KATA PENGANTAR

Alhamdulillah hirobbil’alamin, puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan pada waktu yang telah ditentukan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, yang membimbing umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah yakni ajaran agama Islam. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Study Islam. Seperti; AlQur’an, Kedudukan Hadist, Ijma’, Qiyas, Pengertian Nash, Syari’ah, Teori Istinbath Hukum dalam Islam, serta Ijtihad dan Perbedaan Mazdhab. Penyusun berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang konsep didalamnya. Tim penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Tim penyusun berharap semoga semua yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. Akhirnya tim penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu tim penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca, sehingga makalah ini bisa mencapai kesempurnaan.

Malingping,

November 2011

Penyusun

5.BAB I PENDAHULUAN 1. Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti AlQur’an. Qiyas. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. Kedudukan Hadist. Qiyas. 1. 5. Ijma. dan Qiyas. Tujuan Penulisan 1. . Untuk mengetahui pengertian Nash dan Syari’ah 4. Hadist. Untuk mengetahui teori dan konsep istimbath hukum Islam. Untuk memahami ijtihad dan perbedaan mazdhab. 3. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam. Teori dan konsep istimbath hukum Islam.1. 1. 3. Ijma’ dan Qiyas dalam menetapkan hukum Islam. 2. Ijma’. dan Ijtihad. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. Untuk mengetahui Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. Pengertian ijtihad dan perbedaan mazdhab. 4. 2.2. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’. Pengertian Nash dan Syari’ah.3. Rumusan Masalah 1. Untuk memahami kedudukan Hadist. Sumber pokok ajaran Islam adalah AlQur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. Untuk itu. Latar Belakang Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam.

2. Tidak memberatkan “Allah tidak Misalnya: membenari seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.1. 5. Rosulrosul Nya. Kitab-kitab Nya. Janji dan Ancaman 4. Dasar-dasar Al-Qur’an Dalam Membuat Hukum 1. Tauhid.” a) Boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. 2. ketika mengharamkan khomr. Inti sejarah orang-orang yang taat dan orang-orang yang dholim pada Allah SWT. 1) Menginformasikan manfaat dan mahdhorotnya.1. PENGERTIAN AL-QUR’AN DAN RUANG LINGKUPNYA 2.2.3. . Hidup yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Pengertian Al-Qur’an Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam dan bernilai ibadat yang membacanya. Ruang Lingkupnya Al-Qur’an Pokok-pokok isi Al-Qur’an ada 5: 1. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum Hal ini dapat diketahui. 3. b) Boleh makan-makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa/memaksa. Karena itulah lahir hukum-hukum yang sifatnya rukhsah. maka terciptalah prinsip menyedikitkan beban agar menjadi tidak berat.1. 2. 3. umpamanya. malaikat-malaikat Nya. Seperti: mengqashar sholat.BAB II PEMBAHASAN 2. Hari Akhir dan Qodho.1. Menyedikitkan beban Dari prinsip tidak memberatkan itu. kepercayaan terhadap Allah. c) Boleh bertayamum sebagai ganti wudhu’ 2. Tuntutan ibadat sebagai perbuatan yang jiwa tauhid.1. Qadar yang baik dan buruk.

Ijma’ dapat dijadikan alternatif dalam menetapkan hokum suatu peristiwa yang didalam AlQur’an atau as-Sunnah tidak ada atau kurang jelas hukumnya. Kedudukan Al-Hadist/Al-Sunnah Nabi Muhammad sebagai seorang rosul menjadi panutan bagi umatnya disamping sebagai ajaran hukum.” . Kedudukan Ijma’ Kebanyakan ulama menetapkan. “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan. maka peristiwa itu disamakan dengan peristiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an. Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman. bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber ajaran Islam dalam menetapkan suatu hukum. para ulama pun telah bersepakat untuk menetapkan alSunnah sebagai sumber ajaran Islam. maka banyak orang mencarinya dalam as-Sunnah. 2.2. KEDUDUKAN HADIST. Kedudukan Qiyas Qiyas menduduki tingkat keempat. IJMA’ DAN QIYAS 2. taatilah Allah dan Rosulnya dan Ulil Amri diantara kamu.2. yaitu. 3) Larangan secara tegas untuk selama-lamanya. Banyak sekali masalah yang sulit ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama. sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash. Mereka mendasarkan hal tersebut pada firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 2 yang artinya.” Maka dapat disimpulkan bahwa.2) Mengharamkan pada waktu terbatas. apabila mujtahid telah sepakat terhadap ketetapan hukum suatu masalah/peristiwa. Sunnah yang dijalankan Nabi pada dasarnya adalah kehendak Allah juga. sebelum sholat. Selain diindikasikan dalam Al-Qur’an. bahkan seharusnya bilamana Sunnah Nabi dijadikan sumber dan landasan ajaran Islam. perbuatan dan penetapan Nabi. 3. Maka sudah sepantasnya. 2. maka mereka wajib ditaati oleh umat.1. Dalam arti bahwa Sunnah itu sebenarnya adalah risalah dari Allah yang manifestasikan dalam ucapan. Baik yang diterima dari Allah yang berupa Al-Qur’an maupun yang ditetapkan sendiri yang berupa al-Sunnah.

Selain itu.3. dalam mimbar nash ini sering disebut munashahat. Di sini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah. Ad-Dabusi: Artinya: “Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahar bila ia dibandingkan dengan lafzh shahir. yang diambil menurut alur pembicaraan. Oleh sebab itu. sedangkan menurut istilah antara lain dapat dikemukakan di sini menurut: a. Pengertian Nash Menurut bahasa.1. Nash adalah raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang tampak. seperti yang dijadikan contoh dari lafazh zhahir.” Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya. ia dapat dinasikh pada zaman risalah (zaman Rasul). Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. .2. Al-Bazdawi “Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri.” Sebagai contoh adalah ayat Al-Qur’an. Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud nash itu adalah: “Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum dengan jelas. .” b. namun ia mempunyai kemungkinan ditakshish dan takwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. PENGERTIAN TENTANG NASH DAN SYARI’AH 2. Atas dasar uraian tersebut.3. Dilalah nash dari ayat tersebut adalah tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Jaatsiyah: 18 : ). Menurut istilah ialah hukum-hukum dan tata aturan yang disyari’atkan Allah buat hamba-Nya agar mereka mengikuti dan berhubungan antar sesamanya.2. maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Pengertian syari’ah menurut Muhammad Salam Maskur dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamy.3. Pengertian Syari’ah Dilihat dari sudut kebahasaan kata. supaya para hamba-Nya itu melaksanakannya dengan dasar iman. Salah satu makna syari’ah adalah jalan yang lurus. syari’ah bermakna “Jalan yang lapang atau jalan yang dilalui air terjun. diikuti dan dilaksanakan oleh manusia didalam kehidupannya. Pengertian syari’ah menurut Syaikh Mahmud Shaltut yakni.” Syari’ah adalah semua yang disyari’atkan Allah untuk kaum muslimin baik melalui AlQur’an ataupun melalui Sunnah Rasul. dan untuk itu para ulama menciptakan ilmu kalam (ilmu tauhid). . Kemudian dimasukkan kedalamnya hukum-hukum yang telah disepakati (di ijma’) oleh para sahabat Nabi. Perkataan syari’ah tertuju pada hukum-hukum yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Al-Jaatsiyah: 18) para fuqaha memakai kata syari’ah sebagai nama bagi hukum yang ditetapkan Allah untuk para hamba-Nya dengan perantara Rasul-Nya.” (QS. baik menyangkut cara mengerjakannya yang disebut far’iyah amaliyah (cabang-cabang amaliyah).2. Dan untuk itulah fiqih dibuat. syari’at menurut bahasa ialah tempat yang didatangi atau dituju manusia dan binatang untuk minum air. juga dimasukkan kedalamnya hokum-hukum yang ditetapkan melalui qiyas. tentang masalah-masalah yang belum ada nashnya dan yang belum jelasa dalam Al-Qur’an ataupun as-Sunnah (masalah yang di ijtihad). 18) “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu. baik hukum itu mengenai lahiriah maupun yang mengenai akhlak dan aqaid. Syari’ah itu adalah hukum-hukum yang disyari’atkan Allah bagi hamba-hamba Nya (manusia) yang dibawa oleh para Nabi. atau yang menyangkut petunjuk beri’tiqad yang disebut ashliyah i’tiqadiyah (pokok keyakinan). kepercayaan dan bersifat batiniah. Dengan perkataan lain syari’at itu adalah hukum-hukum yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Allah sebagai peraturan hidup manusia untuk diimani.

sehingga segala masalah dapat mereka tentukan hukumnya berdasarkan hasil ijtihad para ulama hadist (aliran Madrasah Hadist).5. Syari’ah Islam adalah syari’ah penutup. maka selanjutnya barulah mereka melaksanakan ijtihad untuk menyelesaikan suatu masalah hukum Islam. walaupun yang belum atau mungkin terjadi. pertama kali para ulama ahlul haidst mencari penyelesaian masalah itu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi/Rasul. Menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum syara’ dengan jalan memetik/mengeluarkan dari kitab dan sunnah.5. 2. 2. Ijtihad 1. timbul perkataan: Islam itu adalah aqidah dan syari’ah sebagaimana dikemukakan Syekh Mahmud Shaltut. dan belum teratur dasar hukumnya. hanya sampai kepada masa wafatnya Imam Daud ibnu Ali. Tanpa dalil .Menurut asy-Syatibi di dalam kitabnya al-Muwafaqat. paling lengkap.” Demikianlah makna syari’at. akan tetapi jumhur mutaakhirin telah memakai kata syari’ah untuk nama hukum fiqh atau hukum Islam.4. yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf. Andaikata tidak juga diperoleh pendapat para sahabat mengenai masalah yang sedang dihadapi para ulama hadist tersebut. Sedang menurut pengertian syara’ ijtihad adalah: : . dari hadist yang diriwayatkan oleh para perawi hadist yang lebih utama dan memenuhi persyaratan. perkataan dan i’tiqad. ijtihad berarti. maka mereka mengambil hadist sebagai sumber hukum. Apabila para ulama hadist mendapat hadist yang berbeda-beda. dan mencakup segala hukum. “Bahwa syari’ah itu adalah ketentuan hukum yang membatasi perbuatan. Masa mereka enggan berfatwa ini tidak lama. IJTIHAD DAN PERBEDAAN MAZDHAB 2. syari’ah yang paling umum.1. baik yang telah terjadi. mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. melalui salah satu dalil syara’ dan dengan cara tertentu. Pengertian Ijtihad Dari segi bahasa. Atas dasar pemakaian ini. Para ulama Fuqaha sesudah itu selalu memperhatikan/melaksanakan fatwa. orang-orang mukallaf. atau mereka belum/tidak menyampaikan fatwa kepada masyarakat. selanjutnya mereka meninjau dan mempedomani pendapat para sahabat Nabi. TEORI DAN KONSEP ISTIMBATH HUKUM DALAM ISLAM Bila para ulama hadist dihadapkan kepada suatu masalah. berarti mereka selalu melaksanakan ijtihad terhadap sesuatu masalah yang baru. Kalau para ulama tersebut tidak menemukan hadistnya. baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan. Adapun pengertia ijtihad ialah: Mencurahkan segala tenaga (pikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’).

Sebab. Maliki. maka hal tersebut merupakan pemikiran dengan kemauan sendiri semata-mata dan hal tersebut tidak dinamakan ijtihad. Para Imam Mujtahid seperti Imam Hanafi. sehingga ajaran Islam selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya. Menganut suatu aliran mazdhab saja. sekurang-kurangnya mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya. 2. sehingga tidak dapat melihat pemikiran-pemikiran yang ada pada mazdhab yang lain yang juga bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Kaidah-kaidah istinbath yang dirumuskan oleh seorang imam.bahwa pengertian bermazdhab adalah: “Mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang ukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. tetapi jangan hendaknya menutup pintu rapat-rapat. dalam kenyataannya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkamat (jelas kandungannya) dan ada yang Mutasyabihat (memerlukan penafsiran (belum terang). Hal ini disebabkan. bahwa pegertian mazdhab adalah: “Hasil ijtihad seorang imam (Mujtahid Mutlaq Mustaqil) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. sebenarnya tidak ada larangan.” Orang yang melakukan ijtihad disebut Mujtahid. 2. Ijtihad mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya pengembangan hukum Islam.” Dengan demikian. karena pengaruh lingkungan atau karena ilmu yang diterima hanya dari ulama/guru yang menganut suatu mazdhab saja. Sehingga secara pasti cocok dan tepat untuk diterapkan dalam setiap waktu dan tempat.” Menurut istilah para Faqih Mazdhab mempunyai dua pengertian yaitu: 1. Syahi’i dan Imam Ahmad bin Hambali. sudah cukup dikenal di Indonesia oleh sebagian besar umat Islam. . Imam Hanafi Dasar-dasar mazdhab Imam Hanafi dalam menetapkan suatu hukum. bahkan ada yang cenderung hanya ingin mendalami mazdhab tertentu saja.syara’ dan tanpa cara tertentu. Pendapat salah seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu masalah. Untuk mengetahui pola pemikiran masing-masing Imam Mazdhab bagi seseorang itu sangat terbatas. Maka peranan ijtihad semakin penting untuk membuktikan keluasan dan keluwesan hukum Islam. a. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan. Dari sinilah. Apalagi agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluru alam) membuat kesediaannya dalam menerima perkembangan yang dialami umat manusia. Andaikata sukar menghindari kefanatikan kepada suatu mazdhab. agar seseorang tidak fanatik kepada suatu mazdhab. Hal ini dimaksudkan. Perbedaan Mazdhab Menurut bahasa mazdhab berarti “Jalan atau tempat yang dilalui. Dibawah ini akan dikemukakan beberapa tokoh Imam Mazdhab.

3.1. 2. 1. mereka adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul sesudah generasinya. 5. tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil. Aqwalush Shahabah (perkataan sahabat) Perkataan sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah. Istishlah (Mashalihul Mursalah) c. kuat ingatan dan bersambung langsung sampai kepada Nabi SAW. Sunnah. beliau kembali kepada Urf manusia. Al Kitab Al Kitab adalah sumber pokok ajaran Islam. Apabila tidak dapat dilakukan istihsan. . b. Al-Qur’an 2. Al-Qiyas Abu Hanifah berpegang kepada Qiyas. Qiyas 5. As-Sunnah Beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja. Ijmak atau Qiyas. tetapi kadang-kadang beliau menolak hadist apabila ternyata berlawanan/tidak diamalkan oleh para ulama Madinah. 3. merinci yang masih bersifat umum (global). Beliau melakukan segala urusan (bila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. 4. 4. Imam Syafi’i Dasar-dasar hukum yang dipakai Imam Syafi’i. Sunnah Rasul yang beliau pandang sah. Segala permasalahan hukum agama merujuk kepada al-Kitab tersebut atau kepada jiwa kandungannya. As-Sunnah As-Sunnah adalah berfungsi sebagai penjelasan al-Kitab. Karena menurutnya. asal telah mencukupi syaratsyaratnya. Al-Qur’an 2. Ijmak para ulama Madinah. Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i sebagai acuan pendapatnya termaktub dalam kitabnya ar-Risalah sebagai berikut: 1. Sunnah atau perkataan sahabat tidak beliau temukan. yakni selama perawi hadist itu orang kepercayaan. Imam Maliki Bin Anas Dasar-dasar mazdhab Imam Maliki. Al-Istihsan Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dari keburukan serta mempertahankan muamalah-muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. Apabila ternyata dalam Al-Qur’an. dan apabila tidak baik dilakukan dengan cara Qiyas) beliau melakukannya atas dasar istihsan selama dapat dilakukannya.

maka beliau mengambil mana yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah. 4. Hadist Mursal atau Hadist Daif. juga dalam keadaan memaksa. Nash Al-Qur’an dan Hadist. yakni apabila beliau mendapatkan nash. dengan tidak memandang bahwa pendapat itu merupakan Ijmak. bahwa hal itu ada yang menentangnya. 5. yaitu ketika beliau tidak memperoleh nash dan beliau mendapati suatu pendapat yang tidak diketahuinya. 2. Pendapat sebagian sahabat yaitu apabila terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah. Ijmak Dalam arti bahwa para sahabat semuanya telah menyepakatinya Qiyas Imam Syafi’i memakai Qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum. 5. Fatwa Sahaby. Hadist Mursal atau Hadist Daif akan tetap dipakai. maka beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang menyalahinya. . maka beliau berpegang kepada pendapat ini. baru beliau pakai apabila beliau memang tidak memperoleh ketentuan hukumnya pada sumber-sumber yang disebutkan pada poin 1-4 diatas. Istidlal (Istishhab) d. Qiyas. 4. Imam Ahmad Bin Hambali Imam Hambali dalam menetapkan suatu hukum adalah dengan berlandaskan kepada dasardasar sebagai berikut: 1.3. 3. jika tidak berlawanan dengan sesuatu atsar atau dengan pendapat seorang sahabat.

. Kesimpulan Al-Qur’an merupakan sumber utama yang dijadikan oleh para mujtahid dalam menentukan hukum ajaran Islam.1. Sumber hukum yang lain adalah Ijmak dan Qiyas. Ijmak dan Qiyas merupakan sumber pelengkap. segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Qur’an tersebut atau kepada jiwa kandungannya. Karena. maka hadist dijadikan sumber hukum kedua. yang mana wajib diikuti selama tidak bertentangan dengan nash syari’at yang jelas. Apabila penegasan hukum yang terdapat dalam AlQur’an masih bersifat global.BAB III PENUTUP 3. yang mana berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an.

Fiqih dan Ushul Fiqih. 1994. Wicaksana. CV. Ali. . Raja Grafindo Persada.DAFTAR PUSTAKA http://www.wordpress. Jakarta.id http://manshurzikri. Bandung. Syafi’i.google. Semarang. 1999. Raja Grafindo Persada. 2003 Bakry. Perbandingan Mazdhab. Fiqih. Pustaka Setia. M. Moh.com/2010/03/22/sumber-ajaran-agama-islam-alqur%E2%80%99an-dan-sunnah/ Rifai. Ilmu Ushul Fiqih. Jakarta. Rachmat.co. Nazar. 2003 Hasan.

Air Limbah …………………………………………...DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi ………………………………………………………………….. i ii BAB I PENDAHULUAN 1. ..2 Latar Belakang Masalah ………………………….1..1 3..5..2 2..4 2.1 1...... 2 2 3 3 4 4 6 BAB III PENUTUP 3. 1 1 BAB II PEMBAHASAN 2.. Septictank ………………………………… Sumur Resapan …………………………. 2..2 Kesimpulan ……………………………………….. 2..1 Proses dan Cara Pengolahan Limbah Rumah Tangga (Sanitasi) …………………………………………….. jenis-jenis Unit pengolahan Air Limbah …………….5 Pengertian Sanitasi …………………………………. …………………………………………………………………....5.2. Alat Pembuangan Air Kotor …………………………. Saran …………………………………………………. 2. Tujuan Pembuatan Makalah ………………………….3 2. 7 7 9 Daftar Pustaka ………………………………………………………………….