BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Makhluk hidup dalam hal ini seekor hewan harus mampu mempertahankan dirinya dari berbagai serangan organisme asing kedalam tubuh yang tidak dikehendaki, antara lain berbagai macam virus, bakteri dan pathogen lain yang berpotensi membahayakan dan dapat ditemukan di udara, dalam makanan, dan di dalam air. Manusia dan hewan juga harus menangani sel tubuh abnormal yang pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi kanker. Tiga garis pertahanan yang saling bekerja sama untuk menghadapi semua ancaman tersebut telah di evolusikan pada hewan. Dua diantaranya bersifat nonspesifik, yaitu tidak membedakan satu agen infeksi dengan agen infeksi lainnya yang bersifat eksternal yang terdiri atas jaringan epithelium yang menutupi dan melapisi tubuh kita, dan bersifat internal dimana hal tersebut di picu oleh adanya sinyal kimiawi dan melibatkan sel-sel fagosit serta protein antimikroba untuk menyerang mikroba yang masuk melewati rintangan tubuh bagian luar. Garis pertahanan ketiga yaitu system imun yang bekerja secara bersamaan dengan garis pertahanan kedua, dan merespon secara spesifik. Berdasarkan hal tersebut, makalah ini disusun untuk bisa memahami lebih jauh bagaimana system imun bekerja didalam tubuh hewan. 1.2 Masalah • • • • • • Bagaimanakah sejarah perkembangan immunologi? Apakah yang dimaksud dengan sistem imun ? Bagaimanakah struktur,fungsi, dan proses pada sistem kekebalan tubuh manusia ? Bagaimanakah kaitan antara struktur, fungsi dan proses pada system kekebalan tubuh manusia ? Apa sajakah jenis-jenis kekebalan tubuh yang ada pada manusia ? Apa sajakah kelainan / gangguan yang dapat terjadi pada system kekebalan tubuh manusia ? 1.3 Tujuan • Mengetahui sejarah perkembangan immunologi.

Memahami jenis-jenis kekebalan tubuh Mengidentifikasi jenis gangguan / kelainan yang dapat terjadi pada system kekebalan tubuh manusia 1.• • • • • Mengetahui definisi tentang sistem kekebalan tubuh (imun). fungsi. Mengetahui struktur. dan proses pada system kekebalan tubuh manusia.4 Manfaat • • Sebagai sumber informasi yang sangat berguna dalam menambah pengetahuan dan wawasan ( aspek teoritis ) Sebagai sumber informasi yang sangat penting untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari ( aspek praktis ) . Mengaitkan struktur. fungsi. dan proses pada system kekebalan tubuh manusia.

Tahun 1798 Lady Mary Wortley Montagu melakukan observasi.BAB II DASAR-DASAR IMMUNOLOGI 2. tepatnya 430 tahun sebelum masehi seorang Peloponnesian dari Athena menulis bahwa perawat tidak dapat terkena penyakit plaque karena kebal. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan bukan hasil penelitian tapi ethical implications. Disiplin ilmu imunologi muncul karena adanya observasi secara individual akibat adanya penyakit infeksi. maka muncula major advance immunology yang telah mengembangkan induksi imunitas dengan menggunakan kuman cholera oleh Luis Pasteur. Pada tahun 1798 penyakit yang tidak ganas dikenal cowpox.1 Sejarah perkembangn Immunologi. . Dalam bahasa Latin immunis diartikan sebagai bebas penyakit. Selanjutnya penelitian tersebut diulangi dengan menggunakan bakteri cholera yang fresh dari kultur. Teknik ini dikenal dengan Variolation. Lalu secara intensif anak tersebut diinfeksi dengan smallpox. Luis Pateur berhasil mengkultur bakteri cholera dan menginjeksikan pada ayam. cairan pustula dari sapi diberikan kepada seorang anak laki-laki berumur 8 tahun. sedangkan dalam Bahasa Inggris immunity artinya terlindungi dari penyakit infeksi. Setelah liburan. dan ternyata teknik variolation sangat positif dan selanjutnya diterapkan sendiri pada anaknya. maka muncullah istilah attenuated strain vaccine. ayam diinjeksi dengan bakteri Cholera yang lama. Selanjutnya phenomena ini dipakai dalam kedokteran sebagai model pencegahan penyakit yg efektif. Pada perkembangan selanjutnya. dan ternyata smallpox tersebut tidak dapat berkembang. Induksi imunitas pertama kali dilakukan di China dan Turki dengan cara memberikan krusta kering dari pustula smallpox melalui inhalasi ke nostril. ternyata ayam tidak sakit. atau memasukan potongan kecil kedalam kulit. dan selanjutnya individu yang telah sembuh dari sakit ternyata terlindungi dari penyakit yang sama jenisnya. Perpaduan antara observasi secara individu yang digabung dengan pengalaman Jenner. kemudian ayam tersebut menjadi sakit.

lalu diuji tantang pada kambing yg tidak divaksin mati. Behring Robert Koch Negara Germany Germany Peneliti Serum antitoxin Cellular immunity to TBC . • Lymphocyte T derivat dari thymus yang memediasi sel imun dan lymphocyte B derivat dari bursa fabricius yang bertanggung jawab terhadap imunitas humoral. sedang kambing yg divaksin tetap hidup. • • Serum dpt menetralisasi toxin. Tahun 1885 Pasteur memberikan vaksin pada joseph meister dengan rabid dog. Imunitas Humoral dan Seluler • Th 1950 Bruce Glick Missisipi University. Pasteur tahun 1881 mengembangkan vaksin antrax dengan cara memanaskan kemudian diinjeksikan pada kambing. Kedua imunitas ini ternyata saling menguntungkan.Vaksin dalam bahasa latin yaitu “vacca” yang artinya sapi yang diadopsi dari Jenner yang menginokulasi cowpox pada anak. Hal ini didapat dari hewan yang diinfeksi dengan deptheria serumnya kemudian diberikan pada hewan yg tidak diimunisasi. USA. • Penemuan Imunitas Humoral • • Vaksin telah dikembangkan oleh Pasteur tapi tidak tahu apa yang terjadi Emil Von Behring dan Shibasaburo Kitasato th 1890 pertama kali menemukan mekanisme imunitas dalam bentuk “serum” (cairan nonseluler yang didapat setelah darah membeku). presipitasi toxin dan mengalutinasi kuman. Telah mengidentifikasi bahwa lymphocyte yang bertanggung jawab terhadap respons imun humoral dan seluler. Nobel Prizes di Bidang Imunologi Tahun 1901 1905 Penerima Emil V.

Reaksi yang terjadi meliputi reaksi seluler dan molekul. maka ada dua jenis respon imun yang mungkin terjadi. yaitu respon imun nonspesifik dan respon imun spesifik. sistem imun ini tidak dapat membedakan self dan non-self sehingga sel-sel dalam sistem imun membentuk zat anti terhadap jaringan tubuhnya sendiri yang disebut autoantibodi. Porter Gerald M Edelman Rosalyn R.1908 1913 1919 1930 1951 1957 1972 1977 1980 Elie Metchnikoff Paul Erlich Charles Richet Jules Bordet Karl Landsteiner Max Theiler Daniel Bovet Rodney R. yaitu yang disebut antigen. Sistem imun dapat membedakan zat asing (non-self) dari zat yang berasal dari tubuh sendiri (self). parasit) dan molekul besar (protein. . Dari beberapa keadaan patologik. Adapun Definisi spesifik Imunitas adalah reaksi untuk melawan substansi asing yang masuk ke dalam tubuh seperti mikroorganisme (bakteri. Yalow George Snell Jean Dausset Baruj Benacerraf Rusia Germany Franze Belgium USA South Africa Swiss UK USA USA USA France USA Phagocyte dan antitoxins immunity Anaphylaxis Complement mediated bacteriolyssis Human blood group Vaksin yellow fever Antihistamin Chemical structur antibodies Radioimmunoassay Major histocompatability complex 2. virus. polisakharida). Pendapat lain juga menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan system imun adalah semua mekanisme yang digunakan badan untuk mempertahankan keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup (Baratawidjaja.1996). Rangsangan terhadap sel-sel tersebut terjadi apabila ke dalam tubuh masuk suatu zat yang oleh sel at au jaringan tadi dianggap asing. Sistem imun adalah semua mekanisme yang digunakan badan untuk mempertahankan keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup.2 Pengertian Sistem Kekebalan Tubuh (Imunitas). Bila sistem imun terpapar pada zat yang dianggap asing.

khususnya makrofag . Sistem imun nonspesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi mikroorganisme. Sementara. Salah satu upaya tubuh untuk mempertahankan diri terhadap masuknya antigen. orang Indonesia –yang lingkungan hidupnya tak terlalu bersih– tidak banyak mengalami gangguan kesehatan. 2. Itu sebabnya. Namun telah dibuktikan pula bahwa kedua jenis respon di atas saling meningkat kan efektifitas dan bahwa respon imun yang terjadi sebenarnya merupakan interaksi antara satu komponen dengan komponen lain yang terdapat di dalam sistem imun. untuk mengeliminasi pendatang asing tersebut. Karena manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitar. dengan mudah terserang diare bila mengonsumsi makanan yang kurang higienis. Dalam hal ini leukosit yang termasuk fagosit memegang peranan yang sangat penting. yang terbiasa berada di lingkungan yang serba bersih.Tugas dasar sistem imunitas tersebut antara lain adalah membedakan ‘dirinya sendiri’ (seluruh sel di dalam tubuh) dengan ‘pendatang asing’ (bakteri. sedangkan sistem imun spesifik membutuhkan waktu untuk mengenal antigen terlebih dahulu sebelum dapat memberikan responnya. adalah menghancurkan bakteri bersangkutan secara nonspesifik dengan proses fagositosis. Perbedaan utama terhadap kedua jenis respon imun itu adalah dalam hal spesifisitas dan pembentukan memory terhadap antigen tertentu pada respon imun spesifik yang tidak terdapat pada respon imun nonspesifik. misalnya antigen bakteri. jamur. sistem imunitas mampu beradaptasi dengan kondisi sehari-hari. toksik. Interaksi tersebut berlangsung bersama-sama sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu aktivasi biologik yang seirama dan serasi. meski sering mengonsumsi jajanan yang kurang higienis. serta jaringan asing). Respon imun nonspesifik. sedangkan respon imun spesifik merupakan respon didapat (acquired) yang timbul terhadap antigen tertentu. Menghadapi pendatang asing tadi. terhadap bagian tubuh mana yang terpapar sebelumnya. penduduk di negeri-negeri Barat. virus. oleh karena itu dapat memberikan respon langsung terhadap antigen.2 Kekebalan Nonspesifik (Kekebalan tubuh bawaan / Kekebalan tubuh alami) Respon imun nonspesifik umumnya merupakan imunitas bawaan (innate immunity) yaitu respon zat asing dapat terjadi walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar pada zat tersebut. sistem imunitas harus membentuk sel khusus melalui sel darah putih.

Hal ini dimungkinkan berkat dilepaskannya zat atau mediator tertentu yang disebut faktor leukotaktik atau kemotaktik yang berasal dari bakteri maupun yang dilepaskan oleh neutrofil atau makrofag yang sebelumnya telah berada di lokasi bakteri atau yang dilepaskan oleh komplemen. yakni(Anwar. agar supaya lebih mudah ditangkap oleh fagosit.Pada saluran pernapaan. Tidak memiliki kemampuan untuk mengingat infeksi yan terjadi sebelumnya. Selanjutnya partikel bakteri masuk ke dalam sel dengan cara endositosis dan oleh pembentukan fagosom yang terperangkap dalam kantung fagosom seolah-olah ditelan untuk kemudian dihancurkan. 2009): 2.2. atau lebih tepat lagi bahwa partikel tersebut harus melekat pada permukaan fagosit . untuk proses fagositosis selanjutnya bakteri perlu mengalami opsonisasi terlebih dahulu.Selaput lendir berfungi dalam menangkap bakteri / benda asing yang masuk ke dalam tubuh melalui saluran . Kulit :Terdiri dari lapisan tanduk yang tidak mudah ditembus oleh benda asing kecuali jika kulit dalam keadaan terluka. Selaput Lendir : Merupakan hasil sekresi dari sel yang terdapat di sepanjang saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Selain faktor kemotaktik yang menarik fagosit menuju antigen sasaran. Terdiri atas : 1.artinya semua benda asing yang masuk ke dalam tubuh akan diserang dan dihancurkan tanpa seleksi. Eksposur menyebabkan respon maksimal segera. 2. Untuk mencapai hal ini maka fagosit harus bergerak menuju sasaran.Asam lemak dan keringat yang dihailkan oleh kelenjar di kulit juga akan mencegah benda asing masuk ke dalam tubuh. Sistem ini memiliki komponen-komponen yang mampu menangkal benda masuk ke dalam tubuh.1 Rintangan Mekanis Rintangan mekanis merupakan system pertahanan tubuh yang pertama dan umumnya terletak di bagian permukaan tubuh. Supaya dapat terjadi fagositosis sel-sel fagosit tersebut harus berada dalam jarak dekat dengan partikel bakteri. baik dengan proses oksidasi-reduksi maupun oleh derajat keasaman yang ada dalam fagosit atau penghancuran oleh lisozim dan gangguan metabolisme bakteri. Kekebalan tubuh nonspesifik adalah bagian dari tubuh kita yang telah ada sejak kita lahir. Ciri-cirinya: Sistem ini tidak selektif. Ini berarti bahwa bakteri terlebih dahulu dilapisi oleh immunoglobulin atau komplemen (C3b).demikian pula neutrifil dan monosit.

Apabila benda asing berhasil melewati sistem pertahanan pertama dan masuk ke dalam tubuh. Sel Darah Putih : merupakan sistem pertahanan tubuh kedua.maka sel darah putih akan mencegah benda asing masuk lebih jauh lagi ke dalam tubuh. maka sistem imun meningkat sewaktu-waktu. Tetapi ketika limfosit terpapar pada hormon timus. Hasil Sekresi :berperan untuk membunuh benda asing dengan menggunakan zat kimia dan enzim. Bakteri yang terdapat di permukaan tubuh ( bakteri nonpatogen ) : Berfungsi untuk menekan pertumbuhan bakteri patogen yang akan masuk ke dalam tubuh.Contoh : Selaput lender pada hidung. 2.pernapasan. 2009) : 1) Mikroba menempel ke fagosit. Fungsi organ-organ menurun sejalan dengan peningkatan usia manusia. Pada lansia. Selaput lender pada saluran pencernaan berfungsi sebagai rintangan yang melindungi sel diluar system pencernaan. Sekresi hormon termasuk hormon pertumbuhan dan melatonin menurun pada usia tua dan mungkin dihubungkan dengan sistem imun (Fatmah. 3. Organ kurang efisien dibandingkan saat usia muda. 3. contohnya timus yang menghasilkan hormon terutama selama pubertas. 2006). Mekanisme fagositosis (Anwar.rambut-rambut halus berfungsi sebagai penyaring udara yang masuk melalui hidung. Rambut-rambut halus : Sebagian besar terdapat pada saluran pernapasan. 2. Sel darah putih akan menghancurkan setipa benda asing yang masuk ke dalam tubuh dengan cara fagositosis. Contoh : di hidung.1 Rintangan Kimiawi 1. 2) Fagosit membentuk pseudopodium yang menelan mikroba 3) Vesikula fagositik bersatu sengan lisosom 4) Mikroba dibunuh oleh enzim dalam fagolisosom 5) Sisa-sisa mikroba dikeluarkan lewat eksotisosis . sebagian besar kelenjar timus tidak berfungsi.2.

Protein komplemen membantu sistem kekebalan tubuh dengan cara(Anwar. Interferon juga dapat merangsang limfosit untuk mengahncurkan dan membunuh sel-sel yang terinfeksi virus. Perlambatan. Melibatkan pembentukan sel-sel tertentu dan zat kimia ( antibody ). Sel Natural Killer :Merupakan sel pertahanan yang mampu melisis dan membunuh sel-sel kanker serta sel tubuh yang terinfeksi virus sebelum diaktifkannya sistem kekebalan adaptif. Interferon : Sel yang berperan dalam mensekresikan sekumpulan protein saat tubuh kita terserang virus. 2. 5. Kemotoksin berfungsi sebagai penarik sel darah putih menuju ke infeksi . memiliki kemampuan untuk mengingat infeksi sebelumnya. 6. sedangkan kinin untuk meningkatkan permeabilitas pembuluh darah. dan kinin. Opsonin untuk mempermudah terjadinya fagositosis. Protein Komplemen : merupakan protein darah yang berfungsi membantu sistem pertahanan sel darah putih. Sel ini membunuh dengan cara menyerang membran sel target dan melepaskan senyawa kimia preforin. Interferon akan bertindak sebagai antivirus dan bereaksi sengan sel yang belum terinfeksi oleh virus. 2009) : a) Menghasilkan opsonin .3 Kekebalan tubuh spesifik ( kekebalan adaptif/Kekebalan tubuh buatan ) Kekebalan tubuh spesifik adalah sistem kekebalan yang diaktifkan oleh kekebalan tubuh nonspesifik dan merupakan sistem pertahanan tubuh yang ketiga.4. b) Berperan dalam proses penghancuran membrane sel mikroorganisme yang menyerang tubuh.kemotoksin. Determinant site .Antigen memiliki struktur tiga dimensi sengan dua atau lebih determinant site. Ciri-cirinya: Bersifat selektif terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh. c) Menstimulasi sel darah putih agar menjadi lebih aktif. Menurut Anwar (2009) komponen yang terlibat dalam kekebalan tubuh spesifik adalah: (1) Antigen : Merupakan zat kimia asing yang masuk ke dalam tubuh dan dapat merangsang terbentuknya antibody. waktu antara eksposur dan respon maksimal. Sistem reaksi ini tidak memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis benda asing.

Antibodi memiliki struktur . (5) Antibodi ( Imunoglobulin / Ig) : merupakan zat kimia( protein plasma ) yang dapat mengidentifikasi antigen. Antibody adalah bahan larut digolongkan dalam protein yang disebut globulin dan sekarang dikenal sebagai immunoglobulin. Konfigurasi molekul antigen-antibodi sedemikian rupa sehingga hanya antibodi yang timbul sebagai respon terhadap suatu antigen tertentu saja yang cocok dengan permukaan antigen itu sekaligus bereaksi dengannya (Roitt. Ketika sel limfosit B mengidentifikasi antigen.Sel plasma lalu akan menghasilkan antibody dan melepaskanya ke dalam cairan tubuh. 1996). yang bereaksi secara spesifik dengan antigen tersebut. Antibodi merupakan protein-protein yang terbentuk sebagai respon terhadap antigen yang masuk ke tubuh. Hapten hanya dapat berikatan dengan antibody apabila disuntikkan ke dalam tubuh.dan dapt hidup lebih lama daripada sel plasma.dengan cepat sel akan bereplikasi untuk menghasilkan sejumlah besar sel plasma.sel bakteri. Jenis –jenis antigen: (1) Heteroantigen: antigen yang berasal dari spesies lain (2) Isoantigen: Antigen dari spesies sama tetapi struktur genetiknya berbeda (3) Autoantigen: Antigen yang berasal dari tubuh itu sendiri. Antibody Poliklonal: Antibodi dihasilkan di dalam tubuh secara alami yang dibentuk merupakan klon dari sel-sel limfosit dan umum. Dua cirinya yang penting adalah spesifitas dan aktivitas biologik (Baratawidjaja. dengan struktur yang sama dengan sel limfositB.merupakan bagian dari antigen yang dapat melekat pada bagian sisi pengikatan pada antibody. Antibodi dihasilkan oleh sel limfosit B. Antibodi monoclonal : Antibodi yang dibentuk di luar tubuh melalui fusi sel.atau zat kimia yang dikeluarkan mikroorganisme. 1990). Berfungsi untuk mendiagnois penyakit kanker dan hepatisis. Sel limfosit B juga menghasilkan sel memori B. Merupakan hasil pengklonan satu sel hibridoma.Antigen dapat berupa protein . (4) Hapten : Merupakan suatu determinant site yang lepas dari struktur antigen.

Sel-sel tersebut dapat mengenal benda asing dan membedakannya dari sel jaringan sendiri.yakni tempat melekatnya antigen. 2010). Antibodi yang terbentuk secara spesifik ini akan mengikat antigen baru lainnya yang sejenis. Biasanya sel limfosit hanya memberikan reaksi terhadap benda asing. artinya jenis kuman/zat asing tersebut sudah pernah atau lebih dari satu kali masuk ke dalam tubuh manusia (Munasir. Bila serum protein tersebut dipisahkan dengan cara elektroforesis. protein bahan asing seperti racun lebah atau serbuk sari bertindak sebagi antigen yang merangsang respon humoral alergi atau hipersensitivitas (Campbell. Apabila kuman/zat asing yang masuk tidak dapat ditangkal oleh sistem kekebalan tubuh tidak spesifik maka diperlukan sitem kekebalan dengan tingkat yang lebih tinggi atau sistem kekebalan spesifik.Lengan tersebut dinamakan antigen binding site. Sel-sel Sistem Imun Spesifik Limfosit yang terdiri dari sel T dan sel B. IgE. Antigen yang menghasilkan respon kekebalan humoral umumnya merupakan protein dan komponen permukaan polisakarida berbagai mikroba. tetapi tidak terhadap sel sendiri. . 2005). maka immunoglobulin ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin gama. IgG. IgM. IgD.seperti huruf Y dengan dua lengan dan satu kaki. Immunoglobulin (Ig) dibentuk oleh sel plasma yang berasal dari proliferasi sel B akibat adanya kontak dengan antigen. Selain itu sebagian diantara kita.Molekul antibody dapat dikelompokkan menjadi lima kelas yakni. Kekebalan ini hanya berperan pada kuman/zat asing yang sudah dikenal. meskipun ada beberapa immunoglobulin yang juga ditemukan dalam fraksi globulin alafa dan beta (Soewolo. Pada permukaan sel T dan sel B ditemukan pula reseptor untuk fraksi Fc suatu antibodi yang mungkin berperanan dalam mengatur respon limfosit. jaringan cangkokan yang tidak kompatibel. Satu sel limfosit hanya membentuk reseptor untuk satu jenis antigen sehingga sel tersebut hanya dapat mengenal antigen yang sejenis saja. ada 2 jenis kekebalan spesifik. IgA. Kemampuan mengenal limfosit tersebut disebabkan oleh adanya reseptor pada permukaan sel. yaitukekebalan selular (sel limfosit T) dan kekebalan humoral (sel limfosit B yang memproduksi antibodi). merupakan kunci pengontrol sistem imun. 2004). dan sel-sel darah yang tidak difungsikan.

Terdapat tiga subpopulasi sel T. 5. Sel T diaktifkan oleh antigen asing apabila antigen tersebut disajikan di permukaan suatu sel yang juga membawa penanda identitas individu yang bersangkutan. Sel T merupakan 65-80% dari semua limfosit dalam sirkulasi. timus merupakan salah satu tempat proliferasi sel. suatu pelajaran yang diwariskan ke semua turunan sel T berikutnya 6. berfungsi sebagai cadangan sel T pengingat yang siap merespon secara lebih cepat dan kuat apabila antigen asing tersebut muncul kembali di sel tubuh. Selama pematangan di timus. • Karakteristik Sel T 1. Tidak semua turunan sel T yang teraktivasi menjadi sel T efektor. setiap Sel T memiliki protein-protein reseptor unik. 3. sel T mengenal antigen asing dalam kombinasi dengan antigen jaringan individu itu sendiri. imunitas seluler). sel-sel dari sel klon sel T komplementer berproliferisai dan berdiferensiasi selama beberapa hari. Diduga 90% timosit yang gagal memperoleh reseptor yang diperlukan untuk berfungsi akan dihancurkan. baik antigen asing maupun antigen diri harus terdapat di permukaan sel sebelum sel T dapat mengikuti keduanya. tergantung pada peran mereka setelah diaktifkan oleh antigen.Sel T Pada neonatus. Di bawah mikroskop biasa. Sel T tidak mengeluarkan antibodi. sel T tidak dapat dibedakan dari sel B. Di membran plasmanya. menghasilkan sejumlah besar sel T teraktivasi yang melaksanakan berbagai respons imunitas seluler. 2. Bersifat klonal dan sangat spesifik antigen. Sebagian kecil tetap dorman. yaitu. Diperlukan waktu beberapa hari setelah pajanan antigen tertentu sebelum sel T teraktivasi besiap untuk melancarkan serangan imun seluler. . • Subpopulasi sel T Ketika sel T terpajan ke kombinasi antigen spesifik. 4. Sel –sel ini harus berkontak langsung dengan sasaran suatu proses yang dikenal sebagai immunitas yang diperantarai oleh sel (cell-mediated immunity.

1. Semua zat kimiawi selain antibodi yang disekresikan secara kolektif oleh limfosit disebut limfokin. Sel T penolong Sel T yang meningkatkan perkembangan sel B aktif menjadi sel plasma. 2. Setelah diaktivasi oleh antigen virus. 3. yang tidak secara langsung ikut serta dalam destruksi patogen secara imunologik. 1. karena mereka memodulasi aktivitas sel B dan Sel T sitotoksik serta aktivitas mereka sendiri dan aktivitas makrofag. dan sel cangkokan. memperkuat aktivitas sel T sitotoksik dan sel T penekan (supresor) yang sesuai. misalnya sel tubuh yang dimasuki oleh virus. Sel T Sitotoksik Sasaran sel T sitotoksik yang paling sering adalah sel yang sudah terinfeksi virus. sel kanker. Sebagian besar dari milyaran Sel T diperkirakan tergolong dalam subpopulasi penolong dan penekan. yang sebagian besar diproduksi oleh limfosit T. Pajanan terhadap antigen sering mengaktifkan baik sel B maupun sel T secara stimulan. bergantung pada keadaan. Sel T sitotoksik Sel T yang menghancurkan sel penjamu yang memiliki antigen asing. antibodi juga dapat meningkatkan atau menghambat kemampuan sel-sel T sitotoksik menghancurkan sel korban. . Seperti sel T regulatorik yang dapat mempermudah atau menekan sekresi antibodi sel B. Sel T sitotoksik dari klon yang spesifik untuk virus tersebut mengenali dan berikatan dengan antigen virus dan antigen diri di permukaan sel yang terinfeksi. dan mengaktifkan makrofag. Limfokin tidak berinteraksi secara langsung dengan antigen yang menyebabkan prduksi limfokin tersebut. Sebagain besar efek yang ditimbulkan limfosit pada sel-sel imun lain ( limfosit lain dan makrofag) diperantarai melalui sekresi zat-zat perantara kimiawi. Kedua subpopulasi tersebut disebut sel T regulatorik. sel T sitotoksik menghancurkan sel korban dengan mengeluarkan zat-zat kimiawi yang melisiskan sel sebelum replikasi virus dapat dimulai. Sel T penekan T yang menekan produksi antibodi sel B dan aktivitas sel T sitotoksik dan penolong.

Teknik mematikan sel dengan membuat lubang di membran ini serupa dengan metode yang diterapkan oleh membrane attack complex pada jenjang komplemen. yang juga dikenal sebagai interleukin 2 (IL-2) untuk meningkatkan aktivitas sel T sitotoksik. Akibatnya terjadi penumpukan makrofag dalam jumlah besar di daerah . dapat menyerang sel lain yang terinfeksi. Namun. dan bahkan sel T penolong lain yang responsif terhadap antigen yang masuk. banyak sel yang harus dikorbankan oleh mekanisme pertahanan sel T sitotoksik. sel T penekan. dan sistem komplemen. Sel-sel sehat disekitarnya menggantikan sel yang hilang melalui proses pembelahan sel. Berikut ini adalah sebagian dari zat-zat perantara kimiawi yang paling dikenal yang dihasilkan oleh Sel T ini: 1. 2. Sel T Penolong Sel T penolong meningkatkan banyak aspek respons imun. terutama melalui sekresi limfokin. 4. Sebagian zat kimia yang dihasilkan oleh sel T berfungsi sebagai kemotaksin untuk menarik lebih banyak neutrofil dan calon makrofag ke tempat invasi. 3. yang tidak mengalami cidera selama proses ini. yang menembus membran permukaan sel sasaran dan menyatu untuk membentuk saluran seperti pori-pori. dengan virus-virus turunan itu meninggalkan sel dan semua menyebar ke sel-sel lain. suatu limfokin penting lain. apabila virus memiliki kesempatan untuk memperbanyak diri. yang menahan sel-sel fagositik besar ini tetap di lokasi invasi.Salah satu cara yang digunakan sel T sitotoksik dan sel natural killer untuk menghancurkan sel sasaran adalah dengan mengeluarkan moleku-molekul perofin. Virus yang keluar setelah sel dirusak kemudian secara langsung dihancurkan di cairan ekstrasel oleh sel-sel fagositik. 2. sehingga dapat terjadi malfungsi serius. antibodi netralisasi. Setelah makrofag ditarik ke daerah invasi. walaupun sel T itu sendiri tidak menghasilkan antibodi. Biasanya untuk menghentikan infeksi virus tidak banyak sel yang harus dihancurkan. Sel T penolong juga mengeluarkan faktor pertumbuhan sel T. Sementara itu Sel T sitotoksik. Sel T penolong menghasilkan faktor pertumbuhan sel B yang meningkatkan kemampuan klon sel B aktif menghasilkan antibodi. sel T penolong mengeluarkan macrophagemigration inhibition factor. Sekresi antibodi sangat menurun jika tidak terdapat sel T penolong. 1.

Melalui metode umpan balik negatif. Selsel ini tampaknya berfungsi membatasi reaksi imun melalui mekanisme “ check and balance” dengan limfosit yang lain. Peningkatan jumlah sel T penekan sebagai respons terhadap infeksi virus biasanya berlangsung lebih lambat dibandingkan dengan proliferasi sel T sitotoksik dan sel T penolong. menghambat sel T penolong dan sel-sel lain yang untuk bertugas dipengaruhi oleh sel T penolong. Apa yang disebut angry macrophage ini memiliki daya destruktif yang lebih besar. 3. Pada manusia belum didapatkan hal yang analog dengan bursa tersebut dan pematangan terjadi di sumsum tulang atau di tempat yang belum diketahui. sel T penolong mendorong sel T penekan beraksi. Sel T penolong adalah jenis sel T yang paling banyak. Setelah matang sel B bergerak ke alat-alat seperti limpa. sehingga sel T penekan membantu menghentikan respons imun setelah respons tersebut melaksanakan fungsinya.yang terinfeksi. Karena peran penting sel ini dalam “menyalakan” semua kekuatan llimfosi dan makrofag. dan sel T penolong meningkatkan aktivitas imun satu sama lain. sel Sitotoksik. Sementara sel B. sel T penekan membatasi respons semua sel imun lain. Sel B ditemukan dalam hati fetus dan sumsum tulang dan belum mempunyai imunoglobulin permukaan atau petanda. Efek inhibisi oleh sel T penekan membantu mencegah reaksi imun berlebihan yang dapat membahayakan tubuh. sel T penolong dapat dianggap sebagai “tombol utama” sistem imun. Sel B Sel B berkembang dalam bursa fabricius yang timbuldari epitel kloaka. Sel T penekan pada gilirannya. menyusun sekitar 60-80% dari sel T yang beredar dalam darah. kelenjar limfoid atau tonsil. Sel T Penekan Pengetahuan mengenai sel T penekan jauh lebih sedikit dibandingkan subpopulasi lainnya. Sel B . Faktor ini juga meningkatkan daya fagositik makrofag-makrofag tersebut. Perkembangan sel B dalam sumsum tulang adalah antigen independent tetapi perkembangan selanjutnya memerlukan rangsangan dari antigen.

tetapi mampu memproduksi antibodi bebas. tetapi sebagian menempel pada permukaan sel yang selanjutnya berfungsi sebagai reseptor antigen. Sel B merupakan 5-15% dari jumlah seluruh limfosit dalam sirkulasi. dan IgE pada permukaan tersebut yang dapat ditemukan dengan teknik imunofluoresen . Atas pengaruh antigen melalui sel T. Beberapa limfoblast berkembang menjadi sel T memori. Bila diaktifkan berkembang menjadi limfoblas.dalam istirahat berukuran kecil dengan sedikit sekali sitoplasma. sebagian sel yang dibentuk akan kembali ke dalam fase istirahat. Beberapa diantaranya menjadi matang atau sel plasma yang tidak memiliki Ig pada permukaannya. Kebanyakan sel B perifer mengandung IgM dan IgD dan hanya beberapa sel yang mengandung IgG. sel B yang matang sebagai sel B memori yang dapat memberikan respon imun yang lebih cepat. sel B berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang mampu membentuk Ig dengan spesifitas yang sama. Fungsi utamanya adalah membentuk antibodi. Sel B ditandai dengan adanya imunoglobulin yang dibentuk didalam sel dan kemudian dilepas. IgA.

vaksin. Langerhans sel. Imun Nonspesifik (Innate Immunity) meliputi . Basofil. . Dendrit sel. Makrofage. IgE dan IgD).BAB III Kesimpulan • Disiplin ilmu imunologi muncul karena adanya observasi secara individual akibat adanya penyakit infeksi. Eosinofil. Monosit. Th2. Sehingga pada akhirnya muncullah • • • Pada tubuh hewan terdapat dua sistem imun yaitu. Th1. Komplemen Imun Spesifik (Adaptive Immunity) meliputi . CTL) dan Sel B yang merupakan kekebalan humoral (IgA. ADCC. dan selanjutnya individu yang telah sembuh dari sakit ternyata terlindungi dari penyakit yang sama jenisnya. Sel T yang merupakan kekebalan seluler (Th. IgM. sistem imun non spesifik dan system imun spesifik. Polimorfonuklear (PMN). IgG.

Depok 16424. Respons Imunitas Yang Rendah Pada Tubuh Manusia Usia Lanjut. Fakultas Kesehatan Masyaraka. JUNI 2006: 47-53. Malang: UMM Press. IM. Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat. Soewolo. Pokok-pokok Ilmu Kekebalan. Indonesia.Biologi Edisi Kelima Jilid 3. 2005. Roitt. Jakarta : PT. Imunologi Dasar. Jakarta : UI Press. 1.Daftar Pustaka Baratawidjaja. Bedah ASI. dan Kurnia. Campbell. Gramedia Pustaka Utama. . Jakarta: Erlangga Fatmah. 10. NO. 2004 . 2006. 1990. Neil A. Jakarta:IDAI Cabang DKI Jakarta. Universitas Indonesia.VOL. dkk. 2010. garna Karen. 1996. Pengantar Fisiologi Manusia. N. Z. Munasir. Diakses pada hari Rabu tanggal 23 juni 2010.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.