P. 1
Airrport Engine Ring Di Timor Leste

Airrport Engine Ring Di Timor Leste

|Views: 25|Likes:
Published by Ramlin Martins Luis
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Published by: Ramlin Martins Luis on Mar 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2012

pdf

text

original

RAMLIN AINARO

METODE PENELITIAN

AIRPORT ENGINEERING ATURAN PENGAMANAN (DOMESTIK DAN INTERNASIONAL)LALU LINTAS UDARA

Oleh Luis Martins 09.01.01.147 Semester III Teknik Sipil

DILI INSTITUTE OF TECHNOLOGY (DIT) 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan transportasi penerbangan dewasa ini mengalami kondisi yang cukup memprihatinkan dengan ditandai lahirnya beberapa deregulasi kebijakan yang mengarah untuk terciptanya transportasi udara yang aman dan kondusif.Hal ini pada dasarnya

RAMLIN AINARO

ditujukan untuk menjaga kondisi perekonomian di Timor-Leste yang telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan dari sistim tertutup kepada system terbuka. Disamping lahirnya kebijakan penciptaan transportasi udara yang aman dan kondusif,pemerintah juga telah mengeluarkan beberapa kebijakan di bidang ekonomi dalam rangka globalisasi perekonomian,dengan tujuan untuk menarik para investor local maupun investor asing agar menanamkan modalnya.Hadirnya investor akan memungkinkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah untuk berkembang.Timor-Leste juga kaya akan potensi sumber daya alam sangat memerlukan modal melalui investasi asing sebagai sarana pendukung,menumbuhkembangkan pembangunan ekonomi di dalam menghadapi era globalisasi dan persaingan dari Negaranegara lain. Berkenaan dengan perlindungan hukum terhadap penanaman modal asing di Timor-Leste,pemerintah dalam rangka meningkatkan penanaman modal asing telah dan selalu melakukan upaya untuk meningkatkan iklim yang kondusif untuk mendukung proses penanaman modal asing yang muaranya akan lebih menberikan jaminan kapasitas terhadap perlindungan hukum penanaman modal asing.Faktor hukum inilah yang menjadi factor yang memberikan kontribusi. Iklim yang kondusif bagi kegiatan-kegiatan penanaman modal tersebut seperti stabilitas politik,keamanan dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi,pembagian pendapatan yang merata serta peningkatan daya beli penduduk.Peningkatan iklim yang kondusif tersebut hendaknya juga diikuti oleh tersedianya peraturan perundang-undangan yang memadai dalam arti mengarah pada peningkatan perlindungan hukum penanaman modal. Kondisi diatas menunjukkan bahwa Timor-Leste harus konsisten dengan perangkat hukum di bidang penanaman modal asing dan sarana pendukung kegiatan penanaman modal asing misalnya sarana prasarana transportasi udara yang tidak dapat di pisahkan dari kemajuan pemanfaatan teknologi,baik perangkat hukum yang sifatnya tetap maupun perangkat hukum yang sifatnya temporer.Sifat hukum ini merupakan unsur persfektif dari control social kegiatan investasi yang berkaitan erat dengan tujuan utama hukum yaitu menjamin stabilitas dan kepastian. Perangkat hukum yang tetap disebut sebagai politik hukum yang tetap,yaitu berkaitan dengan sikap hukum yang akan selalu dijadikan dasar kebijaksanaan pada setiap pembentukan dan penegakkan hukum.Sedangkan perangkat hukum yang temporer adalah kebijaksanaan yang ditetapkan dari waktu ke waktu sesuai dengan kebutuhan.Termasuk ke dalam kategori ini seperti:penentuan prioritas pembentukan peraturan perundangundangan,penghapusan sisa-sisa perundangan colonial,pembaharuan peraturan perundangan di bidang ekonomi,penyusunan peraturan perundangan yang memanjang pembangunan nasional dan sebagainya. Politik hukum sebagai kebijaksanaan diharuskan juga memperhatikan aspek-aspek sosial yang perpengaruh terhadap pembentukan dan penegakkan hukum sehingga dapat memprediksi keberlakukan suatu kaedah hukum pada pelaksanaan dan perlindungan investor di timor-Leste.Termasuk pengamanan Bandar udara internasional terhadap tindakan-tindakan yang menimbulkan gangguan ketertiban lalu lintas penerbangan berupa perbuatan-perbuatan pidana yang diancam pasal 479 huruf q KUH pidana yang menyatakan bahwa:”barang siapa di dalam pesawat udara melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dalam pesawat udara dalam penerbangan,dipidana

RAMLIN AINARO

dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun.Jika pengawasan terhadap setiap penumpang dan bagasi dilakukan secara teliti dan ketat dengan alat deteksi mengakibatkan kemungkinan akan tejadi pembajakan dan sabotase terhadap pesawat udara akan dapat dihindarkan,dengan demikian setiap bandar udara baik yang bertaraf internasional maupun penerbangan domestik perlu memasang alat-alat deteksi untuk memudahkan pengawasan. Berkembangnya suatu kejahatan yang mempergunakan penerbangan sipil sebagai sarana untuk melakukan kejahatan,memerlukan suatu konvensi internasional guna mengatasi kejahatan,dengan adanya konvensi internasional maka akan mempersempit gerak pelaku kejahatan terhadap penerbangan sipil.Diantara konvensi internasional yang mengatur masalah penerbangan sipil pada umumnya terdapat tiga konvensi khusus yang mengatur tentang kejahatan terhadap penerbangan sipil yaitu konvensi Tokyo 1963 yang mengatur tentang tindak pidana dan tindakan lain tertentu yang di lakukan didalam pesawat udara (Tokyo Convention on Offences and Certain Other Acts Committed Board Aircraft),Konvensi Den Haag 1970 tentang penguasaan pesawat udara secara tidak sah (The Hague Convention for Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft) dan Konvensi Montreal 1971 tentang pemberantasan tindakan-tindakan melawan hukum terhadap penerbangan sipil (Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Civil Aviation).Arti pentingnya peraturan-peraturan internasional ini pada dasarnya digunakan oleh suatu Negara guna menangani masalah kejahatan terhadap penerbangan khususnya kejahatan yang ditujuan terhadap pesawat udara sipil di bandar udar. Hal ini diperlukan karena khusus dalam penerbangan internasional pada umumnya akan menyangkut kepentingan lebih dari satu Negara apabila terjadi suatu kasus kejahatan misalnya kepentingan Negara tempat pesawat itu mendarat, kepentingan dari Negara yang memiliki pesawat udara atau Negara dimana pesawat udara sipil tersebut didaftarkan. Berhubungan dengan kejahatan yang ditujukan terhadap pesawat udara sipil bandar udara. tetun saja tidak hanya dapat merusak atau menghancurkan pesawat udara sipil itu sendiri. Namun dapat juga engancam keselamatan para penumpang. Awak pesawat udara dan tidak lupur pulamengancam keselamatan orang-orang yang berada disekitar Bandar udara serta merusa fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk suatu penerbangan di Bandar udara.Kejahan tersebut misalnya,dapat dilakukan dengan meletakkan bahan peledak atau bom waktu disekitar Bandar udara atau di dalam pesawat udara itu sendiri dengan harapan akan meledak dengan sendirinya yang pada akhirnya akan merusak atau menghancurkan pesawat udara sipil di Bandar udara ataupun setelah pesawat udara lepas landas (take off). Berdasarkan pengaturan menyangkut penerbangan sipil baik konvensi internasional maupun perundang-undangan nasional maka dapat dideskripsikan bahwa ada beberapa kategori gangguan keamanan Bandar udara berupa tindakan melawan hukum (Acts of Unlawful Interference) berupa tindakan-tindakan sebagai berikut:
1.

Tindakan kekerasan terhadap seseorang di atas pesawat udara dalam penerbangan yang memungkinkan membahayakan keselamatan pesawat udara tersebut Menghancurkan atau merusak pesawat udara yang akan dioperasikan sehingga menyebabkan pesawat udara tersebut tidak dapat terbang atau membahayakan keselamatan selama penerbangan

2.

RAMLIN AINARO

Menempatkan alat atau bahan di pesawat udara yang akan dioperasikan sehingga menyebabkan pesawat udara tersebut tidak dapat terbang atau membahayakan keselamatan selama penerbangan. 4. Menghancurkan atau merusak atau menggaggu operasi fasilitas navigasi penerbangan yang berakibat membahayakan keselamatan penerbangan. 5. Komunikasi informasi palsu yang berakibat membahayakan keselamatan penerbangan. 6. Melakukan tindakan melawan hukum yang disertai dengan menggunakan peralatan,zat atau bahan atau senjata.
3.

1.2.Identifikasi Masalah Untuk menentukan identifikasi masalah,maka perlu dipertanyakan apakah yang menjadi masalah yang dikaji lebih lanjut untuk menemukan suatu pemecahan masalah yang telah diidentifikasikan tersebut.kejahatan terhadap pesawat udara sipil dibandar udara memerlukan penanggulangan secara terpadu dengan memperdayakan peranan hukum sebagai kerangka dasar untuk melakuikan tindakan pengamanan.Kejahatan terhadap pesawat udara muncul dari perkembangan ilmu dan teknologi dengan memanfaatkan sarana transportasi secara mudah untuk melintasi batas Negara dalam rangka mempercepat arus lalu lintas kegiatan perekonomian. Berkembangnya suatu kejahatan yang mempergunakan penerbangan sipil sebagai sarana untuk melakukan kejahatan,memerlukan suatu konvensi internasional guna mengatasi kejahatan,dengan adanya konvensi internasional maka akan mempersempit gerak pelaku kejahatan terhadap penerbangan sipil.

1.3.Batasan Masalah Untuk mempersempit permasalahan yang ada,maka penulis akan membatasi dengan hal-hal sebagai berikut: Pengaturan tentang keamanan penerbangan sipil yang termasuk dalam yuridiksi public pada perundang-undangan nasional. 2. Peran kepolisian dalam mengamankan bandar udara internasional. 3. Hambatan-hambatan kepolisian dalam memberikan perlindungan keamanan pada Bandar udara internasional.
1.

1.4. Rumusan masalah Untuk menentukan identifikasi masalah,maka perlu dipertanyakan apakah yang menjadi masalah yang dikaji lebih lanjut untuk menemukan suatu pemecahan masalah yang telah diidentifikasikan tersebut.Adapun yang menjadi permasalahan adalah sebagai berikut: ● agaimana pengaturan tentang keamanan penerbangan sipil yang termasuk dalam yuridiksi public pada perundang-undangan nasional? ● Bagaimana peran kepolisian dalam mengamankan bandar udara internasional?

RAMLIN AINARO

Bagaimana hambatan-hambatan kepolisian dalam memberikan perlindungan keamanan pada Bandar udara internasional?

1.5. Maksud dan Tujuan Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas,maka maksud dan tujuan yang diinginkan adalah sebagai berikut: ● Untuk mengetahui pengaturan tentang keamanan penerbangan sipil yang termasuk dalam yuridiksi publik pada perundang-undagan internasional ● Untuk mengetahui peran kepolisian dalam mengamankan Bandar udara internasional. ● Untuk mengetahui hambatan-hambatan kepolisian dalam memberikan perlindungan keamanan pada Bandar udara internasional. 1.6. Pendekatan Studi Pendekatan studi ini mengarahkan kepada peraturan perundangan sebagai kajian utama dan perilaku hukum dari pelaku yang memanfaatkan peraturan hukum yang berakibat gangguan situasi keamanan pada wilayah penerbangan sipil serta berpengaruh pada kegiatan investor asing dalam berinvestasi disuatu daerah sebagai konkrit dalam memperkuat analisis yuridis tersebut. alam penyelesaian studi ini,langkah-langkah pendekatan studinya adalah sebagai berikut: 1. Pengolahan data sekunder yang diperoleh dari internet dan perpustakaan. 2. Membandingkan keamanan penerbangan udara dari satu Negara dengan Negara lain dalam hal ini waktu penerbangan di udara dan pendaratan atau sandera. 3. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi dalam perlindungan keamanan pada Bandar udara internasional.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengaturan Tentang Penerbangan Pesawat Udara Sipil Penanggulangan terhadap kejahatan bagi penerbangan sipil bertujuan untuk memberikan kenyamanan penerbangan terhadap kejahatan yang ditujukan kepada pesawat udara sipil itu sendiri,misalnya kejahatan yang ditujukan terhadap pesawat udara sipil yang masih berada di Bandar udara,untuk mengatasi kejahatan demikian maka diperlukan peraturan perundangan baik secara internasional maupun menurut hukum nasional.

RAMLIN AINARO

Sarana hukum yang ada di dalam perundang-undangan ,yang mengatur tentang tentang kejahatan penerbangan sipil,seperti kejahatan dalam penerbangan,kejahatan terhadap pesawat udara yang sedang berada dalam dinas,kejahatan terhadap sarana/prasarana penerbangan dan Bandar udara,serta memberi informasi yang salah dapat diuraikan dibawah ini sebagai berikut: 1. Undang-undang nomor 2 tahun 1976 tentang pengesahan konvensi Tokyo 1963,konvensi theDen Haag 1970,dan konvensi Montreal 1971. Undanhg-undang nomor 4 tahun 1976 tentang perubahan dan penambahan beberapa pasal dalam kitab undang-undang huku pidana bertalian dengan perluasan berlakunya ketentuan perundang-undangan pidana,kejahatan penerbangan,dan kejahatan terhadap sarana/prasarana penerbangan.Undang-undang nomor 2 tahun 1976 dilakukan untuk meratifikasi konvensi-konvensi internasional yang mengatur ketentuan-ketentuan tentang kejahatan terhadap penerbangan sipil internasional,seperti konvensi Tokyo 1963,konvensi Den Haag 1970 serta konvensi Montreal 1971. Pertimbantgan undang-undang nomor 4 tahun 1976 tentang perubahan dan penambahan beberapa pasal dalam kitab undang-undang hukum pidana bertalian dengan perluasan berlangsungnya ketentuan perundang-undangan pidana,kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana/prasarana penerbangan. Pertimbangan pembentukan undang-undang nomor 4 tahun 1976 didasarkan pada penentuan penguasaan pesawat udara secara melawan hukum serta semua perbuatanperbuatan yang mengganggu keamanan penerbangan dan sarana/prasarana penerbangan sangat merugikan kehidupan penerbangan nasional pada khususnya,perekonomian Negara serta pembangunan nasional pada umumnya,sehingga perlu diadakan peraturanperaturan untuk mencegah perbuatan-perbuatan tersebut,guna menjamin keselamatan dan keamanan baik penumpang,awak pesawat udara,barang-barang yang berada dalam penerbangan,maupun perlindungan sarana/prasarana penerbangan.Undang-undang nomor 4 tahun1976 berkenaan dengan undang-undang tentang perubahan dan penambahan beberapa pasal dalam kitab undang-undang hukum pidana bertalian dengan perluasan berlakunya ketentuan perundang-undangan pidana. Perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum menurut undang-undang nomor 4 tahun 1976 yaitu: a. Dengan sengaja dan melawan hukum merusak atau menyebabkan kerusakan pesawat udara dalam dinas b. Dengan sengaja dan melawan hukum menempatkan atau menyebabkan ditempatkannya didalam pesawat udara sedang dinas,alat atu bahan yang dapat menghancurkan atau menyebabkan kerusakan pesawat udara. c. Menyebabkan pesawat udara tidak dapat terbang atau membahayakan keamanan penerbangan serta keamanan dalam penerbangan. Tindak pidana yang ditujukan terhadap sarana/prasarana penerbangan unsurunsurnya sebagai berikut: 1. Dengan sengaja dan melawan hukum atau karena kealpaan menghancurkan,membuat tidak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara atau menggagalkan usaha pengamanan bangunan tersebut.
2.

RAMLIN AINARO

Dengan sengaja dan melawan hukum atau karena kealpaan menghancurkan,merusak mengambil atau memindahkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan,atau menggagalkan bekerjanya alat atau tanda tersebut,atau memasang tanda atau alat yang keliru. 3. Perbuatan tersebut dapat membahayakan keamanan lalu lintas udara,membahayakan keamanan penerbangan atau mencelakakan pesawat udara atau matinya orang.
2.

Undang-undang Nomor 4 tahun 1976 juga mengatur ketentuan tentang tindak pidana yang dilakukan terhadap pesawat udara yang sedang berada di darat yaitu: “Barangsiapa dengan sengaja melawan hukum,menghancurkan atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan yang lain,dipidanakan dengan pidana penjara selama-lamanya Sembilan tahun”. Barangsiapa dengan sengaja melawan hukum,menghancurkan atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara,dipidanakan: a. Dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun,jika karena perbuatan itu timbul bahaya nyawa orang lain. b. Dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara untuk selama-lamanya dua puluh tahun,jika karena perbuatan itu mengakibatkan matinya orang. Dari pasal-pasal yang dimuat dalam undang-undang tersebut.ada beberapa pasal yang memuat ketentuan-ketentuan tentang keamanan dan keselamatan penerbangan serta tentang penyelidikan.Pasal 1 angka 1 undang-undang 15 tahun 1992 tentang penerbangan menyatakan bahwa penerbangan adalah setiap orang yang melakukan kejahatan jika dengan secara melawan hukum dan secara sengaja (unlawfully and internationally) sebagai berikut: 1. Melakukan tindakan kekerasan terhadap seseorang di atas pesawat yang sedang terbang (in flight) jika perbuatan tersebut tampaknya akan membahayakan keselamatan pesawat udara. 2. Menghancurkan suatu pesawat yang sedang in service atau mengakibatkan kerusakan yang mengakibatkan pesawat tersebut tidak mampu terbang atau jika perbuatan tersebut tampaknya akan membahayakan keselamatan penerbangan. 3. Menempatkan atau menyebabkan ditempatkannya di atas pesawat udara in service suatu peralatan atau bahan-bahan apapun yang tampaknya digunakan untuk menghancurkan pesawat udara tersebut,atau menyebabkan kerusakan terhadapnya yang maksudnya akan mengakibatkan kerusakan pesawat in flight. 4. Memberikan informasi salah yang akan membahayakan keselamatan penerbangan in flight. Sedangkan pasal 24 undang-undang nomor 15 tahun 1992 merumuskan bahwa: “pencegahan dan penanggulangan tindakan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap keamanan Negara diatur dengan peraturan pemerintah”. 2.2. Organisasi-Organisasi Penerbangan Sipil

RAMLIN AINARO

Usaha-usaha yang dilakukan untuk penanggulangan pemberantasan kejahatan terhadap penerbangan sipil dapat dilakukan melalui kerjasama antar Negara dengan menuangkan peraturan-peraturan dalam konvensi-konvensi internasional melalui organisasi internasional penerbangan sipil sebagai suatu jawaban atau kebutuhan nyata dari kepentigan Negara-negara dalam pergaulan internasional.Kehadiran organisasi-organisasi internasional itu merupakan sebagai suatu alat untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi Negara-negara di dunia. Dibidang kejahatan penerbangan sipil ini ada beberapa organisasi internasional yang telah mengeluarkan peraturan-peraturan internasional,resolusi-resolusi yang berhubungan dengan penerbangan sipil.organisasi-organisasi yang dimaksud meliputi: 2.2. International Civil Aviation Organization (ICAO) ICAO didirikan pada tahun 1944 di Chicago.Organisasi ini merupakan badan internasional yang paling perpengaruh dalam membuat ketentuan-ketentuan hukum dalam bidang penerbangan internasional.Tanggug jawab yang di bebankan kepada ICAO berkaitan dengan penerbangan sipil internasional sebagai organisasi internasional yang terdapat dalam Chicago convention,1944.ICAO berusaha menjalankan peranannya sebaik mungkin dengan melaksanakan kegiatan sebagai berikut: a. Menyusun pelaksanaan yang terperinci mengenai penyitaan prasarana-prasarana dan pelayanan-pelayanan penerbangan sipil internasional. b. Mempersiapkan rencana perjanjian internasional dan peraturan-peraturan yang diperlukan guna peningkatan kemajuan dunia internasional. c. Memperkenalkan kepada dunia internasional mengenai rancangan pesawat udara yang lebih ekonomis dengan tingkat keselamatan yang tinggi. Tugas dan kewenangan ICAO mempunyai hubungan yang erat dengan tujuan didirikan ICAO,yang mencakup tugas dan kewenangan sebuah organisasi internasional yang menangani penerbangan sipil internasional.Pasal 44 Chicago Convention 1944 memperinci hal-hal yang antara lain sebagai berikut: a. Menjamin keselamatan dan pertumbuhan terhadap penerbangan sipil internasional di seluruh dunia. b. Mengarahkan rancangan (design) pesawat udara untuk tujuan-tujuan keamanan dan keselamatan penerbangan. c. Memajukan pengembangan prasarana-prasarana perusahaan penerbangan,Bandarbandar udara,dan navigasi udara penerbangan sipil internasional . d. Memenuhi kebutuhan masyarakat internasional dalam hal keselamatan dan kenyamanan angkutan udara yang efisien dan ekonomis. e. Mencegah pemborosan ekonomi yang disebabkan oleh persaingan yang tidak wajar. f. Menjamin hak-hak Negara peserta dan bahwa Negara-negara tersebut mempunyai kesempatan yang sama untuk mengoperasikan jalur-jalur penerbangan internasional. g. Menghapus diskriminasi di antara Negara-negara peserta. h. Mendukung jaminan keselamatan penerbangan dalam navigasi udara internasional.

RAMLIN AINARO

i.

Mendukung secara umum pengembangan seluruh aspek penerbangan sipil internasional.

Dewan ICAO pada tanggal 25 Juni 1986 telah mengeluarkan sebuah resolusi mengenai ketentuan keamanan penerbangan (model clause on aviation security).Ketentuan ini telah dirancang untuk dimasukan kedalam perjanjian bilateral mengenai penerbangan udara.Dimaksudkan hanya unutk membimbing Negara-negara berdasarkan perjanjian untuk memperluas atau membatasi ruang lingkupnya atau menggunakan pendekatan yang berbeda. 2.3. International Air Transport Association (IATA) Organisasi IATA beranggotakan maskapai penerbangan sipil,yang pada umumnya dimiliki oleh pemerintah masing-masing Negara.IATA berperan dalam memberikan sumbangan pikiran atau ide-ide dalam mengatasi kejahatan terhadap penerbangan sipil internasional.Organisasi ini telah mengeluarkan beberapa resolusi untuk mengutuk terorisme terhadap penerbangan sipil internasional,serta mengusulkan cara-cara penanggulangannya.Selanjutnya dalam pernyataan pada tanggal 17 September 1969,IATA mengusulkan kepada PBB supaya setiap tindakannya (PBB),dalam menghadapi “hijacking of civil air transport”disertai dengan kutukan bahwa perubahan seperti itu merupakan “kejahatan internasional yang sederajat dengan perampokan (pembajakan) di laut bebas atau “genocide”. IATA digunakan dalam menghadapi berbagai kemungkinan untuk memperkecil dan menghindari terjadinya kejahatan terhadap penerbangan sipil internasional,yang sangat merugikan perusahaan-perusahaan penerbangan swasta internasional,maka selain itu mengeluarkan resolusi untuk mengutuk setiap tindakan kejahatan terhadap penerbangan sipil juga telah mengusulkan beberapa sikap dan tanggapan serta menyiapkan beberapa konsep yang berkaitan dengan tindakan pidana terhadap penerbangan sipil. Lebih lanjut usul-usul IATA berkenaan dengan keamanan penerbangan sipil internasional yaitu: a. IATA mengusulkan untuk di bentuknya kelompok keamanan penerbangan yang dengan cepat dapat mengatasi krisis keamanan penerbangan atas permintaan pemerintah Negara anggotanya. b. IATA juga mengusulkan supaya dibentuk satuan peneliti internasional yang berkaitan dengan keamanan penerbangan,sekitar pelanggaran terhadap keamanan penerbangan,dan memberikan rekomendasi-rekomendasi rahasia kepada pemerintah masing-masing Negara untuk mengambil tindakan keamanan. c. Untuk menanggapi secara militer dengan cepat pada krisis kemanan penerbangan,maka IATA mengusulkan dibentuknya suaut satuan militer internasional dan meliputi personal yang sangat terlatih dan berpengalaman yang siap jika ada permintaan untuk membantu pemerintahan Negara-neagar anggota yang membutuhkannya. d. IATA menyarankan agar dibentuk suatu pengadilan internasional untuk menuntut pelaku,serta dibentuknya pusat penahanan internasional (Rumah tahanan). 2.4. International Federation of Airline Pilots Association (IFALPA)

RAMLIN AINARO

Para anggota IFALPA merupakan sasaran yang pertama dalam setiap kali terjadinya kejahatan terhadap penerbangan sipil,di dalam suatu penerbangan komersial.Seperti diserang,dilukai dan dibunuh,baik di dalam penerbangan maupun setelah tiba didarat serta di sandera.karena itu tanggung jawab berat dan langsung atas keselamatan para penumpang dan pesawat udara berada pada pengemudi (pilot)pesawat udar.Untuk menghindarkan dari peristiwa yang dapat mengancam keselamatan penerbangan,maka IFALPA telah mengambil suatu kebijaksanaan yang didukung ICAO.Kebijaksanaan itu ditujukan kepada para pilot pesawat udara supaya menolak mengoperasikan pesawat uadara di atas wilayah suatu Negara yang sedang bertikaiyang diperkirakan akan terjadi serangan peluru kendali yang dapat mengancam keselamatan pesawat udara.IFALPA juga pernah memberi tanggapan atas tidak adanya instrument internasional,yang mengatur aspek-aspek penyelidikan kecelakan pesawat udara. Seperti yang telah diungkapkan dalam resolusinya di Amsterdam pada tahun 1969,antara lain para anggota IFALPA melakukan tindakan pemboikotan kepada Negaranegara yang melindungi dan mengampuni pelaku pembajakan,yang berlatarbelakang politik.IFALPA juga menyetujui prinsip pemogokan selama 12 sampai 24 jam,seperti tindakan pemogokan seluruh dunia pada tahun 1972.Namun demikian,para pilot maskapai penerbangan di Negara yang pemerintahnya melindungi para pelaku kejahatan karena alas an politik,tidak dapat mendukung sikap yang telah diambil oleh IFALPA.Kemudian IFALPA hanya mempunyai kewenangan yang terbatas untuk mengambil tindakan kepada pelaku.Kewenangan terakhir berada pada pemerintah masing-masing negara.

2.5.Dewan Keamanan PBB Masalah pengendalian kejahatan terhadap penerbangan sipil ini telah dikemukakan didalam sejumlah pertemuan antar pemerintah Negara-negara.Setiap Negara telah mengambil suatu tindakan tertentu dalam hal penyusunan peraturan-peraturanyang akan diterapkan jika kemugkinan nantinya akan terjadinya suatu tindakan kejahatan terhadap penerbangan sipil dinegaranya.Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB pada yang berlainan telah mnyinggung masalah tersebut,dan telah mencatat masukan-masukan dari Negara-negara anggota sebagaimana yang telah dituangkan dalam beberapa resolusi. Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan beberapa resolusi yang berhubungan dengan penerbangan sipil antara lain,”General Assembly Resolution on Forcible Diversion of Civil Aircraft in Flight”. Organisasi-organisasi Internbasional diharapkan dijadikan sebagai kerangka hukum internasional untuk mengatur tentang penerbangan sipil terhadap tindakan-tindakan melawan hukum atas kegiatan lalu lintas penerbangan.Konvensi Internasional yang mengatur tentang penerbangan sipil sampai saat ini belum mengatur tentang perangkatperangkat hukum yang mengatur tentang kebandarudaraan secara implisit sehingga dapat

RAMLIN AINARO

direduksi oleh Negara-negara peserta yang tergabung didalam organisasi-organisasi internasional yang dimaksud.

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Lokasi dan waktu penelitian berdasarkan sumber data sekunder adalah didapat dari jaringan internet antara lain: 1. Lokasi yang dimaksud disini adalah Bandar udara internasional Presiden Nicolao Lobato Comoro,Dili Timor-Leste 2. Lamanya waktu penelitian hanya sehari dan sumber penelitian lewat jaringan internet. 3.2. Data-Data Yang Dibutuhkan Data-data yang dibutuhkan adalah data sekunder yang diperoleh dari penelitian perpustakaan dan internet yang bertujuan untuk mendapatkan konsep-konsep,teori-teori dan informasi-informasi serta pemikiran konsepsional dari penelitian terdahulu baik berupa peraturan perundang-undangan dan karya ilmiah lainnya.Data sekunder terdiri dari:

RAMLIN AINARO

Bahan hukum primer,antara lain: a. Norma atau kaidah dasar b. Peraturan dasar c. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perangkat hukum yang mengandung unsure keamanan pada penerbangan sipil. 2. Bahan hukum sekunder berupa buku yang berkaitan dengan peran stabilitas sebagai factor pendukung kegiatan investasi,hasil-hasil penelitian,laporanlaporan,artikel,hasil-hasil seminaratau pertemuan ilmiah lainnya yang relevan dengan penelitian ini 3. Bahan hukum tersier atau bahan hukum penunjang yang mencakup bahan yang memberi petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer,sekunder,seperti kamus umum,kamus hukum,majalah dan jurnal ilmiah,serta bahan-bahan diluar bidang hukum yang relevan dan dapat dipergunakan untuk melengkapi data yang diperlukan.
1.

3.3. Langkah Penyelesaian Studi Langkah penyelesaian studi ini menggunakan studi dokumen,artinya data yang diperoleh melalui penelusuran kepustakaan berupa data sekunder ditabulasi yang kemudian disitematisasikan dengan memilih perangkat-perangkat hukum yang relevan dengan objek penelitian.Keseluruhan data ini kemudian digunakan untuk mendapat landasan teoritis berupa bahan hukum positif,pendapat-pendapat atau tulisan para ahli attu pihak lain berupa informasi baik dalam bentuk formal maupun naskah resmi.Untuk melengkapi data sekunder dalam penelitian .

3.4. Data Rumus Data rumus yang telah diperoleh dan dikumpulkan selanjutnya akan ditelaah dan dianalisis.Analisis untuk data kualitatif dilakukan dengan cara pemilihan pasal-pasal yang berisi kaidah-kaidah hukum.Data yang dianalisis secara kualitatif dikemukakan dalam bentuk uraian yang sitematis dengan menjelaskan hubungan antara berbagai jenis data,selanjutnya semua data diseleksi dan diolah kemudian dianalisis secara deskriptif sehingga selain menggambarkan dan mengungkapkan diharapkan akan memberi solusi atas permasalahan dalam penelitian.

RAMLIN AINARO

BAB IV PENUTUP 4.1. Kesimpulan Berdasarkan landasan teori diatas (bab II) dapat disimpulkan sebagai berikut: Pengaturan Tentang Penerbangan Pesawat Udara Sipil diatur dalam Undangundang nomor 2 tahun 1976 tentang pengesahan konvensi Tokyo 1963,konvensi theDen Haag 1970,dan konvensi Montreal 1971. ● Usaha-usaha yang dilakukan untuk penanggulangan pemberantasan kejahatan terhadap penerbangan sipil dapat dilakukan melalui kerjasama antar Negara dengan menuangkan peraturan-peraturan dalam konvensi-konvensi internasional melalui organisasi internasional penerbangan sipil sebagai suatu jawaban atau kebutuhan nyata dari kepentigan Negara-negara dalam pergaulan internasional.Kehadiran organisasi-organisasi internasional itu merupakan sebagai suatu alat untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi Negara-negara di dunia.

RAMLIN AINARO

ICAO didirikan pada tahun 1944 di Chicago.Organisasi ini merupakan badan internasional yang paling perpengaruh dalam membuat ketentuan-ketentuan hukum dalam bidang penerbangan internasional.Tanggug jawab yang di bebankan kepada ICAO berkaitan dengan penerbangan sipil internasional sebagai organisasi internasional yang terdapat dalam Chicago convention,1944.ICAO berusaha menjalankan peranannya sebaik mungkin dengan melaksanakan kegiatan sebagai berikut: ○ Menyusun pelaksanaan yang terperinci mengenai penyitaan prasaranaprasarana dan pelayanan-pelayanan penerbangan sipil internasional. ○ Mempersiapkan rencana perjanjian internasional dan peraturan-peraturan yang diperlukan guna peningkatan kemajuan dunia internasional. ○ Memperkenalkan kepada dunia internasional mengenai rancangan pesawat udara yang lebih ekonomis dengan tingkat keselamatan yang tinggi. ● Organisasi IATA beranggotakan maskapai penerbangan sipil,yang pada umumnya dimiliki oleh pemerintah masing-masing Negara.IATA berperan dalam memberikan sumbangan pikiran atau ide-ide dalam mengatasi kejahatan terhadap penerbangan sipil internasional.
● ●

Para anggota IFALPA merupakan sasaran yang pertama dalam setiap kali terjadinya kejahatan terhadap penerbangan sipil,di dalam suatu penerbangan komersial. Masalah pengendalian kejahatan terhadap penerbangan sipil ini telah dikemukakan didalam sejumlah pertemuan antar pemerintah Negara-negara.Setiap Negara telah mengambil suatu tindakan tertentu dalam hal penyusunan peraturan-peraturanyang akan diterapkan jika kemugkinan nantinya akan terjadinya suatu tindakan kejahatan terhadap penerbangan sipil dinegaranya.

4.2. SARAN Diharapkan adanya perundang-undangan yang lebih khusus mengatur tentang standar prosedur pengamanan Bandar udara.Perundang-undangan yang menjadi kerangka hukum selama ini mengatur tentang kewenangan.Diharapkan terciptanya standar operasi prosedur (SOP) pengamanan dan menghadapi situasi kontijensi yang lebih optimal.

RAMLIN AINARO

DAFTAR PUSTAKA A

Kountur, Ronny,

Arief, Barda Nawawi, Upaya Non Penal Dalam Kebijakan Penaggulangan Kejahatan , Makalah disampaikan pada Seminar Krimonologi VI, Semarang, Tanggal 16-18 September 1991 Djamin, Awaloedin, Masalah dan Issue Manajemen Kepolisian Negara RI dalam Era Reformasi , Jakarta: Yayasan Brata Bakti, 2005 Gunawan, Budi, Membangun Kompetensi Polri, Sebuah Model Penerapan Manajemen SDM Berbasis Kompetensi , Jakarta: Yayasan

RAMLIN AINARO

Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian, 2005 Hartono, Sunaryati, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional , Bandung: Alumni, 1991 Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis , Jakarta: PPM, 2003 L. Herbert, The Limits of the criminal sanction. Stanford: Stanford University Press, 1968 Nasution, Lutfi, Himpunan Pidato Tahun 2000, Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat , Jakarta: BPN, 2000 Nasution, Mulia, Teori Ekonomi Makro, Pendekatan Pada Perekonomian Indonesia , Jakarta: Djambatan, 1997 --------------, Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional , Lembaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Universitas Padjadjaran, Bandung: Binacipta, 1977 -------------, Hubungan Antara Hukum Dengan Masyarakat, Landasan Pikiran Pola dan Mekanisme pelaksana Pembaharuan Hukum, Jakarta: BPHNLIPI, 1996 -------------, Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional, Cipta, 1976

RAMLIN AINARO

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->