P. 1
lp hipertensi

lp hipertensi

|Views: 273|Likes:
Published by Wilma McFly

More info:

Published by: Wilma McFly on Mar 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/23/2014

pdf

text

original

HIPERTENSI A. Konsep Penyakit 1.

Pengertian Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan dalam pembuluh darah arteri secara terus menerus lebih dari sat periode. Hal ini terjadi bila arteriolearteriole kontriksi. Kontriksi arteriole membuat darah sulit mengalir dan meningkatkan tekanan melawan dinding arteri. Hipertensi menambah beban kerja jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan kerusakan jantung dan pembuluh darah. Hipertensi juga didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau darah diastolik ≥ 90 mmHg yang terjadi pada seorang klien pada tiga kejadian terpisah ( Ignatavicius, 1994). Menurut WHO, batasan tekanan darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg, sedangkan tekanan darah 165/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Tekanan darah diantara antara normetensi dan hipertensi disebut borderline hypertension (garis batas hipertensi). Batasan WHO tersebut tidak membedakan usia dan jenis kelamin. Kaplan memberikan batasan hipertensi dengan memperhatikan usia dan jenis kelamin (soeparman, 1999; 205).
1. pria berusia < 45 tahun dikatakan hipertensi bila tekanan darah pada waktu berbaring ≥

130/90 mmHg. 2. Pria berusia > 45 tahun dikatakan hipertensi bila tekanan darahnya > 145/95 mmHg
3. Wanita, hipertensi bila tekanan darah ≥ 160/95 mmHg

Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan penyebabnya hipertensi terbagi menjadi 2 golongan : 1. Hipertensi Esensial atau hipertensi primer. Merupakan 90 % dari seluruh kasusu hipertensi adalah hipertensi esensial yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui penyebabnya (idopatik). Beberapa faktor diduga berkaitan dengan berkembangnya hipertensi esensial seperti berikut ini : a. Genetik : individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi, beresiko tinggi untuk mendapatkan penyakit ini.

Penyakit parenkim dan vaskular ginjal Merupakan penyebab utama hipertensi sekunder. Faktor pencetus munculnya hipertensi sekunder antara lain : penggunaan kontrasepsi oral. tekanan darah normal kembali setelah beberapa bulan. neuro genik ( tumor otak. Defek awal diperkirakan pada mekanisme pengaturan cairan tubuh dan tekanan oleh ginjal. Pembuluh darah memberikan reaksi atas peningkatan aliran darah melalui kontriksi atau peningkatan tahanan perifer. bila gaya hidup menetap. Jenis kelamin dan usia : laki-laki berusia 35-50 tahun dan wanita pascamenopause beresiko tinggi untuk mengalami hipertensi. c. Berikut ini beberapa kondisi yang menjadi penyebab terjadinya hipertensi sekunder. gangguan psikiatris). peningkatan volume intravaskuler. Penggunaan kontrasepsi hormonal (estrogen) Oral kontrasepsi yang berisi estrogen dapat menyebabkan hipertensi melalui mekanisme renin-aldosteron-mediated volume expantion. 2. Etiologi hipertensi sekunder pada umumnya diketahui. Hipertensi sekunder Merupakan 10% dari kasus hipertensi adalah hipertensi sekunder. luka bakar. yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang ada sebelumnya seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid. Gaya hidup : merokok dan konsumsi alkohol dapat meningkatkan tekanan darah. Kelebihan intake natrium dalam diet dapat meningkatkan volume cairan dan curah jantung. sejumlah interaksi beberapa energi homeostatik saling terkait.b. Sekitar 90% lesi arteri renal pada klien dengan hipertensi disebabkan oleh . Dengan penghentian oral kontrasepsi. 2. Etiologi Etiologi yang pasti dari hipertensi esensial belum diketahui. Namun. Faktor hereditas berperan penting bilamana ketidakmampuan genetik dalam mengelola kadar ntarium normal. 2. kehamilan. dan stres. 1. ensefalitis. Berat badan : obesitas (> 25% di atas BB ideal) dikaitkan dengan berkembangnya hipertensi e. Diet : konsumsi diet tinggi garam atau lemak secara langsung berhubungan dengan berkembangnya hipertensi d. coarctation aorta. Hipertensi renovaskular berhubungan dengan penyempitan satu atau lebih arteri besar yang secara langsung membawa darah ke ginjal.

Pada sindrom cushing. kelelahan Sesak nafas Gelisah Mual Muntah Epistaksis Kesadaran menurun . c. Manifestasi klinis Menurut Rokhaeni ( 2001 ). Pheochromocytomas pada medula adrenal yang paling umum dan meningkatkan sekresi katekolamin yang berlebihan. manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : a. inflamasi dan perubahan struktur. Aldosteronisme primer biasanya timbul dari benign adenoma korteks adrenal. Penyakit parenkim ginjal terkait dengan infeksi. Penyempitan menghambat aliran darah melalui lengkung aorta dan mengakibatkan peningkatan tekanan darah diatas area kontriksi. h. Merokok 3. Peningkatan volume intravaskular 9. 3. Gangguan endokrin Disfungsi medula adrenal atau korteks adrenal dapat menyebabkan hipertensi sekunder. g. serta fungsi ginjal. 4. Mengeluh sakit kepala. Luka bakar 8. Sindrom cushing mungkin disebabkan oleh hiperplasi adrenokortikal atau adenoma adrenokortikal. encephalitis dan gangguan psikiatrik 6. f. Neurogenik : tumor otak.kelebihan glukokortikoid yang diekskresikan dari korteks adrenal. Adrenal-mediatedhypertension disebabkan kelebihan primer. e. pusing Lemas. b. 5. Kehamilan 7. kelebihan aldosteron menyebabkan hipertensi dan hipokalemia. d. Coarctation aorta Merupakan penyempitan aorta kongenital yang mungkin terjadi beberapa tingkatpada aorta torasik atau aorta abdominal.aterosklerosis atau fibrous displasia (pertumbuhan abnormal jaringan fibrous).

Patofisiologi Hipertensi Tekanan arteri sistemik adalah hasil dari perkalian cardiac output (curah jantung) dengan total tahanan perifer. Sekresi renin yang tidak tepat diduga sebagai penyebab meningkatnya tahanan perifer vaskular pada hipertensi esensial. Sistem baroreseptor meniadakan peningkatan tekanan arteri melalui mekanisme perlambatan jantung oleh respon vagal (stimulasi parasimpatis) dan vasodilatasi dengan penurunan sinus simpatis. Angiostenin II dan III mempunyai aksi vasokonstriktor yang kuat pada pembuluh darah dan merupakan meknisme kontrol terhadap pelepasan aldosteron. Karena pembuluh darah . sistem renin angiostenin dan autoregulasi vaskular. Baroreseptor ini memonitor derajat tekanan arteri. Ginjal memproduksi renin yaitu suatu enzim yang bertindak pada substrat protein plasma untuk memisahkan angiostenin 1. Peningkatan tekanan darah terus-menerus pada klien hipertensi esensial akan mengakibatkan kerusakan pembuluh darah pada organ-organ vital. sebagian besar orang dengan hipertensi esensial mempunyai kadar renin normal. Hipertensi esensial mengakibatkan hyperplasia medial (penebalan) arteriole-arteriole. Namun demikian. Pada tekanan darah tinggi. Aldosteron sangat bermakna dalam hipertensi terutama pada aldosteronismeprimer. Baroreseptor arteri ditemukan di sinus carotid. Oleh karena itu. tapi juga dalam aorta dan dinding ventrikel kiri. Cardiac output (curah jantung) diperoleh dari perkalian antara stroke volume dengan heart rate ( denyut jantung). Hal ini ditujukan untuk menaikkan re-setting sensitivitas baroreseptor sehingga tekanan meningkatkan arteri sistemik. yang kemudian diubah oleh converting enzym dalam paru menjadi bentuk angiostenin II kemudian menjadi angiostenin III. Renin dan angiostenin memegang peranan dalam pengaturan tekanan darah. angiostenin II dan III juga mempunyai inhibitting atau penghambatan pada ekskresi garam (Natrium) dengan akibat peningkatan tekanan darah. Melalui peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis. Alasan pasti mengapa kontrol ini gagal pada hipertensi belum diketahui. kadar renin harus diturunkan karena peningkatan tekanan arteriolar renal mungkin menghambat sekresi renin. refleks kontrol sirkulasi meningkatan tekanan arteri sistemik bila tekanan baroreseptor turun dan menurunkan tekanan arteri sistemik bila tekanan baroreseptor meningkat. pengaturan volume cairan tubuh.4. Pengaturan tahan perifer dipertahankan oleh sistem saraf otonom dan sirkulasi hormon Empat sistem kontrol yang berperan dalam mempertahankan tekanan darah antara lain sistem baroreseptor arteri.

Jika aliran berubah. anemia. Hal ini menyebabkan infark miokard. Seseorang dengan hipertensi maligna biasanya memiliki gejala-gejala morning headaches. sebaliknya akan meningkatkan tahanan vaskular sebagai akibat dari peningkatan aliran. Elektrolit • • d. kreatinin : peningkatan kadar menandakan penurunan prfusi atau faal renal Serum glukosa : hiperglisemia ( diabetes melitus adalah presipitator hipertensi) predisposisi pembentukan plaque atheromatus. Autoregulasi vaskular merupakan mekanisme lain yang terlibat dalam hipertensi. Hipertensi maligna adalah tipe hipertensi berat yang berkembang secara progresif. pengelihatan kabur dan sesak napas atau dispnea dan/atau gejala uritmia. b. Kadar serum aldosteron : menilai adanya aldosteronisme primer Studi tiroid ( T3 dan T4) : menilai adanya hipertiroidisme yang berkontribusi terhadap vasokontriksi dan hipertensi Asam urat : hiperuricemia meripakan implikasi faktor resiko hipertensi Serum potasium atau kalium (hipokalemia mengidentifikasi adanya aldosterone atau efek samping terapi diuretik) Serum kalsium bila meningkat berkontribusi terhadap hipertensi. gagal janutng kiri dan stroke. c. Hitung darah lengkap (complete blood cells count) meliputi pemeriksaan hemoglobin untuk menilai viskositas dan indikator faktor resiko seperti hiperkoagubilitas. Autoregulasi vaskular adalah suatu proses yang mempertahankan perfusi jaringan dalam tubuh relatif konstan. proses-proses autoregulasi akan menurunkan tahanan vaskular dan mengakibatkan pengurangan aliran. maka perfusi jaringan menurun dan mengakibatkan kerusakan organ tubuh. Autoregulasi vaskular nampak menjadi mekanisme penting dalam menimbulkan hipertensi berkaitan dengan overload garam dan air. Urine .menebal. Pemeriksaan diagnostik a. 5. stroke. dan gagal ginjal. Kimia darah • • • • • BUN. dengan rentang tekanan diastolik antara 130-170 mmHg. Hipertensi maligna meningkatkan rasio gagal ginjal. gagal jantung. Tekanan darah diastolik>115 mmHg.

dan sakit kepala migren) d. bergantung pada berbagai pertimbangan pasien termasuk mengenai : a. atau disfungsi pituitary. inhibitor ACE (angiostenin-converting enzyme). dan iskemia perifer tetapi dapat memperbaiki angina. glukosa dalam urine mengindikasikan disfungsi renal atau dibetes Urine VMA (catecholamine metabolite) : peningkatan kadar mengindikasikan adanya pheochromacytoma Steroid urine : peningkatan kadar mengindikasikan hiperadrenalisme pheochhromacytoma. atau penyekat reseptor alfa-adrenergik. 6.• • • Analisis urine adanya darah. kadar renin juga meningkat e. Radiologi • • Intraveous Pyelografi (IVP) : mengidentifikasika penyebab hipertensi seperti renal pharenchymal disease. penyekat reseptor-beta adregenik. EKG : menilai adanya hipertrofi miokard. sindrom cushing. Terapi Pengobatan Pengobatan utamanya dapat beruap diuretika. sindrom cushing. urolithiasis. disritmia jantung tertentu. penyekat saluran kalsium. protein. diabetes melitus. Rontgen toraks : menilai adanya klasifikasi obstruktif katup jantung deposit kalsium pada aorta dan pembesaran jantung f. pola strain. penyakit terjadi bersamaan (penyekat beta dapat memperburuk asma. gangguan konduksi atau disritmia. kualitas hidup ( beberapa obat antihipertensi dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan. Konsep asuhan keperawatan 1. karakteristik demografi (umumnya Afro-amerika lebih berespon terhadap diuretika dan penyekat saluran kalsium dibandingkan terhadao penyekat beta atau inhibitor ACE c. seperti gangguan fungsi seksual) Hipertensi sekunder (yaitu hipertensi akibat defek organ spesifik seperti penyakit ginjal. biaya (diuretika biasanya merupakan obat yang paling murah) b. benign prstate hyperplasia (BPH). pengkajian . feokromosita atau hiperaldosteronisme primer) diobati dengan membalikan proses penyakit yang mendasari B.

suhu dingin( vasokontriksi perifer ). denyut popliteal. atau epigastrum(stenosis arteri)  Distensi vena jugularis  Ekstermitas : Perubahan warna kulit. pengisian kapiler mungkin lambat (vasokontriksi  Kulit : pucat. kemerahan (feokromositoma) c. femoralis. Aktivitas / istirahat Gejala :  Kelemahan  Letih  Napas pendek  Gaya hidup monoton Tanda :  Frekuensi jantung meningkat  Perubahan irama jantung  Takipnea b. pedalis tidak teraba atau lemah  Denyut apikal : PMI kemungkinan bergeser dan/atau sangat kuat  Frekuensi / irama : takikardia. hipoksemia) . aterosklerosis. perbedaan denyut seperti denyut femoral melambat sebagai kompensasi denyutan radialis atau brakialis. radialis .a. Sirkulasi Gejala : Tanda :  Riwayat hipertensi. Kenaikan TD (pengukuran serial dari kenaikan tekanan darah diperlukan untuk menegakan diagnosis)  Hipotensi postural (mungkin berhubungan dengan regimen obat)  Nadi : denyutan jelas dari karotis. tibialis posterior. katup. penyakit jantung koroner / penyakit serebrovaskuler. berbagai disritmia  Bunyi jantung : murmur  Desiran vaskular terdengar di atas karotis. sianosis dan diaforesis (kongesti. Integritas Ego . jugularis.

obstruksi. marah. lemak dan kolesterol  Mual  Muntah  Perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat/menurun)  Riwayat penggunaan diuretik Tanda :  BB normal atau obesitas  riwayat Adanya Edema  Kongesti vena  Peningkatan JVP  glikosuria f. depresi. penyakit ginjal ) e. Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi. ansietas. Makanan / Cairan Gejala :  Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam. Neurosensori Gejala : . faktor stress multiple (dapat mengindikasi kerusakan serebral) Faktor-faktor stres ( hubungan. euphoria. keuangan. pekerjaan ) Tanda :  Letupan suasana hati  Gelisah  Penyempitan kontinue perhatian  Tangisan yang meledak  Gerak tangan empati  otot muka tegang ( khususnya sekitar mata )  gerakan fisik cepat  pernapasan menghela  Peningkatan pola bicara d.Gejala : Riwayat perubahan kepribadian.

afek. Nyeri/ketidaknyamanan Gejala :  nyeri hilang timbul pada tungkai  sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya  nyeri abdomen/ massa h. Pernapasan Gejala :  Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas  Takipnea  Ortopnea  Dispnea nocturnal proksimal  Batuk dengan atau tanpa sputum  Riwayat merokok Tanda :  Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan  Bunyi napas tambahan ( krekles. proses pikir atau memori ( ingatan )  Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman  Perubahan retinal optik g. cara jalan : Episode parestesia unilateral transien . Keamanan Gejala Tanda : Gangguan koordinasi. isi bicara. diplopia )  Episode epistaksis Tanda :  Perubahan orientasi. mengi )  Sianosis i. sakit kepala  Berdenyut sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam)  Episode kebas dan/atau kelemahan pada satu sisi tubuh  Kelemahan pada satu sisi tubuh  Gangguan penglihatan ( penglihatan kabur. Keluhan pusing / pening. pola nafas.

Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD -Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima . Evaluasi keperawatan 1. Perencanaan keperawatan. penggunaan pil KB atau hormon lain  Penggunaan obat / alkohol  Factor resiko keluarga .Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi . batasi jumlah pengunjung. kualitas denyutan sentral dan perifer .hipertrofi Kriteria hasil : .Amati warna kulit.Catat keberadaan.Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah Faktor resiko meliputi : .Anjurkan tehnik relaksasi.Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan . ukur pada kedua tangan. ginjal  Faktor resiko etnik.peningkatan afterload. . meninggikan kepala tempat tidur. Diagnosa keperawatan.Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas . aktivitas pengalihan .Catat edema umum/tertentu . vasokontriksi . hipertensi.Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil Intervensi : . aterosklerosis. kelembaban.j. panduan imajinasi. DM . nyaman. suhu dan masa pengisian kapiler . penyakit jantung.Pantau TD.Berikan lingkungan tenang.Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi . Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung . gunakan manset dan tehnik yang tepat .Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher.iskemia miokard . . Pembelajaran / Penyuluhan Gejala : penyakit serebrovaskuler. kurangi aktivitas.

loniten  Vasodilator oral yang bekerja secara langsung misalnya diazoksid ( hyperstat ). asam etakrinic ( Edecrin ). Atenolol ( tenormin ). amilioride ( midamor )  Inhibitor simpatis misalnya propanolol ( inderal ). metildopa ( aldomet )  Vasodilator kerja langsung misalnya hidralazin ( apresolin ). bendroflumentiazid ( Naturetin )  Diuretic Loop misalnya Furosemid ( Lasix ).frekuensi jantung atau respon TD terhadap aktiviats abnormal . tetazosin ( hytrin )  Bloker nuron adrenergik misalnya guanadrel ( hyloree ). trimetapan ( arfonad ). minoksidil. quanetidin ( Ismelin ). metildopa ( aldomet ). ACE inhibitor ( captopril. bloker saluran kalsium ( nivedipin. captoten ) 2. guanabenz ( wytension ). reserpin ( Serpasil )  Inhibitor adrenergik yang bekerja secara sentral misalnya klonidin ( catapres ).rasa tidak nyaman saat bergerak atau dispnea .Laporan verbal tentang keletihan atau kelemahan . hidrodiuril ). Intoleransi aktifitas Mungkin berhubungan dengan : .ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen kemungkinan dibuktikan oleh : . nitropess )  Bloker ganglion misalnya guanetidin ( ismelin ). reserpine ( Serpasil ). verapamil )  Anti adrenergik misalnya minipres. metoprolol ( lopressor ).Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi  Diuretik Tiazid misalnya klorotiazid ( Diuril ). hidralasin ( apresolin ). klonidin ( catapres )  Vasodilator misalnya minoksidil ( loniten ). triamterene ( Dyrenium ).. nadolol ( Corgard ).kelemahan umum . nitroprusid ( nipride. Bumetanic ( Burmex )  Diuretik hemat kalium misalnay spironolakton ( aldactone ). hidroklorotiazid ( esidrix.

mual. dispnea atau nyeri dada.melaporkan tentang nyeri berdenyut terletak pada region suboksipital. menghindari sinar terang dan keributan. dan hilang secara spontan setelah beberapa waktu berdiri .melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang/terkontrol .peningkatan tekanan vaskular serebral . muntah Kriteria evaluasi : .menungkapkan metode yang memberikan pengurangan .berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan . perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali permenit diatas frekuensi istirahat. Observasi TTV tiap 4 jam e. d. terjadi pada saat bangun. Kaji respon pasien terhadap aktifitas. Berikan dorongan untuk aktifitas / perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. Berikan jarak waktu pengobatan dan prosedur untuk memungkinkan waktu istirahat yang tidak terganggu.diaforesis. Instruksikan pasien tentang penghematan energi c. peningkatan TD yang nyata selama/sesudah aktivitas.Nyeri akut : sakit kepala Mungkin berhubungan dengan: Kemungkinan dibuktikan oleh: .Kriteria evaluasi : . pengelihatan kabur.mengikuti regimen farmakologi yang dirsepkan Intervensi : .menunjukan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi Intervensi : a. pusing atau pingsan. Berikan bantuan sesuai kebutuhan b. keletihan dan kelemahan yang berlebihan.segan untuk menggerakan kepala.melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur . menggaruk kepala. berikan waktu istirahat sepanjang siang atau sore 3.

lingkungan yang tenang. sedikit penerangan b. posisi nyaman.a. Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin e.masukan berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolik . diazepam. mempertahankan beratbadan yang diinginkan dengan pemeliharaan kesehatan optimal . Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan c.berat badan 10%-20% lebih dari ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh . Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi. Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik. membungkuk g. bimbingan imajinasi dan distraksi f. batuk panjang.mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan . ativan. antiansietas (lorazepam. valium ) 4.pola hidup monoton .menunjukan perubahan pola makan. Pertahankan tirah baring.keyakinan budaya Kemungkinan dibuktikan oleh : . tehnik relaksasi.dilaporkan atau terobservasi disfungsi makanan Kriteria evaluasi : . Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan d.perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh Mungkin berhubungan dengan: .melakukan/mempertahankan program olahraga yang tepa secara individual Intervensi • kegemukan : Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan .lipatan kulit trisep lebih dari 15 mm pada pria dan 25 mm pada wanita . pijat punggung dan leher.

misinterpretasi informasi .menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan . hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi. rencana pengobatan Mungkin berhubungan dengan: .mengidentifikasi efek samping obat dari kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan .menyatakan masalah .• • • • • Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak.mengikuti instruksi tidak akurat .menyatakan miskonsepsi .kurang pengetahuan/daya ingat .Kurang pengetahuan mengenai kondisi. garam. Kriteria evaluasi : .keterbatasan kognitif .perilaku tidak tepat atau eksagregasi. gula sesuai indikasi Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet Tetapkan rencana penurunan berat badan yang realistik dengan pasien Dorong pasien untuk mempertahankan makanan harian termasuk kapan dan dimana makanan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat makanan dimakan • • Instruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat.mempertahankan TD dalam parameter normal . Kolaboratif : rujuk ke ahli gizu sesuai indikasi 5.meminta informasi .menyangkal diagnosa Kemungkinan dibuktikan oleh : .

Intervensi • • • • • • • • : Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar. Termasuk orang terdekat Tetapkan dan nyatakan batas TD normal. ketajaman pengelihatan dan keterampilan manual serta koordinasi pasien • • • • Jelaskan tentang obat yang diresepkan bersamaa dengan rasional. Evaluasi pendengaran. ginjal. efek samping yang diperkirakan serta efek yang merugikan dan idiosinkrasi Sarankan untuk sering mengubah posisi. Jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung. ruang pengap dan penggunaan alkohol yang berlebihan Anjurkan pasien untuk berkonsultasi dengan pemberi perawatan sebelum menggunakan obat-obatan yang diresepkan atau tidak diresepkan Instruksikan pasien tentang peningkatan masukan makanan/cairan tinggi kalium Review tanda-tanda/gejala-gejala yang memerlukan pelaporan pada pemberi asuhan kesehatan Jelaskan rasional regimen diit yang diharuskan Bantu pasien untuk mengidentifikasi sumber masukan natrium Dorong pasien untuk menurunkan atau menghilangkan kafein Tekankan pentingnya perencanaan/penyelesaian periode istirahat harian • • • • • • . dan otak Hindari mengatakan “TD normal” dan gunakan istilah “terkontrol dengan baik” saat menggambarkan TD pasien dalam batas yang diinginkan Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskular yang dapat diubah Atasi masalah dengan pasien untuk mengidentifikasi caradimana perubahan gaya hidup yang tepat dapat dibuat untuk mengurangi faktor-faktor diatas Bahas pentingnya menghentikan merokok dan bantu pasien dalam membuat rencana untuk berhenti merokok Beri penguatan pentingnya kerja sama dalam regimen pengobatan dan mempertahankan perjanjian tindak lanjut Instruksikan dan peragakan teknik pemantauan TD mandiri. dosis. olahraga kaki saat berbaring Rekomendasikan untuk menghindari mandi air panas. pembuluh darah.

Laporkan penurunan toleransi terhadap aktivitas. . 2010.• Anjurkan pasien untuk memantau respons fisiologis sendiri terhadap aktivitas. wajan juni. Lakukan untuk rujukan bila ada indikasi. Jakarta : Salemba medika. Referensi : Udjianti. keletihan berat atau kelemahan • • Dorong pasien untuk membuat program olahraga sendiri yang pasien mampu lakukan. Jakarta : EGC. Marilynn E dkk. sesak napas. Doenges. dan anjurkan pasien menundukan kepala ke depan bila terjadi perdarahan hidung • Berikan informasi tentang sumber-sumber di masyarakat dan dukungan pasien dalam membuat perubahan pola hidup. pusing. 1999. Tekankan pentingnya mengindari aktivitas isometrik Peragakan penerapan kompres es pada punggung leher dan tekanan pada sepertiga ujung hidung. Keperawatan Kardiovaskular. dan hentikan aktivitas yang menyebabkan nyeri dada. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.

Jakarta : EGC 2005.Price. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 6. . Sylvia A dkk.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->