PENGERTIAN IQ, EQ DAN SQ

A. PENGERTIAN ATAU DEFINISI DARI IQ, EQ DAN SQ 1. Kecerdasan Intelektual (IQ) Orang sering kali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. sedangkan IQ atau singkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan. Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian Lewis Ternman dari Universitas Stanford berusaha membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada masanya kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun. Inti kecerdasan intelektual ialah aktifitas otak. Otak adalah organ luar biasa dalam diri kita. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat badan kita. Namun demikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen seluruh cadangan kalori yang tersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai 15 triliun sel saraf dan masing-masing sel saraf mempunyai ribuan sambungan. Otak satu-satunya

Ada hubungan langsung antara kemampuan bahasa si anak dengan IQ-nya. IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang dibawanya dari keluarga ayah dan ibu di samping faktor gizi makanan yang cukup. Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar pada seorang murid. Kapasitas memori otak yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 % dan untuk orang jenius memakainya 5-6 %. atau IQ yang ditetapkan oleh para ilmuwan adalah : Usia Mental Anak Usia Sesungguhnya x 100 = IQ Contoh : Misalnya anak pada usia 3 tahun telah punya kecerdasan anak-anak yang ratarata baru bisa berbicara seperti itu pada usia 4 tahun.organ yang terus berkembang sepanjang itu terus diaktifkan. Sampai sekarang para ilmuan belum memahami penggunaan sisa memori sekitar 94 %. Menurut penyelidikan. disamping faktor lain. lemah. Interpretasi atau penafsiran dari IQ adalah sebagai berikut : TINGKAT KECERDASAN IQ . penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak. Berarti IQ si anak adalah 4/3 x 100 = 133. Rumus kecerdasan umum. seperti gangguan fisik (demam. Awal untuk melihat IQ seorang anak adalah pada saat ia mulai berkata-kata. sakit-sakitan) dan gangguan emosional. IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat ditentukan sekitar umur 3 tahun. Apabila seorang anak dengan IQ tinggi masuk sekolah. Inilah yang disebut dengan Usia Mental. kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan. IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami berbagai ilmu.

Seorang yang mampu mensinergikan potensi intelektual dan potensi emosionalnya berpeluang menjadi manusia-manusia utama dilihat dari berbagai segi. Goleman (1995) berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran.70 25-50 0 .80 50 . Antara satu dengan lainnya saling menentukan. Daniel Golemen. yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional. dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional.140 110 . Dari nama teknis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya. Kecerdasan Emosional (EQ) Di atas 140 120 . Hubungan antara otak dan emosi mempunyai kaitan yang sangat erat secara fungsional. EQ mengangkat fungsi perasaan.25 EQ adalah istilah baru yang dipopulerkan oleh Daniel Golleman. Kecerdasan emosional dapat diartikan dengan kemampuan untuk “menjinakkan” emosi dan mengarahkannya ke pada hal-hal yang lebih positif. Otak berfikir harus tumbuh . Pikiran rasional digerakkan oleh kemampuan intelektual atau “Intelligence Quotient” (IQ).Genius Sangat Super Super Normal Bodoh Perbatasan Moron / Dungu Imbecile Idiot 2.90 70 . sedangkan pikiran emosional digerakkan oleh emosi. bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat. Berdasarkan hasil penelitian para neurolog dan psikolog.120 90 -110 80 .

Kemampuan memotivasi diri merupakan kemampuan mendorong dan mengarahkan segala daya upaya dirinya bagi pencapaian tujuan.dari wilayah otak emosional. Emosi tersebut beragam. memotivasi diri sendiri. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosional hanya bisa aktif di dalam diri yang memiliki kecerdasan intelektual. namun dapat dikelompokkan kedalam kategori emosi seperti. Kemampuan mengelola emosi adalah kemampuan menyelaraskan perasaan (emosi) dengan lingkungannnya sehingga dapat memelihara harmoni kehidupan individunya dengan lingkungannya/orang lain. sedih. takut. 1994). emosi orang lain. Kemampuan mengenal emosi diri adalah kemampuan menyadari perasaan sendiri pada saat perasaan itu muncul dari saat-kesaat sehingga mampu memahami dirinya. . marah. Peran memotivasi diri yang terdiri atas antusiasme dan keyakinan pada diri seseorang akan sangat produktif dan efektif dalam segala aktifitasnya Kemampuan mengembangkan hubungan adalah kemampuan mengelola emosi orang lain atau emosi diri yang timbul akibat rangsang dari luar dirinya. dan mengelola dengan baik emosi pada diri sendiri dalam berhubungan dengan orang lain (Golleman. Kemampuan mengenal emosi orang lain yaitu kemampuan memahami emosi orang lain (empaty) serta mampu mengkomunikasikan pemahaman tersebut kepada orang lain yang dimaksud. kasih sayang dan takjub (Santrock. Beberapa pengertian EQ yang lain. yaitu : Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk mengenal emosi diri sendiri. dan mengendalikan dirinya. dan mampu membuat keputusan yang bijaksana sehingga tidak „diperbudak‟ oleh emosinya. gembira. Emosi adalah perasaan yang dialami individu sebagai reaksi terhadap rangsang yang berasal dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. 1999). keinginan dan cita-citanya.

dapat membaca yang tersurat dan yang tersirat. Substansi dari kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian disikapi secara manusiawi. Di samping itu. mampu menyelesaikan dan bertanggung jawab penuh pada pekerjaan. sekaligus kehidupan sosialnya juga baik. . Manusia dengan EQ yang baik. Tidak lain karena orang tersebut dapat merespon tuntutan lingkungannya dengan tepat . self regulation (mengatur diri). dan berpegang pada komitmen. dapat memahami perasaan orang lain. orang yang EQ-nya bagus mampu mengerjakan segala sesuatunya dengan lebih baik. Semua pemahaman tersebut akan menuntunnya agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya Dapat dimengerti kenapa orang yang EQ-nya baik. Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan. memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi. Oleh karena itu EQ mengajarkan bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya (intra personal) seperti self awamess (percaya diri). mudah bersosialisasi. baginya infomasi tidak hanya didapat lewat panca indra semata. Dapat dikatakan bahwa EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. kemampuan memahami orang lain dan social skill yang memungkinkan setiap orang dapat mengelola konflik dengan orang lain secara baik . informasi koneksi dan pengaruh yang manusiawi. dari dalam dirinya sendiri yakni suara hati. Untuk pemilik EQ yang baik. ketahanan mental kebijaksanaan dan penguasaan diri.Kemampuan ini akan membantu individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain secara memuaskan dan mampu berfikir secara rasional (IQ) serta mampu keluar dari tekanan (stress). self motivation (memotivasi diri). kecerdasan emosional mengajarkan tentang integritas kejujuran komitmen. tetapi ada sumber yang lain. dapat menangkap bahasa verbal dan non verbal. Malahan sumber infomasi yang disebut terakhir akan menyaring dan memilah informasi yang didapat dari panca indra. mampu membuat keputusan yang manusiawi. dan terhadap orang lain (interpersonal) seperti empathy. kreatifitas. Makanya. visi. Orang yang EQ-nya baik.

di beberapa tahun terakhir juga berkembang kecerdasan spiritual (SQ = Spritual Quotiens). Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh otak. Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam.Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengendalikan emosinya saat menghadapi situasi yang menyenangkan maupun menyakitkan. Hati merupakan sumber energi dan perasaan terdalam yang memberi dorongan untuk belajar. Pusat dari EQ adalah "qalbu" . dan juga bisa melihat apa potensi dalam dirinya. Intinya. Mantan Presiden Soeharto dan Akbar Tandjung adalah contoh orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi. Kecerdasan ini digunakan untuk menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai spiritual. . akan membawa seseorang untuk mencapai kebahagiaan hakikinya. integritas dan komitmen. mampu mengendalikan emosinya dalam berkomunikasi. Dengan adanya kecerdasan ini. Danah Zohar dan Ian Marshall mengklaim bahwa SQ adalah inti dari segala intelejensia. Karena adanya kepercayaan di dalam dirinya. Kecerdasan Spiritual (SQ) Selain IQ. EQ adalah kepiawaian menjalin "hablun min al-naas". Karena setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan juga ada kekurangannya. 3. mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Tepatnya di tahun 2000. Hati adalah sumber keberanian dan semangat . Dalam bahasa agama . dan EQ. Denah Zohar dan Ian Marshall juga mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value. dan tentu saja dengan Sang Maha Pencipta. bagaimana kita bisa melihat hal itu. menciptakan kerja sama. dalam bukunya berjudul ”Spiritual Intelligence : the Ultimate Intellegence. memimpin dan melayani. Intelejensia spiritual membawa seseorang untuk dapat menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga.

Dari pernyataan tersebut. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. karena diperlukan keseimbangan pula dari kecerdasan emosi dan intelektualnya. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada. Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh.Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Dengan memberi makna yang positif itu. dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan). dapat dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan Body (Fisik). masalah. bahkan penderitaan yang dialaminya. ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa. Dari pernyataan tersebut. maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi „pusatdiri‟ Kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri. Mind (Psikis) and Soul (Spiritual). menghasilkan kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran). Jadi seharusnya IQ. Selain itu menurut Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001. EQ dan SQ pada diri setiap orang mampu secara proporsional bersinergi. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi terkapling-kapling sedemikian rupa. jelas SQ saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan. . SQ tidak bergantung pada budaya atau nilai. Mengenalkan SQ Pengetahuan dasar yang perlu dipahami adalah SQ tidak mesti berhubungan dengan agama.

. baik nasional maupun institusional. namun lemah dalam pengendalian emosi serta hampa dalam urusan spiritual. EQ dan SQ. tetapi juga dibutuhkan orang yang cerdas secara emosi. Oleh karena itu perlu ada upaya praktis dari seluruh stakeholders pendidikan di Indonesia dengan merubah paradigma pendidikan yang intelektual sentris (kognitif) menuju paradigma pendidikan yang mampu menyeimbangkan dan menyelaraskan dimensi intelektual (kognitif). Selain itu. Dua keadaan tersebut tampaknya perlu dijadikan bahan renungan ttentang cara kita “membaca” kecerdasan. narkoba. dan lain sebagainya merupakan deretan panjang pelanggaran dalam bidang afekif. Keseimbangan ketiga dimensi tersebut diperlukan mengingat dalam mengarungi kehidupan. penyontekan. Indikatornya adalah dalam mekanisme pelaksanaan ujian. Jelas ini sangat ironis karena pada dasarnya salah satu kelemahan pendidikan di Indonesia terletak pada aspek afektif. seseorang tidak hanya cukup dengan bekal cerdas secara intelektual. seringkali dijumpai orang yang sebenarnya memiliki kemampuan intelektual luar biasa namun gagal karena rendahnya kecerdasan emosi yang dimiliki. sering juga dijumpai orang yang memiliki kemampuan intelektual biasa saja namun ternyata sukses dalam pekerjaan ataupun dalam hubungan masyarakat. tawuran pelajar. tetapi EQ juga sangat berperan dalam segala sendi kehidupan.. murid laki-laki terhadap murid perempuan. Hal ini dikarenakan dalam berhubungan dengan manusia. tidak hanya dibutuhkan orang yang cerdas secara IQ. Sebaliknya. Banyaknya kasus negatif dalam bidang afektif yang mewarnai dunia pendidikan di Indonesia seperti pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru terhadap murid. menurunnya rasa hormat murid terhadap guru. kecerdasan otak (IQ) saja.Perlunya Integrasi IQ-EQ-SQ dalam Pembelajaran Integrasi IQ. tolok ukurnya adalah penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang bersifat remembering dan recalling. Goleman (2003: 44) meyakini bahwa IQ hanya . Kondisi yang demikian ini mengindikasikan bahwa pendidikan di Indonesia telah terjangkit penyakit klinis yang kronis.. Mungkinkah.??? Dalam kehidupan sehari-hari.Hal ini menjadi penting karena selama ini sistem pendidikan yang ada terlalu menekankan pentingnya nilai akademik. dimensi emosional (afektif) dan juga dimensi spiritual. kesuksesan seseorang dalam kehidupan juga tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi IQ yang dimiliki.

manusia juga memerlukan jenis kecerdasan lain yang berdimensi vertikal. Oleh karena itu. perilaku dan kegiatan secara komprehensif. dan SQ. Kecerdasan intelelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) ini cenderung berkaitan dengan status manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial (dimensi horisontal) serta kurang menyentuh persoalan inti kehidupan yang menyangkut fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (dimensi vertikal). Kecerdasan intelektual (IQ) memang penting kehadirannya dalam kehidupan manusia. maka keberhasilan yang dicapai hanyalah keberhasilan yang bernuansa duniawi atau kebendaan saja tetapi hampa dan tanpa makna. Lebih lanjut. sebagai makhluk yang memiliki sifat kemanusiaan (nasut) dan juga sifat ketuhanan (lahut). . EQ. SQ diperlukan untuk memberikan makna spiritual terhadap pemikiran. sedangkan 80 % sisanya diisi oleh kekuatan-kekuatan lain. yang kemudian dikenal dengan sebutan kecerdasan spiritual (SQ). Uraian di atas membawa kepada sebuah pemahaman bahwa untuk mencapai kesuksesan baik dalam urusan horisontal (manusia) dan vertikal (Tuhan) diperlukan integrasi antara IQ. yaitu agar manusia mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara efisien dan efektif. namun tanpa kecerdasan spiritual (SQ) yang mengajarkan nilai-nilai kebenaran. Menurut Agustian (2007: 46) SQ ini adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.menyumbang kira-kira 20 % bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup. termasuk kecerdasan emosi. Hal ini selaras dengan pandangan Pasiak (2007: 60) bahwa jika rasio dan emosi memberikan kepada manusia keunggulan-keunggulan yang bersifat teknis dan diperlukan untuk mengarungi kehidupan dunia. maka spiritualitas memberikan makna bagi tindakan-tindakan manusia. yang menurut Agustian (2006: 217) disebut sebagai meta kecerdasan. Peran kecerdasan emosional (EQ) juga penting dalam membangun hubungan antar manusia yang efektif sekaligus perannya dalam meningkatkan kinerja.

2007: 3). dan SQ menjadi meta kecerdasan bukan sesuatu hal yang mustahil karena pada dasarnya di dalam otak manusia telah tersedia komponen anatomis untuk aspek rasional (IQ). Pengintegrasian IQ. diperlukan juga kreatifitas dan inovasi dari pendidik agar proses pembelajaran tidak menjemukan –yang tentu saja akan berpengaruh pada prestasi peserta didik– tetapi menyenangkan (enjoyful learning) (EQ). EQ. Hal ini berarti bahwa secara kodrati manusia telah disiapkan sedemikian rupa untuk merespons segala macam hal dengan potensi-potensi yang sudah ada dalam diri manusia. dan spiritual (SQ) (Pasiak. Latar belakang ekonomi. minat. Upaya untuk mengintegrasikan ketiga potensi kecerdasan tersebut melalui proses pembelajaran tidaklah mudah. bakat. 2003: 18). maka salah satu tugas besar sebagai pendidik adalah berusaha membelajarkan para peserta didik untuk dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya.[2] dan .Agustian menyatakan bahwa Integrasi dari ketiga macam kecerdasan tersebut harus berorientasi pada spiritualisme tauhid. Selain itu.[1] bermakna (meaningful learning) (SQ). lingkungan sosial. bahkan cenderung berbeda. penemuan para ahli neurosains –sebagaimana diungkapkan oleh Pasiak– tentang tersedianya potensi-potensi tersebut dalam otak manusia tentu menjadi kabar gembira sekaligus tantangan untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan segala potensi yang sudah dianugerahkan oleh Allah SWT.. pengetahuan serta motivasi antara satu murid dengan murid yang lain tidaklah selalu sama. Hal ini dikarenakan setiap peserta didik memiliki kekhasan masing-masing. Dengan demikian. Bagi seorang pendidik. secara optimal. diperlukan sebuah pendekatan yang mampu memahami karakteristik peserta didik sehingga lingkungan sekolah benar-benar dapat memberi kesempatan bagi pengembangan potensi peserta didik agar mencapai titik maksimal (Hamalik. Oleh karena itu. emosional (EQ).

Indikatornya adalah dalam mekanisme pelaksanaan ujian. sering juga dijumpai orang yang memiliki kemampuan intelektual biasa saja namun ternyata sukses dalam pekerjaan ataupun dalam hubungan masyarakat. Keseimbangan ketiga dimensi tersebut diperlukan mengingat dalam mengarungi . Jelas ini sangat ironis karena pada dasarnya salah satu kelemahan pendidikan di Indonesia terletak pada aspek afektif. hingga pada akhirnya dapat diperoleh aktualisasi diri yang sesungguhnya (real achievement).. Sebaliknya. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Integrasi IQ. Banyaknya kasus negatif dalam bidang afektif yang mewarnai dunia pendidikan di Indonesia seperti pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru terhadap murid. narkoba. seringkali dijumpai orang yang sebenarnya memiliki kemampuan intelektual luar biasa namun gagal karena rendahnya kecerdasan emosi yang dimiliki. 2007. penyontekan. tawuran pelajar. dan learning to live together (EQ) (Abdurrahman. kecerdasan otak (IQ) saja.[3] Dengan pembelajaran seperti ini diharapkan tercipta manusia-manusia pembelajar yang selalu tertantang untuk belajar (learning to do. 2007:13). serta selalu memperbaiki kualitas diri-pribadi secara terus-menerus. murid laki-laki terhadap murid perempuan. EQ dan SQ. baik nasional maupun institusional.??? Dalam kehidupan sehari-hari. Re-invensi Kebermaknaan Pembelajaran. Meaningful Learning. dimensi emosional (afektif) dan juga dimensi spiritual. dan lain sebagainya merupakan deretan panjang pelanggaran dalam bidang afekif. Dua keadaan tersebut tampaknya perlu dijadikan bahan renungan ttentang cara kita “membaca” kecerdasan.Hal ini menjadi penting karena selama ini sistem pendidikan yang ada terlalu menekankan pentingnya nilai akademik.. learning to know) (IQ). learning to be (SQ). Oleh karena itu perlu ada upaya praktis dari seluruh stakeholders pendidikan di Indonesia dengan merubah paradigma pendidikan yang intelektual sentris (kognitif) menuju paradigma pendidikan yang mampu menyeimbangkan dan menyelaraskan dimensi intelektual (kognitif). Kondisi yang demikian ini mengindikasikan bahwa pendidikan di Indonesia telah terjangkit penyakit klinis yang kronis. menurunnya rasa hormat murid terhadap guru.menantang atau problematis (problematical learning) (IQ).. Mungkinkah. tolok ukurnya adalah penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang bersifat remembering dan recalling.

kesuksesan seseorang dalam kehidupan juga tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi IQ yang dimiliki. Hal ini selaras dengan . Oleh karena itu. seseorang tidak hanya cukup dengan bekal cerdas secara intelektual. Goleman (2003: 44) meyakini bahwa IQ hanya menyumbang kira-kira 20 % bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup. sedangkan 80 % sisanya diisi oleh kekuatan-kekuatan lain. tetapi EQ juga sangat berperan dalam segala sendi kehidupan. yang kemudian dikenal dengan sebutan kecerdasan spiritual (SQ).kehidupan. perilaku dan kegiatan secara komprehensif. namun lemah dalam pengendalian emosi serta hampa dalam urusan spiritual. manusia juga memerlukan jenis kecerdasan lain yang berdimensi vertikal. Selain itu. namun tanpa kecerdasan spiritual (SQ) yang mengajarkan nilai-nilai kebenaran. sebagai makhluk yang memiliki sifat kemanusiaan (nasut) dan juga sifat ketuhanan (lahut). tetapi juga dibutuhkan orang yang cerdas secara emosi. maka keberhasilan yang dicapai hanyalah keberhasilan yang bernuansa duniawi atau kebendaan saja tetapi hampa dan tanpa makna. Peran kecerdasan emosional (EQ) juga penting dalam membangun hubungan antar manusia yang efektif sekaligus perannya dalam meningkatkan kinerja. termasuk kecerdasan emosi. Kecerdasan intelektual (IQ) memang penting kehadirannya dalam kehidupan manusia. yaitu agar manusia mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara efisien dan efektif. Hal ini dikarenakan dalam berhubungan dengan manusia. SQ diperlukan untuk memberikan makna spiritual terhadap pemikiran. Kecerdasan intelelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) ini cenderung berkaitan dengan status manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial (dimensi horisontal) serta kurang menyentuh persoalan inti kehidupan yang menyangkut fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (dimensi vertikal). tidak hanya dibutuhkan orang yang cerdas secara IQ. Menurut Agustian (2007: 46) SQ ini adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.

. dan SQ menjadi meta kecerdasan bukan sesuatu hal yang mustahil karena pada dasarnya di dalam otak manusia telah tersedia komponen anatomis untuk aspek rasional (IQ). secara optimal. maka spiritualitas memberikan makna bagi tindakan-tindakan manusia. Bagi seorang pendidik. lingkungan sosial. 2003: 18). EQ. yang menurut Agustian (2006: 217) disebut sebagai meta kecerdasan. maka salah satu tugas besar sebagai pendidik adalah berusaha membelajarkan para peserta didik untuk dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya. dan SQ. bahkan cenderung . Hal ini dikarenakan setiap peserta didik memiliki kekhasan masing-masing. bakat.pandangan Pasiak (2007: 60) bahwa jika rasio dan emosi memberikan kepada manusia keunggulan-keunggulan yang bersifat teknis dan diperlukan untuk mengarungi kehidupan dunia. pengetahuan serta motivasi antara satu murid dengan murid yang lain tidaklah selalu sama. EQ. emosional (EQ). Agustian menyatakan bahwa Integrasi dari ketiga macam kecerdasan tersebut harus berorientasi pada spiritualisme tauhid. Lebih lanjut. dan spiritual (SQ) (Pasiak. Upaya untuk mengintegrasikan ketiga potensi kecerdasan tersebut melalui proses pembelajaran tidaklah mudah. Dengan demikian. Uraian di atas membawa kepada sebuah pemahaman bahwa untuk mencapai kesuksesan baik dalam urusan horisontal (manusia) dan vertikal (Tuhan) diperlukan integrasi antara IQ. penemuan para ahli neurosains –sebagaimana diungkapkan oleh Pasiak– tentang tersedianya potensi-potensi tersebut dalam otak manusia tentu menjadi kabar gembira sekaligus tantangan untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan segala potensi yang sudah dianugerahkan oleh Allah SWT. minat. Latar belakang ekonomi. Hal ini berarti bahwa secara kodrati manusia telah disiapkan sedemikian rupa untuk merespons segala macam hal dengan potensi-potensi yang sudah ada dalam diri manusia. Pengintegrasian IQ.

hingga pada akhirnya dapat diperoleh aktualisasi diri yang sesungguhnya (real achievement).[1] bermakna (meaningful learning) (SQ). Re-invensi Kebermaknaan Pembelajaran. Meaningful Learning.[2] dan menantang atau problematis (problematical learning) (IQ). 2007. serta selalu memperbaiki kualitas diri-pribadi secara terus-menerus.[3] Dengan pembelajaran seperti ini diharapkan tercipta manusia-manusia pembelajar yang selalu tertantang untuk belajar (learning to do. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. learning to know) (IQ).berbeda. diperlukan sebuah pendekatan yang mampu memahami karakteristik peserta didik sehingga lingkungan sekolah benar-benar dapat memberi kesempatan bagi pengembangan potensi peserta didik agar mencapai titik maksimal (Hamalik. learning to be (SQ). 2007: 3). Oleh karena itu. diperlukan juga kreatifitas dan inovasi dari pendidik agar proses pembelajaran tidak menjemukan –yang tentu saja akan berpengaruh pada prestasi peserta didik– tetapi menyenangkan (enjoyful learning) (EQ). Selain itu. 2007:13). Yogyakarta: Pustaka Pelajar . dan learning to live together (EQ) (Abdurrahman.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.