Dien Dalam Perspektif Tafsir Al-Qur’an (Bagian Pertama

)
http://pemikiranislam.multiply.com/journal/item/3




assalaamu'alaikum wr. wb.

Kata “dien” secara bahasa digunakan dalam berbagai konteks atau uslub dengan banyak
makna, seperti ketundukan, ketaatan, kehinaan, menguasai, balasan, agama dan jalan
hidup. Kata “dien” secara semantik berkisar pada makna : hubungan korelatif antara dua
pihak, jika salah satunya menyerahkan ketundukan dan ketaatan, maka pihak lainnya
adalah pemegang otoritas dan kekuasaan. Hubungan yang terjadi antara dua pihak ini
diatur dalam prinsip-prinsip berbentuk sekumpulan tataaturan atau sistem yang
mengikat.

Menurut Dr. Darraz, dalam studi perbandingan agama (muqaranat al-adyaan), kata
“dien” selalu dimaksudkan dengan dua keadaan. Pertama, pengalaman personal (état
subjectif), berupa ketaatan individu pada Dzat Tuhan, dan kedua, adalah fakta eksternal
(al-haqiiqah al-khaarijiyah, faith objectif), berupa sekumpulan prinsip dan aturan
mengenai keyakinan dan perilaku yang menjadi agama suatu umat.

Klasifikasi Dr. Darraz ini sesuai dengan keterangan para mufassir terhadap makna “dien”
yang digunakan dalam Al-Qur’an. Dalam berbagai konteks penggunaannya, “dien”
dalam Al-Qur’an diantaranya memiliki dua makna pokok yaitu syariat (syariah) dan
ketaatan (tho'ah). Syariat konotasinya kepada dien sebagai agama yang berisi aturan-
aturan Tuhan, sedangkan ketaatan (tho’ah) berarti ketundukan personal seorang manusia
kepada Tuhannya.

Ayat berikut menggunakan kata “dien” dengan arti syariat. Allah berfirman,

¿¸| _¸¸¦ ..¸s ¸<¦ `¸.l`.¸¸¦
Sesungguhnya dien (yang diterima) disisi Allah adalah Al-Islam
(Q.S. Ali Imran [3]: 19).

Kesimpulan tersebut dapat ditemukan berdasarkan penjelasan para mufassir. Komentar
Imam Qatadah tentang ayat ini, “Islam adalah kesaksian tentang keesaan Allah sambil
berikrar akan kebenaran apa yang dibawa Muhammad saw dari Allah. Islam adalah dien
Allah, sebagai syariat dari-Nya dan menjadi misi bagi para rasul-Nya...” Imam Qatadah
menyebut makna dien dalam ayat ini adalah “syariat Allah yang menjadi misi para
Rasul”, sedangkan syariat itu sendiri adalah “apa yang dibawa Nabi Muhammad saw.
dari Allah”. Jelas bahwa syariat adalah dien dengan arti kumpulan sistem ibadah.

Ibnu Katsir menerangkan ayat diatas, “(Ini adalah) berita dari Allah Ta’ala bahwa tiada
dien yang Dia terima selain Islam. Sedang Islam adalah ittiba’ pada para utusan Allah di
setiap masa hingga ditutup oleh Nabi Muhammad saw. Setelah itu, tertutup pula semua
jalan-jalan peribadatan kecuali jalan Nabi Muhammad saw. Maka barangsiapa yang
bertemu Allah setelah diutusnya Muhamamad saw. dengan dien selain dari syariatnya,
dia tidak akan diterima…” Serupa dengan Imam Qatadah, Ibnu Katsir menyebut “dien”
dengan makna syariat, sedang Islam adalah syariat Muhammad saw.

Makna lebih tegas dapat ditangkap dari tafsir Abu Hayyan. Dalam Al-Bahrul Muhiith,
ketika sampai di ayat ini penulis berkata, “Yakni (makna dari “dien”) adalah millah dan
syariat”.

Makna kedua dari “dien” dengan arti ketaatan personal adalah seperti dalam Al-A’raaf
ayat 29. Allah berfirman : “Katakanlah, Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil dan
(mengatakan) hadapkanlah wajahmu dengan lurus di tiap masjid dan berdoalah dengan
mengikhlaskan dien bagi-Nya”.

Kata Imam Ath-Thabari, “Beribadahlah untuk Tuhanmu dengan mengikhlaskan dien dan
ketaatan dan jangan mencampurinya dengan syirik.” Ath-Thabari menyandingkan makna
“dien” dalam ayat ini dengan ketaatan. Al-Baghawi menyatakan makna “dien” di ayat ini
sebagai “ketaatan dan ibadah” Demikian pula Abu Hayyan dalam tafsirnya mengartikan
“dien” dengan ketaatan. Klasifikasi makna “dien” ini sangat berguna dalam menganalisa
hubungan antara agama dan perilaku penganutnya dari sudut pandang Al-Qur’an dan
tafsir.


Syariat Diniyyah

Ketika menafsirkan kata syariat dalam ayat Al-Maidah : 48, Ibnu Katsir mengatakan,
“Syariat secara bahasa berarti jalan yang terang menuju sumber air. Kemudian kata ini
digunakan untuk menyebut syariat Allah bagi hamba-Nya yaitu dien”. Ayat yang
dimaksud adalah, “Dan Kami jadikan bagi tiap umat dari antara kamu syir’ah dan
minhaj”.

Keterangan Ibnu Katsir ini menggambarkan makna syariat adalah aturan yang ditetapkan
Allah untuk menuju ridha-Nya. Ini adalah pengertian “syariah” dalam tafsir Al-Qur’an
yang juga bisa didapat di berbagai kitab tafsir lain. Dengan pengertian ini, awalnya
syariah ditujukan kepada segala sesuatu yang ditetapkan Allah dalam agamanya baik itu
masalah ibadah maupun masalah keyakinan (aqidah). Namun dalam perkembangannya,
kata “syariah” lebih khusus hanya digunakan sebagai undang-undang Allah mengenai
perbuatan manusia (ahkam syar’iyyah).

Dalam perbandingan agama, unsur-unsur pokok yang melembagakan agama-agama besar
dunia ada empat, yaitu tuhan, kitab suci, formalitas peribadatan (thuqus wa marasim) dan
sistem keyakinan (‘aqa’id). Kepercayaan-kepercayaan lokal mungkin minus kitab suci
dan bertahan dengan tradisi oral dan ritual sebagai referensi agama, tapi unsur selainnya
tetap sama.

Empat unsur agama ini intens dibicarakan dalam Al-Qur’an. Konsep Tuhan dalam Al-
Qur’an diulas dengan berbagai uslub. Al-Qur’an membicarakan konsep Tuhan sebagai
sesembahan (ilah), sebagai sebab penciptaan dan pengaturan alam (rabb) serta Dzat yang
memiliki sifat-sifat. Al-Qur’an membicarakan kitab suci sebagai landasan agama yang
merupakan firman Tuhan yang membimbing manusia. Juga dibicarakan kitab suci
sebagai sasaran manipulasi.

Sistem keyakinan manusia dibicarakan dengan gaya kritik atau bimbingan. Masalah
aqidah dalam Al-Qur’an dibicarakan memiliki genealogi dan sistem. Al-Qur’an sering
mengajak manusia berfikir logis dan sistematis demi membuktikan kebenaran tauhid dan
kebatilan syirik.

Adapun peribadatan formal (thuqus wa marasim diniyyah) adalah tatacara peribadatan
yang diatur menurut otoritas ketuhanan. Menurut Al-Qur’an manusia harus patuh pada
cara-cara yang ditentukan oleh Tuhan dalam melakukan ketundukan pada-Nya, bukannya
membuat cara ibadah sendiri (bid’ah) dengan sesuka hatinya seperti yang dilakukan oleh
musyrikin Arab atau orang-orang Yahudi.

Tuhan adalah pemegang otoritas tertinggi dalam agama yang menyampaikan wahyu,
tertulis dalam bentuk kitab suci, berisi sistem keyakinan yang mendeskripsikan gambaran
tentang Tuhan dan alam gaib serta tatacara ibadah sebagai media manusia dalam
mengekspresikan ketundukannya. Pada kenyataannya, deskripsi Al-Qur’an terhadap
agama-agama memang sesuai sebagaimana adanya.

Referensi :
• Dr. M. Darraz, Lisaanul Arab.
• Ar-Raghib Al-Ashfahani, Mufradaatul Alfadhil Qur’an.
• Tafsir Ath-Thabari.
• Tafsir Ibnu Katsir.
• Tafsir Al-Bahrul Muhith.
• Tafsir Al-Baghawi.

wassalaamu'alaikum wr. wb.




Ahmad Rofiqi, Lc.
• Alumni Jurusan Dirasat Qur’aniyyah, Kuliyyah Dakwah Islamiyyah, Tripoli, Libia.
• Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan dan Pemikiran Islam, Univ. Ibnu Khaldun – Bogor.



Lampiran


¿¸| _¸¸¦ ..¸s ¸<¦ `¸.l`.¸¸¦ !.´¸ ¸l.>¦ _¸¸¦ ¦¡.¸¦ ¸..¸>l¦ ¸¸| _¸.
¸.-, !. `¡>´,l> `¸l¸-l¦ !,-, `¸¸.¸, _.´¸ ¯¸±>, ¸¸.,!:¸, ¸<¦ _¸|· ´<¦ _,¸¸.
¸,!.¸>'¦ ¸¸_¸
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada
berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara
mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka
sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
(Q.S. Ali Imran [3] : 19)


¯_· ´¸. ¦ _¸¸´¸ ¸1`.¸1l!¸, ¦¡.,¸·¦´ ¸ ¯¡>>¡`>`¸ ..¸s ¸_é ¸.¸>`. . :¡`s:¦´ ¸
_,¸.¸l>: ` _¸¸¦ !.´ ¯¡´¦., ¿¸:¡`- . ¸__¸
Katakanlah, “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan
(katakanlah), “Hadapkanlah wajahmu dengan lurus di setiap masjid dan
sembahlah Allah dengan mengikhlaskan dien kepada-Nya, sebagaimana
Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu
akan kembali kepadaNya)”.
(Q.S. Al-A’raaf [7] : 29)


!´.l¸.¦´ ¸ ,, l¸| ¸..¸>l¦ ¸´_>l!¸, !·¸´..`. !.¸l _,, ¸«,., ´_¸. ¸¸..¸÷l¦
!´.¸.,¸`.´ ¸ ¸«,ls ¡÷>!· ¸¸.¸, !.¸, _¸.¦ ´<¦ ¸´¸ _¸,.. ¯¡>´,¦´¡>¦ !´.s
ì´,l> ´_¸. ¸´_>l¦ ¸_>¸l !.l -> ¯¡>.¸. «s¸¸. l´>!¸.¸.´ ¸ ¯¡l´¸ ´,!: ´<¦
¯¡÷l- >l «.¦ :.¸>´ ¸ _¸>.l´¸ ¯¡´´¡l¯,´,¸l _¸· !. ¯¡> .¦´, ¦¡1¸,.`.!· ¸,´¸¯,>l¦
_|¸| ¸<¦ ¯¡÷`-¸>¯¸ . !´-,¸.> ¡>`.¸,.`, · !.¸, `¸..´ ¸«,¸· ¿¡±¸l.> ´ ¸__¸
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa
kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang
diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain
itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan
kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara
kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah
menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah
hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka
berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali
kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu
perselisihkan itu.
(Q.S. Al-Maaidah [5] : 48)

Ibnu Katsir mengatakan. “(Ini adalah) berita dari Allah Ta’ala bahwa tiada dien yang Dia terima selain Islam. formalitas peribadatan (thuqus wa marasim) dan sistem keyakinan (‘aqa’id). Ayat yang dimaksud adalah. Kemudian kata ini digunakan untuk menyebut syariat Allah bagi hamba-Nya yaitu dien”. Sedang Islam adalah ittiba’ pada para utusan Allah di setiap masa hingga ditutup oleh Nabi Muhammad saw. Allah berfirman : “Katakanlah. Keterangan Ibnu Katsir ini menggambarkan makna syariat adalah aturan yang ditetapkan Allah untuk menuju ridha-Nya. dengan dien selain dari syariatnya. awalnya syariah ditujukan kepada segala sesuatu yang ditetapkan Allah dalam agamanya baik itu masalah ibadah maupun masalah keyakinan (aqidah). Kata Imam Ath-Thabari. Namun dalam perkembangannya. “Yakni (makna dari “dien”) adalah millah dan syariat”. tertutup pula semua jalan-jalan peribadatan kecuali jalan Nabi Muhammad saw. kitab suci. sedang Islam adalah syariat Muhammad saw. yaitu tuhan. dia tidak akan diterima…” Serupa dengan Imam Qatadah. Ibnu Katsir menyebut “dien” dengan makna syariat. unsur-unsur pokok yang melembagakan agama-agama besar dunia ada empat. Dengan pengertian ini. “Dan Kami jadikan bagi tiap umat dari antara kamu syir’ah dan minhaj”. Kepercayaan-kepercayaan lokal mungkin minus kitab suci . Dalam perbandingan agama. Dalam Al-Bahrul Muhiith.Ibnu Katsir menerangkan ayat diatas. Syariat Diniyyah Ketika menafsirkan kata syariat dalam ayat Al-Maidah : 48.” Ath-Thabari menyandingkan makna “dien” dalam ayat ini dengan ketaatan. “Beribadahlah untuk Tuhanmu dengan mengikhlaskan dien dan ketaatan dan jangan mencampurinya dengan syirik. Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil dan (mengatakan) hadapkanlah wajahmu dengan lurus di tiap masjid dan berdoalah dengan mengikhlaskan dien bagi-Nya”. Al-Baghawi menyatakan makna “dien” di ayat ini sebagai “ketaatan dan ibadah” Demikian pula Abu Hayyan dalam tafsirnya mengartikan “dien” dengan ketaatan. Klasifikasi makna “dien” ini sangat berguna dalam menganalisa hubungan antara agama dan perilaku penganutnya dari sudut pandang Al-Qur’an dan tafsir. Makna kedua dari “dien” dengan arti ketaatan personal adalah seperti dalam Al-A’raaf ayat 29. Makna lebih tegas dapat ditangkap dari tafsir Abu Hayyan. Ini adalah pengertian “syariah” dalam tafsir Al-Qur’an yang juga bisa didapat di berbagai kitab tafsir lain. Maka barangsiapa yang bertemu Allah setelah diutusnya Muhamamad saw. Setelah itu. ketika sampai di ayat ini penulis berkata. kata “syariah” lebih khusus hanya digunakan sebagai undang-undang Allah mengenai perbuatan manusia (ahkam syar’iyyah). “Syariat secara bahasa berarti jalan yang terang menuju sumber air.

Libia. Ahmad Rofiqi. • Tafsir Ibnu Katsir.dan bertahan dengan tradisi oral dan ritual sebagai referensi agama. tapi unsur selainnya tetap sama. Tuhan adalah pemegang otoritas tertinggi dalam agama yang menyampaikan wahyu. • Tafsir Al-Bahrul Muhith. Univ. Ibnu Khaldun – Bogor. Adapun peribadatan formal (thuqus wa marasim diniyyah) adalah tatacara peribadatan yang diatur menurut otoritas ketuhanan. • • Alumni Jurusan Dirasat Qur’aniyyah. Masalah aqidah dalam Al-Qur’an dibicarakan memiliki genealogi dan sistem. sebagai sebab penciptaan dan pengaturan alam (rabb) serta Dzat yang memiliki sifat-sifat. Kuliyyah Dakwah Islamiyyah. • Ar-Raghib Al-Ashfahani. Darraz. Lisaanul Arab. bukannya membuat cara ibadah sendiri (bid’ah) dengan sesuka hatinya seperti yang dilakukan oleh musyrikin Arab atau orang-orang Yahudi. • Tafsir Ath-Thabari. M. wb. Al-Qur’an membicarakan konsep Tuhan sebagai sesembahan (ilah). Al-Qur’an sering mengajak manusia berfikir logis dan sistematis demi membuktikan kebenaran tauhid dan kebatilan syirik. wassalaamu'alaikum wr. Tripoli. Pada kenyataannya. berisi sistem keyakinan yang mendeskripsikan gambaran tentang Tuhan dan alam gaib serta tatacara ibadah sebagai media manusia dalam mengekspresikan ketundukannya. Sistem keyakinan manusia dibicarakan dengan gaya kritik atau bimbingan. Referensi : • Dr. Mufradaatul Alfadhil Qur’an. deskripsi Al-Qur’an terhadap agama-agama memang sesuai sebagaimana adanya. . Juga dibicarakan kitab suci sebagai sasaran manipulasi. Al-Qur’an membicarakan kitab suci sebagai landasan agama yang merupakan firman Tuhan yang membimbing manusia. Lc. • Tafsir Al-Baghawi. tertulis dalam bentuk kitab suci. Menurut Al-Qur’an manusia harus patuh pada cara-cara yang ditentukan oleh Tuhan dalam melakukan ketundukan pada-Nya. Konsep Tuhan dalam AlQur’an diulas dengan berbagai uslub. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan dan Pemikiran Islam. Empat unsur agama ini intens dibicarakan dalam Al-Qur’an.

(Q. Dan (katakanlah). Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka. Al-A’raaf [7] : 29)                                                           .Lampiran                              Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.S. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)”. karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. (Q. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Ali Imran [3] : 19)                    Katakanlah.S. “Hadapkanlah wajahmu dengan lurus di setiap masjid dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan dien kepada-Nya.

tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu.S. yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu. Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Sekiranya Allah menghendaki. niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja).Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. (Q. Al-Maaidah [5] : 48) . Untuk tiap-tiap umat diantara kamu. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya. membenarkan apa yang sebelumnya. lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.