KATA PENGANTAR

Alhamdulillah hirobbil’alamin, puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan pada waktu yang telah ditentukan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, yang membimbing umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah yakni ajaran agama Islam. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Study Islam. Seperti; AlQur’an, Kedudukan Hadist, Ijma’, Qiyas, Pengertian Nash, Syari’ah, Teori Istinbath Hukum dalam Islam, serta Ijtihad dan Perbedaan Mazdhab. Penyusun berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang konsep didalamnya. Tim penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Tim penyusun berharap semoga semua yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. Akhirnya tim penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu tim penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca, sehingga makalah ini bisa mencapai kesempurnaan.

Malingping,

November 2011

Penyusun

Latar Belakang Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam. 2. Ijma’ dan Qiyas dalam menetapkan hukum Islam. 4. Untuk itu. Kedudukan Hadist. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. 1. Rumusan Masalah 1. dan Ijtihad. 3. 5. 5. .1. Untuk mengetahui pengertian Nash dan Syari’ah 4. Teori dan konsep istimbath hukum Islam. dan Qiyas.BAB I PENDAHULUAN 1. Ijma. Qiyas. 2. Tujuan Penulisan 1. Pengertian ijtihad dan perbedaan mazdhab. Untuk mengetahui teori dan konsep istimbath hukum Islam. Sumber pokok ajaran Islam adalah AlQur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam. Untuk mengetahui Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’. Qiyas. Untuk memahami kedudukan Hadist. Ijma’. Al-Qur’an dan ruang lingkupnya.3. 1. Untuk memahami ijtihad dan perbedaan mazdhab. Pengertian Nash dan Syari’ah. Hadist. perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti AlQur’an.2. 3.

Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum Hal ini dapat diketahui. kepercayaan terhadap Allah.1. 2. Hidup yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.1.1. . malaikat-malaikat Nya.BAB II PEMBAHASAN 2. 2.1. Pengertian Al-Qur’an Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam dan bernilai ibadat yang membacanya.2. 3. maka terciptalah prinsip menyedikitkan beban agar menjadi tidak berat. Hari Akhir dan Qodho. umpamanya. 3. Ruang Lingkupnya Al-Qur’an Pokok-pokok isi Al-Qur’an ada 5: 1. Qadar yang baik dan buruk. c) Boleh bertayamum sebagai ganti wudhu’ 2. Kitab-kitab Nya. b) Boleh makan-makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa/memaksa. Seperti: mengqashar sholat. Inti sejarah orang-orang yang taat dan orang-orang yang dholim pada Allah SWT. 5. Tuntutan ibadat sebagai perbuatan yang jiwa tauhid. Menyedikitkan beban Dari prinsip tidak memberatkan itu. ketika mengharamkan khomr.3.” a) Boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Karena itulah lahir hukum-hukum yang sifatnya rukhsah. Janji dan Ancaman 4. Tidak memberatkan “Allah tidak Misalnya: membenari seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Rosulrosul Nya.1. Dasar-dasar Al-Qur’an Dalam Membuat Hukum 1. 2. 1) Menginformasikan manfaat dan mahdhorotnya. PENGERTIAN AL-QUR’AN DAN RUANG LINGKUPNYA 2. Tauhid.

IJMA’ DAN QIYAS 2. maka peristiwa itu disamakan dengan peristiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an. yaitu. 3) Larangan secara tegas untuk selama-lamanya. Dalam arti bahwa Sunnah itu sebenarnya adalah risalah dari Allah yang manifestasikan dalam ucapan. KEDUDUKAN HADIST. Sunnah yang dijalankan Nabi pada dasarnya adalah kehendak Allah juga. Maka sudah sepantasnya. Mereka mendasarkan hal tersebut pada firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 2 yang artinya. apabila mujtahid telah sepakat terhadap ketetapan hukum suatu masalah/peristiwa.1. Ijma’ dapat dijadikan alternatif dalam menetapkan hokum suatu peristiwa yang didalam AlQur’an atau as-Sunnah tidak ada atau kurang jelas hukumnya. para ulama pun telah bersepakat untuk menetapkan alSunnah sebagai sumber ajaran Islam. Kedudukan Ijma’ Kebanyakan ulama menetapkan. Banyak sekali masalah yang sulit ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama. sebelum sholat. taatilah Allah dan Rosulnya dan Ulil Amri diantara kamu.2. 3. Kedudukan Al-Hadist/Al-Sunnah Nabi Muhammad sebagai seorang rosul menjadi panutan bagi umatnya disamping sebagai ajaran hukum. bahkan seharusnya bilamana Sunnah Nabi dijadikan sumber dan landasan ajaran Islam. Kedudukan Qiyas Qiyas menduduki tingkat keempat. “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Baik yang diterima dari Allah yang berupa Al-Qur’an maupun yang ditetapkan sendiri yang berupa al-Sunnah.2.” . Selain diindikasikan dalam Al-Qur’an. maka mereka wajib ditaati oleh umat. 2. maka banyak orang mencarinya dalam as-Sunnah. perbuatan dan penetapan Nabi. bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber ajaran Islam dalam menetapkan suatu hukum. 2.2) Mengharamkan pada waktu terbatas. sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash.” Maka dapat disimpulkan bahwa. Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman.

” Sebagai contoh adalah ayat Al-Qur’an. . Atas dasar uraian tersebut.3. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya.3. Pengertian Nash Menurut bahasa.2. Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. Al-Bazdawi “Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri.1. Dilalah nash dari ayat tersebut adalah tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba.” Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan. namun ia mempunyai kemungkinan ditakshish dan takwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. Ad-Dabusi: Artinya: “Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahar bila ia dibandingkan dengan lafzh shahir. Nash adalah raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang tampak. PENGERTIAN TENTANG NASH DAN SYARI’AH 2. seperti yang dijadikan contoh dari lafazh zhahir. sedangkan menurut istilah antara lain dapat dikemukakan di sini menurut: a. ia dapat dinasikh pada zaman risalah (zaman Rasul).” b. Oleh sebab itu. Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud nash itu adalah: “Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum dengan jelas. Selain itu. dalam mimbar nash ini sering disebut munashahat. yang diambil menurut alur pembicaraan. . Di sini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah.

kepercayaan dan bersifat batiniah. tentang masalah-masalah yang belum ada nashnya dan yang belum jelasa dalam Al-Qur’an ataupun as-Sunnah (masalah yang di ijtihad). baik menyangkut cara mengerjakannya yang disebut far’iyah amaliyah (cabang-cabang amaliyah).2. Perkataan syari’ah tertuju pada hukum-hukum yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. . dan untuk itu para ulama menciptakan ilmu kalam (ilmu tauhid). Syari’ah itu adalah hukum-hukum yang disyari’atkan Allah bagi hamba-hamba Nya (manusia) yang dibawa oleh para Nabi.3. 18) “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu. juga dimasukkan kedalamnya hokum-hukum yang ditetapkan melalui qiyas. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Jaatsiyah: 18 : ).” (QS. Kemudian dimasukkan kedalamnya hukum-hukum yang telah disepakati (di ijma’) oleh para sahabat Nabi. supaya para hamba-Nya itu melaksanakannya dengan dasar iman. syari’at menurut bahasa ialah tempat yang didatangi atau dituju manusia dan binatang untuk minum air. atau yang menyangkut petunjuk beri’tiqad yang disebut ashliyah i’tiqadiyah (pokok keyakinan). syari’ah bermakna “Jalan yang lapang atau jalan yang dilalui air terjun. baik hukum itu mengenai lahiriah maupun yang mengenai akhlak dan aqaid. diikuti dan dilaksanakan oleh manusia didalam kehidupannya. Dengan perkataan lain syari’at itu adalah hukum-hukum yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Allah sebagai peraturan hidup manusia untuk diimani.2. maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Al-Jaatsiyah: 18) para fuqaha memakai kata syari’ah sebagai nama bagi hukum yang ditetapkan Allah untuk para hamba-Nya dengan perantara Rasul-Nya. Pengertian Syari’ah Dilihat dari sudut kebahasaan kata. Pengertian syari’ah menurut Syaikh Mahmud Shaltut yakni. Salah satu makna syari’ah adalah jalan yang lurus. Pengertian syari’ah menurut Muhammad Salam Maskur dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamy.” Syari’ah adalah semua yang disyari’atkan Allah untuk kaum muslimin baik melalui AlQur’an ataupun melalui Sunnah Rasul. Menurut istilah ialah hukum-hukum dan tata aturan yang disyari’atkan Allah buat hamba-Nya agar mereka mengikuti dan berhubungan antar sesamanya. Dan untuk itulah fiqih dibuat.

Tanpa dalil .5. timbul perkataan: Islam itu adalah aqidah dan syari’ah sebagaimana dikemukakan Syekh Mahmud Shaltut. “Bahwa syari’ah itu adalah ketentuan hukum yang membatasi perbuatan. selanjutnya mereka meninjau dan mempedomani pendapat para sahabat Nabi. Andaikata tidak juga diperoleh pendapat para sahabat mengenai masalah yang sedang dihadapi para ulama hadist tersebut. baik yang telah terjadi. ijtihad berarti. berarti mereka selalu melaksanakan ijtihad terhadap sesuatu masalah yang baru. perkataan dan i’tiqad. Menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum syara’ dengan jalan memetik/mengeluarkan dari kitab dan sunnah. baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan. hanya sampai kepada masa wafatnya Imam Daud ibnu Ali. Atas dasar pemakaian ini. dan mencakup segala hukum. paling lengkap. atau mereka belum/tidak menyampaikan fatwa kepada masyarakat. 2.1. dan belum teratur dasar hukumnya. orang-orang mukallaf. akan tetapi jumhur mutaakhirin telah memakai kata syari’ah untuk nama hukum fiqh atau hukum Islam. Adapun pengertia ijtihad ialah: Mencurahkan segala tenaga (pikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’). yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf.4. Para ulama Fuqaha sesudah itu selalu memperhatikan/melaksanakan fatwa. sehingga segala masalah dapat mereka tentukan hukumnya berdasarkan hasil ijtihad para ulama hadist (aliran Madrasah Hadist). Sedang menurut pengertian syara’ ijtihad adalah: : . maka selanjutnya barulah mereka melaksanakan ijtihad untuk menyelesaikan suatu masalah hukum Islam. 2. syari’ah yang paling umum. Syari’ah Islam adalah syari’ah penutup. melalui salah satu dalil syara’ dan dengan cara tertentu. Pengertian Ijtihad Dari segi bahasa.” Demikianlah makna syari’at. dari hadist yang diriwayatkan oleh para perawi hadist yang lebih utama dan memenuhi persyaratan. maka mereka mengambil hadist sebagai sumber hukum. walaupun yang belum atau mungkin terjadi. TEORI DAN KONSEP ISTIMBATH HUKUM DALAM ISLAM Bila para ulama hadist dihadapkan kepada suatu masalah. pertama kali para ulama ahlul haidst mencari penyelesaian masalah itu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi/Rasul.Menurut asy-Syatibi di dalam kitabnya al-Muwafaqat.5. Ijtihad 1. mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. Masa mereka enggan berfatwa ini tidak lama. IJTIHAD DAN PERBEDAAN MAZDHAB 2. Kalau para ulama tersebut tidak menemukan hadistnya. Apabila para ulama hadist mendapat hadist yang berbeda-beda.

2. Dibawah ini akan dikemukakan beberapa tokoh Imam Mazdhab. Maka peranan ijtihad semakin penting untuk membuktikan keluasan dan keluwesan hukum Islam. Imam Hanafi Dasar-dasar mazdhab Imam Hanafi dalam menetapkan suatu hukum.bahwa pengertian bermazdhab adalah: “Mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang ukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. Hal ini disebabkan. Ijtihad mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya pengembangan hukum Islam. sudah cukup dikenal di Indonesia oleh sebagian besar umat Islam. Menganut suatu aliran mazdhab saja. tetapi jangan hendaknya menutup pintu rapat-rapat. agar seseorang tidak fanatik kepada suatu mazdhab. 2. . bahkan ada yang cenderung hanya ingin mendalami mazdhab tertentu saja. Maliki. Apalagi agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluru alam) membuat kesediaannya dalam menerima perkembangan yang dialami umat manusia. sebenarnya tidak ada larangan. Hal ini dimaksudkan. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan. a. sehingga tidak dapat melihat pemikiran-pemikiran yang ada pada mazdhab yang lain yang juga bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Andaikata sukar menghindari kefanatikan kepada suatu mazdhab. Pendapat salah seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu masalah.syara’ dan tanpa cara tertentu.” Menurut istilah para Faqih Mazdhab mempunyai dua pengertian yaitu: 1. dalam kenyataannya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkamat (jelas kandungannya) dan ada yang Mutasyabihat (memerlukan penafsiran (belum terang). Sehingga secara pasti cocok dan tepat untuk diterapkan dalam setiap waktu dan tempat.” Dengan demikian. bahwa pegertian mazdhab adalah: “Hasil ijtihad seorang imam (Mujtahid Mutlaq Mustaqil) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. Kaidah-kaidah istinbath yang dirumuskan oleh seorang imam.” Orang yang melakukan ijtihad disebut Mujtahid. karena pengaruh lingkungan atau karena ilmu yang diterima hanya dari ulama/guru yang menganut suatu mazdhab saja. sehingga ajaran Islam selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya. Perbedaan Mazdhab Menurut bahasa mazdhab berarti “Jalan atau tempat yang dilalui. Untuk mengetahui pola pemikiran masing-masing Imam Mazdhab bagi seseorang itu sangat terbatas. Sebab. maka hal tersebut merupakan pemikiran dengan kemauan sendiri semata-mata dan hal tersebut tidak dinamakan ijtihad. sekurang-kurangnya mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya. Dari sinilah. Syahi’i dan Imam Ahmad bin Hambali. Para Imam Mujtahid seperti Imam Hanafi.

merinci yang masih bersifat umum (global). 4. 2. 3. Al Kitab Al Kitab adalah sumber pokok ajaran Islam. Qiyas 5. Segala permasalahan hukum agama merujuk kepada al-Kitab tersebut atau kepada jiwa kandungannya. asal telah mencukupi syaratsyaratnya. kuat ingatan dan bersambung langsung sampai kepada Nabi SAW. Al-Qur’an 2. 4. beliau kembali kepada Urf manusia. mereka adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul sesudah generasinya. b. Imam Maliki Bin Anas Dasar-dasar mazdhab Imam Maliki. dan apabila tidak baik dilakukan dengan cara Qiyas) beliau melakukannya atas dasar istihsan selama dapat dilakukannya. Beliau melakukan segala urusan (bila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i sebagai acuan pendapatnya termaktub dalam kitabnya ar-Risalah sebagai berikut: 1. Sunnah atau perkataan sahabat tidak beliau temukan. tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil. Aqwalush Shahabah (perkataan sahabat) Perkataan sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah. Imam Syafi’i Dasar-dasar hukum yang dipakai Imam Syafi’i. Istishlah (Mashalihul Mursalah) c. Al-Istihsan Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dari keburukan serta mempertahankan muamalah-muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. Sunnah. Karena menurutnya. Ijmak para ulama Madinah. Sunnah Rasul yang beliau pandang sah. Apabila ternyata dalam Al-Qur’an. Al-Qiyas Abu Hanifah berpegang kepada Qiyas. tetapi kadang-kadang beliau menolak hadist apabila ternyata berlawanan/tidak diamalkan oleh para ulama Madinah. yakni selama perawi hadist itu orang kepercayaan. 1.1. Ijmak atau Qiyas. Apabila tidak dapat dilakukan istihsan. 5. Al-Qur’an 2. As-Sunnah As-Sunnah adalah berfungsi sebagai penjelasan al-Kitab. 3. As-Sunnah Beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja. .

Nash Al-Qur’an dan Hadist. 5. 4. 3. bahwa hal itu ada yang menentangnya. Hadist Mursal atau Hadist Daif. 5. juga dalam keadaan memaksa. dengan tidak memandang bahwa pendapat itu merupakan Ijmak. Qiyas. Ijmak Dalam arti bahwa para sahabat semuanya telah menyepakatinya Qiyas Imam Syafi’i memakai Qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum. Hadist Mursal atau Hadist Daif akan tetap dipakai. maka beliau mengambil mana yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah. maka beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang menyalahinya. jika tidak berlawanan dengan sesuatu atsar atau dengan pendapat seorang sahabat. Fatwa Sahaby. maka beliau berpegang kepada pendapat ini. .3. yakni apabila beliau mendapatkan nash. yaitu ketika beliau tidak memperoleh nash dan beliau mendapati suatu pendapat yang tidak diketahuinya. 4. baru beliau pakai apabila beliau memang tidak memperoleh ketentuan hukumnya pada sumber-sumber yang disebutkan pada poin 1-4 diatas. Pendapat sebagian sahabat yaitu apabila terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah. 2. Istidlal (Istishhab) d. Imam Ahmad Bin Hambali Imam Hambali dalam menetapkan suatu hukum adalah dengan berlandaskan kepada dasardasar sebagai berikut: 1.

Sumber hukum yang lain adalah Ijmak dan Qiyas. . Karena. segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Qur’an tersebut atau kepada jiwa kandungannya.BAB III PENUTUP 3.1. Apabila penegasan hukum yang terdapat dalam AlQur’an masih bersifat global. Ijmak dan Qiyas merupakan sumber pelengkap. yang mana wajib diikuti selama tidak bertentangan dengan nash syari’at yang jelas. yang mana berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Kesimpulan Al-Qur’an merupakan sumber utama yang dijadikan oleh para mujtahid dalam menentukan hukum ajaran Islam. maka hadist dijadikan sumber hukum kedua.

Raja Grafindo Persada. Fiqih dan Ushul Fiqih. Semarang.co. 1994.id http://manshurzikri.DAFTAR PUSTAKA http://www. Pustaka Setia.google. Perbandingan Mazdhab. Ilmu Ushul Fiqih. 2003 Bakry. Syafi’i. . Bandung. 2003 Hasan. 1999. Raja Grafindo Persada.wordpress. Wicaksana. Jakarta. CV. Fiqih. Ali. Rachmat. Nazar.com/2010/03/22/sumber-ajaran-agama-islam-alqur%E2%80%99an-dan-sunnah/ Rifai. M. Jakarta. Moh.

2 Latar Belakang Masalah ………………………….3 2.. Septictank ………………………………… Sumur Resapan ………………………….5. Tujuan Pembuatan Makalah …………………………. Air Limbah …………………………………………..1 Proses dan Cara Pengolahan Limbah Rumah Tangga (Sanitasi) ……………………………………………..4 2. 2.....1 1... 2.1 3. 2 2 3 3 4 4 6 BAB III PENUTUP 3. jenis-jenis Unit pengolahan Air Limbah ……………. …………………………………………………………………. Saran ………………………………………………….DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi ………………………………………………………………….5 Pengertian Sanitasi …………………………………. . i ii BAB I PENDAHULUAN 1... Alat Pembuangan Air Kotor …………………………...5...2 Kesimpulan ………………………………………...2. 1 1 BAB II PEMBAHASAN 2.. 2... 7 7 9 Daftar Pustaka …………………………………………………………………..2 2.1.