P. 1
Proposal Kkl Kelompok Jamur

Proposal Kkl Kelompok Jamur

|Views: 266|Likes:

More info:

Published by: kikicoooll_5105yahoo on Mar 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/07/2015

pdf

text

original

KEANEKARAGAMAN JENIS JAMUR MAKROSKOPIS PADA TIGA TIPE HABITAT YANG BERBEDA DI CAGAR ALAM DAN TAMAN WISATA

PANIIS UJUNG KULON

PROPOSAL KULIAH KERJA LAPANGAN

Oleh :

Fitra Awaludin Bimo Handiko S.T Fandi Lastanto Mohammad Thohir Ratna Wati

(093112620150002) (093112620150006) (093112620150008) (093112620150013) (093112620150025)

FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA 2012

Noverita.T Fandi Lastanto Mohammad Thohir Ratna Wati (093112620150002) (093112620150006) (093112620150008) (093112620150013) (093112620150025) MENYETUJUI Pembimbing Koordinator Penelitian Dra. M. Ikhsan Matondang. M. Si Drs.LEMBAR PENGESAHAN Judul : KEANEKARAGAMAN JENIS JAMUR MAKROSKOPIS PADA TIGA TIPE HABITAT YANG BERBEDA DI CAGAR ALAM DAN TAMAN WISATA PANIIS UJUNG KULON Nama Kelompok Anggota kelompok : : JAMUR Fitra Awaludin Bimo Handiko S. Tatang Mitra Setia.Si . M.Si Ketua KKL Drs.

Kisaran kelembaban relatif jamur untuk tumbuh berkisar antara 22-28% untuk kelembaban substrat dan 80%-90% untuk kelembaban udara. dan suhu maksimum 34400C. Keberadaan jamur sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang menjadi syarat tumbuhnya jamur.. Miselium merupakan bentuk susunan jamur yang berupa jaringan dari benang-benang halus jamur yang disebut hifa dan akhirnya membentuk suatu badan buah. Dinding sel jamur tersusun oleh zat kitin dan selulosa. sementara jamur memerlukan kondisi pH netral untuk tumbuh. 2004). (Sudjadi dkk. Latar Belakang Jamur merupakan organisme eukariotik yang tidak memiliki kloroplas dan tersusun dari banyak sel yang dikenal dengan istilah miselium. sebab pH berpengaruh pada sistim enzim jamur (Ronald dkk. Di alam kadar pH umumnya dijumpai pada kisaran 5-9. lignin. Jamur dapat dilihat dan dikenal dengan mudah terutama di tempat-tempat yang lembab.. jamur bersifat heterotrof dengan mengekskresikan enzim-enzim ekstraseluler ke lingkungan dan menyerap nutrient melalui dinding selnya. Sementara menurut Sharma (1989). 2006). dan tumbuhan (Gandjar dkk. misalnya pada serasah.BAB I PENDAHULUAN A. dan sisa material lain (Chang .. suhu minimum pertumbuhan jamur adalah 2-50C. 1975). dan terkadang menjadi faktor pembatas jamur untuk tumbuh. Dalam memenuhi kebutuhan nutriennya. suhu optimum 22-270C. 2000). Jamur dapat tumbuh pada kisaran suhu yang luas. Dalam siklus hidupnya jamur melakukan reproduksi seksual dan aseksual. Syarat tumbuh jamur lainnya yang paling penting adalah air. seperti jamur saprofit dengan suhu optimum 22-30 0C. dan jamur patogenik dengan suhu 30-32 0C (Pelezar & Chan 1986). Dalam lingkungan alaminya jamur dapat tumbuh subur pada tempat-tempat yang mengandung sumber karbohidrat baik yang terurai maupun yang berbentuk molekul besar seperti selulosa. Air berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur karena air merupakan syarat dasar utama tumbuhnya jamur (Svrcek.

Suatu spesies jamur biasanya memiliki kekhususan baik terhadap substrat tempat tumbuhnya. 1999). 1991). air. intensitas cahaya akan dapat menimbulkan perbedaan jenis jamur yang dapat dijumpai. Penelitian tentang jamur di kawasan Cagar alam dan Taman Wisata alam Paniis Ujung Kulon dan kawasan sekitarnya sudah pernah dilakukan oleh Tim KKL pada tahun 2005 yang beranggotakan Crienandini P. Auricularia. Di hutan berbagai tipe substrat dapat ditempati oleh jenis-jenis jamur tertentu. Ditinjau dari kondisi kawasan yang mendukung. 1982 dalam Uker. kelembaban tanah. keasaman (pH) tanah. dan Dwi hadiyansyah dengan . seperti kelembaban udara. 2000). (Ronald. Perbedaan subsrat biasanya akan menyebabkan berbeda pula jenis jamur yang tumbuh. Sriyani Puji L. kayu-kayu yang mengalami pelapukan. dan lentinus (Yuniasmara. Pada kawasan Cagar Alam ini 85% terdiri dari hutan dan selebihnya merupakan daerah pemukiman penduduk juga pantai. aktinomycetes. Sedangkan hutan yang menyusun kawasan ini termasuk dalam hutan hujan tropis. Sementara dalam kehidupan manusia jamur juga memiliki potensi sebagai bahan pangan. rayap dan sebagainya dalam melakukan degradasi terhadap penumpukkan berbagai material didalam hutan. Cagar alam dan Taman Wisata alam Paniis Ujung Kulon merupakan kawasan dengan komposisi flora yang heterogen. kotoran hewan dan sebagainya. seperti Pleurotus. Jamur dapat hidup dan menempati berbagai tipe substrat mulai dari tanah. sehingga dalam satu tipe hutan akan dihuni oleh beragam jenis jamur.. Dengan adanya proses perombakan material ini telah membantu menjaga keseimbangan ekosistem dimana hasil perombakan material organik dapat dimanfaatkan kembali oleh tumbuhan dan organisme tanah lainnya (Ronald. S. Di hutan jamur berperan penting dalam ekosistem karena jamur merupakan agen dekomposer bersama dengan organisme lain seperti bakteri. serasah-serasah. hal ini disebabkan hutan merupakan salah satu tipe habitat yang dapat ditumbuhi oleh jamur karena hutan dapat menyediakan kondisi-kondisi yang mungkin disukai oleh jamur. maupun terhadap kondisi lingkungan tertentu.dan Quino. begitu pula perbedaan kondisi lingkungan. 2000). memungkinkan akan ditemukan berbagai jenis jamur makroskopis. Beberapa jamur yang tumbuh di dalam hutan juga dikonsumsi karena memiliki nutrisi yang baik bagi manusia. suhu..

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis jamur makroskopis yang ada berdasarkan tipe habitat yang ada. Perkebunan dan pada kawasan hutan. yakni jalur curug dan cipanas. Coriolaceae. Inventarisasi keanekaragaman spesies di kawasan tersebut belum tersorot secara detail. Pada penelitian tersebut hasil yang didapat yaitu 32 jenis jamur dengan 8 suku seperti Polyporaceae. khususnya daerah Pesisirpantai. Hanya saja penelitian tersebut dibatasi 2 jalur. salah satunya adalah kawasan hutan di Paniis dan sekitarnya. Keberadaan jamur di hutan dan kawasan sekitar sangat erat hubungannya dengan kondisi lingkungan hutan tempat hidup mereka. ekosistem rawa. Tremellaceae. khususnya keanekaragaman jamur. Ganodermataceae. Hutan merupakan salah satu tipe habitat yang dapat ditempati oleh jamur karena hutan dapat menyediakan kondisi-kondisi yang mungkin disukai oleh jamur. dan coprinaceae. dan hutan Cagar alam dan Taman Wisata alam Paniis Ujung Kulon. Perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menambah informasi mengenai inventarisasi keanekaragaman pada kawasan Cagar alam dan Taman Wisata alam Paniis Ujung Kulon dan kawasan sekitarnya. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah. Terdapat perbedaan keanekaragaman jenis dan komposisi jenis jamur pada tiap-tiap tipe habitat yang berbeda di kawasan perkebunan. pesisir pantai. pesisir pantai. Auriculariaceae. Tricholomataceae. Schyzophylaceae. dan hutan di Cagar alam dan Taman Wisata alam Paniis Ujung Kulon.judul “Inventarisasi Jamur Makroskopik di Hutan Kampung Paniis. dan ekosistem daratan. ATAU Paniis merupakan daerah yang terletak pada daerah perbatasan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Daerah Paniis yang mempunyai tiga tipe ekosistem diduga akan berpengaruh pada faktor eksternal dan kondisi habitat. Sementara Taman Nasional Ujung Kulon sendiri memiliki tiga tipe ekosistem yakni ekosistem pesisir. yaitu pada perkebunan. Desa Taman Jaya Ujung Kulon. sehingga secara . Banten ”.

S. BAB II . Banten ”. Sriyani Puji L. dan Dwi hadiyansyah pada tahun 2005 dengan judul “Inventarisasi Jamur Makroskopik di Hutan Kampung Paniis. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk me-review kembali inventarisasi keanekaragaman jamur makroskopis yang ada di hutan pada kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon dan sekitar pemukiman masyarakat pada kawasan tersebut berdasarkan hasil penelitian KKL oleh Crienandini P... Terdapat peningkatan jumlah jamur makroskopik yang ada pada kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon dan sekitar pemukiman masyarakat. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah. Desa Taman Jaya Ujung Kulon.tidak langsung akan berpengaruh pada iklim mikro pada kawasan Taman Nasional dan sekitarnya .

cawan petri. botol sampel. akuadestilata. label. kapas. lampiran tersebut mencatat ciri-ciri morfologi seperti bentuk tudung. Cara Kerja 1. Setelah itu masing-masing sampel diambil preparat sporanya guna menbantu identifikasi sampel lebih lanjut. hygrometer. formalin 4 %. serta diambil gambarnya. pinset dan kamera digital. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama tiga hari dilakukan pada tanggal 16-23 Mei 2012 pada kawasan Cagar alam dan Taman Wisata alam Paniis Ujung Kulon dan kawasan sekitarnya. pH meter. papan jalan.METODOLOGI A. B. C. jarum inokulasi. alat tulis. Penentuan Lokasi Pengambilan Sampel Penentuan lokasi pengambilan sample dipilih di tiga tempat. lamella. Sampel-sampel jamur yang ditemukan selanjutnya di identifikasi . box Bunsen. dan bagian lainnya. altimeter. 2. thermometer. kemudian sampel di awetkan di dalam botol yang diisi cairan pengawet guna untuk identifikasi di laboratorium. kertas koran. Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode searching yaitu dengan menelusuri dan mencari jamur disekitar jalur yang dilewati dengan lebar observasi jalur yang dibatasi sekitar ±10m. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabulasi data. kantong plastic/mica. beaker glass. pesisir pantai. Bahan yang digunakan adalah Alkohol 70 %. medium PDA dan laktofenol. yaitu di perkebunan. dan hutan di Cagar alam dan Taman Wisata alam Paniis Ujung Kulon yang dianggap mewakili kawasan tersebut. karton hitam dan putih. Sampel jamur yang ditemukan di lokasi penelitian diamati dan dicatat beberapa karakter morfologi (lampiran 1).

4th eds” karangan Alexopaolus and Mims. Keanekaragaman dan keseragaman Untuk mengetahui indeks keanekaragaman jenis jamur digunakan rumus Shannon-Winner (Magurran. Ln Pi Keterangan : H’ = indeks keanekaragaman jenis Pi = ni/N ni = jumlah individu masing-masing spesies N = jumlah total individu yang ditentukan pada setiap habitat 2. pH tanah (pH meter). dan ”Guide to Mushrooms” karangan Pacioni. Pengukuran faktor lingkungan Pengukuran faktor lingkungan meliputi suhu (thermometer). Komposisi . 3. Sampel yang didapat akan diidentifikasi sampai tingkat jenis. D. Identifikasi sampel Sampel yang di dapat akan diidentifikasi di laboratorium dengan bantuan buku identifikasi jamur dengan judul ”Introductory mycology. Analisis Data 1. dan data-data spesies jamur yang diperoleh beserta data lingkungan kemudian ditabulasikan dalam daftar guna pembahasan lebih lanjut. dan kelembaban udara (hygrometer). 1987) : H’ = -Σ Pi. Faktor lingkungan dicatat pada lembar tabulasi tabel 1 (lampiran 2) 4. Pengambilan data faktor lingkungan ini diambil dari pagi hari sampai selesai pengambilan sampel.dengan menggunakan buku identifikasi.

Untuk mengetahui tingkat kesamaan komposisi jenis antar tipe habitat dihitung menggunakan Indeks kesamaan Similaritas Sorensen (Brower dan Zar. 1990) dengan rumus : IS = 2c x 100 % a+b Keterangan : IS = indeks similaritas c = jumlah jenis yang sama pada daerah a dan b a = jumlah jenis pada daerah A b = jumlah jenis pada daerah B 3. 1994) Frekuensi = Jumlah Unit contoh spesies ditemukan x 100% Jumlah semua unit contoh Keterangan : Kelompok Frekuensi : Aksidental 0-25% Assesori 25-50% Konstan 50-75% Absolute > 75% 4. Frekuensi Frekuensi untuk mengetahui tingkat perjumpaan dari masing-masing jumlah jenis jamur pada tiga habitat dihitung menggunakan rumus : (Michael. Pengelompokan potensi jamur .

Suriawiria HU. Dephut. Refrensi Jenis-jenis Fungi Makroskopis dan Habitatnya di Kawasan Cagar Alam Pangandaran. dkk. Field and Laboratory Methods for General Ecology. Simon and Schuster Inc. Jakarta. Saptiningsih. John Willey and Sons. Yayasan Obor Indonesia. Guide to Mushroom. DAFTAR PUSTAKA Alexopoulus CJ.. 1990. New Jersey. C. Papas Sinar Pinanti. Brown Publisher. Brower JE. Introductory Mycology. Inventarisasi Jamur Makroskopis (cendawan) dan Potensinya Bagi Masyarakat di Desa Napacilin Kb. New York. yaitu potensi jamur untuk pangan. Mims CW. Jakarta. Gandjar I. 4 th edition. Von Ende. 2006. 1986. 2000.Potensi jamur yang ditemukan dikategorikan ke dalam tiga kelompok. Ecology diversity and its Measurements. Giovani. Endang. WM. dkk. Zar dan Carl N. Magurran AE. Musi Rawas di Kawasan TNKS Sumatera Selatan dalam hasil penelitian taman nasional kerini Seblat tahun 1999-2000. bahan obat dan ganda (pangan dan obat) pada tiap kawasan berdasarkan diskusi dengan masyarakat. 1990. Pacioni. New York. Blackwell M. 1996. Princeton University Press. Pengantar Untuk Mengenal dan Menanam Jamur. 1987. . Dubuque. seperti ada atau tidaknya serangga. dkk. Jerrold H. literatur dan dengan memperhatikan kondisi disekitar jamur yang ditemukan. Mikologi Dasar dan Terapan. 1999 Ronald W.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->