPSDA WS Bengawan Solo bersifat nonstruktural, berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Pekerjaan Umum. Pasal 8 TKPSDA WS Bengawan Solo sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 mempunyai tugas membantu Menteri Pekerjaan Umum dalam koordinasi pengelolaan sumber daya air melalui: a. pembahasan rancangan pola dan rancangan rencana pengelolaan sumber daya air pada Wilayah Sungai Bengawan Solo guna perumusan bahan pertimbangan untuk penetapan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air; b. pembahasan rancangan program dan rancangan rencana kegiatan pengelolaan sumber daya air pada Wilayah Sungai Bengawan Solo guna perumusan bahan pertimbangan untuk penetapan program dan rencana kegiatan sumber daya air; c. pembahasan usulan rencana alokasi air dari setiap sumber air pada Wilayah Sungai Bengawan Solo guna perumusan bahan pertimbangan untuk penetapan rencana alokasi air; d. pembahasan rencana pengelolaan sistem informasi hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi pada Wilayah Sungai Bengawan Solo untuk mencapai keterpaduan pengelolaan sistem informasi;
4

e. pembahasan rancangan pendayagunaan sumber daya manusia, keuangan, peralatan dan kelembagaan untuk mengoptimalkan kinerja pengelolaan sumber daya air pada Wilayah Sungai Bengawan Solo; dan f. pemberian pertimbangan kepada Menteri mengenai pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada Wilayah Sungai Bengawan Solo. Pasal 9 (1) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, TKPSDA WS Bengawan Solo menyelenggarakan fungsi koordinasi melalui: a. konsultasi dengan pihak terkait yang diperlukan guna keterpaduan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi serta tercapainya kesepahaman antarsektor, antarwilayah dan antarpemilik kepentingan; pengintegrasian dan penyelarasan kepentingan antarsektor, antarwilayah serta antarpemilik kepentingan dalam pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai Bengawan Solo; dan kegiatan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program dan rencana kegiatan pengelolaan sumber daya air pada Wilayah Sungai Bengawan Solo.

b.

c.

(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud ayat (1) diatas, TKPSDA Wilayah Sungai Bengawan Solo jika dipandang perlu dapat membentuk Pokja/Pansus yang beranggotakan lintas komisi. (3) Pokja/Pansus harus menyampaikan laporan tertulis kepada TKPSDA Wilayah Sungai Bengawan Solo. (4) TKPSDA Wilayah Sungai Bengawan Solo memberikan laporan tertulis kepada Menteri Pekerjaan Umum dengan tembusan kepada para Gubernur dan para Bupati/Walikota terkait. BAB V KOMISI TKPSDA WS BENGAWAN SOLO Pasal 10 (1) Komisi merupakan alat kelengkapan dari TKPSDA yang bersifat tetap dan dibentuk oleh TKPSDA WS Bengawan Solo pada awal masa jabatan Keanggotaan TKPSDA WS Bengawan Solo. (2) Setiap anggota TKPSDA Komisi. WS Bengawan Solo wajib menjadi anggota salah satu

(3) Penempatan anggota TKPSDA dalam komisi-komisi dan perpindahan komisi. Ditetapkan berdasarkan rapat paripurna TKPSDA WS Bengawan Solo yang di akomodasikan oleh Sekretariat TKPSDA WS Bengawan Solo pada awal tahun anggaran. (4) Jika terdapat anggota TKPSDA yang mengalami pergantian maka anggota tersebut menempati tempat anggota Komisi yang digantikan. (5) Ketua, wakil ketua dan sekretaris komisi dipilih oleh anggota dari masing-masing komisi dan di laporkan dalam rapat pleno TKPSDA WS Bengawan Solo
5

Pasal 11 (1) TKPSDA WS Bengawan Solo beranggotakan 64 (enam puluh empat) orang membentuk 3 (tiga) komisi. (2) Jumlah anggota setiap Komisi sebagai mana yang dimaksud dalam ayat 1 diatas diupayakan sama. (3) Komisi yang terdapat dalam TKPSDA Bengawan Solo Terdiri dari : a. Komisi Konservasi SDA b. Komisi Pendayagunaan SDA c. Komisi Penangulangan Daya Rusak Air (4) Pembagian tugas Komisi diatur sebagai berikut : a. Komisi Konservasi : meliputi kegiatan rekomendasi dalam menjaga kelangsungan keberadaan daya dukung, daya tampung dan fungsi sumber daya air. b. Komisi Pendayagunaan SDA : meliputi kegiatan dalam rekomendasi penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada wilayah sungai bengawan solo c. Komisi Pengendalian Daya Rusak Air : meliputi kegiatan upaya dalam rekomendasi untuk pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam pola pengelolaan sumber daya air

BAB VI TATA TERTIB PERSIDANGAN Pasal 12 (1) TKPSDA WS Bengawan Solo bersidang paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan (4 kali sidang dalam satu tahun). Tahun persidangan TKPSDA WS Bengawan Solo dimulai tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Desember. (2) Sidang TKPSDA WS Bengawan Solo sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo ( Ketua , Ketua Harian , Ketua Komisi , Wakil & Sekretaris ) dan dihadiri para anggota. (3) Dalam hal Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo berhalangan, sidang TKPSDA WS Bengawan Solo dipimpin oleh Ketua Harian, Wakil & Pimpinan lainnya. (4) Dalam melaksanakan persidangan, TKPSDA WS Bengawan Solo dapat mengundang narasumber dari instansi pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, atau masyarakat terkait. Pasal 13 Materi Persidangan, jadwal, dan acara persidangan disiapkan oleh Sekretariat TKPSDA WS Bengawan Solo sesuai dengan kebutuhannya.

6

Pasal 14 (1) Materi persidangan sudah diterima oleh para anggota 3 (tiga) hari sebelum acara dimulai. (2) Materi yang dimaksud di atas dapat disampaikan lewat media cetak maupun elektronik seperti website atau dikirimkan lewat e-mail address para anggota.

BAB VII JENIS SIDANG Pasal 15 Jenis Sidang TKPSDA WS Bengawan Solo adalah:  Sidang Pleno;  Sidang Pleno Luar Biasa;  Sidang Pimpinan TKPSDA;  Sidang Komisi;  Sidang Gabungan Komisi;  Sidang Panitia Kerja dan atau Panitia Khusus; Pasal 16 Sidang Pleno adalah Sidang Anggota yang dipimpin oleh Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo dan merupakan forum tertinggi dalam melaksanakan tugas dan fungsi TKPSDA WS Bengawan Solo. Pasal 17 (1) Sidang Pleno Luar Biasa adalah Sidang Pleno yang diadakan apabila: a. Diminta oleh Menteri Pekerjaan Umum atau Gubernur Jawa Tengah dan Gubernur Jawa Timur; b. Dikehendaki oleh Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo dengan persetujuan Pimpinan Komisi; atau c. Diusulkan oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) + 1 (satu) orang anggota dengan persetujuan Pimpinan Komisi. (2) Ketua TKPSDA WS Bengawan Solo mengundang Anggota untuk menghadiri Sidang Pleno Luar Biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 18 (1) Sidang Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo adalah sidang Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo yang dipimpin oleh Ketua TKPSDA WS Bengawan Solo. (2) Dalam keadaan mendesak, apabila Ketua TKPSDA WS Bengawan Solo berhalangan hadir, Sidang Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dipimpin oleh Ketua Harian TKPSDA WS Bengawan Solo atau salah seorang Pimpinan Komisi yang ditunjuk oleh Ketua TKPSDA WS Bengawan Solo.
7

Pasal 19 (1) Sidang Komisi adalah Sidang Anggota Komisi yang dipimpin oleh Pimpinan Komisi. (2) Sidang Pimpinan Komisi adalah Sidang Pimpinan Komisi yang dipimpin oleh Ketua Komisi atau salah seorang Wakil Ketua Komisi yang ditunjuk oleh Ketua Komisi. Pasal 20 (1) Sidang Gabungan Komisi adalah Sidang bersama yang diadakan oleh lebih dari satu Komisi, dihadiri oleh anggota Komisi-Komisi yang bersangkutan dan dipimpin oleh Pimpinan Sidang Gabungan Komisi. (2) Gabungan Komisi merupakan satu kesatuan pimpinan yang bersifat kolektif serta mencerminkan unsur Pimpinan Komisi-Komisi yang bersangkutan. (3) Pimpinan Gabungan Komisi terdiri atas 1 (satu) orang Ketua dan 3 (tiga) orang Wakil Ketua, yang dipilih oleh anggota Komisi-Komisi yang bersangkutan dari Pimpinan Komisi-Komisi tersebut dalam Sidang Gabungan Komisi yang dipimpin oleh Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo. (4) Pembagian tugas anggota Gabungan Komisi diatur sendiri oleh Pimpinan Gabungan Komisi berdasarkan tugas Gabungan Komisi. (5) Apabila dalam Sidang Pimpinan Gabungan Komisi ada anggota Pimpinan Gabungan Komisi yang berhalangan hadir, ia dapat digantikan oleh anggota Pimpinan Komisi yang bersangkutan dalam Sidang Pimpinan Gabungan Komisi tersebut. (6) Sidang Pimpinan Gabungan Komisi adalah Sidang Pimpinan Gabungan Komisi yang dipimpin oleh Ketua atau salah seorang Wakil Ketua dari Gabungan Komisi yang ditunjuk oleh Ketua Gabungan Komisi. (7) Penggantian anggota Gabungan Komisi dilakukan dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 21 Sidang Panitia Kerja adalah Sidang anggota Panitia Kerja atau Tim yang dipimpin oleh Pimpinan Panitia Kerja atau Tim yang dibentuk.

BAB VIII TATA CARA SIDANG Pasal 22 (1) Setiap Anggota TKPSDA WS Bengawan Solo wajib menandatangani daftar hadir sebelum menghadiri Sidang. (2) Anggota TKPSDA WS Bengawan Solo yang berhalangan hadir dapat diwakilkan kepada seseorang yang ditunjuk oleh yang bersangkutan dengan membuat Surat Kuasa. (3) Wakil yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (2), untuk Anggota TKPSDA WS Bengawan Solo yang mewakili Unsur Pemerintah dapat mewakilkan kepada Pejabat Setara yang terkait. (4) Wakil yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (2), untuk Anggota TKPSDA WS Bengawan Solo yang mewakili Unsur Non Pemerintah dapat mewakilkan kepada Sekretaris atau Ketua Setara yang terkait.

8

(5) Ketua Sidang dapat menolak kehadiran Anggota yang tidak dapat memenuhi ketentuan ayat (2), ayat (3) dan ayat (4). (6) Untuk para undangan disediakan daftar hadir tersendiri.

Pasal 23 (1) Ketua Sidang membuka Sidang apabila pada waktu yang telah ditentukan untuk membuka Sidang, telah hadir lebih dari separuh jumlah anggota Sidang yang terdiri atas lebih dari separuh unsur masing-masing dari Pemerintah maupun NonPemerintah. (2) Apabila pada waktu yang telah ditentukan belum dihadiri oleh separuh jumlah anggota Sidang yang terdiri atas lebih dari separuh unsur Pemerintah dan NonPemerintah, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Ketua Sidang mengumumkan penundaan pembukaan Sidang. (3) Penundaan Sidang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 1 (satu) jam. (4) Ketua Sidang dapat membuka Sidang apabila pada akhir waktu penundaan, ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum juga terpenuhi. (5) Sidang, sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dapat mengambil keputusan apabila memenuhi kuorum sebagaimana diatur dalam Bab Tata Cara Pengambilan Keputusan.

Pasal 24 Setelah Sidang dibuka, Ketua Sidang dapat meminta kepada Sekretaris TKPSDA WS Bengawan Solo agar memberitahukan agenda Sidang kepada peserta Sidang .

Pasal 25 (1) Ketua Sidang menutup Sidang setelah semua acara yang ditetapkan selesai dibicarakan. (2) Ketua Sidang menunda penyelesaian acara tersebut untuk dibicarakan dalam Sidang berikutnya atau meneruskan penyelesaian acara tersebut atas persetujuan Sidang apabila acara yang ditetapkan untuk suatu Sidang belum terselesaikan, sedangkan waktu Sidang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, telah berakhir. (3) Ketua Sidang mengemukakan pokok-pokok keputusan dan/atau kesimpulan yang dihasilkan oleh Sidang sebelum menutup Sidang.

9

BAB IX TATA CARA PERMUSYAWARATAN Pasal 26 (1) Ketua Sidang menjaga agar Sidang berjalan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Tata Tertib. (2) Ketua Sidang hanya berbicara selaku pimpinan Sidang untuk menjelaskan masalah yang menjadi pembicaraan, menunjukkan duduk persoalan yang sebenarnya, mengembalikan pembicaraan kepada pokok persoalan, dan menyimpulkan pembicaraan anggota Sidang. (3) Apabila hendak berbicara selaku anggota Sidang, untuk sementara diserahkan kepada anggota pimpinan yang lain.

Pasal 27 (1) Sebelum berbicara, anggota Sidang yang akan berbicara mendaftarkan namanya lebih dahulu, dan pendaftaran tersebut dapat juga dilakukan oleh Komisinya. (2) Anggota Sidang yang belum mendaftarkan namanya, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak boleh berbicara, kecuali apabila menurut pendapat Ketua Sidang ada alasan yang dapat diterima.

Pasal 28 (1) Giliran berbicara diatur oleh Ketua Sidang menurut urutan pendaftaran nama. (2) Seorang anggota Sidang yang berhalangan pada waktu mendapat giliran berbicara dapat digantikan oleh anggota Sidang dari Komisinya dengan sepengetahuan Ketua Sidang. (3) Pembicara dalam Sidang tidak boleh diganggu selama berbicara.

Pasal 29 (1) Ketua Sidang dapat menentukan lamanya anggota Sidang berbicara. (2) Ketua Sidang memperingatkan dan memintanya supaya pembicara mengakhiri pembicaraan apabila seorang pembicara melampaui batas waktu yang telah ditentukan.

Pasal 30 (1) Setiap waktu dapat diberikan kesempatan kepada anggota Sidang melakukan interupsi untuk: a. Meminta penjelasan tentang duduk persoalan sebenarnya mengenai masalah yang sedang dibicarakan; b. Menjelaskan soal yang di dalam pembicaraan menyangkut diri dan/atau tugasnya; c. Mengajukan saran prosedur mengenai soal yang sedang dibicarakan; atau d. Mengajukan saran agar Sidang ditunda untuk sementara.
10

(2) Ketua Sidang dapat membatasi lamanya pembicara melakukan interupsi, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memperingatkan dan menghentikan pembicara apabila interupsi tidak ada hubungannya dengan materi yang sedang dibicarakan. (3) Terhadap pembicaraan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b, tidak dapat diadakan pembahasan. (4) Saran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan huruf d, untuk dapat dibahas harus mendapat persetujuan Sidang.

Pasal 31 (1) Seorang pembicara tidak boleh menyimpang dari pokok pembicaraan, kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19. (2) Apabila seorang pembicara menurut pendapat Ketua Sidang menyimpang dari pokok pembicaraan, Ketua Sidang memperingatkan dan meminta supaya pembicara kembali kepada pokok pembicaraan. Pasal 32 (1) Ketua Sidang memperingatkan pembicara yang menggunakan kata-kata yang tidak layak, melakukan perbuatan yang mengganggu ketertiban Sidang, atau menganjurkan untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum. (2) Ketua Sidang meminta agar yang bersangkutan menghentikan perbuatan pembicara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan/atau memberikan kesempatan kepadanya untuk menarik kembali kata-katanya dan menghentikan perbuatannya. (3) Apabila pembicara memenuhi permintaan Ketua Sidang, kata-kata pembicara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggap tidak pernah diucapkan dan tidak dimuat dalam Risalah atau Catatan Sidang. Pasal 33 (1) Apabila seorang pembicara tidak memenuhi peringatan, Ketua Sidang melarang pembicara tersebut meneruskan pembicaraan dan perbuatannya. (2) Apabila larangan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), masih juga tidak diindahkan oleh yang bersangkutan, Ketua Sidang meminta kepada yang bersangkutan meninggalkan Sidang. (3) Apabila pembicara tersebut tidak mengindahkan permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pembicara tersebut dikeluarkan dengan paksa dari ruang Sidang atas perintah Ketua Sidang. (4) Ruang Sidang, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), adalah ruangan yang dipergunakan untuk Sidang. Pasal 34 (1) Dalam hal kejadian luar biasa, Ketua Sidang dapat menutup atau menunda Sidang yang sedang berlangsung dengan meminta persetujuan dari peserta Sidang. (2) Lama penundaan Sidang, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), tidak boleh lebih dari 24 (dua puluh empat) jam.

11

BAB X RISALAH, CATATAN SIDANG, DAN LAPORAN SINGKAT Pasal 35 (1) Untuk setiap Sidang Pleno dan Sidang Pleno Luar Biasa, dibuat Risalah yang ditandatangani oleh Ketua Sidang atau Sekretaris Sidang atas nama Ketua Sidang. (2) Risalah adalah catatan Sidang Pleno atau Sidang Pleno Luar Biasa yang dibuat secara lengkap dan berisi seluruh jalannya pembicaraan yang dilakukan dalam Sidang serta dilengkapi dengan catatan tentang: a. Jenis Sidang; b. Hari dan tanggal Sidang; c. Tempat Sidang; d. Acara Sidang; e. Waktu pembukaan dan penutupan Sidang; f. Ketua dan sekretaris Sidang; g. Jumlah dan nama Anggota yang menandatangani daftar hadir; dan h. Undangan yang hadir. (3) Yang dimaksud dengan Sekretaris Sidang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f adalah pejabat di lingkungan Sekretariat TKPSDA WS Bengawan Solo yang ditunjuk untuk itu.

Pasal 36 Sekretaris Sidang menyusun Risalah untuk dibagikan kepada Anggota dan pihak yang bersangkutan setelah Sidang selesai. Pasal 37 (1) Dalam setiap Sidang Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo, Sidang Komisi, Sidang Gabungan Komisi, Sidang dan Sidang Panitia Kerja, dibuat Catatan Sidang dan Laporan Singkat yang ditandangani oleh yang bersangkutan. (2) Catatan Sidang adalah catatan yang memuat pokok pembicaraan, kesimpulan dan/atau keputusan yang dihasilkan dalam Sidang, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), serta dilengkapi dengan catatan tentang hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2). (3) Laporan Singkat, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memuat kesimpulan dan/atau keputusan Sidang. Pasal 38 (1) Sekretaris Sidang secepatnya menyusun Laporan Singkat dan Catatan Sidang sementara untuk segera dibagikan kepada Anggota dan pihak yang bersangkutan setelah Sidang, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2), selesai. (2) Setiap Anggota dan pihak yang bersangkutan diberi kesempatan untuk mengadakan koreksi terhadap Catatan Sidang sementara dalam waktu empat hari sejak diterimanya Catatan Sidang sementara tersebut dan menyampaikannya kepada Sekretaris Sidang yang bersangkutan.
12

BAB XI UNDANGAN, PENINJAU, DAN WARTAWAN Pasal 39 (1) Undangan adalah: a. Mereka yang bukan Anggota, yang hadir dalam Sidang TKPSDA WS Bengawan Solo atas undangan Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo ; dan b. Anggota yang hadir dalam Sidang atas undangan Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo selain anggota alat kelengkapan (SEKWAN SDAN) yang bersangkutan. (2) Peninjau dan wartawan adalah mereka yang hadir dalam Sidang TKPSDA WS Bengawan Solo tanpa undangan Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo dengan sepengetahuan dari Pimpinan TKPSDA WS Bengawan Solo atau pimpinan alat kelengkapan yang bersangkutan. (3) Undangan dapat berbicara dalam Sidang atas persetujuan Ketua Sidang, tetapi tidak mempunyai hak suara. (4) Peninjau dan wartawan tidak mempunyai hak suara, hak bicara, dan tidak boleh menyatakan sesuatu, baik dengan perkataan maupun perbuatan. (5) Untuk undangan, peninjau, dan wartawan, disediakan tempat tersendiri. (6) Undangan, peninjau, dan wartawan wajib menaati tata tertib Sidang dan/atau ketentuan lain yang diatur oleh TKPSDA WS Bengawan Solo.

Pasal 40 (1) Ketua Sidang menjaga agar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 tetap dipatuhi. (2) Ketua Sidang dapat meminta agar undangan, peninjau, dan/atau wartawan yang mengganggu ketertiban Sidang meninggalkan ruang Sidang dan apabila permintaan itu tidak diindahkan, yang bersangkutan dikeluarkan dengan paksa dari ruang Sidang atas perintah Ketua Sidang. (3) Ketua Sidang dapat menutup atau menunda Sidang tersebut apabila terjadi peristiwa, sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Lama penundaan Sidang, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), tidak boleh lebih dari 24 (dua puluh empat) jam. BAB. XII TATA CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM SIDANG TKPSDA - WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO BAGIAN PERTAMA UMUM Pasal 41 (1) Pengambilan keputusan adalah proses penyelesaian akhir suatu masalah yang dibicarakan dalam setiap jenis Sidang TKPSDA WS Bengawan Solo. (2) Keputusan Sidang TKPSDA WS Bengawan Solo, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa persetujuan, pertimbangan dan atau rekomendasi.

13

Pasal 42 (1) Pengambilan keputusan dalam Sidang TKPSDA WS Bengawan Solo pada dasarnya diusahakan sejauh mungkin dengan cara musyawarah untuk mencapai mufakat. (2) Apabila cara pengambilan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. (3) Pasal 43 (1) Setiap Sidang TKPSDA WS Bengawan Solo dapat mengambil keputusan apabila dihadiri oleh lebih dari separuh jumlah anggota Sidang, yang terdiri atas lebih dari separuh unsur Pemerintah maupun Non-Pemerintah. (2) Apabila kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai, Sidang ditunda sebanyak-banyaknya 2 (dua) kali dengan tenggang waktu masing-masing tidak lebih dari 10 hari kerja. (3) Setelah 2 (dua) kali penundaan, kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum juga tercapai, cara penyelesaiannya diserahkan kepada Pimpinan TKPSDAWilayah Sungai Bengawan Solo, dengan memperhatikan pendapat Ketua Harian TKPSDA WS Bengawan Solo apabila terjadi dalam Sidang Pleno.

Pasal 44 Setiap keputusan Sidang TKPSDA WS Bengawan Solo, baik berdasarkan mufakat maupun berdasarkan suara terbanyak, berlaku mengikat semua pihak yang terkait.

BAGIAN KEDUA KEPUTUSAN BERDASARKAN MUFAKAT

Pasal 45 (1) Pengambilan keputusan berdasarkan mufakat dilakukan setelah kepada Anggota Sidang yang hadir diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat serta saran, yang kemudian dipandang cukup untuk diterima oleh Sidang sebagai sumbangan pendapat dan pemikiran bagi penyelesaian masalah yang sedang dimusyawarahkan. (2) Untuk dapat mengambil keputusan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pimpinan Sidang atau Panitia yang ditunjuk menyiapkan rancangan keputusan yang mencerminkan pendapat dalam Sidang.

Pasal 46 Keputusan berdasarkan mufakat adalah sah apabila diambil dalam Sidang yang dihadiri oleh Anggota dari unsur Pemerintah dan unsur Non-Pemerintah, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1), dan disetujui oleh semua yang hadir.

14

BAGIAN KETIGA KEPUTUSAN BERDASARKAN SUARA TERBANYAK Pasal 47 Keputusan berdasarkan suara terbanyak diambil apabila keputusan berdasarkan mufakat sudah tidak terpenuhi karena adanya pendirian sebagian anggota Sidang yang tidak dapat dipertemukan lagi dengan pendirian anggota Sidang yang lain.

Pasal 48 Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak dapat dilakukan secara terbuka atau secara rahasia. Pasal 49 Keputusan berdasarkan suara terbanyak adalah sah apabila diambil dalam Sidang yang dihadiri oleh Anggota dari unsur Pemerintah maupun Non-Pemerintah, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1), dan disetujui oleh lebih dari separuh jumlah Anggota yang hadir. (1) Apabila sifat masalah yang dihadapi tidak tercapai dengan 1 (satu) kali pemungutan suara, pimpinan sidang mengusahakan agar diperoleh jalan keluar yang disepakati atau melaksanakan pemungutan suara secara berjenjang. (2) Pemungutan suara secara berjenjang, sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan untuk memperoleh 2 (dua) pilihan berdasarkan peringkat jumlah perolehan suara terbanyak. (3) Apabila telah diperoleh 2 (dua) pilihan, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pemungutan suara selanjutnya dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 50 (1) Pemberian suara secara terbuka untuk menyatakan setuju, menolak, atau tidak menyatakan pilihan (abstain) dilakukan oleh anggota Sidang yang hadir dengan cara lisan, mengangkat tangan, berdiri, tertulis, atau dengan cara lain yang disepakati oleh anggota Sidang. (2) Penghitungan suara dilakukan dengan menghitung secara langsung tiap-tiap anggota Sidang. (3) Anggota yang meninggalkan sidang (walk out) dianggap telah hadir dan tidak mempengaruhi sahnya keputusan. (4) Apabila hasil pemungutan suara tidak memenuhi ketentuan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1), dilakukan pemungutan suara ulang yang pelaksanaannya ditangguhkan sampai Sidang berikutnya dengan tenggang waktu tidak lebih dari 10 hari kerja. (5) Apabila hasil pemungutan suara ulangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), ternyata tidak juga memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, masalahnya menjadi batal.

15

Pasal 51

(1) Pemberian suara secara rahasia dilakukan dengan tertulis, tanpa mencantumkan nama, tanda tangan, atau tanda lain yang dapat menghilangkan sifat kerahasiaan. (2) Pemberian suara secara rahasia dapat juga dilakukan dengan cara lain yang tetap menjamin sifat kerahasiaan. (3) Apabila hasil pemungutan suara tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, pemungutan suara diulang sekali lagi dalam Sidang itu juga. (4) Apabila hasil pemungutan suara ulang, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), tidak juga memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, pemungutan suara secara rahasia, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menjadi batal.

BAB XIII PEMBIAYAAN Pasal 52 Dana operasional TKPSDA bersumber dari dana APBN sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan atau sumber dana lain yang sah dan tidak mengikat.

Ditetapkan di Surakarta Pada Tanggal 9 Juni 2009 KETUA TIM KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO

PROF.DR.IR.SLAMET BUDIPRAYITNO,MSc NIP. 130 936 136

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->