PERANAN POLRI DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA ABORSI DARI PRESPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dimasa sekarang ini hamil di luar nikah sering terjadi. Hal ini dikarenakan anak-anak muda jaman sekarang banyak yang menganut gaya hidup seks bebas. Pada awalnya para anak muda tersebut hanya berpacaran biasa, akan tetapi setelah cukup lama berpacaran mereka melakukan hubungan seksual. Ketika hubungan mereka membuahkan janin dalam kandungan, timbul masalah karena mereka belum menikah dan kebanyakan masih harus menyelesaikan sekolah atau kuliahnya. Ditambah adanya rasa takut ketahuan dan rasa malu apabila masalah kehamilan itu ketahuan oleh orang tua dan orang lain, maka ditempuh aborsi untuk menghilangkan janin yang tidak dikehendaki tersebut. Namun tidak jarang pula ada yang melakukan pernikahan secepatnya agar janin yang dikandung tersebut mempunyai ayah. Perkawinan ini dalam istilah anak muda dikenal dengan nama MBA (Married By Accident) atau nikah setelah hamil dahulu.1 Pengguguran kandungan juga sering dilakukan oleh para wanita yang menjadi korban perkosaan. Alasan yang sering diajukan oleh para wanita yang diperkosa itu adalah bahwa mengandung anak hasil perkosaan itu akan menambah derita batinnya karena melihat anak itu akan selalu mengingatkannya akan peristiwa buruk tersebut. Namun demikian tidak selamanya kejadian-kejadian pemicu seperti sudah terlalu banyak anak, kehamilan di luar nikah, dan korban perkosaan tersebut membuat seorang wanita memilih untuk menggugurkan kandungannya. Ada juga yang tetap mempertahankan kandungannya tersebut dengan alasan bahwa menggugurkan kandungan tersebut merupakan perbuatan dosa sehingga dia memilih untuk tetap mempertahankan kandungannya. Apapun alasan yang diajukan untuk menggugurkan kandungan, jika hal itu bukan disebabkan alasan medis maka ibu dan orang yang membantu menggugurkan kandungannya akan dihukum pidana. Hal ini dikarenakan hukum positif di Indonesia melarang dilakukannya aborsi. Akan tetapi di lain pihak, jika kandungan itu tidak digugurkan akan menimbulkan masalah baru, yaitu apabila anak tersebut terlahir dari keluarga miskin maka ia tidak akan mendapat penghidupan yang layak, sedangkan apabila anak itu lahir tanpa ayah, ia akan dicemooh masyarakat sehingga seumur hidup menanggung malu. Hal ini dikarenakan dalam budaya timur Indonesia, tidak dapat menerima anak yang lahir di luar nikah. Alasan inilah yang kadang-kadang membuat perempuan yang hamil di luar nikah nekat menggugurkan kandungannya. Berkaitan dengan pilihan menggugurkan atau mempertahankan kehamilan sekarang dikenal istilah yang disebut dengan prochoice dan prolife. Prochoice adalah pandangan yang menyatakan bahwa keputusan menggugurkan atau mempertahankan kandungan adalah hak mutlak dari ibu yang mengandung bayi tersebut. Pandangan ini berawal dari keinginan untuk mengurangi angka kematian ibu akibat aborsi, karena dengan melarang aborsi ternyata ibu yang akan aborsi menggunakan jasa-jasa aborsi yang tidak aman (unsafe abortion) sehingga banyak ibu yang
1

meninggal ketika menjalani aborsi. Jika pandangan ini diterima oleh masyarakat dan kemudian ditetapkan dalam sistem hukum Indonesia, maka aborsi tidak akan dilarang lagi. Lebih lanjut pemerintah wajib untuk menyediakan fasilitas klinik aborsi yang akan melayani ibu-ibu yang rnelakukan aborsi. Klinik aborsi ini mempunyai tingkat keamanan yang tinggi, karena menggunakan standar prosedur aborsi yang aman (safe abortion). Adanya safe abortion akan mernbuat berkurangnya jumlah kematian ibu akibat aborsi. Di lain pihak prolife adalah pandangan yang menentang adanya aborsi. Mereka berpandangan bahwa janin mempunyai hak hidup yang tidak boleh dirampas oleh siapapun, termasuk oleh ibu yang mengandungnya. Melakukan aborsi sama saja dengan melakukan pembunuhan, dan pembunuhan merupakan dosa yang sangat besar. Oleh karena itu para penganut paham prolife ini sangat menentang dilakukannya aborsi. Menurut mereka melegalisasi aborsi bertentangan dengan agama karena memang kelompok prolife ini kebanyakan berasal dari kaum agamawan tetapi banyak pula yang bukan agamawan tetapi memiliki pandangan prolife. Di dalam sistem hukum Indonesia, perbuatan aborsi dilarang dilakukan. Bahkan perbuatan aborsi dikategorikan sebagai tindak pidana sehingga kepada pelaku dan orang yang membantu melakukannya dikenai hukuman. Akan tetapi walaupun sebagian besar rakyat Indonesia sudah mengetahui ketentuan tersebut, masih banyak juga perempuan yang melakukan aborsi. Hal ini dapat diketahui dari data-data yang diajukan oleh para peneliti tentang jumlah aborsi yang terjadi di Indonesia. Penelitian yang dilakukan Population Council mengemukakan jumlah pengguguran kandungan (aborsi) di Indonesia pada tahun 1989 diperkirakan berkisar antara 750.000 dan 1.000.000. Ini berarti terjadi sekitar 18 aborsi per 100 kehamilan, bila diasumsikan ada sekitar 4,5 juta kelahiran hidup di Indonesia.2 Pada tahun 2000 Koran Kompas edisi 3 Maret 2000 mengungkapkan data bahwa pada tahun 2000 di Indonesia diperkirakan terjadi sekitar 2,3 juta aborsi.3 Jumlah ini meningkat tajam dibandingkan dengan data aborsi pada tahun 1989. Adanya peningkatan jumlah aborsi ini sangat memprihatinkan. Adapun penyebab aborsi yang semakin meningkat itu adalah pergaulan yang semakin bebas. Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah aborsi, jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) juga semakin meningkat. Hasil penelitian Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) mendapatkan hasil bahwa AKI di Indonesia mencapai 390 per 100.000 kelahiran tahun 2000. Berdasarkan hasil ini, maka AKI di Indonesia menduduki urutan teratas di Asia Tenggara. 4 Adapun penyebab tingginya Angka Kematian Ibu di Indonesia adalah kasus aborsi. Data-data hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa kasus aborsi merupakan masalah yang sangat serius dihadapi bangsa Indonesia. Walaupun aborsi dilarang, temyata perbuatan aborsi semakin marak dilakukan. Hal ini membutuhkan penegakan hukum yang sungguh-sungguh dari aparat penegak hukum di Indonesia. Penegakan hukum ini harus diintensifkan mengingat buruknya akibat aborsi yang tidak hanya menyebabkan kematian bayi yang diaborsi, tetapi juga ibu yang melakukan aborsi. Penegakan hukum terhadap tindak pidana aborsi harus dilakukan di seluruh wilayah Indonesia, karena walaupun dari penelitian yang dilakukan oleh para mahasiswa maupun LSM2

Semua fenomena ini menunjukkan dibutuhkannya penegakan hukum. tetapi situasi pergaulan yang bebas di sekitarnya sedikit banyak akan mempengaruhi pola pikir anak. Hal ini dikarenakan para pelaku biasanya sulit untuk dilacak sehingga mempersulit penjaringan para pelaku. Selain kenyataan yang langsung dijumpai di dalam masyarakat. apalagi jika remaja tersebut tidak mendapatkan pengawasan langsung dari orang tuanya. Bali. Bunyi tulisan itu antara lain “Jika Anda Terlambat Datang Bulan Hubungi . Medan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tulisan-tulisan selebaran yang ditempel di dinding-dinding toko. Ironisnya para remaja tersebut pada umumnya merupakan pelajar dan mahasiswi yang datang dengan tujuan sekolah. yaitu banyaknya ditemukan kasus aborsi yang dilakukan para remaja yang belum menikah. Bandung. Nomor telepon yang diberikan biasanya adalah nomor HP(Hand Phone) sehingga sulit untuk melacak keberadaan si pemilik nomor tersebut. Tulisan tersebut memang tidak secara terangterangan menyatakan menuliskan kata “aborsi” akan tetapi dari bunyi kalimat yang dituliskan sudah cukup menyiratkan bahwa jasa yang ditawarkan adalah jasa aborsi. dinding rumah penduduk atau di tiang-tiang lampu merah (traffic light) di perempatan jalan yang ramai lalu lintasnya. Surabaya. Jakarta. B. Banyaknya jumlah aborsi yang terjadi dan banyaknya jasa aborsi yang ditawarkan kepada masyarakat. membuat masyarakat menjadi resah dan mengharapkan adanya tindakan tegas dari para aparat penegak hukum untuk dapat menangkap dan menghukum para pelaku aborsi. Manado dan Malang).5 Ada juga janin yang sengaja ditinggal di depan rumah penduduk atau di depan Lembaga sosial (yayasan).. Rumusan Masalah 3 . banyak pula berita-berita aborsi di surat kabar yang mengungkap kasus-kasus aborsi. khususnya para orang tua yang mempunyai anak yang sedang bersekolah dikota-kota tersebut. karena berita-berita itu membuat para orang tua khawatir bahwa anaknya juga melakukan hal yang sama. namun sampai sejauh ini hanya sedikit kasus aborsi yang pernah disidangkan. antara lain janin yang ditinggal begitu saja setelah selesai diaborsi.LSM menunjukan bahwa daerah-daerah yang banyak terjadi tindak pidana aborsi adalah daerahdaerah atau kota-kota yang disebut dengan daerah pendidikan atau kota besar di Indonesia ( Yogyakarta. Sejalan dengan keprihatinan masyarakat tentang maraknya aborsi. Kalaupun anak yang bersangkutan tidak melakukan hal tersebut. Berita-berita tersebut memuat kasus aborsi baik yang tertangkap pelakunya maupun yang hanya mendapatkan bekas aborsinya saja.. Hal ini dapat diketahui dari kenyataan yang terjadi di masyarakat. Isi dari tulisan itu adalah penawaran jasa aborsi kepada pihak-pihak yang membutuhkan. sekarang ini jasa aborsi juga semakin marak dipromosikan. Walaupun fenomena aborsi sudah sangat marak. Semarang. Berita-berita ini cukup meresahkan berbagai kalangan masyarakat. Jadi mereka telah menyalahgunakan kesempatan belajar mereka untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar susila sehingga mengakibatkan kehamilan. KotaKota tersebut adalah kota-kota yang disebut sebagai kota pelajar yang menjadi tujuan menimba ilmu dari sejumlah pelajar dari 32 provinsi juga tidak lepas dari fenomena maraknya aborsi.” (nomor telepon tertentu).

Pengertian Penyidikan Kitab Undang-Undang hukum Acara Pidana dengan tegas membedakan istilah “Penyidik” atau “opsporing / interrogation” dan "Penyelidik”. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam penyidikan tersebut dan cara mengatasinya. 2. Tujuan Penulisan Tujuan Penulisan ini adalah 1. Bagi Penulisan Lain Hasil Penulisan ini dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dari hasil Penulisan sejenis. artinya Penulisan dilakukan dengan merujuk pada norma hukum yang berlaku dalam masyarakat. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam penyidikan tersebut dan bagaimana cara mengatasinya? C. Manfaat Penulisan Manfaat Penulisan ini adalah 1. 2. penyelidik dan penyidik diatur lebih jelas di 4 . Tujuan dan Manfaat Penulisan 1.Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana peran Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam penyidikan tindak pidana aborsi? 2. Untuk mengetahui peran Polri dalam penyidikan tindak pidana aborsi. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan yuridis-sosiologis.6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. 2. D. Bagi Penulis Hasil penulisan ini dapat digunakan sebagai sarana untuk menambah wawasan tentang penyidikan tindak pidana aborsi dan kendala-kendala yang dihadapi dalam penyidikan. serta merupakan sarana untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah di lapangan.

1. Penyelidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 : 1. yaitu : Pasal 4 “Penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia” Pasal 5 1. dapat dikatakan secara tegas bahwa fungsi dan ruang lingkup “penyidik” adalah untuk melakukan "penyidikan". 4. pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang wewenang khusus oleh undang-undang. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana. Menyuruh berhenti scorang yang dicurigai dan menanyakan serta merneriksa tanda pengeni diri. mengambil sidik jari dan. 3. pejabat polisi negara Republik Indonesia. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa : 1. penangkapan. 2. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. larangan meninggalkan tempat penggeledahan dan penyitaan. 3. Karena kewajibannya mernpunyal wewenang. Mencari keterangan dan barang bukti. Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebagaimana tersebut pada ayat (1) huruf a dan huruf b kepada penyidik. 5 . 1. membawa dan menghadapkan seorang pada penyidik. memotret seorang. 2. pemeriksaan dan penyitaan swat. Didalam Kitab Undang-Undang hukum Acara Pidana (KUHAP) tentang Penyelidik.dalam Bagian Kesatu mulai dari pasal 4 sampai pasal 8 Kitab Undang-Undang hukum Acara Pidana. 4. Jadi. Pada ketentuan Bab I tentang Ketentuan Umum Pasal 1 angka 1 disebutkan bahwa “penyidik” adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai Negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. b. Pasal 6 (1) Penyidik adalah a. 2.

e. (2) Penyidik menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum. mengadakan penghentian penyidikan. melakukan penangkapan. Penyidik membuat berita acara tentang pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 dengan tidak mengurangi ketentuan lain dalam undang undang ini. menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana. c. (2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a. penggeledahan dan penyitaan. penahanan. b. i. Pasal 8 1. (3) Dalam melakukan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). (3) Penyerahan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan : 6 . mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab. h. d. f. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat. j.(2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dhnaksud dalam ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah. penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku. g. Pasal 7 (1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibannya mempunyai wewenang : a. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara. mengambil sidik jari dan memotret seorang.

Penggeledahan. interogasi dan pemeriksaan di tempat). abortus (definisi yang lama) adalah terhentinya kehidupan buah kehamilan pada usia kehamilan sebelum 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh. 2. 8. bahwa ada terjadi sesuatu pelanggaran hukum. 4. Pelimpahan perkara kepada Penuntut Umum dan pengembaliannya kepada penyidik untuk disempunakan. menyidik (opsporing) berarti. Ketentuan tentang alat-alat penyidikan. Penahanan sementara. pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas perkara b.9 Di lain pihak istilah Aborsi menurut dr. 7. 2. Pemeriksaan atau interogasi. Agus Abadi dari UPF/ Lab Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUD Dr. Sedangkan menurut ketentuan pasal 1 angka 2 Kitab undang-undang Hukum Acara Pidana disebutkan bahwa "penyidikan" adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. 5. Pemanggilan tersangka atau terdakwa. 10. Pengertian Aborsi Secara Umum Secara harafiah istilah aborsi berasal dari kata dalam bahasa Inggris abortion yang artinya pengguguran kandungan secara sengaja. 9. Andi Hamah. global menyebutkan beberapa bagian hukum acara pidana yang menyangkut penyidikan adalah : 1.7 Dr. 11. 6. Secara. Penyitaan. penyidik menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum. “pemeriksaan permulaan oleh pejabatpejabat yang untuk itu ditunjuk oleh undang-undang segera setelah mereka dengan jalan apapun mendengar kabar yang sekadar beralasan. Penyampingan perkara. Ketentuan tentang diketahuinya terjadinya defilc. Menurut de Pinto.8 Menggugurkan kandungan dalam dunia kedokteran atau dalam bahasa latin dikenal dengan istilah “abortus”. dalam hal penyidikan sudah dianggap selesai. WHO memperbaharui definisi Aborsi yakni Aborsi adalah terhentinya kehidupan buah kehamilan di bawah 28 minggu atau berat janin kurang dari 1000 gram. Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. 3. Aborsi juga diartikan mengeluarkaan 7 . Pemeriksaan di tempat kejadian. Soetomo/ W Unair. SH. Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukandapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang. Berita acara (penggeledahan.a.

sementara "aborsi" digunakan untuk induced abortion. Imminence (aborsi yang mengancam) berupa pendarahan yang disertai oleh kontraksi pada uterus. Istilah Aborsi disebut juga Abortus Provokatus (Inilah yang belakangan ini menjadi ramai dibicarakan). biasanya ibu diminta istirahat baring (bed-rest) dan diberi obat untuk menguatkan kehamilan kembali. 2. akan diperlukan tindakan kuret untuk mernbersihkan sisa konsepsi tadi. terkadang dilakukan sesudah pemerkosaan. sehingga dalam hal ini tidak dibutuhkan tindakan dengan alat lain jika telah dipastikan oleh dokter bahwa hasil konsepsi telah keluar semua. Jadi Aborsi adalah tindakan pengguguran hasil konsepsi secara sengaja. yaitu :11 1.atau membuang baik embrio atau fetus secara prematur (sebelum waktunya). Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma. istilah-istilah ini digunakan untuk membedakan aborsi : • • • • • Spontaneous abortion : gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami. Aborsi imminence ini masih bisa dipertahankan. Abortus spontaneus (Aborsi Spontan/Alamiah). Incomplete abortion (aborsi yang tidak lengkap) dimana sebagian hasil konsepsi keluar sedang sebagian masih tertinggal di dalam. 8 . 3.10 Dalam ilmu kedokteran. 3. yaitu : pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Induced abortion atau procured abortion : pengguguran kandungan yang disengaja. calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Eugenic abortion : pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat. Dalam bahasa sehari-hari. karena sebagian hasil konsepsi tertinggal didalam. istilah "keguguran" biasanya digunakan untuk spontaneous abortion. Complete abortion dimana semua hasil konsepsi keluar secara utuh. Abortus yang dilakukan secara sengaja. Termasuk di dalamnya adalah : Therapeutic abortion : pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu. Elective abortion : pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan lain. Aborsi Terapeutik / Medis. 4. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa. 2. yang biasanya tidak dapat dipertahankan lagi kehamilannya. yaitu : berlangsung tanpa tindakan apapun atau tidak disengaja. Sebagai contoh. Biasanya hal ini disertai pendarahan hebat atau banyak sekali. kecelakaan dan sebagainya. Macam-macam Aborsi Secara garis besar aborsi dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi. Biasanya ini ditandai dengan adanya pendarahan yang begitu hebat. Aborsi incipience yaitu aborsi yang sedang berlangsung. aborsi spontan ini dapat terjadi antara lain karena : 1.

Misalnya. Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/peralatan yang memadai. Abortus provocatus criminalis biasanya identik dengan unsafe abortion yaitu aborsi yang dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih atau kompeten. 4. Untuk itu. 2. 3. bidan atau dukun beranak). abortus artificialis therapicus atau abortus provocatus medicinalis Abortus artificialis therapicus adalah aborsi yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis.3. hukum. yaitu : 1. Syarat-syaratnya : 1. 6. psikologi). yaitu tindakan pengobatan abortus dengan segala kemungkinan 9 . yang ditunjuk oleh pemerintah. Hal ini berarti membunuh janin dalam kandungan sama saja dengan membunuh manusia setelah lahir. sehingga menimbulkan banyak komplikasi bahkan kematian. Martabat dan nilai hidup manusia tetap sama sebelum dan sesudah lahir. yaitu : pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter. adalah aborsi yang dilakukan tanpa dasar indikasi medis. Dokumen medik harus lengkap. manusia wajib melindungi manusia sejak pembuahan itu.12 Abortus provocatus criminalis merupakan jenis aborsi yang dilarang. 2. Ada beberapa alasan sehingga jenis aborsi ini dilarang yaitu :13 1. Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat. 2. agama. Menghormati hak hidup merupakan suatu yang sangat berharga. Abortus provocatus ini terdiri atas dua jenis. baik sudah berstatus manusia atau belum. aborsi yang dilakukan untuk melenyapkan janin dalam kandungan akibat hubungan seksual di luar pernikahan atau mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai dengan tanggung jawab profesi. abortusprovocatus criminalis Sedangkan abortus provocatus criminalis. program genetis sudah berlangsung. 5. Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi menyelamatkan nyawa ibu. Pada saat pembuahan terjadi. 3. Oleh karena itu. Janin adalah suatu sel yang mempunyai hak hidup. Prosedur tidak dirahasiakan. Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain. semua wanita yang mengalami aborsi memerlukan tindakan pasca aborsi. Hal yang paling mendasar dalam hidup manusia sudah dimulai pada saat pembuahan. Abortus provocatus (Aborsi Buatan/Sengaja). yakni apabila tindakan aborsi tidak diambil bisa membahayakan jiwa ibu.

serta asuhan kesehatan reproduksi. dalam prakteknya dokter yang melakukannya tidak dihukum bila ia dapat mengemukakan alasan yang kuat dan alasan tersebut diterima oleh hakim (Pasal 48). Undang-Undang RI No. Ibu yang melakukan aborsi 2. Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi 3. aborsi adalah tindakan melanggar hukum Ketentuan tersebut sampai saat ini masih diterapkan.komplikasinya. Menurut hukum yang berlaku di Indonesia. konseling dan pelayanan kontrasepsi pasca keguguran. Adapun pasal-pasal yang dimaksud di dalam KUHP tentang larangan aborsi adalah sebagai berikut : Pasal 299. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan. Undang-undang RI No. Menurut Sumapraja dalam Simposium Masalah Aborsi di Indonesia yang diadakan di Jakarta 1 April 2000 menyatakan adanya kontradiksi dari isi Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 pasal 15 ayat 1 sebagai berikut : 10 . 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) KUHP sebelumnya diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1976 sebagaimana terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Meskipun dalam KUHP tidak terdapat satu pasal pun yang memperbolehkan seorang dokter melakukan abortus atas indikasi medik. Pasal 349. aborsi atau pengguguran janin termasuk kejahatan. seorang perempuan tidak boleh melakukan tindakan aborsi. Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi. Aborsi Menurut Hukum atau Perundang-Undangan.14 4. abortus buatan yang ilegal juga diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Berdasarkan keenam pasal KUHP tersebut di atas maka dapat diketahui bahwa menurut KUHP apapun alasannya di luar alasan medis. Selain KUHP. yang dikenal dengan istilah “Abortus Provocatus Criminalis”. sekalipun untuk menyelamatkan jiwa ibu. Pasal 348. Hukum yang ada di Indonesia seharusnya mampu menyelamatkan ibu dari kematian akibat tindak aborsi tak aman oleh tenaga tak terlatih (dukun). 2. KUHP menentukan dengan alasan apapun. Yang menerima hukuman adalah : 1. Pasal 346. Ada 2 aturan aborsi di Indonesia yang berlaku hingga saat ini yaitu : 1. dan Pasal 535. Pasal 347.

Ditambahkan lagi pada ayat selanjutnya yakni pasal 15 ayat 2 yakni. dan norma kesopanan. indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan medis tertentu. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya. sarana kesehatan tertentu adalah yang memiliki fasilitas memadai untuk tindakan tersebut dan telah ditunjuk oleh pemerintah. 3. 23 thn. Namun.“Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan janinnya. dapat diminta dari suami atau keluarganya. Penjelasan atas syarat tersebut di atas yakni : 1.16 Dari ketentuan Pasal 15 UU No. 1992 dapat diketahui bahwa Undang-undang Kesehatan melarang dilakukannya aborsi dengan pengecualian bahwa aborsi diperbolehkan. ibu hamil dan atau janinnya terancam bahaya maut. dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelematkan jiwa ibu dan janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu. Khususnya Pasal 70. 2. 3. Pasal 73 dan Pasal 80. dapat dilakukan tindakan medis tertentu”. berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambil tindakan tersebut. yaitu seorang dokter ahli kandungan dan penyakit kandungan. norma kesusilaan.15 Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa dasar hukum tindakan aborsi yang cacat hukum dan tidak jelas menjadikan tenaga kesehatan yang memberi pelayanan rentan di mata hukum. 2. sebab tanpa tindakan medis tertentu itu. pada sarana kesehatan tertentu. norma agama. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk itu dapat dilakukan sesuai dengan tanggungjawab profesi serta pertimbangan ahli. tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya. sepanjang memang tindakan itu harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa si ibu. Hal yang dapat dijelaskan dari pasal dan ayat tersebut adalah : Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun dilarang dan bertentangan dengan norma hukum. 4. hak utama untuk memberi persetujuan ada pada ibu hamil yang bersangkutan. kecuali dalam keadaan yang tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuan. 4. Pasal 71. Akan tetapi dalam amandemen Undang-undang Kesehatan dapat diketahui juga bahwa aborsi mutlak dilarang 11 . Berikut akan diberikan amandemen ketiga pasal dalam Undang-undang Kesehatan. tindakan medis tertentu hanya dapat dilakukan jika : 1.

19 Untuk menegakkan hukum dibutuhkan aparat penegak hukum. Istilah Penegak Hukum (law enforcement officer) yang dalam arti sempit hanya berarti Polisi tetapi dapat juga mencakup Jaksa. Untuk itu dibutuhkan penegakan hukum. akan tetapi menurut kedua undang-undang di atas. yang artinya penegakkan hukum.000 kelahiran. UU Kesehatan dibuat untuk memperbaiki KUHP. Penegakan Hukum Peraturan yang ada harus ditegakkan agar dapat mencapai tujuannya. Dalam pengertian luas terakhir ini. terkecuali apabila aborsi itu dilakukan karena adanya kondisi yang mengancam keselamatan ibu atau janinnya. Akan tetapi di Indonesia biasanya diperluas pula dengan para Hakim dan ada kecenderungan kuat memasukkan pula dalam pengertian penegak hukum ini adalah Pengacara (advokat).18 5. Namun demikian tentu saja hanya mengandalkan penegak hukum saja maka akan sulit untuk melakukan penegakan hukum. hukum positif di Indonesia ditegakkan. memungkinkan aborsi akan semakin mudah dilakukan. maka inti dan arti penegakkan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran 12 . Adapun yang dimaksud dengan penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi suatu kenyataan. Walaupun telah ada amandemen Undang-undang Kesehatan yang cenderung mernpermudah aborsi. karena aborsi masih dianggap sebagai tindakan kriminal.17 Namun keberadaan peraturan di atas justru dianggap menimbulkan kerugian. Dalam hal ini dibutuhkan kerjasama antara masyarakat dan aparat penegak hukum dalam proses penegakan hukum. angka kematian dan kesakitan ibu di Indonesia menjadi tinggi karena ibu akan mencari pelayanan pada tenaga tak terlatih. Yang disebut sebagai keinginan hukum adalah pikiran badan pembuat Undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan hukum. pencari pelayanan (ibu).kecuali dengan alasan medis sekarang sudah semakin longgar. dinyatakan bersalah dan akibat aborsi dilarang. Jaksa dan Hakim.20 Melalui ketiga aparat penegak hukum ini. Secara konsepsional. dan yang membantu mendapatkan pelayanan. baik pemberi pelayanan (dokter). Dengan kata lain adanya amandemen Undang-undang Kesehatan. tahun 2000) masih menduduki urutan teratas di Asia Tenggara. tapi memuat definisi aborsi yang salah sehingga pernberi pelayanan (dokter) merupakan satu-satunya yang dihukum. Oleh karena itu. padahal aborsi bisa dilakukan secara aman (safe abortion). walaupun kontribusi aborsi sering tidak dilihat sebagai salah satu faktor tingginya angka tersebut. Pada KUHP. semua tindakan aborsi merupakan tindakan yang dapat dipidana tidak terkecuali orang-orang yang terlibat didalamnya. Aparat penegak hukum terdiri dari Polisi. dapat dipergunakan terjemahan dari rechthandhaving. Aborsi sendiri masih tetap merupakan suatu wacana yang selalu mengundang pro dan kontra baik hukum maupun agama yang mungkin tidak akan habis jika tidak ada peraturan baru tentang aborsi aman khususnya yang tegas dan jelas. hingga kini Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia (390 per 100.

dengan cara merumuskan kembali hubungan antara para anggota masyarakat. paling tidak ada empat fungsi dasar hukum yaitu :22 1. 4. Salah satu penegak hukum di Indonesia ialah Kepolisian Negara Republik Indonesia. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Kepolisian. 2. untuk menciptakan. faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral. Hal ini tersurat atau tercantum dalam Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia yaitu Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002. kebutuhan itu bukan kebutuhan sesaat tetapi total. Faktor Hukumnya Sendiri. yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum. 2. Memelihara kemampuan masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan kondisikondisi kehidupan yang berubah. sehingga hukum dapat berfungsi dengan baik. Kepolisian adalah segala hal-ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga Polisi sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan. Faktor Penegak Hukum. 4. Faktor kebudayaan. Menentukan pembagian kekuasaan dan merinci siapa-siapa saja yang boleh secara syah menentukan paksaan serta siapa yang harus mentaatinya dan sekaligus memilihkan sanksi-sanksinya yang efektif. Oleh karena itu kebijakan pembangunan hukum harus merupakan skema kebijakan yang didalamnya melibatkan partisipasi publik. 3. 3. Masalah pokok penegakkan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya.21 Hoebel menjelaskan. sehingga dampak positif dan negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: 1. dengan menunjukkan jenis-jenis tingkah laku apa yang diperkenankan dan apa pula yang dilarang.nilai tahap akhir. dengan kata lain pembangunan harus memiliki konotasi positif terhadap perkembangan (budaya) masyarakat. Menetapkan hubungan antara anggota masyarakat. Pembangunan hukum harus bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. dari berbagai kelompok dan golongan serta menjadi pedoman bagi pemegang mandat untuk merealisasikannya. Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) sebagai sub sistem dari sistem peradilan pidana merupakan ujung tombak di lapangan dalam penegakkan hukum peraturan perundang-undangan. Menyelesaikan sengketa. Oleh karena itu pembangunan hukum harus merupakan kebijakan semesta yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat itu sendiri. 5. cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. Faktor masyarakat. yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku dan diterapkan. yakni sebagai hasil karya. memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. 13 . menyeluruh dan sistemik.

Jadi. bahkan ada seorang pakar mengatakan setiap ada undang-undang baru. yang berarti bahwa laranganlarangan menurut adat tidak berlaku untuk menghukum orang. bahwa ketentuan pidana harus ditetapkan dalam undang-undang yang sah. Selanjutnya menuntut pula. tetapi polisi sudah harus bertindak begitu ada undang-undang dikeluarkan dan dinyatakan berlaku. Usaha penanggulangan kejahatan lewat pembuatan Undang-Undang Hukum Pidana pada hakikatnya merupakan bagian integral dari usaha perlindungan masyarakat (Sosial Defence) dan usaha mencapai kesejahteraan masyarakat (Sosial Welfare). melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undangundang. POLRI sebagai salah satu aparat penegak hukum dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. bahwa ketentuan pidana dalam undang-undang tidak dapat dikenakan kepada perbuatan yang telah dilakukan sebelum ketentuan pidana dalam undang-undang itu diadakan. kanakalan dan kejahatan anak. wajar pulalah apabila kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian integral dari kebijakan atau politik sosial (Sosial Policy) dapat diartikan sebagai segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mencakup perlindungan masyarakat. Kejahatan akibat kemakmuran ini adalah penyalahgunaan Narkotika dan obat-obatan keras. 14 . Menurut Mardjono Reksodiputro dan Sri Boediarti. bahwa undang-undang tidak mungkin berlaku surut (mundur). di dalam pengertian “Sosial Policy” sekaligus tercakup di dalamnya “Sosial Welfare Policy” dan “Sosial Defence Policy”. dalam melaksanakan tugasnya selalu berpatokan pada hukum yang berlaku. Pasal 1 ayat(1) KUHP ini merupakan perundang-undangan modern yang menuntut. Ini berarti. tetapi crimes tersebut meningkat karena adanya kemakmuran masyarakat. menilang dan tindakan upaya paksa bagi setiap warga dan masyarakat yang melakukan pelanggaran hukum. maka kejahatan semakin sulit dalam pengawasan dan penindakannya.pemabukan dan aborsi. Berfungsinya hukum di lapangan sangat ditentukan oleh POLRI dalam mengadakan rekayasa sosial. karena memerlukan keterpaduan fungsi dan political will pemerintah. dan dilakukan dengan cara biasa. yaitu Asas Legalitas yang berbunyi : “Tiada suatu perbuatan boleh dihukum. Seorang hakim baru bekerja apabila ada perkara yang diajukan kepadanya. bahwa tugas kepolisian yang banyak adalah menangani kejahatan konvevsional. karena landasan terdapat dalam KUHP. pelacuran. Welfare Crimes pada dasarnya merupakan konvensional crimes. yang ada terdahulu daripada perbuatan itu”. “Nullum delictum sine praevia lege poenali”. hampir dapat dipastikan bahwa pekerjaan polisi akan bertambah.bahkan banyak masyarakat yang beranggapan bahwa POLRI adalah hukum yang hidup dan orang awam pun bila ditanya hukum akan menjawab POLRI. Kejahatan konvensional juga disebut sebagai kejahatan yang tradisional. artinya “peristiwa pidana tidak akan ada. Oleh karena itu. karena POLRI yang selalu melakukan teguran. Dengan semakin makmurnya masyarakat. perjudian. jika ketentuan pidana dalam undang-undang tidak ada terlebih dahulu”. Hal ini sesuai dengan asas yang terdapat di dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP.

maka tidak lepas dari pembaharuan hukum pidana dan pada hakikatnya pembaharuan hukum pidana harus ditempuh dengan pendekatan yang berorientasi pada kebijakan (Policy-oriented approach) dan sekaligus pendekatan yang berorientasi pada nilai (Value-oriented approach). yang dicita-citakan dan bertujuan untuk kesejahteraan sosial. Usaha-usaha non-penal dapat meliputi bidang yang sangat luas sekali diseluruh sector kebijakan sosial. Dengan demikian dilihat dari sudut politik kriminal. Penerapan pidana oleh badan pengadilan (disebut juga kebijakan yudikatif). 2. Sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada si pelanggar (kebijakan penalisasi/kebijakan pemidanaan). tetapi harus juga menggunakan sarana-sarana non-penal. Penetapan kebijakan perundang-undangan (dapat juga disebut kebijakan legalisasi) yang di dalamnya berisikan penetapan kebijakkan mengenai. Pelaksanaan pidana oleh aparat pelaksana pidana (disebut juga kebijakan eksekutif). Langkah-langkah operasionalisasi penanggulangan kejahatan dengan menggunakan hukum pidana adalah sebagai berikut : 1. 3. 5. Tujuan utama dari usaha-usaha non-penal itu adalah memperbaiki kondisi-kondisi sosial tertentu. Perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana (kebijakan kriminalisasi) dan. 15 . namun secara tidak langsung mempunyai pengaruh preventif terhadap kejahatan. memegang posisi kunci yang harus di intensifkan dan di efektifkan.Untuk mencapai hukum pidana yang baik. Penanggulangan kejahatan sudah barang tentu tidak hanya menggunakan sarana hukum pidana (penal). keseluruhan kegiatan preventif yang non-penal itu sebenarnya mempunyai kedudukan yang sangat strategis. 4.

Di beberapa negara terutama negara-negara barat. sehingga mendorong si ibu atau orang tua untuk menggugurkan kandungan. Walaupun hal lersebut diatas tidak ditegaskan dalam undang-undang. Kejadian seperti ini perlu diadakan penyelamatan janin atau bayi mengingat umurnya sudah dapat dikatakan sempurna.BAB III PEMBAHASAN 1. hal ini mengingat janin atau bayi yang ada dalam kandungan sudah dapat diklasifikasikan cukup umur dan mampu hidup diluar kandungan. sedangkan ibu yang mengandungnya dalam keadaan meninggal. Pengguguran kandungan merupakan kejahatan serta perbuatan terkutuk yang dapat mengganggu ketertiban umum dalam masyarakat dan negara. Peran Polri Dalam Penyidikan Tindak Pidana Aborsi. Bentuk abortus yang lain. Ada juga apabila kehamilan diteruskan akan memberatkan penyakit yang diderita oleh si ibu. abortus juga ada yang dilakukan karena untuk menyelamatkan janin ataupun bayi yang ada dalam kandungan. Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa indikasi tindakan abortus provocatus yang dilarang adalah tindakan abortus atau pengguguran kandungan yang dilakukan dengan sengaja diluar indikasi medik. Keadaan yang mendorong terjadinya tindakan pengguguran kandungan di luar medik biasanya dipengaruhi beberapa faktor misalnya karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan untuk bertambahnya anggota baru. karena faktor yang sering terjadi di dalam kehidupan masyarakat pada umumnya yaitu terjadinya kehamilan di luar nikah dan dianggap sebagai aib. namun bisa dijadikan pengecualian dari pasal-pasal Kitab 16 . dilakukan untuk pengobatan atau indikasi rnedis dan indikasi psikologis juga abortus provokatus yang dilakukan dengan niat jahat.

Dan pihak kepolisian baru bisa bertindak jika sudah terjadi jatuhnya korban meninggal atau ditemukannya mayat-mayat bayi di berbagai tempat. pihak kedokteran bisa membantu mengurangi dan atau maksimalnya mencegah terjadinya kasus tindakan abortus provocatus dengan memberikan penjelasan kepada pasiennya tentang bahayanya tindakan aborsi tersebut.agama. Tujuannya adalah untuk mendekatkan masyarakat dengan POLRI untuk rnemberikan informasi atau bantuan dari pihak kepolisian untuk mengungkapkan kasus-kasus tindak pidana abortus provocatus seandainya terjadi di wilayah kelurahan dan desa masing-masing. dan dijelaskan pula tentang sanksi yang akan diterima oleh mereka apapun dan bagaimanapun alasannya. kecuali ada indikasi medis yang mengharuskan tindakan tersebut. 1. Untuk itu pertama-tama pihak kepolisian bekerja sama dengan beberapa sekolah untuk memberitahukan seberapa bahayanya narkoba dan akibatnya yang akan terjadi. Dimana banyak sekali para dokter-dokter tersebut demi mendapatkan materi menghalalkan tindakan abortus provocatus. tentang larangan pengguguran kandungan sebab perbuatan tersebut pelakunya tidak dapat dikenakan sanksi pidana. Misalnya yang melalui pendekatan secara.Undang-Undang Hukum Pidana. Dengan memberi pengertian bahwa tindakan abortus provocatus adalah suatu tindakan yang melanggar hukum. Upaya-upaya Penanggulangan yang Dilakukan Pihak POLRI Terhadap Tindak Pidana Abortus Provocatus Untuk mengantisipasi keadaan tersebut pihak kepolisian berusaha bertindak maksimal. Polri bekerja sama dengan para pemuka-pemuka agama yang ada di dalam wilayah kerja Polres dan Polresta diseluruh Indonesia. karena adanya alasan medis. 17 . Dalam menghadapi kasus abortus provocatus. karena bukan tidak mungkin dari sinilah semua itu berasal. pihak kepolisian juga bekerjasama dengan pihak kedokteran. Diharapkan melalui pendekatan ini. pihak Polri juga memberikan pemahaman dan pengertian kepada pihak masyarakat dan khususnya kepada para kalangan remaja yang banyak bersentuhan dengan masalah ini. POLRl dalam menghadapi kasus inipun biasanya menghadapi berbagai macam kesulitan diantaranya terlalu rapatnya rahasia tentang tindakan ini baik dari pelaku ataupun dari orang yang membantu melakukan tindakan aborsi tersebut. sudah melakukan beberapa hal pencegahan. Dimulai dari pengantisipasian maraknya peredaran obat-obatan terlarang atau yang lebih dikenal dengan narkoba. Selain melakukan pendekatan melalui tokoh-tokoh pemuka agama. Upaya lain yang dilakukan pihak kepolisian adalah bekerja sama dengan pihak aparatur pemerintah yaitu menempatkan beberapa personil kepolisian di tiap-tiap kelurahan dan desa atau yang disebut dengan BAPEMKAMTIBMAS (Badan Pembina Ketertiban dan Keamanan Masyarakat). Pihak kepolisian dalam hal upaya menanggulangi tindak pidana tersebut.

maka pihak Polri khususnya pada bagian Reserse dapat bertindak dalam melakukan proses penyidikan. mengimingimingi atau yang memprovokasi supaya si ibu melakukan tindakan pengguguran kandungan. apabila barang bukti yang ditemukan (oleh pihak Polri yang sedang berpatroli maka dalam hal ini pihak POLRI yang sedang berpatroli tersebut harus segera dan secepat rnungkin melaporkan kepada pihak Reserse atau yang dikenal dengan berkas "A" dan dalam hal ini si pelapor wajib bertanggung jawab. Setelah ada laporan yang masuk pada pihak POLRI. Setelah semua keterangan-keterangan pada proses penyidikan yang diperoleh dari si ibu dianggap sudah mencukupi maka berkas-berkas tersebut segera diproses dan selanjutnya dilimpahkan kepada Kejaksaan dan dari Kejaksaan jika dianggap cukup semua berkas-berkas tersebut maka pihak Kejaksaan langsung melimpahkan perkara tersebut kepada pihak Pengadilan. Kendala-kendala yang Dihadapi Kepolisian Dalam Menangani Tindak Pidana Abortus Provocatus Dalam menghadapi kasus tindak pidana abortus provocatus ini tidak semudah yang dibayangkan. Setelah mendapatkan visum dari si ibu atau yang dicurigai maka pelaku dalam hal ini si ibu tersebut harus menjalani proses penyidikan yang diantaranya adalah dipertanyakan siapa yang telah membantu dalam melakukan proses pengguguran kandungan tersebut. Penyidikan tersebut dilakukan pertama-tama. dukun atau yang 1ainnya. apakah seorang dokter. setelah itu pihak POLRI mulai melakukan penyidikan terhadap kasus atas tindak pidana tersebut. bidan. dalam hal ini untuk membantu proses visum barang bukti serta yang diduga sebagai tersangka. penyidikan yang dilakukan oleh pihak POLRI (khususnya oleh bagian reserse) akan dimulai dari saksi di tempat kejadian perkara (TKP). laporan mulai diproses dan diolah. Proses Penyidikan Kasus Abortus Provocatus yang Dilakukan Oleh Pihak Kepolisian Berawal dari adanya suatu laporan dari masyarakat tentang terjadinya suatu kasus abortus provocatus yang diterima pihak POLRI. Juga dipertanyakan siapa yang menyuruh. Dan apakah tindakan pengguguran kandungan tersebut dilakukan secara terang-terangan atau secara sembunyi-sembunyi. dan barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara. serta secara pasti. Kedua. Setelah itu akan ditemukan suatu hal yang akan menjadi petunjuk dari kasus tersebut berdasarkan fakta dan laporan yang diterima oleh pihak Polri. laporan seperti ini dikenal atau disebut dengan berkas "B" dan dalam hal inipun si pelapor harus bertanggung jawab atas apa yang dilaporkannya. 18 . tetapi tidak demikian. Polisi di dalam melakukan suatu penyidikan kasus tindak pidana abortus provocatus yang sedang terjadi tersebut dibantu oleh saksi ahli yaitu dokter yang berwenang. Banyak sekali kendala-kendala yang mesti dihadapi. laporan yang diberikan oleh masyarakat kepada pihak POLRI. khususnya bagian Reserse yang menangani kasus ini atau dengan tindak pidana tersebut.2. 2. Sesuai dengan teori mungkin bisa diungkap dengan tepat dan cepat.

Juga pada pasal 346 Kitab Undang-Undang Pidana disebutkan : "Seseorang wanita yang dengan sengaja menyebabkan atau menyuruh orang lain menyebabkan gugurnya kandungan atau matinya janin yang berada dalam kandungannya. Inipun juga terkesan amat ringan. maka hukuman yang diperoleh hanya ditambah sepertiganya dan sanksi dipecat dari jabatannya. maka hukuman yang ditentukan dalam pasal itu bisa ditambah dengan sepertiganya dan dapat dipecat dari jabatannya yang digunakan untuk melakukan kejahatan itu". Seperti yang dijelaskan pada pasal 299 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dari ketiga pasal yang disebut di atas sudah jelas bahwa hukum yang mengatur masalah abortus provocatus masih sangat lemah. bidan. Pada pasal-pasal tersebut hukuman yang dikenakan pada pelaku abortus provocatus terkesan amat sangat ringan yaitu hanya empat tahun penjara dan atau denda sekurang-kurangnya tiga ribu rupiah. juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut dalam pasal 346 KUHP. tetapi aturan yang tertulis tersebut tidak mengatur secara detail mengenai sanksi yang diterima bagi pelaku abortus provocatus tersebut.Kendala pertama dapat dilihat dari lemahnya peraturan perundang-undangan yang mengatur masalah ini. Kasus abortus provocatus ini juga diatur dalam pasal 348 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana: "Barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugurnya kandungan seorang wanita dengan ijin wanita itu sendiri. Dalam pasal ini menerangkan bahwa jika si pelaku adalah seorang dokter. Demikian juga seperti yang disebutkan pada pasal 347 Kitab Undang-Undang Pidana yakni : "Barang siapa. Disana disebutkan : “Barang siapa dengan sengaja merawat atau menyuruh seorang wanita memperoleh perawatan dan memberitahukan atau Menimbulkan harapan padanya bahwa dengan perawatan tersebut suatu kehamilan itu dapat menjadi terganggu. dipidana dengan pidana penjara selama lamanya empat tahun atau denda setinggi-tingginya tiga ribu rupiah". Demikian juga pada pasal 349 Kitab Undang-Undang Pidana : "Bahwa jika seorang dokter. ataupun melakukan atau membantu dalam salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348. serta seolah olah ada kesan bahwa perbuatan atau tindakan abortus provocatus adalah tindakan yang dibolehkan. bagaimana bisa kalau si pelaku nyata-nyata adalah 19 . pada hal ditinjau dari segi manapun perbuatan atau tindakan abortus provocatus adalah tindakan penghilangan nyawa yang juga berarti adalah tindakan pembunuhan. dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya empat tahun". bidan. Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengenai abortus provocatus telah ditetapkan secara cukup jelas. dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya empat tahun". dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun enarn bulan". dengan sengaja menyebabkan gugurnya kandungan atau matinya janin yang berada dalam kandungan seorang wanita tanpa mendapat izin dari wanita itu sendiri. ataupun juru obat.

Disamping itu karena kasus ini bukan merupakan kasus delik aduan maka agak sulit untuk menuntaskan kasus ini hingga keakarnya. 20 . Dan bagi banyak masyarakat tindakan ini adalah tindakan yang paling benar untuk menutupi sebuah malu. Masyarakat yang menganggap hal tersebut adalah sebagai aib yang harus ditutupi tak segan melakukan tindakan abortus. Karena hasil-hasil dari perbuatan tersebut sering sudah hancur atau dibuang entah kemana. karena mereka yang tahu dengan masalah ini enggan untuk melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Dari sekian pasal-pasal yang mengatur tentang sanksi bagi pelaku abortus provocatus. Padahal dari tindakan tersebut tidak sedikit yang harus kehilangan nyawa atau sedikitnya mereka mengalami keadaan dimana rahim mereka rusak dan tidak akan dapat lagi memiliki anak. rata-rata hukuman yang mereka terima sangatlah ringan. padahal seorang petugas kesehatan harusnya lebih tahu tindakan yang tidak didasari oleh tindakan medis adalah tindakan yang melanggar hukum.seorang dari petugas kesehatan melakukan tindakan ilegal hanya dihukum lima tahun lebih sedikit. Kurangnya pengetahuan tentang pergaulan bebas tersebut yang akhirnya membuahkan sesuatu yang tidak diinginkan. Kendala yang kedua adalah dari masyarakat itu sendiri. Dari sinilah yang memicu semakin banyaknya kasus abortus provocatus di kalangan masyarakat. Kesadaran rnasyarakat yang amat sangat diperlukan dalam menuntaskan masalah ini. Kendala yang lain yang mungkin menjadi penyebab sulitnya mengungkap kasus abortus provocatus adalah pihak kepolisian sering sekali sulit mengidentifikasi hasil dari barang bukti abortus provocatus. Dalam keadaan seperti ini mereka rela rnengeluarkan uang berjuta-juta rupiah bagi para dokter peralatan pendukung untuk membuktikan kasus tindak pidana abortus provocatus asal bersedia melakukan tindakan pengguguran kandungan.

BAB IV PENUTUP 1. Kepolisian bersifat pasif artinya bahwa kepolisian menunggu jika ada laporan yang masuk selanjutnya ditindak lanjut. Pihak Kepolisian saat ini juga sedang gencar-gencarnya melakukan razia obat-obatan terlarang atau narkoba. Karena tidak mungkin dari situlah awal muasal terjadinya tindakan abortus provocatus. Kesimpulan Dari semua uraian-uraian di atas tentang segala sesuatu yang menyangkut peranan POLRI dalam menangani tindak pidana abortus provocatus. Kepolisian telah berupaya melakukan pendekatan-pendekatan kepada masyarakat luas. belum optimalnya peran tokoh-tokoh masyarakat dan kesadaran masyarakat yang masih 21 . dapatlah disimpulkan bahwa Poiri tidak tanggungtanggung dalam memberantas tindakan abortus provocatus. tidak menutup kemungkinan bahwa tindakan abortus provocatus tersebut dilakukan atas adanya indikasi medis. Kendala yang dihadapi yaitu : lemahnya peraturan perundang-undangan yang mengatur masalah ini. untuk mencegah beredarnya buku-buku porno. Untuk itu pula pihak Kepolisian bekerja sama dengan pihak kedokteran untuk mencegah terjadinya abortus provocatus ilegal. Dalam proses penyidikan. karena dari sini penyebab terjadinya kasus perkosaan-perkosaan yang buntutbuntutnya melakukan tindakan abortus provocatus karena malu. karena yang tahu benar tidaknya tindakan tersebut adalah seorang dokter. baik melalui para pemuka agama setempat ataupun terjun langsung memberikan pengarahan kepada masyarakat tentang bahayanya melakukan tindakan abortus provocatus. Dalam hal ini pihak Kepolisian sudah melakukan berbagai upaya pencegahan agar tindakan abortus provocatus ini tidak semakin meraja lela. misalnya untuk menyelamatkan nyawa si ibu. Walaupun tindakan abortus provocatus di larang. untuk mencegah maraknya VCD porno di masyarakat dan juga razia pada tokotoko buku. Agenda lain dari Kepolisian adalah dengan rutin melakukan razia ke tempat-tempat persewaan dan penjualan VCD.

Melalui penyuluhan ke sekolah . 22 . agar mengadakan pendekatan-pendekatan langsung kepada para remaja. karena kurangnya pengetahuan tentang bahayanya pergaulan bebas. untuk itu penulis memberikan saransaran antara lain pentingnya perhatian orang tua terhadap putra-putrinya apalagi mereka yang telah beranjak remaja. Untuk aparat Kepolisian.kampus atau langsung ke karang taruna atau perkumpulan remaja lainnya agar upaya pencegahan tindakan abortus provocatus lebih maksimal dan untuk sumber daya manusia dari aparat Kepolisian agar lebih Profesional dan tanggap terhadap tindak pidana abortus provocatus ini.kurang dalam memberikan laporan maupun memberikan masukkan dalam kasus aborsi. kampus .sekolah. Untuk itu para orang tua hendaknya memberikan bekal untuk putra-putrinya antara lain : dengan pengetahuan mengenai agama yang selalu tidak lepas dari tuntutan yang diajarkan. Saran -saran Atas adanya kejadian tindakan abortus provocatus ilegal. 2. Untuk masyarakat diperlukan suatu bentuk interaksi antar masyarakat pada wilayah masingmasing yang berkelanjutan dan berkesinambungan sehingga dapat terbentuk kehidupan masyarakat yang aman dan tentram serta sehat. saksi-saksi dan kurang personil kepolisian. kepolisian masih sulit dalam mengidentifikasi hasil dari barang bukti aborsi karena kurangnya peralatanperalatan pendukung. memberikan pengetahuan-pengetahuan tentang kehidupan remaja sebanyak-banyaknya agar putra-putri mereka selamat dari tindakan terlarang ini. karena masa remaja amat rentan terhadap masalah-masalah yang membahayakan diingat.

www.Daftar Pustaka 1 Herwanto. Kompas. 23 . hal Xl. 3 Maret 2000. Aborsi dalam Perdebatan Ulama. Ada 2. 5 Desember 1997. Lagi. hal. A. E. Sebagian Besar Abortus Dilakukan Secara Tidak Aman.com. X. ABORSI. dkk..C. & Pamwell.. 17. Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. 20 Desember 1997. hal VIII. Aborsi di Indonesia. Aborsi di Indonesia. hal X. Esai Seputar Masalah Aborsi. 27 Februari 2000. 3 Mutia. 12 Juni 2000. 10 Saud Saumiman. diakses pada tanggal 10 Maret 2002. 13 Basuki. 8 Homby. 9 Widodo.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Forum Kesehatan Perempuan. Jakarta: Rajawali Pers. S.com. hal. Kedaulatan Rakyat. Suatu Tinjauan Singkat.3 Juta Aborsi di Indonesia Setiap Tahun. VII. 1985.kabarindonesia. di akses tanggal 4 Mey 2008. 18 Agustus 2001.geogle. 4 Muharnmad Syarnsi. Penefitian Hukum Normatif. 7 Undang~undang No. VIII. Sang Janin Menjerit dan Meronta di Kesunyian. 6 Soerjono Soekanto. Pikiran Rakyat. hal. Kamus Inggris-Indonesia. 5 Sumarto. Jakarta: PT Bentara Antar Asia. dan Sri Marnudji. Suara Merdeka. 23 Februari 2004. 1992. Perempuan dan Hak Kesehatan Reproduksinya. 14-Nov-2006. 133. 2 Wati. hal VI. hal. Pro dan Kontra? Bagaimana kita Menjawabnya. Kornpas. 11 Ibid 12 Endah Nurdiana. Suara Merdeka. Seri Perempuan Mengenali Dirinya. www. Ditemukan Janin Hasil Aborsi. hal. 2002. Pikiran Rakyat. 14 Joko.

24 . Jakarta: Bumi Aksara. www. XX. hal 5864. YM-FKP-FF. 78. cetakan 1. 2006.15 Tini Hadad. et.al. Seri Perempuan Mengenali Dirinya.google. (Jakarta:2002) h. 18 Hanifah Laily. hal. Kompas.. 22 Ibid. Kompas. Tegakan Hukum Gunakan Hukum. Dasar-dasar Hukum Pidana. 17 Rina Mutiara. Jakarta. 16 Budiman.com. 3 November 2003. 20 Ibid 21 Ronny Rahman Nitibaskara. XLI. Kompas. di akses tanggal 4 Mey 2008. tanggal 7 Desember 2000. 129. Aborsi dalam Hukum Positif Indonesia. hal. 1989. hal. 19 Andi Hamzah. Aborsi ditinjau dari Tiga Sudut Pandang. Amandemen Undang-undang Kesehatan dan Hak Reproduksi Perempuan. Perempuan dan Hak Kesehatan Reproduksi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful