P. 1
Al-quran Dan Hadist 3

Al-quran Dan Hadist 3

|Views: 194|Likes:
Published by indrabadrun

More info:

Published by: indrabadrun on Mar 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2015

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah hirobbil’alamin, puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan pada waktu yang telah ditentukan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, yang membimbing umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah yakni ajaran agama Islam. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Study Islam. Seperti; AlQur’an, Kedudukan Hadist, Ijma’, Qiyas, Pengertian Nash, Syari’ah, Teori Istinbath Hukum dalam Islam, serta Ijtihad dan Perbedaan Mazdhab. Penyusun berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang konsep didalamnya. Tim penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Tim penyusun berharap semoga semua yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. Akhirnya tim penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu tim penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca, sehingga makalah ini bisa mencapai kesempurnaan.

Malingping,

November 2011

Penyusun

dan Ijtihad. Hadist. Teori dan konsep istimbath hukum Islam. Untuk memahami kedudukan Hadist. Ijma’ dan Qiyas dalam menetapkan hukum Islam. Untuk itu. 3. Kedudukan Hadist. 3. Ijma. 1. 4.1. 2. Rumusan Masalah 1. Untuk mengetahui teori dan konsep istimbath hukum Islam. 5. perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti AlQur’an. dan Qiyas. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. Untuk mengetahui pengertian Nash dan Syari’ah 4. . Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. Pengertian Nash dan Syari’ah. Latar Belakang Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam. Tujuan Penulisan 1. 1. Qiyas. Ijma’. Qiyas. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’. 5. Sumber pokok ajaran Islam adalah AlQur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. Al-Qur’an dan ruang lingkupnya.2.BAB I PENDAHULUAN 1. Untuk memahami ijtihad dan perbedaan mazdhab. Pengertian ijtihad dan perbedaan mazdhab. Untuk mengetahui Al-Qur’an dan ruang lingkupnya.3. 2.

PENGERTIAN AL-QUR’AN DAN RUANG LINGKUPNYA 2. Pengertian Al-Qur’an Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam dan bernilai ibadat yang membacanya. kepercayaan terhadap Allah. b) Boleh makan-makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa/memaksa. Tauhid. Rosulrosul Nya. 2. ketika mengharamkan khomr.1. 5. Menyedikitkan beban Dari prinsip tidak memberatkan itu. Inti sejarah orang-orang yang taat dan orang-orang yang dholim pada Allah SWT. Tidak memberatkan “Allah tidak Misalnya: membenari seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Qadar yang baik dan buruk. Seperti: mengqashar sholat.1. Hari Akhir dan Qodho.” a) Boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan.1. 3.BAB II PEMBAHASAN 2. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum Hal ini dapat diketahui.1.1. Janji dan Ancaman 4. maka terciptalah prinsip menyedikitkan beban agar menjadi tidak berat. 3. Kitab-kitab Nya. c) Boleh bertayamum sebagai ganti wudhu’ 2.2.3. Tuntutan ibadat sebagai perbuatan yang jiwa tauhid. Hidup yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Dasar-dasar Al-Qur’an Dalam Membuat Hukum 1. 1) Menginformasikan manfaat dan mahdhorotnya. Ruang Lingkupnya Al-Qur’an Pokok-pokok isi Al-Qur’an ada 5: 1. umpamanya. Karena itulah lahir hukum-hukum yang sifatnya rukhsah. 2. . 2. malaikat-malaikat Nya.

2. Ijma’ dapat dijadikan alternatif dalam menetapkan hokum suatu peristiwa yang didalam AlQur’an atau as-Sunnah tidak ada atau kurang jelas hukumnya. perbuatan dan penetapan Nabi. apabila mujtahid telah sepakat terhadap ketetapan hukum suatu masalah/peristiwa. Mereka mendasarkan hal tersebut pada firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 2 yang artinya. bahkan seharusnya bilamana Sunnah Nabi dijadikan sumber dan landasan ajaran Islam.” . Kedudukan Al-Hadist/Al-Sunnah Nabi Muhammad sebagai seorang rosul menjadi panutan bagi umatnya disamping sebagai ajaran hukum.2. “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Maka sudah sepantasnya. maka mereka wajib ditaati oleh umat. KEDUDUKAN HADIST.2) Mengharamkan pada waktu terbatas. Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman. 3. maka banyak orang mencarinya dalam as-Sunnah. Sunnah yang dijalankan Nabi pada dasarnya adalah kehendak Allah juga. para ulama pun telah bersepakat untuk menetapkan alSunnah sebagai sumber ajaran Islam. 3) Larangan secara tegas untuk selama-lamanya. Kedudukan Qiyas Qiyas menduduki tingkat keempat.2. Banyak sekali masalah yang sulit ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama.” Maka dapat disimpulkan bahwa. maka peristiwa itu disamakan dengan peristiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an. IJMA’ DAN QIYAS 2. sebelum sholat. taatilah Allah dan Rosulnya dan Ulil Amri diantara kamu. Selain diindikasikan dalam Al-Qur’an. yaitu. sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash. Kedudukan Ijma’ Kebanyakan ulama menetapkan. bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber ajaran Islam dalam menetapkan suatu hukum. Baik yang diterima dari Allah yang berupa Al-Qur’an maupun yang ditetapkan sendiri yang berupa al-Sunnah. 2. Dalam arti bahwa Sunnah itu sebenarnya adalah risalah dari Allah yang manifestasikan dalam ucapan.1.

Oleh sebab itu.” Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan. seperti yang dijadikan contoh dari lafazh zhahir.3. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya.1.2. Di sini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. namun ia mempunyai kemungkinan ditakshish dan takwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. Nash adalah raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang tampak. Al-Bazdawi “Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri. yang diambil menurut alur pembicaraan. dalam mimbar nash ini sering disebut munashahat. Atas dasar uraian tersebut. ia dapat dinasikh pada zaman risalah (zaman Rasul). Selain itu.” Sebagai contoh adalah ayat Al-Qur’an.” b.3. Dilalah nash dari ayat tersebut adalah tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba. Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud nash itu adalah: “Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum dengan jelas. Pengertian Nash Menurut bahasa. melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah. . PENGERTIAN TENTANG NASH DAN SYARI’AH 2. Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. Ad-Dabusi: Artinya: “Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahar bila ia dibandingkan dengan lafzh shahir. . sedangkan menurut istilah antara lain dapat dikemukakan di sini menurut: a.

syari’ah bermakna “Jalan yang lapang atau jalan yang dilalui air terjun. Menurut istilah ialah hukum-hukum dan tata aturan yang disyari’atkan Allah buat hamba-Nya agar mereka mengikuti dan berhubungan antar sesamanya. baik hukum itu mengenai lahiriah maupun yang mengenai akhlak dan aqaid.” Syari’ah adalah semua yang disyari’atkan Allah untuk kaum muslimin baik melalui AlQur’an ataupun melalui Sunnah Rasul. . Al-Jaatsiyah: 18) para fuqaha memakai kata syari’ah sebagai nama bagi hukum yang ditetapkan Allah untuk para hamba-Nya dengan perantara Rasul-Nya.3.2. Kemudian dimasukkan kedalamnya hukum-hukum yang telah disepakati (di ijma’) oleh para sahabat Nabi.2. 18) “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu. Salah satu makna syari’ah adalah jalan yang lurus. Perkataan syari’ah tertuju pada hukum-hukum yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dan untuk itulah fiqih dibuat. baik menyangkut cara mengerjakannya yang disebut far’iyah amaliyah (cabang-cabang amaliyah).” (QS. syari’at menurut bahasa ialah tempat yang didatangi atau dituju manusia dan binatang untuk minum air. Syari’ah itu adalah hukum-hukum yang disyari’atkan Allah bagi hamba-hamba Nya (manusia) yang dibawa oleh para Nabi. Pengertian syari’ah menurut Muhammad Salam Maskur dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamy. Pengertian syari’ah menurut Syaikh Mahmud Shaltut yakni. diikuti dan dilaksanakan oleh manusia didalam kehidupannya. dan untuk itu para ulama menciptakan ilmu kalam (ilmu tauhid). Dengan perkataan lain syari’at itu adalah hukum-hukum yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Allah sebagai peraturan hidup manusia untuk diimani. supaya para hamba-Nya itu melaksanakannya dengan dasar iman. Pengertian Syari’ah Dilihat dari sudut kebahasaan kata. juga dimasukkan kedalamnya hokum-hukum yang ditetapkan melalui qiyas. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Jaatsiyah: 18 : ). tentang masalah-masalah yang belum ada nashnya dan yang belum jelasa dalam Al-Qur’an ataupun as-Sunnah (masalah yang di ijtihad). kepercayaan dan bersifat batiniah. maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. atau yang menyangkut petunjuk beri’tiqad yang disebut ashliyah i’tiqadiyah (pokok keyakinan).

Adapun pengertia ijtihad ialah: Mencurahkan segala tenaga (pikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’).5. paling lengkap. mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. TEORI DAN KONSEP ISTIMBATH HUKUM DALAM ISLAM Bila para ulama hadist dihadapkan kepada suatu masalah. Menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum syara’ dengan jalan memetik/mengeluarkan dari kitab dan sunnah. selanjutnya mereka meninjau dan mempedomani pendapat para sahabat Nabi. berarti mereka selalu melaksanakan ijtihad terhadap sesuatu masalah yang baru. Para ulama Fuqaha sesudah itu selalu memperhatikan/melaksanakan fatwa.5.4. Kalau para ulama tersebut tidak menemukan hadistnya.” Demikianlah makna syari’at.Menurut asy-Syatibi di dalam kitabnya al-Muwafaqat. Apabila para ulama hadist mendapat hadist yang berbeda-beda. 2. melalui salah satu dalil syara’ dan dengan cara tertentu. maka selanjutnya barulah mereka melaksanakan ijtihad untuk menyelesaikan suatu masalah hukum Islam. dan mencakup segala hukum. akan tetapi jumhur mutaakhirin telah memakai kata syari’ah untuk nama hukum fiqh atau hukum Islam. walaupun yang belum atau mungkin terjadi. pertama kali para ulama ahlul haidst mencari penyelesaian masalah itu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi/Rasul. sehingga segala masalah dapat mereka tentukan hukumnya berdasarkan hasil ijtihad para ulama hadist (aliran Madrasah Hadist). atau mereka belum/tidak menyampaikan fatwa kepada masyarakat. Masa mereka enggan berfatwa ini tidak lama. “Bahwa syari’ah itu adalah ketentuan hukum yang membatasi perbuatan. ijtihad berarti. dan belum teratur dasar hukumnya. timbul perkataan: Islam itu adalah aqidah dan syari’ah sebagaimana dikemukakan Syekh Mahmud Shaltut. baik yang telah terjadi. hanya sampai kepada masa wafatnya Imam Daud ibnu Ali. perkataan dan i’tiqad. Tanpa dalil . 2. Atas dasar pemakaian ini. baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan. Syari’ah Islam adalah syari’ah penutup. Ijtihad 1. IJTIHAD DAN PERBEDAAN MAZDHAB 2.1. Andaikata tidak juga diperoleh pendapat para sahabat mengenai masalah yang sedang dihadapi para ulama hadist tersebut. Sedang menurut pengertian syara’ ijtihad adalah: : . syari’ah yang paling umum. yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf. maka mereka mengambil hadist sebagai sumber hukum. orang-orang mukallaf. Pengertian Ijtihad Dari segi bahasa. dari hadist yang diriwayatkan oleh para perawi hadist yang lebih utama dan memenuhi persyaratan.

bahkan ada yang cenderung hanya ingin mendalami mazdhab tertentu saja. Hal ini disebabkan. Ijtihad mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya pengembangan hukum Islam. Pendapat salah seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu masalah. Maka peranan ijtihad semakin penting untuk membuktikan keluasan dan keluwesan hukum Islam. Perbedaan Mazdhab Menurut bahasa mazdhab berarti “Jalan atau tempat yang dilalui. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan. Dibawah ini akan dikemukakan beberapa tokoh Imam Mazdhab. Syahi’i dan Imam Ahmad bin Hambali. Imam Hanafi Dasar-dasar mazdhab Imam Hanafi dalam menetapkan suatu hukum. tetapi jangan hendaknya menutup pintu rapat-rapat.bahwa pengertian bermazdhab adalah: “Mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang ukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. Sehingga secara pasti cocok dan tepat untuk diterapkan dalam setiap waktu dan tempat.” Menurut istilah para Faqih Mazdhab mempunyai dua pengertian yaitu: 1. Dari sinilah. Hal ini dimaksudkan. karena pengaruh lingkungan atau karena ilmu yang diterima hanya dari ulama/guru yang menganut suatu mazdhab saja. Apalagi agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluru alam) membuat kesediaannya dalam menerima perkembangan yang dialami umat manusia. Maliki. Sebab.” Orang yang melakukan ijtihad disebut Mujtahid.” Dengan demikian. sehingga tidak dapat melihat pemikiran-pemikiran yang ada pada mazdhab yang lain yang juga bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. 2. agar seseorang tidak fanatik kepada suatu mazdhab. 2. sebenarnya tidak ada larangan.syara’ dan tanpa cara tertentu. bahwa pegertian mazdhab adalah: “Hasil ijtihad seorang imam (Mujtahid Mutlaq Mustaqil) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. maka hal tersebut merupakan pemikiran dengan kemauan sendiri semata-mata dan hal tersebut tidak dinamakan ijtihad. Menganut suatu aliran mazdhab saja. Untuk mengetahui pola pemikiran masing-masing Imam Mazdhab bagi seseorang itu sangat terbatas. sudah cukup dikenal di Indonesia oleh sebagian besar umat Islam. Andaikata sukar menghindari kefanatikan kepada suatu mazdhab. dalam kenyataannya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkamat (jelas kandungannya) dan ada yang Mutasyabihat (memerlukan penafsiran (belum terang). sehingga ajaran Islam selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya. sekurang-kurangnya mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya. . a. Kaidah-kaidah istinbath yang dirumuskan oleh seorang imam. Para Imam Mujtahid seperti Imam Hanafi.

. tetapi kadang-kadang beliau menolak hadist apabila ternyata berlawanan/tidak diamalkan oleh para ulama Madinah. dan apabila tidak baik dilakukan dengan cara Qiyas) beliau melakukannya atas dasar istihsan selama dapat dilakukannya. 4. Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i sebagai acuan pendapatnya termaktub dalam kitabnya ar-Risalah sebagai berikut: 1. As-Sunnah Beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja. Istishlah (Mashalihul Mursalah) c. 3. Sunnah Rasul yang beliau pandang sah. Karena menurutnya. kuat ingatan dan bersambung langsung sampai kepada Nabi SAW. 3. Sunnah.1. Ijmak para ulama Madinah. Apabila ternyata dalam Al-Qur’an. 5. Apabila tidak dapat dilakukan istihsan. Al-Istihsan Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dari keburukan serta mempertahankan muamalah-muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. Al-Qiyas Abu Hanifah berpegang kepada Qiyas. Al Kitab Al Kitab adalah sumber pokok ajaran Islam. b. Qiyas 5. mereka adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul sesudah generasinya. Segala permasalahan hukum agama merujuk kepada al-Kitab tersebut atau kepada jiwa kandungannya. 4. As-Sunnah As-Sunnah adalah berfungsi sebagai penjelasan al-Kitab. Sunnah atau perkataan sahabat tidak beliau temukan. 1. Beliau melakukan segala urusan (bila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Imam Maliki Bin Anas Dasar-dasar mazdhab Imam Maliki. beliau kembali kepada Urf manusia. asal telah mencukupi syaratsyaratnya. Ijmak atau Qiyas. Al-Qur’an 2. tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil. Aqwalush Shahabah (perkataan sahabat) Perkataan sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah. 2. merinci yang masih bersifat umum (global). Al-Qur’an 2. yakni selama perawi hadist itu orang kepercayaan. Imam Syafi’i Dasar-dasar hukum yang dipakai Imam Syafi’i.

Ijmak Dalam arti bahwa para sahabat semuanya telah menyepakatinya Qiyas Imam Syafi’i memakai Qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum. Istidlal (Istishhab) d.3. maka beliau berpegang kepada pendapat ini. Qiyas. yakni apabila beliau mendapatkan nash. yaitu ketika beliau tidak memperoleh nash dan beliau mendapati suatu pendapat yang tidak diketahuinya. maka beliau mengambil mana yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah. maka beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang menyalahinya. 4. 5. Hadist Mursal atau Hadist Daif. 4. 2. Nash Al-Qur’an dan Hadist. Hadist Mursal atau Hadist Daif akan tetap dipakai. . jika tidak berlawanan dengan sesuatu atsar atau dengan pendapat seorang sahabat. Pendapat sebagian sahabat yaitu apabila terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah. Fatwa Sahaby. dengan tidak memandang bahwa pendapat itu merupakan Ijmak. juga dalam keadaan memaksa. Imam Ahmad Bin Hambali Imam Hambali dalam menetapkan suatu hukum adalah dengan berlandaskan kepada dasardasar sebagai berikut: 1. baru beliau pakai apabila beliau memang tidak memperoleh ketentuan hukumnya pada sumber-sumber yang disebutkan pada poin 1-4 diatas. 5. 3. bahwa hal itu ada yang menentangnya.

yang mana wajib diikuti selama tidak bertentangan dengan nash syari’at yang jelas. Kesimpulan Al-Qur’an merupakan sumber utama yang dijadikan oleh para mujtahid dalam menentukan hukum ajaran Islam. Ijmak dan Qiyas merupakan sumber pelengkap. Sumber hukum yang lain adalah Ijmak dan Qiyas. maka hadist dijadikan sumber hukum kedua. segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Qur’an tersebut atau kepada jiwa kandungannya. .BAB III PENUTUP 3. Karena.1. yang mana berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Apabila penegasan hukum yang terdapat dalam AlQur’an masih bersifat global.

Raja Grafindo Persada.co. Nazar. Moh. Bandung.wordpress. 2003 Hasan. Syafi’i. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2003 Bakry. . Pustaka Setia. 1999. Jakarta.id http://manshurzikri. Semarang.com/2010/03/22/sumber-ajaran-agama-islam-alqur%E2%80%99an-dan-sunnah/ Rifai. Rachmat. CV. M. Fiqih dan Ushul Fiqih. 1994.google. Wicaksana. Ali.DAFTAR PUSTAKA http://www. Ilmu Ushul Fiqih. Perbandingan Mazdhab. Fiqih.

.. 2.2.. Tujuan Pembuatan Makalah …………………………. Septictank ………………………………… Sumur Resapan …………………………....5..4 2.1 Proses dan Cara Pengolahan Limbah Rumah Tangga (Sanitasi) ……………………………………………...1....DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi ………………………………………………………………….. 2 2 3 3 4 4 6 BAB III PENUTUP 3..5.2 Kesimpulan ……………………………………….2 2. jenis-jenis Unit pengolahan Air Limbah ……………. Alat Pembuangan Air Kotor ………………………….. 1 1 BAB II PEMBAHASAN 2..5 Pengertian Sanitasi …………………………………..2 Latar Belakang Masalah …………………………...3 2. Air Limbah …………………………………………. i ii BAB I PENDAHULUAN 1. …………………………………………………………………. Saran …………………………………………………. 2. 7 7 9 Daftar Pustaka …………………………………………………………………. .1 3..1 1.. 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->