P. 1
Filsafat Pembebasan

Filsafat Pembebasan

|Views: 40|Likes:
Published by emka27
Salah satu "Karya" terbaik dari balik "Penjara"
Salah satu "Karya" terbaik dari balik "Penjara"

More info:

Published by: emka27 on Mar 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2012

pdf

text

original

Filsafat Pembebasan Judul Aseli : Al Inqilabiy, al falsafat an Nahdhoh wa al Inqilabiyyah BAB I AINUL YAQIN “Cukuplah dikatakan pendusta, jika

engkau mengatakan apa yang kau dengar” (HR Muslim Imam Muslim dalam Muqaddimah Shohihnya, lihat Al Minhaj 1/27) Dahulu, kami senantiasa berkutat dengan ide-ide, konsep, data untuk melakukan sebuah gerakan massa. Dahulu, hal itulah yang bisa dibilang tujuan dari setiap gerakan dan analisa yang kami lakukan. Gerakan Massa! Demonstrasi! Bahkan kudeta !! Kami berbangga bila telah berhasil menghimpun data-data dan berhasil menembus batas-batas informasi untuk mendapatkan data tersebut. Kami merasa hebat ketika mengadakan aksi, agitasi dan diskusi bila telah dilengkapi dengan sebuah-sebuah data. Kami mereka pe-de bila data-data tersebut telah mampu kami beberkan dihadapan seorang penguasa. Ada beberapa hal yang menarik bila gerakan hanya disandarkan kepada data-data kedzaliman penguasa. Ini kami rasakan ketika stag dalam setiap pergerakan massa. Apakah ada yang salah dengan data-data yang kami peroleh. Kami masih belum puas dengan datadata yang telah kami peroleh. Dan tak mencari penyebab sebenarnya terhadap kemandekan laju pergerakan. Solusi yang kami sodorkan sekedar menambah data dan melengkapinya. Dan hasilnya dapat anda bayangkan. Pergolakan tetap berhenti! Sempat kami merasa jenuh terhadap iklim kemandegan dan deradikalisasi penguasa. Entah lewat jalan mana lagi operasi agitasi dan propaganda akan kami gelorakan kembali. Memprovokasi emosi massa tanpa disertai data-data yang matang dan akurat tak akan membangkitkan dan menyadarkan masyarakat. Justru masyarakat sekedar akan berpikir pragmatis terhadap perubahan yang dikehendaki. Perubahan hanya akan berlangsung secara parsial tanpa menyentuh akar pemasalahan. Dan perubahan tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Perubahan hanya akan berputar seiring periode waktu yang berputar diantar roda –roda kehidupan. Bagaikan sebuah fatamorgana. Data-data tersebut hanya akan terasa indah bila dipandang. Namun akan sirna, hilang tak bersisa ketika kita hampiri dan coba kita ‘sentuh’. Alangkah sayangnya bila perubahan tersebut yang sekedar didasarkan kepada data-data, menjadi tidak menarik, tidak membekas, dan tidak menggerakan rakyat untuk melakukan perubahan. Data-data akan menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya –dan menjadi gegap gempita di awal pergolakan-, namun tak berbekas sama sekali. Pun pada akhirnya kita terlambat untuk menyadari. Bagai seorang penguasa yang senantiasa berbangga ketika telah mampu menekan angka inflasi dengan data-data statistika. Namun, menjadi pepesan kosong tak berarti ketika daya beli masyarakat semakin lemah, kriminalitas semakin tinggi, angka hiv/aids semakin besar, dan kerusakan semakin meraja lela. Itulah yang sebenarnya selama ini terjadi. Rakyat dijejali dengan data, statistika, rasio, dan angka-angka yang begitu menyilaukan. Sementara

emosi rakyat dan penguasa telah terpisah jauh baikan jurang yang dalam, ketika penguasa gagal membuka lapangan pekerjaan, mengendalikan harga kebutuhan pokok, mengendalikan naiknya harga BBM, dan melindungi TKI di luar negeri terhadap hukuman pancung. Jurang pemisah antara rakyat dan penguasa telah terpisah jauh, ketika penguasa menjadikan pasukan penjaga dan dinding istana sebagai pembatas di antara mereka. Hati rakyat tak lagi dalam benak penguasa. Demikian pula ‘kasih sayang’ penguasa tak lagi menjadi pelindung rakyat. Hari demi hari kehidupan rakyat hanya disisi dengan tontonan penggusuran, penangkapan, pembunuhan, pengusiran, intimidasi, dan korporatokrasi. Sadar tidak sadar. Penguasa telah mendahului kita dalam memanfaatkan teknik ini (yaitu membanjiri masyarakat terhadap data-data dan angka-angka). Mereka memperkuat opini dengan data-data dan statistika untuk meyakinkan masyarakat. Meski secara tidak langsung justru menunjukkan lemahnya ikatan dan emosional dengan rakyat. Secara tidak langsung pula bagai menyimpan bom waktu, yang siap meledak dan terbongkar sewaktu waktu. Bila rakyat tersadarkan bahwa data-data dan hanya akan menjadi warna dan aksesoris dalam gambar kehidupan sehari-hari. Tanpa mampu menampilkan wajah sebenarnya. Jadi, apakah sebenanrya yang menjadi landasan pergolakan yang mampu ditunjang oleh data-data dan angka. Seringkali kita melupakah langkah kita berpikir, mengkaji (menganalisa), dan mencari solusi dari setiap permasalahan kita. Paling tidak kita membutuhkan kerangka berpikir, cara berpikir, dan gaya berpikir. Karena dengan hal itulah semua pergolakan, dan bahkan amal perbuatan manusia muncul. Dengan cara berpikir itulah arah, tujuan, sasaran, dan solusi akan didapatkan. Dan dengan gaya berpikir itulah manusia mampu memilih bagaimana tujuan dan cara-cara ditetapkan . Itulah kehidupan. Bagi kami, itulah pergolakan! Faktor kedua adalah latar belakang ideology, pemahaman, filsafat hidup, terhadap sebuah masalah. Sebuah data dan angka akan dinilai berbeda bila sudut pandang ideology berbeda. Data dan angka akan menjadi sangat tidak berarti bila ditampilkan tidak disertai dengan latar belakang ideology. Data dan angka hanya akan menjadi kalimat berita dan sekedar informasi bila pemapar dan penilai tidak memiliki corak ideology tertentu. Namun ketika data dan angka disertai kerangka berpikir, cara berpikir, gaya berpikir, dan corak ideology tertentu. Maka data dan angka dapat menjadi bahan bakar bagi pergolakan. Saya seringkali berpikir. Data dan angka yang bagaimanakah yang berpotensi menjadi bahan bakar pergolakan? Saya ceritakan singkatnya hari-hari terakhir menjelang kerusuhan Solo tahun 1998. Hampir 3 bulan penuh secara aktif gerakan mahasiswa dipenuhi agitasi aktif. Hari-hari dipenuhi dengan diskusi, debat, adu konsep, propaganda, pengumpulan masa, dan demonstrasi. Tercatat dalam benak saya, hamper tiap jum’at di awal awal pergolakan dilakukan dengan aksi demonstrasi. Dan semakin intensif pada harihari terakhir menjelang reformasi. Jum’at terakhirsebelum kerusuhan meletus, gerakan mahasiswa di Solo mengadakan demonstrasi yang berujung kepada bentrokan berdarah. Massa mahasiswa mundur dari boulevard UNS dan terus dikejar oleh aparat (ABRI pada

waktu itu). Dan mengakibatkan kecaman luas kepada aparat yang telah melanggar garis demarkasi apolitik kampus. Banyak mahasiswa yang tertangkap dan diangkut oleh aparat. Dan menjadi cerita terakhir bentrok berdarah menjelang reformasi. Hari selasa (kerusuhan dimulai hari kamis), mahasiswa masih melakukan aksi jalanan. Meski tak sebesar aksi hari Jum’at. Ada banyak factor, diantaranya banyak mahasiswa yang masih terluka akibat bentrokan terakhir di hari jum’at. Dan merupakan hari yang tidak ‘dipilih’ untuk melakukan demonstrasi besar. Uniknya, pada hari kamis. Ketika kawan-kawan mahasiswa UMS tiba-tiba mengadakan demonstrasi pada hari itu, justru menjadi pemicu kerusuhan. Hampir tidak ada isu baru dari demontasi sebelum-sebelumnya. Dan sikap aparat cenderung terlalu represif ketika menangani demonstrasi tersebut. Kecenderungan saya adalah ketika gerakan tersebut berubah menjadi pergolakan massa dengan satu tujuan. Melupakan esensi dan akar masalah sebenarnya terhadap pergerakan yang terjadi. Fokus pergolakan hanya terbatas kepada perubahan rezim. Kepentingan besar bermain di perubahan rezim negeri ini. Tentu agar mereka bisa memastikan kepentingan mereka tidak terganggu oleh kondisi politik. Atau ketika kepentingan mereka terganggu oleh kebijakan rezim yang menjadi sasaran pergolakan. Saya pribadi memandang reformasi 98 tidak lebi dari sekedar liberalisasi dan kapitalisasi di segala bidang. Paling tidak karena data dan angka tidak didukung oleh kerangka berpikir dan corak ideology. Kecuali warna kapitalis dan liberalis dalam kehidupan politik dan bernegara yang lebih dominan pada waktu itu. Kembali ke tema! Oleh karenanya data dan angka sejatinya bukan apa-apa. Bukan pula penentu dari pergolakan politik. Apabila di awal pergolakan kita tidak menata dan membangun kerangka berpikir dan corak berpikir tertentu. Data dan angka hanya akan menjadi kalimat berita tanpa dapat dimaknai lebih oleh pelaku pergolakan. Data dan angka hanya akan menjadi isu dan pepesan kosong tanpa perlu dikonfirmasikan dalam aplikasi kehidupan kita. Gampangnya, data dan isu tidak akan berpengaruh kepada rakyat kebanyakan. Karena hanya merupakan cerita dari pejabat dan pemerintah semata. Data dan angka hanya akan berubah ‘confirmed applicated’ bila ada factor-faktor pendukungnya yang berupa kerangka berpikir dan corak ideology tertentu. Studi sosiohistoris dapat dengan mudah menjadi jalan untuk memahami bahwa data dan angka telah pernah terbukti di masa silam. Data-data dan angka yang pernah diterapkan, pernah dirasakan secara luas oleh masyarakat. Dan itu jauh lebih baik bila data dan angka hanya menjadi keyakinan dan harapan semata. Itulah yang selama ini dibangun, bahwa data dan angka hanya semacam menjadi keyakinan dan harapan tanpa bisa diterapkan di masa sekarang ataupun yang akan datang. Waktu telah berganti, zaman telah berubah. Dan oleh karenanya prinsip-prinsip kehidupan yang didapat dari data di masa berbeda, belum tentu dapat diterapkan dimasa kini. Proses inilah proses perubahan data dan angka dari Ilmu yakin menjadi Ainul Yakin. Sebuah data dan angka yang pada mulanya tak bermakna, akan berubah menjadi ilmu al yaqin ketika dibangun dengan kerangka berpikir yang matang dan dalam corak ideology

tertentu. Dan menjadi ainul yaqin bila ada bukti pernah berhasil diterapkan di masa silam. Dan juga berpotensi di terapkan di masa yang akan datang. Insya Allah!

BAB II BARO’AH “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)." QS. Al an’am 19 Sikap baro’ah merupakan sikap dasar benturan peradaban dan ideology. Meski mungkin dalam kacamata berpikir memiliki kesamaan. Akan tetapi corak ideology menjadi penentu dari arah berpikir tersebut. Sikap baro’ah merupakan sikap antipati yang kokoh dan kuat seperti halnya tidak akan pernah bersatu antara keimanan dan kekufuran. Antara minyak dengan air. Sikap ini juga sikap alami dan sikap dasar manusia ketika mengetahui ada yang tidak disetujuinya. Dengan arah dan batasan yang jelas, sikap baro’ah merupakan sikap tidak berkompromi dalam hal yang berbeda dengan prinsip hidupnya. Sebagai contoh, tentang subsidi BBM yang diberikan penguasa terhadap rakyat. Dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat . Dalam kacamata kapitalisme, kesejahteraan diukur dari rerata kesejahteraan penduduk berdasarkan istilah GNP, GDP, dll.

Sehingga menstandardkan harga BBM dengan pasar internasional diharap mampu mendongkrak GNP/GDP penduduk. Yang sejatinya terjadi adalah terdapat selisih antara harga produksi dan distribusi dalam negeri dengan harga minyak luar negeri. Dalam kacamata Islam, kesejahteraan didefinisikan berbeda dengan rerata kesejahteraan penduduk dalam GNP/GDP. Tolok ukurnya cukup sederhana. Yaitu individu masing-masing penduduk yang diberi kewajiban membayar zakat. Dalam Islam, orang yang telah berhasil mampu membayar zakat adalah orang yang mampu. Islam tidak memandang data dan angka yang menganggap kesejahteraan seseorang bisa ‘diwakilkan’ kepada orang lain dengan system rerata kesejahteraan GNP/GDP. Oleh karena dengan tujuan sama, yaitu kesejahteraan penduduk. Akan tetapi corak ideology akan berpengaruh terhadap kerangka berpikir terhadap data dan angka yang ada. Yang terjadi adalah kamuflase tujuan yang menjadikan tujuan sering berubah dari tujuan awal yang ditetapkan. Kesejahteraan akan bermakna absurd (kabur) dan irrasional ketika dijadikan rerata dalam notasi data dan angka. Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi. Sejak dari manakah corak ideology akan menjadi system pembeda (farqiyah) antara pemikiran satu dengan yang lainnya. Ketika baro’ah ini ditetapkan hanya sebatas pelaksanaannya, maka nilai baro’ah ini hanya akan menjadi kemunafiqan. Sebagai contoh, saya pernah membaca sebuah iklan di Koran tentang dukun ‘muslim’. Bermantel islam, namun tetap berbentuk dukun. Akhirnya muncullah simbolisme-simbolisme yang tak sesuai dengan kenyataannya. Oleh karenanya menurut hemat saya, sikap baro’ah harus mulai dimunculkan mulai sejak kerangka berpikir ini dibangun. Sebagai cara untuk memunculkan sebuah kekuatan mulai dari ide dasar hingga pelaksanaannya. Anda pasti berpikir, bagaimana wujud pelaksanaan ketika ditinjau dari segi peralatan yang digunakan? Karena sebagian orang pasti akan mengatakan bahwa peralatan yang baik, modern, canggih akan lebih efektif digunakan. Jawabannya sederhana. Bila anda hendak berpergian ke Solo dari (katakanlah) Jakarta dengan mengendarai pesawat, kereta, ataupun bahkan kuda. Tetap akan tiba di Solo bila konsisten mengerjakan perjalanan tersebut. Yang menjadi perbedaan hanyalah waktu tempuh semata. Ada yang sejam, sehari, bahkan sebulan. Dalam teori post modernisme bahkan difahami, modernitas suatu usaha tidak lah menjamin kesejahteraan dan kecerdasan suatu penduduk. Penduduk bahkan ‘dipaksa’ tergantung pada teknologi yang tiap saat berkembang dan berubah. Modernisasi telah menjadikan penduduk terbodohkan dengan bergantung kepada teknologi dan hasil-hasil peradaban. Sebuah pertanyaan lain muncul. Bagaimana ekspresi emosional dari sikap baro’ah tersebut? Sebenarnya pertanyaan ini sangatlah subyektif dan jawaban yang didapat tidak akan sama antara seseorang dengan orang yang lainnya. Ketika seseorang merasakan pedasnya cabai, maka akan banyak ekspresi yang muncul. Namun bisa dipastikan faktor pengalaman makan cabai sebelumnya turut menentukan ekspresi dan persepsi. Ada yang membencinya setengah mati, karena memiliki pengalaman yang mengakibatkan rasa sakit perutnya yang berlebihan. Ada yang merasakan nikmat makan cabai nan pedas, karena

memicu nafsu makannya. Sehingga baginya cabai adalah menu wajibnya setiap hari. Saya sederhanakan istilahnya dengan adanya cabai maka tantangan pedasnya menjadi kenikmatan baginya. Seseorang yang memiliki persepsi awal tentang sebuah benda, akan berpengaruh terhadap pemikiran benda tersebut mun persepsi turut berperan dalam membangun sebuah emosi. Dari pengalaman yang ada ketika misal dia berhadapan dengan seorang tukang sampah, pasti dalam benaknya mengandung sebuah persepsi tentang pekerjaan tukang sampah. Demikian pula sebaliknya, ketika seseorang berhadapan dengan seorang foto model, pasti dalam benaknya mengandung sebuah persepsi yang berbeda dengan seorang tukang sampah. Oleh karenanya persepsi awal inilah yang harus dibangun sebagai landasan emosi dan pemikiran seseorang. Dari sinilah akhirnya sebuah pemikiran pemikiran dapat dibangun. Adakalanya pula, ketika seseorang memiliki persepsi awal. Maka ia tidak akan megembankan pemahamannya. Ia akan memahami seseorang bisa dengan tidak adil dan obyektif. Dan dengan hal tersebut, ia akan merasa nyaman informasi yang didapat –dan sering tidak mengkoreksinya dengan obyektif- yaitu informasi yang sengaja dikembangkan secara setengah-setengah. Mungkin ia akan menutup mata dan telinga terhadap kontra persepsi dan bersikap acuh tak acuh terhadap informasi lain yang mungkin berbeda dengan pemahaman awalnya. Dua kelompok pola pemikiran inilah yang sebenarnya menjadi domain masyarakat. Dan pada akhirnya justru menjadi sumber permasalahan yang terjadi. Sehingga masyarakat sering tidak obyektif dalam menilai segala sesuatu. Masyarakat agaknya telah merasa nyaman dalam ‘kesetimbangan’ ini. Ia tak lagi bersikap tegas terhadap segala keburukan. Ataupun ia tak mengerti tentang sebuah keburukan. Bahkan tidak lagi bersikap membela terhadap sebuah kebenaran itu. Semuanya menjadi zoba abu-abu (zona nyaman) yang akhirnya tidak akan lagi bisa dibedakan mana sebuah kata kebenaran, dan dinamakan sebuah kesalahan. Sikap baro’ah adlaah sikap yang sejatinya telah dibangun sejak awal pemikiran, dan termasukl didalamnya adalah konsistensi berada di jalan kebenaran atau mencari kebenaran itu sendiri. Sikap baro’ah adalah juga sikap berhati-hati dalam setiap pemikiran, berita, pemahaman, ucapan, maupun hukum yang tidak sesuai dengan ideologi maupun pemahaman dasarnya. Ataupun juga sikap mengkoreksi terhadap pemahaman dasarnya pula.Dengan demikian sikap baro’ah adalah juga sikap obyektif terhadap segala hal. Sehingga ia bisa menilai mana yang haq (benar) itu benar. Dan batil (salah), itu adalah salah. Baro’ah berarti juga mengajak manusia kepada kebaikan atau mencegah kepada kejahatan. Sikap baro’ah berarti juga sikap membedakan antara kebenaran dan kejahatan. Sehingga sikap baro’ah adalah furqon (Pembeda/antitesis). Seseorang yang bersikap baro’ah ia haruslah mampu membedakan kebenaran dan kesalahan. Sehingga ia akan yakin dan meyakini hidupnya berada di jalan kebenaran. Baro’ah berarti juga keberanian, dan berani untuk memilih kebenaran. Kebenaran untuk menyatakan haq (kebenaran) di depan manusia, atau melarang/mencegah kejahatan di depan manusia. Mampu bersikap dan memilih, bahwa ia akan memilih di posisi

kebenaran ataukah ia akan memilih di posisi kejahatan. Baro’ah adalah berani mengatakan innanii minal muslimin (sesungguhnya aku seorang muslim), meski umat manusia membencinya. Baro’ah adalah juga sikap berpasrah terhadap kebenaran dan meyakini bahwa kebenaran itu benar, dan akan menang pada saatnya nanti. Perbedaan prinsip tidaklah dan bukanlah sesuatu yang hina atau dianggap tidak wajar. Dengan sikap baro’ah, maka perbedaan itu akan disikapi dengan wajar. Karena itulah sunnatullah (hukum alam). Ada kejahatan, pasti ada kebenaran. Sama halnya ada malam, pasti ada siang. Dan ada badai pasti ada hari yang terang ! Mungkin awalnya adalah masyarakat tidak terbiasa dengan perbedaan, dan tidak ingin dianggap berbeda dengan kebanyakan orang. Seseorang yang berbeda memiliki dua hal. Yaitu dianggap asing dan berbeda dengan kebanyakan orang (strength position). Dan dapat pula dianggap unik dan memiliki ciri khas dibandingkan orang lain (bargaining/branding position). Posisi strength sering dianggap negatif dibandingkan orang lain. Karena sisi perbedaan seringkali dianggap sebagai perbedaan yang bersifat fisik dan materi. Sehingga nilai strength yang tumbuh ditengah masyarakat adalah bersifat fisik dan materi. Berbeda dengan posisi bargaining/branding yang menampilkan ciri khas dari sesuatu hal. Sehingga posisi bargaining/branding adalah tumbuh dengan ciri-ciri immateriil. Yaitu dari sisi kualitas, pemahaman, dan lain-lain. Oleh karenanya, bila perbedaan yang terjadi adalah bersifat immateriil -apalagi kualitas- tentu kita tidak perlu bersikap apreori terhadap perbedaan tersebut. Bila anda meyakini kualitas, moral, dan tingkah laku anda baik. Maka perbedaan bukanlah hal yang perlu ditakuti. Dalam kondisi moral masyarakat yang rusak seperti sekarang ini. Dimana pergaulan bebas dianggap sebagai kehidupan modern dan kosmopolitan. Maka bila kita kokoh dalam memegang norma yang baik –meski berbeda dengan pola pandang masyarakat terhadap pergaulan bebas- maka sejatinya hal tersebut adalah kebaikan.

BAB III Hijrah “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orangorang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” 8:74 Ketika seseorang telah berbaro’ah dan mampu bersikap diatas dunia, Ia kemudian akan berpikir tentang lingkungannya. Tentang tempat dimana ia hidup dan mengabdikan dirinya. Ia kemudian akan berpikir pula tentang pemikiran dan perbuatannya. Apakah sesuai dengan ideologi yang ia anut ataukah tidak. Lingkungannya pun sesuai dengan tujuan tujuan hidup dan pemikirannya, ataukah tidak. Lingkungan dan sosialisasi berujung kepada dua hal. Yang pertama, ia akan tersesat dengan arus lingkungan. Dan yang kedua ia akan mengendalikan aliran arus lingkungannya tersebut. Tentunya pilihan yang kedua memerlukan kemampuan yang lebih besar, masa yang kuat dan pondasi yang mantap. Ada banyak syarat yang dibutuhkan ketika seseorang akan mengarahkan atau bahkan membendung suatu aliran air. Bagaikan pembangunan sebuah bendungan, maka ketika seseorang hendak membendung suatu alran air (sungai, misal). Maka ia akan membutuhkan daya serta kekuatan yang besar serta kerja yang cepat dan efisien. Kekuatan yang besar ini mutlak diperlukan karena ia akan membendung sebuah kekuatan lain (yaitu aliran air). Sehingga seseorang yang tidak memiliki sebuah konsep yang matang, sebuah prinsip yang kuat, dan cita-cita yang rasional, hal tersebut akan mustahil dilakukan. Bagi sebagian orang, membendung aliran air tidak lah mungkin dilakukan. Akan tetapi hal tersebut bisa, meskipun dianggap sulit oleh sebagian yang lain. Demikian pula efisiensi kerja mutlak dilakukan. Ketika sebuah kerja dilakukan untuk membendung sebuah kekuatan, maka kerja setengah-setengah tak akan pernah ada manfaatnya sama sekali. Ia bagaikan melemparkan sebuah kerikil ke dalam air yang mengalir deras. Dan akhirnya, kerikil tersebut yang justru pada akhirnya akan itu terseret

arus. Berbeda ketika yang dilemparkan adalah batu besar yang memiiki bobot lebih. Ia akan tegar menghadapi aliran air tersebut. Namun hal tersebut tetaplah harus dikerjakan secara cepat dan efisien. Karena batu yang besar pun, bila terlalu lama akan ikut tergerus dengan arus air. Bila kerja yang dilakukan tidak lah dapat secara efisien. Maka ada cara lain yang dapat dilakukan untuk membendung aliran air tersebut. Yaitu dengan mempersiapkan bendungan di tempat lain yang tidak ada aliran airnya. Kemudian barulah aliran air yang hendak dibendung, kemudian dibelokkan ke tempat bendungan tersebut. Kerja tersebut membutuhkan dua kali kerja (tentu biaya dan waktu kerja yang panjang). Akan tetapi pada akhirnya aliran air tersebut dapat terbentung juga. Tentu saja daya dan kekuatan yang dibutuhkan untuk membelokkan aliran air lebih sedikit daripada membendung secara langsung. Akan tetapi, kerja tersebut juga membutuhkan perhitungan yang matang di awal pekerjaan. Untuk mengantisipasi ketika telah terbangung, maka bendungan tersebut benar-benar mampu digunakan. Jangan-jangan ketika bendungan telah berdiri, dan telah mulai aktifitas membelokkan aliran air, namun akan hancur berantakan. Dari sinilah makna hijrah dengan kaitannya terhadap lingkungannya, maka ia harus memiliki sikap terhadap lingkungannya tersebut. Makna hijrah yang kedua adalah merubah segala hal dalam diri kita (secara internal) yang tak sesuai dengan ideologi yang kita anut. Hijrah adalah merupakan pembuktian bahwa pemahamannya telah menyatu dalam jiwa dan raganya. Sehingga ketika seseorang berhijrah, maka ia pada hakikatnya mampu membuktikan bahwa ia telah memiliki sikap yang berbeda dari sebelumnya. Hijrah adalah konsekuensi logis bagi seseorang yang memiliki kekuatan ideologis. Tanpa hijrah, berarti kekuatan ideologi dalam diri seseorang belumlah kuat. Atau ia mensengajarakan diri untuk menikmati nuansa kekufuran, dan kemaksiyatan yang berada dalam lingkungannya. Hijrah memiliki dua fungsi. Fungsi pertama, adalah ketika kekuatan baro’ah terhadap ideologi yang ada, tidaklah didukung dengan kekuatan dan daya yang mencukupi. Sehingga tantangan cenderung berasal dari luar (eksternal) sehingga lebih berpengaruh terhadap diri dan pemahamannya. Dalam fungsi ini, maka hijrah memiliki fungsi untuk menyelamatkan eksistensi dirinya. Mencari penyelamat dan fungsi-fungsi lain yang bersifat fisik dan materiil. Fungsi kedua, adalah ketika kekuatan baro’ah (ideologi) yang ada didukung dengan kekuatan yang cukup dan daya yang kuat. Sehingga tantangan dari luar bisa diminimalisirkan dan sebagai fungsi untuk menegakkan ideologi serta pemahaman yang dimilikinya. Dalam fungsi ini, yang berpengaruh adalah kekuatan politik. Argumentatif, dan massa yang luas dan kokoh. Hendaklah bagi seseorang yang memiliki kekuatan ideologi, pada akhirnya akan mencari pelindung, penolong, dan pendukung dari ideologinya. Sehingga ideologinya akan dibuktikan kelak apakah layak dan bisa ditegakkan secara lebih luas dalam bingkai masyarakat dan negara. Sehinga sebuah ideologi ketika tidak memiliki ciri yang bisa diterapkan dalam bingkai masyarakat dan negara, maka kekuatan ideologi tersebut dipertanyakan. Atau orang-orang yang mengembannya tidak tergerak hatinya untuk

diterapkan. Berarti bisa jadi kekuatan ideologi tersebut tidak mampu untuk membangkitkan sebuah masyarakat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Atau bisa jadi, faktor penyebaran ideologi tersbut mengalamai perlemahan dalam kajiannya. Karena mungkin tidak sesuai dengan fitrah manusia (alamiah) atau tidak siap dengan keniscayaan benturan peradaban. Dalam fungsi kedua ini pula, hijrah berarti mencari lingkungan yang mau menerima ideologi, menyebarkannya, memperjuangkannya, dan menerapkannya. Oleh karenanya hijrah memerlukan kerja lain, yaitu penyebaran ideologi yang lebih masif dari sebelumnya. Oleh karena hijrah memiliki tahapan-tahapan sebelum ia dijalankan. Fase pertama adalah pemantapan ideologi dengan kekuatan data dan argumentasi yang kuat dan tepat untuk menjelaskan segala sesuatu. Termasuk kelengkapan pemikiran yang akan mencangkup seluruh ranah kehidupan dan seluruh problematika masyarakat. Dan kelengkapan hukum dan solusi untuk menyelesaikan berbagai macam problematika kehidupan. Fase ini memerluka pula pengkristalan pemikiran dari para pengembannya. Fase kedua adalah mencari dan menciptakan kader. Dengan cara memilih dan mendidiknya. Termasuk mengawasi sel-sel pemikiran dan melatih mereka untuk berpengaruh di tengah masyarakat. Adanya kader yang tidak memiliki keinginan dan kekuatan untuk berpengaruh di tengah masyarakat adalah justru bertentangan dengan prinsip ideologi itu sendiri yang mengharuskannya memimpin masyarakat untuk menegakkan ideologi itu sendiri. Ideologi tanpa sebuah pelaku bagaikan buku-buku yang teronggok di rak-rak perpustakaan. Sebuah wacana yang tidak diterapkan. Dan pelaku tanpa sebuah ideologi bagaikan orang buta yang tanpa arah dan tujuan. Keduanya harus diseimbangkan dengan kekuatan kepemimpinan di tengah masyarakat. Fase ketiga adalah mencari bibit-bibit kader yang akan mampu menerobos inti-inti kekuatan masyarakat. Sehingga bibit tersebut dapat secara cepat dan efisien bergerak mencari pos kekuatan masyarakat. Pelindung dan penolong yang akan digunakan untuk menegakkan ideologi tersebut. Pemilihan kader tersebut penting, sama pentingnya dengan mencari data-data dan informasi pos-pos kekuatan masyarakat itu sendiri. Fase ini hanya memiliki dua tahap. Mendidik target dan memilih agen yang tepat.

BAB IV Jihad Media “Katakan kebenaran walau pahit” (al hadits) Kebenaran merupakan bagian-bagian dari ideologi itu sendiri. Kebenaran akan dinilai dari kekuatan ideologi dan jenis ideologi yang dibawanya. Meski bagi sebagian orang menganggap kebenaran itu subyektif. Maka saya mengatakannya tidak. Paling tidak kebenaran adalah sesuai dengan fitrah manusia. Sesuai dengan segala naluri dan kebutuhan manusia semenjak yang paling dasar sekalipun. Ia dilahirkan, makan, tumbuh, berkembang biak, dan memiliki naluri untuk bertahan hidup. Dan tuhan telah merancang fitrah penciptaan dengan penuh keseimbangan dan kesempurnaan. Sebagai contoh. Manusia dianugerahi tuhan akan kemampuan reproduksi. Oleh karena naluri tersebut ada sesuai fitrah manusia. Maka naluri tersebut tidaklah bisa dihilangkan. Namun naluri tersebut haruslah diatur dengan sebaik-baiknya. Seseorang yang menafiqkan naluri tersebut pada hakikatnya menolak fitrah manusia. Seseorang yang menolak menikah sepanjang hidupnya akan menjadikan eksistensi kemanusiaan terancam. Paling tidak bagi dirinya dan keturunannya. Demikian pula ketika seseorang memilih pasangan dari jenisnya sendiri (homoseksual/lesbian), maka pada hakikatnya ia menolak berkembang biar. Dan pada akhirnya akan mengancam eksistensi kemanusiaannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seseorang yang menolak fitrah manusia pada hakikatnya akan terjerumus kepada kebinasaannya. Untuk meraih kekuatan pengaruh, maka sebuah ideologi haruslah menjadikan media sebagai alat untuk membangun sebuah opini dan pemahaman umum. Kekuatan media jauh lebih dahsyat pengaruhnya daripada kekuatan kekuatan senjata. Karena media membangun pemikiran seseorang dari dalam. Baik melalui doktrinasi maupun penyadaran. Kekuatan media pun memiliki daya rusak lebih dahsyat daripada kekuatan fisik. Karena orang yang terkena sebuah pemberitaan miring, maka pada hakikatnya telah menghancurkan dirinya sendiri dengan kepercayaan masyarakat yang sudah hilang terhadapnya. Seseorang yang telah terkena stereotip atau label pada hakikatnya media telah menjadikan opini masa berkembang kepada yang bersangkutan. Sehingga ketika hal tersebut berbeda fakta dengan kenyataan, maka hal tersebut dapat menjadi sebuah fitnah

yang keji. Luka akibat fitnah jauh lebih sukar disembuhkan. Karena tidak hanya menimpa dirinya sendiri, namun juga menimpa orang-orang disekitarnya. Berbeda dengan kekuatan fisik, yang bila seseorang terluka, maka akan sembuh seiring berjalannya waktu. Kekuatan fisik sekedar membangun kekuatan massa secara materi. Sehingga bila tidak didukung dengan kekuatan ideologi, pemikiran, dan media. Maka kekuatan fisik tersebut hanya akan mendominasi kekuatan fisik. Dan ibarat sebuah peperangan, maka tanpa dukungan pemikiran, dan media. Maka peperangan tidak akan diperoleh dengan cara yang cepat dan efisien. Mari kita menengok media, ketika Hitler mampu menaklukkan sebuah negeri tanpa kekuatan fisik sama sekali. Yaitu dengan mengarahkan moncong-moncong pemancarnya yang berdaya besar ke wilayah tersebut. Maka Hitler berhasil mendoktrinasi (sekaligus menguasai) sebuah wilayah. Wilayah tersebut bahkan patuh dan tunduk kepada setiap perintah Fuhrer, karena ia telah berhasil membangun sebuah masyarakat dari dalam dirinya. Peran media bagaikan pisau bermata dua. Karena di satu sisi dapat menjadi media pengopinian secara massif. Seseorang dapat melakukan sebuah kebaikan, bila kebaikan tersebut dikerjakan secara baik dan didukung dengan opini serta media yang kuat. Namun disisi lain dapat menjadi bahan fitnah dan stigmatisasi yang berbahaya bagi ideologi tertentu yang misal menjadi lawan ideologinya. Badai fitnah itu pun telah diwaspadai dan dikabarkan oleh manusia mulia, Rasulullah saw. Akan tetapi tak selamanya kekuatan media begitu berpengaruh. Tetap semua berpulang kepada jenis ideologi itu sendiri. Kerapuhan ideologi akan nampak bila opini yang dikembangkan tidak sesuai dengan kenyataan. Akan nampak pula ketika data dan angka hanya sebatas angan-angan diatas kertas. Media itu akan terus berkembang, dan pada akhinry amenunggu saatnya meledak dan hancur berantakan dengan sendirinya. Bagaimana kita belajar tentang menteri penerangan di Era Orde Baru. Meski nampaknya indah. Program-program kerja yang berjalan sering kali tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Sehingga akhirnya kepercayaan rakyat terhadap ideologi di masa itu rapuh. Dan pada akhirnya menjadi hancur berantakan. Rakyat tidak hanya tidak percaya terhadap rezim. Namun juga sistem yang dijalankan oleh rezim tersebut. Oleh karena, pendidikan masyarakat sangat mempengaruhi terhadap efektifitas media itu sendiri dalam membangun sebuah opini masyarakat. Ketika media yang dikembangkan tidak sesuai dengan kenyataan, maka pendidikan masyarakat akan membongkar dan menjadi bumerang terhadap media itu sendiri. Dengan pendidikan masyarakat, maka masyarakat akan menjadi bersikap obyektif terhadap segala pemberitaan yang ada. Demikian pula dengan media opini yang ada pun seringkali dipenuhi dengan gemerlapan angka-angka dan data. Hal ini dimaksudkan agar dianggap oleh masyarakat luas sebagai sebuah kebenaran. Yaitu pembenaran dengan data-data. Karena sering masyarakat berhukum dengan fakta yang terjadi. Baik itu fakta sosial maupun fakta fakta statistik.

Penampilan fakta dan data pula dimaksudkan untuk mencerdaskan masyarakat. Oleh karenanya diamnya masyarakat terhadap data dan fakta akan berakibat kepada pembodohan masyarakat itu sendiri. Sehingga setiap muslim, sangat dianjurkan ketika dihadapkan kepada suatu data, untuk diteliti dahulu kebenarannya (QS. Al Hujurat 6). Disatu sisi, media yang digunakan oleh penguasa untuk mendoktrinasi masyarakat dengan dogma tertentu misal adalah penggunaan media untuk menstigmatisasi terhadap berpakaian, berpikir, dan jenis pekerjaan kelompok tertentu yang telah memiliki stigma tertentu di tengah masyarakat. Misal, seorang pekerja DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) Kota dipersepsikan senantiasa berpakaian kuning-kuning. Sehingga terkenal dengan sebutan pasukan kuning. Bagaimana pula kita melihat pemerintah Kim Jong Il berhasil menguasai media dengan kekuatan yang penuh dan filterisasi yang maksimal untuk mendogma warga negaranya. Sehingga tidak membahayakan kepentingan ideologi Korea Utara dan pemerintahannya. Pun ketika Kim Jong Il wafat, maka rakyat didogma untuk tetap setia terhadap Korea Utara dan Sosialisme yang menjadi ideologi negara. Disinilah dogma dan doktrinasi sering dianggap sebagai pembodohan. Karena obyek dogma tersebut diajak atau bahkan dipaksa menerima suatu doktrin tertentu. Dan menganggap doktrin lain yang bertentangan dengannya sebagai sesuatu yang salah. Cara lain yang dapat dipakai diantaranya adalah mengulang-ulang pemahaman. Sehingga ada pepatah yang mengatakan bila kesalahan ketika diceritakan berkali-kali pun akan dimaklumi sebagai kebenaran. Dan akan menjadi kebenaran itu sendiri. Bahkan akan mengalahkan kebenaran yang sejati. Disinilah faktor media sangat diperlukan untuk mendoktrin masyarakat sehingga memperoleh opini publik. Disisi lainnya, untuk mencegah adanya doktrinasi tersebut adalah dengan mengajak masyarakat berpikir dengan jernih terhadap masalah atas pembahasan yang dihadapinya. Sehingga masyarakat akan menentukan sendiri (berpikir sendiri), menganalisa, dan menyimpulkan terhadap suatu hal tentang kebenarannya. Mengajak masyarakat berpikir pada hakikatnya mengajak masyarakat untuk mendalami permasalahan hidupnya dan mencari solusi pemecahannya sendiri. Pemberian solusi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat belum tentu diterima dengan benar oleh masyarkaat itu sendiri. Selama mana masalah tersebut belum diurai satu persatu terkait dengan pokok dan cabang permasalahannya. Bila pemberian solusi bersifat instan (praktis), justru akan dianggap sebagai doktrinasi itu sendiri terhadap masyarakat. Tanpa dijelaskan tentang permasalahan hidup yang dihadapinya, maka hal tersebut justru akan bersifat buruf (berefek negatif) bagi masyarakat itu sendiri. Pola instan terhadap solusi masyarakat hanya akan menghasilkan hasil tanpa menyadari proses dan penguraian permasalahan yang terjadi. Sehingga ketika solusi yang dihasilkan bertentangan dengan ideologi dan ‘keinginan’ masyarakat, maka solusi tersebut akan dianggap aneh dan asing oleh masyarakat. Dilain sisi, sikap pragmatis dan praktis akan mengajarkan masyarakat untuk berbuat secara instan. Padahal solusi kehidupan masyarkat

harus diurai secara komperhensif (menyeluruh), dan utuh. Masyarakat bahkan akan menolak solusi tersebut bila dari awal yaitu dari pokok permasalahannya serta ideologinya tidak dijelaskan dengan sebaik-baiknya. Misal, dalam masyarakat yang menganut asas kebebasan. Maka bila solusi yang muncul untuk menyelesaikan permasalahan HIV/AIDS adalah dengan mengekang kebebasan, maka hal tersebut justru akan bertentangan dengan pola pikir dan pandang masyarkaat tersebut. Kecuali apabila dijelaskan dari awal terkait dengan kerusakan yang ditimbulkan dari asas kebebasan. Mungkin, pembodohan masyarakat terjadi dengan beberapa hal penyebabnya. Termasuk dengan mengajak masyarakat untuk bersikap pragmatis dan mengembalikan kebenaran kepada masyarakat (mensubyektifkan kebenaran, dan mensubyektifkan kesimpulan). Menggantungkan opini yang berkembang sehingga menjadi perdebatan masyarakat yang tak berhujung ikut berperan aktif kepada pembodohan masyarakat. Sehingga masyarakat akan menganggap perdebatan bukan untuk solusi. Namun sebagai bumbu dari masalah itu sendiri. Apabila perdebatan itu mereda, maka suhu hangat opini pun juga ikut mereda. Banyak kasus-kasus di tengah masyarakat yang dipeti eskan dengan cara seperti ini. Sehingga apabila terjadi kasus besar, diciptakanlah sebuah opini yang akan mengalihkan atau bahkan menjadikan kasus tersebut menjadi tidak bermakna apapun ditengah masyarakat. Oleh karenanya, mengembalikan kesimpulan kepada masyarakat adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Apabila tanpa didukung kekuatan ideologi yang ada. Cara yang kedua adalah dengan meredakannya dengan diciptakannya sebuah berita baru yang sama besar di tengah masyarakat. Jaman reformasi telah menciptakan sebuah metode-metode politik yang berbeda untuk mendoktrinasi sebuah masyarakat hingga meredakan opini di tengah masyarakat dengan memeti eskan kasus yang mencuat. Suasa seperti ini hanya akan binasa bila kesadaran masyarakt meningkat untuk berpikir terhadap masalahan hidupnya dan mengurai permasalahannya tersebut.

BAB V Penggalangan Kekuatan “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang” QS. Al Anfal 60 Tiada ideologi yang hendak diterapkan tanpa adanya penggalangan kekuatan. Hal tersebut mutlak dilakukan dan merupakan keniscayaan. Pertama, karena sifat ideologi

tersebut yang menjadikan manusia termotivasi untuk melakukan perubahan, kemudian mereka bersatu, dan menggalang kekuatan. Tanpa adanya penggalangan kekuatan maka mustahil ideologi tersebut dapat dan akan diterapkan. Tanpa adanya penggalangan kekuatan, maka ideologi tersebut hanyalah wacana tanpa ada yang memiliki, mengemban, dan memperjuangkannya. Yang kedua, karena sifat ideologi ini berbeda dari apa yang difahami dan diterapkan masyarakat. Pastilah ideologi tersebut memiliki resistensi (penolakan) akan apa yang difahami masyarakat dan apa yang diterapkan masyarakat. Seseorang yang memiliki pemahaman yang berbeda dari masyarakat dan perilaku yang berbeda akan dianggap asing oleh masyarakat. Sifat kebiasaan ini menyebabkan masyarakat menolak atau sekedar berhati-hati terhadap hal tersebut. Yang ketiga, adalah naluri manusia untuk berkumpul dan bersosialisasi berdasarkan persamaan-persamaan yang ada pada dirinya. Semisal persamaan daerah asal, bahasa, baju, tujuan atau bahkan persamaan pemikiran yang menjadi ideologi yang diembannya. Berkumpulnya manusia memunculkan sifat kepercayaan dan percaya diri, sehingga ia tak merasa sendiri dan terasing dari lingkungannya. Secara sederhana, setiap manusia memiliki teman akrab dan teman biasa. Teman akrab biasa memiliki sebuah ikatan persamaan. Sedangkan teman yang biasa hanya memiliki tujuan yang sekedar bersifat jangka pendek dan sementara. Teman biasa menjadi teman istimewa bila ia memiliki satu pengikat yang menjadikannya sebagai teman istimewa. Dan teman istimewa akan menjadi teman biasa bila sebuah ikatan atau ikatan tersebut dilepas oleh mereka atau salah seorang diantara mereka. Ada sebuah ikatan bahwa tidak ada teman sejati, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Karena teman sejati tersebut terikat oleh sebuah ikatan kepentingan. Meskipun ungkapan ini tidak sepenuhnya benar, akan tetapi dapat menjadi hikmah pada kita bahwa ketika berteman hendaklah diikat dan disatukan oleh satu ikatan yang besar, misal ikatan keimanan. Tidak semata karena kepentingan saja, karena bila kepentingan yang berbicara untuk menyatukan umat manusia, maka selama mana tujuan tersebut telah tercapai, maka akan berakhir ikatan tersebut dengan sendirinya. Ketika masyarakat sudah menyadari kewajaran (sunnatullah) agar suatu ideologi diterapkan dan butuh penerapan. Maka ia akan mencari penolong ideologi tersebut (an nashr). Kumpulan dari penolong penolong inilah dinamakan aliansi penolong (kelompok penolong/ thoifah manshurah/ ahlu an Nusrah). Dan aktifitas tersebut adalah aktifitas penggalangan kekuatan. Tidak mungkin penggalangan dilakukan kepada orang-orang yang tidak mampu memberikan kekuatan dan pertolongannya. Oleh karenanya berbeda antara menggalang massa dan menggalang kekuatan. Penggalangan massa tanpa adanya kekuatan dapat diberangus oleh rezim dengan cepat dan mudah. Oleh karenanya mutlak penggalangan massa haruslah disertai dengan penggalangan kekuatan. Kekuatan massa terletak pada jumlah. Akan tetapi dalam

penggalangan kekuatan, terletak pada dukungannya yang real terhadap ideologi dan pengembannya tersebut. Penggalangan massa bersifat visual (dapat diindra), sedangkan penggalangan kekuatan bersifat non visual (politis). Sehingga penggalangan massa saja belum akan mampu dicurigai oleh rezim selama mana tidak mengarah kepada penggalangan kekuatan. Akan tetapi penggalangan kekuatan sekecil apapun pasti akan dicurigai oleh rezim. Karena dianggap akan membahayakan rezim dan sistem yang ada. Ada kalanya penggalangan massa pun dicurigai oleh rezim bila opini yang dibawa mengarah kepada rezim dan sistem sebagai pokok permasalahan yang terjadi. Karena hal tersebut dianggap akan mengancam rezim tersebut. Sehingga dalam posisi seperti ini pun, sifat penggalangan massa harus bersifat hati-hati terhadap infiltran rezim. Telah banyak contoh agen-agen tanaman yang disusupkan rezim terhadap seluruh gerakan massa yang ada. Rezim akan senantiasa waspada terhadap kekuatan sekecil apapun yang mengincar dirinya dan kepentingannya. Bila penggalangan massa yang ada memunculkan penggalangan kekuatan hendaklah dilakukan secara hati-hati dan penggalangan massa yang ada haruslah bersifat efektif terhadap simpul-simpul kekuatan masyarakat. Rezim akan merasa ‘nyaman’ bila hal tersebut hanya difahami sekedar penggalangan massa tanpa adanya penggalangan kekuatan untuk menggulingkan rezim. Cara yang lain adalah menghabisi kekuatan rezim dan sistem satu persatu sehingga pada akhirnya kepentingan rezim akan berhadapan dengan kekuasaan rezim itu sendiri. Dan rezim akan memilih mengorbankan kepentingannya daripada kekuasaannya. Bila dengan sistem, maka sistem dibenturkan dengan kenyataan bahwa rezim tidak mampu menangani permasalahan yang terjadi. Rezim akan berbenturan dengan kepentingan masyarakat yang lebih besar daripada ‘kepentingan’ sistem yang ada. Sehingga pada posisi seperti ini, pencerdasan masyarakat mutlak diperlukan untuk menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem yang berlaku. Selama kepercayaan masyarakat masih utuh, selama itu pula sistem tidak akan dapat digulingkan dengan mudah. Penggalangan kekuatan dengan unsur penolong manakah yang dicari oleh seorang revolusioner sejati. Ada beberapa kemungkinan yang bisa kita dapakan. Yang pertama adalah penolong dari dalam ideologi itu sendiri yang memiliki kekuatan real. Dan yang kedua adalah penolong dari luar itu sendiri yang memiliki kekuatan real tetapi lebih memiliki persamaan ideologi, tujuan, walau terkadang cara dan metode yang ditempuh berbeda. Sehingga faktor ideologi akhirnya sangat berpengaruh. Karena itulah yang diperjuangkan dan yang akan ditegakkan oleh masyarakat. Dan yang ketiga adalah sengaja menciptakan kekuatan yang real dan nyata dari unsur-unsur didalam ideologi tersebut. Bisa dengan cara dimasukkan (disusupkan) kedalam kelompok-kelompok yang diyakini bakal dan berpotensi menjadi simpul kekuatan masyarakat. Atau dengan memotivasi kader-kader ideologi untuk memiliki kekuatan real dan memiliki pengaruh ditengah masyarakat.

Oleh karenanya, berbeda jelas antara penggalangan massa dengan penggalangan kekuatan untuk meraih sebuah perubahan secara damai. Penggalangan kekuatan bukan dimaksudkan untuk membenturkan secara internal kekuatan ditengah masyarakat. Akan tetapi untuk berhadapan dengan kekuatan luar dan penjajah yang tidak akan rela bila simpul-simpul kekuatan masyarakat itu bersatu. Walaupun dan bagaimanapun caranya. Setiap perubahan akan memberikan efek terhadap penjajah yang melakukan penjajahannya secara politik dan ekonomi terhadap suatu negeri. Simpul-simpul kekuatan masyarakat juga diprasyaratkan maupun untuk merangkul seluruh elemen masyarakat. Bila tidak dilakukan, maka ancaman perang saudara akan terjadi di tengah masyarakat!

BAB VI REVOLUSI DAMAI “Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum hingga kaum tersebut dapat merubah dirinya sendiri” (Ayat) Revolusi dalam setiap ideologi adalah puncak dari pergolakan itu sendiri. Untuk menetukan kapan waktunya diperlukan suatu kehati-hatian dan perhitungan yang matang. Dalam hal ini, ketika puncak penggalangan kekuatan telah diraih secara maksimal dan opini masyarakat telah mengarah kepada dukungan terhadap perubahan tersebut. Bila yang diraih opini tanpa adanya dukungan kekuatan yang maksimal, perubahan dan pergolakan

akan berhadapan dengan kekuatan fisik yang akan berpotensi memicu perang saudara diantara masyarakat. Dan bila perubahan tanpa didukung oleh opini di tengah masyarakat. Akan dapat berakibat bahwa masyarakat dapat tidak setuju dengan perubahan tersebut. Dan akan dianggap sebagai sebuah kudeta. Sehingga ketika perubahan itu terjadi, paling tidak telah tercipta opini umum yang akan mendukung segala perubahan yang akan terjadi dan dituju. Meski tidak memerlukan kekuatan massa yang menyeluruh dari masyarakat, namun opini haruslah tercipta utuh. Sehingga tidak ada unsur penipuan, atau menutupi tujuan dari perubahan itu sendiri, yaitu terhadap garis perjuangan ideologi dan tujuan ideologi. Rakyat harus difahamkan bahwa akan masalah yang terjadi selama ini adalah sistem yang buruk dan rezim yang zalim. Tidak semata penyebab permasalahan dikarenakan oleh rezim. Akan tetapi juga diakibatkan oleh sistem yang melahirkan rezim-rezim seperti semula dikemudian hari. Ketika bara revolusi atau angin revolusi ini berhembus kepada rakyat, akan tetapi bila rakyat merasa dikhianati dari tujuan perubahan. Maka perubahan itu tidak akan pernah berhenti, sehingga justru akan berputar tidak jelas arah dan tujuan. Pada akhirnya, penjajah yang memiliki kepentingan terhadap jajahannya, justru akan membajak roda perubahan itu. Oleh karenanya, menetapkan arah dan tujuan perubahan, mutlak diperlukan agar rakyat mengetahui awal dan akhir dari perubahan itu sendiri. Rakyat mengetahui tujuan dan cita-cita perubahan yang dilakukan oleh gerakan. Dan mengetahui serta meyakini ujung dari perubahan, dan penyebab dari perubahan tersebut. Termasuk ideologi yang diemban sebagai solusi dari permasalahan masyarakat, sehingga terjadinya perubahan dan pergolakan tersebut. Sehingga bila perubahan itu telah tercapai, ia akan berhenti dengan sendirinya. Dan tidak akan selamanya berhembus tiada kendali. Penjajah yang memiliki kepentingan akan turut mengaburkan arah dan tujuan dari perubahan itu sendiri bila belum tercapai opini umum yang utuh dan mendukung terhadap perubahan itu sendiri. Demikian pula keutuhan dukungan rakyat terhadap perubahan itu sendiri mutlak diperlukan. Bila tidak, maka arah dan tujuan perubahan itu tidak akan sama dan tidak memenuhi hasrat kebutuhan masyarakat menuju perbaikan kehidupan masyarakat. Diperlukan pula opini umum terhadap tidak hanya solusi perubahan, tetapi juga jenis ideologi itu sendiri yang digunakan sebagai landasan perubahan itu. Tanpa adanya dukungan terhadap jenis ideologi, kesadaran terhadap ideologi, rakyat hanya akan melihat hasil dari tujuan tanpa ia meyakini dan membenarkan dengan pasti kebenaran ideologi tersebut. Ada sebuah hal yang menarik untuk difahami. Bahwa setiap perubahan revolusional di dunia ini hampir dipastikan seluruh nya merupakan berdasarkan gerakan yang tidak berasal dari dalam / internal pemerintahan. Saya katakan, hampir-hampir seluruhnya karena bisa jadi ada perubahan yang bergerak secara internal dalam sistem pemerintahan. Sehingga terjadi kudeta dan perebutan kekuasaan. Dalam logika perubahan dan pergolakan, setiap gerakan yang berada di dalam parlemen akan mudah dicium oleh rezim dan sistem dan mudah sekali dibendung dengan imunitas sistem itu sendiri.

Revolusi damai adalah sebuah perubahan yang menghindari konflik antar masyarakat atau pemilik simpul simpul kekuatan masyarakat. Sehingga revolusi damai ini berdasarkan pada memahamkan masyarakat terhadap permasalahan hidupnya, mampu untuk mengurai simpul simpul permasalahannya dan tentang ideologi dan solusi kehidupannya. Revolusi damai adalah revolusi pemikiran. Supaya mampu berpikir jernih, menganalisa, mememperjuangkan ideologi yang tepat manakah yang seharusnya diterapkan oleh masyarakat. Revolusi ini didasarkan pula kepada kesadaran masyarakat dan menggiring opini masyarakat ke arah ideologi yang diyakini kuat. Dengan didukung oleh elemen-elemen masyarakat, serta simpul-simpul kekuatan masyarakat. Sehingga otomatis dan pada akhirnya masyarakat dan elemen-elemennya menuntut diterapkannya sebuah ideologi, pemikiran, dan aturan hidupnya. Dan meyakini hal tersebut mampu untuk menyelesaikan persoalan hidupnya. Dalam setiap revolusi, bakal ataupun adanya potensi konflik antar simpul masyarakat. Kemudian apa yang seharusnya kita lakukan? Yang pertama, kita lihat terlebih dahulu sumber konflik tersebut apakah hanya sekedar perebutan kekuasaan, terancamnya kepentingan masyarakat, ataukah ada hal lain yang menyebabkan konflik tersebut. Bila mana potensi konflik tersebut diakibatkan oleh perebutan kekuasaan, maka ada dua hal yang dapat kita lakukan untuk meredam konflik tersebut. Yang pertama, adalah menyadarkan bahwa pergolakan yang terjadi adalah pergolakan sistem dan ideologi. Sebuah perubahan memerlukan sistem yang baik dan pelaku yang baik pula. Dan yang kedua, adalah menuntut pelaku atau rezim untuk berubah menjadi baik dan mampu menciptakan sistem yang baik di bawah ideologi yang baik. Yang kedua , bila ada potensi konflik diantara simpul simpul kekuatan masyarakat adalah bila potensi konflik diakibatkan oleh terancamnya kepentingan masyarakat, maka proses pemahaman terhadap masyarakat harus benar benar utuh. Proses ini pun kemudian akan mengarahkan dan membentuk pola pemikiran masyarakat bahwa keuntungan yang didapat oleh masyarakat haruslah disesuaikan berdasarkan keimanan terhadap ideologi tersebut. Dan pencapaian rasa kebahagiaan dan kepentingan yang tertinggi masyarakat adalah berdasarkan kepada keyakinan terhadap ideologi tersebut. Sehingga kepentingan masyarakat akan lebih tercapai bila bertumpu keyakinan terhadap ideologi tersebut. Harus difahamkan pula perbandingan keuntungan bila didapat dari ideologi lain dengan ideologi yang hendak diterapkan. Dengan cara itu, maka ketundukan dan kepasrahan masyarakat terhadap ideologi tersebut benar-benar kuat. Meski tidak bersandar kepada keuntungan duniawi dan materi semata. Adapun fungsi adanya penggalangan simpul simpul kekuatan dari masyarakat adalah untuk menghindari konflik itu sendiri yang bersifat fisik. Termasuk untuk meredam serangan fisik dari kekuatan eksternal. Karena ketika simpul-simpul kekuatan masyarakat tersebut telah terbangun secara rapi, maka justru serangan dari eksternal bakal menjadi common enemy dan menjadi faktor pemersatu rakyat itu sendiri.

Belajar dari kekalahan rakyat Afghanistan dan Iraq menghadapi serangan Amerika Serikat. Sebelum serangan itu terjadi, AS berhasil memecah simpul simpul kekuatan masyarakat. Sehingga suku-suku arab badui tidak bersatu untuk menyelamatkan rezim Thaliban maupun Saddam Husain. AS juga berhasil meyakinkan bahwa, serangan tersebut dimaksudkan sekedar menumbangkan rezim. Meski pada akhirnya seluruh sistem yang berada di negeri negeri tersebut juga berhasil diganti. Tentu sesuai dengan kepentingan politik penjajah itu sendiri. Sehingga setelah berhasil tumbang pun, AS berhasil menjaga konflik dan perpecahan diantara simpul simpul masyarakat untuk melemahkan masyarakat itu sendiri, selain mencegah masyarakat berpikir tentang ideologinya. Bila berbicara ideologi, maka tidak ada revolusi dan penggulingan kekuasaan tanpa adanya penggulingan sistem. Akan tetapi bila sekedar berbicara secara politik kekuasaan (machiavelism), maka penggulingan kekuasaan hanyalah sekedar penggulingan rezim. Oleh karenanya dalam kacamata penjajah dan ideologi itu sendiri bisa dibedakan antara revolusi kekuasaan ataupun revolusi ideologis. Revolusi damai adalah revolusi ideologis itu sendiri. Karena yang bermain serta adalah pemikiran dan ide-ide itu yang menggiring masyarakat untuk merubah kehidupannya sendiri. Hanya dengan adanya kesatuan simpul-simpul kekuatan masyarakat. Kesamaan opini umum dan perasaan diharapkan revolusi ideologi ini akan berlangsung secara damai. Karena faktor-faktor internal yang berpotensi terjadinya konflik dan perpecahan telah diminimalisir dengan adanya persamaan dan persatuan diantara elemen-elemen masyarakat itu sendiri. Dan pada akhirnya tantanganpun cenderung bersifat eksternal dari penjajah yang akan menjadi faktor pemersatu masyarakat. Dengan tambahan faktor ketaqwaan dan keyakinan serta keimanan (plus kesabaran) rakyat, yang akan mengalahkan sejumlah besar pasukan lawan. QS 3:125.

BAB VII POLITIK JALANAN “Sungguh bani israil diutus oleh para nabi, bila wafat seorang nabi akan diganti oleh nabi lain. Akan tetapi tidak ada nabi setelahku” (Hadits) Didalam bab sebelumnya telah disinggung bahwa hampir seluruh perubahan ideologi yang ada di dunia ini berasal dari luar sistem (eksternal). Kalaupun ada dari gerakan didalam sistem (internal) semisal Gerakan Turki Muda dengan tokohnya Mustafa Kemal Pasha at Taturk. Karena Pasha mencapai simpul-simpoul kekuatan masyarakat dan menjadi simpul simpul kekuatan itu sendiri melalui jalan politik dan karir militer. Plus dukungan Partai Turki Muda yang mengopinikan secara luas terkait negara Turki Utsmani yang telah menjadi sick country dan kezaliman penguasanya. Sebenarnya juga perubahan dan kudeta yang digerakkan oleh Pasha tidak semata berasal dari dalam sistem. Banyak sekali faktor eksternal yang justru mendukung perubahan itu terjadi. Semisal pertentangan antara Pan Islamisme dan Pan arabisme. Budaya dan Glamouritas Sultan Utsmani dengan gaya hidup yang berbeda dibandingkan dengan rakyat yang menderita dan sederhana. Sultan Turki Utsmani dianggap sebagai penguasa yang tidak dapat disentuh dengan hukum dan peradilan. Termasuk kerusakan pemikiran dan mandegnya pola pikir masyarakat untuk menyelesaikan masalah kehidupannya berdasarkan ideologi yang dianut. Faktor keberanian, ketegasan, dan sikap pengemban sebuah ideologi sungguh nampak dalam rangka pergantian ideologi. Karena hal tersebut tidak akan pernah muncul bila tanpa adanya dukungan kekuatan dan opini yang kuat. Kemudian Pasha juga telah berhasil melakukan dua hal tersebut sekaligus secara sendirian! Lewat Partai Turki Muda, ia berhasil membangun opini masyarakat akan ideologi. Seperti penjelasan bab sebelumnya.

Walau dengan embel-embel perubahan rezim, bila perubahan tersebut bersifat ideologis, maka perubahan tersebut juga akan menyentuh level sistem dan ideologis. Yang kedua, Kemal Pasha berhasil menjadi simpul kekuatan masyarakat yang dominan ketika ia duduk dalam karir militer. Dan termasuk berhasil mengumpulkan simpul simpul kekuatan masyarakat untuk berada dalam genggamannya. Jabatan militer tak lain dan tak bukan untuk menjadikan militer tunduk di bawah kepentingannya. Sehingga ia bisa melakukan kudeta rezim (dan ideologi) tanpa berhadapan dengan militer yang seharusnya menjadi alat pelindung rezim dan ideologi. Demikian pula, pengebirian kekuasaan Sultan Turki (khalifah) oleh Kemal Pasha satu persatu dan secara perlahan-lahan seolah-olah ia ingin mengatakan di hadapan masyarakat bahwa secara de facto Sultan sudah tidak lagi memiliki kekuasaan. Dan akhirnya pula membuktikan bahwa Kemal Pasha mampu melaksanakan itu terhadap Sultan. Itu semua hanyalah sekedar gambaran bahwa antara opini umum dan simpul simpul kekuatan masyarakat adalah penting. Dalam kacamata ideologi kami, politik berbeda dengan chauvinisme. Bukan pula pragmatisme maupun otoritarianisme. Politik adalah manajemen terhadap sistem dan massa. Yaitu manajemen penyadaran masyarakat, manajemen meraih dan membangun opini masyarakat, manajemen pengumpulan simpul simpul kekuatan masyarakat, dan manajemen menegakkan kedaulatan hukum dan ideologi di tengah masyarakat. Serta manajemen penyebaran ideologi itu sendiri melalui negara. Secara umum, politik adalah seni yang mengatur manusia dalam memahami dan melaksanakan ideologi dalam setiap nafas kehidupan. Meski secara alamiah akan terjadinya benturan ideologi karena sifat dasar dan penerapan yang berbeda antara ideologi satu dengan ideologi lainnya. Termasuk benturan hasil hasil ideologi, yaitu peradaban. Bila benturan terjadi di level atas, maka akan berbeda bila benturan tersebut berada di level bawah (masyarakat). Oleh karenanya untuk membenturkan ideologi dan peradaban, haruslah dilaksanakan dalam level bawah (grassroot), sehingga dapat meminimalisir potensi korban jiwa yang tidak diperlukan. Bilapun ada konflik, maka hal tersebut bisa diredam dengan cepat dan dilokalisasi. Berbeda halnya bila benturan di level atas. Meski nampaknya tidak ada permasalahan. Namun akan sangat berpengaruh di level grasroot (bawah) secara cepat. Karena sifat level atas yang memiliki basis massa dan basis kekuatan (walaupun berwujud dukungan politik dan uang). Berbeda bila level bawah yang cenderung ke basis massa semata. Oleh karena kecenderungan untuk membenturkan kepentingannya di level bawah bisa dilakukan semata-mata untuk menguji coba simpul kekuatan masyarakat yang telah dimiliki. Dalam pergolakanpun bakal ada sekelompok masyarakat yang bersikap abstain terhadap segala gejolak dan perubahan yang terjadi. Sikap abstain mereka ada yang membahayakan dan ada pula yang tidak membahayakan perubahan itu sendiri. Dinamakan

sikap yang tidak membahayakan, bila mana sekelompok masyarakat hanya melihat hasil semata, tanpa berpikir ideologi, peraturan, ataupun proses pergolakan yang terjadi. Mereka hanya berpikir positif terhadap hasil selama mana demi kepentingan rakyat banyak. Maka hasil yang terjadi akan didukungnya. Namun ada kalanya sekelompok masyarakat yang bersikap cuek, karena memang tidak ada kepentingannya yang terganggu. Selama mana perubahan dan pergolakan yang terjadi tidak mengganggu kepentingannya, maka ia akan bertindak abstein terhadap perubahan. Namun memang pada saatnya perlu dijelaskan secara utuh, karena roda revolusi bukanlah sesuatu yang memiliki mata atau nilai kompromi terhadap sebuah keadaan yang terkadang bertentangan terhadap ideologi tersebut. Karena sifat roda revolusi tersebut yang akan menggilas siapa saja yang bertentangan dengan ideologi itu sendiri. Simpul simpul masyarakat biasanya berkumpul pada tempat berkumpulnya kekuasaan. Kemudian ia akan mengikuti sesuai pola ideologi yang diterapkan dalam sebuah masyarakat. Bila suatu negeri menerapkan sistem parlementer, maka mereka akan berkumpul di sekitar parlemen tersebut. Baik didalamnya, maupun disekelilingnya. Oleh karenanya, memang sifat simpul masyarakat tersebut akan sesuai kepentingannya apakah hendak masuk ke dalam sebuah sistem tersebut atau sekedar berkumpul di sekeliling sistem dan menjadi pengamat serta mewaspadai setiap gerakan yang terjadi. Hal itu semua tergantung jenis kekuatan yang dimilikinya. Militer yang dituntut untuk kembali ke barak, pada hakikatnya mereka tetap akan mengawasi dan melihat setiap gejolak dan perubahan apapun yang mengarah kepada pergolakan di masyarakat. Ia akan tetap menjadi alat dari sistem itu atau ibu kandung dari rakyat. Militer dan rakyat bagaikan seorang anak terhadap ibu kandungnya. Rakyat yang telah melahirkan, mengasuh, dan menjaga militer ketika terjadinya awal pergolakan sistem di sebuah negeri. Sehingga berkumpulnya simpul kekuatan masyarakat dalam sebuah sistem pemerintahan adalah target untuk menuntun arah revolusi itu sendiri. Baik kita masuk didalamnya ataupun tidak. Politik jalanan adalah penggabungan antara mengumpulkan simpul-simpul masyarakat dengan mengarahkan opini masyarakat meskipun tidak masuk ke dalam sistem itu. Walaupun demikian politik jalanan dituntut pula untuk menggabungkan simpul simpul kekuatan masyarakat (militer dan sipil non militer) ke dalam sebuah pemahaman dan tuntutan ideologi yang baru. Memahamkan simpul masyarakat sipil jauh lebih berat daripada militer. Karena sipil biasanya telah terparadigma terhadap sistem politik yang ada pada suatu wilayah tersebut. Dan kecenderungan militer (di negeri ini paling tidak) tidak terwarnai dengan hiruk pikuk kekuasaan dan perebutan kekuasaan. Kecuali bila militer telah ikut serta dalam kekuasaan. Mereka meyakini bahwa politik jalanan adalah hal dan metodologi asing yang telah pernah teraba, terindra, dan mereka alami dengan kepala mata mereka sendiri. Karena

memang secara praktis mereka tertumpu dalam paradigma sistem dari ideologi yang ada sebelumnya. Padahal sistem dan ideologi yang dituntut berbeda dari sebelumnya. Baik dalam hal pemikiran, perasaan, dan hukumnya. Politik jalanan menuntut penguasaan simpul-simpul masyarakat baik militer maupun sipil tanpa harus menceburkan diri ke dalamnya. Oleh karenanya dalam politik jalanan, simpul simpul kekuatan yang berasal dari sipil harus disadarkan dengan sesadar-sadarnya hakikatnya ideologi dan metodologi penerapannya yang berbeda dari ideologi sebelumnya. Ia harus tunduk kepada aturan dan tata cara ideologi baru yang hendak diterapkannya.

BAB VIII QUNUT “ Ya Allah, pecah belahlah kekuatan mereka. Ya Allah, hancurkanlah mereka” Dalam tulisan ini, saya tidak akan berada dalam perdebatan apakah qunut nazilah telah dinasakhkan (dihapus) oleh nash ataukah tidak. Yang akan saya ungkapkan disini yang pertama, bahwa faktor doa sangat penting untuk keberhasilan suatu misi. Seseorang yang sukses pastilah memiliki cita dan harapan yang tinggi, pola hidup (sikap) tertentu yang berbeda dengan kebanyakan orang dan kebiasaan. Memiliki kebiasaan merenung, berintrospeksi terhadap gerak langkahnya dan senantiasa memohon kepada Sang Pemilik Kemuliaan Sejatai adalah penting dilakukan. Yang kedua, doa adalah senjata kaum muslimin. Dalam sikap amar ma’ruf nahi munkar, maka doa menempati pilihan terakhir bagi seseorang melihat kemungkaran. Sehingga minimal dengan hati dan doa inilah kita mencoba menggelorakan api perlawanan dan revolusi unttuk mencapai tegaknya suatu ideologi. Kekuatan doa tidak dapat dipungkiri dan disepelekan. Karena doa dan persepsi inilah akan menentukan hasil akhir dari tiap aktifitas dan perubahan. Yang ketiga adalah tambahan motivasi dan kekuatan positif yang membangun semangat, percaya diri, dan keyakinan dari dalam diri seseorang. Seseorang yang kekurangan semangat dan motivasi, maka tidak akan mencapai perubahan itu dengan cepat dan efektif. Qunut juga dapat memotivasi rakyat dan masyarakat akan perlawanan yang semestinya dan hendaknya akan dilakukan. Yang keempat, doa adalah penyebaran bara revolusi yang paling cepat, mudah dan ringan untuk dilakukan. Sehingga sikap baro’ah dan perlawanan tertampakkan hingga dalam setiap ibadah kita. Seseorang yang tertampakkan perlawanannya dalam setiap ibadah, diharapkan akan konsisten dalam kesehariannya. Konsistensi adalah diperlukan untuk meraih sebuah cita-cita. Tanpa konsistensi maka sebuah cita-cita tidak akan berhasil diraih.

Yang kelimat, doa adalah sikap baro’ah yang paling nyata dan yang paling mudah dilakukan untuk menyelisihi dengan sesuatu yang bertentangan dengan ideologi dan pemikiran kita. Karena hal tersebut berasal dari ketegasan dari diri kita untuk membedakan ideologinya dengan ideologi yang diterapkan (yaitu tegas untuk berbeda). Walau corak warna yang dikembangkan adalah putih hitam, akan tetapi dalam kacamata ideologi hal tersebut wajar, dan alamiah. Secara alami pula ada hal-hal yang tidak dapat dikompromikan dari masing-masing ideologi. Qunut mengajarkan umat manusia untuk mampu bersikap dan melawan minimal dalam setiap doa yang kita panjatkan. Seseorang yang tidak mau berdoa, pantas dipertanyakan tujuan hidupnya. Padahal berdoa adalah aktifitas paling mudah yang dapat dilakukan seseorang. Baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Oleh karenanya, bagi kami. Sikap ketegasan ini sudah mulai harus dinampakkan dari aktifitas yang paling ringan, kecil, sederhana, yaitu doa. Ketika semuanya dibangun berdasarkan persepsi dan pemikiran, maka hal tersebut berasal dari kesadaran dirinya (internal). Sehingga hal tersebut merupakan kesadaran haqiqi individu masing-masing orang. Seseorang yang memiliki sikap tegas terhadap cita-citanya ia tak akan memiliki sikap kompromi terhadap hal-hal yang akan mengacaukan arah cita-citanya. Sedikit saja ia berkompromi, maka itu akan melencengkan tujuan dari cita-citanya. Dan pada akhirnya ia akan melenceng jauh dari cita-citanya tersebut. Dan pada akhirnya akan timbul pula sikap dan kebiasaan untuk berkompromi. Dan pada akhirnya pula citacitanya akan dikompromikan juga. Sikap terbiasa akan kompromi yang bersikap pokok dan asas ini jauh lebih berbahaya, karena akan membiasakan diri terhadap kebenaran dan kesalahan dalam pokok permasalahan. Bagaimana aktifitas qunut bisa menjadi motivator dan akselerator setiap aktifitas manusia, termasuk pergolakan? Yaitu apabila seseorang berdoa dan berusaha menjadikan masyarakat di sekitarnya memahami dan merasakan pergolakan dan perlawanan dalam dirinya. Setiap nafas pergolakan yang tertuang dalam aktifitas qunut tersebut akan menciptakan sebuah atmosfir, dan iklim kepada masyarakat yang lambat laun akan memahami, mengerti, dan ikut berada dalam nafas pergolakan tersebut. Menciptakan kondisi atmosfir dan lingkungan pergolakan sangat diperlukan dalam setiap aktifitas pergolakan itu sendiri. Dengan adanya atmosfir dan lingkungan pergolakan, maka nafas dari pergolakan tersebut akan senantiasa dapat dijaga. Dengan terciptanya lingkungan pergolakan, maka elemen dalam tiap-tiap pelaku pergolakan akan senantiasa menyemangati, mensupport, dan menjaga dalam setiap nafas pergolakan. Dan atmosfir pergolakan yang tercipta akan memberikan kekuatan motivasi dari masing-masing pelaku pergolakan. Atmosfir ini akan senantiasa membesar selama mana pelaku pergolakan konsisten terhadap nafas pergolakan tersebut. Qunut akan melahirkan generasi yang merindukan pergolakan. Seorang ayah yang berqunut akan menjadikan anaknya berusaha memahami apa maksud, tujuan, pemikiran,

dan cita-cita ayahnya. Sehingga ia bisa menyatakan dengan tegas musuh ideologi, tujuan ideologi, dan terbiasa dengan lingkungan pergolakan. Qunut akan masuk ke dalam memori emas seorang anak dan terpatri menjadi cita-cita abadi yang mulia. Qunut juga mengajarkan untuk menempatkan cita-cita tertinggi, melebihi cita-cita dan keinginan orang lain. Mengesampingkan tujuan-tujuan individu kepada tujuan yang lebih besar. Mengkesampingkan keinginan keinginan pribnadi kepada tujuan ideologis semata. Dan tentu mengorbankan keinginan hidupnya kepada tegaknya sebuah ideologi yang lebih ia cintai dan lebih ia inginkan sepanjang hidupnya. Qunut juga mengajarkan pula pola hidup ikhlas. Yaitu mengikhlaskan perkara perkara kecil, kepada perkara perkara yang lebih besar yang bersifat ideologis. Perkara perkara duniawi kepada perkara perkara akhirat. Qunut mengajarkan pula bertindak prioritas, memikirkan, dan bertindak sesuai tingkatan prioritasnya. Dan memprioritaskan kepentingan ideologi diatas kepentingan individu dan golongan. Oleh karenanya pula, pada akhirnya qunut mengajarkan umat Islam untuk bersatu. Bersatu mengarahkan dan menyamakan kepada tujuan ideologi. Dan bersatu untuk menghadapi common enemynya sebagai penghalang ideologinya. Hadrotus syaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan resolusi jihad dan tentu dengan kebiasaan qunut turut berperan aktif menciptakan iklim perlawanan yang luar biasa di seluruh wilayah masyarakat pesantren tradisional sehingga meletusnya pertempuran 10 Nopember di Surabaya. Qunut pula yang menciptakan generasi-generasi yang rela berkorban dan berlomba-lomba berkorban sehingga pejuang-pejuang tradisional berlari menghadap maut meski bersenjatakan bambu runcing yang sederhana. Sikap qunut menciptakan kesabaran luar biasa sehingga Allah menurunkan pertolongannya dari langit dengan 5000 malaikat yang diberi tanda (musawwimin). Sehingga saya teringat ucapan salah seorang ulama yang saat ini juga terdzalimi oleh sistem “bila tidak ada lagi pertolongan dari bumi. Allah akan mengirimkan pertolongannya dari langit”. Allahu Akbar!

BAB IX Secarik Surat Cinta “Apakah hukum jahiliah yang kta kehendaki. Dan hukum apakah yang lebih baik dari hukum Allah bila kita orang yang yakin” QS Al Maidah 50 Secarik tulisan ini bukanlah tulisan yang berbau romansa. Namun ini adalah tulisan untuk mengajak masyarakat untuk mengenal Islam, mencintai Islam, tergugah, dan berusaha untuk menegakkan Islam ke seluruh sendi kehidupan. Islam yang ada mampu menciptakan keadilan sosial untuk seluruh rakyat. Mampu untuk menjadikan kesamaan kedudukan di mata hukum dan pengadilan. Mampu dengan tegas menyatakan kebenaran, melindungi kebenaran, dan berpihak kepada kebenaran. Kawan, kondisi kita pada hakikatnya dalam keadaan terpuruk. Umat Islam adalah umat yang (seharusnya) mulia. Karena sistem yang kita bawa adalah mulia. Dan kita pula diajarkan menjadi orang yang mulia. Kita hidup dengan mulia, berjuang dengan cara cara jujur, ksatria, dan mulia. Hingga kita mati dengan cara mulia pula. Namun 1,5 milyar umat ini tak mampu menegakkan kemuliaan ini. Mereka lebih memilih kemuliaan harta, individu, jabatan, dan dunia daripada kemuliaan ideologi, masyarakat, dan akhirat. Kita lebih memilih kemuliaan dari perkara-perkara kecil dan sederhana tanpa mampu beranjak untuk meraih kemuliaan yang lebih tinggi dan besar. Sungguh umat pada hakikatnya harus bisa melihat dan merasakan. Bahwa mereka menginginkan sebuah perubahan yang bersandar pada perubahan ideologi. Perubahan yang mengarah kepada ideologi. Karena dengan pemahaman yang kuat terhadap ideologi inilah kita akan meraih kemuliaan yang sejati dan sebenarnya. Ketika ummat telah menampakkan ideologinya, pada hakikatnya pula ia mencampakkan kemuliaannya itu sendiri. Kawan… Sungguh aku akan mencintai, dan tetap mencintai orang yang mencintai ideologi ini. Walau begitu besar rasa benciku terhadap sosok ragamu. Dan aku akan mudah meninggalkan orang yang mudah meninggalkan ideologi ini. Seperti halnya meninggalnya orang yang berselimut dalam kehinaan. Walau sebenarnya ada rasa sayang dalam diri ini terhadapmu. Revolusi ini tlah menjadikan kita harus tetap menetap dengan lancang kedepan. Meski kita berjalan terseok-seok, tertatih ataupun merangkak sekalipun. Revolusi telah menjadi sebuah roda yang berjalan tanpa perasaan. Yang harus tetap berputar walau raga ini telah tiada dan musnah, binasa. Atau bahkan ketika dunia ini telah binasa. Revolusi ini telah menjadikanku mencampakkan segala rasa dan sakit. Walau raga itu telah menjadi remuk dan hancur tak bersisa.

Revolusi ini telah berkata dalam ucapan Tuhan. Tiada lagi jalan berhenti dan juga tiada lagi jalan mundur kebelakang. Revolusi ini telah mengancam dalam bahasa takdir. Bahwa tuhan akan berbicara dan menuntun kita pada rencanaNya dengan sempurna. Revolusi ini pula telah mampu merubah darah menjadi parfum yang harum, peluru menjadi mainan sehari-hari. Dan nyawa bagaikan permainan. Masa depan ada di pilihanmu kawn. Bersama ideologi yang akan hancur. Atau bersama ideologi kami yang telah menunjukkan cahayanya. Merdeka!

TENTANG PENULIS Lahir 6 September di sebuah kota kecil Pekalongan. Dari keluarga biasa dan sederhana. Ayah adalah seorang pegawai biasa. Dan ibu, hanya ibu rumah tangga yang bersahaja dalam kesederhanaan hidup. Selepas SD ikut mondok dan belajar bersama kakeknya, KH. Ruhani Abdul Hakim – ulama kampong pendiri Yayasan Cokroaminoto terwarnai dengan nuansa gerakan dan keilmuan bersama kakek tercinta hingga akhir hayat pada tahun 2005. Penulis memiliki hobi bersilaturahim sehingga praktis ketika menjumpai suatu daerah disempatkan dengan bersilaturahim dengan alim ulama, ustadz setempat. Penulis memiliki guru yang tersebar dari Padang (Buya Alman Yusuf), Aceh (Teuku Ahmad), Malaysia (Ust. Abu Dzar), Pakistan, Iraq (Ust. Abdullah Al Baghdadi), Yaman, Palestina, Filipina, hingga ulama tradisional. Sehingga ketika fitnah terjadi pada tanggal 9 Nopember 2010 dengan tertangkapnya penulis oleh Detasemen Khusus Anti Teror 88 Mabes Polri, tidak ada satupun guru dan kawan penulis mempercayai fitnah tersebut. Penulis lulusan salah satu kampus negeri di Kota Solo dengan jurusan teknik informatika dan menguasai 3 Bahasa asing (aktif), dan 2 bahasa asing (pasif). Menyukai sastra, bahasa, filsafat, fiqh, ushul fiqh, hingga buku-buku tentang strategi perang. Bercita-cita meneruskan perjuangan kakek tercinta dengan tegaknya kehidupan Islam kembali di muka bumi. Beristrikan Rafiqa Hanum – cucu dari KH. Abdul Latief Ghani atau biasa dipanggil Buya Ghani (Sesepuh NU Sumatera Barat) dan memiliki 3 anak. Saat ini sedang mendekam di rutan Surakarta dengan vonis hukuman 2,5 tahun penjara. Semoga Allah memberikan perlindungan dan limpahan barokah serta hikmah atas musibah yang menimpanya. Amin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->