Kamis, 03 November 2011 05:10

|

Ditulis oleh admin

SUMBANGAN HUKUM WARIS ADAT TERHADAP PEMBAHARUAN HUKUM WARIS ISLAM DI INDONESIA
Oleh: Taufik Rahayu Syam, M.S.I

PENDAHULUAN Indonesia adalah Negara yang penduduknya mempunyai aneka ragam adat kebudayaan. Dalam adat kebudayaan tersebut terdapat juga hal-hal yang berkaitan dengan hukum. Termasuk dalam hal ini mengenai hukum waris adat. Masalah Warisan berkaitan dengan peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda dari suatu angkatan manusia kepada keturunannya.1 Jadi dalam hal ini masalah warisan erat kaitannya dengan masalah harta kekayaan. Masyarakat adat Indonesia mempunyai hukum adat waris sendiri-sendiri. Dimana bisanya hukum adat mereka dipengaruhi oleh sistem kekeluargaan dan sistem kewarisan yang mereka anut. Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah beragama islam. Keberadaan islam di Indonesia telah sedikit banyaknya mempengaruhi adat istiadat masyarakat setempat., ataupun sedikit banyaknya praktek keberagamaan telah dipengaruhi adat istiadat setempat. Termasuk dalam hal ini, hal-hal yang berkaitan dengan masalah kewarisan. Bagi masyarakat yang memgang teguh ajaran agama islam, maka dia akan terus konsekuen dengan keyakinannya untuk membagikan harta warisan dengan cara-cara islam (faraid). Akan tetapi tidak sedikit juga, masyarakat yang dikenal keislamannya kuat, pada akhirnya masih menggunakan cara-cara pelaksanaan pembagian waris menurut hukum adat dan kebisaaan adat setempat. Maka hal inilah yang menjadi problematika masyarakat, disatu sisi ketentuan faraid merupakan hukum islam yang harus dilaksanakan, disisi lain masyarakat kurang mempercayai dan mempergunakan hukum faraid. Hal inilah yang perlu diperhatikan kembali akan pentingnya reaktualisasi hukum faraid dengan memperhatikan perkembangan kehidupan masyarakat setempat akan tetapi hal tersebut masih dalam koridor syari?at. Rasanya sebagian asas-asas dalam hukum adat masih layak untuk dijadikan pertimbangan pembaharuan hukum waris islam di Indonesia. Sebenarnya umat islam yang ada di Indonesia telah memiliki peraturan khusus tentang masalah warisan ini yang telah tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Namun masyarakat islam di Indonesia tidak semua menjadikan KHI sebagai rujukan dalam pembagian warisan. Namu perlu diakui keberadaan hukum adat yang ada di Indonesia paling tidak akan memberikan pengaruhnya juga dalam pembentukan hukum waris islam kontemporer di Indonesia. Disamping itu, keberadaan Kompilasi Hukum Islam tidaklah seperti ayat-ayat suci yang tidak bisa diotak-katik lagi ketentuannya. Tentunya para pakar

dibidangnya bisa terus menggali lagi ketentuan-ketentuan hukum waris islam kontemporer supaya selaras dengan perkembangan zaman dengan mengandung kearifan lokal.

HUKUM WARIS ADAT Sebelum menguraikan mengenai hukum waris adat, ada baiknya kita akan menengok kembali mengenai sifat perkawainan yang berlaku di beberapa daerah adat di Indonesia. Karena dalam hukum perkawinan adat yang berlaku di Indonesia, perkawinana bukan saja berarti sebagai perikatan perdata tetapi merupakan perikatan adat dan sekaligus merupakan perikatan kekerabatan dan ketetanggaan, terjadinya suatu ikatan perkawinana bukan hanya akan menimbulkan akibat terhadap hubungan keperdataan, seperti hak dan kewajiban suami istri, harta bersama ( gono gini ), kedudukan anak, hak dan kewajiban orang tua, tetapi juga menyangkut hubungan-hubungan adat istiadat kewarisan, kekeluargaan, kekerabatan dan ketetanggaan serta menyangkut upacara-upacara adat dan keagamaan.2 Pada masyarakat kekerabatan adat yang patrilinial, perkawinan bertujuan meneruskan garis keturunan bapak, sehingga anak laki-laki (tertua) harus melaksanakan bentuk perkawinan ambil istri, dimana setelah terjadinya perkawinan istri ikut dalam kekerabatan suami dan melepaskan kedudukan adatnya. Sedangkan pada kekerabatan adat matrilinial, perkawinan bertujuan mempertahankan garis keturunan ibu, sehingga anak perempuan (tertua) harus melaksanakan perkawinan mengambil suami dimana setelah terjadinya perkawinan seorang suami harus ikut dalam kekerabatan istrinya dan melepaskan kedudukan adatnya. 3 Dari sistem kekeluargaan adat tersebut akan mepengaruhi juga pada sistem kewarisan adat.

Menurut Soepomo, hukum adat waris memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses penerusan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak termasuk harta benda dari suatu angakatan manusia kepada turunananya. Ter Haar menyebutkan bahwa hukum adat waris meliputi peraturan–peraturan hukum yang bersangkutan dengan proses yang sangat mengesankan serta yang akan selau berjalan tentang penerusan dan pengoperan kekayaan meteril, dan imateril dari satu generasi ke generasi turunannya. Wirjono Projodikoro mengungkapkan bahwa warisan adalah soal apakah dan bagaimanakah pelbagai hak-hak dan kewajiban tentang kekayaan seseorang pada waktu ia meninggal dunia akan beralih kepada orang lain yang masih hidup. Dari berbagai pengertian tentang kewariasan tersebut dapat disimpulkan bahwa: 1. Kewarisan menurut hukum adat adalah suatu proses mengenai pengoperan dan penerusan harta kekayaan, baik yang bersifat kebendaaan maupun bukan kebendaaan. 2. Pengoperan dan penerusan itu dilaksanakan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Dalam hukum kewarisan adat yang ada di Indonesia, kita akan menjumpai tiga sistem kewarisan yaitu: 4 1. Sistem kewarisan individual adalah suatu sistem kewarisan dimana harta peninggalan dapat di bagi-bagikan dan dapat dimiliki secara individual di antara para hali waris. Sistem ini dianut dalam adat masyarakat parental antara lain di jawa. 2. Sistem kewarisan kolektif adalah suatu sistem kewarisan dimana harta peninggalan diwarisi oleh sekelompok waris yang merupakan persekutuan hak, harta tersebut merupakan pusaka yang tidak dapat di bagikan kepada para ahli waris untuk dimilikiki secara individual. Misalnya harta dalam masyarakat matrilineal di Minangkabau, dan dalam batas tertentu terdapat juga dalam masyarakat parental di Minahasa (terhadap barang kalakeran), demikian pula dalam masyarakat dalam masyarakat patrilineal di Ambon (terhadap tanah dati).

3. Sistem kewarisan mayorat, adalah suatu sistem kewarisan di mana pada saat wafat pewaris, anak tertua laki-laki (di Bali dan di Batak), atau perempuan (di Sumatera Selatan, Tanah Semendo dan Kalimantan Barat, dan Suku Dayak), berhak tunggal mewarisi seluruh atau sejumlah harta pokok dari harta peninggalan. Sistem in dibagi 2 bagian:5 a. Mayorat laki-laki, yaitu apabila anak laki-laki tertua/sulung (keturunan laki-laki) yang merupkan ahli waris tunggal dari si pewaris. Misalnya pada masyarakat Lampung, Bali, dan lain-lain. b. Mayorat perempuan, yaitu apabila anak perempuan tertua yang merupakan ahli waris tunggal dari si pewaris. Dalam hukum kewarisan adat terdapat penggolongan ahli waris yang tersusun secara hirarkis. Dimana kelompok yang utama adalah anak dan keturunannya, kelompok yang kedua adalah orang tua pewaris, dan kelompok yang berikutnya adalah saudara sekandung pewaris beserta keturunannya, kelompok yang berikutnya adalah orang tua dari pewaris yaitu kakek dan nenek, sedangkan kelompok yang terakhir adalah anak dari kakek dan nenek pewaris, paman bibi dan ketrurunannya. Dalam hukum kewarisan adat berlaku aturan bahwa apabila kelompok pertama ada, maka akan menghalangi kelompok yang berikutnya. Sehingga disini hakikatnya adalah hanya anak keturunan saja yang yang merupakan ahli waris. Jika kelompok yang pertama tidak ada sama sekali barulah kelompok yang kedua berhak atas harta warisan tersebut. Pada dasarnya hukum kewarisan adat bersendi atas prinsip yang timbul dari aliran pikiran yang komunal dan konkrit dari kepribadian bangsa indonesia. Karena ada sifat yang komunal dalam hukum waris adat inilah yang mengakibatkan tidak di kenalnya bagian-bagian tertentu untuk para ahli waris. Sehingga dalam proses pembagiannya selalu mengutamakan sifat dan rasa persamaan yang tinggi di antara ahli waris dalam penerusan dan pengoperan harta warisan, namun tidak menutup kemungkinan adanya suatu keadaan yang istimewa dari sebagian ahli waris untuk mendapatkan pertimbangan khusus, misalnya jika seorang ahli waris yang kesadaannya cukup baik dan tidak merasa keberatan untuk melepaskan sebagian ataupun seluruh haknya untuk di berikan kepada ahli waris yang lain yang keadaannya kurang dan lebih memerlukan harta peninggalan orang tua secara layak. Hukum waris adat yang baersifat komunal juga dapat mengakibatklan bahwa suatu barang warisan tidak dapat dinilai dengan sejumlah uang dan setiap saat dapat dibagi-bagikan berupa pecahan-pacahan menurut ilmu hitung, dan ada juga harta peninggalan yang hanya dapat di warisi oleh orang tertentu dan dengan cara tertentu pula contohnya adalah barang warisan yang di anggap keramat dan hanya dapat di warisi oleh keturunan yang memiliki persyaratanm tertentu. Sifat yang komunal itu tampak terjadi misalnya pada peristiwa tidak di bagikan harta peninggalan jika para ahli waris sebagai satu kesatuan atau seluruhnya masih memerlukan harta itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, walaupun ada ahli waris yang menghendaki agar harta peninggalan tersebut di bagikan. Di daerah Minangkabau terlihat juga adanya harta pusaka yang selama kesatuan ahli waris masih hidup tidak di bagi-bagikan kepada para anggota kesatuan ahli waris dimana para anggotanya hanya mempunyai hak untuk menguasai dan mengambil manfaatnya selama hidup. HUKUM KEWARISAN DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM Menurut Kompilasi Hukum Islam Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.6 Dalam rumusan Kompilasi Hukum Islam ( selanjutnya disebut KHI ) ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.7

Dalam Kompilasi Hukum Islam diatur mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan : a. Besarnya Bagian Ahli Waris ( pasal 176-191 ). b. Tentang Auld an Rad ( pasal 192-193 ) c. Wasiat ( pasal 194-209 ) d. Hibah Dalam penyusunan Kompilasi Hukum Islam, ada beberapa hal yang menjadi catatan beberapa orang yang dirasakan kurang lengkap. Misalkan saja, dalam hal waris persoalan agama menjadi sangat esensial sehingga harus ada penegasan bahwa perbedaan agama akan menghilangkan hak waris, namun mengnai hal ini tidak diketemukan dalam Kompilasi Hukum Islam.8 KHI hanya menegaskan bahwa ahli waris beragama islam pada saat meninggalnya pewaris.9 Untuk mengidentifikasi seorang ahli waris beragama islam, terdapat pada psl 172. Disamping itu juga dalam KHI tidak dicantumkan murtad seseorang menjadi penghalang utama untuk menjadi ahli waris. Adapun porsi perbandingan pembagian warisan antara bagian wanita dan laki-laki masih dipertahankan secara ketat perbandingan dua berbanding satu. Walaupun ketentuan warisan telah dicantumkan dalam Kompilasi Hukum Islam, namun keinginan-keinginan untuk memperbaharui KHI ini masih tetap ada dikalangan ulama, cendikiawan dan para pemikir islam. SUMBANGAN HUKUM WARIS ADAT TERHADAP PEMBAHARUAN HUKUM WARIS ISLAM DI INDONESIA Problematika yang ada di masyarakat dari hari ke hari semakin bertambah, sementara turunnya ayat-ayat al-qur?an telah berhenti semenjak zaman Rosulullah saw empat belas abad yang lalu. Akan tetapi keberadaan semangat alqur?an akan terus berkembang dari masa ke masa. Hukum Islam yang elastis dan dinamis memungkinkan untuk terjadinya pembaharuan pemikiran hukum islam demi kemaslahatan umat manusia. Indonesia sebagai Negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia mempunyai problematika yang unik. Dalam kehidupan masyarakat ada sebagian orang yang menggunakan sistem kearwisan adat, hukum kewarisan barat dan ada pula yang menggunakan kewarisan islam. Dalam hal ini adakah upaya pembaharuan hukum waris islam karena diilhami dari kebisaaan masyarakat tersebut? Dalam pembentukan hukum waris islam di Indonesia, kiranya kita tidak dapat memungkiri bahwa bangsa Indonesia adalah bangasa yang kaya akan adat istiadat yang sangat bermacam-macam dan dalam hukum adat itu telah mempunyai aturan atau ketentuan –ketentuan mengenai hukum kewarisan juga, sehingga perlu dalam pembaharuan hukum keawrisan islam di Indonesia hendaknya tidak mengesampingkan aturan kewarisan adat. Hal ini di karenakan masyarakat Indonesia masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat mereka yang merupakan warisan dari para leluhur mereka. Namun pengaruh hukum kewarisan adat dalam hukum kewarisan islam haruslah sesuai dan sejalan dengan ketentuan hukum islam, apabila hukum waris adat tidak sesuai dengan hukum islam, maka sudah seharusnya sistem hukum adat tersebut ditolak Hal inilah yang disebut dengan teori receptio a contrario yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku bagi masyarakat adalah hukum agamanya, hukum adat hanya berlaku kalau tidak bertentangan dengan hukum agama.10 Dengan adanya pembaharuan hukum waris islam di Indonesia diharapkan akan terbentuk suatu hukum waris yang dapat dilaksanakan oleh para pemeluknya atas dasar keadilan bagi semua pihak. Berikut ini mungkin akan di tuliskan sumbangan hukum waris terhadap beberapa pembaharuan-pembaharuan dalam hukum waris islam dan wacana-wacana kewarisan kontemporer yang sedang berkembang di Indonesia: 1. Wasiat Wajibah

Dalam realitas kehidupam masyarakat, adakalanya pewaris hidup dengan orang yang bukan keluarga atau keturunannya sendiri. Misalkan saja dia hidup dengan anak angkat atau orang tua angkatnya. Dalam sistem kewarisan islam tidak diatur bagian untuk anak angkat. Hal ini akan menjadi sedikit problem, manakala dalam pembagian warisan nanti, si anak angkat atau orang tua angkat yang telah sekian lama tinggal, mengurus dan merawat si Pewaris tidak mendapatkan apa-apa dari harta warisannya. Secara etis, seharusnya si pewaris memberikan jatah sebagian hartanya kepada anak angkat atau orang tua angkatnya tersebut. Salah satunya dengan diberlakukannya wasiat wajibah. Dalam hukum adat, seorang anak angkat atau orang tua angkat bisa saja menerima harta warisan dari harta peninggalan pewaris. Bahkan dikenal adanya sistem pengganti waris.11 Adapun Kompilasi Hukum Islam ( KHI ) juga telah mengakomodir ketentuan wasiat wajibah terhadap anak angkat atau orang tua angkat. Hal ini terdapat dalam pasal 209 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Berkenaan dengan permasalahan tersebut, dirumuskan keseimbangan hak dan kedudukan antara anak angkat dengan ayah angkat dalam hubungan waris. Dalam ayat ( 1 ) dijelaskan: harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan pasal 176 sampai dengan pasal 193 KHI. Sedangkan terhadap orang tua angkat yang tidak menerima wasiat, diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta waris dan anak angkatnya.; kemudian ayat (2) berbunyi: terhadap anak yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta warisan orang tua angkatnya. Dalam hal ini, orang tua angkat dan anak angkat dapat saling mewarisi melalui modekasi wasiat wajibah sebanyak sepertiga dari harta warisan.12 Terdapatnya ketentuan dan pengaturan warisan bagi orang tua angkat dan angkat berdasarkan konstruksi hukum wasiat wajibah itu, menurut Abdullah Kelib, akan menjadikan hukum kewarisan islam selaras dengan nilai-nilai yang hidup dengan rasa keadilan yang sesuai dengan kesadaran hukum masyarakat. 13 Menurut para ahli, rumusan pasal 209 KHI dianggap pola baru yang dapat mendistribusikan harta kekayaan secara ma?ruf kepada orang yang bukan ahli waris. Sehingga dengan pola ini dapat mengakomodir pihak-pihak yang sangat berjasa pada pewaris tapi tidak tercantum dalam urutan ahli waris. Sebenarnya konsep wasiat wajibah seperti ini telah pula dianut dibeberapa negeri muslim seperti Mesir melalui kitab Undang-Undang Hukum wasiat mesir Nomor 71 tahun 1946. Sistem tersebut juga diadopsi oleh Suriah pada tahun 1953, Tunisia pada tahun 1957, dan Maroko pada tahun 1958, hanya saja dimaroko da Suriah aturan ini dibatasi hanya untuk anak laki-laki tidak untuk anak-anak perempuan. 2. Pemeliharaan Keutuhan dan Kesatuan Lahan Dalam pembagian kewarisan pada masyarakat adat. Biasanya terdapat budaya untuk menjual lahan hasil warisan kepada kerabatnya terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan supaya lahan-lahan yang mereka dapat dari nenek moyang mereka ( warisan ) tidak tercerai berai bahkan tidak untuk dijual kepada orang lain sehingga bisa saja suatu saat nanti mereka bisa saja membelinya lagi dari kerabatnya tersebut. Dalam hal ini KHI mengakomodir hal tersebut. Dalam pasal 189 ayat (1) dikatakan, bila harta warisan yang akan dibagi berupa lahan pertanian yang luasnya kurang dari 2 (dua) hektar, supaya dipertahankan kesatuannya seperti semula, dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama para ahli waris yang bersangkutan. Bunyi ayat (1) pasal 89 KHI mendapat penegasan melalui ayat (2) yang berbunyi: “Bila ketentuan tersebut pada ayat (1) pasal ini tidak memungkinkan karena diantara para ahli waris yang bersangkutan ada yang memerlukan uang, lahan tersebut dapat dimiliki oleh seorang ahli waris atau lebih dengan cara membayar harganya kepada ahli waris yang berhak sesuai dengan bagiannya masing-masing. Apabila dilihat dari segi sosiologis, garis hukum baru tentang pemeliharaan keutuhan lahan tanah tidak terlepas dari kebijakan sosiologis pedesaan tentang administrasi komplek dalam bidang pertanian. Mengingat lahan itu merupakan unsur yang samgat inti dan pokok dalam teknologi pertanian, upaya pengembangan dan peningkatan pertanian tidak dpat terlepas dari kondisi dan wilayah itu sendiri. Dengan sendirinya, apabila hanya dengan kekuatan

Sehingga cucu bisa mendapatkan bagian dari warisan tersebut. baik secara perorangan maupun secara bersama-sama. apabila diantara ahli waris ada yang yang benar-benar terdesak membutuhkan uang. Namun dengan adanya konsep ahli waris pengganti yang terdapat dalam KHI pasal 185 merupakan terobosan terhadap pelenyapan hak cucu atas harta warisan ayah apabila ayah lebih dahulu meninggal dari pada kakek. 18 Sehingga perumusan ahli waris pemgganti itu sangat beralasan. Namun rumusan hukum dalam pasal 189 ayat (1) KHI tidak bersifat kaku sebagai harga mati.17 Sebagai contoh. Lembaga ahli waris pengganti ini lebih cenderung sebagai semi platsvervulling (penggantian tempat) sebagai yang dikenal dalam BW dan Hukum Adat. Damai Dalam Pembagian Harta . Beliau menyebut konsep ahli waris pengganti dengan istilah Mawali. dan (5) asas yang menyatakan bahwa kewarisan ada kalau ada yang meninggal dunia. atau (b) dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang di ancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat. Hal ini sekaligus dapat menutup kekecewaan dari pihak-pihak tertentu. kedudukan cucu baik laki-laki maupun perempuan dalam ilmu faraid pada umumnya adalah sebagai ahlul warits dzaw al-arham apabila terdapat kelompok ahli warits dzam al-furudl atau ashabah. dia bukan menggantikan ahli waris yang lain. Karena kualifikasi ahli waris sudah mendapatkan kepastian hukum yang jelas melalui asas ijbari hukum kewarisan. 14 Untuk itu. diharapkan dapat melihara keutuhan dan hubungan harmoni dengan anggota keluarga. karena dapat memenuhi rasa keadilan dan kemanusiaan dalam lingkungan komunitas keluarga. Karena kemungkinan dan peluang untuk tidak dapat memelihara keutuhan dan kesatuan lahan tersebut sangat terbuka. 3. akan mengalami kesulitan dalam melakukan pembinaan dan peningkatan produksi pertanian. Dalam KHI telah di sebutkan. (4) asas keadilan yang berimbang. Dr Hazairin SH di penghujung tahun 70-an. Adanya konsep ahli waris pengganti merupakan konsep asas keadilan yang berimbang di karenakan masalah cucu yang orang tuanya meninggal terlebih dahulu dari pewaris. Sementara dari segi persaudaraan. Dalam KHI pewaris pengganti di rumuskan kedalam pasal 185 dengan redaksi sebagai berikut” (1) ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada si pewaris maka kedudukannya dapat di gantikan oleh anaknya. adanya konsep pemeliharaan Keutuhan dan Kesatuan Lahan salah satunya didasarkan atas semangat kepentingan untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi dalam bidang pertanian. yang dipandang memiliki nilai tambah bagi kepentingan masyarakat secara menyeluruh. Wasit Aulawi merumuskan konsep ahli waris pengganti sebagai berikut : „menempatkan seorang ahli waris yang selama ini dipandang tidak atau belum berhak menerima harta warisan kedalam golongan ahli waris yang berhak menerima warisan.lahan pertanian yang sempit dan tercecer. (2) Bagian bagi ahli waris pengganti tidak boleh melebihi bagian ahli waris yang sedereajat dengan yang di ganti”. sedangkan diantara ahli waris yang lainnya tidak memiliki kemampuan membayar. Sehingga cucu tidak dapat menerima warisan dari kakeknya apabila ayahnya telah meninggal. Maka kiranya lahan bisa saja dijual kepada pihak lain yang mampu membelinya. Ahli Waris Pengganti Istilah ahli waris pengganti dalam hukum kewarisan islam Indonesia dipopulerkan oleh Prof. „garis pokok penggantian tidak ada sangkut pautnya dengan ganti mengganti. sebab penghubung yang tidak ada lagi bukan hali waris? 16 Ahli waris pengganti yang dimaksud adalah bukan mengangkat seseorang yang „bukan ahli waris? menjadi ahli waris. ahli waris pengganti adalah ahli waris yang “menggantikan” kedudukan seseorang yang telah meninggal lebih dahulu dari pewaris. 4. (2) asas bilateral (3) asas individual. menjadi masalah keadilan yang benar. Dalam Konsep mawali. Tiap–tiap ahli waris berdiri sendiri sebagai ahli waris. kecuali mereka yang tersebut dalam pasal 173 yaitu orang yang di hukum karena (a) di persalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pewaris. A. anaknya anak dan anaknya saudara ditempatkan sebagi pengganti dan kedua ahli waris langsung ( anak dan saudara ).15 Dalam KHI mempunyai beberapa asas dalam hukum kewarisan yaitu (1) asas ijbari. Dia hanyalah sebuah cara untuk menunjukkan siapa-siapa ahli waris. Menurut Hazairin.

dan antara saudara laki-laki sekandung dengan saudara perempuan sekandung – saudara laki-laki seayah dengan saudara perempuan seayah sebagi penyimpangan terhadap pasal 182 KHI. sehingga tidak akan terlihat adanya kesan “yang menang dan yang kalah”. Mereka beralasan. Munawir Syadzali menyebut hal tersebut sebagai penyimpangan langsung. putusan melalui media damai nampak lebih bersahabat. masing-masing mendapat bagian sama besar tanpa membedakan jenis kelamin 21 Munawir Syadzali dengan wacana tersebut bukan bermaksud untuk mengatakan konsep waris dalam alqur?an itu tidak adil. Munawir Syadjali MA. Memang dalam menyikapi hal tersebut perlu adanya sikap arif dan bijaksana pada semua ahli waris sehingga semua ahli waris bisa menerima bagiannya masing-masing tetapi mereka masih memikirkan keadaan kerabat lain yang mendapatkan bagian yang lebih kecil sedangkan beban hidupnya lebih berat. Wacana pembagian sama rata ( dengan mengacuhkan ketentuan 2:1 dalam al-qur?an ) merupakan wacana yang cukup radikal dalam wacana pembaharuan hukum waris. Beliau mengusulkan akan praktek pembagian warisan islam di reaktualisasikan dengan perbandingan sama besar. 5. Hal ini bisa juga memungkinkan pembagian warisan sama besar untuk semua ahli waris. yang dapat menentramkan dan menyejukan hati semua pihak. melainkan justru beliau menyoroti sikap masyarakat yang tampaknya tidak percaya lagi kepada keadilan hukum faraid.20 Prinsip perdamaian ( al-shulh ) telah mendapat pembenaran sebagai mana yang tercantum dalam al-qur?an surat al-Nisa (4): 127. sebagai penyimpangan dari pasal 176 KHI yang mengatur ketentuan anak laki-laki dan anak perempuan (2:1). dijadikan model penyelesaian alternatif. asalkan saja tidak dimaksudkan untuk mengenyampingkan ajaran. khususnya dalam hal mengenai warisan. Dengan demikian. pada kenyataan yang terjadi pembagian warisan dalam faraid tidak dijalankan malah cenderung untuk memakai hukum adat. Hal ini terjadi karena menurut beliau di masyarakat luas dan khususnya di daerah-daerah tertentu yang secraa note bone keagamaannya kuat. . Para jumhur ulama telah berpendapat bahwa ayat-ayat tentang waris merupakan ayat yang qoth?i dalalahnya. Wacana Pembagian Warisan Sama Rata. Karena itu sebagian ulama yang berpendapat seperti itu menyatakan bahwa ayat-ayat tentang waris harus dilihat konteks tulisan nya dan disesuaikan dengan semangat zaman. Akan tetapi dalam pembacaan suatu teks persepsi orang akan berbeda-beda. yang “superior dan Inferior”. Disamping itu. kerap kali para keluarga dalam menyelesaikan masalah warisnya cenderung pergi ke Pengadilan Negeri. Adapun praktek penyimpangan tidak langsung diantaranya budaya para keluarga yang mengambil kebijakan pre empitive dimasa hidup mereka telah membagikan sebagian besar dari kekayaan mereka kepada anak-anak mreka. masih dalam kawasan dzani dalalahnya. Boleh jadi dengan adanya perdamaian itu. dengan menggunakan hukum waris adat dapat membagikan harta warisan secara rata pada ahli waris. Dalam hal ayat-ayat waris sebagian ulama kontemporer memberikan kesempatan untuk berijtihad dalam kawasan ini karena mereka beranggapan hal tersebut masih bisa ditafsir ulang dan ini yang mereka maksud.22 Dalam paparan diatas.19 Dengan danya rumusan ini dapat memungkinkan adanya pembagian harta warisan dengan porsi yang sama secara matematis (1:1) diantara semua ahli waris melalui jalur perdamaian tersebut. Walaupin hal tersebut masih dalam tahap wacana yang belum terakomodir oleh Kompilasui Hukum Islam sebagai pijakan para hakim agama memutus permasalahan-permasalahan. ada inspirasi dari realitas masyarakat dilapangan yang menyebabkan kita perlu mengakomodir psinsip sama rata dalam hukum adat waris untuk pembaharuan hukum waris islam di Indonesia.Dalam Kompilasi Hukum Islam terungkap bahwa ahli waris dapat bersepakat untuk melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan setelah masing-masing menyadari bagiannya. Sosok yang paling terkenal dalam dalam hal wacana pembagian warisan sama besar antara laki-laki dan perempuan adalah mantan menteri agama H. Sehingga melalui perdamaian ini seorang kerabat bisa saja memberikan sebagian jatah warisnya untuk diberikan kepada kerabat perempuannya.

