P. 1
SKRIPSIQ

SKRIPSIQ

|Views: 503|Likes:
Published by Taucho Wahyu Subuh

More info:

Published by: Taucho Wahyu Subuh on Mar 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/21/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. ALASAN PEMILIHAN JUDUL
  • B. RUMUSAN MASALAH
  • C. TUJUAN PENELITIAN
  • D. MANFAAT PENELITIAN
  • E. PENEGASAN ISTILAH
  • G. SISTEMATIKA SKRIPSI
  • lampiran
  • A. Hakekat Belajar dan Pembelajaran
  • B. Konsep Emotional Spiritual Quotient (ESQ)
  • 2. Formula ESQ
  • C. Aplikasi ESQ dalam Pembelajaran
  • D. Fisika Pokok Bahasan Tata Surya
  • A. Penentuan Subyek dan Tempat Penelitian
  • B. Faktor yang Diteliti
  • C. Rencana Penelitian
  • D. Prosedur Penelitian
  • E. Metode Pengumpulan Data
  • F. Analisis Uji Instrumen
  • G. Metode Analisis Data
  • H. Indikator Keberhasilan
  • A. HASIL PENELITIAN
  • 1. Hasil Siklus I
  • Gambar 4. Grafik wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I
  • 2. Hasil Siklus II
  • Gambar 5. Grafik wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus II
  • Tabel.3. Nilai postest tata surya siklus I dan siklus II
  • Gambar 6. Grafik nilai tes tata surya siswa siklus I dan siklus II
  • 3. Hasil Penilaian Psikomotorik dan Afektif Siswa
  • Tabel.4. Penilaian keterampilan psikomotorik siswa
  • Tabel.5. Penilaian keterampilan afektif siswa
  • 4. Hasil Angket Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ
  • B. PEMBAHASAN
  • A. Kesimpulan
  • B. Saran

PEMBELAJARAN FISIKA BERWAWASAN ESQ (EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT) PADA POKOK BAHASAN TATA SURYA KELAS VIII SEMESTER

2 SMP TAKHASSUS AL-QUR’AN 2 DERO DUWUR TAHUN AJARAN 2011/2012 UNTUK MENINGKATKAN WAWASAN KEAGAMAAN SISWA

SKRIPSI

Diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata 1 Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh: Nama NIM Jurusan Program Studi : Vidinar Ardian Aditya : 1208038 : Fisika : FITK

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM 2006

ABSTRAK Pambudi, Wasis. 2006. Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) Pada Pokok Bahasan Tata Surya Kelas X Semester 1 SMA Islam Hidayatullah Semarang Tahun Ajaran 2005/2006 untuk Meningkatkan Wawasan Keagamaan Siswa. Skripsi. Jurusan Fisika, FMIPA. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I : Dra. Dwi Yulianti, M.Si Pembimbing II : Dra. Langlang H, M.App. Sc. Kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah yang berbasis Islam selama ini masih seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah umum. Padahal di sekolah-sekolah yang berbasis Islam telah dianjurkan untuk melakukan pembelajaran yang mengaitkan antara materi pelajaran dengan ayat-ayat Al-Qur‟an yang sesuai. Pembelajaran yang mengaitkan antara materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an ini merupakan pembelajaran berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient), yaitu pembelajaran yang dalam satu mata pelajaran terdapat unsur IQ, EQ dan SQ sekaligus. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu “apakah dengan pembelajaran Fisika berwawasan ESQ dapat meningkatkan wawasan keagamaan siswa terutama di sekolah yang berbasis agama Islam?”. Sedangkan tujuan penelitian ini untuk megetahui apakah penelitian ini mampu menjawab permasalahan yang ada. Penelitian ini dilakukan dengan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilakukan dalam dua siklus. Data masukan dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif yang terdiri dari: data kondisi awal siswa, data hasil belajar siswa dan data mengenai respon siswa terhadap pembelajaran Fisika berwawasan ESQ. Pembelajaran Fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya dapat meningkatkan wawasan keagamaan siswa. Hal ini dapat dikaji dengan meningkatnya nilai wawasan keagamaan siswa dari pretest, postest siklus I dan postest siklus II. Sesuai yang diungkapkan oleh Djazuni (2003), bahwa dengan pembelajaran yang mengaitkan antara materi dengan ayat-ayat AlQur‟an, akan memberikan wawasan keagamaan yang dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran Fisika berwawasan ESQ ini ternyata juga tidak mengurangi konsentrasi pemahaman siswa terhadap materi Tata Surya sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai postest materi tata surya seiring dengan meningkatnya nilai wawasan keagamaaan siswa pada postest siklus I dan siklus II. Dalam mengawali pembelajaran guru hendaknya mengajak siswa untuk berfikir lebih dalam tentang fenomena alam semesta sebelum siswa diberikan ayatayat Al-Qur‟an sebagai pengaitan dari materi Tata Surya. Hal ini bermanfaat untuk pemanasan memasuki pembelajaran agar siwa tidak kaget. Selain itu juga modul pembelajaran Fisika berwawsan ESQ dirasa perlu untuk dikembangkan lebih baik dan lebih menarik guna membantu pemahaman siswa terhadap pesan-pesan yang ingin disampaikan. Kata Kunci: Pembelajaran, ESQ, Wawasan Keagamaan

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka” (QS: Ali „Imran: 190-191) “Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri ?.” (QS: Fussilat: 33) “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS: Al-Baqarah: 45)

Persembahan: Skripsi ini ku persembahkan kepada: 1. Ibunda, Ayahanda, dan keluarga tercinta, yang telah bersimpuh keringat dan berderai air mata menyertai setiap lagkah ananda. 2. Para guruku, dosenku, kyaiku, ustadzku, murabbiku, serta mutarabbiku yang telah mengantarkan diri ini menjadi manusia yang sesungguhnya dan seutuhnya. 3. Saudaraku yang telah mengenalkan, mengantarkan dan setia menemani diri ini menapaki jalan yang amat indah: a‟tajapc, bang jucky, aa aenal, eko kris, u‟chipe, u‟indie, u‟rohe, u‟puttea. 4. Adik-adiku tersayang di fisika, yang telah mengibarkan bendera dan menjaganya agar tetap berkibar, walau banyak yang berusaha untuk menurunkannya. 5. Ikhwah fiillah, para pejuang dakwah yang tetap tegap dalam nikmatnya amar ma‟ruf nahi munkar, walau aral senantiasa menghadang dan menerjang. 6. Cah Baitussalam Cost, jangan nakal ya..!

v

Si NIP. Kasmadi Imam S. Langlang H. M. 131404299 1. 131404299 Dra. Dwi Yulianti. 130529522 Anggota Penguji Dra. 130781011 Pembimbing I Drs. NIP. Sc. M. Sekretaris.Si NIP 131125643 Pembimbing II 2. Dra. Sc. M. 131993876 ii .App.Si. NIP. Sukisno. M.App. NIP. 131993876 3. NIP. Dra.Si. Drs. Mirwan. Langlang H. M. M.S.PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan di depan sidang Panitia Ujian Skripsi jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang pada: Hari : Selasa Tanggal : 4 April 2006 Panitia Ujian Ketua. Dwi Yulianti. M. M. NIP. Drs.

Semarang. April 2006 Penulis. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. bukan jiplakan dari hasil karya orang lain. Wasis Pambudi iv .PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini adalah benar-benar hasil karya sendiri.

para sahabat. selaku dosen wali. M.S. selaku Rektor Universitas Negeri Semarang. SH. rabb semesta alam yang memegang kekuasaan di bumi dan di langit. Drs. Oleh karena itu. selaku Dekan FMIPA Unnes.KATA PENGANTAR Senandung kalimat syukur tak henti-hentinya terpanjatkan kepada Allah swt. Sukisno. Drs. Mirwan. Kasmadi Imam.Si. serta para pengikutnya yang dengan sepenuh jiwa. 3. vi . 2. raga. penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada: 1. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda nabiyullah Muhammad saw. MM. dan hartanya senantiasa istiqomah memegang teguh diin yang mulia ini. keluarga penulis. Semoga skripsi ini menjadi ladang amal ibadah bagi penulis. serta semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. atas ridha Allah semata penulis akhirnya mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) Pada Pokok Bahasan Tata Surya Kelas X Semester 1 SMA Islam Hidayatullah Semarang Tahun Ajaran 2005/2006 Untuk Meningkatkan Wawasan Keagamaan Siswa “. Alhamdulillah. T. M. Dia lah Allah yang senantiasa mencurahkan samudera kasih sayang-Nya kepada seluruh umat manusia di hamparan dunia ini. A. Drs.Si. Dr. terlupa. M. M. walaupun banyak dari manusia terlena. keluarga. Penulis menyadari betul banyak pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. bahkan dengan kesombongannya berjalan begitu angkuh di muka bumi ini. selaku ketua jurusan Fisika FMIPA Unnes 4. Soegito.

gathot.Sc. nafis.Pd. u‟indie. Jazakumullah atas segala do‟anya. 6. 7.App. M. FMI. Saudaraku Alif Education (a‟tajapc. M. dan kritik selama penyusunan skripsi ini.5. Hizbud Da‟wah yang telah memberikan banyak hal. Dra. M. Kasmad. 10. atas layanan administrasinya yang sangat baik. haryani. UKKI. Perpusfi. Madrasah Qolbun Salim. Demikian penulisan skripsi ini. S. u‟puttea). Dwi Yulianti. dan Giri atas dorongan semangatnya. Ust. 9. selaku dosen pembimbing utama yang telah sabar memberikan saran. KAMMI. masukan. Ade-adeku tersayang di orbit dakwah fisika. selaku dosen pembimbing pendamping yang telah meluangkan waktunya demi keselarasan dan kerapian skripsi ini. aa aenal. Hartono. HIMAFI. Langlang H. ika. semoga bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Dra. yuni. bimbingan serta do‟anya yang tulus. 14. 11. Semarang. dan pembaca pada umumnya. 15. ICC Semarang. ary. mba yani. bang jucky. u‟rohe. KALF. Faiq. Bu Wiet (TU Jurusan Fisika). FKIF. u‟chipe. Drs. atas kerja samanya. atas kebersamaan dalam dakwah dan ukhuwahnya. Nuri. Usep Badrudzaman dan Ust. LPK Ar Rahman.Si. 13. gus faiz. selaku Kepala SMA Islam Hidayatullah Semarang yang telah memberikan ijin penelitian.fisika‟01. April 2006 Penulis vii . Temen-temen seperjuangan dalam bimbingan skripsi: kang prie. Yusdaim. Iqro Club Semarang. desi dan sahabatku P.Pd dan siswa-siswi kelas X-1 dan X-2 SMA Islam Hidayatullah Semarang. TRUST Community Semarang. yuyun. 8. 12. Setyawan yang telah setia memberikan ruh motivasi. Listiyono.

............ viii DAFTAR TABEL....................................................................... Rumusan Masalah ............................................ Alasan pemilihan judul ..........DAFTAR ISI JUDUL ................................................ Hakekat Belajar dan Pembelajaran ................................................................................................ Sistematika Skripsi.......... v KATA PENGANTAR ................................................ xiii BAB I PENDAHULUAN A............................................................... iii PERNYATAAN ...... vi DAFTAR ISI.................. xi DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................................................................................................................. 4 D.................................................................................................................... 1 B............................................................................................................................................................................................................... Penegasan Istilah........................................... 7 2.............................. 4 C......................................... Tujuan Penelitian .................. 5 F........ i HALAMAN PENGESAHAN .... 6 BAB II LANDASAN TEORI A............... 8 viii ................................................................. 7 1........................................................................... Teori Pembelajaran ...................................................... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN .............................. Teori Belajar Secara Umum................................................................................ ii ABSTRAK .......................................... 4 E......................................................................................... Manfaat Penelitian ............ xii DAFTAR LAMPIRAN....................

..................................................................... Kaitan Fisika dengan Al-Qur‟an ...............................B..... Metode Analisis Data..... 15 D................................................................ 31 G.................... 37 3.... 20 F....................................... 36 2............................... 41 ix .. EQ dan SQ ................... Hasil Siklus II ..... Metode Pengumpulan Data.............................................................................. Prosedur Penelitian . 25 D............ 34 H................................... 18 E......... Penentuan Subyek dan Tempat Penelitian ...... Hasil Penilaian Psikomotorik dan Afektif ................................................................................. Formula ESQ ................................... Indikator Keberhasilan......................................................................................................................................................................... 27 E........... Hasil Angket Pembelajaran Fisika berwawasan ESQ........................ Faktor yang Diteliti ................. 11 C..... 30 F.......... 25 B..................................... Pembahasan......... Hasil Penelitian ................... 9 1................................................................................................ 22 BAB III METODE PENELITIAN A............................................................................. Fisika Pokok Bahasan Tata Surya................................... 40 B............................................ 39 4. Konsep Emotional Spiritual Quotient (ESQ).................. IQ.................................................. 36 1....................... Rencana Penelitian....... 9 2........ Pendidikan Fisika Berbasis Islam ............. Aplikasi ESQ dalam Pembelajaran ........ 25 C.............................................................. Hasil Siklus I... 35 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.............. Analisis Uji Instrumen .........

.........................................................................................................BAB V KESIMPILAN DAN SARAN A.. .................................................................................. 46 B.............. Saran…................................... Kesimpulan ...... 51 x ............................. 49 LAMPIRAN-LAMPIRAN .... 47 DAFTAR PUSTAKA ............................................

....6.....3....... 36 Tabel.......................... 38 Tabel....... 40 Tabel... Hasil angket tentang Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ . 41 xi .. Nilai postest tata surya siklus I dan siklus II ...... 39 Tabel....4.... Penilaian keterampilan psikomotorik siswa...........DAFTAR TABEL Tabel 1.......................5................2...... Nilai Wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus II .............. Penilaian keterampilan afektif siswa ... 40 Tabel............................. Nilai Wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I.............

.. 15 Gambar 3. Grafik nilai postest Tata Surya siklus I dan siklus II . 26 Gambar 4....... 39 xii ...............38 Gambar 6...........14 Gambar 2..... Grafik wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I ......... Grafik wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I ..................... EQ dan SQ dalam hubungan individu manusia...DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Formula ESQ dimana SQ menjadi pusat IQ dan EQ .... Bentuk fungsi IQ. Skema langkah-langkah penelitian tindakan kelas ...............37 Gambar 5.......

.. Soal dan jawaban pretest/ postest Wawasan Keagamaan Siswa ................................................................ 109 Lampiran 12...................................................................... 108 Lampiran 11.............................................. Modul Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ........ Hasil analisis uji soal materi Tata Surya ................... Lembar penilaian psikomotorik dan afektif siswa.. 82 Lampiran 7... 115 xiii ..................................... Nilai hasil pembelajaran siswa .......... Soal dan jawaban uji Wawasan Keagamaan Siswa..... Soal dan jawaban Uji Materi Tata Surya.......................... 90 Lampiran 8...101 Lampiran 9......... 53 Lampiran 3........ 78 Lampiran 6........................ Surat-surat .. 51 Lampiran 2..DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1................................................................ Soal dan jawaban pretest/ postest Materi Tata Surya........... 104 Lampiran 10.............. Rencana Pembelajaran............................... 113 Lampiran 13.. Silabus Fisika materi pokok tata surya...... 57 Lampiran 4........ 74 Lampiran 5......... Hasil analisis uji soal Wawasan Keagamaan Siswa ... Angket Pembelajaran Fisika Berwawasn ESQ dan hasilnya .

MTs.BAB I PENDAHULUAN A. MA ataupun Sekolah Islam Terpadu. Dapat dikatakan pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah selama ini masih bertumpu pada pencapaian kecerdasan intelektual atau IQ saja. Pada sekolah-sekolah tersebut. kegiatan belajar mengajar mempunyai visi membentuk siswa yang seimbang dalam dzikr. Padahal menurut berbagai penelitian. bahkan menurut . Fenomena yang muncul di lapangan selama ini menunjukan bahwa di sekolah-sekolah berbasis Islam segi pembelajarannya masih cenderung berorientasi pada materi yang ada seperti terjadi di sekolah-sekolah umum. ALASAN PEMILIHAN JUDUL Pada sekolah-sekolah yang berbasis Islam seperti MI. Sekolah-sekolah seperti ini diharapkan mampu melahirkan pribadi-pribadi yang unggul dalam ilmu dan juga iman. fikir maupun ikhtiar. IQ hanya berperan dalam kehidupan manusia dengan besaran maksimum 20%. Pembelajaran yang mengaitkan materi pelajaran dengan nilai-nilai keimanaan terutama yang terdapat pada ayat-ayat Al-Quran belum dilakukan. Pembelajaran di sekolah-sekolah berbasis Islam dituntut untuk mengaitkan antara mata pelajaran yang sedang disampaikan dengan nilainilai keimanan terutama yang terdapat pada ayat-ayat Al-Qur‟an. seperti telah dianjurkan baik oleh Departemen Agama maupun Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional tahun 2003. perlu adanya pembelajaran yang berbeda dengan pembelajaran-pembelajaran di sekolah umum lainnya.

dan SQ (Spiritual Quotient) dalam satu kesatuan. padahal sisi EQ dan SQ adalah yang terpenting. menyebutkan bahwa peranan IQ hanya 6% dalam kehidupan manusia (Ginanjar. Menurut Ginanjar (2001) pendidikan di Indonesia hanya menekankan sisi akademik. tetapi juga berorientasi pada kecerdasan emosi (EQ) dan juga kecerdasan spiritual (SQ) dalam satu kesatuan yang terintegrasi sehingga akan tercapai keseimbangan antara IQ. Ketua Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional tahun 2003 menyatakan bahwa ada dua hal yang membuat pembelajaran berwawasan ESQ seperti ini terasa penting. 2003: 61). Stein. dan Howard E. terutama yang menyangkut tentang pembentukan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki sikap dan wawasan keimanan. EQ. yaitu sisi materi pelajaran seperti biasanya dan sisi materi wawasan keagamaan. Ph. 2 Membantu siswa untuk dapat memahami dua sisi materi sekaligus.D. visi dan misi pendidikan nasional. 2 .D. Book. Oleh karena itu. yaitu: 1 Membantu tercapainya tujuan. dan SQ. dikarenakan ESQ merupakan suatu konsep formula yang menyatukan unsur IQ (Intellegence Quotient).M. EQ (Emotional Quotient). sudah saatnya pembelajaran bukan hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual (IQ) saja.2 Steven J. Pembelajaran seperti inilah yang dinamakan pembelajaran berwawasan ESQ.

Berdasarkan kepentingan di atas maka dirasakan perlu untuk membuat penelitian dengan judul “PEMBELAJARAN FISIKA BERWAWASAN ESQ (EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT) PADA POKOK BAHASAN TATA SURYA KELAS X SEMESTER 2 SMP TAKHASSUS AL-QUR’AN 2 DERO DUWUR 3 . seperti materi tentang matahari. Oleh karena itu. Dengan demikian pembelajaran seperti ini merupakan pembelajaran berwawasan ESQ (Emitional Spiritual Quotient) seperti apa yang telah dijelaskan di muka. Dalam pembelajaran fisika materi pokok tata surya. akan menyokong sisi kecerdasan intelektual (IQ) siswa. maupun SQ dalam satu kesatuan yang terintregrasi. Apalagi dengan materi pokok tata surya akan semakin menunjang siswa untuk memahami ketaruturan dan keseimabangan alam semesta yang telah diciptakan Allah swt. Maka dalam pembelajaran ini terdapat unsur IQ. Materi tata surya mencakup banyak hal tentang fenomena alam raya ini. sebenarnya ilmu fisika bisa dimanfaatkan untuk membantu siswa mengenal alam secara menyeluruh. planet dan benda angkasa lainnya. EQ. Kemudian dalam penyampaian pesan-pesan keimanan yang terdapat dalam Al-Qur'an harapannya akan menyokong sisi kecerdasan emosional (EQ) siswa maupun kecerdasan spiritual (SQ) siswa.3 Kenyataan di lapangan menunjukan selama ini mata pelajaran sains seperti fisika di sekolah-sekolah berbasis islam masih diberikan seperti di sekolah-sekolah umum. Hal ini membuat kita bisa menyelami lebih dalam di balik materi secara teoritik. sehingga siswa akan memahami begitu dahsyatnya ciptaan Allah swt. Kita akan semakin mantap dengan keyakinan iman kita dengan mempelajari ayat-ayat Allah yang tertuang dalam alam ini. Padahal mata pelajaran fisika merupakan ilmu yang memposisikan alam sebagai tinjauan objek keilmuannya.

maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini yaitu “apakah dengan pembelajaran fisika berwawasan ESQ dapat meningkatkan wawasan keagamaan siswa terutama di sekolah yang berbasis agama islam?”. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran fisika berwawasan ESQ dapat meningkatkan wawasan keagamaan siswa terutama di sekolah yang berbasis agama islam. MANFAAT PENELITIAN Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. diharapkan dengan pembelajaran berwawasan ESQ ini akan mempermudah guru dalam mengaitkan materi 4 . B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas. tanpa mengurangi perhatian terhadap hasil yang hendak akan dicapai dari materi yang sesungguhnya sesuai dengan kurikulum yang berlaku. tanpa mengurangi perhatian terhadap hasil yang hendak dicapai dari materi yang sesungguhnya sesuai dengan kurikulum yang berlaku. C. Bagi siswa yang belajar. Bagi penyelenggara pembelajaran. penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan wawasan keagamaan siswa terutama di sekolah yang berbasis agama islam. 2.4 SEMARANG TAHUN AJARAN 2011/2012 UNTUK MENINGKATKAN WAWASAN KEAGAMAAN SISWA “. D.

Berwawasan Dalam kamus besar bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional disebutkan pengertian wawasan adalah pandangan. b. Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. Jadi berwawasan memiliki pengertian yang mempunyai pandangan atau tinjaun terhadap suatu hal c. Wawasan Keagamaan Wawasan keagamaan adalah pengetahuan tentang hal-hal yang terkait dengan pemahaman agama. meneliti. memandang. 2001). ataupun meninjau. Sedangkan tujuan wawasan keagamaan dalam Adapun istilah-istilah yang perlu 5 . 2003) d. sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Darsono. dan SQ (Spiritual Qoutient) dalam satu kesatuan yang terintegrasi ( Ginanjar.5 pelajaran dengan pesan-pesan ilahiyah untuk meningkatkan kepahaman yang mengarah kepada peningkatan iman dan taqwa baik guru maupun siswa. Emotional Spiritual Quotient (ESQ) ESQ ialah suatu formula yang menyatukan unsur IQ (Inttelegence Qoutient). E. EQ (Emotional Qoutient). PENEGASAN ISTILAH Untuk menghinadari salah penafsiran terhadap judul penelitian ini maka ada beberapa istilah yang perlu ditegaskan. ditegaskan yaitu: a.

berisi kesimpulan dan saran. SISTEMATIKA SKRIPSI Sistematika dalam skripsi ini disusun dengan tujuan agar pokokpokok masalah dibahas secara urut dan terarah. Sistematika terdiri dari tiga bagian yaitu bagian pendahuluan. 6 . C. A. Bab III Metode penelitian Bab IV Hasil penelitian dan pembahasan meliputi persiapan pelaksanan dan analisa data serta pembahasan. Bagian akhir skripsi. bagian isi. abstrak. G. bagian akhir. kata pengantar. halaman pengesahan. berisi judul. daftar isi dan daftar lampiran. Bab II Landasan teori. halaman motto dan persembahan. penegasan istilah. berisi teori-teori yang digunakan untuk melandasi penelitian dan hipotesis yang dirumuskan yang merupakan tinjauan pustaka.6 pendidikan adalah kesadaran diri bahwa hasil yang diharapkan dan proses pendidikan yang dilaksanakan harus dijiwai oleh ajaran Islam. adalah daftar pustaka. Bagian isi skripsi dibagi menjadi lima bab: Bab I Pendahuluan. dan lampiran-lampiran yang melengkapi uraian-uraian pada bagian isi dan tabel-tabel yang digunakan. berisi latar belakang. perumusan masalah. Bab V Penutup. B. Bagian pendahuluan skripsi. tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika skrupsi.

2) Perubahan perilaku itu terjadi karena didahului oleh proses pengalaman. 3) Perubahan perilaku karena belajar bersifat relatif permanen.BAB II LANDASAN TEORI A. maka diperlukan perbandingan antara perilaku sebelum dan sesudah mengalami kegiatan belajar. Dari keempat pengertian tersebut. Untuk mengukur apakah seorang telah belajar. Gagne dan Berline dalam Darsono (2000) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Slavin juga dalam Darsono (2000) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh penglaman. Morgan masih dalam Darsono (2000) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktek atau pengalaman. Dapat dikatakan jika seorang anak belajar maka akan membuat tingkah lakunya berubah dan berkembang ke arah yang lebih baik. Teori Belajar Secara Umum Konsep tentang belajar telah banyak didefinisikan oleh pakar psikologi. Hakekat Belajar dan Pembelajaran 1. 7 . tampak bahwa konsep tentang belajar mengandung tiga unsur yaitu: 1) Belajar berkaitan dengan perubahan tingkah laku. Jadi secara umum belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku.

dapat berupa peserta didik. Respon. Tujuan pembelajaran adalah membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku. keterampilan. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan. keterampilan. (b) Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar. merupakan tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori. Pembelajar. berisi pelbagai kemampuan yang berupa pengetahuan. Adapun ciri-ciri pembelajaran antara lain: (a) Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. 2. Teori Pembelajaran Sesuai dengan pengertian belajar secara umum. 4. 2. Pembelajaran adalah kegiatan yang dilalakukan secara sadar dan sengaja. 3. . Rangsangan (stimulus). baik kuantitas maupun kualitas. Memori. Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. Oleh karena itu pembelajaran mempunyai tujuan. merupakan segala sesuatu yang berperan merangsang penginderaan pembelajar. sehingga tingkahlaku siswa berubah ke arah yang lebih baik. dari aktivitas yang dilakukan sebelumnya. warga belajar dan peserta pelatihan.8 Belajar merupakan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat pelbagai unsur yang saling berkaitan sehingga mengakibatkan perubahan tingkah laku. dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa.

IQ (Intellegence Quotient). mengoperasikan komputer. IQ ini mulai digunakan pada perang dunia pertama untuk mengukur kemampuan seseorang. Kemudian teori ini dibawa ke Amerika yaitu di Satandford sehingga kemudian dikenal dengan Standford Binet. EQ (Emotional Quotient). B. Dengan kecerdasan ini manusia mampu menghitung. baik secara fisik maupun psikologis. Menurut Ginanjar (2003) IQ merupakan suatu kecerdasan yang berkaitan dengan kesadaran akan ruang. Secara biologis IQ terletak pada otak bagian luar atau disebut dengan neocortex. (f) Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran. Konsep Emotional Spiritual Quotient (ESQ) 1. maupun melakukan perhitungan yang rumit sekalipun. (d) Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik. kesadaran akan suatu yang tampak dan penguasaan matematik.9 (c) Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa. . belajar bahasa asing. (e) Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. memahami rumus-rumus fisika. belajar aljabar. dan SQ (Spiritual Quotient) IQ (intelligence Quotient) atau kecerdasan intelektual pertama kali ditemukan oleh Binet pada tahun 1905 di Paris Perancis.

SQ (Spiritual Qoutient) atau kecerdasan spiritual merupakan temuan terkini secara ilmiah yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. EQ secara biologis terletak pada otak tengah atau lebih dikenal dengan lymbic system.10 EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional ditemukan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995 yang tertuang dalam bukunya “Working With Emotional Qoutient”. bagaimana harus bergaul. Inilah pusat spiritual yang terletak diantara jaringan otak dan syaraf. Pembuktian ilmiah tentang kecerdasan spiritual diantaranya adalah riset ahli psikologi dan ahli saraf. Kecerdasan ini cenderung berperan dalam hubungan antara individu yang satu dengan yang lain. bagaimana menyayangi orang lain. Hal ini berkaitan bagaimana mereka saling berbicara dengan menghormati lawan bicara.S Ramachandran dan timnya dari California University. kemampuan untuk menguasai diri untuk tetap dapat mengambil keputusan dengan tenang. Menurut Goleman (1995). dan mengungkapkan persaan hati. mencintai. dan mengatur suasana hati. Suatu jaringan syaraf yang secara literatur “mengikat” pengalaman kita . yang menemukan eksistensi God-Spot dalam otak manusia. EQ merupakan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Sedangkan menurut Ginanjar kecerdasan emosioanal merupakan kemampuan untuk mengendalikan emosi. Michael Persinger pada awal tahun1990an. Kemudian bukti yang kedua adalah riset ahli syaraf Austria. masing-masing dari Harvard University dan Oxford University melalui riset yang sangat komperhensif. Wolf Singer pada era 1990-an telah menunjukan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. dan lebih mutahir lagi tahun 1997 oleh ahli syaraf V. mengendalikan dorongan hati.

Florida. lalu menusuknya di . Formula ESQ Cukup banyak orang yang memiliki IQ di atas rata-rata. tetapi banyak diantara mereka tidak berhasil dalam kehidupan pribadi maupun dalam pekerjaan. kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. adalah siswa terpandai di kelas dua yang selalu mendapatkan nilai A. Ada sebuah cerita yang tragis di SMA Coral Springs. Jason H. Jason membawa sebilah pisau dapur ke sekolah. yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. penolong sesama. Kemudian ia menemui guru fisikanya di laboratorium. Yang memiliki IQ tinggi cenderung kurang pandai bergaul. Tetapi pada suatu tes fisika. Masih menurut Zohar dan Marshall SQ merupakan kecerdasan yang paling tinggi dalam diri manusia. 2.11 secara bersama untuk “hidup lebih bermakna”. Ia bercita-cita masuk Fakultas Kedokteran di Harvard. karena IQ hanya berperan ketika individu menjadi makhluk pribadi. Karena yakin bahwa nilai 80 ini yang hanya B akan menghalangi cita-citanya. setia kawan. bertanggungjawab dan ramah tamah. Menurut Zohar dan Marshall (2002) kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value. tidak berperasaan dan egois. Sedangkan yang memiliki IQ biasa-biasa saja tergolong lebih luwes dalam bergaul. Justru kadang kalanya orang yang memiliki IQ biasa-biasa saja sebagian besar dari merekalah yang kemudian menjadi orang-orang yang sukses dalam kehidupan pribadi maupun dalam pekerjaannya. Dapat dikatakan di dalam kecerdasan spiritual inilah terdapat fitrah manusia sebenarnya. guru fisikanya hanya memberi nilai 80. Poligruto.

tetapi kepandaiannya digunakan untuk kepentingan pribadinmya semata. Ph. dibutuhkan kecerdasan yang kedua yaitu kecerdasan Emosioanal atau EQ. IQ hanya berperan dalam kehidupan manusia dengan besaran maksimum 20% . Stein. bahkan menurut Steven J. Tapi coba bayangkan apa yang terjadi jika kecerdasan ini dimiliki orang-orang yang “jahat”.D. inegritas.2003: 61). orang-oarang yang memilki ambisi pribadi yang menghancurkan. Oleh karena itu Ginanjar juga menyebutkan EQ sebagai serangkaian kecakapan untuk melapangkan jalan di dunia yang penuh liku-liku permasalahan sosial.M. Maka hal ini telah membuktikan bahwasanya IQ dan EQ saja juga tidak cukup. loyalitas. Orang yang memiliki kecerdasan emosional akan lebih menghormati orang lain dan lebih membuat orang lain senang. dan para koruptor juga memiliki kemampuan ilmu-ilmu yang demikian?. banyak orang yang dapat membantu dalam mencapai kesusksesan kita. Dengan kecerdasan emosional seseorang mampu menata dirinya terutama dalam masalah hubungan dengan orang lain. Hal inilah yang justru telah mempelancar perjalanan kita dalam menempuh hidup ini dan berhasil dalam pekerjaan kerena punya banyak link.12 tulang selangka sebelum ia berghasil ditangkap dengan sangat susuh payah. Dari kisah nyata ini membuktikan bahwa mengandalkan IQ saja jelas tidak cukup untuk kehidupan manusia. Bukankah Stanlin. Berdasarkan hal tersebut di atas. menyebutkan bahwa peranan IQ hanya 6% dalam kehidupan manusia (Ginanjar. Mereka juga memiliki komitmen. dan Howard E. Menurut berbagai penelitian. Musolinni.D. Hitler. Meraka adalah orang-orang yang pandai dan cerdas otaknya. Book. . pandai bergaul dan pandai menyenangkan orang demi tujuan yang tidak mulia sebagai ambisinya.

motivasi diri. yaitu agar manusia bisa memanfaatkan ilmu pengetahuan yang teraplikasi dengan terwujudnya teknologi secara efektif maupun efisien. seperti empati. serta berprinsip “hanya karena Allah swt”. namun tanpa SQ yang mengajarkan nilai-nilai kebenaran. 2002: 4).13 Hal ini menunjukkan masih dibutuhkan nilai-nilai lain yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya. melalui langkahlangkah dan permikiran yang bersifat fitrah. Jadi IQ memang penting kehadirannya dalam kehidupan manusia. perlu dicatat secara jelas bahwa kedua kecerdasan ini memiliki kelemahan yang signifikan dalam mengaktualkan potensi dasar ortak manusia. Dalam kata lain. yaitu kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ). dan memiliki pola pikir tauhidi (integeralistik). Namun. Hitler-Hitler baru ataupun Fir‟aun-Fir‟aun kecil di muka bumi ini. menuju manusia yang seutuhnya. Ukuran IQ memiliki kelemahan dalam hal pemberian peluang bagi nuansa-nuansa emosional. sama sekali menepis peranan spiritual dalam mendorong kesuksesan. pengendalian diri dan kerja sama sosial. Jadi peranan SQ dalam kehidupan manusia adalah membangkitkan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap prilaku dan kegiatan. SQ menjadikan kita bagaimana agar membuat semua . Menurut Pasaik (2003) kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) merupakan kunci-kunci kesuksesan yang betulbetul mengorek kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh manusia hingga ke dasar-dasarnya. Kemudian EQ juga memiliki peranan begitu penting dalam membangun hubungan antar manusia yang efektif sekaligus perannya dalam meningkatkan kinerja. Sedangkan EQ sebagaimana dengan IQ. maka keberhasilan itu hanya menghasilkan para diktaktor. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif (Zohar dan Marshall.

Dan inilah hakikat kita sebagai manusia yang sesungguhnya. dan SQ dalam hubungan individu manusia (Sumber: Ginanjar. 2001) . Jadi ESQ meninjau aktivitas manusia dari ketiga kecerdasan. Sang Maha Esa. dengan memikirkan kebermaknaan dia bagi orang lain serta menjadikan aktivitas untuk ibadah. mawas. Bagaimana bekerja dengan cerdas. Begitu juga dalam aktivitas yang lain termasuk di dalamnya aktivitas pendidikan. belajar dan pembelajaran. EQ. potensi IQ. Tuhan Tuhan manusia manusia manusia manusia manusia manusia IQ EQ SQ ESQ Gambar 1. dan juga ikhlas dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dan menggapai keridhaanNya semata. yaitu suatu formula yang menyatukan unsur IQ.14 aktivitas sebagai nilai ibadah kita kepada Allah swt. EQ. dan SQ dalam satu kesatuan yang terintegerasi. Oleh karenanya. Maka munculah formula ESQ. Bentuk fungsi IQ. sehingga kita benar-benar menjalankan apa yang telah disebutkan dalam kalamNya yang mulia: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku” (QS: Adz dzariyat: 56). Maka dengan ESQ ini setiap individu akan melakukan aktivitas dengan kekuatan intelektualnya. EQ. dan SQ perlu di sinergikan kedalam satu formula.

walaupun mereka tidak memahami kandungan yang sesungguhnya dari mata pelajaran yang bersangkutan. 2003) C. dan SQ sebenarnya telah termuat dalam pendidikan di Indonesia. Peranan guru lebih cenderung hanya memberikan materi dan menjawab kesulitan siswa terhadap materi yang diberikan oleh guru. matematika dan mata pembelajaran lainnya. EQ. . Sementara SQ juga dapat ditemukan pada Pendidikan Agama.15 Dimensi IQ Dimensi EQ Dimensi SQ Keterangan: SQ terletak pada dimensi spiritual EQ terletak pada dimensi emosional IQ terletak pada dimensi fisik Gambar 2. Formula ESQ di mana SQ sebagai pusat IQ dan EQ (Sumber: Ginanjar. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya IQ pada pelajaran sains. Hasil yang didapat oleh siswa adalah bagaimana bisa mengerjakan dengan baik soal-soal dari pelajaran-pelajaran tersebut. Keberhasilan siswa dalam belajar diukur dengan nilai yang didapat pada tes ataupun ujian saja. Tetapi semuanya terpetak-terpetak dan tidak terintegerasi dalam satu kesatuan yang saling berhubungan. Aplikasi ESQ dalam Pembelajaran Keberadaan IQ. EQ juga dapat ditemukan pada pendidikan moral baik melalui pendidikan Pancasila maupun pedidikan Kewarganegaraan. IPA.

EQ.16 Makna-makna di balik materi kurang begitu diangkat. yaitu pembelajaran yang tetap memperihatikan unsur IQ. Sehingga hal-hal seperti ini telah menyebabkan ketidak seimbangan kecerdasaan. bahwa pembelajaran yang mengaitkan antara materi fisika dengan ayat-ayat Al- . Begitu juga untuk mata pelajaran yang lain. MA maupun Sekolah Islam Terpadu. Selain itu Al-Qur‟an juga banyak membicarakan pelbagai subyek yang jelas-jelas ilmiah. dan SQ sekaligus. Disebutkan juga oleh Lubis dan Widayana (2003). padahal disinilah peluang agar guru bisa menjalankan tugasnya. pembelajaran yang mengaitkan antara materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. baik IQ. Hal ini dikarenakan antara ayatayat Al-Qur„an dengan teori-teori yang terdapat dalam ilmu fisika terdapat keselarasan. “mengajar sekaligus mendidik siswa”. misalnya fisika dapat mengandung unsur IQ. Formula ESQ merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan dan pembelajaran di sekolah-sekolah. Aplikasi dari pembelajaran berwawasan ESQ salah satunya adalah dengan pembelajaran yang dilengkapi dengan pesan-pesan ilaahiyah dalam ayat-ayat AlQur‟an. maupun SQ pada diri siswa. Menurut Djazuni (2003). EQ. misalnya fisika mudah dikemas dalam pembelajaran berwawasan ESQ. MTs. terutama sekolah-sekolah berbasis agama Islam seperti MI. akan memberikan wawasan keagamaan yang dihayati dalam kehidupan sehari-hari. EQ. Untuk mata pelajaran yang berkaitan dengan alam. Di sekolah-sekolah seperti ini dibutuhkan pembelajaran berwawasan ESQ. dan SQ dalam satu kesatuan yang terintegerasi dalam satu mata pelajaran. Sebagai contoh untuk mata pelajaran sains.

Dengan kata lain. bahwa guru mata pelajaran apa pun dituntut untuk mempunyai andil dan peranan yang besar melalui: a. c. Sebagai bagian untuk meningkatkan pemahaman siswa akan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Penyelarasan konsep iptek dan seni dengan nilai-nilai imtaq. Pencapaian-pencapaian pembelajaran tetap berdasarkan pada rencana dalam kurikulum yang telah digariskan. sub pokok bahasan. .17 Qur‟an akan membuat generasi muda kita (dalam hal ini siswa sekolah) akan memahami betapa besar keagungan Allah. b. Lebih lanjut mereka menyebutkan walaupun pembelajaran mengaitkan materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. pembelajaran berwawasan ESQ bertujuan untuk meningkatkan dan menyelaraskan antara iptek maupun imtaq dalam satu mata pelajaran apapun tanpa terkecuali. Penciptaan suasana kegiatan belajar-mengajar yang betul-betul diarahkan untuk penanaman keimanan dan ketakwaan para siswa kepada Tuhan Yang Maha Esa. masing-masing mata pelajaran dengan nilai-nilai keimananan dan ketaqwaan. lebih rinci disebutkan dalam Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional tahun 2003. Dalam hal ini pembelajaran berwawasan ESQ akan tetap membuat siswa memahami isi materi yang disampaikan guru sesuai dengan kurikulum yang ada. yang sekaligus meningkatkan keimanaan dan ketaqwaan. Pengaitan pokok bahasan. Untuk meningkatkan dan menyelaraskan iptek dan imtaq ini. namun pencapaian pokok bahasan dan sub pokok bahasan tetap tidak berubah.

Fisika Pokok Bahasan Tata Surya Fisika merupakan salah satu cabang besar dari ilmu pengetahuan alam atau yang sekarang lebih dikenal dengan ilmu sains. Penanaman kesadaran dan keyakinan kepada siswa bahwa Allah swt telah menerapkan prisnsip-prinsip keterkaitan alam semesta yang disebut dengan sunnatullah. Apabila siswa menemukan proses pembelajaran yang merangsang. e. maka perhatiannya akan meningkat. sehingga fisika sangat membantu manusia mengenal alam. pengaitan pembelajaran dengan minat siswa adalah sangat penting.18 d. Fisika dapat dikatakan merupakan induk dari segala ilmu yang menyongsong peradaban manusia. Jadi fisika merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sains. Selanjutnya ia mengatakan proses pembelajaran dan materi yang terkaiat dapat merangsang sekumpulan kegiatan belajar. . Seperti yang telah diungkapkan Anni (2004) dalam psikologi belajar. bahwa untuk membangkitkan minat belajar. Pemberian kesadaran kepada para siswa bahwa mereka belajar semata-mata melaksanakan perintah Tuhan dalam hal menuntut ilmu. Fisika juga merupakan ilmu yang memposisikan alam sebagai tinjauan objek keilmuannya. Hal ini dikarena pengelolaan pembelajaran memberikan rangsangan (stimulus) untuk membangkitkan minat mereka sebagai siswa sekolah yang terbiasa berinteraksi dengan ayat-ayat AlQur‟an. D. mengenal begitu dahsyatnya ciptaan Allah swt. Keunggulan lain yang muncul dari pembelajaran berwawasan ESQ yaitu akan membuat siswa sekolah berbasis Islam menjadi lebih antusias dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.

5. sosial. 4.19 Menurut Dehart menyarankan kurikulum sains masa depan perlu didasarkan pada hubungan antar manusia. Siswa memiliki pengetahuan dan mampu mendemontrasikan pemahamannya tentang konsep/prinsip sains untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam baik secara kualitatif maupun kuantitatif. budaya. agama. ekonomi. 2. 6. ada beberapa tujuan mata pelajaran rumpun sains di Indonesia. 3. Siswa mampu mengungkapkan dengan bahasa yang sesuai untuk mengkomunikasikan temuan dan kajian sains serta dapat memanfaatkan alat untuk mengumpulkan data dan mengoprasikan kegiatan sains. Siswa mampu menerapkan prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi dan atau sebaliknya mampu mempelajari prinsip sains yang sudah dimanfaatkan dalam produk teknologi. Menurut Supriyono (2003). bahasa dan hukum. lingkungan dan masyarakat sebagai sumber sains. . politik. Siswa mampu mengeksplorasi sains dan teknologi. teknologi dan masyarakat. disamping dari sains yang telah ada. Kemampuan memikirkan pengembangan teknologi inovatif berdasarkan eksplorasi sains dari lingkungan dan masyarakat. Ia menyarankan bahwa kepada guru-guru sains akan perlunya merenungkan secara mendalam hakekat sains. Siswa mampu mengembangkan kesadaran tentang pentingnya peran sains dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari serta berbagai aplikasinya di berbagai bidang seperti. kemajuan sains dan teknologi serta kualitas hidup. yaitu sebagai berikut: 1. Siswa memiliki sikap ilmiah produktif. gejala alam.

Siswa mampu mengembangkan kemampuan proses sains serta memanfaatkannya dalam pemecahan masalah dan pengambilan putusan untuk berbagai masalah. Maka sudah sepantasnya kalangan pendidikan sebagai kaum akademik yang dikarunia kelebihan kecerdasan benar-benar memikirkan hal ini. Siswa memiliki keyakinan tentang keteraturan alam semesta serta keragaman isinya sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penanda keagunganNya. Hal ini membuat siswa bisa menyelami lebih dalam di balik materi secara teoritik. kelihatannya belum ada upaya yang nyata dalam pembelajaran sains untuk memenuhi tujuan ini. yang sangat bermanfaat sekali dalam memaknai ciptaan Tuhan Yang Esa.20 7. telah diupayakan agar semua tujuan yang tercantum di atas dapat terwujud. Sesuai yang terungkap dalam kalamNya: . Tetapi untuk tujuan agar siswa memiliki keyakinan tentang keteraturan alam semesta serta keragaman isinya sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penanda keagunganNya. Dalam pembelajaran yang telah ditemukan di sekolah-sekolah. Ternyata begitu dahsyat ciptaanNya. Siswa akan semakin mantap dengan keyakinan iman kita dengan mempelajari ayatayat Allah yang tertuang dalam alam ini. sungguh sangat mendukung tujuan ini. Ternyata begitu kecil manusia di alam jagad raya ini. Materi Tata Surya mencangkup banyak hal tentang fenomena alam raya. 8. Oleh karena itu. Apalagi pelajaran fisika terutama tentang jagad raya yang tercantum dalam bahasan Tata Surya. diperlukan pembelajaran dengan berwawasan ESQ.

di dalam Al-Qur‟an terdapat lebih dari 750 ayat yang menunjukkan fenomena alam. terdapat tanda-tanda untuk kaum yang berakal” (QS: Ali „Imran: 190) E.21 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang. dan manusia diminta untuk dapat memikirkannya agar mengenal Sang Pencipta lewat tanda-tanda-Nya. baik sifatnya material maupun spiritual. Menurut Rahman (2000). dalam ilmu pengetahuan Islam. Menurut Ghulsyani (1986). seperti nampak dalam uraian mengenai fenomena alam semesta yang amat dahsyat yang disebut begitu jelas dalam Al-Qur‟an. Para ilmuwan muslim mempunyai perhatian yang besar terhadap ilmu fisika karena Al-Qur‟an menaruh perhatian yang besar terhadap ilmu tersebut. Ayat-ayat tersebut dapat dibagi ke dalam kategori-kategori antara lain sebagai berikut: a. seperti waktu. fisika merupakan bagian dari prinsip filsafat alam yang banyak dibahas oleh ilmuwan muslim kenamaan pada masa keemasan Islam. suara. Al-Qur‟an juga banyak menjelaskan mengenai unsur-unsur yang penting dalam fisika. Misalnya Ibnu Sina telah membahas ilmu filsafat alam dengan panjang lebar dalam karyanya “Fann” (teknik ilmiah). Al-Qur‟an mengajak manusia untuk menggunakan panca indera dan akal dalam mengamati pengalaman. dan 76:62. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 86:5. cahaya dan lain-lainnya. . Ayat-ayat yang menggambarkan elemen-elemen pokok obyek dan memerintahkan manusia untuk menyingkapnya. 24:45. Ilmu Fisika dalam Al-Qur’an Ilmu fisika merupakan ilmu yang menyelidiki tentang fenomena-fenomena alam semesta.

25:2. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 2:29. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 27:88. f. Pendidikan Sekolah Berbasis Islam Bertolak dari konsep manusia yang bersifat integral-holistik. 41:11. Ayat-ayat yang mencakup masalah cara penciptaan obyek-obyek material dan memerintahkan manusia untuk menyingkap asal-usulnya. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 29:20. 21:30. d. yang berakhlak mulia. 67:15. 31:10. dan 2:164. dan 88:17-20. Tujuan pendidikan adalah terwujudnya masyarakat yang berkepribadian muslim. 16:5. dan 29:19.22 b. Ayat-ayat yang menjelaskan keharmonisan keberadaan manusia dengan alam semesta dan ketundukan apa yang ada di langit dan di bumi kepada manusia. Ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk menyikapi bagaimana alam semesta ini terwujud. dan 21:16. 67:3-4. 45:13. 57:25. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 11:7. antara lain terdapat di dalam Al-Qur‟an surat 39:21. F. e. Ayat-ayat yang menekankan kelangsungan dan keteraturan penciptaan Allah. maka menurut Mastuhu (1999) sistem pendidikan islam diharapkan berorientasi pada persoalan dunia dan ukrhrawi. 39:5. dan 6:69. 23:12-14. c. . cakap dan terampil serta percaya pada diri sendiri serta berguna bagi masyarakat dan negara dengan beramal menuju terwujudnya masyarakat utama adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah swt. Ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk mempelajari fenomenafenomena alam. 30:48.

pemelihara dan penguasa alam semesta dan menjauhkan diri dari segala fikiran. ulet dan pemberani dalam menghadapi permasalahan hidup sehari-hari. 5. tertib dan disiplin. penyelenggaraan program pendidikan ditekanan pada pembinaan pribadi siswa yang sholeh serta memahami dan terbiasa dengan niali-nilai islam. 4. tilawah al Qur‟an. logis. peduli terhadap sesama dan lingkungan serta sabar.23 Berdasarkan Master Plan Sekolah Islam Terpadu. pemilik. sikap dan perilaku yang bertentangan dengan apa yang Ia perintahkan. 3. 2. Ibadah yang Benar (Shahihul Ibadah) Terbiasa dan gemar melaksanakan ibadah yang meliputi: sholat. sistematis dan kreatif yang menjadikan dirinya berpengetahuan luas dan menguasai bahan ajar dengan sebaik-baiknya. shaum. Pribadi yang matang (Matinul Khuluq) Menampilkan perilaku yang santun. dzikr dan do‟a sesuai petunjuk Al Qur‟an dan AsSunnah. dan cermat dalam mengatasi segala problem yang dihadapi. kecakapan dan keterampilan dalam usaha memenuhi kebutuhan nafkahnya. yakni: 1. Aqidah yang Bersih (Salimul Aqidah) Meyakini Allah swt sebagai pencipta. . Mandiri (Qadirun Alal Kasbi) Mandiri dalam memenuhi segala keperluan hidupnya dan memiliki bekal yang cukup dalam pengetahuan. Cerdas dan Berpengetahuan (Mutsaqqaful Fikri) Memiliki kemampuan berfikir yang kritis.

Bersungguh-sungguh dan Disiplin (Mujahidun Linafsihi) Memiliki kesungguhan dan motivasi yang tinggi dalam memperbaiki diri dan lingkungnnya yang ditunjukkan dengan etos dan kedisiplinan kerja yang baik. tugas dan kewajiban. 7. Bermanfaat (Nafiun Lighoirihi) Peduli kepada sesama dan memiliki kepekaan untuk membantu orang lain yang memerlukan pertolongan. stamina dan daya tahan tubuh yang kuat. Sehat dan Kuat (Qawiyul Jismi) Memiliki badan dan jiwa yang sehat dan bugar. Oleh karena itu. Efisien (Harisun „Ala waqtihi) Selalu memanfaatkan waktu dengan pekerjaan yang bermanfaat dan mampu mengatur jadwal kegiatan sesuai dengan skala prioritas. 8. 9. . Salah satu dari program pendidikan yang dimaksud adalah segi kegiatan belajar dan mengajar. pembelajaran berwawasan ESQ yang mengaitkan antara materi dengan pesan keimanan dalam ayat-ayat Al-Qur‟an sangat dibutuhkan dalam sekolah-sekalah tersebut.24 6. Tertib dan cermat (Munazhzhom Fi Syu‟unihi) Tertib dalam menata segala pekerjaan. berani dalam mengambil resiko namun tetap cermat dan penuh perhitungan dalam melangkah. 10. Berbagai tinjaun di atas menunjukkan bahwa memang benar-benar dibutuhkan program pendidikan yang khusus di sekolah-sekolah berbasis Islam untuk menunjang terwujudnya tujuan penyelenggaraan pendidikan.

Respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran. Faktor yang Diteliti Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah: 1. C. Pemahaman siswa terhadap teori fisika pokok bahasan Tata Surya dalam pembelajaran fisika berwawasan ESQ. b) Sampel Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah salah satu kelas X semester 1 SMA Islam Hidayatullah Semarang. yaitu suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan 25 . yang berjumlah empat kelas.BAB III METODE PENELITIAN A. Rencana Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan model penelitian tindakan kelas (PTK). 3. X-3 dan X-4. Pemahaman siswa terhadap wawasan keagamaan yaitu nilai-nilai keimanan yang terkandung di dalam Al-Quran dari materi yang disampaikan. 2. B. yakni siswa kelas X-1. Sampel diambil secara random (acak). X-2. Penentuan Subyek dan Tempat Penelitian a) Populasi Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Islam Hidayatullah Semarang tahun pelajaran 2005/2006. terdiri dari kelas X-1.

26 masalah yang dihadapi dalam melaksanakan tugas pokoknya. mengelola pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dalam arti luas (Purwadi. tujuan penelitian tindakan kelas bukanlah menemukan pengetahuan baru yang dapat diberlakukan secara meluas. 1999). Adapun rangkaian langkah-langkah penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut: Rencana tindakan Refleksi Pelaksanaan Observasi Belum terselesaikan Terselesaikan? Rencana tindakan II Refleksi Pelaksanaan II Observasi Belum Siklus Selanjutnya Gambar 3. Penelitian permasalahan tindakan spesifik kelas dan hanya memusatkan perhatian tidak pada terlalu yang konstekstual sehingga menghiraukan kerepresentatifan sampel. skema langkah-langkah penelitian tindakan kelas . Penelitian tindakan kelas bersifat practice driven atau action driven. tetapi bersifat menemukan bentuk pengajaran di kelas yang bisa memberikan solusi kepada permasalahan yang dihadapi secara lokal. Dengan demikian. Hal ini berarti bahwa penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran secara praktis dan secara langsung. Oleh karena itu banyak kalangan menilai penelitian tindakan kelas sebagai penelitian praktis (practical inquiry).

Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini terdiri dari empat tahap dalam setiap siklusnya yaitu Perencanaan (Planning). Tindakan (Action). Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti yang telah dirancang dalam faktor yang akan diselidiki. D. Kekurangan pada siklus pertama akan diperbaiki pada siklus ke dua. Siklus I dengan memberikan materi tata surya secara menyeluruh dan siklus II untuk menyempurnakan siklus I. Menyusun modul pembelajaran berwawsan ESQ. Tindakan (Action).27 Dalam penelitian tindakan kelas secara garis besar terdapat empat tahap kegiatan. Siklus I 1. Menyusun perangkat pembelajaran. yaitu Perencanaan (Planning). Membuat lembar observasi (angket) mengenai pengaruh dari pembelajaran berwawsan ESQ yang dirasakan oleh siswa. Pengamatan (Observation). dalam hal ini adalah rencana pembelajaran. c. Refleksi (Reflection) dalam setiap siklusnya. Adapun tahap-tahap tiap siklus adalah sebagai berikut: I. Prosedur Penelitian Penelitian tindakan kelas ini akan dilakukan dalam dua siklus. . begitulah seterusnya sampai tujuan penelitian dapat terpenuhi. b. Menyusun pretest dan postest. Bila siklus I belum terselesaikan. Pengamatan (Observation). maka dilakukan siklus II. dan Refleksi (Reflection). d. Perencanaan (Planning) a.

Guru memberikan postest.28 2. Guru kemudian menegaskan dengan ayat-ayat Al-Qur‟an yang berkaitan dengan materi seperti tertera pada modul. Guru membagikan modul pembelajaran berwawasan ESQ kepada siswa. Guru mulai masuk ke materi awal dengan menarik kesimpulan dari pemaparan kelompok bahwa Allah swt telah menciptakan alam semesta dengan amat dahsyat. h. e. Pelaksanaan (Action) a. b. c. Sebelum memulai pembelajaran. f. Guru membimbing siswa dalam setiap pembelajaran dengan memberikan stimulus-stimulus yang membuat siswa berfikir tentang materi tata suraya baik menurut fisika maupun menurut apa yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur‟an . . Guru mengawali pertemuan dengan mengelompokan siswa ke dalam beberapa kelompok kecil untuk memikirkan fakta penciptaan alam semesta ditinajau secara ilmu Fisika maupun ditinjau dari keberadaan manusia sebagai mahluk ciptaan Allah swt. Setelah itu hasil pemikiran kelompok dipaparkan satu per satu. Guru melakukan umpan balik tentang pemahaman apakah yang telah ditangkap oleh siswa g. d. guru memberikan pretest untuk mengetahui sejauh mana kondisi awal wawasan keagamaan siswa.

Guru mengawali materi pertemuan pembelajaran dengan mengajak siswa untuk kembali memikirkan ciptaan Allah swt yang ada di sekitar hidup siswa secara luas dan mendalam. Pengamatan (Observation) Kegiatan observasi dilaksanakan untuk menilai kemampuan siswa baik afektif maupun psikomotorik. Guru memberikan materi tata surya sesuai dengan kurikulum yang ada di sekolah-sekolah umum. Observasi juga diambil dari hasil pekerjaan siswa yang didapat dari siklus I. Refleksi (Reflection) Hasil yang diperoleh pada tahap pengamatan kemudian dikumpulkan. b. Siklus II 1. II. Pelaksanaan (Action) a. Guru memulai masuk ke materi setelah siswa merespon terhadap ajakan guru untuk memikirkan penciptaan alam semesta ini. . Guru mengelompokkan siswa seperti pada Siklus I untuk mempelajari salah satu karakteristik dari ciptaan Allah. yaitu Bumi. Perencanaan (Planning) Ulang Perencanaan ulang disusun berdasarkan kesimpulan dan perbaikanperbaikan yang dibutuhkan dari siklus I. 4.29 3. d. 2. dianalisis dan dievaluasi oleh peneliti untuk mengetahui berhasil tidaknya tindakan yang dilakukan. Observasi dari siklus I kemudian dijadikan masukan bagi siklus II. c.

Guru menguji kepahaman siswa melalui pertanyaan-pertanyaan singkat secara lisan. Guru memberikan postes. Metode Pengumpulan Data a. Guru kemudian menegaskan dengan detail ayat-ayat Al-Qur‟an yang berkaitan dengan materi pelajaran seperti tertera pada modul. untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran fisika berwawasan ESQ. g. Selain itu peneliti juga mengadakan observasi langsung pada saat kegiatan berlangsung. 4.30 e. dianalisis dan dievaluasi pada tahap refleksi ini. . Observasi juga diambil dari hasil pekerjaan siswa pada siklus II. E. h. 3. Pengamatan (Observation) Kegiatan observasi pada siklus II dilakukan melalui angket. f. Refleksi (Reflection) Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa SMA Islam Hidayatullah Semarang kelas X semester 1 tahun ajaran 2005/2006. Hasil analisis dari tahap ini digunakan untuk mengambil kesimpulan apakah pembelajaran fisika berwawasan ESQ sudah sesui dengan tujuan yang diinginkan atau belum. Guru mengajak siswa untuk mengambil ibrah (hikmah) dari materi pertemuan yang telah didapat.

yang terdiri dari: 1) Kondisi awal wawasan keagamaan siswa. 2002: 198). c. 2) Data tentang hasil belajar siswa. 3) Respon siswa terhadap pembelajaran. Cara Pengambilan Data 1) Data tentang kondisi awal wawasan keagamaan siswa mengenai tata surya. Jenis Data Data yang dikumpulkan pada penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif. diambil melaui postest soal materi fisika tata surya dan wawasan keagamaan siswa yang dilaksanakan pada tiap siklus. Setelah perangkat tes disusun. Pada penelitian pembelajaran fisika berwawasan ESQ . diambil melalui lembar angket yang diisi oleh siswa. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan. 2) Hasil belajar siswa. pengetahuan. Sementara data hasil penilian ranah afektif dan psikomotorik diambil melalui lembar observasi. reliabel dan memiliki taraf kesukaran dan daya pembeda yang baik. kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto. intelegensi. 3) Data tentang respon siswa terhadap pembelajaran. F. kemudian diujicobakan pada kelas lain di luar sampel untuk mendapatkan perangkat tes yang valid.31 b. Analisis Uji Instrumen Pada penelitian ini menggunakan instrumen berupa tes. diambil melalui soal pretest tentang wawasan keagamaan.

= Simapangan baku skor total. 1. Reliabilitas Untuk menghitung reliabilitas butir soal digunakan rumus: V r11   k  t   pq)      k  1 Vt  (Arikunto.32 ini digunakan metode deskriptif. Mt St p q = Rata-rata skor total. M p = Rata-rata skor total yang menjawab benar pada butir soal. Validitas butir soal Untuk menghitung validitas butir soal digunakan rumus: rPbis  Mp  Mt St p q (Suherman. 2. = Proporsi siswa yang menjawab salah setiap butir soal. = Proporsi siswa yang menjawab benar setiap butir soal. dengan membandingkan hasil belajar siswa sebelum tindakan dan hasil belajar siswa setelah tindakan melalui nilai prosentase untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar yang dicapai siswa. Apabila harga rpbis > r tabel maka soal dikatakan valid. selanjutnya harga ini dikonsultasikan dengan r tabel dengan taraf signifikan 5%. 2002: 163) Keterangan: r11  Reliabilitas instrumen . Setelah diperoleh harga rpbis. 1990: 163) Keterangan : rpbis = Koefisien korelasi.

Tingkat Kesukaran Soal Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit.71 – 1.33 k  Banyaknya butir soal Vt  Varians total p = Proporsi siswa yang menjawab benar setiap butir soal. Untuk mengetahui tingkat kesukaran suatu soal rumus yang digunakan adalah : IK  Keterangan : IK JBA JBB JSA JSB B JBA  JBB JS A  JS B (Suherman. q = Proporsi siswa yang menjawab salah setiap butir soal.00 : soal mudah 4.70 : soal sedang IK = 0.31 – 0. pq= jumlah dari pq 3.1990: 201) . Daya Pembeda Soal Rumus yang digunakan untuk menghitung daya pembeda soal dari alat ukur ini adalah : DP  JBA  JBB JS A (Suherman.00 – 0.1990: 112) = Indeks kesukaran = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah = Jumlah siswa pada kelompok atas = Jumlah siswa pada kelompok bawah Kriteria : IK = 0.30 : soal sukar IK = 0.

Rerata dihitung menggunakan rumus: X X N (Sudjana.40 : cukup D = 0.41 – 0. Langkah-langkah dalam analisis data adalah sebagai berikut: 1) Hasil pretest wawasan keagamaan siswa sebelum dilakukan tindakan dan postest setelah dilakukan siklus I dan siklus II direkapitulasi. 1999:109) keterangan: X = nilai rerata .00 : baik sekali D = negatif: soal tidak baik dan harus dibuang G.71 – 1.00 – 0.34 Keterangan : DP JBA JBB JSA = Daya pembeda soal = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah = Jumlah siswa pada kelompok atas Klasifikasi daya pembeda soal adalah : D = 0. baik pada siklus I maupun siklus II.20 : jelek D = 0. 2) Nilai rerata wawasan keagamaan siswa sebelum dilakukan tindakan dan setelah dilakukan tindakan siklus I dan siklus II dihitung. Metode Analisis Data Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif dengan cara membandingkan keadaan wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah diberi tindakan.70 : baik D = 0.20 – 0. Selanjutnya rerata hasil penilaian postest fisika materi pokok tata surya juga dihitung.

35

X N

= jumlah nilai seluruh siswa = banyaknya siswa

3) Hasil belajar (kognitif) siswa dihitung, dengan menggunakan rumus: Nilai akhir 

 jumlah jawaban benar x 100  jumlah seluruh soal

(Slameto, 2001:189)

4) Hasil belajar afektif dan psikomotorik dihitung, dengan menggunakan rumus:
Nilai   Skor perolehan  Skor maksimal x100%

(Depdiknas,2003: 14)

5) Ketuntasan belajar siswa dihitung, dengan menggunakan rumus:
% n x 100% N

(Ali, 1984: 184)

Keterangan: % = presentase n = jumlah skor yang diperoleh N = jumlah skor masksimal

H. Indikator Keberhasilan Keberhasilan kelas dilihat dari sekurang-kurangnya 85% dari jumlah

peserta didik yang mampu menyelesaikan atau mencapai minimal 65% (Mulyasa, 2002: 99). Begitu juga untuk mengukur pemahaman wawasan keagamaan siswa, karena wawasan sifatnya pengetahuan. Jadi keberhasilan kelas terhadap pemahaman wawasan keagamaan siswa dilihat dari sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan atau mencapai minimal 65%.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN 1. Hasil Siklus I Dalam pembelajaran fisika berwawasan ESQ materi pokok tata surya, sebelum pembelajaran dimulai siswa diberi soal pretest tentang wawasan keagamaan mengenai tata surya untuk mengetahui kondisi awal wawasan keagamaan siswa. Adapun hasil pretest wawasan keagamaan siswa

menunjukkan bahwa rata-rata kondisi awal wawasan keagamaan siwa kelas X-1 SMA Islam Hidayatullah Semarang adalah 40, ketuntasan belajar klasikal hanya 4%, sementara nilai terendahnya adalah 13 dan nilai tertingginya adalah 67. Setelah siklus I diberikan, nilai rata-rata wawasan keagamaan siswa menjadi 68, ketuntasan belajar klasikal 60%, sementara nilai terendahnya adalah 40 dan nilai tertingginya adalah 93. Perbandingan nilai wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I ditunjukkan oleh tabel 1 berikut:
Tabel.1. Nilai Wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I

No. Wawasan keagamaan siswa 1. Nilai terendah 2. Nilai tertinggi 3. Rata-rata 4. Presentase ketuntasan klasikal

Kondisi awal 13 67 40 4%

Setelah siklus I 40 93 68 60%

Sementara hasil peningkatan wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I ditunjukkan oleh gambar berikut ini:

36

37

100 90 80 70 60
67

93

68 60

skala

50 40 30 20 10 0
13

40

40

kondisi awal setelah siklus I

4

nialai terendah

nilai tertinggi

rata-rata

ketuntasan klasikal

kategori
Gambar 4. Grafik wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I

Pada Siklus I sebagai bagian utama pembelajaran, siswa diberikan postestt materi fisika tata surya seiring dengan postest wawasan keagamaan. Dari hasil postest siklus I menunjukkan bahwa nilai rata-rata tata surya siswa adalah 70, dengan ketuntasan belajar klasikal 80%, sementara nilai terendahnya adalah 52 dan nilai tertingginya dalah 84. 2. Hasil Siklus II Hasil siklus II menunjukkan nilai rata-rata wawasan keagamaan siswa menjadi 92, ketuntasan klasikal mencapai 100%, sementara nilai terendahnya adalah 73 dan nilai tertingginya adalah 100. Perbandingan nilai wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus II ditunjukkan oleh tabel.2. berikut:

38 Tabel. Perbandingan nilai tes tata surya siswa dari siklus I dan siklus II ditunjukkan oleh tabel 3 berikut: . siswa juga diberikan postest materi fisika tata surya seiring dengan postest wawasan keagamaan. Wawasan keagamaan siswa 1. Nilai Wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah No. Nilai terendah 2. Grafik wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus II Pada Siklus II sebagai bagian utama pembelajaran. sementara nilai terendahnya adalah 56 dan nilai tertingginya dalah 96. Hasil postest siklus II menunjukkan bahwa nilai rata-rata tes tata surya siswa adalah menjadi 80. Presentase ketuntasan klasikal awal 13 67 40 4% siklus I 40 93 68 60% siklus II 73 100 92 100% Hasil peningkatan wawasan keagamaan siswa sebelum dan sesudah siklus I ditunjukkan oleh gambar berikut ini: 120 100 100 80 73 67 40 40 20 0 nilai terendah nilai tertinggi rata-rata ketuntasan klasikal 100 92 68 40 93 skala 60 60 kondisi awal setelah siklus I setelah siklus II 13 4 Kategori Gambar 5. Rata-rata 4. dengan ketuntasan belajar klasikal 88%. Nilai tertinggi 3.2.

Presentase ketuntasan klasikal Siklus I 52 84 70 80% Siklus II 56 96 80 88% Ternyata seiring dengan meningkatnya wawasan keagamaan siswa dari siklusI ke siklus II juga diikuti peningkatan nilai postest materi fisika tata surya siswa dari siklus I ke siklus II. Adapun peningkatannya dapat dilihat pada gambar berikut: 120 100 80 96 84 70 52 56 88 80 80 skala 60 40 20 0 pos tes siklus I pos tes silus II nilai terendah nilai tertinggi rata-rata ketuntasan klasikal kategori Gambar 6. Grafik nilai tes tata surya siswa siklus I dan siklus II 3. Nilai tertinggi 3.3. Nilai postest tata surya siklus I dan siklus II No. Rata-rata 4. Nilai terendah 2.39 Tabel. dalam penelitian ini juga dilakukan penilaian keterampilan psikomotorik dan afektif siswa. yang diberikan pada saat observasi siklus I. Adapun rangkuman hasil dari penilaian tersebut adalah sebagai berikut: . Nilai postest tata surya 1. Hasil Penilaian Psikomotorik dan Afektif Siswa Sebagai implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004.

Angket yang diisi oleh sisiwa berbentuk “ya” dan “tidak”. Kurang 4. Amat Kurang 4. serta respon siswa terhadap proses pembelajaran. Baik 3.5. siswa diberikan angket mengenai respon siswa terhadap pembelajaran fisika berwawasan ESQ. Hasil Angket Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ Untuk melengkapi data penelitian ini. Kategori penilaian Jumlah siswa 3 17 5 - Presentase 12% 68% 20% - 1. Tidak Terampil b. 2002: 213). Penilaian keterampilan psikomotorik siswa No.4. peneliti tinggal menjumlahkan berapa jumlah siswa yang menjawab “ya” dan “tidak” (Arikunto. maka dilihat berapa prosentase jumlah siswa yang menjawab “ya” pada . respon siswa terhadap penerimaan SQ. Jika angket berbentuk “ya” dan “tidak”. respon siswa terhadap penerimaan EQ. Terampil 3. Kategori penilaian Jumlah siswa 2 20 3 - Presentase 8% 80% 12% - 1. Amat Terampil 2. Untuk mengetahui respon siswa terhadap suatu hal. Penilaian keterampilan afektif siswa No. Adapun variabel yang terdapat di dalamnya adalah respon siswa terhadap penerimaan IQ. Hasil Penilaian Keterampilan Afektif Siswa Tabel. Kurang Terampil 4. Amat Baik 2. Hasil Penilaian Keterampilan Psikomotorik siswa Tabel.40 a.

Respon IQ 2. PEMBAHASAN Setelah pretest diberikan. Hal ini seperti yang diungkapkan Anni (2004) dalam psikologi belajar. Hasil rangkuman angket tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel. serta rasa keingin tahuan mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur‟an yang terkait dengan tata surya menjadi lebih dalam. Respon terhadap pembelajaran B. Respon EQ 3.41 setiap pertanyaan mengenai respon tesebut. Indikator Presentase penerimaan 86% 96% 95% 73% 1. bahwa untuk . Mereka menjadi antusisas. siswa menjadi semakin bersemangat untuk mengikuti pembelajaran berwawasan ESQ ini. Hal ini disebabkan oleh bagaimana pun siswa masih asing terhadap keterkaitan antara ayat-ayat Al-Qur‟an dengan mata pelajaran fisika materi tata surya. sedangkan ketuntasan klasikal terhadap soal pretest wawasan keagamaan hanya 4% (hanya ada satu siswa yang nilainya di atas 65). Respon SQ 4. Hasil angket tentang Pembelajaran Fisika Berwawasan ESQ No.6. walaupun sebenarnya ayat-ayat Al-Qur‟an merupakan hal yang dekat dengan mereka sebagai siswa sekolah yang berbasis agama Islam. kondisi awal menunjukan wawasan keagamaan siswa masih rendah. Rata-rata kondisi awal nilai wawasan keagamaan siswa adalah 40 . Setelah diberikan modul pembelajaran fisika berwawasan ESQ yang memuat keterkaitan antara materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an sebagai sumber minat mereka.

Setelah siklus I selesai dan dievaluasi. maka perhatiannya akan meningkat. diperoleh peningkatan nilai wawasan keagamaan siswa yang terkait dengan materi tata surya dari pretest. nilai rata-rata wawasan keagamaan siwa mencapai 92 dan ketuntasan klasikal mencapai 100% atau dalam kata lain semua siswa tuntas mengerjakan soal wawasan keagamaan yang berkaitan dengan materi tata surya. postest siklus I. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran fisika berwawasan ESQ yang mengaitkan antara materi fisika dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. Apabila siswa menemukan proses pembelajaran yang merangsang. sebagai masukan untuk siklus II siswa menginginkan agar ayat-ayat yang terkait dengan suatu permasalahan tertentu terhadap materi tata surya agar diperjelas. (2003) bahwa dengan pembelajaran yang mengaitkan antara materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. akan memberikan wawasan keagamaan yang dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pembelajaran pada siklus II dilakukan dengan lebih rinci dan detail terhadap keterkaitan materi tata surya dengan ayat-ayat Al-Qur‟an yang sinergi. Selanjutnya ia mengatakan pula bahwa proses pembelajaran dan materi yang terkaiat dapat merangsang sekumpulan kegiatan belajar. Seperti apa yang diungkapkan Djazuni. telah mencapai tujuan yang diinginkan dalam penelitian ini yaitu meningkatkan wawasan keagamaan siswa. pengaitan pembelajaran dengan minat siswa adalah sangat penting. dan postest siklus II. Sebagai hasilnya nilai rata-rata wawasan keagamaan siswa menjadi 68. pada postest wawasan keagamaan pada siklus II ini. . dengan ketuntasan kalsikal 60%.42 membangkitkan minat belajar. Hasilnya. Berdasarkan data penelitian di atas.

Oleh karena itu pembelajaran tetap menitik beratkan penyampaian materi tata surya seperti yang digariskan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi seiring penyampain keterkaitan materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. Kemudian pada postest siklus II nilai . bahwa pembelajaran yang mengaitkan antara materi fisika dengan ayat-ayat Al-Qur‟an akan membuat generasi muda kita (dalam hal ini siswa sekolah) akan memahami betapa besar keagungan Allah. Dalam penelitian ini. Jadi siswa mengerjakan dua soal postest yaitu soal materi fisika tata surya dan soal wawasan keagamaan yang berkaitan dengan tata surya pada setiap siklus. semua siswa mengaku semakin meyakini keagungan Allah swt sehinggga menambah keimanan kepada Allah swt. Karena bagaimanapun faktor pemahaman siswa terhadap materi tata surya merupakan prioritas dalam pembelajaran fisika materi pokok tata surya. Pada pembelajaran berwawasan ESQ ini. Seperti apa yang telah disebukan oleh Lubis dan Widayana (2003).43 Dari peningkatan wawasan keagamaan siswa akan menumbuhkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai keagamaan yang kemudian akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Pada postest siklus I. nilai rata-rata tes tata surya siswa adalah 70 dengan ketuntasan belajar kalsikal 80%. siswa juga diberi postest materi tata surya. Setelah siswa mengikuti pembelajaran. juga tidak mengurangi konsentrasi penuh terhadap materi fisika tata surya itu sendiri. bersamaan dengan pemberian postest wawasan keagamaan siswa pada setiap siklusnya. yang sekaligus meningkatkan keimanaan dan ketaqwaan. Hal ini tergambar dari jawaban siswa terhadap angket mengenai respon siswa terhadap pembelajaran berwawasan ESQ.

siswa mengisi angket tentang respon siswa terhadap pembelajaran fisika berwawasan ESQ. yang mengatakan bahwa walaupun pembelajaran mengaitkan materi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. Angket tersebut diisi oleh siswa pada saat observasi siklus II. namun pencapaian pokok bahasan dan sub pokok bahasan tetap tidak berubah. Sehingga dapat dikatakan bahwa walaupun pembelajaran menggunakan ayatayat Al-Qur‟an yang berkaitan dengan materi. Penilaian aspek tersebut dilakukan pada saat observasi siklus I.44 rata-rata tes tata surya siswa menjadi 80 dan ketuntasan belajar klasikal menjadi 88%. Untuk melengkapi data penelitian. Hasilnya untuk penilaian aspek psikomotorik. Hasil untuk penilaian afektif yaitu 8% tergolong amat baik. 68% tergolong terampil dan 20%tergolong kurang terampil. 80% tergolong baik dan 12% tergolong kurang. ternyata tidak mengurangi pemahaman siswa terhadap materi fisika tata surya. dalam penelitian ini juga menilai aspek keterampilan psikomotorik dan keterampilan afektif siswa. Penilaian psikomotorik dan afektif dalam pembelajaran fisika berwawasan ESQ bertujuan agar pembelajaran ini tetap sesuai dengan KBK yang sedang berlaku di sekolah. Hasilnya jumlah siswa yang menjawab “ya” terhadap penerimaan IQ (respon terhadap IQ) adalah 86%. Untuk memenuhi Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004. yaitu 12% dari jumlah siswa tergolong amat terampil. Hal ini selaras dengan apa yang disebutkan oleh Lubis dan Widayana (2003). . Penilian psikomotorik dan afektif tidak termasuk faktor yang diteliti dalam penelitian ini. Ternyata nilai postest materi tata surya siswa meningkat seiring meningkatnya nilai wawasan keagamaaan siswa pada postest siklsus I dan siklus II.

dan yang lainnya. dan SQ) secara bersamaan. fiqh. Hal ini seperti yang disebutkan oleh Ginanjar (2003) tentang hakekat konsep ESQ yaitu menghimpun kecerdasan IQ. Dari data ini membuktikan bahwa pembelajaran fisika berwawasan ESQ mampu menyokong tiga aspek kecerdasan siswa (IQ. Hal ini dikarenakan siswa sudah terbiasa dengan ayat-ayat Al-Qur‟an. bahasa arab.45 respon terhadap EQ 96% dan respon terhadap SQ 95%. Hasil angket lainnya menunjukkan bahwa respon siswa terhadap proses pembelajaran adalah 73%. Setiap pekan mereka berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an melalui mata pelajaran agama islam. Sebaliknya mereka menjadi antusias mengikuti pembelajaran. EQ. Dapat dikatakan pembelajaran fisika berwawasan ESQ ini disambut baik oleh sebagain besar siswa. Jadi keberadaan ayat-ayat Al-Qur‟an dalam materi fisika tidak membuat siswa tertekan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. . EQ. dan SQ dalam satu kesatuan yang terintegrasi. karena materi pembelajaran yang dikaitkan dengan ayat-ayat AlQur‟an sesuai dengan karakter mereka sebagai siswa sekolah berbasis Islam.

2. dan postest siklus II. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai postest materi tata surya siswa seiring dengan meningkatnya nilai 46 . walaupun pembelajaran dilengkapi dengan ayat-ayat Al-Qur‟an sebagai kaitan dari materi yang sedang diberikan. Pada sisklus I rata-rata nilai wawasan keagamaan siswa menjadi 68 dan ketuntasan belajar klasikal terhadap nilai wawasan keagamaan siswa menjadi 60%. Pada pretest diketahui bahwa rata-rata kondisi awal wawasan keagamaan siswa terkaiat dengan materi tata surya adalah 40 dengan ketuntasan klasikal terhadap wawasan keagamaan tata surya hanya 4% (hanya ada satu siswa yang mendapat nilai di atas 65).BAB V PENUTUP A. Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya dapat meningkatkan wawasan keagamaan siswa. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Kemudian pada siklus II rata-rata nilai wawasan keagamaan siswa mencapai 92 dan ketuntasan klasikal mencapai 100% (semua siswa tuntas). Hal ini dapat dikaji dengan meningkatnya nilai wawasan keagamaan siswa dari pretest. postest siklus I. Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya tidak mengurangi konsentrasi siswa terhadap pemahaman materi fisika pokok bahasan tata surya.

maka disarankan agar : 1. Hal ini dapat dikaji dengan hasil angket yang diisi oleh siwa menunjukkan respon siswa terhadap penerimaan EQ adalah 86%. Dalam mengawali pembelajaran guru hendaknya mengajak siswa untuk berfikir lebih dalam tentang fenomena alam semesta sebelum mereka diberikan ayat-ayat Al-Qur‟an sebagai pengaitan dari materi Tata Surya.47 wawasan keagamaaan siswa pada postest siklsus I dan siklus II. B. Hal ini dapat dikaji dari hasil angket yang menunjukkan 73% dari jumlah siswa menerima baik Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) ini. 3. Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya disambut baik oleh sebagian besar siswa. EQ. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan. . 4. Kemudian pada postest siklus II nilai rata-rata tes tata surya siswa menjadi 80 dan ketuntasan belajar klasikal menjadi 88%. dan SQ) secara bersamaan. respon terhadap EQ 96% respon terhadap SQ 95%. Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya mampu menghimpun tiga kecerdasan siswa (IQ. Pada siklus I nilai rata-rata postest tata surya siswa adalah 70 dengan ketuntasan belajar klasikal 80%. Hal ini bermanfaat untuk pemanasan memasuki pembelajaran agar siwa tidak kaget.

Pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) diterapkan pada pokok bahasan yang lain. . Modul pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya dikembangkan dengan lebih baik dan lebih menarik disertai gambar-gambar pendukung materi. 4.48 2. Materi pembelajaran fisika berwawasan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) pada pokok bahasan tata surya dibuat dalam bentuk CD pembelajaran agar lebih membantu siswa memahami pesan yang ingin dasampaikan. 3.

Arikunto. Daniel. Jakarta: Amzah. 2003. 2003. Jakarta: Arga. 2004. Bandung: Angkasa. Pendidikan dan Sains dalam Prespektif Tafsir Hermeneutika. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Mahmud Samir. . ESQ Power. Jakarta: Arga. El-Fandy. Depdiknas. Mastuhu. Jakarta: Gema Insani. 2001. Kanginan. Suplemen Fisika Untuk Peningkatan Imtaq Siswa SMA. Gojali.49 DAFTAR PUSTAKA Ali. Emotional Qoutient (Kecerdasan Emosional). 2002. Ginanjar. Jamaluddin. Jakarta: Bagian Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru. Guru Teladan Dibawah Bimbingan Allah. Jakarta: Logos. Ary. Jakarta: Depdiknas. Anni. Darsono. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Chatarina.Jakarta: Erlangga. Memberdayakan Sistem Penddikan Islam. Psikologi Belajar. 2002. Fislafat Sains Menurut AL-Qur‟an. 1999. Ary. Muhammad. ESQ ( Emotional Spiritual Qoutient). 1997.2003. Goleman. Fisika SMA Kelas X Semester 1. Departemen Pendidikan Nasional. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 1984. Marthen. Al-Qur‟an Tentang Alam Semesta. Lubis dan Widayana . Al-Munir. 2000. Mahdi. 2003. Jakarta: Rineke Cipta. 1986. Manusia. Max. Semarang: Unnes Press. Ginanjar. Semarang: IKIP Semarang Press. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. Belajar dan Pembelajaran. Ghulsyani. Nanang. 2004. Bandung: Mizan. 2004. Jakarta: Rineka Cipta. Kurikulum 2004 Standard Kompetensi Mata Pelajaran Sains. Suharsimi.

2003. Bandung: Pustaka Setia. Bandung: Tarsito. Suherman. Wawasan Islam. Ali. _____. . 1992. Evaluasi Pendidikan Untuk Matematika. Rahman. 2002. 2002. Naskah Keterkaitan 10 Mata Pelajaran Di SMU dengan Imtaq. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. _____. Yusuf. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Rineka Cipta. Zohar dan Marshall. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Taufiq. Supriyono. 2002. Master Plan Kesiswaan SMA Islam Hidayatullah Semarang. Fisika. 2003. Al-Qur‟an Sumber Pengetahuan. Revolusi IQ. Slameto. 2003. Departemen Pendidikan Nasional. _____. Bandung: Mizan. _____. Jakarta: Bagian Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru. Evaluasi Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia DEPDIKNAS. Metode Statistika. 1990. Kurikulum 2004 Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Fisika.50 Mulyasa. 2002. Semarang: SMA Islam Hidayatullah. Bandung: Mizan. SQ Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berfikir Integralistik Dan Holistik Untuk Memahami Kehidupan. Erman. 1999. 2001. Bandung: Wijaya Kusumah Sukidin. Jakarta: Bumi Aksara Sudjana. Jakarta: Balai Pustaka. Afzakir. Pasaik. 2002. Jakarta: Insan Cendikia. EQ. 2003. SQ Antara Neurosains dan Al-Qur‟an. Bandung: Rosda Karya. 2003. Strategi Pembelajaran Fisika. Manajemen Tindakan Kelas. Malang: Universitas Negeri Malang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->