KONFLIK ISLAM- KRISTEN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SIKAP KEAGAMAAN UMAT BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Perbedaan konsepsi diantara agama-agama yang ada adalah sebuah realitas, yang tidak dapat dimungkiri oleh siapa pun. Perbedaan –bahkan benturan konsepsi itu- terjadi pada hampir semua aspek agama, baik di bidang konsepsi tentang Tuhan maupun konsepsi pengaturan kehidupan. Hal ini dalam prakteknya, cukup sering memicu konflik fisik antara umat berbeda agama. Konflik Maluku, Poso, ditambah sejumlah kasus terpisah di berbagai tempat dimana kaum Muslim terlibat konflik secara langsung dengan umat Kristen adalah sejumlah contoh konflik yang –sedikit banyak- dipicu oleh perbedaan konsep diantara kedua agama ini. Perang Salib (1096-1271) antara umat Kristen Eropa dan Islam, pembantaian umat Islam di Granada oleh Ratu Isabella ketika mengusir Dinasti Islam terakhir di Spanyol, adalah konflik antara Islam dan Kristen yang terbesar sepanjang sejarah. Catatan ini, mungkin akan bertambah panjang, jika intervensi Barat (Amerika dan sekutu-sekutunya) di dunia Islam dilampirkan pula di sini. Pandangan stereotip satu kelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya menjadi satu hal yang muncul bersamaan dengan terdengarnya genderang permusuhan, yang diikuti oleh upaya saling serang, saling membunuh, membakar rumah-rumah ibadah seteru masing-masing, dan sebagainya. Umat Islam

dipandang sebagai umat yang radikal, tidak toleran, dan sangat subjektif dalam memandang kebenaran yang –boleh jadi- terdapat pada umat.sementara umat Kristen dipandang sebagai umat yang agresif dan ambisius yang bertendensi

1

agama-agama memang berbeda. “Every major religious tradition includes its justification for violence”. 2 .2 Maka. telah menimbulkan berbagai upaya menafsirkan kembali ajaran agama dan kemudian dicarikan titik temu pada level tertentu.menguasai segala aspek kehidupan dan berupaya menyebarkan pesan Yesus yang terakhir. Pada level eksoteris-seperti aspek syari’ah. Tuhan membunuh masyarakat. (41) Kau buat musuhku lari dari aku. Ferguson (1977) mencatat. Yehweh –sebutan Tuhan dalam Bibeldigambarkan sebagai “God of War”. dengan harapan konflik diantara umat manusia akan teredam jika faktor “kesamaan agama” itu didahulukan. semuanya sama saja. “(40) Engkau telah mengikat pingggangku dengan keperkasaan untuk berperang. sebagaimana diterangkan dalam Mazmur 18: 40. Sebagian lain memnyimpulkan bahwa agama-agama memberikan ajaran dan contoh-contoh yang melegitimasi pembunuhan. dan orang-orang yang membenci aku kubinasakan.i termasuk Islam dan Kristen. kata mereka. Engkau tundukkan ke bawah kuasaku orang yang bangkit melawanku. dan memerintahkan masyarakat untuk melakukan hal yang sama. “Pergilah ke seluruh dunia dan kabarkanlah Injil kepada seluruh makhluk!” (Martius 16: 15) Sebagian kalangan berpendapat bahwa perbedaan konsep keagamaanlah yang menjadi sumber konflik utama antara umat manusia.41. tetapi pada level esoteris. agama adalah sumber konflik. Dalam tradisi Islam dan Kristen (bahkan Yahudi). Tidak dapat dimungkiri bahwa sejumlah teks keagamaan memang mengatur masalah kekerasan dan peperangan.3 Cara pandang terhadap agama dengan menempatkan agama sebagai sumber konflik. sebagian pengamat melihat. atau setidaknya memberikan legitimasi terhadap berbagai konflik sosial. Dalam tradisi Judeo-Christian. Semua agama kemudian dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah untuk menuju kepada Tuhan.”1 Dalam Islam juga dikenal konsep jihad yang dalam sejumlah hal berarti qital (peperangan).

bermasyarakat dan bernegara. tulisan ini bermaksud membahas tentang: bagaimana sikap umat beragama (Islam dan Kristen) terhadap agamanya di era millenium sekarang. sebagaimana dikatakan John Lennon dalam syair lagunya Imagine. Kendatipun demikian. Sikap anti agama ini. dimana rasionalitas dianggap sebagai alat pencari dan pengukur kebenaran yang bisa diakui validitasnya. agama –yang direpresentasikan oleh para pemuka agama (Gereja). dari pandangan-pandangan makrokosmos kepada mikrokosmos. sehingga harus disingkirkan. baik yang mayoritas penduduknya Islam maupun Kristen. pada kenyataannya berkembang terus. Agama dianggap sebagai sumber konflik. yang berakar di Eropa. dalam kenyataannya tetap dianggap absurd. kiranya dilatarbelakangi oleh pengalaman sejarah Eropa abad pertengahan yang mengalami ketertinggalan dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Paham ini. sehingga sudah saatnya dilenyapkan. dan tidak 3 . dan benarkah perbedaan konsepsi agama-lah yang menyebabkan konflik diantara kedua umat ini? ***** Perbedaan Konsepsi dan Sikap Anti Agama Terhadap konflik yang terjadi antara umat beragama telah menimbulkan dua kutub pemikiran yang berbeda. sikap “anti agama” yaitu berupa penegasian dan pengingkaran peran agama dalam kehidupan pribadi. Menyandarkan peradaban pada nilai-nilai agama dianggap tidak sesuai dengan semangat Renaissance dan Humanisme Eropa yang telah mengubah paradigma Eropa. Agama dianggap tidak mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehingga harus disingkirkan.Sehubungan dengan itu. Pertama. Agama dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinyaa pembunuhan dan kematian diantara umat manusia. di berbagai belahan dunia. Dalam konteks ini.dianggap menjadi faktor penghambat kemajuan Eropa di samping istana dan kaum borjuis. gagasan “melenyapkan” peran agama dalam peradaban umat manusia. “There is no religion too”.

Antara kematian dan kebangkitan satu peradaban baru.sesuai dengan realitas. pasca Renaissance.ii Arnold Toynbee. menekankan peran agama dalam peradaban. ia akan mengalami penurunan (Civilizations that los their spiritual core soon fell into decline). pakar sejarah. Peradaban yang telah hilang spiritualitasnya. This is the theory that the great world religions constitute variant conceptions and 4 . Karena itu. aspek spiritual memainkan peran sentral dalam mempertahankan eksistensi suatu peradaban.bekerja keras untuk melahirkan satu peradaban baru dari reruntuhan peradaban lama. however. Gagasan ini muncul karena beranggapan bahwa perbedaan konsepsi agama merupakan sumber konflik umat manusia. Dia mendefinisikan religious pluralism sebagai: “Philosophically. ada satu kelompok yang disebut Toynbee creative minorities yang dengan spiritualitas mendalam (deep spiritual) atau motivasi agama (religious motivation). Dalam studi yang mendalam tentang kebangkitan dan kehancuran peradaban.iii Wacana Pluralisme Agama Gagasan kedua. Adalah John Hick yang dianggap sebagai penggagas pluralisme agama. meskipun tidak menyukai perilaku berbagai pemuka agama. Tokoh-tokoh politik Eropa. Upaya penyamaan ini biasanya dikamuflasekan dengan paham pluralisme agama (religious pluralism/ al-ta’addud al-diniyyah). Ia meneliti aspek peran dinamis agama dalam kelahiran dan kehancuran satu peradaban. Ia menyimpulkan bahwa banyak peradaban yang hancur (mati) karena “bunuh diri” dan bukan karena benturan dengan kekuatan luar. the term refers to a particular theory of the relation between these traditions. akhirnya juga memerlukan agama untuk kepentingan mereka. Tonbee menemukan bahwa agama dan spiritualitas memainkan peran sebagai chrysalis ‘kepompong’ yang merupakan cikal bakal tumbuhnya peradaban. adalah kelompok yang berupaya “menyamakan” semua agama. with their different and competing claims.

The Real atau Yang Ada (Tuhan). and responses to. demikian Verkuil. hanya Esa. liberation and fulfillment. Said Agil Siradj. J.v Dr. dan kehidupan kekal.perceptions of. Budha. Pada akhirnya John Hick sampai pada satu kesimpulan bahwa agama pada hakekatnya adalah jalan yang berbeda-beda menuju tujuan (the Ultimate) yang sama. Verkuil dalam bukunya Samakah Semua Agama? Memuat kisah Nathan der Weise (Nathan yang Bijaksana) karya Lessing (1729-1781). dan Prof. and correspondingly different responses to. Thus the great religious traditons are to be regarded as alternative esoteriological ‘spaces’ within which--or ways along which—men and women can find salvation. Jadi. Pada level Indonesia. Konferensi Parlemen Agama-agama di Chicago tahun 1893. Ulil Abshar Abdalla menyatakan. yaitu realitas ketuhanan yang misterius dan respon-respon terhadapnya. mendeklarasikan bahwa seluruh tembok pemisah antara berbagai agama di dunia sudah runtuh. the one ultimate. juga terdapat pd agama Islam. termasuk cendekiawan yang mengusung “pluralitas” dengan tendensi “menyamakan” agama-agama yang ada. Kesimpulan dari kisah itu adalah bahwa semua agama intinya sama saja. Islam dan agama lainnya. Yahudi. the Real or the Ultimate. kebajikan. Konferensi itu. and that within each of them independently the transformation of human existence from self-conteredness is taking place. namun penyebutan dan interpretasi manusia saja yang berbeda-beda. dan agama lainnya.”iv Definisi di atas menyimpulkan bahwa agama-agama besar mengandung persepsi-persepsi varian dari “yang asal”. mysterious divine reality…Explicit pluralism accepts the more radical position implied by inclusivism: the view that the great world faiths embody different perceptions and conceptions of. Pluralisme agama John Hick kelihatannya adalah bentuk pengembangan dari paham inklusivisme. Dr. Islam 5 . Semuanya menuju jalan kebenaran. Nurcholis Madjid dan Ulil Abshar Abdalla.Intisari itu. lebih jauh menyerukan persamaan antara Kon Fu Tsu. Intisari agama Kristen. menurutnya adalah Tuhan. “Semua agama sama.

mengklaim Nabi Ibrahim a.secara geneologi. demikian Nurcholis. Sehingga. S. Ali Imran ayat 67. maka tidak benar (dan tidak dibolehkan) 6 . pembebasan manusia dari kelaparan. Nurcholis Madjid berpendapat bahwa Islam “bukanlah” nama agama. namun Kristen. Hindu. masuk ke dalam golongannya. kekerasan dan ketakutan. mengakui bahwa Ibrahim adalah ‘the foundation father’s’vii Dr.s. yang menceritakan tentang polemik kecil antara Yahudi dan Nasrani. terlepas dari perbedaan-perbedaannya. ini disebabkan karena perbedaan manifestasi dalam menanggapi Yang Mutlak. Budha dan lain-lain adalah Islam. karena menurutnya.bukan yang paling benar. Sebab sumbernya adalah sama. Kedua kelompok ini.ix “Islam” bagi Nurcholis bukanlah nama sebuah agama formal (organized religion). dalam pandangannya. Setiap agama yang mengajarkan sikap tunduk dan berserah diri. dan seorang yang berhasrat untuk pasrah”. walaupun pada aspek eksoterisnya berbeda.”vi Said Agil Siradj menyatakan bahwa agama Islam. karena . yaitu Yang Mutlak (Tuhan). istilah itu muncul pada abad kedua hijrah. Yang terakhir ini diartikannya “seorang pencari kebenaran yang tulus dan murni (hanif). Yahudi. Ia keberatan bila kalimat itu diartikan bahwa Ibrahim adalah seorang muslim. Karenanya.viii Senada dengan para tokoh pembaharu di atas. akan didapat titik temu. penderitaan. ketiga agama ini. Dan surga Tuhan itu hanya bisa dimasuki dengan keikhlasan. kondisi internal atau batin. Dengan menginterpretasi Q. adalah Islam. Dengan paham ini. namun pada level esoteris. Yahudi dan Kristen adalah agama yang “sama-sama” memiliki komitmen untuk menegakkan kalimat Tauhid. Lalu Al-Qur’an menegaskan bahwa Ibrahim adalah “hannifan musliman”.x Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa para penganut paham pluralisme beragama menganggap bahwa. esssensi agama-agama adalah sama. Abdul Munir Mulkhan menyatakan bahwa agama-agama hanyalah salah satu “pintu” menuju surga Tuhan yang satu. Jika terjadi perbedaan bentuk. bukan hanya Islam (sebagai organized religion). tanpa melihat agamanya.

Yang terakhir ini. dan tidak harus dipersoalkan. atau konversi dari Islam ke Kristen dan sebaliknya adalah hal yang dianggap mereka “lumrah”. menurut mereka. bahkan pada level esoteris pun. misalnya. sehingga lupa pada essensi agama yang sebenarnya yaitu sikap tunduk dan pasrah pada kebenaran. apakah benar semua agama sama pada level ini. dan bahkan menyesatkan” akan mengakibatkan sikap menutup diri terhadap kebenaran agama lain. Sejumlah sikap dan tindakan konkret mereka perlihatkan dalam mewujudkan “sikap toleransi” dan “keterbukaan” untuk menerima kebenaran dari berbagai “pintu/ jalan” (baca: agama).xi Karena itu. Pada level keindonesiaan. jika dikaji lebih dalam menimbulkan pertanyaan. dan berimplikasi serius atas terjadinya konflik atas nama agama dan Tuhan. “Hanya agama sayalah yang memberi keselamatan. sementara konsep masing-masing agama tentang “Tuhan”. dengan perspektif “Teologi Inklusif”. dalam prakteknya telah bertindak tidak hanya sebatas wacana. cenderung menjadi “pemberhalaan” konsep ajaran agama itu sendiri. 7 . hanya interpretasi dan implementasinya saja yang berbeda di tengah-tengah masyarakat. Perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang berlainan agama. semangat kebenaran yang lapang dan terbuka.xii Kelompok pengusung pluralisme agama. Tidak hanya pada level eksoteris.sebaik-baik agama di sisi Allah (baca: Yang Mutlak-pen) ialah al-hanafiyat al-samhah. Sebab. kebenaran mutlak hanya “satu”. bagi mereka. Adalah sesuatu yang mustahil “mempersatukan” agama-agama. cendekiawan yang tergolong pluralis mengindikasikan betapa banyaknya konflik antar umat beragama (baik antar maupun intern) disebabkan karena sikap eksklusif para pemeluknya terhadap ajaran agama mereka. sementara agama Anda tidak.sikap masing-masing agama yang menganggap memiliki kebenaran secara mutlak (truth claim). Karena – mengutip istilah Nurcholis Madjid. Gagasan pluralisme yang cenderung menyamakan agama-agama jelas merupakan sesuatu yang absurd dan tidak sesuai dengan realitas bahwa konsepsi masing-masing agama memang berbeda. berbeda antara satu dengan lainnya. kelompok ini berpendapat bahwa pandangan subjektif seperti .

penyebaran agama. dan antara Sunni dan Syi’ah di dunia Islam (misalnya Irak).Walaupun benar bahwa ada konflik-konflik horizontal yang disebabkan karena perbedaan konsepsi agama. serta perebutan sumber-sumber daya alam untuk kepentingan pertanian dan industri merupakan penyebab munculnya berbagai konflik di berbagai belahan dunia. ternyata konflik antara Islam-Kristen lebih banyak terjadi di masa Orde Baru (juga pada masa pasca Reformasi sekarang). Perang Dunia I dan II. pembangunan rumah ibadah dan sebagainya. juga disinyalir disebabkan karena perbedaan konsep agama (walaupun faktorfaktor lain. Ribuan bahkan ratusan ribu nyawa melayang dalam pertikaian panjang dan melelahkan itu. ternyata tidak disebabkan karena perbedaan konsepsi keagamaan. jauh lebih banyak konflik yang terjadi “bukan” karena perbedaan konsep agama. Konflik Islam. seperti kondisi sosial. Situbondo. dan Tasikmalaya ternyata terkait dengan masalah politik. jika dianalisa lebih dalam. Dibandingkan masa-masa sebelumnya dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Namun. pada saat mana.Kristen yang terjadi di beberapa tempat. seperti yang terjadi pada konflik antara Katolik dan Protestan di Eropa (khususnya Irlandia Utara).xiii Menyamakan semua agama adalah suatu gagasan yang jelas-jelas mengingkari kenyataan bahwa masing-masing agama memang berbeda.1271). Adian Husaini mengatakan bahwa konflik Islam-Kristen yang pernah terjadi di Rengasdengklok. ekonomi dan sebagainya turut juga berperan). sosial. perbedaan dan arogansi etnis. Tuhan 8 . atau Perang Salib antara kaum Muslim dengan bangsa Eropa (1096. negara secara sistematis melaksanakan program sekulerisasi dan menekan wacana ideologis dan keagamaan. Konflik Ambon. serta Perang Saudara di Amerika Serikat adalah beberapa contoh. yang pernah terjadi di Indonesia. ekonomi. perebutan wilayah dan hegemoni. Sejarah menunjukkan bahwa –di samping faktor-faktor yang disebutkan di atas-. dimana perbedaan ideologi politik dan ekonomi menjadi sebab pertumpahan darah diantara dua kelompok yang saling berseberangan. dan Perang Dingin antara Eropa Barat plus Amerika Serikat dengan Eropa Timur.

dan barang siapa yang mencari agama selain Islam. 9 . termasuk aspek eksoteris yaitu ibadah juga tidak diakui dan karenanya ditolak. maka agama itu adalah sesat. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tuhan Anak dan Roh Kudus.xv Islam tidak “mengakui” konsepsi Kristen yang mempertuhankan Isa as.untuk membentuk ritualitas tertentu. Sejarah menunjukkan bahwa Islam mengecam tata-cara ibadah orang-orang kafir yang musyrik. dalam konsepsi Islam. Substansi peribadahan Islam adalah ketundukan dan ketaatan pada Allah. Dia –Allah. menolak untuk secara bergantian beribadah dengan cara Islam dan kafir.xvii Implikasinya adalah. namun terdiri atas tiga oknum yaitu Tuhan Bapak. Konsep-konsep tentang peribadahan dalam Islam haruslah semua yang ditentukan oleh Allah dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tuhan dalam Islam adalah Tuhan Yang Maha Esa. Jadi bukan dilakukan sesuai dengan kehendak manusia –apalagi sejarah. dan mengganggu suasana kerukunan yang sejak dulu dijalin di Indonesia. dan tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya.jelas tidak sama dengan pemahaman umat Kristen (Katolik dan Protestan) tentang Tuhan Yang Maha Esa. Al-Qur’an bahkan tidak segan-segan memberikan sebutan “kafir” kepada orang-orang non-muslim seperti Kristen. aspek-aspek lain Kristen. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. namun tata cara peribadahan itu diatur oleh Allah. Nabi Muhammad Saw. walaupun orang-orang kafir menyatakan bahwa Tuhan-tuhan yang mereka sembah hanyalah sarana menuju Tuhan Yang Maha Esa.dalam Islam tidaklah sama dengan Tuhan dalam Kristen (dan juga agama lain). Sementara orang beranggapan bahwa sebutan itu tidak etis.xiv Allah tidak terjangkau panca indra dan akal manusia yang terbatas kemampuannya. Padahal dalam agama Kristen sendiri pemeluk agama lain seperti kaum Muslim disebut “domba-domba yang tersesat” yang kurang lebih sama maknanya dengan sebutan kafir dalam Islam.xvi Agama yang benar di sisi Allah. adalah agama Islam. serta Maha Kuasa.

Sementara itu. Hanyalah seorang Nabi sekaligus manusia biasa. Tuhan Yang Maha Esa dalam Kristen terdiri atas oknum-oknum Bapa. Ia disalib oleh Pontius Pilatus (Wakil kaisar Romawi) sebagai penebus dosa nenek moyang manusia yaitu Adam. Islam adalah agama yang meliputi seluruh umat manusia. “Islam” sebagai agama.xix Dia pulalah yang menghapus sekaligus menciptakan syari’at-syari’at baru yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Musa sebagai Nabi yang paling dihormati dan diagungkan oleh Bani Israil. adalah sebuah kesimpulan yang gegabah dan tidak diterima oleh umat beragama (dalam hal ini umat Islam). Yang Maha Esa. sekalipun Allah murka kepada manusia. sebagai agama yang sama-sama mengajarkan sikap tunduk dan pasrah kepada Tuhan. Nabi Muhammad Saw. Islam adalah juga nama aktivitas manusia yang menunjukkan sikap tunduk dan pasrah kepada Tuhan. jika bagi umat Islam. sampai akhir zaman kelak. khususnya dosa nenek moyang mereka yaitu Adam yang telah mengeluarkannya dari surga. Dengan demikian. bisa disimpulkan bahwa kendati pun Islam mengakui bahwa –sebagai mana halnya Islam.Dalam konsepsi Islam. individu. yang tidak ada Tuhan selain Dia. yaitu Allah. bagi umat Kristen. Maka Doa mengutus anak-Nya ke bumi dengan cara masuk ke dalam rahim Maryam yang masih gadis dan dilahirkan seperti lazimnya anak yang lain. Anak (Isa) dan Roh Kudus yang dikenal dengan sebutan Trinitas. yang diutus kepada Bani Israil saja. tidak hanya merujuk kepada satu bangsa. Dari uraian di atas. Isa As. Tetapi. Artinya tidak ada perubahan antara dirinya dan Allah dalam hal waktu. sejak Muhammad Saw. Setelah dewasa. suatu ajaran yang “diperkenalkan” pertama kali oleh Paulus. Isa adalah anak Allah yang azali. namun menyamakan kedua agama. Sebenarnya Allah murka kepada manusia karena dosadosa mereka. sebagai seorang Nabi dan Rasul mempunyai posisi yang sangat sentral untuk menyampaikan wahyu dari Allah kepada hamba-hamba-Nya.xviii Dengan demikian. Ribuan ulama Islam telah menulis tafsir dan mereka tidak pernah berbeda 10 . Dia tetap maha Pengasih dan ingin menghapus dosa manusia.Kristen berasal dari sumber yang satu yaitu Allah. atau kelompok pada ruang dan waktu tertentu.

pendapat tentang istilah kafir untuk sebutan bagi orang non-muslim. Politik Islam negara-negara 11 . betapa kata itu disamakan istilah “heresy” (bid’ah) yang diterapkan Gereja Eropa pada abad pertengahan. dan atau mengusir kaum Muslim dari negeri (kampung halamannya). berfirman: “Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama Islam…. Allah Swt. Padahal konsep kafir dalam Islam tidak sama dengan heresy sebagaimana yang pernah terjadi di Eropa.” (al-Mumtahanah: 8) Dengan demikian. termasuk Kristen.xx Trauma pengggunaan istilah kafir tampaknya berasal dari pengalaman sejarah. Sejumlah kajian dan penelitian menjelaskan bahwa titik persoalan sebenarnya terletak pada faktor internal dan eksternal umat. tidak ada dalil untuk berlaku agresif terhadap umat beragama lain. paling tidak agama Islam. kapitalistis. termasuk Kristen. jika dilihat dari konsepsi masing-masing agama.Kristen Jika memang konsepsi agama. bukanlah alasan dan sebab utama yang memicu konflik antar umat Islam dan Kristen (serta umat beragama lain). Tidak hanya di negara-negara yang penduduknya minoritas Muslim (misalnya: Filipina). bahkan di negara yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Indonesia gerakan puritanisasi dan revitalisasi Islam harus “berhadapan” dengan peradaban global yang sekuler. terutama Islam. Faktor-faktor Pemicu Konflik Islam.” (al-Baqarah: 256) “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agamamu dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu…. dan bersemangat hedonistis. yang berujung dengan pembantaian terhadap kelompok/ sekte-sekte Kristen yang berbeda konsepsi dengan Gereja Katolik Roma. Konflik umat Islam dengan Kristen hanya dilegitimasi jika umat Kristen itu nyata-nyata memusuhi.

didorong oleh semangat membebaskan umat dari materialisme yang sesat. peran politik. diantara “mereka” dengan rezim yang berkuasa dan kelompok-kelompok penentangnya. Kondisi ini diperparah oleh adanya penyakit “Islamofobia” (takut kepada Islam) yang ironisnya. namun secara kualitatif. ekonomi dan kebudayaan. bahwa agama merupakan suatu kebutuhan batiniah dan sekaligus kebutuhan intelektuil manusia. faktor di atas. yang senantiasa termarginalkan. Kelompok ini. menurut G. Menggunakan istilah Arnold Toynbee. Padahal. dan menentukan arah nilai-nilai moral –bahkan peradaban masa depan bangsa ini yang diberikan kepada mereka relatif besar. Untuk level Indonesia. Sehingga. yang nota bene adalah penganut pluralisme agama. kaum muslim masih berkutat dengan kemiskinan. kebanyakan adalah kompleksitas persoalan- 12 .Barat yang berabad-abad menekan aspirasi umat. Secara kasat mata. Secara internal. mudah tersengat dan curiga pada gerakan-gerakan “Islam fundamentalis”. kebanyakan pada tataran ideologis. yang mendorong pada suatu kesadaran hakiki. mereka adalah kelompok creative minorities yang bekerja keras untuk melahirkan satu peradaban baru dari reruntuhan peradaban kontemporer yang rapuh. H. ekonomi. yang dinilai “ekstrem” dan “militan”. seandainya pun terjadi benturan dan konflik. Jansen. Konflik antar umat Islam dan Kristen sendiri. boleh jadi. “adalah reaksi terhadap masalah bagaimana mengahadapi tantangan cara hidup Barat yang telah menjadi cara hidup dunia. sehingga walaupun secara kuantitatif jumlah mereka kecil. pengaruh mereka dapat dilihat pada berkembangnya cara hidup kebaratbaratan di tengah umat. tapi juga menjangkiti sebagian cendekiawan muslim. Marginalisasi peran politik. keterbelakangan dan ketertinggalan. tidak hanya pada umat Kristen. diikuti dengan upaya pemerintah memberikan “kebebasan” berbuat kepada umat Kristen . menyebabkan kaum muslim mengalami disposisi dan disorientasi.”xxi Kelompok terakhir ini. bangkitnya “Islam fundamentalis”. yang kemudian disusul oleh upaya pembangunan di masing-masing negara dengan patron mengikuti Barat yang pernah menjajahnya membuat peran umat ini (Muslim) semakin lama semakin berkurang.

***** Dari uraian di atas. dengan berlindung di balik “topeng” pluralisme agama. konflik antara umat Islam dan Kristen jika dianalisa lebih jauh.dilegitimasi karena “perbedaan konsepsi keagamaan”. ekonomi. ekonomi. sekaligus menumbuhsuburkan sikap kebencian dan permusuhan diantara pemeluk agama. yang disengaja atau tidak.persoalan sosial. Faktor-faktor politik. dan sebagainya sering lepas dari pengamatan. dalam hal ini Islam dan Kristen. Gagasan yang terakhir ini. Dia lebih menonjolkan “wajah muram” agama-agama di tengah umatnya. berupaya “mengaburkan” peran agama dalam membentuk peradaban baru yang lebih progressif. tidaklah disebabkan karena perbedaan konsepsi diantara dua agama besar ini. sosial. jika ditinjau dari keseluruhan aspek Islam terhadap Kristen jelas suatu gagasan yang tidak mungkin. sehingga agama tidak ubahnya seperti tembok yang memisahkan manusia dengan manusia dari kepercayaan yang berbeda. 13 . Yang pertama bersikap “anti agama” sementara yang terakhir mencoba “menyamakan” agama-agama. Itu lebih merupakan asumsi yang tendensius. karena “memang” kedua agama ini berbeda. sehingga agama dijadikan alat legitimasi terhadap sikap-sikap agresif dan radikal kelompok satu terhadap yang lainnya. politik. penulis sampai pada kesimpulan bahwa konflik antara umat beragama. yang –oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. tidak seluruhnya disebabkan karena perbedaan konsepsi diantara kedua pemeluknya. dalam berbagai kasus. Kendatipun demikian. Implikasi yang muncul kemudian adalah lahirnya dua kutub pemikiran.

). LSIP. Jakarta. Mircea. MacMillan Publishing Company. 12 Gatra. The Encyclopedia of Religion. 1995 14 . H. Vol. 1987. edisi 21 Desember 2002 Hakiem (Ed.).DAFTAR KEPUSTAKAAN Eliade (ed. Lukman. Menggugat Gerakan Pembaruan Keagamaan: Debat Besar Pembaruan Islam. New York.

2001. S. Abdul Munir. Nurcholis. S. Bambang. 2004 Thayib dkk. Dr. Ham dan Pluralisme Agama. Teologi Inklusif. Jakarta. Pine Forge Press. Lembaga Alkitab Indonesia. 2001 Madjid. Gema Insani Press. Lihat: pernyataan Ulil Abshar Abdalla. Lihat Q. 2002 Mulkhan. H. Yogyakarta. 2004 Husaini. Pengantar Memahami Kristologi.Husaini. 2001 Rasyid. Islam Militan. Kurtz. 2001) Mulkhan. Kreasi Wacana. Dr. Gods in the Global Village. Yogyakarta. Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan. Lembaga Alkitab Indonesia. di majalah i 15 .). Daud.. 1980 Kurtz. Lester R. dan sebagainya Lester R. Pusat kajian Strategi dan Kebijakan (PKSK). al-Baqarah: 190. Pine Forge Press.Toward Global Civilization? The Contribution of Religions.191. Adian. (Newyork: Peter Lang Publishing Inc. hlm.. Yayasan Andi. Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam.. Akbar Media Eka Sarana. Jakarta. Jakarta. Ahmad. Dr. t. al-Hajj: 39.Kristen. Pustaka Progresif. 1997 1 Lembaga Alkitab Indonesia. Ag. Abdul Munir.. Gods in the Global Village. Thousand Oaks. G. hlm. Kreasi Wacana.. 2002 Noersena. 588 2 3 215-216 Di Indonesia. Jakarta. Lembaga Alkitab Indonesia. 2001 Mische. MA. Pustaka. Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar. MA. Thousand Oaks. Solusi Damai Islam. (ed. Tinjauan Historis Konflik Yahudi Kristen Islam. Adian. Yogyakarta. 2002 Syalaby. pernyataan-pernyataan yang bernada “menyamakan” agama mulai diungkapkan oleh para tokoh organisasi Islam. Pustaka Da’i. Jakarta. Alkitab. Bandung. Kompas. terjemahan oleh Ahmad. Ajaran dan Kematian Syekh Siti Jenar. t. Surabaya. Patricia M. . Alkitab. Jakarta. Jakarta. Anshari. 2003 Jansen .

2002. S. Jadi. Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan. ia menobatkan dirinya sebagai Kaisar Perancis pada 2 Desember 1804. 2001 xiii Baca Adian Husaini. al-Ikhlas: 1. Akbar Media Eka Sarana. Paris. 44 ix Dr.Pluralisme Agama dan Integrasi Nasional (Konsepsi dan Aktualisasi) dalam Anshari Thayib dkk. New York. S. (Newyork: Peter Lang Publishing Inc. Setelah wafatnya Isa Almasih di tiang salib. kata kafir dan seluruh derivasinya di dalam Al-Qur’an selalu didefinisikan dan dikaitkan dengan akhlak yang buruk. al-Kafiruun: 1-6 xvi Q. Pada akhirnya mengambil kepemimpinan dalam agama ini. Jakarta. dan tidak pernah bertemu secara langsung dengan Isa As. namun tetap mengeluarkan The Concordat 1801 yang mengakui Chatolicism sebagai agama terbesar yang dianut oleh rakyat. Maka absolutisme. Jakarta. Kreasi Wacana. 331. 12. hlm. dimana masing-masing pemeluk agama punya kesediaan untuk melihat orang lain (baca: pemeluk agama lain) punya potensi untuk benar. bukanlah refleksi dari pluralisme agama. xi Ibid. 2001.). hlm. 6 iv Mircea Eliade (ed. lihat juga Nurkholis Madjid.Kristen. Surabaya. Tinjauan Historis Konflik Yahudi Kristen Islam. 2003 xiv Q. hlm. 2002. Baca Kisah Para Rasul 9: 1-9 xx Lagi-lagi pendapat ini dipersoalkan oleh para penganut pluralisme agama. hlm. Ham dan Pluralisme Agama. 71 x Ibid. Vol. hlm. 2001). hlm.. melebihi pengaruh 12 Rasul yaitu murid-murid yang diangkat dan belajar langsung dari Isa As. Teologi Inklusif. hlm. Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar. Seorang yang masuk agama Isa As. dalam sebuah acara kolosal di Katedral Notre Dame. Yogyakarta. pada Adian Husaini MA. dan diri sendiri punya potensi untuk salah. 7 v Bandingkan dengan definisi Nurcholis Madjid yang mengatakan bahwa pluralisme agama berwujud bond civilityi (ikatan keadaban. Daud Rasyid. namun –demikian Jalaluddin.. 165-169 viii Abdul Munir Mulkhan. Yayasan Andi. Ag. Lukman Hakiem (Ed. LSIP. Solusi Damai Islam.masih harus direkonstruksi. 1995. Jakarta. Mische ‘Toward Civilization Worthy of the Human Person’. Pengantar Memahami Kristologi. terjemahan oleh Ahmad. hlm. Pusat kajian Strategi dan Kebijakan (PKSK). 83-84 xix Trinitas adalah konsepsi Ketuhanan Kristen yang pertama kali “diungkapkan oleh Saul atau Paulus. Jalaluddin Rahmat meskipun mengakui bahwa konsep tentang kafir masih relevan. xii Untuk lebih jelasnya mengenai “Teologi Inklusif” Nurcholis ini baca Nurcholis Madjid.. dan tidak pernah didefinisikan sebagai non-muslim. hlm. Yogyakarta. Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam. iii Patricia M. Pustaka Da’I. 1987. 54. The Encyclopedia of Religion. “Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia untuk Generasi Mendatang” dalam H. karena terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Ali Imran: 51 xvii Q. Gema Insani Press. Menurutnya. 16 . Dia yang pada mulanya memusuhi para pengikut Isa As. edisi 21 Desember 2002. edidi 21 Desember 2002 vii Lihat Bambang Noersena. “Hak Asasi Manusia. 2004. di atas Bukit Golgotha. Untuk lebih jelas lihat Nurcholis Madjid. S. Kreasi Wacana.4 xv Q. hlm. Menggugat Gerakan Pembaruan Keagamaan: Debat Besar Pembaruan Islam. Ahmad Syalaby. Abdul Munir Mulkhan. betapapun liberal dan sekulernya Napoleon Bonaparte. 2002. Jakarta.). MacMillan Publishing Company. S. 44 ii Sebagai gambaran. Kompas. Ali Imran: 19-20 xviii Dr. S. Jakarta. faham mutlakan dan sistem kultus. Lihat juga Dr. Yogyakarta.).70 vi Lihat Gatra. 1997. Dia menolak menjadikan Katolik sebagai agama resmi negara. (ed. Jakarta. pendahuluan dalam buku Toward Global Civilization? The Contribution of Religions. Ajaran dan Kematian Syekh Siti Jenar. Postaka Progresif. 2004. Ulil Abshar Abdalla dan Jalaluddin Rahmat menolak penggunaan istilah kafir bagi orang non-Muslim.Gatra. MA.

xxi G. H. 6 17 . Pustaka. Jansen. Islam Militan. hlm.orang kafir menurut Jalaluddin adalah orang (beragama) yang berakhlak buruk. Definisi kafir sebagai orang non-muslim hanya terjadi di Indonesia saja. 1980. Bandung.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.