P. 1
makalah

makalah

|Views: 112|Likes:
Published by reta_greenhoz

More info:

Published by: reta_greenhoz on Mar 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2012

pdf

text

original

BAB II PEMBAHASAN

5.

Psikologi

Sosial

adalah

ilmu

tentang

peristiwa

perilaku

hubungan

interpersonal (Krech, Crutchfield & Ballachey, 1962) 6. Psikologi sosial atau social psychology adalah ilmu pengetahuan atau kerangka ilmiah yang berusaha memahami asal usul dan sebab-sebab terjadinya perilaku dan pemikiran individual dalam konteks situasi sosial. Dimana yang dimaksud situasi sosial adalah kehadiran orang lain secara nyata maupun secara imajinasi. (Robert A. Baron dan Donn Byrne) 7. Ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu manusia sebagai anggota suatu masyarakat. (A. M. Chorus Grondslagen der Sociale Psychologie) 8. Ilmu yang mempelajari tentang pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi perangsang sosial. (Sherif & Sherif, An Outline of Social Psychology) 9. Ilmu tentang segi-segi psikologis dari tingkah laku manusia dipengaruhi oleh interaksi sosial. (Roueck and Warren, Sociology) 10. Ilmu tentang gejala psikis dan cara manusia berlaku seperti yang ditimbulkan atau dipengaruhi oleh hubungan antara manusia dengan manusia. (KPPK No. 73, Ilmu Jiwa Sosial) 11. Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang individu manusia dengan kelompoknya, dan hubungan antara kelompok yang satu dengan yang lain. (Boring, Langfeld, Weld, Foundations of Psychology) 12. Ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dalam kelompok khususnya dan dalam lingkungan sosiokultural pada umumnya. (W. Toman, Einfuehrung in die Moderne Psychologie) (Sarwono, S.W. Psikologi Sosial) 13. Menurut Hartley dan Hartley (1961:1) memberikan definisi mengenai psikologi sosial sebagai “ social psychology is that branch of the social sciences which seek to understand individual behavior in the context of

A.

Pengertian Psikologi Sosial Secara singkat psikologi sosial merupakan psikologi dalam konteks sosial. Psikologi seperti yang telah diketahui adalah ilmu tentang perilaku, sedangkan sosial disini berarti interaksi antar individu atau antarkelompok dalam masyarakat. Jadi, psikologi sosial adalah psikologi yang dapat diterapkan dalam konteks keluarga, sekolah, teman, kantor, politik, Negara, lingkungan, organisasi, dan sebagainya. Psikologi sosial sangat bermanfaat dalam membangun praktik psikologi klinis, psikologi anak, psikologi komunikasi, psikologi industry dan organisasi, psikologi pendidikan, psikologi olahraga, psikologi criminal, psikologi pemasaran, dan berbagai cabang psikologi terapan lainnya. Secara lebih rinci, beberapa ahli telah berusaha untuk mendefinisikan psikologi sosial berdasarkan bidang penekanannya masing-masing. Berikut merupakan beberapa rumusan psikologi sosial dari para ahli tersebut yaitu antara lain : (Gerungan, W.A. Psikologi Sosial) 1. Ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia. (Hubert Bonner Social Psychology) 2. 3. Psikologi Sosial adalah ilmu tentang interaksi manusia (Watson, 1966) Psikologi Sosial adalah studi tentang manusia individual ketika ia berinteraksi, biasanya secara simbolik, dengan lingkungannya (Dewey & Huber, 1966) 4. Psikologi Sosial merupakan usaha sistematis untuk memahami prilaku sosial, yakni bagaimana kita mengamati orang lain dan situasi sosial, bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita, bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi sosial. (Davis O Sears)

social interaction”. Dari pengertian ini dapat dikemukakan bahwa Hartley and Hartley ingin melihat perilaku individu dalam konteks interaksi sosial. 14. Menurut Myers, “social psychology is the scientific study of how people think about, influence and relate to one another” dari pengertian ini dapat dikemukakan bahwa Myers melihat tentang bagaimana orang berpikir, pengaruh dan berhubungan dengan orang lain. 15. Menurut sheriff & Muzfer (1956), psikologi adalah ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus sosial. Dalam definisi ini, stimulus sosial diartikan bukan hanya manusia, tetapi juga benda-benda dan hal-hal lain yang diberi makna sosial. Misalnya, sebuah mobil bertanda Palang Merah tidak boleh diserang dalam medan pertempuran atau celana renang wajar dipakai saat berada di kolam renang, tetapi tidak pantas dipakai di masjid atau sekolah. Di Ho Chi Minh City, rakyat Vietnam berduyun-duyun setiap hari untuk memberi hormat kepada jenazah pemimpin besar revolusi mereka, Ho Chi Minh City , tetapi para turis hanya bersikap ingin tahu bagaimana caranya jenazah yang sudah bertahun-tahun tidak bernyawa masih tetap tampak segar seperti orang sedang tidur saja. 16. Menurut Allport (1968), psikologi sosial adalah upaya untuk memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan dan perilaku individu terpengaruh oleh kehadiran orang lain. Pengaruh tersebut dapat bersifat actual, dalam imajinasi, maupun secara tidak langsung. Definisi ini tidak mementingkan stimulus (rangsang dari luar), melainkan berusaha memahami apa yang terjadi dalam pikiran seseorang ketika ia terkena stimulus tertentu dan perasaan serta perilaku apa yang akan timbul setelah itu. Di lantai IV Gedung H Fakultas Psikologi UI ada ruang auditorium dan didepannya ada ruang terbuka (lobi) yang biasa digunakan untuk jamuan makan siang atau rehat kopi jika ada seminar atau promosi doctor. Akan tetapi, setiap Jumat, di lobi tersebut dipasangkan karpet dan dijadikan sebagai tempat pelaksanaan solat Jumat. Apa yang terdapat dalam pikiran orang-orang itu, sehingga perilaku orang-orang yang sama bias berubah di tempat yang sama hanya karena perubahan konteks lingkungan dari meja makan ke karpet dan sebaliknya). B.

17.

Menurut Shaw & Constanto (1970) psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individual sebagai fungsi stimulus-stimulus sosial. Definisi ini tidak menekankan stimulus eksternal maupun proses internal, melainkan mementingkan hubungan timbal balik antara keduanya. Stimulus diberi makna tertentu oleh manusia dan selanjutnya manusia bereaksi sesuai dengan makna tertentu oleh manusia dan selanjutnya manusia bereaksi sesuai dengan makna yang diberikannya itu. Misalnya, pantai Ancol dulu adalah tempat yang sama sekali tidak menarik. Akan tetapi, setelah Ir. Ciputra mengubahnya menjadi tempat rekreasi, Ancol menjadi tempat rekreasi yang popular. Dari pengertian-pengertian yang telah dikemukakan oleh para ahli dapat

ditarik pendapat bahwa psikologi sosial itu merupakan ilmu tentang perilaku individu dalam situasi sosial. Berkaitan dengan psikologi sosial ini ada beberapa hal yang dapat dikemukakan yaitu bahwa psikologi sosial fokusnya pada perilaku individu dan dalam kaitannya dengan situasi sosial. Dengan demikian apapun definisi mengenai psikologi sosial itu tidak dapat lepas dari adanya situasi sosial atau interaksi sosial dan fokusnya adalah perilaku individu. Batasan dan Ruang Lingkup Ruang Lingkup (Wikipedia) : 1. Studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya studi tentang persepsi, motivasi proses belajar, atribusi, dsb. 2. Studi tentang proses-proses individual bersama seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru dan lain-lain. 3. Studi tentang interaksi kelompok contohnya kepemimpinan, komunikasi, hubungan kekuasaan, kerjasama dalam kelompok dan persaingan.

Fokus utama Psikologi sosial (Michener & Delamater, 1999) : 1. Pengaruh individu terhadap orang lain

2. 3. 4.

Pengaruh kelompok pada individu-individu anggotanya Pengaruh individu anggota terhadap kelompok Pengaruh sebuah kelompok terhadap kelompok lain

sosial yang lebih luas dan karena itu menarik kedalamnya sosiologi, ilmu politik, antropologi, dan sebagainya. 1. Hubungan psikologi sosial dengan sosiologi Ilmu yang dapat mempengaruhi pada Psikologi Sosial adalah Sosiologi dan Antropologi, (Bonner-1953) Sosiologi : Suatu bidang ilmu yang terkait dengan perilaku hubungan antar individu, atau antara individu dengan kelompok, atau antar kelompok (interaksionisme) dalam perilaku sosialnya. Perbedaan antara Psikologi Sosial dengan Sosiologi adalah lebih terfokus studinya. Fokus perhatian studi psikologi social lebih dominan ke perilaku individu. Berbeda dengan Sosiologi yang lebih terfokus pada sistem dan struktur sosial yang dapat berubah tanpa bergantung pada individu tersebut.Sosiologi lebih memfokuskan pada masyarakat dan budaya yang melingkupi individu. 2. Hubungan psikologi sosial dengan antropologi Antropologi : lebih memfokuskan pada perilaku sosial dalam suprastruktur budaya tertentu, sehingga dapat dikatakan lebih ke bidang budayanya. Psikologi Sosial : jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya atau mempelajari perilaku individu yang bermakna dalam hubungan dengan lingkungan atau rangsang sosialnya. Masalah-masalah yang menjadi fokus perhatian antropologi: 1. 2. 3. 4. „kepribadian bangsa‟ Peranan individu dalam proses perubahan adat istiadat Nilai universal dalam Persoalan „kepribadian bangsa‟ sesudah perang Dunia ke-1 hubungan antar bangsa kian intensif, perhatian penjajah terhadap kepribadian bangsa jajahan Fokus studi antropologi awal tahun 1920-an : Ahli antropologi tertarik pada lingkungan dan kebudayaan dari bayi dan anak-anak, masa itu sangat

Batasan Psikologi sosial (Sarwono, S. Psikologi Sosial): 1. Psikologi sosial mempelajari perilaku manusia, bukan perilaku hewan karena hewan tidak mempunyai interaksi seperti yang ada pada manusia (misalnya bahasa, norma, dan sebagainya). 2. Perilaku itu haruslah yang teramati dan terukur, bisa berupa aktivitas motoric yang besar (misalnya meloncat), bisa juga kecil (misalnya gerakan mengangkat alis), bicara, atau menulis. 3. Sebagai konsekuensi dari objek studi yang teramati dan terukur, psikologi sosial harus bisa diverifikasi oleh siapa saja (publicly verifiable), walaupun tentu saja maknanya sangat bergantung pada perspektif teori, latar belakang budaya, dan interpretasi pribadi. 4. Psikologi sosial tidak mempelajari perilaku yang tidak kasatmata dan tidak terukur-beriman, kejujuran,bersifat culas,berjiwa besar, berideologi pancasila dan sebagainya. Namun, hal-hal yang tidak kasat mata seperti pikiran, perasaan, sikap, kepercayaan, niat, minat, tujuan, harapan, dan sebagainya, harus tetap terukur dan disimpulkan (inferred) dari perilaku yang kasat mata. 5. Dengan demikian, psikologi sosial menghubungkan aspek-aspek psikologi sosial dari perilaku sosial dengan proses dan struktur kognitif yang lebih mendasar. Ilmu ini juga terkait dengan sosiologi, antropologi, budaya linguistic, psikologi kognitif dan neurosains (ilmu saraf). Walaupun demikian, ilmu ini tetap merupakan bidang ilmu yang “distinctive” (khas, lain dari yang lain). C. Hubungan psikologi sosial dengan ilmu lain Serge moscovici seorang psikolog sosial perancis menyatakan bahwa psikologi sosial adalah jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya. Sebab psikologi sosial mengakui pentingnya memandang individu dalam suatu system

dianggap penting bagi pembentukan kepribadian dewasa yang khas dalam suatu masyarakat. Karena pembentukan kepribadian adalah sesuatu yang patut dipelajari dan di tanam dalam diri masyarakat, agar ada batasan dan norma-norma yang berlaku. Hampir semua penelitian yang mendalami “kepribadian bangsa”

Psikologi merupakan ilmu yang mempunyai peranan penting dalam bidang politik, “massa psikologi”. Penting bagi politisi untuk menyelami gerakan jiwa dari rakyat pada umumnya, golongan tertentu pada khususnya. Psikologi sosial dapat menjelaskan bagaimana sikap dan harapan masyarakat dapat melahirkan tindakan serta tingkahlaku yang berpegang teguh pada tuntutan masyarakat

menyimpulkan bahwa ciri-ciri kepribadian yang tampak berbeda pada bangsa-bangsa di dunia ini bersumber pada cara pengasuhan pada masa kanak-kanak. Karena pada masa kanak-kanak adalah masa yang paling penting untuk mengatur dan melihat jati diri, masa kanak-kanak yang bisa di ajarkan berperilaku baik sesuai norma dan adat dan masa kanak-kanaklah yang pandai meniru. Misalnya: orang jepang yang dewasa menjadi bersifat memaksakan kehendaknya, karena ketatnya latihan mengenai cara membuang air pada masa kanak-kanak. Subdisiplin : komunikasi politik, sosiologi komunikasi masa, psikologi Namun seiring perkembangannya, saat ini kesimpulan di atas tidak bisa diandalkan lagi. Dalam perkembangannya, fokus pendekatan psikologis pada keanekaragaman kebudayaan, berubah. Minat terhadap hubungan pengasuhan semasa anak-anak dan kepribadian setelah dewasa, tetap dipertahankan, namun beberapa ahli antropologi mulai meneliti faktorfaktor determinan yang mungkin jadi penyebab dari kebiasaan pengasuhan anak yang beragamKebudayaan tertentu menghasilkan karakteristik psikologi tertentu menimbulkan ciri budaya lainnya Kesimpulan mengenai pendekatan psikologis dalam antropologi budaya: dengan menghubungkan variasi dalam pola budaya dengan masa pengasuhan anak, kepribadian, kebiasaan, dan kepercayaan yang mungkin menjadi konsekuensi dari faktor psikologis dan prosesnya 5. Psikologi komunikasi : ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengndalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi Hubungan psikologi social dengan ilmu alam Pada permulaan abad ke-19 psikologi dalam penelitiannya banyak komunikasi 4. Hubungan psikologi social dengan ilmu komunikasi Banyak ilmu lain. disiplin ilmu yang terlibat dalam studi komunikasi. Dalam perkembangannya ilmu komunikasi melakukan “perkawinan‟ dengan berbagai

terpengaruh oleh ilmu alam. Psikologi disusun berdasarkan hasil eksperimen. Objek penelitian psikologi: manusia dan tingkah lakunya yang selalu hidup dan berkembang Objek penelitian ilmu alam : benda mati 6. Hubungan psikologi social dengan imu filsafat Filsafat : hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dalam penyelidikannya filsafat berangkat dari apa yang dialami manusia. Ilmu psikologi menolong filsafat dalam

Anthropology in mental health: memfokuskan diri pada aspek sosial budaya
yang mempengaruhi kondisi/ gangguan mental pada diri individu 3. Hubungan psikologi social dengan ilmu politik

penelitiannya. Kesimpulan filasafat tentang kemanusiaan akan „pincang‟ dan jauh dari kebenaran jika tidak mempertimbangkan hasil psikologi

“Observation is a systematic and deliberate study through the eye of spontaneous occourances at they occur. The purpose of observation is to perceive the nature and extent of significant interrelated elements with complex social phenomena culture patterns or human conduct”.

D.

Metode Psikologi Sosial Seperti ilmu pengetahuan lainnya, semua kumpulan pengetahuan dalam ilmu itu harus sudah teruji secara empiris. Bukti pengujian itu harus dipublikasikan dalam publikasi ilmiah (jurnal, seminar ilmiah, laporan penelitian, buku dan sebagainya) serta diakui secara metodologis oleh peer group dalam cabang ilmu yang bersangkutan. Sah secara metodologis tidak berarti harus benar karena temuan yang dianggap benar hari ini, boleh saja dianggap salah oleh temuan selanjutnya. Oleh karena itu, ilmu itu sangat ampuh dan tidak tergoyahkan. Psikologi sosial atau ilmu jiwa sosial dewasa ini juga menggunakan metodemetode empiris yang masing-masing memenuhi syarat objektivitas, ketelitian, dan kepastian. Dengan menggunakan metode semacam ini, maka teori-teori yang dibentuk dalam ilmu pengetahuan ini dapat diperiksa sendiri dengan menggunakan metodemetodenya, apakah teori itu dalam kenyataannya benar atau tidak. Dengan metodemetode ini pula dapat diperiksa kembalisarjana-sarjana psikologi sosial lainnya, apakah seorang ahli betul-betul telah memperoleh hasil penelitian baru dalam ilmu pengetahuannya. Psikologi sosial – selain menggunakan metode-metode psikologi – juga menggunakan metode-metode sosiologi tertentu. Berikut ini adalah metode-metode yang biasa digunakan dalam penelitian psikologi sosial.

Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa observasi merupakan suatu metode penelitian yang dijalankan secara sistematis dan dengan sengaja (tidak asal atau sembarangan dan secara kebetulan) diadakan dengan menggunakan alat indera (terutama mata) sebagai alat untuk menangkap secara langsung kejadian-kejadian pada waktu kejadian itu terjadi. Ini berarti bahwa observasi tidak dapat digunakan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lalu, kejadian yang sudah lewat. Oleh karena observasi menggunakan alat indera, maka agar hasil observasi baik, salah satu syarat yang dituntut ialah menggunakan indera, maka agar hasil observasi baik, salah satu syarat yang dituntut ialah menggunakan alat indera dengan sebaik-baiknya. Sementara ahli berpendapat bahwa dalam penelitian observasi pada umumnya merupakan metode yang fundamental, seperti yang dikemukakan oleh Van Dalen (1962:46) sebagai berikut. “Observation is fundamental in research for it produces one of the basic element of science of facts. Observation is an activity the research worker enganges in through out the several stages of his investigation”. Karena observasi dilakukan dengan alat indera, maka segala sesuatu yang dapat ditangkap dengan alat indera dapat diobservasi. Karena itu observasi menyangkut keadaan yang sangat kompleks, dan observer harus bersikap sensitive dalam menangkap atau memilih data yang akan diobservasi.

1.

Metode Observasi ( Bimo Walgito, Psikologi Sosial Suatu Pengantar) Yang dimaksud dengan observasi dikemukakan apa yang

a.

Jenis Observasi 1. Observasi partisipasi, yaitu merupakan observasi yang observer atau peneliti ikut ambil bagian dalam situasi atau keadaan yang akan diobservasinya, observer ikut sebagai pemain tidak hanya sebagai penonton. Missal akan meneliti keadaan orang di desa

dikemukakan oleh Young (1966:159) sebagai berikut.

maka peneliti atau observer ikut pula dalam kehidupan di desa itu, ikut serta dalam kehidupan orang-orang yang akan diteliti. Pada umumnya jenis ini digunakan untuk mengadakan penelitian yang bersifat eksploratif, dan bisanya juga untuk satuan-satuan sosial yang besar. Tetapi ini tidak berarti bahwa untuk satuan-satuan yang kecil jenis ini tidak dapat digunakan. Dalam observasi jenis ini, observer dapat mengungkap hal-hal yang cukup mendalam, karena peneliti atau observer sudah tidak menimbulkan kecurigaan bagi yang diobservasinya. Keadaan ini akan lain halnya bila peneliti menggunakan observasi non-partisipasi. 2. Observasi kebalikan non-partisipasi, dari observasi observasi partisipasi. jenis Dalam ini merupakan ini observasi

Namun demikian ini tidak berarti bahwa observasi nonsistematis ini merupakan oobservasi yang tidak berencana. Observasi nonsistematis merupakan observasi yang terencana, hanya apa yang akan diobservasi belum disistematisasikan, belum dikategorikan seperti halnya pada observasi sistematis. Kalau pada system kategorisasi peneliti hanya tinggal memberikan tanda-tanda tertentu, hal tersebut tidak didapati dalam observasi non-sistematis. Disanping jenis-jenis observasi tersebut di atas, observasi masih dapat dibedakan dilihat dari situasinya, yaitu free situation observation, manipulated situation observation dan partially controlled situation observation. a) Free situation observation. Observasi ini dijalankan dalam situasi bebas, dalam situasi yang alami, situasinya tidak dibuat atau tidak ditimbulkan. Observasi ini dilaksanakan dalam situasi yang noneksperimental. Missal, seorang peneliti mengadakan observasi dalam kehidupan pedesaan yang alami. b) Manipulated situation observation. Ini merupakan observasi pada situasi yang dibuat atau ditimbulkan, bukan situasi yang alami (natural). Observasi ini dilaksanakan dalam situasi eksperimental, situasinya dibuat, dengan sengaja situasi tersebut ditimbulkan. Peneliti atau observer c) dengan sengaja memasukkan variabel-variabel untuk menimbulkan situasi yang dikehendaki. Partially controlled situation observation. Observasi ini merupakan campuran dari observasi yang terdahulu, yaitu campuran dari observasi dalam situasi yang alami, dalam situasi yang wajar dengan observasi dalam situasi yang dibuat atau yang ditimbulkan. Missal observasi dengan menggunakan one way vision screen. Dengan uraian tersebut di atas, memberikan gambaran adanya beberapa macam atau jenis observasi yang satu berbeda dengan yang lain, masingmasing dapat digunakan sesuai dengan keadaan yang dihadapi oleh peneliti atau observer. b. Materi observasi

observasi atau peneliti tidak ikut ambil bagian secara langsung dalam situasi yang ditelitinya. Peneliti atau observer tidak sebagai pemain, tetapi sebagai penonton. Missal seorang peneliti yang mengadakan penelitian di desa, ia tidak ikut masuk dan tidak turut serta dalam kehidupan di desa itu. Pada observasi jenis ini, pada umumnya observer atau peneliti tidak dapat mengungkap hal-hal yang mendalam seperti yang dapat terjadi pada observasi partisipasi. Klasifikasi diatas merupakan pengklasifikasian yang berdasarkan peran observer turut serta tidaknya secara aktif dalam situasi yang ditelitinya. Di samping itu observasi juga dapat dibedakan atas observasi sistematis dan observasi non-sistematis. 1. Observasi sistematis. Observasi ini dilaksanakan dengan digunakannya rencana kerangka terlebih dahulu. Karenanya sering juga disebut

structured observation. Jadi telah ada struktur yang tertentu, segala
sesuatu telah disistematisasikan, telah dikategorikan terlebih dahulu mengenai hal-hal yang akan diobservasi. Karena itu kadang-kadang observasi ini disebut juga dengan system kategorisasi. 2. Observasi non-sistematis. Observasi ini merupakan observasi yang belum menggunakan kategorisasi mengenai hal-hal yang akan diobservasi, belum ada sistematisasi mengenai hal-hal yang akan diobservasi, segala sesuatu akan tergantung pada keadaan di lapangan.

Materi observasi meliputi segala sesuatu yang dapat ditangkap dengan alat indera. Yang membatasi materi yang diobservasi adalah maksud serta tujuan observasi atau penelitian. Kareana itu dalam menentukan apa yang perlu diobservasi merupakan langkah yang penting, setelah itu peneliti harus selalu berpegang pada titik tolak sebagai arah observasi supaya tidak menyimpang dari apa yang telah digariskan. c. Pencatatan Observasi Mencatat hasil observasi merupakan hal terpenting dalam rangkaian observasi, banyak hasil observasi yang kurang sempurna karena ketidaktepatan dalam mencatat hasilnya. Mencatat hasil dengan segera merupakan langkah yang paling baik, karena akan mengeliminasi hal-hal yang tidak sebenarnya, dan mengingat bahwa ingatan manusia itu terbatas sehingga dapat menghindari kelupaan. Namun langkah ini terlihat ada kelemahan yaitu observasi mungkin tidak teliti karena perhatiannya ada dua, yaitu mengikuti kejadian-kejadian tersebut. Di samping itu juga dapat menimbulkan kecurigaan dari yang diobservasi. Oleh karena itu ada pula pencatatan yang dlakukan bila observasi telah selesai. Dengan cara ini situasi observasi tidak akan terganggu, namun karena hasil ingatan manusia terbatas maka hasil observasi mungkin tidak akan sesuai dengan keadaan nyatanya, karena itu hasil observasi kurang baik. Untuk mengatasinya, maka diambil jalan tengah yaitu mencatat hasil observasi pada garis besarnya denagn menggunakan kata-kata kunci atau symbol dan ini dapat diolah lebih lanjut bila observasi telah selesai. d. Fakta dan interpretasi Interpretasi merupakan sudut pandang atau pendapat dari observer atau peneliti. Karena itu dalam observasi harus selalu diingat bahwa apa yang didapat dari hasil observasi adalah fakta. Interpretasi diberikan setelah mendapat fakta, setelah observasi selesai. Missal, anak yang menangis sama-sama diobservasi. Faktanya sama, yaitu anak yang menangus, tetapi masing-masing observer dapat memberikan b. a. 3.

interpretasi yang bermacam-macam, yang satu menyatakan anak itu sakit, sedangkan yang lain menyatakan anak itu lapar dan sebagainya. Maka dalam pencatatan sering dibedakan mana yang fakta dan mana yang interpretasi. Kuesioner Kuesioner/angket merupakan suatu cara atau metode penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan yang harus dijawab oleh orang yang dikenai, atau disebut responden. Maksud dan tujuan penelitian akan mempunyai pengaruh terhadap materi serta bentuk-bentuk pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Dalam kuesioner ada dua bagian pokok yaitu bagian yang mengandung data identitas dan bagian yang mengandung pertanyaan-pertanyaan yang ingin mendapatkan jawabannya. Jenis kuesioner Kuesioner tertutup Kuesioner ini merupakan kuesioner dengan bentuk pertanyaan tertutup . pertanyaan tertutup merupakan bentuk pertanyaan yang dimana responden tinggal memilih jawaban dari alternative-alternatif jawaban yang telah disediakan. Misal pertanyaan bagaimana pendapat anda tentang razia kendaraan bermotor? (1) setuju (2) tidak setuju. Kelemahannya responden tidak dapat dengan bebas lagi dalam menjawab melainkan terikat pada jawaban-jawaban yang telah disediakan. Kuesioner terbuka Kuesioner ini mengandung pertanyaan terbuka yaitu pertanyaan yang dapat dijawab oleh responden dengan bebas. Misal pertanyaan berbunyi bagaimana pendapat anda tentang razia kendaraan bermotor? Alternative jawaban yang tidak disediakan membuat responden dapat menjawab dengan bebas pertanyaan tersebut. Namun karena banyaknya variasi jawaban tentunya akan menyulitkan peneliti dalam menganalisisnya.

c.

Kuesioner terbuka-tertutup Kuesioner ini merupakan kombinasi dari kuesioner terbuka dan tertutup. Kuesioner ini merupakan usahauntuk mengatasi kelemahan dari masingmasing pihak sehingga dapat teratasi. Kuesioner juga dapat dibedakan menjadi kuesioner langsung dan tidak langsung 4. a. Kuesioner langsung, yaitu kuesioner yang langsung diberikan kepada responden tanpa menggunakan perantara. Missal seseorang meneliti tentang mahasiswa maka kuesioner itu akan diberikan kepada mahasiswa secara langsung. Jadi peneliti akan langsung mendapat jawaban dari sumber pertama. b. Kuesioner tidak langsung, yaitu menggunakan perantara dalam menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Missal, seseorang akan meneliti tentang keadaan para mahasiswa, namun kuesioner tidak langsung diberikan kepada mahasiswa namun diberikan kepada dosen atau pembantu dekan.

b) c)

Pertanyaan-pertanyaan

dalam

kuesioner

bersifat

kaku,

tidak

dapat

disesuaikan dengan situasi yang ada. Tidak semua kuesioner akan kembali secara utuh, sehingga peneliti perlu menyebarkan lebih banyak dari yang dibutuhkan datanya, atau mengadakan control terhadap kuesioner yang dikeluarkan.

Interview atau wawancara Seperti halnya kuesioner, wawancara juga menggunakan daftar-daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden untuk memperoleh data penelitian yang dibutuhkan, namun perbedaannya wawancara adalah metode yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada responden secara lisan. Jika dibandingkan antara wawancara dengan kuesioner, terdapat kelemahan dah kelebihan masing-masing. Keuntungannya dengan wawancara antara lain: a) Hal-hal yang kurang jelas dapat diperjelas, sedangkan dalam kuesioner tidak karena tidak bertatap muka langsung b) Pewawancara dapat menyesuaikan dengan keadaan yang diinterviu, contoh yang diinterviu tidak dapat berbahasa Indonesia maka dapat disesuaikan dengan bahasa lain c) Karena dalam wawancara ada hubungan langsung antara penginterviu dan yang diinterviu mmakadiharapkan adanya hubungan baik untuk memudahkan memperoleh bahan-bahan penelitian. Apabila hubungan tidak baik maka akan menghambat jalannya interviu. Kelemahannya antara lain: a) b) Interviu merupakan metode penelitian yang kurang hemat dalam segi waktu, tenaga maupun finansial. Pada interviu dibutuhkan keahlian tersendiri untuk mewawancara dengan baik sehingga memerlukan pendidikan yang khusus

Keuntungan kuesioner: a) b) c) d) Merupakan metode yang praktis, karena peneliti tidak harus dating ke tempat yang diteliti namun cukup dengan mengirimkan kuesioner. Dalam waktu yang relative singkat dapat memperoleh data yang banyak Sedikit tenaga yang digunakan, sehingga dapat menghemat tenaga, waktu dan biaya Orang dapat menjawab dengan bebas, leluasa tanpa dipengaruhi orang lain.

Kelemahan kuesioner: a) Ada kemungkinan pertanyaan yang diajukan kurang jelas dan sulit mendapatkan penjelasan lebih lanjut. Oleh karena itu pertanyaan harus jelas, singkat, dan jangan menimbulkan pertanyaan.

c)

Pada wawancara jika telah ada prasangka, maka akan berpengaruh terhadap hasil wawancara sehingga hasilnya tidak lagi objektif.

berlalu hingga pengemudi membunyikan klaksonnya. Sebagaimana yang diperkirakan, mereka membunyikan klakson lebih cepat pada hari-hari panas daripada hari-hari yang lebih dingin atau sejuk.

Ada beberapa jenis wawancara yaitu: Teknik lain yang sering (1) Wawancara bebas, adalah bentuk wawancara dimana orang yang diwawancarai diberikan kebebasan dalam mengemukakan pendapat dalam berbicara. Suatu kesulitan atau kelemahannya adalah jika peneliti tidak dapat mengendalikan jalannya wawancara maka penelitian akan kehilangan arah dan didominasi oleh yang diwawancarai. Situasinya memang merupakan situasi bebas (2) Wawancara terarah, adalah wawancara yang dituntun atau diarahkan oleh peneliti atau pewawancara. Peneliti membacakan pertanyaan-pertanyaan yang pada umumnya sudah disiapkan dalam bentuk tertulis, sehingga seakan-akan merupakan kuesioner yang dibacakan. Situasinya merupakan situasi yang kurang bebas, kurang alami dan jalannya wawancara agak kaku. (3) Wawancara bebas-terpimpin, merupakan kombinasi antar kedua macam wawancara sebelumnya. Dalam wawancara ini kebebasan juga diberikan, dalam arti yang diwawancarai dapat memberikan pendapatnya secara bebas, tetapi peneliti mengendalikan dan memberikan arah dari wawancara. Penelitian yang menggunakan metode observasi alamiah Ada beberapa keuntungan menggunakan metode survey yaitu para peneliti relatif lebih mudah memperoleh data atau informasi dari ribuan bahkan ratusan ribu orang, peneliti dapat dengan cepat memunculkan opini public mengenai isu-isu baru. Namun, agar berguna sebagai alat penelitian, metode survey harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu orang-orang yang berpartisipasi harus mewakili populasi atau representatif yang lebih besar, dimana penyimpulan akan digeneralisasikan pada populasi tersebut, hal ini merupakan isu sampling (teknik pemilihan responden penelitian yang diambil dari populasi untuk mewakili populasi tersebut). Sebagai contoh, setiap hari CNN mengadakan jajak pendapat tentang beberapa isu. Hari berikutnya, hasil sudah ditampilkan. Satu topic Contohnya penelitian yang dilakukan oleh Baron (1976) mengenai pengaruh suhu udara terhadap perilaku membunyikan klakson mobil oleh para pengemudi kendaraan. Dimana Baron menunjuk asisten bersembunyi di balik semak-semak sedangkan Baron sendiri mengemudikan mobil ke sebuah perempatan dan tidak menjalankan mobilnya ketika lampu hijau sudah menyala. Asisten yang bersembunyi tadi bertugas mencatat berapa detik terakhir, misalnya, adalah, “ Apakah anda pikir akan segera ada kedamaian abadi di Timur Tengah?”. Hasil yang ditunjukkan di hari berikutnya menunjukkan bahwa 92 persen orang yang merespons berpikir bahwa hal ini tidak akan terjadi. Dapatkah kita percaya pada temuan ini? Mungkin tidak, karena mereka hanya merefleksikan pandangan dari orang-orang yang mau merepotkan diri untuk menelpon CNN dan mengekspresikan pandangan(naturalistic observation) yaitu observasi terhadap perilaku dalam situasi alami (Linden, 1992). Pada observasi semacam ini, peneliti hanya akan memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam berbagai situasi. Ia tidak akan melakukan apapun untuk mengubah perilaku orang-orang yang diamati dan peneliti tidak boleh mempengaruhi orang yang sedang diamati. Jadi, psikolog yang bersangkutan akan mencoba agar orang-orang yang diamati tidak akan memperhatikan keberadaan psikolog tersebut. penelitian para dimana sejumlah besar dimasukan dalam judul observasi orang besar diminta partisipan untuk untuk menjawab merespon Survey sistematis adalah metode survey. Metode survey adalah sbeuah metode pertanyaan-pertanyaan tentang sikap dan atau tingkah laku tertentu. Disini, peneliti meminta sejumlah pertanyaan-pertanyaan tentang sikap atau perilaku mereka.

digunakan untuk banyak tujuan, seperti mengukur sikap terhadap isu-isu khusus. Para psikolog sosial kadang menggunakan metode ini untuk mengukur sikap mengenai isu-isu sosial, misalnya program kesehatan nasional atau program diskriminasi positif(affirmative action). Ilmuwan dan praktisi di bidang-bidang ilmu lain menggunakan metode survey misalnya untuk mengukur pilihan masyarakat pada pemilihan umum yang sedang berlangsung atau untuk melihat reaksi pelanggan terhadap sebuah produk baru.

pandangan mereka. Tidak ada jaminan bahwa orang-orang ini mewakili populasi. Sebenarnya, mereka sama sekali tidak memenuhi populasi.

Semakin besar jarak dari 0, semakin kuat korelasinya. Angka positif menunjukkan bahwa ketika satu variabel meningkat, variabel yang lain juga meningkat. Angka negatif menunjukkan bahwa ketika satu variabel meningkat, variabel lainnya menurun. Misalnya, adanya korelasi negatif antara usia dengan jumlah rambut di kepala pria. Artinya, semakin tua pria, semakin sedikit jumlah

5.

Metode Korelasi

rambut yang mereka miliki. Contoh penelitian dengan menggunakan mmetode ini, yaitu penelitian tentang kebenaran suatu kepercayaan orang awam dengan hipotesis bahwa jabat

Para peneliti menentukan apakah dan seberapa jauh, variabel-variabel yang berbeda berhubungan satu sama lain dengan mengadakan observasi secara hati-hati terhadap masing-masing variabel kemudian melaksanakan uji statistik yang tepat untuk menentukan apakah dan seberapa jauh variabel-variabel tersebut berkolerasi. Metode ini dapat digunakan dalam berbagai situasi natural dan seringkali sangat efisien (sejumlah informasi dapat diperoleh dalam waktu yang relatif singkat). Dengan metode korelasi, peneliti dapat menggunakannya untuk meramalkan satu variabel berdasarkan informasi dari satu variabel atau lebih variabel dengan mengetahui adanya korelasi antara keduanya. Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan hubungan sebab akibat yang merupakan kelemahan metode ini. Metode korelasional adalah sebuah metode penelitian dimana ilmuwan secara sistematis mengobservasi dua atau lebih variabel untuk menentukan apakah perubahan yang terjadi pada salah satu variabel tersebut disertai oleh perubahan variabel yang lainnya. Istilah variabel, oleh para psikolog sosial menggunakannya untuk menyebutkan aspek-aspek alamiah yang berubah. Istilah korelasi mengacu pada kecenderungan berubahnya satu peristiwa sewaktu lain berubah. Misalnya, ketika bunga bank naik, nilai saham pasar sering kali turun. Untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan dua peubah atau lebih yang digambarkan oleh besarnya koefisien korelasi. Koefisien korelasi atau rentang korelasi yaitu antara 0 sampai -1,0 atau +1,0. Semakin kuat korelasi antara variabel-variabel yang bersangkutan, semakin akurat peramalannya.

tangan yang mantap memberikan kesan pertama yang lebih baik dari jabat tangan yang lemah. Disini peneliti mengatur beberapa pasangan yang tidak saling kenal untuk berjabat tangan dan masing-masing menilai jabat tangannya (berdasarkan kekuatan, energi, durasi, seberapa penuh ia menjabat tangan, dll) dan kesan pertama saat berjabat tangan (apakah suka atau tidak). Misalnya, didapatkan korelasi positif antara berbagai aspek dari jabatan tangan dengan kesan utama (misal +0,58), maka bisa disimpulkan bahwa jabatan tangan yang mantap mengarah atau menimbulkan atau menyebabkan kesan yang positif (ramah, percaya diri, dll.). Tetapi terdapat fakta bahwa dua variabel berkorelasi, walaupun berkorelasi tinggi tidak menjamin adanya hubungan sebab akibat antara keduanya, atau bahwa perubahan pada satu variabel menyebabkan perubahan pada variabel lainnya. Sebenarnya korelasi antara dua variabel dapat terjadi karena kebetulan atau faktor acak (random) atau karena kenyataan bahwa perubahan pada kedua variabel berhubungan dengan variabel ketiga. Seperti yang telah disebutkan diatas sebagai kelemahan dari metode ini. 6. Metode Eksperimen Wilhelm Wundt merupakan yang pertama kali memakai dan

mendasarkan metode ini untuk psikologi secara ilmiah. Ia telah menetapkan beberapa syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh eksperimen psikologi, yaitu: a. Kita harus dapat menentukan dengan tepat waktu terjadi gejala yang akan kita selidiki.

b.

Kita harus dapat mengikuti berrlangsungnya gjala yang akan kita teliti dari awal hingga akhir dan kita harus mengamatinya dengan perhatian yang khusus.

orang, cukuplah dirumuskan dengan sebuah daftar pertanyaan (angket) yang kemudian disebarkan dengan permintaan agar pertanyaan itu dijawab dengan sejujur-jujurnya. Akan tetapi, untuk memperoleh keterangan yang lebih mendalam mengenai sikap perasaan dan kecenderungan-kecenderungan pribadi orang, diperlukan alat-alat yang lebih halus dari daftar pertanyaan tersebut. Untuk keperluan tersebut, digunakan skala-skala sikap (attitude

c. d.

Setiap observasi (pengamatan) harus dapat diulangidalam keadaankeadaan yang sama. Kita harus dapat mengubah-ubah dengan sengaja syaratsyarat keadaan eksperimen. Metode eksperimen adalah sebuah metode penelitian dimana satu

scales) yang pembuatannya sendiri telah berdasarkan sebuah penelitian. Skala sikap terdapat bermacam-macam dan masing-masing memerlukan percobaan-percobaan yang khas untuk menentukan apakah taraf pengukurannya sesuai dengan kenyataan. Untuk menyesuaikan taraf pengukuran dengan kenyataan antara lain haruslah diadakan pengecekan terlebih dahulu dengan sikap-sikap orang yang sudah diketahui sikapnya dengan jelas. Selain bermacam-macam skala sikap, psikologi sosial juga

faktor atau lebih (variabel bebaas) yang diubah secara sistematis untuk menentukan apakah suatu variabel mempengaruhi satu atau lebih faktor yang lain (variabel tergantung). Maksud metode eksperimen ini memang untuk menimbulkan dengan sengaja suatu gejala guna dapat menyelidiki berlangsungnya dengan persiapan yang cukup dan perhatian yang khusus. Syarat pertama dan kedua tampaknya diadakan untuk memenuhi maksud eksperimen tersebut di atas. Sebenarnya, sebaiknya ditambahkan pula pada syarat kedua bahwa apa yang diamati itu hendaknya dicatat dengan jelas supaya setiap orang dapat membacanya sehingga dapat dikontrol. Syarat ketiga diadakan supaya eksperimen itu dapat diulangi oleh orang lain yang ingin memeriksanya sendiri apa yang terjadi dalam eksperimen itu. Syarat-syarat objektivitas eksperimen itu menjamin taraf kepercayaan tinggi yang dapat kita berikan pada hasil penelitian eksperimen itu. Syarat keempat diadakan supaya – dengan mengubah syarat eksperimen – dapat diperiksa perubahan-perubahan syarat mana yang mempengaruhi jalan dan hasil eksperimen itu. Dengan demikian, kita dapat memperoleh keterangan yang lebih mendalam mengenai suatu gejala serta factor-faktor yang mempengaruhinya dan wujud pengaruh-pengaruh factor tersebut. Metode tes dalam penelitian psikologis sebenarnya termasuk metode eksperimen. 7. Metode diagnostic-psikis Dalam mengumpulkan keterangan empiris mengenai objek-objek penelitian psikologi dapat menggambarkan segi-segi psikologi dengan lebih mendalam untuk memperoleh keterangan mengenai pendapat-pendapat 8.

menggunakan tes-tes kepribadian, yaitu tes-tes proyeksi seperti tes

Rorshach, Zulliger, thematic apperception test, dan tes-tes psikologi
lainnya yang dapat dipergunakan oleh sarjana psikologi.

Metode Sosiometri Metode yang ditemukan oleh Moreno ini merupakan metode baru di kalangan ilmu sosial dan bertujuan untuk meneliti intra-group-relations atau saling hubungan antara anggota kelompok di dalam suatu kelompok. Untuk memperoleh keterangan mengenai saling hubungan antaranggota kelompok, diajukan sebuah daftar pertanyaan kepada semua anggota kelompok yang akan diteliti misalnya suatu kelas di sekolah. Daftar pertanyaan itu merupakan ajakan untuk menentukan sikap anggota kelompok terhadap anggota kelompok lain yang ia kenal. Sosiometri merupakan salah satu metode penelitian yang

digunakan dalam psikologi sosial, yang semula metode ini digunakan dalam

lapangan sosiologi. Di sini nampak pengaruh dari sosiologi dalam lapangan psikologi sosial, seperti telah disinggung di bagian depan. Dengan sosiometri, orang dapat melihat bagaimana hubungan sosial atau hubunga berteman seseorang dalam kelompok dan juga bagaiamana struktur hubungan dalam kelompok yang bersangkutan. Metode sosiometri ini biasanya digunakan untuk meneliti kelompok-kelompok yang relatif kecil (misal 10-100 orang), sebab bila terlalu besar anggota kelompok, orang akan menghadapi kesulitan dalam analisisnya, khususnya analisis sosiogram. Untuk memperoleh materi dalam sosiometri, pada umumnya digunakan kuesioner sosiometris, dan dari hasil kuesioner itu kemudian diolah lebih lanjut hingga menghasilkan hasil sosiometri tersebut. Sebagai contoh mereka diajak untuk memilih diantara seluruh teman sekelasmya, siapa yang menurut pendapatnya paling memenuhi syarat-syarat tertentu. Misalnya, teman yang paling cakap sebagai pemimpin kelompok, atau teman yang paling cocok sebagai teman bekerja sama, dan lain-lain tergantung kepada sifat-sifat hubungan yang akan diselidiki dengan metode ini. Pertanyaan memilih teman sekelompok yang mempunyai sifat-sifat tertentu itu juga dapat berlaku bagi pilihan lebih dari satu orang bergantung kepada tujuan penelitian itu. Misalnya pertanyaan itu dapat berbunyi sebagai berikut: “Pilihlah tiga orang teman sekelompok yang menurut pendapat Saudara adalah orang yang paling cocok sebagai rekan berkerja sama. Yang paling cocok sebaiknya disebutkan pertama”, dan sebagainya.

BAB III PENUTUP

Dari pengertian-pengertian yang telah dikemukakan oleh para ahli dapat ditarik pendapat bahwa psikologi sosial itu merupakan ilmu tentang perilaku individu dalam situasi sosial. Berkaitan dengan psikologi sosial ini ada beberapa hal yang dpaat dikemukakan yaitu bahwa psikologi sosial fokusnya pada perilaku individu dan dalam kaitannya dengan situasi sosial. Dengan demikian apapun definisi mengenai psikologi sosial itu tidak dapat lepas dari adanya situasi sosial atau interaksi sosial dan fokusnya adalah perilaku individu. Psikologi sosial mengkaji mengenai bagaimana kehadiran orang lain secara aktual, terimajinasi maupun terimplikasi mempengaruhi pikiran, perasaan dan tingkah laku individu, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok Psikologi sosial adalah jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya. Sebab psikologi sosial mengakui pentingnya memandang individu dalam suatu system sosial yang lebih luas dan karena itu menarik kedalamnya sosiologi, ilmu politik, antropologi, dan sebagainya. Seperti ilmu pengetahuan lainnya, semua kumpulan pengetahuan dalam ilmu itu harus sudah teruji secara empiris. Psikologi sosial atau ilmu jiwa sosial dewasa ini juga menggunakan metode-metode empiris yang masing-masing memenuhi syarat objektivitas, ketelitian, dan kepastian. Psikologi sosial – selain menggunakan metodemetode psikologi – juga menggunakan metode-metode sosiologi tertentu. Berikut ini adalah metode-metode yang biasa digunakan dalam penelitian psikologi sosial. 1. 2. 3. 4. Metode Observasi Sistematis Metode Eksperimen Metode diagnostic-psikis Metode Sosiometri

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->