Al-quran Dan Hadist 3

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah hirobbil’alamin, puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan pada waktu yang telah ditentukan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, yang membimbing umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah yakni ajaran agama Islam. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Study Islam. Seperti; AlQur’an, Kedudukan Hadist, Ijma’, Qiyas, Pengertian Nash, Syari’ah, Teori Istinbath Hukum dalam Islam, serta Ijtihad dan Perbedaan Mazdhab. Penyusun berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang konsep didalamnya. Tim penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Tim penyusun berharap semoga semua yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. Akhirnya tim penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu tim penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca, sehingga makalah ini bisa mencapai kesempurnaan.

Malingping,

November 2011

Penyusun

Untuk mengetahui Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. Untuk itu. 2. 5. Pengertian Nash dan Syari’ah. Kedudukan Hadist. Hadist. dan Qiyas. Qiyas.BAB I PENDAHULUAN 1. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’. Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. Untuk mengetahui pengertian Nash dan Syari’ah 4. Untuk memahami kedudukan Hadist. Ijma’. Sumber pokok ajaran Islam adalah AlQur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. dan Ijtihad. Tujuan Penulisan 1. Rumusan Masalah 1. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. 5. perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti AlQur’an.3. Ijma. Qiyas. Latar Belakang Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam. 3.2. 4. Ijma’ dan Qiyas dalam menetapkan hukum Islam. Untuk mengetahui teori dan konsep istimbath hukum Islam. 1.1. 2. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. Pengertian ijtihad dan perbedaan mazdhab. 1. Untuk memahami ijtihad dan perbedaan mazdhab. . 3. Teori dan konsep istimbath hukum Islam.

. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum Hal ini dapat diketahui. Inti sejarah orang-orang yang taat dan orang-orang yang dholim pada Allah SWT. Janji dan Ancaman 4. Dasar-dasar Al-Qur’an Dalam Membuat Hukum 1. Menyedikitkan beban Dari prinsip tidak memberatkan itu. 2.” a) Boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan.1. 3.BAB II PEMBAHASAN 2. Pengertian Al-Qur’an Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam dan bernilai ibadat yang membacanya. maka terciptalah prinsip menyedikitkan beban agar menjadi tidak berat. 2. Karena itulah lahir hukum-hukum yang sifatnya rukhsah. Hari Akhir dan Qodho. umpamanya. b) Boleh makan-makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa/memaksa. Seperti: mengqashar sholat.1. 1) Menginformasikan manfaat dan mahdhorotnya.1. malaikat-malaikat Nya.3. 2.1. Tidak memberatkan “Allah tidak Misalnya: membenari seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Tauhid. PENGERTIAN AL-QUR’AN DAN RUANG LINGKUPNYA 2. Qadar yang baik dan buruk. Hidup yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. 5. Tuntutan ibadat sebagai perbuatan yang jiwa tauhid. 3. Ruang Lingkupnya Al-Qur’an Pokok-pokok isi Al-Qur’an ada 5: 1. kepercayaan terhadap Allah. ketika mengharamkan khomr. Kitab-kitab Nya. c) Boleh bertayamum sebagai ganti wudhu’ 2.1.2. Rosulrosul Nya.

para ulama pun telah bersepakat untuk menetapkan alSunnah sebagai sumber ajaran Islam. maka mereka wajib ditaati oleh umat. Sunnah yang dijalankan Nabi pada dasarnya adalah kehendak Allah juga. Mereka mendasarkan hal tersebut pada firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 2 yang artinya. 2. yaitu. apabila mujtahid telah sepakat terhadap ketetapan hukum suatu masalah/peristiwa.” Maka dapat disimpulkan bahwa. Maka sudah sepantasnya. KEDUDUKAN HADIST.” . Kedudukan Ijma’ Kebanyakan ulama menetapkan.2) Mengharamkan pada waktu terbatas. Kedudukan Al-Hadist/Al-Sunnah Nabi Muhammad sebagai seorang rosul menjadi panutan bagi umatnya disamping sebagai ajaran hukum. maka peristiwa itu disamakan dengan peristiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an. Dalam arti bahwa Sunnah itu sebenarnya adalah risalah dari Allah yang manifestasikan dalam ucapan. maka banyak orang mencarinya dalam as-Sunnah. taatilah Allah dan Rosulnya dan Ulil Amri diantara kamu.2. sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash. bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber ajaran Islam dalam menetapkan suatu hukum.1. sebelum sholat. “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Kedudukan Qiyas Qiyas menduduki tingkat keempat. bahkan seharusnya bilamana Sunnah Nabi dijadikan sumber dan landasan ajaran Islam. Ijma’ dapat dijadikan alternatif dalam menetapkan hokum suatu peristiwa yang didalam AlQur’an atau as-Sunnah tidak ada atau kurang jelas hukumnya. Selain diindikasikan dalam Al-Qur’an. 2. Banyak sekali masalah yang sulit ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama. Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman. 3. Baik yang diterima dari Allah yang berupa Al-Qur’an maupun yang ditetapkan sendiri yang berupa al-Sunnah. 3) Larangan secara tegas untuk selama-lamanya. IJMA’ DAN QIYAS 2. perbuatan dan penetapan Nabi.2.

dalam mimbar nash ini sering disebut munashahat.” b.2. namun ia mempunyai kemungkinan ditakshish dan takwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya. Atas dasar uraian tersebut. Di sini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah. PENGERTIAN TENTANG NASH DAN SYARI’AH 2. .3. Selain itu. Al-Bazdawi “Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri. yang diambil menurut alur pembicaraan. Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud nash itu adalah: “Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum dengan jelas. .” Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan. Pengertian Nash Menurut bahasa. sedangkan menurut istilah antara lain dapat dikemukakan di sini menurut: a.” Sebagai contoh adalah ayat Al-Qur’an. Nash adalah raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang tampak. ia dapat dinasikh pada zaman risalah (zaman Rasul).1.3. Oleh sebab itu. seperti yang dijadikan contoh dari lafazh zhahir. Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. Dilalah nash dari ayat tersebut adalah tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba. Ad-Dabusi: Artinya: “Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahar bila ia dibandingkan dengan lafzh shahir.

18) “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu. maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Jaatsiyah: 18 : ). atau yang menyangkut petunjuk beri’tiqad yang disebut ashliyah i’tiqadiyah (pokok keyakinan). kepercayaan dan bersifat batiniah. Syari’ah itu adalah hukum-hukum yang disyari’atkan Allah bagi hamba-hamba Nya (manusia) yang dibawa oleh para Nabi. syari’ah bermakna “Jalan yang lapang atau jalan yang dilalui air terjun. baik menyangkut cara mengerjakannya yang disebut far’iyah amaliyah (cabang-cabang amaliyah). . dan untuk itu para ulama menciptakan ilmu kalam (ilmu tauhid). Perkataan syari’ah tertuju pada hukum-hukum yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Pengertian Syari’ah Dilihat dari sudut kebahasaan kata. supaya para hamba-Nya itu melaksanakannya dengan dasar iman. Menurut istilah ialah hukum-hukum dan tata aturan yang disyari’atkan Allah buat hamba-Nya agar mereka mengikuti dan berhubungan antar sesamanya.” (QS.2. juga dimasukkan kedalamnya hokum-hukum yang ditetapkan melalui qiyas. Salah satu makna syari’ah adalah jalan yang lurus. Pengertian syari’ah menurut Muhammad Salam Maskur dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamy. syari’at menurut bahasa ialah tempat yang didatangi atau dituju manusia dan binatang untuk minum air.2. Dan untuk itulah fiqih dibuat. tentang masalah-masalah yang belum ada nashnya dan yang belum jelasa dalam Al-Qur’an ataupun as-Sunnah (masalah yang di ijtihad). Dengan perkataan lain syari’at itu adalah hukum-hukum yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Allah sebagai peraturan hidup manusia untuk diimani. baik hukum itu mengenai lahiriah maupun yang mengenai akhlak dan aqaid.” Syari’ah adalah semua yang disyari’atkan Allah untuk kaum muslimin baik melalui AlQur’an ataupun melalui Sunnah Rasul. Al-Jaatsiyah: 18) para fuqaha memakai kata syari’ah sebagai nama bagi hukum yang ditetapkan Allah untuk para hamba-Nya dengan perantara Rasul-Nya. Kemudian dimasukkan kedalamnya hukum-hukum yang telah disepakati (di ijma’) oleh para sahabat Nabi. Pengertian syari’ah menurut Syaikh Mahmud Shaltut yakni.3. diikuti dan dilaksanakan oleh manusia didalam kehidupannya.

maka mereka mengambil hadist sebagai sumber hukum. walaupun yang belum atau mungkin terjadi. atau mereka belum/tidak menyampaikan fatwa kepada masyarakat.” Demikianlah makna syari’at. Andaikata tidak juga diperoleh pendapat para sahabat mengenai masalah yang sedang dihadapi para ulama hadist tersebut. ijtihad berarti. Atas dasar pemakaian ini. berarti mereka selalu melaksanakan ijtihad terhadap sesuatu masalah yang baru. Tanpa dalil . orang-orang mukallaf. perkataan dan i’tiqad. 2. Apabila para ulama hadist mendapat hadist yang berbeda-beda. Syari’ah Islam adalah syari’ah penutup. Sedang menurut pengertian syara’ ijtihad adalah: : . hanya sampai kepada masa wafatnya Imam Daud ibnu Ali. dari hadist yang diriwayatkan oleh para perawi hadist yang lebih utama dan memenuhi persyaratan.5. Pengertian Ijtihad Dari segi bahasa. baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan.5. “Bahwa syari’ah itu adalah ketentuan hukum yang membatasi perbuatan. akan tetapi jumhur mutaakhirin telah memakai kata syari’ah untuk nama hukum fiqh atau hukum Islam. Kalau para ulama tersebut tidak menemukan hadistnya.4. pertama kali para ulama ahlul haidst mencari penyelesaian masalah itu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi/Rasul. syari’ah yang paling umum. TEORI DAN KONSEP ISTIMBATH HUKUM DALAM ISLAM Bila para ulama hadist dihadapkan kepada suatu masalah. melalui salah satu dalil syara’ dan dengan cara tertentu. selanjutnya mereka meninjau dan mempedomani pendapat para sahabat Nabi. Para ulama Fuqaha sesudah itu selalu memperhatikan/melaksanakan fatwa. Masa mereka enggan berfatwa ini tidak lama. timbul perkataan: Islam itu adalah aqidah dan syari’ah sebagaimana dikemukakan Syekh Mahmud Shaltut. maka selanjutnya barulah mereka melaksanakan ijtihad untuk menyelesaikan suatu masalah hukum Islam. dan mencakup segala hukum. mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. IJTIHAD DAN PERBEDAAN MAZDHAB 2. Menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum syara’ dengan jalan memetik/mengeluarkan dari kitab dan sunnah. Ijtihad 1. paling lengkap. 2.Menurut asy-Syatibi di dalam kitabnya al-Muwafaqat. Adapun pengertia ijtihad ialah: Mencurahkan segala tenaga (pikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’).1. dan belum teratur dasar hukumnya. sehingga segala masalah dapat mereka tentukan hukumnya berdasarkan hasil ijtihad para ulama hadist (aliran Madrasah Hadist). baik yang telah terjadi. yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf.

Andaikata sukar menghindari kefanatikan kepada suatu mazdhab. Apalagi agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluru alam) membuat kesediaannya dalam menerima perkembangan yang dialami umat manusia.” Dengan demikian. Maka peranan ijtihad semakin penting untuk membuktikan keluasan dan keluwesan hukum Islam. sehingga tidak dapat melihat pemikiran-pemikiran yang ada pada mazdhab yang lain yang juga bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. 2. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan. Ijtihad mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya pengembangan hukum Islam. Maliki.” Orang yang melakukan ijtihad disebut Mujtahid. Menganut suatu aliran mazdhab saja. bahwa pegertian mazdhab adalah: “Hasil ijtihad seorang imam (Mujtahid Mutlaq Mustaqil) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. . 2. Perbedaan Mazdhab Menurut bahasa mazdhab berarti “Jalan atau tempat yang dilalui. Untuk mengetahui pola pemikiran masing-masing Imam Mazdhab bagi seseorang itu sangat terbatas.syara’ dan tanpa cara tertentu. dalam kenyataannya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkamat (jelas kandungannya) dan ada yang Mutasyabihat (memerlukan penafsiran (belum terang). karena pengaruh lingkungan atau karena ilmu yang diterima hanya dari ulama/guru yang menganut suatu mazdhab saja. Sebab. Kaidah-kaidah istinbath yang dirumuskan oleh seorang imam. bahkan ada yang cenderung hanya ingin mendalami mazdhab tertentu saja. Dibawah ini akan dikemukakan beberapa tokoh Imam Mazdhab. Para Imam Mujtahid seperti Imam Hanafi. Imam Hanafi Dasar-dasar mazdhab Imam Hanafi dalam menetapkan suatu hukum. Hal ini dimaksudkan. sehingga ajaran Islam selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya.” Menurut istilah para Faqih Mazdhab mempunyai dua pengertian yaitu: 1. Pendapat salah seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu masalah.bahwa pengertian bermazdhab adalah: “Mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang ukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. sudah cukup dikenal di Indonesia oleh sebagian besar umat Islam. maka hal tersebut merupakan pemikiran dengan kemauan sendiri semata-mata dan hal tersebut tidak dinamakan ijtihad. a. Dari sinilah. Sehingga secara pasti cocok dan tepat untuk diterapkan dalam setiap waktu dan tempat. Hal ini disebabkan. agar seseorang tidak fanatik kepada suatu mazdhab. sebenarnya tidak ada larangan. tetapi jangan hendaknya menutup pintu rapat-rapat. sekurang-kurangnya mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya. Syahi’i dan Imam Ahmad bin Hambali.

mereka adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul sesudah generasinya. Segala permasalahan hukum agama merujuk kepada al-Kitab tersebut atau kepada jiwa kandungannya. Istishlah (Mashalihul Mursalah) c. Al-Qur’an 2. yakni selama perawi hadist itu orang kepercayaan. Sunnah Rasul yang beliau pandang sah. Imam Maliki Bin Anas Dasar-dasar mazdhab Imam Maliki. Sunnah. Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i sebagai acuan pendapatnya termaktub dalam kitabnya ar-Risalah sebagai berikut: 1. beliau kembali kepada Urf manusia. 2. Sunnah atau perkataan sahabat tidak beliau temukan. Imam Syafi’i Dasar-dasar hukum yang dipakai Imam Syafi’i. tetapi kadang-kadang beliau menolak hadist apabila ternyata berlawanan/tidak diamalkan oleh para ulama Madinah. kuat ingatan dan bersambung langsung sampai kepada Nabi SAW. asal telah mencukupi syaratsyaratnya. Al-Qur’an 2. Karena menurutnya. . 1. Al Kitab Al Kitab adalah sumber pokok ajaran Islam. As-Sunnah As-Sunnah adalah berfungsi sebagai penjelasan al-Kitab. 4. 3. tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil. Ijmak atau Qiyas. Al-Istihsan Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dari keburukan serta mempertahankan muamalah-muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. 5. b. merinci yang masih bersifat umum (global). dan apabila tidak baik dilakukan dengan cara Qiyas) beliau melakukannya atas dasar istihsan selama dapat dilakukannya. Al-Qiyas Abu Hanifah berpegang kepada Qiyas.1. 4. Beliau melakukan segala urusan (bila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Ijmak para ulama Madinah. Aqwalush Shahabah (perkataan sahabat) Perkataan sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah. Apabila tidak dapat dilakukan istihsan. Apabila ternyata dalam Al-Qur’an. 3. Qiyas 5. As-Sunnah Beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja.

Hadist Mursal atau Hadist Daif akan tetap dipakai. juga dalam keadaan memaksa. Hadist Mursal atau Hadist Daif. jika tidak berlawanan dengan sesuatu atsar atau dengan pendapat seorang sahabat. . 4. baru beliau pakai apabila beliau memang tidak memperoleh ketentuan hukumnya pada sumber-sumber yang disebutkan pada poin 1-4 diatas. bahwa hal itu ada yang menentangnya. dengan tidak memandang bahwa pendapat itu merupakan Ijmak. maka beliau mengambil mana yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah. maka beliau berpegang kepada pendapat ini. yaitu ketika beliau tidak memperoleh nash dan beliau mendapati suatu pendapat yang tidak diketahuinya. Istidlal (Istishhab) d. Fatwa Sahaby. Imam Ahmad Bin Hambali Imam Hambali dalam menetapkan suatu hukum adalah dengan berlandaskan kepada dasardasar sebagai berikut: 1. 5. maka beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang menyalahinya. Qiyas. Nash Al-Qur’an dan Hadist. 2. 4. Pendapat sebagian sahabat yaitu apabila terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah. Ijmak Dalam arti bahwa para sahabat semuanya telah menyepakatinya Qiyas Imam Syafi’i memakai Qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum.3. 5. 3. yakni apabila beliau mendapatkan nash.

.BAB III PENUTUP 3. yang mana wajib diikuti selama tidak bertentangan dengan nash syari’at yang jelas. Kesimpulan Al-Qur’an merupakan sumber utama yang dijadikan oleh para mujtahid dalam menentukan hukum ajaran Islam. Apabila penegasan hukum yang terdapat dalam AlQur’an masih bersifat global.1. Sumber hukum yang lain adalah Ijmak dan Qiyas. segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Qur’an tersebut atau kepada jiwa kandungannya. yang mana berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Karena. Ijmak dan Qiyas merupakan sumber pelengkap. maka hadist dijadikan sumber hukum kedua.

DAFTAR PUSTAKA http://www. Rachmat. CV. 2003 Hasan. Nazar. Raja Grafindo Persada. Pustaka Setia. Semarang. Ilmu Ushul Fiqih. Bandung. Raja Grafindo Persada.id http://manshurzikri. Perbandingan Mazdhab. M. Wicaksana. Syafi’i. 2003 Bakry.co. Jakarta. Moh. 1999. Fiqih dan Ushul Fiqih. Fiqih.com/2010/03/22/sumber-ajaran-agama-islam-alqur%E2%80%99an-dan-sunnah/ Rifai. Jakarta. Ali.google. . 1994.wordpress.

2 Kesimpulan ……………………………………….5 Pengertian Sanitasi ………………………………….1 Proses dan Cara Pengolahan Limbah Rumah Tangga (Sanitasi) …………………………………………….2.... 7 7 9 Daftar Pustaka …………………………………………………………………..1 3. 2.1. i ii BAB I PENDAHULUAN 1. Air Limbah ………………………………………….. 1 1 BAB II PEMBAHASAN 2. 2 2 3 3 4 4 6 BAB III PENUTUP 3.2 2. …………………………………………………………………. Alat Pembuangan Air Kotor ………………………….DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi …………………………………………………………………...5.5. jenis-jenis Unit pengolahan Air Limbah …………….2 Latar Belakang Masalah ………………………….1 1.. Tujuan Pembuatan Makalah ………………………….... Saran ………………………………………………….... .3 2.4 2.. 2..... Septictank ………………………………… Sumur Resapan ………………………….. 2..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful