P. 1
Lembaga Pendidikan Dalam Perspektif Islam

Lembaga Pendidikan Dalam Perspektif Islam

|Views: 1,018|Likes:

More info:

Published by: Princess Dyaah Part III on Mar 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/13/2013

pdf

text

original

1

LEMBAGA PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Lembaga pendidikan merupakan salah satu system yang memungkinkan
berlangsungnnya pendidikan secara berkesinambungan dalam rangka mencapai
tujuan pendidikan. Adanya kelembagaan dalam masyarakat dalam rangka proses
pembudayaan umat, merupakan tugas dan tanggung jawabnya yang cultural dan
edukatif terhadap peserta didik dan masyarakat yang semakin berat. Tanggung
jawab lembaga pendidikan tersebut dalam segala jenisnya menurut pandangan
Islam adalah erat kaitannya dengan usaha menyukseskan misi sebagai seorang
muslim.
1

Lembaga pendidikan Islam merupakan hasil pemikiran yang dicetuskan
oleh kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang didasari, digerakkan, dan
dikembangkan oleh jiwa Islam (Al-Qur‟an dan Al- Sunnah). Lembaga pendidikan
Islam secara keseluruhan, bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan
dalam pertumbuhan dan perkembangannya mempunyai hubungan erat dengan
kehidupan Islam secara umum. Islam telah mengenal lembaga pendidikan sejak
detik-detik awal turunnya wahyu kepada Nadi Muhammad SAW. Rumah Al-
Arqam ibn Abi Al-Arqam merupakan lembaga pendidikan yang pertama.
2

Guru agung yang pertama adalah Nabi Muhammad SAW dengan sekumpulan
kecil pengikut-pengikutnya yang percaya kepadanya secara diam-diam. Dan
dirumah itulah Nabi mengajarkan Al-Qur‟an.

A. Pengertian Lembaga Pendidikan Islam
Secara etimologi, lembaga adalah asal sesuatu, acuan, sesuatu yang
member bentuk pada yang lain, badan atau organisasi yang bertujuan
mengadakan suatu penelitian keilmuan atau melakukan sesuatu uasaha.
3
Dari
pengertian di atas dapat difahami bahwa lembaga mengandunga arti, yaitu :

1
M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta : Bumi Aksara, 1993), Cet. Ke.3, hal. 39.
2
Hasan Adb. Al-Ali, Tarbiyah Al-Islamiyah fi-al-Qarni Al-Hijry (Mishr : Dar al-Fikri al-‘Araby, 1978),
hal. 181.
3
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Balai Pustaka, 1990),
cet III, hal. 572.
2

(1) pengertian secara fisik, materil, kongrit dan (2) pengertian secara non-fisik,
non-materil, dan abstrak.
4

Dalam bahasa Inggris, lembaga di sebut institute (dalam pengertian
fisik), yaitu sarana atau organisai untuk mencapai tujuan tertentu, dan lembaga
dalam pengertian non-fisik atau abstrak disebut institution, yaitu suatu system
norma untuk memenuhi kebutuhan. Lembaga dalam pengertian fisik disedut
juga dengan bangunan, dan lembaga dalam pengertian non-fisik disebut
dengan pranata.
5

Secara terminology menurut Hasan Langgulung, lembaga pendidikan
adalah suatu sistem peraturan yang bersifat mujjarad, suatu konsepsi yang
terdiri dari kode-kode, norma-norma, ideologi-ideologi dan sebagainya, baik
tertulis atau tidak, termasuk perlengkapan material dan organisasi simbolik :
kelompok manusia yang terdiri dari individu-individu yang dibentuk dengan
sengaja atau tidak, untuk mencapai tujuan tertentu dan tempat-tempat
kelompok itu melaksanakan peraturan-peraturan tersebut adalah : mesjid,
sekolah, kuttab dan sebagainya.
6

Daud Ali dan Habibbah Daud, menjelaskan bahwa ada dua unsur yang
kontrasiktif dalam pengertian lembaga, pertama pengertian secara fisik
materil. Kongrit dan kedua pengertian secara non-fisik, non-material dan
abstrak. Terdapat dua versi pengertian lembaga dapat dimengerti karena
lembaga ditinjau dari segi fisik menampakkan suatu badan dan sarana yang
didalamnya ada beberapa orang yang menggerakkanya, dan ditinjau dari aspek
non-fisik lenbaga merupakan suatu sistem yang berperan membantu mencapai
tujuan,
7

Amir Daiem mendefinisikan lembaga pendidikan dengan orang atau
badan yang secara wajar mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan.
Rumusan definisi yang dikemukakan Amir Daiem ini memberikan pendekatan

4
M. Daud Ali dan Habibah Daud, Lembaga-lembaga Islam di Indinesia, (Jakarta : Raja GraGindo
Persada, 1995), hal. 1.
5
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2002), hal. 277.
6
Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21, (Jakarta : Pustaka Al-Husna,
1988), cet I, hal. 12-13.
7
M. Daud Ali dan Habibah Daud, loc. cit.
3

pada siakap tanggung jawab seseorang terhadap peserta didik, sehingga dalam
realisasinya merupakan suatu keharusan yang wajar bukan merupakan
keterpaksaan. Definisi lain tentang lembaga pendidikan adalah suatu bentuk
organisasi yang tersusun relative tetap atas pola-pola tingkah laku, peranan-
peranan relasi-relasi yang terarah dalam mengikat individu yang mempunyai
otoritas formal dan sanksi hokum, guna tercapainya kebutuhan-kebutuhan
social dasar.
8

Adapun lembaga pendidikan Islam secara termonologi dapat diartikan
suatu wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan Islam.
9

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan itu
mengandung pengertian kongkrit berupa sarana dan prasarana dan juga
pengertian yang abstrak, dengan adanya norma-norma dan peraturan-peraturan
tertentu, serta penganggung jawab pendidikan itu sendiri.
Menurut Muhaimin dan Abd Mujib, sebagaimana yang dikutip oleh
Ramayulis, Pendidikan Islam termasuk bidang social sehingga dalam
kelembagaannya tidak terlepas dari lembaga-lembaga sosial yang ada.
10

Lembaga social tersebut terdiri atas tiga bagian, antara lain :
1. Asosiasi, misalnya universitas, persatuan atau perkumpulan.
2. Organisasi khusus, misalnya penjara, rumah sakit dan sekolah-sekolah.
3. Pola tingkah laku yang menjadi kebiasaan atau pola hubungan social yang
mempunyai hubungan tertentu.
11


Berdasarkan uraian di atas, lembaga pendidikan secara umum dapat
diartikan sebagai badan usaha yang bergerak dan bertanggung jawab atas
terselenggaranya pendidikan terhadap anak didik.
12


8
Amir Daien Indrakusomo, Pengantar Ilmu Mendidik Sebuah Tinjauan Teoritis, Filosofis,
(Surabaya : Usaha Nasional, 1973), hal. 99.
9
Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Rineka Cipta, 1991 ), hal. 171.
10
Ramayulis. op. cit. hal. 278.
11
Ibid.
12
Sidi Ghazalba, Islam dan Perubahan Sosio Budaya Kajian Islam Tentang Perubahan
Masyarakat, (Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1983 ), hal. 109.
4

Adapun lembaga pendidikan Islam dapat diartikan dengan suatu wadah
atau tempat berlangsungnya proses pendidikan Islam yang bersamaan dengan
prosespembudayaan.
13

Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam adalah suatu bentuk
organisasi yang diadakan untuk mengembangkan lembaga-lembaga Islam, dan
mempunyai pola-pola tertentu dalam memerankan fungsinya, serta
mempunyai struktur tersendiri yang dapat mengikat individu yang berada
dibawah naungannya, sehingga ini mempunyai kekuatan hokum tersendiri.
Lembaga pendidikan Islam berupa nan-fisik mencakup peraturan-
peraturan baik yang tetap maupun yang berubah, sedangkan bentuk fisik
berupa bangunan, seperti mesjid, kuttab dan sekolah. Bentik fisik ini sebagai
tempat untuk melaksanakan peraturan-peraturan, yang penaggung jawabnya
adalah suatu badan, organisasi, orang tua, yayasan dan Negara.

B. Bentuk-bentuk Lembaga Pendidikan Islam
Menurut Haidar Putra Daulay, ada beberapa bentuk lembaga
pendidikan Islam, diantaranya adalah sebagai berikut
14
:
1. Pesantren
Perkataan pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan pe dan
akhiran an yang berarti tempat tinggal santri (Dhofier, 1984 : 18). Dengan
nada yang sama Soegarda Poerbakawatja menjelaskan pesantren asal
katanya adalah santri, yaitu seseorang yang belajar agama Islam, sehingga
dengan demikian, pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul
untuk belajar agama Islam (Poerbakawatja, 1976 : 233). Manfred Ziemek
juga menyebutkan bahwa asal etimologi dari pesantren adalah pesantrian
berarti “tempat santri”. Santri atau murid (umumnya sangat berbeda-beda)
mendapat pelajaran dari pemimpin pesantren (kiai) dan oleh para guru

13
Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, op. cit., hal. 171.
14
Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islan di Indonesia,
(Jakarta : Prenada Media Group, 2007), hal. 62 - 151.
5

(ulama atau ustadz). Pelajaran mencakup berbagai bidang tentang
pengetahuan Islam (Ziemek, 1986 : 16).

2. Sekolah
WJS. Poerwadarminto dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia
menerangkan arti sekolah.
a. Bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pelajaran.
b. Waktu atau pertemuan ketika murid-murid diberi pelajaran.
c. Usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan), (Poerwadarminto,
1976:889)
Dalam buku-buku mengenai teori pendidikan dijelaskan bahwa
sekolah adalah merupakan salah satu dari tripusat pendidikan di samping
rumah tangga dan masyarakat. Walaupun ketiganya dikelompokkan
kepada lingkungan atau melieu pendidikan, manun dari segi-segi teknis
pelaksanaan pendidikan terdapat perbedaan antara satu dengan yang
lainnya.
Sekolah menitikberatkan kepada pendidikan formal, di sekolah
prosedur pendidikan telah diatur sedemikian rupa, ada guru, ada siswa, ada
jadwal pelajaran yang berpedoman kepada kurikulum dan silabus, ada
jam-jam tertentu waktu belajar serta dilengkapi dengan sarana dan fasilitas
pendidikan serta perlengkapan-perlengkapan dan peraturan-peraturan
lainnya.

3. Madrasah
Perkataan madrasah berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah
temoat belajar (Ibrahim Anis, 1972:280). Padanan madrasah dalam bahasa
Indonesia adalah sekolah lebih dikhususkan lagi sekolah-sekolah agama
Islam (Ensiklopedi Indonesia, 1983:2078). Dalam Shorter Encyclopaedia
of Islam, diartikan : “Name of an Institution where the Islamic science are
studied” (Gibb, 1961:300). Artinya : Nama dari suatu lembaga di mana
ilmu-ilmu keislaman diajarkan.
6

Dengan keterangan tersebut dapat dipahamui bahwa madrasah
tersebut adalah penekanannya sebagai suatu lembaga yang mengajarkan
ilmu-ilmu keislaman. Madrasah pada prinsipnya adalah kelanjutan dari
system pesantren.
Ditinjau dari segi tingkatannnya, madrasah dibagi kepada :
a. Tingkat Ibtidaiyah (Tingkat Dasar)
b. Tingkat Tsanawiyah (Tingkat Menengah)
c. Tingkat Aliyah (Tingkat Menengah Atas)

4. Sekolah-sekolah Dinas
Setelah Indonesia merdeka, ditetapkan departemen yang membidangi
dan mengurus masalah agama adalah Departemen Agama. Departemen
Agama berdiri sejak tanggal 3 Januari 1946, dengan Menteri Agamanya
yang pertama M. RAsyidi, BA. Dari sekian banyak tugas Depertemen ini,
salah satu diantaranya ada bidang pendidikan agama.
Sekolah dinas maksudnya adalah setelah lulus dari sekolah tersebut
diangkat menjadi pegawai negeri dan karena itu murid-murid di sekolah
tersebut harus berkaitan dinas sesuai dengan Peraturan Menteri Agama
Nomor 8 Tahun 1951. Karena kekurangan anggaran sejak tahun 1969
tidak lagi disediakan ikatan dinas.
Saat sekarang ini tidak ada lagi sekolah-sekolah dinas. Lembaga-
lembaga pendidikan yang ada di Departemen Agama menyesuaikan diri
dengan system pendidikan yang diberlakukan secara nasional.

5. Pendidikan Tinggi Islam
Usaha untuk mendirikan PTI terus menggelora dikalangan umat
Islam. Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) merupakan
gabungan dari organisai-organisasi Islam, memelopori untuk mendirikan
PTI. Untuk itu bulan April 1945 diadakanlah rapat di Jakarta yang dihadiri
oleh tokoh-tokoh organisasi Islam yang menjadi anggota Masyumi. Dalam
rapat itu hadirlah sejumlah tokoh-tokoh Islam, seperti :
7

a. PBNU dihadiri KH. Abdul Wahab, KH. Bisri Syamsuri, KH. Wahid
Hasyim, KH. Masykur, dan Zainal Arifin.
b. PB Muhammadiyaah dihadiri Ki Bagus Hadikusumo, KH. Mas
Mansyur, KH. Hasyim, KH Farid Ma‟rif, KH. Mu‟thi, KH. M. Yunus
Anis dan Kerto Sudarmono.
c. PB POI dihadiri oleh KH. A. Halim dan H. Mansyur.
d. PB PUII dihadiri oleh A. Sanusi dan Sumoatmojo.
e. PB Al-Islam dihadiri KH. Imam Ghazali.
f. Shumubu dihadiri A. Kahar Muzakir, KH. Moh. Adnan, KH. Imam
Zarkasi.
g. Cendikiawan. Intelektual dihadiri Dr. Sukiman Wirdjasondjojo, Dr.
Satiman Wirdjasondjojo, Wondoamiseno, Abukusno Tjokrosujoso,
Muh. Rum dan lain-lain.
Berdasarkan daftar nama yang menghadiri siding ini cukup
refresentatif. Karena dapat dikatakan tokoh-tokoh umat Islam Indonesia
telah hadir dalam pertemuan tersebut.
Sidang itu memutuskan membentuk panitia perencana STI yang
dipimpin oleh Moh. Hatta dan sekretarisnya M. Natsir. Akhirnnya atas
bantuan pemerintah Jepang STI dibuka secara resmi pada tanggal 27 Rajab
1364 H bertepatan dengan tanggal 8 Juli 1945 di Jakarta.peresmiannya
diselenggarakan di gedung kantor Imigrasi Pusat Gondongdia di Jakarta
(Setengah Abad UII : 25). Kurikulum yang dipakai adalah mencontoh
Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo.
Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 yang
berbarengan dengan itu tokoh-tokoh pendiri STI terlibat langsung pula
dalam kancah perjuangan kemerdekaan RI. Dan sekaitan pula dengan
munculnya agresi Belanda ke Indonesia untuk kembali menjadikan negeri
jajahan mereka, maka Ibu Kota Negeri RI dipindahkan dari Jakarta ke
Yogyakarta. Dengan pindahnya pemerintah RI ke Yogyakarta maka STI
pun ikut pindah pula.

8

6. Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)
Kota Yogyakarta sebagai kota perjuangan dan pusat pemerintahan
RI, diberi penghargaan dengan menetrapkan Kota Yogyakarta sebagai kota
Universitas. Berkenaan dengan itu didirikanlah di Yogyakarta Universitas
Gajah Mada yang tertuang dalam perturan Pemerintah Nomor 37 TAhun
1950 tertanggal 14 Agustus 1950 yang ditandatangani oleh Assat selaku
Pemangku Jabatan Presiden Republik Indonesia. Sehubungan dengan itu
pula kepada umat Islam diberikan pemerintah pula Perguruan Tinggi
Agama Islam Negeri (PTAIN) yang dinegerikan dari Fakultas Agama
Universitas Islam Indonesia yang diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 34 Tahun 1950. Sedangkan peraturan pelaksanaanya diatur dalam
Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan
Pengajaran dan Kebudayaan No. K/I/14641 Tahun 1951 (Agama) dan No.
28665/Kab. Tahun 1951 (Pendidikan tertanggal 1 September 1951).
Tujuan PTAIN adalah untuk member pengajaran tinggi dan menjadi pusat
memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama
Islam dan untuk tujuan tersebut diletakkan asas untuk membentuk manusia
susila dan cakap serta mempunyai keinsyafan, bertangguang jawab tentang
kesejahteraan masyarakat Indonesia dan dunia umumnya atas dasar
Pancasila, Kebudayaan, Kebangsaan Indonesia dan Kenyataan (Buku
Tahun 1960-1961:12).

7. Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA)
Dengan ditetapkannya Peraturan Bersama Menteri Agama dan
Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan tahun 1951 No. K/651
tanggal 20 Januari 1945 (Agama) dan No. 143/K tanggal 20 Januari 1951
(Pendidikan), maka pendidikan agama dengan resmi dimasukkan ke
sekolah-sekolah negeri dan swasta. Berkenaan dengan itu, dan sekaitan
dengan peraturan-peraturan sebelumnya, maka Departemen Agama
bertugas untuk menyiapkan tenaga-tenaga guru agama untuk kesuksesan
pelaksanaan pendidikan agama di sekola-sekolah. Sehubungan dengan itu
9

untuk merealisasi salah satu tugas tersebut pemerintah mendirikan
Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) dengan maksud dan tijuan “guna
mendidik dan mempersiapkan pegawai negeri akan mencapai ijazah
pendidikan semi akademi dan akademi untuk dijadikan ahli didik agama
pada sekolah-sekolah lanjutan, baik umum maupun kejuruan dan agama”
(Buku Tahun 1960-1962:13).

8. Institute Agama Islam Negeri (IAIN)
Setelah PTAIN berusia kurang lebih 9 tahun, maka lembaga
pendidikan tinggi dimaksud telah mengalami perkembangan. Dengan
perkembangan tersebut dirasakan bahwa tidak mampu menampung
keluasan cakupan ilmu-ilmu keislaman tersebut kalau hanya berada di
bawah satuan paying fakultas saja. Pimpinan fakultas Prof. Mukhtar
Yahya dan sekretaris fakultas Mr. Wasil Aziz dan sejumlah dosen-dosen
PTAIN telah merasakan hal tersebut. Berkenaan dengan itu timbullah
gagasan-gagasan untuk mengembangkan cakupan PTAIN kepada yang
lebih luas.
Berdasarkan Pasal 2 Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun
1960tersebut Menteri Agama mengeluarkan sebuah Ketetapan Menteri
Agama Nomor 43 Tahun 1960 tentang penyelenggaraan Institut Agama
Islam Negeri dan sebagai pelaksanaannya dikeluarkanlah Peraturan
Menteri Agama Nomor 8 Tahun 1961 tentang pelaksanaan
penyelenggaraan IAIN (Buku Tahunan 1960-1962:15).
Sampai dengan tahun 1973 tercatat ada 14 buah IAIN di seluruh
Indonesia. Keempat belas IAIN dalam perkembangan berikutnya sebagian
telah berubah menjadi UIN secara bertahap sejak tahun 2002, yaitu IAIN
Syarif Hidayatullah, Jakarta ; IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; IAIN
Aluddin, Makassar; IAIN Syarif Qasim, Pekan Baru; dan IAIN Sunan
Gunung Jati, Bandung. Selain dari itu ada pula beberapa STAIN yang
berubah menjadi IAIN.

10

9. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)
Seperti telah diungkapkan terdahulu, sejak IAIN didirikan tahun
1960, lembaga ini telah berkembang ke berbagai kota di Indonesia, yang
akhirnya IAIN-IAIN tersebut pada mulanya merupakan cabang dari IAIN
Yogyakarta atau Jakarta menjadi IAIN yang berdiri sendiri.
IAIN-IAIN yang telah berdiri sendiri itu, berdasarkan kebutuhan di
berbagai daerah membuka cabang-cabang pula di luar IAIN induknya
sehingga IAIN menjadi berkembang di berbagai daerah, dalam
perkembangan itu tidak dapat dihindarkan munculnya duplikasi fakultas.
Misalnya ada Fakultas Tarbiyah di IAIN induknya tetapi terdapat pula
Fakultas Tarbiyah di cabangnya, dan ini bias terjadi tidak hanya satu
fakultas tetapi terdapat beberapa fakultas.
Untuk menghindari tidak terjadinya kasus di atas, yakni duplikasi
fakultas, serta untuk menjadikan fakultas-fakultas daerah itu mandiri, dan
lebih dapat mengembangkan dirinya tidak terikat dengan berbagai
peraturan yang agak mengekang oleh IAIN induknya, maka fakultas-
fakultas daerah itu dipisahkan dari IAIN induknya masing-masing yang
secara administrasi tidak lagi memiliki ikatan dengan IAIN induk masing-
masing. Setelah dipisahkan itu bernamalah lembaga ini menjadi STAIN.

10. Universitas Islam Negeri
Beberapa tahun belakangan ini ada pemikiran yang ingin
mengembangkan IAIN menjadi Universitas. Rintisan ke arah itu telah
mulai dilaksanakan. Perubahan itu sendiri tidaklah begitu sulit sepanjang
pihak yang berwenang setuju, tetapi yang amat penting untuk
dipertimbangkan adalah implikasi dari perubahan itu, antara lain tenaga
pengajar, fasilitas dan sarana, dana, konsep keilmuan dan banyak lagi yang
lain. Semuanya menunggu pematangan untuk berdirinya Universitas Islam
Negeri, perhatian dan pembinaan terhadap IAIN adalah suatu keharusan.
Ada beberapa modal dasar yang dimiliki IAIN yang dijadikan landasan
bagi pengembangannya.
11

a. Landasan filosofi dan konstitusional
b. Sosiologis
c. Edukatif
Dasar pemikiran yang paling penting tentang pembukaan IAIN ke
UIN itu adalah :
a. Integritas antara bidang ilmu agama dengan bidang ilmu umum
sehingga antara kedua ilmu itu menjadi menyatu, sehingga tidak terjadi
dikhotomi.
b. Berubahnya status madrasah sebagai sekolah yang berciri khas agama
Islam. Sehingga tamatan Madrasah Aliyah lebih dipersiapkan untuk
memasuki Universitas, madrasah diajarkan ilmu-ilmu yang sama
dengan apa yang diajarkan di sekolah.
c. Alumni UIN lebih terbuka kesempatan untuk mobilitas vertical
ketimbang alumni IAIN dan lebih beragam lapangan kerja yang bias
dimasuki mereka.

11. Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS)
Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta adalah perguruan
tinggi Islam yang tertua di Indonesia. Setelah fakultas agamanya
dinegerikan menjadi PTAIN tahun 1950, kemudian PTAIN digabungkan
dengan ADIA menjadi IAIN, dan dari IAIN fakultas-fakultas daerahnnya
menjadi STAIN, fakultas-fakultas yang non agama UII (Ekonomi, Hukum
Pendidikan) tetap menjadi fakultas-fakultas swasta. Fakultas-fakultas
nonagama ini menjadi berkembang dan sekarang ditambah dengan
fakultas-fakultas lain.
Universitas Islam semacam ini saat sekarang sudah tersebar luas di
Indonesia, ada yang bentiknya diasuh oleh organisasi-organisasi Islam dan
ada pula yang berbentuk yayasan yang tidak bernaung di bawah naungan
suatu organisasi Islam.
Universitas-universitas Islam dibawah asuhan langsung organisasi
Islam, tercatat misalnya Universitas Muhammadiyah, Universutas
12

Nahdatul Ulama, Universitas Alwashliyah, Universitas Islan ini baik yang
diasuh oleh organisasi-organisasi keislaman maupun yang merupakan
yayasan yang independen, mengasuh fakultas-fakultas keagamaan dan
nonkeagamaan, fakultas keagamaan itu berada dibawah pengawasan
Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) pada
wilayah setempat. Sedangkan fakultas-fakultas yang nonkeagamaan
berada di bawah pengawasan Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi
Swasta).
Untuk menetapkan cirri keislaman pada universitas-universitas
Islam swasta tersebut pendidikan agama Islam pada fakultas
nonkeagamaan tidak hanya terbatas diberikan 2 SKS saja seperti yang
dilakukaan di universitas negeri. Di universitas Islam swasta diberikan
bobot pendidikan agama Islam yang bervariasi di atas 2 SKS.

12. Pendidikan Islam Non-Formal
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 26 telah member
batasan tentang apa yang dimaksud dengan pendidikan nonformal terdiri
atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan
belajar masyarakat, dan majelis taklim serta satuan pendidikan sejenis.
Pendidikan agama nonformal ini di Indonesia lebih terkenal dengan
sebutan majelis taklim. Kegiatan majelis taklim ini adalah bergerak dalam
bidang dakwah Islam, lazimnya disampaikan dalam bentuk ceramah,
Tanya jawah oleh seorang ustadz atau kiai dihadapan para jamaahnya.
Kegiatan ini telah dijadwalkan waktu dan ditentukan tempatnya.







13

C. Prinsip-prinsip Lembaga Pendidikan Islam
Prinsip-prinsip dalam pembentukan lembaga islam yakni
15
:
1. Prinsip pembebasan manusia dari ancaman kesehatan yang
menjerumuskan manusia pada api neraka. Firman Allah Swt. Q.S. At-
tahrim : 6
Og¬³Ò ^4C 4ׯg~-.
W ONL4` 47 W EO¬~ ¯7¯= ¬ ^Ò
¯7¯O)Uu-Ò 4Ò 4 4^
E-÷ O¬~4Ò + EL¯
7E4 E g ^¯ 4Ò Og¯OÞU4
NO·¯j·^ÞU4` [ ºEg ¬ E g ·º
4pOO u 4C - . 4` ¯ª¬-4 4`Ò
4pO¬UE ^ 4C4Ò 4` 4pÒ+ ··u·NC
Artinya : “Wahai orang-orang Yang beriman! peliharalah diri kamu dan
keluarga kamu dari neraka Yang bahan-bahan bakarannya:
manusia dan batu (berhala); neraka itu dijaga dan dikawal oleh
malaikat-malaikat Yang keras kasar (layanannya); mereka tidak
menderhaka kepada Allah Dalam Segala Yang diperintahkanNya
kepada mereka, dan mereka pula tetap melakukan Segala Yang
diperintahkan.”

2. Prinsip pembinaan umat manusia menjadi hamba-hamba Allah yang
memiliki keselarasan dan keseimbangan hidup bahagia di dunia dan di
akhirat, sebagai realisasi cita-cita orang beriman dan bertaqwa yang
senantiasa memanjatkan do‟anya sehari-hari. Firman Allah Swt. Q.S. Al-
Baqarah : 201

15
http://bk-uinsuska.blogspot.com/2011/02/lembaga-lembaga-pendidikan-islam.html
14

¦÷_u4g`4Ò }E` N·O¬³4C . E4+ 4
E4g 47 O) 4Ou^O ¯
LO4L= E O) 4Ò jE4 ´ E
LO4L= E E4g~4Ò = E 4
j EL¯


Artinya : “dan di antara mereka pula ada Yang (berdoa dengan) berkata:
"Wahai Tuhan kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan
di akhirat, dan peliharalah Kami dari azab neraka".”

Dan Firman Allah Swt. Q.S. Al-qashash : 77
; 4 ¯ 4Ò . E©Og ¬C¯4 47 +
4 O. ÞE4 ´ E W ºº4Ò ¬w4·
El4 1´ 4^ ¬;g` 4Ou^O ¯ W
}´ ; Ò 4Ò . E©º± =}= ; Ò +
¬C^O·¯) W ºº4Ò ; ¯ · E = E ^¯
O) ^ ¯ · W Ep) - ºº O g 7©
4ׯg ´ ^ ÷©^¯
Artinya : "Dan tuntutlah Dengan harta kekayaan Yang telah dikurniakan Allah
kepadamu akan pahala dan kebahagiaan hari akhirat dan janganlah
Engkau melupakan bahagianmu (keperluan dan bekalanmu) dari
dunia; dan berbuat baiklah (kepada hamba-hamba Allah)
sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu (dengan pemberian
nikmatNya Yang melimpah-limpah); dan janganlah Engkau
melakukan kerosakan di muka bumi; Sesungguhnya Allah tidak suka
kepada orang-orang Yang berbuat kerosakan ".
3. Prinsip pembentukan pribadi manusia yang memancarkan sinar keimanan
yang kaya dengan ilmu pengetahuan, yang satu sama lain saling
15

mengembangkan hidupnya untuk menghambakan diri pada khalik-Nya.
Firman Allah Swt. Q.S. Al-Mujadilah : 11
Og¬³Ò ^4C 4ׯg~-.
W EONL4` 47 · ) º1g~ ¯ª7¯·¯
W O÷ O E · ©) + )UE E©^¯
W O÷ = ^ · g = ^ 4C +
¯ª7¯·¯ W · ) 4Ò º1g~ W Ò+ ¬ e
W Ò+ ¬ e · ; · ¯ 4C +
4ׯg~-. W ONL4` 47 ¯ª7¯Lg`
4ׯg~-. 4Ò W O¬ Òq
=¦·Ug ^¯ ± E 4 E _ + 4Ò
E©) 4pO¬UE©u · ¬ O) E
Artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah
niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan
Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

4. Prinsip amar ma’ruf dan nahi munkar dan membebaskan manusia dari
belenggu-belenggu kenistaan. Firman Allah Swt. Q.S. Ali-Imran : 104
}7¯4 ^¯4Ò ¯ª7¯4g)` ¬OE`q
4pON ; 4C OÞ¯) ) ¯O· ^¯
4pÒN N`· 4C4Ò ´ÒN u O^·¬ )
4p¯OE_uL4C4Ò ^}4 @ ·¯4÷©^¯ _
Elj·^·¯Òq 4Ò Nª¬-
¬]O÷ )U^ ÷©^¯
16

Artinya : “dan hendaklah ada di antara kamu satu puak Yang menyeru
(berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam), dan
menyuruh berbuat Segala perkara Yang baik, serta melarang
daripada Segala Yang salah (buruk dan keji). dan mereka Yang
bersifat demikian ialah orang-orang Yang berjaya.”

Firman Allah Swt. Q.S. Ali-Imran : 110
¯ª+ L7 4 ¯OE ·OE`q
; E @ u q + E4Ug¯ 4pÒ+ ÷·· ·
´ÒN u E©^¯ ) ¬]¯OE_u4· 4Ò
^}4 @ E:L÷©^¯ 4pONLg`u·¬ 4Ò
* ) ¯ ¯O·¯4Ò ¬;4` 47 Nu-Ò
´ 4 ´:^¯ 4p ·¯·¯ L ¯OE
ª÷_-¯ _ Nª÷_uLg)`
¬]ON4g`u·÷©^¯ Nª¬-+ · -±Ò 4Ò
4pO¬³´ E ^¯

Artinya : “kamu (Wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat Yang
dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh
berbuat Segala perkara Yang baik dan melarang daripada Segala
perkara Yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman
kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). dan kalaulah ahli
Kitab (Yahudi dan Nasrani) itu beriman (sebagaimana Yang
semestinya), tentulah (iman) itu menjadi baik bagi mereka.
(Tetapi) di antara mereka ada Yang beriman dan kebanyakan
mereka: orang-orang Yang fasik.”

17

5. Prinsip pengembangan daya pikir, daya nalar, daya rasa sehingga dapat
menciptakan anak didik yang kreatif dan dapat mengfungsikan daya cipta,
rasa dan karsanya.

D. Tanggung Jawab Lembaga Pendidikan Islam
Menurut seorang ahli filsafat, yang bernama Langeveld yang
menyatakan bahwa yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan
adalah :
1. Lembaga keluarga yang mempunyai wewenang bersifat kodrati
2. Lembaga negara yang mempunyai wewenang berdasarkan undang-undang
3. Lembaga gereja yang mempunyai wewenang berasal dari amanat Tuhan
Menurut Ki hajar Dewantara, penyelenggaraan lembaga pendidikan
dengan Tricentra yang merupakan tempat pergaulan anak didik dan sebagai
pusat pendidikan yang amat penting baginya. Tricentra itu ialah :
1. Alam keluarga yang membentuk lembaga pendidikan keluarga.
2. Alam perguruan yang membentuk lembaga pendidikan sekolah.
3. Alam pemuda yang membentuk lembaga pendidikan masyarakat.
Sedangkan menurut Sidi Gazalba, yang berkewajiban
menyelenggarakan lembaga pendidikan adalah :
1. Rumah tangga, yaitu pendidikan primer untuk fase bayi dan fase kanak-
kanak sampai usia sekolah. Pendidiknya adalah orang tua, sanak kerabat,
famili, saudara, teman sepermainan, dan kenalan pergaulan.
2. Sekolah, yaitu pendidikan sekunder yang mendidik anak mulai dari usia
masuk sekolah sampai ia keluar dari sekolah tersebut. Pendidiknya adalah
guru yang profesional.
18

3. Kesatuan sosial, yaitu pendidikan tersier yang merupakan pendidikan yang
terakhir tapi bersifat permanen. Pendidiknya adalah kebudayaan, adat
istiadat, dan suasana masyarakat setempat.
16

Diantara ketiga lembaga ini, lembaga keluargalah yang dominan
mempengaruhi anak. Adapun cara-cara praktis yang patut digunakan untuk
menanamkan semangat keagamaan pada diri anak-anak adalah
17
:
1. Memberi tauladan yang baik kepada mereka tentang kekuatan iman
kepada Allah dan berpegang kepada ajaran-ajaran agama dalam bentuknya
yang sempurna dalam waktu tertentu.
2. Membiasakan mereka menunaikan syiar-syiar agama semenjak kecil
sehingga penunaian itu menjadi kebiasaan yang mendarah daging, mereka
melakukannya dengan kemauan sendiri dan merasa tentram sebab mereka
melakukannya.
3. menyiapkan suasana agama dan spritual yang sesuai di rumah dimana
mereka berada.
4. membimbing mereka membaca bacaan-bacaan agama yang berguna dan
memikirkan ciptaan-ciptaan Allah dan makhluk-makhluk untuk menjadi
bukti kehalusan sistem ciptaan itu dan atas wujud dan keagunganNya.
5. menggalakkan mereka turut serta dalam aktivitas-aktivitas agama, dan
lain-lain.

E. Tantangan Lembaga Pendidikan Islam dalam Transformasi Sosial Budaya
Transformasi sosial budaya berarti modifikasi dalam setiap aspek
proses sosial budaya, pola sosial budaya, bentuk-bentuk sosial budaya.
Perubahan ini bersifat progresif dan regresif, berencana atau tidak, permanen
atau sementara, undirectional atau multidirectional, menguntungkan atau
merugikan. Menurut Gillin, perubahan sosial adalah perubahan bentuk-bentuk

16
Abdul Mujib, 2008, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana), hal. 224-225.
17
Hasan Langgulung, 1995, Manusia dan pendidikan, (Jakarta : PT. Al-Husna), h. 372.
19

kehidupan yang telah ada yang terjadi karena kondisi geografis, alat-alat atau
perlengkapan hidup manusia, komposisi pendidik dan ideologi (Vembriarto,
1988:8-9). Bentuk- bentuk transformasi sosial budaya dibedakan menjadi tiga
bagian yaitu
18
:
1. evolusi sosial (sosial evolution), perkembangan gradual yaitu,
perkembangan wajar karena adanya kerja sama yang harmonis antara
manusia dengan lingkungannya. Perubahan ini dibedakan atas:
a. Evolusi kosmis (cosmis evolution), perubahan alami yang tumbuh
berkembang, mundur lalu pudar.
b. Evolusi organis (organic evolution), perubahan untuk mempertahankan
diri dari kebutuhannya dalam lingkungan yang berkembang.
c. Evolusi mental (mental evolution), suatu yang menyangkut perubahan
pandangan dan sikap hidup.
2. Gerakan sosial (social mobility) yaitu suatu keinginan akan perubahan
yang diorganisasikan karena dorongan masyarakat ingin hidup dalam
keadaan yang lebih baik dan lebih cocok dengan keinginannya.
3. Revolusi sosial (social revolution) yaitu suatu perubahan paksaan yang
umumnya didahului oleh ketidakpuasan yang menumpuk tanpa pemecahan
dan analisis, sehingga jurang antara harapan dan pemenuhan kebutuhan
menjadi semakin lebar tak terjembatani.
Transformasi sosial budaya tidak hanya bersifat materil, seperti
pembangunan gedung, tetapi juga bersifat moril seperti: perubahan gagasan,
ide, pemikiran, cita-cita dan sebagainya. Dalam kristal-kristal pemikiran Islam
, terjadi tiga perubahan konsep utama, yaitu
19
:
1. Konsep westernisasi (mafhum at-taghribi), yaitu konsep yang
menginginkan penyesuaian Islam dengan pemikiran dan peradaban Barat
dalam berbagai aspeknya, mulai dari masalah akidah, sistem politik,

18
Fatma Yulia, Tantangan Lembaga Pendidikan Islam dalam Transfotmasi Budaya, (Jakarta : The
Scribd), hal. 1
19
Ibid., hal 1-2
20

ekonomi, sampai masalah moral. Gerakan Islamisasi ala Kamal attaturk ,
seperti adzan diganti dengan bahasa Turki adalah salah satu bentuk model
ini. Fikrah pertama ini menurut Dr. Muhammad M.Husein menjadikan
konflik pemikiran antar sesama umat Islam untuk membedakan mana
sebenarnya antara yang Islami dan yang wetern (barat).
2. Konsep modrenisasi (mafhum at-tajdiid), yaitu konsep yang ingin
mengadakan pembaharuan-pembaharuan dalam pemahaman, penafsiran
dan perumusan masalah-masalah keislaman, dengan pretensi ingin
mengaktualisasikan Islam dalam kehidupan modern. Isu yang paling
banyak dikemukakan adalah membuka kembali ijtihad selebar-lebarnya
dan menggunakan potensi akal sebesar-besarnya. Liberalisme ijtihad ini
semakin parah dan sampai menjalar kepada orang-orang tidak banyak
mengerti tentang agama, tetapi berminat untuk ijtihad, sehingga ijtihad
menjadi suatu mode tanpa standardisasi dan disiplin tertentu.
3. Konsep reformasi (mafhum al-islahi). Konsep ini ingin memperbaharui
Islam dengan Islam. Pemikiran model ini banyak macamnya dari yang
paling kaku dan ekstrim seperti Ibnu Taimiyyah sampai yng moderat dan
progresif seperti Muhammad Abduh (Tolchah Hasan, 1987: 103).
Fenomena-fenomena sosial tersebut selanjutnya menjadi tantangan
bagi lembaga pendidikan terutama pendidikan formal. Bentuk tantangan yang
dihadapi dalam pendidikan Islam adalah
20
:
a. Politik: kehidupan politik khususnya politik negara banyak berkaitan
dengan masalah cara negara itu membimbing, mengarahkan dan
mengembangkan kehidupan bangsa jangka panjang. Pengarahan tersebut
didasarkan atas falsafah negara yang mengikat semua sektor. Pendidikan
yang terdapat pada wilayah merupakan sektor kehidupan budaya bangsa
yang mengikat (comitted) dengan tujuan perjuangan nasional yang
berdasarkan falsafah negara. Suatu lembaga pendidikan yang tidak
bersedia mengikuti politik negara, akan mendapatkan tekanan (pressure)

20
Ibid., hal. 3-4.
21

terhadap cita-cita kelembagaan dari politik tersebut. Tantangan ini perlu
segera dijawab secara politis fundamental.
b. Kebudayaan : suatu perkembangan kebudayaan dalam abad modren saat
ini tidak dapat terhindar dari pengaruh kebudayaan bangsa lain. Kondisi
semacam ini menyebabkan proses akulturasi, yaitu faktor nilai yang
mendasari kebudayaannya sendiri sangat menentukan ke-eksistensian
kebudayaan tersebut. Nilai-nilai kultural bangsa melemah karena berbagai
sebab, bangsa akan mudah terperangkap oleh budaya lain , baik melalui
jalan damai (penetration facific) maupun jalan kekerasan dan paksaan
(imperatif provokatif). Dalam menghadapi hal yang tidak diinginkan,
dibutuhkan sikap kreatif dan wawasan pengetahuan yang dapat
menjangkau masa depan bagi eksistensi kebudayaan dan kehidupannya.
c. Ilmu pengetahuan dan teknologi : teknologi sebagai ilmu terapan
merupakan hasil kemajuan kebudayaan manusia yang banyak bergantung
pada manusia yang menggunakanya. Apabila teknologi tersebut tidak
diimbangi dengan nilai-nilai kemanusiaan, teknologi tersebut akan
berdampak negatif bagi kehidupan manusia. Tantangan seperti ini
menuntut agar lembaga pendidikan kita mampu mendasari teknologi
tersebut dengan norma-norma agama sehingga hasil teknologi manusia
berdampak positif bagi kehidupan.
d. Ekonomi : ekonomi merupakan tulang punggung kehidupan bangsa yang
dapat menentukan maju mundurnya, lemah-kuatnya, cepat atau lambatnya
suatu proses pembudayaan bangsa. Perkembangan ekonomi banyak
diwarnai oleh sistem pendidikan. Demikian juga sebaliknya, disini
pendidikan dituntut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat,
sehingga diadakan “ ekonomi pendidikan” sebagai perencanaan
pendidikam dalam sektor ekonomi.
e. Masyarakat dan perubahan sosial : perubahan yang terjadi dalam sistem
kehidupan sosial seringkali mengalami ketidakpastian tujuan serta tak
terarah tujuan yang disepakati. Disinilah pendidikan sebagai pengarah
yang rasional dan konstruktif, sehingga problem-problem sosial dapat
22

dipecahkan mengingat lembaga pendidikan Islam sebagai lembaga
kemasyarakatan yang berfungsi sebagai agent of social change.
f. Sistem nilai : sistem nilai juga dijadikan sebagai tolok ukur bagi tingkah
laku manusia dalam masyarakat yang mengandung potensi pengendali ,
mengatur dan mengarahkan perkembangan masyarakat, bahkan
mengandung potensi rohaniah yang melestarikan eksistensi masyarakat.
Akan tetapi , kini perubahan masyarakat cenderung untuk menghilangkan
nilai tradisi yang ada. Apakah karena naluri manusia ingin mengharapkan
hal-hal yang baru ataukah karena kekuatan yang mendesak (pressure
power)? Hal ini yang menjadi titik sentral problema yang melahirkan
tantangan terhadap lembaga pendidikan yang salah satu fungsinya adalah
mengawetkan sistem nilai yang telah dikembangkan dalam masyarakat.
(Arifin,1987: 41-45)
Tantangan lembaga pendidikan tersebut mengandung implikasi
bahwa lembaga pendidikan Islam mempunyai peran ganda, yakni sebagai
pewarisan budaya (agent of conservative), berperan sebagai pewaris budaya
melalui pendidikan sistem nilai dan kepercayaan, pengetahuan dan norma-
norma, serta adat kebiasaan dan berbagai perilaku tradisional yang telah
membudaya diwariskan kepada satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan
cara ini, kebudayaan dapat dilestarikan meskipun warga suatu masyarakat
berganti-ganti, sedangkan kebudayaan dan sistem sosialnya tetap berlaku. Di
pihak lain, lembaga pendidikan berperan sebagai agent of change”, yaitu
adanya upaya untuk membuang unsur budaya lama yang dipandang tidak
cocok lagi dan perlu memasukkan unsur budaya baru (Adiwikarya, 1988:58).
Tegasnya lembaga pendidikan merupakan tempat sosialisasi dan internalisasi
nilai-nilai yang telah membudaya. Oleh karena itu penetapan kurikulum
lembaga pendidikan dan tujuannya didasarkan atas nilai-nilai pengetahuan
serta aspirasi dan pandangan hidup yang berlaku dan dihormati masyarakat.
(Wuradji, 1988:26). Di pihak lain, implikasi transformasi sosial budaya
menuntut lebih akrabnya lembaga-lembaga pendidikan dengan institusi-
institusi lainnya. Semua itu merupakan mata rantai yang saling mendukung
23

dan berkaitan dengan institusi pendidikan sebagai sentral terhadap institusi
lainnya.









DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati. 1991. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Rineka
Cipta.
Amir Daien Indrakusomo. 1973. Pengantar Ilmu Mendidik Sebuah Tinjauan
Teoritis, Filosofis, Surabaya : Usaha Nasional.
Arifin, M. 1993. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara. Cet. Ke.3
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Balai Pustaka. cet III
Ghazalba, Sidi. 1983. Islam dan Perubahan Sosio Budaya Kajian Islam Tentang
Perubahan Masyarakat. Jakarta : Pustaka Al-Husna.
Haidar Putra Daulay. 2007. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan
Islan di Indonesia. Jakarta : Prenada Media Group.
Hasan Adb. Al-Ali. 1978. Tarbiyah Al-Islamiyah fi-al-Qarni Al-Hijry. Mishr : Dar
al-Fikri al-„Araby.
http://bk-uinsuska.blogspot.com/2011/02/lembaga-lembaga-pendidikan-
islam.html
Langgulung, Hasan. 1988. Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21, Jakarta :
Pustaka Al-Husna. cet I
Langgulung, Hasan. 1995. Manusia dan pendidikan. Jakarta : PT. Al-Husna
24

M. Daud Ali dan Habibah Daud. 1995. Lembaga-lembaga Islam di Indinesia,
Jakarta : Raja GraGindo Persada.
Mujib, Abdul. 2008. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kencana.
Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia.
Yulia, Fatma. 2011. Tantangan Lembaga Pendidikan Islam dalam Transfotmasi
Budaya, Jakarta : The Scribd.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->