KATA PENGANTAR

Alhamdulillah hirobbil’alamin, puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan pada waktu yang telah ditentukan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, yang membimbing umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah yakni ajaran agama Islam. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Study Islam. Seperti; AlQur’an, Kedudukan Hadist, Ijma’, Qiyas, Pengertian Nash, Syari’ah, Teori Istinbath Hukum dalam Islam, serta Ijtihad dan Perbedaan Mazdhab. Penyusun berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang konsep didalamnya. Tim penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Tim penyusun berharap semoga semua yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. Akhirnya tim penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu tim penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca, sehingga makalah ini bisa mencapai kesempurnaan.

Malingping,

November 2011

Penyusun

. Untuk mengetahui teori dan konsep istimbath hukum Islam. 3. dan Ijtihad.2.3. Sumber pokok ajaran Islam adalah AlQur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. Kedudukan Hadist. Pengertian ijtihad dan perbedaan mazdhab. Untuk memahami kedudukan Hadist. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. 2. 4. dan Qiyas. Untuk mengetahui Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. Latar Belakang Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam.1. Untuk mengetahui pengertian Nash dan Syari’ah 4.BAB I PENDAHULUAN 1. Rumusan Masalah 1. Qiyas. Ijma’ dan Qiyas dalam menetapkan hukum Islam. 5. Untuk itu. Ijma’. perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti AlQur’an. Qiyas. Untuk memahami ijtihad dan perbedaan mazdhab. Teori dan konsep istimbath hukum Islam. 1. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. 2. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam. 1. Hadist. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’. 5. Ijma. 3. Tujuan Penulisan 1. Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. Pengertian Nash dan Syari’ah.

3. Seperti: mengqashar sholat.1. Tauhid. 2. Janji dan Ancaman 4. Tidak memberatkan “Allah tidak Misalnya: membenari seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. PENGERTIAN AL-QUR’AN DAN RUANG LINGKUPNYA 2. Ruang Lingkupnya Al-Qur’an Pokok-pokok isi Al-Qur’an ada 5: 1. 2. Kitab-kitab Nya. . 2. ketika mengharamkan khomr. b) Boleh makan-makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa/memaksa. Inti sejarah orang-orang yang taat dan orang-orang yang dholim pada Allah SWT.” a) Boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum Hal ini dapat diketahui. Dasar-dasar Al-Qur’an Dalam Membuat Hukum 1. 3. Menyedikitkan beban Dari prinsip tidak memberatkan itu. kepercayaan terhadap Allah. Rosulrosul Nya. Karena itulah lahir hukum-hukum yang sifatnya rukhsah. 5. Qadar yang baik dan buruk.1. Tuntutan ibadat sebagai perbuatan yang jiwa tauhid. Hari Akhir dan Qodho. maka terciptalah prinsip menyedikitkan beban agar menjadi tidak berat. malaikat-malaikat Nya. Pengertian Al-Qur’an Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam dan bernilai ibadat yang membacanya.BAB II PEMBAHASAN 2. umpamanya. 1) Menginformasikan manfaat dan mahdhorotnya. c) Boleh bertayamum sebagai ganti wudhu’ 2.2. 3.1.1.1. Hidup yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

apabila mujtahid telah sepakat terhadap ketetapan hukum suatu masalah/peristiwa. Banyak sekali masalah yang sulit ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama.2) Mengharamkan pada waktu terbatas. perbuatan dan penetapan Nabi. bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber ajaran Islam dalam menetapkan suatu hukum. Mereka mendasarkan hal tersebut pada firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 2 yang artinya. Ijma’ dapat dijadikan alternatif dalam menetapkan hokum suatu peristiwa yang didalam AlQur’an atau as-Sunnah tidak ada atau kurang jelas hukumnya. maka mereka wajib ditaati oleh umat.2. sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash. 3. Sunnah yang dijalankan Nabi pada dasarnya adalah kehendak Allah juga. 2. maka peristiwa itu disamakan dengan peristiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an.” Maka dapat disimpulkan bahwa. Kedudukan Al-Hadist/Al-Sunnah Nabi Muhammad sebagai seorang rosul menjadi panutan bagi umatnya disamping sebagai ajaran hukum. Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman. para ulama pun telah bersepakat untuk menetapkan alSunnah sebagai sumber ajaran Islam. Kedudukan Qiyas Qiyas menduduki tingkat keempat. “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Selain diindikasikan dalam Al-Qur’an. Dalam arti bahwa Sunnah itu sebenarnya adalah risalah dari Allah yang manifestasikan dalam ucapan. 3) Larangan secara tegas untuk selama-lamanya. Maka sudah sepantasnya.2. IJMA’ DAN QIYAS 2. KEDUDUKAN HADIST. Kedudukan Ijma’ Kebanyakan ulama menetapkan. taatilah Allah dan Rosulnya dan Ulil Amri diantara kamu.1. Baik yang diterima dari Allah yang berupa Al-Qur’an maupun yang ditetapkan sendiri yang berupa al-Sunnah. maka banyak orang mencarinya dalam as-Sunnah. sebelum sholat. bahkan seharusnya bilamana Sunnah Nabi dijadikan sumber dan landasan ajaran Islam.” . 2. yaitu.

dalam mimbar nash ini sering disebut munashahat. Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum.3.” Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan.3. Al-Bazdawi “Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri. PENGERTIAN TENTANG NASH DAN SYARI’AH 2. Di sini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. Pengertian Nash Menurut bahasa. Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud nash itu adalah: “Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum dengan jelas. Nash adalah raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang tampak. seperti yang dijadikan contoh dari lafazh zhahir.1. . .” Sebagai contoh adalah ayat Al-Qur’an. namun ia mempunyai kemungkinan ditakshish dan takwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya. Dilalah nash dari ayat tersebut adalah tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba. Oleh sebab itu. Atas dasar uraian tersebut.2. yang diambil menurut alur pembicaraan. ia dapat dinasikh pada zaman risalah (zaman Rasul). melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah. Ad-Dabusi: Artinya: “Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahar bila ia dibandingkan dengan lafzh shahir. sedangkan menurut istilah antara lain dapat dikemukakan di sini menurut: a. Selain itu.” b.

Kemudian dimasukkan kedalamnya hukum-hukum yang telah disepakati (di ijma’) oleh para sahabat Nabi. Al-Jaatsiyah: 18) para fuqaha memakai kata syari’ah sebagai nama bagi hukum yang ditetapkan Allah untuk para hamba-Nya dengan perantara Rasul-Nya. juga dimasukkan kedalamnya hokum-hukum yang ditetapkan melalui qiyas. Pengertian Syari’ah Dilihat dari sudut kebahasaan kata. diikuti dan dilaksanakan oleh manusia didalam kehidupannya. Syari’ah itu adalah hukum-hukum yang disyari’atkan Allah bagi hamba-hamba Nya (manusia) yang dibawa oleh para Nabi. baik menyangkut cara mengerjakannya yang disebut far’iyah amaliyah (cabang-cabang amaliyah). Salah satu makna syari’ah adalah jalan yang lurus.” Syari’ah adalah semua yang disyari’atkan Allah untuk kaum muslimin baik melalui AlQur’an ataupun melalui Sunnah Rasul. . Pengertian syari’ah menurut Syaikh Mahmud Shaltut yakni.2. Menurut istilah ialah hukum-hukum dan tata aturan yang disyari’atkan Allah buat hamba-Nya agar mereka mengikuti dan berhubungan antar sesamanya. tentang masalah-masalah yang belum ada nashnya dan yang belum jelasa dalam Al-Qur’an ataupun as-Sunnah (masalah yang di ijtihad). Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Jaatsiyah: 18 : ). maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. kepercayaan dan bersifat batiniah. dan untuk itu para ulama menciptakan ilmu kalam (ilmu tauhid). Pengertian syari’ah menurut Muhammad Salam Maskur dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamy. Dan untuk itulah fiqih dibuat. Perkataan syari’ah tertuju pada hukum-hukum yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.3. 18) “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu.2. syari’ah bermakna “Jalan yang lapang atau jalan yang dilalui air terjun. Dengan perkataan lain syari’at itu adalah hukum-hukum yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Allah sebagai peraturan hidup manusia untuk diimani. syari’at menurut bahasa ialah tempat yang didatangi atau dituju manusia dan binatang untuk minum air. atau yang menyangkut petunjuk beri’tiqad yang disebut ashliyah i’tiqadiyah (pokok keyakinan). supaya para hamba-Nya itu melaksanakannya dengan dasar iman. baik hukum itu mengenai lahiriah maupun yang mengenai akhlak dan aqaid.

“Bahwa syari’ah itu adalah ketentuan hukum yang membatasi perbuatan. Tanpa dalil . pertama kali para ulama ahlul haidst mencari penyelesaian masalah itu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi/Rasul. Andaikata tidak juga diperoleh pendapat para sahabat mengenai masalah yang sedang dihadapi para ulama hadist tersebut. Masa mereka enggan berfatwa ini tidak lama. baik yang telah terjadi. berarti mereka selalu melaksanakan ijtihad terhadap sesuatu masalah yang baru.” Demikianlah makna syari’at. melalui salah satu dalil syara’ dan dengan cara tertentu. Pengertian Ijtihad Dari segi bahasa. walaupun yang belum atau mungkin terjadi. atau mereka belum/tidak menyampaikan fatwa kepada masyarakat. Atas dasar pemakaian ini. akan tetapi jumhur mutaakhirin telah memakai kata syari’ah untuk nama hukum fiqh atau hukum Islam. orang-orang mukallaf. maka selanjutnya barulah mereka melaksanakan ijtihad untuk menyelesaikan suatu masalah hukum Islam.5. Para ulama Fuqaha sesudah itu selalu memperhatikan/melaksanakan fatwa. paling lengkap.5. Syari’ah Islam adalah syari’ah penutup. TEORI DAN KONSEP ISTIMBATH HUKUM DALAM ISLAM Bila para ulama hadist dihadapkan kepada suatu masalah. Ijtihad 1.Menurut asy-Syatibi di dalam kitabnya al-Muwafaqat. dari hadist yang diriwayatkan oleh para perawi hadist yang lebih utama dan memenuhi persyaratan. Kalau para ulama tersebut tidak menemukan hadistnya. Adapun pengertia ijtihad ialah: Mencurahkan segala tenaga (pikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’). mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. selanjutnya mereka meninjau dan mempedomani pendapat para sahabat Nabi. 2. dan mencakup segala hukum. IJTIHAD DAN PERBEDAAN MAZDHAB 2. hanya sampai kepada masa wafatnya Imam Daud ibnu Ali. perkataan dan i’tiqad. timbul perkataan: Islam itu adalah aqidah dan syari’ah sebagaimana dikemukakan Syekh Mahmud Shaltut. ijtihad berarti.1. Menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum syara’ dengan jalan memetik/mengeluarkan dari kitab dan sunnah. Apabila para ulama hadist mendapat hadist yang berbeda-beda. dan belum teratur dasar hukumnya. syari’ah yang paling umum. baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan.4. sehingga segala masalah dapat mereka tentukan hukumnya berdasarkan hasil ijtihad para ulama hadist (aliran Madrasah Hadist). yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf. 2. maka mereka mengambil hadist sebagai sumber hukum. Sedang menurut pengertian syara’ ijtihad adalah: : .

Andaikata sukar menghindari kefanatikan kepada suatu mazdhab. . Sehingga secara pasti cocok dan tepat untuk diterapkan dalam setiap waktu dan tempat. maka hal tersebut merupakan pemikiran dengan kemauan sendiri semata-mata dan hal tersebut tidak dinamakan ijtihad.bahwa pengertian bermazdhab adalah: “Mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang ukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath.syara’ dan tanpa cara tertentu. 2. sekurang-kurangnya mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya. Apalagi agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluru alam) membuat kesediaannya dalam menerima perkembangan yang dialami umat manusia. Dari sinilah. Kaidah-kaidah istinbath yang dirumuskan oleh seorang imam. bahwa pegertian mazdhab adalah: “Hasil ijtihad seorang imam (Mujtahid Mutlaq Mustaqil) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. bahkan ada yang cenderung hanya ingin mendalami mazdhab tertentu saja. Menganut suatu aliran mazdhab saja. karena pengaruh lingkungan atau karena ilmu yang diterima hanya dari ulama/guru yang menganut suatu mazdhab saja. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan.” Dengan demikian. sebenarnya tidak ada larangan.” Menurut istilah para Faqih Mazdhab mempunyai dua pengertian yaitu: 1. Maliki. tetapi jangan hendaknya menutup pintu rapat-rapat. Sebab. Syahi’i dan Imam Ahmad bin Hambali. Dibawah ini akan dikemukakan beberapa tokoh Imam Mazdhab.” Orang yang melakukan ijtihad disebut Mujtahid. agar seseorang tidak fanatik kepada suatu mazdhab. Hal ini dimaksudkan. Para Imam Mujtahid seperti Imam Hanafi. dalam kenyataannya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkamat (jelas kandungannya) dan ada yang Mutasyabihat (memerlukan penafsiran (belum terang). Maka peranan ijtihad semakin penting untuk membuktikan keluasan dan keluwesan hukum Islam. Untuk mengetahui pola pemikiran masing-masing Imam Mazdhab bagi seseorang itu sangat terbatas. Pendapat salah seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu masalah. a. sehingga tidak dapat melihat pemikiran-pemikiran yang ada pada mazdhab yang lain yang juga bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. sudah cukup dikenal di Indonesia oleh sebagian besar umat Islam. 2. Perbedaan Mazdhab Menurut bahasa mazdhab berarti “Jalan atau tempat yang dilalui. Ijtihad mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya pengembangan hukum Islam. sehingga ajaran Islam selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya. Hal ini disebabkan. Imam Hanafi Dasar-dasar mazdhab Imam Hanafi dalam menetapkan suatu hukum.

As-Sunnah Beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja. . Al-Qur’an 2. 4. 3. Karena menurutnya. Qiyas 5. b. Beliau melakukan segala urusan (bila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Al-Istihsan Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dari keburukan serta mempertahankan muamalah-muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. merinci yang masih bersifat umum (global). Ijmak atau Qiyas. mereka adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul sesudah generasinya. tetapi kadang-kadang beliau menolak hadist apabila ternyata berlawanan/tidak diamalkan oleh para ulama Madinah. Imam Syafi’i Dasar-dasar hukum yang dipakai Imam Syafi’i. beliau kembali kepada Urf manusia. 4. Al Kitab Al Kitab adalah sumber pokok ajaran Islam. Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i sebagai acuan pendapatnya termaktub dalam kitabnya ar-Risalah sebagai berikut: 1. Ijmak para ulama Madinah. Apabila tidak dapat dilakukan istihsan. asal telah mencukupi syaratsyaratnya. tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil. kuat ingatan dan bersambung langsung sampai kepada Nabi SAW. Sunnah Rasul yang beliau pandang sah. Imam Maliki Bin Anas Dasar-dasar mazdhab Imam Maliki. yakni selama perawi hadist itu orang kepercayaan. Al-Qiyas Abu Hanifah berpegang kepada Qiyas. 5. dan apabila tidak baik dilakukan dengan cara Qiyas) beliau melakukannya atas dasar istihsan selama dapat dilakukannya. Sunnah atau perkataan sahabat tidak beliau temukan. 2. Apabila ternyata dalam Al-Qur’an. Sunnah. 1. As-Sunnah As-Sunnah adalah berfungsi sebagai penjelasan al-Kitab. Segala permasalahan hukum agama merujuk kepada al-Kitab tersebut atau kepada jiwa kandungannya. Al-Qur’an 2. Aqwalush Shahabah (perkataan sahabat) Perkataan sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah.1. 3. Istishlah (Mashalihul Mursalah) c.

Imam Ahmad Bin Hambali Imam Hambali dalam menetapkan suatu hukum adalah dengan berlandaskan kepada dasardasar sebagai berikut: 1. 5. baru beliau pakai apabila beliau memang tidak memperoleh ketentuan hukumnya pada sumber-sumber yang disebutkan pada poin 1-4 diatas. juga dalam keadaan memaksa. Hadist Mursal atau Hadist Daif akan tetap dipakai. Hadist Mursal atau Hadist Daif. 4. Pendapat sebagian sahabat yaitu apabila terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah. bahwa hal itu ada yang menentangnya. 2. dengan tidak memandang bahwa pendapat itu merupakan Ijmak. 3. maka beliau berpegang kepada pendapat ini. Qiyas. . Istidlal (Istishhab) d. Fatwa Sahaby.3. maka beliau mengambil mana yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah. yaitu ketika beliau tidak memperoleh nash dan beliau mendapati suatu pendapat yang tidak diketahuinya. 5. maka beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang menyalahinya. Nash Al-Qur’an dan Hadist. yakni apabila beliau mendapatkan nash. jika tidak berlawanan dengan sesuatu atsar atau dengan pendapat seorang sahabat. 4. Ijmak Dalam arti bahwa para sahabat semuanya telah menyepakatinya Qiyas Imam Syafi’i memakai Qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum.

yang mana berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Ijmak dan Qiyas merupakan sumber pelengkap. Apabila penegasan hukum yang terdapat dalam AlQur’an masih bersifat global. Karena. maka hadist dijadikan sumber hukum kedua. Kesimpulan Al-Qur’an merupakan sumber utama yang dijadikan oleh para mujtahid dalam menentukan hukum ajaran Islam. . Sumber hukum yang lain adalah Ijmak dan Qiyas.BAB III PENUTUP 3. yang mana wajib diikuti selama tidak bertentangan dengan nash syari’at yang jelas. segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Qur’an tersebut atau kepada jiwa kandungannya.1.

wordpress. . Ali. Fiqih.co. Moh. 2003 Bakry. Syafi’i. Raja Grafindo Persada. Fiqih dan Ushul Fiqih. 2003 Hasan. M. 1994.DAFTAR PUSTAKA http://www.google. Bandung.id http://manshurzikri. Wicaksana. Perbandingan Mazdhab. Pustaka Setia. Semarang. Jakarta. Ilmu Ushul Fiqih. 1999. Raja Grafindo Persada. Jakarta. CV. Rachmat. Nazar.com/2010/03/22/sumber-ajaran-agama-islam-alqur%E2%80%99an-dan-sunnah/ Rifai.

7 7 9 Daftar Pustaka ………………………………………………………………….2 2..2 Kesimpulan ………………………………………..... Septictank ………………………………… Sumur Resapan …………………………... 2. Air Limbah …………………………………………. ………………………………………………………………….1.1 Proses dan Cara Pengolahan Limbah Rumah Tangga (Sanitasi) ……………………………………………..... jenis-jenis Unit pengolahan Air Limbah …………….5 Pengertian Sanitasi …………………………………. i ii BAB I PENDAHULUAN 1...DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi …………………………………………………………………. 2.5. 1 1 BAB II PEMBAHASAN 2..2 Latar Belakang Masalah …………………………. 2. Tujuan Pembuatan Makalah …………………………. 2 2 3 3 4 4 6 BAB III PENUTUP 3.3 2.5... Saran …………………………………………………...1 1..4 2.2. Alat Pembuangan Air Kotor ………………………….1 3. ...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful