BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Makhluk hidup dalam hal ini seekor hewan harus mampu mempertahankan dirinya dari berbagai serangan organisme asing kedalam tubuh yang tidak dikehendaki, antara lain berbagai macam virus, bakteri dan pathogen lain yang berpotensi membahayakan dan dapat ditemukan di udara, dalam makanan, dan di dalam air. Manusia dan hewan juga harus menangani sel tubuh abnormal yang pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi kanker. Tiga garis pertahanan yang saling bekerja sama untuk menghadapi semua ancaman tersebut telah di evolusikan pada hewan. Dua diantaranya bersifat nonspesifik, yaitu tidak membedakan satu agen infeksi dengan agen infeksi lainnya yang bersifat eksternal yang terdiri atas jaringan epithelium yang menutupi dan melapisi tubuh kita, dan bersifat internal dimana hal tersebut di picu oleh adanya sinyal kimiawi dan melibatkan sel-sel fagosit serta protein antimikroba untuk menyerang mikroba yang masuk melewati rintangan tubuh bagian luar. Garis pertahanan ketiga yaitu system imun yang bekerja secara bersamaan dengan garis pertahanan kedua, dan merespon secara spesifik. Berdasarkan hal tersebut, makalah ini disusun untuk bisa memahami lebih jauh bagaimana system imun bekerja didalam tubuh hewan. 1.2 Masalah • • • • • • Bagaimanakah sejarah perkembangan immunologi? Apakah yang dimaksud dengan sistem imun ? Bagaimanakah struktur,fungsi, dan proses pada sistem kekebalan tubuh manusia ? Bagaimanakah kaitan antara struktur, fungsi dan proses pada system kekebalan tubuh manusia ? Apa sajakah jenis-jenis kekebalan tubuh yang ada pada manusia ? Apa sajakah kelainan / gangguan yang dapat terjadi pada system kekebalan tubuh manusia ? 1.3 Tujuan • Mengetahui sejarah perkembangan immunologi.

fungsi. Memahami jenis-jenis kekebalan tubuh Mengidentifikasi jenis gangguan / kelainan yang dapat terjadi pada system kekebalan tubuh manusia 1. Mengaitkan struktur. dan proses pada system kekebalan tubuh manusia. Mengetahui struktur.• • • • • Mengetahui definisi tentang sistem kekebalan tubuh (imun).4 Manfaat • • Sebagai sumber informasi yang sangat berguna dalam menambah pengetahuan dan wawasan ( aspek teoritis ) Sebagai sumber informasi yang sangat penting untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari ( aspek praktis ) . dan proses pada system kekebalan tubuh manusia. fungsi.

Luis Pateur berhasil mengkultur bakteri cholera dan menginjeksikan pada ayam. kemudian ayam tersebut menjadi sakit. . Dalam bahasa Latin immunis diartikan sebagai bebas penyakit.1 Sejarah perkembangn Immunologi. Lalu secara intensif anak tersebut diinfeksi dengan smallpox. maka muncullah istilah attenuated strain vaccine. Setelah liburan. sedangkan dalam Bahasa Inggris immunity artinya terlindungi dari penyakit infeksi. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan bukan hasil penelitian tapi ethical implications.BAB II DASAR-DASAR IMMUNOLOGI 2. Tahun 1798 Lady Mary Wortley Montagu melakukan observasi. Selanjutnya penelitian tersebut diulangi dengan menggunakan bakteri cholera yang fresh dari kultur. Selanjutnya phenomena ini dipakai dalam kedokteran sebagai model pencegahan penyakit yg efektif. Teknik ini dikenal dengan Variolation. ternyata ayam tidak sakit. Pada perkembangan selanjutnya. ayam diinjeksi dengan bakteri Cholera yang lama. maka muncula major advance immunology yang telah mengembangkan induksi imunitas dengan menggunakan kuman cholera oleh Luis Pasteur. Pada tahun 1798 penyakit yang tidak ganas dikenal cowpox. tepatnya 430 tahun sebelum masehi seorang Peloponnesian dari Athena menulis bahwa perawat tidak dapat terkena penyakit plaque karena kebal. Perpaduan antara observasi secara individu yang digabung dengan pengalaman Jenner. dan ternyata teknik variolation sangat positif dan selanjutnya diterapkan sendiri pada anaknya. Induksi imunitas pertama kali dilakukan di China dan Turki dengan cara memberikan krusta kering dari pustula smallpox melalui inhalasi ke nostril. atau memasukan potongan kecil kedalam kulit. cairan pustula dari sapi diberikan kepada seorang anak laki-laki berumur 8 tahun. Disiplin ilmu imunologi muncul karena adanya observasi secara individual akibat adanya penyakit infeksi. dan ternyata smallpox tersebut tidak dapat berkembang. dan selanjutnya individu yang telah sembuh dari sakit ternyata terlindungi dari penyakit yang sama jenisnya.

Telah mengidentifikasi bahwa lymphocyte yang bertanggung jawab terhadap respons imun humoral dan seluler. Behring Robert Koch Negara Germany Germany Peneliti Serum antitoxin Cellular immunity to TBC . Nobel Prizes di Bidang Imunologi Tahun 1901 1905 Penerima Emil V. lalu diuji tantang pada kambing yg tidak divaksin mati. Imunitas Humoral dan Seluler • Th 1950 Bruce Glick Missisipi University. • • Serum dpt menetralisasi toxin. • Penemuan Imunitas Humoral • • Vaksin telah dikembangkan oleh Pasteur tapi tidak tahu apa yang terjadi Emil Von Behring dan Shibasaburo Kitasato th 1890 pertama kali menemukan mekanisme imunitas dalam bentuk “serum” (cairan nonseluler yang didapat setelah darah membeku). Pasteur tahun 1881 mengembangkan vaksin antrax dengan cara memanaskan kemudian diinjeksikan pada kambing. Tahun 1885 Pasteur memberikan vaksin pada joseph meister dengan rabid dog. • Lymphocyte T derivat dari thymus yang memediasi sel imun dan lymphocyte B derivat dari bursa fabricius yang bertanggung jawab terhadap imunitas humoral.Vaksin dalam bahasa latin yaitu “vacca” yang artinya sapi yang diadopsi dari Jenner yang menginokulasi cowpox pada anak. Kedua imunitas ini ternyata saling menguntungkan. sedang kambing yg divaksin tetap hidup. Hal ini didapat dari hewan yang diinfeksi dengan deptheria serumnya kemudian diberikan pada hewan yg tidak diimunisasi. USA. presipitasi toxin dan mengalutinasi kuman.

. Adapun Definisi spesifik Imunitas adalah reaksi untuk melawan substansi asing yang masuk ke dalam tubuh seperti mikroorganisme (bakteri. polisakharida). Pendapat lain juga menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan system imun adalah semua mekanisme yang digunakan badan untuk mempertahankan keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup (Baratawidjaja. Sistem imun dapat membedakan zat asing (non-self) dari zat yang berasal dari tubuh sendiri (self). sistem imun ini tidak dapat membedakan self dan non-self sehingga sel-sel dalam sistem imun membentuk zat anti terhadap jaringan tubuhnya sendiri yang disebut autoantibodi. Sistem imun adalah semua mekanisme yang digunakan badan untuk mempertahankan keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup.1996).2 Pengertian Sistem Kekebalan Tubuh (Imunitas). Porter Gerald M Edelman Rosalyn R. Reaksi yang terjadi meliputi reaksi seluler dan molekul. Dari beberapa keadaan patologik. Yalow George Snell Jean Dausset Baruj Benacerraf Rusia Germany Franze Belgium USA South Africa Swiss UK USA USA USA France USA Phagocyte dan antitoxins immunity Anaphylaxis Complement mediated bacteriolyssis Human blood group Vaksin yellow fever Antihistamin Chemical structur antibodies Radioimmunoassay Major histocompatability complex 2.1908 1913 1919 1930 1951 1957 1972 1977 1980 Elie Metchnikoff Paul Erlich Charles Richet Jules Bordet Karl Landsteiner Max Theiler Daniel Bovet Rodney R. Bila sistem imun terpapar pada zat yang dianggap asing. parasit) dan molekul besar (protein. virus. Rangsangan terhadap sel-sel tersebut terjadi apabila ke dalam tubuh masuk suatu zat yang oleh sel at au jaringan tadi dianggap asing. yaitu respon imun nonspesifik dan respon imun spesifik. maka ada dua jenis respon imun yang mungkin terjadi. yaitu yang disebut antigen.

orang Indonesia –yang lingkungan hidupnya tak terlalu bersih– tidak banyak mengalami gangguan kesehatan. Sementara. untuk mengeliminasi pendatang asing tersebut. toksik. adalah menghancurkan bakteri bersangkutan secara nonspesifik dengan proses fagositosis. virus. sistem imunitas mampu beradaptasi dengan kondisi sehari-hari. sistem imunitas harus membentuk sel khusus melalui sel darah putih. oleh karena itu dapat memberikan respon langsung terhadap antigen. terhadap bagian tubuh mana yang terpapar sebelumnya. yang terbiasa berada di lingkungan yang serba bersih. Perbedaan utama terhadap kedua jenis respon imun itu adalah dalam hal spesifisitas dan pembentukan memory terhadap antigen tertentu pada respon imun spesifik yang tidak terdapat pada respon imun nonspesifik.Tugas dasar sistem imunitas tersebut antara lain adalah membedakan ‘dirinya sendiri’ (seluruh sel di dalam tubuh) dengan ‘pendatang asing’ (bakteri. penduduk di negeri-negeri Barat. Sistem imun nonspesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi mikroorganisme. khususnya makrofag . Salah satu upaya tubuh untuk mempertahankan diri terhadap masuknya antigen. Karena manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitar. dengan mudah terserang diare bila mengonsumsi makanan yang kurang higienis. serta jaringan asing). Interaksi tersebut berlangsung bersama-sama sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu aktivasi biologik yang seirama dan serasi. sedangkan sistem imun spesifik membutuhkan waktu untuk mengenal antigen terlebih dahulu sebelum dapat memberikan responnya. meski sering mengonsumsi jajanan yang kurang higienis. Respon imun nonspesifik. Dalam hal ini leukosit yang termasuk fagosit memegang peranan yang sangat penting. Namun telah dibuktikan pula bahwa kedua jenis respon di atas saling meningkat kan efektifitas dan bahwa respon imun yang terjadi sebenarnya merupakan interaksi antara satu komponen dengan komponen lain yang terdapat di dalam sistem imun. Itu sebabnya.2 Kekebalan Nonspesifik (Kekebalan tubuh bawaan / Kekebalan tubuh alami) Respon imun nonspesifik umumnya merupakan imunitas bawaan (innate immunity) yaitu respon zat asing dapat terjadi walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar pada zat tersebut. 2. misalnya antigen bakteri. sedangkan respon imun spesifik merupakan respon didapat (acquired) yang timbul terhadap antigen tertentu. Menghadapi pendatang asing tadi. jamur.

Selaput Lendir : Merupakan hasil sekresi dari sel yang terdapat di sepanjang saluran pernapasan dan saluran pencernaan. 2009): 2.Asam lemak dan keringat yang dihailkan oleh kelenjar di kulit juga akan mencegah benda asing masuk ke dalam tubuh. Untuk mencapai hal ini maka fagosit harus bergerak menuju sasaran.artinya semua benda asing yang masuk ke dalam tubuh akan diserang dan dihancurkan tanpa seleksi. Tidak memiliki kemampuan untuk mengingat infeksi yan terjadi sebelumnya. Eksposur menyebabkan respon maksimal segera. Kekebalan tubuh nonspesifik adalah bagian dari tubuh kita yang telah ada sejak kita lahir. 2. Kulit :Terdiri dari lapisan tanduk yang tidak mudah ditembus oleh benda asing kecuali jika kulit dalam keadaan terluka. Sistem ini memiliki komponen-komponen yang mampu menangkal benda masuk ke dalam tubuh. atau lebih tepat lagi bahwa partikel tersebut harus melekat pada permukaan fagosit . agar supaya lebih mudah ditangkap oleh fagosit.Pada saluran pernapaan.1 Rintangan Mekanis Rintangan mekanis merupakan system pertahanan tubuh yang pertama dan umumnya terletak di bagian permukaan tubuh. Ciri-cirinya: Sistem ini tidak selektif.demikian pula neutrifil dan monosit. Supaya dapat terjadi fagositosis sel-sel fagosit tersebut harus berada dalam jarak dekat dengan partikel bakteri. baik dengan proses oksidasi-reduksi maupun oleh derajat keasaman yang ada dalam fagosit atau penghancuran oleh lisozim dan gangguan metabolisme bakteri. Selain faktor kemotaktik yang menarik fagosit menuju antigen sasaran. Hal ini dimungkinkan berkat dilepaskannya zat atau mediator tertentu yang disebut faktor leukotaktik atau kemotaktik yang berasal dari bakteri maupun yang dilepaskan oleh neutrofil atau makrofag yang sebelumnya telah berada di lokasi bakteri atau yang dilepaskan oleh komplemen. Ini berarti bahwa bakteri terlebih dahulu dilapisi oleh immunoglobulin atau komplemen (C3b).Selaput lendir berfungi dalam menangkap bakteri / benda asing yang masuk ke dalam tubuh melalui saluran .2. Terdiri atas : 1. yakni(Anwar. untuk proses fagositosis selanjutnya bakteri perlu mengalami opsonisasi terlebih dahulu. Selanjutnya partikel bakteri masuk ke dalam sel dengan cara endositosis dan oleh pembentukan fagosom yang terperangkap dalam kantung fagosom seolah-olah ditelan untuk kemudian dihancurkan.

Apabila benda asing berhasil melewati sistem pertahanan pertama dan masuk ke dalam tubuh. Bakteri yang terdapat di permukaan tubuh ( bakteri nonpatogen ) : Berfungsi untuk menekan pertumbuhan bakteri patogen yang akan masuk ke dalam tubuh. 2009) : 1) Mikroba menempel ke fagosit.2. Hasil Sekresi :berperan untuk membunuh benda asing dengan menggunakan zat kimia dan enzim. contohnya timus yang menghasilkan hormon terutama selama pubertas. Tetapi ketika limfosit terpapar pada hormon timus. Contoh : di hidung. Sekresi hormon termasuk hormon pertumbuhan dan melatonin menurun pada usia tua dan mungkin dihubungkan dengan sistem imun (Fatmah.maka sel darah putih akan mencegah benda asing masuk lebih jauh lagi ke dalam tubuh. Sel darah putih akan menghancurkan setipa benda asing yang masuk ke dalam tubuh dengan cara fagositosis. 2) Fagosit membentuk pseudopodium yang menelan mikroba 3) Vesikula fagositik bersatu sengan lisosom 4) Mikroba dibunuh oleh enzim dalam fagolisosom 5) Sisa-sisa mikroba dikeluarkan lewat eksotisosis . Sel Darah Putih : merupakan sistem pertahanan tubuh kedua. 2. Organ kurang efisien dibandingkan saat usia muda. Mekanisme fagositosis (Anwar. 2. 3.rambut-rambut halus berfungsi sebagai penyaring udara yang masuk melalui hidung. Selaput lender pada saluran pencernaan berfungsi sebagai rintangan yang melindungi sel diluar system pencernaan.Contoh : Selaput lender pada hidung. sebagian besar kelenjar timus tidak berfungsi. Pada lansia. Rambut-rambut halus : Sebagian besar terdapat pada saluran pernapasan.pernapasan.1 Rintangan Kimiawi 1. 3. maka sistem imun meningkat sewaktu-waktu. Fungsi organ-organ menurun sejalan dengan peningkatan usia manusia. 2006).

2. Protein Komplemen : merupakan protein darah yang berfungsi membantu sistem pertahanan sel darah putih. 6. 5. Interferon juga dapat merangsang limfosit untuk mengahncurkan dan membunuh sel-sel yang terinfeksi virus.kemotoksin.Protein komplemen membantu sistem kekebalan tubuh dengan cara(Anwar. b) Berperan dalam proses penghancuran membrane sel mikroorganisme yang menyerang tubuh. Ciri-cirinya: Bersifat selektif terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh.3 Kekebalan tubuh spesifik ( kekebalan adaptif/Kekebalan tubuh buatan ) Kekebalan tubuh spesifik adalah sistem kekebalan yang diaktifkan oleh kekebalan tubuh nonspesifik dan merupakan sistem pertahanan tubuh yang ketiga. 2009) : a) Menghasilkan opsonin . waktu antara eksposur dan respon maksimal. Interferon akan bertindak sebagai antivirus dan bereaksi sengan sel yang belum terinfeksi oleh virus. Perlambatan. c) Menstimulasi sel darah putih agar menjadi lebih aktif. Sistem reaksi ini tidak memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis benda asing. sedangkan kinin untuk meningkatkan permeabilitas pembuluh darah. Determinant site . Sel Natural Killer :Merupakan sel pertahanan yang mampu melisis dan membunuh sel-sel kanker serta sel tubuh yang terinfeksi virus sebelum diaktifkannya sistem kekebalan adaptif. memiliki kemampuan untuk mengingat infeksi sebelumnya. dan kinin.4. Kemotoksin berfungsi sebagai penarik sel darah putih menuju ke infeksi . Opsonin untuk mempermudah terjadinya fagositosis.Antigen memiliki struktur tiga dimensi sengan dua atau lebih determinant site. Interferon : Sel yang berperan dalam mensekresikan sekumpulan protein saat tubuh kita terserang virus. Menurut Anwar (2009) komponen yang terlibat dalam kekebalan tubuh spesifik adalah: (1) Antigen : Merupakan zat kimia asing yang masuk ke dalam tubuh dan dapat merangsang terbentuknya antibody. Melibatkan pembentukan sel-sel tertentu dan zat kimia ( antibody ). Sel ini membunuh dengan cara menyerang membran sel target dan melepaskan senyawa kimia preforin.

Merupakan hasil pengklonan satu sel hibridoma. Ketika sel limfosit B mengidentifikasi antigen. Antibodi memiliki struktur . 1990). Antibodi monoclonal : Antibodi yang dibentuk di luar tubuh melalui fusi sel. Antibody adalah bahan larut digolongkan dalam protein yang disebut globulin dan sekarang dikenal sebagai immunoglobulin. Antibodi dihasilkan oleh sel limfosit B. Sel limfosit B juga menghasilkan sel memori B.dengan cepat sel akan bereplikasi untuk menghasilkan sejumlah besar sel plasma.dan dapt hidup lebih lama daripada sel plasma. Konfigurasi molekul antigen-antibodi sedemikian rupa sehingga hanya antibodi yang timbul sebagai respon terhadap suatu antigen tertentu saja yang cocok dengan permukaan antigen itu sekaligus bereaksi dengannya (Roitt. Antibody Poliklonal: Antibodi dihasilkan di dalam tubuh secara alami yang dibentuk merupakan klon dari sel-sel limfosit dan umum. Hapten hanya dapat berikatan dengan antibody apabila disuntikkan ke dalam tubuh. Antibodi merupakan protein-protein yang terbentuk sebagai respon terhadap antigen yang masuk ke tubuh. Jenis –jenis antigen: (1) Heteroantigen: antigen yang berasal dari spesies lain (2) Isoantigen: Antigen dari spesies sama tetapi struktur genetiknya berbeda (3) Autoantigen: Antigen yang berasal dari tubuh itu sendiri. 1996). dengan struktur yang sama dengan sel limfositB.Antigen dapat berupa protein . (5) Antibodi ( Imunoglobulin / Ig) : merupakan zat kimia( protein plasma ) yang dapat mengidentifikasi antigen. (4) Hapten : Merupakan suatu determinant site yang lepas dari struktur antigen. yang bereaksi secara spesifik dengan antigen tersebut.Sel plasma lalu akan menghasilkan antibody dan melepaskanya ke dalam cairan tubuh. Dua cirinya yang penting adalah spesifitas dan aktivitas biologik (Baratawidjaja.sel bakteri. Berfungsi untuk mendiagnois penyakit kanker dan hepatisis.merupakan bagian dari antigen yang dapat melekat pada bagian sisi pengikatan pada antibody.atau zat kimia yang dikeluarkan mikroorganisme.

artinya jenis kuman/zat asing tersebut sudah pernah atau lebih dari satu kali masuk ke dalam tubuh manusia (Munasir. IgE. 2010). Kekebalan ini hanya berperan pada kuman/zat asing yang sudah dikenal. IgG. 2005). tetapi tidak terhadap sel sendiri.Lengan tersebut dinamakan antigen binding site. Immunoglobulin (Ig) dibentuk oleh sel plasma yang berasal dari proliferasi sel B akibat adanya kontak dengan antigen.yakni tempat melekatnya antigen. Apabila kuman/zat asing yang masuk tidak dapat ditangkal oleh sistem kekebalan tubuh tidak spesifik maka diperlukan sitem kekebalan dengan tingkat yang lebih tinggi atau sistem kekebalan spesifik. dan sel-sel darah yang tidak difungsikan. ada 2 jenis kekebalan spesifik. yaitukekebalan selular (sel limfosit T) dan kekebalan humoral (sel limfosit B yang memproduksi antibodi).seperti huruf Y dengan dua lengan dan satu kaki. Antibodi yang terbentuk secara spesifik ini akan mengikat antigen baru lainnya yang sejenis. . IgD. maka immunoglobulin ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin gama. meskipun ada beberapa immunoglobulin yang juga ditemukan dalam fraksi globulin alafa dan beta (Soewolo. IgA. merupakan kunci pengontrol sistem imun. Sel-sel tersebut dapat mengenal benda asing dan membedakannya dari sel jaringan sendiri. Bila serum protein tersebut dipisahkan dengan cara elektroforesis. Sel-sel Sistem Imun Spesifik Limfosit yang terdiri dari sel T dan sel B. jaringan cangkokan yang tidak kompatibel. protein bahan asing seperti racun lebah atau serbuk sari bertindak sebagi antigen yang merangsang respon humoral alergi atau hipersensitivitas (Campbell. IgM. 2004). Kemampuan mengenal limfosit tersebut disebabkan oleh adanya reseptor pada permukaan sel. Satu sel limfosit hanya membentuk reseptor untuk satu jenis antigen sehingga sel tersebut hanya dapat mengenal antigen yang sejenis saja. Biasanya sel limfosit hanya memberikan reaksi terhadap benda asing. Selain itu sebagian diantara kita. Pada permukaan sel T dan sel B ditemukan pula reseptor untuk fraksi Fc suatu antibodi yang mungkin berperanan dalam mengatur respon limfosit.Molekul antibody dapat dikelompokkan menjadi lima kelas yakni. Antigen yang menghasilkan respon kekebalan humoral umumnya merupakan protein dan komponen permukaan polisakarida berbagai mikroba.

berfungsi sebagai cadangan sel T pengingat yang siap merespon secara lebih cepat dan kuat apabila antigen asing tersebut muncul kembali di sel tubuh. timus merupakan salah satu tempat proliferasi sel. Bersifat klonal dan sangat spesifik antigen. setiap Sel T memiliki protein-protein reseptor unik. menghasilkan sejumlah besar sel T teraktivasi yang melaksanakan berbagai respons imunitas seluler. Sel T tidak mengeluarkan antibodi. • Karakteristik Sel T 1. imunitas seluler). tergantung pada peran mereka setelah diaktifkan oleh antigen. yaitu. Sel –sel ini harus berkontak langsung dengan sasaran suatu proses yang dikenal sebagai immunitas yang diperantarai oleh sel (cell-mediated immunity. sel T mengenal antigen asing dalam kombinasi dengan antigen jaringan individu itu sendiri. suatu pelajaran yang diwariskan ke semua turunan sel T berikutnya 6. Sel T merupakan 65-80% dari semua limfosit dalam sirkulasi. Di membran plasmanya. Sebagian kecil tetap dorman. Selama pematangan di timus. Terdapat tiga subpopulasi sel T. 3.Sel T Pada neonatus. Diperlukan waktu beberapa hari setelah pajanan antigen tertentu sebelum sel T teraktivasi besiap untuk melancarkan serangan imun seluler. Sel T diaktifkan oleh antigen asing apabila antigen tersebut disajikan di permukaan suatu sel yang juga membawa penanda identitas individu yang bersangkutan. . 2. sel-sel dari sel klon sel T komplementer berproliferisai dan berdiferensiasi selama beberapa hari. • Subpopulasi sel T Ketika sel T terpajan ke kombinasi antigen spesifik. sel T tidak dapat dibedakan dari sel B. Tidak semua turunan sel T yang teraktivasi menjadi sel T efektor. Diduga 90% timosit yang gagal memperoleh reseptor yang diperlukan untuk berfungsi akan dihancurkan. 4. 5. Di bawah mikroskop biasa. baik antigen asing maupun antigen diri harus terdapat di permukaan sel sebelum sel T dapat mengikuti keduanya.

Limfokin tidak berinteraksi secara langsung dengan antigen yang menyebabkan prduksi limfokin tersebut. Sebagain besar efek yang ditimbulkan limfosit pada sel-sel imun lain ( limfosit lain dan makrofag) diperantarai melalui sekresi zat-zat perantara kimiawi. Semua zat kimiawi selain antibodi yang disekresikan secara kolektif oleh limfosit disebut limfokin. . 2. Seperti sel T regulatorik yang dapat mempermudah atau menekan sekresi antibodi sel B. Sel T penekan T yang menekan produksi antibodi sel B dan aktivitas sel T sitotoksik dan penolong. antibodi juga dapat meningkatkan atau menghambat kemampuan sel-sel T sitotoksik menghancurkan sel korban. Kedua subpopulasi tersebut disebut sel T regulatorik. sel T sitotoksik menghancurkan sel korban dengan mengeluarkan zat-zat kimiawi yang melisiskan sel sebelum replikasi virus dapat dimulai. Sebagian besar dari milyaran Sel T diperkirakan tergolong dalam subpopulasi penolong dan penekan. karena mereka memodulasi aktivitas sel B dan Sel T sitotoksik serta aktivitas mereka sendiri dan aktivitas makrofag. yang tidak secara langsung ikut serta dalam destruksi patogen secara imunologik. yang sebagian besar diproduksi oleh limfosit T. 1. 3. memperkuat aktivitas sel T sitotoksik dan sel T penekan (supresor) yang sesuai. Pajanan terhadap antigen sering mengaktifkan baik sel B maupun sel T secara stimulan. sel kanker. Sel T sitotoksik Sel T yang menghancurkan sel penjamu yang memiliki antigen asing. Setelah diaktivasi oleh antigen virus. Sel T sitotoksik dari klon yang spesifik untuk virus tersebut mengenali dan berikatan dengan antigen virus dan antigen diri di permukaan sel yang terinfeksi. bergantung pada keadaan. misalnya sel tubuh yang dimasuki oleh virus. Sel T Sitotoksik Sasaran sel T sitotoksik yang paling sering adalah sel yang sudah terinfeksi virus.1. dan mengaktifkan makrofag. Sel T penolong Sel T yang meningkatkan perkembangan sel B aktif menjadi sel plasma. dan sel cangkokan.

3. 2. Sel T penolong juga mengeluarkan faktor pertumbuhan sel T.Salah satu cara yang digunakan sel T sitotoksik dan sel natural killer untuk menghancurkan sel sasaran adalah dengan mengeluarkan moleku-molekul perofin. antibodi netralisasi. dan bahkan sel T penolong lain yang responsif terhadap antigen yang masuk. dan sistem komplemen. dapat menyerang sel lain yang terinfeksi. Sel-sel sehat disekitarnya menggantikan sel yang hilang melalui proses pembelahan sel. Sebagian zat kimia yang dihasilkan oleh sel T berfungsi sebagai kemotaksin untuk menarik lebih banyak neutrofil dan calon makrofag ke tempat invasi. yang tidak mengalami cidera selama proses ini. terutama melalui sekresi limfokin. 1. yang menembus membran permukaan sel sasaran dan menyatu untuk membentuk saluran seperti pori-pori. 4. Sel T penolong menghasilkan faktor pertumbuhan sel B yang meningkatkan kemampuan klon sel B aktif menghasilkan antibodi. yang juga dikenal sebagai interleukin 2 (IL-2) untuk meningkatkan aktivitas sel T sitotoksik. Berikut ini adalah sebagian dari zat-zat perantara kimiawi yang paling dikenal yang dihasilkan oleh Sel T ini: 1. Teknik mematikan sel dengan membuat lubang di membran ini serupa dengan metode yang diterapkan oleh membrane attack complex pada jenjang komplemen. Sekresi antibodi sangat menurun jika tidak terdapat sel T penolong. Setelah makrofag ditarik ke daerah invasi. apabila virus memiliki kesempatan untuk memperbanyak diri. yang menahan sel-sel fagositik besar ini tetap di lokasi invasi. Akibatnya terjadi penumpukan makrofag dalam jumlah besar di daerah . Sementara itu Sel T sitotoksik. sehingga dapat terjadi malfungsi serius. 2. Biasanya untuk menghentikan infeksi virus tidak banyak sel yang harus dihancurkan. Virus yang keluar setelah sel dirusak kemudian secara langsung dihancurkan di cairan ekstrasel oleh sel-sel fagositik. sel T penolong mengeluarkan macrophagemigration inhibition factor. dengan virus-virus turunan itu meninggalkan sel dan semua menyebar ke sel-sel lain. banyak sel yang harus dikorbankan oleh mekanisme pertahanan sel T sitotoksik. Namun. Sel T Penolong Sel T penolong meningkatkan banyak aspek respons imun. walaupun sel T itu sendiri tidak menghasilkan antibodi. sel T penekan. suatu limfokin penting lain.

kelenjar limfoid atau tonsil. Karena peran penting sel ini dalam “menyalakan” semua kekuatan llimfosi dan makrofag. Sementara sel B. sel T penolong mendorong sel T penekan beraksi. Faktor ini juga meningkatkan daya fagositik makrofag-makrofag tersebut. sehingga sel T penekan membantu menghentikan respons imun setelah respons tersebut melaksanakan fungsinya.yang terinfeksi. sel Sitotoksik. menghambat sel T penolong dan sel-sel lain yang untuk bertugas dipengaruhi oleh sel T penolong. Sel T penolong adalah jenis sel T yang paling banyak. dan sel T penolong meningkatkan aktivitas imun satu sama lain. sel T penekan membatasi respons semua sel imun lain. Perkembangan sel B dalam sumsum tulang adalah antigen independent tetapi perkembangan selanjutnya memerlukan rangsangan dari antigen. Sel B . sel T penolong dapat dianggap sebagai “tombol utama” sistem imun. Setelah matang sel B bergerak ke alat-alat seperti limpa. Selsel ini tampaknya berfungsi membatasi reaksi imun melalui mekanisme “ check and balance” dengan limfosit yang lain. Sel T penekan pada gilirannya. menyusun sekitar 60-80% dari sel T yang beredar dalam darah. Apa yang disebut angry macrophage ini memiliki daya destruktif yang lebih besar. 3. Sel B Sel B berkembang dalam bursa fabricius yang timbuldari epitel kloaka. Pada manusia belum didapatkan hal yang analog dengan bursa tersebut dan pematangan terjadi di sumsum tulang atau di tempat yang belum diketahui. Sel B ditemukan dalam hati fetus dan sumsum tulang dan belum mempunyai imunoglobulin permukaan atau petanda. Peningkatan jumlah sel T penekan sebagai respons terhadap infeksi virus biasanya berlangsung lebih lambat dibandingkan dengan proliferasi sel T sitotoksik dan sel T penolong. Melalui metode umpan balik negatif. Sel T Penekan Pengetahuan mengenai sel T penekan jauh lebih sedikit dibandingkan subpopulasi lainnya. Efek inhibisi oleh sel T penekan membantu mencegah reaksi imun berlebihan yang dapat membahayakan tubuh.

dalam istirahat berukuran kecil dengan sedikit sekali sitoplasma. Atas pengaruh antigen melalui sel T. Sel B ditandai dengan adanya imunoglobulin yang dibentuk didalam sel dan kemudian dilepas. tetapi sebagian menempel pada permukaan sel yang selanjutnya berfungsi sebagai reseptor antigen. sel B berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang mampu membentuk Ig dengan spesifitas yang sama. Sel B merupakan 5-15% dari jumlah seluruh limfosit dalam sirkulasi. sel B yang matang sebagai sel B memori yang dapat memberikan respon imun yang lebih cepat. tetapi mampu memproduksi antibodi bebas. IgA. Beberapa limfoblast berkembang menjadi sel T memori. Fungsi utamanya adalah membentuk antibodi. Kebanyakan sel B perifer mengandung IgM dan IgD dan hanya beberapa sel yang mengandung IgG. sebagian sel yang dibentuk akan kembali ke dalam fase istirahat. Bila diaktifkan berkembang menjadi limfoblas. dan IgE pada permukaan tersebut yang dapat ditemukan dengan teknik imunofluoresen . Beberapa diantaranya menjadi matang atau sel plasma yang tidak memiliki Ig pada permukaannya.

Makrofage. Th2. Imun Nonspesifik (Innate Immunity) meliputi . Monosit. Polimorfonuklear (PMN). Eosinofil. CTL) dan Sel B yang merupakan kekebalan humoral (IgA. IgM. IgE dan IgD).BAB III Kesimpulan • Disiplin ilmu imunologi muncul karena adanya observasi secara individual akibat adanya penyakit infeksi. . IgG. Komplemen Imun Spesifik (Adaptive Immunity) meliputi . Basofil. ADCC. Dendrit sel. sistem imun non spesifik dan system imun spesifik. vaksin. Th1. Sel T yang merupakan kekebalan seluler (Th. dan selanjutnya individu yang telah sembuh dari sakit ternyata terlindungi dari penyakit yang sama jenisnya. Sehingga pada akhirnya muncullah • • • Pada tubuh hewan terdapat dua sistem imun yaitu. Langerhans sel.

dan Kurnia. Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat. garna Karen. . Pengantar Fisiologi Manusia. Indonesia. dkk.Daftar Pustaka Baratawidjaja. Z. Fakultas Kesehatan Masyaraka. JUNI 2006: 47-53. Gramedia Pustaka Utama. Respons Imunitas Yang Rendah Pada Tubuh Manusia Usia Lanjut. 2006. Pokok-pokok Ilmu Kekebalan. Roitt. 10. Jakarta : UI Press. IM. Diakses pada hari Rabu tanggal 23 juni 2010. 2004 . Campbell. N. Soewolo. Jakarta : PT. Munasir. Depok 16424. Malang: UMM Press. 2005. Jakarta:IDAI Cabang DKI Jakarta. Universitas Indonesia.VOL. Bedah ASI. 1990. Neil A. 1996.Biologi Edisi Kelima Jilid 3. 2010. Jakarta: Erlangga Fatmah. 1. NO. Imunologi Dasar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful