PEMBELAJARAN FISIKA BERWAWASAN ESQ (EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT) PADA POKOK BAHASAN TATA SURYA KELAS VIII SEMESTER

2 SMP TAKHASSUS AL-QUR’AN 2 DERO DUWUR TAHUN AJARAN 2011/2012 UNTUK MENINGKATKAN WAWASAN KEAGAMAAN SISWA

SKRIPSI

Diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata 1 Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh: Nama NIM Jurusan Program Studi : Vidinar Ardian Aditya : 1208038 : Fisika : FITK

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM 2006

ABSTRAK Pambudi, Wasis. 2006. Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) Pada Pokok Bahasan Tata Surya Kelas X Semester 1 SMA Islam Hidayatullah Semarang Tahun Ajaran 2005/2006 untuk Meningkatkan Wawasan Keagamaan Siswa. Skripsi. Jurusan Fisika, FMIPA. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I : Dra. Dwi Yulianti, M.Si Pembimbing II : Dra. Langlang H, M.App. Sc. Kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah yang berbasis Islam selama ini masih seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah umum. Padahal di sekolah-sekolah yang berbasis Islam telah dianjurkan untuk melakukan pembelajaran yang mengaitkan antara materi pelajaran dengan ayat-ayat Al-Qur‟an yang sesuai. Pembelajaran yang mengaitkan antara materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an ini merupakan pembelajaran berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient), yaitu pembelajaran yang dalam satu mata pelajaran terdapat unsur IQ, EQ dan SQ sekaligus. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu “apakah dengan pembelajaran Fisika berwawasan ESQ dapat meningkatkan wawasan keagamaan siswa terutama di sekolah yang berbasis agama Islam?”. Sedangkan tujuan penelitian ini untuk megetahui apakah penelitian ini mampu menjawab permasalahan yang ada. Penelitian ini dilakukan dengan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilakukan dalam dua siklus. Data masukan dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif yang terdiri dari: data kondisi awal siswa, data hasil belajar siswa dan data mengenai respon siswa terhadap pembelajaran Fisika berwawasan ESQ. Pembelajaran Fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya dapat meningkatkan wawasan keagamaan siswa. Hal ini dapat dikaji dengan meningkatnya nilai wawasan keagamaan siswa dari pretest, postest siklus I dan postest siklus II. Sesuai yang diungkapkan oleh Djazuni (2003), bahwa dengan pembelajaran yang mengaitkan antara materi dengan ayat-ayat AlQur‟an, akan memberikan wawasan keagamaan yang dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran Fisika berwawasan ESQ ini ternyata juga tidak mengurangi konsentrasi pemahaman siswa terhadap materi Tata Surya sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai postest materi tata surya seiring dengan meningkatnya nilai wawasan keagamaaan siswa pada postest siklus I dan siklus II. Dalam mengawali pembelajaran guru hendaknya mengajak siswa untuk berfikir lebih dalam tentang fenomena alam semesta sebelum siswa diberikan ayatayat Al-Qur‟an sebagai pengaitan dari materi Tata Surya. Hal ini bermanfaat untuk pemanasan memasuki pembelajaran agar siwa tidak kaget. Selain itu juga modul pembelajaran Fisika berwawsan ESQ dirasa perlu untuk dikembangkan lebih baik dan lebih menarik guna membantu pemahaman siswa terhadap pesan-pesan yang ingin disampaikan. Kata Kunci: Pembelajaran, ESQ, Wawasan Keagamaan

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka” (QS: Ali „Imran: 190-191) “Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri ?.” (QS: Fussilat: 33) “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS: Al-Baqarah: 45)

Persembahan: Skripsi ini ku persembahkan kepada: 1. Ibunda, Ayahanda, dan keluarga tercinta, yang telah bersimpuh keringat dan berderai air mata menyertai setiap lagkah ananda. 2. Para guruku, dosenku, kyaiku, ustadzku, murabbiku, serta mutarabbiku yang telah mengantarkan diri ini menjadi manusia yang sesungguhnya dan seutuhnya. 3. Saudaraku yang telah mengenalkan, mengantarkan dan setia menemani diri ini menapaki jalan yang amat indah: a‟tajapc, bang jucky, aa aenal, eko kris, u‟chipe, u‟indie, u‟rohe, u‟puttea. 4. Adik-adiku tersayang di fisika, yang telah mengibarkan bendera dan menjaganya agar tetap berkibar, walau banyak yang berusaha untuk menurunkannya. 5. Ikhwah fiillah, para pejuang dakwah yang tetap tegap dalam nikmatnya amar ma‟ruf nahi munkar, walau aral senantiasa menghadang dan menerjang. 6. Cah Baitussalam Cost, jangan nakal ya..!

v

Si.Si NIP 131125643 Pembimbing II 2. M. Mirwan. 131993876 ii . NIP. NIP. Langlang H. M. NIP. M. M. NIP. Dwi Yulianti. Drs. Sc. M. M. M. Langlang H. Kasmadi Imam S. 130529522 Anggota Penguji Dra. 131404299 Dra. Sukisno.App. Dra. M. 131404299 1. 130781011 Pembimbing I Drs.PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan di depan sidang Panitia Ujian Skripsi jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang pada: Hari : Selasa Tanggal : 4 April 2006 Panitia Ujian Ketua. Drs.App. Dra. Si NIP.S. NIP. 131993876 3. Dwi Yulianti. Sekretaris.Si. Sc.

Semarang.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini adalah benar-benar hasil karya sendiri. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. April 2006 Penulis. bukan jiplakan dari hasil karya orang lain. Wasis Pambudi iv .

M. bahkan dengan kesombongannya berjalan begitu angkuh di muka bumi ini. selaku Dekan FMIPA Unnes. M. SH.KATA PENGANTAR Senandung kalimat syukur tak henti-hentinya terpanjatkan kepada Allah swt. MM.Si. serta para pengikutnya yang dengan sepenuh jiwa.S. Kasmadi Imam. Drs. 2. vi . Penulis menyadari betul banyak pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. walaupun banyak dari manusia terlena. raga. Semoga skripsi ini menjadi ladang amal ibadah bagi penulis. atas ridha Allah semata penulis akhirnya mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) Pada Pokok Bahasan Tata Surya Kelas X Semester 1 SMA Islam Hidayatullah Semarang Tahun Ajaran 2005/2006 Untuk Meningkatkan Wawasan Keagamaan Siswa “. Mirwan. selaku ketua jurusan Fisika FMIPA Unnes 4. selaku dosen wali. A.Si. Sukisno. Soegito. M. Dia lah Allah yang senantiasa mencurahkan samudera kasih sayang-Nya kepada seluruh umat manusia di hamparan dunia ini. serta semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. dan hartanya senantiasa istiqomah memegang teguh diin yang mulia ini. keluarga. Oleh karena itu. terlupa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda nabiyullah Muhammad saw. T. selaku Rektor Universitas Negeri Semarang. M. Drs. Alhamdulillah. Drs. 3. rabb semesta alam yang memegang kekuasaan di bumi dan di langit. para sahabat. Dr. keluarga penulis. penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada: 1.

UKKI. LPK Ar Rahman. S. selaku dosen pembimbing pendamping yang telah meluangkan waktunya demi keselarasan dan kerapian skripsi ini. HIMAFI. atas kerja samanya. Dra. Madrasah Qolbun Salim. TRUST Community Semarang. gathot. Ust. KALF. KAMMI. Dra. 7. Langlang H. ika. nafis. Demikian penulisan skripsi ini. bang jucky. 13.5. Iqro Club Semarang. Hartono. mba yani. April 2006 Penulis vii .Pd. Bu Wiet (TU Jurusan Fisika). atas kebersamaan dalam dakwah dan ukhuwahnya. 6. yuni. u‟indie. M. Setyawan yang telah setia memberikan ruh motivasi.Pd dan siswa-siswi kelas X-1 dan X-2 SMA Islam Hidayatullah Semarang. Listiyono. M. 11. selaku Kepala SMA Islam Hidayatullah Semarang yang telah memberikan ijin penelitian. Dwi Yulianti. Faiq. Usep Badrudzaman dan Ust. Kasmad. Temen-temen seperjuangan dalam bimbingan skripsi: kang prie. dan Giri atas dorongan semangatnya. Ade-adeku tersayang di orbit dakwah fisika.App. FMI. bimbingan serta do‟anya yang tulus. u‟chipe. aa aenal. Perpusfi. ary. desi dan sahabatku P. Yusdaim. 8. ICC Semarang. semoga bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Saudaraku Alif Education (a‟tajapc. u‟rohe. haryani. selaku dosen pembimbing utama yang telah sabar memberikan saran. Hizbud Da‟wah yang telah memberikan banyak hal.Si. Semarang. 15. atas layanan administrasinya yang sangat baik. u‟puttea). Nuri. Jazakumullah atas segala do‟anya. dan pembaca pada umumnya. M. dan kritik selama penyusunan skripsi ini. gus faiz. FKIF. Drs. 9. 10.Sc. masukan. yuyun. 14. 12.fisika‟01.

........................................................... 7 1............................ Tujuan Penelitian ................................. Hakekat Belajar dan Pembelajaran ............................................................................................................... 4 D................................. Teori Belajar Secara Umum.................................................................................................................. xii DAFTAR LAMPIRAN........... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ....... Alasan pemilihan judul ..................................................................................................................................................................................................................... 5 F.............................................................................................................. Sistematika Skripsi........................ Penegasan Istilah................................................. Rumusan Masalah ..................................................................... iii PERNYATAAN ...................... xi DAFTAR GAMBAR .......................................................................... vi DAFTAR ISI.......................................................................................................... 4 C........................................................ Manfaat Penelitian ................................................................................................ 1 B.. ii ABSTRAK ...................................... v KATA PENGANTAR ........ i HALAMAN PENGESAHAN ................................................. 7 2....................... 8 viii ................... 4 E.......................................... 6 BAB II LANDASAN TEORI A............................................ viii DAFTAR TABEL...... Teori Pembelajaran ................................................................................................................................DAFTAR ISI JUDUL ........ xiii BAB I PENDAHULUAN A..

..................................................... 22 BAB III METODE PENELITIAN A.. EQ dan SQ .................................. Faktor yang Diteliti .......................................................................... 41 ix ..................................................................... 25 D........................................... 18 E.................... Metode Analisis Data..................B.............. Analisis Uji Instrumen .................................... Hasil Penelitian ........... Metode Pengumpulan Data........................................................................................... 11 C............. 15 D......... Penentuan Subyek dan Tempat Penelitian ............... 25 B. 9 2...................................................... 35 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A............................................................. 40 B...... 9 1.......................................................................... 30 F......... Pembahasan......... 37 3...................................................... Pendidikan Fisika Berbasis Islam .......... Konsep Emotional Spiritual Quotient (ESQ)................................... Indikator Keberhasilan.............................................................................. Hasil Angket Pembelajaran Fisika berwawasan ESQ............................................... 36 2............. 34 H....... Rencana Penelitian.................................... Hasil Penilaian Psikomotorik dan Afektif .. Aplikasi ESQ dalam Pembelajaran ...... 31 G........................ Hasil Siklus I................................................. Prosedur Penelitian ............................. 36 1............................. Fisika Pokok Bahasan Tata Surya... 39 4............. Formula ESQ ....................................... Hasil Siklus II .......................................................... IQ. 20 F............... 25 C................ Kaitan Fisika dengan Al-Qur‟an ......................... 27 E...............

......................................................................... 49 LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................... 47 DAFTAR PUSTAKA ................... Saran….... 46 B.........................................BAB V KESIMPILAN DAN SARAN A.......................................... Kesimpulan ............................. 51 x ................................... ...............

6........DAFTAR TABEL Tabel 1.......... Penilaian keterampilan afektif siswa .... 40 Tabel............ 41 xi ................................ 36 Tabel.5....... Hasil angket tentang Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ ...................... Penilaian keterampilan psikomotorik siswa.............4... Nilai Wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I................. Nilai postest tata surya siklus I dan siklus II ....... 38 Tabel.........3............... Nilai Wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus II ..... 40 Tabel..2.............. 39 Tabel...

.......... Formula ESQ dimana SQ menjadi pusat IQ dan EQ ......14 Gambar 2. 39 xii ..38 Gambar 6....... 15 Gambar 3.... Grafik nilai postest Tata Surya siklus I dan siklus II ................... Grafik wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I ........ EQ dan SQ dalam hubungan individu manusia... Skema langkah-langkah penelitian tindakan kelas . Grafik wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I ...DAFTAR GAMBAR Gambar 1..37 Gambar 5.......... Bentuk fungsi IQ................... 26 Gambar 4........

................... Angket Pembelajaran Fisika Berwawasn ESQ dan hasilnya ........... 78 Lampiran 6............ 113 Lampiran 13....... Surat-surat ........DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.......................... 108 Lampiran 11................... Soal dan jawaban pretest/ postest Materi Tata Surya................................. Soal dan jawaban uji Wawasan Keagamaan Siswa........................... 90 Lampiran 8.................... 104 Lampiran 10........................ 53 Lampiran 3........... 74 Lampiran 5........101 Lampiran 9. Rencana Pembelajaran...... Nilai hasil pembelajaran siswa ............................... 115 xiii ... Silabus Fisika materi pokok tata surya............................................ 109 Lampiran 12............................. 51 Lampiran 2...... Soal dan jawaban Uji Materi Tata Surya........... Lembar penilaian psikomotorik dan afektif siswa............................................. 82 Lampiran 7....... Modul Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ............................... 57 Lampiran 4...... Soal dan jawaban pretest/ postest Wawasan Keagamaan Siswa ..................... Hasil analisis uji soal materi Tata Surya ............... Hasil analisis uji soal Wawasan Keagamaan Siswa ........

MA ataupun Sekolah Islam Terpadu. Pembelajaran di sekolah-sekolah berbasis Islam dituntut untuk mengaitkan antara mata pelajaran yang sedang disampaikan dengan nilainilai keimanan terutama yang terdapat pada ayat-ayat Al-Qur‟an. IQ hanya berperan dalam kehidupan manusia dengan besaran maksimum 20%.BAB I PENDAHULUAN A. kegiatan belajar mengajar mempunyai visi membentuk siswa yang seimbang dalam dzikr. seperti telah dianjurkan baik oleh Departemen Agama maupun Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional tahun 2003. MTs. Padahal menurut berbagai penelitian. Pada sekolah-sekolah tersebut. Dapat dikatakan pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah selama ini masih bertumpu pada pencapaian kecerdasan intelektual atau IQ saja. Sekolah-sekolah seperti ini diharapkan mampu melahirkan pribadi-pribadi yang unggul dalam ilmu dan juga iman. ALASAN PEMILIHAN JUDUL Pada sekolah-sekolah yang berbasis Islam seperti MI. fikir maupun ikhtiar. Fenomena yang muncul di lapangan selama ini menunjukan bahwa di sekolah-sekolah berbasis Islam segi pembelajarannya masih cenderung berorientasi pada materi yang ada seperti terjadi di sekolah-sekolah umum. Pembelajaran yang mengaitkan materi pelajaran dengan nilai-nilai keimanaan terutama yang terdapat pada ayat-ayat Al-Quran belum dilakukan. perlu adanya pembelajaran yang berbeda dengan pembelajaran-pembelajaran di sekolah umum lainnya. bahkan menurut .

padahal sisi EQ dan SQ adalah yang terpenting. EQ (Emotional Quotient). menyebutkan bahwa peranan IQ hanya 6% dalam kehidupan manusia (Ginanjar. Book.D. Ph. EQ. dan SQ (Spiritual Quotient) dalam satu kesatuan. Menurut Ginanjar (2001) pendidikan di Indonesia hanya menekankan sisi akademik. Oleh karena itu. dan Howard E. yaitu sisi materi pelajaran seperti biasanya dan sisi materi wawasan keagamaan. yaitu: 1 Membantu tercapainya tujuan. terutama yang menyangkut tentang pembentukan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki sikap dan wawasan keimanan. 2 . dan SQ.2 Steven J. Ketua Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional tahun 2003 menyatakan bahwa ada dua hal yang membuat pembelajaran berwawasan ESQ seperti ini terasa penting. sudah saatnya pembelajaran bukan hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual (IQ) saja. Pembelajaran seperti inilah yang dinamakan pembelajaran berwawasan ESQ. 2 Membantu siswa untuk dapat memahami dua sisi materi sekaligus. Stein. tetapi juga berorientasi pada kecerdasan emosi (EQ) dan juga kecerdasan spiritual (SQ) dalam satu kesatuan yang terintegrasi sehingga akan tercapai keseimbangan antara IQ.M. dikarenakan ESQ merupakan suatu konsep formula yang menyatukan unsur IQ (Intellegence Quotient). visi dan misi pendidikan nasional.D. 2003: 61).

Hal ini membuat kita bisa menyelami lebih dalam di balik materi secara teoritik. EQ. Kemudian dalam penyampaian pesan-pesan keimanan yang terdapat dalam Al-Qur'an harapannya akan menyokong sisi kecerdasan emosional (EQ) siswa maupun kecerdasan spiritual (SQ) siswa. Dalam pembelajaran fisika materi pokok tata surya. Padahal mata pelajaran fisika merupakan ilmu yang memposisikan alam sebagai tinjauan objek keilmuannya. maupun SQ dalam satu kesatuan yang terintregrasi. planet dan benda angkasa lainnya. Berdasarkan kepentingan di atas maka dirasakan perlu untuk membuat penelitian dengan judul “PEMBELAJARAN FISIKA BERWAWASAN ESQ (EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT) PADA POKOK BAHASAN TATA SURYA KELAS X SEMESTER 2 SMP TAKHASSUS AL-QUR’AN 2 DERO DUWUR 3 . sebenarnya ilmu fisika bisa dimanfaatkan untuk membantu siswa mengenal alam secara menyeluruh. akan menyokong sisi kecerdasan intelektual (IQ) siswa. Kita akan semakin mantap dengan keyakinan iman kita dengan mempelajari ayat-ayat Allah yang tertuang dalam alam ini. seperti materi tentang matahari.3 Kenyataan di lapangan menunjukan selama ini mata pelajaran sains seperti fisika di sekolah-sekolah berbasis islam masih diberikan seperti di sekolah-sekolah umum. Apalagi dengan materi pokok tata surya akan semakin menunjang siswa untuk memahami ketaruturan dan keseimabangan alam semesta yang telah diciptakan Allah swt. Materi tata surya mencakup banyak hal tentang fenomena alam raya ini. Oleh karena itu. Maka dalam pembelajaran ini terdapat unsur IQ. sehingga siswa akan memahami begitu dahsyatnya ciptaan Allah swt. Dengan demikian pembelajaran seperti ini merupakan pembelajaran berwawasan ESQ (Emitional Spiritual Quotient) seperti apa yang telah dijelaskan di muka.

B. tanpa mengurangi perhatian terhadap hasil yang hendak akan dicapai dari materi yang sesungguhnya sesuai dengan kurikulum yang berlaku. 2. C. penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan wawasan keagamaan siswa terutama di sekolah yang berbasis agama islam. maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini yaitu “apakah dengan pembelajaran fisika berwawasan ESQ dapat meningkatkan wawasan keagamaan siswa terutama di sekolah yang berbasis agama islam?”. tanpa mengurangi perhatian terhadap hasil yang hendak dicapai dari materi yang sesungguhnya sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Bagi siswa yang belajar. Bagi penyelenggara pembelajaran. diharapkan dengan pembelajaran berwawasan ESQ ini akan mempermudah guru dalam mengaitkan materi 4 . RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas. MANFAAT PENELITIAN Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran fisika berwawasan ESQ dapat meningkatkan wawasan keagamaan siswa terutama di sekolah yang berbasis agama islam. D.4 SEMARANG TAHUN AJARAN 2011/2012 UNTUK MENINGKATKAN WAWASAN KEAGAMAAN SISWA “.

ataupun meninjau. ditegaskan yaitu: a. meneliti. Sedangkan tujuan wawasan keagamaan dalam Adapun istilah-istilah yang perlu 5 . sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Darsono. EQ (Emotional Qoutient). 2001). Berwawasan Dalam kamus besar bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional disebutkan pengertian wawasan adalah pandangan. memandang. PENEGASAN ISTILAH Untuk menghinadari salah penafsiran terhadap judul penelitian ini maka ada beberapa istilah yang perlu ditegaskan. Wawasan Keagamaan Wawasan keagamaan adalah pengetahuan tentang hal-hal yang terkait dengan pemahaman agama. E. Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. dan SQ (Spiritual Qoutient) dalam satu kesatuan yang terintegrasi ( Ginanjar. 2003) d.5 pelajaran dengan pesan-pesan ilahiyah untuk meningkatkan kepahaman yang mengarah kepada peningkatan iman dan taqwa baik guru maupun siswa. b. Jadi berwawasan memiliki pengertian yang mempunyai pandangan atau tinjaun terhadap suatu hal c. Emotional Spiritual Quotient (ESQ) ESQ ialah suatu formula yang menyatukan unsur IQ (Inttelegence Qoutient).

abstrak. Bab II Landasan teori.6 pendidikan adalah kesadaran diri bahwa hasil yang diharapkan dan proses pendidikan yang dilaksanakan harus dijiwai oleh ajaran Islam. Sistematika terdiri dari tiga bagian yaitu bagian pendahuluan. berisi teori-teori yang digunakan untuk melandasi penelitian dan hipotesis yang dirumuskan yang merupakan tinjauan pustaka. bagian akhir. Bab V Penutup. kata pengantar. SISTEMATIKA SKRIPSI Sistematika dalam skripsi ini disusun dengan tujuan agar pokokpokok masalah dibahas secara urut dan terarah. adalah daftar pustaka. G. berisi kesimpulan dan saran. dan lampiran-lampiran yang melengkapi uraian-uraian pada bagian isi dan tabel-tabel yang digunakan. B. Bagian akhir skripsi. bagian isi. 6 . tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika skrupsi. halaman motto dan persembahan. perumusan masalah. Bagian isi skripsi dibagi menjadi lima bab: Bab I Pendahuluan. daftar isi dan daftar lampiran. Bagian pendahuluan skripsi. berisi judul. A. penegasan istilah. halaman pengesahan. berisi latar belakang. C. Bab III Metode penelitian Bab IV Hasil penelitian dan pembahasan meliputi persiapan pelaksanan dan analisa data serta pembahasan.

Untuk mengukur apakah seorang telah belajar.BAB II LANDASAN TEORI A. tampak bahwa konsep tentang belajar mengandung tiga unsur yaitu: 1) Belajar berkaitan dengan perubahan tingkah laku. maka diperlukan perbandingan antara perilaku sebelum dan sesudah mengalami kegiatan belajar. Dapat dikatakan jika seorang anak belajar maka akan membuat tingkah lakunya berubah dan berkembang ke arah yang lebih baik. Hakekat Belajar dan Pembelajaran 1. 7 . Dari keempat pengertian tersebut. 3) Perubahan perilaku karena belajar bersifat relatif permanen. Slavin juga dalam Darsono (2000) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh penglaman. Gagne dan Berline dalam Darsono (2000) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Jadi secara umum belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku. Morgan masih dalam Darsono (2000) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktek atau pengalaman. 2) Perubahan perilaku itu terjadi karena didahului oleh proses pengalaman. Teori Belajar Secara Umum Konsep tentang belajar telah banyak didefinisikan oleh pakar psikologi.

keterampilan. Adapun ciri-ciri pembelajaran antara lain: (a) Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. (b) Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar. sehingga tingkahlaku siswa berubah ke arah yang lebih baik. 2. 2. Teori Pembelajaran Sesuai dengan pengertian belajar secara umum. baik kuantitas maupun kualitas. Oleh karena itu pembelajaran mempunyai tujuan. dapat berupa peserta didik. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan. Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. . keterampilan. Memori. Respon.8 Belajar merupakan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat pelbagai unsur yang saling berkaitan sehingga mengakibatkan perubahan tingkah laku. dari aktivitas yang dilakukan sebelumnya. 4. maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. merupakan tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori. Pembelajar. Pembelajaran adalah kegiatan yang dilalakukan secara sadar dan sengaja. 3. Tujuan pembelajaran adalah membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. merupakan segala sesuatu yang berperan merangsang penginderaan pembelajar. Rangsangan (stimulus). warga belajar dan peserta pelatihan. yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku. dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. berisi pelbagai kemampuan yang berupa pengetahuan.

baik secara fisik maupun psikologis. EQ (Emotional Quotient).9 (c) Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa. IQ ini mulai digunakan pada perang dunia pertama untuk mengukur kemampuan seseorang. (d) Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik. Kemudian teori ini dibawa ke Amerika yaitu di Satandford sehingga kemudian dikenal dengan Standford Binet. Konsep Emotional Spiritual Quotient (ESQ) 1. IQ (Intellegence Quotient). B. Dengan kecerdasan ini manusia mampu menghitung. mengoperasikan komputer. Menurut Ginanjar (2003) IQ merupakan suatu kecerdasan yang berkaitan dengan kesadaran akan ruang. belajar bahasa asing. (f) Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran. . kesadaran akan suatu yang tampak dan penguasaan matematik. maupun melakukan perhitungan yang rumit sekalipun. belajar aljabar. (e) Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. Secara biologis IQ terletak pada otak bagian luar atau disebut dengan neocortex. memahami rumus-rumus fisika. dan SQ (Spiritual Quotient) IQ (intelligence Quotient) atau kecerdasan intelektual pertama kali ditemukan oleh Binet pada tahun 1905 di Paris Perancis.

S Ramachandran dan timnya dari California University. Hal ini berkaitan bagaimana mereka saling berbicara dengan menghormati lawan bicara. EQ secara biologis terletak pada otak tengah atau lebih dikenal dengan lymbic system. mencintai. Suatu jaringan syaraf yang secara literatur “mengikat” pengalaman kita . yang menemukan eksistensi God-Spot dalam otak manusia. bagaimana menyayangi orang lain. EQ merupakan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Michael Persinger pada awal tahun1990an. masing-masing dari Harvard University dan Oxford University melalui riset yang sangat komperhensif. mengendalikan dorongan hati. bagaimana harus bergaul. Inilah pusat spiritual yang terletak diantara jaringan otak dan syaraf. dan mengatur suasana hati. Kecerdasan ini cenderung berperan dalam hubungan antara individu yang satu dengan yang lain. Menurut Goleman (1995). kemampuan untuk menguasai diri untuk tetap dapat mengambil keputusan dengan tenang. Wolf Singer pada era 1990-an telah menunjukan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. dan mengungkapkan persaan hati. dan lebih mutahir lagi tahun 1997 oleh ahli syaraf V. SQ (Spiritual Qoutient) atau kecerdasan spiritual merupakan temuan terkini secara ilmiah yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Sedangkan menurut Ginanjar kecerdasan emosioanal merupakan kemampuan untuk mengendalikan emosi.10 EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional ditemukan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995 yang tertuang dalam bukunya “Working With Emotional Qoutient”. Pembuktian ilmiah tentang kecerdasan spiritual diantaranya adalah riset ahli psikologi dan ahli saraf. Kemudian bukti yang kedua adalah riset ahli syaraf Austria.

yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kemudian ia menemui guru fisikanya di laboratorium. Jason membawa sebilah pisau dapur ke sekolah. Ada sebuah cerita yang tragis di SMA Coral Springs. Dapat dikatakan di dalam kecerdasan spiritual inilah terdapat fitrah manusia sebenarnya. adalah siswa terpandai di kelas dua yang selalu mendapatkan nilai A.11 secara bersama untuk “hidup lebih bermakna”. Yang memiliki IQ tinggi cenderung kurang pandai bergaul. bertanggungjawab dan ramah tamah. Ia bercita-cita masuk Fakultas Kedokteran di Harvard. tetapi banyak diantara mereka tidak berhasil dalam kehidupan pribadi maupun dalam pekerjaan. guru fisikanya hanya memberi nilai 80. lalu menusuknya di . kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Tetapi pada suatu tes fisika. Jason H. Poligruto. karena IQ hanya berperan ketika individu menjadi makhluk pribadi. Formula ESQ Cukup banyak orang yang memiliki IQ di atas rata-rata. penolong sesama. setia kawan. Karena yakin bahwa nilai 80 ini yang hanya B akan menghalangi cita-citanya. Masih menurut Zohar dan Marshall SQ merupakan kecerdasan yang paling tinggi dalam diri manusia. Menurut Zohar dan Marshall (2002) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value. Justru kadang kalanya orang yang memiliki IQ biasa-biasa saja sebagian besar dari merekalah yang kemudian menjadi orang-orang yang sukses dalam kehidupan pribadi maupun dalam pekerjaannya. Sedangkan yang memiliki IQ biasa-biasa saja tergolong lebih luwes dalam bergaul. 2. Florida. tidak berperasaan dan egois.

loyalitas. Hitler. orang-oarang yang memilki ambisi pribadi yang menghancurkan. Meraka adalah orang-orang yang pandai dan cerdas otaknya. Ph. Hal inilah yang justru telah mempelancar perjalanan kita dalam menempuh hidup ini dan berhasil dalam pekerjaan kerena punya banyak link. Oleh karena itu Ginanjar juga menyebutkan EQ sebagai serangkaian kecakapan untuk melapangkan jalan di dunia yang penuh liku-liku permasalahan sosial. Mereka juga memiliki komitmen. IQ hanya berperan dalam kehidupan manusia dengan besaran maksimum 20% .M. tetapi kepandaiannya digunakan untuk kepentingan pribadinmya semata. Book. Berdasarkan hal tersebut di atas. banyak orang yang dapat membantu dalam mencapai kesusksesan kita.12 tulang selangka sebelum ia berghasil ditangkap dengan sangat susuh payah. dan Howard E. Musolinni. Maka hal ini telah membuktikan bahwasanya IQ dan EQ saja juga tidak cukup. Dari kisah nyata ini membuktikan bahwa mengandalkan IQ saja jelas tidak cukup untuk kehidupan manusia. inegritas. menyebutkan bahwa peranan IQ hanya 6% dalam kehidupan manusia (Ginanjar. Bukankah Stanlin. dan para koruptor juga memiliki kemampuan ilmu-ilmu yang demikian?. bahkan menurut Steven J.D. Stein. Menurut berbagai penelitian.D. pandai bergaul dan pandai menyenangkan orang demi tujuan yang tidak mulia sebagai ambisinya. Dengan kecerdasan emosional seseorang mampu menata dirinya terutama dalam masalah hubungan dengan orang lain. Orang yang memiliki kecerdasan emosional akan lebih menghormati orang lain dan lebih membuat orang lain senang. dibutuhkan kecerdasan yang kedua yaitu kecerdasan Emosioanal atau EQ. Tapi coba bayangkan apa yang terjadi jika kecerdasan ini dimiliki orang-orang yang “jahat”. .2003: 61).

Namun. melalui langkahlangkah dan permikiran yang bersifat fitrah. Jadi IQ memang penting kehadirannya dalam kehidupan manusia. seperti empati. Ukuran IQ memiliki kelemahan dalam hal pemberian peluang bagi nuansa-nuansa emosional. namun tanpa SQ yang mengajarkan nilai-nilai kebenaran. perlu dicatat secara jelas bahwa kedua kecerdasan ini memiliki kelemahan yang signifikan dalam mengaktualkan potensi dasar ortak manusia. yaitu agar manusia bisa memanfaatkan ilmu pengetahuan yang teraplikasi dengan terwujudnya teknologi secara efektif maupun efisien. serta berprinsip “hanya karena Allah swt”. SQ menjadikan kita bagaimana agar membuat semua . Sedangkan EQ sebagaimana dengan IQ. 2002: 4). dan memiliki pola pikir tauhidi (integeralistik). Hitler-Hitler baru ataupun Fir‟aun-Fir‟aun kecil di muka bumi ini. maka keberhasilan itu hanya menghasilkan para diktaktor. Jadi peranan SQ dalam kehidupan manusia adalah membangkitkan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap prilaku dan kegiatan. sama sekali menepis peranan spiritual dalam mendorong kesuksesan. Kemudian EQ juga memiliki peranan begitu penting dalam membangun hubungan antar manusia yang efektif sekaligus perannya dalam meningkatkan kinerja. Dalam kata lain. menuju manusia yang seutuhnya. pengendalian diri dan kerja sama sosial. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif (Zohar dan Marshall. motivasi diri. yaitu kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ).13 Hal ini menunjukkan masih dibutuhkan nilai-nilai lain yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Menurut Pasaik (2003) kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) merupakan kunci-kunci kesuksesan yang betulbetul mengorek kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh manusia hingga ke dasar-dasarnya.

Begitu juga dalam aktivitas yang lain termasuk di dalamnya aktivitas pendidikan. Oleh karenanya. dan SQ dalam satu kesatuan yang terintegerasi. dan SQ dalam hubungan individu manusia (Sumber: Ginanjar. mawas. EQ. yaitu suatu formula yang menyatukan unsur IQ. Sang Maha Esa. dan juga ikhlas dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dan menggapai keridhaanNya semata.14 aktivitas sebagai nilai ibadah kita kepada Allah swt. sehingga kita benar-benar menjalankan apa yang telah disebutkan dalam kalamNya yang mulia: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku” (QS: Adz dzariyat: 56). EQ. Bagaimana bekerja dengan cerdas. Maka dengan ESQ ini setiap individu akan melakukan aktivitas dengan kekuatan intelektualnya. Dan inilah hakikat kita sebagai manusia yang sesungguhnya. dan SQ perlu di sinergikan kedalam satu formula. 2001) . Bentuk fungsi IQ. belajar dan pembelajaran. EQ. Tuhan Tuhan manusia manusia manusia manusia manusia manusia IQ EQ SQ ESQ Gambar 1. dengan memikirkan kebermaknaan dia bagi orang lain serta menjadikan aktivitas untuk ibadah. Jadi ESQ meninjau aktivitas manusia dari ketiga kecerdasan. potensi IQ. Maka munculah formula ESQ.

Aplikasi ESQ dalam Pembelajaran Keberadaan IQ. EQ. 2003) C.15 Dimensi IQ Dimensi EQ Dimensi SQ Keterangan: SQ terletak pada dimensi spiritual EQ terletak pada dimensi emosional IQ terletak pada dimensi fisik Gambar 2. Formula ESQ di mana SQ sebagai pusat IQ dan EQ (Sumber: Ginanjar. Hasil yang didapat oleh siswa adalah bagaimana bisa mengerjakan dengan baik soal-soal dari pelajaran-pelajaran tersebut. matematika dan mata pembelajaran lainnya. Keberhasilan siswa dalam belajar diukur dengan nilai yang didapat pada tes ataupun ujian saja. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya IQ pada pelajaran sains. walaupun mereka tidak memahami kandungan yang sesungguhnya dari mata pelajaran yang bersangkutan. . Tetapi semuanya terpetak-terpetak dan tidak terintegerasi dalam satu kesatuan yang saling berhubungan. IPA. Sementara SQ juga dapat ditemukan pada Pendidikan Agama. EQ juga dapat ditemukan pada pendidikan moral baik melalui pendidikan Pancasila maupun pedidikan Kewarganegaraan. Peranan guru lebih cenderung hanya memberikan materi dan menjawab kesulitan siswa terhadap materi yang diberikan oleh guru. dan SQ sebenarnya telah termuat dalam pendidikan di Indonesia.

Aplikasi dari pembelajaran berwawasan ESQ salah satunya adalah dengan pembelajaran yang dilengkapi dengan pesan-pesan ilaahiyah dalam ayat-ayat AlQur‟an. Menurut Djazuni (2003). dan SQ sekaligus. Hal ini dikarenakan antara ayatayat Al-Qur„an dengan teori-teori yang terdapat dalam ilmu fisika terdapat keselarasan. Untuk mata pelajaran yang berkaitan dengan alam. bahwa pembelajaran yang mengaitkan antara materi fisika dengan ayat-ayat Al- . baik IQ. Sehingga hal-hal seperti ini telah menyebabkan ketidak seimbangan kecerdasaan. padahal disinilah peluang agar guru bisa menjalankan tugasnya. yaitu pembelajaran yang tetap memperihatikan unsur IQ. “mengajar sekaligus mendidik siswa”. MTs. Selain itu Al-Qur‟an juga banyak membicarakan pelbagai subyek yang jelas-jelas ilmiah. Sebagai contoh untuk mata pelajaran sains. dan SQ dalam satu kesatuan yang terintegerasi dalam satu mata pelajaran.16 Makna-makna di balik materi kurang begitu diangkat. Formula ESQ merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan dan pembelajaran di sekolah-sekolah. Begitu juga untuk mata pelajaran yang lain. maupun SQ pada diri siswa. EQ. MA maupun Sekolah Islam Terpadu. terutama sekolah-sekolah berbasis agama Islam seperti MI. misalnya fisika mudah dikemas dalam pembelajaran berwawasan ESQ. Disebutkan juga oleh Lubis dan Widayana (2003). pembelajaran yang mengaitkan antara materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. EQ. Di sekolah-sekolah seperti ini dibutuhkan pembelajaran berwawasan ESQ. misalnya fisika dapat mengandung unsur IQ. EQ. akan memberikan wawasan keagamaan yang dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

masing-masing mata pelajaran dengan nilai-nilai keimananan dan ketaqwaan. c.17 Qur‟an akan membuat generasi muda kita (dalam hal ini siswa sekolah) akan memahami betapa besar keagungan Allah. pembelajaran berwawasan ESQ bertujuan untuk meningkatkan dan menyelaraskan antara iptek maupun imtaq dalam satu mata pelajaran apapun tanpa terkecuali. Dalam hal ini pembelajaran berwawasan ESQ akan tetap membuat siswa memahami isi materi yang disampaikan guru sesuai dengan kurikulum yang ada. Sebagai bagian untuk meningkatkan pemahaman siswa akan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Lebih lanjut mereka menyebutkan walaupun pembelajaran mengaitkan materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. sub pokok bahasan. yang sekaligus meningkatkan keimanaan dan ketaqwaan. lebih rinci disebutkan dalam Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional tahun 2003. . Dengan kata lain. Pengaitan pokok bahasan. namun pencapaian pokok bahasan dan sub pokok bahasan tetap tidak berubah. Penyelarasan konsep iptek dan seni dengan nilai-nilai imtaq. bahwa guru mata pelajaran apa pun dituntut untuk mempunyai andil dan peranan yang besar melalui: a. b. Untuk meningkatkan dan menyelaraskan iptek dan imtaq ini. Penciptaan suasana kegiatan belajar-mengajar yang betul-betul diarahkan untuk penanaman keimanan dan ketakwaan para siswa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pencapaian-pencapaian pembelajaran tetap berdasarkan pada rencana dalam kurikulum yang telah digariskan.

Keunggulan lain yang muncul dari pembelajaran berwawasan ESQ yaitu akan membuat siswa sekolah berbasis Islam menjadi lebih antusias dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Fisika Pokok Bahasan Tata Surya Fisika merupakan salah satu cabang besar dari ilmu pengetahuan alam atau yang sekarang lebih dikenal dengan ilmu sains. Apabila siswa menemukan proses pembelajaran yang merangsang. Seperti yang telah diungkapkan Anni (2004) dalam psikologi belajar. mengenal begitu dahsyatnya ciptaan Allah swt. bahwa untuk membangkitkan minat belajar. Penanaman kesadaran dan keyakinan kepada siswa bahwa Allah swt telah menerapkan prisnsip-prinsip keterkaitan alam semesta yang disebut dengan sunnatullah. sehingga fisika sangat membantu manusia mengenal alam. . D. Fisika dapat dikatakan merupakan induk dari segala ilmu yang menyongsong peradaban manusia. Hal ini dikarena pengelolaan pembelajaran memberikan rangsangan (stimulus) untuk membangkitkan minat mereka sebagai siswa sekolah yang terbiasa berinteraksi dengan ayat-ayat AlQur‟an. Jadi fisika merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sains.18 d. Selanjutnya ia mengatakan proses pembelajaran dan materi yang terkaiat dapat merangsang sekumpulan kegiatan belajar. maka perhatiannya akan meningkat. Pemberian kesadaran kepada para siswa bahwa mereka belajar semata-mata melaksanakan perintah Tuhan dalam hal menuntut ilmu. pengaitan pembelajaran dengan minat siswa adalah sangat penting. Fisika juga merupakan ilmu yang memposisikan alam sebagai tinjauan objek keilmuannya. e.

4. Ia menyarankan bahwa kepada guru-guru sains akan perlunya merenungkan secara mendalam hakekat sains. budaya. yaitu sebagai berikut: 1. ekonomi. Siswa mampu mengeksplorasi sains dan teknologi. ada beberapa tujuan mata pelajaran rumpun sains di Indonesia. Kemampuan memikirkan pengembangan teknologi inovatif berdasarkan eksplorasi sains dari lingkungan dan masyarakat. teknologi dan masyarakat. sosial. Siswa mampu menerapkan prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi dan atau sebaliknya mampu mempelajari prinsip sains yang sudah dimanfaatkan dalam produk teknologi. 2. 5. gejala alam. disamping dari sains yang telah ada. Menurut Supriyono (2003). agama. bahasa dan hukum. Siswa memiliki pengetahuan dan mampu mendemontrasikan pemahamannya tentang konsep/prinsip sains untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam baik secara kualitatif maupun kuantitatif. lingkungan dan masyarakat sebagai sumber sains. Siswa mampu mengungkapkan dengan bahasa yang sesuai untuk mengkomunikasikan temuan dan kajian sains serta dapat memanfaatkan alat untuk mengumpulkan data dan mengoprasikan kegiatan sains. 3. Siswa memiliki sikap ilmiah produktif. . politik. Siswa mampu mengembangkan kesadaran tentang pentingnya peran sains dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari serta berbagai aplikasinya di berbagai bidang seperti. 6.19 Menurut Dehart menyarankan kurikulum sains masa depan perlu didasarkan pada hubungan antar manusia. kemajuan sains dan teknologi serta kualitas hidup.

Siswa memiliki keyakinan tentang keteraturan alam semesta serta keragaman isinya sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penanda keagunganNya. Hal ini membuat siswa bisa menyelami lebih dalam di balik materi secara teoritik. Dalam pembelajaran yang telah ditemukan di sekolah-sekolah. Apalagi pelajaran fisika terutama tentang jagad raya yang tercantum dalam bahasan Tata Surya. Materi Tata Surya mencangkup banyak hal tentang fenomena alam raya. Ternyata begitu kecil manusia di alam jagad raya ini. diperlukan pembelajaran dengan berwawasan ESQ. yang sangat bermanfaat sekali dalam memaknai ciptaan Tuhan Yang Esa. Siswa akan semakin mantap dengan keyakinan iman kita dengan mempelajari ayatayat Allah yang tertuang dalam alam ini. Ternyata begitu dahsyat ciptaanNya. sungguh sangat mendukung tujuan ini. Maka sudah sepantasnya kalangan pendidikan sebagai kaum akademik yang dikarunia kelebihan kecerdasan benar-benar memikirkan hal ini. kelihatannya belum ada upaya yang nyata dalam pembelajaran sains untuk memenuhi tujuan ini. Siswa mampu mengembangkan kemampuan proses sains serta memanfaatkannya dalam pemecahan masalah dan pengambilan putusan untuk berbagai masalah. Sesuai yang terungkap dalam kalamNya: . 8. Tetapi untuk tujuan agar siswa memiliki keyakinan tentang keteraturan alam semesta serta keragaman isinya sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penanda keagunganNya. telah diupayakan agar semua tujuan yang tercantum di atas dapat terwujud.20 7. Oleh karena itu.

fisika merupakan bagian dari prinsip filsafat alam yang banyak dibahas oleh ilmuwan muslim kenamaan pada masa keemasan Islam. baik sifatnya material maupun spiritual. Ayat-ayat tersebut dapat dibagi ke dalam kategori-kategori antara lain sebagai berikut: a. dan 76:62. Menurut Ghulsyani (1986). Al-Qur‟an mengajak manusia untuk menggunakan panca indera dan akal dalam mengamati pengalaman. dalam ilmu pengetahuan Islam. seperti nampak dalam uraian mengenai fenomena alam semesta yang amat dahsyat yang disebut begitu jelas dalam Al-Qur‟an. suara. Ayat-ayat yang menggambarkan elemen-elemen pokok obyek dan memerintahkan manusia untuk menyingkapnya. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 86:5. di dalam Al-Qur‟an terdapat lebih dari 750 ayat yang menunjukkan fenomena alam. Para ilmuwan muslim mempunyai perhatian yang besar terhadap ilmu fisika karena Al-Qur‟an menaruh perhatian yang besar terhadap ilmu tersebut. dan manusia diminta untuk dapat memikirkannya agar mengenal Sang Pencipta lewat tanda-tanda-Nya. Ilmu Fisika dalam Al-Qur’an Ilmu fisika merupakan ilmu yang menyelidiki tentang fenomena-fenomena alam semesta. Menurut Rahman (2000). terdapat tanda-tanda untuk kaum yang berakal” (QS: Ali „Imran: 190) E.21 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang. Misalnya Ibnu Sina telah membahas ilmu filsafat alam dengan panjang lebar dalam karyanya “Fann” (teknik ilmiah). Al-Qur‟an juga banyak menjelaskan mengenai unsur-unsur yang penting dalam fisika. . 24:45. seperti waktu. cahaya dan lain-lainnya.

Pendidikan Sekolah Berbasis Islam Bertolak dari konsep manusia yang bersifat integral-holistik. f. dan 29:19. 16:5. e. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 29:20. . dan 21:16. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 27:88. c. 21:30. Ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk mempelajari fenomenafenomena alam. Ayat-ayat yang menjelaskan keharmonisan keberadaan manusia dengan alam semesta dan ketundukan apa yang ada di langit dan di bumi kepada manusia. 57:25. Tujuan pendidikan adalah terwujudnya masyarakat yang berkepribadian muslim. F. 67:3-4. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 39:21. 30:48. 25:2. 41:11. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 2:29. maka menurut Mastuhu (1999) sistem pendidikan islam diharapkan berorientasi pada persoalan dunia dan ukrhrawi. dan 2:164. 23:12-14. 45:13. dan 6:69. 31:10. Ayat-ayat yang menekankan kelangsungan dan keteraturan penciptaan Allah. Ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk menyikapi bagaimana alam semesta ini terwujud. 67:15. d. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 11:7.22 b. dan 88:17-20. 39:5. yang berakhlak mulia. Ayat-ayat yang mencakup masalah cara penciptaan obyek-obyek material dan memerintahkan manusia untuk menyingkap asal-usulnya. cakap dan terampil serta percaya pada diri sendiri serta berguna bagi masyarakat dan negara dengan beramal menuju terwujudnya masyarakat utama adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah swt.

4. ulet dan pemberani dalam menghadapi permasalahan hidup sehari-hari. Mandiri (Qadirun Alal Kasbi) Mandiri dalam memenuhi segala keperluan hidupnya dan memiliki bekal yang cukup dalam pengetahuan. kecakapan dan keterampilan dalam usaha memenuhi kebutuhan nafkahnya. Pribadi yang matang (Matinul Khuluq) Menampilkan perilaku yang santun. 3. . dzikr dan do‟a sesuai petunjuk Al Qur‟an dan AsSunnah. sikap dan perilaku yang bertentangan dengan apa yang Ia perintahkan. penyelenggaraan program pendidikan ditekanan pada pembinaan pribadi siswa yang sholeh serta memahami dan terbiasa dengan niali-nilai islam. logis. shaum. peduli terhadap sesama dan lingkungan serta sabar. sistematis dan kreatif yang menjadikan dirinya berpengetahuan luas dan menguasai bahan ajar dengan sebaik-baiknya. Cerdas dan Berpengetahuan (Mutsaqqaful Fikri) Memiliki kemampuan berfikir yang kritis. 2. Aqidah yang Bersih (Salimul Aqidah) Meyakini Allah swt sebagai pencipta. 5. tilawah al Qur‟an. pemelihara dan penguasa alam semesta dan menjauhkan diri dari segala fikiran. yakni: 1. pemilik.23 Berdasarkan Master Plan Sekolah Islam Terpadu. tertib dan disiplin. dan cermat dalam mengatasi segala problem yang dihadapi. Ibadah yang Benar (Shahihul Ibadah) Terbiasa dan gemar melaksanakan ibadah yang meliputi: sholat.

Salah satu dari program pendidikan yang dimaksud adalah segi kegiatan belajar dan mengajar. Oleh karena itu. 9. Bersungguh-sungguh dan Disiplin (Mujahidun Linafsihi) Memiliki kesungguhan dan motivasi yang tinggi dalam memperbaiki diri dan lingkungnnya yang ditunjukkan dengan etos dan kedisiplinan kerja yang baik. stamina dan daya tahan tubuh yang kuat. 10. Tertib dan cermat (Munazhzhom Fi Syu‟unihi) Tertib dalam menata segala pekerjaan. . Sehat dan Kuat (Qawiyul Jismi) Memiliki badan dan jiwa yang sehat dan bugar. 8. 7. berani dalam mengambil resiko namun tetap cermat dan penuh perhitungan dalam melangkah. Efisien (Harisun „Ala waqtihi) Selalu memanfaatkan waktu dengan pekerjaan yang bermanfaat dan mampu mengatur jadwal kegiatan sesuai dengan skala prioritas. Berbagai tinjaun di atas menunjukkan bahwa memang benar-benar dibutuhkan program pendidikan yang khusus di sekolah-sekolah berbasis Islam untuk menunjang terwujudnya tujuan penyelenggaraan pendidikan. Bermanfaat (Nafiun Lighoirihi) Peduli kepada sesama dan memiliki kepekaan untuk membantu orang lain yang memerlukan pertolongan.24 6. tugas dan kewajiban. pembelajaran berwawasan ESQ yang mengaitkan antara materi dengan pesan keimanan dalam ayat-ayat Al-Qur‟an sangat dibutuhkan dalam sekolah-sekalah tersebut.

Respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran. b) Sampel Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah salah satu kelas X semester 1 SMA Islam Hidayatullah Semarang. Sampel diambil secara random (acak). Rencana Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan model penelitian tindakan kelas (PTK). 2. B. Faktor yang Diteliti Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah: 1. X-3 dan X-4. C. 3. yakni siswa kelas X-1. Penentuan Subyek dan Tempat Penelitian a) Populasi Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Islam Hidayatullah Semarang tahun pelajaran 2005/2006.BAB III METODE PENELITIAN A. Pemahaman siswa terhadap wawasan keagamaan yaitu nilai-nilai keimanan yang terkandung di dalam Al-Quran dari materi yang disampaikan. yang berjumlah empat kelas. Pemahaman siswa terhadap teori fisika pokok bahasan Tata Surya dalam pembelajaran fisika berwawasan ESQ. yaitu suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan 25 . terdiri dari kelas X-1. X-2.

tujuan penelitian tindakan kelas bukanlah menemukan pengetahuan baru yang dapat diberlakukan secara meluas. Oleh karena itu banyak kalangan menilai penelitian tindakan kelas sebagai penelitian praktis (practical inquiry). Adapun rangkaian langkah-langkah penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut: Rencana tindakan Refleksi Pelaksanaan Observasi Belum terselesaikan Terselesaikan? Rencana tindakan II Refleksi Pelaksanaan II Observasi Belum Siklus Selanjutnya Gambar 3. mengelola pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dalam arti luas (Purwadi. Penelitian tindakan kelas bersifat practice driven atau action driven. Dengan demikian.26 masalah yang dihadapi dalam melaksanakan tugas pokoknya. tetapi bersifat menemukan bentuk pengajaran di kelas yang bisa memberikan solusi kepada permasalahan yang dihadapi secara lokal. skema langkah-langkah penelitian tindakan kelas . 1999). Penelitian permasalahan tindakan spesifik kelas dan hanya memusatkan perhatian tidak pada terlalu yang konstekstual sehingga menghiraukan kerepresentatifan sampel. Hal ini berarti bahwa penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran secara praktis dan secara langsung.

Kekurangan pada siklus pertama akan diperbaiki pada siklus ke dua. Siklus I 1. dalam hal ini adalah rencana pembelajaran. Adapun tahap-tahap tiap siklus adalah sebagai berikut: I. Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini terdiri dari empat tahap dalam setiap siklusnya yaitu Perencanaan (Planning). yaitu Perencanaan (Planning). Prosedur Penelitian Penelitian tindakan kelas ini akan dilakukan dalam dua siklus. b. Menyusun modul pembelajaran berwawsan ESQ. c. dan Refleksi (Reflection). Tindakan (Action). Pengamatan (Observation).27 Dalam penelitian tindakan kelas secara garis besar terdapat empat tahap kegiatan. Bila siklus I belum terselesaikan. Refleksi (Reflection) dalam setiap siklusnya. Perencanaan (Planning) a. maka dilakukan siklus II. d. Membuat lembar observasi (angket) mengenai pengaruh dari pembelajaran berwawsan ESQ yang dirasakan oleh siswa. Tindakan (Action). Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti yang telah dirancang dalam faktor yang akan diselidiki. Menyusun pretest dan postest. D. Siklus I dengan memberikan materi tata surya secara menyeluruh dan siklus II untuk menyempurnakan siklus I. begitulah seterusnya sampai tujuan penelitian dapat terpenuhi. Menyusun perangkat pembelajaran. . Pengamatan (Observation).

. d. e. b.28 2. Pelaksanaan (Action) a. Guru melakukan umpan balik tentang pemahaman apakah yang telah ditangkap oleh siswa g. Guru memberikan postest. f. Guru kemudian menegaskan dengan ayat-ayat Al-Qur‟an yang berkaitan dengan materi seperti tertera pada modul. Setelah itu hasil pemikiran kelompok dipaparkan satu per satu. Guru membagikan modul pembelajaran berwawasan ESQ kepada siswa. c. h. Guru mulai masuk ke materi awal dengan menarik kesimpulan dari pemaparan kelompok bahwa Allah swt telah menciptakan alam semesta dengan amat dahsyat. guru memberikan pretest untuk mengetahui sejauh mana kondisi awal wawasan keagamaan siswa. Guru mengawali pertemuan dengan mengelompokan siswa ke dalam beberapa kelompok kecil untuk memikirkan fakta penciptaan alam semesta ditinajau secara ilmu Fisika maupun ditinjau dari keberadaan manusia sebagai mahluk ciptaan Allah swt. Guru membimbing siswa dalam setiap pembelajaran dengan memberikan stimulus-stimulus yang membuat siswa berfikir tentang materi tata suraya baik menurut fisika maupun menurut apa yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur‟an . Sebelum memulai pembelajaran.

Refleksi (Reflection) Hasil yang diperoleh pada tahap pengamatan kemudian dikumpulkan. Guru memberikan materi tata surya sesuai dengan kurikulum yang ada di sekolah-sekolah umum. c.29 3. 2. Guru mengawali materi pertemuan pembelajaran dengan mengajak siswa untuk kembali memikirkan ciptaan Allah swt yang ada di sekitar hidup siswa secara luas dan mendalam. Observasi juga diambil dari hasil pekerjaan siswa yang didapat dari siklus I. yaitu Bumi. Siklus II 1. dianalisis dan dievaluasi oleh peneliti untuk mengetahui berhasil tidaknya tindakan yang dilakukan. Observasi dari siklus I kemudian dijadikan masukan bagi siklus II. Pengamatan (Observation) Kegiatan observasi dilaksanakan untuk menilai kemampuan siswa baik afektif maupun psikomotorik. . II. Guru mengelompokkan siswa seperti pada Siklus I untuk mempelajari salah satu karakteristik dari ciptaan Allah. b. 4. Perencanaan (Planning) Ulang Perencanaan ulang disusun berdasarkan kesimpulan dan perbaikanperbaikan yang dibutuhkan dari siklus I. Pelaksanaan (Action) a. Guru memulai masuk ke materi setelah siswa merespon terhadap ajakan guru untuk memikirkan penciptaan alam semesta ini. d.

dianalisis dan dievaluasi pada tahap refleksi ini. Pengamatan (Observation) Kegiatan observasi pada siklus II dilakukan melalui angket. 3. . h. 4. Guru kemudian menegaskan dengan detail ayat-ayat Al-Qur‟an yang berkaitan dengan materi pelajaran seperti tertera pada modul. Guru mengajak siswa untuk mengambil ibrah (hikmah) dari materi pertemuan yang telah didapat. Observasi juga diambil dari hasil pekerjaan siswa pada siklus II. E. Hasil analisis dari tahap ini digunakan untuk mengambil kesimpulan apakah pembelajaran fisika berwawasan ESQ sudah sesui dengan tujuan yang diinginkan atau belum. Metode Pengumpulan Data a. untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran fisika berwawasan ESQ. Selain itu peneliti juga mengadakan observasi langsung pada saat kegiatan berlangsung. g. Refleksi (Reflection) Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa SMA Islam Hidayatullah Semarang kelas X semester 1 tahun ajaran 2005/2006.30 e. Guru memberikan postes. f. Guru menguji kepahaman siswa melalui pertanyaan-pertanyaan singkat secara lisan.

2002: 198). 3) Data tentang respon siswa terhadap pembelajaran. reliabel dan memiliki taraf kesukaran dan daya pembeda yang baik. Setelah perangkat tes disusun. 2) Data tentang hasil belajar siswa. kemudian diujicobakan pada kelas lain di luar sampel untuk mendapatkan perangkat tes yang valid. Cara Pengambilan Data 1) Data tentang kondisi awal wawasan keagamaan siswa mengenai tata surya. c. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan. diambil melalui lembar angket yang diisi oleh siswa. Analisis Uji Instrumen Pada penelitian ini menggunakan instrumen berupa tes. yang terdiri dari: 1) Kondisi awal wawasan keagamaan siswa. kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto. diambil melaui postest soal materi fisika tata surya dan wawasan keagamaan siswa yang dilaksanakan pada tiap siklus. Sementara data hasil penilian ranah afektif dan psikomotorik diambil melalui lembar observasi. F. Pada penelitian pembelajaran fisika berwawasan ESQ . diambil melalui soal pretest tentang wawasan keagamaan. 3) Respon siswa terhadap pembelajaran. intelegensi. pengetahuan. Jenis Data Data yang dikumpulkan pada penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif.31 b. 2) Hasil belajar siswa.

selanjutnya harga ini dikonsultasikan dengan r tabel dengan taraf signifikan 5%. Apabila harga rpbis > r tabel maka soal dikatakan valid.32 ini digunakan metode deskriptif. 2. Setelah diperoleh harga rpbis. Reliabilitas Untuk menghitung reliabilitas butir soal digunakan rumus: V r11   k  t   pq)      k  1 Vt  (Arikunto. 1. dengan membandingkan hasil belajar siswa sebelum tindakan dan hasil belajar siswa setelah tindakan melalui nilai prosentase untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar yang dicapai siswa. 2002: 163) Keterangan: r11  Reliabilitas instrumen . 1990: 163) Keterangan : rpbis = Koefisien korelasi. = Proporsi siswa yang menjawab salah setiap butir soal. M p = Rata-rata skor total yang menjawab benar pada butir soal. Mt St p q = Rata-rata skor total. = Simapangan baku skor total. Validitas butir soal Untuk menghitung validitas butir soal digunakan rumus: rPbis  Mp  Mt St p q (Suherman. = Proporsi siswa yang menjawab benar setiap butir soal.

1990: 201) .1990: 112) = Indeks kesukaran = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah = Jumlah siswa pada kelompok atas = Jumlah siswa pada kelompok bawah Kriteria : IK = 0.33 k  Banyaknya butir soal Vt  Varians total p = Proporsi siswa yang menjawab benar setiap butir soal.00 – 0.70 : soal sedang IK = 0. Untuk mengetahui tingkat kesukaran suatu soal rumus yang digunakan adalah : IK  Keterangan : IK JBA JBB JSA JSB B JBA  JBB JS A  JS B (Suherman. Tingkat Kesukaran Soal Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. pq= jumlah dari pq 3.71 – 1.31 – 0. Daya Pembeda Soal Rumus yang digunakan untuk menghitung daya pembeda soal dari alat ukur ini adalah : DP  JBA  JBB JS A (Suherman.00 : soal mudah 4.30 : soal sukar IK = 0. q = Proporsi siswa yang menjawab salah setiap butir soal.

Metode Analisis Data Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif dengan cara membandingkan keadaan wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah diberi tindakan. baik pada siklus I maupun siklus II.40 : cukup D = 0.20 : jelek D = 0. Selanjutnya rerata hasil penilaian postest fisika materi pokok tata surya juga dihitung. Langkah-langkah dalam analisis data adalah sebagai berikut: 1) Hasil pretest wawasan keagamaan siswa sebelum dilakukan tindakan dan postest setelah dilakukan siklus I dan siklus II direkapitulasi.70 : baik D = 0. 2) Nilai rerata wawasan keagamaan siswa sebelum dilakukan tindakan dan setelah dilakukan tindakan siklus I dan siklus II dihitung.71 – 1.00 – 0.41 – 0.00 : baik sekali D = negatif: soal tidak baik dan harus dibuang G. 1999:109) keterangan: X = nilai rerata . Rerata dihitung menggunakan rumus: X X N (Sudjana.34 Keterangan : DP JBA JBB JSA = Daya pembeda soal = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah = Jumlah siswa pada kelompok atas Klasifikasi daya pembeda soal adalah : D = 0.20 – 0.

35

X N

= jumlah nilai seluruh siswa = banyaknya siswa

3) Hasil belajar (kognitif) siswa dihitung, dengan menggunakan rumus: Nilai akhir 

 jumlah jawaban benar x 100  jumlah seluruh soal

(Slameto, 2001:189)

4) Hasil belajar afektif dan psikomotorik dihitung, dengan menggunakan rumus:
Nilai   Skor perolehan  Skor maksimal x100%

(Depdiknas,2003: 14)

5) Ketuntasan belajar siswa dihitung, dengan menggunakan rumus:
% n x 100% N

(Ali, 1984: 184)

Keterangan: % = presentase n = jumlah skor yang diperoleh N = jumlah skor masksimal

H. Indikator Keberhasilan Keberhasilan kelas dilihat dari sekurang-kurangnya 85% dari jumlah

peserta didik yang mampu menyelesaikan atau mencapai minimal 65% (Mulyasa, 2002: 99). Begitu juga untuk mengukur pemahaman wawasan keagamaan siswa, karena wawasan sifatnya pengetahuan. Jadi keberhasilan kelas terhadap pemahaman wawasan keagamaan siswa dilihat dari sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan atau mencapai minimal 65%.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN 1. Hasil Siklus I Dalam pembelajaran fisika berwawasan ESQ materi pokok tata surya, sebelum pembelajaran dimulai siswa diberi soal pretest tentang wawasan keagamaan mengenai tata surya untuk mengetahui kondisi awal wawasan keagamaan siswa. Adapun hasil pretest wawasan keagamaan siswa

menunjukkan bahwa rata-rata kondisi awal wawasan keagamaan siwa kelas X-1 SMA Islam Hidayatullah Semarang adalah 40, ketuntasan belajar klasikal hanya 4%, sementara nilai terendahnya adalah 13 dan nilai tertingginya adalah 67. Setelah siklus I diberikan, nilai rata-rata wawasan keagamaan siswa menjadi 68, ketuntasan belajar klasikal 60%, sementara nilai terendahnya adalah 40 dan nilai tertingginya adalah 93. Perbandingan nilai wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I ditunjukkan oleh tabel 1 berikut:
Tabel.1. Nilai Wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I

No. Wawasan keagamaan siswa 1. Nilai terendah 2. Nilai tertinggi 3. Rata-rata 4. Presentase ketuntasan klasikal

Kondisi awal 13 67 40 4%

Setelah siklus I 40 93 68 60%

Sementara hasil peningkatan wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I ditunjukkan oleh gambar berikut ini:

36

37

100 90 80 70 60
67

93

68 60

skala

50 40 30 20 10 0
13

40

40

kondisi awal setelah siklus I

4

nialai terendah

nilai tertinggi

rata-rata

ketuntasan klasikal

kategori
Gambar 4. Grafik wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I

Pada Siklus I sebagai bagian utama pembelajaran, siswa diberikan postestt materi fisika tata surya seiring dengan postest wawasan keagamaan. Dari hasil postest siklus I menunjukkan bahwa nilai rata-rata tata surya siswa adalah 70, dengan ketuntasan belajar klasikal 80%, sementara nilai terendahnya adalah 52 dan nilai tertingginya dalah 84. 2. Hasil Siklus II Hasil siklus II menunjukkan nilai rata-rata wawasan keagamaan siswa menjadi 92, ketuntasan klasikal mencapai 100%, sementara nilai terendahnya adalah 73 dan nilai tertingginya adalah 100. Perbandingan nilai wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus II ditunjukkan oleh tabel.2. berikut:

Nilai tertinggi 3. Nilai Wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah No. Nilai terendah 2.38 Tabel. Hasil postest siklus II menunjukkan bahwa nilai rata-rata tes tata surya siswa adalah menjadi 80. sementara nilai terendahnya adalah 56 dan nilai tertingginya dalah 96. Grafik wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus II Pada Siklus II sebagai bagian utama pembelajaran. Presentase ketuntasan klasikal awal 13 67 40 4% siklus I 40 93 68 60% siklus II 73 100 92 100% Hasil peningkatan wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I ditunjukkan oleh gambar berikut ini: 120 100 100 80 73 67 40 40 20 0 nilai terendah nilai tertinggi rata-rata ketuntasan klasikal 100 92 68 40 93 skala 60 60 kondisi awal setelah siklus I setelah siklus II 13 4 Kategori Gambar 5. Wawasan keagamaan siswa 1. dengan ketuntasan belajar klasikal 88%. Perbandingan nilai tes tata surya siswa dari siklus I dan siklus II ditunjukkan oleh tabel 3 berikut: . siswa juga diberikan postest materi fisika tata surya seiring dengan postest wawasan keagamaan.2. Rata-rata 4.

Nilai terendah 2. Rata-rata 4. Nilai postest tata surya 1. Grafik nilai tes tata surya siswa siklus I dan siklus II 3.3.39 Tabel. Adapun rangkuman hasil dari penilaian tersebut adalah sebagai berikut: . dalam penelitian ini juga dilakukan penilaian keterampilan psikomotorik dan afektif siswa. Presentase ketuntasan klasikal Siklus I 52 84 70 80% Siklus II 56 96 80 88% Ternyata seiring dengan meningkatnya wawasan keagamaan siswa dari siklusI ke siklus II juga diikuti peningkatan nilai postest materi fisika tata surya siswa dari siklus I ke siklus II. Hasil Penilaian Psikomotorik dan Afektif Siswa Sebagai implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004. Nilai tertinggi 3. yang diberikan pada saat observasi siklus I. Adapun peningkatannya dapat dilihat pada gambar berikut: 120 100 80 96 84 70 52 56 88 80 80 skala 60 40 20 0 pos tes siklus I pos tes silus II nilai terendah nilai tertinggi rata-rata ketuntasan klasikal kategori Gambar 6. Nilai postest tata surya siklus I dan siklus II No.

Amat Terampil 2.4. peneliti tinggal menjumlahkan berapa jumlah siswa yang menjawab “ya” dan “tidak” (Arikunto. serta respon siswa terhadap proses pembelajaran. respon siswa terhadap penerimaan SQ. Hasil Penilaian Keterampilan Afektif Siswa Tabel. Baik 3. Tidak Terampil b. Penilaian keterampilan psikomotorik siswa No. Penilaian keterampilan afektif siswa No.5. Angket yang diisi oleh sisiwa berbentuk “ya” dan “tidak”. respon siswa terhadap penerimaan EQ. Terampil 3. Kurang Terampil 4. Untuk mengetahui respon siswa terhadap suatu hal. Amat Kurang 4. Hasil Penilaian Keterampilan Psikomotorik siswa Tabel. Kurang 4. siswa diberikan angket mengenai respon siswa terhadap pembelajaran fisika berwawasan ESQ. Amat Baik 2. Jika angket berbentuk “ya” dan “tidak”. 2002: 213). maka dilihat berapa prosentase jumlah siswa yang menjawab “ya” pada . Hasil Angket Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ Untuk melengkapi data penelitian ini. Kategori penilaian Jumlah siswa 3 17 5 - Presentase 12% 68% 20% - 1.40 a. Adapun variabel yang terdapat di dalamnya adalah respon siswa terhadap penerimaan IQ. Kategori penilaian Jumlah siswa 2 20 3 - Presentase 8% 80% 12% - 1.

6. Hal ini disebabkan oleh bagaimana pun siswa masih asing terhadap keterkaitan antara ayat-ayat Al-Qur‟an dengan mata pelajaran fisika materi tata surya. Respon IQ 2. walaupun sebenarnya ayat-ayat Al-Qur‟an merupakan hal yang dekat dengan mereka sebagai siswa sekolah yang berbasis agama Islam. Hal ini seperti yang diungkapkan Anni (2004) dalam psikologi belajar. kondisi awal menunjukan wawasan keagamaan siswa masih rendah. PEMBAHASAN Setelah pretest diberikan. Setelah diberikan modul pembelajaran fisika berwawasan ESQ yang memuat keterkaitan antara materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an sebagai sumber minat mereka. Indikator Presentase penerimaan 86% 96% 95% 73% 1. sedangkan ketuntasan klasikal terhadap soal pretest wawasan keagamaan hanya 4% (hanya ada satu siswa yang nilainya di atas 65).41 setiap pertanyaan mengenai respon tesebut. Respon SQ 4. serta rasa keingin tahuan mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur‟an yang terkait dengan tata surya menjadi lebih dalam. siswa menjadi semakin bersemangat untuk mengikuti pembelajaran berwawasan ESQ ini. Rata-rata kondisi awal nilai wawasan keagamaan siswa adalah 40 . Respon EQ 3. Respon terhadap pembelajaran B. bahwa untuk . Hasil rangkuman angket tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel. Hasil angket tentang Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ No. Mereka menjadi antusisas.

42 membangkitkan minat belajar. Berdasarkan data penelitian di atas. Selanjutnya ia mengatakan pula bahwa proses pembelajaran dan materi yang terkaiat dapat merangsang sekumpulan kegiatan belajar. Seperti apa yang diungkapkan Djazuni. . dengan ketuntasan kalsikal 60%. sebagai masukan untuk siklus II siswa menginginkan agar ayat-ayat yang terkait dengan suatu permasalahan tertentu terhadap materi tata surya agar diperjelas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran fisika berwawasan ESQ yang mengaitkan antara materi fisika dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. Sehingga pembelajaran pada siklus II dilakukan dengan lebih rinci dan detail terhadap keterkaitan materi tata surya dengan ayat-ayat Al-Qur‟an yang sinergi. pada postest wawasan keagamaan pada siklus II ini. Sebagai hasilnya nilai rata-rata wawasan keagamaan siswa menjadi 68. telah mencapai tujuan yang diinginkan dalam penelitian ini yaitu meningkatkan wawasan keagamaan siswa. nilai rata-rata wawasan keagamaan siwa mencapai 92 dan ketuntasan klasikal mencapai 100% atau dalam kata lain semua siswa tuntas mengerjakan soal wawasan keagamaan yang berkaitan dengan materi tata surya. (2003) bahwa dengan pembelajaran yang mengaitkan antara materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. maka perhatiannya akan meningkat. akan memberikan wawasan keagamaan yang dihayati dalam kehidupan sehari-hari. diperoleh peningkatan nilai wawasan keagamaan siswa yang terkait dengan materi tata surya dari pretest. Setelah siklus I selesai dan dievaluasi. postest siklus I. pengaitan pembelajaran dengan minat siswa adalah sangat penting. dan postest siklus II. Hasilnya. Apabila siswa menemukan proses pembelajaran yang merangsang.

Hal ini tergambar dari jawaban siswa terhadap angket mengenai respon siswa terhadap pembelajaran berwawasan ESQ. Kemudian pada postest siklus II nilai . Seperti apa yang telah disebukan oleh Lubis dan Widayana (2003). bersamaan dengan pemberian postest wawasan keagamaan siswa pada setiap siklusnya. bahwa pembelajaran yang mengaitkan antara materi fisika dengan ayat-ayat Al-Qur‟an akan membuat generasi muda kita (dalam hal ini siswa sekolah) akan memahami betapa besar keagungan Allah. semua siswa mengaku semakin meyakini keagungan Allah swt sehinggga menambah keimanan kepada Allah swt. siswa juga diberi postest materi tata surya. Setelah siswa mengikuti pembelajaran.43 Dari peningkatan wawasan keagamaan siswa akan menumbuhkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai keagamaan yang kemudian akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Jadi siswa mengerjakan dua soal postest yaitu soal materi fisika tata surya dan soal wawasan keagamaan yang berkaitan dengan tata surya pada setiap siklus. yang sekaligus meningkatkan keimanaan dan ketaqwaan. Dalam penelitian ini. Karena bagaimanapun faktor pemahaman siswa terhadap materi tata surya merupakan prioritas dalam pembelajaran fisika materi pokok tata surya. Pada pembelajaran berwawasan ESQ ini. nilai rata-rata tes tata surya siswa adalah 70 dengan ketuntasan belajar kalsikal 80%. Oleh karena itu pembelajaran tetap menitik beratkan penyampaian materi tata surya seperti yang digariskan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi seiring penyampain keterkaitan materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. juga tidak mengurangi konsentrasi penuh terhadap materi fisika tata surya itu sendiri. Pada postest siklus I.

Hasilnya jumlah siswa yang menjawab “ya” terhadap penerimaan IQ (respon terhadap IQ) adalah 86%. yaitu 12% dari jumlah siswa tergolong amat terampil. ternyata tidak mengurangi pemahaman siswa terhadap materi fisika tata surya. Untuk memenuhi Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004. Hasilnya untuk penilaian aspek psikomotorik. namun pencapaian pokok bahasan dan sub pokok bahasan tetap tidak berubah. 80% tergolong baik dan 12% tergolong kurang. Hal ini selaras dengan apa yang disebutkan oleh Lubis dan Widayana (2003). Angket tersebut diisi oleh siswa pada saat observasi siklus II. . Ternyata nilai postest materi tata surya siswa meningkat seiring meningkatnya nilai wawasan keagamaaan siswa pada postest siklsus I dan siklus II. 68% tergolong terampil dan 20%tergolong kurang terampil. Penilaian aspek tersebut dilakukan pada saat observasi siklus I. Sehingga dapat dikatakan bahwa walaupun pembelajaran menggunakan ayatayat Al-Qur‟an yang berkaitan dengan materi. Untuk melengkapi data penelitian. Hasil untuk penilaian afektif yaitu 8% tergolong amat baik. dalam penelitian ini juga menilai aspek keterampilan psikomotorik dan keterampilan afektif siswa. Penilian psikomotorik dan afektif tidak termasuk faktor yang diteliti dalam penelitian ini. Penilaian psikomotorik dan afektif dalam pembelajaran fisika berwawasan ESQ bertujuan agar pembelajaran ini tetap sesuai dengan KBK yang sedang berlaku di sekolah. siswa mengisi angket tentang respon siswa terhadap pembelajaran fisika berwawasan ESQ.44 rata-rata tes tata surya siswa menjadi 80 dan ketuntasan belajar klasikal menjadi 88%. yang mengatakan bahwa walaupun pembelajaran mengaitkan materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an.

Dari data ini membuktikan bahwa pembelajaran fisika berwawasan ESQ mampu menyokong tiga aspek kecerdasan siswa (IQ. dan SQ dalam satu kesatuan yang terintegrasi. Hasil angket lainnya menunjukkan bahwa respon siswa terhadap proses pembelajaran adalah 73%. dan yang lainnya. Hal ini seperti yang disebutkan oleh Ginanjar (2003) tentang hakekat konsep ESQ yaitu menghimpun kecerdasan IQ. karena materi pembelajaran yang dikaitkan dengan ayat-ayat AlQur‟an sesuai dengan karakter mereka sebagai siswa sekolah berbasis Islam. Jadi keberadaan ayat-ayat Al-Qur‟an dalam materi fisika tidak membuat siswa tertekan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. fiqh. EQ. Dapat dikatakan pembelajaran fisika berwawasan ESQ ini disambut baik oleh sebagain besar siswa. bahasa arab. Hal ini dikarenakan siswa sudah terbiasa dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. EQ. . Setiap pekan mereka berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an melalui mata pelajaran agama islam. Sebaliknya mereka menjadi antusias mengikuti pembelajaran.45 respon terhadap EQ 96% dan respon terhadap SQ 95%. dan SQ) secara bersamaan.

Kemudian pada siklus II rata-rata nilai wawasan keagamaan siswa mencapai 92 dan ketuntasan klasikal mencapai 100% (semua siswa tuntas). Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Pada sisklus I rata-rata nilai wawasan keagamaan siswa menjadi 68 dan ketuntasan belajar klasikal terhadap nilai wawasan keagamaan siswa menjadi 60%. postest siklus I. Pada pretest diketahui bahwa rata-rata kondisi awal wawasan keagamaan siswa terkaiat dengan materi tata surya adalah 40 dengan ketuntasan klasikal terhadap wawasan keagamaan tata surya hanya 4% (hanya ada satu siswa yang mendapat nilai di atas 65). 2. dan postest siklus II. Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya tidak mengurangi konsentrasi siswa terhadap pemahaman materi fisika pokok bahasan tata surya. walaupun pembelajaran dilengkapi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an sebagai kaitan dari materi yang sedang diberikan. Hal ini dapat dikaji dengan meningkatnya nilai wawasan keagamaan siswa dari pretest. Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya dapat meningkatkan wawasan keagamaan siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai postest materi tata surya siswa seiring dengan meningkatnya nilai 46 .BAB V PENUTUP A.

EQ. Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya disambut baik oleh sebagian besar siswa. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya mampu menghimpun tiga kecerdasan siswa (IQ. Dalam mengawali pembelajaran guru hendaknya mengajak siswa untuk berfikir lebih dalam tentang fenomena alam semesta sebelum mereka diberikan ayat-ayat Al-Qur‟an sebagai pengaitan dari materi Tata Surya. Pada siklus I nilai rata-rata postest tata surya siswa adalah 70 dengan ketuntasan belajar klasikal 80%. respon terhadap EQ 96% respon terhadap SQ 95%. dan SQ) secara bersamaan. Hal ini bermanfaat untuk pemanasan memasuki pembelajaran agar siwa tidak kaget. B. 3. . Hal ini dapat dikaji dengan hasil angket yang diisi oleh siwa menunjukkan respon siswa terhadap penerimaan EQ adalah 86%. Kemudian pada postest siklus II nilai rata-rata tes tata surya siswa menjadi 80 dan ketuntasan belajar klasikal menjadi 88%.47 wawasan keagamaaan siswa pada postest siklsus I dan siklus II. 4. Hal ini dapat dikaji dari hasil angket yang menunjukkan 73% dari jumlah siswa menerima baik Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) ini. maka disarankan agar : 1.

Materi pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya dibuat dalam bentuk CD pembelajaran agar lebih membantu siswa memahami pesan yang ingin dasampaikan. Modul pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya dikembangkan dengan lebih baik dan lebih menarik disertai gambar-gambar pendukung materi. 4.48 2. . Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) diterapkan pada pokok bahasan yang lain. 3.

Arikunto. Jakarta: Gema Insani. Goleman. 2004. Marthen. Ginanjar. Suharsimi. 2000. Nanang. Jakarta: Amzah. Kurikulum 2004 Standard Kompetensi Mata Pelajaran Sains. Max. Emotional Qoutient (Kecerdasan Emosional). 1997. Mastuhu. Anni. Chatarina. Semarang: Unnes Press. Daniel. Ghulsyani. Bandung: Mizan. Jakarta: Logos. Depdiknas. Mahdi. 2004. Gojali. Psikologi Belajar. 2003. Lubis dan Widayana . 2001. 1984. ESQ Power.2003.49 DAFTAR PUSTAKA Ali. Jakarta: Rineke Cipta. 1999. 2003. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. Darsono. Guru Teladan Dibawah Bimbingan Allah. 2004. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bandung: Angkasa. 2002. Al-Qur‟an Tentang Alam Semesta. Pendidikan dan Sains dalam Prespektif Tafsir Hermeneutika. Fisika SMA Kelas X Semester 1. Belajar dan Pembelajaran. ESQ ( Emotional Spiritual Qoutient). . 1986. Jakarta: Rineka Cipta. Manusia. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Jakarta: Depdiknas. Ginanjar. Jakarta: Arga. Suplemen Fisika Untuk Peningkatan Imtaq Siswa SMA. Ary. Memberdayakan Sistem Penddikan Islam. Muhammad. 2003. Kanginan. Departemen Pendidikan Nasional. Fislafat Sains Menurut AL-Qur‟an. Jakarta: Bagian Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru. 2002. Ary. Mahmud Samir. El-Fandy. Jakarta: Arga. Jamaluddin. Semarang: IKIP Semarang Press. Al-Munir.Jakarta: Erlangga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Suherman. 2003. Zohar dan Marshall. Jakarta: Insan Cendikia. Fisika. Al-Qur‟an Sumber Pengetahuan. Jakarta: Balai Pustaka. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. Naskah Keterkaitan 10 Mata Pelajaran Di SMU dengan Imtaq. Yusuf. Bandung: Wijaya Kusumah Sukidin. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Taufiq. 2002. 2002. Ali. Evaluasi Pendidikan. 2003. Strategi Pembelajaran Fisika. Erman. Evaluasi Pendidikan Untuk Matematika. Revolusi IQ. 1990. _____. 1999. Manajemen Tindakan Kelas. Supriyono. 2002. EQ. Bandung: Mizan. Pasaik. SQ Antara Neurosains dan Al-Qur‟an. 2002. . 2002. _____. Bandung: Pustaka Setia. Jakarta: Bumi Aksara Sudjana. 2003. SQ Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berfikir Integralistik Dan Holistik Untuk Memahami Kehidupan. Jakarta: Bagian Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru. Metode Statistika. 1992. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. _____. Bandung: Mizan. Kamus Besar Bahasa Indonesia DEPDIKNAS. Jakarta: Rineka Cipta. Master Plan Kesiswaan SMA Islam Hidayatullah Semarang. _____. Malang: Universitas Negeri Malang.50 Mulyasa. Bandung: Rosda Karya. 2001. Semarang: SMA Islam Hidayatullah. Wawasan Islam. Kurikulum 2004 Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Fisika. Rahman. 2003. Afzakir. Slameto. 2003. Bandung: Tarsito. Departemen Pendidikan Nasional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful