P. 1
Faktor Yang Mempengaruhi Sifat Polimer

Faktor Yang Mempengaruhi Sifat Polimer

|Views: 218|Likes:
Published by Heru Kusu Ma

More info:

Published by: Heru Kusu Ma on Mar 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2014

pdf

text

original

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIFAT POLIMER

Sifat-sifat polimer seperti yang dipaparkan di atas ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut: 1. Panjang rantai/jumlah monomer Kekuatan polimer akan bertambah dengan semakin panjangnya rantai/jumlah monomer karena terdapat semakin banyak gaya antar molekul antara rantai-rantai penyusunnya. 2. Susunan rantai satu terhadap lainnya Susunan rantai satu terhadap lainnya dapat bersifat teratur membentuk daerah kristalin dan acak membentuk daerah amorf. Polimer yang membentuk daerah kristalin akan lebih kuat karena rantai-rantainya tersusun rapat, meski kurang fleksibel. Sedangkan polimer yang membentuk daerah amorf akan bersifat lemah dan lunak. 3. Tingkat percabangan pada rantai Ketidakteraturan rantai-rantai polimer disebabkan oleh banyak cabang sehingga akan mengurangi kerapatan dan kekerasan polimer itu sendiri, namun akan menaikkan fleksibilitasnya. Terdapat dua contoh polimer yang dibedakan berdasarkan fleksibilitasnya yaitu LDPE (low density polyethene) dan HDPE (high density polyethene). Sesuai dengan namanya LDPE lebih fleksibel tapi kurang tahan panas dengan titik didih 105oC, sendangkan HDPE lebih kaku, tetapi kuat dan tahan panas pada kisaran suhu 135oC. 4. Gugus fungsi pada monomer Adanya gugus fungsi polar seperti hidroksida - OH dan amina - NH2 pada monomer dalam polimer akan mengakibatkan terbentuknya ikatan hydrogen. Akibatnya, kekuatan gaya antar molekul polimer meningkat dan akan menaikkan kekerasan polimer. 5. Ikatan silang (cross linking) antar rantai polimer Termoplas tidak memiliki cross linking, hanya gaya antar molekul yang lemah sehingga bersifat lunak. Sebaliknya termoset memiliki cross linking yang kuat berupa ikatan kovalen sehingga bersifat keras dan sulit meleleh. Sementara itu sifat elestomer dipengaruhi selain oleh tumpang tindih rantai, juga cross linking yang lebih sedikit disbanding termoset. 6. Penambahan zat aditif Sangat sedikit polimer yang digunakan dalam bentuk murninya, kebanyakan ditambah zat aditif untuk memperbaiki atau memperoleh sifat yang diinginkan. Zat plastis (plasticizer) yang digunakan untuk melunakkan polimer pada jenis polimer termoset; zat pengisi/penguat untuk menaikkan kekuatan polimer; stabilitator untuk menaikkan ketahanan terhadap dekomposisi oleh panas, sinar UV, dan oksidator; pigmen untuk pewarnaan; dan penghambat nyala api yang digunakan untuk mengurangi sifat mudah terbakar dan materi.

1.

Koloid Sol

4. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown. Pergerakan tersebut dijelaskan pada penjelasan berikut: Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. semakin besar ukuran partikel kolopid. Untuk system koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas. 1.A. Contohnya adalah paduan logam. 3. tinta. sol merupakan jenis koloid dimana fase terdispersinya merupakan zat padat. Sifat-Sifat Koloid Sol Efek Tyndall Efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893). Contohnya adalah cat. Contohnya adalah debu di udara. Sol Cair (Sol) Sol cair merupakan sol di dalam medium pendispersi cair. seorang ahli fisika Inggris. asap pembakaran. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam zat padat (suspensi). Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas. semakin cepat gerak Brown terjadi. Sol3. c. Pembagian Koloid Sol Seperti yang telah dijelaskan. B. sedangkan pada sistem koloid (gambar kanan). Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya. dan intan hitam. hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. sol dapat dibagi menjadi: a. dll. . tanah liat. Gerak Brown Jika kita amati system koloid dibawah mikroskop ultra. Demikian pula. 2. Berdasarkan medium pendispersinya. Sebaliknya. atau hanya bervibrasi di tempat seperti pada zat padat. gelas berwarna. partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati. b. maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Sol Gas (Aerosol Padat) Sol gas merupakan sol di dalam medium pendispersi padat. pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. tepung dalam air. Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari dengan cahaya. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil. pada larutan sejati. Oleh karena itu sifat itu disebut efek tyndall. dll. Semakin kecil ukuran partikel koloid. Sol 2. cahaya akan dihamburkan. 1. semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Sol Padat Sol padat merupakan sol di dalam medium pendispersi padat. maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar.

maka gerak Brown semakin lambat. 6. Berikut ini adalah penjelasannya . Akibatnya. Fenomena ini disebut adsorpsi. baik partikel netral atau bermuatan (kation atau anion) karena mempunyai permukaan yang sangat luas. Semua partikel koloid pasti mempunyai muatan sejenis (positif atau negatif). gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. semakin rendah suhu system koloid. Adsorpsi koloid Apabila partikel-partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas. maka semakin besar energi kinetic yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Beda halnya dengan absorpsi. Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel-partikel pada permukaannya. 3.Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Hal ini mengakibatkan partikel-partikel tersebut tidak mau bergabung sehingga memberikan kestabilan pada sistem koloid. maka terdapat gaya tolak menolak antar partikel koloid. melainkan di dalam sol padat tersebut. Semakin tinggi suhu system koloid. Oleh karena muatannya sejenis. Muatan Koloid Sol Sifat koloid terpenting adalah muatan partikel koloid. 5. Demikian pula sebaliknya. system koloid secara keseluruhan bersifat netral karena partikel-partikel koloid yang bermuatan ini akan menarik ion-ion dengan muatan berlawanan dalam medium pendispersinya. maka pertikel-partikel zat cair atau gas tersebut akan terakumulasi pada permukaan zat padat tersebut. Namun demikian. Absorpsi adalah fenomena menyerap semua partikel ke dalam sol padat bukan di atas permukaannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->