1995. hlm 78 9 Lihat Kompilasi Hukum Islam pasal 171 huruf c 10 H. Beberapa catatan Efektivitas Tentang Kompilasi Hukum Islam. Hukum Kewaeisan Bilateral Menurut Qur‟an dan Hadits. Bandung. Oyo Sunaryo Mukhlas.Si. S. 1994. M. 2005. 102 11 Soerodjo wingjoedipoero SH. Prospek Hukum: Islam dalam Kerangka Pembanguna Hukum Nasional Di Indonesia. 67 6 Lihat Kompilasi Hukum Islam pasal 171 huruf a 7 Lihat Kompilasi Hukum Islam pasal 171 huruf c 8 H. 22 5 P. hlm. Hilman Hadikusuma SH. Mohammad Daud Ali Hukum Islam: Pengantar Tata Hukum Islam di Indonesia.. 1992 hlm 16 14 Drs. Simanjuntak. Sejarah Perkembangan Hukum Islam. Dr Hazairin SH. Wasit Aulawi.hlm 8. Jakarta: Djambatan. 23 4 Ahmad Azhari Basyir. 2003. 164 12 Drs.H. SA SH. Yogyakarta: UII Press. Formulasi Kewarisan Dalam Kompilasi Hukum Islam. H. hlm. 93 18 Prof. Jakarta: Gunung Agung. Bandung: PPHIM Kantor Perwakilan Jawa Barat. Dalam Amrullah Ahmad ( ketua Tim ). hlm 326 . Pengantar Dan Asas-Asas. M. hlm.. Rosdakarya. Dalam Warta Hukum Dan Keadilan Edisi 4 JuliDesember 2003. 137 16 Ibid hlm. Oyo Sunaryo Mukhlas. 2003. Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia. 2004. 26 15 Prof . berkeadilan dan universal. Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundang-Undangan hukum adat dan Hukum Agama . hlm. hlm.Si.PENUTUP Permasalahan diatas merupakan beberapa contoh pembaharuan hukum waris islam di Indonesia yang secara langsung atau tidak langsung telah dipengaruhi oleh keadaan realita masyarakat Indonesia dengan hukum waris adatnya. hlm. 2003. hlm.24-25 17 A. Pokok-pokok Hukum Perdata Indonesia. Wallahu a‟lam Bishowab INDEX 1 Soerojo Wignjodipoero SH . hlm 27 13 Abdullah Kelib. 3 Ibid . hukum waris islam di Indonesia dapat dilaksannakan dengan semestinya dengan tidak adanya penyimpangan-penyimpangan terhadap hukum waris baik secara langsung ataupun tidak langsung.Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat.. Hukum Waris Islam. Perkembangan Teori Berlakunya Hukum Islam Di Indonesia Dalam Hukum Islam Islam Di Indonesia: Perkembangan Dan Pembentukan. 1991. hlm. Tentunya semua itu masih dalam koredor syari?ah dan masih berlandaskan semangat al-qur?an yang humanis.N.Jakrta : Rajawali Press. 161 2 Prof. Jakarta: PP IKAHA. Ichtijanto. Jakarta: Akademika Pressindo. Jakarta: Tintamas. Makalah dipresentasikan dalam Seminar nasional Permasyarakatan Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang KHI. hlm.H. Formulasi Kewarisan Dalam Kompilasi Hukum Islam. Yogyakarta. Abdurrahman SH MH. Sehingga dengan memperhatikan keadaan masyarakat Indonesia ( adat ).

Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundang-Undangan. 2003. Pokok-pokok Hukum Perdata Indonesia. 2003 Simanjuntak. Sirry ( editor ). Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia. Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat. Sirri.19 Lihat Pasal 183 Kompilasi Hukum Islam 20 Drs. Sejarah Perkembangan Hukum Islam. 1991 Kelib. Reaktualisasi Ajaran Islam Dalam Hukum Islam Di Indonesia Perkembangan dan Pembentukan. Hukum Kewarisan Bilateral menurut Qur‟an dan Hadits. 1991. 22 21 H. 2003 Hazairin. Perkembangan Teori Berlakunya Hukum Islam Di Indonesia. 2005. Wignjodipoero. hlm. 2004. Beberapa catatan Efektivitas Tentang Kompilasi Hukum Islam. 84 22 Mun?im A. Dalam Warta Hukum Dan Keadilan Edisi 4 Juli-Desember 2003. Hilman. Dalam Amrullah Ahmad ( ketua Tim ). Jakarta: Gunung Agung. Munawir.Dalam Hukum Islam Di Indonesia Perkembangan dan Pembentukan. M. 1982. Soerojo. Formulasi Kewarisan Dalam Kompilasi Hukum Islam. Bandung: Rosdakarya. 1995 Comments 360 1 Add NewSearch Write comment c3cc1ccf8f89460 . hlm. Hukum Waris Islam. Ichtijanto. Mun?im A( editor ).N. Bandung: Rosdakarya. hlm 167 DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. 1994 Basyir. Yogyakarta. Hukum Islam: Pengantar Tata Hukum Islam di Indonesia. 1992 Mukhlas. Jakarta: Paramadina. Bandung: Mandar Maju. P. Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis. Reaktualisasi Ajaran Islam Dalam Hukum Islam Di Indonesia Perkembangan dan Pembentukan. Prospek Hukum: Islam dalam Kerangka Pembanguna Hukum Nasional Di Indonesia. Oyo Sunaryo. Jakarta: Akademika Pressindo Aulawi. 2003 Hadikusuma. Bandung: PPHIM Kantor Perwakilan Jawa Barat. Ahmad Azhar. Jakarta: Tintamas. Oyo Sunaryo Mukhlas. Makalah dalam Seminar nasional „Permasyarakatan Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang KHI. Jakrta: Rajawali Press. Formulasi Kewarisan Dalam Kompilasi Hukum Islam. Bandung: Rosdakarya. Hukum Adat dan Hukum Agama. Munawir Syadjali MA. Yogyakarta: UII Press. Wasit A. Fiqih Lintas Agama Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis.Si. Jakarta: PP IKAHA. Muhamad. Jakarta: Paramadina. 2004 Syadjali. Jakarta: Djambatan. Daud Ali. Abdullah. 1991.H.

Powered by !JoomlaComment 3. 03 November 2011 05:21) Artikel Lainnya :  Tips Menjaga Wibawa Persidangan (20-10-2011)  Pembuktian Dalam Hukum Acara Perdata (17-10-2011)  Hukum Keluarga (13-10-2011)  Maksimalisasi Utilitas Website Pada Pengadilan Agama (13-10-2011)  Pengangkatan Anak di Pengadilan Agama (07-10-2011) .26 Pemutakhiran Terakhir (Kamis.

dan ke arah mana perubahan itu. hukum rakyat. politik hukum dan pemahaman para pengembannya. Bagi penganut Paham Etatis. sejak timbulnya senara nasional. maka secara struktural dan sistimatik ujud hukum adalah bersumber dan produksi dari negara secara terpusat termasuk organ negara di bawahnya. dan khusus di Indonesia – hukum “adat“1. Paham sentralisme hukum ini menempatkan posisi hukum adat tidak memperoleh tempat yang memadahi. pengacara. Pemahaman ini akan diketahui apakah hukum adat masih hidup . dimaknai hukum sebagai hukum negara yang berlaku seragam untuk semua pribadi yang berada di wilayah jurisdiksi negara tersebut. majemuk antara lingkungan masyarakat satu dengan lainnya. Zaman modern ditandai adanya sistem hukum nasional. hakim. dipengaruhi positivisme hukum dan teori hukum murni. Hukum Adat Dalam Perkembangan Hukum adat karena sifatnya yang tidak tertulis.politisi. sebagai kesatuan yang berlaku dalam seluruh teritorialnya. 2. Bagaimana tempat dan bagaimana perkembangannya hukum adat dalam masyarakat tergantung kesadaran. 1. maka di luar negara tidak diakui adanya hukum. paradigma hukum. Hukum Adat Dalam Perkembangan: Paradigma Sentralisme Hukum dan Paradigma Pluralisme Hukum. apakah sudah berubah.karena kuatnya liberalisme. yang mengklaim negara sebagai satu-satunya secara sentral sebagai sumber produksi hukum. sehingga tumbuh apa yang disebut sentralisme hukum (legal centralism). birokrat dan masyarakat itu sendiri. Hukum ada dan berlakunya tergantung kepada dan berada dalam masyarakat. Paham ini timbul dari warisan revolusi kaum borjuis dan hegemoni liberal. hukum adat. Ada banyak istilah yang dipakai untuk menamai hukum lokal: hukum tradisional. hukum asli. maka perlu dikaji perkembangannya.BAB I PENDAHULUAN. Menurut Max Weber . Paham Etatisme berujud sentralisme hukum. Etatis hukum timbul yang didasarkan pada teori modernitas yang memisahkan dan menarik garis tegas antara zaman modern dan zaman pra modern.

kedua dari bawah ke atas (bottom upwards) di mana hukum dipahami sebagai suatu lapisan kaedah-kaedah normatif yang hirarkis. digunakan sebagai kaedah pembenar oleh negara dalam mengukur kaedah yang berada di bawahnya. dari atas ke bawah (top downwards) di mana keberlakuannya sangat tergantung kepada penguasa (Bodin: 1576. Sentralisme hukum yang juga disebut hukum modern. nilai dasar yang sudah ada dalam masyarakat. hirarkis. agama atau ras tertentu. dalam arti penerapannya tidak terikat pada kasta. seluruh lapisan kaedah normatif ini baru dianggap sah keberlakuannya sebagai suatu aturan hukum jika sesuai dengan lapisan (norma. tehnik- . Hart: 1961). memposisikan hukum adalah sebagai kaedah normatif yang bersifat memaksa. Apa yang merupakan hukum ditentukan oleh legislatif dalam bentuk rumusan yang abstrak untuk kemudian melalui proses stufenweise konkretisierung (kongkritisasi secara bertingkat dari atas. pertumbuhan sistem hukum modern tidak dapat dilepaskan dari kemunculan industrialisasi yang kapitalis.ke bawah. kaedah ) yang di atasnya. pertama.yang memberikan rasionalitas dan prediktabilitas dalam kehidupan ekonomi. Hobbes: 1651. Khusus kaedah utama yang berada di puncak lapisan – disebut grundnorm. serta dapat berlaku. yaitu suatu kaedah dasar.dikutip David Trubrek dan Satipto Rahardjo. dan karenanya harus tunduk kepada negara beserta lembaga hukum negara. Beberapa di antaranya adalah: (1) hukum itu lebih bersifat teritorial daripada personal. Hukum modern yang dipakai di mana-mana di dunia sekarang ini pada intinya mengabdi dan melayani masyarakat industrikapitalis2 Kaedah hukum negara berada di atas kaedah hukum lain. ekslusif.3. (3) sistem juga rasional yang artinya. Maka hukum dan penalaran hukum yang berlangsung adalah sebagaimana William Twining menyebutnya sebagai proses a finite closed scheme of permissible justification. Austin: 1832) atau. berlaku seragam. Pemahaman ideologi sentralisme hukum. akhirnya hukum yang semula abstrak menjadi kongkrit. Sistem hukum yang dipengaruhi idiologi ini. dicirikan oleh beberapa sarjana: misalnya oleh Marc Galanter menyebut tidak kurang dari 11 karakteristik hukum modern itu. dari lapisan yang paling bawah dan meningkat ke lapisan-lapisan yang lebih tinggi hingga berhenti di puncak lapisan yang dianggap sebagai kaedah utama (Kelsen: 1949. (2) sistemnya diorganisir secara hirarkhis dan birokratis. Hans Kelsen). sistimatis.

ekssistensi hukum dikaitkan pada (kedaulatam) negara4. maka hukum lebih dilihat dari sudut kegunaan (utilitarian).pen) ini hukum memperoleh penyempitan makna. Sedangkan Lawrence M. profesional dengan standarnisasi yang ketat) . yang dipositipkan dalam bentuk peraturan dan yang bersumberkan dari negara dalam bentuk tertulis. agama). (5) hukum itu bisa diubah-ubah dan bukan merupakan sesuatu yang keramat – kaku. yang memerinci konsepsi hukum modern sebagai: (1) sistem peraturan-peraturan. sehingga hukum sebagai bebas nilai (value free). bahkan negara ultra-modern-neoliberal. (3) bersifat terbuka dan mengandung unsur perubahan yang dilakukan secara sengaja.dari nilai-nilai non hukum (etika. pada paham yang paling ekstrim adalah hukum harus dibebaskan – dimurnikan . lepas dari realitas dan nilai yang seharusnya sebagai substansi dan pendukungnya. yang membagi unsur sistem hukum dalam tiga macam: (1) Struktur. Trubek. (2) substansi dan (3) kultur. sehingga ia mencirikan hukum modern sebagai: (1) sekuler dan pragmatis. Friedman lebih dekat dengan pendapat David M. artinya merupakan bagian dari negara tetapi sekaligus juga terlepas daripadanya5. Sehingga Lawrence M. dengan didukung oleh para pengembannya (pendidikan hukum. Hukum jenis ini dewasa ini sangat dominan dan sebagai penopang negara penganut modern-liberal. tidak dari kwalitas formalnya. Friedman. maka hukum modern lebih tepat menggunakan tolok ukur kultur hukum. Idiologi sentralisme hukum inilah sebagai ibu kandung positivisme hukum yang sering disebut hukum modern. karena hukum semakin menjadi sesuatu yang otonom. Hal ini berakibat pada suatu keadaan hukum telah cacat sejak lahirnya. (2) berorientasi pada kepentingan dan merupakan suatu usaha yang dikelola secara sadar oleh manusia (enterprise). Pada posisi (sebagai hukum modern. moral. (2) berupa karya manusia dan (3) bersifat otonom. ini sebagai tragedi hukum.tehniknya dapat dipelajari dengan menggunakan logika dan bahan-bahan hukum yang tersedia dan (4) disamping itu hukum dinilai dari sudut kegunaannya sebagai sarana untuk menggarap masyarakat.

Menurut Satjipto Rahardjo sejak saat timbulnya hukum modern yang sentral dari negara.Sebaliknya yang berlawanan dengan paham sentralisme hukum adalah paham pluralisme hukum. implisit atau eksplisit. Kalaupun toh jenis-jenis hukum itu masih berlaku di sana sini. namun juga hukum adat hukum agama serta hukum kebiasaan. 2. Ada beberapa tipe pluralisme hukum. Pluralisme Lemah (J. maka mulai tergusurnya jenis hukum lain seperti hukum adfat dan kebiasaan lainnya. Pemahaman hukum (adat) tidak hanya memahami hukum adat yang dalam berada dalam komunitas tradisional. misalnya hukum adat atau hukum agama.Griffith 1986) atau Puralisme hukum hukum negara (Woodman 1995:9) menunjuk pada kontruksi hukum yang di dalamnya aturan hukum yang dominan memberi ruang. Esmi Warasih dalam pidato pengukuhan beliau sebagai guru besar bahwa. dengan mengkaji secara luas: 1. dengan masing-masing dasar legitimasi dan keabsahannya7. Paham pluralisme hukum menempatkan sistem hukum yang satu berada sama dengan sistem hukum lain. atau Pluralisme Dalam (Woodman) pluralisme hukum menunjuk situasi yang di dalamnya dua atau lebih sistem hukum hidup berdampingan.masyarakat pedesaan. yang disebut : Pluralisme Kuat atau Deskriptif (Griffiths. . maka itus emua terjadi karena “ kebaikan hati” hukum negara ( by the grace of state law)6. bagi jenis hukum lain.“Penerapan suatu sistem hukum yang tidak berasal atau ditumbuhkan dari kandungan masyarakat merupakan masalah. Kajian yang tidak lagi melihat sistem hukum suatu negara berupa hukum negara. tetapi juga hukum yang berlaku dalam lingkungan masyarakat lingkungan tertentu (hybrid law atau unnamed law). Tipe pertama disebut: Pluralisme Relatif (Vanderlinden 1989). khususnya di negara-negara yang sedang berubah karena terjadi ketidakcocokan antara nilai-nilai yang menjadi pendukung sistem hukum dari negara lain dengan nilai-nilai yang dihayati oleh anggota masyarakat itu sendiri8 Paradigma pemahaman hukum adat dan perkembangannya harus diletakkan pada ruang yang besar. Tipe kedua. Hukum negara mengesahkan dan mengakui adanya hukum lain dan memasukkannya dalam sistem hukum negara.

Sebaliknya perkembangan secara negative bagaimana hukum adat dikesampingkan dan tergeser atau sama sekali tidak berlaku oleh adanya hukum positif yang direpresentasikan oleh Negara baik dalam perundang-undangan maupun dalam putusan pengadilan. perundang-undangan.16 merekomendasikan beberapa hal dalam rangka pembentukan dan pengembangan hukum nasional Indonesia dan harus betul-betul mendapatkan perhatian yaitu hal-hal sebagai berikut: . artinya hukum adat akan dikaji secara positif dan secara negative. hingga kecocokannya untuk kehidupan kota modern mulai dipertanyakan. Dengan pemahaman holistik dan intregratif maka perkembangan dan kedudukan hukum adat akan dapat dipahami dengan memadahi. Hukum adat dalam tulisan ini dilihat sebagai suatu system. Perkembangan hukum secara positif artinya hukum adat akan dilihat pengakuannya dalam masyarakat dalam dokrin. dari hubungannya dengan hukum lain baik yang menguatkan maupun yang melemahkan dan interaksi perkembangan politik kenegaraan.3. berpendapat: bahwa tiap hukum merupakan suatu system. dalam yurisprudensi maupun dalam kehidupan masyarakat sehari hari. Sunarjati Hartono. Hukum adat dalam perkembangannya dewasa ini dipengaruhi oleh: Politik hukum yang dianut oleh Negara dan metode pendekatan yang digunakan untuk menemukan hukum adat. dilakukan secara kritis obyektif analitis. yaitu peraturan-peraturannya merupakan suatu kebulatan berdasarkan atas kesatuan alam pikiran9Dalam kaitan itu. Secara positif artinya hukum adat dilihat sebagai hukum yang bersumber dari alam pikiran dan cita-cita masyarakatnya. hukum nasional dan hukum lokal. disetujui Soepomo. maka adanya hubungan interdependensi antara hukum internasional. Memahami gejala trans nasional law sebagaimana hukum yang dibuat oleh organisasi multilateral. Secara negatif hukum adat dilihat dari luar. Sistem sesuai dikemukakan oleh Scholten. Maka studi hukum adat dalam perkembangan mengkaji hukum adat sepanjang perkembanganya di dalam masyarakat. Sebagaimana dinyatakan: hukum adat sebenarnya berpautan dengan suatu masyarakat yang masih hidup dalam taraf subsistem.

Hukum Nasional harus merupakan lanjutan (inklusif modernisasi) dari hukum adat. Maksudnya. Hukum nasional Indonesia bukan hanya akan berkisar pada persoalan pemilihan bagianbagian antara hukum adat dan hukum barat. adanya „the rule of law‟ cukup menolong. Pemahaman mengenai hukum adat selama ini.. namun belum mencukupi untuk melaksanakan pembangunan politik. Hukum 3. Pengertian Hukum Adat. yakni: the tendency to view the law of other cultures through the concepts and assumptions of Western. tapi tidaklah cukup untuk pembangunan ekonomi. aspek kultural.10 III. 3. Maknanya.. 2. hak atau kewajiban yang hendak diciptakan itu juga sesuai dengan tujuan kita untuk mencapai masyarakat yang adil dalam kemakmuran serta makmur dalam keadilan. jiwa dari kelima sila Pancasila harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia di masa sekarang dan sedapat-dapatnya juga di masa yang akan datang. hukum bukan hal penting yang utama. dengan pengertian bahwa hukum nasional itu harus berjiwa Pancasila.. Pusat kegawatan utama adalah pada campuran antara: sejarah negara yang unik. Padahal. bila meminjam istilah Spradley dan McCurdy (1975). yang terjadi. politik serta sumberdaya alam dan manusia. ialah adanya sikap legal ethnocentrism. dan negara berkembang akan beruntung bila mereka dapat mengembangkan variannya sendiri mengenai isi dari „the rule of law‟ (Tamanaha 1998). hukum modern (dalam hal ini state law) itu perlu. Selanjutnya. dan b) cenderung mengambil bentuk sistem hukum barat sebagai dasar dari penelaahan dan penyusunan kebijakan. aturan hukum yang baru itu secara substansial harus benar-benar memenuhi kebutuhan masyarakat. ekonomi. di antara kondisi minimum tersebut.11 Catatan penting yang dapat diberikan berkenaan dengan Law and Development tersebut ialah: .1. sikap legal ethnocentrism itu mengundang kritik. antara lain: a) cenderung meniadakan eksistensi dari hukum pada pelbagai masyarakat.12 . Pembentukan peraturan hukum nasional hendaknya ditentukan secara fungsional. melainkan harus terdiri atas kaidah-kaidah ciptaan yang baru sesuai dengan kebutuhan dalam menyelesaikan persoalan yang baru pula.

berdasarkan itu ia sering disebut Bapak Hukum Adat. hak ulayat atau pertuanan (beschikings-rechts). Istilah Hukum Adat atau adatrecht pertama kali digunakan pada tahun 1906. keselarasan. memahami dan mempelajari perkembangan hukum adat atau hukum adat dalam perkembangannya. Selanjutnya Teer Haar. . memperlihatkan keadaan (gestelheid). berdasarkan itu. orang Irlandia yang melakukan penelitian di Bengkulu. Mengkaji hukum adat dari berbagai sudut pandang. ia berpendapat ilmu hukum harus memenuhi tiga prasyarat. ia mengemukakan Teori Keputusan (beslissingenleer-theorie). pendekatan metodologis menjadi penting sekali untuk dapat melihat. Ia mengemukakan konsep hukum adat. kemudian diikuti oleh Muntinghe. Namun kajian secara sistimatis dilakukan oleh Snouck Hourgronye. dan hukum adat akan mampu menyesuaian dengan kebutuhan dan tuntutan dalam masyarakat yang akan terus berubah. dan ia sebagai peletak teori Receptie13. namun tetap menunjukkan apa yang disebut hukum adat. Kemudian dilanjutkan oleh van Vallenhoven dengan pendekatan positivisme sebagai acuan berfikirnya. ia dengan mendasarkan analisisnya pada Teori Keputusan yang dikemukakan oleh John Chipman Grey menyatakan. ia mempetakan Hindia Belanda (Indonesiasekarang) ke dalam 19 lingkungan hukum adat secara sistematik. yang pertama kali menggunakan istilah adatrecht (hukum adat). karakter hukum adat. seperti: masyarakat hukum atau persekutuan hukum (rechtsgemeenschap). dan (3) menemukan keajekannya (regelmaat). semasa dikuasai Inggris. Oleh karena itu pemahaman pengertian. Raffles. ketika Snouck Hurgronye menggunakan istilah ini untuk menunjukkan bentuk-bentuk adat yang mempunyai konsekwensi hukum15. semua hukum dibuat oleh hakim (Judge made law). ia memandang hukum adat identik dengan hukum kebiasaan14. lingkaran hukum adat (adatrechtskringen). keutuhan menentukan corak. sifat. Hukum adat sebagai hukum yang dibangun berdasarkan paradigma atau nilai-nilai: harmoni. (2) kelanjutan (veloop). akan menentukan bagaimana hukum adat dalam perkembangannya. yaitu: (1).Hukum adat dieksplorasi secara ilmiah pertama kali dilakukan oleh William Marsden (1783).

SH menegaskan rumusan Van Vallenhoven dimaksud memang cocok untuk mendeskripsikan apa yang dinamakan Adat Recht pada jaman tersebut bukan untuk Hukum Adat pada masa kini18. yang pertama kali menyebut hukum adat memberikan definisi hukum adat sebagai : “ Himpunan peraturan tentang perilaku yang berlaku bagi orang pribumi dan timur asing pada satu pihak yang mempunyai sanksi (karena bersifat hukum) dan pada pihak lain berada dalam keadaan tidak dikodifikasikan (karena adat)17. hukum yang hidup sebagai peraturan kebiasaan yang dipertahankan di dalam pergaulan hidup. Abdulrahman . Prof. Prof. sifatnya lebih nyata dilihat dan dipahami.termasuk hukum adat . Maka nilai ada beberapa tingkatan. yang menunjukkan aturan-aturan kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat yang tidak berbentuk peraturan-perundangan yang dibentuk oleh penguasa pemerintahan16. merumuskan Hukum Adat: Hukum adat adalah synomim dari hukum yang tidak tertulis di dalam peraturan legislative (statuary law). Nilai subsider berkenaan dengan kegunaan. atau orang-perorang. telah melalui penyaringan (sannering) oleh nilai-nilai primer. Soepomo. hukum yang hidup sebagai konvensi di badan-badan hukum Negara (Parlemen. Maka hukum lebih banyak ditujukan pada nilai-nilai sekunder yaitu nilai-nilai yang berguna untuk memecahkan persoalan kongkrit yang sedang dihadapi masyarakat. 2. Timbulnya nilai sekunder tersebut. baik di kota maupun di desa-desa19. Beberapa definisi hukum adat yang dikemukakan para ahli hukum. yaitu: 1. Dewan Propinsi dan sebagainya). 2. Nilai Primer merupakan nilai pegangan hidup bagi suatu masyarakat. keluhuran budi. kebersamaan dan lain sebagainya.Kluckhon mengemukakan: nilai merupakan “a conception of desirable” (suatu konsepsi yang diinginkan). keadilan. karena itu lebih berbicara hal-hal yang bersifat kongkrit. namun pendasaran pada nilai sekunder.sesungguhnya juga didasarkan pada nilai primer. antara lain sebagai berikut: 1.Van Vallenhoven. Hukum adat merupakan istilah tehnis ilmiah. . Nilai sekunder bisa berubah menyesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan dan menjawab persoalan yang ada dalam masyarakat. bersifat abstrak dan tetap seperti: kejujuran. Hukum .

agar dapat diketahui dan dipahami perkembangannya. Suroyo Wignjodipuro: Hukum adat adalah suatu kompleks norma-norma yang bersumber apada perasaan keadilan rakyat yang selalu berkembang serta meliputi peraturan tingkat laku manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. maka penetapan itu akan siasia belaka. . Sudjito Sastrodiharjo menegaskan: Ilmu hukum bukan hanya mempelajari apa yang disebut das sollen. di ladang-ladang dan di pasar-pasar hukum itu masih kokoh dan kuat. Sebaliknya seandainya telah diputuskan dari atas bahwa Hukum Adat harus diganti. Dengan kata lain memahami hukum adat harus dilakukan secara dinamik. Hukum adat merupakan species dari hukum tidak tertulis. komplek ini disebut Hukum Adat20 4. Seminar Hukum Adat dan pembinaan Hukum Nasional: Hukum adat diartikan sebagai Hukum Indonesia asli yang tidak tertulis dalam bentuk perundang-undangan Republik Indonesia. 5. Van Vallenhoven merumuskan: Jikalau dari atas (penguasa) telah diputuskan untuk mempertahankan Hukum Adat padahal hukum itu sudah mati. Prof. yang pada umumnya tidak tertulis yang oleh masyarakat dianggap patut dan mengikat para anggota masyarakat. jadi mempunyai akibat hukum. Hardjito Notopuro: Hukum Adat adalah hukum tidak tertulis. tidak dikodifikasikan dan bersifat paksaan mempunyai sanksi (dari itu hukum).3. hukum kebiasaan dengan ciri khas yang merupakan pedoman kehidupan rakyat dalam menyelenggarakan tata kedilan dan kesejahteran masyarakat dan bersifat kekeluargaan22. Soekanto.24 8. maka Prof. dan selaras antara atas – yang memutuskan – dan bawah yang menggunakan .23 7. yang bersifat hukum oleh karena ada kesadaran keadilan umum. yang disana sini mengandung unsur agama. padahal di desa-desa. yang merupakan genusnya25 Selanjutnya dalam memahami perkembangan hukum adat dalam masyarakat. tetapi pertama kali harus mengingat das sein. sebagian besar tidak tertulis. bahwa aturan-aturan/ peraturan itu harus dipertahankan oleh petugas hukum dan petugas masyarakat dengan upaya paksa atau ancaman hukuman (sanksi)21. maka hakim-pun akan sia-sia belaka26. 6. karena mempunyai akibat hukum (sanksi). Prof. Soeripto: Hukum adat adalah semua aturan-aturan/ peraturan-peraturan adat tingkah laku yang bersifat hukum di segala kehidupan orang Indonesia. merumuskan hukum adat: Komplek adat adat inilah yang kebanyakan tidak dikitabkan.

yang menurut Satjipto Raharjo. Azas perwakilan dan musyawaratan dalam sistem pemerintahan 5. kepentingan-kepentingan yang tidak terucapkan dalam hukum tertulis27. yang bersifat majemuk. 2. Sifat Corak Hukum Adat. akan tetap ada sebagai kelengkapan dari Hukum Nasional. menunjukkan berbagai macam hukum yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya di dalam masyarakat.Menurut Soepomo. namun ternyata dapat dilacak azas-azasnya. maka berkembang kemudian hukum yang hidup dalam masyarakat (living law) yang lazim dipergunakan untuk. Hukum adat berbeda dengan hukum bersumberkan Romawi atau Eropa Kontinental lainnya. Hukum adat bersifat pragmatisme –realisme artinya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang bersifat fungsional religius. 4. Sifat yang menjadi ciri daripada hukum adat sebagai 3 C adalah: . Azas persetujuan sebagai dasar kekuasaan umum. Azas Gotong royong. Hukum adat adalah suatu hukum yang hidup karena ia menjelmakan perasaan hukum yang nyata dari rakyat. 3. sehingga hukum adat mempunyai fungsi social atau keadilan social. yaitu: 1. Penyebutan Hukum Adat untuk hukum yang tidak tertulis tidak mengurangi peranannya dalam memberikan penyaluran dari kebiasaan. Azas fungsi sosial hak miliknya. Azas azas Hukum Adat Hukum adat yang tumbuh dari cita-cita dan alam pikiran masyarakat Indonesia. Sifat Hukum Adat. Dalam berbagai seminar. 4.

hukum adat selalu ada dalam amsyarakat. Surnarjati Hartono sesungguhnya hendak mengatakan bahwa hukum adat bukan khas Indonesia. sebagai dasar mengikatnya perbuatan hukum. artinya hukum adat sangat memperhatikan banyaknya dan berulang-ulangnya hubungan-hubungan hidup yang . yang berhubungan dengan pandangan hidup alam Indonesia.1. Riil perbuatan hukum dinyatakan sah bila dilakukan secara kongkrit bentuk perbuatan hukumnya. maka ketiga ciri dapat ditemukan dalam hukum yang berlaku dalam masyarakat agraris atau pra industri. Sunaryati Hartono. Sistem hukum itu diliputi oleh pikiran serba kongkrit. Corak Hukum Adat Soepomo29 mengatakan: Corak atau pola – pola tertentu di dalam hukum adat yang merupakan perwujudkan dari struktur kejiwaan dan cara berfikir yang tertentu oleh karena itu unsur-unsur hukum adat adalah: 1. dinamis dan plastis 1. yang 3. merupakan makluk dalam ikatan kemasyarakatan yang erat . Dinamis. tidak hanya di Asia tetapi juga di Eropa dan Amerika. Mempunyai sifat kebersamaan yang kuat . menyatakan28: Dengan perspektif perbandingan. Congkrete atau Nyata. Mempunyai corak magisch – religius. 3. 2. Statis. rasa kebersamaan mana meliputi sebuah lapangan hukum adat. kelenturan hukum adat sesuai kebutuhan dan kemauan masyarakat. 2. 2. Contant atau Tunai perbuatan hukum dalam hukum adat sah bila dilakukan secara tunai. artinya . Plastis/Fleksibel. karena hukum adat dapat mengikuti perkembangan masyarakat. 28/10/2008 klas F Djojodigoeno menyebut hukum adat mempunyai sifat: statis. namun dapat ditemukan juga di berbagai masyarakat lain yang masih bersifat pra industri di luar Indonesia. Commun atau komunal atau kekeluargaan (masyarakat lebih penting daripada individu). 3. menusia menurut hukum adat .

. 2. Menjadi tugas kalangan yang menjalankan hukum adat untuk banyak mempunyai pengetahuan dan pengalaman agar mengetahui berbagai kemungkinan arti kiasan dimaksud. Keagamaan (Magis-religeius). Ujudnya rumah gadang. artinya. sehingga kepentingan pribadi diliputi kepentingan bersama. artinya ia lebih mengutamakan kepentingan bersama.kongkret. kepatutan. dan keselarasan dalam hidup bersama. artinya perilaku hukum atau kaedah-kaedah hukumnya berkaitan dengan kepercayaan terhadap yanag gaib dan atau berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 3.hubungan-hubungan hukum dianggap hanya terjadi oleh karena ditetapkan dengan suatu ikatan yang dapat dilihat (atau tanda yang tampak). Sistem hukum adat mempergunakan hubungan-hubungan yang kongkrit tadi dalam pengatur pergaulan hidup. Artinya dalam lembaga-lembaga hukum adat diisi menurut tuntutan waktu tempat dan keadaan serta segalanya diukur dengan azas pokok. Tradisional. Dudu sanak dudu kadang yang yen mati melu kelangan (Jw). sebagai satu kesatuan yang utuh. Artinya dalam hukum adat kehidupan manusia selalu dilihat dalam wujud kelompok. Kebersamaan (Komunal). 2. Segala bentuk rumusan adat yang berupa kata-kata adalah suatu kiasan saja. yakni: kerukunan. 4. 3. Masyarakat sebagai keseluruhan selalu menjadi pokok perhatiannya. Moch Koesnoe mengemukakan corak hukum adat 30: 1. Pemberian kepercayaan yang besar dan penuh kepada para petugas hukum adat untuk melaksanakan hukum adat. artinya bersifat turun menurun. berlaku dan dipertahankan oleh masyarakat bersangkutan. Hukum adat lebih mengutamakan bekerja dengan azas-azas pokok . 4. tanah pusaka (Minangkabau) . Hukum adat mempunyai sifat visual. Hilman Hadikusuma mengemukakan corak hukum adat adalah: 1.

Musyawarah dan Mufakat. Ijab – kabul. . Oleh karena itu pola pikir dan paradigma berfikir adat sering masih mengakar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari sekalipun ia sudah memasuki kehidupan dan aktifitas yang disebut modern.4. Tidak dikodifikasi. . 8. nyata berujud. karena hukum hanya akan efektif dengan kultur dan corak masyaraktnya. Visual artinya dapat terlihat. terang dan tunai. 7. terbuka. Sifat dan corak hukum adat tersebut timbul dan menyatu dalam kehidupan masyarakatnya. jual beli serah terima bersamaan (samenval van momentum) 5. Terbuka dan Sederhana. Dapat berubah dan Menyesuaikan. 6.artinya jelas. Kongkrit/ Visual. tanpak.

Dengan titik tolak pendapat Koesnoe dan penjabaran Abdulrahman. Mengenai perkembangan baru dalam Hukum Adat. 2. diketengahkan teori Prof Koesnoe. maka penulis membuat tabulasi perkembangan hukum adat sebagai berikut: . Pengertian daripada Hukum Adat. Isi dan lingkungan kuasa atas orang dan ruang. 3. Kedudukan Hukum Adat.. yang menyatakan : bahwa perkembangan hukum adat itu mencakup : 1.BAB II PERKEMBANGAN HUKUM ADAT:PARADIGMA THEORI Hukum akan selalu menyesuaian dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat yang senantiasa terus berubah.

oleh Achid Masduki diharapkan mengarah kepada dan menjadi religiusrasional.Table: 1 PERKEMBANGAN PENGERTIAN HUKUM ADAT 1 2 Perkembangan awal Berkembang Adat yang mempunyai sanksi Segala keputusan-keputusan yang diambil penguasa adat dalam lingkungan masyarakat dan dalam hubungannya dengan ikatan structural masyarakatnya. atau hukum asli Indonesia perlu dirumuskan konsepnya secara jelas.agraris. konkrit. kontan yang bersifat tradisional. dengan skema. sebagai berikut: Ranah Genus Species Nilai Nilai Primer31 Nilai Sekunder Penyelesian Harmoni Rukun. patut. laras32 Corak hukum adat diubah dari relegio-magis. singkatnya hukum nasional bangsa kita atau hukum asli Indonesia 3 Setelah itu 4 Akhirnya Mencari pengertian baru mengenai hukum adat sebagai hukum nasional bangsa Indonesia. komun. keseimbangan individu dan masyarakat. maka guna memenuhi kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakatnya. Hukum Adat dilihat sebagai hukum yang lahir langsung dari pikiran dan cita-cita serta kebutuhan rakyat Indonesia. konsensual. Hukum yang lahir dari kepribadian bangsa Indonesia. dengan menyegarkan kembali pemahaman atas akar hakekat sumber hukum adat. abstrak33 .

sehingga diversitas isinya menjadi tampak berkurang Ditarik lebih jauh lagi yakni kepada azas-azas hukum adat. Diarahkan kepada nilai-nilai hukum yang hidup di dalam masyarakat. golongan masyarakat asli. timur asing tertentu Hukum yang membawa bentuk semangat kebangsaan Hukum Nasional Hukum Pancasila Table: 3 PERKEMBANGAN HUKUM ADAT ATAS LINGKUNGAN KUASA ATAS ORANG DAN RUANG 1 Perkembangan awal Diisi dalam taraf ilmu pengetahuan sesuai dengan waktunya. Semakin abstrak pengisiannya.Table:2 PERKEMBANGAN ATAS KEDUDUKAN HUKUM ADAT 1 2 3 4 Perkembangan awal Perkembangan Perkembangan selanjutnya Akhirnya Hukum untuk golongan tertentu. dengan ketentuan yang letaknya pada taraf kebiasaan dari golongan suku-suku yang ada Ditarik kepada pokok-pokok ketentuan yang abstrak. semakin lebih luas daya 2 Perkembangan 3 4 Perkembangan selanjutnya Akhirnya .

. maka hukum adat mampu berkembang sesuai dengan serta mengikuti kebutuhan dan perkembangan jaman. Artinya. maka bisa menggunakan pendekatan fungsional. Sumbangsih hukum adat misalnya dalam kontrak bagi hasil (bidang perminyakan). Dalam Perundang-undangan Perundang-undang merupakan produk formil hukum yang dibuat oleh badan yang berwenang. Hukum adat dengan ciri dan sifatnya serta unsur-unsur yang melekat dalam hukum tersebut.mencakup lingkungan kuasa atas orang dan ruangnya sehingga akhirnya berlaku secara Nasional Sumbangsih Hukum adat bagi pembentukan hukum nasional. Perkembangan hukum adat dalam dilihat dari substansinya dan melalui sumber-sumber hukum yang tersedia. muatan materi yang diatur dalam perundang-undangan adalah termasuk mengatur hukum yang bersumber pada hukum adat. adalah dalam hal pemakaian azas-azas. bidang hukum tanah dan hukum perumahan (khususnya rumah susun) dan azas pemisahan horizontal dapat digunakan dalam pembentukan hukum nasional. Hukum lalu menjadi kerangka bagi berlangsungnya berbagai proses tersebut sehingga tercipta suatu suasana kemasyarakatan yang produktif. 2. pranata-pranata dan pendekatan dalam pembentukan hukum34. Oleh karena itu substansi dan pengakuan hukum adat dapat tercermin dalam : 1. kehadiran hukum dalam masyarakat menjalankan fungsinya sebagai sarana penyalur proses-proses dalam masyarakat sehingga tercipta suasana ketertiban tertentu. Dalam Dokrin Prof Satjipto Raharjo: Hukum adat dalam hubungannya dengan industrialisasi.

work of the international organizations. guiding law that is welcomed and approved rather than imposed. Brussels.3. To improve and increase social coordination. pressure groups and other nongovernmental 7. of their relations. in Nouveaux itinéraires en droit. They are also often used by non-state actors such as 6. pp. On the problem of the network. 60. 2. à François Rigaux. What is the function of soft law for decentralized societies such 12. organizations (NGOs) to regulate the international dimension 8. negotiated. Publications des Facultés universitaires St-Louis. they now also cover some relations 5. and increasingly. some of today‟s normative processes involve the actors concerned directly. How can we explain this trend towards decentralisation in the production and application of law except as the result of a deeper crisis of authority in societies claiming to be egalitarian? “It may be possible to see in this relatively recent interest in soft law one of the new directions taken in law. between the actors directly involved. common law) 5. Hommage 1. for instance. Bruylant. “Éloge du „droit assourdi‟. De la pyramide au réseau? Pour une dialectique du droit. and the number of different actors using them. This coexistence of both pyramid and network corresponds to the move from legislation to regulation and from government to governance. as a way of achieving an idea of society that is shared with its subjects. As a legal phenomenon soft law should be seen as a network rather than a hierarchy in order to understand how it can both be “soft” and still retain the more traditional concept of law. and viewing it also. Dalam yurisprudensi. as we see in the international community. consideration 10. 1993. of the proliferation of soft law for international labour law in particular? . years. multinational companies. trade unions. in the case of the European Union. Dalam Hukum Lunak (Solf Law) Soft forms of regulation are applied both in international society and in societies at national or even regional level. The phenomenon of soft law has gathered pace over the last thirty 3. system. in democratic societies that are becoming increasingly complex and segmented”: Georges Abi-Saab. customary law. needs to be given to the role of soft law in today‟s international legal 11. Quelques réflexions sur le rôle de la soft law en droit international contemporain”. 59-68. 4. particularly in domestic law. 2 Although soft forms of regulation initially mainly governed the 4. see François Ost and Michel van de Kerchove. They embrace the trend towards decentralisation in the production and application of law and form part of a different theoretical model of legal positivism. As a result of this growing use of soft forms of regulation 9. through what is known as negotiated. 2002. between states. or rather a change of perspective. contract or private law. Kebiasaan ( covention. Brussels. even though they are not necessarily linked to the public sphere or to the institution of the state. and what are the consequences 13. p. moving away from the monolithic perception of law as a hierarchical instrument of constraint.

.

yang telah mengatur beberapa bidang. dimuat dalam Prasasti Raja Sanjaya tahun 732 di Kedu. dan ganti rugi. dimuat dalam prasasti Bulai Rakai Garung. adanya pembagian lembaga dan badan pemerintahan. Masa Majapahit. Setelah jatuhnya Majapahir. Mataran Muno. Hukum mengatur tentang peradilan perdata. antara lain: 1. Perintah Raja untuk menyusus aturan adat. Aturan aturan keagamaan. 4. maka . Pada masa Airlangga. Masa Majapahit beberapa inskripsi (prasasti) menggambarkan perkembangan hukum yang berlaku (hukum asli). di Kediri. 860. maka kerajaan Mataram sangat diwarnai oleh pengaruh Islam. 2.. Jawa Tengah. Hukum Pertanahan dan Pertanian ditemukan dalam Prasasti Raja Tulodong.BAB III HUKUM ADAT PERKEMBANGAN DALAM HUKUM POSITIVE DI INDONESIA 1. dalam prasasti Darmawangsa tahun 991. yang tersebar di seluruh nusantara. Hukum Asli Indonesia Hukum adat tumbuh dari cita-cita dan alam pikiran masyarakat Indonesia. Mengatur keagamaan dan kekaryaan. dimuat dalam prasasti Raj Dewasimha tahun 760. 3. Maka hukum adat dapat dilacak secara kronologis sejak Indonesia terdiri dari kerajaan-kerajaan. perekonomian dan pertambangan. penetapan pajak penghasilan yang harus dipungut pemerintah pusat. 5. pembangunan perdikan dengan hakhak istimewanya. tampak dalam penataan pemerintahan dan ketatanegaraan kerajaan Majapahit. 7. adanya penetapan lambang meterai kerajaan berupa kepala burung Garuda. Masa Sriwijaya. 784 dan prasasti tahun 919 yang memuat jabatan pemerintahan. 6. hak raja atas tanah.

Sikapnya tidak selalu tetap (tergantungan kepentingan VOC). karena tidak berkepentingan dengan pengadilan asli. dilakukan secara damai. 5. yang . VOC tergantung pada kebutuhan (opportuniteits politiek). 2. Peradilan Digrama yang memutus pelanggaran adat. bila : .dikenal peradilan qisas. Beberapa contoh tersebut di atas menunjukkan bahwa tatanan hukum asli yang telah berlaku di berbagai daerah. dan perkara lain yang tidak masuk peradilan agama. dikenal peradilan ‚padu‟ yaitu penyelesaian perselisihan antara perorangan oleh peradilan desa. perdagangan. hukum pidana adat diubah dengan pola Eropa. 4. hutang piutang.memberikan pertimbangan bagi Sultan untuk memutus perkara. dan membiarkan hukum adat tetap berlaku. maka di Cirebon dikenal : Peradilan Agama memutus perkara yang membahayakan masyarakat umum. Terhadap lembaga-lembaga asli. yang sekarang dikenal dengan nama Indonesia menunjukkan hukum bersumberkan pada masyarakat asli. dan Peradilan Cilaga adalah peradilan dalam bidang perekonomian. Politik Hindia Belanda Terhadap Hukum Adat. 2. Terhadap Hukum perdata diserahkan . VOC hanya mencampuri urusan perkara pidana guna menegakkan ketertiban umum dalam masyarakat. jual beli. Pada masa Dandeles. Di pedalaman. Pada awalnya hukum asli masyarakat yang dikenal dengan hukum adat dibiarkan sebagaimana adanya. 3. VOC tidak mau dibebani oleh persoalan administrasi yang tidak perlu berkenaan dengan pengadilan asli. namun kehadiran era VOC dapat dicatat perkembangan sebagai berikut: 1. baik berupa keputusan penguasa maupun hukum yang berlaku dalam lingkungan masyarakat setempat. Bersamaan itu.

Mada masa penjajahan Inggris (Raffles). dengan dibentuknya Wetboek van Strafrecht (WvS). Wetboek van Koopenhandel. Termasuk hukum perdata dan hukum dagang. Timur Asing dan Pribumi. atau peraturan perundangan lain. Perbuatan pidana bila dituntut berdasarkan atas hukum pidana adat dapat mengakibatkan si pelaku bebas. Perbuatan pidana yang dilakukan berakibat mengganggu kepentingan umum.1. atau dalam hal-hal bahwa bagi mereka berlaku peraturan perundangan semacam itu. Maka dalam perkembangannya terbentuklah unifikasi dalam pengaturan hukum pidana bagi golongan Eropa. Proses kodifikasi dan unifikasi. maka hukum yang berlaku dan yang diperlakukan oleh hakim pribumi (Inlandse rechter) bagi mereka itu . diberlakukan bagi golongan Eropa dengan Stb 1866:55 dan berlaku bagi Golongan Pribumi dan Timur Asing dengan Stb 1872:85 yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1873. Daendel tetap membiarkan sebagaimana adanya menurut hukum adat masing-masing35. sehingga yang dijadikan rujukan hukum adat adalah pasal 11 AB: Kecuali dalam hal-hal orang pribumi atau yang disamakan dengan mereka (orang timur asing) dengan sukarela menaati (vrijwillige onderwerping) peraturan-peraturan hukum perdata dan hukum dagang Eropa. Terkecuali untuk hukum sipil. reglemen op Rechtelejke Organisatie en het beleid de justitie (RO). tidak disangkutkan pengaturannya. maka hukum adat kecuali berkenaan dengan ketertiban umum dengan kodifikasi hukum pidana. Burgerlijke Wetboek. asal ketentuan hukum adat tidak bertentangan dengan: the universal and acknowledged principles of natural justice atau acknowledge priciples of substantial justice. ketika dimulainya politik unifikasi hukum dan kodifikasi hukum melalui Panitia Scholten. politik hukum adat tampak pada pemerintahan penjajahan Belanda. hal yang menonjol adalah adanya keleluasaan dalam hukum dan peradilan dalam menerapkan hukum adat. di antaranya: Alegemeene Bepalingen van Wetgeving voor Nederlands Indie (AB). Perkembangan hukum adat pada masa daendels bernasib sama dengan masa-masa sebelumnya yakni disubordinasikan hukum Eropa. Pada perkembangan lanjutan. 2. Ketentuan Umum tentang peraturan Perundang-undangan di Hindia Balanda. sebagi tiruan Belanda (1881) yang meniru Belgia.

adalah godsdienstige wetten. Namun demikian hukum dan hukum adat pada khususnya menurut karakternya. Pasal 11 AB. berlakukan azas konkordansi. Sukarela menaati peraturan peraturan perdata dan hukum dagang yang berlaku bagi golongan Eropa. yang memberlakukan hukum Belanda bagi golongan Eropa di Hindia Belanda. dan . adalah bukan masyarakat –dimana tempat memproduksi dan memberlakukan hukum adanya sendiri – melainkan adalah hukum lain yang dibuat oleh penguasa (kolonial). 2. sebagai hukum tertulis (statuary law) yang menunjukkan dianutnya paham Austinian. Hukum Adat Dalam Masa Kemerdekaan Merujuk pada pengertian hukum adat sebagaimana dikemukakan oleh Soepomo. ada 1. hukum dianggap ada bila diatur dalam undang-undang. Hukum adat memiliki karakter bersifat netral. Kebutuhan mereka memerlukan ketundukan pada hukum lain. kebiasaan hanya dapat disebut hukum apabila undang-undang menyebutnya. asal saja tidak bertentangan dengan azas –azas keadilan yang diakui umum. Melalui Pengadilan. Dengan demikian menjadi jelas yang membuat ukuran dan kriteria berlaku dan karenanya juga berkembangnya hukum adat. 2. maka hukum adat pembentukan dapat melalui Badan Legislatif. Pada masa ini. sebagaimana ternyata dalam pasal 11 AB dan pasal 15 AB tersebut. sebagaimana diatur pasal 15 AB (Alegeme Bepalingen van Vetgeving). 3. Kebutuhan hukum memerlukan ketundukan pada hukum perdata dan hukum dagang golongen Eropa. Hukum merupakan kesatuan norma yang bersumber pada nilai-nilai (values). kecuali: 1. bagi orang Indonesia asli dan bagi mereka yang dipersamakan dengannya. yang menyatakan: terkecuali peraturan-peraturan yang ada. volkintellingen en gebruiken. berkenaan dengan dengan hukum adat menunjukkan bahwa hukum adat berlaku bagi golongan penduduk bukan Eropa.

Pembukaan UUD 1945. Pada tataran praktis bersumberkan pada UUD 1945 negara mengintroduser hak yang disebut Hak Menguasai Negara (HMN). bahwa hukum adat disistimatisasi secara paralel dengan hukum-hukum barat37. yang akan secara nyata dalam perkembangan selanjutnya di masa kemerdekaan. . Pembedaan ini penting untuk dapat memahami pembentukan atau perubahan hukum yang akan berlaku dalam masyarakat. Hukum adat oleh ahli barat. Hukum Adat Dalam Konsitusi. Konstitusi kita sebelum amandemen tidak secara tegas menunjukkan kepada kita pengakuan dan pemakaian istilah hukum adat. Akibat pemahaman dengan paradigma barat tersebut.hal ini berakibat. Hukum netral – hukum lalu lintas36 . maka pembinaan dan perumusannya dalam hukum positif dilakukan melalui yurisprudensi. pola pikir dan hukum adat. Kedua. hal ini mencerminkan kepribadian bangsa. Namun bila ditelaah. yang hidup dalam nilai-nilai. maka hukum adat dipahami secara salah dengan segala akibat-akibat yang menyertai. a. Pasal 29 ayat (1) Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. dipelajari dari catatan catatan asli atau didasarkan pada hukum-hukum agama. pertama. Hak Pertuanan. Hukum adat memiliki karakter bersifat tidak netral karena sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai relegius. Pasal 33 ayat (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Sedangkan hukum adat yang erat kaitannya dengan nilai-nilai relegius – karena itu relative tidak mudah disatukan secara nasional. hukum adat dapat dipahami melalui bahan-bahan tertulis. maka dapat disimpulkan ada sesungguhnya rumusan-rumusan yang ada di dalamnya mengandung nilai luhur dan jiwa hukum adat38. yang memuat pandangan hidup Pancasila.2.adalah hukum yang relative longgar kaitannya dengan nilai nilai religius – susunan masyarakat adat . yang secara tradisional diakui dalam hukum adat. hal ini diangkat dari Hak Ulayat. perubahan hukum yang termasuk hukum netral mudah pembentukannya dan pembinaan hukum dilakukan melalui bentuk perumusan hukum perundang-undangan (legislasi). dipahami berdasarkan dua asumsi yang salah.

dan negara mengakui Tuhan sebagai penentu segala hal dan arah negara hanya sematamata sebagai sarana membawa manusia dan masyarakatnya sebagai fungsinya harus sebabtiasa dengan visi dan niat memperoleh ridho Tuhan yang maha Esa. adanya persatuan perasahaan antara rakyat dan pemimpinnya41.Dalam konsitusi RIS pasal 146 ayat 1 disebutkan bahwa segala keputusan kehakiman harus berisi alasan-alasannya dan dalam perkara harus menyebut aturan-atiuran undangundang dan aturan-aturan hukum adat yang dijadikan dasar hukum itu39 Selanjutnya dalam UUD Sementara. Pokok Pikiran ketiga adalah : negara mewujdukan kedaulatan rakyat. masyarakat memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian hakim harus menggali dan mengikuti perasaaan hukumd an keadilan rakyat yangs enantiasa berkembang. Maka hal ini termasuk di dalamnya hukum adat. artinya pemimpin harus menantiasa memahami nilai-nilai dan perasahaan hukum. yang disebut hukum nasional.Dalam hubungan itu maka ini mutlak diperlukan karakter manusia pemimpoin publik yanhg memilikiw atak berani. hal ini mengharuskan cita hukum dan kemasyarakatan harus senantiasa dikaitkan fungsi manusia. adil. Pokok pikiran keempat adalah: negara adalah berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. menjunjung kebenaran. Pokok pikiran ini sangat fondamental dan penting. . Dalam pasal 102 dan dengan memperhatikan ketentuan pasal 25 UUDS 1950 ada perintah bagi penguasa untuk membuat kodifikasi hukum.40 Dengan dekrit Presiden 5 Juli 1959. Maka azas-azas fungsi sosial manusia dan hak milik dalam mewujudkan hal itu menjadi penting untuk diwujdukan dan disesusikan dengan dengan tuntutan dan perekembangan amsyarakat. berdasar atas kerakyatamn danm permusyawaratan dan perwakilan. pasal 146 ayat 1 dimuat kembali. yaitu persatuan melipouti segenap bangsa Indonesia. berperasaan halus dan berperikemanusiaan42. perasaaan politik dan menjadikannya sebagai spirit dalam menyelenggarakan kepentingan umum melalui kepngambilan kebijakan publik. dengan tetap bersumberkan nilai primernya. ada 4 pokok pikiran dalam pembukaan UUD 1945. bijaksana. Hal ini berbeda dengan keadilan hukum. Pokok pikiran kedua adalah negara hendak emwujdukan keadilan sosial. hal ini mencakup juga dalam bidang hukum. maka UUD 1945 dimbali berlaku.

kecuali hukum adat dalam wujud sebagai hukum adat yang secara . 3. hukum adat diakui sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 18D ayat 2 menyatakan : Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara Kesatuan Republik Indonesia. Memahami rumusan pasal 18 d UUD 1945 tersebut maka: 1. Undang-undang Dasar 1945. Diatur dalam undang-undang Maka konsitusi ini. 5.Namun setelah amandemen konstitusi. Syarat Realitas. Sesuai dengan perkembangan masyarakat. 2. dan keberlakuan diatur dalam undang-undang. Hal ini tidak memberikan tenpat secara formil hukum adat sebagai sumber hukum perundang-undangan. dan 4. Konstitusi menjamin kesatuan masyarakat adat dan hak-hak tradisionalnya . yang diatur dalam undang-undang43. Jaminan konstitusi sepanjang hukum adat itu masih hidup. Syarat Idealitas. Ketetapan MPR. yaitu sesuai dengan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. 5. Peraturan Daerah. memberikan jaminan pengakuan dan penghormatan hukum adat bila memenuhi syarat: 1. Peraturan Pemerintah. 3. yaitu hukum adat masih hidup dan sesuai perkembangan masyarakat. maka tata urutan perundang-undangan: 1. Sesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. 2. Undang-undang/ Perpu 4. Hukum perundang-undangan sesuai dengan TAP MPR Tahun 2001.

Kecuali pengadilan desa seluruh badan pengadilan yang meliputi badan pengadilan gubernemenm badan pengadilan swapraja (Zellbestuurrechtspraak) kecuali pengadilan agama jika pengadilan itu menurut hukum yang hidup merupakan suatu bagian dari pengadilan swapraja. Pasal 1. adat tetap berlaku untuk kaula-kaula dan orang-orang itu dengan pengertian:  .perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana akan tetapi tidak ada bandingannya dalam KUHP Sipil maka dianggap diancam dengan hukuman yang tidak lebih dari 3 (tiga) bulan penjara dan/ atau denda lima ratus . b. Pasal 5 ayat (3) Sub b Hukum Materiil sipil dan untuk sementara waktu pun hukum materiil pidana sipil yang sampai kini berlaku untuk kaula-kaula daerah swapraja dan orang-orang yang dahulu diadili oleh pengadilan adat.formal diakui dalam perundang-undangan. . dan pengadilan adat (Inheemse rechtspraak in rechsreeks bestuurd gebied) kecuali pengadilan agama jika pengadilan itu menurut hukum yang hidup merupakan suatu bagian tersendiri dari pengadilan adat yang telah dihapuskan. yaitu sebagai hukuman pengganti bilamana hukuman adat yang dijatuhkan tidak diikuti oleh pihak terhukum.. ditegaskan.. kebiasaan.. dimuat dalam pasal 1 dan pasal 5. Hukum Adat Dalam UU Drt No. putusan hakim atau atau pendapat para sarjana. 1 Tahun 1951. Hukum adat dalam Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951..

peradilan agama dan peradilan desa (hakim perdamaian desa). yang mengakui dan menerapkan ketentuan-ketenuan persekutuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. kecuali hanya diselenggarakan oleh peradilan umum... disebutkan: 1. 2. dan. terdapat tanah ulayat tertentu yang menjadi lingkungan hidup para warga persekutuan hukum tersebut dan tempatnya mengambil keperluan hidupnya sehari-hari. Ketentuan tersebut berusaha untuk menghapus hukum pidana adat berikut sanksinya bagi pribumi dan orang-orang timur asing dengan peradilan pidana adat. pelaksanaan hak ulayat sepanjang pada kenyataannya masih ada dilakukan oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan menurut ketentuan hukum adat setempat.. maka hukum pidana adat sudah tidak mendapat tempat semestinya karena sangat dibatasi dalam politik hukum NKRI. 2. 3. terdapat tatanan hukum adat mengenai pengurusan penguasaan dan penggunaan tanah ulayat yang berlaku dan ditaati oleh para warga persekutuan hukum tersebut.maka dapat dikenakan hukuman pengganti setinggi 10 (sepuluh) tahun penjara. dengan pengertian bahwa hukum adat yang menurut paham hakim tidak selaras lagi dengan zaman..  Bahwa bilamana hukum adat yang dijatuhkan itu menurut pikiran hakim melampaui pidananya dengan kurungan atau denda. . terdapat sekelompok orang yang masih merasa terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum tertentu.5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian masalah hak ulayat masyarakat hukum adat. Dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Agraria/KBPN No. Hak ulayat masyarakat hukum adat masih ada apabila: 1. Bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum harus dianggap perbuatan pidana dan yang ada bandingannya dengan KUHP Sipil maka dianggap diancam dengan hukum yang sama dengan hukum bandingannya yang paling mirip dengan perbuatan itu. . Dengan demikian sejak dikeluarkan UU Drt Nomor 1 Tahun 1951.

karena dipengaruhi oleh lembaga-lembaga dan ciri-ciri hukum barat atau telah dimodifikasikan oleh sosialisme Indonesia sehingga yang tersisa hanyalah formulasinya (bajunya) saja47. yang kemudian dikontruksi kembali sebagai bentuk pelimpahan kewenangan negara dalam pelaksanaan dapat dilimpahkan kepada pemerintah di bawahnya. segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersumber pada hukum agama. air dan ruang angkasa ialah hukum adat. Hukum agraria hanya memberlakukan hal-hal tertentu saja daripadanya.Koesnoe menganggap hukum adat yang ada dalam UUPA telah hilang secara materiil. telah direduksi dengan tergantung kepentingan dan ditentukan oleh negara. Hukum adat yang dimaksud adalah adalah bukan hukum adat asli yang senyatanya berlaku dalam masyarakat adat. melainkan melainkan hukum adat yang sudah direkontruksi. dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan yang tercantum dalam undang-undang ini dan dengan peraturan undang-undang lainnya. yang menurut Moch. Maka Hak Ulayat dalam masyatakat adat yang semula bersifat mutlak dan abadi. disaneer45. 5 Tahun 1960 ditegaskan: hukum agraria yang berlaku atas bumi. sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara yang berdasarkan persatuan bangsa. . 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria. Hukum adat dalam UU Nomor 5 Tahun 1960 merupakan pengaturan yang sangat bersentuan langsung dengan masyarakat adat. Pereduksian dapat dilihat dalam kaitannya dengan kekuasaan negara48. Dalam Penjelasan Undang-undang disebutkan: Hukum adat yang disempurnakan dan disuaikan dengan kepentingan masyarakat dalam negara modern dan dalam hubungannya dunia internasional serta sesuai dengan sosialisme Indonesia. Ketentuan tersebut merupakan realisasi dari Tap MPRS II/MPRS/1960 Lampiran A Paragraf 402.3. hukum adat yang sudah: disempurnakan44. Adanya Hak Menguasai Negara (HMN). modern46 . Hukum Adat Dalam UU No. merupakan bentuk penarikan ke negara Hak Ulayat yang dimiliki oleh masyarakat adat atas tanah yang berada di wilayah Indonesia. Dalam pasal 5 UU No.

sebagaimana diatur pasal 22 ayat (1) UUPA: Terjadinya hak milik menurut hukum adat diatur dengan Peraturan Pemerintah. sehingga ia memiliki Hak Menikmati (genotrecht). menghapus51. yurisprudensi hukum. melemahnya hukum adat local dan . timbulnya hak atas tanah menurut hukum adat. selain merupakan keputusan pengadilan yang telah menjadi tetap dalam bidang hukum adat. menciptakan52 atau mengukuhkan hukum53 yang telah hidup dalam masyarakat. secara tehnis artinya peradilan tetap atau hukum.Akibat lebih jauh adalah. BAB IV PERKEMBANGAN HUKUM ADAT DALAM YURISPRUDENSI INDONESIA Yurisprudensi. yaitu dengan Hak Membuka Tanah (ontginningrecht) yang diberikan oleh ulayat. Yurisprudensi adalah putusan hakim (judge made law) yang diikuti hakim lain dalam perkara serupa (azas similia similibus). juga merupakan sarana pembinaan hukum adat. sekaligus dari yurisprudensi dari masa ke masa dapat dilacak perkembangan – perkembangan hukum adat. berasal dari kata bahasa Latin: jurisprudential. baik yang masih bersifat local maupun yang telah berlaku secara nasional. Yurisprudensi dalam praktek berfungsi untuk mengubah49. timbulnya hak milik melalui penunjukan rapat desa di Jawa Tengah (pekulen. kanomeran. dan memiliki hak terdahulu (voorkersrecht) atas tanah yang digarapnya. kacacahan). oleh UUPA direduksi dan disubordinasikan melalui peraturan pemerintah. memperjelas50. Dalam hukum adat. Perkembangan-perkembangan hukum adat melalui yurisprudensi akan memberikan pengetahuan tentang pergeseran dan tumbuhnya hukum adat. sesuai cita-cita hukum. norowito) dan Jawa Barat (kasikepan. kemudian putusan hakim itu menjadi tetap sehingga menjadi sumber hukum yang disebut yurisprudensi.

. Hukum adat antara lain bersandarkan pada azas: rukun.menguatnya hukum adat yang kemudian menjadi bersifat dan mengikat secara nasional. golongan masyarakat matrilineal dan golongan masyarakat parental (bilateral). patut. hal ini ditegaskan dalam yurisprudensi Mahkamah Agung-RI Nomor: 3328/Pdt/1984 tanggal 29 April 1986. berdasarkan sengketa adat yang dimbul di Pengadilan Kefamenanu. 1 Drt/1951“. dapat pula ditempuh melalui tuntutan pidana ig pasal 5 (3)b UU No. disamping melalui gugatan perdata tersebut di atas. Kaedah hukum selanjutnya: “Penyelesaian pelanggaran hukum adat. Bila dalam persidangan penggugat dapat membuktikan dalil gugatannya. maka hakim harus menerapkan hukum adat mengenai pasal tersebut yang masih berlaku di daerah bersangkutan. Dalam Putusan MA-RI Nomor 2898 K/Pdt/1989 tanggal 19 Nomember 1989. Nusa Tenggara Timur. laras. Menguatnya Kedudukan Keluarga Inti (Gezin) Golongan masyarakat adat di Indonesia terdiri dari golongan masyarakat patrilineal. Yurisprudensi tanggal 17 Januari 1959b Nomor 320K/ Sip/ 1958 sebagai berikut: 1. Dalam Perkembangannya ternyata semakin kuat dan diakuinya pergeseran system kekeluargaan dalam masyarakat adat matrilineal dan masyarakat adat matrilineal ke arah system parental atau bilateral. 2. Mahkamah Agung menegaskan: “ Dalam menghadapi kasus gugatan perdata yang fondamentum petendi dan petitumnya berdasarkan pada pelanggaran hukum adat dan penegasan sanksi adat. Si istri dapat mewarisi harta pencaharian sang suami yang meninggal dunia. setelah mendengar Tetua adat setempat“. Perkembangan hukum adat melalui yurisprudensi dapat dilacak dalam beberapa hal antara lain: 1. Prinsip Hukum Adat.

. Puncaknya adalah Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung No. Perkembangan hukum adat berikutnya adalah. Perkembangan selanjutnya janda sebagai ahli waris kelompok keutamaan. janda memiliki hak waris dari harta peninggalan suaminya. Anak yang belum dewasa dipelihara dan berada dalam pengampuan ibu. 3190K/ Pdt/`985. Kedudukan sama laki dan perempuan. 387K/Sip/1956 tanggal 29 Okt0ber 1958. kemudian timbul praktek pemberian hibah oleh suami kepada istrinya untuk melindungi dan mempertahankan kehidupan sosial ekonomi sepeninggal suaminya. Yurisprudensi Putusan MA No. Menguatnya Perlindungan kepada Perempuan Dalam Hukum Waris 1. terhadap harta gawan dan harta gono gini. Namun dalam perkembangannya diakui oleh yurisprudensi bahwa anak perempuan sebagai ahli waris almarhum orang tuanya. Selanjutnya janda sebagai ahli waris yang kedudukannya sama dengan ahli waris anak. Kedudukan Janda dalam Hukum Waris Perkembangan awal seorang janda bukan ahli waris. jika tidak memiliki anak. praktek demikian semakin lama semakin melembaga. ia jadi penghalang ahli waris saudara suaminya. 2. maka harta kekayaan anak dikuasai dan diurus oleh ibu. Karena anak berada dalam pengampuan ibu. Kedudukan anak Perempuan Dalam Hukum Waris Semula menurut hukum adat dalam masyarakat patrilineal. anak perempuan bukan ahli waris. 4. 3. dalam kenyataannya kemudian janda menjadi menderita sepeninggal suaminya. Janda dapat tetap menguasai harta gono gini sampai ia meninggal dunia atau kawin lagi. dan haknya sederajad dengan anak kandungnya. yang menutup ahli waris lainnya. tanggal 26 Oktober 1987. 3.2. janda sebagai ahli waris bersama-sama dengan anak-anak almarhum suaminya.

penjatuhan pidana semata-mata dilakukan untuk menetapkan hukumnya (verklaring van recht) berupa sanksi adat (adatreaktie). melainkan mengenal apa yang disebut lembaga pelepasan hak (rechsververking). maka lama kelamaan haknya akan menyurut dan puncaknya akan terlepas. mengadili perkara hubungan kelamin di luar perkawinan. Terang artinya transaksi peralihan hak atas tanah harus disaksikan oleh Pejabat Umum. Unsur kedua. Sulawesi Tengah. Dalam sistem hukum adat. Prinsip Pelepasan Hak Sebagai Dasar Timbul atau Hilangnya Hak Bukan Daluarsa Hukum adat tidak mengenal lembaga daluarsa. 4. 1/Drt/1951. seiring semakin renggangnya hubungan fisik antara pemilik dan tanah yang bersangkutan demikian juga sebaliknya. hal ini ternyata secara konsisten dipegang dalam yurisprudensi tentang jual beli tanah. 27/Pid/ 1983. suatu perbuatan melanggar hukum yang hidup. . 5. untuk mengembalikan hukum adat yang dilanggar. Misalnya PN Luwuk No. Hukum pidana adat mendapat rujukan berlakunya dalam pasal 5 ayat 3 UU No. artinya bila sebidang tanah dibiarkan. Perbuatan melawan Hukum.3. Tunai artinya jual beli tanah hanya sah bila berlangsung adanya pembayaran lunas dan penyerahan tanah pada saat yang sama. Prinsip-prinsip Jual Beli Tanah Jual beli tanah sah bila memenuhi syarat terang dan tunai. berdasarkan unsur pidana dalam pasal 5 ayat 3 sub b UU Drt 1/ drt/1951. Beberapa Yurisprudensi penting mengenai Hukum pidana adapt adalah: 1. sesungguhnya tidak ada pemisahan hukum pidana dengan hukum lain sebagaimana sistem hukum barat. Hukum Pidana Adat. yang unsurnya adalah: Unsur pertama. hakim memutus terdakwa melanggar hukum yang dihupo di wilayah banggai. perbuatan pelanggaran tersebut tidak ada bandingannya dalam KUHP.

intinya: Jika dua orang dewasa melakukan hubungan kelamin atas dasar suka sama suka yang mengakibatkan di perempuan hamil. yang menganggap perbuatan tersebut adalah perbuatan pidana. perbuatan yang dilakukan terdakwa dikatagorikan sebagai perbuatan zinah menurut hukum adat. Berdasarkan pertimbangan di atas Mahkamah Agung dalam diktum putusannya berbunyi: . merupakan bukti petunjuk bahwa laki-laki tersebut telah bersetubuh dengan wanita itu. Mengenai dakwaan primer. terdakwa telah bersetubuh dengan saksi korban sebagaimana dimaksud dalam dakwaan subsider. seorang laki-laki yang tidur bersama dengan seorang perempuan dalam satu kamar dan pada satu tempat tidur. dengan menambahkan bahwa. Putusan PT Palu No. Berdasarkan keterangan saksi korban dan adanya bukti petunjuk dari para saksi-saksi lainnya. untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat. harus ditetapkan suatu sanksi adat berupa pembayaran belis (biaya atau mas kawin) dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan (di kenal dengan nama Pualeu Manleu).Unsur ketiga. perbuatan pelanggaran tersebut masih tetap berlaku untuk kaula-kaula dan oarng-orang yang bersangkutan. dengan putusan No. mengenai pelanggaran adat serupa di daerah Kafemenanu. karena unsur barang dalam pasal 378 KUHP tidak terbukti de gan sah dan meyakinkan. Mahkamah Agung dalam putusan Nomor 3898K/Pdt/1989. Menurut Mahkamah Agung. Dalam perkara Nomor 854K/Pid/1983 tanggal 30 Oktober 1984. Perbuatan melanggar hukum adat Logika Sanggraha di Bali. tanggal 19 Nopember 1992. dengan demikian maka terdakwa harus dibebaskan datri dakwaaan primer ex pasal 378 KUHP. mamun diajukan secara perdata dengan gugatan. 666K/ Pid/ 1984 tanggal 23 februari 1985. dan si laki-laki tidak bertanggung jawab atas kehamilan tersebut. 6/Pid/1984 tanggal 9 April 1984 menguatkan putusan PN Luwuk. Mahkamah Agung berpendirian bahwa dakwaan ini tidak terbukti dengan sah . hakim memutuaskan terdakwa telah melakukan kejahatan bersetubuh dengan seorang wanita di luar nikah. 2. Mahkamah Agung.

Gadis tersebut menjadi hamil karenanya. Hukum adat pidana Logika Sanggraha di Bali Peswara Bali. Barang sesuatu yang melekat bersatu pada diri seseorang ( kemaluan) juga termasuk pengertian barang. 051/Pid. sehingga barang termasuk juga jasa. yang dalam bahasa Tapanuli dikenal dengan ” Bonda” yang artinya ” barang” yang tidak lain adalah ” kemaluan” . Sehingga bilama seorang gadis menyerahkan kehormatannya kepada pria. menempatkan organ tubuh peremuan sebagai barang. 3. maka telah terpenuhi unsur barang dalam pasal 378 KUHP. MA-RI Nomor 481 K/Pid/1986 tanggal 31 Agustus 1989 dari PN Ende Problematika organ tubuh wanita55.Rin/1988 tanggal 23 Maret 198854. Menghukum terdakwa dengan hukuman penjara dua bulan. 2. maka samalah artinya gadis tersebut menyerahkan barang kepada pri tersebut. Menyatakan terdakwa bersaklah terhadap dakwaan subsider melakukan tindak pidana adat Logika Sanggraha. Membebaskan terdakwa dari dakwaan primer. Putusan Pengadilan negeri Mataram NO. Solusinya diterapkan pasal 5 (3) b Undang-undang Drt Nomor 1 Tahun 1951 LN. merupakan suatu perbuatan seorang pria yang memiliki unsur-unsur: o o o bersetubuh dengan seorang gadis.1. 3. Barang ditafsirkan secara luas . Nomor 9 Tahun 1950 tanggal 13 Januari 1951. Dalam praktek kemudian banyak diikuti penegak hukum ( jaksa) Untuk menjerat seorang pria yang berhasil menyetubuhi gadis . Dengan penafsiran secara luas tersebut. beberapa kali diterapkan ketentuan pasal 378 KUHP. 4. Pengadilan mempertimbangkannnya telah menyebut pelanggaran terhadap hukum adat delik Nambarayang atau Nagmpesake. Pria tersebut tidak bersedia mengawini gadis tersebut sebagai istrinya yang sah. Dalam kasus serupa di pengadilan Negeri Medan Nomor 571/KS/1980 tanggal 5 Maret 1980 pernah diterapkan ketentuan pasal 378 KUHP dan dikuatkan oleh PT Nomor 144/Pid/ 1983 tanggal 8 Agustus 1983.

dalam kasus ini gadis tersebut berumur 20 tahun. berdasarkan perkara yang diputus pengadilan Negeri Pamekasan. 7. dan gadis menjadi korban yang merana seumur hidup. sehingga pria si pelaku dapat dipidana. MA menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: ” Penyesatan dengan sengaja .. Dalam putusan MA-RI Nomor 61 K/ Pid/ 1988 tanggal 15 Maret 199056. Unsur membujuk dalam kasus ini berupa : ” Janji terdakwa untuk mengawini gadis setelah keinginanya bersetubuh tercapai. padahal tentang belum cukup umurnya itu dihitung selayaknya harus diduganya. melainkan dengan melalui jalur delik adat zina ex pasal 5 (3) sub bUndang-undang Drt Nomor 1 Ytahun 1951 yang ada bandingannya dalam KUHP. penyelesaian tidak dapat menggunakan ketentuan pasal 378 KUHP. tidak ditepainya. yaitu pasal 381 KUHP. Penerapan delik pasal 293 KUHP Pria yang ingkar janji kawin. tetapi akhirnya pria ingkar janji. 6. menjadi yurisprudensi tetap 5. Bahwa batasan umur ” belum dewasa ” Mahkamah Agung tetap berpendirian seperti putusan sebelumnya.yang akan dikawini. Dalam Kasus ini ada beberapa hal yang patut dicatat: 1. membujuk seorang yang belum dewasa untuk melakukan perbuatan cabul. . 2. Sikap MA-RI terhadap persoalan tersebut sejak putusannya Nomor 93K/Ke/1976. gadis yang belum mencapai umur 21 tahun.

2006 hal 21 2 Satjipto Rahardjo. 3 4 Satjipto Rahardjo: Modernisasi Dan Perembangan Kesadaran Hukum Masyarakat. Kompas. Huma. 14. 5 Ibid. . 23 7 Op cit. hal 18. hal 28 8 Eman Suparman. 2003.SH. Sebuah Pendekatan Interdisipliner.. 9 Sorjono Soekanto. 5 tahun ( dua setengah tahun).24 3 Satjipto Rahardjo: Penafsiran Hukum Yang Progresif.3.1-6 Tahun X/ 1980. Jakarta 1979. Efika Aditama. bulan dan tahun. maka seharusnya: ” dua tahun enam bulan”. Kwalifikasi dirumuskan oleh judex factie (pertama maupun banding) dengan kata-kata : ” perempuan yang belum dewasa” sedangkan MARI merumuskan : ”seorang yang belum dewasa”. dalam : Anthon Freddy Susanto. Jakarta. Esmi Warassih Pujirahayu. Menururt psal 27 KUHP dengan menyebut banyaknya hari. hal 19 6 Satjipto Raharjo.MH: Semiotika Hukum. Sebuah Sketsa Genealogis dan Perdebatan Teoritis. 4. Bandung. 14 April 2001. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum Undip. Masalah Kedudukan dan Peranan Hukum Adat. ASAL USUL SERTA LANDASAN PENGEMBANGAN ILMU HUKUM INDONESIA (Kekuatan Moral Hukum Progresif sebagai das Sollen). 1 Keebet von Benda-Beckmann: Pluraisme Hukum. dalam: Pluralisme Hukum. Academica. No. FH Undip. 2003. Sisi-sisi Lain dari Hukum Di Indoensia.23. Diktum Putusan PT dijumpai perumusan hukuman : Pidana penjara selama 2. “Pemberdayaan Masyarakat Dalam Mewujudkan Tujuan Hukum (Proses Penegakan Hukum dan Persoalan Keadilan)”. Semarang. Jurnal Masalah-masalah Hukum.”. Ford Fondation. Dekontruksi Teks Menuju Progresifitras Makna.

SH : Hukum Adat menurut Perundang-undangan Republik Indonesia. Pustaka Rayat. 1984. Fakultas Hukum –Universitas Islam Indonesia. IhromiANTROPOLOGI INDONESIA 61. Jambatan. hal 18.Dr. Jakarta. 1983. Pergumulan Antara Hukum Islam Dan Adat Di Indonesia. hal 19. SH: Hukum Adat Menurut Perundang-undanga Republik Indonesia. Jakarta. MH. Kedududkan Hukum Adat di Kemudian Hari. Hukum adat Dan Realitas Kehidupan. hal 19 23 Ibid.1998. 18 Abdulrahman . Cendana Press. lihat juga Abdulrahman . 24 Ibid hal 19. hal 8 17 Van Vallenhoven. Cendana Press. Eman Suparman. T. 1998. hal 14. Orientasi Dalam Hukum Adat Indonesia. SH. Mandar Maju. Jakarta 20 Op cit Abdulrahman. ASAL USUL SERTA LANDASANPENGEMBANGAN ILMU HUKUM INDONESIA(Kekuatan Moral Hukum Progresif sebagai das Sollen 11 Hukum dan Kemajemukan Budaya: Sumbangan Karangan Untuk Menyambut Hari Ulang Tahun ke-70 Prof. Bandung. 2000 12 ibid 13 Hukum agama hanya dapat berlaku dan mengikat masyarakat sepanjang tidak bertentangan dan telah diresepsi ke dalam hukum adat. 2003. 38 16 Hilman Hadukusuma: Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia. 107.10 Dr. . 14 Otje Salman 15 Ratno Lukito. INIS. 25 Sudjito Sastrodiharjo. dimuat dalam : Hukum Adat dan Modernisasi Hukum. 1984.O. hal 24 27 Ibid hal 22. 26 Op cit. 21 Ibid hal 19 22 Ibid. hal 18 19 Soepomo. 17.

Sebelum Perang Dunia II. dalam : Soerjono Soekanto: Masalah Kedudukan Dan Peranan Hukum Adat. Sistem Hukum di Indonesia. hal 226 34 Ibid hal 175 35 36 Soerjono Soekanto menyebutnya sebagai “hukum lalu lintas”. SH.1998.Wiranata: Hukum Adat Indonesia. 41 Sesuai prinsip dalam falsafah Jawa: manunggaling kawulo-gusti.141 30 Dr. Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2004 – 22. 38 I Gede A. Peranan Hukum Adat Dalam Mengatasi Masalah Pemilikan pada Masyarakat Industri. UII. 2005.Soeroyo Wignjodipoero. hal 16 40 Pasal 25 ayat 1: penguasa tidak akan mengikatkan keuntungan atau kerugian kepada termasuk warga negara sesuatu golongan rakyat. Perkembangan dari Masa Ke Masa. ayat 2: Perbedaan dalam kebutuhan masyarakat dan kebutuhan hukum golongan rakyat akan diperhatikan. Academica. Jakarta.B.28 Sunaryati Hartono: Sumbangsih Hukum Adat bagi Perkembangan Pembantukan Hukum Nasional dalam M. 37 Otje Salman. Jakarta. selanjytnya ibid R Soerojo. M. Kuclon 32 Moh Koesnoe 33 Achid Masduki. 170 29 Soepomo. hal 40 39 R. Jogyakarta.cet 15 1997 hal 140. 44 Sudargo Gautama 45 Istilah Budi Harsono. Susadyo Wignjosubroto. Khundzalifah Dimyati. Pradnjaparamita. hal 24.Syamsudin et al Editor: Hukum Adat dan Mordernisasi Hukum.Hum: Teoritisasi Hukum: Studi Tentang Perkembangan Demikian Hukum di Indonesia 1945 – 1990. Hukum Adat Dan Modernisasi Hukum. 42 Trahing kusumo rembesing madu. Rekonsepsualisasi Hukum Adat. 31 Sujito Sosrodiharjo. dalam . Citra Aditya Bakti. 1979. . hal 22 43 Diatur dalam Amandemen Kedua Undang-undang Dasar 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 2000. FHUII.

51 Menghapus dalam hal hukum itu sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan masyarakat. 47 Prof. SH. 50 Memperjelas dalam hal hukum itu dalam peraturan perudang-udangan tidak jelas. Dr.46 Istilah yang digunakan oleh Prof Ko Tjai Sing. 49 Mengubah dalam hal hukum itu sudah tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat. 163 48 Ibid. 52 53 54 Varia Peradilan Nomor 39 Desember 1988 55 VP Nomor 55 April 1990 56 VP Nomor 65 Fanruari 1991 Diposkan oleh Caray .Otje Salman Soemadiningrat.HR.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful