BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Menikah adalah salah satu sunnah Rasulullah. Sejak dahulu hingga kini ritual ini tetap dilakukan oleh manusia. Bila seorang lelaki merasa cocok untuk mengarungi kehidupan bersama seorang perempuan yang dicintainya, pernikahan adalah solusinya. Tapi apakah bila merasa cocok mereka langsung menikah? Tidak adakah kewajiban lain sebelum menikah? Apa menikah hanya ditentukan oleh perasaan cinta, suka maupun setia? Perkawinan merupakan sesuatu yang mulia di dalam Islam. Malahan ianya sangat dituntut sehinggakan junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W sendiri menyatakan bahawa sesiapa yang tidak mengikut sunnahku maka bukanlah ia daripada umatku. Sunnah ini termasuklah perkawinan. Menurut ajaran Islam, anak adalah amanah Allah dan tidak bisa dianggap sebagai harta benda yang bisa diperlakukan sekehendak hati oleh orang tua.Sebagai amanah anak harus dijaga sebaik mungkin oleh yang memegangnya, yaitu orang tua. Anak adalah manusia yang memiliki nilai kemanusiaan yang tidak bisa dihilangkan dengan alasan apa pun. Adanya tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhan anak, menunjukkan bahwa anak sebagai sosok manusia dengan kelengkapan-kelengkapan dasar dalam dirinya baru mulai mencapai kematangan hidup melalui beberapa proses seiring dengan pertambahan usianya. Oleh karena itu anak memerlukan bantuan, bimbingan dan pengarahan dari orang tua.

B. Rumusan Masalah Adapun dalam makalah ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa pengertian anak dan keluarga? 2. Apa pengertian nasab? 3. Bagaimana hak dan kedudukan anak dalam keluarga?

1

BAB II PEMBAHASAN A. Anak adalah setiap orang di bawah usia 18 tahun. Keluarga adalah kesatuan masyarakat terkecil yang terdiri dari suami. Hukum perkawinan di Indonesia yang berlaku saat ini adalah UU No. dan anak yang berdiam dalam satu tempat tinggal. di antara hasil-hasilnya menyatakan bahwa. Pengertian Anak dan Keluarga Hukum kekeluargaan termasuk di dalam hukum perdata yang mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang timbul dari hubungan kekeluargaan.Yang dimaksud Perkawinan dalam UUP adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga/rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 129). 1/1974 tentang Perkawinan (disingkat UUP) yang menggantikan hukum perkawinan dalam Kitab UU Hukum Perdata.Ini pengertian keluarga dalam arti sempit.Keluarga dalam arti luas banyak terdapat dalam masyarakat kita.Selain itu. perwalian dan curatele. anak pada hakekatnya seorang yang berada pada satu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa.Majelis Umum PBB pada tanggal 20 November 1990 bertempat di New York menyelenggarakan Convention on the Rights of the Childs (CRC). anak juga mengandung pengertian sebagai manusia yang masih kecil. istri. hubungan antara orang tua dan anak. Ini pengertian keluarga dalam arti luas. kecuali berdasarkan hukum yang berlaku terhadap anak kedewasaan telah diperoleh sebelumnya. Apabila dalam satu tempat tinggal itu berdiam pula pihak lain sebagai akibat perkawinan. 2 . Burgelijk Wetboek (Staatsblad 1917 No. yaitu: perkawinan beserta hubungan dalam lapangan hukum kekayaan antara suami-isteri. Anak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai keturunan. maka terjadilah kelompok anggota keluarga yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan karena pertalian darah.

hubungan yang dibangun dalam fondasi yang mengedepankan kedekatan. Panggilan ya bunayya (wahai anakku) menyiratkan anak yang dipanggil masih kecil dan hubungan kedekatan dan kasih sayang antara orang tua dengan anaknya. Al-Qur’an juga menggunakan istilah thifl(kanak-kanak) dan ghulam(muda remaja) kepada anak. agar ia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang memiliki prinsip dan kepribadian yang teguh.Selain itu. anak sering disebutkan dengan kata walad-awlâd yang berarti anak yang dilahirkan orang tuanya.Berbeda dengan kata ibn yang tidak mesti menunjukkan hubungan keturunan dan kata ab tidak mesti berarti ayah kandung. orang tua harus memberikan pondasi keimanan. Pengetian Nasab Nasab adalah hubungan darah antara seorang anak dengan ayah dan ibu. yaitu jika si anak dilahirkan atas dasar perkawinan dan dalam kandungan tertentu yang oleh syara’ diakui 3 . tetapi disebut al-janin yang berarti almastur (tertutup) dan al-khafy (tersembunyi) di dalam rahim ibu. apalagi fase ghulâm (remaja) di mana anak mengalami puber. krisis identitas dan transisi menuju dewasa. laki . Al-Qur’an juga menggunakan istilah ibn pada anak.laki maupun perempuan. Kata al-walad dipakai untuk menggambarkan adanya hubungan keturunan. akhlak dan ilmu sejak kecil. secara semantis anak ibarat sebuah bangunan yang harus diberi pondasi yang kokoh. jika ada gejala kurang baik dapat diberikan terapi sebelum terlambat.Begitulah mestinya hubungan orang tua dengan anak.Sikap orang tua yang mencerminkan kebencian dan kekerasan terhadap anak jelas tidak dibenarkan dalam al-Qur’an. sehingga kata al-walid dan al-walidah diartikan sebagai ayah dan ibu kandung.Karenanya jika anak belum lahir belum dapat disebut al-walad atau al-mawlud.Kata ibn juga sering digunakan dalam bentuk tashghĭr sehingga berubah menjadi bunayy yang menunjukkan anak secara fisik masih kecil dan menunjukkan adanya hubungan kedekatan (al-iqtirab). B.Di dalam al-Qur’an. tunggal maupun banyak. kasih sayang dan kelembutan. yang menyiratkan fase perkembangan anak yang perlu dicermati dan diwaspadai orang tua. masih seakar dengan kata bana yang berarti membangun atau berbuat baik. besar atau kecil. karena sebab-sebab yang sah menurut syara’.

Secara klinis terbukti bahwa air susu ibu mengandung unsur-unsur penting dan vital yang dibutuhkan bayi bagi perkembangannya. Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam. 4 . dirumuskan beberapa pasal dalam UUD 1945 yang juga mencakup kewajiban Negara untuk memberi jaminan hukum kepada anak–anak.Dengan demikian. C. yaitu priode pertama ketika ia hidup. Bagaimana Hak Dan Kedudukan Anak Dalam Keluarga Falsafah bangsa dan dasar Negara republik Indonesia. Air susu ibu berdaya guna untuk memberikan segala kebutuhan bayi untuk tumbuh dengan sehat dan melindunginya dari berbagai penyakit.Seorang suami dapat menyangkal ataupun memungkiri keabsahan seorang anak yang lahir dari suatu pernikahan dengan li’an (sumpah) bahwa isterinya telah berzina dan anak itu akibat dari perzinaannya dan pengadilan atas permintaan pihak berkepentingan memutuskan tentang sah/tidaknya anak. Menurut Abdullah Al-Sayyid dalam bukunya mengatakan “Hak ini menunjukkan adanya perintah wajib yang harus dilaksanakan oleh para ibu untuk menyusukan anaknya. yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab (dalam hal ini terhadap anak sebagai generasi penerus cita–cita bangsa). yaitu keadilan sosial. Salah satu contoh dari hak nasab adalah hak penyusuan di mana setiap bayi yang lahir berhak atas susuan pada priode tertentu dalam kehidupan. setiap anak yang lahir langsung dinasabkan kepada ayahnya untuk lebih menguatkan perkawinan kedua orang tuanya.Hal ini secara khusus diwajibkan oleh sila kedua. mewajibkan kita untuk selalu bersikap dan berperilaku manusiawi. pancasila. Berkaitan dengan sila kedua dan jugasila kelima. atau sebagai akibat dari. yaitu air susu ibu (asi). sedangkan anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya. perkawinan yang sah atau hasil pembuahan suami isteri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh isteri tersebut.keabsahannya. Adalah satu fitrah bahwa ketika bayi dilahirkan ia membutuhkan makanan yang paling cocok dan paling baik untuknya.

Anak juga membutuhkan pelayanan yang penuh kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan tempat tinggal dan pakaian. Hak-hak anak sangatlah banyak di antaranya adalah sebagai berikut: 1. minuman. pada usia balita seorang anak belum mempunyai kemampuan. dan kesehatannya berarti akan menciptakan manusia-manusia yang sehat dan kuat jasmani dan rohaninya. Yang dimaksud dengan pemeliharaan di sini dapat berupa pengawasan dan penjagaan terhadap keselamatan jasmani dan rohani. Hak asuh bagi anak adalah agar dirawat dengan penuh kasih sayang. Oleh karena itu. 5 . pakaian dan kebersihan si anak pada priode kehidupan pertama (sebelum ia dewasa).Hak mendapatkan nafkah merupakan akibat dari nasab.Kewajiban orang tua yang harus dipenuhi dengan sungguh-sungguh adalah memenuhi hak-hak anak. 2. Dengan memperhatikan makanan. Dengan kasih sayang. yaitu nasab seorang anak terhadap ayahnya menjadikan anak berhak mendapatkan nafkah dari ayahnya. anak terhindar dari kesengsaraan hidup di dunia karena mendapatkan kasih sayang orang tuanya melalui pemberian nafkah tersebut.Nafkah terhadap anak adalah untuk kelangsungan hidup dan pemiliharaan kesejahtraannya.Dengan demikian. sehingga kehidupan mereka sangat tergantung pada orang lain yang dewasa. yaitu memperoleh pendidikan dan pemeliharaan untuk mengurus makan. Hak Mendapatkan Nafkah Anak berhak mendapatkan nafkah. Hak Pemeliharaan Anak berhak mendapatkan asuhan. minum. diperhatikan dan dipilihkan makanan dan minuman yang baik serta dilindungi dari berbagai penyakit demi kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan hidupnya. yaitu ibu dan bapaknya. yaitu pemenuhan kebutuhan pokok. anak dari segala macam bahanya yang mungkin dapat menimpanya agar tumbuh secara wajar. anak akan tumbuh dengan kepribadian yang sempurna dan sehat sehingga menghasilkan manusia-manusia yang baik.

sebaliknya ia harus mengarahkan anaknya untuk mempelajari ilmu yang akan mendekatkan anaknya kepada Allah dan kecintaan kepada kehidupan akhiratnya. Dalam membimbing anak. Seorang anak merupakan generasi penerus dari generasi sebelumnya. An-Nisa : 9). Sang ayah tidak boleh mengarahkan anaknya hanya untuk mempelajari ilmu dunia. generasi yang lemah akan mewariskan kelemahan kepada generasi berikutnya begitu juga dengan generasi yang kuat akan mewariskan kekuatan kepada generasi sesudahnya. kuat dari faktor psikologis maupun fisiologis. anak akan dapat mengembangkan potensi-potensi dan bakat yang ada pada dirinya. seorang ayah memiliki fungsi sebagai guru pertama sebelum sang anak dilepas kepada guru di sekolahnya. orang tua harus memahami alam pikiran anak dan harus mengerti kemampuan yang dimiliki anak. Seorang ayah terlebih dahulu harus membekali mereka dengan pemahaman yang benar. Dengan memenuhi hak anak atas pendidikan diharapkan akan menjadi generasi yang kuat yang dapat mewariskan kekuatan pada generasi berikutnya . oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendakalah mereka mengucpakan perkataaan ayang benar.Setiap generasi ke generasi akan memiliki pengaruh yang ditimbulkan dari generasi sebelumnya. Dalam pendidikan ilmiah. melainkan akhiratnya.3. mengarahkan kepada ilmu-ilmu syari’at yang bermanfaat. Sehingga ia akan menjadi generasi-generasi yang kuat. Ada bermacam-macam kegiatan bimbingan belajar yang dapat dilakukan oleh orang tua antara lain yang diungkapkan oleh Kartini Kartono sebagai berikut: 6 .Sebagai mana Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 9 sebagai berikut: Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-oarng yang seandainya meninggalakan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. memberikan semangat dalam belajar dan menuntut ilmu. orang tua perlu memiliki kesabaran dan sikap dan bijaksana. (QS. Dengan pendidikan. Hak Mendapatkan Pendidikan Orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi hak pendidikan atas anaknya.

kewarganegaraannya akan menentukan hukum yang berlaku baik mengenai hukum publik mau pun perdata. sehingga orang tua dapat mengetahui apakah anaknya menggunakan waktu dengan teratur dan sebaik-baiknya. dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Hal ini dapat mendorong anak untuk lebih giat belajar. Mengetahui kesulitan anak dalam belajar. Pengadilan dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat yang mampu menunaikan kewajiban orang tuanya. Asal-usul seorang anak hanya bisa dibuktikan dengan Akta kelahiran autentik oleh pejabat yang berwenang. buku tulis. Mengawasi penggunaan waktu belajar anak di rumah. 4. 2. Landasan kewajiban ayah menafkahi anak selain karena hubungan nasab juga karena kondisi anak yang belum mandiri dan sedang membutuhkan pembelanjaan. sehingga dapat membantu usaha anak dalam mengatasi kesulitannya dalam belajar. Menolong anak mengatasi kesulitannya. Terhadap anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan campuran. Orang tua mewakili anak mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan. buku-buku ini pelajaran dan tempat untuk belajar. yang dimaksud dengan fasilitas belajar di sini adalah alat tulis. Menyediakan fasilitas belajar. hidupnya tergantung kepada adanya pihak yang bertanggungjawab menjamin 7 . tempat tinggal.1. Mengawasi kegiatan belajar di rumah. dapat memperoleh kewarganegaraan dan dapat pula kehilangan kewarganegaraan.Apabila kedua orang tua anak tidak mampu. sepanjang ia tidak cacat fisik atau pun mental atau belum kawin. dengan memberikan bimbingan belajar yang di butuhkan anaknya. 3. Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri (dewasa) adalah 21 tahun. sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar. Ayah kandung berkewajiban memberikan jaminan nafkah anak kandungnya dan seorang anak begitu dilahirkan berhak mendapatkan nafkah dari ayahnya baik pakaian. jika akta autentik tidak ada maka asal-usul anak ditetapkan oleh Pengadilan berdasarkan pembuktian yang memenuhi syarat untuk kemudian dibuatkan akte kelahiran pada instansi pencatat kelahiran. sehingga dapat mengetahui apakah anaknya belajar dengan sebaik-baiknya.

karena si anak dalam memenuhi kebutuhan selama ayahnya menunggak tidak sampai berhutang karena ia mampu membiayai diri sendiri.Orang yang paling dekat dengan anak adalah ayah dan ibunya. Pihak ayah hanya berkewajiban menafkahi anak kandungnya selama anak kandungnya dalam keadaan membutuhkan nafkah. Seorang ayah yang mampu akan tetapi tidak memberi nafkah kepada anaknya padahal anaknya sedang membutuhkan. apabila ibu bertanggung jawab atas pengasuhan anak di rumah maka ayah bertanggung jawab mencarikan nafkah anaknya. akan tetapi jika anak tidak mempunyai dana sendiri sehingga untuk memenuhi kebutuhannya ia harus berhutang maka si ayah dianggap berhutang nafkah yang belum dibayarkan kepada anaknya. Menurut Wahbah al-Zuhaili. ibu bertanggung jawab di hadapan Allah menyusui anaknya ketika masih bayi hingga umur dua tahun. Dengan terpenuhinya lima kebutuhan ini. dengan resminya seorang anak menjadi anggota keluarga melalui garis nasab.nafkah hidupnya. hak hadlanah (pemeliharaan). si anak wajib menghormati orang tuanya dan wajib mentaati kehendak dan keinginan yang baik orang tuanya.Hak Radla’ adalah hak anak menyusui. Seorang ayah yang menunggak nafkah anaknya tetapi ternyata anaknya tidak sedang membutuhkan nafkah dari ayahnya maka hak nafkahnya gugur. yaitu: hak nasab (keturunan). Di sisi lain. 8 . ia tidak wajib menafkahi anaknya yang mempunyai harta untuk membiayai diri sendiri. Dengan hubungan nasab ada sederetan hakhak anak yang harus ditunaikan orang tuanya dan dengan nasab pula dijamin hak orang tua terhadap anaknya. hak walâyah (wali). baik masih dalam tali perkawinan dengan ayah si bayi atau pun sudah bercerai. dan hak nafkah (alimentasi). orang tua akan mampu mengantarkan anaknya dalam kondisi yang siap untuk mandiri. ada lima macam hak anak terhadap orang tuanya. dan jika anak sudah dewasa ia mengemban kewajiban memelihara orang tua serta karib kerabatnya yang memerlukan bantuan sesuai kemampuannya. dapat dipaksa oleh hakim atau dipenjarakan sampai ia bersedia menunaikan kewajibannya. hak radla’ (menyusui). ia berhak mendapatkan berbagai macam hak dan mewarisi ayah dan ibunya. Kelahiran anak merupakan peristiwa hukum.

Hak nafkah merupakan pembiayaan dari semua kebutuhan di atas yang didasarkan pada hubungan nasab. mengasuh dan mendidik bayi/anak yang masih kecil sejak ia lahir sampai mampu menjaga dan mengatur diri sendiri. Orang tua memiliki hak atas anak.Hak dan tanggung jawab adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. dan kepada kedua ibu bapaknya. hanya terkecuali jika keduanya memaksa menyekutukan Allah. sehingga ketika anak sudah dewasa dan mencapai umur empat puluh tahun memohonlah dia kepada Allah supaya menunjukinya untuk mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya selama ini dan untuk bersyukur (berterima kasih) kepada kedua orang tuanya seraya memohon kebaikan untuknya dan untuk anak cucunya di kemudian hari. hak untuk mendapat perlindungan dan hak untuk berpartisipasi. mengharuskan manusia berbuat kebaikan dan mentaati kedua orang tua. Walâyah disamping bermakna hak perwalian dalam pernikahan juga berarti pemeliharaan diri anak setelah berakhir periode hadlanah sampai ia dewasa dan berakal. mereka berhak menerima warisan jika anaknya meninggal terlebih dahulu. Al-Qur’an memerintahkan supaya anak memperlakukan orang tua dengan sebaik-baiknya. atau sampai menikah dan perwalian terhadap harta anak. ketika mereka sudah tua dan lemah berhak mendapatkan jaminan nafkah dari anaknya yang sudah mampu mencari nafkah sendiri.Jika digolongankan hak anak dapat diketagorikan dalam empat kelompok besar. ucapkan pada mereka perkataan yang mulia. Suatu akad nikah merupakan lambang kerelaan dan kesiapan suami isteri 9 . hak untuk tumbuh dan berkembang. anak memiliki hak dari orang tuanya dan orang tua dibebani tanggung jawab terhadap anaknya.Hadlanah adalah tugas menjaga. ibu yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah dan bertambah lemah serta menyapihnya (menyusui) selama dua tahun sehingga sepatutnya anak bersyukur kepada Allah swt. jika salah seorang atau keduanya berusia lanjut dalam pemeliharaan anak jangan sekali-kali mengatakan “ah” atau membentak. orang tualah yang menjadi sebab terlahirnya ia ke dunia. yaitu hak untuk hidup. Sebaliknya anak keturunan sudah semestinya berbuat baik dan berkhidmat kepada orang tuanya secara tulus. Allah swt. ibu mengandung dengan susah payah melahirkan dengan susah payah yang semuanya itu berlangsung berturut-turut selama tiga puluh bulan.

kekayaan dan keluarga yang besar adalah suatu ujian dan percobaan. anak adalah amanah Allah yang senantiasa wajib dipelihara. diberi bekal hidup dan dididik. sebagaimana firman Allah yang menyuruh orang beriman untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. tidak mustahil anakanak itu akan menjadi musuhnya.Begitu keluarga dikaruniai keturunan timbul berbagai hak dan kewajiban yang harus dipenuhi suami isteri demi kemaslahatan anak. akan timbul hak dan kewajiban antara suami isteri baik materil maupun non materil. Tujuan utama dari perkawinan adalah melestarikan keturunan. kepada orang tuanya.Orang tua bertanggung jawab agar anak tidak menyimpang dari nature dan potensi kebaikannya karena setiap anak dilahirkan dalam keadaan 10 .memikul segala konsekwensi yang diakibatkan oleh akad nikah. Anak disebut cobaan karena ia menjadi tolok ukur kualitas hidup dan kepribadian orang tuanya yang tercermin dari perlakuannya terhadap anak apakah membawa pada kebaikan atau keburukan. jika para orang tua gagal mendidik anak-anaknya. Sehingga dalam Islam anak juga disebut sebagai fitnah dan cobaan Allah SWT. Bahkan. sebagaimana pernyataan al-Qur’an kepada orang-orang beriman bahwa isteri-isteri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. maka berhati-hatilah terhadap mereka. Lahirnya anak di satu sisi merupakan nikmat karunia Allah. di sisi lain adalah amanah yang jika orang tua berhasil menjaga dan menjalankannya justru nikmat bertambah dengan anak yang saleh dan berbakti serta mendoakan orang tuanya. oleh karenanya anak menjadi bagian yang sentral dalam keluarga. Tanggung jawab orang tua tidak hanya terbatas pada segi fisik semata tetapi yang lebih penting adalah usaha peningkatan potensi positif agar menjadi manusia berkualitas. kelangsungan hidup anak baik jasmani maupun rohani sangat ditentukan oleh dapat tidaknya anak meraih haknya secara baik. manakala suatu sebab sudah dilakukan pelakunya harus memikul musabbab (akibat). jika orang tua gagal berarti ia telah mengkhianati amanah sehingga ia dinilai tidak bertanggung jawab. Menurut ajaran Islam. semuanya dapat berbalik menjadi sumber keruntuhan jika salah ditangani atau jika kecintaan kepadanya justru menyisihkan kecintaan kepada Tuhan. Kecintaan sejati seseorang kepada anak merupakan konsistensi kecintaan kepada Tuhan untuk menjaga dan memelihara diri dan keluarganya dari kesengsaraan di akhirat.

Al-Qur’an Surat al-Nisa’ (4) ayat 9.ftrah. berpesan kepada para orang tua. hendaklah mereka bertaqwa pada Allah dan mengucapkan perkataan yang baik”. al-Qur’an Surat al-An’am (6) ayat 151 menyatakan membunuh anak adalah dosa besar yang juga menunjukkan sikap tindak bertanggung jawab orang tua terhadap anak yang dilahirkannya. Bahkan orang-orang yang membunuh anak sangat dikecam dan dipandang sebagi perilaku orang-orang musyrikdan perbuatan bodoh. karena kuatnya hubungan emosional seorang ibu dapat membentuk jiwa anak hampir sekehendak hati.Bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. agar jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah. yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. 11 .“Hendaklah mereka takut kepada Allah jika meninggalkan generasi yang lemah di belakang mereka. artinya para ibu sangat berperan dalam menentukan nasib anak sehingga surga bagi anak sepenuhnya berada dibawah kekuasaan mereka. Rasa takut dan khawatir yang disebutkan di dalam al-Qur’an maksudnya bukanlah rasa cemas yang dapat mengakibatkan orang tua justru berbuat menghilangkan nyawa anaknya.

penegakan idealitas hukum harus didukung kondisi obyektif yang memungkinkan untuk itu. tetapi kesulitan prosedural dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan menyebabkan tidak seimbangnya antara nilai nafkah yang dituntut dengan biaya yang harus dikeluarkan. tetapi bagaimana hukum yang ditegakkan itu adalah hukum yang baik dan sesuai dengan kesadaran dan kebutuhan hukum masyarakat. dilihat dari hukum normatif ternyata pengaturan dan perlindungan hak-hak anak dan kedudukannya sudah sangat memadai dari segi idealitasnya meskipun dapat juga diidentifikasi beberapa kelemahan yang masih ada ketika dikontraskan dengan realitasnya. 12 . di antaranya adalah faktor peraturan perundang-undangan yang kurang berpihak pada kepentingan dan kebutuhan anak. Di sini dapat kita elaborasi beberapa faktor yang masih menjadi kendala hukum dalam melindungi hak nafkah anak pasca terjadinya perceraian.BAB III PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pemaparan di atas. masyarakat tidak mampu mendapatkan bantuan hukum dari orang yang ahli dan profesional untuk memperjuangkan hak-haknya.Apatah lagi untuk membayar dan memakai jasa Advokat yang mahal untuk menjadi pengacara dalam tuntutan nafkah anak.Tidak adanya aturan yang jelas mengenai penentuan nominal nafkah anak serta sanksi hukum yang tegas dan jelas terhadap orang tua yang terbukti melalaikan kewajibannya atau beriktikad tidak baik menyembunyikan kemampuannya dalam menafkahi. Karena dalam proses pembinaan hukum tentu tidak terlepas dari masyarakat hukum itu sendiri karena masalah penegakan hukum bukan hanya masalah law formulation belaka. dan patokan dalam menetapkan nafkah anak lebih menitikberatkan pada tingkat kemampuan ayah. Pada dasarnya kelalaian terhadap nafkah anak dapat dimohonkan eksekusi Pengadilan.

1990 Abdul Manan. Anton M.4. Jakarta.Citra Aditya Bakti. Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer. No. 42 Tahun X 1999). tentang Kompilasi Hukum Islam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. tentang Kesejahteraan Anak Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002.2.Aris Bintania Hukum Islam. Artikel Jurnal Musawa. Al-Hikmah dan DITBINBAPERA Islam No.Bandung. Kencana. VIII No. Problematika Anak dan Solusinya (Pendekatan Sadduzzara’i). Jakarta. Urgensi dan Kedudukan Nasab dalam Perspektif Hukum Keluarga Islam. Anak dalam Perspektif Hadis. Suryadi. cet-2. Jakarta. Masyarakat Religius. 2004. Moeliono. Satria Effendi. Jakarta. AlHikmah dan DITBINBAPERA Islam No. cet-2. cet-3. 2 Desember 2008 169 Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991. Vol. Jakarta: Balai Pustaka. Paramadina. 42 Tahun X 1999). (Artikel Jurnal Mimbar Hukum. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Abdulkadir Muhammad. vol. 1997. Makna. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama. Juli 2006. 1988 Nurcholish Madjid. Kencana. tentang Perlindungan Anak 13 . PT.Hukum Perdata Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. ___________. tentang Perkawinan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979. Saifullah. (Artikel Jurnal Mimbar Hukum. 2005.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful