LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK ANALISA LABORATORIUM MENIRU DAYA KECERNAAN TERNAK (ANALISIS INVITRO

)

DISUSUN OLEH

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS MATARAM 2011

oleh sebab itu penyusun mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan laporan ini agar menjadi lebih bermanfaat untuk masyarakat pada umumnya dan untuk mahassiswa pada khususnya. Rasa terimaka kasih kami sampaikan kepada para dosen yang senantiaasa selalu membimbing kami di dalam pelaksanaan praktikum maupun di dalam perkuliahan. ………….Selain itu juga kami berterima kasih kepada kawan-kawan yang menbantu dalam penyusunan laporan ini. 2011 penyusun .KATA PENGANTAR puji syukur kepada allah swt .atas karunianya laporan praktikum teknik analisa laboratorium ini bisa terselesaikan.. Laporan ini masih sangat sederhana.Laporan praktikum teknik analisa laboratorium ini merupakan hasil dari pelaksanaan praktikum mata kuliah teknik analisa laboratorim.Terima kasih Mataram.

Mikroorganisme pada rumen dapat hidup karena walaupun proses fermentasi yang terjadi dalam rumen menghasilkan asam.yaitu suatu analisis yang meniru kecernaan ternak yang dilakukan di laboratorium. kambing. Rumen dan reticulum merupakan alat pencernaan fermentativ yang di dalamnya terdapat mikroorganisme seperti bakteri. dan fungi.saliva buatan. Untuk mengetahui daya kecernaan ternak terhadap pakan sangat sulit terutama jika dilakukan langsung terhadap teernakanya yaitu dengan analisis in vivo dan analisis in sacco. Salah satu perutnya adalah rumen. Nilai kecernaan yang tinggi menunjukan bahwa ternak tersebut efektif memanfaatkan bahan pakan yang diberikan Ternak Ruminansia (sapi. .Analisis in vitro juga memiliki keterbatasan diantaranya mikroba terbatas.selain itu juga untuk mengetahui BK pakan. kerbau. Di dalam rumen. Kemampuan ternak untuk mencerna suatu bahan pakan berbeda-beda sesuai dengan status fisiologis dari ternak itu sendiri. Tujuan Dan Kegunaan Adapun tujuan dan kegunaan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui daya kecernaan bahan pakan dengan cara meniru kecernaan ternak. domba) merupakan ternak herbivore yang memiliki empat perut.sampel dan CO2.cara ini biasa disebut dengan analisis in vitro.analisis ini sangat sulit dilakukan karena ada beberapa kendala antarnya membutuhkan ternak terutama ternak berpistula. Cara yang tidak terlalu sulit untuk mengetahui daya cerna ternak terhadap pakan yaitu dengan analisis in vitro.PENDAHULUAN Latar Belakang Kecernaan merupakan suatu gambaran mengenai kemampuan ternak untuk memanfaatkan pakan. Ternak Ruminansia mempunyai alat pencernaan yang unik yaitu retikulo-rumen yang dipisahkan oleh lipatan reticulo-ruminal sehingga isi rumen dan reticulum dapat tercampur dengan mudah. zat-zat makanan akan disederhanakan melalui fermentasi mikroba menjadi produk yang mudah dimanfaatkan induk semang.butuh unkubator dan alat-alat lainnya.nilai kecernaan bukan true digestibility.Bahan-bahan yng di butuhkan antara lain cairan rumen. epitel rumen dapat menghasilkan larutan penyangga yang dapat mempertahankan pH rumen agar tetap normal. prozoa.

dan mengidentifikasi bagaimana mereka interaksi menyebabkan sinyal seluler yang mengaktifkan komponenkomponen lain dari sistem kekebalan tubuh. pada. dan dalam kasus organisme multiseluler. Organisme hidup sistem fungsional yang sangat kompleks yang terdiri dari. cahaya. molekul RNA. Keuntungan utama dari in vitro bekerja adalah bahwa hal itu memungkinkan tingkat besar penyederhanaan sistem yang diteliti. menghilangkan limbah. komponen bergerak ke lokasi yang benar. (c) ekstrak Seluler atau subselular (misalnya gandum atau retikulosit ekstrak) . atau (d) molekul dimurnikan dalam tabung tes (sering protein . DNA . sehingga peneliti dapat fokus pada sejumlah kecil komponen. baik secara individu atau kombinasi). Untuk organisme biologis untuk bertahan hidup. suhu dan faktor lainnya. mengidentifikasi sel-sel dan gen yang menghasilkan mereka. Contoh umum dalam percobaan in vitro meliputi (a) sel-sel yang berasal dari organisme multiseluler ( kultur sel atau kultur jaringan ). Cairan Rumen . studi fisik sifat interaksi mereka dengan antigen. Ini kompleksitas yang luar biasa dari organisme hidup merupakan hambatan besar untuk identifikasi komponen individu dan eksplorasi fungsi dasar biologis mereka. organisme lain.Sebagai contoh. molekul protein. puluhan minimal ribu gen. Penyidik melakukan in vitro bekerja harus berhati-hati untuk menghindari over-interpretasi hasil mereka. Kerugian utama dari studi in vitro eksperimental adalah bahwa kadang-kadang bisa sangat menantang untuk ekstrapolasi dari hasil in vitro bekerja kembali ke biologi dari organisme yang utuh. komponen ini harus berinteraksi dengan berbagai satu sama lain dan dengan lingkungan mereka dengan cara bahwa proses makanan. (b) komponen subselular (misalnya mitokondria atau ribosom ). yang kadang-kadang dapat menyebabkan kesimpulan yang salah tentang organisme dan sistem biologi. dan mekanisme yang mereka mengenali dan mengikat antigen asing akan tetap sangat jelas jika tidak untuk penggunaan luas dalam pekerjaan vitro untuk mengisolasi protein. organ sistem. suara.TINJAUAN PUSTAKA Analisis invitro In vitro ( bahasa Latin : dalam kaca) mengacu pada studi di biologi eksperimental yang dilakukan menggunakan komponen dari suatu organisme yang telah diisolasi dari konteks yang biasa biologis mereka dalam rangka untuk memungkinkan analisis yang lebih rinci atau lebih nyaman daripada yang dapat dilakukan dengan organisme utuh. atau RNA . ion anorganik dan kompleks dalam lingkungan yang diselenggarakan oleh membran spasial. dan responsif terhadap sinyal molekul. senyawa organik kecil. identitas protein dari sistem kekebalan tubuh (antibodi misalnya).

pH dipertahankan oleh adanya absorpsi asam lemak dan amoniak. Selain itu juga saliva merupakan zat pelumas dan surfactant yang membantu didalam proses mastikasi dan ruminasi. 1981 ). omasum dan abomasum. Kerja ekstensif bakteri dan mikroba terhadap zat-zat makanan menghasilkan produk akhir yang dapat diasimilasi. 1991 ). Saliva bertipe cair. Sejumlah besar bakteri anaerobik dan protozoa ciliata yang hidup dalam rumen dan retikulum memfenncntasj rumput menjadi gula. organisme ini dapat makan tumbuhan dan daging dan disebut omnivora. Saliva mengandung elektrolit-elektrolit tertentu seperti Na. mengiris. P.. Menurut Church ( 1979 ). Saliva yang masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6. Rumen merupakan tabung besar untuk menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Bagian cair dari isi rumen sekitar 8-10% dari berat sapi yang dipuasakan sebelum dipotong ( Gohl. asam lemak. Molekul-moleku) ini dapat diserap masuk ke pembuluh darah ruminansia. Pada proces ini. mencabik dan menggilas. galaktosidase. K. Cairan Saliva Produksi saliva pada sapi melebihi 200 liter. 1989 ). . Bagian cair dari isi rumen kaya akan protein. dan urea yang mempertinggi kecepatan fermentasi mikroba.8. Sejumlah mamalia memiliki gigi untuk mengunyah. reticulum. menyatakan bahwa cairan rumen mengandung enzim alfa amylase. kandungan bahan kering. hasil fermentasi mikroba rumen. Ca. hemiselulosa dan selulosa. volume cairan isi perut dan stimulasi psikologis ( Arora. cairan yang sangat alkalin (basa) menurunkan keasaman lambung. ini sekitar 100 trilyun kilogram. Mg. Volume rumen pada ternak sapi dapat mencapai 100 liter atau lebih dan untuk domba berkisar 10 liter ( Putnam. membuffer asam-asam.Perut hewan ruminansia terdiri atas rumen. dibentuk dan dikeluarkan sejumlah besar gas methan (CH1) dan CO2. Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dengan temperature 38-420C. 1981 ). tekanan osmosis pada rumen mirip dengan tekanan aliran darah. Sekresi saliva dipengaruhi oleh bentuk fisik pakan. Cairan rumen merupakan limbah yang diperoleh dari rumah potong hewan yang dapat mencemari lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. dan asam amino. vitamin B kompleks serta mengandung enzim-enzim hasil sintesa mikroba rumen ( Gohl. termasuk didalamnya manusia. Rumen sapi besar dapat menampung 400 liter makanan semicair dan saliva. Setiap tahun 20% (CH4) berasal dan kotoran ruminansia peliharaan.

Sampel I masukan ke propilile yang berkode 2.goyang-goyangkan supaya tercampu antara saliva dengan cairan rumen 6. 3. 2. Larutan tersbut dimasukan ke dalam propiline yang berisi sampel kode 2.MATERI DAN METODE Materi Praktikum Alat alat praktikum 1.2 digojok pelen-pelan supaya sampelnya tidak menyebar .2 5.5036 gram) 3. Cairan rumen Saliva buatan Sampel CO2 Air Metode Praktikum Adapun metode dari praktikum ini adalah sbb: 1. Alat dan bahan disiapkan 2.5 gram sebanyak 2 kali ulangan (ulangan I berat sampel = 0.50239 gram )(ulangan II berat sampel = 0. 5. Larutan yang berada pada propiline baik berkode 2.1 maupun 2. 5. Gelas kimia Penangas air Tabing propiline Crusbible Timbangan analitik Erlenmeyer Bahan-bahan praktikum 1. 4. 3. Kemudian masukan 40 ml saliva buatan dimasukan ke propiline yang kosong ditambah dengan 10 ml cairan rumen. 2. 4. 6.1 (2 menunjukan kelompok dan 1 menunjukan sampel ) 4.2 8. Timbang sampel sebanyak 0. Masukan sampel II ke propilie yang berkode 2.dimasukan ke propiline yang berisi sampel berkode 2. Dibuat lagi campuran saliva dengan cairan rumen seperti nomor 5.1 7.

Berat samel awal =0.5014 = 0.5851 gram f.9.5014 gram c. Jam 10 pagi (7 desember) dilakukan penyaringan 11.maka penggojokan dilakukan 6 sore.Berat residu = (berat crusble+sampel 105oC).1 maupu 2.dan setiap 8 jam dilakukan pengocokan. Blanko awal = 20. Setelah 12 ja crussble diangkat dan dimasukan ke desikator supaya cepat dingin 15. Kemudian dimasukan ke dalam penangas air selama 48 jam.BK blanko = (blanko +crussble) –blanko akhir Dik : Sampel I a. Sampel yang ada dalam propiline disaring menggunakan cruccble yang ditimbang tadi baik sampel berkode 2. 10.berat crussble c.4256 /100 = 0. BK (%) = 88.5023 gram b.5789 .3379 gram BK blanko=blanko akhir-blanko awal =20. Berat cruss +sampel 105oC = 18.5789 gram e.5023 x 88. Blanko akhir=20..8393 – 18.5851-20. Setelah itu dicari daya kecernaan bahan kerinh pakan menggunakan rumus : a.sebelum dimasukan ke dalam penangas air.2. Berat crussble = 18.{BK awal –(BK residu-BK blanko)}/ BK awal X 100 b.jam 10 pagi ( 6 desember) lanjut lagi jam 2 malam ( 7 desember).4442 BK residu =(berat cruss + sampel 105oC) –berat cruss = 18.jam 2 malam.? Hit : BK awal = berat sampel awal x BK (%) = 0.dimasukan CO2 ke dalam propiline supaya dalam keadaan anaerob.4443 /100 = 44. dan residunya dimasukan ke dalam Erlenmeyer 13. Crussble ditimbang dan catat beratnya 12. Setelah penyaringan oven crussble yang berisi sampel pada suhu 1050C selama 12 jam 14.8393 gram d. Crussble + sampel ditimbang catat beratnya 16.4443 Dit :kecernaan BK =….

1125/0.3379-0.2233 gram .32 % Dik : sampel II a.2532 X 100 = 25.4442 x 100 = 0.=0.4442-(0.? Hit: BK awal = berat sampel awal x BK (%) /100 = 0.3317}/0.4442 X 100 ={0. d.berat cruss = 22.4442 x 100 = 0.4572 BK residu =(berat cruss+sampel 105oC).6273 = 0.8506 – 22.7306 / 100 = 45. Berat awal = 0. b.5039 gram Berat cruss = 22.4442 – 0.6273 gram Berat cruss + sampel 105oC = 22. c.5039 X 90.0062)}/0.0062 gram KCBK (%) ={BK awal-(BK residu-BK blanko)}/BK awal X 100 ={0.7306 Dit : kecernaan BK =….8506 gram BK (%) = 90.7191 /100 = 0.

2401 / 0.2233-0.4572 X 100 = 0.5251 X 100 = 52.2171 } / 0.KCBK (%) ={BK awal-(BK residu –BK blanko)}/BK awal X 100 = { 0.51 % .0062)}/0.4572 X 100 = 0.4572(0.4572 X 100 = { 0.4572 – 0.

8856 205851 0.2310 67.2802 45.5039 22.4037 0.1700 67.6567 23.proses sesungguhnya kecernaan ternak (39-40 oC) dalam waktu 48 jam di lakukan di laboratorium.2644 45.kenapa suhu incubator 39oC ? ini disetarakan dengan suhu cairan rumen pada ternak antara 38-39o.5070 21.8663 22.9246 0.2065 22.5023 18.5067 21. analisis ini meniru kecernaan pakan yang ada dalam rumen .5 gram.7543 24.5075 23.5022 23.9046 24.Selama sampel di dalam incubator dilakukan penggojokan 8 jam sekali. .8267 0.0187 0.8506 0.3379 33.dalam analisis in vitro kita menggunakan sampel sebanyak 0.biasanya keuntungan dari analisis in vitro ini adalah memerlukan jumlah pakan yang sedikit dalam menganalisis serta banyak jenis pakan yang dapat diuji.57890.1356 0.mengapa? Karena rumen mengalami pergerakan setiap 8 jam sekali.3835 0.cairan saliva 40 ml.0062 53.9246 0.8393 0.1972 64.5020 23.1058 0.5312 22.9160 0.2334 0.0436 0.dan cairan rumen 10 ml.3835 Pembahasan Analisis invitro adalah suatu analisis untuk mengetahui daya cernak ternak terhadap pakan yang diberikan.HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Praktikum No Ulangan 1 2 3 4 1 2 1 2 1 2 1 2 Berat Berat Berat Berat (Blankoawal+ BK Kcbk Sampel Crussible Crussible Residu Sampel) – blanko (%) (Gr) (Gr) + Sampel (Gr) blanko akhir 105oc (Gr) 0.Sampel yang sudah dicampur semuanya dimasukan ke dalam incubator dengan suhu 39oC selama 48 jam.5014 18.9532 22.9637 0.Jika tidak diinjeksikan dengan CO2 maka mikroba yang ada dalam rumen akan mati sehingga tidak ada yang akan membantu mencerna pakan terutama pakan berserat tinggi seperti jerami padi.Sebelum propiline dimassukan ke dalam incubator terlebih dahulu diinjeksikan dengan CO2 supaya dalam keadaan anaerob karena kondisi mikroba dalam rumen dalam keadaan anaerob. Dalam praktikum ini.6273 22.selain keuntungan analisis in vitro memiliki keterbatasan yaitu butuh incubator dan alat-alat lainnya dan nilai kecernaanny bukan true digestybilyti.kenapa sampel dibiarkan 48 jam di dalam incubator? Karena rata-rata pakan yang diberikan pada ternak itu selama 2 hari= 48 jam.2233 56.2395 20.

Sekresi saliva dipengaruhi oleh bentuk fisik pakan.Cairan rumen mengandung enzim alfa amylase. reticulum.pH cairan rumen sekitar 6.syarat-syarat ternak yang dijadikan untuk analisis in vitro adalah suhu cairan rumen sekitar 38-39oC. Ca. cairan yang sangat alkalin (basa) menurunkan keasaman lambung. omasum dan abomasums. Rumen sapi besar dapat menampung 400 liter makanan semicairdan saliva.BK blanko bertujuan untuk mengetahui selisih antara BK awal dengan BK residu. dan urea yang mempertinggi kecepatan fermentasi mikroba.BK isi rumen sekitar 14-18 %. membuffer asam-asam. asam lemak. Untuk mengetahui kecernaan BK dalam analisis ini maka dibutuhkan BK blanko.76. dan asam amino. Mg. Sejumlah besar bakicri anaerobik dan protozoa ciliata yang hidup dalam rumen dan retikulum memfenncntasj rumput menjadi gula. K. Saliva yang masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6. hasil fermentasi mikroba rumen. volume cairan isi perut dan stimulasi psikologis Produksi saliva pada sapi melebihi 200 liter. hemiselulosa dan selulosa. Selain itu juga saliva merupakan zat pelumas dan surfactant yang membantu didalam proses mastikasi dan ruminasi. Saliva mengandung elektrolit-elektrolit tertentu seperti Na.8.Pada saat penggojokan propiline harus pelan-pelan agar sampel yang ada di dalamnya tidak menyebar ke bagian atas yang tidak berair karena ini akan menyebabkan mikroba yang akan mencerna pakan akan mati. Saliva bertipe cair. Rumen merupakan tabung besar untuk menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Perut hewan ruminansia terdiri atas rumen.9 dan kondisi rumen harus anaerob. . galaktosidase.bagian yang paling besar adalah rumen. kandungan bahan kering. Kerja ekstensif bakteri dan mikroba terhadap zatzat makanan menghasilkan produk akhir yang dapat diasimilasi. P.

Sampel yang diinkubasi digojok 1x dalam 8 jam karena rumen mengalami pergerakan setiap 8 jam sekali Saran Adapun saran kami dalam praktikum ini adalah sbb: 1. Analisis invitro merupakan suatu analisis untuk mengetahui daya cerna pakan pada ternak ruminant dengan cara meniru kecernaan ternak. 4. Untuk Co Asst. 2. Dari nomor 2 dapat disimpulkan bahwa : semakin banyak BK awal sampel semakin tinggi persentasi hasil kecernaan BK yang di analisis menggunakan analisis in vitro dan sebaliknya.9160% 3.9637 %.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sbb: 1.jangan biarkan adik-adiknya sudah lama menunggu di atas sedangkan Co Asst belum datang . Sampel diinkubasi selama 84 jam karena rata-rata pakan yang diberikan pada ternak berlangsung selama 2 hari dengan suhu incubator 39oC karena suhu cairan rumen sekitar 38-39oC 5.5023 gram menghasilkan kecernaan BK 33. Untuk kelompok kami menggunakan sampel dengan berat BK awal : sampel I = 0. selain itu harap kerjasamanya dengan kelompoknya 2. Untuk para praktikan harap keseriusannya dalam melaksanakan praktikum supaya dapat memahami apa yang di praktikumkan dan bagaimana proses kerjanya.Harap datang tepat waktu. sampel II = 0.5039 gram menghasilkan kecernaan BK = 56.

id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en. 1989.id/handle/123456789/6982 http://ilmuternakkita.org/catagory/volume-cairan-saliva-pada-ternak-sapi http://intannursiam.com/2010/12/fertilizer-from-saliva.google.wikipedia. Bogor.org/wi ki/In_vitro http://eprints.blogspot.undip.com/2010/03/teknik-pengambilan-cairan-rumen-pada.google. Pengetahuan Bahan Pakan. http://jatimjobs. Nahrowi.nlm. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia.com/tag/pengujian-saponin/ http://translate. Yogyakarta.html http://repository.P. gov/pubmed/15151222 http://translate.id/16537/ http://victaryzacatartika.nih.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.ipb.ac.ac. Nutri Sejahtra Press.ncbi.2008. S. Gadjah Mada University Press.html .DAFTAR PUSTAKA Arora.wordpress.blogspot.co.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful