Perang Bubat

Perang Bubat

Tanggal Lokasi

Hasil Casus belli

abad ke-14 M Bubat, Majapahit, (sekarang berada di Provinsi Jawa Timur, Indonesia) kemenangan Majapahit Perselisihan antara Gajah Mada dan Linggabuana

Pihak yang terlibat Kerajaan Majapahit Kerajaan Sunda Komandan Gajah Mada Maharaja Hayam Wuruk Linggabuana Kekuatan besar kecil Jumlah korban besar, termasuk tak diketahui Linggabuana dan Dyah Pitaloka

Perang Bubat adalah perang yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M pada abad ke-14, yaitu di masa pemerintahan raja Majapahit Hayam Wuruk. Perang terjadi akibat perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat, yang mengakibatkan tewasnya seluruh rombongan Sunda. Sumber-sumber rujukan tertua mengenai adanya perang ini terutama adalah Serat Pararaton serta Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.

Rencana pernikahan
Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.[rujukan?] Menurut catatan sejarah Pajajaran oleh Saleh Danasasmita serta Naskah Perang Bubat oleh Yoseph Iskandar, niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II

Gajah Mada mendesak[rujukan?] Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin.[1] Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit. Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit. Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk .[rujukan?] timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Meskipun demikian. Gugurnya rombongan Sunda Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang[rujukan?] atas permasalahan tersebut. Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu.[rujukan?] Dalam Babad Tanah Jawi.[rujukan?] tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda.[rujukan?] Alasan umum yang dapat diterima adalah Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik. catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit. sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Kesalah-pahaman Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit.sarga 3. Linggabuana berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Selain itu ada dugaan[rujukan?] bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit. karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara. Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya. bukan karena undangan sebelumnya. tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Dengan maksud tersebut. hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai. Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula. Menurut Kidung Sundayana. terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki. mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu. Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati.

Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatriya. Tragedi ini merusak hubungan kenegaraan antar kedua negara dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Meskipun demikian. Akibat Perang Bubat Tradisi menyebutkan bahwa Hayam Wuruk meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat peristiwa Bubat ini. menurut Negarakertagama Gajah Mada masih disebutkan nama dan jabatannya. tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. atau diperbudak. para menteri. Paduka Sori. Peristiwa yang penuh kemalangan ini pun menandai mulai turunnya karier Gajah Mada. pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda. Linggabuana menolak tekanan itu. tindakan ini dapat ditafsirkan sebagai anjuran halus agar Gajah Mada mulai mempertimbangkan untuk pensiun. dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. kecurigaan. hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala. serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.[1] Pangeran Niskalawastu Kancana — adik Putri Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil — menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu . Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda. Raja Hayam Wuruk sendiri.mengakui superioritas Majapahit.yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda. bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit.[2] Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati. Raja Sunda beserta segenap pejabat kerajaan Sunda dapat didatangkan di Majapahit dan binasa di lapangan Bubat. Raja Hayam Wuruk kemudian menikahi sepupunya sendiri. sehingga ditafsirkan Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai akhir hayatnya (1364). Meskipun tindakan ini nampak sebagai penganugerahan. karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka. Ia dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota. karena tanah ini letaknya jauh dari ibu kota Majapahit sehingga Gajah Mada mulai mengundurkan diri dari politik kenegaraan istana Majapahit. yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan. penganiayaan. Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali . baik bangsawan ataupun abdi. karena kemudian Hayam Wuruk menganugerahinya tanah perdikan di Madakaripura (kini Probolinggo). Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan. melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu.[3] Tindakan ini mungkin diikuti oleh segenap perempuan-perempuan Sunda yang masih tersisa. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar.

Achadiati S. hlm. ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa. tidak seperti kota-kota lain di Indonesia. Mereka memilih mati mulia daripada menyerah. Jakarta: PT Gita Karya. Akibat peristiwa ini pula. Raja Lingga Buana dijuluki "Prabu Wangi" (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. (1973. ^ Drs. Paul Michel (2006). yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 3. di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran. 72. tetap hidup. Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia. tidak ditemukan jalan bernama "Gajah Mada" atau "Majapahit". seperti terbukti dalam naskah Bali Kidung Sunda. Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit. pertempuran hingga mati yang dilakukan kaum prianya. di kota Bandung. kehinaan dan kekalahan. 5th reprint edition in 1988). Soekmono. Soeroso M. raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti. 2. 13. 2nd ed. Hal yang menarik antara lain. masyarakat Bali sepertinya cenderung berpihak kepada kerajaan Sunda dalam hal ini.P.. ^ a b Munoz... Singapore: Editions Didier Millet. tetapi menanggung malu. disusul ritual bunuh diri yang dilakukan kaum wanitanya. hlm. kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini. Keturunannya.Niskalawastu Kancana. (1988). 279. Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. pewaris atau penerus Prabu Wangi. sangat mungkin karena kesesuaiannya dengan ajaran Hindu mengenai tata perilaku dan nilai-nilai kehormatan kasta ksatriya. meskipun Bali sering kali dianggap sebagai pewaris kebudayaan Majapahit. . sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. ISBN 9814155675. Referensi 1. bahwa kematian yang utama dan sempurna bagi seorang ksatriya adalah di ujung pedang di tengah medan laga. R. ^ Y. Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Antara lain. Sejarah Peradaban Manusia: Zaman Majapahit. Kebijakannya antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Penghormatan dan kekaguman pihak Bali atas tindakan keluarga kerajaan Sunda yang dengan gagah berani menghadapi kematian. atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. yakni tradisi puputan. Nilai-nilai kepahlawanan dan keberanian ini mendapatkan sandingannya dalam kebudayaan Bali. hlm.

Didirikan . Bahasa Jawa. Sunda Wiwitan Monarki 932 1579 Mata uang emas dan perak Gunung Pulosari. Bahasa Melayu Hindu. Buddha.Kerajaan Sunda Kerajaan Sunda 932–1579 Wilayah Kerajaan Sunda Ibu kota Bahasa Agama Pemerintahan Sejarah .Dibubarkan Mata uang Banten Girang kemudian pindah ke pedalaman (Pakuan Pajajaran) Bahasa Sunda. tempat kramat kerajaan Sunda .

Diperkirakan adalah orang Portugis yang pertama menimbulkan kerancuan dengan menamakan "Sunda" keseluruhan Jawa Barat[1]. Setelah dalam perjalanan pertamanya ke Nusantara mendapat keterangan lebih banyak tentang Banten. Karena pada masa itu yang menghasilkan lada hanya daerah Banten.1 Catatan sejarah dari Cina o 3.2 Eropa 7 Catatan kaki 8 Rujukan Etimologi Sampai abad ke-16.3 Berdiriya kerajaan Sunda o 3. Ibn Majid dan Sulaiman. dan Jawa Barat sekarang). Gambar ini sama dengan apa yang ditulis Zhao Rugua hampir 400 tahun sebelumnya. Naskah Portugis paling sering menamakan "Sunda". Daftar isi         1 Etimologi 2 Wilayah kekuasaan 3 Historiografi o 3. Di masa yang sama dua penulis Arab. kadang-kadang "Bantam" bahkan "Sunda-Bantam". sebuah buku perjalanan dari Tiongkok. kota Banten sekarang.1 Singasari o 6.4 Federasi antara Sunda dan Galuh 4 Arkeologi 5 Raja-raja Kerajaan Sunda-Galuh 6 Hubungan dengan kerajaan lain o 6.2 Catatan sejarah dari Eropa o 3. lebih tepatnya di daerah Banten. maka kini semua pakar sejarah sepakat bahwa "Sunda" tersebut itu Banten. Jakarta. yang hanya dapat mengacu ke Banten.Kerajaan Sunda adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi di bagian Barat pulau Jawa (provinsi Banten. mereka menulis bahwa "Sunda adalah pelabuhan Banten dengan bagian pulau Jawa yang paling di barat di mana lada tumbuh". Shungfeng xiangsong. Namun di akhir abad ke-16 orang Belanda meluruskan kerancuan ini. menamakan "Sunda" pelabuhan yang letaknya paling barat di pantai utara pulau Jawa. Di awal abad ke-13. penulis Zhao Rugua dari Tiongkok menamakan "Sin-t'o" suatu kota dan daerah sekitarnya yang menghasilkan lada. Peta Portugis yang paling lama mengenai kawasan ini menyebut "Sunda" daerah muara sungai yang letaknya di bagian barat pantai utara Jawa. Di sekitar tahun 1500. memakai kedua nama "Wan-tan" dan "Shun-t'a" untuk kota Banten. . toponim (nama tempat) "Sunda" menunjuk kepada daerah pesisir bagian barat pulau Jawa.

mencatat bahwa tahun 932. kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten. Menurut naskah Wangsakerta. Namun naskah ini diragukan sebagai sumber sejarah. wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16). Penggunaan bahasa Melayu ini menunjukkan pengaruh kerajaan Sriwijaya. Inggris sejak tahun 1627). pusat kerajaan Sunda di bawah Maharaja Jayabupati. Menurut Naskah Wangsakerta. Jakarta. seorang "raja Sunda" menduduki kembali tahtanya. Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke16 ini. bukan di pesisir lagi. Wilayah kekuasaan Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda. Menurut Prasasti Sanghyang Tapak yang berangka tahun 952 saka (1030 M). naskah yang diragukan keasliannya. Sunda merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali". Provinsi Jawa Barat . Oxford University. Historiografi . Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Saka Sunda (669 M). yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian. dinyatakan terletak di sekitar Cicatih dekat Cibadak. yang ditemukan dekat Bogor dan ditulis dalam bahasa Melayu. dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah.Prasasti Kebonkopi II. sekarang disebut sebagai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah. di pedalaman Jawa Barat.

Orang-orang tersebut bekerja dalam bidang pertanian. Pada saat Dinasti Sung Selatan. Empat batu ini ditemukan di tepi sungai Cicatih di Cibadak. Prasasti itu ditulis dalam aksara Kawi. inspektur perdagangan dengan negara-negara asing. bahwa tatanan pemerintah dikembalikan kepada kekuasaan raja Sunda. ada sumber Cina tertentu mengenai Kerajaan Sunda. Beberapa orang berpendapat bahwa tahun prasasti tersebut harus dibaca sebagai 854 Saka (932 Masehi) karena tidak mungkin Kerajaan Sunda telah ada pada tahun 536 AD. Hirt dan WW Rockhill. Parwa III sarga 1. Jakarta. bulan Kartika pada hari 12 pada bagian terang. rumah-rumah mereka dibangun diatas tiang (rumah panggung) dan dengan atap jerami dengan daun pohon kelapa dan dinding-dindingnya dibuat dengan papan kayu yang diikat . bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kuno. Sukabumi. menyebutkan pelabuhan di "Sin-t'o". ditegakkan dengan sumpah. Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952-964) saka (1030 . Jadi tulisan ini dibuat. Rujukan lainnya kerajaan Sunda adalah Prasasti Sanghyang Tapak yang terdiri dari 40 baris yang ditulis pada 4 buah batu. sebuah pilar batu untuk memperingati perjanjian Sunda-Portugis. yang ditulis tahun 1225. namun. usus dihancurkan. Isi prasasti (menurut Pleyte): Perdamaian dan kesejahteraan. hari pertama. hari Hariang. Dan tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk melanggar aturan ini. Menurut Pustaka Nusantara. Dalam bagian sungai dilarang menangkap ikan. darahnya diminum. pada tahun 458 Saka. Zhufan Zhi. Zhao Rugua mengumpulkan laporan dari para pelaut dan pedagang yang benar-benar mengunjungi negaranegara asing. Hari ini adalah hari ketika raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramattunggadewa. Dalam laporannya tentang negara Jauh. wuku Tambir. dengan kode D 73 (Cicatih). Kaliwon. Sampai perbatasan Sanghyang Tapak ditandai oleh dua pohon besar. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Prasasti-prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Kawi. mati dengan cara mengerikan seperti otaknya disedot. Pada tahun Saka 952 (1030 M).Padrão Sunda Kalapa (1522). Zhao melaporkan bahwa: "Orang-oarang tinggal di sepanjang pantai. dan dada dibelah dua. Museum Nasional Indonesia. D 97 dan D 98. di era Kerajaan Tarumanagara (358-669 AD ). Rujukan awal nama Sunda sebagai sebuah kerajaan tertulis dalam Prasasti Kebon Kopi II tahun 458 Saka (536 Masehi)[rujukan?]. di daerah suci Sanghyang Tapak dekat sumber sungai. Catatan sejarah dari Cina Menurut F. Sekarang keempat prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti ini terjemahannya sebagai berikut: Batu peringatan ini adalah ucapan Rakryan Juru Pangambat. Tanggal prasasti Jayabupati diperkirakan 11 Oktober 1030. Siapa pun yang melanggar aturan ini akan dihukum oleh makhluk halus. membuat tanda pada bagian timur Sanghiyang Tapak ini. D 96.1042AD).

Sobakancana. serta mendirikan Kerajaan Galuh yang mandiri. Berdiriya kerajaan Sunda Menurut Naskah Wangsakerta dari Cirebon. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh. Negara ini menghasilkan labu. 666-669 M). di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar. kapal dikemudikan 97 1/2 derajat selama tiga jam untuk mencapai Kalapa. Dari Ganggasari. sedangkan pada masa Pires Sunda masih mengacu ke pelabuhan yang sekarang namanya Banten. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon. melewati Kalapa. Jawa Timur). Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahun. melepaskan diri dari Tarumanagara. dan memotong rambut mereka sampai panjangnya setengah inci. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Kapal dari Banten berjalan ke arah timur sepanjang pantai utara Jawa. kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya. tetapi berat dan lebih tinggi kualitasnya dari Ta-pan (Tuban. Dalam bukunya Suma Oriental (1513 . Laki-laki dan perempuan membungkus pinggangnya dengan sepotong kain katun. Wretikandayun (612-702) memberontak. Tarusbawa. menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa." Catatan sejarah dari Eropa Laporan Eropa berasal dari periode berikutnya menjelang jatuhnya Kerajaan Sunda oleh kekuatan Kesultanan Banten. Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara. yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya." Tulisan ini yang membawa kerancuan. sedangkan yang kedua. mereka kemudian mengikuti pantai (melewati Tanjung Indramayu). bulan Yista. sebagian lagi mengatakan bahwa Kerajaan Sunda luasnya sepertiga dari pulau Jawa dan ditambah seperdelapannya. beliau memiliki dua anak. yang keduanya perempuan. tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M). Lada yang tumbuh di bukit (negeri ini) bijinya kecil. putri sulungnya. Raja Tarumanagara yang terakhir.dengan rotan. dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum (Sunda di sebelah barat. Sunda merupakan bawahan Tarumanagara. tebu. sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri. 9 Suklapaksa. akhirnya dikemudikan 187 derajat selama empat jam untuk mencapai Cirebon. . dekat Bogor saat ini. sepanjang pantai utara Jawa. menikah dengan Tarusbawa dari Sunda. Déwi Manasih. melewati Cirebon. melewati Indramayu. Galuh di sebelah timur). telur kacang dan tanaman." Buku perjalanan Cina Shunfeng xiangsong dari sekitar 1430 mengatakan : "Dalam perjalanan ke arah timur dari Shun-t'a. Setelah Linggawarman meninggal. Sunda dan Galuh ini berbatasan. menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. dan selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda.1515) ia menulis bahwa: "Beberapa orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda luasnya setengah dari seluruh pulau Jawa. dengan menyatakan bahwa kerajaan Sunda meliputi "sepertiga dari pulau Jawa". Salah satu penjelajah itu adalah Tomé Pires dari Portugal.

Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh Rakryan Wuwus (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891. Di Kalingga Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754). Nay Sekarkancana. yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh. Saat Tarusbawa meninggal (tahun 723). Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa/Sena/Sanna. ia dibunuh tahun 895. Mandiminyak. Karena Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan. Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa selama 24 tahun (795-819). Kekuasaan ini lantas diturunkan pada putera sulungnya. kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya. cucu Ratu Shima dari Kalingga di Jepara. Sang Banga (Prabhu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya) menjadi raja selama 27 tahun (739766). karena tidak disukai oleh para pembesar dari Sunda. Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi dari Galuh. Sena pada tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh Purbasora. Rarkyan Sundasambawa. Sang Prabhu Linggabhumi (813-842). Tahun 732. Sang Banga mempunyai putera bernama Rarkyan Medang. menyerang Galuh dengan bantuan Tarusbawa. meninggal dunia. Karena anaknya perempuan. keturunan Demunawan dari Saunggalah. kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. 806-813). dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Sunda dan Galuh bersatu kembali. Rakryan Wuwus. kekuasaan Sunda-Galuh jatuh ke adik iparnya dari Galuh. Rakryan Windusakti. Rarkyan Panaraban berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739). wafat saat masih muda. tetapi lain ayah. Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya. Raja Galuh ketiga sekaligus teman dekat Tarusbawa. meninggalkan seorang anak perempuan. Penyerangan ini bertujuan untuk melengserkan Purbasora. yang kemudian meneruskan kekuasaanya di Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan gelar Prabhu Hulukujang. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu. Rakryan . kakek Sena. raja Galuh kedua (702-709 M). yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795). Ibu dari Sanjaya adalah Sanaha. yaitu Rakai Panangkaran. sedangkan kekuasaannya diturunkan ke putranya. lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya. serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda. tetapi hanya menguasai Sunda dari tahun 759. Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah. Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya. yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara. Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada puteranya Rarkyan Panaraban (Tamperan). Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang Sanjaya dari Galuh. Hanya saja. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan Pajajaran. pusat Kerajaan Sunda. Ironis sekali memang. maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya. sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara. Rahyang Tamperan. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya. Sang Manarah (dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh.Federasi antara Sunda dan Galuh Putera Tarusbawa yang terbesar. Di tangan Sanjaya. sampai mempunyai seorang putera. Rakryan Kamuninggading (913). Dari Déwi Kancanasari. Wretikandayun. Dikemudian hari. Dari Rakryan Diwus. Sepeninggal Rakryan Wuwus. Arya Kadatwan.

Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun. Dari Prabu Ragamulya. kekuasaan diwariskan kepada puteranya. kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya.Kamuninggading menguasai Sunda-Galuh hanya tiga tahun. Rakryan Jayagiri (973-989). Kawali. Rakryan Watuagung direbut kekuasaannya oleh keponakannya (putera Kamuninggading). Dari Déwasanghyang. Rakryan Jayagiri (916). Dari Prabu Dharmakusuma. kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin kerajaan Sunda. Karena saat kejadian di Bubat. yang di ujung kekuasaannya gugur saat Perang Bubat. Rakryan Jayagiri (1154-1156). kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya yang terbesar. putranya -. yang berkuasa selama delapan tahun (13031311). sebab kemudian direbut oleh adiknya. Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci). Rakryan Jayagiri berkuasa selama 28 tahun. Prabu Langlangbhumi dilanjutkan oleh putranya. Prabhu Dharmakusuma (11561175). tahun 942. lalu ke cucu menantunya. Prabhu Langlangbhumi ((1064-1154). dilanjutkan oleh cucunya. kemudian oleh keturunannya lagi. lantas oleh cucunya. Sepeninggal Dharmasiksa. Sang Limburkancana (954-964). Rakryan Jayagiri mewariskan kekuasaannya ka puteranya. Rakryan Gendang (989-1012). kemudian diwariskan kepada menantunya. kemudian ke Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Prabhu Guru Dharmasiksa. Sri Jayabhupati (1030-1042). Dari Sri Jayabhupati. Rakryan Watuagung. Prabhu Citraganda. kekuasaan diwariskan ke putranya. kekuasaan tersebut jatuh ke adik iparnya. Sri Jayabhupati adalah menantu dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur.masih kecil. . Prasasti Kawali di Kabuyutan Astana Gedé. yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340). Prabhu Déwasanghyang (1012-1019). Melanjutkan dendam orangtuanya. kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan oleh putera sulungnya. Ciamis. kekuasaan Sunda sementara dipegang oleh Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora (1357-1371). lalu ke cucunya yang membuat prasasti Cibadak. Dharmaraja (1042-1064). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya. kekuasaan diwariskan kepada putranya. yang berkuasa selama enam tahun (1297-1303). Karena hanya mempunyai anak perempuan. Rakryan Sundasambawa (964-973). Prabu Linggadéwata (1311-1333). Dari Limburkancana.Niskalawastukancana -. tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran. Karena tidak mempunyai putera dari Sundasambawa. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357). mertua raja Airlangga (1019-1042). Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya.

Tahun 1482.766) Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 . kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana.739) Rakeyan Banga (739 . yang bergelar Sri Baduga Maharaja.732) Tamperan Barmawijaya (732 . 795 . ia mempunyai putera Sang Haliwungan (Prabu Susuktunggal). Dari isteri pertama.895) . 723 . Banyak unsur yang ditemukan dalam reruntuhan ini yang menunjukkan pengaruh Jawa Tengah. mengakibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh. 7. Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir. 8. dekat kawah Gunung Pulosari. sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten. yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh (1475-1482). kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543). 4. Prabu Surawisésa (1521-1535). Arkeologi Di Museum Nasional Indonesia di Jakarta terdapat sejumlah arca yang disebut "arca Caringin" karena pernah menjadi hiasan kebun asisten-residen Belanda di tempat tersebut. 669 . Prabu Nilakéndra (1551-1567). Durga. istrinya yang kedua. membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482). Arca tersebut dilaporkan ditemukan di Cipanas.891) Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus. Ganesha dan Brahma. yang terletak kira-kira 10 km di sebelah selatan pelabuhan Banten sekarang. kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya. 3. serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). 891 . 5. Niskalawastukancana. dan terdiri dari satu dasar patung dan 5 arca berupa Shiwa Mahadewa. Dari Nay Ratna Mayangsari.Sapeninggal Prabu Bunisora. sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur. Raja-raja Kerajaan Sunda-Galuh Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi): 1. terdapat reruntuhan dari satu istana yang diperkirakan didirikan di abad ke-10. Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Sapeninggal Jayadéwata. ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala). yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum (daerah asal Sunda). Tarusbawa (menantu Linggawarman.795) Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi.783) Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang.819) Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 . yang kemudian memimpin selama 104 tahun (1371-1475). Coraknya mirip corak patung Jawa Tengah dari awal abad ke-10. 9. kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata. Batara Guru. 783 . 2. Nay Ratna Sarkati. atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa. Prabu Sakti (1543-1551). 6.723) Harisdarma. Di situs purbakala Banten Girang. Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran.

30.1155) Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 . 1350-1357) Prabu Bunisora (1357-1371) Prabu Niskalawastukancana (1371-1475) Prabu Susuktunggal (1475-1482) Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja. 1042 . 1157 .1012) Déwa Sanghyang (1012 . 39.1157) Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja. 26. 20.916) Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading. 13. 27. 1030 . 17.954) Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading. 36. Kerajaan Sunda menandatangani Perjanjian Sunda-Portugis yang . 40. tidak terkecuali Sunda.1297) Ragasuci (Sang Mokténg Taman.942) Atmayadarma Hariwangsa (942 .1175) Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 . 31. disebutkan bahwa setelah Kertanagara menaklukkan Bali (1206 Saka).1065) Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta. 954 .989) Brajawisésa (989 .1030) Sri Jayabupati (Detya Maharaja. sehingga nama Sunda harus termuat dalam sumpahnya Gajah Mada. 1065 . 23. 14. 18. 1482-1521) Prabu Surawisésa (1521-1535) Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543) Prabu Sakti (1543-1551) Prabu Nilakéndra (1551-1567) Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579) Hubungan dengan kerajaan lain Singasari Dalam Nagarakretagama. 35. 29. 34. Kerajaan Sunda bahkan pernah menjalin hubungan politik dengan bangsa Portugis.10. 22. 12. 37.1303) Citraganda (Sang Mokténg Tanjung.1019) Sanghyang Ageng (1019 . 21. 33. 15.1311) Prabu Linggadéwata (1311-1333) Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340) Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350) Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat. adalah aneh jika di kemudian hari. 1303 . Dalam tahun 1522. 16.913) Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 . 28. 19.1042) Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja.964) Munding Ganawirya (964 . 1297 .973) Rakeyan Wulung Gadung (973 . 38. 25. Eropa Kerajaan Sunda sudah lama menjalin hubungan dagang dengan bangsa Eropa seperti Inggris. kerajaan Majapahit sebagai penerus yang kekuasaannya lebih besar justru tidak menguasai Sunda. Perancis dan Portugis. 24. Windusakti Prabu Déwageng (895 . 11. 32. Jika ini benar. kerajaan-kerajaan lain turut bertekuk lutut. 916 .

"La principauté de Banten Girang" ("Kerajaan Banten Girang"). Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. . 50. Sebagai imbalannya. Rujukan      Aca. ^ The Sunda Kingdoms of West Java: From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor. Volume 50. halaman 16 2. Claude. Archipel. Portugis diharuskan memberi bantuan militer kepada Kerajaan Sunda dalam menghadapi serangan dari Demak dan Cirebon [2](yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda). Ayatrohaedi.. Ekajati. Jakarta. Bandung. 1995. Geger Sunten. 2005. Pustaka Jaya. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya. Yayasan Kabudayaan Nusalarang. ISBN 979419-329-1 Guillot. 1997.membolehkan orang Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kelapa. Catatan kaki 1. Tahun 1995. No. Yayasan Cipta Loka Caraka. Bandung. Sonny Wibisono. Lukman Nurhakim. 28 Februari 2007. ^ Claude Guillot et al. Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" dari Cirebon. 2005. Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. halaman 13-24 Yoséph Iskandar. Edi S. 1968. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful