KATA PENGANTAR

Alhamdulillah hirobbil’alamin, puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan pada waktu yang telah ditentukan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, yang membimbing umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah yakni ajaran agama Islam. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Study Islam. Seperti; AlQur’an, Kedudukan Hadist, Ijma’, Qiyas, Pengertian Nash, Syari’ah, Teori Istinbath Hukum dalam Islam, serta Ijtihad dan Perbedaan Mazdhab. Penyusun berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang konsep didalamnya. Tim penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Tim penyusun berharap semoga semua yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. Akhirnya tim penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu tim penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca, sehingga makalah ini bisa mencapai kesempurnaan.

Malingping,

November 2011

Penyusun

Pengertian Nash dan Syari’ah. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. Untuk mengetahui teori dan konsep istimbath hukum Islam. 1. Sumber pokok ajaran Islam adalah AlQur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. Kedudukan Hadist. Hadist. dan Ijtihad. 5. Untuk memahami ijtihad dan perbedaan mazdhab. Teori dan konsep istimbath hukum Islam. Untuk memahami kedudukan Hadist. 2. Ijma.3.2. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’. Latar Belakang Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam. Tujuan Penulisan 1. . Ijma’ dan Qiyas dalam menetapkan hukum Islam. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam.1. 1. Ijma’. Untuk itu. 5. dan Qiyas. perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti AlQur’an. 3. 4. Qiyas. 2. Untuk mengetahui Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. Untuk mengetahui pengertian Nash dan Syari’ah 4. Qiyas. Rumusan Masalah 1. 3. Pengertian ijtihad dan perbedaan mazdhab.BAB I PENDAHULUAN 1.

kepercayaan terhadap Allah.3.” a) Boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Tuntutan ibadat sebagai perbuatan yang jiwa tauhid. maka terciptalah prinsip menyedikitkan beban agar menjadi tidak berat. Pengertian Al-Qur’an Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam dan bernilai ibadat yang membacanya. PENGERTIAN AL-QUR’AN DAN RUANG LINGKUPNYA 2. Hari Akhir dan Qodho. 5.2. b) Boleh makan-makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa/memaksa.1. Kitab-kitab Nya.BAB II PEMBAHASAN 2. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum Hal ini dapat diketahui. Karena itulah lahir hukum-hukum yang sifatnya rukhsah. malaikat-malaikat Nya. Tauhid. 2.1.1. Seperti: mengqashar sholat. umpamanya.1. 2. 3. Rosulrosul Nya. Qadar yang baik dan buruk. Tidak memberatkan “Allah tidak Misalnya: membenari seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Janji dan Ancaman 4. Ruang Lingkupnya Al-Qur’an Pokok-pokok isi Al-Qur’an ada 5: 1. . 2. Dasar-dasar Al-Qur’an Dalam Membuat Hukum 1. Inti sejarah orang-orang yang taat dan orang-orang yang dholim pada Allah SWT. Menyedikitkan beban Dari prinsip tidak memberatkan itu. 3.1. 1) Menginformasikan manfaat dan mahdhorotnya. c) Boleh bertayamum sebagai ganti wudhu’ 2. ketika mengharamkan khomr. Hidup yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ijma’ dapat dijadikan alternatif dalam menetapkan hokum suatu peristiwa yang didalam AlQur’an atau as-Sunnah tidak ada atau kurang jelas hukumnya. Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman. Sunnah yang dijalankan Nabi pada dasarnya adalah kehendak Allah juga. maka peristiwa itu disamakan dengan peristiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an.” Maka dapat disimpulkan bahwa. 3) Larangan secara tegas untuk selama-lamanya.2. 2. sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash. bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber ajaran Islam dalam menetapkan suatu hukum. Banyak sekali masalah yang sulit ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama. Kedudukan Ijma’ Kebanyakan ulama menetapkan.2) Mengharamkan pada waktu terbatas. taatilah Allah dan Rosulnya dan Ulil Amri diantara kamu. Maka sudah sepantasnya. Kedudukan Al-Hadist/Al-Sunnah Nabi Muhammad sebagai seorang rosul menjadi panutan bagi umatnya disamping sebagai ajaran hukum. perbuatan dan penetapan Nabi. Kedudukan Qiyas Qiyas menduduki tingkat keempat.1. sebelum sholat.2. KEDUDUKAN HADIST. “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan. bahkan seharusnya bilamana Sunnah Nabi dijadikan sumber dan landasan ajaran Islam. Mereka mendasarkan hal tersebut pada firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 2 yang artinya. IJMA’ DAN QIYAS 2. 2. 3. apabila mujtahid telah sepakat terhadap ketetapan hukum suatu masalah/peristiwa. maka mereka wajib ditaati oleh umat. para ulama pun telah bersepakat untuk menetapkan alSunnah sebagai sumber ajaran Islam. Baik yang diterima dari Allah yang berupa Al-Qur’an maupun yang ditetapkan sendiri yang berupa al-Sunnah.” . Dalam arti bahwa Sunnah itu sebenarnya adalah risalah dari Allah yang manifestasikan dalam ucapan. Selain diindikasikan dalam Al-Qur’an. maka banyak orang mencarinya dalam as-Sunnah. yaitu.

” b. Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud nash itu adalah: “Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum dengan jelas. sedangkan menurut istilah antara lain dapat dikemukakan di sini menurut: a. Selain itu.3. Nash adalah raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang tampak.2. Dilalah nash dari ayat tersebut adalah tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba.” Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan. ia dapat dinasikh pada zaman risalah (zaman Rasul). PENGERTIAN TENTANG NASH DAN SYARI’AH 2. Di sini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. .1. dalam mimbar nash ini sering disebut munashahat. Atas dasar uraian tersebut. Pengertian Nash Menurut bahasa. Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. namun ia mempunyai kemungkinan ditakshish dan takwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya. melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah. seperti yang dijadikan contoh dari lafazh zhahir. yang diambil menurut alur pembicaraan. Ad-Dabusi: Artinya: “Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahar bila ia dibandingkan dengan lafzh shahir.” Sebagai contoh adalah ayat Al-Qur’an. . Oleh sebab itu. Al-Bazdawi “Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri.3.

2. diikuti dan dilaksanakan oleh manusia didalam kehidupannya. juga dimasukkan kedalamnya hokum-hukum yang ditetapkan melalui qiyas. Kemudian dimasukkan kedalamnya hukum-hukum yang telah disepakati (di ijma’) oleh para sahabat Nabi. baik menyangkut cara mengerjakannya yang disebut far’iyah amaliyah (cabang-cabang amaliyah). Pengertian syari’ah menurut Muhammad Salam Maskur dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamy. Al-Jaatsiyah: 18) para fuqaha memakai kata syari’ah sebagai nama bagi hukum yang ditetapkan Allah untuk para hamba-Nya dengan perantara Rasul-Nya. maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. syari’ah bermakna “Jalan yang lapang atau jalan yang dilalui air terjun. Menurut istilah ialah hukum-hukum dan tata aturan yang disyari’atkan Allah buat hamba-Nya agar mereka mengikuti dan berhubungan antar sesamanya.2. Salah satu makna syari’ah adalah jalan yang lurus. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Jaatsiyah: 18 : ). syari’at menurut bahasa ialah tempat yang didatangi atau dituju manusia dan binatang untuk minum air. supaya para hamba-Nya itu melaksanakannya dengan dasar iman. kepercayaan dan bersifat batiniah.” (QS. dan untuk itu para ulama menciptakan ilmu kalam (ilmu tauhid). baik hukum itu mengenai lahiriah maupun yang mengenai akhlak dan aqaid. Pengertian Syari’ah Dilihat dari sudut kebahasaan kata. . 18) “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu. tentang masalah-masalah yang belum ada nashnya dan yang belum jelasa dalam Al-Qur’an ataupun as-Sunnah (masalah yang di ijtihad).” Syari’ah adalah semua yang disyari’atkan Allah untuk kaum muslimin baik melalui AlQur’an ataupun melalui Sunnah Rasul. Perkataan syari’ah tertuju pada hukum-hukum yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. atau yang menyangkut petunjuk beri’tiqad yang disebut ashliyah i’tiqadiyah (pokok keyakinan). Pengertian syari’ah menurut Syaikh Mahmud Shaltut yakni. Dan untuk itulah fiqih dibuat.3. Dengan perkataan lain syari’at itu adalah hukum-hukum yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Allah sebagai peraturan hidup manusia untuk diimani. Syari’ah itu adalah hukum-hukum yang disyari’atkan Allah bagi hamba-hamba Nya (manusia) yang dibawa oleh para Nabi.

melalui salah satu dalil syara’ dan dengan cara tertentu. Sedang menurut pengertian syara’ ijtihad adalah: : . baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan. Menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum syara’ dengan jalan memetik/mengeluarkan dari kitab dan sunnah. orang-orang mukallaf. perkataan dan i’tiqad.5. IJTIHAD DAN PERBEDAAN MAZDHAB 2.4. Andaikata tidak juga diperoleh pendapat para sahabat mengenai masalah yang sedang dihadapi para ulama hadist tersebut.5. sehingga segala masalah dapat mereka tentukan hukumnya berdasarkan hasil ijtihad para ulama hadist (aliran Madrasah Hadist). selanjutnya mereka meninjau dan mempedomani pendapat para sahabat Nabi. 2. Tanpa dalil . Syari’ah Islam adalah syari’ah penutup. Masa mereka enggan berfatwa ini tidak lama. maka selanjutnya barulah mereka melaksanakan ijtihad untuk menyelesaikan suatu masalah hukum Islam. Ijtihad 1. Pengertian Ijtihad Dari segi bahasa.Menurut asy-Syatibi di dalam kitabnya al-Muwafaqat. hanya sampai kepada masa wafatnya Imam Daud ibnu Ali. walaupun yang belum atau mungkin terjadi. atau mereka belum/tidak menyampaikan fatwa kepada masyarakat. syari’ah yang paling umum. Para ulama Fuqaha sesudah itu selalu memperhatikan/melaksanakan fatwa. Adapun pengertia ijtihad ialah: Mencurahkan segala tenaga (pikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’). Apabila para ulama hadist mendapat hadist yang berbeda-beda.” Demikianlah makna syari’at. “Bahwa syari’ah itu adalah ketentuan hukum yang membatasi perbuatan. pertama kali para ulama ahlul haidst mencari penyelesaian masalah itu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi/Rasul. ijtihad berarti. Atas dasar pemakaian ini. Kalau para ulama tersebut tidak menemukan hadistnya. dan belum teratur dasar hukumnya. mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. baik yang telah terjadi. maka mereka mengambil hadist sebagai sumber hukum. akan tetapi jumhur mutaakhirin telah memakai kata syari’ah untuk nama hukum fiqh atau hukum Islam. dari hadist yang diriwayatkan oleh para perawi hadist yang lebih utama dan memenuhi persyaratan. dan mencakup segala hukum.1. TEORI DAN KONSEP ISTIMBATH HUKUM DALAM ISLAM Bila para ulama hadist dihadapkan kepada suatu masalah. timbul perkataan: Islam itu adalah aqidah dan syari’ah sebagaimana dikemukakan Syekh Mahmud Shaltut. 2. yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf. paling lengkap. berarti mereka selalu melaksanakan ijtihad terhadap sesuatu masalah yang baru.

Dibawah ini akan dikemukakan beberapa tokoh Imam Mazdhab. .” Dengan demikian. a. bahwa pegertian mazdhab adalah: “Hasil ijtihad seorang imam (Mujtahid Mutlaq Mustaqil) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. Syahi’i dan Imam Ahmad bin Hambali. dalam kenyataannya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkamat (jelas kandungannya) dan ada yang Mutasyabihat (memerlukan penafsiran (belum terang). sekurang-kurangnya mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya. tetapi jangan hendaknya menutup pintu rapat-rapat. karena pengaruh lingkungan atau karena ilmu yang diterima hanya dari ulama/guru yang menganut suatu mazdhab saja. agar seseorang tidak fanatik kepada suatu mazdhab. Pendapat salah seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu masalah. sehingga ajaran Islam selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya. Sehingga secara pasti cocok dan tepat untuk diterapkan dalam setiap waktu dan tempat. Hal ini dimaksudkan. 2. Perbedaan Mazdhab Menurut bahasa mazdhab berarti “Jalan atau tempat yang dilalui. Dari sinilah. Maliki.syara’ dan tanpa cara tertentu. Menganut suatu aliran mazdhab saja. Hal ini disebabkan. maka hal tersebut merupakan pemikiran dengan kemauan sendiri semata-mata dan hal tersebut tidak dinamakan ijtihad. sudah cukup dikenal di Indonesia oleh sebagian besar umat Islam. Apalagi agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluru alam) membuat kesediaannya dalam menerima perkembangan yang dialami umat manusia. Imam Hanafi Dasar-dasar mazdhab Imam Hanafi dalam menetapkan suatu hukum.” Orang yang melakukan ijtihad disebut Mujtahid. Kaidah-kaidah istinbath yang dirumuskan oleh seorang imam. Ijtihad mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya pengembangan hukum Islam. Maka peranan ijtihad semakin penting untuk membuktikan keluasan dan keluwesan hukum Islam. Para Imam Mujtahid seperti Imam Hanafi.bahwa pengertian bermazdhab adalah: “Mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang ukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath.” Menurut istilah para Faqih Mazdhab mempunyai dua pengertian yaitu: 1. Sebab. 2. Untuk mengetahui pola pemikiran masing-masing Imam Mazdhab bagi seseorang itu sangat terbatas. sebenarnya tidak ada larangan. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan. sehingga tidak dapat melihat pemikiran-pemikiran yang ada pada mazdhab yang lain yang juga bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Andaikata sukar menghindari kefanatikan kepada suatu mazdhab. bahkan ada yang cenderung hanya ingin mendalami mazdhab tertentu saja.

tetapi kadang-kadang beliau menolak hadist apabila ternyata berlawanan/tidak diamalkan oleh para ulama Madinah. b. merinci yang masih bersifat umum (global). Sunnah atau perkataan sahabat tidak beliau temukan. mereka adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul sesudah generasinya. Apabila ternyata dalam Al-Qur’an. Segala permasalahan hukum agama merujuk kepada al-Kitab tersebut atau kepada jiwa kandungannya. 5. Karena menurutnya. 4. Al-Qur’an 2. dan apabila tidak baik dilakukan dengan cara Qiyas) beliau melakukannya atas dasar istihsan selama dapat dilakukannya. 2. As-Sunnah As-Sunnah adalah berfungsi sebagai penjelasan al-Kitab. Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i sebagai acuan pendapatnya termaktub dalam kitabnya ar-Risalah sebagai berikut: 1. Al-Qiyas Abu Hanifah berpegang kepada Qiyas. Al-Istihsan Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dari keburukan serta mempertahankan muamalah-muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. Al Kitab Al Kitab adalah sumber pokok ajaran Islam. Imam Maliki Bin Anas Dasar-dasar mazdhab Imam Maliki. tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil. yakni selama perawi hadist itu orang kepercayaan. 4. Istishlah (Mashalihul Mursalah) c. asal telah mencukupi syaratsyaratnya. Sunnah. 1. 3. Qiyas 5. As-Sunnah Beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja. . beliau kembali kepada Urf manusia. Al-Qur’an 2. Aqwalush Shahabah (perkataan sahabat) Perkataan sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah. Ijmak atau Qiyas. Apabila tidak dapat dilakukan istihsan. Imam Syafi’i Dasar-dasar hukum yang dipakai Imam Syafi’i.1. kuat ingatan dan bersambung langsung sampai kepada Nabi SAW. Beliau melakukan segala urusan (bila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Ijmak para ulama Madinah. Sunnah Rasul yang beliau pandang sah. 3.

2. bahwa hal itu ada yang menentangnya. 5. jika tidak berlawanan dengan sesuatu atsar atau dengan pendapat seorang sahabat. 5. Istidlal (Istishhab) d. juga dalam keadaan memaksa. Hadist Mursal atau Hadist Daif. . Qiyas. Hadist Mursal atau Hadist Daif akan tetap dipakai. Ijmak Dalam arti bahwa para sahabat semuanya telah menyepakatinya Qiyas Imam Syafi’i memakai Qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum. 4. Pendapat sebagian sahabat yaitu apabila terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah. 3. yaitu ketika beliau tidak memperoleh nash dan beliau mendapati suatu pendapat yang tidak diketahuinya.3. yakni apabila beliau mendapatkan nash. 4. dengan tidak memandang bahwa pendapat itu merupakan Ijmak. baru beliau pakai apabila beliau memang tidak memperoleh ketentuan hukumnya pada sumber-sumber yang disebutkan pada poin 1-4 diatas. maka beliau mengambil mana yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Nash Al-Qur’an dan Hadist. maka beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang menyalahinya. Imam Ahmad Bin Hambali Imam Hambali dalam menetapkan suatu hukum adalah dengan berlandaskan kepada dasardasar sebagai berikut: 1. Fatwa Sahaby. maka beliau berpegang kepada pendapat ini.

Kesimpulan Al-Qur’an merupakan sumber utama yang dijadikan oleh para mujtahid dalam menentukan hukum ajaran Islam. Sumber hukum yang lain adalah Ijmak dan Qiyas. maka hadist dijadikan sumber hukum kedua. segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Qur’an tersebut atau kepada jiwa kandungannya. Karena.BAB III PENUTUP 3.1. yang mana berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. yang mana wajib diikuti selama tidak bertentangan dengan nash syari’at yang jelas. . Ijmak dan Qiyas merupakan sumber pelengkap. Apabila penegasan hukum yang terdapat dalam AlQur’an masih bersifat global.

Raja Grafindo Persada.google. 1999. Raja Grafindo Persada. Fiqih dan Ushul Fiqih. 1994. CV. Bandung. Nazar.co.com/2010/03/22/sumber-ajaran-agama-islam-alqur%E2%80%99an-dan-sunnah/ Rifai. Semarang.id http://manshurzikri. . Fiqih. Syafi’i. Rachmat. M. Perbandingan Mazdhab. Jakarta. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA http://www. Moh. Pustaka Setia.wordpress. Ilmu Ushul Fiqih. Wicaksana. 2003 Bakry. Ali. 2003 Hasan.

. Air Limbah …………………………………………. 2 2 3 3 4 4 6 BAB III PENUTUP 3.DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi ………………………………………………………………….3 2.1 Proses dan Cara Pengolahan Limbah Rumah Tangga (Sanitasi) …………………………………………….4 2.5. . i ii BAB I PENDAHULUAN 1.. jenis-jenis Unit pengolahan Air Limbah ……………..2 Kesimpulan ……………………………………….. 2...5 Pengertian Sanitasi ………………………………….2 2...1 3...1... ………………………………………………………………….. 1 1 BAB II PEMBAHASAN 2.1 1.. 2.. 7 7 9 Daftar Pustaka ………………………………………………………………….2.5. Alat Pembuangan Air Kotor …………………………. Septictank ………………………………… Sumur Resapan ………………………….. Saran …………………………………………………. 2...2 Latar Belakang Masalah ………………………….... Tujuan Pembuatan Makalah ………………………….

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful