KATA PENGANTAR

Alhamdulillah hirobbil’alamin, puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan pada waktu yang telah ditentukan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, yang membimbing umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah yakni ajaran agama Islam. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Study Islam. Seperti; AlQur’an, Kedudukan Hadist, Ijma’, Qiyas, Pengertian Nash, Syari’ah, Teori Istinbath Hukum dalam Islam, serta Ijtihad dan Perbedaan Mazdhab. Penyusun berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang konsep didalamnya. Tim penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Tim penyusun berharap semoga semua yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. Akhirnya tim penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu tim penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca, sehingga makalah ini bisa mencapai kesempurnaan.

Malingping,

November 2011

Penyusun

Untuk memahami kedudukan Hadist. 5. 1. 1. Teori dan konsep istimbath hukum Islam. Pengertian ijtihad dan perbedaan mazdhab. Ijma’ dan Qiyas dalam menetapkan hukum Islam. Untuk mengetahui teori dan konsep istimbath hukum Islam.BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam. Untuk mengetahui Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. 2. Sumber pokok ajaran Islam adalah AlQur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. Untuk itu. Kedudukan Hadist. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. . 3. Pengertian Nash dan Syari’ah. Ijma’. Hadist.1. Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti AlQur’an. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam.2. 4.3. 5. 3. Tujuan Penulisan 1. Rumusan Masalah 1. Qiyas. Qiyas. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’. Untuk mengetahui pengertian Nash dan Syari’ah 4. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. dan Ijtihad. 2. Ijma. Untuk memahami ijtihad dan perbedaan mazdhab. dan Qiyas.

ketika mengharamkan khomr. 5. Janji dan Ancaman 4. umpamanya. Karena itulah lahir hukum-hukum yang sifatnya rukhsah.1. Tauhid. kepercayaan terhadap Allah.” a) Boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Menyedikitkan beban Dari prinsip tidak memberatkan itu. c) Boleh bertayamum sebagai ganti wudhu’ 2. Kitab-kitab Nya. 2. Hidup yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. 1) Menginformasikan manfaat dan mahdhorotnya. Rosulrosul Nya.2.1. b) Boleh makan-makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa/memaksa. Dasar-dasar Al-Qur’an Dalam Membuat Hukum 1. Hari Akhir dan Qodho.BAB II PEMBAHASAN 2.3. 3. 2. . 3. Seperti: mengqashar sholat. maka terciptalah prinsip menyedikitkan beban agar menjadi tidak berat. Ruang Lingkupnya Al-Qur’an Pokok-pokok isi Al-Qur’an ada 5: 1. Inti sejarah orang-orang yang taat dan orang-orang yang dholim pada Allah SWT. 2. PENGERTIAN AL-QUR’AN DAN RUANG LINGKUPNYA 2. Qadar yang baik dan buruk. Tidak memberatkan “Allah tidak Misalnya: membenari seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.1. malaikat-malaikat Nya. Pengertian Al-Qur’an Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam dan bernilai ibadat yang membacanya. Tuntutan ibadat sebagai perbuatan yang jiwa tauhid. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum Hal ini dapat diketahui.1.1.

yaitu. Kedudukan Qiyas Qiyas menduduki tingkat keempat. Dalam arti bahwa Sunnah itu sebenarnya adalah risalah dari Allah yang manifestasikan dalam ucapan.2. Banyak sekali masalah yang sulit ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama. 2. Kedudukan Ijma’ Kebanyakan ulama menetapkan. apabila mujtahid telah sepakat terhadap ketetapan hukum suatu masalah/peristiwa.” . 2. Mereka mendasarkan hal tersebut pada firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 2 yang artinya. sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash. Selain diindikasikan dalam Al-Qur’an. Ijma’ dapat dijadikan alternatif dalam menetapkan hokum suatu peristiwa yang didalam AlQur’an atau as-Sunnah tidak ada atau kurang jelas hukumnya.2. KEDUDUKAN HADIST. para ulama pun telah bersepakat untuk menetapkan alSunnah sebagai sumber ajaran Islam. 3) Larangan secara tegas untuk selama-lamanya. perbuatan dan penetapan Nabi. IJMA’ DAN QIYAS 2. taatilah Allah dan Rosulnya dan Ulil Amri diantara kamu. Maka sudah sepantasnya. Baik yang diterima dari Allah yang berupa Al-Qur’an maupun yang ditetapkan sendiri yang berupa al-Sunnah. “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Sunnah yang dijalankan Nabi pada dasarnya adalah kehendak Allah juga.” Maka dapat disimpulkan bahwa. Kedudukan Al-Hadist/Al-Sunnah Nabi Muhammad sebagai seorang rosul menjadi panutan bagi umatnya disamping sebagai ajaran hukum. bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber ajaran Islam dalam menetapkan suatu hukum. maka peristiwa itu disamakan dengan peristiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an. 3.1. Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman.2) Mengharamkan pada waktu terbatas. bahkan seharusnya bilamana Sunnah Nabi dijadikan sumber dan landasan ajaran Islam. maka banyak orang mencarinya dalam as-Sunnah. maka mereka wajib ditaati oleh umat. sebelum sholat.

Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud nash itu adalah: “Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum dengan jelas. . sedangkan menurut istilah antara lain dapat dikemukakan di sini menurut: a. . Oleh sebab itu. namun ia mempunyai kemungkinan ditakshish dan takwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. Ad-Dabusi: Artinya: “Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahar bila ia dibandingkan dengan lafzh shahir. PENGERTIAN TENTANG NASH DAN SYARI’AH 2. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya.2. Pengertian Nash Menurut bahasa.1. Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah.3. yang diambil menurut alur pembicaraan.3. Nash adalah raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang tampak.” Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan. Di sini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. Atas dasar uraian tersebut.” b. Dilalah nash dari ayat tersebut adalah tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba. ia dapat dinasikh pada zaman risalah (zaman Rasul). seperti yang dijadikan contoh dari lafazh zhahir. Selain itu. Al-Bazdawi “Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri. dalam mimbar nash ini sering disebut munashahat.” Sebagai contoh adalah ayat Al-Qur’an.

Al-Jaatsiyah: 18) para fuqaha memakai kata syari’ah sebagai nama bagi hukum yang ditetapkan Allah untuk para hamba-Nya dengan perantara Rasul-Nya. syari’ah bermakna “Jalan yang lapang atau jalan yang dilalui air terjun. baik hukum itu mengenai lahiriah maupun yang mengenai akhlak dan aqaid. Perkataan syari’ah tertuju pada hukum-hukum yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. supaya para hamba-Nya itu melaksanakannya dengan dasar iman. atau yang menyangkut petunjuk beri’tiqad yang disebut ashliyah i’tiqadiyah (pokok keyakinan). tentang masalah-masalah yang belum ada nashnya dan yang belum jelasa dalam Al-Qur’an ataupun as-Sunnah (masalah yang di ijtihad). Menurut istilah ialah hukum-hukum dan tata aturan yang disyari’atkan Allah buat hamba-Nya agar mereka mengikuti dan berhubungan antar sesamanya. Pengertian Syari’ah Dilihat dari sudut kebahasaan kata. baik menyangkut cara mengerjakannya yang disebut far’iyah amaliyah (cabang-cabang amaliyah).” Syari’ah adalah semua yang disyari’atkan Allah untuk kaum muslimin baik melalui AlQur’an ataupun melalui Sunnah Rasul.3. syari’at menurut bahasa ialah tempat yang didatangi atau dituju manusia dan binatang untuk minum air. 18) “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu. juga dimasukkan kedalamnya hokum-hukum yang ditetapkan melalui qiyas. Syari’ah itu adalah hukum-hukum yang disyari’atkan Allah bagi hamba-hamba Nya (manusia) yang dibawa oleh para Nabi. Pengertian syari’ah menurut Muhammad Salam Maskur dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamy. .” (QS. Dan untuk itulah fiqih dibuat.2. Salah satu makna syari’ah adalah jalan yang lurus. Pengertian syari’ah menurut Syaikh Mahmud Shaltut yakni. dan untuk itu para ulama menciptakan ilmu kalam (ilmu tauhid). Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Jaatsiyah: 18 : ). kepercayaan dan bersifat batiniah. Kemudian dimasukkan kedalamnya hukum-hukum yang telah disepakati (di ijma’) oleh para sahabat Nabi. maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.2. diikuti dan dilaksanakan oleh manusia didalam kehidupannya. Dengan perkataan lain syari’at itu adalah hukum-hukum yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Allah sebagai peraturan hidup manusia untuk diimani.

Pengertian Ijtihad Dari segi bahasa.5. 2. berarti mereka selalu melaksanakan ijtihad terhadap sesuatu masalah yang baru.” Demikianlah makna syari’at. Tanpa dalil . Ijtihad 1. Andaikata tidak juga diperoleh pendapat para sahabat mengenai masalah yang sedang dihadapi para ulama hadist tersebut. selanjutnya mereka meninjau dan mempedomani pendapat para sahabat Nabi. pertama kali para ulama ahlul haidst mencari penyelesaian masalah itu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi/Rasul. IJTIHAD DAN PERBEDAAN MAZDHAB 2. melalui salah satu dalil syara’ dan dengan cara tertentu. Sedang menurut pengertian syara’ ijtihad adalah: : . baik yang telah terjadi. dan belum teratur dasar hukumnya.5. akan tetapi jumhur mutaakhirin telah memakai kata syari’ah untuk nama hukum fiqh atau hukum Islam. walaupun yang belum atau mungkin terjadi. 2. yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf.Menurut asy-Syatibi di dalam kitabnya al-Muwafaqat. Masa mereka enggan berfatwa ini tidak lama. hanya sampai kepada masa wafatnya Imam Daud ibnu Ali.1. dari hadist yang diriwayatkan oleh para perawi hadist yang lebih utama dan memenuhi persyaratan. baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan.4. maka selanjutnya barulah mereka melaksanakan ijtihad untuk menyelesaikan suatu masalah hukum Islam. timbul perkataan: Islam itu adalah aqidah dan syari’ah sebagaimana dikemukakan Syekh Mahmud Shaltut. Para ulama Fuqaha sesudah itu selalu memperhatikan/melaksanakan fatwa. ijtihad berarti. Atas dasar pemakaian ini. syari’ah yang paling umum. maka mereka mengambil hadist sebagai sumber hukum. mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. TEORI DAN KONSEP ISTIMBATH HUKUM DALAM ISLAM Bila para ulama hadist dihadapkan kepada suatu masalah. atau mereka belum/tidak menyampaikan fatwa kepada masyarakat. Adapun pengertia ijtihad ialah: Mencurahkan segala tenaga (pikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’). sehingga segala masalah dapat mereka tentukan hukumnya berdasarkan hasil ijtihad para ulama hadist (aliran Madrasah Hadist). Kalau para ulama tersebut tidak menemukan hadistnya. paling lengkap. orang-orang mukallaf. Syari’ah Islam adalah syari’ah penutup. dan mencakup segala hukum. “Bahwa syari’ah itu adalah ketentuan hukum yang membatasi perbuatan. Menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum syara’ dengan jalan memetik/mengeluarkan dari kitab dan sunnah. perkataan dan i’tiqad. Apabila para ulama hadist mendapat hadist yang berbeda-beda.

Hal ini disebabkan. Dibawah ini akan dikemukakan beberapa tokoh Imam Mazdhab. Menganut suatu aliran mazdhab saja. karena pengaruh lingkungan atau karena ilmu yang diterima hanya dari ulama/guru yang menganut suatu mazdhab saja.” Menurut istilah para Faqih Mazdhab mempunyai dua pengertian yaitu: 1. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan. bahwa pegertian mazdhab adalah: “Hasil ijtihad seorang imam (Mujtahid Mutlaq Mustaqil) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. Sehingga secara pasti cocok dan tepat untuk diterapkan dalam setiap waktu dan tempat. Imam Hanafi Dasar-dasar mazdhab Imam Hanafi dalam menetapkan suatu hukum. 2. Syahi’i dan Imam Ahmad bin Hambali. sehingga tidak dapat melihat pemikiran-pemikiran yang ada pada mazdhab yang lain yang juga bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Apalagi agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluru alam) membuat kesediaannya dalam menerima perkembangan yang dialami umat manusia.” Orang yang melakukan ijtihad disebut Mujtahid. Perbedaan Mazdhab Menurut bahasa mazdhab berarti “Jalan atau tempat yang dilalui. a.syara’ dan tanpa cara tertentu. sudah cukup dikenal di Indonesia oleh sebagian besar umat Islam. Sebab. Dari sinilah. sehingga ajaran Islam selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya. Para Imam Mujtahid seperti Imam Hanafi. Ijtihad mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya pengembangan hukum Islam. sebenarnya tidak ada larangan. Kaidah-kaidah istinbath yang dirumuskan oleh seorang imam. Pendapat salah seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu masalah. tetapi jangan hendaknya menutup pintu rapat-rapat. Andaikata sukar menghindari kefanatikan kepada suatu mazdhab. Untuk mengetahui pola pemikiran masing-masing Imam Mazdhab bagi seseorang itu sangat terbatas. Maliki.bahwa pengertian bermazdhab adalah: “Mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang ukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. maka hal tersebut merupakan pemikiran dengan kemauan sendiri semata-mata dan hal tersebut tidak dinamakan ijtihad. Hal ini dimaksudkan. agar seseorang tidak fanatik kepada suatu mazdhab. Maka peranan ijtihad semakin penting untuk membuktikan keluasan dan keluwesan hukum Islam.” Dengan demikian. sekurang-kurangnya mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya. . dalam kenyataannya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkamat (jelas kandungannya) dan ada yang Mutasyabihat (memerlukan penafsiran (belum terang). bahkan ada yang cenderung hanya ingin mendalami mazdhab tertentu saja. 2.

2. beliau kembali kepada Urf manusia. Apabila ternyata dalam Al-Qur’an. 3. tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil. tetapi kadang-kadang beliau menolak hadist apabila ternyata berlawanan/tidak diamalkan oleh para ulama Madinah. Al-Qur’an 2. asal telah mencukupi syaratsyaratnya. . Imam Syafi’i Dasar-dasar hukum yang dipakai Imam Syafi’i. Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i sebagai acuan pendapatnya termaktub dalam kitabnya ar-Risalah sebagai berikut: 1. 1. Segala permasalahan hukum agama merujuk kepada al-Kitab tersebut atau kepada jiwa kandungannya. Istishlah (Mashalihul Mursalah) c. b. Al-Qiyas Abu Hanifah berpegang kepada Qiyas.1. As-Sunnah Beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja. Sunnah atau perkataan sahabat tidak beliau temukan. Beliau melakukan segala urusan (bila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Karena menurutnya. Al-Istihsan Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dari keburukan serta mempertahankan muamalah-muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. dan apabila tidak baik dilakukan dengan cara Qiyas) beliau melakukannya atas dasar istihsan selama dapat dilakukannya. 5. Sunnah. Aqwalush Shahabah (perkataan sahabat) Perkataan sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah. Al Kitab Al Kitab adalah sumber pokok ajaran Islam. Imam Maliki Bin Anas Dasar-dasar mazdhab Imam Maliki. Al-Qur’an 2. 4. kuat ingatan dan bersambung langsung sampai kepada Nabi SAW. Sunnah Rasul yang beliau pandang sah. merinci yang masih bersifat umum (global). mereka adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul sesudah generasinya. As-Sunnah As-Sunnah adalah berfungsi sebagai penjelasan al-Kitab. Ijmak atau Qiyas. 4. Qiyas 5. Ijmak para ulama Madinah. yakni selama perawi hadist itu orang kepercayaan. 3. Apabila tidak dapat dilakukan istihsan.

maka beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang menyalahinya. 4. Hadist Mursal atau Hadist Daif akan tetap dipakai. 2. dengan tidak memandang bahwa pendapat itu merupakan Ijmak. yakni apabila beliau mendapatkan nash. jika tidak berlawanan dengan sesuatu atsar atau dengan pendapat seorang sahabat. Qiyas. Istidlal (Istishhab) d. bahwa hal itu ada yang menentangnya. Hadist Mursal atau Hadist Daif. 5. Ijmak Dalam arti bahwa para sahabat semuanya telah menyepakatinya Qiyas Imam Syafi’i memakai Qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum. juga dalam keadaan memaksa. . yaitu ketika beliau tidak memperoleh nash dan beliau mendapati suatu pendapat yang tidak diketahuinya. Imam Ahmad Bin Hambali Imam Hambali dalam menetapkan suatu hukum adalah dengan berlandaskan kepada dasardasar sebagai berikut: 1. 5. baru beliau pakai apabila beliau memang tidak memperoleh ketentuan hukumnya pada sumber-sumber yang disebutkan pada poin 1-4 diatas. Pendapat sebagian sahabat yaitu apabila terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah. maka beliau berpegang kepada pendapat ini. maka beliau mengambil mana yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah. 3. 4. Fatwa Sahaby.3. Nash Al-Qur’an dan Hadist.

maka hadist dijadikan sumber hukum kedua. Sumber hukum yang lain adalah Ijmak dan Qiyas. segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Qur’an tersebut atau kepada jiwa kandungannya. yang mana berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Apabila penegasan hukum yang terdapat dalam AlQur’an masih bersifat global. Karena.1. Kesimpulan Al-Qur’an merupakan sumber utama yang dijadikan oleh para mujtahid dalam menentukan hukum ajaran Islam. .BAB III PENUTUP 3. yang mana wajib diikuti selama tidak bertentangan dengan nash syari’at yang jelas. Ijmak dan Qiyas merupakan sumber pelengkap.

google. Raja Grafindo Persada. . Jakarta. Fiqih dan Ushul Fiqih.id http://manshurzikri. M. Perbandingan Mazdhab.co. 1999. Nazar. Fiqih.DAFTAR PUSTAKA http://www. Jakarta. CV. 1994. Ali. 2003 Hasan.com/2010/03/22/sumber-ajaran-agama-islam-alqur%E2%80%99an-dan-sunnah/ Rifai. Moh. Raja Grafindo Persada. Ilmu Ushul Fiqih. Bandung. Pustaka Setia. 2003 Bakry. Wicaksana.wordpress. Semarang. Rachmat. Syafi’i.

. …………………………………………………………………. jenis-jenis Unit pengolahan Air Limbah ……………. Saran ………………………………………………….. 2 2 3 3 4 4 6 BAB III PENUTUP 3. 7 7 9 Daftar Pustaka ………………………………………………………………….1 1.2 2.5. 1 1 BAB II PEMBAHASAN 2..DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi …………………………………………………………………..2 Latar Belakang Masalah …………………………... Alat Pembuangan Air Kotor ………………………….. Septictank ………………………………… Sumur Resapan ………………………….......5.. 2.4 2...3 2.2 Kesimpulan ……………………………………….1 Proses dan Cara Pengolahan Limbah Rumah Tangga (Sanitasi) …………………………………………….5 Pengertian Sanitasi …………………………………. . 2.2. 2.1 3.. Air Limbah …………………………………………. Tujuan Pembuatan Makalah …………………………..... i ii BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful