Mursada

PSIK STIKES Sari Mulia Banjarmasin
umlahnya akan meningkat dengan bantuan estrogen. DHT yang dibentuk kemudian akan berikatan dengan reseptor membentuk DHT-Reseptor komplek. Kemudian masuk ke inti sel dan mempengaruhi RNA untuk menyebabkan sintesis protein sehingga terjadi protiferasi sel. Adanya anggapan bahwa sebagai dasar adanya gangguan keseimbangan hormon androgen dan estrogen, dengan bertambahnya umur diketahui bahwa jumlah androgen berkurang sehingga terjadi peninggian estrogen secara retatif. Diketahui estrogen mempengaruhi prostat bagian dalam (bagian tengah, lobus lateralis dan lobus medius) hingga pada hiperestrinism, bagian inilah yang mengalami hiperplasia. Menurut Purnomo (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab prostat hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat adalah : - Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut; - Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan) sebagai pemicu pertumbuhan stroma kelenjar prostat; - Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati; - Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan. Pada umumnya dikemukakan beberapa teori : - Teori Sel Stem, sel baru biasanya tumbuh dari sel srem. Oleh karena suatu sebab seperti faktor usia, gangguan keseimbangan hormon atau faktor pencetus lain. Maka sel stem dapat berproliferasi dengan cepat, sehingga terjadi hiperplasi kelenjar periuretral. - Teori kedua adalah teori Reawekering (Neal, 1978) menyebutkan bahwa jaringan kembali seperti perkembangan pada masa tingkat embriologi sehingga jaringan periuretral dapat tumbuh lebih cepat dari jaringan sekitarnya. - Teori lain adalah teori keseimbangan hormonal yang menyebutkan bahwa dengan bertanbahnya umur menyebabkan terjadinya produksi testoteron dan terjadinya konversi testoteron menjadi setrogen. ( Kahardjo, 1995). D. MANIFESTASI KLINIS Gambaran klinis pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga mengakibatkan: pancaran miksi melemah, rasa tidak puas sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitancy), harus mengejan (straining) kencing terputus-putus (intermittency), dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow. Gejala iritasi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor dengan tanda dan gejala antara lain: sering miksi (frekwensi), terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria) (Mansjoer, 2000) Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium : Stadium I Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai habis. Stadium II Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria dan menjadi nocturia. Stadium III Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc. Stadium IV

Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine menetes secara periodik (over flow inkontinen). Menurut Brunner and Suddarth (2002) menyebutkan bahwa : Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia, dorongan ingin berkemih, anyanganyangan, abdomen tegang, volume urine yang turun dan harus mengejan saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing (urine terus menerus setelah berkemih), retensi urine akut. Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini : Rectal Gradding Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong : Grade 0 : Penonjolan prostat 0-1 cm ke dalam rectum. Grade 1 : Penonjolan prostat 1-2 cm ke dalam rectum. Grade 2 : Penonjolan prostat 2-3 cm ke dalam rectum. Grade 3 : Penonjolan prostat 3-4 cm ke dalam rectum. Grade 4 : Penonjolan prostat 4-5 cm ke dalam rectum. Clinical Gradding Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur, disuruh kencing dahulu kemudian dipasang kateter. Normal : Tidak ada sisa Grade I : sisa 0-50 cc Grade II : sisa 50-150 cc Grade III : sisa > 150 cc Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing. E. KOMPLIKASI Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering dengan semakin beratnya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan apabila tidak diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal. (Corwin, 2000) Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambah keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005). F. PENATALAKSANAAN MEDIS Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH tergantung pada stadium-stadium dari gambaran klinis Stadium I Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan pengobatan konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor alfa seperti alfazosin dan terazosin. Keuntungan obat ini adalah efek positif segera terhadap keluhan, tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasi prostat. Sedikitpun kekurangannya adalah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama. Stadium II Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra) Stadium III Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam. Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui trans vesika, retropubik dan perineal. Stadium IV Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi diagnosis, kemudian terapi definitive dengan TUR atau pembedahan terbuka. Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan dilakukan pembedahan dapat dilakukan

pengobatan konservatif dengan memberikan obat penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif adalah dengan memberikan obat anti androgen yang menekan produksi LH. Menurut Mansjoer (2000) dan Purnomo (2000), penatalaksanaan pada BPH dapat dilakukan dengan: Observasi Kurangi minum setelah makan malam, hindari obat dekongestan, kurangi kopi, hindari alkohol, tiap 3 bulan kontrol keluhan, sisa kencing dan colok dubur. Medikamentosa 1. Penghambat alfa (alpha blocker) Prostat dan dasar buli-buli manusia mengandung adrenoreseptor-α1, dan prostat memperlihatkan respon mengecil terhadap agonis. Komponen yang berperan dalam mengecilnya prostat dan leher buli-buli secara primer diperantarai oleh reseptor α1a. Penghambatan terhadap alfa telah memperlihatkan hasil berupa perbaikan subjektif dan objektif terhadap gejala dan tanda (sing and symptom) BPH pada beberapa pasien. Penghambat alfa dapat diklasifikasikan berdasarkan selektifitas reseptor dan waktu paruhnya 2. Penghambat 5α-Reduktase (5α-Reductase inhibitors) Finasteride adalah penghambat 5α-Reduktase yang menghambat perubahan testosteron menjadi dihydratestosteron. Obat ini mempengaruhi komponen epitel prostat, yang menghasilkan pengurangan ukuran kelenjar dan memperbaiki gejala. Dianjurkan pemberian terapi ini selama 6 bulan, guna melihat efek maksimal terhadap ukuran prostat (reduksi 20%) dan perbaikan gejala-gejala 3. Terapi Kombinasi Terapi kombinasi antara penghambat alfa dan penghambat 5α-Reduktase memperlihatkan bahwa penurunan symptom score dan peningkatan aliran urin hanya ditemukan pada pasien yang mendapatkan hanya Terazosin. Penelitian terapi kombinasi tambahan sedang berlangsung 4. Fitoterapi Fitoterapi adalah penggunaan tumbuh-tumbuhan dan ekstrak tumbuh-tumbuhan untuk tujuan medis. Penggunaan fitoterapi pada BPH telah popular di Eropa selama beberapa tahun. Mekanisme kerja fitoterapi tidak diketahui, efektifitas dan keamanan fitoterapi belum banyak diuji Terapi Bedah Indikasinya adalah bila retensi urin berulang, hematuria, penurunan fungsi ginjal, infeksi saluran kemih berulang, divertikel batu saluran kemih, hidroureter, hidronefrosis jenis pembedahan: TURP (Trans Uretral Resection Prostatectomy) Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat melalui sitoskopi atau resektoskop yang dimasukkan malalui uretra. Prostatektomi Suprapubis Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat pada kandung kemih. Prostatektomi retropubis Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen bagian bawah melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki kandung kemih. Prostatektomi Peritoneal Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi diantara skrotum dan rektum. Prostatektomi retropubis radikal Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula, vesikula seminalis dan jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada abdomen bagian bawah, uretra dianastomosiskan ke leher kandung kemih pada kanker prostat. Terapi Invasif Minimal Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT) Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang disalurkan ke kelenjar prostat melalui antena yang dipasang melalui/pada ujung kateter. Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy (TULIP) Trans Uretral Ballon Dilatation (TUBD) G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Menurut Doenges (1999), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada pasien dengan BPH adalah :

Laboratorium 1) Sedimen Urin Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran kemih. 2) Kultur Urin Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan. Pencitraan 1) Foto polos abdomen Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat dan kadang menunjukan bayangan buiibuli yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari retensi urin. 2) IVP (Intra Vena Pielografi) Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada buli-buli. 3) Ultrasonografi (trans abdominal dan trans rektal) Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor. 4) Systocopy Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam rektum. 0 komentarLink ke posting ini Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook

19MINGGU,

Laporan Pendahuluan Ketuban Pecah Dini (KDP)
Diposkan oleh Mursada pra Ners di 6/19/2011 10:07:00 PM

Laporan Pendahuluan KPD (Ketuban Pecah Dini) A. Pengertian KPD Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda-tanda persalinan (Manuaba, 1998). Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William,2001). Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm. (saifudin,2002) Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan mambran disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina serviks. (Sarwono Prawiroharjo, 2002) Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. (Sarwono Prawirohardjo, 2005) B. Etiologi KPD Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi adalah: 1. Infeksi

Keadaan sosial ekonomi 6. gemelli. Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C). gawat janin. 3. patologi organ reproduksi atau pelvis.5 5. kembar tiga (90%) 2. fibronectin > 50 ng/ml 8. ketuban pecah pada preterm. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban. pre-eklampsia. Trauma 13. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu 14. konsumsi alkohol atau obat2 terlarang. hidrops fetalis. overdistensi akut. 6. Polihidramnion (cairan ketuban berlebih) 11. sinus maginalis. d. e. sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah. perdarahan pervaginam 4. vasa praevia. Faktor Resiko Faktor risiko ketuban pecah dini persalinan preterm 1. uterus : malformasi uterus. 4. kematian janin. Kelainan letak. trauma. inkompetensia serviks. 4. Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan jarinngan kulit ketuban. iatrogenik : hygiene kurang (terutama). pemeriksaan dalam. 6. kehamilan multipel : kembar dua (50%). C. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya trauma. tindakan traumatic 2. placenta : solutio placenta. 2. riwayat persalinan preterm sebelumnya 3. maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi. maternal : penyakit sistemik. korioamnionitis klinik. 3. fetal : malformasi janin. chorioangioma. kehamilan multipel. Faktor multi graviditas. 5. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya KPD. pH vagina di atas 4. c. cairan amnion : oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh. 5. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu. Servik yang inkompetensia. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada stress psikologis. curetage). dapat menjadi stimulasi persalinan preterm 9. mioma besar. dsb. Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis Faktor-faktor yang dihubungkan dengan partus preterm 1. Inkompetensi serviks (leher rahim) 10. kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan. desiduositis. flora vagina abnormal 7. infeksi intraamnion subklinik. aktifitas uterus idiopatik Menurut Taylor menyelidiki bahwa ada hubungan dengan hal-hal berikut : . Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual. hidramnion. korioamnionitis klinik. Faktor golonngan darah b. misalnya sungsang. pertumbuhan janin terhambat. Ketuban Pecah pada usia kehamilan preterm. merokok dan perdarahan antepartum. Riwayat KPD sebelumya 12. servix tipis / kurang dari 39 mm. infeksi intraamnion. Faktor lain a. placenta praevia (kehamilan 35 minggu atau lebih). servisitis/vaginitis akut.Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.

terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin. mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes. lemah dan mudah pecah spontan. sistitis.7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7. kelainan kolagen sampai infeksi. yang menentukan hal – hal diatas seperti defek kromosom. sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion. 1. ProteinC-reaktif Peningkatan protein C-reaktif serum menunjukkan peringatan korioamnionitis G. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan secara langsung cairan yang merembes tersebut dapat dilakukan dengan kertas nitrazine. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. . menyebabkan selaput ketuban tipis. 3. Tes tersebut dapat memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan trikomonas. cervix incompetent dan lain-lain. sevisitis dan vaginitis terdapat bersama-sama dengan hipermotilitas rahim ini. Penyakit-penyakit seperti pielonefritis. 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin. Amniosintesis Cairan amnion dapat dikirim ke laboratorium untuk evaluasi kematangan paru janin. .3. jaringan retikuler korion dan trofoblas. 4) Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari. menghasilkan kolagenase jaringan. anormaly janin atau melokalisasi kantong cairan amnion pada amniosintesis. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak.4. malposisi.Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi. . 5) Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan kortikosteroid untuk mematangkan fungsi paru janin. Pemantauan janin Membantu dalam mengevaluasi janin 4. dimana ketuban dipecahkan terlalu dini. ..Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah. Patofisiologi Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut : .Factor-faktor lain yang merupakan predisposisi ialah : multipara. pH normal dari vagina adalah 4 . fibroblas.Banyak teori. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. E.Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion. lendir leher rahim. nyeri perut. 2. dan air seni. Jika ada infeksi dan inflamasi.Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban. semen. Demam. denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi. Penatalaksaan Konservatif 1) Rawat rumah sakit dengan tirah baring. F. kertas ini mengukur pH (asam-basa). Ultrasonografi Ultrasonografi dapat mengindentifikasikan kehamilan ganda. darah. bercak vagina yang banyak. . Tanda dan Gejala Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.1 7. dengan ciri pucat dan bergaris warna darah.Infeksi ( amnionitis atau korioamnionitis ) . disproporsi.Ketuban pecah dini artificial ( amniotomi ). . 3) Umur kehamilan kurang 37 minggu.Selaput ketuban terlalu tipis ( kelainan ketuban ) . D.

1) Induksi atau akselerasi persalinan. atonia). I. H. Komplikasi 1) infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterin. Pengendalian Infeksi: Meminimalkan penularan agen infeksius. sepsis perinatal sampai kematian janin. NIC: Pemberian Imunisasi/Vaksinasi: Pemberian imunisasi untuk mencegah penyakit menuar. lakukan terminasi kehamilan. 3) Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan. Bila ditemukan tanda-tanda inpartu. gawat janin) NOC: Status imun: Keadekuatan alami yang didapat dan secara tepat ditujukan untuk menahan antigen-antigen internal maupun eksternal. 8) Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus maka lakukan mobilisasi bertahap. .komplikasi janin : asfiksia janin. (factor resiko: infeksi intra partum. 2) persalinan preterm. Kontrol Ansietas: Kemampuan untuk menghilangkan atau mengurangi perasaan khawatir dan tegang dari suatu sumber yang tidak dapat diidentifikasi. bisa sampai gawat janin dan kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang). kekacauan. dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu. Pengendalian resiko: tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman kesehatan akual. Apabila pelepasan air berlangsung terus.komplikasi ibu : endometritis. penurunan aktifitas miometrium (distonia. pribadi. 3) prolaps tali pusat.Amati penampilan praktik hygiene pribadi untuk perlindungan terhadap infeksi .6) Jangan melakukan periksaan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda persalinan. .Aktivitas Kolaboratif: Berikan terapi antibiotic. Tujuan/Kriteria Evaluasi: . Aktivitas Keperawatan: . bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis. 7) Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat janin. Diagnosis keperawatan yang mungkin muncul 1) Risiko infeksi. Komplikasi infeksi intrapartum . infeksi uterus berat. 4) oligohidramnion. Deteksi Resiko: indakan yang dilakukan untuk mengidentifikasi ancaman kesehatan seseorang.Pantau tanda gejala infeksi . sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki vaskularisasi sangat banyak).d Perubahan dalam: status kesehatan NOC: Kontrol Agresi: Kemampuan untuk menahan perilaku kekerasan.Pasien menunjukkan Pengendalian Risiko. 2) Ansietas b.Patau hasil laboratorium . bila diperlukan. atau perilaku destruktif pada orang lain. Pengetahuan: Pengendalian Infeksi: tingkat pemahaman mengenai pencegahan dan pengendalian infeksi. Perlindungan terhadap Infeksi: Mencegah dan mendeteksi dini infeksi pada pasien yang berisiko. Koping: Tindakan untuk mengatasi stressor yang membebani sumber-sumber individu. jika terjadi pada usia kehamilan preterm.Kaji factor yang meningkatkan serangan infeksi . Aktif Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi.Fakto resiko infeksi akan hilang dengan dibuktikan oleh keadekuatan status imun pasien. 2) Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami kegagalan. infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan. serta dapat dimodifikasi. .

berat.Nyeri: efek merusak terhadap emosi dan prilaku yang diamati . cukup. Tujuan/Kriterioa Hasil: . berprasangka atau rasa gelisah yang dikaitkan dengan sumber bahaya yang tidak dapat diidentifikasi dari bahaya yang dapat diantisipasi. Pengajaran.Menunjukkan teknik relaksasi secara individu yang efektif . NIC: Panduan Sistem Kesehatan: memfasilitasi daerah pasien dan penggunaan layanan kesehatan yang tepat. Proses Penyakit: Membantu pasien dalam memahami informasi yang berhubungan dengan proses timbulnya penyakit secara khusus.Aktivitas Kolaboratif: Berikan pengobatan untuk mengurangi ansietas.Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif .Penatalaksanaan nyeri . .Bantuan Analgesika yang Dikendalikan oleh Pasien Aktivitas keperawatan: . banyak. dan evaluasi penyusunan program pengajaran yang dirancang uuntuk kebutuhan khusus pasien.Menunjukkan Kontrol Ansietas NIC: Pengurangan Ansietas: Minimalkan kekhawatiran. .Berinteraksi kepada pasien dengan cara yang tidak menghakimi untuk memfasilitasi pengajaran 4) Nyeri akut b.Tingkat nyeri: jumlah nyeri yang dilaporkan Kriteria evaluasi: .Observasi isyarat ketidak nyamanan nonverbal .Mengenali factor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri.Menentukan kemampuan pengambilan keputusan pada pasien. Individu: Perencanaan.Mengidentifikasi keperluan untuk penambahan informasi menurut penanganan yang dianjurkan. atau tidak ada . implementasi.Tentukan kebutuhan pengajaran pasien .d agen cidera (fisik) luka operasi NOC: . Tuuan/Kriteria Hasil: .Tingkat kenyamanan perasaan senang secara fisik & psikologis .Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien secara berkala .Kontrol Impuls: Kemampuan untuk menahan diri dari perilaku kompulsif atau impulsive. Keterampilan Interaksi Sosial: Penggunaan diri untuk melakukan interaksi yang efektif.Pemberian analgesik . ringan. terbatas.Prilaku mengendalikan nyeri . atau luas.Minta pasien untuk menilai nyeri/ketidak nyamanan pada skala 0 sampai 10 .Tentukan kemampuan pasien untuk mempelajari informasi khusus . Aktivitas Keperawatan: .Menunjukkan pengetahuan: Pengendalian Infeksi: dibuktikan dengan indicator 1-5: tidak ada.Sedasi sadar . NIC: . 3) Defisiensi Pengetahuan b.Ansietas berkurang . Aktivitas Keperawatan: . Pengajaran. Penahanan Mutilasi Diri: Kemampuan untuk berhenti dari tindakan yang mengakibatkan cedera diri sendiri (nonletal) yang tidak diperhatikan. ketakutan. sedang. sesuai dengan kebutuhan.Lakukan penilaian tingkat pengetahuan pasien dan pahami isinya .Menunjukkan nyeri efek merusak dengan skala 1-5: ekstrim.d keterbatasan kognitif dalam hal mengenal tanda dan gejala penyakit NOC: Pengetahuan: Pengendalian infeksi : tingkat pemahaman pada apa yang disampaikan.

yang berubah maupun yang tidak berubah. (2007). obat (jadi) adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa. mencegah suatu penyakit. pencegahan. Ilmu kebidanan. diagnosis. arif. 2000. maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. yang digunakan dalam pengolahan . pemulihan. kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional. Jakarta : PT bina pustaka. menyembuhkan. agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. Heather T. (Bagian Farmakologi. Universitas Indonesia) Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis. baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat. obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis. Prawirohajo. dan pengobatan penyakit. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 7. Obat merupakan benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit. Menurut Ansel (1985). 2010. Bahan Obat / Bahan Baku Semua bahan. Jakarta : EGC. Wilkinson. penyembuhan. Selain itu. 0 komentarLink ke posting ini Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook 10KAMIS. Fakultas Kedokteran. Dwi Widiarti. pencegahan. penyembuhan. Manjoer. mengurangi rasa sakit. Obat dan Peran Obat dalam Pelayanan Kesehatan a. Namun untuk seorang dokter. Departemen Kesehatan RI. yang pemanfaatannya bisa untuk mendiagnosis. 2005). M. b. peningkatan. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Obat Diposkan oleh Mursada pra Ners di 3/10/2011 12:01:00 AM 1. Obat merupakan senyawa kimia selain makanan yang bisa mempengaruhi organisme hidup. serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan. Pengertian Obat Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993. ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan. membebaskan gejala. Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup. peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. Kapita selekta kedokteran. Allih bahasa: Made Sumarwati. Jakarta : Aesculapius. Etsu Tiar. 2008. Judith. atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh. sarwono. pemulihan. Jakarta : EGC.DAFTAR PUSTAKA Herdman.

Peran Obat Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Dalam bidang kesehatan. Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan karena penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Obat golongan ini dapat dibeli bebas di Apotek. merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan tepi lingkaran berwarna hitam. hormon. obat penghilang rasa sakit dan penurun panas pada saat demam (analgetik-antipiretik). heroin. bahan mineral. beberapa suplemen vitamin dan mineral. beberapa analgetik. merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. obat juga memiliki fungsi sosial. Produk ruahan merupakan tiap bahan yang telah selesai diolah dan tinggal memerlukan pengemasan untuk menjadi oabt jadi. coca. Obat golongan ini hanya dapat diperoleh di Apotek dengan resep dokter. hilangnya rasa. karena selain merupakan komoditas perdagangan. obat influenza. morfin. Contoh dari obat narkotika antara lain: opium. c. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. obat tetes mata untuk iritasi ringan. Obat golongan ini hanya dapat dibeli di Apotek dan toko obat berizin. 4) Obat Narkotika. Seperti yang telah dituliskan pada pengertian obat diatas. warung. Obat Narkotika bersifat adiksi dan penggunaannya diawasi dengan ketet.obat walaupun tidak semua bahan tersebut masih terdapat di dalam produk ruahan. bahan hewan. obat gosok. 3) Obat Keras. sehingga obat golongan narkotika hanya diperoleh di Apotek dengan resep dokter asli (tidak dapat menggunakan kopi resep).obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan analgetik/obat penghilang rasa sakit. Obat Tradisional Merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan. yaitu: 1) Obat Bebas. Penggolongan Obat Obat digolongkan menjadi 4 golongan. e. maka peran obat secara umum adalah sebagai berikut: 1) Penetapan diagnosa 2) Untuk pencegahan penyakit 3) Menyembuhkan penyakit 4) Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan 5) Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu . obat darah tinggi/hipertensi. d. antibiotika. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan. obat diabetes. Obat-obat yang umumnya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat jantung. Obat-obat yang umunya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat batuk. Obat ini pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat palang (+) berwarna merah. ganja/marijuana. obat darah rendah/antihipotensi. dan obat-obat antiseptika. Obat bebas umumnya berupa suplemen vitamin dan mineral. dan beberapa antasida.antipiretik. obat. toko obat. Obat keras merupakan obat yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. merupakan obat yang pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat huruf K berwarna merah yang menyentuh tepi lingkaran yang berwarna hitam. dan dapat menimbulkan ketergantungan (UURI No. toko kelontong. 22 Th 1997 tentang Narkotika). 2) Obat Bebas Terbatas. dan beberapa obat ulkus lambung. dan lain sebagainya. merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan tepi lingkaran berwarna hitam. sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun menurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

visera. dan otak. dalam persen terhadap dosis. distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ di atas misalnya otot. Istilah ini menyatakan jumlah obat. Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama. distribusi obat juga ditentukan oleh sifat fisikokimianya. distribusi. yang lebih penting ialah bioavailabilitas. Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh. metabolisme. dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek. Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi membran sel dan terdistribusi ke dalam otak. dan ekskresinya (ADME). Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umunya mengalami absorpsi. Difusi ke ruang interstisial jaringan terjadi karena celah antarsel endotel kapiler mampu melewatkan semua molekul obat bebas. 1) Absorpsi dan Bioavailabilitas Kedua istilah tersebut tidak sama artinya. Kelengkapan dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang diberikan. Ini terjadi karena untuk obat-obat tertentu. Metabolisme ini disebut metabolisme atau eliminasi lintas pertama (first pass metabolism or elimination) atau eliminasi prasistemik. sedangkan obat yang tidak larut dalam lemak akan sulit menembus membran sel sehingga distribusinya terbatas terurama di cairan ekstrasel. yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif. Sebagaian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding ususpada pemberian oral dan/atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut. Eliminasi lintas pertama ini dapat dihindari atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral (misalnya lidokain). Parameter-parameter Farmakologi a. distribusi. Seluruh proses ini disebut dengan proses farmakokinetika dan berjalan serentak. atau memberikannya bersama makanan. kulit. ginjal. Selain tergantung dari aliran darah. obat diekskresi dari dalam tubuh. Distribusi juga dibatasi oleh . Selanjutnya. Farmakokinetika Farmakokinetika merupakan aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam tubuh yaitu absorbsi. menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Jadi istilah bioavailabilitas menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik. dan jaringan lemak. Tetapi secara klinik. tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sestemik. kecuali di otak. Absorpsi.6) Peningkatan kesehatan 7) Mengurangi rasa sakit 2. Obat demikian mempunyai bioavailabilitas oral yang tidak begitu tinggi meskipun absorpsi oralnya mungkin hampir sempurna. rektal. yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung. obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. yang merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian. 2) Distribusi Setelah diabsorpsi. hati. Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi. sublingual (misalnya nitrogliserin). Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan.

atau tidak toksik. dan mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respon yang terjadi. epitel. sekresi aktif di tubuli proksimal. Derajat ikatan obat dengan protein plasma ditentukan oleh afinitas obat terhadap protein. Ekskresi disini merupakan resultante dari 3 preoses. kecuali pada ekskresi melalui paru. yakni enzim mikrosom yang terdapat dalam retikulum endoplasma halus (yang pada isolasi in vitro membentuk mikrosom). Obat atau metabolit polar diekskresi lebih cepat daripada obat larut lemak. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar. air mata. Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat. artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah diekskresi melalui ginjal. Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting. Pengikatan obat oleh protein akan berkurang pada malnutrisi berat karena adanya defisiensi protein. pada umumnya obat menjadi inaktif. mengetahui interaksi obat dengan sel. pada kedokteran forensik. ada obat yang metabolitnya sama aktif. kadar obat. Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya dalam sel. Tetapi. misalnya arsen. Rambut pun dapat digunakan untuk menemukan logam toksik. liur. 3) Biotransformasi / Metabolisme Biotransformasi atau metabolisme obat ialah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim. dan rearbsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal. yakni filtrasi di glomerulus. 4) Ekskresi Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. dan enzim non-mikrosom. paru. Selain itu. Pengetahuan yang baik mengenai hal ini merupakan dasar terapi rasional dan berguna dalam sintesis obat baru. lebih aktif. tetapi juga terdapat di sel jaringan lain misalnya ginjal. Ada obat yang merupakan calon obat (prodrug) justru diaktifkan oleh enzim biotransformasi ini. tetapi dalam jumlah yang relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek obat. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respons khas untuk . dan rambut. Ekskresi obat melalui ginjal menurun pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis perlu diturunkan atau intercal pemberian diperpanjang. Kedua macam enzim metabolisme ini terutama terdapat dalam sel hati. air susu. dan plasma. hanya obat bebas yang dapat berdifusi dan mencapai keseimbangan. Farmakodinamika Farmakodinamika mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia berbagai organ tubuh serta mekanisme kerjanya. Liur dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan kadar obat tertentu. saluran cerna. sehingga biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat. Bersihan kreatinin dapat dijadikan patokan dalam menyesuaikan dosis atau interval pemberian obat. Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk meneliti efek utama obat.ikatan obat pada protein plasma. b. 1) Mekanisme Kerja Obat Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme. Metabolit aktif akan mengalami biotransformasi lebih lanjut dan/atau diekskresi sehingga kerjanya berakhir. dan kadar proteinnya sendiri.

Dalam keadaan tertentu. Walaupun tidak berlaku bagi terapi gen. Substansi yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Pengetahuan mengenai hubungan struktur aktivitas bermanfaat dalam strategi pengembangan obat baru. Kebanyakan messenger ini bersifat polar. Sebaliknya. sintesis obat yang rasio terapinya lebih baik. Reseptor obat merupakan komponen makromolekul fungsional yang mencakup 2 konsep penting. hidrogen. LH. Pertama. dan jarang berupa ikatan kovalen. Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat. TRH. bahwa obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru. hidrofobik. Sistem hantaran ini dimulai dengan pendudukan reseptor yang terdapat di membran sel atau di dalam sitoplasmaoleh transmitor. tetapi sekelompok reseptor obat tertentu juga berperan sebagai reseptor yang ligand endogen (hormon. 4) Interaksi Obat-Reseptor Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat dengan enzim. sedang obat yang efeknya dikurangi atau ditiadakan disebut agonis. Selain itu. transmitor untuk reseptor yang terdapat di membran sel ialah katekolamin. van der Waals). Contoh. tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada. neurotransmitor). Kedua. Sedangkan untuk reseptor yang terdapat dalam sitoplasma ialah steroid (adrenal dan gonadal). dapat menimbulkan perubahan besar dalam sidat farmakologinya. tiroksin. Obat yang menyebabkan pengurangan efek disebut antagonis. yaitu antagonisme fisiologik dan antagonisme pada reseptor. Secara umum obat yang efeknya dipengaruhi oleh obat lain disebut obat objek. secara umum konsep ini masih berlaku sampai sekarang. senyawa yang tidak mempunyai aktivitas intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu agonis di tempat ikatan agonis (agonist binding site) disebut antagonis. bahwa obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. vit. molekul reseptor berinteraksi secara erat dengan protein seluler lain membentuk sistem reseptor-efektor sebelum menimbulkan respons. biasanya merupakan ikatan lemah (ikatan ion. 5) Antagonisme Farmakodinamika Secara farmakodinamika dapat dibedakan 2 jenis antagonisme. . Peristiwa ini termasuk interaksi obat. sedangkan obat yang mempengaruhi efek obat lain disebut obat presipitan. misalnya perubahan stereoisomer. D. antagonisme pada reseptor dapat bersifat kompetitif atau nonkompetitif.obat tersebut. sehingga perubahan kecil dalam molekul obat. Antagonisme merupakan peristiwa pengurangan atau penghapusan efek suatu obat oleh obat lain. 3) Transmisi Sinyal Biologis Penghantaran sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler (extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler fisiologis yang spesifik. atau sintesis obat yang selektif terhadap jaringan tertentu. 2) Reseptor Obat Struktur kimia suatu obat berhubunga dengan afinitasnya terhadap reseptor dan aktivitas intrinsiknya.

berinteraksi dengan ion atau molekul kecil. obat tertentu tidak berikatan dengan reseptor. Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah lidah. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik. Obat-obat ini mungkin mengubah sifat cairan tubuh. 3. Meninggalkan sisa rasa enak di rongga mulut. Pulvis (Serbuk) Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan. 7) Efek Obat Efek obat yaitu perubahan fungsi struktur (organ)/proses/tingkah laku organisme hidup akibat kerja obat. 3) Tablet Trikurat Æ tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. 1) Tablet Kempa Æ paling banyak digunakan. bentuk serta penandaannya tergantung design cetakan 2) Tablet Cetak Æ dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam lubang cetakan. c. Pulveres Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama. sekarang diberikan secara oral.6) Kerja Obat yang tidak Diperantarai Reseptor Dalam menimbulkan efek. b. ukuran dapat bervariasi. mudah . 6) Tablet Bukal Æ digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi. 7) Tablet Efervescen Æ tablet larut dalam air. Tablet (Compressi) Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan. 8) Tablet Kunyah Æ cara penggunaannya dikunyah. Macam-macam Bentuk Obat dan Tujuan Penggunaannya • Bentuk-bentuk obat serta tujuan penggunaannya antara lain adalah sebagai berikut: a. Harus dikemas dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis “tidak untuk langsung ditelan”. atau masuk ke komponen sel. Sudah jarang ditemukan 4) Tablet Hipodermik Æ dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. 5) Tablet Sublingual Æ dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati).

suspensi topikal (penggunaan pada kulit). suspensi sirup kering. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. suspensi optalmik. Emulsi Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi. tidak meninggalkan rasa pahit. cara peracikan atau penggunaannya. f. i. Solutiones (Larutan) Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut. Pilulae (PIL) Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Galenik Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang disari. 5) Mudah ditelan. g. yang karena bahan-bahannya. atau tidak enak. d. dengan pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar. Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu: 1) Menutupi bau dan rasa yang tidak enak 2) Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari 3) Lebih enak dipandang 4) Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis). e. umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi. fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya. misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit). suspensi tetes telinga (telinga bagian luar). Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.ditelan. Macam suspensi antara lain: suspensi oral (juga termasuk susu/magma). j. biasanya dilarutkan dalam air. Kapsulae (Kapsul) Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Extractum Merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari simplisia nabati atau simplisia hewani . h. tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Suspensi Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair. Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut.

Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. m. dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar. aspirin untuk analgenik antipiretik. • Cara pemberian obat serta tujuan penggunaannya adalah sebagai berikut: a. emulsi. tidak . 2) Penggunaan sistemik Æ aminofilin dan teofilin untuk asma. l. k. Guttae Ophtalmicae (tetes mata). diare. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut. ekonomis. vagina atau uretra. Suppositoria Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular) dan mengikat kuman/virus/antigen. Injectiones (Injeksi) Merupakan sediaan steril berupa larutan. Guttae Oris (tets mulut). melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tujuan pengobatan yaitu: 1) Penggunaan lokal Æ memudahkan defekasi serta mengobati gatal. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam). n. umumnya meleleh. chlorprozamin untuk anti muntah. Kerugiannya timbul efek lambat. emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. p. o. Guttae Nasales (tetes hidung). yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Guttae Auriculares (tetes telinga). kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang ditetapkan. dan inflamasi karena hemoroid. Immunosera (Imunoserum) Merupakan sediaan yang mengandung Imunoglobin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. Unguenta (Salep) Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. atau suspensi. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. yang diberikan melalui rektal. Keuntungannya relatif aman. Oral Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Guttae (Obat Tetes) Merupakan sediaan cairan berupa larutan. praktis. iritasi. digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. chloral hydrat untuk sedatif dan hipnotif. tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah. Infusa Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 900 C selama 15 menit.menggunakan pelarut yang sesuai.

b. tidak kooperatif. Parentral Digunakan tanpa melalui mulut. atau emulsi. langsung ke pusat sasar. parasetamol. Misal suntikan atau insulin. Misal untuk keputihan atau jamur. Suntikan Diberikan bila obat tidak diabsorpsi di saluran cerna serta dibutuhkan kerja cepat. Apabila obatnya tidak stabil dalam cairan. Contoh. barbiturat. untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas. terjadi efek lintas pertama. sering mengiritasi epitel paru – sekresi saluran nafas. Misal tetes mata. penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah. e. Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya lokal dan sistemik. h. Rektal Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. obat absorpsi tidak teratur. . diperlukan alat dan metoda khusus. teofilin. insulin). Misal obat asma. atau dikehendaki onset yang cepat. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta) c. obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G. Bila mau dipakai baru ditambah aqua steril untuk memperoleh larutan atau suspensi injeksi. dapat menghindari kerusakan obat di saluran cerna dan hati. diare. Dalam inhalasi. Pervaginam Bentuknya hampir sama dengan obat rektal. Kelemahannya yaitu kurang aman. yang sulit menelan/pasien yang tidak kooperatif. tidak disukai pasien. sering muntah. serta umumnya paling aman. kadar obat dapat dikontrol. bekerja cepat dan dosis ekonomis. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh darah. tetes telinga. asetosal. Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen. Obat oral sulit/tidak dapat dilakukan karena iritasi lambung. g. suspensi. f. terhindar dari efek lintas pertama. obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan. Istilah injeksi termasuk semua bentuk obat yang digunakan secara parentral. Inhalasi Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). indometasin. Pada keadaan pasien muntah-muntah. dimasukkan ke vagina. toksisitas pada jantung. berbahaya (suntikan – infeksi). d. Topikal/lokal Obat yang sifatnya lokal. koma. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus.sadar. atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna. salep. Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. Keuntungannya yaitu dapat untuk pasien yang tidak sadar. penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai. dapat diberikan langsung pada bronkus. Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki. Kerugiannya yaitu. obat ditaruh dibawah lidah. termasuk infus. sukar mengatur dosis. Injeksi dapat berupa larutan. Misal pada kasus pasien jantung. maka dibuat dalam bentuk kering. Efeknya biar langsung sampai sasaran. Sublingual Cara penggunaannya. dapat untuk obat yang mengiritasi lambung. terurai di lambung.

magma. Sedapat mungkin dihindari penggunaan segala jenis obat pada trimester pertama kehamilan Bila menggunakan obat saat hamil. busa-busa emulsi. semprot. larutan (sulotio). wanita gondok Æ minum obat Æ menyusui tidak dihentikan Æ anak kerdil Sedapat mungkin menghindari penggunaan obat pada wanita yang menyusui atau menghentikan pemberian air susu ibu (ASI) jika pemakaian obat harus dilanjutkan. bubuk. . Terapi Obat Pada Pasien-pasien Khusus Farmakoterapi merupakan cabang ilmu farmakologi yang mempelajari obat untuk mencegah. tablet. pasta. Obat hanya diresepkan pada wanita hamil bila manfaat yang diperoleh ibu diharapkan lebih besar dibanding resiko pada janin. menghindari komplikasi. apabila obat yang dikonsumsi oleh ibu hamil tembus ke placenta. larutan. supositoria Sumber: Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (Howard C. cakram. salep. Tujuan terapi adalah untuk menyembuhkan. fisiologi berubah. salep. Obat harus diresepkan pada dosis efektif yang terendah dan untuk jangka waktu pemakaian yang sesingkat mungkin. sisipan. Jika penggunaan obat diperlukan. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Hamil. dan solutio Konjungtival Salep Introakular/intraaural Larutan. jel. spon Uretral Larutan. Penggunaan obat dapat mengakibatkan kecacatan pada bayi atau mempengaruhi janin. memulihkan (rehabilitasi) kesehatan. plester. sirup. krim. bubuk Sublingual Tablet. pakailah obat dengan efek samping teraman. b. maka harus dipilih obat yang paling aman. supositoria Vaginal Larutan. suspensi Epikutan/transdermal Salep. suspensi Intranasal Larutan. sehingga dioperasi tidak sakit)). namun juga untuk mencegah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu (misal: penggunaan obat-obat KB. menyembuhkan penyakit. Misal. menegakkan diagnostik. mengurangi rasa sakit. kapsul. trokhisi dan tablet hisap Parentral Larutan. latio. serta memperpanjang masa hidup. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Menyusui Obat yang diminum ibu menyusui dapat menembus air susu sehingga diminum/terminum oleh bayi. erosol. terutama obat-obatan yang memiliki ijin untuk digunakan pada bayi. supositoria. inhalan. suspensi. tempelan transdermal. salep Intrarespiratori Erosol Rektal Larutan. eliksir. Ansel) 4. a.• Tabel Penggunaan Bentuk Sediaan Cara Pemberian Bentuk Sediaan Utama Oral Tablet. anastetika umum (hilangnya kesadaran dan respon aktif (nyeri).

Pemakaian obat yang belum mempunyai ijin untuk digunakan pada anak. Proses penuaan akan mengakibatkan terjadinya beberapa perubahan fisiologi. titrasi dosis. ginjal belum belum efisien mensekresikan obat sehingga mengakibatkan konsentrasi yang tinggi di darah anak. Efek samping obat lebih sering terjadi pada populasi lanjut usia. walaupun sering dijumpai. Perbaikan kualitas hidup. Dosis bagi anak-anak sering sulit untuk ditentukan. kemampuan organ menurun. dan sosiologi.Apabila menggunakan obat selama menyusui. Mungkin dapat dianjurkan kepada ibu untuk meminum obat segera setelah menyusui. Pasien lanjut usia tiga kali lebih beresiko masuk rumah sakit akibat efek samping obat. dosis dalam darah meningkat sehingga menjadi racun. maka bayi harus dipantau secara cermat terhadap efek samping yang mungkin terjadi. Keahlian klinis farmasis. Farmasis sebaiknya perlu memiliki pengetahuan menyeluruh tentang perubahan-perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik yang muncul.enzim belum terbentuk sempurna. Hal ini berpengaruh secara bermakna terhadap segi finansial seperti halnya implikasi teraupetik. sistem dalam tubuh maupun enzim yang bertanggungjawab terhadap metabolisme dan ekskresi obat. Dengan memahami perbedaan tersebut akan membantu farmasis klinis dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan dosis. termasuk evaluasi terhadap pengobatan. misalnya dalam pengusulan dosis (mg/kg) maupun frekuensi pemberian obat yang berbeda antara anak-anak dengan orang dewasa. Penyuluhan kepada pasien anak-anak maupun pengasuhnya dalam bahasa yang mudah dimengerti akan membantu meningkatkan kepatuhan anak terhadap pengobatan. pemilihan obat. Dalam pengobatan. Perubahan fisiologi yang terkait usia dapat menyebabkan perubahan yang bermakna dalam penatalaksanaan obat. psikologi. Pemanfaatan pengalaman klinis merupakan acuan terbaik dalam menentukan dosis yang paling sesuai untuk bayi maupun anak-anak. Tujuan terapi obat pada pasien lanjut usia harus ditetapkan dalam rangka mengoptimalkan hasil terapi. Pada ginjal. Peresepan yang tidak tepat dan polifarmasi merupakan problem utama dalam terapi dengan obat pada pasien lanjut usia. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Anak Obat pada anak dapat berpengaruh karena organ-organ pada anak belum sempurna pertumbuhannya. sehingga obat dapat menjadi racun dalam darah (mempengaruhi organ hati dan ginjal). harus dipantau secara ketat untuk memastikan bahwa keamanan pasien diutamakan. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Lansia Terdapat perubahan-perubahan fungsi. enzim. Pada hati. dapat digunakan untuk memperbaiki pelayanan dalam bidang ini. d. bayi berumur 6 bulang. . anatomi. mengakibatkan konsentrasi obat yang tinggi di tubuh anak. Farmakokinetika pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. anak-anak tidak dapat diperlakukan sebagai orang dewasa berukuran kecil. c. Penggunaan obat pada anak merupakan hal yang bersifat khusus yang berkaitan dengan perbedaan laju perkembangan organ. dan bentuk sediaan obat yang tepat serta pengobatan penyebab penyakit bukan sekedar gejalanya merupakan semua tindakan yang sangat diperlukan. serta laju darah dalam ginjal menurun. sehingga obat tidak termotabolisme dengan baik.

semuanya dapat berperan dalam masalah ini. dan stoma gastroenterostomi (setelah bedah lambung). bahasa. Golongan dari Antitukak adalah sebagai berikut: No Golongan Zat Aktif (Nama Generic) Kode ICOPIM Brand Name 1. Penggunaan obat apa pun yang diketahui berpotensi menimbulkan nephrotoksisitas sedapat mungkin harus dihindari pada semua penderita gangguan ginjal. Uji fungsi ginjal hanya menggambarkan penyakit secara kasar/garis besar. Tujuan terapi tukak lambung adalah meringankan atau menghilangkan gejala. distribusi obat dapat berubah karena terjadi fluktuasi derajat hidrasi atau oleh adanya perubahan pada ikatan protein. maka klirens obat yang terutama tereliminasi melalui mekanisme ini akan menurun dan waktu paruh obat dalam plasma menjadi lebih panjang. 5. Perubahan dosis yang paling sering dilakukan adalah dengan menurunkan dosis atau memperpanjang interval pemberian obat. Pada gagal ginjal.Kepatuhan penggunaan obat sering kali mengalami penurunan karena beberapa gangguan pada lanjut usia. mencegah komplikasi yang serius (hemoragi. Jika filtrasi glomeruler terganggu oleh penyakit ginjal . Akan tetapi perubahan ikatan protein akan bermakna secara klinis apabila: 1) Lebih dari 90% jumlah obat dalam plasma merupakan bentuk terikat protein. esofagus bagian bawah. Anjuran dosis didasarkan pada tingkat keparahan gangguan ginjal. Antitukak Tukak lambung adalah suatu kondisi patologis pada lambung. e. dan mencegah kambuh. deudenum. dan lebih dari setengah bagian ginjal harus mengalami kerusakan sebelum terlihat nyata bukti kejadiannya gangguan ginjal. Antasida Aluminuim Hidroksida . perforasi. mendengar dan ketangkasan. obstruksi). Penggolongan Obat pada Saluran Pencernaan a. bahkan jika eliminasinya tidak terganggu. Bentuk gangguan ginjal yang paling sering diakibatkan oleh obat adalah interstitial nefritis dan glomerulonefritis. Kesulitan dalam hal membaca. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Gangguan Ginjal dan Hati Terjadi karena karena terjadi penurunan fungsi hati dan ginjal. yang biasanya dinyatakan dalam istilah laju filtrasi glomeruler (LFG). Ekskresi adalah parameter farmakokinetika yang paling terpengaruh oleh gangguan ginjal. atau kombinasi keduanya. 2) Obat terdistribusi ke jaringan harus dalam jumlah yang kecil. mempercepat penyembuhan. Penderita dengan ginjal yang tidak berfungsi normal dapat menjadi lebih peka terhadap beberapa obat.

Antagonis Reseptor H2 Cimetidin 7-308 • Sanmetidin • Tagamet • Ulsikur Fomatidin • Facid • Famocid • Gaster Nizatidin • Axid Ranitidin • Graseric • Radin • Rantin 3. Khelator dan Senyawa Kompleks Trikalium Disitratobismutat • De-Nol Sukralfat • Inpepsa • Ulcron • Ulcumaag 5. Antimuskarini k yang Selektif Pirenzepin • Gastrozepin • Pirenzepin 4. Analog Prostaglandin Misoprostol • Cytotec 6. Penghambat Pompa Proton Omeprazole • Lambuzol • Loklor .Antasida DOEN 7-300 7-309 • Dexanta • Promag • Waisan Magnesium Karbonat 7-301 • Simeco • Saclon • Neoglumin Magnesium Trisilikat 7-303 • Neomag • Homag • Sanmag Magnesium Hidrotalsit 7-302 • Talsit • Waisan Forte Natrium Bikarbonat • Antimaag 2.

Stimulan Motilitas Cisaprid c. Antispasmodik lain Mebeverin Hidroklorida 7-511 • Duspatalin 3. Golongan dari Antipasmodik adalah sebagai berikut: No Golongan Zat Aktif (Nama Generic) Kode ICOPIM Brand Name 1.• Losec Lansoprazol • Betalans • Laz • Prosogan Pantoprazol • Pantozol b. Antidiare Golongan dari Antidiare adalah sebagai berikut: No Golongan Zat Aktif (Nama Generic) Kode ICOPIM Brand Name . Termasuk dalam kelas ini adalah senyawa yang memiliki efek antikolinergik (lebih tepatnya antimuskarinik) dan antagonis reseptordopamin tertentu. Antimuskarinik Atropin Sulfat 7-110 Ekstrak Beladona 7-110 Hiosin Butilbromida 7-111 • Buskopan • Buskopan Plus • Gitas Propantelin Bromida 7-112 • ProBanthine 2. Antispasmodik Antispasmodik merupakan dolongan obat yang memiliki sifat sebagai relaksan otot polos.

Pencahar Pencahar adalah obat yang digunakan untuk memudahkan pelintasan dan pengeluaran tinja dari kolon dan rektum. ringan • Neo Diaform • Neo Kaolana • Neo Entrostop Attapulgit 7-351 • Neo Koniform • Tapulrae Karbo Absorben • Karbo Absorben • Norit 3. Pencahar umumnya harus dihindari. Golongan dari Pencahar adalah sebagai berikut: No Golongan Zat Aktif (Nama Generic) Kode ICOPIM Brand Name 1. Antimotilitas Codein 6-502 Co-Fenotrop • Lomotil Loperamid Hidroklorida 7-352 • Imomed • Lodia • Lomodium Morfin 6-501 4. Pengobatan Diare Kronis Sulfasalazin 6-105 • Sulcolon Kolesteramin • Questran Hidrokortison 6-200 d. untuk pengeluaran parasit setelah pemberian antelmenti. Oralit Oralit • Alphatrolit • Aqualyte • Bioralit 2. Penyelahgunaan pencahar dapat menyebabkan hipokalemia dan atonia kolon sehingga tidak berfungsi. serta untuk membersihkan saluran cerna sebelum pembedahan dan prosedur radiologi. kecuali bila ketegangan akan memperparah suatu kondisi (seperti pada angina) atau meningkatkan resiko pendarahan rektal (seperti pada hemoroid). Pencahar Pembentuk Massa Ishaghula Sekam 7-331 • Metamucil • Mucofalk . Pencahar juga bermanfaat pada konstipasi kerena obat.1. Adsorben dan Obat Pembunuh Massa Kaolin.

rasa nyeri. dan ekskoriasi di anus dan perianus yang lazim dijumpai pada pasien hemoroid. Antihemoroid Gatal-gatal. dan proktitis sebaiknya diobati dengan aplikasi salep dan supositoria. Pencahar Stimulan Bisakodil 7-319 • Dulcolax • Laxamex • Melaxan Dantron 7-319 Natrium Dokusat • Laxatab Glyserin • Glyserin Cap Gajah • Proconsti • Triolax Natrium Pikosulfat • Laxoberon 3. fistulas. Pada proktitis. Pencahar Osmotik Laktulosa 7-339 • Duphalac Magnesium Sulfat 7-330 • Garam Inggris Cap Gajah e. Sediaan Kombinasi dengan Kortikosteroid Kortikostreroid 6-209 • Anusol HC . Pelunak Tinja Parafin Liquidum 7-321 • Laxadin 4. Pembersihan lokal dengan hati-hati maupun penyesuaian diit guna menghindari tinja yang keras. Golongan dari Antihemoroid adalah sebagai berikut: No Golongan Zat Aktif (Nama Generic) Kode ICOPIM Brand Name 1. tindakan-tindakan ini dapat menambah pengobatan dengan kortikosteroid atau sulfasalazin. Sediaan Pelembut Bismut • Anusol • Rako • Boraginol-N 2. serta penggunaan pencahar pembentuk massa seperti bran dan diet residu tinggi juga bermanfaat.• Mulax 2.

Sklerosan Rektal f. Penggolongan Obat pada Saluran Pernafasan No Golongan Zat Aktif (Nama Generic) Kode ICOPIM Brand Name 1 Antiasma & Bronkodilator Teofilin 7-412 • Asmasolon • Amilex • Bronchophylin Aminofilin 7-570 • Decafil • Aminofusin TPN • Konisma Salbutamol 7-571 • Astop • Bromosal .• Ultraproct • Boraginal-S 3. Enzim Pencernaan Pankreatin 7-340 • Enzymfort • Excelase • Librozym 6. Obat yang Bekerja pada Kandung Empedu Asam Kenodeoksikolat 7-341 • Chenofalk Asam Ursodeoksikolat 7-703 • Estazor • Pramur • Urdafalk 2. Obat dengan Gangguan Sekresi Pencernaan Golongan dari obat dengan gangguan sekresi pencernaan adalah sebagai berikut: No Golongan Zat Aktif (Nama Generic) Kode ICOPIM Brand Name 1.

• Butasal Terbutalin 7-578 • Astherin • Bintasma • Brasmatic Bambuterol HCL • Bambec Eformoterol Fumarat • Foradil Fenoterol Hidrobromida • Berotec • Berodual Mdi Salmeterol • Serevent Inhaler • Serevent Rotadisk Efedrin HCL 7-121 • Erladrine Ipratoprium Bromida 7-578 • Atrovent • Atrovent Udv • Combivent 2 Kortikosteroid Beklometason Dipropionat 7-606 • Beclomet • Becotide • Respocort Autohaler Budesonid • Inflammide • Pulmicort • Pulmicort Respules Flutikason Propionat • Flixotide Inhaler • Flixotide Rotadisk 3 Kromoglikat Natrium Kromoglikat • Intal 5 Nedokromil Natrium • Tylade Syncroner Ketotifen • Intifen • Nortifen • Profilas 4 Antihistamin Akrivastin • Semprex Astemizol • Hismanal • Hispral .

• Lapihis Setirizin Hidroklorida • Betarhin • Cerini • Incidal OD Loratadin • Alloris • Anhissen • Clarihis Terfenadin • Alpenaso • Gradane • Hisdane Azatadin Maleat • Zadine Klorfeniramin Maleat • Aficitom • Alleron • Chlorophen Dimenhidrinat 6-305 • Antimab • Antimo • Dramamine Sinarizin • Cinnipirine • Sturgeron Klemastin • Tavegyl Siproheptadin HCL • Alphahist • Aprocyn • Apeton Hidroksizin Hidroklorida • Bestalin • Iterax Mequitazin • Meviran Oksatomid • Oxtin • Tinset Feniramin Maleat 6-302 • Avil Prometazin Hidroklorida 6-911 • Camergan • Phenergan Prometazin 6-911 • Avopreg Teoklat Mebhidrolin Napadisilat 6-304 • Biolergy • Histapan • Interhistin Oksomemazin • Comtusi .

• Doxergan Homoklorsiklizi n Hidroklorida • Homoklomin Deksklorfeniram in Maleat 6-300 • Dexteem • Polamec • Polofar Brompheniramin Maleat 6-304 • Deksbromfenira min Maleat 6-304 • Drixoral Oksatomid • Oxtin • Tinset Mequitazin • Meviran 5 Mukolitik Asetilsistein 7-553 • Fliumucil • Fluimucil Pediatric • Pectocil Karbosisetein • Broncholit • Muciclar • Mucocil Ambroxol • Ambril • Berea • Bronchopront 6 Antitusif Codein 6-502 • Codipront • Codipront Cum Expectorant Dekstrometorfan 7-548 • Romilar • Zenidex 7 Dekongestan Pseudoefedrin HCL 7-561 • Sudafed Fenilpropanolam in 7-700 • Rhinergal 8 Ekspektoran Gliseril Guaiakolat 7-550 • Woods Pepermint • Versaldex • Pyril Deksbromfenira min 6-304 • Drixoral Tripelenamin 6-305 • Neobronco Piristina Etil Morfin 6-502 • Dionin Cough Alkaloida opium .

Namun antibiotika dapat digunakan sebagai non-terapeutis. Untuk melindungi seseorang yang terpajan kuman tertentu. daya tahan terhadap infeksi (status imunologis). terutama fungi. proses tersebut tidak dapat berjalan karena tidak mungkin melakukan pemeriksaan kepada setiap pasien yang datang karena infeksi. fungsi hati. b. beratnya infeksi. Secara provilaktis juga diberikan kepada pasien dengan sendi dan klep jantung buatan. Penggunaan antibiotik didasarkan pada: a. sehingga kuman musnah atau tidak berkembang lagi tanpa merusak jaringan tuan rumah. • Penggunaan Antibiotik untuk Profilaksis Profilaksis antibiotik diperlukan dalam keadaan sebagai berikut: a. daya tahan terhadap obat. b. untuk wanita apakah sedang hamil atau menyusui dan lain-lain. Faktor pasien Faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotic adalah fungsi organ tubuh pasien yaitu fungsi ginjal. riwayat alergi. Selain itu. usia. beberapa antibiotika bekerja terhadap dinding sel dan membran sel. yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain.& morphin • Doveri • Pulvis Doveri Noscapin 6-502 • Longatin • Mercotine • Neocodin Isoaminil 7-548 • Peracon Oksolamin • Bredon Pipazetat 7-548 • Selvigon Butamirat • Sinecod 7. dank arena infeksi yang berat perlu penanganan segera maka pengambilan sample bahan biologic untuk pengembangbiakan dan pemeriksaan kepekaan kuman dapat dilakukan setelah dilakukannya pengobatan terhadap pasien yang bersangkutan. • Fungsi Antibiotika Antibiotika digunakan untuk mengobati berbagai infeksi akibat kuman atau juga untuk prevensi infeksi. Penyebab infeksi Proses pemberian antibiotic yang paling baik adalah dengan melakukan pemeriksaan mikrobiologis dan uji kepekaan kuman. Namun pada kenyataannya. Sedangkan antimikroba yaitu obat yang membasmi mikroba khusunya mikroba yang merugikan manusia. Mencegah endokarditis pada pasien yang mengalami kelainan katup jantung atau defek septum yang akan . yaitu sebagai stimulans pertumbuhan pada binatang ternak. juga sebelum cabut gigi. misalnya pada pembedahan besar. Penggolongan Obat pada Antibiotika Antibiotik adalah zat yang dihasilakn oleh mikroba. Mekanisme kerja yang terpenting pada antibiotika adalah perintangan sintesa protein.

misalnya ekstraksi gigi.menjalani prosedur dengan resiko bakteremia. Mendapatkan efek sinergi. • Golongan dari Antibiotik adalah sebagai berikut: No Klasifikasi Zat Aktif (Nama Generic) Kode ICOPIM Brand Name 1. Penisilin (6-349) Benzatin Penisilin G 6-000 • Prokain Penisilin G • Penadur LA Phenoxymethyl Penicilline 6-002 • Fenocin • Ospen • Ven Pee Kloksalisin • Meixam • Ikaclox • Orbenin Flucloxacillin 6-003 • Alclomex • Floxapen Ampicilin 6-004 • Dexypen • Kalpicilin • Bimapen Amoksisilin 6-004 • Abdimox • Alphamox • Amobiotic Bakampisilin • Bacacil Co Amoksiklav • Amocomb • Ancla • Augmentin . meningitis purulenta. c. misalnya sepsis. misalnya pada pengobatan tuberkulosis. Pengobatan infeksi campuran. Memperlambat timbulnya resistensi. b. pembedahan dan lain-lain. misalnya pasca bedah abdomen. Untuk kasus bedah. Pengobatan awal pada infeksi berat yang etiologinya belum jelas. d. profilaksis diberikan untuk tindakan bedah tertentu yang sering disertai infeksi pasca bedah atau yang berakibat berat bila terjadi infeksi pasca bedah. • Antibiotik Kombinasi Antibiotik kombinasi diberikan untuk 4 indikasi utama: a. c.

Sefalosporin (6-059) Cefaclor • Capabiotic • Ceclor • Cloracef Cefadroxil • Alxil • Bidicef • Biodroxil Sefiksim • Cefspan • Ceptik • Comsporin Sefrozil • Cefzil Sefodizim • Modivid Cefotaxime • Clacef • Claforan • Clatax Sefpirom • Cefrom Ceftazidime • Ceftum • Fortum Seftibutem • Cedax Ceftriaxone • Broadcef • Elpicef • Rochephin Sefuroxime • Anbacim • Cefurox • Cethixim Cephalexin 6-052 • Cefabiotic • Ospexin • Pralexin Sefamandol • Dardokef • Dofacef Cephradin 6-059 • Ceficin • Dynacef • Velocef Cefazolin • Cefacidal Sefpodoksim • Banan Antibiotik Betalaktam Lainnya Aztreonam • Azactam Imipenem 6-901 • Tienam Meropenem • Meronem .Pivampisilin • Pivamex Tikarsilin • Timentin Piperasilin 6-164 • Ledercil Sulbenisilin • Kedacilin 2.

Tetrasiklin (6-040) Tetrasiklin 6-040 • Bimatra • Camicyclin • Combicyclin Dimeklosiklin Hidroklorida • Ledermycin Doxycycline 6-043 • Dotur • Doxin • Dumoxin Minosiklin 6-049 • Minocin Oxytetracycline 6-042 • Teramycyn 4. Makrolid (6-482) Erytromisin 6-030 • Alphathrocin • Bannthrocin • Camitrocin Azitromisin • Aztrin • Mezatrin • Zifin Klaritromisin • Abbotic • Clambiotic • Claros Roksitromisin • Anbiolid • Ixor • Makrodex Spiramisin 6-032 • Hypermisin • Osmysin • Rovadin 6. Aminoglikosida (6-638) Amikasin 6-069 • Alostil • Amikin Gentamisin 6-082 • Ethigent • Garabiotic • Garamycin Kanamycin 6-069 • Kanamycin Meiji Neomisin Sulfat 7-600 • Almocyn Netilmisin • Netromycin C Tobramisin 6-089 • Dartobcin • Tobryne 5.3. Kuinolon (6-139) Asam Nalidiksat 6-190 • Negram • Urineg Asam Pipemidat • Impresial • Urinter .

• Urixin Ofloksasin • Akilen • Betaflox • Danoflox Norfloksasin • Amanita • Lexinor • Nopratik Ciprofloksasin • Baquinor • Bernoflox • Bidiprox Pefloksasin • Peflacine Fleroksasin • Quinodis Sparfloksasin • Zagam Levofloksasin • Cravit • Reskuin 7. Sulfonamide (6-109) dan Trimetropim (6-148) Trimetoprim 6-148 • Tobyprim • Trisoprim Cotrimoksazol 6-193 • Abatrim • Bactoprim • Bactricid Sulfadiazin 6-102 Sulfadimidin 6-102 Sulfasalazin 6-105 • Sulcolon 8. . tidak lepas dari sejarah pelayanan kefarmasian yang dititik beratkan pada produk (membuat. meracik) serta menyerahkan obat kepada pasien. Hubungan kemitraan. Pengetahuan Farmakologi (Obat) bagi Rekam Medis Selama ini obat dalam pelayanan kesehatan selalu disebut sebagai unsur penunjang walaupun hampir 80% pelayanan kesehatan diintervensi dengan obat. Antibiotik Lain Kloramfenikol • Camicetine • Chloramex • Colme Tiamfenikol • Biothicol • Comthycol • Corsafen Klindamisin • Albiotin • Ancrocid • Cindala Linkomisin 6-039 • Biolincom • Lincobiotic • Lincocin Vankomisin 6-081 • Ladervan Spektinomisin 6-069 • Trobicin Kolistin • Colistine 8.

dapat dipertegas dengan memperkirakan obat yang digunakan. Bagaimana jika rekam medis tidak dibekali oleh pengetahuan farmakologi (obat)? Olahan data tersebut tidak akan valid atau tidak akurat karena rekam medis akan terasa asing dengan nama atau macam obat-obat tersebut. namun isinya merupakan milik pasien. dan pengobatan baik yang dirawat inap. termasuk di dalamnya adalah obat-obat yang digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan/proses penyembuhan pasien. penentuan fisik laboratorium. anamnese. Petugas rekam medis sendiri harus pandai mentelaah/mencerna isi rekam medis (obat) karena rekam medis itu sendiri merupakan bukti pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien. jelas bahwa di dalam rekam medis mencatat segala hal tentang pengobatan/terapi terhadap pasien. ataupun macam-macam obat yang digunakan dalam tindakan pengobatan. Sedangkan menurut Huffman (1994) rekam medis adalah himpunan faktafakta yang berhubungan dengan riwayat hidup dan kesehatan seorang pasien. Di dalam rekam medis terdapat segala bentuk pelayanan yang sudah diberikan oleh pasien. termasuk penyakit sekarang dan masa lampau dan tindakan-tindakan yang diberikan untuk pengobatan/perawatan kepada pasien tersebut yang ditulis oleh profesional dalam bidang kesehatan. Laporan ini nantinya menjadi sebuah informasi untuk menunjang sebuah keputusan. rawat jalan. Data-data inilah yang kemudian akan diolah oleh bagian rekam medis menjadi sebuah laporan yang diperlukan atau dilaporkan kepada pihak menejemen atau pihak luar rumah sakit (Dinas Kesehatan maupun Departemen Kesehatan). bentuk. sehingga informasi dan data di dalamnya harus lengkap. sehingga data-data dari rekam medis dapat diolah dan disajikan secara akurat. Diharapkan dengan adanya pengetahuan farmakologi (obat). sehingga petugas rekam medis harus dapat memahami isi rekam medis itu sendiri. Dengan kata lain. keakuratan laporan/informasi diharapkan dapat memperbaiki/menjaga mutu pengambilan keputusan bagi pihak menejemen maupun Dinas Kesehatan/Departemen Kesehatan. sehingga di dalam rekam medis tidak terlepas dari macam-macam obat yang digunakan dalam pengobatan/terapi tersebut. dan akurat (termasuk di dalamnya pemberian obat kepada pasien). Keakuratan Data Medis Pasien Berkas rekam medis adalah milik rumah sakit. sehingga petugas rekam medis harus tahu (tidak salah/harus akurat) dalam menuliskan obat yang digunakan pada lembar klaim asuransi. • Rekam medis merupakan bukti pelayanan terhadap pasien. Manfaat dari hal ini adalah sebagai berikut: • Penulisan diagnosis yang tidak jelas oleh dokter. petugas rekam medis mampu untuk mengenali (familiar) terhadap nama. Menurut Departemen Kesehatan RI (1991) rekam medis adalah keterangan baik yang tertulis maupun yang terekam tentang identitas. . • Klaim asuransi biasanya harus mencantumkan obat yang digunakan oleh pasien selama menjalani pelayanan kesehatan. • Data obat yang jelas dapat dijadikan olat komunikasi antar dokter karena (mungkin) tidak setiap pasien ditangani oleh dokter yang sama. segala pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien. jelas. padahal kemitraan dimulai dengan komunikasi yang baik. Jaminan Keakuratan Laporan/Informasi Dari pengertian-pengertian diatas. b. maupun yang mendapat pelayanan gawat darurat. Beberapa arti penting pengetahuan farmakologi (obat) bagi rekam medis adalah sebagai berikut: a.Hubungan interaksi langsung Apoteker dengan pasien sangat jarang dan bahkan komunikasi antara Apoteker dengan staf medik atau staf non-medis lainnya juga sangat kurang. diagnosa.

Muhammad. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokeran Universitas Indonesia. S. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. 1984. Diklat Kuliat Farmasetika I. Drs. Mohammed. 2003. Farmakologi dan Terapi.google. 1995. Kadar Glukosa darah sewaktu puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dl). UI Press Aslam. 1989. Jakarta: Ghalia Indonesia. Ansel. Apt.Si. C. Bukan DM Belum pasti DM DM Kadar Glukosa darah sewaktu (mg/dl) Plasma Vena < 110 110 – 199 > 200 Darah . Laporan Pendahuluan DM (Diabetes Melitus) Diposkan oleh Mursada pra Ners di 3/08/2011 09:52:00 PM a. sehingga kadar gula dalam darah menjadi tinggi. Yogyakarta: Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Undang-undang Bidang Kesehatan dan Farmasi. Adi Prayitno. 2003. Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Moh. Pengertian Diabetes Melitus Diabetes Mellitus (DM) atau kencing manis adalah penyakit akibat terganggunya proses metabolisme gula darah di dalam tubuh. Ilmu Farmasi. Apt.DAFTAR PUSTAKA Anief. Chik Kaw Tan. Glukosa dibentuk di hati dari makanan yang dikonsumsi (Brunner & Suddarth.com Hand-out Kuliah Biomedik Farmakologi Program Studi Rekam Medis FMIPA Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Hand-out Kuliah Farmakologi Program Studi Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Muhlis. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Diabetes melitus merupakan suatu kelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hyperglikemia. Jakarta Browsing Internet melalui situs search engine www. Sedangkan pada orang normal kadar gulanya berkisar 60-120 mg/dl. 2002). Howard. Kadar gula dalam darah penderita diabetes saat puasa adalah lebih dari 126 mg/dl dan saat tidak puasa atau normal lebih dari 200 mg/dl. Departemen Kesehatan Republik Indonesia 0 komentarLink ke posting ini Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook 08SELASA. Farmasi Klinis (Clinical Pharmacy).

tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. Diabetes Melitus tipe lain: • Penyakit dari pankreas eksokrin (al. Sel ? tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya.Menghindarkan hipoglikemia c. cushing syndrome) • Induksi obat atau zat kimia dan lain-lain 4. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.Kapiler < 90 90 – 199 > 200 Kadar Glukosa darah puasa (mg/dl) Plasma Vena < 110 110 – 125 > 125 Darah Kapiler < 90 90 – 109 > 110 Klasifikasi Diabetes Mellitus 1. Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Berarti sel? pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa (Kapita Selekta Kedokteran. Patofisiologi Diabetes Melitus Sebagian besar patologi diabetes mellitus dapat dikaitkan dengan satu dari tiga efek utama kekurangan insulin sebagai berikut : (1) Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh.Meminimalkan dan mencegah komplikasi . 2001). Faktor-faktor resiko : a) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th) b) Obesitas c) Riwayat keluarga Terapi-Diabetes Mellitus Tujuan terapi . Faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri. Faktor lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa. Faktor-faktor imunologi Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Diabetes Tipe 1: defisiensi insulin absolut (Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)) 2. Diabetes tipe II: resistensi insulin dan atau defek sekresi insulin (Diabetes melitus tidak tergantung insulin (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus [NIDDM]).Menghindarkan gejala DM . artinya terjadi defisiensi relatif insulin. terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat penurunan jumlah produksi insulin) 3. dengan akibat peningkatan .pankreatitis) • Endokrinopati (al. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Etiologi Diabetes Melitus Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) atau Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin (DMTTI) disebabkan karena kegagalan relatif sel ? dan resistensi insulin. Diabetes Melitus Gestasional (Gestasional Diabetes Mellitus [GDM]) b. acromegaly. c. Diabetes tipe I: a. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. b. namun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain.Pengendalian kadar glukosa darah sepanjang hari pada rentang acceptable .

lemas. jadwal dan jenis makanan) yaitu : J I : jumlah kalori sesuai dengan resep dokter harus dihabiskan. Pada penderita dengan diabetes mellitus harus rantang gula dan makanan yang manis untuk selamanya. sehingga menyebabkan pembentukan katarak. poliuria. Penatalaksanaan Tujuan utama penatalaksanaan klien dengan diabetes mellitus adalah untuk mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya komplikasi acut dan kronik. Manifestasi Klinis Gejala yang lazim terjadi.menit glukosa dalam jumlah bermakna mulai dibuang ke dalam urine. pada diabetes mellitus sebagai berikut : Pada tahap awal sering ditemukan : a. maka luapan glukosa terjadi bila kadar glukosa meningkat melebihi 180 mg%.Berat badan menurun. lemak 30 %. Bila tubuh menggantungkan hampir semua energinya pada lemak. Bila jumlah glukosa yang masuk tubulus ginjal dan filtrasi glomerulus meningkat kira-kira diatas 225 mg. Akan tetapi selain itu terjadi beberapa masalah patofisiologi pada diabetes mellitus yang tidak mudah tampak yaitu kehilangan ke dalam urine klien diabetes mellitus.Polipagi (banyak makan) Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). tenaga kurang. mata kabur dan impoteni pada pria serta pruritus vulva pada wanita f.Polidipsi (banyak minum) Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri. Gejala lain yang mungkin dikeluhkan pasien adalah kesemutan. gatal. d. pergeseran dari metabolisme karbohidrat ke metabolisme telah dibicarakan. lekas lelah. kadar asam aseto – asetat dan asam Bihidroksibutirat dalam cairan tubuh dapat meningkat dari 1 Meq/Liter sampai setinggi 10 Meq/Liter. lemas dan berat badan turun. b. Diet A : terdiri dari makanan yang mengandung karbohidrat 50 %.Mata kabur Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. ia akan terhindar dari hyperglikemia atau hypoglikemia. Diagnosis DM Tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) ditandai dengan adanya gejala berupa polifagia. Penatalaksanaan diabetes tergantung pada ketepatan interaksi dari tiga faktor aktifitas fisik. Diet B : terdiri dari karbohidrat 68 %. protein 20 %. c. J 2 : jadwal makanan harus diikuti sesuai dengan jam makan terdaftar. menyebabkan kelainan metabolisme lemak maupun pengendapan lipid pada dinding vaskuler yang mengakibatkan aterosklerosis. polidipsia. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa. d. lemak 20 %. Diet pada penderitae diabetes mellitus dapat dibagi atas beberapa bagian antara lain : a. (3) Pengurangan protein dalam jaringan tubuh. b. karena tubuh terus merasakan lapar. tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah. maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus e. Asidosis pada diabetes. (2) Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah-daerah penyimpanan lemak. J 3 : jenis makanan harus diperhatikan (pantangan gula dan makanan manis). Jika klien berhasil mengatasi diabetes yang dideritanya.Poliuri (banyak kencing) Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing. . protein 12 %. Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa. maka tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein.konsentrasi glukosa darah setinggi 300 sampai 1200 mg/hari/100 ml. Tetapi walaupun klien banyak makan. Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum. Tiga hal penting yang harus diperhatikan pada penderita diabetes mellitus adalah tiga J (jumlah. diet dan intervensi farmakologi dengan preparat hyperglikemik oral dan insulin. Jika jumlah filtrasi glomerulus yang terbentuk tiap menit tetap.

h. Kurang tahan lapan dengan dietnya. (68 % hidrat arang. d. d. Semua penderita diabetes mellitus dianjurkan untuk latihan ringan yang dilaksanakan secara teratur tiap hari pada saat setengah jam sesudah makan. lemak 20 %. Juga dianjurkan untuk melakukan latihan ringan setiap hari. e. c. Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya pernah mengalami cerobrovaskuler acident (cva) penyakit jantung koroner. Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya terdapat retinopati diabetik tetapi belum ada nefropati yang nyata. g. Hamil dan menyusui. Sifat-sifat diet B2 a. Diet B3 Diberikan pada penderita nefropati diabetik dengan gagal ginjal kronik yang klibers kreatininnya kurang dari 25 MI/mt Sifat diet B3 a. pagi dan sore hari dengan maksud untuk menurunkan BB. Indikasi diet B : Diberikan pada penderita diabetes terutama yang : a. b. Dalam praktek hanya terdapat diet B2 dengan diet 2100 – 2300 kalori / hari. Dipilih lemak yang tidak jenuh. c. f. e. j. Rendah protein tinggi asam amino esensial. protein 20 %. Mempunyai hyperkolestonemia. jumlah protein 40 gram/hari. c. (bila tidak akan merubah jumlah protein). Komposisi sama dengan diet B. Karena alasan No 2 maka hanya dapat disusun diet B3 2100 kalori dan 2300 / hari. Menderita penyakit graves (morbus basedou). Menderita hepatitis kronis atau sirosis hepatitis. 12 % protein dan 20 % lemak) hanya saja diet B2 kaya asam amino esensial. d. Dalam keadaan pasca bedah. Indikasi tersebut di atas selama tidak ada kontra indikasi penggunaan protein kadar tinggi. c. Masih muda perlu pertumbuhan. b. Diet B1 dan B¬2 diberikan untuk nefropati diabetik dengan gangguan faal ginjal. Telah menderita diabetes dari 15 tahun Indikasi diet B1 Diberikan pada penderita diabetes yang memerlukan diet protein tinggi. Tinggi kalori (lebih dari 2000 kalori/hari tetapi mengandung protein kurang. d. Diet B1 : terdiri dari karbohidrat 60 %. e.c. Menderita tuberkulosis paru. Indikasi diet A : Diberikan pada semua penderita diabetes mellitus pada umumnya. Mampu atau kebiasaan makan tinggi protein tetapi normalip idemia. Untuk meningkatkan pemahaman maka dilakukan penyuluhan melalui perorangan antara dokter dengan . i. Kurus (underweight) dengan relatif body weight kurang dari 90 %. b. Menderita selulitis. yaitu penderita diabetes terutama yang : a. Tinggi karbohidrat dan rendah lemak. Karena bila tidak maka jumlah perhari akan berubah. Mengalami patah tulang. b. Tinggi kalori (lebih dari 2000 kalori/hari). Indikasi B2 dan B3 Diet B2 Diberikan pada penderita nefropati dengan gagal ginjal kronik yang klirens kreatininnya masih lebar dari 25 ml/mt. Penyuluhan kesehatan.

3) Aktivitas/ Istirahat : Letih. Sulit Bergerak / berjalan. parestesia. kuat.d kelemahan umum Tujuan (NOC): Klien mentoleransikan aktivitas yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan daya tahan. ulkus kulit. Intoleransi aktivitas b. Lemah. ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama. • Berpertisipasi dalam aktivitas fisik yang dibutuhkan dengan peningkatan yang memadai pada denyut jantung. diare 7) Makanan / Cairan Anoreksia. dan spiritual terhadap aktivitas • Tentukan penyebab keletihan • Pantau respons kardiorespiratori terhadap aktivitas • Pantau asupan nutrisi untuk memastikan keadekuatan sumber-sumber energy.AMI. b. mendapat terapi insulin jenis apa. takikardi.d mual/muntah Tujuan(NIC): Menunjukkan status gizi: asupan makanan. kebas kelemahan pada otot. nyeri (sedang / berat) 10) Pernapasan Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak) 11) Keamanan Kulit kering. • Mengungkapkan secara verbal pemahaman tentang kebutuhan okisigen. bagaimana penanganannya. kesemutan. Pelaksanaan Keperawatan 1. tonus otot menurun. gatal. kebas. pengobatan. sosial. penghematan energi. 9) Nyeri / Kenyamanan Abdomen tegang. penurunan berat badan. apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya. Selain itu juga dilakukan melalui media-media cetak dan elektronik. Kriteria evaluasi: • Mengidentifikasikan aktivitas atau situasi yang menimbulkan kecemasan yang berkontribusi pada intoleransi aktivitas. Pengkajian 1) Riwayat Kesehatan Keluarga Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ? 2) Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya Berapa lama klien menderita DM. dan perawatan diri.penderita yang datang. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. ditandai dengan indicator berikut( sebutkan nilainya 1-5: tidak adekuat. bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak. haus. Diagnosa yang mungkin muncul: a. dan zat gizi. anuria ). g. klaudikasi. nokturia. 4) Sirkulasi Adakah riwayat hipertensi. 8) Neurosensori Pusing. aktivitas kehidupan sehari-hari (AKSI). atau adekuat total) Kriteria evaluasi: . cairan. ansietas 6) Eliminasi Perubahan pola berkemih ( poliuria. kram otot. ringan sedang. atau peralatan yang dapat meningkatkan toleransi terhadap aktivitas Intervensi (NIC):  Terapi aktivitas  Pengelolaan energy Aktivitas keperawatan: • Kaji respons emosi. penggunaan diuretik.gangguan penglihatan. perubahan tekanan darah 5) Integritas Ego Stress. mual muntah. tidak mengikuti diet. sakit kepala. kesemutan pada ekstremitas.

Terapi intravena(IV) 6. sering. Resiko infeksi b. Kekurangan volume cairan b. dan secara konsisten menunjukkan perilaku deteksi risiko. kadang-kadang. volume .• Mempertahankan BB • Menjelaskan komponen keadekuatan diet gizi • Menyatakan keinginan untuk mengikuti diet • Toleransi terhadap diet yang dianjurkan • Melaporkan keadekuatan tingkat enrgi Intervensi (NIC): • Pengelolaan gangguan makan • Pengelolaan nutrisi • Bantuan menaikkan berat badan Aktivitas keperawatan: • Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan • Pantau nilai laboratorium.  Perlindungan terhadap infeksi : mencegah dan mendeteksi dini infeksi pada pasien yang berisiko Aktivitas keperawatan : • Pantau tanda atau gejala infeksi • Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi • Amati penampilan praktik hygiene pribadi untuk perlindungan terhadap infeksi. Pengelolaan cairan 3. Pengelolaan hipovolemia 5. dan elektrolit • Pengelolaan nutrisi c. Pengelolaan elektrolit 2. dan pengendalian risiko.  Pengendalian infeksi : meminimalkan penularan agens infeksius. d.d pertahanan tubuh yang tidak adekuat Tujuan (NOC):  Faktor resiko infeksi akan hilang dengan dibuktikan oleh keadekuatan status imun pasien. Pengelolaan syok. khususnya transferrin. albulin.  Pasien menunjukkan pengendalian risiko.d ehilangan volume cairan aktif Tujuan (NIC): • Keseimbangan elektrolit dan asam-basa: keseimbangan elektrolit dan nonelektrolit dalam ruang intrasel dan ekstrasel tubuh • Kekurangan cairan : keseimbangan air dalam ruang intrasel dan ekstrasel tubuh Kriteria evaluasi: • Memiliki hemoglobin dan hematocrit dalam batas normaluntuk pasien • Memiliki tekanan vena sentral dan pulmonal dalam rentang yang harapkan • Tidak mengalami haus yang tidak normal • Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam • Menampilkan hidrasi yang baik(membrane mukosa lembab. pengetahuan yang penting: pengendalian infeksi. konsisten menunjukkan). dibuktikan oleh indicator berikut ini ( antara 1-5 tidak pernah. Pemantauan cairan 4. jarang. Kriteria evaluasi: • Terbebas dari tanda atau gejala infeksi • Menunjukkan hygiene pribadi yang adekuat • Menggambarkan factor yang menunjang penularan infeksi Intervensi (NIC):  Pemberian imunisasi/vaksinasi : pemberian imunisasi untuk mencegah penyakit menular. mampu berkeringat) Intervensi (NIC): 1.

M. control impuls. Ansietas b. Judith. terutama natrium. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 7. dan kreatinin. o Menunjukkan control ansietas Kriteria Evaluasi: o Meneruskan aktivitas yang dibutuhkan meskipun ada kecemasan o Tidak menunjukkan perilakuagresif o Mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaan negative secara tepat Intervensi (NIC): Pengurangan ansietas Aktivitas keperawatan: o Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan klien o Selidiki dengan klien tentang teknik yang telah dimiliki dan balum dimiliki o Sarankan terapi alternative untuk mengurangi ansietas yang di terima oleh klien o Ciptakan lingkungan yang tenang Daftar pustaka http://www. dan interaksi social. 2002. 7. dan program pengobatan • Tinjau ulang elektrolit.stress. Yasmin asih.d ancaman atau perubahan pada status kesehatan Tujuan (NOC): o Ansietas berkurang ditunjukkan dengan menunjukkan control agresi. jumlah. Kuncara. Wilkinson. 0 komentarLink ke posting ini Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Posting LamaBeranda Blog archive  o   o o  ▼ 2011 (7) ▼ Juni (2) BPH (Benigna Prostat Hyperplasia) Laporan Pendahuluan Ketuban Pecah Dini (KDP) ► Maret (4) ► Januari (1) ► 2010 (1) . koping. Brenda G bare. Jakarta : EGC.scribd. Andry Hartono. Y. Monica Ester. klorida.com/doc/29461070/ASKEP-DM Smeltzer. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. (2007).Aktivitas keperawatan: • Pantau warna. control ansietas. Suzanne C. Jakarta. dan frekuensi kehilangan cairan • Observasi khususnya terhadap kehilangan cairan yang tinggi elektrolit • Pantau perdarahan(misalnya obat-obatan. pemahaman multilasi diri. demam. Penerbit Buku Kedokteran(EGC).

Blogger templates by Blog and Web.Powered by WordPress © 2012 Mursada .Designed by Matt. Powered by Blogger. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful