A. Landasan Ontologi Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada.

Dari aliran ini muncul empat macam aliran filsafat, yaitu : (1) aliran Materialisme; (2) aliran Idealisme; (3) aliran Dualisme; (4) aliran Agnoticisme. Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukan munculnya perenungan di bidang ontologi. Dalam persolan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua, kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan). Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas sekali, yaitu segala yang ada dan yang mungkin adalah realitas; realita adalah ke-real-an, riil artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi hakikat adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah. Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan The First Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda. Kata ontologis berasal dari perkataan Yunani; On = being, dan logos = logic. Jadi ontologi adalah the theory of being qua being ( teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Sedangkan pengertian ontologis menurut istilah , sebagaimana dikemukakan oleh S. Suriasumantri dalam Pengantar Ilmu dalam Prespektif mengatakan, ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Sementara itu, A. Dardiri dalam bukunya Humaniora, filsafat, dan logika mengatakan, ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda di mana entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakana ada; dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada. Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M. Untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolff (1679-1754 M) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metrafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedang metafisika khusus masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teologi. Kosmologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta. Psikologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia. Teologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan Tuhan. Di dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut : 1. Monoisme Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri.

yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Benda tidak ada. Mernurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. . yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Alasan aliran ini yang menyatakan bahwa hakikat benda adalah ruhani. Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi. Idealisme diambil dari kata “Idea”. Jasmani lebih menonjol dalam peristiwa ini. Idealisme bderarti serba cita sedang spiritualisme berarti serba ruh. Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang. yaitu konsep universal dari tiap sesuatu.   Pikiran sederhana tidak mampu memikirkan sesuatu di luar ruang yang abstrak. lebih tinggi nilainya dari materi bagi kehidupoan manusia. Dewi Sri dan Tuhan muncul dari situ. Kesemuanya itu memperkuat dugaan bahwa yang merupakan haklekat adalah benda. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya. menjadi dasar wujud sesuatu. Menurutnya. Jadi idealah yang menjadi hakikat sesuatu. Alam nyata yang menempati ruangan ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide itu. yaitu materialisme dan idealisme. Oleh sebab itu. yang lainnya jiwa atau ruh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri.Istilah monisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe. Dalam perkembangannya. Penemuan-penemuan menunjukan betapa bergantungnya jiwa pada badan. tiap-tiap yang ada di alam mesti ada idenya. biasanya dijadikan kebenaran terakhir. yang ada energi itu saja. 2. maka badan pun akan sehat kelihatannya. Paham ini kemudian terebagi ke dalam dua aliran: a. Materialisme. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya aliran ini masih memiliki masalah dalam menghubungkan dan menyelaraskan kedua aliran tersebut di atas. Dalam sejarahnya manusia memang bergantung pada benda seperti pada padi. Sehingga materi hanyalah badannya bayangan atau penjelmaan. Materi muncul bukan karena adanya ruh. Ruh itu dianggap sebagai hakikat yang sebenarnya. aliran ini ditemui pada ajaran plato (428-348 SM) dengan teori idenya. Jiwa dan ruh merupakan akibat saja dari proses gerakan kebenaran dengan dengan salah satu cara tertentu. spirit atau sebangsanya adalah:     Nilai ruh lebih tinggi daripada badan. Materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pada penjelmaan ruhani. Yang ada hanyalah materi. Menurut aliran dualisme materi maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. apa yang kelihatan yang dapat diraba. Manusia lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya. b. bukan rohani. Alasan mengapa aliran ini berkembang sehingga memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah: Pikiran yang masih sederhana. Sebuah analogi dapat kita ambil misalnya tentang jika jiwa sedang sehat. peristiwa jiwa selalu dilihat sebagai peristiwa jasmani. DualismeDualisme adalah aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan. begitu pun ruh muncul bukan karena materi. Idealisme Aliran idealisme dinamakan juga spiritualisme.

Dengan demikian ia sendiri harus mengatasi bahaya itu dengan menciptakan nilai-nilai baru. Heidegger. Sdebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif positif. 5. yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani. dan udara. air. air. Manusia tidak mungkinmengetahui hakikat batu. Dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M). Dalam pandangannya bahwa “Allah sudah mati”. Dalam bukunya The Meaning of Truth James mengemukakan.Pluralisme paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan.Sebaliknya jika jiwa seseorang sedang penuh dengan duka dan kesedihan biasanya badanpun ikut sedih. dan Jaspers. Dilahirkan di Rocken di Pursia. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri. terlihat dari murungnya wajah orang tersebut. 3. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan). Sebab menurut aliran ini kemampuan manuisa sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakikat tentang sesuatu yang ada. baik oleh inderanya maupun oleh pikirannya. 4. Tokoh paham ini adalah Descrates (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Pluralisme dalam Dictonary of Philosophy and Religion dikataka sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini dalam diri manusia. Sartre. lepas dari akal yang mengenal. Aliran dualisme berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. yang berdiri sendiri. Sama-sama hakikat. api. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat trancedent. Timbul aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkrit akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. tetapi sebagai aku individual yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu yang lain. Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengakui hakikat benda. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur. api dan sebagainya. dari keluarga pendeta. Kelahiran New York dan terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Tetapi tidak dapat dihindarkan bahwa nilai-nilai itu akan lenyap. dengan transvaluasi semua nilai. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalam alam ini. Soren Kierkegaard (1813-1855) yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme menyatakan. Dan pada kenyataannya moral di Eropa sebagian besar masih bersandar pada nilai-nilai kristiani. manusia tidak pernah hidup sebagai suatu aku umum. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti. yang bersifat tetap. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Agnotisisme adalah paham yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mengetahui hakikat sesuatu dibalik kenyataannya. Jadi agnostisisme adalah paham pengingkaran atau penyangkalan terhadap kemampuan manusia . jasad dan spirit. yaitu tanah. lebih dari satu atau dua entitas. Allah Kristiani dengan segala perintah dan larangannya sudah tidak merupakan rintangan lagi. Sren Kierkegaar. yang berlaku umum. tiada kebenaran yang mutlak. sama-sama azali dan abadi. benda dan ruh. NihilismeNihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Tokoh aliran ini diantaranya adalah Fredrich Nietzsche (1844-1900 M).

kritisisme atau rasinalisme kritis. Landasan Epistemologi Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theori of knowledge). 2. Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal. Secara etomologi. Dalam induksi. maka akan dipergunakan hal-hal lain. akal budi (Vernunft). atau kombinasi antara akal dan pengalaman. Ada penyelidikan bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah. Dari contoh di atas bisa diketahui bahwa induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut sintetik. di antaranya adalah: 1. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri. Metode PositivismeMetode ini dikeluarkan oleh August Comte (1798-1857). Dengan . sehingga dikenal dengan adanya model-model epiostemologik seperti: rasionalisme.Epistemologi meliputi sumber. setelah diperoleh pengetahuan. Ia mengenyampingkan segala uraian/persoalan di luar yang ada sebagai fakta. ia mengembang. indera. Dalam metafisika. Yang bertolak dari pernyataanpernyataan tunggal sampai pada pernyataan-pernyataan universal. sarana. dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan. empirisme. metode dan syahnya (validitas) pengetahuan. seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam dipanasi. yang positif. yang faktual. positivisme. istilah etomologi berasal dari kata Yunani episteme = pengetahuan dan logos = teori. intuisi. Perbedaan mengenai pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. 3. Aliran ini mirip dengan skeptisisme yang berpendapat bahwa manusia diragukan kemampuannya mengetahui hakikat bahkan menyerah sama sekali. dan tatacara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Metode DeduktifDeduksi ialah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Oleh karena itu. fenomonologis dengan berbagai variasinya. adalah segala yang tampak dan segala gejala. merupakan sarana yang dimaksud dengan epistemologik. Metode Induktif Induksi yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyatan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Akal (Verstand). Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. ada perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan menerapkan secara empiris kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut. pengalaman. pertanyaan pokoknya adalah “apakah ada itu?”. sedangkan dalam epistemologi pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui?”Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: (1) Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu? (2) Dari mana pengtahuan itu dapat diperoleh? (3) Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinilai? (4) Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman). Metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui. bertolak dari teori ini kita akan tahu bahwa logam lain yang kalau dipanasi juga akan mengembang. struktur. iamenolak metafisika.mengetahui hakikat benda materi maupun rohani. B. Apa yang diketahui secara positif.

dia tidak mau terikat dengan nilai-nilai subjektif. Landasan Aksiologi Pengertian aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Nilai itu objektif. Dengan demikian. senang atau tidak senang. Seorang ilmuwan harus bebas dalam menentukan topik penelitiannya. Arti kedua. Namun Plato mengartikannya diskusi logika. perbuatan-perbuatan. adat istiadat. Jadi aksiologi adalah “Teori tentang nilai”. nilai subjektif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimilki akal budi manusia. sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benar-benar ada. dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. bebas melakukan eksperimen-eksperimen. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. jika ia tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. agama. seperti perasaan. Nilai itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangan yang muncul dari filsafat. dan mempelajari tingkah laku manusia baik buruk. 4. Nilai akan menjadi subjektif. 5. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya.C. Sedangkan estetika berkaitan denganj nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya. kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya. . Metode Kontemplatif Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan. Kini dialektika berarti tahap logika. seperti. Nilai dalam ilmu pengetahuan. Makna “etika” dipakai dalam dua bentuk arti. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Objek formal etika meliputi norma-norma kesusilaan manusia. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Metode ini diajarkan oleh Socrates. yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan. dia hanya tertuju pada kerja proses ilmiah dan tujuan agar penelitiannya berhasil dengan baik. atau manusiamanusia lain. Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang objektivisme. pertama. apabila subjek sangat berperan dalam segala hal. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bisa diperoleh dengan cara berkontemplasi seperti yang dilakukan oleh Al-Ghazali. dan hasil nilai subjektif selalu akan mengarah kepada suka atau tidak suka. sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangkan sutu kemampuanakal yang disebut dengan intuisi. Kebebasan inilah yang nantinya akan dapat mengukur kualitas kemampuannya. maknanya dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis atau fisis. intelektualitas.demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejalagejala saja. Metode Dialektis Dalam filsafat. Ketika seorang ilmuwan bekerja. merupakan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-hal. atau eksistensinya. etika merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia. juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan.

Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia [seperti berpikir. Awal mula alam pikiran orang Barat sudah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Lambanglambang yang dimaksud adalah "Bahasa" dan "Matematika". apakah yang menjadi bidang telaah ilmu? Suatu pertanyaan: . Hubungan Antara Landasan Ontologi. Ilmuwan hanyalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk menggunakannya. Kegiatan berpikir manusia pada dasarnya merupakan serangkaian gerak pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan [knowledge]. Ontologi menggambarkan istilah-istilah seperti: “yang ada”[being].Bagaiman wujud yang hakiki dari obyek tersebut ? . dari masalah yang paling sumir/ringan hingga masalah yang sangat "Sophisticated"/sangat muskil.Tetapi perlu disadari setiap penemuan ilmu pengetahuan bisa berdampak positif dan negatif. masalah inilah yang menyebabkan manusia memusatkan perhatian dan tenggelam dalam berpikir untuk dapat menjawab dan mengatasi masalah tersebut. “tunggal”[one]dan“jamak”[many]. ”kenyataan” [reality]. [inilah yang mendasari Ontologi]. Terlebih lagi bila pengertian ini dikaitkan dengan berbagai aspek dalam suatu kegiatan keilmuan. Golongan pertama berpendapat mengenai kenetralan ilmu. sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan nilai-nilai moral. merasa dan mengindera] yang membuahkan pengetahuan.Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. a. Epistemologi dan Aksiologi. Landasan Ontologi Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui. Dalam hal ini ilmuwan terbagi dua golongan pendapat. Epistemologi dan Aksiologi Dalam Filsafat Ilmu Istilah ilmu sudah sangat populer. Golongan kedua berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. misalnya matematika. .Obyek apa yang ditelaah ilmu ? . Pada dasarnya tidak ada pilihan bagi setiap orang pemilihan antara “kenampakan”[appearance] dan “kenyataan”[reality]. Manusia berfikir karena sedang menghadapi masalah. Apa yang ingin diketahui oleh ilmu? atau dengan perkataan lain. tetapi seringkali banyak orang memberikan gambaran yang tidak tepat mengenai hakikat ilmu. Manusia dalam berpikir mempergunakan lambang yang merupakan abstraksi dari obyek. Apakah bedanya ilmu pengetahuan [science] dengan pengetahuan [knowledge] ? Apakah karakter ilmu ? apakah keguanaan ilmu ? Apakah perbedaan ilmu alam dengan ilmu sosial ? apakah peranan logika ? Dimanakah letak pentingnya penelitian ? apakah yang disebut metode penelitian? Apakah fungsi bahasa ? Apakah hubungan etika dengan ilmu. penelitian dan sebagainya. Meskipun nampak banyaknya serta aneka ragamnya buah pemikiran itu namun pada hakikatnya upaya manusia untuk memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga landasan pokok yakni : Ontologi.D. “eksistensi”[existence]. ”perubahan” [change]. logika. sebagai ukuran kepatutannya.

Ilmu memiliki tiga asumsi mengenai obyek empirisnya : . dan yang dimasalahkan oleh ontologi adalah: ” Apakah sesungguhnya hakekat realitas yang ada ”rahasia alam” di balik realita itu? Ontologi membahas bidang kajian ilmu atau obyek ilmu. Statistika adalah teori peluang. artinya sifat-sifat pokok dari suatu benda tidak berubah dalam jangka waktu tertentu. Untuk mendapatkan pengetahuan ini ilmu membuat beberapa andaian [asumsi] mengenai obyekobyek empiris. Hubungan sebab akibat dalam ilmu tidak bersifat mutlak.mendung maka turunlah hujan. Klasifikasi [taksonomi] merupakan pendekatan keilmuan pertama terhadap obyek. . Ilmu membatasi diri hanya pada kejadian yang bersifat empiris. Ilmu hanya menuntut adanya kelestarian yang relatif. sebab pernyataan asumstif inilah yang memberi arah dan landasan bagi kegiatan penelaahan kita. Ilmu bertujuan untuk mengerti mengapa hal itu terjadi. mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia atau yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan mempergunakan pancainderanya. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan/sekuensial kejadian yang sama. Determinisme dalam pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang [probabilistik]. Adapun yang menjadi dasar ontologi adalah “Apakah yang ingin diketahui ilmu atau apakah yang menjadi bidang telaah ilmu?”. bagian manusia paling berperan adalah daya pikirnya. Atau dengan perkataan lain.Ontologi merupakan ilmu hakikat. Penentuan obyek ilmu diawali dari subyeknya. .Pengetahuan keilmuan mengenai obyek empiris ini pada dasarnya merupakan abstraksi yang disederhanakan. Misalnya langit .Asumsi ketiga : Asumsi ini menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Ilmu tidak bermaksud "memotret" atau "mereproduksi" suatu kejadian tertentu dan mengabstaraksikannya kedalam bahasa keilmuan.Asumsi pertama : Asumsi ini menganggap bahwa obyek-obyek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain misalnya dalam hal bentuk struktur. Dengan demikian obyek ilmu adalah dunia pengalaman indrawi. Ilmu hanya mengemukakan bahwa "X" mempunyai kemungkinan[peluang] yang besar mengakibatkan terjadinya "Y". Yang dimaksud dengan subyek adalah pelaku ilmu. Penyederhanaan ini perlu sebab kejadian alam sesungguhnya sangat kompleks. Ruang lingkup kemampuan pancaindera manusia dan peralatan yang dikembangkan sebagai pembantu pancaindera tersebut membentuk apa yang dikenal dengan dunia empiris. Disinilah manusia melakukan transendensi terhadap realitas. menjangkau lebih jauh dibalik kenyatan-kenyataan yang diamatinya yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dapat diperkirakan melalui kenyataan-kenyataan iru. dengan membatasi diri pada hal-hal yang asasi. proses keilmuan bertujuan untuk memeras hakikat empiris tertentu. sifat dsb. Subyek dari ilmu adalah manusia.Asumsi kedua : Asumsi ini menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (tidak absolut tapi relatif ). Dengan demikian memungkinkan kita untuk melakukan pendekatan keilmuan terhadap obyek yang sedang diselidiki. Ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris. Asumsi ini perlu. . Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah laku suatu obyek dalam keadaan tertentu.

tipe nilai. Ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup manusia dan kesejahteraannya dengan menitik beratkan pada kodrat dan martabat. Landasanepistemology tercermin secara operasional dalam metode ilmiah . 2. Suatu pertanyaan : . Pada adasarnya ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. walaupun sebenarnya terdapat kecenderungan beriringan. status metafisika nilai. Hakikat keilmuan tidak berhubungan dengan "titel" atau "gelar akademik".Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? . Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Suatu Pertanyaan : .b. Untuk kepentingan manusia. Ilmu lebih bersifat kegiatan dinamis tidak statis. Landasan Aksiologi Permasalahan aksiologi meliputi sifat nilai.Apakah kriterianya ? . Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun. hakikat keilmuan ditentukan oleh cara berpikir yang dilakukan menurut persyaratan keilmuan. Setiap kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada obyek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan mempergunakan metode keilmuan. Landasan Epistemologi Epistemologi mempermasalahkan kemungkinan mendasar mengenai pengetahuan[very possibility of knowledge].Apa yang disebut kebenaran itu sendiri ? .Bagaiman proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu ? . Dalam perkembangannya epistemology menampakkan jarak yang asasi antara rasionalisme dan empirisme.Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?Inilah kajian epistemology DASAR EPISTEMOLOGI ILMU Epistemologi atau teori pengetahuan. kriteria nilai. maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh disusun dan dipergunakan secara komunal dan universal. adalah sah disebut keilmuan. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan dengan berdasarkan : 1. membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha kita memperoleh pengetahuan. c.Bagaimana prosedurnya ? . Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka tersebut dan melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud dengan menguji kebenaran pernyataan secara factual. profesi atau kedudukan.

tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Objek telaah A.Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan ? bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah moral ? .. atau hylomorphisme. realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah.Ontologi membahas tentang yang ada. abstraksi bentuk. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme.1. idealisme. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. naturalisme. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. 2. sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Bagi pendekatan kuantitatif. menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. atau dalam rumusan Lorens Bagus.Bagaimana kaitan atau hubungan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?. realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. Studi tentang yang ada. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. tealaahnya akan menjadi kualitatif. pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Ontologi ontologi adalah yang ada. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi . Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. yaitu : abstraksi fisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek. Pertanyaan-pertanyaan di atas. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan.Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? . dengan tujuan untuk memberikan hasil yang terbaik bagi manfaat yang dapat memberikan kemaslahatan bagi umat manusia. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal. dan abstraksi metaphisik. merupakan bagian dari makna pengkajian aksiologi terhadap hasil akhir pencapaian suatu telaah ilmu pengetahuan.

Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. badan itu fana’ (S-P) Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi. dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus (Tt-S) (Tt-P) Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri (S-Tt) Jadi.Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.dasar dari semua realitas. term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (S-P) Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek. term tengah ada sesudah realitas kesimpulan.1[2] .

Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut .Sementara Jujun S. Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful