Sejarah Kain Sasirangan Menurut sejarah sekitar abad XII sampai abad ke XIV pada masa kerajaan Dipa

atau kerajaan Banjar, cerita rakyat atau sahibul hikayat, kain sasirangan yang pertama dibuat yaitu tatkala Patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut banyu. Menjelang akhir tapanya rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengan suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini. Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi / padiwaringin. Itulah kain calapan / sasirangan yang pertama kali dibuat dan sering disebut oleh masyarakat sebagai batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan. Proses Pembuatanya: Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel. Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan khas daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.

Sumber : http://sasirangan.multiply.com/journal/item/1

Putri Junjung Buih juga meminta Lambung Mangkurat membuatkan sehelai kain langgundi . M. Keterampilan membuat kain langgundi ketika itu tidak hanya dikuasai oleh para wanita yang sudah tua saja. yakni kain tenun berwana kuning. Kain sasirangan memang identik dengan kain yang diberi gambar dengan corak warna-warni berbentuk garis-garis jelujur yang memanjang dari bawah ke atas (vertikal). Bukti bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para pembuat kain langgundi adalah paparan tentang keberhasilan Lambung Mangkurat memenuhi permintaan Putri Junjung Buih sebagai syarat kesediaannya untuk dijadikan raja putri di Kerajaan Negara Dipa. Ini berarti sasirangan artinya dibuat menjadi satu jelujur. Paparan ini menyiratkan bahwa kain langgundi ketika itu memiliki pangsa pasar yang besar. maka sudah barang tentu tidak bakal banyak warga negara Kerajaan Negara Dipa yang menekuninya sebagai pekerjaan utama. Sa artinya satu dan sirang artinya jelujur. tetapi juga dikuasai oleh para wanita yang masih gadis belia. Menurut Hikayat Banjar. Pada mulanya kain sasirangan disebut kain langgundi. Putri Junjung Buih ketika itu meminta Lambung Mangkurat membuatkan sebuah mahligai megah yang harus selesai dikerjakan dalam tempo satu hari oleh 40 orang tukang pria yang masih bujangan.Pd Kain sasirangan adalah sejenis kain yang diberi gambar dengan corak dan warna tertentu yang sudah dipolakan secara tradisional menurut citarasa budaya yang khas etnis Banjar di Kalsel. Ketika Empu Jatmika berkuasa sebagai raja di raja di Kerajaan Negara Dipa pada tahun 1355-1362. Jika tidak. kain langgundi merupakan kain yang digunakan secara luas sebagai bahan untuk membuat busana harian oleh segenap warga negara Kerajaan Negara Dipa. istilah sasirangan sudah disepakati secara sosial budaya (arbitrer) kepada benda berbentuk kain (kata benda). tapi adalah kata kerja. Selain itu. Hikayat Banjar memaparkan secara tersirat bahwa di kawasan yang sekarang ini dikenal sebagai pusat kota Amuntai banyak berdiam para pengrajin kain langgundi. Secara etimologis istilah sasirangan bukanlah kata benda sebagaimana yang dikesankan oleh pengertian di atas. Sungguhpun demikian.SEJARAH KEBERADAAN KAIN SASIRANGAN Oleh Tajuddin Noor Ganie.

Maka aku suruh parbuatkan tapih kuning. . SKH Mata Banua Banjarmasin. Paparan ini menyiratkan bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para tukang pria yang masih bujang. Pada hari yang telah disepakati. sahut Lambu Mangkurat : “Baiklah tuanku. hal 1 bersambung ke hal 13). libarnya tujuh kilan. naiklah Putri Junjung Buih ke alam manusia meninggalkan tempat persemayamannya selama ini yang terletak di dasar Sungai Tabalong. Menurut laporan Wulan (2006).” Sudah itu hari pun siang.yang selesai ditenun dan dihiasi dalam tempo satu hari oleh 40 orang wanita yang masih perawan. 1968 : Baris 725-735. panjangnya tujuh hasta. karana bakas barhala. Jika tidak. sudah barang tentu kain langgundi yang dibuat pada kurunkurun waktu dimaksud sudah tidak mungkin ditemukan lagi artefaknya. maka sudah barang tentu Lambung Mangkurat tidak akan mampu memenuhi semua permintaan Putri Junjung Buih. Senin. kain sasirangan yang paling tua berusia sekitar 300 tahun. kain langgundi sebagai cikal bakal kain sasirangan sudah dikenal orang sejak tahun 1365 M. buatkan jadi sahari ini jua akan tudungku naik ka mahligai itu. Sida manyuruh maambil batung batulis di gunung Batu Piring itu ampat kayu itu akan tihangnya. Ketika itulah warga negara Kerajaan Negara Dipa melihat Putri Junjung Buih tampil dengan anggunnya. Jadikan sahari ini jua itu. Hikajat Bandjar) Semua permintaan Putri Junjung Buih itu dapat dipenuhi dengan mudah oleh Lambung Mangkurat. Kain sasirangan ini dimiliki oleh Ibu Ida Fitriah Kusuma salah seorang warga kota Banjarmasin (Tulah Mata Picak Tangan Tengkong. 13 November 2006. Pakaian kebesaran yang dikenakannya ketika itu tidak lain adalah kain langgundi warna kuning hasil tenunan 40 orang penenun wanita yang masih perawan. Kata Putri Tunjung Buih : “Aku tiada mau diam di dalam candi itu. Namun. Merujuk kepada paparan yang ada di dalam Hikayat Banjar (selesai ditulis tahun 1635). Anak dara ampat puluh yang mambuatnya itu. dan para penenun wanita yang masih perawan. Buatkan aku mahligai tampatku diam.” (Ras. jangan orang yang sudah balaki.

Nama ini berkaitan dengan . kain langgundi ternyata tidaklah punah sama sekali. bebat (babat). buyut. Menurut keyakinan yang sudah berurat berakar di kalangan etnis Banjar di Kalsel. setiap satu. karena setiap jenis penyakit pingitan menuntut adanya kain langgundi dengan corak dan warna gambar tertentu yang saling berbedabeda. konon para arwah leluhur itu secara berkala akan menuntut anak. cucu. intah. seperti sarung (tapih bahalai). buyut.Konon. sejak Putri Junjung Buih mengenakan kain langgundi. konon para arwah leluhur itu secara berkala akan menuntut anak. piat keturunannya akan jatuh sakit akibat terkena penyakit pingitan. cucu. dan ikat kepala (laung). lima. Tidak ada obat lain yang dapat menyembuhkannya dari penyakit pingitan itu kecuali mengenakan kain langgundi. buyut. buyut. dan tujuh tahun anak. Sejak dipergunakan sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan alternatif inilah kain langgundi lebih dikenal sebagai kain sasirangan. cucu. Tidak ada obat lain yang dapat menyembuhkannya dari penyakit pingitan itu kecuali mengenakan kain langgundi. intah. intah. piat keturunannya untuk mengenakan kain langgundi. Kali ini kain langgundi dibuat bukan untuk dijadikan sebagai bahan pembuat busana harian. warga negara Kerajaan Negara Dipa tidak berani lagi mengenakan kain langgundi. maka sejak itu pula. setiap satu. Kain langgundi yang dipergunakan sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan alternatif itu dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan keperluan. karena pangsa pasarnya memang sudah tidak ada lagi. Menurut keyakinan yang sudah berurat berakar di kalangan etnis Banjar di Kalsel. para pengrajin kain langgundi tidak lagi membuatnya. intah. tiga. Meskipun demikian. dan tujuh tahun anak. cucu. selendang (kakamban). Penyakit pingitan adalah penyakit yang diyakini sebagai penyakit yang berasal dari ulah para arwah leluhur yang tinggal di alam roh (alam barzah). Begitulah. Beberapa orang warga negara Kerajaan Negara Dipa masih tetap membuatnya. Begitulah. piat keturunannya untuk mengenakan kain langgundi. piat keturunannya akan jatuh sakit akibat terkena penyakit pingitan. Akibatnya. tetapi sebagai bahan pembuat busana khusus bagi mereka yang mengidap penyakit pingitan. Corak dan warna gambar kain langgundi sangatlah beragam (tidak melulu bercorak getas dan berwarna dasar kuning saja). lima. tiga. Mereka khawatir akan kualat karena terkena tulah Putri Junjung Buih yang sejak itu menjadi raja putri junjungan mereka.

kemudian Pangeran Surianata. kain langgundi hanya boleh dikenakan sebagai busana kebesaran para bangsawan kerajaaan. buyut. seorang juru sembuh terkenal di kota Banjarmasin. Alabio. bahkan mungkin sejak zaman keemasan Kerajaan Nan Sarunai sebelum ditaklukkan oleh Empu Jatmika pada tahun 1355. Menurut penuturan nenek Jumantan (72 tahun). Ketika masih bernama kain langgundi. 2006). cucu. memperkirakan sejak abad ke 14-15 kain sasirangan berubah status menjadi kain yang dikeramatkan dan disebut kain pamintan. yakni kain yang hanya dibuat berdasarkan permintaan dari anak. cucu. piat dari 40 orang wanita perawan yang dulu berjasa membantu Lambung Mangkurat membuatkan kain langgundi yang diminta oleh Putri Junjung Buih. buyut. piat keturunannya berkuasa di Kerajaan Negara Dipa. Ini berarti fungsi kain sasirangan sudah bergeser menjadi kain yang . Fauzi (1993). kain sasirangan difungsikan sebagai kain untuk busana semua lapisan masyarakat di Kerajaan Negara Dipa. intah piat para bangsawan yang pengidap penyakit pingitan. cucu. intah. dan anak. Perlu dijelaskan bahwa kota-kota yang disebut-sebut nenek Jumantan adalah kota-kota yang dulu menjadi pusat pemukiman penduduk yang terbilang padat pada masa-masa jayanya Kerajaan Negara Dipa. Kalua. Patut diduga. atau bahkan menjadikannya sebagai selimut tidur (sarung). para pasien penyakit pingitan yang datang berobat kepadanya tidak lain adalah orang-orang yang masih mempunyai hubungan pertalian darah dengan nenek moyang mereka yang dulu tinggal di Amuntai. yakni disirang (kain yang dijelujur dengan cara dijahit kemudian dicelup ke dalam zat pewarna). di perut (bebat). Ini berarti fungsi kain sasirangan ketika itu (sebelum tahun 1355) merujuk kepada fungsi umum sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan jasmani seluruh warga negara. buyut. selendang). diyakini tidak ada obat lain yang mujarab bagi para pengidap penyakit pingitan ini selain dari pada mengenakan kain sasirangan di kepala (ikat kepala. Setelah Putri Junjung Buih. intah. dan Margasari (Wulan. Rakyat jelata tidak berani mengenakannya sebagai busana harian karena takut terkena tulah Ini berarti fungsi kain sasirangan ketika itu (sesudah tahun 1335) merujuk kepada fungsi khusus sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan jasmani bagi para bangsawan kerajaan saja.cara pembuatan. nenek moyang para pasien nenek Jumantan tersebut tidak lain adalah anak. Konon.

berfungsi khusus sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan rohani anak. cucu. ternyata bukanlah gejala sosial yang khas etnis Banjar di Kalsel saja. kepercayaan supertitious semacam itu merupakan gejala sosial yang bersifat universal di kepulauan nusantara. cucu. Penggunaan kain dengan corak dan warna gambar tertentu sebagai penangkal datangnya penyakit. piat keturunan rakyat jelata dapat dilakukan dengan cara-cara yang sederhana. intah. wanita Jawa yang tinggal di kota Probolinggo sengaja memakai batik bercorak Tulak Watu pada saat menjalani upacara adat tingkeben usia tujuh bulan masa hamil anaknya yang pertama. Tujuannya agar dirinya dan anak pertama yang dikandungnya tidak diganggu oleh roh jahat. intah. juga ditanggung negara. buyut. Paparan ini merupakan petunjuk bahwa kain sasirangan pada zaman dahulu kala pernah menjadi simbol status sosial di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Perbedaan asal-usul geneologis nenek moyang antara anak. Kasus semacam ini masih terjadi hingga sekarang ini. buyut. buyut. atau sebagai sarana terapi pengobatan alternatif atas suatu penyakit yang diyakini berasal dari alam gaib. . Rakyat jelata yang hidupnya miskin papa hanya diberi fasilitas pengobatan setara dengan dana yang tersedia dalam program asuransi kesehatan bagi rakyat miskin. cucu. Sungguh. piat keturunan bangsawan sudah mengalami perumitan yang sedemikian rupa. Menurut laporan Halimi (2007). Proses penyembuhan penyakit yang diderita oleh anak. Sementara itu para pejabat bahkan para mantan pejabat diberi fasilitas pengobatan yang terbilang istimewa dan dirawat di rumah sakit berkelas dengan dana ditanggung oleh negara (tidak beda dengan rakyat miskin. Proses penyembuhan penyakit yang mereka derita harus dilengkapi dengan terapi mengenakan kain sasirangan yang harganya relatif mahal (tak terjangkau oleh rakyat jelata yang hidupnya pas-pasan alias senin kemis). intah. Sekadar meminum air putih yang sudah diberi mantra-mantra atau do’a-do’a oleh para juru sembuhnya. buyut. Sementara proses penyembuhan penyakit yang diderita oleh anak. piat para bangsawan yang sedang mengidap suatu penyakit pingitan. piat keturunan bangsawan berdarah biru menuntut perlakuan yang berbeda dalam hal proses penyembuhan penyakit yang dideritanya. tapi jumlahnya tidak seberapaa). cucu. intah.

Berkaitan dengan keyakinan itulah. kain geringsing juga dikenakan oleh seorang gadis yang sedang menjalani upacara potong gigi. Mitos asal-usul geneologis nenek moyang inilah yang membuat tidak sembarang orang di kalangan etnis Banjar di Kalsel berani menekuni profesi sebagai pembuat kain sasirangan. akan kualat karena terkena tulah yang sangat menakutkan. Ida Fitriah Kusuma dan kawan-kawan menyatakan siap menanggung tulah itu. Menurut keterangan nenek Antung Kacil. Kain ikat ganda yang disebut gerinsing di Bali diyakini dapat menyembuhkan penyakit yang diderita oleh pemakainya. 2007). Pemberian ulos yang dipakai dengan cara diselendangkan itu dimaksudkan sebagai tanda simbolik bahwa orang tua yang bersangkutan telah memindahkan semua kekuatan magis yang ada padanya kepada anaknya yang sedang hamil tua itu. yakni ikut melestarikan salah satu kekayaan budaya . seorang wanita yang sedang hamil tua menerima pemberian ulos ni tondi dari orang tuanya. Tujuannya agar anak gadis yang bersangkutan tidak merasakan sakit yang berarti ketika giginya dipotong (Halimi. yakni mata picak tangan tengkong (bahasa Banjar. seorang juru sembuh yang menjadikan kain sasirangan sebagai sarana pelengkap terapi pengobatannya. Tahun 1981. Tujuannya agar anaknya itu mampu menghadapi segala marabahaya yang siapa tahu bakal menimpanya pada masa-masa kritis di saat kehamilannya itu (Halimi. Dalam hal ini. 2007). karena telah berani belajar membuat kain sasirangan secara tanpa hak sesuai dengan yang disyaratkan sejak zaman dahulu kala. Pada mulanya Antung Kacil tidak bersedia mengajarkan kita-kiat membuat kain sasirangan karena khawatir Ida Fitriah Kusuma dan kawan-kawan terkena tulah mata picak tangan tengkong. nenek moyang Ida Fitriah Kusuma dan kawan-kawan bukan keturunan bangsawan. siapa saja yang nenek moyangnya bukan keturunan bangsawan atau bukan keturunan pembuat kain sasirangan. Ida Fitriah Kusuma dan kawan-kawan datang bertandang ke rumah nenek Antung Kacil. Mereka yakin tidak akan kualat terkena tulah itu karena tujuan mereka belajar membuat kain sasirangan kepada Antung Kacil sematamata didasari dengan niat tulus. Mereka sengaja bertandang untuk meminta kesediaan nenek Antung Kacil mengajarkan kiat-kiat membuat kain sasirangan. Tanpa maksud menantang bahaya. setidak-tidaknya bukan keturunan pembuat kain sasirangan.Di Tanah Batak. artinya mata buta dan tangan mati rasa karena terkena stroke).

1993). Ketika itu mereka menggelar peragaan busana kain sasirangan di Hotel Febiola Banjarmasin. para calon jemaah haji Kalsel juga diwajibkan mengenakan baju berbahan kain sasirangan pada saat upacara pelepasan keberangkatan mereka di Aula Asrama Haji Landasan Ulin Banjarbaru. Sambutannya sungguh luar biasa. Akhirnya. Pada tanggal 24 Juli 1982. Kain sasirangan produksi mereka mulai diperkenalkan kepada khalayak ramai pada tanggal 27 Desember 1982. mereka membentuk Kelompok Kerja Pembuat Kain Sasirangan Banawati (Wulan. Apalagi setelah mengetahui bahwa Ida Fitriah Kusuma sesungguhnya juga seseorang yang berdarah bangsawan. Gubernur Kalsel Ir. hati Antung Kacil luluh juga.milik bersama etnis Banjar yang terancam punah. Tahun 1987. kain sasirangan dipamerkan di Departemen Perindustrian Jakarta. Sejak itu kain sasirangan mulai dikenal luas oleh segenap anggota masyarakat di Kalsel. HM Said kemudian mengeluarkan kebijakan mewajibkan para PNS mengenakan baju berbahan kain sasirangan pada setiap hari Jum’at (1985). Bak gayung bersambut. kata berjawab. yakni tanggal 10 Agustus 1982. Semakin lama. Warna asli kain sasirangan yang didominasi warna gelap mulai diberi tambahan warna terang yang lebih beragam untuk lebih menarik minat para pembeli (Baldi. Menurut catatan Baldi Fauzi (1993). hal ini merangsang para pengrajin untuk lebih giat lagi memproduksinya. Tidak hanya itu. Selepas pelatihan itu. kain sasirangan semakin dikenal luas. 2006). Tidak kurang dari Bapak KH Abdurrahman Wahid Presiden Republik Indonesia masa bakti 2000-2003. Masih dalam rangka lebih memperkenalkan kain sasirangan kepada khalayak ramai di luar daerah Kalsel. Ketika itu Prayudi. Ida Firiah Kusuma sudah berani mengajarkan ilmu yang baru dikuasainya kepada ibu-ibu warga kota Banjarmasin yang berminat. tercatat sebagai tokoh nasional yang gemar mengenakan baju berbahan kain sasirangan. pihak pemerintah daerah berinisiatif memberikan cinderamata kain sasirangan berkualitas istimewa kepada para pejabat tinggi sipil dan militer yang berkunjung ke daerah kalsel. seorang perancang busana terkemuka. Setelah cukup lama menimba ilmu kepada Antung Kacil. pada tahun 1993 saja sudah tercatat 68 unit usaha pembuat kain sasirangan di kota . didaulat untuk merancang busana dari bahan kain sasirangan. Ida Fitriah Kusuma dan kawan-kawan akhirnya mampu membuat kain sasirangan secara mandiri.

Minggu. Sasirangan Bermula Dari Tapih. Cetakan I. Minggu. sejak tahun 1985 fungsi kain sasirangan sudah kembali menjadi kain yang berfungsi umum sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan jasmani seluruh warga negara sebagaimana yang dulu berlaku sebelum tahun 1355. SKH Banjarmasin Post. Tidak lagi berfungsi khusus sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan rohani para pengidap penyakit pingitan. 15 September 1996. Farid. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara. 2 Maret 1997. Minggu. 2000.Cetak/0408/27Tanah Air/1223349. 15 Agustus 1993). Banjarmasin : PT Grafika Wangi Kalimantan. Banjarmasin : PT Grafika Wangi Kalimantan. Tak Sulit Memproduksi yang Berkualitas. Minggu.htm Banjarmasin Post. Kain Ikat Celup dalam Ruang dan Waktu. Banjarmasin : PT Grafika Wangi Kalimantan.71. 15 September 1996. . SKH Banjarmasin Post. 1997. Banjarmasin Post. 2003. Ini berarti. Sistem Simbol dalam Munaba Waropen Papua. Usaha kecil ini melibatkan tenaga kerja sebanyak 700 orang. SKH Kompas Jakarta. 26 Mei 2000. Dharmojo. Minggu. Jum’at. SKH Banjarmasin Post. SKH Banjarmasin Post. 2005. 17 Agustus 2003. Banjarmasin Post. 15 September 1996. 15 September 1996. SKH Banjarmasin Post. CM. Minggu.85. untuk Bergaya dan Penolak Bala. Pedagang Harapkan Gus Dur Kembali Pakai Sasirangan. 1996. Mencari Desain Khas Sasirangan. Banjarmasin : PT Grafika Wangi Kalimantan. Banjarmasin : PT Grafika Wangi Kalimantan. 15 September 1996. DAFTAR RUJUKAN Arukmasari. Warna dan Semiotika Desain. Banjarmasin : PT Grafika Wangi Kalimantan.203. Banjarmasin Post.Banjarmasin. 11/Kompas. 1996. 1996. Banjarmasin Post. Banjarmasin : PT Grafika Wangi Kalimantan. Djahar. http://arukmasari. Omset penjualan kain sasirangan ketika itu mencapai Rp. Tak Sulit Memproduk yang Berkualitas. SKH Banjarmasin Post. 98 juta per tahun (kain sasirangan. Minggu. Jayapura : Rewambonia Production. Kembalikan Sasirangan sebagai Kain Pamintan. SKH Banjarmasin Post. 2008. 1996.Files. Abdullah. Masih Belum sebagai Suatu Kebutuhan.Com/2008/02/Warna dan Semiotika. Wordpress. http://64. 1996.

Djahar. Cirebon : Cirebon Glass Printing. Banjarmasin : Lembaga Pengkajian dan Pelestarian Budaya Banjar Kalimantan Selatan. Halimi. Makna di Balik Warna. Minggu.Com/tp. Syamsiar. 2004. Tis Desain. Fauzi. Sodikin. Desain Utama Sasirangan Khas Kalsel.php2. Warna-warni Tapih Mayang Maurai. 2007. 2006. 2006. Kamis. Dari Caculupan Sampai Sasirangan. Dasar-dasar Tata Rupa dan Desain. Agus. Ebdi. Kamis. 1997. SKH Banjarmasin Post. 28 Februari 1997. Sodikin. Fauzi. Menelusuri Riwayat Kain Khas Banjar (2). Sasirangan dari Ritual Pengobatan ke Pentas Fashion. Mardhika. SKH Kompas. 15 Agustus 1993. 10 November 2006. Ant. SKH Kompas. Banjarmasin : PT Grafika Wangi Kalimantan. untuk Bergaya dan Penolak Bala. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara. Minggu. 2 Maret 1997. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara.tipsdesain. Banjarmasin : PT Cahaya Media Utama. 1993. com. Ornamen Getas dan Bentuk Dasar Nenas. 1998. 12 Maret 1998. Baldi. http://durian. SKH Banjarmasin. Jum’at. Sadjiman dan Sanyoto. Minggu. hal 1 bersambung ke hal 15. Sunday. 1997. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara. SKH Kompas. Seman. SKH Mata Banua. Banjarmasin : PT Cahaya Media Utama.com/News/Displaysnews.option. Baldi. hal 1 bersambung ke hal 15. 11 November 2006. Cetakan I. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara.html Eka. Pamintaan.Cirebon Ht. Amir. Kamis.19. Produsen Sasirangan Terancam Gulung Tikar. Jum’at. Gus. Banjarmasin : PT Grafika Wangi Kalimantan. Bermula dari Sebuah Rumah di Jalan Jawa. 2004.arts. 2007. http://www. 1993. What Color Are You. Kain Sasirangan. Sabtu. Kain Pengobatan Banjar. . 16 December 2007.com/ index. Sasirangan Kain Khas Banjar. 17 Mei 2004. Sekilas Sejarah Kain Tradisional Indonesia.Warna http://www. SKH Banjarmasin Post.com/teori warna. Wulan. Amir. SKH Kompas. 17 Mei 2004. Wulan. Kanal : Gaya Hidup. Banjarmasin : PT Grafika Wangi Kalimantana. 15 Agustus 1993. Transpormasi Tak Habis-habis. 2005. Menelusuri Riwayat Kain Khas Banjar (3). 2007.wikimu. SKH Mata Banua.

hal 1 bersambung ke hal 15. Sasirangan Membumi. Ingin Dibuatkan Kain Sehari Semalami. Dicari! Pencipta Motif Sasirangan. 17 November 2006.com/2009/04/sejarah-keberadaan-kain- sasirangan. Banjarmasin : PT Cahaya Media Utama. Banjarmasin : PT Cahaya Media Utama. SKH Mata Banua. 11 November 2006. Menelusuri Riwayat Kain Khas Banjar (9). 2006. Menelusuri Riwayat Kain Khas Banjar (4).blogspot. Gus Dur Salah Seorang Kolekror Sasirangan. Jum’at. 20 November 2006. Menelusuri Riwayat Kain Khas Banjar (7). Banjarmasin : PT Cahaya Media Utama. Wulan. Wulan. hal 1 bersambung ke hal 15. SKH Mata Banua. 18 November 2006. Menelusuri Riwayat Kain Khas Banjar (5). hal 1 bersambung ke hal 15. Selasa.Wulan. Menelusuri Riwayat Kain Khas Banjar (10). 2006. SKH Mata Banua. Banjarmasin : PT Cahaya Media Utama. Kamis. hal 1 bersambung ke hal 15. 13 November 2006. Senin. Banjarmasin : PT Cahaya Media Utama. Senin. Motif Sasirangan Berpeluang Menembus Eropa. Wulan. 2006. Banjarmasin : PT Cahaya Media Utama. Sabtu. SKH Mata Banua. Menelusuri Riwayat Kain Khas Banjar (8). 2006. hal 1 bersambung ke hal 15. 16 November 2006. 2006. Wulan.html/ . Sumber : http://tajudinnoorganie. hal 1 bersambung ke hal 15. SKH Mata Banua. SKH Mata Banua. Tulah Mata Picak Tangan Tengkong. Wulan. 2006.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful