KATA PENGANTAR

Alhamdulillah hirobbil’alamin, puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan pada waktu yang telah ditentukan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, yang membimbing umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah yakni ajaran agama Islam. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Study Islam. Seperti; AlQur’an, Kedudukan Hadist, Ijma’, Qiyas, Pengertian Nash, Syari’ah, Teori Istinbath Hukum dalam Islam, serta Ijtihad dan Perbedaan Mazdhab. Penyusun berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang konsep didalamnya. Tim penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Tim penyusun berharap semoga semua yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. Akhirnya tim penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu tim penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca, sehingga makalah ini bisa mencapai kesempurnaan.

Malingping,

November 2011

Penyusun

Rumusan Masalah 1. Sumber pokok ajaran Islam adalah AlQur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. Latar Belakang Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam. . Ijma’ dan Qiyas dalam menetapkan hukum Islam. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. Ijma’. Untuk itu. 4. Teori dan konsep istimbath hukum Islam.3. 2. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam. Untuk memahami ijtihad dan perbedaan mazdhab. 2. 5. Pengertian ijtihad dan perbedaan mazdhab. Untuk mengetahui pengertian Nash dan Syari’ah 4. 3.1. 1. Kedudukan Hadist. Untuk mengetahui Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. Qiyas. dan Qiyas. Ijma. 5. 3. Pengertian Nash dan Syari’ah. Tujuan Penulisan 1. Qiyas. Hadist. Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. Untuk mengetahui teori dan konsep istimbath hukum Islam. 1.BAB I PENDAHULUAN 1.2. dan Ijtihad. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’. perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti AlQur’an. Untuk memahami kedudukan Hadist. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum.

ketika mengharamkan khomr.1. 2.3. 3. Tuntutan ibadat sebagai perbuatan yang jiwa tauhid. Tauhid.1. Ruang Lingkupnya Al-Qur’an Pokok-pokok isi Al-Qur’an ada 5: 1. 1) Menginformasikan manfaat dan mahdhorotnya. . Karena itulah lahir hukum-hukum yang sifatnya rukhsah. kepercayaan terhadap Allah. PENGERTIAN AL-QUR’AN DAN RUANG LINGKUPNYA 2. umpamanya. Menyedikitkan beban Dari prinsip tidak memberatkan itu. Tidak memberatkan “Allah tidak Misalnya: membenari seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Pengertian Al-Qur’an Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam dan bernilai ibadat yang membacanya. Janji dan Ancaman 4. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum Hal ini dapat diketahui.2. 3. Hari Akhir dan Qodho.” a) Boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Dasar-dasar Al-Qur’an Dalam Membuat Hukum 1. b) Boleh makan-makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa/memaksa. Seperti: mengqashar sholat.1. malaikat-malaikat Nya.1. 2.1. maka terciptalah prinsip menyedikitkan beban agar menjadi tidak berat. 2. c) Boleh bertayamum sebagai ganti wudhu’ 2. Qadar yang baik dan buruk. Inti sejarah orang-orang yang taat dan orang-orang yang dholim pada Allah SWT.BAB II PEMBAHASAN 2. Hidup yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Kitab-kitab Nya. 5. Rosulrosul Nya.

Ijma’ dapat dijadikan alternatif dalam menetapkan hokum suatu peristiwa yang didalam AlQur’an atau as-Sunnah tidak ada atau kurang jelas hukumnya. 2. Kedudukan Ijma’ Kebanyakan ulama menetapkan. sebelum sholat. taatilah Allah dan Rosulnya dan Ulil Amri diantara kamu. Baik yang diterima dari Allah yang berupa Al-Qur’an maupun yang ditetapkan sendiri yang berupa al-Sunnah. bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber ajaran Islam dalam menetapkan suatu hukum. Selain diindikasikan dalam Al-Qur’an. Kedudukan Qiyas Qiyas menduduki tingkat keempat. para ulama pun telah bersepakat untuk menetapkan alSunnah sebagai sumber ajaran Islam.” . 2. perbuatan dan penetapan Nabi. Maka sudah sepantasnya. maka banyak orang mencarinya dalam as-Sunnah. maka mereka wajib ditaati oleh umat. sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash. Mereka mendasarkan hal tersebut pada firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 2 yang artinya. apabila mujtahid telah sepakat terhadap ketetapan hukum suatu masalah/peristiwa. Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman. 3) Larangan secara tegas untuk selama-lamanya. Sunnah yang dijalankan Nabi pada dasarnya adalah kehendak Allah juga. Dalam arti bahwa Sunnah itu sebenarnya adalah risalah dari Allah yang manifestasikan dalam ucapan.1. bahkan seharusnya bilamana Sunnah Nabi dijadikan sumber dan landasan ajaran Islam.2.” Maka dapat disimpulkan bahwa. yaitu. KEDUDUKAN HADIST. IJMA’ DAN QIYAS 2. maka peristiwa itu disamakan dengan peristiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an.2) Mengharamkan pada waktu terbatas.2. Banyak sekali masalah yang sulit ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama. Kedudukan Al-Hadist/Al-Sunnah Nabi Muhammad sebagai seorang rosul menjadi panutan bagi umatnya disamping sebagai ajaran hukum. 3. “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan.

Nash adalah raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang tampak. Selain itu. Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud nash itu adalah: “Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum dengan jelas. yang diambil menurut alur pembicaraan.” Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan.1.3. .3. sedangkan menurut istilah antara lain dapat dikemukakan di sini menurut: a. Ad-Dabusi: Artinya: “Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahar bila ia dibandingkan dengan lafzh shahir.” Sebagai contoh adalah ayat Al-Qur’an. Pengertian Nash Menurut bahasa.2.” b. Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. Dilalah nash dari ayat tersebut adalah tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba. Al-Bazdawi “Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri. namun ia mempunyai kemungkinan ditakshish dan takwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. dalam mimbar nash ini sering disebut munashahat. Di sini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. Atas dasar uraian tersebut. PENGERTIAN TENTANG NASH DAN SYARI’AH 2. Oleh sebab itu. . ia dapat dinasikh pada zaman risalah (zaman Rasul). melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah. seperti yang dijadikan contoh dari lafazh zhahir. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya.

Dengan perkataan lain syari’at itu adalah hukum-hukum yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Allah sebagai peraturan hidup manusia untuk diimani. Dan untuk itulah fiqih dibuat. maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. 18) “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu.” Syari’ah adalah semua yang disyari’atkan Allah untuk kaum muslimin baik melalui AlQur’an ataupun melalui Sunnah Rasul. juga dimasukkan kedalamnya hokum-hukum yang ditetapkan melalui qiyas.3. Pengertian syari’ah menurut Muhammad Salam Maskur dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamy. supaya para hamba-Nya itu melaksanakannya dengan dasar iman. diikuti dan dilaksanakan oleh manusia didalam kehidupannya. Pengertian syari’ah menurut Syaikh Mahmud Shaltut yakni. Kemudian dimasukkan kedalamnya hukum-hukum yang telah disepakati (di ijma’) oleh para sahabat Nabi. atau yang menyangkut petunjuk beri’tiqad yang disebut ashliyah i’tiqadiyah (pokok keyakinan). tentang masalah-masalah yang belum ada nashnya dan yang belum jelasa dalam Al-Qur’an ataupun as-Sunnah (masalah yang di ijtihad). Salah satu makna syari’ah adalah jalan yang lurus. baik hukum itu mengenai lahiriah maupun yang mengenai akhlak dan aqaid. Pengertian Syari’ah Dilihat dari sudut kebahasaan kata. Syari’ah itu adalah hukum-hukum yang disyari’atkan Allah bagi hamba-hamba Nya (manusia) yang dibawa oleh para Nabi.2. Perkataan syari’ah tertuju pada hukum-hukum yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Menurut istilah ialah hukum-hukum dan tata aturan yang disyari’atkan Allah buat hamba-Nya agar mereka mengikuti dan berhubungan antar sesamanya. dan untuk itu para ulama menciptakan ilmu kalam (ilmu tauhid). kepercayaan dan bersifat batiniah. syari’ah bermakna “Jalan yang lapang atau jalan yang dilalui air terjun. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Jaatsiyah: 18 : ). baik menyangkut cara mengerjakannya yang disebut far’iyah amaliyah (cabang-cabang amaliyah).” (QS. syari’at menurut bahasa ialah tempat yang didatangi atau dituju manusia dan binatang untuk minum air. .2. Al-Jaatsiyah: 18) para fuqaha memakai kata syari’ah sebagai nama bagi hukum yang ditetapkan Allah untuk para hamba-Nya dengan perantara Rasul-Nya.

2. Apabila para ulama hadist mendapat hadist yang berbeda-beda. orang-orang mukallaf. Andaikata tidak juga diperoleh pendapat para sahabat mengenai masalah yang sedang dihadapi para ulama hadist tersebut. dari hadist yang diriwayatkan oleh para perawi hadist yang lebih utama dan memenuhi persyaratan. yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf. pertama kali para ulama ahlul haidst mencari penyelesaian masalah itu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi/Rasul. “Bahwa syari’ah itu adalah ketentuan hukum yang membatasi perbuatan. selanjutnya mereka meninjau dan mempedomani pendapat para sahabat Nabi. Menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum syara’ dengan jalan memetik/mengeluarkan dari kitab dan sunnah. hanya sampai kepada masa wafatnya Imam Daud ibnu Ali. Adapun pengertia ijtihad ialah: Mencurahkan segala tenaga (pikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’).5. Ijtihad 1. dan belum teratur dasar hukumnya. Syari’ah Islam adalah syari’ah penutup. baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan. Para ulama Fuqaha sesudah itu selalu memperhatikan/melaksanakan fatwa. perkataan dan i’tiqad. melalui salah satu dalil syara’ dan dengan cara tertentu. Masa mereka enggan berfatwa ini tidak lama. syari’ah yang paling umum. maka selanjutnya barulah mereka melaksanakan ijtihad untuk menyelesaikan suatu masalah hukum Islam.1. timbul perkataan: Islam itu adalah aqidah dan syari’ah sebagaimana dikemukakan Syekh Mahmud Shaltut. paling lengkap. Atas dasar pemakaian ini.4. Tanpa dalil . Kalau para ulama tersebut tidak menemukan hadistnya.” Demikianlah makna syari’at. berarti mereka selalu melaksanakan ijtihad terhadap sesuatu masalah yang baru. walaupun yang belum atau mungkin terjadi. ijtihad berarti.Menurut asy-Syatibi di dalam kitabnya al-Muwafaqat. IJTIHAD DAN PERBEDAAN MAZDHAB 2. sehingga segala masalah dapat mereka tentukan hukumnya berdasarkan hasil ijtihad para ulama hadist (aliran Madrasah Hadist). 2. akan tetapi jumhur mutaakhirin telah memakai kata syari’ah untuk nama hukum fiqh atau hukum Islam. TEORI DAN KONSEP ISTIMBATH HUKUM DALAM ISLAM Bila para ulama hadist dihadapkan kepada suatu masalah. mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. Sedang menurut pengertian syara’ ijtihad adalah: : . baik yang telah terjadi. dan mencakup segala hukum. atau mereka belum/tidak menyampaikan fatwa kepada masyarakat. maka mereka mengambil hadist sebagai sumber hukum.5. Pengertian Ijtihad Dari segi bahasa.

Para Imam Mujtahid seperti Imam Hanafi. tetapi jangan hendaknya menutup pintu rapat-rapat. Dibawah ini akan dikemukakan beberapa tokoh Imam Mazdhab. Sebab.” Orang yang melakukan ijtihad disebut Mujtahid. bahkan ada yang cenderung hanya ingin mendalami mazdhab tertentu saja. Menganut suatu aliran mazdhab saja. Maka peranan ijtihad semakin penting untuk membuktikan keluasan dan keluwesan hukum Islam. karena pengaruh lingkungan atau karena ilmu yang diterima hanya dari ulama/guru yang menganut suatu mazdhab saja. dalam kenyataannya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkamat (jelas kandungannya) dan ada yang Mutasyabihat (memerlukan penafsiran (belum terang). agar seseorang tidak fanatik kepada suatu mazdhab. Andaikata sukar menghindari kefanatikan kepada suatu mazdhab. a. Sehingga secara pasti cocok dan tepat untuk diterapkan dalam setiap waktu dan tempat. Perbedaan Mazdhab Menurut bahasa mazdhab berarti “Jalan atau tempat yang dilalui. sekurang-kurangnya mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya. Imam Hanafi Dasar-dasar mazdhab Imam Hanafi dalam menetapkan suatu hukum. Hal ini disebabkan. . Dari sinilah. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan. bahwa pegertian mazdhab adalah: “Hasil ijtihad seorang imam (Mujtahid Mutlaq Mustaqil) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath.” Dengan demikian. sehingga tidak dapat melihat pemikiran-pemikiran yang ada pada mazdhab yang lain yang juga bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. sebenarnya tidak ada larangan.syara’ dan tanpa cara tertentu. Apalagi agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluru alam) membuat kesediaannya dalam menerima perkembangan yang dialami umat manusia. 2. Untuk mengetahui pola pemikiran masing-masing Imam Mazdhab bagi seseorang itu sangat terbatas. sehingga ajaran Islam selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya. sudah cukup dikenal di Indonesia oleh sebagian besar umat Islam. Maliki. Kaidah-kaidah istinbath yang dirumuskan oleh seorang imam. Hal ini dimaksudkan.” Menurut istilah para Faqih Mazdhab mempunyai dua pengertian yaitu: 1. 2. Syahi’i dan Imam Ahmad bin Hambali. Ijtihad mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya pengembangan hukum Islam.bahwa pengertian bermazdhab adalah: “Mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang ukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. maka hal tersebut merupakan pemikiran dengan kemauan sendiri semata-mata dan hal tersebut tidak dinamakan ijtihad. Pendapat salah seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu masalah.

5. b. Qiyas 5. kuat ingatan dan bersambung langsung sampai kepada Nabi SAW. beliau kembali kepada Urf manusia. As-Sunnah As-Sunnah adalah berfungsi sebagai penjelasan al-Kitab. As-Sunnah Beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja. Beliau melakukan segala urusan (bila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Istishlah (Mashalihul Mursalah) c. Apabila ternyata dalam Al-Qur’an. Sunnah Rasul yang beliau pandang sah. Sunnah atau perkataan sahabat tidak beliau temukan. merinci yang masih bersifat umum (global). Ijmak atau Qiyas. Aqwalush Shahabah (perkataan sahabat) Perkataan sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah. Apabila tidak dapat dilakukan istihsan. Karena menurutnya.1. 1. Ijmak para ulama Madinah. 2. . Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i sebagai acuan pendapatnya termaktub dalam kitabnya ar-Risalah sebagai berikut: 1. mereka adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul sesudah generasinya. Al-Istihsan Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dari keburukan serta mempertahankan muamalah-muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. Al Kitab Al Kitab adalah sumber pokok ajaran Islam. yakni selama perawi hadist itu orang kepercayaan. Al-Qur’an 2. asal telah mencukupi syaratsyaratnya. Sunnah. Al-Qiyas Abu Hanifah berpegang kepada Qiyas. dan apabila tidak baik dilakukan dengan cara Qiyas) beliau melakukannya atas dasar istihsan selama dapat dilakukannya. Imam Syafi’i Dasar-dasar hukum yang dipakai Imam Syafi’i. Imam Maliki Bin Anas Dasar-dasar mazdhab Imam Maliki. 3. 4. 3. 4. Segala permasalahan hukum agama merujuk kepada al-Kitab tersebut atau kepada jiwa kandungannya. Al-Qur’an 2. tetapi kadang-kadang beliau menolak hadist apabila ternyata berlawanan/tidak diamalkan oleh para ulama Madinah. tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil.

Pendapat sebagian sahabat yaitu apabila terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah. Imam Ahmad Bin Hambali Imam Hambali dalam menetapkan suatu hukum adalah dengan berlandaskan kepada dasardasar sebagai berikut: 1.3. yaitu ketika beliau tidak memperoleh nash dan beliau mendapati suatu pendapat yang tidak diketahuinya. jika tidak berlawanan dengan sesuatu atsar atau dengan pendapat seorang sahabat. dengan tidak memandang bahwa pendapat itu merupakan Ijmak. Hadist Mursal atau Hadist Daif akan tetap dipakai. Istidlal (Istishhab) d. Nash Al-Qur’an dan Hadist. Hadist Mursal atau Hadist Daif. Qiyas. yakni apabila beliau mendapatkan nash. maka beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang menyalahinya. juga dalam keadaan memaksa. 5. 2. baru beliau pakai apabila beliau memang tidak memperoleh ketentuan hukumnya pada sumber-sumber yang disebutkan pada poin 1-4 diatas. Fatwa Sahaby. maka beliau mengambil mana yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah. . 5. 4. 3. 4. maka beliau berpegang kepada pendapat ini. Ijmak Dalam arti bahwa para sahabat semuanya telah menyepakatinya Qiyas Imam Syafi’i memakai Qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum. bahwa hal itu ada yang menentangnya.

. Sumber hukum yang lain adalah Ijmak dan Qiyas. Apabila penegasan hukum yang terdapat dalam AlQur’an masih bersifat global. yang mana wajib diikuti selama tidak bertentangan dengan nash syari’at yang jelas.BAB III PENUTUP 3.1. yang mana berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. maka hadist dijadikan sumber hukum kedua. Kesimpulan Al-Qur’an merupakan sumber utama yang dijadikan oleh para mujtahid dalam menentukan hukum ajaran Islam. Ijmak dan Qiyas merupakan sumber pelengkap. segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Qur’an tersebut atau kepada jiwa kandungannya. Karena.

Jakarta. Wicaksana. 1999.id http://manshurzikri. Perbandingan Mazdhab. 1994. Semarang. Ali. Moh. M. Syafi’i.google. Nazar. Ilmu Ushul Fiqih. Raja Grafindo Persada.co.wordpress. Raja Grafindo Persada. 2003 Bakry.DAFTAR PUSTAKA http://www.com/2010/03/22/sumber-ajaran-agama-islam-alqur%E2%80%99an-dan-sunnah/ Rifai. . CV. Rachmat. Fiqih. Jakarta. Bandung. Fiqih dan Ushul Fiqih. 2003 Hasan. Pustaka Setia.

.... 7 7 9 Daftar Pustaka …………………………………………………………………..5. 2.5 Pengertian Sanitasi …………………………………. i ii BAB I PENDAHULUAN 1.. Air Limbah ………………………………………….. 2. jenis-jenis Unit pengolahan Air Limbah …………….1 1.2 2.. 1 1 BAB II PEMBAHASAN 2.5.2 Kesimpulan ……………………………………….1 Proses dan Cara Pengolahan Limbah Rumah Tangga (Sanitasi) …………………………………………….1. Tujuan Pembuatan Makalah ………………………….. 2 2 3 3 4 4 6 BAB III PENUTUP 3..DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi ………………………………………………………………….4 2... Saran …………………………………………………..1 3.... Septictank ………………………………… Sumur Resapan …………………………...2 Latar Belakang Masalah …………………………. Alat Pembuangan Air Kotor ………………………….. …………………………………………………………………. ..2.3 2.. 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful