P. 1
makalah tafsir

makalah tafsir

|Views: 306|Likes:
Published by Rini Nuraeni

More info:

Published by: Rini Nuraeni on Mar 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2014

pdf

text

original

A. PROSES PENCIPTAAN MANUSIA B.

KEWAJIBAN MENGHORMATI IBU BAPAK QS Al- ahqaf ayat 15:

Artinya: “ Dan Kami telah mewasiatkan kepada manusia yang baik terhadap kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, melahirkannya dengan susah payah. Kandungan dan penyapihannya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan mencapai empat puluh tahun, ia berdoa: “Tuhanku, anugerahilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telaah Engkau anugerahkan kepaadaku daan kepada ibu-bapakku dan kiranya aku dapat melakukan yang saleh yang engkau ridhai: berilah kebaikan untukku pada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguh termasuk orang-orang yang berserah diri.” QS. Al ahqaf ayat 15. Pada ayat yang lalu menguraikan hak Allah terhadap manusia, kini ayat diatas menguraikan hak orang tua terhadap anak. Memang Al Qu‟an sering kali menyandingkan kewajiban taat kepada Allah dengan kewajiban patuh kepada orang tua, seperti antara lain pada QS. Al baqarah:83, an-Nisa: 36 dan lain-lain. Rasul saw. pun menggarisbawahi bahwa: “Ridha Allah pada ridha kedua orang tua dan murka-Nya pada murka keduanya” (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain melalui Abdullah Ibn Mas‟ud). Ayat di atas bagaikan menyatakan : Sesungguhnya Kami telah memerintahkan manusia – siapa pun manusia itu selama dia benar-benar manusia agar taat kepada Kami sepanjang hidup mereka dan Kami telah mewasiatkan yakni memerintahkan dan berpesan kepada manusia itu juga dengan wasiat yang baik yaitu agar berbuat baik dan berbakti terhadap orang tuanya siapapun da apapun agama kepercayaanatau sikap dan kelakuan orang tuanya. Ini antara lain ayahnya terlibat dalam kejadiannya dan setelah sang

ayah mencampakkan sperma ke dalam rahim ibunya, sang ibu mengandungnya dengan susah payah, sambil mengalami aneka kesulitan bermula dari mengidam, dengan aneka gangguan fisik dan psikis, dan melahirkannya

dengan susah payah, setelah berlalu masa kehamilan. Masa kandungan dalam perut ibu dan penyapihannya yangpaling sempurna adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila sang anak telah dewasa yaitu sempurna masa bagi kekuatan fisik dan psikisnya, ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan kebaktiannya berlanjut sampai ia mencapai usia usia 40 tahun yakni masa kesempurnaan kedewasaannya, dan sejak itu ia berdoa memohon agar pengabdiannya kepada kedua orang tuanya semakin bertambah. Ia memohon: „‟tuhanku yang selama ini selalu berbuat baik kepadaku, anugrahilah aku kemampuan serta dorongan yang selalu menghiasi jiwaku untuk mensyukuri nikmatmu yang telah engkau anugrahkan kepadaku dan yang benar-benr telah ku nikmati nikmat yang engkau anugrahkan kepada ibu bapakku sehingga mereka berhasil memelihara dan mendidikku dan aku memmohon juga kiranya aku secara khusus dapat selalu melakukan ama;l yang saleh yakni, yang baik dan bermanfaat lagi yang engkau ridhoi; berilah kebaikan untukku pada ank cucuku. Yakni jadikanlah kebaikan tertampung secara mantap dan bersinambung pada anak cucuku, kebaikan yang kuperoleh pla manfaatnya. Ayat di atas menyifati kata insan/manusia dengan satu sifat pun, demikian juga al-walidain/ kedua orang tua . hal tersebut mengisyaratkan bahwa kemanusiaan manusia mengharuskannya berbakti kepada orang tua dan bahwa bakti tersebut harus tertuju pada orang tua betapapun keadaan mereka. Itu sebabnya al-Qur‟an mewasiatkan untuk berbuat kepada keduanya walaupun mereka kafir(baca QS. Luqman: 15).

Kata

ihsanan ada juga yang membacanya husnan. Kedua kata

tersebut mencakup “segala sesuatu yang menggembirakan dan disenangi”. Kata hasanah digunakan untuk menggambarkan apa yang menggembirakan manusia akibat perolehan nikmat, menyangkut jiwa, jasmanidan keadaannya. Demikian dirumuskan oleh pakar kosa kata al-Qur‟an, ar-Raghib al-Ashafani. Bakti atau berbuat baik kepada orang tua adalah bersikap sopan santun keduanya dalam uca[pan dan perbuatan sesuai dengan adat dan kebiasaan masyarakat, sehingga mereka mersa senang terhadap anak. Termasuk dalam makna bakti adalah

mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai kemampuan anak. Firman-Nya: hamalathu ummuhu kurhan

wa wadha’athu kurhan / artinya mengandungnya dengan susah payah melahirkannya dengan susah payah, menjelaskan betapa berat kandungan dan kelahiran itu dialami oleh seorang ibu. Dalam konteks ini sayid kutub menulis bahwa dengan kemajuan yang dicapai dalam embrio dapat diketahui betapa besar pengorbanan ibu. Setelah terjadi pembuahan zat yang merupakan cikal bakal manusia, bergerak menuju dinding rahim untuk berdempet.

Firman-Nya:

wahamluhu wa fisholuhu

tsalatsuna syahron / kandungan dan penyapihannya adalah 30 bulan, mengisyaratkan bahwa masa kandungan minimal 6 bulan, karena pada QS Surat Al-Baqorah 233 telah dinyatakan bahwa masa penyusuan yang sempurna adalah 2 tahun, yakni 24 bulan. Disisi lain dapat dikatakan bahwa penyusuan minimal 9 bulan, karena masa kandungan yang normal adalah 9 bulan. Ayat di atas menyatakan betapa pentingnya ibu menyusukan anak dengan Asi. Ayat di atas juga menunjukkan betapa pentingnya bu kandung memberoikan perhatian yang cukup kepada anak-anaknya, khususnya pada masa

pertumbuhan dan perkembangan jiwa. Dimana sikap kejiwaan orang dewasa banyak sekali ditentuksan oleh perlakuan yang dialami pada saat kanak-kanak. Karena itu tidaklah tepat membiarkan mereka hidup terlepas dari ibu bapaknya. Firman-Nya: hatta idzabalagho asyuddahu/

dipeselisihkan oleh ulama tentang batas waktunya. Banyak ulama yang menyatakan itu terpenuhi pada usia 33 tahun, buka QS Yusuf 22 untuk mengetahui tentang hal ini. Betapa pun maknanya yang jelas ayat di atas menuntut peningkatan pengabdian dan bakti kepada kedua orang tua dari waktu kewaktu dan bahwa walaupun seseorang telah mencapai kedewasaan dan memiliki tanggung jawab terhadap istri dan anak- anaknya namun bakti tersebut harus berlanjut dan meningkat.

Berbeda-beda penjelasan para ulama tentang makna kata

auzini.

Ada yang memahami ilhamilah aku, ada juga yang menafsirkan dalam arti jadikanlah akau menyenangi atau anugrahilah aku petunjuk. Thaba‟thaba‟I yang memahaminya dalam arti ilhamilah aku menggarisbawahi bahwa ilham yang dimaksud bukanlah ilham yang berarti pengetahuan yang menyikap apa yang tadinya tidak diketahui. Seperti dalam Firman-Nya QS asy-Syam ayat 7-8

Artinya: “dan demi jiwa serta penyempurnaanya (ciptaanNya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan”.

Tetapi ilham yang bersifat amaliah yakni ajakan yang terdapat dalam jiwa sanubari seseorang yang mendorongnya melakukan kebaikan dan mensyukuri nikmat ilahi. Kata ni‟mah pada kata ni‟mataka berbentuk tunggal. Ini

megisyaratkan bahwa jangankan nikmat yang beraneka ragam dan banyak, satu nikmat pun yang diperoleh manusia, tidak dapat disyukuri secara baik kecuali dengan bantuan Allah SWT. Kata fi pada FirmanNya fidzurriati mengandung makna

wadah, sehingga ini mengesankan adanya wadah yang menampung kebaikan itu pada anak cucunya, dan ini pada akhirnya mengandung makna tertampungnya secara baik dan mantap kebaikan itu pada diri mereka dan tidak tercecer jatuh kemana-mana. Kesalehan anak-anak itu dimohonkannya untuk bermanfaat pula bagi diri sang ayah yang berdoa sebagai mana yang ditunjuk oleh kata li/ untukku.

QS. An-Najm ayat 45-46

Artinya: “ dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita,. dari air mani, apabila dipancarkan”.

Bukan hanya itu yang tercantum dalam shuhuf Ibrahim dan Musa as. Dan tercantum juga di sana bahwa Dialah sendiri yang menciptakan kedua pasangan yakni laki-laki dan perempuan , jantan dan betina dari sperma, apabila dipancarkan dan melalui sistem yang ditetapkan. Setelah sekian banyak hal yang berada di luar kontrol manusia yang diuraikan dalam Shuhuf Ibrahim dan Musa as. Yang menunjukkan kuasa Allah yang mutlak, kini disebutkan kuasa-Nya membangkitkan manusia setelah kematiannya. Allah berfirman bahwa: dan di dalam shuhuf kedua nabi mulia itu, ada juga tercantum bahwa atas-Nyalah yakni dialah yang menjamin berdasarkan janji-Nya yang tidak mungkin dimungkiri dan dia juga yang menetapkan kejadian yang lain yakni penciptaan kembali manusia dan kebangkitannya sesudah mati. Penyebutan hal-hal yang bertolak belakang di atas, menunjukkan betapa kuasa Allah swt. Dan bahwa Dia mengetahui isi hati manusia serta dapat membolakbalikkan hatinya. Ayat 45 yang berbicara tentang penciptaan pasangan laki-laki dan perempuan, demikian juga ayat 47 yang menegaskan kuasa-Nya melakukan kebangkitan setelah kematian- keduanya tidak disertai dengan kata Huwa, berbeda dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Kata huwa, berbeda dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Kata Huwa berfungsi menekankan kemutlakan dan kemandirianNya dalam hal-hal yang diuraikan. Boleh jadi ada yang menduga bahwa hal-hal yang dikemukakan tersebut terjadi tanpa izin dan keterlibatan Allah swt. Adapun menyangkut penciptaan pasangan dan kebangkitan, maka peranan Allah di sana sangat nyata sehingga penekanan dengan kata huwa tidak diperlukan.

C. KEUTAMAAN DAN MARTABAT ORANG YANG BERILMU Surat Az-Zumar, ayat 9

Artinya: (apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia

takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “adakah sama orang-prang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Ayat ini merupakan dua pertanyaan yang sejalan (paralel). Pertanyaan pertama sama artinya dengan pertanyaan kedua. Pertanyaan pertama menanyakan perbandingan orang yang iman dan taat beribadat di tengah malam dan orang kafir musyrik yang ingin enaknya saja dalam hidup ini. Perbandingan yang dipertanyakan ini terjawab dengan perbandingan antara orang-orang yang mengerti (berilmu) dan orang-orang yang tidak mengerti (bodoh) yang menjadi pertanyaan kedua. Jelasnya orang-orang yang beriman dan taat beribadat malam itu termasuk golongan orang-orang yang mengerti (berilmu) tentang hakikat kehidupan dunia yang sebenarnya. Sebab memang iman itu hanya hasil pemikiran akal yang sempurna tentang segala yang ada dan terjadi di dunia ini, yang menimbulkan kesadaran tentang ada dan kuasa Allah SWT. Sehingga menyebabkan dirinya tunduk sepenuhnya atas kehendak dan ajaran-Nya, sampaisampai di waktu tidur nyenyak malampun mau memaksakan diri untuk bangun dan beribadat kepadanya. Sedangkan orang-orang yang tidak beriman atau musyrik itu adalah golongan yang tidak mengerti (bodoh) yang memandang kehidupan dunia ini hanya sepintas jangkauan panca indra, tidak masuk dan tidak meresap menjadi pemikiran akal. Itulah sebabnya, maka ayat ditutup dengan kalimat

)hanya orang-orang yang berakal sehat saja, yang mampu menyerap nasihat
dan petunjuk dari segala apa yang ditemui dan dialaminya dalam hidup ini. Dari ayat ini kita dapat menarik kesimpulan tentang tingginya derajat ilmu dan tingkatan-tingkatannya. Ilmu lahir yang hanya lahir yang hanya berpikir tentang cara pemanfaatan segala yang ditemui di alam semesta ini seharusnya ditambah dan disambung dengan ilmu rohani., agar segala penemuan lahir itu dapat membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebab ilmu lahir yang tidak diambung dengan ilmu rohani itu akan menyebabkan orangnya hidup seperti hewan yang tidak berakal, tjuannya hanya ingin bersenang-senang dan memperebutkan harta. Akibatnya akan timbul hokum rimba dimana orang yang

lemah dan bodoh menjadimangsa/korban orang yang kuat dan pintar. Si kuat dan si pintar sendiri akhirnya menjadi korban kepintaran dan kekuatannya sendiri; sebab di dunia ini setiap yang kuat dan pintar pasti dikalahkan pasti dikalahkan oleh orang yang lebih kuat dan lebih pintar lagi. Tidak ada tenaga pemungkas dan ilmu penutup. Dengan demikian ilmu yang tidak membuahkan iman dan amal itu masih termasuk bodoh. Quran surat al-mu‟minun ayat 80

Ayat ini merupakan pertanyaan tentang kebenaran keimanan pada Allah, karena pad ahakikatnya hanyalah Allah yang menghidupkan dan mematikan makhluk dan menciptakan pergantian siang dan malam; kemudian Allah mempertanyakan apakah manusia tidak menggunakan akalnya untuk memperhatikan hikmah keadaan dan perubahan alam sebagai petunjuk ke arah keimanan kepada Allah. Kalau orang menggunakan akalnya secara penuh, pasti dia mengakui bahwa semua itu tidak termasuk kemampuan ilmu manusia. Dalam ayat ini terkandung hikmah bahwasannya akal itu menjadi sarana pokok untuk memperoeh pengetahuan yang luas dan mendalam guna merintis jalan keimanan kepada Allah agar dapat memiliki kepandaian dan dapat mencapai kebenaran hakikat hidup dan mati manusiadi dunia dan di akhirat. Oleh karena itu setiap muslim diwajibkan selalu menuntut ilmu dan mempergunakan penalaran akal sebaiknya agar dapat mengikuti perkembangan zaman dan menguasainya dengan hikmah syari‟at Islam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->