RANAH PENILAIAN KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTORIK Penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana

tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. Dengan kata lain, penilaian berfungsi sebagai alat untuk mengtahui keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Salah satu prinsip dasar yang harus senantiasa diperhatikan dan dipegangi dalam rangka evaluasi hasil belajar adalah prinsip kebulatan, dengan prinsip evaluator dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar dituntut untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap peserta didik, baik dari segi pemahamannya terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan (aspek kognitif), maupun dari segi penghayatan (aspek afektif), dan pengamalannya (aspek psikomotor). Ketiga aspek atau ranah kejiwaan itu erat sekali dan bahkan tidak mungkin dapat dilepaskan dari kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar. Benjamin S. Bloom dan kawan-kawannya itu berpendapat bahwa pengelompokkan tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu: a) Ranah proses berfikir (cognitive domain) b) Ranah nilai atau sikap (affective domain) c) Ranah keterampilan (psychomotor domain) Dalam konteks evaluasi hasil belajar, maka ketiga domain atau ranah itulah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar. Ketiga ranah tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. 1. 1 Pengertian Ranah Penilaian Kognitif Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah: • Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge) Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunkannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses berfikir yang paling rendah. • Pemahaman (comprehension) Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan. • Penerapan (application) Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongkret. Penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi

Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis. mensistesis dan kemampuan mengevaluasi. Ciri-ciri Ranah Penilaian Kognitif Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir termasuk di dalamnya kemampuan memahami. nilai atau ide. informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. menghafal. analisis. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana. terminologi strategi problem solving dan lain sebagianya. 2. Keenam tingkat tersebut yaitu: 1. misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada. • Sintesis (syntesis) Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi. sintesis dan evaluasi. menganalisis. peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan hafalan saja. Pada tingkat aplikasi. Pada tingkat analisis. Tingkat pemahaman (comprehension). pada tahap ini kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan. membedakan fakta dan pendapat serta menemukan hubungan sebab—akibat. peserta didik mengevaluasi informasi seperti bukti. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis. Aspek kognitif terdiri atas enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Tingkat pengetahuan (knowledge). menemukan asumsi. sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide. hipotesis atau teorinya sendiri dan mensintesiskan pengetahuannya. memberi contoh suatu konsep atau prinsip. rumus. Pada tahap ini peserta didik diharapkan menerjemahkan atau menyebutkan kembali yang . peserta didik dituntut untuk menghasilkan suatu cerita. peserta didik dituntut untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam situasi yang baru. • Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation) Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Pada tingkat pengetahuan. komposisi. kemampuan kognitif adalah kemampuan berfikir secara hirarki yang terdiri dari pengetahuan. pada tahap ini menuntut siswa untuk mampu mengingat (recall) berbagai informasi yang telah diterima sebelumnya. teori-teori yang termasuk di dalamnya judgement terhadap hasil analisis untuk membuat kebijakan. 1. yaitu mengingat. gagasan. misalnya fakta. Pada tingkat pemahaman peserta didik dituntut juntuk menyatakan masalah dengan kata-katanya sendiri. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi. Salah satu jasil belajar kognitif dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan tentang pentingnya kedisiplinan sebagiamana telah diajarkan oleh islam. pemahaman. • Analisis (analysis) Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau bebrbentuk pola baru. editorial. Pada tingkat sintesis. Pada tingkat evaluasi. mengaplikasi. Dengan demikian aspek kognitif adalah sub-taksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi. sejarah. Menurut Taksonomi Bloom (Sax 1980). aplikasi. peserta didik diminta untuk untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian. metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.ketimbang pemahaman.2.

analisis merupakan kemampuan mengidentifikasi. • uraian obyektif. memperkirakan. Tingkat penerapan (application). menemukan. produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu. metode. Tingkat analisis (analysis). menginterprestasikan. mengkategorikan. Ditandai dengan kemampuan menghubungkan. memindahkan.3. Ditandai dengan kemampuan menerjemahkan. Sedangkan tingkat analisis. fakta. penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari kedalam situasi yang baru. • pilihan ganda. memilih. konsep. memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta. mengubah struktur. e. serta memecahlcan berbagai masalah yang timbuldalam kehidupan sehari-hari. yaitu kemampuan berpikir untuk menjaring & menerapkan dengan tepat tentang teori. menghubungkan. pada umumnya baru menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah. d. • uraian non obyektif atau uraian bebas. simbol pada situasi baru/nyata. urutan.telah didengar dengan kata-kata sendiri. metode. • jawaban atau isian singkat. Ditandai dengan kemampuan menyebutkan simbol. 3. Tingkat sintesis (synthesis). sintesis dan evaluasi jarang sekali diterapkan. Pengukuran hasil belajar ranah kognitif dilakukan dengan tes tertulis. Evaluasi (C6). f. • portopolio dan • performans. 6. menghasilkan. evaluasi merupakan level tertinggi yang mengharapkan peserta didik mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan. prinsip atau prosedur yang telah dipelajari. Analisis (C4). Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan terus-menerus maka hasil pendidikan akan lebih baik. Kemampuan berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang baru. Pemahaman (C2) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami tentang sesuatu hal. prinsip. pendapat. Kemampuan berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan terhadap sustu . istilah. Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Kognitif Apabila melihat kenyataan yang ada dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan. c. Ditandai dengan kemampuan mensintesiskan. mengorganisasikan. • tes atau pertanyaan lisan di kelas. Dalam tingkat ini peserta didik diharapkan menunjukkan hubungan di antara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar. 1. membedakan. Penerapan (C3). menganalisis. Sintesis (C5). Ditandai dengan kemampuan membandingkan. mengklasifikasikan. asumsi. sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. Tingkat evaluasi (evaluation). menyusun. menyimpulkan. seperti pengetahuan. 5. menentukan. menerapkan. Ingatan (C1) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat. hipotesa atau kesimpulan. Cakupan yang diukur dalam ranah Kognitif adalah: a. mengkhususkan. menafsirkan. b. pemahaman dan sedikit penerapan. dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada atau tidaknya kontradiksi. mengembangkan. • menjodohkan. menggunakan. Kemampuan berfikir secara logis dalam meninjau suatu fakta/ objek menjadi lebih rinci. aturan. Bentuk tes kognitif diantaranya. definisi. 4. mengalokasikan.

dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang datang dari luar. Menilai atau menghargai artinya mem-berikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek. Jenjang ini lebih tinggi daripada jenjang receiving. situasi.situasi. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Contoh hasil belajar efektif jenjang valuing adalah tumbuhnya kemampuan yang kuat pada diri peseta didik untuk berlaku disiplin. minat.1 Pengertian Ranah Penilaian Afektif Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka. Dengan demikian nilai tersebut telah stabil dalam peserta didik. Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah. sikap. Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”. Termasuk dalam jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus. dan mereka mau menggabungkan diri kedalam nilai itu atau meng-identifikasikan diri dengan nilai itu. pemantapan dan perioritas nilai yang telah dimilikinya. maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian. dan nilai. Contoh hasil belajar ranah afektif responding adalah peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya lebih jauh atau menggeli lebih dalam lagi. yaitu baik atau buruk. Receiving atau attenting juga sering di beri pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. baik disekolah. ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan. dirumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat. menafsirkan. termasuk didalamnya hubungan satu nilai denagan nilai lain. sifat malas dan tidak di siplin harus disingkirkan jauh-jauh. metoda. yaitu: a) receiving b) responding c) valuing d) organization e) characterization by evalue or calue complex Receiving atau attending ( menerima atua memperhatikan). persoalan dan pemecahannya dengan menggunakan tolak ukur tertentu sebagai patokan. yang membawa pada perbaikan umum. Valuing (menilai/menghargai).. emosi. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. gejala dan lain-lain. Ditandai dengan kemampuan menilai. Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar. sistem nilai. Nilai itu mulai di camkan (internalized) dalam dirinya. Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang. artinya memper-temukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal. Organization (mengatur atau mengorganisasikan). Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek . Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”. 2. misalnya: peserta didik bahwa disiplin wajib di tegakkan. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan. sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan. peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena. Contah hasil belajar afektif jenjang receiving . mempertimbangkan dan menentukan. Valuing adalah merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding.

J Nitko (1983) dapat di gambarkan sebagai berikut: Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif. misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. dan konasi. Salah satu skala sikap yang sering digunakan adalah skala Likert. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham. dan moral. Hasilnya berupa kategori sikap. Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden. dan target. minat. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek yang dihadapinya. yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang. 2. arah. 1981:4). Pertama. afeksi. yaitu sikap. Ia telah memiliki phyloshopphy of life yang mapan.2 Ciri-ciri Ranah Penilaian Afektif Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen. karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana. Secara skematik kelima jenjang afektif sebagaimana telah di kemukakan dalam pembicaraan diatas. konsep diri. Oleh sebab itu. menolak (negatif). situasi. yakni kognisi. Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: Menerima (memperhatikan). Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain. Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi. sangat tidak setuju. menurut A. Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut. minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang . sehingga membentu karakteristik “pola hidup” tingkah lakunya menetap. 1. misalnya bahasa Inggris. Oleh sebab itu. nilai. sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut. konsisten dan dapat diramalkan. konsep. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif. perilaku harus tipikal perilaku seseorang. tidak punya pendapat. tidak setuju. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. dan Karakteristik suatu nilai. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama. Mengorganisasi. perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas. pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori. Ada 5 tipe karakteristik afektif yang penting berdasarkan tujuannya. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain.nilai). yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif. pernyataanpernyataan yang diajukan. baik pernyataan positif maupun negatif. Sikap Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek. Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek diantaranya skala sikap. melalui rentangan nilai tertentu. apakah pernyataan itu didukung atau ditolaknya. Minat Menurut Getzel (1966). dinilai oleh subjek dengan sangat setuju. Disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki nilai. dan netral. Menghargai. Dalam skala Likert. Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran. sikap selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu. setuju. Kedua. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Merespon. 1999). Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. atau orang. Ada tiga komponen sikap. 2. yakni mendukung (positif). Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang.

aktivitas. 4. dan kepuasan. sedangkan nilai mengacu pada keyakinan. konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat. o Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik. arah. minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. dan kepuasan. Arah konsep diri bisa positif atau negatif. o Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial. 3. o Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik. o Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki. Ia hanya . o Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran. o Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya. Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. aktivitas. Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7). atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk.mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus. tindakan. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut: • Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. o Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran. dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. o Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain. atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat. dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. o Peserta didik memahami kemampuan dirinya. sikap. Nilai Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan. • mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya. Konsep Diri Menurut Smith. o Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya. Target. • Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583). sikap. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi. • Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya. o Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik. hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang dilakukan. Moral Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang per-kembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. • menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas. o Peserta didik mampu menilai dirinya. pemahaman. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat. yaitu mulai dari rendah sampai tinggi. o Peserta didik dapat mencari materi sendiri. Penilaian minat dapat digunakan untuk: • mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran. • pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik. yaitu nilai adalah suatu objek. 5. o Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik. aktivitas. dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum.

memukul. mengutamakan suatu nilai. menari. Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu: a) laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket anonim. menulis. 3. karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: 1. 3. 2. Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif. memahami hubungan abstrak. Mengorganisasi.3 Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Afektif Kompetensi siswa dalam ranah afektif yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan minat siswa dalam belajar. dan sebagainya. bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak. Menerima (memperhatikan).2 Ciri-ciri Ranah Penilaian Psikomotor Ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. • Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan.3 Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Psikomotor Beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. gejala. meliputi mengkonseptualisasikan nilai. bersedia merespon. b) pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa dan perlu lembar pengamatan. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). mengarahkan perhatian 2. mengorganisasi sistem suatu nilai. meliputi menerima suatu nilai.mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan aktivitas fisik. Merespon. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui . mematuhi peraturan 3. Hasi belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektif. merasa puas dalam merespon. misalnya lari. misalnya. 3. melukis. kesadaran. Jadi moral berkaitan dengan prinsip. misalnya moral dan artistik. melompat dan lain sebagainya. • Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik. Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri.1 Pengertian Ranah Penilaian Psikomotor Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. dan keyakinan seseorang. Menghargai. meliputi merespon secara diam-diam. nilai. komitmen terhadap nilai 4. • Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai. meliputi kepekaan terhadap kondisi. kerelaan. memukul. Ranah afektif lain yang penting adalah: • Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain. melompat.

Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan. Pengamat terlebih dahulu harus menetapkan kisi-kisi tingkah laku apa yang hendak diobservasinya. • kemampuan membaca gambar dan atau simbol. bisa pula dalam bentuk memberi tanda cek (√) pada kolom jawaban hasil observasi. Observasi dilakukan pada saat proses kegiatan itu berlangsung. lalu dibuat pedoman agar memudahkan dalam pengisian observasi. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik. dan produk. • keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan. c. b. observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau psikomotorik. baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan. beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. partisipasi peserta didik dalam simulasi. keterampilan. Pengisian hasil observasi dalam pedoman yang dibuat sebenarnya bisa diisi secara bebas dalam bentuk uraian mengenai tingkah laku yang tampak untuk diobservasi. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik. proses. yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan. • kecepatan mengerjakan tugas. pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung. .a. sesudah mengikuti pembelajaran. Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati. atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik. dan sikap. Dengan kata lain. • kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan. Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: • kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja. dan penggunaan alins ketika belajar. kegiatan diskusi peserta didik.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.