P. 1
Laporan Praktikum Fisiologi

Laporan Praktikum Fisiologi

2.0

|Views: 14,245|Likes:
Published by Rachmah Kurniasari

More info:

Published by: Rachmah Kurniasari on Mar 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2015

pdf

text

original

Sections

I. Tujuan Percobaan

Mengetahui cara pemeriksaan serta jenis buta warna serta ada tidaknya buta warna pada o.p.

II. Dasar Teori

Retina mata memiliki hampir tujuh juta sel fotoreseptor yang terdiri dari dua jenis sel– sel batang

dan sel kerucut– yang terkonsentrasi di bagian tengahnya yang disebut makula. Sel batang

sangat sensitif terhadap cahaya, dan dapat menangkap cahaya yang lemah seperti cahaya dari

bintang di malam hari, tetapi sel itu tidak dapat membedakan warna. Berkat sel batang kita dapat

melihat hal-hal di sekitar kita di malam hari, tetapi hanya dalam nuansa hitam, abu-abu, dan

putih. Sel kerucut dapat melihat detail obyek lebih rinci dan membedakan warna tetapi hanya

bereaksi terhadap cahaya terang. Kedua jenis sel tersebut berfungsi saling melengkapi sehingga

kita bisa memiliki penglihatan yang tajam, rinci, dan beraneka warna.

Ada tiga jenis sel kerucut pada retina. Mereka masing-masing berisi pigmen visual (opsin) yang

berbeda sehingga bereaksi terhadap panjang gelombang cahaya yang berbeda : merah, hijau

dan biru. Sel kerucut menangkap gelombang cahaya sesuai dengan pigmen masing-masing dan

meneruskannya dalam bentuk sinyal transmisi listrik ke otak. Otak kemudian mengolah dan

menggabungkan sinyal warna merah, hijau dan biru dari retina ke tayangan warna tertentu.

Karena perbedaan intensitas dari masing-masing warna pokok tersebut, kita dapat membedakan

jutaan warna. Gangguan penerimaan cahaya pada satu jenis atau lebih sel kerucut di retina

berdampak langsung pada persepsi warna di otak. Seseorang yang buta warna memiliki cacat

atau kekurangan satu atau lebih jenis sel kerucut.

KLASIFIKASI BUTA WARNA

Buta warna dikenal berdasarkan istilah Yunani protos (pertama), deutros (kedua), dan tritos

(ketiga) yang pada warna 1. Merah, 2. Hijau, 3. Biru.

1. Anomalous trichromacy

Anomalous trichromacy adalah gangguan penglihatan warna yang dapat disebabkan oleh

faktor keturunan atau kerusakan pada mata setelah dewasa. Penderita anomalous

trichromacy memiliki tiga sel kerucut yang lengkap, namun terjadi kerusakan mekanisme

sensitivitas terhadap salah satu dari tiga sel reseptor warna tersebut. Pasien buta warna

dapat melihat berbagai warna akan tetapi dengan interpretasi berbeda daripada normal yang

paling sering ditemukan adalah:

a. Trikromat anomali, kelainan terdapat pada short-wavelenght pigment (blue). Pigmen biru

ini bergeser ke area hijau dari spectrum merah. pasien mempunyai ketiga pigmen

kerucut akan tetapi satu tidak normal, kemungkinan gangguan dapat terletak hanya pada

satu atau lebih pigmen kerucut. Pada anomali ini perbandingan merah hijau yang dipilih

pada anomaloskop berbeda dibanding dengan orang normal.

16 | LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI B-10

b. Deutronomali, disebabkan oleh kelainan bentuk pigmen middle-wave lenght (green).

Dengan cacat pada hijau sehingga diperlukan lebih banyak hijau, karena terjadi

gangguan lebih banyak daripada warna hijau.

c. Protanomali adalah tipe anomalous trichromacy dimana terjadi kelainan terhadap long-

wavelenght (red) pigmen, sehingga menyebabkan rendahnya sensitifitas warna merah.

Artinya penderita protanomali tidak akan mempu membedakan warna dan melihat

campuran warna yang dilihat oleh mata normal. Penderita juga akan mengalami

penglihatan yang buram terhadap warna spektrum merah. Hal ini mengakibatkan mereka

dapat salah membedakan warna merah dan hitam.

2. Dichromacy

Dichromacy adalah jenis buta warna di mana salah satu dari tiga sel kerucut tidak ada atau

tidak berfungsi. Akibat dari disfungsi salah satu sel pigmen pada kerucut, seseorang yang

menderita dikromatis akan mengalami gangguan penglihatan terhadap warna-warna tertentu.

Dichromacy dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan pigmen yang rusak:

a. Protanopia adalah salah satu tipe dichromacy yang disebabkanoleh tidak adanya

photoreceptor retina merah. Pada penderita protonopia, penglihatan terhadap warna

merah tidak ada. Dichromacy tipe ini terjadi pada 1 % dari seluruh pria. Keadaan yang

paling sering ditemukan dengan cacat pada warna merah hijau sehingga sering dikenal

dengan buta warna merah – hijau.

b. Deutranopia adalah gangguan penglihatan terhadap warna yang disebabkan tidak

adanya photoreceptor retina hijau. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam membedakan

hue pada warna merah dan hijau (red-green hue discrimination).

c. Tritanopia adalah keadaan dimana seseorang tidak memiliki shortwavelength cone.

Seseorang yang menderita tritanopia akan kesulitan dalam membedakan warna biru

dan kuning dari spektrum cahaya tanpak. Tritanopia disebut juga buta warna biru-kuning

dan merupakan tipe dichromacy yang sangat jarang dijumpai.

3. Monochromacy

Monochromacy atau akromatopsia adalah keadaan dimana seseorang hanya memiliki

sebuah pigmen cones atau tidak berfungsinya semua sel cones. Pasien hanya mempunyai

satu pigmen kerucut (monokromat rod atau batang). Pada monokromat kerucut hanya dapat

membedakan warna dalam arti intensitasnya saja dan biasanya 6/30. Pada orang dengan

buta warna total atau akromatopsia akan terdapat keluhan silau dan nistagmus dan bersifat

autosomal resesi

Bentuk buta warna dikenal juga :

1. Monokromatisme rod (batang) atau disebut juga suatu akromatopsia di mana terdapat

kelainan pada kedua mata bersama dengan keadaan lain seperti tajam penglihatan kurang

dari 6/60, nistagmus, fotofobia, skotoma sentral, dan mungkin terjadi akibat kelainan sentral

hingga terdapat gangguan penglihatan warna total, hemeralopia (buta silang) tidak terdapat

buta senja, dengan kelainan refraksi tinggi. Pada pemeriksaan dapat dilihat adanya makula

dengan pigmen abnormal.

17 | LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI B-10

2. Monokromatisme cone (kerucut), di mana terdapat hanya sedikit cacat, hal yang jarang,

tajam penglihatan normal, tidak nistagmus

III. Tata Kerja

Tahapan dalam pemeriksaan buta warna dengan metode ishihara, yaitu :

1. Menggunakan buku Ishihara 38 plate.

2. Yang perlu diperhatikan :

1) Ruangan pemeriksaan harus cukup pencahayaannya

2) Lama pengamatan untuk membaca angka masing-masing lembar maksimum 10 detik.

3. Pada tes pembacaan buku Ishihara dapat disimpulkan :

1) Normal

2) Buta warna Parsial

a. Bila plate no. 1 sampai dengan no 17. hanya terbaca 13 plate atau kurang.

b. Bila terbaca angka-angka pada plate no. 18, 19, 20 dan 21 lebih mudah atau lebih

jelas dibandingkan dengan plate no. 14, 10, 13, dan 17.

c. Bila ragu-ragu kemungkinan buta warna parsial dapat dites dengan:

a) Membaca angka-angka pada plate no. 22, 23, 24, dan 25. Pada orang normal,

akan terbaca dengan benar angka-angka pada plate-plate tersebut diatas secara

lengkap (dua rangkap). Pada penderita buta warna parsial hanya terbaca satu

angka pada tiap-tiap plate tersebut diatas.

b) Menunjuk arah alur pada plate no. 26, 27, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, dan 38.

Untuk orang normal bisa menunjuk alur secara benar sedangkan untuk buta

warna parsial dapat menunjukkan adanya alur dari satu sisi yang lainnya.

3) Buta warna total

Pada plate no. 28 dan 29, untuk orang normal, tidak bisa menunjukkan adanya alur,

sedangkan untuk penderita buta warna parsial dapat menunjukkan adanya alur dari satu

sisi ke sisi yang lainnya.

IV. Hasil Percobaan dan Analisa

Nama OP : R.A. Wita

o.p. dapat membaca semua plate dan mengikuti alur di buku ishihara, o.p. normal, tidak buta

warna.

V. Kesimpulan

Seseorang yang buta warna memiliki cacat atau kekurangan satu atau lebih jenis sel kerucut.

Buta warna memiliki beberapa klasifikasi yang masing-masing bisa diuji melalui buku ishihara

yang memiliki pola warna-warna tertentu yang harus dibaca.

DAFTAR PUSTAKA

repository.ui.ac.id/dokumen/lihat/2801.ppt – sabtu, 03 april 2010.

Thianren. 2008. Penurunan Visus Pada Katarak dengan Diabetes Mellitus.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23511/4/Chapter%20II.pdf

18 | LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI B-10

III. PENGLIHATAN II: Pemeriksaan Luas Lapang Pandang (Perimeter)

I. Dasar Teori

Mata adalah struktur khusus tempat reseptor-reseptor peka cahaya yang penting untuk persepsi

penglihatan yaitu, sel kerucut dan sel batang ditemukan di lapisan retina. Iris mengontrol ukuran pupil

dan mengatur jumlah cahaya yang diperbolehkan masuk ke mata. Kornea dan lensa adalah struktur

refraktif utama yang membelokkan berkas cahaya masuk agar bayangan terfokus di retina. Kornea

merupakan penentu utama kemampuan refraktif mata. Kekuatan lensa dapat diubah-ubah melalui

kerja otot siliaris agar mata dapat berakomodasi untuk penglihatan jauh atau dekat.

Sel batang dan kerucut diaktifkan apabila fotopigmen yang mereka miliki menyerap berbagai

panjang gelombang cahaya. Penyerapan cahaya menyebabkan perubahan biokimiawi pada

fotopigmeen yang akhirnya dikonversikan menjadi perubahan kecepatan perambatan potensial aksi

di jalur penglihatan yang meninggalkan retina. Pesan visual di salurkan ke korteks penglihatan di otak

untuk pengolahan perceptual.

Sel kerucut memperlihatkan ketajaman yang tinggi, tetapi hanya dapat digunakan untuk

penglihatan di siang hari, karena memiliki kepekaan yang rendah terhadap cahaya. Penglihatan

warna ditimbulkan oleh bermacam-macam rasio stimulasi terhadap ketiga jenis sel kerucut oleh

berbagai panjang gelombang cahaya. Sel batang menghasilkan penglihatan yang samar berupa rona

abu-abu, tetapi karena sangat peka terhadap cahaya, sel-sel batang dapat digunakan untuk melihat

pada malam hari (Sherwood, L. 2001)

Lapangan pandang mata adalah luas lapangan penglihatan seorang individu. Terdapat tiga jenis

lapangan pandang; lapangan makular yaitu lapangan pandang yang paling jelas dilihat oleh kedua

mata, lapangan binokular yang dilihat oleh kedua mata secara umumnya dan lapangan monokular

yaitu kawasan yang bisa dilihat oleh salah satu mata saja.

Jaringan neural penglihatan terjadi apabila cahaya yang masuk ke dalam mata sampai ke

fotoreseptor di retina.Setelah itu, transmisi impuls pada nervus optikus kepada kiasma optik. Traktus

optikus, yaitu serabut saraf optik dari kiasma optik, membawa impuls ke lobus serebral dimana

penglihatan diinterpretasikan.

Untuk suatu objek terfokus ke atas retina, semakin jauh objek itu, semakin menipis lensa mata

untuk memfokusnya. Pengubahan bentuk lensa dikawal oleh otot siliari yang terdapat pada badan

siliari, disebut akomodasi. Apabila terjadi kontraksi, fiber dalam ligamen suspensori meregang dan

menyebabkan lensa menebal dan menjadi lebih konveks.

PEMERIKSAAN LAPANGAN PANDANG

Pemeriksaan lapang pandangan sentral dan perifer dipergunakan untuk tiga alasan yaitu

mendeteksi kelainan tajam penglihatan, mencari lokasi kelainan disepanjang jaras saraf penglihatan,

melihat besar kelainan mata dan perubahannya dari waktu ke waktu atau follow up. Pemeriksaan ini

dipergunakan untuk mengeliminir differential diagnosis dan dipergunakan untuk melihat progresifitas

penyakit, dan biasanya menyertai pemeriksaan lain misalnya: pemeriksaan ketajaman penglihatan,

penglihatan warna atau pemeriksaan mata lainnya.

19 | LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI B-10

Pemeriksaan lapang pandangan dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari yang sangat

sederhana bahkan tanpa alat, sampai dengan pemakaian alat canggih. Pemeriksaan ini selalu

dilakukan pada satu mata baru kemudian dilakukan pada mata yang lain.

Pemeriksaan lapang pandangan bisa dilakukan dengan cara yaitu dengan uji konfrontasi dan kisi

Amsler, atau dengan cara yang lebih canggih (dengan perimeter Goldmann). Pemeriksaan lapang

pandangan sederhana apabila dikerjakan dengan benar dan didukung dengan pemahaman teori

yang memadai, akan dapat mengungkapkan berbagai kelainan lintasan visual.

Bila kita memfiksasi pandangan kita ke satu benda, benda ini terlihat nyata, sedangkan benda-

benda di sekitarnya tampak kurang tajam. Seluruh lapangan yang terlihat, bila kita memfiksasi mata

ke satu benda disebut lapangan pandang.

Pada pemeriksaan lapangan pandang, kita menentukan batas perifer dari penglihatan, yaitu

batas sampai mana benda dapat dilihat, jika mata difiksasi pada satu titik. Sinar yang datang dari

tempat fiksasi jatuh di makula, yaitu pusat melihat jelas (tajam), sedangkan yang datang dari

sekitarnya jatuh di bagian perifer retina.

Lapangan pandang yang normal mempunyai bentuk tertentu, dan tidak sama ke semua arah.

Seseorang dapat melihat ke lateral sampai sudut 90-100 derajat dari titik fiksasi, ke medial 60 derajat,

ke atas 50-60 derajat dan ke bawah 60-75 derajat. Ada tiga metode standar dalam pemeriksaan

lapang pandang yaitu dengan metode konfrontasi, perimeter, dan kampimeter atau tangent screen.

Perimeter

Perimeter adalah penggunaan alat untuk memeriksa lapangan pandang dengan mata terfiksasi

sentral. Penilaian lapangan pandang merupakan hal yang penting ditakukan pada keadaan

penyakit yang mempunyai potensi terjadinya kebutaan. Pada glaukoma pemeriksaan ini berguna

dalam pengobatan penyakit dan pencegahan kebutaan.

Perimeter adalah setengah lingkaran yang dapat diubah-ubah letaknya pada bidang meridiannya.

Cara pemakaiannya serta cara melaporkan keadaan sewaktu pemeriksaan sama dengan

kampimeter. Pemeriksaan lapang pandangan dilakukan dengan Perimeter, merupakan alat yang

dipergunakan untuk menentukan luas lapang pandangan. Alat ini berbentuk setengah bola

dengan jari- jari 30 cm, dan pada pusat parabola ini penderita diletakkan untuk diperiksa.

Batas lapang pandangan perifer adalah 90o

temporal, 75o

inferior, 60o

nasal, dan 60o

superior.

Dapat dilakukan pemeriksaan statik ataupun kinetik.

Pemeriksaan ini berguna untuk :

o Membantu diagnosis pada keluhan penglihatan
o Melihat progresifitas turunnya lapang pandangan
o Merupakan pemeriksaan rutin pada kelainan susunan saraf pusat
o Memeriksa adanya histeria atau malingering.
Dikenal 2 cara pemeriksaan Perimeter, yaitu :

a) Perimeter kinetik yang disebut juga perimeter isotropik dan topografik, dimana pemeriksaan

dilakukan dengan objek digerakkan dari daerah tidak terlihat menjadi terlihat oleh pasien.

20 | LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI B-10

b) Perimeter statik atau perimeter profil dan perimeter curve differential threshold, dimana

pemeriksaan dengan tidak menggerakkan objek akan tetapi dengan menaikkan intensitas

objek sehingga terlihat oleh pasien.

Uji konfrontasi

II. Pelaksanaan Praktikum

Tujuan:

Pada akhir latihan ini, mahasiswa harus dapat:

1. Menimbulkan peristiwa fosfen tekan dan menyebutkan hukum serta fenomena yang

berhubungan dengan peristiwa tersebut

2. Memeriksa luas lapangan pandang untuk beberapa macam warna dengan menggunakan

perimeter

3. Menimbulkan peristiwa diplopia dan menerangkan mekanisme nya

4. Memeriksa refleks pupil langsung dan tidak langsung dengan refleks pupil pada akomodasi

5. Menyatakan adanya bintik buta dengan menggambarkan proyeksinya di kertas

6. Melihat gerakan eritrosit retina sendiri

Alat yang diperlukan:

1. Perimeter + Formulir

2. Lampu senter + Kaca biru atau kaca ungu

Tata Kerja:

1. Suruh op duduk membelakangi cahaya menghadap alat perimeter

2. Tutup mata op dengan sapu tangan

3. Letakan dagu op ditempat sandaran dagu yang dapat diatur tingginya, sehingga tepi bawah mata

kanannya terletak setinggi bagian tas batang vertikal sandaran dagu

4. Pasang formulir untuk mata kanan disebelah belakang piringan perimeter. Sebagai berikut:

a. Putar busur perimeter sehingga letaknya horizontal dan penjepit berada dibagian atas

perimeter

b. Jepit formulir tersebut pada piringan sehingga garis 180-0 formulir letaknya berimpit dengan

garis 0-180, dan lingkaran konsentris formulir letaknya skala perimeter

5. Suruh op memusatkan penglihatannya pada titik fiksasi ditengah perimeter. Selama pemeriksaan,

penglihatan op harus tetepa dipusatkan pada titik fiksasi tersebut

6. Gunakan beda yang dapat digeserpada busur perimeter untuk pemeriksaan luas lapang

pandang. Pilih bulatan berwarna putih dengan diameter sedang (+5mm) pada benda tersebut.

P-VI 3.3 Bagaimana caranya memilih warna dan mengatur diameter bulatan?

7. Gunakan perlahan bulatan putih itu menyusuri busur di tepi kiri op ketengah tepat saat op melihat

bulatan putih tersebut penggeseran benda dihentikan.

8. Baca tempat penghentian itu pada busur dan catat pada formulir dengan tepat.

21 | LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI B-10

P-VI 3.4 Bagaimana caranya mencatat tempat itu pada formulir?

9. Ulangi tindakan no 7 dan 8 pada sisi busur yang berlawanan tanpa mengubah posisi busur

10. Ulangi tindakan no 7, 8, dan 9 setelah busur tiap kali diputar 30 derajat sesuai arah jarum dari

pemeriksa sampai posisi busur vertikal

11. Kembalikan busur pada posisi horizontal seperti semula, pada posisi ini tidak perlu dilakukan

pencatatan lagi.

12. Ulangi tindakan no 7, 8, dan 9 setelah busur tiap kali diputar 30 derajat sesuai arah jarum dari

pemeriksa sampai tercapai posisi busur 60 derajat dari bidang horizontal

13. Periksa juga lapang op untuk berbagai warna lain : Merah, Hijau, Kuning dan Biru seperti cara

diatas.

14. Lakukan juga pemeriksaan lapang pandang untuk mat akiri hanya dengan bulatan berwarna putih

P-VI.3.5 Apa kriteria lapang pandang yang normal untuk cahaya putih dan berwarna?

Gambar 1 Lapang pandang baku (Visual Standart) mata kiri dan kanan

Batas minimal lapang pandang normal:

Temporal

85 derajat

Nasal

60 derajat

Temporal Bawah

85 derajat

Nasal atas

55 derajat

Bawah

65 derajat

Atas

45 derajat

Nasal Bawah

50 derajat

Temporal Atas

55 derajat

Luas lapang pandang total : 500 derajat

II. Hasil Praktikum dan Analisa Data

1) Mata Kiri (Putih)

Searah Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

180o

80

75

150o

80

70

120o

70

55

90o

70

50

22 | LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI B-10

Berlawanan Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

30o

70

80

60o

50

75

2) Mata Kanan (Kuning)

Searah Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

180o

70

75

150o

85

60

120o

80

55

90o

65

55

Berlawanan Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

30o

75

65

60o

60

65

3) Mata Kanan (Hijau)

Searah Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

180o

90

75

150o

85

75

120o

80

65

90o

55

60

Berlawanan Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

30o

80

75

60o

60

65

4) Mata Kanan (Biru)

Searah Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

180o

70

65

150o

70

45

120o

70

50

90o

45

50

Berlawanan Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

30o

65

65

60o

60

70

5) Mata Kanan (Merah)

Searah Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

180o

90

75

150o

80

70

23 | LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI B-10

120o

80

55

90o

55

70

Berlawanan Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

30o

80

70

60o

60

70

6) Mata Kanan (Putih)

Searah Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

180o

80

80

150o

80

70

120o

80

60

90o

65

75

Berlawanan Jarum Jam

Sudut

Temporal

Nasal

30o

75

75

60o

60

70

Dari hasil terlihat batas pandangan normal, dan mata lebih peka/batas lapang pandang lebih luas

saat melihat titik berwarna dibandingkan warna gelap/putih,

III. MENJAWAB PERTANYAAN

P-VI.3.3 Bagaimana caranya memilih warna dan mengatur diameter bulatan?

Jawab:

Dengan cara menggeser titik fiksasi yang ada di busur Perimeter

P-VI 3.4 Bagaimana caranya mencatat tempat itu pada formulir?

Jawab:

Dengan cara memperlihatkan besar sudut Perimeter

P-VI.3.5 Apa kriteria lapang pandang yang normal untuk cahaya putih dan berwarna?

Jawab:

Lapang pandang normal

Temporal : 85º

Temporal bawah : 85º

Bawah : 65º

Nasal bawah : 50º

Nasal : 60º

Nasal atas : 55º

Atas : 45º

Temporal atas : 55º

Luas pandang total = 500º

24 | LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI B-10

Lapang pandang yang normal untuk cahaya putih adalah dengan penglihatan binocular

sedangkan warna abu-abu atau berwarna dengan penglihatan monookular.

IV. Kesimpulan

Lapangan pandang mata adalah luas lapangan penglihatan seorang individu. Terdapat tiga jenis

lapangan pandang; lapangan makular yaitu lapangan pandang yang paling jelas dilihat oleh kedua

mata, lapangan binokular yang dilihat oleh kedua mata secara umumnya dan lapangan monokular

yaitu kawasan yang bisa dilihat oleh salah satu mata saja.

Pada pemeriksaan lapangan pandang, kita menentukan batas perifer dari penglihatan, yaitu

batas sampai mana benda dapat dilihat, jika mata difiksasi pada satu titik. Sinar yang datang dari

tempat fiksasi jatuh di makula, yaitu pusat melihat jelas (tajam), sedangkan yang datang dari

sekitarnya jatuh di bagian perifer retina.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah dengan Perimeter. Pada Perimeter, pemeriksaan ini

berguna untuk membantu diagnosis pada keluhan penglihatan, melihat progresifitas turunnya lapang

pandangan, merupakan pemeriksaan rutin pada kelainan susunan saraf pusat, memeriksa adanya

histeria atau malingering.

Konsep warna tergantung dalam benak yang melihat. Sebagian besar kita lihat, karena kita

memiliki jenis sel-sel kerucut yang sama dan menggunakan jalur-jalur saraf yang sama untuk

membandingkan keluaran mereka. Lapang pandang menjadi lebih luas ketika harus melihat objek

berwarna karena lebih terang untuk dilihat oleh mata.

DAFTAR PUSTAKA

Ganong,F.William. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed.20. Jakarta:EGC

Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem ed.2. Jakarta:EGC

Sloane, Ethel. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC

Lumbantobing, S. M. Saraf Otak. Dalam Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta :

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. h. 2530

25 | LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI B-10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->